Proses Pembentukan Personal Kader Dakwah Imam Syahid berkata, “JIka didapatkan seorang muslim yang baik, maka

akan didapatkan sarana-sarana kesuksesan dalam dirinya.” “Mentalitas kita –hari-hari ini- sungguh sangat membutuhkan pengobatan yang serius dan penyembuhan yang total. Kita memerlukan pencairan bagi perasaan yang telah keras membeku; kita membutuhkan perbaikan bagi akhlak yang telah rusak binasa; dan kita juga membutuhkan penyadaran atas penyakit bakhil yang telah demikian akut. Tanpa proses ulang pembaharuan mentalitas dan pembangunan jiwa ini, kita tidak mungkin melangkah ke depan walau hanya selangkah.” “Maka ketauhilah bahwa tujuan pertama yang digariskan oleh Ikhwanul Muslimin adalah tarbiyah shahihah, yakni pembinaan umat yang mengantarkannya menuju kepribadian yang utama dan mentalitas yang luhur. Pembinaan –untuk membangun jiwa yang dinamis- itu ditegakkan dalam rangka merebut kembali kemuliaan dan kejayaan umat dan untuk memikul beban tanggung jawab di jalan yang mengantarkan kepada tujuan.” Untuk mengetahui gambaran tentang sifat-sifat pembentukan pribadi di dalam jamaah, sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Syahid di dalam risalah dan penyampaianpenyampaiannya, adalah dengan cara mengumpulkan dan menyusun kewajiban dan sifat-sifat tersebut, serta apa saja yang disampaikan Imam di dalam tujuan-tujuan dakwah dan klasifikasi amal, maka kita akan mendapatkan gambaran yang lebih dekat tentang frofil muslim paripurna yang diinginkan. Dimana ia berupa aktualisasi amal tarbawi melalui program-program amali dan manhaj tertentu, serta sesuai dengan keberagaman sarana dan jenjang-jenjang tarbiyah yang ditentukan jamaah, dan batasan-batasan yang diperlukan untuk mewujudkannya. Kita dapat mengklasifikasikan sifat-sifat di atas dalam 3 (tiga) poros utama, yang merupakan satu kesatuan yang saling terpadu: 1. Poros keimanan dan ibadah 2. Poros akhlak dan budi pekerti 3. Poros dakwah dan gerakan - Untuk merealisasikan poros-poros di atas dibutuhkan proses pembinaan secara gradual dan membaginya ke dalam fase-fase dan jenjang yang berbeda dalam proses pembentukan. - Ia mencakup ikhwan dan akhwat dalam dua poros yaitu, poros keimanan dan akhlak. - Adapun dalam poros gerakan –dalam beberapa hal tertentu- terdapat perbedaan antara ikhwan dan akhwat, yaitu dalam hal karakteristik peran dan tugas yang diberikan. Tarbiyah ini berlandaskan pada dua titik penting, yaitu 1. Menghidupkan tarbiyah diri di dalam setiap personal kader, “Melakukan tarbiyah untuk diri sendiri, merupakan kewajiban kita yang pertama.” 2. Konsisten mengikuti tarbiyah kolektif yang diberikan oleh jamaah dan manhaj-manhajnya, serta melalui ikatan yang menghimpunnya yang berlandaskan pada ta’aruf, tafahum dan takaful. * Aktivitas hati lebih penting daripada aktivitas fisik, namun usaha untuk menyempurnakan keduanya merupakan tuntutan syariat, meskipun dengan kadar tuntutan masing-masing berbeda, dan kita harus mengupayakannya.

yang berakhlak. menjadikan tingkatan ukhuwah yang paling . yang mencakup pengalaman-pengalaman orang lain. –Dalam kerangka jamaah. Hal ini tidak mungkin dapat diwujudkan kecuali dengan melalui manhaj yang panjang dalam proses pembinaan. kudeta. kemenangan dan taufik dari-Nya. menguatkan konsep ini dan Manhaj yang dipilih dan disusun oleh Imam Syahid yang berlandaskan kepada sunah Rasulullah Saw. Adapun 10 sifat mukmin sejati dan rukun-rukun baiat. . Meskipun di antara tujuan-tujuan tersebut dengan realita yang ada terdapat kendala yang sangat besar. ta’aruf. seimbang. pertolongan. Kemudian beliau menambahkan untuk proses pembinaan tersebut sebuah hadhanah (wadah pembinaan) praktis untuk menghayati dan menerapkan proses pembinaan ini. Ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Syahid di dalam risalahnya.Imam Syahid menegaskan tentang urgensi membangkitkan keimanan dan memperbaharui ruh. Pengalaman sejarah yang pernah dilakukan oleh gerakan-gerakan reformis klasik dan kontemporer. berbudi pekerti dan beradab Islami dalam bingkai pemahaman yang teliti. labinah-labinah. . membersihkan jiwa dan menguatkan keinginan.. dengan tetap menjaga perbedaan tabiat alami setiap orang dan pemenuhan kebutuhan spiritual. dan mumpuni untuk kebutuhan zaman sekarang. kendati demikian hal ini adalah bentuk totalitas kepercayaan kepada manhaj Allah Swt.” Sesungguhnya tujuan yang diinginkan oleh dakwah bukanlah tujuan yang sederhana dan terbatas. dan seluruh barisan dakwah.. Imam Syahid berkata. serta urgensi kesatuan barisan. saling memaafkan. namun ia adalah tujuan yang besar dan dalam. dari sisi normatif teoritis menuju sisi praktis-realistis. jiwa dan perasaan. bekerjalah untuknya dan teguhlah di atas jalannya. Imam Syahid juga memperhatikan iklim (suasana) yang harus memenuhi komunitas pembinaan. Tujuan-tujuan itu bermula dari Ishlahul fardy (proses perbaikan diri) hingga ustaziyatul ‘alam (kepemimpinan dunia). Karakteristik Pembinaan Diri Imam Syahid sangat memperhatikan upaya pembinaan diri yang paripurna dan gradual terhadap personal. . tidak melakukan lompatam-lompatan. karena hal ini merupakan asas pijakan. dan berkumpullah di sekelilingnya. sebagai asas untuk bergerak dan terus eksis. . yang berpedoman kepada sunnah Rasulullah Saw. cinta yang dipercaya.Imam Syahid menegaskan bahwa sesungguhnya titik tolak pembinaan diri seorang mukmin sejati adalah dari dalam diri. persaudaraan. yaitu dengan membangun keimanan. dengan tetap memberikan perhatian besar untuk proses pembinaan kader dan tarbiyahnya. manhaj dan pemusatan terhadap program-program amali untuk mendapatkan akhlak-akhlak Islami dan petunjukpetunjuknya dalam membangun dan memperbaiki manusia. dan petunjuknya dalam perbaikan dan pembinaan. atau melakukan lompatan-lompatan terhadap sunah Allah dalam perubahan.Dibutuhkannya pemusatan perhatian terhadap dakwah. yang bertujuan terciptanya bangunan Islam yang komprehensif dalam melahirkan karakteristik mukmin sejati. ia adalah sebuah ladang pembinaan dan tarbiyah yang akan mewujudkan. tarbiyah dan pembangunan. Pembangunan yang dicita-citakan demikian besarnya. menyelesihi atau meremehkannya. pembinaan yang cermat. yaitu Usrah. tafahum dan takaful. Iman yang kuat. dan sunnah Allah dalam perubahan dan kejayaan.Dengan tersedianya program-program yang cocok dan sarana-sarana pembinaan yang sesuai dengan kader-kader dakwah dan realitas yang ada –dan dengan memperhatikan setiap perkembangan dan kemajuan-. wawasan keilmuan dan kemahiran. tiada lain adalah pengantar.. pemahaman yang benar. yang berlangsung secara terus menerus dari generasi ke generasi berikutnya. dan amal yang berkesinambungan. diantara kader dakwah dan diantara unit-unit shaf dan labinah dakwah yang lain. “Yakinlah kepada fikrah kalian. yaitu cinta karena Allah.usrah adalah labinah dasar dalam membangun jamaah. dan menghindari kesalahan-kesalahan yang mereka jatuh kedalamnya. dan target-target ini tidak mungkin dapat diwujudkan dengan melakukan penyerangan.Pembentukan ini berdiri di atas asas-asas.

” . posisi seorang guru dalam memberikan pengajaran ilmu. dan ia adalah bagian yang mendasar dari pembentukan ini. Ia bukanlah perubahan yang dangkal atau hanya sebagai jembatan untuk mendapatkan beberapa adab dan muwashafat tarbiyah. Tidak dapat dikerjakan oleh seseorang kecuali yang memiliki kesiapan secara benar untuk memikul beban jihad yang panjang masanya dan berat tantangannya. dan amal yang berkesinambungan. yang digambarkan oleh Imam Syahid terdiri dari: “Pemahaman yang teliti. “Kepemimpinan –dalam dakwah Ikhwan. Imam Syahid menyebut penanggungjawab unit-unit usrah ini dengan ‘Naqib’. Dakwah pada tahapan ini bersifat khusus. . inti adalah tilawah dan shalat. dan posisi seorang pemimpin dalam menentukan kebijakan-kebijakan politik secara umum dalam dakwah. Slogan utama dalam persiapan ini adalah: Totalitas ketaatan.” Maknanya adalah: * Poros keimanan dan ibadah. pembinaan yang mendalam.Refleksi pembentukan ini dan intinya tergambar dalam 5 (lima) hal: “Kesederhanaan. tilawah. Al Maut Fi Sabilillah (Syahid di jalan Allah adalah cita-cita kami tertinggi). . -Slogan pembentukan ini.Menjadikan pembinaan tarbawi sebagai sesuatu yang asasi (mendasar) dalam dakwah. maupun dalam melaksanakan peran pengelolaannya. dan menjadikan seluruh anggota usrah untuk bersama-sama dengan naqib melakukan pembinaan tarbawi dan meningkatkan kualitas tarbiyah dan perbaikan diri. aktivitas dan pengaruh kader di tengah masyarakat. Shalat. . Al Jihad Sabiluna (Jihad adalah jalan juang kami). akhlak. * Poros dakwah dan gerakan. karena ia digambarkan dengan kalimat Matinul Khulq (Kokoh akhlaknya). beliau berkata: “Dalam tahapan ini dakwah ditegakkan dengan melakukan seleksi terhadap anasir-anasir positif untuk memikul beban jihad dan untuk menghimpun berbagai bagian yang ada. Ini adalah iklim dan suasana yang di dalamnya terdapat kebersihan dengan seluruh maknanya yang luas. Al Qur’an Dusturuna (Al Quran adalah Undang-undang kami). intinya adalah akhlak * Karakter manhaj dan pembentukan sarana. dan posisi seorang syaikh dalam aspek pendidikan rohani.rendah adalah salamatu shard (berlapang dada). antara gerakan. kesucian dan kemuliaan. Imam Syahid menjelaskan sisi pembinaan ini dengan mengatakan. jihad dan dalam mengemban beban dakwah yang berat. * Poros budi pekerti.Imam Syahid menggambarkan tentang kedalaman proses pembentukan ini dan tingkatantingkatannya dalam memenuhi tuntutan-tuntutan dakwah. atau hubungan dengannya. Ar Rasul Qudqatuna (Rasul adalah teladan kami).Imam Syahid memberikan perhatian yang besar terhadap kesempurnaan dan keparipurnaan pembentukan dan pembinaan tarbawi kader-kader dakwah. Beliau tidak memisahkan antara pembinaan diri dengan pencapaian sifat-sifat. intinya adalah kesederhanaan. baik dalam hal menetapkan mas’ul. Allah Ghayatuna (Allah adalah tujuan kami). Tetapi ia adalah sebuah pembentukan yang sempurna dan saling terkait dan memberikan pengaruh satu sama lain. Dan dakwah mengumpulkan seluruh makna ini. Keprajuritan.menduduki posisi orang tua dalam ikatan hati. . intinya adalah keprajuritan.

adalah kesesatan yang wajib diperangi dan dihancurkan dengan menggunakan cara yang terbaik. Penuhilah jiwa yang liar dengan keagungan Islam dan keindahan Al Quran. akhlak. baik kepribadiaan. serta kebebasan pemikiran dan akal. bimbingan. baik wirid tilawah. pertama-tama. mendengarkan. Imam Syahid berkata. “Setiap bid’ah dalam agama Allah yang tidak ada pijakannya tetapi dianggap baik oleh hawa nafsu manusia. yang titik tolaknya adalah perbaikan dan mencakup segala aspek kemanusiaan. yang sesuai dengan keinginan dan target yang ingin dicapai. Kita mencukupkan diri dengan keterangan yang ada. sedangkan medianya adalah nasihat.dengan sikap tauhid dan penyucian (Dzat)-nya adalah setinggi-tinggi tingkatan dalam akidah Islam. kebebasan jihad dan amal. Hal ini merupakan rukun pertama dalam manhaj perbaikan terhadap masyarakat dan pembangunan Negara. kita cukup mengimaninya sebagimana adanya tanpa ta’wil. Urgensinya adalah kerja social bagi kepentingan umum.bersifat tasawuf murni dalam tataran ruhani. menghayati dan mentadabburinya.Hal ini berbeda jauh dari pengenalan dakwah dan lebih dekat ke dalam karakteristik pembentukan dan tarbiyah. dan ta’thil. Imam Syahid berkata. serta latihlah ia menjadi prajurit di bawah bendera dan panji Nabi Muhammad. maka kalian akan menyaksikan kelahiran seorang pemimpin muslim yang berjihad dengan dirinya dan membahagiakan orang lain.” Ikhwan melakukan kerjasama dengan orang-orang yang ikhlas yang berkerja di lapangan ini. Qiyam Lail. Ketaatan tanpa reserve –pada tahapan ini. dan beberapa cara lain. maka perbaikilah dakwah dan maksimalkan proses pembentukannya. .Imam Syahid menjadikan dasar pembinaan dalam tarbiyah berlandaskan manhaj Islam. . menghapal. “Al Quran yang mulia dan sunnah yang suci adalah referensi utama setiap muslim untuk mengenal hukum-hukum dalam agama Islam. “Dan dengan urgensi kelahiran generasi baru ini. Beliau juga tidak membedakan dalam urgensi dan integralitas pembinaan ini antara lelaki dan wanita. Semuanya memiliki satu pijakan dasar. Ini merupakan salah satu upaya pembentukan individu mukmin dalam dakwah kami. mesjid dan perhatian yang besar terhadap shalat. serta berbagai keterangan mutasyabihat yang berhubungan dengannya.” . ajarkan kepadanya kebebasan jiwa dan hati.Sistem dakwah –pada tahapan ini. mengenalkan Islam dan kebangkitannya di tengah masyarakat. Tahap pengenalan. Tingkatannya seiring dengan kadar penghormatannya kepada sistem dan prinsip-prinsip umum jamaah. serta tidak memperuncing perbedaan yang terjadi di antara para ulama.” Imam Syahid berkata.Imam Syahid sangat memperhatikan urgensi kebenaran akidah dalam proses pembentukan dan perbaikan diri seorang muslim. tanpa ragu dan bimbang. kehidupan dunia dan akhirat. dalam moralitas dan perasaannya. anak-anak maupun orangtua. sedangkan mengenai ayat-ayat sifat dan hadits-hadits shahih tentangnya. dan bersifat militer dalam tataran operasional. walaupun berbeda bentuk dan programnya.tidaklah dituntut.” Sebagaimana yang disebutkan Imam Syahid bahwa seorang al Akh seharusnya: memiliki kekuatan hubungan dengan kitab Allah. yang tidak justru menimbulkan bid’ah yang lain yang lebih parah. dalam tahapan ini dakwah dilakukan dengan dengan menyebarkan fikrah Islam di tengah masyarakat. Beliau berkata. sebagaimana Rasulullah Saw. yang kemudian disebut sebagai. dengan kesempurnaannya di pelbagai sisi perbaikan. yaitu lapangan perbaikan umum. bahkan tidak lazim. dan para sahabatnya mencukupkan diri dengannya. Tentang hal ini.” Beliau juga berkata. baik berupa penambahan maupun pengurangan. “Jamaah menjalin hubungan dengan orang yang ingin memberikan kontribusi bagi aktivitasnya dan ingin ikut menjaga prinsip-prinsip ajarannya.” . “Ma’rifah kepada Allah –Yang Maha Tinggi dan Maha Mulia. dan hendaknya memiliki wirid harian bacaan Al Quran. serta dalam amal dan prilakunya. Slogan untuk dua aspek ini adalah: perintah dan taat. kami menginginkan seorang yang muslim dalam pola piker dan akidahnya.

Dalam aspek pengorganisasi dan barisan dakwah. Dalam aspek keyakinan. kemudian mempersiapkannya agar mampu mewujudkan dan berupaya untuk melaksanakannya. Qawiyyul Jismi (memiliki fisik yang kuat). yaitu.Imam Syahid menetapkan tujuan-tujuan tertinggi dalam jamaah –yang berupa tingkatantingkatan amal-. Ikhlas. “Seluruh jamaah Islam di masa kini sangat membutuhkan munculnya pribadi aktivis sekaligus pemikir dan anasir produktivitas yang pemberani. kami membutuhkan rukun-rukun berikut ini. Matinul Khulq (Kokoh akhlaknya). Mujahidun Linasihi (kuat kesungguhan jiwanya). kami membutuhkan Fahm (pemahaman). demi membentuk labinah-labinah dakwah yang kuat dalam satu barisan: Dalam aspek harakah. Tadhiyah (pengorbanan). yang akan berjalan beriringan dengan 10 sifat yang lain. Fahm (pemahaman). Rukun-rukun baiat ini menunjukkan nilai-nilai tarbiyah yang dibutuhkan oleh individu dan jamaah dakwah. Tajarrud (kemurnian). Karena rukun-rukun baiat ini saling berkaitan erat. Amal (aktivitas).” “Untuk itu. Kami juga memperhatikan anak-anak sebagaimana perhatian kami kepada pemuda. Amal (aktivitas). yaitu arah dan wadah yang membatasi aspek-aspek pembentukan dan beban dakwah. . yang memiliki jiwa yang keropos. Ikhlas. Ukhuwah dan Tsiqah (kepercayaan). shahihul Ibadah (benar ibadahnya). Jihad. seorang kader dakwah membutuhkan rukun Tsabat (keteguhan). .Beliau juga berkata. Tadhiyah (pengorbanan).” Kaum wanita memikul tanggungjawab yang sama dalam dakwah dan beraktivitas untuk mewujudkan tujuan yang sama pula. kami juga memperhatikan kaum wanita sebagaimana perhatian kami kepada kaum pria. Nafi’un Li Ghairihi (Bermanfaat bagi selainnya).Imam Syahid juga menetapkan rukun-rukun baiat berikut. serta anasir-anasir dakwah yang tertutup dan kepribadian yang senang menyendiri. agar dapat mewujudkan semua rukun-rukun baiat. Jihad. yang mencakup manhaj tarbawi dan takwini. yang menyatu dan membentuk satu dasar pijakan dalam pembentukan ini. Unsur ini yang kemudian terbagi dalam beberapa tujuan dan poros-poros yang diwujudkan dengan program-program pendidikan dan kegiatan-kegiatan tarbiyah. kami membutuhkan Taat (kepatuhan). Qadirun Alal Kasbi (mampu berekonomi). Taat (kepatuhan). yaitu: Salimul Akidah (bersih akidahnya). Harishun Ala waqtihi (Cermat mengatur waktunya). dengan tetap menjaga beberapa perbedaan aspek harakah dan peran-peran khusus mereka. Amal (aktivitas). yaitu: . Mutsaqqaful Fikr (berwawasan pemikirannya). Kemudian dalam seluruh aspek-aspek di atas. baiat dan komitmennya terhadap jamaah. dan tsabat di atas prinsipprinsip. maka kelemahan dan kerusakan dalam salah satu rukun-rukunnya akan menyebabkan kelemahan terhadap baiat-baiatnya yang lain. Munazhamun fi Syu’unihi (terorganisir seluruh urusannya). yang berasal dari dalam diri setiap individu. Imam Syahid menyebutkan tingkatan amal yang dituntut dari seorang al akh yang tulus. yaitu sebagai poros penyempurna.” sebagai poros-poros pembentukan utama bagi para pembawa risalah dakwah dan yang komitmen terhadap jamaah ini. dan Tajarrud (kemurnian). . Tsabat (keteguhan).Imam Syahid menetapkan muwashafat yang harus dipenuhi oleh seorang muslim di dalam kehidupannya.” Dakwah ini tidak membutuhkan kepada jiwa-jiwa yang tidak konsisten dan kaku. Ukhuwah dan Tsiqah (kepercayaan).

“Sesungguhnya. untuk mengasah kepekaan nurani dan kehalusan perasaan.Pembentukan keluarga muslim .tidak terpisah.Penegakan kepemimpinan dunia dengan penyebaran dakwah Islam di seantero negeri. Program-program ini –baik teori maupun praktek.Pembebasan tanah air .Bimbingan masyarakat . Sebagaimana ia juga memiliki pengaruh nyata dan nilai-nilai tarbawi dan haraki yang terwujud secara gradual. Menghiasi dirinya dengan akhlak Islami.” Tingkatan dan tujuan-tujuan ini memiliki refleksifitas dan perwujudannya di dalam programprogram penyiapan individu. sehingga dapat membedakan antara kebaikan dan keburukan. tanpa membedakan atau memisahkan antara tujuan-tujuan tersebut. Melakukan kegiatan belajar dengan kemampuannya untuk meningkatkan intelektualitas dan wawasan keilmuannya. Tubuh yang sehat yang siap mengemban berbagai tugas kemanusiaan secara baik.. untuk mewujudkan kemauan yang kuat dan tekad yang membaja. Imam Syahid menjelaskan beberapa aspek penting di atas di dalam proses pembentukan individu serta kesinambungannya. dan menjadi perangkat yang layak untuk mewujudkan cita-cita yang mulia. yang mencakup seluruh aspek tarbawi. Beribadah kepada Allah dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya. mampu mengegolkan misi kebenaran dan kebajikan. sehingga menjadi pemerintah Islam yang baik.Perbaikan diri sendiri . Ia juga memelihara target.Mengembalikan kekuasaan khilafah yang telah hilang dan terwujudnya persatuan yang diimpikan bersama. . dalam rangka mewujudkan tingkatan-tingkatan dan tujuan-tujuan yang tinggi itu. . 3.Memperbaiki keadaan pemerintah. dan di dalam sarana-sarana tarbiyah yang digunakan. . namun saling menyempurnakan satu sama lain.” Dengan demikian. sesuai dengan masing-masing tujuan. 4. 2. Empat yang terakhir ini wajib ditegakkan oleh jamaah dan oleh setiap akh sebagai anggota dalam jamaah itu. 3. Islam juga menginginkan sebuah pandangan yang benar dalam memahami sesuatu itu benar atau salah. Perasaan dan nurani yang peka. Program dan sarana-sarana tarbiyah yang digunakan tidak kaku dan statis. dan dengan memanfaatkan setiap sarana dan instrumen yang baru. namun fleksibel dan dinamis. karakteristik dan target-target utama. Sebuah keinginan kuat yang tidak akan pernah melemah dalam membela kebenaran. 2. maka kewajiban seorang akh adalah: 1. atau membatasi satu tujuan tanpa tujuan yang lain. dengan tetap menjaga perbedaan antara individu kader. 1. Islam menginginkan dalam diri setiap mukmin. dengan tetap memperhatikan jenjang dakwah yang dilalui.

melainkan keduanya memiliki kedudukan sama dalam pandangan Islam. kesempurnaan akhlak dan kesehatan badan.4. pengorbanan besar yang tak dihalangi oleh ketamakan dan kebakhilan. Ukhti Muslimah.” . minum. Imam Syahid menyebutkan 4 sifat yang wajib dipenuhi untuk membangun kekuatan diri.hendaklah selalu dalam kehalusan nurani. dan tidur. oleh karena itu. atau tertipu dengan yang lain. kesetiaan yang kuat yang tak dikotori oleh kepura-puraan dan pengkhianatan. keluasan cakrawala berpikir. dengan pengetahuan terhadap dasar perjuangan. Sifat-sifat terbut adalah: “Kemauan yang keras yang tak tersentuh oleh kelemahan. agar ia dipelihara oleh Allah dari ancaman pelbagai penyakit. keyakinan dan penghormatan terhadap dasar tersebut yang akan menjaga dari kesalahan dan penyimpangan. Komitmen dengan aturan dan adab-adab Islam dalam tata cara makan. ia tidak hanya memperuntukkannya bagi kaum lakilaki dan meninggalkan kaum wanita. -sebagaimana kami nasehatkan kepada al akh Mulsim. Ketika Islam menetapkan kaidah-kaidah ini. dan beliau menjelaskan bahwa sifat-sifat tersebut merupakan nilai-nilai dasar dalam diri individu muslim dan umat Islam untuk bangkit mengemban dan memikul risalah dakwah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful