P. 1
Memaknai Trotoar Di Jalan Ki Hajar Dewantara

Memaknai Trotoar Di Jalan Ki Hajar Dewantara

|Views: 185|Likes:
Published by Wina Astarina

More info:

Published by: Wina Astarina on Mar 28, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/30/2014

pdf

text

original

TUGAS ARSITEKTUR TEMATIK Memaknai Trotoar Di Jalan Ki Hajar Dewantara (Belakang Kampus UNS) Sebagai Fasilitas Pejalan Kaki

WINA ASTARINA I0207024

JURUSAN ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA

bekerja. 2003 : 15). Trotoar adalah jalur pejalan kaki yang umumnya sejajar dengan jalan dan lebih tinggi dari permukaan perkerasan jalan untuk menjamin keamanan pejalan kaki yang bersangkutan Trotoar yang berada di Jalan Ki Hajar Dewantara. yang tidak hanya mementingkan ukuran dan dimensi berdasarkan skala manusia. belakang kampus. Trotoar. Merupakan salah satu urgensi atas fasilitas yang mendukung kegiatan pejalan kaki dari dan menuju kampus UNS dan diharapkan dapat memberikan rasa aman dan nyaman bagi para pejalan kaki. menarik bagi warga kota untuk datang. Kata kunci: pejalan kaki. dan melakukan kegiatan lainnya dalam rangka memenuhi kebutuhan jasmani dan rohaninya. Trotoar dalam bahasa Inggris disebut dengan footway yang artinya bagian jalan yang dikhususkan untuk pejalan kaki (Kamus Lengkap 8 Teknik Sipil. Dalam pengertian yang lain Trotoar adalah jalur yang terletak berdampingan dengan jalur lalu lintas kendaraan. tinggal. yang khusus dipergunakan oleh pejalan kaki (Sutono dkk. Trotoar merupakan satu dari sekian banyak macam fasilitas yang disediakan bagi para pedestrian. 2001 : 300). PENDAHULUAN Trotoar merupakan salah satu fasilitas bagi pejalan kaki yang berada di sisi kanan dan kiri jalan yang mendukung jalannya ketertiban bagi semua pengguna jalan. Upaya ke arah itu dapat dilakukan melalui pedestrianisasi kawasan perkotaan. yaitu merupakan suatu upaya untuk menciptakan lingkungan perkotaan yang sesuai dengan karakteristik dan tuntutan kebutuhan pedestrian dengan tujuan untuk mempertahankan pusat kota agar tetap manusiawi. merupakan salah satu pengadaan fasilitas bagi pedestrian yang berada di sekitar kampus.Memaknai Trotoar Di Jalan Ki Hajar Dewantara (Belakang Kampus UNS) Sebagai Fasilitas Pejalan Kaki (Pedestrian) Abstrak Lingkungan perkotaan yang ramah bagi pejalan kaki adalah lingkungan perkotaan yang manusiawi. fasilitas. .

Berjalan kaki merupakan alat penghubung antara moda moda angkutan yang lain. dimana berasal dari kata pedos yang berarti kaki. tanpa menimbulkan gangguan-gangguan yang besar terhadap aksesibilitas dengan pembangunan trotoar. sedangkan jalan merupakan media diatas bumi yang memudahkan manusia dalam tujuan berjalan. 2003 : 15). sehingga pedestrian dapat diartikan sebagi pejalan kaki atau orang yang berjalan kaki. yang khusus dipergunakan oleh pejalan kaki (Sutono dkk. yang berarti orang yang berjalan di jalan. Atau secara harfiah. . berjalan kaki merupakan alat untuk pergerakan internal kota. pedestrian berarti " person walking in the street ". Maka pedestrian dalam hal ini memiliki arti pergerakan atau perpindahan orang atau manusia dari satu tempat sebagai titik tolak ke tempat lain sebagai tujuan dengan menggunakan moda jalan kaki. Dalam pengertian yang lain Trotoar adalah jalur yang terletak berdampingan dengan jalur lalu lintas kendaraan.TROTOAR SEBAGAI FASILITAS PEDESTRIAN Pedestrian berasal dari Bahasa Yunani. maka mereka akan memperlambat arus lalu lintas. 2001 : 300). satu — satunya alat untuk memenuhi kebutuhan interaksi tatap muka yang ada didalam aktivitas komersial dan kultural di lingkungan kehidupan kota. Trotoar merupakan jalur pejalan kaki yang umumnya sejajar dengan jalan dan lebih tinggi dari permukaan perkerasan jalan untuk menjamin keamanan pejalan kaki yang bersangkutan. Menurut John Fruin. Para pejalan kaki berada pada posisi yang lemah jika mereka bercampur dengan kendaraan. Namun jalur pedestrian dalam konteks perkotaan biasanya dimaksudkan sebagai ruang khusus untuk pejalan kaki yang berfungsi sebagai sarana pencapaian yang dapat melindungi pejalan kaki dad bahaya yang datang dari kendaraan bermotor. salah satu tujuan utama dari keberadaan jalur untuk pedestrian adalah berusaha untuk memisahkan pejalan kaki dari arus kendaraan bermotor. Oleh karena itu. Trotoar merupakan salah satu fasilitas yang disediakan untuk pejalan kaki. Arti trotoar dalam bahasa Inggris disebut dengan footway yang artinya bagian jalan yang dikhususkan untuk pejalan kaki (Kamus Lengkap 8 Teknik Sipil.

e. Pada lokasi yang dapat memberikan manfaat baik dari segi keselamatan. Disediakan pada pergantian roda. Jika berpotongan dengan jalur lalu lintas kendaraan harus dilengkapi rambu dan marka atau lampu yang menyatakan peringatan/petunjuk bagi pengguna jalan. Selain jalur pejalan kaki. 2) Lapak Tunggu a. d. b. fasilitas yang harus dilengkapi bagi pedestrian adalah lapak tunggu (halte). dan lainlain. perambuan. Pada tempat-tempat dimana pejalan kaki keberadaannya sudah menimbulkan konflik dengan lalu lintas kendaraan atau mengganggu peruntukan lain. kenyamanan dan kelancaran. Disediakan pada median jalan. Fasilitas Pejalan Kaki dapat dipasang dengan kriteria sebagai berikut: 1) Jalur Pejalan Kaki a. c. 3) Lampu Penerangan . cacat. Koridor Jalur Pejalan Kaki (selain terowongan) mempunyai jarak pandang yang bebas ke semua arah. pagar pembatas.Pada dasarnya jalur pejalan kaki yang di sediakan untuk pedestrian memiliki kriteria – kriteria tertentu yang harus dipenuhi demi tujuan utama dari penyediaannya yaitu berupa rasa aman dan nyaman dari penggunannya. penerangan. b. Dalam merencanakan lebar lajur dan spesifikasi teknik harus memperhatikan peruntukan bagi penyandang f. yaitu dari pejalan kaki ke roda kendaraan umum. keamanan. dan peneduh yang sudah diatur oleh pihak Bina Marga di setiap kota. seperti taman. marka.

c. c. Kecenderungan pejalan kaki tidak meggunakan fasilitas penyeberangan. Ditempatkan pada jalur penyeberangan jalan. Apabila volume pejalan kaki di satu sisi jalan sudah > 450 orang/jam/lebar efektif (dalam meter). 4) Perambuan a. Keberadaan marka mudah terlihat dengan jelas oleh pengguna jalan baik di siang hari maupun malam hari. 5) Pagar Pembatas a. d. Apabila volume kendaraan sudah > 500 kendaraan/jam. c. Penempatan dan dimensi rambu sesuai dengan spesifikasi rambu b. b.a. Cahaya lampu cukup terang sehingga apabila pejalan kaki melakukan penyeberangan bisa terlihat pengguna jalan baik di waktu gelap/malan hari. Kecepatan kendaraan > 40 km/janl. b. e. Jenis rambu sesuai dengan kebutuhan dan sesuai dengan keadaan medan. d. Cahaya lampu tidak membuat silau pengguna jalan lalu lintas kendaraan. b. 6) Marka a. Pemasangan marka harus bersifat tetap dan tidak berdampak licin bagi penguna jalan. Bahan pagar bisa terbuat dari konstruksi bangunan atau tanaman. Pemasangan bersifat tetap dan bernilai struktur. 7) Peneduh / Pelindung . Marka hanya ditempatkan pada Jalur Pejalan Kaki penyeberangan sebidang.

Trotoar hendaknya ditempatkan pada sisi luar bahu jalan atau sisi luar jalur Daerah Manfaat Jalan (DAMAJA). Trotoar hendaknya ditempatkan pada sisi dalam saluran drainase terbuka atau di atas saluran drainase yang telah ditutup. Oleh sebab itu Kecelakaan lalu lintas adalah merupakan ancaman yang perlu diperhatikan secara sungguh-sungguh. dan bahaya ancaman fisik yang lain. c. .Jenis peneduh disesuaikan dengun jenis Jalur Pejalan Kaki. ancaman kriminal. Selain itu perlu perlindungan dari kecelakaan jatuh karena tersandung atau adanya perbedaan ketinggian antara permukaan elemen jalan. KRITERIA KEBUTUHAN PEJALAN KAKI Hal utama yang di cari dari pedestrian ketika menggunakan trotoar sebagai sarana perjalanana adalah karena pedestrian merasa perlu mendapat perlindungan dari kecelakaan lalu lintas kendaraan. b. atap (mengikuti pedoman tekniklansekap) o Atap o dll. Trotoar hendaknya dibuat sejajar dengan jalan. dapat berupa: o Pohon pelindung. Trotoar pada tempat pemberhentian bus harus ditempatkan secara berdampingan/sejajar dengan jalur bus. Lokasi Jalur Pejalan Kaki yang berupa trotoar memiliki criteria sebagai berikut: a. akan tempat Trotoar dapat tidak sejajar dengan jalan bila keadaan topografi atau keadaan setempat yang tidak memungkinkan. Menurut Bina Marga.

Sehingga semua golongan dapat menikmati adanya fasilitas bagi pedestrian tersebut. dan kemampuan fisik pengendara mobil bisa berjalan dengan kecepatan dan jarak yang sama. kemampuan mereka berjalan akan tergantung kepada jenis kelamin. . Menurut observasi yang dilakukan oleh Fruin (1971) menyatakan bahwa 99% manusia berukuran lebar bahu sekitar 52. dan tebal tubuh sekitar 33 cm. Pedestrian berbeda dengan pengendara mobil. Tanpa tergantung jenis kelamin.5 cm dengan toleransi 3. Lingkungan yang nyaman secara fisik maupun psikologis mempengaruhi para pedestrian untuk menggunakan trotoar sebagai sarana berjalan kaki. dan kondisi fisik. Kenyamanan ini dapat diperoleh dari adanya peletakan fasilitas pendukung seperti peneduh. Pergerakan Pejalan Kaki tidak akan terpisahkan dengan keadaan lingkungannya. Ukuran badan pedestrian ditentukan oleh lebar bahu dan tebal tubuh.Hal lain yang dibutuhkan oleh pedestrian adalah rasa nyaman. DIMENSI DAN RUANG BAGI PEDESTRIAN Ukuran bagi fasilitas trotoar yang disediakan seharusnya cukup bagi seluruh jenis dan ukuran pedestrian yang menggunakan fasilitas tersebut. marka dan penerangan di sekitar trotoar. umur.7 cm x 61 cm atau ekuivalen dengan ellips seluas 0. Tidak demikian adanya bagi pedestrian.21 m2 untuk memberi kesempatan bergerak bebas dengan kondisi membawa bawaan di tangan kanan dan kiri. Untuk orang Indonesia dimensi tersebut mestinya sudah amat memadai.8 cm. Selanjutnya ia merekomendasikan untuk memakai ukuran sekitar 45. Anak muda akan mampu lebih cepat dan lebih jauh berjalan dari pada orang tua. umur. Oleh karena itu lingkungan bagi pedestrian harus dibuat semudah mungkin bagi berbagai golongan dan kondisi pedestrian.

Ruang ini menggelembung dalam bentuk telur dengan sebagian besar ruang berada di dekat si pedestrian yang bersangkutan. Ruang yang terbentuk antara satu pedestrian dengan yang lainnya ini oleh Untermann (1984) disebut sebagai teritori bubble (territory bubbles). seperti berjalan-jalan di taman.Dimensi dari trotoar sendiri memberikan rasa nyaman bagi penggunanya. dan membesar sampai 1. maupun berhenti semakin berkurang. Apabila kapasitas rendah dan ruang longgar maka pedestrian bebas memilih ruang yang nyaman untuk menghindari terjadinya kontak dengan orang lain. Besarnya bervariasi tergantung kepadatan kerumunan orang. dan ruang pribadi juga semakin mengecil. yaitu antara jarak pandang ke depan sejauh 183 cm untuk situasi padat seperti berjalan di pusat pertokoan. . trotoar yang terlalu sempit ataupun terlalu lebar dapat membuat penggunanya tidak nyaman secara psikologis.067 cm untuk situasi yang longgar. memperlambat langkah. Pedestrian mempunyai ruang pribadi yang terbentuk antara seorang pejalan kaki dengan orang lain didepannya di dalam suatu kerumunan orang. Bila kapasitas semakin padat maka kebebasan pedestrian untuk berjalan. belok.

Hingga bulan Desember 2010. Pada pembuatannya pun terjadi beberapa tahap. Bila kurang dari itu pedestrian harus mengatur kembali posisinya. 1984) Ruang yang diperlukan bagi pedestrian di dalam arus pejalan kaki adalah fungsi dari kepadatan jumlah pejalan kaki. maka belum tentu pedestrian tersebut sudah mencapai kenyamanan di dalam ruang pribadinya. Jarak Pandang ke Depan (Untermann. .Gambar 3. FENOMENA YANG TERJADI DI TROTOAR JALAN KI HAJAR DEWANTARA Fenomena yang akan dibahas adalah menyangkut kesadaran masyarakat sekitar jalur trotoar jalan ki Hajar Dewantara untuk memepergunakan fasilitas yang telah disediakan secara maksimal dan benar. trotoar ini masih belum terselesaikan. Pada keadaan yang padat pedestrian cenderung untuk mengurangi longitudinal spacing mereka dari pada lateral spacingnya yang bisa menyebabkan bersenggolan dengan orang disampingnya. Masyarakat sekitar merupakan sasaran utama pengguna dari fasilitas yang dibuat sepanjang area pintu keluar Gerbang belakang UNS hingga Gerbang Hukum yang dibuat sekitar bulan Agustus 2010 ini. Bila kepadatan meningkat maka pedestrian dipaksa untuk mempertahankan pola ruang yang telah ada untuk keperluan manuver.3 m2. Jadi meskipun dimensi minimal bagi pedestrian sudah tercapai. Agar manuver bisa dilakukan dengan baik minimum ruang yang tersedia seluas 2.

Angkringan yang menutupi area masuk/awalan trotoar Sumber : dokumen pribadi Trotoar ini dibangun diatas tanah yang tadinya digunakan sebagai toko – toko yang kemudian toko – toko tersebut dipindahkan ke daerah belakang Kelurahan yang tidak jauh dari tempat berdagangan semula. . Mereka harus memotong jalan melewati bagian taman dari area trotoar tersebut.Pada bagian ujung trotoar di dekat Gerbang UNS. terdapat sebuah warung angkringan yang menutupi jalan masuk ke arah trotoar. sehingga jika ada pejalan kaki yang akan naik atau turun dari trotoar tidak dapat melewati area masuk atau awalan jalur pejalan kaki tersebut. Di bagian dinding yang membatasi trotoar terlihat banyak coret – coretan yang bertuliskan informasi alamat toko yang sebelumnya berdiri disana. Gambar 1.

pohon mangga dan beberapa jenis tanaman semak lainnya yang menjadi pemanis dari trotoar. karena jalur pedestriannya tertutup oleh bayangan pohon yang besar. berupa pohon – pohon jati yang sudah berdiri sejak sebelum trotoar dibuat. . Namun sayangnya adanya pohon besar ini juga dimanfaatkan oleh para penjual untuk berjualan di sekitar bawah pepohonan. Pohon – pohon yang ditanam saat ini tidak dapat berfungsi sebagai peneduh bagi para pedestrian yang berjalan di jalur pejalan kaki yang berada di sisi dalam trotoar. Area sekitar pohon jati ini memiliki suasana yang lebih adem dan teduh. Pejalan kaki tetap terkena panas dan hujan ketika menggunakan jalur pedestrian tersebut. Dinding pembatas yang menjadi papan pengumuman Sumber : dokumen pribadi Trotoar dengan jalur jalan selebar 80 cm ini memiliki taman selebar 2 meter yang berfungsi juga sebagai RTH dan berisi pohon – pohon yang baru ditanami seperti palm botol. terdapat pepohonan yang sudah cukup tua. Di beberapa sisi dekat Gerang Hukum.Gambar 2.

Selain itu kerbs trotoar ini memiliki ketinggian yang cukup tinggi yaitu sekitar 20 . satu diantaranya harus mengurangi kecepatan berjalan untuk sejenak memberikan kesempatan untuk lawan arahnya untuk “menyalip”. Area bawah pohon yang rindang dipergunakan sebagai lokasi berjualan Sumber : Dokumen Pribadi Jalur pejalan kaki yang relative sempit ini jika diperhatikan. Sehingga apabila ada pejalan kaki yang berjalan bersinggungan. maka mereka harus berjalan berbaris agar tidak menabrak satu dengan yang lain. tidak dapat digunakan oleh dua orang yang berjalan secara bersinggungan ataupun bersebelahan. Sedangkan apabila pedestrian tersebut datang menuju arah yang sama.Gambar 3 & 4 Pohon – pohon yang baru ditanam dan diharapkan sebagai peneduh Sumber : Dokumen Pribadi Gambar 5.

Gambar 6. Akibat daripada jalur pejalan kaki yang berada di bagian dalam juga mengakibatkan lebih banyak pedestrian yang berjalan di bahu jalan raya dibandingkan naik ke atas trotoar. Hal ini kaena sulitnya mereka mendapatkan akses untuk memanggil kendaraan umum yang lewat. Ditambah lagi dengan tidak adanya . Perbedaan kerbs/level menuju trotoar yang cukup tinggi. Sumber : Dokumen Pribadi Gambar 7. Adanya taman yang berada di sisi luar trotoar membuat pedestrian yang ingin menyebrang dari jalur pejalan kaki menuju jalan atau menghentikan angkutan harus menginjang taman. Penambahan level menuju ke trotoar tidak membantu. Seorang ini pastinya tidak dapat menaikan diri ke atas trotoar karena tidak adanya bantuan ram untuk akses menuku ke atas trotoar. banaylk dari pedestrian yang lebih memilih menyebrang untuk berada di sisi satunya dikarenakan adanya fasilitas lain seperti pertokoan dan ATM. Jalur pejalan kaki yang berukuran kecil membuat para pedestrian yang melewatinya harus berbaris. Ditambah lagi ukuran lebar jalur pejalan kaki yang sekitar 80 cm akan menyulitkan kaum difabel untuk bergerak diatas jalur pedestrian. Sumber : Dokumen Pribadi Trotoar yang menempel langsung ke sisi dinding kampus kurang diminati oleh para pedestrian karena di sisi tersebut tidak terdapat fasilitas apapun selain trotoar dan jalur pejalan kaki. bukan ram. Sekitar 20 cm. hal ini menyulitkan apabila ada seorang difabel yang ingin menggunakan area trotoar demi keselamatannya.cm. Karena masih membentuk seperti tangga.

Hal ini diakibatakn tidaj adanya penutup atap yang dapat melindungi pedestrian ketika turun hujan. Sumber : Dokumen Pribadi Gambar 9.halte terdekat di sekitar trotoar sepanjang Gerbang UNS – Gerbang Hukum sehingga menyebabkan para pedestrian menunggu angkutan di sisi jalan raya. Jalur pedestrian yang sangat . Hal yang sama juga terjadi ketika malam hari. mereka lebih memilih berjalan di sisi sebrangnya yang memiliki banyak bangunan untuk berlindung jika tiba – tiba turun hujan. tidak ada satupun pedestrian yang berjalan menggunakan jalur pejalan kaki di trotoar tersebut. Selain itu juga tidak ada nya marka penyebrangan (zebra cross) membuat para pedestrian seenaknya untuk menyebrang dari dan menuju sisi sebrangnya membuat keamanan dari pedestrian tetap seolah diabaikan. Jalur pejalan kaki yang berada si sisi membuat pedestrian harus melangkah memotong taman untuk memanggil angkutan. Pejalan kaki yang lebih memilih berjalan di sisi jalan raya dibandingnkan berjalan di jalur pejalan kaki di trotoar Sumber : Dokumen Pribadi Pada saat hujan turun. padahal hal tersebut tidak aman bagi keselamatan mereka. Gambar 8.

Dengan adanya fasilitas yang baik. .gelap dan sepi membuat jarang sekali pejalan kaki yang berjalan menggunakan pedestrian tersebut dan memilih untuk berjalan di sisi yang terang. Suatu system yang baik itu pada dasarnya terbentuk oleh fasilitas yang baik pula. maka dapat membuat sebuah system yang salah menjadi system yang lebih baik dan saling memberi pengaruh kepada lingkungan yang ada disekitarnya. Suasana sekitar trotoar ketika hujan turun Sumber : Dokumen Pribadi Pada dasarnya trotoar sebagai elemen kota merupakan fasilitas berjalan kaki bagi seluruh pedestrian semua umur dan semua golongan. Maka alangkah lebih baiknya apabila sarana dan fasilitas yang demi kepentingan bersama itu bisa dinikmati dengan nyaman oleh semua kalangan. Gambar 10.

co. http://www. Whitney Library Of Design. http://retnodamayanthi. Brambilia. http://binamarga. Design.ac.DAFTAR PUSTAKA 1.15 4.40 5.id/gsdl/collect/skripsi/archives/HASH011f/5e79f9f5.05 2.dir/doc.pdf 28/11/2010 08.15 6. pdf 28/12/2010 16.15 3.wordpress.com/PPS702-ipb/08234/totok_priyanto.com/2008/10/12/alih-fungsi-trotoar/ 28/11/2010 08. Roberto (1977). For Pedestrian Only Planning Planning.id/referensi/nspm/pedoman_teknik245. New York .pdf 28/11/2010 08.unnes. http://digilib.go.id/read/artikel/2010/11/30/65253/rancang-trotoar- khusus-penyandang-cacat 28/11/2010 08. And Management Of Traffic -Free Zones.pu. http://rudyct.banjarmasinpost.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->