P. 1
Budidya tanaman secara Vertikultur

Budidya tanaman secara Vertikultur

|Views: 1,658|Likes:

More info:

Published by: Amri Putra Sembiring Meliala on Mar 31, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/04/2013

pdf

text

original

VERTIKULTUR

PAPER Oleh : AMRI PUTRA SEMBIRING 080307019 BUDIDAYA PERTANIAN-PEMULIAAN TANAMAN

DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2010

2

PENDAHULUAN

Latar Belakang Dengan keterbatasan lahan di perkotaan selalu menjadi penghambat bagi kita untuk bercocok tanam di lingkungan tempat tinggal kita. Dengan adanya vertikultur diharapkan hambatan untuk bercocok tanam di perkotaan itu bisa diatasi dan kita bisa tetap menyalurkan hobi dan keinginan kita bercocok tanam dengan lahan yang terbatas (http://graceporun.blogspot.com., 2008) Untuk memulai budidaya tanaman secara vertikultur sebenarnya tidak perlu direpotkan dengan peralatan dan bahan yang akan menghabiskan biaya yang besar, yang penting wadah yang dipakai dapat menyediakan ruang tumbuh yang baik bagi tanaman. Namun terkadang kita ingin hasilnya nanti tidak hanya berupa panen tapi juga keindahan tanaman yang ditanam secara vertikultur dan struktur

bangunan/wadah tanam tahan lama (http://jateng.litbang.deptan.go.id., 2010). Bercocok tanam secara vertikultur sebenarnya tidak berbeda dengan bercocok tanam di kebun maupun di ladang. Mungkin sekilas bercocok tanam secara vertikultur terlihat rumit, tetapi sebenarnya sangat sederhana. Tingkat kesulitannya tergantung dari model yang digunakan. Model yang sederhana, mudah diikuti dan dipraktekan. Bahkan bahan-bahan yang digunakan mudah ditemukan, sehingga dapat diterapkan oleh ibu-ibu rumah tangga (http://jakarta.litbang.deptan.go.id., 2010). Tujuan Penulisan Untuk mengetahui tentang pengertian, media tanam, wadah dan tempat tanam , alasan penerapan vertikultur.

3

Kegunaan Penulisan Sebagai tugas mata kuliah Teknologi Budidaya Tanaman Hortikultura Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan. Sebagai bahan informasi bagi pihak yang memerlukan.

4

TINJAUAN PUSTAKA

Pengertian Vertikultur Vertikultur diambil dari istilah verticulture dalam bahasa lnggris (vertical dan culture) artinya sistem budidaya pertanian yang dilakukan secara vertikal atau bertingkat. Cara bercocok tanam secara vertikultur ini sebenarnya sama saja dengan bercocok tanam di kebun atau di sawah. Perbedaannya terletak pada lahan yang digunakan. Misalnya, lahan 1 meter mungkin hanya bisa untuk menanam 5 batang tanaman. Dengan sistem vertikal bisa untuk 20 batang tanaman

(http://graceporun.blogspot.com., 2008) Vertikultur adalah sistem tanam di dalam pot yang disusun/dirakit horisontal dan vertikal atau bertingkat. Cara tanam ini sesuai diusahakan pada lahan terbatas atau halaman rumah. Jenis tanaman adalah tanaman hias atau sayuran (Lakitan, 1995). Vertikultur dapat diartikan sebagai teknik budidaya tanaman secara vertikal sehingga penanaman dilakukan secara bertingkat. Teknik budidaya ini tidak memerlukan lahan yang luas, bahkan dapat dilakukan pada rumah yang tidak memiliki halaman sekalipun. Pemanfaatan teknik vertikultur ini memungkinkan untuk berkebun dengan memanfaatkan tempat secara efisien. Secara estetika, taman vertikultur berguna sebagai penutup pemandangan yang tidak menyenangkan atau sebagai latar belakang yang menyuguhkan pemandangan yang indah dengan berbagai warna. Dalam perkembangan selanjutnya, teknik vertikultur juga dimanfaatkan untuk bercocok tanam di pekarangan yang sempit bahkan tidak memiliki pekarangan sedikit pun (http://jateng.litbang.deptan.go.id., 2010).

5

Alasan Penerapan Vertikultur Alasan dilakukannya sistem pertanian vertikultur: (1) Efisiensi dalam penggunaan lahan. (2) Penghematan pemakaian pupuk dan pestisida. (3) Dapat dipindahkan dengan mudah karena tanaman diletakkan dalam wadah tertentu. (4) Mudah dalam hal monitoring/pemeliharaan tanaman. (http://www.lintasberita.com., 2010) Beberapa alasan penerapan vertikultur, yaitu :Memanfaatkan lahan sempit yang tidak produktif menjadi lahan sempit yang produktif dengan aplikasi vertikultur, menghemat pengeluaran dengan cara memiliki tanaman sayuran sendiri, menambah nilai estetika lahan pekarangan (http://graceporun.blogspot.com., 2008) Jenis dan Tanaman Yang Sesuai Vertikultur Tanaman yang sesuai pada sistem vertikultur adalah : Jenis sayuran dan Buah, seperti Sawi Kangkung Bayam Wortel Buncis Anggur Dan lain-lain

6 Jenis Tanaman Hias, Anggrek Keladi hias Mawar Melati Dan lain-lain

(http://jateng.litbang.deptan.go.id., 2010) Pembibitan Tanaman Vertikultur Seperti halnya menanam, menyemaikan benih juga memerlukan wadah dan media tanam. Wadah bisa apa saja sepanjang dapat diisi media tanam seperlunya dan memiliki lubang di bagian bawah untuk mengeluarkan kelebihan air. Adapun untuk media tanamnya adalah media tanam dari produk jadi yang bersifat organik dan anorganik (http://www.lintasberita.com., 2010).

Sebelum dilakukan penanaman bibit vertikultur maka dilakukan terlebih dahulu penyemaian benih. Bibit tanaman yang dipindahkan ke wadah sudah berumur lebih dari satu bulan, daunnya pun sudah bertambah. Sebelum bibit-bibit ditanam di wadah, terlebih dahulu disiiramkan air ke dalamnya. Penyiraman air hingga jenuh, ditandai dengan menetesnya air keluar dari lubang-lubang tanam. Setelah cukup, maka mulai menanam bibit satu demi satu. Setiap lubang tanam dibuat lubang tanam

7 untuk memasukkan akar. Semua bagian akar dari setiap bibit harus masuk ke dalam tanah (http://www.lintasberita.com., 2010). Media Tanam Media tanam adalah tempat tumbuhnya tanaman untuk menunjang perakaran. Dari media tanam inilah tanaman menyerap makanan berupa unsur hara melalui akarnya. Tanah dengan sifat koloidnya memiliki kemampuan untuk mengikat unsur hara, dan melalui air unsur hara dapat diserap oleh akar tanaman dengan prinsip pertukaran kation. Sekam berfungsi untuk menampung air di dalam tanah sedangkan kompos menjamin tersedianya bahan penting yang akan diuraikan menjadi unsur hara yang diperlukan tanaman (http://yuan.blog.uns.ac.id., 2010). Campuran media yang baik adalah sekam dan kompos serta pasir. Campuran media tanam kemudian dimasukkan ke dalam bambu hingga penuh. Untuk memastikan tidak ada ruang kosong, dapat digunakan bambu kecil atau kayu untuk mendorong tanah hingga ke dasar wadah (ruas terakhir). Media tanam di dalam bambu diusahakan agar tidak terlalu padat supaya air mudah mengalir, juga supaya akar tanaman tidak kesulitan “bernafas”, dan tidak terlalu renggang agar ada keleluasaan dalam mempertahankan air dan menjaga kelembaban

(http://www.lintasberita.com., 2010).

8

Wadah dan Tempat Untuk Vertikultur Wadah untuk tanaman dengan sistem vertikultur dilakukan dengan mendesain lahan dengan mengifisiensikan pemakaian lahan. Wadah yang digunakan berbentuk vertikal ataupun mempunyai tingkat wadah. Untuk optimasi sebaiknya di daerah dekat pasar (mempermudah penjualan). Pelaksanaan vertikultur dapat menggunakan bangunan khusus (modifikasi dari sistem green house) maupun tanpa bangunan khusus, misalnya di pot gantung dan penempelan di tembok-tembok

(http://yuan.blog.uns.ac.id., 2010). Wadah tanaman sebaiknya disesuaikan dengan bahan yang banyak tersedia di pasar lokal. Bahan yang dapat digunakan, misalnya kayu, bambu, pipa paralon, pot, kantong plastik dan gerabah. Bentuk bangunan dapat dimodifikasi menurut kreativitas dan lahan yang tersedia. Yang penting perlu diketahui lebih dahulu adalah karakteristik tanaman yang ingin dibudidayakan sehingga dapat dirancang sistemnya sesuai dengan pertumbuhan tanaman (Lakitan, 1995). Pemupukan Pemberian pupuk dilakukan sesuai dengan jenis dan kondisi tanamannya. Intinya, monitoring tanaman diperlukan untuk mencegah kerusakan tanaman akibat hama dan penyakit tanaman. Sebaiknya pupuk yang digunakan adalah pupuk organik misalnya pupuk kompos, pupuk kandang atau pupuk bokashi yang menggunakan teknologi mikroorganisme 4 (EM4) atau simbal. Pupuk bokashi adalah hasil fermentasi bahan organik (jerami, sampah organik, pupuk kandang, dan lain-lain) dengan teknologi EM yang dapat digunakan sebagai pupuk organik untuk menyuburkan tanah dan meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. Bokashi

9 dapat dibuat dalam beberapa hari dan bisa langsung digunakan sebagai pupuk. Pupuk Bokashi sangat benguna sebagai sumber pupuk organik yang siap pakai dalam waktu singkat. Bahan-bahannya juga mudah didapat dan sekaligus baik untuk kebersihan lingkungan karena memanfaatkan limbah pertanian atau limbah rumah tangga, seperti jerami, pupuk kandang, rumput, pupuk hijau, sekam, dan serbuk gergaji (http://www.lintasberita.com., 2010). Pada daerah pedesaan, biasanya sampah atau kotoran hewan dimasukkan ke sebuah lubang. Kalau lubangnya sudah penuh, sampah dibakar dan sebagai pupuk. Dengan catatan, pupuk buatan kotoran hewan yang akan digunakan hendaknya sudah tidak berbau busuk (http://yuan.blog.uns.ac.id., 2010). Selain menggunakan pupuk organik dapat juga menggunakan pupuk anorganik yang sesuai dengan Standard hara yang dikandung oleh pupuk, seperti pupuk NPK, KCl, TSP dan pupuk-pupuk lainnya (Lakitan, 1995). Pemeliharaan Tanaman Pada hari pertama setelah penanaman, sejumlah daun menguning dan beberapa di antaranya malah berguguran. Namun, 2-3 hari kemudian, daun-daun muda bermunculan. Satu bulan kemudian batang semakin besar, cabang bertambah, dan daun semakin rimbun, menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan meskipun tidak sepesat pola tanaman normal yang ditanam di tanah, atau setidaknya di pot (http://jakarta.litbang.deptan.go.id., 2010) Seperti halnya tanaman konvensional, tanaman vertikultur harus disiram dan dipupuk secara berkelanjutan, juga dilakukan penyemprotan untuk mencegah dan/atau membunuh hama pengganggu. Dan seperti juga tanaman dalam wadah lainnya,

10 pemupukan harus lebih sering karena tanaman tidak mendapatkan unsur hara yang umumnya terdapat secara alami di dalam tanah (http://www.lintasberita.com., 2010). Panen dan Pasca-Panen Pemanenan sayuran biasanya dilakukan dengan sistem cabut akar (sawi, bayam, seledri, kemangi, slada, kangkung dan sebagainya). Apabila kita punya tanaman sendiri dan dikonsumsi sendiri akan lebih menghemat apabila kita potong daunnya. Dengan cara tersebut tanaman sayuran bisa bertahan lebih lama dan kita bisa panen berulang-ulang. Selain tanaman sayuran dan obat-obatan, tanaman buahbuahan juga bisa ditanam secara vertikultur dengan wadah pot atau drum bekas dan menggunakan tangga berjenjang (http://jakarta.litbang.deptan.go.id., 2010) Secara teori tanaman buah yang disusun secara vertikultur tidak bisa menghasilkan buah yang maksimal. Untuk pasca panen kita bisa membuat aneka macam minuman, sirup dan selai. Apabila kita menanam tomat, selain bisa dibuat saus tomat, juga bisa dibuat minuman sari buah. Bila tomat dicampur belimbing, jadilah sari buah tobing (tomat dan belimbing) yang bergizi tinggi, juga sebagal obat penurun darah tinggi dan penurun kolestrol (http://hasant.wordpress.com., 2008). Kelemahan petani di daerah adalah penyimpanan dan pengolahan hasil pascapanen. Seringkali pula mereka tidak melihat dan mempertimbangkan pemasarannya. Juga petani sering ikut-ikutan. Begitu harga cabai mahal, semuanya menanam cabai. Akibatnya, hasil panen melimpah, harga anjlok dan petani merugi. Sebelum menanam sesuatu sebaiknya dipertimbangkan dulu situasi pasar. Untuk petani yang sukses, langkah mereka justru mencari pasarnya terlebih dulu baru menanam apa yang dibutuhkan pasar (http://jakarta.litbang.deptan.go.id., 2010).

11 Upaya lain agar hasil Pasca Panen punya nilai lebih dan tahan lama hendaknya dilakukan pengolahan menjadi suatu produk yang mempunyai nilai lebih. Petani harus memanfaatkan buah-buah musiman untuk dijadikan sirup yang bisa bertahan kurang lebih 3 (tiga) bulan, juga sirup berkhasiat obat yang mulai digemari masyarakat. Bahan-bahannya memanfaatkan hasil panen petani yang dijual sangat murah, seperti jahe, sereh, daun pandan, daun jeruk dan lain-lain

(http://hasant.wordpress.com., 2008).

12

KESIMPULAN

1. Sistem vertikultur merupakan sistem yang mengusahakan lahan pertanian secara vertikal ataupun bertingkat. 2. Tanaman vertikultur lebih terbebas dari penyakit daripada tanaman pertanian konvensional. 3. Pemupukan dan penggunaan pestisida lebih efisien daripada pertanian konvensional. 4. Penggunaan lahan pada sistem vertikultur lebih efisien. 5. Tanaman yang bisa dibudidayakan dengan sistem vertikultur adalah jenis sayuran, tanaman hias, dan ada juga sebagian tanaman buah.

13

DAFTAR PUSTAKA

http://graceporun.blogspot.com., 2008. Vertikultur Lahan Yang Sempit. Diakses pada tanggal 27 Oktober 2010. http://hasant.wordpress.com., 2008. Vertikultur Sebagai Alternatif Baril Lahan Sempit. Diakses pada tanggal 27 Oktober 2010. http://jateng.litbang.deptan.go.id., 28 Oktober 2010. 2010. Vertikultur. Diakses pada tanggal

http://jakarta.litbang.deptan.go.id., 2010. Tanaman Vertikultur. Diakses pada tanggal 29 Oktober 2010. http://www.lintasberita.com., 2010. Vertikultur. Diaakses pada tanggal 27 Oktober 2010. http://yuan.blog.uns.ac.id., 2010. 28 Oktober 2010. Sistem Vertikultur. Diakses pada tanggal

Lakitan, B.,1995. Hortikultura Teori, Budidaya, dan Pascapanen. Raja Grafindo Persada. Jakarta

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->