i

KATA PENGANTAR


Segala puji hanya milik Allah SWT, yang telah memberikan kenikmatan
kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan penulisan buku ajar ini. Buku ajar
ini digunakan oleh penulis sebagai bahan mengajar mata kuliah Kalkulus II. Materi
yang terdapat pada buku ajar ini ditujukan bagi mahasiswa S1 Jurusan Teknik Elektro,
Teknik Informatika, dan Teknik Industri yang sedang mengikuti kuliah kalkulus II pada
Program Perkuliahan Dasar Umum di STT Telkom.
Buku ajar ini terdiri dari lima bab, yaitu : Persamaan Diferensial Biasa, Fungsi
Dua Peubah, Fungsi Vektor, Integral Lipat, serta Integral Garis dan Integral Permukaan.
Semua materi tersebut merupakan bahan kuliah yang sesuai dengan kurikulum silabus
yang berlaku di STT Telkom.
Dalam kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan terima kasih yang
setulus-tulusnya kepada berbagai pihak atas segala bantuan dan dukungannya
sehingga penulis dapat menyelesaikannya.
Mudah-mudahan buku ajar kuliah ini dapat memberikan manfaat bagi para
mahasiswa yang ingin mempelajari materi kuliah terkait. Akhirnya, penulis mohon
maaf jika dalam tulisan ini masih banyak kekurangan, sumbangan ide dan kritik yang
membangun untuk perbaikan buku ajar ini sangat penulis harapkan.

Bandung, Juni 2001

Penulis,








ii
DAFTAR ISI



KATA PENGANTAR ….………………………………………………………… i
DAFTAR ISI …………….………………………………………………………. ii
BAB I Persamaan Diferensial Biasa ………………………………………….. . 1
1.1 Persamaan Diferensial Orde satu …………………………………………... …. 1
1.2 Trayektori Ortogonal …………………………………………………………… 3
1.3 Persamaan Diferensial Orde Dua ……………………………………………… 5
1.3.1 Persamaan Diferensial Orde Dua Homogen …..……………………….. 5
1.3.2 Persamaan Diferensial Orde Dua Tak Homogen ………………………. 6
BAB II Fungsi Dua Peubah …………………………………………………….. 10
2.1 Bentuk Permukaan di Ruang ..…………………………………………………. 10
2.2 Domain dan Kurva Ketinggian Fungsi Dua Peubah ……………………….…. 13
2.3 Turunan Parsial ………………………………………………………………… 15
2.4 Vektor Gradien,Turunan Berarah dan Bidang Singgung ………………………. 17
2.5 Bidang Singgung ………………………………………………………………. 18
2.6 Nilai Ekstrim ……………………………………………. ……………………. 19
BAB III Fungsi Vektor .. …………………………………………………….…. 22
3.1 Daerah Definisi dan Grafik …………………………………………………… 22
3.2 Limit, kekontinuan dan Turunan Parsial ……..………………………………. 24
3.3 Kinematika Pertikel ……………………………………………………………. 24
3.4 Kelengkungan …………………………………………………………………. 25
BAB IV Integral Lipat ………………………………. ………………………… 28
4.1 Integral Lipat Dua ……………………………………………………………. 28
4.1.1 Integral Lipat Dua pada Koordinat Kartesius ……………………….. 29
4.1.2 Integral Lipat Dua pada Koordinat kutub (Polar) ………………….… 32
4.2 Integral Lipat Tiga ...………………………………………………………… 34
4.2.1 Integral Lipat Tiga dengan Koordinat Kartesius ….………………… 34
4.2.2 Integral Lipat Tiga dengan Koordinat Tabung dan Bola …..……….. 35
BAB V Integral Garis dan Integral Permukaan …………………..…………. 39

iii
5.1 Integral Garis ……………………………………………………………………39
5.2 Integral Garis Bebas Lintasan ……………………………………….…………. 42
5.3 Teorema Green …………………………………………………………….….. 44
5.4 Integral Permukaan …………………………………………………………….. 45
5.5 Teorema Divergensi dan Sokes ….…………………………………………….. 47
DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………….. .50


1
KALKULUS II

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
BAB I
PERSAMAAN DIFERENSIAL BIASA


Persamaan Diferensial adalah suatu persamaan yang mengandung satu atau beberapa
turunan dari peubah tak bebasnya. Jika persamaan diferensial tersebut mengandung peubah tak
bebas yang hanya bergantung pada satu peubah bebasnya maka persamaan diferensial tersebut
dinamakan persamaan diferensial biasa. Sedangkan jika peubah bebasnya lebih dari satu
dinamakan persamaan diferensial parsial. Orde suatu persamaan diferensial adalah turunan
tertinggi pada persamaan diferensial tersebut.
Contoh Persamaan Diferensial Biasa :
1. 0 sin 2 = + x
dx
dy
, persamaan diferensial orde satu dimana y sebagai peubah tak bebas dan x
merupakan peubah bebas.
2. 0 1
dt
dr
2
dt
r d
2
2
= + + , persamaan diferensial orde dua dimana r sebagai peubah tak bebas dan
t merupakan peubah bebas.
Notasi persamaan diferensial bisa dalam beberapa bentuk, antara lain notasi pada contoh
kedua, selain diatas dapat pula ditulis sebagai berikut :
r ” + 2r’ +1 = 0 atau r
tt
+ 2r
t
+ 1 = 0
Persamaan diferensial dikatakan linear, apabila persamaan diferensial tersebut mempunyai
peubah tak bebas maupun turunannya bersifat linear.
Definisi solusi suatu persamaan diferensial :
Misal ada suatu persamaan diferensial dimana y sebagai peubah tak bebas yang bergantung
pada peubah bebas x.
Suatu fungsi f(x) disubstitusikan untuk y dalam persamaan diferensial, persamaan yang
dihasilkan merupakan suatu kesamaan untuk setiap x dalam suatu selang, maka f(x)
dinamakan solusi persamaan diferensial tersebut.
Contoh :
Diketahui persamaan diferensial y’ + 2 sinx = 0
f(x) = 2 cos x + C merupakan solusi persamaan diferensial diatas,
dimana C adalah konstanta yang bergantung pada syarat awal persamaan diferensial
tersebut.

1.1 Persamaan Diferensial Orde Satu
Bentuk umum persamaan diferensial orde satu adalah:

) (
) (
y g
x f
dx
dy
=
Beberapa metode untuk menyelesaikan persamaan diferensial orde satu, antara lain :
a. Peubah Terpisah
Bentuk umum :
) (
) (
y g
x f
dx
dy
= atau
) (
) (
x f
y g
dx
dy
=
Cara penyelesaian dengan integral biasa dari kedua ruas di bawah ini :
2
KALKULUS II

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM

∫ ∫
= dx x f dy y g ) ( ) (
Contoh :
Tentukan solusi umum dari persamaan diferensial
x
y
dx
dy
+
=
1

Penyelesaian :
) 1 (
) 1 ln( ln
1 1
x C y
C x y
x
dx
y
dy
x
y
dx
dy
+ = ⇒
+ + = ⇒
+
= ⇒
+
=


b. Faktor Integrasi
Bentuk umum merupakan persamaan diferensial linear, yaitu :
y’ + p(x) y = q(x)
Solusi persamaan diferensial diatas adalah :
C dx x q x u
x u
y + =

) ( ) (
) (
1
dimana

=
dx x p
e x u
) (
) (
Bukti :
Kalikan persamaan diferensial (*) dengan u(x) sehingga menjadi :
u(x) y’ + u(x) p(x) y = u(x) q(x)
u(x) y’ + u’(x) y - [ u’(x) y - u(x) p(x) y ] = u(x) q(x)
Ambil u’(x) y - u(x) p(x) y = 0 (**)
Sehingga u(x) y’ + u’(x) y = u(x) q(x)
[ u(x) y ]’ = u(x) q(x)
C dx x q x u
x u
y + =

) ( ) (
) (
1

Dari (**) kita mempunyai u’(x) y - u(x) p(x) y = 0
Dengan metode peubah terpisah diperoleh :

=
dx x p
e x u
) (
) ( ΘΘΘ

Contoh :
Tentukan solusi umum dari persamaan diferensial
2
1
x x
y
dx
dy
= +
Penyelesaian :
p(x) = 1/x u(x) = x dx
x
=

1
exp
) ln (
1 1 1
2
C x
x
dx
x
x
x
y + = =



f(x, y) adalah fungsi homogen jika f(kx, ky) = k
n
f(x, y), untuk k ∈ skalar riil dan n merupakan
orde dari fungsi tersebut.
Beberapa persamaan diferensial orde satu tak linear yang dapat ditulis
) , ( T
) , ( S
y x
y x
dx
dy
= , dimana S,
T merupakan fungsi homogen berderajat sama maka solusi persamaan diferensial dapat dicari
dengan menggunakan metode substitusi sehingga menjadi bentuk persamaan diferensial
3
KALKULUS II

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
dengan peubah terpisah. Misal, kita dapat mensubstitusi peubah tak bebas y dengan ux, yaitu :
y = ux dimana u = u(x), sehingga y’ = u’x + u.
Contoh :
Tentukan Solusi umum dari persamaan diferensial
x
y x
dx
dy +
=
Penyelesaian :
Misal y = ux, dimana u = u(x)
Oleh karena itu y’ = u’ x + u
Dengan mensubstitusi pada persamaan diferensial di atas ke persamaan diferensial, di
peroleh :

x
ux x
u x u
+
= + '
u u x u + = + 1 '
C x u
x
u + = ⇒ = ln
1
'
Maka
y = x lnx + cx

1.2 Trayektori Ortogonal
Salah satu aplikasi dari persamaan diferensial orde satu adlaah menentukan trayektori
ortogonal dari suatu fungsi persamaan. Trayektori ortogonal dari suatu keluarga kurva adalah
keluarga kurva yang memotong tegak lurus keluarga kurva tersebut.
Langkah-langkah menetikan trayektori ortogonal dari suatu keluarga kurva f(x,y)= C, sebagai
berikut :
Turunkan f(x,y) = C secara implisit terhadap x, Misal Df(x,y)
Jika turunan pertama mengandung C (parameter) maka substitusikan C(x,y) dari
persamaan awal.
Trayektori Ortogonal akan memenuhi persamaan diferensial berikut :
) , (
1
y x Df dx
dy
− = ,
artinya solusi persamaan diferensial diatas merupakan trayektori ortogonal dari
persamaan f(x,y)= C
Contoh :
Tentukan trayektori ortogonal dari keluarga kurva x
2
+ y
2
= C
Penyelesaian :
Turunan implisit dari fungsi di atas adalah : 2x + 2y y‘ = 0
Sehingga Df(x,y) =
y
x

Trayektori ortogonal akan memenuhi persamaan diferensial :
) , (
1
y x Df dx
dy
− =
x
y
dx
dy
=
Trayektori ortogonalnya adalah y = Cx



4
KALKULUS II

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
Latihan
Tentukan solusi umum dari persamaan diferensial orde satu berikut :

1.
2
1 y
dx
dy
+ =
2.
2
2 2
3
x
y xy x
dx
dy + +
=
3. x y
dx
dy
6 2 = +
4.
2
2 1
cos
y
x y
dx
dy
+
=
5.
x
e x y
dx
dy
x
3
2 = −
6. 0
2 2
= − −
y
x
x
y
dx
dy


Tentukan solusi khusus dari persamaan diferensial orde satu berikut :
7.
4
3 x y
dx
dy
x = − ; y (1) = 4
8. ( ) y e
dx
dy
e
x x
+ + 1 ; y (0) = 1

Tentukan trayektori ortogonal dari fungsi berikut :

9.
x
e C y
2 −
=
10. C y x = −
2 2

11.
2
x C y =
12. ( )
2 2 2
C c y x = − +
5
KALKULUS II

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
1.3 Persamaan Diferesial Orde Dua
Bentuk umum persamaan diferensial orde dua :
y” + a y’ + b y = f(x)
Jika f(x) = 0 maka persamaan diferensial diatas disebut persamaan diferensial
homogen, sedangkan jika f(x) ≠ 0 maka dinamakan persamaan diferensial tak
homogen.

1.3.1 Persamaan Diferensial Orde Dua Homogen
Misalkan ada dua fungsi f(x) dan g(x), dikatakan bebas linier pada interval I,
jika persamaan yang merupakan kombinasi linier dari keduanya, yaitu : m f(x) + n g(x)
= 0 untuk setiap x ∈ I hanya dipenuhi oleh m = n = 0. Jika tidak demikian maka
kedua fungsi tersebut dikatakan bergantung linier. Andai fungsi yang diberikan yaitu
f(x) dan g(x) terdiferensialkan untuk setiap x ∈ ℜ. Maka Wronskian dari f(x) dan
g(x) didefinisikan sebagai berikut :

W (f(x), g (x))
f(x) g (x)
f' (x) g ' (x)
=

Keterkaitan antara kebebasan linier dan wronskian dari dua fungsi tersebut dapat
dikatakan sebagai berikut : Dua fungsi f(x) dan g(x) dikatakan bebas linier pada I
jika dan hanya jika wronskian dari kedua fungsi tersebut tidak sama dengan nol, untuk
suatu x ∈ I.
Misal u
1
dan u
2
adalah solusi persamaan diferensial orde dua dan wronskian
(determinan wrosnki) dari keduanya didefinisikan oleh :
W (u
1
, u
2
)=
' '
2 1
2 1
u u
u u

Jika W ≠ 0 maka u
1
dan u
2
saling bebas linear artinya u
1
dan u
2
merupakan basis
solusi, sehingga kombinasi linear dari u
1
dan u
2
, yaitu y = c
1
u
1
+ c
2
u
2
juga
merupakan solusi dari persamaan diferensial orde dua.
Misal
rx
e x u = ) ( solusi persamaan diferensial orde dua maka dengan
mensubstitusikan pada persamaan diperoleh : 0 ) (
2
= + + b ar r e
rx

Oleh karena 0 ≠
rx
e maka r
2
+ ar + b = 0 (dinamakan persamaan karakteristik)
Solusi umum dari persamaan diferensial orde dua homogen bergantung pada akar
persamaan karakteristik.
Tiga kemungkinan solusi umum persamaan diferensial orde dua :
Persamaan karakteristik mempunyai 2 akar riil yang berbeda (r
1
dan r
2
) maka
solusi umumnya berbentuk :
x r x r
e c e c x y
2 1
2 1
) ( + =
Persamaan karakteristik mempunyai 2 akar riil kembar (r
1
= r
2
= r) maka solusi
umumnya berbentuk :
rx rx
xe c e c x y
2 1
) ( + =
Persamaan karakteristik mempunyai 2 akar kompleks (r = p ± qi) maka solusi
umumnya berbentuk :
( ) qx c qx c e x y
px
cos sin ) (
2 1
+ =
Tunjukan (sebagai latihan) bahwa untuk setiap kasus, wronskian ≠ 0.

Contoh :
6
KALKULUS II

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
Tentukan solusi umum persamaan diferensial berikut :
a. y” + y’ – 2y = 0
b. y” + 4y‘ + 4y = 0
c. y” + 9y = 0
Penyelesaian :
a. Persamaan karakteristik yang sesuai adalah
r
2
+ r – 2 = 0
(r – 1) (r + 2) = 0
mempunyai dua akar real berbeda, yaitu : 1 dan -2
Sehingga solusi umumnya :
x x
e c e c x y
2
2 1
) (

+ =
b. Persamaan karakteristik yang sesuai adalah
r
2
+ 4r + 4 = 0
(r – 2)
2
= 0
mempunyai dua akar real kembar, yaitu : 2
Sehingga solusi umumnya :
x x
xe c e c x y
2
2
2
1
) ( + =
c. Persamaan karakteristik yang sesuai adalah
r
2
+ 9 = 0
r
2
= – 9
r = 3 i
mempunyai akar kompleks, yaitu : 3i
Sehingga solusi umumnya : x c x c x y 3 cos 3 sin ) (
2 1
+ =

1.3.2 Persamaan Diferensial Orde Dua Tak Homogen
Bentuk umum persamaan diferensial orde dua :
y” + a y’ + b y = f(x)
Solusi umum dari persamaan diferensial orde dua tak homogen adalah y = y
h
+ y
p
,
dimana y
h
merupakan solusi homogen dan y
p
solusi pelengkap.
Solusi homogen diperoleh dari persamaan diferensial orde dua homogen (ambil f(x) =
0), sedangkan untuk menentukan solusi pelengkap ada dua metode, yaitu :
• Koefisien Tak Tentu
• Variasi Parameter

Metode Koefisien Tak Tentu
Metode ini sangat berguna manakala fungsi ) (x f berupa polinom, eksponensial sinus,
dan cosinus. Metode ini bisa dikatakan metode coba-coba, untuk memudahkan
perhatikan tabel berikut :
) (x f y
p

Cx
n
b
n
x
n
+ ….+ b
1
x + b
0

Ce
ax
Ae
ax

Cxe
ax
Ae
ax
+ Bxe
ax

Csin ax A sin ax + Bcos ax
Bcos ax A sin ax + Bcos ax
Ket : C, B, A, a, b
0
, b
1
, …,

b
n
adalah konstanta riil.
Aturan 1 : Jika ) (x f merupakan fungsi seperti pada kolom pertama, pilih y
p
dari
kolom kedua yang bersesuaian (terletak pada baris yang sama)
7
KALKULUS II

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
Aturan 2 : Jika ) (x f sama dengan salah satu dari solusi homogen maka kalikan y
p

dengan x atau dengan x
2
jika ) (x f sama dengan salah satu dari solusi
homogen yang berasal dari dua akar kembar.
Aturan 3 : Jika ) (x f penjumlahan dari fungsi dalam kolom satu maka pilih y
p
sebagai
penjumlahan dari baris-baris yang bersesuaian.
Setelah memilih y
p
yang diinginkan, dengan mensubstitusikan y
p
tersebut pada
persamaan diferensial, kita berusaha menetukan koefisien yang y
p
. sehingga diperoleh
solusi umum dari persamaan diferensial tersebut yaitu penjumlahan dari solusi
homogen (y
h
) dengan solusi pelengkap (y
p
).
Contoh :
Tentukan solusi umum persamaan diferensial berikut :
x sin 2 y 4
dx
dy
3
dx
y d
2
2
= − −

Penyelesaian :
Kita mempunyai solusi umum homogen
x x
h
e c e c y
4
2 1
+ =


Untuk menentukan solusi pelengkap, kita pilih :
y
p
= Asinx + B cosx
Substitusikan ke persamaan diferensial, sehingga diperoleh :
(– A + 3B – 4A) sinx + (– B – 3A – 4B) cosx = 2 sinx
Maka ada dua persamaan yaitu :
– 5A + 3B = 2
– 5B – 3A = 0
Oleh karena itu A = – 5/17 dan B = 3/17
Solusi umum dari persamaan diferensial diatas adalah :

x x e c e c x y
x x
cos
17
3
sin
17
5
) (
4
2 1
+ − + =



Metode Variasi Parameter
Metode ini lebih umum dari metode sebelumnya, artinya jika kondisi persamaan
diferensial seperti di atas, metode ini dapat digunakan dalam menentukan solusinya.
Jika ) (x f tidak sama dengan fungsi-fungsi pada kolom pertama tabel maupun
penjumlahannya, bisa berupa perkalian atau pembagian dari fungsi-fungsi tersebut,
kondisi ini mendorong kita untuk menggunakan metode variasi parameter.
Solusi pelengkap dari persamaan diferensial dengan menggunakan metode variasi
parameter adalah :
y
p
= v
1
u
1
+ v
2
u
2

dimana u
1
, u
2
merupakan solusi homogen yang bebas linear, sedangkan
[ ]
dx
u u u u
x f u
v



=
' '
) (
1 2 2 1
2
1
dan
[ ]
dx
u u u u
x f u
v


=
' '
) (
1 2 2 1
1
2

Bukti :
Misal y
p
= v
1
u
1
+ v
2
u
2
solusi persamaan diferensial.
Substitusikan sehingga diperoleh:
v
1
’u
1
’ + v
2
’u
2
’ + v
1
u
1
” + v
2
u
2
” + a (v
1
’u
1
+ v
2
’u
2
+ v
1
u
1
’+ v
2
u
2
’)
+ b(v
1
u
1
+ v
2
u
2
)= ) (x f
8
KALKULUS II

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
v
1
’u
1
’ + v
2
’u
2
’ + a (v
1
’u
1
+ v
2
’u
2
)
+ v
1
u
1
” + v
2
u
2
” + a(v
1
u
1
’+ v
2
u
2
’) + b(v
1
u
1
+ v
2
u
2
)= ) (x f
v
1
’u
1
’ + v
2
’u
2
’ + a (v
1
’u
1
+ v
2
’u
2
)
+ v
1
(u
1
” + au
1
’+ bu
1
) + v
2
(u
2
” + au
2
’ + bu
2
)= ) (x f
u
1
, u
2
merupakan solusi homogen, oleh karena itu :
v
1
’u
1
’ + v
2
’u
2
’ + a (v
1
’u
1
+ v
2
’u
2
) = ) (x f
Ambil v
1
’u
1
+ v
2
’u
2
= 0, sehingga v
1
’u
1
’ + v
2
’u
2
’ = ) (x f
Dengan memperhatikan dua persamaan terakhir, yaitu :
v
1
’u
1
+ v
2
’u
2
= 0
v
1
’u
1
’ + v
2
’u
2
’ = ) (x f
Dapat ditulis dalam bentuk perkalian matriks berikut :






=












) (
0
'
'
' '
2
1
2 1
2 1
x f v
v
u u
u u

Dengan aturan Cramer diperoleh :
' '
) ( '
0
' dan
' '
' ) (
0
'
2 1
2 1
1
1
2
2 1
2 1
2
2
1
u u
u u
x f u
u
v
u u
u u
u x f
u
v = =
Dengan jaminan bahwa u
1
, u
2
merupakan solusi homogen yang bebas linear maka
W (u
1
, u
2
)=
' '
2 1
2 1
u u
u u
≠ 0 ΘΘΘ

Contoh :
Tentukan solusi umum persamaan diferensial y “ + y = sec x
Penyelesaian :
Kita mempunyai solusi umum homogen x c x c y
h
cos sin
2 1
+ =
Untuk menentukan solusi pelengkap, kita menghitung wronskian terlebih
dahulu, yaitu :
1
x sin x cos
x cos x sin
x sin cos
) u , u ( W
2 2
2 1
=
+ =

=

oleh karena itu
x dx
x x
v cos ln
1
sec sin
1
=

=

dan x dx
x x
v = =

1
sec cos
2

Sehingga y
p
= cosx ln |cosx| + x sinx
Maka solusi umum persamaan diferensial di atas adalah :
x x x x x c x c x y sin cos ln cos cos sin ) (
2 1
+ + + =





9
KALKULUS II

ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
Latihan
Tentukan solusi umum (khusus) persamaan diferensial berikut :
1. y ” + 4y = 3sin2x ; y(0) = 2 dan y’(0) = -1
2. y ” + 2y’ + y = 2e
-x

3. y “ + 9y = sinx + e
2x

4. y ” + 2y’ = 3 + 4 sin2x
5. y ” + y = csc x
6. y ” + 2y’ + y = e
-x
cosx
7. y “ + 2y’ + y = 4e
-x
ln x ; y(1) = 0 dan y’(1) =-e
-1

8. y ” + 4y’ + 4y = x
-2
e
-2x
































11
KALKULUS II
ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
BAB II
FUNGSI DUA PEUBAH

2.1 Bentuk Permukaan di Ruang
Sebelum belajar tentang fungsi dua peubah, terlebih dahulu kita mengenal
permukaan di ruang dan cara membuat sketsa suatu permukaan di ruang (R
3
). Berikut
beberapa fungsi permukaan di ruang, antara lain :
a. Bola, mempunyai bentuk umum :

2 2 2 2
a z y x = + + a > 0
Jejak di bidang XOY, z = 0
2 2 2
a y x = + , berupa lingkaran
Jejak di bidang XOZ, y = 0
2 2 2
a z x = + , berupa lingkaran
Jejak di bidang YOZ, x = 0
2 2 2
a z y = + , berupa lingkaran








b. Elipsoida, mempunyai bentuk umum :
1
2
2
2
2
2
2
= + +
c
z
b
y
a
x
a, b, c > 0
Jejak di bidang XOY, z = 0 1
2
2
2
2
= +
b
y
a
x
, berupa ellips
Jejak di bidang XOZ, y = 0 1
2
2
2
2
= +
c
z
a
x
, berupa ellips
Jejak di bidang YOZ, x = 0 1
2
2
2
2
= +
c
z
b
y
, berupa ellips






Z
x
y
Z
x
y
12
KALKULUS II
ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
c. Hiperboloida berdaun satu , mempunyai bentuk umum :
1
2
2
2
2
2
2
= − +
c
z
b
y
a
x
a, b, c > 0
Jejak di bidang XOY, z = 0 1
2
2
2
2
= +
b
y
a
x
, berupa ellips
Jejak di bidang XOZ, y = 0 1
2
2
2
2
= −
c
z
a
x
, berupa hiperbol
Jejak di bidang YOZ, x = 0 1
2
2
2
2
= −
c
z
b
y
, berupa hiperbol








d. Hiperboloida berdaun dua, mempunyai bentuk umum :
1
2
2
2
2
2
2
= − −
c
z
b
y
a
x
a, b, c > 0
1
2
2
2
2
2
2
− = +
a
x
c
z
b
y
maka terdefinisi saat x ≤ - a atau x ≥ a
Jejak di bidang XOY, z = 0 1
2
2
2
2
= −
b
y
a
x
, berupa hiperbol
Jejak di bidang XOZ, y = 0 1
2
2
2
2
= −
c
z
a
x
, berupa hiperbol
Jejak di bidang, x = k (konstanta), k > a atau k < - a , berupa ellips






Z
x
y
Z
x
y
13
KALKULUS II
ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
e. Paraboloida eliptik , mempunyai bentuk umum :
c
z
b
y
a
x
= +
2
2
2
2
a, b, c > 0
Cara membuat sketsa di ruang, dengan menelusuri setiap jejak di bidang yaitu :
Jejak di bidang z = k (konstanta positif), berupa ellips
Jejak di bidang XOZ, y = 0
c
z
a
x
=
2
2
, berupa parabol
Jejak di bidang YOZ, x = 0
c
z
b
y
=
2
2
, berupa parabol









f. Paraboloida hiperbolik, mempunyai bentuk umum :

c
z
a
x
b
y
= −
2
2
2
2
a, b, c > 0
Cara membuat sketsa di ruang, dengan menelusuri setiap jejak di bidang yaitu :
Jejak di bidang XOY, z = 0 0
2
2
2
2
= −
a
x
b
y
, berupa garis
Jika z = konstanta berupa hiperbol
Jejak di bidang XOZ, y = 0
c
z
a
x
= −
2
2
, berupa parabol
Jejak di bidang YOZ, x = 0
c
z
b
y
=
2
2
, berupa parabol
Sehingga sketsa dari paraboloida hiperbolik, adalah
Z
x
y
14
KALKULUS II
ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM









g. Kerucut, mempunyai bentuk umum :

2
2
2
2
2
2
c
z
b
y
a
x
= + a, b, c > 0
Jejak di bidang XOY, z = k (konstanta) ≠ 0
2
2
2
2
2
2
c
k
b
y
a
x
= + , berupa ellips
Jejak di bidang XOZ, y = 0
2
2
2
2
c
z
a
x
= , berupa garis
Jejak di bidang YOZ, x = 0
2
2
2
2
c
z
b
y
= , berupa garis








2.2 Daerah Definisi dan Kurva Ketinggian Fungsi Dua Peubah
Definisi fungsi dua peubah :
Misal A ⊆ R
2
, suatu fungsi f : A R adalah suatu aturan yang memasangkan
setiap unsur di A dengan tepat satu unsur di R. Aturan fungsi f dapat ditulis sebagai
Z
x
y
Z
x
y
15
KALKULUS II
ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
z = f(x, y). Dalam kasus ini daerah definisi f adalah A, sedangkan daerah hasil fungsi f
= Rf = {z ∈ R | z = f(x,y), x, y ∈ A}
Derah definisi fungsi dua peubah f (x,y) merupakan daerah pada bidang XOY sehingga
fungsi tersebut akan terdefinisi.
Contoh :
Tentukan dan gambarkan daerah definisi fungsi :
1
) 2 ln(
) , (

+
=
y
x
y x f
Penyelesaian :
Syarat f(x,y) terdefinisi :
• ln (2 + x) terdifinisi jika (2 + x) > 0 ,
oleh karena itu x > - 2
• 1 − y tedefinisi jika (y - 1) ≥ 0,
tapi karena penyebut tidak boleh sama dengan nol maka (y - 1) ≥ 0, oleh
karena itu y > 1
Sehingga daerah definisi (D
f
) dari fungsi diatas adalah :
D
f
= { (x, y) | x > -2 dan y > 1, x, y ∈ℜ}
Sketsa daerah definisi pada kartesius adalah :






Kurva ketinggian dari suatu fungsi f(x,y) adalah proyeksi dari perpotongan permukaan
f(x,y) dengan bidang z = k (konstanta) pada bidang XOY.
Contoh :
Tentukan dan gambarkan kurva ketinggian dari fungsi f(x,y) = x
2
+ y
2

untuk z = 0, 1, 4
y
x
y = 1
x = 2
D
f

16
KALKULUS II
ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
Penyelesaian :
z = 0 0 = x
2
+ y
2
, kurva ketinggian berupa titik di (0, 0, 0)
z = 1 1 = x
2
+ y
2
, kurva ketinggian berupa lingkaran dengan jari-jari satu
z = 4 4 = x
2
+ y
2
, kurva ketinggian berupa lingkaran dengan jari-jari dua









Latihan :
Tentukan dan gambarkan daerah definisi fungsi berikut :
1.
2 2
1 ) , ( y x y x f − − =
2.
y
x
y x f

=
1
) , (
3.
2 2
2
) , (
y x
xy
y x f

=
Tentukan dan gambarkan kurva ketinggian dari fungsi berikut :
4. z =
y x
y x
y x f

+
= ) , ( , untuk z = 0, 1, 2, 3
5. z =
2
) , ( y x y x f + = , untuk z = -2, -1, 0, 1, 2
6. z =
y
x
y x f
2
) , ( = , untuk z = -4, -1, 0, 1, 4

2.4 Turunan Parsial
Diketahui fungsi dua peubah f(x,y), denganmengambil nilai y = b (konstanta) maka
fungsi menjadi f(x, b), ini dapat dipandang sebagai fungsi satu peubah x. Seperti pada
y
x
z=1
z=4
z=0
17
KALKULUS II
ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
kalkulus fungsi satu peubah, kita dapat mendefinisikan fungsi satu turunan dari z = g(x) =
f(x, b), yaitu g’(x). Dengan menggunakan limit, turunan parsial fungsi f(x,b) terhadap
x dapat ditulis :

h
b x f b h x f
dx
x dg
x
b x f
h
) , ( ) ), (
lim
) ( ) , (
0
− +
= =




asalkan limitnya ada.
Secara geometris, turunan parsial diatas dapat diartikan sebagai berikut :
Perpotongan bidang y = b dengan fungsi permukaan f(x,y) berupa sebuah kura
(lengkungan s) pada permukaan tersebut. Turunan parsial fungsi f(x,y) di titik (a,b)
merupakan gradien garis singgung terhadap kurva s pada titik (a, b, f(a,b)) dalam
arah sejajar sumbu x.










Notasi dari turunan parsial di atas adalah ) , (
) , (
b a f atau
x
b a f
x



Secara analog dengan cara di atas, kita dapat memperoleh turunan parsial f(x,y) terhadap
peubah y.
Contoh :
Tentukan turunan parsial pertama, kedua, dan campuran terhadap masing-masing
peubah fungsi f(x,y) = 2x
2
y + 3x
2
y
3

Penyelesaian :
f
x
(x, y) = 4xy + 6xy
3

Z
x
y
(a,b)
s
18
KALKULUS II
ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
f
y
(x, y) = 2x
2
+ 9x
2
y
2

f
xx
(x, y) = 4y + 6y
3
f
yy
(x, y) = 18 x
2
y

f
xy
(x, y) = 4x + 18x y
2
; f
yx
(x, y) = 4x + 18x y
2
f
xy
= f
yx

f
xy
dan f
yx
dinamakan turunan parsial campuran.


Latihan :
Tentukan turunan parsial pertama, kedua, dan campuran dari fungsi berikut :
1. f(x, y) = e
– xy

2. f(x, y) = y cos (x
2
+ y
2
)

2.5 Vektor Gradien dan Turunan Berarah
Jika f fungsi dua peubah yang dapat didiferensialkan di p =(a, b) maka
j
dx
b a df
i
dx
b a df
b a f
ˆ
) , (
ˆ
) , (
) , ( + = ∇
disebut vektor gradien dari f di titik (a, b)
Misal p adalah proyeksi dari suatu titik di permukaan f pada bidang XOY.
Untuk setiap vektor satuan u , andaikan
h
p f u h p f
p f D
h
u
) ( ) (
lim ) (
0
− +
=


limit ini ada, maka D
u
f(p) disebut turunan berarah f di titik p pada arah u .
Andaikan f dapat didiferensialkan di (a, b), maka turunan berarah di (a, b) pada arah
vector satuan u = u
1
i + u
2
j adalah hasilkali titik antara vector gradien dengan vector
satuan tersebut. Dengan demikian dapat ditulis :
u p f p f D
u
• ∇ = ) ( ) ( atau D
u
f(a, b) = f
x
(a, b)u
1
+ f
y
(a, b)u
2

Contoh :
Tentukan turunan berarah dari f(x,y) =2x
2
+ xy – y
2
di titik (3, – 2) dalam arah
vector j i a
ˆ ˆ
− = !
19
KALKULUS II
ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
Penyelesaian
f
x
(x, y) = 4x + y f
x
(3, – 2) = 10
f
y
(x, y) = x – 2y f
y
(3, – 2) = 7
oleh karena itu :
j i f j y x i y x y x f
ˆ
7
ˆ
10 ) 2 , 3 ( sehingga
ˆ
) 2 (
ˆ
) 4 ( ) , ( + = − ∇ − + + = ∇
sedangkan j i
a
a
u
ˆ
2
1
ˆ
2
1
− = =
Maka
2
3
2
7
2
10
) 2 , 3 ( ) 2 , 3 ( = − = • − ∇ = − u f f D
u

2.6 Bidang Singgung
Definisi bidang singgung :
Andai F(x, y, z) = k (konstanta) merupakan suatu permukaan dan misalkan dapat
didiferensialkan di sebuah titik P(a, b, c) dari permukaan dengan 0 ) , , ( ≠ ∇ c b a f .
Maka bidang yang melalui P yang tegak lurus ) , , ( c b a f ∇ dinamakan bidang
singgung.
Untuk permukaan F(x, y, z) = k, persamaan bidang singgung di titik (a, b, c) adalah :
F
x
(a, b, c) (x – a) + F
y
(a, b, c) (y – b) + F
z
(a, b, c) (z – c) = 0
Jika permukaan z = f(x, y) maka persamaan bidang singgung di (a, b, F(a, b)) adalah :
z – F(a, b) = F
x
(a, b) (x – a) + F
y
(a, b) (y – b)
Contoh :
Tentukan persaman bidang singgung dan garis normal terhadap permukaan :
23 z 2 y x
2 2 2
= + + di titik (1, 2, 3) !
Penyelesaian :
Andaikan F(x,y,z) = 23 sehingga k
ˆ
z 4 j
ˆ
y 2 i
ˆ
x 2 ) z , y , x ( f + + = ∇ dan
k
ˆ
12 j
ˆ
4 i
ˆ
2 ) 3 , 2 , 1 ( f + + = ∇ . Maka persamaan bidang singgung di titik (1,2,3)
adalah :
2( x – 1 ) + 4 ( y – 2 ) + 12( z – 3 ) = 0
Sedangkan persamaan simetri dari garis normal yang melalui (1, 2, 3) adalah :
20
KALKULUS II
ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM

12
3 z
4
2 y
2
1 x −
=

=


Andaikan z = f(x, y), dengan f suatu fungsi yang dapat didiferensialkan, dan andaikan
dx dan dy (disebut diferensial dari x dan y) berupa peubah. Difenesial total dari peubah
tak bebas (dz) disebut juga diferensial total f (df (x, y)), didefinisikan oleh :
dz = df (x, y) = f
x
(x, y) dx + f
y
(x, y) dy




Latihan :
Tentukan turunan parsial pertama, kedua, dan campuran dari fungsi berikut :
1.
xy
e f(x,y)

=
2. ) y x cos( y f(x,y)
2 2
+ =
3.
) y x (
) y x (
ln f(x,y)

+
=
Tentukan
4. y cos
x
e f(x,y)

= di titik P( 0, π/3) dalam arah menuju ke titik asal !
5.
2 2
y xy x 2 f(x,y) − + = di titik P(3, – 2 ) dalam arah vektor yang membentuk sudut
30
0
dengan arah sumbu – x positif !
6. Tentukan persamaan bidang simggung permukaan x 2 cos
y 3
e 2 z = di titik P(π/3, 0, -
1) !

2.7 Nilai Ekstrim
Definisi titik kritis :
Misal (a, b) suatu titik pada daerah asal f(x, y). Titik (a, b) disebut titik kritis dari
fungsi f(x, y) jika 0 = ∇f atau tidak mempunyai turunan parsial untuk setiap peubah
bebasnya.
21
KALKULUS II
ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
Jadi fungsi f(x, y) yang mempunyai turunan parsial, pada titik kritis, bidang singgung
terhadap f (x, y) adalah sejajar dengan bidang XOY.
Jenis titik kritis, antara lain :
• Titik batas
• Titik stasioner
• Titik singular
Misal (a, b) suatu titik pada daerah asal f(x, y) maka (a, b) dinamakan titik stasioner jika
dan hanya jika 0 ) y , x ( f
ρ ρ
= ∇
Dengan kata lain :
0
) , (
dan 0
) , (
=


=


y
b a f
x
b a f


Definisi nilai maksimum dan nilai minimum :
Diketahui fungsi dua peubah f(x, y) dimana S merupakan daerah definisinya.
f(a,b) disebut nilai maksimum global jika f(a, b) ≥ f(x, y) untuk setiap x, y di S
f(a,b)) disebut nilai minimum global jika f(a, b) ≤ f(x, y) untuk setiap x, y di S.
Definisi yang sama berlaku dengan kata global digantikan oleh kata lokal jika
pertidaksamaan di atas hanya berlaku pada suatu hmpunan bagian S. Jika f(a, b)
merupakan nilai maksimum atau nilai minimum maka f(a, b) dinamakan nilai ekstrim
pada S.
Diketahui f(x, y) fungsi dua peubah yang mempunyai turunan kedua kontinu di
suatu lingkungan dari (a, b). Misal (a,b) merupakan titik kritis dari f(x, y), dan
D = f
xx
(a,b)f
yy
(a,b) - [f
xy
(a,b)]
2

Maka :
Jika D > 0 dan
f
xx
> 0 maka f(a, b) merupakan nilai minimum
f
xx
< 0 maka f(a, b) merupakan nilai maksimum
Jika D < 0 maka titik (a,b, f(a,b)) merupakan titik pelana (sadel)
Jika D = 0, pengujian gagal, titik kritis yang demikian disebut titik kritis trivial.
Contoh :
22
KALKULUS II
ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
Tentukan nilai ekstrim dan jenisnya dari fungsi
2 2 4
y 3 x x 2 f(x,y) + − = !
Penyelesaian :
Turunan parsial dari fungsi tersebut adalah :
f
x
(x, y) = 8x
3
– 2x dan f
y
(x, y) = 6y
Sedangkan f
xx
(x, y) = 24x
2
– 2, f
yy
(x, y) = 6, serta f
xy
(x, y) = 0
Karena fungsi di atas merupakan fungsi polinom yang berarti bahwa
terdiferensialkan di daerah definisinya, maka titik kritisnya merupakan titik
stasioner yang memenuhi 0 ) y , x ( f
ρ ρ
= ∇ , sehingga titik kritis dari fungsi tersebut
adalah : (0, 0), ( ½ , 0), dan ( – ½ , 0)
Untuk (0, 0) D = – 12 < 0
Untuk ( ½ , 0) D = 24 > 0 dan f
xx
( ½ , 0) = 4 > 0
Untuk ( – ½ , 0) D = 24 > 0 dan f
xx
(– ½ , 0) = 4 > 0
Jadi nilai ekstrim untuk fungsi di atas adalah :
f

( ½ , 0) = f

(– ½ , 0) = – 1/8 merupakan minimum lokal, sehingga titik
minimumnya adalah

( ½ , 0, – 1/8) dan

(– ½ , 0, – 1/8).
Sedangkan (0, 0, 0) merupakan titik pelana (sadel).

Latihan :
Tentukan titik kritis, nilai ekstrim dan jenisnya (jika ada) dari fungsi berikut :
1.
2 2 2
y 3 x 6 xy f(x,y) − − =
2.
y
2
x
2
xy f(x,y) + + =
3.






− + −
=
y 4
2
y
2
x
e f(x,y)
4.
2 3
y
2
1
xy 3 x f(x,y) + − =


23
KALKULUS II
ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM






















22
KALKULUS II
ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
BAB III
FUNGSI VEKTOR


3.1 Daerah Definisi dan Grafik
Definisi fungsi vektor :
Fungsi vektor merupakan aturan yang mengkaitkan daerah asal himpunan riil
dengan daerah hasil yang berupa vektor (R
2
atau R
3
)
Notasi : F (t) = f
1
(t) i + f
2
(t) j Î fungsi vektor di bidang
F (t) = f
1
(t) i + f
2
(t) j + f
3
(t) k Î fungsi vektor di ruang
dimana i, j, k, masing-masing merupakan vektor satuan untuk arah x, y, dan z,
sedangkan f
1
(t), f
2
(t), f
3
(t) merupakan fungsi parameter yang bernilai riil.

Daerah asal
Misal F (t) merupakan fungsi vektor, maka daerah asal F (t) = D
F
=
¦ ¦
2
1
f f
D D t | t ∩ ∈
untuk F (t) di bidang, sedangkan untuk F (t) di ruang
maka D
F
=
¦ ¦
3 2
1
f f f
D D D t | t ∩ ∩ ∈
, dimana
3 2
1
, ,
f f f
D D D
merupakan
daerah asal untuk masing-masing fungsi parameter.
Contoh :
Tentukan daerah asal dari fungsi F (t) =ln |1– t | i + (t–5)

½
j
Penyelesaian :
f
1
= ln |t – 1 | Î
1
f
D
= { t | t > 1, t ∈ ℜ}
f
2
= ( t – 5)
– ½
Î
2
f
D
= { t | t > 5, t ∈ ℜ}
Maka D
F
= { t | t > 5, t ∈ ℜ}

Grafik Fungsi
Grafik dari fungsi vektor adalah berupa lengkungan di R
2(3)
yang mempunyai arah
tertentu.
Contoh :
F (t) = 3 cos t i + 2 sin t j, untuk 0 < t < π
23
KALKULUS II
ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
Penyelesaian :
x = 3 cos t dan y = 2 sin t
maka cos t = x/3 dan sin t = y/2
kita tahu bahwa : cos
2
t + sin
2
t = 1
oleh karena itu grafik fungsi F (t) adalah berupa ellips :
1
2 3
2
2
2
2
+
y x

dimana saat t = 0 Î x = 3 dan y = 0
saat t = π Î x = – 3 dan y = 0
ini merupakan titik pangkal dan ujung dari lengkungan (kurva) tersebut
sehingga grafiknya sebagai berikut :







Latihan :
Tentukan daerah asal dari fungsi vektor berikut :
1. j t i
t
t r
ˆ
4
ˆ
2
1
) ( + +


2. j
t
i t t g
ˆ
2
1
ˆ
1 ) (
2

+ −
Gambarkan grafik dari fungsi vektor berikut :
3. ( ) ( ) j t t i t t f
ˆ
2
ˆ
1 ) (
2
− + + ; untuk -1 ≤ t ≤ 2
4. j t i
t
t r
ˆ
4
ˆ
2
) (
2
− + ; untuk 0 ≤ t ≤ 2

3.2 Limit, Kekontinuan dan Turunan Fungsi Vektor
Misal F (t) = f
1
(t) i + f
2
(t) j, fungsi vektor di bidang. F (t) dikatakan
mempunyai limit di c jika dan hanya jika f
1
(t) mempunyai limit di c dan f
2
(t)
mempunyai limit di c, sehingga berlaku :
3
– 3
2
x
y
24
KALKULUS II
ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
j t f i t f t F
c t c t c t
ˆ
) ( lim
ˆ
) ( lim ) ( lim
2 1
]
]
]

+
]
]
]

→ → →

Semua sifat limit berlaku untuk fungsi vektor. Demikian pula dalam hal
kekontinuan, yaitu F (t) kontinu di c apabila ) ( ) ( lim c F t F
c t


.
Dengan demikian, kita dapat mendefinisikan turunan dari fungsi vektor sebagai
berikut :

( ) ( )
dt
t df
dt
t df
h
t f t f h t f h t f
h
t F h t F
dt
t F d
h
h
) ( ) (
) ( ) ( ) ( ) (
lim
) ( ) (
lim
) (
2 1
2 1 2 1
0
0
+
+ − + + +

− +




Dengan cara yang sama, kita dapat medefinisikan untuk fungsi vektor di ruang (R
3
).

Contoh :
Tentukan turunan pertama dan kedua fungsi F (t) = (t
2
+ t) i + e
t
j
Penyelesaian :
F ’(t) = (2t + 1) i + e
t
j
F ”(t) = 2 i + e
t
j

3.3 Kinematika Partikel
Misalkan r(t) = x(t) i + y(t) j + z(t) k, untuk a ≤ t ≤ b merupakan vektor
posisi untuk titik P = P(t) yang menyusuri kurva selama t bertambah besar. Misal
r’(t) ada dan kontinu dan r’(t) ≠ 0 (sehingga disebut kurva mulus). Panjang bususr
s dari P(a) ke P(t) diberikan oleh :
du
du
dz
du
dy
du
dx
du
du
r d
s
t
a
t
a
2 2 2
∫ ∫
J
J
`
'
(
|
+ J
J
`
'
(
|
+ J
J
`
'
(
|

Jika t mengukur waktu, kita dapat mendefinisikan kecepatan, laju dan percepatan,
yaitu :
Kecepatan : v(t) = r ’(t)
Laju : ds/dt = | r ’(t) | = | v(t) |
Percepatan : a(t) = r “ (t)
Contoh :
25
KALKULUS II
ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
Tentukan vektor kecepatan, laju dan vektor percepatan dari vektor posisi r
(t) = 3t
2
i + t
3
j , saat t = 2
Penyelesaian :
Kecepatan = v (t) = r ‘ (t) = 6 t i + 3t
2
j Î v (t=2) = 12 i + 12 j
Laju = ds/dt = | r ’(t) | = | v(t) | = (12
2
+12
2
)
½
= 12 2
Percepatan = a (t) = v’ (t) = 6 i + 6t j Î a ( t = 2) = 6 i + 12 j

Latihan :
Tentukan turunan pertama dan kedua dari fungsi vektor berikut :
1. r (t) = (2t + 3)
2
i – e
2t
j
2. r (t) = cos 2t i – sin
3
t j
Tentukan vektor kecepatan, laju dan vektor percepatan saat t = t
1
dari vektor posisi
berikut :
3. r (t) = e
–t
i + e
t
j ; untuk t
1
= 1
4. r (t) = 2 cos t i – 3 sin
2
t j; untuk t
1
= π /3
5. r (t) = cos t i – 2 tan t j ; untuk t
1
= – π /4
6. r (t) = e
t/2
i + e
–t
j ; untuk t
1
= 2

3.4 Kelengkungan
Diketahui vektor posisi r (t) = f
1
(t) i + f
2
(t) j untuk a ≤ t ≤ b dan titik P(t)
pada bidang. Andaikan r‘ (t) ada, kontinu dan tidak pernah nol pada selang [a, b].
Maka apabila t bertambah nilainya, P akan bergerak sepanjang sebuah kurva mulus,
panjang lintasan s = h(t) dari P(a) ke P(t) ditentukan oleh :
[ ] [ ]
∫ ∫
+
t
a
t
a
2
2
2
1
du ) u ( ' r du ) u ( ' f ) u ( ' f ) t ( h s

Oleh karena r‘ (t) ≠ 0, maka | v(t) | > 0. Dengan demikian s naik apabila t naik,
sehingga s mempunyai fungsi invers, yaitu : t = h
–1
(s) dan

) (
1 1
t v
dt
ds
ds
dt



Misal, T(t) adalah vektor singgung satuan di P(t), didefinisikan sebagai :
26
KALKULUS II
ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM

) (
) (
) ( '
) ( '
) (
t v
t v
t r
t r
t T
Apabila P(t) bergerak sepanjang kurva, vektor satuan T(t) merubah arahnya.
Perbandingan perubahan T terhadap panjang busur s, yaitu : dT / ds dinamakan
vektor kelengkungan di P. Akhirnya kita definisikan kelengkungan κ (kappa) di P
ditentukan sebagai besaran dT / ds, jadi κ = | dT / ds |.
Dengan demikian vektor kelengkungan dapat ditulis :

) (
) ( '
t v
t T
ds
dt
dt
T d
ds
T d


sedangkan kelengkungannya adalah :
) (
) ( '
t v
t T
ds
T d
κ
Andaikan x = f(t) dan y = g(t) adalah persamaan parameter kurva mulus. Maka

[ ]
2
3
2 2
' '
" ' " '
y x
x y y x
+

κ

Khusus untuk kurva dengan persamaan y = h(x), berlaku :

[ ]
2
3
2
' 1
"
y
y
+
κ
Contoh :
Tentukan kelengkungan ellips x =3cos t, y = 2sin t pada titik t = 0 dan t = π/2 !
Penyelesaian :
x ‘ (t) = –3 sin t Î x “ (t) = –3 cos t
y ‘ (t) = 2 cos t Î y “ (t) = –2 sin t
[ ] [ ] [ ]
2
3
2
2
3
2 2
2 2
2
3
2 2
4 sin 5
6
cos 4 sin 9
cos 6 sin 6
' '
" ' " '
) (
+

+
+

+


t t t
t t
y x
x y y x
t κ κ

Sehingga κ (0) = ¾ dan κ (π/2) = 2/9
Terlihat bahwa κ (0) > κ (π/2), cocok dengan kenyataan.




27
KALKULUS II
ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
Latihan :
Tentukan vektor singgung satuan dan kelengkungan saat t = t
1
dari vektor posisi
berikut :
1. r (t) = 4t
2
i + 4t j ; t
1
= ½
2. r (t) = 4cos t i + 3 sin t j ; t
1
= π/4
3. r (t) = e
t
sin t i + e
t
cos t j ; t
1
= π/2
Tentukan kelengkungan di titik yang diberikan dari fungsi berikut :
4. y
2
= x + 4 ; (– 3 , – 1)
5. y = ln x ; (1, 0)
6. y = e
x
– x ; (0, 1)
7. y = cos ½ x ; (0, 1)













28
KALKULUS II
ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
BAB IV
INTEGRAL LIPAT


3.1 Integral Lipat Dua

Misalkan R merupakan suatu persegi panjang tertutup, yaitu :
R = {(x, y) : a ≤ x ≤ b, c ≤ y ≤ d}
Bentuk partisi P dari R yang berupa persegi panjang kecil, dengan luas berukuran
∆A
k
= x
k
y
k
untuk setiap k = 1, 2, 3, … n jika R dibagi menjadi n buah persegi
panjang kecil. Misal, ) y , x (
k k
adalah sembarang titik di dalam persegi panjang kecil
ke-k, maka seperti halnya pengertian integral terdahulu, kita dapat mendefinisikan
integral lipat dua dengan menggunakan Jumlah Riemann.
Definisi integral lipat dua :
Misalkan f suatu fungsi dua peubah yang terdefinisi pada suatu persegi panjang
tertutup R. Jika

=


n
k
k k k
P
A y x f
1
0
) , ( lim ada, kita katakan f dapat diintegralkan pada R.
Lebih lanjut
∫∫
R
dA y x f ) , ( , yang disebut integral lipat dua f pada R diberikan
oleh :
=
∫∫
R
dA y x f ) , (

=


n
k
k k k
P
A y x f
1
0
) , ( lim
Sifat Integral lipat dua:
• Linear, yaitu :
[ ] dA y x g c dA y x f c dA y x g c y x f c
R R R
∫∫ ∫∫ ∫∫
+ = + ) , ( ) , ( ) , ( ) , (
2 1 2 1

dimana c
1
dan c
2
adalah konstanta.
• Jika daerah R merupakan gabungan dari dua daerah (R
1
dan R
2
) dengan batas pada
suatu ruas garis maka :
dA y x f dA y x f dA y x f
R R R
∫∫ ∫∫ ∫∫
+ =
2 1
) , ( ) , ( ) , (
• Jika f(x,y) ≤ g(x,y) untuk setiap (x,y) di R maka
dA y x g dA y x f
R R
∫∫ ∫∫
≤ ) , ( ) , (
R
1
R
2

29
KALKULUS II
ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
3.1.1 Integral Lipat Dua pada Koordinat Kartesius
Integral lipat dua atas daerah R dapat dihitung dengan dua integrasi (dalam
integral biasa) secara berturut-turut.
Misalkan R merupakan daerah persegi panjang, yaitu :
R = {(x,y) | a ≤ x ≤ b, c ≤ y ≤ d}
maka integral lipat dua dari fungsi f(x,y) pada daerah R adalah:

∫ ∫ ∫ ∫ ∫∫
= =
d
c
b
a
d
c
b
a R
dx dy y x f dy dx y x f dA y x f ) , ( ) , ( ) , (
Contoh :
Hitung integral lipat dua berikut ini :
( )
∫∫
+
R
dA y x
2 2
2
dimana R = {(x,y) | 0 ≤ x ≤ 6, 0 ≤ y ≤ 4}
Penyelesaian :

( ) ( )
( )
544
dy y 12 72
dy x y 2
3
x
dy dx y 2 x dA y 2 x
b
a
2
b
a
6 x
0 x
2
3
4
0
6
0
2 2
R
2 2
=
+ =




+ =
+ = +


∫ ∫ ∫∫
=
=


Jika R (daerah integrasi) berupa persegi panjang, perubahan urutan
pengintegralan tidak berpengaruh, tetapi jika daerah R bukan persegi panjang, urutan
pengintegralan harus benar-benar diperhatikan.
Jika daerah integrasi R merupakan sembarang (bukan daerah persegi panjang) ada
beberapa hal yang harus diperhatikan. Untuk lebih jelanya, perhatikan dua kasus
berikut dalam hal perhitungan integralnya.


Tinjau 2 kasus berikut :
30
KALKULUS II
ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
a. D = {(x,y) | a ≤ x ≤ b , p(x) ≤ y ≤ q(x) }









Integral lipat dua pada daerah D dapat dihitung sebagai berikut :
∫ ∫ ∫∫
=
b
a
x q
x p D
dx dy y x f dA y x f
) (
) (
) , ( ) , (
b. D = {(x,y) | r(y) ≤ x ≤ s(y) , c ≤ y ≤ d }






Integral lipat dua pada daerah D dapat dihitung sebagai berikut :
∫ ∫ ∫∫
=
d
c
y s
y r D
dy dx y x f dA y x f
) (
) (
) , ( ) , (
Contoh :
Hitung ( )
∫∫
R
x
dA e y 2 dimana R = {(x,y) | 0 ≤ x ≤ y
2
, 0 ≤ y ≤ 1}
Penyelesaian :
( ) 2 2 2 2 ) , (
1
0
2
1
0
1
0
0
0
2 2
2
− = − = = =
∫ ∫ ∫ ∫ ∫∫
e dy y y d e dy e y dy dx e y dA y x f
y y x
y
x
R


Urutan pengintegralan dalam integral lipat dua tergantung dari bentuk R
(daerah integrasi). Tetapi dalam tiap kasus, kita seharusnya mengharapkan limit dari
D
c
d
r (y)
s (y)
x
D
a
b
x
q(x)
p(x)
y
31
KALKULUS II
ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
integral sebelah kanan berupa fungsi satu peubah, dan yang paling kiri (luar) berupa
konstanta. Dalam perhitungannya, kadangkala kita perlu merubah urutan
pengintegralan. Hal ini dapat disebabkan dengan perubahan urutan pengintegralan akan
memudahkan dalam proses integrasinya. Oleh karena itu, langkah pertama kita harus
dapat menggambarkan daerah integrasi, selanjutnya kita dapat merubah urutan integrasi
dengan mengacu pada sketsa daerah integrasi yang sama.
Contoh :
Hitung
∫ ∫
4
0
2
2
2
dx dy e
x
y

Penyelesaian :
Daerah integrasi dari integral lipat dua di atas adalah :





D = {(x,y) | 0 ≤ x ≤ 4 , ½ x ≤ y ≤ 2 } dapat dirubah menjadi
D = {(x,y) | 0 ≤ x ≤ 2y , 0 ≤ y ≤ 2 }, sehingga integral di atas menjadi :
( ) 1 2
4 2
2
0
2
0
2
0
2
0
4
0
2
2 2 2
2
2
− = = = =
∫ ∫ ∫ ∫ ∫ ∫
e y d e dy e y dy dx e dx dy e
y y
y
y y
x

Integral lipat dua dapat dipakai untuk menghitung luas suatu daerah. Dengan
menjadikan daerah yang akan dihitung luasnya sebagai daerah integrasi (D) dan fungsi
dalam integralnya sama dengan satu.
3.1.2 Integral Lipat Dua dengan Koordinat Kutub (Polar)
Andai daerah integrasi (D) mempunyai bentuk dasar lingkaran, kardioid, dll.
maka untuk memudahkan dalam perhitungan integral lipat dua digunakan dalam
koordinat polar.


Transformasi peubah (x,y) Î (r, θ)


2
x
y =
x
y
θ
r
(x, y)
x
y
32
KALKULUS II
ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM


x = r cos θ
y = r sin θ
Determinan jacobi dari transformasi ini adalah

r
cos r sin
sin r cos
y
r
y
x
r
x
) , r ( J
=
θ − θ
θ − θ
=
θ ∂



θ ∂



= θ


Sehingga integral lipat dua dalam koordinat kutub dapat ditulis :

∫∫ ∫∫
=
*
) , ( ) , (
D D
d dr r r f dx dy y x f θ θ

Contoh :
Hitung ( )
∫ ∫


+
1
1
1
0
2
3
2 2
2
dx dy y x
x


Penyelsaian :







( ) ( )
∫ ∫
∫ ∫ ∫ ∫
= =
= +


π
π
π
θ
θ
0
1
0
4
0
1
0
2
3
2
1
1
1
0
2
3
2 2
5
2
d dr r
d dr r r dx dy y x
x

1
– 1
1
x
y
33
KALKULUS II
ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM

Latihan :
Hitung integral lipat dua di bawah ini :
1.
∫ ∫

3
1
3
3
dy dx e x
y
y
y

2.
∫ ∫
2
0 0
cos
sin
π
dx dy
x
x y
3.
∫ ∫

1
0
1
2
dy dx
x
e
y

4.
∫ ∫
4
0
2
3
dy dx
y
e
x

5.
∫ ∫

+
1
0
1
2 2
2
0
) sin( dy dx y x
y

6. ( )
∫ ∫


+
2
1
2
2
1
2 2
2
0
dx dy y x
x x

Hitung integral lipat dua pada daerah S, berikut ini :
7.
∫∫
S
x
dy dx e y
3
S dikuadran pertama yang dibatasi garis x = ½ y dan x = 1
8.
∫∫
+ −
S
y x
dA e
) (
3 3
S adalah lingkaran berjari-jari dua berpusat di (0, 0)
Tentukan luas daerah S, dengan menggunakan integral lipat dua :
9. S adalah daerah yang dibatasi oleh lingkaran berjari-jari 1 berpusat di (0, 0),
garis y = x, dan sumbu-y positif.
10. S adalah daerah di dalam lingkaran berjari-jari dua yang berpusat di (0, 2) dan
di luar lingkaran berjari-jari dua berpusat di (0, 0)








34
KALKULUS II
ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
4.2 Integral Lipat Tiga
Misal suatu fungsi f tiga peubah yang didefinisikan atas suatu daerah
berbentuk balok B dengan sisi-sisi sejajar sumbu koordinat. Kita tidak dapat lagi
menggambarkan grafik f, tetapi kita dapat menggambar B. bentuklah suatu partisi
P dari B dengan melewatkan bidang-bidang melalui B sejajar bidang koordinat, jadi
memotong B kedalam balok-balok bagian B
1
, B
2
, … B
n
;
Perhatikan jumlah Riemann :

=


n
k
k k k k
P
V z y x f
1
0
) , , ( lim dengan ∆V
k
= ∆x
k
∆y
k
∆z
k

merupakan volume balok B
k
.
Andaikan panjang norma partisi p ini adalah panjang diagonal terpanjang dari
semua balok bagian. Maka kita definisikan integral lipat tiga dengan
=
∫∫∫
B
dV z y x f ) , , (

=


n
k
k k k k
P
V z y x f
1
0
) , , ( lim
asalkan limit ini ada.


4.2.1 Integral Lipat Tiga dengan Koordinat Kartesius
Misalkan B =[a, b] x [c, d] x [e, f] adalah sebuah kotak, kemudian kotak
tersebut dibagi menjadi n buah kotak-kotak kecil. Kotak kecil tersebut berukuran
panjang ∆x, lebar ∆y dan tinggi ∆z, sehingga volume kotak kecil tersebut adalah ∆V
= ∆x ∆y ∆z. Dengan memisalkan kotak-kotak kecil tersebut sebagai partisi, dengan
pendekatan jumlah Riemann kitapun dapat mendefinisikan integral lipat tiga.
Dalam koordinat kartesius, cara perhitungan integral lipat tiga tidak berbeda
dengan integral lipat dua yang telah diberikan. Masalah urutan pengintegralan
tergantung dari bentuk B, tetapi dalam tiap kasus, kita seharusnya mengharapkan
limit dari integral sebelah kanan berupa fungsi dua peubah, pada integral tengah berupa
fungsi satu peubah, dan yang paling kiri (luar) berupa konstanta.
Bentuk umumnya :
=
∫∫∫
B
dV z y x f ) , , ( dx dy dz z y x f
b
a
x q
x p
y x s
y x r
∫ ∫ ∫
) (
) (
) , (
) , (
) , , ( , a, b adalah konstanta


35
KALKULUS II
ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
Contoh :
Hitung dz dx dy z y x
z z
x
∫ ∫ ∫
2
0 1 0
2
Penyelesaian :
3
2
3
z
12
z
dz
3
1
3
z
dz
3
x
dz dx x
dz dx
z
x
z x
dz dx y z x dz dx dy z y x 2
2 z
0 z
4
2
0
3
2
0
z x
1 x
3
2
0
z
1
2
2
0
z
1
2
0
z
1
z
x
y
0 y
2
2
0
z
1
z
x
0
=








− =








− =
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=


∫ ∫
∫ ∫
∫ ∫ ∫ ∫ ∫


Integral lipat tiga dapat dipakai untuk menghitung volume suatu benda di ruang.
Dengan menjadikan benda di ruang yang akan dihitung volumenya sebagai daerah
integrasi (B) dan fungsi dalam integralnya sama dengan satu.

4.2.2 Integral Lipat Tiga dengan Koordinat Tabung dan Bola
Kita akan menggunakan koordinat tabung, pada saat mempunyai benda B
yang simetris terhadap suatu garis, seperti halnya tabung. Koordinat tabung dan
kartesius dihubungkan oleh persamaan-persamaan berikut :
x = r cos θ
y = r sin θ




36
KALKULUS II
ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM










Transformasi peubah (x, y, z) Î (r, θ, z) memberikan Jacobian = r
Sehingga Integral lipat tiga dapat ditulis :
∫ ∫ ∫ ∫∫∫
=
2
1
) (
) (
) , (
) , (
) , sin , cos ( ) , , (
θ
θ
θ
θ
θ
θ
θ θ θ
q
p
r t
r s B
d dr dz r z r r f dV z y x f

Seperti pada koordinat tabung, jika kita mempunyai benda B yang simetris
terhadap suatu titik, maka kita lebih baik menghitung integral lipat tiga tersebut
dengan menggunakan koordinat bola.
Koordinat bola dan kartesius dihubungkan oleh persamaan-persamaan berikut :
x = ρ cosθ sin φ
y = ρ sinθ sin φ ;
z = ρ cos φ










Transformasi peubah (x, y, z) Î (ρ, θ, φ) memberikan Jacobian = ρ
2
sin φ
θ
r
z
P(r,θ,z)
y
x
θ
ρ
z
P(ρ,θ, φ)
y
x
φ
37
KALKULUS II
ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
Sehingga integral lipat tiga dengan koordinat bola dapat ditulis :

∫ ∫ ∫ ∫∫∫
φ
φ
φ
φ
φ θ
φ θ
φ θ ρ φ ρ φ θ ρ =
2
1
) ( q
) ( p
) , ( t
) , ( s
2
B
d , d , d sin , ) , , ( f dV ) z , y , x ( f

Contoh :
Hitung dengan menggunakan koordinat tabung, volume suatu ruang V yang
dibatasi oleh z = 12 – 2x
2
– 2y
2
dan z = x
2
+ y
2
!
Penyelesaian :
Ruang V yang terbentuk mempunyai satu garis simetri, yaitu sumbu-z,
perpotongan kedua permukaan diatas adalah berbentuk lingkaran berjari-jari 4
berpusat di (0, 0). Oleh karena itu volume V dapat dihitung dengan
menggunakan integral lipat tiga dala koordinat tabung, dimana :
Permukaan 1 : f(x,y) = 12 – 2x
2
– 2y
2
Î f(r,θ) = 12 – 2r
2

Permukaan 2 : f(x,y) = x
2
+ y
2
Î f(r,θ) = r
2

( )
( )


∫ ∫
∫ ∫ ∫ ∫∫∫
π
π
π
π −
π = θ − =
θ 





− =
θ − =
θ = =
2
0
2
0
2
0
4 2
2
0
2
0
3
2
0
2
0
r 2 12
r B
24 d 12 24
d r
4
3
r 6
d dr r 3 r 12
d dr dz r 1 dV ) z , y , x ( f V Volume Jadi
2
2


Latihan :
1. ( )
∫ ∫ ∫

+ +
1
0
0
2
1
3
1
0
2
3 2 dx dy dz z y x
2.
∫ ∫ ∫

2
0 11
2
y z
dz dy dx z y
3.
∫ ∫ ∫

+
3
0
9
0
2
0
2 2
2
x
dx dy dz y x
38
KALKULUS II
ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM
4.
∫ ∫ ∫

− −
− −
2
0
4
0
4
0
2 2
2
2 2
4
x
y x
dx dy dz y x z
Tentukan volume benda pejal B dengan menggunakan integral lipat tiga !
5. B benda pejal di oktan pertama dari tabung y
2
+ z
2
= 1 dan bidang y = x dan bidang
x = 0 !
6. B benda pejal yang dibatasi oleh paraboloid z = 4x
2
+ y
2
dan selinder parabolic z
= 4 – 3y
2
!
7. B benda pejal dibatas oleh z = x
2
+ y
2
, z = 0, dan x
2
+ (y – 1)
2
= 1
8. Tuliskan perbedaan perhitungan volume bola menggunakan :
a. Integral lipat tiga dengan koordinat kartesius
b. Integral lipat tiga dengan koordinat tabung
c. Integral lipat tiga dengan koordinat bola






39
KALKULUS II


ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM


BAB V
INTEGRAL GARIS DAN INTEGRAL PERMUKAAN



5.1 Integral Garis
Konsep integral garis merupakan generalisasi sederhana dari konsep integral
tentu

b
a
dx x f ) ( . Dalam integral tentu tersebut, kita mengintegralkan f sepanjang
sumbu-x dari a ke b dan yang diintegralkan f adalah fungsi yang terdefinisi pada
setiap titik antara a dan b. Dalam integral garis, kita mengintegralkan sepanjang
kurva (lengkungan) C di dalam ruang dan yang diintegralkan adalah fungsi yang
tedefinisi pada setiap titik di sepanjang kurva (lengkungan) C tersebut.
Misal kurva (lengkungan) C memenuhi persamaan :
r (t) = x(t) i + y(t) j + z(t) k
Kurva C dinamakan kurva mulus C jika d r / dt ≠ 0 untuk setiap t.
Definisi integral garis :
Misal C suatu kurva mulus yang diberikan secara parameter oleh :
x = x(t) dan y = y(t), untuk a < t < b
dengan x’ dan y’ kontinu dan tidak serentak nol pada [a, b], serta C berorientasi
positif (arah positifnya berpadanan terhadap pertambahan nilai t). Jadi C
memiliki titik awal A = (x(a), y(a)) dan titik ujung B = (x(b), y(b)).
Partisi [a, b] sehingga menghasilkan kurva C yang terpotong-potong ke dalam n
bagian, dimana bagian partisi P
i
mewakili potongan pada waktu t
i
. Andaikan ∆s
i

menyatakan panjang busur yang bersesuaian, dan |P | merupakan partisi yang
terbesar.
Perhatikan sketsa berikut :





40
KALKULUS II


ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM













Maka jumlah Riemann : i
n
i
i i
s y x f ∆

1
) , (
merupakan luas tirai tegak sepanjang
lengkunga (kurva) C.

C
ds y x f ) , ( dinamakan integral garis fungsi f sepanjang
lengkungan C dari A ke B.
Sehingga dapat ditulis :
( ) dt
dt
dy
dt
dx
t y t x f ds y x f
b
a C
2 2
) ( ), ( ) , ( J
J
`
'
(
|
+ J
J
`
'
(
|

∫ ∫

Jika di tulis dalam bentuk tanpa parameter sebagai berikut:
( ) dx
dx
dy
y x f ds y x f
b
a C
2
1 , ) , ( J
J
`
'
(
|
+
∫ ∫
atau ( ) dy
dy
dx
y x f ds y x f
b
a C
2
1 , ) , (
J
J
J
`
'
'
(
|
+
∫ ∫

Sifat integral garis :
o
∫ ∫


C C
ds y x f ds y x f ) , ( ) , ( , dimana – C adalah kurva yang sama dengan C namun
berlawanan arah.
o
∫ ∫ ∫
+
2 1
) , ( ) , ( ) , (
C C C
ds y x f ds y x f ds y x f , dimana gabungan C
1
dengan C
2
adalah C.
Contoh :
Hitung ( ) ds y x
C

2
dimana C sepanjang x = 3cost, y = 3sin t, 0 ≤ t ≤ π/2

Z
x
y
r
f(x,y)
D
f(x,y)

41
KALKULUS II


ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM


Penyelesaian :

( ) ( ) ( )
27 sin cos 81
cos 3 sin 3 sin 3 cos 3
2 /
0
2
2 2
2 /
0
2 2

+ −

∫ ∫
dt t t
dt t t t t ds y x
C
π
π

Andai bahwa gaya yang bekerja pada suatu titik (x, y, z) dalam ruang
diberikan oleh medan vektor : F (x, y, z) = M(x,y,z) i + N(x,y,z) j + P(x,y,z) k dengan
M, N, P kontinu. Kita ingin menentukan kerja (usaha) W yang dilakukan oleh F
dalam memindahkan partikel menelusuri kurva terarah C. Misalkan, r = x i + y j +
z k merupakan vektor posisi partikel. Jika T adalah vektor singgung satuan dr/ds di
P, maka F • T adalah komponen singgung F di P. Sehingga kita mempunyai
rumusan kerja adalah :






C
C
C
r d F
ds
ds
r d
F
ds T F W

dimana F • d r sebagai menyatakan kerja yang dilakukan F dalam menggerakan
suatu partikel menelusuri vektor singgung d r yang sangat kecil.

Latihan :
Hitung


C
r d F dimana
1. F = x
2
i + y
2
j ; C kurva y = x
2
dari x = -1 dampai x = 1
2. F = y i + x
2
j ; C kurva x = 2t dan y = t
2
– 1 , 0 ≤ t ≤ 2
3. F = y i + x j ; C kurva y = x
2
, 0 ≤ x ≤ 1
Tentukan kerja yang dilakukan oleh medan gaya F untuk memindahkan partikel
sepanjang kurva C, berikut ini :
4. F (x,y) = (x
3
– y
3
) i + xy
2
j ; C adalah kurva x = t
2
, y = t
3
, -1 ≤ t ≤ 0
5. F (x,y) = (x
2
– y) i + (y
2
– x) j ; dari (0,1) ke (1,2), jika:
a. C adalah 2 garis lurus dari (0,1) ke(1,1) dan dari (1,1) ke (1,2)
42
KALKULUS II


ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM


b. C adalah kurva r (t) = t i + (t
2
– 1) j
c. C adalah kurva (y – 1)
2
= x


5.2 Integral Garis Bebas Lintasan
Dengan mengingat kembali teorema dasar kalkulus, yaitu :



b
a
) ( ) ( ) ( a f b f dx x f
teorema ini berlaku juga untuk integral garis.
Andaikan C kurva mulus sepotong-sepotong yang secara parameter diberikan oleh r
= r (t) , a ≤ t ≤ b. Jika f dapat didiferensialkan secara kontinu pada suatu himpunan
terbuka yang mengandung C, maka
) ( ) ( ) ( a f b f r d r f
C
− • ∇


Misal D tersambung, yaitu jika dua titik sembarang dalam D dapat dihubungkan oleh
sepotong kurva mulus seluruhnya terletak dalam D.

Definisi bebas lintasan :


C
r d r F ) (
dikatakan bebas lintasan dalam D, jika untuk sembarang dua titik A
dan B dalam D, integral garis mempunyai nilai yang sama untuk sembarang
lintasan dalam D yang secara postif terarah dari A ke B.
Andaikan F ( r ) kontinu pada suatu himpunan tersambung terbuka D. Maka integral
garis


C
r d r F ) (
dikatakan bebas lintasan dalam D jika dan hanya jika F ( r ) = ∇ ∇∇ ∇f r
untuk suatu fungsi skalar f. F disebut medan vektor konservatif.
Definisi divergensi dan rotasi dari suatu medan vektor F :
Misal F (x, y, z) = M(x,y,z) i + N(x,y,z) j + P(x,y,z) k suatu medan vektor dan ∇ ∇∇ ∇
adalah operator k
z
j
y
i
x
ˆ ˆ ˆ


+


+


maka
o Div F = ∇ ∇∇ ∇ • •• • F = M
x
+ N
y
+ P
z
dinamakan divergesi F
43
KALKULUS II


ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM


o k
ˆ
y
M
x
N
j
ˆ
x
P
z
M
i
ˆ
z
N
y
P
P N M
z y x
k
ˆ
j
ˆ
i
ˆ
F x F curl
J
J
J
`
'
'
(
|





+ J
J
`
'
(
|





+
J
J
J
`
'
'
(
|











dinamakan rotasi (Curl) F
Akhirnya, suatu medan vektor F dikatakan konservatif jika dan hanya jika :
Untuk F (x, y, z) = M(x,y,z) i + N(x,y,z) j maka M
y
= N
x

Untuk F (x, y, z) = M(x,y,z) i + N(x,y,z) j + P(x,y,z) k maka curl F = 0


Contoh :
Tentukan apakah F = (4x
3
+ 9x
2
y
2
) i + (6x
3
y + 6y
5
) j merupakan medan vektor
konservatif ? jika ya, tentukan fungsi skalar f yang memenuhi F = ∇ ∇∇ ∇f !
Penyelesaian :
o F = M i + N j M(x,y) = 4x
3
+ 9x
2
y
2
dan N(x,y) = 6x
3
y + 6y
5

M
y
= 18x
2
y dan N
x
= 18x
2
y
Sehingga M
y
= N
x
F konservatif
o Misal f(x,y) adalah fungsi skalar yang memenuhi ∇ ∇∇ ∇f = F ,
Maka f
x
= M dan f
y
= N
Sehingga f
x
= 4x
3
+ 9x
2
y
2
f (x,y) = x
4
+ 3x
3
y
2
+ c(y) ……………(*)
Turunan parsial f(x,y) terhadap y = f
y
= 6x
3
y + c’(y)
Kita tahu bahwa f
y
= N c’(y) = 6y
5
c(y) = y
6
+ c …….…….(**)
Substitusikan (**) pada (*) sehingga diperoleh :
f (x,y) = x
4
+ 3x
3
y
2
+ y
6
+ c
sebagai fungsi skalar dari fungsi vektor konservatif tersebut.

Latihan :
1. Diketahui sebuah medan vektor F = e
x
sin y i + e
x
cos y j,
a. Periksa, apakah medan vektor tersebut konservatif ?
b. Tentukan fungsi potensial f, sehingga F = ∇f
c. Tentukan usaha untuk memindahkan partikel dari (0,0) ke (1, π/2)
44
KALKULUS II


ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM


2. Diketahui sebuah medan vektor G = (6xy
3
+ 2z
2
) i + 9x
2
y
2
j + (4xz + 1) k,
a. Periksa, apakah medan vektor tersebut konservatif ?
b. Tentukan fungsi potensial f, sehingga F = ∇f
c. Tentukan usaha untuk memindahkan partikel dari (0,0,0) ke (1,1,1)


5.3 Teorema Green
Misal R adalah daerah tertutup yang terbatas didalam bidang xy oleh suatu
lengkungan tertutup C yang terdiri dari sejumlah kurva mulus terhingga. Misal M(x,y)
dan N(x,y) adalah fungsi yang kontinu dan mempunyai turunan paarsial M
y
dan N
x

yang kontinu pada setiap titik dalam beberapa domain yang mengandung R. Maka

∫ ∫∫ J
J
J
`
'
'
(
|
− +
C R
dy dx
dy
dM
dx
dN
dy N dx M
Integrasi yang diambil sepanjang seluruh batasan C dari R sedemikian sehingga R
yang disebelah kiri suatu untegrasi tingkat tinggi.

Contoh :
Diketahui M(x,y) = (y
2
– 7y) dan N(x,y) = (2xy + 2x) dan C adalah lingkaran
berpusat di (0,0) dan berjari-jari 1.
Penyelesaian :
o Integral ruas kiri
r (t) = [cost, sint] r ‘ (t) = [ – sint , cost]
Dengan mensubstitusi, kita peroleh :
M(t) = sin
2
t – 7 sin t dan N(t) = 2cos t sin t + 2 cos t
( )( ) ( )( ) [ ]
π π π
π
9 2 0 7 0
cos cos sin cos 2 sin sin 7 sin
2
0
2
+ + +
+ + − − J
J
`
'
(
|
+
∫ ∫
C
dt t t t t t t t dt
dt
dy
N
dt
dx
M

o Integral ruas kanan
( ) ( ) [ ]
∫ ∫ ∫∫
∫∫ ∫∫

− − +
J
J
J
`
'
'
(
|

π
π θ
2
0
1
0
9 9 9
7 2 2 2
d dr r dy dx
dy dx y y dy dx
dy
dM
dx
dN
R
R R

45
KALKULUS II


ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM


Bentuk vektor dari teorema green.
Misalkan, C adalah kurva mulus tertutup sederhana pada bidang xy dan berlawanan
arah jarums jam yang membatasi daerah R. Maka

j
ds
dy
i
ds
dx
T
ˆ ˆ
+
merupakan vektor singgung satuan, dan
j
ds
dx
i
ds
dy
n
ˆ ˆ

adalah vektor normal yang mengarah keluar dari R.
Jika F(x, y) = M(x,y) i + N(x, y) j adalah suatu medan vektor maka

∫ ∫∫

C R
dA F div ds n F

dinamakan teorema Divergensi Gauss.
Sedangkan
( )
∫ ∫∫
• •
C R
dA k F curl ds T F
ˆ
disebut teorema Stokes pada bidang.


Latihan :
Hitung integral garis


C
r d r F ) ( berlawanan arah jarun jam sepanjang C, dengan :
1. F = 3x
2
i – 4xy j, C adalah ruas garis persegi panjang 0 ≤ x ≤ 4 ; 0 ≤ y ≤ 1
2. F = y i – x j, C adalah lingkaran x
2
+ y
2
= ¼
3. F = (x
3
– 3y)

i + (x + sin y) j, C adalah ruas garis pada segitiga dengan titik sudut
(0, 0), (1,0) dan (0,2)
4. F = (e
x
– 3y)

i + (e
y
+ 6x) j, C berupa ellips x
2
+ 4y
2
= 4
5. F = (2xy – x
2
)

i + (x + y
2
) j, C adalah lengkungan tertutup yang dibatasi oleh
y = x
2
dan y
2
= x

5.4 Integral permukaan
Misakan G suatu permukaan yang diberikan oleh z = f(x, y), dengan (x, y) di R.
Jika f mempunyai turunan parsial pertama yang kontinu dan g(x, y, z) = g(x, y, f(x, y))
Kontinu pada R, maka :
46
KALKULUS II


ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM



∫∫
∫∫ ∫∫
+ +

R
y x
R
dx dy f f y x f y x g
dA y x f y x g dS z y x g
1 )) , ( , , (
sec )) , ( , , ( ) , , (
2 2
G
θ

dimana θ adalah sudut antara normal satuan ke atas n di (x, y, f(x, y)) dan sumbu z
positif.
Andaikan G sutu permukaan dua sisi yang demikian mulus dan anggap dia terendam di
dalam fluida dengan suatu medan kecepatan kontinu F (x,y,z). Jika ∆S adalah luas
sepotong kecil dari G, maka disana F (x,y,z) hampir konstan, dan volume fluida ∇V
yang melewati potongan ini dalam arah normal satuan n adalah ∇V ≈ F • n ∆S
Kita dapat menyimpulkan bahwa :
Fluks F yang melintasi G = dS n •
∫∫
G
F
Persamaan permukaan dapat ditulis
H(x, y, z) = z – f (x, y)
Sehingga
1
y
f
x
f
k
ˆ
j
ˆ
y
f
i
ˆ
x
f
H
H
n
2
2
+
J
J
J
`
'
'
(
|


+ J
J
`
'
(
|


+






Maka
( ) ( )
( ) ( )
[ ]
∫∫
∫∫ ∫∫
+ − − •
+ +
]
]
]
]
]

+ +
+ − −
• •
R
y x
R
y x
y x
y x
G
dA k j f i f F
dA f f
f f
k j f i f
F dS F
ˆ ˆ ˆ
1
1
ˆ ˆ ˆ
n
2 2
2 2

Contoh :
Tentukan fluks ke atas dari F (x, y, z) = x i + y j + z k, yang melewati bagian
permukaan G yang ditentukan oleh fungsi z = 1 – x
2
– y
2

Penyelesaian :
f
x
= – 2x dan f
y
= – 2y
Maka fluks yang melintasi G adalah :
47
KALKULUS II


ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM


( )
( )
∫ ∫
∫∫
∫∫ ∫∫
+
+ +
]
]
]

+





− • •
π
π
θ
2
0
1
0
2
2 2
2
3
1
1
ˆ ˆ ˆ
n
d dr r r
dy dx y x
dA k j
y
z
i
x
z
F dS F
R
R G



Latihan :
Hitung dS z y x g
∫∫
G
) , , ( :
1. g(x, y, z) = x + y, permukaan G : z = √ 4 –x
2
, 0 ≤ x ≤ √ 3 dan 0 ≤ y ≤ 1
2. g(x, y, z) = 2y
2
+ z, permukaan G : z = x
2
– y
2
, 0 ≤ x
2
+ y
2
≤ 1
Hitung dS n •
∫∫
G
F :
3. F (x, y, z) = x i + y j + 2z k, permukaan G : z = 1 – x
2
– y
2

4. F (x, y, z) = x i + y j + z k, permukaan G : z = √ 9 – x
2
– y
2

5. F (x, y, z) = z
2
k, permukaan G : z = √ 1 – x
2
– y
2



5.5 Teorema Divergensi dan Stokes
Teorema Divergensi
Andai S suatu benda pejal tertutup dan terbatas dalam ruang dimensi-3, yang
secara lengkap dicakup oleh suatu permukaan mulus sepotong-sepotong ∂ S .
Andai F = M i + N j + P k, berupa medan vektor sedemikian hingga M, N, dan
P mempunyai turunan parsial pertama yang kontinu pada S dan batasnya ∂ S.
Jika n menyatakan normal satuan terluar terhadap ∂ S, maka :

∫∫∫ ∫∫

∂ S
dV F div dS n
S
F

Dengan kata lain, fluks F yang melewati batas suatu daerah tertutup dalam ruang
dimensi-3 adalah integral lipat tiga dari divergensinya atas daerah tersebut.


48
KALKULUS II


ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM


Contoh :
Hitung fluks dari medan vektor
F = x
3
i + y
3
j + z
3
k
yang keluar dari bola B berpusat di (0, 0, 0) berjari-jari 1.
Penyelesaian :
Dengan menggunakan teorema divergensi, fluks yang keluar dari bola adalah :

( )
5
12
sin 3
3
F
2
0 0
1
0
4
2 2 2
S
π
θ φ ρ φ ρ
π π

+ +

∫ ∫ ∫
∫∫∫
∫∫∫ ∫∫

d d d
dV z y x
dV F div dS n
B
B


Teorema Stokes
Misalkan, S adalah permukaan dua sisi yang dibatasi oleh lengkungan tertutup ∂ S
dengan normal satuan n dan andaikan F = M i + N j + P k, berupa medan vector
sedemikian hingga M, N, dan P mempunyai turunan parsial pertama yang
kontinu pada S dan batasnya ∂ S. Jika T menyatakan vector singgung satuan
terhadap ∂ S, maka

( )
∫∫ ∫
• •
∂ S S
dS n F curl dS T F

Contoh :
Tentukan integral F = z i – x j – y k sepanjang segitiga yang titik sudutnya
(0, 0, 0), (0, 2, 0), (0, 0, 2). Gunakan teorema stoke !
Penyelesaian :
Curl F = – i + j – k sedangkan normal dari permukaan adalah n = i
Jadi Curl F • n = – 1
Oleh karena itu
( )
∫∫ ∫
− − • •
S C
S luas dS n F curl dS T F 2 ) ( 1
49
KALKULUS II


ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM


Latihan :
Tentukan fluks dari medan vektor F yang melewati permukaan S, berikut ini :
1. F = y i – x j + 2 k ; S adalah permukaan z = √ 1-x
2
, untuk 0 ≤ x ≤ 5
2. F = x
2
i + y
2
j + z
2
k ; S adalah benda pejal z = √ 4 – x
2
– y
2
dan z = 0
3. F = 2z i + x j + z
2
k ; S adalah benda pejal 0 ≤ x
2
+ y
2
≤ 4 , 0 ≤ x ≤ 1
Hitung


C
dS T F , dengan C berlawanan arah jarum jam !
4. F = 2z i + x
2
j + 3y k ; C adalah ellips perpotongan z = x dan x
2
+ y
2
= 4
5. F = (z – y) i + y j + x k ; C adalah perpotongan tabung x
2
+ y
2
= x dengan
bola x
2
+ y
2
+ z
2
= 1































50
KALKULUS II


ADIWIJAYA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM


DAFTAR PUSTAKA




Anton, H., Calculus with Analytic Geometry, 3
rd
edition, John Willey & Sons, New
York, 1988
Boyce W. E., DiPrima, R.C. , Elementary Differential Equations and Boundary Value
Problems, 5
th
edition, John Willey & Sons, Singapore, 1992
Martono, K., Kalkulus Diferensial, Alvagracia, Bandung, 1987
Purcell, E. J., Varberg D., Kalkulus dan Geometri Analitis Jilid 2, Terjemahan I
Nyoman Susila dkk., edisi 5, Erlangga, Jakarta, 1992
Setya Budhi, W., Kalkulus Peubah Banyak dan Penggunaannya, Penerbit ITB,
Bandung, 2001



DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ….………………………………………………………… DAFTAR ISI …………….……………………………………………………….

i ii

BAB I Persamaan Diferensial Biasa ………………………………………….. . 1 1.1 Persamaan Diferensial Orde satu …………………………………………... …. 1 1.2 Trayektori Ortogonal …………………………………………………………… 3 1.3 Persamaan Diferensial Orde Dua ……………………………………………… 5 1.3.1 Persamaan Diferensial Orde Dua Homogen …..……………………….. 5 1.3.2 Persamaan Diferensial Orde Dua Tak Homogen ………………………. 6 BAB II Fungsi Dua Peubah …………………………………………………….. 10 2.1 Bentuk Permukaan di Ruang ..…………………………………………………. 10 2.2 Domain dan Kurva Ketinggian Fungsi Dua Peubah ……………………….…. 13 2.3 Turunan Parsial ………………………………………………………………… 15 2.4 Vektor Gradien,Turunan Berarah dan Bidang Singgung ………………………. 17 2.5 Bidang Singgung ………………………………………………………………. 18 2.6 Nilai Ekstrim ……………………………………………. ……………………. 19 BAB III Fungsi Vektor .. …………………………………………………….…. 22 3.1 Daerah Definisi dan Grafik …………………………………………………… 22 3.2 Limit, kekontinuan dan Turunan Parsial ……..………………………………. 24 3.3 Kinematika Pertikel ……………………………………………………………. 24 3.4 Kelengkungan …………………………………………………………………. 25 BAB IV Integral Lipat ………………………………. ………………………… 28 4.1 Integral Lipat Dua ……………………………………………………………. 28 4.1.1 Integral Lipat Dua pada Koordinat Kartesius ……………………….. 29 4.1.2 Integral Lipat Dua pada Koordinat kutub (Polar) ………………….… 32 4.2 Integral Lipat Tiga ...………………………………………………………… 34 4.2.1 Integral Lipat Tiga dengan Koordinat Kartesius ….………………… 34 4.2.2 Integral Lipat Tiga dengan Koordinat Tabung dan Bola …..……….. 35 BAB V Integral Garis dan Integral Permukaan …………………..…………. 39

ii

5.1 Integral Garis ……………………………………………………………………39 5.2 Integral Garis Bebas Lintasan ……………………………………….…………. 42 5.3 Teorema Green …………………………………………………………….….. 44 5.4 Integral Permukaan …………………………………………………………….. 45 5.5 Teorema Divergensi dan Sokes ….…………………………………………….. 47 DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………….. .50

iii

1 KALKULUS II

BAB I PERSAMAAN DIFERENSIAL BIASA

Persamaan Diferensial adalah suatu persamaan yang mengandung satu atau beberapa turunan dari peubah tak bebasnya. Jika persamaan diferensial tersebut mengandung peubah tak bebas yang hanya bergantung pada satu peubah bebasnya maka persamaan diferensial tersebut dinamakan persamaan diferensial biasa. Sedangkan jika peubah bebasnya lebih dari satu dinamakan persamaan diferensial parsial. Orde suatu persamaan diferensial adalah turunan tertinggi pada persamaan diferensial tersebut. Contoh Persamaan Diferensial Biasa : 1.
dy + 2 sin x = 0 , dx

persamaan diferensial orde satu dimana y sebagai peubah tak bebas dan x

merupakan peubah bebas. d 2r dr 2. + 2 + 1 = 0 , persamaan diferensial orde dua dimana r sebagai peubah tak bebas dan 2 dt dt t merupakan peubah bebas. Notasi persamaan diferensial bisa dalam beberapa bentuk, antara lain notasi pada contoh kedua, selain diatas dapat pula ditulis sebagai berikut : rtt + 2rt + 1 = 0 r ” + 2r’ +1 = 0 atau Persamaan diferensial dikatakan linear, apabila persamaan diferensial tersebut mempunyai peubah tak bebas maupun turunannya bersifat linear. Definisi solusi suatu persamaan diferensial : Misal ada suatu persamaan diferensial dimana y sebagai peubah tak bebas yang bergantung pada peubah bebas x. Suatu fungsi f(x) disubstitusikan untuk y dalam persamaan diferensial, persamaan yang dihasilkan merupakan suatu kesamaan untuk setiap x dalam suatu selang, maka f(x) dinamakan solusi persamaan diferensial tersebut. Contoh : Diketahui persamaan diferensial y’ + 2 sinx = 0 f(x) = 2 cos x + C merupakan solusi persamaan diferensial diatas, dimana C adalah konstanta yang bergantung pada syarat awal persamaan diferensial tersebut. 1.1 Persamaan Diferensial Orde Satu Bentuk umum persamaan diferensial orde satu adalah:
dy f ( x) = dx g ( y )

Beberapa metode untuk menyelesaikan persamaan diferensial orde satu, antara lain : a. Peubah Terpisah Bentuk umum :
dy f ( x) = dx g ( y )

atau

dy g ( y ) = dx f ( x)

Cara penyelesaian dengan integral biasa dari kedua ruas di bawah ini :
ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM

2 KALKULUS II

Contoh :

∫ g ( y)dy = ∫ f ( x)dx
Tentukan solusi umum dari persamaan diferensial
dy y = dx 1 + x

Penyelesaian :
dy y = dx 1 + x ⇒ ⇒ ⇒ dy dx = y 1+ x ln y = ln(1 + x) + C y = C (1 + x)

b. Faktor Integrasi Bentuk umum merupakan persamaan diferensial linear, yaitu : y’ + p(x) y = q(x) Solusi persamaan diferensial diatas adalah : p ( x ) dx 1 y= u ( x)q ( x)dx + C dimana u ( x) = e ∫
u ( x)

Bukti : Kalikan persamaan diferensial (*) dengan u(x) sehingga menjadi : u(x) y’ + u(x) p(x) y = u(x) q(x) u(x) y’ + u’(x) y - [ u’(x) y - u(x) p(x) y ] = u(x) q(x) Ambil u’(x) y - u(x) p(x) y = 0 Sehingga u(x) y’ + u’(x) y = u(x) q(x) [ u(x) y ]’ = u(x) q(x)
y= 1 u ( x)q ( x)dx + C u ( x)

(**)

Dari (**) kita mempunyai u’(x) y - u(x) p(x) y = 0 Dengan metode peubah terpisah diperoleh : Contoh : Tentukan solusi umum dari persamaan diferensial Penyelesaian : p(x) = 1/x
y= 1 dy y + = 2 dx x x u ( x) = e ∫
p ( x ) dx

ΘΘΘ

u(x) = exp ∫ dx = x

1 x

1 1 1 x 2 dx = ( ln x + C ) x x x

f(x, y) adalah fungsi homogen jika f(kx, ky) = kn f(x, y), untuk k ∈ skalar riil dan n merupakan orde dari fungsi tersebut. Beberapa persamaan diferensial orde satu tak linear yang dapat ditulis
dy S( x, y ) = dx T( x, y )

, dimana S,

T merupakan fungsi homogen berderajat sama maka solusi persamaan diferensial dapat dicari dengan menggunakan metode substitusi sehingga menjadi bentuk persamaan diferensial
ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM

di peroleh : u'x + u = x + ux x u ' x + u =1 + u 1 x ⇒ u = ln x + C u' = Maka y = x lnx + cx 1.y) = C secara implisit terhadap x.y) dari persamaan awal. y ) x y dy y = dx x Trayektori ortogonal akan memenuhi persamaan diferensial : Trayektori ortogonalnya adalah y = Cx ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . kita dapat mensubstitusi peubah tak bebas y dengan ux. y ) artinya solusi persamaan diferensial diatas merupakan trayektori ortogonal dari persamaan f(x. yaitu : y = ux dimana u = u(x). sehingga y’ = u’x + u.y) = − dy 1 =− dx Df ( x.y) Jika turunan pertama mengandung C (parameter) maka substitusikan C(x. Misal Df(x.3 KALKULUS II dengan peubah terpisah. sebagai berikut : Turunkan f(x.2 Trayektori Ortogonal Salah satu aplikasi dari persamaan diferensial orde satu adlaah menentukan trayektori ortogonal dari suatu fungsi persamaan.y)= C Contoh : Tentukan trayektori ortogonal dari keluarga kurva x2 + y2 = C Penyelesaian : Turunan implisit dari fungsi di atas adalah : 2x + 2y y‘ = 0 Sehingga Df(x. dimana u = u(x) Oleh karena itu y’ = u’ x + u Dengan mensubstitusi pada persamaan diferensial di atas ke persamaan diferensial.y)= C. Langkah-langkah menetikan trayektori ortogonal dari suatu keluarga kurva f(x. =− dx Df ( x. Contoh : Tentukan Solusi umum dari persamaan diferensial dy x + y = dx x Penyelesaian : Misal y = ux. Trayektori ortogonal dari suatu keluarga kurva adalah keluarga kurva yang memotong tegak lurus keluarga kurva tersebut. Misal. Trayektori Ortogonal akan memenuhi persamaan diferensial berikut : dy 1 .

4. dx dy 1 + ex + ex y . 5. 8. dx y (1) = 4 y (0) = 1 ) Tentukan trayektori ortogonal dari fungsi berikut : 9. 12. 2. x ( dy − 3y = x4 . dy = 1 + y2 dx dy x 2 + 3 xy + y 2 = dx x2 dy + 2 y = 6x dx dy y cos x = dx 1 + 2 y 2 x dy − 2 y = x 3e x dx dy y x − − =0 dx 2 x 2 y Tentukan solusi khusus dari persamaan diferensial orde satu berikut : 7. y = C e −2 x x2 − y2 = C y = C x2 x 2 + (y − c )2 = C 2 ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM .4 KALKULUS II Latihan Tentukan solusi umum dari persamaan diferensial orde satu berikut : 1. 6. 10. 3. 11.

sedangkan jika f(x) ≠ 0 maka dinamakan persamaan diferensial tak homogen. Contoh : ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . Misal u1 dan u2 adalah solusi persamaan diferensial orde dua dan wronskian (determinan wrosnki) dari keduanya didefinisikan oleh : W (u1. Tiga kemungkinan solusi umum persamaan diferensial orde dua : Persamaan karakteristik mempunyai 2 akar riil yang berbeda (r1 dan r2) maka solusi umumnya berbentuk : y ( x) = c1e r1 x + c2 e r2 x Persamaan karakteristik mempunyai 2 akar riil kembar (r1 = r2 = r) maka solusi umumnya berbentuk : y ( x) = c1e rx + c2 xe rx Persamaan karakteristik mempunyai 2 akar kompleks (r = p ± qi) maka solusi umumnya berbentuk : y ( x) = e px (c1 sin qx + c2 cos qx ) Tunjukan (sebagai latihan) bahwa untuk setiap kasus. u2)= u1 u2 u1 ' u2 ' Jika W ≠ 0 maka u1 dan u2 saling bebas linear artinya u1 dan u2 merupakan basis solusi. Maka Wronskian dari f(x) dan g(x) didefinisikan sebagai berikut : W (f(x ). Andai fungsi yang diberikan yaitu f(x) dan g(x) terdiferensialkan untuk setiap x ∈ ℜ. Misal diferensial orde dua maka dengan u ( x) = e rx solusi persamaan rx 2 mensubstitusikan pada persamaan diperoleh : e (r + ar + b) = 0 Oleh karena e rx ≠ 0 maka r2 + ar + b = 0 (dinamakan persamaan karakteristik) Solusi umum dari persamaan diferensial orde dua homogen bergantung pada akar persamaan karakteristik.1 Persamaan Diferensial Orde Dua Homogen Misalkan ada dua fungsi f(x) dan g(x).3 Persamaan Diferesial Orde Dua Bentuk umum persamaan diferensial orde dua : y” + a y’ + b y = f(x) Jika f(x) = 0 maka persamaan diferensial diatas disebut persamaan diferensial homogen. 1. Jika tidak demikian maka kedua fungsi tersebut dikatakan bergantung linier.5 KALKULUS II 1. yaitu : m f(x) + n g(x) = 0 untuk setiap x ∈ I hanya dipenuhi oleh m = n = 0. wronskian ≠ 0. g (x )) = f(x ) f' (x ) g (x ) g ' (x ) Keterkaitan antara kebebasan linier dan wronskian dari dua fungsi tersebut dapat dikatakan sebagai berikut : Dua fungsi f(x) dan g(x) dikatakan bebas linier pada I jika dan hanya jika wronskian dari kedua fungsi tersebut tidak sama dengan nol. sehingga kombinasi linear dari u1 dan u2 .3. dikatakan bebas linier pada interval I. yaitu y = c1u1 + c2u2 juga merupakan solusi dari persamaan diferensial orde dua. untuk suatu x ∈ I. jika persamaan yang merupakan kombinasi linier dari keduanya.

eksponensial sinus. dimana yh merupakan solusi homogen dan yp solusi pelengkap. Persamaan karakteristik yang sesuai adalah r2 + 9 = 0 r2 = – 9 r=3i mempunyai akar kompleks. yaitu : • Koefisien Tak Tentu • Variasi Parameter Metode Koefisien Tak Tentu Metode ini sangat berguna manakala fungsi f (x) berupa polinom. bn adalah konstanta riil. sedangkan untuk menentukan solusi pelengkap ada dua metode. y” + y’ – 2y = 0 b.3. A. yaitu : 1 dan -2 Sehingga solusi umumnya : y ( x) = c1e x + c2e −2 x b. Persamaan karakteristik yang sesuai adalah r2 + 4r + 4 = 0 (r – 2) 2 = 0 mempunyai dua akar real kembar. untuk memudahkan perhatikan tabel berikut : f (x) yp n n Cx bnx + …. Aturan 1 : Jika f (x) merupakan fungsi seperti pada kolom pertama. yaitu : 2 Sehingga solusi umumnya : y ( x) = c1e 2 x + c2 xe 2 x c. b0 . dan cosinus. Metode ini bisa dikatakan metode coba-coba.+ b1x + b0 Ceax Aeax Cxeax Aeax + Bxeax Csin ax A sin ax + Bcos ax Bcos ax A sin ax + Bcos ax Ket : C. b1 . Solusi homogen diperoleh dari persamaan diferensial orde dua homogen (ambil f(x) = 0). y” + 9y = 0 Penyelesaian : a. yaitu : 3i Sehingga solusi umumnya : y ( x) = c1 sin 3x + c2 cos 3x 1. Persamaan karakteristik yang sesuai adalah r2 + r – 2 = 0 (r – 1) (r + 2) = 0 mempunyai dua akar real berbeda. y” + 4y‘ + 4y = 0 c.6 KALKULUS II Tentukan solusi umum persamaan diferensial berikut : a.2 Persamaan Diferensial Orde Dua Tak Homogen Bentuk umum persamaan diferensial orde dua : y” + a y’ + b y = f(x) Solusi umum dari persamaan diferensial orde dua tak homogen adalah y = yh + yp. a. B. pilih yp dari kolom kedua yang bersesuaian (terletak pada baris yang sama) ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . ….

bisa berupa perkalian atau pembagian dari fungsi-fungsi tersebut. Aturan 3 : Jika f (x) penjumlahan dari fungsi dalam kolom satu maka pilih yp sebagai penjumlahan dari baris-baris yang bersesuaian. Contoh : Tentukan solusi umum persamaan diferensial berikut : dy d2y −3 − 4 y = 2 sin x 2 dx dx Penyelesaian : Kita mempunyai solusi umum homogen yh = c1e − x + c2 e 4 x Untuk menentukan solusi pelengkap. kita pilih : yp = Asinx + B cosx Substitusikan ke persamaan diferensial. Solusi pelengkap dari persamaan diferensial dengan menggunakan metode variasi parameter adalah : yp = v1u1 + v2u2 dimana u1. metode ini dapat digunakan dalam menentukan solusinya. Setelah memilih yp yang diinginkan. sedangkan v1 = ∫ [u u '−u u ']dx 1 2 2 1 −u 2 f ( x) dan v2 = ∫ [u u '−u u ']dx 1 2 2 1 u1 f ( x) Bukti : Misal yp = v1u1 + v2u2 solusi persamaan diferensial. artinya jika kondisi persamaan diferensial seperti di atas. sehingga diperoleh : (– A + 3B – 4A) sinx + (– B – 3A – 4B) cosx = 2 sinx Maka ada dua persamaan yaitu : – 5A + 3B = 2 – 5B – 3A = 0 Oleh karena itu A = – 5/17 dan B = 3/17 Solusi umum dari persamaan diferensial diatas adalah : 5 3 y ( x) = c1e − x + c2 e 4 x − sin x + cos x 17 17 Metode Variasi Parameter Metode ini lebih umum dari metode sebelumnya. u2 merupakan solusi homogen yang bebas linear. Jika f (x) tidak sama dengan fungsi-fungsi pada kolom pertama tabel maupun penjumlahannya. dengan mensubstitusikan yp tersebut pada persamaan diferensial. kondisi ini mendorong kita untuk menggunakan metode variasi parameter. Substitusikan sehingga diperoleh: v1’u1’ + v2’u2’ + v1u1” + v2u2” + a (v1’u1 + v2’u2 + v1u1’+ v2u2’) + b(v1u1+ v2u2)= f (x) ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . kita berusaha menetukan koefisien yang yp. sehingga diperoleh solusi umum dari persamaan diferensial tersebut yaitu penjumlahan dari solusi homogen (yh) dengan solusi pelengkap (yp).7 KALKULUS II Aturan 2 : Jika f (x) sama dengan salah satu dari solusi homogen maka kalikan yp dengan x atau dengan x2 jika f (x) sama dengan salah satu dari solusi homogen yang berasal dari dua akar kembar.

u2 merupakan solusi homogen. oleh karena itu : v1’u1’ + v2’u2’ + a (v1’u1 + v2’u2) = f (x) Ambil v1’u1 + v2’u2 = 0. kita menghitung wronskian terlebih dahulu. u2 merupakan solusi homogen yang bebas linear maka W (u1. u 2 ) = cos sin x − sin x cos x = cos2 x + sin 2 x =1 oleh karena itu v1 = Sehingga yp = cosx ln |cosx| + x sinx Maka solusi umum persamaan diferensial di atas adalah : y ( x) = c1 sin x + c2 cos x + cos x ln cos x + x sin x ∫ − sin x sec x dx = ln cos x 1 dan v2 = ∫ cos x sec x dx = x 1 ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . yaitu : v1’u1 + v2’u2 = 0 v1’u1’ + v2’u2’ = f (x) Dapat ditulis dalam bentuk perkalian matriks berikut :  u1 u 2   v1 '   0    =  u1 ' u 2 ' v2 '  f ( x) Dengan aturan Cramer diperoleh : 0 v1 ' = u1 u2 u2 dan v2 ' = u1 u1 ' u1 0 f ( x) u2 f ( x) u 2 ' u1 ' u 2 ' u1 ' u 2 ' Dengan jaminan bahwa u1. u2)= u1 u2 ≠0 u1 ' u2 ' ΘΘΘ Contoh : Tentukan solusi umum persamaan diferensial y “ + y = sec x Penyelesaian : Kita mempunyai solusi umum homogen y h = c1 sin x + c2 cos x Untuk menentukan solusi pelengkap. yaitu : W ( u1 .8 KALKULUS II v1’u1’ + v2’u2’ + a (v1’u1 + v2’u2) + v1u1” + v2u2” + a(v1u1’+ v2u2’) + b(v1u1+ v2u2)= f (x) v1’u1’ + v2’u2’ + a (v1’u1 + v2’u2) + v1(u1” + au1’+ bu1) + v2 (u2” + au2’ + bu2)= f (x) u1. sehingga v1’u1’ + v2’u2’ = f (x) Dengan memperhatikan dua persamaan terakhir.

y ” + 2y’ + y = 2e-x 3. y(1) = 0 dan y’(1) =-e-1 8. y ” + 4y = 3sin2x . y ” + 2y’ = 3 + 4 sin2x 5. y(0) = 2 dan y’(0) = -1 2. y ” + 2y’ + y = e-x cosx 7. y “ + 2y’ + y = 4e-x ln x . y “ + 9y = sinx + e2x 4. y ” + 4y’ + 4y = x-2 e-2x ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM .9 KALKULUS II Latihan Tentukan solusi umum (khusus) persamaan diferensial berikut : 1. y ” + y = csc x 6.

berupa lingkaran Jejak di bidang YOZ. = 1. mempunyai bentuk umum : a>0 x2 + y2 + z2 = a2 Jejak di bidang XOY. Bola. c > 0 x2 a2 x2 a2 y2 b2 + + + y2 b2 z2 c2 z2 c2 = 1. antara lain : a. mempunyai bentuk umum : x2 a2 + y2 b2 + z2 c2 =1 a. Jejak di bidang XOY. berupa lingkaran Z y x b. x = 0 y 2 + z 2 = a 2 . Elipsoida.11 KALKULUS II BAB II FUNGSI DUA PEUBAH 2. berupa lingkaran Jejak di bidang XOZ. b. z = 0 Jejak di bidang XOZ. y = 0 Jejak di bidang YOZ. x = 0 Z berupa ellips berupa ellips berupa ellips y x ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . z = 0 x 2 + y 2 = a 2 . Berikut beberapa fungsi permukaan di ruang. = 1. y = 0 x 2 + z 2 = a 2 . terlebih dahulu kita mengenal permukaan di ruang dan cara membuat sketsa suatu permukaan di ruang (R3).1 Bentuk Permukaan di Ruang Sebelum belajar tentang fungsi dua peubah.

b. = 1. berupa ellips Z y x ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM .12 KALKULUS II c. Hiperboloida berdaun satu . Jejak di bidang XOY.a .a atau x ≥ a x2 a 2 Jejak di bidang XOY. berupa hiperbol berupa hiperbol x2 a2 Jejak di bidang. mempunyai bentuk umum : x2 a y2 b 2 2 − x2 a2 y2 b 2 − z2 c2 =1 a. y = 0 − − y2 b2 z2 c2 = 1. x = 0 Z berupa ellips berupa hiperbol berupa hiperbol y x d. z = 0 Jejak di bidang XOZ. k > a atau k < . Hiperboloida berdaun dua. c > 0 x2 a2 x2 a2 y2 b2 + − − y2 b2 z2 c2 z2 c2 = 1. x = k (konstanta). mempunyai bentuk umum : x2 a2 + y2 b2 − z2 c2 =1 a. c > 0 + z2 c 2 = −1 maka terdefinisi saat x ≤ . b. y = 0 Jejak di bidang YOZ. = 1. z = 0 Jejak di bidang XOZ. = 1.

berupa ellips Jejak di bidang XOZ. berupa parabol . Paraboloida eliptik . c > 0 Cara membuat sketsa di ruang. x = 0 Sehingga sketsa dari paraboloida hiperbolik. y = 0 Jejak di bidang YOZ. dengan menelusuri setiap jejak di bidang yaitu : Jejak di bidang XOY. berupa parabol 2 c a y2 z = . b. mempunyai bentuk umum : x2 a 2 + y2 b 2 = z c a. b. y = 0 − y2 x2 − = 0 . x = 0 Z x2 a 2 = z c z c . berupa garis b2 a2 berupa hiperbol x2 z = . berupa parabol y2 b 2 = y x f. c > 0 Cara membuat sketsa di ruang. z = 0 Jika z = konstanta Jejak di bidang XOZ. dengan menelusuri setiap jejak di bidang yaitu : Jejak di bidang z = k (konstanta positif). Paraboloida hiperbolik. berupa parabol 2 c b Jejak di bidang YOZ. adalah ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . mempunyai bentuk umum : y2 x2 z − 2 = 2 c b a a.13 KALKULUS II e.

y = 0 Jejak di bidang YOZ. berupa garis . x = 0 Z x2 a 2 . berupa garis y2 b 2 = y x 2. z = k (konstanta) ≠ 0 Jejak di bidang XOZ.14 KALKULUS II Z y x g. c > 0 x2 a2 + y2 b2 = k2 c2 Jejak di bidang XOY. b. mempunyai bentuk umum : x2 a 2 + y2 b 2 = z2 c2 a. Aturan fungsi f dapat ditulis sebagai ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM .2 Daerah Definisi dan Kurva Ketinggian Fungsi Dua Peubah Definisi fungsi dua peubah : Misal A ⊆ R2. suatu fungsi f : A R adalah suatu aturan yang memasangkan setiap unsur di A dengan tepat satu unsur di R. berupa ellips = z2 c2 z2 c2 . Kerucut.

y ) = ln(2 + x) y −1 Penyelesaian : Syarat f(x. y) | x > -2 dan y > 1.1) ≥ 0. Contoh : Tentukan dan gambarkan kurva ketinggian dari fungsi f(x. 4 ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . y). Contoh : Tentukan dan gambarkan daerah definisi fungsi : f ( x.y) terdefinisi : • ln (2 + x) terdifinisi jika (2 + x) > 0 .y) = x2 + y2 untuk z = 0.15 KALKULUS II z = f(x. 1. x. sedangkan daerah hasil fungsi f = Rf = {z ∈ R | z = f(x. oleh karena itu y > 1 Sehingga daerah definisi (Df) dari fungsi diatas adalah : Df = { (x. tapi karena penyebut tidak boleh sama dengan nol maka (y . y ∈ℜ} Sketsa daerah definisi pada kartesius adalah : y Df y=1 x x=2 Kurva ketinggian dari suatu fungsi f(x.y) adalah proyeksi dari perpotongan permukaan f(x.y) merupakan daerah pada bidang XOY sehingga fungsi tersebut akan terdefinisi.y) dengan bidang z = k (konstanta) pada bidang XOY.2 • y −1 tedefinisi jika (y .y). Dalam kasus ini daerah definisi f adalah A. y ∈ A} Derah definisi fungsi dua peubah f (x.1) ≥ 0. oleh karena itu x > . x.

z = f ( x.y). 2. untuk z = -2. y ) = 1 − x 2 − y 2 f ( x. z = f ( x. y ) = Tentukan dan gambarkan kurva ketinggian dari fungsi berikut : 4. 1. denganmengambil nilai y = b (konstanta) maka fungsi menjadi f(x.16 KALKULUS II Penyelesaian : z=0 z=1 z=4 0 = x2 + y2 . 3. y ) = x+ y x−y . -1. 1. b). 0. 0) 1 = x2 + y2 . y ) = x2 y . untuk z = -4. kurva ketinggian berupa lingkaran dengan jari-jari dua y z=1 z=0 z=4 x Latihan : Tentukan dan gambarkan daerah definisi fungsi berikut : 1. 3 5. 2. z = f ( x. kurva ketinggian berupa titik di (0. -1. y ) = x 1− y xy 2 x2 − y2 f ( x. ini dapat dipandang sebagai fungsi satu peubah x. 2 6. untuk z = 0. Seperti pada ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . 0. 0. f ( x. 1. y ) = x + y 2 . kurva ketinggian berupa lingkaran dengan jari-jari satu 4 = x2 + y2 .4 Turunan Parsial Diketahui fungsi dua peubah f(x. 4 2.

b) merupakan gradien garis singgung terhadap kurva s pada titik (a.y) di titik (a. y) = 4xy + 6xy3 ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM .b) terhadap x dapat ditulis : ∂f ( x . turunan parsial diatas dapat diartikan sebagai berikut : Perpotongan bidang y = b dengan fungsi permukaan f(x. Dengan menggunakan limit.y) terhadap peubah y. Secara geometris.b)) dalam arah sejajar sumbu x. kedua. b) = = lim h→ 0 ∂x dx h asalkan limitnya ada. b. b) Secara analog dengan cara di atas.y) berupa sebuah kura (lengkungan s) pada permukaan tersebut. Contoh : Tentukan turunan parsial pertama. turunan parsial fungsi f(x.17 KALKULUS II kalkulus fungsi satu peubah. b) − f ( x. b ) dg ( x) f ( x + h). kita dapat mendefinisikan fungsi satu turunan dari z = g(x) = f(x. yaitu g’(x). Z s y (a.b) x Notasi dari turunan parsial di atas adalah ∂f (a. b) ∂x atau f x ( a.y) = 2x2y + 3x2y3 Penyelesaian : fx (x. kita dapat memperoleh turunan parsial f(x. b). f(a. dan campuran terhadap masing-masing peubah fungsi f(x. Turunan parsial fungsi f(x.

y) =2x2 + xy – y2 di titik (3. b) Misal p adalah proyeksi dari suatu titik di permukaan f pada bidang XOY. – 2) dalam arah vector a = iˆ − ˆ ! j ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . b ) = df (a. 2. Dengan demikian dapat ditulis : Du f ( p ) = ∇ f ( p) • u atau D u f(a. b) maka ∇ f ( a. b) pada arah vector satuan u = u1i + u2j adalah hasilkali titik antara vector gradien dengan vector satuan tersebut. y) = 4x + 18x y2 fxy = fyx fxy dan fyx dinamakan turunan parsial campuran. b) ˆ i+ j dx dx disebut vektor gradien dari f di titik (a. Untuk setiap vektor satuan u .18 KALKULUS II fy (x. f(x. kedua. dan campuran dari fungsi berikut : 1. b)u2 Contoh : Tentukan turunan berarah dari f(x. b) ˆ df (a. y) = 4x + 18x y2 . Latihan : Tentukan turunan parsial pertama. y) = e– xy f(x. maka turunan berarah di (a. fyx (x. Andaikan f dapat didiferensialkan di (a. y) = y cos (x2 + y2) 2. y) = 2x2 + 9x2y2 fxx (x. b)u1 + fy (a. y) = 4y + 6y3 fyy (x. andaikan Du f ( p ) = lim h→ 0 f ( p + hu ) − f ( p ) h limit ini ada. b) = fx (a. b). y) = 18 x2y fxy (x.5 Vektor Gradien dan Turunan Berarah Jika f fungsi dua peubah yang dapat didiferensialkan di p =(a. maka D u f(p) disebut turunan berarah f di titik p pada arah u .

3) adalah : ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . c) (x – a) + Fy(a. z) = 2 x ˆ + 2 y ˆ + 4z k i j dan ˆ ∇ f (1. c) ≠ 0 . b. b.z) = 23 sehingga ˆ ∇ f ( x . y) = 4x + y fy (x. c) (z – c) = 0 Jika permukaan z = f(x.2. y ) = (4 x + y )i + ( x − 2 y ) ˆ j ˆ sehingga ∇ f (3. 2. z) = k. b. b) = Fx(a. b.19 KALKULUS II Penyelesaian fx (x. c) (y – b) + Fz (a. y. b. b) (x – a) + Fy(a. i j adalah : Maka persamaan bidang singgung di titik (1. 3) ! Penyelesaian : Andaikan F(x. F(a.3) 2( x – 1 ) + 4 ( y – 2 ) + 12( z – 3 ) = 0 Sedangkan persamaan simetri dari garis normal yang melalui (1. y) maka persamaan bidang singgung di (a. b) (y – b) Contoh : Tentukan persaman bidang singgung dan garis normal terhadap permukaan : x 2 + y 2 + 2z 2 = 23 di titik (1. y. b.3) = 2ˆ + 4ˆ + 12k . Maka bidang yang melalui P yang tegak lurus ∇ f (a. z) = k (konstanta) merupakan suatu permukaan dan misalkan dapat didiferensialkan di sebuah titik P(a.−2) • u = 2. b.6 Bidang Singgung Definisi bidang singgung : Andai F(x. Untuk permukaan F(x. c) adalah : Fx(a. y) = x – 2y oleh karena itu : ˆ ∇ f ( x.−2) = 10i + 7 ˆ j fx (3. 2. b.2. b)) adalah : z – F(a. y.y. – 2) = 10 fy (3. – 2) = 7 sedangkan u = a 1 ˆ 1 ˆ = i− j a 2 2 10 2 − 7 2 = 3 2 Maka Du f (3.−2) = ∇ f (3. c) dari permukaan dengan ∇f (a. persamaan bidang singgung di titik (a. c) dinamakan bidang singgung.

kedua. y) = fx (x. y). didefinisikan oleh : dz = df (x. y) jika ∇f = 0 atau tidak mempunyai turunan parsial untuk setiap peubah bebasnya. y)). 3y cos 2 x di titik P(π/3. π/3) dalam arah menuju ke titik asal ! 5. f(x. y) dy Latihan : Tentukan turunan parsial pertama.y) = e − x cos y di titik P( 0. dengan f suatu fungsi yang dapat didiferensialkan. f(x. f(x. Titik (a.y) = y cos( x 2 + y 2 ) f(x. 3.y) = ln ( x + y) ( x − y) Tentukan 4. b) disebut titik kritis dari fungsi f(x.7 Nilai Ekstrim Definisi titik kritis : Misal (a.y) = 2 x 2 + xy − y 2 di titik P(3. y).y) = e 2. dan campuran dari fungsi berikut : − xy 1. Difenesial total dari peubah tak bebas (dz) disebut juga diferensial total f (df (x. dan andaikan dx dan dy (disebut diferensial dari x dan y) berupa peubah. Tentukan persamaan bidang simggung permukaan z = 2 e 1) ! 2. - ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . – 2 ) dalam arah vektor yang membentuk sudut 300 dengan arah sumbu – x positif ! 6. b) suatu titik pada daerah asal f(x. y) dx + fy (x. 0. f(x.20 KALKULUS II x −1 y − 2 z − 3 = = 2 4 12 Andaikan z = f(x.

Jenis titik kritis. Contoh : ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . dan D = fxx(a. antara lain : • • • Titik batas Titik stasioner Titik singular Misal (a.b)) disebut nilai minimum global jika f(a. b) ≥ f(x. b) ∂f (a. titik kritis yang demikian disebut titik kritis trivial. y) dimana S merupakan daerah definisinya. Diketahui f(x.[fxy(a. y) fungsi dua peubah yang mempunyai turunan kedua kontinu di suatu lingkungan dari (a. y) = 0 Dengan kata lain : ∂f (a.b) disebut nilai maksimum global jika f(a. b) merupakan nilai maksimum atau nilai minimum maka f(a. y). y di S.b) . pengujian gagal.21 KALKULUS II Jadi fungsi f(x. y) untuk setiap x. f(a. y) yang mempunyai turunan parsial. y) maka (a. y) untuk setiap x.b)]2 Maka : Jika D > 0 dan fxx > 0 maka f(a.b)fyy(a. b) merupakan nilai maksimum Jika D < 0 maka titik (a. b) dinamakan nilai ekstrim pada S. f(a.b)) merupakan titik pelana (sadel) Jika D = 0.b. Misal (a. Definisi yang sama berlaku dengan kata global digantikan oleh kata lokal jika pertidaksamaan di atas hanya berlaku pada suatu hmpunan bagian S. y) adalah sejajar dengan bidang XOY. b) ≤ f(x. b) dinamakan titik stasioner jika ρ ρ dan hanya jika ∇f ( x . Jika f(a.b) merupakan titik kritis dari f(x. b). pada titik kritis. y di S f(a. b) suatu titik pada daerah asal f(x. bidang singgung terhadap f (x. b) merupakan nilai minimum fxx < 0 maka f(a. b) =0 = 0 dan ∂y ∂x Definisi nilai maksimum dan nilai minimum : Diketahui fungsi dua peubah f(x.

0) Untuk ( ½ . 0) = 4 > 0 fxx (– ½ . 0) Untuk ( – ½ . serta fxy(x. ( ½ .y) = 2x 4 − x 2 + 3y 2 ! Penyelesaian : Turunan parsial dari fungsi tersebut adalah : fx (x. 0) = f (– ½ . – 1/8) dan (– ½ . y) = 6. 0) merupakan titik pelana (sadel). y) = 0 . fyy (x. 0) D = – 12 < 0 D = 24 > 0 dan D = 24 > 0 dan fxx ( ½ .y) = x 3 − 3xy + 1 2 y 2 ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . 4.y) = xy + 2 2 + x y 3. sehingga titik kritis dari fungsi tersebut adalah : (0. 0. nilai ekstrim dan jenisnya (jika ada) dari fungsi berikut : 1. 0. Sedangkan (0. y) = 8x – 2x Sedangkan 3 dan fy (x. 0). y) = 6y 2 fxx (x. – 1/8). Latihan : Tentukan titik kritis. maka titik kritisnya merupakan titik ρ ρ stasioner yang memenuhi ∇f ( x . 0) Untuk (0. y) = 0 Karena fungsi di atas merupakan fungsi polinom yang berarti bahwa terdiferensialkan di daerah definisinya. sehingga titik minimumnya adalah ( ½ . dan ( – ½ . −  x 2 + y2 − 4y     f(x. y) = 24x – 2. 0). 0) = – 1/8 merupakan minimum lokal. f(x.y) = xy 2 − 6 x 2 − 3y 2 f(x. 2. 0) = 4 > 0 Jadi nilai ekstrim untuk fungsi di atas adalah : f ( ½ .22 KALKULUS II Tentukan nilai ekstrim dan jenisnya dari fungsi f(x.y) = e  f(x. 0.

23 KALKULUS II ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM .

Daerah asal {t | t ∈ D Contoh : Misal f1 F (t) maka D F = {t | t ∈ D ∩ D f2 } merupakan fungsi vektor. masing-masing merupakan vektor satuan untuk arah x. –½ Tentukan daerah asal dari fungsi F (t) =ln |1– t | i + (t–5) Penyelesaian : f1 = ln |t – 1 | f2 = ( t – 5) – ½ j D f = { t | t > 1. maka daerah asal F (t) = D F = di ruang untuk F (t) di bidang. t ∈ ℜ} 1 D f 2 = { t | t > 5. y. f2(t). D f 2 . Contoh : F (t) = 3 cos t i + 2 sin t j.1 Daerah Definisi dan Grafik Definisi fungsi vektor : Fungsi vektor merupakan aturan yang mengkaitkan daerah asal himpunan riil dengan daerah hasil yang berupa vektor (R2 atau R3) Notasi : F (t) = f1(t) i + f2(t) j F (t) fungsi vektor di bidang fungsi vektor di ruang = f1(t) i + f2(t) j + f3(t) k dimana i. D f 3 merupakan 1 daerah asal untuk masing-masing fungsi parameter. t ∈ ℜ} Maka D F = { t | t > 5. untuk 0 < t < π ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . f3(t) merupakan fungsi parameter yang bernilai riil. sedangkan untuk F (t) f1 ∩ D f 2 ∩ D f3 } . dan z. j.22 KALKULUS II BAB III FUNGSI VEKTOR 3. sedangkan f1(t). k. dimana D f . t ∈ ℜ} Grafik Fungsi Grafik dari fungsi vektor adalah berupa lengkungan di R2(3) yang mempunyai arah tertentu.

2 Limit. fungsi vektor di bidang. F (t) dikatakan mempunyai limit di c jika dan hanya jika f1(t) mempunyai limit di c dan f2(t) mempunyai limit di c. ˆ f (t ) = (t + 1) i + t 2 − 2t ˆ . untuk 0 ≤ t ≤ 2 3. r (t ) = 1 ˆ i+ 4+t ˆ j t−2 1 ˆ ˆ g (t ) = t 2 − 1 i + j t−2 Gambarkan grafik dari fungsi vektor berikut : 3. Kekontinuan dan Turunan Fungsi Vektor Misal F (t) = f1(t) i + f2(t) j. untuk -1 ≤ t ≤ 2 j r (t ) = t ˆ i + 4 − t2 ˆ j 2 ( ) . 2.23 KALKULUS II Penyelesaian : x = 3 cos t dan y = 2 sin t maka cos t = x/3 dan sin t = y/2 kita tahu bahwa : cos2 t + sin2 t = 1 oleh karena itu grafik fungsi F (t) adalah berupa ellips : x2 32 + y2 22 =1 dimana saat t = 0 saat t = π x = 3 dan y = 0 x = – 3 dan y = 0 ini merupakan titik pangkal dan ujung dari lengkungan (kurva) tersebut sehingga grafiknya sebagai berikut : y 2 –3 3 x Latihan : Tentukan daerah asal dari fungsi vektor berikut : 1. sehingga berlaku : ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . 4.

Contoh : Tentukan turunan pertama dan kedua fungsi F (t) = (t2 + t) i + e j Penyelesaian : F ’(t) = (2t F ”(t) = 2 i t + 1) i + e j +e j t t 3. yaitu F (t) kontinu di c apabila lim F (t ) = F (c) . r’(t) ada dan kontinu s dari P(a) ke P(t) diberikan oleh : s= dan r’(t) ≠ 0 (sehingga disebut kurva mulus). untuk a ≤ t ≤ b merupakan vektor Misal posisi untuk titik P = P(t) yang menyusuri kurva selama t bertambah besar. kita dapat mendefinisikan kecepatan. Dengan demikian. kita dapat mendefinisikan turunan dari fungsi vektor sebagai berikut : dF (t ) F (t + h) − F (t ) = lim h→ 0 dt h ( f1 (t + h) + f 2 (t + h) ) − ( f1 (t ) + f 2 (t )) = lim h→ 0 h df1 (t ) df 2 (t ) = + dt dt Dengan cara yang sama. laju dan percepatan.24 KALKULUS II t→ c   ˆ   j lim F (t ) =  lim f1 (t ) i +  lim f 2 (t ) ˆ t → c  t → c  Semua sifat limit berlaku untuk fungsi vektor.3 Kinematika Partikel Misalkan r(t) = x(t) i + y(t) j + z(t) k. yaitu : Kecepatan Laju Percepatan Contoh : ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM : v(t) = r ’(t) : ds/dt = | r ’(t) | = | v(t) | : a(t) = r “ (t) . kita dapat medefinisikan untuk fungsi vektor di ruang (R3). Panjang bususr ∫ a t dr du = du ∫ a t  dx   dy   dz    +   +   du  du   du   du  2 2 2 Jika t mengukur waktu. t→ c Demikian pula dalam hal kekontinuan.

kontinu dan tidak pernah nol pada selang [a. Andaikan r‘ (t) ada. r (t) = e –t i + e t j . maka | v(t) | > 0. Maka apabila t bertambah nilainya. 5. P akan bergerak sepanjang sebuah kurva mulus. r (t) = (2t + 3)2 i – e2t j r (t) = cos 2t i – sin3 t j Tentukan vektor kecepatan. 6. sehingga s mempunyai fungsi invers. laju dan vektor percepatan dari vektor posisi (t) = 3t i + t j . saat t = 2 Penyelesaian : Kecepatan = v (t) = r ‘ (t) = 6 t i + 3t2 j v (t=2) = 12 i + 12 j ½ 2 3 r Laju = ds/dt = | r ’(t) | = | v(t) | = (122+122) Percepatan = a (t) = v’ (t) = 6 i + 6t j Latihan : = 12 2 a ( t = 2) = 6 i + 12 j Tentukan turunan pertama dan kedua dari fungsi vektor berikut : 1. T(t) adalah vektor singgung satuan di P(t). panjang lintasan s = h(t) dari P(a) ke P(t) ditentukan oleh : s = h(t ) = ∫ a t [f 1 ' (u )] + [f 2 ' (u )] 2 2 du = ∫ r ' (u ) du a t Oleh karena r‘ (t) ≠ 0. didefinisikan sebagai : ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . untuk t1 = 2 3. untuk t1 = 1 r (t) = 2 cos t i – 3 sin2 t j. laju dan vektor percepatan saat t = t1 dari vektor posisi berikut : 3. Dengan demikian s naik apabila t naik.4 Kelengkungan Diketahui vektor posisi r (t) = f1(t) i + f2(t) j untuk a ≤ t ≤ b dan titik P(t) pada bidang. b]. 4. untuk t1 = π /3 r (t) = cos t i – 2 tan t j . 2. untuk t1 = – π /4 r (t) = et/2 i + e –t j . yaitu : t = h–1(s) dan dt 1 1 = = ds ds v (t ) dt Misal.25 KALKULUS II Tentukan vektor kecepatan.

berlaku : κ= y" [1 + y ' ] 2 3 2 Contoh : Tentukan kelengkungan ellips x =3cos t.26 KALKULUS II r ' (t ) v (t ) = r ' (t ) v (t ) T (t ) = Apabila P(t) bergerak sepanjang kurva. jadi κ = | dT / ds |. Maka κ= [x ' x' y"− y ' x" 2 + y' 2 ] 3 2 Khusus untuk kurva dengan persamaan y = h(x). ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . Akhirnya kita definisikan kelengkungan κ (kappa) di P ditentukan sebagai besaran dT / ds. Dengan demikian vektor kelengkungan dapat ditulis : dT dT dt T ' (t ) = = ds dt ds v (t ) sedangkan kelengkungannya adalah : κ= T ' (t ) dT = ds v (t ) Andaikan x = f(t) dan y = g(t) adalah persamaan parameter kurva mulus. yaitu : dT / ds dinamakan vektor kelengkungan di P. Perbandingan perubahan T terhadap panjang busur s. vektor satuan T(t) merubah arahnya. y = 2sin t pada titik t = 0 dan t = π/2 ! Penyelesaian : x ‘ (t) = –3 sin t y ‘ (t) = 2 cos t κ = κ (t ) = x “ (t) = –3 cos t y “ (t) = –2 sin t [x ' x' y"− y ' x" 2 + y' 2 ] 3 = 2 6 sin 2 t + 6 cos 2 t [9 sin 2 t + 4 cos 2 t ] 3 = 2 [5 sin 6 2 t+4 ] 3 2 Sehingga κ (0) = ¾ dan κ (π/2) = 2/9 Terlihat bahwa κ (0) > κ (π/2). cocok dengan kenyataan.

– 1) 5. 0) 6. (1. y = ex – x . 1) 7. (– 3 . t1 = ½ r (t) = 4cos t i + 3 sin t j . y = cos ½ x .27 KALKULUS II Latihan : Tentukan vektor singgung satuan dan kelengkungan saat t = t1 dari vektor posisi berikut : 1. 2. r (t) = 4t2 i + 4t j . (0. 1) ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . t1 = π/2 Tentukan kelengkungan di titik yang diberikan dari fungsi berikut : 4. (0. y2 = x + 4 . y = ln x . t1 = π/4 r (t) = e t sin t i + e t cos t j . 3.

Definisi integral lipat dua : Misalkan f suatu fungsi dua peubah yang terdefinisi pada suatu persegi panjang tertutup R. Jika lim Lebih lanjut oleh : P →0 n ∑ f ( x . y)dA 2 R R dimana c1 dan c2 adalah konstanta. y )∆A k k k =1 k ada. … n jika R dibagi menjadi n buah persegi panjang kecil. kita katakan f dapat diintegralkan pada R. y )∆A k k k =1 n k Sifat Integral lipat dua: • Linear. y )dA = lim P →0 ∑ f ( x . y )dA = ∫∫ R1 f ( x. dengan luas berukuran ∆Ak = xk yk untuk setiap k = 1. 2. y)dA + c ∫∫ g ( x. y)dA R R ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . ( x k .y) ≤ g(x. Misal. y)dA . R yang disebut integral lipat dua f pada R diberikan ∫∫ R f ( x. yaitu : R = {(x. yaitu : ∫∫ [c R 1 f ( x.1 Integral Lipat Dua Misalkan R merupakan suatu persegi panjang tertutup. y)dA ≤ ∫∫ g ( x. y k ) adalah sembarang titik di dalam persegi panjang kecil ke-k. 3. y) : a ≤ x ≤ b. c ≤ y ≤ d} Bentuk partisi P dari R yang berupa persegi panjang kecil.y) di R maka ∫∫ f ( x.y) untuk setiap (x.28 KALKULUS II BAB IV INTEGRAL LIPAT 3. y )dA + ∫∫ R2 R1 f ( x. y )]dA = c1 ∫∫ f ( x. • Jika daerah R merupakan gabungan dari dua daerah (R1 dan R2) dengan batas pada suatu ruas garis maka : ∫∫ R f ( x. y ) + c2 g ( x. ∫∫ f ( x. kita dapat mendefinisikan integral lipat dua dengan menggunakan Jumlah Riemann. y )dA R2 • Jika f(x. maka seperti halnya pengertian integral terdahulu.

y) dy dx R c a a c Contoh : Hitung integral lipat dua berikut ini : ∫∫ (x R 2 + 2 y 2 dA ) dimana R = {(x. 0 ≤ y ≤ 4} Penyelesaian : 4 6 ∫∫ (x R 2 + 2 y 2 )dA = ∫ ∫ (x 0 0 b 2 + 2 y 2 ) dx dy x =6  x3 = ∫  + 2y2x  3 a  b dy x =0 = ∫ (72 + 12 y ) dy 2 a = 544 Jika R (daerah integrasi) berupa persegi panjang. yaitu : R = {(x. perubahan urutan pengintegralan tidak berpengaruh. y) dA = ∫ ∫ f ( x. Misalkan R merupakan daerah persegi panjang. y) dx dy = ∫∫ f ( x. Untuk lebih jelanya. c ≤ y ≤ d} maka integral lipat dua dari fungsi f(x.1.1 Integral Lipat Dua pada Koordinat Kartesius Integral lipat dua atas daerah R dapat dihitung dengan dua integrasi (dalam integral biasa) secara berturut-turut. urutan pengintegralan harus benar-benar diperhatikan.29 KALKULUS II 3.y) pada daerah R adalah: d b b d ∫∫ f ( x.y) | 0 ≤ x ≤ 6. perhatikan dua kasus berikut dalam hal perhitungan integralnya. Jika daerah integrasi R merupakan sembarang (bukan daerah persegi panjang) ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Tinjau 2 kasus berikut : ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . tetapi jika daerah R bukan persegi panjang.y) | a ≤ x ≤ b.

y) | r(y) ≤ x ≤ s(y) . y)dA = ∫ ∫ f ( x. Tetapi dalam tiap kasus. c ≤ y ≤ d } d D c r (y) s (y) x Integral lipat dua pada daerah D dapat dihitung sebagai berikut : ∫∫ D f ( x. y )dA = ∫ ∫ f ( x. p(x) ≤ y ≤ q(x) } y q(x) D p(x) a b x Integral lipat dua pada daerah D dapat dihitung sebagai berikut : ∫∫ f ( x.y) | 0 ≤ x ≤ y2. D = {(x. 0 ≤ y ≤ 1} ∫∫ R f ( x.30 KALKULUS II a. D = {(x.y) | a ≤ x ≤ b . kita seharusnya mengharapkan limit dari ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . y) dy dx D a p( x) b q( x) b. y) dx dy c r( y) d s( y) Contoh : Hitung Penyelesaian : ∫∫ (2 y e )dA x R dimana R = {(x. y ) dA = ∫∫ 0 0 2 1 y 2 y e x dx dy = 2 y e x 0 ∫ 1 y2 0 dy = e y d y 2 − 2 ydy = e − 2 0 ∫ 1 2 ( ) Urutan pengintegralan dalam integral lipat dua tergantung dari bentuk R (daerah integrasi).

y) y (r. 3. kardioid. dan yang paling kiri (luar) berupa konstanta.1. θ) (x. langkah pertama kita harus dapat menggambarkan daerah integrasi. dll.y) | 0 ≤ x ≤ 4 . selanjutnya kita dapat merubah urutan integrasi dengan mengacu pada sketsa daerah integrasi yang sama. kadangkala kita perlu merubah urutan pengintegralan. Transformasi peubah (x. Dalam perhitungannya. Contoh : Hitung Penyelesaian : Daerah integrasi dari integral lipat dua di atas adalah : y x 2 4 2 ∫ ∫e 0 x 2 y2 dy dx y= x D = {(x.2 Integral Lipat Dua dengan Koordinat Kutub (Polar) Dengan menjadikan daerah yang akan dihitung luasnya sebagai daerah integrasi (D) dan fungsi Andai daerah integrasi (D) mempunyai bentuk dasar lingkaran. maka untuk memudahkan dalam perhitungan integral lipat dua digunakan dalam koordinat polar. ½ x ≤ y ≤ 2 } dapat dirubah menjadi D = {(x. Oleh karena itu. dalam integralnya sama dengan satu.y) | 0 ≤ x ≤ 2y .31 KALKULUS II integral sebelah kanan berupa fungsi satu peubah. 0 ≤ y ≤ 2 }. sehingga integral di atas menjadi : 2 2y ∫∫ 0 x 2 4 2 e y dy dx = 2 ∫∫ 0 0 e y dx dy = 2 y e y dy = 0 2 ∫ 2 2 ∫ e d (y ) = e y2 2 0 2 4 −1 Integral lipat dua dapat dipakai untuk menghitung luas suatu daerah. Hal ini dapat disebabkan dengan perubahan urutan pengintegralan akan memudahkan dalam proses integrasinya. y) r θ ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM x .

θ ) r dr dθ D D* Contoh : Hitung −1 ∫ ∫ (x 0 1 1− x 2 2 + y2 ) 3 2 dy dx Penyelsaian : y 1 –1 1 2 x −1 ∫ ∫ (x 0 1 1− x 2 +y 2 ) 3 π 1 2 dy dx = = 0 0 π 1 ∫∫ (r ) 2 4 0 0 3 2 r dr dθ ∫∫ r dr dθ = π 5 ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . y) dy dx = ∫∫ f (r. θ) = ∂r ∂y ∂r cos θ = sin θ =r Sehingga integral lipat dua dalam koordinat kutub dapat ditulis : ∂x ∂θ ∂y ∂θ − r sin θ − r cos θ ∫∫ f ( x.32 KALKULUS II x = r cos θ y = r sin θ Determinan jacobi dari transformasi ini adalah ∂x J (r.

S adalah daerah di dalam lingkaran berjari-jari dua yang berpusat di (0. dengan menggunakan integral lipat dua : 9. 2) dan di luar lingkaran berjari-jari dua berpusat di (0. 8. 3 3y ∫ ∫ xe 1 −y 2 y3 dx dy π 2. ∫ ∫ sin( x 0 2 1 1− y 2 + y 2 ) dx dy 0 6. garis y = x. ∫ ∫ (x 1 2 2x − x2 2 + y2 ) −1 2 dy dx 0 Hitung integral lipat dua pada daerah S. 0) ∫∫ S e −( x 3 dA Tentukan luas daerah S. ∫∫ y e S x3 dx dy + y3 ) S dikuadran pertama yang dibatasi garis x = ½ y dan x = 1 S adalah lingkaran berjari-jari dua berpusat di (0. dan sumbu-y positif. 0) ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . ∫ ∫e 0 4 2 x3 dx dy y 5. ∫ ∫ 0 0 cos x y sin x dy dx 3. ∫∫ e 0 1 1 − y2 dx dy x 4. 10. S adalah daerah yang dibatasi oleh lingkaran berjari-jari 1 berpusat di (0.33 KALKULUS II Latihan : Hitung integral lipat dua di bawah ini : 1. 0). berikut ini : 7.

Kita tidak dapat lagi menggambarkan grafik f. Bentuk umumnya : b q( x) s ( x. Dalam koordinat kartesius.2. pada integral tengah berupa fungsi satu peubah. y . … Bn. b] x [c. panjang ∆x. kita seharusnya mengharapkan limit dari integral sebelah kanan berupa fungsi dua peubah. d] x [e. sehingga volume kotak kecil tersebut adalah ∆V Dengan memisalkan kotak-kotak kecil tersebut sebagai partisi. dan yang paling kiri (luar) berupa konstanta. y. Perhatikan jumlah Riemann : P →0 n lim ∑ f ( x . B2.1 Integral Lipat Tiga dengan Koordinat Kartesius Misalkan B =[a. z )dV = lim P →0 ∑ f ( x . 4. Andaikan panjang norma partisi p ini adalah panjang diagonal terpanjang dari semua balok bagian. y. y ) ∫∫∫ B f ( x. lebar ∆y dan tinggi ∆z. z ) dz dy dx . b adalah konstanta a p ( x ) r ( x.34 KALKULUS II 4. bentuklah suatu partisi P dari B dengan melewatkan bidang-bidang melalui B sejajar bidang koordinat. cara perhitungan integral lipat tiga tidak berbeda dengan integral lipat dua yang telah diberikan. z )dV = ∫ ∫ ∫ f ( x. dengan pendekatan jumlah Riemann kitapun dapat mendefinisikan integral lipat tiga. a. y. y .2 Integral Lipat Tiga Misal suatu fungsi f tiga peubah yang didefinisikan atas suatu daerah berbentuk balok B dengan sisi-sisi sejajar sumbu koordinat. tetapi urutan pengintegralan dalam tiap kasus. tetapi kita dapat menggambar B. Masalah tergantung dari bentuk B. jadi memotong B kedalam balok-balok bagian B1. Maka kita definisikan integral lipat tiga dengan n ∫∫∫ B f ( x. y ) ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . kemudian kotak Kotak kecil tersebut berukuran tersebut dibagi menjadi n buah kotak-kotak kecil. z ) ∆V k k k k =1 k dengan ∆Vk = ∆xk ∆yk ∆zk merupakan volume balok Bk. z ) ∆V k k k k =1 k asalkan limit ini ada. = ∆x ∆y ∆z. f] adalah sebuah kotak.

Dengan menjadikan benda di ruang yang akan dihitung volumenya sebagai daerah integrasi (B) dan fungsi dalam integralnya sama dengan satu.35 KALKULUS II Contoh : Hitung Penyelesaian : ∫∫ ∫ 2 x y z dy dx dz 0 1 0 2 z y= x y =0 2 z x z ∫∫ 0 1 2 z x ∫ 2x y z dy dx dz = 0 z 2 ∫∫ x z y 0 1 2 z z dx dz = ∫ ∫ x z x dx dz z 0 1 2 z = ∫ ∫ x 2 dx dz 0 1 2 x3 = ∫ 0 3 2 3 x=z dz x =1  z 1 = ∫  − dz  3  0 3  z4 z  = −   12 3    z=0 2 = 3 z=2 Integral lipat tiga dapat dipakai untuk menghitung volume suatu benda di ruang. pada saat mempunyai benda B yang simetris terhadap suatu garis.2. seperti halnya tabung. 4.2 Integral Lipat Tiga dengan Koordinat Tabung dan Bola Kita akan menggunakan koordinat tabung. Koordinat tabung dan kartesius dihubungkan oleh persamaan-persamaan berikut : x = r cos θ y = r sin θ ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM .

θ. r sin θ . y.36 KALKULUS II P(r. θ. z) r dz dr dθ B θ 1 p (θ ) s ( r . z)dV = ∫ ∫ ∫ f (r cosθ .z) z θ x Transformasi peubah (x. z) memberikan Jacobian = r Sehingga Integral lipat tiga dapat ditulis : ∫∫∫ f ( x. maka kita lebih baik menghitung integral lipat tiga tersebut dengan menggunakan koordinat bola. φ) ρ φ y θ x Transformasi peubah (x. Koordinat bola dan kartesius dihubungkan oleh persamaan-persamaan berikut : x = ρ cosθ sin φ y = ρ sinθ sin φ .θ ) Seperti pada koordinat tabung.θ.θ. z) θ 2 q (θ ) t ( r . φ) memberikan Jacobian = ρ2 sin φ ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . z) (ρ. y. z = ρ cos φ z P(ρ. y. jika kita mempunyai benda B yang simetris terhadap suatu titik.θ ) r y (r.

y) = 12 – 2x2 – 2y2 Permukaan 2 : f(x. ∫ ∫∫ y z dx dy dz 0 −1 1 3 2 2 y z 3. yaitu sumbu-z. φ) 2 φ dρ. φ ) φ 2 q ( φ ) t ( θ. ∫ ∫ ∫ 0 0 0 9− x2 2 x 2 + y 2 dz dy dx ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM .y) = x2 + y2 Jadi Volume V = f(r.θ) = 12 – 2r2 f(r. z)dV = ∫ ∫ ∫ B 0 0 r2 1 r dz dr dθ 3 = = = 2π 2 ∫ ∫ (12r − 3r ) dr dθ 0 0 2π ∫ 0 0  2 3 4  6r − r  dθ 4 0  2 2π ∫ (24 − 12) dθ = 24π Latihan : 1. θ. perpotongan kedua permukaan diatas adalah berbentuk lingkaran berjari-jari 4 berpusat di (0. 0). ∫ ∫ ∫ (x + 2 y + 3z ) 0 −1 2 0 1 0 1 3 2 dz dy dx 2. φ) ρ. dimana : Permukaan 1 : f(x. volume suatu ruang V yang dibatasi oleh z = 12 – 2x2 – 2y2 dan z = x2 + y2 ! Penyelesaian : Ruang V yang terbentuk mempunyai satu garis simetri. y. dθ. sin B φ1 p ( φ ) s ( θ. Oleh karena itu volume V dapat dihitung dengan menggunakan integral lipat tiga dala koordinat tabung.37 KALKULUS II Sehingga integral lipat tiga dengan koordinat bola dapat ditulis : ∫∫∫ f (x. z)dV = ∫ ∫ ∫ f (ρ.θ) = r2 2 π 2 12 − 2 r 2 ∫∫∫ f (x. y. dφ Contoh : Hitung dengan menggunakan koordinat tabung.

6. ∫ ∫ 0 0 2 4− x2 ∫z 0 4 − x 2 − y 2 dz dy dx Tentukan volume benda pejal B dengan menggunakan integral lipat tiga ! 5. b. z = 0. 7. Integral lipat tiga dengan koordinat kartesius Integral lipat tiga dengan koordinat tabung Integral lipat tiga dengan koordinat bola ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . B benda pejal di oktan pertama dari tabung y2 + z2 = 1 dan bidang y = x dan bidang x=0! B benda pejal yang dibatasi oleh paraboloid z = 4x2 + y2 dan selinder parabolic z = 4 – 3y2 ! B benda pejal dibatas oleh z = x2 + y2.38 KALKULUS II 4− x2 − y 2 4. c. dan x2 + (y – 1)2 = 1 Tuliskan perbedaan perhitungan volume bola menggunakan : a. 8.

serta C berorientasi positif (arah positifnya berpadanan terhadap pertambahan nilai t). y(b)). Dalam integral garis. b]. kita mengintegralkan f sepanjang sumbu-x dari a ke b dan yang diintegralkan f adalah fungsi yang terdefinisi pada setiap titik antara a dan b. Andaikan ∆si menyatakan panjang busur yang bersesuaian. dimana bagian partisi Pi mewakili potongan pada waktu ti. b] sehingga menghasilkan kurva C yang terpotong-potong ke dalam n bagian. Misal kurva (lengkungan) C memenuhi persamaan : r (t) = x(t) i + y(t) j + z(t) k Kurva C dinamakan kurva mulus C jika d r / dt ≠ 0 untuk setiap t. Perhatikan sketsa berikut : ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM .39 KALKULUS II BAB V INTEGRAL GARIS DAN INTEGRAL PERMUKAAN 5. a Dalam integral tentu tersebut. dan |P | merupakan partisi yang terbesar. y(a)) dan titik ujung B = (x(b). kita mengintegralkan sepanjang kurva (lengkungan) C di dalam ruang dan yang diintegralkan adalah fungsi yang tedefinisi pada setiap titik di sepanjang kurva (lengkungan) C tersebut. Definisi integral garis : Misal C suatu kurva mulus yang diberikan secara parameter oleh : x = x(t) dan y = y(t).1 Integral Garis Konsep integral garis merupakan generalisasi sederhana dari konsep integral tentu b ∫ f ( x) dx . Jadi C memiliki titik awal A = (x(a). untuk a < t < b dengan x’ dan y’ kontinu dan tidak serentak nol pada [a. Partisi [a.

y) ds dinamakan integral garis fungsi f sepanjang lengkungan C dari A ke B. y ) ds = ∫ a b b  dx   dy  f (x(t ). y) ds = − ∫ f ( x. 0 ≤ t ≤ π/2 ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . y ) ∆s i i i =1 n i merupakan luas tirai tegak sepanjang C ∫ f ( x. y ) 1 +   dx  dx  2 atau C ∫ f ( x.40 KALKULUS II Z f(x. y) ds = ∫ f ( x. C1 C2 dimana gabungan C1 dengan C2 adalah C. y = 3sin t. y (t ) )   +   dt  dt   dt  2 2 Jika di tulis dalam bentuk tanpa parameter sebagai berikut: C ∫ f ( x. y) ds = ∫ a  dy  f (x. −C dimana – C adalah kurva yang sama dengan C namun berlawanan arah. ∑ f ( x . Sehingga dapat ditulis : C ∫ f ( x. Contoh : Hitung C ∫ (x y ) ds 2 dimana C sepanjang x = 3cost. y) ds .y) r y Df(x. y) ds = ∫ a b  dx  f (x. o C ∫ f ( x.y) x Maka jumlah Riemann : lengkunga (kurva) C. y) ds + ∫ f ( x. y) ds . y ) 1 +   dy  dy    2 Sifat integral garis : o C ∫ f ( x.

y. -1 ≤ t ≤ 0 – y) i + (y2 – x) j .1) ke (1. z) dalam ruang diberikan oleh medan vektor : F (x.1) dan dari (1.y. Sehingga kita mempunyai = ∫F• C C dr ds ds = ∫ F • dr dimana F • d r sebagai menyatakan kerja yang dilakukan F dalam menggerakan suatu partikel menelusuri vektor singgung d r yang sangat kecil. 3. C adalah kurva x = t2.z) i + N(x.1) ke(1.2) ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . y = t3. 5. jika: a.y. 0 ≤ x ≤ 1 Tentukan kerja yang dilakukan oleh medan gaya F untuk memindahkan partikel sepanjang kurva C. y.y) = (x 3 2 – y3) i + xy2 j .1) ke (1. maka F • T adalah komponen singgung F rumusan kerja adalah : W = ∫ F • T ds C di P. dari (0. r = x i + y j + z k merupakan vektor posisi partikel. Jika T adalah vektor singgung satuan dr/ds di P. z) = M(x. Latihan : Hitung 1.z) j + P(x. P kontinu. C adalah 2 garis lurus dari (0.y) = (x F (x. C kurva y = x2 .41 KALKULUS II Penyelesaian : C ∫ π /2 x 2 y ds = ∫ (3 cos t ) 3 sin t 2 0 (− 3 sin t )2 + (3 cos t )2 dt π /2 = 81 ∫ cos 0 2 t sin tdt = 27 Andai bahwa gaya yang bekerja pada suatu titik (x. berikut ini : 4. F (x. 0 ≤ t ≤ 2 = y i + x j .z) k dengan M. F F F C ∫ F • dr dimana = x2 i + y2 j . C kurva y = x2 dari x = -1 dampai x = 1 = y i + x2 j . Misalkan. N. 2. y. Kita ingin menentukan kerja (usaha) W yang dilakukan oleh F dalam memindahkan partikel menelusuri kurva terarah C.2). C kurva x = 2t dan y = t2 – 1 .

Andaikan C kurva mulus sepotong-sepotong yang secara parameter diberikan oleh r = r (t) . Maka integral garis C ∫ F (r ) • dr dikatakan bebas lintasan dalam D jika dan hanya jika F(r ) = ∇f r untuk suatu fungsi skalar f. a ≤ t ≤ b. jika untuk sembarang dua titik A integral garis mempunyai nilai yang sama untuk sembarang dan B dalam D. z) = M(x. Definisi bebas lintasan : C ∫ F (r ) • dr dikatakan bebas lintasan dalam D. Andaikan F ( r ) kontinu pada suatu himpunan tersambung terbuka D.z) k suatu medan vektor dan ∇ adalah operator o ∂ ˆ ∂ ˆ ∂ ˆ i+ j+ k ∂x ∂y ∂z maka Div F = ∇ • F = Mx + Ny + Pz dinamakan divergesi F ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . Jika f dapat didiferensialkan secara kontinu pada suatu himpunan terbuka yang mengandung C.y.z) j + P(x. maka C ∫ ∇f (r ) • dr = f (b) − f (a) Misal D tersambung.42 KALKULUS II b.y. lintasan dalam D yang secara postif terarah dari A ke B.2 Integral Garis Bebas Lintasan Dengan mengingat kembali teorema dasar kalkulus.y. Definisi divergensi dan rotasi dari suatu medan vektor F : Misal F (x. yaitu : b ∫ f ( x) dx = f (b) − f (a) a teorema ini berlaku juga untuk integral garis. C adalah kurva r (t) = t i + (t2 – 1) j C adalah kurva (y – 1)2 = x 5. F disebut medan vektor konservatif. yaitu jika dua titik sembarang dalam D dapat dihubungkan oleh sepotong kurva mulus seluruhnya terletak dalam D. y. c.z) i + N(x.

z) j maka My = Nx Untuk F (x. suatu medan vektor F dikatakan konservatif jika dan hanya jika : Untuk F (x.y) = 6x3y + 6y5 dan Nx = 18x2y F konservatif o Misal f(x. tentukan fungsi skalar f yang memenuhi F = ∇f ! Penyelesaian : o F =Mi+Nj My = 18x2y Sehingga My = Nx M(x.y. z) = M(x.(**) Turunan parsial f(x. apakah medan vektor tersebut konservatif ? Tentukan fungsi potensial f.y) adalah fungsi skalar yang memenuhi ∇f = F . y. b. Latihan : 1.…….y) terhadap y = fy = 6x3y + c’(y) Substitusikan (**) pada (*) sehingga diperoleh : f (x.0) ke (1.z) i + N(x.y. Maka fx = M dan fy = N Sehingga fx = 4x3 + 9x2y2 Kita tahu bahwa fy = N f (x.y.z) j + P(x. Periksa.z) i + N(x. z) = M(x.z) k maka curl F = 0 Contoh : Tentukan apakah F = (4x3 + 9x2y2 ) i + (6x3y + 6y5) j merupakan medan vektor konservatif ? jika ya. sehingga F = ∇f Tentukan usaha untuk memindahkan partikel dari (0. y.y. π/2) ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM .y) = 4x3 + 9x2y2 dan N(x. c. a.y) = x4 + 3x3y2 + y6 + c sebagai fungsi skalar dari fungsi vektor konservatif tersebut.y.43 KALKULUS II o ˆ i ∂ curl F = ∇ x F = ∂x M ˆ j ∂ ∂y N ˆ k  ∂P ∂N  ˆ  ∂M ∂P  ˆ  ∂N ∂M  ˆ ∂ i +  k = − −  j+  − ∂z  ∂y ∂z   ∂z ∂x   ∂x ∂y      P dinamakan rotasi (Curl) F Akhirnya. Diketahui sebuah medan vektor F = ex sin y i + ex cos y j.y) = x4 + 3x3y2 + c(y) ……………(*) c’(y) = 6y5 c(y) = y6 + c …….

0) ke (1. Periksa. Contoh : Diketahui M(x. kita peroleh : M(t) = sin2 t – 7 sin t dan N(t) = 2cos t sin t + 2 cos t dy   dx +N  dt = M dt   dt C 2π ∫ ∫ [(sin 0 2 t − 7 sin t (− sin t ) + 2(cos t sin t + cos t )(cos t ) dt ) ] = 0 + 7π + 0 + 2π = 9π o Integral ruas kanan  ∫∫  dx −  R  dN dM dy   dx dy =   ∫∫ [(2 y + 2) − (2 y − 7 )] dx dy R =9 ∫∫ R 2π 1 dx dy = 9 ∫ ∫ r dr dθ = 9π 0 0 ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM .y) = (y2 – 7y) dan N(x.44 KALKULUS II 2.3 Teorema Green Misal R adalah daerah tertutup yang terbatas didalam bidang xy oleh suatu lengkungan tertutup C yang terdiri dari sejumlah kurva mulus terhingga.0) dan berjari-jari 1. Diketahui sebuah medan vektor G = (6xy3 + 2z2) i + 9x2 y2 j + (4xz + 1) k. Penyelesaian : o Integral ruas kiri r (t) = [cost. cost] Dengan mensubstitusi. Maka  ∫ M dx + N dy = ∫∫  dx −  R  dN C dM dy   dx dy   Integrasi yang diambil sepanjang seluruh batasan C dari R sedemikian sehingga R yang disebelah kiri suatu untegrasi tingkat tinggi. apakah medan vektor tersebut konservatif ? Tentukan fungsi potensial f. Misal M(x. a.y) = (2xy + 2x) dan C adalah lingkaran berpusat di (0. sehingga F = ∇f Tentukan usaha untuk memindahkan partikel dari (0. b.1) 5.0.1.y) adalah fungsi yang kontinu dan mempunyai turunan paarsial My dan Nx yang kontinu pada setiap titik dalam beberapa domain yang mengandung R. c.y) dan N(x. sint] r ‘ (t) = [ – sint .

y). 5. C adalah ruas garis persegi panjang 0 ≤ x ≤ 4 . dengan : C 1. y. C adalah kurva mulus tertutup sederhana pada bidang xy dan berlawanan arah jarums jam yang membatasi daerah R. Latihan : Hitung integral garis ∫ F (r ) • dr berlawanan arah jarun jam sepanjang C. y)) Kontinu pada R. z) = g(x. dengan (x. Maka T = dx ˆ dy ˆ i+ j merupakan vektor singgung satuan. Sedangkan C ∫F •T ds = ∫∫ (curl F )• kˆ dA R disebut teorema Stokes pada bidang. maka : ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM .45 KALKULUS II Bentuk vektor dari teorema green. dan ds ds n= dy ˆ dx ˆ i− j adalah vektor normal yang mengarah keluar dari R. y) = M(x. 3. (1. C adalah ruas garis pada segitiga dengan titik sudut = (e – 3y) i + (e + 6x) j. F F F = 3x2 i – 4xy j.y) i + N(x. y) di R. C adalah lingkaran x2 + y2 = ¼ = (x3 – 3y) i + (x + sin y) j. C adalah lengkungan tertutup yang dibatasi oleh x y (0. f(x. Jika f mempunyai turunan parsial pertama yang kontinu dan g(x.0) dan (0. ds ds Jika F(x. 2. C berupa ellips x2 + 4y2 = 4 = (2xy – x2 ) i + (x + y2) j. Misalkan.2) F F y = x2 dan y2 = x 5. 0 ≤ y ≤ 1 = y i – x j. y) j adalah suatu medan vektor maka C ∫ F • n ds = ∫∫ div F dA R dinamakan teorema Divergensi Gauss. 4.4 Integral permukaan Misakan G suatu permukaan yang diberikan oleh z = f(x. 0). y.

dan volume fluida ∇V yang melewati potongan ini dalam arah normal satuan n adalah ∇V ≈ F • n ∆S Kita dapat menyimpulkan bahwa : Fluks F yang melintasi G = Persamaan permukaan dapat ditulis H(x. y) Sehingga n = ∇H ∇H − = ∂f ˆ ∂f ˆ ˆ i− j+ k ∂x ∂y 2 2 ∫∫ F • n dS G  ∂f   ∂f    +   +1    ∂x   ∂y  Maka ∫∫ G F • n dS =   ˆ − f xi − f y ˆ + k  j ˆ F •   2 2 R  (fx ) + f y + 1   ˆ ˆ − f y ˆ + k dA = F • − f xi j ∫∫ ∫∫ [ R ( ) ( f x )2 + ( f y )2 + 1 dA ] Contoh : Tentukan fluks ke atas dari F (x. yang melewati bagian permukaan G yang ditentukan oleh fungsi z = 1 – x2 – y2 Penyelesaian : fx = – 2x dan fy = – 2y Maka fluks yang melintasi G adalah : ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . Andaikan G sutu permukaan dua sisi yang demikian mulus dan anggap dia terendam di dalam fluida dengan suatu medan kecepatan kontinu F (x. y. z) = z – f (x.z). y)) R f x 2 + f y 2 + 1 dy dx dimana θ adalah sudut antara normal satuan ke atas n di (x.y.z) hampir konstan. maka disana F (x. y. z) = x i + y j + z k. y. z )dS = ∫∫ g ( x. y.y. y)) dan sumbu z positif. Jika ∆S adalah luas sepotong kecil dari G.46 KALKULUS II ∫∫ g ( x. y. y. f(x. y)) secθ dA G R = ∫∫ g ( x. f ( x. f ( x.

dan P mempunyai turunan parsial pertama yang kontinu pada S dan batasnya ∂ S. z) = x i + y j + 2z k. z) = x + y. permukaan G : z = √ 1 – x2 – y2 5. N. y. yang secara lengkap dicakup oleh suatu permukaan mulus sepotong-sepotong ∂ S . fluks F yang melewati batas suatu daerah tertutup dalam ruang dimensi-3 adalah integral lipat tiga dari divergensinya atas daerah tersebut. y. F (x. maka : ∫∫ F • n dS = ∫∫∫ div F dV ∂S S Dengan kata lain. permukaan G : z = √ 9 – x2 – y2 z) = z2 k. y. berupa medan vektor sedemikian hingga M. permukaan G : z = 1 – x2 – y2 z) = x i + y j + z k. ∫∫ F • n dS G : F (x. ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . ∫∫ g ( x. z ) dS G : g(x. y. 4. 2. Jika n menyatakan normal satuan terluar terhadap ∂ S. permukaan G : z = x2 – y2. y. 0 ≤ x ≤ √ 3 dan 0 ≤ y ≤ 1 g(x. permukaan G : z = √ 4 –x2 . z) = 2y2 + z.5 Teorema Divergensi dan Stokes Teorema Divergensi Andai S suatu benda pejal tertutup dan terbatas dalam ruang dimensi-3. 0 ≤ x2 + y2 ≤ 1 Hitung 3. F (x. Andai F = M i + N j + P k. 5. y.47 KALKULUS II ∫∫ F • n dS = ∫∫ F • − ∂x iˆ − ∂y ˆj + kˆ dA   = ∫∫ (x + y + 1) dx dy G R 2 2 R 2π 1  ∂z ∂z  = ∫∫ (r 0 0 2 + 1 r dr dθ = ) 3π 2 Latihan : Hitung 1.

0). 2. Jika terhadap ∂ S. N. 0. S adalah permukaan dua sisi yang dibatasi oleh lengkungan tertutup ∂ S dengan normal satuan n dan andaikan F = M i + N j + P k. Gunakan teorema stoke ! Penyelesaian : Curl F = – i + j – k sedangkan normal dari permukaan adalah n = i Jadi Curl F • n = – 1 Oleh karena itu C ∫F •T dS = ∫∫ (curl F )• n dS = −1(luas S ) = −2 S ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . 0). (0. 0. (0. dan P mempunyai turunan parsial pertama yang kontinu pada S dan batasnya ∂ S. 0. Penyelesaian : Dengan menggunakan teorema divergensi.48 KALKULUS II Contoh : Hitung fluks dari medan vektor F = x3 i + y3 j + z3 k yang keluar dari bola B berpusat di (0. 0) berjari-jari 1. berupa medan vector sedemikian hingga M. fluks yang keluar dari bola adalah : ∫∫ F • n dS = ∫∫∫ div F dV = ∫∫∫3 (x + y + z ) dV ∂S B 2 2 2 B 2π π = = ∫ ∫ ∫ 3ρ 0 0 0 1 4 sin φ dρdφdθ 12π 5 Teorema Stokes Misalkan. 2). maka T menyatakan vector singgung satuan ∂S ∫ F • T dS = ∫∫ (curl F )• n dS S Contoh : Tentukan integral F = z i – x j – y k sepanjang segitiga yang titik sudutnya (0.

berikut ini : 1. S adalah permukaan z = √ 1-x2 . F F F = y i – x j + 2 k . C adalah perpotongan tabung x2 + y2 = x dengan bola x2 + y2 + z2 = 1 ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM . 0 ≤ x ≤ 1 C Hitung 4.49 KALKULUS II Latihan : Tentukan fluks dari medan vektor F yang melewati permukaan S. dengan C berlawanan arah jarum jam ! = 2z i + x2 j + 3y k . untuk 0 ≤ x ≤ 5 = x2 i + y2 j + z2 k . S adalah benda pejal 0 ≤ x2 + y2 ≤ 4 . 5. F F ∫ F • T dS . 3. C adalah ellips perpotongan z = x dan x2 + y2 = 4 = (z – y) i + y j + x k . 2. S adalah benda pejal z = √ 4 – x2 – y2 dan z = 0 = 2z i + x j + z2 k .

Singapore. DiPrima. W. R. edisi 5.... 1987 Purcell. Alvagracia. E. Penerbit ITB. Kalkulus Peubah Banyak dan Penggunaannya.50 KALKULUS II DAFTAR PUSTAKA Anton. Kalkulus Diferensial. Kalkulus dan Geometri Analitis Jilid 2. 2001 ADIWIJAYA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELKOM .. 5th edition. 1988 Boyce W. Bandung. Calculus with Analytic Geometry. John Willey & Sons.. H. Varberg D. New York.C. 3rd edition. John Willey & Sons.. Elementary Differential Equations and Boundary Value Problems. Erlangga. 1992 Setya Budhi. 1992 Martono. . K. E.. Bandung. J. Terjemahan I Nyoman Susila dkk. Jakarta.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful