BAB.

I Pendahuluan

E

valuasi merupakan subsistem yang sangat penting dan sangat

di butuhkan dalam setiap sistem pendidikan, karena evaluasi dapat mencerminkan seberapa jauh perkembangan atau kemajuan hasil pendidikan. Dengan evaluasi, maka maju dan mundurnya kualitas pendidikan dapat diketahui, dan dengan evaluasi pula, kita dapat mengetahui titik kelemahan serta mudah mencari jalan keluar untuk berubah menjadi lebih baik ke depan. Tanpa evaluasi, kita tidak bisa mengetahui seberapa jauh keberhasilan siswa, dan tanpa evaluasi pula kita tidak akan ada perubahan menjadi lebih baik,maka dari itu Jadi secara umum evaluasi adalah suatu proses sistemik umtuk mengetahui tingkat keberhasilan suatu program. Evaluasi pendidikan dan pengajaran adalah proses kegiatan untuk mendapatkan informasi data mengenai hasil belajar mengajar yang dialami siswa dan mengolah atau menafsirkannya menjadi nilai berupa data kualitatif atau kuantitatif sesuai dengan standar tertentu. Hasilnya diperlukan untuk membuat berbagai putusan dalam bidang pendidikan dan pengajaran.
Fungsi Evaluasi Pendidikan . Sangat diperlukan dalam pendidikan antara lain memberi informasi yang dipakai sebagai dasar untuk :
1) Membuat kebijaksanaan dan keputusan. 2) Menilai hasil yang dicapai para pelajar. 3) Menilai kurikulum. 4) Memberi kepercayaan kepada sekolah. 5) Memonitor dana yang telah diberikan . 6) Memperbaiki materi dan program pendidikan

Hasil evaluasi yang didapat sampai sekarang tentang dunia pendidikan Nasional kita cukup memperihatinkan, tidak hanya

dalam segi kualitas tapi juga kegagalan dalam membentuk karakter building generasi muda bangsa Pendidikan menjadi tanggung jawab semua pihak, dimana tujuan pendidikan adalah memanusiakan manusia. membentuk SDM yang berkualitas. Namun sayang kebijakan pendidikan yang ada sampai sekarang masih jauh dari harapan, karena kebijakan pendidikan seperti kata pakar pendidikan dari Universitas Nasional Jakarta yaitu HAR Tilaar kebijakan pendidikan di Indonesia sesuai dengan pameo ganti menteri ganti kebijakan. Mengingat terlalu luasnya cakupan dalam evaluasi pendidikan maka penulis akan membatasi hanya pada evaluasi hasil belajar siswa dikarenakan masalah ini sangat sesuai dengan tugas penulis sebagai guru.
Bab. II
Tugas Mata Kuliah Manajemen Kebijakan Pendidikan

2
ANALISIS KESENJANGAN DALAM EVALUASI PENDIDIKAN A. Keadaan Ideal

Seperti yang telah dikemukakan oleh Dr. Muchtar Buchori tujuan dan fungsi evaluasi adalah :
1.

untuk mengetahui kemajuan peserta didik setelah ia

mengalami pendidikan selama jangka waktu tertentu
2.

untuk mengetahui tingkat efisiensi metode-metode

pendidikan yang dipergunakan pendidik selam jangka

waktu tertentu tadi. Maka untuk memperoleh hasil evaluasi yang sebaik-baiknya, para evaluator dalam hal ini para guru dituntut untuk memiliki hal hal sebagai berikut : 1. Mampu melaksanakan, persyaratan pertama yang harus dipenuhi oleh evaluator adalah bahwa mereka harus memiliki kemampuan untuk melaksanakan evaluasi yang didukung oleh teori dan keterampilan praktik. 2.Cermat, dapat melihat celah-celah dan detail dari program serta bagian program yang akan dievaluasi. 3.Objekti f, tidak mudah dipengaruhi oleh keinginan pribadi, atau juga keinginan/tekanan dari pihak lain agar dapat mengumpulkan data sesuai dengan keadaannya, selanjutnya dapat mengambil kesimpulan sebagaimana diatur oleh ketentuan yang harus diikuti. 4. Sabar dan tekun , agar di dalam melaksanakan tugas dimulai dari membuat rancangan kegiatan dalam bentuk menyusun proposal,
Tugas Mata Kuliah Manajemen Kebijakan Pendidikan

3

Teknik evaluasi digolongkan menjadi 2 yaitu teknik tes dan teknik non Tes. 1. Teknik non tes meliputi ; skala bertingkat, kuesioner,daftar cocok, wawancara, pengamatan, riwayat hidup.

d. Angka-angak diberikan secara bertingkat dari anggak terendah hingga angkat paling tinggi. Dan bila ditinjau dari segi cara menjawab maka kuesioner terbagi menjadi kuesioner tertutup dan kuesioner terbuka. c. Kuesioner langsung adalah kuesioner yang dijawab langsung oleh orang yang diminta jawabannya. Kuesioner adalah daftar pertanyaan yang terbagi dalam beberapa kategori. Angka-angka tersebut kemudian dapat dipergunakan untuk melakukan perbandingan terhadap angka yang lain. Rating scale atau skala bertingkat menggambarkan suatu nilai dalam bentuk angka. Wawancara.a. Daftar cocok adalah sebuah daftar yang berisikan pernyataan beserta dengan kolom pilihan jawaban. Kuesioner tertututp adalah daftar pertanyaan yang memiliki dua atau lebih jawaban dan si penjawab hanya memberikan tanda silang (X) atau cek (¥) Tugas Mata Kuliah Manajemen Kebijakan Pendidikan 20 pada awaban yang ia anggap sesuai. Sedangkan kuesiioner tidak langsung dijawab oleh secara tidak langsung oleh orang yang dekat dan mengetahui si penjawab seperti contoh. kuesioner dibagi menjadi kuesioner langsung dan kuesioner tidak langsung. suatu cara yang dilakukan secara lisan yang berisikan pertanyaan-pertanyaan yang sesuai dengan tujuan informsi yang . apabila yang hendak dimintai jawaban adalah seseorang yang buta huruf maka dapat dibantu oleh anak. Dari segi yang memberikan jawaban. Sedangkan kuesioner terbuka adalah daftar pertanyaan dimana si penjawab diperkenankan memberikan jawaban dan pendapat nya secara terperinci sesuai dengan apa yang ia ketahui. tetangga atau anggota keluarganya. b. Si penjawab diminta untuk memberikan tanda silang (X) atau cek (¥) pada jawaban yang ia anggap sesuai.

Riwayat hidup.informasi yang diperlukan saja. Pengamatan atau observasi terdiri dari 3 macam yaitu : (1) observasi partisipan yaitu pengamat terlibat dalam kegiatan kelompok yang diamati. Teknik Tes . Pengamatan atau observasi. (2) Observasi sistematik. Kedua adalah wawancara terpimpin dimana pewawancara telah menyusun pertanyaan pertanyaan terlebih dahulu yang bertujuan untuk menggiring penjawab pada informsi. wawancara bebas yaitu si penjawab (responden) diperkenankan untuk memberikan jawaban secara bebas sesuai dengan yang ia diketahui tanpa diberikan batasan oleh pewawancara.hendak digali. Pengamat telah Tugas Mata Kuliah Manajemen Kebijakan Pendidikan 21 membuat list faktor faktor yang telah diprediksi sebagai memberikan pengaruh terhadap sistem yang terdapat dalam obejek pengamatan. evaluasi ini dilakukan dengan mengumpulkan data dan informasi mengenai objek evaluasi sepanjang riwayat hidup objek evaluasi tersebut. pengamat tidak terlibat dalam kelompok yang diamati. f. e. 2. yaitu pertama. wawancara dibagi dalam 2 kategori. adalah suatu teknik yang dilakuakn dengan mengamati dan mencatat secara sistematik apa yang tampak dan terlihat sebenarnya.

sumatif c. dan dimaksudkan untuk mengetahui sejauh manakah suatu proses pembelajaran telah berjalan sebagaimana yang direncanakan. Ukuran Tugas Mata Kuliah Manajemen Kebijakan Pendidikan 22 keberhasilan atau kemajuan siswa dalam evaluasi ini adalah penguasaan kemampuan yang telah dirumuskan dalam rumusan tujuan (TIK) yang telah ditetapkan sebelumnya. for purpose of revising the instruction to improve its effectiveness and appeal. Winkel menyatakan bahwa yang dimaksud dengan evaluasi formatif adalah penggunaan tes-tes selama proses pembelajaran yang masih berlangsung. Sementara Tesmer menyatakan fo r m a tive evaluation is a judgement of the strengths and weakness of instruction in its developing stages. Evaluasi ini dimaksudkan untuk mengontrol sampai seberapa jauh siswa telah menguasai materi yang diajarkan pada pokok bahasan tersebut.Dalam evaluasi pendidikan terdapat 3 macam tes yaitu : a. diagnostik a. Wiersma menyatakan formative testing is done to monitor student progress over period of time . Artinya TIK dirumuskan dengan memperhatikan kemampuan awal anak dan . formatif b. TIK yang akan dicapai pada setiap pembahasan suatu pokok bahasan. dirumuskan dengan mengacu pada tingkat kematangan siswa. agar siswa dan guru memperoleh informasi ( feed b a ck) mengenai kemajuan yang telah dicapai. Formatif Evaluasi formatif adalah evaluasi yang dilakukan pada setiap akhir pembahasan suatu pokok bahasan / topik.

bahkan bagi mereka yang memiliki kemampuan yang lebih akan diberikan pengayaan. dan dimaksudkan untuk mengetahui sejauhmana peserta didik telah dapat berpindah dari suatu unit ke unit berikutnya. Sumatif Evaluasi sumatif adalah evaluasi yang dilakukan pada setiap akhir satu satuan waktu yang didalamnya tercakup lebih dari satu pokok bahasan. yaitu bantuan khusus yang diberikan kepada siswa yang mengalami kesulitan memahami suatu pokok bahasan tertentu. Dari hasil evaluasi ini akan diperoleh gambaran siapa saja yang telah berhasil dan siapa yang dianggap belum berhasil untuk selanjutnya diambil tindakan-tindakan yang tepat.tingkat kesulitan yang wajar yang diperkiran masih sangat mungkin dijangkau/ dikuasai dengan kemampuan yang dimiliki siswa. Dengan kata lain evaluasi formatif dilaksanakan untuk mengetahui seberapa jauh tujuan yang telah ditetapkan telah tercapai. b. yaitu materi tambahan yang sifatnya perluasan dan pendalaman dari topik yang telah dibahas. Tindak lanjut dari evaluasi ini adalah bagi para siswa yang belum berhasil maka akan diberikan r em ed ia l. Winkel mendefinisikan evaluasi sumatif Tugas Mata Kuliah Manajemen Kebijakan Pendidikan 23 . Sementara bagi siswa yang telah berhasil akan melanjutkan pada topik berikutnya.

baik pada tahap awal. sehingga guru dapat memberi bantuan secara dini agar siswa tidak tertinggal terlalu jauh. yang meliputi beberapa atau semua unit pelajaran yang diajarkan dalam satu semester. Pada tahap proses evaluasi ini diperlukan untuk mengetahui bahanbahan pelajaran mana yang masih belum dikuasai dengan baik. c. Diagnostik Evaluasi diagnostik adalah evaluasi yang digunakan untuk mengetahui kelebihan-kelebihan dan kelemahan. bahkan setelah selesai pembahasan suatu bidang studi.kelemahan yang ada pada siswa sehingga dapat diberikan perlakuan yang tepat. Pada tahap awal dilakukan terhadap calon siswa sebagai input. Sementara pada tahap akhir evaluasi . selama proses.sebagai penggunaan tes-tes pada akhir suatu periode pengajaran tertentu. Dalam hal ini evaluasi diagnostik dilakukan untuk mengetahui kemampuan awal atau pengetahuan prasyarat yang harus dikuasai oleh siswa. Evaluasi diagnostik dapat dilakukan dalam beberapa tahapan. maupun akhir pembelajaran.

Evaluasi bertujuan membantu pemerintah dalam mencapai tujuan pembeljaran bagi masyrakat. Evaluasi adalah seni. 5. Penelitian evaluasi adalah tanggung jawab tim bukan perorangan. Pelaku evaluasi atau evaluator tidak memberikan jawaban atas suatu pertanyaan tertentu. guru maupun program untuk menilai Memberi tanda telah mengikuti suatu program. (dikutip dari Bloom et. meski dilkukan dengan metode yang berbeda. Evaluator tidak berwennag untuk memberikan rekomendasi terhadap keberlangsungan sebuah program.all 1971). Evaluasi sendiri memiliki beberapa prinsip dasar yaitu . 4. Perbandingan Tes Diagnostik. 2. memperoleh dan menyajikan informasi yang berguna untuk menilai alternatif keputusan. dan Tes Sumatif Ditinjau dari Tes Diagnostik Tes Formatif Tes Sumatif Fungsinya mengelompokkan siswa berdasarkan kemampuannya Umpan balik bagi siswa. Stufflebeam et. Evaluator tidak terikat pada satu sekolah demikian pula sebaliknya.al 1971 mengatakan bahwa evaluasi adalah proses menggambarkan. Tes Formatif. .diagnostik ini untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa atas seluruh materi yang telah dipelajarinya. 3. tidak ada evaluasi yang sempurna. dan menentukan Evaluasi merupakan kegiatan pengumpulan kenyataan mengenai proses pembelajaran secara sistematis untuk menetapkan apakah terjadi perubahan terhadap peserta didik dan sejauh apakah perubahan tersebut mempengaruhi kehidupan peserta didik. Evaluator hanya membantu memberikan alternatif. 1.

Fungsi penempatan 4. hingga perlu pengalaman untuk pendalaman metode penggalian informasi. 1. Akuntabel 10. Sedangkan output adalah capaian yang dihasilkan dari proses pembelajaran. Perbaikan sistem 2. dan lainnya. 5. Pertanggungjawaban kepada pemerintah dan masyarakat 3. transformasi dan output. Evaluasi pendidikan memiliki beberapa fungsi yaitu . karena keterlibatan peserta didik dalam evaluasi bukan alternatif. Tujuan evaluasi adalah untuk melihat dan mengetahui proses yang terjadi dalam proses pembelajaran. 1. Keterlibatan peserta didik 4. Evaluasi akan mntap apabila dilkukan dengan instrumen dan teknik yang aplicable. 7.6. TEKNIK EVALUASI . transformasi adalah segala unsur yang terkait dengan proses pembelajaran yaitu . Fungsi keberhasilan Maksud dari dilakukannya evaluasi adalah . Hasil evaluasi haruslah menjadi aalat akuntabilitas atau bahan pertnggungjawaban bagi pihak yang berkepentingan seeprti orangtua siswa. Evaluasi memerlukan data yang akurat dan cukup. 4. sekolah. Dengan demikian dapat dimengerti bahwa sesungguhnya evaluasi adalah proses mengukur dan menilai terhadap suatu objek dengan menampilkan hubungan sebab akibat diantara faktor yang mempengaruhi objek tersebut. guru. evauasi harus dilakukan dengan prinsip keterpaduan antara tujuan intrusional pengajaran. Keterpaduan 2. evaluasi sumatif dan evaluasi program. Penentuan tindak lanjut pengembangan PRINSIP PRINSIP EVALUASI 1. Koherensi 6. Evaluasi memberikan gambaran deskriptif yang jelas mengenai hubungan sebab akibat. jika diperlukan revisi maka lakukanlah revisi. Input adalah peserta didik yang telah dinilai kemampuannya dan siap menjalani proses pembelajaran. evaluasi harus berkaitan dengan materi pengajaran yang telah dipelajari dan sesuai dengan ranah kemampuan peserta didik yang hendak diukur. Fungsi diagnostik 3. Pedagogis 8. tapi kebutuhan mutlak. 3. bukan terpaku pada angka soalan tes. media dan bahan beljar. 7. 9. evaluasi adalah proses. input. 10. materi pembelajaran dan metode pengjaran. Proses pembelajaran memiliki 3 hal penting yaitu. metode pengajaran. Perlu adanya tool penilai dari aspek pedagogis untuk melihat perubahan sikap dan perilaku sehingga pada akhirnya hasil evaluasi mampu menjadi motivator bagi diri siswa. Fungsi selektif 2. prinsip ini merupakan suatu hal yang mutlak. 9. Evaluator hendaknya mampu membedakan yang dimaksud dengan evaluasi formatif. 8. sarana penunjang dan sistem administrasi.

Pengamatan atau observasi. Dari segi yang memberikan jawaban. kuesioner dibagi menjadi kuesioner langsung dan kuesioner tidak langsung. tes formatif c. pengamat tidak terlibat dalam kelompok yang diamati. Kuesioner langsung adalah kuesioner yang dijawab langsung oleh orang yang diminta jawabannya. Dalam evaluasi pendidikan terdapat 3 macam tes yaitu : a. Kuesioner tertututp adalah daftar pertanyaan yang memiliki dua atau lebih jawaban dan si penjawab hanya memberikan tanda silang (X) atau cek (¥) pada awaban yang ia anggap sesuai. 2. adalah suatu teknik yang dilakuakn dengan mengamati dan mencatat secara sistematik apa yang tampak dan terlihat sebenarnya. d. Angkaangka tersebut kemudian dapat dipergunakan untuk melakukan perbandingan terhadap angka yang lain. wawancara dibagi dalam 2 kategori. b. wawancara. Wawancara. Kuesioner adalah daftar pertanyaan yang terbagi dalam beberapa kategori. kuesioner. pengamatan. riwayat hidup. (2) Observasi sistematik. teknik non tes meliputi . a. c. Pengamat telah membuat list faktor faktor yang telah diprediksi sebagai memberikan pengaruh terhadap sistem yang terdapat dalam obejek pengamatan. Daftar cocok adalah sebuah daftar yang berisikan pernyataan beserta dengan kolom pilihan jawaban. Sedangkan kuesioner terbuka adalah daftar pertanyaan dimana si penjawab diperkenankan memberikan jawaban dan pendapat nya secara terperinci sesuai dengan apa yang ia ketahui. Rating scale atau skala bertingkat menggambarkan suatu nilai dalam bentuk angka. Riwayat hidup. Pengamatan atau observasi terdiri dari 3 macam yaitu : (1) observasi partisipan yaitu pengamat terlibat dalam kegiatan kelompok yang diamati. skala bertingkat. Kedua adalah wawancara terpimpin dimana pewawancara telah menyusun pertanyaan pertanyaan terlebih dahulu yang bertujuan untuk menggiring penjawab pada informsi-informasi yang diperlukan saja. Si penjawab diminta untuk memberikan tanda silang (X) atau cek (¥) pada awaban yang ia anggap sesuai. evaluasi ini dilakukan dengan mengumpulkan data dan informasi mengenai objek evaluasi sepanjang riwayat hidup objek evaluasi tersebut. wawancara bebas yaitu si penjawab (responden) diperkenankan untuk memberikan jawaban secara bebas sesuai dengan yang ia diketahui tanpa diberikan batasan oleh pewawancara. apabila yang hendak dimintai jawaban adalah seseorang yang buta huruf maka dapat dibantu oleh anak.Teknik evaluasi digolongkan menjadi 2 yaitu teknik tes dan teknik non Tes 1. suatu cara yang dilakukan secara lisan yang berisikan pertanyaan-pertanyaan yang sesuai dengan tujuan informsi yang hendak digali. e. Angkaangak diberikan secara bertingkat dari anggak terendah hingga angkat paling tinggi. tetangga atau anggota keluarganya. tes sumatif Penjelasan mengenai 3 macam tes diatas dapat dibaca pada bagian Teknik Tes PROSEDUR MELAKSANAKAN EVALUASI .daftar cocok. Dan bila ditinjau dari segi cara menjawab maka kuesioner terbagi menjadi kuesioner tertutup dan kuesioner terbuka. yaitu pertama. Teknik tes. Sedangkan kuesiioner tidak langsung dijawab oleh secara tidak langsung oleh orang yang dekat dan mengetahui si penjawab seperti contoh. tes diagnostik b. f.

siapa yang hendak dievaluasi. Karenanya. indikator.Dalam melaksanakan evaluasi pendidikan hendaknya dilakukan secara sistematis dan terstruktur. uji validitas. kualitatif atau kuantitatif. apakah dengan manual atau dengan software (misal : SAS. Pada hakekatnya. pengolahan data ( memaknai data yang terkumpul. diakhiri dengan uji hipotesis ditolak atau diterima. tujuan evaluasi. dsb) d. Pengukuran Pengukuran dapat diartikan dengan kegiatan untuk mengukur sesuatu. Pengukuran ini dilakukan dengan jalan menguji hal yang ingin dinilai seperti kemajuan belajar dan lain sebagainya. (2) pengukuran untuk menguji sesuatu seperti menguji daya tahan lampu pijar serta (3) pengukuran yang dilakukan untuk menilai. Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya bahwa evaluasi pendidikan secara garis besar melibatkan 3 unsur yaitu input. apakah dengan parametrik atau non parametrik. jika ditolak mengapa? Jika diterima mengapa? Berapa taraf signifikannya?) interpretasikan data tersebut secara berkesinambungan dengan tujuan evaluasi sehingga akan tampak hubungan sebab akibat. dsb) b. Apabila prosesdur yang dilakukan tidak bercermin pada 3 unsur tersebut maka dikhawatirkan hasil yang digambarkan oleh hasil evaluasi tidak mampu menggambarkan gambaran yang sesungguhnya terjadi dalam proses pembelajaran. Penilaian dan Evaluasi Pendidikan a. SPSS ) e. kapan. . apakah hendak di olah dengan statistikatau non statistik. maka sesungguhnya yang sedang dilakukan adalah mengkuantifikasi keadaan seseorang atau tempat kedalam angka. penafsiran data. kuesioner. pengumpulan data ( tes. dapat dipahami bahwa pengukuran itu bersifat kuantitatif Maksud dilaksanakan pengukuran sebagaimana dikemukakan Anas Sudijono (1996: 4) ada tiga macam yaitu : (1) pengukuran yang dilakukan bukan untuk menguji sesuatu seperti orang mengukur jarak dua buah kota. observasi. verifiksi data (uji instrument. teknikapa yang hendak dipakai. proses dan out put. kegiatan ini adalah membandingkan sesuatu dengan atau sesuatu yang lain (Anas Sudijono. penyusunan instrument. apa saja yang hendak dievaluasi. ( ditafsirkan melalui berbagai teknik uji. uji reliabilitas. 1996: 3) Jika kita mengukur suhu badan seseorang dengan termometer. atau mengukur jarak kota A dengan kota B. dimana. dan sebagainya sesuai dengan tujuan) c. Langkah-langkah dalam melaksanakan kegiatan evaluasi pendidikan secara umum adalah sebagai berikut : a. Pengukuran. Apabila hubungan sebab akibat tersebut muncul maka akan lahir alternatif yang ditimbulkan oleh evaluasi itu. perencanaan (mengapa perlu evaluasi. data apa saja yang hendak digali.

Misalnya jika seseorang mengikuti tes tertentu. Sistem penilaian yang baik akan mampu memberikan gambaran tentang kualitas pembelajaran sehingga pada gilirannya akan mampu membantu guru merencanakan strategi pembelajaran. Menurut Djemari Mardapi (2004: 18) ada dua acuan yang dapat dipergunakan dalam melakukan penilaian yaitu acuan norma dan acuan kriteria. Kesalahan yang mungkin muncul dalam melakukan pengukuran khususnya dibidang ilmuilmu sosial dapat berasal dari alat ukur. Penilaian dilakukan setelah siswa menjawab soal-soal yang terdapat pada tes. mendengarkan apa yang mereka katakan serta mengumpulkan informasi yang sesuai dengan tujuan melalui apa yang telah dilakukan siswa. aspek-aspek yang terdapat dalam diri manusia seperti kognitif. Proses pengumpulan ini dilakukan untuk menaksir apa yang telah diperoleh siswa setelah mengikuti pelajaran selama waktu tertentu. Hasil jawaban siswa tersebut ditafsirkan dalam bentuk nilai. maka nontes dapat memberikan informasi tentang karakteristik afektif obyek. menurut Djemari Mardapi (1999: 8) penilaian adalah kegiatan menafsirkan atau mendeskripsikan hasil pengukuran. informasi yang diperoleh dari hasil pengukuran selanjutnya dideskripsikan dan ditafsirkan. maka hasil tes akan memberikan gambaran dimana posisinya jika dibandingkan dengan orang lain yang mengikuti tes tersebut. kedua acuan ini dapat dipergunakan. penilaian merupakan langkah lanjutan setelah dilakukan pengukuran. Bagi siswa sendiri. langkah selanjutnya setelah melaksanakan pengukuran adalah penilaian. Pengukuran dalam bidang pendidikan erat kaitannya dengan tes. Menurut Cangelosi (1995: 21) penilaian adalah keputusan tentang nilai. Tentu saja untuk itu diperlukan sistem penilaian yang baik dan tidak bias. Karakteristik yang terdapat dalam obyek yang diukur ditransfer menjadi bentuk angka sehingga lebih mudah untuk dinilai. Penggunaan acuan norma dilakukan untuk menyeleksi dan mengetahui dimana posisi seseorang terhadap kelompoknya.Dalam dunia pendidikan. Peningkatan kualitas pendidikan dapat dilihat dari nilai-nilai yang diperoleh siswa. yang dimaksud pengukuran sebagaimana disampaikan Cangelosi (1995: 21) adalah proses pengumpulan data melalui pengamatan empiris. Jika tes dapat memberikan informasi tentang karakteristik kognitif dan psikomotor. Oleh karena itu. Proses ini dapat dilakukan dengan mengamati kinerja mereka. b. Acuan norma berasumsi bahwa kemampuan seseorang berbeda serta dapat digambarkan menurut kurva distribusi normal. Karenanya. sistem penilaian yang baik akan mampu memberikan motivasi untuk selalu meningkatkan kemampuannya. Dalam melakukan penilaian dibidang pendidikan. afektif dan psikomotor dirubah menjadi angka. Dalam sistem evaluasi hasil belajar. Selain dengan tes. Adapun acuan kriteria dipergunakan untuk menentukan kelulusan . Karenanya. kesalahan dalam mengangkakan aspek-aspek ini harus sekecil mungkin. Sedangkan acuan kriteria berasumsi bahwa apapun bisa dipelajari semua orang namun waktunya bisa berbeda. cara mengukur dan obyek yang diukur. Penilaian Penilaian merupakan bagian penting dan tak terpisahkan dalam sistem pendidikan saat ini. Hal ini dikarenakan salah satu cara yang sering dipakai untuk mengukur hasil yang telah dicapai siswa adalah dengan tes. Menurut Mardapi (2004: 14) pengukuran pada dasarnya adalah kegiatan penentuan angka terhadap suatu obyek secara sistematis. terkadang juga dipergunakan nontes.

Acuan kriteria. kecepatan kendaraan 40 km/jam akan memiliki interpretasi yang berbeda apabila kendaraan tersebut adalah sepeda dan mobil. Pengertian evaluasi Menurut Suharsimi Arikunto (2004 : 1) evaluasi adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu. pelaksanaan evaluasi haruslah dilakukan secara berkesinambungan. penilaian dan evaluasi merupakan kegiatan yang bersifat hierarki. evaluasi sebagaimana dikatakan Gronlund (1990: 5) merupakan proses yang sistematis tentang mengumpulkan. dan (3) kegiatan evaluasi dalam pendidikan tidak pernah terlepas dari tujuan-tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya. Misalnya. Artinya ketiga kegiatan tersebut dalam kaitannya dengan proses belajar mengajar tidak dapat dipisahkan satu sama lain dan dalam pelaksanaannya harus dilaksanakan secara berurutan. Evaluasi Pengukuran. (2) dalam pelaksanaan evaluasi dibutuhkan data dan informasi yang akurat untuk menunjang keputusan yang akan diambil. Evaluasi Menurut Suharsimi Arikunto (2004: 1) adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu. c. Dengan adanya acuan norma atau kriteria.seseorang dengan membandingkan hasil yang dicapai dengan kriteria yang telah ditetapkan terlebih dahulu. yang selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk . Karena itulah pendekatan goal oriented merupakan pendekatan yang paling sesuai untuk evaluasi pembelajaran. Asumsi-asumsi ataupun prasangka. Dalam bidang pendidikan. bukan merupakan landasan untuk mengambil keputusan dalam evaluasi. ini biasanya dipergunakan untuk ujianujian praktek. Evaluasi Program: Sebuah Pengantar a. hasil yang sama yang didapat dari pengukuran ataupun penilaian akan dapat diinterpretasikan berbeda sesuai dengan acuan yang digunakan. Seseorang yang dikatakan telah lulus berarti bisa melakukan apa yang terdapat dalam kriteria yang telah ditetapkan dan sebaliknya. yang selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil keputusan. Acuan ini biasanya digunakan untuk menentukan kelulusan seseorang. Dari pendapat di atas. Sebuah program pembelajaran seharusnya dievaluasi disetiap akhir program tersebut. menganalisis dan menafsirkan informasi untuk menentukan sejauhmana tujuan pembelajaran telah dicapai oleh siswa. ada beberapa hal yang menjadi ciri khas dari evaluasi yaitu: (1) sebagai kegiatan yang sistematis. Menurut Djemari Mardapi (2004: 19) evaluasi adalah proses mengumpulkan informasi untuk mengetahui pencapaian belajar kelas atau kelompok.

demikian juga dengan evaluasi. Sesuatu yang berharga tersebut dapat berupa informasi tentang suatu program. Sebagaimana disampaikan oleh Sudharsono (1994 : 3) penelitian evaluasi mengandung makna pengumpulan informasi tentang hasil yang telah dicapai oleh sebuah program yang dilaksanakan secara sistematik dengan menggunakan metodologi ilmiah sehingga darinya dapat dihasilkan data yang akurat dan obyektif. Dalam evaluasi ada beberapa unsur yang terdapat dalam evaluasi yaitu : adanya sebuah proses (process) perolehan (obtaining). pasti akan menilai apakah yang dilakukannya tersebut telah sesuai dengan keinginannya semula. Karenanya. Tanpa adanya evaluasi. Perbedaan tersebut terletak pada tujuan pelaksanaannya. Karenanya evaluasi bukan merupakan hal baru dalam kehidupan manusia sebab hal tersebut senantiasa mengiringi kehidupan seseorang. kita dapat menarik benang merah tentang evaluasi yakni evaluasi merupakan sebuah proses yang dilakukan oleh seseorang untuk melihat sejauh mana keberhasilan sebuah program. Terkadang. produksi serta alternatif prosedur tertentu. penelitian evaluasi. Karenanya. Menurut Worthen dan Sanders (1979 : 1) evaluasi adalah mencari sesuatu yang berharga (worth). Menurut stufflebeam dalam worthen dan sanders (1979 : 129) evaluasi adalah : process of delineating. Implementasi program harus senantiasa di evaluasi untuk melihat sejauh mana program tersebut telah berhasil mencapai maksud pelaksanaan program yang telah ditetapkan sebelumnya. Seorang manusia yang telah mengerjakan suatu hal. penelitian dan evaluasi juga digabung menjadi satu frase. . kebijakan-kebijakan baru sehubungan dengan program itu tidak akan didukung oleh data.menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil keputusan. Tujuan umum diarahkan kepada program secara keseluruhan sedangkan tujuan khusus lebih difokuskan pada masing-masing komponen. program-program yang berjalan tidak akan dapat dilihat efektifitasnya. dalam keberhasilan ada dua konsep yang terdapat didalamnya yaitu efektifitas dan efisiensi. Jika penelitian bertujuan untuk membuktikan sesuatu (prove) maka evaluasi bertujuan untuk mengembangkan (improve). penyediaan (providing) informasi yang berguna (useful information) dan alternatif keputusan (decision alternatives). b. Tujuan evaluasi program Setiap kegiatan yang dilaksanakan mempunyai tujuan tertentu. obtaining and providing useful information for judging decision alternatives. Fungsi utama evaluasi dalam hal ini adalah menyediakan informasi-informasi yang berguna bagi pihak decision maker untuk menentukan kebijakan yang akan diambil berdasarkan evaluasi yang telah dilakukan. Keberhasilan program itu sendiri dapat dilihat dari dampak atau hasil yang dicapai oleh program tersebut. evaluasi program bertujuan untuk menyediakan data dan informasi serta rekomendasi bagi pengambil kebijakan (decision maker) untuk memutuskan apakah akan melanjutkan. penggambaran (delineating). Menurut Suharsimi Arikunto (2004 : 13) ada dua tujuan evaluasi yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. memperbaiki atau menghentikan sebuah program. Dengan demikian. Efektifitas merupakan perbandingan antara output dan inoutnya sedangkan efisiensi adalah taraf pendayagunaan input untuk menghasilkan output lewat suatu proses (Sudharsono 1994 : 2) Dalam evaluasi terdapat perbedaan yang mendasar dengan penelitian meskipun secara prinsip. Dari pengertian-pengertian tentang evaluasi yang telah dikemukakan beberapa orang diatas. antara kedua kegiatan ini memiliki metode yang sama.

Secara umum. Tetapi. Berdasarkan pengertian diatas. memperbaiki atau menghentikan program tersebut. pengambil keputusan itu sendiri bukanlah evaluator melainkan pihak lain yang lebih berwenang. Goal Oriented Evaluation Dalam model ini. Meskipun terdapat beberapa perbedaan antara model-model tersebut. Evaluator hanya menyediakan informasi-informasi yang dibutuhkan oleh pengambil kebijakan (decision maker) d. seorang evaluator secara terus menerus melakukan pantauan terhadap . tetapi secara umum model-model tersebut memiliki persamaan yaitu mengumpulkan data atau informasi obyek yang dievaluasi sebagai bahan pertimbangan bagi pengambil kebijakan. program dapat diartikan dengan rencana atau rancangan kegiatan yang akan dilakukan oleh seseorang di kemudian hari. Menurut Stephen Isaac dan Willian B. maka sebuah program adalah rangkaian kegiatan yang dilaksanakan secara berkesinambungan secara waktu pelaksanaannya biasanya panjang. Model-model evaluasi Ada banyak model yang bisa digunakan dalam melakukan evaluasi program khususnya program pendidikan. Michael ( 1984 : 7) model-model evaluasi dapat dikelompokan menjadi enam yaitu : 1. sebuah program juga tidak hanya terdiri dari satu kegiatan melainkan rangkaian kegiatan yang membentuk satu sistem yang saling terkait satu dengan lainnya dengan melibatkan lebih dari satu orang untuk melaksanakannya. Dari pengertian ini dapat ditarik benang merah bahwa semua perbuatan manusia yang darinya diharapkan akan memperoleh hasil dan manfaat dapat disebut program.c. Sedangkan pengertian khusus dari program biasanya jika dikaitkan dengan evaluasi yang bermakna suatu unit atau kesatuan kegiatan yang merupakan ralisasi atau implementasi dari suatu kebijakan. Menurut Isaac dan Michael (1984 : 6) sebuah program harus diakhiri dengan evaluasi. maka evaluasi program sebagaimana dimaknai oleh Kirkpatrick dapat dimaknai sebagai sebuah proses untuk mengetahui apakah sebuah program dapat direalisasikan atau tidak dengan cara mengetahui efektifitas masing-masing komponennya melalui rangkain informasi yang diperoleh evaluator (Kirkpatrick 1996 : 3). berlangsung dalam proses berkesinambungan dan terjadi dalam satu organisasi yang melibatkan sekelompok orang. Menurut Suharsimi Arikunto (2004 : 2) program dapat dipahami dalam dua pengertian yaitu secara umum dan khusus. (2) mencari data yang relevan dengan penelitian dan (3) menyediakan informasi yang dibutuhkan pihak pengambil keputusan untuk melanjutkan. Hakekat Evaluasi Program Menurut John L Herman dalam Tayibnapis (1989 : 6) program adalah segala sesuatu yang anda lakukan dengan harapan akan mendatangkan hasil atau manfaat. Menurut mereka. Menilik pengertian secara khusus ini. (Suharsimi Arikunto dan Cecep Safruddin Abdul Jabbar : 2004). Selain itu. ada tiga tahap rangkaian evaluasi program yaitu : (1) menyatakan pertanyaan serta menspesifikasikan informasi yang hendak diperoleh. Hal ini dikarenakan kita akan melihat apakah program tersebut berhasil menjalankan fungsi sebagaimana yang telah ditetapkan sebelumnya.

4. kebutuhan serta tujuan (goal). Evaluasi konteks (context evaluation) merupakan dasar dari evaluasi yang bertujuan menyediakan alasan-alasan (rationale) dalam penentuan tujuan (Baline R. Evaluasi produk menunjukkan perubahan-perubahan yang terjadi pada input. Model CIPP merupakan salah satu model yang paling sering dipakai oleh evaluator. evaluasi harus dapat memberikan landasan berupa informasi-informasi yang akurat dan obyektif bagi pengambil kebijakan untuk memutuskan sesuatu yang berhubungan dengan program. Model ini terdiri dari 4 komponen evaluasi sesuai dengan nama model itu sendiri yang merupakan singkatan dari Context. Transactional Evaluation Dalam model ini. baik hal-hal yang positif maupun hal-hal yang negatif. Dalam proses ini. Evaluasi ini bertujuan mengukur dan menginterpretasikan capaian-capaian program. 2. Penilaian yang terus-menerus ini menilai kemajuan-kemajuan yang dicapai peserta program serta efektifitas temuan-temuan yang dicapai oleh sebuah program. Worthern & James R Sanders : 1979) Karenanya upaya yang dilakukan evaluator dalam evaluasi konteks ini adalah memberikan gambaran dan rincian terhadap lingkungan. penelitian evaluasi memfokuskan kegiatannya pada penjelasan dampak-dampak pendidikan serta mencari solusi-solusi terkait dengan strategi instruksional. Goal Free Evaluation Model yang dikembangkan oleh Michael Scriven ini yakni Goal Free Evaluation Model justru tidak memperhatikan apa yang menjadi tujuan program sebagaimana model goal oriented evaluation. evaluasi berusaha melukiskan proses sebuah program dan pandangan tentang nilai dari orang-orang yang terlibat dalam program tersebut. Evaluasi input (input evaluation) merupakan evaluasi yang bertujuan menyediakan informasi untuk menentukan bagaimana menggunakan sumberdaya yang tersedia dalam mencapai tujuan program. Input. evaluasi produk menyediakan informasi apakah program itu akan dilanjutkan. Decision Oriented Evaluation Dalam model ini. 5. dimodifikasi kembali atau bahkan akan dihentikan 3. dengan jalan mengidentifikasi kejadian-kejadian yang terjadi selama pelaksanaannya. Evaluasi proses (process evaluation) diarahkan pada sejauh mana kegiatan yang direncanakan tersebut sudah dilaksanakan. Evaluasi CIPP yang dikembangkan oleh stufflebeam merupakan salah satu contoh model evaluasi ini. Process dan Product. maka dibutuhkanlah evaluasi proses dalam menyediakan umpan balik (feedback) bagi orang yang bertanggungjawab dalam melaksanakan program tersebut Evaluasi Produk (product evaluation) merupakan bagian terakhir dari model CIPP. Ketika sebuah program telah disetujui dan dimulai. Yang harus diperhatikan justru adalah bagaimana proses pelaksanaan program. Model ini melihat lebih jauh tentang adanya kesenjangan (Discrepancy) yang ada dalam setiap komponen yakni apa yang seharusnya dan apa yang secara riil telah dicapai. Evaluation Research Sebagaimana disebutkan diatas.tujuan yang telah ditetapkan. Salah satu model yang bisa mewakili model ini adalah discrepancy model yang dikembangkan oleh Provus. .

soal juga dapat di analisis dengan menggunakan analisis kualitatif (teoritis) dan kuantitatif (empiris). akan tetapi untuk saat ini. Telaah secara kualitatif dilakukan oleh tiga orang yang memiliki kompetensi sesuai dengan aspek materi konstruksi dan bahasa. Butir tes yang kurang baik yaitu butir yang hanya memenuhi sebanyak-banyaknya 3 kriteria aspek konstruksi serta 1 kriteria aspek materi dan bahasa. Analisis Butir Soal untuk melakukan analisis terhadap sebuah butir soal ada dua pendekatan yang bisa digunakan yaitu dengan teori tes klasik dan teori respon butir. Mengungkapkan rentangan isu yang luas dengan cara melakukan survey berbagai kelompok yang terlibat dalam satu program untuk menentukan kepercayaan itu sebagai isu yang relevan. 3. Mengurangi jumlah isu yang dapat diukur. Analisis bahasa dimaksudkan untuk menelaah tes berkaitan dengan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar menurut Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). . Analisis konstruksi dimaksudkan untuk melihat hal-hal yang berkaitan dengan kaidah penulisan tes. Dalam prakteknya. selain itu. Butir tes yang baik yaitu butir yang memenuhi semua kriteria yang telah ditentukan. Hasil telaah kemudian dirangkum untuk selanjutnya ditentukan kualitas butir secara teoretis dengan menggunakan kriteria sebagai berikut: a. 2. Aspek materi yang ditelaah berkaitan dengan substansi keilmuan yang ditanyakan dalam butir tes serta tingkat kemampuan yang sesuai dengan tes. Melakukan sebuah dengar pendapat yang formal. Setiap penelaah melakukan analisis terhadap setiap butir soal berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya dengan menuliskan huruf ³Y´ jika butir sesuai dengan kriteria dan huruf ³T´ jika butir tidak sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. model adversary terdiri atas empat tahapan yaitu : 1. Adversary Evaluation Model ini didasarkan pada prosedur yang digunakan oleh lembaga hukum. Insya Allah penulis akan sedikit membahas keempat hal tersebut. penulis akan membahas analisis soal dengan cara kualitatif atau teoritis. b. Tim evaluasi ini kemudian mengemukakan argument-argumen dan bukti sebelum mengambil keputusan.6. 4. Membentuk dua tim evaluasi yang berlawanan dan memberikan kepada mereka kesempatan untuk berargumen. konstruksi dan bahasa. Analisis secara kualitatif dilakukan dengan melakukan penelaahan terhadap setiap butir soal dari aspek materi.

pilihan jawaban tidak mengulang kata/kelompok kata yang sama yang bukan merupakan satu kesatuan Evaluasi Program: Sebuah Pengantar a. Tes sesuai indikator 2.Butir tes tidak tergantung pada jawaban sebelumnya c. Pilihan jawab homogen dan logis 3. yang selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk . Butir tes yang tidak baik yaitu butir yang tidak memenuhi semua kriteria yang telah ditetapkan pada aspek materi 1 dan 3. Berikut contoh check list analisis kualitatif: a. Dengan demikian dapat diambil kesimpulan tentang butir yang baik dan tidak baik. Pengertian evaluasi Menurut Suharsimi Arikunto (2004 : 1) evaluasi adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu. Gambar/grafik/table diagram dan sejenisnya jelas berfungsi 10.tes menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia 15. Hanya ada satu kunci jawaban yang tepat b. Dari rangkuman hasil telaah kualitatif selanjutnya dapat ditentukan butir mana yang sudah atau belum memenuhi kriteria pada aspek materi.Pilihan jawaban yang berbentuk angka atau waktu disusun berdasarkan urutan besar kecilnya angka atau kronologis 13. Bahasa 14.Panjang rumusan jawaban relatif 11.tes menggunakan bahasa yang komunikatif 16.tes tidak menggunakan bahasa yang berlaku setempat 17. Konstruksi 4. Pokok tes dirumuskun secara singkat dan jelas 5. Rumusan pokok tes dan pilihan jawaban 7. 12. konstruksi dan bahasa.c. Pokok tes bebas dari pernyataan yang bersifat negatif ganda 9. Materi 1.Pilihan jawaban tidak menggunakan pernyataan "semua jawaban di atas salah" atau "semua jawaban di atas benar". atau lebih dari 3 untuk aspek konstruksi serta lebih dari 1 kriteria pada aspek bahasa. Pokok tes tidak memberi petunjuk ke kunci jawaban 8.

Tujuan umum diarahkan kepada program secara keseluruhan sedangkan tujuan khusus lebih difokuskan pada masing-masing komponen. pasti akan menilai apakah yang dilakukannya tersebut telah sesuai dengan keinginannya semula. Menurut Suharsimi Arikunto (2004 : 13) ada dua tujuan evaluasi yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Fungsi utama evaluasi dalam hal ini adalah menyediakan informasi-informasi yang berguna bagi pihak decision maker untuk menentukan kebijakan yang akan diambil berdasarkan evaluasi yang telah dilakukan. Tanpa adanya evaluasi. kebijakan-kebijakan baru sehubungan dengan program itu tidak akan didukung oleh data. Jika penelitian bertujuan untuk membuktikan sesuatu (prove) maka evaluasi bertujuan untuk mengembangkan (improve). Sesuatu yang berharga tersebut dapat berupa informasi tentang suatu program. Implementasi program harus senantiasa di evaluasi untuk melihat sejauh mana program tersebut telah berhasil mencapai maksud pelaksanaan program yang telah ditetapkan sebelumnya. Dengan demikian. dalam keberhasilan ada dua konsep yang terdapat didalamnya yaitu efektifitas dan efisiensi. Terkadang. Karenanya. Karenanya evaluasi bukan merupakan hal baru dalam kehidupan manusia sebab hal tersebut senantiasa mengiringi kehidupan seseorang. . Dalam evaluasi ada beberapa unsur yang terdapat dalam evaluasi yaitu : adanya sebuah proses (process) perolehan (obtaining). program-program yang berjalan tidak akan dapat dilihat efektifitasnya. obtaining and providing useful information for judging decision alternatives. Keberhasilan program itu sendiri dapat dilihat dari dampak atau hasil yang dicapai oleh program tersebut. Perbedaan tersebut terletak pada tujuan pelaksanaannya. Tujuan evaluasi program Setiap kegiatan yang dilaksanakan mempunyai tujuan tertentu. antara kedua kegiatan ini memiliki metode yang sama.menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil keputusan. Dari pengertian-pengertian tentang evaluasi yang telah dikemukakan beberapa orang diatas. penyediaan (providing) informasi yang berguna (useful information) dan alternatif keputusan (decision alternatives). demikian juga dengan evaluasi. b. penggambaran (delineating). Karenanya. evaluasi program bertujuan untuk menyediakan data dan informasi serta rekomendasi bagi pengambil kebijakan (decision maker) untuk memutuskan apakah akan melanjutkan. produksi serta alternatif prosedur tertentu. Sebagaimana disampaikan oleh Sudharsono (1994 : 3) penelitian evaluasi mengandung makna pengumpulan informasi tentang hasil yang telah dicapai oleh sebuah program yang dilaksanakan secara sistematik dengan menggunakan metodologi ilmiah sehingga darinya dapat dihasilkan data yang akurat dan obyektif. kita dapat menarik benang merah tentang evaluasi yakni evaluasi merupakan sebuah proses yang dilakukan oleh seseorang untuk melihat sejauh mana keberhasilan sebuah program. Seorang manusia yang telah mengerjakan suatu hal. Menurut stufflebeam dalam worthen dan sanders (1979 : 129) evaluasi adalah : process of delineating. penelitian dan evaluasi juga digabung menjadi satu frase. Menurut Worthen dan Sanders (1979 : 1) evaluasi adalah mencari sesuatu yang berharga (worth). Efektifitas merupakan perbandingan antara output dan inoutnya sedangkan efisiensi adalah taraf pendayagunaan input untuk menghasilkan output lewat suatu proses (Sudharsono 1994 : 2) Dalam evaluasi terdapat perbedaan yang mendasar dengan penelitian meskipun secara prinsip. memperbaiki atau menghentikan sebuah program. penelitian evaluasi.

Michael ( 1984 : 7) model-model evaluasi dapat dikelompokan menjadi enam yaitu : 1. maka sebuah program adalah rangkaian kegiatan yang dilaksanakan secara berkesinambungan secara waktu pelaksanaannya biasanya panjang. Menilik pengertian secara khusus ini. Meskipun terdapat beberapa perbedaan antara model-model tersebut. sebuah program juga tidak hanya terdiri dari satu kegiatan melainkan rangkaian kegiatan yang membentuk satu sistem yang saling terkait satu dengan lainnya dengan melibatkan lebih dari satu orang untuk melaksanakannya. tetapi secara umum model-model tersebut memiliki persamaan yaitu mengumpulkan data atau informasi obyek yang dievaluasi sebagai bahan pertimbangan bagi pengambil kebijakan. Hal ini dikarenakan kita akan melihat apakah program tersebut berhasil menjalankan fungsi sebagaimana yang telah ditetapkan sebelumnya. Berdasarkan pengertian diatas. Tetapi. Evaluator hanya menyediakan informasi-informasi yang dibutuhkan oleh pengambil kebijakan (decision maker) d. pengambil keputusan itu sendiri bukanlah evaluator melainkan pihak lain yang lebih berwenang. Model-model evaluasi Ada banyak model yang bisa digunakan dalam melakukan evaluasi program khususnya program pendidikan. Menurut Suharsimi Arikunto (2004 : 2) program dapat dipahami dalam dua pengertian yaitu secara umum dan khusus. Menurut Stephen Isaac dan Willian B. program dapat diartikan dengan rencana atau rancangan kegiatan yang akan dilakukan oleh seseorang di kemudian hari. memperbaiki atau menghentikan program tersebut. Hakekat Evaluasi Program Menurut John L Herman dalam Tayibnapis (1989 : 6) program adalah segala sesuatu yang anda lakukan dengan harapan akan mendatangkan hasil atau manfaat. (2) mencari data yang relevan dengan penelitian dan (3) menyediakan informasi yang dibutuhkan pihak pengambil keputusan untuk melanjutkan. Menurut Isaac dan Michael (1984 : 6) sebuah program harus diakhiri dengan evaluasi. Menurut mereka. Secara umum.c. seorang evaluator secara terus menerus melakukan pantauan terhadap . Selain itu. maka evaluasi program sebagaimana dimaknai oleh Kirkpatrick dapat dimaknai sebagai sebuah proses untuk mengetahui apakah sebuah program dapat direalisasikan atau tidak dengan cara mengetahui efektifitas masing-masing komponennya melalui rangkain informasi yang diperoleh evaluator (Kirkpatrick 1996 : 3). (Suharsimi Arikunto dan Cecep Safruddin Abdul Jabbar : 2004). berlangsung dalam proses berkesinambungan dan terjadi dalam satu organisasi yang melibatkan sekelompok orang. ada tiga tahap rangkaian evaluasi program yaitu : (1) menyatakan pertanyaan serta menspesifikasikan informasi yang hendak diperoleh. Goal Oriented Evaluation Dalam model ini. Sedangkan pengertian khusus dari program biasanya jika dikaitkan dengan evaluasi yang bermakna suatu unit atau kesatuan kegiatan yang merupakan ralisasi atau implementasi dari suatu kebijakan. Dari pengertian ini dapat ditarik benang merah bahwa semua perbuatan manusia yang darinya diharapkan akan memperoleh hasil dan manfaat dapat disebut program.

Ketika sebuah program telah disetujui dan dimulai. kebutuhan serta tujuan (goal). Input. Worthern & James R Sanders : 1979) Karenanya upaya yang dilakukan evaluator dalam evaluasi konteks ini adalah memberikan gambaran dan rincian terhadap lingkungan. Salah satu model yang bisa mewakili model ini adalah discrepancy model yang dikembangkan oleh Provus. maka dibutuhkanlah evaluasi proses dalam menyediakan umpan balik (feedback) bagi orang yang bertanggungjawab dalam melaksanakan program tersebut Evaluasi Produk (product evaluation) merupakan bagian terakhir dari model CIPP. dimodifikasi kembali atau bahkan akan dihentikan 3. penelitian evaluasi memfokuskan kegiatannya pada penjelasan dampak-dampak pendidikan serta mencari solusi-solusi terkait dengan strategi instruksional. evaluasi harus dapat memberikan landasan berupa informasi-informasi yang akurat dan obyektif bagi pengambil kebijakan untuk memutuskan sesuatu yang berhubungan dengan program. Goal Free Evaluation Model yang dikembangkan oleh Michael Scriven ini yakni Goal Free Evaluation Model justru tidak memperhatikan apa yang menjadi tujuan program sebagaimana model goal oriented evaluation. 2. Transactional Evaluation Dalam model ini. Evaluasi konteks (context evaluation) merupakan dasar dari evaluasi yang bertujuan menyediakan alasan-alasan (rationale) dalam penentuan tujuan (Baline R. . baik hal-hal yang positif maupun hal-hal yang negatif. Evaluasi CIPP yang dikembangkan oleh stufflebeam merupakan salah satu contoh model evaluasi ini.tujuan yang telah ditetapkan. Evaluasi input (input evaluation) merupakan evaluasi yang bertujuan menyediakan informasi untuk menentukan bagaimana menggunakan sumberdaya yang tersedia dalam mencapai tujuan program. Evaluasi ini bertujuan mengukur dan menginterpretasikan capaian-capaian program. Evaluasi produk menunjukkan perubahan-perubahan yang terjadi pada input. Model ini melihat lebih jauh tentang adanya kesenjangan (Discrepancy) yang ada dalam setiap komponen yakni apa yang seharusnya dan apa yang secara riil telah dicapai. Decision Oriented Evaluation Dalam model ini. 4. Model ini terdiri dari 4 komponen evaluasi sesuai dengan nama model itu sendiri yang merupakan singkatan dari Context. evaluasi berusaha melukiskan proses sebuah program dan pandangan tentang nilai dari orang-orang yang terlibat dalam program tersebut. dengan jalan mengidentifikasi kejadian-kejadian yang terjadi selama pelaksanaannya. 5. Yang harus diperhatikan justru adalah bagaimana proses pelaksanaan program. evaluasi produk menyediakan informasi apakah program itu akan dilanjutkan. Model CIPP merupakan salah satu model yang paling sering dipakai oleh evaluator. Penilaian yang terus-menerus ini menilai kemajuan-kemajuan yang dicapai peserta program serta efektifitas temuan-temuan yang dicapai oleh sebuah program. Evaluasi proses (process evaluation) diarahkan pada sejauh mana kegiatan yang direncanakan tersebut sudah dilaksanakan. Dalam proses ini. Evaluation Research Sebagaimana disebutkan diatas. Process dan Product.

Dalam pandangan Aiken (1987: 42) sebuah tes dikatakan reliabel jika skor yang diperoleh oleh peserta relatif sama meskipun dilakukan pengukuran berulang-ulang. Untuk memperoleh skor yang sama. Dalam prakteknya. bukan tentang tes ataupun bentuk tes.6.. 2. Dalam kerangka teori tes klasik. 3. Adversary Evaluation Model ini didasarkan pada prosedur yang digunakan oleh lembaga hukum. Tim evaluasi ini kemudian mengemukakan argument-argumen dan bukti sebelum mengambil keputusan. 4. Menurut John M. Menurut Sumadi Suryabrata (2004: 28) reliabilitas menunjukkan sejauhmana hasil pengukuran dengan alat tersebut dapat dipercaya. Mengungkapkan rentangan isu yang luas dengan cara melakukan survey berbagai kelompok yang terlibat dalam satu program untuk menentukan kepercayaan itu sebagai isu yang relevan. Mengurangi jumlah isu yang dapat diukur. Membentuk dua tim evaluasi yang berlawanan dan memberikan kepada mereka kesempatan untuk berargumen. Kedua statistik di atas memiliki keterbatasannya masing-masing. Hasil pengukuran harus reliabel dalam artian harus memiliki tingkat konsistensi dan kemantapan. Melakukan sebuah dengar pendapat yang formal. Echols dan Hasan Shadily (2003: 475) reliabilitas adalah hal yang dapat dipercaya. Dalam pandangan Brennan (2001: 295) reliabilitas merupakan karakteristik skor. Dengan demikian keandalan . Reliabilitas: Pendekatan Tes Ulang Reliabilitas diterjemahkan dari kata reliability. 1989: 105) Berdasarkan sejarah. model adversary terdiri atas empat tahapan yaitu : 1. sebuah alat ukur dapat dilihat dari dua petunjuk yaitu kesalahan baku pengukuran dan koefisien reliabilitas.the degree of which test score are free from error measurement".. Kesalahan pengukuran merupakan rangkuman inkonsistensi peserta tes dalam unit-unit skala skor sedangkan koefisien reliabilitas merupakan kuantifikasi reliabilitas dengan merangkum konsistensi (atau inkonsistensi) diantara beberapa kesalahan pengukuran. Popham (1995: 21) menyatakan bahwa reliabilitas adalah ". Interpretasi . Kedua statistik tersebut masing-masing memiliki kelebihan dan keterbatasan (Feldt & Brennan. maka tidak boleh ada kesalahan pengukuran. reliabilitas sebuah instrumen dapat dihitung melalui dua cara yaitu kesalahan baku pengukuran dan koefisien reliabilitas (Feldt & Brennan: 105). suatu tes dapat dikatakan memiliki reliabilitas yang tinggi apabila skor tampak tes tersebut berkorelasi tinggi dengan skor murninya sendiri.

Untuk memperoleh koefisien reliabilitas melalui pendekatan tes ulang dapat dilakukan dengan menghitung koefisien korelasi linear antara distribusi skor subyek pada pemberian tes pertama dengan skor subyek pada pemberian tes kedua. 2006: 29). Setelah melakukan dua kali pengukuran didapatkan skor tes sebagai berikut: Koefisien reliabilitas test di atas dapat dihitung dengan menggunakan formula korelasi produk momen dari Pearson sebagai berikut: . Pendekatan tes ulang merupakan pemberian perangkat tes yang sama terhadap sekelompok subjek sebanyak dua kali dengan selang waktu yang berbeda. Dalam mengestimasi reliabilitas alat ukur. Estimasi dengan pendekatan tes ulang akan menghasilkan koefisien stabilitas. (Saifuddin Azwar.lainnya adalah seberapa tinggi korelasi antara skor tampak pada dua tes yang pararel. Reliabilit as menurut Ross E. Misalnya seorang guru hendak melihat reliabilitas tes yang telah dibuatnya. Asumsinya adalah bahwa skor yang dihasilkan oleh tes yang sama akan menghasilkan skor tampak yang relatif sama. Pendekatan tes ulang sangat sesuai untuk mengukur ketrampilan terutama ketrampilan fisik. Traub (1994: 38) yang disimbolkan oleh dapat didefinisikan sebagai rasio antara varian skor murni dan varian skor tampak . Secara matematis teori di atas dapat ditulis : Reliabilitas alat ukur tidak dapat diketahui dengan pasti tetapi dapat diperkirakan. ada tiga cara yang sering digunakan yaitu (1) pendekatan tes ulang. (2) pendekatan dengan tes pararel dan (3) pendekatan satu kali pengukuran.

Hal ini dapat meningkatkan korelasi serta overestimasi terhadap PXX¶. kemampuan psikomotor dibagi kedalam lima tingkatan yaitu gerak refleks. Penilaian yang dilakukan dengan teknis nontes terutama bertujuan untuk memperoleh informasi yang berkaitan dengan evaluasi hasil belajar peserta didik dari segi ranah sikap hidup (affective domain) dan ranah ketrampilan (psychomotoric domain). gerakan trampil dan komunikasi nondiskursip (Sax. jika peserta tes masih ingat dengan soal-soal dan bahkan jawaban ketika dilakukan test pertama. kemampuan fisik adalah kemampuan untuk mengembangkan gerakan yang paling terampil seperti gerakan tari ataupun olahrega ekstrim tertentu. berenang. . membongkar dan memasang peralatan dan lain sebagainya. Hal ini berarti bahwa jawaban yang diberikan oleh peserta tes tidak bisa dikategorikan sebagai jawaban benar atau salah sebagaimana interpretasi jawaban tes. melompat. kemampuan perseptual. Penyusunan Instrumen Nontes Teknis nontes adalah suatu alat penilaian yang biasanya dipergunakan untuk mendapatkan informasi tertentu tentang keadaan peserta tes (Inggris: testee) dengan tidak menggunakan tes. gerakan dasar. lari. Gerak reflek adalah gerakan yang muncul tanpa sadar. korelasi sebesar 0. 1980: 76). kemampuan fisik. melukis. Dalam dunia psikologi. Sedangkan komunikasi nondiskursip adalah kemampuan berkomunikasi dengan menggunakan bahasa gerakan. Kemampuan perseptual merupakan kombinasi kemampuan kognitif dan kemampuan motor. David Krathwohl (1974). Kemampuan psikomotor (psychomotoric domain) adalah kemampuan yang berhubungan dengan gerak yaitu kemampuan dalam menggunakan otot-otot seperti berjalan. Masalah ini disebabkan oleh adanya kemungkinan pada test yang kedua dipengaruhi oleh test pertama. Kemampuan terakhir ini berhubungan dengan kemampuan mengucapkan kata-kata berbahasa asing. Dengan teknik nontes maka penilaian atau evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan tanpa ³menguji´ peserta didik melainkan dilakukan dengan cara tertentu.Dengan demikian. (4) organization (mengorganisasi) dan (5) characterization by a value or value complex (karakterisasi dengan suatu nilai atau nilai yang kompleks). Salah satu kelemahan mendasar dari teknik test-retest adalah carry-over effect. Misalnya. sebagaimana dikutip Anas Sudijono (2005 : 54) mengembangkan taksonomi mengenai ranah afektif ini dengan membaginya kedalam lima jenjang yaitu : (1) receiving (menerima) (2) responding (merespon) (3) valuing (menilai atau memaknai). Gerakan dasar adalah gerakan yang mengarah pada ketrampilan kompleks yang khusus seperti berlari dan berjalan.954 menggambarkan bahwa reliabilitas tes cukup tinggi.

Dalam dunia pendidikan teknik nontes yang sering digunakan adalah pengamatan (observasi), dan terkadang, seorang guru juga menggunakan wawancara. Dalam penelitianpenelitian sosial, teknik nontes biasanya juga digunakan untuk mendapatkan informasi mengenai keadaan obyek penelitian. Teknik nontes yang sering digunakan dalam penelitianpenelitian sosial penelitian adalah kuesioner. Teknik pengamatan atau observasi merupakan salah satu bentuk teknik nontes yang biasa dipergunakan untuk menilai sesuatu melalui pengamatan terhadap objeknya secara langsung, seksama dan sistematis. Pengamatan memungkinkan untuk melihat dan mengamati sendiri kemudian mencatat perilaku dan kejadian yang terjadi pada keadaan sebenarnya. Menurut Moleong (2005 : 176) pengamatan dapat dibedakan menjadi dua yaitu pengamatan berperanserta dan tidak berperanserta. Dalam pengamatan yang tidak berperanserta, seseorang hanya melakukan satu fungsi yaitu mengamati tetapi pada pengamatan berperanserta seseorang disamping mengamati juga menjadi anggota dari obyek yang diamati. Pengamatan dapat pula dibagi atas pengamatan terbuka dan tertutup. Terbuka jika obyek yang diamati mengetahui bahwa mereka sedang diamati dan sebaliknya. Selain itu pengamatan juga dibagi pada latar alamiah (pengamatan tak terstruktur) dan latar buatan (pengamatan terstruktur). Pengamatan ini biasanya dapat dilakukan pada eksperimen. Dalam pengamatan berstruktur, kegiatan pengamatan itu telah diatur sebelumnya. Isi, maksud, objek yang diamati, kerangka kerja, dan lain-lain, telah ditetapkan sebelum kegiatan pengamatan dilaksanakan. Oleh karena itu, kegiatan pencatatan hanya dilakukan terhadap data -data yang sesuai dengan cakupan bidang kebutuhan seperti yang telah ditetapkan sejak semula. Lain halnya dengan pengamatan tak berstrukur, dalam melakukan pengamatannya, si pengamat tidak dibatasi oleh kerangka kerja yang telah dipersiapkan sebelumnya. Setiap data yang muncul yang dianggap relevan dengan tujuan pengamatannya langsung dicatat. Dengan demikian, data yang diperoleh lebih mencerminkan keadaan yang sesungguhnya. Perilaku siswa dalam keadaan seperti itu bersifat wajar, apa adanya dan tidak dibuat-buat. Teknik pengamatan jika dilakukan untuk melihat apakah perbuatan siswa sudah benar atau tidak dapat dikategorikan sebagai teknik tes. Misalnya jika dalam praktek olahraga seorang guru akan melihat apakah cara melempar lembing seseorang sudah sesuai dengan teori atau tidak, maka pengamatan jenis ini terkategori sebagai teknik tes. Tetapi jika pengamatan dilakukan terhadap aspek afektif seperti cara seorang siswa bersikap terhadap guru, menjaga kebersihan, perhatian terhadap tugas-tugas sekolah dan sebagainya, maka teknik ini termasuk teknik nontes. Wawancara atau interview merupakan salah satu alat penilaian nontes yang dipergunakan untuk mendapatkan informasi tertentu tentang keadaan responden dengan jalan tanya-jawab sepihak. Dikatakan sepihak karena pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam kegiatan wawancara itu hanya berasal dari pihak pewawancara saja, sementara responden hanya bertugas sebagai penjawab. Maksud diadakan wawancara sebagaimana dikutip Moleong dari Lincoln dan Guba (1985 : 266) antara lain mengkonstruksi mengenai orang, kejadian, organisasi, perasaan, motivasi, tuntutan, kepedulian dan lain sebagainya. Ada banyak pembagian wawancara yang dilakukan para ahli. salah satu diantaranya adalah membagi wawancara kedalam dua bentuk yaitu wawancara bebas dan wawancara terpimpin. Yang dimaksud wawancara terpimpin adalah suatu kegiatan wawancara yang pertanyaanpertanyaan serta kemungkinan-kemungkinan jawabannya itu telah dipersiapkan pihak pewawancara, responden tinggal memilih jawaban yang sudah dipersiapkan pewawancara.

Sebaliknya dalam wawancara bebas, responden diberi kebebasan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan pewawancara sesuai dengan pendapatnya tanpa terikat oleh ketentuanketentuan yang telah dibuat pewawancaranya. Kuesioner merupakan bentuk lain dari teknik nontes. Secara umum, ada dua jenis kuesioner yaitu kuesioner tertutup dan terbuka. Kuesioner tertutup adalah kuesioner yang telah disediakan alternatif jawabannya sehingga responden tinggal memilih yang sesuai dengan keadaan dirinya. Sedangkan kuesioner terbuka adalah kuesioner yang jawabannya belum disediakan sehingga responden bebas menuliskan apa yang dia rasakan. Satu hal yang menjadi ciri utama kuesioner adalah dalam kuesioner tidak ada jawaban benar atau salah. Salah satu contoh kuesioner tertutup adalah : Umur anda saat ini adalah : a. 15 ± 20 tahun b. 20 ± 25 tahun c. 25 ± 30 tahun d. 35 ± 35 tahun Adapun contoh kuesioner terbuka adalah : Setiap idul fitri tiba, ribuan orang seperti digerakkan untuk beridulfitri di kampung halamannya. Uraikanlah menurut pendapat anda apa yang menjadi penyebab pulangkampungnya orang yang ada diperantauan ketika Idul Fitri tiba! Ada beberapa alasan kenapa kuesioner sering dipergunakan orang dalam mengumpulkan informasi tertentu yaitu : (1) butir-butir kuesioner dapat diberikan kepada responden secara serentak sehingga lebih efektif, (2) butir-butir dalam kuesioner lebih menjamin keseragaman baik perumusan kata, isi maupun urutannya serta kuesioner lebih memudahkan dalam memberikan jawaban, (3) kuesioner memudahkan sumber data dalam memberikan jawaban serta kepraktisan serta relative lebih murah dibandingkan metode nontes yang lain.

Validitas Tes
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia senantiasa dihadapkan pada masalah keakuratan sebuah informasi. Informasi yang diterima manusia setiap hari sangat banyak dengan sumber yang semakin beragam. Koran dan televisi adalah dua sumber informasi utama saat ini. Dengan semakin banyaknya sumber-sumber informasi yang senantiasa berkembang, maka muncul sebuah pertanyaan mendasar tentang sejauhmana informasi yang diperoleh tersebut dapat dipercaya? Dalam penelitian-penelitian sosial, keakuratan informasi yang diperoleh sangat

mempengaruhi keputusan yang akan diambil. Sayangnya, akurasi informasi dalam penelitianpenelitian sosial tersebut tidak mudah diperoleh disebabkan sulitnya mendapatkan operasionalisasi konsep mengenai variabel yang hendak diukur. Untuk mengungkap aspekaspek yang hendak diteliti, maka diperlukan alat ukur yang baik dan berkualitas. Alat ukur tersebut dapat berupa skala atau tes. Sebuah tes yang baik sebagaimana disampaikan oleh Syaifuddin Azwar (2006 : 2) harus memiliki beberapa kriteria antara lain valid, reliable, standar, ekonomis dan praktis. Dalam Standards for Educational and Psychological Testing validitas adalah "... the degree to which evidence and theory support the interpretation of test scores entailed by proposed uses of tests " (1999: 9). Sebuah tes dikatakan valid jika ia memang mengukur apa yang seharusnya diukur (Allen & Yen, 1979: 95). Dalam bahasa yang hampir sama Djemari Mardapi (2004: 25) menyatakan bahwa validitas adalah ukuran seberapa cermat suatu tes melakukan fungsi ukurnya. Menurut Nitko & Brookhart (2007: 38) kevalidan sebuah alat ukur tergantung pada bagaimana hasil tes tersebut diinterpretasikan dan digunakan. Dalam pandangan Samuel Messick (1989: 13) validitas merupakan penilaian menyeluruh dimana bukti empiris dan logika teori mendukung pengambilan keputusan serta tindakan berdasarkan skor tes atau model-model penilaian yang lain Jika dikaitkan dengan bidang psikologi, penggunaan validitas dapat dijumpai dalam tiga konteks yaitu validitas penelitian, validitas soal dan validitas alat ukur. Validitas penelitian merupakan derajad kesesuaian hasil penelitian dengan keadaan sebenarnya. Validitas soal berkaitan dengan kesesuaian antara suatu soal dengan soal lain. Sedangkan validitas alat ukur merujuk pada kecermatan ukurnya suatu tes (Sumadi Suryabrata, 2004: 40). Menurut Allen & Yen (1979: 95) validitas tes dapat dibagi kedalam tiga kelompok utama yaitu : (1) validitas isi (content validity), (2) validitas konstruk (construct validity) dan (3) validitas kriteria (criterion related validity). Meskipun idealnya validasi dapat dilakukan dengan memakai semua bentuk validitas tes tersebut, tetapi pengembang tes dapat memilih bentuk validasi dengan melihat tujuan pengembangan tes (Kumaidi, 1994: 58). Validitas isi menunjuk pada sejauhmana isi perangkat soal tersebut mengukur apa yang seharusnya diukur. Dalam kaitannya dengan kegiatan pembelajaran menurut Djemari Mardapi (1996: 22) validitas ini adalah kesesuaian antara materi ujian dan materi yang telah dipelajari. Pengujian validitas isi tidak melalui analisis statistik melainkan analisis rasional yaitu dengan melihat apakah butir-butirnya telah sesuai dengan batasan domain ukur yang telah ditetapkan sebelumnya. Allen & Yen (1979: 95) membagi validitas isi kedalam dua kelompok yaitu face validity (validitas muka) dan logical validity (validitas logis). Validitas muka dapat dicapai jika tampilan tes tersebut telah meyakinkan untuk mengungkap atribut yang hendak diukur. Adapun validitas logis menunjukkan sejauhmana isi tes mengungkapkan representasi dari ciri-ciri atribut yang hendak diukur. Validitas konstruk merujuk pada sejauhmana suatu tes mengukur suatu konstruk teoretik atau trait yang hendak diukurnya (Allen & Yen, 1979: 108) konstruk dalam pengertian ini adalah berkaitan dengan aspek-aspek psikologi seseorang khususnya aspek kognitif, afektif dan psikomotor. Ada beberapa cara yang bisa digunakan untuk menguji validitas konstruk. Misalnya dengan melakukan pencocokan antara aspek-aspek berpikir yang terkandung dalam tes hasil belajar dengan aspek-aspek berpikir yang hendak diungkap oleh tujuan instruksional khusus. Pengujian yang lebih sederhana tentang validitas konstruk adalah malalui pendekatan multi trait multi-method (Saifuddin Azwar 2003: 176). Pendekatan ini akan menghasilkan bukti validitas diskriminan yang ditunjukkan dengan rendahnya korelasi antar skor yang mengukur trait yang berbeda bila digunakan metode yang sama dan validitas konvergen yang ditunjukkan oleh tingginya korelasi skor-skor tes yang mengukur trait yang sama dengan

adalab hasil Pengukuran lain yang telah dianggap sebagai alat ukur yang baik misalnya tes Stanford Binnet atau tes Weschler. maka koefisien determinasinya adalah sebesar 0. Jika dimanfaatkan dalam waktu dekat maka disebut validitas konkurent (concurrent validity) dan jika dimanfaatkan diwaktu yang akan datang disebut validitas prediktif (predictive validity). Validitas kriteria dibedakan menjadi dua macam yaitu berdasarkan kapan kriteria itu dapat dimanfaatkan. .25. semakin tinggi angka koefisien determinasi. Ada dua instrument berbeda yang digunakan untuk mengukur liberalisme (L) dan konservatisme (C) dalam hubungannya dengan sikap sosial seseorang yaitu dengan pernyataan sikap biasa (metode 1) dan referen (metode 2) menggunakan referensi-referensi sikap seperti sepatah kata atau frase singkat. Maka. korelasi antara L1 dengan C1 adalah -0.menggunakan metode yang berbeda.37 antara L1 dan C2 validitas konstruk dalam skala sikap itu terdukung. Korelasi silang antara L dan C yakni korelasi antara L pada metode 1 dan C pada metode 2 atau antara L1 dan C2 adalah -0. Validitas kriteria merupakan validitas yang disusun berdasarkan kriteria yang telah ada sebelumnya. kesahihan alat ukur dilihat dari sejauhmana hasil pengukuran tersebut sama dengan hasil pengukuran alat lain yang dijadikan kriteria.37 dan ini lebih tinggi daripada yang diprediksikan oleh teorinya (-0. Jadi jika diperoleh koefisien korelasi sebesar 0. yang dijadikan kriteria. dengan perkecualian korelasi silang yang besarnya -0. Dalam validitas kriteria.5.07 serta antara L2 dengan C2 adalah 0. koefisien validitas ditunjukkan dengan skor pada saat ujian masuk dengan skor yang diperoleh pada saat seseorang telah belajar selama beberapa waktu tertentu. dalam pengukuran psikologis. maka semakin tinggi pula kecermatan prediksinya. (2004: 46) dalam menafsirkan koefisien validitas yang didapat dari mengkorelasikan skor alat ukur dengan kriterianya sebaiknya dilakukan melalui koefisien determinasi yaitu koefisien korelasi kuadrat. diperlukan pengujian dengan menggunakan korelasi. Kerlinger (1973:742) tentang matriks hubungan antara sikap sosial. Korelasi antara kedua instrument tersebut disajikan dalam bentuk matriks multitrait-multimethod berikut : Dalam contoh tersebut secara teoritis dituntut adanya korelasi negative atau mendekati nol antara L dan C. Biasanya.30). Untuk memperoleh validitas kriteria. Contoh mengenai estimasi koefisien validitas berdasarkan metode multitrait multimethod adalah sebagaimana disampaikan Fred N.09 yang berarti bahwa keduanya hampir selaras dengan teorinya. Validitas kriteria ditunjukkan dengan angka korelasi antara skor pada alat yang dipergunakan dengan skor yang dihasilkan dari alat yang dijadikan kriteria. Tetapi dalam ujian masuk perguruan tinggi misalnya. Menurut Sumadi Suryabrata.

yang perlu diperhatikan juga adalah mendokumentasikan berbagai hal yang menyangkut proses pembelajaran. dll)? ‡ Apakah tujuan pembelajaran dapat tercapai? B. Guru dapat menuangkan evaluasi yang telah dilakukannya dalam jurnal refleksi pembelajaran. mengakses internet. dokumen yang menunjukkan adanya kegiatan mengunjungi perpustakaan. Kolaborasi dapat dilakukan dengan rekan guru atau siswa. dan lain-lain) yang menunjukkan adanya program pembiasaan mencari informasi/pengetahuan lebih lanjut dari berbagai sumber belajar . kliping. dokumen pemanfaatan berbagai fasilitas yang menunjukkan difungsikannya sumbersumber belajar 4. dan penilaian hasil pembelajaran. bahasa perancis. Evaluasi proses pembelajaran diselenggarakan dengan cara: a. bahasa arab. Mengidentifikasi kinerja guru dalam proses pembelajaran sesuai dengan kompetensi guru A. kebun raya. 41 tahun 2007 tentang Standar proses dinyatakan bahwa evaluasi proses pembelajaran dilakukan untuk menentukan kualitas pembelajaran secara keseluruhan. Dalam Permen No. kelompok belajar bahasa asing (bahasa inggris. dokumen silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) 2. mencakup tahap perencanaan poses pembelajaran. karena kita akan menemukan kelebihan dan kekurangan dari proses pembelajaran yang telah dilakukan. bahasa mandarin. bahasa jepang. pusat industri.Evaluasi proses pembelajaran merupakan tahap yang perlu dilakukan oleh guru untuk menentukan kualitas pembelajaran. EVALUASI KOLABORATIF Guru dapat melakukan evaluasi proses pembelajaran secara kolaboratif. laporan hasil analis terhadap suatu masalah yang menunjukkan keterlibatan siswa dalam kegiatan belajar mengajar 3. dokumen hasil diskusi. C. Membandingkan poses pembelajaran yang dilaksanakan guru dengan standar proses b. mengunjungi sumber belajar di luar lingkungan sekolah (museum. pelaksanaan proses pembelajaran. Kegiatan ini sering disebut juga sebagai refleksi proses pembelajaran. seperti: ‡ Apa yang saya ajarkan hari ini? ‡ Apa yang masih membingunkan bagi siswa? ‡ Apakah saya menemukan masalah dan issu yang tidak diharapkan? ‡ Apa jenis pembelajaran tingkat tinggi yang saya sampaikan? ‡ Apa jenis pembelajaran tingkat rendah yang saya sampaikan? ‡ Apakah siswa saya dapat menerima materi yang saya ajarkan? ‡ Apakah saya telah membelajarkan siswa? ‡ Bagaimana saya memperbaiki tehnik pembelajaran? ‡ Apa yang ingin dan perlu kuketahui lebih banyak lagi? ‡ Apa sumber belajar yang memberi ilham dan menyenangkan saya (photo. DOKUMENTASI PROSES PEMBELAJARAN Dalam evaluasi proses pembelajaran. websites. Hal-hal yang perlu didokumentasikan adalah: 1. dan lain-lain). kelompok ilmiah remaja. EVALUASI DIRI Evalusi proses pembelajaran dapat dilakukan oleh guru yang bersangkutan secara mandiri. Guru dapat mengisi jurnal ini pada setiap pelajaran yang telah diberikan/ diajarkan atau selama guru tersebut melaksanakan pekerjaan sehari-harinya sebagai guru Jurnal merekam renungan dan refleksi dari pikiran.

dokumen kegiatan pekan bahasa. kunjungan ke laboratorium alam.5. peringatan hari-hari besar agama. latihan tari. dokumen laporan kepengawasan proses pembelajaran yang dilakukan oleh kepala sekolah JURNAL I Kurikulum. membantu warga sekolah yang memerlukan 10. 9. seni dan budaya. tingkat kabupaten / propinsi / nasional yang menunjukkan adanya pengalaman belajar untuk menumbuhkan sikap kompetitif dan sportif. pentas seni. daur ulang sampah. dan Tenaga Pendidikan sebagai Unsur Strategis dalam Penyelenggaraan Sistem Pengajaran Nasional Prof. Soedijarto. dokumen kegiatan mengikuti pertandingan antar kelas. dan lainlain 11. majalah dinding. karya teknologi tepat guna dan lain sebagainya yang menunjukkan adanya pengalaman mengekspresikan diri melalui kegiatan seni dan budaya 7. teater. seperti: hasil portofolio. ketrampilan membuat barang seni. laporan kunjungan lapangan. dokumen penugasan latihan ketrampilan menulis siswa. pameran lukisan. dokumen kegiatan megunjungi pameran lukisan. buletin siswa. latihan musik. dan sebagainya yang menunjukkan adanya pengalaman belajar untuk memanfaatkan lingkungan secara produktif dan bertanggung jawab 6. dokumen pembiasaan dan pengamalan ajaran agama seperti aktivitas ibadah bersama. Dr. drama. Sistem Evaluasi. laporan penulisan karya tulis. dan sebagainya yang menunjukkan adanya pengalaman mengapresiasikan karya seni dan budaya 8. musik. pagelaran tari. MA *) . dokumen pemanfaatan lingkungan baik di dalam maupun di luar kelas seperti kebun untuk praktek biologi. H. konser musik.

Dalam kaitannya dengan penyelenggaran sistem pengajaran nasional.Abstrak Sejak Indonesia merdeka. . telah beberapa kali terjadi perubahan kurikulum S sekolah dasar dan menengah. (2) tujuan dan materi kurikulum yang relevan . The changes could raise several questions due to the important and strategic role of the curriculum in achieving the objective of national education system. This article discusses several issues related to the national instructional system. pilar belajar. efisien dan efektif akan mempu mendukung terlaksanya fungsi pendidikan nasional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. dan memajukan kebudayaan nasional. Dalam tulisan ini disebutkan bahwa apabila sekolah dengan kurikulum yang dirancang dan dilaksanakan secara relevan. particularly about (1) the role of curriculum as a strategic means in school education. dan sistim evaluasi Abstract There have been several changes in the primary and secondary school curriculum system ever since Indonesia gained its independence. (4) evaluasi sebagai media pendidikan dan sarana umpan balik . Perubahan itu dapat menimbulkan berbagai pertanyaan mengingat betapa penting dan strategisnya peranan kurikulum dalam mencapai tujuan pendidikan nasional. tulisan ini membahas (1) makna kurikulum sebagai unsur strategis dalam pendidikan sekolah. Kata kunci: Kurikulum. dan (5) peranan guru dan implikasinya terhadap profesionalisasi jabatan guru. (3) pendekatan proses pembelajaran dan implikasinya terhadap sistem evaluasi.

Kurikulum 1994. kurikulum tahun 1950-an. Pendahuluan Memasuki tahun 2004 ini. kurikulum 1975. kurikulum tahun 1964. Sampai dengan kurikulum 1984. relevant. dan kurikulum 1984 digunakan untuk memasukkan mata pelajaran Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB). the school curriculum will be able to support the national education to function in educating the Indonesian people and developing the national culture. ada kurikulum 1947. if the design and the implementation are appropriate. Mengapa kurikulum yang satu diganti dengan kurikulum yang lainnya. efficient and effective. (4) evaluation as an educational medium as well as a feedback instrument. Kurikulum 1964 disusun untuk meniadakan MANIPOL-USDEK.(2) the relevant objectives and contents of the curriculum. dan kurikulum 1994. kurikulum 1975 digunakan untuk memasukkan Pendidikan Moral Pancasila. perubahan kurikulum banyak yang dipengaruhi oleh perubahan politik. kurikulum 1984. and (5) teachers ole and its impact to the professionalism of education personnel. Dari serangkaian perubahan kurikulum. kurikulum tahun 1968. yang didasarkan atas hasil penilaian nasional pendidikan (national assessment) hanyalah kurikulum 1975 dan kurikulum PPSP (Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (1974 1981). sejak Indonesia merdeka. bukan . This article states. di samping meniadakan mata pelajaran PSPB juga diperkenalkannya sistem kurikulum SMU yang dimaksudkan untuk menjadikan pendidikan umum benar benar sebagai pendidikan persiapan ke perguruan tinggi. (3) the approaches in learning process and their implication to evaluation system. Selebihnya merupakan perubahan yang didasarkan atas asumsi teoretik. kita telah mengenal berbagai kurikulum.

(4) evaluasi sebagai media pendidikan dan instrumen umpan balik. 1994 telah. (3) pendekatan dan proses pembelajaran yang relevan. 1984. Dalam konteks praktek perubahan kurikulu m yang demikian. Sistem Evaluasi. Karena itu kita sukar untuk menjawab pertanyaan Seberapa jauh kurikulum 1975. Atas dasar pertimbangan di atas. tulisan ini tidak berpretensi berangkat dari hasil evaluasi ilmiah melainkan berangkat dari premise teoretik. (2) tujuan dan materi kurikulum Kurikulum.atas dasar temuan-temuan hasil evaluasi yang dilakukan secara sistematik. Dr. Memang tradisi penelitian dan pengembangan yang dirintis oleh almarhum Menteri Mashuri dan diperkuat oleh Prof. Bahkan data yang terkumpul dari hasil penelitian evaluatif yang berlangsung dari tahun 1978 sampai tahun 1980-pun tidak sempat diolah lebih lanjut. Makna Kurikulum sebagai Unsur yang Strategis dalam Pendidikan Sekolah . dan (5) peranan guru dan implikasinya terhadap profesionalisasi tenaga kependidikan. Tetapi penggantian kurikulum 1975 menjadi kurikulum 1984 sama sekali tidak didasarkan atas hasil evaluasi tersebut. belum atau tidak berhasil mempengaruhi peningkatan mutu pendidikan? Sesungguhnya pada tahun 1981 Balitbang Depdikbud telah selesai (dimulai tahun 1978) melakukan studi evaluasi kurikulum secara nasional yang komprehensif dengan datanya terkumpul dalam 6 (enam) disket komputer. Soemantri Brodjonegoro nampaknya berhenti sejak Menteri Nugroho Notosusanto. tulisan ini akan mencoba membahas : (1) makna kurikulum sebagai unsur yang strategis dalam pendidikan sekolah. dan Tenaga Kependidikan sebagai Unsur Strategis yang bermakna bagi kedudukan kurikulum yang strategis.

Kalau kita cermati. yang mencitakan manusia terdidik Indonesia sebagai manusia susila . Karena itu harapan terbesar dari suatu masyarakat yang melakukan transformasi budaya adalah menjadikan sekolah sebagai pusat pembudayaan berbagai kemampuan. baik UU No. yang melahirkan negara-negara kebangsaan seperti Amerika Serikat. Italia. 12 Tahun 1954. Karena proses pembudayaan berbagai kemampuan nilai. dalam sejarahnya merupakan proses menjadi satunya kerajaan-kerajaan kecil dari masing-masing negara tersebut. dan sikap itu hanya dapat berlangsung melalui proses pembelajaran yang bermakna sebagai proses pembudayaan. proses pembelajaran yang harus diterapkan. Para pendiri Republik nampaknya terilhami oleh perkembangan negara-negara kebangsaan tersebut yang. Para pendiri Republik sadar akan adanya jurang antara kondisi yang dicita-citakan yaitu masyarakat negara kebangsaan yang moderen dan demokratis yang berdasarkan Pancasila dengan kondisi perkembangan masyarakat Indonesia pada saat proklamasi. Perancis. Jerman. jo UU No. Dalam mengemban peranan sekolah sebagai pusat pembudayaan inilah kedudukan kurikulum sangatlah strategis. mengamanatkan perlunya mencerdaskan kehidupan bangsa. dan sistem evaluasi yang harus dikembangkan dan dilaksanakan. maupun Jepang. 4 Tahun 1950. dan efektif melalui suatu sistem kurikulum yang dirancang secara sistematik sejak penentuan tujuan yang harus dicapai. materi yang harus dipelajari. Britania Raya. dan sikap dari warga masyarakat moderen. Proses pembelajaran yang demikian hanya akan terjadi secara efisien.Sekolah adalah lembaga sosial yang keberadaannya sebagai bagian dari sistem sosial negara bangsa sangat strategis sejak industrialisasi dan gerakan negara kebangsaan pada abad ke-19. nilai. tujuan pendidikan yang dirumuskan dalam UndangUndang Pendidikan Nasional. dan memajukan kebudayaan nasional melalui diselenggarakannya satu sistem pengajaran nasional (sekolah).

2 Tahun 1989 yang mencitakan wujud manusia Indonesia terdidik sebagai manusia yang beriman dan bertaqwa. Sistem Evaluasi. dalam pengertian rendahnya kesungguhan dan kemampuan guru. bertaqwa dan Kurikulum. dan terlaksana dengan efisien. Ketercapaiannya tidak mungkin tanpa suatu proses yang terencana. kesemuanya mencitakan wujud sosok manusia yang ideal. terprogram. atau UU No. memiliki pengetahuan dan ketrampilan. sehat jasmani dan rohani. dan relevan. Kalau tetap demikian memang segala tujuan itu tidak akan dapat dicapai. . 20 Tahun 2003 yang mencitakan manusia yang beriman. dan seterusnya . Mereka ini adalah kaum realis. dengan pengertian waktu yang terbatas. dalam pengertian kalau penyelenggaraan pendidikan disekolah dengan kondisi seperti yang berlangsung sampai dengan hari ini. efektif. serta terbatasnya. dan yang terakhir UU No. Kalau demikian sesungguhnya tidak perlu kita mengubah kurikulum bahkan tidak perlu mengubah UU Sisdiknas.yang cakap dan demokratis serta bertanggung jawab . karena semuanya tidak dengan sendirinya dapat meningkatkan mutu pendidikan. mencatat. Tetapi pada umumnya tujuan pendidikan yang demikian ideal selama ini tidak pernah dengan sungguh-sungguh diterjemahkan secara operasional dan diupayakan ketercapaiannya. Bahkan banyak sementara orang (termasuk para pejabat atau pakar) yang memandang hal tersebut tidak mungkin dapat dicapai oleh sekolah. dalam pengertian model pembelajaran yang tidak lebih dari mendengar. dan Tenaga Kependidikan sebagai Unsur Strategis berakhlak mulia. berkepribadian yang mantap dan mandiri serta mempunyai rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan . bahkan tanpa fasilitas serta sarana dan prasarana yang diperlukan. dan menghafal dengan evaluasi hanya mengukur kemampuan mengingat apa yang telah dipelajari dengan keterbatasan buku bacaan baik untuk guru dan murid.

akan menemukan betapa pendidikan nasional diharapkan untuk dapat melahirkan manusia Indo nesia yang : (1) religius dan bermoral. Tulisan ini berpandangan bahwa sekolah dengan kurikulum yang dirancang dan dilaksanakan secara relevan. Sistem Evaluasi. dan memajukan kebudayaan nasional. dan Tenaga Kependidikan sebagai Unsur Strategis Keempat karakteristik manusia yang dirumuskan dalam berbagai Undang Undang Pendidikan Nasional tersebut hakekatnya karakteristik yang bersifat universal. sampai guru dan orang tua murid. yang masih perlu diterjemahkan kedalam rumusan yang operasional dan terkait dengan perkembangan masyarakat Indonesia khususnya dan . efisien dan efektif akan mampu mendukung terlaksananya fungsi pendidikan nasional utnuk mencerdaskan kehidupan bangsa. sesungguhnya mengharapkan pendidikan nasional berfungsi mencerdaskan kehidupan bangsa sangat berlebihan karena tidak akan dapat terlaksana. pakar.Tulisan ini memandang kalau sikap ini yang tetap berada di benak semua lapisan masyarakat Indonesia dari elit politik. (3) yang sehat jasmani dan rohani. (2) yang menguasai ilmu pengetahuan dan ketrampilan. dalam berbagai UU pendidikan nasional kita. (4) yang berkepribadian dan bertanggung jawab Kurikulum. Tujuan dan Materi Kurikulum yang Relevan Tujuan Kalau kita kaji secara mendalam tujuan pendidikan yang selama ini dirumuskan.

hanya bangsa yang memiliki infrastruktur teknologi unggul yang dapat bertahan. Hampir tidak ada seorangpun yang dapat mengelakkan diri dari kenyataan bahwa Indonesia di millenium ketiga ini berada dalam era globalisasi. ilmu pengetahuan dan tehnologi. ekonomi. Dalam bidang ilmu pengetahuan dan tehnologi. dan (5) mengelola perdagangan (Harbison-Myers). Karena itu dalam menterjemahkan keempat karakteristik tersebut kedalam rumusan wujud kemampuan. komunikasi/transportasi bahkan kehidupan keagamaan. sosial budaya. Dalam bidang politik. dan sikap yang dapat dijadikan rujukan dalam proses perencanaan kurikulum perlu dipahami tingkat dan arah perkembangan masyarakat Indonesia. Dari ulasan singkat di atas dapatlah kita sampai kepada suatu kesimpulan bahwa di tengah era globalisasi dengan segenap tantangan dan kesempatan yang terbuka. bersaing dan terus maju. yang dapat bertahan dan secara berkesinambungan maju. (4) mengelola modal. (3) menghasilkan komoditas yang bermutu dan dapat bersaing di pasar dunia. yang dalam bidang ekonomi ditunjukkan dengan kemampuannya dalam : (1) mengolah dan mengelola sumber daya alam. agar negara bangsa Indonesia dapat bertahan sebagai negara yang merdeka dan bermartabat diperlukan manusia Indonesia yang berkualitas yang mampu mendukung : (1) sistem politik demokrasi yang stabil berdasarkan Pancasila. Wujud nyata dari setiap karakteristik tersebut akan berbeda dalam suatu tingkat perkembangan masyarakat dan tingkat pendidikan. hanya bangsa yang sistem politik demokrasinya mantap yang mampu bertahan dan terus maju. Dalam era semacam ini hanya bangsa yang berkualitas sumber daya manusianya. nilai. Yang maknanya adalah berlakunya berbagai ukuran dan aturan internasional dalam segala bidang kehidupan. (2) sistem ekonomi nasional yang mantap infrastruktur fisiknya. (2) pengembangan teknologi. infrastruktur . baik politik.masyarakat internasional pada umumnya.

(4) majunya kebudayaan dalam berbagai seginya baik kesenian. serta berakhlak mulia. nilai dan sikap yang terkait dengan kepentingan terwujudnya masyarakat Indonesia moderen dan bermartabat di era globalisasi. (2) memiliki kemampuan. (3) sistem pengembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi yang tangguh. kesusastraan. dan (5) mantapnya etika sosialnya. berkembang wirausahanya dan tumbuh pengusaha kecilnya.teknologinya. Berangkat dari pemahaman tentang karakteristik masyarakat moderen di era globalisasi yang perlu kita wujudkan di Indonesia dapatlah kiranya kita sampai kepada identifikasi kemampuan. pertanyaannya adalah Materi pendidikan manakah yang harus dijadikan obyek belajar ? . nilai dan sikap yang memungkinkannya berpartisipasi secara aktif dan cerdas dalam proses politik. Materi yang Relevan Setelah teridentifikasi empat gugus kemampuan. maupun dimensi kognitif dan normatif dari kebudayaan nasional. (4) memiliki kepribadian yang mantap. (3) memiliki kemampuan dan sikap ilmiah untuk dapat mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui kemampuan penelitian dan pengembangan. etos kerja. berkarakter dan bermoral. infrastruktur tenaga manusianya. dan disiplin kerja yang memungkinkannya dapat secara aktif dan produktif berpartisipasi dalam berbagai kegiatan ekonomi. nilai dan sikap yang perlu dikuasai dan dimiliki manusia terdidik Indonesia yaitu : (1) memiliki kemampuan.

Kerajinan Tangan dan Kesenian . 2 th. 20 Thn 2003 (Pendidikan Dasar) (Sampai Sekolah Menengah) a.Undang-undang No. Seni. termasuk berhitung f. Pengantar Sains dan Teknologi g. Ketrampilan. dan Olah raga. Menurut UU No. Ilmu Pengetahuan Sosial g.Pendidikan Agama b. Budaya.Ilmu Bumi h. Pendidikan Agama b. 1989 Menurut UU No. Bahasa d. 2 Tahun 1989 maupun UU No. Pendidikan Kewarganegaraan c. Pendidikan Pancasila a. Ilmu Pengetahuan Alam f. Membaca dan Menulis e. Kesenian dan Muatan i. Sejarah Nasional dan Sejarah Umum Lokal j. Matematika e. Matematika. Pendidikan Kewarganegaraan c. 20 tahun 2003 telah memberikan jawaban seperti yang dikutip dibawah ini. Bahasa Indonesia d. serta h.

and saints. scholars. Every person is indebted for what he has to a great network of skilled inventors. experimenters. Bahasa Inggris Kedua ketentuan yang terdapat dalam UU No. 2 Th. Pendidikan Jasmani dan Kesehatan l. 1 . Budaya dan Olah Raga dalam satu gugus. apa bedanya dengan dipisahkannya menggambar dan kesenian pada UU No. artists. 1989. Demikian juga dengan IPS dalam UU SISDIKNAS tahun 2003 dengan Ilmu Bumi. Pertanyaannya adalah apakah benar mata pelajaran tersebut menunjang tercapainya fungsi dan tujuan pendidikan nasional. Menggambar m. 2 tentang SISDIKNAS dan UU SISDIKNAS (2003) nampaknya berbeda. Sejarah pada UU No. Philip Phenix menyatakan : The richness of culture and the level of understanding achieve in advanced civilization are due almost entirely to the labours of individual men of genius and organized communities of specialists.k. who have devoted their special talents to the well being of all. misalnya kalau dalam UU SISDIKNAS tahun 2003 Seni. Philip Phenix dari pengamatannya terhadap perkembangan peradaban dan memandang perlunya generasi muda siap untuk melanjutkan perkembangan peradaban tersebut. prophets. 1989. seers. A high level of civilization is the consequence of the dedicated service of person in the special gifts for the benefits of all. tetapi hakekatnya yang perlu anyakan adalah mengapa mata pelajaran tersebut yang ditentukan. 2 th. Dalam kaitan ini. Dalam menjawab pertanyaan tentang mengapa suatu bahan kajian dan suatu pendekatan ditempuh.

and theoretical formulation and experimentation in the world of the matter. and literature. comprises ordinary language. contains the various arts. meaning with or together and noesis.Berangkat dari pemahamannya tentang hakekat perkembangan peradaban Philip Phenix mengidentifikasikan enam wilayah yang bermakna untuk menjadikan peserta didik memahami makna dunia yang dimana mereka hidup dan mengembangkan dirinya. and this in turn is compounded of syn. Esthetics. rituals. Synnoetics. and of man. Synnoetics. Ethics. derives from the Greek synnoesis. mind. Meaning in this realm are concerned with the contemplative perception of particular significant things as unique objectifications of ideated subjectivities. Empirics. with socially accepted rules of formation and transformation created as instrument for the expression and communication of any meaning whatsoever. Symbolics. The third realm. These meaning are contained in arbitrary symbolic structures. rhythmic patterns. embraces what Michael Polanyi calls personel knowledge and Martin Buber the I-Thou relation. which was devised because no existing concept appeared adequate to the type of understanding intended. Esthetics. yang penjelasannya diuraikan sebagai berikut : The first realm. dan Synoptics (Realms of Meaning). meaning cognition . Empirics. meaning meditative thought . the visual arts. fourth realm. The novel term synnoetics . Thus synnoetics signifies . such as music. and society. the arts of the movement. generalizations. The second realm. Keenam wilayah makna tersebut yaitu : Symbolics. These science provide factual descriptions. includes the science of the physical world of living things. and various types of nondiscursive symbolic forms such as gesture. life. Mathematics. and the like.

Penulis mengartikan bahwa pemikir seperti Philip Phenix dan J. Bruner hakekatnya menghidupkan pemikiran Whitehead pada tahun 1920-an. to the arts. and philosophy.2) Disadari bahwa kandungan pengetahuan yang terdapat didalam setiap wilayah dan sub wilayah demikian luas. The fifth realm. Kiranya kita sepakat bahwa setiap disiplin atau dalam bahasanya Phenix setiap Realms of Meaning mengandung kekhususan dalam metode. dan konsep-konsep dasar yang menonjol. Synoptics. karena itu pendidikan perlu memilih yang essensial. Karena itu Philip Phenix. Berangkat dari pemikiran ini Philip Phenix selanjutnya mengemukakan empat prinsip dasar dalam memilih media pelajaran dari setiap wilayah arti. dan para pembaharu pendidikan yang mengakhiri gerakan pendidikanprogressive di Amerika Serikat seperti Jerome Brunner. and synnoetic meanings into coherent whole. Theses discipline combine empirical. esthetic. refers to meanings that are comprehensively integrative. responsible. yaitu : . which are concerned with abstract cognitive understanding. The sixth realm. yang hakekatnya merupakan penerus Alford North Whitehead mengutamakan pemilihan bahan pelajaran secara ketat agar para pelajar dapat mempelajari sesuatu sampai tingkatan memahami makna yang dipelajari bagi kehidupannya. perceptual form. which express idealized esthetic perceptions. or awareness of relation. It include history. which reflect intersubjective understanding. includes moral meaning that express obligation rather than fact. deliberate decision. and to personal knowledge. struktur ilmu pengetahuan yang luas. In contrast to the sciences. morality ha to do with personal conduct that is based on free. religion.relational insight or direct awareness . Ethics.

Yang menjadi pertanyaan adalah seberapa jauh perancang UU SISDIK NAS 2003 telah secara mendalam mempelajari kedudukan SISDIKNAS dalam proses pembangunan negara bangsa moderen Indonesia sebelum merumuskan pokok pokok pikiran yang mendasar tentang sistem pendidikan nasional. Padahal pandangan Freire dan Ivan Hlich hakekatnya berangkat dari pandangan kaum nihilis yang mencitakan adanya Stateless Society . bahan pelajaran mengutamakan method of inquiry . tidak diupayakan untuk dapat terwujud. Sesungguhnya penulis berpandangan bahwa UU no. b.a. dan bahan pelajaran harus dapat mendorong peserta didik berpikir secara imajinatif Pendekatan pemilihan bahan ini jelas berbeda dari pendekatan Paul Freire yang menyerahkan pemilihan bahan kepada peserta didik. Masalahnya terutama disebabkan karena berbagai ketentuan sebagai yang tercantum dalam pasal 13 ayat (1) tentang fungsi dan tujuan pendidikan dasar dan pasal 15 ayat (1) tentang fungsi dan tujuan pendidikan menengah dan pasal 16 ayat (1) tentang fungsi dan tujuan pendidikan tinggi. suatu pandangan yang sedang dipopulerkan oleh sementara pakar. d. bahan pelajaran harus diambil dari disciplined of inquiry. suatu aliran pemikian dalam pendidikan yang sering muncul dalam perjalanan sejarah pemikiran pendidikan tetapi selama ini belum mampu mengubah kenyataan pendidikan dalam masyarakat moderen dan post moderen dalam masyarakat demokratis yang selalu memerlukan suatu tatanan hidup bernegara dengan segala persyaratannya. bahan pelajaran harus dipilih konsep-konsep utama suatu disiplin yang mewakili hakekat disiplin tersebut. c. Proses pembelajaran yang terjadi dari tingkat SD sampai Perguruan Tinggi . 2 th 1989 masih relevan untuk menjadikan sistem pendidikan nasional dapat berfungsi mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan kebudayaan nasional.

pada umumnya masih proses penyajian informasi oleh pengajar untuk dicatat oleh peserta didik, suatu model pembelajaran yang terjadi sebelum berlakunya UU No. 2 th 1989. Adalah keyakinan profesional dan akademik saya bahwa tanpa proses pembelajaran yang bermakna sebagai proses pembudayaan, tujuan dan struktur kurikulum yang telah dirancang dengan baikpun tidak akan dapat meningkatkan mutu pendidikan.

Pendekatan Proses Pembelajaran dan Implikasinya terhadap Sistem Evaluasi Pendekatan Proses Pembelajaran

Bagian ini bermaksud mencoba menjawab pertanyaan

model

pembelajaran seperti apa yang dapat bermakna sebagai proses pembudayaan ? Pandangan kami adalah bahwa bila proses pembelajaran dapat merangsang, menantang dan menyenangkan seperti yang dikemukakan oleh Whitehead sampai pada tingkat joy of discovery diharapkan proses pembelajaran itu akan bermakna sebagai proses pembudayaan dan proses penguasaan seni menggunakan ilmu pengetahuan. Dalam kaitan ini UNESCO melalui International Commision on Education for The Twenty First Century 3) yang antara

lain bertujuan untuk mengubah dunia from technologically divided world where high technology is privilege of the few to technologically united world mengusulkan empat pilar belajar yaitu learning to know, learing to do, learning to be, and learning to live together . Menerapkan empat pilar tersebut berarti bahwa proses pembelajaran memungkinkan peserta didik dapat menguasai cara memperoleh pengetahuan, berkesempatan menerapkan pengetahuan yang dipelajarinya, berkesemp atan untuk berinteraksi secara aktif dengan sesama peserta didik sehingga dapat

menemukan dirinya. Model pembelajaran seperti ini hanya dapat berlangsung dengan tenaga guru yang penuh konsentrasi, peralatan yang memadai, dengan materi yang terpilih dan waktu yang cukup tanpa harus mengejar target untuk ujian nasional. Ujian nasional akan mengurangi kreatifitas belajar sampai tingkatan joy of discovery . Untuk jelasnya keempat pilar belajar akan diuraikan secara lebih rinci. Learning to know , learning to do , learning to live together dan learning to be , empat pilar belajar yang oleh UNESCO dipandang sebagai pendekatan belajar yang perlu diterapkan untuk menyiapkan generasi muda memasuki abad ke-21 hakekatnya merupakan pendekatan belajar yang telah diperkenalkan oleh tokoh-tokoh pemikir pendidikan sejak permulaan abad ke20. Pendekatan ini demikian berkembang di Amerika Serikat dan Eropa Barat, terutama sejak ketertinggalan Amerika Serikat dalam teknologi ruang angkasa Uni Soviet pada tahun 1957. Pemikir pendidikan seperti Whitehead (1916) memandang pendidikan sebagai acquisition of the art of the utilization of knowledge 4). Karena itu dia sampai menyatakan bahwa orang yang paling banyak pengetahuannya adalah orang yang tidak berguna dibumi Tuhan yang dalam bahasa aslinya tertulis sebagai berikut : A merely well informed man is the most useless bore on God s earth 5) Selanjutnya dalam ceramahnya pada

himpunan Matematika pada tahun 1916 dia menekankan aga peserta didik r sejak dini harus sudah dapat menikmati proses penemuan. Kalimat lengkapnya tertulis sebagai berikut: Let the main ideas which are introduced into a child s education be few and important, and let them be thrown into every combination possible. The child should made them his own, and should understand their application here and now in the circumstance of his actual life. From the very beginning of his education, the child should experience the joy of discovery 6) .

Kritik yang dia tujukan ke praktek pendidikan di Inggris pada permulaan abad ke-20 ini menjadi landasan pembaharuan pendidikan di Amerika Serikat pasca Sputnik. Selanjutnya muncul pemikir-pemikir pendidikan di Amerika Serikat seperti Philip Phenix, Jerome Bruner, dan Israel Sheffler, Philip Phenix misalnya mengatakan: It is more important for the student to become skillful in the ways of knowing than to learn about any particular product of investigation. Knowledge of methods makes it possible for a person to continue learning and undertake inquiries on his own 7)

Gerakan pembaharuan pendidikan di Amerika Serikat yang juga mempengaruhi negara-negara Eropa Barat telah membuahkan kemajuan IPTEK yang berpengaruh kepada perkembangan negara-negara Barat. Memasuki akhir abad ke-20, dalam dunia yang makin menjadi mengglobal, perbedaan kemampuan antara negara maju dan negara berkembang makin melebar. Sadar akan hal ini UNESCO membentuk suatu komisi International yang tujuannya memberikan rekomendasi kepada UNESCO untuk menerapkan empat pilar belajar. Dua kutipan dari laporan Komisi Internasional berikut menunjukkan situasi paradoksal yang dihadapi negara berkembang. The need for change from narrow nationalism to universalism, from ethnic and cultural prejurdice to tolerance, understanding and pluralism, from autocracy to democracy in its various manifestations, and from technologically united world, places enormous responsibilities on teacher who participate in the moulding of the characters and minds of the new generation 8)

Demikian tingginya tuntutan terhadap peranan yang diharapkan dari pendidikan untuk membentuk karakter dan mental generasi muda untuk dapat melakukan transformasi budaya. kondisi pendidikan di negara berkembang pada umumnya (termasuk Indonesia) dilukiskan oleh seorang anggota Komisi tersebut In am Al Mufti dalam artikelnya Excellence in Education : investing in human talent dalam: in the past two decades in particular. dan mengingat kembali yang berdampak tidak adanya kesempatan menerapkan pendekatan moderen dalam proses pembelajaran. This drive by developing countries was in fulfilment of UNESCO s mission to achieve Education for All . But the expansion in education was concentrated on coping with growing demand for schooling. Mufti yakin bahwa tiadanya kesempatan bagi peserta didik untuk memperoleh pendidikan yang bermutu akan merugikan masyarakat karena sukar memperoleh sumber daya manusia yang bermutu untuk pembangunan masyarakat. proses pembelajaran tidak lebih dari mencatat. governments and international agencies in the developing world sought to respond to development challenges by focusing increasingly on expanding educational opportunities. while the quality of education itself was not given priority. Tetapi untuk melaksanakan peranan ini. Suatu tuntutan yang pada hakekatnya telah digariskan oleh para pendiri Republik Indonesia yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan kebudayaan nasional. menghafal. 9) Akibat dari perkembangan ini yang terjadi adalah sekolah yang berjubel. Dalam kalimat aslinya dia menyatakan: . dengan guru yang secara profesional kurang memenuhi syarat.

proses pembelajaran yang mengutamakan penguasaan ways of knowing atau mode of inquiry telah memungkinkan peserta didik untuk terus belajar dan mampu memperoleh pengetahuan baru dan tidak hanya memperoleh pengetahuan hasil penelitian orang lain.Notwithstanding the good intentions of traditional policies. yang mengutamakan proses pembelajaran yang memungkinkan peserta didik (pelajar/mahasiswa) terlibat dalam proses meneliti dan mengkaji. yaitu: Learning to know. Karena itu hakekat dari Learning to Know adalah proses pembelajaran yang memungkinkan pelajar/mahasiswa menguasai teknik memperoleh pengetahuan dan bukan semata-mata memperoleh pengetahuan. but the flexibility of mind capable of transcend- . UNESCO memperkenalkan empat pilar belajar. 10) Dengan latar belakang inilah. Dalam kalimat lengkapnya tertulis sebagai berikut: Epistemological relevance in short requires us to reject both myth and mystic union. It requires not contact but criticism. learning to do. to deprive outstanding students of appropriate educational opportunities is to deprive society of the best human resources that lead towards real and effective development. yaitu ketertinggalan negara berkembang dari negara maju dalam penguasaan IPTEK yang melatarbelakangi kemajuan ilmu dan stabilnya sistem politik demokrasi dan tiadanya dukungan bagi pemerataan pendidikan. learning to live together. Learning to Know Seperti telah dikemukakan oleh Philip Phenix. not immersion in the phenomenal and conceptual given. dan learning to be. Dalam bahasan Israel Scheffler pilar ini pada hakekatnya terkait dengan relevansi epistemology.

Habits of practical diagnosis. and alteration of their practical outlook. critique and execution upon responsible inquiry need the supplement theoretical attitude and 12) disciplinary proficiencies in the traing of the young. pandangan Scheffler tentang relevansi pendidikan sangat terkait dengan learning to know pada tingkat pendidikan tinggi. and expanding the given. An education that fosters criticism and conceptual flexibility transcends its environment and by erecting a mythical substitue for this world but rather striving for a systematic and penetrating 11) comprehension of it. Scheffler memandang pentingnya pilar learning to know untuk berangkat dari disiplin ilmu pengetahuan karena bagi mereka mode of inquiry dari disiplin ilmu adalah bentuk yang paling tertinggi dari berpikir. Dalam kaitan ini dia menyatakan: In the revolutionary perspective. independently pursued has the most powerful potential for the analysis and transformation of practice. criticism. The bearing of inquiry upon practice is moreover of the greatest educational interest. Sengaja penulis mengutip pandangan Scheffler demikian panjang karena dari sudut pandang pendidikan tinggi. the most highly form 13) of thought is the mos explicity problem directed. Such interest is not.ing. exhausted in a concern for inquiry within the structure of several disciplines. Students should be encouraged to employ the information and technique of disciplines in analysis. contrary to recent emphases. Seperti halnya Phenix. thought is an adaptive instrument for overcoming environmental difficulties. Selanjutnya dia menguraikan pengkajian dalam kalimat berikut: Theoretical inquiry. . reordering. Scientific inquiry.

designing. monitoring. Dalam masyarakat industri atau ekonomi industri tuntutan tidak lagi cukup dengan penguasaan ketrampilan motorik yang kaku melainkan diperlukan kemampuan untuk melaksanakan pekerjaan pekerjaan seperti controlling. yang dengan kemajuan teknologi pekerjaan yang sifatnya fisik telah diganti dengan mesin. to be favored 14) in all phases of education and culture. is urges the outensible problem-solving pattern of scientifie research as the chief paradigm of intellectual activity. sasarannya adalah pengembangan ilmu pengetahuan danteknologi sehingga tercapai keseimbangan dalam penguasaan IPTEK antara negara di dunia dan tidak lagi dibagi antara negara utara-selatan.Selanjutnya dia menyatakan: Interpreting science as the most refined and effective development to such adaptive thinking. Dari uraian di atas dan kutipan yang sengaja penulis sajikan dapatlah ditarik pemahaman bahwa penerapan pilar learning to know pada tingkat pendidikan tinggi adalah penerapan paradigma penelitian ilmiah dalam pelaksanaan perkuliahan. sasarannya adalah kemampuan kerja generasi muda untuk mendukung dan memasuki ekonomi industri. Learning to Do Bagaimana dengan pilar kedua learning to do . maintaining. Dengan model pendekatan ini dapatlah dihasilkan lulusan yang memiliki kemampuan intelektual dan akademik yang tinggi dan dengan sendirinya akan mampu mengembangkan ilmu pengetahuan. Suatu model yang penulis alami selama mengikuti kuliah di University of California . learning to do . Kalau pilar pertama. organizing. pilar kedua. learn ing to know . Untuk menyiapkan anggota masyarakat dalam dunia kerja yang .

Dalam kaitan ini. ada baiknya penulis kutipkan pandangan Scheffler tentang relevansi psikologis dalam kalimat berikut: Thought according to widely prevalent doctrine is problem oriented. Untuk itu penulis berpandangan dalam kaitan dengan pilar kedua yaitu learning to do perlu dikaitkan dengan pandangan Scheffler tentang relevansi psikologis. transforming its 15) into thought. belajar melakukan sesuatu dalam situasi yang konkrit yang tidak hanya terbatas kepada penguasaan ketrampilan yang mekanistis melainkan meliputi kemampuan berkomunikasi.dalam technology knowledge based economy . and difficulty. Ini be rarti pula bahwa untuk melahirkan generasi baru yang intelligent dalam bekerja. mengelola dan mengatasi konflik. Dalam kaitan ini dengan pemahaman tentang pilar kedua learning to do pada tingkat pendidikan tinggi ini mengandung makna atau berimplikasi tentang perlunya pendidikan profesional pada pendidikan tinggi secara konsekuentif. menjadi penting. The blocking of conduct either throught internal conflict on environment hindrance. It originates in doubt. turns its energy inward. bekerjasama dengan orang lain. untuk memecahkan masalah dan dapat . The functions is to overcome obstacles to the smooth flow of human activities. human energy is released into overt channel set by habit and custom. pengembangan kemampuan memecahkan masalah dan berinovasi sangatlah diperlukan. bermuara pada paradigma pemecahan masalah yang memungkinkan seorang mahasiswa berkesempatan mengintegrasikan pemahaman konsep. maupun doktrin Whitehead tentang hakekat pendidikan sebagai upaya penguasaan seni menggunakan pengetahuan. When action is coherent and well adapted to its circumstances. conflict. penguasaan ketrampilan teknis dan intelektual.

dan antar negara. Padahal sejak berakhirnya Perang Dunia ke II berbagai deklarasi untuk menjadi dasar penyelesaian konflik seperti Deklarasi HAM. piagam PBB. Diakui oleh Komisi Internasional untuk pendidikan abad ke-21 tentang sulitnya menciptakan kerukunan. the general climate of competition that is at present characteristic of economi activity. berkeadilan sosial. Dalam pengamatan komisi tersebut sebabnya diuraikan dalam kalimat berikut : It is difficult task. baik antar ras.berlanjut kepada inovasi dan improvisasi. dan kita bangsa Indonesia memiliki landasan pandangan hidup Pancasila yang hakekatnya adalah untuk membangun negara kebangsaan yang demokratis. Yang terjadi akhir-akhir ini bahkan sebaliknya yaitu terjadinya konflik antar manusia yang didasarkan atas prasangka. Tetapi kenyataan menunjukkan terjadinya berbagai konflik sosial baik horizontal maupun vertical. ber-Ketuhanan yang Maha Esa. antar suku. toleransi dan saling pengertian dan bebas dari prasangka. antar agama dan antar si kaya dan si miskin. keadilan sosial dan perdamaianabadi . Learning to Live Together Kemajuan dunia dalam bidang IPTEK dan ekonomi yang mengubah dunia menjadi desa global ternyata tidak menghapus konflik antara manusia yang selalu mewarnai sejarah umat manusia. tends to give . since people very naturally tend overvalue their own qualities and those of their group and to harbour prejudies against others. dan menggalang persatuan dan persaudaraan bukan hanya antar warga bangsa melainkan dengan seluruh umat manusia seperti dinyatakan dalam kalimat ketertiban dunia yang didasarkan kemerdekaan. Furthermore. within and above al! between nations.

dan tanpa prasangka. melainkan kemampuan untuk hidup bersama dengan orang lain yang berbeda dengan penuh toleransi. Dalam kaitan ini adalah tugas pendidikan untuk pada saat yang bersamaan setiap peserta didik memperoleh pengetahuan dan memiliki kesadaran bahwa hakekat manusia adalah beragam tetapi dalam keragaman tersebut terdapat persamaan. Ini diperlukan proses pembelajaran yang menuntut kerjasama untuk mencapai tujuan bersama. Such competition now amounts to ruthless economic warfare and to a tension between rich and poor that is dividing nations and the world. dan tenggang rasa. pengertian. Dalam hubungan ini. Model sekolah berasrama dan kampus yang merupakan kawasan tersendiri merupakan pendekatan yang ditempuh Inggris dan Amerika Serikat dalam membangun bangsa yang bersatu. Suatu prinsip yang memerlukan suasana. kerjasama. prinsip relevansi sosial dan moral yang disarankan Israel Scheffler sangat memadai.16) Latar belakang kenyataan dalam masyarakat yang digambarkan oleh komisi diatas menuntut pendidikan tidak hanya membekali generasi muda untuk menguasai IPTEK dan kemampuan bekerja serta memecahkan masalah.priority to the competitive spirit and individual success. belajar yang secara inherently mengandung nilai-nilai toleransi saling ketergantungan. and exacerbating historic rivalries . Pendidikan untuk mencapai tingkat kesadaran akan persamaan antar sesama manusia dan terdapat saling ketergantungan satu sama lain tidak dapat ditempuh dengan pendidikan dengan pendekatan tradisional melainkan perlu menciptakan situasi kebersamaan dalam waktu yang relative lama. Kegiatan berlangsung mingguan dengan sasaran bersama camping yang yang harus dicapai oleh seluruh peserta merupakan salah satu model yang perlu ditempuh. Kiranya bangsa Indonesia perlu belajar Learning to Be .

dan mampu bekerjasama. atau dalam kamus psikologi disebut memiliki Emotional Intelligance . dan kemampuan. yaitu muara akhir dari tiga pilar belajar. 1989 adalah manusia yang berkepribadian yang mantap dan mandiri. kepribadian. yang dapat mengendalikan dirinya. dan learning to live together ditujukan bagi lahirnya generasi muda yang mampu mencari informasi dan/ atau menemukan ilmu pengetahuan. learning to do. yang konsisten dan yang memiliki rasa empati(tepo sliro). dan tingkatanjoy of getting together to achieve common goal. dalam bahasa UU No. Bila ketiganya berhasil dengan memuaskan akan menimbulkan adanya rasa percaya diri pada masing-masing peserta didik. Inilah kurang lebih makna learning to be .Tiga pilar yaitu learning to know. 2 Th. Pendidikan yang berlangsung selama ini pada umumnya tidak mampu membantu peserta didik (pelajar/ mahasiswa) mencapai tingkatan kepribadian yang mantap dan mandiri atau manusia yang utuh karena proses pembelajaran pada berbagai pilar tidak pernah sampai kepada tingkatan joy of discovery pada pilar learning to know . Namun yang sering disoroti . pada learning to do . tingkatanjoy of being succesful in achieving objective. bertenggang rasa. Hasil akhirnya adalah manusia yang mampu mengenal dirinya. Evaluasi sebagai Media Pendidikan dan Sarana Umpan Balik Hampir tidak ada orang yang menolak bahwa diselenggarakannya suatu sistem pendidikan adalah dapat dihasilkannya manusia terdidik yang dewasa secara intelektual. moral. yang mampu melaksanakan tugas dalam memecahkan masalah. Manusia yang utuh yang memiliki kemantapan emosional dan intelektual. yang mengenal dirinya. dan toleran terhadap perbedaan.

belajar berdemokrasi dan berbagai proses belajar yang bermakna transformasi budaya. dan menilai proses pembelajaran yang berlangsung dari hari ke hari. Tidak lain karena menurut hasil penelitian Benyamin Bloom tingkah laku belajar peserta didik akan dipengaruhi oleh perkiraan peserta didik tentang apa yang akan diujikan. Akibatnya peserta didik akan mengabaikan berbagai kegiatan be lajar yang tidak akan diujikan. terus menerus dan obyektif. mengelola. Evaluasi yang demikian hanya dapat dilakukan oleh seorang guru yang profesional yang mampu merencanakan. Adalah keyakinan profesional dan akademik bahwa sistem evaluasi yang diterapkan akan menentukan keberhasilan kita mencapai tujuan pendidikan nasional. Evaluasi pendidikan yang berupa evaluasi hasil belajar yang dilakukan pada akhir jenjang satuan pendidikan seperti UAN (Ujian Akhir Nasional) tidak dapat diharapkan dapat berdampak terhadap efektifitas tercapainya tujuan pendidikan nasional. belajar menulis makalah. Evaluasi semacam ini hakekatnya merupakan bagian dari kurikulum itu sendiri. memotivasi. belajar mengapresiasi karya sastra. yang berfungsi sebagai bagian dari strategi penguatan reinforcement strategy atau dalam bahasa teknis kurikulum disebut sebagai salah satu wujud . kematangan moral dan karakter. dengan sendirinya peserta didik hanya akan belajar menguasai materi yang akan diujikan. Dengan demikian kalau yang akan diujikan adalah penguasaan pengetahuan yang telah dihafal. Agar peserta didik sejak memasuki suatu jenjang pendidikan secara terus menerus dan intensif melakukan proses pembelajaran yang bermakna bagi tercapainya berbagai tujuan pendidikan. kematangan pribadi. seperti belajar meneliti.orang seperti yang akhir-akhir ini berlangsung adalah dimensi penguasaan pengetahuan peserta didik yang belum tentu berdampak kepada pengembangan kemampuan intelektual. perlu dikembangkan dan dilaksanakan evaluasi secara komprehensif.

Model terakhir ini dari sudut pandang teori belajar sosial. belajar secara terus menerus. tanpa dipengaruhi hasil dan kegiatan belajar harian dimasukkan ke dalam rapot atau Ujian Akhir Nasional (UAN) yang dilakukan pada akhir jenjang pendidikan dan hasilnya menentukan kelulusan seseorang. Kedua model evaluasi yang diuraikan dalam makalah ini adalah yang secara langsung terkait dengan . Untuk kepentingan pengelolaan pendidikan secara nasional disadari perlunya secara periodic diadakan evaluasi hasil belajar tingkat nasional atau lebih tepat disebut Nasional Assesment . dan sikap (Inkoles). dampak negatifnya lebih banyak daripada dampak positifnya. disiplin.dari hidden curriculum . dan yang sukar untuk dikembangkan melalui model evaluasi hasil belajar yang tradisional yang dilakukan pada akhir satuan jenjang atau kelas seperti ulangan umum pada akhir semester dan hasilnya. pembaharuan. dan berbagai kegiatan untuk meratakan mutu pendi ikan d nasional sesuai dengan standar yang ditetapkan. Fungsinya sebagai bagian dari manajemen pendidikan secara nasional adalah untuk memperoleh gambaran tentang peta mutu pendidikan nasional sebagai alat umpan balik guna mendiagnosis faktorfaktor penyebab dari keberhasilan dan ketidakberhasilan suatu sekolah atau daerah dalam membantu peserta didik dalam mencapai tingkatan hasil belajar yang diharapkan. Model evaluasi yang merupakan bagian dari strategi pembelajaran ini dari sudut pandang teori belajar sosial (social learning theory) akan dapat menumbuhkan sikap dan kemampuan yang diharapkan. nilai. Kegiatan semacam ini sangat penting dan bermakna bila dimanfaatkan untuk melakukan tindak lanjut berupa upaya perbaikan. Masalah evaluasi semacam inilah yang perlu dilaksanakan dalam suatu pendidikan yang mendudukkan classroom as social system (Parson). dan sekolah sebagai pusat sosialisasi/pembudayaan berbagai kemampuan. seperti etos kerja yang tinggi.

Untuk itu James B. Untuk guru yang berderajat profesional disamping kemampuan-kemampuan tersebut.kurikulum dan proses pembelajaran. kemampuan mengelola. penguasaannya atas ilmu pengetahuan sebagai bahan ajar. hanya akan secara efisien dan efektif mendukung terlaksananya fungsi pendidikan sebagai proses pembudayaan dan tercapainya tujuan pendidikan. kemampuan mengendalikan. dan evaluasi masukan yang secara menyeluruh perlu dilakukan dalam proses pengambilan keputusan pendidikan. diperlukan tambahan kemampuan memberikan bimbingan dan kepemimpinan yang didasarkan atas pemahamannya atas peserta didik. metodik. Peranan Guru dan Implikasinya terhadap Profesionalisasi Jabatan Guru Kurikulum yang dirancang dan dilaksanakan sesuai dengan kaidah kependidikan yang secara akademik dan profesional dapat dipertanggungjawabkan dengan didukung oleh penerapan model evaluasi yang relevan dengan tujuan pendidikan. kemampuan memonitor. dan paedagogik). Disamping itu kita mengenal dua lainnya. Tidak lain karena jabatan profesional adalah jabatan yang memerlukan kemampuan merencanakan. kemampuan menilai. dan kemampuan mendiagnosis. jenis evaluasi konteks. Dengan demikian jelas betapa tingginya tuntutan profesionalitas seorang guru profesional. dan teknologi pendidikan (didaktik. Jabatan profesional sebagai yang secara univer sal diakui adalah jabatan yang memerlukan pendidikan lanjutan dan pelatihan khusus (advanced education and special training). bila dilaksanakan oleh guru yang memiliki kemampuan profesional. Conant sebagai bagian dari reformasi pendidikan di Amerika Serikat akibat dari ketertinggalan Amerika Serikat dalam .

The Aims of Education and Other Essays (1957) New York.teknologi ruang angkasa mensyaratkan calon guru haruslah mereka (lulusan SMA) yang berada pada peringkat 20% keatas... (4) standar pendidikan profesional tenaga kependidikan. (1996). (1964) New York. Untuk memenuhi tuntutan profesional ini dalam mencoba untuk membahas masalah Guru dan pendidikannya. Paris. Graw Hill Book Co. Demikianlah beberapa pemikiran untuk dibahas sebagai upaya menyusun rekomendasi bagi peningkatan mutu pendidikan nasional. Mc.. hal. 14 . (5) sertifikasi profesional tenaga kependidikan. Realms of Meaning a Philosophy of The Curriculum For General Education. UNESCO 4) Whitehead. Al. hal 10 2) 3) Ibid. the New American Library. ISPI perlu membahas dan menentukan hal hal berikut : (1) standar profesionalitas tenaga pendidik dan tenaga kependidikan lainnya: (2) hierarki profesional kependidikan. 13 Ibid. Report to UNESCO of The International Commision on The Twenty First Century. Daftar Pustaka Catatan kaki 1) Philip Phenix. (3) persyaratan pendidikan pra-jabatan profesional tenaga pendidik berderajat profesional. hal 16 5) 6) Ibid.N. hal 6 7 Jacques Delors et. A. Learning: The Treasure Within. hal.

7) Philip H. Mc. Al. Makalah Prakongres Kebudayaan di Bali. hal. Edit. 117 13) Ibid.. hal.. Martin Levit. Graw Hill Book *) Baca Tulisan Soedijarto. 193 10) Jacques Delors. Phenix. New York. hal. 28 April 2003 9) Jacques Delors. Pendidikan Nasional Untuk Mencerdaskan Kehidupan Bangsa Dan Memajukan Kebudayaan Nasional Melalui Sekolah Sebagai Pusat Pembudayaan. Hal. et. (1964). et. Al. Ibid. University of Illinois Press. Realms of Meaning : A Philosophy of The Curriculum for General education. 193 11) Israel Scheffler. 113 114 14) Ibid. dalam buku Curriculum : Readings in the Philosophy of Education (1971). Urbana.. Reflection on Educational Relevance . Hal. Ibid Hal. 113 114 JURNAL KE II Model-Model-model model ModelModel--model model Evaluasi Pendidikan Evaluasi Pendidikan Evaluasi PendidikanEvaluasi Pendidikan .. 112 12) Ibid..

. reliability. and com-prehensive so the resulted information can became source to make right and wise decision. illuminative model. measurement model. Briggs dan Wager. or even developing our specific model. Hisyam Zaini dkk. good evaluation have to comply with several principle. Keywords: evaluation. Sekarang sedang mengikuti Program Doktor By Research di UIN Yogyakarta.. objectivity. As one basic rule. Briggs and Wager. Gerlach and Ely. Winkel.Rohmad Qomari *) *) Penulis menyelesaikan S-1 di IAIN Sunan Kalijaga Fakultas Tarbiyah dan S-2 Universitas Negeri Yogyakarta. 1 . and Kemp. Sejak Oktober 2003 menduduki jabatan Lektor Kepala di STAIN Purwokerto. continuity. Hisyam Zaini et al. namely validity. By studying many models and broaden view not only to one model approach. Pendahuluan Dalam khazanah pembelajaran terdapat bermacam-macam model desain pembelajaran. learning. Abstract: On learning literature. Those models design have component and pattern that different each other. Winkel. misalnya model yang dikembangkan oleh Winarno Surakhmad. from model that have dominant quantitative measure like measurement model and model that using qualitative approach as illuminative model. for example model developed by Winarno Surakhmad. there many kind of learning model design. and even combine (merger) between two or more models.

strategi adalah langkah-langkah yang ditempuh siswa dan/atau guru dalam mempelajari (guru=mengajarkan) materi pelajaran untuk mencapai tujuan. dan evaluasi adalah proses untuk mengetahui pencapaian hasil dan efektivitas pembelajaran.Gerlach dan Ely. materi adalah bahan yang dipelajari siswa atau diajarkan guru kepada siswa. dan evaluasi. Hasil 4 mengajar guru terkait dengan dalam hal sejauh mana guru sebagai manajer belajar siswa merencanakan. dan mengevaluasi. Pengetahuan tentang hasil belajar siswa terkait dengan sejauh mana siswa telah mencapai tujuan pembelajaran atau kompetensi-kompetensi yang telah ditetapkan. Meskipun demikian. Dari model-model desain tersebut komponen dan pola antara yang satu dengan lainnya terdapat perbedaan. evaluasi merupakan salah satu komponen pokok yang selalu ada dalam pembelajaran. Tujuan adalah sesuatu yang ingin dicapai. evaluasi memiliki dua fungsi utama yaitu untuk mengetahui pencapaian hasil belajar 3 siswa dan hasil mengajar guru. media. Dengan kata lain. dari berbagai desain pembelajaran tersebut 2 terdapat komponen-komponen yang termasuk komponen pokok. Secara umum. materi. . media adalah sarana untuk memudahkan pencapaian tujuan. memimpin. mengelola. yaitu tujuan. sebuah pembelajaran tidak dapat dipisahkan dengan kegiatan evaluasi. strategi. dan Kemp. Dengan demikian.

dan tes hanyalah salah satu dari teknik evaluasi (di samping teknik nontes/alternative test). sebagian besar dalam bentuk tes. cakupan tujuan pendidikan. baik pada tingkat nasional. dan . Padahal. hingga ujian akhir sekolah dan ujian nasional. sumatif. Hal ini dibuktikan dengan kegiatan evaluasi yang menonjol di lembaga. Tes akan tepat dipakai untuk mengukur pencapaian domain kognitif. dan satuan pendidikan. 6 dan komprehensivitas sebuah evaluasi. keseimbangan.Realitas menunjukkan bahwa masih banyak yang mereduksi evaluasi sebagai kegiatan tes. bahkan hingga tujuan mata pelajaran (standar kompetensi mata pelajaran) memuat domain kognitif. tingkat jenjang pendidikan. Padahal. dan psikomotor). tetapi tidak tepat untuk mengukur pencapaian ranah afektif. Kegia ebut adalah pelaksanaan tes yang dilaksanakan setelah penyelesaikan pokok bahasan tertentu (kompetensi dasar tertentu) sebagai tes formatif dan tes akhir semester yang dikenal dengan tes sumatif serta tes yang diselenggarakan di akhir jenjang pendidikan tertentu dalam bentuk ujian akhir sekolah dan 5 ujian nasional. tes tertulis hanyalah salah satu bentuk tes (di samping tes lisan dan tindakan). afektif. Dari tes formatif. tentunya tidak dapat memberikan informasi yang valid. objektivitas. Tes tersebut sebagian besar dalam bentuk tes tertulis. reliabel. afektif. satuan pendidikan. Menggunakan teknik tes tertulis untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik yang mencakup berbagai domain/anah ( kognitif. serta tidak selaras dengan prinsip kontinuitas.

yang menjadi referensi utama tulisan ini. Michael (1984) . yakni tulisan dari Hasan. dan Ibrahim (2001). untuk mengetahui pencapaian hasil belajar siswa dan efektivitas proses pembelajaran dapat dilakukan dengan memilih salah satu model evaluasi atau menggabungkan dua model evaluasi atau lebih. terkadang ditentukan oleh hasil tes tertulis yang dilaksanakan beberapa jam pada mata pelajaran tertentu.8 Issac. khususnya tenaga pengajar. 11 12 Nana. Worthen. dan Irvin J. William M. Said Hamid (1988). Model-model Evaluasi Dalam beberapa literatur evaluasi terdapat berbagai model evaluasi. dan William B.. Tayibnapis. Lehman (1973).psikomotor sehingga ironis jika proses pembelajaran yang panjang (3 sampai dengan 6 tahun).7 Dalam tulisan ini akan mendeskripsikan secara ringkas perkembangan studi tentang evaluasi yang telah melahirkan berbagai model evaluasi. Sudjana. 13 . Oleh karena itu.. Dengan mengetahui ragam model evaluasi diharapkan akan menambah khazanah informasi kepada para pelaku pendidikan. 9 10 Stephen. Mehren. dan James R. Blaine R. Farida Yusuf (2000). Di antara literatur yang penulis temukan.

yang selengkapnya dapat dilihat pada daftar pustaka. Ebel. it exists in quantity. minat. berkeyakinan: if anything exists. kemampuan pembawaan (intelegensi dan bakat). Thorndike. Alat penilaian yang lazim digunakan dalam model ini adalah tes tertulis ataupaper and pencil test. Dengan acuan referensi di atas. sikap. yang mencakup kemampuan hasil belajar. dan juga aspek-aspek kepribadian siswa. and if it exists in 15 quantity it can be measured. model sistem (system model). dan model illuminatif (illuminative model). R. Ruang lingkup evaluasi menurut model ini adalah tingkah laku. L. yang hasilnya diperlukan dalam rangka seleksi. 14 Measurement Model Measurement Model merupakan model yang tertua dibanding model-model evaluasi yang lain. misalnya. terutama tingkah laku siswa. Thorndike dan R. Untuk mendapatkan hasil pengukuran kecenderungan untuk yang setepat mungkin ada . model kesesuaian (congruence model). tokoh-tokoh pengembang model ini antara lain R.Sanders (1987). dan perencanaan pendidikan bagi para siswa di sekolah. penulis mengklasifikasi model evaluasi menjadi model pengukuran (measurement model). Menurut model ini. penilaian pendidikan adalah pengukuran terhadap berbagai aspek tingkah laku dengan tujuan untuk melihat perbedaan -perbedaan individu atau kelompok. Dengan kata lain. objek penilaian mencakup aspek kognitif maupun afektif dari tingkah laku siswa. bimbingan.

yang menggunakan cara pengajaran yang berbeda sebagai bebas. nilai yang dicapai siswa lebih menggambarkan kedudukan siswa tersebut di dalam kelompoknya disebut (relative norm) Penilaian Acuan Norma (PAN). Diperlukan uji coba berkali kali terhadap instrument yang dikembangkan. Oleh karena itu. Pendekatan lainnya dalam model ini adalah membandingkan hasil belajar antara dua atau lebih kelompok. nilai untuk masing-masing siswa ditentukan. Tes yang belum dibakukan dipandang kurang dapat mencapai tujuan dari pengukuran.mengembangkan alat-alat penilaian (tes) yang baku atau standardized. dilakukan analisis untuk mengetahui 16 reliabilitas tes secara keseluruhan maupun setiap soal (analisis butir tes) yang terdapat di dalamnya. Keterbatasan Measurement Model Keterbatasan dari model ini terletak pada penekanannya yang berlebihan pada aspekpengukuran . Untuk mengungkapkan hasil yang telah dicapai kelompok maupun masing-masing individu di dalam penilaian mengenai suatu bidang pelajaran tertentu. Analisis variabel perbedaan nilai dilakukan dengan menggunakan cara-cara statistik tertentu untuk dapat menyimpulkan cara pengajaran mana yang lebih efektif di antara cara-cara yang dinilai. kemudian berdasarkan validitas dan data yang diperoleh. Atas dasar norma kelompok inilah. Setelah suatu tes diujicobakan kepada sampel yang cukup besar. dikembangkan suatu norma kelompok berdasarkan angka-angka nyata yang diperoleh siswa di dalam tes yang telah dilaksanakan.

Dalam pengembangan alat penilaian. yang mempunyai daya pembeda tinggi. model ini banyak dipengaruhi oleh prosedur yang ditempuh dalam pengembangan tes psikologis. Dalam pengolahan hasil tes. Dalam proses pengembangan pendidikan. s tidak terbatas hanya pada potensi kognitif saja. 1. Adanya beberapa pengembangan ketidakserasian dengan peranan penilaian dalam proses kurikulum/sistem pendidikan berikut ini. Hal itu dalam rangka/pengembangan pendidikan karena dalam penilaian pendidikan yang penting adalah butir soal tes yang dibuat betulbetul konsisten dengan tujuan pendidikan yang ingin dinilai pencapaiannya. Yang lebih berarti dalam proses pengembangan pendidikan adalah nilai nilai - . antara lain tes intelegensi dan tes bakat. model ini dipengaruhi oleh prosedur pengolahan hasil tes psikologis. Untuk mengembangkan tes tersebut berlaku ketentuan bahwa soal tes yang memiliki daya pembeda rendah perlu direvisi atau diganti dengan tes lain.dalam kegiatan penilaian pendidikan. Yang menjadi persoalan adalah hasil belajar yang bersifat kognitif tersebut bukan merupakan satu-satunya indikator bagi keberhasilan kurikulum. Konsekuensinya. dalam hal ini adalah hasil belajar yang bersifat kognitif. Prosedur semacam ini kurang cocok untuk diterapkan dalam penilaian hasil belajar. penilaian cenderung dibatasi pada dimensi tertentu dari sistem pendidikan yang dapat diukur .17 2. dan nilai yang dicapai oleh masing-masing siswa lebih mencerminkan kedudukannya dalam kelompok. Kurikulum sebagai suatu alat untuk mencapai tujuan pendidikan diharapkan dapat mengembangkan berbagai potensi yang ada pada diri si wa. nilai semacam ini kurang mempunyai arti karena sifatnya relatif.

Keunggulan Measurement Model Keunggulan dari model ini adalah sumbangannya yang sangat berarti dalam hal penekannya terhadap pentingnya objektivitas proses penilaian. dan karenanya memerlukan perbaikan. Aspek objektivitas yang ditekankan oleh model ini perlu dijadikan landasan yang terus-menerus sistem penilaian dalam rangka mengembangkan pendidikan. Congruence Model . 3. Informasi yang disajikan menurut model ini lebih berbentuk nilai keseluruhan (total score) yang dicapai setiap siswa. yang dilengkapi dengan data mengenai nilai rata-rata dan standar deviasi yang dicapai kelompok. bukan nilai relatif yang mencerminkan posisi siswa dalam kelompoknya. Di samping itu. Yang lebih diperlukan dalam proses pengembangan pendidikan adalah bentuk penyajian hasil tes yang dapat memberikan petunjuk tentang bagian-bagian mana dari sistem pendidikan yang masih lemah. secara individual maupun kelompok. evaluasi dalam model ini memungkinkan untuk melakukan analisis intrumen dan hasil evaluasi secara statistik. Informasi semacam ini kurang relevan dengan kebutuhan yang dirasakan dalam proses pengembangan pendidikan karena nilai keseluruhan lebih banyak menyembunyikan daripada mengungkapkan informasi yang diperlukan untuk kepentingan penyempurnaan sistem.yang menunjukkan sejauh mana tujuan-tujuan pendidikan telah dicapai oleh siswa.

Penilaian merupakan kegiatan untuk mengetahui sejauh mana tujuan-tujuan pendidikan dapat dicapai oleh siswa dalam bentuk hasil belajar yang mereka perlihatkan pada akhir kegiatan pendidikan. Ruang lingkup evaluasi menurut model ini adalah memeriksa persesuaian (congruence) antara tujuan dan hasil belajar. sekalipun dalam beberapa hal masih menunjukkan adanya persamaan dengan model yang pertama. Tyler. Carrol. maka penilaian dimaksudkan untuk memeriksa sejauh mana perubahan-perubahan yang diinginkan tersebut telah dicapai. Penilaian adalah usaha untuk memeriksa persesuaian (congruence) antara tujuan -tujuan pendidikan yang diinginkan. maka yang penting dalam proses penilaian adalah memeriksa sejauh mana perubahan-perubahan tingkah laku yang diinginkan tersebut telah dicapai peserta didik. yang dinilai adalah perubahan tingkah laku yang diinginkan (intended behavior) yang . proses pendidikan berisi tiga komponen yang saling terkait. dan Lee J. Secara lebih khusus. maka yang dijadikan objek penilaian adalah tingkah laku siswa. John B. Oleh karena tujuan pendidikan menyangkut tentang perubahan perilaku yang diinginkan pada peserta didik. dan hasil belajar yang telah dicapai. Tokoh model ini Raph W. Hal itu mengingat tujuan-tujuan pendidikan mencerminkan perubahan-perubahan tingkah laku yang diinginkan pada peserta didik. Cronbach Menurut Tyler.Model ini dapat dipandang sebagai reaksi terhadap model yang pertama. dan penilaian hasil belajar. yaitu tujuan pendidikan. Tindak lanjut dari penilaian ini adalah sebagai bahan bimbingan lebih lanjut kepada peserta didik serta memberikan informasi kepada pihak luar yang terkait dengan hasil belajar peserta didik. pengalaman belajar.

melainkan dalam bentuk hasil bagian demi bagian dari tes yang bersangkutan. Berhubung setiap sistem pendidikan memiliki berbagai tujuan yang ingin dicapainya. pengetahuan. Menyusun alat penilaian. 4. Tyler dan Cronbach lebih mengarahkan peranan penilaian pada tujuan untuk memperbaiki kurikulum atau sistem pendidikan. Menggunakan hasil penilaian. Model ini tidak menyarankan dilaksanakannya penilaian perbandingan untuk melihat sejauh mana kurikulum yang baru lebih efektif dari kurikulum yang ada. dan nilai/sikap) berbagai kemungkinan alat penilaian perlu digunakan. Kontribusi Congruence Model . Congruence model tidak membatasi alat penilaian pada tes tertulis ataupaper and pencil test saja.18 Ringkasnya. misalnya. Langkah-langkah penilaiannya adalah sebagai berikut. keterampilan.diperlihatkan oleh siswa pada akhir kegiatan pendidikan. dalam menilai hasil belajar yang mencakup berbagai jenis (pengetahuan. Ruang lingkup perilaku meliputi. dan nilai/sikap. menyebutkan perlunya digunakan alat-alat penilaian lain seperti tes perbuatan dan observasi. Merumuskan atau mempertegas tujuan. Dengan demikian. 2. Menetapkan test situation yang diperlukan. keterampilan. 1. maka diperlukan prosedurpre and post test. akan lebih tepat bila hasil penilaian tidak dinyatakan dalam bentuk hasil keseluruhan tes. 3. Penilaian dipergunakan sebagai alat ukur pencapaian hasil belajar setelah menempuh proses pendidikan. terlihat jelas bagian-bagian dari sistem pendidikan yang masih perlu disempurnakan berhubung belum berhasil mencapai tujuannya. Carrol.

1. Kegiatan penilaian tidak hanya berakhir pada suatu deskripsi tentang keadaan dari sistem yang . tetapi kurang membantu di dalam mencari jawaban tentang segi-segi yang masih lemah dan kemungkinan mengatasi kelemahan-kelemahan tersebut. Perbandingan antaraperformance dan criteria merupakan salah satu inti yang penting. 2. Keterbatasan Tidak menjadikan input dan proses pelaksanaan sebagai objek penilaian secara langsung. 3. Menekankan pentingnya sistem sebagai suatu keseluruhan yang dijadikan objek penilaian.Sumbangan yang cukup berarti daricongruence model adalah sebagai berikut. Dikatakan Gene V. Stufflebeam salah satu kelemahan dari penilaian yang ada sekarang adalah kurang jelasnya kriteria yang digunakan sebagai dasar dalam penilaian tersebut. mengapa tujuan -tujuan tertentu belum dapat dicapai belum dapat dijawab.19 Sistem Model Hakikat evaluasi menurut sistem model adalah untuk membandingkanperformance dari berbagai dimensi sistem yang sedang dikembangkan dengan sejumlah kriteria tertentu. Menurut Daniel L. Menghubungkan hasil belajar dengan tujuan pendidikan sebagai kriteria perbandingan. Class bahwa the complete and detailed description of what constitutes the educational program is a concern of the 20 educational sistem evaluation model. tanpa membatasi pada aspek hasil yang dicapai saja. Pendekatan ini membantu pengembang kurikulum dalam menentukan bagian-bagian dari sistem yang masih lemah. ih relevan dengan kebutuhan pengembangan sistem. 1. Prinsip-prinsip model ini adalah sebagai berikut. Dengan model pre da post test informasi yang dihasilkan hanya dapat menjawab pertanyaan tentang tujuantujuan mana yang telah dan belum dicapai. Pertanyaannya. akhirnya sampai pada suatu deskripsi danjudgment mengenai sistem yang dinilai tersebut.

2. dalam rangka penyempurnaan sistem maupun penyimpulan mengenai kebaikan sistem yang bersangkutan secara menyeluruh. yaitu context. dan hasil yang dicapai. dan 23 terminal product. 2. transactions. Ruang lingkup evaluasi menurut model ini berdasarkan pendapat tokohnya adalah sebagai berikut. proses. proses. tetapi jugajudgment sebagai kesimpulan dari penilaian. Scriven mencakup: sarana/bahan. 1. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa hakikat evaluasi menurut sistem model adalah sebagai berikut. dan product (CIPP). worth) dari sistem pendidikan yang bersangkutan dibandingkan dengan sistem yang lain. Keunggulan Sistem Model . melainkan harus sampai pada suatu judgment mengenai baik-buruknya dan efektif tidaknya sistem pendidikan tersebut. Objek sekurang-kurangnya terdiri dari peralatan/sarana. Stufflebeam menggolongkan sistem pendidikan atas empat dimensi. Informasi yang diperoleh dari hasil penilaian berfungsi sebagai bahan atau input bagi pengambilan keputusan mengenai sistem yang bersangkutan dalam rangka: a. dan hasil yang dicapai. Hasil penilaian digunakan sebagai bahan atau input bagi pengampilan keputusan. 4. Provus mencakup empat dimensi.telah dinilainya. 1. operation program. Perbandingan antaraperformance dan criteria. dan b. penyempurnaan sistem selama sistem tersebut masih dalam tahap pengembangan. 4. 4. Mencakup data objektif maupun data subjektif. 1. dan outcomes. Tidak hanya berakhir dengan deskripsi. penyimpulan mengenai kebaikan (merit.22 3. interim products. Stake membagi objek penilaian atas tiga kategori:antecendent. input. yaitu design.21 2. 3. process. Penilaian ditujukan kepada berbagai dimensi sistem. Dari kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa ruang lingkup evaluasi dalam model ini adalah sebagai berikut.

proses implementasi (pelaksanaan) sistem. Hasil evaluasi ditekankan pada deskripsi dan interpretasi. keunggulan. dampak yang ditimbulkan dari suatu sistem seperti.25 Salah satu tokoh yang paling menonjol dalam pengembangan model ini adalah Malcolm Parlett. tempat sistem tersebut dikembangkan. oleh pengembangnya didasarkan atas alasan bahwa penggunaan berbagai cara evaluasi di dalam model ini bila dikombinasikan akan help illuminative problems.Model ini mengemukan perlunya penilaian dilakukan terhadap berbagai dimensi sistem. issues. serta kesukaran-kesukaran yang dialami dari tahap perencanaan hingga implementasinya di lapangan. hasil belajar yang diperlihatkan oleh siswa. Di samping itu. and significant program features. Dalam pelaksanaan evaluasi. Objek evaluasi yang diajukan dalam model ini mencakup. tidak hanya hasil yang dicapai saja. selaras dengan semboyannyathe judgment is the evaluation . bukan pengukuran dan prediksi sebagaimana model sebelumnya.26 Tujuan penilaian menurut model ini adalah mengadakan studi yang cermat terhadap sistem yang bersangkutan. Hal ini agar penyempurnaan sistem dapat dilakukan pada setiap tahap sehingga kelemahan yang masih terlihat pada suatu tahap tertentu tidak dibawa ke tahap berikutnya. Model ini dikembangkan terutama di Inggris dan banyak dikaitkan dengan pendekatan di bidang antropologi. melainkan juga input dan proses yang dilakukan tahap demi tahap. . model ini lebih 27 menekankan penggunaanjudgment . latar belakang dan perkembangan yang dialami oleh sistem yang bersangkutan. serta pengaruhnya terhadap proses belajar siswa. kelemahan. 24 Illuminative Model Nama Illuminatif. Studi difokuskan pada permasalahan bagaimana implementasi suatu sistem dipengaruhi oleh situasi sekolah.

Pada tahap ini. faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya persoalan dicoba untuk ditelusuri.31 Keunggulan Illuminative Model . Tahap kedua Inquiry further. Tahap pertama observe. Data semula terpisah satu dengan lainnya mulai disusun dan dihubungkan dalam kesatuan situasi.kebosanan yang terlihat pada siswa dan guru. hambatan terhadap kembangan sikap sosial. 2. Pada tahap ini. 3. faktor lainnya adalah pandangannya yang holistik dalam evaluasi. ketergantungan secara intelektual. serta reaksi dari guru maupun siswa terhadap pelaksanaan sistem tersebut. Dari langkah-langkah tersebut. Evaluator mendengarkan dan melihat berbagai peristiwa. faktor penting dalam evaluasi model ini adalah perlunya kontak langsung antara evaluator dengan pihak yang dievaluasi. Pada tahap ini. Pada tahap ini. berbagai persoalan yang terlihat atau terdengar dalam tahap pertama diseleksi untuk mendapatkan perhatian dan penelitian lebih lanjut. objek evaluasi dalam model ini meliputi 28 kurikulum yang terlihat maupun tersembunyi (hidden curriculum). evaluator mulai meneliti sebab akibat dari masingmasing persoalan. 1. Di samping itu. Hal ini disebabkan model ini menggunakan pendekatan kualitatif yang menekankan pentingnya menjalin kedekatan dengan orang dan situasi yang sedang dievaluasi agar dapat memahami secara personal realitas dan hal-hal rinci tentang program atau 30 sistem yang sedang dikembangkan. Langkah selanjutnya dilakukan interpretasi data yang diharapkan dapat 29 dijadikan bahan dalam pengambilan keputusan. Tahapan evaluasi dalam Illuminatif model terdiri dari tiga fase sebagai berikut. Ringkasnya. persoalan. dan sebagainya. evaluator mengunjungi sekolah atau lembaga yang sedang mengembangkan sistem tertentu. Tahap ketiga Seek to explain. yang berasumsi bahwa keseluruhan adalah lebih besar daripada sejumlah bagianbagian.

evaluasi yang baik adalah yang . seperti perasaan.Menekankan pentingnya dilakukan penilaian yang kontinu selama proses pelaksanaan pendidikan sedang berlangsung. Keterbatasan Illuminative Model Kelemahan terutama terletak pada segi teknis pelaksanaannya yang meliputi: 1. melainkan dapat menggabungkan (merger) dua model atau lebih. mulai model yang dominasi pengukuran secara kuantitatif seperti pada measurement model hingga model yang menggunakan pendekatan kualitatif sepertiIlluminative model. Dengan mempelajari berbagai model akan memperluas cakrawala serta wawasan sehingga tidak terpancang pengunaan satu model saja. Kegiatan penilaian tidak didahului oleh adanya perumusan kriteria secara eksplisit. Penutup Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa evaluasi dalam dunia pendidikan memiliki banyak model dan pendekatan. Adanya kecenderungan untuk menggunakan alat penilaian yang terbuka dalam arti kurang spesifik dan berstruktur. Tidak menekankan pentingnya penilaian terhadap program bahan-bahan kurikulum selama bahan-bahan tersebut disusun dalam tahap perencanaan. Pada prinsipnya. Objektivitas penilaian yang dilakukan perlu dipersoalkan. Jarak antara pengumpulan data dan laporan hasil penilaian cukup pendek sehingga informasi yang dihasilkan dapat digunakan pada waktunya. 3. 2. sikap. atau bahkan mengembangkan model tersendiri. Aspek-aspek kemanusiaan tidak semuanya dapat dilakukan pengukuran secara mudah dan tepat. Pendidikan sebagai manusiakan manusia tidak dapat dideskripsikan secara matematis. motivasi. 32 Kontribusi Illuminative Model Sumbangan terbesar Illuminatif Model adalah kritikannya terhadap penggunaan model scientific experiment dalam penilaian pendidikan yang dirasakan kurang tepat. semangat. dan sebagainya. 4.

2002). 1996). kontinuitas. Kemudian Tujuan Pembelajaran Umum (TPU). Dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi dikenal istilah Standar Kompetensi (SK). dan Koyo Kartasurya (Jakarta: CV Rajawali . dkk. Yogyakarta: Kerjasama Madrasah Development Center (MDC) Jateng dan Pilar Media. hasil belajar.. Lily Rompas. reliabilitas. lihat juga Suharsimi Arikunto. memimpin. 3 W. Sudarsono Sudirdjo. S. 2006). Pengantar Interaksi Mengajar Belajar: Dasar dan Teknik Metodologi Pengajaran (Bandung: Tarsito. Dapat dilihat pula di Hisyam Zaini. Desain Pembelajaran di Perguruan Tinggi (Yogyakarta: CTSD IAIN Sunan Kalijaga. Pengantar Evaluasi Pendidikan (Jakarta: Raja Grafindo Persada. 266-303. Pendekatan Sistem dalam Pendidikan (Surakarta: UNS Press. 4 Guru sebagai manajer memiliki empat fungsi yaitu: merencanakan. hal. 2002). Apapun istilah yang dipakai pada prinsipnya adalah rumusan tentang sesuatu yang ingin dicapai dalam proses tersebut. 304 dan 531-532. Endnote 1 Winarno Surakhmad. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: Konsep dan Implementasinya di Madrasah.memenuhi prinsip-prinsip validitas. Ivor K. 1986). objektivitas. serta komprehensif sehingga informasi yang dihasilkan dapat dijadikan bahan dalam pembuatan keputusan benar dan bijak. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: Sebuah Panduan Praktis (Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Kompetensi Dasar (KD). Pengelolaan Belajar. Sejak Kurikulum 1975 dikenal istilah tujuan yang dalam implementasi operasionalnya dikenal Tujuan Instruksional Umum (TIU) dan Tujuan Instruksional Khusus (TIK). 2 Terdapat beberapa istilah tentang sesuatu yang ingin dicapai dalam pembelajaran. 2007). 2007). Winkel. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan (Jakarta: Bumi Aksara. Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK). Dapat dilihat juga di Anas Sudijono. dan mengawasi.. lihat W. Lihat pula tulisan Khaeruddin dan Mahfud Junaedi. Terj. dan indikator pencapaian lihatPeraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Winkel. Lihat Davis. Psikologi Pengajaran (Yogyakarta: Media Abadi. Psikologi Pengajaran. mengorganisasikan. 1991). Lihat juga E. hal. S. Lihat juga Soenarwan. Mulyasa.

8 Hasan. hal. dan Bahasa Inggris. 29-39. Insinyur lingkungan . 7 Mata pelajaran yang diujikan dalam Ujian Nasional adalah Matematika. goal-free evaluation. 5 Michael Sriven seorang ahli dalam penelitian evaluasi melihat pembagian evaluasi secara formatif dan sumatif dari segi fungsi. transactionaloriented evaluation. ekonomis. hal. model (teladan). Manajemen Penelitian (Jakarta: Rineka Cipta. 58-63. Ada sebagian ahli memandang formatif dan sumatif menunjuk pada lingkup atau luasnya yang dinilai. Formatif difungsikan sebagai pengumpulan data pada waktu pendidikan masih berlangsung. motivator. 1973). . Said Hamid. Dalam buku ini. 2000). Lehman. manager. Sementara ahli mengemukan bahwa guru memiliki beberapa peran. Dasar-dasar. Mehren dan Irvin J. Measurement and Evaluation in Education and Psychology (Sydney: Rinehart and Winston. 7. 283. reliabilitas. Sasaran evaluasi sumatif merupakan gabungan dari sasaran evaluasi formatif. 9 Stephen Issac and William B. Lihat Woolfolk. konselor.. 6 Terdapat beberapa prinsip dasar evaluasi antara lain: validitas. dan adversary evaluation. model evaluasi diklasifikasi menjadi enam. yaitu Goal-oriented evaluation. Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan. Lihat Suharsimi Arikunto. pemimpin. 1984). hal. objektivitas. Bahasa Indonesia. Evaluasi Kurikulum (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Yang kontra mempertanyakan apakah ketiga mata pelajaran tersebut dapat mewakili (representatif) seluruh mata pelajaran PKn dan sebagainya. 3-9. Inc. hal. 10 William M.Ibid. yaitu sebagai ahli instruksional. Handbook in Research and Evaluation (California: Edits Publisher. hal.bekerja sama demngan Pusat Antar Universitas di Universitas Terbuka.. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi. Lihat Suharsimi Arikunto. 1988). decisionoriented evaluation. Michael. Evaluasi sumatif dilaksanakan jika program kegiatan sudah betul-betul dilaksanakan. Penentuan tiga mata pelajaran ini mengundang polemik antara pro dan kontra. 1987). evaluation research. praktikabilitas.

pendekatan berorientasi pada tujuan. dan illuminative model. 1987). hal. management oriented. hal. Illionis: F.E. Wendy M. 13 Blaine R. pendekatan yang responsif dan pendekatan Goal Free Evaluation. Model UCLA. model evaluasi diklasifikasi menjadi empat. Educational Evaluation: Alternative Approaches and Practical Guidelines (New York: Longman. Lehman. educational model. consumer oriented. dan naturalistic and participant oriented. Seperti educational system model menurut Sudjana. lihat juga Hopkins. yaitu measurement model. 1979). Menurutnya.Pengembangan Tes Hasil Belajar (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Worthen dan James R. Inc. & Yen. ada enam pendekatan evaluasi. Peacock Publisher. expertise oriented. Model evaluasi diklasifikasi menjadi: Model CIPP. Classroom Measurement and Evaluation (Itasca. Sanders. Lihat juga Sumadi Suryabrata. Penelitian dan Penilaian Pendidikan (Bandung: Sinar Baru Algensindo. 1990). penulis lebih cocok dengan system model. 12 Farida Yusuf Tayibnapis. Mary J. Dalam tulisan ini. Dalam buku ini. Klasifikasi model evaluasi yang penulis sajikan dalam tulisan mengikuti model dari Sudjana dengan beberapa modifikasi dan tambahan. Lihat juga William M and Irvin J. Measurment. congruence model. hal. yaitu: objectives oriented. and Richard L. 2001). Lihat . adversary oriented. Model Brinkerhoff. Worthen & Sanders mengistilahkan dengan pendekatan evaluasi (evaluation approach). Evaluasi Program (Jakarta: Rineka Cipta. Charles D. pendekatan berorientasi kepada pemakai. Antes. Klasifikasi pendekatan evaluasi ini hampir miripdengan pembagian menurut Worthen & Sanders. 1997).11 Nana Sudjana dan Ibrahim. 14 Referensi model ini cukup banyak antara lain Allen. pendekatan yang berfokus pada tujuan. Inroduction to Measurement Theory (California: Brooks/Cole Publishing Company. 13-35. 41-160. dan Model Stake atau model Countenance. Dalam buku ini dibedakan pendekatan dengan model evaluasi. 234-260. 2000). Pendekatan evaluasi diklasifikasi menjadi: pendekatan eksperimental.

Cit. 258 259. . Cit. H. Educational. 78. 7-12. Penelitian. Hambleton. 250.Op. Lihat juga Issac & Michael. 26 Nana Sudjana & Ibrahim. hal.Op.. Qualitative Approaches to Evaluation in Education: The Silent Scientific Revolution (London: Praeger.. 1988). 24 Ibid. 20 Ibid. Jane Rogers. 130-132. 68-70. hal. hal.).. hal. 1996). 22 Worthen & Sanders. 18 Ibid. 244. 19 Ibid. 241.. 17 Ibid. hal. hal. 235 16 Referensi Analisis Butir Tes antara lain dapat dilihat dalam Ronald K.. Op. Cit. 1991). 21-22. hal. hal. hal. Fundamentals of Item Response Theory. Lihat juga Worthen & Sanders. Evaluasi Program...juga Azwas Saifuddin. 23 Worthen & Sanders. 256. Tes Prestasi: Fungsi dan Pengembangan Pengukuran Prestasi Belajar (Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Swaminathan. Penelitian.. 25 Untuk referensi model ini dapat juga dilihat dalam David M. Nana dan Ibrahim. Fetterman (Ed. hal. New Delhi: Sage Publications. 15 Sudjana. 21 Farida Yusuf Tayibnapis. 132-133.

Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya Kampus Lidah Wetan Abstrak: Pembelajaran terpadu merupakan pendekatan yang melibatkan beberapa bidang studi/ mata pelajaran. Pengertian bermakna di sini karena dalam pembelajaran terpadu diharapkan peserta didik memperoleh pemahaman terhadap konsep-konsep yang mereka pelajari dengan melalui pengalaman-pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang sudah mereka pahami.JURNAL III EVALUASI DALAM PEMBELAJARAN TERPADU DI SEKOLAH DASAR Sutrisno Widodo Kurikulum dan Teknologi Pendidikan. Pelaksanaan . Pendekatan pembelajaran itu akan dapat memberikan pengalaman yang bermakna kepada peserta didik.

Kata Kunci: Pembelajaran terpadu. Dalam mengevaluasi proses pembelajaran terpadu. pembelajaran/ pendidikan di Sekolah Dasar Bertolak dari berbagai gejala tersebut. Model keterhubungan. dan dibiarkan terus berlanjut. proses. mental. dan penekanannya pada reproduksi Perkembangan anak Sekolah Dasar informasi. yang terjadi selama ini menunjukkan adanya maka dipandang perlu para guru Sekolah Dasar . Perkembangan ini merupakan perkembangan dengan proses pendidikan/ pembelajaran yang phisik. seksama. Jika hal ini dapat terpisahkan satu dengan lainnya. (3) sistem evaluasi testing. maka dapat sifatnya terpadu (holistik). Konsep-konsep dari bidang studi terkait dijadikan wahana pembelajaran dan penjelajahan topik atau tema. dan produk. cenderung bersifat holistik. emosional dan sosial yang tidak dilaksanakan di Sekolah Dasar.pembelajaran terpadu diawali dari pemilihan dan pengembangan topik atau tema yang dilakukan guru bersama peserta didik. PENDAHULUAN berorientasi instruksional. dan penyelenggaraannya dilakukan dengan menggunakan alat evaluasi tes dan non-tes. Evaluasi pada pembelajaran terpadu berorientasi pada program. agar data dan informasi proses pelaksanaannya dapat terekam dangan sempurna sehingga evaluasi dapat dilakukan secara objektif. Model jaring laba-laba dan Model keterpaduan 1. terhadap mutu dan hasil Apabila kita cermati bersama proses pendidikan/pembelajaran di Sekolah Dasar. Aspek Dari kenyataan tersebut terlihat jelas perkembangan yang satu saling terkait dan terjadinya kontradiksi antara proses mempengaruhi aspek perkembangan yang lain. dengan pengalaman diramalkan akan terjadi dampak negatif serta kehidupan dalam lingkungan sekitarnya. observasi merupakan komponen dasar. dan observasi terhadap kegiatan pembelajaran terpadu seyogyanya dilakukan dengan cermat. perkembangan anak SD bersifat alamiah.

Oleh karena itu memperhatikan dan menyesuaikan dengan berbagai hal yang perlu diperhatikan dalam tingkat perkembangan peserta didik melaksanakan evaluasi kegiatan pembelajaran (developmentally appropriate practice). Dalam pembelajaran terpadu perhatian pengetahuan dan struktur intelektual anak. seperti Pelaksanaan pendekatan pembelajaran . dan juga dapat atau topik atau peristiwa tersebut peserta didik dimanfaatkan sebagai masukan dalam rangka belajar sekaligus proses dan isi berbagai mata perbaikan kualitas pembelajaran. 1996): (1) terjadinya mengembangkan kompetensinya dalam pengkotakan-pengkotakan bidang studi/mata merancang pembelajaran dan merancang pelajaran khusunya untuk kelas-kelas tinggi di evaluasi terpadu pada setiap bidang studi yang Sekolah Dasar. pada pencapaian dampak pembelajaran/efek Evaluasi dalam proses pembelajaran merupakan aktivitas yang bertujuan untuk mendapatkan informasi berkaitan dengan berlangsung apabila peristiwaperistiwa otentik kinerja (performance) peserta didik.kecenderungan yang relatif kuat dalam hal yang ada sekarang ini memulai untuk (Depdikbud. pelajaran secara serempak. pembelajaran terpadu evaluasi tidak berbeda dengan pembelajaran merupakan pendekatan pembelajaran yang konvensional pada umumnya. 1998) dampak pengiring (nurturant effects). (2) pembelajaran difokuskan akan dibelajarkan kepada peserta didiknya. baik yang menggunakan pendekatan terpadu Pendekatan berangkat dari teori pembelajaran maupun konvensional adalah yang menolak drill sebagai dasar pembentukan sama. sebagai salah satu tolok ukur keberhasilan dari Dengan berpartisipasi di dalam eksplorasi tema suatu proses pembelajaran. Hal ini atau eksplorasi topik atau tema menjadi diharapkan hasil evaluasi dapat digunakan pengendali di dalam kegiatan pembelajaran. Pada pembelajaran terpadu peran Pandangan lain. yang cukup banyak diarahkan pada evaluasi (Depdikbud.

Tujuan dari tema ini bukan untuk (instructional effects). KARAKTERISTIK DAN dengan konsep lain yang sudah mereka KELEBIHAN SERTA pahami. Pendekatan ini lebih TERPADU mungkin menjadi sesuatu yang dikemukakan oleh John Dewey dengan konsep learning by Pembelajaran terpadu merupakan doing-nya. dapat d ipandang sebagai upaya untuk Pendekatan pembelajaran seperti ini akan memperbaiki kualitas (improvement quality) dapat memberikan pengalaman yang bermakna pendidikan di tingkat dasar. pembelajaran proses maupun produk/ hasil pembelajaran. di samping dampak pembelajaran peserta didik. Pengertian bermakna di rangka mengimbangi gejala penjejalan sini karena dalam pembelajaran terpadu kurikulum yang serin g terjadi dalam proses diharapkan peserta didik memperoleh pembelajaran di sekolah belakang ini.halnya dengan kompetensi bekerja sama. literasi bidang studi. KONSEP PEMBELAJARAN pembuatan keputusan. terutama dalam kepada peserta didik. pendekatan belajar mengajar yang melibatkan Pendekatan pembelajaran terpadu beberapa bidang studi/ mata pelajaran. pembelajaran terpadu PEMBELAJARAN TERPADU merupakan suatu sistem pembelajaran yang . tetapi konsep -konsep dari Ditinjau dari segi pentahapan aktivitas bidang studi terkait dijadikan alat dan wahana evaluasi dapat dilakukan baik pada tahap untuk mempelajari dan mengeksplorasi topik perencanaan maupun pada tahap pelaksanaan atau tema. aktivitas pembelajaran terpadu. membuat peserta didik aktif terlibat dalam proses pembelajaran dan 2. dan yang dipilih atau dikembangkan guru bersama sebagainya. KETERBATASAN Pada dasarnya. Sedangkan dari Apabila dibandingkan dengan segi sasaran evaluasi difokuskan baik kepada pendekatan konvensional. terpadu lebih menekankan keterlibatan peserta didik dalam belajar. pemahaman terhadap konsep-konsep yang mereka pelajari dengan melalui pengalamanpengalaman langsung dan menghubungkannya 3. terpadu ini bertolak dari suatu tema atau topik menghargai pendapat orang lain.

dan menemukan konsep serta anak (child centered). (4) menyajikan konsep dari berbagai pembelajaran terpadu secara sengaja bidang studi dalam suatu proses pembelajaran. (3) dan otentik. satu keterampilan dengan keterampilan kebutuhan peserta didik. (4) pembelajaran terpadu keterhubungan adalah sebagai berikut: (1) menumbuh kembangkan keterampilan berfikir dampak positif dari mengkaitkan ide-ide anak. (2) memberikan prinsip keilmuan secara holistik. tugas -tugas yang dilakukan dalam satu Kelebihan-kelebihan pada hari dengan tugas -tugas yang dilakukan pada pembelajaran terpadu dibandingkan dengan hari berikutnya. lain. guru secara sengaja anak.1991). satu topik dengan topik dapat berkembang sesuai dengan minat dan lain. pengalaman langsung pada anak. (2) kegiatan yang dipilih sesuai dengan memadukan antara subtema kebersihan. bermakna. bahkan ide-ide yang dipelajari pembelajaran konvesional. proses memiliki ciri -ciri: (1) berpusat pada menggali. di antaranya: (1) pada satu semester dengan ideide yang akan pengalaman dan kegaiatan belajar peserta didik dipelajari pada semester berikutnya. Pembelajaran terpadu akan pemisahan antar bidang studi tidak begitu jelas. keadilan. dan (6) hasil pembelajaran dengan konsep lain. dan mengacu pada minat dan kebutuhan anak. (5) menyajikan kegiatan yang bersifat dalam satu bidang studi adalah peserta didik pragmatis sesuai dengan permasalahan yang memperoleh gambaran yang luas sebagaimana . diusahakan untuk menghubungkan satu konsep (5) bersifat luwes. Misalnya. selalu relevan dengan tingkat perkembangan (Fogarty. peserta didik sehingga hasil belajar akan dapat Beberapa kelebihan model bertahan lebih lama.memungkinkan peserta didik baik secara Pembelajaran terpadu sebagai suatu individual maupun kelompok. aktif mencari. dan kerukunan yang ada pada mata (3) kegiatan belajar lebih bermakna bagi pelajaran Pkn semester II pada kelas II.

maka studi. komunikasi. (2) peserta didik anak seperti kerja sama. sehingga isi pelajaran memang menghendaki teknnik evaluasi yang tetap terfokus tanpa merentangkan koseplebih beragam dibanding dengan pembelajaran konsep serta ide-ide antar bidang studi. Model ini merupakan model studi dalam satu semester. Tidak hanya evaluasi dampak Kekurangan dari model keterhubungan instruksional (instructional effect). dalam pelaksanaannya. Pembelajaran terpadu untuk bekerja secara tim. internalisasi. serta mengasimilasi ide-ide terutama terletak dalam aspek evaluasi yang secara terus -menerus sehingga memudahkan lebih banyak menuntut guru untuk melakukan terjadinya proses transfer ide-ide dalam evaluasi tidak hanya terhadap hasil tetapi juga memecahkan masalah. tetapi juga ini adalah: (1) masih kelihatan terpisahnya dan mungkin lebih banyak dampak pengiring antar bidang studi. sehingga terjadilah proses orang lain. Keterbatasan itu memperbaiki. kemudian pembelajaran terpadu yang menggunakan . mengembangkan konsep-konsep kunci secara dan respek atau menghargai terhadap gagasan terus menerus. (3) menghubungkan ide -ide Dalam pendekatan pembelajaran dalam suatu bidang studi memungkinkan terpadu mengandung keterbatasan terutama peserta didik mengkaji. toleransi. (2) tidak mendorong guru (nurturant effect). dan memahami standar kompetensi Model J aring LabaLaba (Webbed maupun kompetensi dasar dari seluruh bidang models). (3) biasa. maka usaha untuk mengembangkan sebelum mendesain pembelajaran terpadu keterhubungan antar bidang studi menjadi hendaknya para guru mengumpulkan.sering ditemui dalam lingkungan anak. dalam memadukan ide-ide dalam satu bidang Bertolak dari hal-hal tersebut. terabaikan menyusun. dan (6) suatu bidang studi yang terfokus pada suatu menumbuh kembangkan keterampilan sosial aspek tertentu. terhadap proses. mengkonseptualisasi.

. Model keterhubungan adalah model Beberapa kelebihan model Jaring Laba-Laba. MODEL-MODEL dan peserta didik. guru lebih memusatkan pengembangan skill. sub -subtemanya dengan PEMBELAJARAN TERPADU memperhatikan kaitannya dengan bidangYANG DISARANKAN DI SD bidang studi. asesmen alternatif dan cara formal.dilanjutkan dengan proses pendesainan/ pendekatan tematik (Fogarty. KONSEP EVALUASI dan ide-ide berbeda yang terkait. (2) model Jaring Laba-Laba lebih konsep dari masing-masing bidang studi mudah dilakukan oleh guru yang belum menuntut adanya sumber belajar yang berpengalaman.. Pendekatan ini dimulai dengan menentukan tema tertentu. PEMBELAJARAN TERPADU Model Jaring Laba-laba mempunyai kelemahan. pembelajaran. Dari sub -subtema ini dikembangkan aktivitas belajar yang harus Model Keterhubungan (Connected dilakukan peserta didik. dan pengembangan sosial perhatian pada kegiatan dari pada dan afektif peserta didik dengan memanfaatkan pengembangan konsep. 1991). models). beraneka ragam. misalnya transportasi . Evaluasi Dalam Pembelajaran. (3) memudahkan perancangan. Untuk . dengan minat akan memotivasi anak untuk pengintegrasian kurikulum dengan konsepbelajar. Tema bisa ditetapkan dengan negosiasi antara guru 4. yaitu: (1) penyeleksian tema sesuai Sutrisno. (5) memberikan kemudahan bagi peserta didik dalam melihat kegiatan-kegiatan 5. antara lain: (1) sulitnya menyeleksi Evaluasi pembelajaran terpadu dapat tema. (3) dalam proses pengetahuan dan pemahaman peserta didik. (2) karena sulitnya menyeleksi tema. diartikan sebagai evaluasi yang berupaya maka ada kecenderungan untuk merumuskan mencari informasi tentang pencapaian tema yang dangkal. perancangan pembelajaran terpadu. (4) pendekatan tematik dapat memotivasi peserta didik.

Model ini diusahakan dengan sehingga selain memanfaatkan penilaian cara menggabungkan bidang studi dengan cara produk. konsep. dan pembelajaran terpadu hendaknya sikap yang diajarkan dalam satu semester dari mengutamakan Penilaian Acuan beberapa bidang studi (IPA. Matematika. keterampilan. dan sikap langkah evaluasi hendaknya peserta didik yang saling tumpang tindih/ overlapping di dilibatkan. IPS.Model Keterpaduan (Integrated menemukan asesmen alternatif didasarkan models). Model ini merupakan pembelajaran pa da prinsip-prinsip sebagai berikut: (1) terpadu yang menggunakan pendekatan antar evaluasi hendaknya berbasis unjuk kerja bidang studi. memberikan perhatian pula pada refleksi diri Berbeda dengan model Jaring Laba-laba yang peserta didik (self reflecti on). Patokan(PAP) daripada penilaian acuan norma dan Bahasa). keterampilan. tenggang rasa. dan sikap yang memiliki lebih besar pada nurturant effect ( kemampuan keterhubungan yang erat dan tumpang tindih di kerja sama. (7) lebih memberikan perhatian yang konsep. (3) evaluasi hendaknya dalam beberapa bidang studi (Fogarty. (6) evaluasi menyeleksi konsep-konsep. 1991). penilaian terhadap proses. (5) dalam pelaksanaan penilaian dan bertumpang tindih merupakan hal terakhir umpan balik hendaknya dimanfaatkan sebesaryang ingin dicari dan dipilih oleh guru dalam besarnya untuk pengembangan peserta didik tahap perencanaan program. maka besar portfolio asessment hendaknya dalam model keterpaduan tema yang berkaitan dimanfaatkan. (4) karena menuntut pemilihan tema dan penilaian perlu memdapatkan perhatian yang pengembangannya sebagai langkah awal. perlu menetapkan prioritas kurikuler dan mendapat pe rhatian yang besar. saling tergantung . Selanjutnya dipilih beberapa (PAN). (2) pada setiap menemukan keterampilan. Pertama guru yang bersifat invidual dan sosial.

kegiatan mencakup.antara berbagai bidang studi. (2) menentukan kriteria keberhasilan . (3) guru. baik dalam proses maupun produk/hasil pembelajaran. (10) evaluasi harus bersfat guru tidak perlu mengulang kembali materi komprehensif (menggambarkan keseluruhan yang tumpang tindih. sehingga tercapailah aktivitas belajar) dan sistematis ( merupakan efisiensi dan efektivitas pembelajaran. antara lain: (1) terpisahkan (holistik). kestuan informasi bukan penggalan informasi). dan lain-lain). Sedangkan dari yang diprioritaskan. Evaluasi proses terhadap peserta merumuskan tujuan evaluasi apa yang ingin didik sebagai pembelajar meliputi: (1) dicapai melalui kegiatan evaluasi ini. baik perkembangan konseptual anak. (3) dimensional. sikap. (4) SASARAN EVALUASI 7. (1) program. Sedangkan beberapa kelemahan dari Ditinjau dari segi pentahapan kegiatan model keterpaduan ini. (8) perlu memandang peserta Model Keterpaduan ini mempunyai didik itu adalah suatu keutuhan yang tak beberapa kelebihan. sebagai proses yang terus menerus dan multi (2) memotivasi peserta didik dalam belajar. (3) model ini memerlukan segi sasaran evaluasi difokuskan baik kepada tim antar bidang studi. (2) guru harus perencanaan maupun pada tahap pelaksanaan menguasai konsep. perencanaannya maupun pelaksanaannya. (9) evaluasi dilihat dimungkinkan pemahaman antar bidang studi. (2) tingkat tujuan ingin dicapai oleh peserta didik maupun kemampuan menghadapi tantangan. dan keterampilan kegiatan pembelajaran terpadu. TAHAP-TAHAP EVALUASI PEMBELAJARAN TERPADU Evaluasi pembelajaran terpadu mencakup proses dan produk dengan sasaran Pada tahap pertama perencanaan. peserta didik dan guru serta evaluasi terhadap Tahap ini kegiatan. antara lain: (1) sulitnya evaluasi dapat dilakukan baik pada tahap menerapkannya secara penuh.

kelompok. Penyajian Laporan. (3) rekaman. baik oleh guru maupun kemampuan peserta didik berkomunikasi. (3) menentukan teknik dan alat kerasionalan argumentasi. (4) program. (1) daftar cek dan komprehensif dan diakhiri dengan yang dilakukan oleh rekan / kolega guru sejumlah rekomendasi dan saransaran. video dan kaset. berkelanjutan. grafik. terhadap guru dilakukan melalui. (7) partisipasi anak dalam diskusi Tahap ke dua. (2) masukan dari peserta pengolahan informasi dan saran-saran . sampai dengan akhir proses pembelajaran. (5) peserta didik. pelaksanaan. (2) gambar. Penyusunan lain. (4) yang ingin dicapai. (3) evaluasi dapat digunakan. dan unit. pelaksanaan. topik. lebih dari sekedar salah satu perencanaan. Tindal lanjut.interaksi peserta didik dengan anak lainnya. (1) evaluasi berlangsung sejak awal didik. lainnya terhadap strategi dan pengelolaan Tahap terakhir. (6) kerjasama dan ukur atau instrumen yang akan digunakan kekompakan serta produktivitas kegiatan dalam proses evaluasi. pemilihan tema. dan lainterkumpul dan pengolahannya. Evaluasi laporan ini dilakukan secara logis. diagram. Dalam kelompok. (1) mempertimbangkan seluruh informasi yang laporan. sistematis. (8) penggunaan bahasa dengan baik tahap proses pelaksanaan ini harus disadari dan benar sesuai tingkat kemampuan peserta bahwa. (2) pendekatan dan metode yang bagian suatu program. (3) materi pembelajaran yang diarahkan pada pro ses maupun produk serta mencakup. Laporan hasil penilaian Evaluasi terhadap produk kegiatan disusun dengan jalan memperhitungkan dan terhadap peserta didik dilakukan melalui. (2) Evaluasi proses terhadap guru evaluasi h arus dilihat sebagai proses yang mencakup: (1) proses pembelajaran terdiri. Penyusunan dan guru. dan evaluasi aspek belajar yang harus dicapai sebagai pembelajar. Hasil pembelajaran lainnya. kelengkapan pembelajaran yang disediakan Tahap ke tiga.

PEMBELAJARAN TERPADU DI dan program dapat didokumentasikan dalam SEKOLAH DASA R suatu portofolio. ditindak -lanjuti secara operasional. (5) diskusi peergroup . Hasil-hasil evaluasi proses. lembaran . (7) masukan orang tua. kemampuan dimanfaatkan untuk meningkatkan kegiatan menyajikan pokok pikiran. Portofolio ini dapat dijadikan salah satu masukan bagi guru untuk Cakupan evaluasi pembelajaran memutuskan atau menetapkan nilai atau grade terpadu dapat disusun dalam matrik sebagai Tahapan Perencanaan Pelaks anaan sasaran Proses Bagaimana peserta didik berpartispasi dalam Bagaimana aktivitas dinamika interaksi dan kemampuan berfikir peserta menentukan tema-tema terkait. (1) dikemukakan bahwa tidak seluruh kegiatan catatan anekdot/file card . Mencermati cakupan evaluasi rekaman guru pada pembelajaran terpadu seperti pada matrik misalnya untuk dilengkapi di dengan hasil pengamatan. = aspek sosial = aspek etis = aspek pribadi dan sebagainya. Hasil Ba gaimana reaksi pesert didik terhadap Perubahan/perkembangan perilaku apa yang terjadi pada peserta didik? rencana yang telah disusun. (2) analisis kesalahan akhir berupa tindak lanjut dilakukan pada akhir peserta didik. didik. (3) rubrik. = aspek lain. (4) konferensi gurukegiatan karena evaluasi yang diselenggarakan siswa. kesimpulan yang rasional.didik. sebagai dampak instruksional maupun dampak pengiring. = aspek kognisi/intelektual. produk. umpan balik perkembangan peserta didik. (6) secara terus menerus. orang tua dan rekan guru lainnya. menarik pembelajaran. CAKUPAN EVALUASI portofolio. Evaluasi dengan menggunakan 8. Perlu Evaluasi program mencakup.

konteks yang alami. maka evaluasi pembelajaran terpadu kelompok kecil. berikut ini. Perlu juga diketahui bahwa tes Observasi dan Dokumentasi. kecil dan direkam secara penuh. METODE EVALUASI DALAM juga mel akukan evaluasi diri untuk perbaikan PEMBELAJARAN TERPADU dalam perencanaan maupun pelaksanaan pembelajaran. Terdapat beberapa metode evaluasi Tes dan Ujian. teknik dan alat evaluasi yang bervariasi pula. bersifat multi dimensional. 1996). Peserta didik dapat menyusun sendiri pertanyaan atau butir soal dan kemudian menjawabnya sendiri. evaluasi diri juga dapat dipakai. Evaluasi Diri P eserta Didik-Guru. Dengan formal tidak / belum memberikan informasi bekerja sama dengan peserta didik. matematika atau IPS. berorientasi pada perkembangan intelektual seperti halnya dalam mata pelajaran peserta didik serta lingkungan budayanya. Pada pembelajaran yang dapat digunakan dalam mengevaluasi terpadu dilakukan juga tes maupun ujian baik proses dan hasil pada pembelajaran terpadu untuk satu tema pembelajaran maupun untuk (Depdikbud. Kegiatan evaluasi dimulai dengan pengamatan Dalam melakukan evaluasi pembelajaran langsung yang bersifat informal sampai kepada terpadu. beberapa tema. tes formal yang sahih/valid dan handal/reliabel. maka diperlukan merangkum hasil diskusi tersebut. kolaboratif. guru dapat yang cukup tentang bagaimana seorang peserta . dan Cara ini dapat dibatasi untuk masalah khusus. Dalam hal ini Karena aspek perilaku yang menjadi sasaran peserta didik dapat diberi tugas untuk evaluasi banyak variasinya. Dialog peserta didik dan Pada pembelajaran terpadu penekanan guru dapat pula dilakukan dalam kelompok evaluasi terletak pada proses maupun hasil. Selanjutnya guru dapat 9.atas. berlangsung dalam Dialog Pes erta Didik dengan Guru.

untuk melakukan kekurangan anak/ pesrta didik yang evaluasi proses digunakan alat evaluasi nonbersangkutan. Dari sini didik sebagai individu berpikir dan memproses kelihatan bahwa evaluasi sebagai bagian konsep -konsep. Dalam berorientasi dalam kaitan kemajuan dan pembelajaran terpadu. . Kegiatan penting dalam proses interaksi antara guru dengan peserta didik. verbal. satu semester. orangtua dianggap amat positif untuk Catatan ini berisi rekaman sekilas tentang meningkatkan prestasi belajar peserta didik. dan yaitu dengan analisis masalah dan pemaparan sementara itu evaluasi diri semakin kuat pada pemecahannya. Catatan ini dapat juga dari pihak guru dan peserta didik. pembelajaran terpadu adalah observasi untuk Dalam kelas pembelajaran terpadu pengungkapan perilaku/ unjuk kerja nonpeserta didik asyik sibuk. sekilas tentang kesan yang tampak kelihatan Karena itu masukan dari orangtua akan dapat bermakna selama proses pembelajaran membantu menghapus penafsiran yang keliru berlangsung di kelas. bagaimana mereka dalam integral dari interaksi sosial.melakukan observasi pada saat itu. ini guru berusaha memahami tugas maupun Oleh karena itu perlu dilakukan juga cara lain situasi dari sudut pandang peserta didik. dan terlibat. Dalam pemaparan ini dapat diri anak. Dalam kegiatan menggunakan kemampuan intelektualnya. sistematika penyajian dan dapat juga dilakukan dengan cara guru pengetahuan lain untuk memecahkan masalah merekam catatan kejadian di kelas. ditekankan pentingnya penggunaan kosa kata Observasi dan dokumentasi berkala yang tepat. Sekaligus memungkinkan tes. Keterlibatan selama satu periode satu tahun. Penyelenggaraan pengamatan oleh Pada dasarnya alat evaluasi terdiri dari orangtuapun memungkinkan guru dan orangtua dua macam yaitu tes dan non-tes. misalnya tersebut. aktif. untuk satu unit tema atau beberapa unit tema Pengamatan Orang tua.

1995). Hasil analisis ini tugas dan bagaimana mereka saling dapat dipakai sebagai bahan pertimbangan/ berinteraksi memberikan data pada guru dalam masukan dalam menilai proses pembelajaran rangka membantu perencanaan kurikulum dan terpadu.Kepercayaan diri (Sumber: Buku Materi Pokok Pembelajaran Terpadu.Kemandirian termasuk percaya diiri dan kontrol diri . Alat Evaluasi Daftar Cek Keterampilan Keterampilan Intelektual dan Sosial Jenis Kemampuan Ya Belum Berkembang Intelektual: .Rasa ingin tahu Sosial: .Kepedulian terhadap orang lain . kegiatan peserta didik dalam menyelesaikan kemudian akan dianalisis.Keterbukaan . dalam hal ini observasi merupakan komponen dasar dalam 10. 1996) Alat Evaluasi Skala Penilaian /Penilaian Berskala Pelaksanaan Pembelajaran Terpadu Pelaksanaan Kegiatan Nama (kelompok/individu) : -------------------------------------- . mengevaluasi perkembangan peserta didik (Charbonneau & Reider. dan selalu membuat catatan. ALAT EVALUASI DALAM evaluasi pembelajaran terpadu. Berikut ini PEMBELAJARAN TERPADU disajikan contoh alat evaluasi berupa daftar cek dan skala penilaian/penilaian berskala pelaksanaan pembelajaran terpadu.Kemampuan kerja sama .Kreativitas .Guru hendaknya sadar akan aksi dan reaksi Observasi yang cermat terhadap peserta didik.Kepedulian lingkungan .

Ketaatan kepada perencanaan a.Skor Aspek Yang Dinilai 1 2 3 4 Keterangan A. berkomunikasi D. agar data dan dapat terhadap Berdasarkan pada uraian di atas. kejelasan b. (Sumber: Buku Materi Pokok Pembelajaran Terpadu. KESIMPULAN observasi merupakan komponen dasar. memotivasi kerja kelompok c. Produk/ Hasil*) *) Dirinci aspek-aspek hasil belajar yang akan dinilai. antusiasme b. Pembelajaran terpadu merupakan terekam dangan pendekatan pembelajaran yang evaluasi dapat melibatkan beberpa bidang studi dan bertujuan untuk memberikan pengalaman bermakna kepada peserta pelaksanaannya sempurna sehingga dilakukan secara objektif . interaksi f. memotivasi indivdu C. pemberian informasi b. . yaitu. 1996) 11. kerja sama antar siswa E. kreativitas siswa e. beberapa kesimpulan yang dapat dipetik. informasi proses a. ada dengan cermat. bertindak c. penggunaan waktu B. Pengelolaan Kelas: a. perhatian siswa c. penggunaan bahan dan alat d. dan kegiatan pembelajaran terpadu seyogyanya dilakukan seksama. penggunaan sumber c. stimultanius b. Keberanian a. Proses Pembelajaran a. partisipasi siswa d.

didik. Barbara E. Fogarty. Materi Pokok dilakukan dengan menggunakan alat Pembelajaran Terpadu PGSD. Wardani. Pelaksanaan pembelajaran terpadu 1995. 1996. Materi Pokok Konsep-konsep dari bidang studi pembelajaran Terpadu PGSD . How To Integrate The c. Evaluasi pada pembelajaran terpadu Curricula. dan penyelenggaraannya IGK. I llonis: IRI/ berorientasi pada program. Inc. London. Palatine. evaluasi tes dan non-tes. Skylight Publishing.. Depdikbud. proses. 2000. Jakarta. dan produk. Penerbit: Universitas Terbuka . 1991. Jakarta: terkait dijadikan wahana pembelajaran BP3GSD. R. b. Tokyo: Allyn and pengembangan topik atau tema yang Bacon dilakukan guru bersama peserta didik. Charboneau. dan berorientasi pada proses DAFTAR PUSTAKA pembelajaran yang disesuaikan dengan perkembangan peserta didik. Manon P. The Integrated Elementary diawali dari pemilihan dan Classroom. & Reider. dan penjelajahan topik atau tema.