PELAKSANAAN PEMBAGIAN TANAH DAN PEMBERIAN GANTI KERUGIAN

PP No. 224 Tahun 1961, LN. 1961-280, s.d.u.t. dg. PP No. 41 Tahun 1964, LN. 1964-112. Mengingat: a. Pasal 5 ajat (2) Undang-undang Dasar; b. Undang-undang Pokok Agraria (Undang-undang No. 5 tahun 1960; LembaranNegara tahun 1960 No. 104); c. Undang-undang No. 56 Prp. tahun 1960 (Lembaran-Negara tahun 1960 No. 174); d. Undang-undang No. 1 tahun 1958 (Lembaran-Negara tahun 1958 No. 2); e. Undang-undang No. 79 tahun 1958 (Lembaran-Negara tahun 1958 No. 139); f. Undang-undang No. 10 Prp. tahun 1958 (Lembaran-Negara tahun 1960 No. 31). BAB I. TANAH-TANAH JANG AKAN DIBAGIKAN. Pas. 1.Tanah-tanah jang dalam rangka pelaksanaan Landreform akan dibagikan menurut ketentuan-ketentuan dalam Peraturan ini ialah: a. tanah-tanah selebihnja dari batas maksimum sebagai dimaksudkan dalam Undang-undang No. 56 Prp tahun 1960 dan tanah-tanah jang djatuh pada Negara, karena pemiliknja melanggar ketentuan-ketentuan Undang-Undang tersebut; b. tanah-tanah jang diambil oleh Pemerintah, karena pemiliknja bertempat tinggal diluar daerah, sebagai jang dimaksudkan dalam pasal 3 ajat (5); c. tanah-tanah Swapradja dan bekas Swapradja jang telah beralih kepada Negara, sebagai jang dimaksudkan dalam Diktum Keempat huruf A Undangundang Pokok Agraria; d. tanah-tanah lain jang dikuasai langsung oleh Negara, jang akan ditegaskan lebih landjut oleh Menteri Agraria. Pasal 2. (1)Pemilik tanah jang melebihi batas maksimum termaksud dalam Undangundang No. 56 Prp tahun 1960 diberi kesempatan untuk mengadjukan usul kepada Menteri Agraria, mengenai bagian atau bagian-bagian mana dari tanahnja jang ia inginkan tetap mendjadi miliknja. (2)Dengan memperhatikan usul tersebut diatas Menteri Agraria menetapkan bagian atau bagian-bagian mana dari tanah itu jang tetap mendjadi hak pemilik, (selandjutnja disebut: tanah hak-pemilik) dan jang mana langsung dikuasai oteh Pemerintah, untuk selandjutnja dibagi-bagikan menurut ketentuan dalam pasal 8; (3)Menteri Agraria dapat menjerahkan wewenang tersebut pada ajat (1) dan (2) pasal ini kepada Panitya Landreform Daerah Tingkat II. (4)Penguasaan tanah-tanah jang dimaksudkan dalam ajat (2) pasal ini dimulai pada tanggal 24 September 1961. Pasal 3. (1)Pemilik tanah jang bertempat tinggal diluar ketjamatan tempat letak tanahnja, dalam djangka waktu 6 bulan wadjib mengalihkan hak atas tanahnja kepada orang lain diketjamatan tempat letak tanah itu atau pindah keketjamatan letak tanah tersebut. (2)Kewadjiban tersebut pada ajat (1) pasal ini tidak berlaku bagi pemilik tanah jang bertempat tinggal diketjamatan jang berbatasan dengan ketjamatan tempat letak tanah, djika djarak antara tempat tinggal pemilik dan tanahnja masih memungkinkan mengerdjakan tanah itu setjara

maka dalam waktu 1 (satu) tahun terhitung sedjak berachirnja djangka waktu 2 (dua) tahun tersebut diatas ia diwadjibkan untuk memindahkan hak milik atas tanahnja kepada orang lain jang bertempat tinggal di Ketjamatan letak tanah itu. (5)Djika kewadjiban tersebut pada ajat (1) dan (3) pasal ini tidak dipenuhi. maka djika pemilik tanah berpindah tempat atau meninggalkan tempat kediamannja keluar ketjamatan tempat letak tanah itu selama 2 tahun berturut-turut. maka tanah jang bersangkutan diambil oleh Pemerintah. maka dalam waktu 1 (satu) tahun terhitung sedjak pewaris meninggal diwadjibkan untuk memindahkannja kepada orang lain jang bertempat tinggal di Ketjamatan dimana tanah itu terletak atau pindah ke Ketjamatan letak . maka dalam waktu 2 (dua) tahun terhitung sedjak ia meninggalkan tempat kediamannja itu diwadjibkan untuk memindahkan hak milik atas tanahnja kepada orang lain jang bertempat tinggal di Ketjamatan letak tanah itu. sedang ia tidak melaporkan kepada pedjabat setempat jang berwenang. jang sedang mendjalankan tugas Negara. atau mempunjai alasan chusus lainnja jang dapat diterima oleh Menteri Agraria. (s. jang sedang mendjalankan tugas Negara. Pasal 3a.t. 56 Prp tahun 1960. (1)Djika seseorang memiliki hak atas tanah pertanian diluar Ketjamatan dimana ia bertempat tinggal. menurut pertimbangan Panitya Landreform Daerah Tingkat II. dg. (1)Pegawai Negeri dan Anggota Angkatan Bersendjata serta orang lain jang dipersamakan dengan mereka. jang telah berhenti dalam mendjalankan tugas Negara dan jang mempunjai hak milik atas tanah pertanian diluar Ketjamatan tempat tinggalnja dalam waktu 1 (satu) tahun terhitung sedjak ia mengachiri tugasnja tersebut diwadjibkan pindah ke Ketjamatan letak tanah itu atau memindahkan hak milik atas tanahnja kepada orang lain jang bertempat tinggal di Ketjamatan dimana tanah itu terletak. jang mempunjai tanah diketjamatan tempat tinggalnja atau diketjamatan sebagai jang dimaksudkan dalam ajat (2) pasal ini. jang diperolehnja dari warisan. Pasal 3c. sedang la melaporkan kepada pedjabat setempat jang berwenang. Bagi pegawai-pegawai negeri dan pedjabat-pedjabat militer serta jang dipersamakan dengan mereka. 1964-112) (1) Pemilik tanah pertanian jang berpindah tempat atau meninggalkan tempat kediamannja keluar Ketjamatan tempat letak tanah itu selama 2 (dua) tahun berturut-turut. (6)Kepada bekas pemilik tanah jang dimaksud dalam ajat (5) pasal ini diberi ganti kerugian menurut ketentuan Peraturan ini. (2)Dalam hal-hal tertentu jang dapat dianggap mempunjai alasan jang wadjar. Pasal 3b. (2)Djika pemilik tanah jang dimaksudkan pada ajat (1) pasal ini berpindah tempat atau meninggalkan tempat kediamannja keluar Ketjamatan tempat letak lanah itu. (3)Dengan tidak mengurangi ketentuan tersebut pada ajat (2) pasal ini. ia wadjib memindahkan hak milik atas tanahnja kepada orang lain jang bertempat tinggal diketjamatan itu. menunaikan kewadjiban agama. untuk kemudian dibagi-bagikan menurut ketentuan Peraturan ini. PP 41/1964. perketjualian tersebut pada ajat ini terbatas pada pemilikan tanah pertanian sampai seluas 2/5 dari luas maksimum jang ditentukan untuk daerah jang bersangkutan menurut Undang-undang No.effisien. LN. djangka waktu tersebut dalam ajat (1) diatas dapat diperpandjang oleh Menteri Agraria. (4)Ketentuan dalam ajat (1) dan (3) pasal ini tidak berlaku bagi mereka.d.

b. Pasal 4. Pasal 3e. Pasal 6. Pasal 5. untuk 5 hektar jang pertama: tiap hektarnja 10 kali hasil-bersih setahun. (1)Tanah Swapradja dan bekas Swapradja jang dengan ketentuan Diktum IV huruf A Undang-undang Pokok Agraria beralih kepada Negara. c. jang besarnja ditetapkan oleh Panitya Landreform Daerah Tingkat II jang bersangkutan. ditetapkan menurut keperluannja oleh Menteri Agraria. (2)Jang dimaksudkan dengan "hasil-bersih" adalah seperdua hasil-kotor bagi tanaman padi atau sepertiga hasil-kotor bagi tanaman palawidja. jang ditetapkan tiap hektarnja menurut golongan kelas tanahnja. dengan memperhatikan ketentuan-ketentuan dalam Peraturan ini. Pasal 3d. dengan ketentuan bahwa djika harga tanah menurut perhitungan tersebut diatas itu lebih tinggi dari pada harga-umum. diatur oleh Menteri Agraria. (2)Dalam hal-hal tertentu jang dapat dianggap mempunjai alasan jang wadjar djangka waktu tersebut dalam ajat (1) diatas dapat diperpandjang oleh Menteri Agraria. Pembagian tanah-tanah lainnja jang dikuasai langsung oleh Negara menurut ketentuan dalam pasal 1 huruf d. sebagian untuk kepentingan Pemerintah sebagian untuk mereka jang langsung dirugikan karena dihapuskannja hak Swapradja atas tanah itu sebagian untuk dibagikan kepada rakjat jang membutuhkan. untuk 5 hektar jang kedua. Dilarang untuk melakukan semua bentuk memindahkan hak baru atas tanah pertanian jang mengakibatkan pemilik tanah jang bersangkutan memiliki bidang tanah diluar Ketjamatan dimana ia bertempat tinggal. Tidak dipenuhinya ketentuan-ketentuan tersebut dalam pasal-pasal 3a. letak dan luasnja ditetapkan oleh Menteri Agraria. menurut ketentuan-ketentuan dalam Peraturan ini.tanah itu. 3b. diberi peruntukan. 224 tahun 1961 (Lembaran-Negara tahun 1961 No. sebagai jang dimaksudkan dalam ajat (1) pasal ini. atas dasar perhitungan perkalian hasil bersih rata-rata selama 5 tahun terachir. 280). diberikan gantikerugian. (2)Tanah untuk kepentingan Pemerintah. PEMBERIAN GANTI-KERUGIAN KEPADA BEKAS PEMILIK. setelah mendengar Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah. dengan menggunakan degresivitet sebagai tertera dibawah ini: a. (3)Tanah jang diperuntukkan bagi mereka jang langsung dirugikan. (1)Kepada bekas pemilik dari tanah-tanah jang berdasarkan pasal 1 Peraturan ini diambil oleh Pemerintah untuk dibagi-bagikan kepada jang berhak atau dipergunakan oleh Pemerintah sendiri. maka harga-umumlah jang dipakai untuk penetapan ganti-kerugian tersebut. 3c dan 3d mengakibatkan baik tanah maupun pemilik tanah yang bersangkutan dikenakan ketentuan-ketentuan tersebut dalam pasal 3 ajat (5) dan (6) Peraturan Pemerintah No. BAB II. . sebagai jang dimaksudkan dalam ajat (1) pasal ini. untuk selebihnja: tiap hektarnja 7 kali hasil-bersih setahun. ketiga dan keempat: tiap hektarnja 9 kali hasil bersih setahun.

(5)Tiap-tiap tahun. g. Penggarap jang tanah garapannja kurang dari 0. b.) Surat-surat Landreform tersebut pada ajat (1) pasal ini diberi bunga 5% setahun. Keputusan Panitya tersebut mengikat. guna pembangunan usaha industri sesuai dengan rentjana pembangunan industri. petani djanda pedjuang kemerdekaan jang gugur. Penggarap jang belum sampai 3 tahun mengerdjakan tanah jang bersangkutan. Penggarap jang mengerdjakan tanah hak-pemilik. h. d dan c dibagi-bagikan dengan hak milik kepada para petani oleh Panitya Landreform Daerah Tingkat II jang bersangkutan. Pasal 8.. Pasal 7. Tani dan Nelajan. BAB III. (1)Ganti-kerugian tersebut pada pasal 6 diberikan sedjumlah 10% dalam bentuk uang simpanan di Bank Koperasi. (2)Uang simpanan tersebut dapat mulai diambil oleh jang berhak sewaktuwaktu sedjak satu tahun setelah tanah jang bersangkutan dibagikan kepada rakjat menurut pasal 8. petani jang mempunjai ikatan keluarga sedjauh tidak lebih dari dua deradjat dengan bekas pemilik. dibuka kesempatan untuk menukar surat-hutang-landreform itu sebesar sebagian dari djumlah nilai surat-hutang-landreform tersebut. Pekerdja tetap pada bekas pemilik tanah bersangkutan.5 hektar. untuk ditukarkan dengan barang-barang modal dari Pemerintah. maka kepadanja diberikan djuga bunga 5% setahun itu. dengan ketentuan sebanjak-banjaknja 5 orang. (1)Dengan mengingat pasal 9 sampai dengan 12 dan pasal 14. 25.d. petani jang terdaftar sebagai Veteran. (4)(s. c. 41/1964 LN. Pemilik jang luas tanahnja kurang dari 0. Buruh tani tetap pada bekas pemilik. (3)Surat-surat hutang landreform.000. (2)Djika didalam tiap-tiap prioritet tersebut dalam ajat (1) pasal ini terdapat: a. dalam djumlah nilai jang sesuai. maka tanahtanah jang dimaksudkan dalam pasal 1 huruf a. . menurut prioritet sebagai berikut: a. 1964. Penggarap tanah-tanah jang oleh Pemerintah diberi peruntukan lain berdasarkan pasal 4 ajat (2) dan (3).(3)Djika bekas pemilik tanah tidak menjetudjui besarnja ganti-kerugian sebagai jang ditetapkan oleh Panitya Landreform Daerah Tingkat II. dimulai 2 tahun sesudah tahun surat-hutang-landreform dikeluarkan.u. jang akan dilunasi dalam waktu 12 tahun.5 hektar. memberi kesempatan bagi pemegangnja atau pemegang-pemegangnja setjara bersama sama. PEMBAGIAN TANAH DAN SJARAT-SJARATNJA. dg. (4)Keputusan Panitya Daerah Tlngkat I tidak boleh bertentangan dengan dasar perhitungan termaktub dalam ajat (1) pasal ini. jang mengerdjakan tanah jang bersangkutan. 23 Nop. f. Penggarap jang mengerdjakan tanah jang bersangkutan. e. i.maka Menteri Agraria dapat menetapkan pembajarannja dengan menjimpang dari ketentuan-ketentuan dalam ajat-ajat diatas. PP No. selama pemilik belum dapat mengambil uangnja tersebut pada ajat (2) pasal ini. b. 1964-112 mb. (6)Djika djumlah ganti-kerugian termaksud dalam pasal 6 tidak melebihi Rp. sedang sisanja berupa surat hutang landreform. d. maka ia dapat minta banding kepada Panitya Landreform Daerah Tingkat I dalam tempo 3 bulan sedjak tanggal penetapan ganti-kerugian tersebut. c. Petani atau buruh tani lainnja.

c dan d serta luas 0. baik jang mempunjai manpun tidak mempunjai tanah sendiri. Sjarat-sjarat chusus: bagi petani jang tergolong dalam prioritet a. maka batas luas 1 hektar seperti tersebut pada huruf a. (4)Jang dimaksudkan dengan "penggarap". tidak mendapat pembagian. mendapat pembagian tanah untuk mentjapai luas 0. (1)Didaerah-daerah jang padat sebagai jang dimaksudkan dalam Undang-undang No. h dan i pasal 8 ajat (1). b dan c tersebut diatas. Penggarap jang sudah memiliki sendiri seluas kurang dari 1 hektar. bagi petani jang tergolong dalam prioritet d: telah mengerdjakan tanahnja 2 musim berturut-turut. c. d. (6)Jang dimaksudkan dengan "pekerdja tetap". dengan mengingat luas tanah jang tersedia untuk dibagi-bagikan dan djumlah petani jang memerlukannja. f dan g: telah mengerdjakan tanah jang bersangkutan sekurang-kurangnja 3 tahun berturut-turut. Pasal 9. b. Penggarap jang sudah memiliki tanah sendiri seluas 1 hektar atau lebih. Untuk mendapat pembagian tanah. maka para petani jang dimaksudkan dalam pasal 8 harus memenuhi: a. dengan memikul seluruh atau sebagian dari risiko produksinja.5 hektar. Pasal 10. b. penetapan luasnja dilakukan dengan memakai ukuran sebagai berikut: a. jang setjara sah mengerdjakan atau mengusahakan sendiri setjara aktif tanah jang bukan miliknja. b. . 56 Prp tahun 1960. mendapat pembagian tanah seluas sebagai ditetapkan dalam huruf a. e. mendapat pembagian setuas tanah jang dikerdjakan. adalah orang jang bekerdja pada bekas pemilik tanah setjara terus-menerus. g. (5)Jang dimaksudkan dengari "buruh tani tetap". c. Penggarap jang tidak memiliki tanah sendiri. d. jang mata pentjaharian pokoknja adalah mengusahakan tanah untuk pertanian. (2)Didaerah-daerah jang tidak padat sebagai jang dimaksudkan dalam Undangundang No. e dan pasal 8 ajat (1). mendapat pembagian seluas tanah jang dikerdjakan. maka kepada mereka itu diberikan pengutamaan diatas petani-petani lain. tetapi tanah jang dibagikan kepadanja itu tidak boleh melebihi 1 hektar. Sjarat-sjarat umum: warga-negara Indonesia. petani jang mendjadi korban kekatjauan.d. Pasal 11. adalah petani. jang ada didalam golongan prioritet jang sama. b. Petani jang tergolong dalam prioritet c. (3)Jang dimaksudkan dengan "petani". bagi para pekerdja tetap jang tergolong dalam prioritet c: telah bekerdja pada bekas pemilik selama 3 tahun berturut-turut. 56 Prp tahun 1960 maka didalam melaksanakan pembagian tanah menurut pasal 8. adalah petani yang mengerdjakan atau mengusahakan setjara terus-menerus tanah orang lain dengan mendapat upah.5 hektar seperti tersebut pada huruf e ajat (1) pasal ini dapat diperbesar oleh Panitya Landreform Daerah Tingkat II jang bersangkutan. Petani jang tergolong dalam prioritet b. ialah orang. tetapi djumlah tanah milik dan tanah jang dibagikan kepadanja itu tidak boleh melebihi 1 hektar. bertempat tinggal di Ketjamatan tempat letak tanah jang bersangkutan dan kuat kerdja dalam pertanian.

setiap tahunnja harus ditjapai kenaikan hasil tanaman sebanjak jang ditetapkan oleh Dinas Pertanian Rakjat Daerah. (4)Selama harga tanah jang dimaksud dalam huruf a diatas belum dibajar lunas. (3)Pemberian hak milik tersebut pada ajat (2) pasal ini dilakukan dengan surat-keputusan Menteri Agraria atau pedjabat jang ditundjuk olehnja dan disertai dengan kewadjiban-kewadjiban sebagai berikut: a. Pasal 13. Pentjabutan izin mengerdjakan tanah dilakukan oleh Panitya Landreform Daerah Tingkat II. (1)Pembagian tanah-tanah jang sudah ditanami dengan tanaman-tanaman keras dan tanah-tanah jang untuk tambak dapat dilaksanakan dengan tidak mengubah kesatuan-kesatuan dari pengusahaan-pengusahaan tanah jang bersangkutan. (2)Para petani jang mengerdjakan tanah tersebut pada ajat (1) pasal ini diberi hak atas tanah jang dikerdjakannja itu. harus mendjadi anggota koperasi termaksud dalam pasal 17. (2)Tanah-tanah untuk penggembalaan bagi perusahaan ternak diberikan dengan hak guna-usaha atas sebidang tanah tertentu. Pasal 12. PEMBERIAN HAK MILIK DAN SJARAT-SJARATNJA. ketjuali dengan izin Menteri Agraria atau pedjabat jang ditundjuk olehnja. (5)Kelalaian didalam memenuhi kewadjiban tersebut pada ajat (1) atau ajat (3) pasal ini serta pelanggaran terhadap larangan tersebut pada ajat (4) dapat didjadikan alasan untuk mentjabut izin mengerdjakan tanah jang bersangkutan atau hak miliknja. BAB IV. (1)Sebelum dilaksanakan pemberian hak milik setjara definitip menurut ketentuan priority tersebut pada pasal 8 ajat (1). (1)Tanah-tanah untuk penggembalaan umum bagi ternak rakjat disediakan oleh Pemerintah menurut kebutuhannja. Pentjabutan hak milik itu dilakukan dengan surat keputusan Menteri Agraria atau pedjabat jang ditundjuk olehnja. diberi izin untuk mengerdjakan tanah jang bersangkutan untuk paling lama dua tahun. dengan kewadjiban membajar sewa kepada Pemerintah sebesar 1/3 (sepertiga) dari hasil panen atau uang jang senilai dengan itu. maka hak milik tersebut dilarang untuk dipindahkan kepada orang lain. b dan c.Didalam menetapkan bagian atau bagian-bagian tanah jang mendjadi hak bekas pemilik sebagai dimaksudkan dalam pasal 2 ajat (2) dan pembagian tanah kepada para petarti tersebut pada pasal 8 harus diusahakan supaja tanah-tanah jang akan dimiliki oleh mereka masing-masing merupakan kesatuan-kesatuan jang ekonomis. tanpa pemberian sesuatu gantikerugian. membajar harga tanah jang bersangkutan menurut ketentuan dalam pasal 15. setelah 2 tahun sedjak tanah tersebut diberikan dengan hak milik. b. . c. tanah itu harus dikerdjakan/diusahakan oleh pemilik sendiri setjara aktip. d. maka para petani jang mengerdjakan tanah-tanah jang disebut dalam pasal 1 huruf a. (2)Pelaksanaan pembagian tanah-tanah tersebut pada ajat (1) pasal ini diatur lebih landjut oleh Menteri Agraria. apabila memenuhi sjaratsjarat prioritet sebagai jang dimaksudkan dalam pasal 8 dan 9 serta memenuhi pula kewadjiban membajar sewa tersebut diatas. Pasal 14. dengan sjarat-sjarat jang akan ditetapkan lebih landjut oleh Menteri Agraria.

PP No. (1)Ditiap-tiap desa atau daerah jang setingkat dengan itu dimana belum ada koperasi-pertanian dibentuk koperasi-pertanian antara buruh-buruh tani. menurut klasifikasi tanahnja.BAB V. KOPERASI PERTANIAN. dg. Koperasi dan Pembangunan Masjarakat Desa. .d. (5)Djika pembajaran harga-tanah tersebut diatas dilakukan dengan angsuran. lain-lain sumber jang sjah. pemilik-pemilik alat pertanian dan pemilik-pemilik tanah pertanian. (2)Sumber-sumber keuangan Dana Landreform tersebut pada ajat (1) pasal ini berasal dari: a. Pemerintah. c. PP NO. (3)Anggota jang mendapat tugas tetap dalam mendjalankan koperasi-pertanian ini dianggap sudah memenuhi kewadjiban jang dimaksudkan dalam pasal 14 ajat (3) huruf b.) Harga tanah tersebut pada ajat (1) pasal ini tiap hektarnja adalah sama dengan rata-rata djumlah ganti-kerugian sehektar jang diberikan kepada bekas pemilik. Tani dan Nelajan dan dimana perlu dapat djuga ditundjuk badan-badan lain. DANA LANDREFORM. jang berkedudukan sebagai badan hukum jang otonom. LN. Hasil sewa dan pendjualan tanah-tanah dalam rangka pelaksanaan Landreform. BAB VII. Pasal 16. sebagai jang dimaksudkan dalam pasal 6 didaerah tingkat II jang bersangkutan. (2)Mereka jang mendapat pembagian tanah menurut ketentuan Peraturan ini diwadjibkan mendjadi anggota koperasi pertanian tersebut. PENETAPAN HARGA TANAH BAGI PEMILIK BARU DAN TJARA PEMBAJARANNJA. (1)Untuk memperlantjar pembiajaan landreform dan mempermudah pemberian fasilitet-fasilitet kredit kepada para petani. jang bersangkutan diharuskan membajar pula bunga sebesar 3% setahun. 23 Nop. 1964) Pungutan 6% ongkos administrasi dari harga tanah jang harus dibajar oleh petani tersebut pada pasal 15 ajat (2). 1964-112 mb. 1964. oleh Menteri Agraria dibentuk Jajasan Dana Landrefortn. (1)Harga tanah jang dimaksudkan dalam pasal 14 ajat (1) huruf a ditetapkan oleh Panitya Landreform Daerah Tingkat II jang bersangkutan dan dinjatakan didalam surat keputusan pemberian hak miliknja. maka selain harga jang ditentukan menurut ajat (2) pasal ini. terutama jang mempunjai tanah 2 hektar atau kurang. (2)(s.d. (4)Untuk menerima pembajaran harga tanah tersebut pada ajat (3) pasal ini ditundjuk Bank Koperasi. 23 Nop. (4)Pelaksanaan ketentuan-ketentuan pasal ini diatur lebih landjut oleh Menteri Agraria bersama-Menteri Transmigrasi. LN. (3)Uang Dana Landreform disimpan dalam Bank Koperasi. Pasal 17. d. b.u. 41/1964.u.41/1964. ditambah 6% biaja administrasi. Tani dan Nelajan atau Bank-bank lain jang ditundjuk oleh Menteri Agraria. (3)Harga tanah tersebut pada ajat (2) pasal ini dibajarkan kepada Pemerintah dengan tunai atau dengan angsuran dalam waktu 15 tahun sedjak hak miliknja diberikan. dg. Pasal 15. (s.1964-112 mb. BAB VI.

(1)Pemilik tanah jang menolak atau dengan sengadja menghalang-halangi pengambilan tanah oleh Pemerintah dan pembagiannja.Pasal 18. BAB IX. sebagai jang dimaksudkan dalam pasal 2 ajat (2). Ditetapkan di Djakarta pada tanggal 19 September 1961.000. Pasal 19. Pemberian kredit kepada para petani oleh Bank Koperasi. (2)Barangsiapa dengan sengadja menghalang-halangi terlaksananja Peraturan Pemerintah ini dipidana dengan hukuman kurungan selama-lamanja 3 bulan dan/atau denda sebanjak-banjaknja Rp. Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal 24 September 1961. Tani dan Nelajan sedjauh mungkin diselenggarakan melalui koperasi-koperasi pertanian tersebut pada pasal 17.PENUTUP Pasal 20. sedang tanahnja diambil oteh Pemerintah tanpa pemberian ganti-kerugian. KETENTUAN PIDANA. (3)Tindak pidana jang dimaksudkan dalam ajat (1) dan (2) pasal ini adalah pelanggaran.-.000.-. BAB VIII. 10. . Pasal 21. 10. dipidana dengan hukuman kurungan selama-lamanja 3 bulan dan/atau denda sebanjak-banjaknja Rp. Pelaksanaan ketentuan-ketentuan Peraturan ini diatur lebih landjut oleh Menteri Agraria.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful