P. 1
SEJARAH PERKEMBANGAN ASWAJA

SEJARAH PERKEMBANGAN ASWAJA

5.0

|Views: 5,811|Likes:
Published by Dzimmy Mubarak

More info:

Published by: Dzimmy Mubarak on Mar 31, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/05/2013

pdf

text

original

SEJARAH PERKEMBANGAN ASWAJA DI INDONESIA PENDAHULUAN Islam masuk ke Indonesia sejak zaman Khulafaur Rasyidin tepatnya pada masa

Khalifah Utsman bin Affan. Penyebaran Islam di Indonesia masuk melalui dua jalur utama yaitu Jalur Selatan yang bermadzhab Syafi’i (Arab, Yaman, India, Pakistan, Bangladesh, Malaka, Indonesia) dan Jalur Utara (Jalur Sutara) yang bermadzhab Hanafi (Turki, persia, Kazakhstan, Uzbekistan, Afganistan, Cina, Malaka, Indonesia). Penyebaran Islam semakin berhasil, khususnya di Pulau Jawa sejak abad ke-13 oleh Wali Sanga. Dari murid – murid Wali Sanga inilah kemudian secara turun – temurun menghasilkan Ulama – ulama besar di wilayah Nusantara seperti Syaikhuna Khoil Bangkalan (Madura), Syaikh Arsyad Al Banjari (Banjar, Kalimantan, Syaikh Yusuf Sulawesi, dan lain – lain. Telaah terhadap Ahlussunnah Wal Jama’ah ( Aswaja ) sebagai bagaian dari kajian keislaman –merupakan upaya yang mendudukkan aswaja secara proporsional, bukannya semata-mata untuk mempertahankan sebuah aliran atau golongan tertentu yang mungkin secara subyektif kita anggap baik karena rumusan dan konsep pemikiran teologis yang diformulasikan oleh suatu aliran, sangat dipengaruhi oleh suatu problem teologis pada masanya dan mempunyai sifat dan aktualisasinya tertentu. Pemaksaan suatu aliran tertentu yang pernah berkembang di era tertentu untuk kita yakini, sama halnya dengan aliran teologi sebagai dogma dan sekaligus mensucikan pemikiran keagamaan tertentu. Padahal aliran teologi merupakan fenomena sejarah yang senantiasa membutuhkan interpretasi sesuai dengan konteks zaman yang melingkupinya. Jika hal ini mampu kita antisipasi berarti kita telah memelihara kemerdekaan (hurriyah); yakni kebebasan berfikir (hurriyah al-ra’yi), kebebasan berusaha dan berinisiatif (hurriyah al-irodah) serta kebebasan berkiprah dan beraktivitas (hurriyah al-harokah). Selama kurun waktu berdirinya (1926) hingga sekitar tahun 1994, pengertian Aswaja tersebut bertahan di tubuh Nahdlatul Ulama. Baru pada sekitar pertengahan dekade 1990 tersebut, muncul gugatan yang mempertanyakan, tepatkah Aswaja dianut sebagai madzhab, atau lebih tepat dipergunakan dengan cara lain? PENGERTIAN 1. Pengertian Aswaja secara Bahasa Ahlun : keluarga, golongan atau pengikut. Ahlussunnah : orang – orang yang mengikuti sunnah (perkataan, pemikiran atau amal perbuatan Nabi Muhammad SAW.) Wal Jama’ah : Mayoritas ulama dan jama’ah umat Islam pengukut sunnah Rasul. Dengan demikian secara bahasa \aswaja berarti orang – orang atau mayoritas para ‘Ulama atau umat Islam yang mengikuti sunnah Rasul dan para Sahabat atau para ‘Ulama. 2. Secara Istilah Berarti golongan umat Islam yang dalam bidang Tauhid menganut pemikiran Imam Abu Hasan Al Asy’ari dan Abu Mansur Al Maturidi, sedangkan dalam bidang ilmu fiqih menganut Imam Madzhab 4 (Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hambali) serta dalam bidang tasawuf menganut pada Imam Al Ghazali dan Imam Junaid al Baghdadi. 3. Mazhab Secara bahasa berasal dari kata madzhabun yang berarti tempat berjalan. Menurut istilah ialah metode atau cara yang dipakai seorang mujtahid (ulama yang memenuhi syarat berijtihad) dalam menetapkan hukum berdasarkan Al Qur’an dan Hadits. Maka bermadzhab ialah menjalankan syariat agama sesuai dengan hasil ijtihad Imam Mujtahid. Bermadzhab hukumnya wajib bagi yang tidak mampu berijtihad. Adapun yang mampu berijtihad maka hukumnya boleh sepanjang memenuhi syarat – syarat sebagai mujtahid. Bermadzhab bukan berarti tidak mengikuti Al Qur’an dan Hadits, sebab ijtihad para Imam Mujtahid berdasarkan Al Qur’an dan Hadits, baru jika mereka tidak mendapatkan nash di dalam keduanya, mereka kemudian berijtihad. Sebagaimana Hadits Rasul dari Imam Tirmidzi, yaitu ketika Nabi bertanya kepada Muadz bin Jabal : Nabi : Dengan apa kamu memutuskan perkara Muadz? Muadz : Dengan sesuatu yang terdsapat dalam kitabullah (Al Qur ‘an). Nabi : Kalau tidak engkau dapati dalam kitabullah? Muadz : Saya akan memutus sesuatu yang telah diputuskan oleh Rasulullah (Hadits). Nabi : Kalau tidak engkau dapati pada apa yang telah kuputuskan? Muadz : Saya akan berijtihad dengan menggunakan pikiran saya. Nabi : Segala puji bagi Allah yang telah memberi petunjuk kepada utusan dari utusanNya. Pada waktu Rasulullah masih hidup, segala persoalan dapat diselesaikan oleh beliau. Perkembangan selanjutnya pada zaman sahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in, dan seterusnya banyak persoalan baru muncul, yang pada zaman Nabi belum ada. Karena sulitnya cara menentukan hukum berdasarkan Sumber Hukum yang ada yaitu Al Qur’an, Sunnah Rasul, Ijma dan Qiyas dari para Sahabat, Tabi’in, Tabi’it Tabi’in dan Ulama penerusnya. Hal iniberjalan sampai tahun 500 H yaitu hampir ada 10 Madzhab.

1

Namun setelah itu dari 10 madzhab yang ada meringkas menjadi 4 madzhab yang besar yaitu : Madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali yang digunakan di dunia Islam sampai sekarang, kecuali yang anti madzhab. Jadi bermadzhab disini berarti cara yang ditempuh untuk mendapat kebenaran yang ada dalam Al Qur’an dan Hadits melalui pemahaman atau hasil pemikiran Imam Mujtahid. Adapun ciri – ciri orang Islam yang anti Madzhab antara lain mempunyai sikap sebagai berikut :

• • • • • •

Selalu mengatakan bahwa mereka adalah orang Islam, bukan Islam ini dan islam itu dan hanya berpedoman pada Al Qur’an dan Hadits. Dan menganggap sesat kalau bermadzhab. Menganggap semua orang Islam berhak melakukan Ijtihad, menentukan hukum atau menafsirkan hukum sendiri dari Al Qur’an dan Hadits tanpa memperhatikan syarat – syarat Ijtihad dan bantuan ‘Ulama. Tidak mengakui dan menghargai Ulama (Kyai) sebagai pewaris risalah Nabi. Membenci adanya golongan – golongan atau organisasi – organisasi Islam selain golongannya. Keras kepala, tidak mau kalah dalam berdebat walaupun sudah jelas salah, menganggap dirinya yang paling benar, suci, paling ahli surga dan menganggap muslim yang lain ahli bid’ah, sesat, kufur, murtad, dan lain-lain. Suka menonjolkan identitas keislaman yang berbau Arabisme.

(HR Imam Tirmidzi) Hukum fiqih Aswaja bersumber pada empat pokok : Al Qur’an, merupakan sumber hukum utama yang merupakan wahyu dari Allah SWT. As Sunnah, sember hukum kedua, berupa Hadits (sabda) dan Sunnah (Perilaku) Nabi yang merupakan penjelasan dan tauladan yang sesuai dengan Al Qur’an. Al Ijma’, sumber hukum ketiga, yaitu kesepakatan para Ulama atas suatu hukum setelah watar Nabi. Al Qiyas, sumber Hukum ke empat, yaitu menyamakan sesuatu dengan sesuatu yang lain dalam hukum, karena adanya ‘illat yang sama antara keduanya. Ahlussunah wal Jama’ah mempunyai ciri pokok atau karakteristik dalam hal pengalaman yaitu : Tawazun (seimbang), keseimbangan antara urusan dunia dan akherat. Tawasuth (jalan tengah), dalam mengambil keputusan harus menggunakan berbagai pertimbangan dan tidak memihak sebelah. Tasamuh (toleransi), sikap saling menghormati, tidak memaksakan kehendak dan menghargai perbedaan. I’tidal (lurus), selalu berjalan lurus dengan berpedoman pada kaidah – kaidah agama. Amar Ma’ruf Nahi Mungkar, mengajak pada kebenaran dan mencegah pada keburukan. RUANG LINGKUP Masuknya islam ke Indonesia Sejumlah ilmuan Belanda, memegang teori bahwa asal muasal Islam di Indonesia adalah Anak Benua India, bukanya Persia atau Arabia. Salah satunya adalah Pijnapel dari Universitas Leiden. Dia mengatakan asal Islam di Indonesia dari wilayah Gujarat dan Malabar. Menurutnya adalah orang-orang Arab yang bermazhab Syafi’i yang menetap di India yang membawa Islam ke Indonesia. Teori ini dikembangkan oleh Snouck Hurgronje yang berhujah, begitu Islam berpijak kokoh di beberapa kota pelabuhan Anak Benua India, Muslim Deccan, banyak diantara mereka tinggal di sana sebagai pedagang perantara dalam perdagangan Timur Tengah dengan Nusantara, datang ke dunia Melayu-Indonesia sebagai para penyebar Islam pertama. Baru kemudian mereka disusul orang-orang Arab, kebanyakan dari mereka adalah keturunan Nabi Muhammad. Karena manggunakan gelar sayyid atau syarif, yang menyelesaikan penyebaran Islam di Indonesia. Dan hal ini terjadi pada sekitar abad ke-12. Menurut hikayat raja-raja Pasai, seorang Syaikh Isma’il datang dengan kapal dari Makkah ke Pasai, dimana ia membuat Merah Silau, penguasa setempat, masuk Islam. Merah Silau kemudian mengambil gelar Malik Al-Shaleh, yang wafat pada 698/1297. seabad kemudian seorang penguasa Malaka juga di Islamkan oleh Sayyid Abd. Al-Aziz, sorang Arab dari Jeddah. Seorang penguasa itu Parameswara mengambil gelar Mohammad Syah. Kebanyakan sarjana barat juga memegang teori bahwa penyebar agama Islam tersebut melakukan pekawinan dengan wanita setempat. Dengan pembentukan keluarga muslim ini, maka nukleus komunitas muslim pun tercipta, yang pada waktunya nanti mempunyai andil yang besar buat perkembangan Islam di Nusantara. Selanjutnya para pedagang ini melakukan perkawinan dengan bangsawan lokal sehingga mereka atau keturunanya memperoleh kekuasaan di dunia politik, untuk penyebaran agama Islam. Oleh karena pertumbuhan Islam pertama oleh para pedagang, maka pertumbuhan komunitas Islam muncul di daerah pesisir Sumatra, jawa dan pulau lainya. Kerajaan Islam pertama juga muncul didaerah pesisir. Demikian halnya kerajaan Samudra Pasai, Aceh, Demak, Banten dan Cirebon, Ternate dan Tidore. Dari sana Islam menyebar ke daerah-daerah sekitar. Menjelang akhir abad ke 17, Islam sudah hampir merata di Nusantara. Penyebaran dan pertumbuhan Islam di Nusantara terletak di pundak para Ulama’. Mereka membenuk kader-kader yang akan bertugas sebagai mubaligh ke daerah-daerah yang lebih luas. Cara ini dilakukan di dalam lembaga-lembaga pendidikan Islam seperti pondok di Jawa, dayah di Aceh, surau di Minangkabau. Kemudian mereka juga membuat karya-karya yang tersebar dan di baca di berbagai tempat yang jauh. Karya-karya itu menunjukan pemikiran islam di Indonesia masa itu. Abad 16-17, merupakan masa –masa kesuburan dalam penulisan sastra, filsafat, metafisika dan teologi rasional yangtidak ada

2

tolok bandingnya dimana-mana di zaman apapun di Asia Tenggara. Akan tetapi, perlu diketahui bahwa ketika tradisi kebudayaan Islam sedang berkembang di Indonesia, dipusat dunia Islam, bidang itu telah mapan. Bahkan disana terkenal dengan masa kebekuan, masa kemunduran pemikiran karena di galakkanya taklid. Dunia pemikiran Islam di Indonesia bagaimanapun juga mempunyai akar pemikiran yang bersumber di pusat dunia Islam tersebut sebelumnya. Gerakan modern islam Pembaharuan Islam atau gerakan modern Islam merupkan jawaban yang ditunjukan terhadap krisis yang dihadapi umat Islam pada masanya. Kemunduran progresif kerajaan Usmani yang merupakan pemangku khilafah Islam, setelah abad ke 17, melahirkan kebangkitan Islam dikalangan warga Arab Imperium. Yag terpenting diantaranya adalah gerakan Wahabi, sebuah gerakan reformis puritanis (salafiah). Gerakan ini merupakan sarana yang menyiapkan jembatan kearah pmbaruan yang bernuansa intelektual. Katalisator terkenal dari gerakan pembaharuan ini adalah Jamaludin Al-Afgani (1897). Ia mengajarkan solidaritas pan Islam dan pertahanan terhadap imperialisme Eropa, dengan kembali ke Islam dalam suasana yang secara ilmiah di modernsasi. SEJARAH PERKEMBANGAN 1. NU dan ASWAJA Nahdlatul ‘Ulama adalah sebuah organisasi yang didirikan oleh para ulama dengan tujuan memelihara tetap tegaknya ajaran Islam Ahlussunah wal Jama’ah di Indonesia. Dengan demikian antara NU dan Aswaja mempunyai hubungan yang tidak dapat dipisahkan, NU sebagai organisasi / Jam ‘iyyah merupakan alat untuk menegakkan Aswaja dan Aswaja merupakan aqidah pokok Nahdlatul ‘Ulama. ‘Ulama secara lughowi (etimologis / kebahasaan) berarti orang yang pandai, dalam hal ini ilmu agama Islam. Begitu berharganya seorang Ulama, sampai Nabi pernah bersabda yang artinya : “Ulama itu pewaris Nabi. Sesungguhnya para Nabi tidak mewaiskan dirham atau dinar, melainkan hanya mewariskan ilmu. Maka barang siapa mengambilnya maka ia telah mengambil bagian yang cukup banyak.”. Di Indonesia, seorang ‘Ulama diidentikkan atau biasa disebut “Kyai” yang berarti orang yang sangat dihormati. Agar tidak gampang memperoleh gelar “Ulama” atau “Kyai”, maka ada 3 kriteria yaitu :

• • •

Norma pokok yang harus dimiliki oleh seorang ‘Ulama adalah ketaqwaan kepada Allah SWT. Seorang Ulama mempunyai tugas utama mewarisi misi (risalah) Rasulullah SAW, meliputi : ucapan, ilmu, ajaran, perbuatan, tingkah laku, mental dan moralnya. Seorang Ulama memiliki tauladan dalam kehidupan sehari – hari seperti : tekun beribadah, tidak cinta dunia, peka terhadap permasalahan dan kepentingan umat & mengabdikan hidupnya di jalan Allah SWT. 2. Kyai Hasyim Asy’ari dan NU : Pejuang Syariah Kiai Hasyim Asy’ari yang lahir di Pondok Nggedang, Jombang, Jawa Timur, 10 April 1875 tidak lepas dari nenek moyangnya yang secara turun-

temurun memimpin pesantren. Ayahnya bernama Kiai Asy’ari, pemimpin Pesantren Keras yang berada di sebelah selatan Jombang. Kakeknya, Kiai Ustman, terkenal sebagai pemimpin Pesantren Gedang, yang santrinya berasal dari seluruh Jawa, pada akhir abad 19. Ayah kakeknya, Kiai Sihah, adalah pendiri Pesantren Tambakberas di Jombang. Sejak kecil hingga berusia empat belas tahun, putra ketiga dari 11 bersaudara ini mendapat pendidikan langsung dari ayah dan kakeknya, Kyai Utsman. Hasratnya yang besar untuk menuntut ilmu mendorongnya belajar lebih giat dan rajin. Tak puas dengan ilmu yang diterimanya, sejak usia 15 tahun, ia berkelana dari satu pesantren ke pesantren lain; mulai menjadi santri di Pesantren Wonokoyo (Probolinggo), Pesantren Langitan (Tuban), Pesantren Trenggilis (Semarang), dan Pesantren Siwalan, Panji (Sidoarjo). Pada tahun 1892, Kiai Hasyim Asy’ari menunaikan ibadah haji dan menimba ilmu di Makkah. Di sana ia berguru kepada Syaikh Ahmad Khatib dan Syaikh Mahfudh at-Tarmisi, gurunya di bidang hadis. Dalam perjalanan pulang ke Tanah Air, ia singgah di Johor, Malaysia, dan mengajar di sana. Pulang ke Indonesia tahun 1899, Kiai Hasyim Asy’ari mendirikan pesantren di Tebuireng yang kelak menjadi pesantren terbesar dan terpenting di Jawa pada Abad 20. Sejak tahun 1900, Kiai Hasyim Asy’ari memosisikan Pesantren Tebuireng sebagai pusat pembaruan bagi pengajaran Islam tradisional. Di pesantren itu bukan hanya ilmu agama yang diajarkan, tetapi juga pengetahuan umum. Para santri belajar membaca huruf latin, menulis dan membaca buku-buku yang berisi pengetahuan umum, berorganisasi dan berpidato. Tanggal 31 Januari 1926, bersama dengan tokoh-tokoh Islam tradisional, Kiai Hasyim Asy’ari mendirikan Nahdlatul Ulama, yang berarti kebangkitan ulama. Organisasi ini berkembang dan banyak anggotanya. Pengaruh Kiai Hasyim Asy’ari pun semakin besar dengan mendirikan organisasi NU, bersama teman-temannya. Itu dibuktikan dengan dukungan dari ulama di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Cikal-bakal berdirinya perkumpulan para ulama yang kemudian menjelma menjadi Nahdhatul Ulama (Kebangkitan Ulama) tidak terlepas dari sejarah Khilafah. Ketika itu, tanggal 3 Maret 1924, Majelis Nasional yang bersidang di Ankara mengambil keputusan, “Khalifah telah berakhir tugastugasnya. Khilafah telah dihapuskan karena Khilafah, pemerintahan dan republik, semuanya menjadi satu gabungan dalam berbagai pengertian dan konsepnya.”

3

Keputusan tersebut mengguncang umat Islam di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Untuk merespon peristiwa itu, sebuah Komite Khilafah (Comite Chilafat) didirikan di Surabaya tanggal 4 Oktober 1924 dengan ketua Wondosudirdjo (kemudian dikenal dengan nama Wondoamiseno) dari Sarikat Islam dan wakil ketua KH A. Wahab Hasbullah dari golongan tradisi (yang kemudian melahirkan NU). Tujuannya untuk membahas undangan kongres Kekhilafahan di Kairo (Bandera Islam, 16 Oktober 1924). Kemudian pada Desember 1924 berlangsung Kongres al-Islam yang diselenggarakan oleh Komite Khilafah Pusat (Centraal Comite Chilafat). Kongres memutuskan untuk mengirim delegasi ke Konferensi Khilafah di Kairo untuk menyampaikan proposal Khilafah. Setelah itu, diadakan lagi Kongres al-Islam di Yogyakarta pada 21-27 Agustus 1925. Topik Kongres ini masih seputar Khilafah dan situasi Hijaz yang masih bergolak. Kongres diadakan lagi pada 6 Februari 1926 di Bandung; September 1926 di Surabaya, 1931, dan 1932. Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) yang melibatkan Sarikat Islam (SI), Nahdhatul ulama (NU), Muhammadiyah dan organisasi lainnya menyelenggarakan Kongres pada 26 Februari sampai 1 Maret 1938 di Surabaya. Arahnya adalah menyatukan kembali umat Islam. Meskipun pada awalnya, Kongres Al-Islam merupakan wadah untuk mengatasi perbedaan, pertikaian dan konflik di antara berbagai kelompok umat Islam akibat perbedaan pemahaman dan praktik keagamaan menyangkut persoalan furû’iyah (cabang), seperti dilakukan sebelumnya pada Kongres Umat Islam (Kongres al-Islam Hindia) di Cirebon pada 31 Oktober-2 November 1922. Namun, pada perkembangan selanjutnya, lebih difokuskan untuk mewujudkan persatuan dan mencari penyelesaian masalah Khilafah. Lahirnya NU sendiri, yang merupakan kelanjutan dari Komite Merembuk Hijaz, yang tujuannya untuk melobi Ibnu Suud, penguasa Saudi saat itu, untuk mengakomodasi pemahaman umat yang bermazhab, jelas tidak terlepas dari sejarah keruntuhan Khilafah. Ibnu Suud sendiri adalah pengganti Syarif Husain, penguasa Arab yang lebih dulu membelot dari Khilafah Utsmaniyah. Jadi, secara historis lahirnya NU tidak terlepas dari persoalan Khilafah. Di sisi lain, NU sejak kelahirannya tidak berpaham sekular dan tidak pula anti formalisasi. Bahkan NU memandang formalisasi syariah menjadi sebuah kebutuhan. Hanya saja, yang ditempuh NU dalam melakukan upaya formalisasi bukanlah cara-cara paksaan dan kekerasan, tetapi menggunakan cara gradual yang mengarah pada penyadaran. Hal ini karena sepak terjang NU senantiasa berpegang pada kaidah fiqhiyah seperti: mâ lâ yudraku kulluh lâ yutraku kulluh (apa yang tidak bisa dicapai semua janganlah kemudian meninggalkan semua); dar’ al-mafâsid muqaddamun ‘ala jalb al-mashâlih (mencegah kerusakan lebih didahulukan daripada mengambil kemaslahatan). Sejarah NU menjadi bukti bahwa sejak kelahirannya NU justru concern pada perjuangan formalisasi Islam. KESIMPULAN Melacak akar-akar sejarah munculnya istilah ahlul sunnah waljamaah, secara etimologis bahwa aswaja sudah terkenal sejak Rosulullah SAW. Sebagai konfigurasi sejarah, maka secara umum aswaja mengalami perkembangan dengan tiga tahab secara evolutif. Pertama, tahap embrional pemikiran sunni dalam bidang teologi bersifat eklektik, yakni memilih salah satu pendapat yang dianggap paling benar. Pada tahap ini masih merupakan tahap konsolidasi, tokoh yang menjadi penggerak adalah Hasan Al-Basri (110 H/728 M). Kedua, proses konsolidasi awal mencapai puncaknya setelah Imam AlSyafi’i (205 H/820 M) berhasil menetapkan hadist sebagai sumber hukum kedua setelah Al- qur’an dalam konstruksi pemikiran hukum Islam. Pada tahap ini, kajian dan diskusi tentang teologi sunni berlangsung secara intensif. Ketiga, merupakan kristalisasi teologi sunni disatu pihak menolak rasionalisme dogma, di lain pihak menerima metode rasional dalam memahami agama. Proses kristalisasi ini dilakukan oleh tiga tokoh dan sekaligus ditempat yang berbeda pada waktu yang bersamaan, yakni; Abu Hasan Al-Asy’ari (324 H/935 M)di Mesopotamia, Abu Mansur Al-Maturidi (w.331 H/944 M) di Samarkand, Ahmad Bin Ja’far Al-Thahawi (331 H/944 M) di Mesir. Pada zaman kristalisasi inilah Abu Hasan Al-Asy’ari meresmikan sebagai aliran pemikiran yang dikembangkan. Dan munculnya aswaja ini sebagai reaksi teologis-politis terhadap Mu’tazilah, Khowarij dan Syi’ah yang dipandang oleh As’ari sudah keluar dari paham yang semestinya. Lain dengan para Ulama’ NU di Indonesia menganggap aswaja sebagai upaya pembakuan atau menginstitusikan prinsip-prinsip tawasuth (moderat), tasamuh (toleran) dan tawazzun (seimbang) serta ta’addul (Keadilan). Perkembangan selanjutnya oleh Said Aqil Shiroj dalam mereformulasikan aswaja sebagai metode berfikir (manhaj al-fikr) keagamaan yang mencakup semua aspek kehidupan yang berdasarkan atas dasar modernisasi, menjaga keseimbangan dan toleransi, tidak lain dan tidak bukan adalah dalam rangka memberikan warna baru terhadap cetak biru (blue print) yang sudah mulai tidak menarik lagi dihadapan dunia modern.

Aswaja I Pengantar Telaah terhadap Ahlussunnah Wal Jama’ah ( Aswaja ) sebagai bagaian dari kajian keislaman –merupakan upaya yang mendudukkan aswaja secara proporsional, bukannya semata-mata untuk mempertahankan sebuah aliran atau golongan tertentu yang mungkin secara subyektif kita anggap baik karena rumusan dan konsep pemikiran teologis yang diformulasikan oleh suatu aliran, sangat dipengaruhi oleh suatu problem teologis pada masanya dan mempunyai sifat dan aktualisasinya tertentu. Pemaksaan suatu aliran tertentu yang pernah berkembang di era tertentu untuk kita yakini, sama halnya dengan aliran teologi sebagai dogma dan sekaligus mensucikan pemikiran keagamaan tertentu. Padahal aliran teologi merupakan fenomena sejarah yang senantiasa membutuhkan interpretasi sesuai dengan

4

konteks zaman yang melingkupinya. Jika hal ini mampu kita antisipasi berarti kita telah memelihara kemerdekaan (hurriyah); yakni kebebasan berfikir (hurriyah al-ra’yi), kebebasan berusaha dan berinisiatif (hurriyah al-irodah) serta kebebasan berkiprah dan beraktivitas (hurriyah al-harokah) (Said Aqil Siradj : 1998). Berangkat dari pemikiran diatas maka persoalan yang muncul kemudian adalah bagaimana meletakkan aswaja sebagai metologi berfikir (manhaj alfikr)?.Jika mengharuskan untuk mengadakan sebuah pembaharuan makna atau inpretasi, maka pembaharuan yang bagaimana bisa relevan dengan kepentingan Islam dan Umatnya khususnya dalam intern PMII. Apakah aswaja yang telah dikembangkan selama ini didalam tubuh PMII sudah masuk dalam kategori proporsional? Inilah yang mungkin akan menjadi tulisan dalam tulisan ini. II Aswaja Dan Perkembangannya Melacak akar-akar sejarah munculnya istilah ahlul sunnah waljamaah, secara etimologis bahwa aswaja sudah terkenal sejak Rosulullah SAW. Sebagai konfigurasi sejarah, maka secara umum aswaja mengalami perkembangan dengan tiga tahab secara evolutif. Pertama, tahab embrional pemikiran sunni dalam bidang teologi bersifat eklektik, yakni memilih salah satu pendapat yang dianggap paling benar. Pada tahab ini masih merupakan tahab konsolidasi, tokoh yang menjadi penggerak adalah Hasan al-Basri (w.110 H/728 M). Kedua, proses konsolidasi awal mencapai puncaknya setelah Imam al-Syafi’I (w.205 H/820 M) berhasil menetapkan hadist sebagai sumber hukum kedua setelah Al- qur’an dalam konstruksi pemikiran hukum Islam. Pada tahab ini, kajian dan diskusi tentang teologi sunni berlangsung secara intensif. Ketiga, merupakan kristalisasi teologi sunni disatu pihak menolak rasionalisme dogma, di lain pihak menerima metode rasional dalam memahami agama. Proses kristalisasi ini dilakukan oleh tiga tokoh dan sekaligus ditempat yang berbeda pada waktu yang bersamaan, yakni; Abu Hasan al-Asy’ari (w.324 H/935 M)di Mesopotamia, Abu Mansur al-Maturidi (w.331 H/944 M) di Samarkand, Ahmad Bin Ja’far al-Thahawi (w.331 H/944 M) di Mesir. ( Nourouzzaman Shidiqi : 1996). Pada zaman kristalisasi inilah Abu Hasan al-Asy’ari meresmikan sebagai aliran pemikiran yang dikembangkan. Dan munculnya aswaja ini sebagai reaksi teologis-politis terhadap Mu’tazilah, Khowarij dan Syi’ah yang dipandang oleh As’ari sudah keluar dari paham yang semestinya. Lain dengan para Ulama’ NU di Indonesia menganggap aswaja sebagai upaya pembakuan atau menginstitusikan prinsip-prinsip tawasuth (moderat), tasamuh (toleran) dan tawazzun (seimbang) serta ta’addul (Keadilan). Perkembangan selanjutnya oleh Said Aqil Shiroj dalam mereformulasikan aswaja sebagai metode berfikir (manhaj al-fikr) keagamaan yang mencakup semua aspek kehidupan yang berdasarkan atas dasar modernisasi, menjaga keseimbangan dan toleransi, tidak lain dan tidak bukan adalah dalam rangka memberikan warna baru terhadap cetak biru (blue print) yang sudah mulai tidak menarik lagi dihadapan dunia modern. Dari sinilah PMII menggunakan aswaja sebagai manhaj al fikr dalam landasan gerak. III Aswaja Sebagai Manhaj al-fikr Dalam wacana metode pemikiran, para teolog klasik dapat dikategorikan menjadi empat kelompok. Pertama, kelompok rasioalis yang diwakili oleh aliran Mu’tazilah yang pelapori oleh Washil bin Atho’, kedua, kelompok tekstualis dihidupkan dan dipertahankan oleh aliran salaf yang munculkan oleh Ibnu Taimiyah serta generasi berikutnya. Ketiga, kelompok yang pemikirannya terfokuskan pada politik dan sejarah kaum muslimin yang diwakili oleh syi’ah dan Khawarij, dan keempat, pemikiran sintetis yang dikembangkan oleh Abu Hasan al-Asy’ari dan Abu Mansur al-Maturidi. Didalam PMII Aswaja dijadikan Manhajul Fikri artinya Aswaja bukan dijadikan tujuan dalam beragama melainkan dijadikan metode dalam berfikir untuk mencapai kebenaran agama. Walaupun banyak tokoh yang telah mencoba mendekontruksi isi atau konsep yang ada dalam aswaja tapi sampai sekarang Aswaja dalam sebuah metode berfikir ada banyak relevasinya dalam kehidupan beragama, sehingga PMII lebih terbuka dalam mebuka ruang dialektika dengan siapapun dan kelompok apapun. Rumusan aswaja sebagai manhajul fikri pertama kali diintrodusir oleh Kang Said (panggilan akrab Said Aqil Siradj) dalam sebuah forum di Jakarta pada tahun 1991. Upaya dekonstruktif ini selayaknya dihargai sebagai produk intelektual walaupun juga tidak bijaksana jika diterima begitu saja tanpa ada discourse panjang dan mendalam dari pada dipandang sebagai upaya ‘merusak’ norma atau tatanan teologis yang telah ada. Dalam perkembangannya, akhirnya rumusan baru Kang Said diratifikasi menjadi konsep dasar aswaja di PMII. Prinsip dasar dari aswaja sebagai manhajul fikri meliputi ; tawasuth (mederat), tasamuh (toleran) dan tawazzun (seimbang). Aktualisasi dari prinsip yang pertama adalah bahwa selain wahyu, kita juga memposisikan akal pada posisi yang terhormat (namun tidak terjebak pada mengagung-agungkan akal) karena martabat kemanusiaan manusia terletak pada apakah dan bagaimana dia menggunakan akal yang dimilikinya. Artinya ada sebuah keterkaitan dan keseimbangan yang mendalam antara wahyu dan akal sehingga kita tidak terjebak pada paham skripturalisme (tekstual) dan rasionalisme. Selanjutnya, dalam konteks hubungan sosial, seorang kader PMII harus bisa menghargai dan mentoleransi perbedaan yang ada bahkan sampai pada keyakinan sekalipun. Tidak dibenarkan kita memaksakan keyakinan apalagi hanya sekedar pendapat kita pada orang lain, yang diperbolehkan hanyalah sebatas menyampaikan dan mendialiektikakakan keyakinan atau pendapat tersebut, dan ending-nya diserahkan pada otoritas individu dan hidayah dari Tuhan. Ini adalah menifestasi dari prinsip tasamuh dari aswaja sebagai manhajul fikri. Dan yang terakhir adalah tawazzun (seimbang). Penjabaran dari prinsip tawazzun meliputi berbagai aspek kehidupan, baik itu perilaku individu yang bersifat sosial maupun dalam konteks politik sekalipun. Ini penting karena seringkali tindakan atau sikap yang diambil dalam berinteraksi di dunia ini disusupi oleh kepentingan sesaat dan keberpihakan yang tidak seharusnya. walaupun dalam kenyataannya sangatlah sulit atau bahkan mungkin tidak ada orang yang tidak memiliki keberpihakan sama sekali, minimal keberpihakan terhadap netralitas. Artinya, dengan bahasa yang lebih sederhana dapat dikatakan bahwa memandang dan menposisikan segala sesuatu pada proporsinya masing-masing adalah sikap yang paling bijak, dan bukan tidak mengambil sikap karena itu adalah manifestasi dari sikap pengecut dan oportunis. IV Penutup Ini bukanlah sesuatu yang saklek yang tidak bisa direvisi atau bahkan diganti sama sekali dengan yang baru, sebab ini adalah ‘hanya’ sebuah produk intelektual yang sangat dipengaruhi ruang dan waktu dan untuk menghindari pensucian pemikiran yang pada akhirnya akan berdampak pada kejumudan dan stagnasi dalam berpikir. Sangat terbuka dan kemungkinan untuk mendialektikakan kembali dan kemudian merumuskan kembali menjadi rumusan yang kontekstual. Karena itu, yakinlah apa yang anda percayai saat ini adalah benar dan yang lain itu salah, tapi jangan tutup kemungkinan bahwa semuanya itu bisa berbalik seratus delapan puluh derajat.

5

Setelah Rasulullah wafat, tampilah Abu Bakar sebagai khalifah untuk memimpin umat. Pelayanan umat muslim terhadap al-Quran pada masa kepimpinan khalifah Abu Bakar mengalami suatu kemajuan yang sangat signifikan. Hal ini tidak lepas dari kondisi umat pada masa itu, riwayat dari Imam Bukhori menerangkan sebagai berikut: Berkata kepada kami Musa bin Ismail dari Ibrahim bin Saad berkata kepada kami Ibnu Syihab dari Ubaid bin as-Sibaq bahwa Zaid bin Tsabit Ra menyatakan: Telah datang kepadaku Abu Bakar as-Siddiq setelah peperangan di Yamamah, kebetulan Umar bin Khattab bersamanya, Abu Bakar menyatakan sungguh Umar telah datang kepadaku dan berkata : Peperangan telah menyebabkan kematian beberapa pembaca al-Quran, dan saya sungguh khawatir jika kematian meluas kebeberapa Qurra di daerah-daerah hingga menyebabkan hilangnya kebanyakan al-Quran, dan saya berpendapat agar engkau segara memerintahkan kepada Umar, Bagaimana mungkin kita melakukan kodifikasi atas al-Quran. Saya mengatakan sesuatu yang belum pernah Rasulullah Saw

lakukan? Umar berkata: Demi Allah hal ini adalah sangat baik. Maka Umar tetap memintaku hingga Allah melapangkan dadaku atas hal itu sebagaimana penglihatan Umar. Zaid berkata, bahwa Abu Bakar menyatakan sesungguhnya engkau orang yang masih muda lagi cerdas, bukannya kami menuduhmu , dan engkau telah menulis tidaklah wahyu lebih untuk berat Rasulullah dari perintah Saw, maka cermatilah atas al-Quran dan lakukan : kodifikasi. Maka demi Allah, seandainya saja memerintahkanku memindahkan salah satu gunung dari beberappa gunung kodifikasi al-Quran. Saya berkata Bagaimana mungkin kalian melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan Rasulullah Saw? Berkata Abu Bakar: Demi Allah, inilah yang terbaik. Abu Bakar memintaku hingga Allah melapangkan dadaku untuk dapat memahami pendapat Abu Bakar dan Umar, maka segera saya lakukan penulusuran dan pengumpulan al-Quran dari rumput dan pelepah pohon serta hafalan para Qurra sampai saya temukan akhir dari surat at-Taubah (..telah datang kepadamu..) hingga akhir surat pada Abu Khuzainah alAnshori yang tidak terdapat pada lainya. Lembaran-lembaran tersebut terasa ditangan Abu Bakar hingga beliau wafat ,kemudian umar dan kemudian ditangan Hafshaf binti Umar bin Khattab. [1] Upaya penyalinan oleh para penulis wahyu dengan dibantu para Qurra (penghafal al-Quran) telah menghasilkan tulisan al-Quran dalam bentuk lembaran-lembaran yang dapat meminimalisir perbedaan pendapat dalam tulisan dan bacaan al-Quran bagi umat muslim. Dengan upaya adanya kodifikasi tersebut diatas tugas para penghafal al-Quran bukannya selesai. Sebab tugas tersebut tidak semata-mata untuk pengajaran al-Quran saja, namun lebih dari itu merupakan suatu ibadah yang membuat para pelakunya memiliki keutamaan disisi Allah. Kodifikasi ll (Upaya Perwujudan Mushaf Induk) Pada masa khalifah Abu Bakar dan Umar bin Khattab masalah perbedaan dalam membaca al-Quran belum masa merupakan hal yang atas masalah mengkhawtirkan, tersebut mulai walaupun telah begitu mereka telah mengantisipasi Namun para dengan dua sahabat melakukan kodifikasi al-Quran sebagaimana dipaparkan sebelumnya. setelah

kepemimpinan,

menimbulkan

kekhawatiran,

sehinagga

segera mengambil tindakan seperti yang disebutkan dalam riwayat berikut: Berkata kepada kami Musa, berkata kepada Ibrahim, berkata kepada kami Ibnu Syihab bahwa Anas bin Malik mengatakan kepadanya: 6

Khudzaifah

bin

alYaman

datang

kepada

ustman

,dan

sebelumnya

ia

memerangi

warga

Syam dalam penaklukan Armenia dan Azarbaijan bersama warga Irak, maka terkejutlah Khudzaifah akan adanya perbedaan mereka dalam hal bacaan al-Quran, maka berkatalah Khudzaifah kepada Ustman: Wahai pemimpin orang-orang yang beriman, beritahulah umat ini sebelum mereka berselisih dalam masalah Kitab sebagaimana umat Yahudi dan Nasroni. Ustman lantas berkirim surat kepada Hafsah,Kirimkan kepada kami lembaran-lembaran untuk kami tulis dalam mushaf (bentuk plural dari mushaf, kumpulan lembaran yang diapit dua kulit seperti buku) kemudian kami kembalikan kepadam, Hafsah segera mengirmkan kepada Ustman ,maka Ustmanpun segera memerintahkan Zaid bin Tsabit ,Abdullah bin Zubair ,Said bin Ash serta Abdurrahman bin Harits bin Hisyam untuk menyalinnya kedalam mushaf-mushaf, dan dia (Ustman) mengatakan kepada otoritas Quraisy tersebut di atas: Jika kalian berselisih dengan Zaid bin Tsabit tentang masalah al-Quran diturunkan, maka tulislah dengan lisan Quraisy, sebab al-Quran diturunkan dalam dialek mereka (suku Quraisy), dan merekapun melakukan hal ini, dan ketika mereka selesai menyalin lembaran-lembaran tersebut kedalam beberapa mushaf, Ustman segera mengembalikan lembaran-lembaran tersebut kepasa Hafsah, lalu mengirim mushaf yang telah mereka salin kesatu tempat, dan memerintahkan agar selain mushaf tersebut entah berupa lembaran (sahifah) atau sudah berupa mushaf untuk dibakar. [2] Pada masa itu tulisan (kaligrafi) Arab masih belum berharakat dan bertitik seperti yang kita jumpai pada saat ini, perbedaan harakat, dan panjang pendek bacaan akan menunjukan makna yang berbeda, hal ini tidak mustahil menimbulkan kesulitan tersendiri bagi masyarakat muslim non Arab. Cara baca dan pemaknaan yang salah sangat mungkin dilakukan oleh mereka. Berdasarkan laporan dari Huzdaifah bin al-Yaman yang baru datang dari Armenia dan Azarbaijan (kedua wilayah tersebut bukan wilayah yang berbahasa Arab), Ustman sebagai kholifah dibantu para sahabat segera mengambil tindakan. Demi mengatasi hal itu maka al-Quran yang pernah ditulis pada masa Abu Bakar (masih dalam bentuk lembaran ) disalin lagi dalam bentuk mushaf (diapit dua kulit seperti buku), untuk dibagikan ke daerah daerah sebagai al-Quran standar, sedangkan yang lain dimusnahkan. Keputusan yang diambil oleh para sahabat, khususnya ustman sebagai pemimpin umat pada waktu itu sangatlah tepat, sebab tugas seorang khalifah tidak hanya masalah ekonomi, politik dan sosial, tapi juga menyangkut keagamaan, seperti penjagaan keaslian al-Quran baik bacaan maupun tulisannya. Jika merebak suatu bacaan yang salah dan beraneka ragam, maka tugas pemimpin umat Islamlah untuk membetulkan, sehingga umat ini selamat dari apa yang pernah dilakuakan oleh umat sebelumnya. Tapi yang perlu diingat bahwa standarisasi tidak menafikan adanya tujuh macam bacaan yang memang sudah ditetapkan oleh Rasulullah. Dengan adanya mushaf imam (induk) kemudian kita kenal dengan Mushaf Ustmani, secara tidak langsung khalifah Ustman tekah meletakkan dasar-dasar untuk tumbuh kembangnya ilmu al-Quran yang diawali dengan pembahasan masalah rasm (bentuk tulisan) Ustmani atau ilmu rasm al-Quran. Jika diruntut dari awal, wahyu ditulis oleh tim yang ditunjuk oleh Rasulullah pada saat bersamaan dihafalkan oleh para qurra, kemudian pada masa khalifah Abu Bakar apa yang ditulis oleh tim dalam 7

bentuk mushaf (sajifah) lembaran-lembaran tersebut disalin kembali menjadi bentuk mushaf (berbentuk kepadanya: Khudzaifah bin alYaman datang kepada ustman ,dan sebelumnya ia memerangi warga Syam dalam penaklukan Armenia dan Azarbaijan bersama warga Irak, maka terkejutlah Khudzaifah akan adanya perbedaan mereka dalam hal bacaan al-Quran, maka berkatalah Khudzaifah kepada Ustman: Wahai pemimpin orang-orang yang beriman, beritahulah umat ini sebelum mereka berselisih dalam masalah Kitab sebagaimana umat Yahudi dan Nasroni. Ustman lantas berkirim surat kepada Hafsah,Kirimkan kepada kami lembaran-lembaran untuk kami tulis dalam mushaf (bentuk plural dari mushaf, kumpulan lembaran yang diapit dua kulit seperti buku) kemudian kami kembalikan kepadam, Hafsah segera mengirmkan kepada Ustman ,maka Ustmanpun segera memerintahkan Zaid bin Tsabit ,Abdullah bin Zubair ,Said bin Ash serta Abdurrahman bin Harits bin Hisyam untuk menyalinnya kedalam mushaf-mushaf, dan dia (Ustman) mengatakan kepada otoritas Quraisy tersebut di atas: Jika kalian berselisih dengan Zaid bin Tsabit tentang masalah al-Quran diturunkan, maka tulislah dengan lisan Quraisy, sebab al-Quran diturunkan dalam dialek mereka (suku Quraisy), dan merekapun melakukan hal ini, dan ketika mereka selesai menyalin lembaran-lembaran tersebut kedalam beberapa mushaf, Ustman segera mengembalikan lembaran-lembaran tersebut kepasa Hafsah, lalu mengirim mushaf yang telah mereka salin kesatu tempat, dan memerintahkan agar selain mushaf tersebut entah berupa lembaran (sahifah) atau sudah berupa mushaf untuk dibakar. [2] Pada masa itu tulisan (kaligrafi) Arab masih belum berharakat dan bertitik seperti yang kita jumpai pada saat ini, perbedaan harakat, dan panjang pendek bacaan akan menunjukan makna yang berbeda, hal ini tidak mustahil menimbulkan kesulitan tersendiri bagi masyarakat muslim non Arab. Cara baca dan pemaknaan yang salah sangat mungkin dilakukan oleh mereka. Berdasarkan laporan dari Huzdaifah bin al-Yaman yang baru datang dari Armenia dan Azarbaijan (kedua wilayah tersebut bukan wilayah yang berbahasa Arab), Ustman sebagai kholifah dibantu para sahabat segera mengambil tindakan. Demi mengatasi hal itu maka al-Quran yang pernah ditulis pada masa Abu Bakar (masih dalam bentuk lembaran ) disalin lagi dalam bentuk mushaf (diapit dua kulit seperti buku), untuk dibagikan ke daerah daerah sebagai al-Quran standar, sedangkan yang lain dimusnahkan. Keputusan yang diambil oleh para sahabat, khususnya ustman sebagai pemimpin umat pada waktu itu sangatlah tepat, sebab tugas seorang khalifah tidak hanya masalah ekonomi, politik dan sosial, tapi juga menyangkut keagamaan, seperti penjagaan keaslian al-Quran baik bacaan maupun tulisannya. Jika merebak suatu bacaan yang salah dan beraneka ragam, maka tugas pemimpin umat Islamlah untuk membetulkan, sehingga umat ini selamat dari apa yang pernah dilakuakan oleh umat sebelumnya. Tapi yang perlu diingat bahwa standarisasi tidak menafikan adanya tujuh macam bacaan yang memang sudah ditetapkan oleh Rasulullah. Dengan adanya mushaf imam (induk) kemudian kita kenal dengan Mushaf Ustmani, secara tidak langsung khalifah Ustman tekah meletakkan dasar-dasar untuk tumbuh kembangnya ilmu al-Quran yang diawali dengan pembahasan masalah rasm (bentuk tulisan) Ustmani atau ilmu rasm al-Quran. pelajaran dasar wajib bagi pelajar khususnya abad-abad pertengahan sampai sekarang, terutama di pesantren. Tidaklah keterlaluan jika Syaikhhul Islam Ibnu Taimiyah menyatakan : Umat kita tidaklah 8

sama dengan ahli kitab, yang tidak menghafalkan kitab suci mereka. Bahkan jikalau seluruh mushaf ditiadakan maka al-Quran tetap tersimpan dalam hati umat muslim. [6] Pada masa sekarang, pengawasan ada di bawah lajnah pentashih al-Quran, dibawah pengawasan

departemen RI. Di Negara Islampun terdapat badan yang serupa, khususnya dalam masalah al-Quran. Kini umat muslim bisa mendengarkan dari manapun di penjuru dunia tanpa merasa asing akan bacaan mereka dengan media bermacam-macam. Dalam upaya mampelajari ayat-ayat al-Quranpun sudah banyak kemudian yang mereka dapatkan baik berupa tafsir maupun terjemahan serta sederet ilmu-limu yang lainya. Jika diruntut dari awal, wahyu ditulis oleh tim yang ditunjuk oleh Rasulullah pada saat bersamaan dihafalkan oleh para qurra, kemudian pada masa khalifah Abu Bakar apa yang ditulis oleh tim dalam bentuk mushaf (sajifah) lembaran-lembaran tersebut disalin kembali menjadi bentuk mushaf (berbentuk
KEPEMIMPINAN SETELAH RASUL Muhammad SAWW dipilih menjadi Rasul sesuai dengan ayat "Kami tidak utus engkau(Muhammad)kecuali untuk menjadi Rahamat bagi alam semesta." Beliau dalam hidupnya berhasil merubah secara Fundamental dan Radikal Politik,Sosial dan Budaya Jahiliyah menjadi Politik,Sosial dan Budaya Ilahiyah (ISLAM) Jika kita tinjau Muhammad mempunyai 2 (dua) Missi yang diembannya: 1.Missi Ilahi semasa hidupnya(Nabi success sampai terbentuknya Madinah yang aman tentram dan penuh dengan keadilan yang langsung dibawah kepemimpinannya). 2.Missi Ilahi setelah wafatnya,disini kita bisa meninjau apakah : a. Nabi Pasif. ( Nabi tidak mempunyai planning masa depan ummatnya,acuh,dan melepaskan begitu saja kpd ummatnya??),yang ternyata Realitasnya......Masyarakat Islam Bingung. b. Nabi Aktif. ( Nabi disini mempersiapkan,punya planning untuk masa depan ummatnya). Dalam hal ini Realitasnya : 1. Nabi mempersiapkan missi Militer Usamah bin Zaid,sesuai dengan hadist "Siapkan pasukan Usamah! Satuan tempur harus segera bertolak! (Tarikh Al-Kamil Karya Ibnul Katsir). Jika kita tinjau disini Nabi dalam keadaan sakit yang parah,Apakah mungkin untuk missi kemiliteran Nabi Pikirkan,sedangkan untuk Kepemimpinan tidak?? 2. Tragedi yang dikenal didalam kitab kitab Hadist Yaumil Khamis. Ketika Rasulullah SAWW hampir Wafat sedangkan dirumah beliau terdapat beberapa sahabat termasuk Umar bin Khattab,beliau meminta dengan suara parau tersendat-sendat sambil menahan rasa sakit dan nyeri. Musnad Ahmad bin Hambal Juz 1 hal 300 ; Shahih Muslim An-Nishaburi Juz 2 Bab Al-Washaya dan Shahih Bukhori Juz 1 Kitan anNikah. "Berikan padaku selembar kertas dan tinta,Aku tuliskan untuk kalian semua,sebuah pusaka tulisan yang mana jika kalian mematuhi isinya,maka pasti kalian tidak akan sesat setelah aku tinggal pergi". Dari kejadian diatas bahwa Nabi berakti Aktif dalam mempersiapkan Kepemimpinan setelah Beliau wafat .Mustahil Nabi Pasif karena dari cukilan sebagian kejadian diatas dapat kita simpulkan Pasti Nabi AKTIF mempersiapkan kepemimpinan setelah wafatnya Beliau.Khalifah Abubakar,Umar saja mempunyai pesan dan planning untuk siapa yang harus melanjutkan kekhalifaan setelah mereka tiada ,masa Rasulullah SAWW yg ditunjuk ALLAH SWT sebagai Nabi dan yg mendidik Khalifah Abubakar,Umar,Manusia termulia paling BerIlmu yang dari Zaman Adam sampai Kiamat tidak mempunyai planning kedepan(saya berlindung kepada ALLAH SWT dari prasangka seperti itu). Dalam mempersiapkan ( Nabi Aktif ) itu bisa ditinjau apakah : 1.Nabi mempersiapkan System Syura. Dalam Realitasnya tidak ada dalam hadist maupun sejarah Nabi meletakkan system Syura(secara detil) dalam peralihan

9

kepemimpinan.Khalifah Abubakar,Khalifah Umar tidak melakukan System Syura,dimana Khalifah Abubakar langsung memilih Umar,dan Khalifah Umar menunjuk 6(enam)orang untuk memilih Khalifah setelah Ia meninggal.Jelas Nabi tidak mempunyai atau mempersiapkan System Syura,karena Sahabat2 yang dekat dg Beliau tidak memakainya,dan itu menjadi Hujah dan contoh bahwa Nabi tidak mempersiapkan System Syura.Apalagi selanjutnya setelah Masa Imam Ali bin Abi Thalib As.timbul masa kerajaan yang dimulai oleh Muawiyah. Maka jangan anda ingin mengexpose/menjual bahwa Islam mempunyai contoh System Syura,dimana dan sejarah siapa yg bisa anda pakai sebagai panutan.(teman saya pernah dipermalukan oleh seorang Nasrani). 2.Nabi Mepersiapkan Kader. Realitasnya ini jelas dan ada,Yakni Imam Ali bin Abi Thalib yang dididik dari kecil dan tidak pernah menyembah berhala ,lahir dalam Ka'bah, besar dirumah Nubuwwah,memiliki Intelektualitas yang mumpuni,Moralitas dan loyalitas kepada Nabi yang Paripurna. ALLAH SWT didalam Al-Quran berkali2 memuji dan mengangkat kemuliaan Imam Ali bin Abi Thalib,tidak ada sahabat yang bisa menandinginya,Manusia yang Mulia kedua setelah Rasulullah SAWW.Al-Quran Surah 33 ayat 33 ;Al-Maidah Ayat 55;Ad-Dahr Ayat 8 dan banyak lagi,serta hadits-hadist yg silahkan anda cari. Dari tulisan klritis diatas dapat kita simpulkan bahwa : NABI PASTI MEMPUNYAI KADER UNTUK MELANJUTKAN KEPEMIMPINAN ISLAM,MUSTAHIL UMMAT ISLAM TIDAK PUNYA PEMIMPIN. Hanya karena sejarah yg telah begitu lama terjadi,dan hasil karya Setan maka Islam terpecah seperti sekarang ini,maka kita jangan mau diperdaya oleh Setan,dan mari Kita bangun, bangkit,ISLAM ITU TIDAK SUNNI DAN TIDAK SYII,TIDAK BARAT DAN TIDAK TIMUR ,TETAPI ISLAM ITU LA ILA HA IL-ALLAH MUHAMMAD RASULULLAH.

Setelah Nabi wafat
Sampai disini hampir semua pihak sepakat tentang riwayat Ali bin Abi Thalib, perbedaan pendapat mulai tampak ketika Nabi Muhammad wafat. Syi'ah berpendapat sudah ada wasiat (berdasar riwayat Ghadir Khum) bahwa Ali harus menjadi Khalifah bila Nabi SAW wafat. Tetapi Sunni tidak sependapat, sehingga pada saat Ali dan Fatimah masih berada dalam suasana duka orang-orang Quraisy bersepakat untuk membaiat Abu Bakar. Menurut riwayat dari Al-Ya'qubi dalam kitab Tarikh-nya Jilid II Menyebutkan suatu peristiwa sebagai berikut. Dalam perjalan pulang ke Madinah seusai menunaikan ibadah haji ( Hijjatul-Wada'),malam hari Rasulullah saw bersama rombongan tiba di suatu tempat dekat Jifrah yang dikenal denagan nama "GHADIR KHUM." Hari itu adalah hari ke-18 bulan Dzulhijah. Ia keluar dari kemahnya kemudia berkhutbah di depan jamaah sambil memegang tangan Imam Ali Bin Abi Tholib r.a.Dalam khutbahnya itu antara lain beliau berkata : "Barang siapa menanggap aku ini pemimpinnya, maka Ali adalah pemimpinnya.Ya Allah, pimpinlah orang yang mengakui kepemimpinannya dan musuhilah orang yang memusuhinya" Pengangkatan Abu Bakar sebagai Khalifah tentu tidak disetujui keluarga Nabi Ahlul Baitdan pengikutnya. Beberapa riwayat berbeda pendapat waktu pembai'at-an Ali bin Abi Thalib terhadap Abu Bakar sebagai Khalifah pengganti Rasulullah. Ada yang meriwayatkan setelah Nabi dimakamkan, ada yang beberapa hari setelah itu, riwayat yang terbanyak adalah Ali mem-bai'at Abu Bakar setelah Fatimah meninggal, yaitu enam bulan setelah meninggalnya Rasulullah demi mencegah perpecahan dalam ummat Ada yang menyatakan bahwa Ali belum pantas untuk menyandang jabatan Khalifah karena umurnya yang masih muda, ada pula yang menyatakan bahwa kekhalifahan dan kenabian sebaiknya tidak berada di tangan Bani Hasyim.

[sunting] Sebagai khalifah
Peristiwa pembunuhan terhadap Khalifah Utsman bin Affan mengakibatkan kegentingan di seluruh dunia Islam yang waktu itu sudah membentang sampai ke Persia dan Afrika Utara. Pemberontak yang waktu itu menguasai Madinah tidak mempunyai pilihan lain selain Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah, waktu itu Ali berusaha menolak, tetapi Zubair bin Awwam dan Talhah bin Ubaidillah memaksa beliau, sehingga akhirnya Ali menerima bai'at mereka. Menjadikan Ali satu-satunya Khalifah yang dibai'at secara massal, karena khalifah sebelumnya dipilih melalui cara yang berbeda-beda. Sebagai Khalifah ke-4 yang memerintah selama sekitar 5 tahun. Masa pemerintahannya mewarisi kekacauan yang terjadi saat masa pemerintah Khalifah sebelumnya, Utsman bin Affan. Untuk pertama kalinya perang saudara antara umat Muslim terjadi saat masa pemerintahannya, Perang Jamal. 20.000 pasukan pimpinan Ali melawan 30.000 pasukan pimpinan Zubair bin Awwam, Talhah bin Ubaidillah, dan Ummul mu'minin Aisyah binti Abu Bakar, janda Rasulullah. Perang tersebut dimenangkan oleh pihak Ali. Peristiwa pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan yang menurut berbagai kalangan waktu itu kurang dapat diselesaikan karena fitnah yang sudah terlanjur meluas dan sudah diisyaratkan (akan terjadi) oleh Nabi Muhammad SAW ketika beliau masih hidup, dan diperparah oleh hasutan-hasutan para pembangkang yang ada sejak zaman Utsman bin Affan, menyebabkan perpecahan di kalangan kaum muslim sehingga menyebabkan perang tersebut. Tidak hanya selesai di situ, konflik berkepanjangan terjadi hingga akhir pemerintahannya. Perang Shiffin yang melemahkan kekhalifannya juga berawal dari masalah tersebut. Ali bin Abi Thalib, seseorang yang memiliki kecakapan dalam bidang militer dan strategi perang, mengalami kesulitan dalam administrasi negara karena kekacauan luar biasa yang ditinggalkan pemerintahan sebelumya. Ia meninggal di usia 63 tahun karena pembunuhan oleh Abdrrahman bin Muljam, seseorang yang berasal dari golongan Khawarij (pembangkang) saat mengimami salat subuh di masjid Kufah, pada tanggal 19 Ramadhan, dan Ali

10

menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 21 Ramadhan tahun 40 Hijriyah. Ali dikuburkan secara rahasia di Najaf, bahkan ada beberapa riwayat yang menyatakan bahwa ia dikubur di tempat lain.

Salamin-Dikalangan anak muda NU, terutama yang tergabung dalam wadah organisasi kemahasiswaan PMII, diawal tahun 1990-an mulai ramai membicarakan “Aswaja”. Pada mulanya perbincangan baru seputar pertanyaan, mengapa aswaja menghambat perkembangan intelektual masyarakat ? diskusi terhadap doktrin ini lalu sampai kesimpulan, bahwa kemandegan berfikir ini karena kita mengadopsi mentah-mentah bahwa aswaja secara “Qod’I” (kemasan praktis pemikiran aswaja). Lalu dicobalah membongkar sisi metodologi berfikirnya (Manhaj Al-fikr): Yakni cara berfikir yang menganggap prinsip Tawasuth (moderat), Tawazun (keseimbangan), dan Ta’adul (keadilan). Setidaknya prinsip ini bisa mengantarkan pada sikap keberagaman yang non tatharruf atau ekstrim kiri dan kanan.

LATAR KULTURAL DAN POLITIK KELAHIRAN ASWAJA Selama ini yang kita ketahui tentang ahlusunnah waljama’ah adalah madzhab yang dalam masalah aqidah mengikuti imam Abu Musa Al Asyari dan Abu Mansur Al Maturidi. Dalam praktek peribadatan mengikuti salah satu madzhab empat, dan dalam bertawasuf mengikuti imam Abu Qosim Al Junandi dan imam Abu khamid Al Gozali. Kalau kita mempelajari Ahlussunnah dengan sebenarnya, batasan seperti itu nampak begitu simple dan sederhana, karena pengertian tersebut menciptakan definisi yang sangat eksklusif Untuk mengkaji secara mendalam, terlebih dahulu harus kita tekankan bahwa Ahlussunnah Waljamaah (Aswaja) sesungguhnya bukanlah madzhab, Aswaja hanyalah sebuah manhaj Al fikr (cara berpikir) tertentu yang digariskan oleh para sahabat dan muridnya, yaitu generasi tabi’in yang memiliki intelektualitas tinggi dan relatif netral dalam mensikapi situasi politik ketika itu. Meski demikian, bukan berarti dalam kedudukannya sebagai Manhaj Al fikr sekalipun merupakan produk yang bersih dari realitas sosio-kultural maupun sosio politik yang melingkupinya. Ahlusunnah tidak bisa terlepas dari kultur bangsa arab “tempat islam tumbuh dan berkembang untuk pertama kali”. Seperti kita ketahui bersama, bangsa arab adalah bangsa yang terdiri dari beraneka ragam suku dan kabilah yang biasa hidup secara peduli. Dari watak alami dan karakteristik daerahnya yang sebagai besar padang pasir watak orang arab sulit bersatu dan bahkan ada titik kesatuan diantara mereka merupakan sesuatu yang hampir mustahil. Di tengahtengah kondisi bangsa yang demikian rapuh yang sangat labil persatuan dan kebersamaannya, Rosulullah diutus membawa Islam dengan misi yang sangat menekankan ukhuwah, persamaan dan persaudaraan manusia atas dasar idiologi atau iman. Selama 23 tahun dengan segala kehebatan, kharisma, dan kebesaran yang dimilikinya, Rosulullah mampu meredam kefanatikan qobilah menjadi kefanatikan agama (ghiroh islamiyah). Jelasnya Rosulullah mampu membangun persatuan, persaudaraan, ukhuwah dan kesejajaran martabat dan fitrah manusia. Namun dasar watak alami bangsa arab yang sulit bersatu, setelah Rosulullah meninggal dan bahkan jasad beliau belum dikebumikan benih-benih perpecahan, gendrang perselisihan sudah mulai terdengar, terutama dalam menyikapi siapa figure yang tepat mengganti Rosulullah ( peristiwa bani saqifah ). Perselisihan internal dikalangan umat Islam ini, secara sistematis dan periodik terus berlanjut pasca meninggalnya Rosulullah, yang akhirnya komoditi perpecahan menjadi sangat beragam. Ada karena masalah politik dikemas rapi seakan-akan masalah agama, dan aja juga masalah-masalah agama dijadikan legitimasi untuk mencapai ambisi politik dan kekuasaan. Unsur-unsur perpecahan dikalangan internal umat Islam merupakan potensi yang sewaktu-waktu bisa meledak sebagai bom waktu, bukti ini semakin nampak dengan diangkatnya Usman Bin Affan sebagai kholifah pengganti Umar bin Khottob oleh tim formatur yang dibentuk oleh Umar menjelang meninggalnya beliau, yang mau tidak mau menyisahkan kekecewaan politik bagi pendukung Ali waktu itu. Fakta kelabu ini ternyata menjadi tragedy besar dalam sejarah umat Islam yaitu dengan dibunuhnya Kholifah Usman oleh putra Abu Bakar yang bernama Muhammad bin Abu Bakar. Peristiwa ini yang menjadi latar belakang terjadinya perang Jamal antara Siti Aisyah dan Sayidina Ali. Dan berikut keadaan semakin kacau balau dan situasi politik semakin tidak menentu, sehingga dikalangan internal umat Islam mulai terpecah menjadi firqoh-firqoh seperti Qodariyah, Jabbariyah Mu’tazilah dan kemudian lahirlah Ahlus sunah. Melihat rentetan latar belakang sejarah yang mengiringi lahirnya Aswaja, dapat ditarik garis kesimpulan bahwa lahirnya Aswaja tidak bisa terlepas dari latar belakang politik. 11

ASWAJA SEBAGAI MANHAJ AL-FIKR Melihat dari latar cultural dan politik sejarah kelahiran Aswaja, beserta ruang lingkup yang ada di dalamnya. Terminologi Aswaja yang sebagai mana kita pegangi selama ini, sehingga tidak jarang memunculkan paradigma jumud (mandeg), kaku, dan eksklusif atau bahkan menganggap sebagai sebuah madzhab dan idiologi yang Qod’i. Bagaimana mungkin dalam satu madzhab kok mengandung beberapa madzhab, dan bagaimana mungkin dalam satu idiologi ada doktrin yang kontradiktif antara doktrin imam satu dengan imam yang lain. Salah satu karakter Aswaja adalah selalu bisa beradaptasi dengan situasi dan kondisi, oleh karena itu Aswaja tidaklah jumud, tidak kaku, tidak eksklusif, dan juga tidak elitis, apa lagi ekstrim. Sebaliknya Aswaja bisa berkembang dan sekaligus dimungkinkan bisa mendobrak kemapanan yang sudah kondusif. Tentunya perubahan tersebut harus tetap mengacu pada paradigma dan prinsip al-sholih wa al-ahslah. Karena itu menurut saya implementasi dari qaidah almuhafadhoh ala qodim al-sholih wa al-akhdzu bi al jadid alashlah. Adalah menyamakan langkah sesuai dengan kondisi yang berkembang pada masa kini dan masa yang akan datang. Yakni pemekaran relevansi implementatif pemikiran dan gerakan kongkrit ke dalam semua sector dan bidang kehidupan baik, aqidah, syariah, akhlaq, social budaya, ekonomi, politik, pendidikan dan lain sebagainya. Walhasil, Aswaja itu sebenarnya bukanlah madzhab. Tetapi hanyalah manhaj al-fikr atau paham saja, yang di dalamnya masih memuat beberapa aliran dan madzhab. Ini berarti masih terbuka luas bagi kita wacana pemikiran Islam yang transformatif, kreatif, dan inovatif, sehingga dapat mengakomodir nuansa perkembangan kemajuan budaya manusia. Atau selalu up to date dan tanggap terhadap tantangan jaman. Nah dengan demikian akan terjadi kebekuan dan kefakuman besar-besaran diantara kita kalau doktrin-doktrin eksklusif yang ada dalam Aswaja seperti yang selama ini kita dengar dan kita pahami dicerna mentah-mentah sesuai dengan kemasan praktis pemikiran aswaja, tanpa mau membongkar sisi metodologi berfikirnya, yakni kerangka berpikir yang menganggap prinsip tawassuth (moderat), tawazun (keseimbangan), ta’adul ( keadilan) dapat mengantarkan pada sikap yang mau dan mampu menghargai keberagaman yang non ekstrimitas (tatharruf) kiri ataupun kanan. NILAI-NILAI ASWAJA YANG TOLERAN DAN ANTI EKSTREM? Dalam sejarah tokoh pemikir Islam, kehadiran Abu Hasan al-Asya’ari dan Abu Manshur al-Maturidi, melalui pemikiran-pemikiran teologis kedua orang ini berhasil mempengaruhi pikiran banyak orang dan mengubah kecenderungan dari berpikir rasionalis ala Mu’tazilah kepada berpikir tradisionalis dengan berpegang pada sunnah Nabi. Asawaja dengan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya seperti tawassuth, tawazun tasamuh mampu tampil sebagai sebuah ajaran yang berkarakter lentur, moderat, dan fleksibel. Dari sikap yang lentur dan fleksibel tersebut barang kali yang bisa mengantarkan paham ini diterima oleh mayoritas umat Islam di Indonesia.

12

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->