Proses Pembentukan Personal Kader Dakwah Imam Syahid berkata, “JIka didapatkan seorang muslim yang baik, maka

akan didapatkan sarana-sarana kesuksesan dalam dirinya.” “Mentalitas kita –hari-hari ini- sungguh sangat membutuhkan pengobatan yang serius dan penyembuhan yang total. Kita memerlukan pencairan bagi perasaan yang telah keras membeku; kita membutuhkan perbaikan bagi akhlak yang telah rusak binasa; dan kita juga membutuhkan penyadaran atas penyakit bakhil yang telah demikian akut. Tanpa proses ulang pembaharuan mentalitas dan pembangunan jiwa ini, kita tidak mungkin melangkah ke depan walau hanya selangkah.” “Maka ketauhilah bahwa tujuan pertama yang digariskan oleh Ikhwanul Muslimin adalah tarbiyah shahihah, yakni pembinaan umat yang mengantarkannya menuju kepribadian yang utama dan mentalitas yang luhur. Pembinaan –untuk membangun jiwa yang dinamis- itu ditegakkan dalam rangka merebut kembali kemuliaan dan kejayaan umat dan untuk memikul beban tanggung jawab di jalan yang mengantarkan kepada tujuan.” Untuk mengetahui gambaran tentang sifat-sifat pembentukan pribadi di dalam jamaah, sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Syahid di dalam risalah dan penyampaianpenyampaiannya, adalah dengan cara mengumpulkan dan menyusun kewajiban dan sifat-sifat tersebut, serta apa saja yang disampaikan Imam di dalam tujuan-tujuan dakwah dan klasifikasi amal, maka kita akan mendapatkan gambaran yang lebih dekat tentang frofil muslim paripurna yang diinginkan. Dimana ia berupa aktualisasi amal tarbawi melalui program-program amali dan manhaj tertentu, serta sesuai dengan keberagaman sarana dan jenjang-jenjang tarbiyah yang ditentukan jamaah, dan batasan-batasan yang diperlukan untuk mewujudkannya. Kita dapat mengklasifikasikan sifat-sifat di atas dalam 3 (tiga) poros utama, yang merupakan satu kesatuan yang saling terpadu: 1. Poros keimanan dan ibadah 2. Poros akhlak dan budi pekerti 3. Poros dakwah dan gerakan - Untuk merealisasikan poros-poros di atas dibutuhkan proses pembinaan secara gradual dan membaginya ke dalam fase-fase dan jenjang yang berbeda dalam proses pembentukan. - Ia mencakup ikhwan dan akhwat dalam dua poros yaitu, poros keimanan dan akhlak. - Adapun dalam poros gerakan –dalam beberapa hal tertentu- terdapat perbedaan antara ikhwan dan akhwat, yaitu dalam hal karakteristik peran dan tugas yang diberikan. Tarbiyah ini berlandaskan pada dua titik penting, yaitu 1. Menghidupkan tarbiyah diri di dalam setiap personal kader, “Melakukan tarbiyah untuk diri sendiri, merupakan kewajiban kita yang pertama.” 2. Konsisten mengikuti tarbiyah kolektif yang diberikan oleh jamaah dan manhaj-manhajnya, serta melalui ikatan yang menghimpunnya yang berlandaskan pada ta’aruf, tafahum dan takaful. * Aktivitas hati lebih penting daripada aktivitas fisik, namun usaha untuk menyempurnakan keduanya merupakan tuntutan syariat, meskipun dengan kadar tuntutan masing-masing berbeda, dan kita harus mengupayakannya.

Meskipun di antara tujuan-tujuan tersebut dengan realita yang ada terdapat kendala yang sangat besar. manhaj dan pemusatan terhadap program-program amali untuk mendapatkan akhlak-akhlak Islami dan petunjukpetunjuknya dalam membangun dan memperbaiki manusia. dan berkumpullah di sekelilingnya. dari sisi normatif teoritis menuju sisi praktis-realistis. kudeta. yang berlangsung secara terus menerus dari generasi ke generasi berikutnya. Tujuan-tujuan itu bermula dari Ishlahul fardy (proses perbaikan diri) hingga ustaziyatul ‘alam (kepemimpinan dunia). . labinah-labinah. dan petunjuknya dalam perbaikan dan pembinaan. Pembangunan yang dicita-citakan demikian besarnya.Imam Syahid menegaskan tentang urgensi membangkitkan keimanan dan memperbaharui ruh.. Adapun 10 sifat mukmin sejati dan rukun-rukun baiat. yaitu Usrah. dan seluruh barisan dakwah. Pengalaman sejarah yang pernah dilakukan oleh gerakan-gerakan reformis klasik dan kontemporer. yang berakhlak. yang mencakup pengalaman-pengalaman orang lain. tiada lain adalah pengantar. namun ia adalah tujuan yang besar dan dalam. ta’aruf. menyelesihi atau meremehkannya. dan target-target ini tidak mungkin dapat diwujudkan dengan melakukan penyerangan. Imam Syahid berkata. pertolongan. pembinaan yang cermat. Ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Syahid di dalam risalahnya. . dan sunnah Allah dalam perubahan dan kejayaan.Dengan tersedianya program-program yang cocok dan sarana-sarana pembinaan yang sesuai dengan kader-kader dakwah dan realitas yang ada –dan dengan memperhatikan setiap perkembangan dan kemajuan-. atau melakukan lompatan-lompatan terhadap sunah Allah dalam perubahan. seimbang. –Dalam kerangka jamaah. saling memaafkan. tarbiyah dan pembangunan. yaitu dengan membangun keimanan. ia adalah sebuah ladang pembinaan dan tarbiyah yang akan mewujudkan. Imam Syahid juga memperhatikan iklim (suasana) yang harus memenuhi komunitas pembinaan. . yang berpedoman kepada sunnah Rasulullah Saw. wawasan keilmuan dan kemahiran.Imam Syahid menegaskan bahwa sesungguhnya titik tolak pembinaan diri seorang mukmin sejati adalah dari dalam diri. berbudi pekerti dan beradab Islami dalam bingkai pemahaman yang teliti. dengan tetap menjaga perbedaan tabiat alami setiap orang dan pemenuhan kebutuhan spiritual. karena hal ini merupakan asas pijakan.usrah adalah labinah dasar dalam membangun jamaah. sebagai asas untuk bergerak dan terus eksis. tafahum dan takaful. Iman yang kuat. jiwa dan perasaan.” Sesungguhnya tujuan yang diinginkan oleh dakwah bukanlah tujuan yang sederhana dan terbatas. dan amal yang berkesinambungan. persaudaraan. . dan menghindari kesalahan-kesalahan yang mereka jatuh kedalamnya. menguatkan konsep ini dan Manhaj yang dipilih dan disusun oleh Imam Syahid yang berlandaskan kepada sunah Rasulullah Saw. membersihkan jiwa dan menguatkan keinginan. serta urgensi kesatuan barisan. Hal ini tidak mungkin dapat diwujudkan kecuali dengan melalui manhaj yang panjang dalam proses pembinaan. cinta yang dipercaya. pemahaman yang benar. yaitu cinta karena Allah.. Karakteristik Pembinaan Diri Imam Syahid sangat memperhatikan upaya pembinaan diri yang paripurna dan gradual terhadap personal. yang bertujuan terciptanya bangunan Islam yang komprehensif dalam melahirkan karakteristik mukmin sejati. menjadikan tingkatan ukhuwah yang paling .Pembentukan ini berdiri di atas asas-asas. kemenangan dan taufik dari-Nya. bekerjalah untuknya dan teguhlah di atas jalannya.. dan mumpuni untuk kebutuhan zaman sekarang. “Yakinlah kepada fikrah kalian. diantara kader dakwah dan diantara unit-unit shaf dan labinah dakwah yang lain. kendati demikian hal ini adalah bentuk totalitas kepercayaan kepada manhaj Allah Swt. Kemudian beliau menambahkan untuk proses pembinaan tersebut sebuah hadhanah (wadah pembinaan) praktis untuk menghayati dan menerapkan proses pembinaan ini. dengan tetap memberikan perhatian besar untuk proses pembinaan kader dan tarbiyahnya.Dibutuhkannya pemusatan perhatian terhadap dakwah. tidak melakukan lompatam-lompatan.

Tetapi ia adalah sebuah pembentukan yang sempurna dan saling terkait dan memberikan pengaruh satu sama lain. Beliau tidak memisahkan antara pembinaan diri dengan pencapaian sifat-sifat. Ia bukanlah perubahan yang dangkal atau hanya sebagai jembatan untuk mendapatkan beberapa adab dan muwashafat tarbiyah. kesucian dan kemuliaan. Ar Rasul Qudqatuna (Rasul adalah teladan kami). Ini adalah iklim dan suasana yang di dalamnya terdapat kebersihan dengan seluruh maknanya yang luas. Slogan utama dalam persiapan ini adalah: Totalitas ketaatan.” Maknanya adalah: * Poros keimanan dan ibadah. dan amal yang berkesinambungan. . tilawah. Dan dakwah mengumpulkan seluruh makna ini. posisi seorang guru dalam memberikan pengajaran ilmu. Dakwah pada tahapan ini bersifat khusus. Imam Syahid menjelaskan sisi pembinaan ini dengan mengatakan.menduduki posisi orang tua dalam ikatan hati. intinya adalah akhlak * Karakter manhaj dan pembentukan sarana. * Poros dakwah dan gerakan.Imam Syahid memberikan perhatian yang besar terhadap kesempurnaan dan keparipurnaan pembentukan dan pembinaan tarbawi kader-kader dakwah. dan ia adalah bagian yang mendasar dari pembentukan ini.” . dan posisi seorang pemimpin dalam menentukan kebijakan-kebijakan politik secara umum dalam dakwah. yang digambarkan oleh Imam Syahid terdiri dari: “Pemahaman yang teliti. pembinaan yang mendalam. maupun dalam melaksanakan peran pengelolaannya.Imam Syahid menggambarkan tentang kedalaman proses pembentukan ini dan tingkatantingkatannya dalam memenuhi tuntutan-tuntutan dakwah. baik dalam hal menetapkan mas’ul. intinya adalah keprajuritan. . * Poros budi pekerti. antara gerakan. karena ia digambarkan dengan kalimat Matinul Khulq (Kokoh akhlaknya). dan posisi seorang syaikh dalam aspek pendidikan rohani. Al Qur’an Dusturuna (Al Quran adalah Undang-undang kami). beliau berkata: “Dalam tahapan ini dakwah ditegakkan dengan melakukan seleksi terhadap anasir-anasir positif untuk memikul beban jihad dan untuk menghimpun berbagai bagian yang ada. Tidak dapat dikerjakan oleh seseorang kecuali yang memiliki kesiapan secara benar untuk memikul beban jihad yang panjang masanya dan berat tantangannya. aktivitas dan pengaruh kader di tengah masyarakat. Allah Ghayatuna (Allah adalah tujuan kami). Al Maut Fi Sabilillah (Syahid di jalan Allah adalah cita-cita kami tertinggi). Imam Syahid menyebut penanggungjawab unit-unit usrah ini dengan ‘Naqib’. akhlak.Menjadikan pembinaan tarbawi sebagai sesuatu yang asasi (mendasar) dalam dakwah. “Kepemimpinan –dalam dakwah Ikhwan. intinya adalah kesederhanaan. Shalat. . inti adalah tilawah dan shalat. . Al Jihad Sabiluna (Jihad adalah jalan juang kami). dan menjadikan seluruh anggota usrah untuk bersama-sama dengan naqib melakukan pembinaan tarbawi dan meningkatkan kualitas tarbiyah dan perbaikan diri. atau hubungan dengannya. -Slogan pembentukan ini. Keprajuritan.rendah adalah salamatu shard (berlapang dada).Refleksi pembentukan ini dan intinya tergambar dalam 5 (lima) hal: “Kesederhanaan. jihad dan dalam mengemban beban dakwah yang berat.

yang kemudian disebut sebagai. pertama-tama. Imam Syahid berkata. serta dalam amal dan prilakunya. dan hendaknya memiliki wirid harian bacaan Al Quran. bahkan tidak lazim. maka kalian akan menyaksikan kelahiran seorang pemimpin muslim yang berjihad dengan dirinya dan membahagiakan orang lain.Sistem dakwah –pada tahapan ini. sebagaimana Rasulullah Saw. akhlak. mengenalkan Islam dan kebangkitannya di tengah masyarakat.” Ikhwan melakukan kerjasama dengan orang-orang yang ikhlas yang berkerja di lapangan ini. serta kebebasan pemikiran dan akal. yang sesuai dengan keinginan dan target yang ingin dicapai. yang titik tolaknya adalah perbaikan dan mencakup segala aspek kemanusiaan. baik kepribadiaan. menghayati dan mentadabburinya. ajarkan kepadanya kebebasan jiwa dan hati. dan bersifat militer dalam tataran operasional. kehidupan dunia dan akhirat. Beliau juga tidak membedakan dalam urgensi dan integralitas pembinaan ini antara lelaki dan wanita. Tentang hal ini. Semuanya memiliki satu pijakan dasar. menghapal. “Ma’rifah kepada Allah –Yang Maha Tinggi dan Maha Mulia. Ini merupakan salah satu upaya pembentukan individu mukmin dalam dakwah kami. dan beberapa cara lain. Beliau berkata. Penuhilah jiwa yang liar dengan keagungan Islam dan keindahan Al Quran. tanpa ragu dan bimbang. dan para sahabatnya mencukupkan diri dengannya.Hal ini berbeda jauh dari pengenalan dakwah dan lebih dekat ke dalam karakteristik pembentukan dan tarbiyah. dan ta’thil. mendengarkan. maka perbaikilah dakwah dan maksimalkan proses pembentukannya. mesjid dan perhatian yang besar terhadap shalat. Urgensinya adalah kerja social bagi kepentingan umum. Hal ini merupakan rukun pertama dalam manhaj perbaikan terhadap masyarakat dan pembangunan Negara. baik berupa penambahan maupun pengurangan.” Sebagaimana yang disebutkan Imam Syahid bahwa seorang al Akh seharusnya: memiliki kekuatan hubungan dengan kitab Allah. kita cukup mengimaninya sebagimana adanya tanpa ta’wil. baik wirid tilawah.” Beliau juga berkata. “Dan dengan urgensi kelahiran generasi baru ini. serta berbagai keterangan mutasyabihat yang berhubungan dengannya. yaitu lapangan perbaikan umum. walaupun berbeda bentuk dan programnya. .” .Imam Syahid sangat memperhatikan urgensi kebenaran akidah dalam proses pembentukan dan perbaikan diri seorang muslim. Imam Syahid berkata.Imam Syahid menjadikan dasar pembinaan dalam tarbiyah berlandaskan manhaj Islam.bersifat tasawuf murni dalam tataran ruhani. dalam tahapan ini dakwah dilakukan dengan dengan menyebarkan fikrah Islam di tengah masyarakat. sedangkan mengenai ayat-ayat sifat dan hadits-hadits shahih tentangnya. kami menginginkan seorang yang muslim dalam pola piker dan akidahnya. Ketaatan tanpa reserve –pada tahapan ini. Kita mencukupkan diri dengan keterangan yang ada. bimbingan. dengan kesempurnaannya di pelbagai sisi perbaikan. “Setiap bid’ah dalam agama Allah yang tidak ada pijakannya tetapi dianggap baik oleh hawa nafsu manusia.” . serta tidak memperuncing perbedaan yang terjadi di antara para ulama. . yang tidak justru menimbulkan bid’ah yang lain yang lebih parah. dalam moralitas dan perasaannya. kebebasan jihad dan amal. Tingkatannya seiring dengan kadar penghormatannya kepada sistem dan prinsip-prinsip umum jamaah. sedangkan medianya adalah nasihat. Qiyam Lail. adalah kesesatan yang wajib diperangi dan dihancurkan dengan menggunakan cara yang terbaik. Tahap pengenalan.dengan sikap tauhid dan penyucian (Dzat)-nya adalah setinggi-tinggi tingkatan dalam akidah Islam.tidaklah dituntut. “Jamaah menjalin hubungan dengan orang yang ingin memberikan kontribusi bagi aktivitasnya dan ingin ikut menjaga prinsip-prinsip ajarannya. anak-anak maupun orangtua.” Imam Syahid berkata. serta latihlah ia menjadi prajurit di bawah bendera dan panji Nabi Muhammad. Slogan untuk dua aspek ini adalah: perintah dan taat. “Al Quran yang mulia dan sunnah yang suci adalah referensi utama setiap muslim untuk mengenal hukum-hukum dalam agama Islam.

Beliau juga berkata. baiat dan komitmennya terhadap jamaah. Ukhuwah dan Tsiqah (kepercayaan). yang mencakup manhaj tarbawi dan takwini. Tadhiyah (pengorbanan). Munazhamun fi Syu’unihi (terorganisir seluruh urusannya). Jihad. Harishun Ala waqtihi (Cermat mengatur waktunya).” Dakwah ini tidak membutuhkan kepada jiwa-jiwa yang tidak konsisten dan kaku. seorang kader dakwah membutuhkan rukun Tsabat (keteguhan). . Fahm (pemahaman). Ukhuwah dan Tsiqah (kepercayaan). kemudian mempersiapkannya agar mampu mewujudkan dan berupaya untuk melaksanakannya. kami juga memperhatikan kaum wanita sebagaimana perhatian kami kepada kaum pria. Mutsaqqaful Fikr (berwawasan pemikirannya). yang menyatu dan membentuk satu dasar pijakan dalam pembentukan ini. Amal (aktivitas). Unsur ini yang kemudian terbagi dalam beberapa tujuan dan poros-poros yang diwujudkan dengan program-program pendidikan dan kegiatan-kegiatan tarbiyah. shahihul Ibadah (benar ibadahnya). dengan tetap menjaga beberapa perbedaan aspek harakah dan peran-peran khusus mereka. Ikhlas. . yaitu sebagai poros penyempurna. yaitu. dan tsabat di atas prinsipprinsip. Kemudian dalam seluruh aspek-aspek di atas. Tadhiyah (pengorbanan). yaitu arah dan wadah yang membatasi aspek-aspek pembentukan dan beban dakwah. Jihad.” sebagai poros-poros pembentukan utama bagi para pembawa risalah dakwah dan yang komitmen terhadap jamaah ini. Rukun-rukun baiat ini menunjukkan nilai-nilai tarbiyah yang dibutuhkan oleh individu dan jamaah dakwah. Mujahidun Linasihi (kuat kesungguhan jiwanya). kami membutuhkan Fahm (pemahaman). Amal (aktivitas). Matinul Khulq (Kokoh akhlaknya). Karena rukun-rukun baiat ini saling berkaitan erat. maka kelemahan dan kerusakan dalam salah satu rukun-rukunnya akan menyebabkan kelemahan terhadap baiat-baiatnya yang lain. Amal (aktivitas). Dalam aspek keyakinan. Ikhlas. yaitu: Salimul Akidah (bersih akidahnya). Qadirun Alal Kasbi (mampu berekonomi).Imam Syahid juga menetapkan rukun-rukun baiat berikut. agar dapat mewujudkan semua rukun-rukun baiat. Tsabat (keteguhan). demi membentuk labinah-labinah dakwah yang kuat dalam satu barisan: Dalam aspek harakah. kami membutuhkan rukun-rukun berikut ini. Tajarrud (kemurnian). yang memiliki jiwa yang keropos. dan Tajarrud (kemurnian). “Seluruh jamaah Islam di masa kini sangat membutuhkan munculnya pribadi aktivis sekaligus pemikir dan anasir produktivitas yang pemberani. yaitu: .Imam Syahid menetapkan muwashafat yang harus dipenuhi oleh seorang muslim di dalam kehidupannya. serta anasir-anasir dakwah yang tertutup dan kepribadian yang senang menyendiri.” “Untuk itu. . yang akan berjalan beriringan dengan 10 sifat yang lain. kami membutuhkan Taat (kepatuhan). Nafi’un Li Ghairihi (Bermanfaat bagi selainnya). Taat (kepatuhan).Imam Syahid menetapkan tujuan-tujuan tertinggi dalam jamaah –yang berupa tingkatantingkatan amal-. Dalam aspek pengorganisasi dan barisan dakwah. Imam Syahid menyebutkan tingkatan amal yang dituntut dari seorang al akh yang tulus. yang berasal dari dalam diri setiap individu. Qawiyyul Jismi (memiliki fisik yang kuat). Kami juga memperhatikan anak-anak sebagaimana perhatian kami kepada pemuda.” Kaum wanita memikul tanggungjawab yang sama dalam dakwah dan beraktivitas untuk mewujudkan tujuan yang sama pula.

dan di dalam sarana-sarana tarbiyah yang digunakan.Penegakan kepemimpinan dunia dengan penyebaran dakwah Islam di seantero negeri. maka kewajiban seorang akh adalah: 1. dan menjadi perangkat yang layak untuk mewujudkan cita-cita yang mulia. Islam menginginkan dalam diri setiap mukmin. . namun saling menyempurnakan satu sama lain. Sebuah keinginan kuat yang tidak akan pernah melemah dalam membela kebenaran. untuk mewujudkan kemauan yang kuat dan tekad yang membaja. Beribadah kepada Allah dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya. dengan tetap memperhatikan jenjang dakwah yang dilalui.Pembentukan keluarga muslim .Memperbaiki keadaan pemerintah. mampu mengegolkan misi kebenaran dan kebajikan. sesuai dengan masing-masing tujuan..” Tingkatan dan tujuan-tujuan ini memiliki refleksifitas dan perwujudannya di dalam programprogram penyiapan individu. 4. dan dengan memanfaatkan setiap sarana dan instrumen yang baru.Perbaikan diri sendiri . Ia juga memelihara target. “Sesungguhnya. Melakukan kegiatan belajar dengan kemampuannya untuk meningkatkan intelektualitas dan wawasan keilmuannya.Pembebasan tanah air . 2. Program-program ini –baik teori maupun praktek. Sebagaimana ia juga memiliki pengaruh nyata dan nilai-nilai tarbawi dan haraki yang terwujud secara gradual. untuk mengasah kepekaan nurani dan kehalusan perasaan. 3. Empat yang terakhir ini wajib ditegakkan oleh jamaah dan oleh setiap akh sebagai anggota dalam jamaah itu.Mengembalikan kekuasaan khilafah yang telah hilang dan terwujudnya persatuan yang diimpikan bersama.” Dengan demikian. 1. tanpa membedakan atau memisahkan antara tujuan-tujuan tersebut. Tubuh yang sehat yang siap mengemban berbagai tugas kemanusiaan secara baik. Perasaan dan nurani yang peka. dengan tetap menjaga perbedaan antara individu kader. . 2. Menghiasi dirinya dengan akhlak Islami.Bimbingan masyarakat . Program dan sarana-sarana tarbiyah yang digunakan tidak kaku dan statis. dalam rangka mewujudkan tingkatan-tingkatan dan tujuan-tujuan yang tinggi itu. sehingga menjadi pemerintah Islam yang baik.tidak terpisah. karakteristik dan target-target utama. Imam Syahid menjelaskan beberapa aspek penting di atas di dalam proses pembentukan individu serta kesinambungannya. Islam juga menginginkan sebuah pandangan yang benar dalam memahami sesuatu itu benar atau salah. . atau membatasi satu tujuan tanpa tujuan yang lain. namun fleksibel dan dinamis. 3. sehingga dapat membedakan antara kebaikan dan keburukan. yang mencakup seluruh aspek tarbawi.

keyakinan dan penghormatan terhadap dasar tersebut yang akan menjaga dari kesalahan dan penyimpangan. pengorbanan besar yang tak dihalangi oleh ketamakan dan kebakhilan. dengan pengetahuan terhadap dasar perjuangan. Komitmen dengan aturan dan adab-adab Islam dalam tata cara makan. Ketika Islam menetapkan kaidah-kaidah ini.hendaklah selalu dalam kehalusan nurani. melainkan keduanya memiliki kedudukan sama dalam pandangan Islam. agar ia dipelihara oleh Allah dari ancaman pelbagai penyakit. dan tidur. ia tidak hanya memperuntukkannya bagi kaum lakilaki dan meninggalkan kaum wanita. Sifat-sifat terbut adalah: “Kemauan yang keras yang tak tersentuh oleh kelemahan. oleh karena itu. atau tertipu dengan yang lain. Imam Syahid menyebutkan 4 sifat yang wajib dipenuhi untuk membangun kekuatan diri. Ukhti Muslimah. -sebagaimana kami nasehatkan kepada al akh Mulsim. kesetiaan yang kuat yang tak dikotori oleh kepura-puraan dan pengkhianatan. minum. dan beliau menjelaskan bahwa sifat-sifat tersebut merupakan nilai-nilai dasar dalam diri individu muslim dan umat Islam untuk bangkit mengemban dan memikul risalah dakwah. kesempurnaan akhlak dan kesehatan badan.4.” . keluasan cakrawala berpikir.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful