P. 1
Cari Artikel

Cari Artikel

|Views: 323|Likes:
Published by www_nisa_wafawafi

More info:

Published by: www_nisa_wafawafi on Mar 31, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/19/2012

pdf

text

original

Sections

tanggal 5 maret 2011

Top of Form

- - Pilih Kategori - -

Cari

Cari Artikel:
Bottom of Form

Beranda Ahli

Referensi

Definisi

Artikel Umum Definisi

Pengertian Prestasi Belajar Menurut Para

Artikel Umum Definisi Warna

MENU TOPIK

Pengertian Prestasi Belajar Menurut Para Ahli
Oleh: AnneAhira.com Content Team 1

2 3 4 5
3

( 13 ) | Jumlah komentar: 4 SHARE : Facebook Twitter Blogger Wordpress

Artikel Terkait
• • • •
Pengertian Wirausaha dan Tips Pengertian Lingkungan Hidup dan Perawatannya Pengertian Sopan Santun dan Masalah Seputarnya Memahami Definisi Prestasi untuk Kesuksesan

Pengertian prestasi belajar menurut para ahli pada intinya adalah capaian atau hasil akhir yang bisa dilihat setelah proses belajar. Terkait capaian itu dalam aspek apa dan bagaimana, masing-masing ahli memiliki pandangan tersendiri. Prestasi belajar dan proses belajar adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Karena prestasi belajar pada hakikatnya adalah hasil akhir dari sebuh proses belajar. Untuk mengetahui prestasi belajar seorang peserta didik biasanya dilakukan evaluasi terhadap materi belajar yang telah diberikan. Seberapa besar peserta didik mampu memberikan feed back dari setiap evaluasi yang diberikan, demikianlah gambaran prestasi belajar yang ia miliki. Winkel (1996) Winkel berpendapat bahwa prestasi belajar merupakan salah satu bukti yang menunjukkan kemampuan atau keberhasilan seseorang yang melakukan proses belajar sesuai dengan bobot/nilai yang berhasil diraihnya. Winkel lebih menekankan prestasi belajar itu pada kemampuan siswa secara umum S. Nasution (1996) S. Nasution berpendapat bahwa prestasi belajar merupakan kesempurnaan seorang peserta didik dalam berpikir, merasa dan berbuat. Menurut Nasution prestasi belajar seorang peserta didik dikatakan sempurna jika memenuhi tiga aspek yaitu: Aspek kognitif Aspek kognitif adalah aspek yang berkaitan dengan kegiatan berpikir. Aspek ini sangat berkaitan erat dengan tingkat intelegensi (IQ) atau kemampuan berpikir peserta didik. Sejak dahulu aspek kognitif selalu menjadi perhatian utama dalam sistem pendidikan formal. Hal itu dapat dilihat dari metode penilaian pada sekolah-sekolah di negeri kita dewasa ini sangat mengedepankan kesempurnaan pada aspek kognitif. Aspek afektif Aspek afektif adalah aspek yang berkaitan dengan nilai dan sikap. Penilaian pada aspek ini dapat terlihat pada kedisiplinan, sikap hormat terhadap guru, kepatuhan dan lain sebagainya. Aspek afektif berkaitan erat dengan kecerdasan emosi (EQ) peserta didik. Aspek psikomotorik Aspek psikomotorik menurut kamus besar bahasa indonesia adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan kemampuan gerak fisik yang mempengaruhi sikap mental. Jadi sederhananya aspek ini menunjukkan kemampuan atau keterampilan (skill) peserta didik setelah menerima sebuah pengetahuan.

Kecerdasan dan Bakat Pengertian prestasi belajar menurut para ahli tidak selalu berputar pada aspek kecerdasan dan bakat, namun demikian tidak juga meninggalkan kedua aspek tersebut. Kecerdasan dan bakat memiliki pengaruh terhadap prestasi belajar namun tidak mutlak. Kecerdasan demikian juga bakat adalah potensi dasar yang dimiliki oleh setiap peserta didik. Hanya saja kadarnya berbeda antara peserta didik yang satu dengan yang lainnya. Ia merupakan faktor internal yang sangat berpengaruh terhadap terhadap tinggi rendahnya prestasi belajar peserta didik. Namun dalam beberapa kasus besarnya kecerdasan dan bakat tidak berbanding lurus dengan prestasi belajar siswa. Mengapa demikian? Karena prestasi belajar peserta didik dipengaruhi oleh banyak faktor baik faktor internal maupun faktor eksternal. Faktor internal Faktor internal yang mempengaruhi prestasi belajar selain bakat dan kecerdasan antara lain adalah; minat dan motivasi. Ketika keempat faktor ini ada dalam diri seorang peserta didik maka prestasi belajarnya cenderung akan lebih tinggi. Faktor eksternal Pengertian prestasi belajar menurut para ahli tidak mengesampingkan peranan faktor eksternal dalam meningkatkan prestasi belajar. Faktor eksternal seperti kualitas guru, metode mengajar, lingkungan, fasilitas mengajar dan lain sebagainya ikut mempengaruhi prestasi belajar. Namun, pengaruhnya tidaklah sebesar faktor internal. Faktor internal dan eksternal adalah dua hal yang sangat menunjang keberhasilan siswa dalam belajar. Jadi untuk menghasilkan peserta didik yang berprestasi, seorang pendidik haruslah mampu mensinergikan kedua faktor di atas.

http://www.anneahira.com/pengertian-prestasi-belajar-menurut-para-ahli.htm

Top of Form

- - Pilih Kategori - -

Cari

Cari Artikel:
Bottom of Form

Beranda Ahli

Referensi

Definisi

Artikel Umum Definisi

Pengertian Prestasi Belajar Menurut Para

MENU TOPIK
Artikel Umum Definisi Warna

Pengertian Prestasi Belajar Menurut Para Ahli
Oleh: AnneAhira.com Content Team 1 2 3 4 5

3

( 4 ) | Jumlah komentar: 2

SHARE :

Facebook

Twitter

Blogger

Wordpress

Artikel Terkait
• • • •
Tips dan Pengertian Wawancara Pengertian Keselamatan Kerja Secara Umum Definisi Pendidikan yang Wajib Dipahami! Pengertian dan Manfaat Belajar

Kegiatan belajar sebagai suatu proses, tentu dilaksanakan melalui tahapan yang telah terencana dan terstruktur. Melalui tahapan itu pula perkembangan subyek didik atau orang yang belajar dapat diketahui. Hal ini penting untuk melihat prestasi yang telah diraihnya. Seperti pengertian prestasi belajar menurut para ahli, perkembangan subyek didik dapat diketahui untuk kepentingan evaluasi. Suatu Proses Untuk memahami pengertian prestasi belajar menurut para ahli, maka kita perlu memilahkan menjadi dua kata, yaitu prestasi dan belajar. Belajar, menurut Skinner, merupakan suatu proses yang berlangsung secara progresif dalam melakukan adaptasi atau penyesuaian perilaku. Proses adaptasi ini menurut Morgan, dilakukan atau berlangsung melalui proses latihan praktis maupun dari pengalaman. Sedangkan menurut Zainal Aqib, proses belajar tidak berlangsung dengan sendirinya melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor. Baik yang bersifat intrinsik atau dari dalam subyek didik itu sendiri maupun ekstrinsik yang berasal dari pengaruh lingkungan. Faktor pengaruh inilah yang kemudian memotivasi seseorang dalam kegiatan atau proses belajarnya. Faktor pengaruh yang turut menentukan motivasi seseorang dalam melakukan suatu kegiatan belajar cukup kompleks. Menurut Abu Ahmadi, pengaruh intrinsik meliputi unsur intelegensi, kondisi fisik dan psikis atau kesehatan, serta unsur minat. Sedangkan pengaruh dari luar atau ekstriksik meliputi semua pengaruh yang berasal dari lingkungan keluarga (hubungan orang tua dan saudara), sekolah (pengaruh pertemanan maupun guru), serta pengaruh dari masyarakat dalam arti luas, termasuk di dalamnya media massa. Sedangkan prestasi, seperti batasan yang disampaikan Purwadarminto, merupakan pencapaian dari sesuatu. Begitu juga Webster’s New Internasional Dictionary mengartikan prestasi sebagai bentuk pengukuran terhadap pengetahuan ataupun keterampilan seseorang dalam suatu kegiatan. Oleh karena itu pengertian prestasi

selau dihubungan dengan alat pengukuran, khususnya yang terstandar untuk dapat melihat suatu pencapaian. Evaluasi Sistem Sebagai suatu kegiatan yang berlangsung terus menerus, belajar harus memperlihatkan adanya prestasi yang terukur. Oleh karena itu, pengertian prestasi belajar menurut para ahli dapat dirumuskan sebagai adanya tahapan pencapaian dari suatu proses penguasaan pengetahuan ataupun keterampilan yang dapat dilihat melalui suatu alat pengukur yang terstandar. Alat, metode, maupun bentuk pengukuran terhadap prestasi belajar, seperti dilaksanakan sistem pendidikan nasional kita, terlihat dalam berbagai bentuk. Sedangkan seperti hasil tes terlihat dalam bentuk buku rapor, hasil EBTA, EBTANAS, dan sebagainya.Pengukuran prestasi belajar sangat diperlukan untuk melihat atau melakukan evaluasi, baik terhadap subyek didik yang mengalami proses belajar, maupun sumber belajar. Evaluasi diperlukan bukan saja untuk meningkatkan prestasi belajar subyek didik, namun yang tak kalah pentingnya adalah mempengaruhi sumber belajar agar dapat memberikan pembelajaran yang positif. Termasuk dalam hal ini kapasitas, kapabilitas, dan kemampuan guru dalam menyampaikan materi pelajaran juga penting untuk dievaluasi. Seperti yang terlihat dari pengertian prestasi belajar menurut para ahli, prestasi sebagai hasil dari proses belajar tidak hanya menunjuk salah satu pihak saja, melainkan juga menyangkut semua faktor yang turut berpegaruh dalam sistem belajar tersebut.

7404

1 2 3 Berikan rating untuk artikel di atas : 4 5
0

SHARE :

Facebook

Twitter

Blogger

Wordpress

Anda boleh mempublikasikan kembali tulisan di atas pada website atau blog dengan catatan :

1. 2.

Anda harus mencantumkan sumber tulisan dengan link aktif menuju www.AnneAhira.com Anda tidak mengubah baik sebagian atau pun keseluruhan tulisan TERMASUK SEMUA LINK YANG ADA DI DALAM ARTIKEL harus tetap ada dan aktif.

Nama "Anne Ahira" dilindungi oleh Direktorat Jendral HAKI (Hak Kekayaan Intelektual) Republik Indonesia No.Agenda J002007027969

Top of Form

Nama:

Email: Komentar:

Catatan : Setiap komentar memerlukan persetujuan moderator
7404

http://www.anneahira.com/pengertian-prestasi-belajar-menurut-para-ahli-7404.htm

Bottom of Form

http://artikele-aby.blogspot.com/2009/08/prestasi-belajar-kajian-teoritis.html
17 Agustus 2009

PRESTASI BELAJAR (KAJIAN TEORITIS)
<!--[if !supportLists]-->A. Prestasi Belajar<!--[endif]--> <!--[if !supportLists]-->1. <!--[endif]-->Definisi prestasi belajar Istilah prestasi belajar terdiri dari dua suku kata, yaitu prestasi dan belajar. Istilah prestasi di dalam Kamus Ilmiah Populer (Adi Satrio, 2005: 467) didefinisikan sebagai hasil yang telah dicapai. Noehi Nasution (1998: 4) menyimpulkan bahwa belajar dalam arti luas dapat diartikan sebagai suatu proses yang memungkinkan timbulnya atau berubahnya suatu tingkah laku sebagai hasil dari terbentuknya respon utama, dengan syarat bahwa perubahan atau munculnya tingkah baru itu bukan disebabkan oleh adanya kematangan atau oleh adanya perubahan sementara karena sesuatu hal. Sementara itu Muhibbin Syah (2008: 90-91) mengutip pendapat beberapa pakar psikologi tentang definisi belajar, di antaranya adalah: <!--[if !supportLists]-->a. <!--[endif]-->Skinner, seperti yang dikutip Barlow dalam bukunya educational Psychology : The Teaching-Learning Process, berpendapat bahwa belajar adalah suau proses adaptasi atau penyesuaian tinkah laku yang berlangsung secara progresif (a process of progressive behavior adaptation). Berdasarkan eksperimennya, B.F. Skinner percaya bahwa proses adaptasi tersebut akan mendatangkan hasil yang optimal apabila ia diberi penguat (reinforce). <!--[if !supportLists]-->b. <!--[endif]-->Dalam Dictionary of Psychology, Chaplin memberikan batasan belajar dengan dua rumusan. Rumusan pertama berbunyi : …..acquisition of any relatively permanent change in behavior as a result of practice and experience. Belajar adalah perolehan perubahan tingkah laku yang relative menetap sebagai akibat latihan dan pengalaman. Rumusan kedua : ..process of acquiring responses as a result of special practice, belajar adalah proses memperoleh respon-respon ebagai akibat adanya latihan khusus. <!--[if !supportLists]-->c. <!--[endif]-->Hintzman dalam bukunya The Psychology of Learning and Memory berpendapat Learning is change in organism due to experience which can affect the organism’s behavior. Artinya, belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam diri organism (manusia dan hewan) disebabkan oleh pengalaman yang dapat mempengaruhi tingkah laku organism tersebut. Jadi, dalam pandangan Hitzman, perubahan yang ditimbulkan oleh pengalaman tersebut baru dapat dikatakan belajar apabila mempengaruhi organisme.

<!--[if !supportLists]-->d. <!--[endif]-->Wittig dalam bukunya, Psychology of Learning, Wittig mendefinisikan belajar sebagai : any relatively permanent change in an organisme’s behavioral repertoire that occurs as a result of experience. Belajar ialah perubahan yang relative menetap terjadi dalam segala macam/keseluruhan tingkah laku suatu organisme sebagai hasil pengalaman. <!--[if !supportLists]-->e. <!--[endif]-->Reber dalam kamusnya, Dictionary of Psychology, membatasi belajar dengan dua macam definisi. Pertama, belajar adalah The process of accuiring knowledge, yakni proses memperoleh pengetahuan. Pengertian ini biasanya lebih sering dipakai dalam pembahasan psikologi kognitif yang oleh sebagian ahli dipandang kuran representatif karena tidak mengikutsertakan perolehan keterampilan nonkognitif.Kedua, belajar adalah A relatively permanent change in respons potentiality which occurs as a result of reinforced practise, yakni suatu perubahan kemampuan bereaksi yang relatif permanen sebagai hasil latihan yang diperkuat. Dalam definisi ini terdapat empat macam istilah yang esensial dan perlu disoroti untuk memahami proses belajar, yakni :
Relatively permanent, yang secara umum menetap• endif]-->Respons Potentiality, kemampuan bereaksi]--!>• Reinforce, penguatan• Practise, praktik atau latihan•

<!--[if !supportLists]-->f. <!--[endif]-->Biggs dalam pendahuluan Teaching of Learning, Biggs mendefinisikan belajar dalam tiga rumusan, yaitu : rumusan kuantitatif; rumusan institusional; rumusan kualitatif. Dalam rumusan-rumusan ini, kata-kata seperti perubahan dan tigkah laku tidak lagi disebut secara eksplisit mengingat kedua istilah ini sudah menjadi kebenaran umum yang diketahui semua orang yang terlibat dalam proses pendidikan. Secara kuantitatif (ditinjau dari sudut jumlah), belajar berarti kegiatan pengisian atau pengembangan kemampuan kognitif dengan fakta sebanyak-banyaknya. Jadi, belajar dalam hal ini dipandang dari sudut berapa banyak materi yang dikuasai siswa. Secara institusional (tinjauan kelembagaan), belajar dipandang sebagai proses “validasi” atau pengabsahan terhadap penguasaan siswa atas materi-materi yang telah ia pelajari. Bukti institusional yang menunjukan siswa telah belajar dapat diketahui sesuai dengan proses mengajar. Ukurannya semakin baik mutu guru mengajar akan semakin baik pula mutu perolehan pelaku belajar yang kemudian dinyatakan dalam skor. Adapun pengertian belajar secara kualitatif (tinjauan mutu) ialah proses memperoleh arti-arti dan pemahaman-pemahaman serta cara-cara menafsirkan dunia disekeliling pelaku belajar. Belajar dalam pengertian ini difokuskan pada tercapainya daya pikir dan tindakan yang berkualitas untuk memecahkan masalahmasalah yang kini dan nanti dihadapi pelaku belajar.

Abu Muhammad Ibnu Abdullah (2008), beliau mengutip pendapat beberapa pakar dalam menjabarkan pengertian belajar, di antaranya adalah sebagai berikut: a. W.S. Winkel (1991: 36) dalam bukunya yang berjudul Psikologi Pengajaran. Menurutnya, pengertian belajar adalah suatu aktivitas mental/psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahanperubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan nilai-nilai sikap. Perubahan itu bersifat secara relatif konstan dan berbekas”. b. S. Nasution MA (1982: 68) mendefinisikan belajar sebagai perubahan kelakuan, pengalaman dan latihan. Jadi belajar membawa suatu perubahan pada diri individu yang belajar. Perubahan itu tidak hanya mengenai sejumlah pengalaman, pengetahuan, melainkan juga membentuk kecakapan, kebiasaan, sikap, pengertian, minat, penyesuaian diri. Dalam hal ini meliputi segala aspek organisasi atau pribadi individu yang belajar. c. Sedangkan Mahfud Shalahuddin (1990: 29) dalam buku: Pengantar Psikologi Pendidikan, mendefinisikan belajar sebagai suatu proses perubahan tingkah laku melalui pendidikan atau lebih khusus melalui prosedur latihan. Perubahan itu sendiri berangsur-angsur dimulai dari sesuatu yang tidak dikenalnya, untuk kemudian dikuasai atau dimilikinya dan dipergunakannya sampai pada suatu saat dievaluasi oleh yang menjalani proses belajar itu. d. Supartinah Pakasi (1981: 41) dalam buku: “Anak dan Perkembangannya,” mengatakan pendapatnya antara lain: 1) Belajar merupakan suatu komunikasi antar anak dan lingkungannya; 2) Belajar berarti mengalami; 3) Belajar berarti berbuat; 4) Belajar berarti suatu aktivitas yang bertujuan; 5) Belajar memerlukan motivasi; 6) Belajar memerlukan kesiapan pada pihak anak; 7) Belajar adalah berpikir dan menggunakan daya pikir; dan 8) Belajar bersifat integratif.”
Bertolak dari berbagai definisi yang telah diuraikan para pakar tersebut, secara umum belajar dapat dipahami sebagai suatu tahapan perubahan seluruh tingkah laku inividu yang relatif menetap (permanent) sebagai hasil pengalaman. Sehubungan dengan pengertian itu perlu ditegaskan bahwa perubahan tingkah laku yang timbul akibat proses kematangan (maturation), keadaan gila, mabuk, lelah, dan jenuh tidak dapat dipandang sebagai hasil proses belajar.

Berdasarkan hal tersebut dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu yang relatif menetap (permanent) sebagai hasil atau akibat dari pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif, afektif dan psikomotor.

Istilah menetap (permanent) dalam definisi ini mensyaratkan bahwa segala perubahan yang bersifat sementara tidak dapat disebut sebagai hasil atau akibat dari belajar. Demikian pula istilah pengalaman, ia menafikan keterkaitan antara belajar dengan segala tingkah laku yang merupakan hasil dari proses kematangan (maturation) fisik atau psikis. Sehingga kemampuan-kemampuan yang disebabkan oleh kematangan fisik atau psikis tidak dapat disebut sebagai hasil dari belajar. Adapun yang dimaksud dengan prestasi belajar atau hasil belajar menurut Muhibbin Syah, sebagaimana yang dikutip oleh Abu Muhammad Ibnu Abdullah (2008) adalah “taraf keberhasilan murid atau santri dalam mempelajari materi pelajaran di sekolah atau pondok pesantren yang dinyatakan dalam bentuk skor yang diperoleh dari hasil tes mengenai sejumlah materi pelajaran tertentu”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan prestasi belajar adalah “penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru”. Berdasarkan uraian-uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah tingkat keberhasilan yang dicapai dari suatu kegiatan atau usaha yang dapat memberikan kepuasan emosional, dan dapat diukur dengan alat atau tes tertentu. Adapun dalam penelitian ini yang dimaksud prestasi belajar adalah tingkat keberhasilan peserta didik setelah menempuh proses pembelajaran tentang materi tertentu, yakni tingkat penguasaan, perubahan emosional, atau perubahan tingkah laku yang dapat diukur dengan tes tertentu dan diwujudkan dalam bentuk nilai atau skor. <!--[if !supportLists]-->2. <!--[endif]-->Jenis dan indikator prestasi belajar

Prestasi belajar pada dasarnya adalah hasil akhir yang diharapkan dapat dicapai setelah seseorang belajar. Menurut Ahmad Tafsir (2008: 34-35), hasil belajar atau bentuk perubahan tingkah laku yang diharapkan itu merupakan suatu target atau tujuan pembelajaran yang meliputi 3 (tiga) aspek yaitu: 1) tahu, mengetahui (knowing); 2) terampil melaksanakan atau mengerjakan yang ia ketahui itu (doing); dan 3) melaksanakan yang ia ketahui itu secara rutin dan konsekwen (being). Adapun menurut Benjamin S. Bloom, sebagaimana yang dikutip oleh Abu Muhammad Ibnu Abdullah (2008), bahwa hasil belajar diklasifikasikan ke dalam tiga ranah yaitu: 1) ranah kognitif (cognitive domain); 2) ranah afektif (affective domain); dan 3) ranah psikomotor (psychomotor domain). Bertolak dari kedua pendapat tersebut di atas, penulis lebih cenderung kepada pendapat Benjamin S. Bloom. Kecenderungan ini didasarkan pada alasan bahwa ketiga ranah yang diajukan lebih terukur, dalam artian bahwa untuk mengetahui prestasi belajar yang dimaksudkan mudah dan dapat dilaksanakan, khususnya pada pembelajaran yang bersifat formal. Sedangkan ketiga aspek tujuan pembelajaran yang diajukan oleh Ahmad Tafsir sangat sulit untuk diukur. Walaupun pada dasarnya bisa saja dilakukan pengukuran untuk ketiga aspek tersebut, namun ia membutuhkan waktu yang tidak sedikit, khususnya pada aspek being, di mana proses pengukuran aspek ini harus dilakukan melalui pengamatan yang berkelanjutan sehingga diperoleh informasi yang meyakinkan bahwa seseorang telah benarbenar melaksanakan apa yang ia ketahui dalam kesehariannya secara rutin dan konsekuen. Berdasarkan hal tersebut, maka penulis berkesimpulan bahwa jenis prestasi belajar itu meliputi 3 (tiga) ranah atau aspek, yaitu: 1) ranah kognitif (cognitive domain); 2) ranah afektif (affective domain); dan 3) ranah psikomotor (psychomotor domain). Untuk mengungkap hasil belajar atau prestasi belajar pada ketiga ranah tersebut di atas diperlukan patokan-patokan atau indikator-indikator sebagai penunjuk bahwa seseorang telah

berhasil meraih prestasi pada tingkat tertentu dari ketiga ranah tersebut. Dalam hal ini Muhibbin Syah (2008: 150) mengemukakan bahwa: kunci pokok untuk memperoleh ukuran dan data hasil belajar siswa sebagaimana yang terurai di atas adalah mengetahui garis-garis besar indikator (penunjuk adanya prestasi tertentu) dikaitkan dengan jenis prestasi yang hendak diungkapkan atau diukur. Pengetahuan dan pemahaman yang mendalam mengenai indikator-indikator prestasi belajar sangat diperlukan ketika seseorang akan menggunakan alat dan kiat evaluasi. Muhibbin Syah (2008: 150) mengemukakan bahwa urgensi pengetahuan dan pemahaman yang mendalam mengenai jenis-jenis prestasi belajar dan indikator-indikatornya adalah bahwa pemilihan dan pengunaan alat evaluasi akan menjadi lebih tepat, reliabel, dan valid. Selanjutnya agar lebih mudah dalam memahami hubungan antara jenis-jenis belajar dengan indikator-indikatornya, berikut ini penulis sajikan sebuah tabel yang disarikan dari tabel jenis, indikator, dan cara evaluasi prestasi (Muhibbin Syah, 2008: 151).

Tabel 1 Jenis dan Indikator Prestasi Belajar No 1 Jenis Prestasi Belajar Ranah Cipta (Kognitif) <!--[if !supportLists]-->a. <!--[endif]-->Pengamatan <!--[if !supportLists]-->b. <!--[endif]-->Ingatan <!--[if !supportLists]-->c. <!--[endif]-->Pemahaman <!--[if !supportLists]-->d. <!--[endif]-->Penerapan <!--[if !supportLists]-->e. Indikator Prestasi Belajar <!--[if !supportLists]-->§ <!--[endif]-->Dapat menunjukkan <!--[if !supportLists]-->§ <!--[endif]-->Dapat membandingkan <!--[if !supportLists]-->§ <!--[endif]-->Dapat menghubungkan <!--[if !supportLists]-->§ <!--[endif]-->Dapat

<!--[endif]-->Analisis (pemeriksaan dan pemilahan secara teliti) <!--[if !supportLists]-->f. <!--[endif]-->Sintesis (membuat panduan baru dan utuh)

menyebutkan <!--[if !supportLists]-->§ <!--[endif]-->Dapat menunjukkan kembali <!--[if !supportLists]-->§ <!--[endif]-->Dapat menjelaskan <!--[if !supportLists]-->§ <!--[endif]-->Dapat mendefinisikan dengan lisan sendiri <!--[if !supportLists]-->§ <!--[endif]-->Dapat memberikan contoh <!--[if !supportLists]-->§ <!--[endif]-->Dapat menggunakan secara tepat <!--[if !supportLists]-->§ <!--[endif]-->Dapat menguraikan <!--[if !supportLists]-->§ <!--[endif]-->Dapat mengklasifikasikan/memil ah-milah <!--[if !supportLists]-->§ <!--[endif]-->Dapat menghubungkan <!--[if !supportLists]-->§ <!--[endif]-->Dapat menyimpulkan <!--[if !supportLists]-->§ <!--[endif]-->Dapat menggeneralisasikan (membuat prinsip umum)

2

Ranah Rasa (Afektif)

<!--[if !supportLists]-->§

<!--[endif]-->Mengingkari <!--[if !supportLists]-->a. <!--[endif]-->Penerimaan <!--[if !supportLists]->b.<!--[endif]->Sambutan <!--[if !supportLists]-->c. <!--[endif]-->Apresiasi (sikap menghargai) <!--[if !supportLists]->d.<!--[endif]->Internalisasi (pendalaman) <!--[if !supportLists]-->e. <!--[endif]-->Karaktirasasi 3 Ranah Karsa (Psikomotor)) <!--[if !supportLists]-->a. <!--[endif]->Keterampilan bergerak dan bertindak <!--[if !supportLists]-->b. <!--[endif]-->Kecakapan kespresi verbal dan nonverbal <!--[if !supportLists]-->§ <!--[endif]->Mengkoordinasikan gerak mata, tangan, kaki, dan anggota tubuh lainnya <!--[if !supportLists]-->§ <!--[endif]->Mengucapkan <!--[if !supportLists]-->§ <!--[endif]-->Membuat mimik dan gerakan jasmani <!--[if !supportLists]-->§ <!--[endif]->Melembagakan atau meniadakan <!--[if !supportLists]-->§ <!--[endif]->Menjelmakan dalam pribadi dan perilaku sehari-hari)

3. <!--[endif]-->Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar Prestasi belajar di sekolah sangat dipengaruhi oleh kemampuan umum kita yang diukur oleh IQ, IQ yang tinggi dapat meramalkan kesuksesan prestasi belajar. Namun demikian pada

beberapa kasus, IQ yang tinggi ternyata tidak menjamin kesuksuksesan seseorang dalam belajar dan hidup bermasyarakat. IQ bukanlah satu-satunya faktor penentu kesuksesan prestasi belajar seseorang. Ada“Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Anak dan Kurikulum Berbasis Komputensi di Sekolah Dasar” faktor-faktor lain yang turut andil mempengaruhi

perkembangan prestasi belajar. Sehubungan dengan hal tersebut, pada kegiatan Seminar Sehari tentang , diperoleh kesimpulan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar adalah antara lain sebagai berikut: 1) pengaruh pendidikan dan pembelajaran unggul; 2) perkembangan dan pengukuran otak; dan 3) kecerdasan (intelegensi) emosional (http://ditptksd.go.id, 2008). Sementara itu, Sunarto (2009) mendeskripsikan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar dan mengklasifikasikannya menjadi dua bagian, yaitu: 1) faktor-faktor intern; dan 2) faktor-faktor ekstern. Faktor-faktor intern, yakni faktor-faktor yang berasal dari dalam diri seseorang yang dapat mempengaruhi prestasi belajarnya. Di antara faktor-faktor intern yang dapat mempengaruhi prestasi belajar seseorang adalah antara lain: 1) kecerdasan/intelegensi; 2) bakat; 3) minat; 4) motivasi. Adapun faktor-faktor ekstern, yaitu faktor-faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar seseorang yang sifatnya berasal dari luar diri seseorang tersebut. Yang termasuk faktor-faktor ini adalah antara lain: 1) keadaan lingkungan keluarga; 2) keadaan lingkungan sekolah; dan 3) keadaan lingkungan masyarakat (Sunarto, 2009). Kedua uraian pendapat tersebut di atas kurang merepresentasikan kesemua faktor yang dapat mempengaruhi proses dan prestasi belajar seseorang. Masih banyak faktor-faktor lain yang belum tercover di dalamnya. Oleh karenanya, untuk melengkapi kedua pendapat tersebut, penulis sajikan pandangan Muhibbin Syah mengenai hal tersebut. Menurut beliau, faktor-faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar peserta didik di sekolah, secara garis besar dapat dibagi kepada tiga bagian, yaitu :

<!--[if !supportLists]-->a. <!--[endif]-->Faktor internal (faktor dari dalam diri peserta didik), yakni keadaan/kondisi jasmani atau rohani peserta didik. Yang termasuk faktor-faktor internal antara lain adalah: <!--[if !supportLists]-->1) <!--[endif]-->Faktor fisiologis Keadaan fisik yang sehat dan segar serta kuat akan menguntungkan dan memberikan hasil belajar yang baik. Tetapi keadaan fisik yang kurang baik akan berpengaruh pada siswa dalam keadaan belajarnya. <!--[if !supportLists]-->2) <!--[endif]-->Faktor psikologis Yang termasuk dalam faktor-faktor psikologis yang mempengaruhi prestasi belajar adalah antara lain: <!--[if !supportLists]-->a) <!--[endif]-->Intelegensi, faktor ini berkaitan dengan

Intellegency Question (IQ) seseorang <!--[if !supportLists]-->b) <!--[endif]-->Perhatian, perhatian yang terarah dengan baik akan menghasilkan pemahaman dan kemampuan yang mantap. <!--[if !supportLists]-->c) <!--[endif]-->Minat, Kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. <!--[if !supportLists]-->d) <!--[endif]-->Motivasi, merupakan keadaan internal organisme yang mendorongnya untuk berbuat sesuatu. <!--[if !supportLists]-->e) <!--[endif]-->Bakat, kemampuan potensial yang dimiliki

seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yag akan datang.

<!--[if !supportLists]-->b. <!--[endif]-->Faktor eksternal (faktor dari luar peserta didik), yakni kondisi lingkungan sekitar peserta didik. Adapun yang termasuk faktor-faktor ini antara lain yaitu : <!--[if !supportLists]-->1) <!--[endif]-->Faktor sosial, yang terdiri dari: lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat <!--[if !supportLists]-->2) <!--[endif]-->Faktor non sosial, yang meliputi keadaan dan letak gedung sekolah, keadaan dan letak rumah tempat tinggal keluarga, alat-alat dan sumber belajar, keadaan cuaca dan waktu belajar yang digunakan siswa. Faktor-faktor tersebut dipandang turut menentukan tingkat keberhasilan belajar peserta didik di sekolah. <!--[if !supportLists]-->c. <!--[endif]-->Faktor pendekatan belajar (approach to learning), yakni jenis upaya belajar peserta didik yang meliputi strategi dan metode yang digunakan peserta didik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran (Muhibin Syah, 2008: 139). Dan untuk lebih memudahkan dalam memahami hubungan antara proses dan prestasi belajar dengan faktor-faktor yang mempengaruhinya, berikut ini penulis sajikan skema hubungan tersebut:

Gambar 1 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Proses dan Prestasi Belajar

DAFTAR PUSTAKA:

<!--[if !supportLists]-->1. <!--[endif]-->Abu Muhammad Ibnu Abdullah. 2008. Prestasi Belajar, (Online) (http://spesialis-torch.com, diakses 22 Januari 2009). <!--[if !supportLists]-->2. <!--[endif]-->Adi Satrio. 2005. Kamus Ilmiah Populer. Visi7 <!--[if !supportLists]-->3. <!--[endif]-->Agus Hikmat Syaf. 2008. Pengembangan Sistim Evaluasi Pembelajaran. Bandung: Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Gunung Djati. <!--[if !supportLists]-->4. <!--[endif]-->Ahmad Tafsir. 2007. Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam. Bandung: Remaja Rosdakarya. Cet. ke -7. <!--[if !supportLists]-->5. <!--[endif]-->----------------- 2008. Strategi Meningkatkan Mutu Pendidikan Agama Islam di Sekolah. Bandung: Maestro. <!--[if !supportLists]-->6. <!--[endif]-->http://ditptksd.go.id. 2008. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Anak, (Online) (http://ditptksd.go.id, diakses 2 Pebruari 2009). <!--[if !supportLists]-->7. <!--[endif]-->Muhibbin Syah. 2008. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: Remaja Rosdakarya. Cet. ke -14. <!--[if !supportLists]-->8. <!--[endif]-->Noehi Nasution dkk. 1998. Materi Pokok Psikologi Pendidikan, Modul Program Penyetaraan D-II Guru PAI SD dan MI. Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam dan Universitas Terbuka.

Diposkan oleh Areefah di 17:06 Label: areefah, belajar, prestasi, prestasibelajar, teori, uin, yahya

0 komentar:
Poskan Komentar

Link ke posting ini
Buat sebuah Link

http://www.membuatblog.web.id/2010/08/pengertian-belajar-efektif.html

Cara membuat blog
Top of Form

GO
Bottom of Form

Panduan membuat blog

• • • • • •

Home About Contact Privacy Policy Sitemap Butuh uang?

Pengertian belajar efektif
August 13, 2010 | In: ilmu

Pengertian belajar efektif – Belajar adalah suatu aktivitas yang dilakukan secara sadar untuk mendapatkan sejumlah kesan dari bahan yang telah dipelajari ( Bari

Djamarah, 1994: 21). Menurut James O. Wittaker belajar dapat didefinisikan sebagai proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman. sedangkan menurut Cronbach belajar yang efektif adalah melalui penglaman. Dan menurut Howard L. Kingsley belajar adalah proses dimana tingkah laku (dalam arti luas) ditimbulkan atau diubah melalui praktek dan latihan (Dalyono, 2006: 104). Dari beberapa pendapat para ahli tentang pengertian belajar adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan melibatkan 2 unsur yaitu jiwa dan raga. Gerak raga yang ditunjukkan harus sejalan dengan proses jiwa untuk mendapatkan perubahan sebagai hasil dari proses belajar. Sehingga dilihat dari pengertian prestasi dan belajar tersebut maka dapat diambil kesimpulan prestasi belajar adalah hasil yang diperoleh berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan. Bentuk perubahan dari hasil belajar meliputi tiga aspek, yaitu : a). Aspek kognitif meliputi perubahan-perubahan dalam segi penguasaan pengetahuan dan perkembangan eterampilan/kemampuan yang diperlukan untuk menggunakan pengetahuan tersebut. b). Aspek efektif meliputi perubahan-perubahan dalam segi sikap mental, perasaan dan kesadaran. c). Aspek psikomotor meliputi perubahan-perubahan dalam segi bentuk-bentuk tindakan motorik. (Daradjat, 1995: 197) Prestasi belajar siswa yang diperoleh dalam proses belajar-mengajar disekolah dapat dilihat dan diketahui dari nilai hasil ujian semester, yang kemudian dituangkan dalam daftar nilai raport. Nilai tersebut merupakan nilai yang dapat dijadikan acuan berhasil tidaknya siswa belajar serta dijadikan acuan berhasil tidaknya proses belajar mengajar di kelas. Penilaian prestasi siswa yang dicantumkan dalam rapot, bisa berbentuk anka jiga berbentuk huruf. Prestasi belajar tidak hanya sebagai indikator keberhasilan dalam bidang studi tertentu yang telah dipelajarinya, akan tetapi juga keberhasilan sebagai indikator kualitas institusi pendidikan di tempat dia belajar.

Tagged As:
pengertian belajar - belajar efektif - pengertian belajar efektif - definisi belajar - pengertian belajar menurut para ahli - belajar yang efektif - definisi belajar efektif - arti belajar menurut pendapat para ahli - definisi belajar menurut para ahli - pengertian prestasi belajar menurut para ahli Related posts:

1. Hakikat belajar dan pembelajaran 2. Pengertian manajemen 3. Pengertian Pendidikan Lingkungan Hidup 4. Pengertian Otonomi Daerah 5. Pengertian koperasi 6. Blog tempat belajar ngeblog 7. Pengertian Daerah Aliran Sungai 8. Pengertian hakikat manusia 9. Pengertian modal

Comment Form
Top of Form

Your Name

Your Email

Your URL

Post

698

Bottom of Form

Categories
• • • • • • • • • • •
berita (48) blog (33) english knowledge (7) Hiburan (30) ilmu (138) internet (21) kesehatan (42) sejarah (5) template (2) tips (19) Uncategorized (5)

Archives
• • • • • • •
November 2010 October 2010 September 2010 August 2010 July 2010 June 2010 May 2010

• • • • • • •

April 2010 March 2010 February 2010 January 2010 December 2009 November 2009 September 2009

Links
• • • • • •
mastegar Ega Abdillah Casio Men's Watch Tips kesehatan World news Theanon techno news

Baru masuk
pengertian prestasi belajara menurut para ahli - bahan pengawet makanan - struktur sel hewan pengertian protein - cara hipnotis orang download - contoh tanaman dikotil - kasus hak asasi manusia - gambar pemandangan - bagaimana cara mengedit fhoto di komputer - panduan membuat web gratis - penyebab stroke - template blog gratis - arti mimpi digigit ular - CARA HIPNOTIS UYA KUYA pembuahan ganda pada spermatophyta -

Latest comments
• • • • • • • • • •
sycilia: thank's.... ignatius: bagaimana cara membuka email? KEPEMIMPINAN DALAM BERWIRAUSAHA : Warta Warga: [...] http://www.membuatblog.web.id/2010/05/kepemimpinan-dalam-organisasi.html [18 Februari 2011] [...] evans: alhmdllh setelah lama menunggu akhirnya blogku link data alexanya gk nol lagi....... usahaku membuahkan hasil...... adinda mutiara radani: hay semuanya adinda mutiara radani: tezzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz vicky anjar: mantaaab lengkapnya Annida Miftakhul: klo ala romi rafael tuhgmn?? kha: Jadi Penyebabnya ; perubahan jumlah awan, pemantulan panas yang berbeda antara daratan dan lautan, perubahan kandungan uap air di udara, bobby: emang hipnotis itu gatakut dosa aibbnya!!!!!!!!!!!!! iiiiiccccchhhhh ngeeerrriiii karna sudah bikin oranglain terbuka

Recent Posts

Lemak trans

• • • • • • • • •

Demi lovato cutting problem Manfaat buah alpukat Mengatasi insomnia Peluang usaha modal kecil Mengobati Gigitan Serangga Penyebab stroke Facebook Threatened Blocked Why mobile phone signals more often crash Penyebab asam urat

Paling ngetop!
• • • • • • • • • • • • • •
• contoh surat pengunduran diri buat email surat pengunduran diri sejarah perkembangan komputer membuat email terjemahan inggris indonesia terjemah PEMANDANGAN buat email baru penyebab global warming contoh surat resign kultur jaringan jaringan tumbuhan surat pengunduran diri kerja perkembangan islam di indonesia

My colega ID news
• • • • • • • •
Best superbowl commercials of all time Black eyed peas super bowl performance Christina aguilera national anthem super bowl 2011 Superbowl kickoff time 2011 My life as liz season 2 Chocolate covered strawberries wedding Real housewives of beverly hills reunion Challenger explosion crew


Challenger explosion facts ps3 update 3.56

084 Prestasi Belajar

Thursday, 29 May 2008

Prestasi Belajar
Oleh: Abu Muhammad Ibnu Abdullah
Pada bulan Mei, ada 2 hari besar yang biasa dirayakan oleh bangsa Indonesia, yakni Hari Pendidikan Nasional (2/5) dan Hari Kebangkitan Nasional (20/5). Beberapa hari terakhir ini, sekolah-sekolah dari strata pendidikan dasar dan menengah di Indonesia secara serentak melakukan ujian nasional. Tingkat keberhasilan kelulusan murid atau siswa sangat ditentukan oleh sejauh mana mereka mempersiapkan diri menghadapi ujian melalui keseriusannya dalam belajar. Pengertian Belajar Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku di dalam diri manusia. Bila telah selesai suatu usaha belajar tetapi tidak terjadi perubahan pada diri individu yang belajar, maka tidak dapat dikatakan bahwa pada diri individu tersebut telah terjadi proses belajar. Banyak para ahli yang mengemukakan pendapat mengenai belajar. Di antaranya adalah W.S. Winkel (1991 : 36) dalam bukunya yang berjudul: ‘Psikologi Pengajaran.’ Menurutnya, pengertian belajar adalah: “Suatu aktivitas mental/psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan nilai-nilai sikap. Perubahan itu bersifat secara relatif konstan dan berbekas.” Menurut S. Nasution MA (1982 : 68) belajar adalah: “Sebagai perubahan kelakuan, pengalaman dan latihan. Jadi belajar membawa suatu perubahan pada diri individu yang belajar. Perubahan itu tidak hanya mengenai sejumlah pengalaman, pengetahuan, melainkan juga membentuk kecakapan, kebiasaan, sikap, pengertian, minat, penyesuaian diri. Dalam hal ini meliputi segala aspek organisasi atau pribadi individu yang belajar.”

Sedangkan Mahfud Shalahuddin (1990 : 29) dalam buku: Pengantar Psikologi Pendidikan, mendefinisikan bahwa: “Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku melalui pendidikan atau lebih khusus melalui prosedur latihan. Perubahan itu sendiri berangsur-angsur dimulai dari sesuatu yang tidak dikenalnya, untuk kemudian dikuasai atau dimilikinya dan dipergunakannya sampai pada suatu saat dievaluasi oleh yang menjalani proses belajar itu.” Kemudian, Supartinah Pakasi (1981 : 41) dalam buku: “Anak dan Perkembangannya,” mengatakan pendapatnya antara lain: “1) Belajar merupakan suatu komunikasi antar anak dan lingkungannya; 2) Belajar berarti mengalami; 3) Belajar berarti berbuat; 4) Belajar berarti suatu aktivitas yang bertujuan; 5) Belajar memerlukan motivasi; 6) Belajar memerlukan kesiapan pada pihak anak; 7) Belajar adalah berpikir dan menggunakan daya pikir; dan 8) Belajar bersifat integratif.” Proses Pembelajaran Menurut pengertian secara psikologis: “Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baik secara keseluruhan sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungan.” Menurut Slameto (1995 : 2) mengatakan bahwa ciri perubahan tingkah laku dalam belajar adalah sebagai berikut: “a) Perubahan terjadi secara sadar; b) Perubahan dalam belajar bersifat kontinue dan fungsional; c) Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif; d) Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara; e) Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah; dan f) Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku.” Menurut R. Gagne belajar didefinisikan: a) Belajar ialah suatu proses untuk memperoleh motivasi dalam pengetahuan, keterampilan, kebiasaan, dan tingkah laku; dan b) Belajar adalah penguasaan pengetahuan/keterampilan yang diperoleh dari instruksi. Teori belajar disebut juga teori perkembangan mental yang pada prinsipnya berisi tentang apa yang terjadi dan apa yang akan diharapkan terjadi pada mental anak didik yang dapat dilakukan pada usia tertentu. Maksudnya kesiapan anak didik untuk bisa belajar, sedangkan teori mengajar adalah uraian tentang petunjuk bagaimana semestinya mengajar anak didik pada usia siap untuk menerima pelajaran. Hakikat Belajar dan Sumber Belajar Istilah belajar sudah terlalu akrab dengan kehidupan kita sehari-hari. Di masyarakat, kita sering menjumpai penggunaan istilah belajar seperti: belajar membaca, menyanyi, berbicara; dan lainnya. Masih banyak lagi penggunaan istilah, bahkan termasuk kegiatan belajar yang sifatnya lebih umum dan tak mudah diamati, seperti: belajar hidup mandiri, menghargai waktu, berumah tangga, bermasyarakat, mengendalikan diri dan seterusnya. Belajar, merupakan kegiatan yang terjadi pada semua orang tanpa mengenal batas usia, dan berlangsung seumur hidup. Belaja.r merupakan usaha yang dilakukan seseorang melalui interaksi dengan lingkungannya untuk

mengubah perilakunya. Dengan demikian, hasil dari kegiatan belajar adalah berupa perubahan perilaku yang relatif permanen pada diri orang yang belajar. Tentu saja, perubahan yang diharapkan adalah perubahan ke arah yang positif atau yang lebih baik. Jadi, sebagai pertanda bahwa seseorang telah melakukan proses belajar adalah terjadinya perubahan menjadi mengerti, dari tidak bisa menjadi terampil, dari pembohong menjadi jujur dan lain sebagainya. Kegiatan belajar, sering dikaitkan dengan kegiatan mengajar. Begitu eratnya kaitannya, sehingga keduanya sulit dipisahkan. Kegiatan mengajar dikatakan berhasil hanya apabila dapat mengakibatkan/menghasilkan kegiatan belajar pada diri murid. Jadi, sebenarnya hakekat guru mengajar adalah usaha guru untuk membuat muridnya belajar. Dengan kata lain, mengajar merupakan upaya menciptakan kondisi agar terjadi kegiatan mengajar. Istilah pembelajaran lebih menggambarkan usaha guru untuk membuat belajar para muridnya. Pekerjaan mengajar tidak selalu harus diartikan sebagai kegiatan menyajikan materi pelajaran. Meskipun menyajikan materi pelajaran memang merupakan bagian dari kegiatan pembelajaran, tetapi bukanlah satu-satunya. Masih banyak cara lain yang dapat dilakukan guru untuk membuat murid belajar. Pesan yang seharusnya dilakukan guru adalah mengusahakan agar setiap murid dapat berinteraksi secara aktif dengan berbagai sumber belajar yang ada. Guru hanya merupakan salah satu (bukan satu-satunya) sumber belajar bagi murid. Selain guru, masih banyak lagi sumber-sumber belajar yang lain. Menurut Asosiasi Teknologi Komunikasi Pendidikan (AECT), (2003 : 6) sumber belajar adalah “Semua sumber (baik berupa data, orang atau benda) yang dapat digunakan untuk memberi fasilitas (kemudahan) belajar bagi murid. Sumber belajar itu meliputi : pesan, orang, bahan, peralatan, teknik dan lingkungan / latar” Hasil dan Prestasi Belajar Istilah hasil belajar berasal dari bahasa Belanda “prestatie,” dalam bahasa Indonesia menjadi prestasi yang berarti hasil usaha. Dalam literature, prestasi selalu dihubungkan dengan aktivitas tertentu, seperti dikemukakan oleh Robert M. Gagne (1988 : 65) bahwa dalam setiap proses akan selalu terdapat hasil nyata yang dapat diukur dan dinyatakan sebagai hasil belajar (achievement) seseorang. Muhibbin Syah (1997 : 141) menjelaskan bahwa: “Prestasi belajar merupakan taraf keberhasilan murid atau santri dalam mempelajari materi pelajaran di sekolah atau pondok pesantren dinyatakan dalam bentuk skor yang diperoleh dari hasil tes mengenai sejumlah materi pelajaran tertentu. Perubahan sebagai hasil belajar bersifat menyeluruh. Menurut pandangan ahli jiwa Gastalt, bahwa perubahan sebagai hasil belajar bersifat menyeluruh baik perubahan pada perilaku maupun kepribadian secara keseluruhan. Belajar bukan semata-mata kegiatan mekanis stimulus respon, tetapi melibatkan seluruh fungsi organisme yang mempunyai tujuan-tujuan tertentu. Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar

adalah hasil yang dicapai dari suatu kegiatan atau usaha yang dapat memberikan kepuasan emosional, dan dapat diukur dengan alat atau tes tertentu. Dalam proses pendidikan prestasi dapat diartikan sebagai hasil dari proses belajar mengajar yakni, penguasaan, perubahan emosional, atau perubahan tingkah laku yang dapat diukur dengan tes tertentu. Hasil belajar sering dipergunakan dalam arti yang sangat luas yakni untuk bermacam-macam aturan terhadap apa yang telah dicapai oleh murid, misalnya ulangan harian, tugas-tugas pekerjaan rumah, tes lisan yang dilakukan selama pelajaran berlangsung, tes akhir catur wulan dan sebagainya. Dalam tulisan ini hasil belajar yang dimaksudkan adalah dalam pengertian yang terakhir, yaitu tes terakhir catur wulan. Oleh karena itu proposisi yang dipakai adalah sebagai berikut: Pertama, hasil belajar murid merupakan ukuran keberhasilan guru dengan anggapan bahwa fungsi penting guru dalam mengajar adalah untuk meningkatkan prestasi belajar murid; Kedua, hasil belajar murid mengukur apa yang telah dicapai murid; dan Ketiga, hasil belajar (achievement) itu sendiri dapat diartikan sebagai tingkat keberhasilan murid dalam mempelajari materi pelajaran di pondok pesantren atau sekolah, yang dinyatakan dalam bentuk skor yang diperoleh dari hasil tes mengenai sejumlah materi pelajaran tertentu. Pada umumnya, untuk menilai hasil belajar murid, guru dapat menggunakan bermacam-macam “achievement test,” seperti “oral test,” “essay test” dan “objective test” atau “short-answer test”. Sedangkan untuk nilai proses belajar dan hasil belajar murid yang bersifat keterampilan (skill), tidak dapat dipergunakan hanya dengan tes tertulis atau lisan, tapi harus dengan ‘performance test’ yang bersifat praktek. Selanjutnya Davis mengatakan bahwa dalam setiap proses belajar akan selalu terdapat hasil nyata yang dapat diukur. Hasil nyata yang dapat dikur dinyatakan sebagai prestasi belajar seseorang. Benjamin S. Bloom (1956 : 1-10) mengklasifikasi hasil belajar dalam tiga ranah yaitu: ranah kognitif (cognitive domain), ranah afektif (affective domain), dan ranah psikomotor (psychomotor domain). Hasil belajar dalam ranah kognitif terdiri dari enam kategori yaitu: pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi. Sedangkan ranah afektif berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek, yakni penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi dan internalisasi. Dan yang terakhir ranah psikomotorik berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak. Hasil belajar yang diidentifikasi dalam tulisan ini mengacu pada ranah kognitif. Dalam kaitan ini Soedjarto mengemukakan pula bahwa hasil belajar adalah tingkat penguasaan yang dicapai oleh murid dalam mengikuti program belajar mengajar, sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Dari uraian-uraian di atas jelas bahwa suatu proses belajar mengajar pada akhirnya akan menghasilkan kemampuan seseorang yang mencakup

pengetahuan, sikap dan keterampilan. Dalam arti bahwa perubahan kemampuan merupakan indikator untuk mengetahui hasil prestasi belajar murid.. Hasil prestasi belajar murid diukur dengan menggunakan tes hasil belajar. Tes ini disusun dan dikembangkan dari pokok-pokok bahasan yang dipelajari oleh murid dalam beberapa materi pelajaran di sekolah atau pondok pesantren. Lalu bagaimana hasil dan prestasi belajar anak kita? (*)

Users' Comments
Average user rating

(0 vote)

Display 1 of 1 comments
[+] Expand comment

pelajar
By: nisa () on 08-06-2010 22:41 [-] Collapse comment

pelajar
By: nisa ( IP 202.70.54.23) on 08-06-2010 22:41

thanks a lot,,,bahan buat tugas

» Report this comment to administrator » Reply to this comment...

Display 1 of 1 comments

Add your comment
[+] Show form

[-] Hide form

Top of Form

Name
0

E-mail Title

Comment

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

Bold Italics Underline Link Image Quote Code Help

Available characters: 600

Notify me of follow-up comments Mathguard security question:

WSA I E O 1

I UIH W

FGO X A USH Y 5 6FM

81T 48J

f8f8a28913da23c

Reset

120

0

1

0

en

com_maxcommen

savecomment

1

Bottom of Form

http://spesialis-torch.com/content/view/120/29/
mXcomment 1.0.6 © 2007-2011 - visualclinic.fr

Entri Populer

Macam - Macam Aliran Seni Lukis dan Pengertian nya Naturalisme Yaitu suatu bentuk karya seni lukis (seni rupa) dimana seniman berusaha melukiskan segala sesuatu sesuai dengan nature atau alam...

Pengertian Globalisasi A. Globalisasi1. Pengertian Globalisasi Globalisasi merupakan suatu proses yang mencakup keseluruhan dalam berbagai bidang kehidu...

Pengertian Teropong Pengertian Teropong Teropong atau Teleskop adalah alat optik yang digunakan untuk melihat benda-benda yang sangat jauh seperti gunung d...

Pengertian Administrasi Negara DEFINISI ADMINISTRASI NEGARA 1. Menurut M/E Dimock Dan G.O Dimock mengatakan bahwa : Administrasi Negara merupakan suatu bagi...

Pengertian Inovatif, Kreatif dan Produktif INOVATIF Kata inovatif berasal dari kata bahasa inggis “innovate” yg artinya memperkenalkan sesuatu yg baru sedangkan innovative ...

Pengertian Akhlak Pengertian Akhlak Akhlak dari kata Al-Akhlak, jamak dari Al-khuluq yang artinya kebiasaan, perangai, tabiat dan agama. Menurut Al Gazali, ...

Mungkin Ini Yang Bisa Saya Bagi Kepada Anda Jika Kurang Berkenan Dengan Artikel Yang Saya Posting, Saya Menghaturkan Maaf, Bila Anda Puas Dan Senang Dengan Artikel Saya Sudah Selayaknya Anda Bisa Berbagi Kepada Anak Yatim Piatu Atau Tetangga Anda Yang Kurang Mampu. Saya yakin dengan berbagi, masalah atau hal yang kita kerjakan akan cepat selesai. Jangan Lupa Tengok Iklan nya, Indah Nya Berbagi :)

Iklan Oleh Kumpulblogger

HAnya 10rb Untuk Anda Malam Ini Tanpa Buat web, mudah dijalankan, panduan lengkap, Hanya Rp 25.000 Khusus Untuk PEMULA Tanpa Buat web, mudah dijalankan, panduan lengkap, Hanya Rp 25.000 Khusus Untuk PEMULA Tanpa Buat web, mudah dijalankan, panduan lengkap,

KumpulBlogger.com

Your browser does not support iframes.

Rabu, 21 Mei 2008

Pengertian Belajar
Pengertian belajar. Belajar merupakan kegiatan semua orang. Pengetahuan terbentuk dan berkembang disebabkan adanya belajar. OIeh karena itu seseorang dikatakan belajar bila dapat diasumsikan dalam diri seseorang itu menjadi suatu proses kegiatan yang mengakibatkan perubahan tingkah Iaku. Perubahan tanpa disertai usaha bukanlah di namakan belajar. Menurut the Liang Gie, belajar adalah segenap rangkaian kegiatan yang dilakukan secara sadar oleh seseorang yang rnengakibatkan perubahan dalam dirinya berupa penambahan pengetahuan ( 1979 22 ). Sedangkan ahli psikoiogi Hilgart dan Lower mendefinisikan belajar itu adalah berhubungan dengan tingkah Iaku seseorang terhadap situasi tertentu

yang disebabkan pengeluaran berulang - ulang dalam situasi itu, dimana perubahan tingkah laku tidak dapat dijelaskan atas dasar kecenderungan atas respon pembawaan, kematangan atau keadaan seorang diri, misalnya

kelelahan, pengaruh obat dan lain sebagainya ( Mulyadi, 1954 52 ). Berdasarkan berbagai pendapat diatas, penulis berkesimpulan bahwa dimaksud belajar adalah segenap aktifitas yang dilakukan seseorang sadar, baik berupa penambahan pengetahuan atau ketrampilan yang menghasilkan tingkah laku baik berupa sifat psikis atau fisik. b. Pengertian prestasi. Menurut Adi Negoro, prestasi adalah segala jenis pekerjaan yang berhasil dan prestasi itu rnenunjukkan kecakapan suatu bangsa. Ka!au menurut W.J.S Winkel Purwadarmtinto, “ prestasi adalah hasil yang dicapai “. Berdasarkan pendapat diatas, penulis berkesirnpulan hahwa prestasi adalah segala usaha yang dicapai manusia secara maksimal dengan hasil yang memuaskan. c. Pengertian prestasi belajar. Menurut W.J.S Purwadarrninto ( 1987:767 ) rnenyatakan bahwa prestasi belajar adalah hasil yang dicapai sebaik - baiknya menurut kemampuan anak pada waktu tertentu terhadap hal - hal yang dikerjakan atau dilakukan “. Jadi prestasi belajar adalah hasil belajar yang telah dicapai menurut kemampuan yang tidak dimiliki dan ditandai dengan perkembangan serta perubahan tingkah laku pada diri seseorang yang diperlukan dari belajar dengan waktu tertentu, prestasi belajar ini dapat dinyatakan dalam bentuk nilai dan hasil tes atau ujian. 2. Faktor - faktor yang mempengaruhi prestasi

Setiap aktifitas yang dilakukan oleh seseorang tentu ada faktor - faktor yang mempengaruhinya, baik yang cenderung mendorong maupun yang menghambat. Demikian juga dialami belajar, faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa itu adalah sebagai berikut : a. Faktor internal. Faktor internal ada1ah faktor yang berasal dari dalam diri siswa. Faktor ini dapat dibagi dalam beberapa bagian, yaitu : 1) Faktor lntelegensi Intelegensi dalarn arti sernpit adalah kemampuan untuk mencapai prestasi di sekolah yang didalamnya berpikir perasaan. Intelegensi ini

memegang peranan yang sangat penting bagi prestasi belajar siswa. Karena tingginya peranan intelegensi dalam mencapai prestasi belajar maka guru harus memberikan perhatian yang sangat besar terhadap bidang studi yang banyak membutuhkan berpikir rasiologi untuk rnata pelajaran matematika. 2) Faktor Minat Minat adalah kecenderungan yang mantap dalam subyek untuk merasa tertarik pada bidang tertentu. Siswa yang kurang beminat dalam pelajaran tertentu akan rnenghambat dalam belajar. 3) Faktor Keadaan Fisik dan Psikis Keadaan fisik rnenunjukkan pada tahap pertumbuhan, kesehatan jasmani, keadaan alat - alat indera dan lain sebagainya. Keadaan psikis menunjuk pada keadaan stabilitas / Iabilitas mental siswa, karena fisik dan psikis yang sehat sangat berpengaruh positif terhadap kegiatan belajar mengajar dan sebaliknya. b. Faktor Eksternal

Faktor eksternal adalah faktor dan luar diri siswa yang mempengaruhi prestasi belajar. Faktor eksternal dapat dibagi rnenjadi beberapa bagian, yaitu : 1) Faktor Guru Guru sebagai tenaga berpendidikan rnemiliki tugas menyelenggarakan kegiatan belajar rnengajar, rnembimbing, melatih, mengolah, meneliti dan mengembangkan serta memberikan pelalaran teknik karena itu setiap guru harus memiliki wewenang dan kemampuan profesiona1, kepribadian dan kemasyarakatan. Guru juga rnenunjukkan flexibilitas yang tinggi yaitu pendekatan didaktif dan gaya memirnpin kelas yang selalu disesuaikan dengan keadaan, situasi kelas yang diberi pelajaran, sehingga dapat rnenunjang tingkat prestasi siswa semaksimal mungkin. 2) Faktor Lingkungan Keluarga Lingkungan keluarga turut mempengaruhi kemajuan hasil kerja, bahkan mungkin dapat dikatakan menjadi faktor yang sangat penting, karena sebagian besar waktu belajar dilaksanakan di rumah, keluarga kurang mendukung situasi belajar. Seperti kericuhan keluarga, kurang perhatian orang tua, kurang perlengkapan belajar akan mempengaruhi berhasil tidaknya belajar. 3) Faktor Sumber - Sumber Belajar Salah satu faktor yang rnenunjang keberhasilan dalam proses belajar adalah tersedianya sumber belajar yang memadai. Sumber belajar itu dapat berupa media / alat bantu belajar serta bahan baku penunjang. AIat bantu belajar merupakan semua alat yang dapat digunakan untuk membantu siswa dalam melakukan perbuatan belajar. Maka pelajaran akan lebih menarik,

menjadi konkret, mudah dipahami, hemat waktu dan tenaga serta hasil yang lebih bermakna. 3. Evaluasi belajar a. Pelaksanaan evaluasi belajar Menurut Dr. Qemar Hamalik (1995:170 ) rnengatakan bahwa evaluasi terhadap hasil belajar yang dilaksanakan dengan cara dan bentuk yang sesuai dengan maksud dan tujuan evaluasi melalui: <!--[if !supportLists]-->1. <!--[endif]-->Evaluasi sumatif atau tes sumatif adalah suatu bentuk pelaksanaan evaluasi yang dilakukan pada waktu berakhirnya program pembelajaran atau kegiatan belajar mengajar. Bentuk evaluasi ini bertujuan untuk mengetahui hasil akhir semester yang dapat dicapai oleh siswa. <!--[if !supportLists]-->2. <!--[endif]-->Evaluasi formatif atau tes formatif adalah suatu bentuk pelaksanaan evaluasi yang dilakukan selama berlangsungnya program dan kegiatan pembelajaran. Tujuan pelaksanaan evaluasi ini adalah untuk memperoleh informasi balikan terhadap proses belajar mengajar, maka dapat segera dilakukan perbaikan sebagaimana mestinya. <!--[if !supportLists]-->3. <!--[endif]-->Tugas adalah suatu bentuk

pelaksanaan evaluasi rneskipun bukan evaluasi dalam arti formal. Tujuan dan pembelajaran tugas adalah untuk memperoleh informasi mengenai tingkat penguasaan bahan pelajaran oleh siswa, sehingga dapat disusun dan diramalkan kemungkinan keberhasliannya setelah mengalami proses belajar mengajar.

DIPOSKAN OLEH ARIANTO SAM DI 10:15:00 AM LABEL: ARTIKEL

0 KOMENTAR: POSKAN KOMENTAR LINK KE POSTING INI

Buat sebuah Link
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Langgan: Poskan Komentar (Atom)
AddThis

Your browser does not support iframes.

• •

Peduli Blogger Bonus untuk Anda

• • • • •

Cara Menghilangkan Rasa Malas - Wednesday, January 19, 2011 Cara Membuat Sate Ayam dan sate kambing - Thursday, January 13, 2011 Modem W228G berkecepatan 3G/HSDPA 7,2 Mbps - Thursday, January 13, 2011 Cara Aman Browsing di Warnet - Wednesday, January 12, 2011 Pengertian distance learning - Saturday, January 08, 2011

Ads Powered by:KumpulBlogger.com

Pasang iklan Mini Banner di sini , Komisi 3% untuk Blogger

Kategori

Artikel Resep Kesehatan Techno Motivasi Bisnis Sejarah Busana Cerpen Puisi Pantun Profile

Your browser does not support iframes.
http://sobatbaru.blogspot.com/2008/05/pengertian-belajar.html

Makalah Pendidikan: Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Anak Posted on Jumat, November 6, 2009 by Ichsan KETERCAPAIAN PRESTASI BELAJAR Posted on Mei 3, 2008 by ridwan202

Kegiatan Belajar Terhadap Prestasi Yang Dicapai A. Pengertian Belajar Sebelum membicarakan pengertian prestasi belajar, terlebih dahulu akan dikemukakan apa yang dimaksud dengan belajar. Para pakar pendidikan mengemukakan pengertian yang berbeda antara satu dengan yang lainnya, namun demikian selaku mengacu pada prinsip yang sama yaitu setiap orang yang melakukan proses belajar akan mengalami suatu perubahan dalam dirinya. Menurut Slameto (1995:2) belajar adalah “suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.” Selanjutnya Winkel (1996:53) belajar adalah “suatu aktivitas mental/psikis yang berlangsung dalam interaksi yang aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat secara relatif konstant.” Kemudian Hamalik (1983:28) mendefinisikan belajar adalah “suatu pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan.” B. Pengertian Prestasi Belajar Kemampuan intelektual siswa sangat menentukan keberhasilan siswa dalam memperoleh prestasi. Untuk mengetahui berhasil tidaknya seseorang dalam belajar maka perlu dilakukan suatu evaluasi, tujuannya untuk mengetahui prestasi yang diperoleh siswa setelah proses belajar mengajar berlangsung. Adapaun prestasi dapat diartikan hasil diperoleh karena adanya aktivitas belajar yang telah dilakukan. Namun banyak orang beranggapan bahwa yang dimaksud dengan belajar adalah mencari ilmu dan menuntut ilmu. Ada lagi yang lebih khusus mengartikan bahwa belajar adalah menyerap oengetahuan. Belajar adalah perubahan yang terjadi dalam tingkah laku manusia. Proses tersebut tidak akan terjadi apabila tidak ada suatu yang mendorong pribadi yang bersangkutan. Prestasi belajar merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan belajar, karena kegiatan belajar merupakan proses, sedangkan prestasi merupakan hasil dari proses belajar. Memahami pengertian prestasi belajar secara garis besar harus bertitik tolak kepada pengertian belajar itu sendiri. Untuk itu para ahli mengemukakan pendapatnya yang berbeda-beda sesuai dengan pandangan yang mereka anut. Namun dari pendapat yang berbeda itu dapat kita temukan satu titik persamaan. Sehubungan dengan prestasi belajar, Poerwanto (1986:28) memberikan pengertian prestasi belajar yaitu “hasil yang dicapai oleh seseorang dalam usaha belajar sebagaimana yang dinyatakan dalam raport.”

Selanjutnya Winkel (1996:162) mengatakan bahwa “prestasi belajar adalah suatu bukti keberhasilan belajar atau kemampuan seseorang siswa dalam melakukan kegiatan belajarnya sesuai dengan bobot yang dicapainya.” Sedangkan menurut S. Nasution (1996:17) prestasi belajar adalah: “Kesempurnaan yang dicapai seseorang dalam berfikir, merasa dan berbuat. Prestasi belajar dikatakan sempurna apabila memenuhi tiga aspek yakni: kognitif, affektif dan psikomotor, sebaliknya dikatakan prestasi kurang memuaskan jika seseorang belum mampu memenuhi target dalam ketiga kriteria tersebut.” Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat dijelaskan bahwa prestasi belajar merupakan tingkat kemanusiaan yang dimiliki siswa dalam menerima, menolak dan menilai informasi-informasi yang diperoleh dalam proses belajar mengajar. Prestasi belajar seseorang sesuai dengan tingkat keberhasilan sesuatu dalam mempelajari materi pelajaran yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau raport setiap bidang studi setelah mengalami proses belajar mengajar. Prestasi belajar siswa dapat diketahui setelah diadakan evaluasi. Hasil dari evaluasi dapat memperlihatkan tentang tinggi atau rendahnya prestasi belajar siswa. C. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Untuk mencapai prestasi belajar siswa sebagaimana yang diharapkan, maka perlu diperhatikan beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar antara lain; faktor yang terdapat dalam diri siswa (faktor intern), dan faktor yang terdiri dari luar siswa (faktor ekstern). Faktor-faktor yang berasal dari dalam diri anak bersifat biologis sedangkan faktor yang berasal dari luar diri anak antara lain adalah faktor keluarga, sekolah, masyarakat dan sebagainya. 1. Faktor Intern Faktor intern adalah faktor yang timbul dari dalam diri individu itu sendiri, adapun yang dapat digolongkan ke dalam faktor intern yaitu kecedersan/intelegensi, bakat, minat dan motivasi. Kecerdasan/intelegensi Kecerdasan adalah kemampuan belajar disertai kecakapan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan yang dihadapinya. Kemampuan ini sangat ditentukan oleh tinggi rendahnya intelegensi yang normal selalu menunjukkan kecakapan sesuai dengan tingkat perkembangan sebaya. Adakalany perkembangan ini ditandai oleh kemajuan-kemajuan yang berbeda antara satu anak dengan anak yang lainnya, sehingga seseorang anak pada usia tertentu sudah memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kawan sebayanya. Oleh karena itu jelas bahwa faktor intelegensi merupakan suatu hal yang tidak diabaikan dalam kegiatan belajar mengajar. Menurut Kartono (1995:1) kecerdasan merupakan “salah satu aspek yang penting, dan sangat menentukan berhasil tidaknya studi seseorang. Kalau seorang murid mempunyai tingkat kecerdasan normal atau di atas normal maka secara potensi ia dapat mencapai prestasi yang tinggi.” Slameto (1995:56) mengatakan bahwa “tingkat intelegensi yang tinggi akan lebih berhasil daripada yang mempunyai tingkat intelegensi yang rendah.” Muhibbin (1999:135) berpendapat bahwa intelegensi adalah “semakin tinggi kemampuan intelegensi seseorang siswa maka semakin besar peluangnya untuk meraih sukses. Sebaliknya, semakin rendah kemampuan intelegensi seseorang siswa maka semakin kecil peluangnya untuk meraih sukses.” Dari pendapat di atas jelaslah bahwa intelegensi yang baik atau kecerdasan yang tinggi merupakan faktor yang sangat penting bagi seorang anak dalam usaha belajar. Bakat Bakat adalah kemampuan tertentu yang telah dimiliki seseorang sebagai kecakapan pembawaan. Ungkapan ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Ngalim Purwanto (1986:28) bahwa

“bakat dalam hal ini lebih dekat pengertiannya dengan kata aptitude yang berarti kecakapan, yaitu mengenai kesanggupan-kesanggupan tertentu.” Kartono (1995:2) menyatakan bahwa “bakat adalah potensi atau kemampuan kalau diberikan kesempatan untuk dikembangkan melalui belajar akan menjadi kecakapan yang nyata.” Menurut Syah Muhibbin (1999:136) mengatakan “bakat diartikan sebagai kemampuan indivedu untuk melakukan tugas tanpa banyak bergantung pada upaya pendidikan dan latihan.” Dari pendapat di atas jelaslah bahwa tumbuhnya keahlian tertentu pada seseorang sangat ditentukan oleh bakat yang dimilikinya sehubungan dengan bakat ini dapat mempunyai tinggi rendahnya prestasi belajar bidang-bidang studi tertentu. Dalam proses belajar terutama belajat keterampilan, bakat memegang peranan penting dalam mencapai suatu hasil akan prestasi yang baik. Apalagi seorang guru atau orang tua memaksa anaknya untuk melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan bakatnya maka akan merusak keinginan anak tersebut. Minat Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenai beberapa kegiatan. Kegiatan yang dimiliki seseorang diperhatikan terus menerus yang disertai dengan rasa sayang. Menurut Winkel (1996:24) minat adalah “kecenderungan yang menetap dalam subjek untuk merasa tertarik pada bidang/hal tertentu dan merasa senang berkecimpung dalam bidang itu.” Selanjutnya Slameto (1995:57) mengemukakan bahwa minat adalah “kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan, kegiatan yang diminati seseorang, diperhatikan terus yang disertai dengan rasa sayang.” Kemudian Sardiman (1992:76) mengemukakan minat adalah “suatu kondisi yang terjadi apabila seseorang melihat ciri-ciri atai arti sementara situasi yang dihubungkan dengan keinginankeinginan atau kebutuhan-kebutuhannya sendiri.” Berdasarkan pendapat di atas, jelaslah bahwa minat besar pengaruhnya terhadap belajar atau kegiatan. Bahkan pelajaran yang menarik minat siswa lebih mudah dipelajari dan disimpan karena minat menambah kegiatan belajar. Untuk menambah minat seorang siswa di dalam menerima pelajaran di sekolah siswa diharapkan dapat mengembangkan minat untuk melakukannya sendiri. Minat belajar yang telah dimiliki siswa merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajarnya. Apabila seseorang mempunyai minat yang tinggi terhadap sesuatu hal maka akan terus berusaha untuk melakukan sehingga apa yang diinginkannya dapat tercapai sesuai dengan keinginannya. Motivasi Motivasi dalam belajar adalah faktor yang penting karena hal tersebut merupakan keadaan yang mendorong keadaan siswa untuk melakukan belajar. Persoalan mengenai motivasi dalam belajar adalah bagaimana cara mengatur agar motivasi dapat ditingkatkan. Demikian pula dalam kegiatan belajar mengajar sorang anak didik akan berhasil jika mempunyai motivasi untuk belajar. Nasution (1995:73) mengatakan motivasi adalah “segala daya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu.” Sedangkan Sardiman (1992:77) mengatakan bahwa “motivasi adalah menggerakkan siswa untuk melakukan sesuatu atau ingin melakukan sesuatu.” Dalam perkembangannya motivasi dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu (a) motivasi instrinsik dan (b) motivasi ekstrinsik. Motivasi instrinsik dimaksudkan dengan motivasi yang bersumber dari dalam diri seseorang yang atas dasarnya kesadaran sendiri untuk melakukan sesuatu pekerjaan belajar. Sedangkan motivasi ekstrinsik dimaksudkan dengan motivasi yang datangnya dari luar diri seseorang siswa yang menyebabkan siswa tersebut melakukan kegiatan belajar. Dalam memberikan motivasi seorang guru harus berusaha dengan segala kemampuan yang ada

untuk mengarahkan perhatian siswa kepada sasaran tertentu. Dengan adanya dorongan ini dalam diri siswa akan timbul inisiatif dengan alasan mengapa ia menekuni pelajaran. Untuk membangkitkan motivasi kepada mereka, supaya dapat melakukan kegiatan belajar dengan kehendak sendiri dan belajar secara aktif. 2. Faktor Ekstern Faktor ekstern adalah faktor-faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar yang sifatnya di luar diri siswa, yaitu beberapa pengalaman-pengalaman, keadaan keluarga, lingkungan sekitarnya dan sebagainya. Pengaruh lingkungan ini pada umumnya bersifat positif dan tidak memberikan paksaan kepada individu. Menurut Slameto (1995:60) faktor ekstern yang dapat mempengaruhi belajar adalah “keadaan keluarga, keadaan sekolah dan lingkungan masyarakat.” a. Keadaan Keluarga Keluarga merupakan lingkungan terkecil dalam masyarakat tempat seseorang dilahirkan dan dibesarkan. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Slameto bahwa: “Keluarga adalah lembaga pendidikan pertama dan utama. Keluarga yanng sehat besar artinya untuk pendidikan kecil, tetapi bersifat menentukan dalam ukuran besar yaitu pendidikan bangsa, negara dan dunia.” Adanya rasa aman dalam keluarga sangat penting dalam keberhasilan seseorang dalam belajar. Rasa aman itu membuat seseorang akan terdorong untuk belajar secara aktif, karena rasa aman merupakan salah satu kekuatan pendorong dari luar yang menambah motivasi untuk belajar. Dalam hal ini Hasbullah (1994:46) mengatakan: “Keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama, karena dalam keluarga inilah anak pertama-tama mendapatkan pendidikan dan bimbingan, sedangkan tugas utama dalam keluarga bagi pendidikan anak ialah sebagai peletak dasar bagi pendidikan akhlak dan pandangan hidup keagamaan.” Oleh karena itu orang tua hendaknya menyadari bahwa pendidikan dimulai dari keluarga. Sedangkan sekolah merupakan pendidikan lanjutan. Peralihan pendidikan informal ke lembagalembaga formal memerlukan kerjasama yang baik antara orang tua dan guru sebagai pendidik dalam usaha meningkatkan hasil belajar anak. Jalan kerjasama yang perlu ditingkatkan, dimana orang tua harus menaruh perhatian yang serius tentang cara belajar anak di rumah. Perhatian orang tua dapat memberikan dorongan dan motivasi sehingga anak dapat belajar dengan tekun. Karena anak memerlukan waktu, tempat dan keadaan yang baik untuk belajar. b. Keadaan Sekolah Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal pertama yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan belajar siswa, karena itu lingkungan sekolah yang baik dapat mendorong untuk belajar yang lebih giat. Keadaan sekolah ini meliputi cara penyajian pelajaran, hubungan guru dengan siswa, alat-alat pelajaran dan kurikulum. Hubungan antara guru dan siswa kurang baik akan mempengaruhi hasil-hasil belajarnya. Menurut Kartono (1995:6) mengemukakan “guru dituntut untuk menguasai bahan pelajaran yang akan diajarkan, dan memiliki tingkah laku yang tepat dalam mengajar.” Oleh sebab itu, guru harus dituntut untuk menguasai bahan pelajaran yang disajikan, dan memiliki metode yang tepat dalam mengajar. c. Lingkungan Masyarakat di samping orang tua, lingkungan juga merupakan salah satu faktor yang tidak sedikit pengaruhnya terhadap hasil belajar siswa dalm proses pelaksanaan pendidikan. Karena lingkungan alam sekitar sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan pribadi anak, sebab dalam kehidupan sehari-hari anak akan lebih banyak bergaul dengan lingkungan dimana anak itu berada. Dalam hal ini Kartono (1995:5) berpendapat:

Lingkungan masyarakat dapat menimbulkan kesukaran belajar anak, terutama anak-anak yang sebayanya. Apabila anak-anak yang sebaya merupakan anak-anak yang rajin belajar, maka anak akan terangsang untuk mengikuti jejak mereka. Sebaliknya bila anak-anak di sekitarnya merupakan kumpulan anak-anak nakal yang berkeliaran tiada menentukan anakpun dapat terpengaruh pula. Dengan demikian dapat dikatakan lingkungan membentuk kepribadian anak, karena dalam pergaulan sehari-hari seorang anak akan selalu menyesuaikan dirinya dengan kebiasaankebiasaan lingkungannya. Oleh karena itu, apabila seorang siswa bertempat tinggal di suatu lingkungan temannya yang rajin belajar maka kemungkinan besar hal tersebut akan membawa pengaruh pada dirinya, sehingga ia akan turut belajar sebagaimana temannya. D. Fase dan Teknik yang Efektif dalam Belajar The Liang Gie (1983:12) membagi fase belajar ke dalam dua fase yaitu fase persiapan belajar dan fase proses belajar. Dalam tiap-tiap fase tersebut cara atau teknik belajar tersendiri. Fase Persiapan Belajar Fase ini merupakan fase sebelum belajar, landasar utama bagi pembentukan cara belajar yang baik adalah sikap mental yang baik, yaitu sikap mental yang ditumbuhkan dan dipelihara dengan sebaik-baiknya agar siswa mempunyai kesadaran berupa kesediaan mental. Tanpa kesediaan mental siswa dalam belajar tidak akan bertahan menghadapi berbagai macam kesukaran, terutama pada saat siswa dihadapi paa berbagai masalah yang harus dipecahkan. Sikap mental yang perlu diusahakan oleh setiap siswa dalam rangka persiapan belajar sekurangkurangnya mencakup empat segi, yaitu: Tujuan belajar, minat terhadap pelajaran, kepercayaan paa diri sendiri dan keuletan. Tujuan Belajar Belajar di sekolah perlu diarahkan pada suatu cita-cita tertentu, cita-cita yang diperjuangkan dengan berbagai macam kegiatan belajar. Tujuan belajar perlu diketahui oleh siswa, agar siswa siap menerima materi pelajaran, seperti apa yang dijelaskan Winarno Surachman (1994:99) bahwa: “Tujuan itu penting anda ketahui terlebih dahulu, sebab jika anda sudah mengetahui tujuan itu maka mental anda pun akan siap menerima, mengolah dan mengatur semua mata pelajaran sesuai dengan tujuan itu.” Minat terhadap mata pelajaran Setiap siswa seharusnya menaruh minat yang besar terhadap mata pelajaranyang mereka ikuti, karena minat selain memusatkan pikiran juga akan menimbulkan kegembiraan dalam usaha belajar, seperti yang kemukakan oleh The Liang Gie (1983:12) adalah “keriangan hati akan memperbesar kemampuan belajar seseorang dan juga membentunya tidak melupakan apa yang dipelajarinya itu.” Materi pelajaran dapat dipelajari dengan baik bila siswa dapat memusatkan pikirannya dan menyenangi materi pelajaran tersebut. Siswa kurang berhasil dalam menerima materi pelajaran itu disebabkan siswa itu tidak tertarik dengan materi pelajaran yang disampaikan. Kepercayaan kepada diri sendiri Setiap siswa perlu yakin mereka mempunyai kemampuan kepercayaan kepada diri sendiri perlu dipupuk sebagai salah satu kesiapan sepenuhnya bahwa tidak ada mata pelajaran yang tidak dapat dipahami bila ia mau belajar dengan giat setiap hari. Keuletan Hidup seorang siswa selama belajar di sekolah penuh kesukaran-kesukaran, oleh karena itu setiap siswa perlu memiliki keuletan baik jasmani maupun rohani. Untuk memupuk keuletan tersebut hendaknya siswa selalu menganggap setiap persoalan muncul sebagai tantangan yang

harus diatasi. Materi pelajaran yang diberikan guru di sekolah masih mengharuskan siswa melaksanakan aktifitas mental, untuk menanamkan konsep pelajaran yang lebih baik. Untuk itu Herman Hudoyo (1989:15) menyarankan bahwa: “Belajar haruslah aktif, tidak sekedar pasif saja menerima apa yang diberikan. Dapat mengharapkan jika siswa aktif melibatkan diri dalam menemukan suatu prinsip dasar, anak itu akan mengerti konsep yang lebih baik, ingatannya lebih lama dan akan mampu menggunakan konsep tersebut dikonteks yang lain.” Fase Proses Belajar Fase ini sangat menentukan seorang siswa berhsail tidaknya di sekolah, pada fase proses belajar ini dituntut kepada siswa untuk menerapkan cara-cara belajar yang sebaik mungkin. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam fase ini antara lain: a. Pedoman dalam belajar Pedoman dalam belajar perlu dibuat untuk menjadi petunjuk dalam melakukan kegiatan belajar. Karena setiap usaha apapun tentu ada azas-azas yang dijadikan sebagai pedoman demi suksesnya usaha tersebut. Demikian pula dalam belajar, The Liang Gie (1983:13) mengemukakan bahwa: “Prinsip-prinsip belajar itu sekurang-kurangnya menyangkut tiga hal, yaitu keteraturan, disiplin dan konsentrasi.” Keteraturan dalam belajar sangat penting artinya, bila siswa ingin belajar dengan baik, maka hendaknya siswa dapat menjadikan keteraturan di dalam belajar itu sebagai hal pokok sesuai dengan saran Al-Falasany (1992:15) bahwa: “Keteraturan belajar adalah pangkal utama dari cara belajar yang baik.” Di dalam belajar siswa akan berhadapan dengan bermacam-macam rintangan yang dapat menangguhkan usaha belajarnya, tetapi dengan mendisiplinkan dirinya sendiri ia akan dapat mengatasi semua hal itu, Al-Falasany (1992:15) mengemukakan bahwa dengan kemauan yang keras dan dengan disiplin ia akan dapat menjauhi godaan dan gangguan yang mendorongnya malas belajar, ogah-ogahan dan menunda-nunda studi. Setelah faktor keteraturan dan displin di dalam belajar, maka konsentrasi juga sangat diperlukan pada saat berada dalam proses belajar perlu konsentrasi, tanpa konsentrasi ia tidak mungkin dapat menguasai materi pelajaran. b. Cara mengikuti pelajaran Untuk dapat mengikuti pelajaran dengan baik di sekolah, maka diharapkan kepada siswa agar dapat memusatkan pikiran dan perhatiannya pada materi pelajaran yangs edang disajikan oleh guru. Karena seperti ET Ruseffendi (1982:18) mengemukakan bahwa: “Anak-anak harus belajar berbuat sendiri dan merasakan sendiri. Makin banyak indera yang dipakai makin efedien anak belajar.” Siswa akan memperoleh pengalaman belajar yang lebih banyak bila ia dapat mengikuti pelajaran dengan tertib, penuh perhatian, mencatat dengan baik, serta mau bertanya jika ada penjelasan yang kurang dimengerti. Dengan demikian dapat diharapkan, jika siswa aktif melibatkan diri dalam menemukan prinsip-prinsip dasar siswa itu akan mengerti konsep yang lebih baik. Namun untuk mempermudah siswa memahami konsep-konsep yang diajarkan di sekolah, sebaiknya siswa sudah mempersiapkan dirinya dengan pengetahuan tentang materi-materi sebelumnya, karena Herman Hudoyo (1989:18) menekankan bahwa: “Pada waktu siswa mempelajari sesuatu konsep yang benar-benar baru, untuk mudah memahami konsep-konsep tersebut, siswa perlu berorientasi dengan pengalaman yang lampau.” c. Cara mengulangi materi pelajaran/membaca buku Setelah di sekolah siswa mengikuti pelajaran dengan baik, tentu usaha siswa untuk mendapat pengertian tentang konsep materi pelajaran dengan baik tidak cukup sampai di sini, tetapi siswa

perlu lagi mengkaji, mengulangi dan membaca kembali materi tersebut. Belajar memang tidak lepas dari membaca dan ternyata membaca sebenarnya tidak sesederhana yang kita bayangkan. Membaca mempunyai teknik-teknik tersendiri, sebagaimana juga menulis. Dengan mengikuti teknik membaca sistimatis dan cepat, kita dapat menghemat waktu dan belajar lebih banyak. Banyak siswa sekolah menengah maupun mahasiswa masih mempunyai kebiasaan yang jelek. Mereka membaca sangat lamban, kurang memahami makna kata dan ungkapan-ungkapan tertentu lebih-lebih dengn bacaan yang berat. Di samping itu tidak dapat merefleksikan apa yang telah dibaca. Kesukaran belajar banyak ditentukan oleh keterampilan membaca. Memang banyak faktor yang menentukannya. Hal pertama kali yang harus diperhatikan adalah jarak mata dengan buku atau tulisan. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Sudarmanto (1993:35) yaitu: “Jarak membaca yang baik adalah 16 inci (+ 30 cm). Bila dalam membaca jarak itu tidak dapat dijangkau maka ada ketidak-beresan dengan mata.” Adapun tujuan yang dihadapkan dalam usaha mengulangi kembali pelajaran di rumah itu adalah untuk memperkuat ingatan siswa terhadap materi pelajaran yang akan digunakan untuk memecahkan masalah atau soal-soal. Dalam hal ini Herman Hudoyo (1989:27) menegaskan bahwa: “Ingatan memegang peranan penting di dalam belajar jika siswa harus mencari jalan untuk menyelesaikan suatu masalah.” E. Prinsip-prinsip Belajar Dalam mengerjakan sesuatu seseorang harus mempunyai prinsip-prinsip tertentu, begitu juga halnya dengan belajar. Untuk menertibkan diri dalam belajar harus mempunyai prinsip sebagaimana yang diketahui prinsip belajar memang kompleks tetapi dapat juga dianalisis dan diperinci dalam bentuk-bentuk prinsip atau azas belajar sebagaimana yang dinyatakan oleh Oemar Hamalik (9183:23) meliputi: Belajar adalah suatu proses aktif dimana terjadi huungan mempengaruhi secara dinamis antara siswa dan lingkungan. Belajar harus senantiasa bertujuan, searah dan jelas bagi siswa. Belajar yang paling efektif apabila didasari oleh dorongan motivasi yang murni dan bersumber dari dalam diri siswa itu sendiri. Senantiasa ada hambatan dan rintangan dalam belajar, karena itu siswa harus sanggup menghadapi atau mengatasi secara tepat. Belajar memerlukan gimgingan baik itu dari guru atau tuntutan dari buku pelajaran itu sendiri. Jenis belajar yang paling utama ialah belajar yang berpikiran kritis, lebih baik daripada pembentukan kebiasaan-kebiasaan mekanis. Cara belajar yang paling efektif adalah dalam pembentukan pemecahan masalah melalui kerja kelompok asalkan masalah tersebut disadari bersama. Belajar memerlukan pemahaman atas hal-hal yang dipelajari, sehingga diperoleh pengertianpengertian. Belajar memerlukan latihan dan ulangan, agar apa-apa yang dipelajari dapat dikuasai. Belajar harus disertai dengan keinginan dan kemauan yang kuat untuk mencapai tujuan. Belajar dianggap berhasil apabila si pelajar telah sanggup menerapkan dalam prakteknya. Banyak siswa yang telah belajar dengan giat tetapi usahanya itu tidak memberikan hasil yang diharapkan, dan sering kali mengalami kegagalan, bekerja keras belum tentu menjamin seseorang dapat belajar dengan berhasil. Di samping itu seorang siswa perlu memperhatikan syarat-syarat dapat belajar secara efesien atau belajar dengan baik. Di antara syarat-syarat tersebut adalah sebagai berikut:

Kesehatan jasmani, badan yang sehat berarti tidak mengalami gangguan penyakit tertentu cukup dengan vitamin dan seluruh fungsi badan berjalan dengan baik. Rohani yang sehat, tidak berpenyakit syaraf, tidak mengalami gangguan emosional, senang dan stabil Lingkungan yang tenang, tidak ribut, serasi bila mungkin jauh dari keramaian dan gangguan lalu lintas dan tidak ada gangguan yang lainnya. Tempat belajar menyenangkan, cukup udara, cukup matahari, penerangan yang memadai. Tersedia cukkup bahan dan alat-alat yang diperlukan, bahan-bahan dan alat-alat itu menjadi sumber belajar dan alat sebagai pembantu belajar.
• • • • • Share this: StumbleUpon Digg Reddit

Filed under: Artikel Ditandai: | Belajar, Minat, Motivasi, Prestasi belajar
TANGGAL 8-3-2011

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->