P. 1
Konflik Darfur

Konflik Darfur

|Views: 2,569|Likes:
Published by Ismail Fanri
Konflik Darfur di Sudan

Sumber : www.english-wikipedia.com

Sudan merupakan sebuah negara yang berada di sebelah utara benua Afrika, didominasi oleh dua kelompok besar masyarakat, yaitu masyarakat Arab dan masyarakat Afrika. Sudan memiliki jumlah suku yang sangat besar, tak kurang dari 400 suku dengan bahasa yang berbeda satu sama lain. Seluruh suku itu berbaur di 26 negara bagian yang mempunyai otonomi yang cukup besar, karena Sudan menganut sistem pemerintahan federal. Meski Sudan merupakan n
Konflik Darfur di Sudan

Sumber : www.english-wikipedia.com

Sudan merupakan sebuah negara yang berada di sebelah utara benua Afrika, didominasi oleh dua kelompok besar masyarakat, yaitu masyarakat Arab dan masyarakat Afrika. Sudan memiliki jumlah suku yang sangat besar, tak kurang dari 400 suku dengan bahasa yang berbeda satu sama lain. Seluruh suku itu berbaur di 26 negara bagian yang mempunyai otonomi yang cukup besar, karena Sudan menganut sistem pemerintahan federal. Meski Sudan merupakan n

More info:

Published by: Ismail Fanri on Mar 30, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/17/2013

pdf

text

original

Konflik Darfur di Sudan

Sumber : www.english-wikipedia.com

Sudan merupakan sebuah negara yang berada di sebelah utara benua Afrika, didominasi oleh dua kelompok besar masyarakat, yaitu masyarakat Arab dan masyarakat Afrika. Sudan memiliki jumlah suku yang sangat besar, tak kurang dari 400 suku dengan bahasa yang berbeda satu sama lain. Seluruh suku itu berbaur di 26 negara bagian yang mempunyai otonomi yang cukup besar, karena Sudan menganut sistem pemerintahan federal. Meski Sudan merupakan negara bekas jajahan Inggris yang kemudian memerdekakan diri pada tanggal 1 Januari 1956, Sudan tidak tergabung dalam persemakmuran Inggris. Konflik yang terjadi di negeri ini ada tiga: konflik Sudan Selatan – Sudan Utara; konflik Front Timur dan konfllik Darfur. Pihak militer yang condong kepada muslim telah mendominasi politik nasional Sudan semenjak meraih kemerdekaan dari Inggris pada tahun 1956. Keadaan Sudan terbilang kacau karena perang sipil yang berlarut-larut selama sisa abad 20. Konflik tersebut berakar pada keadaan ekonomi, politik dan dominasi sosial yang besar dari masyarakat non-Muslim, non-Arab di Sudan bagian selatan. Perang sipil pertama berakhir pada tahun 1972 namun terpecah kembali pada tahun 1983. Perang

1

kedua yang berefek pada masalah kelaparan dan lebih dari empat juta jiwa mengungsi, dan korban jiwa yang melebihi angka dua juta1. Sejarah konflik antar kelompok di Sudan, sudah berakar lama sejak kekuatan Kristen menguasai Sudan sekitar abad-6, dan kemudian dilanjutkan oleh kekuatan Islam dari Kerajaan Ottoman pada abad ke-13. Perebutan pengaruh antar penganut agama yang berbeda itu sampai kini terus menjadi pemisah antar warga Sudan. Berbagai gejolak dalam perpolitikan di Sudan semakin menambah terbengkalainya urusan membangun negara dan mensejahterakan rakyat. Kondisi inilah yang menyebabkan timbulnya sejumlah pemberontakan yang dilakukan rakyat, khususnya di wilayah selatan dan barat, terhadap pemerintah pusat. Alasannya, karena kehidupan warga di kedua wilayah itu dirasakan kurang mendapat perhatian dari pemerintah.

Darfur dan Awal Konflik Darfur dalam bahasa Arab berarti tanah bangsa Fur adalah sebuah daerah di Sudan bagian barat yang berbatasan dengan Republik Afrika Tengah dan Chad. Darfur dibagi menjadi tiga negara bagian federal di Sudan, Gharb Darfur (Darfur Barat) dengan ibukota Al-Jenina, Janub Darfur (Darfur Selatan) dengan ibukota Nyala, dan Shamal Darfur (Darfur Utara) dengan ibukota Al Fashir. Darfur meliputi wilayah yang luasnya lebih dari 2,5 juta km2 dengan jumlah penduduk sekitar 6 juta jiwa, terdiri dari 80 suku yang dikelompokkan dalam dua kelompok yaitu kelompok Arab dan kelompok Afrika hitam.2 Dua kelompok ini tidak dapat dibedakan jika dilihat dari warna kulit yang sama-sama hitam dikarenakan proses kawin campur antara dua kelompok. Akan tetapi perbedaan akan terlihat dari adat istiadat dan bahasa yang digunakan.3 Penduduk Darfur mayoritas beragama muslim dan terbagi dalam kurang lebih 80 suku yang dikelompokkan secara garis besar menjadi : 1. Kelompok Arab, disebut juga Baggara, terdiri dari suku Rizaigad, Mahariya, Irayqat dan Habaniya. Mereka kebanyakan kaum pendatang pada abad 13, menetap di Darfur Utara dan Darfur Selatan, sebagai peternak/pengembala sapi dan kambing yang berpindah-pindah (nomad)
1

2

3

Sudan, dalam http://www.ciafactbook.com, diakses pada diakses pada 23 Maret 2009 pukul 12.24 WIB. Tim Youngs, Sudan:Conflict in Darfur, http://www.parliament.uk, diakses pada 23 Maret 2009 pukul 09.32 WIB. David Hoile, The Darfur Crisis:Looking Beyond The Propaganda”,http://www.bbc.com, diakses pada 23 Maret 2009 pukul 11.43 WIB.

2

2. Kelompok non Arab, yang disebut Afrika hitam, terdiri dari suku Fur (paling besar), Zaghawa (paling terlatih secara militer) dan Massalit, Tunjur, Bergid dan Berti. Umumnya mereka mendiami Darfur Tengah dan Darfur Barat. Mereka kebanyakan hidup dari bercocok tanam, kecuali suku Zaghawa yang banyak menjadi pengembala unta. Suku Zaghawa terbagi dalam dua kelompok, Zaghawa Tuer, yang lebih condong sebagai pendukung SLM, sedangkan Zaghawa Kube lebih mendukung JEM.4 Hubungan antar etnis Afrika dan Arab ini sering diwarnai konflik, faktor yang menjadi pemicu konflik adalah masalah kepemilikan tanah dan akses ke sumber air dari Jabal Marra. Apabila musim kemarau tiba, etnis Arab Darfur mencari air untuk pakan ternaknya di daerah etnis Afrika Darfur di wilayah barat. Meskipun demikian, konflik yang ada selalu dapat diselesaikan dengan cara damai yaitu melalui pertemuan tradisional yang peraturannya dihormati oleh keduanya.5 Pada fase ini konflik yang ada tidak berdimensi etnik tetapi lebih kepada konflik tradisional. Pada masa pemerintahan Shadiq al Mahdi, etnik Baggara dilatih dan dipersenjatai oleh pemerintah dengan nama milisi Murahiliin untuk menghadapi pemberontak Sudan Selatan (SPLM/A) yang mencoba masuk Dafur. Kerjasama keduanya berlanjut hingga pada kepemimpinan Bashir. Pada 2001, bangsa Fur

,Zaghawa dan Massalit bergabung dan mendapat latihan militer dari Zaghawa yang sebelumnya telah terlatih secara militer dari tentara Sudan dan Chad. Gerakan tersebut mempersenjatai diri dengan senjata yang beli dan diselundupkan dari Chad dan Libya. Adanya kepemilikan senjata oleh etnis Arab dan etnis Afrika ini merupakan salah satu faktor yang menyebabkan konflik semakin berkembang, hingga konflik antar milisi semakin sering dan berskala lebih besar. Etnis Afrika kemudian menamakan dirinya sebagai Front Pembebasan Darfur (DLF) yang kemudian berubah menjadi SLM/A pada Februari 2003 dengan mengedepankan Sudan baru yang pro persatuan,demokrasi,sekularisme dan persamaan derajat sebagai warga negara.6 Konflik di Darfur sudah terjadi bertahun-tahun lamanya. Berawal dari konflik tradisional (perebutan lahan), gerakan kriminal kelompok tertentu dan berkembang menjadi konflik antar etnik (antara etnik Banggara dengan kelompok pemberontak Sudan Selatan). Gerakan tersebut meluas dan menjadi gerakan politik dengan
4 5

6

Abdul Hadi Adnan, Perkembangan Hubungan Internasional di Afrika, hlm. 125 Robert O.Collins, Disaster in Darfur ,http://ias.berkeley.edu/Africa/Courses/lectures/RcollinsDisasterInDarfur.doc, diakses diakses pada 29 Maret 2009 pukul 13.21 WIB. Ibid.

3

munculnya dua kelompok yang menamakan diri sebagai Gerakan Keadilan dan Kesetaraan (Justice and Equality Movement - JEM), serta Gerakan Pembebasan Sudan (Sudaneese Liberation Movement/Army – SLM/A) melawan pemerintah Sudan. Pemberontakan melawan pemerintahan Sudan yang mengistimewakan suku Arab berawal pada tahun 2003, dengan dua kelompok pemberontak lokal, JEM dan SLM/A yang menuduh pemerintah telah melakukan diskriminasi antara kelompok Arab dan non-Arab, serta dianggap mengabaikan kelompok non-Arab. Pemerintah juga dituduh melalaikan Darfur sebagai bagian dari wilayah Sudan. Sebagai respon, pemerintah membentuk operasi tentara bombardir udara sebagai bentuk dukungan serangan darat yang dilakukan pasukan sipil Arab, Janjaweed serta mempersenjatai sebagian milisi untuk memerangi pemberontak, namun pemerintah Sudan membantah bahwa ada keterkaitan langsung dengan kelompok tersebut. Pada awal terjadinya konflik Darfur, pemerintah Sudan menyangkal adanya gerakan separatisme, hal ini dilakukan guna mencegah internasionalisasi konflik etnis Darfur dimana pihak asing akan intervensi dan masuk wilayah Sudan. Salah satu cara yang digunakan oleh pemerintah Sudan adalah dengan mengeksploitasi perbedaan etnik yang ada di Darfur. Pemerintah Sudan pun membalas setiap penyerangan yang dilakukan kelompok pemberontak, dikarenakan pasukan Sudan sebagian besar berasal dari Darfur maka pemerintah membentuk milisi Janjaweed yang berasal dari beberapa etnik Arab nomaden. Mereka melakukan penyerbuan, pembunuhan, pembakaran, perampokan dan pemerkosaan terhadap warga sipil Darfur yaitu etnis non Arab dengan harapan mendapatkan pekerjaan sebagai tentara atau polisi Sudan.7 Dukungan pemerintah terhadap pasukan Janjaweed dianggap sebagai perlakuan tindakan kekerasan HAM, termasuk pembunuhan massal, perampasan, serta pemerkosaan sistematis terhadap etnik non-Arab di Darfur. Kelompok tersebut seringkali melakukan pembakaran terhadap rumah-rumah desa, mengakibatkan penduduk melarikan diri ke kamp-kamp pengungsian di Darfur dan Chad, dan kebanyakan dikepung oleh pasukan Janjaweed. Pada tahun 2004, sebanyak 50-80ribu jiwa terbunuh dan setidaknya satu juta penduduk telah dilarikan dari rumah, yang mengakibatkan krisis kemanusiaan di dalam kawasan8.
7

8

Sumanto Al Qurtuby, Rezim Islamis dan Tragedy Sudan, http://www.islamlib.com,diakses pada 23 Maret 2009 pukul 19.20 WIB. War in Darfur, English Wikipedia. www.english-wikipedia.com, diakses pada 25 Maret 2009.

4

Penyebab Terjadinya Konflik Darfur Akar konflik etnis ini bermuara pada faktor-faktor domestik/internal seperti terjadinya bencana kekeringan berkepanjangan serta terjadi perebutan sumber daya alam diantara suku-suku yang berada di wilayah Sudan, yang menyebabkan adanya konflik lama yang sudah terjadi puluhan tahun diantara suku-suku berkaitan dengan tanah, padang gembalaan dan masalah air. Kemudian, adanya marjinalisasi Darfur oleh pemerintah pusat di Kharthoum dan terjadinya ketidak adilan, serta pengaruh semangat perjuangan yang ‘ditularkan’ oleh konflik antara Sudan People’s Liberation Movement/Army (SPLM/A) dengan pemerintah Sudan di wilayah Sudan bagian selatan, yang menginginkan pemisahan diri dari kesatuan Sudan. Konflik Darfur merupakan konflik etnis, dimana konflik etnis adalah konflik yang terkait dengan permasalahan-permasalahan mendesak mengenai politik,

ekonomi, sosial, budaya, dan teritorial antara dua komunitas etnis atau lebih. (Brown, 1997, hal. 82).9 Dalam hal ini etnis Arab yang telah menguasai pemerintahan Sudan telah berlaku tidak adil dalam ekonomi,politik,sosial dan budaya. Dari sisi perekonomian, pemerintah selalu mengutamakan pembangunan di wilayah Utara saja, pengelolaan yang buruk oleh penguasa sejak masa penjajahan hingga sekarang menyebabkan terjadinya masalah dan perpecahan antara pemilik tanah dan penggarap. Disamping budaya Afrika, pengaruh budaya Arab sangat kental pada keseharian masyarakat Sudan, hal ini dapat kita lihat bahasa Arab sebagai bahasa pengantar di Sudan. Pemerintah juga melakukan perlakukan yang berbeda, dengan selalu mengutamakan etnis Arab sehingga menciptakan kecemburuan sosial dan ketidakpuasannya terhadap pemerintah sehingga melakukan pemberontakan.

9

Michael E. Brown Guibernau dan John Rex (eds), 1997, Causes and Implications of Ethnic Conflict , dalam The Ethnicity Reader. Nationalism, Multiculturalism, and Migration , Great Britain :Polity Press, hal. 80-100.

5

Upaya Perdamaian dan Peran Dunia Internasional Pemimpin Negara-negara Afrika ( Mesir, Nigeria, Chan dan Sudan sendiri) melakukan perudingan di Tripoli, Libya pada 18 Oktober 2004 yang menghasilkan pengakuan pemerintahan Sudan bahwa penyelesaian untuk mengakhiri krisis kemanusiaan di Dafur adalah mengijinkan kawasan itu memiliki negara federal. Dalam negara Federal maka wilayah Darfur akan memiliki Gubernur dan parlemen sendiri. Pada bulan September 2004, pihak Uni Afrika melakukan perundingan dengan Pemerintah Sudan dan Kelompok Pemberontak – JEM dan SLM/A di Nigeria. Namun perundingan tersebut menemukan jalan buntu ketika masing-masing pihak terganjal berbagai perbedaan mengenai keamanan dan perlucutan senjata. Pemerintah menegaskan bahwa pemberontak haru meletakkan senjata dan pada waktu sama milisi pro pemerintah Janjaweed. Namun pemberontak menyatakan Janjaweed bertanggung jawab atas meluasnya kekejaman dan mereka harus dilucuti dulu10. Dalam kaitan masalah Darfur, Dewan Keamanan PBB telah mengeluarkan sejumlah resolusi, yakni : Resolusi 1547 (2004) mengenai pembentukan U.N Advance Mission in Sudan (UNAMIS). Resolusi 1556 (2004), yang memerintahkan pemerintah Sudan menyatakan Sudan harus menghentikan kekejian milisi Arab di kawasan Darfur serta melucuti senjata milisi Janjaweed dalam waktu 30 hari. Resolusi ini juga menuntut agar pemerintah Sudan menghukum orang-orang yang

bertanggungjawab atas kejahatan. Dewan Keamanan PBB menyetujui resolusi untuk menjatuhkan sanksi atas Sudan, jika gagal menghentikan kekerasan di Darfur dalam jangka waktu yang telah ditentukan (30 hari)11. Resolusi ini tidak dipenuhi oleh Sudan, dan menerima sanksi penghentian sementara kegiatan diplomatik dan ekonomi. Resolusi 1585 (2005) yang memperpanjang mandat UNAMIS. Resolusi 1591 (Maret 2005) mengenai sanksi DK PBB dalam wujud larangan bepergian dan pembekuan aset para pejabat Pemerintah dan pihak pemberontak yang diduga terkait dengan pelanggaran HAM di Darfur.

10

11

Perundingan Darfur menemui jalan buntu, BBC-Indonesia 14 September 2004. www.bbcindonesia.com, diakses pada 26 Maret 2009 Sudan menolak resolusi PBB mengenai Darfur, www.bbc-indonesia.com, diakses pada 26 Maret 2009

6

-

Resolusi 1593 (April 2005) yang memberikan sanksi tambahan untuk Sudan, antara lain embargo senjata bagi pemerintah Sudan dan larangan pesawat Pemerintah Sudan melakukan operasi militer dan mengharuskan Pemerintah Sudan untuk melapor pada DK-PBB jika ingin mengirimkan peralatan militer ke wilayah Darfur. Resolusi juga menyangkut pengajuan tersangka pelanggar HAM ke Mahkamah Internasional. Pada bulan Februari sebelumnya, PBB mengirimkan International of Inquiry on Darfur12. Pada bulan Mei 2005, pihak Pemerintah Sudan dan dua kelompok

Pemberontak Darfur SLM/A dan JEM mencapai kesepakatan dengan menandatangani sebuah perjanjian Darfur Peace Agreement (DPA) dengan mediasi Uni Afrika, disertai desakan dari pihak AS dan Inggris di Abuja, Nigeria. Namun perjanjian damai tersebut tidak juga dapat menciptakan perdamaian di negeri Darfur. Pada bulan Juni 2006, Delegasi Dewan Keamanan PBB tiba di Sudan untuk pertama kalinya. Mereka mencoba membujuk Pemerintah Sudan yang selama ini menolak adanya pasukan PBB karena berbagai kekhawatiran, untuk menjelaskan bahwa sebuah operasi penjagaan perdamaian PBB di Darfur tidak sama dengan sebuah invasi, dan bahwa PBB tidak mempunyai niat mengambil alih negara itu. Semenjak perjanjian perdamaian tahun 2005, upaya-upaya internasional meningkat untuk membujuk Pemerintah Sudan mengizinkan PBB mengambil alih tugas penjagaan perdamaian di Darfur dari pasukan Uni Afrika yang berjumlah 7 ribu orang dan mengalami kekurangan dana.13 Dewan Keamanan PBB menyetujui Resolusi Nomor 1769 Pasal 7 Piagam PBB pada Juli 2007. Dengan resolusi itu, DK PBB akan mengerahkan 26 ribu tentara dan polisi ke Darfur untuk memperkuat pasukan Uni Afrika. Sesuai dengan Resolusi, pasukan DK PBB akan bergabung dengan pasukan Uni Afrika (UA) hingga menjadi pasukan penjaga perdamaian baru yang disebut dengan UNAMID. Pasukan gabungan yang baru akan menggantikan tugas dari 7 ribu tentara UA yang selama ini dianggap gagal dalam menangani konflik Darfur karena minim perlengkapan. Resolusi 1769 juga mensyaratkan adanya penerimaan dari Pemerintah Sudan khusus tentang pengerahan Unamid. Untuk itu, Pemerintah Sudan secara formal telah bersedia menerima resolusi. Resolusi tersebut juga mendesak Sudan dan gerilyawan
12 13

Abdul Hadi Adnan, Perkembangan Hubungan Internasional di Afrika, hlm. 127 Sudan, Delegasi DK PBB Tiba untuk Darfur,http://64.203.71.11/kompascetak/0606/07/ln/2709402.htm, diakses pada 25 Maret 2009

7

agar bersedia melakukan gencatan senjata yang permanen dan bergabung ke proses perundingan perdamaian dengan PBB sebagai mediator. Tugas yang juga penting adalah melindungi rakyat dari ancaman serangan14. Resolusi ini memasukan pasal dalam Bab Ketujuh Piagam PBB yang akan memberikan ijin bagi pasukan penjaga perdamaian membela penduduk sipil dan pekerja bantuan dari setiap serangan. Bab Ketujuh juga mengijinkan "tindakan yang diperlukan" oleh tentara mandat PBB dalam upaya menjamin stabilitas. Pengiriman pasukan dirancanakan berjalan pada akhir tahun 2007. Namun dalam

implementasinya, pihak Pemerintah Sudan seakan menghambat pengiriman penuh pasukan hingga 26.000 personel. Sedikitnya personel, dengan peralatan yang juga tidak memadai, mengakibatkan misi penjaga perdamaian rentan menjadi sasaran serangan milisi bersenjata, yang diperkirakan jumlahnya lebih dari 80.000 personel.

14

26.000 Tentara PBB ke Darfur:Komunitas Internasional Desak Pelaksanaan Resolusi, dalam harian Kompas edisi Kamis 02 Agustus 2007, dalam http://64.203.71.11/kompascetak/0708/02/ln/3734024.htm, diakses pada 27 Maret 2009 pukul 12.30 WIB.

8

KESIMPULAN

Hingga saat ini (2003-2008), konflik Darfur telah menewaskan kurang lebih 300 ribu jiwa dan mengakibatkan sekitar 2 juta orang mengungsi. Pihak internasional seperti Uni Afrika dan PBB telah berulang kali mencoba mendamaikan wilayah ini namun selalu gagal. Masing-masing pihak yang berseteru (pihak pemerintah Sudan dan kelompok pemberontak) menyalahkan pihak lawan atas konflik yang berlarutlarut terjadi di Darfur hingga menimbulkan banyak korban. Perdamaian juga sulit tercapai karena meskipun pemerintah Sudan telah mensepakati pengiriman pasukan UNAMID (yang direncanakan berjumlah 26 ribu personil), namun dalam implementasinya pemerintah maupun kondisi Sudan seperti mempersulit pencapaian misi perdamaian tersebut. Dibuktikan dengan ditundanya penyebaran penuh pasukan penjaga perdamaian hingga tahun 2009. Selain itu dalam pelaksanaanya, misi tersebut mengalami banyak kendala mengenai hal-hal kritis untuk beroperasi sampai hal dukungan logistik. Sudan juga mem-veto segala macam kontribusi pasukan dari negara-negara non-Afrika maupun non-muslim. PBB dan Uni Afrika telah mencoba untuk membuka pembicaraan baru antara Sudan kelompok pemberontak, namun hal tersebut diboikot oleh kepala pemberontak yang menginginkan pemulihan keamanan wilayah Darfur terlebih dahulu. Secercah harapan datang ketika Presiden Sudan Omar Hassan al-Bashir mengumumkan gencatan senjata segera di kawasan Darfur dan mengatakan pemerintahannya akan segera melucuti senjata para milisi dan membatasi penggunaan senjata di kalangan militer. Akan tetapi, kelompok pemberontak di kawasan tidak ikut serta dalam perundingan dan tidak menyetujui adanya gencatan senjata. Gencatan senjata di kawasan Darfur diharapkan dapat menjadi titik awal perdamaian di wilayah Darfur. PBB menyambut baik gencatan senjata tersebut meskipun pihak pemberontak menyatakan tidak setuju. Pemerintah Sudan akan terus berusaha dengan cara melakukan kontak dengan pihak pemberontak dalam rangka mempromosikan gencatan senjata. Saat ini masyarakat internasional terus

menempatkan harapan tinggi bahwa pemerintah Sudan dan gerakan pemberontak akan membuat kemajuan nyata ke arah penyelesaian perdamaian bagi konflik yang terjadi di Darfur.

9

Seharusnya dengan melihat apa yang tengah terjadi di Sudan dengan permasalahan yang bernuansa konflik etnis kita dapat menarik sebuah pelajaran penting. Dalam lingkup negara atau daerah, tidak boleh terjadi tatanan etnis atau kepercayaan tertentu dipaksakan pada etnis lain yang punya tatanan berbeda. Cara pemaksaan seperti itu sudah tentu bakal menimbulkan reaksi keras yang berbuntut pada konflik panjang dan berdarah. Entitas mayoritas seharusnya tidak berupaya mendominasi dan selalu ingin berkuasa, dan sebaliknya entitas minoritas juga tidak demikian menggalang massa untuk kemudian menyinggung entitas mayoritas tersebut. Dengan melihat konflik yang terjadi maka upaya penyelesaian terhadap konflik ini harus dapat mengakomodasi segala kepentingan antar etnis yang bertikai, tentunya hal tersebut hanya dapat dilakukan apabila ditunjang dengan kepemerintahan yang baik oleh negara Sudan itu sendiri, dan peran aktif antar organisasi regional (Uni Afrika) dan organisasi Internasional (PBB).

10

LAMPIRAN Gambar 1.15

15

Sudan:Death Toll in Dafrur Bureau of Intelligence and Research,Washington, DC March 25, 2005 ,http://www.state.gov/9/prm/rls/41940.htm, diakses diakses 28 Maret 2009 pukul 19.33 WIB.

11

DAFTAR PUSTAKA
Adnan Abdul Hadi, 2007, Perkembangan Hubungan Internasional di Afrika. Bandung : Angkasa Bandung. Brown Michael E, Guibernau dan John Rex (eds), 1997, Causes and Implications of Ethnic Conflict, dalam The Ethnicity Reader,Nationalism, Multiculturalism, and Migration, , Great Britain:Polity Press. Perundingan Darfur menemui jalan buntu, BBC-Indonesia edisin 14 September 2004, www.bbcindonesia.com, diakses pada 26 Maret 2009. Sudan menolak resolusi PBB mengenai Darfur, dalam http://www.bbc-indonesia.com, diakses pada 26 Maret 2009 Sudan, Delegasi DK PBB Tiba untuk Darfur, dalam http://64.203.71.11/kompascetak/0606/07/ln/2709402.htm, diakses pada 25 Maret 2009 26.000 Tentara PBB ke Darfur:Komunitas Internasional Desak Pelaksanaan Resolusi, dalam harian Kompas edisi Kamis 02 Agustus 2007, dalam http://64.203.71.11/kompascetak/0708/02/ln/3734024.htm, diakses pada 27 Maret 2009 pukul 12.30 WIB. Sudan:Death Toll in Dafrur Bureau of Intelligence and Research,Washington DC edisi 25 Maret 2005 dalam http://www.state.gov/9/prm/rls/41940.htm , diakses 28 Maret 2009 pukul 19.33 WIB. Collins Robert O, Disaster in Darfur, http://ias.berkeley.edu/Africa/Courses/lectures/RcollinsDisasterInDarfur.doc, diakses pada 29 Maret 2009 pukul 13.21 WIB. Sumanto Al Qurtuby, Rezim Islamis dan Tragedy Sudan, dalam http://www.islamlib.com,diakses pada 23 Maret 2009 pukul 19.20 WIB War in Darfur, English Wikipedia. www.english-wikipedia.com. Diakses pada 25 Maret 2009 Sudan, dalam http://www.ciafactbook.com diakses pada 23 Maret 2009 pukul 12.24 WIB Youngs Tim, Sudan:Conflict in Darfur, http://www.parliament.uk, diakses pada 23 Maret 2009 pukul 09.32 WIB. Hoile David, The Darfur Crisis:Looking Beyond The Propaganda, http://www.bbc.com, diakses pada 23 Maret 2009 pukul 11.43 WIB.

12

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->