P. 1
Haruslah Kamu Bersukaria: Eksegesis Perintah Bersukaria dalam Kitab Ulangan serta Relevansinya bagi Gereja pada Masa Kini

Haruslah Kamu Bersukaria: Eksegesis Perintah Bersukaria dalam Kitab Ulangan serta Relevansinya bagi Gereja pada Masa Kini

4.0

|Views: 1,416|Likes:
Published by Andrea K. Iskandar
Pemunculan kata “bersukaria” dalam bentuk perintah dan di tengah-tengah kitab Ulangan yang penuh dengan peraturan menimbulkan suatu tanda tanya, apalagi kata “bersukaria” itu di luar kitab Ulangan dipakai dalam konteks yang biasa, seperti berpesta dan bersenang-senang; bukan cuma senang, tapi bersenang-senang.

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan bersukaria di sini? Dan apa alasannya? Apakah ini masih berlaku bagi kita sekarang, Gereja masa kini? Jika masih berlaku, apakah ada evaluasi-evaluasi yang harus Gereja lakukan untuk
menyikapinya?
Tesis ini melakukan eksegesis penggunaan kata xmf (smkh) dalam kitab Ulangan, membahas makna sukaria dalam kehidupan umat TUHAN. Pembahasan akan dimulai dengan penyelidikan frase-frase “haruslah kamu bersukaria” dalam masingmasing konteks perikopnya. Selanjutnya akan ditinjau sejumlah bentuk konkret ibadah bangsa Israel yang mencerminkan pelaksanaan ketentuan dalam kitab Ulangan, yaitu sejauh yang dicatat oleh Alkitab Ibrani.

Dari hasil tesis ini diharapkan dapat dilihat apa yang sebenarnya TUHAN kehendaki dari orang Israel dengan perintah-perintah untuk bersukaria itu dan sejauh apa serta dengan cara bagaimana kehendak TUHAN itu relevan bagi Gereja saat ini karena Allah yang mereka sembah adalah juga Allah yang kita sembah.
Pemunculan kata “bersukaria” dalam bentuk perintah dan di tengah-tengah kitab Ulangan yang penuh dengan peraturan menimbulkan suatu tanda tanya, apalagi kata “bersukaria” itu di luar kitab Ulangan dipakai dalam konteks yang biasa, seperti berpesta dan bersenang-senang; bukan cuma senang, tapi bersenang-senang.

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan bersukaria di sini? Dan apa alasannya? Apakah ini masih berlaku bagi kita sekarang, Gereja masa kini? Jika masih berlaku, apakah ada evaluasi-evaluasi yang harus Gereja lakukan untuk
menyikapinya?
Tesis ini melakukan eksegesis penggunaan kata xmf (smkh) dalam kitab Ulangan, membahas makna sukaria dalam kehidupan umat TUHAN. Pembahasan akan dimulai dengan penyelidikan frase-frase “haruslah kamu bersukaria” dalam masingmasing konteks perikopnya. Selanjutnya akan ditinjau sejumlah bentuk konkret ibadah bangsa Israel yang mencerminkan pelaksanaan ketentuan dalam kitab Ulangan, yaitu sejauh yang dicatat oleh Alkitab Ibrani.

Dari hasil tesis ini diharapkan dapat dilihat apa yang sebenarnya TUHAN kehendaki dari orang Israel dengan perintah-perintah untuk bersukaria itu dan sejauh apa serta dengan cara bagaimana kehendak TUHAN itu relevan bagi Gereja saat ini karena Allah yang mereka sembah adalah juga Allah yang kita sembah.

More info:

Categories:Types, Research
Published by: Andrea K. Iskandar on Apr 01, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

12/22/2012

pdf

Bagaimanakah Alkitab Ibrani dalam kitab-kitab selanjutnya mencatat hal-hal

“bersukaria” sebagaimana telah diuraikan di atas ini dalam ibadah yang dilakukan

orang-orang Israel? Berikut akan dipaparkan secara kronologis sejumlah kejadian

yang dicatat Alkitab Ibrani tersebut.

Pertama, dalam 1Sam. 1:3-4 dan 9 kita melihat dalam keluarga Elkana

sebuah kebiasaan untuk menempuh perjalanan ke Silo dan beribadah di sana. Dalam

ritual mempersembahkan kurban, ada kegiatan makan bersama sesama anggota

keluarga. Perhatikan pula bahwa pada ayat 9 disebutkan bukan hanya disebut bahwa

mereka makan, tetapi mereka “makan dan minum”. Suatu nuansa yang lebih kuat

bahwa “minum” adalah suatu entitas tersendiri, terlepas dari “makan” sehingga bisa

ditafsirkan sebagai meminum suatu minuman jenis tertentu, atau mungkin minuman

yang dapat memabukkan, didapat dari pembacaan KJV (1611) dan TNK (1985):

KJV : So Hannah rose up after they had eaten in Shiloh, and after they had drunk.

TNK : After they had eaten and drunk at Shiloh, Hannah rose.

Dari ayat-ayat ini kita dapat melihat bahwa orang-orang Israel – sekurang-kurangnya

melalui satu keluarga ini – benar-benar memiliki kebiasaan datang ke tempat yang

TUHAN pilih untuk membawa persembahan mereka dan bersenang-senang sekeluarga,

35

walaupun memang muncul ketidakharmonisan dalam keluarga ini akibat poligami

dan kemandulan Hana.

Kedua, Daud menempatkan kelompok-kelompok penyanyi untuk

melengkapi jajaran petugas ibadah dalam 1Taw. 16:41-42.22

Nyanyian dan musik

telah menjadi bagian yang integral di dalam ibadah umat Israel. Dapat dikatakan

bahwa keberadaan para pemusik adalah sebagai fasilitator bagi bangsa Israel untuk

bersukaria dalam ibadah mereka.

Ketiga, ketika Raja Salomo menahbiskan Bait Suci, serangkaian kegiatan

keagamaan yang penuh sukacita pun dapat kita lihat dengan jelas, bagaimana sukacita

yang besar merajut kegiatan keagamaan itu dengan kehidupan umat Israel sehari-hari

dalam 1Raj. 8:66, 2Taw. 6:41-42 dan 2Taw. 7:10. Sukacita yang besar senantiasa

hadir menandai kepenuhan suatu ibadah dan mengantarkan umat Israel kembali ke

tempat tinggal mereka, ke dalam rutinitas mereka dengan kesadaran yang baru bahwa

TUHAN tetap menyertai mereka.

Keempat, dalam masa pemerintahan Raja Yoas, 2Taw. 24:10 mencatat

bahwa pemulihan ibadah kepada TUHAN membawa sukacita kepada semua pemimpin

dan seluruh rakyat.

Kelima, 2Taw. 29:36 dan 2Taw. 30:25 mencatat bahwa ibadah yang

dilakukan oleh seluruh umat secara komunal juga membawa sukacita bagi semua

orang yang terlibat, baik orang-orang Israel sendiri (yaitu, jemaat Yehuda), imam,

orang-orang Lewi dan orang-orang asing. Dalam masa kerajaan yang telah terpecah

22

Bnd. 2Raj. 11:14, “… raja berdiri dekat tiang menurut kebiasaan, sedang para pemimpin dengan
para pemegang nafiri ada dekat raja. Dan seluruh rakyat negeri bersukaria sambil meniup nafiri.”

36

ini dicatat pula bahwa ada orang-orang dari tanah Israel (yaitu, Kerajaan Utara).

Ibadah kepada TUHAN dipelihara kendati masalah politis yang terjadi dan sukacita

yang dari TUHAN pun tetap hadir melintasi batas politis maupun etnis (perhatikan

“orang-orang asing”).

Keenam, setelah orang Israel kembali dari pembuangan, Ezr. 6:22 dan Neh.

12:43 mencatat betapa bersukarianya orang Israel kembali beribadah kepada TUHAN,

Allah Israel. Kembali berada di hadirat TUHAN setelah suatu periode-panjang dalam

keadaan terbuang adalah suatu hal yang sangat menggembirakan.

Ketujuh, suatu nuansa yang agak berbeda dapat kita baca dalam

Neh. 8:10-12,

“Lalu Nehemia, yakni kepala daerah itu, dan imam Ezra, ahli kitab itu, dan orang-
orang Lewi yang mengajar orang-orang itu, berkata kepada mereka semuanya: "Hari
ini adalah kudus bagi TUHAN Allahmu. Jangan kamu berdukacita dan menangis!",
karena semua orang itu menangis ketika mendengar kalimat-kalimat Taurat itu. Lalu
berkatalah ia kepada mereka: "Pergilah kamu, makanlah sedap-sedapan dan minumlah
minuman manis dan kirimlah sebagian kepada mereka yang tidak sedia apa-apa,
karena hari ini adalah kudus bagi Tuhan kita! Jangan kamu bersusah hati, sebab
sukacita karena TUHAN itulah perlindunganmu!" Juga orang-orang Lewi menyuruh
semua orang itu supaya diam dengan kata-kata: "Tenanglah! Hari ini adalah kudus.
Jangan kamu bersusah hati!"

Walaupun konteksnya agak berbeda – yaitu pembacaan kitab hukum yang sudah lama

diabaikan oleh umat Israel – tetapi keberadaan mereka di hadirat TUHAN tetap harus

diwarnai oleh sukacita. Dukacita dan tangisan adalah hal-hal yang dipandang kurang

patut. Para pemuka Israel bahkan juga memerintahkan umat untuk makan dan minum

hidangan yang dapat mendorong perasaan positif dalam diri mereka, serta juga

membagikannya dengan “mereka yang tidak sedia apa-apa” karena kekudusan Tuhan.

Perlindungan TUHAN dan kekudusan-Nya adalah alasan umat harus bersukacita.

37

Bagaimana dengan perintah untuk datang ke satu tempat ibadah? Saat

pembaca dalam zaman kita membaca peraturan-peraturan tentang satu tempat ibadah

yang kita jumpai dalam Ul. 12:7; 12:12; 12:18; 14:26; dan 16:11, 14-15, mungkin

sekali yang terbersit dalam pemikirannya adalah Yerusalem, kota di mana bait Allah

didirikan oleh Salomo, Ezra dan Herodes. Tetapi ketika kita memperhatikan sejarah

bangsa Israel, sesudah mereka memasuki tanah perjanjian di bawah pimpinan Yosua,

bait Allah masih berpindah-pindah di berbagai tempat.

Pada masa Raja Saul tabut perjanjian sempat dicuri oleh orang-orang Filistin

dan hingga masa Raja Daud pun masih terjadi upaya-upaya pemindahan tabut

perjanjian. Barulah pada masa Raja Salomo bait Allah dibangun dan tabut perjanjian

memperoleh kediamannya. Vriezen mencatat,

Di tanah Israel terdapat berbagai tempat suci walaupun hanya beberapa di antaranya
yang disebutkan dalam riwayat Saul dan Daud, yaitu Kuil di Gilgal (1 Sam. 11:15),
Nod (1 Sam. 21:1 dyb.), Bukit Zaitun (2 Sam. 15:32).
Bahwa hanya beberapa kuil ini disebut tentu tidak berarti bahwa tidak ada yang
lain. Berdasarkan cerita di dalam Kitab Hakim-hakim, Raja-raja dan di dalam tulisan-
tulisan para nabi jelas bahwa pada permulaan periode kerajaan terdapat banyak sekali
kuil.23

Beberapa tempat lain yang disebutkan Vriezen adalah Silo, Hebron dan Yerusalem.

Pada akhir perjalanan bangsa Israel memasuki tanah Kanaan – akhir dari

masa pelayanan Musa – bangsa Israel masih merupakan bangsa nomaden. Mereka

berpindah-pindah dalam satu kelompok besar dan berkemah menurut suku mereka.

Ibadah dilaksanakan di Kemah Suci yang terletak di pusat perkemahan mereka.

23

Vriezen, op.cit., 76f.

38

Dalam keadaan nomaden, mereka cukup terlindungi dari pengaruh-pengaruh

kebudayaan asing dan agama asing.

Sesudah memasuki tanah Kanaan, tantangan pun bermunculan. Mereka

berhadapan lebih frontal dibandingkan sebelumnya dengan kebudayaan yang lebih

mapan daripada kebudayaan mereka sendiri – suatu keadaan yang biasanya

mengunggulkan kebudayaan yang lebih matang untuk menghisap kebudayaan yang

inferior terhadapnya. Di sini perintah untuk beribadah kepada satu Allah menjadi

semakin bermakna, di tengah kehadiran banyaknya dewa asing.

Pada awalnya ibadah masih terjadi secara sporadis, di mana-mana orang

bebas mendirikan tempat ibadahnya. Vriezen mencatat ada empat jenis tempat

ibadah: kapel-kapel pribadi, kuil-kuil kuno yang telah dipakai bangsa Kanaan, bukit-

bukit pengorbanan dan tempat-tempat ibadat Yahwis24
.

Melihat lambatnya perkembangan yang demikian, nampaknya yang lebih

penting adalah dijaganya kekudusan nama TUHAN dan tindakan preventif agar umat

Israel tidak menyimpang dari jalan TUHAN, bukan tempat itu sendiri yang

dipermasalahkan.

Kita mengetahui bahwa bangsa Israel ternyata gagal memelihara keutuhan

ibadah kepada TUHAN sehingga mereka akhirnya dibuang dari tanah perjanjian.

Sesudah itu, dalam masa Perjanjian Baru pun kita melihat Tuhan Yesus mengecam

ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi seraya mengingatkan orang Israel, “...

turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi

janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya

24

Ibid., 181ff.

39

tetapi tidak melakukannya” (Mat. 23:3). Selanjutnya, dalam ayat 23 pasal yang sama

Tuhan Yesus kembali mengecam mereka, “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan

orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih,

adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu

abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan

dan yang lain jangan diabaikan” (cetak-miring ditambahkan).

Jadi, bangsa Israel sebenarnya tidak pernah memenuhi idealisme kitab

Ulangan dalam ibadah mereka sendiri. Dua aspek dalam ibadah yang ideal – harus

dengan sukaria dan harus mengingat sesama manusia – tetap gagal dipenuhi bangsa

Israel, bahkan sesudah mereka kembali dari pembuangan.

Bagaimanakah Firman ini berarti bagi kita di masa kini? Inilah yang akan

menjadi topik bab berikutnya.

40

BAB III

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->