P. 1
Laporan Praktikum Mekanika Fluida Teori Bernoulli

Laporan Praktikum Mekanika Fluida Teori Bernoulli

|Views: 2,026|Likes:
Published by Hendriawan Kurniadi

More info:

Published by: Hendriawan Kurniadi on Mar 31, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/03/2013

pdf

text

original

LAPORAN PRAKTIKUM MEKANIKA FLUIDA

H.04-B
TEORI BERNOULLI



KELOMPOK 5

Bram Timoteus Setiadi P (0906630216)
Hendriawan Kurniadi (0906630292)
Mohammad Mahdi Fathoni (0906555840)
Muhammad Rizky Hadi P (0906630405)
Reza Gulam MustaIa (0906630456)
Visarah Hanny Panian L (0906552946)

Tanggal praktikum : 19 Maret 2011
Asisten praktikum : Resky Agaslian
Tanggal disetuiui :
Nilai :
ParaI asisten :

LABORATORIUM HIDROLIKA, HIDROLOGI, DAN SUNGAI
DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK 2011
TEORI BERNOULLI

A. %ujuan Praktikum
Menyelidiki keabsahan teori Bernoulli pada aliran dalam pipa bundar dengan
perubahan diameter.

. %eori Dasar
Hukum Bernoulli menyatakan bahwa
'Jumlah tinggi tempat, tinggi tekanan dan tinggi kecepatan pada setiap titik dari suatu
aliran zat cair ideal selalu mempunyai harga konstan¨

Sehubungan dengan aliran dalam pipa pada dua penampang, persamaan Bernoulli
tersebut dapat ditulis secara matematis sebagai berikut:

ˢ
1
2
Ŷ˧
+
˜
1
µ˧
+ ˴
1
=
ˢ
2
2
Ŷ˧
+
˜
2
µ˧

2


di mana:
v
2
2g
÷ tinggi kecepatan
P
pg
÷ tinggi tekanan
z ÷ tinggi tempat
indeks 1,2 ÷ menuniukkan titik tiniauan
v ÷ kecepatan aliran
g ÷ percepatan gravitasi

Pada alat percobaan ini:
z
1
÷ z
2
, karena pipa benda uii terletak horizontal.
P ÷ p g h atau h ÷ P / p g, di mana h menuniukkan tinggi pada manometer.

Jadi bila mengikuti teori Bernoulli, maka:
Total head (H) ÷
v
2
2g
¹ h, konstan pada semua penampang sepaniang pipa.

. Alat dan ahan
Stopwatch
Meia hidrolika
Alat peraga teori Bernoulli
Tabung pengukur volume



D. ara Kerja
1. Meletakkan alat percobaan horizontal pada saluran tepi di atas meia hidrolika
dengan mengatur kaki penyangga.
2. Menguhubungkan alat dengan aliran suplai dari meia hidrolika dan mengarahkan
aliran yang keluar dari uiung outlet pipa benda uii melalui pipa lentur ke dalam
tangki pengukur volume.
3. Mengisi semua tabung manometer denga air, hingga tidak ada algi gelembung
udara yang terlihat pada manometer.
4. Mengatur dengan seksama suplai air dan kecepatan aliran melalui katup pengatur
aliran alat dan katup suplai pada meia hidrolika, sehingga diperoleh pembacaan
yang ielas pada tabung manometer. Jika diperlukan, menambahkan tekanan pada
manometer dengan menggunakan pompa tangan.
5. Mencatat semua pembacaan skala tekanan pada tabung manometer. Menggeser
sumbat (hipodermis) pada setiap penampang pipa benda uii. Mencatat pembacaan
manometer (ingat Iungsi hipodermis)
6. Mengukur debit yang melewati benda uii dengan bantuan stopwatch dan tangki
pengukur volume pada meia hidrolika.
7. Mengulangi langkah 1-6 untuk berbagai vatiasi debit (statis tinggi dan statis
rendah).

. %ugas
Turunkan persamaan Bernoulli dan tuliskan asumsi-asumsi yang digunakan!
Jawab:
Teori Bernoully: 'Jumlah tinggi tempat, tinggi tekanan, dan tinggi kecepatan pada
setiap titik dari suatu aliran zat cair ideal selalu mempunyai harga yang konstan.¨

Gambar 3. Partikel yang bergerak sepaniang stremline.





n
s
dA
v
8adlus kurva (8)
SLreamllne
dS
/ /s g . . . o
/ /s
S
P
P ¦
'
+

'

¯
¯
+

x
0
/s
s
h
/h .
¯
¯
=
Dari gambar di atas didapat :
Cos 0 ÷

Asumsi 1 : Viskositas zat cair diabaikan (Tidak ada Tegangan Geser ÷ nvisci/
Flow)
Artinya : Tegangan geser akibat kecepatan kemiringan tidak berpengaruh ( Tegangan
Geser ·· perubahan tekanan )
L F ÷ m . a
P. dA -
¦
'
+

'

¯
¯
+ /s
s
P
P . / - cos 0 ÷ m . a
P. dA - ¦
'
+

'

¯
¯
+ /s
s
P
P . / - cos . . . . / /s g o 0 ÷ Ý. /s. /. a
s
.. (i)
Dimana : a
s
÷ a
x
;
a
s
÷
x
u
w
x
u
v
x
u
u
t
u
¯
¯
+
¯
¯
+
¯
¯
+
¯
¯
. . .
m ÷ Ý . Jolume
m ÷ Ý . /s. /
W ÷ m . g
W ÷ Ý . /s. / . g

Asumsi 2 : v ÷ w u ÷ v
Artinya, di sini kita hanya meniniau terhadap sumbu x.
Kondisi dalam keadaan Stea/ Flow: 0 =
¯
¯
t
u
s x ¯ = ¯
Asumsi 3:
a
s
÷
x
u
w
x
u
v
x
u
u
t
u
¯
¯
+
¯
¯
+
¯
¯
+
¯
¯
. . .
a
s
÷
x
u
u
t
u
¯
¯
+
¯
¯
. ÷
s
u
v
¯
¯
. a
s
÷
s
v
v
¯
¯
.
Pada sepaniang streamline a
s
÷
s
u
v
¯
¯
.

Sehingga persamaan (i) meniadi:
.
s
h
¯
¯
/s
s
h
/h .
¯
¯
=
P. dA - ¦
'
+

'

¯
¯
+ /s
s
P
P . / / - cos . . . . / /s g o 0 ÷ Ý. /s. /. a
s
...kalikan dengan
¦
¦
'
+

'

/s /.
1


s
P
¯
-
s
P
¯
-
s
P
¯
¯
-
s
h
g
¯
¯
. . o ÷ Ý.
s
v
v
¯
¯
.
-
s
P
¯
¯
-
s
h
g
¯
¯
. . o ÷ Ý.
s
v
v
¯
¯
. ..(ii)
Asumsi 4 : Konstan pada densitasnya (rapat massa)
¦
'
+

'

=
¯
¯
0
s
o

s
v
v
¯
¯
. ÷
s
v
v
¯
¯ ) 2 / (
.
2

Sehingga persamaan (ii) meniadi:
-
s
P
¯
¯
-
s
h
g
¯
¯
. . o ÷ Ý.
s
v
v
¯
¯
. . kalikan dengan
¦
¦
'
+

'

o
1


¦
¦
'
+

'

+ +
¯
¯
h g
P v
s
.
2
2
o
÷ 0

Maka bisa diartikan:

¦
¦
'
+

'

+ + h g
P v
.
2
2
o
÷ konstan

2
2
2
2
1
1
2
1
.
2
.
2
h g
P v
h g
P v
+ + = + +
o o


2
2
2
2
1
1
2
1
2 2
h
g
P
g
v
h
g
P
g
v
+ + = + +
o o
terbukti

. Analisis
Analisa Percobaan
Pertama-tama alat percobaan diletakkan secara horizontal di atas meia hidrolika
agar z
1
÷ z
2
, lalu saluran suplai air dari meia hidrolika dihubungkan ke alat,
sedangkan saluran aliran keluar dari alat diarahkan ke dalam tangki pengukur
volume. Memilih sebarang kecepatan aliran, asalkan permukaan air tetap berada
di dalam manometer, tidak melewati batas bawah dan atas dari manometer,
sehingga mendapatkan sebarang pembacaan manometer yang ielas. Gelembung
udara harus dikeluarkan, karena udara mempunyai properti yang berbeda dengan
air yang digunakan dalam praktikum ini, sehingga gelembung udara akan
menyumbangkan deviasi tambahan iika tidak dikeluarkan. Mencatat semua skala
manometer, pada semua posisi hipodermis untuk mengetahui head pada posisi
yang berbeda di dalam pipa. Mengukur volum yang melewati pipa per satuan
waktu, untuk mendapatkan debit ai
r yang mengalir di dalam pipa.

Data hasil percobaan
a) Manometer Reading
low Rate (l/s)
Manometer Reading (cm)
Pt.1 Pt.2 Pt.3 Pt.4 Pt.5 Pt.6 Pt.8
0,27 22 20,5 9,5 15 17,5 18,5 19,5
0,25 20 18,5 7,5 13 15,5 16,5 18,5
0,273333333 16,3 14,8 3,6 9 11,5 12,5 13,3
0,263333333 15,5 14,3 3 8,5 11 12,2 13,2
0,266666667 24 22,5 11,3 16,8 19,5 20,6 21,5

b) Total Head
low Rate (l/s)
Manometer Reading at %ube No.7 at various Points (cm)
Pt.1 Pt.2 Pt.3 Pt.4 Pt.5 Pt.6 Pt.8
0,27 25 24,7 24,5 23 23 23 22,5
0,25 22,7 22,5 22,3 20,5 21 21 20,5
0,273333333 19,4 18,9 18,8 16,5 17,2 17 17
0,263333333 18,5 18,6 18,5 16,8 17 16,5 16
0,266666667 26,6 26,4 26 24,2 25 24,8 24,2


Analisa hasil
Rumus yang digunakan:
ˤH = ˮoˮoˬ ˨˥oˤ J˩ˤ˥ ˨˥oˤ
˓ =
1
4
n ˖
2

ˢ = .Ŷ ˧ ˤH
˝ = ˢ ˓
˥rror =
|0-0pc¡cobuun|
0
ŵŴŴ%

a) Pt.1
dH (m) D (m) A (m2) V (m/s) Q (m3/s) Qpercobaan (m3/s) error (º)
0,03 0,028 0,00061544 0,7672 0,00047 0,000270 42,816871
0,027 0,028 0,00061544 0,72783 0,00045 0,000250 44,1886014
0,031 0,028 0,00061544 0,77988 0,00048 0,000273 43,0522552
0,03 0,028 0,00061544 0,7672 0,00047 0,000263 44,2288001
0,026 0,028 0,00061544 0,71423 0,00044 0,000267 39,3337937

No X Y X
2
Y
2
XY
1 0,7672 42,8169 0,5886 1833,28 32,8492
2 0,72783 44,1886 0,52974 1952,63 32,1619
3 0,77988 43,0523 0,60822 1853,5 33,5758
4 0,7672 44,2288 0,5886 1956,19 33,9325
5 0,71423 39,3338 0,51012 1547,15 28,0933
L 3.75635 213.62 2.82528 9142.75 160.613

I =
(X˲ X˳) (n X˲˳)
(X˲)
2
(n X˲
2
)

I = ŷ8,8ŶŹŷŹŴŹź

o =
(X˲ X˳) +(X˲ X˲˳)
(X˲)
2
(n X˲
2
)

o = ŵŷ,ŹŹŹŻŸ8Żź





ƹ 38Ŧ823x + 13Ŧ336
8² ƹ 0Ŧ3036
39
40
41
42
43
44
43
0Ŧ71 0Ŧ72 0Ŧ73 0Ŧ74 0Ŧ73 0Ŧ76 0Ŧ77 0Ŧ78 0Ŧ79
e
r
r
o
r

(
Ʒ
)
V (m/s)
Lrror vs V pada ptŦ1
b) Pt.2
dH (m) D (m) A (m2) V (m/s) Q (m3/s) Qpercobaan (m3/s) error (º)
0,042 0,021 0,000346185 0,90777 0,00031 0,000270 14,0825515
0,04 0,021 0,000346185 0,88589 0,00031 0,000250 18,4822348
0,041 0,021 0,000346185 0,89689 0,00031 0,000273 11,9675231
0,043 0,021 0,000346185 0,91851 0,00032 0,000263 17,1840742
0,039 0,021 0,000346185 0,87475 0,0003 0,000267 11,94

No X Y X
2
Y
2
XY
1 0,90777 14,0826 0,82404 198,318 12,7837
2 0,88589 18,4822 0,7848 341,593 16,3732
3 0,89689 11,9675 0,80442 143,222 10,7336
4 0,91851 17,1841 0,84366 295,292 15,7837
5 0,87475 11,94 0,76518 142,564 10,4445
L 4.48381 73.6564 4.0221 1120.99 66.1187

I =
(X˲ X˳) (n X˲˳)
(X˲)
2
(n X˲
2
)

I = ŹŹ,Źźŵ8ŸŶ8ŵ

o =
(X˲ X˳) +(X˲ X˲˳)
(X˲)
2
(n X˲
2
)

o = ŷŹ,Ŵ9ŸŸŶźŹŶ






ƹ 33Ŧ362x Ŵ 33Ŧ094
8² ƹ 0Ŧ1028
0
2
4
6
8
10
12
14
16
18
20
0Ŧ87 0Ŧ88 0Ŧ89 0Ŧ9 0Ŧ91 0Ŧ92 0Ŧ93
e
r
r
o
r

(
Ʒ
)
V (m/s)
Lrror vs V pada ptŦ2
c) Pt.3
dH (m) D (m) A (m2) V (m/s) Q (m3/s) Qpercobaan (m3/s) error (º)
0,15 0,014 0,00015386 1,71552 0,00026 0,000270 2,2922909
0,148 0,014 0,00015386 1,70404 0,00026 0,000250 4,64709661
0,152 0,014 0,00015386 1,72692 0,00027 0,000273 2,87161882
0,155 0,014 0,00015386 1,74387 0,00027 0,000263 1,85577321
0,147 0,014 0,00015386 1,69828 0,00026 0,000267 2,05512883

No X Y X
2
Y
2
XY
1 1,71552 2,29229 2,943 5,2546 3,93246
2 1,70404 4,6471 2,90376 21,5955 7,91885
3 1,72692 2,87162 2,98224 8,24619 4,95905
4 1,74387 1,85577 3,0411 3,44389 3,23624
5 1,69828 2,05513 2,88414 4,22355 3,49018
L 8.58863 13.7219 14.7542 42.7637 23.5368

I =
(X˲ X˳) (n X˲˳)
(X˲)
2
(n X˲
2
)

I = ŶŹ,ŵŻŶ99Ÿ8Ż

o =
(X˲ X˳) +(X˲ X˲˳)
(X˲)
2
(n X˲
2
)

o = ŸŹ,98ŸźŻŶŶ8






ƹ Ŵ23Ŧ173x + 43Ŧ983
8² ƹ 0Ŧ1661
0
0Ŧ3
1
1Ŧ3
2
2Ŧ3
3
3Ŧ3
4
4Ŧ3
3
1Ŧ69 1Ŧ7 1Ŧ71 1Ŧ72 1Ŧ73 1Ŧ74 1Ŧ73
e
r
r
o
r

(
Ʒ
)
V (m/s)
Lrror vs V pada ptŦ3
d) Pt.4
dH (m) D (m) A (m2) V (m/s) Q (m3/s) Qpercobaan (m3/s) error (º)
0,08 0,0168 0,000221558 1,25284 0,00028 0,000270 2,72952225
0,075 0,0168 0,000221558 1,21305 0,00027 0,000250 6,98100237
0,075 0,0168 0,000221558 1,21305 0,00027 0,000273 1,70077074
0,083 0,0168 0,000221558 1,27611 0,00028 0,000263 6,8615366
0,074 0,0168 0,000221558 1,20494 0,00027 0,000267 0,11157838

No X Y X
2
Y
2
XY
1 1,25284 2,72952 1,5696 7,45029 3,41965
2 1,21305 6,981 1,4715 48,7344 8,46833
3 1,21305 1,70077 1,4715 2,89262 2,06313
4 1,27611 6,86154 1,62846 47,0807 8,75608
5 1,20494 0,11158 1,45188 0,01245 0,13445
L 6.16 18.3844 7.59294 106.17 22.8416

I =
(X˲ X˳) (n X˲˳)
(X˲)
2
(n X˲
2
)

I = ŹŴ,ŵŸŷŹ8ŹŻŶ

o =
(X˲ X˳) +(X˲ X˲˳)
(X˲)
2
(n X˲
2
)

o = Ź8,Ŵ999ŻŸŷ






ƹ 30Ŧ144x Ŵ 38Ŧ1
8² ƹ 0Ŧ2497
0
1
2
3
4
3
6
7
8
1Ŧ2 1Ŧ21 1Ŧ22 1Ŧ23 1Ŧ24 1Ŧ23 1Ŧ26 1Ŧ27 1Ŧ28
e
r
r
o
r

(
Ʒ
)
V (m/s)
Lrror vs V pada ptŦ4
e) Pt.5
dH (m) D (m) A (m2) V (m/s) Q (m3/s) Qpercobaan (m3/s) error (º)
0,055 0,0196 0,000301566 1,0388 0,00031 0,000270 13,8111436
0,055 0,0196 0,000301566 1,0388 0,00031 0,000250 20,1955033
0,057 0,0196 0,000301566 1,05752 0,00032 0,000273 14,2915051
0,06 0,0196 0,000301566 1,08499 0,00033 0,000263 19,5179722
0,055 0,0196 0,000301566 1,0388 0,00031 0,000267 14,8752035

No X Y X
2
Y
2
XY
1 1,0388 13,8111 1,0791 190,748 14,347
2 1,0388 20,1955 1,0791 407,858 20,979
3 1,05752 14,2915 1,11834 204,247 15,1135
4 1,08499 19,518 1,1772 380,951 21,1768
5 1,0388 14,8752 1,0791 221,272 15,4523
L 5.2589 82.6913 5.53284 1405.08 87.0686

I =
(X˲ X˳) (n X˲˳)
(X˲)
2
(n X˲
2
)

I = Ź8,ŶŷŶŸŶ8Żŷ

o =
(X˲ X˳) +(X˲ X˲˳)
(X˲)
2
(n X˲
2
)

o = ŸŸ,ŻŴ9ŷ98ŹŹ






ƹ 38Ŧ232x Ŵ 44Ŧ709
8² ƹ 0Ŧ1484
0
3
10
13
20
23
1Ŧ03 1Ŧ04 1Ŧ03 1Ŧ06 1Ŧ07 1Ŧ08 1Ŧ09
e
r
r
o
r

(
Ʒ
)
V (m/s)
Lrror vs V pada ptŦ5
I) Pt.6
dH (m) D (m) A (m2) V (m/s) Q (m3/s) Qpercobaan (m3/s) error (º)
0,045 0,0224 0,000393882 0,93963 0,00037 0,000270 27,0471417
0,045 0,0224 0,000393882 0,93963 0,00037 0,000250 32,4510571
0,045 0,0224 0,000393882 0,93963 0,00037 0,000273 26,1464891
0,043 0,0224 0,000393882 0,91851 0,00036 0,000263 27,2125652
0,042 0,0224 0,000393882 0,90777 0,00036 0,000267 25,4188815

No X Y X
2
Y
2
XY
1 0,93963 27,0471 0,8829 731,548 25,4142
2 0,93963 32,4511 0,8829 1053,07 30,4919
3 0,93963 26,1465 0,8829 683,639 24,568
4 0,91851 27,2126 0,84366 740,524 24,995
5 0,90777 25,4189 0,82404 646,12 23,0744
L 4.64516 138.276 4.3164 3854.9 128.544

I =
(X˲ X˳) (n X˲˳)
(X˲)
2
(n X˲
2
)

I = 89,Ź8ŵ9Ŷŵŵ9

o =
(X˲ X˳) +(X˲ X˲˳)
(X˲)
2
(n X˲
2
)

o = ŹŹ,Źź9ŶŶŸ9Ÿ






ƹ 89Ŧ382x Ŵ 33Ŧ369
8² ƹ 0Ŧ2341
0
3
10
13
20
23
30
33
0Ŧ903 0Ŧ91 0Ŧ913 0Ŧ92 0Ŧ923 0Ŧ93 0Ŧ933 0Ŧ94 0Ŧ943
e
r
r
o
r

(
Ʒ
)
V (m/s)
Lrror vs V pada ptŦ6
g) Pt.8
dH (m) D (m) A (m2) V (m/s) Q (m3/s) Qpercobaan (m3/s) error (º)
0,03 0,028 0,00061544 0,7672 0,00047 0,000270 42,816871
0,02 0,028 0,00061544 0,62642 0,00039 0,000250 35,1530148
0,037 0,028 0,00061544 0,85202 0,00052 0,000273 47,8737461
0,028 0,028 0,00061544 0,74119 0,00046 0,000263 42,2713236
0,027 0,028 0,00061544 0,72783 0,00045 0,000267 40,4678415

No X Y X
2
Y
2
XY
1 0,7672 42,8169 0,5886 1833,28 32,8492
2 0,62642 35,153 0,3924 1235,73 22,0205
3 0,85202 47,8737 0,72594 2291,9 40,7894
4 0,74119 42,2713 0,54936 1786,86 31,331
5 0,72783 40,4678 0,52974 1637,65 29,4538
L 3.71466 208.583 2.78604 8785.43 156.444

I =
(X˲ X˳) (n X˲˳)
(X˲)
2
(n X˲
2
)

I = Źź,ŷŶŵŴ9ŷ8ŷ

o =
(X˲ X˳) +(X˲ X˲˳)
(X˲)
2
(n X˲
2
)

o = Ŵ,ŵŶźŶŵŹź9




ƹ 36Ŧ321x Ŵ 0Ŧ1262
8² ƹ 0Ŧ9922
0
10
20
30
40
30
60
0 0Ŧ2 0Ŧ4 0Ŧ6 0Ŧ8 1
e
r
r
o
r

(
Ʒ
)
V (m/s)
Lrror vs V pada ptŦ8
Berdasarkan hukum Bernoulli, tekanan Iluida dengan kecepatan aliran Iluida itu
berbanding terbalik, dengan kata lain peningkatan kecepatan aliran, akan
mengakibatkan menurunnya teakanan, dan begitu pula sebaliknya, penurunan
kecepatan Iluida, akan mengakibatkan meningkatnya tekanan Iluida. Debit air
yang mengalir di sepaniang pipa adalah tetap, karena pipa tidak bocor, tetapi luas
penampang berbeda untuk setiap titik, tiniau rumus berikut:

˝ = ˢ ˓

Dengan:
Q ÷ debit (m
3
/s)
V ÷ kecepatan aliran Iluida (m/s)
A ÷ luas penampang (m
2
)

Jika debit tetap, tetapi luas penampang berubah, maka kecepatan aliran iuga akan
berubah berbanding terbalik dengan luas penampang, dengan kata lain iika luas
penampang bertambah luas, maka kecepatan akan berkurang, sebaliknya iika luas
penampang bertambah kecil, maka kecepatan akan meningkat.

Jika konsep debit tersebut dikombinasikan dengan hukum Bernoulli, maka dapat
diambil kesimpulan bahwa luas penampang berbanding lurus dengan tekanan.
Hal tersebut sesuai dengan hasil praktikum ini, dapat terlihat bahwa penurunan
luas penampang dari Pt.1 hingga Pt.3 berakibat turunnya tekanan, dan naiknya
luas penampang dari Pt.3 hingga Pt.8 berakibat naiknya tekanan.

Dengan naiknya debit, maka kecepatan iuga naik untuk luas penampang yang
sama, maka seharusnya tekanan menurun. Pada praktikum ini ternyata tidak
selalu teriadi demikian, karena saat debit aliran air diubah, tekanan iuga berubah.
Hal ini bisa diterangkan sebagai akibat pengaruh tekanan terhadap debit air
menurut rumus:
P v ÷ n R T

"
v =
P Q/A ÷ n R T
Dapat terlihat pula bahwa Q berbanding lurus terhadap dH, dengan kata lain
peningkatan dH akan berakibat pada peningkatan Q, sebaliknya penurunan dH,
akan berakibat pada penurunan Q, namun pada praktikum ini, dH tidak selalu
berbanding lurus dengan Q
percobaan
. Hal ini disebabkan oleh beberapa Iaktor yang
menyebabkan adanya deviasi pada percobaan ini.

Dapat terlihat dari kesalahan relatiI yang sudah didapatkan, bahwa semakin kecil
luas penampang, semakin kecil pula kesalahan relatiInya.

Analisa Kesalahan
Deviasi yang teriadi pada hasil praktikum ini, disebabkan oleh beberapa Iaktor,
yang dapat berasal dari manusia (praktikan), alat (instrumen pengukur), atau yang
tidak dapat diidentiIikasi asal dan penyebabnya (kesalahan acak).

Kesalahan praktikan adalah kesalah yang berasal dari praktikan, seperti kesalahan
pembacaan skala manometer & gelas ukur, kurang tepatnya timing saat
pengukuran debit, misalnya air sudah masuk ke dalam gelas ukur sebelum
stopwatch dimulai yang mengakibatkan volume yang terukur terlalu besar,
kurang tepatnya posisi iarum hipodermis di dalam pipa.

Kesalahan instrumen adalah kesalahan yang berasal dari alat yang digunakan
pada praktikum, misalnya debit air yang tidak konstan, sehingga permukaan air di
dalam manometer naik-turun yang menyebabkan kebingungan saat pembacaan
skala manometer, kurang telitinya skala pada gelas ukur, sehingga teriadi
pembulatan volume Iluida.

Kesalahan acak adalah kesalahan yang masih tersisa selain kesalahan praktikan
dan kesalahan instrumental. Kesalahan ini tidak teridentiIikasi penyebab dan
asalnya.




Seperti yang sudah diketahui bahwa hukum Bernoulli ini hanya berlaku pada
Iluida ideal. Fluida ideal adalah Iluida yang tidak memiliki gesekan antar molekul
Iluida, inviscid (sangat cair, sama sekali tidak dapat menahan gaya geser),
homogen (memiliki properti sama di setiap bagiannya), incompressible (tidak
dapat dimampatkan), tidak terpengaruh suhu. Tetapi Iluida yang digunakan dalam
praktikum ini tentu saia bukanlah Iluida ideal, yang merupakan Iaktor tambahan
penyumbang kesalahan relatiI.

. Kesimpulan
Sebenarnya teori bernoulli berlaku, tetapi hanya pada Iluida ideal (inviscid, tidak ada
gesekan antar molekul Iluida, homogen, incompressible, tidak terpengaruh suhu). Pada
praktikum ini, tidak digunakan Iluida ideal, sehingga waiar saia iika teramati perilaku
Iluida yang sedikit menyimpang dari hukum Bernoulli.

H. Referensi
Modul praktikum mekanika Iluida.


















AMPIRAN

















You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->