P. 1
Finish

Finish

|Views: 1,373|Likes:

More info:

Published by: Arif Budy Setiawan, S.Pd on Mar 30, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/14/2013

pdf

text

original

Tugas guru agama sangat berat, karena disamping ia

menyampaikan materi agama, seorang guru agama harus menjalankan apa

yang disampaikannya. Sedangkan menyampaikan materi agama agar anak

didik bias mengerti dan paham bukan merupakan perbuatan yang mudah,

apalagi dimasa sekarang anak remaja sudah banyak yang mengalami

kemerosotan beragama, sehingga timbul dehadensi moral.

Banyak anak-anak remaja sekarang yang berani terhadap kedua

orang tuanya, tidak hormat kepada bapak ibu guru di sekolah, perbuatanya

tidak enak didengar, yang semuanya itu disebabkan karena mereka tidak mau

menjalankan agamanya dengan baik dan benar. Oleh sebab itu seorang guru

agama harus menghadapi dengan sabar dan tawakal. Tidak boleh putus dalam

menghadapi tantangan tersebut. Karena semua itu merupakan tanggungjawab

guru agama yaitu mendidik anak supaya menjadi anak yang taat kepada Allah

dan Rosul-Nya.

1.

Sosok guru agama dalam melaksanakan pembelajaran

Setiap guru mempunyai pribadi masing-masing. Zakiyah Darajat

menyatakan “Bahwa kepribadian yang sesungguhnya adalah abstrak
(ma’nawi), sukar dilihat atau diketahui secara nyata, yang dapat diketahui
adalah penampilan atau bekasnya dalam segala aspek dan segi kehidupan.
Misalnya dalam tindakannya, ucapan, cara bergaul, berpakaian dan dalam

8

menghargai setiap persoalan atau masalah, baik yang ringan maupun yang
berat9
.

Kepribadian adalah keseluruhan dari individu yang terdiri dari

unsur psikis dan fisik. Dalam makna demikian, seluruh sikap dan

perbuatan seseorang merupakan suatu gambaran dari kepribadian orang

itu, asal dilakukan secara sadar. Sebagai teladan, guru agama harus

memiliki kepribadian yang dapat dijadikan profik dan idola, seluruh

kehidupanya adalah figure yang paripurna. Itulah kesan terhadap guru

sebagai sosok yang ideal.

Guru adalah Spiritual father atau bapak rohani bagi seorang anak

didik, ia telah memberikan santapan jiwa dengan ilmu pendidikan akhlak,

dan membenarkannya terhadap apa yang dilakukan oleh anak didik. Oleh

karena itu, menghormati guru berarti menghormati anak didik kita,

menghargai guru berarti penghargaan terhadapat anak-anak kita. Dengan

guru itulah mereka hidup dan berkembang, sekiranya setiap guru itu

menunaikan tugasnya dengan sebaik-baiknya.

Profil guru yang ideal sosok yang mengabdikan diri berdasarkan

panggilan jiwa, panggilan hati nurani, bukan karena tuntutan uang belaka,

yang membatasi tugas dan tanggung jawabnya sebatas dinding sekolah.

Tapi, jangan hanya menuntut pengabdian guru, kesejahteraannya juga

patut ditingkatkan. Guru yang ideal selalu ingin bersama anak didik di

dalam dan di luar sekolah. Bila melihat anak didiknya menunjukkan sikap

seperti sedih, murung, suka berkelahi, malas belajar, jarang turun ke

9

Saiful Bahri Jamarah, Guru dan anak didik: dalam interaksi edukatif (Jakarta: 2000), hal. 40

9

sekolah, sakit, dan sebagainya, guru merasa prihatin dan tidak jarang pada

waktu tertentu guru harus menghabiskan waktunya untuk memikirkan

bagaimana berkembangan pribadi anak didiknya.

Jadi, kemuliaan hati seorang guru tercermin dalam kehidupan

sehari-hari, bukan hanya sekadar simbol atau semboyan yang terpampang

di kantor dewan guru. Iri, koruptor, munafik, suka mengunjing, suap

menyuap, malas dan sebagainya, bukanlah cerminan kemuliaan hati

seorang guru. Semua itu adalah perbuatan tercela yang harus disingkirkan

dari jiwa guru.

Guru dengan kemuliaannya, dalam menjalankan tugas, tidak

mengenal lelah. Hujan dan panas bukan rintangan bagi guru yang penuh

dedikasi dan loyalitas untuk turun ke sekolah agar dapat bersatu jiwa

dalam perpisahan raga dengan anak didik. Raga guru dan anak didik boleh

terpisah, tetapi jiwa keduanya tidak dapat dipisahkan. Guru dan anak didik

adalah “Dwi Tunggal”. Oleh karena itu, dalam benak guru hanya ada satu

kiat bagaimana mendidik anak didik agar menjadi manusia dewasa susila

yang cakap dan berguna bagi agama, nusa, dan bangsa di masa yang akan

datang.

Posisi guru dan anak didik boleh berbeda, tetapi keduanya tetap

seiring dan setujuan, bukan seiring tapi tidak setujuan. Sering dalam arti

kesamaan langkah dalam mencapai tujuan bersama. Anak didik berusaha

mencapai cita-citanya dan guru dengan ikhlas mengantar dan mmbimbing

anak didik ke pintu gerbang cita-citanya. Itulah barangkali sikap guru yang

10

tepat sebagai sosok pribadi yang mulia. Pendek kata, kewajiban guru

adalah menciptakan “khairunnas” yakni manusia yang baik.

Guru memang menempati kedudukan yang terhormat dimata

masyarakat. Kewibawaanlah yang menyebabkan guru di hormati, sehingga

masyarakat tidak meragukan figur guru. Masyarakat yakin bahwa gurulah

yang dapat mendidik anak didik mereka agar menjadi orang yang

berkepribadian mulia.

Dengan kepercayaan yang diberikan masyarakat, maka dipundak

guru diberikan tugas dan tanggung jawab yang berat. Tapi lebih berat lagi

mengemban tanggungjawab. Sebab tanggung jawab guru tidak hanya

sebatas dinding sekolah, tetpi juga di luar sekolah. Pembinaan yang harus

guru berikan tidak hanya secara kelompok (klasikal), tetapi juga secara

individual. Hal ini mau tidak mau menuntut guru agar selalu

memperhatikan sikap, tingkah laku, dan perbuatan anak didiknya, tidak

hanya dilingkungan sekolah tetapi diluar skeolah sekalipun.

2.

Ciri-ciri guru agama dalam melaksanakan pembelajaran

Berbicara tentang cirri-ciri guru agama dalam melaksanakan

pembelajaran, tidak bias dilepaskan dari kajian terhadap berbagai asumsi

yang melandasi keberhasilan guru itu sendiri. Para ulama telah

memformulasikan ciri-ciri dan tugas guru agama yang diharapkan agar

berhasil dalam menjalankan tugas-tugas pembelajaranya. Menurut

Abdurrahman Al Nahlawy bahwa ciri-ciri guru agama sebagai berikut :

a.

Hendaknya tujuan, tingkah laku dan pola piker guru
bersifat Robbani (Qs. Ali Imran : 79).

11

b.

Ikhlas, yakni bermaksud mendapatkan keridhoan Allah,
mencapai dan menegakkan kebenaran.
c.

Sabar dalam mengajar berbagai ilmu kepada peserta didik.

d.

Jujur dalam menyampaikan apa yang diserukannya, dalam
arti menerapkan anjuranya pertama-tama pada dirinya sendiri.
e.

Senantiasa membekali dirinya dengan ilmu dan bersedia

mengkaji dan mengembangkanya.
f.

Mampu menggunakan berbagai metode belajar secara
bervariasi, menguasainya dengan baik, mampu menentukan dan
memilih metode belajar yang sesuai dengan materi pelajaran dan
situasi pembelajaran.
g.

Mampu mengelola peserta didik, tegas dalam bertindak,
dan meletakkan masalah secara professional.
h.

Mempelajari kehidupan psikis peserta didik seluas dengan

masa perkembanganya.
i.

Tanggap terhadap berbagai kondisi dan perkembangan
dunia yang mempengaruhi jiwa, keyakinan dan pola berfikir peserta
didik, memahami problem kehidupan modern dan bagaimana cara
islam menjalani dan mengahadapinya.
j.

Bersikap adil diantara peserta didik10
.
Dari pendapat ulama tersebut, dapat dipahami bahwa ada beberapa

kemampuan dan perilaku yang perlu dimiliki oleh guru agama agar dalam

menjalankan tugas kepribadiannya dapat berhasil secara optimal.

Budi pekerti guru maha penting dalam pendidikan watak murid.

Guru harus menjadi suri teladan, karena anak-anak bersifat suka meniru.

Di antara tujuan pendidikan ialah membentuk akhlak baik pula. Guru yang

tidak berakhlak baik tidak mungkin dipercayakan pekerjaan mendidik.

Yang dimaksud dengan akhlak baik dalam Ilmu Pendidikan Islam adalah

akhlak yang sesuai dengan ajaran Islam, seperti di contohkan oleh

pendidik utama, Muhammad SAW.

10

Muhaimin, Nur Ali, Suti’ah, Paradigma pendidikan islam : upaya mengefektifkan pendidikan
agama islam di sekolah (bandung: 2004), hal 96

12

Di antara akhlak guru tersebut Zakiyah Daradjat berpendapat diantaranya

adalah :

a.Mencintai jabatannya sebagai guru.

Tidak semua orang yang menjadi guru karena “panggilan jiwa”. Di antara
mereka ada yang menjadi guru karena “terpaksa” misalnya karena keadaan
ekonomi, dorongan teman atau orang tua, dan sebagainya. Dalam keadaan
bagaimanapun seorang guru harus berusaha mencintai pekerjaannya. Dan
pada umumnya kecintaan terhadap pekerjaan guru akan bertambah besar
apabila dihayati benar-benar keindahan dan kemuliaan tugas itu. Yang
paling baik adalah apabila seseorang menjadi guru karena didorong oleh
panggilan jiwa.

b.Bersikap adil terhadap semua muridnya.

Anak-anak tajam pandangannya terhadap perlakuan yang tidak adil. Guru-
guru, lebih-lebih yang masih muda, kerapkali bersikap pilih kasih, guru
laki-laki lebih memperhatikan anak perempuan yang cantik atau anak yang
pandai daripada yang lain. Hal itu jelas tidak baik. Oleh karena itu guru
harus memperlakukan sekalian anak dengan cara yang sama.

c.Berlaku sabar dan tenang.

Di sekolah guru kerapkali merasakan kekecewaan karena murid-murid
kurang mengerti apa yang diajarkan. Murid-murid yang tidak mengerti
kadang-kadang menjadi pendiam atau sebaliknya membuat keributan-
keributan. Hal itu sudah terang mengecewakan guru atau malah mungkin
menyebabkannya putus asa. Dalam keadaan demikian guru harus tetap
tabah, sabar sambil berusaha mengkaji masalahnya dengan tenang, sebab
mungkin juga kesalahan terletak pada dirinya yang kurang simpatik atau
cara mengajarnya yang kurang terampil atau bahan pelajaran yang belum
terkuasai olehnya.

d.Guru harus berwibawa.

Anak-anak ribut berbuat sekehendaknya, lalu guru merasa jengkel,
berteriak sambil memukul-mukul meja. Keterlibatan hanya dapat di
kembalikannya dengan kekerasan, tetapi ketertiban karena kekerasan
senantiasa bersifat semu. Guru yang semacam ini tidak berwibawa.
Sebaliknya, ada juga guru yang sesaat ketika ia memasuki dan menghadap
dengan tenang kepada murid-murid yang lagi ribut, segera kelas menjadi

13

tenang, padahal ia tidak kekerasan. Ia mampu menguasai anak-anak
seluruhnya. Inilah guru yang berwibawa.

e.Guru harus gembira.

Guru yang gembira memiliki sifat humor, suka tertawa dan suka memberi
kesempatan tertawa kepada anak-anak. Sebab apabila pelajaran diselingi
oleh humor, gelak dan tertawa, niscaya jam pelajaran terasa pendek saja.
Guru yang gembira biasanya tidak lekat kecewa. Ia mengerti, bahwa anak-
anak tidak bodoh, tetapi belum tahu. Dengan gembira ia mencoba
menerangkan pelajaran sampai anak itu memahaminya.

f.Guru harus bersikap manusiawi.

Guru adalah manusia yang tak lepas dari kekurangan dan cacat. Ia bukan
manusia sempurna. Oleh karena itu ia harus berani melihat kekurangan-
kekurangannya sendiri dan segera memperbaikinya. Dengan demikian
pandangannya tidak picik terhadap kelakuan manusia umumnya dan anak-
anak khususnya. Ia dapat melihat perbuatan yang salah menurut ukuran
yang sebenarnya. Ia meberikan hukuman yang adil dan suka memaafkan
apabila anak insaf akan kesalahannya.

g.Bekerja sama dengan guru-guru lain.

Pertalian dan kerja sama yang erat antara guru-guru lebih berharga
daripada gedung yang molek dan alat-alat yang cukup. Sebab apabila
guru-guru saling bertentangan, anak-anak akan bingung dan tidak tahu apa
yang di perbolehkan dan apa yang dilarang. Oleh karena itu kerja sama
antara guru-guru itu sangat penting.

Suasana di kalangan guru sebagian besar bergantung pada sikap dan
kebijaksanaan guru kepala. Oleh karena itu kepala sekolah hendaknya
jangan bersikap seperti majikan terhadap bawahannya.Malahan ia harus
mengabdi kepada guru-guru lain, artinya ia harus mengurus dan siap sedia
memperjuangkan kepentingan guru-guru lainnya.

h.Bekerja sama dengan masyarakat

Guru harus mempunyai pandangan luas. Ia harus bergaul dengan segala
golongan manusia dan secara aktif berperan serta dalam masyarakat
supaya sekolah tidak terpencil. Sekolah hanya dapat berdiri di tengah-
tengah masyarakat, apabila guru rajin bergaul, suka mengunjungi orang

14

tua murid-murid, memasuki perkumpulan-perkumpulan dan turut serta
dalam kejadian-kejadian yang penting dalam lingkungannya, maka
masyarakat akan rela memberi sumbangan-sumbangan kepada sekolah
berupa gedung, alat-alat, hadiah-hadiah jika diperlukan oleh sekolah11
.

3.

Tugas guru dalam melakukan pembelajaran

Guru sebagai pekerjaan profesi, secara holistic berada pada

tingkatan tertinggi dalam system pendidikan nasional, karena guru dalam

melaksanakan tugas profesionalnya memiliki otonomi yang kuat. Adapun

tugas guru sangat banyak seperti mengajar dan membimbing para

muridnya, memberikan penilaian hasil belajar peserta didiknya,

mempersiapkan administrasi pembelajaran yang diperlukan, dan kegiatan

lain yang berkaitan dengan pembelajaran. Disamping itu guru haruslah

senantiasa berupaya meningkatkan dan mengembangkan ilmu yang

menjadi bidang studinya agar tidak ketinggalan jaman, ataupun yang

terkait dengan tugas kemanusiaan dan kemasyarakatan secara umum diluar

sekolah.

Roestiyah N. R. menginventarisir tugas guru secara garis besar

sebagai berikut :
a.

Mewariskan kebudayaan dalam bentuk kecakapan,
kepandaian dan pengalaman empiril, kepada para muridnya.
b.

Membentuk kepribadian anak didik sesuai dengan nilai

dasar negra.
c.

Mengantarkan anak didik menjadi warga negra yang baik.

d.

Menyerahkan dan membimbing anak sehingga memiliki
kedewasaan berbicara, bertindak dan bersikap.
e.

Memfungsikan diri sebagai penguhubung antara sekolah

dan masyarakat lingkungan.
f.

Harus mampu mengontrol dan menegakkan disiplin baik
untuk dirinya, maupun murid dan orang lain.

11

Zakiyah Darajat, Dkk, Ilmu pendidikan islam, (Jakarta: 1992),hal 42-44

15

g.

Mengfusikan diri sebagai administrator dan sekaligus

manajer yang disenangi.
h.

Melakukan tugasnya dengan sempurna sebagai amanat

profesi.
i.

Membuat perencanaan dan pelaksanaan kurikulum serta

evaluasi keberhasilanya.
j.

Membimbing anak untuk belajar memahami dan
menyelesaikan masalah yang dihadapi anaknya.
k.

Merangsang anak didik untuk memiliki semangat yang

tinggi dalam pembelajaran.12

Dengan memiliki poin-poin tersebut, diketahui bahwa tugas guru

tidak ringan. Profesi guru harus berdasarkan panggilan jiwa, sehingga

dapat menunaikan tugas dengan baik dan ikhlas.

Berdasarkan pengamatan menunjukkan hampir tidak ada guru yang

benar yang tidak menginginkan kesuksesan anak didiknya, atau menjadi

sampah masyarakat. Pendidikan yang benar dapat mendorong guru selalu

memberikan perhatian kepada persoalan yang dialami oleh anak didik. Di

berbagai kesempatan pada guru yang tinggi dedikasinya tidak

mempedulikan hambatan yang dihadapinya. Mereka abaikan kesulitan

cuaca panas atau dingin, hujan lebat atau gerimis, gelap, bahkan sakit yang

mungkin sempat dia rasakan, dan lain-lain, yang penting tetp dapat

memberikan pelayanan memadai pada tiap orang yang dibawah tanggung

jawabnya. Walaupun, kadang-kadang sang guru menghadapi anak didik

yang berlaku tidak pada tempatnya, seperti kurang sopan, kasar, tidak

memberikan penghargaan, dan lain-lain. Sifat dan sikap seperti ini tetap

dicerminkan oleh guru, karena mereka menjadi guru adalah pilihan utama

keluar dari lubuk hati yang dalam. Tentu berbeda bila seseorang menjadi

12

Ibid hal 12

16

guru adalah karena merasa tidak mungkin diterima bekerja di tempat lain,

atau karena situasi terpaksa, guru yang seperti ini tentu dedikasinya

rendah.

Sekiranya setiap guru memiliki sikap posotif dan utuh seperti itu,

niscaya keadaan pendidikan di suatu daerah memiliki prospek yang cerah.

Guru seperti itulah yang harus dilahirkan oleh lembaga pendidikan guru

yang ada. Jadi tugas dan tanggung jawab guru bukan sekedar mentransfer

ilmu pengetahuan kepada anak didik. Melainkan ebih dari itu, yakni guru

berkewajiban membentuk watak dan jiwa anak didik yang sebenarnya

sangat memerlukan masukan posotif dalam bentuk ajaran agama, ideologi,

dan lain-lain. Memberikan bimbingan sehingga anak didik memiliki jiwa

dan watak yang baik, mampu membedakan mana yang baik mana yang

buruk, mana yang halal mana yang haram, adalah termasuk tugas guru.

Dalam melaksanakan tugasnya guru bukanlah sebatas kata-kata,

akan tetapi juga dalam bentuk perilaku, tindakan, contoh-contoh. Sikap

dan tingkah laku jauh lebih efektif dibanding dengan perkataan yang tidak

dibarengi dengan amal nyata. Ada beberapa poin yang menjadi tanggung

jawab seorang guru, antara lain : mematuhi norma dan nilai kemanusian,

menerima tugas mendidik bukan sebagai beban, tetapi dengan gembira dan

sepenuh hati, menyadari benar akan apa yang dikerjakan dan akibat dari

setiap akibat dari setiap perbuatannya itu, belajar dan mengajar

memberikan penhargaan kepada orang lain termasuk kepada anak didik,

bersikap arif bijaksana dan cermat serta hati-hati, dan sebagai orang

17

beragama melakukan kesemua yang tersebut diatas berdasarka taqwa

kepada Tuhan Yang Maha Esa.

4.

Tanggung jawab guru dalam melakukan pembelajaran

Sesungguhnya guru yang bertanggung jawab memiliki beberapa sifat,

yang menurut Wens Tanlain dan kawan-kawan (1989:31) ialah :

1.Menerima dan mematuhi norma, nilai-nilai kemanusian;

2.Memikul tugas mendidik dengan bebas, berani, gembira (tugas

bukan menjadi beban baginya);

3.Sadar akan nilai-nilai yang berkaitan dengan perbuatannya serta

akibat-akibat yang timbul (kata hati);

4.Menghargai orang lain, termasuk anak didik;

5.Bijaksana dan hati-hati (tidak nekad, tidak sembrono, tidak singkat

akal); dan

6.Takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa13
.

Guru adalah orang yang bertanggung jawab mencerdaskan

kehidupan anak didik. Pribadi susila yang cakap adalah yang diharapkan

pada diri setiap anak didik tidak ada seorang gurupun yang mengharapkan

anak didiknya menjadi sampang masyarakat. Untuk itulah guru dengan

penuh dedikasi dan loyalitas berusaha membimbing dan membina anak

didik agar dimassa mendatang menjadi orang yang berguna bagi nusa dan

13

Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan anak didik:dalam interaksi edukatif (Jakarta: 2000).hal. 35-

36

18

bangsa. Setiap hari guru meluangkan waktu demi kepentingan anak didik.

Bila suatu ketika ada anak tidak hadir sekolah, guru menanyakan kepada

anak-anak yang hadir, apa sebabnya tidak hadir. Anak didik yang sakit,

belum menguasai bahan pelajaran, berpakaian sembarangan, berbuat yang

tidak baik, terlambat membayar uang sekolah, tak punya pakaian seragam,

bertindak asusila, dan sebagainya, semuanaya menjadiperhatian guru14
.

Karena besarnya tanggung jwab guru terhadap anak didiknya.

Hujan dan panas bukanlah menjadi penghalang bagi guruuntuk selalu

hadir ditengah-tengah anak didiknya. Guru tidak pernah memusuhi anak

didiknya meskipun suatu ketika ada anak didiknya yang berbuat kurang

sopan pada orang lain. Bahkan dengan sabar dan bijaksana guru

memberikan nasihat bagaimana cara bertingkah laku yang sopan pada

orang lain.

Karena profesinya sebagai guru adalah berdasarkan panggilan jiwa,

maka bila guru nelihat anak didiknya senang berkelahi, meminum

minuman keras, menghisap ganja datang kerumah-rumah bordil, dan

sebagainya, guru merasa sakit hati. Siang atau malam selalu memikirkan

bagaimana caranya agaranak didiknya itu dapat dicegah dari berbuatan

yang kurang baik, asusila, dan amoral.

Guru seperti itulah yang diharapkan untuk mengabdikan diri di

lembaga pendidikan. Bukan guru yang hanya menuangkan ilmu

pengetahuan ke dalam otak anak didik. Sementara jiwa dan wataknya

tidak terbina. Memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik adalah

14

Ibid hal. 35-36

19

suatu perbuatan yang mudah, tetapi untuk membentuk jiwa dan watak

anak didik itulah yang sukar, sebab anak didik yang dihadapi adalah

makhluk hidup yang memiliki otak da potensi yang perlu dipengaruhi

dengan sejumlah norma hidup sesuai ideologi, falsafah dan bahkan agama.

Menjadi tanggung jawab guru untuk memberikan sejumlah norma

itu kepada anak didik agar tahu mana perbuatan susila dan asusila, mana

perbuatan yang bermora dan amoral. Semua norma itu tidak mesti harus

guru berikan ketika di kelas, di luar kelas pun sebaiknya guru contohkan

melalui sikap, tingkah laku, dan perbuatan. Pendidikan dilakukan tidak

semata-mata dengan perkataan, tetapi dengan sikap, tingkah laku, dan

perbuatan.

Anak didik lebih banyak menilai apa yang guru tampilkan dalam

pergaulan di sekolah dan di masyarakat daripada apa yang guru katakan,

tetapi baik perkataan maupun apa yang guru tampilkan, keduanya menjadi

penilaian anak didik. Jadi, apa yang guru katakan harus guru praktekkan

dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, guru memerintahkan kepada anak

didik agar hadir tepat pada waktunya. Bagaimana anak didik mematuhinya

sementara guru sendiri tidak disiplin dengan apa yang pernah dikatakan.

Perbuatan guru yang demikian mendapat protes dari anak didik. Guru

tidak bertanggung jawab atas perkataannya. Anak didik akhirnya tidak

percaya lagi kepada guru dan anak didik cenderung menentang

perintahnya. Inilah sikap dan perbuatan yang ditunjukkan oleh anak didik.

20

Jadi guru harus bertanggung jawab atas segala sikap tingkah laku

dan perbuatanya dalam rangka membina jiwa dan watak anak didik.

Dengan demikian, tanggung jawab guru adalah untuk membentuk anak

didik agar menjadi anak yang bersusila, yang cakap, beragama bagi

agama, nusa, dan bangsa dimasa yang akan datang.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->