PENGELOLAAN SAMPAH SECARA TERPADU DI WILAYAH PERKOTAAN

Posted by uwityangyoyo on April 5, 2009 Oleh Ir. Ibnu Umar ABSTRAK Sampah perkotaan dari hari ke hari semakin meningkat produksinya sejalan dengan pertumbuhan penduduk perkotaan yang meningkat. Pemerintah kota dalam hal ini telah menyiapkan TPS yang mendekati masyarakat, maupun gerobak atau mobil yang beroperasional dari rumah kerumah untuk mengambil sampah yang selanjutnya sampah dibawa ke TPA. Namun demikian sistem yang sedang berjalan tersebut masih belum mampu menyelesaikan permasalah sampah dengan baik dan tuntas. Oleh karenya diperlukan terobosan baru untuk penangananya, yaitu dengan sistem Silarsatu dengan prinsip sistem pengelolaan sampah tanpa sisa (zero waste system). Sistem ini merupakan pengelolan sampah dengan reaktor sampah terpadu, karena akan melibatkan stokholder secara utuh dan proposional. Pada sistem ini masyarakat dilibatkan secara penuh, pemerintah hanya bertindak sebagai fasilitator dan regulator. Masyarakat akan mengelola sendiri sampahnya, masyarakat akan merasa memiliki dan juga akan memperoleh pendapatan dari pengelolaan ini, sedangkan Pemerintah Daerah akan sangat berkurang beban yang ditanggungnya. Partisipasi masyarakat yang diperlukan disini adalah dimulai dari mengemas sampahnya sendiri sesuai dengan jenis sampah yang ada, misal sampah dari rumah tangga, yang selanjutnya dikumpulkan oleh petugas (dari masyarakat) pengumpul dengan gerobak/mobil sampah dan dibawa ke lokasi proses silarsatu. Di lokasi ini sampah tersebut dipilih dan dipilah serta disortasi ulang oleh petugas yang sudah ahli baik memakai alat maupun secara manual menjadi kelompok-kelompok sampah. Dalam proses selanjutnya untuk sampah-sampah diproses sesuai dengan jenisnya, yaitu untuk sampah logam akan dipres dengan alat pengepres, sampah plastik dihancurkan dengan mesin penghancur plastik menjadi bijih plastik, sedangkan sampah organik piproses menjadi kompos dengan mikroba pengurainya (bakteri, jamur, atau cacing) yang selanjutnya dikemas. Semua sampah dengan sistem ini relatif habis menjadi bahan-bahan yang dapat di jual dipasaran yang membutuhkan. Kata kunci : Terobosan, terpadu, partisipasi masyarakat, silarsatu. PENDAHULUAN. Pertumbuhan penduduk perkotan di kota-kota Indonesia pada dekade akhir abad XIX hingga abad abad XX ini mengalami tingkat eskalasi pertumbuhan yang tinggi dan pertumbuhan ini akan berlangsung terus dengan percepatan yang tinggi, meskipun beberapa kota besar seperti jakarta, Surabaya, Medan dan kota-kota lainya telah membangun sistem yang ketat dalam kaitanya dengan pertumbuhan penduduk perkotaan di wilayahnya masing-masing. Tingkat pertumbuhan penduduk yang capat akan menambah beban yang tidak ringan bagi suatu kota dalam penyiapan infrastruktur baru, seperti pendidikan, kesehatan, serta pelayanan-pelayan perkotaan lainya, apalagi para pendatang pada umumnya bependidikan rendah, sehingga keadaan ini juga akan lebih menambah beban bagi pemerintah kota.

. sampah menjadi masalah yang sirius dan diperlukan penanganan secara seksama secara terintegrasi dengan inovasi-inovasi baru yang lebih memadai ditinjau dari segala aspek. kaca. jumlah sampah yang cukup besar terjadi di Medan dan Bandung. PROTRET PERSAMPAHAN KOTA-KOTA DI INDONESIA Peningkatan jumlah penduduk dan gaya hidup sangat berpengaruh pada volume sampah.500 m3 per hari dan pada tahun 2000 meningkat menjadi 25. Menyajikan alternatif solusi pengelolaan sampah yang dipridiksikan akan dapat diterapkan di lapangan dan mampu menyelesaikan permasalahan sampah dengan baik. 1. 2000]. Kota metropolitan lebih banyak menghasilkan sampah dibandingkan dengan kota sedang atau kecil. Dimana notabene kota-kota di Indonesia sampai sejauh ini belum mampu menangani sampah ini dengan baik. sebab pertumbuhan kota di indonesia akan terus berlangsung dengan percepatan yang tidak juga berkurang bahkan ada kecenderungan terus meningkat. logam. dlsb. sampah sebagai barang sisa yang tidak terpakai baik padat maupun cair dari manusia. Misalnya saja.000 m3). oleh karenanya apabila tidak dilakukan penanganan yang baik sejak sekarang ini akan mengakibatkan terjadinya perubahan keseimbangan lingkungan yang merugikan atau tidak diharapkan sehingga dapat mencemari lingkungan baik terhadap tanah. maka volume sampah tahun 2000 mencapai 170 kali besar Candi Borobudur (volume Candi Borobudur = 55. plastik.Salah satu beban yang timbul adalah limbah padat atau sering disebut dengan sampah.). kota Jakarta pada tahun 1985 menghasilkan sampah sejumlah 18. Selain Jakarta. air dan udara. sisa makanan) maupun sampah anorganik (kertas. baik itu aspek sosial. Jika dihitung dalam setahun. dan 2. Dalam kehidupanya sehari-hari setiap manusia memproduksi sejumlah sampah dalam bentuk padatan dengan volume antara 3 – 5 liter atau sekitar 1 – 3 kg sampah perhari. aspek ekonomiu maupun aspek teknis. Dalam kondisi sekarang ini penanganya menjadi masalah yang kian mendesak di kota-kota di Indonesia. Rasio bahan organik dengan bahan anorganik sampah adalah antara 1 : 3. yang pada giliranya kehidupan perkotaan dihadapkan kepada kehidupan yang tidak sehat lagi. sisa dapur. baik sampah organik (tinja. Kondisi yang demikian dapat diprediksikan bahwa kedepan bahwa kota juga akan memproduksi sampah lebih banyak dan lebih bervariatif. TUJUAN PENULISAN. Mengkaji dan melihat kelemahan-kelemahan maupun permasalahan yang telah dan mungkin akan timbul dari cara pengelolaan sampah dengan sistem yang sedang diterapkan. [Bapedalda. Dengan adanya pertumbuhan kota yang pesat dan tingkat sosial yang berubah serta teknologi kemajuan manusia berkembang.700 m3 per hari. sehingga dengan demikian apabila masalah sampah ini tidak dapat dikelola dengan baik maka otomatis akan menyebabkan penurunan kualitas lingkungan yang selanjutnya akan mengancam kehudupan manusia itu sendiri.

6 9% Sampah Lainnya 2. sebagian besar sampah yang dihasilkan di Indonesia merupakan sampah basah.. Dapat dibayangkan berapa ongkos yang harus dikeluarkan untuk ini.4 58% Sampah Plastik 5. seperti RT atau RW. Padahal.1 juta): Jenis Sampah Jumlah(juta ton/tahun) Persentase (%) Sampah Dapur 22. Sebagai akibat biaya operasional yang tinggi.7 2% Sampah Karet/Kulit 0. sampah yang dibuang masih tercampur antara sampah basah dan sampah kering.5 juta ton/tahun . Estimasi Total Timbulan Sampah Berdasarkan Jenisnya Kota Metropolitan/Besar (26 kota dengan total penduduk 40. 2007) Masalah yang sering muncul dalam penanganan sampah kota adalah masalah biaya operasional yang tinggi dan semakin sulitnya ruang yang pantas untuk pembuangan.5 100% (Kantor Negara Lingkungan Hidup. Misanya saja. dengan mengelola sampah besar di tingkat lingkungan terkecil. yaitu mencakup 60-70% dari total volume sampah. 2008) Berdasarkan asal atau sumbernya sekurang-kurangnya data pada 5 tahun terakhir besaran sampah di kota-kota indonesia sebagai berikut : Permukiman 16.7 2% Sampah Metal 0.4 14% Sampah Kertas 3. Oleh karena itu pengelolaan sampah yang terdesentralisisasi sangat tidak membantu dalam meminimasi sampah yang harus dibuang ke tempat pembuangan akhir. terutama di perkotaan. sebagian besar ditangani dan dibuang dengan cara yang tidak saniter. seluruh sampah dari kota Jakarta harus dibuag di Tempat Pembuangan Akhir di daerah Bantar Gebang Bekasi.7 juta ton/tahun Jalan 3. Dari 60% ini. boros dan mencemari (Daniel et al. Belum lagi. 1985).7 2% Sampah Kain 0.Jumlah tersebut tidak termasuk cairan (urin dan cairan sanitasi) yang dapat mencapai 50 – 350 liter per hari (Roni Kastamanet et al.5 1% =============================================================== ====== TOTAL 38.4 4% Sampah Kaca 0. Pada prinsipnya pengelolaan sampah haruslah dilakukan sedekat mungkin dengan sumbernya. tidak berjalan dengan efisien dan efektif karena pengelolaan sapah bersifat terpusat. dengan membuatnya menjadi kompos maka paling tidak volume sampah dapat diturunkan/dikurangi. kebanyakan kota-kota di Indonesia hanya mampu mengumpulkan dan membuang 60% dari seluruh produksi sampahnya.. Selama ini pengleolaan persampahan. Pada umumnya.7 2% Sampah Pasir 0.7 juta ton/tahun Pasar 7.3 6% Sampah Kayu 1.

6 juta ton/tahun 1.4 juta ton/tahun Perkantoran 3.538 orang.Fasilitas Umum 3. 2008) 11.6 juta ton/tahun 1. insinerator dan fasilitas pengolahan lainya .2 juta ton/tahun 0. Adanya prasarana lain seperti drainase. (Kantor Negara Lingkungan Hidup.8 juta ton/tahun 0.8 juta ton/tahun (Kantor Negara Lingkungan Hidup. 2008) Tempat penampungan sampah sementara ada berbagai jenis mulai dari bangunan permanen.6 juta ton/tahun 1. Fasilita spengolahan sampah ini berupa bangunan pengomposan. sedangkan pelayan antar daerah/kota berbeda. Selanjutnya dari TPS sampah diangkut dengan truk/dump truk ketempat pengolahan sampah dan/atau TPA. Semua kota/kabupaten rata-rata mempunyai lokasi TPA yang sebagian besar masih berada di wilayah administrasinya (+ 88 %). sedangkan sumatera baru 48 %. Tidak semua sampah dapat diangkut ke TPS/TPA. 2008) Jumlah penduduk terlayani mencapai 130 juta jiwa atau sebesar 56 % dari total penduduk Indonesia. sampai dengan bentuk transfer depo yang merupakan tempat pembuangan sementara yang dilengkapi dengan landasan untuk gerobak sampah maupun truk dalam melakukan bongkar muat kontainer.1 juta ton/tahun . Sedangkan status lahan TPA sebesar 93 % milik sendiri dan yang lainya sewa atau status lainya. Pengolahan sampah yang ada dapat berupa fasilitas yang dimiliki oleh pemerintah daerah atau fihak swasta yang bekerja sama maupun yang telah mendapat izin. Contoh wilayah P Jawa sudah rata-rata mencapai 59 %. namun juga ada kota/kabupaten tidak demikian dan memanfaatkan TPA secara bersama-sama ( 6 % ). Sistem penanganan sampah setelah sampah dikumpulkan masyarakat dari permukiman adalah sebagai berikut : Sampah diangkut ke TPS/TPA Sampah di timbun Sampah dibuat kompos Sampah dibakar Sampah di buang ke sungai Lain-lain (Kantor Negara Lingkungan Hidup. sehingga ditemukan berbagai macam system penanganan sampah dilakukan oleh masyarakat. liner dan alat-alat berat juga serta kegiatan pemantauan terhadap lindi dan kualitas air tanah juga telah dilakukan oleh sebagian kota/kabupaten.1 juta ton/tahun Industri 2.3 juta ton/tahun Lainya 1. bangunan semi permanen. Disamping itu di TPA terdapat pemulung di 116 kota sebesar 14.

tetapi masih memungkinkan muncul masalah lain yakni : -. Dari segi pengumpulan sampah dirasa kurang efisien karena mulai dari sumber sampah sampai ke tempat pembuangan akhir. Lalu dikhawatirkan akan timbul berbagai masalah sosial dan lingkungan. d. Apabila instalasi Incinerator yang ada tidak dapat mengimbangi jumlah sampah yang masuk jumlah timbunannya semakin lama semakin meningkat. dan hal ini akan memerlukan dana maupun menyita waktu. Pembuangan dengan cara sanitary landfill. 1985). Hal ini akan semakin bertambah juga luasan lahan bagi TPA. 2. Apalagi bila kota menjadi semakin bertambah jumlah penduduknya. Pada penimbunan dengan sistem anarobik landfill akan timbul leachate di dalam lapisan timbunan dan akan merembes ke dalam lapisan tanah di bawahnya. Biaya operasional sangat tinggi bagi pengumpulan. penyakit dan lainnya. Gas-gas yang mungkin dihasilkan adalah : methan. c.Dari sistem pengelolaan persampahan yang sedang berjalan sampai saat ini. kararena ada beberapa permasalahan yang timbul dalam sistem penanganan sampah sistem sekarang ini. yakni : 1. diantaranya : dapat menjadi lahan yang subur bagi pembiakan jenis-jenis bakteri serta bibit penyakit lain. selain itu dapat menjadi tempat pembiakan bibit penyakit seperti : lalat. sampah belum dipilah-pilah sehingga kalaupun akan diterapkan teknologi lanjutan berupa komposting maupun daur ulang perlu tenaga untuk pemilahan menurut jenisnya sesuai dengan yang dibutuhkan. pengangkutan dan pengolahan lebih lanjut. diantaranya : a. dan dapat mengurangi nilai estetika dan keindahan lingkungan. walaupun dapat mencegah timbulnya bau. b. Leachate ini sangat merusak dan dapat menimbulkan bau tidak enak. tikus dan lainnya (Sidik. Perlu lahan yang besar bagi tempat pembuangan akhir (TPA) sehingga hanya cocok bagi kota yang masih mempunyai banyak lahan yang tidak terpakai.. Apalagi bila letak TPA jauh dan bukan di wilayah otonomi. dapat menimbulkan bau tidak sedap yang dapat tercium dari puluhan bahkan ratusan meter. ternyata masih belum mampu menangani persampahan kota. namun dapat menyebabkan bau yang tidak enak . maka sampah akan menjadi semakin bertambah baik jumlah dan jenisnya. NH3 dan lainnya. Pembuangan sistem open dumping dapat menimbulkan beberapa dampak negatip terhadap lingkungan. Gas H2S dan NH3 walaupun jumlahnya sedikit. et al. H2S. Pembuangan akhir ke TPA dapat menimbulkan masalah.Timbulnya gas yang dapat menyebabkan pencemaran udara.

Sebagai contoh pada penanganan sampah di Surabaya. 60 milyar. dapat menimbulkan air kotor saat proses pendinginan gas maupun proses pembersihan Incinerator dari abu maupun terak. namun tanpa didukung dengan kualitas sumber daya manusia yang memahami filosofi alat ini. akibatnya pada tahun kedua terjadi kerusakan. 2.sehingga dapat merusak sistem pernafasan tanaman dan membuat tanaman kekurangan gas oksigen dan akhirnya mati. Hal ini tentu menambah beban dalam perolehan dana bagi perbaikannya. Selain itu gas yang dihasilkan dari pembakaran dengan menggunakan alat ini dapat mengandung gas pencemar berupa : NOx. 3. Penggunaan Incinerator ini tidak dapat berdiri sendiri dalam pemusnahan sampah.24 milyar/tahun.Pada proses penimbunan. Belum lagi sampah yang akan menumpuk dengan tidak berfungsinya alat ini. Untuk menangani sampah 800 ton/hari memerlukan investasi Rp. tetapi masih memerlukan landfill guna membuang sisa pembakaran. Sulitnya mendapatkan tambahan biaya bagi peningkatan kesejahteraan petugas yang terlibat dalam penanganan sampah. memerlukan biaya yang besar dalam menjalankan Incinerator. SOx dan lain-lain yang dapat mengganggu kesehatan manusia. di antaranya : Dihasilkan abu (15%) dan gas yang memerlukan penanganan lebih lanjut. Belum maksimalnya usaha pemasaran bagi kompos yang dihasilkan dari proses pengomposan sampah kota. sebaiknya sampah diolah terlebih dahulu dengan cara dihancurkan dengan tujuan untuk memperkecil volume sampah agar memudahkan pemampatan sampah. butuh keahlian tertentu dalam penggunan alat ini. - - - 4. Belum maksimalnya upaya sistem daur ulang menjadi barang-barang yang bernilai ekonomi tinggi. 6. . Kualitas air kotor dari instalasi ini menyebabkan COD meningkat dan pH menurun. Hal ini tentu akan berakibat pada kegairarahan kerja yang rendah dari para pengelola sampah. Penggunaan Incinerator dalam pengolahan sampah memiliki beberapa kelemahan. sedangkan dari hasil penjualan listrik yang dihasilkanhanya Rp.. tehnologi ini sudah digunakan sejak tahun 1990. -. 5. Untuk melakukan ini tentunya perlu tambahan pekerjaan yang berujung pada tambahan dana.

Cohen dan Uphof (1977) mengemukakan bahwa partisipasi masyarakat dalam suatu proses pembangunan terbagi atas 4 tahap.PENGELOLAAN SAMPAH DIPERKOTAAN PERLU DIRUBAH. diperlukan terobosan-terobosan maupun inovasi baru dalam managemen pengelolaan persampahan. Solusi dalam mengatasi masalah sampah ini dapat dilakukan dengan meningkatkan efisiensi terhadap semua program pengelolaan sampah yang dimulai pada skala kawasan (tingkat kecamatan/kawasan permukiman). yaitu : a) partisipasi pada tahap perencanaan. karena dalam banyak hal pengelolaan TPA (tempat pembuangan sampah) masih sangat buruk mulai dari penanganan air sampah (leachet) sampai penanganan bau yang sangat buruk. Untuk maksud tersebut perlu melakukan evaluasi secara cermat atas semua proses maupun langkah-langkah yang selama ini telah pernah kita lakukan sebagaimana pembahasan dimuka. Masyarakat senantiasa ikut berpartisipasi terhadap proses-proses pembangunan bila terdapat faktor-faktor yang mendukung. Cara penyelesaian yang ideal dalam penanganan sampah di perkotaan adalah dengan cara membuang sampah sekaligus memanfaatkannya sehingga selain membersihkan lingkungan. 1987). juga menghasilkan kegunaan baru. motivasi. b) partisipasi pada tahap pelaksanaan. ganjaran. dorongan moral. kemudian dilanjutkan pada skala yang lebih luas lagi. c) partisipasi pada tahap pemanfaatan hasil-hasil pembangunan dan d) partisipasi dalam tahap pengawasan dan monitoring. harapan. Seperti diketahui bahwa pola pembuangan sampah yang dilakukan dengan sistem TPA (tempat pembuangan akhir) perlu difikirkan ulang. kebutuhan sarana dan prasarana. Oleh Karenanya model pengelolaan sampah perkotaan secara menyeluruh salah satunya adalah meliputi penghapusan model TPA secara bertahap. apakah masih relevan dengan kondisi sekarang. Partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah merupakan aspek yang terpenting untuk diperhatikan dalam sistem pengelolaan sampah secara terpadu. Selain itu yang paling dirugikan dan selama ini tidak dirasakan oleh masyarakat adalah telah dikeluarkannya miliaran rupiah untuk membuat dan mengelola TPA. Masih belum tuntasnya penanganan persampahan perkotaan sampai sejauh ini dengan baik. Hal ini secara ekonomi akan mengurangi biaya penanganannya (Murthado dan Said. Pembuangan yang dilakukan dengan pembuangan sampah secara terbuka dan di tempat terbuka juga berakibat meningkatnya intensitas pencemaran . . dan adanya kelembagaan baik informal maupun formal. antara lain : kebutuhan. dimana lahan kota yang semakin sempit karena pertambahan penduduk yang pesat.

Reuse (penggunan kembali) dan Recycling (daur ulang) adalah model relatif aplikatif dan dapat bernilai ekonomis. Selain itu masyarakat secara bersama diikutsertakan dalam pengelolaan yang akan memancing proses serta hasil yang jauh lebih optimal daripada cara yang diterapkan saat ini. juga diarahkan untuk pemberdayaan masyarakat lokal agar mampu mandiri terutama menyangkut : 1. Sistem Pengelolaan Sampah Terpadu. secara operasional lebih hemat energi dan biaya. perlu partisipasi aktif dari masyarakat sumber sampah berasal dan mungkin perlu dilakukan kerjasama antar lembaga pemerintah yang terkait (antara Departemen Koperasi. lebih ramah lingkungan. perairan dan udara. Untuk mencapai hal tersebut maka perlu pemilihan cara dan teknologi yang tepat. suatu sistem pengelolaan sampah yang beroperasi lebih banyak mengikut sertakan partisipasi masyarakat. Sistem Pengelolaan Sampah terpadu diarahkan agar sampah-sampah dapat dikelola dengan baik dalam arti mampu menjawab permasalah sampah hingga saat ini yang belum dapat diselesaikan dengan tuntas. Pemerintah Jepang saja membutuhkan waktu 10 tahun untuk membiasakan masyarakatnya memilah sampah. Reduce (mengurangi). SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH TERPADU. karena ada reaktor-reaktor sampah pengubah sampah menjadi kompos langsung ditempat. . Disamping itu juga perlu aspek legal untuk dijadikan pedoman berupa peraturan-peraturan mengenai lingkungan demi menanggulangi pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh sampah. Oleh karenaya. Sistem ini diterapkan pada skala kawasan sehingga memperkecil kuantitas dan kompleksitas sampah.Keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan sampah merupakan salah satu faktor teknis untuk menanggulangi persoalan sampah perkotaan atau lingkungan pemukiman dari tahun ke tahun yang semakin kompleks. sedang truk-truk pengangkut sampah dari TPS ke TPA bebannya berkurang dengan cukup banyak. Departemen Perdagangan. Satu di antara model konseptual yang dikembangkan adalah dengan menerapkan Sistem Pengelolaan Reaktor Sampah Terpadu (Silarsatu). untuk mendapatkan tingkat efektifitas dan efisiensi yang tinggi dalam penanganan sampah di kota maka dalam pengelolaannya harus cukup layak diterapkan yang sekaligus disertai upaya pemanfaatannya sehingga diharapkan mempunyai keuntungan berupa nilai tambah. Penataan dan pemanfaatan sampah berbasis masyarakat secara terpadu. Dari sistim ini sampah relatif habis terurai menjadi kompos yang tidak menimbulkan polusi tanah. Sistem Pengelolaan Reaktor Sampah Terpadu (Silarsatu) ini beroperasi dengan cara zero waste system atau sistem pengelolaan sampah tanpa sisa yang menganut motto “ lebih baik memelihara kompos yang ramah lingkungan dan bernilai ekonomis dari pada memelihara sampah yang menurunkan kualitas lingkungan”. serta secara produktif dapat meningkatkan pemberdayaan ekonomi masyarakat. dan Industri maupun lembaga keuangan). Departemen Pertanian. Sistem yang dimaksud di sini merupakan satu diantara alternatif dari berbagai sistem pengelolaan sampah lainya. Model ini akan dapat memangkas rantai transportasi yang panjang dan beban APBD yang berat. yang mengarah kepada pemecahan kelemahan-kelemahan yang ada dalam penanganan sampah perkotaan selama ini.

informasi melalui media TV.2. Dengan sosialisai ini nantinya juga dapat di potret aspirasi. 3. Ade Moetangad Kramadibrata. pendekatan secara ekonomis. Dalam hal ini agar sosialisasi lebih effektif perlu penyelenggaraan kampanye secara rutin melalui kegiatan penyuluhan. oleh karenanya pendekatan ini harus meletakkan masyarakat sebagai subyek. sebagai penentu dimana peran aktif masyarakat memang harus besar atau setidak-tidaknya masyarakat merupakan partner yang penting dalam pengelolaan sampah dengan Sistem Pengelolaan Reaktor Sampah Terpadu (Silarsatu).2007) Pengelolaan sampah terpadu dengan Sistem Pengelolaan Reaktor Sampah Terpadu (Silarsatu) ini. tanpa terlalu didominasi oleh campur tangan yang sifatnya top down atau masyarakat hanya sekedar menerima saja. karena melibatkan mayarakat luas. difahami. Pendekatan Sosial Segala sesuatu agar dapat diterima oleh masyarakat dengan baik. terlebih dahulu harus dilakukan proses sosialisasi terhadap masyarakat. agar betul-betul masyarakat dengan teknologi yang baru yaitu Sistem Pengelolaan Reaktor Sampah Terpadu (Silarsatu). baik pendekatan sosial. pemerhati dan praktisi guna mencari data sedetail mungkin mengenai sampah. sehingga diharapkan dapat memperluas lapangan kerja. dimengerti. kondisi masyarakat secara lebih utuh. pendekatan teknis. diterima dan selanjutnya akan dilaksanakan oleh masyarakat secara utuh dengan kesadaran yang tinggi. dapat diketahui. sehingga bahan ini akan dapat dipakai untuk menyusun organisasi kelembagaan yang akan menangani Sistem Pengelolaan Reaktor Sampah Terpadu (Silarsatu). sehingga akan keluar suatu hubungan korelasi antara input dengan output yang pada akhirnya akan memudah kan perecanaan sistem penanganan dan investasi yang mengacu pada data/kondisi yang ada. maupun perlu adanya kebijakan-kebijakan dan peraturan-peraturan yang mendukungnya. (Roni Kastaman. Peningkatan partisipasi aktif masyarakat dalam pengelolaan sampah. dan penyelenggaraan forum-forum informasi daerah dengan melibatkan masyarakat dan . Studi Penelitian Terpadu Kegiatan ini diawali dengan melibatkan lembaga peneliti. Pengalaman menunjukkan bahwa kegagalan suatu proyek/kegiatan banyak disebabkan karena tidak adanya sosialisai kepada masyarakat yang memadahi atau sosialisasi yang terlalu minim sekali. pendekatan-pendekatan secara menyeluruh. Masyarakat harus didorong untuk mampu bertindak berinovasi dalam membangun sistim ini sesuai dengan kondisi yang ada. ajalah dan lain – lain mengenai dampak dari sampah yang tidak terolah. agar dapat berjalan dengan baik diperlukan studi-studi yang mendalam dan berlanjut. pelatihan pemanfaatan sampah. radio. Penggalian potensi ekonomi dari sampah.

lembaga non pemerintah (ornop/LSM/KSM) sebagai organisasi yang langsung bersentuhan dengan masyarakat (partisipatoris). Gudang penampungan limbah plastik dilengkapi dengan alat mesin penghancur plastik yang memroduksi bijih plastik diexspor. dan pada saat yang relatif bersamaan semua bahan organik yang mudah lapuk setelah terkumpul juga segera diangkut ke depot penanganan dan pengolahan Silarsatu untuk proses selanjutnya Pabrik pengolahan Sampah Silarsatu dilengkapi dengan beberapa gudang penampungan. Tentunya sambil disortir sampah tersebut ditempatkan dalam suatu wadah tertentu yang sudah standart baik warna maupun ukuranya. Disini sampah sudah disortir dan dipilih maupun dipilah menjadi sampah organik dan sampah anorganik oleh tenaga kerja yang terlatih ( kader pembina atau anggota masyarakat yang dibekali penyuluhan dan pelatihan mengenai sampah terpadu ). Gudang penampungan limbah logam dilengkapi alat pengepres logam. Seperti sampah rumah tangga misalnya. atau diangkut ke indutri proses lanjutan (pabrik peleburan dan industri otomotif). Pendekatan Teknis Secara garis besar. Demikian untuk sampah pasar maupun sampah industri dapat di rencanakan sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Di dalam kantong–kantong plastik ini dari sumbernya diangkut dengan gerobak sampah yang sudah di desain sebagai gerobak-gerobak penyortir yang mengangkut sampah ke Silarsatu. Selanjutya. sejenis bahan pengharum sekaligus pengurai bahan organik yang di semprotkan ke dalam kantong plastik. Sedangkan sampah organik yang mudah lapuk segera setelah dikeringanginkan dan diranjang dengan mesin peranjang. dilengkapi alat pendulang kaca. Bioaktivitatir yang digunakan . Sedangkan bahan plastik di hancurkan oleh mesin pulverasi plastik menjadi serbuk/ bijih plastik siap eskpor. warna menunjukkan jenis sampahnya sedang ukuran wadah atau kemasan biasanya hanya untuk alasan mempermudah dalam pengangkutan menuju proses selanjutnya. Setelah dipres logam tersebut segera dijual. sedangkan kantong plastik warna merah untuk sampah anorganik. Bau busuk sampah organik di eliminasi oleh Bioaktivatir. dilakukan sebagai berikut : Pada tahap ini sampah masih berada dimana sampah itu dihasilkan sebagai hasil buangan dari suatu kegiatan. sampah anorganik jenis logam dikumpulkan dan dipilah ulang disortir menurut jenis logamnya (bahannya) dan selanjutnya di pres pada mesin pres menjadi bentuk padatan kubus yang mudah di pindah disimpan. kegiatan pasar dan kegiatan industri. Bahan-bahan anorganik tersebut dikumpulkan dari beberapa tempat. wadahnya dapat berupa kantong plastik dengan warna hitam untuk sampah organik. Khusus gudang penampungan limbah kaca. teknis pengelolaan sampah Sistem Pengelolaan Reaktor Sampah Terpadu (Silarsatu). diantaranya adalah kegiatan rumah tangga. Beberapa logam disortis kembali sesuai dengan jenis logam.

Hal ini diperlukan karena sampah pada dasarnya bukan sekedar permasalahan Pemda atau Dinas Kebersihan setempat. Mikroba ini mampu mempercepat pelapukan dan penguraian bahan organik. Lama proses pengomposan diperkirakan antara 14—18 hari. Pendekatan Ekonomi Pendekatan katan ekonomi pada dasarnya menekankan aspek kelayakan kegiatan pengolahan secara ekonomi. bergantung komposisi sampah organik yang diproses dan aktivitas miktoba pengurai yang digunakan. . komposisi kompas dapat direkayasa sedemikian rupa dengan kebutuhan penggunaanya. Kebijakan Politik Pemerintah daerah diharapkan dapat melakukan kebijakan politik khusunya mengenai pengelolaan sampah dan hendaknya didukung penuh oleh pemerintah pusat dengan melibatkan stakeholder dalam teknis perencanaan. Sampah organik disemprot dengan cairan mikroba pengurai di tempatkan ke dalam rektor sampah untuk diproses menjadi kompos. sebagai pupuk kompos multiguna untuk kesuburan tanah pertanian. penyelenggaraan dan pengembanganya. sekaligus menghilangkan bau yang dihasilkan oleh kegiatan bakteri pembusuk. Kelayakkan tersebut dapat berupa struktus dan rancang bangun instalasi Silarsatu dapat memenuhi persaratan untuk dioprasikan sebagai fasilitas teknis kegiatan industri yang aman dan terkendali . tidak saja bagi pemerintah akan tetap juga bagi masyarakat. untuk menciptakan sistem pengolahan sampah yang memberi nilai ekonnomi baik. baik untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor. dan secara perhitungan tekno-sosio-ekonomi memberikan keuntungan ekonomi dengan nilai tambah yang proposal . dikering-angikan dan diuji melalui pengujian sertifikasi kompos di laboratorium silarsatu. kompos ini dipasarkan sebagai komoditi agrisbisnis. namun lebih dari itu merupakan masalah bagi setiap individu.bila perlu. ramah lingkugan yang keberadanya tidak mengurangi kualitas lingkungan hidup di sekitarnya . atau bahan kondisioner tanah untuk reklamasi lahan marginal. Ukuran yang dapat dijakan dasar untuk menilai kelayakan ekonomi dari implementasi Silarsatu ini adalah dengan NPV (Net present value) dari proyek disertai dengan IRR (Internal Rate of Retum) yang dapat dihasilkan dengan sistem ini. Kompos yang dihasilkan kemudian disaring. Penerapan sistem pengolahan sampah model Silarsatu ini bila dilihat dari pendekatan ekonomi harus dapat memberikan pendapatan tambahan bagi masyarakat sekitar dan bahkan secara makro dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) . atau lahan bekas tambang. baik kualitas sosial maupun kualitas SDA. haruslah dilihat sampai pada skala ekonomi berapa sistem ini akan memberikan dampak ekonomi yang positif. Dengan demikian.dalam sistem ini adalah konsentrat cair yang mengandung kumpulan bakteri tergradasi (degraded bakteria). Setelah dikemas.

dan setiap permasalahan persampahan sebaiknya dimunculkan oleh masyarakat atau organisasi sisial selaku produsen sampah .keluarga. dan tidak membebani Pemerintah Daerah yang berlebihan. 5. diantaranya : 1. cukup lahan-lahan untuk lokasi silarsatu yang lebih kecil yang mendekati daerah pelayanan. Matarantai pengangkutan sampah menjadi sangat kecil. oleh karenanya juga perlu dibangun juga subsistem penegakan hukum (law enforcement) yang memadai. 2. 4. Tidak memerlukan lahan untuk TPA yang luas ataupun TPA terpusat dengan incenerator maupun peralatan lainya dengan biaya operasional yang besar. organisasi dan akan menjadi masalah negara bila sistem perencanaan dan pelaksanaanya tidak dilakukan dengan terpadu dan berkelanjutan. 3. dimana sanksi yang diterapkan disesuaikan jenis pelanggaranya sehingga penerapanya dilakukan secara berjenjang mulai dari yang bersifat mendidik. agar semua fihak memahami akan hak-haknya. Hal ini diharapkan terciptanya sikap masyarakat selaku individu. Dapat menghasilkan nilai tambah hasil pemanfaatan sampah menjadi barang yang memiliki nilai ekonomis. sehingga dengan demikian biaya pengangkutan dapat ditekan . keluarga dan organisasi. demikian juga kewajiban-kewajibanya. Dengan sitem silarpadu ini terjadi peningkatan kualitas lingkungan demikian juga ekosostem dapat terjaga dengan baik. . Pemerintah dan aparat terkait sebaiknya memposisikan kewenangannya sebagai fasilitator dan regulator. hingga penegakan hukum lingkungan bagi pelanggar lingkungan. selain itu keterlibatan aparat terkait dikhawatirkan akan membentuk budaya masyarakat yang bersifat tidak peduli. KEUNTUNGAN SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH TERPADU. Beberapa keuntungan yang dapat diperoleh dari sistem pengelolaan sampah terpadu ini. Dapat menambah lapangan pekerjaan sekaligus dapat lebih mensejahterakan masyarakat pengelola dengan berdirinya badan usaha yang dikelola oleh masyarakat yang mengelola sampah menjadi bahan yang bermanfaat. Aparat terkait sebaiknya tidak ikut terlibat secara teknis dan dalam. Law Enforcement Semua fihak yang berkepentingan berharap sistem yang dibangun dapat berjalan sesuai dengan sistem dan mekanisme yang telah direncanakan dan sistem itu juga telah disepakati bersama. peringatan dan pemungutan kembali sampah yang dibuang. hal ini untuk menghindari meningkatnya anggaran biaya penyelenggaraan. kompensasi pembayaran denda. Perlunya dibangun suatu penegakan hukum dimaksud agar pelanggaran-pelanggaran akan ada sanksi-sanksi. karena sistem yang dipakai dengan pengelolan sampah tanpa sisa.

Ir. 2003. Penerbit Bumi Aksara. Pengelolaan Sampah Menuju ke Sanitasi Lingkungan dan Permasalahannya. 2007. PenerbitGraha Ilmu. Ricki M. Jakarta. Penerbit Alumni. atau bahkan akan tidak ada sama sekali (yang terkait dengan penanganan sampah). M. Ir. TPS) yang mengandalkan pada sistem pengangkutan. MT. Wilayah DKI Jakarta Sebagai Suatu Kasus. 2. KESIMPULAN 1. MSc.2007. Jakarta Barat. Pengelolaan yang sedang berjalan saat ini (TPA. Prof. DAFTAR PUSTAKA Prof. MSc. Amos Neolaka. . A. Jakarta. Roni Kastaman. Jakarta. Prof. Bandung.Ir. Aca Sugandhy. Statistik Persampahan Indonesia Klara Tiwon et all. Ir. Rustam Hakim. Sistem Penelolaan Reaktor Sampah Terpadu Silarsatu.. Dr. 2008. Mulai. Pengelolaan Lingkungan Hidup. Penerbit Djambatan. M. Beban Anggaran Pemerintah Daerah/Kota akan berkurang.Ir.Pd. Yogjakarta dan UIEU University Prees. 2008. 1993 Kota Berwawasan Lingkungan. Prinsip Dasar Kebijaksanaan Pembangunan Berkelanjutan Berwawasan Lingkungan.S. Ir. MS. Karden Eddy Sontang Manik. Ekobuharjo. Sudati Hardjohubojo. Pengelolaan sampah terpadu sebagai salah satu upaya mengatasi proplem sampah diperkotaan. Ade Moetangad Kramadibrata.Dr. 1985. 2007. Disamping memerlukan biaya operasional dan lahan bagi pembuangan akhir yang luas juga menimbulkan banyak dampak yang kurang menguntungkan bagi kehidupan masyarakat kota serta akan menumbuhkan masyarakat yang kurang peduli terhadap lingkungannya. pembuangan dan pengolahan menjadi bahan urugan perlu diubah karena dirasakan sangat tidak ekonomis (cost center). 2005. Kesehatan Lingkungan.6. Kesadaran Lingkungan. Penerbit PT Rinika Cipta. Kementerian Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia (KNLH). Jakarta Aboejoewono. Dr. Kedepan pendekatan yang paling tepat dalam penanganan sampah melalui sistem pengelolaan sampah terpadu yang disebut Silarsatu dimana sistem ini merupakan sitem pengelolaan sampah tanpa sisa (zero waste system) dapat merubah paradigma dari cost center menjadi profit center dengan cara memaksimalkam peran serta masyarakat dan pemanfaatan sampah menjadi bahan yang mempuyai nilai ekonomis.

S.Bandung.Djajadiningrat. Jakarta. Herumartono.Ekosistem Komunitas dan Lingkungan. 1989. PPLH ITB. Daniel. Sarana Sidik. Prof.. D. S.. Helmut F. Penanganan Pemanfaatan Limbah Padat.Weber. 1988. Perkasan.. dan Sutanto. Pencemaran Air dan Pemanfaatan Limbah Industri. Tanah dan Udara. dan Vonny. Jakarta. Murtadho.Dr. Tehnologi Pemusnahan Sampah dengan Incinerator dan Landfill.V. Jakarta. P. Zoer’aini Djamal Irwan. 1992. 2006. 1991. Penerbit Bumi Aksara. Penerbit Gajahmada University Press. Penelitian Secara Cepat Sumber-sumber Pencemaran Air. 1985. G. Ir. Penerbit Pusat Penelitian Program Penelitian Lingkungan Hidup Universitas Sriwijaya. Yogjakarta.Sc. dan Sa’id.Ir. Harry Harsono Amir. H. Jakarta. E. Rajawali. Tehnologi Pemanfaatan Sampah Kota dan Peran Pemulung Sampah : Suatu Pendekatan Konseptual. Jakarta. Otto Soemarwoto. T. D. Permasalahan dan Pengelolaan Sampah Kota Jakarta. Deputi Bidang Analisa Sistem Badan Pengkajian Dan Penerapan Teknologi. Hasan. . Surna T. M. Janianton Damanik. Penerbit Pusat Studi Pariwisata (Puspar) UGM & Andijaya Yogjakarta. Direktorat Riset Operasi Dan Manajemen. 1985. Dasar-dasar Analisis Mengenai Dampak Lingkungan.Universitas Sriwijaya dan Kantor Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup. Dinas Kebersihan Kota DKI Jakarta. M. Penerbit C. A. 1985. Perencanaan Ekowisata. 1986. B.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful