BAB.

I Pendahuluan

E

valuasi merupakan subsistem yang sangat penting dan sangat

di butuhkan dalam setiap sistem pendidikan, karena evaluasi dapat mencerminkan seberapa jauh perkembangan atau kemajuan hasil pendidikan. Dengan evaluasi, maka maju dan mundurnya kualitas pendidikan dapat diketahui, dan dengan evaluasi pula, kita dapat mengetahui titik kelemahan serta mudah mencari jalan keluar untuk berubah menjadi lebih baik ke depan. Tanpa evaluasi, kita tidak bisa mengetahui seberapa jauh keberhasilan siswa, dan tanpa evaluasi pula kita tidak akan ada perubahan menjadi lebih baik,maka dari itu Jadi secara umum evaluasi adalah suatu proses sistemik umtuk mengetahui tingkat keberhasilan suatu program. Evaluasi pendidikan dan pengajaran adalah proses kegiatan untuk mendapatkan informasi data mengenai hasil belajar mengajar yang dialami siswa dan mengolah atau menafsirkannya menjadi nilai berupa data kualitatif atau kuantitatif sesuai dengan standar tertentu. Hasilnya diperlukan untuk membuat berbagai putusan dalam bidang pendidikan dan pengajaran.
Fungsi Evaluasi Pendidikan . Sangat diperlukan dalam pendidikan antara lain memberi informasi yang dipakai sebagai dasar untuk :
1) Membuat kebijaksanaan dan keputusan. 2) Menilai hasil yang dicapai para pelajar. 3) Menilai kurikulum. 4) Memberi kepercayaan kepada sekolah. 5) Memonitor dana yang telah diberikan . 6) Memperbaiki materi dan program pendidikan

Hasil evaluasi yang didapat sampai sekarang tentang dunia pendidikan Nasional kita cukup memperihatinkan, tidak hanya

dalam segi kualitas tapi juga kegagalan dalam membentuk karakter building generasi muda bangsa Pendidikan menjadi tanggung jawab semua pihak, dimana tujuan pendidikan adalah memanusiakan manusia. membentuk SDM yang berkualitas. Namun sayang kebijakan pendidikan yang ada sampai sekarang masih jauh dari harapan, karena kebijakan pendidikan seperti kata pakar pendidikan dari Universitas Nasional Jakarta yaitu HAR Tilaar kebijakan pendidikan di Indonesia sesuai dengan pameo ganti menteri ganti kebijakan. Mengingat terlalu luasnya cakupan dalam evaluasi pendidikan maka penulis akan membatasi hanya pada evaluasi hasil belajar siswa dikarenakan masalah ini sangat sesuai dengan tugas penulis sebagai guru.
Bab. II
Tugas Mata Kuliah Manajemen Kebijakan Pendidikan

2
ANALISIS KESENJANGAN DALAM EVALUASI PENDIDIKAN A. Keadaan Ideal

Seperti yang telah dikemukakan oleh Dr. Muchtar Buchori tujuan dan fungsi evaluasi adalah :
1.

untuk mengetahui kemajuan peserta didik setelah ia

mengalami pendidikan selama jangka waktu tertentu
2.

untuk mengetahui tingkat efisiensi metode-metode

pendidikan yang dipergunakan pendidik selam jangka

waktu tertentu tadi. Maka untuk memperoleh hasil evaluasi yang sebaik-baiknya, para evaluator dalam hal ini para guru dituntut untuk memiliki hal hal sebagai berikut : 1. Mampu melaksanakan, persyaratan pertama yang harus dipenuhi oleh evaluator adalah bahwa mereka harus memiliki kemampuan untuk melaksanakan evaluasi yang didukung oleh teori dan keterampilan praktik. 2.Cermat, dapat melihat celah-celah dan detail dari program serta bagian program yang akan dievaluasi. 3.Objekti f, tidak mudah dipengaruhi oleh keinginan pribadi, atau juga keinginan/tekanan dari pihak lain agar dapat mengumpulkan data sesuai dengan keadaannya, selanjutnya dapat mengambil kesimpulan sebagaimana diatur oleh ketentuan yang harus diikuti. 4. Sabar dan tekun , agar di dalam melaksanakan tugas dimulai dari membuat rancangan kegiatan dalam bentuk menyusun proposal,
Tugas Mata Kuliah Manajemen Kebijakan Pendidikan

3

Teknik evaluasi digolongkan menjadi 2 yaitu teknik tes dan teknik non Tes. 1. Teknik non tes meliputi ; skala bertingkat, kuesioner,daftar cocok, wawancara, pengamatan, riwayat hidup.

b. Rating scale atau skala bertingkat menggambarkan suatu nilai dalam bentuk angka. Si penjawab diminta untuk memberikan tanda silang (X) atau cek (¥) pada jawaban yang ia anggap sesuai. c. suatu cara yang dilakukan secara lisan yang berisikan pertanyaan-pertanyaan yang sesuai dengan tujuan informsi yang . Daftar cocok adalah sebuah daftar yang berisikan pernyataan beserta dengan kolom pilihan jawaban. Kuesioner adalah daftar pertanyaan yang terbagi dalam beberapa kategori. Angka-angak diberikan secara bertingkat dari anggak terendah hingga angkat paling tinggi. Kuesioner langsung adalah kuesioner yang dijawab langsung oleh orang yang diminta jawabannya. kuesioner dibagi menjadi kuesioner langsung dan kuesioner tidak langsung. Kuesioner tertututp adalah daftar pertanyaan yang memiliki dua atau lebih jawaban dan si penjawab hanya memberikan tanda silang (X) atau cek (¥) Tugas Mata Kuliah Manajemen Kebijakan Pendidikan 20 pada awaban yang ia anggap sesuai. apabila yang hendak dimintai jawaban adalah seseorang yang buta huruf maka dapat dibantu oleh anak. Dan bila ditinjau dari segi cara menjawab maka kuesioner terbagi menjadi kuesioner tertutup dan kuesioner terbuka. Sedangkan kuesiioner tidak langsung dijawab oleh secara tidak langsung oleh orang yang dekat dan mengetahui si penjawab seperti contoh. Dari segi yang memberikan jawaban.a. d. Wawancara. Sedangkan kuesioner terbuka adalah daftar pertanyaan dimana si penjawab diperkenankan memberikan jawaban dan pendapat nya secara terperinci sesuai dengan apa yang ia ketahui. Angka-angka tersebut kemudian dapat dipergunakan untuk melakukan perbandingan terhadap angka yang lain. tetangga atau anggota keluarganya.

Pengamatan atau observasi. Pengamat telah Tugas Mata Kuliah Manajemen Kebijakan Pendidikan 21 membuat list faktor faktor yang telah diprediksi sebagai memberikan pengaruh terhadap sistem yang terdapat dalam obejek pengamatan. Pengamatan atau observasi terdiri dari 3 macam yaitu : (1) observasi partisipan yaitu pengamat terlibat dalam kegiatan kelompok yang diamati. pengamat tidak terlibat dalam kelompok yang diamati. (2) Observasi sistematik. evaluasi ini dilakukan dengan mengumpulkan data dan informasi mengenai objek evaluasi sepanjang riwayat hidup objek evaluasi tersebut.hendak digali. wawancara dibagi dalam 2 kategori. wawancara bebas yaitu si penjawab (responden) diperkenankan untuk memberikan jawaban secara bebas sesuai dengan yang ia diketahui tanpa diberikan batasan oleh pewawancara. Kedua adalah wawancara terpimpin dimana pewawancara telah menyusun pertanyaan pertanyaan terlebih dahulu yang bertujuan untuk menggiring penjawab pada informsi. Riwayat hidup. 2.informasi yang diperlukan saja. e. f. adalah suatu teknik yang dilakuakn dengan mengamati dan mencatat secara sistematik apa yang tampak dan terlihat sebenarnya. Teknik Tes . yaitu pertama.

sumatif c. Wiersma menyatakan formative testing is done to monitor student progress over period of time . formatif b. diagnostik a. Formatif Evaluasi formatif adalah evaluasi yang dilakukan pada setiap akhir pembahasan suatu pokok bahasan / topik. dan dimaksudkan untuk mengetahui sejauh manakah suatu proses pembelajaran telah berjalan sebagaimana yang direncanakan. Ukuran Tugas Mata Kuliah Manajemen Kebijakan Pendidikan 22 keberhasilan atau kemajuan siswa dalam evaluasi ini adalah penguasaan kemampuan yang telah dirumuskan dalam rumusan tujuan (TIK) yang telah ditetapkan sebelumnya.Dalam evaluasi pendidikan terdapat 3 macam tes yaitu : a. dirumuskan dengan mengacu pada tingkat kematangan siswa. Winkel menyatakan bahwa yang dimaksud dengan evaluasi formatif adalah penggunaan tes-tes selama proses pembelajaran yang masih berlangsung. Evaluasi ini dimaksudkan untuk mengontrol sampai seberapa jauh siswa telah menguasai materi yang diajarkan pada pokok bahasan tersebut. Artinya TIK dirumuskan dengan memperhatikan kemampuan awal anak dan . Sementara Tesmer menyatakan fo r m a tive evaluation is a judgement of the strengths and weakness of instruction in its developing stages. agar siswa dan guru memperoleh informasi ( feed b a ck) mengenai kemajuan yang telah dicapai. TIK yang akan dicapai pada setiap pembahasan suatu pokok bahasan. for purpose of revising the instruction to improve its effectiveness and appeal.

b. yaitu bantuan khusus yang diberikan kepada siswa yang mengalami kesulitan memahami suatu pokok bahasan tertentu. yaitu materi tambahan yang sifatnya perluasan dan pendalaman dari topik yang telah dibahas. Dengan kata lain evaluasi formatif dilaksanakan untuk mengetahui seberapa jauh tujuan yang telah ditetapkan telah tercapai. Sementara bagi siswa yang telah berhasil akan melanjutkan pada topik berikutnya. Winkel mendefinisikan evaluasi sumatif Tugas Mata Kuliah Manajemen Kebijakan Pendidikan 23 .tingkat kesulitan yang wajar yang diperkiran masih sangat mungkin dijangkau/ dikuasai dengan kemampuan yang dimiliki siswa. Sumatif Evaluasi sumatif adalah evaluasi yang dilakukan pada setiap akhir satu satuan waktu yang didalamnya tercakup lebih dari satu pokok bahasan. dan dimaksudkan untuk mengetahui sejauhmana peserta didik telah dapat berpindah dari suatu unit ke unit berikutnya. Dari hasil evaluasi ini akan diperoleh gambaran siapa saja yang telah berhasil dan siapa yang dianggap belum berhasil untuk selanjutnya diambil tindakan-tindakan yang tepat. Tindak lanjut dari evaluasi ini adalah bagi para siswa yang belum berhasil maka akan diberikan r em ed ia l. bahkan bagi mereka yang memiliki kemampuan yang lebih akan diberikan pengayaan.

Evaluasi diagnostik dapat dilakukan dalam beberapa tahapan. selama proses. c.sebagai penggunaan tes-tes pada akhir suatu periode pengajaran tertentu. Dalam hal ini evaluasi diagnostik dilakukan untuk mengetahui kemampuan awal atau pengetahuan prasyarat yang harus dikuasai oleh siswa. Pada tahap awal dilakukan terhadap calon siswa sebagai input. bahkan setelah selesai pembahasan suatu bidang studi. yang meliputi beberapa atau semua unit pelajaran yang diajarkan dalam satu semester. Pada tahap proses evaluasi ini diperlukan untuk mengetahui bahanbahan pelajaran mana yang masih belum dikuasai dengan baik. Sementara pada tahap akhir evaluasi . Diagnostik Evaluasi diagnostik adalah evaluasi yang digunakan untuk mengetahui kelebihan-kelebihan dan kelemahan. sehingga guru dapat memberi bantuan secara dini agar siswa tidak tertinggal terlalu jauh. maupun akhir pembelajaran.kelemahan yang ada pada siswa sehingga dapat diberikan perlakuan yang tepat. baik pada tahap awal.

guru maupun program untuk menilai Memberi tanda telah mengikuti suatu program. memperoleh dan menyajikan informasi yang berguna untuk menilai alternatif keputusan. Pelaku evaluasi atau evaluator tidak memberikan jawaban atas suatu pertanyaan tertentu. 2. 3.diagnostik ini untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa atas seluruh materi yang telah dipelajarinya. Evaluator tidak terikat pada satu sekolah demikian pula sebaliknya. Evaluasi adalah seni. (dikutip dari Bloom et. Evaluator tidak berwennag untuk memberikan rekomendasi terhadap keberlangsungan sebuah program. Evaluasi sendiri memiliki beberapa prinsip dasar yaitu . 4. dan menentukan Evaluasi merupakan kegiatan pengumpulan kenyataan mengenai proses pembelajaran secara sistematis untuk menetapkan apakah terjadi perubahan terhadap peserta didik dan sejauh apakah perubahan tersebut mempengaruhi kehidupan peserta didik. Penelitian evaluasi adalah tanggung jawab tim bukan perorangan.all 1971). 1. Evaluator hanya membantu memberikan alternatif. tidak ada evaluasi yang sempurna. Tes Formatif. Evaluasi bertujuan membantu pemerintah dalam mencapai tujuan pembeljaran bagi masyrakat. .al 1971 mengatakan bahwa evaluasi adalah proses menggambarkan. Perbandingan Tes Diagnostik. 5. Stufflebeam et. meski dilkukan dengan metode yang berbeda. dan Tes Sumatif Ditinjau dari Tes Diagnostik Tes Formatif Tes Sumatif Fungsinya mengelompokkan siswa berdasarkan kemampuannya Umpan balik bagi siswa.

karena keterlibatan peserta didik dalam evaluasi bukan alternatif. hingga perlu pengalaman untuk pendalaman metode penggalian informasi. input. transformasi adalah segala unsur yang terkait dengan proses pembelajaran yaitu . Evaluasi memerlukan data yang akurat dan cukup. Evaluasi akan mntap apabila dilkukan dengan instrumen dan teknik yang aplicable. 9. Evaluator hendaknya mampu membedakan yang dimaksud dengan evaluasi formatif. Evaluasi pendidikan memiliki beberapa fungsi yaitu . transformasi dan output. 7. Dengan demikian dapat dimengerti bahwa sesungguhnya evaluasi adalah proses mengukur dan menilai terhadap suatu objek dengan menampilkan hubungan sebab akibat diantara faktor yang mempengaruhi objek tersebut. sekolah. jika diperlukan revisi maka lakukanlah revisi. 3. 1. Fungsi penempatan 4. Evaluasi memberikan gambaran deskriptif yang jelas mengenai hubungan sebab akibat. media dan bahan beljar.6. guru. Fungsi keberhasilan Maksud dari dilakukannya evaluasi adalah . Koherensi 6. Pedagogis 8. 9. evaluasi sumatif dan evaluasi program. evaluasi adalah proses. Perbaikan sistem 2. sarana penunjang dan sistem administrasi. evaluasi harus berkaitan dengan materi pengajaran yang telah dipelajari dan sesuai dengan ranah kemampuan peserta didik yang hendak diukur. Perlu adanya tool penilai dari aspek pedagogis untuk melihat perubahan sikap dan perilaku sehingga pada akhirnya hasil evaluasi mampu menjadi motivator bagi diri siswa. Keterpaduan 2. tapi kebutuhan mutlak. Tujuan evaluasi adalah untuk melihat dan mengetahui proses yang terjadi dalam proses pembelajaran. bukan terpaku pada angka soalan tes. Sedangkan output adalah capaian yang dihasilkan dari proses pembelajaran. Akuntabel 10. 7. 5. Fungsi diagnostik 3. 1. Proses pembelajaran memiliki 3 hal penting yaitu. materi pembelajaran dan metode pengjaran. Hasil evaluasi haruslah menjadi aalat akuntabilitas atau bahan pertnggungjawaban bagi pihak yang berkepentingan seeprti orangtua siswa. Pertanggungjawaban kepada pemerintah dan masyarakat 3. 4. Penentuan tindak lanjut pengembangan PRINSIP PRINSIP EVALUASI 1. Keterlibatan peserta didik 4. TEKNIK EVALUASI . prinsip ini merupakan suatu hal yang mutlak. Input adalah peserta didik yang telah dinilai kemampuannya dan siap menjalani proses pembelajaran. metode pengajaran. 10. 8. dan lainnya. evauasi harus dilakukan dengan prinsip keterpaduan antara tujuan intrusional pengajaran. Fungsi selektif 2.

Dalam evaluasi pendidikan terdapat 3 macam tes yaitu : a. Wawancara. a. kuesioner. Teknik tes. riwayat hidup. wawancara dibagi dalam 2 kategori. Sedangkan kuesiioner tidak langsung dijawab oleh secara tidak langsung oleh orang yang dekat dan mengetahui si penjawab seperti contoh. teknik non tes meliputi . f. adalah suatu teknik yang dilakuakn dengan mengamati dan mencatat secara sistematik apa yang tampak dan terlihat sebenarnya. e. skala bertingkat. tes diagnostik b. Pengamat telah membuat list faktor faktor yang telah diprediksi sebagai memberikan pengaruh terhadap sistem yang terdapat dalam obejek pengamatan. Angkaangak diberikan secara bertingkat dari anggak terendah hingga angkat paling tinggi. suatu cara yang dilakukan secara lisan yang berisikan pertanyaan-pertanyaan yang sesuai dengan tujuan informsi yang hendak digali. pengamat tidak terlibat dalam kelompok yang diamati.daftar cocok. Riwayat hidup. (2) Observasi sistematik. Dari segi yang memberikan jawaban.Teknik evaluasi digolongkan menjadi 2 yaitu teknik tes dan teknik non Tes 1. Sedangkan kuesioner terbuka adalah daftar pertanyaan dimana si penjawab diperkenankan memberikan jawaban dan pendapat nya secara terperinci sesuai dengan apa yang ia ketahui. yaitu pertama. Si penjawab diminta untuk memberikan tanda silang (X) atau cek (¥) pada awaban yang ia anggap sesuai. wawancara. Kuesioner langsung adalah kuesioner yang dijawab langsung oleh orang yang diminta jawabannya. pengamatan. Kuesioner adalah daftar pertanyaan yang terbagi dalam beberapa kategori. b. apabila yang hendak dimintai jawaban adalah seseorang yang buta huruf maka dapat dibantu oleh anak. 2. kuesioner dibagi menjadi kuesioner langsung dan kuesioner tidak langsung. Rating scale atau skala bertingkat menggambarkan suatu nilai dalam bentuk angka. tes formatif c. tetangga atau anggota keluarganya. wawancara bebas yaitu si penjawab (responden) diperkenankan untuk memberikan jawaban secara bebas sesuai dengan yang ia diketahui tanpa diberikan batasan oleh pewawancara. Pengamatan atau observasi terdiri dari 3 macam yaitu : (1) observasi partisipan yaitu pengamat terlibat dalam kegiatan kelompok yang diamati. tes sumatif Penjelasan mengenai 3 macam tes diatas dapat dibaca pada bagian Teknik Tes PROSEDUR MELAKSANAKAN EVALUASI . Pengamatan atau observasi. evaluasi ini dilakukan dengan mengumpulkan data dan informasi mengenai objek evaluasi sepanjang riwayat hidup objek evaluasi tersebut. c. Angkaangka tersebut kemudian dapat dipergunakan untuk melakukan perbandingan terhadap angka yang lain. d. Kuesioner tertututp adalah daftar pertanyaan yang memiliki dua atau lebih jawaban dan si penjawab hanya memberikan tanda silang (X) atau cek (¥) pada awaban yang ia anggap sesuai. Kedua adalah wawancara terpimpin dimana pewawancara telah menyusun pertanyaan pertanyaan terlebih dahulu yang bertujuan untuk menggiring penjawab pada informsi-informasi yang diperlukan saja. Daftar cocok adalah sebuah daftar yang berisikan pernyataan beserta dengan kolom pilihan jawaban. Dan bila ditinjau dari segi cara menjawab maka kuesioner terbagi menjadi kuesioner tertutup dan kuesioner terbuka.

apakah hendak di olah dengan statistikatau non statistik. dapat dipahami bahwa pengukuran itu bersifat kuantitatif Maksud dilaksanakan pengukuran sebagaimana dikemukakan Anas Sudijono (1996: 4) ada tiga macam yaitu : (1) pengukuran yang dilakukan bukan untuk menguji sesuatu seperti orang mengukur jarak dua buah kota. . apakah dengan parametrik atau non parametrik. Penilaian dan Evaluasi Pendidikan a. kegiatan ini adalah membandingkan sesuatu dengan atau sesuatu yang lain (Anas Sudijono. jika ditolak mengapa? Jika diterima mengapa? Berapa taraf signifikannya?) interpretasikan data tersebut secara berkesinambungan dengan tujuan evaluasi sehingga akan tampak hubungan sebab akibat. Apabila hubungan sebab akibat tersebut muncul maka akan lahir alternatif yang ditimbulkan oleh evaluasi itu. diakhiri dengan uji hipotesis ditolak atau diterima. Pengukuran Pengukuran dapat diartikan dengan kegiatan untuk mengukur sesuatu. dsb) b. penyusunan instrument. pengolahan data ( memaknai data yang terkumpul. proses dan out put. pengumpulan data ( tes. dan sebagainya sesuai dengan tujuan) c. ( ditafsirkan melalui berbagai teknik uji. SPSS ) e. apakah dengan manual atau dengan software (misal : SAS. kapan.Dalam melaksanakan evaluasi pendidikan hendaknya dilakukan secara sistematis dan terstruktur. dimana. Pengukuran ini dilakukan dengan jalan menguji hal yang ingin dinilai seperti kemajuan belajar dan lain sebagainya. dsb) d. kualitatif atau kuantitatif. 1996: 3) Jika kita mengukur suhu badan seseorang dengan termometer. Pengukuran. penafsiran data. apa saja yang hendak dievaluasi. indikator. Langkah-langkah dalam melaksanakan kegiatan evaluasi pendidikan secara umum adalah sebagai berikut : a. uji reliabilitas. verifiksi data (uji instrument. uji validitas. Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya bahwa evaluasi pendidikan secara garis besar melibatkan 3 unsur yaitu input. Pada hakekatnya. (2) pengukuran untuk menguji sesuatu seperti menguji daya tahan lampu pijar serta (3) pengukuran yang dilakukan untuk menilai. Karenanya. Apabila prosesdur yang dilakukan tidak bercermin pada 3 unsur tersebut maka dikhawatirkan hasil yang digambarkan oleh hasil evaluasi tidak mampu menggambarkan gambaran yang sesungguhnya terjadi dalam proses pembelajaran. atau mengukur jarak kota A dengan kota B. kuesioner. maka sesungguhnya yang sedang dilakukan adalah mengkuantifikasi keadaan seseorang atau tempat kedalam angka. perencanaan (mengapa perlu evaluasi. data apa saja yang hendak digali. observasi. tujuan evaluasi. teknikapa yang hendak dipakai. siapa yang hendak dievaluasi.

informasi yang diperoleh dari hasil pengukuran selanjutnya dideskripsikan dan ditafsirkan. b. Proses pengumpulan ini dilakukan untuk menaksir apa yang telah diperoleh siswa setelah mengikuti pelajaran selama waktu tertentu. yang dimaksud pengukuran sebagaimana disampaikan Cangelosi (1995: 21) adalah proses pengumpulan data melalui pengamatan empiris. Proses ini dapat dilakukan dengan mengamati kinerja mereka. kedua acuan ini dapat dipergunakan. Penggunaan acuan norma dilakukan untuk menyeleksi dan mengetahui dimana posisi seseorang terhadap kelompoknya. aspek-aspek yang terdapat dalam diri manusia seperti kognitif. Oleh karena itu. Adapun acuan kriteria dipergunakan untuk menentukan kelulusan . Penilaian Penilaian merupakan bagian penting dan tak terpisahkan dalam sistem pendidikan saat ini. Karenanya. cara mengukur dan obyek yang diukur. Tentu saja untuk itu diperlukan sistem penilaian yang baik dan tidak bias. Jika tes dapat memberikan informasi tentang karakteristik kognitif dan psikomotor. menurut Djemari Mardapi (1999: 8) penilaian adalah kegiatan menafsirkan atau mendeskripsikan hasil pengukuran. kesalahan dalam mengangkakan aspek-aspek ini harus sekecil mungkin. Dalam melakukan penilaian dibidang pendidikan. Pengukuran dalam bidang pendidikan erat kaitannya dengan tes. Selain dengan tes. Menurut Cangelosi (1995: 21) penilaian adalah keputusan tentang nilai. Bagi siswa sendiri. Hal ini dikarenakan salah satu cara yang sering dipakai untuk mengukur hasil yang telah dicapai siswa adalah dengan tes. Menurut Mardapi (2004: 14) pengukuran pada dasarnya adalah kegiatan penentuan angka terhadap suatu obyek secara sistematis. Menurut Djemari Mardapi (2004: 18) ada dua acuan yang dapat dipergunakan dalam melakukan penilaian yaitu acuan norma dan acuan kriteria. Acuan norma berasumsi bahwa kemampuan seseorang berbeda serta dapat digambarkan menurut kurva distribusi normal. penilaian merupakan langkah lanjutan setelah dilakukan pengukuran. maka nontes dapat memberikan informasi tentang karakteristik afektif obyek. afektif dan psikomotor dirubah menjadi angka. sistem penilaian yang baik akan mampu memberikan motivasi untuk selalu meningkatkan kemampuannya.Dalam dunia pendidikan. Peningkatan kualitas pendidikan dapat dilihat dari nilai-nilai yang diperoleh siswa. Karenanya. mendengarkan apa yang mereka katakan serta mengumpulkan informasi yang sesuai dengan tujuan melalui apa yang telah dilakukan siswa. Kesalahan yang mungkin muncul dalam melakukan pengukuran khususnya dibidang ilmuilmu sosial dapat berasal dari alat ukur. Misalnya jika seseorang mengikuti tes tertentu. maka hasil tes akan memberikan gambaran dimana posisinya jika dibandingkan dengan orang lain yang mengikuti tes tersebut. Sistem penilaian yang baik akan mampu memberikan gambaran tentang kualitas pembelajaran sehingga pada gilirannya akan mampu membantu guru merencanakan strategi pembelajaran. langkah selanjutnya setelah melaksanakan pengukuran adalah penilaian. terkadang juga dipergunakan nontes. Karakteristik yang terdapat dalam obyek yang diukur ditransfer menjadi bentuk angka sehingga lebih mudah untuk dinilai. Dalam sistem evaluasi hasil belajar. Hasil jawaban siswa tersebut ditafsirkan dalam bentuk nilai. Penilaian dilakukan setelah siswa menjawab soal-soal yang terdapat pada tes. Sedangkan acuan kriteria berasumsi bahwa apapun bisa dipelajari semua orang namun waktunya bisa berbeda.

Acuan kriteria. yang selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk . Dengan adanya acuan norma atau kriteria. yang selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil keputusan. ada beberapa hal yang menjadi ciri khas dari evaluasi yaitu: (1) sebagai kegiatan yang sistematis. evaluasi sebagaimana dikatakan Gronlund (1990: 5) merupakan proses yang sistematis tentang mengumpulkan. menganalisis dan menafsirkan informasi untuk menentukan sejauhmana tujuan pembelajaran telah dicapai oleh siswa. Misalnya. Asumsi-asumsi ataupun prasangka. Menurut Djemari Mardapi (2004: 19) evaluasi adalah proses mengumpulkan informasi untuk mengetahui pencapaian belajar kelas atau kelompok. hasil yang sama yang didapat dari pengukuran ataupun penilaian akan dapat diinterpretasikan berbeda sesuai dengan acuan yang digunakan. penilaian dan evaluasi merupakan kegiatan yang bersifat hierarki. Dalam bidang pendidikan. (2) dalam pelaksanaan evaluasi dibutuhkan data dan informasi yang akurat untuk menunjang keputusan yang akan diambil. Sebuah program pembelajaran seharusnya dievaluasi disetiap akhir program tersebut.seseorang dengan membandingkan hasil yang dicapai dengan kriteria yang telah ditetapkan terlebih dahulu. Pengertian evaluasi Menurut Suharsimi Arikunto (2004 : 1) evaluasi adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu. Evaluasi Menurut Suharsimi Arikunto (2004: 1) adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu. kecepatan kendaraan 40 km/jam akan memiliki interpretasi yang berbeda apabila kendaraan tersebut adalah sepeda dan mobil. c. Evaluasi Pengukuran. Seseorang yang dikatakan telah lulus berarti bisa melakukan apa yang terdapat dalam kriteria yang telah ditetapkan dan sebaliknya. ini biasanya dipergunakan untuk ujianujian praktek. Dari pendapat di atas. bukan merupakan landasan untuk mengambil keputusan dalam evaluasi. pelaksanaan evaluasi haruslah dilakukan secara berkesinambungan. Evaluasi Program: Sebuah Pengantar a. Artinya ketiga kegiatan tersebut dalam kaitannya dengan proses belajar mengajar tidak dapat dipisahkan satu sama lain dan dalam pelaksanaannya harus dilaksanakan secara berurutan. Acuan ini biasanya digunakan untuk menentukan kelulusan seseorang. dan (3) kegiatan evaluasi dalam pendidikan tidak pernah terlepas dari tujuan-tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya. Karena itulah pendekatan goal oriented merupakan pendekatan yang paling sesuai untuk evaluasi pembelajaran.

Fungsi utama evaluasi dalam hal ini adalah menyediakan informasi-informasi yang berguna bagi pihak decision maker untuk menentukan kebijakan yang akan diambil berdasarkan evaluasi yang telah dilakukan. Sesuatu yang berharga tersebut dapat berupa informasi tentang suatu program. Seorang manusia yang telah mengerjakan suatu hal. memperbaiki atau menghentikan sebuah program. penelitian dan evaluasi juga digabung menjadi satu frase. Tujuan umum diarahkan kepada program secara keseluruhan sedangkan tujuan khusus lebih difokuskan pada masing-masing komponen. produksi serta alternatif prosedur tertentu. b. Perbedaan tersebut terletak pada tujuan pelaksanaannya. Karenanya. program-program yang berjalan tidak akan dapat dilihat efektifitasnya. penelitian evaluasi. Dari pengertian-pengertian tentang evaluasi yang telah dikemukakan beberapa orang diatas. pasti akan menilai apakah yang dilakukannya tersebut telah sesuai dengan keinginannya semula. obtaining and providing useful information for judging decision alternatives. kebijakan-kebijakan baru sehubungan dengan program itu tidak akan didukung oleh data. Keberhasilan program itu sendiri dapat dilihat dari dampak atau hasil yang dicapai oleh program tersebut. Sebagaimana disampaikan oleh Sudharsono (1994 : 3) penelitian evaluasi mengandung makna pengumpulan informasi tentang hasil yang telah dicapai oleh sebuah program yang dilaksanakan secara sistematik dengan menggunakan metodologi ilmiah sehingga darinya dapat dihasilkan data yang akurat dan obyektif. Menurut Suharsimi Arikunto (2004 : 13) ada dua tujuan evaluasi yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Implementasi program harus senantiasa di evaluasi untuk melihat sejauh mana program tersebut telah berhasil mencapai maksud pelaksanaan program yang telah ditetapkan sebelumnya. dalam keberhasilan ada dua konsep yang terdapat didalamnya yaitu efektifitas dan efisiensi. evaluasi program bertujuan untuk menyediakan data dan informasi serta rekomendasi bagi pengambil kebijakan (decision maker) untuk memutuskan apakah akan melanjutkan. Dengan demikian. demikian juga dengan evaluasi. Tujuan evaluasi program Setiap kegiatan yang dilaksanakan mempunyai tujuan tertentu. . kita dapat menarik benang merah tentang evaluasi yakni evaluasi merupakan sebuah proses yang dilakukan oleh seseorang untuk melihat sejauh mana keberhasilan sebuah program. Menurut stufflebeam dalam worthen dan sanders (1979 : 129) evaluasi adalah : process of delineating. Tanpa adanya evaluasi. penyediaan (providing) informasi yang berguna (useful information) dan alternatif keputusan (decision alternatives). Jika penelitian bertujuan untuk membuktikan sesuatu (prove) maka evaluasi bertujuan untuk mengembangkan (improve). penggambaran (delineating). Efektifitas merupakan perbandingan antara output dan inoutnya sedangkan efisiensi adalah taraf pendayagunaan input untuk menghasilkan output lewat suatu proses (Sudharsono 1994 : 2) Dalam evaluasi terdapat perbedaan yang mendasar dengan penelitian meskipun secara prinsip. Terkadang. antara kedua kegiatan ini memiliki metode yang sama. Karenanya evaluasi bukan merupakan hal baru dalam kehidupan manusia sebab hal tersebut senantiasa mengiringi kehidupan seseorang. Dalam evaluasi ada beberapa unsur yang terdapat dalam evaluasi yaitu : adanya sebuah proses (process) perolehan (obtaining).menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil keputusan. Menurut Worthen dan Sanders (1979 : 1) evaluasi adalah mencari sesuatu yang berharga (worth). Karenanya.

Selain itu. Goal Oriented Evaluation Dalam model ini. tetapi secara umum model-model tersebut memiliki persamaan yaitu mengumpulkan data atau informasi obyek yang dievaluasi sebagai bahan pertimbangan bagi pengambil kebijakan. Dari pengertian ini dapat ditarik benang merah bahwa semua perbuatan manusia yang darinya diharapkan akan memperoleh hasil dan manfaat dapat disebut program. Hakekat Evaluasi Program Menurut John L Herman dalam Tayibnapis (1989 : 6) program adalah segala sesuatu yang anda lakukan dengan harapan akan mendatangkan hasil atau manfaat. Michael ( 1984 : 7) model-model evaluasi dapat dikelompokan menjadi enam yaitu : 1. program dapat diartikan dengan rencana atau rancangan kegiatan yang akan dilakukan oleh seseorang di kemudian hari. sebuah program juga tidak hanya terdiri dari satu kegiatan melainkan rangkaian kegiatan yang membentuk satu sistem yang saling terkait satu dengan lainnya dengan melibatkan lebih dari satu orang untuk melaksanakannya. Secara umum. Menilik pengertian secara khusus ini. Model-model evaluasi Ada banyak model yang bisa digunakan dalam melakukan evaluasi program khususnya program pendidikan. pengambil keputusan itu sendiri bukanlah evaluator melainkan pihak lain yang lebih berwenang. Menurut Suharsimi Arikunto (2004 : 2) program dapat dipahami dalam dua pengertian yaitu secara umum dan khusus. memperbaiki atau menghentikan program tersebut. maka sebuah program adalah rangkaian kegiatan yang dilaksanakan secara berkesinambungan secara waktu pelaksanaannya biasanya panjang. Berdasarkan pengertian diatas. maka evaluasi program sebagaimana dimaknai oleh Kirkpatrick dapat dimaknai sebagai sebuah proses untuk mengetahui apakah sebuah program dapat direalisasikan atau tidak dengan cara mengetahui efektifitas masing-masing komponennya melalui rangkain informasi yang diperoleh evaluator (Kirkpatrick 1996 : 3). Menurut Stephen Isaac dan Willian B. berlangsung dalam proses berkesinambungan dan terjadi dalam satu organisasi yang melibatkan sekelompok orang. (Suharsimi Arikunto dan Cecep Safruddin Abdul Jabbar : 2004). (2) mencari data yang relevan dengan penelitian dan (3) menyediakan informasi yang dibutuhkan pihak pengambil keputusan untuk melanjutkan. Menurut mereka. Evaluator hanya menyediakan informasi-informasi yang dibutuhkan oleh pengambil kebijakan (decision maker) d. Meskipun terdapat beberapa perbedaan antara model-model tersebut. seorang evaluator secara terus menerus melakukan pantauan terhadap .c. ada tiga tahap rangkaian evaluasi program yaitu : (1) menyatakan pertanyaan serta menspesifikasikan informasi yang hendak diperoleh. Tetapi. Menurut Isaac dan Michael (1984 : 6) sebuah program harus diakhiri dengan evaluasi. Sedangkan pengertian khusus dari program biasanya jika dikaitkan dengan evaluasi yang bermakna suatu unit atau kesatuan kegiatan yang merupakan ralisasi atau implementasi dari suatu kebijakan. Hal ini dikarenakan kita akan melihat apakah program tersebut berhasil menjalankan fungsi sebagaimana yang telah ditetapkan sebelumnya.

Model ini terdiri dari 4 komponen evaluasi sesuai dengan nama model itu sendiri yang merupakan singkatan dari Context. evaluasi produk menyediakan informasi apakah program itu akan dilanjutkan. Penilaian yang terus-menerus ini menilai kemajuan-kemajuan yang dicapai peserta program serta efektifitas temuan-temuan yang dicapai oleh sebuah program. Ketika sebuah program telah disetujui dan dimulai. . Evaluasi input (input evaluation) merupakan evaluasi yang bertujuan menyediakan informasi untuk menentukan bagaimana menggunakan sumberdaya yang tersedia dalam mencapai tujuan program. Decision Oriented Evaluation Dalam model ini. 4. dengan jalan mengidentifikasi kejadian-kejadian yang terjadi selama pelaksanaannya. Evaluasi proses (process evaluation) diarahkan pada sejauh mana kegiatan yang direncanakan tersebut sudah dilaksanakan. Evaluasi produk menunjukkan perubahan-perubahan yang terjadi pada input. penelitian evaluasi memfokuskan kegiatannya pada penjelasan dampak-dampak pendidikan serta mencari solusi-solusi terkait dengan strategi instruksional. Worthern & James R Sanders : 1979) Karenanya upaya yang dilakukan evaluator dalam evaluasi konteks ini adalah memberikan gambaran dan rincian terhadap lingkungan.tujuan yang telah ditetapkan. Goal Free Evaluation Model yang dikembangkan oleh Michael Scriven ini yakni Goal Free Evaluation Model justru tidak memperhatikan apa yang menjadi tujuan program sebagaimana model goal oriented evaluation. 5. maka dibutuhkanlah evaluasi proses dalam menyediakan umpan balik (feedback) bagi orang yang bertanggungjawab dalam melaksanakan program tersebut Evaluasi Produk (product evaluation) merupakan bagian terakhir dari model CIPP. Input. dimodifikasi kembali atau bahkan akan dihentikan 3. Model ini melihat lebih jauh tentang adanya kesenjangan (Discrepancy) yang ada dalam setiap komponen yakni apa yang seharusnya dan apa yang secara riil telah dicapai. kebutuhan serta tujuan (goal). evaluasi harus dapat memberikan landasan berupa informasi-informasi yang akurat dan obyektif bagi pengambil kebijakan untuk memutuskan sesuatu yang berhubungan dengan program. Evaluation Research Sebagaimana disebutkan diatas. Yang harus diperhatikan justru adalah bagaimana proses pelaksanaan program. Salah satu model yang bisa mewakili model ini adalah discrepancy model yang dikembangkan oleh Provus. Evaluasi ini bertujuan mengukur dan menginterpretasikan capaian-capaian program. Model CIPP merupakan salah satu model yang paling sering dipakai oleh evaluator. Evaluasi CIPP yang dikembangkan oleh stufflebeam merupakan salah satu contoh model evaluasi ini. Transactional Evaluation Dalam model ini. Evaluasi konteks (context evaluation) merupakan dasar dari evaluasi yang bertujuan menyediakan alasan-alasan (rationale) dalam penentuan tujuan (Baline R. Process dan Product. 2. Dalam proses ini. baik hal-hal yang positif maupun hal-hal yang negatif. evaluasi berusaha melukiskan proses sebuah program dan pandangan tentang nilai dari orang-orang yang terlibat dalam program tersebut.

Analisis Butir Soal untuk melakukan analisis terhadap sebuah butir soal ada dua pendekatan yang bisa digunakan yaitu dengan teori tes klasik dan teori respon butir. Hasil telaah kemudian dirangkum untuk selanjutnya ditentukan kualitas butir secara teoretis dengan menggunakan kriteria sebagai berikut: a. Insya Allah penulis akan sedikit membahas keempat hal tersebut. Adversary Evaluation Model ini didasarkan pada prosedur yang digunakan oleh lembaga hukum. Aspek materi yang ditelaah berkaitan dengan substansi keilmuan yang ditanyakan dalam butir tes serta tingkat kemampuan yang sesuai dengan tes. model adversary terdiri atas empat tahapan yaitu : 1. Setiap penelaah melakukan analisis terhadap setiap butir soal berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya dengan menuliskan huruf ³Y´ jika butir sesuai dengan kriteria dan huruf ³T´ jika butir tidak sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Dalam prakteknya. 4. 2. selain itu. 3. Melakukan sebuah dengar pendapat yang formal. Butir tes yang kurang baik yaitu butir yang hanya memenuhi sebanyak-banyaknya 3 kriteria aspek konstruksi serta 1 kriteria aspek materi dan bahasa. penulis akan membahas analisis soal dengan cara kualitatif atau teoritis. Analisis secara kualitatif dilakukan dengan melakukan penelaahan terhadap setiap butir soal dari aspek materi. Tim evaluasi ini kemudian mengemukakan argument-argumen dan bukti sebelum mengambil keputusan. . Analisis bahasa dimaksudkan untuk menelaah tes berkaitan dengan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar menurut Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). soal juga dapat di analisis dengan menggunakan analisis kualitatif (teoritis) dan kuantitatif (empiris). Butir tes yang baik yaitu butir yang memenuhi semua kriteria yang telah ditentukan. Telaah secara kualitatif dilakukan oleh tiga orang yang memiliki kompetensi sesuai dengan aspek materi konstruksi dan bahasa. Analisis konstruksi dimaksudkan untuk melihat hal-hal yang berkaitan dengan kaidah penulisan tes.6. konstruksi dan bahasa. Mengurangi jumlah isu yang dapat diukur. b. Membentuk dua tim evaluasi yang berlawanan dan memberikan kepada mereka kesempatan untuk berargumen. akan tetapi untuk saat ini. Mengungkapkan rentangan isu yang luas dengan cara melakukan survey berbagai kelompok yang terlibat dalam satu program untuk menentukan kepercayaan itu sebagai isu yang relevan.

atau lebih dari 3 untuk aspek konstruksi serta lebih dari 1 kriteria pada aspek bahasa. Gambar/grafik/table diagram dan sejenisnya jelas berfungsi 10.Pilihan jawaban yang berbentuk angka atau waktu disusun berdasarkan urutan besar kecilnya angka atau kronologis 13. Dari rangkuman hasil telaah kualitatif selanjutnya dapat ditentukan butir mana yang sudah atau belum memenuhi kriteria pada aspek materi. Tes sesuai indikator 2. Berikut contoh check list analisis kualitatif: a. Bahasa 14. Pokok tes tidak memberi petunjuk ke kunci jawaban 8. Konstruksi 4. Butir tes yang tidak baik yaitu butir yang tidak memenuhi semua kriteria yang telah ditetapkan pada aspek materi 1 dan 3. Rumusan pokok tes dan pilihan jawaban 7.tes menggunakan bahasa yang komunikatif 16. Pokok tes bebas dari pernyataan yang bersifat negatif ganda 9.tes tidak menggunakan bahasa yang berlaku setempat 17. 12. Pokok tes dirumuskun secara singkat dan jelas 5.Butir tes tidak tergantung pada jawaban sebelumnya c. Pilihan jawab homogen dan logis 3. yang selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk .Panjang rumusan jawaban relatif 11. Hanya ada satu kunci jawaban yang tepat b. Materi 1. konstruksi dan bahasa.Pilihan jawaban tidak menggunakan pernyataan "semua jawaban di atas salah" atau "semua jawaban di atas benar".pilihan jawaban tidak mengulang kata/kelompok kata yang sama yang bukan merupakan satu kesatuan Evaluasi Program: Sebuah Pengantar a.tes menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia 15. Pengertian evaluasi Menurut Suharsimi Arikunto (2004 : 1) evaluasi adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu. Dengan demikian dapat diambil kesimpulan tentang butir yang baik dan tidak baik.c.

Implementasi program harus senantiasa di evaluasi untuk melihat sejauh mana program tersebut telah berhasil mencapai maksud pelaksanaan program yang telah ditetapkan sebelumnya. evaluasi program bertujuan untuk menyediakan data dan informasi serta rekomendasi bagi pengambil kebijakan (decision maker) untuk memutuskan apakah akan melanjutkan. memperbaiki atau menghentikan sebuah program. pasti akan menilai apakah yang dilakukannya tersebut telah sesuai dengan keinginannya semula. penggambaran (delineating). Dalam evaluasi ada beberapa unsur yang terdapat dalam evaluasi yaitu : adanya sebuah proses (process) perolehan (obtaining). Perbedaan tersebut terletak pada tujuan pelaksanaannya. Karenanya. Fungsi utama evaluasi dalam hal ini adalah menyediakan informasi-informasi yang berguna bagi pihak decision maker untuk menentukan kebijakan yang akan diambil berdasarkan evaluasi yang telah dilakukan. b. Tujuan umum diarahkan kepada program secara keseluruhan sedangkan tujuan khusus lebih difokuskan pada masing-masing komponen. obtaining and providing useful information for judging decision alternatives. program-program yang berjalan tidak akan dapat dilihat efektifitasnya. Menurut Worthen dan Sanders (1979 : 1) evaluasi adalah mencari sesuatu yang berharga (worth). Karenanya evaluasi bukan merupakan hal baru dalam kehidupan manusia sebab hal tersebut senantiasa mengiringi kehidupan seseorang. demikian juga dengan evaluasi.menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil keputusan. kita dapat menarik benang merah tentang evaluasi yakni evaluasi merupakan sebuah proses yang dilakukan oleh seseorang untuk melihat sejauh mana keberhasilan sebuah program. Karenanya. Sebagaimana disampaikan oleh Sudharsono (1994 : 3) penelitian evaluasi mengandung makna pengumpulan informasi tentang hasil yang telah dicapai oleh sebuah program yang dilaksanakan secara sistematik dengan menggunakan metodologi ilmiah sehingga darinya dapat dihasilkan data yang akurat dan obyektif. Terkadang. penelitian evaluasi. penyediaan (providing) informasi yang berguna (useful information) dan alternatif keputusan (decision alternatives). produksi serta alternatif prosedur tertentu. penelitian dan evaluasi juga digabung menjadi satu frase. dalam keberhasilan ada dua konsep yang terdapat didalamnya yaitu efektifitas dan efisiensi. Dengan demikian. . Menurut stufflebeam dalam worthen dan sanders (1979 : 129) evaluasi adalah : process of delineating. Tujuan evaluasi program Setiap kegiatan yang dilaksanakan mempunyai tujuan tertentu. Tanpa adanya evaluasi. Keberhasilan program itu sendiri dapat dilihat dari dampak atau hasil yang dicapai oleh program tersebut. Dari pengertian-pengertian tentang evaluasi yang telah dikemukakan beberapa orang diatas. Efektifitas merupakan perbandingan antara output dan inoutnya sedangkan efisiensi adalah taraf pendayagunaan input untuk menghasilkan output lewat suatu proses (Sudharsono 1994 : 2) Dalam evaluasi terdapat perbedaan yang mendasar dengan penelitian meskipun secara prinsip. Menurut Suharsimi Arikunto (2004 : 13) ada dua tujuan evaluasi yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Sesuatu yang berharga tersebut dapat berupa informasi tentang suatu program. Seorang manusia yang telah mengerjakan suatu hal. antara kedua kegiatan ini memiliki metode yang sama. kebijakan-kebijakan baru sehubungan dengan program itu tidak akan didukung oleh data. Jika penelitian bertujuan untuk membuktikan sesuatu (prove) maka evaluasi bertujuan untuk mengembangkan (improve).

ada tiga tahap rangkaian evaluasi program yaitu : (1) menyatakan pertanyaan serta menspesifikasikan informasi yang hendak diperoleh. Tetapi. Hal ini dikarenakan kita akan melihat apakah program tersebut berhasil menjalankan fungsi sebagaimana yang telah ditetapkan sebelumnya. Evaluator hanya menyediakan informasi-informasi yang dibutuhkan oleh pengambil kebijakan (decision maker) d. pengambil keputusan itu sendiri bukanlah evaluator melainkan pihak lain yang lebih berwenang. maka sebuah program adalah rangkaian kegiatan yang dilaksanakan secara berkesinambungan secara waktu pelaksanaannya biasanya panjang. (Suharsimi Arikunto dan Cecep Safruddin Abdul Jabbar : 2004). Michael ( 1984 : 7) model-model evaluasi dapat dikelompokan menjadi enam yaitu : 1. Menurut mereka. Sedangkan pengertian khusus dari program biasanya jika dikaitkan dengan evaluasi yang bermakna suatu unit atau kesatuan kegiatan yang merupakan ralisasi atau implementasi dari suatu kebijakan. Menurut Isaac dan Michael (1984 : 6) sebuah program harus diakhiri dengan evaluasi. Hakekat Evaluasi Program Menurut John L Herman dalam Tayibnapis (1989 : 6) program adalah segala sesuatu yang anda lakukan dengan harapan akan mendatangkan hasil atau manfaat. tetapi secara umum model-model tersebut memiliki persamaan yaitu mengumpulkan data atau informasi obyek yang dievaluasi sebagai bahan pertimbangan bagi pengambil kebijakan. memperbaiki atau menghentikan program tersebut. Meskipun terdapat beberapa perbedaan antara model-model tersebut. Goal Oriented Evaluation Dalam model ini. Menilik pengertian secara khusus ini. Selain itu. Berdasarkan pengertian diatas. (2) mencari data yang relevan dengan penelitian dan (3) menyediakan informasi yang dibutuhkan pihak pengambil keputusan untuk melanjutkan. Secara umum. maka evaluasi program sebagaimana dimaknai oleh Kirkpatrick dapat dimaknai sebagai sebuah proses untuk mengetahui apakah sebuah program dapat direalisasikan atau tidak dengan cara mengetahui efektifitas masing-masing komponennya melalui rangkain informasi yang diperoleh evaluator (Kirkpatrick 1996 : 3). seorang evaluator secara terus menerus melakukan pantauan terhadap . Menurut Stephen Isaac dan Willian B.c. Dari pengertian ini dapat ditarik benang merah bahwa semua perbuatan manusia yang darinya diharapkan akan memperoleh hasil dan manfaat dapat disebut program. berlangsung dalam proses berkesinambungan dan terjadi dalam satu organisasi yang melibatkan sekelompok orang. program dapat diartikan dengan rencana atau rancangan kegiatan yang akan dilakukan oleh seseorang di kemudian hari. Menurut Suharsimi Arikunto (2004 : 2) program dapat dipahami dalam dua pengertian yaitu secara umum dan khusus. Model-model evaluasi Ada banyak model yang bisa digunakan dalam melakukan evaluasi program khususnya program pendidikan. sebuah program juga tidak hanya terdiri dari satu kegiatan melainkan rangkaian kegiatan yang membentuk satu sistem yang saling terkait satu dengan lainnya dengan melibatkan lebih dari satu orang untuk melaksanakannya.

Model CIPP merupakan salah satu model yang paling sering dipakai oleh evaluator. penelitian evaluasi memfokuskan kegiatannya pada penjelasan dampak-dampak pendidikan serta mencari solusi-solusi terkait dengan strategi instruksional. 2. Dalam proses ini. evaluasi produk menyediakan informasi apakah program itu akan dilanjutkan. Decision Oriented Evaluation Dalam model ini. 4. Evaluasi proses (process evaluation) diarahkan pada sejauh mana kegiatan yang direncanakan tersebut sudah dilaksanakan. 5. Process dan Product. Salah satu model yang bisa mewakili model ini adalah discrepancy model yang dikembangkan oleh Provus. Evaluation Research Sebagaimana disebutkan diatas. Evaluasi CIPP yang dikembangkan oleh stufflebeam merupakan salah satu contoh model evaluasi ini. maka dibutuhkanlah evaluasi proses dalam menyediakan umpan balik (feedback) bagi orang yang bertanggungjawab dalam melaksanakan program tersebut Evaluasi Produk (product evaluation) merupakan bagian terakhir dari model CIPP.tujuan yang telah ditetapkan. Ketika sebuah program telah disetujui dan dimulai. Worthern & James R Sanders : 1979) Karenanya upaya yang dilakukan evaluator dalam evaluasi konteks ini adalah memberikan gambaran dan rincian terhadap lingkungan. Goal Free Evaluation Model yang dikembangkan oleh Michael Scriven ini yakni Goal Free Evaluation Model justru tidak memperhatikan apa yang menjadi tujuan program sebagaimana model goal oriented evaluation. Evaluasi konteks (context evaluation) merupakan dasar dari evaluasi yang bertujuan menyediakan alasan-alasan (rationale) dalam penentuan tujuan (Baline R. Input. Yang harus diperhatikan justru adalah bagaimana proses pelaksanaan program. Penilaian yang terus-menerus ini menilai kemajuan-kemajuan yang dicapai peserta program serta efektifitas temuan-temuan yang dicapai oleh sebuah program. Evaluasi input (input evaluation) merupakan evaluasi yang bertujuan menyediakan informasi untuk menentukan bagaimana menggunakan sumberdaya yang tersedia dalam mencapai tujuan program. . Model ini terdiri dari 4 komponen evaluasi sesuai dengan nama model itu sendiri yang merupakan singkatan dari Context. Evaluasi ini bertujuan mengukur dan menginterpretasikan capaian-capaian program. Evaluasi produk menunjukkan perubahan-perubahan yang terjadi pada input. Transactional Evaluation Dalam model ini. evaluasi harus dapat memberikan landasan berupa informasi-informasi yang akurat dan obyektif bagi pengambil kebijakan untuk memutuskan sesuatu yang berhubungan dengan program. Model ini melihat lebih jauh tentang adanya kesenjangan (Discrepancy) yang ada dalam setiap komponen yakni apa yang seharusnya dan apa yang secara riil telah dicapai. kebutuhan serta tujuan (goal). dimodifikasi kembali atau bahkan akan dihentikan 3. evaluasi berusaha melukiskan proses sebuah program dan pandangan tentang nilai dari orang-orang yang terlibat dalam program tersebut. dengan jalan mengidentifikasi kejadian-kejadian yang terjadi selama pelaksanaannya. baik hal-hal yang positif maupun hal-hal yang negatif.

Menurut John M.the degree of which test score are free from error measurement". Kedua statistik di atas memiliki keterbatasannya masing-masing. Dalam pandangan Brennan (2001: 295) reliabilitas merupakan karakteristik skor.. Melakukan sebuah dengar pendapat yang formal. Untuk memperoleh skor yang sama. 2. sebuah alat ukur dapat dilihat dari dua petunjuk yaitu kesalahan baku pengukuran dan koefisien reliabilitas. suatu tes dapat dikatakan memiliki reliabilitas yang tinggi apabila skor tampak tes tersebut berkorelasi tinggi dengan skor murninya sendiri. Echols dan Hasan Shadily (2003: 475) reliabilitas adalah hal yang dapat dipercaya. Dalam pandangan Aiken (1987: 42) sebuah tes dikatakan reliabel jika skor yang diperoleh oleh peserta relatif sama meskipun dilakukan pengukuran berulang-ulang. Reliabilitas: Pendekatan Tes Ulang Reliabilitas diterjemahkan dari kata reliability. Kesalahan pengukuran merupakan rangkuman inkonsistensi peserta tes dalam unit-unit skala skor sedangkan koefisien reliabilitas merupakan kuantifikasi reliabilitas dengan merangkum konsistensi (atau inkonsistensi) diantara beberapa kesalahan pengukuran. Mengungkapkan rentangan isu yang luas dengan cara melakukan survey berbagai kelompok yang terlibat dalam satu program untuk menentukan kepercayaan itu sebagai isu yang relevan. Dalam prakteknya. Popham (1995: 21) menyatakan bahwa reliabilitas adalah ". Menurut Sumadi Suryabrata (2004: 28) reliabilitas menunjukkan sejauhmana hasil pengukuran dengan alat tersebut dapat dipercaya. bukan tentang tes ataupun bentuk tes.6. Dengan demikian keandalan . Kedua statistik tersebut masing-masing memiliki kelebihan dan keterbatasan (Feldt & Brennan. 3.. maka tidak boleh ada kesalahan pengukuran. Mengurangi jumlah isu yang dapat diukur. Dalam kerangka teori tes klasik. Hasil pengukuran harus reliabel dalam artian harus memiliki tingkat konsistensi dan kemantapan. 4. Adversary Evaluation Model ini didasarkan pada prosedur yang digunakan oleh lembaga hukum. 1989: 105) Berdasarkan sejarah. model adversary terdiri atas empat tahapan yaitu : 1. Tim evaluasi ini kemudian mengemukakan argument-argumen dan bukti sebelum mengambil keputusan. reliabilitas sebuah instrumen dapat dihitung melalui dua cara yaitu kesalahan baku pengukuran dan koefisien reliabilitas (Feldt & Brennan: 105). Membentuk dua tim evaluasi yang berlawanan dan memberikan kepada mereka kesempatan untuk berargumen. Interpretasi .

ada tiga cara yang sering digunakan yaitu (1) pendekatan tes ulang. Traub (1994: 38) yang disimbolkan oleh dapat didefinisikan sebagai rasio antara varian skor murni dan varian skor tampak .lainnya adalah seberapa tinggi korelasi antara skor tampak pada dua tes yang pararel. (2) pendekatan dengan tes pararel dan (3) pendekatan satu kali pengukuran. Dalam mengestimasi reliabilitas alat ukur. Misalnya seorang guru hendak melihat reliabilitas tes yang telah dibuatnya. (Saifuddin Azwar. Estimasi dengan pendekatan tes ulang akan menghasilkan koefisien stabilitas. Setelah melakukan dua kali pengukuran didapatkan skor tes sebagai berikut: Koefisien reliabilitas test di atas dapat dihitung dengan menggunakan formula korelasi produk momen dari Pearson sebagai berikut: . Reliabilit as menurut Ross E. Pendekatan tes ulang merupakan pemberian perangkat tes yang sama terhadap sekelompok subjek sebanyak dua kali dengan selang waktu yang berbeda. Secara matematis teori di atas dapat ditulis : Reliabilitas alat ukur tidak dapat diketahui dengan pasti tetapi dapat diperkirakan. Untuk memperoleh koefisien reliabilitas melalui pendekatan tes ulang dapat dilakukan dengan menghitung koefisien korelasi linear antara distribusi skor subyek pada pemberian tes pertama dengan skor subyek pada pemberian tes kedua. Pendekatan tes ulang sangat sesuai untuk mengukur ketrampilan terutama ketrampilan fisik. Asumsinya adalah bahwa skor yang dihasilkan oleh tes yang sama akan menghasilkan skor tampak yang relatif sama. 2006: 29).

kemampuan perseptual. Gerakan dasar adalah gerakan yang mengarah pada ketrampilan kompleks yang khusus seperti berlari dan berjalan. Kemampuan perseptual merupakan kombinasi kemampuan kognitif dan kemampuan motor. Hal ini berarti bahwa jawaban yang diberikan oleh peserta tes tidak bisa dikategorikan sebagai jawaban benar atau salah sebagaimana interpretasi jawaban tes. Dalam dunia psikologi. Sedangkan komunikasi nondiskursip adalah kemampuan berkomunikasi dengan menggunakan bahasa gerakan.Dengan demikian. melukis. Kemampuan terakhir ini berhubungan dengan kemampuan mengucapkan kata-kata berbahasa asing. kemampuan fisik adalah kemampuan untuk mengembangkan gerakan yang paling terampil seperti gerakan tari ataupun olahrega ekstrim tertentu. Penilaian yang dilakukan dengan teknis nontes terutama bertujuan untuk memperoleh informasi yang berkaitan dengan evaluasi hasil belajar peserta didik dari segi ranah sikap hidup (affective domain) dan ranah ketrampilan (psychomotoric domain). Salah satu kelemahan mendasar dari teknik test-retest adalah carry-over effect. Penyusunan Instrumen Nontes Teknis nontes adalah suatu alat penilaian yang biasanya dipergunakan untuk mendapatkan informasi tertentu tentang keadaan peserta tes (Inggris: testee) dengan tidak menggunakan tes. 1980: 76). Kemampuan psikomotor (psychomotoric domain) adalah kemampuan yang berhubungan dengan gerak yaitu kemampuan dalam menggunakan otot-otot seperti berjalan. Gerak reflek adalah gerakan yang muncul tanpa sadar. korelasi sebesar 0.954 menggambarkan bahwa reliabilitas tes cukup tinggi. lari. membongkar dan memasang peralatan dan lain sebagainya. . melompat. Dengan teknik nontes maka penilaian atau evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan tanpa ³menguji´ peserta didik melainkan dilakukan dengan cara tertentu. jika peserta tes masih ingat dengan soal-soal dan bahkan jawaban ketika dilakukan test pertama. kemampuan psikomotor dibagi kedalam lima tingkatan yaitu gerak refleks. Misalnya. Masalah ini disebabkan oleh adanya kemungkinan pada test yang kedua dipengaruhi oleh test pertama. (4) organization (mengorganisasi) dan (5) characterization by a value or value complex (karakterisasi dengan suatu nilai atau nilai yang kompleks). gerakan trampil dan komunikasi nondiskursip (Sax. gerakan dasar. sebagaimana dikutip Anas Sudijono (2005 : 54) mengembangkan taksonomi mengenai ranah afektif ini dengan membaginya kedalam lima jenjang yaitu : (1) receiving (menerima) (2) responding (merespon) (3) valuing (menilai atau memaknai). berenang. kemampuan fisik. David Krathwohl (1974). Hal ini dapat meningkatkan korelasi serta overestimasi terhadap PXX¶.

Dalam dunia pendidikan teknik nontes yang sering digunakan adalah pengamatan (observasi), dan terkadang, seorang guru juga menggunakan wawancara. Dalam penelitianpenelitian sosial, teknik nontes biasanya juga digunakan untuk mendapatkan informasi mengenai keadaan obyek penelitian. Teknik nontes yang sering digunakan dalam penelitianpenelitian sosial penelitian adalah kuesioner. Teknik pengamatan atau observasi merupakan salah satu bentuk teknik nontes yang biasa dipergunakan untuk menilai sesuatu melalui pengamatan terhadap objeknya secara langsung, seksama dan sistematis. Pengamatan memungkinkan untuk melihat dan mengamati sendiri kemudian mencatat perilaku dan kejadian yang terjadi pada keadaan sebenarnya. Menurut Moleong (2005 : 176) pengamatan dapat dibedakan menjadi dua yaitu pengamatan berperanserta dan tidak berperanserta. Dalam pengamatan yang tidak berperanserta, seseorang hanya melakukan satu fungsi yaitu mengamati tetapi pada pengamatan berperanserta seseorang disamping mengamati juga menjadi anggota dari obyek yang diamati. Pengamatan dapat pula dibagi atas pengamatan terbuka dan tertutup. Terbuka jika obyek yang diamati mengetahui bahwa mereka sedang diamati dan sebaliknya. Selain itu pengamatan juga dibagi pada latar alamiah (pengamatan tak terstruktur) dan latar buatan (pengamatan terstruktur). Pengamatan ini biasanya dapat dilakukan pada eksperimen. Dalam pengamatan berstruktur, kegiatan pengamatan itu telah diatur sebelumnya. Isi, maksud, objek yang diamati, kerangka kerja, dan lain-lain, telah ditetapkan sebelum kegiatan pengamatan dilaksanakan. Oleh karena itu, kegiatan pencatatan hanya dilakukan terhadap data -data yang sesuai dengan cakupan bidang kebutuhan seperti yang telah ditetapkan sejak semula. Lain halnya dengan pengamatan tak berstrukur, dalam melakukan pengamatannya, si pengamat tidak dibatasi oleh kerangka kerja yang telah dipersiapkan sebelumnya. Setiap data yang muncul yang dianggap relevan dengan tujuan pengamatannya langsung dicatat. Dengan demikian, data yang diperoleh lebih mencerminkan keadaan yang sesungguhnya. Perilaku siswa dalam keadaan seperti itu bersifat wajar, apa adanya dan tidak dibuat-buat. Teknik pengamatan jika dilakukan untuk melihat apakah perbuatan siswa sudah benar atau tidak dapat dikategorikan sebagai teknik tes. Misalnya jika dalam praktek olahraga seorang guru akan melihat apakah cara melempar lembing seseorang sudah sesuai dengan teori atau tidak, maka pengamatan jenis ini terkategori sebagai teknik tes. Tetapi jika pengamatan dilakukan terhadap aspek afektif seperti cara seorang siswa bersikap terhadap guru, menjaga kebersihan, perhatian terhadap tugas-tugas sekolah dan sebagainya, maka teknik ini termasuk teknik nontes. Wawancara atau interview merupakan salah satu alat penilaian nontes yang dipergunakan untuk mendapatkan informasi tertentu tentang keadaan responden dengan jalan tanya-jawab sepihak. Dikatakan sepihak karena pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam kegiatan wawancara itu hanya berasal dari pihak pewawancara saja, sementara responden hanya bertugas sebagai penjawab. Maksud diadakan wawancara sebagaimana dikutip Moleong dari Lincoln dan Guba (1985 : 266) antara lain mengkonstruksi mengenai orang, kejadian, organisasi, perasaan, motivasi, tuntutan, kepedulian dan lain sebagainya. Ada banyak pembagian wawancara yang dilakukan para ahli. salah satu diantaranya adalah membagi wawancara kedalam dua bentuk yaitu wawancara bebas dan wawancara terpimpin. Yang dimaksud wawancara terpimpin adalah suatu kegiatan wawancara yang pertanyaanpertanyaan serta kemungkinan-kemungkinan jawabannya itu telah dipersiapkan pihak pewawancara, responden tinggal memilih jawaban yang sudah dipersiapkan pewawancara.

Sebaliknya dalam wawancara bebas, responden diberi kebebasan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan pewawancara sesuai dengan pendapatnya tanpa terikat oleh ketentuanketentuan yang telah dibuat pewawancaranya. Kuesioner merupakan bentuk lain dari teknik nontes. Secara umum, ada dua jenis kuesioner yaitu kuesioner tertutup dan terbuka. Kuesioner tertutup adalah kuesioner yang telah disediakan alternatif jawabannya sehingga responden tinggal memilih yang sesuai dengan keadaan dirinya. Sedangkan kuesioner terbuka adalah kuesioner yang jawabannya belum disediakan sehingga responden bebas menuliskan apa yang dia rasakan. Satu hal yang menjadi ciri utama kuesioner adalah dalam kuesioner tidak ada jawaban benar atau salah. Salah satu contoh kuesioner tertutup adalah : Umur anda saat ini adalah : a. 15 ± 20 tahun b. 20 ± 25 tahun c. 25 ± 30 tahun d. 35 ± 35 tahun Adapun contoh kuesioner terbuka adalah : Setiap idul fitri tiba, ribuan orang seperti digerakkan untuk beridulfitri di kampung halamannya. Uraikanlah menurut pendapat anda apa yang menjadi penyebab pulangkampungnya orang yang ada diperantauan ketika Idul Fitri tiba! Ada beberapa alasan kenapa kuesioner sering dipergunakan orang dalam mengumpulkan informasi tertentu yaitu : (1) butir-butir kuesioner dapat diberikan kepada responden secara serentak sehingga lebih efektif, (2) butir-butir dalam kuesioner lebih menjamin keseragaman baik perumusan kata, isi maupun urutannya serta kuesioner lebih memudahkan dalam memberikan jawaban, (3) kuesioner memudahkan sumber data dalam memberikan jawaban serta kepraktisan serta relative lebih murah dibandingkan metode nontes yang lain.

Validitas Tes
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia senantiasa dihadapkan pada masalah keakuratan sebuah informasi. Informasi yang diterima manusia setiap hari sangat banyak dengan sumber yang semakin beragam. Koran dan televisi adalah dua sumber informasi utama saat ini. Dengan semakin banyaknya sumber-sumber informasi yang senantiasa berkembang, maka muncul sebuah pertanyaan mendasar tentang sejauhmana informasi yang diperoleh tersebut dapat dipercaya? Dalam penelitian-penelitian sosial, keakuratan informasi yang diperoleh sangat

mempengaruhi keputusan yang akan diambil. Sayangnya, akurasi informasi dalam penelitianpenelitian sosial tersebut tidak mudah diperoleh disebabkan sulitnya mendapatkan operasionalisasi konsep mengenai variabel yang hendak diukur. Untuk mengungkap aspekaspek yang hendak diteliti, maka diperlukan alat ukur yang baik dan berkualitas. Alat ukur tersebut dapat berupa skala atau tes. Sebuah tes yang baik sebagaimana disampaikan oleh Syaifuddin Azwar (2006 : 2) harus memiliki beberapa kriteria antara lain valid, reliable, standar, ekonomis dan praktis. Dalam Standards for Educational and Psychological Testing validitas adalah "... the degree to which evidence and theory support the interpretation of test scores entailed by proposed uses of tests " (1999: 9). Sebuah tes dikatakan valid jika ia memang mengukur apa yang seharusnya diukur (Allen & Yen, 1979: 95). Dalam bahasa yang hampir sama Djemari Mardapi (2004: 25) menyatakan bahwa validitas adalah ukuran seberapa cermat suatu tes melakukan fungsi ukurnya. Menurut Nitko & Brookhart (2007: 38) kevalidan sebuah alat ukur tergantung pada bagaimana hasil tes tersebut diinterpretasikan dan digunakan. Dalam pandangan Samuel Messick (1989: 13) validitas merupakan penilaian menyeluruh dimana bukti empiris dan logika teori mendukung pengambilan keputusan serta tindakan berdasarkan skor tes atau model-model penilaian yang lain Jika dikaitkan dengan bidang psikologi, penggunaan validitas dapat dijumpai dalam tiga konteks yaitu validitas penelitian, validitas soal dan validitas alat ukur. Validitas penelitian merupakan derajad kesesuaian hasil penelitian dengan keadaan sebenarnya. Validitas soal berkaitan dengan kesesuaian antara suatu soal dengan soal lain. Sedangkan validitas alat ukur merujuk pada kecermatan ukurnya suatu tes (Sumadi Suryabrata, 2004: 40). Menurut Allen & Yen (1979: 95) validitas tes dapat dibagi kedalam tiga kelompok utama yaitu : (1) validitas isi (content validity), (2) validitas konstruk (construct validity) dan (3) validitas kriteria (criterion related validity). Meskipun idealnya validasi dapat dilakukan dengan memakai semua bentuk validitas tes tersebut, tetapi pengembang tes dapat memilih bentuk validasi dengan melihat tujuan pengembangan tes (Kumaidi, 1994: 58). Validitas isi menunjuk pada sejauhmana isi perangkat soal tersebut mengukur apa yang seharusnya diukur. Dalam kaitannya dengan kegiatan pembelajaran menurut Djemari Mardapi (1996: 22) validitas ini adalah kesesuaian antara materi ujian dan materi yang telah dipelajari. Pengujian validitas isi tidak melalui analisis statistik melainkan analisis rasional yaitu dengan melihat apakah butir-butirnya telah sesuai dengan batasan domain ukur yang telah ditetapkan sebelumnya. Allen & Yen (1979: 95) membagi validitas isi kedalam dua kelompok yaitu face validity (validitas muka) dan logical validity (validitas logis). Validitas muka dapat dicapai jika tampilan tes tersebut telah meyakinkan untuk mengungkap atribut yang hendak diukur. Adapun validitas logis menunjukkan sejauhmana isi tes mengungkapkan representasi dari ciri-ciri atribut yang hendak diukur. Validitas konstruk merujuk pada sejauhmana suatu tes mengukur suatu konstruk teoretik atau trait yang hendak diukurnya (Allen & Yen, 1979: 108) konstruk dalam pengertian ini adalah berkaitan dengan aspek-aspek psikologi seseorang khususnya aspek kognitif, afektif dan psikomotor. Ada beberapa cara yang bisa digunakan untuk menguji validitas konstruk. Misalnya dengan melakukan pencocokan antara aspek-aspek berpikir yang terkandung dalam tes hasil belajar dengan aspek-aspek berpikir yang hendak diungkap oleh tujuan instruksional khusus. Pengujian yang lebih sederhana tentang validitas konstruk adalah malalui pendekatan multi trait multi-method (Saifuddin Azwar 2003: 176). Pendekatan ini akan menghasilkan bukti validitas diskriminan yang ditunjukkan dengan rendahnya korelasi antar skor yang mengukur trait yang berbeda bila digunakan metode yang sama dan validitas konvergen yang ditunjukkan oleh tingginya korelasi skor-skor tes yang mengukur trait yang sama dengan

37 dan ini lebih tinggi daripada yang diprediksikan oleh teorinya (-0.30). Jika dimanfaatkan dalam waktu dekat maka disebut validitas konkurent (concurrent validity) dan jika dimanfaatkan diwaktu yang akan datang disebut validitas prediktif (predictive validity).37 antara L1 dan C2 validitas konstruk dalam skala sikap itu terdukung. Contoh mengenai estimasi koefisien validitas berdasarkan metode multitrait multimethod adalah sebagaimana disampaikan Fred N. Dalam validitas kriteria. Kerlinger (1973:742) tentang matriks hubungan antara sikap sosial. Korelasi antara kedua instrument tersebut disajikan dalam bentuk matriks multitrait-multimethod berikut : Dalam contoh tersebut secara teoritis dituntut adanya korelasi negative atau mendekati nol antara L dan C.5. Korelasi silang antara L dan C yakni korelasi antara L pada metode 1 dan C pada metode 2 atau antara L1 dan C2 adalah -0. dalam pengukuran psikologis.09 yang berarti bahwa keduanya hampir selaras dengan teorinya. maka semakin tinggi pula kecermatan prediksinya. Menurut Sumadi Suryabrata. Untuk memperoleh validitas kriteria. dengan perkecualian korelasi silang yang besarnya -0. Ada dua instrument berbeda yang digunakan untuk mengukur liberalisme (L) dan konservatisme (C) dalam hubungannya dengan sikap sosial seseorang yaitu dengan pernyataan sikap biasa (metode 1) dan referen (metode 2) menggunakan referensi-referensi sikap seperti sepatah kata atau frase singkat.menggunakan metode yang berbeda. Validitas kriteria merupakan validitas yang disusun berdasarkan kriteria yang telah ada sebelumnya. kesahihan alat ukur dilihat dari sejauhmana hasil pengukuran tersebut sama dengan hasil pengukuran alat lain yang dijadikan kriteria. Validitas kriteria ditunjukkan dengan angka korelasi antara skor pada alat yang dipergunakan dengan skor yang dihasilkan dari alat yang dijadikan kriteria.07 serta antara L2 dengan C2 adalah 0. maka koefisien determinasinya adalah sebesar 0. Tetapi dalam ujian masuk perguruan tinggi misalnya. Jadi jika diperoleh koefisien korelasi sebesar 0. koefisien validitas ditunjukkan dengan skor pada saat ujian masuk dengan skor yang diperoleh pada saat seseorang telah belajar selama beberapa waktu tertentu. . diperlukan pengujian dengan menggunakan korelasi. korelasi antara L1 dengan C1 adalah -0. Validitas kriteria dibedakan menjadi dua macam yaitu berdasarkan kapan kriteria itu dapat dimanfaatkan. (2004: 46) dalam menafsirkan koefisien validitas yang didapat dari mengkorelasikan skor alat ukur dengan kriterianya sebaiknya dilakukan melalui koefisien determinasi yaitu koefisien korelasi kuadrat. Maka. Biasanya. semakin tinggi angka koefisien determinasi. yang dijadikan kriteria. adalab hasil Pengukuran lain yang telah dianggap sebagai alat ukur yang baik misalnya tes Stanford Binnet atau tes Weschler.25.

websites. dokumen yang menunjukkan adanya kegiatan mengunjungi perpustakaan. mencakup tahap perencanaan poses pembelajaran. mengakses internet. Guru dapat mengisi jurnal ini pada setiap pelajaran yang telah diberikan/ diajarkan atau selama guru tersebut melaksanakan pekerjaan sehari-harinya sebagai guru Jurnal merekam renungan dan refleksi dari pikiran. Guru dapat menuangkan evaluasi yang telah dilakukannya dalam jurnal refleksi pembelajaran. bahasa jepang. dokumen hasil diskusi. dokumen pemanfaatan berbagai fasilitas yang menunjukkan difungsikannya sumbersumber belajar 4. kelompok ilmiah remaja. dan lain-lain) yang menunjukkan adanya program pembiasaan mencari informasi/pengetahuan lebih lanjut dari berbagai sumber belajar . dan lain-lain). C. Hal-hal yang perlu didokumentasikan adalah: 1. Kegiatan ini sering disebut juga sebagai refleksi proses pembelajaran. yang perlu diperhatikan juga adalah mendokumentasikan berbagai hal yang menyangkut proses pembelajaran. pelaksanaan proses pembelajaran. dokumen silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) 2. DOKUMENTASI PROSES PEMBELAJARAN Dalam evaluasi proses pembelajaran. karena kita akan menemukan kelebihan dan kekurangan dari proses pembelajaran yang telah dilakukan. kelompok belajar bahasa asing (bahasa inggris. 41 tahun 2007 tentang Standar proses dinyatakan bahwa evaluasi proses pembelajaran dilakukan untuk menentukan kualitas pembelajaran secara keseluruhan. dll)? ‡ Apakah tujuan pembelajaran dapat tercapai? B. pusat industri. Mengidentifikasi kinerja guru dalam proses pembelajaran sesuai dengan kompetensi guru A. mengunjungi sumber belajar di luar lingkungan sekolah (museum. bahasa mandarin. Kolaborasi dapat dilakukan dengan rekan guru atau siswa. kebun raya. seperti: ‡ Apa yang saya ajarkan hari ini? ‡ Apa yang masih membingunkan bagi siswa? ‡ Apakah saya menemukan masalah dan issu yang tidak diharapkan? ‡ Apa jenis pembelajaran tingkat tinggi yang saya sampaikan? ‡ Apa jenis pembelajaran tingkat rendah yang saya sampaikan? ‡ Apakah siswa saya dapat menerima materi yang saya ajarkan? ‡ Apakah saya telah membelajarkan siswa? ‡ Bagaimana saya memperbaiki tehnik pembelajaran? ‡ Apa yang ingin dan perlu kuketahui lebih banyak lagi? ‡ Apa sumber belajar yang memberi ilham dan menyenangkan saya (photo. Dalam Permen No. bahasa arab. EVALUASI DIRI Evalusi proses pembelajaran dapat dilakukan oleh guru yang bersangkutan secara mandiri. kliping. EVALUASI KOLABORATIF Guru dapat melakukan evaluasi proses pembelajaran secara kolaboratif.Evaluasi proses pembelajaran merupakan tahap yang perlu dilakukan oleh guru untuk menentukan kualitas pembelajaran. bahasa perancis. laporan hasil analis terhadap suatu masalah yang menunjukkan keterlibatan siswa dalam kegiatan belajar mengajar 3. Evaluasi proses pembelajaran diselenggarakan dengan cara: a. Membandingkan poses pembelajaran yang dilaksanakan guru dengan standar proses b. dan penilaian hasil pembelajaran.

seni dan budaya. pameran lukisan. latihan musik.5. Dr. dokumen pembiasaan dan pengamalan ajaran agama seperti aktivitas ibadah bersama. laporan kunjungan lapangan. daur ulang sampah. teater. konser musik. Soedijarto. musik. dan sebagainya yang menunjukkan adanya pengalaman belajar untuk memanfaatkan lingkungan secara produktif dan bertanggung jawab 6. buletin siswa. 9. H. membantu warga sekolah yang memerlukan 10. kunjungan ke laboratorium alam. dan Tenaga Pendidikan sebagai Unsur Strategis dalam Penyelenggaraan Sistem Pengajaran Nasional Prof. dokumen kegiatan megunjungi pameran lukisan. dokumen pemanfaatan lingkungan baik di dalam maupun di luar kelas seperti kebun untuk praktek biologi. karya teknologi tepat guna dan lain sebagainya yang menunjukkan adanya pengalaman mengekspresikan diri melalui kegiatan seni dan budaya 7. drama. seperti: hasil portofolio. tingkat kabupaten / propinsi / nasional yang menunjukkan adanya pengalaman belajar untuk menumbuhkan sikap kompetitif dan sportif. majalah dinding. Sistem Evaluasi. pagelaran tari. peringatan hari-hari besar agama. ketrampilan membuat barang seni. MA *) . dan sebagainya yang menunjukkan adanya pengalaman mengapresiasikan karya seni dan budaya 8. dokumen laporan kepengawasan proses pembelajaran yang dilakukan oleh kepala sekolah JURNAL I Kurikulum. latihan tari. dan lainlain 11. dokumen kegiatan mengikuti pertandingan antar kelas. laporan penulisan karya tulis. pentas seni. dokumen penugasan latihan ketrampilan menulis siswa. dokumen kegiatan pekan bahasa.

particularly about (1) the role of curriculum as a strategic means in school education. dan sistim evaluasi Abstract There have been several changes in the primary and secondary school curriculum system ever since Indonesia gained its independence. Kata kunci: Kurikulum. Dalam kaitannya dengan penyelenggaran sistem pengajaran nasional. telah beberapa kali terjadi perubahan kurikulum S sekolah dasar dan menengah. efisien dan efektif akan mempu mendukung terlaksanya fungsi pendidikan nasional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. The changes could raise several questions due to the important and strategic role of the curriculum in achieving the objective of national education system. (3) pendekatan proses pembelajaran dan implikasinya terhadap sistem evaluasi. .Abstrak Sejak Indonesia merdeka. pilar belajar. (4) evaluasi sebagai media pendidikan dan sarana umpan balik . tulisan ini membahas (1) makna kurikulum sebagai unsur strategis dalam pendidikan sekolah. This article discusses several issues related to the national instructional system. dan (5) peranan guru dan implikasinya terhadap profesionalisasi jabatan guru. Perubahan itu dapat menimbulkan berbagai pertanyaan mengingat betapa penting dan strategisnya peranan kurikulum dalam mencapai tujuan pendidikan nasional. (2) tujuan dan materi kurikulum yang relevan . dan memajukan kebudayaan nasional. Dalam tulisan ini disebutkan bahwa apabila sekolah dengan kurikulum yang dirancang dan dilaksanakan secara relevan.

if the design and the implementation are appropriate. Sampai dengan kurikulum 1984. Dari serangkaian perubahan kurikulum. efficient and effective. bukan . sejak Indonesia merdeka. (4) evaluation as an educational medium as well as a feedback instrument. relevant. kurikulum tahun 1964. This article states. Kurikulum 1994. ada kurikulum 1947. the school curriculum will be able to support the national education to function in educating the Indonesian people and developing the national culture.(2) the relevant objectives and contents of the curriculum. perubahan kurikulum banyak yang dipengaruhi oleh perubahan politik. Mengapa kurikulum yang satu diganti dengan kurikulum yang lainnya. kurikulum 1975 digunakan untuk memasukkan Pendidikan Moral Pancasila. dan kurikulum 1994. Kurikulum 1964 disusun untuk meniadakan MANIPOL-USDEK. di samping meniadakan mata pelajaran PSPB juga diperkenalkannya sistem kurikulum SMU yang dimaksudkan untuk menjadikan pendidikan umum benar benar sebagai pendidikan persiapan ke perguruan tinggi. kurikulum 1975. and (5) teachers ole and its impact to the professionalism of education personnel. Pendahuluan Memasuki tahun 2004 ini. kurikulum tahun 1968. dan kurikulum 1984 digunakan untuk memasukkan mata pelajaran Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB). Selebihnya merupakan perubahan yang didasarkan atas asumsi teoretik. kurikulum tahun 1950-an. kurikulum 1984. (3) the approaches in learning process and their implication to evaluation system. yang didasarkan atas hasil penilaian nasional pendidikan (national assessment) hanyalah kurikulum 1975 dan kurikulum PPSP (Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (1974 1981). kita telah mengenal berbagai kurikulum.

Tetapi penggantian kurikulum 1975 menjadi kurikulum 1984 sama sekali tidak didasarkan atas hasil evaluasi tersebut. Sistem Evaluasi. Soemantri Brodjonegoro nampaknya berhenti sejak Menteri Nugroho Notosusanto. Atas dasar pertimbangan di atas.atas dasar temuan-temuan hasil evaluasi yang dilakukan secara sistematik. Makna Kurikulum sebagai Unsur yang Strategis dalam Pendidikan Sekolah . tulisan ini akan mencoba membahas : (1) makna kurikulum sebagai unsur yang strategis dalam pendidikan sekolah. Dalam konteks praktek perubahan kurikulu m yang demikian. Bahkan data yang terkumpul dari hasil penelitian evaluatif yang berlangsung dari tahun 1978 sampai tahun 1980-pun tidak sempat diolah lebih lanjut. Memang tradisi penelitian dan pengembangan yang dirintis oleh almarhum Menteri Mashuri dan diperkuat oleh Prof. dan (5) peranan guru dan implikasinya terhadap profesionalisasi tenaga kependidikan. Karena itu kita sukar untuk menjawab pertanyaan Seberapa jauh kurikulum 1975. Dr. dan Tenaga Kependidikan sebagai Unsur Strategis yang bermakna bagi kedudukan kurikulum yang strategis. belum atau tidak berhasil mempengaruhi peningkatan mutu pendidikan? Sesungguhnya pada tahun 1981 Balitbang Depdikbud telah selesai (dimulai tahun 1978) melakukan studi evaluasi kurikulum secara nasional yang komprehensif dengan datanya terkumpul dalam 6 (enam) disket komputer. 1994 telah. (2) tujuan dan materi kurikulum Kurikulum. (3) pendekatan dan proses pembelajaran yang relevan. (4) evaluasi sebagai media pendidikan dan instrumen umpan balik. tulisan ini tidak berpretensi berangkat dari hasil evaluasi ilmiah melainkan berangkat dari premise teoretik. 1984.

12 Tahun 1954. mengamanatkan perlunya mencerdaskan kehidupan bangsa. Kalau kita cermati. Perancis. dan sistem evaluasi yang harus dikembangkan dan dilaksanakan. Dalam mengemban peranan sekolah sebagai pusat pembudayaan inilah kedudukan kurikulum sangatlah strategis. baik UU No. Britania Raya. tujuan pendidikan yang dirumuskan dalam UndangUndang Pendidikan Nasional. Proses pembelajaran yang demikian hanya akan terjadi secara efisien. Karena itu harapan terbesar dari suatu masyarakat yang melakukan transformasi budaya adalah menjadikan sekolah sebagai pusat pembudayaan berbagai kemampuan. dan sikap dari warga masyarakat moderen. Jerman. dan efektif melalui suatu sistem kurikulum yang dirancang secara sistematik sejak penentuan tujuan yang harus dicapai. materi yang harus dipelajari. jo UU No. dan sikap itu hanya dapat berlangsung melalui proses pembelajaran yang bermakna sebagai proses pembudayaan. yang mencitakan manusia terdidik Indonesia sebagai manusia susila . Karena proses pembudayaan berbagai kemampuan nilai. dalam sejarahnya merupakan proses menjadi satunya kerajaan-kerajaan kecil dari masing-masing negara tersebut. dan memajukan kebudayaan nasional melalui diselenggarakannya satu sistem pengajaran nasional (sekolah). proses pembelajaran yang harus diterapkan.Sekolah adalah lembaga sosial yang keberadaannya sebagai bagian dari sistem sosial negara bangsa sangat strategis sejak industrialisasi dan gerakan negara kebangsaan pada abad ke-19. yang melahirkan negara-negara kebangsaan seperti Amerika Serikat. maupun Jepang. 4 Tahun 1950. Italia. Para pendiri Republik sadar akan adanya jurang antara kondisi yang dicita-citakan yaitu masyarakat negara kebangsaan yang moderen dan demokratis yang berdasarkan Pancasila dengan kondisi perkembangan masyarakat Indonesia pada saat proklamasi. nilai. Para pendiri Republik nampaknya terilhami oleh perkembangan negara-negara kebangsaan tersebut yang.

Kalau tetap demikian memang segala tujuan itu tidak akan dapat dicapai. dan relevan. serta terbatasnya. dan menghafal dengan evaluasi hanya mengukur kemampuan mengingat apa yang telah dipelajari dengan keterbatasan buku bacaan baik untuk guru dan murid. sehat jasmani dan rohani. dan seterusnya . dalam pengertian model pembelajaran yang tidak lebih dari mendengar. terprogram. . dengan pengertian waktu yang terbatas. dan Tenaga Kependidikan sebagai Unsur Strategis berakhlak mulia. memiliki pengetahuan dan ketrampilan. dalam pengertian rendahnya kesungguhan dan kemampuan guru. 2 Tahun 1989 yang mencitakan wujud manusia Indonesia terdidik sebagai manusia yang beriman dan bertaqwa. bahkan tanpa fasilitas serta sarana dan prasarana yang diperlukan. Bahkan banyak sementara orang (termasuk para pejabat atau pakar) yang memandang hal tersebut tidak mungkin dapat dicapai oleh sekolah.yang cakap dan demokratis serta bertanggung jawab . dalam pengertian kalau penyelenggaraan pendidikan disekolah dengan kondisi seperti yang berlangsung sampai dengan hari ini. bertaqwa dan Kurikulum. dan terlaksana dengan efisien. kesemuanya mencitakan wujud sosok manusia yang ideal. mencatat. Kalau demikian sesungguhnya tidak perlu kita mengubah kurikulum bahkan tidak perlu mengubah UU Sisdiknas. dan yang terakhir UU No. 20 Tahun 2003 yang mencitakan manusia yang beriman. karena semuanya tidak dengan sendirinya dapat meningkatkan mutu pendidikan. Sistem Evaluasi. atau UU No. Tetapi pada umumnya tujuan pendidikan yang demikian ideal selama ini tidak pernah dengan sungguh-sungguh diterjemahkan secara operasional dan diupayakan ketercapaiannya. efektif. Ketercapaiannya tidak mungkin tanpa suatu proses yang terencana. Mereka ini adalah kaum realis. berkepribadian yang mantap dan mandiri serta mempunyai rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan .

pakar. Tulisan ini berpandangan bahwa sekolah dengan kurikulum yang dirancang dan dilaksanakan secara relevan.Tulisan ini memandang kalau sikap ini yang tetap berada di benak semua lapisan masyarakat Indonesia dari elit politik. Tujuan dan Materi Kurikulum yang Relevan Tujuan Kalau kita kaji secara mendalam tujuan pendidikan yang selama ini dirumuskan. (3) yang sehat jasmani dan rohani. dan Tenaga Kependidikan sebagai Unsur Strategis Keempat karakteristik manusia yang dirumuskan dalam berbagai Undang Undang Pendidikan Nasional tersebut hakekatnya karakteristik yang bersifat universal. (2) yang menguasai ilmu pengetahuan dan ketrampilan. (4) yang berkepribadian dan bertanggung jawab Kurikulum. dalam berbagai UU pendidikan nasional kita. dan memajukan kebudayaan nasional. sampai guru dan orang tua murid. sesungguhnya mengharapkan pendidikan nasional berfungsi mencerdaskan kehidupan bangsa sangat berlebihan karena tidak akan dapat terlaksana. efisien dan efektif akan mampu mendukung terlaksananya fungsi pendidikan nasional utnuk mencerdaskan kehidupan bangsa. yang masih perlu diterjemahkan kedalam rumusan yang operasional dan terkait dengan perkembangan masyarakat Indonesia khususnya dan . akan menemukan betapa pendidikan nasional diharapkan untuk dapat melahirkan manusia Indo nesia yang : (1) religius dan bermoral. Sistem Evaluasi.

(2) sistem ekonomi nasional yang mantap infrastruktur fisiknya. komunikasi/transportasi bahkan kehidupan keagamaan. Wujud nyata dari setiap karakteristik tersebut akan berbeda dalam suatu tingkat perkembangan masyarakat dan tingkat pendidikan. infrastruktur . sosial budaya. Dalam bidang politik. ilmu pengetahuan dan tehnologi. dan sikap yang dapat dijadikan rujukan dalam proses perencanaan kurikulum perlu dipahami tingkat dan arah perkembangan masyarakat Indonesia.masyarakat internasional pada umumnya. nilai. Yang maknanya adalah berlakunya berbagai ukuran dan aturan internasional dalam segala bidang kehidupan. (3) menghasilkan komoditas yang bermutu dan dapat bersaing di pasar dunia. (2) pengembangan teknologi. yang dapat bertahan dan secara berkesinambungan maju. bersaing dan terus maju. baik politik. agar negara bangsa Indonesia dapat bertahan sebagai negara yang merdeka dan bermartabat diperlukan manusia Indonesia yang berkualitas yang mampu mendukung : (1) sistem politik demokrasi yang stabil berdasarkan Pancasila. yang dalam bidang ekonomi ditunjukkan dengan kemampuannya dalam : (1) mengolah dan mengelola sumber daya alam. hanya bangsa yang memiliki infrastruktur teknologi unggul yang dapat bertahan. (4) mengelola modal. Dalam bidang ilmu pengetahuan dan tehnologi. ekonomi. dan (5) mengelola perdagangan (Harbison-Myers). Hampir tidak ada seorangpun yang dapat mengelakkan diri dari kenyataan bahwa Indonesia di millenium ketiga ini berada dalam era globalisasi. Dari ulasan singkat di atas dapatlah kita sampai kepada suatu kesimpulan bahwa di tengah era globalisasi dengan segenap tantangan dan kesempatan yang terbuka. Dalam era semacam ini hanya bangsa yang berkualitas sumber daya manusianya. hanya bangsa yang sistem politik demokrasinya mantap yang mampu bertahan dan terus maju. Karena itu dalam menterjemahkan keempat karakteristik tersebut kedalam rumusan wujud kemampuan.

(3) memiliki kemampuan dan sikap ilmiah untuk dapat mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui kemampuan penelitian dan pengembangan. etos kerja. berkarakter dan bermoral. nilai dan sikap yang perlu dikuasai dan dimiliki manusia terdidik Indonesia yaitu : (1) memiliki kemampuan. pertanyaannya adalah Materi pendidikan manakah yang harus dijadikan obyek belajar ? . nilai dan sikap yang memungkinkannya berpartisipasi secara aktif dan cerdas dalam proses politik. (3) sistem pengembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi yang tangguh. infrastruktur tenaga manusianya. maupun dimensi kognitif dan normatif dari kebudayaan nasional. (4) majunya kebudayaan dalam berbagai seginya baik kesenian. nilai dan sikap yang terkait dengan kepentingan terwujudnya masyarakat Indonesia moderen dan bermartabat di era globalisasi. dan (5) mantapnya etika sosialnya.teknologinya. kesusastraan. (4) memiliki kepribadian yang mantap. berkembang wirausahanya dan tumbuh pengusaha kecilnya. (2) memiliki kemampuan. Materi yang Relevan Setelah teridentifikasi empat gugus kemampuan. dan disiplin kerja yang memungkinkannya dapat secara aktif dan produktif berpartisipasi dalam berbagai kegiatan ekonomi. serta berakhlak mulia. Berangkat dari pemahaman tentang karakteristik masyarakat moderen di era globalisasi yang perlu kita wujudkan di Indonesia dapatlah kiranya kita sampai kepada identifikasi kemampuan.

Bahasa Indonesia d. serta h. Seni. termasuk berhitung f. Ilmu Pengetahuan Alam f. Kesenian dan Muatan i. 20 Thn 2003 (Pendidikan Dasar) (Sampai Sekolah Menengah) a. Ketrampilan. Pendidikan Agama b. dan Olah raga. Sejarah Nasional dan Sejarah Umum Lokal j. Pendidikan Kewarganegaraan c. Bahasa d. Menurut UU No. Matematika e.Pendidikan Agama b. 1989 Menurut UU No.Ilmu Bumi h. Matematika. Membaca dan Menulis e. Budaya. 2 th. 20 tahun 2003 telah memberikan jawaban seperti yang dikutip dibawah ini. Pengantar Sains dan Teknologi g. 2 Tahun 1989 maupun UU No.Undang-undang No. Ilmu Pengetahuan Sosial g. Pendidikan Pancasila a. Kerajinan Tangan dan Kesenian . Pendidikan Kewarganegaraan c.

tetapi hakekatnya yang perlu anyakan adalah mengapa mata pelajaran tersebut yang ditentukan. Philip Phenix dari pengamatannya terhadap perkembangan peradaban dan memandang perlunya generasi muda siap untuk melanjutkan perkembangan peradaban tersebut. Budaya dan Olah Raga dalam satu gugus. Every person is indebted for what he has to a great network of skilled inventors. experimenters. Bahasa Inggris Kedua ketentuan yang terdapat dalam UU No. Pendidikan Jasmani dan Kesehatan l. artists. apa bedanya dengan dipisahkannya menggambar dan kesenian pada UU No. and saints. scholars. Demikian juga dengan IPS dalam UU SISDIKNAS tahun 2003 dengan Ilmu Bumi.k. seers. Dalam kaitan ini. 2 Th. 1 . misalnya kalau dalam UU SISDIKNAS tahun 2003 Seni. who have devoted their special talents to the well being of all. 1989. 2 th. Pertanyaannya adalah apakah benar mata pelajaran tersebut menunjang tercapainya fungsi dan tujuan pendidikan nasional. prophets. Philip Phenix menyatakan : The richness of culture and the level of understanding achieve in advanced civilization are due almost entirely to the labours of individual men of genius and organized communities of specialists. 2 tentang SISDIKNAS dan UU SISDIKNAS (2003) nampaknya berbeda. 1989. A high level of civilization is the consequence of the dedicated service of person in the special gifts for the benefits of all. Menggambar m. Sejarah pada UU No. Dalam menjawab pertanyaan tentang mengapa suatu bahan kajian dan suatu pendekatan ditempuh.

fourth realm. Symbolics. the arts of the movement. and this in turn is compounded of syn. life. and various types of nondiscursive symbolic forms such as gesture. The second realm. meaning meditative thought . and theoretical formulation and experimentation in the world of the matter. rhythmic patterns. Ethics.Berangkat dari pemahamannya tentang hakekat perkembangan peradaban Philip Phenix mengidentifikasikan enam wilayah yang bermakna untuk menjadikan peserta didik memahami makna dunia yang dimana mereka hidup dan mengembangkan dirinya. Empirics. and of man. the visual arts. with socially accepted rules of formation and transformation created as instrument for the expression and communication of any meaning whatsoever. These meaning are contained in arbitrary symbolic structures. contains the various arts. Mathematics. meaning cognition . Keenam wilayah makna tersebut yaitu : Symbolics. and society. mind. and the like. comprises ordinary language. Synnoetics. Thus synnoetics signifies . Meaning in this realm are concerned with the contemplative perception of particular significant things as unique objectifications of ideated subjectivities. Synnoetics. Empirics. rituals. embraces what Michael Polanyi calls personel knowledge and Martin Buber the I-Thou relation. dan Synoptics (Realms of Meaning). The novel term synnoetics . The third realm. which was devised because no existing concept appeared adequate to the type of understanding intended. and literature. Esthetics. includes the science of the physical world of living things. Esthetics. meaning with or together and noesis. generalizations. yang penjelasannya diuraikan sebagai berikut : The first realm. such as music. These science provide factual descriptions. derives from the Greek synnoesis.

which express idealized esthetic perceptions.relational insight or direct awareness . Ethics. perceptual form. In contrast to the sciences. refers to meanings that are comprehensively integrative. The fifth realm. or awareness of relation. Karena itu Philip Phenix. and synnoetic meanings into coherent whole. deliberate decision. morality ha to do with personal conduct that is based on free.2) Disadari bahwa kandungan pengetahuan yang terdapat didalam setiap wilayah dan sub wilayah demikian luas. Penulis mengartikan bahwa pemikir seperti Philip Phenix dan J. struktur ilmu pengetahuan yang luas. which reflect intersubjective understanding. yaitu : . religion. Kiranya kita sepakat bahwa setiap disiplin atau dalam bahasanya Phenix setiap Realms of Meaning mengandung kekhususan dalam metode. and philosophy. dan konsep-konsep dasar yang menonjol. The sixth realm. It include history. and to personal knowledge. responsible. esthetic. yang hakekatnya merupakan penerus Alford North Whitehead mengutamakan pemilihan bahan pelajaran secara ketat agar para pelajar dapat mempelajari sesuatu sampai tingkatan memahami makna yang dipelajari bagi kehidupannya. Synoptics. which are concerned with abstract cognitive understanding. to the arts. Berangkat dari pemikiran ini Philip Phenix selanjutnya mengemukakan empat prinsip dasar dalam memilih media pelajaran dari setiap wilayah arti. includes moral meaning that express obligation rather than fact. karena itu pendidikan perlu memilih yang essensial. Theses discipline combine empirical. dan para pembaharu pendidikan yang mengakhiri gerakan pendidikanprogressive di Amerika Serikat seperti Jerome Brunner. Bruner hakekatnya menghidupkan pemikiran Whitehead pada tahun 1920-an.

bahan pelajaran harus dipilih konsep-konsep utama suatu disiplin yang mewakili hakekat disiplin tersebut. tidak diupayakan untuk dapat terwujud. bahan pelajaran harus diambil dari disciplined of inquiry. suatu pandangan yang sedang dipopulerkan oleh sementara pakar. 2 th 1989 masih relevan untuk menjadikan sistem pendidikan nasional dapat berfungsi mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan kebudayaan nasional. Masalahnya terutama disebabkan karena berbagai ketentuan sebagai yang tercantum dalam pasal 13 ayat (1) tentang fungsi dan tujuan pendidikan dasar dan pasal 15 ayat (1) tentang fungsi dan tujuan pendidikan menengah dan pasal 16 ayat (1) tentang fungsi dan tujuan pendidikan tinggi. d.a. bahan pelajaran mengutamakan method of inquiry . b. dan bahan pelajaran harus dapat mendorong peserta didik berpikir secara imajinatif Pendekatan pemilihan bahan ini jelas berbeda dari pendekatan Paul Freire yang menyerahkan pemilihan bahan kepada peserta didik. Padahal pandangan Freire dan Ivan Hlich hakekatnya berangkat dari pandangan kaum nihilis yang mencitakan adanya Stateless Society . Proses pembelajaran yang terjadi dari tingkat SD sampai Perguruan Tinggi . suatu aliran pemikian dalam pendidikan yang sering muncul dalam perjalanan sejarah pemikiran pendidikan tetapi selama ini belum mampu mengubah kenyataan pendidikan dalam masyarakat moderen dan post moderen dalam masyarakat demokratis yang selalu memerlukan suatu tatanan hidup bernegara dengan segala persyaratannya. Yang menjadi pertanyaan adalah seberapa jauh perancang UU SISDIK NAS 2003 telah secara mendalam mempelajari kedudukan SISDIKNAS dalam proses pembangunan negara bangsa moderen Indonesia sebelum merumuskan pokok pokok pikiran yang mendasar tentang sistem pendidikan nasional. c. Sesungguhnya penulis berpandangan bahwa UU no.

pada umumnya masih proses penyajian informasi oleh pengajar untuk dicatat oleh peserta didik, suatu model pembelajaran yang terjadi sebelum berlakunya UU No. 2 th 1989. Adalah keyakinan profesional dan akademik saya bahwa tanpa proses pembelajaran yang bermakna sebagai proses pembudayaan, tujuan dan struktur kurikulum yang telah dirancang dengan baikpun tidak akan dapat meningkatkan mutu pendidikan.

Pendekatan Proses Pembelajaran dan Implikasinya terhadap Sistem Evaluasi Pendekatan Proses Pembelajaran

Bagian ini bermaksud mencoba menjawab pertanyaan

model

pembelajaran seperti apa yang dapat bermakna sebagai proses pembudayaan ? Pandangan kami adalah bahwa bila proses pembelajaran dapat merangsang, menantang dan menyenangkan seperti yang dikemukakan oleh Whitehead sampai pada tingkat joy of discovery diharapkan proses pembelajaran itu akan bermakna sebagai proses pembudayaan dan proses penguasaan seni menggunakan ilmu pengetahuan. Dalam kaitan ini UNESCO melalui International Commision on Education for The Twenty First Century 3) yang antara

lain bertujuan untuk mengubah dunia from technologically divided world where high technology is privilege of the few to technologically united world mengusulkan empat pilar belajar yaitu learning to know, learing to do, learning to be, and learning to live together . Menerapkan empat pilar tersebut berarti bahwa proses pembelajaran memungkinkan peserta didik dapat menguasai cara memperoleh pengetahuan, berkesempatan menerapkan pengetahuan yang dipelajarinya, berkesemp atan untuk berinteraksi secara aktif dengan sesama peserta didik sehingga dapat

menemukan dirinya. Model pembelajaran seperti ini hanya dapat berlangsung dengan tenaga guru yang penuh konsentrasi, peralatan yang memadai, dengan materi yang terpilih dan waktu yang cukup tanpa harus mengejar target untuk ujian nasional. Ujian nasional akan mengurangi kreatifitas belajar sampai tingkatan joy of discovery . Untuk jelasnya keempat pilar belajar akan diuraikan secara lebih rinci. Learning to know , learning to do , learning to live together dan learning to be , empat pilar belajar yang oleh UNESCO dipandang sebagai pendekatan belajar yang perlu diterapkan untuk menyiapkan generasi muda memasuki abad ke-21 hakekatnya merupakan pendekatan belajar yang telah diperkenalkan oleh tokoh-tokoh pemikir pendidikan sejak permulaan abad ke20. Pendekatan ini demikian berkembang di Amerika Serikat dan Eropa Barat, terutama sejak ketertinggalan Amerika Serikat dalam teknologi ruang angkasa Uni Soviet pada tahun 1957. Pemikir pendidikan seperti Whitehead (1916) memandang pendidikan sebagai acquisition of the art of the utilization of knowledge 4). Karena itu dia sampai menyatakan bahwa orang yang paling banyak pengetahuannya adalah orang yang tidak berguna dibumi Tuhan yang dalam bahasa aslinya tertulis sebagai berikut : A merely well informed man is the most useless bore on God s earth 5) Selanjutnya dalam ceramahnya pada

himpunan Matematika pada tahun 1916 dia menekankan aga peserta didik r sejak dini harus sudah dapat menikmati proses penemuan. Kalimat lengkapnya tertulis sebagai berikut: Let the main ideas which are introduced into a child s education be few and important, and let them be thrown into every combination possible. The child should made them his own, and should understand their application here and now in the circumstance of his actual life. From the very beginning of his education, the child should experience the joy of discovery 6) .

Kritik yang dia tujukan ke praktek pendidikan di Inggris pada permulaan abad ke-20 ini menjadi landasan pembaharuan pendidikan di Amerika Serikat pasca Sputnik. Selanjutnya muncul pemikir-pemikir pendidikan di Amerika Serikat seperti Philip Phenix, Jerome Bruner, dan Israel Sheffler, Philip Phenix misalnya mengatakan: It is more important for the student to become skillful in the ways of knowing than to learn about any particular product of investigation. Knowledge of methods makes it possible for a person to continue learning and undertake inquiries on his own 7)

Gerakan pembaharuan pendidikan di Amerika Serikat yang juga mempengaruhi negara-negara Eropa Barat telah membuahkan kemajuan IPTEK yang berpengaruh kepada perkembangan negara-negara Barat. Memasuki akhir abad ke-20, dalam dunia yang makin menjadi mengglobal, perbedaan kemampuan antara negara maju dan negara berkembang makin melebar. Sadar akan hal ini UNESCO membentuk suatu komisi International yang tujuannya memberikan rekomendasi kepada UNESCO untuk menerapkan empat pilar belajar. Dua kutipan dari laporan Komisi Internasional berikut menunjukkan situasi paradoksal yang dihadapi negara berkembang. The need for change from narrow nationalism to universalism, from ethnic and cultural prejurdice to tolerance, understanding and pluralism, from autocracy to democracy in its various manifestations, and from technologically united world, places enormous responsibilities on teacher who participate in the moulding of the characters and minds of the new generation 8)

Tetapi untuk melaksanakan peranan ini. dan mengingat kembali yang berdampak tidak adanya kesempatan menerapkan pendekatan moderen dalam proses pembelajaran. proses pembelajaran tidak lebih dari mencatat. kondisi pendidikan di negara berkembang pada umumnya (termasuk Indonesia) dilukiskan oleh seorang anggota Komisi tersebut In am Al Mufti dalam artikelnya Excellence in Education : investing in human talent dalam: in the past two decades in particular. Dalam kalimat aslinya dia menyatakan: . dengan guru yang secara profesional kurang memenuhi syarat. Suatu tuntutan yang pada hakekatnya telah digariskan oleh para pendiri Republik Indonesia yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan kebudayaan nasional.Demikian tingginya tuntutan terhadap peranan yang diharapkan dari pendidikan untuk membentuk karakter dan mental generasi muda untuk dapat melakukan transformasi budaya. This drive by developing countries was in fulfilment of UNESCO s mission to achieve Education for All . menghafal. 9) Akibat dari perkembangan ini yang terjadi adalah sekolah yang berjubel. But the expansion in education was concentrated on coping with growing demand for schooling. Mufti yakin bahwa tiadanya kesempatan bagi peserta didik untuk memperoleh pendidikan yang bermutu akan merugikan masyarakat karena sukar memperoleh sumber daya manusia yang bermutu untuk pembangunan masyarakat. governments and international agencies in the developing world sought to respond to development challenges by focusing increasingly on expanding educational opportunities. while the quality of education itself was not given priority.

yang mengutamakan proses pembelajaran yang memungkinkan peserta didik (pelajar/mahasiswa) terlibat dalam proses meneliti dan mengkaji. learning to do. not immersion in the phenomenal and conceptual given. to deprive outstanding students of appropriate educational opportunities is to deprive society of the best human resources that lead towards real and effective development. learning to live together. dan learning to be. Dalam bahasan Israel Scheffler pilar ini pada hakekatnya terkait dengan relevansi epistemology. It requires not contact but criticism.Notwithstanding the good intentions of traditional policies. UNESCO memperkenalkan empat pilar belajar. yaitu ketertinggalan negara berkembang dari negara maju dalam penguasaan IPTEK yang melatarbelakangi kemajuan ilmu dan stabilnya sistem politik demokrasi dan tiadanya dukungan bagi pemerataan pendidikan. Karena itu hakekat dari Learning to Know adalah proses pembelajaran yang memungkinkan pelajar/mahasiswa menguasai teknik memperoleh pengetahuan dan bukan semata-mata memperoleh pengetahuan. but the flexibility of mind capable of transcend- . Learning to Know Seperti telah dikemukakan oleh Philip Phenix. 10) Dengan latar belakang inilah. yaitu: Learning to know. Dalam kalimat lengkapnya tertulis sebagai berikut: Epistemological relevance in short requires us to reject both myth and mystic union. proses pembelajaran yang mengutamakan penguasaan ways of knowing atau mode of inquiry telah memungkinkan peserta didik untuk terus belajar dan mampu memperoleh pengetahuan baru dan tidak hanya memperoleh pengetahuan hasil penelitian orang lain.

and expanding the given. Habits of practical diagnosis. and alteration of their practical outlook. Scheffler memandang pentingnya pilar learning to know untuk berangkat dari disiplin ilmu pengetahuan karena bagi mereka mode of inquiry dari disiplin ilmu adalah bentuk yang paling tertinggi dari berpikir. contrary to recent emphases. reordering. critique and execution upon responsible inquiry need the supplement theoretical attitude and 12) disciplinary proficiencies in the traing of the young. Seperti halnya Phenix. Students should be encouraged to employ the information and technique of disciplines in analysis. An education that fosters criticism and conceptual flexibility transcends its environment and by erecting a mythical substitue for this world but rather striving for a systematic and penetrating 11) comprehension of it. The bearing of inquiry upon practice is moreover of the greatest educational interest. Sengaja penulis mengutip pandangan Scheffler demikian panjang karena dari sudut pandang pendidikan tinggi. Selanjutnya dia menguraikan pengkajian dalam kalimat berikut: Theoretical inquiry. Dalam kaitan ini dia menyatakan: In the revolutionary perspective. Scientific inquiry. Such interest is not. pandangan Scheffler tentang relevansi pendidikan sangat terkait dengan learning to know pada tingkat pendidikan tinggi. the most highly form 13) of thought is the mos explicity problem directed.ing. thought is an adaptive instrument for overcoming environmental difficulties. . independently pursued has the most powerful potential for the analysis and transformation of practice. exhausted in a concern for inquiry within the structure of several disciplines. criticism.

learn ing to know . Kalau pilar pertama. sasarannya adalah kemampuan kerja generasi muda untuk mendukung dan memasuki ekonomi industri. Untuk menyiapkan anggota masyarakat dalam dunia kerja yang . organizing. monitoring. Dengan model pendekatan ini dapatlah dihasilkan lulusan yang memiliki kemampuan intelektual dan akademik yang tinggi dan dengan sendirinya akan mampu mengembangkan ilmu pengetahuan. Learning to Do Bagaimana dengan pilar kedua learning to do . Suatu model yang penulis alami selama mengikuti kuliah di University of California . learning to do .Selanjutnya dia menyatakan: Interpreting science as the most refined and effective development to such adaptive thinking. to be favored 14) in all phases of education and culture. sasarannya adalah pengembangan ilmu pengetahuan danteknologi sehingga tercapai keseimbangan dalam penguasaan IPTEK antara negara di dunia dan tidak lagi dibagi antara negara utara-selatan. pilar kedua. is urges the outensible problem-solving pattern of scientifie research as the chief paradigm of intellectual activity. Dari uraian di atas dan kutipan yang sengaja penulis sajikan dapatlah ditarik pemahaman bahwa penerapan pilar learning to know pada tingkat pendidikan tinggi adalah penerapan paradigma penelitian ilmiah dalam pelaksanaan perkuliahan. Dalam masyarakat industri atau ekonomi industri tuntutan tidak lagi cukup dengan penguasaan ketrampilan motorik yang kaku melainkan diperlukan kemampuan untuk melaksanakan pekerjaan pekerjaan seperti controlling. yang dengan kemajuan teknologi pekerjaan yang sifatnya fisik telah diganti dengan mesin. designing. maintaining.

Dalam kaitan ini dengan pemahaman tentang pilar kedua learning to do pada tingkat pendidikan tinggi ini mengandung makna atau berimplikasi tentang perlunya pendidikan profesional pada pendidikan tinggi secara konsekuentif. maupun doktrin Whitehead tentang hakekat pendidikan sebagai upaya penguasaan seni menggunakan pengetahuan. When action is coherent and well adapted to its circumstances. human energy is released into overt channel set by habit and custom. The functions is to overcome obstacles to the smooth flow of human activities. turns its energy inward. It originates in doubt. and difficulty.dalam technology knowledge based economy . mengelola dan mengatasi konflik. conflict. bekerjasama dengan orang lain. menjadi penting. belajar melakukan sesuatu dalam situasi yang konkrit yang tidak hanya terbatas kepada penguasaan ketrampilan yang mekanistis melainkan meliputi kemampuan berkomunikasi. pengembangan kemampuan memecahkan masalah dan berinovasi sangatlah diperlukan. transforming its 15) into thought. Untuk itu penulis berpandangan dalam kaitan dengan pilar kedua yaitu learning to do perlu dikaitkan dengan pandangan Scheffler tentang relevansi psikologis. bermuara pada paradigma pemecahan masalah yang memungkinkan seorang mahasiswa berkesempatan mengintegrasikan pemahaman konsep. penguasaan ketrampilan teknis dan intelektual. ada baiknya penulis kutipkan pandangan Scheffler tentang relevansi psikologis dalam kalimat berikut: Thought according to widely prevalent doctrine is problem oriented. Dalam kaitan ini. untuk memecahkan masalah dan dapat . Ini be rarti pula bahwa untuk melahirkan generasi baru yang intelligent dalam bekerja. The blocking of conduct either throught internal conflict on environment hindrance.

berkeadilan sosial. keadilan sosial dan perdamaianabadi . antar suku. Learning to Live Together Kemajuan dunia dalam bidang IPTEK dan ekonomi yang mengubah dunia menjadi desa global ternyata tidak menghapus konflik antara manusia yang selalu mewarnai sejarah umat manusia. dan menggalang persatuan dan persaudaraan bukan hanya antar warga bangsa melainkan dengan seluruh umat manusia seperti dinyatakan dalam kalimat ketertiban dunia yang didasarkan kemerdekaan. within and above al! between nations. dan antar negara. dan kita bangsa Indonesia memiliki landasan pandangan hidup Pancasila yang hakekatnya adalah untuk membangun negara kebangsaan yang demokratis. piagam PBB. toleransi dan saling pengertian dan bebas dari prasangka. since people very naturally tend overvalue their own qualities and those of their group and to harbour prejudies against others. Tetapi kenyataan menunjukkan terjadinya berbagai konflik sosial baik horizontal maupun vertical. Diakui oleh Komisi Internasional untuk pendidikan abad ke-21 tentang sulitnya menciptakan kerukunan. baik antar ras. ber-Ketuhanan yang Maha Esa. tends to give . Padahal sejak berakhirnya Perang Dunia ke II berbagai deklarasi untuk menjadi dasar penyelesaian konflik seperti Deklarasi HAM. the general climate of competition that is at present characteristic of economi activity. Dalam pengamatan komisi tersebut sebabnya diuraikan dalam kalimat berikut : It is difficult task.berlanjut kepada inovasi dan improvisasi. Yang terjadi akhir-akhir ini bahkan sebaliknya yaitu terjadinya konflik antar manusia yang didasarkan atas prasangka. Furthermore. antar agama dan antar si kaya dan si miskin.

Model sekolah berasrama dan kampus yang merupakan kawasan tersendiri merupakan pendekatan yang ditempuh Inggris dan Amerika Serikat dalam membangun bangsa yang bersatu.16) Latar belakang kenyataan dalam masyarakat yang digambarkan oleh komisi diatas menuntut pendidikan tidak hanya membekali generasi muda untuk menguasai IPTEK dan kemampuan bekerja serta memecahkan masalah. dan tenggang rasa. kerjasama. dan tanpa prasangka. melainkan kemampuan untuk hidup bersama dengan orang lain yang berbeda dengan penuh toleransi. Dalam hubungan ini.priority to the competitive spirit and individual success. Kiranya bangsa Indonesia perlu belajar Learning to Be . prinsip relevansi sosial dan moral yang disarankan Israel Scheffler sangat memadai. Such competition now amounts to ruthless economic warfare and to a tension between rich and poor that is dividing nations and the world. Dalam kaitan ini adalah tugas pendidikan untuk pada saat yang bersamaan setiap peserta didik memperoleh pengetahuan dan memiliki kesadaran bahwa hakekat manusia adalah beragam tetapi dalam keragaman tersebut terdapat persamaan. Ini diperlukan proses pembelajaran yang menuntut kerjasama untuk mencapai tujuan bersama. Pendidikan untuk mencapai tingkat kesadaran akan persamaan antar sesama manusia dan terdapat saling ketergantungan satu sama lain tidak dapat ditempuh dengan pendidikan dengan pendekatan tradisional melainkan perlu menciptakan situasi kebersamaan dalam waktu yang relative lama. Kegiatan berlangsung mingguan dengan sasaran bersama camping yang yang harus dicapai oleh seluruh peserta merupakan salah satu model yang perlu ditempuh. belajar yang secara inherently mengandung nilai-nilai toleransi saling ketergantungan. and exacerbating historic rivalries . pengertian. Suatu prinsip yang memerlukan suasana.

dan kemampuan. dan tingkatanjoy of getting together to achieve common goal. 1989 adalah manusia yang berkepribadian yang mantap dan mandiri. kepribadian. Pendidikan yang berlangsung selama ini pada umumnya tidak mampu membantu peserta didik (pelajar/ mahasiswa) mencapai tingkatan kepribadian yang mantap dan mandiri atau manusia yang utuh karena proses pembelajaran pada berbagai pilar tidak pernah sampai kepada tingkatan joy of discovery pada pilar learning to know .Tiga pilar yaitu learning to know. bertenggang rasa. Inilah kurang lebih makna learning to be . yaitu muara akhir dari tiga pilar belajar. Evaluasi sebagai Media Pendidikan dan Sarana Umpan Balik Hampir tidak ada orang yang menolak bahwa diselenggarakannya suatu sistem pendidikan adalah dapat dihasilkannya manusia terdidik yang dewasa secara intelektual. 2 Th. dalam bahasa UU No. moral. yang mengenal dirinya. Hasil akhirnya adalah manusia yang mampu mengenal dirinya. atau dalam kamus psikologi disebut memiliki Emotional Intelligance . pada learning to do . yang dapat mengendalikan dirinya. dan learning to live together ditujukan bagi lahirnya generasi muda yang mampu mencari informasi dan/ atau menemukan ilmu pengetahuan. Namun yang sering disoroti . yang konsisten dan yang memiliki rasa empati(tepo sliro). Bila ketiganya berhasil dengan memuaskan akan menimbulkan adanya rasa percaya diri pada masing-masing peserta didik. Manusia yang utuh yang memiliki kemantapan emosional dan intelektual. yang mampu melaksanakan tugas dalam memecahkan masalah. dan toleran terhadap perbedaan. learning to do. dan mampu bekerjasama. tingkatanjoy of being succesful in achieving objective.

Evaluasi pendidikan yang berupa evaluasi hasil belajar yang dilakukan pada akhir jenjang satuan pendidikan seperti UAN (Ujian Akhir Nasional) tidak dapat diharapkan dapat berdampak terhadap efektifitas tercapainya tujuan pendidikan nasional.orang seperti yang akhir-akhir ini berlangsung adalah dimensi penguasaan pengetahuan peserta didik yang belum tentu berdampak kepada pengembangan kemampuan intelektual. mengelola. dengan sendirinya peserta didik hanya akan belajar menguasai materi yang akan diujikan. seperti belajar meneliti. terus menerus dan obyektif. perlu dikembangkan dan dilaksanakan evaluasi secara komprehensif. Evaluasi semacam ini hakekatnya merupakan bagian dari kurikulum itu sendiri. belajar mengapresiasi karya sastra. kematangan pribadi. memotivasi. belajar menulis makalah. Akibatnya peserta didik akan mengabaikan berbagai kegiatan be lajar yang tidak akan diujikan. dan menilai proses pembelajaran yang berlangsung dari hari ke hari. Tidak lain karena menurut hasil penelitian Benyamin Bloom tingkah laku belajar peserta didik akan dipengaruhi oleh perkiraan peserta didik tentang apa yang akan diujikan. belajar berdemokrasi dan berbagai proses belajar yang bermakna transformasi budaya. Evaluasi yang demikian hanya dapat dilakukan oleh seorang guru yang profesional yang mampu merencanakan. Adalah keyakinan profesional dan akademik bahwa sistem evaluasi yang diterapkan akan menentukan keberhasilan kita mencapai tujuan pendidikan nasional. kematangan moral dan karakter. Agar peserta didik sejak memasuki suatu jenjang pendidikan secara terus menerus dan intensif melakukan proses pembelajaran yang bermakna bagi tercapainya berbagai tujuan pendidikan. Dengan demikian kalau yang akan diujikan adalah penguasaan pengetahuan yang telah dihafal. yang berfungsi sebagai bagian dari strategi penguatan reinforcement strategy atau dalam bahasa teknis kurikulum disebut sebagai salah satu wujud .

pembaharuan. dan sekolah sebagai pusat sosialisasi/pembudayaan berbagai kemampuan.dari hidden curriculum . Fungsinya sebagai bagian dari manajemen pendidikan secara nasional adalah untuk memperoleh gambaran tentang peta mutu pendidikan nasional sebagai alat umpan balik guna mendiagnosis faktorfaktor penyebab dari keberhasilan dan ketidakberhasilan suatu sekolah atau daerah dalam membantu peserta didik dalam mencapai tingkatan hasil belajar yang diharapkan. disiplin. Masalah evaluasi semacam inilah yang perlu dilaksanakan dalam suatu pendidikan yang mendudukkan classroom as social system (Parson). belajar secara terus menerus. nilai. tanpa dipengaruhi hasil dan kegiatan belajar harian dimasukkan ke dalam rapot atau Ujian Akhir Nasional (UAN) yang dilakukan pada akhir jenjang pendidikan dan hasilnya menentukan kelulusan seseorang. dan sikap (Inkoles). Kedua model evaluasi yang diuraikan dalam makalah ini adalah yang secara langsung terkait dengan . Untuk kepentingan pengelolaan pendidikan secara nasional disadari perlunya secara periodic diadakan evaluasi hasil belajar tingkat nasional atau lebih tepat disebut Nasional Assesment . Model evaluasi yang merupakan bagian dari strategi pembelajaran ini dari sudut pandang teori belajar sosial (social learning theory) akan dapat menumbuhkan sikap dan kemampuan yang diharapkan. Kegiatan semacam ini sangat penting dan bermakna bila dimanfaatkan untuk melakukan tindak lanjut berupa upaya perbaikan. seperti etos kerja yang tinggi. dan yang sukar untuk dikembangkan melalui model evaluasi hasil belajar yang tradisional yang dilakukan pada akhir satuan jenjang atau kelas seperti ulangan umum pada akhir semester dan hasilnya. Model terakhir ini dari sudut pandang teori belajar sosial. dan berbagai kegiatan untuk meratakan mutu pendi ikan d nasional sesuai dengan standar yang ditetapkan. dampak negatifnya lebih banyak daripada dampak positifnya.

Peranan Guru dan Implikasinya terhadap Profesionalisasi Jabatan Guru Kurikulum yang dirancang dan dilaksanakan sesuai dengan kaidah kependidikan yang secara akademik dan profesional dapat dipertanggungjawabkan dengan didukung oleh penerapan model evaluasi yang relevan dengan tujuan pendidikan. kemampuan mengelola. Untuk itu James B. dan kemampuan mendiagnosis. dan teknologi pendidikan (didaktik. metodik. Conant sebagai bagian dari reformasi pendidikan di Amerika Serikat akibat dari ketertinggalan Amerika Serikat dalam . bila dilaksanakan oleh guru yang memiliki kemampuan profesional. Tidak lain karena jabatan profesional adalah jabatan yang memerlukan kemampuan merencanakan. jenis evaluasi konteks.kurikulum dan proses pembelajaran. Untuk guru yang berderajat profesional disamping kemampuan-kemampuan tersebut. hanya akan secara efisien dan efektif mendukung terlaksananya fungsi pendidikan sebagai proses pembudayaan dan tercapainya tujuan pendidikan. Dengan demikian jelas betapa tingginya tuntutan profesionalitas seorang guru profesional. penguasaannya atas ilmu pengetahuan sebagai bahan ajar. Jabatan profesional sebagai yang secara univer sal diakui adalah jabatan yang memerlukan pendidikan lanjutan dan pelatihan khusus (advanced education and special training). dan evaluasi masukan yang secara menyeluruh perlu dilakukan dalam proses pengambilan keputusan pendidikan. kemampuan mengendalikan. Disamping itu kita mengenal dua lainnya. kemampuan memonitor. dan paedagogik). diperlukan tambahan kemampuan memberikan bimbingan dan kepemimpinan yang didasarkan atas pemahamannya atas peserta didik. kemampuan menilai.

teknologi ruang angkasa mensyaratkan calon guru haruslah mereka (lulusan SMA) yang berada pada peringkat 20% keatas. (5) sertifikasi profesional tenaga kependidikan. Paris.. A. UNESCO 4) Whitehead. Report to UNESCO of The International Commision on The Twenty First Century. hal. The Aims of Education and Other Essays (1957) New York.. 14 . hal. (3) persyaratan pendidikan pra-jabatan profesional tenaga pendidik berderajat profesional. Al. 13 Ibid. Untuk memenuhi tuntutan profesional ini dalam mencoba untuk membahas masalah Guru dan pendidikannya. Realms of Meaning a Philosophy of The Curriculum For General Education. ISPI perlu membahas dan menentukan hal hal berikut : (1) standar profesionalitas tenaga pendidik dan tenaga kependidikan lainnya: (2) hierarki profesional kependidikan. hal 16 5) 6) Ibid. hal 6 7 Jacques Delors et.N. hal 10 2) 3) Ibid. (1996). Demikianlah beberapa pemikiran untuk dibahas sebagai upaya menyusun rekomendasi bagi peningkatan mutu pendidikan nasional. (1964) New York. the New American Library.. Daftar Pustaka Catatan kaki 1) Philip Phenix. Learning: The Treasure Within. Graw Hill Book Co. (4) standar pendidikan profesional tenaga kependidikan. Mc.

. New York. Al..7) Philip H. dalam buku Curriculum : Readings in the Philosophy of Education (1971). Al. 193 10) Jacques Delors. (1964). Realms of Meaning : A Philosophy of The Curriculum for General education. 112 12) Ibid. et. Graw Hill Book *) Baca Tulisan Soedijarto. Reflection on Educational Relevance . Hal. Edit. 117 13) Ibid. Ibid Hal. 113 114 14) Ibid.. 28 April 2003 9) Jacques Delors. Urbana. 193 11) Israel Scheffler. University of Illinois Press. hal. Phenix. Martin Levit. Makalah Prakongres Kebudayaan di Bali. Hal. hal. 113 114 JURNAL KE II Model-Model-model model ModelModel--model model Evaluasi Pendidikan Evaluasi Pendidikan Evaluasi PendidikanEvaluasi Pendidikan . Mc. Pendidikan Nasional Untuk Mencerdaskan Kehidupan Bangsa Dan Memajukan Kebudayaan Nasional Melalui Sekolah Sebagai Pusat Pembudayaan. hal. et.. Ibid..

Abstract: On learning literature. As one basic rule. continuity. there many kind of learning model design. Keywords: evaluation. By studying many models and broaden view not only to one model approach. Sejak Oktober 2003 menduduki jabatan Lektor Kepala di STAIN Purwokerto. Briggs and Wager. good evaluation have to comply with several principle. Winkel. objectivity. illuminative model. Gerlach and Ely. and even combine (merger) between two or more models. misalnya model yang dikembangkan oleh Winarno Surakhmad. measurement model. for example model developed by Winarno Surakhmad. namely validity. 1 .Rohmad Qomari *) *) Penulis menyelesaikan S-1 di IAIN Sunan Kalijaga Fakultas Tarbiyah dan S-2 Universitas Negeri Yogyakarta. from model that have dominant quantitative measure like measurement model and model that using qualitative approach as illuminative model. and com-prehensive so the resulted information can became source to make right and wise decision.. reliability. Those models design have component and pattern that different each other. or even developing our specific model. Winkel. Briggs dan Wager.. Pendahuluan Dalam khazanah pembelajaran terdapat bermacam-macam model desain pembelajaran. Hisyam Zaini dkk. Hisyam Zaini et al. Sekarang sedang mengikuti Program Doktor By Research di UIN Yogyakarta. and Kemp. learning.

dan Kemp. materi adalah bahan yang dipelajari siswa atau diajarkan guru kepada siswa. yaitu tujuan. materi. mengelola.Gerlach dan Ely. media adalah sarana untuk memudahkan pencapaian tujuan. Dengan demikian. evaluasi merupakan salah satu komponen pokok yang selalu ada dalam pembelajaran. sebuah pembelajaran tidak dapat dipisahkan dengan kegiatan evaluasi. Hasil 4 mengajar guru terkait dengan dalam hal sejauh mana guru sebagai manajer belajar siswa merencanakan. Dari model-model desain tersebut komponen dan pola antara yang satu dengan lainnya terdapat perbedaan. . Secara umum. strategi adalah langkah-langkah yang ditempuh siswa dan/atau guru dalam mempelajari (guru=mengajarkan) materi pelajaran untuk mencapai tujuan. Dengan kata lain. evaluasi memiliki dua fungsi utama yaitu untuk mengetahui pencapaian hasil belajar 3 siswa dan hasil mengajar guru. Pengetahuan tentang hasil belajar siswa terkait dengan sejauh mana siswa telah mencapai tujuan pembelajaran atau kompetensi-kompetensi yang telah ditetapkan. dari berbagai desain pembelajaran tersebut 2 terdapat komponen-komponen yang termasuk komponen pokok. dan evaluasi adalah proses untuk mengetahui pencapaian hasil dan efektivitas pembelajaran. dan evaluasi. dan mengevaluasi. memimpin. strategi. media. Meskipun demikian. Tujuan adalah sesuatu yang ingin dicapai.

Hal ini dibuktikan dengan kegiatan evaluasi yang menonjol di lembaga. dan satuan pendidikan. Tes tersebut sebagian besar dalam bentuk tes tertulis. dan tes hanyalah salah satu dari teknik evaluasi (di samping teknik nontes/alternative test). tingkat jenjang pendidikan. 6 dan komprehensivitas sebuah evaluasi. dan psikomotor). keseimbangan. hingga ujian akhir sekolah dan ujian nasional. Padahal. baik pada tingkat nasional. Menggunakan teknik tes tertulis untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik yang mencakup berbagai domain/anah ( kognitif. Padahal. objektivitas. dan . tes tertulis hanyalah salah satu bentuk tes (di samping tes lisan dan tindakan). reliabel. Dari tes formatif. satuan pendidikan. afektif. bahkan hingga tujuan mata pelajaran (standar kompetensi mata pelajaran) memuat domain kognitif.Realitas menunjukkan bahwa masih banyak yang mereduksi evaluasi sebagai kegiatan tes. tentunya tidak dapat memberikan informasi yang valid. sebagian besar dalam bentuk tes. afektif. cakupan tujuan pendidikan. Kegia ebut adalah pelaksanaan tes yang dilaksanakan setelah penyelesaikan pokok bahasan tertentu (kompetensi dasar tertentu) sebagai tes formatif dan tes akhir semester yang dikenal dengan tes sumatif serta tes yang diselenggarakan di akhir jenjang pendidikan tertentu dalam bentuk ujian akhir sekolah dan 5 ujian nasional. sumatif. Tes akan tepat dipakai untuk mengukur pencapaian domain kognitif. serta tidak selaras dengan prinsip kontinuitas. tetapi tidak tepat untuk mengukur pencapaian ranah afektif.

Di antara literatur yang penulis temukan. 9 10 Stephen. Tayibnapis. Michael (1984) . dan Ibrahim (2001). Model-model Evaluasi Dalam beberapa literatur evaluasi terdapat berbagai model evaluasi. Oleh karena itu. khususnya tenaga pengajar. Said Hamid (1988). 13 . William M. Mehren. Sudjana. Worthen. dan William B. dan James R.. Farida Yusuf (2000).7 Dalam tulisan ini akan mendeskripsikan secara ringkas perkembangan studi tentang evaluasi yang telah melahirkan berbagai model evaluasi. 11 12 Nana. Dengan mengetahui ragam model evaluasi diharapkan akan menambah khazanah informasi kepada para pelaku pendidikan. yakni tulisan dari Hasan. untuk mengetahui pencapaian hasil belajar siswa dan efektivitas proses pembelajaran dapat dilakukan dengan memilih salah satu model evaluasi atau menggabungkan dua model evaluasi atau lebih. Lehman (1973). terkadang ditentukan oleh hasil tes tertulis yang dilaksanakan beberapa jam pada mata pelajaran tertentu. dan Irvin J.8 Issac. yang menjadi referensi utama tulisan ini. Blaine R..psikomotor sehingga ironis jika proses pembelajaran yang panjang (3 sampai dengan 6 tahun).

kemampuan pembawaan (intelegensi dan bakat). R. sikap. tokoh-tokoh pengembang model ini antara lain R. model kesesuaian (congruence model). penilaian pendidikan adalah pengukuran terhadap berbagai aspek tingkah laku dengan tujuan untuk melihat perbedaan -perbedaan individu atau kelompok. model sistem (system model).Sanders (1987). yang selengkapnya dapat dilihat pada daftar pustaka. Menurut model ini. L. 14 Measurement Model Measurement Model merupakan model yang tertua dibanding model-model evaluasi yang lain. dan perencanaan pendidikan bagi para siswa di sekolah. dan model illuminatif (illuminative model). Thorndike. Thorndike dan R. objek penilaian mencakup aspek kognitif maupun afektif dari tingkah laku siswa. Alat penilaian yang lazim digunakan dalam model ini adalah tes tertulis ataupaper and pencil test. it exists in quantity. minat. yang hasilnya diperlukan dalam rangka seleksi. Untuk mendapatkan hasil pengukuran kecenderungan untuk yang setepat mungkin ada . yang mencakup kemampuan hasil belajar. bimbingan. Ruang lingkup evaluasi menurut model ini adalah tingkah laku. berkeyakinan: if anything exists. and if it exists in 15 quantity it can be measured. Dengan kata lain. dan juga aspek-aspek kepribadian siswa. terutama tingkah laku siswa. Ebel. misalnya. penulis mengklasifikasi model evaluasi menjadi model pengukuran (measurement model). Dengan acuan referensi di atas.

Oleh karena itu. nilai untuk masing-masing siswa ditentukan. yang menggunakan cara pengajaran yang berbeda sebagai bebas. Untuk mengungkapkan hasil yang telah dicapai kelompok maupun masing-masing individu di dalam penilaian mengenai suatu bidang pelajaran tertentu. nilai yang dicapai siswa lebih menggambarkan kedudukan siswa tersebut di dalam kelompoknya disebut (relative norm) Penilaian Acuan Norma (PAN). dikembangkan suatu norma kelompok berdasarkan angka-angka nyata yang diperoleh siswa di dalam tes yang telah dilaksanakan. Analisis variabel perbedaan nilai dilakukan dengan menggunakan cara-cara statistik tertentu untuk dapat menyimpulkan cara pengajaran mana yang lebih efektif di antara cara-cara yang dinilai. dilakukan analisis untuk mengetahui 16 reliabilitas tes secara keseluruhan maupun setiap soal (analisis butir tes) yang terdapat di dalamnya. Setelah suatu tes diujicobakan kepada sampel yang cukup besar. Atas dasar norma kelompok inilah. kemudian berdasarkan validitas dan data yang diperoleh. Tes yang belum dibakukan dipandang kurang dapat mencapai tujuan dari pengukuran. Keterbatasan Measurement Model Keterbatasan dari model ini terletak pada penekanannya yang berlebihan pada aspekpengukuran . Pendekatan lainnya dalam model ini adalah membandingkan hasil belajar antara dua atau lebih kelompok. Diperlukan uji coba berkali kali terhadap instrument yang dikembangkan.mengembangkan alat-alat penilaian (tes) yang baku atau standardized.

17 2. s tidak terbatas hanya pada potensi kognitif saja. Kurikulum sebagai suatu alat untuk mencapai tujuan pendidikan diharapkan dapat mengembangkan berbagai potensi yang ada pada diri si wa. dan nilai yang dicapai oleh masing-masing siswa lebih mencerminkan kedudukannya dalam kelompok. Adanya beberapa pengembangan ketidakserasian dengan peranan penilaian dalam proses kurikulum/sistem pendidikan berikut ini.dalam kegiatan penilaian pendidikan. Prosedur semacam ini kurang cocok untuk diterapkan dalam penilaian hasil belajar. model ini banyak dipengaruhi oleh prosedur yang ditempuh dalam pengembangan tes psikologis. Yang lebih berarti dalam proses pengembangan pendidikan adalah nilai nilai - . Yang menjadi persoalan adalah hasil belajar yang bersifat kognitif tersebut bukan merupakan satu-satunya indikator bagi keberhasilan kurikulum. dalam hal ini adalah hasil belajar yang bersifat kognitif. Dalam pengembangan alat penilaian. Konsekuensinya. Untuk mengembangkan tes tersebut berlaku ketentuan bahwa soal tes yang memiliki daya pembeda rendah perlu direvisi atau diganti dengan tes lain. yang mempunyai daya pembeda tinggi. antara lain tes intelegensi dan tes bakat. Dalam proses pengembangan pendidikan. penilaian cenderung dibatasi pada dimensi tertentu dari sistem pendidikan yang dapat diukur . Hal itu dalam rangka/pengembangan pendidikan karena dalam penilaian pendidikan yang penting adalah butir soal tes yang dibuat betulbetul konsisten dengan tujuan pendidikan yang ingin dinilai pencapaiannya. nilai semacam ini kurang mempunyai arti karena sifatnya relatif. 1. model ini dipengaruhi oleh prosedur pengolahan hasil tes psikologis. Dalam pengolahan hasil tes.

secara individual maupun kelompok. evaluasi dalam model ini memungkinkan untuk melakukan analisis intrumen dan hasil evaluasi secara statistik. Congruence Model . 3. Yang lebih diperlukan dalam proses pengembangan pendidikan adalah bentuk penyajian hasil tes yang dapat memberikan petunjuk tentang bagian-bagian mana dari sistem pendidikan yang masih lemah. bukan nilai relatif yang mencerminkan posisi siswa dalam kelompoknya. Informasi yang disajikan menurut model ini lebih berbentuk nilai keseluruhan (total score) yang dicapai setiap siswa. Informasi semacam ini kurang relevan dengan kebutuhan yang dirasakan dalam proses pengembangan pendidikan karena nilai keseluruhan lebih banyak menyembunyikan daripada mengungkapkan informasi yang diperlukan untuk kepentingan penyempurnaan sistem. Di samping itu. dan karenanya memerlukan perbaikan. Aspek objektivitas yang ditekankan oleh model ini perlu dijadikan landasan yang terus-menerus sistem penilaian dalam rangka mengembangkan pendidikan. Keunggulan Measurement Model Keunggulan dari model ini adalah sumbangannya yang sangat berarti dalam hal penekannya terhadap pentingnya objektivitas proses penilaian. yang dilengkapi dengan data mengenai nilai rata-rata dan standar deviasi yang dicapai kelompok.yang menunjukkan sejauh mana tujuan-tujuan pendidikan telah dicapai oleh siswa.

sekalipun dalam beberapa hal masih menunjukkan adanya persamaan dengan model yang pertama. proses pendidikan berisi tiga komponen yang saling terkait. Carrol. yaitu tujuan pendidikan. Oleh karena tujuan pendidikan menyangkut tentang perubahan perilaku yang diinginkan pada peserta didik. dan penilaian hasil belajar. maka yang penting dalam proses penilaian adalah memeriksa sejauh mana perubahan-perubahan tingkah laku yang diinginkan tersebut telah dicapai peserta didik. John B. Ruang lingkup evaluasi menurut model ini adalah memeriksa persesuaian (congruence) antara tujuan dan hasil belajar. Tyler. maka penilaian dimaksudkan untuk memeriksa sejauh mana perubahan-perubahan yang diinginkan tersebut telah dicapai. Tokoh model ini Raph W. dan hasil belajar yang telah dicapai. dan Lee J. Tindak lanjut dari penilaian ini adalah sebagai bahan bimbingan lebih lanjut kepada peserta didik serta memberikan informasi kepada pihak luar yang terkait dengan hasil belajar peserta didik. Penilaian merupakan kegiatan untuk mengetahui sejauh mana tujuan-tujuan pendidikan dapat dicapai oleh siswa dalam bentuk hasil belajar yang mereka perlihatkan pada akhir kegiatan pendidikan. maka yang dijadikan objek penilaian adalah tingkah laku siswa. Secara lebih khusus. Hal itu mengingat tujuan-tujuan pendidikan mencerminkan perubahan-perubahan tingkah laku yang diinginkan pada peserta didik. Penilaian adalah usaha untuk memeriksa persesuaian (congruence) antara tujuan -tujuan pendidikan yang diinginkan. pengalaman belajar. yang dinilai adalah perubahan tingkah laku yang diinginkan (intended behavior) yang .Model ini dapat dipandang sebagai reaksi terhadap model yang pertama. Cronbach Menurut Tyler.

dan nilai/sikap. Dengan demikian. akan lebih tepat bila hasil penilaian tidak dinyatakan dalam bentuk hasil keseluruhan tes. Menggunakan hasil penilaian. keterampilan. Merumuskan atau mempertegas tujuan. Tyler dan Cronbach lebih mengarahkan peranan penilaian pada tujuan untuk memperbaiki kurikulum atau sistem pendidikan. melainkan dalam bentuk hasil bagian demi bagian dari tes yang bersangkutan. 1. Model ini tidak menyarankan dilaksanakannya penilaian perbandingan untuk melihat sejauh mana kurikulum yang baru lebih efektif dari kurikulum yang ada. terlihat jelas bagian-bagian dari sistem pendidikan yang masih perlu disempurnakan berhubung belum berhasil mencapai tujuannya. Menetapkan test situation yang diperlukan. dan nilai/sikap) berbagai kemungkinan alat penilaian perlu digunakan. maka diperlukan prosedurpre and post test. 3. Kontribusi Congruence Model . keterampilan. 4. Langkah-langkah penilaiannya adalah sebagai berikut. misalnya. Berhubung setiap sistem pendidikan memiliki berbagai tujuan yang ingin dicapainya. Congruence model tidak membatasi alat penilaian pada tes tertulis ataupaper and pencil test saja. Menyusun alat penilaian. dalam menilai hasil belajar yang mencakup berbagai jenis (pengetahuan. Penilaian dipergunakan sebagai alat ukur pencapaian hasil belajar setelah menempuh proses pendidikan.18 Ringkasnya. pengetahuan. Ruang lingkup perilaku meliputi. 2.diperlihatkan oleh siswa pada akhir kegiatan pendidikan. Carrol. menyebutkan perlunya digunakan alat-alat penilaian lain seperti tes perbuatan dan observasi.

ih relevan dengan kebutuhan pengembangan sistem. Menurut Daniel L. Menghubungkan hasil belajar dengan tujuan pendidikan sebagai kriteria perbandingan. 1. Menekankan pentingnya sistem sebagai suatu keseluruhan yang dijadikan objek penilaian. akhirnya sampai pada suatu deskripsi danjudgment mengenai sistem yang dinilai tersebut.19 Sistem Model Hakikat evaluasi menurut sistem model adalah untuk membandingkanperformance dari berbagai dimensi sistem yang sedang dikembangkan dengan sejumlah kriteria tertentu. Stufflebeam salah satu kelemahan dari penilaian yang ada sekarang adalah kurang jelasnya kriteria yang digunakan sebagai dasar dalam penilaian tersebut. Dengan model pre da post test informasi yang dihasilkan hanya dapat menjawab pertanyaan tentang tujuantujuan mana yang telah dan belum dicapai. Prinsip-prinsip model ini adalah sebagai berikut. Perbandingan antaraperformance dan criteria merupakan salah satu inti yang penting. Class bahwa the complete and detailed description of what constitutes the educational program is a concern of the 20 educational sistem evaluation model. mengapa tujuan -tujuan tertentu belum dapat dicapai belum dapat dijawab. 3.Sumbangan yang cukup berarti daricongruence model adalah sebagai berikut. Pendekatan ini membantu pengembang kurikulum dalam menentukan bagian-bagian dari sistem yang masih lemah. Keterbatasan Tidak menjadikan input dan proses pelaksanaan sebagai objek penilaian secara langsung. 1. Pertanyaannya. tanpa membatasi pada aspek hasil yang dicapai saja. tetapi kurang membantu di dalam mencari jawaban tentang segi-segi yang masih lemah dan kemungkinan mengatasi kelemahan-kelemahan tersebut. Dikatakan Gene V. Kegiatan penilaian tidak hanya berakhir pada suatu deskripsi tentang keadaan dari sistem yang . 2.

penyempurnaan sistem selama sistem tersebut masih dalam tahap pengembangan. 1. dan hasil yang dicapai. proses. 1. dan product (CIPP). dan 23 terminal product. transactions. Ruang lingkup evaluasi menurut model ini berdasarkan pendapat tokohnya adalah sebagai berikut. process. Penilaian ditujukan kepada berbagai dimensi sistem. 3. yaitu design. Mencakup data objektif maupun data subjektif. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa hakikat evaluasi menurut sistem model adalah sebagai berikut. dan hasil yang dicapai. 1. dan outcomes. Perbandingan antaraperformance dan criteria. input. dan b.21 2. Informasi yang diperoleh dari hasil penilaian berfungsi sebagai bahan atau input bagi pengambilan keputusan mengenai sistem yang bersangkutan dalam rangka: a. worth) dari sistem pendidikan yang bersangkutan dibandingkan dengan sistem yang lain. Stake membagi objek penilaian atas tiga kategori:antecendent. Keunggulan Sistem Model . 4. 4. 4.22 3. melainkan harus sampai pada suatu judgment mengenai baik-buruknya dan efektif tidaknya sistem pendidikan tersebut. interim products. Scriven mencakup: sarana/bahan. penyimpulan mengenai kebaikan (merit. operation program.telah dinilainya. Hasil penilaian digunakan sebagai bahan atau input bagi pengampilan keputusan. yaitu context. 2. dalam rangka penyempurnaan sistem maupun penyimpulan mengenai kebaikan sistem yang bersangkutan secara menyeluruh. Tidak hanya berakhir dengan deskripsi. Objek sekurang-kurangnya terdiri dari peralatan/sarana. Provus mencakup empat dimensi. Dari kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa ruang lingkup evaluasi dalam model ini adalah sebagai berikut. tetapi jugajudgment sebagai kesimpulan dari penilaian. Stufflebeam menggolongkan sistem pendidikan atas empat dimensi. 2. proses.

tidak hanya hasil yang dicapai saja. Hal ini agar penyempurnaan sistem dapat dilakukan pada setiap tahap sehingga kelemahan yang masih terlihat pada suatu tahap tertentu tidak dibawa ke tahap berikutnya. tempat sistem tersebut dikembangkan. oleh pengembangnya didasarkan atas alasan bahwa penggunaan berbagai cara evaluasi di dalam model ini bila dikombinasikan akan help illuminative problems. Dalam pelaksanaan evaluasi. bukan pengukuran dan prediksi sebagaimana model sebelumnya. 24 Illuminative Model Nama Illuminatif. issues. Model ini dikembangkan terutama di Inggris dan banyak dikaitkan dengan pendekatan di bidang antropologi. serta kesukaran-kesukaran yang dialami dari tahap perencanaan hingga implementasinya di lapangan.Model ini mengemukan perlunya penilaian dilakukan terhadap berbagai dimensi sistem.26 Tujuan penilaian menurut model ini adalah mengadakan studi yang cermat terhadap sistem yang bersangkutan. proses implementasi (pelaksanaan) sistem. serta pengaruhnya terhadap proses belajar siswa. Objek evaluasi yang diajukan dalam model ini mencakup. Studi difokuskan pada permasalahan bagaimana implementasi suatu sistem dipengaruhi oleh situasi sekolah.25 Salah satu tokoh yang paling menonjol dalam pengembangan model ini adalah Malcolm Parlett. melainkan juga input dan proses yang dilakukan tahap demi tahap. and significant program features. selaras dengan semboyannyathe judgment is the evaluation . kelemahan. model ini lebih 27 menekankan penggunaanjudgment . keunggulan. . Di samping itu. latar belakang dan perkembangan yang dialami oleh sistem yang bersangkutan. dampak yang ditimbulkan dari suatu sistem seperti. hasil belajar yang diperlihatkan oleh siswa. Hasil evaluasi ditekankan pada deskripsi dan interpretasi.

faktor lainnya adalah pandangannya yang holistik dalam evaluasi. Tahap pertama observe. Dari langkah-langkah tersebut.31 Keunggulan Illuminative Model . Evaluator mendengarkan dan melihat berbagai peristiwa. 2. Langkah selanjutnya dilakukan interpretasi data yang diharapkan dapat 29 dijadikan bahan dalam pengambilan keputusan. Hal ini disebabkan model ini menggunakan pendekatan kualitatif yang menekankan pentingnya menjalin kedekatan dengan orang dan situasi yang sedang dievaluasi agar dapat memahami secara personal realitas dan hal-hal rinci tentang program atau 30 sistem yang sedang dikembangkan. persoalan. Ringkasnya. evaluator mulai meneliti sebab akibat dari masingmasing persoalan.kebosanan yang terlihat pada siswa dan guru. Pada tahap ini. objek evaluasi dalam model ini meliputi 28 kurikulum yang terlihat maupun tersembunyi (hidden curriculum). Pada tahap ini. evaluator mengunjungi sekolah atau lembaga yang sedang mengembangkan sistem tertentu. Tahap kedua Inquiry further. faktor penting dalam evaluasi model ini adalah perlunya kontak langsung antara evaluator dengan pihak yang dievaluasi. Tahap ketiga Seek to explain. Data semula terpisah satu dengan lainnya mulai disusun dan dihubungkan dalam kesatuan situasi. 3. Tahapan evaluasi dalam Illuminatif model terdiri dari tiga fase sebagai berikut. dan sebagainya. serta reaksi dari guru maupun siswa terhadap pelaksanaan sistem tersebut. Pada tahap ini. Pada tahap ini. Di samping itu. faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya persoalan dicoba untuk ditelusuri. yang berasumsi bahwa keseluruhan adalah lebih besar daripada sejumlah bagianbagian. 1. hambatan terhadap kembangan sikap sosial. berbagai persoalan yang terlihat atau terdengar dalam tahap pertama diseleksi untuk mendapatkan perhatian dan penelitian lebih lanjut. ketergantungan secara intelektual.

seperti perasaan. Aspek-aspek kemanusiaan tidak semuanya dapat dilakukan pengukuran secara mudah dan tepat. Pada prinsipnya. melainkan dapat menggabungkan (merger) dua model atau lebih. evaluasi yang baik adalah yang . 32 Kontribusi Illuminative Model Sumbangan terbesar Illuminatif Model adalah kritikannya terhadap penggunaan model scientific experiment dalam penilaian pendidikan yang dirasakan kurang tepat. sikap. motivasi. 2. dan sebagainya. atau bahkan mengembangkan model tersendiri. mulai model yang dominasi pengukuran secara kuantitatif seperti pada measurement model hingga model yang menggunakan pendekatan kualitatif sepertiIlluminative model. semangat. Dengan mempelajari berbagai model akan memperluas cakrawala serta wawasan sehingga tidak terpancang pengunaan satu model saja. Kegiatan penilaian tidak didahului oleh adanya perumusan kriteria secara eksplisit.Menekankan pentingnya dilakukan penilaian yang kontinu selama proses pelaksanaan pendidikan sedang berlangsung. Pendidikan sebagai manusiakan manusia tidak dapat dideskripsikan secara matematis. Keterbatasan Illuminative Model Kelemahan terutama terletak pada segi teknis pelaksanaannya yang meliputi: 1. Penutup Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa evaluasi dalam dunia pendidikan memiliki banyak model dan pendekatan. Adanya kecenderungan untuk menggunakan alat penilaian yang terbuka dalam arti kurang spesifik dan berstruktur. Objektivitas penilaian yang dilakukan perlu dipersoalkan. 3. 4. Jarak antara pengumpulan data dan laporan hasil penilaian cukup pendek sehingga informasi yang dihasilkan dapat digunakan pada waktunya. Tidak menekankan pentingnya penilaian terhadap program bahan-bahan kurikulum selama bahan-bahan tersebut disusun dalam tahap perencanaan.

Dapat dilihat pula di Hisyam Zaini. Lily Rompas. Desain Pembelajaran di Perguruan Tinggi (Yogyakarta: CTSD IAIN Sunan Kalijaga. 2007). hal. lihat W. Pengantar Interaksi Mengajar Belajar: Dasar dan Teknik Metodologi Pengajaran (Bandung: Tarsito. dan Koyo Kartasurya (Jakarta: CV Rajawali . Yogyakarta: Kerjasama Madrasah Development Center (MDC) Jateng dan Pilar Media. Kemudian Tujuan Pembelajaran Umum (TPU). Sudarsono Sudirdjo. dan indikator pencapaian lihatPeraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: Sebuah Panduan Praktis (Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Terj.. Pengantar Evaluasi Pendidikan (Jakarta: Raja Grafindo Persada. hasil belajar. 2007). serta komprehensif sehingga informasi yang dihasilkan dapat dijadikan bahan dalam pembuatan keputusan benar dan bijak. Psikologi Pengajaran. mengorganisasikan. dkk. 3 W. Winkel. Psikologi Pengajaran (Yogyakarta: Media Abadi. Lihat juga E. 304 dan 531-532. S. Kompetensi Dasar (KD). lihat juga Suharsimi Arikunto. Sejak Kurikulum 1975 dikenal istilah tujuan yang dalam implementasi operasionalnya dikenal Tujuan Instruksional Umum (TIU) dan Tujuan Instruksional Khusus (TIK).memenuhi prinsip-prinsip validitas. Lihat Davis. Lihat juga Soenarwan. Endnote 1 Winarno Surakhmad. objektivitas. Pengelolaan Belajar. memimpin. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan (Jakarta: Bumi Aksara. Dapat dilihat juga di Anas Sudijono. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: Konsep dan Implementasinya di Madrasah. 266-303. Winkel. reliabilitas. Apapun istilah yang dipakai pada prinsipnya adalah rumusan tentang sesuatu yang ingin dicapai dalam proses tersebut. Lihat pula tulisan Khaeruddin dan Mahfud Junaedi. 2006). 2002). 1991). S. 1986). Dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi dikenal istilah Standar Kompetensi (SK). Pendekatan Sistem dalam Pendidikan (Surakarta: UNS Press.. 1996). Ivor K. kontinuitas. Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK). Mulyasa. dan mengawasi. hal. 4 Guru sebagai manajer memiliki empat fungsi yaitu: merencanakan. 2002). 2 Terdapat beberapa istilah tentang sesuatu yang ingin dicapai dalam pembelajaran.

Lihat Woolfolk. objektivitas. dan Bahasa Inggris. 1988). hal. Manajemen Penelitian (Jakarta: Rineka Cipta. model (teladan). Lihat Suharsimi Arikunto. motivator. Lihat Suharsimi Arikunto. goal-free evaluation. evaluation research. Evaluasi Kurikulum (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. yaitu Goal-oriented evaluation. hal.. 9 Stephen Issac and William B. 5 Michael Sriven seorang ahli dalam penelitian evaluasi melihat pembagian evaluasi secara formatif dan sumatif dari segi fungsi. 1987). 6 Terdapat beberapa prinsip dasar evaluasi antara lain: validitas. konselor. 3-9. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi. . Penentuan tiga mata pelajaran ini mengundang polemik antara pro dan kontra. Ada sebagian ahli memandang formatif dan sumatif menunjuk pada lingkup atau luasnya yang dinilai. pemimpin. 7 Mata pelajaran yang diujikan dalam Ujian Nasional adalah Matematika. praktikabilitas. dan adversary evaluation. transactionaloriented evaluation. 8 Hasan. hal.bekerja sama demngan Pusat Antar Universitas di Universitas Terbuka. Yang kontra mempertanyakan apakah ketiga mata pelajaran tersebut dapat mewakili (representatif) seluruh mata pelajaran PKn dan sebagainya. Bahasa Indonesia. Michael. Formatif difungsikan sebagai pengumpulan data pada waktu pendidikan masih berlangsung. 283. reliabilitas. Handbook in Research and Evaluation (California: Edits Publisher. manager. 1973). 29-39. Dalam buku ini. Inc.Ibid.. 58-63. Insinyur lingkungan . 1984). Said Hamid. Dasar-dasar. Evaluasi sumatif dilaksanakan jika program kegiatan sudah betul-betul dilaksanakan. 10 William M. model evaluasi diklasifikasi menjadi enam. Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan. hal. ekonomis. hal. Lehman. Mehren dan Irvin J. Sasaran evaluasi sumatif merupakan gabungan dari sasaran evaluasi formatif. decisionoriented evaluation. 7. 2000). Sementara ahli mengemukan bahwa guru memiliki beberapa peran. Measurement and Evaluation in Education and Psychology (Sydney: Rinehart and Winston. yaitu sebagai ahli instruksional.

management oriented. pendekatan berorientasi pada tujuan. 2001). Model UCLA. hal. penulis lebih cocok dengan system model. pendekatan yang responsif dan pendekatan Goal Free Evaluation. 41-160. Evaluasi Program (Jakarta: Rineka Cipta. Dalam buku ini. Klasifikasi model evaluasi yang penulis sajikan dalam tulisan mengikuti model dari Sudjana dengan beberapa modifikasi dan tambahan. Klasifikasi pendekatan evaluasi ini hampir miripdengan pembagian menurut Worthen & Sanders. Penelitian dan Penilaian Pendidikan (Bandung: Sinar Baru Algensindo. Pendekatan evaluasi diklasifikasi menjadi: pendekatan eksperimental. Measurment. pendekatan yang berfokus pada tujuan. Lihat juga Sumadi Suryabrata. Worthen dan James R. 1987). adversary oriented. expertise oriented. Lihat juga William M and Irvin J. 234-260. Lehman. Lihat . Model evaluasi diklasifikasi menjadi: Model CIPP. and Richard L. Classroom Measurement and Evaluation (Itasca. consumer oriented. & Yen. 1990). lihat juga Hopkins. Peacock Publisher. Worthen & Sanders mengistilahkan dengan pendekatan evaluasi (evaluation approach). Sanders. Dalam tulisan ini. Wendy M. 1997). 2000). ada enam pendekatan evaluasi. Educational Evaluation: Alternative Approaches and Practical Guidelines (New York: Longman.Pengembangan Tes Hasil Belajar (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Mary J. Seperti educational system model menurut Sudjana. dan illuminative model.E. Antes. dan naturalistic and participant oriented. Dalam buku ini dibedakan pendekatan dengan model evaluasi. Menurutnya. dan Model Stake atau model Countenance. hal. congruence model. educational model. 13-35. 13 Blaine R. Inroduction to Measurement Theory (California: Brooks/Cole Publishing Company. Charles D. model evaluasi diklasifikasi menjadi empat. Illionis: F. 12 Farida Yusuf Tayibnapis. yaitu: objectives oriented. yaitu measurement model. Model Brinkerhoff. 1979). Inc. 14 Referensi model ini cukup banyak antara lain Allen. hal.11 Nana Sudjana dan Ibrahim. pendekatan berorientasi kepada pemakai.

hal. 250. 130-132. 1991). 132-133.. Fundamentals of Item Response Theory. 68-70. 23 Worthen & Sanders. Qualitative Approaches to Evaluation in Education: The Silent Scientific Revolution (London: Praeger. Penelitian. Fetterman (Ed. Cit. Educational. hal. 78. Nana dan Ibrahim. 15 Sudjana. Tes Prestasi: Fungsi dan Pengembangan Pengukuran Prestasi Belajar (Yogyakarta: Pustaka Pelajar. hal. hal. Jane Rogers. hal. Cit.. 235 16 Referensi Analisis Butir Tes antara lain dapat dilihat dalam Ronald K.). 21-22. Evaluasi Program. 1988). hal. Op. 7-12.Op. New Delhi: Sage Publications. 19 Ibid... Lihat juga Worthen & Sanders.Op.juga Azwas Saifuddin. Penelitian. 18 Ibid... .. Swaminathan. Cit. 20 Ibid. hal. 21 Farida Yusuf Tayibnapis. hal. 26 Nana Sudjana & Ibrahim. 22 Worthen & Sanders. 256. Lihat juga Issac & Michael.. hal. 241. 244. 1996). H. 25 Untuk referensi model ini dapat juga dilihat dalam David M. Hambleton. 258 259. 24 Ibid. 17 Ibid. hal.

Pelaksanaan . Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya Kampus Lidah Wetan Abstrak: Pembelajaran terpadu merupakan pendekatan yang melibatkan beberapa bidang studi/ mata pelajaran. Pengertian bermakna di sini karena dalam pembelajaran terpadu diharapkan peserta didik memperoleh pemahaman terhadap konsep-konsep yang mereka pelajari dengan melalui pengalaman-pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang sudah mereka pahami.JURNAL III EVALUASI DALAM PEMBELAJARAN TERPADU DI SEKOLAH DASAR Sutrisno Widodo Kurikulum dan Teknologi Pendidikan. Pendekatan pembelajaran itu akan dapat memberikan pengalaman yang bermakna kepada peserta didik.

Aspek Dari kenyataan tersebut terlihat jelas perkembangan yang satu saling terkait dan terjadinya kontradiksi antara proses mempengaruhi aspek perkembangan yang lain. proses. dan penekanannya pada reproduksi Perkembangan anak Sekolah Dasar informasi. dan produk. observasi merupakan komponen dasar. seksama. Dalam mengevaluasi proses pembelajaran terpadu. Perkembangan ini merupakan perkembangan dengan proses pendidikan/ pembelajaran yang phisik. PENDAHULUAN berorientasi instruksional. cenderung bersifat holistik. perkembangan anak SD bersifat alamiah. terhadap mutu dan hasil Apabila kita cermati bersama proses pendidikan/pembelajaran di Sekolah Dasar. Kata Kunci: Pembelajaran terpadu. dan penyelenggaraannya dilakukan dengan menggunakan alat evaluasi tes dan non-tes. Model keterhubungan. dan dibiarkan terus berlanjut. dengan pengalaman diramalkan akan terjadi dampak negatif serta kehidupan dalam lingkungan sekitarnya. Konsep-konsep dari bidang studi terkait dijadikan wahana pembelajaran dan penjelajahan topik atau tema. pembelajaran/ pendidikan di Sekolah Dasar Bertolak dari berbagai gejala tersebut. emosional dan sosial yang tidak dilaksanakan di Sekolah Dasar. Evaluasi pada pembelajaran terpadu berorientasi pada program. mental. (3) sistem evaluasi testing. Model jaring laba-laba dan Model keterpaduan 1.pembelajaran terpadu diawali dari pemilihan dan pengembangan topik atau tema yang dilakukan guru bersama peserta didik. maka dapat sifatnya terpadu (holistik). yang terjadi selama ini menunjukkan adanya maka dipandang perlu para guru Sekolah Dasar . agar data dan informasi proses pelaksanaannya dapat terekam dangan sempurna sehingga evaluasi dapat dilakukan secara objektif. Jika hal ini dapat terpisahkan satu dengan lainnya. dan observasi terhadap kegiatan pembelajaran terpadu seyogyanya dilakukan dengan cermat.

baik yang menggunakan pendekatan terpadu Pendekatan berangkat dari teori pembelajaran maupun konvensional adalah yang menolak drill sebagai dasar pembentukan sama. pembelajaran terpadu evaluasi tidak berbeda dengan pembelajaran merupakan pendekatan pembelajaran yang konvensional pada umumnya. dan juga dapat atau topik atau peristiwa tersebut peserta didik dimanfaatkan sebagai masukan dalam rangka belajar sekaligus proses dan isi berbagai mata perbaikan kualitas pembelajaran. 1998) dampak pengiring (nurturant effects). Pada pembelajaran terpadu peran Pandangan lain.kecenderungan yang relatif kuat dalam hal yang ada sekarang ini memulai untuk (Depdikbud. pelajaran secara serempak. 1996): (1) terjadinya mengembangkan kompetensinya dalam pengkotakan-pengkotakan bidang studi/mata merancang pembelajaran dan merancang pelajaran khusunya untuk kelas-kelas tinggi di evaluasi terpadu pada setiap bidang studi yang Sekolah Dasar. sebagai salah satu tolok ukur keberhasilan dari Dengan berpartisipasi di dalam eksplorasi tema suatu proses pembelajaran. Dalam pembelajaran terpadu perhatian pengetahuan dan struktur intelektual anak. Hal ini atau eksplorasi topik atau tema menjadi diharapkan hasil evaluasi dapat digunakan pengendali di dalam kegiatan pembelajaran. yang cukup banyak diarahkan pada evaluasi (Depdikbud. (2) pembelajaran difokuskan akan dibelajarkan kepada peserta didiknya. seperti Pelaksanaan pendekatan pembelajaran . Oleh karena itu memperhatikan dan menyesuaikan dengan berbagai hal yang perlu diperhatikan dalam tingkat perkembangan peserta didik melaksanakan evaluasi kegiatan pembelajaran (developmentally appropriate practice). pada pencapaian dampak pembelajaran/efek Evaluasi dalam proses pembelajaran merupakan aktivitas yang bertujuan untuk mendapatkan informasi berkaitan dengan berlangsung apabila peristiwaperistiwa otentik kinerja (performance) peserta didik.

Tujuan dari tema ini bukan untuk (instructional effects). Sedangkan dari Apabila dibandingkan dengan segi sasaran evaluasi difokuskan baik kepada pendekatan konvensional. di samping dampak pembelajaran peserta didik. KARAKTERISTIK DAN dengan konsep lain yang sudah mereka KELEBIHAN SERTA pahami. pembelajaran terpadu PEMBELAJARAN TERPADU merupakan suatu sistem pembelajaran yang . aktivitas pembelajaran terpadu. pendekatan belajar mengajar yang melibatkan Pendekatan pembelajaran terpadu beberapa bidang studi/ mata pelajaran. tetapi konsep -konsep dari Ditinjau dari segi pentahapan aktivitas bidang studi terkait dijadikan alat dan wahana evaluasi dapat dilakukan baik pada tahap untuk mempelajari dan mengeksplorasi topik perencanaan maupun pada tahap pelaksanaan atau tema. terpadu lebih menekankan keterlibatan peserta didik dalam belajar. pemahaman terhadap konsep-konsep yang mereka pelajari dengan melalui pengalamanpengalaman langsung dan menghubungkannya 3. dan yang dipilih atau dikembangkan guru bersama sebagainya. Pengertian bermakna di rangka mengimbangi gejala penjejalan sini karena dalam pembelajaran terpadu kurikulum yang serin g terjadi dalam proses diharapkan peserta didik memperoleh pembelajaran di sekolah belakang ini. pembelajaran proses maupun produk/ hasil pembelajaran.halnya dengan kompetensi bekerja sama. literasi bidang studi. terutama dalam kepada peserta didik. membuat peserta didik aktif terlibat dalam proses pembelajaran dan 2. KETERBATASAN Pada dasarnya. terpadu ini bertolak dari suatu tema atau topik menghargai pendapat orang lain. dapat d ipandang sebagai upaya untuk Pendekatan pembelajaran seperti ini akan memperbaiki kualitas (improvement quality) dapat memberikan pengalaman yang bermakna pendidikan di tingkat dasar. KONSEP PEMBELAJARAN pembuatan keputusan. Pendekatan ini lebih TERPADU mungkin menjadi sesuatu yang dikemukakan oleh John Dewey dengan konsep learning by Pembelajaran terpadu merupakan doing-nya.

satu topik dengan topik dapat berkembang sesuai dengan minat dan lain. guru secara sengaja anak. (4) pembelajaran terpadu keterhubungan adalah sebagai berikut: (1) menumbuh kembangkan keterampilan berfikir dampak positif dari mengkaitkan ide-ide anak. tugas -tugas yang dilakukan dalam satu Kelebihan-kelebihan pada hari dengan tugas -tugas yang dilakukan pada pembelajaran terpadu dibandingkan dengan hari berikutnya. bermakna. dan mengacu pada minat dan kebutuhan anak. satu keterampilan dengan keterampilan kebutuhan peserta didik. (2) memberikan prinsip keilmuan secara holistik. peserta didik sehingga hasil belajar akan dapat Beberapa kelebihan model bertahan lebih lama. Pembelajaran terpadu akan pemisahan antar bidang studi tidak begitu jelas. (3) dan otentik. bahkan ide-ide yang dipelajari pembelajaran konvesional. (5) menyajikan kegiatan yang bersifat dalam satu bidang studi adalah peserta didik pragmatis sesuai dengan permasalahan yang memperoleh gambaran yang luas sebagaimana . (2) kegiatan yang dipilih sesuai dengan memadukan antara subtema kebersihan. selalu relevan dengan tingkat perkembangan (Fogarty. (4) menyajikan konsep dari berbagai pembelajaran terpadu secara sengaja bidang studi dalam suatu proses pembelajaran. keadilan. pengalaman langsung pada anak.memungkinkan peserta didik baik secara Pembelajaran terpadu sebagai suatu individual maupun kelompok. lain. diusahakan untuk menghubungkan satu konsep (5) bersifat luwes. dan (6) hasil pembelajaran dengan konsep lain.1991). aktif mencari. di antaranya: (1) pada satu semester dengan ideide yang akan pengalaman dan kegaiatan belajar peserta didik dipelajari pada semester berikutnya. dan menemukan konsep serta anak (child centered). Misalnya. proses memiliki ciri -ciri: (1) berpusat pada menggali. dan kerukunan yang ada pada mata (3) kegiatan belajar lebih bermakna bagi pelajaran Pkn semester II pada kelas II.

komunikasi. Model ini merupakan model studi dalam satu semester. Keterbatasan itu memperbaiki.sering ditemui dalam lingkungan anak. tetapi juga ini adalah: (1) masih kelihatan terpisahnya dan mungkin lebih banyak dampak pengiring antar bidang studi. (3) biasa. maka usaha untuk mengembangkan sebelum mendesain pembelajaran terpadu keterhubungan antar bidang studi menjadi hendaknya para guru mengumpulkan. internalisasi. dan memahami standar kompetensi Model J aring LabaLaba (Webbed maupun kompetensi dasar dari seluruh bidang models). terabaikan menyusun. sehingga terjadilah proses orang lain. serta mengasimilasi ide-ide terutama terletak dalam aspek evaluasi yang secara terus -menerus sehingga memudahkan lebih banyak menuntut guru untuk melakukan terjadinya proses transfer ide-ide dalam evaluasi tidak hanya terhadap hasil tetapi juga memecahkan masalah. toleransi. dalam memadukan ide-ide dalam satu bidang Bertolak dari hal-hal tersebut. maka studi. (2) tidak mendorong guru (nurturant effect). mengkonseptualisasi. mengembangkan konsep-konsep kunci secara dan respek atau menghargai terhadap gagasan terus menerus. kemudian pembelajaran terpadu yang menggunakan . dan (6) suatu bidang studi yang terfokus pada suatu menumbuh kembangkan keterampilan sosial aspek tertentu. sehingga isi pelajaran memang menghendaki teknnik evaluasi yang tetap terfokus tanpa merentangkan koseplebih beragam dibanding dengan pembelajaran konsep serta ide-ide antar bidang studi. (3) menghubungkan ide -ide Dalam pendekatan pembelajaran dalam suatu bidang studi memungkinkan terpadu mengandung keterbatasan terutama peserta didik mengkaji. Pembelajaran terpadu untuk bekerja secara tim. (2) peserta didik anak seperti kerja sama. Tidak hanya evaluasi dampak Kekurangan dari model keterhubungan instruksional (instructional effect). dalam pelaksanaannya. terhadap proses.

asesmen alternatif dan cara formal. guru lebih memusatkan pengembangan skill. misalnya transportasi . antara lain: (1) sulitnya menyeleksi Evaluasi pembelajaran terpadu dapat tema. Evaluasi Dalam Pembelajaran. (2) model Jaring Laba-Laba lebih konsep dari masing-masing bidang studi mudah dilakukan oleh guru yang belum menuntut adanya sumber belajar yang berpengalaman. Dari sub -subtema ini dikembangkan aktivitas belajar yang harus Model Keterhubungan (Connected dilakukan peserta didik. (3) dalam proses pengetahuan dan pemahaman peserta didik. 1991). pembelajaran. Untuk .. (4) pendekatan tematik dapat memotivasi peserta didik. dengan minat akan memotivasi anak untuk pengintegrasian kurikulum dengan konsepbelajar. PEMBELAJARAN TERPADU Model Jaring Laba-laba mempunyai kelemahan. (2) karena sulitnya menyeleksi tema. perancangan pembelajaran terpadu. dan pengembangan sosial perhatian pada kegiatan dari pada dan afektif peserta didik dengan memanfaatkan pengembangan konsep. models). diartikan sebagai evaluasi yang berupaya maka ada kecenderungan untuk merumuskan mencari informasi tentang pencapaian tema yang dangkal. Pendekatan ini dimulai dengan menentukan tema tertentu. MODEL-MODEL dan peserta didik. Tema bisa ditetapkan dengan negosiasi antara guru 4. beraneka ragam. KONSEP EVALUASI dan ide-ide berbeda yang terkait. (5) memberikan kemudahan bagi peserta didik dalam melihat kegiatan-kegiatan 5.. Model keterhubungan adalah model Beberapa kelebihan model Jaring Laba-Laba. sub -subtemanya dengan PEMBELAJARAN TERPADU memperhatikan kaitannya dengan bidangYANG DISARANKAN DI SD bidang studi.dilanjutkan dengan proses pendesainan/ pendekatan tematik (Fogarty. yaitu: (1) penyeleksian tema sesuai Sutrisno. (3) memudahkan perancangan.

1991). Model ini merupakan pembelajaran pa da prinsip-prinsip sebagai berikut: (1) terpadu yang menggunakan pendekatan antar evaluasi hendaknya berbasis unjuk kerja bidang studi. (6) evaluasi menyeleksi konsep-konsep. (3) evaluasi hendaknya dalam beberapa bidang studi (Fogarty. penilaian terhadap proses. Matematika. maka besar portfolio asessment hendaknya dalam model keterpaduan tema yang berkaitan dimanfaatkan. Patokan(PAP) daripada penilaian acuan norma dan Bahasa). dan pembelajaran terpadu hendaknya sikap yang diajarkan dalam satu semester dari mengutamakan Penilaian Acuan beberapa bidang studi (IPA. (5) dalam pelaksanaan penilaian dan bertumpang tindih merupakan hal terakhir umpan balik hendaknya dimanfaatkan sebesaryang ingin dicari dan dipilih oleh guru dalam besarnya untuk pengembangan peserta didik tahap perencanaan program. Pertama guru yang bersifat invidual dan sosial. dan sikap langkah evaluasi hendaknya peserta didik yang saling tumpang tindih/ overlapping di dilibatkan. dan sikap yang memiliki lebih besar pada nurturant effect ( kemampuan keterhubungan yang erat dan tumpang tindih di kerja sama. memberikan perhatian pula pada refleksi diri Berbeda dengan model Jaring Laba-laba yang peserta didik (self reflecti on). (2) pada setiap menemukan keterampilan. keterampilan. (4) karena menuntut pemilihan tema dan penilaian perlu memdapatkan perhatian yang pengembangannya sebagai langkah awal. keterampilan. saling tergantung . konsep.Model Keterpaduan (Integrated menemukan asesmen alternatif didasarkan models). IPS. tenggang rasa. perlu menetapkan prioritas kurikuler dan mendapat pe rhatian yang besar. Model ini diusahakan dengan sehingga selain memanfaatkan penilaian cara menggabungkan bidang studi dengan cara produk. Selanjutnya dipilih beberapa (PAN). (7) lebih memberikan perhatian yang konsep.

(8) perlu memandang peserta Model Keterpaduan ini mempunyai didik itu adalah suatu keutuhan yang tak beberapa kelebihan.kegiatan mencakup. (9) evaluasi dilihat dimungkinkan pemahaman antar bidang studi. (3) guru. (1) program. (3) dimensional. baik dalam proses maupun produk/hasil pembelajaran. TAHAP-TAHAP EVALUASI PEMBELAJARAN TERPADU Evaluasi pembelajaran terpadu mencakup proses dan produk dengan sasaran Pada tahap pertama perencanaan. (2) menentukan kriteria keberhasilan . dan keterampilan kegiatan pembelajaran terpadu. (3) model ini memerlukan segi sasaran evaluasi difokuskan baik kepada tim antar bidang studi. (2) guru harus perencanaan maupun pada tahap pelaksanaan menguasai konsep. baik perkembangan konseptual anak. (2) tingkat tujuan ingin dicapai oleh peserta didik maupun kemampuan menghadapi tantangan. sebagai proses yang terus menerus dan multi (2) memotivasi peserta didik dalam belajar. peserta didik dan guru serta evaluasi terhadap Tahap ini kegiatan. Sedangkan dari yang diprioritaskan. perencanaannya maupun pelaksanaannya. sehingga tercapailah aktivitas belajar) dan sistematis ( merupakan efisiensi dan efektivitas pembelajaran. Sedangkan beberapa kelemahan dari Ditinjau dari segi pentahapan kegiatan model keterpaduan ini. Evaluasi proses terhadap peserta merumuskan tujuan evaluasi apa yang ingin didik sebagai pembelajar meliputi: (1) dicapai melalui kegiatan evaluasi ini. antara lain: (1) terpisahkan (holistik). dan lain-lain). sikap.antara berbagai bidang studi. kestuan informasi bukan penggalan informasi). (10) evaluasi harus bersfat guru tidak perlu mengulang kembali materi komprehensif (menggambarkan keseluruhan yang tumpang tindih. (4) SASARAN EVALUASI 7. antara lain: (1) sulitnya evaluasi dapat dilakukan baik pada tahap menerapkannya secara penuh.

dan evaluasi aspek belajar yang harus dicapai sebagai pembelajar. (2) pendekatan dan metode yang bagian suatu program. Penyusunan dan guru. (6) kerjasama dan ukur atau instrumen yang akan digunakan kekompakan serta produktivitas kegiatan dalam proses evaluasi. dan lainterkumpul dan pengolahannya. video dan kaset. (2) gambar. (2) Evaluasi proses terhadap guru evaluasi h arus dilihat sebagai proses yang mencakup: (1) proses pembelajaran terdiri. (1) evaluasi berlangsung sejak awal didik. (7) partisipasi anak dalam diskusi Tahap ke dua. (5) peserta didik. Dalam kelompok. sistematis. kelengkapan pembelajaran yang disediakan Tahap ke tiga. Hasil pembelajaran lainnya. Evaluasi laporan ini dilakukan secara logis. (3) rekaman. grafik. (4) yang ingin dicapai. sampai dengan akhir proses pembelajaran. pelaksanaan.interaksi peserta didik dengan anak lainnya. Laporan hasil penilaian Evaluasi terhadap produk kegiatan disusun dengan jalan memperhitungkan dan terhadap peserta didik dilakukan melalui. terhadap guru dilakukan melalui. pelaksanaan. (3) materi pembelajaran yang diarahkan pada pro ses maupun produk serta mencakup. kelompok. berkelanjutan. (4) program. topik. (2) masukan dari peserta pengolahan informasi dan saran-saran . baik oleh guru maupun kemampuan peserta didik berkomunikasi. (3) evaluasi dapat digunakan. pemilihan tema. lainnya terhadap strategi dan pengelolaan Tahap terakhir. (1) daftar cek dan komprehensif dan diakhiri dengan yang dilakukan oleh rekan / kolega guru sejumlah rekomendasi dan saransaran. (8) penggunaan bahasa dengan baik tahap proses pelaksanaan ini harus disadari dan benar sesuai tingkat kemampuan peserta bahwa. (1) mempertimbangkan seluruh informasi yang laporan. (3) menentukan teknik dan alat kerasionalan argumentasi. dan unit. diagram. Penyusunan lain. Penyajian Laporan. lebih dari sekedar salah satu perencanaan. Tindal lanjut.

(4) konferensi gurukegiatan karena evaluasi yang diselenggarakan siswa. PEMBELAJARAN TERPADU DI dan program dapat didokumentasikan dalam SEKOLAH DASA R suatu portofolio. CAKUPAN EVALUASI portofolio. Mencermati cakupan evaluasi rekaman guru pada pembelajaran terpadu seperti pada matrik misalnya untuk dilengkapi di dengan hasil pengamatan. = aspek sosial = aspek etis = aspek pribadi dan sebagainya. (1) dikemukakan bahwa tidak seluruh kegiatan catatan anekdot/file card . orang tua dan rekan guru lainnya. Hasil-hasil evaluasi proses. ditindak -lanjuti secara operasional. didik. produk. lembaran . menarik pembelajaran. Portofolio ini dapat dijadikan salah satu masukan bagi guru untuk Cakupan evaluasi pembelajaran memutuskan atau menetapkan nilai atau grade terpadu dapat disusun dalam matrik sebagai Tahapan Perencanaan Pelaks anaan sasaran Proses Bagaimana peserta didik berpartispasi dalam Bagaimana aktivitas dinamika interaksi dan kemampuan berfikir peserta menentukan tema-tema terkait. (3) rubrik. Evaluasi dengan menggunakan 8. = aspek kognisi/intelektual. = aspek lain. (7) masukan orang tua.didik. (5) diskusi peergroup . Perlu Evaluasi program mencakup. (2) analisis kesalahan akhir berupa tindak lanjut dilakukan pada akhir peserta didik. Hasil Ba gaimana reaksi pesert didik terhadap Perubahan/perkembangan perilaku apa yang terjadi pada peserta didik? rencana yang telah disusun. (6) secara terus menerus. sebagai dampak instruksional maupun dampak pengiring. kemampuan dimanfaatkan untuk meningkatkan kegiatan menyajikan pokok pikiran. umpan balik perkembangan peserta didik. kesimpulan yang rasional.

Perlu juga diketahui bahwa tes Observasi dan Dokumentasi. dan Cara ini dapat dibatasi untuk masalah khusus. berikut ini. maka diperlukan merangkum hasil diskusi tersebut. evaluasi diri juga dapat dipakai. METODE EVALUASI DALAM juga mel akukan evaluasi diri untuk perbaikan PEMBELAJARAN TERPADU dalam perencanaan maupun pelaksanaan pembelajaran. Evaluasi Diri P eserta Didik-Guru. konteks yang alami. Peserta didik dapat menyusun sendiri pertanyaan atau butir soal dan kemudian menjawabnya sendiri.atas. Kegiatan evaluasi dimulai dengan pengamatan Dalam melakukan evaluasi pembelajaran langsung yang bersifat informal sampai kepada terpadu. beberapa tema. berorientasi pada perkembangan intelektual seperti halnya dalam mata pelajaran peserta didik serta lingkungan budayanya. Pada pembelajaran yang dapat digunakan dalam mengevaluasi terpadu dilakukan juga tes maupun ujian baik proses dan hasil pada pembelajaran terpadu untuk satu tema pembelajaran maupun untuk (Depdikbud. guru dapat yang cukup tentang bagaimana seorang peserta . bersifat multi dimensional. Terdapat beberapa metode evaluasi Tes dan Ujian. Dengan formal tidak / belum memberikan informasi bekerja sama dengan peserta didik. 1996). tes formal yang sahih/valid dan handal/reliabel. Selanjutnya guru dapat 9. kecil dan direkam secara penuh. Dialog peserta didik dan Pada pembelajaran terpadu penekanan guru dapat pula dilakukan dalam kelompok evaluasi terletak pada proses maupun hasil. matematika atau IPS. kolaboratif. berlangsung dalam Dialog Pes erta Didik dengan Guru. teknik dan alat evaluasi yang bervariasi pula. Dalam hal ini Karena aspek perilaku yang menjadi sasaran peserta didik dapat diberi tugas untuk evaluasi banyak variasinya. maka evaluasi pembelajaran terpadu kelompok kecil.

Dalam pemaparan ini dapat diri anak. untuk melakukan kekurangan anak/ pesrta didik yang evaluasi proses digunakan alat evaluasi nonbersangkutan. verbal. Dari sini didik sebagai individu berpikir dan memproses kelihatan bahwa evaluasi sebagai bagian konsep -konsep. Dalam kegiatan menggunakan kemampuan intelektualnya.melakukan observasi pada saat itu. ini guru berusaha memahami tugas maupun Oleh karena itu perlu dilakukan juga cara lain situasi dari sudut pandang peserta didik. ditekankan pentingnya penggunaan kosa kata Observasi dan dokumentasi berkala yang tepat. sekilas tentang kesan yang tampak kelihatan Karena itu masukan dari orangtua akan dapat bermakna selama proses pembelajaran membantu menghapus penafsiran yang keliru berlangsung di kelas. pembelajaran terpadu adalah observasi untuk Dalam kelas pembelajaran terpadu pengungkapan perilaku/ unjuk kerja nonpeserta didik asyik sibuk. satu semester. Keterlibatan selama satu periode satu tahun. sistematika penyajian dan dapat juga dilakukan dengan cara guru pengetahuan lain untuk memecahkan masalah merekam catatan kejadian di kelas. Dalam berorientasi dalam kaitan kemajuan dan pembelajaran terpadu. Penyelenggaraan pengamatan oleh Pada dasarnya alat evaluasi terdiri dari orangtuapun memungkinkan guru dan orangtua dua macam yaitu tes dan non-tes. aktif. dan yaitu dengan analisis masalah dan pemaparan sementara itu evaluasi diri semakin kuat pada pemecahannya. . untuk satu unit tema atau beberapa unit tema Pengamatan Orang tua. dan terlibat. Catatan ini dapat juga dari pihak guru dan peserta didik. Sekaligus memungkinkan tes. Kegiatan penting dalam proses interaksi antara guru dengan peserta didik. misalnya tersebut. orangtua dianggap amat positif untuk Catatan ini berisi rekaman sekilas tentang meningkatkan prestasi belajar peserta didik. bagaimana mereka dalam integral dari interaksi sosial.

Kepedulian lingkungan . Hasil analisis ini tugas dan bagaimana mereka saling dapat dipakai sebagai bahan pertimbangan/ berinteraksi memberikan data pada guru dalam masukan dalam menilai proses pembelajaran rangka membantu perencanaan kurikulum dan terpadu. mengevaluasi perkembangan peserta didik (Charbonneau & Reider.Kepedulian terhadap orang lain .Kemandirian termasuk percaya diiri dan kontrol diri . Alat Evaluasi Daftar Cek Keterampilan Keterampilan Intelektual dan Sosial Jenis Kemampuan Ya Belum Berkembang Intelektual: . Berikut ini PEMBELAJARAN TERPADU disajikan contoh alat evaluasi berupa daftar cek dan skala penilaian/penilaian berskala pelaksanaan pembelajaran terpadu. kegiatan peserta didik dalam menyelesaikan kemudian akan dianalisis.Guru hendaknya sadar akan aksi dan reaksi Observasi yang cermat terhadap peserta didik. dan selalu membuat catatan.Keterbukaan .Kreativitas . 1995).Rasa ingin tahu Sosial: . dalam hal ini observasi merupakan komponen dasar dalam 10. 1996) Alat Evaluasi Skala Penilaian /Penilaian Berskala Pelaksanaan Pembelajaran Terpadu Pelaksanaan Kegiatan Nama (kelompok/individu) : -------------------------------------- .Kemampuan kerja sama . ALAT EVALUASI DALAM evaluasi pembelajaran terpadu.Kepercayaan diri (Sumber: Buku Materi Pokok Pembelajaran Terpadu.

Skor Aspek Yang Dinilai 1 2 3 4 Keterangan A. (Sumber: Buku Materi Pokok Pembelajaran Terpadu. partisipasi siswa d. Keberanian a. dan kegiatan pembelajaran terpadu seyogyanya dilakukan seksama. Ketaatan kepada perencanaan a. penggunaan bahan dan alat d. berkomunikasi D. perhatian siswa c. memotivasi indivdu C. informasi proses a. Pembelajaran terpadu merupakan terekam dangan pendekatan pembelajaran yang evaluasi dapat melibatkan beberpa bidang studi dan bertujuan untuk memberikan pengalaman bermakna kepada peserta pelaksanaannya sempurna sehingga dilakukan secara objektif . . pemberian informasi b. yaitu. bertindak c. beberapa kesimpulan yang dapat dipetik. Produk/ Hasil*) *) Dirinci aspek-aspek hasil belajar yang akan dinilai. interaksi f. kejelasan b. kerja sama antar siswa E. memotivasi kerja kelompok c. penggunaan sumber c. 1996) 11. Proses Pembelajaran a. agar data dan dapat terhadap Berdasarkan pada uraian di atas. Pengelolaan Kelas: a. KESIMPULAN observasi merupakan komponen dasar. penggunaan waktu B. kreativitas siswa e. stimultanius b. ada dengan cermat. antusiasme b.

Manon P. Inc. evaluasi tes dan non-tes. I llonis: IRI/ berorientasi pada program. proses. Jakarta. 1991. Materi Pokok dilakukan dengan menggunakan alat Pembelajaran Terpadu PGSD. Wardani. & Reider. dan berorientasi pada proses DAFTAR PUSTAKA pembelajaran yang disesuaikan dengan perkembangan peserta didik. 2000. Jakarta: terkait dijadikan wahana pembelajaran BP3GSD. Fogarty. Tokyo: Allyn and pengembangan topik atau tema yang Bacon dilakukan guru bersama peserta didik. Depdikbud. Pelaksanaan pembelajaran terpadu 1995. How To Integrate The c. Charboneau.didik. The Integrated Elementary diawali dari pemilihan dan Classroom. Barbara E. R. Evaluasi pada pembelajaran terpadu Curricula. Penerbit: Universitas Terbuka . Palatine. 1996. dan penjelajahan topik atau tema. London. dan produk. Materi Pokok Konsep-konsep dari bidang studi pembelajaran Terpadu PGSD . Skylight Publishing.. b. dan penyelenggaraannya IGK.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful