Proses Pembentukan Personal Kader Dakwah Imam Syahid berkata, “JIka didapatkan seorang muslim yang baik, maka

akan didapatkan sarana-sarana kesuksesan dalam dirinya.” “Mentalitas kita –hari-hari ini- sungguh sangat membutuhkan pengobatan yang serius dan penyembuhan yang total. Kita memerlukan pencairan bagi perasaan yang telah keras membeku; kita membutuhkan perbaikan bagi akhlak yang telah rusak binasa; dan kita juga membutuhkan penyadaran atas penyakit bakhil yang telah demikian akut. Tanpa proses ulang pembaharuan mentalitas dan pembangunan jiwa ini, kita tidak mungkin melangkah ke depan walau hanya selangkah.” “Maka ketauhilah bahwa tujuan pertama yang digariskan oleh Ikhwanul Muslimin adalah tarbiyah shahihah, yakni pembinaan umat yang mengantarkannya menuju kepribadian yang utama dan mentalitas yang luhur. Pembinaan –untuk membangun jiwa yang dinamis- itu ditegakkan dalam rangka merebut kembali kemuliaan dan kejayaan umat dan untuk memikul beban tanggung jawab di jalan yang mengantarkan kepada tujuan.” Untuk mengetahui gambaran tentang sifat-sifat pembentukan pribadi di dalam jamaah, sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Syahid di dalam risalah dan penyampaianpenyampaiannya, adalah dengan cara mengumpulkan dan menyusun kewajiban dan sifat-sifat tersebut, serta apa saja yang disampaikan Imam di dalam tujuan-tujuan dakwah dan klasifikasi amal, maka kita akan mendapatkan gambaran yang lebih dekat tentang frofil muslim paripurna yang diinginkan. Dimana ia berupa aktualisasi amal tarbawi melalui program-program amali dan manhaj tertentu, serta sesuai dengan keberagaman sarana dan jenjang-jenjang tarbiyah yang ditentukan jamaah, dan batasan-batasan yang diperlukan untuk mewujudkannya. Kita dapat mengklasifikasikan sifat-sifat di atas dalam 3 (tiga) poros utama, yang merupakan satu kesatuan yang saling terpadu: 1. Poros keimanan dan ibadah 2. Poros akhlak dan budi pekerti 3. Poros dakwah dan gerakan - Untuk merealisasikan poros-poros di atas dibutuhkan proses pembinaan secara gradual dan membaginya ke dalam fase-fase dan jenjang yang berbeda dalam proses pembentukan. - Ia mencakup ikhwan dan akhwat dalam dua poros yaitu, poros keimanan dan akhlak. - Adapun dalam poros gerakan –dalam beberapa hal tertentu- terdapat perbedaan antara ikhwan dan akhwat, yaitu dalam hal karakteristik peran dan tugas yang diberikan. Tarbiyah ini berlandaskan pada dua titik penting, yaitu 1. Menghidupkan tarbiyah diri di dalam setiap personal kader, “Melakukan tarbiyah untuk diri sendiri, merupakan kewajiban kita yang pertama.” 2. Konsisten mengikuti tarbiyah kolektif yang diberikan oleh jamaah dan manhaj-manhajnya, serta melalui ikatan yang menghimpunnya yang berlandaskan pada ta’aruf, tafahum dan takaful. * Aktivitas hati lebih penting daripada aktivitas fisik, namun usaha untuk menyempurnakan keduanya merupakan tuntutan syariat, meskipun dengan kadar tuntutan masing-masing berbeda, dan kita harus mengupayakannya.

serta urgensi kesatuan barisan. Pengalaman sejarah yang pernah dilakukan oleh gerakan-gerakan reformis klasik dan kontemporer. karena hal ini merupakan asas pijakan.Dibutuhkannya pemusatan perhatian terhadap dakwah. Iman yang kuat. dari sisi normatif teoritis menuju sisi praktis-realistis. . Imam Syahid berkata. yang mencakup pengalaman-pengalaman orang lain. . Ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Syahid di dalam risalahnya. dan menghindari kesalahan-kesalahan yang mereka jatuh kedalamnya. kemenangan dan taufik dari-Nya. ta’aruf.Dengan tersedianya program-program yang cocok dan sarana-sarana pembinaan yang sesuai dengan kader-kader dakwah dan realitas yang ada –dan dengan memperhatikan setiap perkembangan dan kemajuan-. dengan tetap menjaga perbedaan tabiat alami setiap orang dan pemenuhan kebutuhan spiritual. tafahum dan takaful. menguatkan konsep ini dan Manhaj yang dipilih dan disusun oleh Imam Syahid yang berlandaskan kepada sunah Rasulullah Saw. wawasan keilmuan dan kemahiran. membersihkan jiwa dan menguatkan keinginan. dan sunnah Allah dalam perubahan dan kejayaan. menjadikan tingkatan ukhuwah yang paling . yang berpedoman kepada sunnah Rasulullah Saw. pertolongan. Imam Syahid juga memperhatikan iklim (suasana) yang harus memenuhi komunitas pembinaan.Imam Syahid menegaskan tentang urgensi membangkitkan keimanan dan memperbaharui ruh. dan seluruh barisan dakwah. atau melakukan lompatan-lompatan terhadap sunah Allah dalam perubahan. Kemudian beliau menambahkan untuk proses pembinaan tersebut sebuah hadhanah (wadah pembinaan) praktis untuk menghayati dan menerapkan proses pembinaan ini. yaitu Usrah. pemahaman yang benar. . yang berakhlak. Meskipun di antara tujuan-tujuan tersebut dengan realita yang ada terdapat kendala yang sangat besar. cinta yang dipercaya. dan berkumpullah di sekelilingnya. dan amal yang berkesinambungan. . kendati demikian hal ini adalah bentuk totalitas kepercayaan kepada manhaj Allah Swt. yang bertujuan terciptanya bangunan Islam yang komprehensif dalam melahirkan karakteristik mukmin sejati. Pembangunan yang dicita-citakan demikian besarnya. “Yakinlah kepada fikrah kalian. sebagai asas untuk bergerak dan terus eksis. bekerjalah untuknya dan teguhlah di atas jalannya. manhaj dan pemusatan terhadap program-program amali untuk mendapatkan akhlak-akhlak Islami dan petunjukpetunjuknya dalam membangun dan memperbaiki manusia. –Dalam kerangka jamaah. dan mumpuni untuk kebutuhan zaman sekarang. Hal ini tidak mungkin dapat diwujudkan kecuali dengan melalui manhaj yang panjang dalam proses pembinaan.Imam Syahid menegaskan bahwa sesungguhnya titik tolak pembinaan diri seorang mukmin sejati adalah dari dalam diri.. namun ia adalah tujuan yang besar dan dalam.usrah adalah labinah dasar dalam membangun jamaah. Tujuan-tujuan itu bermula dari Ishlahul fardy (proses perbaikan diri) hingga ustaziyatul ‘alam (kepemimpinan dunia). Adapun 10 sifat mukmin sejati dan rukun-rukun baiat. yaitu cinta karena Allah. labinah-labinah. Karakteristik Pembinaan Diri Imam Syahid sangat memperhatikan upaya pembinaan diri yang paripurna dan gradual terhadap personal. tarbiyah dan pembangunan. tiada lain adalah pengantar. pembinaan yang cermat. tidak melakukan lompatam-lompatan.. berbudi pekerti dan beradab Islami dalam bingkai pemahaman yang teliti. ia adalah sebuah ladang pembinaan dan tarbiyah yang akan mewujudkan. dan petunjuknya dalam perbaikan dan pembinaan.. seimbang. kudeta. jiwa dan perasaan. yang berlangsung secara terus menerus dari generasi ke generasi berikutnya.Pembentukan ini berdiri di atas asas-asas. diantara kader dakwah dan diantara unit-unit shaf dan labinah dakwah yang lain. persaudaraan. menyelesihi atau meremehkannya. dengan tetap memberikan perhatian besar untuk proses pembinaan kader dan tarbiyahnya. saling memaafkan. yaitu dengan membangun keimanan.” Sesungguhnya tujuan yang diinginkan oleh dakwah bukanlah tujuan yang sederhana dan terbatas. dan target-target ini tidak mungkin dapat diwujudkan dengan melakukan penyerangan.

Dakwah pada tahapan ini bersifat khusus. Al Jihad Sabiluna (Jihad adalah jalan juang kami).rendah adalah salamatu shard (berlapang dada). Imam Syahid menjelaskan sisi pembinaan ini dengan mengatakan. aktivitas dan pengaruh kader di tengah masyarakat. inti adalah tilawah dan shalat. . karena ia digambarkan dengan kalimat Matinul Khulq (Kokoh akhlaknya). antara gerakan. Allah Ghayatuna (Allah adalah tujuan kami). Tetapi ia adalah sebuah pembentukan yang sempurna dan saling terkait dan memberikan pengaruh satu sama lain. intinya adalah akhlak * Karakter manhaj dan pembentukan sarana. . dan amal yang berkesinambungan. maupun dalam melaksanakan peran pengelolaannya. Imam Syahid menyebut penanggungjawab unit-unit usrah ini dengan ‘Naqib’. yang digambarkan oleh Imam Syahid terdiri dari: “Pemahaman yang teliti. Ia bukanlah perubahan yang dangkal atau hanya sebagai jembatan untuk mendapatkan beberapa adab dan muwashafat tarbiyah. -Slogan pembentukan ini. atau hubungan dengannya. tilawah. Keprajuritan. Beliau tidak memisahkan antara pembinaan diri dengan pencapaian sifat-sifat.Menjadikan pembinaan tarbawi sebagai sesuatu yang asasi (mendasar) dalam dakwah.Imam Syahid menggambarkan tentang kedalaman proses pembentukan ini dan tingkatantingkatannya dalam memenuhi tuntutan-tuntutan dakwah. . beliau berkata: “Dalam tahapan ini dakwah ditegakkan dengan melakukan seleksi terhadap anasir-anasir positif untuk memikul beban jihad dan untuk menghimpun berbagai bagian yang ada. intinya adalah kesederhanaan. Shalat. dan ia adalah bagian yang mendasar dari pembentukan ini. intinya adalah keprajuritan. dan menjadikan seluruh anggota usrah untuk bersama-sama dengan naqib melakukan pembinaan tarbawi dan meningkatkan kualitas tarbiyah dan perbaikan diri.Imam Syahid memberikan perhatian yang besar terhadap kesempurnaan dan keparipurnaan pembentukan dan pembinaan tarbawi kader-kader dakwah. .” Maknanya adalah: * Poros keimanan dan ibadah.menduduki posisi orang tua dalam ikatan hati. dan posisi seorang pemimpin dalam menentukan kebijakan-kebijakan politik secara umum dalam dakwah. Ar Rasul Qudqatuna (Rasul adalah teladan kami). Ini adalah iklim dan suasana yang di dalamnya terdapat kebersihan dengan seluruh maknanya yang luas. Al Maut Fi Sabilillah (Syahid di jalan Allah adalah cita-cita kami tertinggi). pembinaan yang mendalam. * Poros dakwah dan gerakan.” . dan posisi seorang syaikh dalam aspek pendidikan rohani. “Kepemimpinan –dalam dakwah Ikhwan. Slogan utama dalam persiapan ini adalah: Totalitas ketaatan. kesucian dan kemuliaan. * Poros budi pekerti. Tidak dapat dikerjakan oleh seseorang kecuali yang memiliki kesiapan secara benar untuk memikul beban jihad yang panjang masanya dan berat tantangannya.Refleksi pembentukan ini dan intinya tergambar dalam 5 (lima) hal: “Kesederhanaan. posisi seorang guru dalam memberikan pengajaran ilmu. baik dalam hal menetapkan mas’ul. jihad dan dalam mengemban beban dakwah yang berat. Dan dakwah mengumpulkan seluruh makna ini. Al Qur’an Dusturuna (Al Quran adalah Undang-undang kami). akhlak.

serta latihlah ia menjadi prajurit di bawah bendera dan panji Nabi Muhammad. Urgensinya adalah kerja social bagi kepentingan umum. yaitu lapangan perbaikan umum.” Ikhwan melakukan kerjasama dengan orang-orang yang ikhlas yang berkerja di lapangan ini. sedangkan medianya adalah nasihat. dan beberapa cara lain. yang tidak justru menimbulkan bid’ah yang lain yang lebih parah.” Beliau juga berkata. kehidupan dunia dan akhirat. baik berupa penambahan maupun pengurangan. dan para sahabatnya mencukupkan diri dengannya. dan hendaknya memiliki wirid harian bacaan Al Quran. .tidaklah dituntut. ajarkan kepadanya kebebasan jiwa dan hati. bahkan tidak lazim. sedangkan mengenai ayat-ayat sifat dan hadits-hadits shahih tentangnya.” Imam Syahid berkata. Hal ini merupakan rukun pertama dalam manhaj perbaikan terhadap masyarakat dan pembangunan Negara. Ketaatan tanpa reserve –pada tahapan ini.bersifat tasawuf murni dalam tataran ruhani. serta dalam amal dan prilakunya.” Sebagaimana yang disebutkan Imam Syahid bahwa seorang al Akh seharusnya: memiliki kekuatan hubungan dengan kitab Allah. Kita mencukupkan diri dengan keterangan yang ada. adalah kesesatan yang wajib diperangi dan dihancurkan dengan menggunakan cara yang terbaik. tanpa ragu dan bimbang. baik wirid tilawah. kita cukup mengimaninya sebagimana adanya tanpa ta’wil. Penuhilah jiwa yang liar dengan keagungan Islam dan keindahan Al Quran. maka perbaikilah dakwah dan maksimalkan proses pembentukannya. dalam tahapan ini dakwah dilakukan dengan dengan menyebarkan fikrah Islam di tengah masyarakat. serta berbagai keterangan mutasyabihat yang berhubungan dengannya.” .Hal ini berbeda jauh dari pengenalan dakwah dan lebih dekat ke dalam karakteristik pembentukan dan tarbiyah. “Dan dengan urgensi kelahiran generasi baru ini. Ini merupakan salah satu upaya pembentukan individu mukmin dalam dakwah kami. dan ta’thil. kebebasan jihad dan amal. . Beliau berkata. “Jamaah menjalin hubungan dengan orang yang ingin memberikan kontribusi bagi aktivitasnya dan ingin ikut menjaga prinsip-prinsip ajarannya. yang sesuai dengan keinginan dan target yang ingin dicapai. walaupun berbeda bentuk dan programnya. dan bersifat militer dalam tataran operasional. akhlak. serta kebebasan pemikiran dan akal. anak-anak maupun orangtua. Slogan untuk dua aspek ini adalah: perintah dan taat. “Setiap bid’ah dalam agama Allah yang tidak ada pijakannya tetapi dianggap baik oleh hawa nafsu manusia. yang titik tolaknya adalah perbaikan dan mencakup segala aspek kemanusiaan. Imam Syahid berkata. sebagaimana Rasulullah Saw. Tingkatannya seiring dengan kadar penghormatannya kepada sistem dan prinsip-prinsip umum jamaah. yang kemudian disebut sebagai.” .Imam Syahid menjadikan dasar pembinaan dalam tarbiyah berlandaskan manhaj Islam. maka kalian akan menyaksikan kelahiran seorang pemimpin muslim yang berjihad dengan dirinya dan membahagiakan orang lain. menghapal.Imam Syahid sangat memperhatikan urgensi kebenaran akidah dalam proses pembentukan dan perbaikan diri seorang muslim.Sistem dakwah –pada tahapan ini. kami menginginkan seorang yang muslim dalam pola piker dan akidahnya. Qiyam Lail. mendengarkan. pertama-tama. menghayati dan mentadabburinya. Tentang hal ini. “Al Quran yang mulia dan sunnah yang suci adalah referensi utama setiap muslim untuk mengenal hukum-hukum dalam agama Islam.dengan sikap tauhid dan penyucian (Dzat)-nya adalah setinggi-tinggi tingkatan dalam akidah Islam. serta tidak memperuncing perbedaan yang terjadi di antara para ulama. mesjid dan perhatian yang besar terhadap shalat. Imam Syahid berkata. Beliau juga tidak membedakan dalam urgensi dan integralitas pembinaan ini antara lelaki dan wanita. dengan kesempurnaannya di pelbagai sisi perbaikan. Semuanya memiliki satu pijakan dasar. Tahap pengenalan. baik kepribadiaan. “Ma’rifah kepada Allah –Yang Maha Tinggi dan Maha Mulia. dalam moralitas dan perasaannya. bimbingan. mengenalkan Islam dan kebangkitannya di tengah masyarakat.

Fahm (pemahaman).” Dakwah ini tidak membutuhkan kepada jiwa-jiwa yang tidak konsisten dan kaku. dan tsabat di atas prinsipprinsip. Taat (kepatuhan). Tsabat (keteguhan). . Tajarrud (kemurnian). yaitu. Kemudian dalam seluruh aspek-aspek di atas. Ukhuwah dan Tsiqah (kepercayaan). kami juga memperhatikan kaum wanita sebagaimana perhatian kami kepada kaum pria. baiat dan komitmennya terhadap jamaah. yang mencakup manhaj tarbawi dan takwini. . demi membentuk labinah-labinah dakwah yang kuat dalam satu barisan: Dalam aspek harakah.Imam Syahid menetapkan tujuan-tujuan tertinggi dalam jamaah –yang berupa tingkatantingkatan amal-.” sebagai poros-poros pembentukan utama bagi para pembawa risalah dakwah dan yang komitmen terhadap jamaah ini. Harishun Ala waqtihi (Cermat mengatur waktunya). Ukhuwah dan Tsiqah (kepercayaan). Rukun-rukun baiat ini menunjukkan nilai-nilai tarbiyah yang dibutuhkan oleh individu dan jamaah dakwah. Tadhiyah (pengorbanan). dan Tajarrud (kemurnian). yaitu: . kemudian mempersiapkannya agar mampu mewujudkan dan berupaya untuk melaksanakannya. Amal (aktivitas). yang berasal dari dalam diri setiap individu.” Kaum wanita memikul tanggungjawab yang sama dalam dakwah dan beraktivitas untuk mewujudkan tujuan yang sama pula. Tadhiyah (pengorbanan). seorang kader dakwah membutuhkan rukun Tsabat (keteguhan). yaitu arah dan wadah yang membatasi aspek-aspek pembentukan dan beban dakwah. yang akan berjalan beriringan dengan 10 sifat yang lain. maka kelemahan dan kerusakan dalam salah satu rukun-rukunnya akan menyebabkan kelemahan terhadap baiat-baiatnya yang lain. Amal (aktivitas). Kami juga memperhatikan anak-anak sebagaimana perhatian kami kepada pemuda. Ikhlas. kami membutuhkan rukun-rukun berikut ini. serta anasir-anasir dakwah yang tertutup dan kepribadian yang senang menyendiri. kami membutuhkan Taat (kepatuhan). Dalam aspek keyakinan. Dalam aspek pengorganisasi dan barisan dakwah. Jihad. Qadirun Alal Kasbi (mampu berekonomi). yang memiliki jiwa yang keropos. yang menyatu dan membentuk satu dasar pijakan dalam pembentukan ini. yaitu: Salimul Akidah (bersih akidahnya). agar dapat mewujudkan semua rukun-rukun baiat. Imam Syahid menyebutkan tingkatan amal yang dituntut dari seorang al akh yang tulus. Mujahidun Linasihi (kuat kesungguhan jiwanya). yaitu sebagai poros penyempurna. Matinul Khulq (Kokoh akhlaknya). dengan tetap menjaga beberapa perbedaan aspek harakah dan peran-peran khusus mereka. Munazhamun fi Syu’unihi (terorganisir seluruh urusannya).Imam Syahid menetapkan muwashafat yang harus dipenuhi oleh seorang muslim di dalam kehidupannya. shahihul Ibadah (benar ibadahnya). Qawiyyul Jismi (memiliki fisik yang kuat). Ikhlas. Mutsaqqaful Fikr (berwawasan pemikirannya). Amal (aktivitas). Karena rukun-rukun baiat ini saling berkaitan erat. Unsur ini yang kemudian terbagi dalam beberapa tujuan dan poros-poros yang diwujudkan dengan program-program pendidikan dan kegiatan-kegiatan tarbiyah. “Seluruh jamaah Islam di masa kini sangat membutuhkan munculnya pribadi aktivis sekaligus pemikir dan anasir produktivitas yang pemberani.Imam Syahid juga menetapkan rukun-rukun baiat berikut. kami membutuhkan Fahm (pemahaman). Jihad. . Nafi’un Li Ghairihi (Bermanfaat bagi selainnya).” “Untuk itu.Beliau juga berkata.

3. dan menjadi perangkat yang layak untuk mewujudkan cita-cita yang mulia. Melakukan kegiatan belajar dengan kemampuannya untuk meningkatkan intelektualitas dan wawasan keilmuannya. maka kewajiban seorang akh adalah: 1. namun saling menyempurnakan satu sama lain.Pembebasan tanah air . sesuai dengan masing-masing tujuan.” Tingkatan dan tujuan-tujuan ini memiliki refleksifitas dan perwujudannya di dalam programprogram penyiapan individu. dan dengan memanfaatkan setiap sarana dan instrumen yang baru. . dengan tetap memperhatikan jenjang dakwah yang dilalui. 2. Beribadah kepada Allah dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya. 3.Bimbingan masyarakat . untuk mewujudkan kemauan yang kuat dan tekad yang membaja.Pembentukan keluarga muslim . . untuk mengasah kepekaan nurani dan kehalusan perasaan.Mengembalikan kekuasaan khilafah yang telah hilang dan terwujudnya persatuan yang diimpikan bersama. dan di dalam sarana-sarana tarbiyah yang digunakan.” Dengan demikian. sehingga dapat membedakan antara kebaikan dan keburukan..Penegakan kepemimpinan dunia dengan penyebaran dakwah Islam di seantero negeri. Sebagaimana ia juga memiliki pengaruh nyata dan nilai-nilai tarbawi dan haraki yang terwujud secara gradual.tidak terpisah. “Sesungguhnya. Program-program ini –baik teori maupun praktek. Islam juga menginginkan sebuah pandangan yang benar dalam memahami sesuatu itu benar atau salah. 4. Empat yang terakhir ini wajib ditegakkan oleh jamaah dan oleh setiap akh sebagai anggota dalam jamaah itu. Tubuh yang sehat yang siap mengemban berbagai tugas kemanusiaan secara baik. 2. Ia juga memelihara target. dengan tetap menjaga perbedaan antara individu kader.Memperbaiki keadaan pemerintah. Imam Syahid menjelaskan beberapa aspek penting di atas di dalam proses pembentukan individu serta kesinambungannya. Perasaan dan nurani yang peka. Islam menginginkan dalam diri setiap mukmin. . Program dan sarana-sarana tarbiyah yang digunakan tidak kaku dan statis. karakteristik dan target-target utama. yang mencakup seluruh aspek tarbawi. namun fleksibel dan dinamis. Sebuah keinginan kuat yang tidak akan pernah melemah dalam membela kebenaran. mampu mengegolkan misi kebenaran dan kebajikan. tanpa membedakan atau memisahkan antara tujuan-tujuan tersebut. Menghiasi dirinya dengan akhlak Islami. atau membatasi satu tujuan tanpa tujuan yang lain. 1. dalam rangka mewujudkan tingkatan-tingkatan dan tujuan-tujuan yang tinggi itu. sehingga menjadi pemerintah Islam yang baik.Perbaikan diri sendiri .

kesetiaan yang kuat yang tak dikotori oleh kepura-puraan dan pengkhianatan. minum. agar ia dipelihara oleh Allah dari ancaman pelbagai penyakit. Ketika Islam menetapkan kaidah-kaidah ini. pengorbanan besar yang tak dihalangi oleh ketamakan dan kebakhilan. Ukhti Muslimah. Komitmen dengan aturan dan adab-adab Islam dalam tata cara makan. ia tidak hanya memperuntukkannya bagi kaum lakilaki dan meninggalkan kaum wanita. Sifat-sifat terbut adalah: “Kemauan yang keras yang tak tersentuh oleh kelemahan. oleh karena itu.” .4. -sebagaimana kami nasehatkan kepada al akh Mulsim. keyakinan dan penghormatan terhadap dasar tersebut yang akan menjaga dari kesalahan dan penyimpangan. melainkan keduanya memiliki kedudukan sama dalam pandangan Islam. dan tidur. keluasan cakrawala berpikir. dan beliau menjelaskan bahwa sifat-sifat tersebut merupakan nilai-nilai dasar dalam diri individu muslim dan umat Islam untuk bangkit mengemban dan memikul risalah dakwah. Imam Syahid menyebutkan 4 sifat yang wajib dipenuhi untuk membangun kekuatan diri. dengan pengetahuan terhadap dasar perjuangan. kesempurnaan akhlak dan kesehatan badan. atau tertipu dengan yang lain.hendaklah selalu dalam kehalusan nurani.