P. 1
ASKEP+BAYI+HIPERBILIRUBINEMIA

ASKEP+BAYI+HIPERBILIRUBINEMIA

|Views: 234|Likes:
Published by pitoooh

More info:

Published by: pitoooh on Mar 31, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/13/2014

pdf

text

original

ASKEP BAYI HIPERBILIRUBINEMIA Pendahuluan Ikterus merupakan suatu gejala yang sering ditemukan pada Bayi Baru Lahir

(BBL). Menurut beberapa penulis kejadian ikterus pada BBL berkisar 50 % pada bayi cukup bulan dan 75 % pada bayi kurang bulan. Perawatan Ikterus berbeda diantara negara tertentu, tempat pelayanan tertentu dan waktu tertentu. Hal ini disebabkan adanya perbedaan pengelolaan pada BBL, seperti pemberian makanan dini, kondisi ruang perawatan, penggunaan beberapa propilaksi pada ibu dan bayi, fototherapi dan transfusi pengganti. Asuhan keperawatan pada klien selama post partum juga terlalu singkat, sehingga klien dan keluarga harus dibekali pengetahuan, ketrampilan dan informasi tempat rujukan, cara merawat bayi dan dirinya sendiri selama di rumah sakit dan perawatan di rumah. Perawat sebagai salah satu anggota tim kesehatan mempunyai peranan dalam memberikan asuhan keperawatan secara paripurna. Tulisan ilmiah ini bertujuan untuk : 1. Agar perawat memiliki intelektual dan mampu menguasai pengetahuan dan keterampilan terutama yang berkaitan dengan asuhan keperawatan pada klien dan keluarga dengan bayi Ikterus (Hiperilirubinemia), 2. Agar Perawat mampu mempersiapkan klien dan keluarga ikut serta dalam proses perawatan selama di Rumah Sakit dan perewatan lanjutan di rumah. Atas dasar hal tersebut diatas maka penulis menyusun tulisan ilmiah dengan judul ”Asuhan Keperawatan dan Aplikasi Discharge Planing pada klien dengan Bayi Hiperbilirubinemia”

KONSEP DASAR A. Definisi 1. Ikterus Fisiologis Ikterus pada bayi yang baru lahir tidak selamanya merupakan kejadian patologis. Ikterus pada bayi adalah ikterus dengan kejadian yang fisiologis yang biasanya memiliki ciri-ciri sebagai berikut : • • • Timbul pada hari kedua-ketiga Kadar Biluirubin Indirek setelah 2 x 24 jam tidak melewati 15 mg% pada neonatus cukup bulan dan 10 mg % pada kurang bulan. Kecepatan peningkatan kadar Bilirubin tak melebihi 5 mg % per hari Kadar Bilirubin direk kurang dari 1 mg %

5. 3. Kern Ikterus Adalah suatu kerusakan otak akibat perlengketan Bilirubin Indirek pada otak terutama pada Korpus Striatum. Talamus. Gangguan fungsi Hati yang disebabkan oleh beberapa mikroorganisme atau toksin yang dapat langsung merusak sel hati dan darah merah seperti infeksi . Ikterus Patologis / Hiperbilirubinemia Adalah suatu keadaan dimana kadar Bilirubin dalam darah mencapai suatu nilai yang mempunyai potensi untuk menimbulkan Kern Ikterus kalau tidak ditanggulangi dengan baik. Peningkatan produksi : Hemolisis. diol (steroid). dan Nukleus pada dasar Ventrikulus IV.• Ikterus hilang pada 10 hari pertama . Kelainan kongenital (Rotor Sindrome) dan Dubin Hiperbilirubinemia. Nukleus Subtalamus. 20 (beta) . Nukleus merah . atau mempunyai hubungan dengan keadaan yang patologis. serta jumlah tempat ikatan Albumin (Albumin binding site). 2. Utelly menetapkan 10 mg% dan 15 mg%. sehingga kadar Bilirubin Indirek meningkat misalnya pada berat badan lahir rendah. Gangguan ekskresi yang terjadi intra atau ekstra Hepatik. Hipokampus.(Hanifa. dan 15 mg % pada bayi kurang bulan. Kurangnya Enzim Glukoronil Transeferase . 3. 1987) 2. Frekuensi dan jumlah konjugasi tergantung dari besarnya hemolisis dan kematangan hati. Defisiensi G6PD ( Glukosa 6 Phospat Dehidrogenase ). misal pada Inkompatibilitas yang terjadi bila terdapat ketidaksesuaian golongan darah dan anak pada penggolongan Rhesus dan ABO. B. Siphilis. Ikatan Bilirubin dengan protein terganggu seperti gangguan metabolik yang terdapat pada bayi Hipoksia atau Asidosis . Gangguan transportasi akibat penurunan kapasitas pengangkutan misalnya pada Hipoalbuminemia atau karena pengaruh obat-obat tertentu misalnya Sulfadiasine. 4. Metabolisme Bilirubin Segera setelah lahir bayi harus mengkonjugasi Bilirubin (merubah Bilirubin yang larut dalam lemak menjadi Bilirubin yang mudah larut dalam air) di dalam hati. Pada bayi yang normal dan sehat serta cukup bulan. Etiologi 1. hatinya sudah . Toksoplasmosis. Ikterus ASI yang disebabkan oleh dikeluarkannya pregnan 3 (alfa). Brown menetapkan Hiperbilirubinemia bila kadar Bilirubin mencapai 12 mg% pada cukup bulan. Pendarahan tertutup misalnya pada trauma kelahiran. Peningkatan sirkulasi Enterohepatik misalnya pada Ileus Obstruktif C.

Patofisiologi Hiperbilirubinemia Peningkatan kadar Bilirubin tubuh dapat terjadi pada beberapa keadaan. Pada umumnya dianggap bahwa kelainan pada saraf pusat tersebut mungkin akan timbul apabila kadar Bilirubin Indirek lebih dari 20 mg/dl. Hal ini terjadi jika cahaya yang diabsorsi jaringan mengubah Bilirubin tak terkonjugasi menjadi dua isomer yang disebut Fotobilirubin. Meningkatkan Badan Serum Albumin 4. Asidosis. sifat ini memungkinkan terjadinya efek patologis pada sel otak apabila Bilirubin tadi dapat menembus sawar darah otak. Menurunkan Serum Bilirubin Metode therapi pada Hiperbilirubinemia meliputi : Fototerapi. Fototherapi Fototherapi dapat digunakan sendiri atau dikombinasi dengan Transfusi Pengganti untuk menurunkan Bilirubin. Keadaan lain yang memperlihatkan peningkatan kadar Bilirubin adalah apabila ditemukan gangguan konjugasi Hepar atau neonatus yang mengalami gangguan ekskresi misalnya sumbatan saluran empedu. Kelainan yang terjadi pada otak disebut Kernikterus. Memaparkan neonatus pada cahaya dengan intensitas yang tinggi ( a bound of fluorencent light bulbs or bulbs in the blue-light spectrum) akan menurunkan Bilirubin dalam kulit. Pada derajat tertentu Bilirubin ini akan bersifat toksik dan merusak jaringan tubuh. Polisitemia. Fotobilirubin bergerak dari jaringan ke pembuluh darah . Pengobatan mempunyai tujuan : 1. Bilirubin Indirek akan mudah melalui sawar darah otak apabila bayi terdapat keadaan Berat Badan Lahir Rendah . E. Infus Albumin dan Therapi Obat. 1991). Hal ini dapat terjadi apabila kadar protein Y dan Z berkurang. Menghilangkan Antibodi Maternal dan Eritrosit Tersensitisasi 3. Gangguan pemecahan Bilirubin plasma juga dapat menimbulkan peningkatan kadar Bilirubin tubuh. dan Hipoglikemia ( Markum. Hal ini dapat ditemukan bila terdapat peningkatan penghancuran Eritrosit. Hipoksia. Kejadian yang sering ditemukan adalah apabila terdapat penambahan beban Bilirubin pada sel Hepar yang berlebihan.matang dan menghasilkan Enzim Glukoronil Transferase yang memadai sehingga serum Bilirubin tidak mencapai tingkat patologis. Menghilangkan Anemia 2. Fototherapi menurunkan kadar Bilirubin dengan cara memfasilitasi eksresi Biliar Bilirubin tak terkonjugasi. ©2003 Digitized by USU digital library 3 ©2003 Digitized by USU digital library 4 D. Toksisitas terutama ditemukan pada Bilirubin Indirek yang bersifat sukar larut dalam air tapi mudah larut dalam lemak. atau pada bayi Hipoksia. maka manejemen bayi dengan Hiperbilirubinemia diarahkan untuk mencegah anemia dan membatasi efek dari Hiperbilirubinemia. Transfusi Pengganti. Mudah tidaknya kadar Bilirubin melewati sawar darah otak ternyata tidak hanya tergantung pada keadaan neonatus. Penatalaksanaan Medis Berdasarkan pada penyebabnya.

5 mg / dl pada minggu pertama. Hasil Fotodegradasi terbentuk ketika sinar mengoksidasi Bilirubin dapat dikeluarkan melalui urine. Hemoglobin kurang dari 12 gr / dl. Penyakit Hemolisis berat pada bayi baru lahir. Fotobilirubin kemudian bergerak ke Empedu dan diekskresi ke dalam Deodenum untuk dibuang bersama feses tanpa proses konjugasi oleh Hati (Avery dan Taeusch. Obat ini efektif baik diberikan pada ibu hamil untuk beberapa hari sampai beberapa minggu sebelum melahirkan. 1984). Penggunaan penobarbital pada post natal masih menjadi pertentangan karena efek sampingnya (letargi).melalui mekanisme difusi. Colistrisin dapat mengurangi Bilirubin dengan mengeluarkannya lewat urine sehingga menurunkan siklus Enterohepatika. . Penyakit Hemolisis pada bayi saat lahir perdarahan atau 24 jam pertama. 8. 9. Titer anti Rh lebih dari 1 : 16 pada ibu. Neonatus yang sakit dengan berat badan kurang dari 1000 gram harus di Fototherapi dengan konsentrasi Bilirubun 5 mg / dl. 2. Bayi dengan Hidrops saat lahir. 2. Beberapa ilmuan mengarahkan untuk memberikan Fototherapi Propilaksis pada 24 jam pertama pada Bayi Resiko Tinggi dan Berat Badan Lahir Rendah. Mengatasi Anemia sel darah merah yang tidak Suseptible (rentan) terhadap sel darah merah terhadap Antibodi Maternal. Tes Coombs Positif 5. Therapi Obat Phenobarbital dapat menstimulasi hati untuk menghasilkan enzim yang meningkatkan konjugasi Bilirubin dan mengekresinya. Ikterus yang timbul pada 24 jam pertama. Menghilangkan sel darah merah untuk yang Tersensitisasi (kepekaan) 3. Serum Bilirubin Indirek lebih dari 20 mg / dl pada 48 jam pertama.8 jam kadar Bilirubin harus dicek. Penggolongan Hiperbilirubinemia berdasarkan saat terjadi Ikterus: 1. 4. 6. setiap 4 . 3. 7. tetapi tidak dapat mengubah penyebab Kekuningan dan Hemolisis dapat menyebabkan Anemia. ©2003 Digitized by USU digital library 5 Secara umum Fototherapi harus diberikan pada kadar Bilirubin Indirek 4 -5 mg / dl. Bayi pada resiko terjadi Kern Ikterus. Di dalam darah Fotobilirubin berikatan dengan Albumin dan dikirim ke Hati. Fototherapi mempunyai peranan dalam pencegahan peningkatan kadar Bilirubin. Tranfusi Pengganti Transfusi Pengganti atau Imediat diindikasikan adanya faktor-faktor : 1. Kadar Bilirubin Direk lebih besar 3. Rh negatif whole blood. Meningkatkan Albumin bebas Bilirubin dan meningkatkan keterikatan dengan Bilirubin Pada Rh Inkomptabiliti diperlukan transfusi darah golongan O segera (kurang dari 2 hari). Darah yang dipilih tidak mengandung antigen A dan antigen B yang pendek. Hemoglobin harus diperiksa setiap hari sampai stabil. Transfusi Pengganti digunakan untuk : 1. Menghilangkan Serum Bilirubin 4.

Ikterus yang timbul 24 . Pemeriksaan laboratorium yang perlu dilakukan: Pemeriksaan Bilirubin berkala. atau golongan lain. Infeksi. 2. Hemolisis perdarahan tertutup ( pendarahan subaponeurosis. pendarahan Hepar. Siphilis dan kadang-kadang Bakteri) Kadang-kadang oleh Defisiensi Enzim G6PD. Sepsis. Infeksi Intra Uterin (Virus. sub kapsula dll). Ikterus yang timbul pada akhir minggu pertama dan selanjutnya: Karena ikterus obstruktif.Penyebab Ikterus terjadi pada 24 jam pertama menurut besarnya kemungkinan dapat disusun sbb: Inkomptabilitas darah Rh. 4. ABO atau golongan lain.72 jam sesudah lahir. biakan darah atau biopsi Hepar bila perlu. Test Coombs. . 3. Biasanya Ikterus fisiologis. Polisetimia. Pengaruh obat-obat. Hepatitis Neonatal. Golongan darah ibu dan bayi. Ikterus yang timbul sesudah 72 jam pertama sampai akhir minggu pertama. Darah tepi lengkap. Pemeriksaan skrining defisiensi G6PD. Galaktosemia. Pemeriksaan lain bila perlu. Pemeriksaan yang perlu dilakukan: Kadar Bilirubin Serum berkala. Sindroma Gilbert. Pemeriksaan darah Bilirubin berkala. Toksoplasma. Defisiensi Enzim G6PD. Hipotiroidisme Breast milk Jaundice. Sindroma Criggler-Najjar. Masih ada kemungkinan inkompatibilitas darah ABO atau Rh. Defisiensi Enzim G6PD atau Enzim Eritrosit lain juga masih mungkin. Dehidrasi dan Asidosis. Hal ini diduga kalau kenaikan kadar Bilirubin cepat misalnya melebihi 5mg% per 24 jam. Pemeriksaan skrining Enzim G6PD. Bila keadaan bayi baik dan peningkatannya cepat maka pemeriksaan yang perlu dilakukan: Pemeriksaan darah tepi.

Diagnosa Keperawatan. orang tua dapat mengekspresikan ketidak mengertian proses Bounding. Intervensi : Bawa bayi ke ibu untuk disusui. Pengkajian Psikososial : Dampak sakit anak pada hubungan dengan orang tua. ASUHAN KEPERAWATAN Untuk memberikan keperawatan yang paripurna digunakan proses keperawatan yang meliputi Pengkajian. untuk . fototherapi. Polisitemia. 3. Tujuan : Cairan tubuh neonatus adekuat Intervensi : Catat jumlah dan kualitas feses. beri air diantara menyusui atau memberi botol. Infeksi. dan Intervensi Berdasarkan pengkajian di atas dapat diidentifikasikan masalah yang memberi gambaran keadaan kesehatan klien dan memungkinkan menyusun perencanaan asuhan keperawatan. pertahankan suhu antara 35. buka tutup mata saat disusui. apakah mengenal keluarga lain yang memiliki yang sama. Pallor Konvulsi. Perencanaan. apakah orang tua merasa bersalah. Diagnosa Keperawatan : Kurangnya volume cairan berhubungan dengan tidak adekuatnya intake cairan. 2. Riwayat orang tua : Ketidakseimbangan golongan darah ibu dan anak seperti Rh. pantau intake output. A. cek tanda-tanda vital tiap 2 jam.Pemeriksaan darah tepi. 3. Obstruksi Pencernaan dan ASI. perpisahan dengan anak. Pemeriksaan Fisik : Kuning. Hematoma. masalah Bonding. Skrining Enzim G6PD. pantau bilirubin direk dan indirek . tingkat pendidikan.37 °Intervensi : Beri suhu lingkungan yang netral. masase daerah yang menonjol. 4.5 C. pantau turgor kulit. Masalah yang diidentifikasi ditetapkan sebagai diagnosa keperawatan melalui analisa dan interpretasi data yang diperoleh. Biakan darah. Pengetahuan Keluarga meliputi : Penyebab penyakit dan pengobatan. Iritabilitas. Pengkajian 1. jaga kebersihan kulit dan kelembabannya. refleks menyusui yang lemah. ABO. 2. perawatan lebih lanjut. 1. rubah posisi setiap 2 jam. biopsi Hepar bila ada indikasi. 4. dan diare. Hipotonik. kemampuan mempelajari Hiperbilirubinemia (Cindy Smith Greenberg. Letargi. Diagnosa Keperawatan : Peningkatan suhu tubuh (hipertermi) berhubungan dengan efek fototerapi Tujuan : Kestabilan suhu tubuh bayi dapat dipertahankan °. DiagnosaKeperawatan . Pelaksanaan dan Evaluasi. menangis melengking. 1988) B. Tujuan . Diagnosa Keperawatan : Gangguan integritas kulit berhubungan dengan hiperbilirubinemia dan diare Tujuan : Keutuhan kulit bayi dapat dipertahankan Intervensi : Kaji warna kulit tiap 8 jam. Diagnosa Keperawatan : Gangguan parenting berhubungan dengan pemisahan Tujuan : Orang tua dan bayi menunjukan tingkah laku “Attachment” .

Aplikasi Discharge Planing. proses terapi dan perawatannya. 1994): 1. libatkan orang tua dalam perawatan bila memungkinkan. dapat mengidentifikasi gejalagejala untuk menyampaikan pada tim kesehatan Intervensi : Kaji pengetahuan keluarga klien. selama dan sesudah tranfusi. 2. C. Beri pendidikan kesehatan mengenai cara perawatan bayi dirumah. 5. Diagnosa Keperawatan : Risiko tinggi trauma berhubungan dengan efek fototherapi Tujuan : Neonatus akan berkembang tanpa disertai tanda-tanda gangguan akibat fototherapi Intervensi : Tempatkan neonatus pada jarak 45 cm dari sumber cahaya. apatis. anjurkan orangtua untuk mengajak bicara anaknya. neonatus puasa 4 jam sebelum tindakan. kejang. ajak bicara dan beri sentuhan setiap memberikan perawatan. biarkan neonatus dalam keadaan telanjang kecuali mata dan daerah genetal serta bokong ditutup dengan kain yang dapat memantulkan cahaya. Pertumbuhan dan perkembangan serta perubahan kebutuhan bayi dengan hiperbilirubin (seperti rangsangan. Tujuan : Orang tua mengerti tentang perawatan. apnoe. dan kontak sosial) selalu menjadi tanggung jawab orang tua dalam memenuhinya dengan mengikuti aturan dan gambaran yang diberikan selama perawatan di Rumah Sakit dan perawatan lanjutan dirumah. gelisah. siapkan suction bila diperlukan. matikan lampu. latihan. 6. Anjurkan ibu mengungkapkan/melaporkan bila bayi mengalami gangguangangguan kesadaran seperti : kejang-kejang. beri pendidikan kesehatan penyebab dari kuning. Diagnosa Keperawatan : Risiko tinggi trauma berhubungan dengan tranfusi tukar Tujuan : Tranfusi tukar dapat dilakukan tanpa komplikasi Intervensi : Catat kondisi umbilikal jika vena umbilikal yang digunakan. pantau tandatanda vital. Diagnosa Keperawatan : Kecemasan meningkat berhubungan dengan therapi yang diberikan pada bayi. usahakan agar penutup mata tida menutupi hidung dan bibir. nafsu menyusui menurun. 7. bradikardi. Faktor yang harus disampaikan agar ibu dapat melakukan tindakan yang terbaik dalam perawatan bayi hiperbilirubinimea (Whaley &Wong. buka penutup mata untuk mengkaji adanya konjungtivitis tiap 8 jam. dorong orang tua mengekspresikan perasaannya. amati adanya ganguan cairan dan elektrolit.stimulasi sosial dengan ibu. Anjurkan ibu untuk menggunakan alat pompa susu selama beberapa hari untuk mempertahankan kelancaran air susu. basahi umbilikal dengan NaCl selama 30 menit sebelum melakukan tindakan. . monitor pemeriksaan laboratorium sesuai program. pertahankan suhu tubuh bayi. buka penutup mata setiap akan disusukan. catat jenis darah ibu dan Rhesus serta darah yang akan ditranfusikan adalah darah segar.

Imunisasi 11. Cara menyusui 8. 4. Tanda-tanda dan gejala penyakit. listrik. 12. Perawatan tali pusat / umbilikus 3. Cara memandikan bayi dengan air hangat (37 -38 2. 5. Mencegah benda panas. Memberikan penjelasan tentang prosedur fototherapi pengganti untuk menurunkan kadar bilirubin bayi. mulut. bosan. Menasehatkan pada ibu untuk mempertimbangkan pemberhentian ASI dalam hal mencegah peningkatan bilirubin. Temperatur / suhu 6.saudaranya. Gunakan pelembab kulit setelah dibersihkan untuk mempertahankan kelembaban kulit. misalnya : letargi ( bayi sulit dibangunkan ) demam ( suhu > celsius) °37 muntah (sebagian besar atau seluruh makanan sebanyak 2 x) diare ( lebih dari 3 x) tidak ada nafsu makan. Pengawasan yang ketat terhadap bayi oleh saudara . Bebaskan kulit dari alat tenun yang basah seperti: popok yang basah karena bab dan bak. kejatuhan benda tajam (pisau. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah : celsius) °1. gunting) yang mudah dijangkau oleh bayi / balita. Siapkan alat untuk membersihkan mata. Menangis merupakan suatu komunikasi jika bayi tidak nyaman. capilari reffil. . Mengganti popok dan pakaian bayi 4. Melakukan pengkajian yang ketat tentang status gizi bayi seperti : turgor kulit. Keamanan Mencegah bayi dari trauma seperti. Eliminasi 9. Mengajarkan tentang perawatan kulit : Memandikan dengan sabun yang lembut dan air hangat. garukan .3. Pernapasan 7. daerah perineal dan daerah sekitar kulit yang rusak. Hindari penggunaan bedak pada lipatan paha dan tubuh karena dapat mengakibatkan lecet karena gesekan Melihat faktor resiko yang dapat menyebabkan kerusakan kulit seperti penekanan yang lama. kontak dengan sesuatu yang baru 5. dan lainnya Menjaga keamanan bayi selama perjalanan dengan menggunakan mobil atau sarana lainnya. Hindari pakaian bayi yang menggunakan perekat di kulit. Perawatan sirkumsisi 10.

.Graw-Hill. (1985). Ilmu Kesehatan Anak. R. Mc.1991 . Pritchard. Gangguan pemecahan Bilirubin plasma juga dapat menimbulkan peningkatan kadar Bilirubin tubuh. Asidosis. J. dan Hipoglikemia ( AH. et. M. The Mosby Compani CV. (1988). Inc. H. Clinical Care Plans Pediatric Nursing. FKUI. Keadaan lain yang memperlihatkan peningkatan kadar Bilirubin adalah apabila ditemukan gangguan konjugasi Hepar atau neonatus yang mengalami gangguan ekskresi misalnya sumbatan saluran empedu. EGC. Nursing Care of Critically Ill Child. P. Jakarta. Cloherty. Susan. al. et. Child Health Nursing. Materity and Gynecologic Care. F. Hal ini dapat ditemukan bila terdapat peningkatan penghancuran Eritrosit. Airlangga University Press. et. Obstetri Williams. New York. Patofisiologi Hiperbilirubinemia Peningkatan kadar Bilirubin tubuh dapat terjadi pada beberapa keadaan . Manual of Neonatal Care. Hal ini dapat terjadi apabila kadar protein Y dan Z berkurang. Hazinki. (1991).F. Hipoksia. John (1981). Jakarta. (1994). (1984). Precenton. . Kelainan yang terjadi pada otak disebut Kernikterus. Surabaya. Edisi XVII. J. Buku I.DAFTAR PUSTAKA Bobak. A. California. sifat ini memungkinkan terjadinya efek patologis pada sel otak apabila Bilirubin tadi dapat menembus sawar darah otak. al. Markum. al. ( 1995). Markum. Pada umumnya dianggap bahwa kelainan pada saraf pusat tersebut mungkin akan timbul apabila kadar Bilirubin Indirek lebih dari 20 mg/dl. Toronto. Bilirubin Indirek akan mudah melalui sawar darah otak apabila bayi terdapat keadaan Berat Badan Lahir Rendah . Mudah tidaknya kadar Bilirubin melewati sawar darah otak ternyata tidak hanya tergantung pada keadaan neonatus. Harper. (1991). Pada derajat tertentu Bilirubin ini akan bersifat toksik dan merusak jaringan tubuh. Polisitemia. USA. M. Biokimia. Mayers. atau pada bayi Hipoksia. Toksisitas terutama ditemukan pada Bilirubin Indirek yang bersifat sukar larut dalam air tapi mudah larut dalam lemak. J. Kejadian yang sering ditemukan adalah apabila terdapat penambahan beban Bilirubin pada sel Hepar yang berlebihan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->