P. 1
contoh

contoh

|Views: 880|Likes:
Published by diya_pratiwi

More info:

Published by: diya_pratiwi on Mar 28, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/23/2012

pdf

text

original

JUDUL (SEHARUSNYA & KENYATAAN) MAKALAH Dianjukan untuk Memenuhi Tugas, Mata Kuliah Perkembangan Hukum Islam, Semester Genap

, Tahun Akademik 2009/ 2010 Dosen Pembimbing : Drs. Ahmad Abdul Gani, S.H., M.Ag. Oleh: Surya Sumarsono, npm. ;OGO FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS PASUNDAN BANDUNG 2010/ 1431 Diposkan oleh AHMADABDULGANI di 00:41 0 komentar

Senin, 20 Juli 2009
LINK MILIK_KU AHMAD ABDUL GANI 1. My Situs http://www.ahmadabdulgani.blogspot.com 2. My Facebook: http://www.Ahmad Ghani.facebook.com 3. My E_mail : ahmad_a_ghani@yahoo.com Diposkan oleh AHMADABDULGANI di 01:01 0 komentar KIAT SUKSES KULIAH 1. MENGUASAI BAHASA (ARAB & INGGRIS) 2. MENGUASAI TIK/ ICT (INTERNET, YAHOO, GOOGLE, E-MAIL, BLOG, FACEBOOK) 3. SOFT SKILL (BERKOMUNIKASI, BERADAPTASI, KERJASAMA, TERBUKA & JARINGAN) 4. AKTIF DI LEMBAGA KEMAHASISWAAN, ORGANISASI PROFESI, ORMAS & ORPOL 5. MENGIKUTI TOPIK YANG MENJADI SOROTAN PUBLIK 6. KEMAMPUAN MEMBUAT PAPER, MAKALAH, KARYA ILMIAN LAINNYA. Diposkan oleh AHMADABDULGANI di 00:59 0 komentar

Jumat, 17 Juli 2009
SISTEMATIKA TUGAS U A S SMT PENDEK
SISTEMATIKA PAPER TUGAS AKHIR SEMESTER PENDEK DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR .............................................................. i

DAFTAR ISI ........................................................................... ii BAB I : PENDAHULUAN A Latar Belakang Masalah ................................................... B Identifikasi Masalah .......................................................... MEMBUAT TIGA PERTANYAAN C Tujuan ................................................................................. TIGA REDAKSI DARI I,MASALAJ D Kerangka Pemikiran ............................................ 1.GRAND THEORY 2.MIDLE THEORY 3.APPLY THEORY E Metodologi .................................................... F Sistematika ................................................... BAB II : (PRINSIP JUDUL MAKALAH) A ............................................................... B ............................................................... C ............................................................... BAB III : (PAPARAN MATERI JUDUL) A ............................................................... B ............................................................... C ............................................................... BAB IV : ANALISA HUKUM A IDENTIFIKASI MASALAH NO 1 ..................................... B IDENTIFIKASI MASALAH NO 2 ..................................... C IDENTIFIKASI MASALAH NO 3 ..................................... BAB V : PENUTUP.......................................... A KESIMPULAN 1.KAL I.MASALAH NO 1 ADALAH .................................... 2.KAL I.MASALAH NO 2 ADALAH..................................... 3.KAL I.MASALAH NO 3 ADALAH..................................... B SARAN SARAN .................................................................... 1.SARAN UNTUK KESIMPULAN NO 1,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, 2.SARAN UNTUK KESIMPULAN NO 2.................................. 3.SARAN UNTUK KESIMPULAN NO 3.................................. DAFTAR PUSTAKA MINIMAL 5 BUAH BUKU + INTERNET................................ iii 2 SPASI HURUF TIME NEW ROMANS BESAR 12 FOOT NOTE : NAMA, TAHUN, JUDUL, KOTA:PENERBIT, HALAMAN COVER, KATA PENGANTAR, DAFTAR ISI, ISI PAPER, SAMPAI DAFTAR PUSTAKA TUGAS INDIVIDU JUDUL, I.MASALAH, TUJUAN, K. PEMIKIRAN, ANALISA, KESIMPULAN & SARAN MAKALAH TDK DIJILID CUKUP DIHEKTER

DIKUMPUL DI SEKRETARIS KELAS YG MEMPEROLEH POINT NILAI PAPER YG DIBUAT SESUAI PETUNJUK & TEPAT WKT TARGET 1. MHS DAPAT MENYUSUN PAPER DGN BAIK; 2. MHS DAPAT TERBIASA MENGGUNAKAN TIK, ICT; 3. MHS DAPAT MEMPEROLEH POINT NILAI.

2 SPASI HURUF TIME NEW ROMANS BESAR 12 FOOT NOTE : NAMA, TAHUN, JUDUL, KOTA:PENERBIT, HALAMAN COVER, KATA PENGANTAR, DAFTAR ISI, ISI PAPER, SAMPAI DAFTAR PUSTAKA SATU KELOMPOK TETAPI MAKALAHNYA MASING MASING YG BERHAK MEMPRESENTASIKAN ANGGOTA KEL. YG MEMBUAT MAKALAH MAKALAH DIGANDAKAN 5 RANGKAP. BOLEH DIBUAT 3 LEMBAR RINGKASANNYA JUDUL, I.MASALAH, TUJUAN, KERANGKA PEMIKIRAN, ANALISA, KESIMPULAN & SARAN MAKALAH TDK DIJILID CUKUP DIHEKTER YG TDK MEMBUAT ATAU TDK IKUT DLM PRESENTASI GUGUR & MEMBUAT KELOMPOK LAGI TARGET 1. MHS DAPAT MENYUSUN & MEMPRESENTASIKAN MAKALAH DGN BAIK; 2. MHS DAPAT MEMBAWAKAN DISKUSI DENGAN BAIK; 3. MHS DAPAT BERKOMUNIKASI DENGAN BAIK DLM DISKUSI; 4. MHS DAPAT TERBIASA MENGGUNAKAN TIK, ICT; 5. MHS DAPAT MEMPEROLEH POINT NILAI. Diposkan oleh AHMADABDULGANI di 19:02 0 komentar

Minggu, 08 Februari 2009
CONTOH MAKALAH

EUTHANASIA DALAM PANDANGAN HUKUM PIDANA ISLAM DAN HUKUM PIDANA (KUHP) DI INDONESIA Paper Diajukan untuk Memenuhi Tugas, Mata Kuliah Perkembangan Hukum Islam, Semester Genap, Tahun Akademik 2008/2009 Dosen Pembimbing Prof. Dr. H.R.Otje Salman S.,S.H./ Ahmad Abdul Ghani, Drs.,S.H.,M.Ag Oleh Nama :Anzani Akbar Kelas :D N.P.M :071000231

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS PASUNDAN BANDUNG 2009/1430 H KATA PENGANTAR Alhamdulillahhirabbil’aalamin, segala puja dan puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT Sang pencipta alam semesta beserta segala isisnya yang Maha Besar, yang berkat rahmat, bimbingan, izin dan pertolongan-Nya penulis dapat menyelesaiakan makalah ini. Shalawat serta salam tidak lupa penulis sampaikan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, beserta segenap keluarganya, sahabat-sahabatnya,serta seluruh pengikutnya hingga akhir zaman. Makalah ini diajukan sebagai salah satu tugas mata kuliah Perkembangan Hukum Islam pada program Ilmu Hukum semester genap, Fakultas Hukum Universitas Pasundan Bandung, di mana judul makalahnya adalah “Euthanasia Dalam Pandangan Hukum Pidana Islam dan Hukum Pidana (KUHP) Di Indonesia”. Penulisan makalah ini berisikan pembahasan tentang bagaimana praktek euthanasia apabila dihubungkan dengan kode etik kedokteran, kemudian bagaimana sebenarnya pandangan hukum islam dan hukum positif Indonesia perihal euthanasia ini beserta alasannya, dan terakhir sejauh manakah praktek euthanasia ini dilakukan di Indonesia. Penulisan makalah ini bertujuan untuk membahas tentang sebenarnya bagaimana praktek euthanasia apabila dihubungkan dengan kode etik kedokteran, kemudian untuk mengetahui bagaimana sebenarnya pandangan hukum islam dan hukum positif Indonesia perihal euthanasia ini beserta alasannya, dan terakhir adalah untuk mengetahui sejauh mana praktek euthanasia ini dilakukan di Indonesia. Dalam menyusun makalah ini, tentunya tidak mungkin terlaksana apabila tanpa semangat, dukungan, serta bimbingan dari pihak-pihak yang sangat penulis hormati. Oleh karena itu, pertama pemulis ingin berterimakasih kepada Bapak Prof.Dr.H.R.Otje Salman S.,S.H. dan Bapak Ahmad Abdul Ghani, Drs.,S.H.,M.Ag selaku dosen mata kuliah Perkembangan Hukum Islam yang telah membimbing penulis dalam menyusun makalah ini. Kedua, penulis ingin berterimaksih kepada kedua orang tua penulis atas doa serta dukungan moril maupun materil yang telah diberikannya. Kemudian, penulis juga ingin berterimakasih kepada rekan-rekan

mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Pasundan yang telah membantu penulis demi kelancaran penulisan makalah ini. Penulis menyusun makalah ini dengan maksimal dan dengan segala kemampuan penulis berdasarkan kriteria yang telah ditentukan. Namun, kritik dan saran yang bersifat konsrtruktif dan membangun penulis terima dengan senang hati. Akhir kata makalah ini dapat terselesaikan pada waktu yang diharapkan, dan penulis berharap mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat. Amin. Wabillihi taufik walhidayah wassalammu’alaikum Wr.Wb Bandung, Juni 2009 Penulis DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR. i DAFTAR ISI. iii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah 1 B. Identifikasi Masalah 2 C. Maksud dan Tujuan 3 D. Kerangka Pemikiran 3 E. Metode Penulisan 7 F. Sistematika Penulisan 7 BAB II PEMBUNUHAN DALAM PANDANGAN HUKUM PIDANA ISLAM DAN HUKUM PIDANA INDONESIA (KUHP) A. Pembunuhan Dalam Pandangan Hukum Pidana Islam 9 1. Definisi Pembunuhan.. 9 2. Macam-macam Pembunuhan.. 9 3. Sanksi Atas Pembunuhan... 14 B. Pembunuhan Dalam Pandangan Hukum Pidana Indonesia (KUHP). 19 1. Definisi Pembunuhan.. 19 2. Macam-macam Pembunuhan. 19 3. Sanksi Atas Pembunuhan. 21 BAB III PRAKTEK EUTHANASIA A. Pengertian Euthanasia. 24 B. Macam-macam Euthanasia... 25 C. Beberapa Pendapat Menganai Euthanasia. 28 BAB IV EUTHANASIA DALAM PANDANGAN HUKUM PIDANA ISLAM DAN HUKUM PIDANA (KUHP) DI INDONESIA A. Praktek Euthanasia Dihubungkan Dengan Kode Etik Kedokteran 32 B. Pandangan Hukum Pidana Islam dan Hukum Pidana Indonesia (KUHP) Terhadap Euthanasia.. 36 C. Praktek Euthanasia di Indonesia di Lapangan 48 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan 51 B. Saran… 52

DAFTAR PUSTAKA…. v BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kehidupan itu begitu suci dalam agama Islam, sehingga tidak dapat dikorbankan begitu saja. Allah SWT menciptakan manusia begitu sempurnanya apabila dibandingkan dengan makhluk ciptaan Allah SWT lainnya. Manusia dilahirkan dalam keadaan suci tak berdosa, dan kemudian mengemban tugas agar selalu berada pada jalan yang benar, yakni mematuhi perintah Allah SWT, dan menjauhi segala larangan Alla SWT. Pesatnya perkembangan teknologi kedokteran, memungkinkan dokter untuk memprediksi kematian seorang pasien dengan lebih tepat. Hal ini dapat menimbulkan masalah yang pelik dan rumit bagi perkembangan dunia medis. Seperti halnya yang terjadi di negara-negara Barat, yang bersistem liberalis dan berpaham sekuler, dengan beranggapan bahwa manusia mempunyai hak untuk menentukan kematiannya sendiri (euthanasia), bilamana dokter memutuskan bahwa seorang pasien sudah tidak ada harapan untuk hidup. Sebagai bagian dari kemajuan teknologi kedokteran, euthanasia telah dilegalkan secara khusus dan tertulis oleh sebagian negara-negara maju, seperti yang terjadi di Belanda, walaupun disertai dengan syarat-syarat tertentu. Pelegalan euthanasia ini, menjadi perdebatan pro dan kontra, baik dari sudut pandang dunia medis, yuris atau religi. Dengan informasi teknologi global yang berpengaruh terhadap nilai-nilai budaya, memungkinkan kasus ini merambah ke Indonesia. Akan tetapi, apakah hukum kita mampu mengantisipasi kemungkinan terjadinya kasus ini. Dalam praktek pembunuhan dalam bentuk euthanasia ini menjadi suatu hal yang menjadi pro dan kontra. Dalam hukum islam perihal euthanasia ini jelas-jelas dilarang oleh Allah SWT apaun alasannya, dan dalam hukum pidana Indonesia seperti yang tercantum dalam pasal 344 KUHP tersirat akan praktek euthanasia ini yang apabila dilakukan akan dihukum pidana sesuai aturan yang berlaku, namun apa yang tercantum dalam peraturan-peraturan tersebut pada kenyataannya berlainan dengan praktek di lapangan. Permasalahan inilah yang akan dibahas penulis, dengan mengkomparasikan kasus euthanasia yang terjadi di Indonesia dan meninjau pengaturannya di Indonesia dari sudut pandang hukum pidana Indonesia (KUHP) dan hukum Islam, mengingat permasalahan yang akan dibahas belum mempunyai peraturan yang khusus. B. Identifikasi Masalah Sesuai dengan judul dan telah diuraikan dalam pembahasan latar belakang diatas, maka penulis menganggap pembahasan dapat dicakup dengan merumuskan permasalahan sebagai berikut : 1. Bagaimanakah praktek euthanasia apabila dihubungkan dengan kode etik kedokteran? 2. Bagaimana pandangan hukum pidana islam dan hukum pidana (KUHP) Indonesia terhadap praktek euthanasia ini serta dasar hukumnya? 3. Sejauh manakah praktek euthanasia ini dilakukan? C. Maksud dan Tujuan Dalam makalah ini penulis mempunyai beberapa tujuan yang hendak dicapai, tidak hanya kepada mahasiswa Fakultas Hukum saja, tetapi juga kepada masyarakat umumnya, tujuan yang diinginkan penulis antara lain : 1. Untuk mengetahui praktek euthanasia apabila dihubungkan dengan kode etik kedokteran. 2. Untuk mengetahui bagaimana pandangan hukum pidana islam dan hukum pidana (KUHP) Indonesia terhadap praktek euthanasia ini serta dasar hukumnya.

3. Untuk mengetahui sejauh manakah praktek euthanasia ini dilakukan.. D. Kerangka Pemikiran Setiap makhluk hidup, termasuk manusia, akan mengalami siklus kehidupan yang dimulai dari proses pembuahan, kelahiran, kehidupan di dunia dengan berbagai permasalahannya, serta diakhiri dengan kematian. Dari proses siklus kehidupan tersebut, kematian merupakan salah satu yang masih mengandung misteri besar, & ilmu pengetahuan belum berhasil menguaknya. Untuk dapat menentukan kematian seseorang sebagai individu diperlukan kriteria diagnostik yang benar berdasarkan konsep diagnostik yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Kematian sebagai akhir dari rangkaian kehidupan adalah merupakan hak dari Tuhan. Tak seorangpun yang berhak menundanya sedetikpun, termasuk mempercepat waktu kematian. Pembunuhan merupakan sesuatu yang memang dilarang oleh Allh SWT. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surat An-Nisa ayat 93.

Artinya : “Barangsiapa dengan sengaja membunuh seorang Muslim dengan maksud permusuhan, dan ia membenarkan tindakannya itu, maka balasannya adalah neraka Jahanam. Ia akan kekal di dalamnya. Allah pun akan murka kepadanya dan menjauhkannya dari kasih sayang-Nya. Allah akan menyiapkan baginya siksa yang sangat pedih di akhirat nanti. Sebab, pembunuhan merupakan kejahatan terbesar yang ada di dunia.” Dalam hukum positif Indonesia yang tercantum dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana, menghukum suatu perbutan pembunuhan baik itu yang dilakukan secara sengaja, karena kealpaan maupun berencana. Pasal-pasal yang terkait beberapanya adalah pasal 338 KUHP yang menghukum pembunuhan yang dilakukan dengan sengaja, lalu pasal 340 KUHP yang menghukum pembunuhan yang dilakukan dengan berencana, dan pasal 359 KUHP yang menghukum suatu pembunuhan yang dilakukan dengan tidak sengaja. Euthanasia yang menjadi suatu perdebatan antara pro dan kontra merupakan salah satu bentuk pembunuhan atas permintaan korban sendiri agar dibunuh oleh seseorang. Hal ini biasanya mengingat bahwa ia memiliki suatu penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Apabila ia terus hidup maka akan menambah pemderitaan saja bagi orang yang mengidap penyakit tersebut. Dalam KUHPidana di Indonesia euthanasia ini tersirat dalam pasal 344 KUHP yang menyatakan “barang siapa yang merampas nyawa seseorang atas permintaan orang itu sendiri yang jelas dinyatakan dengan kesungguhan hati, diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun” Dalam hukum islam sebagaimana tercantum dalam firman Allah SWT dalam surat surat An-Nisa ayat 92 yang berbunyi:

Artinya: “Dan tidaklah layak bagi seorang mumin membunuh seorang mumin (yang lain),

kecuali karena tersalah (tidak sengaja) dan barangsiapa membunuh seorang mumin karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah. Jika ia (si terbunuh) dari kaum yang memusuhimu, padahal ia mumin, maka (hendaklah si pembunuh) memerdekakan hamba-sahaya yang mumin. Dan jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang mumin. Barangsiapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut sebagai cara taubat kepada Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. 4:92). Dalam kaidah-kaidah di atas pembunuhan selayaknya merupakan sesuatu yang dilarang oleh Allah SWT atas dasar bahwa pembunuhan merupakan perbuatan yang memang akan melanggar hak hidup seseorang, yang apabila ditinjau berdasarkan segi HAM, sosiologis, hukum agama memang melarangnya. E. Metode Penulisan Untuk mendapatkan data dan informasi yang dibutuhkan, penulis menggunakan beberapa metode antara lain : 1. Studi Pustaka Pada metode ini, kami membaca buku-buku literatur yang berhubungan erat dengan penyusunan makalah ini. Seperti buku-buku tentang Hukum Islam, Perkembangan Hukum Islam, Hukum pidana Islam, Fiqh Islam, ensiklopedi Islam, dan buku-buku tentang pidana yang memang menunjang untuk dipergunakan dalam penulisan makalah ini.. 2. Pemikiran Penulis mencoba untuk belajar mengungkapkan pemikiran sendiri dan kemudian dituangkan pada makalah ini. F. Sistematika Penulisan Sistematika penulisan dalam makalah ini terdiri dari empat Bab, yang diawali dengan kata pengantar kemudian daftar isi. Dalam Bab I (Pendahuluan) terdiri dari latar belakang masalah, identifikasi masalah, tujuan penulisan, kerangka pemikiran makalah,metode penulisan dan sistematika penulisan. Dalam Bab II (Pembunuhan Dalam Pandangan Hukum Pidana Islam dan Hukum Pidana Indonesia (KUHP)) dimana menjelaskan pengertian pembunuhan dalam hukum pidana islam, macam-macam pembunuhan dalam hukum pidana islam, dan sanksi atas pembunuhan dalam hukum pidana islam. Kemudian menjelaskan pengertian pembunuhan dalam hukum pidana Indonesia (KUHP), macam-macam pembunuhan dalam KUHP dan bagaimana sanksi dari pembunuhan tersebut. Dalam Bab III (Euthanasia) menjelaskan mengenai apa dan bagaimana euthanasia itu, apa macam-macam, dan bagaimana pendapat para pakar dan ulama atas praktek euthanasia ini. Dalam Bab IV (Euthanasia dalam Pandangan Hukum Pidana Islam dan Hukum Pidana (KUHP) Indonesia) yang berisikan pembahasan bagaimana praktek eutnanasia apabila dihubungkan dengan kode etik kedokteran, kemudian bagaimana pandangan hukum pidana islam dan hukum pidana (KUHP) Indonesia atas praktek euthanasia ini serta dimana dasar hukumnya, dan yang terakhir sejauh manakah praktek euthanasia ini dilakukan.. Dalam Bab V (Penutup) terdiri dari penutup yang berisikan mengenai kesimpulan dari pembahasan makalah ini sebelumnya serta saran mengenai pembelajaran pembahasan makalah

dengan harapan semoga dapat diterima oleh pihak-pihak yang bersangkutan dengan masalah ini guna dipakai sebagai bahan untuk mengadakan penyempurnaan.

BAB II PEMBUNUHAN DALAM HUKUM PIDANA ISLAM DAN HUKUM PIDANA UMUM (KUHP) A. Pembunuhan Dalam Pandangan Hukum Pidana Islam 1.Definisi Pembunuhan Pembunuhan (Al-Qati) adalah suatu aktifitas yang dilakukan oleh seseorang dan atau beberapa orang yang mengakibatkan seseorang dan atau beberapa orang meninggal dunia. Ulama fikih mendefiniskan pembunuhan dengan “perbuatan manusia yang mengakibatkan hilangnya nyawa seseorang” 2.Macam-macam Pembunuhan Telah dijelaskan sebelumnya bahwa pembunuhan itu merupakan suatu aktifitas yang dilakukan oleh seseorang yang dapat mengakibatkan meninggalnya seseorang. Apabila dilihat dari segi hukumnya, pembunuhan dalam hukum islam ada dua bentuk, yaitu: a. Pembunuhan yang diharamkan. : seperti membunuh orang lain dengan sengaja tanpa sebab b. Pembunuhan yang diperbolehkan : seperti membunuh orang yang murtad jika ia tidak mau tobat atau membunuh musuh dalam peperangan. Sebagian ahli fikih membagi pembunuhan dalam lima macam, yakni: a. Pembunuhan yang wajib; : seperti membunuh orang murad yang tidak mau bertaubat. b. Pembunuhan yang haram; : seperti membunuh orang lain tanpa sebab. c. Pembunuhan yang makruh; : seperti seseorang yang sedang berjihad membunuh keluarganya yang kafir yang tidak mencela dan mencacimaki Allah SWT. d. Pembunuhan yang dianjurkan (sunah); : seperti seseorang yang sedang berjihad membunuh keluarganya yang kafir yang mencela dan mencacimaki Allah SWT. e. Pembunuhan yang dibolehkan (mubah). : seperti membunuh dalam rangka kisas (hukuman bagi pembunuhan sengaja). Apabila diperhatikan dari sifat pembunuhan, maka pembunuhan dapat diklasifikasikan menjadi tiga maca, yakni: a. Pembunuhan sengaja (amd); : yaitu pembunuhan yamh dilakuka oleh seseorang denga tujuan untuk membunuh orang lain dengan menggunakan alat yang dipandang klayak untuk membunuh. b. Pembunhan tidak disengaja (khata); : yaitu perbuatan yang dilakukan oleh seseorang dengan tidak ada unsur kesengajaaan yang mengakibatkan matinya orang lain. Contohnya apabila seseorang sedang menebang pohon besar kemudian pohon tersebut menimpa orang yang lewat kemudian orang yang lewat etrsebut tewas. c. Pembunuhan semi sengaja (syibhu al-amd).

: yaitu perbuatan yang sengaja dilakuka oleh seseorang kepada orang lain dengan tujuan mendidik. Contohnya, seseorang guru yang memukulkan penggaris kepada kaki seorang muridnya, dan tiba-tiba muridnya tersebut meninggal dunia, maka perbuatan guru tersebut dikatakan sebagai pembunuhan semi sengaja. Perihal macam-macam pembunuhan ini terdapat perbedan pendapat para ulama fikih dalam membagi macam-macam pembunuhan. a. Ulama Mahzab Hanafi membagi pembunuhan menjadi lima macam, yakni: Pembunuhan sengaja;♣ :yakni pembunuhan seseorang dengan sengaja dengan menggunakan alat yang mematikan secra meyakinkan, seperti senjata, pisau, pedang, panah, atau alat mematikan lainnya. Pembunuhan semi sengaja;♣ : menurut imam abu Hanifah adalah sengaja memukul seseorang, tetapi bukan dengan alat yang biasanya bisa membunuh, seperti menggunakan batu dan kayu yang besar. Pembunuhan karena tersalah;♣ : yakni yakni pembunuhan yang terbagi ke dalam dua bentuk, (1) tersalah dalam niat atau tujuan atau perkiraan pelaku, seperti seseorang yang memburu hewan buruan dan ia menembak sesuatu yang dikiranya hewan tetapi ternyata manusia, (2) tersalah dalam sasaran, seperti ia hendak membunuh hewan buruan, yang berakibat hilangnya nyawa orang yang tertimpa tersebut. Pembunuhan♣ yang mirip dengan pembunuhan teralah di atas (semi tersalah); : yakni, seperti orang yang tidur di atas ranjang yang secara tidak sadar terjatuh dari tempat tidurnya dan menimpa orang yang tidur di lantai, yang berakibat hilangnya nyawa orang yang tertimpa tersebut. ♣ Pembunuhan yang bukan perbuatan secara sengaja membunuh, tetapi disebabkan sesuatu yang lain ( pembunuhan tidak secara langsung). : yakni, misalnya seseorang menggali lubang yang dalam di tanah orang lain atau di jalan umum yang biasa dilalui orang, sehngga pada suatu ketika orang yang lewat di situ jatuh ke lubang tersebut dan mati. b. Ulama Mahzab Syafi’i dan Mahzab Hambali membagi pembunuhan menjadi tiga macam, yakni: Pembunuhan sengaja;♣ :yaitu pembunuhan yang sengaja, yang dibarengi dengan rasa permusuhan, dengan menggunakan alat yang biasanya dapat menghilangkan nyawa seseorang, baik secara langsung maupun tidak, seperti menggunakan senjata, kayu atau batu besar, atau melukai seseorang yang berakibat pada kematian. Pembunuhan semi sengaja;♣ :yaitu pembunuhan yang disengaja, dibarengi dengan rasa permusuhan, tetapi dengan menggunakan alat yang biasa yang tidak mematikan, sepeerti memukul atau melempar seseorang dengan batu kecil, atau dengan tongkat kayu kecil. Pembunuhan tersalah♣ :.yaitu suatu pembunuhan yang terjadi bukan dengan disengaja, seperti seseorang yang terjatuh dari tempat tidur dan menimpa orang yang tidur di lantai sehingga ia mati, atau seseorang yang melempar buah di atas pohon, ternyata melempar batu itu meleset dan menganai seseorang yang mengakibatkan tewasnya seseorang c. Ulama Mahzab Maliki membagi pembunuhan menjadi dua macam, yakni: ♣ Pembunuhan sengaja; :yaitu pembunuhan yang dilakukan dengan sengaja oleh seseorang secara langsung dengan menggunakan senjata tajam atau pembunuhan secara tidak langsung, seperti mencampur racun

pada makanan atau minuman seseorang, atau melarang seseorang makan dan minum hingga ia tewas, dan perbuatan ini dilakukan dengan rasa permusuhan ♣ Pembunuhan tersalah. :yaitu suatu pembunuhan yang tidak dimaksudkan untuk memukul atau membunuh seseorang, tetapi perbuatan itu membawa kepada kematian orang lain, seperti seseorang yang tidur di ranjang terjatuh ketika tidur dan menimpa orang yang tidur di bawah yang berakibat tewasnya orang yang tertimpa tersebut. 3. Sanksi atas pembunuhan Para ulama fikih mengemukakan bahwa ada beberapa bentuk hukuman yang dikenakan kepada pelaku tindak pidana pembunuhan dengan sengaja, pembunuhan semi sengaja, dan pembunuhan tersalah berdasarkan Al-qur’an, yakni: a. Hukuman bagi pelaku pembunuhan sengaja; :Ulama fikih mengemukakan ada beberapa bentuk hukuman yang dikenakan kepada pelaku pembunuhan sengaja, yakni: Hukuman asli;♣ : (1) yang dimaksud hukuman asli dalam tindak pidana pembunuhan sengaja adalah kisas. Yang dimaksud dengan kisas adalah memberikan perlakuan yang sama kepada pelaku tindak pidana sebagaimana ia melakukannya terhadap korban. Hukuman kisas ini diyariatkan dalam surat Al-Baqarah ayat 178, yakni:

Artinya: “ Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) mambayar (diat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Rabb kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampui batas sesudah itu maka baginya siksa yang sangat pedih”. (QS. 2:178). Dalam surat Al-Baqarah ayat 179, yakni: Artinya : “Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertaqwa.” (QS. 2:179) Kemudian surat Al-Maidah ayat 45, yakni: Artinya : “Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At-Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka (pun) ada kisasnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak kisas)nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.” (QS. 5:45) (2) Hukuman asli yang mendampingi hukuman kisas menurut ulama Mahzab Syafi’i adalah kafarat. Menurut mereka kafarat juga termasuk hukuman asli dari tindak pidana pembunuhan, alasannya adalah ada pada firman Allah SWT dalam surat An-Nisa ayat 92 yang berbunyi:

Artinya: “Dan tidaklah layak bagi seorang mumin membunuh seorang mumin (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja) dan barangsiapa membunuh seorang mumin karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah. Jika ia (si terbunuh) dari kaum yang memusuhimu, padahal ia mumin, maka (hendaklah si pembunuh) memerdekakan hamba-sahaya yang mumin. Dan jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang mumin. Barangsiapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut sebagai cara taubat kepada Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. 4:92) Hukuman pengganti;♣ : menurut ulama fikih, apabila kisas gugur disebabkan hal-hal yang menggugurkan hukuman kisas, maka ada dua hukuman pengganti lain, yakni: (1) diat yang harus ditanggung sendiri oleh pembunuh. Menurut ulama Mahzab Hanbali, diat ini merupakan pengganti hukuman kisas; menurut ulama Mazhab Syafi’i kisas hanya bisa dimaafkan oleh ahli waris terbunuh; dan menurut ulama Mahzab Hanafi dan Mahzab Maliki diat itu boleh diterima bila atas kerelaan terpidana. (2) Hukuman takzir, menurut ulama Mahzab maliki, dan atas kehendak hakim menurut jumhur ulama. Artinya, jika kisas gugur, hukuman pengganti menurut ulama Mahzab Maliki adalah hukuman takzir. Menurut jumhur ulama hukuman takzir hanya boleh dikenakan apabila menurut pandangan hakim hal ini diperlukan, karenanya hukuman takzir tidak berstatus pengganti. Hukuman tambahan atau♣ pelengkap; : hukuman tambahan dalam pembunuhan sengaja menurut kesepakatan ulama fikih adalah (1) terhalang hak warisnya, dan (2) terhalang mendapat wasiat dari korban. Hal ini didasarkan pada sabda Rasullullah SAW : “pembunuh tidak berhak mendapatkan harta waarisan.”(HR.Malik, Ahmad bin Hanbal, dan Ibnu Majah dari Umar bin al-Khatab) b. Hukuman bagi pelaku pembunuhan semi sengaja; ♣ Hukuman asli bagi pembunuhan semi sengaja yakni: (1) Diat, untuk pembunuhan semi sengaja sama dengan diat sebagai hukuman pengganti dalam pembunuhan sengaja, baik dari segi jenis, dan jumlahnya, maupun dari segi tagliz dan takhlifnya. (2) Kafarat, yaitu memerdekakan seorang hamba sahaya wanita yang mukmin; jika hamba sahaya tidak ada, maka wajib berpuasa selama dua bulan berturut-turut, sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat an-Nisa ayat 92. Hukuman pengganti dan tambahan♣ dalam pembunuhan semi sengaja. : menurut kesepakatan para ulama fikih adalah hukuman takzir dari hakim danb ia bebas menetapkan hukum sesuai dengan kondisi terpidana. Adapun hukuman tambahannya adalah terhalangnya harta warisan dan wasiat orang yang terbunuh. c. Hukuman bagi pelaku pembunuhan tersalah. : ulama fikih menetapkan bhwa hukuman asli bagi pembunuhan tersalah adalah diat dan kafarat, dan hukuman penggantinya adalah berpuasa selama dua bulan berturut-turut, dan hukuman tambahannya adakah terhalangnya mendapatkan harta warisan dan wasiat dari terbunuh. B. Pembunuhan Dalam Pandangan Hukum Pidana Indonesia (KUHP)

1. Definisi Pembunuhan; Pembunuhan dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang dilakukan untuk menghilangkan nyawa seseorang. Di dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana Indonesia (KUHP), pembunuhan merupakan salah satu tindak pidana yang dilakukan oleh seseorang yang menyebabkan meninggalnya orang lain baik secara sengaja maupun tidak sengaja yang karena kealpaan, yang di dalam KUHP diatur dalam Titel XIX Buku II tentang Kejahatan-kejahatan Terhadap Nyawa Orang.= 2. Macam-macam Pembunuhan; Tindak pidana pembunuhan di dalam KUHP secara umum dibagi menjadi beberapa macam, yakni: a. Pembunuhan secara sengaja; : pembunuhan secara sengaja ini adalah bahwa pembunuhan yang dilakukan memang dengan niat dari awal untuk membunuh seseorang. • Yang termasuk dalam pembunuhan ini adalah: 1. Pembunuhan dalam pasal 338 KUHP 2. Pembunuhan yang diikuti dengan perbuatan pidana demi mempermudah pelaksanaan nya dalam pasal 339 KUHP. 3. pembunuhan terhadap anak yang baru lahir oleh ibu dalam pasal 341 KUHP. 4. Pembunuhan atas permintaan korban (euthanasia) dalam pasal 344 KUHP. 5. Pembunuan (aborsi) oleh wanita yang melahirkan dalam pasal 346 dan 348 KUHP. 6. Pembunuhan (aborsi) oleh orang lain yang membantu melahirkan dalam pasal 347 KUHP. b. Pembunuhan secara tidak sengaja (kealpaan).(pasal 359 KUHP) : pembunhan secara tidak sengaja ini adalah suatu pembunuhan yang memang tidak dengan niat awal untuk membunuh, namun karena perbuatan yang dilakukan oleh seseorang tersebut yang tadinya berniat hanya untuk melukai saja menjadi membunuh seseorang. c. Pembunuhan berencana.(pasal 340 KUHP) : adalah pembunuhan yang dilakukan dengan direncanakan terlebih dahulu secara tenang, di mana unsur dari perencanaan ini tidak perlu ada jangka waktu lama antara waktu dalam merencanakan dengan waktu melakukan perbuatan pembunuhan tersebut. 3. Sanksi Atas Pembunuhan. Apabila kita melihat pada KUHP maka sanksi atas tindak pidana pembunuhan berbeda-beda tergantung pembunuhan seperti apa yang dilakukan oleh pelaku pembunuhan tersebut. Dan sanksi dalam KUHP ini tidak mutlak karena hanya merupakan rujukan bagi hakim untuk menentukan hukuman bagi pelaku, namun dalam memberikan hukuman seorang hakim tidak boleh melanggar ketentuan dalam KUHP. Berikut sanksi atas pembunuhan berdasarkan pasal-pasal dalam titel XIX Buku II KUHP tentang Kejahatan Terhadap Nyawa Orang : Pasal 338: Barang siapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun. Pasal 339 : Pembunuhan yang diikuti, disertai atau didahului oleh suatu perbuatan pidana, yang dilakukan dengan maksud untuk mempersiapkan atau mempermudah pelaksanaannya, atau untuk melepaskan diri sendiri maupun peserta lainnya dari pidana dalam hal tertangkap tangan, ataupun untuk memastikan penguasaan barang yang diperolehnya secara melawan hukum, diancam dengan pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun. Pasal 340 : Barang siapa dengan sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan dengan rencana, dengan pidana rnati atau pidana

penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun. Pasal 341 : Seorang ibu yang karena takut akan ketahuan melahirkan anak pada saat anak dilahirkan atau tidak lama kemudian, dengan sengaja merampas nyawa anaknya, diancam karena membunuh anak sendiri, dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun. Pasal 342 : Seorang ibu yang untuk melaksanakan niat yang ditentukan karena takut akan ketahuan bahwa ia akan melahirkan anak pada saat anak dilahirkan atau tidak lama kemudian merampas nyawa anaknya, diancam karena melakukan pembunuhan anak sendiri dengan rencana, dengan pidana penjara paling lama semhi- lan tahun. Pasal 344 : Barang siapa merampas nyawa orang lain atas permintaan orang itu sendiri yang jelas dinyatakan dengan kesungguhan hati, diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun. Pasal 345 : Barang siapa sengaja mendorong orang lain untuk bunuh diri, menolongnya dalam perbuatan itu atau memberi sarana kepadanya untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun kalau orang itu jadi bunuh diri. Pasal 346 : Seorang wanita yang sengaja menggugurkan atau mematikan kandungannya atau menyuruh orang lain untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun. Pasal 347 : (1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang wanita tanpa persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun. (2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun. Pasal 348 :(1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang wanita dengan persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan. (2) Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun. Pasal 349 : Jika seorang dokter, bidan atau juru obat membantu melakukan kejahatan berdasarkan pasal 346, ataupun melakukan atau membantu melakukan salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 347 dan 348, maka pidana yang ditentukan dalam pasal itu dapat ditambah dengan sepertiga dan dapat dicabut hak untuk menjalankan pencarian dalam mana kejahatan dilakukan. BAB III PRAKTEK EUTHANASIA A. Pengertian Euthanasia Eutanasia (Bahasa Yunani: ευθανασία -ευ, eu yang artinya “baik”, dan θάνατος, thanatos yang berarti kematian) adalah merupakan praktek pencabutan kehidupan manusia atau hewan melalui cara yang dianggap tidak menimbulkan rasa sakit atau menimbulkan rasa sakit yang minimal, biasanya dilakukan dengan cara memberikan suntikan yang mematikan. Dalam pengertian di atas bahwa ada kiranya praktek dari euthanasia ini kebanyakan sering dikatkan dengan pembunuhan tergadap nyawa seseorang, dalam hal ini pembunuhan kepada manusia. Menurut kamus Dwibahasa Oxford, euthanasia bermakud “Kematian (mencabut nyawa) dengan cara lembut kerana kasihan, terutama untuk menamatkan siksa (penderitaan) seseorang”. Euthanasia Studi Grup dari KNMG Holland (Ikatan Dokter Belanda) menyatakan, “Euthanasia adalah perbuatan dengan sengaja untuk tidak melakukan sesuatu untuk memperpanjang hidup seorang pasien atau sengaja melakukan sesuatu untuk memperpendek atau mengakhiri hidup seorang pasien, dan semua ini

dilakukan khusus untuk kepentingan pasien itu sendiri”. Kemudian oleh komisi negara yang dibentuk oleh pemerintah Belanda tahun 1984 yang bernama “Staats Commissie Euthanasia” dirumuskan dalam sebuah definisi, “Euthanasia, tindakan mengakhiri hidup seseorang oleh orang lain dengan secara sengaja dan atas permintaan yang bersangkutan kepadanya”. B. Macam-macam Euthanasia Dalam praktik kedokteran, dikenal dua macam euthanasia, yaitu euthanasia aktif dan euthanasia pasif. 1.Euthanasia aktif adalah tindakan dokter mempercepat kematian pasien dengan memberikan suntikan ke dalam tubuh pasien tersebut. Suntikan diberikan pada saat keadaan penyakit pasien sudah sangat parah atau sudah sampai pada stadium akhir, yang menurut perhitungan medis sudah tidak mungkin lagi bisa sembuh atau bertahan lama. Alasan yang biasanya dikemukakan dokter adalah bahwa pengobatan yang diberikan hanya akan memperpanjang penderitaan pasien serta tidak akan mengurangi sakit. Contoh euthanasia aktif, misalnya ada seseorang menderita kanker ganas dengan rasa sakit yang luar biasa sehingga pasien sering kali pingsan. Dalam hal ini, dokter yakin yang bersangkutan akan meninggal dunia. Kemudian dokter memberinya obat dengan takaran tinggi (overdosis) yang sekiranya dapat menghilangkan rasa sakitnya, tetapi menghentikan pernapasannya sekaligus. 2. Euthanasia pasif, adalah tindakan dokter menghentikan pengobatan pasien yang menderita sakit keras, yang secara medis sudah tidak mungkin lagi dapat disembuhkan. Penghentian pengobatan ini berarti mempercepat kematian pasien. Alasan yang lazim dikemukakan dokter adalah karena keadaan ekonomi pasien yang terbatas, sementara dana yang dibutuhkan untuk pengobatan sangat tinggi, sedangkan fungsi pengobatan menurut perhitungan dokter sudah tidak efektif lagi. Terdapat tindakan lain yang bisa digolongkan euthanasia pasif, yaitu tindakan dokter menghentikan pengobatan terhadap pasien yang menurut penelitian medis masih mungkin sembuh. Alasan yang dikemukakan dokter umumnya adalah ketidakmampuan pasien dari segi ekonomi, yang tidak mampu lagi membiayai. Contoh euthanasia pasif, misalkan penderita kanker yang sudah kritis, orang sakit yang sudah dalam keadaan koma, disebabkan benturan pada otak yang tidak ada harapan untuk sembuh. Atau, orang yang terkena serangan penyakit paru-paru yang jika tidak diobati maka dapat mematikan penderita. Dalam kondisi demikian, jika pengobatan terhadapnya dihentikan, akan dapat mempercepat kematiannya. 3.Etanasia non agresif : atau kadang juga disebut autoeuthanasia (etanasia otomatis)yang termasuk kategori etanasia negatif yaitu dimana seorang pasien menolak secara tegas dan dengan sadar untuk menerima perawatan medis dan sipasien mengetahui bahwa penolakannya tersebut akan memperpendek atau mengakhiri hidupnya. Dengan penolakan tersebut ia membuat sebuah "codicil" (pernyataan tertulis tangan). Auto-etanasia pada dasarnya adalah suatu praktek etanasia pasif atas permintaan. Ditinjau dari sudut pemberian izin maka etanasia dapat digolongkan menjadi tiga yaitu : • Etanasia diluar kemauan pasien: yaitu suatu tindakan etanasia yang bertentangan dengan keinginan si pasien untuk tetap hidup. Tindakan etanasia semacam ini dapat disamakan dengan pembunuhan. • Etanasia secara tidak sukarela: Etanasia semacam ini adalah yang seringkali menjadi bahan perdebatan dan dianggap sebagai suatu tindakan yang keliru oleh siapapun juga.Hal ini terjadi apabila seseorang yang tidak berkompeten atau tidak berhak untuk mengambil suatu keputusan misalnya statusnya hanyalah seorang wali dari si pasien (seperti pada kasus Terri Schiavo). Kasus ini menjadi sangat kontroversial sebab beberapa orang wali mengaku memiliki hak untuk

mengambil keputusan bagi si pasien. • Etanasia secara sukarela : dilakukan atas persetujuan si pasien sendiri, namun hal ini juga masih merupakan hal kontroversial. Berpijak dari pembagian itu, A.M. Capron (1983) dalam Encyclopedia of Crime and Justice, kemudian memerinci euthanasia dalam epat jenis yaitu : 1. Aktif atas pesetujuan korban (active voluntary euthanasie) 2. Pasif atas pesetujuan korban (passive voluntary euthanasie) 3. Aktif tanpa persetujuan korban (active nonvoluntary euthanasie) 4. Pasif tanpa persetujuan korban (passive nonvoluntary euthanasia) C. Beberapa Pendapat Mengenai Euthanasia Telah dijelaskan sebelumnya bahwa euthanasia ini merupakan suatu bentuk pembunuhan terhadap seseorang dimana dilakukan dengan permintaan korban itu sendiri. Pro dan kontra atas praktek euthanasia ini telah menjadi sesuatu yang sangat pelik. Ketua Komisi Fatwa MUI mengeluarkan fatwa yang haram tindakan Euthanasia (tindakan mematikan orang untuk meringankan penderitaan sekarat). "Euthanasia itu kan pembunuhan" kata KH Ma`ruf Amin. Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma'ruf Amin mengatakan MUI telah lama mengeluarkan fatwa yang mengharamkan dilakukannya tindakan Euthanasia (tindakan mematikan orang untuk meringankan penderitaan sekarat). "Euthanasia, menurut fatwa kita tidak diperkenankan, karena itu kan melakukan pembunuhan, Euthanasia dalam keadaan aktif maupun dalam keadaan pasif, menurut fatwa MUI, tidak diperkenankan karena berarti melakukan pembunuhan atau menghilangkan nyawa orang lain. Lebih lanjut, KH Ma'ruf Amin mengatakan, euthanasia boleh dilakukan dalam kondisi pasif yang sangat khusus. Menurut agama, Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk unik dan hanya Tuhan yang berhak memanggilnya kembali, bila tiba saatnya. Di sini tampak perbedaan besar antara manusia dan binatang. Bila seekor binatang ditemukan dalam keadaan sekarat, kita tidak keberatan membunuhnya untuk mengakhiri penderitaannya. Tetapi manusia tidak pantas diperlakukan dengan cara demikian. Kita harus merawatnya dengan sebaik-baiknya sampai saat terakhir. Saat kematiannya kita serahkan kepada Tuhan. Keberatan juga dikemukakan profesi medis. Organisasi para dokter di seluruh dunia cenderung menentang euthanasia. Meski kadang-kadang beberapa dokter secara individual menjadi pendukung euthanasia, organisasi para dokter umumnya menolak tegas. Dokter yang membunuh pasien-meski dengan alasan "belaskasihan"-dilihat sebagai semacam kontradiksi. Hakikat profesi kedokteran adalah menyembuhkan dan meringankan penderitaan. Euthanasia justru bertentangan radikal dengan hakikat itu. Banyak pakar etika turut menolak euthanasia dan bunuh diri berbantuan. Salah satu argumentasinya menekankan bahaya euthanasia disalahgunakan. Jika kita mengizinkan pengecualian dalam larangan membunuh-mereka tegaskan -sebentar lagi cara ini bisa dipakai juga terhadap orang cacat, lanjut usia, atau orang lain yang dianggap tidak berguna lagi. Akhirnya akan sampai pada keadaan yang terwujud waktu nasional-sosialisme Hitler atau lebih jelek lagi. Menurut Deklarasi Lisabon 1981, euthanasia dari sudut kemanusiaan dibenarkan dan merupakan hak bagi pasien yang menderita sakit yang tidak dapat disembuhkan. Namun dalam praktiknya dokter tidak mudah melakukan euthanasia, karena ada dua kendala. Pertama, dokter terikat dengan kode etik kedokteran bahwa ia dituntut membantu meringankan penderitaan pasien Tapi di sisi lain, dokter menghilangkan nyawa orang lain yang berarti melanggar kode etik kedokteran

itu sendiri. Kedua, tindakan menghilangkan nyawa orang lain merupakan tindak pidana di negara mana pun. Sedangkan euthanasia dalam KUHP dikategorikan sebagai kejahatan terhadap nyawa. Euthanasia secara hukum merupakan pembunuhan atas permintaan korban, yakni permintaan pasien pada dokter. Pasal-pasal yang dapat diterapkan berkaitan dengan euthanasia adalah pasal mengenai pembunuhan, yakni pasal 338, 340, 344 dan 345 KUHP. Terdapatnya asas lex specialis de rogat legi generalli dalam pasal 63 ayat (2) KUHP, memungkinkan dokter sebagai pelaku euthanasia dijerat dengan pasal 344 KUHP, yang didalamnya harus terpenuhi unsur “atas permintaan sendiri yang jelas dinyatakan dengan kesungguhan hati”. Bilamana unsur ini mendatangkan kesulitan bagi jaksa, maka alternatif hukum dengan menggunakan pasal 338 KUHP sebagai pasal umum yang mengatur pembunuhan, yang unsurnya hanyalah terjadinya kematian seorang lain akibat perbuatannya.

BAB IV EUTHANASIA DALAM PANDANGAN HUKUM PIDANA ISLAM DAN HUKUM PIDANA (KUHP) DI INDONESIA A. Praktek Euthanasia Dihubungkan Dengan Kode Etik Kedokteran Seperti yang telah dibahas pada bab sebelumnya praktek euthanasia euthanasia ini merupakan suatu bentuk pembunuhan dalam deskripsi dan pandangan yang lain dari bisanya, di mana pembunuhan yang selayaknya dilakukan oleh orang lain terhadap seseorang yang memang tidak menginginkan untuk dibunuh, namun pada euthanasia ini pembunuhan justru karena keinginan dari pihak korban kepada seseorang agar ia dibunuh. Euthanasia (eu = baik, thanatos = mati) atau good death / easy death sering pula disebut “mercy killing” pada hakekatnya pembunuhan atas dasar perasaan kasihan, sebenarnya tidak lepas dari apa yang disebut hak untuk menentukan nasib sendiri (the right self of determination) pada diri pasien. Hak ini menjadi unsur utama hak asasi manusia dan seiring dengan kesadaran baru mengenai hak-hak tersebut. Demikian pula dengan berbagai perkembangan ilmu dan teknologi (khususnya dalam bidang kedokteran), telah mengakibatkan perubahan yang dramatis atas pemahaman mengenai euthanasia. Namun, uniknya, kemajuan dan perkembangan yang pesat ini rupanya tidak diikuti oleh perkembangan di bidang hukum dan etika. Pakar hukum kedokteran Prof. Separovic menyatakan bahwa konsep kematian dalam dunia kedokteran masa kini dihadapkan pada kontradiksi antara etika, moral, dan hukum di satu pihak, dengan kemampuan serta teknologi kedokteran yang sedemikian maju di pihak lain. Jadi, pertanyaan-pertanyaan seputar euthanasia itu sebenarnya akar permasalahan dari kontradiksi tersebut yang antara lain adalah Bagaimana “posisi” etika, moral, dan hukum bagi dokter yang harus berhadapan dengan realita euthanasia tersebut di tengah masyarakat. Di Indonesia, lkatan Dokter Indonesia (IDI) dengan surat keputusan Nomor 336/PB/A.4/88 merumuskan bahwa seseorang dinyatakan mati apabila fungsi spontan pernafasan dan jantung telah berhenti secara pasti (irreversible), atau apabila terbukti telah terjadi kematian batang otak. Seorang filosof Yunani yang meletakkan landasan legisme bagi sumpah dokter dan etika

kedokteran, Hippocrates menuntut para muridnya untuk bersumpah tidak melakukan euthanasia dan pengguguran kandungan, kemudian PP Thun 1969 tentang Lafal Sumpah Dokter Indonesia yang bunyinya sama dengan Deklarasi Jenewa 1948 dan Deklarasi Sydney 1968. Dilema ini dapat diatasi apabila muncul dari kehendak si pasien untuk mencabut nyawanya. Karena permintaan dari pasien itu sendiri maka kadar moral dalam Euthanasia tersebut dapat diatasi. Karena, kita membunuh atas permintaan si pasien itu sendiri. Setiap orang berhak untuk menentukan nasibnya sendiri, begitupun dengan kehidupannya. Dari sudut etika kedokteran jika kita mengacu pada sumpah Hipokrates jelas Euthanasia tidak dapat dibenarkan karena telah melanggar kode etik kedokteran yang menyatakan: “sebisa mungkin seorang dokter menyelamatkan jiwa pasiennya” Dalam pasal 9, BAB II KODEKI tentang kewajiban dokter kepada pasien, disebutkan bahwa seorang dokter harus senantiasa mengingat akan kewajiban melindungi hidup mahluk insani menurut etik kedokteran, dokter tidak boleh menggugurkan kandungan dan mengakhiri hidup orang yang sakit meskipun menurut pengetahuan tidak mungkin sembuh. Ditegaskan pula dalam Surat Edaran IDI No.702/PB/H2/09/2004 yang menyatakan sebagai berikut: “Di Indonesia sebagai negara yang berazaskan Pancasila, dengan sila yang pertamanya adalah Ke Tuhanan Yang Maha Esa, tidak mungkin dapat menerima tindakan “euthanasia aktif” Namun apabila pasien dipastikan mengalami kematian otak maka pasien dinyatakan telah meninggal. Tindakan penghentian terapeutik diputuskan oleh oleh dokter yang telah berpengalaman, selain harus pula dipertimbangkan keinginan pasien, keluarga pasien, dan kualitas hidup yang diharapkan. Sesuai dengan surat edaran IDI menyatakan: Sampaikan kepada pasien dan atau keluarganya keadaan yang sebenarnya dan sejujur-jujurnya mengenai penyakit yang diderita pasien. Dalam keadaan di mana ilmu dan teknologi kedokteran sudah tidak dapat lagi diharapkan untuk memberi kesembuhan, maka upaya perawatan pasien bukan lagi ditujukan untuk memperoleh kesembuhan melainkan harus lebih ditujukan untuk memperoleh kenyamanan dan meringankan penderitaannya. Bahwa tindakan menghentikan usia pasien pada tahap menjelang ajalnya, tidak dapat dianggap sebagai suatu dosa, bahkan patut dihormati. Namun demikian dokter wajib untuk terus merawatnya, sekalipun pasien dipindah ke fasilitas lainnya. Di dunia etik kedokteran kata euthanasia diartikan secara harfiah akan memiliki arti “mati baik”. Di dalam bukunya seorang penulis Yunani bernama Suetonius menjelaskan arti euthanasia sebagai “mati cepat tanpa derita”. Kode Etik Kedokteran Indonesia menggunakan euthanasia dalam tiga arti: 1. Berpindahnya ke alam baka dengan tenang & aman tanpa penderitaan, buat yang beriman dengan nama Tuhan Yang Maha Esa di bibir. 2. Waktu hidup akan berakhir, diringankan penderitaan si sakit dengan memberi obat penenang kepada pasien yang akan meninggal dengan persetujuan. 3.Mengakhiri penderitaan & hidup seorang sakit dengan sengaja atas permintaan dari pasien itu sendiri & keluarganya yang masih hidup. Mengenai “euthanasia pasif”, merupakan suatu “daerah kelabu” karena memiliki nilai bersifat “ambigu” yaitu di satu sisi bisa dianggap sebagai perbuatan amoral, tetapi di sisi lain dapat dianggap sebagai perbuatan mulia karena dimaksudkan untuk tidak memperpanjang atau berjalan secara alamiah. B. Pandangan Hukum Pidana Islam dan Hukum Pidana Indonesia (KUHP) Terhadap Euthanasia Berdasarkan hukum di Indonesia maka eutanasia adalah sesuatu perbuatan yang melawan

hukum, hal ini dapat dilihat pada peraturan perundang-undangan yang ada yaitu pada Pasal 344 Kitab Undang-undang Hukum Pidana yang menyatakan bahwa ”Barang siapa menghilangkan nyawa orang lain atas permintaan orang itu sendiri, yang disebutkannya dengan nyata dan sungguh-sungguh, dihukum penjara selama-lamanya 12 tahun”. pembunuhan atas permintaan korban sekalipun tetap diancam pidana bagi pelakunya. Dengan demikian, dalam konteks hukum positif di Indonesia euthanasia tetap dianggap sebagai perbuatan yang dilarang. Perbuatan tersebut tetap dikualifikasi sebagai tindak pidana. Di tengah kebingungan kultural karena munculnya pro dan kontra tentang legalitasnya. Patut menjadi catatan, bahwa secara yuridis formal dalam hukum pidana positif di Indonesia hanya dikenal satu bentuk euthanasia, yaitu euthanasia yang dilakukan atas permintaan pasien/korban itu sendiri (voluntary euthanasia) sebagaimana secara eksplisit diatur dalam Pasal 344 KUHP. Pasal 344 KUHP secara tegas menyatakan : “Barang siapa merampas nyawa orang lain atas permintaan orang itu sendiri yang jelas dinyatakan dengan kesungguhan hati diancam dengan pidana penjara paling lama 12 tahun”. Bertolak dari ketentuan Pasal 344 KUHP tersebut tersimpul, bahwa pembunuhan atas permintaan korban sekalipun tetap diancam pidana bagi pelakunya. Dengan demikian, dalam konteks hukum positif di Indonesia euthanasia tetap dianggap sebagai perbuatan yang dilarang. Dengan demikian dalam konteks hukum positif di Indonesia, tidak dimungkinkan dilakukan “pengakhiran hidup seseorang” sekalipun atas permintaan orang itu sendiri. Perbuatan tersebut tetap dikualifikasi sebagai tindak pidana, yaitu sebagai perbuatan yang diancam dengan pidana bagi siapa yang melanggar larangan tersebut. Mengacu pada ketentuan tersebut di atas, maka munculnya kasus permintaan tindakan medis untuk mengakhiri kehidupan yang muncul akhir-akhir ini. Sebagai contoh kasus Hasan Kesuma yang mengajukan suntik mati untuk istrinya, Ny. Agian dan terakhir kasus Rudi Hartono yang mengajukan hal yang sama untuk istrinya, Siti Zuleha. Kedua kasus ini secara konseptual dikualifikasi sebagai non voluntary euthanasia, tetapi secara yuridis formal (dalam KUHP) dua kasus ini tidak bisa dikualifikasi sebagai euthanasia sebagaimana diatur dalam Pasal 344 KUHP. Secara yuridis formal kualifikasi yang paling mungkin untuk kedua kasus ini adalah pembunuhan biasa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 338 KUHP, atau pembunuhan berencana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 340 KUHP. Dalam ketentuan Pasal 338 KUHP secara tegas dinyatakan, “ Barang siapa sengaja merampas nyawa orang lain diancam, karena pembunuhan dengan pidana penjara paling lama 15th”. Sementara dalam ketentuan Pasal 340 KUHP dinyatakan,“ Barang siapa dengan sengaja dan dengan rencana lebih dulu merampas nyawa orang lain diancam, karena pembunuhan berencana, dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu paling lama dua puluh tahun”. Di luar dua ketentuan di atas juga terdapat ketentuan lain yang dapat digunakan untuk menjerat pelaku euthanasia, yaitu ketentuan Pasal 356 (3) KUHP yang juga mengancam terhadap “Penganiayaan yang dilakukan dengan memberikan bahan yang berbahaya bagi nyawa dan kesehatan untuk dimakan atau diminum oleh korban agar ia meninggal dunia”. Selain itu patut juga diperhatikan adanya ketentuan dalam Bab XV KUHP khususnya Pasal 304 dan Pasal 306 (2). Dalam ketentuan Pasal 304 KUHP dinyatakan,“Barang siapa dengan sengaja menempatkan atau membiarkan seorang dalam keadaan sengsara, padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan, dia wajib memberikan kehidupan, perawatan atau pemeliharaan kepada orang itu, diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau denda paling banyak tiga ratus rupiah”. Sementara dalam ketentuan Pasal 306 (2) KUHP dinyatakan, “Jika mengakibatkan kematian, perbuatan tersebut dikenakan pidana penjara maksimal sembilan tahun”.Dua ketentuan terakhir tersebut di atas memberikan penegasan, bahwa dalam konteks hukum positif di Indonesia,

meninggalkan orang yang perlu ditolong juga dikualifikasi sebagai tindak pidana. Dua pasal terakhir ini juga bermakna melarang terjadinya euthanasia pasif yang sering terjadi di Indonesia. Euthanasia di Negara lain Fenomena euthanasia ini berkembang lagi ketika kasus Nyonya Agian mencuat di permukaan ketika suaminya (Hasan) meminta DPRD Bogor untuk mengagalkan keinginannya untuk meng-euthanasia istrinya tersebut. Banyak orang yang menentang apa yang dilakukan Hasan pada istrinya tersebut,dengan alasan bahwa eutanasia itu bertentangan dengan nilai-nilai etika, moral karena termasuk perbuatan yang merendahkan martabat manusia dan perbuatannya tergolong pembunuhan, mengingat kematian menjadi tujuan. Euthanasia di Inonesia juga mengenai pasal: Pasal 338 KUHP, atau pembunuhan berencana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 340 KUHP. Dalam ketentuan Pasal 338 KUHP secara tegas dinyatakan, “ Barang siapa sengaja merampas nyawa orang lain diancam, karena pembunuhan dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun”. Sementara dalam ketentuan Pasal 340 KUHP dinyatakan, “ Barang siapa dengan sengaja dan dengan rencana lebih dulu merampas nyawa orang lain diancam, karena pembunuhan berencana, dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu paling lama dua puluh tahun”. Di luar dua ketentuan di atas juga terdapat ketentuan lain yang dapat digunakan untuk menjerat pelaku euthanasia, yaitu ketentuan Pasal 356 (3) KUHP yang juga mengancam terhadap “Penganiayaan yang dilakukan dengan memberikan bahan yang berbahaya bagi nyawa dan kesehatan. Sejak berlakunya KUHP sampai saat ini, belum ada kasus yang secara nyata terjadi di Indonesia yang berkaitan dengan euthanasia seperti diatur dalam pasal 344 KUHP yang sampai ke pengadilan. Hal ini mungkin disebabkan: - Bila memang benar terjadi di Indonesia, tetapi tidak pernah dilaporkan ke polisi, sehingga sulit untuk pengusutan lebih lanjut. - Keluarga korban tidak tahu bahwa telah terjadi kematian sebagai euthanasia, karena masyarakat Indonesia masih awam terhadap hukum, apalagi menyangkut masalah tentang praktek euthanasia (pembunuhan) ini. - Alat-alat kedokteran di rumah sakit di Indonesia belum semodern di negara maju, & kalaupun ada, masih terlalu mahal untuk dapat digunakan oleh masyarakat umum, sebagai pencegah kematian seorang pasien secara teknis. Di samping itu, dari hukum materilnya sendiri, yaitu pasal 344 KUHP, sulit untuk dipenuhi unsur-unsurnya, sehingga bila terjadi kasus, maka akan sulit pembuktiannya. Apapun alasannya, bila tindakan dilakukan dengan tujuan mengakhiri hidup seseorang maka dapat digolongkan sebagai tindak pidana pembunuhan. Namun dalam hal euthanasia hendaknya tidak secara gegabah memberikan penilaian, apalagi jenis & alasan euthanasia yang bermacammacam. Perlu dipertimbangkan dengan seksama oleh penegak hukum tentang hal-hal yang mempengaruhi emosi seorang dokter yang secara langsung berhadapan dengan pasien, antara lain penderitaan pasien mengatasi penyakitnya, kondisi penyakit yang sudah stadium terminal & tidak mungkin lagi diobati. Dalam pandangan hukum, euthanasia bisa dilakukan jika pengadilan megijinkan. Namun bila euthanasia dilakukan tanpa dasar hukum, maka dokter dan rumah sakit bisa dianggap melanggar pasal 345 KUHP, yaitu menghilangkan nyawa orang lain dengan menggunakan sarana. Dari sudut pandang hukum euthanasia aktif jelas melanggar, UU RI No. 39 tahun 1999 2.Menurut Hukum Islam Taisir al-Maut (euthanasia) secara tegas dan jelas dilarang oleh Islam, pelarangan ini terdapat pada euthanasia aktif / positif (taisir al-maut al-faal) sebagaimana firman Allah dalam surat AnNisaa’ 93 dan Surat Al-Israa 33.

Artinya : “Dan barangsiapa yang membunuh seorang mumin dengan sengaja, maka balasannya ialah jahannam, Kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (QS. 4:93)

Artinya:”Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. Dan barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan.” (QS. 17:33) Tindakan euthanasia aktif ini, disamakan dengan pembunuhan dengan kesengajaan, yang mana pelakunya dapat dihukum qishash, sebagaimana hadits Nabi yang berbunyi; “Barangsiapa membunuh dengan sengaja, maka ia harus dihukum qishash”(HR. Ibnu Majjah). Sedang pada euthanasia pasif / negatif (taisir al-maut al-munfa’il), yang merupakan tindakan penghentian perawatan atau pengobatan dalam Islam tidak dilarang, akan tetapi, tindakan penghentian ini haruslah tidak berdasarkan keinginan untuk mempercepat kematian, karena hal itu dapatlah disamakan dengan bunuh diri. Perbuatan demikian itu adalah termasuk dalam kategori pembunuhan meskipun yang mendorongnya itu rasa kasihan kepada si sakit dan untuk meringankan penderitaannya. Karena bagaimanapun si dokter tidaklah lebih pengasih dan penyayang daripada Yang Menciptakannya. Karena itu serahkanlah urusan tersebut kepada Allah Ta'ala, karena Dia-lah yang memberi kehidupan kepada manusia dan yang mencabutnya apabila telah tiba ajal yang telah ditetapkan-Nya. Syariah Islam mengharamkan euthanasia aktif, karena termasuk dalam kategori pembunuhan sengaja (al-qatlu al-‘amad), walaupun niatnya baik yaitu untuk meringankan penderitaan pasien. Hukumnya tetap haram, walaupun atas permintaan pasien sendiri atau keluarganya. Dalil-dalil dalam masalah ini sangatlah jelas, yaitu dalil-dalil yang mengharamkan pembunuhan. Baik pembunuhan jiwa orang lain, maupun membunuh diri sendiri. Misalnya firman Allah SWT :

Artinya: “Katakanlah: Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Rabbmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapak,dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu mendekati perbuatanperbuatan yang keji, baik yang nampak diantaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan suatu (sebab) yang benar. Demikian itu yang diperintahkan oleh Rabbmu kepadamu supaya kamu memahami(nya).” (QS. 6:151) Dari dalil di atas, jelaslah bahwa haram hukumnya bagi dokter melakukan euthanasia aktif, karena sengaja melakukan pembunuhan terhadap pasien, sekalipun atas permintaan keluarga atau si pasien. Demikian halnya bagi si pasien, tindakan tersebut bisa dikategorikan tindakan putus asa dan membunuh diri sendiri yang diharamkan oleh Allah SWT.

Karena itu, apapun alasannya (termasuk faktor kasihan kepada penderita), tindakan euthanasia aktif tersebut jelas tidak dapat diterima. Alasan ini hanya melihat aspek lahiriah (empiris), padahal di balik itu ada aspek-aspek lain yang tidak diketahui dan terjangkau oleh manusia, yaitu pengampunan dosa. Adapun hukum euthanasia pasif, sebenarnya faktanya termasuk dalam praktik menghentikan pengobatan. Tindakan tersebut dilakukan berdasarkan keyakinan dokter bahwa pengobatan yag dilakukan tidak ada gunanya lagi dan tidak memberikan harapan sembuh kepada pasien. Karena itu, dokter menghentikan pengobatan kepada pasien, misalnya dengan cara menghentikan alat pernapasan buatan dari tubuh pasien. Bagaimanakah hukumnya menurut Syariah. Jawaban untuk pertanyaan itu, bergantung kepada pengetahuan kita tentang hukum berobat (attadaawi) itu sendiri. Yakni, apakah berobat itu wajib, mandub,mubah, atau makruh? Dalam masalah ini ada perbedaan pendapat. Menurut jumhur ulama, mengobati atau berobat itu hukumnya mandub (sunnah), tidak wajib. Namun sebagian ulama ada yang mewajibkan berobat, seperti kalangan ulama Syafiiyah dan Hanabilah, seperti dikemukakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (Utomo, 2003:180). Menurut Abdul Qadim Zallum (1998:68) hukum berobat adalah mandub. Tidak wajib. Hal ini berdasarkan berbagai hadits, di mana pada satu sisi Nabi SAW menuntut umatnya untuk berobat, sedangkan di sisi lain, ada qarinah (indikasi) bahwa tuntutan itu bukanlah tuntutan yang tegas (wajib), tapi tuntutan yang memang sangat bukan tegas atau tidak tegas (sunnah). Di antara hadits-hadits tersebut, adalah hadits bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla setiap kali menciptakan penyakit, Dia ciptakan pula obatnya. Maka berobatlah kalian!” (HR Ahmad, dari Anas RA) Hadits di atas menunjukkan Rasulullah SAW memerintahkan untuk berobat. Menurut ilmu Ushul Fiqih, perintah (al-amr) itu hanya memberi makna adanya tuntutan (li ath-thalab), bukan menunjukkan kewajiban (li al-wujub). Ini sesuai kaidah ushul : Al-Ashlu fi al-amri li ath-thalab “Perintah itu pada asalnya adalah sekedar menunjukkan adanya tuntutan.” (An-Nabhani, 1953) Jadi, hadits riwayat Imam Ahmad di atas hanya menuntut kita berobat. Dalam hadits itu tidak terdapat suatu indikasi pun bahwa tuntutan itu bersifat wajib. Bahkan, qarinah yang ada dalam hadits-hadits lain justru menunjukkan bahwa perintah di atas tidak bersifat wajib. Hadits-hadits lain itu membolehkan untuk tidak berobat atau tidak melakukan suau pengobatan. Di antaranya ialah hadits yang diriwayatkan Ibnu Abbas RA, bahwa seorang perempuan hitam pernah datang kepada Nabi SAW lalu berkata,”Sesungguhnya aku terkena penyakit ayan (epilepsi) dan sering tersingkap auratku [saat kambuh]. Berdoalah kepada Allah untuk kesembuhanku!” Nabi SAW berkata,”Jika kamu mau, kamu bersabar dan akan mendapat surga. Jika tidak mau, aku akan berdoa kepada Allah agar Dia menyembuhkanmu.” Perempuan itu berkata,”Baiklah aku akan bersabar,” lalu dia berkata lagi,”Sesungguhnya auratku sering tersingkap [saat ayanku kambuh], maka berdoalah kepada Allah agar auratku tidak tersingkap.” Maka Nabi SAW lalu berdoa untuknya. (HR Bukhari) Hadits di atas menunjukkan bolehnya tidak berobat. Jika hadits ini digabungkan dengan hadits pertama di atas yang memerintahkan berobat, maka hadits terakhir ini menjadi indikasi (qarinah), bahwa perintah berobat adalah perintah sunnah, bukan perintah wajib. Kesimpulannya, hukum berobat adalah sunnah (mandub), bukan wajib (Zallum, 1998:69). Dengan demikian, jelaslah pengobatan atau berobat hukumnya sunnah, termasuk dalam hal ini memasang alat-alat bantu bagi pasien. Jika memasang alat-alat ini hukumnya sunnah, apakah dokter berhak mencabutnya dari pasien yang memang pada kenyataannya telah atau sudah kritis keadaannya? Abdul Qadim Zallum (1998:69) mengatakan bahwa jika para dokter telah menetapkan bahwa si

pasien telah mati organ otaknya, maka para dokter berhak menghentikan pengobatan, seperti menghentikan alat bantu pernapasan dan sebagainya. Sebab pada dasarnya penggunaan alat-alat bantu tersebut adalah termasuk aktivitas pengobatan yang hukumnya sunnah, bukan wajib. Kematian otak tersebut berarti secara pasti tidak memungkinkan lagi kembalinya kehidupan bagi pasien. Meskipun sebagian organ vital lainnya masih bisa berfungsi, tetap tidak akan dapat mengembalikan kehidupan kepada pasien, karena organ-organ ini pun akan segera tidak berfungsi lagi dikemudian hari yang akan datang. Berdasarkan penjelasan di atas, maka hukum pemasangan alat-alat bantu kepada pasien adalah sunnah, karena termasuk aktivitas berobat yang hukumnya sunnah. Karena itu, hukum euthanasia pasif dalam arti menghentikan pengobatan dengan mencabut alat-alat bantu pada pasien –setelah matinya/rusaknya organ otak—hukumnya boleh (jaiz) dan tidak haram bagi dokter. Jadi setelah mencabut alat-alat tersebut dari tubuh pasien, dokter tidak dapat dapat dikatakan berdosa dan tidak dapat dimintai tanggung jawab mengenai tindakan yang telah ia perbut itu sebelumnya kepada korban. Namun untuk bebasnya tanggung jawab dokter, disyaratkan adanya izin dari pasien, walinya, atau washi-nya (washi adalah orang yang ditunjuk untuk mengawasi dan mengurus pasien). Jika pasien tidak mempunyai wali, atau washi, maka wajib diperlukan izin dari pihak penguasa. C. Praktek Euthanasia di Indonesia Praktek euthanasia yang merupakan sesuatu hal yang menjadi pro dan kontra baik iu dikalangan masyarakat secara umum, maupun dari beberapa pakar (ahli hukum) hingga para ulama. Telah dijelaskan pada sub bab sebelumnya bahwa praktek euthanasia ini dibagi menjadi beberapa macam, yakni pertama Eutanasia positif adalah tindakan memudahkan kematian si sakit karena kasih sayang yang dilakukan oleh dokter dengan mempergunakan instrumen (alat) atau obat. Yang dimaksud taisir al-maut al-fa'al (eutanasia positif) ialah tindakan memudahkan kematian si sakit karena kasih sayang yang dilakukan oleh dokter dengan mempergunakan instrumen (alat) agar ia terbunuh. Kedua adalah euthanasia negatif dimana pada euthanasia ini dilakukan suatu penghentian pengobatan agar korban meninggal, dan biasanya dalam euthanasia ini dilakukan dengan alasan faktor ekonomi yang tidak mampu. Sejauh manakah praktek euthanasia ini dilakukan di Indonesia yang secara hukum posiif pidana Indonesia yang tercantum dalam KUHPiadana melarang praktek tersebut, dan berdasarkan hukum islam pun praktk ini dilarang denganalasan apapun juga. Di sinilah terjadi sesuatu hal yang ironi dalam masyaraka kita. Apa yang memang dilanggar baik itu dikarenakan secara hukum, sosiologis, agama, serta moral, pada kenyatannya apa yang dilarang tersebut tetap dilakukan dengan berbagai alasan. Praktek euthanasia ini sesungguhya telah dikecam oleh beberapa pihak atau golongan dengan alasan bahwa euthanasia adalah suatu pembunuhan yang terselubung, sehingga bertentangan dengan kehendak Tuhan. Kelompok ini berpendapat bahwa hidup adalah semata-mata diberikan oleh Tuhan sendiri, sehingga tak seorang manusia atau institusi manapun yang berhak mencabutnya. Dengan demikian manusia sebagai ciptaan Tuhan yang tidak memiliki hak untuk mati. Dalam konteks Indonesia pergeseran pandangan tentang euthanasia dapat dilihat dari hasil penelitian Satjipto Rahardjo dkk dari Universitas Diponegoro Semarang pada tahun 1989 yang meneliti respon dokter dan ahli hukum terhadap euthanasia yang hasilnya dari jawaban 38 responden yang terjaring, 14 responden dokter menyatakan setuju dan sisanya dari responden sarjana hukum menyatakan tidak setuju terhadap euthanasia. Dari 7 dokter yang terjaring 5

diantaranya menjawab setuju, sedangkan dari 25 sarjana hukum yang terjaring 12 sarjana hukum yang menyetujui euthanasia. Sementara itu dari 14 responden menyatakan permintaan euthanasia sebaiknya dilakukan oleh keluarga korban (50%), permintaan oleh korban sendiri (36%) dandan oleh kedua-duanya (70%). Juga yang menarik adalah pendapat dari 38 responden yang menyatakan bahwa euthanasia adalah masalah kemanusiaa (8%), masalah agama (8%), masalah kedua-duanya (84%). Terlepas dari valid tidaknya data tersebut, ilustrasi tadi membuktikan bahwa pandangan masyarakat Indonesia yang beretika Pancasila telah bergeser dari ketentuan yang melarang euthanasia. Bahkan para dokter yang terikat kode etik kedokteran dan sumpah dokter yang memuat larangan melakukan euthanasia ternyata jauh lebih permisif jika dibandingkan sarjana hukum. Adanya pergeseran sikap tersebut menunjukkan euthanasia sebagai materi ilmu pengetahuan selalu mendapat masukan-masukan baru (heuristik). Namun masukanmasukan hasil persemaian ide-ide baru tersebut tidak begitu saja diterima melainkan harus dikendalikan oleh etika sebagai kosekuensi logis dari aspek aksiologis dari ilmu hukum khususnya dalam persoalan euthanasia. Proses yang saling mendukung dan mempengaruhi ini berlangsung dalam suatu siklus yang tidak pernah berhenti.

BAB V PENUTUP A.Kesimpulan Berdasarkan pembahasan pada bab-bab sebelumnya, maka kesimpulan yang dapat diambil adalah: 1. Praktek euthanasia ini apabila dihubungkan dengan kode etik kedokteran jelas bahwa euthanasia ini dilarang karena sebisa mungkin seorang dokter harus menyelamakan nyawa pasien. Namun di sini praktek euthanasia dimunginkan dilakukan dengan syarat-syarat yang cukup banyak tenunya dengan persetujuan korban dan keluarga terkait. 2. Pandangan hukum islam dan hukum positif terhadap perkawinan beda agama, adalah: Hukum Pidana Islam: Dalam hukum pidana Islam praktek♣ euthanasia ini sangat dilarang, baik itu euthanasia yang aktif maupun yang pasif walaupun dengan alasan apapun juga, karena sudah melanggar perintah Allh SWT. Hukum Pidana Indonesia (KUHP) : Berdasarkan♣ hukum di Indonesia maka eutanasia adalah sesuatu perbuatan yang melawan hukum, hal ini dapat dilihat pada peraturan perundangundangan yang ada yaitu pada Pasal 344 Kitab Un ang-undang Hukum Pidana. Namun, Dalam pandangan hukum, euthanasia bisa dilakukan jika pengadilan megijinkan. Namun bila euthanasia dilakukan tanpa dasar hukum, maka dokter dan rumah sakit bisa dianggap melanggar pasal 345 KUHP, yaitu menghilangkan nyawa orang lain dengan menggunakan sarana. Dari sudut pandang hukum euthanasia aktif jelas melanggar, UU RI No. 39 tahun 1999.

3. Praktek euthanasia di Indonesia berdasarkan hasil penelitian Satjipto Rahardjo dkk dari Universitas Diponegoro Semarang pada tahun 1989 bahwa praktek euthnasia sudah banyak terjadi di Indonesia dan sekitar 14 dari 38 responden yang seorang dokter menyatakan setuhu akan euthanasia ini, dan dari 25 responden sarjana hukum 12 responden menyatakan setuju akan euthanasia, sedangkan 14 responden mensyaratkan euthanasia dengan beberapa syarat. B. Saran Berdasarkan pembahasan sebelumnya maka saran yang penulis berikan pada permasalahan adalah: 1. Praktek euthanasia ini sekiranya harus dapat diminimalisir atau bahkan jangan sampai dilakukan walaupun dengan syarat yang cukup berat, karena pada dasarnya seorang dokter harus melindungi dan menyelamatkan nyawa pasiennya. 2. Dengan adanya beberapa pandangan baik dari hukum islam khususnya hukum pidana islam serta hukum pidana Indonesia (KUHP) yang melarang euthanasia, maka selayaknya eunahasia ini menjadi suatu hal yang diperhatikan pelaksanaannya karena euthanasia ini sangat dilarang dari berbagai bidang 3. Praktek euthanasia yang menjadi pro dan kontra di Indonesia ini kiranya harus dipayakan agar tidak dilaksanakan dengan alasan apapun karena kegiatan ini apabila ditinjau dari berbagai aspek sangat tidak baik, dan menurut agama pun hal ini dilarang keras oleh Allah SWT.

DAFTAR PUSTAKA A. Buku-buku Ali, Zainudin, 2006. “Hukum Islam”. Jakarta: Sinar Grafika ________.2007.”Hukum Pidana Islam”.Jakarta: Sinar Grafika Ensiklopedi Hukum Islam. I Doi,Rahman.1996,”Hudud dan Kewarisan”.Jakarta, Raja Grafindo Persada Prodjodikoro, Wirjono. 2003.”Tindak-tindak Pidana Tertentu Di Indoesia”.Bandung:Refika Aditama Rasjid, Sulaiman.1995.”Fiqh Islam”.Bandung:Sinar Baru Algensindo Offset Suryana, Toto.et al.2006.”Pendidikan Agama Islam”.Bandung:Tiga Mutiara. B. Peraturan Perundang-undangan Kitab Undang-undang Hukum Pidana Kompilasi Hukum Islam SKPBDI no.221/PB/A.4/04/2002 tanggal 19 April 2002 tentang Kode Etik Kedokteran

C. Internet www.alquran-digital.com www.euthanasia4iWorldConservation.com www.filsufgaul.wordpress.com www.wikisource.org. www.kompas.com Diposkan oleh AHMADABDULGANI di 00:04 0 komentar Beranda Langgan: Entri (Atom)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->