BANJAR DAN DERET

PENGERTIAN BANJAR DAN DERET Pengertian Banjar Banjar dapat didefinisikan sebagai suatu rangkaian bilangan yang disusun secara teratur, mengikuti pola tertentu. Bilangan-bilangan yang menyusun suatu banjar dinamakan “suku”. Perhatikan dua buah rangkaian bilangan berikut ini: (1) 1, (2) 1,
1 1 1 1 1 1 , , , , , 2 3 4 5 6 7
1 1 1 1 1 1 , , , , , 7 8 2 5 3 4

Terlihat bahwa kedua rangkaian bilangan tersebut mempunyai unsur-unsur yang sama, hanya urutan peletakan unsur-unsur itu tidak sama. Dalam kasus ini : Rangkaian bilangan (1) merupakan banjar; sebab ada suatu pola perubahan

tertentu antara suku-suku yang berurutan, yakni : • Penyebut suku kedua penyebut suku pertama • Penyebut suku ketiga penyebut suku kedua • Penyebut suku keempat penyebut suku ketiga • Dan seterusnya = +1 = +1 = +1

Sedangkan pembilangnya adalah sama, yakni 1.

-

Rangkaian bilangan (2) “bukan” merupakan banjar; sebab tidak ada pola

perubahan tertentu antara unsur-unsur berurutannya. Berdasarkan banyaknya suku yang terdapat pada sebuah banjar, dikenal ada 2 jenis banjar, yaitu : 1. Banjar berhingga; banjar yang banyak sukunya berhingga. Contoh : 1, 2, 4, 8, 16, 32 2. Banjar tak berhingga; banjar yang banyak sukunya tak berhingga. Contoh : 1, 2, 4, 8, 16, 32, 64, … Berdasarkan pola perubahan suku-suku berurutannya, dikenal ada 2 jenis banjar, yaitu : 1. Banjar hitung; banjar yang pola perubahan antara suku-suku berurutannya sesuai dengan pola penjumlahan / pengurangan. Contoh : 1, 3, 5, 7, 9, 11 2. Banjar ukur; banjar yang pola perubahan suku-suku berurutannya sesuai dengan pola perkalian / pembagian. Contoh : 1, 3, 9, 27, 81, 243 Deret sebuah banjar dengan suku sebanyak n dilambangkan dengan Dn dan dinyatakan sebagai : Dn = S1 + S2 + S3 + … Sn atau Dn = ∑S i
i =1 n

dengan : D n = = deret banyaknya suku

i S

= =

urutan suku, I = 1, 2, 3, …, n suku

BANJAR HITUNG DAN DERET HITUNG Banjar Hitung Banjar hitung didefinisikan sebagai suatu banjar yang selisih antara dua suku berurutannya sama besar. Berdasarkan definisi ini, suatu banjar a1, a2, a3, …, an Akan disebut banjar hitung apabila memenuhi syarat: S2 – S1 S3 – S2 Sn – Sn-1 = = = a2 – a1 a3 – a2 an – an-1 =b =b =b

Dengan b (beda) merupakan suatu konstanta (≠0) yang nilainya dapat positif atau negatif. Contoh : Jika kita mempunyai banjar seperti dibawah ini : 5, 10, 15, 20, 25 maka banjar tersebut merupakan banjar hitung, sebab : S2 = S1 = S3 – S2 = S4 – S3 = S5 – S4 = 10 – 5 15 – 10 20 – 15 25 – 20 = 5 = 5 = 5 = 5

Jika S1, S2, S3, …, Sn merupakan suatu banjar hitung, maka berlaku : S2 = S1 + b = S1 + (2 – 1)b

S3 S4 Sn

= S2 + b = S1 + b + b = S1 + 2b = S3 + b = S1 + 2b + b = S1 + 3b = Sn-1 + b = …

= S1 + (3 – 1)b = S1 + (4 – 1)b = S1 + (n – 1)b

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam banjar hitung berlaku: Sn = a + (n – 1)b Dengan : Sn a n b = besarnya suku ke-n = besarnya suku pertama = nomor/urutan suku = beda (selisih) antara dua suku yang berurutan

Contoh : Jika kita mempunyai banjar seperti di bawah ini : 1, 6, 11, 16, … Maka besarnya suku ke-20 dari banjar di bawah ini: S20 = 1 + (20 – 1)5 S20 = 1 + 95 = 96

Deret Hitung Deret hitung merupakan jumlah dari seluruh suku banjar hitung. Jika S1, S2, S3, …, Sn-1, Sn merupakan banjar hitung, maka deret dari banjar hitung tersebut adalah : Dn = S1 + S2 + S3 + … + Sn-1 + Sn

kita memperoleh suatu formula untuk menghitung deret dari suatu banjar hitung. … Maka banjar tersebut merupakan banjar hitung dengan : A = 50 dan b = S2 – S1 = 45 – 50 = -5 Untuk menentukan besarnya suku ke-7 dapat digunakan formula : Sn = a + (n – 1)b. 40. untuk n = 7 diperoleh S7 = 50 + (7 -1) (-5) = 20 .Pernyataan deret di atas dapat dinyatakan dalam bentuk : Dn Dn 2Dn Dn = a + (a + b) + (a + 2b) + … + )Sn –b) + Sn = Sn + (Sn – b) + … = n (a + Sn) = n (a + Sn) 2 + (a + b) + a (+) Jadi. 45. 35. yang dapat disajikan sebagai : Dn Dengan : Dn n a Sn = deret dari suatu banjar hitung = nomor / urutan suku = suku pertama banjar hitung = besarnya suku ke-n banjar hitung = n (a + Sn) 2 Contoh : Jika kita mempunyai banjar seperti di bawah ini: 50.

Untuk menentukan deret 7 suku pertama dari banjar hitung tersebut dapat digunakan formula: Dn D7 = = n (a + Sn) 2 7 (50 +20 ) =245 2 BANJAR DAN DERET UKUR Banjar Ukur Banjar ukur didefinisikan sebagai suatu banjar yang perbandingan antara dua suku berurutannya sama besar. S2. S3. 20. 80 Maka banjar tersebut merupakan banjar ukur. 10. Berdasarkan definisi ini. Sn Akan disebut banjar ukur apabila memenuhi syarat : S S S2 = 3 = n =r S1 S2 S n −1 Dengan r (ratio) merupakan suatu konstanta (r ≠ 0 dan r ≠ 1) yang nilainya dapat positif atau negatif. …. sebab : S2 S3 S 4 S5 = = = =2 S1 S 2 S 3 S 4 . suatu banjar: S1. Contoh : Jika kita mempunyai banjar seperti di bawah ini: 5. 40.

… Maka banjar tersebut merupakan banjar ukur dengan : A = 1 dan r = 3 Besarnya suku ke-9 dari banjar ukur di atas adalah : S9 = 1. r = S3 . Sn-1. r = S2 . 27. r3 = S1 . Sn merupakan suatu banjar ukur. S2. r(n-1) Dari uraian di atas. …. Sn merupakan banjar ukur. r = S1. S2. 3. Sn-1. r(3-1) = S1 . …. r = S1 . S3. maka : S2 S3 S4 Sn = S1 . maka deret dari banjar ukur tersebut adalah : Dn = S1 + S2 + S3 + … + Sn-1 + Sn .Jika S1. r2 . 38 = 6561 Deret Ukur Deret ukur merupakan jumlah dari suku-suku banjar ukur. 81. r = S1 . r . r2 = S1. Jika S 1. S3. r(4-1) = S1 . 9. r = Sn-1 . r(2-1) = S1 . dapat disimpulkan bahwa : Sn a n r = besarnya suku ke-n = besarnya suku pertama = nomor/urutan suku = perbandingan (ratio) antara dua suku yang berurutan Contoh : Jika kita mempunyai banjar seperti di bawah ini: 1. 3(9-1) = 1 .

rn-1 + a.rn a − . kita memperoleh suatu formula untuk menghitung deret dari suatu banjar ukur.rn-2 + a.rn-1 a.rn a – a. dapat disajikan dalam bentuk: Dn r. 16. 2.Pernyataan Dn seperti di atas.rn-2 + a.r2 + … + a.r + a.r n a 1− r Dn = a (1 − n ) r 1− r Jadi. Dn (1 – r) Dn Dn = = = = a + a. 32. 4.r + a. … maka jumlah 9 suku pertama atau deret 9 suku pertama dari banjar tersebut adalah: .r2 + … + a. 8. yang dapat disajikan sebagai : Dn Dengan : D n a r = deret dari suatu banjar ukur = nomor/urutan suku = suku pertama = perbandingan (ratio) antara suku-suku yang berurutan = a (1 − n ) r 1− r Contoh : Jika kita mempunyai banjar seperti di bawah ini: 1.

hal ini berarti : D D = = a (1 −0) 1− r a 1− r Contoh: Jika kita mempunyai banjar seperti di bawah ini : 4. 1.D9 = a (1 − n ) r 1− r a (1 − 9 ) 2 = 511 1− 2 D9 = Jika banjar ukur tersebut merupakan banjar ukur tak berhingga dengan 0 < r < 1. 1 1 .… 2 4 Maka banjar tersebut merupakan banjar ukur tak berhingga dengan a = 4 dan 1 2 r= Banjar ukur tersebut mempunyai deret sebesar: D=4+2+1+ 1 1 + +… 2 4 Yang dapat ditentukan besarnya dengan formula : D = 1− r 4 a D= 1 =8 1− 2 BEBERAPA PEMAKAIAN BANJAR DAN DERET DALAM EKONOMI . maka rn bernilai sangat kecil (mendekati 0). . 2.

r. tepatnya pada tahun 1798. berikut akan diberikan penjabaran secara matematis tentang pernyataan tersebut. a + 3b.r3. Terlepas dengan adanya pendapat yang pro dan kontra terhadap pernyataan Malthus tersebut. … atau Sn = a. … atau Sn = a + (n – 1)b . a. akan bertambah menurut banjar ukur. a + 2b. a. a + b. = perbandingan (ratio) jumlah penduduk antara dua periode yang berurutan n Sn 2) = periode (waktu) = jumlah penduduk pada periode ke-n Perkembangan produksi pangan dari periode ke periode (secara diskontinu) adalah : a. bila tak terkendali.rn-1 dengan : a r = jumlah penduduk pada periode pertama. Pernyataan Malthus di atas dapat diartikan sebagai berikut: 1) Perkembangan penduduk dari periode ke periode (secara diskontinu) adalah : a.r2. a. Malthus menyatakan suatu pendapat bahwa : “Penduduk.Dua abad yang lampau.

maka kita dapat menentukan jumlah produksi pabrik tersebut selama 1 tahun.000 buah. dan S6 = 25.500 = 2.000 = 2. = beda (selisih) jumlah produksi pangan antara dua periode yang berurutan n Sn Contoh : Pabrik “Tahu Kuning” di Kediri pada bulan keempat memproduksi tahu sebanyak 20.000.111 S 5 22 . S5 = 22.000 – 22. pada bulan kelima memproduksi sebanyak 22.125 S 4 20 . dengan cara sebagai berikut: S4 Langkah pertama adalah menentukan pola perubahan produksinya = 20.500 buah.000 = =1.500 .000 Karena S6 S5 ≠ S5 .500 S5 S4 = 22.000 buah. Jika pabrik tahu tersebut mempunyai pola produksi seperti pada ketiga bulan tersebut. dan pada bulan keenam memproduksi sebanyak 25.500 S 5 22 .500 = =1. jelas bahwa pola produksi pabrik tersebut “bukan” S4 merupakan banjar ukur.dengan : a b = jumlah penduduk pada periode pertama. S6 – S5 = 25.500 – 20.000 = periode (waktu) = jumlah produksi pangan pada periode ke-n S 6 25 .500.

500) Diperoleh a = 22. Total pinjaman (S) 3.000 buah Perhitungan Hutang Piutang Persoalan hutang piutang selalu berkaitan dengan tiga faktor.000 + 37.500) = 37.500 Langkah kedua adalah mencari tingkat produksi pada bulan pertama dan bulan ke-12 (akhir tahun) S5 = a + 5b ← → 22.500) = 285.500 – 12. Bunga pinjaman (I) .500 D12 = 1 2 (10.000 dan tingkat produksi bulan keduabelasnya = 37.500.000 2 Jadi.500 = a + 5 (2.500) = 6 (47. yaitu : 1.Karena S6 – S5 = S5 – S4 = 2.500.000 + 11 (2. Langkah terakhir adalah menghitung jumlah produksi selama satu tahun (12 bulan).000 S12 = a + 11b = 10.500. yang tidak lain merupakan deret dari banjar hitung dengan n = 12 tersebut.000 + … + 37. D12 = 10. dengan b = 2.000 + 12. maka pola produksi pabrik tahu tersebut sesuai dengan pola banjar hitung.500 + 15.500 = 10. tingkat produksi bulan pertamanya = 10. produksi pabrik tahu tersebut selama 1 tahun – 285. Pokok pinjaman (P) 2. Jadi.

1. 1. i. 100.000. 3. Secara umum.00 dan bunga yang harus kita bayar atas pinjaman tersebut sebesar Rp. ada 2 sistem pembebanan bunga yang sering diberlakukan.100.000. Sistem bunga tunggal Sistem bunga majemuk Ad. 2. yaitu : 1. 1.00 Besarnya bunga pinjaman (I) dipengaruhi oleh 4 faktor.00 + Rp.Hubungan antara ketiga faktor tersebut secara umum dirumuskan sebagai : S=P+I Contoh : Jika kita meminjam dengan pokok pinjaman sebesar Rp. 2. bunga hanya diperhitungkan atas pokok pinjaman saja. yaitu : 1.000.000.00 maka total pinjaman yang harus kita bayar adalah: S S = P+I = Rp. 4. Besarnya pokok pinjaman (P) Besarnya tingkat bunga (i) Periode pinjaman (t) Sistem pembebanan bunga yang diberlakukan. 100. t .00 = Rp. 1 Sistem Bunga Tunggal Sistem bunga tunggal biasa diberlakukan untuk jenis pinjaman jangka pendek. Formula untuk menghitung besarnya bunga yang dibebankan dapat dinyatakan sebagai : I = P .000.000.000. Dalam sistem ini.

000.000. t S = P (I + i.000. .Dengan demikian. 5.000. jumlah yang harus dibayar Satya untuk melunasi pinjamannya pada awal bulan ke-10 (setelah meminjam selama sembilan bulan) adalah Rp.00.2 x 9 tahun 1 2 9 = 750. i.000. 5.2/tahun.000. 5.00 Jadi.t) Contoh : Satya meminjam ke Koperasi Boss untuk menambah modal usahanya sebesar Rp. 5.00.00 (ii) Jumlah yang harus dibayar S=P+I S = Rp.000 dan I = 20% /tahun = 0.000. i.000 x 0.750. 750.000.00 = Rp. t Dengan t = 9 bulan = I = 5. Dari pernyataan di atas.750. besarnya bunga pinjaman = Rp.000. total pinjaman yang harus dibayar oleh debitur adalah : S = P+I S = P + P . Koperasi Boss memberlakukan sistem bunga tunggal dengan tingkat bunga sebesar 20% per tahun.000 1 2 Jadi. Jika sembilan bulan kemudian Satya ingin melunasi pinjamannya. maka : (i) Besarnya bunga pinjaman I = P .000. 750. maka secara matematis dapat disajikan bahwa P = 5.00 + Rp.

Sehingga pada akhir tahun kedua. bunga yang dihasilkan oleh pokok simpanan itu adalah : I2 = S 1 . i I2 = P (1 + i) (i) Jumlah simpanan keseluruhan (pokok + bunga) pada akhir tahun kedua menjadi: S 2 = S 1 + I2 S2 = P (1 + i) + P (1 + i) (i) S2 = P (1 + i) (1 + i) = P (1 + i)2 Dengan cara yang sama. maka jumlah uang keseluruhan pada : Akhir tahun ketiga = S3 S3 = P (1 + i)3 Akhir tahun keempat = S4 S4 = P (1 + i)4 .Ad. 2 Sistem Bunga Majemuk Dalam sistem bunga majemuk ini bunga diperhitungkan selain atas dasar pokok pinjaman juga atas dasar bunga yang dihasilkan pada setiap periode yang sudah berjalan. i = P (1 + i) Jika Komang tidak melakukan pengambilan ataupun penambahan baru terhadap simpanannya itu. maka bunga dan pokok simpanan pada akhir tahun pertama itu dapat dipandang sebagai pokok simpanan baru pada awal tahun kedua. Sehingga besarnya pokok simpanan dan bunga yang akhir tahun pertama adalah : S1 = P + I S1 = P + P .

000.516. tentunya dapat dipahami bahwa total simpanan/pinjaman setelah t tahun dengan tingkat bunga i per tahun yang didasarkan atas sistem bunga majemuk. 30. jumlah simpanan Budi pada akhir tahun kelima adalah Rp.000.000.334.00 (dibulatkan dalam rupiahan) Jadi.- Akhir tahun ke-t = St St = P (1 + i)t Dari ilustrasi di atas.00 maka jumlah uang Budi pada akhir tahun kelima dapat dihitung sebagai: St S5 S5 S5 = = = = P (1 + i)t ←→ S5 = P (1 + i)5 Rp. 10. 10.334. Jika besarnya uang yang disimpan Budi pada awal tahun pertama adalah Rp.000.00 (1 + 0. yang timbul dari pokok simpanan / pinjaman sebesar P dapat dinyatakan sebagai : St = P (1 + i)t Contoh: Budi menyimpan uangnya pada sebuah koperasi simpan pinjam dengan sistem bunga majemuk yang memberlakukan tingkat bunga 25% per tahun.516. 10.000.25)5 Rp. 30.0516334375) Rp.00 (3.00 .000.

15. .00 Tiga tahun lagi Mega menerima uang sebesar Rp. Ilustrasi yang dapat menjelaskan keberadaan “nilai waktu” dari suatu uang dapat diberikan sebagai berikut: Pada saat ini Shinta menerima uang sebesar Rp. 10.000.000.208. maka setelah 3 tahun (bertepatan dengan saat penerimaan uang Mega) uang Shinta sudah menjadi sebesar : S3 = Rp.000.00 (1 + 0. 10. maka : Mega menerima Rp.000.00 Shinta menerima Rp. 10.000.00 Jika pada saat Mega menerima uangnya (tiga tahun setelah Shinta menyimpan uangnya) Shinta mengambil simpanannya di bank. jelas bahwa sejumlah tertentu uang yang diterima pada masa sekarang “lebih berarti” (mempunyai nilai real yang lebih tinggi) daripada jika uang tersebut diterima pada masa yang akan datang. yaitu Rp.000. 10. 10.00 Dari uraian di atas.750.000.00 Jika ditinjau dari nominal yang diterima oleh kedua orang tersebut.000.750.Perhitungan Nilai Sekarang Nilai sekarang (present value) lahir karena adanya “nilai waktu” dari suatu uang.000.000.000.00 perbedaannya hanya terletak pada waktu penerimaannya. 15.208.000. Sekarang kita misalkan Shinta menyimpan uang yang baru diterimanya tersebut ke sebuah bank dengan tingkat bunga majemuk sebesar 15% per tahun. terlihat bahwa keduanya menerima uang dengan nominal yang sama.15)3 S3 = Rp.520875) = Rp.00 (1. 10.

000.15 ) t .000 . Maka untuk dapat melakukan pilihan secara rasional kita perlu membandingkan nilai real atau nilai sekarang dari kedua penerimaan tersebut. Setelah itu kita pilih yang memberikan nilai sekarang lebih tinggi. 10.000.000.00 Nilai sekarang dari penerimaan cara (2) dapat dicari dengan formula: P= Ft (1 +i ) t P= R .000 . 9. maka: Nilai sekarang dari penerimaan cara (1) = Rp.724.000.073. Jika tingkat bunga yang berlaku sebesar 15% per tahun.00 sekarang (2) Menerima uang sebesar Rp.12 .000.Hubungan nilai sekarang dan nilai yang akan datang dari sejumlah tertentu uang dapat ditunjukkan dengan formula: P= Ft (1 +i ) t dengan: P F i t = nilai sekarang = nilai yang akan datang = tingkat bunga bank per tahun = periode (tahun) Contoh: Jika kita diminta untuk memilih dua cara penerimaan uang sebagai berikut: (1) Menerima uang sebesar Rp.00 p = Rp.00 dua tahun yang akan datang. 12. 10.00 (dibulatkan dalam rupiahan) (1 +0.000.

suku keempat sebesar 1 . Tentukanlah : 9 Jenis banjar tersebut! Bentuk umum banjar tersebut! Deret dari banjar tersebut! Penyelesaian: a.000.000. maka merupakan banyar ukur S3 = 1. SOAL DAN PENYELESAIAN 1. S4 = 1 1 .Apakah Sn – Sn-1 = konstan. 1 . jika ya. jika ya. c. 10. dan S5 = 9 3 S4 – S3 = S5 – S4 = 1 2 -1=3 3 1 1 2 =9 3 9 Karena S4 – S3 ≠ S5 – S4 atau Sn – Sn-1 ≠ konstan maka banjar tersebut bukan merupakan banjar hitung. .00. Suatu banjar mempunyai suku ketiga sebesar 1. 3 dan suku kelima sebesar a. b.Apakah Sn : Sn-1 = konstan. Untuk mengetahui jenis banjar tersebut maka kita perlu menguji: . maka sebaiknya kita memilih penerimaan dengan cara (1).Karena nilai sekarang penerimaan cara (1) lebih besar daripada nilai sekarang penerimaan cara (2). yakni menerima sekarang sejumlah Rp. maka merupakan banjar hitung .

Perbandingan (ratio) antara dua suku yang berurutan ( r ) Dari penyelesaian (a) telah diperoleh bahwa: r= Sn 1 = konstan n = S n− 3 1 S3 = a. rn-1 Sn = 9 ( 1 n-1 ) 3 Karena 9 = ( 1 -2 ) .1 S4 1 =3 = S3 1 3 1 S5 1 =9 = 1 3 S4 3 Karena S4 : S3 = S5 : S4 = 1 atau Sn : Sn-1 = konstan maka banjar 3 tersebut merupakan banjar ukur.r2 ↔ 1 = a.Suku pertama (a) . maka 3 . maka kita perlu tahu : . ( 1 2 ) 3 1 ↔ a= 1 =9 9 Bentuk umum banjar ukur tersebut adalah : Sn = a . b. Untuk mengetahui bentuk umum suatu suku banjar ukur.

b. log 24. log 24. Banjar apakah itu? Berapakah suku kelimabelasnya? Hitunglah deret kesepuluh suku pertama banjar tersebut! Penyelesaian: a. + 3 + 1 + 1 1 + +… 3 9 Yang besarnya sama dengan : Dn = 1 − r 9 3 1 a 1 Dn = 1 − = 13 2 2. c. 1. Diketahui sebuah banjar berbentuk : Log 3. Banjar log 3.Sn = ( Sn = ( 1 -2 1 n-1 ) ( ) 3 3 1 n-3 ) 3 Adapun suku-suku banjar tersebut dapat diurutkan sebagai : Sn = ( 1 n-3 1 1 1 ) = 9. … a. . 3. . … Dapat dinyatakan dalam bentuk: .… 3 3 9 27 c. log 12. . log 12. log 6. log 6. log 28. log 48. Deret dari banjar ukur tersebut dapat ditulis sebagai : Dn = 9.

3010) = 4. perusahaan tersebut selalu menargetkan terjadinya peningkatan produktivitas tenaga kerjanya sehingga diperoleh kenaikan tingkat produksi sebesar 100 unit/bulan. Dalam 12 bulan produksi. log 3 + log 2 + log 2. … Dari bentuk terakhir tersebut terlihat bahwa banjar tersebut merupakan banjar hitung dengan : a = log 3 b = log 3 + log 2 = log 3 = log 2 b.4771 D10 = 1 0 (0. … atau Log 3.1861) = 5(3. log 3 + log 2. log 3 + 4 log 2.4771 + 3.6632) = 18.000 unit mainan anak-anak pada bulan pertama produksinya.4771 + 9 (0. suku ke-15 dari banjar tersebut adalah S15 = log (3) (2)14 = log 49152 Dalam bentuk bilangan real. .4771 + 14 (0. log 3 + log 2 + log 2 + log 2.3010) = 3.Log 3.1861 S1 = a = log 3 = 0. log 3 + 2 log 2. Bentuk umum suku-suku banjar hitung dapat dinyatakan sebagai : Sn = a + (n – 1)b S15 = log 3 + (15 – 1) log 2 = log 3 + 14 log 2 Dalam bentuk logaritma. Perusahaan mainan anak-anak menghasilkan 5. log 3 + log 2 + log 2 + log 2 + log 2. log 3 + log 2.316 2 3. S10 = log 3 + 9 log 2 = 0. log 3 + 3 log 2.6911 c. maka suku ke-15 dari banjar tersebut adalah: S15 = log 3 + 14 log 2 = 0.

100 unit. target produksi bulan ke-12 adalah 6.Tentukan : a. Target produksi bulan ke-12 = S12 Sn = a + (n – 1)b S12 = 5. Target produksi bulan ke-12 Target produksi untuk tahun yang bersangkutan Penyelesaian: Persoalan di atas dapat dipandang sebagai banjar hitung dengan a = 5.000.000 + (12 – 1)100 = 6.00 dengan bunga 1.5% per bulan.100 Jadi.000 dan b = 100 a. jika: a. Hitunglah jumlah simpanan Dharmawan pada akhir tahun pertama. Target produksi untuk 1 tahun = D12 Dn = D12 = n (a + Sn) 2 1 2 (5. b. b.000. Sistem bunga yang diberlakukan adalah bunga tunggal Sistem bunga yang diberlakukan adalah bunga majemuk .600 unit. target produksi untuk tahun yang bersangkutan adalah 66. Dharmawan menyimpan uangnya pada sebuah bank sebesar Rp. 1. b.100) = 66. 4.600 2 Jadi.000 + 6.

000.00 (dibulatkan dalam rupiahan) Jadi.180.00 (1.000. 1.000.000. jumlah simpanan Dharmawan pada akhir tahun pertama = Rp.195. Sistem bunga tunggal St = O (1 + i)t Dengan : P i t = Rp. jumlah simpanan Dharmawan pada akhir tahun pertama = Rp.015 per bulan = 1 tahun = 12 bulan maka diperoleh: S12 = Rp.00 Jadi. 1. i dan t seperti di atas. dengan sistem bunga tunggal. 1.5% per bulan = 0.00 (1 + 0.618. maka diperoleh : S12 = Rp.Penyelesaian: a.00 (1 + 0. 1. Sistem bunga majemuk St = P (1 + i)t Dengan P. 1. 1.000.000.000. 1.195. 1.000. dengan sistem bunga majemuk.180.000.00 .19561817) S12 = Rp.000.00 = 1.618.00 b.015(12)) S12 = Rp.015)12 S12 = Rp.

Suku yang umum 2 3 4 5 mempunyai bentuk 1 . kalau diteruskan secara terus-menerus . n Akan tetapi.DERET Deret ialah rangkaian bilangan yang tersusun secara teratur dan memenuhi kaidah-kaidah tertentu. Keteraturan rangkaian bilangan yang membentuk sebuah deret terlihat pada pola perubahan bilangan-bilangan tersebut dari satu suku ke suku berikutnya. sedangkan deret yang tidak terbatas mempunyai sukusuku yang banyaknya tidak terbatas dan tidak dapat dispesifikasikan. Bilangan-bilangan yang merupakan unsur dan pembentuk sebuah deret dinamakan suku. Deret berhingga adalah deret yang jumlah suku-sukunya tertentu. yaitu suku ke-n dari suatu deret menunjukkan aturan pembentukan sukusuku. Sedangkan dilihat dari segi pola perubahan bilangan pada suku-sukunya. deret digolongkan atas deret berhingga dan deret tak berhingga. sedangkan deret tak berhingga adalah deret yang jumlah suku-sukunya tidak terbatas. Dilihat dari jumlah suku yang membentuknya. deret ukur dan deret harmoni. Suku yang umum. deret bisa dibeda-bedakan menjadi deret hitung. Suatu deret yang terbatas mempunyai suku-suku yang banyaknya terbatas dan dapat dispesifikasikan. 1+ 1 1 1 1 + + + merupakan deret terbatas.

Dalam hal semacam ini. Menentukan nilai limit kalau memang ada. .(indefinitely) 1. tes atau uji berikut dipergunakan. 1 1 1 1 1 1 1 . n Metode lainnya untuk menspesifikasikan suku-suku suatu barisan atau deret ialah rumus pengulangan (recursion formula) yang memberikan suku ke (n +1) sebagai suatu fungsi dari suku atau suku-suku sebelumnya. . Persoalan konvergensi dibahas sebelum penggunaan deret tidak terhingga di dalam mewakili fungsi-fungsi dipertimbangkan. . … merupakan suatu barisan tidak 2 3 4 5 6 7 8 terbatas (tidak terhingga) dan 1 + 1 1 1 1 1 1 1 + + + + + + +… 2 3 4 5 6 7 8 ∑n n= 1 ∞ 1 merupakan suatu deret tidak terhingga masih dengan bentuk umum 1 . . . Menentukan apakah deret tidak terbatas mempunyai limit 2. Ada dua persoalan yang umumnya berhubungan dengan deret tidak terbatas. . Deret tidak terbatas sangat penting di dalam nilai-nilai dari banyak fungsi dan dapat juga dipergunakan untuk mendefinisikan sejumlah fungsi yang berguna. Pembentukan konvergensi atau divergensi suatu deret relatif mudah kalau suatu ekspresi untk Sn dapat diperoleh. Pembentukan konvergensi atau divergensi akan menjadi lebih sukar kalau suatu ekspresi untuk Sn tidak diketahui. yaitu sebagai berikut: 1. .

tetapi tidak cukup (not sufficient) untuk konvergensi. 2. Perhatikan bahwa lim µn = 0 merupakan suatu syarat n→ ∞ yang diperlukan. n→ ∞ Artinya. yaitu kalau µ + <µ untuk semua n = 1. Syarat yang diperlukan untuk konvergensi Kalau suatu deret tidak terbatas ∑µ n =1 ∞ n konvergen. 1 3 kemudian untuk setiap k.. 2. dan setiap suku nilainya n→ ∞ seara mutlak lebih kecil dari n → ∞ nilai suku yang mendahuluinya. … n 1 n Catatan : Dapat ditunjukkan bahwa kesalahan (error) yang timbul akibat memecah suatu deret bertukar-tukar yang konvergen pada setiap suku tidak melebihi dalam nilai mutlak. n =k + 1 ∑µ ∞ n ≤ µk . kalau suku ke-n suatu deret tidak mendekati nol ketika n → ∞.1. merupakan deret bertukar-tukar yang konvergen. tanda mutlak . artinya kalau µ −µ2 +µ −µ4 +.. Suku pertama yang dihilangkan (discarded). Suatu deret yang demikian konvergen kalau lim µn = 0. Uji deret bertukar-tukar (alternating series test) Suatu deret yang bertukar-tukar merupakan suatu deret yang suku-sukunya bertukar atau berganti dari positif ke negatif. dari negatif ke positif. kemudian lim µn = 0. deret tersebut divergen.

.

Suatu deret dengan suku positif konvergen kalau setiap sukunya sama atau lebih . bentuk test-ratio: n 1 µn +1 µn +1 . 4. dimungkinkan untuk menentukan apakah suatu deret tertentu konvergen atau divergen dengan membandingkan setiap sukunya satu per satu dengan sautu deret yang diketahui konvergen atau divergen. Uji rasio-uji dari Cauchy (Cauchy’s test-ratio test) Misalnya. Dengan menggunakan bentuk suku umum yang berurutan µ n dan µ + . tetapi sebaliknya tidak perlu benar. Kalau suatu deret dari beberapa suku yang positif dan negatif konvergen mutlak.3. tes atau uji gagal 5. Deret konvergen lainnya dari beberapa suku yang positif dan negatif dikatakan konvergen bersyarat (conditionally convergent). Konvergensi mutlak Suatu deret dari beberapa suku yang positif dan beberapa suku yang negatif dikatakan konvergen mutlak (absolute convergent) kalau deret dibentuk dari suku-suku tersebut dengan membuat semua sukunya konvergen. ρ = Rho dan misalkan ρ =lim n→ ∞ µ µn n Kemudian kalau ρ < 1. deret tersebut konvergen bersyarat. Uji perbandingan (comparison test) Di dalam banyak kasus. deret divergen ρ = 1. µ + µ2 + µ 3 + … + µ n + … merupakan suatu deret tidak 1 terhingga dengan suku-suku yang positif. deret konvergen ρ > 1.

µ2 . Deret-p adalah sebagai berikut 1+ 1 1 1 + …. tes perbandingan mungkin diterapkan pada suku-suku µk . 2 2 2 2 Suku umum ke-n : µn =( −1) n −1 lim µn = 0 n →x 2n −1 2n Dari µ + n 1 <µ n untuk semua n.besar dari suku yang sesuai dari deret yang diketahui divergen. … k 1 k daripada terhadap suku-suku µ . µ + . … 3 1 Contoh: 1. Catatan : Oleh karena konvergensi atau divergensi dari suatu deret tidak dipengaruhi oleh omisi (menghilangkan) sejumlah suku-suku yang terbatas. p + p + … + 2 3 np Deret ini konvergen kalau p > 1 dan divergen kalau p ≤ 1. Tentukan konvergensi atau divergensi dari deret tidak terhingga! 1 3 5 7 − 2 + 3 − 4 +…. µ +2 . µ . maka deret bertukar-tukar konvergen. Deret ukur yang dibahas di atas dan “deret-p” sering kali berguna di dalam penerapan tes/uji perbandingan. Kalau p = 1. . deretp merupakan deret harmonik.

ρ = lim n→x µ n+1 µn  2(n + 1) − 1    2 n +1  = lim n→x  2n − 1    2n   2n +1 1  2 =lim −  =− 2( 2n −1) n→x  4  2 = lim − n→ x ρ=− 1 < .. 3. Tentukan konvergensi atau divergensi dari deret tidak terhingga! 2 3 4 5 − + − + . maka deret bertukar-tukar konvergen. 3 5 7 9 Suku umum ke-n: µn =( −1) n +1 lim µn = n→ x n +1 2n +1 1 . Tentukan konvergensi atau divergensi dari deret tidak terhingga! 1− 1 1 1 + − +.. 2. 3 5 7 lim µn =0 n →x Dan µ + <µ n 1 n untuk semua n. . 2 Maka deret divergen.. 1 2 maka deret konvergen mutlak..

deret bertukar-tukar konvergen bersyarat. Soal-soal Latihan 1. ∑(−1) n =1 ∞ ∞ n +1 1 n +1 2 2. ∑n + 2 n =1 ∞ ∞ n 4. ∑n n =1 2 n +1 3.ρ =lim n →x µn +1 µn    =lim  n →x      2( n +1) −1   1  2n −1   1  ( 2n −1)1 / 2 lim  − = n→∞  1/ 2  ( 2n + 1)   = -1   ρ 1 . Jadi. = 1 1 >( )( p − series . ∑1 + ln n n= 1 1 5. maka deret divergen sebagai 1/ 2 n (2n −1) deret positif. maka uji rasio untuk konvergen mutlak gagal. ∑(−1) n =1 ∞ n +1 1 (2n +1) . p = 1) .

dimana koefisien b0. b2. suatu deret tidak terhingga berbentuk b0 + b1 (x-a) + b2 (x-a)2 + … + bn(x-a)n + … = ∑b n =0 n ( x − a ) n . Interval konvergensi ditentukan oleh produser berikut: diturunkan dari uji rasio-uji dari Cauchy.Deret Berpangkat Suatu deret tidak terhingga berbentuk a0 + ax + a2x2 + …+ anxn + … = ∑a n =0 n x n . … bebas dari x. disebut deret berpangkat 0 1 2 (power series) dalam x. tetapi divergen untuk lainnya. b1. a . disebut deret berpangkat dalam (x-a). Lebih umum lagi. maka an → deret konvergen untuk semua x → deret konvergen untuk interval L≠0 divergen di luar interval ini. . maka –R < x < R merupakan interval konvergen dari deret berpangkat dan R merupakan radius konvergensi. dimana koefisien a . … bebas dari x. atau mungkin konvergen untuk beberapa nilai x. titik akhir interval konvergensi harus diteliti secara terpisah. Kalau suatu deret berpangkat konvergen untuk nilai-nilai x dalam interval –R < x < R. Suatu deret berpangkat dalam x atau (x-a) mungkin konvergen untuk semua nilai x atau hanya untuk x = 0 saja atau x = a. • Deret berpangkat dalam x : L=0 Kalau lim n→ ∞ a n +1 =L . a .

deret menjadi 1 + 2 + 3 + 4 + …. maka bn → deret konvergen untuk semua x → deret konvergen untuk interval divergen di luar interval ini. maka deret divergen n →x Kalau x = -1. µn =( − ) n −1 n 1 lim µ n ≠ 0 . Cari interval konvergensi untuk deret berpangkat! 1 + 2x + 3x2 + 4x3 + …. deret menjadi 1 – 2 + 3 – 4 + …. µn =n lim µ n ≠ 0 . maka deret divergen n →x Jadi. Contoh: 1. deret berpangkat aslinya konvergen untuk -1 < x < 1 .• Deret berpangkat dalam (x-a) M=0 M≠0 Kalau lim n→ ∞ bn + 1 =L . titik akhir interval konvergensi harus diteliti secara terpisah. Kalau x = -1. maka interval konvergensi adalah -1 < x < 1 dan titik 1 n→ ∞ n akhir interval harus diuji. Suku umum ke-n: µn =nx n −1 L =lim n +1 = .

Cari interval konvergensi untuk deret berpangkat! 1− x x2 x3 x4 + − + −. 2n −1 2n Maka deret divergen. 3 5 7 1 2n − 1 (hilangkan suku pertama) lim µn = 0 n →∞ 1 µ 2n −1 2(n +1) −1 lim n +1 =lim = lim =1 n→ ∞ µ n→ ∞ n → 2 n +1 ∞ 1 n 2n −1 Maka uji rasio gagal. p = 1)... deret adalah: 1+ 2 22 23 24 + + + +... 2 3 2 (3)( 2 ) (5)( 2 ) (7)( 2 4 ) Suku umum ke-n: µn = ( −1) n +1 x n −1 ( 2n −3) 2 n −1  ( 2n − 3) 2 n −1 L = lim  − n n →∞  [ 2( n −1) − 3]2  1  2n − 3   = lim −  n →∞ 4n − 2  = − 2    Maka. Kalau x = -2. µn = 2 1 > (p-series.. Catatan : . 2 (3)( 2 2 ) (5)( 2 3 ) (7)( 2 4 ) Atau 1+1+ µ = n 1 1 1 + + + ….2.. interval konvergensi -2 < x < 2 titik akhir interval harus diuji.

Cari interval konvergensi untuk deret berpangkat! ( x −1) − 1 1 1 ( x −1) 2 + ( x −1) 3 − ( x −1) 4 + . artinya deret divergen untuk semua x ≠ 0. deret berpangkat yang asli konvergen untuk -2 < x < ≤ 2 3. 2 2 4 .... deret adalah 1− 2 22 23 24 + − + − . Kalau x = 2. maka deret bertukar-tukar konvergen n 1 n Jadi....Mengalikan suatu deret dengan suatu konstan tidak mempengaruhi konvergensi. 2 (3)( 2 2 ) (5)( 2 3 ) (7)( 2 4 ) Atau 1 −1 + 1 1 1 − + − . Cari interval konvergensi untuk deret berpangkat! 1 + x + 2!x2 + 3!x3 + … Suku umum ke-n: µn =( n −1)! x n −1 L =lim n! =lim =∞ ∞ ( − )! n → 1 n→ ∞ Jadi deret berpangkat konvergen hanya untuk x = 0.. 4. 3 5 7 µn =( −1) n 1 (hilangkan suku pertam) 2n −1 lim =0 n→ ∞ µ + <µ ..

Kalau x = 0. 4 9 16 Suku umum ke-n: . µn = 1 (p-series.. maka interval konvergensi adalah 0 < x < 2.. 1 µn Maka uji rasio gagal..…. maka deret bertukar. 2 3 4 µn =− 1 n lim µn = 0 n →∞ lim n→ ∞ µn +1 = . p =1) n Maka deret divergen (p-series = deret) Kalau x = 2. deret adalah -1 1 1 1 .Suku umum ke-n: µn =(−1) n +1 ( x −1) n n n   M =lim − =−1 . Cari interval konvergensi untuk deret berpangkat! ( x −1) − 1 1 1 ( x −1) 2 + ( x −1) 3 − ( x −1) 4 + . n→ ∞  n +1  titik akhir harus diuji. 2 3 4 µn =( − ) n +1 1 1 n lim µn = 0 . deret berpangkat yang asli konvergen untuk 0 < x < 2. deret adalah 1 1 1 1 + + …. n →∞ Jadi. 5.

µn = (−1) n +1 ( x −1) n n2   =−1 . 4 9 1 6 µn =( −1) n +1 1 .…. Kalau x = 0. 1 n→ ∞ µ n 1 (p-series. deret adalah -1 1 1 1 . maka uji rasio gagal. maka interval konvergensi adalah 0 < x <    n2 M =lim  − 2 n→  ∞  ( n +1) 2. Kalau x = 2. titik akhir harus diuji.…. . maka deret konvergen mutlak. deret adalah -1 1 1 1 . p =2) n2 µn = maka deret konvergen. n2 Jadi. 4 9 1 6 µn = − 1 n2 lim µn = 0 n →∞ lim µn +1 = . deret berpangkat yang asli konvergen untuk 0 ≤ x ≤ 2.

Rn disebut sisa setelah n suku (remainder after n terms) dan dapat ditunjukkan bahwa Rn = f ( n) (ξ ) ( x − a) n .. perluasan (ekspansi) merupakan deret Maclaurin.. Dalam hal ini.. seringkali lebih mudah untuk mewakili suatu fungsi x dengan suatu deret berpangkat.1 + Rn (n − 1)! Konvergen dan mewakili fungsi f(x) untuk nilai-nilai x untuk semua turunan f(x) yang ada dan untuk Rn → 0 ketika n → ∞. dimana a ≤ ξ≤x.. Cari interval konvergensi untuk deret berpangkat! 2( x − 2) + 3( x − 2) 2 4( x − 2) 3 5( x − 2) 4 + + + . dalil Taylor (Taylor’s theorem) memberikan deret berpangkat yang tepat untuk mewakili banyak fungsi. + f k! 1! 2! ( n . Dalil Taylor: deret tidak terhingga ∑ k =0 ∞ f k (a) x −a ( x − a) 2 ( x − a ) k = f (a) + f ' (a ) + f ' ' (a ) + .6. 2! 3! 4! Suku umum ke-1: µn = (n + 1)( x − 2) n n!  n+2     ( n + 1)!  = lim n + 2 = 0 M = lim n →∞ n + 1  n →∞ ( n + 1) 2    n!  Dalil Taylor Untuk maksud teoretis atau komputasional. f(x) dikatakan diperluas di dalam suatu deret Taylor untuk x = a. dimana a = 0.1) (a) ( x − a ) n . n! .. Untuk hal khusus.

berguna untuk menghitung fungsi yang diwakilinya untuk nilai x dekat a. Akan tetapi. suatu fungsi yang dapat didiferensiasikan hanya dapat suatu jumlah yang terbatas dapat diperluas dalam suatu deret yang mempunyai sejumlah suku yang terbatas. deret harus konvergen untuk nilai-nilai x dalam range yang dikehendaki. Suatu bukti dalil Taylor yang sangat mendalam tidak diberikan di dalam buku ini. Sama halnya. suatu deret Maclaurin berguna untuk menghitung fungsi yang diwakilinya untuk nilai x dekat 0 (nol). deret tidak mewakili fungsi. agar menjadi valid di dalam representasi suatu fungsi. Akan tetapi. Hasil dapat dibuat masuk akal dengan menggunakan catatan teknis 3. Catatan : Ada beberapa suku untuk deret Taylor yang konvergen untuk nilai-nilai x untuk sisa (remainder) yang tidak mendekati nol ketika n → ∞. seperti di dalam hal untuk contoh-contoh di sini. suatu fungsi yang dapat didiferensiasikan secara tidak terbatas dan diperluas dalam suatu deret yang tidak terbatas. untuk nilai x yang demikian itu. Perlu dicatat bahwa setiap fungsi yang dapat didefinisikan dapat diperluas dalam suatu deret Taylor.Formula ini dapat dipergunakan untuk menentukan suatu batas bagi kesalahan yang disebabkan karena hanya menggunakan n suku pertama dari deret kalau max a ≤ ξ≤x Rn diperoleh. sebagai tambahan. interval konvergensi dari deret sama seperti interval untuk Rn → ∞ ketika n → ∞. Suatu deret Taylor untuk x = a. agar berguna untuk maksud . dalam banyak hal.

deret harus konvergen cukup cepat. . sebelum menggunakan suatu perluasan deret Taylor untuk mewakili suatu fungsi. sifat atau ciri konvergensinya harus diteliti. sehingga suatu pendekatan yang cukup masuk akal dan teliti dapat diperoleh dengan menggunakan sejumlah suku yang masih mudah diatur (manageable).pembuatan perhitungan. Jadi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful