BAB.

I Pendahuluan

E

valuasi merupakan subsistem yang sangat penting dan sangat

di butuhkan dalam setiap sistem pendidikan, karena evaluasi dapat mencerminkan seberapa jauh perkembangan atau kemajuan hasil pendidikan. Dengan evaluasi, maka maju dan mundurnya kualitas pendidikan dapat diketahui, dan dengan evaluasi pula, kita dapat mengetahui titik kelemahan serta mudah mencari jalan keluar untuk berubah menjadi lebih baik ke depan. Tanpa evaluasi, kita tidak bisa mengetahui seberapa jauh keberhasilan siswa, dan tanpa evaluasi pula kita tidak akan ada perubahan menjadi lebih baik,maka dari itu Jadi secara umum evaluasi adalah suatu proses sistemik umtuk mengetahui tingkat keberhasilan suatu program. Evaluasi pendidikan dan pengajaran adalah proses kegiatan untuk mendapatkan informasi data mengenai hasil belajar mengajar yang dialami siswa dan mengolah atau menafsirkannya menjadi nilai berupa data kualitatif atau kuantitatif sesuai dengan standar tertentu. Hasilnya diperlukan untuk membuat berbagai putusan dalam bidang pendidikan dan pengajaran.
Fungsi Evaluasi Pendidikan . Sangat diperlukan dalam pendidikan antara lain memberi informasi yang dipakai sebagai dasar untuk :
1) Membuat kebijaksanaan dan keputusan. 2) Menilai hasil yang dicapai para pelajar. 3) Menilai kurikulum. 4) Memberi kepercayaan kepada sekolah. 5) Memonitor dana yang telah diberikan . 6) Memperbaiki materi dan program pendidikan

Hasil evaluasi yang didapat sampai sekarang tentang dunia pendidikan Nasional kita cukup memperihatinkan, tidak hanya

dalam segi kualitas tapi juga kegagalan dalam membentuk karakter building generasi muda bangsa Pendidikan menjadi tanggung jawab semua pihak, dimana tujuan pendidikan adalah memanusiakan manusia. membentuk SDM yang berkualitas. Namun sayang kebijakan pendidikan yang ada sampai sekarang masih jauh dari harapan, karena kebijakan pendidikan seperti kata pakar pendidikan dari Universitas Nasional Jakarta yaitu HAR Tilaar kebijakan pendidikan di Indonesia sesuai dengan pameo ganti menteri ganti kebijakan. Mengingat terlalu luasnya cakupan dalam evaluasi pendidikan maka penulis akan membatasi hanya pada evaluasi hasil belajar siswa dikarenakan masalah ini sangat sesuai dengan tugas penulis sebagai guru.
Bab. II
Tugas Mata Kuliah Manajemen Kebijakan Pendidikan

2
ANALISIS KESENJANGAN DALAM EVALUASI PENDIDIKAN A. Keadaan Ideal

Seperti yang telah dikemukakan oleh Dr. Muchtar Buchori tujuan dan fungsi evaluasi adalah :
1.

untuk mengetahui kemajuan peserta didik setelah ia

mengalami pendidikan selama jangka waktu tertentu
2.

untuk mengetahui tingkat efisiensi metode-metode

pendidikan yang dipergunakan pendidik selam jangka

waktu tertentu tadi. Maka untuk memperoleh hasil evaluasi yang sebaik-baiknya, para evaluator dalam hal ini para guru dituntut untuk memiliki hal hal sebagai berikut : 1. Mampu melaksanakan, persyaratan pertama yang harus dipenuhi oleh evaluator adalah bahwa mereka harus memiliki kemampuan untuk melaksanakan evaluasi yang didukung oleh teori dan keterampilan praktik. 2.Cermat, dapat melihat celah-celah dan detail dari program serta bagian program yang akan dievaluasi. 3.Objekti f, tidak mudah dipengaruhi oleh keinginan pribadi, atau juga keinginan/tekanan dari pihak lain agar dapat mengumpulkan data sesuai dengan keadaannya, selanjutnya dapat mengambil kesimpulan sebagaimana diatur oleh ketentuan yang harus diikuti. 4. Sabar dan tekun , agar di dalam melaksanakan tugas dimulai dari membuat rancangan kegiatan dalam bentuk menyusun proposal,
Tugas Mata Kuliah Manajemen Kebijakan Pendidikan

3

Teknik evaluasi digolongkan menjadi 2 yaitu teknik tes dan teknik non Tes. 1. Teknik non tes meliputi ; skala bertingkat, kuesioner,daftar cocok, wawancara, pengamatan, riwayat hidup.

c. kuesioner dibagi menjadi kuesioner langsung dan kuesioner tidak langsung. Wawancara. Daftar cocok adalah sebuah daftar yang berisikan pernyataan beserta dengan kolom pilihan jawaban. Sedangkan kuesioner terbuka adalah daftar pertanyaan dimana si penjawab diperkenankan memberikan jawaban dan pendapat nya secara terperinci sesuai dengan apa yang ia ketahui. Sedangkan kuesiioner tidak langsung dijawab oleh secara tidak langsung oleh orang yang dekat dan mengetahui si penjawab seperti contoh. Dan bila ditinjau dari segi cara menjawab maka kuesioner terbagi menjadi kuesioner tertutup dan kuesioner terbuka. Kuesioner tertututp adalah daftar pertanyaan yang memiliki dua atau lebih jawaban dan si penjawab hanya memberikan tanda silang (X) atau cek (¥) Tugas Mata Kuliah Manajemen Kebijakan Pendidikan 20 pada awaban yang ia anggap sesuai. Kuesioner adalah daftar pertanyaan yang terbagi dalam beberapa kategori. Kuesioner langsung adalah kuesioner yang dijawab langsung oleh orang yang diminta jawabannya. d. apabila yang hendak dimintai jawaban adalah seseorang yang buta huruf maka dapat dibantu oleh anak. Dari segi yang memberikan jawaban. Rating scale atau skala bertingkat menggambarkan suatu nilai dalam bentuk angka. Angka-angka tersebut kemudian dapat dipergunakan untuk melakukan perbandingan terhadap angka yang lain. b.a. suatu cara yang dilakukan secara lisan yang berisikan pertanyaan-pertanyaan yang sesuai dengan tujuan informsi yang . Si penjawab diminta untuk memberikan tanda silang (X) atau cek (¥) pada jawaban yang ia anggap sesuai. Angka-angak diberikan secara bertingkat dari anggak terendah hingga angkat paling tinggi. tetangga atau anggota keluarganya.

(2) Observasi sistematik. f. Pengamatan atau observasi terdiri dari 3 macam yaitu : (1) observasi partisipan yaitu pengamat terlibat dalam kegiatan kelompok yang diamati. Pengamatan atau observasi. Riwayat hidup. wawancara bebas yaitu si penjawab (responden) diperkenankan untuk memberikan jawaban secara bebas sesuai dengan yang ia diketahui tanpa diberikan batasan oleh pewawancara.hendak digali. evaluasi ini dilakukan dengan mengumpulkan data dan informasi mengenai objek evaluasi sepanjang riwayat hidup objek evaluasi tersebut. wawancara dibagi dalam 2 kategori. pengamat tidak terlibat dalam kelompok yang diamati. Pengamat telah Tugas Mata Kuliah Manajemen Kebijakan Pendidikan 21 membuat list faktor faktor yang telah diprediksi sebagai memberikan pengaruh terhadap sistem yang terdapat dalam obejek pengamatan. e. 2.informasi yang diperlukan saja. adalah suatu teknik yang dilakuakn dengan mengamati dan mencatat secara sistematik apa yang tampak dan terlihat sebenarnya. Kedua adalah wawancara terpimpin dimana pewawancara telah menyusun pertanyaan pertanyaan terlebih dahulu yang bertujuan untuk menggiring penjawab pada informsi. yaitu pertama. Teknik Tes .

Winkel menyatakan bahwa yang dimaksud dengan evaluasi formatif adalah penggunaan tes-tes selama proses pembelajaran yang masih berlangsung. for purpose of revising the instruction to improve its effectiveness and appeal. diagnostik a. dan dimaksudkan untuk mengetahui sejauh manakah suatu proses pembelajaran telah berjalan sebagaimana yang direncanakan. Ukuran Tugas Mata Kuliah Manajemen Kebijakan Pendidikan 22 keberhasilan atau kemajuan siswa dalam evaluasi ini adalah penguasaan kemampuan yang telah dirumuskan dalam rumusan tujuan (TIK) yang telah ditetapkan sebelumnya. agar siswa dan guru memperoleh informasi ( feed b a ck) mengenai kemajuan yang telah dicapai. Formatif Evaluasi formatif adalah evaluasi yang dilakukan pada setiap akhir pembahasan suatu pokok bahasan / topik. TIK yang akan dicapai pada setiap pembahasan suatu pokok bahasan. Evaluasi ini dimaksudkan untuk mengontrol sampai seberapa jauh siswa telah menguasai materi yang diajarkan pada pokok bahasan tersebut. Wiersma menyatakan formative testing is done to monitor student progress over period of time . dirumuskan dengan mengacu pada tingkat kematangan siswa. Sementara Tesmer menyatakan fo r m a tive evaluation is a judgement of the strengths and weakness of instruction in its developing stages. sumatif c.Dalam evaluasi pendidikan terdapat 3 macam tes yaitu : a. formatif b. Artinya TIK dirumuskan dengan memperhatikan kemampuan awal anak dan .

Sumatif Evaluasi sumatif adalah evaluasi yang dilakukan pada setiap akhir satu satuan waktu yang didalamnya tercakup lebih dari satu pokok bahasan. Winkel mendefinisikan evaluasi sumatif Tugas Mata Kuliah Manajemen Kebijakan Pendidikan 23 . Sementara bagi siswa yang telah berhasil akan melanjutkan pada topik berikutnya. Dengan kata lain evaluasi formatif dilaksanakan untuk mengetahui seberapa jauh tujuan yang telah ditetapkan telah tercapai. dan dimaksudkan untuk mengetahui sejauhmana peserta didik telah dapat berpindah dari suatu unit ke unit berikutnya. b. Dari hasil evaluasi ini akan diperoleh gambaran siapa saja yang telah berhasil dan siapa yang dianggap belum berhasil untuk selanjutnya diambil tindakan-tindakan yang tepat. yaitu materi tambahan yang sifatnya perluasan dan pendalaman dari topik yang telah dibahas. bahkan bagi mereka yang memiliki kemampuan yang lebih akan diberikan pengayaan. yaitu bantuan khusus yang diberikan kepada siswa yang mengalami kesulitan memahami suatu pokok bahasan tertentu.tingkat kesulitan yang wajar yang diperkiran masih sangat mungkin dijangkau/ dikuasai dengan kemampuan yang dimiliki siswa. Tindak lanjut dari evaluasi ini adalah bagi para siswa yang belum berhasil maka akan diberikan r em ed ia l.

Pada tahap awal dilakukan terhadap calon siswa sebagai input.kelemahan yang ada pada siswa sehingga dapat diberikan perlakuan yang tepat. Pada tahap proses evaluasi ini diperlukan untuk mengetahui bahanbahan pelajaran mana yang masih belum dikuasai dengan baik. bahkan setelah selesai pembahasan suatu bidang studi. yang meliputi beberapa atau semua unit pelajaran yang diajarkan dalam satu semester. Evaluasi diagnostik dapat dilakukan dalam beberapa tahapan. selama proses.sebagai penggunaan tes-tes pada akhir suatu periode pengajaran tertentu. Sementara pada tahap akhir evaluasi . Diagnostik Evaluasi diagnostik adalah evaluasi yang digunakan untuk mengetahui kelebihan-kelebihan dan kelemahan. sehingga guru dapat memberi bantuan secara dini agar siswa tidak tertinggal terlalu jauh. baik pada tahap awal. c. maupun akhir pembelajaran. Dalam hal ini evaluasi diagnostik dilakukan untuk mengetahui kemampuan awal atau pengetahuan prasyarat yang harus dikuasai oleh siswa.

meski dilkukan dengan metode yang berbeda. Evaluator hanya membantu memberikan alternatif. (dikutip dari Bloom et.diagnostik ini untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa atas seluruh materi yang telah dipelajarinya. Perbandingan Tes Diagnostik. 2. tidak ada evaluasi yang sempurna. Evaluasi adalah seni. 4. Evaluasi bertujuan membantu pemerintah dalam mencapai tujuan pembeljaran bagi masyrakat. Evaluasi sendiri memiliki beberapa prinsip dasar yaitu . 3. Evaluator tidak berwennag untuk memberikan rekomendasi terhadap keberlangsungan sebuah program.all 1971). Penelitian evaluasi adalah tanggung jawab tim bukan perorangan. dan menentukan Evaluasi merupakan kegiatan pengumpulan kenyataan mengenai proses pembelajaran secara sistematis untuk menetapkan apakah terjadi perubahan terhadap peserta didik dan sejauh apakah perubahan tersebut mempengaruhi kehidupan peserta didik. Pelaku evaluasi atau evaluator tidak memberikan jawaban atas suatu pertanyaan tertentu. 5.al 1971 mengatakan bahwa evaluasi adalah proses menggambarkan. dan Tes Sumatif Ditinjau dari Tes Diagnostik Tes Formatif Tes Sumatif Fungsinya mengelompokkan siswa berdasarkan kemampuannya Umpan balik bagi siswa. Tes Formatif. 1. Evaluator tidak terikat pada satu sekolah demikian pula sebaliknya. . guru maupun program untuk menilai Memberi tanda telah mengikuti suatu program. Stufflebeam et. memperoleh dan menyajikan informasi yang berguna untuk menilai alternatif keputusan.

Pedagogis 8. Evaluasi pendidikan memiliki beberapa fungsi yaitu . Proses pembelajaran memiliki 3 hal penting yaitu. Fungsi penempatan 4. Evaluasi memerlukan data yang akurat dan cukup. Evaluasi memberikan gambaran deskriptif yang jelas mengenai hubungan sebab akibat. hingga perlu pengalaman untuk pendalaman metode penggalian informasi. Penentuan tindak lanjut pengembangan PRINSIP PRINSIP EVALUASI 1. Fungsi selektif 2. media dan bahan beljar. evaluasi sumatif dan evaluasi program. 7. 9. Koherensi 6. 1. Hasil evaluasi haruslah menjadi aalat akuntabilitas atau bahan pertnggungjawaban bagi pihak yang berkepentingan seeprti orangtua siswa. 1. TEKNIK EVALUASI . 5. input. transformasi adalah segala unsur yang terkait dengan proses pembelajaran yaitu . 4. prinsip ini merupakan suatu hal yang mutlak. Pertanggungjawaban kepada pemerintah dan masyarakat 3. evauasi harus dilakukan dengan prinsip keterpaduan antara tujuan intrusional pengajaran. dan lainnya. Tujuan evaluasi adalah untuk melihat dan mengetahui proses yang terjadi dalam proses pembelajaran. metode pengajaran. 3. Sedangkan output adalah capaian yang dihasilkan dari proses pembelajaran. evaluasi adalah proses. 8. Perlu adanya tool penilai dari aspek pedagogis untuk melihat perubahan sikap dan perilaku sehingga pada akhirnya hasil evaluasi mampu menjadi motivator bagi diri siswa. 10. jika diperlukan revisi maka lakukanlah revisi. materi pembelajaran dan metode pengjaran. Dengan demikian dapat dimengerti bahwa sesungguhnya evaluasi adalah proses mengukur dan menilai terhadap suatu objek dengan menampilkan hubungan sebab akibat diantara faktor yang mempengaruhi objek tersebut. Evaluasi akan mntap apabila dilkukan dengan instrumen dan teknik yang aplicable. tapi kebutuhan mutlak. transformasi dan output. Akuntabel 10. Fungsi keberhasilan Maksud dari dilakukannya evaluasi adalah . 9. 7. sarana penunjang dan sistem administrasi. Keterpaduan 2. sekolah. guru. Evaluator hendaknya mampu membedakan yang dimaksud dengan evaluasi formatif. Fungsi diagnostik 3. bukan terpaku pada angka soalan tes. Keterlibatan peserta didik 4. Input adalah peserta didik yang telah dinilai kemampuannya dan siap menjalani proses pembelajaran. evaluasi harus berkaitan dengan materi pengajaran yang telah dipelajari dan sesuai dengan ranah kemampuan peserta didik yang hendak diukur. karena keterlibatan peserta didik dalam evaluasi bukan alternatif.6. Perbaikan sistem 2.

Rating scale atau skala bertingkat menggambarkan suatu nilai dalam bentuk angka. teknik non tes meliputi . Pengamatan atau observasi. Angkaangka tersebut kemudian dapat dipergunakan untuk melakukan perbandingan terhadap angka yang lain. Kuesioner langsung adalah kuesioner yang dijawab langsung oleh orang yang diminta jawabannya. a. Riwayat hidup. evaluasi ini dilakukan dengan mengumpulkan data dan informasi mengenai objek evaluasi sepanjang riwayat hidup objek evaluasi tersebut. wawancara bebas yaitu si penjawab (responden) diperkenankan untuk memberikan jawaban secara bebas sesuai dengan yang ia diketahui tanpa diberikan batasan oleh pewawancara. pengamat tidak terlibat dalam kelompok yang diamati. apabila yang hendak dimintai jawaban adalah seseorang yang buta huruf maka dapat dibantu oleh anak. Kuesioner tertututp adalah daftar pertanyaan yang memiliki dua atau lebih jawaban dan si penjawab hanya memberikan tanda silang (X) atau cek (¥) pada awaban yang ia anggap sesuai. kuesioner. Wawancara. tes formatif c. kuesioner dibagi menjadi kuesioner langsung dan kuesioner tidak langsung. b. pengamatan. Kedua adalah wawancara terpimpin dimana pewawancara telah menyusun pertanyaan pertanyaan terlebih dahulu yang bertujuan untuk menggiring penjawab pada informsi-informasi yang diperlukan saja. d. 2. (2) Observasi sistematik. riwayat hidup. wawancara dibagi dalam 2 kategori. Sedangkan kuesioner terbuka adalah daftar pertanyaan dimana si penjawab diperkenankan memberikan jawaban dan pendapat nya secara terperinci sesuai dengan apa yang ia ketahui. tes sumatif Penjelasan mengenai 3 macam tes diatas dapat dibaca pada bagian Teknik Tes PROSEDUR MELAKSANAKAN EVALUASI . tetangga atau anggota keluarganya. Pengamatan atau observasi terdiri dari 3 macam yaitu : (1) observasi partisipan yaitu pengamat terlibat dalam kegiatan kelompok yang diamati. Kuesioner adalah daftar pertanyaan yang terbagi dalam beberapa kategori. Angkaangak diberikan secara bertingkat dari anggak terendah hingga angkat paling tinggi. Teknik tes. Sedangkan kuesiioner tidak langsung dijawab oleh secara tidak langsung oleh orang yang dekat dan mengetahui si penjawab seperti contoh. Daftar cocok adalah sebuah daftar yang berisikan pernyataan beserta dengan kolom pilihan jawaban. Dan bila ditinjau dari segi cara menjawab maka kuesioner terbagi menjadi kuesioner tertutup dan kuesioner terbuka. skala bertingkat. Dalam evaluasi pendidikan terdapat 3 macam tes yaitu : a. c. wawancara.daftar cocok. suatu cara yang dilakukan secara lisan yang berisikan pertanyaan-pertanyaan yang sesuai dengan tujuan informsi yang hendak digali. Pengamat telah membuat list faktor faktor yang telah diprediksi sebagai memberikan pengaruh terhadap sistem yang terdapat dalam obejek pengamatan. adalah suatu teknik yang dilakuakn dengan mengamati dan mencatat secara sistematik apa yang tampak dan terlihat sebenarnya. Dari segi yang memberikan jawaban. tes diagnostik b. f.Teknik evaluasi digolongkan menjadi 2 yaitu teknik tes dan teknik non Tes 1. Si penjawab diminta untuk memberikan tanda silang (X) atau cek (¥) pada awaban yang ia anggap sesuai. e. yaitu pertama.

apa saja yang hendak dievaluasi. Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya bahwa evaluasi pendidikan secara garis besar melibatkan 3 unsur yaitu input. uji validitas. maka sesungguhnya yang sedang dilakukan adalah mengkuantifikasi keadaan seseorang atau tempat kedalam angka. observasi. verifiksi data (uji instrument. Pada hakekatnya. pengumpulan data ( tes. teknikapa yang hendak dipakai. dan sebagainya sesuai dengan tujuan) c. dapat dipahami bahwa pengukuran itu bersifat kuantitatif Maksud dilaksanakan pengukuran sebagaimana dikemukakan Anas Sudijono (1996: 4) ada tiga macam yaitu : (1) pengukuran yang dilakukan bukan untuk menguji sesuatu seperti orang mengukur jarak dua buah kota. kegiatan ini adalah membandingkan sesuatu dengan atau sesuatu yang lain (Anas Sudijono. data apa saja yang hendak digali. dsb) d. Penilaian dan Evaluasi Pendidikan a. Langkah-langkah dalam melaksanakan kegiatan evaluasi pendidikan secara umum adalah sebagai berikut : a. proses dan out put. Apabila prosesdur yang dilakukan tidak bercermin pada 3 unsur tersebut maka dikhawatirkan hasil yang digambarkan oleh hasil evaluasi tidak mampu menggambarkan gambaran yang sesungguhnya terjadi dalam proses pembelajaran. uji reliabilitas. apakah hendak di olah dengan statistikatau non statistik. .Dalam melaksanakan evaluasi pendidikan hendaknya dilakukan secara sistematis dan terstruktur. (2) pengukuran untuk menguji sesuatu seperti menguji daya tahan lampu pijar serta (3) pengukuran yang dilakukan untuk menilai. Apabila hubungan sebab akibat tersebut muncul maka akan lahir alternatif yang ditimbulkan oleh evaluasi itu. jika ditolak mengapa? Jika diterima mengapa? Berapa taraf signifikannya?) interpretasikan data tersebut secara berkesinambungan dengan tujuan evaluasi sehingga akan tampak hubungan sebab akibat. indikator. perencanaan (mengapa perlu evaluasi. Pengukuran ini dilakukan dengan jalan menguji hal yang ingin dinilai seperti kemajuan belajar dan lain sebagainya. dimana. siapa yang hendak dievaluasi. Pengukuran Pengukuran dapat diartikan dengan kegiatan untuk mengukur sesuatu. apakah dengan parametrik atau non parametrik. pengolahan data ( memaknai data yang terkumpul. tujuan evaluasi. diakhiri dengan uji hipotesis ditolak atau diterima. dsb) b. Karenanya. Pengukuran. kualitatif atau kuantitatif. kuesioner. penafsiran data. penyusunan instrument. SPSS ) e. 1996: 3) Jika kita mengukur suhu badan seseorang dengan termometer. atau mengukur jarak kota A dengan kota B. kapan. apakah dengan manual atau dengan software (misal : SAS. ( ditafsirkan melalui berbagai teknik uji.

Dalam sistem evaluasi hasil belajar. Hasil jawaban siswa tersebut ditafsirkan dalam bentuk nilai. Kesalahan yang mungkin muncul dalam melakukan pengukuran khususnya dibidang ilmuilmu sosial dapat berasal dari alat ukur. Peningkatan kualitas pendidikan dapat dilihat dari nilai-nilai yang diperoleh siswa. maka nontes dapat memberikan informasi tentang karakteristik afektif obyek. b. Bagi siswa sendiri. Menurut Mardapi (2004: 14) pengukuran pada dasarnya adalah kegiatan penentuan angka terhadap suatu obyek secara sistematis. maka hasil tes akan memberikan gambaran dimana posisinya jika dibandingkan dengan orang lain yang mengikuti tes tersebut. Acuan norma berasumsi bahwa kemampuan seseorang berbeda serta dapat digambarkan menurut kurva distribusi normal. menurut Djemari Mardapi (1999: 8) penilaian adalah kegiatan menafsirkan atau mendeskripsikan hasil pengukuran. Penilaian dilakukan setelah siswa menjawab soal-soal yang terdapat pada tes. Sedangkan acuan kriteria berasumsi bahwa apapun bisa dipelajari semua orang namun waktunya bisa berbeda. cara mengukur dan obyek yang diukur. kedua acuan ini dapat dipergunakan. Jika tes dapat memberikan informasi tentang karakteristik kognitif dan psikomotor. sistem penilaian yang baik akan mampu memberikan motivasi untuk selalu meningkatkan kemampuannya. Penggunaan acuan norma dilakukan untuk menyeleksi dan mengetahui dimana posisi seseorang terhadap kelompoknya. Proses ini dapat dilakukan dengan mengamati kinerja mereka. Tentu saja untuk itu diperlukan sistem penilaian yang baik dan tidak bias. informasi yang diperoleh dari hasil pengukuran selanjutnya dideskripsikan dan ditafsirkan. mendengarkan apa yang mereka katakan serta mengumpulkan informasi yang sesuai dengan tujuan melalui apa yang telah dilakukan siswa. Misalnya jika seseorang mengikuti tes tertentu. kesalahan dalam mengangkakan aspek-aspek ini harus sekecil mungkin. Selain dengan tes. Pengukuran dalam bidang pendidikan erat kaitannya dengan tes. afektif dan psikomotor dirubah menjadi angka. langkah selanjutnya setelah melaksanakan pengukuran adalah penilaian. Hal ini dikarenakan salah satu cara yang sering dipakai untuk mengukur hasil yang telah dicapai siswa adalah dengan tes. Sistem penilaian yang baik akan mampu memberikan gambaran tentang kualitas pembelajaran sehingga pada gilirannya akan mampu membantu guru merencanakan strategi pembelajaran. Proses pengumpulan ini dilakukan untuk menaksir apa yang telah diperoleh siswa setelah mengikuti pelajaran selama waktu tertentu. terkadang juga dipergunakan nontes.Dalam dunia pendidikan. Menurut Djemari Mardapi (2004: 18) ada dua acuan yang dapat dipergunakan dalam melakukan penilaian yaitu acuan norma dan acuan kriteria. Adapun acuan kriteria dipergunakan untuk menentukan kelulusan . Karenanya. Oleh karena itu. Dalam melakukan penilaian dibidang pendidikan. Karenanya. yang dimaksud pengukuran sebagaimana disampaikan Cangelosi (1995: 21) adalah proses pengumpulan data melalui pengamatan empiris. Karakteristik yang terdapat dalam obyek yang diukur ditransfer menjadi bentuk angka sehingga lebih mudah untuk dinilai. aspek-aspek yang terdapat dalam diri manusia seperti kognitif. Penilaian Penilaian merupakan bagian penting dan tak terpisahkan dalam sistem pendidikan saat ini. penilaian merupakan langkah lanjutan setelah dilakukan pengukuran. Menurut Cangelosi (1995: 21) penilaian adalah keputusan tentang nilai.

Menurut Djemari Mardapi (2004: 19) evaluasi adalah proses mengumpulkan informasi untuk mengetahui pencapaian belajar kelas atau kelompok. evaluasi sebagaimana dikatakan Gronlund (1990: 5) merupakan proses yang sistematis tentang mengumpulkan. penilaian dan evaluasi merupakan kegiatan yang bersifat hierarki. ada beberapa hal yang menjadi ciri khas dari evaluasi yaitu: (1) sebagai kegiatan yang sistematis. Evaluasi Pengukuran. Artinya ketiga kegiatan tersebut dalam kaitannya dengan proses belajar mengajar tidak dapat dipisahkan satu sama lain dan dalam pelaksanaannya harus dilaksanakan secara berurutan. Acuan ini biasanya digunakan untuk menentukan kelulusan seseorang. Pengertian evaluasi Menurut Suharsimi Arikunto (2004 : 1) evaluasi adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu. Sebuah program pembelajaran seharusnya dievaluasi disetiap akhir program tersebut. yang selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil keputusan. Dari pendapat di atas. c. bukan merupakan landasan untuk mengambil keputusan dalam evaluasi. hasil yang sama yang didapat dari pengukuran ataupun penilaian akan dapat diinterpretasikan berbeda sesuai dengan acuan yang digunakan. Asumsi-asumsi ataupun prasangka. Evaluasi Menurut Suharsimi Arikunto (2004: 1) adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu. Acuan kriteria. ini biasanya dipergunakan untuk ujianujian praktek. menganalisis dan menafsirkan informasi untuk menentukan sejauhmana tujuan pembelajaran telah dicapai oleh siswa.seseorang dengan membandingkan hasil yang dicapai dengan kriteria yang telah ditetapkan terlebih dahulu. dan (3) kegiatan evaluasi dalam pendidikan tidak pernah terlepas dari tujuan-tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya. (2) dalam pelaksanaan evaluasi dibutuhkan data dan informasi yang akurat untuk menunjang keputusan yang akan diambil. yang selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk . Misalnya. Seseorang yang dikatakan telah lulus berarti bisa melakukan apa yang terdapat dalam kriteria yang telah ditetapkan dan sebaliknya. kecepatan kendaraan 40 km/jam akan memiliki interpretasi yang berbeda apabila kendaraan tersebut adalah sepeda dan mobil. Dengan adanya acuan norma atau kriteria. pelaksanaan evaluasi haruslah dilakukan secara berkesinambungan. Dalam bidang pendidikan. Evaluasi Program: Sebuah Pengantar a. Karena itulah pendekatan goal oriented merupakan pendekatan yang paling sesuai untuk evaluasi pembelajaran.

program-program yang berjalan tidak akan dapat dilihat efektifitasnya. Dengan demikian. penggambaran (delineating). Karenanya evaluasi bukan merupakan hal baru dalam kehidupan manusia sebab hal tersebut senantiasa mengiringi kehidupan seseorang. Dari pengertian-pengertian tentang evaluasi yang telah dikemukakan beberapa orang diatas. dalam keberhasilan ada dua konsep yang terdapat didalamnya yaitu efektifitas dan efisiensi. kita dapat menarik benang merah tentang evaluasi yakni evaluasi merupakan sebuah proses yang dilakukan oleh seseorang untuk melihat sejauh mana keberhasilan sebuah program. Terkadang. antara kedua kegiatan ini memiliki metode yang sama.menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil keputusan. b. Tujuan umum diarahkan kepada program secara keseluruhan sedangkan tujuan khusus lebih difokuskan pada masing-masing komponen. demikian juga dengan evaluasi. penelitian evaluasi. evaluasi program bertujuan untuk menyediakan data dan informasi serta rekomendasi bagi pengambil kebijakan (decision maker) untuk memutuskan apakah akan melanjutkan. penyediaan (providing) informasi yang berguna (useful information) dan alternatif keputusan (decision alternatives). Fungsi utama evaluasi dalam hal ini adalah menyediakan informasi-informasi yang berguna bagi pihak decision maker untuk menentukan kebijakan yang akan diambil berdasarkan evaluasi yang telah dilakukan. Efektifitas merupakan perbandingan antara output dan inoutnya sedangkan efisiensi adalah taraf pendayagunaan input untuk menghasilkan output lewat suatu proses (Sudharsono 1994 : 2) Dalam evaluasi terdapat perbedaan yang mendasar dengan penelitian meskipun secara prinsip. Dalam evaluasi ada beberapa unsur yang terdapat dalam evaluasi yaitu : adanya sebuah proses (process) perolehan (obtaining). produksi serta alternatif prosedur tertentu. Seorang manusia yang telah mengerjakan suatu hal. Sebagaimana disampaikan oleh Sudharsono (1994 : 3) penelitian evaluasi mengandung makna pengumpulan informasi tentang hasil yang telah dicapai oleh sebuah program yang dilaksanakan secara sistematik dengan menggunakan metodologi ilmiah sehingga darinya dapat dihasilkan data yang akurat dan obyektif. Menurut stufflebeam dalam worthen dan sanders (1979 : 129) evaluasi adalah : process of delineating. Karenanya. Perbedaan tersebut terletak pada tujuan pelaksanaannya. Tanpa adanya evaluasi. Jika penelitian bertujuan untuk membuktikan sesuatu (prove) maka evaluasi bertujuan untuk mengembangkan (improve). Sesuatu yang berharga tersebut dapat berupa informasi tentang suatu program. Karenanya. Keberhasilan program itu sendiri dapat dilihat dari dampak atau hasil yang dicapai oleh program tersebut. pasti akan menilai apakah yang dilakukannya tersebut telah sesuai dengan keinginannya semula. kebijakan-kebijakan baru sehubungan dengan program itu tidak akan didukung oleh data. memperbaiki atau menghentikan sebuah program. . Implementasi program harus senantiasa di evaluasi untuk melihat sejauh mana program tersebut telah berhasil mencapai maksud pelaksanaan program yang telah ditetapkan sebelumnya. obtaining and providing useful information for judging decision alternatives. Menurut Worthen dan Sanders (1979 : 1) evaluasi adalah mencari sesuatu yang berharga (worth). penelitian dan evaluasi juga digabung menjadi satu frase. Menurut Suharsimi Arikunto (2004 : 13) ada dua tujuan evaluasi yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan evaluasi program Setiap kegiatan yang dilaksanakan mempunyai tujuan tertentu.

Evaluator hanya menyediakan informasi-informasi yang dibutuhkan oleh pengambil kebijakan (decision maker) d. Tetapi. sebuah program juga tidak hanya terdiri dari satu kegiatan melainkan rangkaian kegiatan yang membentuk satu sistem yang saling terkait satu dengan lainnya dengan melibatkan lebih dari satu orang untuk melaksanakannya. Berdasarkan pengertian diatas. program dapat diartikan dengan rencana atau rancangan kegiatan yang akan dilakukan oleh seseorang di kemudian hari. Michael ( 1984 : 7) model-model evaluasi dapat dikelompokan menjadi enam yaitu : 1. maka sebuah program adalah rangkaian kegiatan yang dilaksanakan secara berkesinambungan secara waktu pelaksanaannya biasanya panjang. memperbaiki atau menghentikan program tersebut. (2) mencari data yang relevan dengan penelitian dan (3) menyediakan informasi yang dibutuhkan pihak pengambil keputusan untuk melanjutkan. maka evaluasi program sebagaimana dimaknai oleh Kirkpatrick dapat dimaknai sebagai sebuah proses untuk mengetahui apakah sebuah program dapat direalisasikan atau tidak dengan cara mengetahui efektifitas masing-masing komponennya melalui rangkain informasi yang diperoleh evaluator (Kirkpatrick 1996 : 3). Model-model evaluasi Ada banyak model yang bisa digunakan dalam melakukan evaluasi program khususnya program pendidikan. pengambil keputusan itu sendiri bukanlah evaluator melainkan pihak lain yang lebih berwenang. ada tiga tahap rangkaian evaluasi program yaitu : (1) menyatakan pertanyaan serta menspesifikasikan informasi yang hendak diperoleh. Meskipun terdapat beberapa perbedaan antara model-model tersebut. Menurut mereka. Goal Oriented Evaluation Dalam model ini. Selain itu. berlangsung dalam proses berkesinambungan dan terjadi dalam satu organisasi yang melibatkan sekelompok orang. Hakekat Evaluasi Program Menurut John L Herman dalam Tayibnapis (1989 : 6) program adalah segala sesuatu yang anda lakukan dengan harapan akan mendatangkan hasil atau manfaat. Menurut Suharsimi Arikunto (2004 : 2) program dapat dipahami dalam dua pengertian yaitu secara umum dan khusus. seorang evaluator secara terus menerus melakukan pantauan terhadap . Menilik pengertian secara khusus ini. Sedangkan pengertian khusus dari program biasanya jika dikaitkan dengan evaluasi yang bermakna suatu unit atau kesatuan kegiatan yang merupakan ralisasi atau implementasi dari suatu kebijakan. Hal ini dikarenakan kita akan melihat apakah program tersebut berhasil menjalankan fungsi sebagaimana yang telah ditetapkan sebelumnya. Menurut Stephen Isaac dan Willian B. Dari pengertian ini dapat ditarik benang merah bahwa semua perbuatan manusia yang darinya diharapkan akan memperoleh hasil dan manfaat dapat disebut program. tetapi secara umum model-model tersebut memiliki persamaan yaitu mengumpulkan data atau informasi obyek yang dievaluasi sebagai bahan pertimbangan bagi pengambil kebijakan. Menurut Isaac dan Michael (1984 : 6) sebuah program harus diakhiri dengan evaluasi.c. Secara umum. (Suharsimi Arikunto dan Cecep Safruddin Abdul Jabbar : 2004).

Evaluation Research Sebagaimana disebutkan diatas. Goal Free Evaluation Model yang dikembangkan oleh Michael Scriven ini yakni Goal Free Evaluation Model justru tidak memperhatikan apa yang menjadi tujuan program sebagaimana model goal oriented evaluation. Dalam proses ini. Evaluasi proses (process evaluation) diarahkan pada sejauh mana kegiatan yang direncanakan tersebut sudah dilaksanakan. penelitian evaluasi memfokuskan kegiatannya pada penjelasan dampak-dampak pendidikan serta mencari solusi-solusi terkait dengan strategi instruksional. dimodifikasi kembali atau bahkan akan dihentikan 3. 4. Ketika sebuah program telah disetujui dan dimulai. Evaluasi input (input evaluation) merupakan evaluasi yang bertujuan menyediakan informasi untuk menentukan bagaimana menggunakan sumberdaya yang tersedia dalam mencapai tujuan program. Decision Oriented Evaluation Dalam model ini. evaluasi harus dapat memberikan landasan berupa informasi-informasi yang akurat dan obyektif bagi pengambil kebijakan untuk memutuskan sesuatu yang berhubungan dengan program. evaluasi berusaha melukiskan proses sebuah program dan pandangan tentang nilai dari orang-orang yang terlibat dalam program tersebut. Worthern & James R Sanders : 1979) Karenanya upaya yang dilakukan evaluator dalam evaluasi konteks ini adalah memberikan gambaran dan rincian terhadap lingkungan. Model CIPP merupakan salah satu model yang paling sering dipakai oleh evaluator. Evaluasi CIPP yang dikembangkan oleh stufflebeam merupakan salah satu contoh model evaluasi ini. Model ini terdiri dari 4 komponen evaluasi sesuai dengan nama model itu sendiri yang merupakan singkatan dari Context. evaluasi produk menyediakan informasi apakah program itu akan dilanjutkan. Salah satu model yang bisa mewakili model ini adalah discrepancy model yang dikembangkan oleh Provus. baik hal-hal yang positif maupun hal-hal yang negatif. Yang harus diperhatikan justru adalah bagaimana proses pelaksanaan program. 5. kebutuhan serta tujuan (goal). Model ini melihat lebih jauh tentang adanya kesenjangan (Discrepancy) yang ada dalam setiap komponen yakni apa yang seharusnya dan apa yang secara riil telah dicapai.tujuan yang telah ditetapkan. Input. dengan jalan mengidentifikasi kejadian-kejadian yang terjadi selama pelaksanaannya. 2. Evaluasi produk menunjukkan perubahan-perubahan yang terjadi pada input. Evaluasi ini bertujuan mengukur dan menginterpretasikan capaian-capaian program. maka dibutuhkanlah evaluasi proses dalam menyediakan umpan balik (feedback) bagi orang yang bertanggungjawab dalam melaksanakan program tersebut Evaluasi Produk (product evaluation) merupakan bagian terakhir dari model CIPP. Transactional Evaluation Dalam model ini. Penilaian yang terus-menerus ini menilai kemajuan-kemajuan yang dicapai peserta program serta efektifitas temuan-temuan yang dicapai oleh sebuah program. Process dan Product. . Evaluasi konteks (context evaluation) merupakan dasar dari evaluasi yang bertujuan menyediakan alasan-alasan (rationale) dalam penentuan tujuan (Baline R.

3. penulis akan membahas analisis soal dengan cara kualitatif atau teoritis. Membentuk dua tim evaluasi yang berlawanan dan memberikan kepada mereka kesempatan untuk berargumen. Aspek materi yang ditelaah berkaitan dengan substansi keilmuan yang ditanyakan dalam butir tes serta tingkat kemampuan yang sesuai dengan tes. Melakukan sebuah dengar pendapat yang formal. selain itu. soal juga dapat di analisis dengan menggunakan analisis kualitatif (teoritis) dan kuantitatif (empiris). b. Dalam prakteknya. Insya Allah penulis akan sedikit membahas keempat hal tersebut. Adversary Evaluation Model ini didasarkan pada prosedur yang digunakan oleh lembaga hukum. Tim evaluasi ini kemudian mengemukakan argument-argumen dan bukti sebelum mengambil keputusan. konstruksi dan bahasa. model adversary terdiri atas empat tahapan yaitu : 1. Telaah secara kualitatif dilakukan oleh tiga orang yang memiliki kompetensi sesuai dengan aspek materi konstruksi dan bahasa. Hasil telaah kemudian dirangkum untuk selanjutnya ditentukan kualitas butir secara teoretis dengan menggunakan kriteria sebagai berikut: a. Analisis secara kualitatif dilakukan dengan melakukan penelaahan terhadap setiap butir soal dari aspek materi. Mengurangi jumlah isu yang dapat diukur. Butir tes yang kurang baik yaitu butir yang hanya memenuhi sebanyak-banyaknya 3 kriteria aspek konstruksi serta 1 kriteria aspek materi dan bahasa. Analisis konstruksi dimaksudkan untuk melihat hal-hal yang berkaitan dengan kaidah penulisan tes. 2.6. akan tetapi untuk saat ini. Analisis Butir Soal untuk melakukan analisis terhadap sebuah butir soal ada dua pendekatan yang bisa digunakan yaitu dengan teori tes klasik dan teori respon butir. . Setiap penelaah melakukan analisis terhadap setiap butir soal berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya dengan menuliskan huruf ³Y´ jika butir sesuai dengan kriteria dan huruf ³T´ jika butir tidak sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. 4. Analisis bahasa dimaksudkan untuk menelaah tes berkaitan dengan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar menurut Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Mengungkapkan rentangan isu yang luas dengan cara melakukan survey berbagai kelompok yang terlibat dalam satu program untuk menentukan kepercayaan itu sebagai isu yang relevan. Butir tes yang baik yaitu butir yang memenuhi semua kriteria yang telah ditentukan.

Dari rangkuman hasil telaah kualitatif selanjutnya dapat ditentukan butir mana yang sudah atau belum memenuhi kriteria pada aspek materi.tes menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia 15.Pilihan jawaban yang berbentuk angka atau waktu disusun berdasarkan urutan besar kecilnya angka atau kronologis 13. Pokok tes bebas dari pernyataan yang bersifat negatif ganda 9. Berikut contoh check list analisis kualitatif: a.tes menggunakan bahasa yang komunikatif 16.Butir tes tidak tergantung pada jawaban sebelumnya c.Pilihan jawaban tidak menggunakan pernyataan "semua jawaban di atas salah" atau "semua jawaban di atas benar".tes tidak menggunakan bahasa yang berlaku setempat 17.Panjang rumusan jawaban relatif 11. Dengan demikian dapat diambil kesimpulan tentang butir yang baik dan tidak baik. Butir tes yang tidak baik yaitu butir yang tidak memenuhi semua kriteria yang telah ditetapkan pada aspek materi 1 dan 3. atau lebih dari 3 untuk aspek konstruksi serta lebih dari 1 kriteria pada aspek bahasa. 12. yang selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk . konstruksi dan bahasa. Gambar/grafik/table diagram dan sejenisnya jelas berfungsi 10. Materi 1. Bahasa 14. Konstruksi 4. Hanya ada satu kunci jawaban yang tepat b.c. Rumusan pokok tes dan pilihan jawaban 7. Pokok tes dirumuskun secara singkat dan jelas 5. Tes sesuai indikator 2. Pokok tes tidak memberi petunjuk ke kunci jawaban 8.pilihan jawaban tidak mengulang kata/kelompok kata yang sama yang bukan merupakan satu kesatuan Evaluasi Program: Sebuah Pengantar a. Pengertian evaluasi Menurut Suharsimi Arikunto (2004 : 1) evaluasi adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu. Pilihan jawab homogen dan logis 3.

Fungsi utama evaluasi dalam hal ini adalah menyediakan informasi-informasi yang berguna bagi pihak decision maker untuk menentukan kebijakan yang akan diambil berdasarkan evaluasi yang telah dilakukan. Terkadang. pasti akan menilai apakah yang dilakukannya tersebut telah sesuai dengan keinginannya semula. Karenanya. Sebagaimana disampaikan oleh Sudharsono (1994 : 3) penelitian evaluasi mengandung makna pengumpulan informasi tentang hasil yang telah dicapai oleh sebuah program yang dilaksanakan secara sistematik dengan menggunakan metodologi ilmiah sehingga darinya dapat dihasilkan data yang akurat dan obyektif. Efektifitas merupakan perbandingan antara output dan inoutnya sedangkan efisiensi adalah taraf pendayagunaan input untuk menghasilkan output lewat suatu proses (Sudharsono 1994 : 2) Dalam evaluasi terdapat perbedaan yang mendasar dengan penelitian meskipun secara prinsip. program-program yang berjalan tidak akan dapat dilihat efektifitasnya. Karenanya. Seorang manusia yang telah mengerjakan suatu hal. Tujuan evaluasi program Setiap kegiatan yang dilaksanakan mempunyai tujuan tertentu. Menurut Suharsimi Arikunto (2004 : 13) ada dua tujuan evaluasi yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Keberhasilan program itu sendiri dapat dilihat dari dampak atau hasil yang dicapai oleh program tersebut. antara kedua kegiatan ini memiliki metode yang sama. Jika penelitian bertujuan untuk membuktikan sesuatu (prove) maka evaluasi bertujuan untuk mengembangkan (improve). Dari pengertian-pengertian tentang evaluasi yang telah dikemukakan beberapa orang diatas. demikian juga dengan evaluasi. Tanpa adanya evaluasi. Menurut stufflebeam dalam worthen dan sanders (1979 : 129) evaluasi adalah : process of delineating. obtaining and providing useful information for judging decision alternatives. produksi serta alternatif prosedur tertentu. Dalam evaluasi ada beberapa unsur yang terdapat dalam evaluasi yaitu : adanya sebuah proses (process) perolehan (obtaining). Tujuan umum diarahkan kepada program secara keseluruhan sedangkan tujuan khusus lebih difokuskan pada masing-masing komponen. Perbedaan tersebut terletak pada tujuan pelaksanaannya. kebijakan-kebijakan baru sehubungan dengan program itu tidak akan didukung oleh data. evaluasi program bertujuan untuk menyediakan data dan informasi serta rekomendasi bagi pengambil kebijakan (decision maker) untuk memutuskan apakah akan melanjutkan. b. Menurut Worthen dan Sanders (1979 : 1) evaluasi adalah mencari sesuatu yang berharga (worth). dalam keberhasilan ada dua konsep yang terdapat didalamnya yaitu efektifitas dan efisiensi. kita dapat menarik benang merah tentang evaluasi yakni evaluasi merupakan sebuah proses yang dilakukan oleh seseorang untuk melihat sejauh mana keberhasilan sebuah program. Dengan demikian. Implementasi program harus senantiasa di evaluasi untuk melihat sejauh mana program tersebut telah berhasil mencapai maksud pelaksanaan program yang telah ditetapkan sebelumnya. penyediaan (providing) informasi yang berguna (useful information) dan alternatif keputusan (decision alternatives). Karenanya evaluasi bukan merupakan hal baru dalam kehidupan manusia sebab hal tersebut senantiasa mengiringi kehidupan seseorang. penggambaran (delineating). penelitian evaluasi. memperbaiki atau menghentikan sebuah program. Sesuatu yang berharga tersebut dapat berupa informasi tentang suatu program. penelitian dan evaluasi juga digabung menjadi satu frase. .menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil keputusan.

c. seorang evaluator secara terus menerus melakukan pantauan terhadap . Goal Oriented Evaluation Dalam model ini. Menurut Suharsimi Arikunto (2004 : 2) program dapat dipahami dalam dua pengertian yaitu secara umum dan khusus. Dari pengertian ini dapat ditarik benang merah bahwa semua perbuatan manusia yang darinya diharapkan akan memperoleh hasil dan manfaat dapat disebut program. Michael ( 1984 : 7) model-model evaluasi dapat dikelompokan menjadi enam yaitu : 1. Menurut mereka. program dapat diartikan dengan rencana atau rancangan kegiatan yang akan dilakukan oleh seseorang di kemudian hari. Menurut Isaac dan Michael (1984 : 6) sebuah program harus diakhiri dengan evaluasi. Tetapi. Hakekat Evaluasi Program Menurut John L Herman dalam Tayibnapis (1989 : 6) program adalah segala sesuatu yang anda lakukan dengan harapan akan mendatangkan hasil atau manfaat. tetapi secara umum model-model tersebut memiliki persamaan yaitu mengumpulkan data atau informasi obyek yang dievaluasi sebagai bahan pertimbangan bagi pengambil kebijakan. Meskipun terdapat beberapa perbedaan antara model-model tersebut. berlangsung dalam proses berkesinambungan dan terjadi dalam satu organisasi yang melibatkan sekelompok orang. sebuah program juga tidak hanya terdiri dari satu kegiatan melainkan rangkaian kegiatan yang membentuk satu sistem yang saling terkait satu dengan lainnya dengan melibatkan lebih dari satu orang untuk melaksanakannya. Berdasarkan pengertian diatas. Menurut Stephen Isaac dan Willian B. (Suharsimi Arikunto dan Cecep Safruddin Abdul Jabbar : 2004). Secara umum. maka evaluasi program sebagaimana dimaknai oleh Kirkpatrick dapat dimaknai sebagai sebuah proses untuk mengetahui apakah sebuah program dapat direalisasikan atau tidak dengan cara mengetahui efektifitas masing-masing komponennya melalui rangkain informasi yang diperoleh evaluator (Kirkpatrick 1996 : 3). Selain itu. Sedangkan pengertian khusus dari program biasanya jika dikaitkan dengan evaluasi yang bermakna suatu unit atau kesatuan kegiatan yang merupakan ralisasi atau implementasi dari suatu kebijakan. Hal ini dikarenakan kita akan melihat apakah program tersebut berhasil menjalankan fungsi sebagaimana yang telah ditetapkan sebelumnya. ada tiga tahap rangkaian evaluasi program yaitu : (1) menyatakan pertanyaan serta menspesifikasikan informasi yang hendak diperoleh. pengambil keputusan itu sendiri bukanlah evaluator melainkan pihak lain yang lebih berwenang. Evaluator hanya menyediakan informasi-informasi yang dibutuhkan oleh pengambil kebijakan (decision maker) d. (2) mencari data yang relevan dengan penelitian dan (3) menyediakan informasi yang dibutuhkan pihak pengambil keputusan untuk melanjutkan. maka sebuah program adalah rangkaian kegiatan yang dilaksanakan secara berkesinambungan secara waktu pelaksanaannya biasanya panjang. Menilik pengertian secara khusus ini. Model-model evaluasi Ada banyak model yang bisa digunakan dalam melakukan evaluasi program khususnya program pendidikan. memperbaiki atau menghentikan program tersebut.

Transactional Evaluation Dalam model ini. baik hal-hal yang positif maupun hal-hal yang negatif. Evaluasi proses (process evaluation) diarahkan pada sejauh mana kegiatan yang direncanakan tersebut sudah dilaksanakan. Model ini terdiri dari 4 komponen evaluasi sesuai dengan nama model itu sendiri yang merupakan singkatan dari Context. Ketika sebuah program telah disetujui dan dimulai. Evaluation Research Sebagaimana disebutkan diatas. Worthern & James R Sanders : 1979) Karenanya upaya yang dilakukan evaluator dalam evaluasi konteks ini adalah memberikan gambaran dan rincian terhadap lingkungan. evaluasi harus dapat memberikan landasan berupa informasi-informasi yang akurat dan obyektif bagi pengambil kebijakan untuk memutuskan sesuatu yang berhubungan dengan program. Evaluasi CIPP yang dikembangkan oleh stufflebeam merupakan salah satu contoh model evaluasi ini. maka dibutuhkanlah evaluasi proses dalam menyediakan umpan balik (feedback) bagi orang yang bertanggungjawab dalam melaksanakan program tersebut Evaluasi Produk (product evaluation) merupakan bagian terakhir dari model CIPP. dengan jalan mengidentifikasi kejadian-kejadian yang terjadi selama pelaksanaannya. Input. 5. dimodifikasi kembali atau bahkan akan dihentikan 3.tujuan yang telah ditetapkan. Evaluasi input (input evaluation) merupakan evaluasi yang bertujuan menyediakan informasi untuk menentukan bagaimana menggunakan sumberdaya yang tersedia dalam mencapai tujuan program. kebutuhan serta tujuan (goal). Dalam proses ini. Process dan Product. Model ini melihat lebih jauh tentang adanya kesenjangan (Discrepancy) yang ada dalam setiap komponen yakni apa yang seharusnya dan apa yang secara riil telah dicapai. Model CIPP merupakan salah satu model yang paling sering dipakai oleh evaluator. Decision Oriented Evaluation Dalam model ini. Evaluasi konteks (context evaluation) merupakan dasar dari evaluasi yang bertujuan menyediakan alasan-alasan (rationale) dalam penentuan tujuan (Baline R. penelitian evaluasi memfokuskan kegiatannya pada penjelasan dampak-dampak pendidikan serta mencari solusi-solusi terkait dengan strategi instruksional. Evaluasi produk menunjukkan perubahan-perubahan yang terjadi pada input. Penilaian yang terus-menerus ini menilai kemajuan-kemajuan yang dicapai peserta program serta efektifitas temuan-temuan yang dicapai oleh sebuah program. 4. evaluasi berusaha melukiskan proses sebuah program dan pandangan tentang nilai dari orang-orang yang terlibat dalam program tersebut. 2. Evaluasi ini bertujuan mengukur dan menginterpretasikan capaian-capaian program. Yang harus diperhatikan justru adalah bagaimana proses pelaksanaan program. evaluasi produk menyediakan informasi apakah program itu akan dilanjutkan. Salah satu model yang bisa mewakili model ini adalah discrepancy model yang dikembangkan oleh Provus. . Goal Free Evaluation Model yang dikembangkan oleh Michael Scriven ini yakni Goal Free Evaluation Model justru tidak memperhatikan apa yang menjadi tujuan program sebagaimana model goal oriented evaluation.

sebuah alat ukur dapat dilihat dari dua petunjuk yaitu kesalahan baku pengukuran dan koefisien reliabilitas. 2. Mengungkapkan rentangan isu yang luas dengan cara melakukan survey berbagai kelompok yang terlibat dalam satu program untuk menentukan kepercayaan itu sebagai isu yang relevan. 4. Kedua statistik di atas memiliki keterbatasannya masing-masing. model adversary terdiri atas empat tahapan yaitu : 1. Menurut Sumadi Suryabrata (2004: 28) reliabilitas menunjukkan sejauhmana hasil pengukuran dengan alat tersebut dapat dipercaya. Kesalahan pengukuran merupakan rangkuman inkonsistensi peserta tes dalam unit-unit skala skor sedangkan koefisien reliabilitas merupakan kuantifikasi reliabilitas dengan merangkum konsistensi (atau inkonsistensi) diantara beberapa kesalahan pengukuran. Echols dan Hasan Shadily (2003: 475) reliabilitas adalah hal yang dapat dipercaya.. bukan tentang tes ataupun bentuk tes. 1989: 105) Berdasarkan sejarah. reliabilitas sebuah instrumen dapat dihitung melalui dua cara yaitu kesalahan baku pengukuran dan koefisien reliabilitas (Feldt & Brennan: 105). Dalam pandangan Aiken (1987: 42) sebuah tes dikatakan reliabel jika skor yang diperoleh oleh peserta relatif sama meskipun dilakukan pengukuran berulang-ulang. 3.6. Menurut John M. Popham (1995: 21) menyatakan bahwa reliabilitas adalah ". Reliabilitas: Pendekatan Tes Ulang Reliabilitas diterjemahkan dari kata reliability. suatu tes dapat dikatakan memiliki reliabilitas yang tinggi apabila skor tampak tes tersebut berkorelasi tinggi dengan skor murninya sendiri. Adversary Evaluation Model ini didasarkan pada prosedur yang digunakan oleh lembaga hukum. Interpretasi . Dalam prakteknya.the degree of which test score are free from error measurement". Untuk memperoleh skor yang sama. Dengan demikian keandalan . Hasil pengukuran harus reliabel dalam artian harus memiliki tingkat konsistensi dan kemantapan. Kedua statistik tersebut masing-masing memiliki kelebihan dan keterbatasan (Feldt & Brennan. Tim evaluasi ini kemudian mengemukakan argument-argumen dan bukti sebelum mengambil keputusan. maka tidak boleh ada kesalahan pengukuran. Dalam pandangan Brennan (2001: 295) reliabilitas merupakan karakteristik skor. Melakukan sebuah dengar pendapat yang formal.. Membentuk dua tim evaluasi yang berlawanan dan memberikan kepada mereka kesempatan untuk berargumen. Dalam kerangka teori tes klasik. Mengurangi jumlah isu yang dapat diukur.

Estimasi dengan pendekatan tes ulang akan menghasilkan koefisien stabilitas. Reliabilit as menurut Ross E. 2006: 29). Pendekatan tes ulang merupakan pemberian perangkat tes yang sama terhadap sekelompok subjek sebanyak dua kali dengan selang waktu yang berbeda. Pendekatan tes ulang sangat sesuai untuk mengukur ketrampilan terutama ketrampilan fisik. Secara matematis teori di atas dapat ditulis : Reliabilitas alat ukur tidak dapat diketahui dengan pasti tetapi dapat diperkirakan. (2) pendekatan dengan tes pararel dan (3) pendekatan satu kali pengukuran. ada tiga cara yang sering digunakan yaitu (1) pendekatan tes ulang. Untuk memperoleh koefisien reliabilitas melalui pendekatan tes ulang dapat dilakukan dengan menghitung koefisien korelasi linear antara distribusi skor subyek pada pemberian tes pertama dengan skor subyek pada pemberian tes kedua.lainnya adalah seberapa tinggi korelasi antara skor tampak pada dua tes yang pararel. Traub (1994: 38) yang disimbolkan oleh dapat didefinisikan sebagai rasio antara varian skor murni dan varian skor tampak . Dalam mengestimasi reliabilitas alat ukur. (Saifuddin Azwar. Asumsinya adalah bahwa skor yang dihasilkan oleh tes yang sama akan menghasilkan skor tampak yang relatif sama. Setelah melakukan dua kali pengukuran didapatkan skor tes sebagai berikut: Koefisien reliabilitas test di atas dapat dihitung dengan menggunakan formula korelasi produk momen dari Pearson sebagai berikut: . Misalnya seorang guru hendak melihat reliabilitas tes yang telah dibuatnya.

kemampuan fisik. Sedangkan komunikasi nondiskursip adalah kemampuan berkomunikasi dengan menggunakan bahasa gerakan. 1980: 76). Misalnya. . gerakan trampil dan komunikasi nondiskursip (Sax. kemampuan perseptual. Gerak reflek adalah gerakan yang muncul tanpa sadar. Hal ini berarti bahwa jawaban yang diberikan oleh peserta tes tidak bisa dikategorikan sebagai jawaban benar atau salah sebagaimana interpretasi jawaban tes. gerakan dasar. David Krathwohl (1974). membongkar dan memasang peralatan dan lain sebagainya. Dalam dunia psikologi. Salah satu kelemahan mendasar dari teknik test-retest adalah carry-over effect. Gerakan dasar adalah gerakan yang mengarah pada ketrampilan kompleks yang khusus seperti berlari dan berjalan. kemampuan psikomotor dibagi kedalam lima tingkatan yaitu gerak refleks. Dengan teknik nontes maka penilaian atau evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan tanpa ³menguji´ peserta didik melainkan dilakukan dengan cara tertentu. Hal ini dapat meningkatkan korelasi serta overestimasi terhadap PXX¶. lari. berenang. Penilaian yang dilakukan dengan teknis nontes terutama bertujuan untuk memperoleh informasi yang berkaitan dengan evaluasi hasil belajar peserta didik dari segi ranah sikap hidup (affective domain) dan ranah ketrampilan (psychomotoric domain). Kemampuan terakhir ini berhubungan dengan kemampuan mengucapkan kata-kata berbahasa asing. Kemampuan psikomotor (psychomotoric domain) adalah kemampuan yang berhubungan dengan gerak yaitu kemampuan dalam menggunakan otot-otot seperti berjalan. Masalah ini disebabkan oleh adanya kemungkinan pada test yang kedua dipengaruhi oleh test pertama. jika peserta tes masih ingat dengan soal-soal dan bahkan jawaban ketika dilakukan test pertama. korelasi sebesar 0. melompat.Dengan demikian. (4) organization (mengorganisasi) dan (5) characterization by a value or value complex (karakterisasi dengan suatu nilai atau nilai yang kompleks). Kemampuan perseptual merupakan kombinasi kemampuan kognitif dan kemampuan motor. sebagaimana dikutip Anas Sudijono (2005 : 54) mengembangkan taksonomi mengenai ranah afektif ini dengan membaginya kedalam lima jenjang yaitu : (1) receiving (menerima) (2) responding (merespon) (3) valuing (menilai atau memaknai). Penyusunan Instrumen Nontes Teknis nontes adalah suatu alat penilaian yang biasanya dipergunakan untuk mendapatkan informasi tertentu tentang keadaan peserta tes (Inggris: testee) dengan tidak menggunakan tes.954 menggambarkan bahwa reliabilitas tes cukup tinggi. melukis. kemampuan fisik adalah kemampuan untuk mengembangkan gerakan yang paling terampil seperti gerakan tari ataupun olahrega ekstrim tertentu.

Dalam dunia pendidikan teknik nontes yang sering digunakan adalah pengamatan (observasi), dan terkadang, seorang guru juga menggunakan wawancara. Dalam penelitianpenelitian sosial, teknik nontes biasanya juga digunakan untuk mendapatkan informasi mengenai keadaan obyek penelitian. Teknik nontes yang sering digunakan dalam penelitianpenelitian sosial penelitian adalah kuesioner. Teknik pengamatan atau observasi merupakan salah satu bentuk teknik nontes yang biasa dipergunakan untuk menilai sesuatu melalui pengamatan terhadap objeknya secara langsung, seksama dan sistematis. Pengamatan memungkinkan untuk melihat dan mengamati sendiri kemudian mencatat perilaku dan kejadian yang terjadi pada keadaan sebenarnya. Menurut Moleong (2005 : 176) pengamatan dapat dibedakan menjadi dua yaitu pengamatan berperanserta dan tidak berperanserta. Dalam pengamatan yang tidak berperanserta, seseorang hanya melakukan satu fungsi yaitu mengamati tetapi pada pengamatan berperanserta seseorang disamping mengamati juga menjadi anggota dari obyek yang diamati. Pengamatan dapat pula dibagi atas pengamatan terbuka dan tertutup. Terbuka jika obyek yang diamati mengetahui bahwa mereka sedang diamati dan sebaliknya. Selain itu pengamatan juga dibagi pada latar alamiah (pengamatan tak terstruktur) dan latar buatan (pengamatan terstruktur). Pengamatan ini biasanya dapat dilakukan pada eksperimen. Dalam pengamatan berstruktur, kegiatan pengamatan itu telah diatur sebelumnya. Isi, maksud, objek yang diamati, kerangka kerja, dan lain-lain, telah ditetapkan sebelum kegiatan pengamatan dilaksanakan. Oleh karena itu, kegiatan pencatatan hanya dilakukan terhadap data -data yang sesuai dengan cakupan bidang kebutuhan seperti yang telah ditetapkan sejak semula. Lain halnya dengan pengamatan tak berstrukur, dalam melakukan pengamatannya, si pengamat tidak dibatasi oleh kerangka kerja yang telah dipersiapkan sebelumnya. Setiap data yang muncul yang dianggap relevan dengan tujuan pengamatannya langsung dicatat. Dengan demikian, data yang diperoleh lebih mencerminkan keadaan yang sesungguhnya. Perilaku siswa dalam keadaan seperti itu bersifat wajar, apa adanya dan tidak dibuat-buat. Teknik pengamatan jika dilakukan untuk melihat apakah perbuatan siswa sudah benar atau tidak dapat dikategorikan sebagai teknik tes. Misalnya jika dalam praktek olahraga seorang guru akan melihat apakah cara melempar lembing seseorang sudah sesuai dengan teori atau tidak, maka pengamatan jenis ini terkategori sebagai teknik tes. Tetapi jika pengamatan dilakukan terhadap aspek afektif seperti cara seorang siswa bersikap terhadap guru, menjaga kebersihan, perhatian terhadap tugas-tugas sekolah dan sebagainya, maka teknik ini termasuk teknik nontes. Wawancara atau interview merupakan salah satu alat penilaian nontes yang dipergunakan untuk mendapatkan informasi tertentu tentang keadaan responden dengan jalan tanya-jawab sepihak. Dikatakan sepihak karena pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam kegiatan wawancara itu hanya berasal dari pihak pewawancara saja, sementara responden hanya bertugas sebagai penjawab. Maksud diadakan wawancara sebagaimana dikutip Moleong dari Lincoln dan Guba (1985 : 266) antara lain mengkonstruksi mengenai orang, kejadian, organisasi, perasaan, motivasi, tuntutan, kepedulian dan lain sebagainya. Ada banyak pembagian wawancara yang dilakukan para ahli. salah satu diantaranya adalah membagi wawancara kedalam dua bentuk yaitu wawancara bebas dan wawancara terpimpin. Yang dimaksud wawancara terpimpin adalah suatu kegiatan wawancara yang pertanyaanpertanyaan serta kemungkinan-kemungkinan jawabannya itu telah dipersiapkan pihak pewawancara, responden tinggal memilih jawaban yang sudah dipersiapkan pewawancara.

Sebaliknya dalam wawancara bebas, responden diberi kebebasan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan pewawancara sesuai dengan pendapatnya tanpa terikat oleh ketentuanketentuan yang telah dibuat pewawancaranya. Kuesioner merupakan bentuk lain dari teknik nontes. Secara umum, ada dua jenis kuesioner yaitu kuesioner tertutup dan terbuka. Kuesioner tertutup adalah kuesioner yang telah disediakan alternatif jawabannya sehingga responden tinggal memilih yang sesuai dengan keadaan dirinya. Sedangkan kuesioner terbuka adalah kuesioner yang jawabannya belum disediakan sehingga responden bebas menuliskan apa yang dia rasakan. Satu hal yang menjadi ciri utama kuesioner adalah dalam kuesioner tidak ada jawaban benar atau salah. Salah satu contoh kuesioner tertutup adalah : Umur anda saat ini adalah : a. 15 ± 20 tahun b. 20 ± 25 tahun c. 25 ± 30 tahun d. 35 ± 35 tahun Adapun contoh kuesioner terbuka adalah : Setiap idul fitri tiba, ribuan orang seperti digerakkan untuk beridulfitri di kampung halamannya. Uraikanlah menurut pendapat anda apa yang menjadi penyebab pulangkampungnya orang yang ada diperantauan ketika Idul Fitri tiba! Ada beberapa alasan kenapa kuesioner sering dipergunakan orang dalam mengumpulkan informasi tertentu yaitu : (1) butir-butir kuesioner dapat diberikan kepada responden secara serentak sehingga lebih efektif, (2) butir-butir dalam kuesioner lebih menjamin keseragaman baik perumusan kata, isi maupun urutannya serta kuesioner lebih memudahkan dalam memberikan jawaban, (3) kuesioner memudahkan sumber data dalam memberikan jawaban serta kepraktisan serta relative lebih murah dibandingkan metode nontes yang lain.

Validitas Tes
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia senantiasa dihadapkan pada masalah keakuratan sebuah informasi. Informasi yang diterima manusia setiap hari sangat banyak dengan sumber yang semakin beragam. Koran dan televisi adalah dua sumber informasi utama saat ini. Dengan semakin banyaknya sumber-sumber informasi yang senantiasa berkembang, maka muncul sebuah pertanyaan mendasar tentang sejauhmana informasi yang diperoleh tersebut dapat dipercaya? Dalam penelitian-penelitian sosial, keakuratan informasi yang diperoleh sangat

mempengaruhi keputusan yang akan diambil. Sayangnya, akurasi informasi dalam penelitianpenelitian sosial tersebut tidak mudah diperoleh disebabkan sulitnya mendapatkan operasionalisasi konsep mengenai variabel yang hendak diukur. Untuk mengungkap aspekaspek yang hendak diteliti, maka diperlukan alat ukur yang baik dan berkualitas. Alat ukur tersebut dapat berupa skala atau tes. Sebuah tes yang baik sebagaimana disampaikan oleh Syaifuddin Azwar (2006 : 2) harus memiliki beberapa kriteria antara lain valid, reliable, standar, ekonomis dan praktis. Dalam Standards for Educational and Psychological Testing validitas adalah "... the degree to which evidence and theory support the interpretation of test scores entailed by proposed uses of tests " (1999: 9). Sebuah tes dikatakan valid jika ia memang mengukur apa yang seharusnya diukur (Allen & Yen, 1979: 95). Dalam bahasa yang hampir sama Djemari Mardapi (2004: 25) menyatakan bahwa validitas adalah ukuran seberapa cermat suatu tes melakukan fungsi ukurnya. Menurut Nitko & Brookhart (2007: 38) kevalidan sebuah alat ukur tergantung pada bagaimana hasil tes tersebut diinterpretasikan dan digunakan. Dalam pandangan Samuel Messick (1989: 13) validitas merupakan penilaian menyeluruh dimana bukti empiris dan logika teori mendukung pengambilan keputusan serta tindakan berdasarkan skor tes atau model-model penilaian yang lain Jika dikaitkan dengan bidang psikologi, penggunaan validitas dapat dijumpai dalam tiga konteks yaitu validitas penelitian, validitas soal dan validitas alat ukur. Validitas penelitian merupakan derajad kesesuaian hasil penelitian dengan keadaan sebenarnya. Validitas soal berkaitan dengan kesesuaian antara suatu soal dengan soal lain. Sedangkan validitas alat ukur merujuk pada kecermatan ukurnya suatu tes (Sumadi Suryabrata, 2004: 40). Menurut Allen & Yen (1979: 95) validitas tes dapat dibagi kedalam tiga kelompok utama yaitu : (1) validitas isi (content validity), (2) validitas konstruk (construct validity) dan (3) validitas kriteria (criterion related validity). Meskipun idealnya validasi dapat dilakukan dengan memakai semua bentuk validitas tes tersebut, tetapi pengembang tes dapat memilih bentuk validasi dengan melihat tujuan pengembangan tes (Kumaidi, 1994: 58). Validitas isi menunjuk pada sejauhmana isi perangkat soal tersebut mengukur apa yang seharusnya diukur. Dalam kaitannya dengan kegiatan pembelajaran menurut Djemari Mardapi (1996: 22) validitas ini adalah kesesuaian antara materi ujian dan materi yang telah dipelajari. Pengujian validitas isi tidak melalui analisis statistik melainkan analisis rasional yaitu dengan melihat apakah butir-butirnya telah sesuai dengan batasan domain ukur yang telah ditetapkan sebelumnya. Allen & Yen (1979: 95) membagi validitas isi kedalam dua kelompok yaitu face validity (validitas muka) dan logical validity (validitas logis). Validitas muka dapat dicapai jika tampilan tes tersebut telah meyakinkan untuk mengungkap atribut yang hendak diukur. Adapun validitas logis menunjukkan sejauhmana isi tes mengungkapkan representasi dari ciri-ciri atribut yang hendak diukur. Validitas konstruk merujuk pada sejauhmana suatu tes mengukur suatu konstruk teoretik atau trait yang hendak diukurnya (Allen & Yen, 1979: 108) konstruk dalam pengertian ini adalah berkaitan dengan aspek-aspek psikologi seseorang khususnya aspek kognitif, afektif dan psikomotor. Ada beberapa cara yang bisa digunakan untuk menguji validitas konstruk. Misalnya dengan melakukan pencocokan antara aspek-aspek berpikir yang terkandung dalam tes hasil belajar dengan aspek-aspek berpikir yang hendak diungkap oleh tujuan instruksional khusus. Pengujian yang lebih sederhana tentang validitas konstruk adalah malalui pendekatan multi trait multi-method (Saifuddin Azwar 2003: 176). Pendekatan ini akan menghasilkan bukti validitas diskriminan yang ditunjukkan dengan rendahnya korelasi antar skor yang mengukur trait yang berbeda bila digunakan metode yang sama dan validitas konvergen yang ditunjukkan oleh tingginya korelasi skor-skor tes yang mengukur trait yang sama dengan

(2004: 46) dalam menafsirkan koefisien validitas yang didapat dari mengkorelasikan skor alat ukur dengan kriterianya sebaiknya dilakukan melalui koefisien determinasi yaitu koefisien korelasi kuadrat. Jadi jika diperoleh koefisien korelasi sebesar 0. maka semakin tinggi pula kecermatan prediksinya. Validitas kriteria ditunjukkan dengan angka korelasi antara skor pada alat yang dipergunakan dengan skor yang dihasilkan dari alat yang dijadikan kriteria. Biasanya. Tetapi dalam ujian masuk perguruan tinggi misalnya. Contoh mengenai estimasi koefisien validitas berdasarkan metode multitrait multimethod adalah sebagaimana disampaikan Fred N. adalab hasil Pengukuran lain yang telah dianggap sebagai alat ukur yang baik misalnya tes Stanford Binnet atau tes Weschler. Jika dimanfaatkan dalam waktu dekat maka disebut validitas konkurent (concurrent validity) dan jika dimanfaatkan diwaktu yang akan datang disebut validitas prediktif (predictive validity). koefisien validitas ditunjukkan dengan skor pada saat ujian masuk dengan skor yang diperoleh pada saat seseorang telah belajar selama beberapa waktu tertentu. korelasi antara L1 dengan C1 adalah -0. Menurut Sumadi Suryabrata. Untuk memperoleh validitas kriteria. Korelasi silang antara L dan C yakni korelasi antara L pada metode 1 dan C pada metode 2 atau antara L1 dan C2 adalah -0. dengan perkecualian korelasi silang yang besarnya -0. .37 antara L1 dan C2 validitas konstruk dalam skala sikap itu terdukung. kesahihan alat ukur dilihat dari sejauhmana hasil pengukuran tersebut sama dengan hasil pengukuran alat lain yang dijadikan kriteria. yang dijadikan kriteria.menggunakan metode yang berbeda. Dalam validitas kriteria.25.30). semakin tinggi angka koefisien determinasi. diperlukan pengujian dengan menggunakan korelasi. Validitas kriteria merupakan validitas yang disusun berdasarkan kriteria yang telah ada sebelumnya. Validitas kriteria dibedakan menjadi dua macam yaitu berdasarkan kapan kriteria itu dapat dimanfaatkan. Korelasi antara kedua instrument tersebut disajikan dalam bentuk matriks multitrait-multimethod berikut : Dalam contoh tersebut secara teoritis dituntut adanya korelasi negative atau mendekati nol antara L dan C.09 yang berarti bahwa keduanya hampir selaras dengan teorinya. maka koefisien determinasinya adalah sebesar 0.37 dan ini lebih tinggi daripada yang diprediksikan oleh teorinya (-0.5. dalam pengukuran psikologis. Kerlinger (1973:742) tentang matriks hubungan antara sikap sosial. Maka.07 serta antara L2 dengan C2 adalah 0. Ada dua instrument berbeda yang digunakan untuk mengukur liberalisme (L) dan konservatisme (C) dalam hubungannya dengan sikap sosial seseorang yaitu dengan pernyataan sikap biasa (metode 1) dan referen (metode 2) menggunakan referensi-referensi sikap seperti sepatah kata atau frase singkat.

Kolaborasi dapat dilakukan dengan rekan guru atau siswa. websites. Hal-hal yang perlu didokumentasikan adalah: 1. Mengidentifikasi kinerja guru dalam proses pembelajaran sesuai dengan kompetensi guru A. dokumen hasil diskusi. bahasa arab. Guru dapat menuangkan evaluasi yang telah dilakukannya dalam jurnal refleksi pembelajaran. EVALUASI KOLABORATIF Guru dapat melakukan evaluasi proses pembelajaran secara kolaboratif. pusat industri. bahasa perancis. DOKUMENTASI PROSES PEMBELAJARAN Dalam evaluasi proses pembelajaran. dokumen yang menunjukkan adanya kegiatan mengunjungi perpustakaan. mengakses internet. Kegiatan ini sering disebut juga sebagai refleksi proses pembelajaran. Guru dapat mengisi jurnal ini pada setiap pelajaran yang telah diberikan/ diajarkan atau selama guru tersebut melaksanakan pekerjaan sehari-harinya sebagai guru Jurnal merekam renungan dan refleksi dari pikiran.Evaluasi proses pembelajaran merupakan tahap yang perlu dilakukan oleh guru untuk menentukan kualitas pembelajaran. EVALUASI DIRI Evalusi proses pembelajaran dapat dilakukan oleh guru yang bersangkutan secara mandiri. pelaksanaan proses pembelajaran. 41 tahun 2007 tentang Standar proses dinyatakan bahwa evaluasi proses pembelajaran dilakukan untuk menentukan kualitas pembelajaran secara keseluruhan. dll)? ‡ Apakah tujuan pembelajaran dapat tercapai? B. dan lain-lain). seperti: ‡ Apa yang saya ajarkan hari ini? ‡ Apa yang masih membingunkan bagi siswa? ‡ Apakah saya menemukan masalah dan issu yang tidak diharapkan? ‡ Apa jenis pembelajaran tingkat tinggi yang saya sampaikan? ‡ Apa jenis pembelajaran tingkat rendah yang saya sampaikan? ‡ Apakah siswa saya dapat menerima materi yang saya ajarkan? ‡ Apakah saya telah membelajarkan siswa? ‡ Bagaimana saya memperbaiki tehnik pembelajaran? ‡ Apa yang ingin dan perlu kuketahui lebih banyak lagi? ‡ Apa sumber belajar yang memberi ilham dan menyenangkan saya (photo. laporan hasil analis terhadap suatu masalah yang menunjukkan keterlibatan siswa dalam kegiatan belajar mengajar 3. dan penilaian hasil pembelajaran. kliping. dokumen silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) 2. dan lain-lain) yang menunjukkan adanya program pembiasaan mencari informasi/pengetahuan lebih lanjut dari berbagai sumber belajar . kebun raya. kelompok ilmiah remaja. Dalam Permen No. yang perlu diperhatikan juga adalah mendokumentasikan berbagai hal yang menyangkut proses pembelajaran. dokumen pemanfaatan berbagai fasilitas yang menunjukkan difungsikannya sumbersumber belajar 4. kelompok belajar bahasa asing (bahasa inggris. Membandingkan poses pembelajaran yang dilaksanakan guru dengan standar proses b. karena kita akan menemukan kelebihan dan kekurangan dari proses pembelajaran yang telah dilakukan. bahasa mandarin. Evaluasi proses pembelajaran diselenggarakan dengan cara: a. bahasa jepang. C. mencakup tahap perencanaan poses pembelajaran. mengunjungi sumber belajar di luar lingkungan sekolah (museum.

dan Tenaga Pendidikan sebagai Unsur Strategis dalam Penyelenggaraan Sistem Pengajaran Nasional Prof. dan sebagainya yang menunjukkan adanya pengalaman belajar untuk memanfaatkan lingkungan secara produktif dan bertanggung jawab 6. MA *) . daur ulang sampah. karya teknologi tepat guna dan lain sebagainya yang menunjukkan adanya pengalaman mengekspresikan diri melalui kegiatan seni dan budaya 7. buletin siswa. pagelaran tari. H. dokumen pembiasaan dan pengamalan ajaran agama seperti aktivitas ibadah bersama. tingkat kabupaten / propinsi / nasional yang menunjukkan adanya pengalaman belajar untuk menumbuhkan sikap kompetitif dan sportif. pameran lukisan. laporan penulisan karya tulis. drama. peringatan hari-hari besar agama. kunjungan ke laboratorium alam. 9. pentas seni. dokumen pemanfaatan lingkungan baik di dalam maupun di luar kelas seperti kebun untuk praktek biologi. seni dan budaya. dokumen kegiatan megunjungi pameran lukisan. dan lainlain 11.5. Sistem Evaluasi. musik. latihan musik. teater. konser musik. seperti: hasil portofolio. Soedijarto. laporan kunjungan lapangan. dokumen penugasan latihan ketrampilan menulis siswa. ketrampilan membuat barang seni. dokumen kegiatan pekan bahasa. dan sebagainya yang menunjukkan adanya pengalaman mengapresiasikan karya seni dan budaya 8. dokumen kegiatan mengikuti pertandingan antar kelas. majalah dinding. Dr. dokumen laporan kepengawasan proses pembelajaran yang dilakukan oleh kepala sekolah JURNAL I Kurikulum. latihan tari. membantu warga sekolah yang memerlukan 10.

Abstrak Sejak Indonesia merdeka. telah beberapa kali terjadi perubahan kurikulum S sekolah dasar dan menengah. Kata kunci: Kurikulum. (2) tujuan dan materi kurikulum yang relevan . The changes could raise several questions due to the important and strategic role of the curriculum in achieving the objective of national education system. Perubahan itu dapat menimbulkan berbagai pertanyaan mengingat betapa penting dan strategisnya peranan kurikulum dalam mencapai tujuan pendidikan nasional. dan memajukan kebudayaan nasional. (4) evaluasi sebagai media pendidikan dan sarana umpan balik . Dalam kaitannya dengan penyelenggaran sistem pengajaran nasional. tulisan ini membahas (1) makna kurikulum sebagai unsur strategis dalam pendidikan sekolah. pilar belajar. (3) pendekatan proses pembelajaran dan implikasinya terhadap sistem evaluasi. This article discusses several issues related to the national instructional system. dan (5) peranan guru dan implikasinya terhadap profesionalisasi jabatan guru. . particularly about (1) the role of curriculum as a strategic means in school education. dan sistim evaluasi Abstract There have been several changes in the primary and secondary school curriculum system ever since Indonesia gained its independence. efisien dan efektif akan mempu mendukung terlaksanya fungsi pendidikan nasional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Dalam tulisan ini disebutkan bahwa apabila sekolah dengan kurikulum yang dirancang dan dilaksanakan secara relevan.

sejak Indonesia merdeka. Kurikulum 1964 disusun untuk meniadakan MANIPOL-USDEK. (3) the approaches in learning process and their implication to evaluation system. Kurikulum 1994. (4) evaluation as an educational medium as well as a feedback instrument. kurikulum 1984. perubahan kurikulum banyak yang dipengaruhi oleh perubahan politik. efficient and effective. kurikulum 1975 digunakan untuk memasukkan Pendidikan Moral Pancasila. Dari serangkaian perubahan kurikulum. and (5) teachers ole and its impact to the professionalism of education personnel. Sampai dengan kurikulum 1984. kurikulum tahun 1950-an. kurikulum tahun 1964. the school curriculum will be able to support the national education to function in educating the Indonesian people and developing the national culture.(2) the relevant objectives and contents of the curriculum. dan kurikulum 1984 digunakan untuk memasukkan mata pelajaran Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB). ada kurikulum 1947. di samping meniadakan mata pelajaran PSPB juga diperkenalkannya sistem kurikulum SMU yang dimaksudkan untuk menjadikan pendidikan umum benar benar sebagai pendidikan persiapan ke perguruan tinggi. yang didasarkan atas hasil penilaian nasional pendidikan (national assessment) hanyalah kurikulum 1975 dan kurikulum PPSP (Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (1974 1981). relevant. kita telah mengenal berbagai kurikulum. Selebihnya merupakan perubahan yang didasarkan atas asumsi teoretik. kurikulum tahun 1968. dan kurikulum 1994. Pendahuluan Memasuki tahun 2004 ini. Mengapa kurikulum yang satu diganti dengan kurikulum yang lainnya. kurikulum 1975. if the design and the implementation are appropriate. This article states. bukan .

dan (5) peranan guru dan implikasinya terhadap profesionalisasi tenaga kependidikan. Memang tradisi penelitian dan pengembangan yang dirintis oleh almarhum Menteri Mashuri dan diperkuat oleh Prof. 1994 telah. belum atau tidak berhasil mempengaruhi peningkatan mutu pendidikan? Sesungguhnya pada tahun 1981 Balitbang Depdikbud telah selesai (dimulai tahun 1978) melakukan studi evaluasi kurikulum secara nasional yang komprehensif dengan datanya terkumpul dalam 6 (enam) disket komputer. Dr. tulisan ini tidak berpretensi berangkat dari hasil evaluasi ilmiah melainkan berangkat dari premise teoretik. Bahkan data yang terkumpul dari hasil penelitian evaluatif yang berlangsung dari tahun 1978 sampai tahun 1980-pun tidak sempat diolah lebih lanjut. tulisan ini akan mencoba membahas : (1) makna kurikulum sebagai unsur yang strategis dalam pendidikan sekolah. dan Tenaga Kependidikan sebagai Unsur Strategis yang bermakna bagi kedudukan kurikulum yang strategis. Tetapi penggantian kurikulum 1975 menjadi kurikulum 1984 sama sekali tidak didasarkan atas hasil evaluasi tersebut.atas dasar temuan-temuan hasil evaluasi yang dilakukan secara sistematik. Karena itu kita sukar untuk menjawab pertanyaan Seberapa jauh kurikulum 1975. (3) pendekatan dan proses pembelajaran yang relevan. Makna Kurikulum sebagai Unsur yang Strategis dalam Pendidikan Sekolah . 1984. (4) evaluasi sebagai media pendidikan dan instrumen umpan balik. Sistem Evaluasi. Atas dasar pertimbangan di atas. Soemantri Brodjonegoro nampaknya berhenti sejak Menteri Nugroho Notosusanto. Dalam konteks praktek perubahan kurikulu m yang demikian. (2) tujuan dan materi kurikulum Kurikulum.

yang melahirkan negara-negara kebangsaan seperti Amerika Serikat.Sekolah adalah lembaga sosial yang keberadaannya sebagai bagian dari sistem sosial negara bangsa sangat strategis sejak industrialisasi dan gerakan negara kebangsaan pada abad ke-19. Britania Raya. jo UU No. baik UU No. dan sistem evaluasi yang harus dikembangkan dan dilaksanakan. 4 Tahun 1950. nilai. dan memajukan kebudayaan nasional melalui diselenggarakannya satu sistem pengajaran nasional (sekolah). Jerman. tujuan pendidikan yang dirumuskan dalam UndangUndang Pendidikan Nasional. Karena itu harapan terbesar dari suatu masyarakat yang melakukan transformasi budaya adalah menjadikan sekolah sebagai pusat pembudayaan berbagai kemampuan. 12 Tahun 1954. maupun Jepang. dan sikap itu hanya dapat berlangsung melalui proses pembelajaran yang bermakna sebagai proses pembudayaan. Perancis. mengamanatkan perlunya mencerdaskan kehidupan bangsa. Italia. materi yang harus dipelajari. Para pendiri Republik sadar akan adanya jurang antara kondisi yang dicita-citakan yaitu masyarakat negara kebangsaan yang moderen dan demokratis yang berdasarkan Pancasila dengan kondisi perkembangan masyarakat Indonesia pada saat proklamasi. dan efektif melalui suatu sistem kurikulum yang dirancang secara sistematik sejak penentuan tujuan yang harus dicapai. Karena proses pembudayaan berbagai kemampuan nilai. yang mencitakan manusia terdidik Indonesia sebagai manusia susila . dalam sejarahnya merupakan proses menjadi satunya kerajaan-kerajaan kecil dari masing-masing negara tersebut. Kalau kita cermati. Para pendiri Republik nampaknya terilhami oleh perkembangan negara-negara kebangsaan tersebut yang. Proses pembelajaran yang demikian hanya akan terjadi secara efisien. Dalam mengemban peranan sekolah sebagai pusat pembudayaan inilah kedudukan kurikulum sangatlah strategis. dan sikap dari warga masyarakat moderen. proses pembelajaran yang harus diterapkan.

mencatat.yang cakap dan demokratis serta bertanggung jawab . dan seterusnya . Mereka ini adalah kaum realis. dan menghafal dengan evaluasi hanya mengukur kemampuan mengingat apa yang telah dipelajari dengan keterbatasan buku bacaan baik untuk guru dan murid. berkepribadian yang mantap dan mandiri serta mempunyai rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan . terprogram. Tetapi pada umumnya tujuan pendidikan yang demikian ideal selama ini tidak pernah dengan sungguh-sungguh diterjemahkan secara operasional dan diupayakan ketercapaiannya. dalam pengertian kalau penyelenggaraan pendidikan disekolah dengan kondisi seperti yang berlangsung sampai dengan hari ini. bahkan tanpa fasilitas serta sarana dan prasarana yang diperlukan. dan Tenaga Kependidikan sebagai Unsur Strategis berakhlak mulia. Kalau tetap demikian memang segala tujuan itu tidak akan dapat dicapai. dalam pengertian rendahnya kesungguhan dan kemampuan guru. bertaqwa dan Kurikulum. Bahkan banyak sementara orang (termasuk para pejabat atau pakar) yang memandang hal tersebut tidak mungkin dapat dicapai oleh sekolah. atau UU No. kesemuanya mencitakan wujud sosok manusia yang ideal. sehat jasmani dan rohani. dan yang terakhir UU No. Sistem Evaluasi. memiliki pengetahuan dan ketrampilan. karena semuanya tidak dengan sendirinya dapat meningkatkan mutu pendidikan. dengan pengertian waktu yang terbatas. Kalau demikian sesungguhnya tidak perlu kita mengubah kurikulum bahkan tidak perlu mengubah UU Sisdiknas. 2 Tahun 1989 yang mencitakan wujud manusia Indonesia terdidik sebagai manusia yang beriman dan bertaqwa. dan terlaksana dengan efisien. efektif. Ketercapaiannya tidak mungkin tanpa suatu proses yang terencana. . serta terbatasnya. 20 Tahun 2003 yang mencitakan manusia yang beriman. dalam pengertian model pembelajaran yang tidak lebih dari mendengar. dan relevan.

dan Tenaga Kependidikan sebagai Unsur Strategis Keempat karakteristik manusia yang dirumuskan dalam berbagai Undang Undang Pendidikan Nasional tersebut hakekatnya karakteristik yang bersifat universal. (4) yang berkepribadian dan bertanggung jawab Kurikulum. Tujuan dan Materi Kurikulum yang Relevan Tujuan Kalau kita kaji secara mendalam tujuan pendidikan yang selama ini dirumuskan. (2) yang menguasai ilmu pengetahuan dan ketrampilan. Tulisan ini berpandangan bahwa sekolah dengan kurikulum yang dirancang dan dilaksanakan secara relevan.Tulisan ini memandang kalau sikap ini yang tetap berada di benak semua lapisan masyarakat Indonesia dari elit politik. akan menemukan betapa pendidikan nasional diharapkan untuk dapat melahirkan manusia Indo nesia yang : (1) religius dan bermoral. sampai guru dan orang tua murid. (3) yang sehat jasmani dan rohani. dan memajukan kebudayaan nasional. yang masih perlu diterjemahkan kedalam rumusan yang operasional dan terkait dengan perkembangan masyarakat Indonesia khususnya dan . dalam berbagai UU pendidikan nasional kita. efisien dan efektif akan mampu mendukung terlaksananya fungsi pendidikan nasional utnuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Sistem Evaluasi. sesungguhnya mengharapkan pendidikan nasional berfungsi mencerdaskan kehidupan bangsa sangat berlebihan karena tidak akan dapat terlaksana. pakar.

hanya bangsa yang sistem politik demokrasinya mantap yang mampu bertahan dan terus maju. agar negara bangsa Indonesia dapat bertahan sebagai negara yang merdeka dan bermartabat diperlukan manusia Indonesia yang berkualitas yang mampu mendukung : (1) sistem politik demokrasi yang stabil berdasarkan Pancasila. yang dalam bidang ekonomi ditunjukkan dengan kemampuannya dalam : (1) mengolah dan mengelola sumber daya alam. dan (5) mengelola perdagangan (Harbison-Myers). hanya bangsa yang memiliki infrastruktur teknologi unggul yang dapat bertahan. (2) pengembangan teknologi. sosial budaya. (4) mengelola modal. Yang maknanya adalah berlakunya berbagai ukuran dan aturan internasional dalam segala bidang kehidupan. Dalam bidang politik. bersaing dan terus maju. nilai. ekonomi. Dalam era semacam ini hanya bangsa yang berkualitas sumber daya manusianya. Karena itu dalam menterjemahkan keempat karakteristik tersebut kedalam rumusan wujud kemampuan. Dari ulasan singkat di atas dapatlah kita sampai kepada suatu kesimpulan bahwa di tengah era globalisasi dengan segenap tantangan dan kesempatan yang terbuka. ilmu pengetahuan dan tehnologi. Wujud nyata dari setiap karakteristik tersebut akan berbeda dalam suatu tingkat perkembangan masyarakat dan tingkat pendidikan. (3) menghasilkan komoditas yang bermutu dan dapat bersaing di pasar dunia. Dalam bidang ilmu pengetahuan dan tehnologi. (2) sistem ekonomi nasional yang mantap infrastruktur fisiknya. komunikasi/transportasi bahkan kehidupan keagamaan. yang dapat bertahan dan secara berkesinambungan maju. infrastruktur . dan sikap yang dapat dijadikan rujukan dalam proses perencanaan kurikulum perlu dipahami tingkat dan arah perkembangan masyarakat Indonesia.masyarakat internasional pada umumnya. Hampir tidak ada seorangpun yang dapat mengelakkan diri dari kenyataan bahwa Indonesia di millenium ketiga ini berada dalam era globalisasi. baik politik.

kesusastraan. berkembang wirausahanya dan tumbuh pengusaha kecilnya. Materi yang Relevan Setelah teridentifikasi empat gugus kemampuan. nilai dan sikap yang perlu dikuasai dan dimiliki manusia terdidik Indonesia yaitu : (1) memiliki kemampuan. berkarakter dan bermoral. infrastruktur tenaga manusianya. pertanyaannya adalah Materi pendidikan manakah yang harus dijadikan obyek belajar ? . (3) sistem pengembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi yang tangguh. etos kerja. maupun dimensi kognitif dan normatif dari kebudayaan nasional. serta berakhlak mulia. (3) memiliki kemampuan dan sikap ilmiah untuk dapat mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui kemampuan penelitian dan pengembangan.teknologinya. (4) majunya kebudayaan dalam berbagai seginya baik kesenian. nilai dan sikap yang terkait dengan kepentingan terwujudnya masyarakat Indonesia moderen dan bermartabat di era globalisasi. (4) memiliki kepribadian yang mantap. nilai dan sikap yang memungkinkannya berpartisipasi secara aktif dan cerdas dalam proses politik. dan (5) mantapnya etika sosialnya. Berangkat dari pemahaman tentang karakteristik masyarakat moderen di era globalisasi yang perlu kita wujudkan di Indonesia dapatlah kiranya kita sampai kepada identifikasi kemampuan. dan disiplin kerja yang memungkinkannya dapat secara aktif dan produktif berpartisipasi dalam berbagai kegiatan ekonomi. (2) memiliki kemampuan.

Undang-undang No. Membaca dan Menulis e. Bahasa Indonesia d. 2 th. Pendidikan Kewarganegaraan c. Ketrampilan.Pendidikan Agama b. Ilmu Pengetahuan Sosial g. Budaya. Matematika. Kesenian dan Muatan i. Pendidikan Pancasila a. Seni. Kerajinan Tangan dan Kesenian . termasuk berhitung f. Menurut UU No. Bahasa d. 2 Tahun 1989 maupun UU No. Pendidikan Kewarganegaraan c.Ilmu Bumi h. Ilmu Pengetahuan Alam f. Sejarah Nasional dan Sejarah Umum Lokal j. 20 tahun 2003 telah memberikan jawaban seperti yang dikutip dibawah ini. Matematika e. dan Olah raga. 1989 Menurut UU No. Pendidikan Agama b. 20 Thn 2003 (Pendidikan Dasar) (Sampai Sekolah Menengah) a. Pengantar Sains dan Teknologi g. serta h.

and saints. 1 .k. experimenters. Budaya dan Olah Raga dalam satu gugus. A high level of civilization is the consequence of the dedicated service of person in the special gifts for the benefits of all. 2 tentang SISDIKNAS dan UU SISDIKNAS (2003) nampaknya berbeda. Menggambar m. prophets. Pendidikan Jasmani dan Kesehatan l. Dalam menjawab pertanyaan tentang mengapa suatu bahan kajian dan suatu pendekatan ditempuh. scholars. 2 Th. 2 th. Bahasa Inggris Kedua ketentuan yang terdapat dalam UU No. apa bedanya dengan dipisahkannya menggambar dan kesenian pada UU No. Philip Phenix menyatakan : The richness of culture and the level of understanding achieve in advanced civilization are due almost entirely to the labours of individual men of genius and organized communities of specialists. Demikian juga dengan IPS dalam UU SISDIKNAS tahun 2003 dengan Ilmu Bumi. Every person is indebted for what he has to a great network of skilled inventors. Pertanyaannya adalah apakah benar mata pelajaran tersebut menunjang tercapainya fungsi dan tujuan pendidikan nasional. misalnya kalau dalam UU SISDIKNAS tahun 2003 Seni. seers. Sejarah pada UU No. 1989. who have devoted their special talents to the well being of all. Philip Phenix dari pengamatannya terhadap perkembangan peradaban dan memandang perlunya generasi muda siap untuk melanjutkan perkembangan peradaban tersebut. Dalam kaitan ini. artists. tetapi hakekatnya yang perlu anyakan adalah mengapa mata pelajaran tersebut yang ditentukan. 1989.

rituals. Meaning in this realm are concerned with the contemplative perception of particular significant things as unique objectifications of ideated subjectivities. Thus synnoetics signifies . mind. life. yang penjelasannya diuraikan sebagai berikut : The first realm. the arts of the movement. contains the various arts. which was devised because no existing concept appeared adequate to the type of understanding intended. generalizations. and the like. embraces what Michael Polanyi calls personel knowledge and Martin Buber the I-Thou relation. Synnoetics. Empirics. includes the science of the physical world of living things. and this in turn is compounded of syn. fourth realm. Symbolics. derives from the Greek synnoesis. rhythmic patterns. and of man. comprises ordinary language. The second realm. meaning cognition . The third realm. Synnoetics. with socially accepted rules of formation and transformation created as instrument for the expression and communication of any meaning whatsoever. the visual arts. Mathematics. and literature. meaning meditative thought . such as music. meaning with or together and noesis. Esthetics. Empirics. and society.Berangkat dari pemahamannya tentang hakekat perkembangan peradaban Philip Phenix mengidentifikasikan enam wilayah yang bermakna untuk menjadikan peserta didik memahami makna dunia yang dimana mereka hidup dan mengembangkan dirinya. The novel term synnoetics . These meaning are contained in arbitrary symbolic structures. and various types of nondiscursive symbolic forms such as gesture. Esthetics. Ethics. dan Synoptics (Realms of Meaning). These science provide factual descriptions. Keenam wilayah makna tersebut yaitu : Symbolics. and theoretical formulation and experimentation in the world of the matter.

It include history. Penulis mengartikan bahwa pemikir seperti Philip Phenix dan J. and synnoetic meanings into coherent whole. responsible. includes moral meaning that express obligation rather than fact. religion. morality ha to do with personal conduct that is based on free. perceptual form. refers to meanings that are comprehensively integrative. Kiranya kita sepakat bahwa setiap disiplin atau dalam bahasanya Phenix setiap Realms of Meaning mengandung kekhususan dalam metode. karena itu pendidikan perlu memilih yang essensial. In contrast to the sciences. yaitu : . Bruner hakekatnya menghidupkan pemikiran Whitehead pada tahun 1920-an. and philosophy. struktur ilmu pengetahuan yang luas. dan para pembaharu pendidikan yang mengakhiri gerakan pendidikanprogressive di Amerika Serikat seperti Jerome Brunner. The fifth realm. to the arts. Karena itu Philip Phenix.2) Disadari bahwa kandungan pengetahuan yang terdapat didalam setiap wilayah dan sub wilayah demikian luas. and to personal knowledge. The sixth realm. Theses discipline combine empirical. or awareness of relation. yang hakekatnya merupakan penerus Alford North Whitehead mengutamakan pemilihan bahan pelajaran secara ketat agar para pelajar dapat mempelajari sesuatu sampai tingkatan memahami makna yang dipelajari bagi kehidupannya. which express idealized esthetic perceptions. deliberate decision. which reflect intersubjective understanding. Berangkat dari pemikiran ini Philip Phenix selanjutnya mengemukakan empat prinsip dasar dalam memilih media pelajaran dari setiap wilayah arti. dan konsep-konsep dasar yang menonjol. which are concerned with abstract cognitive understanding.relational insight or direct awareness . Ethics. esthetic. Synoptics.

Masalahnya terutama disebabkan karena berbagai ketentuan sebagai yang tercantum dalam pasal 13 ayat (1) tentang fungsi dan tujuan pendidikan dasar dan pasal 15 ayat (1) tentang fungsi dan tujuan pendidikan menengah dan pasal 16 ayat (1) tentang fungsi dan tujuan pendidikan tinggi. suatu pandangan yang sedang dipopulerkan oleh sementara pakar. 2 th 1989 masih relevan untuk menjadikan sistem pendidikan nasional dapat berfungsi mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan kebudayaan nasional. Yang menjadi pertanyaan adalah seberapa jauh perancang UU SISDIK NAS 2003 telah secara mendalam mempelajari kedudukan SISDIKNAS dalam proses pembangunan negara bangsa moderen Indonesia sebelum merumuskan pokok pokok pikiran yang mendasar tentang sistem pendidikan nasional. b. bahan pelajaran mengutamakan method of inquiry . Padahal pandangan Freire dan Ivan Hlich hakekatnya berangkat dari pandangan kaum nihilis yang mencitakan adanya Stateless Society . c. d. bahan pelajaran harus diambil dari disciplined of inquiry. Sesungguhnya penulis berpandangan bahwa UU no.a. dan bahan pelajaran harus dapat mendorong peserta didik berpikir secara imajinatif Pendekatan pemilihan bahan ini jelas berbeda dari pendekatan Paul Freire yang menyerahkan pemilihan bahan kepada peserta didik. suatu aliran pemikian dalam pendidikan yang sering muncul dalam perjalanan sejarah pemikiran pendidikan tetapi selama ini belum mampu mengubah kenyataan pendidikan dalam masyarakat moderen dan post moderen dalam masyarakat demokratis yang selalu memerlukan suatu tatanan hidup bernegara dengan segala persyaratannya. Proses pembelajaran yang terjadi dari tingkat SD sampai Perguruan Tinggi . tidak diupayakan untuk dapat terwujud. bahan pelajaran harus dipilih konsep-konsep utama suatu disiplin yang mewakili hakekat disiplin tersebut.

pada umumnya masih proses penyajian informasi oleh pengajar untuk dicatat oleh peserta didik, suatu model pembelajaran yang terjadi sebelum berlakunya UU No. 2 th 1989. Adalah keyakinan profesional dan akademik saya bahwa tanpa proses pembelajaran yang bermakna sebagai proses pembudayaan, tujuan dan struktur kurikulum yang telah dirancang dengan baikpun tidak akan dapat meningkatkan mutu pendidikan.

Pendekatan Proses Pembelajaran dan Implikasinya terhadap Sistem Evaluasi Pendekatan Proses Pembelajaran

Bagian ini bermaksud mencoba menjawab pertanyaan

model

pembelajaran seperti apa yang dapat bermakna sebagai proses pembudayaan ? Pandangan kami adalah bahwa bila proses pembelajaran dapat merangsang, menantang dan menyenangkan seperti yang dikemukakan oleh Whitehead sampai pada tingkat joy of discovery diharapkan proses pembelajaran itu akan bermakna sebagai proses pembudayaan dan proses penguasaan seni menggunakan ilmu pengetahuan. Dalam kaitan ini UNESCO melalui International Commision on Education for The Twenty First Century 3) yang antara

lain bertujuan untuk mengubah dunia from technologically divided world where high technology is privilege of the few to technologically united world mengusulkan empat pilar belajar yaitu learning to know, learing to do, learning to be, and learning to live together . Menerapkan empat pilar tersebut berarti bahwa proses pembelajaran memungkinkan peserta didik dapat menguasai cara memperoleh pengetahuan, berkesempatan menerapkan pengetahuan yang dipelajarinya, berkesemp atan untuk berinteraksi secara aktif dengan sesama peserta didik sehingga dapat

menemukan dirinya. Model pembelajaran seperti ini hanya dapat berlangsung dengan tenaga guru yang penuh konsentrasi, peralatan yang memadai, dengan materi yang terpilih dan waktu yang cukup tanpa harus mengejar target untuk ujian nasional. Ujian nasional akan mengurangi kreatifitas belajar sampai tingkatan joy of discovery . Untuk jelasnya keempat pilar belajar akan diuraikan secara lebih rinci. Learning to know , learning to do , learning to live together dan learning to be , empat pilar belajar yang oleh UNESCO dipandang sebagai pendekatan belajar yang perlu diterapkan untuk menyiapkan generasi muda memasuki abad ke-21 hakekatnya merupakan pendekatan belajar yang telah diperkenalkan oleh tokoh-tokoh pemikir pendidikan sejak permulaan abad ke20. Pendekatan ini demikian berkembang di Amerika Serikat dan Eropa Barat, terutama sejak ketertinggalan Amerika Serikat dalam teknologi ruang angkasa Uni Soviet pada tahun 1957. Pemikir pendidikan seperti Whitehead (1916) memandang pendidikan sebagai acquisition of the art of the utilization of knowledge 4). Karena itu dia sampai menyatakan bahwa orang yang paling banyak pengetahuannya adalah orang yang tidak berguna dibumi Tuhan yang dalam bahasa aslinya tertulis sebagai berikut : A merely well informed man is the most useless bore on God s earth 5) Selanjutnya dalam ceramahnya pada

himpunan Matematika pada tahun 1916 dia menekankan aga peserta didik r sejak dini harus sudah dapat menikmati proses penemuan. Kalimat lengkapnya tertulis sebagai berikut: Let the main ideas which are introduced into a child s education be few and important, and let them be thrown into every combination possible. The child should made them his own, and should understand their application here and now in the circumstance of his actual life. From the very beginning of his education, the child should experience the joy of discovery 6) .

Kritik yang dia tujukan ke praktek pendidikan di Inggris pada permulaan abad ke-20 ini menjadi landasan pembaharuan pendidikan di Amerika Serikat pasca Sputnik. Selanjutnya muncul pemikir-pemikir pendidikan di Amerika Serikat seperti Philip Phenix, Jerome Bruner, dan Israel Sheffler, Philip Phenix misalnya mengatakan: It is more important for the student to become skillful in the ways of knowing than to learn about any particular product of investigation. Knowledge of methods makes it possible for a person to continue learning and undertake inquiries on his own 7)

Gerakan pembaharuan pendidikan di Amerika Serikat yang juga mempengaruhi negara-negara Eropa Barat telah membuahkan kemajuan IPTEK yang berpengaruh kepada perkembangan negara-negara Barat. Memasuki akhir abad ke-20, dalam dunia yang makin menjadi mengglobal, perbedaan kemampuan antara negara maju dan negara berkembang makin melebar. Sadar akan hal ini UNESCO membentuk suatu komisi International yang tujuannya memberikan rekomendasi kepada UNESCO untuk menerapkan empat pilar belajar. Dua kutipan dari laporan Komisi Internasional berikut menunjukkan situasi paradoksal yang dihadapi negara berkembang. The need for change from narrow nationalism to universalism, from ethnic and cultural prejurdice to tolerance, understanding and pluralism, from autocracy to democracy in its various manifestations, and from technologically united world, places enormous responsibilities on teacher who participate in the moulding of the characters and minds of the new generation 8)

Tetapi untuk melaksanakan peranan ini. Dalam kalimat aslinya dia menyatakan: . 9) Akibat dari perkembangan ini yang terjadi adalah sekolah yang berjubel. This drive by developing countries was in fulfilment of UNESCO s mission to achieve Education for All . Suatu tuntutan yang pada hakekatnya telah digariskan oleh para pendiri Republik Indonesia yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan kebudayaan nasional. governments and international agencies in the developing world sought to respond to development challenges by focusing increasingly on expanding educational opportunities. dengan guru yang secara profesional kurang memenuhi syarat. dan mengingat kembali yang berdampak tidak adanya kesempatan menerapkan pendekatan moderen dalam proses pembelajaran.Demikian tingginya tuntutan terhadap peranan yang diharapkan dari pendidikan untuk membentuk karakter dan mental generasi muda untuk dapat melakukan transformasi budaya. menghafal. while the quality of education itself was not given priority. But the expansion in education was concentrated on coping with growing demand for schooling. proses pembelajaran tidak lebih dari mencatat. Mufti yakin bahwa tiadanya kesempatan bagi peserta didik untuk memperoleh pendidikan yang bermutu akan merugikan masyarakat karena sukar memperoleh sumber daya manusia yang bermutu untuk pembangunan masyarakat. kondisi pendidikan di negara berkembang pada umumnya (termasuk Indonesia) dilukiskan oleh seorang anggota Komisi tersebut In am Al Mufti dalam artikelnya Excellence in Education : investing in human talent dalam: in the past two decades in particular.

yaitu: Learning to know. learning to live together. dan learning to be. yang mengutamakan proses pembelajaran yang memungkinkan peserta didik (pelajar/mahasiswa) terlibat dalam proses meneliti dan mengkaji. yaitu ketertinggalan negara berkembang dari negara maju dalam penguasaan IPTEK yang melatarbelakangi kemajuan ilmu dan stabilnya sistem politik demokrasi dan tiadanya dukungan bagi pemerataan pendidikan. not immersion in the phenomenal and conceptual given. It requires not contact but criticism. UNESCO memperkenalkan empat pilar belajar. Dalam kalimat lengkapnya tertulis sebagai berikut: Epistemological relevance in short requires us to reject both myth and mystic union. Dalam bahasan Israel Scheffler pilar ini pada hakekatnya terkait dengan relevansi epistemology. proses pembelajaran yang mengutamakan penguasaan ways of knowing atau mode of inquiry telah memungkinkan peserta didik untuk terus belajar dan mampu memperoleh pengetahuan baru dan tidak hanya memperoleh pengetahuan hasil penelitian orang lain. Learning to Know Seperti telah dikemukakan oleh Philip Phenix. 10) Dengan latar belakang inilah. learning to do. but the flexibility of mind capable of transcend- .Notwithstanding the good intentions of traditional policies. Karena itu hakekat dari Learning to Know adalah proses pembelajaran yang memungkinkan pelajar/mahasiswa menguasai teknik memperoleh pengetahuan dan bukan semata-mata memperoleh pengetahuan. to deprive outstanding students of appropriate educational opportunities is to deprive society of the best human resources that lead towards real and effective development.

Scheffler memandang pentingnya pilar learning to know untuk berangkat dari disiplin ilmu pengetahuan karena bagi mereka mode of inquiry dari disiplin ilmu adalah bentuk yang paling tertinggi dari berpikir. Dalam kaitan ini dia menyatakan: In the revolutionary perspective. . contrary to recent emphases. The bearing of inquiry upon practice is moreover of the greatest educational interest. criticism. Students should be encouraged to employ the information and technique of disciplines in analysis. Such interest is not. reordering. thought is an adaptive instrument for overcoming environmental difficulties. Scientific inquiry. Seperti halnya Phenix. independently pursued has the most powerful potential for the analysis and transformation of practice. Sengaja penulis mengutip pandangan Scheffler demikian panjang karena dari sudut pandang pendidikan tinggi. Habits of practical diagnosis. An education that fosters criticism and conceptual flexibility transcends its environment and by erecting a mythical substitue for this world but rather striving for a systematic and penetrating 11) comprehension of it. pandangan Scheffler tentang relevansi pendidikan sangat terkait dengan learning to know pada tingkat pendidikan tinggi.ing. the most highly form 13) of thought is the mos explicity problem directed. Selanjutnya dia menguraikan pengkajian dalam kalimat berikut: Theoretical inquiry. exhausted in a concern for inquiry within the structure of several disciplines. critique and execution upon responsible inquiry need the supplement theoretical attitude and 12) disciplinary proficiencies in the traing of the young. and expanding the given. and alteration of their practical outlook.

Untuk menyiapkan anggota masyarakat dalam dunia kerja yang . designing. organizing. maintaining. pilar kedua. Kalau pilar pertama. Learning to Do Bagaimana dengan pilar kedua learning to do . Suatu model yang penulis alami selama mengikuti kuliah di University of California . Dengan model pendekatan ini dapatlah dihasilkan lulusan yang memiliki kemampuan intelektual dan akademik yang tinggi dan dengan sendirinya akan mampu mengembangkan ilmu pengetahuan. learn ing to know . is urges the outensible problem-solving pattern of scientifie research as the chief paradigm of intellectual activity. to be favored 14) in all phases of education and culture. learning to do . monitoring.Selanjutnya dia menyatakan: Interpreting science as the most refined and effective development to such adaptive thinking. sasarannya adalah kemampuan kerja generasi muda untuk mendukung dan memasuki ekonomi industri. yang dengan kemajuan teknologi pekerjaan yang sifatnya fisik telah diganti dengan mesin. sasarannya adalah pengembangan ilmu pengetahuan danteknologi sehingga tercapai keseimbangan dalam penguasaan IPTEK antara negara di dunia dan tidak lagi dibagi antara negara utara-selatan. Dalam masyarakat industri atau ekonomi industri tuntutan tidak lagi cukup dengan penguasaan ketrampilan motorik yang kaku melainkan diperlukan kemampuan untuk melaksanakan pekerjaan pekerjaan seperti controlling. Dari uraian di atas dan kutipan yang sengaja penulis sajikan dapatlah ditarik pemahaman bahwa penerapan pilar learning to know pada tingkat pendidikan tinggi adalah penerapan paradigma penelitian ilmiah dalam pelaksanaan perkuliahan.

bekerjasama dengan orang lain. Dalam kaitan ini dengan pemahaman tentang pilar kedua learning to do pada tingkat pendidikan tinggi ini mengandung makna atau berimplikasi tentang perlunya pendidikan profesional pada pendidikan tinggi secara konsekuentif. transforming its 15) into thought. penguasaan ketrampilan teknis dan intelektual. and difficulty. menjadi penting. turns its energy inward. maupun doktrin Whitehead tentang hakekat pendidikan sebagai upaya penguasaan seni menggunakan pengetahuan. mengelola dan mengatasi konflik. It originates in doubt. The blocking of conduct either throught internal conflict on environment hindrance. bermuara pada paradigma pemecahan masalah yang memungkinkan seorang mahasiswa berkesempatan mengintegrasikan pemahaman konsep. conflict. ada baiknya penulis kutipkan pandangan Scheffler tentang relevansi psikologis dalam kalimat berikut: Thought according to widely prevalent doctrine is problem oriented. The functions is to overcome obstacles to the smooth flow of human activities. pengembangan kemampuan memecahkan masalah dan berinovasi sangatlah diperlukan. Dalam kaitan ini. Untuk itu penulis berpandangan dalam kaitan dengan pilar kedua yaitu learning to do perlu dikaitkan dengan pandangan Scheffler tentang relevansi psikologis. human energy is released into overt channel set by habit and custom. Ini be rarti pula bahwa untuk melahirkan generasi baru yang intelligent dalam bekerja. untuk memecahkan masalah dan dapat .dalam technology knowledge based economy . belajar melakukan sesuatu dalam situasi yang konkrit yang tidak hanya terbatas kepada penguasaan ketrampilan yang mekanistis melainkan meliputi kemampuan berkomunikasi. When action is coherent and well adapted to its circumstances.

Learning to Live Together Kemajuan dunia dalam bidang IPTEK dan ekonomi yang mengubah dunia menjadi desa global ternyata tidak menghapus konflik antara manusia yang selalu mewarnai sejarah umat manusia. within and above al! between nations. piagam PBB. since people very naturally tend overvalue their own qualities and those of their group and to harbour prejudies against others. Padahal sejak berakhirnya Perang Dunia ke II berbagai deklarasi untuk menjadi dasar penyelesaian konflik seperti Deklarasi HAM. dan kita bangsa Indonesia memiliki landasan pandangan hidup Pancasila yang hakekatnya adalah untuk membangun negara kebangsaan yang demokratis. Diakui oleh Komisi Internasional untuk pendidikan abad ke-21 tentang sulitnya menciptakan kerukunan. tends to give . dan menggalang persatuan dan persaudaraan bukan hanya antar warga bangsa melainkan dengan seluruh umat manusia seperti dinyatakan dalam kalimat ketertiban dunia yang didasarkan kemerdekaan. Yang terjadi akhir-akhir ini bahkan sebaliknya yaitu terjadinya konflik antar manusia yang didasarkan atas prasangka.berlanjut kepada inovasi dan improvisasi. toleransi dan saling pengertian dan bebas dari prasangka. dan antar negara. baik antar ras. berkeadilan sosial. Dalam pengamatan komisi tersebut sebabnya diuraikan dalam kalimat berikut : It is difficult task. Furthermore. antar agama dan antar si kaya dan si miskin. Tetapi kenyataan menunjukkan terjadinya berbagai konflik sosial baik horizontal maupun vertical. antar suku. keadilan sosial dan perdamaianabadi . the general climate of competition that is at present characteristic of economi activity. ber-Ketuhanan yang Maha Esa.

Kegiatan berlangsung mingguan dengan sasaran bersama camping yang yang harus dicapai oleh seluruh peserta merupakan salah satu model yang perlu ditempuh. Suatu prinsip yang memerlukan suasana. Pendidikan untuk mencapai tingkat kesadaran akan persamaan antar sesama manusia dan terdapat saling ketergantungan satu sama lain tidak dapat ditempuh dengan pendidikan dengan pendekatan tradisional melainkan perlu menciptakan situasi kebersamaan dalam waktu yang relative lama. prinsip relevansi sosial dan moral yang disarankan Israel Scheffler sangat memadai. Dalam hubungan ini. Ini diperlukan proses pembelajaran yang menuntut kerjasama untuk mencapai tujuan bersama. Kiranya bangsa Indonesia perlu belajar Learning to Be . and exacerbating historic rivalries .16) Latar belakang kenyataan dalam masyarakat yang digambarkan oleh komisi diatas menuntut pendidikan tidak hanya membekali generasi muda untuk menguasai IPTEK dan kemampuan bekerja serta memecahkan masalah. Model sekolah berasrama dan kampus yang merupakan kawasan tersendiri merupakan pendekatan yang ditempuh Inggris dan Amerika Serikat dalam membangun bangsa yang bersatu. pengertian. Such competition now amounts to ruthless economic warfare and to a tension between rich and poor that is dividing nations and the world. dan tanpa prasangka. belajar yang secara inherently mengandung nilai-nilai toleransi saling ketergantungan.priority to the competitive spirit and individual success. kerjasama. melainkan kemampuan untuk hidup bersama dengan orang lain yang berbeda dengan penuh toleransi. dan tenggang rasa. Dalam kaitan ini adalah tugas pendidikan untuk pada saat yang bersamaan setiap peserta didik memperoleh pengetahuan dan memiliki kesadaran bahwa hakekat manusia adalah beragam tetapi dalam keragaman tersebut terdapat persamaan.

learning to do. 1989 adalah manusia yang berkepribadian yang mantap dan mandiri. moral. atau dalam kamus psikologi disebut memiliki Emotional Intelligance . Manusia yang utuh yang memiliki kemantapan emosional dan intelektual. yang konsisten dan yang memiliki rasa empati(tepo sliro). tingkatanjoy of being succesful in achieving objective. Hasil akhirnya adalah manusia yang mampu mengenal dirinya. yaitu muara akhir dari tiga pilar belajar. Inilah kurang lebih makna learning to be . dan toleran terhadap perbedaan. 2 Th. yang dapat mengendalikan dirinya. yang mampu melaksanakan tugas dalam memecahkan masalah. bertenggang rasa. kepribadian. Evaluasi sebagai Media Pendidikan dan Sarana Umpan Balik Hampir tidak ada orang yang menolak bahwa diselenggarakannya suatu sistem pendidikan adalah dapat dihasilkannya manusia terdidik yang dewasa secara intelektual. yang mengenal dirinya. dalam bahasa UU No. dan mampu bekerjasama.Tiga pilar yaitu learning to know. Namun yang sering disoroti . Bila ketiganya berhasil dengan memuaskan akan menimbulkan adanya rasa percaya diri pada masing-masing peserta didik. dan learning to live together ditujukan bagi lahirnya generasi muda yang mampu mencari informasi dan/ atau menemukan ilmu pengetahuan. dan kemampuan. pada learning to do . Pendidikan yang berlangsung selama ini pada umumnya tidak mampu membantu peserta didik (pelajar/ mahasiswa) mencapai tingkatan kepribadian yang mantap dan mandiri atau manusia yang utuh karena proses pembelajaran pada berbagai pilar tidak pernah sampai kepada tingkatan joy of discovery pada pilar learning to know . dan tingkatanjoy of getting together to achieve common goal.

orang seperti yang akhir-akhir ini berlangsung adalah dimensi penguasaan pengetahuan peserta didik yang belum tentu berdampak kepada pengembangan kemampuan intelektual. memotivasi. Tidak lain karena menurut hasil penelitian Benyamin Bloom tingkah laku belajar peserta didik akan dipengaruhi oleh perkiraan peserta didik tentang apa yang akan diujikan. Evaluasi semacam ini hakekatnya merupakan bagian dari kurikulum itu sendiri. belajar berdemokrasi dan berbagai proses belajar yang bermakna transformasi budaya. Akibatnya peserta didik akan mengabaikan berbagai kegiatan be lajar yang tidak akan diujikan. Dengan demikian kalau yang akan diujikan adalah penguasaan pengetahuan yang telah dihafal. Agar peserta didik sejak memasuki suatu jenjang pendidikan secara terus menerus dan intensif melakukan proses pembelajaran yang bermakna bagi tercapainya berbagai tujuan pendidikan. belajar menulis makalah. Adalah keyakinan profesional dan akademik bahwa sistem evaluasi yang diterapkan akan menentukan keberhasilan kita mencapai tujuan pendidikan nasional. yang berfungsi sebagai bagian dari strategi penguatan reinforcement strategy atau dalam bahasa teknis kurikulum disebut sebagai salah satu wujud . seperti belajar meneliti. mengelola. kematangan moral dan karakter. dengan sendirinya peserta didik hanya akan belajar menguasai materi yang akan diujikan. dan menilai proses pembelajaran yang berlangsung dari hari ke hari. Evaluasi yang demikian hanya dapat dilakukan oleh seorang guru yang profesional yang mampu merencanakan. kematangan pribadi. Evaluasi pendidikan yang berupa evaluasi hasil belajar yang dilakukan pada akhir jenjang satuan pendidikan seperti UAN (Ujian Akhir Nasional) tidak dapat diharapkan dapat berdampak terhadap efektifitas tercapainya tujuan pendidikan nasional. belajar mengapresiasi karya sastra. terus menerus dan obyektif. perlu dikembangkan dan dilaksanakan evaluasi secara komprehensif.

dan berbagai kegiatan untuk meratakan mutu pendi ikan d nasional sesuai dengan standar yang ditetapkan. dampak negatifnya lebih banyak daripada dampak positifnya. dan yang sukar untuk dikembangkan melalui model evaluasi hasil belajar yang tradisional yang dilakukan pada akhir satuan jenjang atau kelas seperti ulangan umum pada akhir semester dan hasilnya. pembaharuan. Kegiatan semacam ini sangat penting dan bermakna bila dimanfaatkan untuk melakukan tindak lanjut berupa upaya perbaikan. seperti etos kerja yang tinggi.dari hidden curriculum . tanpa dipengaruhi hasil dan kegiatan belajar harian dimasukkan ke dalam rapot atau Ujian Akhir Nasional (UAN) yang dilakukan pada akhir jenjang pendidikan dan hasilnya menentukan kelulusan seseorang. Model terakhir ini dari sudut pandang teori belajar sosial. dan sikap (Inkoles). Kedua model evaluasi yang diuraikan dalam makalah ini adalah yang secara langsung terkait dengan . Untuk kepentingan pengelolaan pendidikan secara nasional disadari perlunya secara periodic diadakan evaluasi hasil belajar tingkat nasional atau lebih tepat disebut Nasional Assesment . disiplin. belajar secara terus menerus. Model evaluasi yang merupakan bagian dari strategi pembelajaran ini dari sudut pandang teori belajar sosial (social learning theory) akan dapat menumbuhkan sikap dan kemampuan yang diharapkan. Fungsinya sebagai bagian dari manajemen pendidikan secara nasional adalah untuk memperoleh gambaran tentang peta mutu pendidikan nasional sebagai alat umpan balik guna mendiagnosis faktorfaktor penyebab dari keberhasilan dan ketidakberhasilan suatu sekolah atau daerah dalam membantu peserta didik dalam mencapai tingkatan hasil belajar yang diharapkan. dan sekolah sebagai pusat sosialisasi/pembudayaan berbagai kemampuan. Masalah evaluasi semacam inilah yang perlu dilaksanakan dalam suatu pendidikan yang mendudukkan classroom as social system (Parson). nilai.

Conant sebagai bagian dari reformasi pendidikan di Amerika Serikat akibat dari ketertinggalan Amerika Serikat dalam . kemampuan mengelola. kemampuan menilai.kurikulum dan proses pembelajaran. Dengan demikian jelas betapa tingginya tuntutan profesionalitas seorang guru profesional. Jabatan profesional sebagai yang secara univer sal diakui adalah jabatan yang memerlukan pendidikan lanjutan dan pelatihan khusus (advanced education and special training). dan evaluasi masukan yang secara menyeluruh perlu dilakukan dalam proses pengambilan keputusan pendidikan. Untuk itu James B. Tidak lain karena jabatan profesional adalah jabatan yang memerlukan kemampuan merencanakan. hanya akan secara efisien dan efektif mendukung terlaksananya fungsi pendidikan sebagai proses pembudayaan dan tercapainya tujuan pendidikan. Peranan Guru dan Implikasinya terhadap Profesionalisasi Jabatan Guru Kurikulum yang dirancang dan dilaksanakan sesuai dengan kaidah kependidikan yang secara akademik dan profesional dapat dipertanggungjawabkan dengan didukung oleh penerapan model evaluasi yang relevan dengan tujuan pendidikan. Untuk guru yang berderajat profesional disamping kemampuan-kemampuan tersebut. diperlukan tambahan kemampuan memberikan bimbingan dan kepemimpinan yang didasarkan atas pemahamannya atas peserta didik. dan kemampuan mendiagnosis. Disamping itu kita mengenal dua lainnya. metodik. dan paedagogik). kemampuan mengendalikan. penguasaannya atas ilmu pengetahuan sebagai bahan ajar. kemampuan memonitor. jenis evaluasi konteks. dan teknologi pendidikan (didaktik. bila dilaksanakan oleh guru yang memiliki kemampuan profesional.

hal 6 7 Jacques Delors et. Demikianlah beberapa pemikiran untuk dibahas sebagai upaya menyusun rekomendasi bagi peningkatan mutu pendidikan nasional. (1996). UNESCO 4) Whitehead..teknologi ruang angkasa mensyaratkan calon guru haruslah mereka (lulusan SMA) yang berada pada peringkat 20% keatas. Paris.. (5) sertifikasi profesional tenaga kependidikan. Al. the New American Library. Daftar Pustaka Catatan kaki 1) Philip Phenix.N. Mc. (4) standar pendidikan profesional tenaga kependidikan. (3) persyaratan pendidikan pra-jabatan profesional tenaga pendidik berderajat profesional. A. hal. Learning: The Treasure Within. hal. hal 10 2) 3) Ibid. hal 16 5) 6) Ibid. 14 . Realms of Meaning a Philosophy of The Curriculum For General Education. Report to UNESCO of The International Commision on The Twenty First Century. (1964) New York. Untuk memenuhi tuntutan profesional ini dalam mencoba untuk membahas masalah Guru dan pendidikannya. Graw Hill Book Co. ISPI perlu membahas dan menentukan hal hal berikut : (1) standar profesionalitas tenaga pendidik dan tenaga kependidikan lainnya: (2) hierarki profesional kependidikan.. The Aims of Education and Other Essays (1957) New York. 13 Ibid.

Edit.. Pendidikan Nasional Untuk Mencerdaskan Kehidupan Bangsa Dan Memajukan Kebudayaan Nasional Melalui Sekolah Sebagai Pusat Pembudayaan.7) Philip H. Al. 117 13) Ibid. Al. (1964). et. hal. Hal.. Makalah Prakongres Kebudayaan di Bali. et. New York. Realms of Meaning : A Philosophy of The Curriculum for General education. dalam buku Curriculum : Readings in the Philosophy of Education (1971). hal. Urbana.. Ibid. Graw Hill Book *) Baca Tulisan Soedijarto.. Mc. 28 April 2003 9) Jacques Delors. Martin Levit. 113 114 JURNAL KE II Model-Model-model model ModelModel--model model Evaluasi Pendidikan Evaluasi Pendidikan Evaluasi PendidikanEvaluasi Pendidikan . 193 10) Jacques Delors. 112 12) Ibid. hal. 113 114 14) Ibid. Hal.. Reflection on Educational Relevance . Ibid Hal. University of Illinois Press. Phenix. 193 11) Israel Scheffler.

Abstract: On learning literature.. Sejak Oktober 2003 menduduki jabatan Lektor Kepala di STAIN Purwokerto. for example model developed by Winarno Surakhmad. learning. Sekarang sedang mengikuti Program Doktor By Research di UIN Yogyakarta. Winkel. or even developing our specific model. Pendahuluan Dalam khazanah pembelajaran terdapat bermacam-macam model desain pembelajaran.Rohmad Qomari *) *) Penulis menyelesaikan S-1 di IAIN Sunan Kalijaga Fakultas Tarbiyah dan S-2 Universitas Negeri Yogyakarta.. and Kemp. By studying many models and broaden view not only to one model approach. Briggs dan Wager. reliability. measurement model. objectivity. misalnya model yang dikembangkan oleh Winarno Surakhmad. Keywords: evaluation. As one basic rule. Hisyam Zaini dkk. and com-prehensive so the resulted information can became source to make right and wise decision. Those models design have component and pattern that different each other. Gerlach and Ely. 1 . there many kind of learning model design. good evaluation have to comply with several principle. Briggs and Wager. illuminative model. and even combine (merger) between two or more models. namely validity. Winkel. Hisyam Zaini et al. from model that have dominant quantitative measure like measurement model and model that using qualitative approach as illuminative model. continuity.

evaluasi memiliki dua fungsi utama yaitu untuk mengetahui pencapaian hasil belajar 3 siswa dan hasil mengajar guru. dan evaluasi. yaitu tujuan. materi. Meskipun demikian. media. dari berbagai desain pembelajaran tersebut 2 terdapat komponen-komponen yang termasuk komponen pokok. Dari model-model desain tersebut komponen dan pola antara yang satu dengan lainnya terdapat perbedaan. sebuah pembelajaran tidak dapat dipisahkan dengan kegiatan evaluasi. Secara umum. dan Kemp. evaluasi merupakan salah satu komponen pokok yang selalu ada dalam pembelajaran. . mengelola. strategi adalah langkah-langkah yang ditempuh siswa dan/atau guru dalam mempelajari (guru=mengajarkan) materi pelajaran untuk mencapai tujuan. Pengetahuan tentang hasil belajar siswa terkait dengan sejauh mana siswa telah mencapai tujuan pembelajaran atau kompetensi-kompetensi yang telah ditetapkan. memimpin. strategi. Dengan demikian. media adalah sarana untuk memudahkan pencapaian tujuan. Dengan kata lain. dan evaluasi adalah proses untuk mengetahui pencapaian hasil dan efektivitas pembelajaran. materi adalah bahan yang dipelajari siswa atau diajarkan guru kepada siswa.Gerlach dan Ely. Hasil 4 mengajar guru terkait dengan dalam hal sejauh mana guru sebagai manajer belajar siswa merencanakan. dan mengevaluasi. Tujuan adalah sesuatu yang ingin dicapai.

sebagian besar dalam bentuk tes. afektif. tingkat jenjang pendidikan. Tes akan tepat dipakai untuk mengukur pencapaian domain kognitif. sumatif. dan psikomotor). reliabel. bahkan hingga tujuan mata pelajaran (standar kompetensi mata pelajaran) memuat domain kognitif. dan tes hanyalah salah satu dari teknik evaluasi (di samping teknik nontes/alternative test). cakupan tujuan pendidikan. dan . tetapi tidak tepat untuk mengukur pencapaian ranah afektif. dan satuan pendidikan. Padahal. hingga ujian akhir sekolah dan ujian nasional.Realitas menunjukkan bahwa masih banyak yang mereduksi evaluasi sebagai kegiatan tes. tentunya tidak dapat memberikan informasi yang valid. serta tidak selaras dengan prinsip kontinuitas. 6 dan komprehensivitas sebuah evaluasi. objektivitas. Kegia ebut adalah pelaksanaan tes yang dilaksanakan setelah penyelesaikan pokok bahasan tertentu (kompetensi dasar tertentu) sebagai tes formatif dan tes akhir semester yang dikenal dengan tes sumatif serta tes yang diselenggarakan di akhir jenjang pendidikan tertentu dalam bentuk ujian akhir sekolah dan 5 ujian nasional. tes tertulis hanyalah salah satu bentuk tes (di samping tes lisan dan tindakan). Padahal. Menggunakan teknik tes tertulis untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik yang mencakup berbagai domain/anah ( kognitif. satuan pendidikan. Dari tes formatif. keseimbangan. afektif. baik pada tingkat nasional. Tes tersebut sebagian besar dalam bentuk tes tertulis. Hal ini dibuktikan dengan kegiatan evaluasi yang menonjol di lembaga.

dan James R. Model-model Evaluasi Dalam beberapa literatur evaluasi terdapat berbagai model evaluasi. yakni tulisan dari Hasan. yang menjadi referensi utama tulisan ini. Said Hamid (1988). dan Irvin J. Blaine R.8 Issac. terkadang ditentukan oleh hasil tes tertulis yang dilaksanakan beberapa jam pada mata pelajaran tertentu. dan Ibrahim (2001). William M. 13 . 9 10 Stephen..psikomotor sehingga ironis jika proses pembelajaran yang panjang (3 sampai dengan 6 tahun). dan William B. Worthen. Farida Yusuf (2000). Mehren. Lehman (1973). Tayibnapis. 11 12 Nana. untuk mengetahui pencapaian hasil belajar siswa dan efektivitas proses pembelajaran dapat dilakukan dengan memilih salah satu model evaluasi atau menggabungkan dua model evaluasi atau lebih.7 Dalam tulisan ini akan mendeskripsikan secara ringkas perkembangan studi tentang evaluasi yang telah melahirkan berbagai model evaluasi. Oleh karena itu. khususnya tenaga pengajar.. Dengan mengetahui ragam model evaluasi diharapkan akan menambah khazanah informasi kepada para pelaku pendidikan. Sudjana. Michael (1984) . Di antara literatur yang penulis temukan.

berkeyakinan: if anything exists. dan model illuminatif (illuminative model). dan juga aspek-aspek kepribadian siswa. Dengan acuan referensi di atas. Untuk mendapatkan hasil pengukuran kecenderungan untuk yang setepat mungkin ada . dan perencanaan pendidikan bagi para siswa di sekolah. yang selengkapnya dapat dilihat pada daftar pustaka. Thorndike dan R. minat. objek penilaian mencakup aspek kognitif maupun afektif dari tingkah laku siswa. model sistem (system model). Dengan kata lain. yang hasilnya diperlukan dalam rangka seleksi. Thorndike. model kesesuaian (congruence model). kemampuan pembawaan (intelegensi dan bakat). it exists in quantity. sikap. R. and if it exists in 15 quantity it can be measured. L. Ebel. Ruang lingkup evaluasi menurut model ini adalah tingkah laku. misalnya. Alat penilaian yang lazim digunakan dalam model ini adalah tes tertulis ataupaper and pencil test.Sanders (1987). terutama tingkah laku siswa. Menurut model ini. bimbingan. tokoh-tokoh pengembang model ini antara lain R. penilaian pendidikan adalah pengukuran terhadap berbagai aspek tingkah laku dengan tujuan untuk melihat perbedaan -perbedaan individu atau kelompok. yang mencakup kemampuan hasil belajar. 14 Measurement Model Measurement Model merupakan model yang tertua dibanding model-model evaluasi yang lain. penulis mengklasifikasi model evaluasi menjadi model pengukuran (measurement model).

Atas dasar norma kelompok inilah. Setelah suatu tes diujicobakan kepada sampel yang cukup besar. Diperlukan uji coba berkali kali terhadap instrument yang dikembangkan. kemudian berdasarkan validitas dan data yang diperoleh. nilai untuk masing-masing siswa ditentukan. Oleh karena itu. dilakukan analisis untuk mengetahui 16 reliabilitas tes secara keseluruhan maupun setiap soal (analisis butir tes) yang terdapat di dalamnya. Analisis variabel perbedaan nilai dilakukan dengan menggunakan cara-cara statistik tertentu untuk dapat menyimpulkan cara pengajaran mana yang lebih efektif di antara cara-cara yang dinilai. dikembangkan suatu norma kelompok berdasarkan angka-angka nyata yang diperoleh siswa di dalam tes yang telah dilaksanakan. Tes yang belum dibakukan dipandang kurang dapat mencapai tujuan dari pengukuran. yang menggunakan cara pengajaran yang berbeda sebagai bebas. Pendekatan lainnya dalam model ini adalah membandingkan hasil belajar antara dua atau lebih kelompok. nilai yang dicapai siswa lebih menggambarkan kedudukan siswa tersebut di dalam kelompoknya disebut (relative norm) Penilaian Acuan Norma (PAN). Untuk mengungkapkan hasil yang telah dicapai kelompok maupun masing-masing individu di dalam penilaian mengenai suatu bidang pelajaran tertentu.mengembangkan alat-alat penilaian (tes) yang baku atau standardized. Keterbatasan Measurement Model Keterbatasan dari model ini terletak pada penekanannya yang berlebihan pada aspekpengukuran .

penilaian cenderung dibatasi pada dimensi tertentu dari sistem pendidikan yang dapat diukur . Konsekuensinya. dalam hal ini adalah hasil belajar yang bersifat kognitif. Dalam pengolahan hasil tes. Prosedur semacam ini kurang cocok untuk diterapkan dalam penilaian hasil belajar. Dalam pengembangan alat penilaian. nilai semacam ini kurang mempunyai arti karena sifatnya relatif. Hal itu dalam rangka/pengembangan pendidikan karena dalam penilaian pendidikan yang penting adalah butir soal tes yang dibuat betulbetul konsisten dengan tujuan pendidikan yang ingin dinilai pencapaiannya.dalam kegiatan penilaian pendidikan. Dalam proses pengembangan pendidikan. antara lain tes intelegensi dan tes bakat. Adanya beberapa pengembangan ketidakserasian dengan peranan penilaian dalam proses kurikulum/sistem pendidikan berikut ini. yang mempunyai daya pembeda tinggi. s tidak terbatas hanya pada potensi kognitif saja. model ini banyak dipengaruhi oleh prosedur yang ditempuh dalam pengembangan tes psikologis. Yang menjadi persoalan adalah hasil belajar yang bersifat kognitif tersebut bukan merupakan satu-satunya indikator bagi keberhasilan kurikulum. model ini dipengaruhi oleh prosedur pengolahan hasil tes psikologis. dan nilai yang dicapai oleh masing-masing siswa lebih mencerminkan kedudukannya dalam kelompok. Kurikulum sebagai suatu alat untuk mencapai tujuan pendidikan diharapkan dapat mengembangkan berbagai potensi yang ada pada diri si wa. Untuk mengembangkan tes tersebut berlaku ketentuan bahwa soal tes yang memiliki daya pembeda rendah perlu direvisi atau diganti dengan tes lain. 1. Yang lebih berarti dalam proses pengembangan pendidikan adalah nilai nilai - .17 2.

bukan nilai relatif yang mencerminkan posisi siswa dalam kelompoknya. Informasi yang disajikan menurut model ini lebih berbentuk nilai keseluruhan (total score) yang dicapai setiap siswa. Informasi semacam ini kurang relevan dengan kebutuhan yang dirasakan dalam proses pengembangan pendidikan karena nilai keseluruhan lebih banyak menyembunyikan daripada mengungkapkan informasi yang diperlukan untuk kepentingan penyempurnaan sistem.yang menunjukkan sejauh mana tujuan-tujuan pendidikan telah dicapai oleh siswa. Yang lebih diperlukan dalam proses pengembangan pendidikan adalah bentuk penyajian hasil tes yang dapat memberikan petunjuk tentang bagian-bagian mana dari sistem pendidikan yang masih lemah. Aspek objektivitas yang ditekankan oleh model ini perlu dijadikan landasan yang terus-menerus sistem penilaian dalam rangka mengembangkan pendidikan. yang dilengkapi dengan data mengenai nilai rata-rata dan standar deviasi yang dicapai kelompok. 3. secara individual maupun kelompok. Congruence Model . Di samping itu. evaluasi dalam model ini memungkinkan untuk melakukan analisis intrumen dan hasil evaluasi secara statistik. Keunggulan Measurement Model Keunggulan dari model ini adalah sumbangannya yang sangat berarti dalam hal penekannya terhadap pentingnya objektivitas proses penilaian. dan karenanya memerlukan perbaikan.

pengalaman belajar. Secara lebih khusus. Oleh karena tujuan pendidikan menyangkut tentang perubahan perilaku yang diinginkan pada peserta didik. Tindak lanjut dari penilaian ini adalah sebagai bahan bimbingan lebih lanjut kepada peserta didik serta memberikan informasi kepada pihak luar yang terkait dengan hasil belajar peserta didik. yaitu tujuan pendidikan. Carrol. dan penilaian hasil belajar. dan hasil belajar yang telah dicapai.Model ini dapat dipandang sebagai reaksi terhadap model yang pertama. sekalipun dalam beberapa hal masih menunjukkan adanya persamaan dengan model yang pertama. Penilaian merupakan kegiatan untuk mengetahui sejauh mana tujuan-tujuan pendidikan dapat dicapai oleh siswa dalam bentuk hasil belajar yang mereka perlihatkan pada akhir kegiatan pendidikan. Penilaian adalah usaha untuk memeriksa persesuaian (congruence) antara tujuan -tujuan pendidikan yang diinginkan. maka penilaian dimaksudkan untuk memeriksa sejauh mana perubahan-perubahan yang diinginkan tersebut telah dicapai. Tokoh model ini Raph W. John B. proses pendidikan berisi tiga komponen yang saling terkait. maka yang penting dalam proses penilaian adalah memeriksa sejauh mana perubahan-perubahan tingkah laku yang diinginkan tersebut telah dicapai peserta didik. Ruang lingkup evaluasi menurut model ini adalah memeriksa persesuaian (congruence) antara tujuan dan hasil belajar. maka yang dijadikan objek penilaian adalah tingkah laku siswa. yang dinilai adalah perubahan tingkah laku yang diinginkan (intended behavior) yang . Cronbach Menurut Tyler. dan Lee J. Hal itu mengingat tujuan-tujuan pendidikan mencerminkan perubahan-perubahan tingkah laku yang diinginkan pada peserta didik. Tyler.

1. keterampilan. Menetapkan test situation yang diperlukan. akan lebih tepat bila hasil penilaian tidak dinyatakan dalam bentuk hasil keseluruhan tes. Kontribusi Congruence Model . keterampilan. maka diperlukan prosedurpre and post test. pengetahuan. Congruence model tidak membatasi alat penilaian pada tes tertulis ataupaper and pencil test saja. menyebutkan perlunya digunakan alat-alat penilaian lain seperti tes perbuatan dan observasi. misalnya. Carrol. dalam menilai hasil belajar yang mencakup berbagai jenis (pengetahuan. melainkan dalam bentuk hasil bagian demi bagian dari tes yang bersangkutan. Model ini tidak menyarankan dilaksanakannya penilaian perbandingan untuk melihat sejauh mana kurikulum yang baru lebih efektif dari kurikulum yang ada. 2. 4.18 Ringkasnya. terlihat jelas bagian-bagian dari sistem pendidikan yang masih perlu disempurnakan berhubung belum berhasil mencapai tujuannya. Penilaian dipergunakan sebagai alat ukur pencapaian hasil belajar setelah menempuh proses pendidikan.diperlihatkan oleh siswa pada akhir kegiatan pendidikan. 3. Menyusun alat penilaian. Ruang lingkup perilaku meliputi. Langkah-langkah penilaiannya adalah sebagai berikut. dan nilai/sikap. Dengan demikian. Merumuskan atau mempertegas tujuan. Berhubung setiap sistem pendidikan memiliki berbagai tujuan yang ingin dicapainya. Tyler dan Cronbach lebih mengarahkan peranan penilaian pada tujuan untuk memperbaiki kurikulum atau sistem pendidikan. dan nilai/sikap) berbagai kemungkinan alat penilaian perlu digunakan. Menggunakan hasil penilaian.

Sumbangan yang cukup berarti daricongruence model adalah sebagai berikut. 1. Class bahwa the complete and detailed description of what constitutes the educational program is a concern of the 20 educational sistem evaluation model. Menekankan pentingnya sistem sebagai suatu keseluruhan yang dijadikan objek penilaian. Stufflebeam salah satu kelemahan dari penilaian yang ada sekarang adalah kurang jelasnya kriteria yang digunakan sebagai dasar dalam penilaian tersebut. Dengan model pre da post test informasi yang dihasilkan hanya dapat menjawab pertanyaan tentang tujuantujuan mana yang telah dan belum dicapai. tetapi kurang membantu di dalam mencari jawaban tentang segi-segi yang masih lemah dan kemungkinan mengatasi kelemahan-kelemahan tersebut. Kegiatan penilaian tidak hanya berakhir pada suatu deskripsi tentang keadaan dari sistem yang . 1. Dikatakan Gene V. ih relevan dengan kebutuhan pengembangan sistem. akhirnya sampai pada suatu deskripsi danjudgment mengenai sistem yang dinilai tersebut. Keterbatasan Tidak menjadikan input dan proses pelaksanaan sebagai objek penilaian secara langsung. tanpa membatasi pada aspek hasil yang dicapai saja. Perbandingan antaraperformance dan criteria merupakan salah satu inti yang penting. mengapa tujuan -tujuan tertentu belum dapat dicapai belum dapat dijawab. Prinsip-prinsip model ini adalah sebagai berikut. Pertanyaannya. Pendekatan ini membantu pengembang kurikulum dalam menentukan bagian-bagian dari sistem yang masih lemah. 3.19 Sistem Model Hakikat evaluasi menurut sistem model adalah untuk membandingkanperformance dari berbagai dimensi sistem yang sedang dikembangkan dengan sejumlah kriteria tertentu. Menghubungkan hasil belajar dengan tujuan pendidikan sebagai kriteria perbandingan. 2. Menurut Daniel L.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa hakikat evaluasi menurut sistem model adalah sebagai berikut. interim products. tetapi jugajudgment sebagai kesimpulan dari penilaian. worth) dari sistem pendidikan yang bersangkutan dibandingkan dengan sistem yang lain. Informasi yang diperoleh dari hasil penilaian berfungsi sebagai bahan atau input bagi pengambilan keputusan mengenai sistem yang bersangkutan dalam rangka: a. dan product (CIPP). 2. Stake membagi objek penilaian atas tiga kategori:antecendent. penyempurnaan sistem selama sistem tersebut masih dalam tahap pengembangan. operation program. Penilaian ditujukan kepada berbagai dimensi sistem. Scriven mencakup: sarana/bahan. input. dan hasil yang dicapai. 4. 1. yaitu design. Stufflebeam menggolongkan sistem pendidikan atas empat dimensi. Provus mencakup empat dimensi. melainkan harus sampai pada suatu judgment mengenai baik-buruknya dan efektif tidaknya sistem pendidikan tersebut. dan hasil yang dicapai. transactions. 2. dan b. proses. dan 23 terminal product. Keunggulan Sistem Model . Objek sekurang-kurangnya terdiri dari peralatan/sarana. Mencakup data objektif maupun data subjektif.22 3. 3. Perbandingan antaraperformance dan criteria.21 2. 1. yaitu context. Hasil penilaian digunakan sebagai bahan atau input bagi pengampilan keputusan. Ruang lingkup evaluasi menurut model ini berdasarkan pendapat tokohnya adalah sebagai berikut. Tidak hanya berakhir dengan deskripsi. dan outcomes. 1. penyimpulan mengenai kebaikan (merit. process. 4.telah dinilainya. proses. Dari kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa ruang lingkup evaluasi dalam model ini adalah sebagai berikut. 4. dalam rangka penyempurnaan sistem maupun penyimpulan mengenai kebaikan sistem yang bersangkutan secara menyeluruh.

tempat sistem tersebut dikembangkan. latar belakang dan perkembangan yang dialami oleh sistem yang bersangkutan. keunggulan. dampak yang ditimbulkan dari suatu sistem seperti. Hal ini agar penyempurnaan sistem dapat dilakukan pada setiap tahap sehingga kelemahan yang masih terlihat pada suatu tahap tertentu tidak dibawa ke tahap berikutnya. selaras dengan semboyannyathe judgment is the evaluation . and significant program features. Hasil evaluasi ditekankan pada deskripsi dan interpretasi. proses implementasi (pelaksanaan) sistem. tidak hanya hasil yang dicapai saja. oleh pengembangnya didasarkan atas alasan bahwa penggunaan berbagai cara evaluasi di dalam model ini bila dikombinasikan akan help illuminative problems. Di samping itu. melainkan juga input dan proses yang dilakukan tahap demi tahap. Model ini dikembangkan terutama di Inggris dan banyak dikaitkan dengan pendekatan di bidang antropologi.Model ini mengemukan perlunya penilaian dilakukan terhadap berbagai dimensi sistem. issues. kelemahan. . bukan pengukuran dan prediksi sebagaimana model sebelumnya. hasil belajar yang diperlihatkan oleh siswa. serta pengaruhnya terhadap proses belajar siswa. Studi difokuskan pada permasalahan bagaimana implementasi suatu sistem dipengaruhi oleh situasi sekolah. Dalam pelaksanaan evaluasi. serta kesukaran-kesukaran yang dialami dari tahap perencanaan hingga implementasinya di lapangan.26 Tujuan penilaian menurut model ini adalah mengadakan studi yang cermat terhadap sistem yang bersangkutan. 24 Illuminative Model Nama Illuminatif. model ini lebih 27 menekankan penggunaanjudgment .25 Salah satu tokoh yang paling menonjol dalam pengembangan model ini adalah Malcolm Parlett. Objek evaluasi yang diajukan dalam model ini mencakup.

Langkah selanjutnya dilakukan interpretasi data yang diharapkan dapat 29 dijadikan bahan dalam pengambilan keputusan.kebosanan yang terlihat pada siswa dan guru. Tahap pertama observe. objek evaluasi dalam model ini meliputi 28 kurikulum yang terlihat maupun tersembunyi (hidden curriculum). 2. Pada tahap ini. faktor penting dalam evaluasi model ini adalah perlunya kontak langsung antara evaluator dengan pihak yang dievaluasi. ketergantungan secara intelektual. evaluator mulai meneliti sebab akibat dari masingmasing persoalan. Di samping itu. Ringkasnya. Data semula terpisah satu dengan lainnya mulai disusun dan dihubungkan dalam kesatuan situasi. 1. yang berasumsi bahwa keseluruhan adalah lebih besar daripada sejumlah bagianbagian. Dari langkah-langkah tersebut. berbagai persoalan yang terlihat atau terdengar dalam tahap pertama diseleksi untuk mendapatkan perhatian dan penelitian lebih lanjut. 3. Tahap kedua Inquiry further. Pada tahap ini.31 Keunggulan Illuminative Model . Evaluator mendengarkan dan melihat berbagai peristiwa. Tahapan evaluasi dalam Illuminatif model terdiri dari tiga fase sebagai berikut. evaluator mengunjungi sekolah atau lembaga yang sedang mengembangkan sistem tertentu. Pada tahap ini. Tahap ketiga Seek to explain. hambatan terhadap kembangan sikap sosial. faktor lainnya adalah pandangannya yang holistik dalam evaluasi. persoalan. Pada tahap ini. serta reaksi dari guru maupun siswa terhadap pelaksanaan sistem tersebut. faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya persoalan dicoba untuk ditelusuri. Hal ini disebabkan model ini menggunakan pendekatan kualitatif yang menekankan pentingnya menjalin kedekatan dengan orang dan situasi yang sedang dievaluasi agar dapat memahami secara personal realitas dan hal-hal rinci tentang program atau 30 sistem yang sedang dikembangkan. dan sebagainya.

32 Kontribusi Illuminative Model Sumbangan terbesar Illuminatif Model adalah kritikannya terhadap penggunaan model scientific experiment dalam penilaian pendidikan yang dirasakan kurang tepat. Pendidikan sebagai manusiakan manusia tidak dapat dideskripsikan secara matematis. Objektivitas penilaian yang dilakukan perlu dipersoalkan. dan sebagainya. 2. Aspek-aspek kemanusiaan tidak semuanya dapat dilakukan pengukuran secara mudah dan tepat. Tidak menekankan pentingnya penilaian terhadap program bahan-bahan kurikulum selama bahan-bahan tersebut disusun dalam tahap perencanaan. 4. Jarak antara pengumpulan data dan laporan hasil penilaian cukup pendek sehingga informasi yang dihasilkan dapat digunakan pada waktunya. Pada prinsipnya. seperti perasaan. Penutup Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa evaluasi dalam dunia pendidikan memiliki banyak model dan pendekatan.Menekankan pentingnya dilakukan penilaian yang kontinu selama proses pelaksanaan pendidikan sedang berlangsung. melainkan dapat menggabungkan (merger) dua model atau lebih. Keterbatasan Illuminative Model Kelemahan terutama terletak pada segi teknis pelaksanaannya yang meliputi: 1. motivasi. mulai model yang dominasi pengukuran secara kuantitatif seperti pada measurement model hingga model yang menggunakan pendekatan kualitatif sepertiIlluminative model. sikap. 3. Dengan mempelajari berbagai model akan memperluas cakrawala serta wawasan sehingga tidak terpancang pengunaan satu model saja. Kegiatan penilaian tidak didahului oleh adanya perumusan kriteria secara eksplisit. Adanya kecenderungan untuk menggunakan alat penilaian yang terbuka dalam arti kurang spesifik dan berstruktur. evaluasi yang baik adalah yang . semangat. atau bahkan mengembangkan model tersendiri.

reliabilitas. Lihat juga Soenarwan. 2002). Lihat Davis. dan mengawasi. Apapun istilah yang dipakai pada prinsipnya adalah rumusan tentang sesuatu yang ingin dicapai dalam proses tersebut. hal. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan (Jakarta: Bumi Aksara. 2007). serta komprehensif sehingga informasi yang dihasilkan dapat dijadikan bahan dalam pembuatan keputusan benar dan bijak. Dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi dikenal istilah Standar Kompetensi (SK). objektivitas. 1996). Kompetensi Dasar (KD). 2002). kontinuitas. memimpin. S. Pengantar Interaksi Mengajar Belajar: Dasar dan Teknik Metodologi Pengajaran (Bandung: Tarsito. hasil belajar. Kemudian Tujuan Pembelajaran Umum (TPU). Lihat juga E. dan indikator pencapaian lihatPeraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. 2006). Psikologi Pengajaran. dkk. Terj. S. 1991). Psikologi Pengajaran (Yogyakarta: Media Abadi. Ivor K. Sejak Kurikulum 1975 dikenal istilah tujuan yang dalam implementasi operasionalnya dikenal Tujuan Instruksional Umum (TIU) dan Tujuan Instruksional Khusus (TIK). Sudarsono Sudirdjo. 1986). Endnote 1 Winarno Surakhmad. lihat W. Mulyasa. Dapat dilihat pula di Hisyam Zaini. 2 Terdapat beberapa istilah tentang sesuatu yang ingin dicapai dalam pembelajaran. dan Koyo Kartasurya (Jakarta: CV Rajawali . Winkel. Winkel. 3 W. 2007).memenuhi prinsip-prinsip validitas.. Lily Rompas. Pengelolaan Belajar. Lihat pula tulisan Khaeruddin dan Mahfud Junaedi. Pendekatan Sistem dalam Pendidikan (Surakarta: UNS Press. 304 dan 531-532. Pengantar Evaluasi Pendidikan (Jakarta: Raja Grafindo Persada. Yogyakarta: Kerjasama Madrasah Development Center (MDC) Jateng dan Pilar Media. Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK). 4 Guru sebagai manajer memiliki empat fungsi yaitu: merencanakan. Desain Pembelajaran di Perguruan Tinggi (Yogyakarta: CTSD IAIN Sunan Kalijaga. hal. mengorganisasikan. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: Konsep dan Implementasinya di Madrasah. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: Sebuah Panduan Praktis (Bandung: PT Remaja Rosdakarya.. Dapat dilihat juga di Anas Sudijono. 266-303. lihat juga Suharsimi Arikunto.

Insinyur lingkungan . Evaluasi sumatif dilaksanakan jika program kegiatan sudah betul-betul dilaksanakan. 10 William M. ekonomis. evaluation research. Measurement and Evaluation in Education and Psychology (Sydney: Rinehart and Winston. dan adversary evaluation. Mehren dan Irvin J. Sasaran evaluasi sumatif merupakan gabungan dari sasaran evaluasi formatif. decisionoriented evaluation. 3-9.. yaitu sebagai ahli instruksional. Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan. model (teladan).bekerja sama demngan Pusat Antar Universitas di Universitas Terbuka. konselor. Michael. hal. goal-free evaluation. 1987). 283. 8 Hasan. Dasar-dasar. hal. Evaluasi Kurikulum (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Lihat Suharsimi Arikunto. Inc. Lihat Woolfolk. hal. 1984). model evaluasi diklasifikasi menjadi enam. 1988). 7 Mata pelajaran yang diujikan dalam Ujian Nasional adalah Matematika. manager. yaitu Goal-oriented evaluation. Ada sebagian ahli memandang formatif dan sumatif menunjuk pada lingkup atau luasnya yang dinilai. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi.Ibid. 7. Lehman. 2000). pemimpin. Sementara ahli mengemukan bahwa guru memiliki beberapa peran. . transactionaloriented evaluation. 5 Michael Sriven seorang ahli dalam penelitian evaluasi melihat pembagian evaluasi secara formatif dan sumatif dari segi fungsi. Formatif difungsikan sebagai pengumpulan data pada waktu pendidikan masih berlangsung. Said Hamid. Lihat Suharsimi Arikunto. hal. 58-63. 6 Terdapat beberapa prinsip dasar evaluasi antara lain: validitas. praktikabilitas. reliabilitas. Yang kontra mempertanyakan apakah ketiga mata pelajaran tersebut dapat mewakili (representatif) seluruh mata pelajaran PKn dan sebagainya.. hal. motivator. 9 Stephen Issac and William B. Dalam buku ini. dan Bahasa Inggris. 1973). Bahasa Indonesia. objektivitas. Handbook in Research and Evaluation (California: Edits Publisher. Penentuan tiga mata pelajaran ini mengundang polemik antara pro dan kontra. 29-39. Manajemen Penelitian (Jakarta: Rineka Cipta.

13 Blaine R. Lihat . yaitu: objectives oriented. Mary J. Klasifikasi pendekatan evaluasi ini hampir miripdengan pembagian menurut Worthen & Sanders. dan Model Stake atau model Countenance. pendekatan yang berfokus pada tujuan. 2001). Penelitian dan Penilaian Pendidikan (Bandung: Sinar Baru Algensindo. Worthen & Sanders mengistilahkan dengan pendekatan evaluasi (evaluation approach). Lihat juga William M and Irvin J. and Richard L.E. hal. congruence model. Wendy M. 1987). 1979). Sanders. Measurment. management oriented. Inroduction to Measurement Theory (California: Brooks/Cole Publishing Company. Peacock Publisher. Worthen dan James R. hal. Model evaluasi diklasifikasi menjadi: Model CIPP. consumer oriented. Model Brinkerhoff. Classroom Measurement and Evaluation (Itasca.11 Nana Sudjana dan Ibrahim. model evaluasi diklasifikasi menjadi empat. Dalam buku ini. Antes. Inc. Klasifikasi model evaluasi yang penulis sajikan dalam tulisan mengikuti model dari Sudjana dengan beberapa modifikasi dan tambahan. educational model. pendekatan yang responsif dan pendekatan Goal Free Evaluation. 1990). expertise oriented. 14 Referensi model ini cukup banyak antara lain Allen. hal. 13-35. dan illuminative model. penulis lebih cocok dengan system model. Evaluasi Program (Jakarta: Rineka Cipta. & Yen. pendekatan berorientasi kepada pemakai. Illionis: F. Menurutnya.Pengembangan Tes Hasil Belajar (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. lihat juga Hopkins. Dalam tulisan ini. Educational Evaluation: Alternative Approaches and Practical Guidelines (New York: Longman. adversary oriented. Pendekatan evaluasi diklasifikasi menjadi: pendekatan eksperimental. 234-260. Dalam buku ini dibedakan pendekatan dengan model evaluasi. dan naturalistic and participant oriented. ada enam pendekatan evaluasi. Seperti educational system model menurut Sudjana. 12 Farida Yusuf Tayibnapis. yaitu measurement model. Model UCLA. Lehman. pendekatan berorientasi pada tujuan. 1997). Charles D. 41-160. 2000). Lihat juga Sumadi Suryabrata.

.. 21-22. 250. Lihat juga Worthen & Sanders. 244. New Delhi: Sage Publications. . H. 24 Ibid. 22 Worthen & Sanders. 132-133. 19 Ibid. Fetterman (Ed. 15 Sudjana.). hal. 130-132. 23 Worthen & Sanders. 7-12. hal. 78. 18 Ibid. 17 Ibid. Qualitative Approaches to Evaluation in Education: The Silent Scientific Revolution (London: Praeger. Evaluasi Program. Cit. Educational.juga Azwas Saifuddin. Penelitian. Hambleton. Nana dan Ibrahim. hal. Penelitian... Fundamentals of Item Response Theory.Op. 241. 68-70. Swaminathan.. 1988). hal. hal. hal. hal. 1996). Jane Rogers. 21 Farida Yusuf Tayibnapis.. 235 16 Referensi Analisis Butir Tes antara lain dapat dilihat dalam Ronald K. Lihat juga Issac & Michael. 26 Nana Sudjana & Ibrahim. 256. 1991). Tes Prestasi: Fungsi dan Pengembangan Pengukuran Prestasi Belajar (Yogyakarta: Pustaka Pelajar. hal. hal. Op. hal.. 20 Ibid.. 25 Untuk referensi model ini dapat juga dilihat dalam David M.Op. 258 259. Cit. Cit.

Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya Kampus Lidah Wetan Abstrak: Pembelajaran terpadu merupakan pendekatan yang melibatkan beberapa bidang studi/ mata pelajaran. Pendekatan pembelajaran itu akan dapat memberikan pengalaman yang bermakna kepada peserta didik. Pengertian bermakna di sini karena dalam pembelajaran terpadu diharapkan peserta didik memperoleh pemahaman terhadap konsep-konsep yang mereka pelajari dengan melalui pengalaman-pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang sudah mereka pahami.JURNAL III EVALUASI DALAM PEMBELAJARAN TERPADU DI SEKOLAH DASAR Sutrisno Widodo Kurikulum dan Teknologi Pendidikan. Pelaksanaan .

mental. dan observasi terhadap kegiatan pembelajaran terpadu seyogyanya dilakukan dengan cermat. Aspek Dari kenyataan tersebut terlihat jelas perkembangan yang satu saling terkait dan terjadinya kontradiksi antara proses mempengaruhi aspek perkembangan yang lain. perkembangan anak SD bersifat alamiah. Perkembangan ini merupakan perkembangan dengan proses pendidikan/ pembelajaran yang phisik. Dalam mengevaluasi proses pembelajaran terpadu. dan penyelenggaraannya dilakukan dengan menggunakan alat evaluasi tes dan non-tes. PENDAHULUAN berorientasi instruksional. terhadap mutu dan hasil Apabila kita cermati bersama proses pendidikan/pembelajaran di Sekolah Dasar. Model keterhubungan. Kata Kunci: Pembelajaran terpadu. dan penekanannya pada reproduksi Perkembangan anak Sekolah Dasar informasi. seksama. proses. dengan pengalaman diramalkan akan terjadi dampak negatif serta kehidupan dalam lingkungan sekitarnya. pembelajaran/ pendidikan di Sekolah Dasar Bertolak dari berbagai gejala tersebut. cenderung bersifat holistik. Evaluasi pada pembelajaran terpadu berorientasi pada program.pembelajaran terpadu diawali dari pemilihan dan pengembangan topik atau tema yang dilakukan guru bersama peserta didik. Jika hal ini dapat terpisahkan satu dengan lainnya. yang terjadi selama ini menunjukkan adanya maka dipandang perlu para guru Sekolah Dasar . Konsep-konsep dari bidang studi terkait dijadikan wahana pembelajaran dan penjelajahan topik atau tema. agar data dan informasi proses pelaksanaannya dapat terekam dangan sempurna sehingga evaluasi dapat dilakukan secara objektif. emosional dan sosial yang tidak dilaksanakan di Sekolah Dasar. dan produk. observasi merupakan komponen dasar. Model jaring laba-laba dan Model keterpaduan 1. maka dapat sifatnya terpadu (holistik). (3) sistem evaluasi testing. dan dibiarkan terus berlanjut.

1996): (1) terjadinya mengembangkan kompetensinya dalam pengkotakan-pengkotakan bidang studi/mata merancang pembelajaran dan merancang pelajaran khusunya untuk kelas-kelas tinggi di evaluasi terpadu pada setiap bidang studi yang Sekolah Dasar. (2) pembelajaran difokuskan akan dibelajarkan kepada peserta didiknya. sebagai salah satu tolok ukur keberhasilan dari Dengan berpartisipasi di dalam eksplorasi tema suatu proses pembelajaran. Hal ini atau eksplorasi topik atau tema menjadi diharapkan hasil evaluasi dapat digunakan pengendali di dalam kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu memperhatikan dan menyesuaikan dengan berbagai hal yang perlu diperhatikan dalam tingkat perkembangan peserta didik melaksanakan evaluasi kegiatan pembelajaran (developmentally appropriate practice). yang cukup banyak diarahkan pada evaluasi (Depdikbud. dan juga dapat atau topik atau peristiwa tersebut peserta didik dimanfaatkan sebagai masukan dalam rangka belajar sekaligus proses dan isi berbagai mata perbaikan kualitas pembelajaran.kecenderungan yang relatif kuat dalam hal yang ada sekarang ini memulai untuk (Depdikbud. Pada pembelajaran terpadu peran Pandangan lain. seperti Pelaksanaan pendekatan pembelajaran . baik yang menggunakan pendekatan terpadu Pendekatan berangkat dari teori pembelajaran maupun konvensional adalah yang menolak drill sebagai dasar pembentukan sama. pembelajaran terpadu evaluasi tidak berbeda dengan pembelajaran merupakan pendekatan pembelajaran yang konvensional pada umumnya. pada pencapaian dampak pembelajaran/efek Evaluasi dalam proses pembelajaran merupakan aktivitas yang bertujuan untuk mendapatkan informasi berkaitan dengan berlangsung apabila peristiwaperistiwa otentik kinerja (performance) peserta didik. 1998) dampak pengiring (nurturant effects). pelajaran secara serempak. Dalam pembelajaran terpadu perhatian pengetahuan dan struktur intelektual anak.

aktivitas pembelajaran terpadu. terpadu lebih menekankan keterlibatan peserta didik dalam belajar. pembelajaran terpadu PEMBELAJARAN TERPADU merupakan suatu sistem pembelajaran yang . dapat d ipandang sebagai upaya untuk Pendekatan pembelajaran seperti ini akan memperbaiki kualitas (improvement quality) dapat memberikan pengalaman yang bermakna pendidikan di tingkat dasar. KARAKTERISTIK DAN dengan konsep lain yang sudah mereka KELEBIHAN SERTA pahami. Pengertian bermakna di rangka mengimbangi gejala penjejalan sini karena dalam pembelajaran terpadu kurikulum yang serin g terjadi dalam proses diharapkan peserta didik memperoleh pembelajaran di sekolah belakang ini. KONSEP PEMBELAJARAN pembuatan keputusan. tetapi konsep -konsep dari Ditinjau dari segi pentahapan aktivitas bidang studi terkait dijadikan alat dan wahana evaluasi dapat dilakukan baik pada tahap untuk mempelajari dan mengeksplorasi topik perencanaan maupun pada tahap pelaksanaan atau tema. di samping dampak pembelajaran peserta didik. Sedangkan dari Apabila dibandingkan dengan segi sasaran evaluasi difokuskan baik kepada pendekatan konvensional. Tujuan dari tema ini bukan untuk (instructional effects). membuat peserta didik aktif terlibat dalam proses pembelajaran dan 2. literasi bidang studi. pemahaman terhadap konsep-konsep yang mereka pelajari dengan melalui pengalamanpengalaman langsung dan menghubungkannya 3. terpadu ini bertolak dari suatu tema atau topik menghargai pendapat orang lain. terutama dalam kepada peserta didik. Pendekatan ini lebih TERPADU mungkin menjadi sesuatu yang dikemukakan oleh John Dewey dengan konsep learning by Pembelajaran terpadu merupakan doing-nya. pendekatan belajar mengajar yang melibatkan Pendekatan pembelajaran terpadu beberapa bidang studi/ mata pelajaran. pembelajaran proses maupun produk/ hasil pembelajaran. KETERBATASAN Pada dasarnya.halnya dengan kompetensi bekerja sama. dan yang dipilih atau dikembangkan guru bersama sebagainya.

diusahakan untuk menghubungkan satu konsep (5) bersifat luwes. dan menemukan konsep serta anak (child centered). tugas -tugas yang dilakukan dalam satu Kelebihan-kelebihan pada hari dengan tugas -tugas yang dilakukan pada pembelajaran terpadu dibandingkan dengan hari berikutnya. dan mengacu pada minat dan kebutuhan anak. dan (6) hasil pembelajaran dengan konsep lain. (4) pembelajaran terpadu keterhubungan adalah sebagai berikut: (1) menumbuh kembangkan keterampilan berfikir dampak positif dari mengkaitkan ide-ide anak. bahkan ide-ide yang dipelajari pembelajaran konvesional. Misalnya. peserta didik sehingga hasil belajar akan dapat Beberapa kelebihan model bertahan lebih lama.memungkinkan peserta didik baik secara Pembelajaran terpadu sebagai suatu individual maupun kelompok. satu keterampilan dengan keterampilan kebutuhan peserta didik. di antaranya: (1) pada satu semester dengan ideide yang akan pengalaman dan kegaiatan belajar peserta didik dipelajari pada semester berikutnya. selalu relevan dengan tingkat perkembangan (Fogarty. (2) kegiatan yang dipilih sesuai dengan memadukan antara subtema kebersihan. (2) memberikan prinsip keilmuan secara holistik. lain.1991). proses memiliki ciri -ciri: (1) berpusat pada menggali. satu topik dengan topik dapat berkembang sesuai dengan minat dan lain. (3) dan otentik. dan kerukunan yang ada pada mata (3) kegiatan belajar lebih bermakna bagi pelajaran Pkn semester II pada kelas II. bermakna. Pembelajaran terpadu akan pemisahan antar bidang studi tidak begitu jelas. pengalaman langsung pada anak. (4) menyajikan konsep dari berbagai pembelajaran terpadu secara sengaja bidang studi dalam suatu proses pembelajaran. aktif mencari. (5) menyajikan kegiatan yang bersifat dalam satu bidang studi adalah peserta didik pragmatis sesuai dengan permasalahan yang memperoleh gambaran yang luas sebagaimana . keadilan. guru secara sengaja anak.

(2) tidak mendorong guru (nurturant effect). Pembelajaran terpadu untuk bekerja secara tim. Model ini merupakan model studi dalam satu semester. komunikasi. maka studi. mengkonseptualisasi. dalam memadukan ide-ide dalam satu bidang Bertolak dari hal-hal tersebut. sehingga terjadilah proses orang lain. (3) menghubungkan ide -ide Dalam pendekatan pembelajaran dalam suatu bidang studi memungkinkan terpadu mengandung keterbatasan terutama peserta didik mengkaji. (2) peserta didik anak seperti kerja sama. internalisasi. serta mengasimilasi ide-ide terutama terletak dalam aspek evaluasi yang secara terus -menerus sehingga memudahkan lebih banyak menuntut guru untuk melakukan terjadinya proses transfer ide-ide dalam evaluasi tidak hanya terhadap hasil tetapi juga memecahkan masalah. Tidak hanya evaluasi dampak Kekurangan dari model keterhubungan instruksional (instructional effect). (3) biasa. terabaikan menyusun. tetapi juga ini adalah: (1) masih kelihatan terpisahnya dan mungkin lebih banyak dampak pengiring antar bidang studi. dalam pelaksanaannya. dan memahami standar kompetensi Model J aring LabaLaba (Webbed maupun kompetensi dasar dari seluruh bidang models). sehingga isi pelajaran memang menghendaki teknnik evaluasi yang tetap terfokus tanpa merentangkan koseplebih beragam dibanding dengan pembelajaran konsep serta ide-ide antar bidang studi. terhadap proses. dan (6) suatu bidang studi yang terfokus pada suatu menumbuh kembangkan keterampilan sosial aspek tertentu. mengembangkan konsep-konsep kunci secara dan respek atau menghargai terhadap gagasan terus menerus. toleransi. maka usaha untuk mengembangkan sebelum mendesain pembelajaran terpadu keterhubungan antar bidang studi menjadi hendaknya para guru mengumpulkan. Keterbatasan itu memperbaiki.sering ditemui dalam lingkungan anak. kemudian pembelajaran terpadu yang menggunakan .

antara lain: (1) sulitnya menyeleksi Evaluasi pembelajaran terpadu dapat tema. Model keterhubungan adalah model Beberapa kelebihan model Jaring Laba-Laba. KONSEP EVALUASI dan ide-ide berbeda yang terkait.. (3) memudahkan perancangan.dilanjutkan dengan proses pendesainan/ pendekatan tematik (Fogarty. yaitu: (1) penyeleksian tema sesuai Sutrisno. dengan minat akan memotivasi anak untuk pengintegrasian kurikulum dengan konsepbelajar. PEMBELAJARAN TERPADU Model Jaring Laba-laba mempunyai kelemahan. guru lebih memusatkan pengembangan skill. 1991). misalnya transportasi . MODEL-MODEL dan peserta didik. models). perancangan pembelajaran terpadu. Untuk . diartikan sebagai evaluasi yang berupaya maka ada kecenderungan untuk merumuskan mencari informasi tentang pencapaian tema yang dangkal. (5) memberikan kemudahan bagi peserta didik dalam melihat kegiatan-kegiatan 5. (2) model Jaring Laba-Laba lebih konsep dari masing-masing bidang studi mudah dilakukan oleh guru yang belum menuntut adanya sumber belajar yang berpengalaman. Evaluasi Dalam Pembelajaran. Pendekatan ini dimulai dengan menentukan tema tertentu. Tema bisa ditetapkan dengan negosiasi antara guru 4. (4) pendekatan tematik dapat memotivasi peserta didik. sub -subtemanya dengan PEMBELAJARAN TERPADU memperhatikan kaitannya dengan bidangYANG DISARANKAN DI SD bidang studi. pembelajaran. (3) dalam proses pengetahuan dan pemahaman peserta didik.. dan pengembangan sosial perhatian pada kegiatan dari pada dan afektif peserta didik dengan memanfaatkan pengembangan konsep. Dari sub -subtema ini dikembangkan aktivitas belajar yang harus Model Keterhubungan (Connected dilakukan peserta didik. asesmen alternatif dan cara formal. (2) karena sulitnya menyeleksi tema. beraneka ragam.

Pertama guru yang bersifat invidual dan sosial. (2) pada setiap menemukan keterampilan. Patokan(PAP) daripada penilaian acuan norma dan Bahasa). saling tergantung . keterampilan. Selanjutnya dipilih beberapa (PAN). keterampilan. dan sikap yang memiliki lebih besar pada nurturant effect ( kemampuan keterhubungan yang erat dan tumpang tindih di kerja sama. tenggang rasa. maka besar portfolio asessment hendaknya dalam model keterpaduan tema yang berkaitan dimanfaatkan. perlu menetapkan prioritas kurikuler dan mendapat pe rhatian yang besar. dan pembelajaran terpadu hendaknya sikap yang diajarkan dalam satu semester dari mengutamakan Penilaian Acuan beberapa bidang studi (IPA.Model Keterpaduan (Integrated menemukan asesmen alternatif didasarkan models). (5) dalam pelaksanaan penilaian dan bertumpang tindih merupakan hal terakhir umpan balik hendaknya dimanfaatkan sebesaryang ingin dicari dan dipilih oleh guru dalam besarnya untuk pengembangan peserta didik tahap perencanaan program. memberikan perhatian pula pada refleksi diri Berbeda dengan model Jaring Laba-laba yang peserta didik (self reflecti on). 1991). Matematika. (3) evaluasi hendaknya dalam beberapa bidang studi (Fogarty. Model ini merupakan pembelajaran pa da prinsip-prinsip sebagai berikut: (1) terpadu yang menggunakan pendekatan antar evaluasi hendaknya berbasis unjuk kerja bidang studi. (7) lebih memberikan perhatian yang konsep. (6) evaluasi menyeleksi konsep-konsep. dan sikap langkah evaluasi hendaknya peserta didik yang saling tumpang tindih/ overlapping di dilibatkan. penilaian terhadap proses. (4) karena menuntut pemilihan tema dan penilaian perlu memdapatkan perhatian yang pengembangannya sebagai langkah awal. konsep. IPS. Model ini diusahakan dengan sehingga selain memanfaatkan penilaian cara menggabungkan bidang studi dengan cara produk.

(8) perlu memandang peserta Model Keterpaduan ini mempunyai didik itu adalah suatu keutuhan yang tak beberapa kelebihan. Sedangkan beberapa kelemahan dari Ditinjau dari segi pentahapan kegiatan model keterpaduan ini. (9) evaluasi dilihat dimungkinkan pemahaman antar bidang studi. baik perkembangan konseptual anak. (3) dimensional. peserta didik dan guru serta evaluasi terhadap Tahap ini kegiatan. (2) tingkat tujuan ingin dicapai oleh peserta didik maupun kemampuan menghadapi tantangan. (3) guru. (10) evaluasi harus bersfat guru tidak perlu mengulang kembali materi komprehensif (menggambarkan keseluruhan yang tumpang tindih. baik dalam proses maupun produk/hasil pembelajaran. antara lain: (1) terpisahkan (holistik). (4) SASARAN EVALUASI 7. antara lain: (1) sulitnya evaluasi dapat dilakukan baik pada tahap menerapkannya secara penuh. sehingga tercapailah aktivitas belajar) dan sistematis ( merupakan efisiensi dan efektivitas pembelajaran. sebagai proses yang terus menerus dan multi (2) memotivasi peserta didik dalam belajar. (2) guru harus perencanaan maupun pada tahap pelaksanaan menguasai konsep. sikap. Sedangkan dari yang diprioritaskan. kestuan informasi bukan penggalan informasi). (2) menentukan kriteria keberhasilan . dan keterampilan kegiatan pembelajaran terpadu. (1) program. (3) model ini memerlukan segi sasaran evaluasi difokuskan baik kepada tim antar bidang studi.kegiatan mencakup. perencanaannya maupun pelaksanaannya. dan lain-lain). Evaluasi proses terhadap peserta merumuskan tujuan evaluasi apa yang ingin didik sebagai pembelajar meliputi: (1) dicapai melalui kegiatan evaluasi ini.antara berbagai bidang studi. TAHAP-TAHAP EVALUASI PEMBELAJARAN TERPADU Evaluasi pembelajaran terpadu mencakup proses dan produk dengan sasaran Pada tahap pertama perencanaan.

(5) peserta didik. (1) daftar cek dan komprehensif dan diakhiri dengan yang dilakukan oleh rekan / kolega guru sejumlah rekomendasi dan saransaran. Tindal lanjut. (3) evaluasi dapat digunakan. dan evaluasi aspek belajar yang harus dicapai sebagai pembelajar. pelaksanaan. (2) Evaluasi proses terhadap guru evaluasi h arus dilihat sebagai proses yang mencakup: (1) proses pembelajaran terdiri. grafik. (2) pendekatan dan metode yang bagian suatu program. Penyajian Laporan. (7) partisipasi anak dalam diskusi Tahap ke dua. berkelanjutan. (2) masukan dari peserta pengolahan informasi dan saran-saran . sampai dengan akhir proses pembelajaran. dan unit. Dalam kelompok. (4) yang ingin dicapai. video dan kaset. terhadap guru dilakukan melalui. pemilihan tema. lebih dari sekedar salah satu perencanaan. Penyusunan dan guru.interaksi peserta didik dengan anak lainnya. (1) mempertimbangkan seluruh informasi yang laporan. lainnya terhadap strategi dan pengelolaan Tahap terakhir. (3) menentukan teknik dan alat kerasionalan argumentasi. (1) evaluasi berlangsung sejak awal didik. topik. Penyusunan lain. kelompok. pelaksanaan. kelengkapan pembelajaran yang disediakan Tahap ke tiga. (3) rekaman. diagram. (3) materi pembelajaran yang diarahkan pada pro ses maupun produk serta mencakup. Hasil pembelajaran lainnya. Evaluasi laporan ini dilakukan secara logis. (6) kerjasama dan ukur atau instrumen yang akan digunakan kekompakan serta produktivitas kegiatan dalam proses evaluasi. baik oleh guru maupun kemampuan peserta didik berkomunikasi. sistematis. dan lainterkumpul dan pengolahannya. (2) gambar. Laporan hasil penilaian Evaluasi terhadap produk kegiatan disusun dengan jalan memperhitungkan dan terhadap peserta didik dilakukan melalui. (8) penggunaan bahasa dengan baik tahap proses pelaksanaan ini harus disadari dan benar sesuai tingkat kemampuan peserta bahwa. (4) program.

umpan balik perkembangan peserta didik. PEMBELAJARAN TERPADU DI dan program dapat didokumentasikan dalam SEKOLAH DASA R suatu portofolio. (7) masukan orang tua. (4) konferensi gurukegiatan karena evaluasi yang diselenggarakan siswa. sebagai dampak instruksional maupun dampak pengiring. ditindak -lanjuti secara operasional. produk. Hasil-hasil evaluasi proses. Perlu Evaluasi program mencakup. (5) diskusi peergroup .didik. (1) dikemukakan bahwa tidak seluruh kegiatan catatan anekdot/file card . lembaran . CAKUPAN EVALUASI portofolio. = aspek kognisi/intelektual. (6) secara terus menerus. = aspek lain. (2) analisis kesalahan akhir berupa tindak lanjut dilakukan pada akhir peserta didik. Evaluasi dengan menggunakan 8. Mencermati cakupan evaluasi rekaman guru pada pembelajaran terpadu seperti pada matrik misalnya untuk dilengkapi di dengan hasil pengamatan. orang tua dan rekan guru lainnya. kesimpulan yang rasional. Portofolio ini dapat dijadikan salah satu masukan bagi guru untuk Cakupan evaluasi pembelajaran memutuskan atau menetapkan nilai atau grade terpadu dapat disusun dalam matrik sebagai Tahapan Perencanaan Pelaks anaan sasaran Proses Bagaimana peserta didik berpartispasi dalam Bagaimana aktivitas dinamika interaksi dan kemampuan berfikir peserta menentukan tema-tema terkait. (3) rubrik. Hasil Ba gaimana reaksi pesert didik terhadap Perubahan/perkembangan perilaku apa yang terjadi pada peserta didik? rencana yang telah disusun. menarik pembelajaran. = aspek sosial = aspek etis = aspek pribadi dan sebagainya. kemampuan dimanfaatkan untuk meningkatkan kegiatan menyajikan pokok pikiran. didik.

Evaluasi Diri P eserta Didik-Guru. Dialog peserta didik dan Pada pembelajaran terpadu penekanan guru dapat pula dilakukan dalam kelompok evaluasi terletak pada proses maupun hasil. Peserta didik dapat menyusun sendiri pertanyaan atau butir soal dan kemudian menjawabnya sendiri. METODE EVALUASI DALAM juga mel akukan evaluasi diri untuk perbaikan PEMBELAJARAN TERPADU dalam perencanaan maupun pelaksanaan pembelajaran. Terdapat beberapa metode evaluasi Tes dan Ujian. Kegiatan evaluasi dimulai dengan pengamatan Dalam melakukan evaluasi pembelajaran langsung yang bersifat informal sampai kepada terpadu.atas. maka diperlukan merangkum hasil diskusi tersebut. Dengan formal tidak / belum memberikan informasi bekerja sama dengan peserta didik. beberapa tema. tes formal yang sahih/valid dan handal/reliabel. dan Cara ini dapat dibatasi untuk masalah khusus. berikut ini. Perlu juga diketahui bahwa tes Observasi dan Dokumentasi. teknik dan alat evaluasi yang bervariasi pula. maka evaluasi pembelajaran terpadu kelompok kecil. bersifat multi dimensional. 1996). Pada pembelajaran yang dapat digunakan dalam mengevaluasi terpadu dilakukan juga tes maupun ujian baik proses dan hasil pada pembelajaran terpadu untuk satu tema pembelajaran maupun untuk (Depdikbud. berlangsung dalam Dialog Pes erta Didik dengan Guru. kolaboratif. konteks yang alami. Dalam hal ini Karena aspek perilaku yang menjadi sasaran peserta didik dapat diberi tugas untuk evaluasi banyak variasinya. kecil dan direkam secara penuh. evaluasi diri juga dapat dipakai. berorientasi pada perkembangan intelektual seperti halnya dalam mata pelajaran peserta didik serta lingkungan budayanya. guru dapat yang cukup tentang bagaimana seorang peserta . Selanjutnya guru dapat 9. matematika atau IPS.

dan yaitu dengan analisis masalah dan pemaparan sementara itu evaluasi diri semakin kuat pada pemecahannya. Keterlibatan selama satu periode satu tahun. Catatan ini dapat juga dari pihak guru dan peserta didik. sistematika penyajian dan dapat juga dilakukan dengan cara guru pengetahuan lain untuk memecahkan masalah merekam catatan kejadian di kelas. Dalam berorientasi dalam kaitan kemajuan dan pembelajaran terpadu. . Kegiatan penting dalam proses interaksi antara guru dengan peserta didik. orangtua dianggap amat positif untuk Catatan ini berisi rekaman sekilas tentang meningkatkan prestasi belajar peserta didik. untuk satu unit tema atau beberapa unit tema Pengamatan Orang tua. Dari sini didik sebagai individu berpikir dan memproses kelihatan bahwa evaluasi sebagai bagian konsep -konsep. verbal. pembelajaran terpadu adalah observasi untuk Dalam kelas pembelajaran terpadu pengungkapan perilaku/ unjuk kerja nonpeserta didik asyik sibuk. Dalam pemaparan ini dapat diri anak. untuk melakukan kekurangan anak/ pesrta didik yang evaluasi proses digunakan alat evaluasi nonbersangkutan.melakukan observasi pada saat itu. Sekaligus memungkinkan tes. Penyelenggaraan pengamatan oleh Pada dasarnya alat evaluasi terdiri dari orangtuapun memungkinkan guru dan orangtua dua macam yaitu tes dan non-tes. ini guru berusaha memahami tugas maupun Oleh karena itu perlu dilakukan juga cara lain situasi dari sudut pandang peserta didik. Dalam kegiatan menggunakan kemampuan intelektualnya. sekilas tentang kesan yang tampak kelihatan Karena itu masukan dari orangtua akan dapat bermakna selama proses pembelajaran membantu menghapus penafsiran yang keliru berlangsung di kelas. satu semester. ditekankan pentingnya penggunaan kosa kata Observasi dan dokumentasi berkala yang tepat. bagaimana mereka dalam integral dari interaksi sosial. aktif. dan terlibat. misalnya tersebut.

mengevaluasi perkembangan peserta didik (Charbonneau & Reider. kegiatan peserta didik dalam menyelesaikan kemudian akan dianalisis. dan selalu membuat catatan.Kepercayaan diri (Sumber: Buku Materi Pokok Pembelajaran Terpadu.Rasa ingin tahu Sosial: . Hasil analisis ini tugas dan bagaimana mereka saling dapat dipakai sebagai bahan pertimbangan/ berinteraksi memberikan data pada guru dalam masukan dalam menilai proses pembelajaran rangka membantu perencanaan kurikulum dan terpadu. 1996) Alat Evaluasi Skala Penilaian /Penilaian Berskala Pelaksanaan Pembelajaran Terpadu Pelaksanaan Kegiatan Nama (kelompok/individu) : -------------------------------------- . dalam hal ini observasi merupakan komponen dasar dalam 10.Kepedulian lingkungan . 1995).Kemandirian termasuk percaya diiri dan kontrol diri . ALAT EVALUASI DALAM evaluasi pembelajaran terpadu.Guru hendaknya sadar akan aksi dan reaksi Observasi yang cermat terhadap peserta didik.Kemampuan kerja sama . Berikut ini PEMBELAJARAN TERPADU disajikan contoh alat evaluasi berupa daftar cek dan skala penilaian/penilaian berskala pelaksanaan pembelajaran terpadu. Alat Evaluasi Daftar Cek Keterampilan Keterampilan Intelektual dan Sosial Jenis Kemampuan Ya Belum Berkembang Intelektual: .Kepedulian terhadap orang lain .Kreativitas .Keterbukaan .

kejelasan b. KESIMPULAN observasi merupakan komponen dasar. Pengelolaan Kelas: a. berkomunikasi D. penggunaan waktu B. yaitu. interaksi f. memotivasi indivdu C. Pembelajaran terpadu merupakan terekam dangan pendekatan pembelajaran yang evaluasi dapat melibatkan beberpa bidang studi dan bertujuan untuk memberikan pengalaman bermakna kepada peserta pelaksanaannya sempurna sehingga dilakukan secara objektif . dan kegiatan pembelajaran terpadu seyogyanya dilakukan seksama.Skor Aspek Yang Dinilai 1 2 3 4 Keterangan A. agar data dan dapat terhadap Berdasarkan pada uraian di atas. memotivasi kerja kelompok c. informasi proses a. kerja sama antar siswa E. penggunaan bahan dan alat d. Keberanian a. ada dengan cermat. 1996) 11. beberapa kesimpulan yang dapat dipetik. Produk/ Hasil*) *) Dirinci aspek-aspek hasil belajar yang akan dinilai. Ketaatan kepada perencanaan a. perhatian siswa c. bertindak c. antusiasme b. (Sumber: Buku Materi Pokok Pembelajaran Terpadu. stimultanius b. partisipasi siswa d. Proses Pembelajaran a. . penggunaan sumber c. kreativitas siswa e. pemberian informasi b.

Penerbit: Universitas Terbuka .. b. 1991. Evaluasi pada pembelajaran terpadu Curricula. 2000. Palatine. Materi Pokok Konsep-konsep dari bidang studi pembelajaran Terpadu PGSD . dan produk. Charboneau. How To Integrate The c. London. Fogarty. Materi Pokok dilakukan dengan menggunakan alat Pembelajaran Terpadu PGSD. proses.didik. evaluasi tes dan non-tes. Barbara E. Manon P. Tokyo: Allyn and pengembangan topik atau tema yang Bacon dilakukan guru bersama peserta didik. Jakarta: terkait dijadikan wahana pembelajaran BP3GSD. The Integrated Elementary diawali dari pemilihan dan Classroom. dan penyelenggaraannya IGK. dan penjelajahan topik atau tema. I llonis: IRI/ berorientasi pada program. Inc. Depdikbud. & Reider. Jakarta. R. Pelaksanaan pembelajaran terpadu 1995. Skylight Publishing. 1996. dan berorientasi pada proses DAFTAR PUSTAKA pembelajaran yang disesuaikan dengan perkembangan peserta didik. Wardani.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful