Sejarah Agama islam di Indonesia | Kerajaan Cirebon

By admin on June 11th, 2009 Kesultanan Cirebon adalah sebuah kerajaan islam yang ternama di Jawa Barat. Kerajaan ini berkuasa pada abad ke 15 hingga abad ke 16 M. Letak kesultanan cirebon adalah di pantai utara pulau jawa. Lokasi perbatasan antara jawa tengah dan jawa barat membuat kesultanan Cirebon menjadi “jembatan” antara kebudayaan jawa dan Sunda. Sehingga, di Cirebon tercipta suatu kebudayaan yang khas, yaitu kebudayaan Cirebon yang tidak didominasi oleh kebudayaan Jawa maupun kebudayaan Sunda. Pada awalnya, cirebon adalah sebuah dukuh kecil yang dibangun oleh Ki Gedeng Tapa. Demikian dikatakan oleh serat Sulendraningrat yang mendasarkan pada naskah Babad Tanah Sunda. Lama-kelamaan cirebon berkembang menjadi sebuah desa yang ramai yang diberi nama caruban. Diberi nama demikian karena di sana bercampur para pendatang dari beraneka bangsa, agama, bahasa, dan adat istiadat. Karena sejak awal mata pecaharian sebagian besar masyarakat adalah nelayan, maka berkembanglah pekerjaan nenangkap ikan dan rebon (udang kecil) di sepanjang pantai, serta pembuatan terasi, petis dan garam. Dari istilah air bekas pembuatan terasi (belendrang) dari udang rebon ini berkembang sebutan cai-rebon (bahasa sunda : air rebon), yang kemudian menjadi cirebon. Dengan dukungan pelabuhan yang ramai dan sumber daya Alam dari pedalaman, cirebon menjadi salah satu pelabuhan penting di pesisir utara jawa. Dari pelaburan cirebon, kegiatan pelayaran dan perniagaan berlangsung antar-kepulauan nusantara maupun dengan bagian dunia lainnya. Selain itu, tidak kalah dengan kota-kota pesisir lainnya Cirebon juga tumbuh menjadi pusat penyebaran islam di jawa barat. Al kisah, hiduplah Ki gedeng Tapa, seorang saudagar kaya di pelabuhan Muarajati. Ia mulai membuka hutan, membangun sebuah gubuk pada tanggal 1 Sura 1358 (tahun jawa), bertepatan dengan tahun 1445 M. Sejak saat itu, mulailah para pendatang menetap dan membentuk masyarakat baru di desa caruban. Kuwu atau kepala desa pertama yang diangkat oleh masyarakat baru itu adalah Ki Gedeng Alang-alang. Sebagai pangraksabumi atau wakilnya, diangkatlah raden Walangsungsang. Walangsungsang adalah putra prabu Siliwangi dan Nyi Mas Subanglarang atau Subangkranjang, putri Ki Gedeng Tapa. Setelah ki gedeng alang-alang meninggal walangsungsang bergelar Ki Cakrabumi diangkat sebagai Kuwu pengganti ki Gedeng Alang-alang dengan gelar pangeran Cakrabuana. Ketika kakek ki gedeng Tapa meninggal, pangeran cakrabuana tidak meneruskannya, melainkan mendirikan istana Pakungwati, dan membentuk pemerintahan cirebon. Dengan demikian yang dianggap sebagai pendiri pertama kesultanan Cirebon adalah pangeran Cakrabuana (…. – 1479). Seusai menunaikan ibadah haji, cakrabuana disebut Haji Abdullah Iman, dan tampil sebagai raja Cirebon pertama yang memerintah istana pakungwati, serta aktif menyebarkan islam. Pada tahun 1479 M, kedudukan Cakrabuana digantikan oleh keponakannya. Keponakan Cakrabuana tersebut merupakan buah perkawinan antara adik cakrabuana, yakni Nyai Rarasantang, dengan Syarif Abdullah dari Mesir. Keponakan Cakrabuana itulah yang bernama Syarif Hidayatullah (1448 – 1568 M). Setelah wafat, Syarif Hidayatullah

Ia lalu dimakamkan di bukit Girilaya. terjadi kekosongan penguasa. Kuningan. panembahan Girilaya adalah juga menantu Sultan Agung Hanyakrakusuma. tahta jatuh kepada cucu Sunan Gunung Jati. Pejabat tersebut adalah Fatahillah atauFadillah Khan. atau juga bergelar ingkang Sinuhun Kanjeng Jati Purba Penetep Panatagama Awlya Allah Kutubid Jaman Khalifatura Rasulullah. para sultan Gunung Jati. sedangkan putra yang masih hidup. Fatahillah kemudian naik tahta. Pada masa pemerintahan Panembahan Girilaya. dengan posisi sejajar dengan makam sultan Agung di Imogiri. karena ia meninggal pada 1570. Pertumbuhan dan perkembangan kesultanan Cirebon yang pesat dimulai oleh syarif Hidayatullah. Putra Pengeran Pasarean. Pangeran Martawijaya dan Pangeran Kartawijaya. serta menyebar islam di majalengka.dikenal dengan nama sunan Gunung Jati. kawali Galuh. cucu syarif hidayatullah. Pada mulanya. karena ayahnya yaitu panembahan Adiningkusumah meninggal dunia terlebih dahulu. Sultan ageng tirtayasa segera dinobatkan pangeran Wangsakerta sebagai pengganti panembahan Girilaya. atas tanggung jawab pihak Banten. Di lain pihak. yaitu pangeran Emas. Kedua. Dengan bantuan Trunajaya. Kosongnya kekuasaan itu kemudian diisi dengan mengukuhkan pejabat istana yang memegang kenali pemerintahan selama syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati melaksanakan Dakwah. yaitu sultan Hasanuddin (pangeran Sabakingkin). Selanjutnya. Bersamaan dengan meninggalnya panembahan Girilaya. karena panembahan Girilaya dan Sultan Ageng dari banten adalah sama-sama keturunan pajajaran. Ia kemudian diyakini sebagai pendiri dinasti kesultanan cirebon dan banten. terjadilah kekosongan jabatan pimpinan tertinggi kerajaan Islam cirebon. Fatahillah adalah menantu Sunan Gunung Jati (Fatahillah menikah dengan Ratu Ayu. sebab cirebot dianggap mendekat ke mataram. yaitu Pangeran Pasarean. Kondisi panas ini memuncak dengan meninggalnya panembahan Girilaya saat berkunjung ke Kartasura. Cirebon terjepit di antara dua kekuatan. Namun. dan Banten. Setelah Syarif Hidayatullah wafat pada tahun 1568. calon kuat penggantinya adlah pangeran Dipati Carbon. secara resmi menjadi sultan cirebon sejak tahun 1568. dan dibawa kembali . dan memerintah cirebon selama kurang lebih 79 tahun. pangeran Jayakelana. Sultan ageng tirtayasa pun kemudian mengirimkan pasukan dan kapal perang untuk membantu trunajaya. yaitu kekuatan Banten dan kekuatan mataram. putri sunan Gunung Jati). Pangeran dipati carbon meninggal lebuh dahulu pada tahun 1565. dan pangeran Bratakelana. dan telah menunjukkan kemampuannya dalam memerintah Cirebon (1546 – 1568) mewakili Sunan Gunug Jati. yakni para putra panembahan Girilaya di tahan di mataram. pemerintahan kesultanan Cirebon dilanjutkan oleh cucunya yang bernama pangeran Karim. Dengan kematian panembahan Girilaya. Setelah panembahan ratu I meninggal pada tahun 1649. Sayang. meninggal lebih dahulu. memerintah di Banten berdiri sendiri sejak tahun 1552 M. Naiknya Fatihillah dapat terjadi karena dua kemungkinan pertama. Perlu diketahui. Gogyakarta. hanya dua tahun Fatahillah menduduki tahta Cirebon. maka kedua putra penembahan Girilaya yang ditahan akhirnya dapat dibebaskan. Pangeran emas kemudian bergelar panembahan ratu I. Banten curiga. pangeran karim dikenal dengan sebutan Panembahan Ratu II atau panembahan Girilaya. mataram pun menuduh cirebon tidak lagi sungguhsuingguh mendekatkan diri. yang pada saat itu sedang memerangi Amangkurat I dari mataram. Sepeninggal Fatahillah. Sunda Kelapa.

M. Hariwijaya. keduanya dilantik menjadi sultan Cirebon di Ibukota banten. yaitu agar putra dan para pengganti raja Kanoman tidak berhak atas gelar sultan. Sesudah kejadian tersebut. dengan gelar Sepuh Abi Makarimi Muhammad Samsudin (1677 – 1703) 2. di Kesultanan Cirebon bertambah satu penguasa lagi. Sebab. Kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara. mereka kemudian dinobatkan sebagai penguasa kesultanan Cirebon. pemerintah kolonial belanda pun semakin ikut campur dalam mengatur Cirebon.ke Cirebon. dan pangeran wangsakerta. S. Puncaknya terjadi pada tahun-tahun 1906 dan 1926. Cukup dengan gelar pangeran saja. Pangeran Martawijaya atau sultan Kraton Kasepuhan. Panembahan Girilaya memiliki tiga putra. melainkan hanya panembahan. dengan gelar Sultan Anom Abil Makarimi Muhammad Badrudin (1677 – 1723) 3. dengan gelar pangeran Abdul Kamil Muhammad Nasarudin atau Panembahan Tohpati (1677 – 1713) Perubahan gelar dari “panembahan” menjadi “sultan” bagi dua putra tertua pangeran girilaya dilakukan oleh Sultan Ageng Tirtayasa. pangeran Kartawijaya. yaitu tempat belajar para ilmuwan keraton. dan keraton masing-masing. S. sehingga peranan istana-istana kesultanan Cirebon di wilayah-wilayah kekuasaannya semakin surut. . kesultanan cirebon terpecah menjadi tiga. yakni : 1. ingin memisahkan diri membangun kesultanan sendiri dengan nama kesultanan Kacirebonan. yaitu pangeran murtawijaya. Ia tidak memiliki wilayah kekuasaan atau keraton sendiri. sampai pada masa pemerintahan Sultan Anom IV (1798 – 1803). Pergantian kepemimpinan para sultan di cirebon selanjutnya berjalan lancar. Saat itu terjadilah pepecahan karena salah seorang putranya. Kehendak raja kanoman didukung oleh pemerintah belanda yang mengangkatnya menjadi Sultan Cirebon pada tahun 1807. mereka mempunyai wilayah kekuasaan penuh. yaitu pangeran raja kanoman. M. Bersama satu lagi putra panembahan Girilaya. Sebagai sultan.S. ketika kekuasaan pemerintahan kesultanan Cirebon secara resmi dihapuskan dengan pengesahan berdirinya Kota Cirebon. rakyat. akan tetapi berdiri sebagai kaprabonan (paguron). Sejak saat itu. Sementara tahta sultan Kanoman V jatuh pada putra Sultan Anom IV lain bernama Sultan Anom Abusoleh Imamuddin (1803 – 1811). yaitu kesultanan Kacirebonan. Pangeran Kartawijaya atau Sultan Kanoman. Pangeran Wangsakerta atau Panembahan Cirebon. Ketiga bagian itu dipimpin oleh tiga anak panembahan Girilaya..i. Adapun pangeran wangsakerta tidak diangkat sebagai Sultan. Pada penobatan ketiganya di tahun 1677. namun belanda mengajukan satu syarat.

adat istiadat. petis. agama. cari Kesultanan Cirebon adalah sebuah kesultanan Islam ternama di Jawa Barat pada abad ke-15 dan 16 Masehi. dan merupakan pangkalan penting dalam jalur perdagangan dan pelayaran antar pulau.Kesultanan Cirebon Dari Wikipedia bahasa Indonesia. dan mata pencaharian yang berbeda-beda untuk bertempat tinggal atau berdagang. membuatnya menjadi pelabuhan dan "jembatan" antara kebudayaan Jawa dan Sunda sehingga tercipta suatu kebudayaan yang khas. . bahasa. Dengan dukungan pelabuhan yang ramai dan sumber daya alam dari pedalaman. dan garam. Ia mulai membuka hutan ilalang dan membangun sebuah gubug dan sebuah tajug (Jalagrahan) pada tanggal 1 Syura 1358 (tahun Jawa) bertepatan dengan tahun 1445 Masehi. Cirebon pada awalnya adalah sebuah dukuh kecil yang dibangun oleh Ki Gedeng Tapa. Perkembangan awal [sunting] Ki Gedeng Tapa Ki Gedeng Tapa (atau juga dikenal dengan nama Ki Gedeng Jumajan Jati) adalah seorang saudagar kaya di pelabuhan Muarajati. ensiklopedia bebas Belum Diperiksa Langsung ke: navigasi. Dari istilah air bekas pembuatan terasi (belendrang) dari udang rebon inilah berkembanglah sebutan cai-rebon (Bahasa Sunda:. karena di sana bercampur para pendatang dari berbagai macam suku bangsa. Cirebon tumbuh menjadi cikal bakal pusat penyebaran agama Islam di Jawa Barat. mulailah para pendatang mulai menetap dan membentuk masyarakat baru di desa Caruban. yang lama-kelamaan berkembang menjadi sebuah desa yang ramai dan diberi nama Caruban (Bahasa Sunda: campuran). Cirebon. Sejak saat itu. Cirebon kemudian menjadi sebuah kota besar dan menjadi salah satu pelabuhan penting di pesisir utara Jawa baik dalam kegiatan pelayaran dan perdagangan di kepulauan Nusantara maupun dengan bagian dunia lainnya. air rebon) yang kemudian menjadi Cirebon. Selain itu. maka berkembanglah pekerjaan menangkap ikan dan rebon (udang kecil) di sepanjang pantai serta pembuatan terasi. Lokasinya di pantai utara pulau Jawa yang merupakan perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Barat. Sejarah Menurut Sulendraningrat yang mendasarkan pada naskah Babad Tanah Sunda dan Atja pada naskah Carita Purwaka Caruban Nagari. Mengingat pada awalnya sebagian besar mata pencaharian masyarakat adalah sebagai nelayan. yaitu kebudayaan Cirebon yang tidak didominasi kebudayaan Jawa maupun kebudayaan Sunda.

Ia mempunyai dua orang saudara seibu. melainkan lalu mendirikan istana Pakungwati dan membentuk pemerintahan di Cirebon. Ketika kakeknya Ki Gedeng Tapa yang penguasa pesisir utara Jawa meninggal. kedudukannya kemudian digantikan putra adiknya.ibunya). Putera pertama Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi dari istrinya yang kedua bernama SubangLarang (puteri Ki Gedeng Tapa). Sunan Gunung Jati kemudian diyakini . Posisinya digantikan oleh adiknya. Pangeran Cakrabuana. tampil sebagai "raja" Cirebon pertama yang memerintah dari keraton Pakungwati dan aktif menyebarkan agama Islam kepada penduduk Cirebon. sementara saat itu (abad 16) ajaran agama mayoritas di Pajajaran adalah Sunda Wiwitan (agama leluhur orang Sunda) Hindu dan Budha. –1479) Pangeran Cakrabuana adalah keturunan Pajajaran. Nama kecilnya adalah Raden Walangsungsang. Nyai Rarasantang dari hasil perkawinannya dengan Syarif Abdullah dari Mesir. yaitu putra Prabu Siliwangi dan Nyi Mas Subanglarang atau Subangkranjang. Setelah Ki Gedeng Alang-alang wafat. yang dianggap sebagai pendiri pertama Kesultanan Cirebon adalah Walangsungsang atau Pangeran Cakrabuana. Dengan demikian. Sebagai Pangraksabumi atau wakilnya. anak laki-laki Prabu Siliwangi dari istrinya yang ketiga Nyai Cantring Manikmayang. Hal ini disebabkan oleh karena ia memeluk agama Islam (diturunkan oleh Subanglarang .[sunting] Ki Gedeng Alang-Alang Kuwu atau kepala desa Caruban yang pertama yang diangkat oleh masyarakat baru itu adalah Ki Gedeng Alang-alang. setelah remaja dikenal dengan nama Kian Santang. diangkatlah Raden Walangsungsang. dengan gelar Pangeran Cakrabuana. Sebagai anak sulung dan laki-laki ia tidak mendapatkan haknya sebagai putera mahkota Pakuan Pajajaran. yang usai menunaikan ibadah haji kemudian disebut Haji Abdullah Iman. [sunting] Sunan Gunung Jati (1479-1568) Pada tahun 1479 M. Pertumbuhan dan perkembangan yang pesat pada Kesultanan Cirebon dimulailah oleh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Masa Kesultanan Cirebon (Pakungwati) [sunting] Pangeran Cakrabuana (…. yang tak lain adalah puteri dari Ki Gedeng Tapa. Prabu Surawisesa. Walangsungsang yang juga bergelar Ki Cakrabumi diangkat menjadi penggantinya sebagai kuwu yang kedua. Walangsungsang tidak meneruskan kedudukan kakeknya. yakni Syarif Hidayatullah (1448-1568) yang setelah wafat dikenal dengan sebutan Sunan Gunung Jati dengan gelar Tumenggung Syarif Hidayatullah bin Maulana Sultan Muhammad Syarif Abdullah dan bergelar pula sebagai Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Jati Purba Panetep Panatagama Awlya Allah Kutubid Jaman Khalifatur Rasulullah. yaitu Nyai Lara Santang/ Syarifah Mudaim dan Raden Sangara.

Kabupaten Bantul. karena ayah Pangeran Rasmi yaitu Pangeran Seda ing Gayam atau Panembahan Adiningkusumah meninggal lebih dahulu. Banten merasa curiga sebab Cirebon dianggap lebih mendekat ke Mataram (Amangkurat I adalah mertua Panembahan Girilaya). Kawali (Galuh). Mataram dilain pihak merasa curiga bahwa Cirebon tidak sungguh-sungguh mendekatkan diri. pemerintahan dijabat oleh Fatahillah atau Fadillah Khan. cucu Sunan Gunung Jati. oleh karena tidak ada calon lain yang layak menjadi raja. Kondisi ini memuncak dengan meninggalnya Panembahan Girilaya di Kartasura dan ditahannya Pangeran Martawijaya dan Pangeran Kartawijaya di Mataram. yaitu Kesultanan Banten dan Kesultanan Mataram. dua tahun setelah Sunan Gunung Jati wafat dan dimakamkan berdampingan dengan makam Sunan Gunung Jati di Gedung Jinem Astana Gunung Sembung. Putra Pangeran Pasarean. [sunting] Panembahan Ratu I (1570-1649) Sepeninggal Fatahillah. karena Panembahan Girilaya dan Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten adalah sama-sama keturunan Pajajaran. Sunda Kelapa. Namun. Setelah Sunan Gunung Jati wafat. Panembahan Girilaya pada masa pemerintahannya terjepit di antara dua kekuatan kekuasaan. Kuningan. Pangeran Dipati Carbon meninggal lebih dahulu pada tahun 1565. Pada mulanya calon kuat pengganti Sunan Gunung Jati ialah Pangeran Dipati Carbon. [sunting] Panembahan Ratu II (1649-1677) Setelah Panembahan Ratu I meninggal dunia pada tahun 1649. Panembahan Girilaya adalah menantu Sultan Agung Hanyakrakusuma dari Kesultanan Mataram. Pangeran Emas kemudian bergelar Panembahan Ratu I dan memerintah Cirebon selama kurang lebih 79 tahun. di bukit Girilaya. pemerintahan Kesultanan Cirebon dilanjutkan oleh cucunya yang bernama Pangeran Rasmi atau Pangeran Karim. Fatahillah menduduki takhta kerajaan Cirebon hanya berlangsung dua tahun karena ia meninggal dunia pada tahun 1570. Makamnya di Jogjakarta. dekat dengan makam raja raja Mataram di Imogiri. dan memerintah Cirebon secara resmi menjadi raja sejak tahun 1568. terjadilah kekosongan jabatan pimpinan tertinggi kerajaan Islam Cirebon. Fatahillah kemudian naik takhta. dan Banten. takhta kerajaan jatuh kepada cucu Sunan Gunung Jati yaitu Pangeran Emas putra tertua Pangeran Dipati Carbon atau cicit Sunan Gunung Jati. Pangeran Rasmi kemudian menggunakan nama gelar ayahnya almarhum yakni Panembahan Adiningkusuma yang kemudian dikenal pula dengan sebutan Panembahan Girilaya atau Panembahan Ratu II.sebagai pendiri dinasti raja-raja Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Banten serta penyebar agama Islam di Jawa Barat seperti Majalengka. [sunting] Fatahillah (1568-1570) Kekosongan pemegang kekuasaan itu kemudian diisi dengan mengukuhkan pejabat keraton yang selama Sunan Gunung Jati melaksanakan tugas dakwah. Menurut beberapa sumber di Imogiri maupun .

Pangeran Martawijaya. Sultan Ageng Tirtayasa kemudian mengirimkan pasukan dan kapal perang untuk membantu Trunojoyo. yaitu tempat belajar para intelektual keraton. Ia tidak memiliki wilayah kekuasaan atau keraton sendiri. sampai pada masa pemerintahan Sultan Anom IV (1798-1803). dimana kesultanan terpecah menjadi tiga dan masing-masing berkuasa dan menurunkan para sultan berikutnya. [sunting] Perpecahan I (1677) Pembagian pertama terhadap Kesultanan Cirebon. Sebagai sultan. dengan demikian terjadi pada masa penobatan tiga orang putra Panembahan Girilaya. dan keraton masing-masing. atas tanggung jawab pihak Banten. Pangeran Wangsakerta tidak diangkat menjadi sultan melainkan hanya Panembahan. di mana seorang sultan akan menurunkan takhtanya kepada anak laki-laki tertua dari permaisurinya. dengan gelar Sultan Sepuh Abil Makarimi Muhammad Samsudin (1677-1703) Sultan Kanoman. sebagai Panembahan Cirebon dengan gelar Pangeran Abdul Kamil Muhammad Nasarudin atau Panembahan Tohpati (1677-1713). Sultan Anom. Terpecahnya Kesultanan Cirebon Dengan kematian Panembahan Girilaya. Sultan Ageng Tirtayasa segera menobatkan Pangeran Wangsakerta sebagai pengganti Panembahan Girilaya. Jika tidak ada. Perubahan gelar dari Panembahan menjadi Sultan bagi dua putra tertua Pangeran Girilaya ini dilakukan oleh Sultan Ageng Tirtayasa. suksesi kekuasaan sejak tahun 1677 berlangsung sesuai dengan tradisi keraton. rakyat. Jika terpaksa. akan dicari cucu atau cicitnya. karena keduanya dilantik menjadi Sultan Cirebon di ibukota Banten. Pangeran Kartawijaya.Girilaya. maka orang lain yang dapat memangku jabatan itu sebagai pejabat sementara. mereka mempunyai wilayah kekuasaan penuh. yaitu Sultan Sepuh. Dengan demikian. [sunting] Perpecahan II (1807) Suksesi para sultan selanjutnya pada umumnya berjalan lancar. tinggi makam Panembahan Girilaya adalah sejajar dengan makam Sultan Agung di Imogiri. dimana terjadi perpecahan karena salah . yang saat itu sedang memerangi Amangkurat I dari Mataram. Dalam tradisi kesultanan di Cirebon. Ini merupakan babak baru bagi keraton Cirebon. akan tetapi berdiri sebagai kaprabonan (paguron). Dengan bantuan Trunojoyo. dengan gelar Sultan Anom Abil Makarimi Muhammad Badrudin (1677-1723) Pangeran Wangsakerta. dan Panembahan Cirebon pada tahun 1677. maka terjadi kekosongan penguasa. para penguasa Kesultanan Cirebon berikutnya adalah: • • • Sultan Keraton Kasepuhan. maka kedua putra Panembahan Girilaya yang ditahan akhirnya dapat dibebaskan dan dibawa kembali ke Cirebon untuk kemudian juga dinobatkan sebagai penguasa Kesultanan Cirebon.

dimana kekuasaan pemerintahan Kesultanan Cirebon secara resmi dihapuskan dengan disahkannya Gemeente Cheirebon (Kota Cirebon). pecahan dari Kesultanan Kanoman. Puncaknya terjadi pada tahuntahun 1906 dan 1926.seorang putranya. sehingga semakin surutlah peranan dari keraton-keraton Kesultanan Cirebon di wilayah-wilayah kekuasaannya. Sejak itu di Kesultanan Cirebon bertambah satu penguasa lagi. yang secara administratif masing-masing dipimpin oleh pejabat pemerintah Indonesia yaitu walikota dan bupati. Meskipun demikian keraton-keraton yang ada tetap menjalankan perannya sebagai pusat kebudayaan masyarakat khususnya di wilayah Cirebon dan sekitarnya. 1926 No. pemerintah Kolonial Belanda pun semakin dalam ikut campur dalam mengatur Cirebon. yang mencakup luas 1.000 jiwa (Stlb. untuk . Pada masa kemerdekaan.450 hektar. [sunting] Perkembangan terakhir Setelah masa kemerdekaan Indonesia. Kota Cirebon kembali diperluas menjadi 2. yaitu Kesultanan Kacirebonan. 370). antara Pangeran Raja Muhammad Emirudin dan Pangeran Elang Muhammad Saladin. Secara umum. dan yang terkemudian adalah Keraton Kacirebonan dan Keraton Kaprabonan. wilayah Kesultanan Cirebon tercakup dalam Kota Cirebon dan Kabupaten Cirebon. Sementara tahta Sultan Kanoman V jatuh pada putra Sultan Anom IV yang lain bernama Sultan Anom Abusoleh Imamuddin (1803-1811). Masa kolonial dan kemerdekaan Sesudah kejadian tersebut. 122 dan Stlb. ingin memisahkan diri membangun kesultanan sendiri dengan nama Kesultanan Kacirebonan. Pada awal bulan Maret 2003. Kesultanan Cirebon tidak lagi merupakan pusat dari pemerintahan dan pengembangan agama Islam. cukup dengan gelar pangeran. Umumnya. telah terjadi konflik internal di keraton Kanoman. wilayah Kesultanan Cirebon menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. yaitu Pangeran Raja Kanoman. Kehendak Pangeran Raja Kanoman didukung oleh pemerintah Kolonial Belanda dengan keluarnya besluit (Bahasa Belanda: surat keputusan) Gubernur-Jendral Hindia Belanda yang mengangkat Pangeran Raja Kanoman menjadi Sultan Carbon Kacirebonan tahun 1807 dengan pembatasan bahwa putra dan para penggantinya tidak berhak atas gelar sultan. sedangkan Keraton Kanoman sebagai istana Sultan Anom berdiri tahun 1622. Keraton Kasepuhan sebagai istana Sultan Sepuh dianggap yang paling penting karena merupakan keraton tertua yang berdiri tahun 1529. 1906 No.100 Hektar. dengan penduduk sekitar 20. Kesultanan Cirebon turut serta dalam berbagai upacara dan perayaan adat masyarakat dan telah beberapa kali ambil bagian dalam Festival Keraton Nusantara (FKN). Tahun 1942.

. Pelantikan kedua sultan ini diperkirakan menimbulkan perpecahan di kalangan kerabat keraton tersebut.pengangkatan tahta Sultan Kanoman XII.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful