P. 1
Manual Sistem Jaminan Halal PDAM Tirta Benteng Kota Tangerang

Manual Sistem Jaminan Halal PDAM Tirta Benteng Kota Tangerang

|Views: 6,291|Likes:
Published by Akhmad Kautsar
Manual SJH
Manual SJH

More info:

Published by: Akhmad Kautsar on Mar 29, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/01/2015

pdf

text

original

________________________________________________

MANUAL SISTEM JAMINAN HALAL (SJH) PDAM TIRTA BENTENG KOTA TANGERANG

SISTEM JAMINAN HALAL (SJH) PDAM TIRTA BENTENG KOTA TANGERANG

MAN-01
1

________________________________________________

MANUAL SISTEM JAMINAN HALAL (SJH) PDAM TIRTA BENTENG KOTA TANGERANG
DAFTAR ISI Lembar Pengesahan…………………………………………………………………. 3 Daftar Disribusi Dokumen…………………………………………………………... 4 Daftar Revisi Dokumen…………………………………………………………….... 5 Pernyataan Kebijakan Halal …….………………………………………………….. 6 Pendahuluan………………………………………………………………………….. 7 Sistem Jaminan Halal………………………………………………………………… 8 Kebijakan Halal ……………………………………………………..…………… 8 Panduan Halal ……………………………………………………………………. 8 Organisasi Manajemen Halal ……………………………………………………17 Persyaratan Auditor Internal ………………………………………………….. 18 Tugas Tim Auditor Halal ………………………………………………………. 18 Uraian Tugas dan Wewenang Auditor Halal …………………………………. 18 SOP ………………………………………………………………………………. 20 Acuan Teknis ……………………………………………………………………. 23 Sistem Administrasi …………………………………………………………….. 25 Sistem Dokumentasi …………………………………………………………….. 25 Sosialisasi ……………………………………………………………………….... 26 Pelatihan …………………………………………………………………………. 26 Komunikasi Internal dan External …………………………………………. 27 Audit Internal ………………………………………………………………… 27 Tindakan Perbaikan …………………………………………………………. 29 Kaji Ulang Manjemen ……………………………………………………….. 30 Lampiran Pohon keputusan untuk identifikasi Titik Kritis ………………………. 31 Matrix bahan baku, Tambahan dan Penolong …………………………………….. 39 Tabel Daftar Bahan titik Kritis ……………………………………………………... 40 Lampiran Form Laporan Berkala…………………………………………………... 41 Lampiran Borang Audit Halal Internal ……………………………………………. 42 Lampiran Laporan Ketidak sesuaian ………………………………………………. 47 Lampiran Laporan Tinjauan Manajemen …………………………………………. 48 Lampiran Daftar Lembaga Sertifikasi Halal yang diakui MUI…………………… Lampiran SK Pembentukan Tim AHI………………………………………………

1. 2. 3. 3.1. 3.2. 3.3. 3.4. 3.5. 3.6. 3.7. 3.8. 3.9. 3.10. 3.11. 3.12. 3.13.

2

________________________________________________

MANUAL SISTEM JAMINAN HALAL (SJH) PDAM TIRTA BENTENG KOTA TANGERANG

SISTEM JAMINAN HALAL (SJH) PDAM TIRTA BENTENG KOTA TANGERANG Disiapkan oleh: Auditor Halal Internal Ketua

( Sumarya, ST) Disahkan oleh

(Ir.H. Ahmad Marju Kodri)

3

________________________________________________

MANUAL SISTEM JAMINAN HALAL (SJH) PDAM TIRTA BENTENG KOTA TANGERANG
DAFTAR DISTRIBUSI DOKUMEN MANUAL PDAM TIRTA BENTENG KOTA TANGERANG NO JABATAN 1 Direktur Utama 2 3 4 5 6 7 8 Kepala Bagian Produksi Kepala Seksi Pengolahan Kepala Seksi Laboratorium Kepala Seksi Umum & Pergudangan Staf Umum & Pergudangan Staf Laboratorium Staf Pengolahan NAMA Ir. H. Ahmad Marju Kodri Sumarya Ida Nuraida Gusni Elgawati Asep Sudrajat Ade Kurniawan Akhmad Kautsar Yudiana Efendi TANDATANGAN TANGGAL 01/03/11 01/03/11 01/03/11 01/03/11 01/03/11 01/03/11 01/03/11 01/03/11

4

________________________________________________

MANUAL SISTEM JAMINAN HALAL (SJH) PDAM TIRTA BENTENG KOTA TANGERANG
DAFTAR REVISI DOKUMEN MANUAL PDAM TIRTA BENTENG KOTA TANGERANG Perubahan No. Tanggal 1 01/03/11 Dokumen yang direvisi Bab Hala man 1 all all Dokumen hasil revisi Edisi Bab Hala man all all Keterangan Penerbitan awal

Edisi

5

________________________________________________

MANUAL SISTEM JAMINAN HALAL (SJH) PDAM TIRTA BENTENG KOTA TANGERANG
KEBIJAKAN HALAL PDAM TIRTA BENTENG KOTA TANGERANG
PDAM Tirta Benteng Kota Tangerang berkomitmen untuk memproduksi Air Minum dengan kualitas berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.492/ MENKES/PER/IV/2010 yang bersertifikat halal secara konsisten sehingga secara sehat, aman dan halal digunakan oleh pelanggan atau masyarakat Kota Tangerang yang beragama Islam tanpa khawatir akan keharamannya, melalui :
1.

Menjamin produk Air Minum yang dihasilkan Halal yaitu dengan adanya Menjamin proses produksi bebas dari bahan Haram atau Najis Menjamin Pemasok berasal dari sumber yang Halal

sertifikasi Halal dari LPPOM Majelis Ulama Indonesia (MUI)
2. 3.

6

________________________________________________

MANUAL SISTEM JAMINAN HALAL (SJH) PDAM TIRTA BENTENG KOTA TANGERANG
PENDAHULUAN 1. Profil Perusahaan a. Nama Perusahaan Alamat kantor Pusat b. Alamat Pabrik c. Jenis Produk d. Kapasitas produksi : PDAM Tirta Benteng Kota Tangerang : Jl. Komp. PU. Prosida Bendung X Kelurahan Mekarsari Kec. Neglasari Kota Tangerang 15129 : Jl Komp. PU. Prosida Bendung X Keluraha Mekarsari Kec. Neglasari Kota Tangerang 15129 : Air Minum Perpipaan : 800.000 M3 / bulan

PDAM Tirta Benteng Kota Tangerang adalah perusahaan umum milik Pemerintah Kota Tangerang yang bergerak di bidang jasa pelayanan Air Minum yang memproduksi Air Minum perpipaan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Kota Tangerang. Perusahaan ini berdiri sejak tahun 1995 dan mengalami perkembangan pesat sampai saat ini dengan total produksi 9.700.000 M3 / tahun dengan jumlah sambungan langganan 18.000 yang terdiri dari sambungan rumah tangga, industri dan Bandara Soekarno Hatta. 2. Tujuan Penerapan Tujuan dari penerapan Sistem Jaminan Halal adalah bertanggung jawab terhadap masyarakat Kota Tangerang yang menggunakan Air PDAM Tirta Benteng Kota Tangerang agar merasa yakin bahwa air yang digunakan aman bagi kesehatan dan juga aman kehalalannya. Oleh karena itu diperlukan pensertifikasian Halal dari MUI sebagai jaminan akan kehalalannya. 3. Ruang Lingkup Penerapan Untuk saat ini Sistem Jaminan Halal PDAM Tirta Benteng Kota Tangerang diterapkan secara tetap pada Pembelian, Penerimaan Bahan, Produksi (meliputi pengolahan dan laboratorium), Penyimpanan Bahan dan Produk sesuai dengan syariat Islam.

7

________________________________________________

MANUAL SISTEM JAMINAN HALAL (SJH) PDAM TIRTA BENTENG KOTA TANGERANG
SISTEM JAMINAN HALAL 1. Kebijakan Halal Pernyataan dari kebijakan Halal merupakan langkah awal dari penerapan Sistem Jaminan Halal (SJH) Kebijakan halal merupakan pernyataan tertulis komitmen perusahaan untuk memproduksi produk halal secara konsisten, mencakup konsistensi dalam penggunaan dan pengadaan bahan baku, konsistensi dalam proses produksi halal. 2. Panduan Halal Panduan Halal adalah panduan untuk mengidentifikasi bahan atau proses pada titik kritis yang diterapkan pada suatu perusahaan yang terdiri dari 2.1. Halal adalah boleh. Pada kasus makanan, kebanyakan makanan termasuk halal kecual secara Haram adalah sesuatu yang Allah SWT melarang untuk dilakukan dengan larangan tegas. Setiap orang yang menentangnya akan berhadapan dengan siksaan Allah di akhirat. Bahkan terkadang juga terancam sanksi syariah di dunia ini 2.2. 2.2.1. Referensi Al Qur’an dan fatwa MUI Prinsip-prinsip tentang Hukum Halal dan Haram 2.2.1.1. Pada dasarnya segala sesuatu halal hukumnya. 2.2.1.2. Penghalalan dan pengharaman hanyalah wewenang Allah SWT semata. 2.2.1.3. Mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram termasuk perilaku syirik terhadap Allah SWT. 2.2.1.4. Sesuatu yang diharamkan karena ia buruk dan berbahaya. 2.2.1.5. Pada sesuatu yang halal sudah terdapat sesuatu yang dengannya tidak lagi membutuhkan yang haram 2.2.1.6. Sesuatu yang menghantarkan kepada yang haram maka haram pula hukumnya. 2.2.1.7. Menyiasati yang haram, haram hukumnya. 2.2.1.8. Niat baik tidak menghapuskan hukum haram. 2.2.1.9. Hati-hati terhadap yang syubhat agar tidak jatuh ke dalam yang haram. 8 khusus disebutkan dalam Al Qur’an atau Hadits.

________________________________________________

MANUAL SISTEM JAMINAN HALAL (SJH) PDAM TIRTA BENTENG KOTA TANGERANG
2.2.1.10. Sesuatu yang haram adalah haram untuk semua. 2.2.2. 2.2.2.1. Halal dan Haram berdasarkan AL QUR’AN Al-Baqarah 168: “Hai sekalian umat manusaia makanlah dari apa yang ada di bumi

ini secara halal dan baik. Dan janganlah kalian ikuti langkah-langkah syetan. Sesungguhnya ia adalah musuh yang nyata bagi kalian”. 2.2.2.2. Al-Baqarah 172-173 : “Hai orang-orang yang beriman, makanlah diantara rezki yang baik-baik yang kami berikan kepada kalian dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepadaNya kalian menyembah. Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagi kalian bangkai, darah, daging babi dan binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barang siapa dalam keadaan terpaksa, sedangkan ia tidak berkehendak dan tidak melampaui batas, maka tidaklah berdosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Pengasih”. 2.2.2.3. Al-Anam 145 : “Katakanlah, saya tidak mendapat pada apa yang diwahyukan kepadaku sesuatu yang diharamkan bagi yang memakannya, kecuali bangkai, darah yang tercurah, daging babi karena ia kotor atau binatang yang disembelih dengan atas nama selain Allah. Barang siapa dalam keadaan terpaksa sedangkan ia tidak menginginkan dan tidak melampaui batas, maka tidaklah berdosa. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun Lagi Maha Pengasih”. 2.2.2.4. Al-Maidah 3 : “Diharamkan bagi kalian bangkai, darah, daging babi, hewan yang disembelih dengan atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas kecuali yang kalian sempat menyembelihnya. Dan diharamkan pula bagi kalian binatang yang disembelih disisi berhala”. 2.2.2.5. Al-Maidah 90-91 : “Wahai orang-orang yang beriman sesungguhnya meminum khamr, berjudi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib dengan panah adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syetan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kalian mendapat keuntungan. Sesungguhnya syetan itu hendak menimbulkan permusuhan dan perbencian di antara kalian lantaran meminum khamr dan berjudi dan menghalangi kalian dari mengingat Allah dan shalat, maka apakah kalian berhenti dari mengerjakan pekerjaan itu”. 2.2.2.6. 2.2.2.7. Al-Maidah 96 : “Dihalalkan untuk kalian binatang buruan laut dan makanannya”. AL-A’raf 157 : “Dia menghalalkan kepada mereka segala yang baik dan

mengharamkan kepada mereka segala yang kotor”. 9

________________________________________________

MANUAL SISTEM JAMINAN HALAL (SJH) PDAM TIRTA BENTENG KOTA TANGERANG
2.2.3. 2.2.3.1. a. b. c. d. 2.2.3.2. a. suci. b. 1. 2. 3. 2.2.3.3. a. b. c. hukumnya haram. d. e. f. 2.2.3.4. Komponen yang dipisahkan secara fisik dari fusel oil yang berasal dari khamr Cuka yang berasal dari khamr baik terjadi dengan sendirinya maupun melalui Ragi yang dipisahkan dari proses pembuatan khamr setelah dicuci sehingga Flavor Yang Menyerupai Produk Haram dan direaksikan secara kimiawi sehingga berubah menjadi senyawa baru hukumnya halal dan suci. rekayasa, hukumnya halal dan suci. hilang rasa, bau dan warna khamar-nya, hukumnya halal dan suci. Penggunaan ethanol yang merupakan senyawa murni yang bukan berasal dari Mubah, apabila dalam hasil produk akhirnya tidak terdeteksi Haram, apabila dalam hasil produk akhirnya masih terdeteksi. Penggunaan ethanol yang merupakan senyawa murni yang berasal dari Hasil Samping Industri Khamr Fusel oil yang berasal dari hasil samping industri khamr adalah haram dan najis Fusel oil yang bukan berasal dari khamr adalah halal dan suci Komponen yang dipisahkan secara fisik dari fusel oil yang berasal dari khamr industri khamr untuk proses produksi pangan hukumnya : Fatwa MUI untuk Bahan dan Proses Produksi Khamr Segala sesuatu yang memabukkan dikategorikan sebgai khamr. Minuman yang mengandung minimal 1 % ethanol, dikategorikan sebagai khamr. Minuman yang dikategorikan khamr adalah najis. Minuman yang diproduksi dari proses fermentasi yang mengandung kurang dari Ethanol Ethanol yang diproduksi dari industri bukan khamr hukumnya tidak najis atau

1 % ethanol, tidak dikategorikan khamr tetapi haram untuk dikonsumsi.

industri khamar untuk proses produksi industri hukumnya haram.

10

________________________________________________

MANUAL SISTEM JAMINAN HALAL (SJH) PDAM TIRTA BENTENG KOTA TANGERANG
Flavor yang menggunakan nama dan mempunyai profil sensori produk haram, contohnya flavor rum, flavor babi, dan lain-lain, tidak bias disertifikasi halal serta tidak boleh dikonsumsi walaupun ingredient yang digunakan adalah halal. 2.2.3.5. a. haram. b. Produk mikrobial yang langsung dikonsumsi yang menggunakan bahan-bahan yang haram dan najis dalam media pertumbuhannya, baik pada skala penyegaran, skala pilot plant, dan tahap produksi, hukumnya haram. c. hukumnya haram. d. 2.2.3.6. Produk konsumsi yang menggunakan produk mikrobial harus ditelusuri Penggunaan Alat Bersama a. Alat berkas dipakai babi/anjing harus dicuci dengan cara di-sertu (dicuci dengan air 7 x, yang salah satunya dengan tanah/debu atau penggantinya yang memiliki daya pembersih yang sama). b. 2.2.3.7. Suatu peralatan tidak boleh digunakan bergantian antara produk babi dan non-babi meskipun sudah melalui proses pencucian. Air Daur Ulang a. • Ketentuan Umum Dalam fatwa ini yang dimaksud dengan air daur ulang adalah air hasil olahan (rekayasa teknologi) dari air yang telah digunakan (musta’mal), terkena najis (mutanajjis) atau yang telah berubah salah satu sifatnya, yakni rasa, warna, dan bau (mutaghayyir) sehingga dapat dimanfaatkan kembali • Air dua kullah adalah air yang volumenya mencapai paling kurang 270 liter. kehalalannya sampai pada tahap proses penyegaran mikroba. Produk mikrobial yang digunakan untuk membantu proses produksi produk lain yang langsung dikonsumsi dan menggunakan bahan-bahan haram dan najis dalam media pertumbuhannya, Produk Mikrobial Mikroba yang tumbuh dan berasal dari media pertumbuhan yang suci dan halal

adalah halal, dan mikroba yang tumbuh dan berasal dari media pertumbuhan yang najis dan haram adalah

11

________________________________________________

MANUAL SISTEM JAMINAN HALAL (SJH) PDAM TIRTA BENTENG KOTA TANGERANG
b. • • Ketentuan Hukum Air daur ulang adalah suci mensucikan (thahir muthahhir), Ketentuan fikih sebagaimana dimaksud dalam ketentuan hukum  Thariqat an-Nazh yaitu dengan cara menguras air yang terkena najis atau yang telah berubah sifatnya tersebut, sehingga yang tersisa tinggal air yang aman dari najis dan yang tidak berubah salah satu sifatnya.  Thariqah al-Mukatsarah yaitu dengan cara menambahkan air suci lagi mensucikan (thahir muthahhir) pada air yang terkena najis (mutanajjis) atau yang berubah (mutaghayyir) tersebut hingga mencapai volume paling kurang dua kullah; serta unsure najis dan semua sifat yang menyebabkan air itu berubah menjadi hilang.  Thariqah Taghyir yaitu dengan cara mengubah air yang terkena najis atau yang telah berubah sifatnya tersebut dengan menggunakan alat bantu yang dapat mengembalikan sifat-sifat asli air itu menjadi suci lagi mensucikan (thahir muthahhir) dengan syarat : o o c. Volume air nya lebih dari dua kullah Alat bantu yang digunakan harus suci Air daur ulang sebagaimana dimaksud dalam angka 1 boleh dipergunakan untuk berwudlu, mandi, mensucikan najis dan istinja’, serta halal diminum, digunakan untuk memasak dan untuk kepentingan lainnya, selama tidak membahayakan kesehatan. 2.2.4. 2.2.4.1. Beberapa contoh Bahan Kritis Daging Daging yang berasal dari hewan halal dapat menjadi tidak halal jika disembelih tanpa mengikuti aturan syariat Islam. Hal-hal yang menjadi titik proses penyembelihan adalah sebagai berikut : sepanjang diproses sesuai dengan ketentuan fikih. nomor 1 adalah dengan salah satu dari tiga cara berikut :

12

________________________________________________

MANUAL SISTEM JAMINAN HALAL (SJH) PDAM TIRTA BENTENG KOTA TANGERANG
a. Islam sehari-hari). b. c. d. Pemingsanan (tidak menyebabkan hewan mati sebelum disembelih). Peralatan/pisau (harus tajam) Proses pasca penyembelihan hewan harus benar-benar mati sebelum proses Untuk daging impor perlu diperhatikan hal-hal di bawah ini : • MUI. • (contoh : dokumen kesehatan). • • lain-lain). • sebagainya. 2.2.4.2. Bahan Turunan Hewani Bahan turunan hewani berstatus halal dan suci jika berasal dari hewan yang disembelih sesuai dengan syariat Islam, bukan berasal dari darah dan tidak bercampur dengan bahan haram atau najis. Berikut ini disampaikan contoh-contoh bahan turunan hewani / mungkin berasal dari turunan hewani : • • • • • • • • Lemak Protein Gelatin Kolagen Asam lemak dan turunannya (E430-E436) Garam atau ester asam lemak (E470-E495) Gliserol/gliserin (E422) Asam amino (contoh : sistein, fenilalanin, dan sebagainya) 13 Harus ada kecocokan no lot, plant number, tanggal penyembelihan dan Harus ada kecocokan dantara sertifikat halal dengan dokumen lain. Harus ada kecocokan antara dokumen dengan fisik (kemasan, label, dan Harus dilengkapi dengan dokumen pengapalan dan dokumen lainnya Harus dilengkapi dengan sertifikat halal dari lembaga yang diakui LP POM Penyembelihan (harus seorang muslim yang taat dan melaksanakan syariat

dilanjutkan dan darah harus keluar secara tuntas).

________________________________________________

MANUAL SISTEM JAMINAN HALAL (SJH) PDAM TIRTA BENTENG KOTA TANGERANG
• • • • • • • • • • • • • • 2.2.4.3. Edible bone phosphate (E521) Di/trikalsium fosfat Tepung plasma darah Konsentrat globulin Fibrinogen Media pertumbuhan mikroba (contoh : blood agar) Hormon (contoh : insulin) Enzim dari pancreas babi/sapi (amylase, lipase, pepsin, tripsin) Taurin Plasenta Produk susu, turunan susu dan hasil sampingnya yang diproses Beberapa vitamin (contoh : vitamin A, B6, D, E) Arang aktif Kuas Bahan Nabati Bahan nabati pada dasarnya halal, akan tetapi jika diproses menggunakan bahan tambahan dan penolong yang tidak halal, maka bahan tersebut menjadi tidak halal. Oleh karena itu perlu diketahui alur proses produksi beserta bahan tambahan dan penolong yang menggunakan dalam memproses suatu bahan nabati. Berikut ini disampaikan beberapa contoh bahan nabati yang mungkin menjadi titik kritis : • asam folat. • dapat larut air. • Lesitin kedelai mungkin mengunakan enzim fosfolipase dalam proses pembuatannya untuk memperbaiki sifat fungsionalnya. Oleoresin (cabe, rempah-rempah dan lain-lain) dapat menggunakan emulsifier (contoh: polysorbate/tween & glyceril monooleat yang mungkin berasa dari hewan), supaya Tepung terigu dapat diperkaya dengan berbagai vitamin antara lain B1, B2,

menggunakan enzim (contoh: keju, whey, laktosa, kasein/kaseinat)

14

________________________________________________

MANUAL SISTEM JAMINAN HALAL (SJH) PDAM TIRTA BENTENG KOTA TANGERANG
• 2.2.4.4. Hydrolyzed Vegetable Protein (HVP) perlu diperhatikan jika proses Produk Hasil Samping Industri Minuman Beralkohol dan turunannya Produk/bahan hasil samping industri minuman beralkohol beserta turunannya berstatus haram jika cara memperolehnya hanya melalui pemisahan secara fisik dan produk masih memiliki sifat khamr. Akan tetapi jika bahan/produk tersebut direaksikan secara kimiawi sehingga menghasilkan senyawa baru, maka senyawa baru yang telah mengalami perubahan kimia statusnya menjadi halal. Beberapa contoh produk hasil samping industri minuman beralkohol dan turunannya yang merupakan titik kritis : • • diasetil dan sebagainya). • • 2.2.4.5. • • Brewer yeast (merupakan hasil samping industri bir) Tartaric Acid (hasil samping industri wine) Produk Mikrobial Status produk microbial dapat menjadi haram jika termasuk dalam kategori berikut: Produk microbial yang jelas haram, yaitu produk minuman beralkohol Produk microbial yang menggunakan media dari bahan yang haram pada (khamr) beserta produk samping dan turunannya. media agar, propagasi dan produksi. Contoh media yang haram atau diragukan kehalalannya diantaranya : darah, peptone (produk hasil hidrolisis bahan berprotein seperti daging, kasein atau gelatin menggunakan asam atau enzim). • bahan yang haram. • Produk microbial yang dalam proses pembuatannya menggunakan bahan penolong yang haram. Contoh adalah penggunaan anti busa dalam kultivasi mikroba yang dapat berupa minyak/lemak babi, gliserol atau bahan lainnya. Produk microbial yang dalam proses pembuatanya melibatkan enzim dari Cofnac oil (merupakan hasil samping distilasi cognac/brandy) Fusel oil (merupakan hasil samping distilled beverages) danturunannya hidrolisisnya menggunakan enzim.

seperti isoamil alcohol, isobutyl alcohol, propel alcohol, gliserol, asetaldehid, 2,3 butadiol, aseton dan

15

________________________________________________

MANUAL SISTEM JAMINAN HALAL (SJH) PDAM TIRTA BENTENG KOTA TANGERANG
• a. b. dari jaringan pancreas babi. c. E.coli rekombinan. 2.2.4.6. Bahan-Bahan Lain Selain kelompok bahan-bahan diatas, berikut ini adalah contoh bahan /kelompok bahan yang sering menjadi titik kritis. • • • • • • • • 2.3. 2.4. (lampiran) 2.5. (lampiran) Daftar Identifiksi Kontrol Titik Kritis pada proses produksi dan tindakan pencegahan Aspartam (terbuat dari asam amino fenilalanin dan asam asparta) Pewarna alami Flavor Seasoning Bahan pelapis vitamin Bahan pengumulsi dan penstabil Anti busa Dan lain-lain Keputusan Identifikasi Titik Kritis (Lampiran) Daftar Identifikasi Kontrol Titik Kritis pada material dan tindakan pencegahan Hormone pertumbuhan (human growth hormone) yang dihasilkan oleh Produk mikroba rekombinan yang menggunakan gen berasal dari bahan Enzim a-amilase dan protease yang dihasilkan oleh Saccharomyces Hormon insulin yang dihasilkan oleh E. coli rekombinan dengan gen yang haram. Contoh adalah sabagai berikut ; cerevisae rekombinan dengan gen dari jaringan hewan.

16

________________________________________________

MANUAL SISTEM JAMINAN HALAL (SJH) PDAM TIRTA BENTENG KOTA TANGERANG

3.

Organisasi Manajemen Halal Manajemen halal merupakan organisasi internal perusahaan yang mengelola seluruh fungsi dan efektivitas manajemen dalam menghasilkan produk halal. Dalam mengelola fungsi dan aktivitas tersebut pihak perusahaan dapat melibatkan seluruh departemen atau bagian yang terkait dengan system berproduksi halal, mulai dari tingkat pengambilan kebijakan tertinggi sampai tingkat pelaksana teknis lapangan. Contoh struktur organisasi manajemen halal dapat dilihat pada gambar 1. Manajemen yang terlibat merupakan perwakilan dari manajemen puncak, Produksi meliputi pengolahan dan pengawasan (laboratorium), purchasing, pergudangan serta personalia. Organisasi manajemen halal dipimpin oleh seorang Koordinator Auditor Halal Internal (KAHI) yang melakukan koordinasi dalam menjaga kehalalan produk serta menjadi penanggung jawab komunikasi antara perusahaan dengan LPPOM MUI.

DIREKTUR UTAMA Ir. H. Ahmad Marju Kodri

LPPOM MUI

Koordinator Auditor Halal Internal ( Sumarya, ST)

Pengadaan (Asep S)

Laboratorium (Gusni E dan A. Kausar)

Pergudang (Ade K.)

Pengolahan (Ida N)

Produksi (Yudiana E)

Gambar 1. Struktur Organisasi Manajemen Halal

17

________________________________________________

MANUAL SISTEM JAMINAN HALAL (SJH) PDAM TIRTA BENTENG KOTA TANGERANG

Persyaratan, tugas dan wewenang auditor halal internal adalah sebagai berikut : 3.1. 3.1.1. 3.1.2. 3.1.3. 3.1.4. 3.1.5. secara keseluruhan. 3.1.6. Diangkat melalui surat keputusan pimpinan perusahaan dan diberi wewenang penuh untuk melakukan tindakan yang diperlukan dalam melaksanakan SJH termasuk tindakan perbaikan terhadap kesalahan sampai pada penghentian produksi atau penolakan bahan baku, sesuai dengan aturan yang ditetapkan LPPOM MUI. 3.2. 3.2.1. 3.2.2. 3.2.3. 3.2.4. 3.3. 3.3.1. 3.3.1.1. dihasilkan. 3.3.1.2. Memberikan dukungan penuh bagi pelaksanaan SJH di perusahaan. 18 Tugas Tim Auditor halal internal secara umum Menyusun manual SJH perusahaan Mengkoordinasi pelaksanaan SJH Membuat laporan pelaksanaan SJH Melakukan komunikasi dengan pihak LPPOM MUI Uraian Tugas dan Wewenang Auditor Halal internal berdasarkan fungsi setiap bagian Manajemen Puncak Merumuskan kebijakan perusahaan berkaitan dengan kehalalan produk yang Persyaratan Auditor halal internal. Karyawan tetap perusahaan bersangkutan. Koordinator Tim Auditor halal internal adalah seorang Muslim yang mengerti dan Berada dalam lingkup Manajemen Halal. Berasal dari bagian yang terlibat dalam proses produksi secara umum seperti bagian Memahami titik kritis keharaman produk, ditinjau dari bahan maupun proses produksi

menjalankan syariat Islam.

QA/QC, R&D, Purchasing, Produksi dan Pergudangan.

yang terlibat dalam struktur manajemen halal:

________________________________________________

MANUAL SISTEM JAMINAN HALAL (SJH) PDAM TIRTA BENTENG KOTA TANGERANG
3.3.1.3. 3.3.1.4. Menyediakan fasilitas dan sarana yang dibutuhkan dalam pelaksanaan SJH Memberikan wewenang kepada koordinator auditor halal internal untuk melakukan

tindakan tertentu yang dianggap perlu yang berkaitan dengan pelaksanaan SJH termasuk tindakan perbaikan terhadap kesalahan sampai pada penghentian produksi atau penolakan bahan baku, sesuai dengan aturan yang ditetapkan LLPOM MUI. 3.3.2. 3.3.2.1. 3.3.2.2. 3.3.2.3. 3.3.2.4. baru. 3.3.3. 3.3.3.1. 3.3.3.2. 3.3.3.3. 3.3.4. 3.3.4.1. 3.3.4.2. 3.3.4.3. 3.3.5. 3.3.5.1. 3.3.5.2. najis. 19 Pengendalian dan Pengawasan Mutu (laboratorium) Menyusun dan melaksanakan prosedur pemantauan dan pengendalian untuk Melaksanakan pemeriksaan terhadap setiap bahan yang masuk sesuai dengan Melakukan komunikasi dengan KAHI terhadap setiap penyimpangan dan Pembelian (Purchasing) Menyusun prosedur dan pelaksanakan pembelian yang dapat menjamin konsistensi Melakukan komunikasi dengan KAHI dalam pembelian bahan baru dan atau Melakukan evaluasi terhadap pemasok dan menyusun peringkat pemasok Produksi (Production) Menyusun prosedur produksi yang dapat menjamin kehalalan produk Melakukan pemantauan produksi yang bersih dan bebas dari bahan haram dan Pengolahan Menyusun sistem pengolahan berdasarkan bahan yang telah disusun oleh KAHI Menyusun sistem perubahan bahan sesuai dengan ketentuan halal. Mencari alternativ bahan yang jelas kehalalannya. Melakukan komunikasi dengan KAHI dalam formulasi dan pembuatan produk

dan diketahui oleh LPPOM MUI.

menjamin konsistensi produksi halal. sertifikat halal, spesifikasi dan produsennya. ketidakcocokan bahan dengan dokumen kehalalan.

bahan sesuai dengan daftar bahan yang telah disusun oleh KAHI dan diketahui oleh LPPOM MUI. pemilihan pemasok baru. berdasrkan kelengkapan dokumen halal.

________________________________________________

MANUAL SISTEM JAMINAN HALAL (SJH) PDAM TIRTA BENTENG KOTA TANGERANG
3.3.5.3. 3.3.5.4. 3.3.6. 3.3.6.1. dan najis. 3.3.6.2. 3.3.6.3. dan kedalam gudang. 3.4. Standard Operating Procedures (SOP) Standard Operating Prosedures (SOP) adalah suatu perangkat intruksi yang dibakukan untuk menyelesaikan suatu proses kerja rutin tertentu. SOP dibuat agar perusahaan mempunyai prosedur baku untuk mencapai tujuan penerapan SJH yang mengacu kepada kebijakan halal perusahaan. SOP dibuat untuk seluruh kegiatan kunci pada proses produksi halal yaitu bidang Produksi (pengolahan dan pengawasan), Purchasing, dan Gudang. Adanya perbedaan teknologi proses maupun tingkat kompleksitas di tiap perusahaan maka SOP di setiap perusahaan bersifat unik. Contoh kegiatan-kegiatan kunci yang masuk dalam SOP antara lain SOP pembelian bahan, pengunaan bahan baru, penggantian dan penambahan pemasok baru dan lain-lain. 3.4.1. 3.4.1.1. POM MUI 3.4.1.2. pabrik). 3.4.1.3. Dokumen pembelian harus terdokumentasi dengan baik dan lengkap. Pembelian harus dapat menjamin bahwa yang akan dibeli sesuai dengan data yang tertera pada sertifikat halal atau dokumen halal (nama dan kode bahan, nama perusahaan, nama dan lokasi SOP Pembelian Barang. Bahan yang dibeli harus mengacu pada daftar bahan yang telah diketahui oleh LP Melaksanakan Penyimpanan produk dan bahan sesuai dengan daftar bahan dan Melakukan komunikasi dengan KAHI dalam sistem keluar masuknya bahan dari produk yang telah disusun oleh KAHI dan diketahui oleh LPPOM MUI. Menjalankan kegiatan produksi sesuai dengan matrik formulasi bahan yang telah Melakukan komunikasi dengan KAHI dalam hal proses produk halal. Pergudangan Menyusun prosedur administrasi pergudangan yang dapat menjamin kehalalan disusun oleh KAHI dan diketahui oleh LPPOM MUI.

bahan dan produk yang disimpan serta menghindari terjadinya kontaminasi dari segala sesuatu yang haram

20

________________________________________________

MANUAL SISTEM JAMINAN HALAL (SJH) PDAM TIRTA BENTENG KOTA TANGERANG
3.4.2. 3.4.2.1. 3.4.2.2. pada kemasan halal. 3.4.2.3. dokumen halal. 3.4.2.4. 3.4.2.5. Bahan yang telah diperiksa dan sesuai dengan kriteria maka diberi halal pass. Bahan yang tersimpan digudang adalah bahan yang sesuai dengan dafatar bahan Untuk bahan yang sertifikat halalnya diterbitkan per pengapalan, perlu dipastikan bahwa lot number, kuantitas, tanggal produksi dan tanggal kadaluarsa sesuai dengan yang tercantum pada SOP Pemeriksaan dan penerimaan Bahan Nama bahan kode bahan, produsen, nama dan lokasi pabrik diperiksa Bila sertifikat halal menghendaki logo khusus, logo tersebut harus dipastikan ada

kesesuaiannya dengan daftar bahan yang telah diketahui oleh LP POM MUI

yang telah diketahui oleh LP POM MUI. Apabila ada bahan diluar daftar tersebut maka penempatannya harus dipisah dan dipastikan tidak terjadi kontaminasi silang. 3.4.2.6. 3.4.2.7. Bahan yang disimpan digudang harus terbatas dari najis dan bahan haram. Setiap mutasi (pemasukan dan pengeluaran) bahan dari gudang harus dicatat serta

dilengkapi dengan kartu stock, nota permintaan barang dan bukti pernerimaan barang. 3.4.3. 3.4.3.1. 3.4.3.2. POM MUI> 3.4.3.3. Bila tidak ditemukan alternatif pemasok baru yang telah memiliki sertifikat halal maka perlu dilakukan pemeriksaan spesifikasi teknis yang menjelaskan asal usul bahan (sourcce of orogin) dan diagram alir proses pembuatan bahan tersebut serta dikonsultasikan kepada LP POM MUI melalui internal auditor. 3.4.3.4. Harus ada jaminan bahwa yang akan dibeli sesuai dengan data yang tertera oa sertifikat halal atau dokumen halal (nama dan kode bahan, nama perusahaan, nama dan lokasi pabrik). SOP Penggantian dan Penambahan Pemasok baru Jika bahan termasuk kategori kritis, maka diperiksa apakah pemasok baru telah Bila pemasok tidak memiliki sertifikat halal maka disarankan untuk mencari

memiliki sertifikat halal dari MUI atau dari lembaga yang diakui oleh LP POM MUI. pemasok lain yang telah memiliki sertifikat halal dari MUI atau dari lembaga yang telah diketahui oleh LP

21

________________________________________________

MANUAL SISTEM JAMINAN HALAL (SJH) PDAM TIRTA BENTENG KOTA TANGERANG
3.4.3.5. Pemasok diperiksa apakah merupakan produsen langsung atau penyalur. Bila pemasok adalah penyalur, maka harus dibuat perjanjian tertulis dengan pihak pemasok uang menyatakan bahwa pemasok hanya memasok bahan dari produsen yang tertera pada dokumen halal. 3.4.3.6. melalui internal auditor. 3.4.3.7. POM MUI. 3.4.3.8. 3.4.4. 3.4.4.1. 3.4.4.2. oleh LP POM MUI. 3.4.4.3. Bila bahan alternatif yang sama tidak didapatkan, maka perlu pemeriksaan spesifikasi teknis yang menjelaskan asal-usul bahan (source of original) dan diagram alir proses pembuatan bahan tersebut serta dikonsultasikan kepada LP POM MUI melalui internal auditor. 3.4.4.4. auditor 3.4.4.5. 3.4.5. 3.4.5.1. 3.4.5.2. 3.4.5.3. 3.4.5.4. Bahan baru dapat digunakan setelah mendapat persetujuan oleh LP POM MUI. SOP Produksi Halal Pembuatan kertas kerja produksi (work sheet) harus mengacu pada formula dan Bahan yang dapat digunakan dalam produksi halal hanya yang terdapat dalam Bahan dipastikan terbebas dari kontaminasi najis dan bahan yang haram. Lini produksi dipastikan hanya digunakan untuk bahan yang halal. Rencana penggunaan bahan baru dilaporkan kepada LP POM MUI melalui internal Data pemasok yang aktif maupun tidak harus didokumentasikan dengan baik. SOP Penggunaan Bahan Baru Bahan baru diperiksa apakah bahan termasuk kategori kritis dan telah memiliki Bila bahan tidak memiliki sertifikat halal disarankan untuk mencari bahan alternatif Bahan dari pemasok baru dapat digunakan setelah mendapat persetujuan oleh LP Rencana penggunaan penggantian pemasok dilaporkan kepada LP POM MUI

sertifikat halal dari MUI atau dari lembaga yang diketahui oleh LP POM MUI. yang sama atau sejenis yang telah memiliki sertifikat halal dari MUI atau dari lembaga yang telah diketahui

matrik bahan yang telah diketahui oleh LP POM MUI. daftar bahan yang telah diketahui oleh LP POM MUI dan telah mendapatkan halal pass.

22

________________________________________________

MANUAL SISTEM JAMINAN HALAL (SJH) PDAM TIRTA BENTENG KOTA TANGERANG
3.4.5.5. silang. 3.4.5.6. 3.4.5.7. 3.4.5.8. 3.4.6. 3.4.6.1. 3.4.6.2. sertifikasi halal baru. 3.4.6.3. 3.4.6.4. 3.4.6.5. 3.4.6.6. 3.4.6.7. digunakan. 3.5. Acuan Teknis Pelaksanaan SJH dilakukan oleh bidang-bidang yang terkait dalam organisasi managemen halal. Dalam pelaksanaanya perlu dibuat acuan teknis yang berfungsi sebagai dokumen untuk membantu pekerjaan bidang-bidang terkait dalam melaksanakan fungsi kerjanya. 3.5.1. Acuan Teknis untuk Bagian Pembelian. Perubahan formula yang tidak menghasilkan produk baru dan tidak menggunakan Perubahan formula yang tidak menghasilkan produk baru tetapi menggunakan Rencana pembuatan formula baru yang tidak menghasilkan produk baru dilaporkan Formula baru dapat digunakan setelah mendapat persetujuan oleh LP POM MUI. Apabila formula baru tidak mendapat persetujuan maka formula baru tidak dapat bahan baru (reformulasi komposisi) tidak perlu dilaporkan kepada LPPOM MUI bahan baru (penggunaan bahan alternatif) harus mengacu kepada SOP penggunaan bahan baru. kepada LP POM MUI melalui internal auditor. Bila ada produk yang tidak disertifikasi mengandung turunan babi, alat dan lini Harus dipastikan bahwa di area produksi tidak boleh ada bahan-bahan atau barangCatatan produksi didokumentasikan dengan baik dan lengkap. SOP Perubahan Formula dan Pengembangan Produk Baru Prinsip perubahan formula dan pengembangan produk baru adalah mengutamakan Perubahan formula yang menghasilkan produk baru harus diajukan dalam proses produksi dipastikan terpisah. barang yang tidak digunakan untuk produksi. Apabila lini produksi juga digunakan untuk bahan yang belum disertifikasi halal, maka prosedur perbersihan dipastikan dapat menghilangkan/menghindari dari produk dari kontaminasi

pada daftar bahan yang telah diketahui LP POM UI

23

________________________________________________

MANUAL SISTEM JAMINAN HALAL (SJH) PDAM TIRTA BENTENG KOTA TANGERANG
3.5.1.1. 3.5.1.2. 3.5.1.3. Daftar bahan meliputi nama bahan, pemasok dan produsen yang telah disusun oleh Daftar Lembaga sertifikasi halal yang telah diakui LP POM MUI. Kebijakan dari masing-masing lembaga sertifikasi yang terkait dengan produk KAHI dan diketahui oleh LP POM.

(Sertifikat per pengiriman, wilayah berlakunya Sertifikat Halal, masa berlaku Sertifikat Halal, logo halal pada kemasan dan lain-lain) 3.5.1.4. 3.5.2. 3.5.2.1. 3.5.2.2. 3.5.2.3. 3.5.2.4. 3.5.3. 3.5.3.1. 3.5.3.2. lain). 3.5.3.3. 3.5.4. 3.5.4.1. 3.5.4.2. 3.5.4.3. SOP pemeriksaan bahan. Acuan Teknis untuk Bagian Pergudangan. Daftar bahan meliputi nama bahan, pemasok dan produsen yang telah disusun oelh Tanda pada kemasan logo, Lot number , nama dan alamat /lokasi produksi) yang Prosedur penyimpanan bahan/produk yang menjamin terhindarnya bahan / produk SOP penambahan pemasok baru Acuan Teknis Bagian Produksi meliputi pengolahan Daftar bahan meliputi nama bahan, pemasok dan produsen yang telah disusun oleh Formula/intruksi kerja produksi sesuai dengan matriks bahan. Tabel hasil identifikasi peluang kontaminasi proses produk dari bahan haram/najis SOP produksi halal. Acuan Teknis untuk Bagian Pengawasan (laboratorium) Daftar bahan meliputi nama bahan, pemasok dan produsen yang telah disusun oleh Kebijakan dari masing-masing lembaga sertifikasi yang terkait dengan produk

KAHI dan diketahui oleh KAHI dan diketahui oleh LP POM MUI.

dan tindakan pencegahannya

KAHI dan diketahui oleh LP POM MUI. (Sertifikat per pengiriman, wilayah berlakunya Sertifikat Halal, masa berlakunya Sertifikat Halal, dan lain-

KAHI dan diketahui oleh LP POM MUI. harus disesuaikan dengan dokumen kehalalan. dari kontaminasi oleh barang haram dan najis. 24

________________________________________________

MANUAL SISTEM JAMINAN HALAL (SJH) PDAM TIRTA BENTENG KOTA TANGERANG
3.5.4.4. 3.6. SOP pernerimaan dan penyimpanan bahan. Sistem Administrasi. Perusahaan harus mendisain suatu sistem administrasi terintegrasi yang dapat ditelusuri (traceable) dari pembelian bahan sampai dengan distribusi produk. Secara rinci administrasi yang terkait dengan SJH dimulai dari administrasi bagian pembelian bahan (purchasing), pengawasan (laboratorium), penyimpanan bahan (Warehousing), , Produksi/Operasi, dan Distribusi. Secara skematik sistem administrasi yang terintegrasi dapat dilihat pada gambar 2. berikut Form-form disetiap bagian dilampirkan pada Manual SJH perusahaan.

Produksi

Pembelian

Penerimaan

Penyimpanan

Pengolahan

Reservoir

Umum dan pergudangan

Laboratorium dan Gudang

Gudang

Pengolahan

Produksi / Distribusi

Gambar 2. Rantai Sistem Administrasi SJH 3.7. Sistem Dokumentasi Pelaksanaan SJH di perusahaan harus didukung oleh dokumentasi yang baik dan mudah diakses oleh pihak yang terlibat dalam proses produksi halal termasuk LP POM MUI sebagai lembaga sertifikasi halal. Dokumen yang harus dijaga antara lain. 3.7.1. 3.7.2. 3.7.3. 3.7.4. Pembelian bahan Penerimaan bahan Penyimpanan bahan Produksi (proses Produksi dan Pembersihan Fasilitas Produksi ) 25

________________________________________________

MANUAL SISTEM JAMINAN HALAL (SJH) PDAM TIRTA BENTENG KOTA TANGERANG
3.7.5. 3.7.6. 3.7.7. 3.7.8. 3.7.9. 3.7.10. Penyimpanan Produk Distribusi Produk Evaluasi dan Monitoring (laporan berkala) Kegiatan Pelatihan dan Sosialisasi Tindakan Perbaikan atas Ketidaksesuaian Manajemen Review Dalam manual SJH akan dijelaskan dokumentasi tiap fungsi operasi disertai penanggung jawab dan loksinya. Contoh dokumen dapat dilihat di lampiran. 3.8. Sosialisasi SJH yang telah dibuat dan diimplementasikan oleh perusahaan harus disosialisasikan ke seluruh pemangku kepentingan (stakeholder) perusahaan termasuk kepada pihak ketiga (pemasok, makloon). Tujuan kegiatan ini adalah agar seluruh pemangku kepentingan memiliki kepedulian (awareness) terhadap kebijakan halal sehingga timbul kesadaran menerapkan ditingkat operasional. Metode Sosialisasi yang dilakukan dapat berbentuk poster, leaflet, ceramah umum, buletin internal, audit supplier atau memo internal perusaahaan 3.9. Pelatihan Perusahaan perlu melakukan pelatihan bagi seluruh jajaran pelaksana SJH. Untuk itu perusahaan harus mengidentifikasi kebutuhan pelatihan dalam periode waktu tertentu. Pelatihan harus melibatkan semua personal yang pekerjanya mungkin mempengaruhi status kehalalan prosuk. Pekerjaan yang mungkin mempengaruhi status kehalalan produk harus diserahkan kepada personal yang kompeten sesuai dengan pendidikan, pelatihan dan pengalaman (dalam hal ini dibidang pekerjaan dan hukum Islam). Tujuan dari Pelatihan adalah: (1) Meningkatkan pemahaman karyawan tentang pengertian halal haram, pentingnya kehalalan suatu produk, titik kritis bahan dan pross produksi. (2) Memahami SJH. 3.10. Komunikasi Internal dan External

26

________________________________________________

MANUAL SISTEM JAMINAN HALAL (SJH) PDAM TIRTA BENTENG KOTA TANGERANG
Perusahan dalam melaksanakan SJH perlu melakukan komunikasi dengan berbagai pihak yang terkait baik secara internal maupun eksternal. Untuk itu perusahaan harus membuat dan melaksanakan prosedur untuk: 3.10.1. 3.10.2. 3.11. 3.11.1. Melakukan komunikasi internal antara berbagai tingkatan dan fungsi organisai Menerima, mendokumentasi, dan menanggapi komunikasi dari pihak luar termasuk Audit Internal. Pemantauan dan evaluasi SJH pelaksanaanya diwujutkan dalam bentuk audit internal. Tujuan Audit Internal. 3.11.1.1. 3.11.1.2. 3.11.1.3. 3.11.1.4. 3.11.1.5. 3.11.2. 3.11.2.1. Menentukan kesesuaian SJH perusahaan dengan standar yang telah ditetapkan oleh LP POM MUI. Menentukan kesesuaian pelaksanaan SJH perusahaan dengan perencanaannya. Mendeteksi penyimpanan yang terjadi serta menentukan tindakan perbaikan dan pencegahan. Memastikan bahwa permasalahan yang ditemukan pada audit sebelumnya telah diperbaiki sesuai dengan kerangka waktu yang telah ditetapkan. Menyediakan informasi tentang pelaksanan SJH kepada manajemen dan LP POM MUI Ruang Lingkup Audit Internal. Dokumentasi SJH Pemeriksaan kelengkapan dan kesesuaian dokumen pendukung kehalalan produk yang menyangkut bahan, proses maupun produk di setiap bagian yang terkait, seperti : daftar bahan, spesifikasi, sertifikat halal, formula, dokumen pembelian bahan, dokumen penggudangan, dan sebagainya. Hal-hal yang diperhatikan adalah : a. b. c. d. e. Kelengkapan dokumen SJH. Kelengkapan spesifikasi bahan Kelengkapan, keabsahan dan masa berlaku sertifikat halal bahan Kecocokan formula dengan daftar bahan halal Kecocokan dokumen pembelian bahan dengan daftar bahan halal. 27

dengan LPPOM MUI.

________________________________________________

MANUAL SISTEM JAMINAN HALAL (SJH) PDAM TIRTA BENTENG KOTA TANGERANG
f. formula halal. g. bahan dan daftar produk halal. h. 3.11.2.2. c. d. e. f. g. h. i. j. k. 3.11.3. 3.11.3.1. Uji mampu telusur (traceability sistem. Pelaksanaan SJH Audit pelaksanaan SJH di perusahaa mencakup : Organisasi Manajemen Halal Kelengkapan Dokumen Acuan Teknis Pelaksanaan SJH Implementasi dokumen Pelaksanaan sosialisasi SJH Pelatihan Komunikasi internal dan eksternal dalam pelaksanaan SJH Pemantauan dan Evaluasi pelaksanaan SJH. Pelaporan internal dan eksternal Pelaksanaan SJH Pengambilan bukti berupa form-form atau hal-hal lain tentang Pelaksanaan Audit Internal Waktu Pelaksanaan Audit Halal internal dilakukan sekurang-kurangnya sekali tiap 6 bulan atau pasa saat terjadi perubahan-perubahan yang mungkin mempengaruhi status kehalalan produk seperti : perubahan manajemen, kebijakan, formulasi, bahan, proses maupun keluahan dari konsumen. 3.11.3.2. Metode Pelaksanaan Audit halal internal dapat dilaksanakan secara bersaman dengan audit sistem yang lain. Tetapi formulir audit halal internal dibuat terpisah. Audit dilakukan dengan metode : a. b. c. Wawancara Pengujian dokumen Observasi lapang dan fisik 28 Kelengkapan dan kecocokan dokumen penggudangan dengan daftar Kelengkapan dan kecocokan dokumen produksi dengan daftar bahan dan

pelaksanaan SJH di perusahaan jika dianggap perlu.

________________________________________________

MANUAL SISTEM JAMINAN HALAL (SJH) PDAM TIRTA BENTENG KOTA TANGERANG
3.11.3.3. Pelaksana (Auditor) Audit halal Internal dilakukan oleh Tim Auditor Halal Internal Pelaksana audit internal dilakukan oleh AHI dari departemen yang berbeda (cross audit). 3.11.3.4. Pihak yang diaudit (Auditee) Pihak auditee adalah seluruh bagian dan seksi yang terkait dalam proses produksi halal seperti : a. b. c. d. e. f. 3.12. Bagian Produksi Bagian Umum & Administrasi Bagian Distribusi Seksi Umum & Pergudangan Seksi Pengolahan Seksi Laboratorium Tindakan Perbaikan Tindakan perbaikan atas pelaksanaan SJH dilakukan jika pada saat dilakukan audit halal internal ditemukan ketidak sesuaian pelaksanaanya. Tindakan perbaikan harus dilakukan sesegera mungkin, jika temuan yang didapatkan berdampak langsung terhadap status kehalalan produk. Semua bentuk tindakan perbaikan dilakukan oleh perusahaan dengan dibuat berita acara serta laporannya dan terdokumentasikan dengan baik. Format laporan ketidak sesuaian dapat dilihat pada lampiran 3.13. Kaji Ulang Manajemen (Management Review) Kaji ulang manajemen atas SJH secara menyeluruh harus dilakukan dalam kurun waktu tertentu misalnya minimal 1 tahun sekali. Kaji ulang dilakukan oleh seluruh devisi dalm SHJ termasuk manajemen puncak. Kaji ulang harus tercatat dalam laporan tertulis seperti lampiran.

29

________________________________________________

MANUAL SISTEM JAMINAN HALAL (SJH) PDAM TIRTA BENTENG KOTA TANGERANG

30

________________________________________________

MANUAL SISTEM JAMINAN HALAL (SJH) PDAM TIRTA BENTENG KOTA TANGERANG
LAMPIRAN : Pohon Keputusan untuk Identifikasi Titil Kritis A. Identifikasi Titik Kritis Bahan A.1. Identifikasi Titik Kritis Bahan Nabati

Bahan nabati Pengolahan ?

Tidak Non TK

Ya Kultivasi Mikrobial ?

Ya Fermentasi Khamr?

Tidak + Bahan Tambahan?

Tidak TK

Ya Haram

Tidak Non TK

Ya TK

Catatan : • TK : Titik Kritis • Non TK : Titik Tidak Kritis • Tk apa untuk bahan dikaji lebih lanjut pada prosedur Penetapan Status Bahan • Bahan nabati yang diperiksa dalam penetapan titik kritis ini adalah bahan nabati yang status awalnya halal, bukan bahan nabati yang sudah mendapat status keharaman terlebih dahulu, seperti ganja, kokain, opium, dan lain-lain.

31

________________________________________________

MANUAL SISTEM JAMINAN HALAL (SJH) PDAM TIRTA BENTENG KOTA TANGERANG
A.2. Identifikasi Titik Kritis Bahan Hewani Bahan Hewani

Susu Telur Ikan Ada Pengolahan ?

Daging dan hasil samping (lemak, tulang, kulit, dll Apakah daging dan hasil samping berasal Dari Hewan Halal?

Ya TK

Tidak Non TK

Tidak Haram

Ya Apakah Hewan disembelih Sesuai dengan Syari’at Islam dan memiliki SH MUI atau Lembaga yang diakui LP.POM

Tidak

Ya

Tidak boleh digundakan

Ada Pengolahan lanjutan

Ya TK

Tidak Non TK

32

________________________________________________

MANUAL SISTEM JAMINAN HALAL (SJH) PDAM TIRTA BENTENG KOTA TANGERANG
A.3. Identifikasi Titik Kritis Produk Mikrobial

Produk Mikrobial TK

• •

Semua produk mikrobial merupakan titik kritis Titik kritis terletak pada media, baik media penyegaran hingga media produksi (bisa nabati atau

hewani). A.4. Identifikasi Titik Kritis Bahan Lain-lain

Bahan Lain-lain

Bahan Tambang Non TK Organik TK

Sintetik

Campuran

TK Non Organik

Apakah mengandung Bahan penolong

Tidak Non TK

Ya TK

33

________________________________________________

MANUAL SISTEM JAMINAN HALAL (SJH) PDAM TIRTA BENTENG KOTA TANGERANG
B. Identifikasi Titik Kritis Penyimpanan dan Lini Produksi Apakah semua Produk disertifikasi halal ?

Ya Apakah ada peluang Terkontaminasi Bahan-bahan Haram/najis ? Ya Ya TK 1 Tidak Non TK Tidak dapat disertifikasi

Tidak Apakah produk sejenis non sertifikasi Menggunakan merk yang sama?

Tidak Apakah bahan untuk produk non Sertifikasi mengandung babi atau Hasil sampingnya

Tidak Apakah lini produksi, penyimpanan Bahan dan produk untuk produk Disertifikasi dg non sertifikasi terpisah?

Ya Tidak dapat disertifikasi

Ya Non TK

Tidak Apakah prosedur sanitasi yang dilakukan dapat menghilangkan lemak, bau, warna + rasa? Ya Apakah ada peluang terkontaminasi Bahan-bahan haram/najis

Tidak Tidak dapat disertifikasi

Ya TK 2 34

Tidak Non TK

________________________________________________

MANUAL SISTEM JAMINAN HALAL (SJH) PDAM TIRTA BENTENG KOTA TANGERANG

Catatan : 1. dimilikinya. 2. 3. Perusahaan harus menjaga agar produk yang sertidikasinya tidak Jika perusahaan hanya mensertifikasi sebagian produknya, maka tercemar dengan barang haram dan najis. produk yang tidak disertifikasi tidak boleh menggunakan merek yang sama dengan produk yang disertifikasi, tidak mengandung babi atau bahan tutunan dari babi. 4. 5. 6. Lini produksi, tempat penyimpanan bahan atau produk yang TK1 adalah kontaminasi dari lingkungan (hewan piaraan, Untuk TK1 perlu dilakukan pencegahan dengan cara: (a) disertifikasi dan yang diertifikasi harus terpisah secara nyata. burung, cicak dan lain-lain) dan karyawan (katering, makanan, minuman) Penutupan tempat-tempat terbuka yang memungkinkan terjadinya kontaminasi. (b) Karyawan dilarang untuk membawa makanan dan minuman ke ruang produksi. 7. 8. TK2 adalah kontaminsi silang dari bahan-bahan yang tidak Untuk TK2 perlu dilakukan pencegahan melalui pemisahan disertifikasi (bahan-bahan haram atau najis selain babi) secara fisik dan administrasi antara bahan produk yang disertifikasi halal dan yang tidak. LP POM MUI merekomendasikan agar perusahaan yang mengajukan sertifikat halal mensertifikat semua produknya pada semua pabrik dan lini produksi yang

35

________________________________________________

MANUAL SISTEM JAMINAN HALAL (SJH) PDAM TIRTA BENTENG KOTA TANGERANG

C. Identifikasi Titik Kritis Distribusi Apakah semua Produk yang distribusikan disertifikasi halal ?

Tidak Apakah alat distribusi Berbeda?

Ya Non TK

Ya Non TK

Tidak Apakah prduk non sertifikasi halal mengandung babi dan hasil sampingnya?

Ya Tidak disertifikasi

Tidak Ada kemasan?

Ya Apakah kemasan dapat mencegah kontaminasi silang?

Tidak TK 1

Ya Non TK Catatan:

Tidak TK 2

36

________________________________________________

MANUAL SISTEM JAMINAN HALAL (SJH) PDAM TIRTA BENTENG KOTA TANGERANG
1. Jika distribusi dilakukan oleh pihak ketiga harus dibuat sistem distribusi yang bisa menjamin bahwa distribui dilakukan terpisah antara produk yang disertifikasi dan non sertifikasi. 2. TK 1 adalah dimana kondisi produk dalam keadaan curah, sehingga harus menggunakan wadah yang dapat mencegah terjadinya kontaminasi silang. 3. TK 2 dapat dicegah dengan menggunakan kemasan distribusi yang dapat mencegah kontaminasi silang. D. Identifikasi Titik Kritis Pemajangan (Display)

Apakah semua Produk yang dipajang bersertifikasi halal ?

Tidak Apakah pemajangan Terpisah secara nyata

Ya Non TK

Ya Non TK

Tidak Apakah prduk non sertifikasi halal mengandung babi ?

Ya TK 1

Tidak Ada kemasan?

Ya Non TK

Tidak TK 2

Catatan: 37

________________________________________________

MANUAL SISTEM JAMINAN HALAL (SJH) PDAM TIRTA BENTENG KOTA TANGERANG
* TK 1 dan TK 2 = tidak boleh dilakukan sama sekali.

E. Identifikasi Titik Kritis Penyembelihan. Apakah penyembelih beragama Islam ? Ya Apakah penyembelihan memahami dan menjalankan Proses penyembelihan susuai Syari’at Islam Tidak Tidak dapat SH

Tidak TK 1

Ya Apakah dilakukan pemingsanan

Ya TK 2 Ya

Tidak Apakah digunakan pisau tajam Tidak TK 3

Apakah hewan mati sempurna & darah keluar sempurna Tidak TK 4 Tidak Non TK Ya

Apakah darah/bangkai dimanfaatkan Ya Tidak dapat SH

38

________________________________________________

MANUAL SISTEM JAMINAN HALAL (SJH) PDAM TIRTA BENTENG KOTA TANGERANG

Catatan: TK1 : Dicegah dengan cara pembinaan terhadap penyembelih TK2 : dicegah dengan menggunakan teknik stunning dengan peralatan tertentu yang tidak menyebabkan hewan mati sebelum disembelih dan harus dilakukan pemeriksaan secara rutin terhadap TK3 : dicegah denagn mengontrol pisau yang digunakan dan diperiksa ketajamannya setiap saat. TK4 : dicegah dengan cara menetapkan tenggang waktu tertentu yang menjamin hewan dapat sudah benarbenar mati dan darah keluar dengan tuntas sebelum diproses lebih lanjut (perendaman air panas dan pengulitan) PROSEDUR PENETAPAN STATUS BAHAN Apakah bahan merupakan Produk Impor?
Ya Tidak

Apakah memiliki SH MUI atau Lembaga Luar Negeri yang duakui MUI dan masih berlaku?
Tidak Apakah ada kemungkinan mengandung Bahan yang diragukan? (biasanya bahan Hewani, atau produk khamr) Tidak Ya Tidak Ya

Apakah memiliki SH MUI dan Masih berlaku
Tidak Ya

Sertifikat Halal Halal

Kajian LP POM MUI Bermasala h
Tidak Bermasalah

Bahan tidak Dapat digunakan Catatan: 39

Bahan dapat digunakan

________________________________________________

MANUAL SISTEM JAMINAN HALAL (SJH) PDAM TIRTA BENTENG KOTA TANGERANG
1. Prosedur ini berlaku untuk semua produsen dan pemasok 2. Keluaran dari prosedur penetapan status bahan adalah daftar bahan yang dapat dipakai sebagai acuan untuk auditor halal internal. 3. Bahan dalam kategori daftar bahan yg dapat digunakan, sebelum diimplementasikan harus disahkan terlebih dahulu oleh LP POM MUI 4. bahan dalam kategori daftar bahan yang tidak dapat digunakan tidak ada di areal pebrik. 5. Bahan yang dapra digunakan harus dilengkapi dokumen pendukung berupa spesifikasi bahan, surat recomendaei atau sertifikat halal dari LP POM MUI atau Lembaga Sertifikasi Halal Luar negeri yang direkomendasi LP POM MUI. 6. Bahan yang melalui proses kajian LP POM MUI dilengkapi dengan rekomendasi LP POM MUI, sedangkan bahan yang melalui sertifikasi halal dilengkapi dengan sertifikat halal MUI

MATRIKS BAHAN BAKU, TAMBAHAN DAN PENOLONG UNTUK SEMUA PRODUK YANG DISERTIFIKASI HALAL Nama Perusahaan Jenis Produk : PDAM TIRTA BENTENG KOTA TANGERANG : AIR MINUM PERPIPAAN

DAFTAR ACUAN BAHAN BAKU /TAMBAHAN/PENOLONG PDAM TIRTA BENTENG KOTA TANGERANG No Jenis Bahan Nama Bahan Produ sen Pema Sok Spesifi Kasi Bahan (V) Sertifi Kasi Halal (V) Lemba No. ga SH Sertifi Kasi halal Masa Berla Ku SH Keteraran gan

1

Air Baku

Air Sungai Aluminiu m Sulfat Soda Ash Cisadane PT. Timur Raya Tunggal PT. JM Mutu CV. Cipta Karya Solusindo CV. Cipta Karya Solusindo 40 V V

Bahan alami Bahan kimiawi Bahan kimiawi

2

Koagu lant

3

Penam bah

________________________________________________

MANUAL SISTEM JAMINAN HALAL (SJH) PDAM TIRTA BENTENG KOTA TANGERANG
4 pH Desinf ektan 5 Sand Filter Natrium Hipoklorit Pasir Kwarsa Utama PT. CV. Cipta Karya Cakrawala Solusindo Indopac Pulau PT. Mufen Bangka Belitung Tirta V Bahan kimiawi Bahan alami

41

________________________________________________

MANUAL SISTEM JAMINAN HALAL (SJH) PDAM TIRTA BENTENG KOTA TANGERANG
Tabel. Hasil Penetapan Titik Kritis Proses Produksi dan Tindakan Pencegahannya No. 1 Prosedur Penambahan bahan Titik Kritis Asal usul bahan Informasi Kunci Bahan harus sesuai dengan matriks yang telah diketahui oleh LP-POM MUI Tindakan Koreksi Hentikan penggunaan bahan yang tidak ada dalam matriks Verifikasi • Dokumentasi •

42

________________________________________________

MANUAL SISTEM JAMINAN HALAL (SJH) PDAM TIRTA BENTENG KOTA TANGERANG
LAMPIRAN Form Laporan Berkala Ringkasan Hasil Audit Waktu Audit Internal : Auditor : Auditee : Temuan : Tindakan Koreksi : Ringkasan Perubahan dalam 6 bulan terakhir Perubahan Manajemen Halal yang berpengaruh terhadap kebijakan halal Penjelasan : …………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………… 2b. Perubahan komponen Manual SJH (SOP, dokumen, personal, dll) Penjelasan : …………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………........ 2c. Perubahan lokasi IPA dan pembuatan IPA di lokasi baru Penjelasan : …………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………........ 2d. Perubahan bahan (produsen/ pemasok, tipe bahan, dll) Penjelasan : …………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………........ 2e. Perubahan proses dan pengembangan IPA Penjelasan : …………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………… Berita Acara Tindakan Koreksi atas temuan dalam Audit Internal Daftar bahan terakhir dan dokumen pendukung 1. 1a. 1b. 1c. 1d. 1e. 2 2a.

Ya

Tidak

43

________________________________________________

MANUAL SISTEM JAMINAN HALAL (SJH) PDAM TIRTA BENTENG KOTA TANGERANG
LAMPIRAN FORMAT AUDIT HALAL INTERNAL PADA BAGIAN LABORATORIUM No 1 PERTANYAAN Ya Apakah bagian Laboratorium memiliki daftar bahan yang telah diketahui LP POM MUI 2 Apakah setiap bahan datang selau diperiksa kualitasnya? 3 Apakah bahan masuk setelah mendapatkan persetujuan dari bagian Laboratorium dan auditor halal internal 4 Sebelum bahan masuk apakah Laboratorium memeriksa nama produsen, merek, jenis barang, dan kualitas yang tercantum pada label kemasan sesuai dengan dokumen pengadaan? Catatan Khusus Auditor Hasil Audit Tidak Keterangan

Menyetujui Kabag. Produksi

Yang Membuat Auditor Halal Internal

Sumarya, ST

Akhmad Kausar

44

________________________________________________

MANUAL SISTEM JAMINAN HALAL (SJH) PDAM TIRTA BENTENG KOTA TANGERANG
LAMPIRAN FORMAT AUDIT HALAL INTERNAL PADA BAGIAN PRODUKSI No 1 PERTANYAAN Ya Apakah bagian produksi hanya memproduksi produk yang disertifikasi halal 2 Apakah ada konsistensi penggunaan bahan baku, bahan tambahan dan bahan penolong? 3 Apakah bahan-bahan tersebut tercantum pada daftar bahan halal yang telah diketahui LPPOM MUI? 4 Apakah bahan pada produk yang tidak disertifikasi halal mungkin mengandung babi atau turunannya? 5 Apakah penyelenggara proses produksi didukung oleh sistem administrasi yang baik? 6 Apakah semua bahan baku, tambahan dan penolong tercatat secara sistematis serta mudah untuk ditelusuri? 7 Apakah proses pengolahan dilakukan sedemikian rupa sehingga dapat menghindari terkontaminasinya produk dari bahan haram dan/atau najis? 8 Apakah bagaian produksi mempunyai intruksi kerja untuk sertiap tahapan proses. Catatan Khusus Auditor Hasil Audit Tidak Keterangan

Menyetujui Kabag. Produksi

Yang Membuat Auditor Halal Internal

Sumarya, ST

Ida Nuraida

45

________________________________________________

MANUAL SISTEM JAMINAN HALAL (SJH) PDAM TIRTA BENTENG KOTA TANGERANG
LAMPIRAN FORMAT AUDIT HALAL INTERNAL PADA BAGIAN GUDANG No 1 PERTANYAAN Ya Apakah bagian gudang didukung dengan sistem administrasi yang mudah ditelusuri? 2 Apakah bagian gudang memegang daftar bahan yang telah dikethui oleh LP POM MUI? 3 Apakah semua bahan di gudang merupakan bahan produksi yang sesuai dengan daftar bahan yang telah diketahui oleh LP POM MUI? 4 Apakah bahan-bahan untuk produksi, non produksi, dan lain-lain dipisahkan? 5 Apakah pemisahan dengan cara menggunakan ruangan yang berbeda? 6 Jika jawaban pertanyaan no 9 tidak, apakah pemisahan dilakukan dengan pemberian sekat yang jelas? 7 Jika jawaban no 10 tidak, apakah pemisahan dilakukan dengan cara menggunakan rak yang berbeda dengan diberikan tanda-tanda yang jelas? 8 Jika jawaban no 11 tidak, apakah pemisahannya dilakukan dengan cara pemisahan dapal pelet-pelet yang berbeda tetapi menggunakan rak yang sama dengan memberikan tanda-tanda yang jelas? 9 Apakah semua bahan di gudang berlabel dengan jelas? 10 Adakah produk yang tidak disertifikasi halal oleh MUI? Catatan Khusus Auditor Hasil Audit Tidak Keterangan

Menyetujui Kabag. Administrasi Umum dan Personalia

Yang Membuat Auditor Halal Internal

Reni Risrianti, ST 46

Ade Kurniawan

________________________________________________

MANUAL SISTEM JAMINAN HALAL (SJH) PDAM TIRTA BENTENG KOTA TANGERANG
LAMPIRAN FORMAT AUDIT HALAL INTERNAL PADA BAGIAN PEMBELIAN No 1 PERTANYAAN Ya Apakah halal menjadi pertimbangan utama dalam pengadaan bahan baku, bahan tambahan dan bahan penolong? 2 Apakah bagian pengadaan memiliki daftar bahan, pemasok, dan produsen bahan yang telah diketahui oleh LPPOM MUI 3 Apakah untuk perubahan pemasok atau produsen bahan baru diketahui dan diketahui oleh AHI (berdasarkan hasil konsultasi dengan LP POM MUI)? 4 Apakah pengadaan bahan baru oleh bagian Pengadaan terlebih dahulu telah mendapat persetujuan dari Bagian Laboratorium Produksi dan AHI (berdasarkan hasil konsultasi dengn LP POM MUI)? 5 Adakah catatan jika terjadi perubahan bahan, pemsok atau perodusen bahan? 6 Apakah contoh bahan dari pemasok yang diterima bagian pengadaan disertai dokumen yang berkaitan dengan status kehalalannya (sertifikat halal, deskripsi produk, spesifikasi, alur proses, dan asal usul bahan)? 7 Apakah kegiatan pengadaan didukung dengan sistem administrasi yang baik? Seperti semua catatn pengadaan terdokumentasi dengan lengkap, sistematis, rapi, dan mudah ditelusuri. Catatan Khusus Auditor Hasil Audit Tidak Keterangan

Menyetujui Kabag. Administrasi Umum dan Personalia

Yang Membuat Auditor Halal Internal

Reni Risrianti, ST

Asep Sudrajat

47

________________________________________________

MANUAL SISTEM JAMINAN HALAL (SJH) PDAM TIRTA BENTENG KOTA TANGERANG
LAMPIRAN FORMAT AUDIT HALAL INTERNAL PADA BAGIAN TRANSPORTASI/DISTRIBUSI No 1 PERTANYAAN Ya Apakah alat transportasi dan jaringan pipa distribusi (bahan dan / atau produk jadi) selalu dalam keadaan bersih dan suci dari najis? 2 Adakah jaminan bahwa pengangkutan tidak tercampur dengan bahan atau produk lain atau titipan perusahaan/orang orang lain yang tidak jelas kehalalannya? 3 Untuk distribusi produk adakah seleksi khusus dan persyaratan khusus yang dapat menjamin produk terhindar dari kemungkinan terkontaminasi bahan haram atau najis? Catatan Khusus Auditor Hasil Audit Tidak Keterangan

Menyetujui Kabag. Distribusi

Yang Membuat Auditor Halal Internal

Edi Kurniadi, ST

Yudiana Efendi

48

________________________________________________

MANUAL SISTEM JAMINAN HALAL (SJH) PDAM TIRTA BENTENG KOTA TANGERANG
LAMPIRAN

LAPORAN KETIDAK SESUAIAN
No 1 ANALISIS / PENJELASAN Temuan Ketidaksesuaian Penemu/Penulis Laporan Fakta temua Waktu Lokasi Proses Penyebab Pembuat Laporan Diketahui Oleh Jenis tindakan Waktu Eksekusi Pelaksana oleh Diketahui oleh Jenis tindakan Waktu pencapaian Waktu eksekusi Dibuat oleh Diketahui oleh Jenis tindakan Dibuat oleh Diketahui oleh KETERANGAN (merubah atau tidak merubah status kehalalan)

2 3

Analisis penyebab Tindakan langsung

4

Tindakan Koreksi

5

Tindakan Pencegahan

49

________________________________________________

MANUAL SISTEM JAMINAN HALAL (SJH) PDAM TIRTA BENTENG KOTA TANGERANG
LAMPIRAN Laporan Tinjauan Manajemen No. Tema Uraian Diskusi kesimpulan Follow-up Tanggal Jatuh tempo Realisasi

50

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->