P. 1
nilam

nilam

4.0

|Views: 1,595|Likes:
Published by anon-181399

More info:

Published by: anon-181399 on Aug 28, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/13/2013

pdf

text

original

Sirkuler No.

12, 2005

BUDIDAYA TANAMAN NILAM
Yang Nuryani, Emmyzar dan Wiratno

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatika Jl. Tentara Pelajar No. 3 Telp. (0251) 321879, Fax. (0251) 327010 E-mail : balittro@telkom.net. Homepage : http://www.balittro.go.id

1

PENDAHULUAN Tanaman nilam (Pogostemon cablin Benth.) merupakan salah satu tanaman penghasil minyak atsiri yang penting, menyumbang devisa lebih dari 50% dari total ekspor minyak atsiri Indonesia. Hampir seluruh pertanaman nilam di Indonesia merupakan pertanaman rakyat yang melibatkan 36.461 kepala keluarga petani (Ditjen Bina Produksi Perkebunan, 2004). Indonesia merupakan pemasok minyak nilam terbesar di pasaran dunia dengan kontribusi 90%. Ekspor minyak nilam pada tahun 2002 sebesar 1.295 ton dengan nilai US $ 22,5 juta (Ditjen Bina Produksi Perkebunan, 2004) Sebagian besar produk minyak nilam diekspor untuk dipergunakan dalam industri parfum, kosmetik, antiseptik dan insektisida (Dummond, 1960 ; Robin, 1982, Mardiningsih et al., 1995). Dengan berkembangnya pengobatan dengan aromaterapi, penggunaan minyak nilam dalam aromaterapi sangat bermanfaat selain penyembuhan fisik juga mental dan emosional. Selain itu, minyak nilam bersifat fixatif (mengikat minyak atsiri lainnya) yang sampai sekarang belum ada produk substitusinya (Ibnusantoso, 2000). Di Indonesia daerah sentra produksi nilam terdapat di Bengkulu, Sumatera Barat, Sumatera Utara dan Nanggroe Aceh Darussalam, kemudian berkembang di provinsi Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan daerah lainnya. Luas areal pertanaman nilam pada tahun 2002 sekitar 21.602 ha, namun produktivitas minyaknya masih rendah rata-rata 97,53 kg/ha/tahun (Ditjen Bina Produksi Perkebunan, 2004). Dari hasil pengujian di berbagai lokasi pertanaman petani, kadar minyak berkisar antara 1 - 2% dari terna kering (Rusli et al., 1993). Rendahnya produktivitas dan mutu minyak antara lain disebabkan rendahnya mutu genetik tanaman, teknologi budidaya yang masih sederhana, berkembangnya berbagai penyakit, serta teknik panen dan pasca panen yang belum tepat. Penyakit yang dapat menyebabkan kerugian besar pada pertanaman nilam adalah penyakit layu bakteri yang disebabkan oleh Ralstonia solanacearum (Nasrun et al., 2004), penyakit budog yang diduga disebabkan oleh virus (Sitepu dan Asman, 1991) dan penyakit yang disebabkan oleh nematoda (Djiwanti dan Momota, 1991 ; Mustika

2

et al., 1991). Nematoda dapat merusak fungsi akar, merubah proses fisiologi tanaman serta mengurangi efisiensi fotosintesa sehingga pertumbuhan tanaman terhambat, produktivitas dan mutu rendah (Evans, 1982 ; Melakeberhan et al., 1990). Serangan nematoda (Pratylenchus brachyurus) pada tanaman nilam dapat mengurangi berat bagian atas tanaman (batang, daun, ranting) sampai 72% (Mustika dan Rostiana, 1992 ; Nuryani et al., 1999). Penyakit layu bakteri menyebabkan kerugian sebesar 60-95% pada pertanaman nilam di Sumatera (Sitepu dan Asman, 1991). Dewasa ini penyakit tersebut sudah ditemukan pula di pertanaman nilam di Jawa Barat, Jawa Tengah dan daerah lainnya, namun persentase serangan tidak sebesar di Sumatera. Tanaman nilam yang umum dibudidayakan adalah nilam Aceh, karena kadar minyak (> 2%) dan kualitas minyaknya (PA > 30%) lebih tinggi dari pada nilam Jawa (kadar minyak < 2%) (Nuryani dan Hadipoentyanti, 1994). Nilam Aceh tidak berbunga, perbanyakannya dilakukan secara vegetatif (setek), sehingga keragaman genetiknya rendah. Peningkatan keragaman genetik secara alami diharapkan hanya dari mutasi alami yang frekuensinya biasanya rendah (Simmonds, 1982). Keterbatasan sumber genetik merupakan salah satu faktor penentu dalam pemuliaan tanaman nilam. Untuk meningkatkan keragaman genetik pada tahap awal dilakukan pengumpulan plasma nutfah nilam dari berbagai daerah terutama dari sentra-sentra produksi. Dari hasil eksplorasi telah terkumpul 28 nomor yang kadar minyaknya bervariasi antara 1,60-3,59% (Nuryani et al., 1997). Hasil seleksi dari nomor-nomor tersebut, diperoleh 4 nomor harapan yang produktivitas, kadar dan mutu minyaknya relatif tinggi, yaitu nomor 0003, 0007, 0012 dan 0013. Keempat nomor tersebut telah diuji multilokasi di Ciamis, Cimanggu dan Sukamulya. Dari hasil uji multilokasi diperoleh 3 varietas unggul baik produksi terna maupun kadar dan mutu minyaknya, ketiga varietas tersebut adalah : Tapak Tuan, Lhokseumawe dan Sidikalang (Nuryani et al., 1994). Penggunaan varietas nilam yang tepat, disertai teknik budidaya yang baik, panen dan pengolahan bahan yang sesuai akan menghasilkan produksi minyak tinggi.

3

BAHAN TANAMAN Nilam (Pogostemon sp.) termasuk famili Labiateae, ordo Lamiales, klas Angiospermae dan devisi Spermatophyta. Di indonesia terdapat tiga jenis nilam yang dapat dibedakan antara lain dari karakter morfologi, kandungan dan kualitas minyak dan ketahanan terhadap cekaman biotik dan abiotik. Ketiga jenis nilam tersebut adalah: 1) P. cablin Benth. Syn. P. patchouli Pellet var. Suavis Hook disebut nilam Aceh, 2) P. heyneanus Benth. Disebut nilam jawa dan 3) P. hortensis Becker disebut nilam sabun (Guenther, 1952). Diantara ketiga jenis nilam tersebut, nilam Aceh dan nilam sabun tidak berbunga. Yang paling luas penyebarannya dan banyak dibudidayakan yaitu nilam Aceh, karena kadar minyak dan kualitas minyaknya lebih tinggi dari kedua jenis yang lainnya. Nilam Aceh merupakan tanaman introduksi, diperkirakan daerah asalnya Filipina atau semenanjung Malaysia, masuk ke Indonesia lebih dari seabad yang lalu. Setelah sekian lama berkembang di indonesia, tidak tertutup kemungkinan terjadi perubahan-perubahan dari sifat-sifat asalnya. Dari hasil ekplorasi ditemukan ber macam-macam tipe yang berbeda baik karakter morfologinya, kandungan minyak, sifat fisika kimia minyak dan sifat ketahanannya terhadap penyakit dan kekeringan. Nilam Aceh berkadar minyak tinggi (> 2,5%) sedangkan nilam Jawa rendah (< 2%). Disamping nilam Aceh, di beberapa daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur petani mengusahakan juga nilam Jawa. Nilan Jawa berasal dari India, disebut juga nilam kembang karena dapat berbunga. Ciri-ciri spesifik yang dapat membedakan nilam Jawa dan nilam Aceh secara visual yaitu pada daunnya. Permukaan daun nilam Aceh halus sedangkan nilam Jawa kasar. Tepi daun nilam Aceh bergerigi tumpul, pada nilam Jawa bergerigi runcing, ujung daun nilam Aceh runcing, nilam Jawa meruncing. Nilam jawa lebih toleran terhadap nematoda dan penyakit layu bakteri dibandingkan nilam Aceh (Nuryani et al., 1997), karena antara lain disebabkan kandungan fenol dan ligninnya lebih tinggi dari pada nilam Aceh (Nuryani et al., 2001).

4

Varietas unggul nilam Tanaman nilam adalah tanaman penghasil minyak atsiri, oleh sebab itu produksi, kadar dan mutu minyak merupakan faktor penting yang dapat dipergunakan untuk menentukan keunggulan suatu varietas. Disamping itu, karakter lainnya seperti sifat ketahanan terhadap penyakit juga merupakan salah satu indikator penentu. Banyak faktor yang mempengaruhi kadar dan mutu minyak nilam, antara lain, genetik (jenis), budidaya, lingkungan, panen dan pasca panen. Produksi minyak Rata-rata produksi minyak nilam Indonesia masih sangat rendah yaitu 97.53 kg/ha (th. 2002), rendahnya produksi minyak disebabkan rendahnya produksi terna (4-5 ton/ha terna kering) dan kadar minyak (12%) yang rendah pula. Pada umumnya petani menanam jenis nilam yang kurang jelas asalnya atau disebut jenis lokal, di lokasi-lokasi tertentu seperti Ciamis, jenis lokal lebih unggul dari beberapa varietas yang dilepas, namun dilokasi lainnya keunggulannya tidak tampak sehingga jenis lokal Ciamis dapat dianggap unggul lokal. Balittro telah mengoleksi 28 nomor nilam, dari hasil seleksi terhadap beberapa nomor nilam telah dilepas 3 varietas unggul yaitu Tapak Tuan, Lhoksemawe dan Sidikalang. Penamaan ketiga varietas nilam tersebut berdasarkan nama daerah asalnya. Ketiga varietas mempunyai keunggulan masingmasing. Tapak Tuan unggul dalam produksi dan kadar patchouli alkohol. Lhoksemawe kadar minyaknya tinggi sedangkan Sidikalang toleran terhadap penyakit layu bakteri dan nematoda (Tabel 1). Tabel 1. Produksi terna kering, kadar minyak, produksi minyak dan kadar patchouli alkohol 3 varietas nilam. Produksi terna kering Varietas (ton/ha) Tapak Tuan 13.278 Lhokseumawe 11.087 Sidikalang 10.902 Kadar minyak (%) 2,83 3,21 2,89 Kadar Produksi Patchouli minyak (kg/ha) alkohol (%) 33,31 375,76 32,63 355,89 32,95 315,06

5

Disamping karakter kwantitatif, karakter kualitatif yang dapat membedakan ketiga varietas tersebut adalah warna pangkal batang. Varietas Tapak Tuan, warna pangkal batangnya hijau dengan sedikit ungu, varietas Lhoksemawe lebih ungu dan varietas Sidikalang paling ungu (Gambar 1). Diskripsi ketiga varietas tersebut dapat dilihat pada Tabel 3.

Lhokseumawe

Tapak Tuan

Sidikalang

Gambar 1. Tiga varietas unggul nilam Kadar dan mutu minyak Diantara ketiga varietas unggul tersebut, kadar minyak tertinggi terdapat pada varietas Lhokseumawe (3,21%), namun karena produksi ternanya lebih rendah dari pada produksi terna Tapak Tuan, oleh karena itu produksi minyaknyapun lebih rendah (355,89 kg/ha) (Tabel 1). Mutu minyak ditentukan oleh sifat fisika-kimia minyaknya, faktor yang paling menentukan mutu minyak nilam adalah kadar patchouli alkohol (PA). PA merupakan komponen terbesar (50 - 60%) dari minyak (Walker, 1969) dan memberikan bau (odour) yang khas pada minyak nilam, karena antara lain mengandung norpatchoulene(Trifilief, 1980). Pada ketiga varietas nilam unggul, kadar PAnya > 30%, merupakan syarat minimum untuk diekspor, kadar PA yang tertinggi pada Tapak Tuan (33,31%) (Tabel 1). Hasil analisis mutu minyak ketiga varietas, semuanya telah memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh Standar Nasional Indonesia (SNI) (Lampiran Tabel 2).

6

SYARAT TUMBUH Tanaman nilam termasuk tanaman yang mudah tumbuh seperti tanaman herba lainnya. Namun untuk memperoleh produksi yang maksimal diperlukan kondisi ekologi yang sesuai untuk pertumbuhannya. Tinggi tempat dan curah hujan Nilam dapat tumbuh dan berkembang di dataran rendah sampai pada dataran tinggi yang mempunyai ketinggian 1.200 m diatas permukaan laut. Akan tetapi, nilam akan tumbuh dengan baik dan berproduksi tinggi pada ketinggian tempat antara 50 - 400 m dpl . Pada dataran rendah kadar minyak lebih tinggi tetapi kadar patchouli alkohol lebih rendah, sebaiknya pada dataran tinggi kadar minyak rendah, kadar patchouli alkohol (Pa) tinggi. Tanaman ini menghendaki suhu yang panas dan lembab, serta membutuhkan curah hujan yang merata sepanjang tahun. Curah hujan yang diperlukan bagi pertumbuhan tanaman nilam berkisar antara 20002500 mm/th dengan penyebaran merata sepanjang tahun,suhu optimum unuk tanaman ini adalah 24 - 28 %C dengan kelembaban lebih dari 75 % (lihat lampiran) Agar pertumbuhan dan produksi minyak nilam optimal, tanaman nilam memerlukan intensitas penyinaran berkisar antara 75100 %. Pada tempat-tempat yang agak terlindung, nilam masih dapat tumbuh dengan baik, tetapi kadar minyak lebih rendah dari pada tempat terbuka. Nilam yang ditanam di bawah naungan akan tumbuh lebih subur, daun lebih lebar dan tipis serta hijau, tetapi kadar minyaknya rendah. Tanaman nilam yang ditanam di tempat terbuka, pertumbuhan tanaman kurang rimbun, habitus tanaman lebih kecil, daun agak kecil dan tebal, daun berwarna kekuningan dan sedikit merah, tetapi kadar minyaknya lebih tinggi,sebaiknya pada awal pertumbuhan diberi sedikit naungan, karena nilam rentan terhadap cekaman kekeringan. Tanah Tanah yang subur dan gembur, kaya akan humus dan tidak tergenang dan mempunyai kandungan minyak banyak, merupakan tanah yang sangat sesuai untuk tanaman nilam. Jenis tanah yang paling

7

sesuai adalah yang mempunyai tekstur remah, seperti Andosol atau Latosol. Untuk tanah-tanah liat, diperlukan pengolahan yang lebih intensif agar diperoleh kondisi yang optimal. Pada tanah-tanah yang kurang humus, pemberian pupuk kandang sangat dianjurkan untuk memperbaiki kesuburan dan kegemburan tanah. TEKNIK BUDIDAYA
Pengadaan bahan tanaman

Tanaman nilam dapat diperbanyak dengan cara vegetatif melalui setek batang dan setek cabang. Setek yang dipilih untuk benih harus berasal dari varietas unggul atau tanaman yang berproduksi tinggi, sehat serta bebas dari hama dan penyakit. Batang atau cabang yang diambil untuk setek adalah yang berdiameter 0,8 – 1,0 cm. Setek yang ditanam berukuran 10 – 20 cm dan paling sedikit harus mempunyai tiga atau empat mata tunas. Benih nilam dapat juga berupa setek pucuk tetapi harus disemai terlebih dahulu di polibag dan diberi sungkup untuk menjaga kelembaban. Persiapan rumah atap, media semai dan sungkup a. Pilih areal yang sehat/tidak tercemar jamur patogen, dekat sumber air. b. Buat rumah atap setinggi 2 m yang condong kearah Timur. Bentuk dan luasan disesuaikan dengan kebutuhan. Siapkan campuran tanah dengan pupuk kandang dengan perbandingan 2 : 1 (v/v). c. Polibag (yang berlubang) dengan ukuran 15 x 10 cm diisi dengan media yang telah disiapkan dan diletakkan secara teratur di bawah rumah atap, kemudian disiram dengan menggunakan emprat. d. Untuk mempertahankan kelembaban agar setek tidak layu setelah ditanam perlu diberi sungkup dari plastik. Kerangka sungkup dibuat dari bambu dengan ukuran lebar 1 m, tinggi ½ m dan panjang sesuai kebutuhan. Setek cabang atau setek cabang dapat langsung ditanam di lapang, namun cara ini kurang efisien karena seringkali banyak setek yang tidak tumbuh sehingga harus banyak disulam dan pertumbuhan tidak merata. Disamping itu, tanaman tumbuh lebih lambat dan gulma

8

tumbuh lebih cepat, sehingga biaya penyiangan lebih tinggi. Dengan demikian, benih nilam sebaiknya disemaikan terlebih dahulu. Pembenihan hendaknya dilakukan di sekitar lokasi penanaman dan dekat dengan sumber air untuk memudahkan penyiraman. Persemaian dapat dilakukan pada bedengan atau polibag. Pembibitan di bedengan Tanah untuk persemaian dipilih yang gembur dan datar, dekat dengan sumber air, dan besih dari tanaman Untuk memudahkan perkembangan akar, setelah diolah cukup gembur tanah dicampur dengan pasir dan pupuk kandang dengan perbandingan 2 : 1 : 2 bagian tanah, 1 bagian pasir, 1 bagian pupuk kandang. Bedeng persemaian dibuat dengan ukuran lebar 1,5 m, tinggi 30 cm dan panjangnya tergantung kebutuhan dan kondisi lahan. Jarak tanam di pembenihan adalah 10 cm x 10 cm. Diantara bedenganbedengan tersebut dibuat parit pembuangan air selebar 30 – 40 cm. Parit-parit tersebut sangat berguna untuk pembuangan air yang berlebihan. Pembibitan di polibag Setek yang paling baik adalah setek pucuk yang mempunyai 4 – 5 buku. Untuk mengurangi penguapan, daun tua dibuang sisakan 1 – 2 pasang daun muda/pucuk. Penyemaian dilakukan dengan membenamkan 1 buku kedalam media semai (tanah + pupuk kandang dengan perbandingan 2 : 1) pada polibag (14 x 10 cm) yang berlubang. Untuk mempertahankan kelembaban, benih disungkup dengan sungkup plastik, kerangka sungkup dibuat dari bambu dengan ukuran lebar 1 m, tinggi ½ m dan panjang sesuai kebutuhan. Sungkup dibuka setelah tanaman berumur ± 2 minggu. Pemberian pupuk melalui daun dan penanggulangan hama dan penyakit (kalau diperlukan) dilakukan satu kali seminggu. Pada saat persemaian, benih membutuhkan naungan. Untuk naungan digunakan daun kelapa atau alang-alang yang diletakkan pada para-para. Naungan dibuat menghadap ke timur dengan tinggi 180 cm (bagian timur) dan 150 cm di bagian barat. Setelah berumur 5 – 6 minggu tanaman sudah mempunyai cukup akar, tunasnya sudah tumbuh

9

dan berdaun. Selanjutnya benih ini dapat dipindahkan ke kebun yang telah dipersiapkan sebelumnya. Persiapan lahan Sebelum benih ditanam, lahan sebaiknya dipersiapkan sedemikian rupa agar penanaman betul-betul mengikuti cara-cara yang dianjurkan. Persiapan lahan ini dilakukan mulai dalam bentuk pengolahan tanah. Pengolahan tanah hendaknya dilakukan secara intensif agar diperoleh keadaan tanah yag gembur dan bebas dari gulma. Tanah harus dibersihkan dari segala jenis rumput-rumputan, kayu, dan semak belukar. Setelah itu tanah dicangkul dan diolah hingga gembur secara merata. Kemudian dibuat lubang tanam dengan ukuran 30 x 30 x 30 cm (p x l x t). Tanaman nilam rentan terhadap penggenangan oleh karena itu apabila tanah banyak mengandung air, maka harus dibuat parit-parit pembuangan air sehingga air yang berlebihan dapat dikurangi, serta untuk menghindari serangan hama dan penyakit. Lebar parit 30 40 cm dan dalamnya 50 cm. Pengolahan tanah pada lahan miring harus dilakukan dengan mengikuti garis kontur, atau melintang lereng. Pengolahan dengan cara demikian mempunyai kelebihan karena akan terbentuk tangga untuk menghambat aliran air permukaan dan menghindari terjadinya erosi. Penanaman Tanaman nilam membutuhkan tanah yang lembab selama masa pertumbuhannya agar dapat berproduksi secara optimal. Oleh karena itu penanaman sangat dianjurkan pada awal musim penghujan. Ada dua cara penanaman, yaitu (1) penanaman secara tidak langsung, dan (2) penanaman secara langsung. Pada penanaman secara tidak langsung, benih diambil dari tempat persemaian yang telah berakar dan mempunyai 2 - 4 daun. Setiap lubang tanam diisi satu benih. Bila akarnya terlalu panjang sebaiknya dipotong, sebab dalam penanaman akar yang terlalu panjang akan berlipat-lipat. Lipatan akar dalam tanah seringkali menyebabkan terjadinya serangan penyakit busuk akar. Pada penanaman secara langsung, setiap lubang tanam ditanami 2 - 3 setek utuk menjaga kemungkinan ada setek yang mati. Kebutuhan

10

setek yang banyak tersebut menjadi perlindungan sehingga cara ini tidak disarankan untuk diterapkan di perkebunan. Penanaman yang dilakukan dalam barisan menggunakan jarak tanam antar barisan 60 – 100 cm dan jarak tanam dalam barisan 40 – 60 cm. Pada lahan dengan kesuburan yang tinggi (banyak humus), jarak tanam sebaiknya 100 x 100 cm, karena pada umur 5 – 6 bulan kanopi sudah bertemu. Dengan demikian kebutuhan benih diperkirakan sebesar 20.000 setek benih untuk 1 hektar lahan. Jarak tanam yang digunakan disesuaikan dengan kondisi lahan. Pada lahan datar dan terbuka sebaiknya jarak tanam yang digunakan lebih lebar karena kanopi/tajuk tanaman nilam cukup luas. Penanaman yang diperjarang ini dimaksudkan untuk mengurangi persaingan kebutuhan sinar matahari. Pada lahan miring, jarak antar barisan dapat dipersempit. Arah barisan sebaiknya mengikuti garis kontur. Pemeliharaan Selama di lapangan nilam membutuhkan tindakan pemeliharaan yang intensif agar pertumbuhan tanaman baik, sehingga diperoleh hasil yang memuaskan. Pemeliharaan yang diperlukan meliputi penyiangan, pemberian mulsa, penyulaman, pemupukan, pemangkasan, dan pengendalian hama dan penyakit. Penyiangan Setelah tanaman berumur 2 bulan atau saaat tanaman mencapaia ketinggian 20 – 30 cm dan telah mempunyai cabang bertingkat dengan radius 20 cm, areal pertanaman perlu disiangi. Penyiangan ini berfungsi untuk membersihkan gulma pengganggu, sehingga tidak terjadi persaingan pengambilan hara tanaman dan sinar matahari. Penyiangan juga berfungsi untuk menghilanngkan gulma sebagai sarang hama. Penyiangan selanjutnya dilakukan secara rutin, dengan selanng waktu 2 - 3 bulan tergantung pertumbuhan gulma. Penyiangan dapat dilakukan dengan cara, yaitu : Secara mekanis : Penyiangan dilakukan dengan menggunakan alat, seperti cangkul, parang dan sebagainya. Secara kimia : Cara ini dilakukan dengan menyemprotkan herbisida sesuai dengan dosis yang dianjurkan. Penggunaan bahan

11

herbisida ini harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak mengganggu pertumbuhan nilam. Agar cara kimiawi ini lebih berhasil, penyemprotan sebaiknya dilakukan pada musim kemarau dan pada saat matahari sudah cukup tinggi, yakni antara pukul 9.00 – 10.00. Penyulaman Penyulaman adalah mengganti tanaman yang mati atau tanaman yang pertumbuhannya kurang baik. Pekerjaan ini dilakukan kurang lebih 2 - 4 minggu setelah tanam, karena pada saat itu telah diketahui benih yang mati atau pertumbuhannya kurang baik. Tanaman yang mati tersebut diganti dengan tanaman/benih yang baik. Pemupukan Pemupukan sangat penting untuk diperhatikan. Karena hasil yang diambil adalah bagian daunnya, maka pemupukan dilakukan denga tujuan agar pertumbuhan vegetatif tanaman dapat dicapai secara maksimal. Untuk itu jenis pupuk yang dianjurkan tidak saja pupuk buatan, yaitu Urea, SP-36 dan KCl, tetapi diperlukan juga pupuk kandang, kompos atau pupuk hijau. Pupuk kandang dan kompos yang digunakan sebaiknya sudah matang, sehingga tidak mengganggu pertumbuhan tanaman. Dosis pupuk anjuran untuk nilam adalah 10 ton pupuk kandang, 250 kg Urea, 100 kg SP-36 dan 100 kg KCl. Pupuk kandang atau kompos diberikan seminggu sebelum tanam agar pupuk tersebut dapat bercampur dalam tanah dengan baik. Pupuk urea diberikan 1/3 bagian pada saat tanaman berumur 1 bulan setelah tanam, 2/3 bagian diberikan pada umur 3 bulan. Pupuk SP-36 dan KCl diberikan pada saat tanam. Pemupukan berikutnya diberikan setiap kali setelah panen dengan dosis 150 kg Urea, 75 kg SP-36 dan 75 kg KCl. Pemberian mulsa Pemberian mulsa dimaksudkan untuk menjaga kelembaban tanah, memperbaiki kesuburn tanah, dan untuk menekan pertumbhan gulma terutama pada awal pertumbuhan. Bberapa jenis yang dapat dipergunakan sebagai mulsa antara lain adalah alang-alang, jerami,

12

glirisidia, dan tanaman legum lainnya. Pemberian mulsa sebaiknya diberikan setelah tanam dan setelah panen. Pembumbunan Pembumbunan umumnya dilakukan setelah panen pertama. Cabang-cabang tanaman yang ditinggalkan ditimbun dengan tanah dari sekitar tanaman setinggi 10 - 15 cm, sehingga diperoleh rumpun tanaman yang mempunyai banyak anakan. Pengendalian penyakit pada tanaman nilam A. Penyakit layu bakteri Penyakit layu bakteri disebabkan oleh bakteri Ralstonia solanacearum (Nasrun et al., 2003), merupakan salah satu penyakit yang menyebabkan kerugian cukup besar bagi petani nilam. Gejala serangan yang ditimbulkan berupa kelayunan pada tanaman muda maupun tua, dan dalam waktu singkat menimbulkan kematian tanaman (Sitepu dan Asman, 1998). Penyakit ini menyebabkan kerugian sebesar 60 - 95% pada pertanaman nilam di Sumatera (Asman et al., 1998). Selain di Sumatera (Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Bengkulu), ditemukan juga pada pertanaman nilam di Jawa Barat, Jawa Tengah. Untuk menanggulangi penyakit tersebut telah dilakukan berbagai upaya antara lain secara kimiawi namun belum memberikan yang memuaskan. Dari hasil pengamatan baik rumah kaca (pembenihan) maupun di lapangan. Diantara ketiga varietas yang telah dilepas, varietas Sidikalang lebih toleran dibandingkan varietas lainnya (Tabel 3). Tabel 4. Persentase tanaman mati pada Varietas Sidikalang Tapak Tuan Lhokseumawe Nuryani et al., 2005 Persentase tanaman mati (%) 6,0 a 19,2 b 39,0 c

Ketahanan nilam terhadap penyakit layu bakteri kemungkinan disebabkan adanya kandungan kimia yang dihasilkan oleh tanaman

13

tersebut seperti fenol dan lignin . sebagai contoh pada tanaman tomat terdapat enzym-enzym pectic, cellulolytie (Prior et al., 1994), pada tanaman tembakau ditemui kandungan polyphenoloxidase dan phytoalexin (Akiew dan Trevorrow, 1994). Penyakit layu bakteri dapat menulari tanaman nilam dari tanaman inang yang sudah ada pada lahan sebelum ditanami nilam, atau dari benih yang telah mengandung penyakit. Untuk mencegah tertularnya tanaman, sebaiknya sebelum tanam terlebih dahulu diperhatikan tanaman apa saja yang telah ada dilahan yang akan ditanami dan yang lebih penting yaitu hindari pengambilan setek dari tanaman yang telah tertular penyakit. Cara yang paling efektif untuk menekan kerugian karena berkurangnya produksi yang disebabkan oleh serangan penyakit layu bakteri adalah menanam varietas yang tahan. Berhubung sampai sekarang belum diperoleh varietas nilam yang tahan, penanggulangannya dapat dilakukan dengan memadukan komponen varietas, agen hayati dan budidaya (Supriadi et al., 2000). Agen hayati antara lain : Pseudomonas flurescens, dapat menekan perkembangan penyakit pada tanaman nilam hingga 68,75% (Nasrun, 1996), P. cepasia dan Bacillus sp., dapat menekan perkembangan penyakit dan meningkatkan produksi jahe besar (Mulya, 2000). Untuk mencegah penularan penyakit, benih yang akan ditanam harus bebas dari penyakit. Gejala penyakit layu bakteri yaitu tanaman layu, jadi setek jangan diambil dari tanaman yang telah layu. B. Penyakit yang disebabkan oleh nematoda Nematoda menyerang akar tanaman nilam, kerusakan akar menyebabkan berkurangnya suplai air ke daun, sehingga stomata menutup, akibatnya laju fotosintesa menurun (Wallace, 1987). Beberapa jenis nematoda yang menyerang tanaman nilam antara lain Pratylenchus brachyurus, Meloidogyne incognita, Radhopolus similis (Djiwanti dan Momota, 1991 ; Mustika et al., 1991). Salah satu mekanisme ketahanan nilam terhadap nematoda adalah adanya kandungan fenol dan lignin (Fogain dan Gowen, 1996 ; Valette et al., 1998). Senyawa fenol dan lignin merupakan proteksi alami dari tanaman terhadap factor biotic (Nelson, 1981). Salah satu

14

varietas nilam Aceh yang lebih toleran terhadap nematoda dibandingkan varietas lainnya adalah varietas Sidikalang, kandungan fenolnya (81.45 ppm) lebih tinggi dari pada nilam Jawa (76.45 ppm) (Nuryani et al., 2001). Nilam Jawa termasuk nilam yang tahan terhadap nematoda. Penanggulangan serangan nematoda, selain dengan varietas yang tahan/toleran, juga dengan agen hayati (Pasteuria penetrans, Arthrobotrys sp., jamur penjerat nematoda, pestisida nabati (serbuk biji nimba, bungkil jarak), nematisida dan budidaya (pupuk organik dll) (Mustika dan Nazarudin, 1998). Kombinasi nematisida (Furadan) bahan organik dan dolomit dapat menekan populasi nematoda sehingga meningkatkan produksi (terna), (Mustika et al., 1995). Salah satu cara untuk mencegah penularan nematoda yaitu dengan menanam benih yang bebas dari nematoda. Gejala serangan nematoda terutama nampak pada warna daun yang berubah menjadi kecoklatan atau kemerahan. Disamping itu perlu diperhatikan tanaman inang yang telah ada dilokasi sebelum dipergunakan untuk menanam nilam. Tanaman inang bagi nematoda antara lain : pisang, jahe, tomat, kacang tanah dll. C. Penyakit budog Penyakit budog diperkirakan disebabkan oleh virus (Sitepu dan Asman, 1992). Penyakit ini ditemukan dipertanaman nilam di Aceh dan Sumatera Barat, sejauh ini belum ditemukan di Jawa dan daerah lainnya. Gejala penyakit terlihat pada batang yang membengkak, menebal dan daun yang berkerut dan tebal, dengan permukaan bawah berwarna merah, permukaan atas daun menguning karena kekurangan unsur hara. Sampai saat ini belum ditemukan bahan kimia yang efektif untuk mengendalikan penyakit budog dan belum ada varietas nilam yang tahan terhadap penyakit ini. Diduga penyebaran penyakit oleh serangga, oleh karena itu tindakan budidaya perlu diperhatikan antara lain penyemprotan dengan insektisida untuk mematikan serangga/ vektor, pergiliran tanaman, sanitasi kebun dan yang terpenting adalah menggunakan benih sehat. Tanaman yang sudah terserang penyakit tidak boleh diambil seteknya untuk perbanyakan.

15

Pengendalian hama pada tanaman nilam Hama-hama penting yang banyak menyerang tanaman ini adalah ulat penggulung daun, belalalng dan tungau merah, sedang penyakit pentingnya adalah penyakit layu bakteri, budok, dan penyakit akibat gangguan nematoda parasit. Serangan hama dan penyakit selain mempengaruhi pertumbuhan dan produksi tanaman, ternyata juga mampu mengakibatkan kematian tanaman. Oleh karena itu, pengendalian serangan hama dan penyakit dalam budidaya tanaman nilam merupakan salah satu faktor penting yang perlu dilaksanakan dengan baik. Cara pengendalian hama/ulat-ulat tersebut terutama dengan menjaga kebersihan kebun dari gulma, pengikisan tanaman serta memangkas tanaman yang terserang dikumpulkan lalu dibakar. Untuk penyakit sama halnya dicabut , dikumpulkan lalu dibakar. Pengendalian dengan insektisida dan pestisida dapat juga dilakukan antara lain menggunakan ekstark mimba dan bio insektisida seperti beveria bessiana, metarrhizinia anisophia dengan dosis sesuai anjuran kemasan. Penggunaan fungisida Dishare M-45 atau coboy dosis 0,3% dapat dilakukan untuk mengendalikan penyakit bercak daun dan pangkal batang daun, bususk akar. Pengendalian nematoda dengan menggunakan nematisida Furadan 3G (39Hm) bahan organic dan dolonit. PANEN Panen pada umumnya dilakukan dengan memangkas/ memotong daun dengan sedikit cabang sekunder diambi pada umur 6 bulan setelah tanam. Kemudian berturut-turut setiap 3 - 4 bulan. Cara panen Memotong tiga pasang daun teratas beserta batangnya. Setiap kali panen ditinggalkan satu cabang tanaman untuk merangsang pertumbuhan berikutnya. Waktu panen Panen pertama dilakukan setelah tanaman berumur 6 bulan sebelum daun berubah warnanya menjadi coklat, dilakukan pada waktu

16

pagi atau sore hari agar kandungan minyak dalam daun tetap tinggi. panen selanjutnya 3 – 4 bulan setelah panen pertama. Pola tanam Penanaman nilam dapat dilakukan baik secara monokultur maupun polikultur, baik secara tumpangsari, tumpanggilir,maupun budidaya lorong dengan tanaman perkebunan, buah-buahan, sayuran atau tanaman lainnya. Dalam pola tanam perlu diperhatikan intensitas cahaya matahari yang tinggi dan terus menerus. Pemberian naungan ringan (± 25 %) dapat meningkatkan hasil, sebaliknya tingkat naungan yang tinggi akan menghasilkan tanaman yang kurang vigor dan kandungan minyak yang rendah. Monokulur Penanaman pola monokultur memerlukan sistem budidaya intensif, mulai dari kesesuaian lahan , penggunaan varietas, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, serta cara dan waktu panen. Pola demikian seringkali diterapkan oleh perusahaan swasta dengan luasan yang cukup besar. Polikultur Pola polikultur umumnya diterapkan pada pertanaman rakyat dengan luasan yang sangat sempit, seperti pola tumpangsari dengan tanaman perkebunan atau tanaman semusim, pola tumpanggilir, atau budidaya lorong. Pola polikultur ini diterapkan untuk menghindari kegagalan panen. Keuntungan lain dari pola ini adalah pemanfaatan lahan lebih efisien, aneka ragam tanaman, kesuburan tanah dapat dipertahankan, dan serangan hama lebih mudah dikendalikan. Penanaman pola ini umumnya dikombinasikan/dicampur dengan tanaman palawija dan holtikultura. ANALISIS USAHATANI NILAM Keragaan usahatani nilam merupakan gambaran yang diperoleh petani atau pengusaha didalam menggunakan faktor–faktor produksi (lahan, tenaga kerja, modal) dalam mengelola komoditas nilam. Analisis

17

usahatani nilam dianggap penting karena memberikan informasi dan gambaran yang bermanfaat mengenai pendapatan dari usahatani nilam. Pendapatan usahatani dapat digambarkan sebagai balas jasa dari penggunaan faktor–faktor produksi lahan, tenaga kerja, modal dan jasa pengelolaan. Besarnya pendapatan dari usahatani nilam tergantung dari besarnya penerimaan dan pengeluaran. Penerimaan merupakan perkalian dari produksi dikalikan harga, sedang pengeluaran merupakan sejumlah nilai yang dibebankan kepada pengelolaan faktor–faktor produksi tersebut yang terdiri atas biaya upah, sarana produksi (bahan) dan pengeluaran lain–lain. Dari pendapatan yang diperoleh, biasanya diikuti dengan pengukuran tingkat kelayakan atau efisiensinya. Efisiensi pendapatan usahatani nilam dapat dihitung melalui penerimaan (benefit) dibanding dengan biaya (cost) yang dikeluarkan (B/C rasio). Besarnya nilai B/C rasio menunjukkan besarnya penerimaan yang diperoleh dengan biaya pengeluaran sebesar satu satuan biaya. Apabila B/C > 1 berarti penerimaan yang diperoleh lebih besar dai satuan biaya yang dikeluarkan. Jika B/C, 1 biaya yang dikeluarkan lebih besar dari penerimaannya dan disebut merugi. Tabel 5. Analisis Usahatani Nilam
No I 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. Uraian Tenaga Kerja Tebe semak belukar Penebangan pohon Pembersihan tunggul Persiapan lahan Penanaman Penyulaman Pemupukan Pembuatan saluran air Penyiangan Pengendalian H/P Panen Prosesing/penyulingan Jumlah Satuan HOK HOK HOK HOK HOK HOK HOK HOK HOK HOK HOK HOK HOK Volume 28 30 20 150 25 8 30 60 140 30 70 56 Biaya satuan 20.000 20.000 20.000 20.000 20.000 20.000 20.000 20.000 20.000 20.000 20.000 20.000 Total biaya (Rp) 560.000 600.000 400.000 3.000.000 500.000 160.000 600.000 1.200.000 2.800.000 600.000 1.400.000 1.120.000 12.940.000

18

Tabel 5. Lanjutan
No II. 1. 2. Uraian Bahan – bahan Bibit Pupuk : - kandang - urea - SP 36 - KCl Obat – obatan Karung Tali rafia Bahan pembantu lain Jumlah Alat – alat Cangkul Sabit / golok Sprayer Jumlah Total biaya (I + II + III) Satuan Polibag Kg Kg Kg Polibag Paket Bh Gulung Paket Volume 22.000 10.000 250 100 100 100 10 1 Biaya satuan 300 250 1.200 1.200 1.600 500.000 5000 25.000 500.00 Total biaya (Rp) 6.600.000 2.500.000 300.000 120.000 160.000 500.000 500.000 250.000 500.000 11.430.000 250.000 250.000 600.000 1.100.000 25.470.000

3. 4. 5. 6. III.

Buah Buah Buah

5 5 2

50.000 50.000 300.000

V. Produksi minyak : 357,93 kg VI. Harga minyak nilam per kg = Rp. 150.000,VII. Penerimaan (V x VII) = Rp. 53.689.500,VIII. Pendapatan usahatani (VII – IV) = Rp. 28.219.500,-/hektar IX. B/C rasio ((VII : IV) = 2,1 X. Kesimpulan : 1. Layak diusahakan karena memenuhi indikator kelayakan (B/C >1) 2. Menguntungkan dengan pendapatan bersih sebesar Rp.219.500/hektar Dalam analisis usahatani nilam jika petani atau pengusaha menggunakan standar prosedur operasional dengan baik dan benar akan diperoleh pendapatan usahatni sebesar Rp. 28.219.500,- per hektar per musim dan B/C rasio sebesar 2,1.

19

BAHAN BACAAN Akiew, A. and P.R. Trevorrow, 1994. Management of Tobacco. Bacterial wilt. The disease and its causal agents. Pseudomonas solanacearum. CAB. International p.179197. Asman, A., Ester M., Adhi dan D. Sitepu, 1998. Penyakit layu, budok dan penyakit lainnya serta strategi pengendaliannya. Monograf nilam. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat 5 : 84-88. Ditjen Bina Produksi Perkebunan, 2004. Nilam. Statistik Perkebunan Indonesia. 2001-2003. 23 hal. Djiwanti, S.R. and Momota, 1991. Parasitic nematodes associated with patchouli disease in West Java. Indust. Crops. Res. J. 3 (2) : 31-34. Dummond, H.M., 1960. Patchouli oil. Journal of Perfumery and Essential Oil Record. 484-492 p. Forgain, R. and S.R. Gowen, 1996. Investigations on possible mechanisms of resistance to nematodes in Musa. Euphytica 92 : 375-381. Evans, K., 1982. Water use, calsium uptake and tolerance of cyst. Nematode attack in potatoes. Potato Res. 25:71-88. Guenther, E., 1952. The Essential Oils. D. van Nostrand Co. Inc. New York. 2nd Ed. III 552-574p. Hernani dan Risfaheri, 1989. Pengaruh perlakuan bahan sebelum penyulingan terhadap rendemen dan karakteristik minyak nilam. Pembe. Littri. 15 (2) : 84-87. Ibnusantosa, G., 2000. Kemandegan pengembangan minyak atsiri Indonesia. Makalah disampaikan pada seminar “Pengusahaan Minyak Atsiri Hutan Indonesia”. Fak. Kehutanan IPB Darmaga Bogor, 23 Mei 2000.

20

Malakeberhan, H.T., H.J. Newbury & B.V. Ford-Lloyd, 1996. The detection of somaclonal variants of beet using RAPD. Plant. Cell Rep. 15, 474-478. Mardiningsih, T.L., Triantoro, S.L., Tobing dan S. Rusli, 1995. Patchouli oil product as insect repellent. Indust. Crops. Res. Journal 1 (3) : 152-158. Mulya, K., Supriadi, Ester, M.Adhi dan Nuri Karyani, 2000. Potensi bakteri antagonis dalam menekan perkembangan penyakit layu bakteri jahe. Jurnal Penelitian Tanaman Industri 6 (2) : 37-43. Mustika I., Y. Nuryani dan O. Rostiana, 1991. Nematoda parasit pada beberapa kultivar nilam di Jawa Barat. Bull. Littro VI (1) : 9-14. Mustika, I., Y. Nuryani dan O. Rosita, 1991. Nematoda parasitoid pada beberapa kultivar nilam di Jawa Barat. Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat VI )1) : 9–14. Mustika I. And O. Rostiana, 1992. The growth of four patchouli cultivars infected with Pratylenchus brachyurus. Journal of Spice and Medicinal Crops 1 (2) : 11-18. Mustika, I., A. Rachmat, S. dan Suyanto, 1995. Pengaruh pupuk, pestisida dan bahan organik terhadap pH tanah, populasi nematoda dan produksi nilam. Media Komunikasi Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri 15 : 70– 74. Mustika I., dan Susilo B. Nazarudin, 1998. Gangguan nematoda dan cara pengendaliannya. Monograf Nilam. Balittro 5 : 89-95. Mustika, I., S. B. Nazarudin, 1998. Gangguan nematoda dan cara pengendaliannya. Monograf Nilam. Balittro 5 : 89-95. Nasrun, 1996. Penggunaan Pseudomonas fluorescens dalam pengendalian penyakit layu tanaman jahe. Proc. Seminar

21

on integrated control on main disease of industrial crop. Bogor 12-14 Maret 1996. hal 160-165. Nasrun, Y. Nuryani, Hobir dan Repianyo, 2004. Seleksi ketahanan nilam terhadap penyakit layu bakteri (Ralstonia solanacearum). Secara in planta. Journal Stigma XII (4) : 421-473. Nelson, P.E., 1981. Life cycle and epidemiology of fusarium oxysporum in M.E. Moel. A.A. Ball and C.H. Beckman. Fungol with disease of plants. Academic. Press. New.York.640 p. Nurdjannah, N. dan Makmun, 1994. Pengeringan bahan dan penyimpanan daun nilam kering. Pembr. Litantri XX (12) : 11-15. Nuryani, Y., dan E. Hadipoentyanti, 1994. Koleksi, Konservasi, Karakterisasi dan Evaluasi Plasma Nutfah Tanaman Atsiri. Review hasil dan program penelitian plasma nutfah pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Deptan Hal, 209-219. Nuryani, Y., C. Syukur dan Dadang Rukmana, 1997. Evaluasi dan Dokumentasi Klon-klon Harapan Nilam. Laporan Tahunan (tidak dipublikasikan). Nuryani, Y., C. Syukur, Rita Harni, Yelnititis dan I. Mustika, 1999. Tanggap beberapa klon nilam terhadap nematoda pelubang akar (Radophulus similis Cobb.). Jurnal Littri 5 (3) : 103-109. Nuryani Y., Ika Mustika dan Cheppy Syukur, 2001. Kandungan fenol dan lignin tanaman nilam hibrida (Pogostemon sp.) hasil fusi protoplas. Jurnal Littri 7 (4) : 104-107. Nuryani, Hobir, Cheppy Syukur dan Ika Mustika, 2004. Usulan Pelepasan Varietas Nilam. 22 hal (tidak dipublikasikan).

22

Prior, P.V. Grimault and J. Schmit, 1994. Resistance to Bacterial Wilt (Pseudomonas solanacearum) in Tomato. Present status and Prospect. Bacterial wilt. The disease and its causative agent Pseudomonas solanacearum. CAB International p.115-119. Robin, S.R.J., 1982. Selected market for the essential oils of patchouli and vetiver. Tropical Product Institute Ministry of Overseas Development. Great Britain G. 167: 7-20. Rosman, R., Emmyzar dan pasril Wahid, 1998. Karakteristik lahan dan iklim untuk perwilayahan pengembangan. Monograf nilam. Balittro 5 : 47-54. Rusli, S., Hobir,. A. Hamid, A. Asman, S. Sufiani dan M. Mansyur, 1993. Evaluasi Hasil Penelitian Minyak Atsiri, Balittro. 15 hal. Singh, R.K. and R.D. Chaudhary, 1979. Biometrical methods in quantitative genetic analysis, Kalyani Publishers. New Delhi. 299 p. Simmonds, N.W., 1982. Principles of Crops. Improvement. Logman. London-New York. Sitepu, D. dan A. Asman, 1991. Penelitian penyakit nilam di Aceh. Laporan Kerjasama PT. Pupuk Iskandar Muda dan Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor 22 hal. Soetopo, D.,L.M. Trisawa dan Wiratno, 1998. Hama penting dan strategi pegendaliannya. Monograf nilam. Balittro 5 : 7583. Supriadi, Karden Mulya dan Djiman Sitepu, 2000. Strategy for controlling wilt diseases of ginger caused by Pseudomonas solanacearum. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian 19 (3) : 106-111.

23

Valette, C., C. Andary, J.P. Geiger, J.L. Sarah and M.Nicole, 1998. Histochemical and cytochemical investigations of phenols in roots of banana infected by the burrowing nematode radopholus similis. Phytopathotory 88 (11) : 1141-1147. Tasma, I.M., dan P. Wahid, 1988. Pengaruh mulsa dan pemupukan terhadap pertumbuhan dan hasil nilam. Pembr. Littri. XV (1-2) : 34-40. Trifilief, E., 1980. Isolation of the postulated precurser of nor patchoulenol in patchouli leaves. Phytochemistry 19. 2464. Trisawa, I. M., dan Siswanto, 1994. Pengaruh ekstrak biji nimba terhadap ulat penggulung daun dan tungau merah pada tanaman nilam. Laporan Hasil Penelitian. 11 hal (tidak dipublikasikan). Wallace, H.R., 1987. Effects of nematode parasites on photosynthesis. Vitos on Nematology. A. commemoration of the Twentyfifth anniversary. Society of Nematologists. Ins. Hyattville, Maryland. 34 : 253259. Walker, T.G. 1969. The structure and synthesis of patchouli alcohol. Manufacturing chemist and aerosol news p.2.

24

LAMPIRAN-LAMPIRAN
Tabel 2. Karakteristik mutu minyak 3 varietas nilam Varietas Warna Berat jenis (250C) 0,9722 0,9679 0,9651 Indek bias (250C) 1,5066 1,5070 1,5068 Putaran optik -55012’ -52024’ -52012’ Kelarutan dalam alkohol (90%) 1:1 1:1 1:6 Bilangan asam (%) 0,76 0,74 0,57 Bilangan ester (%) 2.47 3.96 3.83

Tapak Tuan Kuning muda Lhokseumawe Kuning muda Sidikalang Kuning muda Tabel 3. Diskripsi 3 varietas nilam No Seleksi/Karakteristik Asal Tinggi tanaman (cm) Warna batang muda Warna batang tua Bentuk batang Percabangan Jumlah cabang primer Tabel 3. Lanjutan No Seleksi/Karakteristik Jumlah cabang sekunder Panjang cabang primer (cm) Panjang cabang sekunder (cm) Bentuk daun Pertulangan daun Warna daun Panjang daun (cm) Lebar daun (cm) Tebal daun (mm) Panjang tangkai daun (cm) : : : : : : :

0012 Tapak Tuan (NAD) 50,57-82,28 Ungu Hijau keunguan Persegi Lateral 7,30-24,48

0007 Lhokseumawe (NAD) 61,07-65,97 Ungu Ungu kehijauan Persegi Lateral 7,00-19,76

0013 Sidikalang (Sumut) 70,70-75,69 Ungu Ungu kehijauan Persegi Lateral 8,00-15,64

: : : : : : : : : :

0012 18,80-25,70 46,24-65,98 19,80-45,31 Delta, bulat telur Menyirip Hijau 6,47-7,52 5,22-6,39 0,31-0,78 2,67-4,13

0007 11,42-25,72 38,40-63,12 18,96-35,06 Delta, bulat telur Menyirip Hijau 6,23-6,75 5,16-6,36 0,31-0,81 2,66-4,28

0013 17,37-20,70 43,01-61,69 25,80-34,15 Delta, bulat telur Menyirip Hijau keunguan 6,30-6,45 4,88-6,26 0,30-4,25 2,71-3,34

25

Jumlah daun/cabang primer Ujung daun Pangkal daun Tepi daun Bulu daun Produksi terna segar (ton/ha) Tabel 3. Lanjutan No Seleksi/Karakteristik Produksi minyak (kg/ha) Kadar minyak (%) Kadar patchouli alkohol (%) Ketahanan terhadap Meloidogyne incognita Pratylenchus bracyurus Radhopolus similis Ralstonia solanacearum Usul nama

: : : : : :

35,37-157,84 Runcing Rata, membulat Bergerigi ganda Banyak, lembut 19,70-110,00

48,05-118,62 Runcing Datar, membulat Bergerigi ganda Banyak, lembut 19,58-59,20

58,07-130,43 Runcing Rata, membulat Bergerigi ganda Banyak, lembut 13,66-108,10

0012 : 111,50-622,26 : 2,07-3,87 : 28,69-35,90 : : : : : Sangat rentan Sangat rentan Rentan Rentan Tapak Tuan

0007 125,83-380,06 2,00-4,14 29,11-34,46 Rentan Agak rentan Rentan Rentan Lhoksemawe

0013 78,90-624,89 2,23-4,23 30,21-35,20 Agak rentan Agak rentan Agak rentan Toleran Sidikalang

Kesesuaian lahan dan iklim tanaman nilam Parameter Sangat sesuai Ketinggian (m dpl) Tanah : 1. Jenis tanah 100 - 400 Andosol Latosol baik Lempung > 100 5,5 – 7 2-3 Tingkat kesesuaian Sesuai Kurang sesuai 0 - 100, 400 - 700 > 700 Regosol Lainnya Podsolik Kambisol agak baik agak baik Liat dan berpasir Lainnya lainnya 75 - 100 50 - 75 5 – 5,5 4,5 - 5 3-5 <1 Tidak sesuai > 700 Lainnya

2. Drainase 3. Tekstur 4. Kedalamanair tanah 5. pH 6. C-Organik (%)

Terhambat pasir < 50 < 4,5 -

26

7. P2O5 (ppm) 8. K2O (me/100g) 9. KTK (me/100 g) Lanjutan Parameter

16 - 25 > 1,0 > 17

10 - 15 0,6 – 1,0 5 - 16

> 25 0,2 – 0,4 < 5

-

Sangat sesuai Iklim : 1. Curah hujan tahunan (mm) 2. Hari hujan tahunan (mm) 3. Bulan basah per tahun 4. Kelembaban udara (%) 5. Temperatur ( 0C)
Sumber : Balittro 1998

Tingkat kesesuaian Sesuai Kurang sesuai 1750 - 2300 300 - 3500 100 - 120 180 - 210 7-9 60 - 70 24 - 25 26 - 28 > 3500 1200 - 1750 210 - 230 85 - 100 < 11 5-6 50 - 60 > 90 23 - 24 28 - 29

Tidak sesuai > 5000 < 1200 < 230 < 85 < 85 <5 < 50 < 23 > 29

2300 - 3000 120 - 180 10 – 11 70 - 90 24 - 28

27

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->