Proses Pembentukan Personal Kader Dakwah Imam Syahid berkata, “JIka didapatkan seorang muslim yang baik, maka

akan didapatkan sarana-sarana kesuksesan dalam dirinya.” “Mentalitas kita –hari-hari ini- sungguh sangat membutuhkan pengobatan yang serius dan penyembuhan yang total. Kita memerlukan pencairan bagi perasaan yang telah keras membeku; kita membutuhkan perbaikan bagi akhlak yang telah rusak binasa; dan kita juga membutuhkan penyadaran atas penyakit bakhil yang telah demikian akut. Tanpa proses ulang pembaharuan mentalitas dan pembangunan jiwa ini, kita tidak mungkin melangkah ke depan walau hanya selangkah.” “Maka ketauhilah bahwa tujuan pertama yang digariskan oleh Ikhwanul Muslimin adalah tarbiyah shahihah, yakni pembinaan umat yang mengantarkannya menuju kepribadian yang utama dan mentalitas yang luhur. Pembinaan –untuk membangun jiwa yang dinamis- itu ditegakkan dalam rangka merebut kembali kemuliaan dan kejayaan umat dan untuk memikul beban tanggung jawab di jalan yang mengantarkan kepada tujuan.” Untuk mengetahui gambaran tentang sifat-sifat pembentukan pribadi di dalam jamaah, sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Syahid di dalam risalah dan penyampaianpenyampaiannya, adalah dengan cara mengumpulkan dan menyusun kewajiban dan sifat-sifat tersebut, serta apa saja yang disampaikan Imam di dalam tujuan-tujuan dakwah dan klasifikasi amal, maka kita akan mendapatkan gambaran yang lebih dekat tentang frofil muslim paripurna yang diinginkan. Dimana ia berupa aktualisasi amal tarbawi melalui program-program amali dan manhaj tertentu, serta sesuai dengan keberagaman sarana dan jenjang-jenjang tarbiyah yang ditentukan jamaah, dan batasan-batasan yang diperlukan untuk mewujudkannya. Kita dapat mengklasifikasikan sifat-sifat di atas dalam 3 (tiga) poros utama, yang merupakan satu kesatuan yang saling terpadu: 1. Poros keimanan dan ibadah 2. Poros akhlak dan budi pekerti 3. Poros dakwah dan gerakan - Untuk merealisasikan poros-poros di atas dibutuhkan proses pembinaan secara gradual dan membaginya ke dalam fase-fase dan jenjang yang berbeda dalam proses pembentukan. - Ia mencakup ikhwan dan akhwat dalam dua poros yaitu, poros keimanan dan akhlak. - Adapun dalam poros gerakan –dalam beberapa hal tertentu- terdapat perbedaan antara ikhwan dan akhwat, yaitu dalam hal karakteristik peran dan tugas yang diberikan. Tarbiyah ini berlandaskan pada dua titik penting, yaitu 1. Menghidupkan tarbiyah diri di dalam setiap personal kader, “Melakukan tarbiyah untuk diri sendiri, merupakan kewajiban kita yang pertama.” 2. Konsisten mengikuti tarbiyah kolektif yang diberikan oleh jamaah dan manhaj-manhajnya, serta melalui ikatan yang menghimpunnya yang berlandaskan pada ta’aruf, tafahum dan takaful. * Aktivitas hati lebih penting daripada aktivitas fisik, namun usaha untuk menyempurnakan keduanya merupakan tuntutan syariat, meskipun dengan kadar tuntutan masing-masing berbeda, dan kita harus mengupayakannya.

yaitu cinta karena Allah. dan amal yang berkesinambungan. tiada lain adalah pengantar. pertolongan.usrah adalah labinah dasar dalam membangun jamaah. Tujuan-tujuan itu bermula dari Ishlahul fardy (proses perbaikan diri) hingga ustaziyatul ‘alam (kepemimpinan dunia). yang bertujuan terciptanya bangunan Islam yang komprehensif dalam melahirkan karakteristik mukmin sejati. manhaj dan pemusatan terhadap program-program amali untuk mendapatkan akhlak-akhlak Islami dan petunjukpetunjuknya dalam membangun dan memperbaiki manusia. atau melakukan lompatan-lompatan terhadap sunah Allah dalam perubahan.Imam Syahid menegaskan bahwa sesungguhnya titik tolak pembinaan diri seorang mukmin sejati adalah dari dalam diri. Pembangunan yang dicita-citakan demikian besarnya. “Yakinlah kepada fikrah kalian. karena hal ini merupakan asas pijakan. dengan tetap memberikan perhatian besar untuk proses pembinaan kader dan tarbiyahnya. dari sisi normatif teoritis menuju sisi praktis-realistis. dan petunjuknya dalam perbaikan dan pembinaan. dan berkumpullah di sekelilingnya. saling memaafkan. Iman yang kuat. dan menghindari kesalahan-kesalahan yang mereka jatuh kedalamnya. kudeta. dan target-target ini tidak mungkin dapat diwujudkan dengan melakukan penyerangan. Imam Syahid juga memperhatikan iklim (suasana) yang harus memenuhi komunitas pembinaan. yang berpedoman kepada sunnah Rasulullah Saw. seimbang.Imam Syahid menegaskan tentang urgensi membangkitkan keimanan dan memperbaharui ruh.Dibutuhkannya pemusatan perhatian terhadap dakwah. pembinaan yang cermat. bekerjalah untuknya dan teguhlah di atas jalannya.Dengan tersedianya program-program yang cocok dan sarana-sarana pembinaan yang sesuai dengan kader-kader dakwah dan realitas yang ada –dan dengan memperhatikan setiap perkembangan dan kemajuan-. . cinta yang dipercaya. jiwa dan perasaan. ia adalah sebuah ladang pembinaan dan tarbiyah yang akan mewujudkan. .. membersihkan jiwa dan menguatkan keinginan. wawasan keilmuan dan kemahiran. kemenangan dan taufik dari-Nya. Karakteristik Pembinaan Diri Imam Syahid sangat memperhatikan upaya pembinaan diri yang paripurna dan gradual terhadap personal. dengan tetap menjaga perbedaan tabiat alami setiap orang dan pemenuhan kebutuhan spiritual. berbudi pekerti dan beradab Islami dalam bingkai pemahaman yang teliti. diantara kader dakwah dan diantara unit-unit shaf dan labinah dakwah yang lain.” Sesungguhnya tujuan yang diinginkan oleh dakwah bukanlah tujuan yang sederhana dan terbatas. ta’aruf. Ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Syahid di dalam risalahnya..Pembentukan ini berdiri di atas asas-asas. . labinah-labinah. Adapun 10 sifat mukmin sejati dan rukun-rukun baiat. dan mumpuni untuk kebutuhan zaman sekarang. serta urgensi kesatuan barisan. Kemudian beliau menambahkan untuk proses pembinaan tersebut sebuah hadhanah (wadah pembinaan) praktis untuk menghayati dan menerapkan proses pembinaan ini. persaudaraan. Meskipun di antara tujuan-tujuan tersebut dengan realita yang ada terdapat kendala yang sangat besar. menjadikan tingkatan ukhuwah yang paling . yaitu Usrah. yang berakhlak. Pengalaman sejarah yang pernah dilakukan oleh gerakan-gerakan reformis klasik dan kontemporer. tidak melakukan lompatam-lompatan. menyelesihi atau meremehkannya.. Imam Syahid berkata. sebagai asas untuk bergerak dan terus eksis. Hal ini tidak mungkin dapat diwujudkan kecuali dengan melalui manhaj yang panjang dalam proses pembinaan. –Dalam kerangka jamaah. tarbiyah dan pembangunan. dan sunnah Allah dalam perubahan dan kejayaan. menguatkan konsep ini dan Manhaj yang dipilih dan disusun oleh Imam Syahid yang berlandaskan kepada sunah Rasulullah Saw. yang mencakup pengalaman-pengalaman orang lain. yaitu dengan membangun keimanan. kendati demikian hal ini adalah bentuk totalitas kepercayaan kepada manhaj Allah Swt. dan seluruh barisan dakwah. tafahum dan takaful. pemahaman yang benar. yang berlangsung secara terus menerus dari generasi ke generasi berikutnya. namun ia adalah tujuan yang besar dan dalam. .

Beliau tidak memisahkan antara pembinaan diri dengan pencapaian sifat-sifat. yang digambarkan oleh Imam Syahid terdiri dari: “Pemahaman yang teliti. akhlak. Ini adalah iklim dan suasana yang di dalamnya terdapat kebersihan dengan seluruh maknanya yang luas. . Imam Syahid menyebut penanggungjawab unit-unit usrah ini dengan ‘Naqib’. Imam Syahid menjelaskan sisi pembinaan ini dengan mengatakan. posisi seorang guru dalam memberikan pengajaran ilmu.menduduki posisi orang tua dalam ikatan hati. Al Qur’an Dusturuna (Al Quran adalah Undang-undang kami). Ar Rasul Qudqatuna (Rasul adalah teladan kami). Dakwah pada tahapan ini bersifat khusus. “Kepemimpinan –dalam dakwah Ikhwan. Dan dakwah mengumpulkan seluruh makna ini. Tidak dapat dikerjakan oleh seseorang kecuali yang memiliki kesiapan secara benar untuk memikul beban jihad yang panjang masanya dan berat tantangannya. dan ia adalah bagian yang mendasar dari pembentukan ini. * Poros dakwah dan gerakan. maupun dalam melaksanakan peran pengelolaannya.” . kesucian dan kemuliaan. . tilawah. Shalat. jihad dan dalam mengemban beban dakwah yang berat. dan amal yang berkesinambungan. -Slogan pembentukan ini. inti adalah tilawah dan shalat. atau hubungan dengannya.” Maknanya adalah: * Poros keimanan dan ibadah. Slogan utama dalam persiapan ini adalah: Totalitas ketaatan. pembinaan yang mendalam. intinya adalah keprajuritan. . Al Jihad Sabiluna (Jihad adalah jalan juang kami). . beliau berkata: “Dalam tahapan ini dakwah ditegakkan dengan melakukan seleksi terhadap anasir-anasir positif untuk memikul beban jihad dan untuk menghimpun berbagai bagian yang ada.Menjadikan pembinaan tarbawi sebagai sesuatu yang asasi (mendasar) dalam dakwah. dan posisi seorang syaikh dalam aspek pendidikan rohani.Imam Syahid menggambarkan tentang kedalaman proses pembentukan ini dan tingkatantingkatannya dalam memenuhi tuntutan-tuntutan dakwah. intinya adalah akhlak * Karakter manhaj dan pembentukan sarana.rendah adalah salamatu shard (berlapang dada). antara gerakan. Keprajuritan.Refleksi pembentukan ini dan intinya tergambar dalam 5 (lima) hal: “Kesederhanaan. Allah Ghayatuna (Allah adalah tujuan kami). karena ia digambarkan dengan kalimat Matinul Khulq (Kokoh akhlaknya). baik dalam hal menetapkan mas’ul. Ia bukanlah perubahan yang dangkal atau hanya sebagai jembatan untuk mendapatkan beberapa adab dan muwashafat tarbiyah. Al Maut Fi Sabilillah (Syahid di jalan Allah adalah cita-cita kami tertinggi).Imam Syahid memberikan perhatian yang besar terhadap kesempurnaan dan keparipurnaan pembentukan dan pembinaan tarbawi kader-kader dakwah. dan menjadikan seluruh anggota usrah untuk bersama-sama dengan naqib melakukan pembinaan tarbawi dan meningkatkan kualitas tarbiyah dan perbaikan diri. * Poros budi pekerti. intinya adalah kesederhanaan. dan posisi seorang pemimpin dalam menentukan kebijakan-kebijakan politik secara umum dalam dakwah. Tetapi ia adalah sebuah pembentukan yang sempurna dan saling terkait dan memberikan pengaruh satu sama lain. aktivitas dan pengaruh kader di tengah masyarakat.

kita cukup mengimaninya sebagimana adanya tanpa ta’wil. Semuanya memiliki satu pijakan dasar. dan ta’thil. Urgensinya adalah kerja social bagi kepentingan umum. dalam tahapan ini dakwah dilakukan dengan dengan menyebarkan fikrah Islam di tengah masyarakat. “Setiap bid’ah dalam agama Allah yang tidak ada pijakannya tetapi dianggap baik oleh hawa nafsu manusia. Qiyam Lail.bersifat tasawuf murni dalam tataran ruhani. ajarkan kepadanya kebebasan jiwa dan hati. serta tidak memperuncing perbedaan yang terjadi di antara para ulama. yang sesuai dengan keinginan dan target yang ingin dicapai. dan hendaknya memiliki wirid harian bacaan Al Quran. “Dan dengan urgensi kelahiran generasi baru ini. Kita mencukupkan diri dengan keterangan yang ada. “Ma’rifah kepada Allah –Yang Maha Tinggi dan Maha Mulia. kehidupan dunia dan akhirat. kami menginginkan seorang yang muslim dalam pola piker dan akidahnya. tanpa ragu dan bimbang. yang tidak justru menimbulkan bid’ah yang lain yang lebih parah.” Ikhwan melakukan kerjasama dengan orang-orang yang ikhlas yang berkerja di lapangan ini.Imam Syahid menjadikan dasar pembinaan dalam tarbiyah berlandaskan manhaj Islam. . “Jamaah menjalin hubungan dengan orang yang ingin memberikan kontribusi bagi aktivitasnya dan ingin ikut menjaga prinsip-prinsip ajarannya. maka kalian akan menyaksikan kelahiran seorang pemimpin muslim yang berjihad dengan dirinya dan membahagiakan orang lain.” . mengenalkan Islam dan kebangkitannya di tengah masyarakat. Hal ini merupakan rukun pertama dalam manhaj perbaikan terhadap masyarakat dan pembangunan Negara. baik kepribadiaan. serta dalam amal dan prilakunya. sedangkan medianya adalah nasihat. dengan kesempurnaannya di pelbagai sisi perbaikan. Imam Syahid berkata. menghayati dan mentadabburinya. Tentang hal ini.dengan sikap tauhid dan penyucian (Dzat)-nya adalah setinggi-tinggi tingkatan dalam akidah Islam. yang titik tolaknya adalah perbaikan dan mencakup segala aspek kemanusiaan. mesjid dan perhatian yang besar terhadap shalat.tidaklah dituntut.” . bimbingan.” Imam Syahid berkata. mendengarkan. pertama-tama. dan bersifat militer dalam tataran operasional. Slogan untuk dua aspek ini adalah: perintah dan taat. Imam Syahid berkata. walaupun berbeda bentuk dan programnya.” Beliau juga berkata.Hal ini berbeda jauh dari pengenalan dakwah dan lebih dekat ke dalam karakteristik pembentukan dan tarbiyah. adalah kesesatan yang wajib diperangi dan dihancurkan dengan menggunakan cara yang terbaik. serta berbagai keterangan mutasyabihat yang berhubungan dengannya. baik berupa penambahan maupun pengurangan. anak-anak maupun orangtua.” Sebagaimana yang disebutkan Imam Syahid bahwa seorang al Akh seharusnya: memiliki kekuatan hubungan dengan kitab Allah. yaitu lapangan perbaikan umum. menghapal. akhlak. serta kebebasan pemikiran dan akal. kebebasan jihad dan amal. “Al Quran yang mulia dan sunnah yang suci adalah referensi utama setiap muslim untuk mengenal hukum-hukum dalam agama Islam. dan beberapa cara lain.Imam Syahid sangat memperhatikan urgensi kebenaran akidah dalam proses pembentukan dan perbaikan diri seorang muslim. sebagaimana Rasulullah Saw. Tingkatannya seiring dengan kadar penghormatannya kepada sistem dan prinsip-prinsip umum jamaah. yang kemudian disebut sebagai. . Beliau berkata. Ketaatan tanpa reserve –pada tahapan ini. baik wirid tilawah. serta latihlah ia menjadi prajurit di bawah bendera dan panji Nabi Muhammad. Beliau juga tidak membedakan dalam urgensi dan integralitas pembinaan ini antara lelaki dan wanita.Sistem dakwah –pada tahapan ini. Tahap pengenalan. bahkan tidak lazim. Ini merupakan salah satu upaya pembentukan individu mukmin dalam dakwah kami. sedangkan mengenai ayat-ayat sifat dan hadits-hadits shahih tentangnya. Penuhilah jiwa yang liar dengan keagungan Islam dan keindahan Al Quran. maka perbaikilah dakwah dan maksimalkan proses pembentukannya. dalam moralitas dan perasaannya. dan para sahabatnya mencukupkan diri dengannya.

” Dakwah ini tidak membutuhkan kepada jiwa-jiwa yang tidak konsisten dan kaku. Rukun-rukun baiat ini menunjukkan nilai-nilai tarbiyah yang dibutuhkan oleh individu dan jamaah dakwah. Ikhlas. Dalam aspek pengorganisasi dan barisan dakwah. Dalam aspek keyakinan. Tadhiyah (pengorbanan). kemudian mempersiapkannya agar mampu mewujudkan dan berupaya untuk melaksanakannya. yaitu sebagai poros penyempurna.” “Untuk itu. dan tsabat di atas prinsipprinsip. kami membutuhkan rukun-rukun berikut ini. serta anasir-anasir dakwah yang tertutup dan kepribadian yang senang menyendiri. kami membutuhkan Fahm (pemahaman). . demi membentuk labinah-labinah dakwah yang kuat dalam satu barisan: Dalam aspek harakah. Nafi’un Li Ghairihi (Bermanfaat bagi selainnya). Imam Syahid menyebutkan tingkatan amal yang dituntut dari seorang al akh yang tulus.Imam Syahid menetapkan tujuan-tujuan tertinggi dalam jamaah –yang berupa tingkatantingkatan amal-. maka kelemahan dan kerusakan dalam salah satu rukun-rukunnya akan menyebabkan kelemahan terhadap baiat-baiatnya yang lain. . Kemudian dalam seluruh aspek-aspek di atas. dan Tajarrud (kemurnian). . Amal (aktivitas). yaitu: Salimul Akidah (bersih akidahnya). Matinul Khulq (Kokoh akhlaknya). yaitu arah dan wadah yang membatasi aspek-aspek pembentukan dan beban dakwah.Imam Syahid menetapkan muwashafat yang harus dipenuhi oleh seorang muslim di dalam kehidupannya. agar dapat mewujudkan semua rukun-rukun baiat. kami membutuhkan Taat (kepatuhan). yaitu. Amal (aktivitas).Imam Syahid juga menetapkan rukun-rukun baiat berikut. Qadirun Alal Kasbi (mampu berekonomi). seorang kader dakwah membutuhkan rukun Tsabat (keteguhan). Mutsaqqaful Fikr (berwawasan pemikirannya). Ukhuwah dan Tsiqah (kepercayaan). yang mencakup manhaj tarbawi dan takwini. yang akan berjalan beriringan dengan 10 sifat yang lain. shahihul Ibadah (benar ibadahnya). Ukhuwah dan Tsiqah (kepercayaan). Tsabat (keteguhan). Amal (aktivitas). Jihad. Taat (kepatuhan). yang memiliki jiwa yang keropos. baiat dan komitmennya terhadap jamaah. Ikhlas. Tajarrud (kemurnian). Mujahidun Linasihi (kuat kesungguhan jiwanya). Munazhamun fi Syu’unihi (terorganisir seluruh urusannya).Beliau juga berkata. Qawiyyul Jismi (memiliki fisik yang kuat). Jihad. yaitu: . yang berasal dari dalam diri setiap individu. Tadhiyah (pengorbanan). Harishun Ala waqtihi (Cermat mengatur waktunya). Unsur ini yang kemudian terbagi dalam beberapa tujuan dan poros-poros yang diwujudkan dengan program-program pendidikan dan kegiatan-kegiatan tarbiyah. yang menyatu dan membentuk satu dasar pijakan dalam pembentukan ini. kami juga memperhatikan kaum wanita sebagaimana perhatian kami kepada kaum pria. Karena rukun-rukun baiat ini saling berkaitan erat. dengan tetap menjaga beberapa perbedaan aspek harakah dan peran-peran khusus mereka. “Seluruh jamaah Islam di masa kini sangat membutuhkan munculnya pribadi aktivis sekaligus pemikir dan anasir produktivitas yang pemberani.” sebagai poros-poros pembentukan utama bagi para pembawa risalah dakwah dan yang komitmen terhadap jamaah ini. Kami juga memperhatikan anak-anak sebagaimana perhatian kami kepada pemuda. Fahm (pemahaman).” Kaum wanita memikul tanggungjawab yang sama dalam dakwah dan beraktivitas untuk mewujudkan tujuan yang sama pula.

Menghiasi dirinya dengan akhlak Islami. Imam Syahid menjelaskan beberapa aspek penting di atas di dalam proses pembentukan individu serta kesinambungannya. .Perbaikan diri sendiri . dan di dalam sarana-sarana tarbiyah yang digunakan. maka kewajiban seorang akh adalah: 1. dan dengan memanfaatkan setiap sarana dan instrumen yang baru. Islam juga menginginkan sebuah pandangan yang benar dalam memahami sesuatu itu benar atau salah. untuk mewujudkan kemauan yang kuat dan tekad yang membaja..” Tingkatan dan tujuan-tujuan ini memiliki refleksifitas dan perwujudannya di dalam programprogram penyiapan individu. sehingga dapat membedakan antara kebaikan dan keburukan. untuk mengasah kepekaan nurani dan kehalusan perasaan. 4. Ia juga memelihara target. Islam menginginkan dalam diri setiap mukmin. 1. yang mencakup seluruh aspek tarbawi. atau membatasi satu tujuan tanpa tujuan yang lain. tanpa membedakan atau memisahkan antara tujuan-tujuan tersebut. dan menjadi perangkat yang layak untuk mewujudkan cita-cita yang mulia. 2. . Empat yang terakhir ini wajib ditegakkan oleh jamaah dan oleh setiap akh sebagai anggota dalam jamaah itu.tidak terpisah. . namun fleksibel dan dinamis. “Sesungguhnya. sesuai dengan masing-masing tujuan. dengan tetap menjaga perbedaan antara individu kader. Sebagaimana ia juga memiliki pengaruh nyata dan nilai-nilai tarbawi dan haraki yang terwujud secara gradual.Memperbaiki keadaan pemerintah. dalam rangka mewujudkan tingkatan-tingkatan dan tujuan-tujuan yang tinggi itu. Program dan sarana-sarana tarbiyah yang digunakan tidak kaku dan statis. 2.Mengembalikan kekuasaan khilafah yang telah hilang dan terwujudnya persatuan yang diimpikan bersama. mampu mengegolkan misi kebenaran dan kebajikan. 3. Sebuah keinginan kuat yang tidak akan pernah melemah dalam membela kebenaran.Penegakan kepemimpinan dunia dengan penyebaran dakwah Islam di seantero negeri.” Dengan demikian. Perasaan dan nurani yang peka. karakteristik dan target-target utama. namun saling menyempurnakan satu sama lain. dengan tetap memperhatikan jenjang dakwah yang dilalui. sehingga menjadi pemerintah Islam yang baik. 3.Pembentukan keluarga muslim . Beribadah kepada Allah dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya. Melakukan kegiatan belajar dengan kemampuannya untuk meningkatkan intelektualitas dan wawasan keilmuannya. Tubuh yang sehat yang siap mengemban berbagai tugas kemanusiaan secara baik.Pembebasan tanah air .Bimbingan masyarakat . Program-program ini –baik teori maupun praktek.

kesempurnaan akhlak dan kesehatan badan. kesetiaan yang kuat yang tak dikotori oleh kepura-puraan dan pengkhianatan. Komitmen dengan aturan dan adab-adab Islam dalam tata cara makan. dan beliau menjelaskan bahwa sifat-sifat tersebut merupakan nilai-nilai dasar dalam diri individu muslim dan umat Islam untuk bangkit mengemban dan memikul risalah dakwah. dengan pengetahuan terhadap dasar perjuangan. keyakinan dan penghormatan terhadap dasar tersebut yang akan menjaga dari kesalahan dan penyimpangan. agar ia dipelihara oleh Allah dari ancaman pelbagai penyakit. -sebagaimana kami nasehatkan kepada al akh Mulsim. keluasan cakrawala berpikir. Ketika Islam menetapkan kaidah-kaidah ini. Imam Syahid menyebutkan 4 sifat yang wajib dipenuhi untuk membangun kekuatan diri. pengorbanan besar yang tak dihalangi oleh ketamakan dan kebakhilan. melainkan keduanya memiliki kedudukan sama dalam pandangan Islam. minum.4. Ukhti Muslimah. ia tidak hanya memperuntukkannya bagi kaum lakilaki dan meninggalkan kaum wanita.hendaklah selalu dalam kehalusan nurani.” . Sifat-sifat terbut adalah: “Kemauan yang keras yang tak tersentuh oleh kelemahan. dan tidur. oleh karena itu. atau tertipu dengan yang lain.