P. 1
Peranan Media Gambar Dalam Pembelajaran

Peranan Media Gambar Dalam Pembelajaran

|Views: 1,358|Likes:
Published by Beny_Madiun

More info:

Categories:Types, Recipes/Menus
Published by: Beny_Madiun on Mar 27, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

06/26/2013

PERANAN MEDIA GAMBAR DALAM PEMBELAJARAN MEMBACA NYARING DI SEKOLAH LUAR BIASA DHARMA WANITA JIWAN KABUPATEN MADIUN

TAHUN PELAJARAN 2006/2007

SKRIPSI

OLEH WIWIK IRIANI NPM 05311174/P

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI IKIP PGRI MADIUN April 2007

ABSTRAK

Wiwik Iriani, 2007, Peranan Media Gambar Dalam Pembelajaran Membaca Nyaring di Sekolah Luar Biasa Dharma Wanita Jiwan Kabupaten Madiun Tahun Pelajaran 2006/2007, Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FPBS, IKIP PGRI Madiun, Pembimbing (I) Drs. Bambang Eko Hari Cahyono, M.Pd., II) Panji Kuncoro Hadi, S.S Kata Kunci: Peranan, Media Gambar, Membaca Nyaring, Tunagrahita, Sekolah Luar Biasa Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh peranan media gambar dalam meningkatkan keterampilan membaca nyaring kata berstruktur konsonan vokal konsonan vokal (kvkv) bagi siswa tunagrahita di Sekolah Luar Biasa Dharma Wanita Jiwan Kabupaten Madiun, tahun pelajaran 2006/2007. Penelitian ini termasuk Penelitian Tindakan Kelas (PTK) karena dilaksanakan bersamaan dengan proses pembelajaran di kelas. PTK ini tidak memerlukan populasi dan sampel, dan tidak berkolaborasi dengan pihak lain. Peneliti sekaligus bertindak sebagai praktisi. Subjek penelitian tindakan kelas ini adalah 1 rombongan kelas (kelas 2) dengan 6 siswa tunagrahita yang terdiri atas 4 siswa laki-laki dan 2 siswa perempuan. Kesemuanya sudah berumur 11 tahun ke atas. Siswa ini mengalami kesulitan belajar membaca. Pengumpulan datanya menggunakan teknik observasi atau pengamatan dan teknik tes, dengan menggunakan instrumen pengamatan dan dilaksanakan bersamaan dengan proses pembelajaran. Data yang diperoleh dianalisis dengan teknik statistik deskriptif, dalam bentuk uraian atau narasi, tabel dan grafik. Hasil penelitian visual menunjukkan bahwa 5 siswa mempunyai ketajaman penglihatan normal (efisiensi 100%) dan 1 siswa mempunyai ketajaman kurang normal (efisiensi 91,5%) atau kehilangan ketajaman penglihatan sebesar 8,5%. Hasil penelitian membaca 26 huruf alphabet menunjukkan adanya variasi kemampuan membaca. Ada 1 siswa yang sudah mampu membaca 26 huruf alphabet (100%) dengan benar. 5 siswa lainnya baru bisa membaca 11 huruf (42,3%) ke bawah. Tes awal membaca 5 kata (buku, baju, bola, topi, kupu) menunjukkan nilai rata-rata skor sebesar 1,16. Nilai modus sebesar 0 (3 siswa), skor terendah 0. Setelah diadakan pembelajaran membaca kata dengan metode kata lembaga dan metode VAKT (Visual, Auditory, Kinesthetic and Tactile) yang memanfaatkan media gambar, ada peningkatan perolehan skor tes. Tes pertama, rata-rata skor 2,33. Nilai Modus 2 (4 siswa), skor terendah 1. Tes kedua, rata-rata skor 2,83. Nilai Modus 2 (2 siswa), skor terendah 2. Tes ketiga, rata-rata skor 3,16. Nilai Modus 3 (4 siswa), skor terendah 2. Kesimpulan penelitian tindakan kelas ini adalah media gambar mempunyai peranan dalam meningkatkan keterampilan membaca kata berstruktur konsonan vokal konsonan vokal (kvkv) bagi siswa tunagrahita kelas 2, di Sekolah Luar Biasa Dharma Wanita Jiwan Kabupaten Madiun, tahun pelajaran 2006/2007.

ii

MOTTO Nasi seseorang tidak akan berubah, selama orang itu tidak berusaha merubah nasibnya sendiri

Skripsi ini kupersembahkan kepada:: Keluargaku yang terkasih, dan anak-anak luar biasa yang tersayang.

iii

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan rahmat-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian tindakan kelas dan menyusun skripsi dengan judul “Peranan Media Gambar Dalam Pembelajaran Membaca Nyaring di Sekolah Luar Biasa Dharma Wanita Jiwan Kabupaten Madiun Tahun Pelajaran 2006/2007”. Skripsi ini penulis susun untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam menyelesaikan Program Sarjana Strata 1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini masih banyak terdapat kekurangan, dikarenakan keterbatasan kemampuan, beaya, waktu dan tenaga yang ada pada penulis. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan saran dan kritik dari para pembaca dan pemerhati. Dalam menyelesaikan skripsi ini penulis banyak sekali mendapat bantuan dari beberapa pihak, oleh karena itu penulis ingin sekali menghaturkan rasa terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada : 1. Bapak Drs. Parji, M.Pd., Rektor Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan PGRI Madiun, yang telah memberi kesempatan kepada penulis untuk mengikuti pendidikan di lembaga yang dipimpinnya. 2. Bapak Drs. Bambang Eko Hari Cahyono, M.Pd., selaku Dekan Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, sekaligus Dosen Pembimbing I yang telah banyak memberi bimbingan sejak dari awal hingga selesainya penyusunan skripsi ini. 3. Bapak Panji Kuncoro Hadi, S.S., selaku Dosen Pembimbing II yang telah banyak memberi bimbingan sejak dari awal hingga selesainya penyusunan skripsi ini. 4. Bapak Drs. V. Teguh Suharto, M.Pd., selaku Dosen Mata Kuliah Metode Penelitian Pendidikan, yang telah memberi bekal ilmu dasar-dasar penelitian pendidikan, sehingga penulis dapat melaksanakan penelitian tindakan kelas.

iv

5. Bapak Zaenuddin, BA., selaku Kepala Sekolah Luar Biasa Dharma Wanita Jiwan, Kabupaten Madiun yang telah memberi ijin kepada penulis untuk melaksanakan penelitian di sekolah yang dipimpinnnya. 6. Rekan-rekan guru di Sekolah Luar Biasa Dharma Wanita Jiwan, Kabupaten Madiun yang telah banyak memberikan bantuan kepada penulis, dalam melaksanakan penelitian dan penyusunan skripsi ini. Semoga budi baik yang telah diberikan kepada penulis, mendapat imbalan yang berlipat ganda dari Tuhan Yang Maha Esa. Amin. Akhirnya, penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi para pembaca, pengelola dan pemerhati Sekolah Luar Biasa.

Madiun, April 2007 Penulis,

v

DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL......................................................................................... LEMBAR PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING .................................... LEMBAR PENGESAHAN PANITIA PENGUJI SKRIPSI ............................ ABSTRAK ....................................................................................................... MOTTO DAN KATA PERSEMBAHAN ....................................................... KATA PENGANTAR ...................................................................................... DAFTAR ISI ..................................................................................................... DAFTAR GAMBAR ........................................................................................ DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................... BAB I PENDAHULUAN .......................................................................... A. Latar Belakang Masalah .......................................................... B. Identifikasi Masalah ................................................................ C. Rumusan Masalah .................................................................... D. Tujuan Penelitian ...................................................................... E. Kegunaan Penelitian ................................................................. BAB II KAJIAN PUSTAKA ...................................................................... A. Pengertian Anak Luar Biasa .................................................... 1. Anak Tunanetra .................................................................. 2. Anak Tunarungu wicara ...................................................... 3. Anak Tunagrahita ............................................................... 4. Anak Tunadaksa ................................................................. 5. Anak Tunalaras ................................................................... i ii iii iv v vi viii x xi 1 1 5 6 6 6 7 7 8 8 9 10 11

vi

B. Membaca .................................................................................. 1. Pengertian Membaca ........................................................... 2. Metode Pembelajaran Membaca ......................................... C. Media Pembelajaran ................................................................. 1. Pengertian Media Pembelajaran ......................................... 2. Tujuan Penggunaan Media Pembelajaran .......................... BAB III METODE PENELITIAN .............................................................. A. Rancangan Penelitian .............................................................. B. Siklus Penelitian ...................................................................... 1. Perencanaan ........................................................................ 2. Tindakan dan Pengamatan ................................................. 3. Refleksi .............................................................................. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ............................ A. Hasil Penelitian......................................................................... B. Pembahasan .............................................................................. BAB V PENUTUP ...................................................................................... A. Simpulan .................................................................................. B. Saran ........................................................................................ DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ....................................................... DAFTAR RIWAYAT HIDUP ......................................................................... LAMPIRAN-LAMPIRAN ...............................................................................

13 13 15 17 18 19 20 22 23 23 24 26 29 29 33 40 40 40 42 43 44 45

vii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Poligon Hasil Tes Membaca ......................................................................... 2 Histogram Hasil Tes Membaca ......................................................................

Halaman 38 38

viii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Pernyataan Keaslian Tulisan .......................................................... 2 Daftar Riwayat Hidup .................................................................... 3 Media Pembelajaran ....................................................................... 4 Kartu Snellen .................................................................................. 5 Surat Keterangan Penelitian ...........................................................

Halaman 43 44 45 46 47

ix

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah Manusia merupakan makhluk sosial. Mereka selalu hidup dalam kelompok, mulai kelompok kecil sampai kelompok besar yang kemudian disebut dengan masyarakat. Dalam kelompok masyarakat ini, terjadilah komunikasi timbal balik. Komunikasi ini dapat berlangsung karena adanya sarana pokok berupa bahasa yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. Dini Dahlia (2001:24) menyebutkan bahwa bahasa adalah lambang bunyi suara yang dihasilkan oleh alat ucap manusia sebagai alat komunikasi antar manusia. Jujun Suriasumantri (2000:167) berpendapat bahwa bahasa merupakan alat kumunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran kepada orang lain. Kedua pendapat ini menegaskan bahwa fungsi praktis bahasa adalah alat komunikasi antar manusia.. Dilihat dari cara penyampaianya, ragam bahasa dapat digolongkan menjadi ragam bahasa tulis dan ragam bahasa lisan. Untuk memahami ragam bahasa lisan yang diucapkan oleh lawan bicara, orang harus mendengarkan dengan penuh perhatian menggunakan indera pendengaran, yang lebih dikenal dengan istilah menyimak. Cara yang seperti ini disebut komunikasi langsung. Untuk memahami ragam bahasa tulis, seseorang harus melakukan kegiatan membaca rangkaian lambang bunyi bahasa itu. Dalam kehidupan modern seperti sekarang ini, manusia hampir tidak dapat dipisahkan dari buku. Peradaban manusia identik dengan buku. Kemajuan ilmu pengetahuan yang dikuasai oleh manusia ditulis dalam buku, dilestarikan dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Agar tidak ketinggalan informasi tentang kemajuan ilmu pengetahuan, orang harus selalu membaca buku. Oleh karena itu, keterampilan membaca dan keterampilan memahami paparan yang tertulis dalam buku merupakan kunci penguasan ilmu pengetahuan.

1

Sampai sekarang para ahli bahasa belum mempunyai kata sepakat tentang pengertian membaca. Hal ini terbukti masih adanya perbedaan pengertian yang dikemukakannya. I Gusti Ngurah Oka (1983:11) menyebutkan bahwa membaca adalah proses melisankan paparan bahasa tulis, atau kegiatan mempersepsi tuturan tertulis. Pendapat I Gusti Ngurah Oka ini menitikberatkan bahwa kegiatan membaca adalah proses melisankan paparan bahasa tulis, yang berarti keluar suara melalui mulut, baik lirih atau keras/nyaring, sesuai bunyi lambang bahasa.. Kegiatan mempersepsi mengandung pengertian bahwa agar seseorang dapat memahami makna paparan bahasa tulis itu maka ia harus memadukan kerja indera belajar (indera visual, indera memori kognitif), kemudian mengambil makna dan memadukan dengan memori bahasa yang telah dimiliki sebelumnya. Henry Guntur Tarigan (1985:7) menyebutkan bahwa membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata bahasa tulis. Dari kedua pendapat tentang membaca di atas nampaklah bahwa tujuan utama kegiatan membaca adalah berusaha memperoleh pemahaman terhadap wacana yang dibacanya. Keterampilan berbahasa ada empat, yaitu (1) keterampilan menyimak, (2) keterampilan berbicara, (3) keterampilan membaca, dan (4) keterampilan menulis. Jadi keterampilan membaca merupakan salah satu dari keterampilan berbahasa. Keempat keterampilan berbahasa ini berhubungan erat. Mula-mula seorang anak belajar bahasa melalui kegiatan menyimak bahasa ibu, kemudian berbicara (menirukan), lalu belajar membaca kemudian baru menulis, baik di rumah maupun di sekolah. Tanpa memiliki keterampilan membaca yang memadai seorang anak akan mengalami banyak hambatan atau kesulitan dalam mengikuti pembelajaran beberapa mata pelajaran di jenjang kelas yang lebih tinggi. Hal ini bisa dilihat dari prestasi akademik yang rendah atau tinggal kelas (mengulang kelas) bagi anak yang mengalami keterlambatan dalam penguasaan keterampilan membaca

2

dan menulis permulaan, di kelas awal (kelas I). Keadaan yang demikian ini juga dialami oleh sebagian besar anak luar biasa, khususnya anak tunagrahita, yang sedang mengikuti pendidikan formal di Sekolah Luar Biasa. Keterampilan membaca dan menulis bagi anak luar biasa, sangat bermanfaat bagi pertumbuhan dan perkembangan kognitif, emosi, dan perilakunya. Mengingat pentingnya peranan keterampilan membaca dan menulis dalam proses kegiatan pembelajaran maka pembelajarannya harus lebih banyak mendapat perhatian yang lebih serius oleh guru kelas atau guru mata pelajaran bahasa Indonesia. Dalam proses pembelajaran membaca dan menulis, ada beberapa metode yang dapat digunakan. Menurut Buku Petunjuk Pengajaran Membaca dan Menulis Permulaan, yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1995:14) antara lain disebutkan: (1) metode abjad, (2) metode suku kata, (3) metode kata lembaga, (4) metode global, dan (5) metode Struktur Analisis Sintesa (SAS). Metode-metode tersebut kesemuanya dapat diterapkan karena setiap metode mempunyai dasar dan alasan yang kuat, sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif anak. Akan tetapi tingkat keberhasilan dari penerapan metode yang dipilih, amat tergantung kepada faktor guru dalam membuat dan melaksanakan skenario pembelajaran yang telah direncanakan. Disamping itu faktor psikologis anak luar biasa, dalam mengoptimalkan kinerja indera belajar, daya tangkap, daya tanggap, memori visual, dan daya rekam memori kognitif, terhadap isi pembelajaran membaca dan menulis, juga ikut berpengaruh. Siswa Sekolah Luar Biasa Dharma Wanita Jiwan, khususnya yang memiliki daya tangkap dan daya tanggap rendah, yang lebih dikenal dengan sebutan penyandang tunagrahita, banyak mengalami kesulitan belajar membaca dan menulis, akibat dari rendahnya ketrampilan membaca dan menulis.

3

Berangkat dari uraian tersebut di atas maka guru di Sekolah Luar Biasa Dharma Wanita Jiwan harus melakukan refleksi diri, evaluasi diri untuk mencari atau mengidentifikasi faktor penyebab, sekaligus mencari alternatif pemecahannya, melalui penelitian tindakan kelas, pada kelas atau mata pelajaran yang menjadi tanggung jawabnya. Pada tahun pelajaran 2006/2007 ini, Sekolah Luar Biasa Dharma Wanita Jiwan, mengasuh dua jenis anak luar biasa, yaitu penyandang tuna rungu wicara dan penyandang tunagrahita. Kegiatan membaca nyaring, yang harus mengeluarkan suara sesuai bunyi lambang bahasa, hanya dapat dilakukan oleh siswa penyandang tuna grahita. Oleh karena itu, pada penelitian ini hanya difokuskan bagi siswa penyandang tunagrahita. Perlakuan yang dipilih dalam penelitian ini adalah penerapan media gambar dalam meningkatkan keterampilan membaca nyaring siswa. B. Identifikasi Masalah Berdasarkan uraian dalam latar belakang masalah tersebut, dapat diidentifikasi beberapa masalah yang muncul, sebagai berikut 1. Apakah pembelajaran membaca nyaring pada siswa penyandang tuna grahita telah mengacu pada kurikulum yang berlaku? 2. Apakah pembelajaran membaca nyaring pada siswa penyandang tuna grahita, telah dilaksanakan dengan metode yang bervariasi? 3. Sejauh mana pengetahuan guru terhadap media pembelajaran yang dapat meningkatkan keterampilan membaca nyaring siswa penyandang tuna grahita? 4. Apakah guru telah memliki pengetahuan yang cukup memadai mengenai aspek-aspek yang dipakai untuk mengukur keterampilan membaca nyaring siswa penyandang tunagrahita?

4

5. Kendala-kendala apakah yang sering dihadapi guru dalam pembelajaran tunagrahita? C. Rumusan Masalah Berangkat dari latar belakang masalah yang telah dipaparkan di depan maka rumusan masalah penelitian ini adalah seberapa jauh peranan media gambar dalam membantu meningkatkan keterampilan membaca nyaring, bagi siswa penyandang tunagrahita di Sekolah Luar Biasa Dharma Wanita Jiwan, pada tahun pelajaran 2006/2007. D. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan paparan yang jelas mengenai seberapa jauh peranan media gambar dalam meningkatkan keterampilan membaca nyaring bagi siswa penyandang tunagrahita, di Sekolah Luar Biasa Dharma Wanita Jiwan pada tahun pelajaran 2006/2007. E. Kegunaan Penelitian Hasil konkret dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut: 1. Umpan balik bagi guru untuk lebih memerhatikan dan memperbaiki skenario pembelajaran membaca dan menulis bagi siswa penyandang tunagrahita. 2. Umpan balik bagi sekolah pengadaan dan perawatan untuk lebih memerhatikan pembelajaran, membaca nyaring pada siswa penyandang

alat-alat peraga

khususnya media gambar sebagai sarana untuk memperbaiki skenario pembelajaran membaca dan menulis bagi siswa

penyandang tunagrahita.

5

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Pengertian Anak Luar Biasa

Sebagian besar orang menyebut anak luar biasa dengan sebutan anak berkelainan. Istilah berkelainan dalam percakapan sehari-hari dikonotasikan sebagai kondisi yang menyimpang dari kondisi anak yang sebaya atau rata-rata pada umumnya. Penyimpangan ini memiliki nilai lebih atau kurang. Dalam pendidikan luar biasa atau pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus, istilah penyimpangan ditujukan bagi anak yang memiliki penyimpangan dari kondisi rata-rata anak normal umumnya, dalam hal keadaan fisik, mental atau perilakunya. Istilah penyimpangan atau kelainan dirasa kurang bisa diterima secara psikologis oleh para penyandangnya. Untuk mengurangi beban psikologis tersebut, istilah kelainan diganti dengan istilah luar biasa. Menurut “Kamus Besar Bahasa Indonesia” (1988:553), luar biasa adalah keadaan tidak seperti yang biasa; tidak sama dengan lain; istimewa. Sub Dinas Pendidikan Luar Biasa, Propinsi Jawa Timur (1993:5) menyebutkan bahwa anak luar biasa adalah anak yang kondisi/keadaan dan perkembangannya demikian menyimpang dari anak normal, baik secara fisik, mental, sosial maupun emosinya. Peraturan Pemerintah Nomer 72 tahun 1991 (1992:219) tentang Pendidikan Luar Biasa, menyebutkan bahwa anak luar biasa adalah anak yang menyandang kelainan fisik dan atau mental dan kelainan perilaku. Jenis kelainan yang disandang oleh anak luar biasa dapat berupa (1) kelainan indera penglihatan disebut tunanetra-A, (2) kelainan indera pendengar dan indera bicara disebut tunarungu wicara-B, (3) kelainan daya serap pelajaran/akademik disebut tunagrahita-C, (4) kelainan keadaan dan fungsi sebagian anggota tubuh disebut tunadaksa-D, (5) kelainan perilaku sosial disebut tunalaras-E, dan (6) kelainan ganda dari beberapa kelaina tersebut di atas, yang disebut tunaganda atau majemuk-G. Berikut ini akan dipaparkan sepintas pengertian anak luar biasa tersebut. 1. Anak Tunanetra-A

6

Anak tunanetra adalah anak yang mengalami kerusakan sebagian dari mata secara fisik atau fungsi mata dalam derajat kerusakan total atau sebagian, yang masih mempunyai sisa penglihatan, dengan tidak membedakan faktor penyebabnya. Dengan kata lain istilah tunanetra mencakup dua tingkat kerusakan mata, yaitu buta total (tidak mempunyai sisa penglihatan sama sekali), atau masih mempuyai sisa penglihatan (low vision). Mohammad Effendi (2006:52) menyatakan bahwa secara definitif seseorang dikatakan tunanetra apabila memiliki visus sentralis kurang dari/lebih kecil dari 6/6, atau setelah dikoreksi/dibantu tindakan medis secara maksimal, tidak mungkin menggunakan fasilitas pendidikan seperti yang dipergunakan oleh orang awas. 2. Anak Tunarungu wicara-B Anak tunarungu wicara adalah anak yang kurang mampu atau tidak mampu sama sekali mendengar bunyi/suara pada intensitas tertentu (keras atau lemah), dalam satuan deciBell (dB), menggunakan telinganya sendiri, sebagai akibat dari kerusakan organ pendengarannya. Akibat kerusakan ini, menjadikan organ pendengaran tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Dengan kondisi seperti ini, mempengaruhi tingkat perkembangan anak dalam belajar bahasa lisan, prestasi akademik, emosi dan sosialisasi dengan lingkungannya. Mohammad Effendi (2006:58) menyatakan bahwa berdasarkan nilai ambang batas, seseorang yang mengalami kehilangan daya dengar 0 - 20 dB, masih dianggap normal. Dari pernyataan Mohammad Effendi di atas nampaklah bahwa kehilangan daya dengar di atas atau lebih dari 20 dB, baru dinyatakan tuna rungu. 3. Anak Tunagrahita-C Anak tunagrahita adalah anak yang mengalami kelainan mental atau terbelakang mental atau anak yang mentalnya tidak dapat mencapai perkembangan penuh, seperti anak yang sebayanya sehingga mengakibatkan terbatasnya kemampuan belajar, mengalami kesulitan/hambatan penyesuaian dengan lingkungan sosialnya. Dengan kata lain, anak tunagrahita

7

merupakan merupakan anak yang intelegensinya di bawah ratarata subnormal, atau IQ sekitar 70 ke bawah. Mohammad Effendi (2006:88) menyatakan bahwa seorang anak yang dikategorikan berkelainan mental/subnormal atau tunagrahita, jika ia memiliki tingkat kecerdasan yang sedemikian rendahnya sehingga untuk mencapai tingkat perkembangannya memerlukan bantuan atau layanan yang khusus termasuk dalam program pendidikannya. Menurut derajat ketunaanya, anak tunagrahita dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu (1) tunagrahita mampu didik (debil), (2) tunagrahita mampu latih imbisil), dan (3) tunagrahita mampu rawat (idiot). 4. Anak Tunadaksa-D Anak tunadaksa adalah anak yang mengalami keadaan tidak sempurna dan atau tidak lengkapnya organ/anggota tubuhnya, terutama tangan, kaki atau badan, sehingga mengalami gangguan fungsi atau manfaat dari organ tubuh itu, yang disebabkan karena penyakit, kelainan sejak lahir (natal), atau karena kecelakaan masa pertumbuhan (post natal). Mohammad Effendi (2006:114) menyebutkan bahwa anak tunadaksa adalah anak yang mengalami kesulitan dalam memaksimalkan fungsi anggota tubuh sebagai akibat dari luka, penyakit, pertumbuhan di dalam kandungan yang salah bentuk (tidak sempurna), akibatnya kemampuan untuk melakukan gerakan anggota tubuh tertentu mengalami hambatan. 5. Anak Tunalaras-E Anak tunalaras adalah anak yang memiliki kelainan tingkah laku atau sering disebut dengan anak nakal. Bandi Delphie (2006:100) menyatakan bahwa anak tunalaras adalah anak yang mempunyai kondisi perilaku yang menyimpang dari perilaku normal. Perilaku yang menyimpang ini pada umumnya dapat menimbulkan keresahan atau gangguan ketenteraman kehidupan anggota keluarga dan masyarakat di sekitarnya. Jenis perilaku kenakalan anak tunalaras ini, apabila dilakukan oleh orang dewasa dapat dikategorikan sebagai perilaku yang melanggar hukum. Tunalaras dikenal juga dengan sebutan tunasosial.

8

Mohammad Effendi (2006:159) menyatakan sebagai berikut. “Anak tunalaras adalah anak yang mempunyai perilaku menyimpang, suka melakukan pelanggaran terhadap norma sosial di sekitarnya, dengan frekuensi yang cukup besar/banyak kurang mempunyai sikap toleransi terhadap anggota kelompok dan orang lain, mudah terpengaruh oleh perubahan suasana, sehingga membuat kesulitan bagi dirinya dan orang lain”. Dari beberapa pengertian tentang anak luar biasa tersebut di atas nampak nyata bahwa anak luar biasa itu memerlukan pelayanan pendidikan secara khusus, ditangani oleh guru/pembimbing khusus, di sekolah khusus, yang dikenal dengan Sekolah Luar Biasa/SLB. Mengingat bahwa kegiatan membaca nyaring, sebagai tema dari penelitian ini hanya dikhususkan bagi siswa tunagrahita, maka pembahasan berikut hanya dikhususkan kepada siswa penyandang tunagrahita. Pada umumnya prestasi belajar akademik dipengaruhi oleh tingkat intelegensi. Untuk mengetahui tingkatan intelegensi seseorang/siswa dipergunakan kriteria, yaitu (1) IQ 140 ke atas dikatakan anak jenius, (2) IQ 130 - 139 dikatakan sangat superior, (3) IQ 120 – 129 dikatakan anak superior, (4) IQ 110 – 119 dikatakan anak di atas normal, (5) IQ 90 – 109 dikatakan anak normal, (6) IQ 80 – 89 dikatakan anak di bawah normal, dan (7) IQ 79 kebawah dikatakan anak lemah jiwa/mental atau kelainan mental. Mulyono Abdurrahman (1999:22) menyatakan bahwa anak yang dapat digolongkan sebagai anak berkesulitan belajar adalah anak yang memiliki skor IQ 79 ke bawah. Anak/siswa tunagrahita memiliki skor IQ 79 ke bawah, akan mengalami banyak kesulitan dalam mengikuti pembelajaran akademik. Mulyono Abdurrahman (1999:6) menyatakan bahwa kesulitan belajar adalah suatu gangguan dalam satu atau lebih proses psikologis yang mencakup pemahaman dan penggunaan bahasa ujaran dan tulisan. Gangguan tersebut menampakkan diri dalam bentuk kesulitan dalam mendengarkan, berpikir, berbicara, membaca, mengeja dan berhitung.

9

Sebuah lembaga di Amerika Serikat, The National Joint Comitte for Learning Disabilitas (NJCLD), sebagaimana dikutip oleh Mulyono Abdurrahman (1999:7) menyebutkan bahwa kesulitan belajar menunjuk pada sekolompok kesulitan yang dimanifestasikan dalam bentuk kesulitan yang nyata, dalam kemahiran dan penggunaan kemampuan mendengarkan, bercakapcakap, membaca, menulis, menalar, atau kemampuan bidang studi matematika. Dari kedua pendapat yang terakhir tersebut nyatalah bahwa anak yang mengalami kesulitan belajar membaca, juga akan mengalami kesulitan dalam hal lain, seperti kesulitan menulis, berpikir, bercakap-cakap/berbicara, mengeja huruf, kekurangan dalam memori visual, memori kognitip. Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Vernon, seperti dikutip oleh Mulyono Abdurrahman (1999:164) yang mengemukakan bahwa perilaku anak berkesulitan belajar membaca adalah sebagai berikut. a. Memiliki kekurangan dalam diskriminasi bahasa, Tidak mampu menganalisa kata menjadi huruf, b. Memiliki kekurangan dalam memori visual, c. Memiliki kekurangan dalam diskriminasi audio, d. Tidak mampu memahami simbul bunyi, e. Kurang mampu mengintegrasikan penglihatan dan pendengaran, f. Kesulitan dalam mengurutkan kata-kata dan huruf, g. Kurang mampu membaca kata-kata, dan h. Kurang mampu berfikir konseptual, abstrak. Pendapat di atas menunjukkan bahwa anak tunagrahita memiliki kekurangan dalam memori kognitip, yang lebih dikenal dengan istilah disfungsi minimal otak. Akibatnya ia akan mengalami kesulitan dalam membedakan/mendiskriminasikan audio, visual, huruf, sebagai bekal dasar dalam kegiatan membaca dan mengikuti pembelajaran. Yuyus Suherman (2005:15) menyebutkan bahwa karakteristik anak dengan kesulitan belajar seperti anak tunagrahita, meliputi sebelas gugus kesalahan yaitu: a. Kesalahan ejaan, b. Kesalahan membedakan apa yang didengar,

10

c. d. e. f. g. h. i. j. k.

Kesulitan mengenal huruf, Kesulitan mengucapkan bunyi atau huruf awal kata, Kesulitan mengingat apa yang didengar, Kesalahan membilang dan mengingat angka, Kesulitan mengingat apa yang dilihat, Ketidaktepatan dalam koordinasi anggota gerak, Kesalahan orientasi pada bidang datar, Kesalahan ucapan unsur kata, Kesalahan gerak halus yang nampak pada saat ia menulis.

B. Membaca 1. Pengertian Membaca Menurut “Kamus Besar Bahasa Indonesia-KBBI” (1988:620), membaca adalah proses kegiatan mengeja atau melafalkan apa yang tertulis dengan melesankan atau dalam hati. I Gusti Ngurah Oka (1993:11) menyebutkan bahwa membaca sebagai (a) kegiatan mempersepsi tuturan tertulis, (b) penerapan seperangkat keterampilan kognitip untuk memperoleh pemahaman dari tuturan tertulis. Mulyono Abdurrahman (1999:200) memberikan batasan bahwa membaca bukan hanya mengucapkan bahasa tulis atau lambang bunyi bahasa, melainkan juga menanggapi dan memahami isi bahasa tulisan. Henry Guntur Tarigan (1984:7) juga memberikan batasan bahwa membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media katakata/bahasa tulis. Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa membaca merupakan proses mengucapkan secara lisan atau dalam hati, lambang-lambang bunyi dari tuturan tertulis, dan berusaha memahami/memperoleh makna yang dikandung oleh serangkaian kata-kata dalam tuturan tertulis itu. Membaca merupakan suatu proses penafsiran atau interpretasi terhadap ujaran yang ditulis. Dengan demikian, membaca merupakan bentuk komunikasi tak langsung. Membaca dengan melisankan, baik lirih atau keras

11

sehingga orang lain dapat mendengar lebih dikenal dengan istilah membaca nyaring. Hal ini sesuai dengan pendapat Dini Dahlia (2001:152) dalam bukunya Bimbingan Pemantapan Bahasa Indonesia bahwa membaca nyaring adalah membaca dengan disuarakan, yakni dengan tujuan agar pembaca dan orang lain secara bersama-sama dapat menyimak dan memahami isi bacaan. Kegiatan membaca nyaring menuntut si pembaca memiliki kecepatan dan ketepatan pandangan mata, sebab ia harus selalu melihat bahan bacaan berupa tulisan, dan memelihara kontak visualnya dengan tulisan, agar bunyi bacaannya sesuai benar dengan lambang bunyi bahasanya. Membaca nyaring banyak dilakukan oleh anak yang sedang belajar membaca dan menulis permulaan. Kegiatan membaca nyaring yang didengarnya sendiri dapat membantu meningkatkan pemahaman membaca anak, karena proses pemerolehan bahasa pertama kali, anak juga mendengar sendiri dari anggota keluarga terdekatnya (ibu). Jika anak sudah terbiasa melisankan dengan membaca nyaring bunyi bahasa yang didengarnya, maka akan lebih membantu mengenali kembali unsur bahasa yang diperoleh dan didengarnya. Oleh karena itu kegiatan membaca keras dan nyaring banyak dilatihkan pada tahap awal pembelajaran membaca dan menulis, di kelas I. Menghalangi dan mencegah terjadinya kesalahan membaca, lebih baik daripada membetulkan kesalahan membaca, hal ini merupakan salah satu prinsip dalam pembelajaran membaca. 2. Metode Pembelajaran Membaca Ada beberapa metode dalam pembelajaran membaca. Berikut ini adalah metode-metode yang dimaksud. a. Metode abjad/metode alfabetik, dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1) Mengenalkan dilafalkan [bé]; dan membaca huruf, misalnya b

12

2) Merangkai huruf yang telah dilafalkan, menjadi suku kata, misalnya bu dilafalkan bé-u [bu]; ku dilafalkan ka-u [ku]. 3) Merangkai suku kata menjadi kata, misalnya bu-ku dilafalkan [buku] 4) Merangkai kata menjadi kalimat, misalnya ini+buku dilafalkan [ini buku] b. Metode bunyi, yang melafalkan huruf sebagaimana bunyi huruf itu, misalnya: dilafalkan [êd] atau [déh] c. Metode suku kata, yang mengeja kata menjadi suku kata, misalnya: i + tu, dilafalkan [itu] d. Metode kata lembaga, dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1) Mengenalkan kata lembaga, misalnya mina 2) Menguraikan kata menjadi suku kata, misalnya mi + na 3) Menguraikan suku kata menjadi huruf, misalnya m i + n a 4) Menggabungkan huruf menjadi suku kata, misalnya mi + na b dilafalkan [éb] atau [beh], d

13

5) Menggabungkan suku kata menjadi kata, misalnya mina e. Metode Struktur Analisis dan Sintetis (SAS), dengan

langkah- langkah sebagai berikut: 1) Guru menunjukkan kepada siswa sebuah kata, misalnya “ ini baju”. 2) Menganalisa bacaan “ini baju” menjadi kata “ini” dan “baju”, 3) Menganalisa menjadi suku kata “i + ni” dan “ba + ju” 4) Menganalisa menjadi huruf “i n i b a j u” dan “ba +

5) Menggabungkan menjadi suku kata “ i + ni” ju”

6) Menggabungkan suku kata menjadi kata “ini” dan “baju” 7) Menggabungkan kata menjadi kalimat “ ini baju” Mulyono Abdurrahman (1999:217) menyebutkan bahwa pembelajaran membaca, khusus bagi siswa yang mengalami kesulitan belajar membaca, seperti siswa tunagrahita, bisa menggunakan metode multi sensoris, yang disebut dengan metode VAKT (Visual, Auditory, Kinesthetic, and Tactile). Dengan metode ini, guru menuliskan sebuah kata di papan tulis atau di atas kertas. Siswa disuruh menelusuri huruf-huruf dengan jari tangannya (kinesthetic and tactile). Pada saat siswa menelusuri huruf-huruf dengan jari tanganya, siswa melihat tulisan (visual), dan siswa mendengarkan (auditory) lalu menirukan ucapan guru dengan keras. Dalam pembelajaran membaca dengan metode VAKT ini, siswa dilatih mengoptimalkan kerjasama/sinerji fungsi

14

indera lihat, indera dengar, indera motorik tangan dan memori kognitif. Latihan pembelajaran ini dilakukan berulangulang, dengan penajaman pada huruf yang belum dipahami oleh siswa. C. Media Pembelajaran 1. Pengertian Media Pembelajaran Kata “media” berarti alat, perantara atau pengantar. Dengan demikian media merupakan perantara penyalur informasi belajar atau penyalur pesan kepada peserta didik/siswa. Menurut Soeparno (1988:1) media adalah alat yang dipakai sebagai saluran untuk menyampaikan suatu pesan atau informasi dari suatu sumber kepada penerimanya. Media dapat berupa manusia, benda, alat, bahan ataupun peristiwa yang memungkinkan siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan. Dalam proses pembelajaran di sekolah, pesan tersebut berasal dari guru, sebagai penerima pesan adalah siswa. Akhirnya dapat dipahami bahwa media adalah alat bantu berupa apa saja, yang dapat dijadikan sebagai penyalur pesan guna mencapai tujuan pembelajaran. Sebagian besar orang atau guru menyebut media pembelajaran ini sebagai alat peraga atau alat bantu. 2. Tujuan dan Latar Belakang Penggunaan Media Pembelajaran Tujuan utama penggunaan media pembelajaran adalah agar pesan atau isi pembelajaran yang disampaikan oleh

15

guru dapat dengan mudah diserap oleh siswa sebagai penerima pesan. Sedang latar belakang perlunya penggunaan media pembelajaran adalah informasi belajar yang dikomunikasikan secara verbal/ceramah saja, kemungkinan terserapnya amat kecil, sebab informasi yang demikian itu bersifat abstrak, sedang siswa masih dalam taraf tingkatan berfikir secara konkret, nyata. Sesuatu yang diamati, diraba, dilihat, dipegang akan lebih berkesan bagi siswa, dari pada kalau disampaikan dengan cara ceramah yang bersifat abstrak. Semakin abstrak bahan pembelajaran, semakin sulit diterima oleh siswa, sebaliknya semakin konkret, nyata isi pembelajaran, akan semakin mudah dipahami oleh siswa. Media/peraga sebagai alat bantu dapat menjelaskan secara visual pengertian isi pembelajaran yang tidak dapat diwakili dengan kata-kata. Dengan media, proses pembelajaran yang bersifat verbalisme dapat diminimalkan. Penggunaan media sebagai alat peraga/bantu pembelajaran, juga sesuai dengan cara belajar siswa tunagrahita yang bersifat konkret. Hal ini sesuai dengan pendapat Mulyono Abdurrahman (1999:87) yang menyatakan bahwa:

16

Pada usia 7 hingga 11 tahun siswa berada pada tahapan operasi konkret. Pada tahapan ini yang dapat dipikirkan siswa masih terbatas pada benda-benda konkret yang dapat diraba dan dilihat. Banyak siswa tunagrahita meskipun umurnya telah mencapai 11 tahun, tetapi masih berada pada tahapan operasi konkret.

Badan Penelitian dan Pengembangan, Departemen Pendidikan Nasional (2006:3) menyatakan bahwa cara belajar siswa usia sekolah dasar berada pada tahapan operasi konkret, yang mengandung makna proses belajar beranjak dari hal-hal yang konkret, yakni yang dapat dilihat, didengar, dibaui dan diraba. Dari paparan tersebut di atas jelaslah bahwa asas peragaan merupakan salah satu usaha guru untuk membantu mempermudah siswa dalam menyerap isi pembelajaran. Oleh karena itu maka tepatlah kiranya bila pembelajaran membaca permulaan bagi siswa penyandang tunagrahita menggunakan salah satu alat bantu/media berupa gambar.

17

BAB III METODE PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian Rancangan penelitian yang dipergunakan dalam penelitian ini

adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Suharsimi Arikunto kelas adalah sebuah (2006:2) menyatakan bahwa penelitian tindakan penelitian yang dilakukan di kelas.

kegiatan

Suharjono (2006:57) menyatakan sebagai berikut. Penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru bekerja sama dengan peneliti (atau dilakukan oleh guru sendiri yang juga bertindak sebagai peneliti) di kelas atau sekolah tempat ia mengajar, dengan penekanan pada penyempurnaan atau peningkatan proses dan praktis pembelajaran.

Pendapat Suharjono ini menyebutkan adanya pelaku penelitian yaitu guru atau peneliti lain, tempat penelitian yaitu kelas atau sekolah, dan dampak yang diharapkan dari tindakan penelitian yaitu adanya penyempurnaan dan perbaikan proses pembelajaran. Pada bagian lain Suharjono (2006:72)

menegaskan bahwa apabila guru melakukan PTK untuk kelasnya sendiri maka ia bertindak selaku peneliti yang sekaligus sebagai praktisi. Berdasarkan uraian di atas, seorang guru boleh melakukan penelitian tindakan kelas tanpa berkolaborasi atau bekerjasama dengan peneliti/pihak lain lain. Penelitian tindakan kelas yang dilakukan oleh guru tanpa berkolaborasi dengan pihak lain (peneliti ahli) mempunyai kelemahan, antara lain (1) guru pada umumnya belum menguasai teknik dasar penelitian, (2) guru tidak

18

memiliki waktu yang cukup karena padatnya kegiatan pembelajaran dan tugas administrasi kelas/sekolah, s erta tugas lain di luar tugas pembelajaran, (3) tingginya unsur subjektifitas proses, data penelitian. Akibatnya hasil

penelitian kurang memenuhi kriteria validitas metodologi ilmiah. Kelas adalah sekelompok siswa, yang pada waktu yang sama

mengikuti dan memperoleh pembelajaran dari guru. Pada penelitian tindakan kelas, data penelitian diperoleh dari objek penelitian yaitu siswa y ang berada pada satu kelompok/rombongan belajar yang dikenai tindakan oleh peneliti. Penelitian tindakan kelas ini tidak menggunakan populasi dan sampel. Hal ini sesuai dengan pendapat Suharsimi Arikunto (2006:27) yang menyatakan bahwa penelitian tindakan kelas tidak mengenal populasi dan sampel karena dampak perlakuannya hanya berlaku pada siswa yang dikenai tindakan saja. Penelitian tindakan kelas ini dilakukan dalam bentuk atau model siklus, yaitu suatu putaran/rangkaian kegiatan yang beruntun-urut dan kembali ke langkah semula. Satu siklus kegiatan terdiri atas empat kegiatan utama, yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi. Kegiatan pengamatan

dilakukan bersamaan dengan kegiatan tindakan. Setiap siklus selalu melaui keempat tahapan itu. perbaikan/penyempurnaan berlangsung dalam satu kepada lain. Siklus kedua dan seterusnya merupakan usaha dari siklus. siklus pertama. Siklus Penelitian ini hanya

kedua dan seterusnya

diserahkan

pemangku kepentingan/steakholder pendidikan luar biasa atau peneliti

19

1. Lokasi Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di Sekolah Luar Biasa Dharma Wanita Jiwan yang beralamat di Jl. Sumbermoro No. 3 Kecamatan Jiwan Kabupaten Madiun 2006/2007.
2. Waktu penelitian

Penelitian dilaksanakan selama 33 hari efektif masuk sekolah, mulai tanggal 20 Nopember 2006 sampai dengan tanggal 28 Desember 2006, pada jam pelajaran ke 1 dan 2, mata pelajaran bahasa Indonesia, dengan 2 jam pelajaran/minggu, @ 30 menit. 3. Target/Sasaran Penelitian Target yang diharapkan dari penelitian ini adalah adanya perubahan kemampuan yang positif atau peningkatan kemampuan/keterampilan membaca kata (sederhana) berstruktur konsonan-vokal-konsonan-vokal (kvkv), bagi siswa tunagrahita dengan indikator keberhasilan kegiatan belajar, siswa mampu membaca dengan benar kata-kata buku, baju, bola, topi dan kupu, dengan asumsi kata yang dipilih ini mudah dalam pengadaan media gambarnya. Target ini sesuai dengan rumusan dari Badan Standar Nasional Pendidikan (2006:67) bahwa (a) standar kompetensi dasar aspek membaca dari mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas 2 semester 1, adalah membaca nyaring suku kata, kata dan kalimat sederhana, (b) kompetensi dasar (1) membaca nyaring suku kata dan kata, dan (2) membaca nyaring kata sederhana dengan lafal dan intonasi yang tepat. Subjek penelitian ini adalah siswa tunagrahita kelas 2 sebanyak 6 siswa terdiri atas 4 laki-laki dan 2 perempuan. Secara umum mempunyai karakteristik akademik antara lain: (1) mempunyai daya memori kognitif yang rendah atau disfungsi minimal otak sehingga mudah lupa, (2) kurang bisa memusatkan perhatian pada pelajaran atau satu objek, sehingga mudah mengalihkan perhatian kepada objek lain, (3) pada pengucapan kata sering terjadi omisi/penghilangan unsur kata (suku kata) sehingga kata yang diucapkan terdengar tidak lengkap, (4) mempunyai kekurangan dalam diskriminasi huruf dan angka, (5) mempunyai aktifitas gerak yang berlebihan/hiperaktif, (6) gerakan tangan pada waktu menulis terlihat kaku, (7) emosi yang tidak

20

stabil, dan (8) mudah menyakiti fisik teman atau orang lain, tanpa menunjukkan ekpresi wajah menyesal. B. Siklus Penelitian 1. Perencaanaan Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dengan rencana seperti tabel di bawah.

21

No . 1

Tabel 3.1 Rencana Penelitian Minggu ke Rencana kegiatan
1 2 3 4 5 6

2

3

Persiapan Mengajukan ijin kepada Kepala Sekolah Menyusun jadwal Menyusun instrumen (media gambar soal tes, lembar pengamatan dan skenario pembelajaran) Pelaksanaan Menyiapkan dan menata instrumen Melakukan tes pra kondisi (tes visual, auditori, kognitif Melakukan pembelajaran membaca dengan metode kata lembaga dan vakt Pelaporan Menyusun konsep Seminar/diskusi hasil, dengan sesama guru Perbaikan konsep

x x x

x x x x x

x x x

2. Pelaksanaan Tindakan dan Pengamatan Tindakan dan pengamatan dalam penelitian ini dilaksanakan secara bersamaan dengan langkah-langkah sebagai berikut. a. Mengetes ketajaman penglihatan/tes visual kepada semua siswa dengan kartu Snellen. Hasilnya sebagai dasar

penempatan tempat duduk siswa dan pemilihan ukuran besar kecilnya huruf yang dipakai sebagai media pembelajaran baik

22

di buku dan papan tulis. Siswa yang mempunyai ketajaman penglihatan kurang ditempatkan pada kursi terdekat dengan papan tulis Diyakini bahwa ketajaman penglihatan siswa berpengaruh dalam kemampuan

mendiskriminasi/membedakan huruf dan angka yang mirip. Misalnya huruf m dengan n, l dengan i, b dengan d, p dengan q, u dengan o, h dengan b; angka 3 dengan 8, angka 6 dengan 8, angka 4 dengan 9, angka 1 dengan 7. b. Mengetes ketajaman pendengaran kepada semua siswa/tes auditori, dengan menanyakan langsung, apakah suara guru dapat didengar dengan baik. Hasilnya sebagai dasar

pengaturan volume bicara guru, pada waktu pembelajaran. Diyakini bahwa ketajaman pendengaran berpengaruh dalam kemampuan membedakan bunyi huruf yang mirip, misalnya b dengan p, u dengan o, e dengan i, m dengan n. c. Mengetes kemampuan mengenal huruf kepada semua

siswa/tes kognitif. Kemampuan siswa dalam mengenal huruf merupakan bekal dasar membaca kata. d. Mengetes kemampuan membaca beberapa kata berstruktur konsonan vokal konsonan vokal (kvkv) kata: buku, baju,

23

bola, topi, kupu, menggunakan instrumen kartu kata dan diamati dengan instrumen/lembar pengamatan. Hasil dari langkah-langkah ini dirangkum dalam instrumen pengamatan sebagai data awal pra kondisi/pembelajaran, yang nanti akan dibandingkan dengan data hasil pengamatan setelah siswa mengikuti pembelajaran. e. Peneliti memulai pembelajaran membaca kata-kata buku, baju, dasi, topi dan kupu dengan menuliskan kata-kata itu di papan tulis atau kartu kata, dengan gabungan metode kata lembaga, dan metode VAKT (Visual Auditori Kinesthetic and Tactile). f. Selanjutnya dilakukan tes membaca kata-kata tersebut di atas kepada semua siswa satu persatu (bergantian), hasilnya dicatat dalam lembar/instrumen pengamatan. g. Langkah e diulang, tetapi menggunakan bantuan media gambar, dengan penajaman pada kata-kata yang belum dapat dibaca dengan benar oleh sebagian besar siswa. h. Dilakukan tes membaca, hasilnya dicatat dalam lembar pengamatan. Langkah-langkah di atas bila dibuat bagan akan nampak seperti di bawah.
Kata Kata + gambar

Pembelajaran 24

Pembelajaran

Tes

Tes

dibandingkan

3. Refleksi Pada kegiatan refleksi ini peneliti mengkaji secara mendalam, cermat dan menyeluruh terhadap seluruh kegiatan penelitian atau perlakuan beserta dampaknya kepada siswa dan guru/peneliti berdasarkan data yang berhasil dikumpulkan dengan bantuan instrumen pada tahap pengamatan. Kegiatan bantu sebagai dasar refleksi ini adalah analisis data, pemaknaan, penjelasan dan penyimpulan. Dalam penelitian tindakan kelas ini ada dua jenis data yang dapat dikumpulkan oleh guru sebagai peneliti: a. Data kuantitatif berupa skor nilai hasil belajar siswa. Dalam hal ini peneliti menggunakan teknik analisis ststistik deskriptif.

Misalnya mencari rerata dan persentase. b. Data kualitatif yaitu data yang berbentuk informasi, uraian kalimat, keterangan, pernyataan. Data jenis ini dapat dianalisis secara kualitatif.

25

Kegiatan yang dilakukan pada tahap refleksi ini adalah data, pemaknaan, penjelasan dan penyimpulan data. Langkah analisis data dalam penelitian tindakan kelas ini, dilakukan dalam tiga tahap sebagai berikut. a. Menelaah seluruh data yang telah dikumpulkan. Penelaahan dilakukan dengan cara menganalisis, memaknai, menerangkan dan menyimpulkan. Kegiatan penelaahan pada prinsipnya bisa dilakukan sejak awal data dikumpulkan/diperoleh. b. Mereduksi data (menghilangkan data yang tidak bermanfaat), yang didalamnya melibatkan kegiatan pengkategorian dan pengklasifikasian. Hasil yang diperoleh berupa pola-pola dan kecenderungan-

kecenderungan kecenderungan yang muncul dalam proses penelitian. c. Memferikasi dan menyimpulkan data. Data hasil pembahasan dalam penelitian ini akan dituangkan dalam bentuk tabel, grafik dan narasi/uraian. Sebagai uji penunjang/koreksi akan digunakan teknik analisis statistik deskriptif berupa penghitungan tendensi sentral (mean, mode dan median). Hal ini sesuai dengan pendapat Riyanto (2006:105) bahwa jenis-jenis analisis data dengan statistik deskriptif antara lain: (1) tabel-tabel, (2) penyajian dalam bentuk grafik, dan (3) tendensi sentral (mean, mode, dan median).

26

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bagian ini akan dipaparkan dan dibahas data yang telah berhasil dikumpulkan dengan bantuan instrumen pengumpul data pada tahap pengamatan. A. Hasil Penelitian 1. Subjek Penelitian Subjek penelitian tindakan kelas ini adalah 6 siswa tunagrahita yang pada tahun 2006/2007 ini duduk di kelas 2, seperti tersebut dalam tabel di bawah ini. Tabel 4.1 Subjek Penelitian Jenis No Nama Lengkap Tempat, tanggal lahir kelamin L 1 2 3 4 5 6 Tanbihul Ulum Eni Astutik Anggita Febri Restiwi Moch. Sandrio Guntur Prasetyo Lubis Muchtar Madiun, 26 - 5 - 1993 Madiun,11- 12 - 1993 Jakarta, 25 - 7 - 1992 Palembang,15 - 4 - 1996 Magetan, 27 - 3 -1995 Kediri, 31 - 6 - 1991 Jumlah v v v 4 2 v v v P

2. Tes Pra Kondisi Tes pra kondisi dalam penelitian ini berupa tes visual dan tes kognitif dilaksanakan pada tanggal 27 Nopember 2006.

27

28

a. Tes visual atau ketajaman penglihatan Setelah tes visual dilaksanakan memperoleh data seperti tabel di bawah ini. Tabel 4.2 Hasil Tes Ketajaman Penglihatan Ukuran huruf kartu No. Subjek
6/6 6/9

Snellen yang mampu terbaca
6/12 6/15 6/21

Angka/Indeks
Keterangan

Efisiensi 100 100 100 91,5 100 100

Hilang 0,0 0,0 0,0 8,5 0,0 0,0 Normal Normal Normal Kurang Normal Normal

1 2 3 4 5 6

v v v v v

v -

-

-

-

b. Tes kognitif 1) Tes membaca 26 huruf alpabet Tes membaca 26 huruf alphabet kepada subjek penelitian ini memperoleh hasil seperti tabel di bawah ini. Tabel 4.3 Hasil tes membaca 26 huruf alpabet No. Huruf-huruf yang terbaca Subjek 1 2 a, b, d, e, f, r, o, s a, b, d, e, f, g, h, o, r, s 9 11 34,6 42,3 Jumlah %

29

3 4 5 6

a, b, c, d, e, f, g, h, i, j, k, l, m, n, o, p, q, r, s, t, u, v, w, x, y, z a, b, c, d, o, p, r, s a, b, o, r, s a, b, c, d, o, r, s

26 8 5 7

100 30,76 19,23 26,92

30

2) Tes membaca kata tanpa bantuan gambar Tes membaca kata tanpa bantuan gambar memperoleh hasil seperti tabel di bawah ini. Tabel 4.4 Hasil tes membaca kata tanpa bantuan gambar Kata-kata yang diujikan/diteskan No.
Subjek

buku
S B v v

baju
S v v v v v B v -

bola
S v v v v B v v -

topi
S v v v v v B v -

kupu
S v v v v v B v -

Jumlah
S B Skor

1 2 3 4 5 6

v v v v -

4 1 5 0 0 5 5 0 5 0 4 1

1 0 5 0 0 1

Keterangan : S = Salah, B = Betul 3. Tes Setelah Pembelajaran Pembelajaran membaca dengan bantuan gambar dilaksanakan dalam 3 kali pertemuan @ 2x30 menit. Pertemuan pertama tanggal

4 Desember 2006, kedua tanggal 11 Desember 2006 dan ketiga tanggal 17 Desember 2006. Di setiap akhir pertemuan diadakan tes membaca, sehingga ada 3 kali tes. Hasil masing-masing tes seperti tabel di bawah ini.

31

Tabel 4.5 Hasil tes pertama kemampuan membaca kata Kata-kata yang diujikan/diteskan No. Subjek 1 2 3 4 5 6 buku S v B v v v v v baju S v v B v v v v bola S v v v v v B v topi S v v v v B v v kupu S v v v v B v v S 3 3 0 3 4 3

Jumlah B Skor 2 2 5 2 1 2 2 2 5 2 1 2

Tabel 4.6 Hasil tes kedua kemampuan membaca kata Kata-kata yang diujikan/diteskan No. Subjek 1 2 3 4 5 6 buku S v B v v v v v baju S v v B v v v v bola S v v v B v v v topi S v v v v B v v kupu S v v v B v v v S 3 2 0 3 2 3

Jumlah B 2 3 5 2 3 2 Skor 2 3 5 2 3 2

32

Tabel 4.7 Hasil tes ketiga kemampuan membaca kata Kata-kata yang diujikan/diteskan No. Subjek 1 2 3 4 5 6 buku S v v B v v v v baju S v v B v v v v bola S B v v v v v v topi S v v v B v v v kupu S v v v v B v v S 2 2 0 2 3 2

Jumlah B 3 3 5 3 2 3 Skor 3 3 5 3 2 3

B. Pembahasan Hasil Penelitian Bagian ini akan dibahas satu persatu deskripsi data penelitian. 1. Tes Pra Kondisi a. Tes Visual Dari data hasil tes visual atau tes ketajaman penglihatan terhadap 6 siswa tunagrahita yang menjadi subjek penelitian ini, dapat diketahui bahwa ada 5 siswa yang masih mempunyai ketajaman penglihatan normal, dengan efisiensi 100% (normal). Ia masih mampu melihat dan membaca huruf di kartu Snellen berukuran 6 pada jarak baca 6 meter atau mempunyai visus mata 6/6. Ada 1 siswa yang kehilangan ketajaman penglihatan sebesar 8,5% sehingga efisensi ketajaman penglihatannya sebesar 91,5%.

33

Pada waktu dilakukan tes membaca huruf standar seperti huruf yang biasa dicetak di buku-buku pelajaran sekolah, yaitu huruf jenis New Times Roman ukuran 12 dengan jarak baca standar antara kertas dengan mata beberapa huruf. b. Tes mengenal dan membaca 26 huruf alphabet Hasil tes membaca 26 huruf alphabet menunjukkan adanya variasi kemampuan membaca kata. Ada 1 siswa yang bisa membaca 26 huruf (100%), ada 5 siswa yang masing-masing baru mampu membaca 11 huruf (42,3%), 9 huruf (39,6%), 8 huruf (30,76%), 7 huruf (26,93%) dan 5 huruf (19,23%). c. Data hasil tes membaca kata tanpa gambar Hasil tes dalam tabel 4.4 menunjukkan bahwa minimnya sejauh 30 cm, mereka mampu membaca

kemampuan membaca huruf alphabet berbanding lurus dengan kemampuan membaca kata atau berpengaruh terhadap kemampuan

membaca kata. Semakin banyak huruf yang mampu dibaca semakin banyak kata yang mampu dibaca. Hal ini bisa dilihat dari hasil tes pertama membaca kata tanpa gambar, dengan deret skor 1, 0, 5, 0, 0, 1. Untuk menghitung nilai rata-rata dan mode dari deret skor 1, 0, 5, 0, 0, 1, seperti tersebut dalam tabel 4.4 terlebih dahulu

disusun menjadi tabel distribusi tunggal sebagai berikut.

34

Tabel 4.8 Distribusi skore hasil tes membaca kata tanpa gambar Xi 0 1 2 3 4 5 fi 3 2 0 0 0 1 Σ fi = 6 fi.Xi 0 2 0 0 0 5 Σ fi.Xi = 7

Nilai

rata-rata (mean) dihitung dengan rumus, jumlah skor

(ΣfiXi) dibagi dengan banyak skor (Σfi):

Mean (Mn) =

f X f
i i

i

8  1,33 6

Dicari nilai modus yaitu nilai atau skor dengan jumlah frekuensi Terbanyak. Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui nilai modus (Mo) adalah 0 dengan jumlah frekuensi 3. Artinya dari 6 siswa yang mengikuti uji membaca kata tanpa gambar, ada 3 siswa yang memperoleh skor 0. 2. Tes membaca kata dengan bantuan gambar a. Tes pertama Dari deret skor 2, 2, 5, 2, 1, 2 dalam tabel 4.5

kemudian disusun menjadi tabel distribusi tunggal sebagai berikut.

35

Tabel 4.9 Distribusi skore hasil tes membaca kata dengan gambar Xi 1 2 3 4 5 fi 1 4 0 0 1 Σfi = 6 fi.Xi 1 8 0 0 5 ΣfiXi = 14

Nilai

rata-rata

(mean)

dihitung dengan rumus jumlah skor

(ΣfiXi) dibagi dengan banyak skor (Σfi).

Mean (Mn) =

f X f
i i

i

14  2,33 6

Dicari

nilai

modus, yaitu

nilai

atau skor dengan jumlah

frekuensi terbanyak

Berdasarkan tabel 4.5 di atas dapat diketahui

nilai modus(Mo) adalah 2 dengan jumlah frekuensi 4, artinya dari 6 siswa yang mengikuti uji membaca kata tanpa gambar, ada 4 siswa yang memperoleh skor 2. b. Tes kedua

36

Dari deret skor 2, 3, 5, 2, 1, 2 dalam tabel 4.6 dihitung dengan cara yang sama seperti cara menghitung pada tes pertama, dapat diperoleh nilai mean sebesar 2,83 dan nilai modus adalah 2

dengan jumlah frekuensi 3. c. Tes Ketiga Dari deret skor 3, 3, 5, 3, 2, 3 dalam tabel 4.7 dihitung

dengan cara yang sama seperti cara menghitung pada tes pertama, dapat diperoleh nilai mean sebesar 3,16 dan nilai modus adalah 3

dengan jumlah frekuensi 4. Nilai hasil penghitungan tes awal, tes pertama, tes kedua dan tes ke tiga kemudian dituangkan dalam tabel perbandingan seperti di bawah ini. Tabel 4.10 Perbandingan nilai tes membaca tanpa gambar dengan bantuan gambar Nilai Hitung No Intervensi Periode tes Mean 1 Tanpa gambar Tes Awal/ 1,16 Pra kondisi Tes Pertama 2 Dengan gambar Tes Kedua Tes Ketiga 2,33 2,83 3,16 2 2 3 Naik Naik Naik 0 Modus Keterangan

37

Hasil dalam tabel 4.10 di atas dapat diketahui adanya kenaikan nilai mean dari (1) tes awal ke tes pertama sebesar (2,33 – 1,16) = 1,17; (2) tes awal ke tes kedua sebesar (2,83 – 3,16) = 1,67 dan (3) tes awal ke tes ketiga sebesar (3,16 – 1,16) = 2,00. Kenaikan nilai mean dan modus ini menunjukkan adanya

peranan gambar dalam meningkatkan keterampilan membaca kata secara nyaring bagi siswa tunagrahita. Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang kenaikan nilai mean dan modus hasil tes sebagai wujud peranan gambar dalam meningkatkan keterampilan membaca, maka deret skor tes awal 1, 0, 5, 0, 0, 1; tes pertama 2, 2, 5, 2, 1, 2; tes kedua 2, 4, 5,2, 4, 3 dan tes ketiga 3, 3, 5, 3, 2, 3 dibuat grafik poligon dan garfik histrogram/diagram batang, seperti di bawah ini.

6 5 Frekuensi 4 3 2 1 0 1 2 3 4 5 6 Skor/Nilai
tes awal tes pertama tes kedua tes ketiga

Grafik 4.1 Poligon hasil tes keterampilan membaca

38

6 5
tes awal

4
tes pertama

3 2 1 0 1 2 3 4 5

tes kedua tes ketiga

Grafik 4.2 Histogram hasil tes keterampilan membaca Grafik poligon dan histogram tersebut menunjukkan bahwa: 1) Pada tes awal, ada 3 siswa yang memperoleh skor 0, ada 2 siswa memperoleh skor 1, dan ada 1 siswa memperoleh skor 5. Skor terendah adalah 0 (3 siswa). 2) Pada tes pertama, ada 1 siswa yang memperoleh skor 1, ada 4 siswa yang memperoleh skor 2, dan ada 1 siswa yang memperoleh skor 5. Skor terendah adalah 1 (1 siswa). 3) Pada tes kedua, ada 2 siswa yang memperoleh skor 2, ada 1 siswa yang mempereoleh skor 3, ada 2 siswa yang memperoleh skor 4, dan ada 1 siswa yang memperoleh skor 5. Skor terendah adalah 2 (2 siswa). 4) Pada tes ketiga, ada 1 siswa yang memperoleh skor 2, ada 4 siswa yang memperoleh skor 3, dan ada 1 siswa yang memperoleh skor 5. Skor terendah adalah 1 (2 siswa). Berdasarkan peningkatan perolehan skor terendah dari tes awal ke tes pertama, tes awal ke tes kedua, tes awal ke tes ketiga tersebut di atas,

39

maka dapat disimpulkan bahwa gambar mempunyai peranan dalam meningkatkan keterampilan membaca kata secara nyaring bagi siswa tunagrahita

40

BAB V PENUTUP

A. Simpulan Berdasarkan uraian dari seluruh kegiatan penelitian tindakan kelas ini, maka dapat disimpulkan bahwa penerapan media gambar dalam strategi pembelajaran membaca kata, berdampingan dengan metode kata lembaga dan metode VAKT (Visual, Auditory, Kinesthetic dan Tactile) dapat meningkatkan keterampilan membaca nyaring bagi siswa tunagrahita kelas 2 di Sekolah Luar Biasa Dharma Wanita Jiwan, pada tahun pelajaran 2006/2007.

B. Saran Ada 2 saran yang disampaikan berkaitan dengan hasil dan proses penelitian tindakan kelas ini. 1. Saran Berkaitan dengan Penerapan Hasil Penelitian a. Mengingat penerapan media gambar dapat meningkatkan keterampilan membaca nyaring bagi siswa tunagrahita maka dalam kegiatan proses pembelajaran membaca permulaan, guru dapat memanfaatkan media gambar tersebut. b. Penerapan metode kata lembaga dan metode VAKT (Visual, Auditory, Kinesthetic dan Tactile) dalam kegiatan proses pembelajaran membaca nyaring pada membaca permulaan perlu lebih diefektifkan lagi.

41

2. Saran Berkaitan Dengan Penelitan Lanjutan a. Mengingat pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini baru berlangsung 1 siklus maka peneliti atau guru lain, diharapkan dapat melanjutkan siklus penelitian ini sehingga dapat diperoleh temuan strategi pembelajaran yang tepat. b. Instrumen tes dan pengamatan yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah buatan guru yang tingkat validitasnya rendah. Oleh karena itu, pada penelitian siklus berikutnya diharapkan menggunakan instrumen yang standar sehingga memperoleh hasil penelitian yang lebih berbobot.

42

DAFTAR PUSTAKA

Bandi Delphie, 2006, Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus Dalam Setting Pendidikan Inklusi, Bandung. PT. Refika Aditama. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1988, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta, Balai Pustaka Direktorat Jenderal Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1995, Petunjuk Pengajaran Membaca dan Menulis Permulaan, Jakarta, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Dini Dahlia, 2001, Bimbingan Pemantapan Bahasa Indonesia, Bandung, CV. Yrama Widya. Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa, 2006, Standar Kompetensi dan Kompetensi dasar SDLB Tunagrahita, Jakarta, Departemen Pendidikan Nasional. Henry Guntur Tarigan, 1985, Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa, Bandung, Angkasa. I Gusti Ngurah Oka, 1983, Pengantar Membaca dan Pengajarannya, Surabaya, Usaha Nasional Jujun Suriasumantri, 2000, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Jakarta, Pustaka Sinar Harapan. Mulyono Abdurrahman, 1999, Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar, Jakarta, PT. Rineka Cipta. Mohammad Effendi, 2006, Psikopedagogik Anak Berkelainan, Jakarta, PT. Bumi Aksara Soeparno, 1988, Media Pengajaran Bahasa, Jogjakarta, PT. Intan Pariwara. Sekretariat Jenderal Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1992, Peraturan Pemerintah No. 72 Tahun 1991 Tentang Pendidikan Luar Biasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Sub Dinas Pendidikan Luar Biasa, 1993, Pedoman Penyelenggaraan Pramuka Luar Biasa, Surabaya, Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Timur. Suharsimi Arikunto, Suhardjono, dkk, 2006, Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta, PT. Rineka Cipta.

43

Yatim Riyanto, 2001, Metodologi Penelitian, Surabaya, SIC Yuyus Suherman, 2005, Adaptasi Pembelajaran Siswa Berkesulitan Belajar, Bandung, Risqi Press.

44

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN

Yang bertanda tangan di bawah ini : Nama NPM : WIWIK IRIANI : 05311174

Program Studi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas : Pendidikan Bahasa dan Seni

Menyatakan dengan sebenarnya, bahwa skripsi yang saya tulis ini benar-benar merupakan hasil karya saya sendiri, bukan pengambilalihan tulisan atau pikiran orang lain yang saya akui hasil pikiran saya sendiri. Apabila di kemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan skripsi ini plagiat, maka saya bersedia menerimasangsi atas perbuatan tersebut.

Madiun, Yang membuat pernyataan, Materei 6.000 dan tanda tangan

WIWIK IRIANI

45

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->