P. 1
hukum dagang

hukum dagang

|Views: 9,464|Likes:
Published by Ira Susanthy

More info:

Published by: Ira Susanthy on Apr 01, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/24/2013

pdf

text

original

Sections

  • BAB I
  • RUANG LINGKUP HUKUM DAGANG INTERNASIONAL
  • A.Pendahuluan
  • B.Definisi Hukum Dagang Internasional
  • 1. Definisi Schmitthoff
  • 2. Definisi M. Rafiqul Islam
  • 3. Definisi Michelle Sanson
  • 4. Definisi Hercules Booysen
  • C.Pendekatan Hukum Perdagangan Internasional
  • D. Prinsip-Prinsip Dasar Hukum Perdagangan Internasional
  • E. Tujuan Hukum Perdagangan Internasional
  • F. Perkembangan Hukum Perdagangan Internasional
  • G. Penutup
  • BAB II
  • SUBJEK HUKUM PERDAGANGAN INTERNASIONAL
  • A. Pendahuluan
  • B. Subjek Hukum Perdagangan Internasional
  • Imunitas Negara
  • C. Penutup
  • BAB III
  • SUMBER HUKUM PERDAGANGAN INTERNASIONAL
  • B. Sumber Hukum Perdagangan Internasional
  • 2. Hukum Kebiasaan Internasional
  • 3. Prinsip-Prinsip Hukum Umum
  • 4. Putusan-Putusan Badan pengadilan dan Doktrin
  • 5. Kontrak
  • 6. Hukum Nasional
  • BAB IV
  • PEMASARAN BARANG-BARANG KE LUAR NEGERI
  • B. Cara-Cara Pemasaran Barang Ke Luar Negeri
  • BAB V
  • SISTEM PEMBAYARAN DALAM TRANSAKSI PERDAGANGAN
  • INTERNASIONAL
  • B. Metode Pembayaran Dalam Perdagangan Internasional
  • 1. Metode Pembayaran Terlebih Dahulu (Advance)
  • 2. Metode Pembayaran Secara Open Account
  • 3. Metode Pembayaran Berdasarkan Konsinyasi
  • 4. Metode Pembayaran Secara Documentary Collection
  • 5. Metode Pembayaran Secara Documentary Credit
  • C. Penutup
  • BAB VI
  • DOKUMEN-DOKUMEN DALAM PERDAGANGAN INTERNASIONAL
  • 1. Dokumen Pendahuluan
  • 2. Dokumen Pokok
  • 3. Dokumen Tambahan
  • B. Penutup
  • BAB VII
  • PENYELESAIAN SENGKETA DALAM PERDAGANGAN INTERNASIONAL
  • B. Para Pihak Dalam Sengketa Perdagangan Internasional
  • 2. Sengketa Antara Pedagang dan Negara Asing
  • C. Prinsip-Prinsip Penyelesaian Sengketa
  • 2. Prinsip Kebebasan Memilih Cara-cara Penyelesaian Sengketa
  • 3. Prinsip Kebebasan Memilih Hukum
  • 4. Prinsip Itikad Baik (Good Faith)
  • 5. Prinsip Exhaustion of Local Remedies
  • D. Forum Penyelesaian Sengketa
  • 1. Negosiasi
  • 2. Mediasi
  • 3. Konsiliasi
  • 4. Arbitrase
  • 5. Pengadilan (Nasional dan Internasional)
  • E. Penutup
  • DAFTAR PUSTAKA

BAB I RUANG LINGKUP HUKUM DAGANG INTERNASIONAL

A. Pendahuluan Hukum perdagangan internasional merupakan bidang hukum yang

berkembang cepat. Ruang lingkup bidang hukum ini cukup luas. Hubungan – hubungan dagang yang sifatnya lintas batas dapat mencakup banyak jenisnya, dari bentuknya yang sederhana, yaitu dari barter, jual beli barang atau komoditi hingga hubungan atau transaksi dagang yang kompleks. Kompleksnya hubungan atau transaksi dagang internasional ini paling tidak disebabkan oleh adanya jasa teknologi (khususnya teknologi informasi ) sehingga transaksi-transaksi dagang semakin berlangsung cepat. Batas-batas Negara bukan lagi menjadi halangan dalam bertransaksi. Ada beberapa motif atau alasan mengapa Negara atau subjek hukum (pelaku dalam perdagangan) melakukan transaksi dagang internasional. Kesadaran untuk melakukan transaksi dagang internasional juga telah cukup lama disadari oleh para pelaku pedagang di tanah air sejak abad ke 17. salah satunya adalah Amanna Gappa, kepala suku Bugis yang sadar akan pentingnya dagang ( pelayaran) bagi kesejahteraan sukunya. Keunggulan suku Bugis dalam berlayar dengan hanya menggunakan perahu-perahu Bugis yang kecil telah mengarungi lautan luas hingga ke Malaya ( sekarang menjadi wilayah Singapura dan Malaysia). Esensi untuk bertransaksi dagang ini merupakan dasar filosofis dari munculnya perdagangan. Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya bahwa

1

berdagang ini merupakan suatu “kebebasan fundamental” (fundamental freedom). Dengan kebebasan ini, siapa saja harus memiliki kebebasan untuk berdagang. Kebebasan ini tidak boleh dibatasi oleh adanya perbedaan agama, suku, kepercayaan, politik, sistem hukum dan lain-lain. Piagam hak-hak dan kewajiban Negara (charter of economic right and duties of state) juga mengakui bahwa setiap Negara memiliki hak untuk melakukan perdagangan internasional.

B. Definisi Hukum Dagang Internasional Walaupun perkembangan bidang hukum berjalan dengan cepat, namun ternyata masih belum ada kesepakatan tentang definisi untuk bidang hukum dagang internasional ini. Hanya dewasa ini terdapat berbagai definisi mengenai hukum dagang internasional yang satu sama lain berbeda. 1. Definisi Schmitthoff Schmitthoff mendefinisikan hukum perdagangan internasional sebagai ; .the

body of rules governing commercial relationship of a private law nature involving different nations Dari definisi tersebut tampak unsur-unsur sebagai berikut : 1) hukum perdagangan internasional adalah sekumpulan aturan yang mengatur hubungan-hubungan komersial yang sifatnya hukum perdata. 2) Aturan-aturan hukum tersebut mengatur transaksi-transaksi yang berbeda Negara. Definisi di atas menunjukkan dengan jelas bahwa aturan-aturan tersebut bersifat komersial, artinya Schmitthoff dengan tegas membedakan antara hukum perdata (private law nature ) dan hukum publik.

2

Dalam definisinya, Schmitthoff menegaskan bahwa ruang lingkup bidang hukum dagang internasional tidak termasuk hubungan-hubungan komersial internasional dengan ciri hukum publik. Dengan kata lain Schmitthoff menegaskan bahwa wilayah hukum perdagangan internasional tidak termasuk atau terlepas dari aturan-aturan hukum internasional publik yang mengatur hubungan-hubungan komersial, misalnya aturan-aturan hukum internasional yang mengatur hubungan dagang dalam kerangka GATT atau aturan-aturan yang mengatur blok-blok perdagangan regional, aturanaturan yang mengatur komoditi, dan lain sebagainya.. Dari latar belakang definisi tersebut berdampak pada ruang lingkup cakupan hukum dagang internasional. Schmitthoff menguraikan bidang-bidang berikut sebagai bidang cakupan bidang hukum dagang internasional seperti : a. jual beli dagang internasional, yang meliputi pembentukan kontrak, mengatur tentang perwakilan-perwakilan dagang, pengaturan penjualan eksklusif; b. surat-surat berharga; c. hukum mengenai kegiatan-kegiatan tentang tingkah laku mengenai perdagangan internasional; d. asuransi; e. pengangkutan melalui darat dan kereta api, laut udara dan perairan pedalaman; f. hak milik industri; g. arbitrase komersial

3

Kegiatan-kegiatan komersial tersebut dapat dibagi ke dalam kegiatan komersial yang berada dalam ruang lingkup hukum perdata internasional atau conflict of law. Dengan adanya keterkaitan erat antara perdagangan internasional dan keuangan (international trade and finance law). yang memiliki dampak terhadap perilaku komersial lembaga-lembaga perdagangan. 4 . perdagangan antar pemerintah atau antar Negara yang diatur oleh hukum internasional publik. Rafiqul Islam menekankan keterkaitan erat antara perdagangan internasional dan hubungan keuangan (financial relations). norma dan praktik yang menciptakan suatu pengaturan (regulatory regime) untuk transaksi-transaksi perdagangan transnasional dan sistem pembayarannya. transnational.2. Rafiqul Islam Dalam upayanya memberi batasan atau definisi hukum perdagangan internasional. A wide ranging. Rafiqul Islam mendefinisikan hukum perdagangan dan keuangan sebagai suatu kumpulan aturan. prinsip. trading bodies and states . commercial exchange of goods and services between individual business persons. Keterkaitan erat ini tampak karena hubungan-hubungan keuangan ini mendampingi transaksi perdagangan antara para pedagang (dengan pengecualian transaksi barter atau counter trade). Karena ruang lingkup kajian bidang hukum ini sifatnya adalah lintas batas atau transnasional. Dari batasan tersebut tampak bahwa ruang lingkup hukum perdagangan internasional sangat luas. Dalam hal ini Rafiqul Islam memberi batasan perdagangan internasional sebagai : “……. konsekwensinya adalah terkaitnya lebih dari satu sistem hukum yang berbeda. Hubungan finansial terkait erat dengan perdagangan internasional. Definisi M.

Public international trade law adalah hukum yang mengatur perilaku dagang antar Negara. Hukum Perdagangan Internasional menurut definisi Sanson adalah : . Meskipun Sanson memberi definisi yang mengambang. Booysen menyadari bahwa ilmu hukum sangatlah kompleks. Can be defined as the regulation of the conduct of parties involved in the exchange of goods. Sementara itu private international trade law adalah hukum yang mengatur perilaku dagang secara orang perorangan di Negaranegara yang berbeda.3. Oleh karena itu upaya untuk membuat definisi bidang hukum termasuk hukum perdagangan internasional sangatlah sulit dan jarang tepat. publik. Definisi Hercules Booysen Booysen seorang sarjana dari Afrika selatan tidak memberikan definisi secara tegas. Definisi Michelle Sanson Sarjana lain yang mencoba memberi batasan bidang hukum dagang internasional adalah Sanson. Sanson membagi hukum perdagangan internasional ini kedalam dua bagian utama. Sanson hanya menyebut bidang hukum ini adalah the regulation of the conduct of parties. atau hukum internasional. seorang sarjana dari Australia. Oleh karena itu upayanya untuk 5 . 4. yaitu hukum perdagangan internasional publik (public international trade law) dan hukum perdagangan internasional privat (private international trade law). services and technology between nations Sanson tidak menyebut secara jelas bidang hukum dagang internasional ini jatuh ke bidang hukum privat.

dan lain-lain. hukum transaksi bisnis internasional. Sementara itu pendekatan yang ditempuh untuk membedakan kedua 6 . 2. hukum komersial internasional. Luasnya bidang cakupan dalam hukum perdagangan internasional membuat cakupan yang dikajinya sulit untuk tidak tumpang tindih dengan bidang-bidang lainnya. hukum perdagangan internasional adalah aturan-aturan hukum internasional yang berlaku terhadap perdagangan barang. jasa dan perlindungan hak atas kekayaan intelektual (HKI) (International trade law can be described as those rules of international law which are applicable to trade in goods. Masalahnya adalah di mana letak atau garis batas di antara hukum perdagangan dengan bidang-bidang hukum lain. 3. hukum perdagangan internasional dapat dipandang sebagai suatu cabang khusus dari hukum internasional (international trade law may also be regarded as a specialized branch of international law). Pendekatan Hukum Perdagangan Internasional Di bagian awal tulisan ini tampak luasnya bidang cakupan hukum perdagangan internasional. C. Booysen hanya mengungkapkan unsur-unsur dari definisi hukum perdagangan internasional. yaitu : 1. misalnya dengan hukum ekonomi internasional. khususnya hukum ekonomi internasional. Menurut Booysen ada tiga unsur. services and the protection of intellectual property). hukum perdagangan internasional terdiri dari aturan-aturan hukum nasional yang memiliki atau pengaruh langsung terhadap perdagangan internasional secara umum.memberi definisi.

bidang hukum ini adalah dengan melihat subjek hukum yang tunduk kepada kedua bidang hukum tersebut. yaitu : 1. Selain itu. Hukum ekonomi internasional dalam kenyataannya juga mengatur kegiatan-kegiatan atau transaksi-transaksi badan hukum privat atau yang terkait dengan kepentingan privat. dibutuhkan sedikit banyak bantuan disiplin (ilmu) lain. Untuk dapat memahami bidang hukum ini secara komprehensif. namun aturan-aturan tersebut bagaimanapun juga akan berdampak pada individu atau subjek-subjek hukum lainnya dalam wilayah suatu Negara. D. Karakterisitk lain dari hukum perdagangan internasional adalah pendekatannya yang interdisipliner. pendapat tersebut tidak begitu valid. Hukum ekonomi internasional lebih banyak mengatur subjek hukum yang bersifat publik. meskipun hukum ekonomi internasional mengatur subjek-subjek hukum publik atau Negara. misalnya mengenai perlindungan dan nasionalisasi atau ekspropriasi perusahaan asing. sedangkan hukum perdagangan internasional lebih menekankan kepada hubungan-hubungan hukum yang dilakukan oleh badan-badan hukum privat. Prinsip-Prinsip Dasar Hukum Perdagangan Internasional Menurut Profesor Alexander Goldstajn ada tiga prinsip dalam Hukum Perdagangan Internasional. Hal ini membutuhkan bantuan dari pemahaman disiplin ilmu pelayaran. Prinsip dasar Kebebasan berkontrak 7 . Dalam kenyataannya. udara dan laut). Dalam bidang hukum ini terkait dengan bidang pengangkutan (darat.

provided always that law respects in every national jurisdiction the limitations imposed by public policy” Kebebasan ini mencakup bidang hukum yang cukup luas. 2. . kesopanan dan persyaratan lain yang ditetapkan oleh masing-masing system hukum. Sudah barang tentu kebebasan ini tidak boleh bertentangan dengan UndangUndang. No objection that in that area an autonomous law of international trade is developed by the parties. Prinsip ini berlaku secara universal. Prinsip Dasar Pacta Sunt Servanda Prinsip Pacta sunt servanda adalah prinsip yang mensyaratkan bahwa kesepakatan atau kontrak yang telah ditandatangani harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya (dengan itikad baik). Dalam prinsip kebebasan berkontrak ini termasuk pula kebebasan untuk memilih forum penyelesaian sengketa dagangnya serta mencakup pula kebebasan untuk memilih hukum yang akan berlaku terhadap kontrak yang dibuatnya. Prinsip Dasar Penyelesaian Sengketa melalui Arbitrase 8 . meliputi kebebasan untuk melakukan jenis-jenis kontrak yang disepakati oleh para pihak. Schmitthoff menanggapi secara positif kebebasan berkontrak ini dengan menyatakan : “The autonomy of the parties will in the law of contract is the foundation on which an autonomous law of international trade can be built. The national sovereign has. Setiap sistem hukum dalam hukum dagang mengakui kebebasan para pihak untuk membuat kontrak-kontrak dagang (internasional).Prinsip kebebasan berkontrak sebenarnya merupakan prinsip universal dalam hukum perdagangan internasional. 3. kesusilaan. kepentingan umum.

prinsip dasarnya yang relevan dengan prinsip dasar yang dikenal dalam hukum ekonomi internasional. usage and business practice. politik atau system hukum. termasuk didalamnya kebebasan bernavigasi). Klausul arbitrase sudah semakin banyak dicantumkan dalam kontrak-kontrak dagang. Goldstajn menguraikan kelebihan dan alasan mengapa penggunaan arbitrase dijadikan prinsip dasar dalam hukum perdagangan internasional. the fact that the enforcement of foreign arbitral awards is generally more easy than the enforcement of foreign court decisions is conducive to ap preference for arbitration 4. taking into account customs. Arbitration tribunals aften apply criteria other than those applied in courts. Kebebasan komunikasi ini bersifat sangat esensial bagi terlaksananya perdagangan internasional. udara. Tujuan Hukum Perdagangan Internasional 9 . Komunikasi atau navigasi adalah kebebasan para pihak untuk berkomunikasi untuk keperluan dagang dengan siapa pun juga dengan melalui berbagai sarana navigasi atau komunikasi. baik darat. E.Futher. Dalam komunikasi untuk maksud berdagang ini. a uniform legal order is being created. Prinsip Dasar Kebebasan komunikasi (Navigasi) Disamping tiga prinsip dasar tersebut. yaitu : “Moreover to the extent that the settlement of defferences is referred to arbitration.Arbitrase dalam perdagangan internasional adalah merupakan forum penyelesaian sengketa yang umum digunakan. Arbitrators appear more ready to interpret rules freely. atau melalui media sarana elektronik. kebebasan para pihak tidak boleh dibatasi oleh system ekonomi. yaitu prinsip kebebasan untuk berkomunikasi (dalam pengertian luas. laut.

hukum perdagangan internasional sebagian besar bersifat pragmatis dan permisif. meningkatkan pemanfaatan sumber-sumber kekayaan dunia dan meningkatkan produk dan transaksi jual beli barang.Tujuan hukum perdagangan internasional sebenarnya tidak berbeda dengan tujuan GATT (General Agreement on Tariffs and Trade. Adapun tujuan dari hukum perdagangan internasional adalah : 1. Kelemahan tersebut dapat ditemui dalam bidang-bidang hukum lainnya. meningkatkan standar hidup umat manusia. yakni terdapatnya pengecualian-pengecualian atau klausul-klausul “penyelamat’ yang bersifat memperlonggar kewajiban-kewajiban hukum. mengembangkan system perdagangan multilateral. 6. Meskipun adanya tujuan dalam hukum perdagangan internasional tersebut di atas bagus. 1974). 5. 3. dan 4. untuk meningkatkan volume perdagangan dunia dengan menciptakan perdagangan yang menarik dan menguntungkan bagi pembangunan ekonomi semua Negara. namun hukum perdagangan internasional masih memiliki cukup banyak kelemahan. meningkatkan lapangan kerja. yang termuat dalam pembukaannya. untuk mencapai perdagangan internasional yang stabil dan menghindari kebijakan-kebijakan dan praktik-praktik perdagangan nasional yang merugikan Negara lain. 2. Hal ini mengakibatkan aturan-aturan hukum perdagangan internasional kurang objektif didalam “memaksakan” Negara-negara untuk tunduk pada hukum. Dalam 10 . Kelemahan spesifik tersebut : a.

Hukum Perdagangan Internasional Yang Dicantumkan dalam hukum Nasional 3. Kelemahan ini sekaligus juga merupakan kekuatan bagi perkembangan hukum perdagangan internasional yang menyebabkan atau memungkinkan perkembangan hukum ini di tengah krisis. perkembangan hukum perdagangan internasional dapat dikelompokkan ke dalam tiga tahap. b.kenyataanya. F. Lahirnya Aturan-aturan Hukum Perdagangan Internasional dan Munculnya Lembaga-lembaga Internasional yang Mengurusi Perdagangan Internasional 11 . Negara-negara yang memiliki kekuatan politis dan ekonomi memanfaatkan perdagangan sebagai sarana kebijakan politisnya. Perkembangan Hukum Perdagangan Internasional Hukum perdagangan internasional telah ada sejak lahirnya Negara dalam arti modern. Sejak saat itu. Aturan-aturan hukum perdagangan internasional bersifat mendamaikan dan persuasive (tidak memaksa). hukum perdagangan internasional telah mengalami perkembangan yang cukup pesat sesuai dengan perkembangan hubungan-hubungan perdagangan. Dilihat dari perkembangan sumber hukumnya (dalam arti materiil). yaitu : 1. Hukum Perdagangan internasional dalam Masa Awal Pertumbuhan 2.

Jelaskan apa yang dimaksud dengan pendekatan hukum perdagangan internasional bersifat interdisipliner. maka diharapkan mahasiswa dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini : 1. Jelaskan pengertian hukum perdagangan internasional 2. 3. Sebut dan jelaskan prinsip-prinsip dasar dalam hukum perdagangan internasional 4. Jelaskan tentang perkembangan hukum perdagangan internasional 5.G. Penutup Setelah menguasi bahasan dalam bab satu. Sebutkan tujuan dari hukum perdagangan internasional 12 .

Pendahuluan Dalam aktivitas perdagangan internasional terdapat beberapa subjek hukum yang berperan penting di dalam perkembangan hukum perdagangan internasional. Negara Negara merupakan subjek hukum terpenting di dalam hukum perdagangan internasional.BAB II SUBJEK HUKUM PERDAGANGAN INTERNASIONAL A. yang dimaksud dengan subjek hukum adalah : 1. para pelaku (stakeholders) dalam perdagangan internasional yang mampu dan berwenang untuk merumuskan aturan-aturan hukum di bidang hukum perdagangan internasional. Dalam hukum perdagangan internasional. alasannya :pertama. Negara merupakan satu-satunya subjek hukum yang memiliki kedaulatan. bahwa subjek hukum dalam hukum perdagangan internasional adalah : A. Berdasarkan kedaulatan ini. dan 2. Negara memiliki wewenang untuk 13 . Negara merupakan subjek hukum yang paling sempurna. para pelaku (stakeholders) dalam perdagangan internasional yang mampu mempertahankan hak dan kewajibannya di hadapan badan peradilan. Subjek Hukum Perdagangan Internasional Sebagaimana telah diuraikan di atas. B.

UNCITRAL. Negara juga bersama-sama dengan Negara lain mengadakan perjanjian internasional guna mengatur transaksi perdagangan. Arti imunitas disini adalah bahwa Negara tersebut memiliki hak untuk mengklaim kekebalannya terhadap tuntutan (klaim) terhadap dirinya. Ketika Negara bertransaksi dagang dengan Negara lain. Sheldrick dengan tepat menggambarkan imunitas Negara sebagai berikut : “Savereign immunity is a long established precept of public international law 14 . Negara antara lain berwenang untuk membuat hukum (regulator) yang mengikat segala subjek hukum lainnya (individu. Negara berperan juga sebagai subjek hukum dalam posisinya sebagai pedagang. perusahaan). kemungkinan hukum yang akan mengaturnya adalah hukum internasional.menentukan dan mengatur segala sesuatu yang masuk dan keluar dari wilayahnya. hukum yang mengaturnya adalah hukum nasional (dari salah satu pihak). Negara memiliki imunitas terhadap pengadilan Negara lain. Prinsip umum yang diakui adalah bahwa dengan atribut kedaulatan. Ketiga. Dengan atribut kedaulatannya ini. Kedua. Ketika Negara bertransaksi dengan subjek hukum lainnya. Keempat. WTO. Negara adalah salah satu pelaku utama dalam perdagangan internasional. Negara juga berperan baik secara langsung maupun tidak langsung dalam pembentukan organisasi-organisasi (perdagangan) internasional didunia misal. UNCTAD. Imunitas Negara Salah satu masalah yang kerap timbul dalam kaitannya dengan Negara adalah atribut kedaulatan Negara itu sendiri. mengikat benda dan peristiwa hukum yang terjadi di dalam wilayahnya termasuk perdagangan. Dalam posisinya ini.

Dengan demikian dapat dianggap 15 . In its traditional form. this rule applied to all types of suit. konsep imunitas ini mengalami pembatasan. Deklarasi mengenai prinsip-prinsip hukum internasional antara lain menyatakan bahwa . Negara tersebut dianggap telah dengan sukarela menanggalkan imunitasnya. pembatasan oleh hukum internasional. Dalam bertransaksi dagang.which requires that a foreign government or head of state cannot be sued without its consent. tetapi juga sekaligus membatasinya. irrespective of the difference in their political. Dewasa ini beberapa Negara memiliki undang-undang mengenai imunitas yang sifatnya membatasi imunitas Negaranegara (asing) yang melakukan transaksi dagang di dalam wilayahnya atau dengan warga negaranya. Kedua. Minimal ada 4 (empat) pembatasan terhadap muatan imunitas suatu Negara. including those arising out of purely commercial transactions undertaken by the foreign sovereign Dalam perkembangannya. pembatasan secara diam-diam dan sukarela. criminal and civil. Pembatasan ini dianggap terjadi ketika suatu Negara secara sukarela menundukkan dirinya ke hadapan suatu badan peradilan yang mengadili persidangan dan Negara tersebut mematuhinya. kemungkinan lain yang menjadi indikasi pembatasan imunitas ini adalah apabila Negara memasukkan klausul arbitrase ke dalam kontrak dagangnya. States have the duty to co operate with one another. pembatasan oleh hukum nasional. yaitu pertama. Keempat. hukum internasional mengakui imunitas Negara ini. Ketiga. . Hukum internasional juga mensyaratkan Negara-negara untuk bekerjasama dengan Negara lain untuk memajukan ekonomi. economic and social system.

Hukum internasional melarang suatu Negara menahan kapal perang asing yang sedang menyandar di pelabuhan suatu Negara asing atau menyita bangunan kedutaan Negara asing. pelaksanaan putusan pengadilan hanya memungkinkan terhadap aset-aset yang Negara asing yang bersangkutan tidak dibutuhkan untuk melaksanakan fungsi-fungsi pelayanan public.bahwa Negara tersebut telah menanggalkan imunitasnya untuk menghadap ke badan arbitrase yang dipilihnya untuk menyelesaikan sengketa dagangnya. perlu dibentuk suatu dasar hukum yang biasanya adalah perjanjian internasional. Berdasarkan hukum internasional. internasional atau arbitrase) tidak lagi berlaku. B. Organisasi internasional dibentuk oleh dua atau lebih Negara guna mencapai tujuan bersama. Untuk mendirikan suatu organisasi internasional. masalah sesungguhnya dalam kaitannya dengan pembatasan Negara di hadapan badan peradilan adalah pelaksanaan putusan pengadilannya. suatu badan peradilan tidak dapat menyita harta milik Negara lain atau memaksakan putusannya terhadap harta milik Negara lain yang digunakan atau yang memiliki fungsi pelayanan publik. Namun. Organisasi Perdagangan Internasional Organisasi internasional yang bergerak di bidang perdagangan internasional memainkan peran yang penting. Dengan adanya pembatasan-pembatasan tersebut. Dalam perjanjian internasional ini termuat tujuan. 16 . kekebalan suatu Negara untuk hadir dihadapan badan peradilan (nasional asing. Menurut Houtte. fungsi dan struktur organisasi perdagangan internasional yang bersangkutan.

Negara dari individu yang bersangkutan harus juga disyaratkan untuk menjadi anggota konvensi ICSID ( Konvensi Washington 1965). sengketanya hanya dibatasi untuk sengketasengketa di bidang penanaman modal yang sebelumnya tertuang dalam kontrak. status individu dalam hukum perdagangan internasional tidaklah terlalu penting. Persyaratan ini bersifat mutlak. Subjek hukum lainnya yang termasuk ke dalam kategori ini adalah (a) perusahaan multinasional. Indonesia telah meratifikasi dan mengikatkan diri terhadap konvensi ICSID melalui Undang-Undang Nomor 5 tahun 1968. 17 . dan (b) bank. Individu Individu atau perusahaan adalah pelaku utama dalam perdagangan internasional. aturan-aturan hukum yang dibentuk oleh Negara memiliki tujuan untuk memfasilitasi perdagangan internasional yang dilakukan individu. Selain itu. Disebutkan di atas bahwa individu adalah subjek hukum dengan sifat hukum perdata (legal persons of a private law nature). Di banding dengan Negara atau organisasi internasional. Aturan-aturan di bidang perdagangan yang mereka buat sendiri kadang-kadang memiliki keuatan mengikat seperti halnya hukum nasional. Status individu sebagai subjek hukum perdagangan internasional tetaplah tidak boleh dipandang kecil. Biasanya individu dipandang sebagai subjek hukum dengan sifat hukum perdata (legal persons of a private law nature). karena. Kedua. Namun demikian hak ini bersifat terbatas. pertama. Konvensi ICSID mengakui hak-hak individu untuk menjadi pihak di hadapan badan arbitrase ICSID. Individulah yang pada akhirnya akan terikat oleh aturan-aturan hukum perdagangan internasional.C.

Aturan-aturan yang mengontrol aktivitas MNCs memang perlu untuk menjembatani perbedaan kepentingan antara Negara tuan rumah yang mengharapkanMNCs masuk kedalam wilayahnya dapat memberi kontribusi bagi pembangunan. yaitu mendapatkan keuntungan sebesarbesarnya. . maka perlu aturan-aturan hukum untuk menjembataninya.1. Pasal 2 (2) (b) antara lain berbunyi . Tidak jarang MNCs sedikit banyak dapat mempengaruhi situasi dan kondisi politik dan ekonomi suatu Negara. Peran ini sangat mungkin karena kekuatan financial yang dimilikinya. Perusahaan Multinasional Perusahaan multinasional (MNCs atau Multinational Corporations) telah lama diakui sebagai subjek hukum yang berperan penting dalam perdagangan internasional. 2. Oleh karena itu. Pasal 2 (2) (b) Piagam Hak dan Kewajiban Ekonomi Negara-negara antara lain menyebutkan bahwa MNCs tidak boleh campur tangan terhadap masalah-masalah dalam negeri dari suatu Negara. Transnational corporation shall not intervene is the internal affairs of a host State” Alasan pengaturan ini tampaknya masuk akal. sementara MNCs bertujuan untuk mencapai target utama perusahaan. Bank 18 . agar kedua kepentingan ini pada titik tertentu dapat bertemu. Dengan kekuatan finansialnya hukum (perdagangan) internasional berupaya mengaturnya.

b.Seperti individu atau MNCs. Bank menjembatani antara penjual dan pembeli yang satu sama lain mungkin saja tidak mengenal karena mereka berada di Negara yang penjual dan pembeli. Jelaskan peranan Negara dalam perdagangan internasional 3. bank dapat digolongkan sebagai subjek hukum perdagangan internasional dalam arti terbatas. khususnya dalam mengembangkan hukum perbankan internasional. Bank tunduk pada hukum nasional di mana bank tersebut didirikan. Sebutkan Subjek hukum dalam hukum perdagangan internasional 2. maka mahasiswa diharapkan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut : 1. Jelaskan hak Imunitas suatu Negara dalam hukum perdagangan internasional 4. Jelaskan peranan bank dalam perdagangan internasional 19 . Tanpa bank. c. C. perdagangan internasional mungkin tidak dapat berjalan. Bank berperan penting dalam menciptakan aturan-aturan hukum perdagangan internasional. Faktor-faktor yang membuat subjek hukum ini penting adalah : a. peran bank dalam perdagangan internasional dapat dikatakan sebagai pemain kunci. Penutup Setelah mahasiswa memperlajari materi pada bab ini. Sebut dan jelaskan pembatasan-pembatasan terhadap hak imunitas suatu Negara dalam hukum perdagangan internasional 5.

Jelaskan keuntungan dan kerugian dari adanya suatu perusahaan multinasional di suatu Negara.6. 20 . Jelaskan pengertian dari Perusahaan Multinasional 7.

yaitu perjanian multilateral. hukum kebiasaan internasional. Perjanjian regional adalah kesepakatan-kesepakatan di bidang perdagangan internasional yang dibuat oleh Negara-negara yang tergolong atau berada dalam suatu regional tertentu. regional dan bilateral. B. perjanjian internasional terbagi ke dalam tiga bentuk. 1. Dari sumber hukum inilah kita dapat menemukan hukum tersebut yang kemudian diterapkan kepada suatu fakta tertentu dalam perdgangan internasional. Secara umum. prinsipprinsip hukum umum dan putusan-putusan pengadilan dan publikasi sarjana-sarjana terkemuka (doktrin). Pendahuluan Sumber hukum perdagangan internasional merupakan bab yang penting. 21 . Perjanjian Internasional Perjanjian internasional merupakan salah satu sumber hukum yang terpenting. Perjanjian internasional atau multilateral adalah kesepakatan tertulis yang mengikat lebih dari dua pihak (Negara) dan tundak pada aturan hukum internasional. Sumber Hukum Perdagangan Internasional Sumber-sumber hukum internasional yang dkenal dalam perdagangan internasional yaitu perjanjian internasional.BAB III SUMBER HUKUM PERDAGANGAN INTERNASIONAL A.

Suatu perjanjian dikatakan bilateral ketika perjanjian tersebut hanya mengikat dua subjek hukum internasional (Negara atau organisasi internasional). a. Daya mengikat Perjanjian (Perdagangan Internasional) Suatu perjanjian perdagangan internasional mengikat berdasarkan kesepakatan para pihak yang membuatnya. Oleh karena itu, sebagaimana halnya perjanjian intenasional pada umumnya, perjanjian perdagangan internasional pun hanya akan mengikat suatu Negara apabila Negara tersebut sepakat untuk menandatangani atau meratifikasinya. Ketika suatu Negara telah meratifikasinya, Negara tersebut berkewajiban untuk mengundangkannya ke dalam aturan hukum nasionalnya. Perjanjian internasional yang telah diratifikasi tersebut kemudian menjadi bagian dari hukum nasional Negara tersebut. Kadangkala perjanjian internasional membolehkan suatu Negara untuk tidak menerapkan atau mengecualikan beberapa pengaturan atau pasal dari perjanjian internasional, atau sebaliknya. Salah satu cara lain bagi suatu Negara untuk terikat kepada suatu perjanjian internasional adalah melalui penundukan secara diam-diam, artinya tanpa mengikatkan diri secara tegas melalui penandatanganan dan ratifikasi (yang biasanya instrument ratifikasi tersebut didepositokan kepada suatu badan yang berwenang, missal Sekjen PBB), suatu Negara dapat saja mengikatkan dirinya dengan cara mengadopsi muatan suatu perjanjian internasional ke dalam hukum nasionalnya.

22

b. Isi Perjanjian Muatan yang terkandung didalam perjanjian perdagangan internasional pada umumnya memuat, hal-hal berikut : 1. Liberalisasi perdagangan Perjanjian yang memuat liberalisasi perdagangan adalah meliberalisasi

perdagangan. Dalam hal ini, Negara-negara anggota perjanjian internasional berupaya menanggalkan berbagai rintangan pengaturan atau kebijakan (Negara) yang dapat menghambat atau mengganggu kelancaran transaksi perdagangan internasional. 2. Integrasi Ekonomi Perjanjian internasional berupaya mencapai suatu integrasi ekonomi melalui pencapaian kesatuan kepabeanan (customs union), suatu kawasan perdagangan bebas (free trade zone), atau bahkan suatu kesatuan ekonomi (economic union). Perjanjian seperti ini biasanya memberi kewenangan kepada suatu organisasi internasional guna mencapai tujuan integrasi ekonomi. 3. Harmonisasi Hukum Tujuan utama harmonisasi hukum hanya berupaya mencari keseragaman atau titik temu dari prinsip-prinsip yang bersifat fundamental dari berbagai sistem hukum yang ada (yang akan diharmonisasikan) 4. Unifikasi Hukum Dalam unifikasi hukum, penyeragaman mencakup penghapusan dan penggantian suatu sistem hukum dengan sistem hukum yang baru. 5. Model Hukum dan Legal Guide

23

Pembentukan model hukum dan legal guide sebenarnya tidak lepas dari upaya harmonisasi. Bentuk hukum seperti ini biasanya ditempuh karena didasari sulitnya bidang hukum yang akan disepakati atau diatur. Oleh karena itu, mereka membuat model hukum ini yang sifatnya tidak mengikat. c. Standar Internasional Standar internasional adalah norma-norma yang disyaratkan untuk ada di dalam perjanjian internasional, yang merupakan syarat penting didalam tata ekonomi internasional, serta syarat suatu Negara untuk berpartisipasi di dalam transaksi ekonomi internasional. Syarat-syarat dasar tersebut adalah : 1.) Minimum Standard atau Equitable Treatment Minimum Standart adalah norma atau aturan dasar yang semua Negara harus taati untuk dapat turut serta dalam transaksi-transaksi perdagangan internasional. Contoh standar minimum adalah dalam perjanjian-perjanjian dalam bidang perlindungan hak kekayaan intelektual. 2.) Most Favoured Nation Clause Klausul most favoured nation adalah klausul yang mensyaratkan perlakuan non diskriminasi dari suatu Negara terhadap Negara lain. Menurut Houtte, klausul MNF biasanya diikuti oleh dua sifat cukup penting, yaitu : a. reciprocal (timbal balik), artinya pemberian MFN ini diberikan dan disyaratkan oleh masing-masing Negara. Jadi sifatnya timbal balik dan; b. unconditional (tidak bersyarat), artinya Negara anggota lainnya dalam suatu perjanjian berhak atas perlakuan-perlakuan khusus yang diberikan kepada Negara ketiga.

24

Equal Treatment Equal Treatment (perlakuan sama) adalah klausul lainnya yang harus ada dalam perjanjian-perjanjian internasional. Berdasarkan prinsip ini. d.3). karena memang Negara-negara pesertanya tidak menginginkan keputusan-keputusan yang dibuat oleh organisasi internasional tidak mengikat mereka secara hukum. 4). 25 . Resolusi-Resolusi Organisasi Internasional Dewasa ini berbagai organisasi internasional acap kali mengeluarkan keputusan-keputusan berupa resolusi-resolusi yang sifatnya tidak mengikat. Menurut klausul ini. Preferential Treatment Prinsip ini biasanya diterapkan diantara Negara-negara yang memiliki hubungan politis atau ekonomis. Daya mengikat resolusi-resolusi ini biasanya disebut juga sebagai soft law. Negara-negara peserta dalam suatu perjanjian disyaratkan untuk memberikan perlakuan yang sama satu sama lain. 2. resolusiresolusi yang dikeluarkan oleh organisasi internasional kadangkala juga mengikat. hukum kebiasaan perdagangan merupakan sumber hukum yang dapat dianggap sebagai sumber hukum yang pertama-tama lahir dalam hukum perdagangan internasional. Akan tetapi. Hukum Kebiasaan Internasional Sebagai sumber hukum. suatu Negara dapat saja memberikan perlakuan khusus yang lebih menguntungkan (preferential treatment) kepada suatu Negara daripada kepada Negara lainnya.

Peran sumber hukum ini biasanya diyakini lahir. Ketiga prinsip 26 . Suatu praktek kebiasaan untuk menjadi mengikat harus memenuhi syaratsyarat sebagai berikut : a) suatu praktek yang berulang-ulang dilakukan dan diikuti oleh lebih dari dua pihak (praktek Negara). baik dari system hukum nasional maupun hukum internasional. Prinsip-Prinsip Hukum Umum Sebenarnya belum ada pengertian yang diterima luas untuk menjelaskan apa yang dimaksud dengan prinsip-prinsip hukum umum. Istilah ini logis karena memang para pedaganglah yang mula-mula “menciptakan” aturan hukum yang berlaku bagi mereka untuk transaksi-transaksi dagang mereka. Beberapa contoh dari prinsip-prinsip hukum umum ini antara lain adalah prinsip itikad baik. Suatu kebiasaan tidak selamanya menjadi mengikat dan karenanya menjadi hukum. prinsip-prinsip hukum umum ini dipandang sebagai sumber hukum penting dalam upaya mengembangkan hukum.Dalam studi hukum perdagangan internasional. prinsip pacta sunt servanda. termasuk hukum perdagangan internasional. Sumber hukum ini akan mulai berfungsi ketika hukum perjanjian (internasional) dan hukum kebiasaan internasional tidak memberikan jawaban atas suatu persoalan. sumber hukum ini disebut juga sebagai lex mercatoria atau hukum para pedagang (the law of the merchants). b) praktek ini diterima sebagai mengikat (opnio iuris sive necessitates). Oleh karena itu. dan prinsip ganti rugi. 3.

Doktrin ini penting ketika sumber-sumber hukum sebelumnya ternyata tidak jelas atau tidak mengatur sama sekali mengenai suatu hal di bidang perdagangan internasional. Statusnya paling tidak sama seperti yang kita kenal dalam sistem hukum continental. Putusan-Putusan Badan pengadilan dan Doktrin Sumber hukum ini akan memainkan perannya apabila sumber-sumber hukum sebelumnya tidak memberi kepastian atau jawaban atas suatu persoalan hukum (di bidang perdagangan internasional). Putusan-putusan pengadilan dalam hukum perdagangan internasional tidak memiliki kekuatan hukum yang kuat seperti yang dikenal dalam sistem hukum Common Law. Jadi ada semacam kewajiban yang tidak mengikat bagi badanbadan pengadilan untuk mempertimbangkan putusan-putusan pengadilan sebelumnya (dalam sengketa yang terkait dengan perdagangan internasional).ini terdapat dan diakui dalam hampir semua sistem hukum di dunia. 4. 27 . Begitu pula dengan doktrin. dan terdapat pula dalam hukum (perdagangan internasional). Peran dan fungsinya cukup penting dalam menjelaskan sesuatu hukum perdagangan internasional. Bahkan doktrin dapat pula digunakan untuk menemukan hukum. bahwa putusan pengadilan sebelumnya hanya untuk mempertimbangkan. yaitu pendapat-pendapat atau tulisan-tulisan sarjana terkemuka (dalam bidang hukum dagang internasional).

Oleh karena itu. Para pelaku perdagangan (pedagang) atau stakeholders dalam hukum perdagangan internasional ketika melakukan transaksi-transaksi perdagangan internasional. Kontrak Sumber hukum perdagangan internasional yang sebenarnya merupakan sumber utama dan terpenting adalah perjanjian atau kontrak yang dibuat oleh para pedagang sendiri. (2) status dari kontrak itu sendiri.5. Dengan demikian. yaitu . artinya kontrak tersebut meskipun di bidang perdagangan internasional paling tidak tunduk dan dibatasi oleh hukum nasional (suatu Negara tertentu). (3) menurut Sanson. pembatasan lain yang juga penting dan mengikat para 28 . dengan ketertiban umum. kesusilaan dan kesopanan. Kontrak dalam perdagangan internasional tidak lain adalah kontrak nasional yang ada unsure asingnya. (1) pembatasan yang umum adalah kebebasan tersebut tidak boleh bertentangan dengan undang-undang. Dalam kontrak kita mengenal penghormatan dan pengakuan terhadap prinsip konsensus dan kebebasan para pihak syarat-syarat perdagangan dan hak serta kewajiban para pihak seluruhnya diserahkan kepada para pihak dan hukum menghormati kesepakatan ini yang tertuang dalam perjanjian. Meskipun kebebasan para pihak sangatlah essensial. namun kebebasan tersebut ada batas-batasanya. mereka menuangkannya dalam perjanjian-perjanjian tertulis (kontrak). kontrak sangat essensial. kontrak berperan sebagai sumber hukum yang perlu dan terlebih dahulu mereka jadikan acuan penting dalam melaksanakan hak dan kewajiban mereka dalam perdagangan internasional. dan dalam taraf tertentu.

6. bentuk-bentuk 29 . hukum nasional yang dibuat suatu Negara dapat mencakup hukum perpajakan. kepabeanan. Peran hukum nasional sebenarnya sangatlah luas dari sekedar mengatur kontrak dagang internasional. perlindungan HKI hingga perijinan ekspor impor suatu produk. Dalam hal ini. (c) benda yang berada di dalam wilayahnya. kesehatan. perlindungan konsumen. Hukum Nasional Peran hukum nasional sebagai sumber hukum perdagangan internasional mulai lahir ketika timbul sengketa sebagai pelaksanaan dari kontrak. Yurisdiksi atau kewenangan tersebut adalah kewenangan suatu Negara untuk mengatur segala. (b) subjek hukum. persaingan sehat. artinya apabila tidak ada pengecualian lain. Kewenangan mengatur ini mencakup membuat hukum (nasional) baik yang sifatnya hukum publik maupun hukum perdata (privat). kekuasaan itu tidak dapat diganggu gugat. mencakup kewenangan Negara dalam membuat dan meletakkan syarat-syarat (dan izin) berdirinya suatu perusahaan. (a) peristiwa hukum.pihak adalah kesepakatan-kesepakatan atau kebiasaan-kebiasaan dagang yang sebelumnya dilakukan oleh para pihak yang bersangkutan. Peran signifikan dari hukum nasional lahir dari adanya yurisdiksi (kewenangan) Negara. Kewenangan Negara ini sifatnya mutlak dan eksklusif. ketenagakerjaan. Kewenangan atas subjek hukum (pelaku atau stakeholders) dalam perdagangan intenasional. Kewenangan atas peristiwa hukum di sini dapat berupa transaksi jual beli dagang internasional atau transaksi dagang internasional..

perusahaan beserta syarat-syaratnya. lingkungan. Kewenangan Negara untuk mengatur atas suatu benda yang berada di dalam wilayahnya mencakup pengaturan objek-objek apa saja yang dapat atau tidak dapat untuk diperjualbelikan. maka diharapkan mahasiswa dapat menjelaskan sumbersumber hukum perdagangan internasional 30 . produk tiruan dan lain-lain. termasuk didalamnya adalah larangan untuk masuknya produk-produk yang dianggap membahayakan moral. kesehatan manusia. Penutup Setelah mahasiswa mempelajari dan memahami tentang sumber hukum perdagangan internasional. hingga pengaturan berakhirnya perusahaan (dalam hal perusahaan pailit dan sebagainya). tanaman. C.

yaitu : 31 . maka dipandang dari sudut produsen terutama dalam melaksanakan pemasaran barang-barang ke luar negeri. Oleh karena itu perlu sekali dicari cara yang tepat dan penetapan saluran yang akan dipergunakan untuk memungkinkan adanya hubungan antara produsen di satu pihak dengan konsumen atau pemakai di lain pihak. Salah satu faktor yang ingin dikemukakan di sini adalah bahwa di dalam perdagangan luar negeri. Pendahuluan Melaksanakan perdagangan luar negeri pada hakekatnya berarti menyelenggarakan fungsi-fungsi marketing (pemasaran) pada tingkat internasional. Cara-Cara Pemasaran Barang Ke Luar Negeri Lazimnya produsenlah yang biasanya bertindak aktif. Produsen pada umumnya merupakan pihak yang aktif dalam usahanya melaksanakan pemasaran barang yang dihasilkan kepada konsumen. B. tetapi sebaliknya bukan hal yang mustahil pula jika konsumen yang bertindak aktif mencari barang yang dibutuhkannya dengan cara mendekati sendiri produsen dari barang yang dibutuhkan.BAB IV PEMASARAN BARANG-BARANG KE LUAR NEGERI A. produsen dan konsumen satu sama lainnya dipisahkan oleh batas kenegaraan (geopolitik). produsen dapat menempuh beberapa cara yang dapat digolongkan dalam 2 golongan.

b. 32 . Mencari sendiri pembeli di luar negeri. e. Menyelenggarakan after sales service (perawatan barang yang telah dijual) Dengan cara pemasaran langsung ini produsen bertanggungjawab atas keseluruhan transaksi ini mulai dari mempersiapkan barang itu sampai barang tersebut diterima oleh konsumen. ia juga bertindak sebagai eksportir pula. Menyiapkan barang sampai menjadi barang siap untuk diekspor (ready for export). f. Mengurus sendiri penyelesaian pembayaran dan lain-lain yang bersangkutan dengan pelaksanaan ekspor. cara pemasaran langsung Dengan cara pemasaran langsung dimaksudkan produsen menyelenggarakan sendiri pemasaran hasil produksinya itu ke luar negeri. pengepakan. Oleh karena itu di samping tugasnya sebagai produsen. d. misalnya keharusan menyelenggarakan after sales service. Menyelesaikan formalitas ekspor sesuai dengan peraturan yang berlaku. maka ia pun berkewajiban dan bertanggungjawab menyelenggarakan hal-hal sebagai berikut : a. bahkan adakalanya masih bertanggungjawab sekalipun barang itu sudah dalam kekuasaan dan menjadi milik konsumen. h.1. penyimpanan di gudang. menyelenggarakan pengangkutan ke pelabuhan. Melakukan urusan pengapalan barang (shipping). Antara lain melakukan penyortiran. Melakukan penutupan asuransi. dalam arti di samping sebagai produsen. c. Menyiapkan dokumen pengapalan (shipping document) g.

2. Produsen tidak perlu lagi mengeluarkan biaya untuk keperluan market survey. biaya promosi barangnya (sales promotion cost). ataupun melakukan pembelian barang dari luar negeri dan dimasukkan (impor) ke dalam negeri untuk dijual kembali atas risikonya sendiri. Keuntungan bagi produsen memilih memasarkan barangnya dengan dengan cara ini adalah : 1). baik ekspor maupun impor. Tidak perlu lagi menyediakan aparat khusus untuk menyelenggarakan ekspornya. yaitu dengan mempergunakan jasa perantaraan badan usaha lain yang khusus bergerak dalam perdagangan luar negeri. Di sini dapat dikemukakan beberapa macam badan usaha yang dapat dipergunakan oleh produsen dalam melakukan pemasaran hasil produksinya ke luar negeri. cara pemasaran tidak langsung Selain dari itu dalam melaksanakan pemasaran barang ke luar negeri dapat pula ditempuh cara lain. Ekspor/Impor Merchant Ekspor/impor merchant atau pedagang impor/ekspor adalah badan usaha baik perorangan maupun badan hukum yang melakukan pembelian barang di dalam negeri atas risiko sendiri untuk dijual ke luar negeri. Badan usaha yang dipergunakan sebagai perantara dalam perdagangan luar negeri terdiri dari : a. 33 . 2). atau juga badan usaha yang dapat dipergunakan oleh konsumen untuk menyelenggarakan pembelian kebutuhannya (impor) dari luar negeri.

Kantor cabang atau anak perusahaan luar negeri yang demikian. Oleh karena itu badan usaha yang demikian bisa disebut sebagai confirming house atau indent house. dimana perusahaan asing yang membuka kantor cabangnya atau mendirikan anak cabang perusahaan di dalam negeri. Ekspor/impor Merchant merupakan badan usaha dalam negeri 9nasional0 yang bergerak untuk pemasaran barang di luar negeri. Oleh karena kantor cabang atau anak perusahaan yang demikian biasanya melakkan pembelian hasil hasil produksi setempat (lokal) yang kemudian diangkut ke negeri asalnya.3). bekerja atas perintah dan untuk kepentingan kantor induknya yang berada di luar negeri. sebab kedua badan usaha ini sama bertindak sebagai 34 . maka kesempatan ini dapat pula dipergunakan oleh para produsen setempat untuk secara tidak langsung mengekspor hasil produksinya ke luar negeri baik sebagai transaksi local biasa maupun atas dasar komisi. Di dalam praktek tidak ada perbedaan yang pokok antara export merchant dan confirming house. b. Tidak perlu lagi menanggung risiko perdagangan luar negeri seperti pelunasan pembayaran dan risiko tuntutan ganti rugi (claims). Confirming House. maka badan usaha ini disebut juga export commission house. Pada umumnya kantor-kantor cabang ini melakukan pembelian di dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan kantor induknya. ataupun untuk keperluan konsumen di negeri asalnya dengan mendapatkan komisi. Export Commission House atau Indent House. Tetapi sebaliknya ada pula. Berdasarkan uraian tersebut.

Sebaliknya confirming house bekerja dan bertindak untuk kepentingan konsumen di luar negeri atau kalau dilihat dari sudut kepentingan nasional maka perusahaan ini termasuk perusahaan setempat yang bekerja untuk kepentingan asing. c. Oleh karena itu badan usaha yang bergerak dalam bidang perdagangan luar negeri disebut sebagai perusahaan dagang impor/ekspor atau juga disebut sebagai export dan import company. dan hamper ke setiap Negara dan mempunyai organisasi dan jaringan perdagangan yang tersebar luas. 35 . atau trading house yang melaksankan perdagangan hamper segala macam barang. Sebab tidak jarang suatu badan usaha bertindak dan berfungsi baik sebagai export merchant. commission agent. Hanya export merchant bekerja dan lebih mengutamakan kepentingan produsen sebab keuntungan dari export merchant itu. tetapi suatu ikatan perjanjian keagenan (agency agreement). Export/Import Company atau Trading House Di dalam praktek tidak terdapat perbedan pokok antara badan-badan usaha yang bergerak sebagai perantara dalam perdagangan luar negeri.eksportir. bahkan kelangsungan hidupnya sangat tergantung dari berhasil tidaknya badan usaha itu melaksanakan pemasaran barang yang dihasilkan oleh produsen yang diselenggarakannya itu. Bilamana hubungan antara produsen dengan export merchant itu tidak hanya sebagai principal to principal biasa. maka dalam hal ini export merchant itu juga disebut sebagai export agent. maupun sebagai importer.

Jelaskan apa yang dimaksud dengan Trading House 36 . Jelaskan apa yang dimaksud dengan Ekspor/impor Merchant 3. Jelaskan cara-cara pemasaran barang ke luar negeri 2. Penutup Setelah mengikuti pokok bahasan ini. 5. Jelaskan perbedaan antara Confirming House dengan Indent House 7. maka mahasiswa diharapkan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini : 1. Jelaskan keuntungan ekspor/impor merchant bagi produsen 4.C. Jelaskan pengertian dari Confirming House. Jelaskan pengertian dari Indent House 6.

Ataupun terhadap beberapa bentuk. Metode Pembayaran Dalam Perdagangan Internasional Dalam hukum dagang internasional. dewasa ini berkembang beberapa metode pembayaran yang telah merubah system pembayaran dalam transaksi jual beli internasional. Namun perlu diperhatikan bahwa terhadap beberapa bentuk pembayaran. Pendahuluan Perkembangan dalam sistem pembayaran dari benda yang diperjualbelikan secara internasional. B. asal sesuai kesepakatan kedua belah pihak. semua metode pembayaran tersebut secara yuridis sah. diantaranya yang lazim adalah sebagai berikut : 37 .BAB V SISTEM PEMBAYARAN DALAM TRANSAKSI PERDAGANGAN INTERNASIONAL A. kemudian dikenal metode-metode pembayaran canggih yang terjadi saat ini. yaitu dari awalnya pembayaran barang dengan barang atau barter sampai dengan metode pembayaran dengan memakai uang. bahkan terdapat konvensi-konvensi internasional yang perlu diperhatikan oleh kedua belah pihak. terdapat pengaturan yuridis dalam sistem hukum lokal Negara tertentu. yaitu metode pembayaran yang dapat memproteksi kepentingan ke dua belah pihak misalnya lewat pembayaran dengan sistem letter of credit (L/C).

b. atau karena sesuatu hal dan lain hal bahkan barang tersebut tidak dikirim sama sekali oleh pihak eksportir. berbgai kemungkinan atas barang objek jual beli dapat terjadi. kecuali dalam hal-hal seperti : a. Sistem pembayaran seperti ini sangat menguntungkan dan sangat aman bagi pihak eksportir (penjual) tetapi sangat tidak aman bagi pihak importer (pembeli). 38 . metode pembayaran secara advance ini sangat jarang diikuti dalam praktek. Jika transaksi tersebut terhadap order barang-barang yang harganya relative rendah. hilang ditengah jalan. Misalnya pemesanan dengan surat atas pembelian buku. Bisa jadi barang tersebut tidak sesuai dengan pesanan. misalnya ada hubungan saudara. atau benda-benda lainnya. Metode Pembayaran Terlebih Dahulu (Advance) Metode pembayaran terlebih dahulu adalah suatu sistem pembayaran. Jika ada hubungan khusus antara eksportir dengan importer. setelah uang diterima oleh pihak eksportir. dimana pihak eksportir (penjual) akan mengirimkan barang dagangannya setelah eksportir (penjual) menerima pembayaran harga barang tersebut. hubungan teman atau hubungan antara perusahaan yang terafiliasi dalam satu group usaha. Karena itu. jika bonafiditas dan kejujuran pihak eksportir sudah dikenal dikalangan pedagang secara luas. Sebab.1. c.

3. pihak investor juga baru akan membayar harga setelah barang diterimanya. Metode Pembayaran Berdasarkan Konsinyasi Metode pembayaran atas dasar konsinyasi ini merupakan suatu variasi lain dari sistem pembayaran dengan open account. sistem open account ini tentunya sangat tidak aman bagi pihak eksportir berhubung adanya kemungkinan pembayaran yang tidak sesuai dengan perjanjian. Karena itu. kurang atau terlambat pembayaran. barang yang bersangkutan dikirim terlebih dahulu kepada importer (pembeli). 39 . Metode Pembayaran Secara Open Account Metode pembayaran dengan open account ini adalah sebagai kebalikan dari metode pembayaran terlebih dahulu (advance). atau bahkan karena sesuatu dan lain hal. Hanya saja dalam hal ini. ataupun dilakukan jika terdapat good record dari pihak importer. Dalam sistem konsinyasi. pihak importer menerima barang tersebut untuk kemudian menjual lagi kepada pihak ketiga. Kemudian setelah barang tersebut laku terjual kepada pihak ketiga dan telah dibayar harganya oleh pihak ketiga tersebut. baru kemudian harganya setelah dipotong selisihnya dikirim kepada pihak eksportir (penjual semula). kemudian setelah barang diterima oleh pihak importer (pembeli). Salah satu variasi dari sistem pembayaran secara open account ini adalah jika barang dikirim secara rutin sedangkan pembayaran dilakukan secara periodic. harga tidak dibayar sama sekali. Terhadap metode dengan open account.2. misalnya dibayar tiap tiga bulan sekali. Sistem pembayaran secara open account ini sering dilakukan antara induk perusahaan dengan anak perusahaan atau dengan perusahaan yang terafiliasi. baru dibayar sebagai hutang.

Karena itu.Pembayaran harga secara konsinyasi kepada pihak eksportir (penjual semula) tersebut biasanya dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut : a. pihak importer tidak dapat mengambil barang impor yang bersangkutan. Ini berarti sekali bayar untuk beberapa pengiriman. Adapun yang dimaksud dengan clean bills adalah bills of exchange yang tidak memerlukan dokumen-dokumen supportive lainnya. yaitu clean bills dan documentary bills. apakah dengan langsung mengirim harga kepada pihak eksportir setelah dipotong selisih harga untuk tiap-tiap jula beli. Pembayaran harga tersebut dipertukarkan dengan shipping documents yang bersangkutan. tetapi kepada eksportir (penjual semula) oleh importer dibayar harganya secara periodic. Jadi tidak diperlukan misalnya dokumen kepemilikan atas barang tersebut seperti Bill of Lading dan 40 . b. Dalam praktek ada dua macam Bills of Exchange. Metode Pembayaran Secara Documentary Collection Banyak juga transaksi dagang internasional yang melakukan pembayaran harga barang secara documentary collection. Tanpa shipping documents ditangannya. yaitu lewat penggunaan dokumen yang disebut Bills Of Exchange Dalam hal ini pihak importer harus membayar harga barang setelah shipping documents tiba di banknya importer. c. shipping documents tidak akan diberikan oleh pihak bank. 4. harga dibayar setelah pihak ketiga membayar harga. atau harga baru dibayar kepada eksportir dalam waktu tertentu setelah barang laku terjual kepada pihak ketiga. ataupun jika jual beli dilakukan secara rutin. tanpa pembayaran harga barang.

Sistem pembayaran lewat L/C ini dewasa ini sudah diterima secara meluas di kalangan lalu lintas perdagangan internasional. Sementara bentuk lain adalah apa yang disebut dengan documentary bills. untuk kemudian oleh bank tersebut diteruskan kepada bank di Negara eksportir. seperti dokumen kepemilikan barang dan lain-lain. Kewajiban ini dilakukan dengan kewajiban dari pihak importer untuk membuka letter of credit (L/C) pada bank di Negara importer. mahasiswa diharapkan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini : 41 . maka dipakailah sistem pembayaran dengan documentary credit. Penutup Setelah memperlajari materi pada bab ini. Transaksi perdagangan internasional dengan system pembayaran yang meliputi beberapa metode akan memudahkan pelaksanaan dalam bisnis internasional ini. suatu bills of exchange haruslah diperkuat oleh dokumen-dokumen supportive lainnya. tanpa terlebih dahulu menunggu tibanya barang atau tibanya dokumen. C. Bentuk seperti ini lebih lazim dipraktekkan. Metode Pembayaran Secara Documentary Credit Untuk menjembatani kepentingan pihak eksportir agar barang dikirim setelah harga dibayar. melainkan hanya memilih metode pembayaran yang telah tersedia. 5. Dalam hal ini.sebagainya. sementara pihak importer punya kepentingan agar harga dibayar setelah barang diterima. Dalam hal ini suatu pembayaran dilakukan lewat bank sebagai perantara. karena masing-masing pihak tidak perlu lagi mengadakan pembicaraan secara tatap muka.

Jelaskan metode pembayaran secara open account 3. Jelaskan perbedaan antara pembayaran dengan metode advance dan open account 4. Jelaskan metode pembayaran advance 2.1. Jelaskan metode pembayaran berdasarkan konsinyasi 5. jelaskan metode pemabayaran secara documentary credit 42 . Jelaskan metode pembayaran secara documentary collection 6.

Dokumen-dokumen tersebut dapat digolongkan dalam beberapa jenis. maka hal tersebut telah mengikat kedua belah pihak. yaitu: 1. atau Letter of Intent. Dokumen Pendahuluan Biasanya sebelum suatu kontrak jual beli ditandatangani. yang sangat lazim dilakukan adalah apa yang disebut dengan Letter of Offer (to buy or to sell). kecuali jika dalam isi dokumen tersebut dinyatakan sebaliknya. Atau kalaupun ada dokumen pendahuluan sering juga tidak diikuti oleh dokumen-dokumen lainnya. Di antara macam-macam dokumen pendahuluan. Pendahuluan Dalam perdagangan internasional ada beberapa macam dokumen yang berperan. Apabila dokumen tersebut ditandatangani oleh kedua belah pihak. Contoh lain dari dokumen yang dapat dikategorikan sebagai dokumen pendahuluan adalah apa yang disebut Sale Confirmation atau dokumen-dokumen lain yang senada dengan itu.BAB VI DOKUMEN-DOKUMEN DALAM PERDAGANGAN INTERNASIONAL A. maka terlebih dahulu dibuat beberapa dokumen pendahuluan. ada kecenderungan untuk menggantikan dokumen pendahuluan dengan hanya mengangkat telepon saja. 43 . Bahkan untuk perdagangan yang rutin. Bentuk dokumen pendahuluan ini bervariasi.

Commercial Invoice. dan Consulaire Invoice. Terkadang hanya cukup dengan kontrak pendahuluan saja. Dokumen Transportasi. Di samping itu terdapat pula yang disebut Proforma Invoice. yaitu invoice yang diterbitkan untuk sementara. Hal ini disebabkan karena : (1) tempat penjual dengan pembeli berjauhan sehingga diperlukan seberkas dokumen pengiriman. yang biasanya terdiri dari : 1) Bill Of Lading atau disebut juga dengan istilah “Konosemen” yang menurut pasal 506 KUHD. berarti suatu dokumen yang bertanggal. yang merupakan invoice yang diterbitkan oleh perwakilan Negara importer. Adapun yang yang lazim menjadi dokumen tambahan dalam perdagangan internasional antara lain : a. Dokumen Pokok Dokumen pokok adalah kontrak jual beli itu sendiri. sehingga diperlukan dokumen-dokumen ekspor impor. dalam mana pengangkut menerangkan telah menerima barang tertentu untuk 44 . Letter of Credit (L/C) b. Dokumen Tambahan Selain dari dokumen pendahuluan dan dokumen pokok. Seperti telah disebutkan bahwa tidak selamanya kontrak jual beli ini ada dalam suatu transaksi perdagangan internasional. c. 3. masih banyak lagi dokumen yang menyertai suatu transaksi jual beli internasional.2. yakni yang berisikan penjelasan tentang barang yang dikirim. dan (2) Negara dari penjual dengan pembeli berbeda.

6) Draft atau Wesel. 3) Mates Receipt.diangkutnya ke suatu tempat tujuan tertentu dan menyerahkan barang dimaksud kepada orang tertentu. Jika barang yang dikirim tersebut diasuransikan. yaitu suatu bukti tanda terima barang dari pihak yang mengangkut barang. Dokumen ini dipergunakan jika pengangkutan dilakukan lewat udara. Merupakan suatu keterangan yang diterbitkan oleh perusahaan pelayaran dan ditandatangani oleh kapten kapal. 4) Air Waybill. seperti : a) Laporan Pemeriksaan Surveyor. 7) Dokumen Asuransi. maka diperlukan juga seperangkat dokumen untuk keperluan tersebut. 5) Dokumen transportasi darat atau kereta api. jika barang dikirim lewat darat atau kereta api. Road/Railway Transport Document ini dikeluarkan oleh perusahaan angkutan darat atau kereta api. Isinya menyatakan bahwa barang (dengan spesifikasinya) telah dimuat dalam kapal. b) Certificate of Origin 45 . Merupakan suatu surat perintah bayar sejumlah uang tertentu tanpa syarat kepada pihak tertentu seperti disebutkan dalam draf tersebut. 2) Good Receipt. yang diterbitkan dan ditandatangani oleh pihak pengangkut tersebut. 8) Dokumen lain-lain. begitu pula menerangkan tentang syaratsyarat penyerahan barangnya.

g. tentang barang yang dijual b. seperti : (1) Certificate of Quality. Tentang terminasi perjanjian 46 . Secara garis besar ada beberapa hal yang seringkali ada dan merupakan pasal-pasal dalam suatu kontrak jual beli internasional. tentang waransi yang diberikan oleh pihak penjual dan batas-batasnya.c) Packing List d) Certificate of Weight (Weight List) e) Certificate of Inspection. tentang hak dan kewajiban para pihak c. Tentang force majeure h. tentang harga barang d. f. Garansi dan indemnifikasi oleh pihak penjual jika adanya kerugian yang disebabkan oleh produk yang dijualnya. f) Lain-lain (untuk komoditi tertentu). yaitu : a. tentang cara pembayaran e. (2) Certificate of Health (3) Test Certificate (4) Manufactures Certificate (5) Tally Sheet (6) Log List (7) Dan lain-lain.

Cara Pembayaran 2.i. Tentang hukum yang berlaku dan pengadilan yang berwenang. j. maka diharapkan mahasiswa dapat menjelaskan mengenai dokumen-dokumen yang berlaku dalam perdagangan internasional. Penutup Setelah mahasiswa mempelajari dan memahami materi dalam perkuliahan mengenai dokumen dalam perdagangan internasional. Dan lain-lain. Persyaratan Transportasi 4. Pilihan Hukum Asing-Domestik B. Ada beberapa hal yang harus dicermati dalam menandatangani suatu International Sale Contract yaitu hal-hal berikut : 1. Fluktuasi Nilai Tukar Uang 3. TanggungJawab Produksi 5. Ganti Rugi Likuidasi (Liquidated Damages) 7. Force Majeure 6. 47 .

BAB VII PENYELESAIAN SENGKETA DALAM PERDAGANGAN INTERNASIONAL A. Di samping forum pengadilan atau badan arbitrase. Kesepakatan tersebut diletakkan baik pada waktu kontrak ditandatangani atau setelah sengketa timbul. baik kepada pengadilan maupun ke arbitrase. barulah ditempuh cara-cara lainnya seperti penyelesaian sengketa melalui pengadilan atau arbitrase. pengiriman dan penerimaan barang. Pendahuluan Transaksi-transaksi atau hubungan dagang banyak bentuknya. Langkah yang biasa ditempuh adalah dengan membuat suatu perjanjian atau memasukkan suatu klausul penyelesaian sengketa ke dalam kontrak atau perjanjian yang mereka buat. Penyerahan sengketa. Jika cara penyelesaian negosiasi gagal atau tidak berhasil. dari yang berupa hubungan jual beli barang. yang lazim 48 . Dasar hukum bagi forum atau badan penyelesaian sengketa yang akan menangani sengketa adalah kesepakatan para pihak. Umumnya sengketa-sengketa dagang kerap didahului dengan penyelesaian sengketa dengan cara negosiasi. baik ke pengadilan atau ke badan arbitrase. kerap kali didasarkan pada suatu perjanjian di antara para pihak. produksi barang dan jasa berdasarkan suatu kontrak dan lain-lain. Semua transaksi tersebut sarat dengan potensi untuk melahirkan suatu sengketa. para pihak dapat pula menyerahkan sengketanya kepada cara alternatif penyelesaian sengketa.

Cara penyelesaian ini tergantung pada kebebasan dan kesepakatan para pihak. Karena sifat dari hukum perdagangan internasional adalah lintas batas. Sengketa ini diselesaikan melalui berbagai cara. kemudian pedagang dan Negara asing. Para Pihak Dalam Sengketa Perdagangan Internasional Sebagaimana telah kita ketahui bersama bahwa subjek hukum dalam hukum perdagangan internasional. Kesepakatan dan kebebasan akan menentukan forum pengadilan yang akan menyelesaikan sengketa mereka. Di samping itu kesepakatan dan kebebasan ini akan menentukan hukum apa yang akan diberlakukan dan diterapkan oleh badan pengadilan yang mengadili sengketanya. Sudah barang tentu. kesepakatan dan kebabasan tersebut ada batas-batasnya. Hukum menghormati kesepakatan dan kebebasan tersebut. pembahasannyapun dibatasi hanya antara pedagang dan pedagang. perusahaan atau individu dan lain-lain. Biasanya batas-batasnya adalah tidak melanggar Undang-Undang dan ketertiban umum. B. Kesepakatan dan kebebasan para pihak merupakan hal yang essensial. Sengketa antara dua pedagang adalah sengketa yang sering dan paling banyak terjadi. 49 . 1. para pihak yang menjadi pembahasan dibatasi pada pihak pedagang (badan hukum atau individu) dan Negara. Sengketa Antara Pedagang dan Pedagang. Dalam uraian berikut. Sengketa seperti ini terjadi hamper setiap hari.dikenal sebagai ADR (Alternative Dispute Resolution) atau APS (Alternatif Penyelesaian Sengketa ). yaitu Negara.

Namun demikian. Permasalahan akan muncul terkait dengan adanya konsep imunitas suatu Negara yang diakui oleh hukum internasional. Kontrak-kontrak dagang antara pedagang dan Negara sudah lazim ditandatangani. Kontrak-kontrak seperti ini biasanya dalam jumlah (nilai) yang relatif besar. Hukum internasional menghormati pula individu (pedagang) sebagai subjek hukum internasional terbatas. 50 . Oleh karena itu. tindakan-tindakan seperti itu yang kemudian menimbulkan sengketa dapat saja diselesaikan dihadapan badan-badan peradilan umum. serta jure gestiones. tindakan-tindakan seperti itu tidak lain adalah tindakan-tindakan Negara dalam kapasitasnya seperti orang-peorangan (pedagang atau privat). Oleh karena itu. yaitu tindakan-tindakan Negara di bidang keperdataan atau dagang. sehingga tindakan-tindakan seperti itu dapat dianggap sebagai tindakan-tindakan sebagaimana layaknya para pedagang biasa. arbitrase dan lain-lain. dalam hukum internasional berkembang pengertian jure imperii.2. yaitu tindakan-tindakan Negara di bidang public dalam kapasitasnya sebagai suatu Negara yang berdaulat. Sengketa Antara Pedagang dan Negara Asing Sengketa antara pedagang dan Negara juga bukan merupakan kekecualian. Hukum internasional tidak sematamata mengakui atribut Negara sebagai subjek hukum internasional yang sempurna (par excellence). Oleh karena itu. hukum internasional ternyata fleksibel. Konsep imunitas ini paling tidak berpengaruh terhadap keputusan pedagang untuk menentukan penyelesaian sengketanya. suatu Negara dalam situasi apa pun tidak akan pernah dapat diadili di hadapan badan-badan peradilan asing. Masalah utamanya adalah dengan adanya konsep imunitas ini.

Prinsip ini pula dapat menjadi dasar apakah suatu proses penyelesaian sengketa yang sudah berlangsung diakhiri. biasanya ditolak.Sebaliknya Negara-negara yang mengajukan bantahannya bahwa suatu badan peradilan tidak memiliki jurisdiksi untuk mengadili Negara sebagai pihak dalam sengketa bisnis. menekan atau menyesatkan pihak lainnya. Badan peradilan umumnya menganut adanya konsep jure gestiones ini. artinya pengakhiran kesepakatan atau revisi terhadap muatan kesepakatan harus pula berdasarkan pada kesepakatan kedua belah pihak. Prinsip inilah yang menjadi dasar untuk dilaksanakan atau tidaknya suatu proses penyelesaian sengketa. Termasuk dalam lingkup pengertian kesepakatan ini adalah : a. 51 . C. bahwa salah satu pihak atau kedua belah pihak tidak berupaya menipu. Bahwa perubahan atas kesepakatan harus berasal dari kesepakatan kedua belah pihak. Prinsip-Prinsip Penyelesaian Sengketa Dalam hukum perdagangan internasional. b. 1. Prinsip Kesepakatan Para Pihak (Konsensus) Prinsip kesepakatan para pihak merupakan prinsip fundamental dalam penyelesaian sengketa perdagangan internasional. dapat dikemukakan di sini prinsipprinsip mengenai penyelesaian sengketa perdagangan internasional. Badan-badan peradilan (termasuk arbitrase) harus menghormati apa yang para pihak sepakati.

Pasal ini memuat definisi mengenai perjanjian arbitrase. Prinsip ini termuat antara lain dalam pasal 7 The UNCITRAL Model Law on International Commercial Arbitration. kepatutan atau kelayakan suatu penyelesaian sengketa. 52 . artinya penyerahan suatu sengketa ke badan arbitrase haruslah berdasarkan pada kebebasan para pihak untuk memilihnya.2. Kebebasan para pihak untuk menentukan hukum ini termasuk kebebasan untuk memilih kepatutan dan kelayakan (ex aequo et bono ). penyerahan sengketa kepada arbitrase merupakan kesepakatan atau perjanjian para pihak. Prinsip kebebasan untuk memilih hukum ini adalah sumber dimana pengadilan akan memutus sengketa berdasarkan prinsip-prinsip keadilan. Prinsip Kebebasan Memilih Hukum Prinsip penting lainnya adalah prinsip kebebasan para pihak untuk menentukan sendiri hukum apa yang akan diterapkan (bila sengketanya diselesaikan) oleh badan peradilan (arbitrase) terhadap pokok sengketa. 3. Menurut pasal ini. Prinsip Kebebasan Memilih Cara-cara Penyelesaian Sengketa Prinsip penting kedua adalah prinsip di mana para pihak memiliki kebebasan penuh untuk menentukan dan memilih cara atau mekanisme bagaimana sengketanya diselesaikan (principle of free choice of means).

5. mediasi. konsiliasi.4. Dalam penyelesaian sengketa. arbitrase. yang pertama. Prinsip ini mensyaratkan dan mewajibkan adanya itikad baik dari para pihak dalam menyelesaikan sengketanya. pengadilan atau cara-cara pilihan para pihak lainnya. Forum tersebut adalah negosiasi. yaitu negosiasi. prinsip ini tercermin dalam dua tahap. hukum kebiasaan internasional menetapkan bahwa sebelum para pihak mengajukan sengketanya ke pengadilan internasional. langkahlangkah penyelesaian sengketa yang tersedia atau diberikan oleh hukum nasional suatu Negara harus terlebih dahulu ditempuh (exhausted). Menurut prinsip ini. Forum Penyelesaian Sengketa Forum penyelesaian sengketa dalam hukum perdagangan internasional pada prinsipnya sama dengan forum yang dikenal dalam hukum penyelesaian sengketa (internasional) pada umumnya. penyelidikan fakta- 53 . D. Prinsip Itikad Baik (Good Faith) Prinsip itikad baik dapat dikatakan sebagai prinsip fundamental dan paling sentral dalam penyelesaian sengketa. prinsip ini disyaratkan harus ada ketika para pihak menyelesaikan sengketanya melalui cara-cara penyelesaian sengketa yang dikenal dalam hukum (perdagangan) internasional. kedua. Prinsip Exhaustion of Local Remedies Prinsip Exhaustion of Local Remedies lahir dari prinsip hukum kebiasaan internasional. prinsip itikad baik disyaratkan untuk mencegah timbulnya sengketa yang dapat mempengaruhi hubungan-hubungan baik di antara Negara.

Salah satu pihak yang kuat berada dalam posisi ntuk menekan pihak lainnya. Setiap penyelesaiannyapun didasarkan pada kesepakatan atau konsensus para pihak. Cara-cara tersebut dipandang sebagai bagian integral dari penyelesaian sengketa yang diakui dalam sistem hukum nasional suatu negara. hukum nasional Indonesia. Negosiasi Negosiasi adalah cara penyelesaian sengketa yang paling dasar dan yang paling tua digunakan. dalam Undang-Undang nomor 30 tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. penyelesaian melalui hukum atau melalui pengadilan. Cara-cara penyelesaian sengketa tersebut diatas telah dikenal dalam berbagai Negara dan sistem hukum di dunia. Hal ini terjadi karena sulitnya permasalahan yang terjadi diantara para pihak. Banyak sengketa diselesaikan setiap hari dengan cara negosiasi tanpa adanya publisitas atau menarik perhatian publik. atau cara-cara penyelesaian sengketa lainnya yang dipilih dan disepakati oleh para pihak. Kelemahan utama dalam penggunaan cara penyelesaian ini adalah : (1) ketika para pihak berkedudukan tidak seimbang. Alasan utamanya adalah karena dengan cara ini. konsiliasi. Hal ini sering terjadi ketika kedua belah pihak bernegosiasi untuk menyelesaikan sengketa diantara mereka. (2) proses berlangsungnya negosiasi acap kali lambat dan biasanya memakan waktu lama. misalnya. jarang sekali ada persyaratan penetapan batas waktu bagi para pihak untuk 54 . para pihak dapat mengawasi prosedur penyelesaian sengketanya. 1.fakta (inquiry). Selain itu. Penyelesaian sengketa melalui negosiasi merupakan cara yang paling penting. arbitrase. mediasi.

Mediator ikut serta aktif dalam proses negosiasi. Prosedur negosiasi ini merupakan proses penyelesaian sengketa oleh para pihak (dalam arti negosiasi). Oleh karena itu.menyelesaikan sengketanya melalui negosiasi ini. mengidentifikasi hal-hal yang dapat disepakati para pihak serta membuat usulanusulan yang dapat mengakhiri sengketa. Usulan ini dibuat berdasarkan informasi-informasi yang diberikan oleh para pihak. Biasanya negosiator dengan kapasitasnya sebagai pihak yang netral. Mengenai pelaksanaan negosiasi. 55 . (3) ketika salah satu pihak terlalu keras dengan pendiriannya. Pihak ketiga ini bisa individu (pengusaha) atau lembaga atau organisasi profesi atau dagang. Usulan-usulan penyelesaian sengketa melalui mediasi dibuat agak tidak resmi (informal). mediator masih dapat tetap melanjutkan fungsi mediasinya dengan membuat usulan-usulan baru. Mediasi Mediasi adalah suatu cara penyelesaian melalui pihak ketiga. prosedur-prosedur yang terdapat didalamnya perlu dibedakan sebagai berikut : (1) negosiasi digunakan ketika suatu sengketa belum lahir (disebut sebagai konsultasi). Keadan ini dapat mengakibatkan proses negosiasi menjadi tidak produktif. Jika usulan tersebut tidak diterima. salah satu fungsi utama mediator adalah mencari berbagai solusi (penyelesaian). 2. berupaya mendamaikan para pihak dengan memberikan saran penyelesaian sengketa. bukan atas penyelidikannya. (2) negosiasi digunakan ketika suatu sengketa telah lahir.

Komisi konsiliasi bisa sudah terlembaga 56 . It is clearly appropriate. Gerald Cooke menggambarkan kelebihan mediasi ini sebagai berikut : “where mediation is successfully used. sampai kepada pengakhiran tugas mediator. cheap and effective result. therefore to consider providing for mediation or other alternative dispute resolution techniques in the contractual dispute resolution clause . 3. mereka masih dapat menyerahkan ke forum yang mengikat. menerima atau tidaknya usulan-usulan yang diberikan oleh mediator. Cooke juga mengingatkan bahwa penyelesaian melalui mediasi ini tidaklah mengikat. it generally provides a quick. Kedua cara ini adalah melibatkan pihak ketiga untuk menyelesaikan sengketanya secara damai. yaitu dengan pengadilan atau arbitrase. yaitu konsiliasi lebih formal daripada mediasi. namun mereka tidak wajib atau harus menyelesaikan sengketanya melalui mediasi. Konsiliasi bisa juga diselesaikan oleh seorang individu atau suatu badan yang disebut dengan badan atau komisi konsiliasi. tidak ada prosedur-prosedur khusus yang harus ditempuh dalam proses mediasi. Namun menurut Behrens. ada perbedaan antara kedua istilah ini. Hal yang penting adalah kesepakatan para pihak mulai dari proses (pemilihan) cara mediasi. Istilahnya acapkali digunakan dengan bergantian. Para pihak bebas menentukan prosedurnya.Seperti halnya dalam negosiasi. Ketika para pihak gagal menyelesaikan sengketanya melalui mediasi. artinya para pihak meski telah sepakat untuk menyelesaikan sengketanya melalui mediasi. Konsiliasi Konsiliasi memiliki kesamaan dengan mediasi. yaitu penyelesaian melalui hukum. Konsiliasi dan mediasi sulit untuk dibedakan.

Berdasarkan fakta-fakta yang diperolehnya. konsiliator atau badan konsiliasi akan menuerahkan lporannya kepada para pihak disertai dengan kesimpulan dan usulan-usulan penyelesaian sengketanya. Kelebihan penyelesaian sengketa melalui arbitrase relative lebih cepat daripad proses berperkara melalui pengadilan. 57 . Para pihak dapat hadir pada tahap pendengaran. Putusan arbitrase sifatnya final dan mengikat. diterima tidaknya usulan tersebut bergantung sepenuhnya kepada para pihak.atau ad hoc (sementara) yang berfungsi untuk menetapkan persyaratan-persyaratan penyelesaian yang diterima oleh pihak. yaitu tahap tertulis dan tahap lisan. kasasi atau peninjauan kembali seperti yang kita kenal dalam sistem peradilan. Persidangan suatu komisi konsiliasi biasanya terdiri dari dua tahap. Kecepatan penyelesaian ini sangat dibutuhkan oleh dunia usaha. namun putusannya tidak mengikat para pihak. Arbitrase Arbitrase adalah penyerahan sengketa secara suka rela kepada pihak ketiga yang netral. sengketa 9yang diuraikan secara tertulis) diserahkan kepada badan konsiliasi. Adapun alasan utama mengapa badan arbitrase ini banyak dimanfaatkan untuk menyelesaikan sengketa adalah : a. Dalam tahap pertama. 4. Dalam arbitrase tidak dikenal upaya banding. Pihak ketiga ini bisa individu. Usulan ini sifatnya tidak mengikat. arbitrase terlembaga atau arbitrase sementara (ad hoc). tetapi bisa juga diwakili oleh kuasanya. Oleh karena itu. Kemudian badan ini akan mendengarkan keterangan lisan dari para pihak.

ahli asuransi. Biasanya arbiter yang dipilih adalah mereka yang tidak saja ahli. e. tetapi juga arbiter tidak selalu harus ahli hukum. ahli perbankan dan lain-lain. dalam hal ini pengadilan atau badan arbitrase. d. Pemilihan arbiter sepenuhnya berada pada kesepakatan para phak. Istilah choise of jurisdiction berarti pilihan tempat di mana pengadilan memiliki kewenangan untuk menangani sengketa. Kedua istilah tersebut mengandung pengertian yang agak berbeda. Dalam penyelesaian melalui arbitrase.b. insinyur. Keuntungan lainnya dari penyelesaian sengketa melalui arbitrase adalah sifat kerahasiannya. Istilah choise of forum berarti pilihan cara untuk mengadili sengketa. c. biasanya penyerahan sengketa ke suatu badan peradilan tertentu. Dalam praktek. baik kerahasiaan mengenai persidangannya maupun kerahasiaan putusan arbitrasenya. termuat dalam klausul penyelesaian sengketa dalam suatu kontrak. termasuk arbitrase. para pihak memiliki kebebasan untuk memilih “hakimnya” (arbiter) yang menurut mereka netral dan ahli mengenai pokok sengketa yang mereka hadapi. Bisa saja seorang arbiter pimpinan perusahaan. Kadang-kadang istilah lain yang digunakan adalah “choise of forum “ atau “choise of jurisdiction”. putusan arbitrasenya relatif lebih dapat dilaksanakan di Negara lain dibandingkan apabila sengketa tersebut diselesaikan melalui misalnya pengadilan. Keuntungan lainnya dari badan arbitrase ini adalah dimungkinkannya para arbiter untuk menerapkan sengketanya berdasarkan kelayakan dan kepatutan (apabila para pihak menghendakinya). 58 . Biasanya judul klausul tersebut ditulis secara langsung dengan “Arbitrase”. Dalam hal arbitrase internasional.

artinya klausul tersebut memberi kewenangan kepada arbitrator untuk menyelesaikan sengketa. Salah satu badan peradlan yang menangani sengketa dagang ini misalnya WTO. yaitu penyerahan kepada srbitrase suatu sengketa yang telah lahir. Kesepakatan ini tertuang dalam klausul penyelesaian sengketa dalam kontrak dagang para pihak. Hal yang perlu ditekankan di sini adalah bahwa klausul arbitrase melahirkan yurisdiksi arbitrase. Namun perlu ditekankan di sini bahwa WTO hanya menangani sengketa antar Negara anggota 59 . 5. pengadilan harus menolak untuk menangani sengketa.Penyerahan suatu sengketa kepada arbitrase dapat dilakukan dengan pembuatan suatu submission clause. Alternatif lainnya atau melalui pembuatan suatu klausul arbitrase dalam suatu perjanjian sebelum sengketanya lahir (klausul arbitrase atau arbitration clause). Kemungkinan lain para pihak dapat menyerahkan sengketanya kepada baan pengadilan internasional. Baik submission clause atau arbitration clause harus tertulis. Penyelesaian sengketa dagang melalui badan peradilan biasanya hanya dimungkinkan ketika para pihak sepakat. mereka sepakat untuk menyerahkan sengketanya kepada suatu pengadilan (negeri) suatu Negara tertentu. Syarat ini sangat esensial. Apabila pengadilan menerima suatu sengketa yang di dalam kontraknya terdapat klausul arbitrase. Dalam klausul tersebut biasanya ditegaskan bahwa jika timbul sengketa dari hubungan dagang mereka. Pengadilan (Nasional dan Internasional) Penggunaan cara ini biasanya ditempuh apabila cara-cara penyelesaian yang ada ternyata tidak berhasil. Sistem hukum nasional dan internasional mensyaratkan bentuk tertulis sebagai suatu syarat utama untuk arbitrase.

WTO. Alternatif badan peradilan lain adalah Mahkamah Internasional (International Court of Justice). Alasan F. Faktor penting yang mendorong Negara-negara untukmenyerahkan sengketanya kepada badan-badan peradilan seperti ini karena : (1) hakim-hakimnya yang tidak harus seorang ahli hukum. Namun. pada dasarnya karena dua alasan. pengadilan-pengadilan permanent internasional ini juga yurisdiksinya kadangkala terbatas hanya kepada Negara saja. terutama dalam kerangka suatu organisasi perdagangan internasional. Sementara itu. (1) kurang adanya penghargaan terhadap fakta-fakta spesifik mengenai duduk perkaranya. kegiatan-kegiatan atau hubunganhubungan perdagangan internasional dewasa ini peranan subjek-subjek hukum perdagangan internasional non Negara juga penting. (2) adanya perasaan dari sebagian bear Negara 60 . Bentuk badan pengadilan lain adalah pengadilan ad hoc atau pengadilan khusus. penyerahan sengketa ke Mahkamah intenasional menurut hasilpengamatan beberapa sarjana kurang begitu diminati oleh Negara-negara. misalnya Mahkamah Internasional.A. Badan pengadilan ini berfungsi cukup penting dalam menyelesaikan sengketa-sengketa yang timbul dari perjanjian-perjanjian perdagangan internasional. Mann menyatakan “hasil kerja” Mahkamah internasional ini “suram”. (2) kurangnya keahlian atau kemampuan Mahkamah pada permasalahan-permasalahan bidang (hukum) ekonomi atau perdagangan internasional. Dibandingkan dengan pengadilan permanent. pengadilan ad hoc atau khusus ini lebih popular. Umumnya sengketa lahir karena adanya suatu pihak (pengusaha atau Negara) yang dirugikan karena adanya kebijakan perdagangan Negara lain anggota WTO yang merugikannya. Selain itu.

Penutup Setelah mahasiswa mempelajari materi mengenai penyelesaian sengketa dalam perdagangan internasional. Sebut dan Jelaskan pihak-pihak yang terlibat dalam sengketa perdagangan internasional 2. E. Sebut dan jelaskan forum penyelesaian sengketa perdagangan internasional. 61 . Jelaskan prinsip-prinsip dalam penyelesaian sengketa perdagangan internasional 3.yang kurang percaya kepada suatu badan peradilan internasional) yang dianggap kurang tepat untuk menyelesaikan sengketa-sengketa dalam bidang perdagangan internasional. maka diharapkan mahasiswa dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut : 1.

Pengantar Hukum Dagang Internasional. Ramlan Ginting. Bandung : Refika Aditama. Chairil Anwar. Faizal Salam. Bogor : Ghalia Indonesia. 2004. 2003. 1994. 62 . Amirizal.DAFTAR PUSTAKA Ade Maman Suherman. Bandung : Pustaka. Jakarta : PPM.S. Moch. 2002. cet. 1989. Hukum Bisnis : Risalah Teori dan Praktek. Seri Manajemen No. Aneka Hukum Bisnis. Jakarta : PPM. Arbitrase Komersial Internasional. Siswanto Sutojo. 3. 2000. Jakarta : Rajagrafindo. Jakarta : Rajawali Pres. Letter Of Credit : Dalam Bisnis Ekspor Impor. Aspek Hukum Dalam Ekonomi Global. Hukum Perdagangan Internasional. 2002. Soedjono Dirdjosisworo. Hukum Ekonomi Internasional. __________. Bandung : Alumni. Cetakan I. 1977. ________. Cet 3. 2000. Amir M. Letter of Credit : Tinjauan Aspek hukum dan Bisnis. Jakarta : Erlangga. Aspek-Aspek Negara Dalam Hukum Internasional. 2006. Roselyne Hutabarat. Seluk Beluk dan Teknik Perdagangan Luar Negeri. Jakarta : Damar Mulia Pustaka. Jakarta : Rajagrafindo Persada. Mariam D Badrulzaman. 2005. 3. 2001. 3. _________. Jakarta : Salemba Empat. Suatu Pengantar. Jakarta : Rajawali Pres _________. 2001. Pertumbuhan Hukum Bisnis Indonesia. Transaksi Ekpor Impor. Bandung : Alumni. Huala Adolf. 2001. Cet. 1999. Sudargo Gautama. Edisi 2. Jakarta : Djambatan. Membiayai Perdagangan Ekspor Impor : International Trade Financing. Kontrak Dagang Internasional. Hukum Perdagangan Internasional. Jakarta : Novindo Pustaka Mandiri. 1999.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->