BAB I HASIL DAN PEMBAHASAN 1.1 1.1.1 No 1. 2.

Hasil Pengamatan Menghitung Konsentrasi Spermatozoa Perlakuan Pengamatan Disediakan 1 ml larutan NaCl 0,9 % NaCl berwarna bening dalam cawan petri Mencit dibunuh dengan cara dislokasi servikalis 3. 4. 5. 6. 7. 8. Mencit dibedah dan digunting bagian cauda epididimis Dimasukkan cauda epididmis ke dalam Digunting sehalus mungkin epididmis dalam cawan petri Diaduk hingga homogen Dipipet dengan pipet thoma set darah merah dan disedot NaCl 0,9 % sampai skala 101 Buang satu sampai tiga tetes larutan dalam pipet thoma dan diteteskan ke 9. dalam hemasitometer Dihitung spermatozoa dalam 25 kamar hitung sel darah merah Suspensi masuk ke dalam hemasitometer dan menyebar kke dalam bilik – bilik I. 1 = 39 2 = 33 3=5 4 = 17 5 = 30 II. 1 = 27 2 = 23 3=9 4 = 17 5 = 24 Suspensi tercampur rata Suspensi masuk ke dalam pipet thoma Mencit ditarik hingga tulang pad bagian tengkuk tulang berbunyi tengkuk yang pada menandakan leher patah Cauda epididimis seperti lemak yang menempel pada testis cauda epididimis Epididmis menjadi lembut tercacah

cawan petri yang berisi 1 ml NaCl 0,9 % NaCl berwarna keruh setelah dimasuki

Rata - rata I = 24,8 Rata – rata II = 20

5. 3. ∑ = n x p  V = 20 X 100 0.02 =124.1.000. Diamati kelainan morfologi Sperma abnormal : . Pengamatan Morfologi Spermatozoa Perlakuan Ambil 2 tetes suspensi spermatozoa yang telah dibuat.000 ml 1. Konsentrasi spermatozoa ditentukan I.000. 6.000 ml dan pada mencit 2 jumlah kerapatan spermanya adalah 100.8 X 100 0.000.000x103ml=124. 7.10.000.000x103ml=100. diteteskan pada kaca obyek Diratakan dengan kaca obyek yang lain Dikeringkan selama 5 menit Direndam dalam methanol selama 5 menit dan dibiarkan mongering Ditetesi Eosin y selama 5 menit dan dibilas dengan air dibilas dengan air Dikeringkan Eosin y berwarna merah dan preparat terwanai menjadi merah Metilen blue berwarna biru dan Pengamatan Suspensi spermatozoa berwarna putih keruh Terbentuk lapisan tipis Lapisan tipis mongering Methanol bening Ditetesi metilen blue selama 5 menit dan preparat terwarnai menjadi biru Preparat mengering 8.000 ml Jadi pada mencit 1 jumlah kerapatan spermanya adalah 124.000 ml II.2 No 1. 4. ∑ = n x p  V = 24.02 =100. 2.

spermatozoa dengan mikroskop .kepala gepeng .Ekor bagian utama dan ujung terbagi 2 .2 Pembahasan .kepala dua .Letak ekor yang apaxial .ekor pendek 1.

Hal ini dilakukan karena pada cauda epididimis sperma sudah matang dan sperma sudah mengalami pengaktifan gerak. kemudian ekornya ditarik dengan tangan yang satu menahan tengkuknya.dari luar tampak seperti pembuluh besar berbentuk seperti satu pembuluh besar berbentuk seperti huruf S terbalik.1 Menghitung Konsentrasi Spermatozoa Praktikum analisis spermatozoa ini bertujuan untuk menghitung konsentrasi spermatozoa. berbentuk huruf U. Pada bagian cauda epididimis diambil. corpus. Cauda adalah bagian ujung atau ekor. dan cauda. Sekat – sekat inilah yang disebut bilik atau kamar. Kemampuan pergerakan sperma disebut motilitas. Pada percobaan kali ini hanya dihitung 25 kamar . Epididimis melekat ke satu sisi testis dari anterior ke posterior. Apabila terdengar bunyi seperti patahan pada tengkuk mencit maka mencit sudah dapat dipastikan mati. Selanjutnya ditunggu kira – kira 5 menit atau 10 menit maka mencit sudah dapat dibedah. Setelah cauda epididimis diambil. Hemasitometer inin berbenruk seperti kaca tebal yang mempunyai sekat – sekat kecil yang hanya dapat dilihat dengan mikroskop sebab sekat ini bersifat mikroskopis. saat sperma bergerak menuju sekat maka dihitung satu apabila sudah terlihat kepala dari sperma. Suspensi sperma ditaruh ke dalam hemasitometer improved neubeuer. suspensi disedot dengan cara ujung pipet thoma diletakkan ke dalam mulut lalu disedot. Kemudian disedot lagi NaCl sampai batas volume 101. Corpus adalah bagian tengah dan memanjang ramping disepanjang sisi testis. ujungnya bertemu vas deferens (Yatim.1. Langkah awala adalah menyiapkan mencit jantan yang sudah dewasa untuk diambil spermatozoanya. Cauda epididimis diletakkan pada cawan petri yang sudah berisi NaCl 0.9 %. Cara ini digunakan agar spermatozoa mencit tetap sehat dan tidak tercampur oleh obat jika dibunuh dengan cara diberi chloroform. Cara membunuh dislokasi servikalis yaitu sebagai berikut mencit dipegang tengkuk lehernya dan dipegan ekornya. Caput ada di depan tempat bermuara vasa efferensia. 1996). sebetulnya ia terdiri dari pembuluh (vas) yang melilit – lilit yang dibungkus oleh jaringan pengikat sehingga menjadi satu bangunan. Terdiri atas tiga bagian caput. Cauda epididimis yang sudah tercelup ke dalam NaCl dicacah selembut mungkin. NaCl digunakan karena NaCl bersifat isotonic yang akn menjaga sperma untuk lebih bertahan hidup dan tidak cepat mati. Percobaan inin . Mencit kemudian dibedah dan diamati organ reproduksinya. Setelah itu mencit tersebut dibunuh dengan cara dislokasi servikalis. Hal ini dilakukan agar sperma keluar dari cauda epididimis.2. Suspensi sperma tersebut disedot dengan pipet thoma set darah merah dengan volume 1 ml.

aspermia . hasil tersebut menunjukkan bahwa mencit 1 dan 2 normozoospermia. yaitu sebagai berikut : 1. Pada mencit pertama setelah dihitung pada bilik 1 terdapat sperma sebanyak 39.menggunakan 2 mencit. kelenjar genetis. Pada pengamatan spermatozoa salah satunya dapat dilihat dari penghitungan konsentrasi dan volume.dihitung dengan hemacytimeter neubaeur juga. gangguan patologis dan : 1 – 6 ml : > 6 ml→ kemungkinan karena abstinensi terlalu lama. bilik 2 = 33. Rata. azoospermia : >250 juta/ml : <40 jta/ml : 0/ml b. bilik 3 = 5.000 ml. bilik 5 = 24. bilik 4 = 17. . (Yatim. sebab konsentrasinya antara 40 – 200 juta /ml. normozoospermia : 40-200 juta/ml Menurut Rehan et al (1975) konsentrasi itu 8. dengan range 4-318 juta/ml. 1994) : 0 ml → tidak ada sperma sama sekali/mandul. 8 sedangkan mencit kedua adalah 20. dihitun dengan melihatnya di bawah mikrskop perbesaran 450X. oligozoospermia d. Konsentrasi Konsentrasi/ jumlah spermatozoa /ml semen.hypospermia .normospermia . Melihat pada konsentrasi pria dapat dibedakan atas 4 golongan fertiltas : a. polyzoospermia c.5 ml (manusia) . : < 1 ml→ kemungkinan sampel tumpah.rata sperma mencit pertama adalah 24.1 ± 57 SD juta/ml. dengan range 0.000. 2. bilik 5 = 30.hyperspermia kelamin terlalu aktif. Sedang menurut Smith et al (1978) konsentrasi itu 70 ± 65 SD juta/ml. bilik 4 = 17. bilik 2 = 23.5 – 3. vesicula seminalis terganggu. Volume Rata-rata volume ejakulasi adalah 2. pada mencit kedua bilik 1 = 27. atau gangguan hormonal.1-600 juta/ml. bilik 3 = 9.000. dari perhitungan konsentrasi menunjukkan bahwa konsentrasi mencit pertama adalah 124.000 ml dan mencit kedua adalah 100.

Kemudian diteteskan pada kaca obyek dan diratakan dengan kaca obyek yang lain. yang terpenting diantaranya ialah hialuronidase dan protease mirip tripsin. dari akrosomnya keluar enzim – enzim.2 Pengamatan Morfologi Spermatozoa Pengamatan ini bertujuan untuk mengetahui bentuk morfologi sperma yang normal dan abnormal. Enzim itu perlu untuk membuyarkan sel corona radiata yang menyalut ovum dan menembus zona pelucida.1. Metilen blue berwarna biru dan berfungsi untuk mewarnai bagian sel yang bersifat asam sebab metilen blue bersifat basa. Ada batas minimum % abnormal terhadap normal kebanyakan. lebar 2.5 µ m.2. dan ekor. terdapat baik pada orang fertil maupun infertil. yaitu sperma berkepala gepeng. Setelah pewarnaan preparat sperma selesai maka diamati morfolginya dibawah mikroskop. berkepala dua. Bentuk abnormal terjadi karena berbagai macam gangguan dalam spermatogenesis. Panjang 4 – 5 µ m.5 – 3. Spermatozoa yang normal terdiri atas kepala. Kemudian dibilas agar tidak terlalu banyak eosin y yang mewarnai preparat sebab apabila pewarnaan terlalu tebal maka preparat akan susah diamati. Hanya saja pada orang fertil kadarnya sedikit saja. Preparat sperma ditetesi dengan methanol secara merata pada lapisan tipis sperma yang terbentuk pada saat pemerataan dengan kaca obyek yang lain dan dibiarkan beberapa saat agar mengering. Langkah awal yaitu mengambil beberapa tetes sperma dari suspensi sperma yang telah dibuat tadi. letak ekor yang apaxial. Terakhir preparat ditetesi dengan metilen blue dan dibiarkan 5 menit. Setelah itu dibiarkan beberapa saat agar mengering. Dengan morfologi kepala lonjong jika dilihat dari atas dan “pyriform” jika dilihat dari samping. (Yatim. Metanol berfungsi untuk melekatkan preparat pada kaca obyek. lalu dibilas dengan air. Sebagian besar kepala berisi inti. terutama pada waktu . Eosin y berwarna merah dan berfungsi untuk mewarnai bagian bagian sel yang bersifat basa sebab eosin itu sendiri berasifat asam. lebih tebal dekat leher dan menggepeng ke ujung. Preparat ditetesi lagi dengan eosin y dan dibiarkan selama 5 menit. Hal ini dilakukan agar terbentuk lapisan tipis pada kaca obyek yang akan memudahkan pengamatan saat diamati dengan mikroskop. 1996) Spermatozoa dapat berbentuk lain dari biasa. mengakibatkan orangnya infertil. leher. Dua pertiga bagian depan inti diselaputi tutup akrosom. Jika terjadi pembuahan maka tutup akrosom pecah. ekor bagian utama dan ujung terbagi 2. dan ekor pendek. Hasil pengamatan menunjukkan adanya morfologi sperma yang abnormal.

1994). akibat radiasi. Gangguan itu mungkin karena faktor hormonal. nutrisi.spermiogenesis. atau oleh penyakit (Yatim. obat. BAB II .

dan ekor bagian utama dan ujung terbagi 2. Sedangkan pada morfologi spermanya ditemuka adanya sperma yang abnormal antara lain kepala gepeng. letak ekor yang apaxial.KESIMPULAN Kesimpulan pada percobaan analisis mencit menunjukkan bahwa konsentrasi sperma mencit 1 sebanyak 124 jt/ml sedangkan mencit 2 100 jt/ml. ekor pendek. kepala dua. Hal ini menandakan bahwa kedua mencit tesebut jika dari jumlah konsentrasi spermanya adalah normozoospermia sebab konsentrasi spermanya diantara 40 – 200 jt/ml. DAFTAR PUSTAKA .

Wildan. Penerbit Tarsito : Bandung.Histologi.(1994). Dr. Yatim.Yatim. Tarsito: Bandung. SKEMA KERJA . Reproduksi dan Embryologi. (1996). Wildan.

9 % epididiminis digunting sehalus mungkin diaduk hingga homogen disedot dengan pipet thoma sel darah merah sampai skala 1dan disedot juga NaCl 0. Menghitung konsentrasi spermatozoa Mus musculus jantan dewasa darah merah HASIL konsentrasi spermatozoa ditentukan dengan mengalikan dengan faktor pengenceran dibunuh dengan cara dislokasi cervikalis dibedah dan diamati alat reproduksinya epididiminis kauda digunting epididiminis kauda dimasukkan dalam kaca arloji yang telah berisi 1 ml NaCl 0.9 % sampai skala 1:1 larutan ditahan dalam pipet dan digoyanggoyangkan hingga homogen tiga tetes larutan dalam pipet dibuang dan cairan diteteskan pada hemasitometer spermatozoa dihitung dalam 25 kamar hitung sel .1.

2. Pengamatan morfologi spermatozoa Suspensi sperma hasil percobaan 1 diteteskan pada kaca obyek. diratakan dianginkan beberapa menit direndam dalam metanol selama 5 menit direndam dalam Eosin Y selama 5 menit lalu direndam lagi dalam metilen blue selama 5 menit dikeringkan diamati dengan mikroskop dan dibandingkan dibilas dengan air ledeng dan dibilas dengan air ledeng morfologinya dengan literatur HASIL .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful