P. 1
Keterampilan Proses

Keterampilan Proses

|Views: 277|Likes:
Published by arniatidarto

More info:

Published by: arniatidarto on Mar 28, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/04/2014

pdf

text

original

Keterampilan Proses

Keterampilan proses adalah keterampilan yang diperoleh dari latihan kemampuan-kemampuan mental, fisik dan sosial yang mendasar sebagai penggerak kemampuan-kemampuan yang lebih tinggi. Kemampuan-kemampuan mendasar yang telah dikembangkan dan telah terlatih lama-kelamaan akan menjadi suatu keterampilan, sedangkan pendekatan keterampilan proses adalah cara memandang anak didik sebagai manusia seutuhnya. Cara memandang ini dijabarkan dalam kegiatan belajar mengajar memperhatikan pengembangan pengetahuan, sikap, nilai serta keterampilan. Ketiga unsur itu menyatu dalam satu individu dan terampil dalam bentuk kreativitas. Tujuan pengajaran sains sebagai proses adalah untuk meningkatkan keterampilan berpikir siswa, sehingga siswa bukan hanya mampu dan terampil dalam bidang psikomotorik, melainkan juga bukan sekedar ahli menghafal. Berdasarkan penjelasan di atas pada keterampilan proses, guru tidak mengharapkan setiap siswa akan menjadi ilmuan, melainkan dapat mengemukakan ide bahwa memahami sains sebagian bergantung pada kemampuan memandang dan bergaul dengan alam menurut cara-cara seperti yang diperbuat oleh ilmuan. Dalam pembelajaran IPA, Keterampilan-keterampilan proses sains adalah keterampilan-keterampilan yang dipelajari siswa saat mereka melakukan inkuiri ilmiah (Nur:2002a,1), mereka menggunakan berbagai macam keterampilan proses, bukan hanya satu metode ilmiah tunggal. Keterampilanketerampilan proses tersebut adalah pengamatan, pengklasifikasian, penginferensian, peramalan, pengkomunikasian, pengukuran, penggunaan bilangan, pengintepretasian data, melakukan eksperimen, pengontrolan variabel, perumusan hipotesis, pendefinisian secara operasional, dan perumusan model (Nur:2002a,1). Selain itu melalui proses belajar mengajar dengan pendekatan keterampilan proses dilakukan dengan keyakinan bahwa sains adalah alat yang potensial untuk membantu mengembangkan kepribadian siswa, dimana kepribadian siswa yang berkembang ini merupakan prasyarat untuk melanjutkan kejalur profesi apapun yang diminatinya. Dalam menerapkan keterampilan proses dasar sains dalam kegiatan belajar mengajar, ada dua alasan yang melandasinya yaitu: a. bahwa dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi maka laju pertumbuhan produk-produk ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi pesat pula, sehingga tidak mungkin lagi guru mengajarkan semua fakta dan konsep kepada siswa. Jika guru tetap mengajarkan semua fakta dan konsep dari berbagai cabang ilmu, maka sudah jelas target itu tidak akan tercapai. Untuk itu siswa perlu dibekali dengan keterampilan untuk mencari dan mengolah informasi dari berbagai sumber, dan tidak sematamata dari guru. b. bahwa sains itu dipandang dari dua dimensi, yaitu dimensi produk dan dimensi proses. Dengan melihat alasan ini betapa pentingnya keterampilan proses bagi siswa untuk mendapatkan ilmu yang akan berguna bagi siswa dimasa yang akan datang, sehingga bangsa kita akan dapat sejajar dengan bangsa yang maju lainnya. Bagi siswa, beberapa keterampilan proses dasar dimulai dengan keterampilan proses yang sederhana yaitu observasi atau pengamatan, perumusan masalah atau pertanyaan dan perumusan hipotesis. Untuk memperjelas keterampilan-keterampilan proses sains di atas maka dibawah ini akan dijelaskan secara singkat yaitu: 1) Pengamatan adalah penggunaan indera-indera anda. Mengamati dengan penglihatanm pendengaran, pengecapan, perabaan, dan pembauan.. 2) Perumusan Hipotesis adalah perumusan dugaan yang masuk akal yang dapat diuji tentang bagaimana atau mengapa sesuatu terjadi. (Nur:2002a,4).

Penelitian ini hendak memberikan satu alternatif tindakan untuk mengatasi permasalah di atas yaitu dengan menggunakan Pengajaran Langsung. maka rumusan masalah penelitian ini adalah: Bagaimana Pengajaran Langsung dapat meningkatkan keterampilan proses merencanakan eksperimen pada siswa Kelas IX E SMPN Surabaya ?. bahwa dalam melakukan eksperimen. guru perlu melatih siswa dalam merencanakan eksperimen. Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan keterampilan proses merencanakan eksperimen pada siswa Kelas IX E SMPN Surabaya tahun pelajaran yang keberhasilannya ditunjukkan dengan indikator bahwa pada akhir penelitian 75% siswa dapat merencanakan eksperimen dengan benar. Refleksi peneliti terhadap permasalahan rendahnya keterampilan proses ini adalah karena guru tidak memberikan waktu khusus untuk mengajarkan cara merencanakan eksperimen langkah demi langkah. sebagaimana dikemukakan oleh Semiawan (1987). . Data dari jurnal ini didukung juga oleh data awal yang diambil peneliti sebelum penelitian tindakan dilakukan. karena tanpa rencana bisa terjadi pemborosan waktu. 2009 Rate This 1. Pendahuluan Produk-produk IPA. yaitu dari 42 siswa kelas IX E yang dijadikan penelitian menunjukkan 32% yang bisa membuat sebagian langkah merencanakan eksperimen. Supaya eksperimen berjalan dengan baik maka eksperimen harus direncanakan dengan baik pula. Dari jurnal mengajar kami di Kelas IX SMPN Surabaya untuk mata pelajaran Biologi pada tahun-tahun sebelumnya bahwa pada saat siswa mengerjakan LKS dimana yang di dalamnya siswa diminta untuk merumuskan masalah dan membuat hipotesis. yaitu konsep. Ketrampilan proses Agustus 15. Oleh karena itu menurut Ibrahim (2007). prinsip. dan teori ditemukan melalui proses ilmiah yang dilandasi dengan sikap ilmiah oleh para ilmuwan. Untuk itu siswa membutuhkan keterampilan tertentu yang disebut keterampilan proses IPA. Oleh karena itu siswa juga perlu memiliki keterampilan proses merencanakan eksperimen. sedangkan sisanya tidak bisa membuat. mengajar IPA yang paling baik adalah sebagaimana IPA itu ditemukan.2. tenaga. dan biaya serta hasilnya mungkin tak sesuai dengan yang diharapkan. hukum. Salah satu keterampilan proses yang dituntut untuk bisa dikuasai siswa SMP adalah keterampilan proses bereksperimen. Dari uraian di atas. Pemilihan Pengajaran Langsung ini dengan alasan bahwa pada Pengajaran Langsung ini guru menjadi model dengan memberi contoh cara mengerjakan sesuatu langkah demi langkah yang selanjutnya ditiru siswa. mereka mengalami kesulitan untuk melakukan itu dan hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan guru. dengan demikian siswa diharapkan lebih cepat mampu menguasai keterampilan yang diajarkan.

dengan perhatian khusus pada penerapan kepada situasi lebih kompleks dan kehidupan seharihari. Pada kegiatan belajar mengajar yang bercirikan pengajaran langsung. Memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapan. f) menentukan apa yang diamati. b) variabel kontrol dan variabel ubah. pentingnya pelajaran. 2000). d) kriteria keberhasilan. pengukuran. komunikasi. Manfaat bagi siswa adalah penelitian ini dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam merencanakan eksperimen. Keterampilan bereksperimen merupakan keterampilan proses terpadu yang melibatkan berbagai keterampilan proses dasar seperti pengamatan. bertanya.Manfaat penelitian ini bagi guru adalah mendapat suatu strategi guna memperbaiki dan meningkatkan mutu pembelajaran di kelas dalam hal ini strategi meningkatkan keterampilan proses merencanakan eksperimen. dan teori-teori IPA baik berupa keterampilan mental. Kajian Teoritik 1) Keterampilan Proses Merencanakan Eksperimen Keterampilan proses adalah keterampilan yang diperlukan untuk memperoleh. mengembangkan. atau menyajikan informasi tahap demi tahap. h) menentukan cara mengolah data untuk memperoleh kesimpulan 2) Pengajaran Langsung Pengajaran Langsung adalah suatu pendekatan mengajar yang dapat membantu siswa mempelajari keterampilan dasar dan memperoleh informasi yang dapat diajarkan selangkah demi selangkah (Kardi. maka siswa lebih dahulu merencanakan eksperimen secara sistematik. Sedangkan Rustaman (1997) mengemukakan dalam merencanakan eksperimen. . klasifikasi. dan sebagainya. c) apa yang diamati. FA S E PERAN GURU 1. 2. mengharapkan siswa menjadi pendengar yang aktif dan baik. d) merumuskan definisi operasional variabel-variabel. dan menerapkan konsep-konsep. b) obyek yang akan diteliti. serta f) bagaimana mencatat dan mengolah data untuk menarik kesimpulan. diukur atau ditulis. e)merencanakan alat dan bahan yang diperlukan. yang dilakukan siswa adalah menentukan : a) alat dan bahan yang akan digunakan. Sintak model pengajaran langsung ada lima fase yang sangat penting seperti pada bagan di bawah ini (Kardi. diukur atau ditulis. pada umumnya guru merencanakan kegiatan belajar mengajar secara terstruktur dan ketat. c) faktor atau variabel yang perlu diperhatikan. d) cara dan langkah kerja. memberi umpan balik. dan e) cara mengolah data untuk dapat disimpulkan. mempersiapkan siswa untuk belajar. 4. c) mengidentifikasi variabel-variabel. prinsip-prinsip. Mendemonstrasikan pengetahuan atau keterampilan Guru mendemonstrasikan keterampilan dengan benar. Dari pendapat-pendapat di atas dapat dikemukakan bahwa langkah-langkah merencanakan eksperimen adalah: a)merumuskan masalah. Guru mempersiapkan kesempatan melakukan pelatihan lanjutan. g) menentukan langkah kerja. Oleh karena itu sebelum melakukan eksperimen. Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik Mencek apakah siswa telah berhasil melakukan tugas dengan baik. keterampilan fisik. e) cara dan langkah kerja. maupun keterampilan sosial (Rustaman. Eksperimen sendiri menurut Ibrahim (2007) adalah usaha sistematik yang direncanakan untuk menghasilkan data dalam rangka menjawab suatu masalah atau menguji suatu hipotesis. hukum-hukum. yang dilakukan siswa adalah menentukan : a) alat dan bahan. informasi latar belakang pelajaran. Kajian Teoritik dan Hipotesis Tindakan a. 3. Semiawan (1987) mengemukakan dalam merencanakan eksperimen.1997). Membimbing pelatihan Guru merencanakan dan memberi bimbingan pelatihan awal. Macam keterampilan proses IPA adalah keterampilan proses dasar dan keterampilan proses terpadu. 2. 5. Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa Guru menjelaskan TPK. Pada awal pembelajaran guru merupakan pemberi informasi dan pendemonstrasi yang aktif. b) menyusun hipotesis. 2000).

bahwa untuk mempelajari keterampilan atau pengetahuan tertentu perlu adanya model yang bisa ditiru. Sebagaimana dikemukakan oleh Nurhadi (2002).Penilaian hasil belajar siswa ditekankan pada praktik pengembangan dan penerapan pengetahuan dasar yang sesuai. Jenis data yang didapat adalah data kualitatif. yang bisa dikategorikan pengetahuan prosedural. b. Metode Penelitian a. pendekatan pengajaran yang bisa dipakai adalah dengan menggunakan Pengajaran Langsung. d. Sisa waktu 45 menit . Hipotesis Tindakan Merujuk pada kajian teori yang dikemukakan di atas. 3) Mengajarkan Keterampilan Proses Merencanakan Eksperimen Merencanakan eksperimen merupakan salah satu keterampilan proses. yaitu bahwa pada akhir penelitian 75% siswa dapat merencanakan eksperimen dengan benar. fase kedua 15 menit. c. yaitu data pelaksanaan pembelajaran yang diambil dengan instrumen observasi pembelajaran. 3. Siklus Penelitian Penelitian dilakukan dalam dua siklus. yaitu instrumen observasi Pengajaran Langsung dan instrumen penilaian hasil kerja siswa dalam merencanakan eksperimen. Instrumen Sumber data penelitian ini adalah siswa Kelas IX E yang menjadi obyek penelitian. Selain itu diperoleh juga data kuantitatif. yaitu hasil kerja siswa merencanakan eksperimen yang diambil dengan menggunakan lembar penilaian hasil kerja siswa 4. pelaksanaan dari satu siklus ke siklus berikutnya didasarkan pada ketercapaian indikator penelitian yang telah ditentukan. Hasil Penelitian Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam 2 siklus dengan hasil penelitian tiap siklus adalah sebagai berikut : a. Persiapan Penelitian Hal-hal yang disiapkan untuk menunjang kelancaran dan keberhasilan penelitian ini adalah: 1) Menyiapkan contoh permasalahan eksperimen yang akan didemonstrasikan guru dan pada fase memberikan pelatihan awal 2) Menyiapkan LKS merencanakan dan melaksanakan eksperimen untuk pelatihan siswa pada fase pelatihan lanjutan atau penerapan 3) Menyiapkan instrumen-instrumen penelitian. Planning Pada siklus ini materi yang dibahas adalah “Panca Usaha Tani : pengolahan tanah” yang pembelajarannya dirancang selama 3x 45 menit yang direncanakan pelaksanaannya sebagai berikut: fase pertama selama 5 menit. Siklus Pertama 1). Pengetahuan ini akan lebih berhasil bila pengajarannya dilakukan dengan menginformasikan pengetahuan itu tahap demi tahap dengan demonstrasi/pemodelan. fase ketiga 15 menit. fase keempat 10 menit dan fase kelima 45 menit. Pengajaran Langsung bertujuan membantu siswa mempelajari keterampilan prosedural yang menonjolkan pemodelan (modelling) oleh guru yang selanjutnya ditiru oleh siswa Dari uraian di atas disimpulkan bahwa untuk mengajarkan keterampilan proses merencanakan eksperimen. b. Setting Penelitian Penelitian ini dilakukan di SMPN Surabaya dengan objek penelitian adalah siswa kelas IX E tahun pelajaran dengan jumlah siswa 42. Kelas ini dipilih karena dari beberapa kelas yang diajar peneliti kelas ini merupakan kelas yang jumlah siswanya paling banyak belum mampu merencanakan eksperimen. maka hipotesis tindakan dari penelitian ini adalah Pengajaran Langsung dapat meningkatkan keterampilan proses merencanakan eksperimen pada siswa Kelas IXE SMPN 28 Surabaya.

10 menit berikutnya guru mencek apakah siswa telah berhasil melakukan tugas dengan baik. Acting Langkah-langkah pelaksanaan tindakan digambarkan sebagai berikut: 5 menit pertama guru menjelaskan tujuan pembelajaran dan mempersiapkan siswa untuk belajar. maka penelitian dilanjutkan ke siklus kedua dengan rancangan tindakan sebagai berikut : (1) waktu untuk . diukur. 15 menit berikutnya guru mendemonstrasikan langkahlangkah merencanakan eksperimen dengan permasalahan “ Pengaruh intensitas cahaya terhadap tinggi tanaman jagung” Selanjutnya dengan waktu 15 menit guru memberi bimbingan pelatihan awal menggunakan permasalahan “ Pengaruh jumlah tanaman pada pot terhadap pertumbuhan tanaman jagung”. Berikutnya guru mendiskusikan eksperimen yang harus dilakukan siswa berdasar rancangannya. Reflecting Data-data di atas diinterpretasikan bahwa demonstrasi guru dan pelatihan awal yang dikerjakan siswa belum mampu meningkatkan pemahamannya pada langkah-langkah merencanakan eksperimen sehingga masih banyak siswa yang belum benar dalam merencanakan eksperimen. Tabel 1.untuk diskusi dan menutup pelajaran. nampak bahwa beberapa langkah merencanakan eksperimen masih memperoleh skor rendah. Persentase siswa yang mengerjakan langkah-langkah merencanakan eksperimen dengan benar tiap kelas pada siklus 1 No Aspek yang dinilai (Langkah-langkah merencanakan eksperimen) Siswa yang mengerjakan benar 1 Merumuskan masalah 2 Menyusun hipotesis 3 Mengidentifikasi variabel-variabel 4 Merumuskan definisi operasional variabel-variabel 5 Merencanakan alat dan bahan yang diperlukan 6 Menentukan apa yang diamati. 3). namun pada fase pelatihan lanjutan waktu yang diberikan guru sangat kurang. Melihat datadi atas dimana kelas belum sampai 75% siswanya mampu merencanakan eksperimen dengan benar dan beberapa langkah dalam merencanakan eksperimen masih banyak siswa yang belum menguasai. 30 menit kemudian tiap siswa mengerjakan LKS eksperimen dengan permasalahan “ Pengaruh jenis tanah terhadap pertumbuhan tanaman jagung” yang di dalamnya didahului kegiatan merencanakan eksperimen. dengan cara menunjuk 1 siswa yang pekerjaannya benar untuk maju kedepan dan membacakan rancangan eksperimennya. 2). Hasil penilaian dengan lembar penilaian terhadap hasil kerja siswa dalam merencanakan eksperimen diperoleh data 62% siswa kelas IX E yang baru bisa merencanakan ekaperimen dengan benar Dari data di atas dapat dikemukakan bahwa kemampuan siswa merencanakan eksperimen pada kelas penelitian masih belum sesuai dengan yang diharapkan. guru dan siswa telah melakukan semua fase-fase pengajaran langsung sesuai dengan sintak. Bimbingan dilakukan dengan keliling kelas mengamati siswa berlatih merencanakan eksperimen yang telah didemonstrasikan guru. Mengapa demikian ? Bila dikaji dari penilaian terhadap langkahlangkah merencanakan eksperimen. selanjutnya guru memberikan umpan balik hasil kerja siswa tersebut. sebagaimana digambarkan pada tabel di bawah ini. Observing Hasil pengamatan kolaborator selama pembelajaran pada siklus ini. Terakhir siswa mengumpulkan rancangan eksperimen yang dibuat. atau ditulis 7 Menentukan langkah kerja 8 Menentukan cara mengolah data untuk memperoleh kesimpulan 4).

Pada fase ini guru menekankan demonstrasinya pada langkah-langkah merencanakan eksperimen yang masih banyak belum dikuasai siswa dengan cara mengulang-ulang langkah tersebut. 20 menit berikutnya guru mendemonstrasikan keterampilan merencanakan eksperimen tahap demi tahap dengan menggunakan permasalahan “ Pengaruh intensitas penyiraman pada pertumbuhan tanaman kacang tanah”. dengan cara menunjuk 2 siswa yang pekerjaannya benar dan kurang benar untuk membacakan rancangan eksperimennya. 50 menit kemudian guru mempersiapkan kesempatan melakukan pelatihan lanjutan dengan cara siswa mengerjakan LKS eksperimen dengan permasalahan “ Pengaruh jumlah pupuk terhadap pertumbuhan tanaman kacang tanah” yang di dalamnya didahului kegiatan merencanakan eksperimen. Planning Pada siklus ini materi yang dibahas masih “Panca Usaha Tani : pemupukan” yang pembelajarannya dirancang selama 3 x 45 menit yang direncanakan pelaksanaannya sebagai berikut: fase pertama selama 5 menit.mendemonstrasikan keterampilan merencanakan eksperimen (fase 2) ditambah dengan menekankan pada langkahlangkah merencanakan ekaperimen yang paling banyak belum dikuasai siswa. Bimbingan dilakukan dengan keliling kelas mengamati siswa berlatih merencanakan eksperimen yang telah didemonstrasikan guru. Acting Langkah-langkah pelaksanaan tindakan digambarkan sebagai berikut: 5 menit pertama guru menjelaskan tujuan pembelajaran dan mempersiap4kan siswa untuk belajar. Hasil penilaian dengan lembar penilaian terhadap hasil kerja siswa dalam merencanakan eksperimen diperoleh 83% Dari data di atas dapat dikemukakan bahwa kemampuan siswa merencanakan eksperimen pada kelas penelitian sudah meningkat dibanding pada siklus kesatu. Berikutnya guru mendiskusikan eksperimen yang harus dilakukan siswa berdasar rancangannya. 3). selanjutnya guru membimbing siswa membandingkan kedua rancangan eksperimennya untuk diperoleh pemahaman rancangan eksperimen mana yang benar. Peningkatan ini seiring dengan peningkatan kemampuan mengerjakan masing-masing tahap dalam merencanakan eksperimen. 2). (2) waktu untuk mengecek pemahaman siswa (fase 4) ditambah dengan cara menunjuk 2 siswa untuk membacakan rancangan eksperimennya dan memberikan umpan balik hasil kerja siswa. Selanjutnya dengan waktu 15 menit guru memberi bimbingan pelatihan awal menggunakan permasalahan “ Pengaruh jenis pupuk terhadap pertumbuhan tanaman kacang tanah”. fase keempat 15 menit dan fase kelima 50 menit (termasuk mencari data). Tabel 2. Persentase siswa yang mengerjakan langkah-langkah merencanakan eksperimen dengan benar tiap kelas pada siklus 2 No Aspek yang dinilai (Langkah-langkah merencanakan eksperimen) Siswa yang mengerjakan benar . 15 menit berikutnya guru mencek apakah siswa telah berhasil melakukan tugas dengan baik. Observing Hasil pengamatan kolaborator selama pembelajaran pada siklus ini yaitu guru dan siswa telah melakukan semua fase-fase pengajaran langsung sesuai dengan sintak. Sisa waktu 30 menit untuk diskusi dan menutup pelajaran. pada fase pelatihan lanjutan siswa mendapat cukup waktu untuk merencanakan eksperimen dibanding dengan siklus pertama.. Hal ini senada dengan hasil refleksi guru dan refleksi siswa yang juga mengemukakan bahwa kurangnya waktu untuk merencanakan eksperimen pada fase pelatihan lanjutan pada siklus pertama tidak terjadi lagi pada siklus kedua. hal ini dapat dilihat pada tabel berikut ini.Terakhir siswa mengumpulkan rancangan eksperimen yang dibuat. (3) begitu juga menambah waktu pada fase pelatihan lanjutan dan penerapan b. Siklus kedua 1). fase ketiga 15 menit. fase kedua 20 menit.

Simpulan dan Saran a. dkk. Surabaya: University Press Nurhadi. A. Simpulan Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan beberapa hal. 1997. Jakarta: Pusat Perbukuan . Modul Pelatihan Terintegrasi Berbasis Kompetensi. demikian pula masing-masing langkah dalam merencanakan eksperimen sudah dicapai lebih dari 75% jumlah siswa. 2000. diukur. dan untuk pelatihan lanjutan/penerapan disiapkan oleh guru dengan menyinkronkan topik pembelajaran. N dan Rustaman. Hasil penelitian ini digambarkan dalam bentuk grafik sebagai berikut Grafik 1. 5. sebaiknya pada fase demonstrasi dan fase pelatihan awal siswa diberi permasalahan dengan variabel-variabel yang mudah dipahami siswa dengan memberikan contoh-contoh yang bervariasi 3) Permasalahan eksperimen yang dipilih untuk didemonstrasikan guru. Pokok-pokok Pengajaran Biologi dan Kurikulum 1994. yaitu : 1) Pengajaran Langsung dapat meningkatkan keterampilan merencanakan eksperimen pada siswa kelas IX E SMPN Surabaya tahun pelajaran 2) Penggunaan model ini sebaiknya memberikan cukup waktu bagi guru untuk mendemonstrasikan langkah-langkah merencanakan eksperimen. M. 2002. Persentase siswa yang membuat rencana eksperimen dengan benar sebelum dan sesudah penelitian tindakan Pada siklus kesatu keterampilan proses merencanakan eksperimen meningkat menjadi 62% dan pada siklus kedua menjadi 83%. Jakarta: Proyek Pengembangan Sistem dan Pengendalian Program Kardi.1 Merumuskan masalah 2 Menyusun hipotesis 3 Mengidentifikasi variabel-variabel 4 Merumuskan definisi operasional variabel-variabel 5 Merencanakan alat dan bahan yang diperlukan 6 Menentukan apa yang diamati. Pendekatan Kontekstual (CTL). S dan Nur. M. maka penelitian tindakan kelas ini diakhiri pada siklus kedua. untuk pelatihan awal. Daftar Pustaka Ibrahim. Jakarta: Proyek Peningkatan Mutu SLTP Jakarta Rustaman. Keterampilan Proses Sains. Pengajaran Langsung. Saran Dari hasil penelitian ini peneliti menyampaikan beberapa saran. atau ditulis 7 Menentukan langkah kerja 8 Menentukan cara mengolah data untuk memperoleh kesimpulan Dari data-data tersebut dapat diinterpretasikan bahwa pemahaman siswa pada langkah-langkah merencanakan eksperimen meningkat sejalan dengan demonstrasi guru menekankan pada langkah-langkah merencanakan eksperimen secara berulang-ulang dan ditunjang dengan pengecekan pemahaman pada fase 4 dimana siswa membandingkan dua grafik. dengan menekankan pada langkah-langkah yang belum banyak dikuasai siswa b. Dengan melihat data-data pada tabel 7 dan tabel 8 di atas dimana kelas sudah lebih dari 75% siswa dapat merencanakan eksperimen dengan benar. 2007. yaitu : 1) Guru bisa menjadikan Pengajaran Langsung ini sebagai salah satu alternatif untuk memecahkan masalah rendahnya kemampuan siswa dalam merencanakan eksperimen 2) Untuk merencanakan eksperimen dengan Pengajaran Langsung.

1987.Semiawan. C. Pendekatan Ketrampilan Proses: Bagaimana mengaktifkan Siswa dalam Belajar. Jakarta: PT. dkk. Gramedia .

Kata metode dalam bahasa berasal dari bahasan Greek (Yunani). “Meths” yang berarti melalui atau melewati dan “Hodos” yang berarti jalan atau cara.ASROFUDIN WEBLOGS Kumpulan Makalah Serta Artikel Pendidikan dan Islami RSS • BERANDA BLOGS MINPA YPI AL-FATA MYOPERA þÿ Search Pendidikan Sebagai Wadah Kemajuan Bangsa | Daftar domain gratis disini o Makalah Artikel Islam Soal-soal Surat Rpp RoHul Informasi Kisah Nabi o o o o o o o Pengertian Metode kerja kelompok Secara kata “metodik” itu berasal dari kata “metode” (method). metode berarti suatu cara kerja yang sistematik dan umum. seperti cara kerja ilmu pengetahuan. Istilah kerja kelompok mengandung arti bahwa siswa-siswa dalam suatu kelas dibagi dalam beberapa kelompok balk kelompok yang kecil maupun kelompok yang besar. jadi metode berarti jalan atau cara yang hares ditempuh atau dilalui untuk mencapai tujuan tertentu. Pengelompokan biasanya didasarkan atas prinsip untuk mencapai tujuan .

Memberi tugas-tugas kepada kelompok : Dalam hal ini seorang guru memberikan tugas-tugas pads kelompok masing-masing dan guru juga memberikan petunjuk-petunjuk pelaksanaan tugas tersebut. b. Jadi metode kerja kelompok ialah kerja kelompok dari beberapa individu yang bersifat pedagogic yang didalamnya terdapat hubungan timbal batik (kerja sama) antara individu Berta sating mempercayai. dimana siswa dalam kelompoknya dapat dipandang sebagai pribadi yang berbeda dari segi kemampuan dan minatnya masing-masing. Postingan Terkait Lainnya : . yaitu : a. Langkah-langkah Metode Kerja Kelompok Ada beberapa langkah yang harus ditempuh dalam pelaksanaan metode kerja kelompok. Menentukan kelompok : Hal ini dapat dilakukan oleh guru atau murid atau secara bersama-sama antara guru dan murid. Tidak mengabaikan asas individual. Ada beberapa definisi lain yang dimaksud oleh oleh pars pakar pendidikan mengenai pengertian kerja kelompok ini. seorang guru hendaknya menerangkan tujuan pembelajaran terlebih dahulu dan harus mengetahui persis bagaimana cara mengerjakannya.Dimaksudkan untuk memperoleh dan mempebesar peran atau parisipasi siswa dalam kelompoknya. Metode kerja kelompok adalah penyajian mated dengan cara pembagian tugastugas untuk mempelajari suatu keadaan kelompok belajar yang sudah ditentukan dalam rangka mencapai tujuan. Metode kerja kelompok ialah suatu cara menyajikan materi pelajaran dimana guru mengelompokkan siswa ke dalam beberapa kelompok atau grup tertentu untuk menyelesaikan tugas yang telah ditetapkan dengan cara bersama-sama dan bergotong-royong. sebelum siswa mengerjakan tugas. b. Aspek-aspek kelompok yang perlu diperhatikan dalam kerja kelompok yaitu : Tujuan. Mempertimbangkan fasilitas yang tersedia atau yang dimiliki.bersama. antara lain : a. 2.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->