1

PENDUGAAN RISIKO BENCANA
PENDAHULUAN Bencana seringkali diidentikkan dengan sesuatu yang buruk, setara dengan istilah disaster dalam bahasa Inggris. Secara etimologis berasal dari kata DIS yang berarti ”sesuatu yang tidak enak” (unfavorable) dan ASTRO yang berarti ”bintang” (star). Dis-astro berarti an event precipitated by stars (”peristiwa jatuhnya bintang-bintang ke bumi”). Bencana adalah sesuatu yang tak terpisahkan dalam sejarah manusia, manusia terus bergumul agar bebas dari bencana (free from disaster). Dalam pergumulan itu, lahirlah praktek mitigasi, seperti mitigasi banjir, mitigasi kekeringan (drought mitigation), dan lain-lain. Di Mesir, praktek mitigasi kekeringan sudah berusia lebih dari 4000 tahun. Konsep tentang sistim peringatan dini untuk kelaparan (famine) dan kesiap-siagaan (preparedness) dengan lumbung raksasa yang disiapkan selama tujuh tahun pertama kelimpahan dan digunakan selama tujuh tahun kekeringan sudah lahir pada tahun 2000 BC. Konsep manajemen bencana mengenai pencegahan (prevention) atas bencana atau kutukan penyakit (plague), pada abad-abad nonperadababan selalu diceritakan ulang dalam ‘simbol-simbol’ seperti kurban, penyangkalan diri dan pengakuan dosa. Early warning kebanyakan didasarkan pada Astrologi atau ilmu Bintang. Respon kemanusiaan dalam krisis emergency juga sudah berusia lama walau catatan sejarah sangat sedikit, tetapi peristiwa Tsunami di Lisbon, Portugal pada tanggal 1 November 1755, mencatat bahwa ada respon bantuan dari negara secara ‘ala kadar’. Jumlah korban meninggal pasca emergency sedikitnya 20,000 orang. Total meninggal diperkirakan 70,000 orang dari 275,000 penduduk. Hingga dekade yang lalu, cita-cita para ahli bencana masih terus mengumandangkan slogan ‘bebas dari bencana’ (free from disaster) yang berdasarkan pada ketiadaan ancaman alam (natural hazard). Publikasi mutakhir tentang manajemen bencana, telah terjadi perubahan paradigma. Misalnya, di Bangladesh dan Vietnam, khususnya yang hidup di DAS Mekong, semula bermimpi untuk bebas dari banjir (free from flood), akhirnya memutuskan untuk hidup bersama banjir (living with flood). Tentunya komitmen hidup bersama banjir, tetap dilandasi oleh semangat bahwa banjir atau ancaman alam lainnya seperti gempa, siklon, dan kekeringan boleh terjadi tetapi bencana tidak harus terjadi. Di daerah Timor, khususnya masyarakat Besikama, sudah sangat lama hidup bersama dengan kejadian banjir. Masyarakat tradisional Besikama sebenarnya sudah mengenal tentang praktek mitigasi banjir berdasarkan

Manajemen Risiko Lingkungan - 2010

2

konstruksi rumah tradisional mereka sejak lama, yakni rumah panggung, yang sudah sangat tidak popular karena ‘pembangunan’ mengajarkan segala segala sesuatu yang ‘modern’. Bencana alam merupakan konsekuensi dari kombinasi aktivitas alami (suatu peristiwa fisik, seperti letusan gunung, gempa bumi, tanah longsor) dengan aktivitas manusia. Karena ketidakberdayaan manusia, akibat kurang baiknya manajemen keadaan darurat, sehingga menyebabkan kerugian dalam bidang keuangan dan struktural, bahkan sampai kematian. Kerugian yang dihasilkan tergantung pada kemampuan untuk mencegah atau menghindari bencana dan daya tahan mereka[1]. Pemahaman ini berhubungan dengan pernyataan: "bencana muncul bila ancaman bahaya bertemu dengan ketidakberdayaan". Dengan demikian, aktivitas alam yang berbahaya tidak akan menjadi bencana alam di daerah tanpa ketidakberdayaan manusia, misalnya gempa bumi di wilayah tak berpenghuni. Konsekuensinya, pemakaian istilah "alam" juga ditentang karena peristiwa tersebut bukan hanya bahaya atau malapetaka tanpa keterlibatan manusia. Besarnya potensi kerugian juga tergantung pada bentuk bahayanya sendiri, mulai dari kebakaran, yang mengancam bangunan individual, sampai peristiwa tubrukan meteor besar yang berpotensi mengakhiri peradaban umat manusia. Di daerah yang memiliki tingkat bahaya tinggi (hazard) serta memiliki kerentanan / kerawanan (vulnerability) yang tinggi tidak akan berdampak luas jika manusianya memiliki ketahanan terhadap bencana (disaster resilience). Konsep ketahanan bencana merupakan valuasi kemampuan sistem dan infrastruktur-infrastruktur untuk mendeteksi, mencegah & menangani tantangan-tantangan serius yang hadir. Dengan demikian meskipun daerah tersebut rawan bencana dengan jumlah penduduk yang besar jika diimbangi dengan ketetahanan terhadap bencana yang cukup. Banjir merupakan salah satu “bencana” yang tidak asing bagi masyarakat Indonesia, kejadiannya berupa terbenamnya daratan oleh air. Peristiwa banjir timbul jika air menggenangi daratan yang biasanya kering. Banjir pada umumnya disebabkan oleh air sungai yang meluap ke lingkungan sekitarnya sebagai akibat curah hujan yang tinggi. Kekuatan banjir mampu merusak rumah dan menyapu fondasinya. Air banjir juga membawa lumpur berbau yang dapat menutup segalanya setelah air surut. Banjir adalah hal yang rutin. Setiap tahun pasti datang. Banjir, sebenarnya merupakan fenomena kejadian alam "biasa" yang sering terjadi dan dihadapi hampir di seluruh negara-negara di dunia, termasuk Indonesia. Banjir sudah temasuk dalam urutan bencana besar, karena meminta korban besar.

Manajemen Risiko Lingkungan - 2010

3

Ciri-Ciri Banjir  Bencana banjir memiliki ciri-ciri dan akibat sebagai berikut.  Banjir biasanya terjadi saat hujan deras yang turun terus menerus sepanjang hari.  Air menggenangi tempat-tempat tertentu dengan ketinggian tertentu.  Banjir dapat mengakibatkan hanyutnya rumah-rumah, tanaman, hewan, dan manusia.  Banjir mengikis permukaan tanah sehingga terjadi endapan tanah di tempat-tempat yang rendah.  Banjir dapat mendangkalkan sungai, kolam, atau danau.  Sesudah banjir, lingkungan menjadi kotor oleh endapan tanah dan sampah.  Banjir dapat menyebabkan korban jiwa, luka berat, luka ringan, atau hilangnya orang.

dennymedia.wordpress.com/2009/03/04/34/ Bencana banjir setiap setiap tahun terus terjadi di sebagian besar wilayah Kalimantan Selatan

Jenis-Jenis Banjir Berdasarkan sumber air yang menjadi [penampung]] di bumi, jenis banjir dibedakan menjadi tiga, yaitu banjir sungai, banjir danau, dan banjir laut pasang.

Manajemen Risiko Lingkungan - 2010

4

Banjir Sungai 1) Terjadi karena air sungai meluap. 2) Banjir Danau 3) Terjadi karena air danau meluap atau bendungannya jebol. 4) Banjir Laut pasang 5) Terjadi antara lain akibat adanya badai dan gempa bumi. Penyebab Terjadinya Banjir Secara umum, penyebab terjadinya banjir adalah sebagai berikut: 1) Penebangan hutan secara liar tanpa disertai reboisasi, 2) Pendangkalan sungai, 3) Pembuangan sampah yang sembarangan, baik ke aliran sungai mapupun gotong royong, 4) Pembuatan saluran air yang tidak memenuhi syarat, 5) Pembuatan tanggul yang kurang baik, 6) Air laut, sungai, atau danau yang meluap dan menggenangi daratan. Dampak Dari Banjir Banjir dapat menimbulkan kerusakan lingkungan hidup berupa:[1] 1. Rusaknya areal pemukiman penduduk, 2. Sulitnya mendapatkan air bersih, dan 3. Rusaknya sarana dan prasarana penduduk.

PEMKAB SRAGEN SIAP ANTISIPASI BENCANA BANJIR
(Sragen News, [ 25/11/2008, 11:44 WIB ]

Bencana banjir yang melanda di sebagian besar wilayah Kab. Sragen di penghujung tahun 2007 lalu menjadi pelajaran yang berharga bagi Pemkab Sragen. Menghadapi musim penghujan tahun ini, pemkab telah mempersiapkan berbagai langkah untuk menghadapi bila bencana banjir kembali melanda. Setidaknya 12 perahu ponton telah di siagakan di sejumlah titik – titik yang dinilai rawan bencana banjir. Satu perahu ponton terbuat dari 8 tong / drum dan bambu yang diikat menjadi satu. Bentuk perahu disesuaikan dengan kondisi jalan desa. Ada yang berbentuk bujur sangkar dan persegi panjang. Sewaktu bencana banjir tahun lalu, perahu ponton ini telah terbukti manfaatnya untuk mengevakusai warga korban banjir. Titik – titik yang dinilai rawan bencana bnjir tersebut meliputi desa Tangkil, Pandak, Tenggak, Plupuh dan lain sebagianya. Sebagian besar daerah rawan bencana banjir terletak di bantaran sungai bengawan Solo di

Manajemen Risiko Lingkungan - 2010

2010 . Oleh karenanya. Hal yang sulit diantisipasi adalah datangnya air banjir. Sragen dalam menghadapi musim hujan ini terus melakukan berkoordinasi dengan PSDA Bengawan Solo dan Penanggung Jawab Waduk Gajah Mungkur. Satlak Bencana Alam Kabupatena dan Kecamatan akan siaga 24 jam dalam menghadapi musim penghujan yang bisa berpotensi terjadinya musibah bencana banjir. Semua tempat yang telah ditentukan tersebut di pilih yang tidak begitu jauh dari daerah rawan bencana namun mudah untuk dijangkau. gudang logistik dan dapur umum. juga telah disiapkan skenario evakuasi korban bencana. melalui Rapat Koordinasi daerah rawan bencana banjir yang diselenggarakan oleh Satlak bencana Alam Kab. Hasil Rakor tersebut antara lain. Selain itu. Tapi dimungkinkan juga bila hanya Kab.5 sisi sebelah utara. posko-posko bencana banjir. Pemkab telah melakukan pendataan ulang daerah rawan bencana dan pendataan ulang peralatan evakuasi korban bencana banjir. Sukoharjo dan Sragen hujan lebat secara bersamaan. bisa dimungkinkan akan terjadi banjir di daerah Sragen. Sragen. Satlak bencana Alam Kab. Manajemen Risiko Lingkungan . Wonogiri saja yang terjadi hujan lebat dan pintu air Waduk Gajah Mungkur dibuka akan terjadi banjir kiriman ke daerah Sragen. Pemkab juga telah melakukan koordinasi dengan instansi terkait seperti Pengelola Sumber Daya Air (PSDA) Bengawan Solo dan seluruh Satuan Pelaksanaan (Satlak) bencana alam di tingkat kecamatan. antara lain dengan menentukan jalan-jalan atau rute evakuasi. Apabila di tiga Kabupaten yakni Kabupaten Wonogiri.

sragenkab.php?id=7275 Manajemen Risiko Lingkungan .id/eng/berita/berita.go.6 www.2010 .

Artikel dikirim oleh idenk pada 22 October 2009) Kembali tanah Indonesia dilanda bencana gempa bumi di Padang padahal kepiluan belum berhenti ketika saudara saudara kita di Tasikmalaya dan sekitarnya masih menderita akibat gempa yang terjadi dua bulan lalu. Durasi : Beberapa durasinya terbatas. Tak sedikit biaya yang digunakan untuk mengatasi kondisi pasca gempa yang seharusnya jumlah angka angka tersebut dapat dipergunakan untuk mensejahterakan dan mengangkat martabat rakyat Indonesia yang masih menderita kemiskinan dan kelaparan tapi itulah diluar jangkauan dan pikiran manusia atas peristiwa bencana alam. Bencana alam di Indonesia saling menyusul. kami mencoba untuk berefleksi terhadap peristiwa tersebut. Luasnya dampak : Bisa terbatas dan mengenai hanya area tertentu atau kelompok masyarakat tertentu. Manajemen Risiko Lingkungan . rehabilitasi. Chaos alam. evakuasi. Ini mungkin berulang dalam periode waktu tertentu. atau bertahap seperti pada banjir (keculi banjir bandang). dan Lingkungan.7 BENCANA ALAM Karakteristik Bencana Bencana secara istilah dibedakan berdasar karakteristik fisik utama : Penyebab : Alam atau ulah manusia. pemulihan trauma pada anak anak.2010 . sedang lainnya mungkin lebih lama seperti banjir dan epidemi. seperti pada gempa bumi. serta perbaikan kondisi ekonomi dan sosial masyarakat yang menjadi korban. Hampir sebulan bencana gempa Padang berlalu. seperti pada ledakan. itulah yang terus menerus meporak porandakan sebagian bumi Indonesia yang kemudian pastinya akan banyak kehilangan nyawa dan benda. Frekuensi : Berapa sering terjadinya. Budaya. Muhammad Idenk Rusni. silih berganti yang pada akhirnya akan sangat menguras energy dan kekuatan kita demi melakukan penanganan bencana. sedang atau ringan) serta jenis (cedera manusia atau kerusakan harta benda) dari kerusakan. memungkinkan cukup waktu untuk pemberitahuan dan mungkin tindakan pencegahan atau peringanan. Potensi merusak : Kemampuan penyebab bencana untuk menimbulkan tingkat kerusakan tertentu (berat. Kecepatan onset : Bisa muncul mendadak hingga sedikit atau tidak ada pemberitahuan yang bisa diberikan. Kita dan Bencana (Sekitar Kita: Manusia. atau menyeluruh mengenai masyarakat luas mengakibatkan kerusakan merata pelayanan dan fasilitas.

Antara kondisi alam dan kebudayaan masyarakat saling berhubungan. Ke dua. mengeruk hasil bumi seperti di Freeport. akibat perilaku manusia seperti pembalakan dan pembakaran hutan secara membabi buta.com/2009/10/kita-dan-bencana/ Bencana bersumber atau ada kaitannya dengan dua hal. Misalnya. Satu hal yang selalu menjadi dasar pertanyaan ketika bencana menghampiri kita adalah apakah ini merupakan akibat ulah manusia atau kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa.2010 . Dengan argument ini bencana dianggap azab dari Tuhan kepada umatnya.8 Disinilah Tuhan menampakkan manifestasinya yang adiluhung lewat keteraturan alam meski manusia tidak menyadarinya. Dalam Al-Quran terdapat kisah yang menghukum kaum Nabi Luth karena umatnya terlibat homoseksualitas maka dibalikkanlah bumi untuk menenggelamkan kaumnya tersebut. Ketika tanggul Situ Gintung jebol masyarakat sekitar berkesimpulan bahwa Situ tersebut seringkali menjadi ajang maksiat maka wajar Tuhan marah terhadap tempat tersebut. nilai-nilai luhur kebudayaan suku Amungme di pedalaman Papua terhadap pegunungan di sekitarnya Manajemen Risiko Lingkungan . Aspek teologis seringkali menjadi pembicaraan dan alasan kenapa bencana itu datang yang pada akhirnya adalah menyalahkan korban itu sendiri. pengeboran minyak yang asal-asalan seperti di Lapindo dan ini sejalan dengan pandangan dunia yang antropo-sentris. bencana merupakan fenomena alam yang berhubungan dengan meteorologi dan geofisika. sekitarkita. Dengan manusia sebagai pusat kosmos. Pertama. Teologi bencana yang muncul ke permukaan tidak lepas dari peran teks –teks kanonik agama (baca: Islam). alam tidak dijadikan sebagai teman tetapi lebih sebagai ancaman.

Masyarakat kita jugalah yang menuai akibat dari dampak kerusakan hutan seperti longsor. Berdasar tingkat respons. nasional dan internasional. Area kerusakan total : Dimana bencana paling merusak. Tingkat 1 : Sistem pengelolaan respons terhadap bencana lokal mampu bereaksi secara efektif dan dapat mancakup kerusakan atau penderitaan. ataupun kriminal sehingga dapat menerima balasan dan hukuman sepadan. Korban bencana alam atau tragedy kemanusiaan bukan karena mereka melakukan kesalahan fatal. social dan cultural dengan cepat merebak. 3. moral. Mungkin dengan cara ini Tuhan mengasihi umatnya yang tidak dapat dipahami oleh manusia. area dimana bencana menyerang. padahal dengan hutan gundul intensitas efek rumah kaca semakin meningkat yang mengakibatkan pemanasan global dikarenakan hutan yang berfungsi sebagai penyerap gas rumahkaca yang berupa CO2 menjadi terbatas. Areal ini dibedakan menjadi: 1. bencana diklasifikasikan menjadi tiga tingkat (ACEP) : 1. 4. regional. Area penyaring : Area dekat area kerusakan dari mana bantuan dimulai secara segera dan spontan. banjir.2010 . Hutan telah dikuasai untuk penghasilan kehidupan ekonomi dengan cara melakukan illegal logging. Area bantuan terorganisir : Area darimana bantuan yang lebih resmi diberikan secara selektif. serta permukaan bumi yang semakin panas. politik. kerusakan dan atau cedera nyata lebih ringan dibanding area kerusakan total. Geografi Bencana Area geografik yang nyata sehubungan dengan bencana dikatakan sebagai area kerusakan. Area ini mungkin meluas hingga mencakup bantuan masyarakat. Manajemen Risiko Lingkungan . Sebenarnya kita bisa saja mencegah bencana atau mungkin meminimalisir korban yang tertimpa bencana seandainya kita mampu menjaga kehidupan dan keberlangsungan kesetimbangan ekologi. Awal dari semua bencana adalah karena keinginan dan nafsu manusia yang tidak ada habisnya. Area kerusakan tepi : Walau dampak bencana dirasakan. Pesisir pantai mengalami abrasi karena tidak ada penopang berupa hutan bakau.9 sangat harmonis dan serasi tetapi tradisi terhadap nenek moyang semakin terkikis dan bencana ekologi. 2.

2010 .wordpress. cedera dan kecacadan.. Bencana menyebabkan kematian. Tingkat 2 : Sebagai tambahan terhadap respons lokal. Tingkat 3 : Melampaui kemampuan sumber lokal atau regional dan diperlukan bantuan internasional. 3. Beberapa hal penting yang harus diingat : 1. Bisa melampaui kemampuan masyarakat beserta sumber daya dan atau fasilitasnya. 2. Bencana bisa menimbulkan kerusakan masyarakat dan sumber daya yang diperlukan untuk menghadapinya. Bencana menyebabkan masalah pemulihan dan perbaikan jangka panjang..com/./ Manajemen Risiko Lingkungan . dukungan diberikan oleh sumber regional atau masyarakat atau negara sekitar. 3. celebratinghumanity.10 2.

2 serta limbah cair tercecer 0. Kerusakan lingkungan dapat disebabkan dari limbah industri yang melebihi baku mutu. pekerja terpapar limbah cair/lumpur dan penurunan kualitas efluen. Pemetaan risk matrix menyebutkan bahwa risiko penurunan kualitas merupakan risiko yang moderate dan kelima risiko lainnya termasuk risiko yang trivial. lumpur biologis tercecer dan pekerja terpapar limbah cair/lumpur pasti terjadi. dimana mutu limbah dipengaruhi oleh proses pengolahan limbah di Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Dari hasil identifikasi diketahui ada enam macam risiko yaitu limbah cair meluber. Sedangkan likelihood risiko limbah cair meluber dan penurunan kualitas efluen < 0. Sedangkan penilaian risiko berdasarkan probabilitas risiko lumpur primary tercecer.1. Berdasarkan penilaian risiko menggunakan AHP didapatkan bahwa risiko penurunan kualitas efluen mempunyai dampak yang paling besar terhadap lingkungan yaitu sebesar 0.602. lumpur biologis tercecer. atau lingkungan. akan menimbulkan risiko terhadap lingkungan sekitar. Hazard merupakan segala sesuatu yang berpotensi menimbulkan ancaman terhadap kehidupan. limbah cair tercecer. Jika terjadi kegagalan proses dalam IPAL.11 PENDUGAAN RISIKO BENCANA Analisis risiko IPAL Risiko adalah kemungkinan suatu kejadian yang tidak diharapkan terjadi sehingga menggnggu apa yang seharusnya terjadi dari suatu kegiatan atau mengganggu tujuan. PENENTUAN TINGKAT RISIKO BENCANA TSUNAMI KAWASAN PESISIR KABUPATEN SUKABUMI. Risiko lingkungan adalah probabilitas dari kerusakan lingkungan sehingga menghambat kinerja perusahaan dalam mencapai tujuannya. Metode yang digunakan dalam penelitian tugas akhir ini adalah Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) untuk mengidentifikasi hazard dan Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk menentukan risiko tertinggi yang akan dimitigasi. kesehatan.2010 . lumpur primary tercecer. Manajemen Risiko Lingkungan . sedangkan tujuannya adalah mengetahui sejauhmana tingkat risiko wilayah Pesisir Kabupaten Sukabumi dalam menghadapi bencana tsunami yang mungkin terjadi. JAWA BARAT (Oki Oktariadi dan Wawan Hermawan) Analisis risiko bencana tsunami dilakukan untuk menyiapkan informasi yang dibutuhkan dalam rangka mengantisipasi dan menurunkan tingkat risiko tsunami yang dimiliki wilayah Pesisir Kabupaten Sukabumi.

dengan indikator zona bahaya rendah.12 Menurut Davidson (1997) hubungan antara faktor resiko. Faktor bahaya. Hampir sepanjang pesisir pantai Kecamatan Tegalbulued. sumber daya buatan. Berdasarkan peta tingkat risiko bencana tsunami terlihat sebagian besar wilayah Pesisir Sukabumi memiliki tingkat risiko tinggi sampai sedang dan berdasarkan hasil pengamatan lapangan terdapat 3 wilayah yang perlu diwaspadai antara lain : Desa Ciwaru (Teluk Ciletuh) Kecamatan Ciemas. kerentanan sosial ekonomi dan kerentanan lingkungan. genangan tsunami. Faktor ketahanan dengan sub faktor sumber daya alami.indikator kerentanan tersebut berpengaruh terhadap dampak yang akan timbul jika bahaya tsunami terjadi di suatu wilayah. dan mobilitas. Pembagian zona ini berdasar pada kondisi tingkat kelerengan pantai. faktor kerentanan dan faktor ketahanan tercermin dalam model matematis (model ini telah dimodifikasi dan disesuikan dengan bahan kajian) sebagi berikut: HDRI = WHH + WVV + WCC Dimana: HDRI = Nilai resiko bencana (Hazard Disaster Risk Index) WHH = Nilai faktor bahaya (Weight Hazard) WVV = Nilai faktor kerentanan (Weight Vulnerability) WCC = Nilai faktor ketahanan (Weight Capacity) 1. sosial kependudukan. sosial ekonomi dan lingkungan. kerentanan sosial kependudukan. memiliki topografi pedataran dengan penggunaan lahan berupa pesawahan dan pemukiman serta berada pada sebuah teluk yang menghadap langsung ke Samudera Hindia. akumulasi energi gempa dan intensitas gempa. Desa Gunungbatu (Tanjung Ujung Genteng) di Kecamatan Ciraca. pada saat dan setelah terjadi bencana tsunami. Faktor ketahanan ini merupakan komponen penting terutama dalam penyelamatan penduduk sebelum terjadi bencana. 3. peringkat kekasaran pantai.2010 . Indikator . memiliki topografi pedataran dengan penggunaan lahan Manajemen Risiko Lingkungan . Indikator dari sub-faktor kerentanan tersebut yaitu kerentanan fisik. Faktor kerentanan dengan sub faktor kerentanan fisik. Indikator . bahaya sedang dan bahaya tinggi. faktor bahaya.indikator kerentanan tersebut berpengaruh terhadap dampak yang akan timbul jika bahaya tsunami terjadi di suatu wilayah. memiliki topografi pedataran dengan penggunaan lahan berupa kebun campuran dan pesawahan serta berhadapan langsung dengan samudera Hindia. 2. peringkat jenis batuan.

Langkah antisipasi yang perlu segera dilakukan adalah melakukan adaptasi dan sosialisasi pada masyarakat untuk mewaspadai wilayahwilayah yang memiliki tingkat risiko tinggi.2010 . Manajemen Risiko Lingkungan .13 pesawahan dan pemukiman penduduk serta berhadapan langsung dengan Samudera Indonesia.

Manajemen Risiko Lingkungan . seperti pemutihan terumbu karang (coral bleaching). www. Buktinya banyak kerusakan terjadi di wilayah tersebut. Selasa. Penyebabnya bisa karena faktor alam bahkan ulah manusia yang semakin brutal.php?id=8886 Salah satu kerusakan yang kini semakin mengkhawatirkan adalah abrasi pantai. Pantai-pantai Indonesia yang panjang lama-lama terkikis. Indonesia termasuk ke dalam lima negara yang memiliki garis pantai terpanjang di dunia. Pengikisan itu terjadi karena permukaan air laut mengalami peningkatan sehingga mampu menghempas daerah pantai lebih kuat dan lebih mudah. Jika hal itu terus terjadi sangat mungkin wilayah pantai akan menghilang dan tinggallah daratan yang berbatasan langsung dengan lautan.koran-jakarta.14 Abrasi Mengancam Pesisir Nusantara (Koran Jakarta.com/berita-detail. potensi itu tidak lantas diiringi penjagaan kelestarian wilayah pantai dan laut. Abrasi merupakan peristiwa terkikisnya alur-alur pantai akibat gerusan air laut.2010 . pencemaran air laut. Sangat mungkin pula daratan akan menghilang meski terjadi dalam waktu lama. 26 Mei 2009) Indonesia yang dua per tiga wilayahnya merupakan lautan tentu tidak terlepas dari masalah abrasi. dan abrasi wilayah pantai. Sayangnya.

Sumatra Barat. laju ombak tidak akan terlalu cepat dan keras menggempur pantai. DI Yogyakarta. Beberapa bangunan mercusuar dan warung-warung penduduk hancur diterjang gelombang. Profesor Otto Sudarmaji Rahmono Ongkosono dari Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menjelaskan pada dasarnya abrasi terjadi di kawasan pantai mana pun di belahan Bumi. Hanya saja pada beberapa tempat ada yang laju abrasinya cepat. Laju abrasi di pantai barat Bengkulu mampu menyebabkan kerusakan yang tentunya sangat merugikan. Terumbu karang tidak hanya berguna sebagai tempat hidup berbagai biota laut. Tercatat pada 2008 pantai di sepanjang selatan Kulonprogo. Tidak hanya di Bengkulu. Hal itu menyebabkan keseimbangan masuk dan keluar air di sekitar muara sungai terganggu. sekitar 90 mil dari Kota Bengkulu. Akibatnya. hal serupa juga terjadi di banyak tempat di Indonesia. Manajemen Risiko Lingkungan . otomatis banyak sedimen yang terbawa ke daerah muara sungai. pun terancam abrasi. Sebab-Akibat Untuk menanggulangi ancaman abrasi perlu dipahami terlebih dulu penyebabnya. seperti jenis pantai. keadaan bagian hulu sungai. Koordinator Enam Kepala Suku di Enggano. mengatakan pulau yang masing-masing memiliki luas lebih dari 2 hektare dan 1 hektare tersebut tenggelam akibat tingginya abrasi yang terjadi di perairan Enggano. Kecepatan laju abrasi disebabkan beberapa faktor.2010 .15 Contoh paling konkret akibat abrasi pantai adalah amblasnya jalan lintas Sumatra di beberapa titik. Rafli Zen Kaitora. serta akibat ulah manusia. tapi juga berfungsi menahan laju ombak. Sepanjang pantai Kota Padang. Kedua pulau cepat menghilang karena pepohonan yang ditanam di pulau itu sering ditebangi nelayan yang singgah. Apabila keadaan hulu sungai banyak pohon yang ditebangi. Hilangnya terumbu karang di lepas pantai juga menjadikan abrasi lebih cepat terjadi. Abrasi juga mampu menghilangkan Pulau Satu dan Pulau Bangkai yang berada di sekitar Pulau Enggano. Setidaknya dalam jangka waktu lima tahun terakhir bibir pantai telah menjorok ke daratan sepanjang 150 meter sehingga tidak aman lagi bagi penduduk yang bermukim di pinggirannya. Abrasi menyebabkan pula garis pantai mundur jauh dari jarak semula. khususnya di Bengkulu bagian utara. ada pula yang lambat. ombak yang datang akan dengan mudah menggerus kawasan sekitarnya. bergerak mundur ke utara hingga 100 meter. dua pulau itu masih dijaga oleh suku Kahuga di Pulau Bangkai dan suku Kaarubi di Pulau Satu dengan memelihara pohon kelapa. Pada tahun 1960. Dengan adanya terumbu karang.

liputan-kota. Menurut data Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi). Pundaum. Kesemua hal itu menyebabkan lahan bakau menghilang. Desa Puttada. pengikisan tanah di pantai lebih mudah terjadi. Masyarakat masih beranggapan bahwa lahan pantai bukanlah lahan produktif sehingga pengerukan pasir pantai tidak akan menimbulkan kerugian. terancam abrasi akibat gelombang air laut pasang yang terus menerus menghantam wilayah pesisir itu. www..2010 . PENGELOLAAN RISIKO Pengelolaan Risiko Bencana Manajemen Risiko Lingkungan . lebih dari 400 meter kubik pasir per hari diangkut keluar dari lokasi penambangan pasir Pantai Teluk Sepang.com/2010/03/abrasi-ancam-pes. terdiri dari Kelurahan Mosso. seperti di Pantai Teluk Sepang Bengkulu. ombak yang datang ke pantai pun tidak ada penghalangnya. Sekitar wilayah pantai Kabupaten Majene.16 Penggunaan kawasan pantai untuk bangunan secara berlebihan juga menyebabkan abrasi lebih masif terjadi. kawasan pantai juga sering digunakan sebagai tambak yang tidak berwawasan lingkungan. terus terancam gelombang air laut pasang. misalnya kini sudah banyak yang berubah menjadi resort pinggir pantai. Abrasi yang terjadi tersebut tampak juga merusak sepadan jalan jalur trans sulawesi yang terletak di sekitar pesisir pantai di wilayah itu. Ujung-ujungnya. Selain itu. sehingga jalan trans sulawesi di bagian barat Sulawesi tersebut juga menjadi terancam. Kawasan pantai yang seharusnya diperuntukkan bagi hutan bakau. Sepanjang wilayah pantai Kabupaten Majene yang terletak di Kecamatan Tubo. pada 2006.. Sulawesi Barat. Ulah manusia yang paling parah adalah mengeruk pasir-pasir pantai.. Tampak sepanjang puluhan kilometer wilayah pantai Kabupaten Majene terus dikikis air laut yang juga menghantam beberapa tanggul penahan ombak yang terletak di pesisir pantai sehingga jebol akibat gelombang pasang yang melanda wilayah itu. Desa Onang. Setelah lahan bakau menghilang.

hingga dapat menjadikannya tahan terhadap kerusakan akibat kedaruratan. High exposure to risk + limited ability to sustain loss = high vulnerability. Dengan kata lain. Ability to sustain loss + low degree of exposure = low vulnerability. Berapa luas ancaman terhadap masyarakat dan lingkungan. dikatakan tidak terlalu terancam terhadap bencana dan kegawatdaruratan. dan sebaliknya bila kurang pengalaman menghadapi dampak keadaan bahaya namun mampu menghadapi kehilangan dan kerusakan. dan dilakukan tindakan yang sesuai terhadap risiko yang diketahui.17 Pikirkan bahwa masyarakat dan lingkungannya adalah terancam terhadap bencana dan bagaimana kesanggupan masing-masing melawan akibat dari kerusakan oleh bencana. Resilience adalah bagaimana masyarakat mampu bertahan terhadap kehilangan.2010 . Bahaya (hazard) : Potensi akan terjadinya kejadian alam atau ulah manusia dengan akibat negatif. ketika menentukan keterancaman masyarakat atas dampak kedaruratan. mengatasi dan pulih dari bencana. Low susceptibility + high resilience = low degree of vulnerability. pelayanan dan lingkungan sering rusak atau hancur akibat dampak kedaruratan. Adalah kombinasi mudahnya terpengaruh (susceptibility) dan daya bertahan (resilience). dengan akibat kedaruratan dan keterancaman. Proses Pengelolaan Risiko Bencana Dalam pengelolaan risiko bencana. High susceptibility + low resilience = high level of vulnerability. Manajemen Risiko Lingkungan . Jelaslah bahwa petugas harus mengenal golongan masyarakat. 2. Berapa luas bencana melanda. Jadi dikatakan sangat terancam bila dalam menghadapi dampak keadaan bahaya hanya mempunyai kemampuan terbatas dalam menghadapi kehilangan dan kerusakan. dan susceptibility adalah derajat mudahnya terpengaruh terhadap risiko. Risiko (risk) : Kemungkinan akan kehilangan yang bisa terjadi sebagai akibat kejadian buruk. bencana dijelaskan berkaitan dengan risikonya terhadap masyarakat. struktur dan pelayanan yang mudah terancam. Dua hal penting : 1. penting untuk memastikan kemampuan masyarakat beserta lingkungannya untuk mengantisipasi. Keterancaman (vulnerability) : Akibat yang timbul dimana struktur masyarakat.

Memonitor proses. Pengelola bencana dapat melakukan: 1. Identifikasi apa yang mungkin terjadi 2. Masyarakat yang siap. Analisis kemungkinan hasil akhir 3. Terpadu d. Menganalisis risiko 4. rancangan tunggal pengelolaan harus dibuat dan digunakan dalam menghadapi semua bahaya yang dihadapi masyarakat. alam dan ulah manusia. Mengatasi risiko. Menilai / mengevaluasi risiko 5. prosedur dan pelatihan terhadap : 1.2010 . dan semua sistem tergantung pada komunikasi dan konsultasi. Dari pada mengembangkan rencana dan prosedur berbeda untuk masing-masing bahaya. Mengidentifikasi risiko 3. Atas semua bahaya b. Pengamatan dan penelaahan harus merupakan proses berkesinambungan dalam pengelolaan risiko. maksudnya aturan yang disetujui dalam merancang mengatasi semua bahaya. Pendekatan Menyeluruh Manajemen Risiko Lingkungan . logis dan praktis bagi pengelola bencana. Memastikan hal-hal terkait 2.18 Pengelolaan risiko bencana adalah penerapan sistematik dari kebijaksanaan pengelolaan. Hal tersebut menjadi perangkat pengambil keputusan yang sistematik. mempersiapkan. Pengelolaan Bencana Menyeluruh dan Terpadu Pengelolaan bencana yang efektif memerlukan kombinasi empat konsep : a. Mengelola risiko (pencegahan/mitigasi. Menyeluruh c. Semua bahaya. Gunanya untuk mendapatkan kegunaan yang mendasar bagi pengelola bencana untuk mengurangi dampak dari bencana. Pendugaan Menilai dampak 4. merespons dan pemulihan) 5.

2. pemberian makanan. Pendekatan Terpadu Pengelolaan bencana efektif memerlukan kerjasama aktif antara berbagai fihak terkait. Persiapan Perencanaan dan program. pemulihan dan dukungan terhadap korban. pelatihan dan pendidikan untuk memastikan bahwa bila bencana terjadi. Pencegahan dan mitigasi Peraturan dan persyaratan fisik untuk mencegah terjadinya bencana. pelatihan dan pengujian petugas. peralatan. persiapan. respons dan pemulihan yang harus dilakukan : 1. memulihkan dan mendukung masyarakat. Respons Kegiatan yang diambil mendahului atau segera setelah dampak bencana untuk meminimalkan akibat. keluarganya serta rumahnya terhadap dampak dari bahaya. perencanaan organisasional.19 Empat dasar pengelolaan kegawatan dan bencana. informasi publik. Termasuk pengembangan sistem peringatan dan kewaspadaan. Termasuk rescue. 3. sumber daya dan tenaga dapat segera dimobilisasi dan diberdayakan dengan hasil terbaik. serta pendidikan publik. Pencegahan dan mitigasi : 2. Masyarakat yang siap Adalah masyarakat yang masing-masing individunya waspada terhadap bahaya dan tahu bagaimana melindungi dirinya. Immunisasi penyakit 4. masingmasing memerlukan program pengelolaan (strategi) : 1. Kegiatan pencegahan / mitigasi. Rancang sanitasi Manajemen Risiko Lingkungan . atau untuk mengurangi dampaknya.2010 . perencanaan dan prosedur. dan untuk memberikan bantuan segera. sistem dan prosedur. pakainan dan tempat berlindung. akan mengurangi keterancaman terhadap bencana dan kedaruratan. Pemulihan Pemulihan dan perbaikan jangka panjang atas masyarakat yang terkena. Bila masing-masing dapat melakukan tindakan perlindungan terhadap dampak bahaya. Standar bangunan dan kemampuan PMK 3. Hubungan berbentuk kerjasama sangat penting. 4. Artinya semua organiasi dengan tugasnya masingmasing bekerja bersama dalam pengelolaan bencana. Merupakan proses rumit dan lama.

Pelatihan personil 3. cyclone. personil dan peralatan Respons : 1. Pengaktifan sistem pengelolaan insidens 2. 6. flood. Perencanaan. Menilai dan merubah perencanaan dan prosedur 3. avalanches. 8. Mekanisme pendukung bagi staf Pemulihan : 1.20 5. forest fire. landslides.. Proses debriefing 2. has been offering better operational services and decision support for better Disaster Management. Pengaktifan sistem pengelolaan informasi dan sumberdaya 3. earthquake. assessment and mitigation by identifying gap areas and assist in recommending appropriate strategies for disaster mitigation and management. etc. Remote sensing and GIS helps in preparing suitable strategy of land succumbed to disaster for its management and occupational framework for their monitoring.2010 . prosedur dan pelaksanaan dengan maksud mengurangi dampak bencana. in well knit multi-energy interface. Disaster management The remote sensing inputs have been used for many disasters including drought. volcanoes. Pengujian perencanaan. Manajemen Risiko Lingkungan . Merupakan perangkat pembuat keputusan yang logis dan praktis. BISAG through synergistic coupling of remote sensing inputs with conventional systems and space communications. 7. Pembuangan sampah / limbah Program pendidkan masyarakat Informasi media Peringatan terhadap masyarakat Persiapan : 1. sistem dan prosedur 2. crop pest / diseases. Identifikasi dan pemanfaatan pengetahuan yang didapat Pengelolaan risiko bencana Pengelolaan risiko bencana adalah pemanfaatan yang sistematik dari kebijaksanaan pengelolaan.

fihak sistem kesehatan masyarakat termasuk kesehatan masyarakat dan kesehatan mental. Analisis sumberdaya ( 7. dan pelaksana kesehatan masyarakat lainnya. Penulisan rencana ( 9.21 Proses Perencanaan Terhadap Bencana Pendugaan Risiko 1.2010 . Manajemen Risiko Lingkungan . Penilaian risiko → 4. Tes rencana. tingkat keterancaman berubah. Tentukan pertanggungjawaban : Memilih pertanggungjawaban dari semua fihak terkait : RS. Hal-hal yang dapat direncanakan : Hal yang dapat direncanakan dalam menghadapi kegawatdaruratan harus diidentifikasi. Penentuan tujuan perencanaan → 5. Tentukan tujuan perencanaan : Berdasar pada hasil analisis risiko dan pengenalan strategi pengelolaan bencana yang disetujui komite. Peninjauan ulang rencana ( 12. Pelatihan tenaga ( 10. Perbaiki rencana. tenaga dan prosedur ( 11. semua harus dimonitor dan dinilai secara tetap. Lakukan analisis risiko bencana : Termasuk analisis bahaya dan analisis keterancaman. Pengembangan sistem dan prosedur ( 8. Penentuan pertanggungjawaban → 6. Penilaian risiko bencana berkelanjutan sepanjang proses perencanaan : Bahaya berubah. Komite perencanaan : Fihak rumah sakit. Penetapan komite perencanaan → 3. petugas. Semua analisis akan membantu komite perencanaan bencana menentukan sasaran dan prioritas perencanaan. PMK dan polisi. pelayanan darurat eksternal seperti ambulans. Penentuan hal yang akan direncanakan → 2.

sistem pengelolaan informasi dan sumberdaya. Penulisan rencana : Dokumen tertulis harus dibagikan pada semua yang akan menggunakannya. Setiap saat.2010 . dan melaksanakan tugas yang kurang familier. sistem dan prosedur merupakan bagian vital dari persiapan pengelolaan gadar atau bencana. yang bahkan pantas untuk menguji sistem dan personil yang sudah berpengalaman.dan harus dinyatakan dalam perencanaan itu sendiri. Personil juga memerlukan kesempatan untuk mempraktekkan tugas dan tanggungjawab pengelolaan bencananya. Penciptaan sistem dan prosedur : Komite harus mengidentifikasi strategi untuk pencegahan dan mitigasi. Debriefing harus dilakukan untuk mengenal kebutuhan perbaikan perencanaan. Rencanakan kerjasama dengan fasilitas kesehatan regional atau nasional. dari pada hanya melihat apa yang dipunyai. komite harus mengidentifikasi sumber tenaga dan sarana yang tersedia yang dapat dipanggil seketika dibutuhkan. berikan tidak hanya banyak tugas yang tidak familer. sistem dan prosedutr. dan untuk melatih personil. respons dan pemulihan akibat kegawatan major dan bencana. Dokumen harus sederhana dan langsung sasaran. informasi publik. Bila apa yang dibutuhkan kurang dari apa yang tersedia. sistem komunikasi. penyiapan. diaktifkan untuk latihan atau dalam bencana sesungguhnya. uji perencanaan. rencana yang belum diuji dan dinilai ulang mungkin lebih buruk dari pada tidak ada rencana sama sekali. Ini termasuk sistem komando gadar RS. Manajemen Risiko Lingkungan . Dapat dimengerti mengapa personil wajib dilatih dan diuji secara rutin dalam tugas pengelolaan bencananya. Hal ini akan membangun rasa keamanan yang salah pada petugas dalam hal tingkat persiapan. namun mereka harus mendapatkan lingkungan yang sangat menekan. Kegiatan respons bencana memerlukan personil untuk bekerja diluar kegiatan dan tanggungjawab hari-hari normalnya. personil dan prosedur : Pelatihan personil serta pengujian perencanaan. perencanaan atau bagian dari perencanaan. Peninjauan ulang dan ubah perencanaan Perencanaan harus dinilai ulang dan diperbaiki secara berkala.22 Analisis sumberdaya : Komite harus mengetahui apa yang akan dibutuhkan. Pelatihan persomil. Selain itu. atau orang tidak dapat membaca atau memahaminya. Untuk menciptakan kejadian menjadi lebih sulit.

keterancaman dan keterpaparan sasaran terhadap risiko.23 Sekali lagi. dinilai ulang dan dipertbaharui. namun bukan titik akhir. Frekuensi dan kerusakan menunjukkan beratnya keadaan bahaya. Frekuensi terjadinya kejadian bahaya. 3. Keterancaman objek sasaran akan terkena oleh kerusakan. Konsep pilihan untuk mengatasi keadaan bahaya adalah menggunakan kebijaksanaan berdasar risiko. Manajemen Risiko Lingkungan . dijelaskan sebagai fungsi dari empat faktor berikut : 1. Di dunia. apa dampaknya pada petugas dll. Hambatan politik dan ekonomi menyebabkan bahwa pendekatan tradisional dalam mendapatkan rasa aman terhadap bahaya harus dinilai ulang. 2. Inilah kenapa ada perbedaan antara definisi sederhana risiko sebagai hasil kemungkinan. Bagaimana bila ini atau itu terjadi. tidak pernah berakhir. Keterpaparan target sasaran terhadap bahaya. Tidak saatnya lagi mangatakan bahwa pencegahan terhadap proses berbahaya secara umum dikatakan sebagai terbaik atau cara yang paling diinginkan dalam menghadapi risiko. Bagaimanapun sudut pandang yang lebih sempit dengan cepat menunjukkan bahwa frekuensi dan keterpaparan adalah sebanding dengan kemungkinan. penting dilakukan. Intensitas kerusakan objek sasaran yang berpotensi terhadap risiko dengan distribusi / kelompok khusus. dan membahas pilihan rancangan yang diperkirakan memiliki jangkauan luas dalam sistem persiapan.2010 . Perencanaan tertulis adalah hanya sebuah hasil akhir dari proses perncanaan. yang juga telah mencakup risiko. apa yang diperlukan. Pencegahan dan peningkatan resilience dari objek yang berpotensi terkena adalah dua contoh penting lainnya dari bagaimana kerusakan akibat keadaan berbahaya dapat dikurangi. Walau diarahkan pada bahaya. namun kegiatan komite dalam memikirkan batasan kejadian beserta konsekuensinya. dimana intensitas dan keterancaman mengartikan kerusakan. perencanaan adalah proses. Bagaimana bila : Bagian penting dari proses perencanaan adalah pertanyaan dari komite : Bagaimana bila …. kehilangan akibat bencana tetap meningkat walau investasi yang sangat besar dalam tindakan pencegahan secara tehnik sudah dilakukan. 4. dan perluasan kerusakan yang lebih menunjukkan sudut pandang operator atau pelaksana. Perencanaan tertulis adalah dokumen yang hidup yang harus secara tetap diuji. Tidak mungkin untuk membuat rencana bagi semua kejadian. apa yang harus dilakukan. hanya bagian dari proses perencanaan.

anthropology/sociology approaches (cultural theory) and interdisciplinary approaches (social amplification of risk framework). 3. Ini mungkin karena jarak antara ilmu sosial (termasuk proses evaluasi publik) dan ilmu administratif atau tehnik (yang bertanggung jawab pada kebanyakan risiko nyata). Tampilan dampak kerusakan yang mungkin terjadi terhadap objek disaat kejadian. Manajemen Risiko Lingkungan . The phrase is most commonly used in reference to natural hazards and threats to the environment or health. Risk perception is the subjective judgment that people make about the characteristics and severity of a risk. Satu masalah yang belum jelas adalah opini publik dalam proses keputusan. Several theories have been proposed to explain why different people make different estimates of the dangerousness of risks. Dengan kata lain.24 Pengelolaan risiko akan berhasil bila informasi berikut tersedia : 1. dengan mengembangkan model yang seakurat mungkin menunjukkan persepsi dan evaluasi publik akan risiko yang diharapkan hingga pembuat keputusan dapat menggunakan hal ini. dianjurkan bahwa pandangan publik tentang evaluasi risiko secara normatif (dari pada emperik-deskriptif) akan memperbaiki keputusan yang dibuat dalam pengelolaan bencana. Baik definisi dari tingkat rasa aman yang memadai dan kuantifikasi tampilan ekonomik tidak dapat dibuat hanya oleh para ahli. Saat ini prinsip penilaian risiko dan pembuatan kebijaksanaan secara umum berdasar risiko dipakai secara luas lintas disiplin dan lintas batas.2010 . Evaluasi dan Persepsi Risiko Kunci pendekatan berdasar risiko menghadapi bahaya diterima dalam bentuk tingkat rasa aman yang memadai dan secara ekonomik. Karakterisasi bahaya secara khusus. Usaha saat ini adalah menjembatani jarak tsb. Mengumpulkan dan mengklasifikasikan objek yang terancam dalam jangkauan proses berbahaya. Three major families of theory have been developed: psychology approaches (heuristics and cognitive). such as nuclear power. Nilai dan tanggapan sosial mungkin merupakan faktor lebih penting dalam membentuk rasa aman dari pada risiko nyata sendiri. 2.

All links in the communication chain. The main thesis of SARF states that risk events interact with individual psychological. These secondary changes are perceived and reacted to by individuals and groups resulting in third-order impacts. Traditional risk analyses neglect these ripple effect impacts and thus greatly underestimate the adverse effects from certain risk events.. These ripple effects caused by the amplification of risk include enduring mental perceptions. decrease. etc. some groups may amplify their perception of risks while other groups may attune. and their perceptions of risk. receiving less public attention. combines research in psychology. anthropology. they may ripple to other parties and locations. media. Behaviors of individuals and groups then generate secondary social or economic impacts while also increasing or decreasing the physical risk itself. Public distortion of risk signals provides a corrective mechanism by which society assesses a fuller determination of the risk and its impacts to such things not traditionally factored into a risk analysis. Manajemen Risiko Lingkungan . changes in training and education. The theory may be used to compare responses from different groups in a single event. groups. or social disorder. SARF outlines how communications of risk events pass from the sender through intermediate stations to a receiver and in the process serve to amplify or attenuate perceptions of risk. receiving public attention. In a single risk event. impacts on business sales.2010 . social and other cultural factors in ways that either increase or decrease public perceptions of risk. and change in residential property values. As each higher-order impacts are reacted to. and communications theory. or attuned.25 Interdisciplinary approach: Social amplification of risk framework The Social Amplification of Risk Framework (SARF). The theory attempts to explain the process by which risks are amplified. or analyze the same risk issue in multiple events. individuals. contain filters through which information is sorted and understood. sociology.

juga merupakan bagian dari resiko bencana. pengurangan kerentanan dan penguatan kapasitas. Aspek-aspek yang tercakup dalam program kegiatan PRB meliputi kesiapsiagaan. Ini semua merupakan resiko bencana (disaster risk) bagi masyarakat yang terkena dampak langsung.multiply. bupati/walikota atau perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah) bertugas melakukan penanggulangan bencana.26 PENGURANGAN RISIKO BENCANA Pendahuluan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) mendasarkan pada konsep pikir pengurangan ancaman.2010 .com/journal/item/335/Manajemen.. Berdasarkan Undang-Undang nomor 24/2007 tentang Penanggulangan Bencana. Adanya trauma psikologis pada anak-anak. Banjir akibat tanggul jebol biasanya menimbulkan korban jiwa dan kerugian harta benda yang sangat besar. pemulihan dan rekonstruksi. pemerintah (gubernur. tanggap darurat. saat bencana maupun pasca bencana. anak-anak tak dapat mengikuti pelajaran di sekolah dengan normal. Hal yang Manajemen Risiko Lingkungan . terganggunya mereka dalam mencari mata pencaharian. mitigasi.. misalnya sakitnya warga masyarakat. Pemerintah dan seluruh seluruh stakeholder pembangunan di Provinsi Jawa Tengah bertanggungjawab dalam PRB melalui implementasi peran dan fungsinya masing-masing yang dilakukan pada seluruh siklus penyelenggaraan penanggulangan bencana baik pada tahap pra bencana. adijm. Ada resiko bencana lain yang menimpa masyarakat.

pola pelaksanaan semua pemangku kepentingan pengurangan risiko bencana di provinsi dan kabupaten/kota beserta seluruh masyarakat Jawa Tengah.27 paling awal dari tugas dan tanggung jawab ini adalah pengurangan atau minimalisasi resiko bencana.2010 . Manajemen Risiko Lingkungan . Sementara itu tumbuhnya kawasan permukiman di sepanjang bantaran sungai. Ditambah lagi. 24 Tahun 2007. Sistem peringatan dini biasanya juga amat minim. Mengedepankan pemberdayaan masyarakat dan pemerintah lokal di daerah rawan bencana dengan pendayagunaan secara optimal potensi dan sumber daya serta kearifan lokal yang telah mengakar dan berkembang di masyarakat. Sesuai amanat Undang Undang No. b. adanya monitoring tanggul-tanggul di sepanjang sungai secara periodik dan seksama adalah bagian dari pencegahan bencana. selaras dengan kebijakan Pusat. adalah parameter kerawanan yang lain. informasi. Pengurangan resiko ini termasuk upaya pencegahan rawan bencana. Dalam hal bencana banjir jebolnya tanggul sungai. Mengedepankan keterpaduan paradigma. Identifikasi Risiko Bencana Pengurangan Risiko Bencana di suatu daerah dapat diarahkan pada pengurangan ancaman bahaya (hazard). Pemerintah berkewajiban memberikan perlindungan terhadap kehidupan dan penghidupan masyarakat termasuk perlindungan atas bencana dalam rangka mewujudkan kesejahteraan umum. pengurangan kerentanan (vulnerability) masyarakat dan peningkatan kapasitas (capacity) pemerintah dan masyarakat di daerah rawan bencana untuk melindungi jiwa dan harta benda masyarakat serta menjamin tata kehidupan yang berkelanjutan. potensi. Pengurangan Risiko Bencana (PRB) dapat ditempuh melalui kebijakan sebagai berikut: a. persepsi. Masyarakat juga tidak pernah mempersiapkan bangunan yang kokoh. Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) (misalnya Provinsi Jawa Tengah ) secara umum mempunyai tugas pokok dan fungsifungsi yang terkait dalam kegiatan penanggulangan bencana wajib mengambil peran dengan mengisi kegiatan pada nomenklatur program yang sesuai dengan urusan kewenangan wajib dan/atau pilihan. Ini semuanya serupakan parameter-parameter yang menambah tingginya tingkat kerentanan mereka terhadap bencana (vulnerability). warga masyarakat di sana bisa jadi tidak pernah diberi peringatan akan bahaya yang mengintai mereka.

Oleh karena itu langkah yang dilakukan meliputi: pengurangan ancaman. pengurangan kerentanan dan peningkatan kapasitas. Dalam perspektif ilmu lingkungan. d. apakah itu sungai. Rencana Aksi Daerah Pengurangan Risiko Bencana daerah dititik-beratkan pada keselamatan jiwa manusia dan menjamin kehidupan dalam lingkungan yang lebih baik (better life and better living) serta tertata pada kondisi yang terbebas dari ancaman bencana. namun merupakan kontribusi beberapa permasalahan lain sehingga meningkatkan kerentanan. 1. Konsep Dasar Identifikasi Potensi bencana yang tinggi pada dasarnya tidak hanya sekedar refleksi fenomena alam yang secara geografis sangat khas untuk suatu wilayah. DAS sendiri didefinisikan sebagai satu hamparan wilayah dimana air hujan yang jatuh di wilayah itu akan menuju ke satu titik outlet yang sama. maka Anda adalah warga DAS Brantas. atau laut. maka Anda (air hujan dari persil lahan Anda) punya kontribusi terhadap terjadinya banjir itu. setiap warga DAS berpotensi menghasilkan eksternalitas negatif dari sisi hidrologi. Jadi jika air hujan yang jatuh di rumah Anda mengalir ke selokan dan menuju ke Sungai Brantas. jika air sungai Brantas meluap dan menggenangi dataran banjir di sekitarnya. Dengan demikian setiap kita pasti warga dari satu DAS dan setiap warga DAS berpotensi untuk memberikan kontribusi terhadap terjadinya banjir di bagian hilir DAS yang bersangkutan.2010 . danau.28 c. Mengedepankan transparansi dengan pola kemitraan serta prinsip non diskriminasi dalam penyelenggaraan pengurangan risiko bencana. Manajemen Risiko Lingkungan . Daerah Aliran Sungai dan Risiko Banjir Salah satu aspek yang seringkali dilupakan berkaitan dengan terjadinya banjir di satu kota adalah banjir itu sangat berkaitan erat dengan kesatuan wilayah yang disebut dengan daerah aliran sungai (DAS). Itu artinya. Mengedepankan upaya pencegahan dan pendekatan persuasif dalam pelaksanaan program dan kegiatan dengan prinsip mendorong kearah tata kehidupan dan penghidupan yang lebih baik bagi masyarakat.

sungai dan akhirnya bermuara ke danau atau laut./ Suatu “daerah aliran sungai” atau DAS adalah sebidang lahan yang menampung air hujan dan mengalirkannya menuju parit. Skema sebuah Daerah Aliran Sungai (DAS). Istilah yang juga umum digunakan untuk DAS adalah daerah tangkapan air (DTA) atau catchment atau watershed.2010 . Batas DAS adalah punggung perbukitan yang membagi satu DAS dengan DAS lainnya.wordpress.com/...29 bebasbanjir2025. Manajemen Risiko Lingkungan .

sosial ekonomi dan kelembagaan seperti terlihat pada Gambar 3. hidrologi. Identifikasi permasalahan yang meliputi aspek penggunaan laha n. ekonomi dan budaya. perlu dilaksanakan sebelum rencana pengelolaan DAS dirumuskan. vegetasi. Perumusan tujuan dan sasaran secara jelas. atau hanya pada sebagian dari suatu kabupaten. spesifik dan terukur dengan memperhatikan permintaan masyarakat terhadap barang dan jasa dari ekosistem DAS. Pengumpulan data ini terutama identifikasi karakteristik DAS yang. Identifikasi dan memformulasikan beberapa rencana kegiatan sebagai alternatif. mencakup batas dan luas wilayah DAS. Tidak ada ukuran baku (definitif) suatu DAS. Penyusunan rencana kegiatan/program pengelolaan DAS berupa usulan rencana yang dianggap paling memenuhi kriteria untuk tercapainya pembangunan yang berkelanjutan. Ada DAS yang meliputi wilayah beberapa negara (misalnya DAS Mekong). Perencanaan pengelolaan DAS terpadu mempersyaratkan adanya beberapa langkah-langkah penting sebagai berikut: 1. aspek hidrologi. DAS Mikro atau tampungan mikro (micro catchment) adalah suatu cekungan pada bentang lahan yang airnya mengalir pada suatu parit. Pengumpulan data yang ekstensif. penggunaan lahan. 2. geologi. adat istiadat masyarakat dan kendala-kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan pengelolaan DAS. dan karakteristik sosial. Ukurannya mungkin bervariasi dari beberapa hektar sampai ribuan hektar. dan secara ekonomi terjangkau). tingkat kekritisan lahan. tetapi dapat digambarkan pada peta. peraturan dan kebijakan pemerintah. Batas DAS kebanyakan tidak sama dengan batas wilayah administrasi. didukung oleh strategi pengelolaan data yang terpadu. Manajemen Risiko Lingkungan . kerapatan drainase. topografi.30 Air mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah sepanjang lereng. Sebidang lahan dapat dianggap sebagai DAS jika ada suatu titik penyalur aliran air keluar dari DAS tersebut. 5. Garis batas DAS tersebut merupakan garis khayal yang tidak bisa dilihat. iklim. tanah. Prakiraan-prakiraan tentang kebutuhan sumberdaya alam (dan buatan) untuk beragam pemanfaatan perlu dilakukan dan dikaji potensi timbulnya konflik di antara pihak – pihak yang berkepentingan. 3. secara sosial/politik dapat diterima. sumberdaya air. Akibatnya sebuah DAS bisa berada pada lebih dari satu wilayah administrasi.2010 . antara lain. Parit tersebut kemungkinan mempunyai aliran selama dan sesaat sesudah hujan turun (intermitten flow) atau ada pula yang aliran airnya sepanjang tahun (perennial flow). 4.2. maka garis batas suatu DAS adalah punggung bukit sekeliling sebuah sungai. Evaluasi alternatif kegiatan pengelolaan yang akan diimplementasikan sehingga dapat dihasilkan bentuk kegiatan yang paling tepat (secara teknis dapat dilaksanakan. beberapa wilayah kabupaten (misalnya DAS Brantas). 6.

wordpress.com/. namun demikian tidak semua ancaman selalu menjadi bencana. mekanisme pelaksanaan pengelolaan DAS mempersyaratkan bahwa tahap perencanaan dan implementasi tidak boleh dipisahkan karena informasi yang diperoleh dari implementasi kegiatan dapat dimanfaatkan kembali sebagai umpan balik (feedback) untuk penyempurnaan rencana yang telah dibuat.2010 . Hal ini diperlukan sebagai umpan balik bertahap.. Pengurangan Ancaman Ancaman berpotensi menimbulkan bencana.. Diagram Alir Garis Besar Identifikasi Permasalahan DAS bebasbanjir2025. Diperlukan analisis ancaman Manajemen Risiko Lingkungan .1./ a. Legitimasi dan sosiallisasi rencana yang telah disusun kepada pihak-pihak yang terkait. Demikian pula.31 7. Dalam Gambar 3. untuk setiap langkah pengelolaan dari mulai alternatif kegiatan hingga implementasi kegiatan perlu dilakukan monitoring dan evaluasi (review).

Pengurangan risiko bencana dapat dilakukan dengan cara memperkecil kerentanan. harta benda dan kerusakan lingkungan. yang terjadi secara tiba-tiba atau perlahan-lahan sehingga menyebabkan hilangnya jiwa manusia. hanya ada sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali kesempatan untuk mengurangi ancaman. Penilaian ancaman dilakukan dengan probabilitas yang spesifik dengan melihat intensitas kerugian yang terjadi selama ini. seperti sabo untuk mengurangi ancaman aliran lahar. Berdasarkan pada berbagai jenis ancaman. dam/bendungan untuk mereduksi banjir. tanah longsor. politik. banjir dan kerawanan lainnya sehingga dapat dilakukan tindakan mitigasi secara dini. geografis. sosial kependudukan. 3) Penyiapan struktur fisik untuk mengurangi ancaman dan dampak bencana.32 untuk mengetahui tingkat risiko suatu ancaman yang didasarkan pada probabilitas terjadinya bencana dan intensitas dampak kerugian yang ditimbulkan. 5) Penyiapan regulasi untuk keselamatan dan kenyamanan yang berkaitan dengan tindakan yang dapat menimbulkan ancaman bencana. 2) Penyediaan peta rawan bencana. meredam. ekonomi dan kerentanan lingkungan. Pengurangan Kerentanan Kerentanan merupakan kondisi karakteristik biologis. baik yang disebabkan oleh alam maupun ulah manusia. 4) Ancaman bencana non alam dan bencana sosial. mencapai kesiapan dan menanggapi dampak bahaya tertentu. baik untuk gunung berapi. rehabilitasi mangrove untuk pencegahan/pengurangan abrasi dan lain sebagainya. b. bangunan tahan gempa. Oleh karenanya kebijakan pengurangan ancaman difokuskan pada upaya pencegahan. mitigasi dan pembangunan kesiapsiagaan masyarakat. ekonomi. Pengurangan kerentanan masyarakat difokuskan pada hal-hal sebagai berikut: Manajemen Risiko Lingkungan . Tingkat kerentanan dapat ditinjau dari kerentanan fisik (infrastruktur). dapat dikurangi dengan penegakan hukum dan pemberian insentif bagi upaya pelestarian lingkungan (reward and punishment). maka dalam upaya mengurangi berbagai ancaman perlu mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut : 1) Sebagian besar risiko yang terkait dengan bencana alam. sosial.2010 . budaya dan teknologi suatu masyarakat di suatu wilayah untuk jangka waktu tertentu yang mengurangi kemampuan masyarakat tersebut mencegah.

yang berarti kualifikasi dan kemampuannya dalam mengembangkan pengelolaan bencana dalam setiap tupoksinya baik yang sifatnya individu maupun sebagai individu dalam lembaga. pelatihan dan pembangunan institusi untuk memberikan pengetahuan profesional dan kompetensi yang diperlukan. Peningkatan Kapasitas Kapasitas adalah kemampuan yang dimiliki oleh masyarakat. menanggapi dengan cepat atau segera pulih dari suatu kedaruratan dan bencana. 2) Tingkat kelembagaan. mendorong aktivitas ekonomi produktif dan peningkatan infrastruktur. pengambilan keputusan. Hal terpenting dalam rangka peningkatan kapasitas ini adalah memandang masyarakat sebagai subyek dan bukan sebagai obyek penanganan bencana dalam proses pembangunan. Ruang lingkup dalam peningkatan kapasitas adalah: 1) Tingkat individu. dan akan mendukung upaya-upaya perlindungan terhadap orang lain dan masyarakat secara keseluruhan. terkait dengan struktur organisasi. ibu hamil. c. Hal yang berpengaruh terhadap kapasitas ini adalah kebijakan. 3) Pendorongan individu atau institusi untuk mengambil tindakantindakan mitigasi bencana. b) Sosialisasi pengetahuan kepada masyarakat dalam bidang mitigasi bencana yang sedang berkembang dengan cepat baik tentang bahaya-bahaya maupun sarana untuk memerangi bahaya tersebut sehingga program-program yang diimplementasikan menjadi lebih efektif. dan perorangan yang membuat mereka mampu mencegah.2010 . siap siaga. melalui perencanaan tata ruang yang dapat memberikan rasa aman dan nyaman. kesiapsiagaan dan partisipasi masyarakat. Peningkatan kapasitas masyarakat bertujuan untuk mengembangkan suatu “kultur keselamatan” di mana seluruh anggota masyarakat sadar akan bahaya-bahaya yang mereka hadapi. orang cacat dan lansia). Untuk itu perlu dikembangkan upaya sebagai berikut: a) Pendidikan bencana dilaksanakan melalui program pendidikan formal. 2) Penataan fasilitas baru. keluarga. balita. mengurangi. tata kerja dan hubungannya dengan jaringan (koordinasi antar elemen) dalam melaksanakan Manajemen Risiko Lingkungan . mengetahui bagaimana melindungi diri mereka.33 1) Perlindungan masyarakat yang rentan (bayi. c) Pelatihan simulasi di masyarakat dalam rangka meningkatkan pemahaman risiko bencana yang ditimbulkan baik dari bencana alam maupun bencana yang dikarenakan ulah manusia.

masalah teknis. Ketidakpastian dalam Perencanaan Pengelolaan Risiko Banjir DAS Memprakirakan kondisi yang akan datang berdasarkan data dan informasi yang telah dikumpulkan telah menjadi kendala bagi para perencana pengelolaan DAS. 2. serta bagaimana lingkungan yang ada mendukung tujuan yang ingin dicapai oleh sebuah sistem atau kebijakan yang terakomodasi dalam peraturan perundangan daerah. Untuk mengurangi dampak yang mungkin ditimbulkan oleh suatu bencana. atau kalau tersedia.34 pengelolaan bencana sesuai dengan tupoksi lembaga yang bersangkutan. 3) Tingkat sistem dan kebijakan. Sejumlah ketidakpastian yang berkaitan dengan data dan informasi tampaknya harus dihadapi dalam proses penyusunan rencana pengelolaan DAS. tidak lengkap. Hal yang perlu diperhatikan dalam hal ini bahwa penyusunan rencana pengelolaan DAS sebaiknya tidak didasarkan pada keadaan rata-rata karena adanya variabilitas untuk masing. maka perlu disusun identifikasi risiko yang merupakan interaksi dari ancaman. Ketidakteraturan pola iklim telah mengakibatkan ketidakpastian prakiraan iklim untuk masa yang akan datang.2010 . Proses Identifikasi Risiko Suatu bencana dapat diketahui tingkat kerusakannya dengan mengetahui dampak yang ditimbulkan. Pola curah hujan sangat bervariasi dari tahun ke tahun sehingga seringkali sulit untuk melakukan prakiraan curah hujan secara tepat. tetapi prakiraan pola iklim yang akan terjadi perlu diantisipasi dan dijadikan pertimbangan dalam menyusun rencana pengelolaan DAS. Meskipun sulit untuk melakukan prakiraan komponen iklim dengan akurasi yang tinggi.masing lokasi. Ketidakpastian yang bersifat teknis umumnya dijumpai dalam bentuk tidak memadainya pengetahuan tentang hubungan keterkaitan teknis dalam hal aktivitas pengelolaan DAS. Dengan latar belakang Manajemen Risiko Lingkungan . Informasi yang akurat tentang dampak jenis vegetasi tertentu terhadap erosi di suatu daerah dengan karakteristik iklim dan tanah tertentu seringkali belum tersedia. Ketidakpastian umumnya meliputi data iklim. kerentanan dan kapasitas. bisa jadi telah kadaluwarsa. atau tidak relevan dengan materi perencanaan. kerangka kebijakan penanggulangan bencana di daerah sesuai dengan kondisi dan situasi lokal daerah. Kedua jenis kerusakan tersebut mempunyai pendekatan yang berbeda dalam penilaiannya. Data atau informasi yang akan digunakan untuk menyusun rencana mungkin tidak tersedia sama sekali. dan ketidakpastian masalah sosial-ekonomi. baik berupa fisik maupun non fisik.

laju erosisedimentasi) secara sistematis.2010 . discount rate. maka ia akan lebih banyak menghadapi ketidakpastian. Data dan informasi yang sering dimanfaatkan untuk perencanaan sosial seperti kekayaan. Perencanaan pengelolaan DAS. Monitoring dan evaluasi yang dilakukan secara sistematis dan berlanjut.35 tersebut. karena umumnya berkaitan dengan antisipasi kejadian jangka panjang. Untuk mengatasi hal tersebut. Dengan melakukan pengamatan terhadap pengaruh perubahan asumsi (laju inflasi. Ia juga dapat menciptakan ketidakpastian tentang peraturan-peraturan yang berkaitan dengan sistem pemilikan tanah dan beberapa hak lain yang dimiliki oleh masyarakat. mereka akan berhadapan dengan ketidakpastian. Cara lain untuk mengatasi ketidakpastian adalah dengan cara meningkatkan kelenturan (flexibility) pengelolaan dan organisasi sehingga tanggap terhadap adanya perubahan yang tidak terduga sebelumnya dan melakukan penyesuaian-penyesuaian. Keadaan ini. dapat juga mengacaukan arah kebijakan dan pengelolaan sumberdaya untuk masamasa yang akan datang. dan dengan demikian. Apabila dalam masalah teknis saja dijumpai adanya ketidakpastian. untuk kemudian dilakukan penyesuaian seperlunya. Salah satu pendekatan yang relevan digunakan untuk mengatasi keadaan ketidakpastian adalah dengan cara meningkatkan pemahaman terhadap situasi dunia atau lingkungan di sekeliling kita. prakiraan variabel-variabel sosial untuk waktu yang akan datang akan menghadapi tingkat ketidakpastian yang lebih besar. Kekacauan sosial dapat menciptakan ketidakstabilan sosial dan ekonomi dari suatu masyarakat. tingkat pendidikan dan lain sebagainya. dapat diketahui dengan lebih baik bagaimana masalah ketidakpastian tersebut mempengaruhi hasil rencana/prakiraan yang dibuat. pendapatan. boleh jadi sulit untuk memperolehnya. Strategi yang dapat dilakukan adalah sebaga i berikut: o Monitoring dan evaluasi. maka kadar ketidakpastian dalam masalah sosial-ekonomi tentunya menjadi lebih besar. implementasi Manajemen Risiko Lingkungan . tim perencana pengelolaan DAS hanya dapat menduga keluaran apa yang akan diperoleh dari pengelolaan yang direncanakan. Dengan demikian. pada gilirannya. kesejahteraan. berikut ini adalah beberapa strategi untuk menghadapi dan menangani berbagai bentuk ketidakpastian yang muncul dalam perencanaan seperti disarankan oleh Lundgren (1983): 1. o Melakukan analisis sensitivitas (sensitivity analysis). untuk tempat-tempat tertentu. Strategi yang harus dilaksanakan: o Menunda keputusan sambil menunggu lebih banyak informasi yang dapat dimanfaatkan. Dalam keadaan demikian. o Membuat beberapa skenario (prakiraan) mengenai hal yang diharapkan terjadi pada waktu yang akan datang serta konsekuensi yang dihadapi. dalam banyak hal. Dalam hal ini bagian-bagian kritis yang ada dalam skenario rencana yang dibuat dapat diidentifikasi. 2.

perlu dilakukan identifikasi tentang hal-hal (dalam rencana) yang diperkirakan akan mengalami penyimpangan. Kemudian tentukan konsekuensi apa yang dapat terjadi dan tindakan apa yang harus diambil apabila hal tersebut betul-betul terjadi. Dalam menghadapi ketidakpastian tentang masa yang akan datang. Ketiga komponen tersebut menjadi dasar dalam penilaian risiko yang ditimbulkan sebagai perkiraan dampak dari bencana. Beberapa strategi yang dapat dimanfaatkan untuk mengatasi masalah ketidakpastian dalam merencanakan proyek pengelolaan DAS tersebut di atas hanyalah beberapa cara yang dapat dikemukakan. Sebagai contoh. Pelaksanaan program di lapangan seringkali menyimpang dari rencana yang telah dibuat. strategi apapun yang akan digunakan untuk mengatasi masalah ketidakpastian. o Rencana contingency. penanaman beberapa jenis vegetasi untuk memenuhi beberapa tujuan adalah lebih baik. 3. rencana program itu sendiri harus sedemikian lentur sehingga memungkinkan berkembangnya kreativitas dan diversitas dalam pelaksanaan program di lapangan. daripada merekomendasi hanya satu jenis vegetasi untuk memenuhi satu tujuan pengelolaan. Mendasarkan pada kondisi kebencanaan Manajemen Risiko Lingkungan . Untuk mengantisipasi hal tersebut di atas. o Diversifikasi. Namun demikian. waktu dan penduduk. salah satu hal yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan diversifikasi. Langkahlangkah yang perlu dilakukan adalah : a. ada satu tantangan yang harus dicarikan jalan keluarnya. Masih ada cara lain yang dapat dimanfaatkan. Cara yang dapat ditempuh adalah menempatkan personil yang inovatif terhadap program pembangunan sebagai pelaksana program sehingga mereka diharapkan mampu memotivisir masyarakat yang terkait dengan program pengelolaan tersebut untuk berpartisipasi aktif dalam melaksanakan program pengelolaan DAS. Identifikasi Ancaman Ancaman pada dasarnya merupakan potensi bencana dalam skala wilayah.2010 . Selain masalah tenaga pelaksana. yaitu bagaimana caranya untuk memasukkan atau menggabungkan strategi-strategi tersebut dalam kerangka perencanaan pengelolaan DAS. melainkan tanggap terhadap variasi yang dijumpai di lapangan dan melakukan perubahan-perubahan yang diperlukan.36 program pengelolaan DAS tidak terlalu terikat kaku pada rencana yang telah dibuat. Strategi lain yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah ketidakpastian dalam perencanaan pengelolaan DAS adalah dengan mendorong berkembangnya inovasi terhadap pembangunan.

mengungsi. kerusakan atau kehilangan harta. jiwa terancam. ekonomi dan lingkungan. Tiap wilayah memiliki tingkat. komunal. Dengan demikian dapat ditentukan langkah-langkah penanganan yang tepat guna mengurangi kerentanan. Oleh karena itu dalam melakukan analisis risiko. c. sistem dan kebijakan. Identifikasi Kerentanan Kerentanan adalah kondisi sistem di masyarakat yang menyebabkan ketidakmampuan masyarakat dalam menghadapi bencana.37 yang ada. sosial. Perbedaan kepentingan dan material dalam proses pengambilan keputusan memberikan kontribusi dalam membentuk spasial dan distribusi risiko sosial suatu bencana melalui relasi yang kompleks. d. Identifikasi Kapasitas Kapasitas masyarakat menyangkut kemampuan masyarakat dalam mengetahui. baik dalam meredam. dalam skala makro penanggulangan bencana Jawa tengah menjadi tanggung jawab SKPD provinsi melalui program-program yang ada. hilangnya rasa aman. Identifikasi ini dilakukan dengan melihat kejadian bencana selama ini beserta dampak yang diakibatkannya. Identifikasi secara cermat kondisi kerentanan mutlak diperlukan dalam membuat peta kerentanan. kelembagaan. menyadari dan menyiapkan diri ketika belum terjadi bencana. Oleh karena itu diperlukan suatu perencanaan yang matang agar upaya pengurangan Manajemen Risiko Lingkungan . yaitu bencana alam. Risiko dapat dinilai secara kuantitatif dan merupakan probabilitas dari dampak atau konsekuensi suatu bahaya. perlu mempertimbangkan kondisi wilayah secara spesifik agar tidak terjadi bias penilaian. dan kemampuan dalam memulihkan dan meningkatkan kondisi setelah terjadi bencana. jenis dan karakteristik kerentanan yang bervariasi. Identifikasi Risiko Risiko bencana adalah potensi kerugian yang ditimbulkan akibat bencana pada suatu wilayah dalam kurun waktu tertentu yang dapat berupa kematian. Secara spesifik. Upaya lebih lanjut yang perlu dibangun adalah kelembagaan sosial dan juga asimetrik kekuasaan dalam pengambilan keputusan yang mempertimbangkan suara kaum marjinal sebagai masyarakat paling rentan. b.2010 . kemampuan dalam menghadapi kondisi dan mengurangi risiko ketika terjadi bencana. maka ancaman bencana di Jawa Tengah dapat dikelompokkan dalam 3 jenis. bencana sosial dan bencana non alam. sakit. sedangkan dalam skala mikro Kabupaten/Kota menjadi tanggung jawab SKPD Kabupaten/Kota. mencapai kesiapan dan menanggapi dampak bencana. dan gangguan kegiatan masyarakat. luka. Kapasitas tersebut dapat dinilai secara personal/ individual. Kerentanan menyangkut kerentanan fisik.

c. Prioritas kegiatan PRB tersebut adalah: a. Lembaga-lembaga penelitian dan pengembangan dari berbagai institusi pemerintah maupun swasta sangat diharapkan peranannya dalam melakukan pengkajian. terus menerus dan secara luas. RAD PRB ini diharapkan dapat mengakomodir perubahan dan perkembangan dokumen perencanaan yang ada. kerjasama dan koordinasi merupakan kunci pokok dalam pengelolaan bencana. Peran aktif berbagai pihak sangat dibutuhkan agar upaya pengelolaan bencana dapat tepat guna dan tepat sasaran. b. Kegiatan pengelolaan bencana yang dimulai dari tahap perencanaan tidak dapat dilakukan hanya oleh sekelompok orang saja namun harus dilakukan oleh banyak pihak. Pengelolaan informasi secara benar dan akurat dapat menjadi media yang tepat untuk Manajemen Risiko Lingkungan . misalnya tahun 2008 sampai 2013. terukur sebagai bagian dari kinerja SKPD dan institusi lainnya. strategi dan kebijakan dapat terlaksana dengan baik. terjangkau kemampuan yang ada. Program dan kegiatan dalam RAD PRB ini bersifat spesifik.2010 . Pengenalan dan pemantauan risiko bencana perlu dilakukan sejak dini. Perencanaan partisipatif penanggulangan bencana dengan mengakomodir berbagai kepentingan bertujuan agar upaya pengelolaan bencana dapat terpadu dan efektif serta tidak terjadi duplikasi. inventarisasi. relevan dilaksanakan pada jangka waktu yang telah ditentukan. Itulah sebabnya. program dan kegiatan tidak selalu sesuai dengan nomenklatur peraturan perundangan yang berlaku. Pengembangan budaya sadar bencana harus mulai digalakkan dengan melakukan inventarisasi. Eksplorasi atas potensi dan kearifan lokal yang spesifik untuk setiap daerah perlu dilakukan agar upaya-upaya dalam rangka pengelolaan bencana dapat berhasil. PRIORITAS KEGIATAN PENGURANGAN RISIKO BENCANA Program dan kegiatan yang dilakukan dalam RAD PRB suatu daerah dapat mengacu pada pendekatan substansial program dan kegiatan yang selama ini dilakukan oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan institusi kemasyarakatan lainnya. pengenalan dan pemantauan yang mengarah pada mitigasi bencana. mobilisasi dan penggunaan sumberdaya secara optimal. Membentuk jejaring. Dalam beberapa hal.38 risiko bencana yang mencakup aspek sumber daya alam.

Hal ini dimaksudkan agar tersedia data dan informasi akurat di setiap tatanan pemerintahan sehingga mempercepat pengambilan keputusan dalam berbagai upaya penanggulangan bencana. Penguatan institusi kelembagaan baik di suatu Provinsi atau Kabupaten/Kota difokuskan pada kelembagaan yang ada sambil Manajemen Risiko Lingkungan . membudayakan sadar bencana. kearifan lokal masyarakat. f. kerentanan masyarakat. kerentanan dan kapasitas yang dimiliki sehingga risiko bencana dapat diminimalkan. Peningkatan kapasitas dilakukan melalui pendidikan. Ketiganya merupakan kegiatan yang saling terkait dan mendukung. e. non fisik dan pengaturan penanggulangan bencana perlu dilakukan secara sinergis. Komitmen dari berbagai pihak akan mampu membangun ketahanan masyarakat dalam menghadapi bencana. h. kemauan dan kemampuan untuk melakukan upaya pencegahan dan kesiapsiagaan. pemerintah dan lembaga terkait mempunyai kesempatan untuk mengambil pilihan terbaik dari interaksi ancaman bahaya. potensi sumberdaya masyarakat di daerah rawan bencana dan sekitarnya. Pengembangan budaya sadar bencana diarahkan untuk meminimalkan potensi munculnya bencana dan harus dilakukan secara terus menerus terutama pada saat pra bencana. Pengawasan melekat atas bentuk-bentuk kegiatan tersebut merupakan sarana paling efektif untuk memastikan bahwa kegiatan yang dilakukan telah sesuai dengan kaidahkaidah kebencanaan. kapasitas pemerintahan dan kelembagaan penanggulangan bencana beserta sumberdaya yang ada. Peningkatan komitmen para pelaku penanggulangan bencana dari tingkat pelaksana hingga pengambil kebijakan perlu dibangun. penyiapan prasarana dan sarana yang terkait dengan kebencanaan termasuk dukungan regulasi baik Peraturan Daerah dan atau hukum adat atau peraturan masyarakat lainnya yang mengakar dan berkembang di masyarakat. Pemetaan kebencanaan yang mencakup pemetaan daerah rawan bencana.2010 . Penyebarluasan informasi tentang potensi ancaman bahaya kepada masyarakat dan pemerintah daerah serta lembaga– lembaga lain yang terkait dengan pengurangan risiko bencana. Penyebarluasan informasi ini dikandung maksud agar masyarakat. Penerapan upaya fisik. Peningkatan kapasitas kelompok masyarakat dan pemerintah daerah dilakukan dengan penumbuhan kesadaran. pelatihan.39 d. g. kalaupun tidak dapat dihindari.

Pemaduan kegiatan pengurangan risiko bencana dalam rencana pembangunan dilakukan Manajemen Risiko Lingkungan . dan dunia usaha) dalam mewujudkan pembangunan daerah yang terkoordinasi dan berkesinambungan. Pengurangan risiko bencana sebagai konsep perencanaan yang menyeluruh (holistik). Program yang dilakukan bagi aparat Kabupaten/Kota dan Provinsi adalah peningkatan kapasitas melalui pendidikan dan pelatihan dengan fokus pada aspek manajerial yakni mampu membangun keterpaduan perencanaan. Pengembangan Teknologi untuk dapat membantu kegiatan kebencanaan agar lebih efektif. Salah satu teknologi yang layak dikembangkan adalah teknologi deteksi dini terhadap suatu bencana sehingga dapat diambil suatu tindakan yang tepat ketika terjadi bencana. Dengan dokumen perencanaan tersebut. pemetaan kapasitas masyarakat dan mendeseminasikan hasilnya kepada masyarakat dalam kerangka pemberdayaan masyarakat. saat bencana maupun pasca bencana.2010 . Hal ini berkaitan dengan kenyataan bahwa pembangunan yang tidak terencana berpotensi menimbulkan bencana. baik pada program wajib maupun pilihan. pemetaan kerentanan. baik pada kondisi pra bencana. masyarakat. secara optimal dapat melakukan semua konsep. diharapkan dapat mewarnai secara nyata dalam rencana pembangunan.40 i. proses dan langkah– langkah pengurangan risiko bencana baik penyiapan regulasi. menunggu pembentukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di tingkat Provinsi atau Kab/Kota. efisien dan aman. Untuk itu. IMPLEMENTASI PENGURANGAN RISIKO BENCANA DALAM DOKUMEN PERENCANAAN Dokumen perencanaan dimaksudkan sebagai arah dan acuan bagi seluruh komponen pelaku pembangunan daerah (pemerintah. pelaksanaan dan monitoring evaluasi serta peningkatan ketrampilan bagi pelaksana teknis untuk dapat mewujudkan strategi yang ditentukan seperti melakukan pemetaan potensi ancaman bahaya. perencanaan pembangunan yang berperspektif dan terintegrasi dengan konsep pengurangan risiko bencana mutlak dilakukan. Hal penting yang perlu dikembangkan adalah teknologi informasi yang setiap saat dapat diakses untuk kepentingan pengelolaan bencana. program kerja yang telah direncanakan mempunyai landasan pedoman yang jelas. penyediaan prasarana dan sarana serta membangun jaringan kerja dengan pihak–pihak lain yang terkait dengan pengurangan risiko bencana.

Untuk mewujudkan sinergitas dalam pencapaian sasaran pengurangan risiko bencana. masing-masing komponen diharapkan dapat mengambil peran sesuai dengan kewenangan.rumahzakat. Community Development Pendampingan Keberdayaan adalah suatu proses dimana masyarakat. Dalam proses ini masyarakat dibantu untuk mengkaji kebutuhan. integrasi dan sinkronisasi unsur-unsur penanggulangan bencana ke dalam rencana pembangunan daerah.2010 . donasi.org Manajemen Risiko Lingkungan . maka dalam pelaksanaan program perlu penguatan peran (partisipasi) dan komitmen dari seluruh komponen.41 melalui koordinasi. khususnya mereka yang kurang memiliki akses kepada sumberdaya pembangunan didorong untuk makin mandiri dalam mengembangkan perikehidupan mereka. Untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. tugas pokok dan fungsi serta tanggung jawab dalam rangka mewujudkan masyarakat yang tahan dan tangguh terhadap bencana. masalah dan peluang dalam pembangunan yang dimilikinya sesuai dengan lingkungan sosial ekonomi perikehidupan mereka sendiri .

Program Wajib 1) Pendidikan a) Pendidikan Anak Usia Dini b) Pendidikan Dasar c) Pendidikan Menengah 2) Kesehatan a) Peningkatan Pemberdayaan Kesehatan Masyarakat b) Sumber Daya Kesehatan Manajemen Risiko Lingkungan . Kegiatan dalam kondisi pra bencana menyangkut kesiapsiagaan. Kondisi tersebut menuntut perlakuan dan kesiapan yang berbeda. Kegiatan yang akan dilakukan stakeholder dalam tahap ini adalah sebagai berikut : a.2010 .42 donasi. Kondisi Pra Bencana Kondisi pra bencana dimaksudkan dengan kondisi dimana tidak ada bencana dan atau situasi terdapat potensi bencana. pencegahan dan mitigasi.rumahzakat. standar dan tool yang dipakai hingga rincian anggaran yang akan digunakan. 1.org/?page=program&p=18 Siaga Bencana adalah salah satu program dalam membantu para korban bencana. baik menyangkut perencanaan.

Penguasaan. Penggunaan dan 10) Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak a) Pelembagaan Pengarusutamaan Gender Pembangunan Dalam 11) Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri a) Penyusunan dan Pembaharuan Peraturan Perundangan di Daerah b) Peningkatan esadaran dan Kepatuhan Hukum c) Peningkatan Kemanan dan Ketertiban Masyarakat Manajemen Risiko Lingkungan .43 c) Pencegahan/Penanggulangan Penyakit dan Lingkungan Sehat d) Peningkatan Gizi Masyarakat 3) Pekerjaan Umum a) Pengendalian Banjir dan Pengamanan Pantai 4) Perumahan Rakyat a) Pembangunan Perumahan 5) Penataan Ruang a) Perencanaan Tata Ruang b) Pemanfaatan dan Pengendalian Tata Ruang 6) Perencanaan Pembangunan a) Perencanaan Pembangunan Daerah b) Peningkatan Kapasitas Kelembagaan Pembangunan Daerah Perencanaan 7) Perhubungan a) Pos. Pemanfaatan Tanah Pemilikan. Meteorologi dan Serach and Rescue (SAR) 8) Lingkungan Hidup a) Perlindungan dan Konservasi Sumberdaya Alam b) Rehabilitasi dan Pemulihan Cadangan Sumber Daya Alam c) Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Hidup 9) Pertanahan a) Penataan. Telekomunikasi.2010 .

Pemerintahan Umum.44 12) Otonomi daerah. Perubahan frontal tersebut menuntut perlakuan khusus agar tidak terjadi dampak susulan yang lebih besar. Kepegawaian dan Persandian a) Penyelenggaraan Pemerintahan Umum 13) Ketahanan Pangan a) Peningkatan Ketahanan Pangan 14) Pemberdayaan Mayarakat dan Desa a) Fasilitasi Pengembangan Masyarakat b) Penguatan Kelembagaan Masyarakat 15) Statistik a) Penyusunan Data/Informasi/Statistik Daerah 16) Komunikasi dan Informatika a) Pengembangan Komunikasi. Program Pilihan 1) Kehutanan a) Pengelolaan dan Pemanfaatan Hutan b) Rehabilitasi dan Perlindungan Konservasi Hutan 2) Energi dan Sumber Daya Mineral a) Pengembangan Pertambangan dan Air Tanah b) Pengembangan Mitigasi Bencana Alam dan Geologi 2. Administrasi Keuangan Daerah. Program wajib yang harus dilakukan dalam masa tanggap darurat diantaranya adalah : 1) Kesehatan a) Pencegahan/Penanggulangan Penyakit dan Lingkungan Sehat b) Program Peningkatan Akses Pelayanan Kesehatan Masyarakat 2) Perhubungan Manajemen Risiko Lingkungan .2010 . Kondisi Saat Bencana Kondisi saat bencana merupakan perubahan kondisi secara tibatiba dan mendadak dengan segenap dampak yang ditimbulkan. Perangkat Daerah. Kerjasama Informasi dan Media Masa b. baik secara fisik maupun non fisik.

Kondisi Pasca Bencana Kondisi pasca bencana dibagi dalam dua tahap. pemulihan sarana/prasarana kehidupan hingga keadaan berangsur kembali ke keadaan normal.2010 . Program rekonstruksi dimaksudkan untuk meningkatkan kondisi menjadi lebih baik dari keadaan sebelum bencana. Administrasi Keuangan Daerah. Telekomunikasi. Program yang dilakukan pada masa ini adalah: a. Rawa dan Jaringan Air Lainnya c) Peningkatan Prasarana dan Sarana Perkotaan dan Perdesaan d) Peningkatan Kinerja Pengelolaan Air Minum dan Sanitasi 3) Perumahan Rakyat a) Pembangunan Perumahan 4) Penataan Ruang a) Pemanfaatan dan Pengendalian Tata Ruang Manajemen Risiko Lingkungan . masa rehabilitasi dan masa rekonstruksi. Pemerintah Umum. Meteorologi dan Search And Rescue (SAR) 3) Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak a) Perlindungan dan Kesejahteraan Anak 4) Otonomi daerah. Program Wajib 1) Kesehatan a) Program Pencegahan/Penanggulangan Penyakit Lingkungan Sehat b) Peningkatan Akses Pelayanan Kesehatan Masyarakat dan 2) Pekerjaan Umum a) Rehabilitasi / Pemeliharaan Jalan dan Jembatan b) Pengembangan dan Pengelolaan Jaringan Irigasi. Program rehabilitasi dimaksudkan untuk pemulihan kondisi korban dari trauma. Kepegawaian dan Persandian a) Sarana dan Prasarana Aparatur Pemerintahan 5) Ketahanan Pangan a) Peningkatan Ketahanan Pangan 6) Pemberdayaan Masyarakat dan Desa a) Penguatan Kelembagaan Masyarakat 3.45 a) Program Pos. Perangkat Daerah.

Menengah (IKM) Rumah tinggal puing-puing. administrasi Keuangan Daerah.flickr.46 5) Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak a) Perlindungandan Kesejahteraan Anak 6) Sosial a) Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial 7) Otonomi Daerah. hancur total. Kepegawaian Persandian a) Penyelenggaraan Pemerintahan Umum b) Sarana dan Prasarana Aparatur Pemerintahan b.2010 . Perangkat Daerah. Program Pilihan 1) Pertanian a) Pengembangan Agribisnis b) Peningkatan Kesejahteraan Petani 2) Perdagangan a) Pengembangan Perdagangan Dalam dan Luar Negeri b) Pengembangan Industri Kecil. Pemerintahan Umum. Lokasi foto di Pancoran Kalibata. dan www.com/photos/array064/396606159/ Manajemen Risiko Lingkungan . Kondisi pasca bencana banjir di Jakarta tahun 2007. dekat sungai Ciliwung.

47 afriwel. Selasa.com/2008/03/27/58/ Manajemen Risiko Lingkungan .blogspot..wordpress. 17 November 2009 Potret kehidupan pasca bencana gempa sumatera barat yobangkit..com/2009/11/potret-kehidupan.2010 .

Douglas. 2003. Why Study Risk Perception?” Risk Analysis 2(2) (1982): 83–93 Slovic. Hospital Preparedness for Emergencies & Disasters. Risk Communication & the Social Amplification of Risk.2010 . the Division of Labor. Aaron Wildavsky. and Benefits. Paul. Risk Analysis 13(3) (1993): 259–264 Kasperson. Sarah Lichtenstein. Robin & Robert Mendelsohn. Risk and Recreancy: Weber. Syaiful Saanin. 2000. 1982. 1982. Why Study Risk Perception?. University of California Press.. Baruch Fischhoff. Ortwin Renn. 2000. Risk Acceptability According to the Social Sciences. Colorado. Boulder. Paul. Participan Manual. Mary. Gregory. Jacque Emel. Russell Sage Foundation. 1982. Why Study Risk Perception?” Risk Analysis 2(2) (1982): 83–93. 1982. Risk Management Planning. Slovic. Russell Sage Foundation. 1993. Risk and Culture. 2003. Indonesian Hospital Association. Slovic. Virginia. Samuel Ratick. (June 1993): 909–932. Halina Brown. 2005. Freudenburg. Roger E. Douglas. Baruch Fischhoff. Perceived Risk. 1992. Jakarta 2003. Jakarta 2003. Kasperson. 1985. William R. ed. Paul Slovic. Risk and Blame. The Social Amplification of Risk: A Conceptual Framework.. Westview Press. Michael. Paul. 1985. Roger E. 1990. Sarah Lichtenstein. Earthscan. Essays in Cultural theory. Douglas. Virginia. 1982. The Social Contours of Risk. Richard Ellis. 1985. and the Rationality of Risk Perceptions. 1993. Participan Manual. Kasperson. Earthscan. 1985. Sarah Lichtenstein. PENILAIAN RISIKO BENCANA.” Risk Analysis 8(2) (1988): 177–187. Nature and Type of Disasters. Slovic. 1988. Risk Acceptability According to the Social Sciences. Jakarta. Jeanne X. Manajemen Risiko Lingkungan .48 DAFTAR PUSTAKA Disaster Risk Management. Indonesian Hospital Association. Cultural theory. Dread. Risk Analysis 2(2) (1982): 83–93. Thompson. Mary. Mary and Aaron Wildavsky. The Perception of Risk. Volumne I: Publics. Paul. Hospital Preparedness for Emergencies & Disasters. Douglas. Participan Manual. Baruch Fischhoff. Social Forces 71(4). Jeanne Kasperson. Hospital Preparedness for Emergencies & Disasters. BSB Sumbar. Mary. Indonesian Hospital Association. New York: Routledge. Robert Goble.

Manajemen Risiko Lingkungan . Aaron and Karl Dake. Science 185(4157) (September 1974): 1124–1131.2010 . Judgment under Uncertainty: Heuristics and Biases.49 Tversky. Wildavsky. 1974. 1990. Theories of Risk Perception: Who Fears What and Why?” American Academy of Arts and Sciences (Daedalus) 119(4) (1990): 41–60. Amos and Daniel Kahneman.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful