BAB II TINJAUAN TEORI I.

PENGERTIAN Meningioma adalah tumor pada meninx, yang merupakan selaput pelindung yang melindungi otak dan medulla spinalis. Meningioma dapat timbul pada tempat manapun di bagian otak maupun, medulla spinalis, tetapi, umumnya terjadi di hemisphere otak di semua lobusnya. Kebanyakan meningioma bersifat jinak (benign). Meningioma malignant jarang terjadi 1.

Meningioma merupakan neoplasma intracranial nomor 2 dalam urutan frekuensinya yaitu mencapai angka 20%. Ia lebih sering dijumpai pada wanita daripada pria terutama pada golongan umur antara 50-60 tahun dan memperlihatkan kecenderungan untuk ditemukan pada beberapa anggota di satu keluarga. Korelasi dengan trauma kapitis kurang meyakinkan. Pada umumnya meningioma dianggap sebagai neoplasma yang berasal dari glioblas di sekitar vili arachnoid. Sel di medulla spinalis yang sebanding dengan sel tersebut ialah sel yang terletak pada tempat pertemuan antara arachnoid dengan dura yang menutupi radiks 1. Tempat predileksi di ruang cranium supratentorial ialah daerah parasagital. Yang terletak di krista sphenoid, parasellar, dan baso-frontal biasanya gepeng atau kecil bundar. Bilamana meningioma terletak infratentorial, kebanyakan didapati di samping medial os petrosum di dekat sudut serebelopontin. Meningioma spinalis mempunyai kecenderungan untuk memilih tempat di bagian T.4 sampai T.8. Meningioma yang bulat sering menimbulkan penipisan pada tulang tengkorak sedangkan yang gepeng justru menimbulkan hyperostosis 1. Meningioma dapat tumbuh di mana saja di sepanjang meningen dan dapat menimbulkan manifestasi klinis yang sangat bervariasi sesuai dengan bagian

otak yang terganggu. Sekitar 40% meningioma berlokasi di lobus frontalis dan 20% menimbulkan gejala sindroma lobus frontalis. Sindroma lobus frontalis sendiri merupakan gejala ketidakmampuan mengatur perilaku seperti impulsif, apati, disorganisasi, defisit memori dan atensi, disfungsi eksekutif, dan ketidakmampuan mengatur mood 1. II. EPIDEMOLOGI DAN INSIDEN Tumor ini mewakili 20% dari semua neoplasma intracranial dan 12 % dari semua tumor medulla spinalis. Meningioma biasanya jinak, tetapi bisa kambuh setelah diangkat. Tumor ini lebih sering ditemukan pada wanita dan biasanya muncul pada usia 40-60 tahun, tetapi tidak tertutup kemungkinan muncul pada masa kanak-kanak atau pada usia yang lebih lanjut.Paling banyak meningioma tergolong jinak(benign) dan 10 % malignant. Meningioma malignant dapat terjadi pada wanita dan laki-laki,meningioma benign lebih banyak terjadi pada wanita 2. III. ETIOLOGI Para ahli tidak memastikan apa penyebab tumor meningioma, namun beberapa teori telah diteliti dan sebagian besar menyetujui bahwa kromoson yang jelek yang meyebabkan timbulnya meningioma. Para peneliti sedang mempelajari beberapa teori tentang kemungkinan asal usul meningioma. Di antara 40% dan 80% dari meningiomas berisi kromosom 22 yang abnormal pada lokus gen neurofibromatosis 2 (NF2). NF2 merupakan gen supresor tumor pada 22Q12, ditemukan tidak aktif pada 40% meningioma sporadik. Pasien dengan NF2 dan beberapa non-NF2 sindrom familial yang lain dapat berkembang menjadi meningioma multiple, dan sering terjadi pada usia muda. Disamping itu, deplesi gen yang lain juga berhubungan dengan pertumbuhan meningioma 3. Kromosom ini biasanya terlibat dalam menekan pertumbuhan tumor. Penyebab kelainan ini tidak diketahui. Meningioma juga sering memiliki salinan tambahan dari platelet diturunkan faktor pertumbuhan (PDGFR) dan epidermis reseptor faktor pertumbuhan (EGFR) yang mungkin memberikan

menjadi endosteum(=periosteum). arachnoid dan piamater. ANATOMI Meninx adalah suatu selaput jaringan ikat yang membungkus enchepalon dan medulla spinalis. Lamina meningialis mempunyai permukaan yang licin dan dilapisi oleh suatu lapisan sel. Falxcerebri . Fungsi reseptor ini belum sepenuhnya dipahami. Terdiri dari duramater.araknoid dan piamater disebut leptomening 4 Dura mater terdiri dari jaringan fibrous yang kuat. sejarah payudara kanker. dan jarang estrogen. Meskipun peran tepat hormon dalam pertumbuhan meningioma belum ditentukan. peneliti telah mengamati bahwa kadang-kadang mungkin meningioma tumbuh lebih cepat pada saat kehamilan 2. IV. terdiri dari lamina meningialis dan lamina endostealis. lemak dan pleksus venosus. dan demikian. basis crania dan tepi foramen occipital magnum. Multiple meningiomas terjadi pada 5% sampai 15% dari pasien. Antara dura mater dan archnoid terdapat spatium subdurale yang berisi cairan lymphe. atau neurofibromatosis tipe 2 dapat risiko faktor untuk mengembangkan meningioma. Ekspresi progesteron reseptor dilihat paling sering pada jinak meningiomas. Beberapa meningiomas memiliki reseptor yang berinteraksi dengan hormon seks progesteron. terutama pada sutura. Pada medulla spinalis lamina endostealis melekat erat pada dinding canalis vertebralis. Bersama-sama.3. yaitu 4. terutama mereka dengan neurofibromatosis tipe 2. Pada enchepalon lamina endostealis melekat erat pada permukaan interior cranium. androgen. dan membentuk empat buah septa. baik pada pria dan wanita. yang letaknya berurutan dari superficial ke profunda. sering kali menantang bagi dokter untuk menasihati pasien perempuan mereka tentang penggunaan hormon jika mereka memiliki sejarah suatu meningioma.kontribusi pada pertumbuhan tumor ini.sehingga di antara lamina meningialis dan lamina endostealis terdapat spatium extraduralis(spatium epiduralis) yang berisi jaringan ikat longgar. 1. berwarna putih. Sebelumnya radiasi ke kepala.

Kedua lapisan ini dihubungkan satu sama lain oleh trabekula arachnoideae. membentuk spatium subdurale dengan duramater.2. masih banyak hal yang belum diketahui dari meningioma. Lapisan disebelah profunda.ditutupi oleh pembuluh-pembuluh darah cerebral. Dibentuk oleh serabut-serabut reticularis dan elastic. meluas ke dalam gyrus cerebri dan diantara folia cerebri. V. masuk kedalam sinus venosus. Berlawanan dengan arachnoid. membrane ini ini menutupi semua permukaan otak dan medulla spinalis 4. Pia terdiri dari lapisan sel mesodermal tipis seperti endothelium. Tumor diklasifikasikan melalui tipe sel dan .Membentuk tela chorioidea venticuli. terutama sinus sagitallis superior 4. Antara archnoid dan pia mater terdapat spatium subarachnoideum yang berisi liquor cerebrospinalis. Arachnoid yang membungkus basis serebri berbentuk tebal sedangkan yang membungkus facies superior cerebri tipis dan transparant. Tentoriumcerebella 3. Arachnoid membentuk tonjolan-tonjolan kecil disebut granulation arachnoidea. termasuk meningioma. VI. Tumor otak yang tergolong jinak ini secara histopatologis berasal dari sel pembungkus arakhnoid (arakhnoid cap cells) yang mengalami granulasi dan perubahan bentuk. Falxcerebella 4. PATOFISIOLOGI Seperti banyak kasus neoplasma lainnya. Patofisiologi terjadinya meningioma sampai saat ini masih belum jelas. Diaphragmsellae Arachnoid bersama-sama dengan piamater disebut leptomeninges. Kaskade eikosanoid diduga memainkan peranan dalam tumorogenesis dan perkembangan edema peritumoral 3. KLASIFIKASI WHO mengembangkan sistem klasifikasi untuk beberapa tumor yang telah diketahui. Arachniod adalah suatu selubung tipis.

Jenis ini tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan grade I dan mempunyai angka kekambuhan yang lebih tinggi juga. Banyak terjadi pada wanita. Meningioma Convexitas (20%). Pembedahan adalah penatalaksanaan awal pada tipe ini. Kebanyakan meningioma grade I diterapi dengan tindakan bedah dan observasi yang continue 7. Grade II Meningioma grade II disebut juga meningioma atypical. Meningioma falx dan parasagital (25% dari kasus meningioma). kemudian penatalaksanaan bedah dapat direkomendasikan. Grade I Meningioma tumbuh dengan lambat . Jika tumor semakin bverkembang. dapat dilakukan kemoterapi 7.derajat pada hasil biopsi yang dilihat di bawah mikroskop. c. Meningioma Sphenoid (20%) Daerah Sphenoidalis berlokasi pada daerah belakang mata. Tipe meningioma ini terdapat pada permukaan atas otak. Meningioma malignant terhitung kurang dari 1 % dari seluruh kejadian meningioma. 1. Meningioma grade II biasanya membutuhkan terapi radiasi setelah pembedahan 7. a. . Jika tumor tidak menimbulkan gejala. Penatalaksanaannya pun berbeda-beda di tiap derajatnya 7. 3. Falx cerebri mengandung pembuluh darah besar. Falx adalah selaputyang terletak antara dua sisi otak yang memisahkan hemisfer kiri dan kanan. Pembedahan adalah penatalaksanaan yang pertama untuk grade III diikuri dengan terapi radiasi. Meningioma juga diklasifikasikan ke dalam subtype berdasarkamn lokasi dari tumor 8. mungkin pertumbuhannya sangat baik jika diobservasi dengan MRI secara periodic. maka pada akhirnya dapat menimbulkan gejala. Parasagital meningioma terdapat di sekitar falx 2. b. Grade III Meningioma berkembang dengan sangat agresif dan disebut meningioma malignant atau meningioma anaplastik. Jika terjadi rekurensi tumor.

Tipe ini berkembang paa atau di sekitar mata cavum orbita. sebuah kotak pada dasar tengkorak dimana terdapat kelenjar pituitary. Terjadi pada ruangan yang berisi cairan di seluruh bagian otak. misalnya pandangan kabur. Meningioma Intraventrikular (2%). Secara umum. nyeri tungkai . Meningioma Intraorbital (kurang dari 10%). • Sakit kepala. Gejala umumnya seperti 8. Terjadi di bagian atas sella tursica. Tipe ini berkembang di permukaan bawah bagian belakang otak. 5. • Meningioma falx dan parasagittal. 9. Spinal meningioma (kurang dari 10%). Manifestasi klinik Gejala meningioma dapat bersifat umum (disebabkan oleh tekanan tumor pada otak dan medulla spinalis) atau bisa bersifat khusus (disebabkan oleh terganggunay fungsi normal dari bagian khusus dari otak atau btekanan pada nervus atau pembuluh darah). Tipe ini terjadi di sepanjang nervus yang menghubungkan otak dengan hidung. Akan selalu terjadi pda medulla spinbalis setingkat thorax dan dapat menekan spinal cord. Meningioma Olfactorius (10%). VII. DIAGNOSA 1. meningioma tidak bisa didiagnosa pada gejala awal 8. Meningioma spinalis dapat menyebabkan gejala seperti nyeri radikuler di sekeliling dinding dada. Gejala dapat pula spesifik terhadap lokasi tumor 8. gangguan kencing. 6. dan nyeri tungkai. Meningioma suprasellar (10%). dapat berat atau bertambah buruk saat beraktifitas atau pada pagi hari. 7.4. Banyak terjadi pada wanita yang berumur antara 40 dan 70 tahun. 8. • Perubahan mental • Kejang • Mual muntah • Perubahan visus. Meningioma fossa posterior (10%).

• Meningioma suprasellar. pusing 2. gangguan lapangan pandang. • Meningioma fossa posterior. dan spasme otot-otot wajah. Dinidikasikan untuk tumor pada meninx. CT-Scan CT-scan kontras dan CT-scan tanpa kontras memperlihatkan paling banyak meningioma. sakit kepala. perubahan mental. Perdarahan dan cairan intratumoral sampai akumulasi cairan dapat terlihat 9. kebutaan.• Meningioma Convexitas. b. nyeri punggung. sakit kepala. gangguan gaya berjalan. kejang. penurunan visus. Tampak gambran isodense hingga hiperdense pada foto sebelum kontras. Udem peritumoral dapat terlihat dengan jelas. penonjolan bola mata • Meningioma Intraventrikular . Foto polos Hiperostosis adalah salahsatu gambaran mayor dari meningioma pada foto polos. c. pembengkakan diskus optikus. masalah visus • Spinal meningioma . mati rasa. Tumor juga memberikan gambaran komponen cystic dan kalsifikasi pada beberapa kasus. kalsifikasi dan lesi litik pada tulang tengkorak. nyeri tajam pada wajah. Kalsifikasi terdapat pada 2025% kasus dapat bersifat fokal maupun difus 9. MRI . • Meningioma Olfactorius. dan penglihatan ganda. perubahan status mental • Meningioma Sphenoid. berkurangnya pendengaran. Pembesaran pembuluh darah meninx menggambarkan dilatasi arteri meninx yang mensuplai darah ke tumor. nyeri dada dan lengan • Meningioma Intraorbital . Tampak erosi tulang dan dekstruksi sinus sphenoidales. Pemeriksaan Radiologi a. deficit neurologis fokal. kurangnya sensibilitas wajah. masalah visus. gangguan menelan. kurangnya kepekaan penciuman. dan gambaran peningkatan densitas yang homogeny pada foto kontras.

serta pemberian metronidazol (untuk organisme anaerob) ditambahkan apabila operasi direncanakan dengan pendekatan melalui mulut. atau mastoid 12. dan pemberian cephalosporin generasi III yang memiliki aktifitas terhadap organisem pseudomonas. Klasifikasi Simptom dari ukuran reseksi pada meningioma intracranial 12. riwayat operasi sebelumnya dan atau radioterapi. PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan meningioma tergantung daril okasi dan ukuran tumor itu sendiri. dan pada kasus rekurensi. MRI memperlihatkan lesi berupa massa. Selanjutnya arteri dan kapiler memperlihatkan gambaran vascular yang homogen dan prominen yang disebut dengan mother and law phenomenon 10 . telinga. VIII.MRI merupakan pencitraan yang sangat baik digunakan untuk mengevaluasi meningioma. ukuran dan konsistensi. Dan dapat menimbulkan gambaran “spoke wheel appearance”. Rencana preoperatif Pada pasien dengan meningioma supratentorial. koagulasi dari perlekatan dura . Grade I Reseksi total tumor. Tindakan operasi tidak hanya mengangkat seluruh tumor tetapi juga termasuk dura. Beberapa faktor yang mempengaruhi operasi removal massa tumor ini antara lain lokasi tumor. dan rekurensi tumor. pemberian antikonvulsan dapat segera diberikan. IX. pola. perlekatan dural dan tulang abnormal b. Terapi meningioma masih menempatkan reseksi operatif sebagai pilihan pertama. rencana operasi dan tujuannya berubah berdasarkan faktor resiko. dengan gejala tergantung pada lokasi tumor berada 9. Grade II Reseksi total tumor. jaringan lunak. dan tulang untuk menurunkan kejadian rekurensi 12. Pemberian antibiotik perioperatif digunakan sebagai profilaksis pada semua pasien untuk organisme stafilokokkus. vaskularisasi dan pengaruh terhadap sel saraf. Lebih jauh lagi. a. sinus paranasal. ANGIOGRAFI Umumnya meningioma merupakan tumor vascular. deksametason diberikan dan dilindungi pemberian H2 antagonis beberapa hari sebelum operasi dilaksanakan.

Saraf optikus sangat rentan mengalami kerusakan akibat radioterapi. Pada kasus meningioma yang tidak dapat dioperasi karena lokasi yang sulit. atau pada pasien yang menolak dilakukan operasi. tetapi informasi yang mendukung teori ini belum banyak dikemukakan 12. atau mungkin perluasan ekstradural ( misalnya sinus yang terserang atau tulang yang hiperostotik) d.5 cm 12. terutama pada lesi dengan diameter kurang dari 2. External beam irradiation dengan 4500-6000 cGy dilaporkan efektif untuk melanjutkan terapi operasi meningioma reseksi subtotal. Grade IV Reseksi parsial tumor e. . Efektifitas dosis yang lebih tinggi dari radioterapi harus dengan pertimbangan komplikasi yang ditimbulkan terutama pada meningioma. Sumber energi yang digunakan didapat melalui teknik yang bervariasi. Grade V Dekompresi sederhana (biopsy) Radioterapi Penggunaan external beam irradiation pada meningioma semakin banyak dipakai untuk terapi. kasus-kasus rekurensi baik yang didahului dengan operasi sebelumnya ataupun tidak. Komplikasi lain yang dapat ditimbulkan berupa insufisiensi pituitari ataupun nekrosis akibat radioterapi 12. keadaan pasien yang buruk. Semua teknik radioterapi dengan stereotaktik ini dapat mengurangi komplikasi. Radiasi Stereotaktik Terapi radiasi tumor menggunakan stereotaktik pertama kali diperkenalkan pada tahun 1960an menggunakan alat Harvard proton beam. tanpa reseksi atau koagulasi dari perlekatan dura.c. Teori terakhir menyatakan terapi external beam irradiation tampaknya akan efektif pada kasus meningioma yang agresif (atyppical. ion helium) dari cyclotrons. yang paling sering digunakan adalah sinar foton yang berasal dari Co gamma (gamma knife) atau linear accelerators (LINAC) dan partikel berat (proton. external beam irradiation masih belum menunjukkan keefektivitasannya. Setelah itu penggunaan stereotaktik radioterapi ini semakin banyak dilakukan untuk meningioma. Grade III Reseksi total tumor. malignan).

Preparat yang dipakai biasanya tamoxifen (anti estrogen) dan mifepristone (anti progesteron). Kemoterapi sebagai terapi ajuvan untuk rekuren meningioma atipikal atau jinak baru sedikit sekali diaplikasikan pada pasien. Laporan dari Chamberlin pemberian terapi kombinasi menggunakan cyclophosphamide. Dan dilaporkan pada satu kasus pemberian hydroxyurea ini memberikan efek pada pasien-pasien dengan rekurensi dan meningioma yang tidak dapat direseksi. dan vincristine dapat memperbaiki angka harapan hidup dengan rata-rata sekitar 5. walaupun regimen tersebut efektifitasnya sangat baik pada tumor jaringan lunak. Kemoterapi Modalitas kemoterapi dengan regimen antineoplasma masih belum banyak diketahui efikasinya untuk terapi meningioma jinak maupun maligna. decarbazine (DTIC) dan adriamycin) menunjukkan hasil yang kurang memuaskan (DeMonte dan Yung).Steiner dan koleganya menganalisa pasien meningioma yang diterapi dengan gamma knife dan diobservasi selama 5 tahun. Pertumbuhan sel pada meningioma dihambat pada fase S dari siklus sel dan menginduksi apoptosis dari beberapa sel dengan pemberian hydroxyurea. Dilaporkan juga terapi ini kurang menimbulkon toksisitas dibanding pemberian dengan kemoterapi 12. Tamoxifen (40 mg/m2 2 kali/hari selama 4 hari . Mereka menemukan sekitar 88% pertumbuhan tumor ternyata dapat dikontrol. Kejadian defisit neurologis baru pada pasien yang diterapi dengan stereotaktik tersebut kejadiannya sekitar 5 % 12. Kondziolka dan kawan-kawan memperhitungkan pengontrolan pertumbuhan tumor dalam 2 tahun pada 96 % kasus. Pemberian hormon antogonis mitogen telah juga dilakukan pada kasus dengan meningioma. Pemberian obat kemoterapi lain seperti hydroxyurea sedang dalam penelitian. tetapi terapi menggunakan regimen kemoterapi (baik intravena atau intraarterial cis-platinum.3 tahun. Baru-baru ini peneliti yang sama melakukan studi dengan sampel 99 pasien yang diikuti selama 5 hingga 10 tahun dan didapatkan pengontrolan pertumbuhan tumor sekitar 93 % kasus dengan 61 % massa tumor mengecil. Pemberian Alfainterferon dilaporkan dapat memperpanjang waktu terjadinya rekurensi pada kasus meningioma yang agresif. adriamycin.

dilaporkan survival rate lima tahun adalah 75%. Sejak 18 tahun meningioma dipandang sebagai tumor jinak. terdapat pertumbuhan ulang pada salah satu pasien tersebut. Pada anak-anak lebih agresif. Pada studi yang kedua dari kelompok Netherlands dengan jumlah pasien 10 orang menunjukkan pertumbuhan tumor berlanjut pada empat pasien. Terdapat pertumbuhan tumor pada 10 pasien. Degenerasi keganasan tampak bila ada13: invasi dan kerusakan tulang tumor tidak berkapsul pada saat operasi invasi pada jaringan otak. dan pengurangan ukuran yang minimal pada tiga pasien. X. stabil pada tiga pasien. Pada dua studi terpisah dilakukan pemberian mifepristone (RU486) 200 mg perhari selama 2 hingga 31 bulan. karena pengangkatan tumor yang sempurna akan memberikan penyembuhan yang permanen. dan respon minimal atau parsial pada tiga pasien 12.dan dilanjutkan 10 mg 2 kali/hari) telah digunakan oleh kelompok onkolologi Southwest pada 19 pasien dengan meningioma yang sulit dilakukan reseksi dan refrakter. Pada orang dewasa snrvivalnya relatif lebih tinggi dibandingkan pada anak-anak. Pada studi yang pertama didapatkan 5 dari 14 pasien menunjukkan perbaikan secara objektif yaitu sedikit pengurangan massa tumor pada empat pasien dan satu pasien gangguan lapang pandangnya membaik walaupun tidak terdapat pengurangan massa tumor. stabilisasi sementara pertumbuhan tumor pada 6 pasien. perubahan menjadi keganasan lebih besar dan tumor dapat menjadi sangat besar. Angka kematian (mortalitas) meningioma sebelum operasi jarang dilaporkan. Diperkirakan angka kematian . Pada penyelidikan pengarang-pengarang barat lebih dari 10% meningioma akan mengalami keganasan dan kekambuhannya tinggi 13. Tiga jenis obat tersebut sedang dilakukan penelitian dengan jumlah sampel yang lebih besar pada meningioma tetapi sampai sekarang belum ada terapi yang menjadi prosedur tetap untuk terapi pada tumor ini 12. dan bila letaknya mudah dapat diangkat seluruhnya. PROGNOSIS Pada umumnya prognosa meningioma adalah baik. dengan kemajuan teknik dan pengalaman operasi para ahli bedah maka angka kematian post operasi makin kecil.

post operasi selama lima tahun (1942–1946) adalah 7. .9% dan (1957–1966) adalah8.5%. Sebab-sebab kematian menurut laporan-laporan yang terdahulu yaitu perdarahan dan edema otak 13.

A. mengalami penurunan sensasi (parathesia). papiledema. tidak mampu menyebutkan nama ibu klien yang selalu menunggu klien. Pada saat berkomunikasi dengan perawat. Siliwangi raya no. dirawat di bedah saraf dengan diagnosa medis meningioma di area frontoparietal. • Riwayat penyakit dahulu : • Riwayat penyakit keluarga : riwayat keluarga dengan tumor kepala.BAB III TINJAUAN KASUS Kasus Ny. M umur 40 tahun. • Pengkajian psiko-sosio-spiritual . Saat ini kesadaran CM. PENGKAJIAN 1. Terdapat tonjolan di area temporal.3 . Ny. penurunan penglihatan pada mata kiri. M Umur : 40 th Agama : Islam Pendidikan : S1 Akuntansi Pekerjaan : Wiraswasta suku/bangsa : Jawa/Indonesia alamat : Jl. M tidak sesuai dengan pertanyaan perawat.M dijadwalkan kraniotomi 3 hari kemudian. jawaban Ny. muntah. terdapat gangguan penglihatan pada mata kiri. Semarang jenis kelamin : Perempuan status perkawinan : Sudah Menikah penanggung biaya : Bapak Hanggoro 2. Riwayat Sakit dan Kesehatan • Keluhan utama klien mengeluh nyeri kepala • Riwayat penyakit saat ini Klien mengeluh nyeri kepala. IDENTITAS nama : Ny.

g. Bentuk dada : normal b. Retraksi otot bantu napas : + g. Irama jantung : irregular b. Akral : hangat e. Sesak napas : + e. Penglihatan (mata) : penurunan penglihatan pada mata kiri. c. 52x/menit f. Batuk : f.cemas. hilangnya ketajaman atau diplopia. takut. Pendengaran (telinga) : terganggu karena terdapat tonjolan pada daerah temporal. 27x/menit c. Nyeri dada : c. Nadi : Bradikardi. GCS : E3M4V4 h. klien tidak mampu menyebutkan nama ibu klien yang selalu menunggu klien. Bunyi jantung : normal d. b. Alat bantu pernapasan : + (O2 2 lpm) • Kardiovaskular B2 (blood) a. Pemeriksaan Fisik ( ROS : Review of System ) • Pernafasan B1 (breath) a. Ekstremitas :kelemahan atau paraliysis genggaman tangan tidak seimbang. kesadaran : Compos mentis . d. Afasia : ketika diajak komunikasi. Pola napas : tidak teratur. Pengecapan (lidah) : penurunan sensasi (parathesia) e. Penciuman (hidung) : mengeluh bau yang tidak biasanya. gelisah akan operasi dan hospitalisasi 3. berkurangnya reflex tendon. f. M tidak sesuai dengan pertanyaan perawat. jawaban Ny. Suara napas : tidak ada bising paru d. Tekanana darah : 170/110 • Persyarafan B3 (brain) a.

Mulut : bersih d. 1 DS : Klien mengeluh Perubahan rasa nyeri kepala & nyaman : Nyeri muntah. DO : Pola napas tidak teratur. Uretra : normal d. riwayat penyakit keluarga dengan tumor kepala. Porsi makan : setengah c. Bentuk alat kelamin : normal c. Irama ETIOLOGI peningkatan tekanan intracranial akibat tumor yang yang menekan otak DIAGNOSA Perubahan rasa nyaman : Nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan intracranial akibat tumor yang yang menekan otak. Kebersihan : bersih b. DIAGNOSA No DATA MASALAH . Mukosa : lembap • Muskuloskeletal/integument B6 (bone) a. Kemampuan pergerakan sendi : bebas b. . Produksi urin: normal • Pencernaan B5 (bowel) a. Retraksi otot bantu napas +. takut.• Perkemihan B4 (bladder) a. gelisah akan operasi dan hospitalisasi. Nafsu makan : menurun b. Sesak napas +. klien mengeluh cemas. Kondisi tubuh: kelelahan • Pemeriksaan AGD PaCO2 52 mmHg. PaO2 70 mmHg • Pemeriksaan diagnostic TIK : 17mmHg B. 27x/menit.

Pendengaran terganggu karena terdapat tonjolan pada daerah temporal. dan integrasi Perubahan persepsi sensori perseptual berhubungan dengan kerusakan traktus sensori dengan perubahan resepsi sensori. 52x/menit. M tidak sesuai dengan pertanyaan perawat serta klien tidak mampu menyebutkan nama ibu klien yang selalu menunggu klien. Tekanan darah : 170/110. GCS : E3M4V4. 3 DS : DO : penurunan penglihatan pada mata kiri. transmisi. . kesadaran : Compos mentis. jawaban Ny. hilangnya ketajaman atau diplopia. Nadi Bradikardi. dan integrasi .jantung irregular. transmisi. mengeluh bau yang tidak biasanya pada Perubahan persepsi sensori perseptual kerusakan traktus sensori dengan perubahan resepsi sensori. kondisi tubuh : kelelahan. Gangguan komunikasi verbal efek afasia pada ekspresi atau interpretasi Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan efek afasia pada ekspresi atau interpretasi. 2 DS : DO : ketika diajak komunikasi.

Kolaborasi analgesic RASIONAL 1. lokasi. Klien mengungkapkan nyeri kepala yang dirasakan berkurang atau dapat diadaptasi. gelisah. INTERVENSI DX TUJUAN & KRITERIA HASIL 1 Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam klien menyatakan nyeri yang dirasakan berkurang atau dengan kriteria hasil : a. 2. Orientasi pasien baik d. Mengajarkan tehnik relaksasi dan metode distraksi 4. Akan melancarkan peredaran darah. karakteristik. PaCO2 35-45 mmHg. Identifikasi karakteristik nyeri dan merupakan suatu hal yang amat penting untuk memilih intervensi yang cocok dan untuk mengevaluasi keefektifan dari terapi yang diberikan. Ekstremitas :kelemahan atau paraliysis genggaman tangan tidak seimbang. b. penurunan sensasi (parathesia) pada pengecapan. Berikan kompres dingin faktor yang berhubungan . lamanya. menangis/meringis. berkurangnya reflex tendon C. pada kepala. 3. Nyeri merupakan pengalaman subjektif dan harus dijelaskan oleh pasien. 5. HR 60-100x/menit f. faktor yang memperburuk dan meredakan. RR 16-20x/menit e. Observasi adanya tanda-tanda nyeri non verbal seperti ekspresi wajah. Monitor secara berkala tanda dan gejala peningkatan TIK INTERVENSI 1. 6. perubahan tanda vital. Teliti keluhan nyeri: intensitas. 3. dan dapat diadaptasi oleh klien 2. Meningkatkan rasa nyaman dengan menurunkan vasodilatasi. Menunjukkan tingkat kesadaran normal c.indera penciuman. TIK <15mmHg g.

Analgesik memblok lintasan nyeri. periksa nilai GCS .Kaji perubahan tingkat kesadaran. mintalah pasien untuk 1. Minta pasien untuk menulis nama atau kalimat yang pendek. menghindari keadaan pasien yang mengarah pada prognosa penyakit yang lebih buruk 7. 2. orientasi. cegah.Kaji tanda vital dan bandingkan dengan keadaan sebelumnya . 2 Klien tidak mengalami kerusakan komunikasi verbal dan menunjukkan kemampuan komunikasi verbal dengan orang lain dengan cara yang dapat di terima setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 7x24 jam dengan kriteria hasil : a.PaO2 >80mmHg . Menilai kemampuan .Pertahankan posisi dengan meninggikan bagian kepala 15-300. memori. Jika tidak dapat menulis. 2. dan turunkan TIK . ukuran. Merupakan indikator/derajat nyeri yang tidak langsung yang dialami. Pasien mungkin kehilangan kemampuan untuk memantau ucapan yang keluar dan tidak menyadari bahwa komunikasi yang diucapkannya tidak nyata. Ukur. sehingga nyeri berkurang 5. Perhatikan kesalahan dalam komunikasi dan berikan umpan balik. .Monitor analisa gas darah. Pasien dapat mengidentifikasi 1. 6.Kaji fungsi autonom: jumlah dan pola pernapasan. pergerakan otot 7. hindari posisi telungkup atau fleksi tungkai secara berlebihan . peningkatan TIK dapat menambah intensitas nyeri kepala.Kolaborasi dalam pemberian oksigen dapat mengalihkan perhatian nyerinya ke halhal yang menyenangkan 4.

dan dengan tenang. Pasien dapat mengenali kerusakan sensori b. Pasien dapat mengidentifikasi prilaku yang dapat mengkompensasi kekurangan c. Memberikan komunikasi tentang kebutuhan berdasarkan keadaan/ deficit yang mendasarinya. Berikan rangsang taktil. 2. Berikan petunjuk visual (gerakan tangan. meningkatkan orientasi dan kemampuan koping. Menyentuh menyampaikan perhatian dan memenuhi kenutuhan fisiologis dan psikologis normal. Bantu pasien mengenali dan mengkompensasi perubahan sensasi. demonstrasi). 1. 4. Pasien dapat menggunakan sumbersumber dengan tepat membaca kalimat yang pendek. seperti menulis di papan tulis. 4. Pertahankan adanya respons emosional menulis dan kekurangan dalam membaca yang benar yang juga merupakan bagian dari afasia sensorik dan afasia motorik. Pasien dapat membuat metode komunikasi dimana kebutuhan dapat diekspresikan c.pemahaman tentang masalah komunikasi. 3. gambar. Menurunkan kebingungan/ansietas selama proses komunikasi dan berespons pada informasi yang lebih banyak pada satu waktu tertentu. 1. sentuh pasien pada area dengan sensori utuh. 3 Pasien mampu menetapkan dan menguji realitas serta menyingkirkan kesalahan persepsi sensori setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam dengan kriteria hasil : a. 4. wajah. Berikan tidur tanpa gangguan dan periode istirahat. Gunakan pertanyaan terbuka dengan jawaban “ya/tidak” selanjutnya kembangkan pada pertanyaan yang lebih komplek sesuai dengan respon pasien. bicara perlahan. Pasien dapat mengungkapkan kesadaran tentang . 3. missal : bahu. 2. 3. Menurunkan kelebihan beban sensori. daftar kebutuhan. b. gambar-gambar. Berika metode komunikasi alternative. Dapat membantu menurunkan ansietas tentang ketidaktahuan dan mencegah cedera. kepala. 3. Katakan secara langsung dengan pasien.

Indikasi kerusakan traktus sensori dan stress psikologis. memerlukan pengkajian dan intervensi lebih lanjut. misal : disorientasi. DAFTAR PUSTAKA . menciptakan kembali pola tidur alamiah.kebutuhan sensori dan potensial terhadap penyimpangan. berpikir kacau. dan membantu dalam berlebihan. 4. perubahan proses berpikir.

Dalam: Neurologi klinis dasar.com/articles .org/meningioma.abta. Hal 393-4. Sidharta P. histopatologi. 2.neuroonkologi.pdf Patogenesis. 3. Availble from: http://www. Focusing on tumor meningioma[ cited 2009 November 20]. dan klasifikasi meningioma[cited 2009 November 20]. 2003.1. Mardjono M. Availble from: http://www. : Fakultas Kedokteran Universtas Indonesia.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful