P. 1
SARGA edisi Mei 2010.

SARGA edisi Mei 2010.

|Views: 1,087|Likes:
Volume XVI Edisi I Bulan Mei Tahun 2010

SARGA
Jurnal Ilmiah Fakultas Teknik Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Semarang
Pengembangan Pembelajaran Program Studi Arsitektur ~
Ir. Anwar, MT. Menggunakan E-learning Freebies Dalam Pembelajaran ~
Ir. Eko Nursanty, MT

Fakultas Teknik UNTAG Semarang

Penerbit : Lembaga Penerbitan Fakultas Teknik UNTAG SEMARANG

Kota dan Penyediaan Ruang Publik (Pengantar)~
Ir. Loekman Mohammadi MSc.

Peran Ruang Terbuka Hijau Kota Pada Ruang Publik Perkotaan ~
Ir. So
Volume XVI Edisi I Bulan Mei Tahun 2010

SARGA
Jurnal Ilmiah Fakultas Teknik Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Semarang
Pengembangan Pembelajaran Program Studi Arsitektur ~
Ir. Anwar, MT. Menggunakan E-learning Freebies Dalam Pembelajaran ~
Ir. Eko Nursanty, MT

Fakultas Teknik UNTAG Semarang

Penerbit : Lembaga Penerbitan Fakultas Teknik UNTAG SEMARANG

Kota dan Penyediaan Ruang Publik (Pengantar)~
Ir. Loekman Mohammadi MSc.

Peran Ruang Terbuka Hijau Kota Pada Ruang Publik Perkotaan ~
Ir. So

More info:

Published by: SARGA UNTAG Semarang on Apr 03, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/18/2013

pdf

text

original

Sections

Oleh : Ir. Anwar.MT

ABSTRAKSI

Arah pendidikan didasarkan kepada empat pilar pendidikan yang dicanangkan
oleh UNESCO (Education for the 21st

century), yaitu “learning to know”,
“learning to do”, “learning to live together”
dan “learning to be”. Segala wujud
gagasan atau ide yang diolah melalui proses analisis menjadi konsep atau teori
dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah harus dilanjutkan dalam proses
rancang bangun (perancangan arsitektur) atau desain dan rekayasa (engineering).
Pada hakekatnya proses desain adalah menata (“order”) melalui landasan
teori/konsep dan proses yang prosedural atau metodologis.

A. Orientasi Pendidikan

Terdapat pergeseran orientasi

pendidikan yang menuju kepada sistem

pembentukan “kemampuan belajar
sepanjang hidup
”. Oleh karena itu

teknologi pembelajaran perlu dirubah

sehingga

memungkinkan

adanya

pembekalan diri ke “mampu berpikir
serta “mampu mempelajari dan mampu
belajar hidup bersama
”, yang tujuannya

adalah pengenalan tentang keaneka

ragaman kebudayaan dan sikap

bertoleransi. Dalam hal ini dibutuhkan

lingkungan pembelajaran” yang kondusif

sehingga tercipta suasana dan cara-cara

pembelajaran yang kolaboratif, fleksible,

dan kontekstual dalam memecahkan

permasalahan bersama.

Dalam hal ini arah pendidikan

didasarkan kepada empat pilar pendidikan

yang dicanangkan oleh UNESCO

(Education for the 21st

century), yaitu

“learning to know”, “learning to do”,
“learning to live together”
dan “learning
to be”
.
Pengertian prinsip dari masing-
masing pilar dijabarkan sebagai berikut;

1) Learning to know

Tujuannya adalah untuk belajar

seumur hidup sebagai upaya

membangun kemampuan untuk

melihat, memahami, dan mencerap

informasi dan pengetahuan agar

wawasan terhadap “dunia sekitar

semakin membuka kesadaran untuk

mengembangkan

kemampuan

kerjasama dan komunikasi dengan

orang lain. Sasarannya agar tercipta

tata kehidupan yang lebih

bermartabat.

Dalam hal ini sumber-sumber informasi

baru sesuai dengan perkembangan

IPTEKS perlu selalu direspons melalui

keberagaman multimedia dan modus

pembelajaran dalam masyarakat yang

SARGA EDISI XVI Volume 1 Mei 2010

PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN PROGRAM STUDI ARSITEKTUR

2

berdasar pada “jejaring” (network

society).

Dengan demikian aspek penting

yang perlu dikembangkan adalah

metoda mengajar” dengan

unsur-unsur bahasa, komunikasi,

dan meningkatkan kemampuan

berpikir pada diri mahasiswa.

2) Learning to do

Adalah belajar bagaimana kita

bekerja dan bekerjasama dengan

orang lain. Dalam hal ini proses

pendidikan

ditujukan

untuk

memberi bekal kepada mahasiswa

untuk melakukan jenis-jenis

pekerjaan yang diperlukan dimasa

depan.

Kemampuan yang diperlukan

adalah “kompetensi pribadi” yang

diperoleh melalui gabungan antara

ketrampilan

(skill)

dan

pengetahuan (knowledge) dalam

proses

pembelajaran

yang

berprinsip pada “learning by
doing
” dan “doing by learning

dengan memperhatikan perilaku

sosial, inisiatif pribadi dan

keberanian mengambil resiko.

Dengan

demikian

arah

pembelajaran bukan hanya belajar

pada ketrampilan teknis, tetapi juga

pengembangan

diri

dengan

menekankan

materi

untuk

mengembangkan;

-

ketrampilan diri

-

ketrampilan bersertifikat

-

kerja fisik, kerja jasa

-

apresiasi terhadap aspek

ekonomi

-

kesiapan berkomunikasi

dalam membangun jaringan

3)

Learning to live together

Sasaran pembelajarannya ditujukan

untuk

mengantisipasi

meningkatnya perpecahan antar

etnis. Untuk itu yang penting

diperhatikan adalah bagaimanakah

kita dapat bekerja dan bekerjasama

dengan orang lain, serta mampu

meredakan konflik dan kekerasan

yang ada.

Dalam kaitan ini materi

pembelajaran perlu diarahkan pada

pengembangan

kemampuan

bekerjasama dan menghargai orang

lain. Artinya adalah membangun

ambang kohesi masyarakat dengan

mengembangkan sistem nilai inti

untuk pembentukan identitas

kewarganegaraan sebagai wahana

pembentukan budaya perdamaian.

Hal ini dipandang penting dalam

upaya

mengantisipasi

arus

informasi global terutama yang

mempunyai dampak negatif

(kekerasan, konflik etnis dsb).

Melalui

pendalaman

materi

pembelajaran mahasiswa diajak

untuk memahami keanekaragaman

manusia,

kebutuhan

dan

SARGA EDISI XVI Volume 1 Mei 2010

PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN PROGRAM STUDI ARSITEKTUR

3

perilakunya, saling ketergantungan

antar manusia, semangat empati

dan solidaritas, serta pengakuan

atas hak-hak orang lain.

4) Learning to be

Arahnya adalah bagaimanakah

mengembangkan diri, eksistensi

dan karisma diri dalam kehidupan

kelompok. Untuk itu proses

pembelajaran diarahkan agar dalam

diri mahasiswa terbentuk idealisme

yang sarat dengan muatan aspek

spiritualitas,

imajinasi

dan

kreativitas yang berguna dalam

menempatkan

dirinya

pada

lingkungan masyarakat.

Dalam hal ini, pendidikan sebagai

alat pelatihan kepribadian harus

merupakan proses yang bersifat

pribadi sekaligus pada saat yang

sama merupakan pengalaman

interaksi sosial.

Metoda

pembelajaran

perlu

dikembangkan untuk membantu

mahasiswa mengembangkan cara

berpikir dan mengambil keputusan

yang bebas dan kritis sehingga

mereka dapat menentukan sendiri

aktifitas terbaiknya dalam berbagai

kondisi yang berbeda selama

hidupnya. Tujuannya adalah

pemenuhan kebutuhan manusia

secara menyeluruh meliputi

kekayaan

kepribadiannya,

kompleksitas bentuk ekspresinya,

dan berbagai komitmennya sebagai

pribadi, anggota keluarga, anggota

masyarakat, serta sebagai warga

negara.

Bidang Ilmu (Domain of Knowledge)

1.

Pemahaman Pengertian
Arsitektur

Memahami

arsitektur

dapat

dilakukan dengan cara melihatnya sebagai

suatu produk dan sebagai suatu
proses. Arsitektur adalah lingkungan
buatan yang dibuat oleh arsitek guna

mengatasi permasalahan pembangunan

pada jamannya. Rumusan tunggal

mengenai arsitektur adalah hal yang
ahistory”, karena dari jaman-ke jaman
peran dan pengertian arsitek dan arsitektur

selalu dirumuskan ulang. Beberapa

pengertian arsitektur disampaikan oleh

para pakar di bidang arsitektur, seperti;

1)

Auguste Perret (dalam Jurgen,

Joedick, 1963)

Architecture is the art of organizing

space.

2)

Eugene Ruskin (dalam Jurgen

Joedick, 1963)

Architecture mirrors the various

aspects of our lifes, social economic,

spiritual. Architecture is a statement

of society’s pattern.

3)

Le Corbusier (Louis Hellman,

1994)

Architecture is the masterly, correct

and magnificent play of masses

brought together in light.

4)

Mies Van der Rohe (Louis

Hellman, 1994)

SARGA EDISI XVI Volume 1 Mei 2010

PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN PROGRAM STUDI ARSITEKTUR

4

Architecture is the epoch translate

into space.

5)

Mario G. Salvadori (Curt Siegel,

1964)

Architecture is an art, science, human

beings, material, politic and money.

Dari beberapa pengertian tersebut

di atas menunjukkan bahwa dalam

mewujudkan arsitektur dilakukan proses

aktif berupa perancangan yang di dalamnya

memuat aspek-aspek; seni dan estetika,

teknologi, serta fungsi. Senada dengan

pendapat tersebut, pakar lain menyatakan

seperti yang tersaji dalam tabel berikut;

Vitruvius

Polio

(100 AD)

Alexander

Wotton

(1642)

Walter

Gropius

(Bauhaus,

1920)

Christian

Norberg

Schultz

(1970)

Utilitas Commodity Function Building

Task

Venustas

Delight

Expression

Form

Firmistas Firmness

Technics Technics

Dalam hal ini unsur-unsur fungsi,

ekspresi bentuk dan estetika, serta teknik
dan teknologi
yang menciptakan kekuatan

dalam sosok arsitektur merupakan unsur-

unsur pokok yang perlu diperhatikan

dalam proses perancangan.

Kegiatan perancangan dalam

pengembangannya merupakan kegiatan

kreativitas yang mendasarkan pada

metoda-metoda

perancangan

guna

menghasilkan karya arsitektur yang

memenuhi kebutuhan, memiliki nilai

manfaat, dan memperhatikan kemungkinan

perkembangan pada masa yang akan

datang, serta mengarah kepada keselarasan

nafas alam. Hal itu ditujukan untuk

memberikan kepuasan kepada para

pemakainya (owner and user), serta dalam

upaya

mewujudkan

tercapainya

perancangan

yang

berkelanjutan

(sustainable design).

Kegiatan perancangan dengan

metoda/cara berfikir telah banyak

dikembangkan, yang salah satunya

dilakukan oleh Nigel Cross (Designerly

Ways of Knowing, 1982) yang mengubah
“budaya ganda” (two cultures, oleh
CP.Snow, 1959) menjadi “budaya tiga”

(three cultures). Adapun konsep tersebut

tersaji dalam tabel berikut;

Aspek

Ways of

Knowing

Pokok

Bahasan

Cara/

Metoda

Pusat Perhatian

Scientificall

y

(pengetahua

n)

Alam

Analisis Truth

(kebenaran)

Scholarly

(kepujangga

an)

Pengalam

an

Relation

al

Justice

(keadilan)

Designerly

(perancanga

n)

Benda

buatan

Sintesis - Fitness (kuat)

- Adaptation

(adaptasi)

- Appropriatten

ess

(kecocokan)

Dalam kaitannya dengan konsep

tersebut, dituntut terwujudnya sosok

arsitek sebagai pemikir dan penggagas ide

yang memiliki kemampuan dalam

mengantisipasi

permasalahan

SARGA EDISI XVI Volume 1 Mei 2010

PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN PROGRAM STUDI ARSITEKTUR

5

pembangunan secara cerdik dan arif.

Arsitek harus arif, sehingga karya yang

dihasilkannya mempunyai muatan sosial-

kemanusiaan (ingat istilah Romo Mangun;

Vasthu-Vidya). Dalam pengertiannya

sebagai vasthu-vidya tersirat tentang unsur

kebenaran yang lengkap sebagai dasar
dalam merealisasi “dharma”-nya. Ilmu
yang dimilikinya dimanfaatkan sebagai

alat untuk menyantuni alam dan

lingkungan.

2.

Arsitektur sebagai IPTEKS

Penerapan IPTEKS “Arsitektur”
ditujukan agar memiliki sifat “produktif
dan “untuk melayani masyarakat”. Itulah

sebabnya

IPTEKS

Arsitektrur

dikelompokkan ke dalam “Ilmu positif
atau praktis
” yang terdiri atas dua faktor

penting, yaitu;

a.

Normatif, dengan tujuan untuk
menentukan kriteria yang ideal,

b.

Profesional, dengan tujuan untuk
menerapkan

ilmu

dalam

pemenuhan kebutuhan hidup nyata.

Proses

belajar-mengajar

diselenggarakan melalui dua proses yang

berjalan secara paralel. Melalui

Perkuliahan dipelajarai pengenalan,
pemahaman, dan ungkapan atau

pernyataan formal yang disebut “teori”.
Sedangkan dengan proses “studio

dilakukan

pelatihan

ketrampilan

menerapkan IPTEKS ke dalam karya

arsitektural.

Walaupun tidak hanya analisis

yang menjadi tujuan suatu teori, akan

tetapi sebagai dasar kemampuan

penguasaan ilmu pengetahuan “analisis

adalah paling dominan. Melalui proses

timbal-balik dan berdaur ulang dalam

kegiatan studio, pelatihan adalah

diutamakan

untuk

memperoleh

ketrampilan merancang atau desain yang

sifatnya lebih berupa “sintesis”. Tujuan

kegiatan perkuliahan dan studio adalah

agar terjadi sinergi IPTEKS khususnya

dalam

bidang

Arsitektur

guna

menyelaraskan

aspek

kinerja

fungsional/teknis/ teknologis dan aspek

perwujudan spasial dan rupa fisikal.

Pada

kenyataannya

proses

penerapan IPTEKS adalah berdaur, karena

penerapan unsur-unsur yang normatif dan

teoritis untuk diberlakukan sebagai

standar masih harus dikaji secara arif dan
bijaksana melalui proses pikir yang

filsafati. Secara logika pengkajian

ditujukan apakah hal tersebut masuk akal

atau tidak. Bahkan dalam proses

perwujudan

arsitektur,

pengkajian

didasarkan pula pada aspek ekologi, sosial

budaya, dan ekonomi.

Dalam

proses

pemaknaan
(interpretasi)
sebagai akumulasi dari
sumber teori maupun informasi kondisi

lapangan dan lain-lain sangat menentukan

hasil karena terdapat unsur-unsur obyektif

dan subyektif. Banyak proses yang

berlainan sehingga melahirkan desain yang

banyak alternatifnya. Namun demikian

masalah pokok bagi arsitek adalah

kemampuan dalam membuat pernyataan

SARGA EDISI XVI Volume 1 Mei 2010

PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN PROGRAM STUDI ARSITEKTUR

6

dalam interpretasinya melalui hasil

perancangan

yang

dapat

dipertanggungjawabkan

berdasarkan

responsibilitas moral, akontabilitas
profesional.

A. Pengetahuan Dasar Pendidikan
Arsitektur

Dalam upaya mengantisipasi

kondisi global dalam semua aspek

kehidupan, maka dunia pendidikan

arsitektur perlu segera mereformasi pola

dan proses pembelajaran serta teknologi

pembelajaran agar dapat memenuhi

kriteria dan standar IPTEKS yang

diberlakukan

secara

internasional.

Tujuannya adalah lulusan yang dihasilkan

dapat segera terserap dalam pasar kerja

baik dalam lingkup lokal, nasional,

maupun global.

Kriteria yang diberlakukan sebagai

dasar pengembangan IPTEKS Arsitektur

adalah standar dari ”Union Internationale
des Architectes”
(UIA), berupa 37 materi
pengetahuan dasar pendidikan arsitektur

sebagai berikut;

1)

Ketrampilan Verbal (Verbal Skills)

Kemampuan untuk berbicara dan

menulis secara efektif mengenai

materi dalam kurikulum profesional.

2)

Ketrampilan Grafis (Graphic

Skills)

Kemampuan untuk menggunakan

media presentasi yang tepat, termasuk

teknologi

komputer,

untuk

menyampaikan pada setiap tahapan

perancangan, unsur-unsur penting

dalam program bangunan serta

perancangan arsitektur dan urban.

3)

Ketrampilan Riset (Research

Skills)

Kemampuan untuk melakukan metoda

dasar pengumpulan data dan analisis

untuk menerangkan semua aspek

pemrograman dan proses perancangan.

4)

Ketrampilan Berpikir Kritis

(Critical Thinking Skills)

Kemampuan untuk membuat analisis

dan evaluasi menyeluruh dari sebuah

bangunan, kompleks bangunan atau

ruang urban.

5)

Ketrampilan Dasar Merancang

(Fundamental Design Skills)

Kemampuan untuk menerapkan

prinsip-prinsip dasar pengorganisasian

ruang, struktur dan konstruksi ke

dalam konsepsi dan pengembangan

ruang interior dan eksterior, unsur-

unsur serta komponen bangunan.

6)

Ketrampilan

Bekerjasama

(Collaborative Skills)

Kemampuan untuk mengidentifikasi

dan mengambil peran yang

memaksimalkan bakat individual, dan

kemampuan untuk bekerjasama

dengan mahasiswa lain ketika bekerja

dalam suatu tim perancangan.

7)

Perilaku

Manusia

(Human

Behavior)

Kepekaan terhadap teori dan metoda

perancangan

yang

bertujuan

memperjelas hubungan antara perilaku

manusia dan lingkungan fisik.

8)

Keragaman Manusia (Human

Diversity)

SARGA EDISI XVI Volume 1 Mei 2010

PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN PROGRAM STUDI ARSITEKTUR

7

Kepedulian

akan

keragaman

kebutuhan, nilai, etika, norma

perilaku, serta pola sosial dan spasial

yang

membedakan

berbagai

kebudayaan, dan implikasi dari

keragaman tersebut untuk menunjang

peran sosial dan tanggungjawab

arsitek.

9)

Sejarah dan Preseden (History and

Presedent)

Kemampuan membuat rasionalisasi

preseden bentuk dan program serta

mampu menerapkannya pada konsep

dan pengembangan proyek-proyek

arsitektur dan urban.

10) Tradisi Nasional dan Lokal

(National and Local Traditions)

Pemahaman tentang tradisi nasional

dan warisan lokal regional dalam

rancangan arsitektur, lansekap dan

urban, termasuk tradisi vernakular.

11) Tradisi Timur (Eastern Traditions)

Pemahaman tentang peraturan dan

tradisi Timur dalam perancangan

arsitektur, lansekap, dan urban, serta

faktor cuaca, teknologi, sosio-ekonomi

dan faktor-faktor lainnya yang telah

membentuk dan mempertahankannya.

12) Tradisi Barat (Western Traditions)

Kepekaan terhadap keseragaman

sekaligus keragaman aturan dan tradisi

perancangan arsitektur dan urban di

dunia Barat.

13) Pelestarian

Lingkungan

(Environmental Conservation)

Pemahaman tentang prinsip-prinsip

dasar ekologi dan tanggungjawab

arsitek dalam hubungannya dengan

pelestarian sumber daya dan

lingkungan dalam perancangan

arsitektur dan urban.

14) Aksesibilitas (Accessibility)

Kemampuan untuk merancang tapak

dan

bangunan

untuk

mengakomodasikan

kebutuhan

individu dengan kemampuan fisik

yang bermacam-macam.

15) Kondisi Tapak (Site Conditions)

Kemampuan untuk menjawab karakter

alam dan lingkungan buatan pada

tapak dalam pengembangan program

dan perancangan proyek.

16) Sistem Tata Bentuk (Formal

Ordering Systems)

Pemahaman tentang dasar-dasar

persepsi visual dan prinsip-prinsip

sistem tatanan pada rancangan dua dan

tiga dimensi, komposisi arsitektur dan

perancangan urban.

17) Sistem

Struktur

(Structural

Systems)

Pemahaman mengenai perilaku

struktur dalam menahan gravitasi dan

gaya-gaya lateral serta evolusi rentang

dan penerapan yang tepat dari sistem

struktur kontemporer.

18) Sistem

Penyelamatan

Pada

Bangunan (Building Life Safety

Systems)

Pemahaman mengenai prinsip-prinsip

dasar rancangan dan pemilihan sistem

dan subsistem penyelamatan pada

bangunan.

19) Sistem

Sampul

Bangunan

(Building Envelope Systems)

Pemahaman tentang prinsip-prinsip

rancangan sistem penutup luar

bangunan.

SARGA EDISI XVI Volume 1 Mei 2010

PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN PROGRAM STUDI ARSITEKTUR

8

20) Sistem

Lingkungan

Ruang

Bangunan (Building Environmental

Systems)

Pemahaman tentang prinsip-prinsip

dasar rancangan sistem struktur

bangunan,

sistem

lingkungan,

termasuk pencahayaan, akustik dan

pengkondisian ruang serta pemakaian

enerji.

21) Sistem Pelayanan Bangunan

(Building Service Systems)

Pemahaman tentang prinsip-prinsip

dasar rancangan sistem pelayanan

bangunan, termasuk pemipaan,

transportasi vertikal, komunikasi,

keamanan

dan

perlindungan

kebakaran.

22) Integrasi Sistem-sistem Bangunan

(Building Systems Integration)

Kemampuan untuk menilai, memilih

dan menyatukan sistem struktur,

sistem penutup bangunan, sistem

lingkungan,

pelayanan

dan

penyelamatan, ke dalam suatu

rancangan bangunan.

23) Tanggungjawab Hukum (Legal

Responsibilities)

Pemahaman tentang tanggungjawab

hukum bagi arsitek dalam kaitannya

dengan kesehatan, keselamatan dan

kesejahteraan

masyarakat;

hak

properti, aturan dalam zoning dan

subdivisi;

peraturan

bangunan,

aksesibilitas dan faktor-faktor lain

yang mempengaruhi rancangan

bangunan, konstruksi dan praktek

arsitektur.

24) Kepatuhan Terhadap Peraturan

Bangunan

(Building

Code

Compliance)

Pemahaman tentang persyaratan dan

peraturan bangunan, standar yang

dapat diterapkan pada tapak tertentu,

termasuk klasifikasi penggunaan,

tinggi dan luasan bangunan yang

diijinkan, tipe konstruksi yang

diijinkan, persyaratan pemisahan,

persyaratan

penggunaan,

alat

evakuasi, perlindungan kebakaran dan

struktur.

25) Bahan

Bangunan

dan

Pemasangannya

(Building

Materials and Assemblies)

Pemahaman tentang prinsip-prinsip

konvensi, standar-standar, aplikasi dan

batasan pembuatan, penggunaan dan

pemasangan bahan-bahan bangunan.

26) Ekonomi

Bangunan

dan

Pengendalian Biaya (Building

Economics and Cost Control)

Kepekaan terhadap dasar-dasar

pembiayaan bangunan, ekonomi

bangunan dan pengendalian biaya

konstruksi dalam kerangka proyek

perancangan.

27) Pengembangan Detail Rancangan

(Detailed Design Development)

Kemampuan untuk menilai, memilih,

menyusun dan merinci sebagai suatu

bagian utuh perancangan, serta

menyusun dengan tepat bahan dan

komponen bangunan untuk memenuhi

persyaratan program bangunan.

28) Dokumentasi Grafis (Graphic

Documentation)

Kemampuan untuk membuat deskripsi

teknis yang akurat dan dokumentasi

SARGA EDISI XVI Volume 1 Mei 2010

PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN PROGRAM STUDI ARSITEKTUR

9

suatu proposal perancangan untuk

tujuan penilaian dan konstruksi.

29) Perancangan

Menyeluruh

(Comprehensive Design)

Kemampuan untuk menghasilkan

sebuah proyek arsitektur diawali

dengan program yang menyeluruh

sejak rancangan skematik hingga

pengembangan detail termasuk

program ruang, sistem struktur dan

lingkungan,

perlengkapan

penyelamatan, dinding-dinding dan

elemen bangunan, serta untuk menilai

hasil akhir proyek itu sesuai dengan

kriteria perancangan.

30) Penyiapan Program (Program

Preparation)

Kemampuan

untuk

menyusun

program komprehensif untuk proyek

perancangan arsitektur, termasuk

menilai kebutuhan pemberi tugas,

telaah kritis mengenai presentasi

bentuk, inventarisasi ruang dan

persyaratan peralatan, definisi kriteria

pemilihan tapak, analisis kondisi

tapak, telaah hukum dan standar-

standar yang berlaku, penilaian

implikasi

unsur-unsur

tersebut

terhadap proyek, serta definisi kriteria

penilaian perancangan.

31) Konteks Hukum Praktek Arsitektur

(The Legal Context of Architecture

Practice)

Kepekaan terhadap berkembangnya

konteks hukum tempat arsitek

berpraktek, dan hukum-hukum yang

berkaitan

dengan

registrasi

profesional, kontrak jasa profesional

serta pembentukan usaha jasa

perancangan.

32) Organisasi dan Manajemen Praktek

(Practice Organization and

Management)

Kepekaan terhadap prinsip-prinsip

dasar

organisasi

kantor;

kepemimpinan, rencana usaha,

pemasaran, negosiasi dan manajemen

keuangan,

sebagaimana

dapat

ditetapkan pada praktek arsitektur.

33) Dokumentasi

dan

Kontrak

(Contracts and Documentation)

Kepekaan terhadap berbagai metoda

penyelesaian proyek, format kontrak

jasa yang sesuai, dan tipe dokumentasi

yang diperlukan untuk memberikan

jasa profesional yang kompeten dan

bertanggungjawab.

34) Pemagangan

(Professional

Internship)

Pemahaman

mengenai

peran

pemagangan dalam pengembangan

profesional, serta hak-hak dan

tanggungjawab

silang

antara

pemagang dan pembimbing.

35) Penghayatan

Peran

Arsitek

(Breadth of the Architect’s Role)

Kepekaan terhadap pentingnya peran

arsitek dalam insepsi proyek

perancangan dan pengembangan

rancangan, administrasi kontrak,

termasuk pemilihan dan koordinasi

disiplin ilmu lain, evaluasi setelah

penggunaan dan manajemen fasilitas.

36) Kondisi Masa Lalu dan Akan

Datang (Past and Present

Conditions for Architecture)

Pemahaman tentang perubahan-

perubahan yang terjadi karena

pengaruh sosial, politik, teknologi, dan

SARGA EDISI XVI Volume 1 Mei 2010

PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN PROGRAM STUDI ARSITEKTUR

10

ekonomi -masa lalu dan masa kini-

atas peran arsitek terhadap lingkungan

binaan.

37) Etika dan Penilaian Profesional

(Ethics

and

Professional

Judgement)

Kepekaan terhadap masalah etika

dalam pengambilan keputusan yang

profesional dalam praktek dan

perancangan arsitektur.

B. STUDIO PERANCANGAN
ARSITEKTUR

Segala wujud gagasan atau ide

yang diolah melalui proses analisis

menjadi konsep atau teori dan dapat

dipertanggungjawabkan secara ilmiah

harus dilanjutkan dalam proses rancang

bangun (perancangan arsitektur) atau

desain dan rekayasa (engineering). Pada

hakekatnya proses desain adalah menata

(“order”) melalui landasan teori/konsep

dan proses yang prosedural atau

metodologis.

Sebelum

hasil

rancangan

dinyatakan “final” atau selesai masih perlu

dikaji terhadap validitas peraturan-

peraturan dan hukum perundangan yang

terkait dengan keberadaan arsitektur

tersebut, termasuk dalam hal ini adalah

analisis terhadap dampak lingkungan,

peraturan pembangunan dsb.

Diskusi dan praktek studio

merupakan proses berdaur ulang guna

memperoleh kristalisasi atau optimalisasi

pemikiran dalam penciptaan karya

arsitektural.

Studio

perancangan

diprogramkan sebagai simulasi tempat

kerja arsitek (profesional), sedangkan

kegiatannya menjadi tulangan pokok

(dalam istilah “fish bone”) yang didukung

oleh teori-teori dari kegiatan perkuliahan.

Terdapat tiga masalah pokok yang

menjadi faktor perancangan arsitektural

atau obyek studi, yaitu bentuk, teknik,

dan fungsi (lihat pengertian arsitektur),

namun secara bertahap perhatian harus

difokuskan kepada aspek “bentuk” sebagai

bahan latihan awal, berikutnya bentuk

dipadukan dengan aspek teknik, dan

selanjutnya dapat secara bersamaan

diwujudkan karya arsitektur sebagai

sinergi dari aspek-aspek bentuk, teknik,

dan fungsi.

Studio arsitektur merupakan tempat

mahasiswa menekuni dan berpikir dengan

berbagai variasi dan kombinasi IPTEKS –

filsafat – seni. Di dalam kegiatan studio

arsitektur tersebut mahasiswa dilatih dan

dibimbing oleh dosen-dosen yang

bertindak selaku fasilitator sekaligus nara

sumber guna mengasah pengetahuan,

ketrampilan dan nilai-nilai dari aspek

arsitektural secara terencana yang

dikembangkan dalam diri mahasiswa

melalui latihan, interaksi dengan sesama

mahasiswa maupun dengan dosen.

Latihan-latihan dan diskusi-diskusi

yang dilakukan dalam studio secara

bertahap

akan

mengembangkan/membentuk suatu konsep

arsitektural dalam pikiran mahasiswa.

Latihan dalam studio juga ditujukan untuk

menyeimbangkan

ketrampilan

tangan/grafis (aspek psikomotoris)

SARGA EDISI XVI Volume 1 Mei 2010

PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN PROGRAM STUDI ARSITEKTUR

11

dengan pikiran (aspek kognitif) serta

pengembangan pengetahuan terhadap

pengertian akan arsitektur (aspek afektif).

A. TANTANGAN

1.

Bidang ilmu arsitektur berpokok

pada aspek perancangan atau

desain menyangkut pada dua hal,

yaitu pendalaman teori dan praktek

studio,

2.

Pendalaman teori ditujukan sebagai

wahana

pembekalan

agar

mahasiswa

dapat

mengerti,

memahami, dan menghayati

berbagai

pengetahuan

dan

wawasan sebagai alat untuk

memecahkan

masalah

perancangan, sebagai alat untuk

menguji hasil perancangan, serta

sebagai wahana pengembangan

kemampuan berpikir spasial dan

arsitektural.

3.

Praktek studio merupakan wahana

pelatihan ketrampilan perancangan

arsitektur, dengan penguasaan

berbagai jenis metoda pemecahan

permasalahan

perancangan,

kemampuan menghasilkan konsep

pemecahan, dan kemampuan

mengambil keputusan dalam proses

perancangan arsitektural.

4.

Di dalam studio itulah mahasiswa

dilatih berfikir, menekuni dan

mengenali masalah, menganalisis

masalah dan mensintesakan

konsep-konsep

perancangan

berdasarkan sistem proses secara

metodologis dan tematis.

5.

Teknologi pembelajaran diarahkan

agar dalam diri mahasiswa

terbentuk sikap dan kesadarannya

sebagai salah aktor pembangunan

yang menjunjung tinggi nilai-nilai

moral, etika profesi, dan kepatuhan

pada peraturan dan hukum yang

berlaku, serta kesadaran untuk

dapat saling bekerjasama.

6.

Teknologi pembelajaran juga

ditujukan agar mahasiswa memiliki

kemampuan-kemampuan

berkomunikasi secara verbal dan

tertulis, komunikasi representasi

grafis, model, maupun dengan

komputer.

7.

Peran dosen sebagai fasilitator

perlu membekali dirinya dengan

kecakapan yang memadai, sebagai

nara sumber yang memiliki

kelatifan

(cerdas),

sebagai

motivator yang memiliki jiwa

kepemimpinan, sebagai evaluator

yang memiliki sifat bijaksana dan

ketegasan, sebagai inovator yang

selalu mengikuti perkembangan

IPTEKS dan memiliki program

serta persiapan cukup dalam

menyampaikan

materi

perkuliahannya,

serta

menumbuhkan suasana belajar

yang kondusif.

SARGA EDISI XVI Volume 1 Mei 2010

PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN PROGRAM STUDI ARSITEKTUR

12

B. Bahan Bacaan

Budihardjo, Eko, 1997.
PERKEMBANGAN ARSITEKTUR
DAN PENDIDIKAN ARSITEK DI
INDONESIA. Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta.

Harold, Alexander,H, 1976. DESIGN,
CRITERIA FOR DECISIONS, Mac
Millan, New York.

Hellman, Louis, 1984. ARCHITECTURE
FOR BEGINNERS, Writes and
Readers Publishing Incorpored.

Joedick Jurgen, 1963. HISTORY OF
ARCHITECTURE, Praeger
Publisher.

Saliya, Yuswadi, 1998. KELEMBAGAAN
DAN PRANATA DALAM
ARSITEKTUR, Makalah Penataran,
Cisarua Bogor.

Snyder, JC dan Catanese AJ, 1994.
PENGANTAR ARSITEKTUR,

Erlangga Jakarta.

-----------, 2000. Makalah Lokakarya
Terbatas dan Seminar Nasional 50
tahun Pendidikan Arsitektur di
Indonesia, Bandung.

SARGA EDISI XVI Volume 1 Mei 2010

MENGGUNAKAN E-LEARNING FREEBIES DALAM PEMBELAJARAN

13

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->