P. 1
LAJU ENDAP DARAH

LAJU ENDAP DARAH

|Views: 1,200|Likes:
Published by Offie N Sofiyati Fa

More info:

Published by: Offie N Sofiyati Fa on Mar 30, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/23/2013

pdf

text

original

LAJU ENDAP DARAH

Proses pengendapan darah terjadi dalam 3 tahap yaitu tahap pembentukan rouleaux, tahap pengendapan dan tahap pema-datan.Di laboratorium cara untuk memeriksa laju endap darah yang sering dipakai adalah cara Wintrobe dan cara Weetergren. Pada cara Wintrobe nilai rujukan untuk wanita 0 -- 20 mm/jam dan untuk pria 0 -- 10 mm/jam, sedang pada cara Westergren nilai rujukan untuk wanita 0 -- 15 mm/jam dan untuk pria 0 – 10 mm/jam. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi laju endap darah adalah faktor eritrosit, faktor plasma dan faktor teknik. Jumlah eritrosit/ul darah yang kurang dari normal, ukuran eritrosit yang lebih besar dari normal dan eritrosit yang mudah beraglutinasi akan menyebabkan laju endap darah cepat. Walau pun demikian, tidak semua anemia disertai laju endap darah yang cepat. Pada anemia sel sabit, akantositosis, sferositosis serta poikilositosis berat, laju endap darah tidak cepat, karena pada keadaan-keadaan ini pembentukan rouleaux sukar terjadi. Pada polisitemia dimana jumlah eritrosit/ µl darah meningkat, laju endap darah normal. Pembentukan rouleaux tergantung dari komposisi protein plasma. Peningkatan kadar fibrinogen dan globulin mempermudah pembentukan roleaux sehingga laju endap darah cepat sedangkan kadar albumin yang tinggi menyebabkan laju endap darah lambat. Laju endap darah terutama mencerminkan perubahan protein plasma yang terjadi pada infeksi akut maupun kronik, proses degenerasi dan penyakit limfoproliferatif. Peningkatan laju endap darah merupakan respons yang tidak spesifik terhadap kerusakan jaringan dan merupakan petunjuk adanya penyakit. Bila dilakukan secara berulang laju endap darah dapat dipakai untuk menilai perjalanan penyakit seperti tuberkulosis, demam rematik, artritis dan nefritis. Laju endap darah yang cepat menunjukkan suatau lesi yang aktif, peningkatan laju endap darah dibandingkan sebelumnya menunjukkan proses yang meluas, sedangkan laju endap darah yang menurun dibandingkan sebelumnya menunjukkan suatu perbaikan Selain pada keadaan patologik, laju endap darah yang cepat juga dapat dijumpai pada keadaan-keadaan fisiologik seperti pada waktu haid, kehamilan setelah bulan ketiga dan pada orangtua. Dan akhirnya yang perlu diperhatikan adalah faktor teknik yang dapat menyebabkan kesalahan dalam pemeriksaan laju endap darah. Selama pemeriksaan tabung atau pipet harus tegak lurus; miring dapat menimbulkan kesalahan 30%. Tabung atau pipet tidak boleh digoyang atau bergetar, karena ini akan mempercepat pengendapan. Suhu optimum selama pemeriksaan adalah 20°C, suhu yang tinggi akan mempercepat pengendapan dan sebaliknya suhu yang rendah akan memperlambat. Bila darah yang diperiksa sudah membeku sebagian hasil pemeriksaan laju endap darah akan lebih lambat karena sebagian fibrinogen sudah terpakai dalam pembekuan. Pemeriksaan laju endap darah harus dikerjakan dalam waktu 2 jam setelah pengambilan darah, karena darah yang dibiarkan terlalu lama akan berbentuk sferik sehingga sukar membentuk rouleaux dan hasil pemeriksaan laju endap darah menjadi lebih lambat.

LEUKOSIT
Jumlah leukosit dipengaruhi oleh umur, penyimpangan dari keadaan basal dan lainlain . Pada bayi baru lahir jumlah leukosit tinggi, sekitar 10.000--30.000/ µl. Jumlah leukosit tertinggi pada bayi umur 12 jam yaitu antara 13.000 -- 38.000 / µl. Setelah itu jumlah leukosit turun secara bertahap dan pada umur 21 tahun jumlah leukosit berkisar antara 4500 -- 11.000/ µl. Pada keadaan basal jumlah leukosit pada orang dewasa berkisar antara 5000 -- 10.0004 /µ1.' Jumlah leukosit meningkat setelah melakukan aktifitas fisik yang sedang, tetapi jarang lebih dari 11.000/ µl

EKG

sadapan I. seperti tampak pada gambar 9. Tabel 1. sementara lengan kiri dan tungkai kiri sebagai elektrode indiferen (negatif) Sadapan aVL: mempunyai elektrode positif pada lengan kiri. V5 dan V6 melihat sisi lateral jantung. V1 dan V2 sesuai dengan ventrikel kanan. Nomenklatur (tata nama) penulisan kompleks QRS Gelombang Q wave: defleksi negatif (ke bawah) pertama setelah gelombang P Gelombang R:: defleksi positif (ke atas) Gelombang S:: defleksi negatif (ke bawah) setelah gelombang R Membaca EKG Frekuensi Langkah pertama pembacaan EKG adalah menghitung frekuensi denyut jantung. Sadapan II: menunjukkan perbedaan potensial antara lengan kanan dan tungkai kiri (tungkai kiri positif) Sadapan III: menunjukkan perbedaan potensial antara tangan kiri dan tungkai kiri (tungkai kiri positif) Sadapan unipolar Sadapan aVR: mempunyai elektrode positif pada lengan kanan. III dan aVF melihat sisi inferior jantung. Sadapan V6: ditempatkan sejajar V4 dan V5 pada linea axillaris media kiri. Sadapan V5: ditempatkan sejajar V4 pada linea axillaris anterior kiri. penghitungan frekuensi denyut jantung dapat . Sadapan precordial atau sadapan dada akan melihat jantung secara bidang horizontal. dengan beberapa komponen lain yang perlu dianalisis. Sadapan V3: ditempatkan diantara sadapan V2 dan V4. sementara lengan kanan dan tungkai kiri sebagai elektrode indiferen (negatif) Sadapan aVF: mempunyai elektrode positif pada tungkai kiri. Kertas EKG terbagi dalam kotak besar dengan lebar dan tinggi masing-masing 5 mm (5 mm lebar setara dengan 0. aVL. yang masing-masing akan dibahas lebih lanjut. yang digolongkan dalam 3 kelompok besar. sementara lengan kiri dan lengan kanan sebagai elektrode indiferen (negatif) Sadapan precordial Sadapan V1: ditempatkan pada sela iga IV linea parasternalis kanan. sadapan V1 sampai V4 melihat sisi anterior jantung. Sadapan V4: ditempatkan pada sela iga V kiri linea midclavicularis.1 mV).04 s dan 1 mm tinggi setara dengan 0.EKG tercatat pada kertas standard EKG dengan kecepatan 25 mm/s dan amplitudo voltage 1 mV tiap 10 mm. yaitu: Sadapan bipolar (bipolar limb leads = sadapan Einthoven) Sadapan I: menunjukkan perbedaan potensial antara lengan kiri dan lengan kanan (lengan kiri positif). Walaupun demikian kita bisa menyesuaikan kecepatan kertas sesuai kebutuhan. V3 dan V4 sesuai dengan septum interventrikulare. gelombang T dan gelombang U. Gabungan beberapa sadapan menghasilkan hubungan secara anatomi yang erat. Gelombang dan komponen EKG Gelombang EKG terdiri atas gelombang P. atau setiap 1 kotak besar akan setara dengan 0. Ini yang menjadi dasar penghitungan frekuensi denyut jantung. Sadapan V2: ditempatkan pada sela iga IV line aparasternalis kiri. yaitu: sadapan II. V5 dan V6 sesuai dengan ventrikel kiri. Pada irama jantung yang reguler dan teratur.5 mV). Sadapan/ Leads Terdapat 12 sadapan (lead) standard yang perlu direkam pada EKG.2 s dan 5 mm tinggi setara dengan 0.2 detik. sementara sadapan extremitas akan melihat dada secara bidang vertikal (frontal). kompleks QRS. Dengan kecepatan kertas sebesar 25 mm/s. dapat ditentukan bahwa setiap detik kertas akan menggambarkan 5 kotak besar EKG dan setiap menit (60 s) akan menggambarkan 300 kotak besar. dan tiap kotak besar berisi 25 kotak kecil yang berukuran 1 mm² (1 mm lebar setara dengan 0. V1 dan aVR melihat atrium kanan dan ruang ventrikel kiri.

yang yang yang pada . Normalnya aksis jantung akan berada diantara -30º dan 90º. Istilah takikardia digunakan untuk menggambarkan frekuensi denyut jantung yang lebih dari 100 kali/menit. Tabel 3. Frekuensi denyut jantung. Atlet dan orang muda bisa memberi gambaran bervariasi berkaitan dengan irama jantung. Aksis yang terletak di atas garis ini bernilai negatif dan yang terletak di bawah garis bernilai positif. atau menghitung jumlah denyut jantung dalam 10 detik yang kemudian dikalikan dengan 6. Untuk mengidentifikasi secara akurat. Perlu diingat bahwa beberapa negara menetapkan kecepatan kertas EKG sebesar 50 mm/s. Titik acuan ini sama dengan 0º atau searah sadapan I. rekaman panjang EKG diperlukan. dan istilah bradikardia untuk menggambarkan frekuensi denyut jantung yang kurang dari 60 kali/menit (atau kurang dari 50 kali/menit selama tidur). dan interval PR yang konstan merupakan beberapa hal yang perlu diperhatikan. penghitungan dapat dilakukan dengan cara sederhana menghitung jumlah denyut jantung dalam EKG yang direkam selama 1 menit. atau pola nada ventrikel kanan. Syarat-syarat untuk menentukan irama jantung sebagai irama sinus Gelombang P defleksi ke atas pada sadapan I dan II Setiap gelombang P diikuti dengan kompleks QRS Frekuensi denyut jantung 60-99 kali/menit Irama sinus merupakan irama jantung yang berasal dari nodus sinoaurikularis dihantarkan sampai ke ventrikel. 3) menghitung dengan rumus 1500 dibagi jumlah kotak kecil antara 2 gelombang R. dan biasanya sadapan II digunakan untuk memperlihatkan gelombang P. 2) menghitung dengan rumus 300 dibagi jumlah kotak besar antara 2 gelombang R. Sinus aritmia berupa bervariasinya frekuensi jantung selama periode inspirasi dan ekspirasi anak-dewasa muda adalah normal. terutama selama tidur. Sementara deviasi sumbu kanan / right axis deviation (+90o hingga +180o) dapat menandakan blok fasciculus posterior kiri. benign early repolarisation) Exaggerated sinus arrhythmia Sinus bradycardia Wandering atrial pacemaker Wenckebach phenomenon Junctional rhythm 1st degree heart block Aksis jantung Aksis jantung menggambarkan kumpulan vektor gelombang depolarisasi ventrikel pada bidang vertikal (frontal) yang diukur dari titik 0 acuan. sementara yang berada > 90º disebut right axis deviation. adanya gelombang P dan QRS dengan rasio 1:1. 4) menghitung dengan melihat pada alat penggaris berskala. Irama Ada beberapa hal yang harus diikuti untuk mengindentifikasi pasien dengan gangguan irama jantung. Gambaran abnormal yang bisa ditemukan pada orang sehat Tall R waves Prominent U waves ST segment elevation (high-take off. Aksis yang berada di atas -30º disebut left axis deviation. gelombang Q dari infark otot jantung lateral atas.ditentukan dengan beberapa cara. yaitu: 1) menghitung denyut jantung dalam interval 6 detik yang kemudian dikalikan 10 (sadapan yang dijadikan sumber penghitungan harus direkam selama minimal 6 detik). Deviasi sumbu kiri / left axis deviation (-30o hingga -90o) dapat menandakan blok fasciculus anterior kiri atau gelombang Q dari infark otot jantung inferior. Tabel 2. Pada keadaan irama jantung yang tidak teratur. teratur atau tidaknya. sehingga penghitungan frekuensi denyut jantung harus disesuaikan.

misalnya: Wolff-Parkinson-White syndrome Pulmonary embolus Beberapa metode dapat digunakan untuk menghitung aksis jantung. dan depresi segmen PR dapat menandakan adanya lesi atrium atau perikarditis. Pada keadaan interval PR yang bervariasi dapat menandakan adanya blok jantung jenis lain. Cara yang lain adalah dengan menjumlahkan voltage kompleks QRS beberapa sadapan sebagai vektor. meskipun bisa juga non-patologik yang tampak pada sadapan I. dan III seperti gambar 11. biasanya paling kelihatan pada sadapan II dan V1. V5 dan V6. atau dari awal gelombang P sampai defleksi pertama kompleks QRS. Adanya interval PR lebih dari 0. Sebelumnya dicari dulu sadapan dengan kompleks QRS yang equifasik/bifasik. Aktivitas ini akan tampak di EKG sebagai gelombang P. dekstrokardia. misalnya: hemiblok anterior kiri Pembesaran ventrikel. amplitudonya jarang melebihi 2.20 s dapat menandakan blok jantung derajat pertama. Kemudian dengan berdasarkan diagram hexaxial. lihatlah kompleks QRS pada sadapan yang tegak lurus. Tabel 5. yang pada keadaan normal akan positif di sadapan II. aVL. misalnya: aksis bizarre yang mengarah ke penyebab ventricular Penyakit jantung kongenital. Interval PR Interval PR diukur dari awal gelombang P ke awal kompleks QRS.12 s). Gelombang P Selama depolarisasi atrium. jika nilainya positif aksis jantung akan searah dengan arah sadapan dan jika nilainya negatif sebaliknya. interval PR adalah waktu dari onset depolarisasi atrium sampai onset depolarisasi ventrikel. misalnya: hipertrofi ventrikel kanan Takikardia kompleks yang luas (Broad complex tachycardia). dan aVF. Biasanya menggambarkan adanya nekrosis miokardium. III. atau kelainan aritmia atrium. serta serabut Purkinje.25 mV) dan durasinya kurang dari 3 kotak kecil (0. serta negatif (terbalik) di sadapan aVR yang menandai irama jantung sebagai irama sinus.Tabel 4. misalnya: defek septum atriale Pre-excited conduction. Morfologi gelombang P yang . Jadi. yang biasanya panjangnya 0. merupakan defleksi negatif (ke bawah) pertama setelah gelombang P dan sebelum gelombang R. Selama waktu ini impuls listrik menjalar melalui nodus AV. sementara interval PR yang pendek dapat menandakan sindrom pra-eksitasi melalui jalur tambahan yang menimbulkan pengaktifan awal ventrikel. II. Karakteristik gelombang P Positif pada sadapan II Paling baik terlihat pada sadapan II dan V1 Biasanya bifasik pada sadapan V1 Durasi <>kecil (<> Amplitudo <> Gelombang Q Gelombang Q menggambarkan awal fase depolarisasi ventrikel. III. karena aksis jantung pasti tegak lurus atau mendekati tegak lurus dengan sadapan tersebut. berkas His dan cabang-cabangnya. Gelombang P relatif kecil. Metode yang sederhana adalah dengan melihat kompleks QRS pada sadapan I. Kepentingannya berkaitan dengan indikasi adanya pembesaran atrium (kanan atau kiri) dan untuk membedakan berbagai aritmia jantung. Cara yang lebih diakurat dapat dilakukan dengan melihat 6 sadapan ekstremitas yang kemudian dijumlahkan vektornya. seperti yang terlihat di Sindrom Wolff-Parkinson-White.5 kotak kecil (0. Gelombang P yang negatif berkaitan dengan kesalahan peletakan elektrode (terbalik). impuls listrik akan menjalar dari Nodus SA menuju nodus AV melalui atrium kanan dan kemudian ke atrium kiri. sampai kemudian ditentukan arah dan besar sudut yang dihasilkan. Keadaan dimana aksis jantung sangat membantu dalam diagnosis Defek konduksi.12 – 0.20 s atau 3-5 kotak kecil.

Beberapa keadaan segmen ST Segmen ST normal sedikit cekung ke atas. Kompleks QRS yang normal berdurasi 0. gelombang Q yang normal menggambarkan depolarisasi septum interventriculare. Kompleks QRS Kompleks QRS adalah struktur EKG yang berhubungan dengan depolarisasi ventrikel. ini dapat disebut sebagai gelombang Q septum dan dapat dinilai di sadapan lateral I.08 s (80 ms).08-0. sedikit landai. dan gelombang S. setiap kombinasi gelombanggelombang itu dapat disebut sebagai kompleks QRS. . amplitudo. sebuah kompleks Rs akan menunjukkan defleksi positif.bervariasi pada sadapan EKG tunggal dapat menandakan irama pacemaker ektopik seperti pacemaker yang menyimpang maupun takikardi atrium multifokus. kemudian baru ke ventrikel kanan. Elevasi ST non-patologik berhubungan dengan repolarisasi dini. Karena ventrikel mengandung lebih banyak massa otot dibanding atrium. Atas alasan ini. hubungan antara segmen ST dan gelombang T harus ditentukan bersama. dan keadaan sakit lainnya. V5 dan V6 (panjang gelombang Q tidak boleh lebih dari 25% gelombang R). Bila ada. Tingkat ukuran ini bisa positif palsu sekitar 15-20% (yang sedikit lebih tinggi pada wanita daripada pria) dan negatif palsu sebesar 20-30%. dan mungkin menggambarkan infark miokardium. Segmen ST Segmen ST menghubungkan kompleks QRS dan gelombang T dengan durasi 0. yang biasanya pada orang muda dan orang kulit hitam. Karena biasanya sulit menentukan dengan pasti di mana segmen ST berakhir dan gelombang T berawal. Durasi segmen ST yang khas biasanya sekitar 0. aVL. takkan mungkin untuk menilai perbedaan ini tanpa melihat EKG yang sesungguhnya.06-0. abnormalitas konduksi. Segmen ST yang datar. Gelombang Q lebih besar daripada 1/3 tinggi gelombang R. Tidak setiap kompleks QRS memuat gelombang Q. namun setiap ketidaknormalan konduksi bisa lebih panjang. Separuh terakhir gelombang T disebut sebagai periode refraksi relatif (atau periode vulnerabel). sedangkan kompleks rS akan menunjukkan defleksi negatif.10 s (60-100 ms) yang ditunjukkan dengan 3 kotak kecil atau kurang. Segmen. kompleks QRS terekam lebih besar daripada gelombang P. Sebagai contoh. Interval dari awal kompleks QRS ke puncak gelombang T disebut sebagai periode refraksi absolut. penafsiran sesungguhnya pada EKG yang sulit memerlukan penamaan yang pasti pada sejumlah gelombang. gelombang R. dan morfologi kompleks QRS berguna untuk mendiagnosis aritmia jantung. Menurut aturan. infark miokardium. Gelombang T Gelombang T menggambarkan repolarisasi ventrikel. bergantung pada ukuran relatif setiap gelombang. atau menurun dapat menandakan iskemia koroner. dan menyebabkan perluasan kompleks QRS. Depolarisasi ventrikel kiri berlangsung lebih dulu. Perlambatan depolarisasi ventrikel dengan kompleks QRS melebar (≥ 0. Beberapa penulis menggunakan huruf kecil dan besar. yang pada dasarnya setara dengan tingkatan segmen PR dan TP. hipertrofi ventrikel. Jika kedua kompleks itu dinamai RS. berdurasi lebih besar daripada 0. Elevasi segmen ST bisa menandakan infark otot jantung.12 s) menggambarkan adanya blok (misal: bundle branch block) Gelombang Q bisa normal (fisiologis) atau patologis. gangguan elektrolit. atau di sadapan prekordial kanan dianggap tidak normal.04 s (40 ms). Durasi. yang menggambarkan periode akhir depolarisasi dan awal repolarisasi ventrikel ini. menyebabkan kompleks QRS cenderung runcing karena pertambahan kecepatan konduksi. Di samping itu. Tabel 6. bermula di titik J (persimpangan antara kompleks QRS dan segmen ST) dan berakhir di awal gelombang T. koordinasi sistem His/Purkinje pada depolarisasi ventrikel. Namun.12 s (80-120 ms). Elevasi lebih dari 1 mm dan lebih panjang dari 80 ms menyusul titik J.

Di samping itu. yaitu: Sadapan inferior (sadapan II. Cara yang paling umum digunakan untuk mengoreksi denyut jantung dari interval QT dirumuskan oleh Bazett pada tahun 1920. dan gelombang T yang terletak pada 2 atau lebih sadapan precordial disebut sebagai pola juvenile persisten (persistent juvenile pattern). Gelombang T yang datar dapat menandakan iskemia koroner atau hipokalemia. dan terjadi kelebihan koreksi di denyut jantung tinggi dan kurang dari koreksi di denyut jantung rendah. Namun. sindrom Wellens. diukur dalam detik. dan sejumlah faktor koreksi telah dikembangkan untuk mengoreksi denyut jantung. Kumpulan sadapan klinis Beberapa sadapan memberikan gambaran listrik sesuai daerah anatomi jantung. dan RR adalah interval dari bermulanya satu kompleks QRS ke bermulanya kompleks QRS berikutnya. yang tampak pada sadapan V2 sampai V4. Sadapan V1 bisa memiliki gelombang T yang positif. III dan aVF) menampilkan dinding inferior (atau diafragmatik) ventrikel kiri . yang masing-masing dinamakan sesuai daerahnya. yang dapat dibedakan dari hiperkalemia oleh dasar yang luas dan sedikit asimetri. gelombang T negatif normal di sadapan aVR. Namun..45 s. gelombang T harus didefleksikan berlawanan dengan defleksi terminal kompleks QRS. tirotoksikosis. Untuk menilainya biasanya digunakan sadapan aVL karena tidak tampaknya gelombang U. Interval QT yang normal biasanya sekitar 0. aVL. blok cabang berkas. Gelombang T yang tinggi atau "bertenda" bisa menandakan hiperkalemia. negatif. atau aVF. atau bifase. Interval QT selain untuk koreksi. epinefrin. atau gangguan SSP. hipertrofi ventrikel kiri.35 – 0. Seharusnya amplitudonya antara 1/8 sampai 2/3 dibanding gelombang R. atau pemajanan terhadap digitalis. Saat terjadi abnormalitas konduksi (mis. tidak umum untuk mendapatkan gelombang T negatif terisolasi di sadapan III. juga untuk menentukan dalam diagnosis sindrom QT panjang dan sindrom QT pendek. Interval QT Interval QT diukur dari awal kompleks QRS ke akhir gelombang T dan menggambarkan waktu yang diperlukan untuk depolarisasi dan repolarisasi ventrikel.40 s. dan sistem His-serabut Purkinje. Tabel 7. dan antiaritmia Kelas 1A dan 3. begitupun di sindrom QT panjang bawaan dan di keadaan pendarahan intrakranial. Gelombang T pada V2 saja adalah abnormal. dan tidak lebih dari setengah interval R-R. Interval QT bervariasi sesuai dengan denyut jantung. Gelombang U Gelombang U tak selalu terlihat. yang dikenal sebagai kejanggalan gelombang T yang tepat. dan jarang mencapai 10 mm. Gelombang U menggambarkan repolarisasi sel-sel mid-myocardium antara endokardium dan epikardium. Biasanya merupakan defleksi kecil setelah gelombang T. Gelombang U yang menonjol sering terlihat di hipokalemia. rumus ini cenderung tidak akurat. irama bolak-balik). namun bisa ada di hiperkalsemia.Pada sebagian besar sadapan. Rumus Bazett adalah di mana QTc merupakan interval QT yang dikoreksi untuk denyut. Beberapa keadaan gelombang T Gelombang T terbalik (atau negatif) bisa terjadi pada iskemia koroner. gelombang T positif dan terbalik di sadapan aVR dan III. Seharusnya nilainya antara 0. dan biasanya meningkat seiring dengan umur dan lebih lama pada wanita dibanding pada pria. Sebuah gelombang U yang terbalik dapat menggambarkan iskemia otot jantung atau kelebihan muatan volume di ventrikel kiri. Penemuan elektrokardiografi awal atas infark otot jantung akut terkadang gelombang T hiperakut.

kelainan pembuluh darah koroner kecil. ada 6 aspek penting yang perlu dinilai dari EKG. obstruksi jalur keluar ventrikel kiri. kelainan yang menyebabkan iskemi miokard. Karena ada di dada pasien. gelombang Q yang abnormal dan aritmia atrial dan vebtrikular. Ada 2 macam kerdiomiopati hipertrofik yaitu hipertrofi yang simetris atau kosentris dan hipertrofi septal asimetris. pada kebanyakan kasus ini menyebabkan gagal jantung. V5 dan V6) menampilkan dinding lateral ventrikel kiri. sadapan I dan aVL terkadang disebut sebagai sadapan lateral atas. dan EKG ditemukan hipertrofi ventrikel kiri (kompleks QRS yang sangat tinggi). bisa hilang atau mengurang bila posisidari berdiri lalu jongkok. dan hal-hal penting lain selain yang disebutkan di atas. Kardiomiopati hipertrofik Kardiomiopati hipertrofik ini ditandai dengan adanya penebalan pada dinding ventrikel tanpa dilatasi. Kesimpulan Secara praktis.5 : 1. irama jantung. yaitu hipertrofi septum saja (41%). Sadapan septum (V1 dan V2) menampilkan dinding septum anatomi kiri. Penatalaksanaan ditujukan untuk meningkatkan kualitas hidup dan mencegah terjadinya kematian mendadak. hipertrofi septum disertai hipertrofi dinding lateral (53%) dan hipertrofi apikal distal (6%). aVL. SAM katup mitral.difus atau di daerah apeks sedang pada hipertrofi simetris jarang ditemukan. Perubahan makroskopik dapat ditemukan pada daerah septum. Pada pemeriksaan fisik ini denyut jantung teratur atau normal. aksis jantung. kelainan segmen ST dan gelombang T. Sadapan anterior (V3 dan V4) menampilkan bagian anterior ventrikel kiri. Miomektomi juga dapat dilakukan pada keadaan . anti aritmia dan obat profilaksis endokarditis infektif. yaitu: frekuensi denyut jantung. Perlu latihan dan pengalaman yang berkelanjutan untuk dapat menerapkan penggunaan EKG dalam praktek klinis maupun teoritis yang optimal. Ekokardiografi ditemukan pengecilan rongga ventrikel kiri. Pemeriksaan lain yaitu radionuklir akan ditemukan ventrikel kiri mengecil atau normal. tanda-tanda hipertrofi. kelainan konduksi atrioventrikuler. Sadapan aVR melihat bagian dalam dinding endokardium dari sudut pandangnya di bahu kanan. yang sering dikelompokkan bersama dengan sadapan anterior. Penyakit ini diturunkan secara genetic (dominant autosomal) dan diduga juga karena rangsangan katekolamin. Dengan ekokardiografi 2 D dapat dibedakan 3 jenis hipertrofi ventrikel kiri. Fungsi sistolik menguat dan hipertrofi septal asimetrik. ditengah-tengah septum saja. Sedang pada MRI berbagai jenis hipertrofi apical ventrikel kiri dapat dibedakan. penghambat saluran kalsium (kalsium antagonis).Sadapan lateral (I. Karena elektrode positif untuk sadapan I dan aVL terletak di bahu kiri. Hipertrifi asimetris pada septum ini bias ditemukan pada daerahdistal katup aorta. interventrikularis. elektode positif untuk sadapan V5 dan V6 disebut sebagai sadapan lateral bawah. tanda iskemik dan infark. Gejala kardiomiopati hipertrofik ini menyerupai gagal jantung dan angina pectoris. dapat ditemukan bising siltolik dapat berubah. penurunan derajat penutupan katup mitral. penebalan septum ventrikel dibandingkan dengan dinding posterior ventrikel kiri dengan rasio > 1. imobilitas relatif septum ventrikel dengan kontraksi yang hebat dinding posterior. Obat-obatan yang dipakai meliputi penyekat beta (beta bloker). Pemeriksaan penunjang radiology (rongen thorax) menunjukan pembesaran jantung mulai ringan sampai berat. pada usia lanjut bias memberikan gejala stenonis atau regurgitas mitral.

phosphocreatine serves as an energy reservoir for the rapid regeneration of ATP.3. Prognosis kardiomiopati ini cukup baik.3 .7. there are two mitochondrial creatine kinases. the CK enzyme consists of two subunits. but also brain and smooth muscle. therefore. brain Identifiers Symbol CKB Alt. Thus Creatine Kinase is an important enzyme in such tissues. especially skeletal muscle. consuming adenosine triphosphate (ATP) and generating adenosine diphosphate (ADP). creatine kinase is assayed in blood tests as a marker of myocardial infarction (heart attack).3. three different isoenzymes: CKMM. The genes for these subunits are located on different chromosomes: B on 14q32 and M on 19q13. 14 q32. rhabdomyolysis (severe muscle breakdown). the ubiquitous and sarcomeric form. Symbols CKBB. muscular dystrophy and in acute renal failure.7. creatine kinase.2) expressed by various tissue types. pembedahan ini tidak mengurangi resiko kematian tetapi hanya mengurangi gejala saja.tertentu yaitu bila gejalanya tidak membaik dengan terapi obat. There are. Creatine kinase Creatine kinase (CK). Clinically.2 Locus Chr. In tissues that consume ATP rapidly. Sebagian dapat berubah menjadi menjadi kardiomiopati kongestif sekalipun sudah dilakukan miomektomi. It catalyses the conversion of creatine to phosphocreatine. which can be either B (brain type) or M (muscle type). Types In most of the cell. CK-1 Entrez 1152 HUGO 1991 OMIM 123280 RefSeq NM_001823 UniProt P12277 Other data EC number 2. also known as phosphocreatine kinase or creatine phosphokinase (CPK) is an enzyme (EC 2. dimana angka mortalitasnya hanya 1% hingga 4% per tahun. In addition to those. CK-BB and CK-MB.

This test is not specific for the type of CK that is elevated. malignant hyperthermia and neuroleptic malignant syndrome.3. is present in the mitochondrial intermembrane space. In addition. CK-BB is expressed in all tissues at low levels and has little clinical relevance.2 Locus Chr. muscular dystrophy. there are three forms present in the cytosol—CKa (in times of acute need. may be associated with elevation of the CPK level in about 1% of the patients taking these medications. Normal values are usually between 25 and 200 U/L. 19 q13.3 Isoenzyme patterns differ in tissues. which produces ATP from ADP by converting creatine phosphate to creatine. it is determined specifically in patients with chest pain and acute renal failure is suspected. and its levels do rarely have any significance in bloodstream. The mitochondrial creatine kinase (CKm). Laboratory testing CK is often determined routinely in emergency patients. CK-BB occurs mainly in tissues. myocardial infarction. in contrast. Elevation of CK is an indication of damage to muscle. CK-3 Symbols Entrez 1158 HUGO 1994 OMIM 123310 RefSeq NM_001824 UniProt P06732 Other data EC number 2. myocarditis.2-13. It is therefore indicative of injury. and with actual muscle damage in a much smaller proportion. The use of statin medications. CKc (maintains critical concentration of creatine and creatine phosphate in the cytosol by coupling their phosphorylation and dephosphorylation respectively with ATP and ADP) and CKg (which couples direct phosphorylation of creatine to the glycolytic pathway (see glycolysis)). The myocardium (heart muscle). CKMM. expresses CK-MM at 70% and CK-MB at 25-30%. rhabdomyolysis. produces ATP in the cytosol at the cost of creatine phosphate). It is also seen in McLeod syndrome and hypothyroidism.7. muscle Identifiers Symbol CKM Alt. Apart from the mitochondrial form. myositis.creatine kinase. . Skeletal muscle expresses CK-MM (98%) and low levels of CK-MB (1%). which are commonly used to decrease serum cholesterol levels.

Troponin measurement has largely replaced this in many hospitals. although some centers still rely on CK-MB. Additional images creatine .Lowered CK can be an indication of alcoholic liver disease and rheumatoid arthritis. Isoenzyme determination has been used extensively as an indication for myocardial damage in heart attacks.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->