BAB II PEMBAHASAN 2.

2 Latar Belakang Sosial Budaya Latar belakang sosial budaya merupakan landasan yang dapat memberikan pemahaman kepada konselor tentang dimensi kesosialan dan dimensi kebudayaan sebagai faktor yang mempengaruhi terhadap perilaku individu. Seorang individu pada dasarnya merupakan produk lingkungan sosialbudaya dimana ia hidup. Sejak lahirnya, ia sudah dididik dan dibelajarkan untuk mengembangkan pola-pola perilaku sejalan dengan tuntutan sosial budaya yang ada di sekitarnya. Kegagalan dalam memenuhi tuntutan sosial budaya dapat mengakibatkan tersingkir dari lingkungannya. Lingkungan sosial budaya yang melatar belakangi dan melingkupi individu berbeda-beda sehingga menyebabkan perbedaan pula dalam proses pembentukan perilaku dan kepribadian individu yang bersangkutan. Apabila perbedaan dalam sosial budaya ini tidak “dijembatani”, maka tidak mustahil akan timbul konflik internal maupun eksternal, yang pada akhirnya dapat menghambat terhadap proses perkembangan pribadi dan perilaku individu yang besangkutan dalam kehidupan pribadi maupun sosialnya. Dalam proses konseling akan terjadi komunikasi interpersonal antara konselor dengan klien, yang mungkin antara konselor dan klien memiliki latar sosial dan budaya yang berbeda. Pederson dalam Prayitno mengemukakan lima macam sumber hambatan yang mungkin timbul dalam komunikasi sosial dan penyesuain diri antar budaya, yaitu : perbedaan bahasa komunikasi non-verbal stereotipe kecenderungan menilai kecemasan.1 Kurangnya penguasaan bahasa yang digunakan oleh pihak-pihak yang berkomunikasi dapat menimbulkan kesalahpahaman. Bahasa non-verbal pun sering kali memiliki makna yang berbedabeda, dan bahkan mungkin bertolak belakang. Stereotipe cenderung menyamaratakan sifat-sifat individu atau golongan tertentu berdasarkan prasangka subyektif (social prejudice) yang biasanya tidak tepat.2 Penilaian terhadap orang lain disamping dapat menghasilkan penilaian positif tetapi tidak sedikit pula menimbulkan reaksi-reaksi negatif. Kecemasan muncul ketika seorang individu memasuki lingkungan budaya lain yang unsur-unsurnya dirasakan asing. Kecemasan yanmg berlebihan dalam kaitannya dengan suasana antar budaya dapat menuju ke culture shock, yang menyebabkan dia tidak tahu sama sekali apa, dimana dan kapan harus berbuat sesuatu. Agar komuniskasi sosial antara konselor dengan klien dapat terjalin harmonis, maka kelima hambatan komunikasi tersebut perlu diantisipasi.3 Terkait dengan layanan bimbingan dan konseling di Indonesia, Moh. Surya mengatakan tentang tren bimbingan dan konseling multikultural, bahwa bimbingan dan konseling dengan pendekatan multikultural sangat tepat untuk lingkungan berbudaya plural seperti Indonesia. Bimbingan dan konseling dilaksanakan dengan latar belakang berlandaskan semangat bhinneka tunggal ika, yaitu kesamaan di atas keragaman. Layanan bimbingan dan konseling hendaknya lebih berpangkal pada nilai-nilai budaya bangsa yang secara nyata mampu mewujudkan kehidupan yang harmoni dalam kondisi pluralistik.4 2.3 Latar Belakang Agama Dalam landasan agama, bimbingan dan konseling diperlukan penekanan pada 3 hal pokok:
1 Prayitno dan Erman Amti, Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling (Jakarta : Rineka Cipta, 2006) h. 32 2 Gerlald Corey.Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi (Terj. E. Koswara), Bandung : Refika, 2003 h. 135 3www.landasanBK.htm 4 Syamsu Yusuf dan A. Nurishan Juntika, Landasan Bimbingan dan Konseling, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2006) h. 57

menyikapi peningkatan iptek sebagai upaya lanjut dari penyeimbang kehidupan dunia dan akhirat. kecerdasan. Untuk menuju tercapainya pribadi yang berkembang. akan tetapi meliputi kegiatan yang menjamin bahwa setiap anak didik secara pribadi mendapat layanan sehingga akhirnya dapat berkembang secara optimal. budaya. Sikap keberagamaan tersebut pertama difokuskan pada agama itu sendiri. pendidikan diartikan sebagai suatu usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian yang berlangsung di sekolah maupun di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup. hedonistik. Sikap Keberagamaan Agama yang menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan akhirat menjadi isi dari sikap keberagamaan. nilai-nilainya harus diresapi dan diamalkan. Latar Belakang Pendidikan Sesuai dengan kebijaksanaan pemerintah. Sisi-sisi kemanusiaan tersebut tdiak boleh dibiarkan agar tidak mengarah pada hal-hal negatif. homo religius) Tantangan terhadap dimensi spiritualitas individu (dekadensi moral.Keyakinan bahwa mnusia dan seluruh alam adalah mahluk Tuhan Sikap yang mendorong perkembangan dan perikehidupan manusia berjalan kearah dan sesuai dengan kaidah-kaidah agama Upaya yang memungkinkan berkembang dan dimanfaatkannya secara optimal suasana dan perangkat budaya serta kemasyarakatan yang sesuai dengan kaidah-kaidah agama untuk membentuk perkembangan dan pemecahan masalah individu Latar belakang agama berkenaan dengan : Manusia sebagai Mahluk Tuhan Manusia adalah mahluk Tuhan yang memiliki sisi-sisi kemanusiaan. tidak dipaksakan dan tepat menempatkan klien sebagai seorang yang bebas dan berhak mengambil keputusan sendiri sehingga agama dapat berperan positif dalam konseling yang dilakukan agama sebagai pedoman hidup ia memiliki fungsi: Memelihara fitrah Memelihara jiwa Memelihara akal Memelihara keturunan Faktor agama dalam bimbingan dan konseling yang lainnya adalah: Individu sebagai makhluk Tuhan (fitrah sebagai khalifah dan hamba. Dengan demikian setiap kegiatan proses pendidikan diarahkan kepada tercapainya pribadi-pribadi yang berkembang optimal sesuai dengan potensi masing-masing. Kegiatan pendidikan yang diinginkan seperti tersebut di atas. Peranan Agama Pemanfaatan unsur-unsur agama hendaknya dilakukan secara wajar. jelas bahwa yang menjadi tujuan inti dari pendidikan adalah perkembangan kepribadian secara optimal dan setiap anak didik sebagai pribadi. memperkuat kepribadian. agama harus dipandang sebagai pedoman penting dalam hidup. . penyakit-penyakit hati. keterampilan. mempertinggi budi pekerti. maka kegiatan pendidikan hendaknya bersifat menyeluruh yang tidak hanya berupa kegiatan instruksional (pengajaran). agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa”. Kedua. Sedangkan tujuan pendidikan sebagaimana dikemukakan dalam GBHN adalah: “Untuk meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Dan pengertian dan tujuan di atas. dll) Pengaruh agama terhadap kesehatan mental. mempertebal semangat kebangsaan dan cinta tanah air. adalah kegiatan pendidikan yang ditandai dengan pengadministrasian yang baik. Perlu adanya bimbingan yang akan mengarahkan sisi-sisi kemanusiaan tersebut pada hal-hal positif.

pribadi yang tidak seimbang. Pendekatan pribadi ini diwujudkan melalui layanan bimbingan. FAKTA: Pendidikan belum sepenuhnya dapat membantu perkembangan kepribadian anak didik secara optimal. Untuk menuntaskan pendidikan. Demikian juga secara sosial ada kecenderungan anak didik belum memiliki kemampuan penyesuaian sosial secara memadai. ketergantungan. putus asa. Uraian di atas. lambat belajar. dan sekolah sebagai lembaga pendidikan. Pertama adalah aspek lingkungan.1991) h. kurang percaya pada diri sendiri. (Jakarta : PT Grasindo. yang secara langsung ataupun tidak langsung mempengaruhi individu siswa sebagai subjek didik.S. putus asa. Secara psikologis masih banyak adanya gejala-gejala perkembangan kepribadian yang kurang matang. maka individu memerlukan adanya bantuan dalam perkembangannya. Secara akademis masih nampak gejala bahwa anak didik belum mencapai prestasi belajar secara optimal. kekurang-percayaan masyarakat terhadap basil pendidikan. yaitu membantu setiap pribadi anak didik agar berkembang secara optimal. menjelaskan bahwa perlunya layanan bimbingan di sekolah adalah berlatarbelakangkan tiga aspek. dan sekolahpun memerlukan pendekatan khusus. maupun sosial. Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang dilaksanakan secara tuntas baik dalam proses kegiatannya maupun tindak dan para pelaksana nya yaitu guru sebagai pendidik. kurang responsif. berprestasi rendah. Hal ini mengandung implikasi bahwa proses pendidikan menuntut adanya pendekatan yang lebih luas dari pada sekedar pengajaran.kurikulum beserta proses belajar mengajar yang memadai. dan sebagainya. Winkel. Pendekatan yang dimaksud adalah pendekatan pribadi melalui layanan bimbingan dan konseling. sosial kultural. maka guru seyogyanya dapat menggunakan pendekatan pribadi dalam mendidik para siswanya. bersikap santai. pribadi yang tidak seimbang. bersikap santai. kurang responsif. Pertama adalah dilihat dan hakikat pendidikan sebagai suatu usaha sadar dalam mengembangkan kepribadian. Secara akademis masih nampak gejala bahwa anak didik belum mencapai prestasi belajar secara optimal pula. khususnya lingkungan. Sebagai akibat dari lingkungan pengaruh sosial-kultural ini. yaitu sebagai pendidik. kecemasan. Kalau kita menyimak kenyataan yang dihadapi dunia pendidikan di Indonesia pada umumnya. Sebagai pendidik. psikologis. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. pendidikan senantiasa berkembang secara dinamis dan karenanya selalu terjadi perubahan perubahan dan penyesuaian dalam komponen-komponennya. ketergantungan. Menghadapi perkembangan ini para siswa sebagai subjek didik memerlukan bantuan dalam penyesuaian diri melalui layanan bimbingan. Bantuan dan pendekatan yang diperlukan adalah layanan bimbingan dan konseling. Hal ini nampak antara lain dalam gejala-gejala: putus sekolah.5 Dalam hubungan inilah bimbingan mempunyai peranan yang amat penting dalam pendidikan. Ketiga pada hakikatnya guru mempunyai peranan yang tidak hanya sebagai pengajar. tinggal kelas.112 . Secara psikologis masih banyak adanya gejala-gejala perkembangan kepribadian yang kurang matang.tetapi lebih luas dari itu. kecemasan. Dengan demikian maka hasil pendidikan sesungguhnya akan tercermin pada pribadi anak didik yang berkembang baik secara akademik. 5 W. dan sebagainya. Kedua. Aspek yang kedua adalah lembaganya itu sendiri yaitu pendidikan yang mempunyai tanggung jawab untuk mengembangkan kepribadian subjek didik. masih terdapat kecenderungan bahwa pendidikan belum sepenuhnya dapat membantu perkembangan kepribadian anak didik secara optimal. kurang percaya pada diri sendiri. dan layanan pribadi kepada anak didik melalui bimbingan. dan sebagainya Ada tiga hal pokok yang menjadi latar belakang perlunya bimbingan dilihat dan segi pendidikan.

yang merupakan kebutuhan pilihan jenjang pendidikan yang tepat. melainkan hampir sebagian besar proses belajar mengajar termasuk BK (Bimbingan Konseling) atau Bimbingan Karier sudah bisa memanfaatkan teknologi tinggi ini. Perkembangan tersebut mempengaruhi sekolah sebagai lembaga pendidikan dan juga mempengaruhi siswa sebagai individu. yang merupakan pengembangan kemampuan. pedagogis. sikap dan minat serta perhatian individual. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa aspek lingkungan (sosial kultural) pendidikan. yang merupakan kebutuhan pilihan jurusan dan bidang studi yang tepat. Latar belakang psikologis. Dikemukakan pula. dan siswa (psikologis) merupakan latar belakang perlunya layanan bimbingan dan konseling di sekolah. meninggi: bertambahnya kesempatan dan kemungkinan untuk mencapai tingkat pendidikan yang lebih tinggi. dan hakikat peranan guru sebagai pendidik. bahwa perkembangan dalam bidang teknologi komunikasi menuntut kesiapan dan adaptasi konselor dalam penguasaan teknologi dalam melaksanakan bimbingan dan konseling. Ketiga hal di atas. Aspek ketiga adalah yang menyangkut segi subjek didik sebagai pribadi yang unik. Pengukuran dan evaluasi karakteristik individu. Dengan teknologi jaringan tersebut tidak hanya mata kuliah atau bidang studi saja yang bisa memanfaatkan teknologi tinggi ini. 6 www. Secara psikologis setiap siswa memerlukan adanya layanan yang bertitik tolak dari kondisi keunikan masing-masing. Latar belang pendidikan yang lainnya adalah sebagai berikut: Demokratisasi yang menyebabkan perkembangan pendidikan yang bersifat meninggi. dinamika dan perkembangan kepribadian. dinamik dan berkembang. dan mendalam. khususnya teknologi informasi berbasis komputer. dalam bentuk “cyber counseling”.bimbingan-dan-konseling. berhubungan dengan hakikat siswa sebagai pribadi yang unik. Bidang yang telah banyak memanfaatkan jasa komputer ialah bimbingan karier dan bimbingan dan konseling pendidikan.5 Latar Belakang Perkembangan IPTEK Bimbingan dan konseling merupakan ilmu yang bersifat multireferensial. sejak tahun 1980-an peranan komputer telah banyak dikembangkan dalam bimbingan dan konseling.6 2. Hal itu berkaitan erat dengan perlunya layanan pribadi para siswa dalam upaya mencapai perkembangan optimal.diperlu kan adanya layanan bimbingan dan konseling. meluas. memerlukan pendekatan dan bantuan yang khusus melalui layanan bimbingan dan konseling. Latar belakang pedagogis berhubungan dengan masalah hakikat pendidikan sebagai usaha mengembangkan kepribadian. Meluas: pembagian sekolah dalam berbagai jurusan khusus dan sekolah kejuruan. dan psikologis. biologi memberikan pemahaman tentang kehidupan kejasmanian individu. Sejalan dengan perkembangan teknologi. dalam upaya mencapai perwujudan diri. menuntut adanya layanan bimbingan dan konseling sebagai salah satu unsur dalam keseluruhan pendidikan di sekolah. Hal itu sangat penting bagi teori dan praktek bimbingan dan konseling. Mendalam: berkembangnya ruang lingkup dan keragaman serta pertumbuhan tingkat kerumitan tiap bidang studi. Perlunya layanan bimbingan dan konseling di sekolah tidak terlepas kaitannya dengan beberapa aspek yang menjadi latar belakangnya. Misalnya ilmu statistik dan evaluasi memberikan pemahaman dan tehnik-tehnik.html . dinamik dan berkembang. yaitu aspek sosial-kultural. artinya ilmu dengan rujukan berbagai ilmu yang lain. Hal ini bahwa sejalan dengan perkembangan teknologi komputer interaksi antara konselor dengan individu yang dilayaninya (klien) tidak hanya dilakukan melalui hubungan tatap muka tetapi dapat juga dilakukan melalui hubungan secara virtual (maya) melalui internet. Latar belakang sosial-kultural berhubungan dengan masalah perkembangan sosial yang juga erat kaitannya dengan perkembangan kebudayaan khususnya ilmu pengetahuan dan teknologi.

proses interaksi antara konselor dan klien bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja tanpa dibatasi ruang dan waktu. Terlepas dari itu semua apakah seorang konselor dalam hal ini Guru BK (Bimbingan dan Konseling) sudah siap dengan teknologi ini? Jika sudah siap maka kapan lagi kalau tidak dimulai dari sekarang. cara belajar dan menghadapi masalah sosial harus mampu diakses guru BK lewat berbagai cara. Sekolah ataupun lembaga wajib menyiapkan SDM calon guru BK agar kompetensinya relevan dengan kebutuhan masyarakat. Kondisi ini menuntut guru BK tak boleh ketingalan IPTEK. Informasi dunia kerja. karena banyak sarana. Terkait sasaran layanan makin kompleks. Lembaga ataupun sekolah harus selalu menyiapkan guru BK yang adaptif dengan perubahan iptek sehingga teori yang dipelajari relevan dengan tugas BK. sehingga tidak semua sekolah di Indonesia memberikan jam yang cukup untuk materi BK ini. 7 Ibid. Dengan demikian peran teknologi tinggi dalam dunia pendidikan khususnya Bimbingan dan Konseling sangat dibutuhkan untuk mendapatkan hasil yang sesuai dan maksimal.Seperti kita ketahui bahwa saat ini BK belum dikatakan materi. karena berbagai alasan. maka jangan harap apa yang disampaikan bisa mengenai sasarannya. Guru BK harus bisa menyelesaikan masalah di sekolah dan juga berperan di masyarakat maupun memecahkan masalah keluarga. Dengan argumen apapun jika waktu yang tersedia tidak cukup atau tidak sesuai seperti yang diharapkan. bahan dan sebagainya yang bisa kita dapatkan melali dunia maya tersebut.7 Salah satu tantangan guru BK yaitu dihadapi pilihan yang terus berubah (over choise). Guru BK di sekolah harus berkreasi mengatasi tantangan masa depan anak-anak yang makin kompleks.bimbingan-dan-konseling. Dengan demikian apakah dengan tidak tersedianya waktu yang cukup peran Guru BK akan berhasil? Siapapun pasti akan menjawab tidak. Para siswa sekarang lebih dahsyat lagi menerima pengaruh global. h.8 Dengan teknologi khususnya jaringan komputer baik Intranet maupun Internet proses belajar mengajar. diperlukan pelayanan BK yang profesional. Guru BK menjadi pendamping siswa guna membangun potensi. memotivasi belajar serta mencairkan faktor penghalang kemajuan siswa. Salah satu syarat pekerjaan profesional itu adanya komitmen menerapkan keahlian.htm . Oleh karena itu peranan teknolgi bisa menjawab kekurangan waktu tersebut.203 8 www.