P. 1
ANALISIS REAL-1

ANALISIS REAL-1

|Views: 1,164|Likes:
Published by Fajar Akbar

More info:

Published by: Fajar Akbar on Apr 02, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/14/2013

pdf

text

original

ANALISIS REAL 1

SUMANANG MUHTAR GOZALI

KBK ANALISIS

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA BANDUNG 2010

Pada dasarnya materi ini merupakan kelanjutan dari materi Kalkulus.2 KATA PENGANTAR Bismillahirrahmanirrahim Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Oleh karena itu. Tulisan ini merupakan hasil rangkuman materi kuliah Analisis Real 1 yang pernah diampu oleh Penulis. khususnya bagi para pembaca yang berminat dalam bidang matematika analisis. Penulis berharap semoga tulisan ini bermanfaat. Februari 2010 Penulis. Sumanang Muhtar Gozali . Shalawat serta salam bagi Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Terakhir. Bandung. Penulis berharap pembaca dapat menangkap gagasan materi dengan mudah.

. . . . . . . . . . 12 3 . . . . .2 Fungsi . . . . .3 Nilai Mutlak . .5 Barisan Cauchy . . . . . . 3. . . . . .3 Barisan Terbatas . . . . . . . . .2 Urutan . . . . 11 . . . . . . . . . . 2. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .2 Teorema Limit . . .4 Teorema Bolzano-Weierstrass 3. . . . . . . . . . . . . 9 . . . . 10 . . . . . . 2 3 1 1 3 5 5 6 7 9 . . . . 2. . . . . . . . . . . . . . . .1 Limit Barisan . . . . . . 2 Sistem Bilangan Real (R) 2. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 3. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 3. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 1. .DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR ISI 1 Himpunan dan Fungsi 1. . . . 3 Barisan di R 3. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .1 Himpunan . .1 Aksioma-aksioma Bilangan Real . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 9 . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Sebagai contoh. cara yang lebih umum adalah kita memberi sifat khusus yang dimiliki oleh elemen-elemen di suatu himpunan. Kadangkadang kita juga mengatakan x suatu unsur atau anggota di A. Sementara itu jika y bukan elemen di A maka kita tuliskan y ∈ A. operasi dan sifat-sifat. / Untuk menuliskan sebuah himpunan kita dapat mencacah semua elemennya jika berhingga. Disamping mengingat kembali berbagai definisi. Keduanya merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pembahasan hampir semua topik matematika.1 Himpunan Jika x adalah suatu elemen di himpunan A maka kita menuliskan x ∈ A. himpunan berhingga A = {0. Beberapa himpunan mempunyai notasi khusus. Kita memahami notasi terakhir ini bahwa A adalah himpunan semua bilangan real x yang memenuhi sifat x2 = x. Selain itu. Karena akan sering digunakan di buku ini maka kita akan mengingatnya kembali notasi-notasi itu. bagian ini ditujukan untuk mengenalkan berbagai notasi yang digunakan.BAB 1 Himpunan dan Fungsi Pada bab ini kita akan mereviu konsep himpunan dan fungsi. 1} dapat juga dituliskan A = {x : x2 = x}. Adapun himpunan kosong kita menotasikannya dengan ∅. 1. Untuk him1 .

2} Berkaitan dengan operasi gabungan dan irisan himpunan.} x : x. Dalam ungkapan lain A \ B = {x ∈ A : x ∈ B}. . jika berlaku A ⊆ B dan B ⊆ A. 0. 3. B dikatakan sama. 0. 2. sedangkan yang lainnya adalah Himpunan bilangan asli N = {1. 5} Maka kita peroleh A \ B = {−1. gabungan A ∪ B. 3. 3. 5} A ∩ B = {0. dua buah himpunan A. Sementara itu. jika untuk sebarang x ∈ A berlaku pula x ∈ B. −1. 2. Kita dapat menotasikannya dengan A ⊆ B atau B ⊇ A. dinotasikan A \ B. Misalkan A dan B keduanya adalah himpunan. B. Adapun irisan A ∩ B menyatakan semua elemen yang terdapat di A maupun di B. kita mempunyai sifat-sifat berikut. . −2. 2. maka kita katakan Himpunan bilangan rasional Q = { A subhimpunan dari B. misalkan kita mempunyai dua himpunan A = {−1. 4.. / Untuk menyatakan komplemen B relatif terhadap himpunan semesta R. Komplemen B relatif terhadap A adalah himpunan semua elemen A yang tidak terdapat di B. 4}.. y = 0}. dinotasikan A = B.. 3. y ∈ Z. Sebagai contoh. 2. 5} A ∪ B = {−1. Dengan demikian kita dapat menuliskan A ∪ B = {x : x ∈ A atau x ∈ B} A ∩ B = {x : x ∈ A dan x ∈ B}. Untuk sebarang dua himpunan A. 2.. Sekarang kita melihat cara mendapatkan himpunan baru dari sebarang dua himpunan yang diberikan.} Himpunan bilangan bulat Z = {0.2 BAB 1. kita sering menotasikannya dengan B c . . y Selanjutnya. B = {0. HIMPUNAN DAN FUNGSI punan semua bilangan real kita menotasikan R. 1. menyatakan semua elemen yang terdapat di A atau di B.

2). maka a. d. 3)}. A ∩ A = A. Dalam hal ini himpunan X kita sebut domain f . (0. (1. (A ∩ B) ∩ C = A ∩ (B ∩ C).1 Misalkan A.1. 3). Hasil kali kartesian dari X dan Y adalah X × Y = {(0. b kita sebut nilai f di a dan kita tuliskan b = f (a). b) : a ∈ X. i=1 1. dinotasikan f : X → Y . C.1. 2). (1. Selanjutnya. adalah sebarang himpunan. Misalkan A1 . Subhimpnan f disebut fungsi jika untuk setiap a ∈ X terdapat elemen tunggal b ∈ Y yang memenuhi (a. 1). . dinotasikan R(f ). Sebagai contoh. 1} dan Y = {1. FUNGSI Teorema 1. 3}. (1. A ∩ (B ∪ C) = (A ∩ B) ∪ (A ∩ C).. B.. 1). Sementara himpunan semua f (a) ∈ Y dengan a ∈ X kita sebut peta dari X oleh f . Untuk elemen (a.. A2 . (0. b ∈ Y }. masing-masing adalah n Ai = {x : x ∈ Ai untuk suatu i} i=1 n Ai = {x : x ∈ Ai untuk setiap i}. 2. kita mendefinisikan hasil kali kartesian X × Y sebagai himpunan X × Y = {(a. b) ∈ f . f pada definisi di atas kita sebut fungsi dari X ke Y .2 Fungsi Jika X dan Y masing-masing adalah himpunan tak kosong. . A∪A=A A∪B =B∪A (A ∪ B) ∪ C = A ∪ (B ∪ C) A ∪ (B ∩ C) = (A ∪ B) ∩ (A ∪ C) 3 b. Definisi Misalkan f suatu subhimpunan di X × Y . dinotasikan X = D(f ).2. Gabungan dan irisan dari n buah himpunan ini. misalkan X = {0. c. An adalah n buah himpunan. b) ∈ f . A ∩ B = B ∩ A.

y∈Y Pada teorema di atas. HIMPUNAN DAN FUNGSI Definisi Misalkan X. Selanjutnya. kita mempunyai teorema penting berikut. x ∈ X. x2 ∈ X dan f (x1 ) = f (x2 ) ⇒ x1 = x2 b. Y masing-masing adalah himpunan dan f : X → Y suatu fungsi. f disebut fungsi satu-satu jika berlaku x1 .2. a. f : X → Y adalah fungsi satu-satu jika untuk sebarang x1 = x2 berlaku f (x1 ) = f (x2 ). Teorema 1.1 Jika f : X → Y suatu fungsi bijektif maka terdapat g : Y → X sehingga f (g(y)) = y. Dalam ungkapan lain. f disebut fungsi onto jika untuk setiap y ∈ Y terdapat x ∈ X sehingga f (x) = y. dan g(f (x)) = x. Dan f dikatakan onto jika berlaku R(f ) = Y . . Berkaitan dengan fungsi bijektif.4 BAB 1. g disebut invers dari f dan dinotasikan g = f −1 . fungsi yang bersifat satu-satu dan onto kita sebut fungsi bijektif.

b). a. Selain itu. khususnya sifat-sifat operasi penjumlahan dan perkalian.(b + c) = a.c = a. Anda juga telah diperkenalkan dengan konsep urutan dengan berbagai sifatnya serta bentuk aplikasinya pada penyelesaian pertidaksamaan di bilangan real.BAB 2 Sistem Bilangan Real (R) Pada kuliah kalkulus Anda telah mempelajari beberapa sifat dasar bilangan real.b + a. Pada kuliah ini Anda akan mendapat wawasan lanjutan tentang materi yang telah Anda peroleh di kalkulus itu. 2.c dan (b + c). Eksistensi Identitas Perkalian Terdapat elemen 0 = 1 ∈ R sehingga 1.a Eksistensi Identitas Penjumlahan Terdapat 0 ∈ R sehingga 0 + a = a.(b. b.a Sifat Asosiatif (a + b) + c = a + (b + c). Untuk semua a. c ∈ R.b keduanya adalah elemen di R SifatKomutatif a + b = b + a. (a. kedua operasi ini memenuhi semua sifat berikut: Sifat Ketertutupan a + b dan a. Kita akan meninjau kembali sifat-sifat dasar di atas untuk kemudian melangkah pada sifat-sifat kelengkapan yang merupakan target utama bab ini.c) Sifat Distributif a.a + c. yaitu penjumlahan (+) dan perkalian (·).b = b.a = a untuk semua a ∈ R Eksistensi Invers Penjumlahan Untuk setiap a ∈ R terdapat −a ∈ R sehingga 5 .1 Aksioma-aksioma Bilangan Real Pada sistem bilangan real R kita dapat mendefinisikan dua buah operasi.a = b.

Tidak hanya itu.2 Urutan Disamping adanya dua operasi di atas. Jika a. a = b. BAB 2. Relasi urutan ini berkaitan dengan aspek positifitas dan ketaksamaan antara dua buah bilangan real. b ∈ P maka a + b ∈ P . Jika a < b dan b < c maka a < c [Sifat Transitif ] .6 a + (−a) = 0. x = 1. Sifat-sifat urutan Sekarang kita akan melihat berbagai implikasi dari semua definisi di atas. atau a>b ii. kita sebut himpunan bilangan positif. iii. Adapun dua sifat berikutnya menyatakan bahwa subhimpunan P tertutup terhadap operasi penjumlahan dan perkalian. atau − a ∈ P Teorema 2. b ∈ P maka ab ∈ P . Sifat-sifat urutan ini akan banyak kita gunakan ketika mencari solusi pertidaksamaan di bilangan real. yang memenuhi tiga sifat berikut: i.1 Relasi urutan di R memenuhi sifat-sifat berikut: i. SISTEM BILANGAN REAL (R) Eksistensi Invers Perkalian Untuk setiap x = 0 di R terdapat satu elemen 1 sehingga x. Sifat yang pertama adalah yang dikenal dengan sebutan trikotomi.2. bahwa di R terdapat subhimpunan tak kosong P . Jika a. Persisnya. 1 x ∈R 2. pada sistem bilangan real juga dikenal relasi urutan. ii. Untuk sebarang dua bilangan real a dan b maka persis satu di antara hubungan berikut dipenuhi a < b. kita mencoba membuktikannya dengan argumentasi logis. a = 0. Jika a ∈ R maka (hanya) satu diantara pernyataan berikut yang dipenuhi a ∈ P.

(ii. . kita peroleh b − a ∈ R. Namun. berdasarkan definisi b − a ∈ P dan c − b ∈ P . ⇔ a < b. berdasarkan sifat trikotomi. Teorema berikut memberikan gambaran lebih lanjut mengenai sifat-sifat nilai mutlak. (iii. dan jika a = 0 maka |a| = 0. kita berkepentingan dengan konsep jarak antara dua buah titik (bilangan) di garis real. misalkan a = 0. Definisi Nilai mutlak |x| dari bilangan x ∈ R didefinisikan sebagai   x .3. maka harus berlaku a < b atau a > b.) Andaikan a = b. Bukti. Oleh karena itu kita tinjau kembali definisi nilai mutlak suatu bilangan. Karena P tertutup terhadap penjumlahan maka kita peroleh (b − a) + (c − b) = c − a ∈ P . yang dapat kita pandang sebagai representasi jarak bilangan itu dari titik nol. maka −a = 0 sehingga |a| = 0. 7 (i. Selanjutnya.3 Nilai Mutlak Dalam pembahasan selanjutnya. 2. NILAI MUTLAK iii.) Untuk dua bilangan sebarang a dan b. atau Berdasarkan sifat trikotomi maka haruslah berlaku b − a ∈ P b − a = 0 ⇔ a = b. yaitu a ≤ b dan b ≤ a. Oleh karena itu kita peroleh x = 0 jika dan hanya jika |x| = 0. Jika a ≤ b dan b ≤ a maka a = b. atau a − b ∈ P ⇔ a > b. baik a < b ataupun a > b keduanya bertentangan dengan asumsi awal.) Misalkan a < b dan b < c. jika x < 0 Dari definisi ini dengan mudah kita melihat bahwa |a| ≥ 0 untuk semua a. jika x ≥ 0 |x| =  −x . atau a < c.2.

SISTEM BILANGAN REAL (R) .8 BAB 2.

BAB 3 Barisan di R Pada bab pertama kita telah mempelajari sifat-sifat dasar bilangan real. Teorema Misalkan (xn ) dan (yn ) keduanya adalah barisan konvergen dan xn ≤ yn untuk semua n.. Pada bab ini kita akan mempelajari barisan bilangan real.2 Teorema Limit Sekarang kita akan melihat berbagai teorema yang berkaitan dengan kekonvergenan barisan. Bab ini memuat pembahasan barisan bilangan real serta kekonvergenannya.1 Limit Barisan Anda tentu masih ingat. 3. Maka berlaku lim(xn ) ≤ lim(yn ). Dimulai dengan definisi barisan serta limitnya.} dengan nilai fungsi di bilangan real.. suatu barisan bilangan real adalah suatu fungsi di bilangan asli N = {1. 9 . baru kemudian masuk pada teoremateorema terkait dengan kekonvergenan. . Jika kita mengaitkan n ∈ N dengan xn ∈ R maka kita peroleh barisan (xn ). 2. Setiap xn kita sebut suku atau elemen dari barisan tersebut. 3. Semua yang telah kita pahami mengenai sifat-sifat bilangan real akan menjadi modal untuk menguasai bab ini.

karena untuk setiap bilangan positif 2 M terdapat bilangan asli nM sehingga M < nM . (zn ) → x dan terdapat N ∈ N sehingga (xn ) ≤ (yn ) ≤ (zn ) maka (yn ) → x Perhatikan bunyi teorema di atas. Jika tidak terdapat bilangan M yang demikian maka kita katakan (xn ) tidak terbatas. pada suku-suku awal tidaklah mensyaratkan kondisi (xn ) ≤ (yn ) ≤ (zn ). hubungan antara kekonvergenan dan keterbatasn dinyatakan dalam teorema berikut.2.3. Jika (xn ) → x.10 BAB 3.1 (Prinsip Apit) Misalkan (xn ). (yn ). Teorema 3. BARISAN DI R Teorema Misalkan (xn ) barisan konvergen dan a ≤ xn ≤ b untuk semua n. Salah satu akibat dari teorema di atas adalah hasil berikut. Definisi Barisan (xn ) dikatakan terbatas jika terdapat bilangan M ≥ 0 sehingga |xn | ≤ M untuk semua n ∈ N. Barisan Y = ( n ) adalah tidak terbatas. cukup pada bagian ekornya saja. n≥N 3. Barisan X = ( n ) adalah terbatas karena | n | ≤ 1 2.3 Barisan Terbatas Kita telah mengetahui definisi himpunan terbatas. Teorema 3. 2 Selanjutnya. Contoh 1 1 1.1 Setiap barisan yang konvergen adalah terbatas . Maka berlaku a ≤ lim(xn ) ≤ b. Dengan esensi yang ekuivalen kita pun mendefinisikan barisan terbatas sebagai berikut. dan (zn ) masing-masing adalah barisan bilangan real.

Ini menunjukkan bahwa (xn ) terbatas. |x| + 1}. .. Yaitu. TEOREMA BOLZANO-WEIERSTRASS 11 Bukti. .. Dengan memisalkan C = max{|x1 |..3. Cukup mudah untuk menemukan barisan terbatas tapi divergen. bahwa suku-suku (xnk ) berasal dari suku-suku (xn ) dan untuk sebarang dua suku berurutan xnk . Sifat inilah yang dikenal dengan Teorema Bolzano Weirstrass. 3. 2 3 Kita definisikan barisan (yn ) = ( 1 1 1 ) = ( . maka terdapat N1 sehingga untuk semua n > N1 berlaku |xn − x| < 1. . Contoh Perhatikan barisan 1 1 (xn ) = (1. untuk semua n. indeks elemen xnk lebih rendah dari indeks xnk+1 di (xn ).). dimana nk ∈ N dan n1 < n2 < .4. xnk+1 . Namun kebalikannya tidaklah berlaku...).. Meskipun demikian. .. |xN1 |.. 2n 2 4 . . Misalkan xn → x. . Definisi Misalkan (xn ) suatu barisan. maka kita peroleh |xn − x| < 1 + C.4 Teorema Bolzano-Weierstrass Kita telah melihat bahwa setiap barisan yang konvergen adalah terbatas. Subbarisan dari (xn ) adalah barisan (xnk ). Kita mulai dengan definisi berikut.. jika suatu barisan terbatas maka kita dapat menemukan sub-barisan yang konvergen.

Perhatikan bahwa untuk setiap ε > 0. Lema Barisan Cauchy adalah terbatas.5 Barisan Cauchy Definisi Barisan (xn ) dikatakan Cauchy jika untuk setiap ε > 0. BARISAN DI R 3.12 BAB 3. terdapat Nε sehingga untuk semua m. Bukti. n > Nε berlaku |xm − xn | = |(xm − x) + (x − xn )| ≤ |xm − x| + |x − xn | < ε 2 + ε 2 = ε. . Ini mengatakan bahwa setiap barisan yang konvergen adalah juga barisan Cauchy. n > Nε berlaku |xm − xn | < ε Misalkan (xn ) → x. terdapat Nε sehingga untuk semua m.

Inc. Introduction to Real Analysis.R. W. (2000). An Introduction to Analysis.G. (1985).Daftar Pustaka [1] Bartle. 13 . R. John Wiley & Sons. Prentice Hall. [2] Wade.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->