PEDOMAN TEKNIS

PENYELENGGARAAN FASILITAS PARKIR

DEPARTEMEN PERHUBUNGAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN DARAT

-ii

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN DARAT NOMOR : 272/HK.105/DRJD/96 TENTANG PEDOMAN TEKNIS PENYELENGGARAAN FASILITAS PARKIR DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN DARAT,
Menimbang : a. bahwa dalam Keputusan Menteri Perhubungan Nomor : KM 66 Tahun 1993 tentang Fasilitas Parkir untuk Umum dan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor: KM 4 Tahun 1994 tentang Tata Cara Parkir Kendaraan Bermotor di Jalan telah diatur fasilitas parkir untuk umum dan tata cara parkir di jalan; bahwa ketentuan sebagaimana dimaksud huruf a, perlu diatur lebih lanjut dengan Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Darat. Undang-Undang Nomor: 13 Tahun 1980 tentang Jalan (lembaran negara Tahun 1980 Nomor 83,. tambahan Lembaran Negara Nomor: 3186); Undang-Undang Nomor: 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor: 49, tambahan Lembaran Negara Nomor: 3480); Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 1985 tentang Jalan (Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 37, tambahan Lembaran Negara Nomor : 3293); Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 1993 tentang Prasarana dan Lalu Lintas Jalan (Lembaran Negara Tahun 1993 Nomor 63, tambahan Lembaran Negara Nomor 3529); Keputusan Presiden Nomor : 44 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Organisasi Departemen; Keputusan Presiden Nomor 15 Tahun 1984 tentang Susunan Organisasi Departemen, sebagaimana telah diubah terakhir dengan Keputusan Presiden Nomor : 2 Tahun 1995; Keputusan Menteri Perhubungan Nomor : KM 91/OT 002/Phb-80 dan KM 164/OT 002/Phb-80 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Perhubungan, sebagaimana telah diubah terakhir dengan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 58 Tahun 1991; Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 23 Tahun 1989 tentang Organisasi dan Tata Kerja Inspektorat Jenderal Departemen Perhubungan dan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat; Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 66 Tahun 1993 tentang Fasilitas Parkir untuk Umum; Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 4 Tahun 1994 tentang Tata Cara Parkir Kendaraan Bermotor di Jalan.

b.

Mengingat :

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

iii --

MEMUTUSKAN :

Menetapkan :

Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Darat tentang Pedoman Teknis Penyelenggaraan Fasilitas P arkir.

Pasal 1 (1) Penyelenggaraan fasilitas parkir adalah suatu metode perencanaan dalam menyelenggarakan fasilitas parkir kendaraan, baik di badan jalan maupun di luar badan jalan. Penyelenggaraan fasilitas parkir, sebagaimana dimaksud dalam Ayat (1), dilakukan sesuai dengan pedoman teknis sebagaimana dalam lampiran keputusan ini.

(2)

Pasal 2 Pedoman teknis penyelenggaraan fasilitas parkir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 berlaku bagi setiap penyelenggara fasilitas parkir kendaraan.

Pasal 3 Para Kakanwil dilingkungan Departemen Perhubungan melakukan pengawasan dan memberi bimbingan atas pelaksanaan Keputusan ini.

Pasal 4 Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal di tetapkan

Ditetapkan di Pada tanggal

: J A K A R T A : 8 April 1996 DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN DARAT

ttd

SOEJONO Salinan keputusan ini disampaikan kepada : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Menteri Perhubungan Rebuplik Indonesia; Menteri Dalam Negeri Rebuplik Indonesia; Menteri Pekerjaan Umum Rebuplik Indonesia; Kepala Kepolisian Rebuplik Indonesia; Sekretaris Jenderal Departemen Perhubungan; Inspektur Jenderal Departemen Perhubungan; Gubernur Kepala Daerah Tingkat I di seluruh Indonesia; Sekretaris Direktorat Jenderal Perhubungan Darat; Para Kepala Direktorat dilingkungan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat; Para Kepala Kantor Wilayah Departemen Perhubungan di seluruh Indonesia; Para Kepala Dinas LLAJ Tingkat I dan Tingkat II di seluruh Indonesia.

iv --

LAMPIRAN KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN DARAT NOMOR : 272/HK.105/DRJD/96 TANGGAL : 8 April 1996 PEDOMAN TEKNIS PENYELENGGARAAN FASILITAS PARKIR -v .

Tempat parkir di badan jalan. Kawasan parkir adalah kawasan atau areal yang memanfaatkan badan jalan sebagai fasilitas parkir dan terdapat pengendalian parkir melalui pintu masuk.BAB I KETENTUAN UMUM A. Fasilitas parkir di luar badan jalan (off street parking) adalah fasilitas parkir kendaraan di luar tepi jalan umum yang dibuat khusus atau penunjang kegiatan yang dapat berupa tempat parkir dan/atau gedung parkir. Berhenti adalah keadaan tidak bergerak suatu kendaraan untuk sementara dengan pengemudi tidak meninggalkan kendaraan. menunjang kelancaran arus lalu-lintas. Satuan ruang parkir (SRP) adalah ukuran luas efektif untuk meletakkan kendaraan (mobil penumpang. 7. Jalur gang merupakan jalur antara dua deretan ruang parkir yang berdekatan. 1 -- . 9. yang digunakan untuk pergerakan kendaraan yang masuk dan keluar dari fasilitas parkir. 5. Untuk hal-hal tertentu bila tanpa penjelasan. Parkir adalah keadaan tidak bergerak suatu kendaraan yang tidak bersifat sementara. atau sepeda motor). Jalan adalah tempat jalan yang diperuntukan bagi lalu lintas umum. 2. 2. B. 3. Fasilitas parkir adalah lokasi yang ditentukan sebagai tempat pemberhentian kendaraan yang tidak bersifat sementara untuk melakukan kegiatan pada suatu kurun waktu. bus/truk. SRP adalah SRP untuk mobil penumpang. 6. termasuk ruang bebas dan lebar buka pintu. 8. (on street parking) adalah fasilitas parkir yang menggunakan tepi jalan. 10. memberikan tempat istirahat kendaraan. Tujuan Fasilitas parkir bertujuan 1. Pengertian 1. 4. Jalur sirkulasi adalah tempat.

Penempatan Fasilitas Parkir 1. Pada tepi jalan tanpa pengendalian parkir b.C. 2. Parkir di badan jalan (on street parking ) Parkir di luar badan jalan (off street parking ) D. Parkir di badan jalan (on street parking ) a. 2 -- . Jenis Fasilitas Parkir 1. Fasilitas parkir sebagai fasilitas penunjang adalah tempat yang berupa gedung parkir atau taman parkir yang disediakan untuk menunjang kegiatan pada bangunan utama. b. Pada kawasan parkir dengan pengendalian parkir 2. Parkir di luar badan jalan (off street parking) a. Fasilitas parkir untuk umum adalah tempat yang berupa gedung parkir atau taman parkir untuk umum yang diusahakan sebagai kegiatan tersendiri.

Berdasarkan hasil studi Direktorat Jenderal Perhubungan Darat 1) Kegiatan parkir yang tetap a) Pusat perdagangan Luas Areal Total (100m2) Kebutuhan (SRP) 10 59 20 67 50 88 100 125 500 415 1000 777 1500 1140 2000 1502 b) Pusat perkantoran Jumlah Karyawan Kebutuhan Administrasi (SRP) Pelayanan Umum 1000 235 288 1250 236 289 1500 237 290 1750 238 291 2000 239 291 2500 240 293 3000 242 295 4000 246 298 5000 249 302 c) Pasar swalayan Luas Areal Total (100 m 2) Kebutuhan (SRP) 50 225 75 250 100 270 150 310 200 350 300 440 400 520 500 600 1000 1050 3 -- . Kegiatan parkir yang tetap 1) Pusat pedagangan 2) Pusat perkantoran swasta atau pemerintahan 3) Pusat pedagangan eceran atau pasar swalayan 4) Pasar 5) Sekolah 6) Tempat rekreasi 7) Hotel dan tempat penginapan 8) Rumah sakit b. 2. Penentuan Kebutuhan Parkir 1. Jenis peruntukan kebutuhan parkir sebagai berikut a. Ukuran kebutuhan ruang parkir pada pusat kegiatan ditentukan sebagai berikut. a. Kegiatan parkir yang bersifat sementara 1) Bioskop 2) Tempat pertunjukan 3) Tempat pertandingan olahraga 4) Rumah ibadah.BAB II PEMBANGUNAN A.

250 100 154 300 300 300 150 155 450 450 450 200 156 476 600 600 250 158 477 798 900 350 161 480 799 1050 400 162 481 800 1119 550 165 484 803 1122 550 166 485 804 1124 600 167 487 806 1425 h) Rumah sakit Jumlah Tempat Tidur (buah) Kebutuhan (SRP) 50 97 75 100 100 104 150 111 200 118 300 132 400 146 500 160 1000 230 2) Kegiatan parkir yang bersifat sementara a) Bioskop Jumla h Tempat Duduk (buah) Kebutuhan (SRP) 300 198 400 202 500 206 600 210 700 214 800 218 900 222 1000 227 1000 230 b) Tempat pertandingan olah raga Jumlah Tempat Tidur (buah) Kebutuhan (SRP) 4000 235 5000 290 6000 340 7000 390 8000 440 9000 490 10000 540 15000 790 1000 230 4 -- .200 200 .d) Pasar Luas Areal Total (100m2) Kebutuhan (SRP) 40 160 50 185 75 240 100 300 200 520 300 750 400 970 500 1200 1000 2300 e) Sekolah/perguruan tinggi Jum lah Mahasiswa (Orang) Kebutuhan (SRP) 3000 60 4000 80 5000 100 6000 120 7000 140 8000 160 9000 180 10000 200 1100 0 220 1200 0 240 f) Tempat rekreasi Luas Areal Total (100m2) Kebutuhan (SRP) 50 103 100 109 150 115 200 122 400 146 800 196 1600 295 320 0 494 6400 892 g) Hotel dan tempat penginapan Jumlah Kamar (buah) Tarip < 100 Standart ($) 100 .150 150 .

b. TABEL II. Gambar II.5 3.7 0.5 0.2 0.5 .5 SRP / 100 m2 luas lantai SRP / 100 m2 luas lantai SRP / mahasiswa SRP / kamar SRP / tempat tidur SRP / tempat duduk 1.3.1 - 1.5 . Berdasarkan ukuran ruang parkir yang dibutuhkan yang belum tercakup dalam Butir 2. Dimensi kendaraan standar untuk mobil penumpang. seperti Gambar II.5 . Dimensi Kendaraan Standar untuk Mobil Penumpang h a L d B b c a = jarak gandar b = depan tergantung c = belakang tergantung d = lebar h = tinggi total B = lebar total L = panjang total 5 -- .1 d.a. UKURAN KEBUTUHAN RUANG PARKIR Peruntukan Pusat Perdagangan • Pertokoan • Pasar Swalayan • Pasar Pusat Perkantoran • Pelayanan bukan umum • Pelayanan umum Sekolah Hotel/Tempat Penginapan Rumah Sakit Bioskop Satuan (SRP untuk mobil penumpang) SRP / 100 m2 luas lantai efektif SRP / 100 m2 luas lantai efektif SRP / 100 m2 luas lantai efektif Kebutuhan Ruang Parkir 3. Penentuan Satuan Ruang Parkir (SRP ) Penentuan satuan ruang parkir (SRP) didasarkan atas hal berikut.0 1.0 1.7. 1.2 0.2.4 Sumber : Naasra 1988 B.1.3 0.7.

3. perdadagangan. karakteristik pengguna kendaraan yang memanfaatkan fasilitas parkir dipilih menjadi tiga seperti Tabel II. rumah sakit. pusat hiburan/ rekreasi. hotel. Ruang bebas kendaraan parkir Ruang bebas kendaraan parkir diberikan pada arah lateral dan longitudinal kendaraan. TABEL II.2. lebar bukaan pintu kendaraan karyawan kantor akan berbeda dengan lebar bukaan pintu kendaraan pengunjung pusat kegiatan perbelanjaan. universitas terbuka • Pengunjung tempat olahraga. Ruang bebas arah memanjang diberikan di depan kendaraan untuk menghindari benturan dengan dinding atau kendaraan yang lewat jalur gang (aisle). Ruang bebas ini diberikan agar tidak terjadi benturan antara pintu kendaraan dan kendaraan yang parkir di sampingnya pada saat penumpang turun dari kendaraan.3. 3. LEBAR BUKAAN PINTU KENDARAAN Jenis Bukaan Pintu Pengguna dan/atau Peruntukan Fasilitas Parkir Gol Pintu depan/belakang tahap awal 55 cm. Ruang bebas arah lateral ditetapkan pada saat posisi pintu kendaraan dibuka. pusat perdagangan eceran/swalayan. Jarak bebas arah lateral diambil sebesar 5 cm dan jarak bebas arah longitudinal sebesar 30 cm. terbuka • Karyawan/pekerja kantor • Tamu/pengunjung pusat kegiatan perkantoran. Lebar bukaan pintu kendaraan Ukuran lebar bukaan pintu merupakan fungsi karakteristik pemakai kendaraan yang memanfaatkan fasilitas parkir. pemerintahan. Sebagai contoh. Dalam hal ini. bioskop I Pintu depan/belakang penuh 75 cm II Pintu depan terbuka penuh dan • Orang cacat ditambah untuk pergerakan kursi roda III 6 -- . yang diukur dari ujung terluar pintu ke badan kendaraan parkir yang ada di sampingnya.

4.Berdasarkan Butir 1 dan 2. a2 = jarak bebas arah longitudinal 7 -- . a.00 2.40 x 12.00 3.50 x 5.00 3.00 x 5.4 PENENTUAN SATUAN RUANG PARKIR (SRP) 2 Jenis Kendaraan 1.2 Satuan Ruang Parkir (SRP) untuk Mobil Penumpang (dalam cm) Keterangan : B = lebar total kendaraan O = lebar bukaan pintu L = panjang total kendaraan a1. Mobil penumpang untuk golongan II c. Mobil penumpang untuk golongan I b.30 x 5. penentuan SRP untuk mobil penumpang diklasifikasikan menjadi tiga golongan. penentuan satuan ruang parkir (SRP) dibagi atas tiga jenis kendaraan dan berdasarkan butir 3. Bus/truk 3.50 0.75 x 2.00 Besar satuan ruang parkir untuk tiap jenis kendaraan adalah sebagai berikut. TABEL II. Satuan Ruang Parkir untuk Mobil Penumpang Gambar II. 1. seperti pada Tabel II. Mobil penumpang untuk golongan III 2. Sepeda motor Satuan Ruang Parkir (m ) 2.

3 Satuan Ruang Parkir (SRP) untuk Bus/Truk (dalam cm) 30 30 1200 1200 BS I BUS BS I BUS S R P 1250 1250 20 20 250 250 80 80 10 10 10 340 340 8 -- .R = jarak bebas arah lateral Gol I : B = 170 O = 55 R=5 Gol II : B = 170 O = 75 R=5 Gol III : B = 170 O = 80 R = 50 a1 = 10 L = 470 a2 = 20 a1 = 10 L = 470 a2 = 20 a1 = 10 L = 470 a2 = 20 Bp = 300 = B + O + R Lp = 500 = L + a1 + a2 Bp = 250 = B + O + R Lp = 500 = L + a1 + a2 Bp = 230 = B + O + R Lp = 500 = L + a1 + a2 2. Satuan Ruang Parkir untuk Bus/Truk Gambar II.

6 5.3 2.3.0 6.5 2.3 4.8 4.8 2.5 2.3 3 3 3 3 3 5.0 2. b) volume lalu lintas pada jalan bersangkutan.0 6.9 9. TABEL II.0 3.8 7.5 5.9 3.3 10.4 11. c) karakteristik kecepatan.0 8.3 5.9 10.4 Satuan Ruang Parkir (SRP) untuk Sepeda Motor (dalam cm) 20 20 200 200 S R P 175 1755 55 70 70 70. 70 70 C.0 6. Disain Parkir di Badan Jalan Penentuan Sudut Parkir Sudut parkir yang akan digunakan umumnya ditentukan oleh: a) lebar jalan. d) dimensi kendaraan.3 7.4 8.8 5.5 2.3 13.3 6. Satuan Ruang Parkir untuk Sepeda Motor Gambar II.4 8.4 LEBAR MINIMUM JALAN LOKAL PRIMER SATU ARAH UNTUK PARKIR PADA BADAN JALAN Sudut Parkir (°°n°) Lebar Ruang Parkir A (m) Kriteria Parkir Ruang Ruang Parkir ManuEfektif ver D M (m) (m) D+M (E) D+M-J Satu Lajur Lebar Lebar Jalan Total Efektif Jalan L W (m) (m) Dua Lajur Lebar Lebar Jalan Total EfekJalan tif W L (m) (m) (m) (m) 0 30 45 60 90 2.8 10.4 14.0 6.9 6.9 12.5 2. e) sifat peruntukkan lahan sekitarnya dan peranan jalan yang bersangkutan.3 7.3 Keterangan : J = lebar pengurangan ruang manuver (2.1 5. 1.8 9.7 4.5 meter) 9 -- .

5 2.9 6.9 6.3 7.8 7.7 4. 10 -- .9 11.5 6.4 8.9 3.8 9.3 7.6 LEBAR MINIMUM JALAN KOLEKTOR SATU ARAH UNTUK PARKIR PADA BADAN JALAN Sudut Parkir (°°n°) Lebar Ruang Parkir A (m) Kriteria Parkir Ruang Ruang Parkir ManuEfektif ver D M (m) (m) D+M (E) D+M-J Satu Lajur Lebar Lebar Jalan Total Efektif Jalan L W (m) (m) Dua Lajur Lebar Lebar Jalan Total EfekJalan tif W L (m) (m) (m) (m) 0 30 45 60 90 2.5 LEBAR MINIMUM JALAN LOKAL SEKUNDER SATU ARAH UNTUK PARKIR PADA BADAN JALAN Sudut Parkir (°°n°) Lebar Ruang Parkir A (m) Kriteria Parkir Ruang Ruang Parkir ManuEfektif ver D M (m) (m) D+M (E) D+M-J Satu Lajur Lebar Lebar Jalan Total Efektif Jalan L W (m) (m) Dua Lajur Lebar Lebar Jalan Total EfekJalan tif W L (m) (m) (m) (m) 0 30 45 60 90 2.0 7.1 5.0 3.3 4.3 7.8 11.5 meter).5 3.3 2.8 2.3 8.9 10.3 5.5 2.0 3.4 15.0 7.0 9.8 9.5 5.9 10.5 5.3 Keterangan : J = lebar pengurangan ruang manuver (2.TABEL II.5 2.5 5.0 7.0 7.5 meter).3 3.8 4.5 3.5 2.9 3.8 9.1 5. TABEL II.0 7.5 2.0 5.9 10.3 7.3 2.3 12.8 5.6 5.0 2.5 2.8 5..8 10.4 9.4 8.9 11.8 2.5 2.5 2.4 8.5 2.8 4.3 5.3 7.3 14.3 Keterangan : J = lebar pengurangan ruang manuver (2.0 2.0 5.4 8.4 8.8 5.5 2.5 2.8 9.0 5.5 3.5 3.4 13.0 5.5 2.3 2.6 5.3 4.7 4.9 13.

pada daerah datar Akses Gedung 6 m 0.2 m 6 m 2. Ruang Parkir pada Badan Jalan L M W J D A Garis Kurb Keterangan : A D M J W L = = = = = = lebar ruang parkir (m) ruang parkir efektif (m) ruang manuver (m) lebar pengurangan ruang manuver (m) lebar total jalan lebar jalan efektif 2.3 m (min) E Akhir Persimpangan 6m Pararel Gambar II. Pola Parkir a.Gambar II.6 11 -- .5. Pola parkir paralel 1).

Lebar ruang parkir. ruang parkir efektif. pada daerah tanjakan Untuk Tanjakan Tanpa Kurb Arah Roda Kedepan Kiri Untuk Tanjakan Dengan Kurb Arah Roda Kedepan Kanan Gambar II. dan ruang manuver berlaku untuk jalan kolektor dan lokal 2. Pola parkir menyudut : 1. dan ruang manuver berbeda berdasarkan besar sudut berikut ini. Lebar ruang parkir. 12 -- .8 b. pada daerah turunan Gambar II.7 3).2). ruang parkir efektif.

2 D 5.6 5. Sudut = 30 o 12 m D E 30° A C B 9m Gambar II.3 2.5 3.5 3.3 9.75 E 9.6 3. Sudut = 45o 2.35 D 4.9 A Golongan I Golongan II Golongan III b).5 3.a).45 4.0 6.6 5.70 4.6 7.35 9.75 7.0 E 7.0 C 3.10 A Golongan I Golongan II Golongan III 2.30 5.3 2.85 5.7 4.65 5.5 C 2.5 2.45 13 -- .0 B 4.9 12 m D 45° A C B 9m E Gambar II.0 B 3.

3 2.95 5. Sudut = 60 0 12m 60° D A E C B 9m Gambar II.3 2.95 6.0 C D 5.2 = lebar ruang parkir (M) = lebar kaki ruang parkir (M) = selisih panjang ruang parkir (M) = ruang parkir efektif (M) = ruang manuver (M) = ruang parkir efektif ditambah ruang manuver (M) 14 -- .4 5.6 2.5 3.3 2.5 1.0 d).2 11.0 B 2.4 5.55 10.0 3. Sudut = 90 12 m D 90° B A 9m E Gambar II.0 E 10.5 3.9 3.12 A Golongan I Golongan II Golongan III Keterangan : A B C D M E 2.11 A Golongan I Golongan II Golongan III 0 B 2.55 10.85 D 5.c).5 3.4 E 11.45 1.2 11.7 C 1.

13 f).e). pada daerah turunan Gambar II. pada daerah tanjakan Gambar II.14 15 -- .

Larangan Parkir a.3. Sepanjang 6 meter sebelum dan sesudah tempat penyeberangan pejalan kaki atau tempat penyeberangan sepeda yang telah ditentukan 6m 6m Gambar II. Sepanjang 25 meter sebelum dan sesudah tikungan tajam dengan radius kurang dari 500 m 2.5 m Gambar II. Sepanjang 50 meter sebelum dan sesudah jembatan 50 m 50 m Gambar II.5 m > 500 m 2.17 16 -- .15 b.16 c.

18b 17 -- .2.1.18a d. Sepanjang 100 meter sebelum dan sesudah perlintasan sebidang 100 m 100 m Gambar II.d. Sepanjang 100 meter sebelum dan sesudah perlintasan sebidang 100 m 100 m Gambar II.

Sepanjang tidak menimbulkan kemacetan dan menimbulkan bahaya 18 -- .19 f.20 g. Sepanjang 25 meter sebelum dan sesudah persimpangan 25 m 25 m 25 m 25 m Gambar II. Sepanjang 6 meter sebelum dan sesudah akses bangunan gedung GEDUNG 6m 6m Gambar II.e. Sepanjang 6 meter sebelum dan sesudah keran pemadam kebakaran atau sumber air sejenis 6m 6m Gambar II. 21 h.

o Gambar II.D.22 b) membentuk sudut 30 o. 45 o. a) membentuk sudut 90 Pola parkir ini mempunyai daya tampung lebih banyak jika dibandingkan dengan pola parkir paralel. Kriteria : • Rencana Umum Tata Ruang Daerah (RUTRD) • keselamatan dan kelancaran lalu lintas • kelestarian lingkungan • kemudahan bagi pengguna jasa • tersedianya tata guna lahan • letak antara jalan akses utama dan daerah yang dilayani b. 19 -- . 1. Pola Parkir Mobil Penumpang : 1) parkir kendaraan satu sisi Pola parkir ini diterapkan apabila ketersediaan ruang sempit. Disain Parkir di Luar Badan Jalan Taman Parkir a. tetapi kemudahan dan kenyamanan pengemudi melakukan manuver masuk dan keluar ke ruangan parkir lebih sedikit jika dibandingkan dengan pola parkir 0 dengan sudut yang lebih kecil dari 90 . dan kemudahan dan kenyamanan pengemudi melakukan manuver masuk dan keluar ke ruangan parkir lebih besar jika dibandingkan dengan pola parkir dengan sudut 90 o . 60 o Pola parkir ini mempunyai daya tampung lebih banyak jika dibandingkan dengan pola parkir paralel.

o Gambar II.24 20 -- .23 2) Parkir kendaraan dua sisi Pola parkir ini diterapkan apabila ketersediaan ruang cukup memadai. a) membentuk sudut 90 Pada pola parkir ini.m h L Gambar II. arah gerakan lalu lintas kendaraan dapat satu arah atau dua arah.

45 . 25 3) Pola parkir pulau Pola parkir ini diterapkan apabila ketersediaan ruang cukup luas. a) membentuk sudut 90 0 h W h Gambar II. 60 o o o h B h L Gambar II.b) membentuk sudut 30 .26 21 -- .

b) membentuk sudut 45 0 (1) bentuk tulang ikan tipe A h B W B h Gambar II.27 (2) bentuk tulang ikan tipe B Gambar II.28 22 -- .

posisi sudut 90 lebih menguntungkan. Dari segi efektivitas ruang. 1) Pola Parkir Satu Sisi Gambar II.29 c.(3) bentuk tulang ikan tipe C Gambar II. Pola Parkir Bus / Truk o o Posisi kendaraan dapat dibuat menyudut 60 ataupun 90 . tergantung dari o luas areal parkir.30 23 -- .

33 24 -- . Gambar II.32 2) Pola Parkir Dua Sisi Pola ini diterapkan apabila ketersediaan ruang cukup memadai (lebar ruas > 5. Dari segi efektifitas ruang.2) Pola Parkir Dua Sisi Gambar II. o posisi sudut 90 paling menguntungkan. Gambar II. 1) Pola Parkir Satu Sisi Pola ini diterapkan apabila ketersediaan ruang sempit.31 d.6 m ). Pola Parkir Sepeda Motor o Pada umumnya posisi kendaraan adalah 90 .

Patokan umum yang dipakai adalah : • panjang sebuah jalur gang tidak lebih dari 100 meter. h b W b h Keterangan : h = jarak terjauh antara tepi luar satuan ruang parkir w = lebar terjauh satuan ruang parkir pulau b = lebar jalur gang e. Gang.3) Pola Parkir Pulau Pola ini diterapkan apabila ketersediaan ruang cukup luas.5 meter. • untuk jalan dua arah = 6. Jalur Sirkulasi. • jalur gang yang ini dimaksudkan untuk melayani lebih dari 50 kendaraan dianggap sebagai jalur sirkulasi. dan Modul Perbedaan antara jalur sirkulasi dan jalur gang terutama terletak pada penggunaannya.5 meter. Lebar minimum jalur sirkulasi • untuk jalan satu arah = 3. 25 -- .

50** b.00* 6. 0 * 8.50** 6.6 ** 9.50** 6.00* 3.50** 3.7 LEMBAR JALUR GANG SRP < 30 0 1 arah 2 arah Lebar Jalur Gang (m) < 45 0 < 600 1 arah 2 arah 1 arah 2 arah 5.1** 4. * 6. SRP bus/ truk 3.6 * 1.36 TABEL II.5 ** 6.5 m Keterangan : * = lokasi parkir tanpa fasilitas pejalan kaki ** = lokasi parkir dengan fasilitas pejalan kaki 6. * 6.50** 6.0 m 3.60* 4.1* 5.00 6. SRP mobil pnp 3. SRP sepeda motor 0.0* 6.0 ** 1.5 m x 5.50** 6.50** 3.50** c.35 Panjang Lebar Gang Modul Gambar II.0 ** 8.00* 2.60** 90 % 1 arah 6.00* 2.Lebar Gang Modul Panjang Gambar II. SRP mobil pnp 3.00* 6.5 26 -- .5 ** a.50** 2 arah 8.00* 3.00 6.5 m x 5.50** 6.40 m x 12.0* 6.0 m 3. 0 * 8.75 x 30 m d.

f.1.00 m R2 = 1.50 m R2 = 3.4. Pintu Masuk dan Keluar Terpisah Satu jalur : b = 3. panjang-lebar pintu keluar masuk minimum 15 meter.1.00 m R1 = 3. Jalan Masuk dan Keluar Ukuran lebar pintu keluar-masuk dapat ditentukan.37 27 -- .3. 1).00 .50 .80 .00 .6.00 m R1 = 6.50 m LOKASI PARKIR R1 R2 t1 R2 b d R1 b Gambar II.50 .00 . yaitu lebar 3 meter dan panjangnya harus dapat menampung tiga mobil berurutan dengan jarak antarmobil (spacing) sekitar 1.80 .00 m d = 0.2. Oleh karena itu.5.5 meter.50 m d = 0.00 m Dua jalur: b = 6.

3) Letak jalan keluar ditempatkan sedemikian rupa sehingga memberikan jarak pandang yang cukup saat memasuki arus lalu lintas. yaitu sebuah jalur gang hanya menampung sebuah deretan ruang parkir di salah satu sisinya. yaitu sebagai berikut. Pada kondisi tertentu kadang ditentukan modul parsial. Dengan demikian.38 Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam merencanakan pintu masuk dan keluar adalah sebagai berikut. sebuah taman parkir merupakan susunan modul yang jumlahnya tergantung pada luas tanah yang tersedia dan lokasi jalan masuk ataupun keluarnya. bergantung pada ketersediaan bentuk dan ukuran tempat serta jumlah dan letak pintu masuk dan keluar. g. Kriteria Ta ta Letak Parkir Tata letak areal parkir kendaraan dapat dibuat bervariasi. 4) Secara teoretis dapat dikatakan bahwa lebar jalan masuk dan keluar (dalam pengertian jumlah jalur) sebaiknya ditentukan berdasarkan analisis kapasitas.2) Pintu Masuk d an Keluar Menjadi Satu Lo Bo R1 R1 Lp r2 LOKASI PARKIR R2 R2 d b d Gambar II. Tata letak area parkir dapat digolongkan menjadi dua. Jenis modul itu hendaknya dihindari sedapat mungkin. 1) Letak jalan masuk/keluar ditempatkan sejauh mungkin dari persimpangan 2) Letak jalan masuk/keluar ditempatkan sedemikian rupa sehingga kemungkinan konflik dengan pejalan kaki dan yang lain dapat dihindarkan. 28 -- .

1). a). Pintu masuk dan keluar terpisah dan terletak pada satu ruas jalan.39 (b) Pintu masuk dan keluar terpisah dan tidak terletak pada satu ruas. Posisi Kendaraan Parkir Gambar II.40 29 -- . Gambar II. Tata letak pelataran parkir Tata letak pelataran parkir dapat diklasifikasikan sebagai berikut.

42 30 -- .c) Pintu masuk dan keluar menjadi satu dan terletak pada satu ruas jalan. Gambar II.41 d) Pintu masuk dan keluar yang menjadi satu terletak pada satu ruas berbeda. Gambar II.

Gambar II. 2) memenuhi persyaratan konstruksi dan perundang -undangan yang berlaku 3) tidak menimbulkan pencemaran lingkungan 4) memberikan kemudahan bagi pengguna jasa. dengan jalan keluar dan masuk dari ujung ke ujung.g terlihat kendaraan yang masuk dan parkir pada gang sekaligus sebagai ramp.43g letak jalan keluar dan masuk bersamaan.50 m. b. 4).43a). Namun. Ramp tersebut berbentuk dua arah.43f terlihat bahwa jalan keluar dimanfaatkan sebagai lokasi parkir. serta mempunyai jalan masuk dan jalan keluar yang lebih pendek. Ramp berada pada pintu keluar.43d). kendaraan yang masuk melewati semua ruang parkir sampai menemukan tempat yang dapat dimanfaatkan.43c dan II. Pada Gambar II. bentuk seperti itu tidak disarankan untuk kapasitas parkir lebih dari 500 kendaraan karena akan mengakibatkan alur tempat parkir menjadi panjang. 1). Lantai terpisah Gedung parkir dengan bentuk lantai terpisah dan berlantai banyak deng an ramp yang ke atas digunakan untuk kendaraan yang masuk dan ramp yang tirim digunakan untuk kendaraan yang keluar (Gambar II. Kriteria 1) tersedia tata guna lahan.43d menunjukkan jalan masuk dan keluar tersendiri (terpisah).43b menunjukkan kombinasi antara sirkulasi kedatangan (masuk) dan keberangkatan (keluar). Pada Gambar II.43e memperlihatkan gang satu arah dengan jalan keluar yang lebar. Pada Gambar II. Selanjutnya Gambar II. II. Pengaturan gunting seperti itu memiliki kapasitas dinamik yang rendah karena jarak pandang kendaraan yang datang agak sempit. Tata letak gedung parkir dapat diklasifikasikan sebagai berikut.43h plat lantai horizontal. 3). pada ujung-ujungnya dibentuk menurun ke dalam untuk membentuk sistem ramp. dengan gradien tidak terlalu curam. Jenis lantai ber-ramp biasanya di buat dalam dua bagian dan tidak selalu sesuai dengan lokasi yang tersedia.43e sampai dengan II. Gedung Parkir a.43c dan II.2. Umumnya merupakan jalan satu arah dan dapat disesuaikan dengan ketersediaan lokasi. Ramp dapat berbentuk oval atau persegi. seperti polasi gedung parkir lantai datar.43b. Gambar II. Tinggi minimal ruang bebas lantai gedung parkir adalah 2. Lantai gedung yang berfungsi sebagai ramp Pada Gambar II. 2). 31 -- .43. agar tidak menyulitkan membuka dan menutup pintu kendaraan. Lantai datar dengan jalur landai luar (external ramp) Daerah parkir terbagi dalam beberapa lantai rata (datar) yang dihubungkan dengan ramp (Gambar II.

43 32 -- .Gambar. II.

B. Daerah komersial atau pertokoan. seperti perencanaan. 2. pemberlakuan tarif parkir dapat digolongkan seperti berikut. Daerah dengan derajat pengendalian lalu lintas rendah 2. Daerah dengan frekuensi parkir relatif tinggi (20 kendaraan/SRP/hari) c. untuk besaran tarif tertentu diharapkan dapat mengurangi niat orang untuk menggunakan kendaraan pribadi. Badan jalan tanp a untuk maksud pengendalian parkir b. pengoperasian. parkir dapat tanpa bembayaran atau dengan tarif yang rendah e. Penetapan tarif parkir dilakukan untuk mengendakan lalu-lintas melalui pengurangan pemakaian kendaraan pribadi sehingga mengurangi kemacetan di jalan. aspek teknis-operasional. dan umum . Daerah dengan derajat pengendalian lalu lintas tinggi.. untuk mengendalikan lalu-lintas d. seperti personalia. Berdasarkan jenis fasilitas. yang mengurus hal-hal nonteknis perparkiran. Daerah dengan frekuensi parkir relatif rendah (1. yang mengurus hal-hal teknis perparkiran. Dalam struktur organisasi UPTD. perparkiran mencakupi aspek kegiatan sebagai berikut : 1.5 kendaraan/SRP/hari) c. Badan jalan tanpa untuk maksud pengendalian parkir b. Daerah perumahan. dan pemeliharaan. Perhitungan tarif parkir tidak didasarkan atas perhitungan pengembalian biaya investasi dan operasional. Golongan B a. tarif parkir dapat diberlakukan relatif tinggi. Parkir dengan waktu yang lama d. juga tidak semata -mata untuk memperoleh keuntungan material dan/atau finansial. Melalui penetapan tarif sedemikian rupa. Golongan A a. Pengorganisasian Sesuai dengan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 61 Tahun 1993 tentang Pedoman Organisasi dan Tata Kerja Dinas Lalu-Lintas dan Angkutan Jalan Daerah Tingkat I dan Dinas Lalu-Lintas dan Angkutan Jalan Daerah Tingkat II. 33 -- . Penetapan Tarip Parkir Penetapan tarif parkir adalah salah satu cara pengendalian lalu-lintas.BAB III PENGOPERASIAN A. 1. untuk menyelenggarakan fasilitas parkir dibentuk Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Perparkiran pada Dinas Lalu-Lintas dan Angkutan Jalan Daerah Tingkat II. aspek administratif. keuangan.

c. b. 2. C. 2. Sesuai dengan jenis fasilitasnya. baik dengan petugas maupun dengan pintu otomatis . Pada pintu kelua r. Golongan C a.3. pengemudi memarkirkan kendaraan sesuai dengan tata -cara parkir. Daerah dengan derajat pengendalian lalu lintas tinggi Perbandingan tarif parkir yang wajar antara sepeda motor. menghitung tarif parkir sesuai dengan ketentuan. yang dapat. petugas mencatat nomor kendaraan). b. yang mencantumkan jam masuk (bila diperlukan. 34 -- . dengan mengunci pintu kendaraan dan memasang rem parkir. juru parkir harus menggenakan seragam dan identitas. pada pintu masuk. dapat diberlakukan tarif parkir secara progresif. keamanan kendaraan. Penetapan besar tarif parkir dicantumkan pada peraturan Daerah Tingkat II yang bersangkutan. Fasilitas parkir tanpa pengendalian parkir : a. dalam melakukan parkir. Fasilitas parkir dengan pengendalian parkir (menggunakan pintu masuk/ keluar) : a. Keluar masuk kendaraan yang dikendalikan melalui karcis dengan waktu tercatat. batas parkir yang dinyatakan dengan marka jalan pembatas. juru parkir memberi karcis bukti pembayaran sebelum kendaraan meninggalkan ruang parkir. 1. tata cara parkir adalah sebagai berikut. Kawasan parkir pada fasilitas parkir umum dengan maksud pengendalian parkir b. baik pengemudi maupun juru parkir harus memperhatikan hal-hal berikut: 1. kendaraan penumpang dan kendaraan truk/bus adalah sebagai berikut. mencatat lama parkir. c. dengan dan tanpa juru parkir. Tarif parkir sepeda motor lebih rendah dari pada tarif parkir kendaraan penumpang dan tarif kendaraan penumpang lebih rendah daripada tarif truk/bus. Tata Cara Parkir Dalam melaksanakan parkir. petugas harus memeriksa kebenaran karcis tanda parkir. meningkat sesuai dengan lamanya parkir c. menerima pembayaran parkir dengan menyerahkan karcis bukti pembayaran pada pengemudi. pengemudi harus mendapatkan karcis tanda parkir. juru parkir dapat memandu pengemudi kendaraan.

Marka dan Rambu Jalan Karena berfungsi sebagai pemandu dan penunjuk bagi pengemudi pada saat parkir. Bersamaan dengan pembersihan pelataran parkir. Pada fasilitas parkir di badan jalan. pelapisan (overlay) pada perkerasan pelaratan parkir perlu dilakukan. Pelataran Parkir Untuk menjamin agar pelataran tetap dalam kondisi baik. Untuk memelihara pelataran parkir itu. Rambu jalan harus diganti apabila sudah tidak terlihat jelas tulisannya atau sudah rusak. Secara rutin daun rambu jalan harus dibersihkan agar tidak tertutup oleh kotoran. 2. pemeliharaan dilakukan dengan cara : 1. pengelola parkir wajib menyiapkan fasilitas/peralatan pemeliharaan perkerasan pelataran parkir. Rambu Jalan a. 1. B. Secara berkala marka jalan dicat kembali agar terlihat jelas oleh pengemudi. b. sekurang-kurangnya setiap pagi hari pelataran parkir dibersihkan agar bebas dari sampah dan air yang tergenang. b. Pada fasilitas parkir di luar badan jalan.BAB IV PEMELIHARAAN A. Marka Jalan a. pelataran parkir yang sudah berlubang-lubang atau rusak ditambah atau diperbaiki. marka dan rambu jalan harus dijaga agar tetap dapat terlihat jelas. 3. 2. 2. secara rutin pada saat tertentu. bagian marka jalan harus dibersihkan secara khusus. 35 -- . p enambalan atau pelapisan (overlay) dilakukan sesuai dengan pemeliharaan badan jalan oleh instansi pembina jalan. perlu diketahui hal-hal berikut : 1.

lampu penerangan. pintu keluar dan masuk. 5. 2. DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN DARAT ttd SOEJONO 36 -- . alat pencatat waktu elektronis dan Pintu elektronis pada fasilitas parkir dengan pintu masuk otomatis. 3.C. 4. Fasilitas Penunjang Parkir Fasilitas penunjang parkir yang memerlukan pemeliharaan adalah : 1. pos petugas.