Proses Pembentukan Personal Kader Dakwah Imam Syahid berkata, “JIka didapatkan seorang muslim yang baik, maka

akan didapatkan sarana-sarana kesuksesan dalam dirinya.” “Mentalitas kita –hari-hari ini- sungguh sangat membutuhkan pengobatan yang serius dan penyembuhan yang total. Kita memerlukan pencairan bagi perasaan yang telah keras membeku; kita membutuhkan perbaikan bagi akhlak yang telah rusak binasa; dan kita juga membutuhkan penyadaran atas penyakit bakhil yang telah demikian akut. Tanpa proses ulang pembaharuan mentalitas dan pembangunan jiwa ini, kita tidak mungkin melangkah ke depan walau hanya selangkah.” “Maka ketauhilah bahwa tujuan pertama yang digariskan oleh Ikhwanul Muslimin adalah tarbiyah shahihah, yakni pembinaan umat yang mengantarkannya menuju kepribadian yang utama dan mentalitas yang luhur. Pembinaan –untuk membangun jiwa yang dinamis- itu ditegakkan dalam rangka merebut kembali kemuliaan dan kejayaan umat dan untuk memikul beban tanggung jawab di jalan yang mengantarkan kepada tujuan.” Untuk mengetahui gambaran tentang sifat-sifat pembentukan pribadi di dalam jamaah, sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Syahid di dalam risalah dan penyampaianpenyampaiannya, adalah dengan cara mengumpulkan dan menyusun kewajiban dan sifat-sifat tersebut, serta apa saja yang disampaikan Imam di dalam tujuan-tujuan dakwah dan klasifikasi amal, maka kita akan mendapatkan gambaran yang lebih dekat tentang frofil muslim paripurna yang diinginkan. Dimana ia berupa aktualisasi amal tarbawi melalui program-program amali dan manhaj tertentu, serta sesuai dengan keberagaman sarana dan jenjang-jenjang tarbiyah yang ditentukan jamaah, dan batasan-batasan yang diperlukan untuk mewujudkannya. Kita dapat mengklasifikasikan sifat-sifat di atas dalam 3 (tiga) poros utama, yang merupakan satu kesatuan yang saling terpadu: 1. Poros keimanan dan ibadah 2. Poros akhlak dan budi pekerti 3. Poros dakwah dan gerakan - Untuk merealisasikan poros-poros di atas dibutuhkan proses pembinaan secara gradual dan membaginya ke dalam fase-fase dan jenjang yang berbeda dalam proses pembentukan. - Ia mencakup ikhwan dan akhwat dalam dua poros yaitu, poros keimanan dan akhlak. - Adapun dalam poros gerakan –dalam beberapa hal tertentu- terdapat perbedaan antara ikhwan dan akhwat, yaitu dalam hal karakteristik peran dan tugas yang diberikan. Tarbiyah ini berlandaskan pada dua titik penting, yaitu 1. Menghidupkan tarbiyah diri di dalam setiap personal kader, “Melakukan tarbiyah untuk diri sendiri, merupakan kewajiban kita yang pertama.” 2. Konsisten mengikuti tarbiyah kolektif yang diberikan oleh jamaah dan manhaj-manhajnya, serta melalui ikatan yang menghimpunnya yang berlandaskan pada ta’aruf, tafahum dan takaful. * Aktivitas hati lebih penting daripada aktivitas fisik, namun usaha untuk menyempurnakan keduanya merupakan tuntutan syariat, meskipun dengan kadar tuntutan masing-masing berbeda, dan kita harus mengupayakannya.

dengan tetap menjaga perbedaan tabiat alami setiap orang dan pemenuhan kebutuhan spiritual. bekerjalah untuknya dan teguhlah di atas jalannya. tidak melakukan lompatam-lompatan. menyelesihi atau meremehkannya. Adapun 10 sifat mukmin sejati dan rukun-rukun baiat. –Dalam kerangka jamaah. yaitu dengan membangun keimanan. Imam Syahid berkata. yaitu cinta karena Allah. yang bertujuan terciptanya bangunan Islam yang komprehensif dalam melahirkan karakteristik mukmin sejati.. “Yakinlah kepada fikrah kalian. yang berakhlak. dan target-target ini tidak mungkin dapat diwujudkan dengan melakukan penyerangan. kudeta. .Pembentukan ini berdiri di atas asas-asas. tafahum dan takaful. . Karakteristik Pembinaan Diri Imam Syahid sangat memperhatikan upaya pembinaan diri yang paripurna dan gradual terhadap personal. atau melakukan lompatan-lompatan terhadap sunah Allah dalam perubahan. . Tujuan-tujuan itu bermula dari Ishlahul fardy (proses perbaikan diri) hingga ustaziyatul ‘alam (kepemimpinan dunia). dan amal yang berkesinambungan. menguatkan konsep ini dan Manhaj yang dipilih dan disusun oleh Imam Syahid yang berlandaskan kepada sunah Rasulullah Saw. menjadikan tingkatan ukhuwah yang paling . dan sunnah Allah dalam perubahan dan kejayaan. sebagai asas untuk bergerak dan terus eksis. Meskipun di antara tujuan-tujuan tersebut dengan realita yang ada terdapat kendala yang sangat besar. Pembangunan yang dicita-citakan demikian besarnya. labinah-labinah. yang mencakup pengalaman-pengalaman orang lain. membersihkan jiwa dan menguatkan keinginan. saling memaafkan. ia adalah sebuah ladang pembinaan dan tarbiyah yang akan mewujudkan. dengan tetap memberikan perhatian besar untuk proses pembinaan kader dan tarbiyahnya. yang berlangsung secara terus menerus dari generasi ke generasi berikutnya. ta’aruf. dan mumpuni untuk kebutuhan zaman sekarang.Imam Syahid menegaskan bahwa sesungguhnya titik tolak pembinaan diri seorang mukmin sejati adalah dari dalam diri. dari sisi normatif teoritis menuju sisi praktis-realistis. pembinaan yang cermat. dan seluruh barisan dakwah.. kemenangan dan taufik dari-Nya. namun ia adalah tujuan yang besar dan dalam.Imam Syahid menegaskan tentang urgensi membangkitkan keimanan dan memperbaharui ruh. tiada lain adalah pengantar.usrah adalah labinah dasar dalam membangun jamaah. dan menghindari kesalahan-kesalahan yang mereka jatuh kedalamnya. cinta yang dipercaya.” Sesungguhnya tujuan yang diinginkan oleh dakwah bukanlah tujuan yang sederhana dan terbatas. serta urgensi kesatuan barisan. Hal ini tidak mungkin dapat diwujudkan kecuali dengan melalui manhaj yang panjang dalam proses pembinaan.. Pengalaman sejarah yang pernah dilakukan oleh gerakan-gerakan reformis klasik dan kontemporer. persaudaraan. diantara kader dakwah dan diantara unit-unit shaf dan labinah dakwah yang lain. karena hal ini merupakan asas pijakan. yang berpedoman kepada sunnah Rasulullah Saw. pemahaman yang benar.Dengan tersedianya program-program yang cocok dan sarana-sarana pembinaan yang sesuai dengan kader-kader dakwah dan realitas yang ada –dan dengan memperhatikan setiap perkembangan dan kemajuan-. yaitu Usrah. pertolongan. Iman yang kuat. Imam Syahid juga memperhatikan iklim (suasana) yang harus memenuhi komunitas pembinaan. . kendati demikian hal ini adalah bentuk totalitas kepercayaan kepada manhaj Allah Swt. seimbang. tarbiyah dan pembangunan. manhaj dan pemusatan terhadap program-program amali untuk mendapatkan akhlak-akhlak Islami dan petunjukpetunjuknya dalam membangun dan memperbaiki manusia. jiwa dan perasaan. wawasan keilmuan dan kemahiran.Dibutuhkannya pemusatan perhatian terhadap dakwah. Ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Syahid di dalam risalahnya. dan berkumpullah di sekelilingnya. berbudi pekerti dan beradab Islami dalam bingkai pemahaman yang teliti. dan petunjuknya dalam perbaikan dan pembinaan. Kemudian beliau menambahkan untuk proses pembinaan tersebut sebuah hadhanah (wadah pembinaan) praktis untuk menghayati dan menerapkan proses pembinaan ini.

posisi seorang guru dalam memberikan pengajaran ilmu. intinya adalah kesederhanaan. * Poros dakwah dan gerakan.” . dan posisi seorang syaikh dalam aspek pendidikan rohani. dan posisi seorang pemimpin dalam menentukan kebijakan-kebijakan politik secara umum dalam dakwah. Al Maut Fi Sabilillah (Syahid di jalan Allah adalah cita-cita kami tertinggi). dan menjadikan seluruh anggota usrah untuk bersama-sama dengan naqib melakukan pembinaan tarbawi dan meningkatkan kualitas tarbiyah dan perbaikan diri. Al Jihad Sabiluna (Jihad adalah jalan juang kami). -Slogan pembentukan ini. aktivitas dan pengaruh kader di tengah masyarakat. Ia bukanlah perubahan yang dangkal atau hanya sebagai jembatan untuk mendapatkan beberapa adab dan muwashafat tarbiyah. maupun dalam melaksanakan peran pengelolaannya. Tidak dapat dikerjakan oleh seseorang kecuali yang memiliki kesiapan secara benar untuk memikul beban jihad yang panjang masanya dan berat tantangannya. Dakwah pada tahapan ini bersifat khusus. Keprajuritan. Tetapi ia adalah sebuah pembentukan yang sempurna dan saling terkait dan memberikan pengaruh satu sama lain. Slogan utama dalam persiapan ini adalah: Totalitas ketaatan. atau hubungan dengannya. Al Qur’an Dusturuna (Al Quran adalah Undang-undang kami).Imam Syahid memberikan perhatian yang besar terhadap kesempurnaan dan keparipurnaan pembentukan dan pembinaan tarbawi kader-kader dakwah.Menjadikan pembinaan tarbawi sebagai sesuatu yang asasi (mendasar) dalam dakwah. . beliau berkata: “Dalam tahapan ini dakwah ditegakkan dengan melakukan seleksi terhadap anasir-anasir positif untuk memikul beban jihad dan untuk menghimpun berbagai bagian yang ada. yang digambarkan oleh Imam Syahid terdiri dari: “Pemahaman yang teliti. Imam Syahid menyebut penanggungjawab unit-unit usrah ini dengan ‘Naqib’. * Poros budi pekerti.Imam Syahid menggambarkan tentang kedalaman proses pembentukan ini dan tingkatantingkatannya dalam memenuhi tuntutan-tuntutan dakwah. intinya adalah keprajuritan. Ar Rasul Qudqatuna (Rasul adalah teladan kami).rendah adalah salamatu shard (berlapang dada). karena ia digambarkan dengan kalimat Matinul Khulq (Kokoh akhlaknya).” Maknanya adalah: * Poros keimanan dan ibadah. “Kepemimpinan –dalam dakwah Ikhwan. dan amal yang berkesinambungan. akhlak. . Shalat. intinya adalah akhlak * Karakter manhaj dan pembentukan sarana. .menduduki posisi orang tua dalam ikatan hati. dan ia adalah bagian yang mendasar dari pembentukan ini. . Allah Ghayatuna (Allah adalah tujuan kami). pembinaan yang mendalam. Beliau tidak memisahkan antara pembinaan diri dengan pencapaian sifat-sifat. baik dalam hal menetapkan mas’ul. kesucian dan kemuliaan.Refleksi pembentukan ini dan intinya tergambar dalam 5 (lima) hal: “Kesederhanaan. Dan dakwah mengumpulkan seluruh makna ini. jihad dan dalam mengemban beban dakwah yang berat. inti adalah tilawah dan shalat. Imam Syahid menjelaskan sisi pembinaan ini dengan mengatakan. tilawah. antara gerakan. Ini adalah iklim dan suasana yang di dalamnya terdapat kebersihan dengan seluruh maknanya yang luas.

Sistem dakwah –pada tahapan ini. Ini merupakan salah satu upaya pembentukan individu mukmin dalam dakwah kami.tidaklah dituntut. pertama-tama. serta berbagai keterangan mutasyabihat yang berhubungan dengannya.” Imam Syahid berkata. .bersifat tasawuf murni dalam tataran ruhani. bimbingan. serta latihlah ia menjadi prajurit di bawah bendera dan panji Nabi Muhammad.” . Tingkatannya seiring dengan kadar penghormatannya kepada sistem dan prinsip-prinsip umum jamaah. dan para sahabatnya mencukupkan diri dengannya. dan bersifat militer dalam tataran operasional. baik wirid tilawah.dengan sikap tauhid dan penyucian (Dzat)-nya adalah setinggi-tinggi tingkatan dalam akidah Islam. sebagaimana Rasulullah Saw. Penuhilah jiwa yang liar dengan keagungan Islam dan keindahan Al Quran. “Dan dengan urgensi kelahiran generasi baru ini. Semuanya memiliki satu pijakan dasar. maka kalian akan menyaksikan kelahiran seorang pemimpin muslim yang berjihad dengan dirinya dan membahagiakan orang lain.Imam Syahid menjadikan dasar pembinaan dalam tarbiyah berlandaskan manhaj Islam. Ketaatan tanpa reserve –pada tahapan ini. maka perbaikilah dakwah dan maksimalkan proses pembentukannya. baik berupa penambahan maupun pengurangan. “Jamaah menjalin hubungan dengan orang yang ingin memberikan kontribusi bagi aktivitasnya dan ingin ikut menjaga prinsip-prinsip ajarannya. dan hendaknya memiliki wirid harian bacaan Al Quran. yaitu lapangan perbaikan umum. “Al Quran yang mulia dan sunnah yang suci adalah referensi utama setiap muslim untuk mengenal hukum-hukum dalam agama Islam. adalah kesesatan yang wajib diperangi dan dihancurkan dengan menggunakan cara yang terbaik. sedangkan medianya adalah nasihat. Kita mencukupkan diri dengan keterangan yang ada. menghapal. mesjid dan perhatian yang besar terhadap shalat. anak-anak maupun orangtua. . Urgensinya adalah kerja social bagi kepentingan umum. yang titik tolaknya adalah perbaikan dan mencakup segala aspek kemanusiaan.Imam Syahid sangat memperhatikan urgensi kebenaran akidah dalam proses pembentukan dan perbaikan diri seorang muslim. Beliau berkata. dalam tahapan ini dakwah dilakukan dengan dengan menyebarkan fikrah Islam di tengah masyarakat. sedangkan mengenai ayat-ayat sifat dan hadits-hadits shahih tentangnya. kehidupan dunia dan akhirat. serta tidak memperuncing perbedaan yang terjadi di antara para ulama. Imam Syahid berkata. mengenalkan Islam dan kebangkitannya di tengah masyarakat. serta dalam amal dan prilakunya. Tahap pengenalan. kita cukup mengimaninya sebagimana adanya tanpa ta’wil. dan beberapa cara lain. Slogan untuk dua aspek ini adalah: perintah dan taat. baik kepribadiaan. kebebasan jihad dan amal.Hal ini berbeda jauh dari pengenalan dakwah dan lebih dekat ke dalam karakteristik pembentukan dan tarbiyah. yang sesuai dengan keinginan dan target yang ingin dicapai.” Beliau juga berkata.” Ikhwan melakukan kerjasama dengan orang-orang yang ikhlas yang berkerja di lapangan ini. mendengarkan. dalam moralitas dan perasaannya. dengan kesempurnaannya di pelbagai sisi perbaikan. walaupun berbeda bentuk dan programnya. dan ta’thil. bahkan tidak lazim. Hal ini merupakan rukun pertama dalam manhaj perbaikan terhadap masyarakat dan pembangunan Negara. Qiyam Lail.” Sebagaimana yang disebutkan Imam Syahid bahwa seorang al Akh seharusnya: memiliki kekuatan hubungan dengan kitab Allah. ajarkan kepadanya kebebasan jiwa dan hati. tanpa ragu dan bimbang. serta kebebasan pemikiran dan akal. akhlak. yang kemudian disebut sebagai. yang tidak justru menimbulkan bid’ah yang lain yang lebih parah. Beliau juga tidak membedakan dalam urgensi dan integralitas pembinaan ini antara lelaki dan wanita. “Setiap bid’ah dalam agama Allah yang tidak ada pijakannya tetapi dianggap baik oleh hawa nafsu manusia. kami menginginkan seorang yang muslim dalam pola piker dan akidahnya. Imam Syahid berkata. menghayati dan mentadabburinya. “Ma’rifah kepada Allah –Yang Maha Tinggi dan Maha Mulia. Tentang hal ini.” .

Beliau juga berkata.” Kaum wanita memikul tanggungjawab yang sama dalam dakwah dan beraktivitas untuk mewujudkan tujuan yang sama pula. dengan tetap menjaga beberapa perbedaan aspek harakah dan peran-peran khusus mereka. Imam Syahid menyebutkan tingkatan amal yang dituntut dari seorang al akh yang tulus. yaitu sebagai poros penyempurna. . Nafi’un Li Ghairihi (Bermanfaat bagi selainnya). . kami membutuhkan Fahm (pemahaman). kami membutuhkan Taat (kepatuhan). Fahm (pemahaman). Ikhlas. dan tsabat di atas prinsipprinsip. yang mencakup manhaj tarbawi dan takwini. Qadirun Alal Kasbi (mampu berekonomi). yang akan berjalan beriringan dengan 10 sifat yang lain. Harishun Ala waqtihi (Cermat mengatur waktunya). Tsabat (keteguhan).” sebagai poros-poros pembentukan utama bagi para pembawa risalah dakwah dan yang komitmen terhadap jamaah ini. Jihad. baiat dan komitmennya terhadap jamaah. Kemudian dalam seluruh aspek-aspek di atas. yang berasal dari dalam diri setiap individu.Imam Syahid menetapkan muwashafat yang harus dipenuhi oleh seorang muslim di dalam kehidupannya. Munazhamun fi Syu’unihi (terorganisir seluruh urusannya). agar dapat mewujudkan semua rukun-rukun baiat. Rukun-rukun baiat ini menunjukkan nilai-nilai tarbiyah yang dibutuhkan oleh individu dan jamaah dakwah. yang menyatu dan membentuk satu dasar pijakan dalam pembentukan ini. seorang kader dakwah membutuhkan rukun Tsabat (keteguhan). Karena rukun-rukun baiat ini saling berkaitan erat. Jihad. Kami juga memperhatikan anak-anak sebagaimana perhatian kami kepada pemuda. yaitu: . Dalam aspek keyakinan. Amal (aktivitas). Amal (aktivitas). Mujahidun Linasihi (kuat kesungguhan jiwanya). Taat (kepatuhan). Ukhuwah dan Tsiqah (kepercayaan). maka kelemahan dan kerusakan dalam salah satu rukun-rukunnya akan menyebabkan kelemahan terhadap baiat-baiatnya yang lain. kemudian mempersiapkannya agar mampu mewujudkan dan berupaya untuk melaksanakannya. Tadhiyah (pengorbanan). serta anasir-anasir dakwah yang tertutup dan kepribadian yang senang menyendiri.” “Untuk itu.” Dakwah ini tidak membutuhkan kepada jiwa-jiwa yang tidak konsisten dan kaku. dan Tajarrud (kemurnian). yang memiliki jiwa yang keropos. Ikhlas. yaitu arah dan wadah yang membatasi aspek-aspek pembentukan dan beban dakwah. . “Seluruh jamaah Islam di masa kini sangat membutuhkan munculnya pribadi aktivis sekaligus pemikir dan anasir produktivitas yang pemberani. kami membutuhkan rukun-rukun berikut ini. Tadhiyah (pengorbanan). Unsur ini yang kemudian terbagi dalam beberapa tujuan dan poros-poros yang diwujudkan dengan program-program pendidikan dan kegiatan-kegiatan tarbiyah.Imam Syahid juga menetapkan rukun-rukun baiat berikut. kami juga memperhatikan kaum wanita sebagaimana perhatian kami kepada kaum pria. Matinul Khulq (Kokoh akhlaknya). Amal (aktivitas). Dalam aspek pengorganisasi dan barisan dakwah. Ukhuwah dan Tsiqah (kepercayaan). Qawiyyul Jismi (memiliki fisik yang kuat). demi membentuk labinah-labinah dakwah yang kuat dalam satu barisan: Dalam aspek harakah. yaitu: Salimul Akidah (bersih akidahnya). Tajarrud (kemurnian). shahihul Ibadah (benar ibadahnya).Imam Syahid menetapkan tujuan-tujuan tertinggi dalam jamaah –yang berupa tingkatantingkatan amal-. yaitu. Mutsaqqaful Fikr (berwawasan pemikirannya).

Islam juga menginginkan sebuah pandangan yang benar dalam memahami sesuatu itu benar atau salah. Melakukan kegiatan belajar dengan kemampuannya untuk meningkatkan intelektualitas dan wawasan keilmuannya. Empat yang terakhir ini wajib ditegakkan oleh jamaah dan oleh setiap akh sebagai anggota dalam jamaah itu.Perbaikan diri sendiri . dan menjadi perangkat yang layak untuk mewujudkan cita-cita yang mulia.Memperbaiki keadaan pemerintah.Bimbingan masyarakat . . mampu mengegolkan misi kebenaran dan kebajikan. Tubuh yang sehat yang siap mengemban berbagai tugas kemanusiaan secara baik. 1. maka kewajiban seorang akh adalah: 1. 2. Sebuah keinginan kuat yang tidak akan pernah melemah dalam membela kebenaran. dengan tetap memperhatikan jenjang dakwah yang dilalui. “Sesungguhnya.Penegakan kepemimpinan dunia dengan penyebaran dakwah Islam di seantero negeri. yang mencakup seluruh aspek tarbawi. untuk mengasah kepekaan nurani dan kehalusan perasaan.Pembentukan keluarga muslim . Menghiasi dirinya dengan akhlak Islami. untuk mewujudkan kemauan yang kuat dan tekad yang membaja. 4. Imam Syahid menjelaskan beberapa aspek penting di atas di dalam proses pembentukan individu serta kesinambungannya. atau membatasi satu tujuan tanpa tujuan yang lain. namun fleksibel dan dinamis. sesuai dengan masing-masing tujuan. dengan tetap menjaga perbedaan antara individu kader. Beribadah kepada Allah dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya. dan dengan memanfaatkan setiap sarana dan instrumen yang baru. 3.” Dengan demikian. . .Mengembalikan kekuasaan khilafah yang telah hilang dan terwujudnya persatuan yang diimpikan bersama. Ia juga memelihara target. Program-program ini –baik teori maupun praktek. Perasaan dan nurani yang peka. dan di dalam sarana-sarana tarbiyah yang digunakan. Program dan sarana-sarana tarbiyah yang digunakan tidak kaku dan statis. tanpa membedakan atau memisahkan antara tujuan-tujuan tersebut. 3. Sebagaimana ia juga memiliki pengaruh nyata dan nilai-nilai tarbawi dan haraki yang terwujud secara gradual. sehingga dapat membedakan antara kebaikan dan keburukan. 2..Pembebasan tanah air .tidak terpisah. karakteristik dan target-target utama.” Tingkatan dan tujuan-tujuan ini memiliki refleksifitas dan perwujudannya di dalam programprogram penyiapan individu. Islam menginginkan dalam diri setiap mukmin. namun saling menyempurnakan satu sama lain. dalam rangka mewujudkan tingkatan-tingkatan dan tujuan-tujuan yang tinggi itu. sehingga menjadi pemerintah Islam yang baik.

kesempurnaan akhlak dan kesehatan badan. kesetiaan yang kuat yang tak dikotori oleh kepura-puraan dan pengkhianatan. Komitmen dengan aturan dan adab-adab Islam dalam tata cara makan. dan tidur. pengorbanan besar yang tak dihalangi oleh ketamakan dan kebakhilan. atau tertipu dengan yang lain. dan beliau menjelaskan bahwa sifat-sifat tersebut merupakan nilai-nilai dasar dalam diri individu muslim dan umat Islam untuk bangkit mengemban dan memikul risalah dakwah. Imam Syahid menyebutkan 4 sifat yang wajib dipenuhi untuk membangun kekuatan diri. Ketika Islam menetapkan kaidah-kaidah ini. keyakinan dan penghormatan terhadap dasar tersebut yang akan menjaga dari kesalahan dan penyimpangan.4. agar ia dipelihara oleh Allah dari ancaman pelbagai penyakit.hendaklah selalu dalam kehalusan nurani. Ukhti Muslimah. minum. oleh karena itu. ia tidak hanya memperuntukkannya bagi kaum lakilaki dan meninggalkan kaum wanita. Sifat-sifat terbut adalah: “Kemauan yang keras yang tak tersentuh oleh kelemahan.” . melainkan keduanya memiliki kedudukan sama dalam pandangan Islam. dengan pengetahuan terhadap dasar perjuangan. keluasan cakrawala berpikir. -sebagaimana kami nasehatkan kepada al akh Mulsim.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful