P. 1
kalkulus 2

kalkulus 2

|Views: 6,652|Likes:
Published by Dam'z 'Deka' Kusuma

More info:

Published by: Dam'z 'Deka' Kusuma on Mar 28, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/12/2015

pdf

text

original

Sections

  • 3.1 Daerah Definisi dan Grafik
  • 3.4 Kelengkungan
  • BAB IV INTEGRAL LIPAT
  • 3.1 Integral Lipat Dua
  • 3.1.1 Integral Lipat Dua pada Koordinat Kartesius
  • 4.2 Integral Lipat Tiga
  • 4.2.1 Integral Lipat Tiga dengan Koordinat Kartesius

i

KATA PENGANTAR

Segala puji hanya milik Allah SWT, yang telah memberikan kenikmatan
kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan penulisan buku ajar ini. Buku ajar
ini digunakan oleh penulis sebagai bahan mengajar mata kuliah Kalkulus II. Materi
yang terdapat pada buku ajar ini ditujukan bagi mahasiswa S1 Jurusan Teknik Elektro,
Teknik Informatika, dan Teknik Industri yang sedang mengikuti kuliah kalkulus II pada
Program Perkuliahan Dasar Umum di STT Telkom.
Buku ajar ini terdiri dari lima bab, yaitu : Persamaan Diferensial Biasa, Fungsi
Dua Peubah, Fungsi Vektor, Integral Lipat, serta Integral Garis dan Integral Permukaan.
Semua materi tersebut merupakan bahan kuliah yang sesuai dengan kurikulum silabus
yang berlaku di STT Telkom.

Dalam kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan terima kasih yang
setulus-tulusnya kepada berbagai pihak atas segala bantuan dan dukungannya
sehingga penulis dapat menyelesaikannya.
Mudah-mudahan buku ajar kuliah ini dapat memberikan manfaat bagi para
mahasiswa yang ingin mempelajari materi kuliah terkait. Akhirnya, penulis mohon
maaf jika dalam tulisan ini masih banyak kekurangan, sumbangan ide dan kritik yang
membangun untuk perbaikan buku ajar ini sangat penulis harapkan.

Bandung, Juni 2001

Penulis,

ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ….………………………………………………………… i
DAFTAR ISI …………….………………………………………………………. ii
BAB I Persamaan Diferensial Biasa ………………………………………….. . 1
1.1 Persamaan Diferensial Orde satu …………………………………………... …. 1
1.2 Trayektori Ortogonal …………………………………………………………… 3
1.3 Persamaan Diferensial Orde Dua ……………………………………………… 5
1.3.1 Persamaan Diferensial Orde Dua Homogen …..……………………….. 5
1.3.2 Persamaan Diferensial Orde Dua Tak Homogen ………………………. 6
BAB II Fungsi Dua Peubah …………………………………………………….. 10
2.1 Bentuk Permukaan di Ruang ..…………………………………………………. 10
2.2 Domain dan Kurva Ketinggian Fungsi Dua Peubah ……………………….…. 13
2.3 Turunan Parsial ………………………………………………………………… 15
2.4 Vektor Gradien,Turunan Berarah dan Bidang Singgung ………………………. 17
2.5 Bidang Singgung ………………………………………………………………. 18
2.6 Nilai Ekstrim ……………………………………………. ……………………. 19
BAB III Fungsi Vektor .. …………………………………………………….…. 22
3.1 Daerah Definisi dan Grafik …………………………………………………… 22
3.2 Limit, kekontinuan dan Turunan Parsial ……..………………………………. 24
3.3 Kinematika Pertikel ……………………………………………………………. 24
3.4 Kelengkungan …………………………………………………………………. 25
BAB IV Integral Lipat ………………………………. ………………………… 28
4.1 Integral Lipat Dua ……………………………………………………………. 28
4.1.1 Integral Lipat Dua pada Koordinat Kartesius ……………………….. 29
4.1.2 Integral Lipat Dua pada Koordinat kutub (Polar) ………………….… 32
4.2 Integral Lipat Tiga ...………………………………………………………… 34
4.2.1 Integral Lipat Tiga dengan Koordinat Kartesius ….………………… 34
4.2.2 Integral Lipat Tiga dengan Koordinat Tabung dan Bola …..……….. 35
BAB V Integral Garis dan Integral Permukaan …………………..…………. 39

iii

5.1 Integral Garis ……………………………………………………………………39
5.2 Integral Garis Bebas Lintasan ……………………………………….…………. 42
5.3 Teorema Green …………………………………………………………….….. 44
5.4 Integral Permukaan …………………………………………………………….. 45
5.5 Teorema Divergensi dan Sokes ….…………………………………………….. 47
DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………….. .50

1
KALKULUS II

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM

BAB I
PERSAMAAN DIFERENSIAL BIASA

Persamaan Diferensial adalah suatu persamaan yang mengandung satu atau beberapa
turunan dari peubah tak bebasnya. Jika persamaan diferensial tersebut mengandung peubah tak
bebas yang hanya bergantung pada satu peubah bebasnya maka persamaan diferensial tersebut
dinamakan persamaan diferensial biasa. Sedangkan jika peubah bebasnya lebih dari satu
dinamakan persamaan diferensial parsial. Orde suatu persamaan diferensial adalah turunan
tertinggi pada persamaan diferensial tersebut.
Contoh Persamaan Diferensial Biasa :
1.

0

sin
2 =
+ x

dx

dy

, persamaan diferensial orde satu dimana y sebagai peubah tak bebas dan x

merupakan peubah bebas.

2.

0

1

dt

dr

2

dtr

d

2

2

=

+

+

, persamaan diferensial orde dua dimana r sebagai peubah tak bebas dan

t merupakan peubah bebas.
Notasi persamaan diferensial bisa dalam beberapa bentuk, antara lain notasi pada contoh
kedua, selain diatas dapat pula ditulis sebagai berikut :
r ” + 2r’ +1 = 0 atau rtt + 2rt + 1 = 0
Persamaan diferensial dikatakan linear, apabila persamaan diferensial tersebut mempunyai
peubah tak bebas maupun turunannya bersifat linear.
Definisi solusi suatu persamaan diferensial :
Misal ada suatu persamaan diferensial dimana y sebagai peubah tak bebas yang bergantung
pada peubah bebas x.
Suatu fungsi f(x) disubstitusikan untuk y dalam persamaan diferensial, persamaan yang
dihasilkan merupakan suatu kesamaan untuk setiap x dalam suatu selang, maka f(x)
dinamakan solusi persamaan diferensial tersebut.
Contoh :

Diketahui persamaan diferensial y’ + 2 sinx = 0
f(x) = 2 cos x + C merupakan solusi persamaan diferensial diatas,
dimana C adalah konstanta yang bergantung pada syarat awal persamaan diferensial
tersebut.

1.1 Persamaan Diferensial Orde Satu

Bentuk umum persamaan diferensial orde satu adalah:

)
()

(

y
g x

f

dx

dy

=

Beberapa metode untuk menyelesaikan persamaan diferensial orde satu, antara lain :

a. Peubah Terpisah

Bentuk umum :

)
()

(

y
g x

f

dx

dy

=

atau

)
()

(

x
f y

g

dx

dy

=

Cara penyelesaian dengan integral biasa dari kedua ruas di bawah ini :

2
KALKULUS II

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM


∫ = dx

x

f

dy

y

g

)

(

)

(

Contoh :

Tentukan solusi umum dari persamaan diferensial

x

y

dx

dy

+

=

1

Penyelesaian :

)

1(

)

1

ln(

ln1

1

x

C

y

C

x

y x

dx

ydy

x

y

dx

dy

+

=

+

+

=

+

=

+

=

b. Faktor Integrasi

Bentuk umum merupakan persamaan diferensial linear, yaitu :
y’ + p(x) y = q(x)
Solusi persamaan diferensial diatas adalah :

C

dx

x

q

x

u

x

u

y

+

=

)

(

)

(

)

(1

dimana

=

dx

x

p

e

x

u

)

(

)

(

Bukti :

Kalikan persamaan diferensial (*) dengan u(x) sehingga menjadi :
u(x) y’ + u(x) p(x) y = u(x) q(x)
u(x) y’ + u’(x) y - [ u’(x) y - u(x) p(x) y ] = u(x) q(x)
Ambil u’(x) y - u(x) p(x) y = 0

(**)

Sehingga u(x) y’ + u’(x) y = u(x) q(x)
[ u(x) y ]’ = u(x) q(x)

C

dx

x

q

x

u

x

u

y

+

=

)

(

)

(

)

(1

Dari (**) kita mempunyai u’(x) y - u(x) p(x) y = 0
Dengan metode peubah terpisah diperoleh :

=

dx

x

p

e

x

u

)

(

)

(

ΘΘΘ

Contoh :

Tentukan solusi umum dari persamaan diferensial

21

x

xy

dx

dy

=

+

Penyelesaian :
p(x) = 1/x

u(x) =

x

dx
x
=

∫1

exp

)

ln

(

1

1

1

2

C

x

x

dx

x

x

x

y

+

=

=

f(x, y) adalah fungsi homogen jika f(kx, ky) = kn

f(x, y), untuk k ∈ skalar riil dan n merupakan

orde dari fungsi tersebut.
Beberapa persamaan diferensial orde satu tak linear yang dapat ditulis

)

,

(
T

)

,

(
S

y
x y

x

dx

dy

=

, dimana S,

T merupakan fungsi homogen berderajat sama maka solusi persamaan diferensial dapat dicari
dengan menggunakan metode substitusi sehingga menjadi bentuk persamaan diferensial

3
KALKULUS II

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM

dengan peubah terpisah. Misal, kita dapat mensubstitusi peubah tak bebas y dengan ux, yaitu :
y = ux dimana u = u(x), sehingga y’ = u’x + u.
Contoh :

Tentukan Solusi umum dari persamaan diferensial

x y

x

dx

dy +
=

Penyelesaian :

Misal y = ux, dimana u = u(x)
Oleh karena itu y’ = u’ x + u
Dengan mensubstitusi pada persamaan diferensial di atas ke persamaan diferensial, di
peroleh :

xux

x

u

x

u

+

=

+

'

u

u

x

u

+

=

+

1

'

C

x

u

x

u

+

=

=

ln

1

'

Maka
y = x lnx + cx

1.2 Trayektori Ortogonal

Salah satu aplikasi dari persamaan diferensial orde satu adlaah menentukan trayektori
ortogonal dari suatu fungsi persamaan. Trayektori ortogonal dari suatu keluarga kurva adalah
keluarga kurva yang memotong tegak lurus keluarga kurva tersebut.
Langkah-langkah menetikan trayektori ortogonal dari suatu keluarga kurva f(x,y)= C, sebagai
berikut :
Turunkan f(x,y) = C secara implisit terhadap x, Misal Df(x,y)
Jika turunan pertama mengandung C (parameter) maka substitusikan C(x,y) dari
persamaan awal.
Trayektori Ortogonal akan memenuhi persamaan diferensial berikut :

)

,

(1

y

x

Df

dx

dy

=

,

artinya solusi persamaan diferensial diatas merupakan trayektori ortogonal dari
persamaan f(x,y)= C

Contoh :

Tentukan trayektori ortogonal dari keluarga kurva x2

+ y2

= C

Penyelesaian :

Turunan implisit dari fungsi di atas adalah : 2x + 2y y‘ = 0
Sehingga Df(x,y) =

yx

Trayektori ortogonal akan memenuhi persamaan diferensial :

)

,

(1

y

x

Df

dx

dy

=

xy

dx

dy

=

Trayektori ortogonalnya adalah y = Cx

4
KALKULUS II

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM

Latihan

Tentukan solusi umum dari persamaan diferensial orde satu berikut :

1.

2

1 y

dx

dy

+

=

2.

2

2

2

3

x y

xy

x

dx

dy

+

+

=

3.

x

y

dx

dy

6

2 =

+

4.

2

2
1cos

yx

y

dx

dy

+

=

5.

x

e

x

y

dx

dy

x

3

2 =

6.

0

2

2

=

yx

xy

dx

dy

Tentukan solusi khusus dari persamaan diferensial orde satu berikut :
7.

4

3 x
y

dx

dy

x

=

; y (1) = 4

8. ( )

y

e

dx

dy

e

x

x

+

+

1

; y (0) = 1

Tentukan trayektori ortogonal dari fungsi berikut :

9.

x

e

C

y

2−

=

10.

C

y

x

=

−2

2

11.

2

x

C

y =

12.

( )

2

2

2

C

c

y

x

=

+

5
KALKULUS II

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM

1.3 Persamaan Diferesial Orde Dua

Bentuk umum persamaan diferensial orde dua :
y” + a y’ + b y = f(x)
Jika f(x) = 0 maka persamaan diferensial diatas disebut persamaan diferensial
homogen, sedangkan jika f(x) ≠ 0 maka dinamakan persamaan diferensial tak
homogen.

1.3.1 Persamaan Diferensial Orde Dua Homogen

Misalkan ada dua fungsi f(x) dan g(x), dikatakan bebas linier pada interval I,
jika persamaan yang merupakan kombinasi linier dari keduanya, yaitu : m f(x) + n g(x)
= 0 untuk setiap x ∈ I hanya dipenuhi oleh m = n = 0. Jika tidak demikian maka
kedua fungsi tersebut dikatakan bergantung linier. Andai fungsi yang diberikan yaitu
f(x) dan g(x) terdiferensialkan untuk setiap x ∈ ℜ. Maka Wronskian dari f(x) dan
g(x) didefinisikan sebagai berikut :

W(f(x),g(x))

f(x)

g(x)
f'(x)g'(x)

=

Keterkaitan antara kebebasan linier dan wronskian dari dua fungsi tersebut dapat
dikatakan sebagai berikut : Dua fungsi f(x) dan g(x) dikatakan bebas linier pada I
jika dan hanya jika wronskian dari kedua fungsi tersebut tidak sama dengan nol, untuk
suatu x ∈ I.

Misal u1 dan u2 adalah solusi persamaan diferensial orde dua dan wronskian
(determinan wrosnki) dari keduanya didefinisikan oleh :

W (u1, u2)=

'
'2

1

2

1

u
u u

u

Jika W ≠ 0 maka u1 dan u2 saling bebas linear artinya u1 dan u2 merupakan basis
solusi, sehingga kombinasi linear dari u1 dan u2 , yaitu y = c1u1 + c2u2 juga
merupakan solusi dari persamaan diferensial orde dua.
Misal

rx

e

x
u
=

)

(

solusi persamaan diferensial orde dua maka dengan

mensubstitusikan pada persamaan diperoleh :

0

)

(2

=

+
+ b
ar

r

erx

Oleh karena

0

rx

e

maka r2

+ ar + b = 0 (dinamakan persamaan karakteristik)
Solusi umum dari persamaan diferensial orde dua homogen bergantung pada akar
persamaan karakteristik.
Tiga kemungkinan solusi umum persamaan diferensial orde dua :
Persamaan karakteristik mempunyai 2 akar riil yang berbeda (r1 dan r2) maka
solusi umumnya berbentuk :

x

r

x

r

e

c

e

c

x

y

2

1

2

1

)

(

+

=

Persamaan karakteristik mempunyai 2 akar riil kembar (r1 = r2 = r) maka solusi
umumnya berbentuk :

rx

rx

xe

c

e

c

x

y

2

1

)

(

+

=

Persamaan karakteristik mempunyai 2 akar kompleks (r = p ± qi) maka solusi
umumnya berbentuk :

(

)

qx

c

qx

c

e

x

y

px

cos

sin

)

(

2

1

+

=

Tunjukan (sebagai latihan) bahwa untuk setiap kasus, wronskian ≠ 0.

Contoh :

6
KALKULUS II

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM

Tentukan solusi umum persamaan diferensial berikut :
a. y” + y’ – 2y = 0
b. y” + 4y‘ + 4y = 0
c. y” + 9y = 0

Penyelesaian :

a. Persamaan karakteristik yang sesuai adalah
r2

+ r – 2 = 0
(r – 1) (r + 2) = 0
mempunyai dua akar real berbeda, yaitu : 1 dan -2
Sehingga solusi umumnya :

x

x

e

c

e

c

x

y

2

2

1

)

(

+

=

b. Persamaan karakteristik yang sesuai adalah
r2

+ 4r + 4 = 0
(r – 2) 2

= 0
mempunyai dua akar real kembar, yaitu : 2
Sehingga solusi umumnya :

x

x

xe

c

e

c

x

y

2

2

2

1

)

(

+

=

c. Persamaan karakteristik yang sesuai adalah
r2

+ 9 = 0

r2

= – 9

r = 3 i
mempunyai akar kompleks, yaitu : 3i
Sehingga solusi umumnya :

x

c

x

c

x

y

3

cos

3

sin

)

(

2

1

+

=

1.3.2 Persamaan Diferensial Orde Dua Tak Homogen

Bentuk umum persamaan diferensial orde dua :
y” + a y’ + b y = f(x)
Solusi umum dari persamaan diferensial orde dua tak homogen adalah y = yh + yp,
dimana yh merupakan solusi homogen dan yp solusi pelengkap.
Solusi homogen diperoleh dari persamaan diferensial orde dua homogen (ambil f(x) =
0), sedangkan untuk menentukan solusi pelengkap ada dua metode, yaitu :
• Koefisien Tak Tentu
• Variasi Parameter

Metode Koefisien Tak Tentu

Metode ini sangat berguna manakala fungsi )
(x

f

berupa polinom, eksponensial sinus,
dan cosinus. Metode ini bisa dikatakan metode coba-coba, untuk memudahkan
perhatikan tabel berikut :

)
(x

f

yp

Cxn

bnxn

+ ….+ b1x + b0

Ceax

Aeax

Cxeax

Aeax

+ Bxeax

Csin ax

A sin ax + Bcos ax

Bcos ax

A sin ax + Bcos ax

Ket : C, B, A, a, b0 , b1 , …, bn adalah konstanta riil.
Aturan 1 : Jika )
(x

f

merupakan fungsi seperti pada kolom pertama, pilih yp dari
kolom kedua yang bersesuaian (terletak pada baris yang sama)

7
KALKULUS II

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM

Aturan 2 : Jika )
(x

f

sama dengan salah satu dari solusi homogen maka kalikan yp

dengan x atau dengan x2

jika )
(x

f

sama dengan salah satu dari solusi

homogen yang berasal dari dua akar kembar.

Aturan 3 : Jika )
(x

f

penjumlahan dari fungsi dalam kolom satu maka pilih yp sebagai
penjumlahan dari baris-baris yang bersesuaian.
Setelah memilih yp yang diinginkan, dengan mensubstitusikan yp tersebut pada
persamaan diferensial, kita berusaha menetukan koefisien yang yp. sehingga diperoleh
solusi umum dari persamaan diferensial tersebut yaitu penjumlahan dari solusi
homogen (yh) dengan solusi pelengkap (yp).
Contoh :

Tentukan solusi umum persamaan diferensial berikut :

x

sin

2

y

4

dx

dy

3

dxy

d

2

2

=

Penyelesaian :

Kita mempunyai solusi umum homogen

x

x

h

e

c

e

c

y

4

2

1 +

= −

Untuk menentukan solusi pelengkap, kita pilih :
yp = Asinx + B cosx
Substitusikan ke persamaan diferensial, sehingga diperoleh :
(– A + 3B – 4A) sinx + (– B – 3A – 4B) cosx = 2 sinx
Maka ada dua persamaan yaitu :
– 5A + 3B = 2
– 5B – 3A = 0
Oleh karena itu A = – 5/17 dan B = 3/17
Solusi umum dari persamaan diferensial diatas adalah :

x

x

e

c

e

c

x

y

x

x

cos

173

sin

175

)

(

4

2

1

+

+

= −

Metode Variasi Parameter

Metode ini lebih umum dari metode sebelumnya, artinya jika kondisi persamaan
diferensial seperti di atas, metode ini dapat digunakan dalam menentukan solusinya.
Jika

)
(x

f

tidak sama dengan fungsi-fungsi pada kolom pertama tabel maupun
penjumlahannya, bisa berupa perkalian atau pembagian dari fungsi-fungsi tersebut,
kondisi ini mendorong kita untuk menggunakan metode variasi parameter.
Solusi pelengkap dari persamaan diferensial dengan menggunakan metode variasi
parameter adalah :
yp = v1u1 + v2u2
dimana u1, u2 merupakan solusi homogen yang bebas linear, sedangkan

[

]dx

u

u

u
u x

f

u

v

∫ −

=

'

')

(

1

2

2

1

2

1

dan

[

]dx

u

u

u
u x

f

u

v

∫ −

=

'

')

(

1

2

2

1

1

2

Bukti :

Misal yp = v1u1 + v2u2 solusi persamaan diferensial.
Substitusikan sehingga diperoleh:
v1’u1’ + v2’u2’ + v1u1” + v2u2” + a (v1’u1 + v2’u2 + v1u1’+ v2u2’)

+ b(v1u1+ v2u2)= )
(x

f

8
KALKULUS II

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM

v1’u1’ + v2’u2’ + a (v1’u1 + v2’u2)

+ v1u1” + v2u2” + a(v1u1’+ v2u2’) + b(v1u1+ v2u2)= )
(x

f

v1’u1’ + v2’u2’ + a (v1’u1 + v2’u2)

+ v1(u1” + au1’+ bu1) + v2 (u2” + au2’ + bu2)= )
(x

f

u1, u2 merupakan solusi homogen, oleh karena itu :
v1’u1’ + v2’u2’ + a (v1’u1 + v2’u2) = )
(x

f

Ambil v1’u1 + v2’u2 = 0, sehingga v1’u1’ + v2’u2’ = )
(x

f

Dengan memperhatikan dua persamaan terakhir, yaitu :
v1’u1 + v2’u2 = 0
v1’u1’ + v2’u2’ = )
(x

f

Dapat ditulis dalam bentuk perkalian matriks berikut :



=





)

(0

''

'

'

2

1

2

1

2

1

x

f

vv

u
u u

u

Dengan aturan Cramer diperoleh :

'

'

)

(
'0

'

dan

'

'

'

)

(0

'

2

1

2

1

1

1

2

2

1

2

1

2

2

1

u
u u

u x

f

uu

v

u
u u

u u

x
f u

v

=

=

Dengan jaminan bahwa u1, u2 merupakan solusi homogen yang bebas linear maka

W (u1, u2)=

'
'2

1

2

1

u
u u

u

≠ 0

ΘΘΘ

Contoh :

Tentukan solusi umum persamaan diferensial y “ + y = sec x

Penyelesaian :

Kita mempunyai solusi umum homogen

x

c

x

c

yh

cos

sin

2

1

+

=

Untuk menentukan solusi pelengkap, kita menghitung wronskian terlebih
dahulu, yaitu :

1

x

sin

x

cos

x

cos

x

sin

x

sin

cos

)

u

,

u

(

W

2

2

2

1

=

+

=

=

oleh karena itu

x

dx

x

x

v

cos

ln

1sec

sin

1

=

=

dan

x

dx

x

x

v

=

=

∫1sec

cos

2

Sehingga yp = cosx ln |cosx| + x sinx
Maka solusi umum persamaan diferensial di atas adalah :

x

x

x

x

x

c

x

c

x

y

sin

cos

ln

cos

cos

sin

)

(

2

1

+

+

+

=

9
KALKULUS II

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM

Latihan

Tentukan solusi umum (khusus) persamaan diferensial berikut :
1. y ” + 4y = 3sin2x ; y(0) = 2 dan y’(0) = -1
2. y ” + 2y’ + y = 2e-x
3. y “ + 9y = sinx + e2x
4. y ” + 2y’ = 3 + 4 sin2x
5. y ” + y = csc x
6. y ” + 2y’ + y = e-x

cosx

7. y “ + 2y’ + y = 4e-x

ln x ; y(1) = 0 dan y’(1) =-e-1

8. y ” + 4y’ + 4y = x-2

e-2x

11
KALKULUS II

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM

BAB II
FUNGSI DUA PEUBAH

2.1 Bentuk Permukaan di Ruang

Sebelum belajar tentang fungsi dua peubah, terlebih dahulu kita mengenal
permukaan di ruang dan cara membuat sketsa suatu permukaan di ruang (R3

). Berikut

beberapa fungsi permukaan di ruang, antara lain :
a. Bola, mempunyai bentuk umum :

2

2

2

2

a

z

y

x

=

+

+

a > 0

Jejak di bidang XOY, z = 0

2

2

2

a

y

x

=

+

, berupa lingkaran

Jejak di bidang XOZ, y = 0

2

2

2

a

z

x

=

+

, berupa lingkaran

Jejak di bidang YOZ, x = 0

2

2

2

a

z

y

=

+

, berupa lingkaran

b. Elipsoida, mempunyai bentuk umum :

1

2

2

2

2

2

2

=

+

+

cz

by

ax

a, b, c > 0

Jejak di bidang XOY, z = 0

1

2

2

2

2

=

+

by

ax

, berupa ellips

Jejak di bidang XOZ, y = 0

1

2

2

2

2

=

+

cz

ax

, berupa ellips

Jejak di bidang YOZ, x = 0

1

2

2

2

2

=

+

cz

by

, berupa ellips

Z

x

y

Z

x

y

12
KALKULUS II

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM

c. Hiperboloida berdaun satu , mempunyai bentuk umum :

1

2

2

2

2

2

2

=

+

cz

by

ax

a, b, c > 0

Jejak di bidang XOY, z = 0

1

2

2

2

2

=

+

by

ax

, berupa ellips

Jejak di bidang XOZ, y = 0

1

2

2

2

2

=

cz

ax

, berupa hiperbol

Jejak di bidang YOZ, x = 0

1

2

2

2

2

=

cz

by

, berupa hiperbol

d. Hiperboloida berdaun dua, mempunyai bentuk umum :

1

2

2

2

2

2

2

=

cz

by

ax

a, b, c > 0

1

2

2

2

2

2

2

=

+

ax

cz

by

maka terdefinisi saat x ≤ - a atau x ≥ a

Jejak di bidang XOY, z = 0

1

2

2

2

2

=

by

ax

, berupa hiperbol

Jejak di bidang XOZ, y = 0

1

2

2

2

2

=

cz

ax

, berupa hiperbol

Jejak di bidang, x = k (konstanta), k > a atau k < - a , berupa ellips

Z

x

y

Z

x

y

13
KALKULUS II

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM

e. Paraboloida eliptik , mempunyai bentuk umum :

cz

by

ax

=

+

2

2

2

2

a, b, c > 0

Cara membuat sketsa di ruang, dengan menelusuri setiap jejak di bidang yaitu :
Jejak di bidang z = k (konstanta positif), berupa ellips

Jejak di bidang XOZ, y = 0

cz

ax

=

2

2

, berupa parabol

Jejak di bidang YOZ, x = 0

cz

by

=

2

2

, berupa parabol

f. Paraboloida hiperbolik, mempunyai bentuk umum :

cz

ax

by

=

2

2

2

2

a, b, c > 0

Cara membuat sketsa di ruang, dengan menelusuri setiap jejak di bidang yaitu :

Jejak di bidang XOY, z = 0

0

2

2

2

2

=

ax

by

, berupa garis

Jika z = konstanta berupa hiperbol

Jejak di bidang XOZ, y = 0

cz

ax

=

2

2

, berupa parabol

Jejak di bidang YOZ, x = 0

cz

by

=

2

2

, berupa parabol

Sehingga sketsa dari paraboloida hiperbolik, adalah

Z

x

y

14
KALKULUS II

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM

g. Kerucut, mempunyai bentuk umum :

2

2

2

2

2

2

cz

by

ax

=

+

a, b, c > 0

Jejak di bidang XOY, z = k (konstanta) ≠ 0

2

2

2

2

2

2

ck

by

ax

=

+

, berupa ellips

Jejak di bidang XOZ, y = 0

2

2

2

2

cz

ax

=

, berupa garis

Jejak di bidang YOZ, x = 0

2

2

2

2

cz

by

=

, berupa garis

2.2 Daerah Definisi dan Kurva Ketinggian Fungsi Dua Peubah

Definisi fungsi dua peubah :
Misal A ⊆ R2

, suatu fungsi f : A R adalah suatu aturan yang memasangkan
setiap unsur di A dengan tepat satu unsur di R. Aturan fungsi f dapat ditulis sebagai

Z

x

y

Z

x

y

15
KALKULUS II

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM

z = f(x, y). Dalam kasus ini daerah definisi f adalah A, sedangkan daerah hasil fungsi f
= Rf = {z ∈ R | z = f(x,y), x, y ∈ A}
Derah definisi fungsi dua peubah f (x,y) merupakan daerah pada bidang XOY sehingga
fungsi tersebut akan terdefinisi.
Contoh :

Tentukan dan gambarkan daerah definisi fungsi :

1)

2

ln(

)

,

(

+

=

yx

y

x

f

Penyelesaian :

Syarat f(x,y) terdefinisi :
• ln (2 + x) terdifinisi jika (2 + x) > 0 ,

oleh karena itu x > - 2

1

y

tedefinisi jika (y - 1) ≥ 0,

tapi karena penyebut tidak boleh sama dengan nol maka (y - 1) ≥ 0, oleh
karena itu y > 1
Sehingga daerah definisi (Df) dari fungsi diatas adalah :

Df = { (x, y) | x > -2 dan y > 1, x, y ∈ℜ}
Sketsa daerah definisi pada kartesius adalah :

Kurva ketinggian dari suatu fungsi f(x,y) adalah proyeksi dari perpotongan permukaan
f(x,y) dengan bidang z = k (konstanta) pada bidang XOY.
Contoh :

Tentukan dan gambarkan kurva ketinggian dari fungsi f(x,y) = x2

+ y2

untuk z = 0, 1, 4

y

x

y = 1

x = 2

Df

16
KALKULUS II

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM

Penyelesaian :

z = 0 0 = x2

+ y2

, kurva ketinggian berupa titik di (0, 0, 0)

z = 1 1 = x2

+ y2

, kurva ketinggian berupa lingkaran dengan jari-jari satu

z = 4 4 = x2

+ y2

, kurva ketinggian berupa lingkaran dengan jari-jari dua

Latihan :

Tentukan dan gambarkan daerah definisi fungsi berikut :

1.

2

2

1

)

,

(

y

x

y

x

f

=

2.

y

x

y

x

f

=

1

)

,

(

3.

2

2

2

)

,

(

y

x

xy

y

x

f

=

Tentukan dan gambarkan kurva ketinggian dari fungsi berikut :

4. z =

y
xy

x

y

x

f

+

=

)

,

(

, untuk z = 0, 1, 2, 3

5. z =

2

)

,

(

y

x

y

x

f

+

=

, untuk z = -2, -1, 0, 1, 2

6. z =

yx

y

x

f

2

)

,
( =

, untuk z = -4, -1, 0, 1, 4

2.4 Turunan Parsial

Diketahui fungsi dua peubah f(x,y), denganmengambil nilai y = b (konstanta) maka
fungsi menjadi f(x, b), ini dapat dipandang sebagai fungsi satu peubah x. Seperti pada

y

x

z=1

z=4

z=0

17
KALKULUS II

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM

kalkulus fungsi satu peubah, kita dapat mendefinisikan fungsi satu turunan dari z = g(x) =
f(x, b), yaitu g’(x). Dengan menggunakan limit, turunan parsial fungsi f(x,b) terhadap
x dapat ditulis :

h

b

x

f

b

h

x

f

dxx

dg

xb

x

f

h

)

,

(

)

),

(

lim

)

(

)

,

(

0

+

=

=

asalkan limitnya ada.
Secara geometris, turunan parsial diatas dapat diartikan sebagai berikut :
Perpotongan bidang y = b dengan fungsi permukaan f(x,y) berupa sebuah kura
(lengkungan s) pada permukaan tersebut. Turunan parsial fungsi f(x,y) di titik (a,b)
merupakan gradien garis singgung terhadap kurva s pada titik (a, b, f(a,b)) dalam
arah sejajar sumbu x.

Notasi dari turunan parsial di atas adalah

)

,

(

)

,

(

b

a

f

atau

xb

a

f

x

Secara analog dengan cara di atas, kita dapat memperoleh turunan parsial f(x,y) terhadap
peubah y.
Contoh :

Tentukan turunan parsial pertama, kedua, dan campuran terhadap masing-masing
peubah fungsi f(x,y) = 2x2

y + 3x2

y3

Penyelesaian :

fx (x, y) = 4xy + 6xy3

Z

x

y

(a,b)

s

18
KALKULUS II

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM

fy (x, y) = 2x2

+ 9x2

y2

fxx (x, y) = 4y + 6y3

fyy (x, y) = 18 x2

y

fxy (x, y) = 4x + 18x y2

; fyx (x, y) = 4x + 18x y2

fxy = fyx

fxy dan fyx dinamakan turunan parsial campuran.

Latihan :

Tentukan turunan parsial pertama, kedua, dan campuran dari fungsi berikut :
1.

f(x, y) = e– xy

2.

f(x, y) = y cos (x2

+ y2

)

2.5 Vektor Gradien dan Turunan Berarah

Jika f fungsi dua peubah yang dapat didiferensialkan di p =(a, b) maka

j

dxb

a

df

i

dxb

a

df

b

a

f

ˆ

)

,

(

ˆ

)

,

(

)

,

(

+

=

disebut vektor gradien dari f di titik (a, b)
Misal p adalah proyeksi dari suatu titik di permukaan f pada bidang XOY.
Untuk setiap vektor satuan u, andaikan

h

p

f

u

h

p

f

p

f

D

h

u

)

(

)

(

lim

)

(

0

+

=

limit ini ada, maka Duf(p) disebut turunan berarah f di titik p pada arah u.
Andaikan f dapat didiferensialkan di (a, b), maka turunan berarah di (a, b) pada arah
vector satuan u = u1i + u2j adalah hasilkali titik antara vector gradien dengan vector
satuan tersebut. Dengan demikian dapat ditulis :

u

p

f

p

f

Du

=

)

(

)

(

atau Duf(a, b) = fx (a, b)u1 + fy (a, b)u2

Contoh :

Tentukan turunan berarah dari f(x,y) =2x2

+ xy – y2

di titik (3, – 2) dalam arah

vector

j

i

a

ˆ

ˆ −

=

!

19
KALKULUS II

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM

Penyelesaian

fx (x, y) = 4x + y

fx (3, – 2) = 10

fy (x, y) = x – 2y fy (3, – 2) = 7
oleh karena itu :

j

i

f

j

y

x

i

y

x

y

x

f

ˆ

7

ˆ
10

)
2

,

3(

sehingga

ˆ

)

2

(

ˆ)

4(

)

,

(

+

=

+

+

=

sedangkan

j

i

aa

u

ˆ

21

ˆ

21

=

=

Maka

23

27

2

10

)
2

,

3(

)
2

,

3(

=

=

=

u

f

f

Du

2.6 Bidang Singgung

Definisi bidang singgung :
Andai F(x, y, z) = k (konstanta) merupakan suatu permukaan dan misalkan dapat
didiferensialkan di sebuah titik P(a, b, c) dari permukaan dengan

0

)

,

,
( ≠

c

b

a

f

.

Maka bidang yang melalui P yang tegak lurus

)

,

,

(

c

b

a

f

dinamakan bidang

singgung.
Untuk permukaan F(x, y, z) = k, persamaan bidang singgung di titik (a, b, c) adalah :
Fx(a, b, c) (x – a) + Fy(a, b, c) (y – b) + Fz (a, b, c) (z – c) = 0
Jika permukaan z = f(x, y) maka persamaan bidang singgung di (a, b, F(a, b)) adalah :
z – F(a, b) = Fx(a, b) (x – a) + Fy(a, b) (y – b)

Contoh :

Tentukan persaman bidang singgung dan garis normal terhadap permukaan :
23

z

2

y

x

2

2

2

=

+

+

di titik (1, 2, 3) !

Penyelesaian :

Andaikan F(x,y,z) = 23 sehingga

z

4

y

2

x

2

)

z

,
y

,
x

(

f

+

+

=

dan

12


4


2

)

3,

2,

1(

f

+

+

=

. Maka persamaan bidang singgung di titik (1,2,3)

adalah :

2( x – 1 ) + 4 ( y – 2 ) + 12( z – 3 ) = 0
Sedangkan persamaan simetri dari garis normal yang melalui (1, 2, 3) adalah :

20
KALKULUS II

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM

123

z

42

y

21

x

=

=

Andaikan z = f(x, y), dengan f suatu fungsi yang dapat didiferensialkan, dan andaikan
dx dan dy (disebut diferensial dari x dan y) berupa peubah. Difenesial total dari peubah
tak bebas (dz) disebut juga diferensial total f (df (x, y)), didefinisikan oleh :
dz = df (x, y) = fx (x, y) dx + fy (x, y) dy

Latihan :

Tentukan turunan parsial pertama, kedua, dan campuran dari fungsi berikut :

1.

xy

e
f(x,y) −

=

2.

)

y

x

cos(

y

f(x,y)

2

2

+

=

3.

)

y

x

(

)

y

x

(

ln

f(x,y)

+

=

Tentukan
4.

y

cos

x

e
f(x,y) −

=

di titik P( 0, π/3) dalam arah menuju ke titik asal !

5.

2

2

y

xy

x

2

f(x,y)

+

=

di titik P(3, – 2 ) dalam arah vektor yang membentuk sudut

300

dengan arah sumbu – x positif !

6. Tentukan persamaan bidang simggung permukaan

x

2

cos

y

3

e

2

z =

di titik P(π/3, 0, -

1) !

2.7 Nilai Ekstrim

Definisi titik kritis :

Misal (a, b) suatu titik pada daerah asal f(x, y). Titik (a, b) disebut titik kritis dari
fungsi f(x, y) jika

0

=

f

atau tidak mempunyai turunan parsial untuk setiap peubah

bebasnya.

21
KALKULUS II

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM

Jadi fungsi f(x, y) yang mempunyai turunan parsial, pada titik kritis, bidang singgung
terhadap f (x, y) adalah sejajar dengan bidang XOY.
Jenis titik kritis, antara lain :
• Titik batas

• Titik stasioner

• Titik singular

Misal (a, b) suatu titik pada daerah asal f(x, y) maka (a, b) dinamakan titik stasioner jika

dan hanya jika

0

)

y

,
x

(

f

ρ

ρ

=

Dengan kata lain :

0

)

,

(

dan

0

)

,

(

=

=

yb

a

f

xb

a

f

Definisi nilai maksimum dan nilai minimum :
Diketahui fungsi dua peubah f(x, y) dimana S merupakan daerah definisinya.
f(a,b) disebut nilai maksimum global jika f(a, b) ≥ f(x, y) untuk setiap x, y di S
f(a,b)) disebut nilai minimum global jika f(a, b) ≤ f(x, y) untuk setiap x, y di S.
Definisi yang sama berlaku dengan kata global digantikan oleh kata lokal jika
pertidaksamaan di atas hanya berlaku pada suatu hmpunan bagian S. Jika f(a, b)
merupakan nilai maksimum atau nilai minimum maka f(a, b) dinamakan nilai ekstrim
pada S.

Diketahui f(x, y) fungsi dua peubah yang mempunyai turunan kedua kontinu di
suatu lingkungan dari (a, b). Misal (a,b) merupakan titik kritis dari f(x, y), dan
D = fxx(a,b)fyy(a,b) - [fxy(a,b)]2

Maka :
Jika D > 0 dan
fxx > 0 maka f(a, b) merupakan nilai minimum
fxx < 0 maka f(a, b) merupakan nilai maksimum
Jika D < 0 maka titik (a,b, f(a,b)) merupakan titik pelana (sadel)
Jika D = 0, pengujian gagal, titik kritis yang demikian disebut titik kritis trivial.
Contoh :

22
KALKULUS II

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM

Tentukan nilai ekstrim dan jenisnya dari fungsi

2

2

4

y

3

x

x

2

f(x,y)

+

=

!

Penyelesaian :

Turunan parsial dari fungsi tersebut adalah :

fx (x, y) = 8x3

– 2x dan fy (x, y) = 6y

Sedangkan fxx (x, y) = 24x2

– 2, fyy (x, y) = 6, serta fxy(x, y) = 0
Karena fungsi di atas merupakan fungsi polinom yang berarti bahwa
terdiferensialkan di daerah definisinya, maka titik kritisnya merupakan titik

stasioner yang memenuhi

0

)

y

,
x

(

f

ρ

ρ

=

, sehingga titik kritis dari fungsi tersebut

adalah : (0, 0), ( ½ , 0), dan ( – ½ , 0)
Untuk (0, 0) D = – 12 < 0
Untuk ( ½ , 0) D = 24 > 0 dan fxx ( ½ , 0) = 4 > 0

Untuk ( – ½ , 0) D = 24 > 0 dan fxx (– ½ , 0) = 4 > 0
Jadi nilai ekstrim untuk fungsi di atas adalah :
f ( ½ , 0) = f (– ½ , 0) = – 1/8 merupakan minimum lokal, sehingga titik
minimumnya adalah ( ½ , 0, – 1/8) dan (– ½ , 0, – 1/8).
Sedangkan (0, 0, 0) merupakan titik pelana (sadel).

Latihan :

Tentukan titik kritis, nilai ekstrim dan jenisnya (jika ada) dari fungsi berikut :
1.

2

2

2

y

3

x

6

xy

f(x,y)

=

2.

y2

x2

xy

f(x,y)

+

+

=

3.



+

=

y

4

2

y

2

x

e

f(x,y)

4.

2

3

y

21

xy

3

x

f(x,y)

+

=

23
KALKULUS II

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM

22
KALKULUS II

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM

BAB III
FUNGSI VEKTOR

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->