i

KATA PENGANTAR


Segala puji hanya milik Allah SWT, yang telah memberikan kenikmatan
kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan penulisan buku ajar ini. Buku ajar
ini digunakan oleh penulis sebagai bahan mengajar mata kuliah Kalkulus II. Materi
yang terdapat pada buku ajar ini ditujukan bagi mahasiswa S1 Jurusan Teknik Elektro,
Teknik Informatika, dan Teknik Industri yang sedang mengikuti kuliah kalkulus II pada
Program Perkuliahan Dasar Umum di STT Telkom.
Buku ajar ini terdiri dari lima bab, yaitu : Persamaan Diferensial Biasa, Fungsi
Dua Peubah, Fungsi Vektor, Integral Lipat, serta Integral Garis dan Integral Permukaan.
Semua materi tersebut merupakan bahan kuliah yang sesuai dengan kurikulum silabus
yang berlaku di STT Telkom.
Dalam kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan terima kasih yang
setulus-tulusnya kepada berbagai pihak atas segala bantuan dan dukungannya
sehingga penulis dapat menyelesaikannya.
Mudah-mudahan buku ajar kuliah ini dapat memberikan manfaat bagi para
mahasiswa yang ingin mempelajari materi kuliah terkait. Akhirnya, penulis mohon
maaf jika dalam tulisan ini masih banyak kekurangan, sumbangan ide dan kritik yang
membangun untuk perbaikan buku ajar ini sangat penulis harapkan.

Bandung, Juni 2001

Penulis,








ii
DAFTAR ISI



KATA PENGANTAR ….………………………………………………………… i
DAFTAR ISI …………….………………………………………………………. ii
BAB I Persamaan Diferensial Biasa ………………………………………….. . 1
1.1 Persamaan Diferensial Orde satu …………………………………………... …. 1
1.2 Trayektori Ortogonal …………………………………………………………… 3
1.3 Persamaan Diferensial Orde Dua ……………………………………………… 5
1.3.1 Persamaan Diferensial Orde Dua Homogen …..……………………….. 5
1.3.2 Persamaan Diferensial Orde Dua Tak Homogen ………………………. 6
BAB II Fungsi Dua Peubah …………………………………………………….. 10
2.1 Bentuk Permukaan di Ruang ..…………………………………………………. 10
2.2 Domain dan Kurva Ketinggian Fungsi Dua Peubah ……………………….…. 13
2.3 Turunan Parsial ………………………………………………………………… 15
2.4 Vektor Gradien,Turunan Berarah dan Bidang Singgung ………………………. 17
2.5 Bidang Singgung ………………………………………………………………. 18
2.6 Nilai Ekstrim ……………………………………………. ……………………. 19
BAB III Fungsi Vektor .. …………………………………………………….…. 22
3.1 Daerah Definisi dan Grafik …………………………………………………… 22
3.2 Limit, kekontinuan dan Turunan Parsial ……..………………………………. 24
3.3 Kinematika Pertikel ……………………………………………………………. 24
3.4 Kelengkungan …………………………………………………………………. 25
BAB IV Integral Lipat ………………………………. ………………………… 28
4.1 Integral Lipat Dua ……………………………………………………………. 28
4.1.1 Integral Lipat Dua pada Koordinat Kartesius ……………………….. 29
4.1.2 Integral Lipat Dua pada Koordinat kutub (Polar) ………………….… 32
4.2 Integral Lipat Tiga ...………………………………………………………… 34
4.2.1 Integral Lipat Tiga dengan Koordinat Kartesius ….………………… 34
4.2.2 Integral Lipat Tiga dengan Koordinat Tabung dan Bola …..……….. 35
BAB V Integral Garis dan Integral Permukaan …………………..…………. 39

iii
5.1 Integral Garis ……………………………………………………………………39
5.2 Integral Garis Bebas Lintasan ……………………………………….…………. 42
5.3 Teorema Green …………………………………………………………….….. 44
5.4 Integral Permukaan …………………………………………………………….. 45
5.5 Teorema Divergensi dan Sokes ….…………………………………………….. 47
DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………….. .50


1
KALKULUS II

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
BAB I
PERSAMAAN DIFERENSIAL BIASA


Persamaan Diferensial adalah suatu persamaan yang mengandung satu atau beberapa
turunan dari peubah tak bebasnya. Jika persamaan diferensial tersebut mengandung peubah tak
bebas yang hanya bergantung pada satu peubah bebasnya maka persamaan diferensial tersebut
dinamakan persamaan diferensial biasa. Sedangkan jika peubah bebasnya lebih dari satu
dinamakan persamaan diferensial parsial. Orde suatu persamaan diferensial adalah turunan
tertinggi pada persamaan diferensial tersebut.
Contoh Persamaan Diferensial Biasa :
1. 0 sin 2 = + x
dx
dy
, persamaan diferensial orde satu dimana y sebagai peubah tak bebas dan x
merupakan peubah bebas.
2. 0 1
dt
dr
2
dt
r d
2
2
= + + , persamaan diferensial orde dua dimana r sebagai peubah tak bebas dan
t merupakan peubah bebas.
Notasi persamaan diferensial bisa dalam beberapa bentuk, antara lain notasi pada contoh
kedua, selain diatas dapat pula ditulis sebagai berikut :
r ” + 2r’ +1 = 0 atau r
tt
+ 2r
t
+ 1 = 0
Persamaan diferensial dikatakan linear, apabila persamaan diferensial tersebut mempunyai
peubah tak bebas maupun turunannya bersifat linear.
Definisi solusi suatu persamaan diferensial :
Misal ada suatu persamaan diferensial dimana y sebagai peubah tak bebas yang bergantung
pada peubah bebas x.
Suatu fungsi f(x) disubstitusikan untuk y dalam persamaan diferensial, persamaan yang
dihasilkan merupakan suatu kesamaan untuk setiap x dalam suatu selang, maka f(x)
dinamakan solusi persamaan diferensial tersebut.
Contoh :
Diketahui persamaan diferensial y’ + 2 sinx = 0
f(x) = 2 cos x + C merupakan solusi persamaan diferensial diatas,
dimana C adalah konstanta yang bergantung pada syarat awal persamaan diferensial
tersebut.

1.1 Persamaan Diferensial Orde Satu
Bentuk umum persamaan diferensial orde satu adalah:

) (
) (
y g
x f
dx
dy
=
Beberapa metode untuk menyelesaikan persamaan diferensial orde satu, antara lain :
a. Peubah Terpisah
Bentuk umum :
) (
) (
y g
x f
dx
dy
= atau
) (
) (
x f
y g
dx
dy
=
Cara penyelesaian dengan integral biasa dari kedua ruas di bawah ini :
2
KALKULUS II

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM

∫ ∫
= dx x f dy y g ) ( ) (
Contoh :
Tentukan solusi umum dari persamaan diferensial
x
y
dx
dy
+
=
1

Penyelesaian :
) 1 (
) 1 ln( ln
1 1
x C y
C x y
x
dx
y
dy
x
y
dx
dy
+ = ⇒
+ + = ⇒
+
= ⇒
+
=


b. Faktor Integrasi
Bentuk umum merupakan persamaan diferensial linear, yaitu :
y’ + p(x) y = q(x)
Solusi persamaan diferensial diatas adalah :
C dx x q x u
x u
y + =

) ( ) (
) (
1
dimana

=
dx x p
e x u
) (
) (
Bukti :
Kalikan persamaan diferensial (*) dengan u(x) sehingga menjadi :
u(x) y’ + u(x) p(x) y = u(x) q(x)
u(x) y’ + u’(x) y - [ u’(x) y - u(x) p(x) y ] = u(x) q(x)
Ambil u’(x) y - u(x) p(x) y = 0 (**)
Sehingga u(x) y’ + u’(x) y = u(x) q(x)
[ u(x) y ]’ = u(x) q(x)
C dx x q x u
x u
y + =

) ( ) (
) (
1

Dari (**) kita mempunyai u’(x) y - u(x) p(x) y = 0
Dengan metode peubah terpisah diperoleh :

=
dx x p
e x u
) (
) ( ΘΘΘ

Contoh :
Tentukan solusi umum dari persamaan diferensial
2
1
x x
y
dx
dy
= +
Penyelesaian :
p(x) = 1/x u(x) = x dx
x
=

1
exp
) ln (
1 1 1
2
C x
x
dx
x
x
x
y + = =



f(x, y) adalah fungsi homogen jika f(kx, ky) = k
n
f(x, y), untuk k ∈ skalar riil dan n merupakan
orde dari fungsi tersebut.
Beberapa persamaan diferensial orde satu tak linear yang dapat ditulis
) , ( T
) , ( S
y x
y x
dx
dy
= , dimana S,
T merupakan fungsi homogen berderajat sama maka solusi persamaan diferensial dapat dicari
dengan menggunakan metode substitusi sehingga menjadi bentuk persamaan diferensial
3
KALKULUS II

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
dengan peubah terpisah. Misal, kita dapat mensubstitusi peubah tak bebas y dengan ux, yaitu :
y = ux dimana u = u(x), sehingga y’ = u’x + u.
Contoh :
Tentukan Solusi umum dari persamaan diferensial
x
y x
dx
dy +
=
Penyelesaian :
Misal y = ux, dimana u = u(x)
Oleh karena itu y’ = u’ x + u
Dengan mensubstitusi pada persamaan diferensial di atas ke persamaan diferensial, di
peroleh :

x
ux x
u x u
+
= + '
u u x u + = + 1 '
C x u
x
u + = ⇒ = ln
1
'
Maka
y = x lnx + cx

1.2 Trayektori Ortogonal
Salah satu aplikasi dari persamaan diferensial orde satu adlaah menentukan trayektori
ortogonal dari suatu fungsi persamaan. Trayektori ortogonal dari suatu keluarga kurva adalah
keluarga kurva yang memotong tegak lurus keluarga kurva tersebut.
Langkah-langkah menetikan trayektori ortogonal dari suatu keluarga kurva f(x,y)= C, sebagai
berikut :
Turunkan f(x,y) = C secara implisit terhadap x, Misal Df(x,y)
Jika turunan pertama mengandung C (parameter) maka substitusikan C(x,y) dari
persamaan awal.
Trayektori Ortogonal akan memenuhi persamaan diferensial berikut :
) , (
1
y x Df dx
dy
− = ,
artinya solusi persamaan diferensial diatas merupakan trayektori ortogonal dari
persamaan f(x,y)= C
Contoh :
Tentukan trayektori ortogonal dari keluarga kurva x
2
+ y
2
= C
Penyelesaian :
Turunan implisit dari fungsi di atas adalah : 2x + 2y y‘ = 0
Sehingga Df(x,y) =
y
x

Trayektori ortogonal akan memenuhi persamaan diferensial :
) , (
1
y x Df dx
dy
− =
x
y
dx
dy
=
Trayektori ortogonalnya adalah y = Cx



4
KALKULUS II

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
Latihan
Tentukan solusi umum dari persamaan diferensial orde satu berikut :

1.
2
1 y
dx
dy
+ =
2.
2
2 2
3
x
y xy x
dx
dy + +
=
3. x y
dx
dy
6 2 = +
4.
2
2 1
cos
y
x y
dx
dy
+
=
5.
x
e x y
dx
dy
x
3
2 = −
6. 0
2 2
= − −
y
x
x
y
dx
dy


Tentukan solusi khusus dari persamaan diferensial orde satu berikut :
7.
4
3 x y
dx
dy
x = − ; y (1) = 4
8. ( ) y e
dx
dy
e
x x
+ + 1 ; y (0) = 1

Tentukan trayektori ortogonal dari fungsi berikut :

9.
x
e C y
2 −
=
10. C y x = −
2 2

11.
2
x C y =
12. ( )
2 2 2
C c y x = − +
5
KALKULUS II

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
1.3 Persamaan Diferesial Orde Dua
Bentuk umum persamaan diferensial orde dua :
y” + a y’ + b y = f(x)
Jika f(x) = 0 maka persamaan diferensial diatas disebut persamaan diferensial
homogen, sedangkan jika f(x) ≠ 0 maka dinamakan persamaan diferensial tak
homogen.

1.3.1 Persamaan Diferensial Orde Dua Homogen
Misalkan ada dua fungsi f(x) dan g(x), dikatakan bebas linier pada interval I,
jika persamaan yang merupakan kombinasi linier dari keduanya, yaitu : m f(x) + n g(x)
= 0 untuk setiap x ∈ I hanya dipenuhi oleh m = n = 0. Jika tidak demikian maka
kedua fungsi tersebut dikatakan bergantung linier. Andai fungsi yang diberikan yaitu
f(x) dan g(x) terdiferensialkan untuk setiap x ∈ ℜ. Maka Wronskian dari f(x) dan
g(x) didefinisikan sebagai berikut :

W (f(x), g (x))
f(x) g (x)
f' (x) g ' (x)
=

Keterkaitan antara kebebasan linier dan wronskian dari dua fungsi tersebut dapat
dikatakan sebagai berikut : Dua fungsi f(x) dan g(x) dikatakan bebas linier pada I
jika dan hanya jika wronskian dari kedua fungsi tersebut tidak sama dengan nol, untuk
suatu x ∈ I.
Misal u
1
dan u
2
adalah solusi persamaan diferensial orde dua dan wronskian
(determinan wrosnki) dari keduanya didefinisikan oleh :
W (u
1
, u
2
)=
' '
2 1
2 1
u u
u u

Jika W ≠ 0 maka u
1
dan u
2
saling bebas linear artinya u
1
dan u
2
merupakan basis
solusi, sehingga kombinasi linear dari u
1
dan u
2
, yaitu y = c
1
u
1
+ c
2
u
2
juga
merupakan solusi dari persamaan diferensial orde dua.
Misal
rx
e x u = ) ( solusi persamaan diferensial orde dua maka dengan
mensubstitusikan pada persamaan diperoleh : 0 ) (
2
= + + b ar r e
rx

Oleh karena 0 ≠
rx
e maka r
2
+ ar + b = 0 (dinamakan persamaan karakteristik)
Solusi umum dari persamaan diferensial orde dua homogen bergantung pada akar
persamaan karakteristik.
Tiga kemungkinan solusi umum persamaan diferensial orde dua :
Persamaan karakteristik mempunyai 2 akar riil yang berbeda (r
1
dan r
2
) maka
solusi umumnya berbentuk :
x r x r
e c e c x y
2 1
2 1
) ( + =
Persamaan karakteristik mempunyai 2 akar riil kembar (r
1
= r
2
= r) maka solusi
umumnya berbentuk :
rx rx
xe c e c x y
2 1
) ( + =
Persamaan karakteristik mempunyai 2 akar kompleks (r = p ± qi) maka solusi
umumnya berbentuk :
( ) qx c qx c e x y
px
cos sin ) (
2 1
+ =
Tunjukan (sebagai latihan) bahwa untuk setiap kasus, wronskian ≠ 0.

Contoh :
6
KALKULUS II

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
Tentukan solusi umum persamaan diferensial berikut :
a. y” + y’ – 2y = 0
b. y” + 4y‘ + 4y = 0
c. y” + 9y = 0
Penyelesaian :
a. Persamaan karakteristik yang sesuai adalah
r
2
+ r – 2 = 0
(r – 1) (r + 2) = 0
mempunyai dua akar real berbeda, yaitu : 1 dan -2
Sehingga solusi umumnya :
x x
e c e c x y
2
2 1
) (

+ =
b. Persamaan karakteristik yang sesuai adalah
r
2
+ 4r + 4 = 0
(r – 2)
2
= 0
mempunyai dua akar real kembar, yaitu : 2
Sehingga solusi umumnya :
x x
xe c e c x y
2
2
2
1
) ( + =
c. Persamaan karakteristik yang sesuai adalah
r
2
+ 9 = 0
r
2
= – 9
r = 3 i
mempunyai akar kompleks, yaitu : 3i
Sehingga solusi umumnya : x c x c x y 3 cos 3 sin ) (
2 1
+ =

1.3.2 Persamaan Diferensial Orde Dua Tak Homogen
Bentuk umum persamaan diferensial orde dua :
y” + a y’ + b y = f(x)
Solusi umum dari persamaan diferensial orde dua tak homogen adalah y = y
h
+ y
p
,
dimana y
h
merupakan solusi homogen dan y
p
solusi pelengkap.
Solusi homogen diperoleh dari persamaan diferensial orde dua homogen (ambil f(x) =
0), sedangkan untuk menentukan solusi pelengkap ada dua metode, yaitu :
• Koefisien Tak Tentu
• Variasi Parameter

Metode Koefisien Tak Tentu
Metode ini sangat berguna manakala fungsi ) (x f berupa polinom, eksponensial sinus,
dan cosinus. Metode ini bisa dikatakan metode coba-coba, untuk memudahkan
perhatikan tabel berikut :
) (x f y
p

Cx
n
b
n
x
n
+ ….+ b
1
x + b
0

Ce
ax
Ae
ax

Cxe
ax
Ae
ax
+ Bxe
ax

Csin ax A sin ax + Bcos ax
Bcos ax A sin ax + Bcos ax
Ket : C, B, A, a, b
0
, b
1
, …,

b
n
adalah konstanta riil.
Aturan 1 : Jika ) (x f merupakan fungsi seperti pada kolom pertama, pilih y
p
dari
kolom kedua yang bersesuaian (terletak pada baris yang sama)
7
KALKULUS II

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
Aturan 2 : Jika ) (x f sama dengan salah satu dari solusi homogen maka kalikan y
p

dengan x atau dengan x
2
jika ) (x f sama dengan salah satu dari solusi
homogen yang berasal dari dua akar kembar.
Aturan 3 : Jika ) (x f penjumlahan dari fungsi dalam kolom satu maka pilih y
p
sebagai
penjumlahan dari baris-baris yang bersesuaian.
Setelah memilih y
p
yang diinginkan, dengan mensubstitusikan y
p
tersebut pada
persamaan diferensial, kita berusaha menetukan koefisien yang y
p
. sehingga diperoleh
solusi umum dari persamaan diferensial tersebut yaitu penjumlahan dari solusi
homogen (y
h
) dengan solusi pelengkap (y
p
).
Contoh :
Tentukan solusi umum persamaan diferensial berikut :
x sin 2 y 4
dx
dy
3
dx
y d
2
2
= − −

Penyelesaian :
Kita mempunyai solusi umum homogen
x x
h
e c e c y
4
2 1
+ =


Untuk menentukan solusi pelengkap, kita pilih :
y
p
= Asinx + B cosx
Substitusikan ke persamaan diferensial, sehingga diperoleh :
(– A + 3B – 4A) sinx + (– B – 3A – 4B) cosx = 2 sinx
Maka ada dua persamaan yaitu :
– 5A + 3B = 2
– 5B – 3A = 0
Oleh karena itu A = – 5/17 dan B = 3/17
Solusi umum dari persamaan diferensial diatas adalah :

x x e c e c x y
x x
cos
17
3
sin
17
5
) (
4
2 1
+ − + =



Metode Variasi Parameter
Metode ini lebih umum dari metode sebelumnya, artinya jika kondisi persamaan
diferensial seperti di atas, metode ini dapat digunakan dalam menentukan solusinya.
Jika ) (x f tidak sama dengan fungsi-fungsi pada kolom pertama tabel maupun
penjumlahannya, bisa berupa perkalian atau pembagian dari fungsi-fungsi tersebut,
kondisi ini mendorong kita untuk menggunakan metode variasi parameter.
Solusi pelengkap dari persamaan diferensial dengan menggunakan metode variasi
parameter adalah :
y
p
= v
1
u
1
+ v
2
u
2

dimana u
1
, u
2
merupakan solusi homogen yang bebas linear, sedangkan
[ ]
dx
u u u u
x f u
v



=
' '
) (
1 2 2 1
2
1
dan
[ ]
dx
u u u u
x f u
v


=
' '
) (
1 2 2 1
1
2

Bukti :
Misal y
p
= v
1
u
1
+ v
2
u
2
solusi persamaan diferensial.
Substitusikan sehingga diperoleh:
v
1
’u
1
’ + v
2
’u
2
’ + v
1
u
1
” + v
2
u
2
” + a (v
1
’u
1
+ v
2
’u
2
+ v
1
u
1
’+ v
2
u
2
’)
+ b(v
1
u
1
+ v
2
u
2
)= ) (x f
8
KALKULUS II

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
v
1
’u
1
’ + v
2
’u
2
’ + a (v
1
’u
1
+ v
2
’u
2
)
+ v
1
u
1
” + v
2
u
2
” + a(v
1
u
1
’+ v
2
u
2
’) + b(v
1
u
1
+ v
2
u
2
)= ) (x f
v
1
’u
1
’ + v
2
’u
2
’ + a (v
1
’u
1
+ v
2
’u
2
)
+ v
1
(u
1
” + au
1
’+ bu
1
) + v
2
(u
2
” + au
2
’ + bu
2
)= ) (x f
u
1
, u
2
merupakan solusi homogen, oleh karena itu :
v
1
’u
1
’ + v
2
’u
2
’ + a (v
1
’u
1
+ v
2
’u
2
) = ) (x f
Ambil v
1
’u
1
+ v
2
’u
2
= 0, sehingga v
1
’u
1
’ + v
2
’u
2
’ = ) (x f
Dengan memperhatikan dua persamaan terakhir, yaitu :
v
1
’u
1
+ v
2
’u
2
= 0
v
1
’u
1
’ + v
2
’u
2
’ = ) (x f
Dapat ditulis dalam bentuk perkalian matriks berikut :






=












) (
0
'
'
' '
2
1
2 1
2 1
x f v
v
u u
u u

Dengan aturan Cramer diperoleh :
' '
) ( '
0
' dan
' '
' ) (
0
'
2 1
2 1
1
1
2
2 1
2 1
2
2
1
u u
u u
x f u
u
v
u u
u u
u x f
u
v = =
Dengan jaminan bahwa u
1
, u
2
merupakan solusi homogen yang bebas linear maka
W (u
1
, u
2
)=
' '
2 1
2 1
u u
u u
≠ 0 ΘΘΘ

Contoh :
Tentukan solusi umum persamaan diferensial y “ + y = sec x
Penyelesaian :
Kita mempunyai solusi umum homogen x c x c y
h
cos sin
2 1
+ =
Untuk menentukan solusi pelengkap, kita menghitung wronskian terlebih
dahulu, yaitu :
1
x sin x cos
x cos x sin
x sin cos
) u , u ( W
2 2
2 1
=
+ =

=

oleh karena itu
x dx
x x
v cos ln
1
sec sin
1
=

=

dan x dx
x x
v = =

1
sec cos
2

Sehingga y
p
= cosx ln |cosx| + x sinx
Maka solusi umum persamaan diferensial di atas adalah :
x x x x x c x c x y sin cos ln cos cos sin ) (
2 1
+ + + =





9
KALKULUS II

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
Latihan
Tentukan solusi umum (khusus) persamaan diferensial berikut :
1. y ” + 4y = 3sin2x ; y(0) = 2 dan y’(0) = -1
2. y ” + 2y’ + y = 2e
-x

3. y “ + 9y = sinx + e
2x

4. y ” + 2y’ = 3 + 4 sin2x
5. y ” + y = csc x
6. y ” + 2y’ + y = e
-x
cosx
7. y “ + 2y’ + y = 4e
-x
ln x ; y(1) = 0 dan y’(1) =-e
-1

8. y ” + 4y’ + 4y = x
-2
e
-2x
































11
KALKULUS II
ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
BAB II
FUNGSI DUA PEUBAH

2.1 Bentuk Permukaan di Ruang
Sebelum belajar tentang fungsi dua peubah, terlebih dahulu kita mengenal
permukaan di ruang dan cara membuat sketsa suatu permukaan di ruang (R
3
). Berikut
beberapa fungsi permukaan di ruang, antara lain :
a. Bola, mempunyai bentuk umum :

2 2 2 2
a z y x = + + a > 0
Jejak di bidang XOY, z = 0
2 2 2
a y x = + , berupa lingkaran
Jejak di bidang XOZ, y = 0
2 2 2
a z x = + , berupa lingkaran
Jejak di bidang YOZ, x = 0
2 2 2
a z y = + , berupa lingkaran








b. Elipsoida, mempunyai bentuk umum :
1
2
2
2
2
2
2
= + +
c
z
b
y
a
x
a, b, c > 0
Jejak di bidang XOY, z = 0 1
2
2
2
2
= +
b
y
a
x
, berupa ellips
Jejak di bidang XOZ, y = 0 1
2
2
2
2
= +
c
z
a
x
, berupa ellips
Jejak di bidang YOZ, x = 0 1
2
2
2
2
= +
c
z
b
y
, berupa ellips






Z
x
y
Z
x
y
12
KALKULUS II
ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
c. Hiperboloida berdaun satu , mempunyai bentuk umum :
1
2
2
2
2
2
2
= − +
c
z
b
y
a
x
a, b, c > 0
Jejak di bidang XOY, z = 0 1
2
2
2
2
= +
b
y
a
x
, berupa ellips
Jejak di bidang XOZ, y = 0 1
2
2
2
2
= −
c
z
a
x
, berupa hiperbol
Jejak di bidang YOZ, x = 0 1
2
2
2
2
= −
c
z
b
y
, berupa hiperbol








d. Hiperboloida berdaun dua, mempunyai bentuk umum :
1
2
2
2
2
2
2
= − −
c
z
b
y
a
x
a, b, c > 0
1
2
2
2
2
2
2
− = +
a
x
c
z
b
y
maka terdefinisi saat x ≤ - a atau x ≥ a
Jejak di bidang XOY, z = 0 1
2
2
2
2
= −
b
y
a
x
, berupa hiperbol
Jejak di bidang XOZ, y = 0 1
2
2
2
2
= −
c
z
a
x
, berupa hiperbol
Jejak di bidang, x = k (konstanta), k > a atau k < - a , berupa ellips






Z
x
y
Z
x
y
13
KALKULUS II
ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
e. Paraboloida eliptik , mempunyai bentuk umum :
c
z
b
y
a
x
= +
2
2
2
2
a, b, c > 0
Cara membuat sketsa di ruang, dengan menelusuri setiap jejak di bidang yaitu :
Jejak di bidang z = k (konstanta positif), berupa ellips
Jejak di bidang XOZ, y = 0
c
z
a
x
=
2
2
, berupa parabol
Jejak di bidang YOZ, x = 0
c
z
b
y
=
2
2
, berupa parabol









f. Paraboloida hiperbolik, mempunyai bentuk umum :

c
z
a
x
b
y
= −
2
2
2
2
a, b, c > 0
Cara membuat sketsa di ruang, dengan menelusuri setiap jejak di bidang yaitu :
Jejak di bidang XOY, z = 0 0
2
2
2
2
= −
a
x
b
y
, berupa garis
Jika z = konstanta berupa hiperbol
Jejak di bidang XOZ, y = 0
c
z
a
x
= −
2
2
, berupa parabol
Jejak di bidang YOZ, x = 0
c
z
b
y
=
2
2
, berupa parabol
Sehingga sketsa dari paraboloida hiperbolik, adalah
Z
x
y
14
KALKULUS II
ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM









g. Kerucut, mempunyai bentuk umum :

2
2
2
2
2
2
c
z
b
y
a
x
= + a, b, c > 0
Jejak di bidang XOY, z = k (konstanta) ≠ 0
2
2
2
2
2
2
c
k
b
y
a
x
= + , berupa ellips
Jejak di bidang XOZ, y = 0
2
2
2
2
c
z
a
x
= , berupa garis
Jejak di bidang YOZ, x = 0
2
2
2
2
c
z
b
y
= , berupa garis








2.2 Daerah Definisi dan Kurva Ketinggian Fungsi Dua Peubah
Definisi fungsi dua peubah :
Misal A ⊆ R
2
, suatu fungsi f : A R adalah suatu aturan yang memasangkan
setiap unsur di A dengan tepat satu unsur di R. Aturan fungsi f dapat ditulis sebagai
Z
x
y
Z
x
y
15
KALKULUS II
ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
z = f(x, y). Dalam kasus ini daerah definisi f adalah A, sedangkan daerah hasil fungsi f
= Rf = {z ∈ R | z = f(x,y), x, y ∈ A}
Derah definisi fungsi dua peubah f (x,y) merupakan daerah pada bidang XOY sehingga
fungsi tersebut akan terdefinisi.
Contoh :
Tentukan dan gambarkan daerah definisi fungsi :
1
) 2 ln(
) , (

+
=
y
x
y x f
Penyelesaian :
Syarat f(x,y) terdefinisi :
• ln (2 + x) terdifinisi jika (2 + x) > 0 ,
oleh karena itu x > - 2
• 1 − y tedefinisi jika (y - 1) ≥ 0,
tapi karena penyebut tidak boleh sama dengan nol maka (y - 1) ≥ 0, oleh
karena itu y > 1
Sehingga daerah definisi (D
f
) dari fungsi diatas adalah :
D
f
= { (x, y) | x > -2 dan y > 1, x, y ∈ℜ}
Sketsa daerah definisi pada kartesius adalah :






Kurva ketinggian dari suatu fungsi f(x,y) adalah proyeksi dari perpotongan permukaan
f(x,y) dengan bidang z = k (konstanta) pada bidang XOY.
Contoh :
Tentukan dan gambarkan kurva ketinggian dari fungsi f(x,y) = x
2
+ y
2

untuk z = 0, 1, 4
y
x
y = 1
x = 2
D
f

16
KALKULUS II
ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
Penyelesaian :
z = 0 0 = x
2
+ y
2
, kurva ketinggian berupa titik di (0, 0, 0)
z = 1 1 = x
2
+ y
2
, kurva ketinggian berupa lingkaran dengan jari-jari satu
z = 4 4 = x
2
+ y
2
, kurva ketinggian berupa lingkaran dengan jari-jari dua









Latihan :
Tentukan dan gambarkan daerah definisi fungsi berikut :
1.
2 2
1 ) , ( y x y x f − − =
2.
y
x
y x f

=
1
) , (
3.
2 2
2
) , (
y x
xy
y x f

=
Tentukan dan gambarkan kurva ketinggian dari fungsi berikut :
4. z =
y x
y x
y x f

+
= ) , ( , untuk z = 0, 1, 2, 3
5. z =
2
) , ( y x y x f + = , untuk z = -2, -1, 0, 1, 2
6. z =
y
x
y x f
2
) , ( = , untuk z = -4, -1, 0, 1, 4

2.4 Turunan Parsial
Diketahui fungsi dua peubah f(x,y), denganmengambil nilai y = b (konstanta) maka
fungsi menjadi f(x, b), ini dapat dipandang sebagai fungsi satu peubah x. Seperti pada
y
x
z=1
z=4
z=0
17
KALKULUS II
ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
kalkulus fungsi satu peubah, kita dapat mendefinisikan fungsi satu turunan dari z = g(x) =
f(x, b), yaitu g’(x). Dengan menggunakan limit, turunan parsial fungsi f(x,b) terhadap
x dapat ditulis :

h
b x f b h x f
dx
x dg
x
b x f
h
) , ( ) ), (
lim
) ( ) , (
0
− +
= =




asalkan limitnya ada.
Secara geometris, turunan parsial diatas dapat diartikan sebagai berikut :
Perpotongan bidang y = b dengan fungsi permukaan f(x,y) berupa sebuah kura
(lengkungan s) pada permukaan tersebut. Turunan parsial fungsi f(x,y) di titik (a,b)
merupakan gradien garis singgung terhadap kurva s pada titik (a, b, f(a,b)) dalam
arah sejajar sumbu x.










Notasi dari turunan parsial di atas adalah ) , (
) , (
b a f atau
x
b a f
x



Secara analog dengan cara di atas, kita dapat memperoleh turunan parsial f(x,y) terhadap
peubah y.
Contoh :
Tentukan turunan parsial pertama, kedua, dan campuran terhadap masing-masing
peubah fungsi f(x,y) = 2x
2
y + 3x
2
y
3

Penyelesaian :
f
x
(x, y) = 4xy + 6xy
3

Z
x
y
(a,b)
s
18
KALKULUS II
ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
f
y
(x, y) = 2x
2
+ 9x
2
y
2

f
xx
(x, y) = 4y + 6y
3
f
yy
(x, y) = 18 x
2
y

f
xy
(x, y) = 4x + 18x y
2
; f
yx
(x, y) = 4x + 18x y
2
f
xy
= f
yx

f
xy
dan f
yx
dinamakan turunan parsial campuran.


Latihan :
Tentukan turunan parsial pertama, kedua, dan campuran dari fungsi berikut :
1. f(x, y) = e
– xy

2. f(x, y) = y cos (x
2
+ y
2
)

2.5 Vektor Gradien dan Turunan Berarah
Jika f fungsi dua peubah yang dapat didiferensialkan di p =(a, b) maka
j
dx
b a df
i
dx
b a df
b a f
ˆ
) , (
ˆ
) , (
) , ( + = ∇
disebut vektor gradien dari f di titik (a, b)
Misal p adalah proyeksi dari suatu titik di permukaan f pada bidang XOY.
Untuk setiap vektor satuan u , andaikan
h
p f u h p f
p f D
h
u
) ( ) (
lim ) (
0
− +
=


limit ini ada, maka D
u
f(p) disebut turunan berarah f di titik p pada arah u .
Andaikan f dapat didiferensialkan di (a, b), maka turunan berarah di (a, b) pada arah
vector satuan u = u
1
i + u
2
j adalah hasilkali titik antara vector gradien dengan vector
satuan tersebut. Dengan demikian dapat ditulis :
u p f p f D
u
• ∇ = ) ( ) ( atau D
u
f(a, b) = f
x
(a, b)u
1
+ f
y
(a, b)u
2

Contoh :
Tentukan turunan berarah dari f(x,y) =2x
2
+ xy – y
2
di titik (3, – 2) dalam arah
vector j i a
ˆ ˆ
− = !
19
KALKULUS II
ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
Penyelesaian
f
x
(x, y) = 4x + y f
x
(3, – 2) = 10
f
y
(x, y) = x – 2y f
y
(3, – 2) = 7
oleh karena itu :
j i f j y x i y x y x f
ˆ
7
ˆ
10 ) 2 , 3 ( sehingga
ˆ
) 2 (
ˆ
) 4 ( ) , ( + = − ∇ − + + = ∇
sedangkan j i
a
a
u
ˆ
2
1
ˆ
2
1
− = =
Maka
2
3
2
7
2
10
) 2 , 3 ( ) 2 , 3 ( = − = • − ∇ = − u f f D
u

2.6 Bidang Singgung
Definisi bidang singgung :
Andai F(x, y, z) = k (konstanta) merupakan suatu permukaan dan misalkan dapat
didiferensialkan di sebuah titik P(a, b, c) dari permukaan dengan 0 ) , , ( ≠ ∇ c b a f .
Maka bidang yang melalui P yang tegak lurus ) , , ( c b a f ∇ dinamakan bidang
singgung.
Untuk permukaan F(x, y, z) = k, persamaan bidang singgung di titik (a, b, c) adalah :
F
x
(a, b, c) (x – a) + F
y
(a, b, c) (y – b) + F
z
(a, b, c) (z – c) = 0
Jika permukaan z = f(x, y) maka persamaan bidang singgung di (a, b, F(a, b)) adalah :
z – F(a, b) = F
x
(a, b) (x – a) + F
y
(a, b) (y – b)
Contoh :
Tentukan persaman bidang singgung dan garis normal terhadap permukaan :
23 z 2 y x
2 2 2
= + + di titik (1, 2, 3) !
Penyelesaian :
Andaikan F(x,y,z) = 23 sehingga k
ˆ
z 4 j
ˆ
y 2 i
ˆ
x 2 ) z , y , x ( f + + = ∇ dan
k
ˆ
12 j
ˆ
4 i
ˆ
2 ) 3 , 2 , 1 ( f + + = ∇ . Maka persamaan bidang singgung di titik (1,2,3)
adalah :
2( x – 1 ) + 4 ( y – 2 ) + 12( z – 3 ) = 0
Sedangkan persamaan simetri dari garis normal yang melalui (1, 2, 3) adalah :
20
KALKULUS II
ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM

12
3 z
4
2 y
2
1 x −
=

=


Andaikan z = f(x, y), dengan f suatu fungsi yang dapat didiferensialkan, dan andaikan
dx dan dy (disebut diferensial dari x dan y) berupa peubah. Difenesial total dari peubah
tak bebas (dz) disebut juga diferensial total f (df (x, y)), didefinisikan oleh :
dz = df (x, y) = f
x
(x, y) dx + f
y
(x, y) dy




Latihan :
Tentukan turunan parsial pertama, kedua, dan campuran dari fungsi berikut :
1.
xy
e f(x,y)

=
2. ) y x cos( y f(x,y)
2 2
+ =
3.
) y x (
) y x (
ln f(x,y)

+
=
Tentukan
4. y cos
x
e f(x,y)

= di titik P( 0, π/3) dalam arah menuju ke titik asal !
5.
2 2
y xy x 2 f(x,y) − + = di titik P(3, – 2 ) dalam arah vektor yang membentuk sudut
30
0
dengan arah sumbu – x positif !
6. Tentukan persamaan bidang simggung permukaan x 2 cos
y 3
e 2 z = di titik P(π/3, 0, -
1) !

2.7 Nilai Ekstrim
Definisi titik kritis :
Misal (a, b) suatu titik pada daerah asal f(x, y). Titik (a, b) disebut titik kritis dari
fungsi f(x, y) jika 0 = ∇f atau tidak mempunyai turunan parsial untuk setiap peubah
bebasnya.
21
KALKULUS II
ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
Jadi fungsi f(x, y) yang mempunyai turunan parsial, pada titik kritis, bidang singgung
terhadap f (x, y) adalah sejajar dengan bidang XOY.
Jenis titik kritis, antara lain :
• Titik batas
• Titik stasioner
• Titik singular
Misal (a, b) suatu titik pada daerah asal f(x, y) maka (a, b) dinamakan titik stasioner jika
dan hanya jika 0 ) y , x ( f
ρ ρ
= ∇
Dengan kata lain :
0
) , (
dan 0
) , (
=


=


y
b a f
x
b a f


Definisi nilai maksimum dan nilai minimum :
Diketahui fungsi dua peubah f(x, y) dimana S merupakan daerah definisinya.
f(a,b) disebut nilai maksimum global jika f(a, b) ≥ f(x, y) untuk setiap x, y di S
f(a,b)) disebut nilai minimum global jika f(a, b) ≤ f(x, y) untuk setiap x, y di S.
Definisi yang sama berlaku dengan kata global digantikan oleh kata lokal jika
pertidaksamaan di atas hanya berlaku pada suatu hmpunan bagian S. Jika f(a, b)
merupakan nilai maksimum atau nilai minimum maka f(a, b) dinamakan nilai ekstrim
pada S.
Diketahui f(x, y) fungsi dua peubah yang mempunyai turunan kedua kontinu di
suatu lingkungan dari (a, b). Misal (a,b) merupakan titik kritis dari f(x, y), dan
D = f
xx
(a,b)f
yy
(a,b) - [f
xy
(a,b)]
2

Maka :
Jika D > 0 dan
f
xx
> 0 maka f(a, b) merupakan nilai minimum
f
xx
< 0 maka f(a, b) merupakan nilai maksimum
Jika D < 0 maka titik (a,b, f(a,b)) merupakan titik pelana (sadel)
Jika D = 0, pengujian gagal, titik kritis yang demikian disebut titik kritis trivial.
Contoh :
22
KALKULUS II
ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
Tentukan nilai ekstrim dan jenisnya dari fungsi
2 2 4
y 3 x x 2 f(x,y) + − = !
Penyelesaian :
Turunan parsial dari fungsi tersebut adalah :
f
x
(x, y) = 8x
3
– 2x dan f
y
(x, y) = 6y
Sedangkan f
xx
(x, y) = 24x
2
– 2, f
yy
(x, y) = 6, serta f
xy
(x, y) = 0
Karena fungsi di atas merupakan fungsi polinom yang berarti bahwa
terdiferensialkan di daerah definisinya, maka titik kritisnya merupakan titik
stasioner yang memenuhi 0 ) y , x ( f
ρ ρ
= ∇ , sehingga titik kritis dari fungsi tersebut
adalah : (0, 0), ( ½ , 0), dan ( – ½ , 0)
Untuk (0, 0) D = – 12 < 0
Untuk ( ½ , 0) D = 24 > 0 dan f
xx
( ½ , 0) = 4 > 0
Untuk ( – ½ , 0) D = 24 > 0 dan f
xx
(– ½ , 0) = 4 > 0
Jadi nilai ekstrim untuk fungsi di atas adalah :
f

( ½ , 0) = f

(– ½ , 0) = – 1/8 merupakan minimum lokal, sehingga titik
minimumnya adalah

( ½ , 0, – 1/8) dan

(– ½ , 0, – 1/8).
Sedangkan (0, 0, 0) merupakan titik pelana (sadel).

Latihan :
Tentukan titik kritis, nilai ekstrim dan jenisnya (jika ada) dari fungsi berikut :
1.
2 2 2
y 3 x 6 xy f(x,y) − − =
2.
y
2
x
2
xy f(x,y) + + =
3.






− + −
=
y 4
2
y
2
x
e f(x,y)
4.
2 3
y
2
1
xy 3 x f(x,y) + − =


23
KALKULUS II
ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM






















22
KALKULUS II
ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
BAB III
FUNGSI VEKTOR


3.1 Daerah Definisi dan Grafik
Definisi fungsi vektor :
Fungsi vektor merupakan aturan yang mengkaitkan daerah asal himpunan riil
dengan daerah hasil yang berupa vektor (R
2
atau R
3
)
Notasi : F (t) = f
1
(t) i + f
2
(t) j Î fungsi vektor di bidang
F (t) = f
1
(t) i + f
2
(t) j + f
3
(t) k Î fungsi vektor di ruang
dimana i, j, k, masing-masing merupakan vektor satuan untuk arah x, y, dan z,
sedangkan f
1
(t), f
2
(t), f
3
(t) merupakan fungsi parameter yang bernilai riil.

Daerah asal
Misal F (t) merupakan fungsi vektor, maka daerah asal F (t) = D
F
=
¦ ¦
2
1
f f
D D t | t ∩ ∈
untuk F (t) di bidang, sedangkan untuk F (t) di ruang
maka D
F
=
¦ ¦
3 2
1
f f f
D D D t | t ∩ ∩ ∈
, dimana
3 2
1
, ,
f f f
D D D
merupakan
daerah asal untuk masing-masing fungsi parameter.
Contoh :
Tentukan daerah asal dari fungsi F (t) =ln |1– t | i + (t–5)

½
j
Penyelesaian :
f
1
= ln |t – 1 | Î
1
f
D
= { t | t > 1, t ∈ ℜ}
f
2
= ( t – 5)
– ½
Î
2
f
D
= { t | t > 5, t ∈ ℜ}
Maka D
F
= { t | t > 5, t ∈ ℜ}

Grafik Fungsi
Grafik dari fungsi vektor adalah berupa lengkungan di R
2(3)
yang mempunyai arah
tertentu.
Contoh :
F (t) = 3 cos t i + 2 sin t j, untuk 0 < t < π
23
KALKULUS II
ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
Penyelesaian :
x = 3 cos t dan y = 2 sin t
maka cos t = x/3 dan sin t = y/2
kita tahu bahwa : cos
2
t + sin
2
t = 1
oleh karena itu grafik fungsi F (t) adalah berupa ellips :
1
2 3
2
2
2
2
+
y x

dimana saat t = 0 Î x = 3 dan y = 0
saat t = π Î x = – 3 dan y = 0
ini merupakan titik pangkal dan ujung dari lengkungan (kurva) tersebut
sehingga grafiknya sebagai berikut :







Latihan :
Tentukan daerah asal dari fungsi vektor berikut :
1. j t i
t
t r
ˆ
4
ˆ
2
1
) ( + +


2. j
t
i t t g
ˆ
2
1
ˆ
1 ) (
2

+ −
Gambarkan grafik dari fungsi vektor berikut :
3. ( ) ( ) j t t i t t f
ˆ
2
ˆ
1 ) (
2
− + + ; untuk -1 ≤ t ≤ 2
4. j t i
t
t r
ˆ
4
ˆ
2
) (
2
− + ; untuk 0 ≤ t ≤ 2

3.2 Limit, Kekontinuan dan Turunan Fungsi Vektor
Misal F (t) = f
1
(t) i + f
2
(t) j, fungsi vektor di bidang. F (t) dikatakan
mempunyai limit di c jika dan hanya jika f
1
(t) mempunyai limit di c dan f
2
(t)
mempunyai limit di c, sehingga berlaku :
3
– 3
2
x
y
24
KALKULUS II
ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
j t f i t f t F
c t c t c t
ˆ
) ( lim
ˆ
) ( lim ) ( lim
2 1
]
]
]

+
]
]
]

→ → →

Semua sifat limit berlaku untuk fungsi vektor. Demikian pula dalam hal
kekontinuan, yaitu F (t) kontinu di c apabila ) ( ) ( lim c F t F
c t


.
Dengan demikian, kita dapat mendefinisikan turunan dari fungsi vektor sebagai
berikut :

( ) ( )
dt
t df
dt
t df
h
t f t f h t f h t f
h
t F h t F
dt
t F d
h
h
) ( ) (
) ( ) ( ) ( ) (
lim
) ( ) (
lim
) (
2 1
2 1 2 1
0
0
+
+ − + + +

− +




Dengan cara yang sama, kita dapat medefinisikan untuk fungsi vektor di ruang (R
3
).

Contoh :
Tentukan turunan pertama dan kedua fungsi F (t) = (t
2
+ t) i + e
t
j
Penyelesaian :
F ’(t) = (2t + 1) i + e
t
j
F ”(t) = 2 i + e
t
j

3.3 Kinematika Partikel
Misalkan r(t) = x(t) i + y(t) j + z(t) k, untuk a ≤ t ≤ b merupakan vektor
posisi untuk titik P = P(t) yang menyusuri kurva selama t bertambah besar. Misal
r’(t) ada dan kontinu dan r’(t) ≠ 0 (sehingga disebut kurva mulus). Panjang bususr
s dari P(a) ke P(t) diberikan oleh :
du
du
dz
du
dy
du
dx
du
du
r d
s
t
a
t
a
2 2 2
∫ ∫
J
J
`
'
(
|
+ J
J
`
'
(
|
+ J
J
`
'
(
|

Jika t mengukur waktu, kita dapat mendefinisikan kecepatan, laju dan percepatan,
yaitu :
Kecepatan : v(t) = r ’(t)
Laju : ds/dt = | r ’(t) | = | v(t) |
Percepatan : a(t) = r “ (t)
Contoh :
25
KALKULUS II
ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
Tentukan vektor kecepatan, laju dan vektor percepatan dari vektor posisi r
(t) = 3t
2
i + t
3
j , saat t = 2
Penyelesaian :
Kecepatan = v (t) = r ‘ (t) = 6 t i + 3t
2
j Î v (t=2) = 12 i + 12 j
Laju = ds/dt = | r ’(t) | = | v(t) | = (12
2
+12
2
)
½
= 12 2
Percepatan = a (t) = v’ (t) = 6 i + 6t j Î a ( t = 2) = 6 i + 12 j

Latihan :
Tentukan turunan pertama dan kedua dari fungsi vektor berikut :
1. r (t) = (2t + 3)
2
i – e
2t
j
2. r (t) = cos 2t i – sin
3
t j
Tentukan vektor kecepatan, laju dan vektor percepatan saat t = t
1
dari vektor posisi
berikut :
3. r (t) = e
–t
i + e
t
j ; untuk t
1
= 1
4. r (t) = 2 cos t i – 3 sin
2
t j; untuk t
1
= π /3
5. r (t) = cos t i – 2 tan t j ; untuk t
1
= – π /4
6. r (t) = e
t/2
i + e
–t
j ; untuk t
1
= 2

3.4 Kelengkungan
Diketahui vektor posisi r (t) = f
1
(t) i + f
2
(t) j untuk a ≤ t ≤ b dan titik P(t)
pada bidang. Andaikan r‘ (t) ada, kontinu dan tidak pernah nol pada selang [a, b].
Maka apabila t bertambah nilainya, P akan bergerak sepanjang sebuah kurva mulus,
panjang lintasan s = h(t) dari P(a) ke P(t) ditentukan oleh :
[ ] [ ]
∫ ∫
+
t
a
t
a
2
2
2
1
du ) u ( ' r du ) u ( ' f ) u ( ' f ) t ( h s

Oleh karena r‘ (t) ≠ 0, maka | v(t) | > 0. Dengan demikian s naik apabila t naik,
sehingga s mempunyai fungsi invers, yaitu : t = h
–1
(s) dan

) (
1 1
t v
dt
ds
ds
dt



Misal, T(t) adalah vektor singgung satuan di P(t), didefinisikan sebagai :
26
KALKULUS II
ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM

) (
) (
) ( '
) ( '
) (
t v
t v
t r
t r
t T
Apabila P(t) bergerak sepanjang kurva, vektor satuan T(t) merubah arahnya.
Perbandingan perubahan T terhadap panjang busur s, yaitu : dT / ds dinamakan
vektor kelengkungan di P. Akhirnya kita definisikan kelengkungan κ (kappa) di P
ditentukan sebagai besaran dT / ds, jadi κ = | dT / ds |.
Dengan demikian vektor kelengkungan dapat ditulis :

) (
) ( '
t v
t T
ds
dt
dt
T d
ds
T d


sedangkan kelengkungannya adalah :
) (
) ( '
t v
t T
ds
T d
κ
Andaikan x = f(t) dan y = g(t) adalah persamaan parameter kurva mulus. Maka

[ ]
2
3
2 2
' '
" ' " '
y x
x y y x
+

κ

Khusus untuk kurva dengan persamaan y = h(x), berlaku :

[ ]
2
3
2
' 1
"
y
y
+
κ
Contoh :
Tentukan kelengkungan ellips x =3cos t, y = 2sin t pada titik t = 0 dan t = π/2 !
Penyelesaian :
x ‘ (t) = –3 sin t Î x “ (t) = –3 cos t
y ‘ (t) = 2 cos t Î y “ (t) = –2 sin t
[ ] [ ] [ ]
2
3
2
2
3
2 2
2 2
2
3
2 2
4 sin 5
6
cos 4 sin 9
cos 6 sin 6
' '
" ' " '
) (
+

+
+

+


t t t
t t
y x
x y y x
t κ κ

Sehingga κ (0) = ¾ dan κ (π/2) = 2/9
Terlihat bahwa κ (0) > κ (π/2), cocok dengan kenyataan.




27
KALKULUS II
ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
Latihan :
Tentukan vektor singgung satuan dan kelengkungan saat t = t
1
dari vektor posisi
berikut :
1. r (t) = 4t
2
i + 4t j ; t
1
= ½
2. r (t) = 4cos t i + 3 sin t j ; t
1
= π/4
3. r (t) = e
t
sin t i + e
t
cos t j ; t
1
= π/2
Tentukan kelengkungan di titik yang diberikan dari fungsi berikut :
4. y
2
= x + 4 ; (– 3 , – 1)
5. y = ln x ; (1, 0)
6. y = e
x
– x ; (0, 1)
7. y = cos ½ x ; (0, 1)













28
KALKULUS II
ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
BAB IV
INTEGRAL LIPAT


3.1 Integral Lipat Dua

Misalkan R merupakan suatu persegi panjang tertutup, yaitu :
R = {(x, y) : a ≤ x ≤ b, c ≤ y ≤ d}
Bentuk partisi P dari R yang berupa persegi panjang kecil, dengan luas berukuran
∆A
k
= x
k
y
k
untuk setiap k = 1, 2, 3, … n jika R dibagi menjadi n buah persegi
panjang kecil. Misal, ) y , x (
k k
adalah sembarang titik di dalam persegi panjang kecil
ke-k, maka seperti halnya pengertian integral terdahulu, kita dapat mendefinisikan
integral lipat dua dengan menggunakan Jumlah Riemann.
Definisi integral lipat dua :
Misalkan f suatu fungsi dua peubah yang terdefinisi pada suatu persegi panjang
tertutup R. Jika

=


n
k
k k k
P
A y x f
1
0
) , ( lim ada, kita katakan f dapat diintegralkan pada R.
Lebih lanjut
∫∫
R
dA y x f ) , ( , yang disebut integral lipat dua f pada R diberikan
oleh :
=
∫∫
R
dA y x f ) , (

=


n
k
k k k
P
A y x f
1
0
) , ( lim
Sifat Integral lipat dua:
• Linear, yaitu :
[ ] dA y x g c dA y x f c dA y x g c y x f c
R R R
∫∫ ∫∫ ∫∫
+ = + ) , ( ) , ( ) , ( ) , (
2 1 2 1

dimana c
1
dan c
2
adalah konstanta.
• Jika daerah R merupakan gabungan dari dua daerah (R
1
dan R
2
) dengan batas pada
suatu ruas garis maka :
dA y x f dA y x f dA y x f
R R R
∫∫ ∫∫ ∫∫
+ =
2 1
) , ( ) , ( ) , (
• Jika f(x,y) ≤ g(x,y) untuk setiap (x,y) di R maka
dA y x g dA y x f
R R
∫∫ ∫∫
≤ ) , ( ) , (
R
1
R
2

29
KALKULUS II
ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
3.1.1 Integral Lipat Dua pada Koordinat Kartesius
Integral lipat dua atas daerah R dapat dihitung dengan dua integrasi (dalam
integral biasa) secara berturut-turut.
Misalkan R merupakan daerah persegi panjang, yaitu :
R = {(x,y) | a ≤ x ≤ b, c ≤ y ≤ d}
maka integral lipat dua dari fungsi f(x,y) pada daerah R adalah:

∫ ∫ ∫ ∫ ∫∫
= =
d
c
b
a
d
c
b
a R
dx dy y x f dy dx y x f dA y x f ) , ( ) , ( ) , (
Contoh :
Hitung integral lipat dua berikut ini :
( )
∫∫
+
R
dA y x
2 2
2
dimana R = {(x,y) | 0 ≤ x ≤ 6, 0 ≤ y ≤ 4}
Penyelesaian :

( ) ( )
( )
544
dy y 12 72
dy x y 2
3
x
dy dx y 2 x dA y 2 x
b
a
2
b
a
6 x
0 x
2
3
4
0
6
0
2 2
R
2 2
=
+ =




+ =
+ = +


∫ ∫ ∫∫
=
=


Jika R (daerah integrasi) berupa persegi panjang, perubahan urutan
pengintegralan tidak berpengaruh, tetapi jika daerah R bukan persegi panjang, urutan
pengintegralan harus benar-benar diperhatikan.
Jika daerah integrasi R merupakan sembarang (bukan daerah persegi panjang) ada
beberapa hal yang harus diperhatikan. Untuk lebih jelanya, perhatikan dua kasus
berikut dalam hal perhitungan integralnya.


Tinjau 2 kasus berikut :
30
KALKULUS II
ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
a. D = {(x,y) | a ≤ x ≤ b , p(x) ≤ y ≤ q(x) }









Integral lipat dua pada daerah D dapat dihitung sebagai berikut :
∫ ∫ ∫∫
=
b
a
x q
x p D
dx dy y x f dA y x f
) (
) (
) , ( ) , (
b. D = {(x,y) | r(y) ≤ x ≤ s(y) , c ≤ y ≤ d }






Integral lipat dua pada daerah D dapat dihitung sebagai berikut :
∫ ∫ ∫∫
=
d
c
y s
y r D
dy dx y x f dA y x f
) (
) (
) , ( ) , (
Contoh :
Hitung ( )
∫∫
R
x
dA e y 2 dimana R = {(x,y) | 0 ≤ x ≤ y
2
, 0 ≤ y ≤ 1}
Penyelesaian :
( ) 2 2 2 2 ) , (
1
0
2
1
0
1
0
0
0
2 2
2
− = − = = =
∫ ∫ ∫ ∫ ∫∫
e dy y y d e dy e y dy dx e y dA y x f
y y x
y
x
R


Urutan pengintegralan dalam integral lipat dua tergantung dari bentuk R
(daerah integrasi). Tetapi dalam tiap kasus, kita seharusnya mengharapkan limit dari
D
c
d
r (y)
s (y)
x
D
a
b
x
q(x)
p(x)
y
31
KALKULUS II
ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
integral sebelah kanan berupa fungsi satu peubah, dan yang paling kiri (luar) berupa
konstanta. Dalam perhitungannya, kadangkala kita perlu merubah urutan
pengintegralan. Hal ini dapat disebabkan dengan perubahan urutan pengintegralan akan
memudahkan dalam proses integrasinya. Oleh karena itu, langkah pertama kita harus
dapat menggambarkan daerah integrasi, selanjutnya kita dapat merubah urutan integrasi
dengan mengacu pada sketsa daerah integrasi yang sama.
Contoh :
Hitung
∫ ∫
4
0
2
2
2
dx dy e
x
y

Penyelesaian :
Daerah integrasi dari integral lipat dua di atas adalah :





D = {(x,y) | 0 ≤ x ≤ 4 , ½ x ≤ y ≤ 2 } dapat dirubah menjadi
D = {(x,y) | 0 ≤ x ≤ 2y , 0 ≤ y ≤ 2 }, sehingga integral di atas menjadi :
( ) 1 2
4 2
2
0
2
0
2
0
2
0
4
0
2
2 2 2
2
2
− = = = =
∫ ∫ ∫ ∫ ∫ ∫
e y d e dy e y dy dx e dx dy e
y y
y
y y
x

Integral lipat dua dapat dipakai untuk menghitung luas suatu daerah. Dengan
menjadikan daerah yang akan dihitung luasnya sebagai daerah integrasi (D) dan fungsi
dalam integralnya sama dengan satu.
3.1.2 Integral Lipat Dua dengan Koordinat Kutub (Polar)
Andai daerah integrasi (D) mempunyai bentuk dasar lingkaran, kardioid, dll.
maka untuk memudahkan dalam perhitungan integral lipat dua digunakan dalam
koordinat polar.


Transformasi peubah (x,y) Î (r, θ)


2
x
y =
x
y
θ
r
(x, y)
x
y
32
KALKULUS II
ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM


x = r cos θ
y = r sin θ
Determinan jacobi dari transformasi ini adalah

r
cos r sin
sin r cos
y
r
y
x
r
x
) , r ( J
=
θ − θ
θ − θ
=
θ ∂



θ ∂



= θ


Sehingga integral lipat dua dalam koordinat kutub dapat ditulis :

∫∫ ∫∫
=
*
) , ( ) , (
D D
d dr r r f dx dy y x f θ θ

Contoh :
Hitung ( )
∫ ∫


+
1
1
1
0
2
3
2 2
2
dx dy y x
x


Penyelsaian :







( ) ( )
∫ ∫
∫ ∫ ∫ ∫
= =
= +


π
π
π
θ
θ
0
1
0
4
0
1
0
2
3
2
1
1
1
0
2
3
2 2
5
2
d dr r
d dr r r dx dy y x
x

1
– 1
1
x
y
33
KALKULUS II
ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM

Latihan :
Hitung integral lipat dua di bawah ini :
1.
∫ ∫

3
1
3
3
dy dx e x
y
y
y

2.
∫ ∫
2
0 0
cos
sin
π
dx dy
x
x y
3.
∫ ∫

1
0
1
2
dy dx
x
e
y

4.
∫ ∫
4
0
2
3
dy dx
y
e
x

5.
∫ ∫

+
1
0
1
2 2
2
0
) sin( dy dx y x
y

6. ( )
∫ ∫


+
2
1
2
2
1
2 2
2
0
dx dy y x
x x

Hitung integral lipat dua pada daerah S, berikut ini :
7.
∫∫
S
x
dy dx e y
3
S dikuadran pertama yang dibatasi garis x = ½ y dan x = 1
8.
∫∫
+ −
S
y x
dA e
) (
3 3
S adalah lingkaran berjari-jari dua berpusat di (0, 0)
Tentukan luas daerah S, dengan menggunakan integral lipat dua :
9. S adalah daerah yang dibatasi oleh lingkaran berjari-jari 1 berpusat di (0, 0),
garis y = x, dan sumbu-y positif.
10. S adalah daerah di dalam lingkaran berjari-jari dua yang berpusat di (0, 2) dan
di luar lingkaran berjari-jari dua berpusat di (0, 0)








34
KALKULUS II
ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
4.2 Integral Lipat Tiga
Misal suatu fungsi f tiga peubah yang didefinisikan atas suatu daerah
berbentuk balok B dengan sisi-sisi sejajar sumbu koordinat. Kita tidak dapat lagi
menggambarkan grafik f, tetapi kita dapat menggambar B. bentuklah suatu partisi
P dari B dengan melewatkan bidang-bidang melalui B sejajar bidang koordinat, jadi
memotong B kedalam balok-balok bagian B
1
, B
2
, … B
n
;
Perhatikan jumlah Riemann :

=


n
k
k k k k
P
V z y x f
1
0
) , , ( lim dengan ∆V
k
= ∆x
k
∆y
k
∆z
k

merupakan volume balok B
k
.
Andaikan panjang norma partisi p ini adalah panjang diagonal terpanjang dari
semua balok bagian. Maka kita definisikan integral lipat tiga dengan
=
∫∫∫
B
dV z y x f ) , , (

=


n
k
k k k k
P
V z y x f
1
0
) , , ( lim
asalkan limit ini ada.


4.2.1 Integral Lipat Tiga dengan Koordinat Kartesius
Misalkan B =[a, b] x [c, d] x [e, f] adalah sebuah kotak, kemudian kotak
tersebut dibagi menjadi n buah kotak-kotak kecil. Kotak kecil tersebut berukuran
panjang ∆x, lebar ∆y dan tinggi ∆z, sehingga volume kotak kecil tersebut adalah ∆V
= ∆x ∆y ∆z. Dengan memisalkan kotak-kotak kecil tersebut sebagai partisi, dengan
pendekatan jumlah Riemann kitapun dapat mendefinisikan integral lipat tiga.
Dalam koordinat kartesius, cara perhitungan integral lipat tiga tidak berbeda
dengan integral lipat dua yang telah diberikan. Masalah urutan pengintegralan
tergantung dari bentuk B, tetapi dalam tiap kasus, kita seharusnya mengharapkan
limit dari integral sebelah kanan berupa fungsi dua peubah, pada integral tengah berupa
fungsi satu peubah, dan yang paling kiri (luar) berupa konstanta.
Bentuk umumnya :
=
∫∫∫
B
dV z y x f ) , , ( dx dy dz z y x f
b
a
x q
x p
y x s
y x r
∫ ∫ ∫
) (
) (
) , (
) , (
) , , ( , a, b adalah konstanta


35
KALKULUS II
ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
Contoh :
Hitung dz dx dy z y x
z z
x
∫ ∫ ∫
2
0 1 0
2
Penyelesaian :
3
2
3
z
12
z
dz
3
1
3
z
dz
3
x
dz dx x
dz dx
z
x
z x
dz dx y z x dz dx dy z y x 2
2 z
0 z
4
2
0
3
2
0
z x
1 x
3
2
0
z
1
2
2
0
z
1
2
0
z
1
z
x
y
0 y
2
2
0
z
1
z
x
0
=








− =








− =
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=


∫ ∫
∫ ∫
∫ ∫ ∫ ∫ ∫


Integral lipat tiga dapat dipakai untuk menghitung volume suatu benda di ruang.
Dengan menjadikan benda di ruang yang akan dihitung volumenya sebagai daerah
integrasi (B) dan fungsi dalam integralnya sama dengan satu.

4.2.2 Integral Lipat Tiga dengan Koordinat Tabung dan Bola
Kita akan menggunakan koordinat tabung, pada saat mempunyai benda B
yang simetris terhadap suatu garis, seperti halnya tabung. Koordinat tabung dan
kartesius dihubungkan oleh persamaan-persamaan berikut :
x = r cos θ
y = r sin θ




36
KALKULUS II
ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM










Transformasi peubah (x, y, z) Î (r, θ, z) memberikan Jacobian = r
Sehingga Integral lipat tiga dapat ditulis :
∫ ∫ ∫ ∫∫∫
=
2
1
) (
) (
) , (
) , (
) , sin , cos ( ) , , (
θ
θ
θ
θ
θ
θ
θ θ θ
q
p
r t
r s B
d dr dz r z r r f dV z y x f

Seperti pada koordinat tabung, jika kita mempunyai benda B yang simetris
terhadap suatu titik, maka kita lebih baik menghitung integral lipat tiga tersebut
dengan menggunakan koordinat bola.
Koordinat bola dan kartesius dihubungkan oleh persamaan-persamaan berikut :
x = ρ cosθ sin φ
y = ρ sinθ sin φ ;
z = ρ cos φ










Transformasi peubah (x, y, z) Î (ρ, θ, φ) memberikan Jacobian = ρ
2
sin φ
θ
r
z
P(r,θ,z)
y
x
θ
ρ
z
P(ρ,θ, φ)
y
x
φ
37
KALKULUS II
ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
Sehingga integral lipat tiga dengan koordinat bola dapat ditulis :

∫ ∫ ∫ ∫∫∫
φ
φ
φ
φ
φ θ
φ θ
φ θ ρ φ ρ φ θ ρ =
2
1
) ( q
) ( p
) , ( t
) , ( s
2
B
d , d , d sin , ) , , ( f dV ) z , y , x ( f

Contoh :
Hitung dengan menggunakan koordinat tabung, volume suatu ruang V yang
dibatasi oleh z = 12 – 2x
2
– 2y
2
dan z = x
2
+ y
2
!
Penyelesaian :
Ruang V yang terbentuk mempunyai satu garis simetri, yaitu sumbu-z,
perpotongan kedua permukaan diatas adalah berbentuk lingkaran berjari-jari 4
berpusat di (0, 0). Oleh karena itu volume V dapat dihitung dengan
menggunakan integral lipat tiga dala koordinat tabung, dimana :
Permukaan 1 : f(x,y) = 12 – 2x
2
– 2y
2
Î f(r,θ) = 12 – 2r
2

Permukaan 2 : f(x,y) = x
2
+ y
2
Î f(r,θ) = r
2

( )
( )


∫ ∫
∫ ∫ ∫ ∫∫∫
π
π
π
π −
π = θ − =
θ 





− =
θ − =
θ = =
2
0
2
0
2
0
4 2
2
0
2
0
3
2
0
2
0
r 2 12
r B
24 d 12 24
d r
4
3
r 6
d dr r 3 r 12
d dr dz r 1 dV ) z , y , x ( f V Volume Jadi
2
2


Latihan :
1. ( )
∫ ∫ ∫

+ +
1
0
0
2
1
3
1
0
2
3 2 dx dy dz z y x
2.
∫ ∫ ∫

2
0 11
2
y z
dz dy dx z y
3.
∫ ∫ ∫

+
3
0
9
0
2
0
2 2
2
x
dx dy dz y x
38
KALKULUS II
ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
4.
∫ ∫ ∫

− −
− −
2
0
4
0
4
0
2 2
2
2 2
4
x
y x
dx dy dz y x z
Tentukan volume benda pejal B dengan menggunakan integral lipat tiga !
5. B benda pejal di oktan pertama dari tabung y
2
+ z
2
= 1 dan bidang y = x dan bidang
x = 0 !
6. B benda pejal yang dibatasi oleh paraboloid z = 4x
2
+ y
2
dan selinder parabolic z
= 4 – 3y
2
!
7. B benda pejal dibatas oleh z = x
2
+ y
2
, z = 0, dan x
2
+ (y – 1)
2
= 1
8. Tuliskan perbedaan perhitungan volume bola menggunakan :
a. Integral lipat tiga dengan koordinat kartesius
b. Integral lipat tiga dengan koordinat tabung
c. Integral lipat tiga dengan koordinat bola






39
KALKULUS II


ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM


BAB V
INTEGRAL GARIS DAN INTEGRAL PERMUKAAN



5.1 Integral Garis
Konsep integral garis merupakan generalisasi sederhana dari konsep integral
tentu

b
a
dx x f ) ( . Dalam integral tentu tersebut, kita mengintegralkan f sepanjang
sumbu-x dari a ke b dan yang diintegralkan f adalah fungsi yang terdefinisi pada
setiap titik antara a dan b. Dalam integral garis, kita mengintegralkan sepanjang
kurva (lengkungan) C di dalam ruang dan yang diintegralkan adalah fungsi yang
tedefinisi pada setiap titik di sepanjang kurva (lengkungan) C tersebut.
Misal kurva (lengkungan) C memenuhi persamaan :
r (t) = x(t) i + y(t) j + z(t) k
Kurva C dinamakan kurva mulus C jika d r / dt ≠ 0 untuk setiap t.
Definisi integral garis :
Misal C suatu kurva mulus yang diberikan secara parameter oleh :
x = x(t) dan y = y(t), untuk a < t < b
dengan x’ dan y’ kontinu dan tidak serentak nol pada [a, b], serta C berorientasi
positif (arah positifnya berpadanan terhadap pertambahan nilai t). Jadi C
memiliki titik awal A = (x(a), y(a)) dan titik ujung B = (x(b), y(b)).
Partisi [a, b] sehingga menghasilkan kurva C yang terpotong-potong ke dalam n
bagian, dimana bagian partisi P
i
mewakili potongan pada waktu t
i
. Andaikan ∆s
i

menyatakan panjang busur yang bersesuaian, dan |P | merupakan partisi yang
terbesar.
Perhatikan sketsa berikut :





40
KALKULUS II


ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM













Maka jumlah Riemann : i
n
i
i i
s y x f ∆

1
) , (
merupakan luas tirai tegak sepanjang
lengkunga (kurva) C.

C
ds y x f ) , ( dinamakan integral garis fungsi f sepanjang
lengkungan C dari A ke B.
Sehingga dapat ditulis :
( ) dt
dt
dy
dt
dx
t y t x f ds y x f
b
a C
2 2
) ( ), ( ) , ( J
J
`
'
(
|
+ J
J
`
'
(
|

∫ ∫

Jika di tulis dalam bentuk tanpa parameter sebagai berikut:
( ) dx
dx
dy
y x f ds y x f
b
a C
2
1 , ) , ( J
J
`
'
(
|
+
∫ ∫
atau ( ) dy
dy
dx
y x f ds y x f
b
a C
2
1 , ) , (
J
J
J
`
'
'
(
|
+
∫ ∫

Sifat integral garis :
o
∫ ∫


C C
ds y x f ds y x f ) , ( ) , ( , dimana – C adalah kurva yang sama dengan C namun
berlawanan arah.
o
∫ ∫ ∫
+
2 1
) , ( ) , ( ) , (
C C C
ds y x f ds y x f ds y x f , dimana gabungan C
1
dengan C
2
adalah C.
Contoh :
Hitung ( ) ds y x
C

2
dimana C sepanjang x = 3cost, y = 3sin t, 0 ≤ t ≤ π/2

Z
x
y
r
f(x,y)
D
f(x,y)

41
KALKULUS II


ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM


Penyelesaian :

( ) ( ) ( )
27 sin cos 81
cos 3 sin 3 sin 3 cos 3
2 /
0
2
2 2
2 /
0
2 2

+ −

∫ ∫
dt t t
dt t t t t ds y x
C
π
π

Andai bahwa gaya yang bekerja pada suatu titik (x, y, z) dalam ruang
diberikan oleh medan vektor : F (x, y, z) = M(x,y,z) i + N(x,y,z) j + P(x,y,z) k dengan
M, N, P kontinu. Kita ingin menentukan kerja (usaha) W yang dilakukan oleh F
dalam memindahkan partikel menelusuri kurva terarah C. Misalkan, r = x i + y j +
z k merupakan vektor posisi partikel. Jika T adalah vektor singgung satuan dr/ds di
P, maka F • T adalah komponen singgung F di P. Sehingga kita mempunyai
rumusan kerja adalah :






C
C
C
r d F
ds
ds
r d
F
ds T F W

dimana F • d r sebagai menyatakan kerja yang dilakukan F dalam menggerakan
suatu partikel menelusuri vektor singgung d r yang sangat kecil.

Latihan :
Hitung


C
r d F dimana
1. F = x
2
i + y
2
j ; C kurva y = x
2
dari x = -1 dampai x = 1
2. F = y i + x
2
j ; C kurva x = 2t dan y = t
2
– 1 , 0 ≤ t ≤ 2
3. F = y i + x j ; C kurva y = x
2
, 0 ≤ x ≤ 1
Tentukan kerja yang dilakukan oleh medan gaya F untuk memindahkan partikel
sepanjang kurva C, berikut ini :
4. F (x,y) = (x
3
– y
3
) i + xy
2
j ; C adalah kurva x = t
2
, y = t
3
, -1 ≤ t ≤ 0
5. F (x,y) = (x
2
– y) i + (y
2
– x) j ; dari (0,1) ke (1,2), jika:
a. C adalah 2 garis lurus dari (0,1) ke(1,1) dan dari (1,1) ke (1,2)
42
KALKULUS II


ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM


b. C adalah kurva r (t) = t i + (t
2
– 1) j
c. C adalah kurva (y – 1)
2
= x


5.2 Integral Garis Bebas Lintasan
Dengan mengingat kembali teorema dasar kalkulus, yaitu :



b
a
) ( ) ( ) ( a f b f dx x f
teorema ini berlaku juga untuk integral garis.
Andaikan C kurva mulus sepotong-sepotong yang secara parameter diberikan oleh r
= r (t) , a ≤ t ≤ b. Jika f dapat didiferensialkan secara kontinu pada suatu himpunan
terbuka yang mengandung C, maka
) ( ) ( ) ( a f b f r d r f
C
− • ∇


Misal D tersambung, yaitu jika dua titik sembarang dalam D dapat dihubungkan oleh
sepotong kurva mulus seluruhnya terletak dalam D.

Definisi bebas lintasan :


C
r d r F ) (
dikatakan bebas lintasan dalam D, jika untuk sembarang dua titik A
dan B dalam D, integral garis mempunyai nilai yang sama untuk sembarang
lintasan dalam D yang secara postif terarah dari A ke B.
Andaikan F ( r ) kontinu pada suatu himpunan tersambung terbuka D. Maka integral
garis


C
r d r F ) (
dikatakan bebas lintasan dalam D jika dan hanya jika F ( r ) = ∇ ∇∇ ∇f r
untuk suatu fungsi skalar f. F disebut medan vektor konservatif.
Definisi divergensi dan rotasi dari suatu medan vektor F :
Misal F (x, y, z) = M(x,y,z) i + N(x,y,z) j + P(x,y,z) k suatu medan vektor dan ∇ ∇∇ ∇
adalah operator k
z
j
y
i
x
ˆ ˆ ˆ


+


+


maka
o Div F = ∇ ∇∇ ∇ • •• • F = M
x
+ N
y
+ P
z
dinamakan divergesi F
43
KALKULUS II


ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM


o k
ˆ
y
M
x
N
j
ˆ
x
P
z
M
i
ˆ
z
N
y
P
P N M
z y x
k
ˆ
j
ˆ
i
ˆ
F x F curl
J
J
J
`
'
'
(
|





+ J
J
`
'
(
|





+
J
J
J
`
'
'
(
|











dinamakan rotasi (Curl) F
Akhirnya, suatu medan vektor F dikatakan konservatif jika dan hanya jika :
Untuk F (x, y, z) = M(x,y,z) i + N(x,y,z) j maka M
y
= N
x

Untuk F (x, y, z) = M(x,y,z) i + N(x,y,z) j + P(x,y,z) k maka curl F = 0


Contoh :
Tentukan apakah F = (4x
3
+ 9x
2
y
2
) i + (6x
3
y + 6y
5
) j merupakan medan vektor
konservatif ? jika ya, tentukan fungsi skalar f yang memenuhi F = ∇ ∇∇ ∇f !
Penyelesaian :
o F = M i + N j M(x,y) = 4x
3
+ 9x
2
y
2
dan N(x,y) = 6x
3
y + 6y
5

M
y
= 18x
2
y dan N
x
= 18x
2
y
Sehingga M
y
= N
x
F konservatif
o Misal f(x,y) adalah fungsi skalar yang memenuhi ∇ ∇∇ ∇f = F ,
Maka f
x
= M dan f
y
= N
Sehingga f
x
= 4x
3
+ 9x
2
y
2
f (x,y) = x
4
+ 3x
3
y
2
+ c(y) ……………(*)
Turunan parsial f(x,y) terhadap y = f
y
= 6x
3
y + c’(y)
Kita tahu bahwa f
y
= N c’(y) = 6y
5
c(y) = y
6
+ c …….…….(**)
Substitusikan (**) pada (*) sehingga diperoleh :
f (x,y) = x
4
+ 3x
3
y
2
+ y
6
+ c
sebagai fungsi skalar dari fungsi vektor konservatif tersebut.

Latihan :
1. Diketahui sebuah medan vektor F = e
x
sin y i + e
x
cos y j,
a. Periksa, apakah medan vektor tersebut konservatif ?
b. Tentukan fungsi potensial f, sehingga F = ∇f
c. Tentukan usaha untuk memindahkan partikel dari (0,0) ke (1, π/2)
44
KALKULUS II


ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM


2. Diketahui sebuah medan vektor G = (6xy
3
+ 2z
2
) i + 9x
2
y
2
j + (4xz + 1) k,
a. Periksa, apakah medan vektor tersebut konservatif ?
b. Tentukan fungsi potensial f, sehingga F = ∇f
c. Tentukan usaha untuk memindahkan partikel dari (0,0,0) ke (1,1,1)


5.3 Teorema Green
Misal R adalah daerah tertutup yang terbatas didalam bidang xy oleh suatu
lengkungan tertutup C yang terdiri dari sejumlah kurva mulus terhingga. Misal M(x,y)
dan N(x,y) adalah fungsi yang kontinu dan mempunyai turunan paarsial M
y
dan N
x

yang kontinu pada setiap titik dalam beberapa domain yang mengandung R. Maka

∫ ∫∫ J
J
J
`
'
'
(
|
− +
C R
dy dx
dy
dM
dx
dN
dy N dx M
Integrasi yang diambil sepanjang seluruh batasan C dari R sedemikian sehingga R
yang disebelah kiri suatu untegrasi tingkat tinggi.

Contoh :
Diketahui M(x,y) = (y
2
– 7y) dan N(x,y) = (2xy + 2x) dan C adalah lingkaran
berpusat di (0,0) dan berjari-jari 1.
Penyelesaian :
o Integral ruas kiri
r (t) = [cost, sint] r ‘ (t) = [ – sint , cost]
Dengan mensubstitusi, kita peroleh :
M(t) = sin
2
t – 7 sin t dan N(t) = 2cos t sin t + 2 cos t
( )( ) ( )( ) [ ]
π π π
π
9 2 0 7 0
cos cos sin cos 2 sin sin 7 sin
2
0
2
+ + +
+ + − − J
J
`
'
(
|
+
∫ ∫
C
dt t t t t t t t dt
dt
dy
N
dt
dx
M

o Integral ruas kanan
( ) ( ) [ ]
∫ ∫ ∫∫
∫∫ ∫∫

− − +
J
J
J
`
'
'
(
|

π
π θ
2
0
1
0
9 9 9
7 2 2 2
d dr r dy dx
dy dx y y dy dx
dy
dM
dx
dN
R
R R

45
KALKULUS II


ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM


Bentuk vektor dari teorema green.
Misalkan, C adalah kurva mulus tertutup sederhana pada bidang xy dan berlawanan
arah jarums jam yang membatasi daerah R. Maka

j
ds
dy
i
ds
dx
T
ˆ ˆ
+
merupakan vektor singgung satuan, dan
j
ds
dx
i
ds
dy
n
ˆ ˆ

adalah vektor normal yang mengarah keluar dari R.
Jika F(x, y) = M(x,y) i + N(x, y) j adalah suatu medan vektor maka

∫ ∫∫

C R
dA F div ds n F

dinamakan teorema Divergensi Gauss.
Sedangkan
( )
∫ ∫∫
• •
C R
dA k F curl ds T F
ˆ
disebut teorema Stokes pada bidang.


Latihan :
Hitung integral garis


C
r d r F ) ( berlawanan arah jarun jam sepanjang C, dengan :
1. F = 3x
2
i – 4xy j, C adalah ruas garis persegi panjang 0 ≤ x ≤ 4 ; 0 ≤ y ≤ 1
2. F = y i – x j, C adalah lingkaran x
2
+ y
2
= ¼
3. F = (x
3
– 3y)

i + (x + sin y) j, C adalah ruas garis pada segitiga dengan titik sudut
(0, 0), (1,0) dan (0,2)
4. F = (e
x
– 3y)

i + (e
y
+ 6x) j, C berupa ellips x
2
+ 4y
2
= 4
5. F = (2xy – x
2
)

i + (x + y
2
) j, C adalah lengkungan tertutup yang dibatasi oleh
y = x
2
dan y
2
= x

5.4 Integral permukaan
Misakan G suatu permukaan yang diberikan oleh z = f(x, y), dengan (x, y) di R.
Jika f mempunyai turunan parsial pertama yang kontinu dan g(x, y, z) = g(x, y, f(x, y))
Kontinu pada R, maka :
46
KALKULUS II


ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM



∫∫
∫∫ ∫∫
+ +

R
y x
R
dx dy f f y x f y x g
dA y x f y x g dS z y x g
1 )) , ( , , (
sec )) , ( , , ( ) , , (
2 2
G
θ

dimana θ adalah sudut antara normal satuan ke atas n di (x, y, f(x, y)) dan sumbu z
positif.
Andaikan G sutu permukaan dua sisi yang demikian mulus dan anggap dia terendam di
dalam fluida dengan suatu medan kecepatan kontinu F (x,y,z). Jika ∆S adalah luas
sepotong kecil dari G, maka disana F (x,y,z) hampir konstan, dan volume fluida ∇V
yang melewati potongan ini dalam arah normal satuan n adalah ∇V ≈ F • n ∆S
Kita dapat menyimpulkan bahwa :
Fluks F yang melintasi G = dS n •
∫∫
G
F
Persamaan permukaan dapat ditulis
H(x, y, z) = z – f (x, y)
Sehingga
1
y
f
x
f
k
ˆ
j
ˆ
y
f
i
ˆ
x
f
H
H
n
2
2
+
J
J
J
`
'
'
(
|


+ J
J
`
'
(
|


+






Maka
( ) ( )
( ) ( )
[ ]
∫∫
∫∫ ∫∫
+ − − •
+ +
]
]
]
]
]

+ +
+ − −
• •
R
y x
R
y x
y x
y x
G
dA k j f i f F
dA f f
f f
k j f i f
F dS F
ˆ ˆ ˆ
1
1
ˆ ˆ ˆ
n
2 2
2 2

Contoh :
Tentukan fluks ke atas dari F (x, y, z) = x i + y j + z k, yang melewati bagian
permukaan G yang ditentukan oleh fungsi z = 1 – x
2
– y
2

Penyelesaian :
f
x
= – 2x dan f
y
= – 2y
Maka fluks yang melintasi G adalah :
47
KALKULUS II


ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM


( )
( )
∫ ∫
∫∫
∫∫ ∫∫
+
+ +
]
]
]

+





− • •
π
π
θ
2
0
1
0
2
2 2
2
3
1
1
ˆ ˆ ˆ
n
d dr r r
dy dx y x
dA k j
y
z
i
x
z
F dS F
R
R G



Latihan :
Hitung dS z y x g
∫∫
G
) , , ( :
1. g(x, y, z) = x + y, permukaan G : z = √ 4 –x
2
, 0 ≤ x ≤ √ 3 dan 0 ≤ y ≤ 1
2. g(x, y, z) = 2y
2
+ z, permukaan G : z = x
2
– y
2
, 0 ≤ x
2
+ y
2
≤ 1
Hitung dS n •
∫∫
G
F :
3. F (x, y, z) = x i + y j + 2z k, permukaan G : z = 1 – x
2
– y
2

4. F (x, y, z) = x i + y j + z k, permukaan G : z = √ 9 – x
2
– y
2

5. F (x, y, z) = z
2
k, permukaan G : z = √ 1 – x
2
– y
2



5.5 Teorema Divergensi dan Stokes
Teorema Divergensi
Andai S suatu benda pejal tertutup dan terbatas dalam ruang dimensi-3, yang
secara lengkap dicakup oleh suatu permukaan mulus sepotong-sepotong ∂ S .
Andai F = M i + N j + P k, berupa medan vektor sedemikian hingga M, N, dan
P mempunyai turunan parsial pertama yang kontinu pada S dan batasnya ∂ S.
Jika n menyatakan normal satuan terluar terhadap ∂ S, maka :

∫∫∫ ∫∫

∂ S
dV F div dS n
S
F

Dengan kata lain, fluks F yang melewati batas suatu daerah tertutup dalam ruang
dimensi-3 adalah integral lipat tiga dari divergensinya atas daerah tersebut.


48
KALKULUS II


ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM


Contoh :
Hitung fluks dari medan vektor
F = x
3
i + y
3
j + z
3
k
yang keluar dari bola B berpusat di (0, 0, 0) berjari-jari 1.
Penyelesaian :
Dengan menggunakan teorema divergensi, fluks yang keluar dari bola adalah :

( )
5
12
sin 3
3
F
2
0 0
1
0
4
2 2 2
S
π
θ φ ρ φ ρ
π π

+ +

∫ ∫ ∫
∫∫∫
∫∫∫ ∫∫

d d d
dV z y x
dV F div dS n
B
B


Teorema Stokes
Misalkan, S adalah permukaan dua sisi yang dibatasi oleh lengkungan tertutup ∂ S
dengan normal satuan n dan andaikan F = M i + N j + P k, berupa medan vector
sedemikian hingga M, N, dan P mempunyai turunan parsial pertama yang
kontinu pada S dan batasnya ∂ S. Jika T menyatakan vector singgung satuan
terhadap ∂ S, maka

( )
∫∫ ∫
• •
∂ S S
dS n F curl dS T F

Contoh :
Tentukan integral F = z i – x j – y k sepanjang segitiga yang titik sudutnya
(0, 0, 0), (0, 2, 0), (0, 0, 2). Gunakan teorema stoke !
Penyelesaian :
Curl F = – i + j – k sedangkan normal dari permukaan adalah n = i
Jadi Curl F • n = – 1
Oleh karena itu
( )
∫∫ ∫
− − • •
S C
S luas dS n F curl dS T F 2 ) ( 1
49
KALKULUS II


ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM


Latihan :
Tentukan fluks dari medan vektor F yang melewati permukaan S, berikut ini :
1. F = y i – x j + 2 k ; S adalah permukaan z = √ 1-x
2
, untuk 0 ≤ x ≤ 5
2. F = x
2
i + y
2
j + z
2
k ; S adalah benda pejal z = √ 4 – x
2
– y
2
dan z = 0
3. F = 2z i + x j + z
2
k ; S adalah benda pejal 0 ≤ x
2
+ y
2
≤ 4 , 0 ≤ x ≤ 1
Hitung


C
dS T F , dengan C berlawanan arah jarum jam !
4. F = 2z i + x
2
j + 3y k ; C adalah ellips perpotongan z = x dan x
2
+ y
2
= 4
5. F = (z – y) i + y j + x k ; C adalah perpotongan tabung x
2
+ y
2
= x dengan
bola x
2
+ y
2
+ z
2
= 1































50
KALKULUS II


ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM


DAFTAR PUSTAKA




Anton, H., Calculus with Analytic Geometry, 3
rd
edition, John Willey & Sons, New
York, 1988
Boyce W. E., DiPrima, R.C. , Elementary Differential Equations and Boundary Value
Problems, 5
th
edition, John Willey & Sons, Singapore, 1992
Martono, K., Kalkulus Diferensial, Alvagracia, Bandung, 1987
Purcell, E. J., Varberg D., Kalkulus dan Geometri Analitis Jilid 2, Terjemahan I
Nyoman Susila dkk., edisi 5, Erlangga, Jakarta, 1992
Setya Budhi, W., Kalkulus Peubah Banyak dan Penggunaannya, Penerbit ITB,
Bandung, 2001



DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ….………………………………………………………… DAFTAR ISI …………….……………………………………………………….

i ii

BAB I Persamaan Diferensial Biasa ………………………………………….. . 1 1.1 Persamaan Diferensial Orde satu …………………………………………... …. 1 1.2 Trayektori Ortogonal …………………………………………………………… 3 1.3 Persamaan Diferensial Orde Dua ……………………………………………… 5 1.3.1 Persamaan Diferensial Orde Dua Homogen …..……………………….. 5 1.3.2 Persamaan Diferensial Orde Dua Tak Homogen ………………………. 6 BAB II Fungsi Dua Peubah …………………………………………………….. 10 2.1 Bentuk Permukaan di Ruang ..…………………………………………………. 10 2.2 Domain dan Kurva Ketinggian Fungsi Dua Peubah ……………………….…. 13 2.3 Turunan Parsial ………………………………………………………………… 15 2.4 Vektor Gradien,Turunan Berarah dan Bidang Singgung ………………………. 17 2.5 Bidang Singgung ………………………………………………………………. 18 2.6 Nilai Ekstrim ……………………………………………. ……………………. 19 BAB III Fungsi Vektor .. …………………………………………………….…. 22 3.1 Daerah Definisi dan Grafik …………………………………………………… 22 3.2 Limit, kekontinuan dan Turunan Parsial ……..………………………………. 24 3.3 Kinematika Pertikel ……………………………………………………………. 24 3.4 Kelengkungan …………………………………………………………………. 25 BAB IV Integral Lipat ………………………………. ………………………… 28 4.1 Integral Lipat Dua ……………………………………………………………. 28 4.1.1 Integral Lipat Dua pada Koordinat Kartesius ……………………….. 29 4.1.2 Integral Lipat Dua pada Koordinat kutub (Polar) ………………….… 32 4.2 Integral Lipat Tiga ...………………………………………………………… 34 4.2.1 Integral Lipat Tiga dengan Koordinat Kartesius ….………………… 34 4.2.2 Integral Lipat Tiga dengan Koordinat Tabung dan Bola …..……….. 35 BAB V Integral Garis dan Integral Permukaan …………………..…………. 39

ii

5.1 Integral Garis ……………………………………………………………………39 5.2 Integral Garis Bebas Lintasan ……………………………………….…………. 42 5.3 Teorema Green …………………………………………………………….….. 44 5.4 Integral Permukaan …………………………………………………………….. 45 5.5 Teorema Divergensi dan Sokes ….…………………………………………….. 47 DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………….. .50

iii

1 KALKULUS II

BAB I PERSAMAAN DIFERENSIAL BIASA

Persamaan Diferensial adalah suatu persamaan yang mengandung satu atau beberapa turunan dari peubah tak bebasnya. Jika persamaan diferensial tersebut mengandung peubah tak bebas yang hanya bergantung pada satu peubah bebasnya maka persamaan diferensial tersebut dinamakan persamaan diferensial biasa. Sedangkan jika peubah bebasnya lebih dari satu dinamakan persamaan diferensial parsial. Orde suatu persamaan diferensial adalah turunan tertinggi pada persamaan diferensial tersebut. Contoh Persamaan Diferensial Biasa : 1.
dy + 2 sin x = 0 , dx

persamaan diferensial orde satu dimana y sebagai peubah tak bebas dan x

merupakan peubah bebas. d 2r dr 2. + 2 + 1 = 0 , persamaan diferensial orde dua dimana r sebagai peubah tak bebas dan 2 dt dt t merupakan peubah bebas. Notasi persamaan diferensial bisa dalam beberapa bentuk, antara lain notasi pada contoh kedua, selain diatas dapat pula ditulis sebagai berikut : rtt + 2rt + 1 = 0 r ” + 2r’ +1 = 0 atau Persamaan diferensial dikatakan linear, apabila persamaan diferensial tersebut mempunyai peubah tak bebas maupun turunannya bersifat linear. Definisi solusi suatu persamaan diferensial : Misal ada suatu persamaan diferensial dimana y sebagai peubah tak bebas yang bergantung pada peubah bebas x. Suatu fungsi f(x) disubstitusikan untuk y dalam persamaan diferensial, persamaan yang dihasilkan merupakan suatu kesamaan untuk setiap x dalam suatu selang, maka f(x) dinamakan solusi persamaan diferensial tersebut. Contoh : Diketahui persamaan diferensial y’ + 2 sinx = 0 f(x) = 2 cos x + C merupakan solusi persamaan diferensial diatas, dimana C adalah konstanta yang bergantung pada syarat awal persamaan diferensial tersebut. 1.1 Persamaan Diferensial Orde Satu Bentuk umum persamaan diferensial orde satu adalah:
dy f ( x) = dx g ( y )

Beberapa metode untuk menyelesaikan persamaan diferensial orde satu, antara lain : a. Peubah Terpisah Bentuk umum :
dy f ( x) = dx g ( y )

atau

dy g ( y ) = dx f ( x)

Cara penyelesaian dengan integral biasa dari kedua ruas di bawah ini :
ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM

2 KALKULUS II

Contoh :

∫ g ( y)dy = ∫ f ( x)dx
Tentukan solusi umum dari persamaan diferensial
dy y = dx 1 + x

Penyelesaian :
dy y = dx 1 + x ⇒ ⇒ ⇒ dy dx = y 1+ x ln y = ln(1 + x) + C y = C (1 + x)

b. Faktor Integrasi Bentuk umum merupakan persamaan diferensial linear, yaitu : y’ + p(x) y = q(x) Solusi persamaan diferensial diatas adalah : p ( x ) dx 1 y= u ( x)q ( x)dx + C dimana u ( x) = e ∫
u ( x)

Bukti : Kalikan persamaan diferensial (*) dengan u(x) sehingga menjadi : u(x) y’ + u(x) p(x) y = u(x) q(x) u(x) y’ + u’(x) y - [ u’(x) y - u(x) p(x) y ] = u(x) q(x) Ambil u’(x) y - u(x) p(x) y = 0 Sehingga u(x) y’ + u’(x) y = u(x) q(x) [ u(x) y ]’ = u(x) q(x)
y= 1 u ( x)q ( x)dx + C u ( x)

(**)

Dari (**) kita mempunyai u’(x) y - u(x) p(x) y = 0 Dengan metode peubah terpisah diperoleh : Contoh : Tentukan solusi umum dari persamaan diferensial Penyelesaian : p(x) = 1/x
y= 1 dy y + = 2 dx x x u ( x) = e ∫
p ( x ) dx

ΘΘΘ

u(x) = exp ∫ dx = x

1 x

1 1 1 x 2 dx = ( ln x + C ) x x x

f(x, y) adalah fungsi homogen jika f(kx, ky) = kn f(x, y), untuk k ∈ skalar riil dan n merupakan orde dari fungsi tersebut. Beberapa persamaan diferensial orde satu tak linear yang dapat ditulis
dy S( x, y ) = dx T( x, y )

, dimana S,

T merupakan fungsi homogen berderajat sama maka solusi persamaan diferensial dapat dicari dengan menggunakan metode substitusi sehingga menjadi bentuk persamaan diferensial
ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM

3 KALKULUS II dengan peubah terpisah. Contoh : Tentukan Solusi umum dari persamaan diferensial dy x + y = dx x Penyelesaian : Misal y = ux.y)= C Contoh : Tentukan trayektori ortogonal dari keluarga kurva x2 + y2 = C Penyelesaian : Turunan implisit dari fungsi di atas adalah : 2x + 2y y‘ = 0 Sehingga Df(x. Langkah-langkah menetikan trayektori ortogonal dari suatu keluarga kurva f(x. Trayektori ortogonal dari suatu keluarga kurva adalah keluarga kurva yang memotong tegak lurus keluarga kurva tersebut. y ) x y dy y = dx x Trayektori ortogonal akan memenuhi persamaan diferensial : Trayektori ortogonalnya adalah y = Cx ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM .y) Jika turunan pertama mengandung C (parameter) maka substitusikan C(x. Trayektori Ortogonal akan memenuhi persamaan diferensial berikut : dy 1 . sebagai berikut : Turunkan f(x. sehingga y’ = u’x + u.y) = C secara implisit terhadap x.y)= C. Misal Df(x.y) = − dy 1 =− dx Df ( x.y) dari persamaan awal. yaitu : y = ux dimana u = u(x). y ) artinya solusi persamaan diferensial diatas merupakan trayektori ortogonal dari persamaan f(x. kita dapat mensubstitusi peubah tak bebas y dengan ux. =− dx Df ( x. Misal. dimana u = u(x) Oleh karena itu y’ = u’ x + u Dengan mensubstitusi pada persamaan diferensial di atas ke persamaan diferensial. di peroleh : u'x + u = x + ux x u ' x + u =1 + u 1 x ⇒ u = ln x + C u' = Maka y = x lnx + cx 1.2 Trayektori Ortogonal Salah satu aplikasi dari persamaan diferensial orde satu adlaah menentukan trayektori ortogonal dari suatu fungsi persamaan.

x ( dy − 3y = x4 . 11. 5. y = C e −2 x x2 − y2 = C y = C x2 x 2 + (y − c )2 = C 2 ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . 12. 6. 4. 3. 8. dx dy 1 + ex + ex y . 2. dx y (1) = 4 y (0) = 1 ) Tentukan trayektori ortogonal dari fungsi berikut : 9. 10.4 KALKULUS II Latihan Tentukan solusi umum dari persamaan diferensial orde satu berikut : 1. dy = 1 + y2 dx dy x 2 + 3 xy + y 2 = dx x2 dy + 2 y = 6x dx dy y cos x = dx 1 + 2 y 2 x dy − 2 y = x 3e x dx dy y x − − =0 dx 2 x 2 y Tentukan solusi khusus dari persamaan diferensial orde satu berikut : 7.

Jika tidak demikian maka kedua fungsi tersebut dikatakan bergantung linier. Andai fungsi yang diberikan yaitu f(x) dan g(x) terdiferensialkan untuk setiap x ∈ ℜ.1 Persamaan Diferensial Orde Dua Homogen Misalkan ada dua fungsi f(x) dan g(x). Tiga kemungkinan solusi umum persamaan diferensial orde dua : Persamaan karakteristik mempunyai 2 akar riil yang berbeda (r1 dan r2) maka solusi umumnya berbentuk : y ( x) = c1e r1 x + c2 e r2 x Persamaan karakteristik mempunyai 2 akar riil kembar (r1 = r2 = r) maka solusi umumnya berbentuk : y ( x) = c1e rx + c2 xe rx Persamaan karakteristik mempunyai 2 akar kompleks (r = p ± qi) maka solusi umumnya berbentuk : y ( x) = e px (c1 sin qx + c2 cos qx ) Tunjukan (sebagai latihan) bahwa untuk setiap kasus.5 KALKULUS II 1.3 Persamaan Diferesial Orde Dua Bentuk umum persamaan diferensial orde dua : y” + a y’ + b y = f(x) Jika f(x) = 0 maka persamaan diferensial diatas disebut persamaan diferensial homogen. untuk suatu x ∈ I. sehingga kombinasi linear dari u1 dan u2 . Contoh : ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . yaitu y = c1u1 + c2u2 juga merupakan solusi dari persamaan diferensial orde dua. dikatakan bebas linier pada interval I.3. Misal diferensial orde dua maka dengan u ( x) = e rx solusi persamaan rx 2 mensubstitusikan pada persamaan diperoleh : e (r + ar + b) = 0 Oleh karena e rx ≠ 0 maka r2 + ar + b = 0 (dinamakan persamaan karakteristik) Solusi umum dari persamaan diferensial orde dua homogen bergantung pada akar persamaan karakteristik. Maka Wronskian dari f(x) dan g(x) didefinisikan sebagai berikut : W (f(x ). 1. Misal u1 dan u2 adalah solusi persamaan diferensial orde dua dan wronskian (determinan wrosnki) dari keduanya didefinisikan oleh : W (u1. yaitu : m f(x) + n g(x) = 0 untuk setiap x ∈ I hanya dipenuhi oleh m = n = 0. jika persamaan yang merupakan kombinasi linier dari keduanya. u2)= u1 u2 u1 ' u2 ' Jika W ≠ 0 maka u1 dan u2 saling bebas linear artinya u1 dan u2 merupakan basis solusi. sedangkan jika f(x) ≠ 0 maka dinamakan persamaan diferensial tak homogen. wronskian ≠ 0. g (x )) = f(x ) f' (x ) g (x ) g ' (x ) Keterkaitan antara kebebasan linier dan wronskian dari dua fungsi tersebut dapat dikatakan sebagai berikut : Dua fungsi f(x) dan g(x) dikatakan bebas linier pada I jika dan hanya jika wronskian dari kedua fungsi tersebut tidak sama dengan nol.

dan cosinus. b0 .2 Persamaan Diferensial Orde Dua Tak Homogen Bentuk umum persamaan diferensial orde dua : y” + a y’ + b y = f(x) Solusi umum dari persamaan diferensial orde dua tak homogen adalah y = yh + yp. eksponensial sinus. b1 . yaitu : • Koefisien Tak Tentu • Variasi Parameter Metode Koefisien Tak Tentu Metode ini sangat berguna manakala fungsi f (x) berupa polinom. yaitu : 2 Sehingga solusi umumnya : y ( x) = c1e 2 x + c2 xe 2 x c. …. bn adalah konstanta riil. y” + 4y‘ + 4y = 0 c.+ b1x + b0 Ceax Aeax Cxeax Aeax + Bxeax Csin ax A sin ax + Bcos ax Bcos ax A sin ax + Bcos ax Ket : C. Aturan 1 : Jika f (x) merupakan fungsi seperti pada kolom pertama.6 KALKULUS II Tentukan solusi umum persamaan diferensial berikut : a. y” + y’ – 2y = 0 b. Persamaan karakteristik yang sesuai adalah r2 + 4r + 4 = 0 (r – 2) 2 = 0 mempunyai dua akar real kembar. sedangkan untuk menentukan solusi pelengkap ada dua metode. Persamaan karakteristik yang sesuai adalah r2 + 9 = 0 r2 = – 9 r=3i mempunyai akar kompleks. untuk memudahkan perhatikan tabel berikut : f (x) yp n n Cx bnx + …. pilih yp dari kolom kedua yang bersesuaian (terletak pada baris yang sama) ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . yaitu : 1 dan -2 Sehingga solusi umumnya : y ( x) = c1e x + c2e −2 x b.3. Persamaan karakteristik yang sesuai adalah r2 + r – 2 = 0 (r – 1) (r + 2) = 0 mempunyai dua akar real berbeda. Solusi homogen diperoleh dari persamaan diferensial orde dua homogen (ambil f(x) = 0). y” + 9y = 0 Penyelesaian : a. a. Metode ini bisa dikatakan metode coba-coba. A. dimana yh merupakan solusi homogen dan yp solusi pelengkap. B. yaitu : 3i Sehingga solusi umumnya : y ( x) = c1 sin 3x + c2 cos 3x 1.

dengan mensubstitusikan yp tersebut pada persamaan diferensial. sedangkan v1 = ∫ [u u '−u u ']dx 1 2 2 1 −u 2 f ( x) dan v2 = ∫ [u u '−u u ']dx 1 2 2 1 u1 f ( x) Bukti : Misal yp = v1u1 + v2u2 solusi persamaan diferensial. kita pilih : yp = Asinx + B cosx Substitusikan ke persamaan diferensial.7 KALKULUS II Aturan 2 : Jika f (x) sama dengan salah satu dari solusi homogen maka kalikan yp dengan x atau dengan x2 jika f (x) sama dengan salah satu dari solusi homogen yang berasal dari dua akar kembar. Solusi pelengkap dari persamaan diferensial dengan menggunakan metode variasi parameter adalah : yp = v1u1 + v2u2 dimana u1. sehingga diperoleh solusi umum dari persamaan diferensial tersebut yaitu penjumlahan dari solusi homogen (yh) dengan solusi pelengkap (yp). kondisi ini mendorong kita untuk menggunakan metode variasi parameter. artinya jika kondisi persamaan diferensial seperti di atas. kita berusaha menetukan koefisien yang yp. u2 merupakan solusi homogen yang bebas linear. Substitusikan sehingga diperoleh: v1’u1’ + v2’u2’ + v1u1” + v2u2” + a (v1’u1 + v2’u2 + v1u1’+ v2u2’) + b(v1u1+ v2u2)= f (x) ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . Contoh : Tentukan solusi umum persamaan diferensial berikut : dy d2y −3 − 4 y = 2 sin x 2 dx dx Penyelesaian : Kita mempunyai solusi umum homogen yh = c1e − x + c2 e 4 x Untuk menentukan solusi pelengkap. metode ini dapat digunakan dalam menentukan solusinya. Setelah memilih yp yang diinginkan. Aturan 3 : Jika f (x) penjumlahan dari fungsi dalam kolom satu maka pilih yp sebagai penjumlahan dari baris-baris yang bersesuaian. bisa berupa perkalian atau pembagian dari fungsi-fungsi tersebut. Jika f (x) tidak sama dengan fungsi-fungsi pada kolom pertama tabel maupun penjumlahannya. sehingga diperoleh : (– A + 3B – 4A) sinx + (– B – 3A – 4B) cosx = 2 sinx Maka ada dua persamaan yaitu : – 5A + 3B = 2 – 5B – 3A = 0 Oleh karena itu A = – 5/17 dan B = 3/17 Solusi umum dari persamaan diferensial diatas adalah : 5 3 y ( x) = c1e − x + c2 e 4 x − sin x + cos x 17 17 Metode Variasi Parameter Metode ini lebih umum dari metode sebelumnya.

u2 merupakan solusi homogen yang bebas linear maka W (u1.8 KALKULUS II v1’u1’ + v2’u2’ + a (v1’u1 + v2’u2) + v1u1” + v2u2” + a(v1u1’+ v2u2’) + b(v1u1+ v2u2)= f (x) v1’u1’ + v2’u2’ + a (v1’u1 + v2’u2) + v1(u1” + au1’+ bu1) + v2 (u2” + au2’ + bu2)= f (x) u1. yaitu : W ( u1 . kita menghitung wronskian terlebih dahulu. oleh karena itu : v1’u1’ + v2’u2’ + a (v1’u1 + v2’u2) = f (x) Ambil v1’u1 + v2’u2 = 0. u2 merupakan solusi homogen. u 2 ) = cos sin x − sin x cos x = cos2 x + sin 2 x =1 oleh karena itu v1 = Sehingga yp = cosx ln |cosx| + x sinx Maka solusi umum persamaan diferensial di atas adalah : y ( x) = c1 sin x + c2 cos x + cos x ln cos x + x sin x ∫ − sin x sec x dx = ln cos x 1 dan v2 = ∫ cos x sec x dx = x 1 ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . sehingga v1’u1’ + v2’u2’ = f (x) Dengan memperhatikan dua persamaan terakhir. yaitu : v1’u1 + v2’u2 = 0 v1’u1’ + v2’u2’ = f (x) Dapat ditulis dalam bentuk perkalian matriks berikut :  u1 u 2   v1 '   0    =  u1 ' u 2 ' v2 '  f ( x) Dengan aturan Cramer diperoleh : 0 v1 ' = u1 u2 u2 dan v2 ' = u1 u1 ' u1 0 f ( x) u2 f ( x) u 2 ' u1 ' u 2 ' u1 ' u 2 ' Dengan jaminan bahwa u1. u2)= u1 u2 ≠0 u1 ' u2 ' ΘΘΘ Contoh : Tentukan solusi umum persamaan diferensial y “ + y = sec x Penyelesaian : Kita mempunyai solusi umum homogen y h = c1 sin x + c2 cos x Untuk menentukan solusi pelengkap.

y(1) = 0 dan y’(1) =-e-1 8. y “ + 9y = sinx + e2x 4. y ” + 2y’ + y = 2e-x 3. y ” + 4y’ + 4y = x-2 e-2x ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM .9 KALKULUS II Latihan Tentukan solusi umum (khusus) persamaan diferensial berikut : 1. y ” + 4y = 3sin2x . y “ + 2y’ + y = 4e-x ln x . y ” + 2y’ = 3 + 4 sin2x 5. y(0) = 2 dan y’(0) = -1 2. y ” + y = csc x 6. y ” + 2y’ + y = e-x cosx 7.

1 Bentuk Permukaan di Ruang Sebelum belajar tentang fungsi dua peubah. mempunyai bentuk umum : a>0 x2 + y2 + z2 = a2 Jejak di bidang XOY. x = 0 Z berupa ellips berupa ellips berupa ellips y x ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . Jejak di bidang XOY. = 1. z = 0 Jejak di bidang XOZ. berupa lingkaran Jejak di bidang YOZ. y = 0 Jejak di bidang YOZ. berupa lingkaran Jejak di bidang XOZ. Elipsoida. x = 0 y 2 + z 2 = a 2 . = 1. Berikut beberapa fungsi permukaan di ruang.11 KALKULUS II BAB II FUNGSI DUA PEUBAH 2. b. y = 0 x 2 + z 2 = a 2 . terlebih dahulu kita mengenal permukaan di ruang dan cara membuat sketsa suatu permukaan di ruang (R3). antara lain : a. Bola. z = 0 x 2 + y 2 = a 2 . c > 0 x2 a2 x2 a2 y2 b2 + + + y2 b2 z2 c2 z2 c2 = 1. mempunyai bentuk umum : x2 a2 + y2 b2 + z2 c2 =1 a. berupa lingkaran Z y x b.

= 1. b. Hiperboloida berdaun satu .a atau x ≥ a x2 a 2 Jejak di bidang XOY. x = k (konstanta). berupa ellips Z y x ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . Hiperboloida berdaun dua. mempunyai bentuk umum : x2 a y2 b 2 2 − x2 a2 y2 b 2 − z2 c2 =1 a. y = 0 Jejak di bidang YOZ.12 KALKULUS II c. k > a atau k < . berupa hiperbol berupa hiperbol x2 a2 Jejak di bidang. z = 0 Jejak di bidang XOZ. c > 0 x2 a2 x2 a2 y2 b2 + − − y2 b2 z2 c2 z2 c2 = 1. c > 0 + z2 c 2 = −1 maka terdefinisi saat x ≤ . mempunyai bentuk umum : x2 a2 + y2 b2 − z2 c2 =1 a. Jejak di bidang XOY. = 1. z = 0 Jejak di bidang XOZ.a . = 1. b. y = 0 − − y2 b2 z2 c2 = 1. x = 0 Z berupa ellips berupa hiperbol berupa hiperbol y x d.

c > 0 Cara membuat sketsa di ruang. Paraboloida hiperbolik. c > 0 Cara membuat sketsa di ruang. y = 0 − y2 x2 − = 0 . x = 0 Z x2 a 2 = z c z c . berupa parabol 2 c a y2 z = . berupa ellips Jejak di bidang XOZ. mempunyai bentuk umum : x2 a 2 + y2 b 2 = z c a. berupa parabol y2 b 2 = y x f. berupa parabol 2 c b Jejak di bidang YOZ. y = 0 Jejak di bidang YOZ. dengan menelusuri setiap jejak di bidang yaitu : Jejak di bidang z = k (konstanta positif). berupa parabol . mempunyai bentuk umum : y2 x2 z − 2 = 2 c b a a. b. b. berupa garis b2 a2 berupa hiperbol x2 z = . adalah ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . x = 0 Sehingga sketsa dari paraboloida hiperbolik. Paraboloida eliptik . dengan menelusuri setiap jejak di bidang yaitu : Jejak di bidang XOY.13 KALKULUS II e. z = 0 Jika z = konstanta Jejak di bidang XOZ.

c > 0 x2 a2 + y2 b2 = k2 c2 Jejak di bidang XOY. suatu fungsi f : A R adalah suatu aturan yang memasangkan setiap unsur di A dengan tepat satu unsur di R. b. berupa garis y2 b 2 = y x 2. x = 0 Z x2 a 2 . mempunyai bentuk umum : x2 a 2 + y2 b 2 = z2 c2 a. Kerucut. Aturan fungsi f dapat ditulis sebagai ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . y = 0 Jejak di bidang YOZ. berupa garis .14 KALKULUS II Z y x g.2 Daerah Definisi dan Kurva Ketinggian Fungsi Dua Peubah Definisi fungsi dua peubah : Misal A ⊆ R2. berupa ellips = z2 c2 z2 c2 . z = k (konstanta) ≠ 0 Jejak di bidang XOZ.

15 KALKULUS II z = f(x.y) adalah proyeksi dari perpotongan permukaan f(x. tapi karena penyebut tidak boleh sama dengan nol maka (y . x. Contoh : Tentukan dan gambarkan kurva ketinggian dari fungsi f(x.y) merupakan daerah pada bidang XOY sehingga fungsi tersebut akan terdefinisi. y ) = ln(2 + x) y −1 Penyelesaian : Syarat f(x. y) | x > -2 dan y > 1.1) ≥ 0.2 • y −1 tedefinisi jika (y . oleh karena itu y > 1 Sehingga daerah definisi (Df) dari fungsi diatas adalah : Df = { (x. x. sedangkan daerah hasil fungsi f = Rf = {z ∈ R | z = f(x.y) terdefinisi : • ln (2 + x) terdifinisi jika (2 + x) > 0 . y ∈ℜ} Sketsa daerah definisi pada kartesius adalah : y Df y=1 x x=2 Kurva ketinggian dari suatu fungsi f(x. 1. oleh karena itu x > . y ∈ A} Derah definisi fungsi dua peubah f (x.y) = x2 + y2 untuk z = 0. Contoh : Tentukan dan gambarkan daerah definisi fungsi : f ( x. Dalam kasus ini daerah definisi f adalah A.y) dengan bidang z = k (konstanta) pada bidang XOY. y). 4 ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM .1) ≥ 0.y).

-1. y ) = x 1− y xy 2 x2 − y2 f ( x. ini dapat dipandang sebagai fungsi satu peubah x. z = f ( x. untuk z = 0. kurva ketinggian berupa titik di (0. -1. 0. 3. kurva ketinggian berupa lingkaran dengan jari-jari dua y z=1 z=0 z=4 x Latihan : Tentukan dan gambarkan daerah definisi fungsi berikut : 1. y ) = x2 y . untuk z = -2. denganmengambil nilai y = b (konstanta) maka fungsi menjadi f(x.y). f ( x. 1. 2. y ) = Tentukan dan gambarkan kurva ketinggian dari fungsi berikut : 4. y ) = x+ y x−y . untuk z = -4. y ) = x + y 2 . Seperti pada ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM .16 KALKULUS II Penyelesaian : z=0 z=1 z=4 0 = x2 + y2 . 2. 0) 1 = x2 + y2 . z = f ( x. 2 6. y ) = 1 − x 2 − y 2 f ( x. 4 2. 0. 3 5. kurva ketinggian berupa lingkaran dengan jari-jari satu 4 = x2 + y2 . 1.4 Turunan Parsial Diketahui fungsi dua peubah f(x. 0. z = f ( x. 1. b).

turunan parsial diatas dapat diartikan sebagai berikut : Perpotongan bidang y = b dengan fungsi permukaan f(x.b) merupakan gradien garis singgung terhadap kurva s pada titik (a. Z s y (a. b ) dg ( x) f ( x + h). y) = 4xy + 6xy3 ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . b) = = lim h→ 0 ∂x dx h asalkan limitnya ada. b).y) berupa sebuah kura (lengkungan s) pada permukaan tersebut.y) terhadap peubah y. Contoh : Tentukan turunan parsial pertama.y) di titik (a.y) = 2x2y + 3x2y3 Penyelesaian : fx (x. f(a. Turunan parsial fungsi f(x. b. turunan parsial fungsi f(x. kita dapat memperoleh turunan parsial f(x. b) − f ( x. Secara geometris. kita dapat mendefinisikan fungsi satu turunan dari z = g(x) = f(x. Dengan menggunakan limit. yaitu g’(x).17 KALKULUS II kalkulus fungsi satu peubah. dan campuran terhadap masing-masing peubah fungsi f(x.b) terhadap x dapat ditulis : ∂f ( x . b) Secara analog dengan cara di atas. kedua. b) ∂x atau f x ( a.b) x Notasi dari turunan parsial di atas adalah ∂f (a.b)) dalam arah sejajar sumbu x.

andaikan Du f ( p ) = lim h→ 0 f ( p + hu ) − f ( p ) h limit ini ada.18 KALKULUS II fy (x. 2. Latihan : Tentukan turunan parsial pertama. b) ˆ df (a. maka turunan berarah di (a. b) = fx (a. y) = 4x + 18x y2 . dan campuran dari fungsi berikut : 1. – 2) dalam arah vector a = iˆ − ˆ ! j ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . Untuk setiap vektor satuan u . b ) = df (a. y) = 4x + 18x y2 fxy = fyx fxy dan fyx dinamakan turunan parsial campuran. b) pada arah vector satuan u = u1i + u2j adalah hasilkali titik antara vector gradien dengan vector satuan tersebut. Andaikan f dapat didiferensialkan di (a. y) = 4y + 6y3 fyy (x. y) = 18 x2y fxy (x.y) =2x2 + xy – y2 di titik (3. Dengan demikian dapat ditulis : Du f ( p ) = ∇ f ( p) • u atau D u f(a. b)u1 + fy (a.5 Vektor Gradien dan Turunan Berarah Jika f fungsi dua peubah yang dapat didiferensialkan di p =(a. y) = e– xy f(x. b) maka ∇ f ( a. maka D u f(p) disebut turunan berarah f di titik p pada arah u . b)u2 Contoh : Tentukan turunan berarah dari f(x. b) Misal p adalah proyeksi dari suatu titik di permukaan f pada bidang XOY. b). y) = 2x2 + 9x2y2 fxx (x. kedua. fyx (x. b) ˆ i+ j dx dx disebut vektor gradien dari f di titik (a. f(x. y) = y cos (x2 + y2) 2.

y. y) maka persamaan bidang singgung di (a. b. c) ≠ 0 . b. c) (z – c) = 0 Jika permukaan z = f(x. 2. b. y ) = (4 x + y )i + ( x − 2 y ) ˆ j ˆ sehingga ∇ f (3.6 Bidang Singgung Definisi bidang singgung : Andai F(x.2. b)) adalah : z – F(a.−2) = 10i + 7 ˆ j fx (3. z) = k. 3) ! Penyelesaian : Andaikan F(x. Untuk permukaan F(x. y) = x – 2y oleh karena itu : ˆ ∇ f ( x. c) (x – a) + Fy(a. b. 2. 3) adalah : ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . Maka bidang yang melalui P yang tegak lurus ∇ f (a. c) adalah : Fx(a. z) = 2 x ˆ + 2 y ˆ + 4z k i j dan ˆ ∇ f (1. b) = Fx(a. b) (x – a) + Fy(a. c) dari permukaan dengan ∇f (a. b. y. b. z) = k (konstanta) merupakan suatu permukaan dan misalkan dapat didiferensialkan di sebuah titik P(a. F(a.z) = 23 sehingga ˆ ∇ f ( x .3) = 2ˆ + 4ˆ + 12k . c) dinamakan bidang singgung. persamaan bidang singgung di titik (a.y. c) (y – b) + Fz (a. b) (y – b) Contoh : Tentukan persaman bidang singgung dan garis normal terhadap permukaan : x 2 + y 2 + 2z 2 = 23 di titik (1. y.19 KALKULUS II Penyelesaian fx (x.3) 2( x – 1 ) + 4 ( y – 2 ) + 12( z – 3 ) = 0 Sedangkan persamaan simetri dari garis normal yang melalui (1. b.2. y) = 4x + y fy (x.−2) • u = 2.−2) = ∇ f (3. – 2) = 7 sedangkan u = a 1 ˆ 1 ˆ = i− j a 2 2 10 2 − 7 2 = 3 2 Maka Du f (3. i j adalah : Maka persamaan bidang singgung di titik (1. – 2) = 10 fy (3. b.

y) = ln ( x + y) ( x − y) Tentukan 4. dengan f suatu fungsi yang dapat didiferensialkan. y)). f(x. dan andaikan dx dan dy (disebut diferensial dari x dan y) berupa peubah.y) = y cos( x 2 + y 2 ) f(x. 3y cos 2 x di titik P(π/3.7 Nilai Ekstrim Definisi titik kritis : Misal (a. y) = fx (x. y). b) suatu titik pada daerah asal f(x. kedua.y) = e 2. f(x. y) jika ∇f = 0 atau tidak mempunyai turunan parsial untuk setiap peubah bebasnya. dan campuran dari fungsi berikut : − xy 1. π/3) dalam arah menuju ke titik asal ! 5.20 KALKULUS II x −1 y − 2 z − 3 = = 2 4 12 Andaikan z = f(x. - ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . 3. f(x. – 2 ) dalam arah vektor yang membentuk sudut 300 dengan arah sumbu – x positif ! 6. y). Titik (a. Difenesial total dari peubah tak bebas (dz) disebut juga diferensial total f (df (x.y) = e − x cos y di titik P( 0. 0. y) dx + fy (x. f(x. didefinisikan oleh : dz = df (x. y) dy Latihan : Tentukan turunan parsial pertama.y) = 2 x 2 + xy − y 2 di titik P(3. b) disebut titik kritis dari fungsi f(x. Tentukan persamaan bidang simggung permukaan z = 2 e 1) ! 2.

pengujian gagal. antara lain : • • • Titik batas Titik stasioner Titik singular Misal (a. y) adalah sejajar dengan bidang XOY. y) = 0 Dengan kata lain : ∂f (a. y) untuk setiap x. pada titik kritis. y) dimana S merupakan daerah definisinya. bidang singgung terhadap f (x. titik kritis yang demikian disebut titik kritis trivial. b) =0 = 0 dan ∂y ∂x Definisi nilai maksimum dan nilai minimum : Diketahui fungsi dua peubah f(x. b) dinamakan nilai ekstrim pada S. y). y) maka (a. b). b) merupakan nilai maksimum Jika D < 0 maka titik (a.b)fyy(a. b) ≥ f(x. y) untuk setiap x. Diketahui f(x. dan D = fxx(a. y di S. b) ≤ f(x.b) merupakan titik kritis dari f(x. Contoh : ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM .b) disebut nilai maksimum global jika f(a.[fxy(a. b) suatu titik pada daerah asal f(x.b) . Jika f(a. Definisi yang sama berlaku dengan kata global digantikan oleh kata lokal jika pertidaksamaan di atas hanya berlaku pada suatu hmpunan bagian S.21 KALKULUS II Jadi fungsi f(x. b) merupakan nilai maksimum atau nilai minimum maka f(a. Jenis titik kritis. y di S f(a. b) dinamakan titik stasioner jika ρ ρ dan hanya jika ∇f ( x .b)]2 Maka : Jika D > 0 dan fxx > 0 maka f(a. f(a.b. y) fungsi dua peubah yang mempunyai turunan kedua kontinu di suatu lingkungan dari (a.b)) merupakan titik pelana (sadel) Jika D = 0. b) merupakan nilai minimum fxx < 0 maka f(a. Misal (a. b) ∂f (a.b)) disebut nilai minimum global jika f(a. y) yang mempunyai turunan parsial. f(a.

Sedangkan (0. dan ( – ½ . – 1/8) dan (– ½ . – 1/8). 0) = f (– ½ . 0). y) = 6. maka titik kritisnya merupakan titik ρ ρ stasioner yang memenuhi ∇f ( x . 0) Untuk (0. 0) = – 1/8 merupakan minimum lokal. sehingga titik kritis dari fungsi tersebut adalah : (0. y) = 24x – 2. serta fxy(x. 0) = 4 > 0 fxx (– ½ . 0) = 4 > 0 Jadi nilai ekstrim untuk fungsi di atas adalah : f ( ½ .y) = e  f(x. 0) Untuk ( – ½ . ( ½ . y) = 6y 2 fxx (x. 0. y) = 0 .y) = xy 2 − 6 x 2 − 3y 2 f(x. −  x 2 + y2 − 4y     f(x. 0). sehingga titik minimumnya adalah ( ½ .y) = x 3 − 3xy + 1 2 y 2 ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM .22 KALKULUS II Tentukan nilai ekstrim dan jenisnya dari fungsi f(x. y) = 8x – 2x Sedangkan 3 dan fy (x.y) = 2x 4 − x 2 + 3y 2 ! Penyelesaian : Turunan parsial dari fungsi tersebut adalah : fx (x. 0) merupakan titik pelana (sadel). fyy (x. 0) D = – 12 < 0 D = 24 > 0 dan D = 24 > 0 dan fxx ( ½ . 0) Untuk ( ½ . Latihan : Tentukan titik kritis. 4. 0. 2. 0.y) = xy + 2 2 + x y 3. nilai ekstrim dan jenisnya (jika ada) dari fungsi berikut : 1. f(x. y) = 0 Karena fungsi di atas merupakan fungsi polinom yang berarti bahwa terdiferensialkan di daerah definisinya.

23 KALKULUS II ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM .

D f 3 merupakan 1 daerah asal untuk masing-masing fungsi parameter. f2(t). untuk 0 < t < π ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . t ∈ ℜ} Grafik Fungsi Grafik dari fungsi vektor adalah berupa lengkungan di R2(3) yang mempunyai arah tertentu. Contoh : F (t) = 3 cos t i + 2 sin t j. f3(t) merupakan fungsi parameter yang bernilai riil. sedangkan untuk F (t) f1 ∩ D f 2 ∩ D f3 } . k. –½ Tentukan daerah asal dari fungsi F (t) =ln |1– t | i + (t–5) Penyelesaian : f1 = ln |t – 1 | f2 = ( t – 5) – ½ j D f = { t | t > 1. dan z. Daerah asal {t | t ∈ D Contoh : Misal f1 F (t) maka D F = {t | t ∈ D ∩ D f2 } merupakan fungsi vektor. D f 2 . maka daerah asal F (t) = D F = di ruang untuk F (t) di bidang. sedangkan f1(t). j. t ∈ ℜ} Maka D F = { t | t > 5.22 KALKULUS II BAB III FUNGSI VEKTOR 3. y. masing-masing merupakan vektor satuan untuk arah x.1 Daerah Definisi dan Grafik Definisi fungsi vektor : Fungsi vektor merupakan aturan yang mengkaitkan daerah asal himpunan riil dengan daerah hasil yang berupa vektor (R2 atau R3) Notasi : F (t) = f1(t) i + f2(t) j F (t) fungsi vektor di bidang fungsi vektor di ruang = f1(t) i + f2(t) j + f3(t) k dimana i. dimana D f . t ∈ ℜ} 1 D f 2 = { t | t > 5.

untuk 0 ≤ t ≤ 2 3. r (t ) = 1 ˆ i+ 4+t ˆ j t−2 1 ˆ ˆ g (t ) = t 2 − 1 i + j t−2 Gambarkan grafik dari fungsi vektor berikut : 3. sehingga berlaku : ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . F (t) dikatakan mempunyai limit di c jika dan hanya jika f1(t) mempunyai limit di c dan f2(t) mempunyai limit di c. untuk -1 ≤ t ≤ 2 j r (t ) = t ˆ i + 4 − t2 ˆ j 2 ( ) .23 KALKULUS II Penyelesaian : x = 3 cos t dan y = 2 sin t maka cos t = x/3 dan sin t = y/2 kita tahu bahwa : cos2 t + sin2 t = 1 oleh karena itu grafik fungsi F (t) adalah berupa ellips : x2 32 + y2 22 =1 dimana saat t = 0 saat t = π x = 3 dan y = 0 x = – 3 dan y = 0 ini merupakan titik pangkal dan ujung dari lengkungan (kurva) tersebut sehingga grafiknya sebagai berikut : y 2 –3 3 x Latihan : Tentukan daerah asal dari fungsi vektor berikut : 1. 4. ˆ f (t ) = (t + 1) i + t 2 − 2t ˆ . 2. Kekontinuan dan Turunan Fungsi Vektor Misal F (t) = f1(t) i + f2(t) j. fungsi vektor di bidang.2 Limit.

untuk a ≤ t ≤ b merupakan vektor Misal posisi untuk titik P = P(t) yang menyusuri kurva selama t bertambah besar. laju dan percepatan. yaitu F (t) kontinu di c apabila lim F (t ) = F (c) . Dengan demikian.3 Kinematika Partikel Misalkan r(t) = x(t) i + y(t) j + z(t) k. Panjang bususr ∫ a t dr du = du ∫ a t  dx   dy   dz    +   +   du  du   du   du  2 2 2 Jika t mengukur waktu.24 KALKULUS II t→ c   ˆ   j lim F (t ) =  lim f1 (t ) i +  lim f 2 (t ) ˆ t → c  t → c  Semua sifat limit berlaku untuk fungsi vektor. kita dapat medefinisikan untuk fungsi vektor di ruang (R3). yaitu : Kecepatan Laju Percepatan Contoh : ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM : v(t) = r ’(t) : ds/dt = | r ’(t) | = | v(t) | : a(t) = r “ (t) . Contoh : Tentukan turunan pertama dan kedua fungsi F (t) = (t2 + t) i + e j Penyelesaian : F ’(t) = (2t F ”(t) = 2 i t + 1) i + e j +e j t t 3. t→ c Demikian pula dalam hal kekontinuan. kita dapat mendefinisikan kecepatan. r’(t) ada dan kontinu s dari P(a) ke P(t) diberikan oleh : s= dan r’(t) ≠ 0 (sehingga disebut kurva mulus). kita dapat mendefinisikan turunan dari fungsi vektor sebagai berikut : dF (t ) F (t + h) − F (t ) = lim h→ 0 dt h ( f1 (t + h) + f 2 (t + h) ) − ( f1 (t ) + f 2 (t )) = lim h→ 0 h df1 (t ) df 2 (t ) = + dt dt Dengan cara yang sama.

kontinu dan tidak pernah nol pada selang [a. sehingga s mempunyai fungsi invers. untuk t1 = 2 3. laju dan vektor percepatan saat t = t1 dari vektor posisi berikut : 3. Dengan demikian s naik apabila t naik. r (t) = e –t i + e t j . P akan bergerak sepanjang sebuah kurva mulus. didefinisikan sebagai : ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . 5. maka | v(t) | > 0. Maka apabila t bertambah nilainya. untuk t1 = π /3 r (t) = cos t i – 2 tan t j . panjang lintasan s = h(t) dari P(a) ke P(t) ditentukan oleh : s = h(t ) = ∫ a t [f 1 ' (u )] + [f 2 ' (u )] 2 2 du = ∫ r ' (u ) du a t Oleh karena r‘ (t) ≠ 0. laju dan vektor percepatan dari vektor posisi (t) = 3t i + t j . Andaikan r‘ (t) ada. 4. T(t) adalah vektor singgung satuan di P(t). untuk t1 = – π /4 r (t) = et/2 i + e –t j . yaitu : t = h–1(s) dan dt 1 1 = = ds ds v (t ) dt Misal. 2.4 Kelengkungan Diketahui vektor posisi r (t) = f1(t) i + f2(t) j untuk a ≤ t ≤ b dan titik P(t) pada bidang. r (t) = (2t + 3)2 i – e2t j r (t) = cos 2t i – sin3 t j Tentukan vektor kecepatan. b]. 6.25 KALKULUS II Tentukan vektor kecepatan. untuk t1 = 1 r (t) = 2 cos t i – 3 sin2 t j. saat t = 2 Penyelesaian : Kecepatan = v (t) = r ‘ (t) = 6 t i + 3t2 j v (t=2) = 12 i + 12 j ½ 2 3 r Laju = ds/dt = | r ’(t) | = | v(t) | = (122+122) Percepatan = a (t) = v’ (t) = 6 i + 6t j Latihan : = 12 2 a ( t = 2) = 6 i + 12 j Tentukan turunan pertama dan kedua dari fungsi vektor berikut : 1.

vektor satuan T(t) merubah arahnya. jadi κ = | dT / ds |. Dengan demikian vektor kelengkungan dapat ditulis : dT dT dt T ' (t ) = = ds dt ds v (t ) sedangkan kelengkungannya adalah : κ= T ' (t ) dT = ds v (t ) Andaikan x = f(t) dan y = g(t) adalah persamaan parameter kurva mulus. ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . Maka κ= [x ' x' y"− y ' x" 2 + y' 2 ] 3 2 Khusus untuk kurva dengan persamaan y = h(x). Perbandingan perubahan T terhadap panjang busur s. yaitu : dT / ds dinamakan vektor kelengkungan di P. cocok dengan kenyataan.26 KALKULUS II r ' (t ) v (t ) = r ' (t ) v (t ) T (t ) = Apabila P(t) bergerak sepanjang kurva. y = 2sin t pada titik t = 0 dan t = π/2 ! Penyelesaian : x ‘ (t) = –3 sin t y ‘ (t) = 2 cos t κ = κ (t ) = x “ (t) = –3 cos t y “ (t) = –2 sin t [x ' x' y"− y ' x" 2 + y' 2 ] 3 = 2 6 sin 2 t + 6 cos 2 t [9 sin 2 t + 4 cos 2 t ] 3 = 2 [5 sin 6 2 t+4 ] 3 2 Sehingga κ (0) = ¾ dan κ (π/2) = 2/9 Terlihat bahwa κ (0) > κ (π/2). berlaku : κ= y" [1 + y ' ] 2 3 2 Contoh : Tentukan kelengkungan ellips x =3cos t. Akhirnya kita definisikan kelengkungan κ (kappa) di P ditentukan sebagai besaran dT / ds.

t1 = ½ r (t) = 4cos t i + 3 sin t j . y = cos ½ x . (0. 1) ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . 0) 6.27 KALKULUS II Latihan : Tentukan vektor singgung satuan dan kelengkungan saat t = t1 dari vektor posisi berikut : 1. y2 = x + 4 . t1 = π/4 r (t) = e t sin t i + e t cos t j . 3. y = ln x . (– 3 . 2. y = ex – x . t1 = π/2 Tentukan kelengkungan di titik yang diberikan dari fungsi berikut : 4. (0. r (t) = 4t2 i + 4t j . (1. – 1) 5. 1) 7.

y)dA . y k ) adalah sembarang titik di dalam persegi panjang kecil ke-k. c ≤ y ≤ d} Bentuk partisi P dari R yang berupa persegi panjang kecil. y )dA + ∫∫ R2 R1 f ( x. … n jika R dibagi menjadi n buah persegi panjang kecil. y)dA R R ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . yaitu : ∫∫ [c R 1 f ( x. y )]dA = c1 ∫∫ f ( x. y)dA 2 R R dimana c1 dan c2 adalah konstanta. Misal.28 KALKULUS II BAB IV INTEGRAL LIPAT 3. y )dA = lim P →0 ∑ f ( x . • Jika daerah R merupakan gabungan dari dua daerah (R1 dan R2) dengan batas pada suatu ruas garis maka : ∫∫ R f ( x. 2. y )∆A k k k =1 n k Sifat Integral lipat dua: • Linear. Jika lim Lebih lanjut oleh : P →0 n ∑ f ( x .y) ≤ g(x. kita katakan f dapat diintegralkan pada R. ∫∫ f ( x.y) di R maka ∫∫ f ( x. yaitu : R = {(x. y ) + c2 g ( x. 3. maka seperti halnya pengertian integral terdahulu. y) : a ≤ x ≤ b. y)dA ≤ ∫∫ g ( x. y )∆A k k k =1 k ada. dengan luas berukuran ∆Ak = xk yk untuk setiap k = 1.1 Integral Lipat Dua Misalkan R merupakan suatu persegi panjang tertutup. ( x k . y )dA R2 • Jika f(x. y)dA + c ∫∫ g ( x. R yang disebut integral lipat dua f pada R diberikan ∫∫ R f ( x. Definisi integral lipat dua : Misalkan f suatu fungsi dua peubah yang terdefinisi pada suatu persegi panjang tertutup R. y )dA = ∫∫ R1 f ( x.y) untuk setiap (x. kita dapat mendefinisikan integral lipat dua dengan menggunakan Jumlah Riemann.

Misalkan R merupakan daerah persegi panjang. 0 ≤ y ≤ 4} Penyelesaian : 4 6 ∫∫ (x R 2 + 2 y 2 )dA = ∫ ∫ (x 0 0 b 2 + 2 y 2 ) dx dy x =6  x3 = ∫  + 2y2x  3 a  b dy x =0 = ∫ (72 + 12 y ) dy 2 a = 544 Jika R (daerah integrasi) berupa persegi panjang. urutan pengintegralan harus benar-benar diperhatikan.1. c ≤ y ≤ d} maka integral lipat dua dari fungsi f(x. y) dx dy = ∫∫ f ( x.29 KALKULUS II 3.y) | 0 ≤ x ≤ 6. Tinjau 2 kasus berikut : ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . yaitu : R = {(x. perubahan urutan pengintegralan tidak berpengaruh. y) dy dx R c a a c Contoh : Hitung integral lipat dua berikut ini : ∫∫ (x R 2 + 2 y 2 dA ) dimana R = {(x.y) pada daerah R adalah: d b b d ∫∫ f ( x.1 Integral Lipat Dua pada Koordinat Kartesius Integral lipat dua atas daerah R dapat dihitung dengan dua integrasi (dalam integral biasa) secara berturut-turut. Jika daerah integrasi R merupakan sembarang (bukan daerah persegi panjang) ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Untuk lebih jelanya. y) dA = ∫ ∫ f ( x.y) | a ≤ x ≤ b. tetapi jika daerah R bukan persegi panjang. perhatikan dua kasus berikut dalam hal perhitungan integralnya.

y) dy dx D a p( x) b q( x) b. kita seharusnya mengharapkan limit dari ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . y)dA = ∫ ∫ f ( x. c ≤ y ≤ d } d D c r (y) s (y) x Integral lipat dua pada daerah D dapat dihitung sebagai berikut : ∫∫ D f ( x. D = {(x. D = {(x. y) dx dy c r( y) d s( y) Contoh : Hitung Penyelesaian : ∫∫ (2 y e )dA x R dimana R = {(x. p(x) ≤ y ≤ q(x) } y q(x) D p(x) a b x Integral lipat dua pada daerah D dapat dihitung sebagai berikut : ∫∫ f ( x. y ) dA = ∫∫ 0 0 2 1 y 2 y e x dx dy = 2 y e x 0 ∫ 1 y2 0 dy = e y d y 2 − 2 ydy = e − 2 0 ∫ 1 2 ( ) Urutan pengintegralan dalam integral lipat dua tergantung dari bentuk R (daerah integrasi). 0 ≤ y ≤ 1} ∫∫ R f ( x. y )dA = ∫ ∫ f ( x.y) | 0 ≤ x ≤ y2.30 KALKULUS II a. Tetapi dalam tiap kasus.y) | r(y) ≤ x ≤ s(y) .y) | a ≤ x ≤ b .

y) | 0 ≤ x ≤ 4 . θ) (x.31 KALKULUS II integral sebelah kanan berupa fungsi satu peubah. ½ x ≤ y ≤ 2 } dapat dirubah menjadi D = {(x. langkah pertama kita harus dapat menggambarkan daerah integrasi. dan yang paling kiri (luar) berupa konstanta. kadangkala kita perlu merubah urutan pengintegralan.y) y (r. sehingga integral di atas menjadi : 2 2y ∫∫ 0 x 2 4 2 e y dy dx = 2 ∫∫ 0 0 e y dx dy = 2 y e y dy = 0 2 ∫ 2 2 ∫ e d (y ) = e y2 2 0 2 4 −1 Integral lipat dua dapat dipakai untuk menghitung luas suatu daerah.1.y) | 0 ≤ x ≤ 2y . kardioid. selanjutnya kita dapat merubah urutan integrasi dengan mengacu pada sketsa daerah integrasi yang sama. dalam integralnya sama dengan satu. Hal ini dapat disebabkan dengan perubahan urutan pengintegralan akan memudahkan dalam proses integrasinya. dll. Oleh karena itu. y) r θ ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM x . Transformasi peubah (x. Dalam perhitungannya. 3. maka untuk memudahkan dalam perhitungan integral lipat dua digunakan dalam koordinat polar. Contoh : Hitung Penyelesaian : Daerah integrasi dari integral lipat dua di atas adalah : y x 2 4 2 ∫ ∫e 0 x 2 y2 dy dx y= x D = {(x. 0 ≤ y ≤ 2 }.2 Integral Lipat Dua dengan Koordinat Kutub (Polar) Dengan menjadikan daerah yang akan dihitung luasnya sebagai daerah integrasi (D) dan fungsi Andai daerah integrasi (D) mempunyai bentuk dasar lingkaran.

θ ) r dr dθ D D* Contoh : Hitung −1 ∫ ∫ (x 0 1 1− x 2 2 + y2 ) 3 2 dy dx Penyelsaian : y 1 –1 1 2 x −1 ∫ ∫ (x 0 1 1− x 2 +y 2 ) 3 π 1 2 dy dx = = 0 0 π 1 ∫∫ (r ) 2 4 0 0 3 2 r dr dθ ∫∫ r dr dθ = π 5 ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . y) dy dx = ∫∫ f (r. θ) = ∂r ∂y ∂r cos θ = sin θ =r Sehingga integral lipat dua dalam koordinat kutub dapat ditulis : ∂x ∂θ ∂y ∂θ − r sin θ − r cos θ ∫∫ f ( x.32 KALKULUS II x = r cos θ y = r sin θ Determinan jacobi dari transformasi ini adalah ∂x J (r.

8. 10. 3 3y ∫ ∫ xe 1 −y 2 y3 dx dy π 2. 0) ∫∫ S e −( x 3 dA Tentukan luas daerah S. ∫ ∫ 0 0 cos x y sin x dy dx 3. 0) ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . berikut ini : 7. ∫∫ e 0 1 1 − y2 dx dy x 4. 0). dan sumbu-y positif. ∫ ∫ sin( x 0 2 1 1− y 2 + y 2 ) dx dy 0 6. 2) dan di luar lingkaran berjari-jari dua berpusat di (0. S adalah daerah yang dibatasi oleh lingkaran berjari-jari 1 berpusat di (0. ∫ ∫ (x 1 2 2x − x2 2 + y2 ) −1 2 dy dx 0 Hitung integral lipat dua pada daerah S. S adalah daerah di dalam lingkaran berjari-jari dua yang berpusat di (0.33 KALKULUS II Latihan : Hitung integral lipat dua di bawah ini : 1. ∫ ∫e 0 4 2 x3 dx dy y 5. ∫∫ y e S x3 dx dy + y3 ) S dikuadran pertama yang dibatasi garis x = ½ y dan x = 1 S adalah lingkaran berjari-jari dua berpusat di (0. garis y = x. dengan menggunakan integral lipat dua : 9.

kita seharusnya mengharapkan limit dari integral sebelah kanan berupa fungsi dua peubah. z )dV = lim P →0 ∑ f ( x . Dalam koordinat kartesius. y.2 Integral Lipat Tiga Misal suatu fungsi f tiga peubah yang didefinisikan atas suatu daerah berbentuk balok B dengan sisi-sisi sejajar sumbu koordinat. tetapi kita dapat menggambar B. y ) ∫∫∫ B f ( x. y . lebar ∆y dan tinggi ∆z.34 KALKULUS II 4. dengan pendekatan jumlah Riemann kitapun dapat mendefinisikan integral lipat tiga. dan yang paling kiri (luar) berupa konstanta. Masalah tergantung dari bentuk B. Maka kita definisikan integral lipat tiga dengan n ∫∫∫ B f ( x. z )dV = ∫ ∫ ∫ f ( x. sehingga volume kotak kecil tersebut adalah ∆V Dengan memisalkan kotak-kotak kecil tersebut sebagai partisi. Kita tidak dapat lagi menggambarkan grafik f. bentuklah suatu partisi P dari B dengan melewatkan bidang-bidang melalui B sejajar bidang koordinat. jadi memotong B kedalam balok-balok bagian B1. y . Andaikan panjang norma partisi p ini adalah panjang diagonal terpanjang dari semua balok bagian. b adalah konstanta a p ( x ) r ( x. y ) ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . f] adalah sebuah kotak.2. z ) dz dy dx . z ) ∆V k k k k =1 k asalkan limit ini ada. kemudian kotak Kotak kecil tersebut berukuran tersebut dibagi menjadi n buah kotak-kotak kecil. y. b] x [c. panjang ∆x. cara perhitungan integral lipat tiga tidak berbeda dengan integral lipat dua yang telah diberikan. z ) ∆V k k k k =1 k dengan ∆Vk = ∆xk ∆yk ∆zk merupakan volume balok Bk. a. y. 4. = ∆x ∆y ∆z. Bentuk umumnya : b q( x) s ( x.1 Integral Lipat Tiga dengan Koordinat Kartesius Misalkan B =[a. Perhatikan jumlah Riemann : P →0 n lim ∑ f ( x . … Bn. tetapi urutan pengintegralan dalam tiap kasus. pada integral tengah berupa fungsi satu peubah. B2. d] x [e.

Dengan menjadikan benda di ruang yang akan dihitung volumenya sebagai daerah integrasi (B) dan fungsi dalam integralnya sama dengan satu. pada saat mempunyai benda B yang simetris terhadap suatu garis.2. Koordinat tabung dan kartesius dihubungkan oleh persamaan-persamaan berikut : x = r cos θ y = r sin θ ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . 4.2 Integral Lipat Tiga dengan Koordinat Tabung dan Bola Kita akan menggunakan koordinat tabung.35 KALKULUS II Contoh : Hitung Penyelesaian : ∫∫ ∫ 2 x y z dy dx dz 0 1 0 2 z y= x y =0 2 z x z ∫∫ 0 1 2 z x ∫ 2x y z dy dx dz = 0 z 2 ∫∫ x z y 0 1 2 z z dx dz = ∫ ∫ x z x dx dz z 0 1 2 z = ∫ ∫ x 2 dx dz 0 1 2 x3 = ∫ 0 3 2 3 x=z dz x =1  z 1 = ∫  − dz  3  0 3  z4 z  = −   12 3    z=0 2 = 3 z=2 Integral lipat tiga dapat dipakai untuk menghitung volume suatu benda di ruang. seperti halnya tabung.

y.θ.36 KALKULUS II P(r. φ) ρ φ y θ x Transformasi peubah (x.z) z θ x Transformasi peubah (x. jika kita mempunyai benda B yang simetris terhadap suatu titik. y. z)dV = ∫ ∫ ∫ f (r cosθ . r sin θ . y. θ. z) memberikan Jacobian = r Sehingga Integral lipat tiga dapat ditulis : ∫∫∫ f ( x.θ. z = ρ cos φ z P(ρ. maka kita lebih baik menghitung integral lipat tiga tersebut dengan menggunakan koordinat bola. θ. z) θ 2 q (θ ) t ( r . φ) memberikan Jacobian = ρ2 sin φ ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . Koordinat bola dan kartesius dihubungkan oleh persamaan-persamaan berikut : x = ρ cosθ sin φ y = ρ sinθ sin φ . z) r dz dr dθ B θ 1 p (θ ) s ( r .θ ) Seperti pada koordinat tabung. z) (ρ.θ ) r y (r.

∫ ∫ ∫ 0 0 0 9− x2 2 x 2 + y 2 dz dy dx ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . θ. z)dV = ∫ ∫ ∫ B 0 0 r2 1 r dz dr dθ 3 = = = 2π 2 ∫ ∫ (12r − 3r ) dr dθ 0 0 2π ∫ 0 0  2 3 4  6r − r  dθ 4 0  2 2π ∫ (24 − 12) dθ = 24π Latihan : 1. y.θ) = 12 – 2r2 f(r. sin B φ1 p ( φ ) s ( θ. φ) 2 φ dρ. perpotongan kedua permukaan diatas adalah berbentuk lingkaran berjari-jari 4 berpusat di (0. φ) ρ. φ ) φ 2 q ( φ ) t ( θ. volume suatu ruang V yang dibatasi oleh z = 12 – 2x2 – 2y2 dan z = x2 + y2 ! Penyelesaian : Ruang V yang terbentuk mempunyai satu garis simetri. dφ Contoh : Hitung dengan menggunakan koordinat tabung. yaitu sumbu-z. ∫ ∫∫ y z dx dy dz 0 −1 1 3 2 2 y z 3.θ) = r2 2 π 2 12 − 2 r 2 ∫∫∫ f (x. 0). Oleh karena itu volume V dapat dihitung dengan menggunakan integral lipat tiga dala koordinat tabung.37 KALKULUS II Sehingga integral lipat tiga dengan koordinat bola dapat ditulis : ∫∫∫ f (x. ∫ ∫ ∫ (x + 2 y + 3z ) 0 −1 2 0 1 0 1 3 2 dz dy dx 2.y) = x2 + y2 Jadi Volume V = f(r. z)dV = ∫ ∫ ∫ f (ρ. dθ. dimana : Permukaan 1 : f(x. y.y) = 12 – 2x2 – 2y2 Permukaan 2 : f(x.

Integral lipat tiga dengan koordinat kartesius Integral lipat tiga dengan koordinat tabung Integral lipat tiga dengan koordinat bola ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . 7.38 KALKULUS II 4− x2 − y 2 4. c. z = 0. B benda pejal di oktan pertama dari tabung y2 + z2 = 1 dan bidang y = x dan bidang x=0! B benda pejal yang dibatasi oleh paraboloid z = 4x2 + y2 dan selinder parabolic z = 4 – 3y2 ! B benda pejal dibatas oleh z = x2 + y2. 8. 6. ∫ ∫ 0 0 2 4− x2 ∫z 0 4 − x 2 − y 2 dz dy dx Tentukan volume benda pejal B dengan menggunakan integral lipat tiga ! 5. dan x2 + (y – 1)2 = 1 Tuliskan perbedaan perhitungan volume bola menggunakan : a. b.

kita mengintegralkan f sepanjang sumbu-x dari a ke b dan yang diintegralkan f adalah fungsi yang terdefinisi pada setiap titik antara a dan b. a Dalam integral tentu tersebut. dan |P | merupakan partisi yang terbesar. kita mengintegralkan sepanjang kurva (lengkungan) C di dalam ruang dan yang diintegralkan adalah fungsi yang tedefinisi pada setiap titik di sepanjang kurva (lengkungan) C tersebut. b] sehingga menghasilkan kurva C yang terpotong-potong ke dalam n bagian. Jadi C memiliki titik awal A = (x(a). y(a)) dan titik ujung B = (x(b). b]. Definisi integral garis : Misal C suatu kurva mulus yang diberikan secara parameter oleh : x = x(t) dan y = y(t).39 KALKULUS II BAB V INTEGRAL GARIS DAN INTEGRAL PERMUKAAN 5. untuk a < t < b dengan x’ dan y’ kontinu dan tidak serentak nol pada [a. Partisi [a. y(b)). Perhatikan sketsa berikut : ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . Andaikan ∆si menyatakan panjang busur yang bersesuaian. Dalam integral garis. dimana bagian partisi Pi mewakili potongan pada waktu ti. serta C berorientasi positif (arah positifnya berpadanan terhadap pertambahan nilai t).1 Integral Garis Konsep integral garis merupakan generalisasi sederhana dari konsep integral tentu b ∫ f ( x) dx . Misal kurva (lengkungan) C memenuhi persamaan : r (t) = x(t) i + y(t) j + z(t) k Kurva C dinamakan kurva mulus C jika d r / dt ≠ 0 untuk setiap t.

y) x Maka jumlah Riemann : lengkunga (kurva) C. y (t ) )   +   dt  dt   dt  2 2 Jika di tulis dalam bentuk tanpa parameter sebagai berikut: C ∫ f ( x. ∑ f ( x . Sehingga dapat ditulis : C ∫ f ( x. 0 ≤ t ≤ π/2 ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . y) ds = ∫ a  dy  f (x. y) ds dinamakan integral garis fungsi f sepanjang lengkungan C dari A ke B. Contoh : Hitung C ∫ (x y ) ds 2 dimana C sepanjang x = 3cost. y = 3sin t. y) ds + ∫ f ( x. C1 C2 dimana gabungan C1 dengan C2 adalah C.y) r y Df(x. y) ds = ∫ f ( x. −C dimana – C adalah kurva yang sama dengan C namun berlawanan arah. y ) ∆s i i i =1 n i merupakan luas tirai tegak sepanjang C ∫ f ( x. y ) 1 +   dx  dx  2 atau C ∫ f ( x. y) ds . y ) 1 +   dy  dy    2 Sifat integral garis : o C ∫ f ( x. y) ds .40 KALKULUS II Z f(x. y) ds = − ∫ f ( x. o C ∫ f ( x. y) ds = ∫ a b  dx  f (x. y ) ds = ∫ a b b  dx   dy  f (x(t ).

y.1) dan dari (1.2).y) = (x 3 2 – y3) i + xy2 j .z) k dengan M. 5. F F F C ∫ F • dr dimana = x2 i + y2 j . maka F • T adalah komponen singgung F rumusan kerja adalah : W = ∫ F • T ds C di P. Sehingga kita mempunyai = ∫F• C C dr ds ds = ∫ F • dr dimana F • d r sebagai menyatakan kerja yang dilakukan F dalam menggerakan suatu partikel menelusuri vektor singgung d r yang sangat kecil. y = t3. C adalah kurva x = t2.y. y.z) j + P(x. Jika T adalah vektor singgung satuan dr/ds di P. Kita ingin menentukan kerja (usaha) W yang dilakukan oleh F dalam memindahkan partikel menelusuri kurva terarah C. z) = M(x.41 KALKULUS II Penyelesaian : C ∫ π /2 x 2 y ds = ∫ (3 cos t ) 3 sin t 2 0 (− 3 sin t )2 + (3 cos t )2 dt π /2 = 81 ∫ cos 0 2 t sin tdt = 27 Andai bahwa gaya yang bekerja pada suatu titik (x. 2. Latihan : Hitung 1. z) dalam ruang diberikan oleh medan vektor : F (x.1) ke(1. C kurva x = 2t dan y = t2 – 1 . Misalkan. 0 ≤ x ≤ 1 Tentukan kerja yang dilakukan oleh medan gaya F untuk memindahkan partikel sepanjang kurva C. P kontinu. N. 3. y. C kurva y = x2 dari x = -1 dampai x = 1 = y i + x2 j .y. 0 ≤ t ≤ 2 = y i + x j . berikut ini : 4.2) ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM .1) ke (1. C adalah 2 garis lurus dari (0. -1 ≤ t ≤ 0 – y) i + (y2 – x) j . r = x i + y j + z k merupakan vektor posisi partikel. F (x.1) ke (1.y) = (x F (x. jika: a.z) i + N(x. dari (0. C kurva y = x2 .

jika untuk sembarang dua titik A integral garis mempunyai nilai yang sama untuk sembarang dan B dalam D. F disebut medan vektor konservatif.z) j + P(x.42 KALKULUS II b. c. maka C ∫ ∇f (r ) • dr = f (b) − f (a) Misal D tersambung. a ≤ t ≤ b.z) i + N(x. Definisi divergensi dan rotasi dari suatu medan vektor F : Misal F (x.y.2 Integral Garis Bebas Lintasan Dengan mengingat kembali teorema dasar kalkulus. y. C adalah kurva r (t) = t i + (t2 – 1) j C adalah kurva (y – 1)2 = x 5. lintasan dalam D yang secara postif terarah dari A ke B. yaitu jika dua titik sembarang dalam D dapat dihubungkan oleh sepotong kurva mulus seluruhnya terletak dalam D. Jika f dapat didiferensialkan secara kontinu pada suatu himpunan terbuka yang mengandung C. Andaikan F ( r ) kontinu pada suatu himpunan tersambung terbuka D. yaitu : b ∫ f ( x) dx = f (b) − f (a) a teorema ini berlaku juga untuk integral garis.y. Andaikan C kurva mulus sepotong-sepotong yang secara parameter diberikan oleh r = r (t) .y. Maka integral garis C ∫ F (r ) • dr dikatakan bebas lintasan dalam D jika dan hanya jika F(r ) = ∇f r untuk suatu fungsi skalar f. z) = M(x. Definisi bebas lintasan : C ∫ F (r ) • dr dikatakan bebas lintasan dalam D.z) k suatu medan vektor dan ∇ adalah operator o ∂ ˆ ∂ ˆ ∂ ˆ i+ j+ k ∂x ∂y ∂z maka Div F = ∇ • F = Mx + Ny + Pz dinamakan divergesi F ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM .

…….43 KALKULUS II o ˆ i ∂ curl F = ∇ x F = ∂x M ˆ j ∂ ∂y N ˆ k  ∂P ∂N  ˆ  ∂M ∂P  ˆ  ∂N ∂M  ˆ ∂ i +  k = − −  j+  − ∂z  ∂y ∂z   ∂z ∂x   ∂x ∂y      P dinamakan rotasi (Curl) F Akhirnya. a. z) = M(x. sehingga F = ∇f Tentukan usaha untuk memindahkan partikel dari (0. y. π/2) ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM .z) k maka curl F = 0 Contoh : Tentukan apakah F = (4x3 + 9x2y2 ) i + (6x3y + 6y5) j merupakan medan vektor konservatif ? jika ya.(**) Turunan parsial f(x. Diketahui sebuah medan vektor F = ex sin y i + ex cos y j.y) terhadap y = fy = 6x3y + c’(y) Substitusikan (**) pada (*) sehingga diperoleh : f (x. z) = M(x. b.z) i + N(x. apakah medan vektor tersebut konservatif ? Tentukan fungsi potensial f. Latihan : 1.z) j maka My = Nx Untuk F (x.y) = 4x3 + 9x2y2 dan N(x.y. tentukan fungsi skalar f yang memenuhi F = ∇f ! Penyelesaian : o F =Mi+Nj My = 18x2y Sehingga My = Nx M(x.y.y.y) adalah fungsi skalar yang memenuhi ∇f = F .y) = x4 + 3x3y2 + c(y) ……………(*) c’(y) = 6y5 c(y) = y6 + c …….y. Maka fx = M dan fy = N Sehingga fx = 4x3 + 9x2y2 Kita tahu bahwa fy = N f (x.y) = x4 + 3x3y2 + y6 + c sebagai fungsi skalar dari fungsi vektor konservatif tersebut.y.y) = 6x3y + 6y5 dan Nx = 18x2y F konservatif o Misal f(x. suatu medan vektor F dikatakan konservatif jika dan hanya jika : Untuk F (x.0) ke (1. y.z) j + P(x. Periksa. c.z) i + N(x.

y) = (y2 – 7y) dan N(x. apakah medan vektor tersebut konservatif ? Tentukan fungsi potensial f.y) = (2xy + 2x) dan C adalah lingkaran berpusat di (0.y) adalah fungsi yang kontinu dan mempunyai turunan paarsial My dan Nx yang kontinu pada setiap titik dalam beberapa domain yang mengandung R.0. c. Periksa.y) dan N(x.44 KALKULUS II 2. Diketahui sebuah medan vektor G = (6xy3 + 2z2) i + 9x2 y2 j + (4xz + 1) k. Misal M(x.0) ke (1. kita peroleh : M(t) = sin2 t – 7 sin t dan N(t) = 2cos t sin t + 2 cos t dy   dx +N  dt = M dt   dt C 2π ∫ ∫ [(sin 0 2 t − 7 sin t (− sin t ) + 2(cos t sin t + cos t )(cos t ) dt ) ] = 0 + 7π + 0 + 2π = 9π o Integral ruas kanan  ∫∫  dx −  R  dN dM dy   dx dy =   ∫∫ [(2 y + 2) − (2 y − 7 )] dx dy R =9 ∫∫ R 2π 1 dx dy = 9 ∫ ∫ r dr dθ = 9π 0 0 ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . a. b. Maka  ∫ M dx + N dy = ∫∫  dx −  R  dN C dM dy   dx dy   Integrasi yang diambil sepanjang seluruh batasan C dari R sedemikian sehingga R yang disebelah kiri suatu untegrasi tingkat tinggi. Contoh : Diketahui M(x.1) 5.1. sint] r ‘ (t) = [ – sint . cost] Dengan mensubstitusi.3 Teorema Green Misal R adalah daerah tertutup yang terbatas didalam bidang xy oleh suatu lengkungan tertutup C yang terdiri dari sejumlah kurva mulus terhingga.0) dan berjari-jari 1. Penyelesaian : o Integral ruas kiri r (t) = [cost. sehingga F = ∇f Tentukan usaha untuk memindahkan partikel dari (0.

0). Misalkan. C berupa ellips x2 + 4y2 = 4 = (2xy – x2 ) i + (x + y2) j. 4. F F F = 3x2 i – 4xy j. C adalah lingkaran x2 + y2 = ¼ = (x3 – 3y) i + (x + sin y) j.2) F F y = x2 dan y2 = x 5. y)) Kontinu pada R. z) = g(x. dengan (x. maka : ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . C adalah ruas garis persegi panjang 0 ≤ x ≤ 4 . 3. Latihan : Hitung integral garis ∫ F (r ) • dr berlawanan arah jarun jam sepanjang C. 5. y). Jika f mempunyai turunan parsial pertama yang kontinu dan g(x. 0 ≤ y ≤ 1 = y i – x j.0) dan (0. C adalah ruas garis pada segitiga dengan titik sudut = (e – 3y) i + (e + 6x) j. C adalah kurva mulus tertutup sederhana pada bidang xy dan berlawanan arah jarums jam yang membatasi daerah R.y) i + N(x. f(x. ds ds Jika F(x. Sedangkan C ∫F •T ds = ∫∫ (curl F )• kˆ dA R disebut teorema Stokes pada bidang. dan ds ds n= dy ˆ dx ˆ i− j adalah vektor normal yang mengarah keluar dari R. (1. y) di R. y. C adalah lengkungan tertutup yang dibatasi oleh x y (0. Maka T = dx ˆ dy ˆ i+ j merupakan vektor singgung satuan. 2.45 KALKULUS II Bentuk vektor dari teorema green. y.4 Integral permukaan Misakan G suatu permukaan yang diberikan oleh z = f(x. y) j adalah suatu medan vektor maka C ∫ F • n ds = ∫∫ div F dA R dinamakan teorema Divergensi Gauss. y) = M(x. dengan : C 1.

dan volume fluida ∇V yang melewati potongan ini dalam arah normal satuan n adalah ∇V ≈ F • n ∆S Kita dapat menyimpulkan bahwa : Fluks F yang melintasi G = Persamaan permukaan dapat ditulis H(x. f ( x.y.y. y. y)) R f x 2 + f y 2 + 1 dy dx dimana θ adalah sudut antara normal satuan ke atas n di (x. maka disana F (x. z) = z – f (x. y)) dan sumbu z positif. y. y. z )dS = ∫∫ g ( x.46 KALKULUS II ∫∫ g ( x. y.z).z) hampir konstan. f ( x. Andaikan G sutu permukaan dua sisi yang demikian mulus dan anggap dia terendam di dalam fluida dengan suatu medan kecepatan kontinu F (x. z) = x i + y j + z k. f(x. y. yang melewati bagian permukaan G yang ditentukan oleh fungsi z = 1 – x2 – y2 Penyelesaian : fx = – 2x dan fy = – 2y Maka fluks yang melintasi G adalah : ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . y. y)) secθ dA G R = ∫∫ g ( x. y) Sehingga n = ∇H ∇H − = ∂f ˆ ∂f ˆ ˆ i− j+ k ∂x ∂y 2 2 ∫∫ F • n dS G  ∂f   ∂f    +   +1    ∂x   ∂y  Maka ∫∫ G F • n dS =   ˆ − f xi − f y ˆ + k  j ˆ F •   2 2 R  (fx ) + f y + 1   ˆ ˆ − f y ˆ + k dA = F • − f xi j ∫∫ ∫∫ [ R ( ) ( f x )2 + ( f y )2 + 1 dA ] Contoh : Tentukan fluks ke atas dari F (x. Jika ∆S adalah luas sepotong kecil dari G.

permukaan G : z = √ 4 –x2 . fluks F yang melewati batas suatu daerah tertutup dalam ruang dimensi-3 adalah integral lipat tiga dari divergensinya atas daerah tersebut. F (x. N. 5. 4. ∫∫ F • n dS G : F (x. 0 ≤ x ≤ √ 3 dan 0 ≤ y ≤ 1 g(x. 0 ≤ x2 + y2 ≤ 1 Hitung 3. z) = 2y2 + z. z) = x i + y j + 2z k. permukaan G : z = x2 – y2. permukaan G : z = 1 – x2 – y2 z) = x i + y j + z k. ∫∫ g ( x. dan P mempunyai turunan parsial pertama yang kontinu pada S dan batasnya ∂ S. Andai F = M i + N j + P k. permukaan G : z = √ 1 – x2 – y2 5.47 KALKULUS II ∫∫ F • n dS = ∫∫ F • − ∂x iˆ − ∂y ˆj + kˆ dA   = ∫∫ (x + y + 1) dx dy G R 2 2 R 2π 1  ∂z ∂z  = ∫∫ (r 0 0 2 + 1 r dr dθ = ) 3π 2 Latihan : Hitung 1. Jika n menyatakan normal satuan terluar terhadap ∂ S. berupa medan vektor sedemikian hingga M. y. permukaan G : z = √ 9 – x2 – y2 z) = z2 k. 2. yang secara lengkap dicakup oleh suatu permukaan mulus sepotong-sepotong ∂ S . ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . maka : ∫∫ F • n dS = ∫∫∫ div F dV ∂S S Dengan kata lain. y. y.5 Teorema Divergensi dan Stokes Teorema Divergensi Andai S suatu benda pejal tertutup dan terbatas dalam ruang dimensi-3. y. F (x. y. z) = x + y. z ) dS G : g(x. y.

Gunakan teorema stoke ! Penyelesaian : Curl F = – i + j – k sedangkan normal dari permukaan adalah n = i Jadi Curl F • n = – 1 Oleh karena itu C ∫F •T dS = ∫∫ (curl F )• n dS = −1(luas S ) = −2 S ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . 0. 2). Penyelesaian : Dengan menggunakan teorema divergensi. Jika terhadap ∂ S. berupa medan vector sedemikian hingga M. 0). (0. maka T menyatakan vector singgung satuan ∂S ∫ F • T dS = ∫∫ (curl F )• n dS S Contoh : Tentukan integral F = z i – x j – y k sepanjang segitiga yang titik sudutnya (0. 0. N. 0). S adalah permukaan dua sisi yang dibatasi oleh lengkungan tertutup ∂ S dengan normal satuan n dan andaikan F = M i + N j + P k. 0) berjari-jari 1.48 KALKULUS II Contoh : Hitung fluks dari medan vektor F = x3 i + y3 j + z3 k yang keluar dari bola B berpusat di (0. fluks yang keluar dari bola adalah : ∫∫ F • n dS = ∫∫∫ div F dV = ∫∫∫3 (x + y + z ) dV ∂S B 2 2 2 B 2π π = = ∫ ∫ ∫ 3ρ 0 0 0 1 4 sin φ dρdφdθ 12π 5 Teorema Stokes Misalkan. 0. 2. (0. dan P mempunyai turunan parsial pertama yang kontinu pada S dan batasnya ∂ S.

S adalah benda pejal 0 ≤ x2 + y2 ≤ 4 . 3. C adalah perpotongan tabung x2 + y2 = x dengan bola x2 + y2 + z2 = 1 ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . C adalah ellips perpotongan z = x dan x2 + y2 = 4 = (z – y) i + y j + x k . F F F = y i – x j + 2 k .49 KALKULUS II Latihan : Tentukan fluks dari medan vektor F yang melewati permukaan S. S adalah benda pejal z = √ 4 – x2 – y2 dan z = 0 = 2z i + x j + z2 k . S adalah permukaan z = √ 1-x2 . dengan C berlawanan arah jarum jam ! = 2z i + x2 j + 3y k . 0 ≤ x ≤ 1 C Hitung 4. 2. untuk 0 ≤ x ≤ 5 = x2 i + y2 j + z2 k . berikut ini : 1. 5. F F ∫ F • T dS .

R.. 5th edition. Kalkulus Diferensial. DiPrima.. Varberg D. J. Bandung. Calculus with Analytic Geometry. John Willey & Sons. . edisi 5. 1992 Martono. Kalkulus dan Geometri Analitis Jilid 2. Erlangga. Singapore.. 1987 Purcell. 3rd edition. E. Penerbit ITB. E. 1992 Setya Budhi. 1988 Boyce W. Elementary Differential Equations and Boundary Value Problems.... K. H.. Terjemahan I Nyoman Susila dkk. Bandung. Alvagracia.C. New York. W. Kalkulus Peubah Banyak dan Penggunaannya. John Willey & Sons. 2001 ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . Jakarta.50 KALKULUS II DAFTAR PUSTAKA Anton.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful