P. 1
Metode Discovery Dalam Pembelajaran Fisika

Metode Discovery Dalam Pembelajaran Fisika

|Views: 1,009|Likes:
Published by dedefisika

More info:

Published by: dedefisika on Mar 31, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/06/2013

pdf

text

original

Metode Discovery dalam Pembelajaran Fisika

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan hasil kegiatan manusia berupa pengetahuan, gagasan, dan konsep yang terorganisasi tentang alam sekitarnya, yang diperoleh dari pengalaman melalui serangkaian proses ilmiah. Proses ini antara lain meliputi penyelidikan, penyusunan dan pengujian gagasan-gagasan. Selain itu mata pelajaran IPA adalah program untuk menanamkan dan mengembangkan keterampilan, sikap, dan nilai ilmiah pada siswa, serta mencintai dan menghargai kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa. Mata pelajaran Fisika Sekolah Menengah Atas (SMA) sebagai bagian dari mata pelajaran IPA di SMA merupakan kelanjutan pelajaran Fisika di Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang mempelajari sifat materi, gerak, dan fenomena lain yang ada hubungannya dengan energi. Selain itu, juga mempelajari keterkaitan konsep-konsep Fisika dengan kehidupan nyata dan pengembangan sikap dan kesadaran terhadap perkembangan ilmu pengetahuan alam dan teknologi beserta dampaknya. Mata pelajaran Fisika di SMA berfungsi sebagai : 1. memberikan bekal pengetahuan dasar untuk dapat diterapkan dalam kehidupan seharihari dan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, 2. mengembangkan dan menggunakan ketrampilan proses untuk memperoleh, menghayati, mengembangkan dan menerapkan konsep-konsep dan hukum-hukum serta asas-asas Fisika, 3. melatih siswa menggunakan metode ilmiah dalam memecahkan masalah yang dihadapinya, 4. meningkatkan kesadaran siswa tentang keteraturan alam dan keindahannya sehingga siswa terdorong untuk mencintai dan mengagungkan Tuhan Yang Maha Esa, 5. memupuk daya kreasi dan kemampuan bernalar, 6. menunjang pelajaran IPA lain (Biologi dan Kimia) dan mata pelajaran lainnya serta membantu siswa memahami gagasan atau informasi dalam teknologi. Bahan kajian mata pelajaran Fisika di SMA dikembangkan dari bahan kajian Fisika di SMP yang diperluas sampai kepada bahan kajian yang mengandung konsep-konsep yang abstrak dan dibahas secara kuantitatif analitis. Konsep dan subkonsep Fisika tersebut diperoleh dari berbagai kegiatan yang menggunakan keterampilan proses. Mata pelajaran Fisika di SMA bertujuan agar siswa mampu menguasai konsep-konsep Fisika dan saling berkaitan serta mampu menggunakan metode ilmiah yang dilandasi sikap ilmiah untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya sehingga lebih menyadari keagungan Tuhan Yang Maha Esa.

Hasil pengamatan di lapangan dalam proses pembelajaran fisika menunjukkan beberapa kendala, antara lain kurangnya partispasi guru dalam merancang dan menerapkan berbagai metode yang relevan dengan situasi kelas, sistem evaluasi yang tidak berdimensi diagnostik untuk mencari penyebab sulitnya siswa memahami mata pelajaran fisika, adanya motivasi yang rendah dalam diri siswa karena metode pembelajaran yang selama ini dikembangkan tidak membuat siswa itu sendiri tertarik dan merasa takjub bahwa fenomena fisika di sekitarnya begitu mempesona untuk dipelajari, dan masih banyaknya siswa yang terpaksa menghafal pelajaran karena penjelasan guru tidak membantu siswa untuk mendeskripsikan fisika secara benar. Tidak sedikit siswa yang merasa kesulitan ketika akan mengikuti pelajaran fisika. Hasil-hasil evaluasi belajar pun menunjukkan bahwa nilai rata-rata kelas di raport untuk pelajaran fisika seringkali merupakan nilai yang terendah dibandingkan dengan pelajaran pelajaran lain. Tanpa disadari, para pendidik atau guru turut memberikan kontribusi terhadap faktor yang menyebabkan kesan negatif siswa tersebut di atas. Kesalahan-kesalahan yang cenderung dilakukan para guru, khususnya guru fisika adalah sebagai berikut : 1. Seringkali, fisika disajikan hanya sebagai kumpulan rumus belaka yang harus dihafal mati oleh siswa, hingga akhirnya ketika evaluasi belajar, kumpulan tersebut campur aduk dan menjadi kusut di benak siswa. 2. Dalam menyampaikan materi kurang memperhatikan proporsi materi dan sistematika penyampaian, serta kurang menekankan pada konsep dasar, sehingga terasa sulit untuk siswa. 3. Kurangnya variasi dalam pengajaian serta jarangnya digunakan alat Bantu yang dapat memperjelas gambaran siswa tentang materi yang dipelajari. 4. Kecenderungan untuk mempersulit, bukannya mempermudah. Ini sering dilakukan agar siswa tidak memandang remeh pelajaran fisika serta pengajar atau guru fisika. Untuk mengatasi masalah ini diperlukan metode-metode pembelajaran yang mampu menolong dan relevan dengan kondisi siswa. Metode pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa agar sesuai dengan siswa yang memiliki motivasi tinggi, dan sesuai juga dengan siswa yang memiliki motivasi belajar yang rendah.Metode yang bukan saja memberikan kemudahan bagi siswa namun juga memudahkan kerja guru untuk menyampaikan pesan pembelajaran.Metode dapat berfungsi untuk memberikan pernyataan singkat dan rangsangan yang khusus mengenai isi materi dari mata pelajaran yang telah dipelajari dan contoh-contoh acuan yang mudah diingat untuk setiap konsep, prosedur atau prinsip yang diajarkan. Melihat pentingnya penggunaan metode pada setiap proses pembelajaran seperti yang dikemukakan di atas, maka penulis mencoba menguraikan kefektifan metode pembelajaran dalam membelajarkan fisika pada siswa. Selain itu, faktor, yang sangat menentukan prestasi belajar siswa adalah motivasi siswa itu sendiri untuk berprestasi.Sering dijumpai siswa yang memiliki intelegensi yang tinggi tetapi prestasi belajar yang dicapainya rendah, akibat kemampuan intelektual yang dimilikinya tidak/kurang berfungsi secara optimal.Salah satu faktor pendukung agar kemampuan intelektual yang dimiliki siswa dapat berfungsi secara optimal adalah adanya motivasi untuk berprestasi tinggi dalam dirinya. Kegiatan belajar sangat tergantung kepada motivasi dan karakteristik individu. Pembelajaran dengan metode discovery memberikan peluang yang lebih besar terhadap siswa yang mempunyai motivasi tinggi untuk mengembangkan kreatifitasnya dalam proses belajar, sebab metode ini menuntut siswa untuk menemukan dan memecahkan masalah yang dihadapi secara aktif.

Sementara itu pada pembelajaran diskusi kelompok siswa betul-betul dituntut perhatiannya kepada pelajaran, karena mereka harus mengkaitkaitkan materi pelajaran dan berusaha membeberkan atau mencetuskan pendapatnya sendiri.

PENDEKATAN DISCOVERY, INQUIRY, DAN STS DALAM PEMBELAJARAN FISIKA
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Fisika merupakan bagian dari Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang pada hakikatnya adalah ilmu dasar yang berkaitan erat dengan seluk-beluk kehidupan kita.Perkembangan ilmu fisika diawali dari sebuah pengamatan atau observasi.Ilmuwan-ilmuwan terdahulu mengamati fenomenafenomena alam yang terjadi, lalu berusaha menemukan pola dan prinsip yang menghubungkan fenomena-fenomena tersebut.Berdasarkan hasil pengamatan, selanjutnya para fisikawan melakukan penyelidikan atau percobaan. Proses tersebut dikenal dengan proses ilmiah. Dalam melakukan proses ilmiah, para fisikawan harus memiliki sikap-sikap ilmiah, antara lain jujur, tekun, kreatif, terbuka, memiliki keingintahuan yang besar, ulet, mau dikritik, dan lain-lain. Setelah melakukan beberapa penyelidikan ilmiah, akan didapatkan suatu kesimpulan yang biasanya dikenal dengan teori fisika. Apabila teori tersebut digunakan oleh masyarakat luas dan dipakai sebagai dasar dari teori-teori yang lain dinamakan hukum atau prinsip fisika. Mengapa kita belajar fisika? Menurut Freedman (2006), yaitu ³pertama, fisika adalah ilmu yang paling dasar dari ilmu pengetahuan. Kedua, fisika merupakan dasar dari semua ilmu relayasa dan teknologi´. Sebagian besar peristiwa yang kita alami erat kaitannya dengan ilmu fisika. Misalnya, mengapa saat kita berjalan di atas es lebih mudah tergelincir daripada berjalan di atas tanah?Bagaimana langit bisa berwarna biru?Dan sebagian besar teknologi yang muncul akhir-akhir ini seperti handphone dengan layar sentuh dan layanan 3G juga merupakan hasil dari penerapan ilmu fisika. ³Mempelajari fisika merupakan sebuah petualangan´ (Freedman, 2006). Berbagai macam perasaan akan muncul ketika kita belajar fisika. Terkadang kita akan merasa tertantang untuk menyelesaikan suatu persoalan. Ketika persoalan tersebut dapat terselesaikan, kita akan merasa puas dan senang bukan main. Namun, ketika kita tidak dapat menyelesaika persoalan tersebut, rasa frustasi akan menghampiri kita. Fisika dibangun di atas fondasi yang cukup kuat dari ilmuwan-ilmuwan besar seperti Gallileo, Einstein, Newton, dan Maxwell yang tanpa terasa telah mempengaruhi cara hidup dan cara berpikir kita dalam kehidupan sehari-hari. Bagian terpenting dalam pembelajaran fisika adalah bagaimana caranya agar kita dapat mengaplikasikan teori-teori tersebut ke dalam kegiatan sehari-hari. Namun, sebagian besar siswa jika ditanya pendapat mereka mengenai pelajaran fisika, dapat dipastikan mereka akan mengatakan bahwa fisika itu pelajaran yang paling sulit diantara pelajaran-pelajaran yang lain. Berdasarkan Badan Pusat Statistik SPMB-Lover terhadap 34 jumlah responden anggota SPMB-Lover yang mengikuti polling terhitung tanggal 13 Januari 2007 sampai 6 Maret 2007, 22 responden menyatakan mata pelajaran fisika merupakan mata pelajaran yang paling sulit untuk dipahami. Alasannya pun beragam seperti gurunya yang kurang

menguasai materi, sulit menurunkan rumus, dan sulit menganalisis soal.Oleh karena itu, penulis memberikan pendekatan-pendekatan dalam pembelajaran fisika agar para siswa dapat memahami teori-teori yang ada dalam fisika dan mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan. 1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah teori dan metode dalam belajar itu? 2. Bagaimanakah pendekatan discovery, inquiry, dan STS (Science technology Society) dalam pembelajaran fisika? 3. Apa kelebihan dari pendekatan discovery, inquiry, dan STS (Science technology Society) dalam pembelajaran fisika?

1.3 Tujuan
1. Menjelaskan teori-teori dan metode-metode dalam belajar. 2. Menjelaskan pendekatan discovery, inquiry dan STS (Science technology Society) dalam pembelajaran fisika. 3. Menjelaskan kelebihan-kelebihan dari pendekatan discovery, inquiry dan STS (Science technology Society) dalam pembelajaran fisika.

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Teori dan Metode Dalam Belajar

2.1.1 Teori Belajar Dalam makalah ini penulis akan membahas teori belajar yang meliputi teori Ausubel, Bruner, Gagne, dan teori Piaget. a) Teori Ausubel

Teori ini menekankan pada belajar bermakna.Maksud dari belajar bermakna disini ada dua, yaitu belajar bermakna secara penerimaan dan belajar bermakna secara penemuan.Secara penerimaan, siswa dapat mengubah atau memahami suatu materi dalam bentuk final yang didapatkannya dari guru yang bersangkutan.Sedangkan belajar bermakna secara penemuan, siswa diharapkan dapat menemukan sendiri informasi atau konsep-konsep yang berkaitan dengan materi yang ada. b) Teori Bruner

Bruner memandang manusia sebagai pemikir, pemroses, dan pencipta informasi. Suryo (2008) menyatakan ³Bruner menyimpulkan bahwa inti belajar adalah cara-cara bagaimana manusia memilih, mempertahankan, dan mentransformasikan informasi secara aktif³. Hal-hal yang memiliki kemiripan

atau kesamaan dapat dihubungkan satu sama lain sehingga dapat menghasilkan suatu pengertian yang utuh. c) Teori Gagne

Dalam teori ini, teori belajar dibedakan menjadi 8 tingkatan mulai dari yang tertinggi, yaitu pemecahan masalah (probem solving), belajar hukum-hukum (rule learning), belajar konsep (concept learning),discrimination learning, belajar ucapan (verbal learning), chaining, stimulusresponse learning dan belajar isyarat (signal learning). d) Teori Piaget

Dalam menjelaskan mengenai teori belajar, Piaget menggunakan istilah biologi yaitu asimilasi, akomodasi, dan ekuilibrasi. Akomodasi merupakan anak untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan.Dalam hal ini lingkungan menuntut anak untuk melakukan sesuatu. Asimilasi adalah kemampuan anak mengubah untuk memenuhi apa yang ia imajinasikan. Anak memiliki ide apa yang ia inginkan dan memodifikasi lingkungan untuk mencapai hal tersebut´ (Suryo, 2008). Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan secara sederhana bahwa akomodasi adalah kemampuan anak untuk menyesuaikan pikirannya dengan hal-hal baru yang semula belum ia dapatkan. Sedangkan asimilasi merupakan proses transformasi pengalaman pada pikirannya. Pada sembarang tahapan (stage) perkembangan, akomodasi atau asimilasi salah satu untuk sementara mendominasi dan baru kemudian digantikan oleh yang lain. 2.1.2 Metode Pembelajaran Dalam sebuah kegiatan belajar mengajar diperlukan sebuah metode yang efektif dan efisien agar proses belajar mengajar tersebut dapat berlangsung dengan baik. ³Metodologi mengajar adalah ilmu yang mempelajari cara-cara untuk melakukan aktivitas yang tersistem dari sebuah lingkungan yang terdiri dari pendidik dan peserta didik untuk saling berinteraksi dalam melakukan suatu kegiatan sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik dalam arti tujuan pengajaran tercapai´ (Martiningsih, 2007). Beberapa metode pembelajaran yang sering digunakan adalah sebagai berikut. 1) Metode Ceramah, yaitu metode pembelajaran dengan cara menyampaikan informasi atau materi secara langsung kepada siswa. Metode ini paling efektif dan ekonomis dalam hal kelangkaan atau jangkauan daya beli siswa terhadap sumber-sumber yang lain masih kurang. Kelebihan:
1. Guru mudah menguasai kelas. 2. Guru mudah menerangkan bahan pelajaran berjumlah besar.

3. Dapat diikuti anak didik dalam jumlah besar. 4. Mudah dilaksanakan.

Kekurangan:
1. Membuat siswa pasif. 2. Mengandung unsur paksaan kepada siswa. 3. Anak didik yang lebih tanggap dari visi visual akan menjadi rugi dan anak didik yang lebih tanggap auditifnya dapat lebih besar menerimanya. 4. Sukar mengontrol sejauhmana pemerolehan belajar anak didik. 5. Kegiatan pengajaran menjadi verbalisme (pengertian kata-kata). 6. Bila terlalu lama membosankan.

2) Metode diskusi, yaitu metode pembelajaran yang erat kaitannya dengan pemecahan masalah (problem solving). Metode ini dilakukan dengan cara membuat beberapa kelompok dan memberi sebuah persoalan untuk dipecahkan bersama-sama dengan kelompoknya masingmasing. Dengan demikian, diharapkan setiap siswa dapat mengeluarkan pendapatnya dan menyampaikan kepada teman-temannya. Kelebihan:
1. Menyadarkan anak didik bahwa masalah dapat dipecahkan dengan berbagai jalan. 2. Menyadarkan anak didik bahwa dengan berdiskusi sehingga menghasilkan kesimpulan yang lebih solid. 3. Membiasakan anak didik untuk mendengarkan pendapat orang lain sekalipun berbeda dengan pendapatnya dan membiasakan bersikap toleransi.

Kekurangan:
1. 2. 3. 4. Tidak dapat dipakai dalam kelompok yang besar. Peserta diskusi mendapat informasi yang terbatas. Dapat dikuasai oleh orang-orang yang suka berbicara. Biasanya orang menghendaki pendekatan yang lebih formal

3) Metode demonstrasi, yaitu metode pembelajaran dengan cara memperagakan suatu alat, barang , proses, atau kejadian secara langsung maupun lmelalui media yang berkenaam dengan materi yang akan disampaikan. Kelebihan:
1. Membantu anak didik memahami dengan jelas jalannya suatu proses atau kerja suatu benda. 2. Memudahkan berbagai jenis penjelasan. 3. Kesalahan-kesalahan yeng terjadi dari hasil ceramah dapat diperbaiki melalui pengamatan dan contoh konkret dengan menghadirkan obyek sebenarnya.

Kekurangan:

1. Anak didik terkadang sukar melihat dengan jelas benda yang akan dipertunjukkan. 2. Tidak semua benda dapat didemonstrasikan. 3. Sukar dimengerti bila didemonstrasikan oleh guru yang kurang menguasai apa yang didemonstrasikan.

4) Metode Eksperimen, yaitu metode pembelajaran dengan cara melakukan percobaanpercobaan yang dilakukan oleh siswa. Yohanes (2009) mengatakan bahwa ³metode ini mempunyai tujuan agar siswa mampu mencari dan menemukan sendiri berbagai jawaban atau persoalan-persoalan yang dihadapinya dengan mengadakan percobaan sendiri´. Selain itu, siswa dapat terlatih dalam cara berfikir yang ilmiah. Dengan melakukan eksperimen, siswa dapat membuktikan kebenaran dari teori-teori yang telah dipelajarinya. Kelebihan:
1. Membuat siswa lebih percaya atas kebenaran atau kesimpulan berdasarkan percobaannya. 2. Dalam membina siswa untuk membuat terobosan-terobosan baru dengan penemuan dari hasil percobaannya dan bermanfaat bagi kehidupan manusia. 3. Hasil-hasil percobaan yang berharga dapat dimanfaatkan untuk kemakmuran umat manusia.

Kekurangan:
1. Metode ini lebih sesuai untuk bidang-bidang sains dan teknologi. 2. Metode ini memerlukan berbagai fasilitas peralatan dan bahan yang tidak selalu mudah diperoleh dan kadangkala mahal. 3. Metode ini menuntut ketelitian, keuletan dan ketabahan. 4. Setiap percobaan tidak selalu memberikan hasil yang diharapkan karena mungkin ada faktorfaktor tertentu yang berada di luar jangkauan kemampuan atau pengendalian.

5) Metode karyawisata, yaitu ³suatu metode mengajar yang dirancang terlebih dahulu oleh pendidik dan diharapkan siswa membuat laporan dan didiskusikan bersama dengan peserta didik yang lain serta didampingi oleh pendidik, yang kemudian dibukukan´ (Yohanes, 2009). Kelebihan:
1. Karyawisata menerapkan prinsip pengajaran modern yang

memanfaatkan lingkungan nyata dalam pengajaran.
1. Membuat bahan yang dipelajari di sekolah menjadi lebih relevan dengan kenyataan dan kebutuhan yang ada di masyarakat. 2. Pengajaran dapat lebih merangsang kreativitas anak.

Kekurangan:
1. Memerlukan persiapan yang melibatkan banyak pihak. 2. Memerlukan perencanaan dengan persiapan yang matang.

3. Dalam karyawisata sering unsur rekreasi menjadi prioritas daripada tujuan utama, sedangkan unsur studinya terabaikan. 4. Memerlukan pengawasan yang lebih ketat terhadap setiap gerak-gerik anak didik di lapangan. 5. Biayanya cukup mahal. 6. Memerlukan tanggung jawab guru dan sekolah atas kelancaran karyawisata dan keselamatan anak didik, terutama karyawisata jangka panjang dan jauh.

2.3 Pembelajaran Fisika Pada hakikatnya fisika adalah ilmu eksperimental.Ilmu fisika merupakan kumpulan fakta, konsep, teori, dan hukum yang berkaitan erat dalam kehidupan sehari-hari.Objek fisika meliputi mempelajari karakter, gejala dan peristiwa yang terjadi atau terkandung dalam benda-benda mati atau benda yang tidak melakukan pengembangan diri. Fisika dipandang sebagai suatu proses dan sekaligus produk sehingga dalam pembelajarannya harus mempertimbangkan strategi atau metode pembelajaran yang efektif dan efisien. Oleh karena pada dasarnya fisika berkembang melalui pengamatan, penelitian, dan percobaan, maka metode praktikum lebih sesuai diterapkan dalam pembelajaran fisika.Hal ini dikarenakan melalui kegiatan praktikum, siswa tidak hanya melakukan olah tangan saja tetapi juga olah pikir. Telah kita ketahui bersama bahwa sebagian besar siswa SMP dan SMA mengatakan fisika merupakan pelajaran yang sulit jika dibandingkan dengan pelajaran-pelajaran yang lain. Banyak dari mereka merasa stress jika berhadapan dengan soal-soal fisika. Mereka mengaku kesulitan untuk menghafalkan rumus-rumus yang bertebaran di semua materi fisika.Padahal, dalam mempelajari fisika kita tidak dituntut untuk menghafalkan rumus-rumus yang ada melainkan lebih pada pemahaman konsep dasarnya. Pemahaman terhadap konsep dasar ini lebih penting karena apabila kita sudah memahami dengan benar konsepnya, maka rumus-rumusnya akan mengikuti dari belakang. Belajar fisika akan lebih menyenangkan apabila kita memahami hakikat fisika dalam kehidupan, pemanfaatannya, serta keindahan dalam mempelajarinya. Selain itu, diperlukan motivasi dan imajinasi yang tinggi dalam mempelajarinya.Kenapa harus berimajinasi?³Imajinasi lebih utama daripada pengetahuan.Pengetahuan bersifat terbatas.Imajinasi melingkupi dunia´ (Einstein, 1986).Motivasi yang tinggi dapat membantu kita untuk tetap semangat menghadapi berbagai macam kesulitan-kesulitan saat mengerjakan fisika. 2.2 Pendekatan Discovery, Inquiry, dan STS (Science Technology Society) 2.2.1 Pengertian Pendekatan Pembelajaran Menurut Sudrajat (2008) ³pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran yang sifatnya masih sangat umum, yang di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu´.

Sedangkan menurut Zaifbio (2009) ³pendekatan adalah titik tolak atau sudut pandang terhadap proses pembelajaran atau merupakan gambaran pola umum perbuatan guru dan peserta didik di dalam perwujudan kegiatan pembelajaran´. 2.2.2 Pendekatan Discovery dan Inquiry ³Pendekatan discovery merupakan pendekatan mengajar yang memerlukan proses mental, seperti mengamati, mengukur, menggolongkan, menduga, menjelaskan, dan mengambil kesimpulan´ (Suryo, 2008). Dalam pendekatan discovery ini siswa dituntut untuk lebih aktif terhadap berbagai macam informasi dan masukan-masukan untuk menambah pemahamannya.Dasar pikiran penggunaan discovery learning adalah belajar berinteraksi dengan lingkungan secara aktif dan dapat menciptakan sendiri suatu kerangka kognitif bagi diri sendiri.Sumber munculnya discovery learning adalah teori belajar Piaget, yaitu anak harus berperan secara aktif di dalam kelas. Inqury atau penyelidikan mengandung proses mental yang lebih tinggi, misalnya merumuskan problem, merancang eksperimen, melaksanakan eksperimen, mengumpulkan data, menganalisis data, dan membuat kesimpulan. Berdasarkan hal tersebut dapat dilihat bahwa inquiry ini selaras dengan teori belajar yang ditemukan oleh Brunner.Pada pendekatan inquiry, siswa mengajukan masalah sendiri sesuai dengan pengarahan guru lalu memulai percobaan dan mengambil kesimpulan dari percobaan tersebut.Pendekatan inquiry harus memenuhi empat kriteria yaitu kejelasan, kesesuaian ketepatan dan kerumitannya. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa inquiry lebih cocok digunakan di kelas-kelas tinggi dengan kematangan psikologis yang cukup.Dan discovery dapat digunakan pada kelas yang lebih rendah. 2.3.3 Pendekatan STS (Science Technology Society) Seorang guru berperan penting dalam suatu pembelajaran terutama dalam menghadapi era globalisasi yang memberikan perubahan-perubahan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi.Agar siswa dapat membuat suatu kesimpulan yang bertanggungjawab terhadap isu-isu sosial yang sedang terjadi, biasanya guru meminta kepada siswa untuk membawa artikel-artikel tentang sains, teknologi dan penggunaannya dalam masyarakat di dalam kelas sains. Dengan kata lain siswa diberi pengarahan dan kesempatan yang cukup, agar mereka dapat meneliti isu-isu itu dengan cara mengumpulkan fakta-fakta, merumuskan pendapat-pendapat mereka, dan mengambil kesimpulan dari fakta-fakta yang ada. Uraian di atas dapat kita artikan sebagai pendekatan STS (Science technology Society) karena pendekatan ini selalu mengaitkan antara sains, teknologi, serta penggunaan sains dan teknologi itu dalam masyarakat. Dengan penggunaan pendekatan itu di dalam pembelajaran fisika maka dalam proses pembelajarannya, kita mempunyai konsekuensi bahwa selain kita menanamkan pemahaman siswa terhadap konsep-konsep atau prinsip-prinsip fisika, kita perlu juga menanamkan pemahaman siswa terhadap teknologi yang berkaitan dengan konsep itu, dan kemungkinan penggunaannya di lingkungan masyarakat atau dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, guru yang menyajikan materi fisika dengan menggunakan pendekatan STS perlu memperhatikan beberapa hal, di antaranya deskripsi materi fisika yang akan disajikan, deskripsi

teknologi yang berkaitan dengan materi fisika, penggunaan teknologi itu di dalam masyarakat, dan kemungkinan adanya sikap serta permasalahan yang timbul akibat dari penggunaan teknologi itu di dalam masyarakat. 2.3 Kelebihan Pendekatan Discovery, Inquiry dan STS (Science technology Society) Dalam Pembelajaran Fisika
1. Mata pelajaran dapat diajarkan secara efektif dalam bentuk intelektual yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak. Hal tersebut terjadi karena discovery diberikan dengan cara yang bermakna, dari konkrit ke yang abstrak, dan pengajaran ditekankan pada pengertian yang fundamental. Dalam pelaksanaannya, guru hendaknya memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menemukan arti sendiri dari suatu materi asalkan pengertian tersebut masih sesuai dengan teori yang ada. 2. Hasil belajar lebih mengakar, mudah dan cepat ditransfer dalam kehidupan sehari-hari, serta berdaya guna untuk meningkatkan kemampuan penalaran yang baik bagi peserta didik.

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan 1. Teori belajar ada 4, yaitu teori Ausubel yang menekankan pada belajar bermakna, teori Bruner yang memandang manusia sebagai pemikir, pemroses, dan pencipta informasi, teori Gagne yang membagi teori belajar menjadi 8 tingkatan dan teori Piaget yang dalam menjelaskan mengenai teori belajar menggunakan istilah biologi yaitu asimilasi, akomodasi, dan ekuilibrasi. 2. Metode pembelajaran yang sering digunakan ada 5 yaitu metode ceramah, metode diskusi, metode demonstrasi, metode eksperimen, dan metode karyawisata. 3. Pada hakikatnya fisika adalah ilmu eksperimental. Ilmu fisika merupakan kumpulan fakta, konsep, teori, dan hukum yang berkaitan erat dalam kehidupan sehari-hari. 4. Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran yang sifatnya masih sangat umum Di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. 5. Pendekatan discovery merupakan pendekatan mengajar yang memerlukan proses mental, seperti mengamati, mengukur, menggolongkan, menduga, menjelaskan, dan mengambil kesimpulan. 6. Pendekatan STS (Science technology Society) merupakan pendekatan yang selalu mengaitkan antara sains, teknologi, serta penggunaan sains dan teknologi itu dalam masyarakat. DAFTAR PUSTAKA

Sudrajat, Akhmad.2008. Pengertian Pendekatan Strategi Metode Teknik Taktik dan Model Pembelajaran,(Online), (http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/09/12/pengertianpendekatan-strategi-metode-teknik-taktik-dan-model-pembelajaran.html, diakses 02 November 2009). Suryo, Roy.2008.Pendekatan Discovery, Inquiry, dan STS Dalam Pembelajaran Fisika,(Online), (http://raysuryo.wordpress.com/2008/02/01/pendekatan-discovery-inquiry-dan-sts-dalampembelajaran-fisika.html, diakses 02 November 2009). Zaifbio.2009.Pendekatan Pembelajaran,(Online), (http://zaifbio.wordpress.com/2009/07/01/pendekatan-pembelajaran.html, diakses 02 november 2009). Yohanes.2009.Metode Pembelajaran, (Online), (http://yastaki56.spaces.live.com/Blog/cns!669E85C7CBD2F075!946.html, diakses 02 November 2009). Young & Freedman.2006.Fisika Universitas.Jakarta : Erlangga.
(Kode PENDMIPA-0023) : Pembelajaran Fisika Menggunakan Pendekatan Ketrampilan Proses Ditinjau Dari Kemampuan Pemahaman Konsep Terhadap Kemampuan Kognitif Siswa Pada Pokok Bahasan Kinematika Gerak Lurus SMA Tahun Ajaran X BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan suatu kegiatan yang universal dalam kehidupan manusia. Pendidikan bagi manusia adalah proses, menemukan, menjadi dan memperkembangkan diri sendiri dalam keseluruhan dimensi kepribadian. Dalam dunia pendidikan formal tidak lepas dari proses pendidikan yaitu proses belajar mengajar. Pokok dari proses pendidikan adalah siswa yang belajar. Adapun fungsi pendidikan adalah untuk membimbing anak kearah suatu tujuan yang bernilai tinggi yaitu agar anak tersebut bertambah pengetahuan dan ketrampilannya serta memiliki sikap yang benar (Tabrani, 1989:15). Pendidikan yang baik adalah usaha yang berhasil membawa semua anak didik kepada tujuan yang diharapkan. Untuk itulah guru dituntut untuk merencanakan dan melaksanakan proses belajar mengajar berdasarkan GBPP kurikulum SMA Mata Pelajaran Fisika. Untuk menjalankan fungsi tersebut beberapa unsur pokok GBPP yakni konsep dan subkonsep, tujuan pembelajaran menjadi titik tolak pengembangan kegiatan belajar mengajar dan dalam aplikasinya untuk pemilihan buku pegangan siswa yang relevan. Unsur yang tercakup dalam pendidikan sekolah (pengajaran), meliputi subyek didik (guru, siswa dan tenaga kependidikan non guru), tujuan, bahan, pendekatan, metode-strategi teknik, peralatan, penilaian, administrasi, dan pengaruh lingkungan yang perlu dijalin dalam tata hubungan yang serasi, saling mempengaruhi serta saling tergantung, yang kesemuanya berorientasi dan hendaknya berdampak

positif bagi pembentukan diri siswa (Pendekatan sistem). Bahan pengajaran sebagai salah satu unsur yang tercakup dalam komponen pendidikan, dalam usaha untuk meningkatkan mutu kualitas pengajaran maka bahan pengajaran perlu ditingkatkan dalam proses penyampaian dan penyusunannya dalam pengajaran. Bahan yang disampaikan dalam pengajaran fisika haruslah menyesuaikan dengan kurikulum. Pendidikan fisika menekankan pada pemberian pengalaman secara langsung dalam arti bekerja ilmiah sebagai lingkup proses. Dalam hal ini siswa perlu dibantu untuk mengembangkan sejumlah ketrampilan proses untuk memahami perilaku atau gejala alam. Ketrampilan proses ini meliputi ketrampilan mengamati dengan indera, ketrampilan menggunakan alat dan bahan, merencanakan eksperimen, mengajukan pertanyaan, menggolongkan, menafsirkan data dan mengkomunikasikan hasil temuan untuk menguji gagasangagasan atau memecahkan masalah. Berdasarkan hal itu maka seseorang guru harus mampu melaksanakan pembelajaran secara efektif dan efisien.Disamping itu, guru dituntut untuk memiliki kemampuan melibatkan siswa secara aktif selama kegiatan pembelajaran berlangsung dan kemampuan untuk menciptakan suasana yang menunjang tercapainya tujuan pembelajaran. Proses belajar mengajar (PBM) merupakan salah satu aktivitas pendukung bagi seorang pendidik yang sadar akan tujuan pembelajaran atau instruksional disamping tujuan kurikuler yang dapat dirumuskan dan ditetapkan sebelum berlangsungnya proses belajar mengajar yang termuat dengan jelas dan tegas pada Satuan Acara Pembelajaran (SAP). Namun demikian, masih banyak proses belajar mengajar belum dapat mencapai hasil optimal dalam keseluruhan tujuan tersebut. Umpamanya pada setiap ujian komprehensif masih ada sebagaian siswa yang mengalami kesulitan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan penguji yang menghendaki jawaban yang aplikatif atau demonstratif, seperti praktikum laboratorium.Kondisi tersebut menuntut lembaga pendidikan untuk melakukan pembaharuan dalam metode pengajarannya. Konsep metodologi pengajaran yang baik adalah multimethod, terutama adalah penggunaan metode demonstrasi dan tanya jawab yang berkesinambungan dan menyeluruh sebagai upaya pencapaian tujuan instruksional, yaitu unsur kognitif. Metode merupakan salah satu faktor penting dalam proses belajar mengajar guna mencapai tujuan pengajaran. Tujuan pengajaran itu terdiri atas unsur kognitif, unsur afektif dan unsur psikomotorik.Variasi metode juga sangat mempengaruhi model mengajar seorang pendidik. Berfungsinya metode demonstrasi dalam proses belajar mengajar memungkinkan tercapainya tujuan pengajaran unsur kognitif. Sedangkan penerapan pembelajaran metode diskusi informasi dapat dilaksanakan baik dalam kegiatan pembelajaran tatap muka maupun pembelajaran yang dimediakan.Metode pembelajaran diskusi informasi juga dapat diterapkan pada berbagai bidang studi.Dapat dilakukan pula antara guru dengan seluruh kelas, guru dengan sekelompok siswa, siswa dengan siswa dalam kelompok, dan siswa dengan siswa dalam kelas.Dengan demikian, yang dapat menjadi pemimpin diskusi tidak hanya guru, tetapi lebih baik jika guru memimbing siswa agar mampu memimpin diskusi.Kalau demikian guru dikatakan berhasil. Tiga kategori kognitif pertama termasuk dalam tingkatan kognitif rendah dan ketiga kategori terakhir termasuk dalam tingkatan kognitif tinggi sedangkan pertanyaan yang berkaitan dengan ketrampilan berpikir siswa yaitu pertanyaan yang diajukan oleh guru selama pembelajaran yang dapat memacu siswa untuk berpikir, sehingga siswa tersebut dapat mengetahui, memahami, menerapkan, menganalisis, mensintesis, mengevaluasi materi pelajaran atau informasi sehingga akhirnya menemukan kemungkinan-kemungkinan jawaban yang tepat berkaitan dengan permasalahan yang dihadapi. Pada

akhirnya, pendekatan ketrampilan proses melalui metode demonstrasi dan diskusi diharapkan dapat tercapainya prestasi belajar yang tinggi dan tercapainya tujuan pembelajaran secara efektif. Sehubungan dengan hal tersebut, penulis terdorong untuk melakukan penelitian dengan judul : PEMBELAJARAN FISIKA MENGGUNAKAN PENDEKATAN KETRAMPILAN PROSES DITINJAU DARI KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEP TERHADAP KEMAMPUAN KOGNITIF SISWA PADA POKOK BAHASAN KINEMATIKA GERAK LURUS SMA TAHUN AJARAN XXXX/XXXX B. Identifikasi Masalah Berdasarkan apa yang telah diuraikan dalam latar belakang masalah maka dapat diidentifikasi permasalahannya sebagai berikut : 1. Pendidikan bagi manusia adalah proses, menemukan, menjadi dan memperkembangkan diri sendiri dalam keseluruhan dimensi kepribadian. 2. Unsur yang tercakup dalam pendidikan sekolah meliputi subjek didik guru, siswa, dan tenaga pendidikan non guru), tujuan, bahan, pendekatan, metode-teknik, peralatan, penilaian, administrasi dan pengaruh lingkungan. 3. Pendidikan fisika menekankan pada pemberian pengalaman secara langsung dalam arti bekerja ilmiah sebagai lingkup proses. 4. Metode merupakan salah satu faktor penting dalam proses belajar mengajar guna mencapai tujuan pengajaran. C. Pembatasan Masalah Masalah pada penelitian dibatasi pada hal sebagai berikut : 1. Aspek pemahaman konsep merupakan aspek yang mengacu pada kemampuan makna materi yang dipelajari. 2. Pendekatan dalam pengajaran yang digunakan adalah ketrampilan proses dan dalam menyampaikan materi pelajaran menggunakan metode demonstrasi dan metode diskusi. 3. Prestasi belajar yang dibatasi pada pencapaian peningkatan kemampuan kognitif siswa melalui seperangkat tes tentang kinematika gerak lurus. 4. Materi yang disampaikan dalam penelitian ini yaitu pokok bahasan kinematika gerak lurus. D. Perumusan Masalah Masalah dalam penelitian penulis rumuskan sebagai berikut : 1. Adakah perbedaan pengaruh antara siswa yang mempunyai tingkat kemampuan pemahaman konsep tinggi dan rendah terhadap kemampuan kognitif siswa ? 2. Adakah perbedaan pengaruh pendekatan ketrampilan proses metode diskusi dan metode demonstrasi terhadap kemampuan kognitif siswa ? 3. Adakah interaksi pengaruh antara tingkat kemampuan pemahaman konsep dengan pendekatan ketrampilan proses terhadap kemampuan kognitif siswa ? E. Tujuan Penelitian Penelitian bertujuan umtuk mengetahui : 1. Ada tidaknya perbedaan pengaruh antara siswa yang mempunyai tingkat kemampuan pemahaman

konsep tinggi dan rendah terhadap kemampuan kognitif siswa. 2. Ada tidaknya perbedaan pengaruh pendekatan ketrampilan proses metode diskusi dan metode demonstrasi terhadap kemampuan kognitif siswa. 3. Ada tidaknya interaksi pengaruh antara tingkat kemampuan pemahaman konsep dengan pendekatan ketrampilan proses terhadap kemampuan kognitif siswa. F. Kegunaan Penelitian Adapun kegunaan penelitian adalah : 1. Menambah wawasan penulis 2. Memberi gambaran tentang pentingnya penerapan pendekatan dalam pengajaran yang tepat dengan metode demonstrasi dan diskusi informasi sehingga mampu meningkatkan kemampuan kognitif siswa. 3. Sebagai masukan dalam meningkatkan mutu proses belajar mengajar di SMA khususnya dalam pengajaran fisika pada pokok bahasan kinematika gerak lurus.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->