Sumba, Parang dan Makan Siri

Link ke posting ini BERTEMU pertama kali dengan para lelaki yang kemana-mana membawa parang di pinggang dengan mulut merah karena sirih tak ayal membuat keder juga. Itu mungkin kesan pertama ketika berkunjung ke beberapa dusun di pedalaman Sumba Barat dan Sumba Barat Daya di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Para lelaki mulai dari remaja hingga yang sudah lansia, lalu lalang dengan parang, tapi akhirnya tahu bahwa bagi mereka parang adalah sebuah simbol kclelakian, juga simbol penghormatan. Seorang kepala dusun yang dikunjungi sebelumnya segera bergegas masuk rumah memakai sarung tenun khas Sumba sambil membawa parang kebanggaannya. Dan yang membuat paling terkesan adalah kebiasaan makan sirih para pria Sumba.

Jika di tempat lain maka yang lazim makan sirih adalah perempuan, makadi sini makan sirih j uga adalah kebiasaan laki-laki. Makan sirih mungkin sudah miripdengan merokok. Rasanya tak lengkapjika mereka tak mengunyah sirih. Mereka percaya bahwa selain enak, sirih juga temyata menyehatkan bahkan bisa jadi obat. Meski saat menco-banya harus memaksa untuk menelan ludah karena rasa pahit scpat di mulut.

Kebiasaan makan sirih pun tidak hanya dilakukan orang desa, tapi sangat umum ditemukan para pegawai di kota kabupaten semacam Weetabula,

Ibukota Sumba Barat Daya yang mengunyah sirih. Hal lain yang menarik dari perjalanan ke dusun-dusun di pelosok Sumba itu adalah tentang kuburan. Jika di tempat lain kuburan biasanya jauh dari pemukiman maka di Sumba kuburan biasanya dibangun di halaman rumah. Kuburan dengan konstruksi seperti kotak dengan penutup dari batu.

Dahulu batu-batu yang digunakan untuk membuat kuburan adalah batubatu alam yang dipotong. Namun sekarang sudah banyak yang membuat kuburan semacam itu dari semen yang dicor. Menariknya bahwa kuburan itu umumnya tetap dibangun tidak jauh dari lingkungan pemukiman rumah mereka dan dibangun untuk satu keluarga. Kuburan dibangun di halaman rumah, merupakan wujud kecintaan mereka terhadap orang yang telah pergi agar tetap dekat dan selalu diingat.

Selain itu di dusun yang lain dapat penjelasan bahwa mereka menabung kuburan di depan rumah sebagai petanda bahwa keluarga yang dikubur di sana adalah pemilik tanah tempat kuburan berada. Unik, kadang-kadang membanding-bandingkan antara budaya Sumba dengan Toraja. Ada beberapa kemiripan Orang Sumba dan orang Toraja sama-sama mayoritas Kristen namun terasa sekali bahwa pengaruh adat masih sangat kuat. Contohnya dalam soal kematian dan upacaranya. Diselenggarakan dengan meriah dengan mengorbankan begitu banyak hewan ternak seperti kerbau dan babi dan kuda sumba, kompas.com

_________________________Ckhendh4_____________________________ _ Diposkan oleh Ckhendha di 3/01/2011 09:22:00 AM Label: http://bataviase.co.id/node/112092

dengan jalur DenpasarTambolaka-Waingapu-Kupang dan sebaliknya. Bandar udara Tambolaka di Sumba Barat dan Bandar Udara Umbu Mehang Kunda di Sumba Timur. Pulau ini juga bisa dicapai melalui laut dari pelabuhan Sape. saat yang tepat untuk mengamati Sumba dari udara. Transportasi Jangan lupa membawa peta pulau maupun peta kota untuk memperkirakan jarak dan lokasi. Perjalanan udara dari Tambolaka ke Waingapu memakan waktu kurang dari 10 menit.Reaksi: 0 komentar Panduan Singkat Bertualang ke Pulau Sumba Link ke posting ini Menuju Sumba Pulau Sumba dapat dicapai melalui udara lewat dua bandaranya. Batavia dan Transnusa. Kabupaten Bima. Dari Jakarta pesawat akan transit di Denpasar. Penerbangan oleh Merpati bertujuan akhir ke Kupang. Nusa Tenggara Barat dan Kupang. Bali sebelum melanjutkan perjalanan ke pulau ini. Penerbangan dilayani setiap hari oleh Merpati. Nusa Tenggara Timur. Peta dapat diunduh dari beberapa situs panduan perjalanan. .

sangat disarankan untuk membawa bekal dari kota. Ditambah lagi. Oleh-oleh khas Sumba adalah ikat tenun. Beberapa kampung adat juga merupakan penghasil ikat tenun terbaik. Dua kota besarnya. Kuliner dan suvenir Hampir tidak ada makanan khas yang dijual di Sumba. berlubang dan berlumpur saat hujan. Jalur menuju daerah yang lebih terpencil dilayani oleh beberapa truk dengan jadwal tak menentu. Tarif penyewaan motor lengkap dengan pemandu Rp 200 ribu.Kondisi jalan utama yang menghubungkan kota-kota utama di Sumba sudah relatif baik. Meski sebagian besar penduduk beragama Kristen. Travel akan menjemput dan mengantar penumpang ke tempat tujuan. Angkutan antar kota menggunakan mobil elf. biasanya sangat penuh sampai penumpang bergelantungan di pintu dan atap mobil. Sempatkan melihat proses tenun dan pewarnaan dengan menggunakan bahan alami yang didapat dari alam. Adapun tarif sewa mobil mulai Rp 400 ribu. Motif tenunan berbeda di masing- . Tempat makan hanya ada di pusat kota. Transportasi umum tersedia pada jalur-jalur utama. Waingapu dan Waikabubak dapat dicapai dengan travel seharga Rp 50 ribu dengan waktu tempuh 5 jam. jarang sekali ada warung yang menjual makanan. Jika ingin pergi jauh seharian ke daerah terpencil. makanan halal dapat diperoleh dengan mudah. Pengelola hotel biasanya bisa membantu mencari motor maupun mobil yang disewakan. Ada beberapa jembatan yang masih dalam perbaikan sehingga pengendara kendaraan bermotor harus menyeberangi sungai. Jalan-jalan yang lebih kecil masih banyak mengalami kerusakan.

Tak demikian keadaannya pada musim kemarau. Mengunjungi Sumba pada musim hujan artinya harus siap menembus jalan yang berubah menjadi kolam berlumpur." Saat musim panas. Saat itu padang hijau akan diganti warna cokelat karena rumput kekeringan. Ada pula pilihan untuk menginap di resort berbintang seperti Nihiwatu di Sumba Barat. kering tanpa hujan ratusan hari. Pilihan waktu terbaik Pejalan yang berkunjung pada musim hujan akan bertemu Sumba yang hijau. Biasanya hotel juga menyediakan transportasi dari dan menuju bandara. Pada umumnya kondisi jalan utama Sumba sudah cukup bagus. Menginap Ada beberapa pilihan menginap murah seharga Rp 100 ribu sampai Rp 500 ribu. Padang sabana terbentang seperti karpet hijau sejauh mata memandang. Sumba barat punya tenunan bermotif lebih sederhana dari Sumba Timur. Upacara adat . terutama di ibukota kabupaten. perjalanan harus melewati jalan tanah yang akan becek ketika hujan turun. Namun untuk menuju pantai maupun kampung adat di pedalaman. transportasi menuju tempat terpencil lebih mudah.masing daerah. basah dan bersyukur atas hujan. Langit nampak biru dengan malam penuh bintang sehingga memungkinkan petualangan di alam bebas seperti hiking atau berkemah. Taufik Ismail dalam puisinya yang berjudul Beri Aku Sumba menceritakan Sumba sebagai "cuaca tropika. Sumba memang masyhur dengan cuacanya yang panas dan kering.

Untuk . Wula podu adalah bulan larangan yang berlaku di Kampung Tarung. Semua upacara ini tidak diadakan secara teratur menurut kalender masehi. puluhan babi dan ratusan ayam dipercaya bisa menjadi bekal almarhum menjadi roh penghuni Marapu. Peserta Pasola tak takut darah yang tumpah. karena upacara ini harus dilakukan bertepatan dengan munculnya cacing Nyale dari laut. Luka dianggap biasa dan kematian tak menyisakan dendam.Selain memperhitungkan cuaca. Upacara pemakaman juga menjadi atraksi menarik bagi para turis. waktu terbaik untuk melakukan perjalanan di pulau ini adalah saat digelarnya upacara adat. diiringi dengan penyembelihan korban hewan dalam jumlah banyak. Pada akhir Wula Podu penduduk mengadakan pesta adat yang sangat meriah dengan korban binatang dan tari-tarian. Puluhan kerbau. Sumba Barat. Pasola merupakan kegiatan yang berisiko tinggi karena melibatkan .bahkan tak boleh menangisi keluarga yang meninggal. Upacara yang sayang untuk dilewatkan adalah Pasola. Adapun pada bulan Oktober atau November terdapat upacara penutupan Wula Podu di Waikabubak. biasanya pada Februari dan Maret. Upacara adat Pasola digelar empat kali setahun di empat tempat berbeda. Hanya pemuka adat yang bisa menentukan kapan tanggal pasti Pasola digelar. "perang" dua pasukan berkuda dengan cara melempar lembing dari atas kuda. tanpa pelana. Upacara dimulai sejak dini hari dengan kegiatan mencari nyale di pantai. Pemeluk kepercayaan Marapu percaya bahwa orang mati membutuhkan bekal untuk pergi ke alamnya. Jenazah akan dibungkus dengan berlapis-lapis kain tenun. Sesudahnya barulah para rato bersiap di atas kuda. Prai Klembung dan Waitabar. Pada bulan larangan para penghuni kampung banyak dilarang melakukan berbagai kegiatan .

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>ckh3ndHa<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<< Diposkan oleh Ckhendha di 3/01/2011 08:10:00 AM Label: http://id..mengetahui kapan upacara-upacara ini diadakan. xixixixixi . sebaiknya hubungi biro perjalanan maupun hotel sebelum merencanakan perjalanan.travel...com/jalan-jalan/59-panduan-singkatbertualang-ke-pulau-sumba Reaksi: 0 komentar Sabtu..yahoo. kamis tanggal 27 januari 2o11 smile.. 26 Februari 2011 _______ACARA KELUARGA BESAR ''ONE HEART FAMILY''_________ Link ke posting ini ne foto acara keluarga besar 'one heart family' in lolaramo sumba barat daya.

...hahahaha tante & om ne yang namanya kompak.salut' .inilah tulang grandfather yang dibungkus dengan kain tenun Sumba saya punya angua yang dua'da keluar difoto juga..

hahaha kubur lama yang sementara di hancurkan kubur lama yang sementara di hancurkan bakar lilin ..hhmmm jadi ingat kanaa wawi..

..hahahaha (menyambut undangan dengan tarian) bapak ven & mom .kubur tampak dari depan dua2nya nenek tercinta keluarga besar kami deimba wi loloka..

.my sister siap2 nari sambut undangan nah ini diakan nari juga ne mama besar ada ikut nari juga acara penyambutan loloka koq fotoq ga ada ya padahal aq ikut ronggeng juga kmarin.:( .

ne bapa2 besar kwo my sister hanken penyambutan undangan or loloka penyambutan undangan or loloka .

.penyambutan tamu or loloka kali ini mama besar ikut nari juga serruuu.... hahahahaha.. gei na dei kana teba beli powa na karambo...... kuliti ade dewy asli & angle Betty .

.. sippp keyennn abisss... xixixixixixi hmm... sibuk melayani minum untuk undangan or loloka . k2 yang dua ne.foto dulu ah yang penting udah habis ibadah....

tante om koq fotonya efraim ga ada ya.com Reaksi: 1 komentar Informasi Wisata dan Budaya Link ke posting ini Informasi Wisata dan Budaya Bumi Marapu Oleh : Siti Maria Pulau Sumba Selayang Pandang "Bumi Marapu" adalah sebutan lain bagi Tana Humba atau 'Sumba'.. 'Marapu' merupakan merupakan kepercayaan asli yang bersumber pada unsur pemujaan arwah nenek moyang yang .blogspot.???? _______________________________cKh3nDh4_______________________________ ______________________________________________________________________ Diposkan oleh Ckhendha di 2/26/2011 09:20:00 AM Label: http://kendawaikamura.

Pulau Sumba terbag atas dua kabupaten. di sebelah barat daya Pulau Timor. Pulau ini oleh suku bangsanya sendiri disebut "Tana Humba". karena merupakan pulau penghasil kayu cendana terbesar. di sebelah barat laut Darwin ² Australia. Atau pada 10 LS dan 120 BT. yakni ibu model Rambu Humba. Namun sekarang telah punah karena pembabatan besar-besaran pada masa lampau. Dalam peta. Timor dan Sumba. karena pulau Sumba terkenal dengan ragam atraksi kesenian. Sebagai sebuah pulau. Altar megalit dan batu kuburan keramat yang menghias setiap jantung kampung dan dusun (paraingu). sebelah selatan Pulau Flores. Menurut ceritera. Sebagai sebuah pulau. Dahulu Pulau Sumba terkenal dengan nama Pulau Cendana. upacara adat dan kampung adat yang sangat spesifik dengan kuburan batu dan menhir peninggalan zaman megalitikum. kata humba berasal dari nama isteri nenek moyang pertama orang Sumba yang datang dan mendiami Sumba. Sumba adalah pulaunya para arwah. di sebelah barat daya Pulau Timor. Pulau ini terletak dibelahan luar paling selatan dari untaian pulau-pulau di Indonesia yang termasuk ke dalam wilayah provinsi Nusa Tenggara Timur. Kata 'humba'atau 'sumba'artinya 'asli'. sebelah selatan Pulau Flores. Wilayahnya yang beramplitudo suhu yang tinggi mengakibatkan batu-batuan menjadi lapuk. sapi dan kuda sesuai dengan keadaan alam Sumba yang berpadang savana luas. tepatnya di Tenggara Pulau Bali. Pulau Sumba merupakan salah satu dari 3 pulau terbesar di Provinsi Nusa Tenggara . yaitu Pulau Flores. isteri kekasih hati Umbu Walu Mandoku. Pulau Sumba merupakan salah satu dari 3 pulau terbesar di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Atau pada 10 LS dan 120 BT. kelapa dan aren. tepatnya di Tenggara Pulau Bali. yakni Kabupaten Sumba Barat dan Sumba Timur. pulau Sumba bagaikan sebuah atol di tengah lautan dengan karakteristik kehidupan yang begitu spesifik dan unik.dianggap sebagai hal yang sangat penting bagi orang Sumba. tanah merekah dan terjadi seleksi alam baik terhadap tumbuh-tumbuhan maupun hewan yang dapat hidup dalam kondisi demikian. Secara topografi pulau Sumba terdiri dari tebaran perbukitan dataran rendah yang landai dan bertingkat-tingkat. sedangkan hewan peliharaan umumnya adalah kerbau. di sebelah barat laut Darwin ² Australia. Di setiap sudut kota dan kampungnya tersimpan persembahan dan pujian para abdi. Dengan membedah pulau Sumba terbesit pesan. Salah satu peletak landasan suku¬-suku atas kabisu-kabisu Sumba. Oleh karena itu. jadi tana humba artinya 'tanah asli'. Keunikannya. jenis tumbuhan yang ada umumnya berupa tanaman keras seperti jati.

Ditandai. kelapa dan aren. terdapat pantai Kalala. Pasola. sambil menunggang kuda. Di tempat itulah mereka saling mendemonstrasikan kemampuan menombak musuhnya dengan menggunakan senjata lambing yang terbuat dari bambu atau kayu. Sedangkan peserta permainan adalah pria pilih tanding dari kedua Kabisu yang harus menguasai dua ketrampilan sekaligus yakni memacu kuda dan melempar lambing (hola).Timur. Perang tanding biasanya dilakukan di suatu padang terbuka. Kuda Sumba tersebut yang dikenal dengan nama Shadelwood sering dimanfaatkan untuk kepentingan perlombaan. karena merupakan pulau penghasil kayu cendana terbesar. upacara adat dan kampung adat yang sangat spesifik dengan kuburan batu dan menhir peninggalan zaman megalitikum. terdapatnya pantai yang dapat dijadikan berparisiwisata. Timor dan Sumba. Selain itu. Dahulu Pulau Sumba terkenal dengan nama Pulau Cendana. juga kepentingan untuk upacara. Oleh karena itu. Pulau Sumba dikenal pula dengan alamnya nan indah. yakni Pasola. karena pulau Sumba terkenal dengan ragam atraksi kesenian. jatuh pada bulan Februari atau Maret. tanah merekah dan terjadi seleksi alam baik terhadap tumbuh-tumbuhan maupun hewan yang dapat hidup dalam kondisi demikian. Permainan ini biasanya disaksikan oleh segenap warga Kabisu dan Paraingu dari kedua kelompok yang bertanding dan oleh masyarakat umum. yaitu Pulau Flores. Kabupaten Sumba Barat. diperlihatkan permainan rakyat berupa perang tanding sambil menunggang kuda. Di dalam pasola. sapi dan kuda sesuai dengan keadaan alam Sumba yang berpadang savana luas. Lomba pacuan kuda biasanya diselenggrakan setiap tahun di kota Waikabubak. Dalam peta. seperti di Sumba timur. Keunikannya. Biasanya diadakan setiap tahun yang menurut perhitungan kalender adat Marapu. jenis tumbuhan yang ada umumnya berupa tanaman keras seperti jati. sedangkan hewan peliharaan umumnya adalah kerbau. pulau Sumba bagaikan sebuah atol di tengah lautan dengan karakteristik kehidupan yang begitu spesifik dan unik. nama permainan rakyat tradisional yang dilaksanakan dalam rangka menyambut tahun baru adat menurut kepercayaan Marapu. Wilayahnya yang beramplitudo suhu yang tinggi mengakibatkan batu-batuan menjadi lapuk. . Tarimbang. Namun sekarang telah punah karena pembabatan besar-besaran pada masa lampau. Secara topografi pulau Sumba terdiri dari tebaran perbukitan dataran rendah yang landai dan bertingkat-tingkat.

membawa akibat keterikatan mereka pada tempat tinggalnya. yaitu yang dikenal dengan kepercayaan "Merapu".Penggarapan sawahnya yang disebut renca Renca. dalam kehidupan sehari-hari penduduk pada dasarnya merupakan cerminan kehidupan agama tradisional mereka. yaitu pengerahan tenaga manusia dan kerbau dalam jumlah besar di atas tanah sawah yang akan ditanami. dimana kaki-kaki kerbau yang berjumlah puluhan digunakan sebagai pengganti bajak. Kerajinan. umumnya bertani dan beternak. Untuk penggarapan sawah khususnya di wilayah desa-desa tradisional dilakukan dengan cara tradisional serta terikat oleh suatu sistem/peraturan adat yang pengawasan dan pengaturannya dikendalikan oleh dewan adat (para rato). sang pengasal semua suku. motif dan desainnya menggambarkan irama kehidupan manusia dan mahluk hidup lainnya dan bahkan menggambarkan kehidupan alam semesta misalnya matahari. Walaupun demikian. Pencaharian penduduk. Dan hal tersebut. Kerajinan tenun tersebut. Pekerjaan ini biasanya akan diawali dan diakhiri dengan upacara keagamaan (ritus). Begitu juga wisata alam di Taman Nasional Laiwangi Wanggameti dan tempat persinggahan burung dari Australia. disain pada umumnya berupa variasi garis dalam bentuk geometrik dengan selingan gambar mamuli atau binatang. bermutu tinggi selain sebagai koleksi atau digunakan dalam upacara adat. Oleh karena itu. perkawinan (lalei atau mangoma) dan kematian (pa taningu). Sedangkan berladang umumnya masih mengenal system barter atau dal istilah Sumba dikenal dengan nama Ippa Mandara dimana masyarakat atau kerabat dari desa satu ke desa yang lain dengan tujuan memimta sebagian hasil panen dan sebaliknya pada saat tertentu orang itu dapat mengembalikannya namun hanya berbeda waktu. Penduduknya mayoritas beragama Kristen Protestan dan Katolik. namun dalam kehidupan sehari-hari masih sangat dipengaruhi oleh adat dan tradisi yakni pemeluk yang khusuk berbakti kepada arwah para leluhurnya. kepercayaan asli yang menyembah roh nenek moyang yang menurut petunjuk dan perhitungan para Rato. Penduduk dan Pencahariannya Penduduk Pulau Sumba. Kain Sumba Barat. bulan dan bintang. Hal ini dapat dilihat ketika mereka sedang melaksanakan upacara adat berkenaan dengan daur hidup seperti upacara kelahiran (habola). Kain Sumba Timur. Pulau Sumba terkenal dengan tenunnya.Purukaberta dan Walakiri yang sudah mendunia dan dikenal indah untuk berselancar. khususnya kepada bapak besar bersama. menyebut diri mereka dengan sebutan Tau Humba (orang Sumba) dan memiliki bahasa sendiri yaitu bahasa Sumba yang termasuk golongan bahasa Bima-Sumba. tenunan tersebut dibuat dengan mengguna¬kan ramuan tradisional dan membutuhkan waktu yang lama untuk . Pemimpin Suku dan Imam agung para Merapu. Marapu. Tenun yang dikenal adalah tenun dengan teknik ikat dan sulam dengan menggunakan alat-alat tradisional yang sederhana.

Dalam perjalanan ada yang menggunakan perahu yang terbuat dari kayu rica. Masing-masing kelompok menurut marganya (kabisunya) membentuk komunitas dan mencari tanah untuk mendirikan pemukiman semacam desa untuk tempat menetap. Kelompok-kelompok mereka makin bertambah banyak. kemudian menyebar ke seluruh Pulau Sumba. Kecamatan Rindiumalulu (Rindi dan Watuhadang). menetaplah mereka disitu dengan membuat semacam perkampungan yang disebut paraingu. maka bermusyawarahlah para leluhur untuk menetapkan nama kelompoknya masing-masing dan tempat kediamannya dan berjanji serta bersumpah untuk tetap bersatu di dalam persekutuan persaudaraan. seperti ke daerah Sumba Barat (di sekitar dataran tinggi seperti Wanakaladaorang Laura. Kepemimpinan itu berdasarkan keturunan kepada ahli waris laki-laki. Mereka menurunkan generasi-generasi dengan melahirkan banyak generasi dan menempati daerah-daerah seperti Waijewa. Lewa dan daerah pesisir seperti yang tinggaldi sekitar Muara sungai Kambaniru). Tujuan membentuk komunitas untuk dapat bertahan hidup dengan menjalankan segala aktivitas kehidupannya mulai dari mendirikan rumah. perkampungan yang disebut. Haba (Sabu) dan Raejua. Mereka yang hidup berkelompok ini. Loli. Kelompok-kelompok semacam ini disebut kabihu atau kabisu yang sama artinya dengan marga atau suku/klan. Istilah untuk tempat pemukiman semacam desa di pulau Sumba dikenal dengan nama wano kalada dan wano nggolu . Tanabara (Singapura). nama sebuah tanjung di sebelah utara Pulau Sumba bagian barat. Apabila telah mendapat tanah yang dikehendakinya. juga di Muara Sungai Pandawai. Masing-masing berpisah menurut kelompoknya ada yang ke barat dan ada yang ke timur. Selain di Tanjung sasar. Enda (Roti). yang anggotaanggotanya berasal dari satu leluhur. membuat seperangkat aturan maupun yang berkenaan dengan penggenerasiannya. Ambarai (Manggarai). Bali. Perahu tersebut kandas dihempas ombak dan pertama kali mendarat di Haharu Lendewatu atau yang kita kenal sekarang dengan nama Tanjung Sasar. Riau. Makasar. Rentan waktu yang berabad-abad lamanya. Asal usul Orang Sumba Orang Sumba diperkirakan berasal dari Indo Cina dengan rumpun ras mongoloid. Kelompok-kelompok itu merupakan satu persekutuan hukum menurut keturunan (genealogis).menyelesaikannya. Paraingu adalah persekutuan dari beberapa kampung. kecamatan Pandawai (Rambangaru dan kelurahan Prailulu). Mereka datang secara bergelombang dan berkelompok selama berabad-abad lamanya dengan melewati beberapa daerah diantaranya Semenanjung Malaka. lalu membentuk satu komunitas. Lamboya Kodi. Ende.Sebuah paraingu dipinnpin oleh seorang yang disebut Bapa Raja. dan Tana Righu serta wilayah lainnya. Ndau (Dao). mereka yang datang ke pulau Sumba tadi menempati beberapa tempat secara berkelompok. dan kemudian mereka berpencar mencari tempat untuk melangsungkan hidupnya. Ada beberapa daerah yang terkenal dengan kain tenunnya. seperti di Kabupaten Sumba Timur yakni desa Kaliuda yang terletak di kecamatan Pahungalodu. Dalam persebarannya mereka menyebar dan berpencar ke daerah-daerah perbukitan di seluruh Pulau Sumba. Kodi dan Waijewa) dan Sumba Timur(Melolo. Bima. Jawa.

sehingga daerah ini dikenal dengan 'Bumi Marapu'. Bukit dan gunung selalu dihubungkan dengan tempat pemujaan arwah nenek moyang. Karena secara geografis daerah perbukitan dianggap sebagai tempat yang paling strategis untuk melihat musuh dari jarak jauh dan membaca gejala-gejala yang timbul akibat terjadinya perang tanding. Perkampungannya terpencar dan mengelompok. Pagar tersebut merupakan batas sebagai kesatuan rumah-rumah tempat tinggal saja. membawa akibat keterikatan mereka pada tempat tinggalnya. karena kepercayaan asli yang mempunyai hubungan erat dengan kepercayaan Marapu yang bersumber pada unsur pemujaan arwah nenek moyang. misalnya dikarenakan pertentangan mengenai soal batas tanah pertanian. Setiap kampung terdiri dari beberapa rumah dan sekelilinginya dipagari dengan batu alam ataupun bambu yang tinggi dengan tanaman berduri sejenis kaktus serta biasanya mempunyai 2 (dua) pintu gerbang.untuk di Sumba Barat. Oleh karenanya. Faktor keamanan. Hal yang menyebabkan didirikannya perkampungan (paraingu) di atas bukit karena pada masa lampau letak yang karena pada masa lampau letak yang demikian mempunyai keterkaitan dengan faktor ketentraman yakni keamanan dan kepercayaan. . Marapu merupakan kepercayaan asli yang bersumber pada unsur pemujaan arwah nenek moyang dianggap sebagai hal yang sangat penting. letak antar-paraingu (kampung) sangat berjauhan dengan pola perkampungan asli dalam bentuk lingkaran. sedangkan di Sumba Timur dikenal dengan nama paraingu dan parona. tempatnya arwah dan tempat datangnya nenek moyang. Pola Perkampungan dan Arsitektunya Perkampungan asli suku bangsa Sumba berupa desa-desa tradisional. karena dahulu sering terjadi perang antar suku (klan) atau desa. Maka dengan demikian pendirian kampung di atas bukit dimaksudkan agar mereka mudah melihat atau mengintai musuh. Perkampungan atau desa tradisional tersebut umumnya terletak di puncak-puncak bukit dan punggung¬punggung gunung yang sulit dicapai. Tanah yang mereka telah miliki itu akan diselenggarakan dan dipertahankan bersama-sama oleh Tuan Tanah dengan kelompok-kelompok yang ada dalam lingkungan paraingu itu. Faktor kepercayaan.

Atau mera dan appu. . karena memiliki menara yang tinggi. Jadi Marapu artinya 'serupa dengan nenek moyang'. Rumah tinggal (uma) ada yang merupakan rumah bermenara (uma mbatangu). tiang utama dari pohon aren.Dalam perkembangannya. karena memiliki menara yang tinggi. tempat datangnya nenek moyang. Mereka disebut 'Marapu'. Rumah yang bermenara (uma mbatangu) ini dimiliki oleh setiap persekutuan kerabat (kabihu) yang dihuni oleh keluarga secara turun temurun. Ketiga bagian tersebut dalam pandangan orang Sumba seakan-akan simbol alam yang mempunyai makna. jagung yang kemudian diasapi dari bawah. yakni alam bawah (tempat arwah-arwah). Uma atau rumah adat orang Sumba tersebut memiliki nilai arsitek tersendiri. Konstruksi rumah merupakan rumah panggung dengan alang-alang. Kata ma berarti 'yang'. yang diperilah adalah para leluhur yang sangat dihormati oleh anak cucunya turun temurun. akan tetapi pola perkampungan komunitas adat di pulau Sumba masih tetap dipertahankan yakni penduduk masih tetap tinggal di bukit-bukit. Di menara itu pula mereka menyimpan benda pusaka milik keluarga. Marapu Kepercayaan Asli Orang Sumba 'Marapu' terdiri dari dua kata. Sedangkan di bawah panggung digunakan untuk memelihara ternak seperti kuda. Menara diyakini sebagai tempat Marapu. Agar manusia dapat berkontak dengan Marapu yang merupakan perantara antara manusia dengan Ilahi. Arsitektur rumah adat menurut adat Sumba haruslah mempunyai bubungan yang lonjong. Mera artinya 'serupa' dan appu artinya 'nenek moyang'. Disetiap rumah yang bermenara ini mempunyai tiga bagian yakni bagian bawah rumah. Di atas'panggung ada loteng yang digunakan untuk menyimpan makanan seperti padi. maka perlulah dibangun uma (rumah) di atas bukit. Rumah adat itu menggunakan pasak dengan alat ikat tali hutan atau rotan. tengah rumah dan atas rumah. juga ada tempat khusus untuk ibuibu menenun. Rumah adat itu menggunakan pasak dengan alat ikat tali hutan atau rotan. kambing. yang diperdewa. ma dan rapu. Dunia tempat tinggal para marapu/arwah leluhur ini dalam perwujudannya dapat dilihat sebagai gunung atau bukit. 'Marapu" merupakan kepercayaan asli orang Sumba. Rumah adat tersebut bisa bertahan puluhan tahun. Tempat itu adalah tempat muharam. dengan dinding dan lantai bambu. Sedangkan kata rapu berarti 'dihormati' dan 'didewakan'. Dalam kaitannya ini. Panggungnya digunakan sebagai tempat aktifitas manusia seperti tempat untuk memasak. Hal ini. serupa menara. babi dan lain-lain. Mereka menganggap bahwa "marapu" yaitu arwah leluhur atau roh nenek moyang yang didewakan bertempat tinggal pada tempat yang tinggi (tempat yang teratas). seperti mas-mas yang telah dikuduskan untuk Marapu. walaupun faktor ketentraman yang keterkaitan dengan perang antar klan sudah tidak lagi. atau rumah biasa Rumah biasa adalah rumah panggung tanpa menara sebagai tempat tinggal. tempat untuk tidur. pemujaan arwah nenek moyang selalu berhubungan dengan bukit dan gunung. Konstruksi rumah merupakan rumah panggung dengan Uma atau rumah adat orang Sumba tersebut memiliki nilai arsitek tersendiri. dikarenakan keterkaitan dengan kepercayaan aslinya yakni kepercayaan Marapu bahwa tempat-tempat arwah. yang hanya dapat dimasuki oleh para 'ratu' (imam) pada waktu upacara-upacara yang penting. alam tengah (tempat manusia) dan alam atas (tempat dewa-dewa). Pemujaan arwah nenek moyang atau leluhur yang didewakan merupakan unsur yang menonjol. yang dipertuan.

Hal ini terbukti walaupun pendapatan penduduknya tergolong miskin.Kepercayaan Marapu yang merupakan penyembahan kepada arwah nenek moyang dan kekuatan-kekuatan supranatural. Penyembahan kepada Marapu dan kekuatan supranatuaral itu biasanya dilaksanakan di dalam rumah. . berbagai bentuk binatang. dipimpin oleh seorang iman yang dilakukan berdasarkan ketentuan adat apabila memerlukan pertolongan para leluhur. Pada tempat itulah roh leluhur hadir. Upacara yang berhubungan dengan rumah dari mulai mendirikan tiang sampai pada bubungan rumah dilakukan upacara. Bagi orang Sumba menganggap kematian itu sebagai hal yang penting. dalam pemujaannya dengan melaksanakan sejumlah ritus keagamaan. naAma pakawurunga (ibu bapa yang namanya dibisikkan bila disebut). lambang bulan. Di beberapa tempat dapat dijumpai mayat yang disimpan dalam rumah. Adapun tempat-tempat pemujaan pada umumnya berupa rumah-rumah adat disamping khusus berupa katoda (tiang batu). Kematian berarti memulai kehidupan baru di alam akhirat. Hakekatnya memohon kesuburan agar panen yang akan datang menjadi baik dan melimpah Oleh karena itu. Menghadapi musim bercocok tanam orang Sumba mengenal bulan suci yang disebut bulan Nyale (Wula Nyale). Karena itu memberikan bekal bagi orang yang telah meninggal bukanlah tindakan mubazir. Personifikasi Marapu terwujud dalam bentuk patung. Penyembahannya ditujukan kepada arwah leluhur dan kekuatan supranatural. Para pemimpin upacara (Rato) mengamati pertanda alam tentang kapan cacing atau nyale tadi akan muncul. diantaranya sudah puluhan tahun. Semua itu diletakkan dalam tempat yang baik dan kuat disimpan di atas loteng rumah. kematian. Alas duduk mayat adalah kulit kerbau. matahari. Pertanian dan upacara sekitar daur hidup merupakan perwujudan pelaksanaan pemujaan berdasarkan kepercayaan asli. Mayat dalam posisi duduk dibungkus dengan kain puluhan kain tenun Sumba yang bagus-bagus. dengan menggunakan sistim pengetahuan berdasarkan gejala yang diberikan oleh alam. baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. dari golongan bangsawan (maramba) semakin besar upacara yang dikehendaki untuk diselenggarakan. di samping adanya unsur pemujaan pada bulan dan matahari. Upacara kematian itu seringkali tertunda-tunda sehubungan dengan persiapan upacara yang membutuhkan dana yang besar. atas dasar kepercayaan terhadap warisan leluhur. Pada bulan ini mereka meramal tentang buruk-baiknya hasil panen pada musim yang akan datang. tumbuh-tumbuhan dan lainlain. na nia pakarawurungu. leluhur inilah yang telah menetapkan tata cara adat-istiadat yang berhubungan dengan kelahiran. orang Sumba mengenal istilah na mawulu tau na maji tau (yang menganyam manusia). upacara adalah kekayaan masyarakat Sumba. perekonomian dan sebagainya. Oleh karena itu. Orang Sumba sangat menghargai orang yang sudah meninggal. perkawinan. Semakin tinggi kedudukan seseorang didalam masyarakat. Karena beranggapan. di dalam kampung dan di luar kampung. lni ditandai dengan dikuburnya orang yang telah meninggal di depan rumah atau di tengah kampung. Ritus keagamaan ini. Rumah dan kampung tidak saja dipandang sebagai tempat berdiam tetapi juga sebagai tempat persekutuan dengan sesama marga. Gejala itu disaksikan pada cacing (nyale) yang keluar dari pantai laut dangkal berbatu yang penuh lumut.

Walaupun masyarakat Sumba sudah menganut agama nasrani. Tidak ada satu bidang kehidupan pun yang tidak diwarnai oleh adat istiadat dan kepercayaan ini. . Lantai 10. Gedung E. Hewan yang menjadi hidangan pesta ini merupakan hasil ternak penduduk. dalam sistem kepercayaan asli adalah pemujaan kepada nenek moyang yang merupakan salah satu unsur kepercayaan lama yang dikenal dengan istilah Marapu. Kesejahteraan atau kemalangan hidup ditentukan oleh taat tidaknya seseorang dalam pelaksanaan adat-istiadat.penyelenggaraan pesta adat tidak menjadi halangan.com Fotografer : Julianus Limbeng. Misal Upacara adat Woleka di desa Umbu Ngedo. Senayan Jakarta 10270 email : subditkomunitasadat@yahoo. Direktorat Jenderal Nilai Budaya Seni dan Film. Seluruh kehidupannya.1 end. Upacara untuk meminta ampun. dan rezeki pada arwah leluhur biasanya akan menghabiskan tak kurang dari 100 ekor kerbau. 25 Februari 2011 TANGGAL PELAKSANAAN PASOLA KODI 2011 DITETAPKAN RATO Link ke posting ini TANGGAL PELAKSANAAN PASOLA KODI 2011 DITETAPKAN RATO . sejak masih janin dalam rahim ibunya hingga meninggal. kampung (paraingu) dan kepercayaan (Marapu).11. tetapi masyarakat masih dipengaruhi oleh adat istiadat setempat seperti kepercayaan kepada Marapu yang disimbolkan kepada beberapa mahluk kepercayaan disekitar lingkungan tempat tinggal. Kehidupan dalam masyarakat dituntun oleh adat istiadat dan tidak dapat dipisahkan dari kepercayaan. Orang Sumba mengelompokan diri dalam persekutuan marga (kabihu). 2007. . Penutup Masyarakat Sumba secara umum. tercermin dari beranekaragam bentuk dan manifestasi religiusitas. Kepercayaan asli masyarakat tersebut. 100 ekor sapi. Sumber : Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Alamat Kompleks Depdiknas. berkat. Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Flavianus Dinong Diposkan oleh Ckhendha di 2/26/2011 07:13:00 AM Reaksi: 0 komentar Jumat. Sudirman. Kecamatan Kodi Bangedo yang dilaksanakan 40 tahun sekali menjadi salah satu bukti. salah satu bentuknya adalah kepercayaan kepada roh-roh nenek moyang yang dianggap mempunyai kekuatan yang berada diluar jiwa manusia. diwarnai oleh kepercayaan kepada Marapu. 200 ekor babi dan beberapa kuda.

tanda-tanda nyale di tujuh ekor ini berarti itu berlain-lainan.Pelaksanaan Pasola Kodi merupakan saat yang ditunggu banyak pihak pasalnya tradisi Pasola Kodi merupakan salah satu keunikan yang masih dipertahankan masyarakat Kodi Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD). Pelaksanaan . Sumber Moripanet Online di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan SBD mengatakan Untuk tahun 2011 pelaksananaan akan berlansung di 5 tempat.Camat. kalo dia belang bisa juga panen separuh bisa juga tidak namun bisa juga tetap jadi atau bisa juga ada yang tidak ada isi semua petak itu dll. Ada tanda-tanda tertentu sehingga tujuh ekor nyale saja yang harus diambil. proses ini cukup memakan waktu dan tidak bisa dijadwalkan reguler tanggal pelaksanaannya. Pelaksanaan seperti biasa akan di dimulai dengan pencarian Nyale (sejenis cacing laut) pada malam sebelum pelaksanaan Pasola. kalau hanya sedikit cacing tertangkap maka panen gagal. Danramil dan Kapolsek setempat serta Pokdarwis Sabtu (22/01/2011) pelaksanaan Pasola tahun 2011 pun ditetapkan. Salah satu hal yang unik karna penentuan waktu pelaksanaan pasola kodi tidak mudah karna para Rato adat di Kodi harus melihat posisi bulan dan cuaca. Untuk bulan Februari 2011 di Homba Kalayo. Bondo Kawango dan Rara Winyo. Sebaliknya. Akhirnya setelah para rato adat berunding kemudian melakukan pertemuan dengan Kepala Desa. Nusa Tenggara Timur hingga saat ini. sedangkan bulan Maret di Waiha dan Wainyapu. Banyaknya Nyale yang dikumpulkan dipercaya sebagai pertanda panenberhasil.

berbagai ritual adat sudah dijalankan. 26 Maret 2011 Wainyapu . Bupati Sumba Barat Daya. Jauh sebelum Pelaksanaan Pasola. Dr Kornelis K Mete menghimbau seluruh Pegawai Negeri Sipil dan warga SBD yang ingin menyaksikan Pasola Kodi agar datang menggunakan pakaian motif daerah SBD. Tanpa dendam. seperti sabtu siang (22/01/2011) dilaksanakan Kawoking yaitu sejenis tinju atau gulat lokal yang berlangsung di pantai Bokubani dan Tossi. (snd) Berikut jadwal lengkap pelaksanaan pasola KODI Tanggal Tempat Pelaksanaan 24 Februari 2011 Homba kalayo 27 Februari 2011 Bondo kawango. 28 Februari 2011 Rara Winyo. Diiringi pekikan kuda dan sorakan penonton. Setiap kelompok terdiri lebih dari 100 pemuda bersenjatakan tombak tumpul yang dibuat dari kayu berdiameter kira-kira1. Pasola sendiri adalah ³perang-perangan´ yang dilakukan oleh dua kelompok berkuda.5 cm. demi kemakmuran tanah.Nyale merupakan saat penting yang menentukan nasib panen mereka satu tauhn kedepan. 25 Maret 2011 Waiha. Lembing demi lembing dilempar supaya terkucur darah lawan. kegembiraan menggema saat lembing mengenai sasaran.

Most Sumbanese are Christian (Catholic and Protestant). The island of Sumba is well known of its sandlewood. Add caption It does not show still the effects of strong compression in contrast to islands of the outer arc system (Savu. horses. and a rainy season (December to April). These are the people could enter Sumba for either by flight or boat Sumba island covers an area of 11. typical hand woven textile (³ikat´). There are two entering point in to Sumba island from anywhere in the Lesser Waingapu & Waikabubak (Tambolaka). while the magmatic units make up a substantial part of the Late Cretaceous to Paleogene stratigraphy. . and still untouched beautiful beaches. it is one of the biggest island on the East Nusa Tenggara region beside Flores and Timor. or kings¶ graves and tombs. These are the people could enter Sumba for either by flight or boat. Timor). There are two entering point in to Sumba island from anywhere in the Lesser Waingapu & Waikabubak (Tambolaka). and part of them are still strongly keep their native and original religion called Marapu. It represents an isolated sliver of probable continental crust to the south of active volcanic islands (Sumbawa. ceremonies. impressive megalithic tombs. Most cultural objects are related to the Marapu religion such as the shape of traditional houses.000 people. Flores ) within the forearc basin (Fig. It is situated to the north of passage from the Java Trench (subduction front) to the Timor Through (collision front).Sumber : Dinas Pariwisata dan Kebudayaan SBD Diposkan oleh Ckhendha di 2/25/2011 07:57:00 PM Reaksi: 1 komentar Pasola Festival 2011 (Sumba Island) Link ke posting ini Pasola Festival 2011 Pasola Festival 2011 (Sumba Island) February and March 2011 Add caption The Pasola Horseback Fighting Festival in West Sumba Island of Indonesia The island of Sumba is well known of its sandalwoods.150 square km which is now populated by about 350. horses. and still untouched beautiful beaches. however. typical hand woven textile (³ikat´). impressive megalithic tombs. Roti. Sumba island has a great and unique position respect to the Sunda Banda archipelagoes. Generally the climate similar to other part of Indonesia where a dry season (May to November).1).

. The horses use for this ritual are usually ridden by braves and skilled selected men wearing traditional customs. and generally surrounded by impressive megalithic tombs. This covered by rectangle flat stone supported by four pillars about 1. The Megalithic tombs are made from the hard stone forming the megalithic shape. every year in February and March.5 meters high. It is divided into male and female section. Those who died in the Pasola arena are believed to have broken law of tradition the fasting month. The festival occurs during February in Lamboya and Kodi. for there are still other elements bound tightly behind it. Merapu. and are related to the social status. The people of Sumba believe that the ritual has a very close link to the habit of the people since it arranges the behavior and the habit of the people so that the balanced condition between the physical ± material needs and the mental ± spiritual needs can be easily created. In addition to it. Pasola is also believed to have close relation to the activity in agriculture field. or in other words the ritual is believed to be able to crystallize the habit and the opinion of the people so that they can live happily both in earth and in heaven.The Customary houses designed in high-peaked roof to store the heirlooms and store. and multihued sea worms ± Nyale. therefore any bloodshed (of sacrificial cattle or men participating in the game) is considered the symbol of prosperity that must exist. and as medium for their contact. The Megalithic tombs are actually located in the front of their houses. They riding their colorful decorated selected horses fling wooden spears at each other. cattle. In its wider and deeper meanings Pasola really not only is something worth looking on but also is something worth appreciating. buffaloes. Without blood Pasola mean nothing to them. Metal ornaments and jewelry are usually for wedding ceremonies. A primitive Sumbanese art objects strongly related with a social functions of Merapu belief. The carved stones and wood statues are representing the death. The Pasola Festival ( Horseback Fighting Festival of Sumba ) Pasola Festival is the name of ancient war ritual war festival by two groups of selected Sumbanese men. Their famous ceremony are the wedding and funerals. The precise date of the event decided by Rato during the Wulapodu (the month of Pasola the fasting month). The main activity starts several days after the full moon and coincides with the yearly arrival to the shore of strange. Pasola is derived from the word Sola or Hola meaning a kind of a long wooden stick used as a spear to fling each other by two opponent groups of horsemen. This traditional ceremony held in the way of uniquely and sympathetically traditional norms. and horses. where they usually sacrificed animals pigs.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful