P. 1
Proses Pembentukan Personal Kader Dakwah

Proses Pembentukan Personal Kader Dakwah

|Views: 117|Likes:
Published by muhammad furqon

More info:

Published by: muhammad furqon on Apr 02, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/12/2011

pdf

text

original

Proses Pembentukan Personal Kader Dakwah Imam Syahid berkata, “JIka didapatkan seorang muslim yang baik, maka

akan didapatkan sarana-sarana kesuksesan dalam dirinya.” “Mentalitas kita –hari-hari ini- sungguh sangat membutuhkan pengobatan yang serius dan penyembuhan yang total. Kita memerlukan pencairan bagi perasaan yang telah keras membeku; kita membutuhkan perbaikan bagi akhlak yang telah rusak binasa; dan kita juga membutuhkan penyadaran atas penyakit bakhil yang telah demikian akut. Tanpa proses ulang pembaharuan mentalitas dan pembangunan jiwa ini, kita tidak mungkin melangkah ke depan walau hanya selangkah.” “Maka ketauhilah bahwa tujuan pertama yang digariskan oleh Ikhwanul Muslimin adalah tarbiyah shahihah, yakni pembinaan umat yang mengantarkannya menuju kepribadian yang utama dan mentalitas yang luhur. Pembinaan –untuk membangun jiwa yang dinamis- itu ditegakkan dalam rangka merebut kembali kemuliaan dan kejayaan umat dan untuk memikul beban tanggung jawab di jalan yang mengantarkan kepada tujuan.” Untuk mengetahui gambaran tentang sifat-sifat pembentukan pribadi di dalam jamaah, sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Syahid di dalam risalah dan penyampaianpenyampaiannya, adalah dengan cara mengumpulkan dan menyusun kewajiban dan sifat-sifat tersebut, serta apa saja yang disampaikan Imam di dalam tujuan-tujuan dakwah dan klasifikasi amal, maka kita akan mendapatkan gambaran yang lebih dekat tentang frofil muslim paripurna yang diinginkan. Dimana ia berupa aktualisasi amal tarbawi melalui program-program amali dan manhaj tertentu, serta sesuai dengan keberagaman sarana dan jenjang-jenjang tarbiyah yang ditentukan jamaah, dan batasan-batasan yang diperlukan untuk mewujudkannya. Kita dapat mengklasifikasikan sifat-sifat di atas dalam 3 (tiga) poros utama, yang merupakan satu kesatuan yang saling terpadu: 1. Poros keimanan dan ibadah 2. Poros akhlak dan budi pekerti 3. Poros dakwah dan gerakan - Untuk merealisasikan poros-poros di atas dibutuhkan proses pembinaan secara gradual dan membaginya ke dalam fase-fase dan jenjang yang berbeda dalam proses pembentukan. - Ia mencakup ikhwan dan akhwat dalam dua poros yaitu, poros keimanan dan akhlak. - Adapun dalam poros gerakan –dalam beberapa hal tertentu- terdapat perbedaan antara ikhwan dan akhwat, yaitu dalam hal karakteristik peran dan tugas yang diberikan. Tarbiyah ini berlandaskan pada dua titik penting, yaitu 1. Menghidupkan tarbiyah diri di dalam setiap personal kader, “Melakukan tarbiyah untuk diri sendiri, merupakan kewajiban kita yang pertama.” 2. Konsisten mengikuti tarbiyah kolektif yang diberikan oleh jamaah dan manhaj-manhajnya, serta melalui ikatan yang menghimpunnya yang berlandaskan pada ta’aruf, tafahum dan takaful. * Aktivitas hati lebih penting daripada aktivitas fisik, namun usaha untuk menyempurnakan keduanya merupakan tuntutan syariat, meskipun dengan kadar tuntutan masing-masing berbeda, dan kita harus mengupayakannya.

Imam Syahid menegaskan bahwa sesungguhnya titik tolak pembinaan diri seorang mukmin sejati adalah dari dalam diri. . pembinaan yang cermat. membersihkan jiwa dan menguatkan keinginan.. dari sisi normatif teoritis menuju sisi praktis-realistis. dan sunnah Allah dalam perubahan dan kejayaan. . yang berlangsung secara terus menerus dari generasi ke generasi berikutnya.. yang bertujuan terciptanya bangunan Islam yang komprehensif dalam melahirkan karakteristik mukmin sejati. cinta yang dipercaya. Meskipun di antara tujuan-tujuan tersebut dengan realita yang ada terdapat kendala yang sangat besar. seimbang. yang berpedoman kepada sunnah Rasulullah Saw. ta’aruf. jiwa dan perasaan.usrah adalah labinah dasar dalam membangun jamaah. tafahum dan takaful. berbudi pekerti dan beradab Islami dalam bingkai pemahaman yang teliti.Dibutuhkannya pemusatan perhatian terhadap dakwah. Tujuan-tujuan itu bermula dari Ishlahul fardy (proses perbaikan diri) hingga ustaziyatul ‘alam (kepemimpinan dunia). sebagai asas untuk bergerak dan terus eksis. dengan tetap memberikan perhatian besar untuk proses pembinaan kader dan tarbiyahnya. Adapun 10 sifat mukmin sejati dan rukun-rukun baiat. wawasan keilmuan dan kemahiran. dan berkumpullah di sekelilingnya. diantara kader dakwah dan diantara unit-unit shaf dan labinah dakwah yang lain. dan seluruh barisan dakwah. Ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Syahid di dalam risalahnya. kendati demikian hal ini adalah bentuk totalitas kepercayaan kepada manhaj Allah Swt. Iman yang kuat. Karakteristik Pembinaan Diri Imam Syahid sangat memperhatikan upaya pembinaan diri yang paripurna dan gradual terhadap personal. dengan tetap menjaga perbedaan tabiat alami setiap orang dan pemenuhan kebutuhan spiritual. yang mencakup pengalaman-pengalaman orang lain. pertolongan.Imam Syahid menegaskan tentang urgensi membangkitkan keimanan dan memperbaharui ruh. dan menghindari kesalahan-kesalahan yang mereka jatuh kedalamnya. persaudaraan. namun ia adalah tujuan yang besar dan dalam. Kemudian beliau menambahkan untuk proses pembinaan tersebut sebuah hadhanah (wadah pembinaan) praktis untuk menghayati dan menerapkan proses pembinaan ini. atau melakukan lompatan-lompatan terhadap sunah Allah dalam perubahan. menguatkan konsep ini dan Manhaj yang dipilih dan disusun oleh Imam Syahid yang berlandaskan kepada sunah Rasulullah Saw. tiada lain adalah pengantar. tidak melakukan lompatam-lompatan. kemenangan dan taufik dari-Nya.. . yaitu dengan membangun keimanan. Pengalaman sejarah yang pernah dilakukan oleh gerakan-gerakan reformis klasik dan kontemporer. menyelesihi atau meremehkannya. dan target-target ini tidak mungkin dapat diwujudkan dengan melakukan penyerangan. serta urgensi kesatuan barisan.Pembentukan ini berdiri di atas asas-asas. bekerjalah untuknya dan teguhlah di atas jalannya. saling memaafkan. menjadikan tingkatan ukhuwah yang paling . dan amal yang berkesinambungan. karena hal ini merupakan asas pijakan. kudeta.” Sesungguhnya tujuan yang diinginkan oleh dakwah bukanlah tujuan yang sederhana dan terbatas. ia adalah sebuah ladang pembinaan dan tarbiyah yang akan mewujudkan. “Yakinlah kepada fikrah kalian.Dengan tersedianya program-program yang cocok dan sarana-sarana pembinaan yang sesuai dengan kader-kader dakwah dan realitas yang ada –dan dengan memperhatikan setiap perkembangan dan kemajuan-. . Imam Syahid juga memperhatikan iklim (suasana) yang harus memenuhi komunitas pembinaan. Pembangunan yang dicita-citakan demikian besarnya. labinah-labinah. Imam Syahid berkata. manhaj dan pemusatan terhadap program-program amali untuk mendapatkan akhlak-akhlak Islami dan petunjukpetunjuknya dalam membangun dan memperbaiki manusia. dan petunjuknya dalam perbaikan dan pembinaan. yaitu cinta karena Allah. yaitu Usrah. Hal ini tidak mungkin dapat diwujudkan kecuali dengan melalui manhaj yang panjang dalam proses pembinaan. pemahaman yang benar. tarbiyah dan pembangunan. yang berakhlak. dan mumpuni untuk kebutuhan zaman sekarang. –Dalam kerangka jamaah.

rendah adalah salamatu shard (berlapang dada). Al Qur’an Dusturuna (Al Quran adalah Undang-undang kami).menduduki posisi orang tua dalam ikatan hati. * Poros dakwah dan gerakan. Slogan utama dalam persiapan ini adalah: Totalitas ketaatan. Ar Rasul Qudqatuna (Rasul adalah teladan kami). Tidak dapat dikerjakan oleh seseorang kecuali yang memiliki kesiapan secara benar untuk memikul beban jihad yang panjang masanya dan berat tantangannya.” Maknanya adalah: * Poros keimanan dan ibadah. Imam Syahid menyebut penanggungjawab unit-unit usrah ini dengan ‘Naqib’. tilawah. . akhlak. . .Imam Syahid menggambarkan tentang kedalaman proses pembentukan ini dan tingkatantingkatannya dalam memenuhi tuntutan-tuntutan dakwah. Dakwah pada tahapan ini bersifat khusus. -Slogan pembentukan ini. Allah Ghayatuna (Allah adalah tujuan kami).Imam Syahid memberikan perhatian yang besar terhadap kesempurnaan dan keparipurnaan pembentukan dan pembinaan tarbawi kader-kader dakwah. maupun dalam melaksanakan peran pengelolaannya. dan menjadikan seluruh anggota usrah untuk bersama-sama dengan naqib melakukan pembinaan tarbawi dan meningkatkan kualitas tarbiyah dan perbaikan diri. dan ia adalah bagian yang mendasar dari pembentukan ini. baik dalam hal menetapkan mas’ul. dan posisi seorang syaikh dalam aspek pendidikan rohani. Tetapi ia adalah sebuah pembentukan yang sempurna dan saling terkait dan memberikan pengaruh satu sama lain. intinya adalah akhlak * Karakter manhaj dan pembentukan sarana. aktivitas dan pengaruh kader di tengah masyarakat.Refleksi pembentukan ini dan intinya tergambar dalam 5 (lima) hal: “Kesederhanaan. . Imam Syahid menjelaskan sisi pembinaan ini dengan mengatakan. dan posisi seorang pemimpin dalam menentukan kebijakan-kebijakan politik secara umum dalam dakwah. Al Jihad Sabiluna (Jihad adalah jalan juang kami). karena ia digambarkan dengan kalimat Matinul Khulq (Kokoh akhlaknya). posisi seorang guru dalam memberikan pengajaran ilmu. Keprajuritan. * Poros budi pekerti. Dan dakwah mengumpulkan seluruh makna ini. intinya adalah keprajuritan. pembinaan yang mendalam. Ini adalah iklim dan suasana yang di dalamnya terdapat kebersihan dengan seluruh maknanya yang luas. beliau berkata: “Dalam tahapan ini dakwah ditegakkan dengan melakukan seleksi terhadap anasir-anasir positif untuk memikul beban jihad dan untuk menghimpun berbagai bagian yang ada.Menjadikan pembinaan tarbawi sebagai sesuatu yang asasi (mendasar) dalam dakwah. dan amal yang berkesinambungan. “Kepemimpinan –dalam dakwah Ikhwan. antara gerakan. Shalat. jihad dan dalam mengemban beban dakwah yang berat. Al Maut Fi Sabilillah (Syahid di jalan Allah adalah cita-cita kami tertinggi). atau hubungan dengannya. yang digambarkan oleh Imam Syahid terdiri dari: “Pemahaman yang teliti. Ia bukanlah perubahan yang dangkal atau hanya sebagai jembatan untuk mendapatkan beberapa adab dan muwashafat tarbiyah.” . kesucian dan kemuliaan. Beliau tidak memisahkan antara pembinaan diri dengan pencapaian sifat-sifat. intinya adalah kesederhanaan. inti adalah tilawah dan shalat.

walaupun berbeda bentuk dan programnya. .bersifat tasawuf murni dalam tataran ruhani. dan beberapa cara lain. bahkan tidak lazim. bimbingan. Beliau juga tidak membedakan dalam urgensi dan integralitas pembinaan ini antara lelaki dan wanita. sedangkan medianya adalah nasihat.” Ikhwan melakukan kerjasama dengan orang-orang yang ikhlas yang berkerja di lapangan ini. serta kebebasan pemikiran dan akal. Tahap pengenalan.dengan sikap tauhid dan penyucian (Dzat)-nya adalah setinggi-tinggi tingkatan dalam akidah Islam.Sistem dakwah –pada tahapan ini. dalam tahapan ini dakwah dilakukan dengan dengan menyebarkan fikrah Islam di tengah masyarakat.” Beliau juga berkata. “Jamaah menjalin hubungan dengan orang yang ingin memberikan kontribusi bagi aktivitasnya dan ingin ikut menjaga prinsip-prinsip ajarannya. serta dalam amal dan prilakunya. serta tidak memperuncing perbedaan yang terjadi di antara para ulama. Kita mencukupkan diri dengan keterangan yang ada.Imam Syahid menjadikan dasar pembinaan dalam tarbiyah berlandaskan manhaj Islam. dan hendaknya memiliki wirid harian bacaan Al Quran. “Dan dengan urgensi kelahiran generasi baru ini. dalam moralitas dan perasaannya. yang sesuai dengan keinginan dan target yang ingin dicapai.” . Urgensinya adalah kerja social bagi kepentingan umum. yang tidak justru menimbulkan bid’ah yang lain yang lebih parah. baik berupa penambahan maupun pengurangan. mendengarkan. maka perbaikilah dakwah dan maksimalkan proses pembentukannya. yaitu lapangan perbaikan umum. Ketaatan tanpa reserve –pada tahapan ini. Beliau berkata. Qiyam Lail. Penuhilah jiwa yang liar dengan keagungan Islam dan keindahan Al Quran. sedangkan mengenai ayat-ayat sifat dan hadits-hadits shahih tentangnya. baik wirid tilawah. . anak-anak maupun orangtua.Imam Syahid sangat memperhatikan urgensi kebenaran akidah dalam proses pembentukan dan perbaikan diri seorang muslim. Tentang hal ini. Hal ini merupakan rukun pertama dalam manhaj perbaikan terhadap masyarakat dan pembangunan Negara. dan bersifat militer dalam tataran operasional.” Imam Syahid berkata. “Setiap bid’ah dalam agama Allah yang tidak ada pijakannya tetapi dianggap baik oleh hawa nafsu manusia. yang kemudian disebut sebagai. kebebasan jihad dan amal. akhlak. serta latihlah ia menjadi prajurit di bawah bendera dan panji Nabi Muhammad. Ini merupakan salah satu upaya pembentukan individu mukmin dalam dakwah kami. sebagaimana Rasulullah Saw. mengenalkan Islam dan kebangkitannya di tengah masyarakat. menghayati dan mentadabburinya. baik kepribadiaan. pertama-tama. Slogan untuk dua aspek ini adalah: perintah dan taat. mesjid dan perhatian yang besar terhadap shalat.tidaklah dituntut. adalah kesesatan yang wajib diperangi dan dihancurkan dengan menggunakan cara yang terbaik. kami menginginkan seorang yang muslim dalam pola piker dan akidahnya. menghapal. “Ma’rifah kepada Allah –Yang Maha Tinggi dan Maha Mulia. dengan kesempurnaannya di pelbagai sisi perbaikan.Hal ini berbeda jauh dari pengenalan dakwah dan lebih dekat ke dalam karakteristik pembentukan dan tarbiyah. kita cukup mengimaninya sebagimana adanya tanpa ta’wil.” Sebagaimana yang disebutkan Imam Syahid bahwa seorang al Akh seharusnya: memiliki kekuatan hubungan dengan kitab Allah. Imam Syahid berkata. Imam Syahid berkata.” . serta berbagai keterangan mutasyabihat yang berhubungan dengannya. maka kalian akan menyaksikan kelahiran seorang pemimpin muslim yang berjihad dengan dirinya dan membahagiakan orang lain. ajarkan kepadanya kebebasan jiwa dan hati. yang titik tolaknya adalah perbaikan dan mencakup segala aspek kemanusiaan. dan ta’thil. kehidupan dunia dan akhirat. dan para sahabatnya mencukupkan diri dengannya. “Al Quran yang mulia dan sunnah yang suci adalah referensi utama setiap muslim untuk mengenal hukum-hukum dalam agama Islam. Tingkatannya seiring dengan kadar penghormatannya kepada sistem dan prinsip-prinsip umum jamaah. tanpa ragu dan bimbang. Semuanya memiliki satu pijakan dasar.

yaitu. Fahm (pemahaman). Jihad. yang berasal dari dalam diri setiap individu. Harishun Ala waqtihi (Cermat mengatur waktunya).Beliau juga berkata. Amal (aktivitas). Tadhiyah (pengorbanan). Dalam aspek pengorganisasi dan barisan dakwah.” Dakwah ini tidak membutuhkan kepada jiwa-jiwa yang tidak konsisten dan kaku. Dalam aspek keyakinan. dengan tetap menjaga beberapa perbedaan aspek harakah dan peran-peran khusus mereka.Imam Syahid menetapkan muwashafat yang harus dipenuhi oleh seorang muslim di dalam kehidupannya.” “Untuk itu. Tadhiyah (pengorbanan). yang menyatu dan membentuk satu dasar pijakan dalam pembentukan ini. Taat (kepatuhan). Mujahidun Linasihi (kuat kesungguhan jiwanya). serta anasir-anasir dakwah yang tertutup dan kepribadian yang senang menyendiri. Rukun-rukun baiat ini menunjukkan nilai-nilai tarbiyah yang dibutuhkan oleh individu dan jamaah dakwah. maka kelemahan dan kerusakan dalam salah satu rukun-rukunnya akan menyebabkan kelemahan terhadap baiat-baiatnya yang lain. Ikhlas. Jihad. Munazhamun fi Syu’unihi (terorganisir seluruh urusannya). shahihul Ibadah (benar ibadahnya). . baiat dan komitmennya terhadap jamaah. Qawiyyul Jismi (memiliki fisik yang kuat). Ukhuwah dan Tsiqah (kepercayaan).” sebagai poros-poros pembentukan utama bagi para pembawa risalah dakwah dan yang komitmen terhadap jamaah ini.Imam Syahid juga menetapkan rukun-rukun baiat berikut. kami membutuhkan Taat (kepatuhan). Mutsaqqaful Fikr (berwawasan pemikirannya). kami membutuhkan rukun-rukun berikut ini. yang mencakup manhaj tarbawi dan takwini. Tajarrud (kemurnian).Imam Syahid menetapkan tujuan-tujuan tertinggi dalam jamaah –yang berupa tingkatantingkatan amal-. Kami juga memperhatikan anak-anak sebagaimana perhatian kami kepada pemuda. Qadirun Alal Kasbi (mampu berekonomi). “Seluruh jamaah Islam di masa kini sangat membutuhkan munculnya pribadi aktivis sekaligus pemikir dan anasir produktivitas yang pemberani.” Kaum wanita memikul tanggungjawab yang sama dalam dakwah dan beraktivitas untuk mewujudkan tujuan yang sama pula. . Ukhuwah dan Tsiqah (kepercayaan). . Amal (aktivitas). yaitu sebagai poros penyempurna. Nafi’un Li Ghairihi (Bermanfaat bagi selainnya). Tsabat (keteguhan). yang akan berjalan beriringan dengan 10 sifat yang lain. yaitu arah dan wadah yang membatasi aspek-aspek pembentukan dan beban dakwah. seorang kader dakwah membutuhkan rukun Tsabat (keteguhan). Karena rukun-rukun baiat ini saling berkaitan erat. kemudian mempersiapkannya agar mampu mewujudkan dan berupaya untuk melaksanakannya. kami juga memperhatikan kaum wanita sebagaimana perhatian kami kepada kaum pria. yaitu: . Unsur ini yang kemudian terbagi dalam beberapa tujuan dan poros-poros yang diwujudkan dengan program-program pendidikan dan kegiatan-kegiatan tarbiyah. agar dapat mewujudkan semua rukun-rukun baiat. dan tsabat di atas prinsipprinsip. yang memiliki jiwa yang keropos. Imam Syahid menyebutkan tingkatan amal yang dituntut dari seorang al akh yang tulus. dan Tajarrud (kemurnian). kami membutuhkan Fahm (pemahaman). demi membentuk labinah-labinah dakwah yang kuat dalam satu barisan: Dalam aspek harakah. Amal (aktivitas). yaitu: Salimul Akidah (bersih akidahnya). Matinul Khulq (Kokoh akhlaknya). Ikhlas. Kemudian dalam seluruh aspek-aspek di atas.

karakteristik dan target-target utama. Melakukan kegiatan belajar dengan kemampuannya untuk meningkatkan intelektualitas dan wawasan keilmuannya. Beribadah kepada Allah dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya. .Memperbaiki keadaan pemerintah. 2. yang mencakup seluruh aspek tarbawi. Program dan sarana-sarana tarbiyah yang digunakan tidak kaku dan statis. Sebuah keinginan kuat yang tidak akan pernah melemah dalam membela kebenaran. .” Tingkatan dan tujuan-tujuan ini memiliki refleksifitas dan perwujudannya di dalam programprogram penyiapan individu. dan dengan memanfaatkan setiap sarana dan instrumen yang baru. 4. untuk mewujudkan kemauan yang kuat dan tekad yang membaja.Mengembalikan kekuasaan khilafah yang telah hilang dan terwujudnya persatuan yang diimpikan bersama.Bimbingan masyarakat . Sebagaimana ia juga memiliki pengaruh nyata dan nilai-nilai tarbawi dan haraki yang terwujud secara gradual. dan di dalam sarana-sarana tarbiyah yang digunakan. namun fleksibel dan dinamis. 3. 2. maka kewajiban seorang akh adalah: 1. namun saling menyempurnakan satu sama lain.” Dengan demikian.tidak terpisah. Tubuh yang sehat yang siap mengemban berbagai tugas kemanusiaan secara baik. sehingga menjadi pemerintah Islam yang baik. Program-program ini –baik teori maupun praktek.Penegakan kepemimpinan dunia dengan penyebaran dakwah Islam di seantero negeri. . “Sesungguhnya. dengan tetap memperhatikan jenjang dakwah yang dilalui.. sesuai dengan masing-masing tujuan. Menghiasi dirinya dengan akhlak Islami. Perasaan dan nurani yang peka. 3. mampu mengegolkan misi kebenaran dan kebajikan. 1. dengan tetap menjaga perbedaan antara individu kader.Pembebasan tanah air . Empat yang terakhir ini wajib ditegakkan oleh jamaah dan oleh setiap akh sebagai anggota dalam jamaah itu. dan menjadi perangkat yang layak untuk mewujudkan cita-cita yang mulia. dalam rangka mewujudkan tingkatan-tingkatan dan tujuan-tujuan yang tinggi itu. sehingga dapat membedakan antara kebaikan dan keburukan. Islam menginginkan dalam diri setiap mukmin.Perbaikan diri sendiri . untuk mengasah kepekaan nurani dan kehalusan perasaan. tanpa membedakan atau memisahkan antara tujuan-tujuan tersebut. Islam juga menginginkan sebuah pandangan yang benar dalam memahami sesuatu itu benar atau salah. Ia juga memelihara target.Pembentukan keluarga muslim . atau membatasi satu tujuan tanpa tujuan yang lain. Imam Syahid menjelaskan beberapa aspek penting di atas di dalam proses pembentukan individu serta kesinambungannya.

pengorbanan besar yang tak dihalangi oleh ketamakan dan kebakhilan. dan tidur.4. atau tertipu dengan yang lain. keyakinan dan penghormatan terhadap dasar tersebut yang akan menjaga dari kesalahan dan penyimpangan. -sebagaimana kami nasehatkan kepada al akh Mulsim. keluasan cakrawala berpikir. Komitmen dengan aturan dan adab-adab Islam dalam tata cara makan. minum. kesetiaan yang kuat yang tak dikotori oleh kepura-puraan dan pengkhianatan. oleh karena itu. Ketika Islam menetapkan kaidah-kaidah ini.” . Imam Syahid menyebutkan 4 sifat yang wajib dipenuhi untuk membangun kekuatan diri. kesempurnaan akhlak dan kesehatan badan.hendaklah selalu dalam kehalusan nurani. ia tidak hanya memperuntukkannya bagi kaum lakilaki dan meninggalkan kaum wanita. agar ia dipelihara oleh Allah dari ancaman pelbagai penyakit. Ukhti Muslimah. dengan pengetahuan terhadap dasar perjuangan. melainkan keduanya memiliki kedudukan sama dalam pandangan Islam. Sifat-sifat terbut adalah: “Kemauan yang keras yang tak tersentuh oleh kelemahan. dan beliau menjelaskan bahwa sifat-sifat tersebut merupakan nilai-nilai dasar dalam diri individu muslim dan umat Islam untuk bangkit mengemban dan memikul risalah dakwah.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->