P. 1
Makalah Filsafat Ilmu

Makalah Filsafat Ilmu

|Views: 560|Likes:
Published by Ali Shofwan

More info:

Published by: Ali Shofwan on Mar 31, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/15/2013

pdf

text

original

BAB I Kata Pengantar Atas rahmat Allah SWT kami telah berhasil membuat sebuah makalah dengan judul

Pengetahuan dan Kebenaran untuk tugas pada mata kuliah Filsafat Ilmu di faklutas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Berdasarkan hal tersebut kami membuat makalah ini dengan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti dan dipahami berdasarkan dari kumpulan buku yang telah kami ambil. Akhir kata kami sampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya atas segala bantuan atau bimbingan atas pembuatan makalah ini. Jakarta, 2011 Penulis

BAB II
1

ISI Pengetahuan dan Kebenaran

2.1 Definisi Pengetahuan Apa itu pengetahuan (knowledge)? Seberapa yakinkah manusia sebagai “penahu” mengetahui sesuatu? Apakah pengetahuan mengenai sesuatu itu merupakan gambaran lengkap mengenai sesuatu? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi bagian dari perkara filsafat pengetahuan. Kita bisa memulai menjawabnya dengan membedakan berbagai pengetahuan yang kita kenal, katakan saja pengetahuan sehari-hari (1), pengetahuan filsafat (2), pengetahuan teologis (3), pengetahuan mistik (4), pengetahuan jurnalistik (5), dan pengetahuan ilmiah (6). Seluruh catatan yang ada di sini masih berupa refleksi pendahuluan, karena itu masih sangat jauh dari memadai. Sumbangan pemikiran dan gagasan Anda melalui kolom tanggapan akan memperkaya refleksi filosofis mengenai pengetahuan. Dalam Encyclopedia of Philosophy, pengetahuan didefinisikan sebagai kepercayaan yang benar (knowledge is justified true belief). Menurut Sidi Gazalba, pengetahuan adalah apa yang diketahui atau hasil pekerjaan mengetahui. Mengetahui itu hasil kenal, sadar, insaf, mengerti, benar dan pandai. Pengetahuan itu harus benar, kalau tidak benar maka bukan pengetahuan tetapi kekeliruan atau kontradiksi. Pengetahuan merupakan hasil suatu proses atau pengalaman yang sadar. 1. Jenis Pengetahuan 1. Pengetahuan biasa (common sense) yang digunakan terutama untuk kehidupan sehari-hari, tanpa mengetahui seluk beluk yang sedalamdalamnya dan seluas-luasnya.
2

Pengetahuan ilmiah atau Ilmu. bahwa ia tahu Manusia tidak tahu. bahwa ia tidak tahu. kalau manusia sudah mengambil kesimpulan dari berbagai pengalamannya bahwa objek yang ingin diketahuinya itu sudah benar-benar diketahui. Gejala Mengetahui Gejala mengetahui manusia dapat dikelompokkan sebagai berikut : • • • • Manusia tahu. tetapi masih berkisar pada pengalaman untuk mengetahui hal yang dianggap penting saja 3. 3. Dengan demikian pengetahuan yang diperoleh manusia itu sebenarnya baru ada. Pengetahuan ini bersifat mutlak dan wajib diyakini oleh para pemelu kagama. 2. Hakekat Pengetahuan Ada duateori yang digunakan untuk mengetahui hakekat Pengetahuan: 3 . suatu pengetahuan yang hanya diperoleh dari Tuhan lewat para Nabi dan Rosul-Nya. adalah pengetahuan yang tidak mengenal batas. sehingga yang dicari adalah sebab-sebab yang paling dalam dan hakiki sampai diluar dan diatas pengalaman biasa. bukan hanya untuk digunakan saja tetapi ingin mengetahui lebih dalam dan luas mengetahui kebenarannya. Pengetahuan filsafat. Pengetahuan agama. bahwa ia tahu Manusia tahu. bahwa ia tidak tahu Manusia tidak tahu. 4. adalah pengetahuan yang diperoleh dengan carak husus. Pengetahuan Ilmiah Adapun berbagai Pengertian Ilmu dapat dibedakan menjadi beberapa bagian diantara adalah : a.2.

Sumber Pengetahuan Ada beberapa pendapat tentang sumber pengetahuan antara lain : 1. George Barkeley (1685 -1753) dan David Hume. Intuisi. Sebenarnya realisme dan idealisme mempunyai kelemahankelemahan tertentu. Baruch Spinoza (1632 –1677) dan Gottried Leibniz (1646 –1716). Pengetahuan pokok adalah jiwa yang mempunyai kedudukan utama dalam alam semesta. Henry Bergson menganggap intuisi merupakan hasil dari evolusi pemikiran yang tertinggi. Realisme. 2. Tokoh yang terkenal: John Locke (1632 – 1704). yang diketahui (objek) dan cara mengetahui (pengalaman). manusia diajarkan tentang sejumlahp engetahuan baik yang terjangkau ataupun tidakterjangkau oleh manusia. tetapi bersifat personal. menurut aliran ini manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalaman (empereikos = pengalaman). teori ini menerangkan bahwa pengetahuan adalah proses-proses mental/ psikologis yang bersifat subjektif. 2. Denganintuisi.1. Idealisme. Rasionalisme. Pengetahuan merupakan gambaran subjektif tentang sesuatu yang ada dala malam menurut pendapat atau penglihatan orang yang mengalami dan mengetahuinya. Melalui wahyu atau agama. yaitu yang mengetahui (subjek). Wahyu dalah pengetahuan yang bersumber dari Tuhan melalui hambanya yang terpilih untuk menyampaikannya (NabidanRosul). Dalam hal ini harus ada 3 hal. Empirisme. walaupun belum didukung oleh fakta empiris. teori ini mempunyai pandangan realistis terhada palam. 4. 4. 4 . 3. Tokohnya adalah Rene Descartes (1596 –1650. Pengetahuan adalah gambaran yang sebenarnya dariapa yang ada dalam alam nyata. aliran ini menyatakan bahwa akal (reason) merupakan dasar kepastian dan kebenaran pengetahuan. manusia memperoleh pengetahuan secara tiba-tiba tanpa melalui proses pernalaran tertentu.

Kebenaran adalah kesesuaian pernyataan dengan fakta. truth is a systematic coherence. Pelopornya Plato. Thomas Aquinas di abad skolastik. jika pernyataan itu dilaksanakan atas petimbangan yang konsisten dan pertimbangan lain yang telah diterima kebenarannya. kenyataan (realitas) danputusan (judgement). Teori ini dianut oleh aliran realis. Jika A = B danB = C. Ukuran Kebenaran a. b.5. Dengan demikian ada lima unsur yang perlu yaitu pernyataan (statement). Atau dengan bahasa latinnya: edaequatioin telectuset rei (kesesesuaian pikiran dengan kenyataan). dan truth is consistency. bersifat koheren dan konsisten dengan pernyataan sebelumnya yang telah dianggap benar. Cara berfikiri lmiah yaitu logika induktif menggunakan teori korespondensi ini. Aristoteles dan Moore. Teori Koherensi Teori koherensi (The Coherence Theory of Truth) menganggap suatu pernyataan benar bila didalamnya tidak ada pertentangan. Teori Korespondensi Teori kores pondensi (Correspondence Theory of Truth) menerangkan bahwa : Kebenaran atau sesuatu keadaan benar itu terbukti benar bila ada kesesuaian antara arti yang dimaksud suatu pernyataan/ pendapat dengan objek yang dituju/ dimaksud oleh pernyataan/ pendapat tersebut. persesuaian (agreement). Dengan demikian suatu pernyataan dianggap benar. Logika ini menjelaskan bahwa 5 . Logika matematik yang deduktif memakai teori kebenaran koherensi ini. serta oleh Bertrand Russel pada abad Modern. yang serasi dengan situasi aktual. Kebenarana dalah fidelity to objective reality. makaA = C. yang berselaras dengan realitas. situasi (situation). Dikembangkan lebih lanjut oleh IbnuSina. Rumusan kebenarana dalah.

Teori ini sudah ada sejak pra Socrates. Oleh karena itu tidak ada kebenaran yang mutlak/ tetap. Teori Pragmatisme Teori pragmatisme (the pragmatic theory of truth) menganggap suatu pernyataan. realitas dan kegunaan sebagai landasannya. maka teori itu akan gugur atau batal dengan sendirinya. Kalau teori ini bertentangan dengan data terbaru yang benar atau dengan teori lama yang benar. d. fakta. jika premis-premis yang digunakan juga benar. dan akibat yang memuaskan (satisfactory consequence). teori atau dalil itu memiliki kebenaran bila memiliki kegunaan dan manfaat bagi kehidupanmanusia. Pierce (1839 –1914) dan diikuti oleh William James dan John Dewey ( 1859 –1952 ). Teori ini digunakan oleh aliran metafisikus-rasionalis dan idealis. 6 . manfaat dan akibatnya. Dalam teori kebenaran agama digunakan wahyu yang bersumber dari Tuhan. kebenarannya tergantung pada kerja. budi. Tokohnya adalah Charles S. dapat dikerjakan (workability). Kaum pragmatis menggunakan kriteria kebenarannya dengan kegunaan (utility). c. Suatu teori dianggap benar apabila telah dibuktikan (justifikasi) benar dan tahan uji (testable). kemudian dikembangkan oleh Benedictus Spinoza dan George Hegel. Agama sebagai teori Ilmu Dan Pengetahuan kebenaran Ketiga teori kebenaran sebelumnya menggunakan akal. Akibat/ hasilyang memuaskan bagi kaumpragmatis adalah : • Sesuai dengan keinginan dan tujuan • Sesuai dan teruji dengan suatu eksperimen • Ikut membantu dan mendorong perjuangan untukt etape ksis (ada). Teori ini merupakan sumbangan paling nyata dari para filsup Amerika.kesimpulan akan benar.

7 . Berbicara tentang kebenaran ilmiah tidak bisa dilepaskan dari makna dan fungsi ilmu itu sendiri sejauh mana dapat digunakan dan dimanfaatkan oleh manusia. pada dimensi fenomenalnya yaitu bahwa ilmu pengetahuan menampakkan diri sebagai masyarakat. Tampaknya anggapan yang kurang tepat mengenai apa yang disebut ilmiah telah mengakibatkan pandangan yang salah terhadap kebenaran ilmiah dan fungsinya bagi kehidupan manusia. 1982). manusia dapat mencari dan menemukan kebenaran melalui agama. Ilmiah atau tidak ilmiah kemudian dipergunakan orang untuk menolak atau menerima suatu produk pemikiran manusia. pada dimensi strukturalnya. sebagai proses dan sebagai produk. ataupun yang non ilmiah lainnya. Kriteria ilmiah dari suatu ilmu memang tidak dapat menjelaskan fakta dan realitas yang ada. Kedua. Penegasan di atas dapat kita pahami karena apa yang disebut ilmu pengetahuan diletakkan dengan ukuran. sesuatu dianggap benar bila sesuai dan koheren dengan ajaran agama atau wahyu sebagai penentu kebenaran mutlak. yang diteliti atau dipertanyakan tanpa mengenal titik henti atas dasar motif dan tata cara tertentu. termasuk kebenaran. Di samping itu proses untuk mendapatkannya haruslah melalui tahaptahap metode ilmiah. obyek sasaran yang hendak diteliti (begenstand). Agama dengan kitab suci dan haditsnya dapat memberikan jawaban atas segala persoalan manusia. Pertama.Sebagai makluk pencari kebenaran. Apalagi terhadap fakta dan kenyataan yang berada dalam lingkup religi ataupun yang metafisika dan mistik. Dengan demikian. yaitu bahwa ilmu pengetahuan harus terstruktur atas komponen-komponen. sedang hasil-hasil temuannya diletakkan dalam satu kesatuan sistem (Wibisono. Di sinilah perlunya pengembangan sikap dan kepribadian yang mampu meletakkan manusia dalam dunianya.

Kebenaran merupakan ciri asli dari ilmu itu sendiri. Uraian keilmuan tentang masyarakat sudah semestinya harus diperkuat oleh kesadaran terhadap berakarnya kebenaran (Daldjoeni. Kebenaran intelektual yang ada pada ilmu bukanlah suatu efek dari keterlibatan ilmu dengan bidang-bidang kehidupan.BAB III ARTI KEBENARAN 3. 1985). hubungan. sifat. Proposisi maksudnya adalah makna yang dikandung dalam suatu pernyataan atau statement. melainkan bersifat nisbi (relatif). Dalam bahasan ini. makna “kebenaran” dibatasi pada kekhususan makna “kebenaran keilmuan (ilmiah)”. dan kebenaran dalam arti lawan dari keburukan (ketidakbenaran) (Syafi’i. Selaras dengan Poedjawiyatna (1987) yang mengatakan bahwa persesuaian antara pengatahuan dan obyeknya itulah yang disebut kebenaran.1 Arti Kebenaran Kata kebenaran dapat digunakan sebagai suatu kata benda yang konkret maupun abstrak (Hamami. hubungan dan nilai. Dengan demikian maka pengabdian ilmu secara netral. 1983). hal yang demikian itu karena kebenaran tidak dapat begitu saja terlepas dari kualitas. 1995). yaitu kebenaran yang berarti nyata-nyata terjadi di satu pihak. dan nilai itu sendiri. Jika subjek hendak menuturkan kebenaran artinya adalah proposisi yang benar . Kebenaran pertama-tama berkaitan dengan kualitas pengetahuan. Kebenaran ini mutlak dan tidak sama atau pun langgeng. dapat melunturkan pengertian kebenaran sehingga ilmu terpaksa menjadi steril. 1985). tak bermuara. Apabila subjek menyatakan kebenaran bahwa proposisi yang diuji itu pasti memiliki kualitas. Artinya. setiap pengtahuan yang dimiliki oleh seseorang yang mengetahui sesuatu objek 8 . sifat atau karakteristik. Jadi pengetahuan benar adalah pengetahuan obyektif. sementara (tentatif) dan hanya merupakan pendekatan (Wilardo. Jadi ada 2 pengertian kebenaran. Artinya pengetahuan itu harus yang dengan aspek obyek yang diketahui.

dilihat dari jenis pengetahuan yang dibangun. metodologi yang telah mendapatkan kesepakatan di antara para ahli yang sejenis. artinya dengan pendekatan filsafat yang lain sedah dapat dipastikan hasilnya akan berbeda atau bahkan bertentangan atau menghilangkan sama sekali. 2. Pengetahuan seperti ini memiliki inti kebenaran yang sifatnya subjektif. Mis alnya. kritis dan spekulatif. Pengetahuan filsafat adalah sejenis pengetahuan yang pendekatanya melalui metodologi pemikiran filsafat yang bersifat mendasar dan menyeluruh dengan model pemikiran yang analistis. 3. Sifat kebenaran yang terkandung dalam penegetahuan filsafati adalah absolute intersubjektif. Maksudnya nilai kebenaran yang terkandung jenis pengetahuan filsafat pembenaran dari filsafat selalu merupakan pendapat yang selalu melekat pada pandangan filsafat dari seorang pemikir filsafat serta selalu mendapat kemudian yang menggunakan metodologi pemikiran yang sama pula. Pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan yang telah menetapkan objek yang khas dengan menerapkan atau hampiran metodologis yang khas pula. Pengetahuan biasa disebut juga Knowledge of the man in the street atau ordinary knowledge atau common sense knowledge. filsafat matematika atau geometri dari Phytagoras sampai sekarang masih tetap seperti eaktu Phytagoras itu pertama kali memunculkan pendapatnya pada abad VI SM. adanya agreement konvensi para ilmuwan sejenis. Artinya. Artinya sangat terikat pada subjek yang mengenal. pengetahuan tahap pertama ini memiliki sifat selalu benar sejauh sarana untuk memperoleh pengetahuan bersifat normal atau tidak ada penyimpangan. kenbenaran dalam pengetahuan ilmah selalu mengalami pembaharuan sesuai dengan hasil penelitian yang paling akhir dan mendapatkan persetujuan. Adapun pengetahuan itu berupa berikut ini: 1. Maksudnya kandungan kebenaran dari jenis pengetahuan ilmiah selalu mendapatkan revisi yaitu selalu diperkaya oleh hasil penemuan yang paling mutakhir. Jika pendapat filsafat itu ditinjau dari sisi lain. Dengan demikian. Dengan demikian. 9 .

pengetahuan intuitif 4. pengetahuan akal budi 3.4. Artinya pernyataan dalam suatu agama selalu dihampiri oleh keyakinan yang telah tertentu sehingga pernyataan-pernyataan dalam ayat-ayat kitab suci agama memiliki nilai kebenaran sesuai dengan keyakinan yang digunakan untuk memahaminya itu. akal pikiran atau ratio. Pengetahuan agama memiliki sifat dogmatis. jika seseorang membangunnya melalui indera atau sense experience. Kebenaran pengetahuan ketiga adalah nilai kebenaran pengetahuan yang dikaitkan atau ketergantungan terjadinya pengetahuan. Artinya. Begitu juga dengan cara yang lain misalnya dengan indra kimiawi. Maka pada saat ia membuktikan kebenaran pengetahuan itu harus melalui indera pula. intuisi. pengetahuan kepercayaan atau pengetahuan otoritatif dan pengetahuan yang lainnya. Implikasi dari penggunaan alat untuk memperoleh pengetahuan melalui alat tertentu akan mengakibatkan karakteristik kebenaran yang dikandung oleh pengetahuan itu akan memiliki cara tertentu untuk membuktikanya. Artinya nilai kebenaran dari pnegetahuan yang dikandungnya sangat tergantung pada 10 . Kebenaran kedua dikaitkan dengan sifat atau karakteristik dari bagaimana cara atau dengan alat apakah seseorang membangun pengetahuanya itu. Juka subjek yang berperan maka jenis pengetahuan itu mengandung nilai kebenaran yang sifatnya subjektif. pengetahuan indrawi 2. Artinya bagaimana relasi atau hubungan antara subjek dan objek. Kebenaran jenis pengetahuan adalah kebenaran pengetahuan yang terkandung dalam pengetahuan agama. kandungan maksud dari ayat kitab suci itu tidak dapat diubah dan sifanya absolut. Akan tetapi. Jenis pengetahuan menurut kriteria karakteristiknya dibedakan dalam jenis pengetahuan seperti berikut ini: 1. Implikasi makna dari kandungan kitab suci dapat berkembang secara dinamik sesuai dengan perkembangan waktu. atau keyakinan. Apakah ia membangun dengan penginderaan atau sense experience.

Hal ini tidak bisa dilepaskan dengan keberadaan manusia yang transenden. kemudian diteruskan oleh Aristoteles. Teori-teori kebenaran yang telah terlembaga itu seperti berikut: 1.2 Teori Tentang Kebenaran Dalam perkembangan pemikiran filsafat perbincangan tentang kebenaran sudah dimulai sejak Plato. Teori kebenaran Pragmatis 4. Sifatnya objektif seperti pengetahuan tentang alam dan ilmu-ilmu alam. Teori Kebenaran Logis yang berlebihan 11 . keresahan ilmu bertalian dengan hasrat yang terdapat dalam diri manusia.subjek yang memiliki pengetahuan itu atau jika objek yang berperan . Teori kebenaran Korespondensi 2. Meskipun demikian. Teori kebenaran Koherensi 3. Sejak itu teori pengetahuan berkembang terus dengan mendapatkan penyempurnaan sampai sekarang. Teori Kebenaran Non-Deskripsi 7. Dari sini terdapat petunjuk mengenai kebenaran yang trasenden. Teori kebenaran Sintaksis 5. artinya tidak henti dari kebenaran itu terdapat diluar jangkauan manusia. Teori kebenaran Semantis 6.dengan kata lain. apa yang dewasa ini kita pegang sebagai kebenaran mungkin suatu saat akan hanya pendekatan kasar saja dari suatu kebenaran yang lebih jati lagi dan demikian seterusnya. Teori kebenaran selalu paralel dengan teori pengetahuan yang dibangunnya. Hal itu seperti yang dikemukakan seorang filusuf abad XX Jaspers yang dikutip oleh Hamersma (1985) mengemukakan bahwa sebenarnya para pemikir sekarang ini hanya melengkapi dan menyempurnakan filsafat plato dan filsafat Aristoteles. Plato melalui metode dialog membangun teori pengetahuan yang cukup lengkap sebagai teori pengetahuan yang paling awal. 3.

maka pertimbangan ini benar. Menurut teori ini. 1987). Teori Kebenaran Korespondensi Ujian kebenaran yang dinamakan teori korespondensi ini adalah teori yang paling diterima secara luas oleh kelompok realis. Jika sesuatu pertimbangan sesuai dengan fakta. kebenaran adalah kesetiaan kepada realita obyektif (fidelity to objective reality). maka pertimbangan itu salah (Jujun.Teori-teori di atas akan dijelaskan secara rinci pada uraian berikut: 1. Menurut teori koresponden. 1990). Sekiranya orang lain yang mengatakan bahwa “kota Yogyakarta berada di pulau Sumatra” maka pernnyataan itu adalah tidak benar sebab tidak terdapat obyek yang sesuai dengan pernyataan tersebut. Jadi. oleh karena atau kekeliruan itu tergantung kepada kondisi yang sudah ditetapkan atau diingkari. atau antara pertimbangan (judgement) dan situasi yang pertimbangan itu berusaha untuk melukiskan. jika tidak. Teori Kebenaran Koherensi Berdasarkan teori ini suatu pernyataan dianggap benar bila pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap benar (Jujun. Dalam hal ini maka secara faktual “kota Yogyakarta bukan berada di pulau Sumatra melainkan di pulau Jawa”. karena kebenaran mempunyai hubungan erat dengan pernyataan atau pemberitaan yang kita lakukan tentang sesuatu (Titus. yakni kota Yogyakarta memang benar-benar berada di pulau Jawa. ada atau tidaknya keyakinan tidak mempunyai hubungan langsung terhadap kebenaran atau kekeliruan. 2. 1990). artinya pertimbangan adalah benar jika 12 . 1990). Kebenaran adalah persesuaian antara pernyataan tentang fakta dan fakta itu sendiri. secara sederhana dapat disimpulkan bahwa berdasarkan teori korespondensi suatu pernyataan adalah benar jika materi pengetahuan yang dikandung pernyataan itu berkorespondensi (berhubungan) dengan obyek yang dituju oleh pernyataan tersebut (Suriasumantri. Misalnya jika seorang mahasiswa mengatakan “kota Yogyakarta terletak di pulau Jawa” maka pernyataan itu adalah benar sebab pernyataan itu dengan obyek yang bersifat faktual.

maka tanpa melakukan kesalahan lebih lanjut. sebab pernyataan kedua adalah konsisten dengan pernyataan yang pertama. bila kita menganggap bahwa “semua manusia pasti akan mati” adalah suatu pernyataan yang benar. dimana pernyataan-pernyataan terjalin sangat teratur sehingga tiap pernyataan timbul dengan sendirinya dari pernyataan tanpa berkontradiksi dengan pernyataan-pernyataan lainnya. Kelompok idealis. 3. seperti Plato juga filosof-filosof modern seperti Hegel. Misalnya. 1990) 13 . Teori Kebenaran Pragmatis Teori pragmatik dicetuskan oleh Charles S. dapat ditarik kesimpulan yang menyalahi tiap kebenaran aritmatik tentang angka apa saja. Seorang sarjana Barat A. yakni persetujuan antara suatu perkembangan dan suatu situasi lingkungan tertentu. ia mengatakan bahwa koherensi yang sempurna merupakan suatu idel yang tak dapat dicapai. John Dewey (1859-1952). Jika kita menganggap bahwa 2+2=5. Meskipun demikian perlu lebih dinyatakan dengan referensi kepada konsistensi faktual. Teori ini kemudian dikembangkan oleh beberapa ahli filsafat yang kebanyakan adalah berkebangsaan Amerika yang menyebabkan filsafat ini sering dikaitkan dengan filsafat Amerika.pertimbangan itu bersifat konsisten dengan pertimbangan lain yang telah diterima kebenarannya. maka pernyataan bahwa “si Hasan seorang manusia dan si Hasan pasti akan mati” adalah benar pula. Peirce (1839-1914) dalam sebuah makalah yang terbit pada tahun 1878 yangberjudul “How to Make Ideals Clear”. Bradley dan Royce memperluas prinsip koherensi sehingga meliputi dunia. 1987). Sebagaimana pendekatan dalam aritmatik.I.C Ewing (1951:62) menulis tentang teori koherensi. Lewis (Jujun. George Hobart Mead (1863-1931) dan C. akan tetapi pendapat-pendapat dapat dipertimbangkan menurut jaraknya dari ideal tersebut. Ahli-ahli filasafat ini di antaranya adalah William James (1842-1910). dengan begitu maka tiap-tiap pertimbangan yang benar dan tiap-tiap sistem kebenaran yang parsial bersifat terus menerus dengan keseluruhan realitas dan memperolah arti dari keseluruhan tersebut (Titus. yaitu yang koheren menurut logika.

demikian seterusnya. 1987). atau kita uji dengan faidahnya dan akibat-akibatnya yang praktis (Titus. Secara historis pernyataan ilmiah yang sekarang dianggap benar suatu waktu mungkin tidak lagi demikian. koherensi. maka dapat diujilah pertimbangan tersebut dengan konsistensinnya dengan pertimbangan-pertimbangan lain yang kita anggap sah dan benar. Dihadapkan dengan masalah seperti ini maka ilmuan bersifat pragmatis selama pernyataan itu fungsional dan mempunyai kegunaan maka pernyataan itu dianggap benar. maka teori tersebut dapat digabungkan dalam suatu definisi tentang kebenaran. 4.kemungkinan dikerjakan (workability) atau akibat yang memuaskan (Titus. (2) yang benar adalah yang dapat dibuktikan dengan eksperimen. intelektualisme dan rasionalisme. maka pernyataan itu ditinggalkan (Jujun. disebabkan perkembangan ilmu itu sendiri yang menghasilkan pernyataan baru. Pegangan pragmatis adalah logika pengamatan dimana kebenaran itu membawa manfaat bagi hidup praktis (Hadiwijono. 1990). Teori Kebenaran Sintaksis 14 . sekiranya pernyataan itu tidak lagi bersifat demikian.Pragmatisme menantang segala otoritanianisme. Bagi mereka ujian kebenaran adalah manfaat (utility). (3) yang benar adalah yang membantu dalam perjuangan hidup biologis. Tetapi kriteria kebenaran cenderung menekankan satu atu lebih dati tiga pendekatan (1) yang benar adalah yang memuaskan keinginan kita. dan pragmatisme) itu lebih bersifat saling menyempurnakan daripada saling bertentangan. 1987). Sehingga dapat dikatakan bahwa pragmatisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa yang benar ialah apa yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan perantaraan akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis. Kriteria pragmatisme juga dipergunakan oleh ilmuan dalam menentukan kebenaran ilmiah dalam prespektif waktu. 1980) dalam kehidupan manusia. Akan tetapi karena kita dengan situasi yang sebenarnya. Oleh karena teori-teori kebenaran (koresponden. kebenaran adalah persesuaian yang setia dari pertimbangan dan ide kita kepada fakta pengalaman atau kepada alam seperti adanya.

Menurut teori kebenaran semantis bahwa suatu proporsisi memiliki nilai benar ditinjau dari segi arti atau makna. 5. Oleh karena itu. Teori ini berkembang diantara para pilsuf analisa bahasa. teori ini memiliki tugas untuk menguak kesyahan proporsisi dalam referensinya.Para penganut teori kebenaran sintaksis berpangkal tolak pada keteraturan sintaksis atau garamatika yang dipakai ole suatu pernyataan atau tata bahasa yang melekatnya. Arti ini menunjukkan makna yang sesungguhnya dengan menunjuk pada referensi atau kenyataan. suatu pernyataan dianggap benar jika pernyataan itu mengikuti aturan-aturan sinaksis yang baku atau apabila proporsisi itu tdak mengikuti syarat atau keluar dari hal yang diisyaratkan proporsisi itu tidak mempunyai arti. Dengan demikian. seperti Friederich Schleiermacher (1768-1834). is true”. teori kebenaran semantik menyatakan bahwa proporsisi itu mempunyai nilai kebenaran jika proporsisi itu memiliki arti. Teori kebenaran emantis sebenarnya berpangkal atau mengacu pada pendapat Aristoteles sebagaimana yang dgambarkan oleh White (1978) seperti berikut ini: “To say of what is that is or of what is not. Apakah proporsisi yang merupakan pangkal tumpunya inti mempunyai pengacu (referent) yang jelas. Selain itu juga arti yang dikemukakan itu memiliki arti yang bersifat definitive (arti yang jelas dengan menunjuk cirri yang khas dari sesuatu yang ada). Teori Kebenaran Semantis Teori kebanaran semantis dianut oleh faham filsafat Bertrand Russel sebagai kokoh pemula dari filsafat Analitika Bahasa. 6. terutama yang bgitu ketat terhadap pemakaian gramatikal. Teori Kebenaran Non-Deskripsi Teori kebenaran non-deskripsi dikembangkan oleh penganut filsafat fungsionalisme karena pada dasarnya suatu statemen atau pernyataan itu akan 15 . Dengan demikian. Atau mengacu pada teori tradisional korespondensi yang mengatakan: “ …that truth consists in correspondence of what is said and what is fact.

memberikan informasi yang sama. Teori Kebenaran Logis yang berlebihan Teori ini dikembangkan oleh kaum Positivistik yang diawali oleh Ayer. Hal yang demikian itu sesungguhnya karena suatu pernyataan yang hendak dibuktikan nilai kebenaranya sebenarnya telah merupakan fakta atau data yang telah memiliki evidensi. dan semua orang sepakat sehingga apabila kita membuktikanya lagi hal yang demikian itu hanya merupakan bentuk logis yang berlebihan. Pada dasarnya menurut teori kebenaran ini adalah bahwa problem kebenaran hanya merupakan kekacauan bahasa saja. Artinya. dan hal ini akibatnya merupakan suatu pemborosan karena pada dasarnya apa. Memiliki pernyataan di atas dapat dikatakan bahwa pengetahuan akan memiliki nilai banar sejauh pernyataan itu memiliki fungsi yang sangat praktis dalam kehidupan sehari-hari.mempunyai nilai benar yang sangat tergantung peran dan fungsi pada pernyataan itu. pernyataan yang hendak dibuktikan kebenaranya memiliki derajat logic yang sama dan masing-masing saling melingkupinya. White (1978) menggambarkan tentang kebenaran sebagaimana dikemukakanya berikut ini: “…. objek pengetahuan itu sendiri telah menunjukkan kejelasan dalam dirinya sendiri (Gallagher. 16 .to say. 7. Dengan demikian . 1984). Pernyataan itu juga merupakan kesepakatan bersama untuk menggunakan praktis dalam kehidupan sehari-hari. It is true that not many people are likely to do that “is away of agreeing with the opinion that not many people are likely to do that anda not a way of talking about the opnion . sesungguhnya setiap proporsisi yang bersifat logic dengan menunjukkan bahwa proporsisi itu mempunyai isi yang sama. much less of talking about the sentence used to express the opinion.

Maksudnya. Ilum-ilmu kealaman pada umumnya menuntut kebenaran korespondensi karena fakta-fakta objektif sangat dituntut dalam pembuktian terhadap setiap proposisi atau pernyataan (statement) .3 Sifat Kebenaran Ilmiah Suatu kebenaran ilmiah lahir dari hasil penelitian ilmiah. melalui metodologi ilmiah yang baku sesuai dengan sifat dasar ilmu. ilmu-ilmu social. berbeda dengan ilmu-ilmu kemausiaan. Kebenaran yang benar-benar lepas dari keinginan subjek. Ilmu-ilmu tersebut menuntut konsistensi dan keherensi diantara proposisi-proposisi sehingga pembenaran bagi ilmu-ilmu itu mengikat teori kebenaran koherensi. pada dasarnya kebenarana dalam ilmu dapat digolongkan dalam dua jenis teori yaitu teori kebenaran koepondensi atau teori kebenaran kohensi. ilmu logika dan matematika. Prosedur baku yang harus dilalui adalah tahaan-tahapan untuk memperoleh pengetahuan ilmiah. Akan tetapi. Kenyataan yang dimaksud adalah kenyataan yang berupa suatu dapat dipakai sebagai acuan atau kenyataan yang pada mulanya merupakan objek dalam pembentukan pengetahuan ilmiah itu. adalah setiap ilmu secara tegas menetapkan jenis objek secara ketat apakah objek itu berupa hal konkrit atau abstrak. bahwa kebenaran dari suatu teori atau lebih tinggi dan aksioma atau paradigma. harus didukung oleh fakta-fakta yang berupa kenyataan dalam keadaan objektifnya. Selain itu ilmu menetapkan langkah-langkah ilmiah sesuai dengan objek yang dihadapinya itu. Kebanaran data ilmu adalah kebenaran yang sifatnya objektif. Jadi agar kebenaran tersebut dapat muncul maka harus melalui proses-proses atau suatu prosedur. Maksudnya. yang pada hakikatnya berupa teori. Hal yang cukup penting dan perlu mendapatkan perhatian dalam kebenaran ini adalah kebenaran dalam ilmu harus selalu merupakan hasil persetujuan dan konvensi dari para ilmuwan di bidangnya. Sifat kebenaran ilmu memiliki sifat universal sejauh kebenaran ilmu itu dapat dipertahankan.3. Pernyataan tersebut karena kebenaran ilmu harus selalu merupakan kebenaran 17 . Mengacu pada status ontologisme objek.

Pengamatan dan eksperimen 5. Metode Hipotetico-dedukatif 4. 2. Euklides dan teori geometri. Falsification/operasionalm 6. diperlukan suatu penelitian yang mendalam apabila hasilnya berbeda.yang disepakati dalam konfensi sehingga keuniversalan sigat ilmu harus selalu harus masih dibatasi oleh penemuan baru atau penemuan lainnya yang hasilnya menolak pertemuan terdahulu atau bertentangan sama sekali. Contoh yang lain adalah tentang peralihan teori tentang pusat alam raya dari bumi nmenjadi matahari atau bahkan teori baru yang menunjukkan bahwa pusat alam raya pada pusat galaksi bimasakti. Reinnan yang bersama-sama dengan Labocevsky tentang jumlah besar 3 sudut dari suatu segitiga.1 Cara Untuk Menemukan Kebenaran Ilmiah Untuk menentukan kebenaran Ilmiah (AR-lacey) adalah: 1. Menemukan kebenaran dari masalah 2. Pengamatan dan teori 3. Kebenaran yang lama harus diganti oleh penemuan baru atau keduaduanya berjalan bersama dengan kekuatanya atas kebenaranya amasing-masing . Konfirmasi kemungkinan 18 . Apabila terdapat hal semacam ini. Contoh kasus yang terjadi adalah teori geometri.

non-deskripsi. Kebenaran ilmiah bersifat obyektif dan universal. Dalam teori keilmuan.BAB IV KESIMPULAN Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kebenaran ilmiah tidak bisa dilepaskan dari makna dan fungsi ilmu itu sendiri sejauh mana dapat digunakan dan dimanfaakan oleh manusia serta proses atau prosedur suatu penelitian ilmiah. untuk membuktikan kebenaran ilmiah dari suatu pernyataan ilmiah harus sesuai dengan sifat dasar metodologis yang digunakan dan sangat bergantung pada konvensi serta peran masyarakat dalam menentukan karakteristik kebenaran ilmiah tersebut. semantis. sintaksis. Teori-teori kebenaran ada tujuh. koherensi. 19 . dan kebenaran logis yang berlebihan. yakni korespondensi. Teoriteori tersebut mencoba untuk menjelaskan tentang apa itu kebenaran. pragmatis.

London. Gadjah Mada Univercity Press. Filsafat kehidupan (Prakata). Scranton. George F. Terj. Jakarta. Jujun S. Rasyidi. Donald.H. M. Pustaka Sinar Harapan. The Fundamental Questions of Philosophy. H. 1987. Kneller. 1984 Koento. Jakarta. Gramedia. Bumi Aksara. Yogyakarta. Butler. Bulan Bintang. Burhanuddin Salam. 1995. Persoalan-Persoalan Filsafat. H. Conteporary Theories of Education.C. Yogyakarta. Routledge and Kegan Paul. 1985. _______________________. Bumi Aksara.. 1996. Rapar. Yogyakarta. Jakarta. Poedjawijatna. Intext International Publisher. Kanisius. A. J. W. Kanisius. Sumiasumantri (ed). Movement of Thought in Modern Education. 1982. I. Filsafat Saints & Bioetika. Jakarta. 1951. Pengantar ke IImu dan Filsafat. 1951. 1980. Arti Perkemabangan Menurut Filsafat Positivisme Auguste Comte. Dharmono. Hadiwijono. Jakarta.. 1987.R.K. New York. Tahu dan Pengetahuan. Banjarmasin. M. Jakarta. Harold H. J. New York: John Witey and Sound. Four Philosophies and Their Practice in Education and Religion. dkk. Bina Aksara. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNLAM. 1995. Ilmu dalam Prespektif. Titus. 1990. 20 . Pengantar Filsafat. Living Issues in Philasophy. 1977. Sebuah Pengantar Populer. 2008. Syafi’i. I. Richard Pratte.DAFTAR PUSTAKA Awing. Sari Sejarah Filsafat Barat II.Si. Pengantar Filsafat. Filsafat Ilmu. Horper and Brothers.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->