P. 1
evaluasi

evaluasi

|Views: 751|Likes:
Published by Titin Rafida

More info:

Published by: Titin Rafida on Apr 04, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/13/2013

pdf

text

original

BAB.

I Pendahuluan

E

valuasi merupakan subsistem yang sangat penting dan sangat

di butuhkan dalam setiap sistem pendidikan, karena evaluasi dapat mencerminkan seberapa jauh perkembangan atau kemajuan hasil pendidikan. Dengan evaluasi, maka maju dan mundurnya kualitas pendidikan dapat diketahui, dan dengan evaluasi pula, kita dapat mengetahui titik kelemahan serta mudah mencari jalan keluar untuk berubah menjadi lebih baik ke depan. Tanpa evaluasi, kita tidak bisa mengetahui seberapa jauh keberhasilan siswa, dan tanpa evaluasi pula kita tidak akan ada perubahan menjadi lebih baik,maka dari itu Jadi secara umum evaluasi adalah suatu proses sistemik umtuk mengetahui tingkat keberhasilan suatu program. Evaluasi pendidikan dan pengajaran adalah proses kegiatan untuk mendapatkan informasi data mengenai hasil belajar mengajar yang dialami siswa dan mengolah atau menafsirkannya menjadi nilai berupa data kualitatif atau kuantitatif sesuai dengan standar tertentu. Hasilnya diperlukan untuk membuat berbagai putusan dalam bidang pendidikan dan pengajaran.
Fungsi Evaluasi Pendidikan . Sangat diperlukan dalam pendidikan antara lain memberi informasi yang dipakai sebagai dasar untuk :
1) Membuat kebijaksanaan dan keputusan. 2) Menilai hasil yang dicapai para pelajar. 3) Menilai kurikulum. 4) Memberi kepercayaan kepada sekolah. 5) Memonitor dana yang telah diberikan . 6) Memperbaiki materi dan program pendidikan

Hasil evaluasi yang didapat sampai sekarang tentang dunia pendidikan Nasional kita cukup memperihatinkan, tidak hanya

dalam segi kualitas tapi juga kegagalan dalam membentuk karakter building generasi muda bangsa Pendidikan menjadi tanggung jawab semua pihak, dimana tujuan pendidikan adalah memanusiakan manusia. membentuk SDM yang berkualitas. Namun sayang kebijakan pendidikan yang ada sampai sekarang masih jauh dari harapan, karena kebijakan pendidikan seperti kata pakar pendidikan dari Universitas Nasional Jakarta yaitu HAR Tilaar kebijakan pendidikan di Indonesia sesuai dengan pameo ganti menteri ganti kebijakan. Mengingat terlalu luasnya cakupan dalam evaluasi pendidikan maka penulis akan membatasi hanya pada evaluasi hasil belajar siswa dikarenakan masalah ini sangat sesuai dengan tugas penulis sebagai guru.
Bab. II
Tugas Mata Kuliah Manajemen Kebijakan Pendidikan

2
ANALISIS KESENJANGAN DALAM EVALUASI PENDIDIKAN A. Keadaan Ideal

Seperti yang telah dikemukakan oleh Dr. Muchtar Buchori tujuan dan fungsi evaluasi adalah :
1.

untuk mengetahui kemajuan peserta didik setelah ia

mengalami pendidikan selama jangka waktu tertentu
2.

untuk mengetahui tingkat efisiensi metode-metode

pendidikan yang dipergunakan pendidik selam jangka

waktu tertentu tadi. Maka untuk memperoleh hasil evaluasi yang sebaik-baiknya, para evaluator dalam hal ini para guru dituntut untuk memiliki hal hal sebagai berikut : 1. Mampu melaksanakan, persyaratan pertama yang harus dipenuhi oleh evaluator adalah bahwa mereka harus memiliki kemampuan untuk melaksanakan evaluasi yang didukung oleh teori dan keterampilan praktik. 2.Cermat, dapat melihat celah-celah dan detail dari program serta bagian program yang akan dievaluasi. 3.Objekti f, tidak mudah dipengaruhi oleh keinginan pribadi, atau juga keinginan/tekanan dari pihak lain agar dapat mengumpulkan data sesuai dengan keadaannya, selanjutnya dapat mengambil kesimpulan sebagaimana diatur oleh ketentuan yang harus diikuti. 4. Sabar dan tekun , agar di dalam melaksanakan tugas dimulai dari membuat rancangan kegiatan dalam bentuk menyusun proposal,
Tugas Mata Kuliah Manajemen Kebijakan Pendidikan

3

Teknik evaluasi digolongkan menjadi 2 yaitu teknik tes dan teknik non Tes. 1. Teknik non tes meliputi ; skala bertingkat, kuesioner,daftar cocok, wawancara, pengamatan, riwayat hidup.

Dan bila ditinjau dari segi cara menjawab maka kuesioner terbagi menjadi kuesioner tertutup dan kuesioner terbuka.a. kuesioner dibagi menjadi kuesioner langsung dan kuesioner tidak langsung. Kuesioner tertututp adalah daftar pertanyaan yang memiliki dua atau lebih jawaban dan si penjawab hanya memberikan tanda silang (X) atau cek (¥) Tugas Mata Kuliah Manajemen Kebijakan Pendidikan 20 pada awaban yang ia anggap sesuai. Si penjawab diminta untuk memberikan tanda silang (X) atau cek (¥) pada jawaban yang ia anggap sesuai. Angka-angak diberikan secara bertingkat dari anggak terendah hingga angkat paling tinggi. Angka-angka tersebut kemudian dapat dipergunakan untuk melakukan perbandingan terhadap angka yang lain. Dari segi yang memberikan jawaban. tetangga atau anggota keluarganya. b. Kuesioner adalah daftar pertanyaan yang terbagi dalam beberapa kategori. c. Sedangkan kuesiioner tidak langsung dijawab oleh secara tidak langsung oleh orang yang dekat dan mengetahui si penjawab seperti contoh. suatu cara yang dilakukan secara lisan yang berisikan pertanyaan-pertanyaan yang sesuai dengan tujuan informsi yang . apabila yang hendak dimintai jawaban adalah seseorang yang buta huruf maka dapat dibantu oleh anak. Rating scale atau skala bertingkat menggambarkan suatu nilai dalam bentuk angka. Daftar cocok adalah sebuah daftar yang berisikan pernyataan beserta dengan kolom pilihan jawaban. d. Sedangkan kuesioner terbuka adalah daftar pertanyaan dimana si penjawab diperkenankan memberikan jawaban dan pendapat nya secara terperinci sesuai dengan apa yang ia ketahui. Kuesioner langsung adalah kuesioner yang dijawab langsung oleh orang yang diminta jawabannya. Wawancara.

informasi yang diperlukan saja. Pengamatan atau observasi. evaluasi ini dilakukan dengan mengumpulkan data dan informasi mengenai objek evaluasi sepanjang riwayat hidup objek evaluasi tersebut. Pengamat telah Tugas Mata Kuliah Manajemen Kebijakan Pendidikan 21 membuat list faktor faktor yang telah diprediksi sebagai memberikan pengaruh terhadap sistem yang terdapat dalam obejek pengamatan. Teknik Tes .hendak digali. wawancara dibagi dalam 2 kategori. adalah suatu teknik yang dilakuakn dengan mengamati dan mencatat secara sistematik apa yang tampak dan terlihat sebenarnya. (2) Observasi sistematik. 2. pengamat tidak terlibat dalam kelompok yang diamati. wawancara bebas yaitu si penjawab (responden) diperkenankan untuk memberikan jawaban secara bebas sesuai dengan yang ia diketahui tanpa diberikan batasan oleh pewawancara. e. Pengamatan atau observasi terdiri dari 3 macam yaitu : (1) observasi partisipan yaitu pengamat terlibat dalam kegiatan kelompok yang diamati. Kedua adalah wawancara terpimpin dimana pewawancara telah menyusun pertanyaan pertanyaan terlebih dahulu yang bertujuan untuk menggiring penjawab pada informsi. yaitu pertama. f. Riwayat hidup.

Artinya TIK dirumuskan dengan memperhatikan kemampuan awal anak dan . Winkel menyatakan bahwa yang dimaksud dengan evaluasi formatif adalah penggunaan tes-tes selama proses pembelajaran yang masih berlangsung.Dalam evaluasi pendidikan terdapat 3 macam tes yaitu : a. Formatif Evaluasi formatif adalah evaluasi yang dilakukan pada setiap akhir pembahasan suatu pokok bahasan / topik. formatif b. sumatif c. Wiersma menyatakan formative testing is done to monitor student progress over period of time . dan dimaksudkan untuk mengetahui sejauh manakah suatu proses pembelajaran telah berjalan sebagaimana yang direncanakan. agar siswa dan guru memperoleh informasi ( feed b a ck) mengenai kemajuan yang telah dicapai. diagnostik a. Ukuran Tugas Mata Kuliah Manajemen Kebijakan Pendidikan 22 keberhasilan atau kemajuan siswa dalam evaluasi ini adalah penguasaan kemampuan yang telah dirumuskan dalam rumusan tujuan (TIK) yang telah ditetapkan sebelumnya. dirumuskan dengan mengacu pada tingkat kematangan siswa. for purpose of revising the instruction to improve its effectiveness and appeal. Evaluasi ini dimaksudkan untuk mengontrol sampai seberapa jauh siswa telah menguasai materi yang diajarkan pada pokok bahasan tersebut. Sementara Tesmer menyatakan fo r m a tive evaluation is a judgement of the strengths and weakness of instruction in its developing stages. TIK yang akan dicapai pada setiap pembahasan suatu pokok bahasan.

tingkat kesulitan yang wajar yang diperkiran masih sangat mungkin dijangkau/ dikuasai dengan kemampuan yang dimiliki siswa. Sumatif Evaluasi sumatif adalah evaluasi yang dilakukan pada setiap akhir satu satuan waktu yang didalamnya tercakup lebih dari satu pokok bahasan. dan dimaksudkan untuk mengetahui sejauhmana peserta didik telah dapat berpindah dari suatu unit ke unit berikutnya. b. bahkan bagi mereka yang memiliki kemampuan yang lebih akan diberikan pengayaan. yaitu materi tambahan yang sifatnya perluasan dan pendalaman dari topik yang telah dibahas. Dari hasil evaluasi ini akan diperoleh gambaran siapa saja yang telah berhasil dan siapa yang dianggap belum berhasil untuk selanjutnya diambil tindakan-tindakan yang tepat. yaitu bantuan khusus yang diberikan kepada siswa yang mengalami kesulitan memahami suatu pokok bahasan tertentu. Tindak lanjut dari evaluasi ini adalah bagi para siswa yang belum berhasil maka akan diberikan r em ed ia l. Sementara bagi siswa yang telah berhasil akan melanjutkan pada topik berikutnya. Dengan kata lain evaluasi formatif dilaksanakan untuk mengetahui seberapa jauh tujuan yang telah ditetapkan telah tercapai. Winkel mendefinisikan evaluasi sumatif Tugas Mata Kuliah Manajemen Kebijakan Pendidikan 23 .

Pada tahap awal dilakukan terhadap calon siswa sebagai input. Sementara pada tahap akhir evaluasi . selama proses.kelemahan yang ada pada siswa sehingga dapat diberikan perlakuan yang tepat. bahkan setelah selesai pembahasan suatu bidang studi.sebagai penggunaan tes-tes pada akhir suatu periode pengajaran tertentu. c. Evaluasi diagnostik dapat dilakukan dalam beberapa tahapan. Dalam hal ini evaluasi diagnostik dilakukan untuk mengetahui kemampuan awal atau pengetahuan prasyarat yang harus dikuasai oleh siswa. Pada tahap proses evaluasi ini diperlukan untuk mengetahui bahanbahan pelajaran mana yang masih belum dikuasai dengan baik. yang meliputi beberapa atau semua unit pelajaran yang diajarkan dalam satu semester. Diagnostik Evaluasi diagnostik adalah evaluasi yang digunakan untuk mengetahui kelebihan-kelebihan dan kelemahan. baik pada tahap awal. maupun akhir pembelajaran. sehingga guru dapat memberi bantuan secara dini agar siswa tidak tertinggal terlalu jauh.

Pelaku evaluasi atau evaluator tidak memberikan jawaban atas suatu pertanyaan tertentu. meski dilkukan dengan metode yang berbeda.all 1971). Perbandingan Tes Diagnostik. 4. (dikutip dari Bloom et. . Evaluasi adalah seni. Tes Formatif. 5. tidak ada evaluasi yang sempurna.diagnostik ini untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa atas seluruh materi yang telah dipelajarinya. guru maupun program untuk menilai Memberi tanda telah mengikuti suatu program.al 1971 mengatakan bahwa evaluasi adalah proses menggambarkan. 1. memperoleh dan menyajikan informasi yang berguna untuk menilai alternatif keputusan. 2. Evaluasi sendiri memiliki beberapa prinsip dasar yaitu . Penelitian evaluasi adalah tanggung jawab tim bukan perorangan. dan Tes Sumatif Ditinjau dari Tes Diagnostik Tes Formatif Tes Sumatif Fungsinya mengelompokkan siswa berdasarkan kemampuannya Umpan balik bagi siswa. Evaluator tidak berwennag untuk memberikan rekomendasi terhadap keberlangsungan sebuah program. Evaluasi bertujuan membantu pemerintah dalam mencapai tujuan pembeljaran bagi masyrakat. dan menentukan Evaluasi merupakan kegiatan pengumpulan kenyataan mengenai proses pembelajaran secara sistematis untuk menetapkan apakah terjadi perubahan terhadap peserta didik dan sejauh apakah perubahan tersebut mempengaruhi kehidupan peserta didik. Stufflebeam et. Evaluator hanya membantu memberikan alternatif. Evaluator tidak terikat pada satu sekolah demikian pula sebaliknya. 3.

jika diperlukan revisi maka lakukanlah revisi. Hasil evaluasi haruslah menjadi aalat akuntabilitas atau bahan pertnggungjawaban bagi pihak yang berkepentingan seeprti orangtua siswa. Evaluator hendaknya mampu membedakan yang dimaksud dengan evaluasi formatif. bukan terpaku pada angka soalan tes. prinsip ini merupakan suatu hal yang mutlak. 1. Keterlibatan peserta didik 4. 7. evaluasi adalah proses. materi pembelajaran dan metode pengjaran. transformasi adalah segala unsur yang terkait dengan proses pembelajaran yaitu . Dengan demikian dapat dimengerti bahwa sesungguhnya evaluasi adalah proses mengukur dan menilai terhadap suatu objek dengan menampilkan hubungan sebab akibat diantara faktor yang mempengaruhi objek tersebut. Fungsi keberhasilan Maksud dari dilakukannya evaluasi adalah . 4. Fungsi penempatan 4. Koherensi 6. TEKNIK EVALUASI . Sedangkan output adalah capaian yang dihasilkan dari proses pembelajaran. Proses pembelajaran memiliki 3 hal penting yaitu. dan lainnya. sarana penunjang dan sistem administrasi. Perlu adanya tool penilai dari aspek pedagogis untuk melihat perubahan sikap dan perilaku sehingga pada akhirnya hasil evaluasi mampu menjadi motivator bagi diri siswa. evaluasi sumatif dan evaluasi program. 9. media dan bahan beljar. 7. transformasi dan output. Fungsi diagnostik 3. guru. karena keterlibatan peserta didik dalam evaluasi bukan alternatif. Pedagogis 8. Penentuan tindak lanjut pengembangan PRINSIP PRINSIP EVALUASI 1. Tujuan evaluasi adalah untuk melihat dan mengetahui proses yang terjadi dalam proses pembelajaran. Evaluasi pendidikan memiliki beberapa fungsi yaitu . Perbaikan sistem 2. Keterpaduan 2. 9. evaluasi harus berkaitan dengan materi pengajaran yang telah dipelajari dan sesuai dengan ranah kemampuan peserta didik yang hendak diukur. Evaluasi akan mntap apabila dilkukan dengan instrumen dan teknik yang aplicable. 8. Fungsi selektif 2. sekolah. hingga perlu pengalaman untuk pendalaman metode penggalian informasi.6. tapi kebutuhan mutlak. Evaluasi memberikan gambaran deskriptif yang jelas mengenai hubungan sebab akibat. metode pengajaran. Pertanggungjawaban kepada pemerintah dan masyarakat 3. Akuntabel 10. evauasi harus dilakukan dengan prinsip keterpaduan antara tujuan intrusional pengajaran. input. Evaluasi memerlukan data yang akurat dan cukup. 3. 1. 5. 10. Input adalah peserta didik yang telah dinilai kemampuannya dan siap menjalani proses pembelajaran.

kuesioner dibagi menjadi kuesioner langsung dan kuesioner tidak langsung. suatu cara yang dilakukan secara lisan yang berisikan pertanyaan-pertanyaan yang sesuai dengan tujuan informsi yang hendak digali. Kedua adalah wawancara terpimpin dimana pewawancara telah menyusun pertanyaan pertanyaan terlebih dahulu yang bertujuan untuk menggiring penjawab pada informsi-informasi yang diperlukan saja. yaitu pertama. Dalam evaluasi pendidikan terdapat 3 macam tes yaitu : a. Kuesioner tertututp adalah daftar pertanyaan yang memiliki dua atau lebih jawaban dan si penjawab hanya memberikan tanda silang (X) atau cek (¥) pada awaban yang ia anggap sesuai. Pengamatan atau observasi. (2) Observasi sistematik. 2. tes sumatif Penjelasan mengenai 3 macam tes diatas dapat dibaca pada bagian Teknik Tes PROSEDUR MELAKSANAKAN EVALUASI . Dan bila ditinjau dari segi cara menjawab maka kuesioner terbagi menjadi kuesioner tertutup dan kuesioner terbuka. tetangga atau anggota keluarganya. pengamatan. Daftar cocok adalah sebuah daftar yang berisikan pernyataan beserta dengan kolom pilihan jawaban. b. wawancara bebas yaitu si penjawab (responden) diperkenankan untuk memberikan jawaban secara bebas sesuai dengan yang ia diketahui tanpa diberikan batasan oleh pewawancara. Pengamat telah membuat list faktor faktor yang telah diprediksi sebagai memberikan pengaruh terhadap sistem yang terdapat dalam obejek pengamatan. Angkaangak diberikan secara bertingkat dari anggak terendah hingga angkat paling tinggi. f. kuesioner.Teknik evaluasi digolongkan menjadi 2 yaitu teknik tes dan teknik non Tes 1. wawancara. Si penjawab diminta untuk memberikan tanda silang (X) atau cek (¥) pada awaban yang ia anggap sesuai. Riwayat hidup.daftar cocok. pengamat tidak terlibat dalam kelompok yang diamati. c. Kuesioner langsung adalah kuesioner yang dijawab langsung oleh orang yang diminta jawabannya. Wawancara. Rating scale atau skala bertingkat menggambarkan suatu nilai dalam bentuk angka. apabila yang hendak dimintai jawaban adalah seseorang yang buta huruf maka dapat dibantu oleh anak. riwayat hidup. evaluasi ini dilakukan dengan mengumpulkan data dan informasi mengenai objek evaluasi sepanjang riwayat hidup objek evaluasi tersebut. Dari segi yang memberikan jawaban. Angkaangka tersebut kemudian dapat dipergunakan untuk melakukan perbandingan terhadap angka yang lain. e. teknik non tes meliputi . skala bertingkat. wawancara dibagi dalam 2 kategori. d. Kuesioner adalah daftar pertanyaan yang terbagi dalam beberapa kategori. tes formatif c. adalah suatu teknik yang dilakuakn dengan mengamati dan mencatat secara sistematik apa yang tampak dan terlihat sebenarnya. a. Pengamatan atau observasi terdiri dari 3 macam yaitu : (1) observasi partisipan yaitu pengamat terlibat dalam kegiatan kelompok yang diamati. tes diagnostik b. Teknik tes. Sedangkan kuesioner terbuka adalah daftar pertanyaan dimana si penjawab diperkenankan memberikan jawaban dan pendapat nya secara terperinci sesuai dengan apa yang ia ketahui. Sedangkan kuesiioner tidak langsung dijawab oleh secara tidak langsung oleh orang yang dekat dan mengetahui si penjawab seperti contoh.

Dalam melaksanakan evaluasi pendidikan hendaknya dilakukan secara sistematis dan terstruktur. Langkah-langkah dalam melaksanakan kegiatan evaluasi pendidikan secara umum adalah sebagai berikut : a. teknikapa yang hendak dipakai. observasi. apakah dengan parametrik atau non parametrik. Pengukuran ini dilakukan dengan jalan menguji hal yang ingin dinilai seperti kemajuan belajar dan lain sebagainya. Apabila hubungan sebab akibat tersebut muncul maka akan lahir alternatif yang ditimbulkan oleh evaluasi itu. maka sesungguhnya yang sedang dilakukan adalah mengkuantifikasi keadaan seseorang atau tempat kedalam angka. verifiksi data (uji instrument. kuesioner. dsb) b. kapan. proses dan out put. data apa saja yang hendak digali. Pengukuran. indikator. pengolahan data ( memaknai data yang terkumpul. Penilaian dan Evaluasi Pendidikan a. Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya bahwa evaluasi pendidikan secara garis besar melibatkan 3 unsur yaitu input. uji reliabilitas. tujuan evaluasi. Pengukuran Pengukuran dapat diartikan dengan kegiatan untuk mengukur sesuatu. apakah dengan manual atau dengan software (misal : SAS. atau mengukur jarak kota A dengan kota B. jika ditolak mengapa? Jika diterima mengapa? Berapa taraf signifikannya?) interpretasikan data tersebut secara berkesinambungan dengan tujuan evaluasi sehingga akan tampak hubungan sebab akibat. dapat dipahami bahwa pengukuran itu bersifat kuantitatif Maksud dilaksanakan pengukuran sebagaimana dikemukakan Anas Sudijono (1996: 4) ada tiga macam yaitu : (1) pengukuran yang dilakukan bukan untuk menguji sesuatu seperti orang mengukur jarak dua buah kota. uji validitas. 1996: 3) Jika kita mengukur suhu badan seseorang dengan termometer. Pada hakekatnya. dsb) d. kualitatif atau kuantitatif. dimana. penafsiran data. . kegiatan ini adalah membandingkan sesuatu dengan atau sesuatu yang lain (Anas Sudijono. siapa yang hendak dievaluasi. perencanaan (mengapa perlu evaluasi. Apabila prosesdur yang dilakukan tidak bercermin pada 3 unsur tersebut maka dikhawatirkan hasil yang digambarkan oleh hasil evaluasi tidak mampu menggambarkan gambaran yang sesungguhnya terjadi dalam proses pembelajaran. SPSS ) e. dan sebagainya sesuai dengan tujuan) c. ( ditafsirkan melalui berbagai teknik uji. diakhiri dengan uji hipotesis ditolak atau diterima. penyusunan instrument. Karenanya. apakah hendak di olah dengan statistikatau non statistik. (2) pengukuran untuk menguji sesuatu seperti menguji daya tahan lampu pijar serta (3) pengukuran yang dilakukan untuk menilai. pengumpulan data ( tes. apa saja yang hendak dievaluasi.

Penggunaan acuan norma dilakukan untuk menyeleksi dan mengetahui dimana posisi seseorang terhadap kelompoknya. aspek-aspek yang terdapat dalam diri manusia seperti kognitif. Dalam sistem evaluasi hasil belajar. Jika tes dapat memberikan informasi tentang karakteristik kognitif dan psikomotor. kesalahan dalam mengangkakan aspek-aspek ini harus sekecil mungkin. maka hasil tes akan memberikan gambaran dimana posisinya jika dibandingkan dengan orang lain yang mengikuti tes tersebut. Peningkatan kualitas pendidikan dapat dilihat dari nilai-nilai yang diperoleh siswa. Menurut Mardapi (2004: 14) pengukuran pada dasarnya adalah kegiatan penentuan angka terhadap suatu obyek secara sistematis. maka nontes dapat memberikan informasi tentang karakteristik afektif obyek. yang dimaksud pengukuran sebagaimana disampaikan Cangelosi (1995: 21) adalah proses pengumpulan data melalui pengamatan empiris. menurut Djemari Mardapi (1999: 8) penilaian adalah kegiatan menafsirkan atau mendeskripsikan hasil pengukuran. Menurut Cangelosi (1995: 21) penilaian adalah keputusan tentang nilai. Oleh karena itu. Menurut Djemari Mardapi (2004: 18) ada dua acuan yang dapat dipergunakan dalam melakukan penilaian yaitu acuan norma dan acuan kriteria. Penilaian dilakukan setelah siswa menjawab soal-soal yang terdapat pada tes. Selain dengan tes.Dalam dunia pendidikan. terkadang juga dipergunakan nontes. Bagi siswa sendiri. penilaian merupakan langkah lanjutan setelah dilakukan pengukuran. informasi yang diperoleh dari hasil pengukuran selanjutnya dideskripsikan dan ditafsirkan. kedua acuan ini dapat dipergunakan. Karenanya. Sedangkan acuan kriteria berasumsi bahwa apapun bisa dipelajari semua orang namun waktunya bisa berbeda. langkah selanjutnya setelah melaksanakan pengukuran adalah penilaian. Tentu saja untuk itu diperlukan sistem penilaian yang baik dan tidak bias. Karakteristik yang terdapat dalam obyek yang diukur ditransfer menjadi bentuk angka sehingga lebih mudah untuk dinilai. b. Proses pengumpulan ini dilakukan untuk menaksir apa yang telah diperoleh siswa setelah mengikuti pelajaran selama waktu tertentu. afektif dan psikomotor dirubah menjadi angka. Hasil jawaban siswa tersebut ditafsirkan dalam bentuk nilai. Hal ini dikarenakan salah satu cara yang sering dipakai untuk mengukur hasil yang telah dicapai siswa adalah dengan tes. Pengukuran dalam bidang pendidikan erat kaitannya dengan tes. mendengarkan apa yang mereka katakan serta mengumpulkan informasi yang sesuai dengan tujuan melalui apa yang telah dilakukan siswa. Kesalahan yang mungkin muncul dalam melakukan pengukuran khususnya dibidang ilmuilmu sosial dapat berasal dari alat ukur. Acuan norma berasumsi bahwa kemampuan seseorang berbeda serta dapat digambarkan menurut kurva distribusi normal. Dalam melakukan penilaian dibidang pendidikan. Karenanya. Sistem penilaian yang baik akan mampu memberikan gambaran tentang kualitas pembelajaran sehingga pada gilirannya akan mampu membantu guru merencanakan strategi pembelajaran. sistem penilaian yang baik akan mampu memberikan motivasi untuk selalu meningkatkan kemampuannya. Penilaian Penilaian merupakan bagian penting dan tak terpisahkan dalam sistem pendidikan saat ini. cara mengukur dan obyek yang diukur. Proses ini dapat dilakukan dengan mengamati kinerja mereka. Adapun acuan kriteria dipergunakan untuk menentukan kelulusan . Misalnya jika seseorang mengikuti tes tertentu.

pelaksanaan evaluasi haruslah dilakukan secara berkesinambungan. Dalam bidang pendidikan. Seseorang yang dikatakan telah lulus berarti bisa melakukan apa yang terdapat dalam kriteria yang telah ditetapkan dan sebaliknya. Asumsi-asumsi ataupun prasangka. Menurut Djemari Mardapi (2004: 19) evaluasi adalah proses mengumpulkan informasi untuk mengetahui pencapaian belajar kelas atau kelompok. (2) dalam pelaksanaan evaluasi dibutuhkan data dan informasi yang akurat untuk menunjang keputusan yang akan diambil. Sebuah program pembelajaran seharusnya dievaluasi disetiap akhir program tersebut. Dari pendapat di atas. Karena itulah pendekatan goal oriented merupakan pendekatan yang paling sesuai untuk evaluasi pembelajaran. Evaluasi Menurut Suharsimi Arikunto (2004: 1) adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu. Dengan adanya acuan norma atau kriteria. yang selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk . Acuan kriteria. ada beberapa hal yang menjadi ciri khas dari evaluasi yaitu: (1) sebagai kegiatan yang sistematis. Artinya ketiga kegiatan tersebut dalam kaitannya dengan proses belajar mengajar tidak dapat dipisahkan satu sama lain dan dalam pelaksanaannya harus dilaksanakan secara berurutan. Evaluasi Pengukuran. yang selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil keputusan. penilaian dan evaluasi merupakan kegiatan yang bersifat hierarki. c. Pengertian evaluasi Menurut Suharsimi Arikunto (2004 : 1) evaluasi adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu. Evaluasi Program: Sebuah Pengantar a. bukan merupakan landasan untuk mengambil keputusan dalam evaluasi. Acuan ini biasanya digunakan untuk menentukan kelulusan seseorang. ini biasanya dipergunakan untuk ujianujian praktek. kecepatan kendaraan 40 km/jam akan memiliki interpretasi yang berbeda apabila kendaraan tersebut adalah sepeda dan mobil. Misalnya.seseorang dengan membandingkan hasil yang dicapai dengan kriteria yang telah ditetapkan terlebih dahulu. dan (3) kegiatan evaluasi dalam pendidikan tidak pernah terlepas dari tujuan-tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya. hasil yang sama yang didapat dari pengukuran ataupun penilaian akan dapat diinterpretasikan berbeda sesuai dengan acuan yang digunakan. menganalisis dan menafsirkan informasi untuk menentukan sejauhmana tujuan pembelajaran telah dicapai oleh siswa. evaluasi sebagaimana dikatakan Gronlund (1990: 5) merupakan proses yang sistematis tentang mengumpulkan.

Sebagaimana disampaikan oleh Sudharsono (1994 : 3) penelitian evaluasi mengandung makna pengumpulan informasi tentang hasil yang telah dicapai oleh sebuah program yang dilaksanakan secara sistematik dengan menggunakan metodologi ilmiah sehingga darinya dapat dihasilkan data yang akurat dan obyektif.menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil keputusan. Dalam evaluasi ada beberapa unsur yang terdapat dalam evaluasi yaitu : adanya sebuah proses (process) perolehan (obtaining). kebijakan-kebijakan baru sehubungan dengan program itu tidak akan didukung oleh data. Perbedaan tersebut terletak pada tujuan pelaksanaannya. . program-program yang berjalan tidak akan dapat dilihat efektifitasnya. kita dapat menarik benang merah tentang evaluasi yakni evaluasi merupakan sebuah proses yang dilakukan oleh seseorang untuk melihat sejauh mana keberhasilan sebuah program. Efektifitas merupakan perbandingan antara output dan inoutnya sedangkan efisiensi adalah taraf pendayagunaan input untuk menghasilkan output lewat suatu proses (Sudharsono 1994 : 2) Dalam evaluasi terdapat perbedaan yang mendasar dengan penelitian meskipun secara prinsip. Jika penelitian bertujuan untuk membuktikan sesuatu (prove) maka evaluasi bertujuan untuk mengembangkan (improve). Keberhasilan program itu sendiri dapat dilihat dari dampak atau hasil yang dicapai oleh program tersebut. Dengan demikian. penyediaan (providing) informasi yang berguna (useful information) dan alternatif keputusan (decision alternatives). dalam keberhasilan ada dua konsep yang terdapat didalamnya yaitu efektifitas dan efisiensi. Seorang manusia yang telah mengerjakan suatu hal. produksi serta alternatif prosedur tertentu. Sesuatu yang berharga tersebut dapat berupa informasi tentang suatu program. Menurut Worthen dan Sanders (1979 : 1) evaluasi adalah mencari sesuatu yang berharga (worth). Karenanya. Menurut Suharsimi Arikunto (2004 : 13) ada dua tujuan evaluasi yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Menurut stufflebeam dalam worthen dan sanders (1979 : 129) evaluasi adalah : process of delineating. penelitian dan evaluasi juga digabung menjadi satu frase. pasti akan menilai apakah yang dilakukannya tersebut telah sesuai dengan keinginannya semula. Implementasi program harus senantiasa di evaluasi untuk melihat sejauh mana program tersebut telah berhasil mencapai maksud pelaksanaan program yang telah ditetapkan sebelumnya. evaluasi program bertujuan untuk menyediakan data dan informasi serta rekomendasi bagi pengambil kebijakan (decision maker) untuk memutuskan apakah akan melanjutkan. memperbaiki atau menghentikan sebuah program. Tanpa adanya evaluasi. antara kedua kegiatan ini memiliki metode yang sama. penggambaran (delineating). Tujuan evaluasi program Setiap kegiatan yang dilaksanakan mempunyai tujuan tertentu. penelitian evaluasi. Tujuan umum diarahkan kepada program secara keseluruhan sedangkan tujuan khusus lebih difokuskan pada masing-masing komponen. b. Karenanya. Fungsi utama evaluasi dalam hal ini adalah menyediakan informasi-informasi yang berguna bagi pihak decision maker untuk menentukan kebijakan yang akan diambil berdasarkan evaluasi yang telah dilakukan. obtaining and providing useful information for judging decision alternatives. Dari pengertian-pengertian tentang evaluasi yang telah dikemukakan beberapa orang diatas. demikian juga dengan evaluasi. Terkadang. Karenanya evaluasi bukan merupakan hal baru dalam kehidupan manusia sebab hal tersebut senantiasa mengiringi kehidupan seseorang.

sebuah program juga tidak hanya terdiri dari satu kegiatan melainkan rangkaian kegiatan yang membentuk satu sistem yang saling terkait satu dengan lainnya dengan melibatkan lebih dari satu orang untuk melaksanakannya.c. program dapat diartikan dengan rencana atau rancangan kegiatan yang akan dilakukan oleh seseorang di kemudian hari. Secara umum. Dari pengertian ini dapat ditarik benang merah bahwa semua perbuatan manusia yang darinya diharapkan akan memperoleh hasil dan manfaat dapat disebut program. (Suharsimi Arikunto dan Cecep Safruddin Abdul Jabbar : 2004). Menilik pengertian secara khusus ini. Tetapi. Menurut Suharsimi Arikunto (2004 : 2) program dapat dipahami dalam dua pengertian yaitu secara umum dan khusus. ada tiga tahap rangkaian evaluasi program yaitu : (1) menyatakan pertanyaan serta menspesifikasikan informasi yang hendak diperoleh. Michael ( 1984 : 7) model-model evaluasi dapat dikelompokan menjadi enam yaitu : 1. Meskipun terdapat beberapa perbedaan antara model-model tersebut. Model-model evaluasi Ada banyak model yang bisa digunakan dalam melakukan evaluasi program khususnya program pendidikan. Hakekat Evaluasi Program Menurut John L Herman dalam Tayibnapis (1989 : 6) program adalah segala sesuatu yang anda lakukan dengan harapan akan mendatangkan hasil atau manfaat. maka sebuah program adalah rangkaian kegiatan yang dilaksanakan secara berkesinambungan secara waktu pelaksanaannya biasanya panjang. (2) mencari data yang relevan dengan penelitian dan (3) menyediakan informasi yang dibutuhkan pihak pengambil keputusan untuk melanjutkan. Goal Oriented Evaluation Dalam model ini. maka evaluasi program sebagaimana dimaknai oleh Kirkpatrick dapat dimaknai sebagai sebuah proses untuk mengetahui apakah sebuah program dapat direalisasikan atau tidak dengan cara mengetahui efektifitas masing-masing komponennya melalui rangkain informasi yang diperoleh evaluator (Kirkpatrick 1996 : 3). tetapi secara umum model-model tersebut memiliki persamaan yaitu mengumpulkan data atau informasi obyek yang dievaluasi sebagai bahan pertimbangan bagi pengambil kebijakan. Menurut Isaac dan Michael (1984 : 6) sebuah program harus diakhiri dengan evaluasi. Menurut mereka. Hal ini dikarenakan kita akan melihat apakah program tersebut berhasil menjalankan fungsi sebagaimana yang telah ditetapkan sebelumnya. Evaluator hanya menyediakan informasi-informasi yang dibutuhkan oleh pengambil kebijakan (decision maker) d. Berdasarkan pengertian diatas. Sedangkan pengertian khusus dari program biasanya jika dikaitkan dengan evaluasi yang bermakna suatu unit atau kesatuan kegiatan yang merupakan ralisasi atau implementasi dari suatu kebijakan. memperbaiki atau menghentikan program tersebut. Selain itu. Menurut Stephen Isaac dan Willian B. berlangsung dalam proses berkesinambungan dan terjadi dalam satu organisasi yang melibatkan sekelompok orang. pengambil keputusan itu sendiri bukanlah evaluator melainkan pihak lain yang lebih berwenang. seorang evaluator secara terus menerus melakukan pantauan terhadap .

maka dibutuhkanlah evaluasi proses dalam menyediakan umpan balik (feedback) bagi orang yang bertanggungjawab dalam melaksanakan program tersebut Evaluasi Produk (product evaluation) merupakan bagian terakhir dari model CIPP. Evaluasi CIPP yang dikembangkan oleh stufflebeam merupakan salah satu contoh model evaluasi ini. Model CIPP merupakan salah satu model yang paling sering dipakai oleh evaluator. Evaluasi ini bertujuan mengukur dan menginterpretasikan capaian-capaian program. Input. Salah satu model yang bisa mewakili model ini adalah discrepancy model yang dikembangkan oleh Provus. evaluasi harus dapat memberikan landasan berupa informasi-informasi yang akurat dan obyektif bagi pengambil kebijakan untuk memutuskan sesuatu yang berhubungan dengan program. dimodifikasi kembali atau bahkan akan dihentikan 3. baik hal-hal yang positif maupun hal-hal yang negatif. Evaluation Research Sebagaimana disebutkan diatas. evaluasi berusaha melukiskan proses sebuah program dan pandangan tentang nilai dari orang-orang yang terlibat dalam program tersebut. Worthern & James R Sanders : 1979) Karenanya upaya yang dilakukan evaluator dalam evaluasi konteks ini adalah memberikan gambaran dan rincian terhadap lingkungan. 5. Process dan Product. Transactional Evaluation Dalam model ini. kebutuhan serta tujuan (goal). evaluasi produk menyediakan informasi apakah program itu akan dilanjutkan. Evaluasi proses (process evaluation) diarahkan pada sejauh mana kegiatan yang direncanakan tersebut sudah dilaksanakan. Ketika sebuah program telah disetujui dan dimulai. Decision Oriented Evaluation Dalam model ini.tujuan yang telah ditetapkan. . Evaluasi input (input evaluation) merupakan evaluasi yang bertujuan menyediakan informasi untuk menentukan bagaimana menggunakan sumberdaya yang tersedia dalam mencapai tujuan program. Evaluasi konteks (context evaluation) merupakan dasar dari evaluasi yang bertujuan menyediakan alasan-alasan (rationale) dalam penentuan tujuan (Baline R. Yang harus diperhatikan justru adalah bagaimana proses pelaksanaan program. penelitian evaluasi memfokuskan kegiatannya pada penjelasan dampak-dampak pendidikan serta mencari solusi-solusi terkait dengan strategi instruksional. 2. Model ini terdiri dari 4 komponen evaluasi sesuai dengan nama model itu sendiri yang merupakan singkatan dari Context. 4. Evaluasi produk menunjukkan perubahan-perubahan yang terjadi pada input. Dalam proses ini. Model ini melihat lebih jauh tentang adanya kesenjangan (Discrepancy) yang ada dalam setiap komponen yakni apa yang seharusnya dan apa yang secara riil telah dicapai. Penilaian yang terus-menerus ini menilai kemajuan-kemajuan yang dicapai peserta program serta efektifitas temuan-temuan yang dicapai oleh sebuah program. dengan jalan mengidentifikasi kejadian-kejadian yang terjadi selama pelaksanaannya. Goal Free Evaluation Model yang dikembangkan oleh Michael Scriven ini yakni Goal Free Evaluation Model justru tidak memperhatikan apa yang menjadi tujuan program sebagaimana model goal oriented evaluation.

4. model adversary terdiri atas empat tahapan yaitu : 1. Analisis Butir Soal untuk melakukan analisis terhadap sebuah butir soal ada dua pendekatan yang bisa digunakan yaitu dengan teori tes klasik dan teori respon butir. akan tetapi untuk saat ini. Analisis konstruksi dimaksudkan untuk melihat hal-hal yang berkaitan dengan kaidah penulisan tes. b. Mengurangi jumlah isu yang dapat diukur. Butir tes yang kurang baik yaitu butir yang hanya memenuhi sebanyak-banyaknya 3 kriteria aspek konstruksi serta 1 kriteria aspek materi dan bahasa. Aspek materi yang ditelaah berkaitan dengan substansi keilmuan yang ditanyakan dalam butir tes serta tingkat kemampuan yang sesuai dengan tes. Analisis secara kualitatif dilakukan dengan melakukan penelaahan terhadap setiap butir soal dari aspek materi. Membentuk dua tim evaluasi yang berlawanan dan memberikan kepada mereka kesempatan untuk berargumen. Mengungkapkan rentangan isu yang luas dengan cara melakukan survey berbagai kelompok yang terlibat dalam satu program untuk menentukan kepercayaan itu sebagai isu yang relevan. soal juga dapat di analisis dengan menggunakan analisis kualitatif (teoritis) dan kuantitatif (empiris). Hasil telaah kemudian dirangkum untuk selanjutnya ditentukan kualitas butir secara teoretis dengan menggunakan kriteria sebagai berikut: a. Melakukan sebuah dengar pendapat yang formal. Telaah secara kualitatif dilakukan oleh tiga orang yang memiliki kompetensi sesuai dengan aspek materi konstruksi dan bahasa. Adversary Evaluation Model ini didasarkan pada prosedur yang digunakan oleh lembaga hukum.6. 3. Analisis bahasa dimaksudkan untuk menelaah tes berkaitan dengan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar menurut Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). konstruksi dan bahasa. Tim evaluasi ini kemudian mengemukakan argument-argumen dan bukti sebelum mengambil keputusan. Butir tes yang baik yaitu butir yang memenuhi semua kriteria yang telah ditentukan. penulis akan membahas analisis soal dengan cara kualitatif atau teoritis. Dalam prakteknya. . Setiap penelaah melakukan analisis terhadap setiap butir soal berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya dengan menuliskan huruf ³Y´ jika butir sesuai dengan kriteria dan huruf ³T´ jika butir tidak sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. 2. Insya Allah penulis akan sedikit membahas keempat hal tersebut. selain itu.

Pilihan jawaban yang berbentuk angka atau waktu disusun berdasarkan urutan besar kecilnya angka atau kronologis 13.tes menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia 15. konstruksi dan bahasa.Panjang rumusan jawaban relatif 11. Dengan demikian dapat diambil kesimpulan tentang butir yang baik dan tidak baik. Konstruksi 4.tes menggunakan bahasa yang komunikatif 16.c.Butir tes tidak tergantung pada jawaban sebelumnya c. Hanya ada satu kunci jawaban yang tepat b. Berikut contoh check list analisis kualitatif: a. Materi 1. 12. yang selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk . Rumusan pokok tes dan pilihan jawaban 7.pilihan jawaban tidak mengulang kata/kelompok kata yang sama yang bukan merupakan satu kesatuan Evaluasi Program: Sebuah Pengantar a. atau lebih dari 3 untuk aspek konstruksi serta lebih dari 1 kriteria pada aspek bahasa.Pilihan jawaban tidak menggunakan pernyataan "semua jawaban di atas salah" atau "semua jawaban di atas benar". Bahasa 14. Dari rangkuman hasil telaah kualitatif selanjutnya dapat ditentukan butir mana yang sudah atau belum memenuhi kriteria pada aspek materi. Pokok tes bebas dari pernyataan yang bersifat negatif ganda 9.tes tidak menggunakan bahasa yang berlaku setempat 17. Butir tes yang tidak baik yaitu butir yang tidak memenuhi semua kriteria yang telah ditetapkan pada aspek materi 1 dan 3. Pengertian evaluasi Menurut Suharsimi Arikunto (2004 : 1) evaluasi adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu. Pokok tes dirumuskun secara singkat dan jelas 5. Tes sesuai indikator 2. Pilihan jawab homogen dan logis 3. Gambar/grafik/table diagram dan sejenisnya jelas berfungsi 10. Pokok tes tidak memberi petunjuk ke kunci jawaban 8.

dalam keberhasilan ada dua konsep yang terdapat didalamnya yaitu efektifitas dan efisiensi. Implementasi program harus senantiasa di evaluasi untuk melihat sejauh mana program tersebut telah berhasil mencapai maksud pelaksanaan program yang telah ditetapkan sebelumnya. Karenanya. evaluasi program bertujuan untuk menyediakan data dan informasi serta rekomendasi bagi pengambil kebijakan (decision maker) untuk memutuskan apakah akan melanjutkan. Tujuan umum diarahkan kepada program secara keseluruhan sedangkan tujuan khusus lebih difokuskan pada masing-masing komponen. pasti akan menilai apakah yang dilakukannya tersebut telah sesuai dengan keinginannya semula. Dari pengertian-pengertian tentang evaluasi yang telah dikemukakan beberapa orang diatas. Karenanya evaluasi bukan merupakan hal baru dalam kehidupan manusia sebab hal tersebut senantiasa mengiringi kehidupan seseorang. kita dapat menarik benang merah tentang evaluasi yakni evaluasi merupakan sebuah proses yang dilakukan oleh seseorang untuk melihat sejauh mana keberhasilan sebuah program. Menurut Worthen dan Sanders (1979 : 1) evaluasi adalah mencari sesuatu yang berharga (worth). Keberhasilan program itu sendiri dapat dilihat dari dampak atau hasil yang dicapai oleh program tersebut. Jika penelitian bertujuan untuk membuktikan sesuatu (prove) maka evaluasi bertujuan untuk mengembangkan (improve). Tujuan evaluasi program Setiap kegiatan yang dilaksanakan mempunyai tujuan tertentu.menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil keputusan. Seorang manusia yang telah mengerjakan suatu hal. memperbaiki atau menghentikan sebuah program. Menurut Suharsimi Arikunto (2004 : 13) ada dua tujuan evaluasi yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. penyediaan (providing) informasi yang berguna (useful information) dan alternatif keputusan (decision alternatives). Tanpa adanya evaluasi. produksi serta alternatif prosedur tertentu. Dalam evaluasi ada beberapa unsur yang terdapat dalam evaluasi yaitu : adanya sebuah proses (process) perolehan (obtaining). penggambaran (delineating). program-program yang berjalan tidak akan dapat dilihat efektifitasnya. penelitian evaluasi. Sesuatu yang berharga tersebut dapat berupa informasi tentang suatu program. Efektifitas merupakan perbandingan antara output dan inoutnya sedangkan efisiensi adalah taraf pendayagunaan input untuk menghasilkan output lewat suatu proses (Sudharsono 1994 : 2) Dalam evaluasi terdapat perbedaan yang mendasar dengan penelitian meskipun secara prinsip. b. Perbedaan tersebut terletak pada tujuan pelaksanaannya. Terkadang. kebijakan-kebijakan baru sehubungan dengan program itu tidak akan didukung oleh data. Sebagaimana disampaikan oleh Sudharsono (1994 : 3) penelitian evaluasi mengandung makna pengumpulan informasi tentang hasil yang telah dicapai oleh sebuah program yang dilaksanakan secara sistematik dengan menggunakan metodologi ilmiah sehingga darinya dapat dihasilkan data yang akurat dan obyektif. demikian juga dengan evaluasi. Fungsi utama evaluasi dalam hal ini adalah menyediakan informasi-informasi yang berguna bagi pihak decision maker untuk menentukan kebijakan yang akan diambil berdasarkan evaluasi yang telah dilakukan. antara kedua kegiatan ini memiliki metode yang sama. Dengan demikian. Menurut stufflebeam dalam worthen dan sanders (1979 : 129) evaluasi adalah : process of delineating. penelitian dan evaluasi juga digabung menjadi satu frase. obtaining and providing useful information for judging decision alternatives. Karenanya. .

Menurut mereka. Menurut Suharsimi Arikunto (2004 : 2) program dapat dipahami dalam dua pengertian yaitu secara umum dan khusus. maka evaluasi program sebagaimana dimaknai oleh Kirkpatrick dapat dimaknai sebagai sebuah proses untuk mengetahui apakah sebuah program dapat direalisasikan atau tidak dengan cara mengetahui efektifitas masing-masing komponennya melalui rangkain informasi yang diperoleh evaluator (Kirkpatrick 1996 : 3). Meskipun terdapat beberapa perbedaan antara model-model tersebut. Goal Oriented Evaluation Dalam model ini. Hakekat Evaluasi Program Menurut John L Herman dalam Tayibnapis (1989 : 6) program adalah segala sesuatu yang anda lakukan dengan harapan akan mendatangkan hasil atau manfaat. Tetapi. program dapat diartikan dengan rencana atau rancangan kegiatan yang akan dilakukan oleh seseorang di kemudian hari. Hal ini dikarenakan kita akan melihat apakah program tersebut berhasil menjalankan fungsi sebagaimana yang telah ditetapkan sebelumnya.c. maka sebuah program adalah rangkaian kegiatan yang dilaksanakan secara berkesinambungan secara waktu pelaksanaannya biasanya panjang. Secara umum. Menurut Stephen Isaac dan Willian B. Michael ( 1984 : 7) model-model evaluasi dapat dikelompokan menjadi enam yaitu : 1. Berdasarkan pengertian diatas. Evaluator hanya menyediakan informasi-informasi yang dibutuhkan oleh pengambil kebijakan (decision maker) d. Selain itu. (2) mencari data yang relevan dengan penelitian dan (3) menyediakan informasi yang dibutuhkan pihak pengambil keputusan untuk melanjutkan. (Suharsimi Arikunto dan Cecep Safruddin Abdul Jabbar : 2004). ada tiga tahap rangkaian evaluasi program yaitu : (1) menyatakan pertanyaan serta menspesifikasikan informasi yang hendak diperoleh. Model-model evaluasi Ada banyak model yang bisa digunakan dalam melakukan evaluasi program khususnya program pendidikan. seorang evaluator secara terus menerus melakukan pantauan terhadap . pengambil keputusan itu sendiri bukanlah evaluator melainkan pihak lain yang lebih berwenang. memperbaiki atau menghentikan program tersebut. Menurut Isaac dan Michael (1984 : 6) sebuah program harus diakhiri dengan evaluasi. Sedangkan pengertian khusus dari program biasanya jika dikaitkan dengan evaluasi yang bermakna suatu unit atau kesatuan kegiatan yang merupakan ralisasi atau implementasi dari suatu kebijakan. tetapi secara umum model-model tersebut memiliki persamaan yaitu mengumpulkan data atau informasi obyek yang dievaluasi sebagai bahan pertimbangan bagi pengambil kebijakan. sebuah program juga tidak hanya terdiri dari satu kegiatan melainkan rangkaian kegiatan yang membentuk satu sistem yang saling terkait satu dengan lainnya dengan melibatkan lebih dari satu orang untuk melaksanakannya. Menilik pengertian secara khusus ini. berlangsung dalam proses berkesinambungan dan terjadi dalam satu organisasi yang melibatkan sekelompok orang. Dari pengertian ini dapat ditarik benang merah bahwa semua perbuatan manusia yang darinya diharapkan akan memperoleh hasil dan manfaat dapat disebut program.

evaluasi produk menyediakan informasi apakah program itu akan dilanjutkan. penelitian evaluasi memfokuskan kegiatannya pada penjelasan dampak-dampak pendidikan serta mencari solusi-solusi terkait dengan strategi instruksional. Evaluasi produk menunjukkan perubahan-perubahan yang terjadi pada input. dimodifikasi kembali atau bahkan akan dihentikan 3. Model ini terdiri dari 4 komponen evaluasi sesuai dengan nama model itu sendiri yang merupakan singkatan dari Context. 4. Evaluasi konteks (context evaluation) merupakan dasar dari evaluasi yang bertujuan menyediakan alasan-alasan (rationale) dalam penentuan tujuan (Baline R. . kebutuhan serta tujuan (goal). Yang harus diperhatikan justru adalah bagaimana proses pelaksanaan program. evaluasi berusaha melukiskan proses sebuah program dan pandangan tentang nilai dari orang-orang yang terlibat dalam program tersebut. maka dibutuhkanlah evaluasi proses dalam menyediakan umpan balik (feedback) bagi orang yang bertanggungjawab dalam melaksanakan program tersebut Evaluasi Produk (product evaluation) merupakan bagian terakhir dari model CIPP. Model CIPP merupakan salah satu model yang paling sering dipakai oleh evaluator. Input. 5. Process dan Product. dengan jalan mengidentifikasi kejadian-kejadian yang terjadi selama pelaksanaannya. Worthern & James R Sanders : 1979) Karenanya upaya yang dilakukan evaluator dalam evaluasi konteks ini adalah memberikan gambaran dan rincian terhadap lingkungan. Decision Oriented Evaluation Dalam model ini. Dalam proses ini. Goal Free Evaluation Model yang dikembangkan oleh Michael Scriven ini yakni Goal Free Evaluation Model justru tidak memperhatikan apa yang menjadi tujuan program sebagaimana model goal oriented evaluation. Evaluasi CIPP yang dikembangkan oleh stufflebeam merupakan salah satu contoh model evaluasi ini. Model ini melihat lebih jauh tentang adanya kesenjangan (Discrepancy) yang ada dalam setiap komponen yakni apa yang seharusnya dan apa yang secara riil telah dicapai. baik hal-hal yang positif maupun hal-hal yang negatif. 2. Evaluation Research Sebagaimana disebutkan diatas. Evaluasi proses (process evaluation) diarahkan pada sejauh mana kegiatan yang direncanakan tersebut sudah dilaksanakan. Salah satu model yang bisa mewakili model ini adalah discrepancy model yang dikembangkan oleh Provus. evaluasi harus dapat memberikan landasan berupa informasi-informasi yang akurat dan obyektif bagi pengambil kebijakan untuk memutuskan sesuatu yang berhubungan dengan program. Evaluasi input (input evaluation) merupakan evaluasi yang bertujuan menyediakan informasi untuk menentukan bagaimana menggunakan sumberdaya yang tersedia dalam mencapai tujuan program. Penilaian yang terus-menerus ini menilai kemajuan-kemajuan yang dicapai peserta program serta efektifitas temuan-temuan yang dicapai oleh sebuah program.tujuan yang telah ditetapkan. Transactional Evaluation Dalam model ini. Ketika sebuah program telah disetujui dan dimulai. Evaluasi ini bertujuan mengukur dan menginterpretasikan capaian-capaian program.

2. 1989: 105) Berdasarkan sejarah. Popham (1995: 21) menyatakan bahwa reliabilitas adalah ". Dalam kerangka teori tes klasik. Adversary Evaluation Model ini didasarkan pada prosedur yang digunakan oleh lembaga hukum. Reliabilitas: Pendekatan Tes Ulang Reliabilitas diterjemahkan dari kata reliability. Mengurangi jumlah isu yang dapat diukur.. Dengan demikian keandalan . Dalam prakteknya. sebuah alat ukur dapat dilihat dari dua petunjuk yaitu kesalahan baku pengukuran dan koefisien reliabilitas. Menurut John M. Menurut Sumadi Suryabrata (2004: 28) reliabilitas menunjukkan sejauhmana hasil pengukuran dengan alat tersebut dapat dipercaya. Dalam pandangan Brennan (2001: 295) reliabilitas merupakan karakteristik skor.the degree of which test score are free from error measurement". Membentuk dua tim evaluasi yang berlawanan dan memberikan kepada mereka kesempatan untuk berargumen. bukan tentang tes ataupun bentuk tes. Interpretasi . maka tidak boleh ada kesalahan pengukuran. reliabilitas sebuah instrumen dapat dihitung melalui dua cara yaitu kesalahan baku pengukuran dan koefisien reliabilitas (Feldt & Brennan: 105). Kedua statistik di atas memiliki keterbatasannya masing-masing. Hasil pengukuran harus reliabel dalam artian harus memiliki tingkat konsistensi dan kemantapan. Untuk memperoleh skor yang sama. suatu tes dapat dikatakan memiliki reliabilitas yang tinggi apabila skor tampak tes tersebut berkorelasi tinggi dengan skor murninya sendiri. Dalam pandangan Aiken (1987: 42) sebuah tes dikatakan reliabel jika skor yang diperoleh oleh peserta relatif sama meskipun dilakukan pengukuran berulang-ulang.6. Mengungkapkan rentangan isu yang luas dengan cara melakukan survey berbagai kelompok yang terlibat dalam satu program untuk menentukan kepercayaan itu sebagai isu yang relevan. Melakukan sebuah dengar pendapat yang formal. Tim evaluasi ini kemudian mengemukakan argument-argumen dan bukti sebelum mengambil keputusan. 3.. model adversary terdiri atas empat tahapan yaitu : 1. Echols dan Hasan Shadily (2003: 475) reliabilitas adalah hal yang dapat dipercaya. Kesalahan pengukuran merupakan rangkuman inkonsistensi peserta tes dalam unit-unit skala skor sedangkan koefisien reliabilitas merupakan kuantifikasi reliabilitas dengan merangkum konsistensi (atau inkonsistensi) diantara beberapa kesalahan pengukuran. 4. Kedua statistik tersebut masing-masing memiliki kelebihan dan keterbatasan (Feldt & Brennan.

Pendekatan tes ulang sangat sesuai untuk mengukur ketrampilan terutama ketrampilan fisik. Secara matematis teori di atas dapat ditulis : Reliabilitas alat ukur tidak dapat diketahui dengan pasti tetapi dapat diperkirakan. Asumsinya adalah bahwa skor yang dihasilkan oleh tes yang sama akan menghasilkan skor tampak yang relatif sama. Misalnya seorang guru hendak melihat reliabilitas tes yang telah dibuatnya. Dalam mengestimasi reliabilitas alat ukur. Estimasi dengan pendekatan tes ulang akan menghasilkan koefisien stabilitas. Pendekatan tes ulang merupakan pemberian perangkat tes yang sama terhadap sekelompok subjek sebanyak dua kali dengan selang waktu yang berbeda.lainnya adalah seberapa tinggi korelasi antara skor tampak pada dua tes yang pararel. Traub (1994: 38) yang disimbolkan oleh dapat didefinisikan sebagai rasio antara varian skor murni dan varian skor tampak . Setelah melakukan dua kali pengukuran didapatkan skor tes sebagai berikut: Koefisien reliabilitas test di atas dapat dihitung dengan menggunakan formula korelasi produk momen dari Pearson sebagai berikut: . ada tiga cara yang sering digunakan yaitu (1) pendekatan tes ulang. (2) pendekatan dengan tes pararel dan (3) pendekatan satu kali pengukuran. Reliabilit as menurut Ross E. (Saifuddin Azwar. 2006: 29). Untuk memperoleh koefisien reliabilitas melalui pendekatan tes ulang dapat dilakukan dengan menghitung koefisien korelasi linear antara distribusi skor subyek pada pemberian tes pertama dengan skor subyek pada pemberian tes kedua.

1980: 76). jika peserta tes masih ingat dengan soal-soal dan bahkan jawaban ketika dilakukan test pertama.Dengan demikian. berenang. lari. Dalam dunia psikologi. (4) organization (mengorganisasi) dan (5) characterization by a value or value complex (karakterisasi dengan suatu nilai atau nilai yang kompleks).954 menggambarkan bahwa reliabilitas tes cukup tinggi. David Krathwohl (1974). . membongkar dan memasang peralatan dan lain sebagainya. melukis. kemampuan perseptual. Salah satu kelemahan mendasar dari teknik test-retest adalah carry-over effect. Masalah ini disebabkan oleh adanya kemungkinan pada test yang kedua dipengaruhi oleh test pertama. kemampuan fisik adalah kemampuan untuk mengembangkan gerakan yang paling terampil seperti gerakan tari ataupun olahrega ekstrim tertentu. Dengan teknik nontes maka penilaian atau evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan tanpa ³menguji´ peserta didik melainkan dilakukan dengan cara tertentu. Sedangkan komunikasi nondiskursip adalah kemampuan berkomunikasi dengan menggunakan bahasa gerakan. Kemampuan psikomotor (psychomotoric domain) adalah kemampuan yang berhubungan dengan gerak yaitu kemampuan dalam menggunakan otot-otot seperti berjalan. Kemampuan perseptual merupakan kombinasi kemampuan kognitif dan kemampuan motor. Penilaian yang dilakukan dengan teknis nontes terutama bertujuan untuk memperoleh informasi yang berkaitan dengan evaluasi hasil belajar peserta didik dari segi ranah sikap hidup (affective domain) dan ranah ketrampilan (psychomotoric domain). sebagaimana dikutip Anas Sudijono (2005 : 54) mengembangkan taksonomi mengenai ranah afektif ini dengan membaginya kedalam lima jenjang yaitu : (1) receiving (menerima) (2) responding (merespon) (3) valuing (menilai atau memaknai). kemampuan psikomotor dibagi kedalam lima tingkatan yaitu gerak refleks. korelasi sebesar 0. kemampuan fisik. Hal ini dapat meningkatkan korelasi serta overestimasi terhadap PXX¶. Misalnya. Penyusunan Instrumen Nontes Teknis nontes adalah suatu alat penilaian yang biasanya dipergunakan untuk mendapatkan informasi tertentu tentang keadaan peserta tes (Inggris: testee) dengan tidak menggunakan tes. Gerak reflek adalah gerakan yang muncul tanpa sadar. gerakan dasar. Gerakan dasar adalah gerakan yang mengarah pada ketrampilan kompleks yang khusus seperti berlari dan berjalan. melompat. gerakan trampil dan komunikasi nondiskursip (Sax. Kemampuan terakhir ini berhubungan dengan kemampuan mengucapkan kata-kata berbahasa asing. Hal ini berarti bahwa jawaban yang diberikan oleh peserta tes tidak bisa dikategorikan sebagai jawaban benar atau salah sebagaimana interpretasi jawaban tes.

Dalam dunia pendidikan teknik nontes yang sering digunakan adalah pengamatan (observasi), dan terkadang, seorang guru juga menggunakan wawancara. Dalam penelitianpenelitian sosial, teknik nontes biasanya juga digunakan untuk mendapatkan informasi mengenai keadaan obyek penelitian. Teknik nontes yang sering digunakan dalam penelitianpenelitian sosial penelitian adalah kuesioner. Teknik pengamatan atau observasi merupakan salah satu bentuk teknik nontes yang biasa dipergunakan untuk menilai sesuatu melalui pengamatan terhadap objeknya secara langsung, seksama dan sistematis. Pengamatan memungkinkan untuk melihat dan mengamati sendiri kemudian mencatat perilaku dan kejadian yang terjadi pada keadaan sebenarnya. Menurut Moleong (2005 : 176) pengamatan dapat dibedakan menjadi dua yaitu pengamatan berperanserta dan tidak berperanserta. Dalam pengamatan yang tidak berperanserta, seseorang hanya melakukan satu fungsi yaitu mengamati tetapi pada pengamatan berperanserta seseorang disamping mengamati juga menjadi anggota dari obyek yang diamati. Pengamatan dapat pula dibagi atas pengamatan terbuka dan tertutup. Terbuka jika obyek yang diamati mengetahui bahwa mereka sedang diamati dan sebaliknya. Selain itu pengamatan juga dibagi pada latar alamiah (pengamatan tak terstruktur) dan latar buatan (pengamatan terstruktur). Pengamatan ini biasanya dapat dilakukan pada eksperimen. Dalam pengamatan berstruktur, kegiatan pengamatan itu telah diatur sebelumnya. Isi, maksud, objek yang diamati, kerangka kerja, dan lain-lain, telah ditetapkan sebelum kegiatan pengamatan dilaksanakan. Oleh karena itu, kegiatan pencatatan hanya dilakukan terhadap data -data yang sesuai dengan cakupan bidang kebutuhan seperti yang telah ditetapkan sejak semula. Lain halnya dengan pengamatan tak berstrukur, dalam melakukan pengamatannya, si pengamat tidak dibatasi oleh kerangka kerja yang telah dipersiapkan sebelumnya. Setiap data yang muncul yang dianggap relevan dengan tujuan pengamatannya langsung dicatat. Dengan demikian, data yang diperoleh lebih mencerminkan keadaan yang sesungguhnya. Perilaku siswa dalam keadaan seperti itu bersifat wajar, apa adanya dan tidak dibuat-buat. Teknik pengamatan jika dilakukan untuk melihat apakah perbuatan siswa sudah benar atau tidak dapat dikategorikan sebagai teknik tes. Misalnya jika dalam praktek olahraga seorang guru akan melihat apakah cara melempar lembing seseorang sudah sesuai dengan teori atau tidak, maka pengamatan jenis ini terkategori sebagai teknik tes. Tetapi jika pengamatan dilakukan terhadap aspek afektif seperti cara seorang siswa bersikap terhadap guru, menjaga kebersihan, perhatian terhadap tugas-tugas sekolah dan sebagainya, maka teknik ini termasuk teknik nontes. Wawancara atau interview merupakan salah satu alat penilaian nontes yang dipergunakan untuk mendapatkan informasi tertentu tentang keadaan responden dengan jalan tanya-jawab sepihak. Dikatakan sepihak karena pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam kegiatan wawancara itu hanya berasal dari pihak pewawancara saja, sementara responden hanya bertugas sebagai penjawab. Maksud diadakan wawancara sebagaimana dikutip Moleong dari Lincoln dan Guba (1985 : 266) antara lain mengkonstruksi mengenai orang, kejadian, organisasi, perasaan, motivasi, tuntutan, kepedulian dan lain sebagainya. Ada banyak pembagian wawancara yang dilakukan para ahli. salah satu diantaranya adalah membagi wawancara kedalam dua bentuk yaitu wawancara bebas dan wawancara terpimpin. Yang dimaksud wawancara terpimpin adalah suatu kegiatan wawancara yang pertanyaanpertanyaan serta kemungkinan-kemungkinan jawabannya itu telah dipersiapkan pihak pewawancara, responden tinggal memilih jawaban yang sudah dipersiapkan pewawancara.

Sebaliknya dalam wawancara bebas, responden diberi kebebasan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan pewawancara sesuai dengan pendapatnya tanpa terikat oleh ketentuanketentuan yang telah dibuat pewawancaranya. Kuesioner merupakan bentuk lain dari teknik nontes. Secara umum, ada dua jenis kuesioner yaitu kuesioner tertutup dan terbuka. Kuesioner tertutup adalah kuesioner yang telah disediakan alternatif jawabannya sehingga responden tinggal memilih yang sesuai dengan keadaan dirinya. Sedangkan kuesioner terbuka adalah kuesioner yang jawabannya belum disediakan sehingga responden bebas menuliskan apa yang dia rasakan. Satu hal yang menjadi ciri utama kuesioner adalah dalam kuesioner tidak ada jawaban benar atau salah. Salah satu contoh kuesioner tertutup adalah : Umur anda saat ini adalah : a. 15 ± 20 tahun b. 20 ± 25 tahun c. 25 ± 30 tahun d. 35 ± 35 tahun Adapun contoh kuesioner terbuka adalah : Setiap idul fitri tiba, ribuan orang seperti digerakkan untuk beridulfitri di kampung halamannya. Uraikanlah menurut pendapat anda apa yang menjadi penyebab pulangkampungnya orang yang ada diperantauan ketika Idul Fitri tiba! Ada beberapa alasan kenapa kuesioner sering dipergunakan orang dalam mengumpulkan informasi tertentu yaitu : (1) butir-butir kuesioner dapat diberikan kepada responden secara serentak sehingga lebih efektif, (2) butir-butir dalam kuesioner lebih menjamin keseragaman baik perumusan kata, isi maupun urutannya serta kuesioner lebih memudahkan dalam memberikan jawaban, (3) kuesioner memudahkan sumber data dalam memberikan jawaban serta kepraktisan serta relative lebih murah dibandingkan metode nontes yang lain.

Validitas Tes
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia senantiasa dihadapkan pada masalah keakuratan sebuah informasi. Informasi yang diterima manusia setiap hari sangat banyak dengan sumber yang semakin beragam. Koran dan televisi adalah dua sumber informasi utama saat ini. Dengan semakin banyaknya sumber-sumber informasi yang senantiasa berkembang, maka muncul sebuah pertanyaan mendasar tentang sejauhmana informasi yang diperoleh tersebut dapat dipercaya? Dalam penelitian-penelitian sosial, keakuratan informasi yang diperoleh sangat

mempengaruhi keputusan yang akan diambil. Sayangnya, akurasi informasi dalam penelitianpenelitian sosial tersebut tidak mudah diperoleh disebabkan sulitnya mendapatkan operasionalisasi konsep mengenai variabel yang hendak diukur. Untuk mengungkap aspekaspek yang hendak diteliti, maka diperlukan alat ukur yang baik dan berkualitas. Alat ukur tersebut dapat berupa skala atau tes. Sebuah tes yang baik sebagaimana disampaikan oleh Syaifuddin Azwar (2006 : 2) harus memiliki beberapa kriteria antara lain valid, reliable, standar, ekonomis dan praktis. Dalam Standards for Educational and Psychological Testing validitas adalah "... the degree to which evidence and theory support the interpretation of test scores entailed by proposed uses of tests " (1999: 9). Sebuah tes dikatakan valid jika ia memang mengukur apa yang seharusnya diukur (Allen & Yen, 1979: 95). Dalam bahasa yang hampir sama Djemari Mardapi (2004: 25) menyatakan bahwa validitas adalah ukuran seberapa cermat suatu tes melakukan fungsi ukurnya. Menurut Nitko & Brookhart (2007: 38) kevalidan sebuah alat ukur tergantung pada bagaimana hasil tes tersebut diinterpretasikan dan digunakan. Dalam pandangan Samuel Messick (1989: 13) validitas merupakan penilaian menyeluruh dimana bukti empiris dan logika teori mendukung pengambilan keputusan serta tindakan berdasarkan skor tes atau model-model penilaian yang lain Jika dikaitkan dengan bidang psikologi, penggunaan validitas dapat dijumpai dalam tiga konteks yaitu validitas penelitian, validitas soal dan validitas alat ukur. Validitas penelitian merupakan derajad kesesuaian hasil penelitian dengan keadaan sebenarnya. Validitas soal berkaitan dengan kesesuaian antara suatu soal dengan soal lain. Sedangkan validitas alat ukur merujuk pada kecermatan ukurnya suatu tes (Sumadi Suryabrata, 2004: 40). Menurut Allen & Yen (1979: 95) validitas tes dapat dibagi kedalam tiga kelompok utama yaitu : (1) validitas isi (content validity), (2) validitas konstruk (construct validity) dan (3) validitas kriteria (criterion related validity). Meskipun idealnya validasi dapat dilakukan dengan memakai semua bentuk validitas tes tersebut, tetapi pengembang tes dapat memilih bentuk validasi dengan melihat tujuan pengembangan tes (Kumaidi, 1994: 58). Validitas isi menunjuk pada sejauhmana isi perangkat soal tersebut mengukur apa yang seharusnya diukur. Dalam kaitannya dengan kegiatan pembelajaran menurut Djemari Mardapi (1996: 22) validitas ini adalah kesesuaian antara materi ujian dan materi yang telah dipelajari. Pengujian validitas isi tidak melalui analisis statistik melainkan analisis rasional yaitu dengan melihat apakah butir-butirnya telah sesuai dengan batasan domain ukur yang telah ditetapkan sebelumnya. Allen & Yen (1979: 95) membagi validitas isi kedalam dua kelompok yaitu face validity (validitas muka) dan logical validity (validitas logis). Validitas muka dapat dicapai jika tampilan tes tersebut telah meyakinkan untuk mengungkap atribut yang hendak diukur. Adapun validitas logis menunjukkan sejauhmana isi tes mengungkapkan representasi dari ciri-ciri atribut yang hendak diukur. Validitas konstruk merujuk pada sejauhmana suatu tes mengukur suatu konstruk teoretik atau trait yang hendak diukurnya (Allen & Yen, 1979: 108) konstruk dalam pengertian ini adalah berkaitan dengan aspek-aspek psikologi seseorang khususnya aspek kognitif, afektif dan psikomotor. Ada beberapa cara yang bisa digunakan untuk menguji validitas konstruk. Misalnya dengan melakukan pencocokan antara aspek-aspek berpikir yang terkandung dalam tes hasil belajar dengan aspek-aspek berpikir yang hendak diungkap oleh tujuan instruksional khusus. Pengujian yang lebih sederhana tentang validitas konstruk adalah malalui pendekatan multi trait multi-method (Saifuddin Azwar 2003: 176). Pendekatan ini akan menghasilkan bukti validitas diskriminan yang ditunjukkan dengan rendahnya korelasi antar skor yang mengukur trait yang berbeda bila digunakan metode yang sama dan validitas konvergen yang ditunjukkan oleh tingginya korelasi skor-skor tes yang mengukur trait yang sama dengan

Validitas kriteria merupakan validitas yang disusun berdasarkan kriteria yang telah ada sebelumnya. kesahihan alat ukur dilihat dari sejauhmana hasil pengukuran tersebut sama dengan hasil pengukuran alat lain yang dijadikan kriteria. maka semakin tinggi pula kecermatan prediksinya. Validitas kriteria dibedakan menjadi dua macam yaitu berdasarkan kapan kriteria itu dapat dimanfaatkan. . Tetapi dalam ujian masuk perguruan tinggi misalnya. Korelasi silang antara L dan C yakni korelasi antara L pada metode 1 dan C pada metode 2 atau antara L1 dan C2 adalah -0. Dalam validitas kriteria. Maka. Contoh mengenai estimasi koefisien validitas berdasarkan metode multitrait multimethod adalah sebagaimana disampaikan Fred N. Ada dua instrument berbeda yang digunakan untuk mengukur liberalisme (L) dan konservatisme (C) dalam hubungannya dengan sikap sosial seseorang yaitu dengan pernyataan sikap biasa (metode 1) dan referen (metode 2) menggunakan referensi-referensi sikap seperti sepatah kata atau frase singkat. korelasi antara L1 dengan C1 adalah -0. adalab hasil Pengukuran lain yang telah dianggap sebagai alat ukur yang baik misalnya tes Stanford Binnet atau tes Weschler. yang dijadikan kriteria. Biasanya. diperlukan pengujian dengan menggunakan korelasi.37 dan ini lebih tinggi daripada yang diprediksikan oleh teorinya (-0.09 yang berarti bahwa keduanya hampir selaras dengan teorinya. Kerlinger (1973:742) tentang matriks hubungan antara sikap sosial. Jika dimanfaatkan dalam waktu dekat maka disebut validitas konkurent (concurrent validity) dan jika dimanfaatkan diwaktu yang akan datang disebut validitas prediktif (predictive validity). (2004: 46) dalam menafsirkan koefisien validitas yang didapat dari mengkorelasikan skor alat ukur dengan kriterianya sebaiknya dilakukan melalui koefisien determinasi yaitu koefisien korelasi kuadrat.5.25. Korelasi antara kedua instrument tersebut disajikan dalam bentuk matriks multitrait-multimethod berikut : Dalam contoh tersebut secara teoritis dituntut adanya korelasi negative atau mendekati nol antara L dan C. semakin tinggi angka koefisien determinasi.07 serta antara L2 dengan C2 adalah 0. Untuk memperoleh validitas kriteria. Jadi jika diperoleh koefisien korelasi sebesar 0. Menurut Sumadi Suryabrata.menggunakan metode yang berbeda. maka koefisien determinasinya adalah sebesar 0.37 antara L1 dan C2 validitas konstruk dalam skala sikap itu terdukung. Validitas kriteria ditunjukkan dengan angka korelasi antara skor pada alat yang dipergunakan dengan skor yang dihasilkan dari alat yang dijadikan kriteria. koefisien validitas ditunjukkan dengan skor pada saat ujian masuk dengan skor yang diperoleh pada saat seseorang telah belajar selama beberapa waktu tertentu. dengan perkecualian korelasi silang yang besarnya -0. dalam pengukuran psikologis.30).

Hal-hal yang perlu didokumentasikan adalah: 1. kelompok ilmiah remaja. kebun raya. mencakup tahap perencanaan poses pembelajaran. websites. dan lain-lain). bahasa arab. bahasa mandarin. yang perlu diperhatikan juga adalah mendokumentasikan berbagai hal yang menyangkut proses pembelajaran. dan lain-lain) yang menunjukkan adanya program pembiasaan mencari informasi/pengetahuan lebih lanjut dari berbagai sumber belajar .Evaluasi proses pembelajaran merupakan tahap yang perlu dilakukan oleh guru untuk menentukan kualitas pembelajaran. kliping. 41 tahun 2007 tentang Standar proses dinyatakan bahwa evaluasi proses pembelajaran dilakukan untuk menentukan kualitas pembelajaran secara keseluruhan. dokumen silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) 2. bahasa perancis. dokumen yang menunjukkan adanya kegiatan mengunjungi perpustakaan. C. Evaluasi proses pembelajaran diselenggarakan dengan cara: a. seperti: ‡ Apa yang saya ajarkan hari ini? ‡ Apa yang masih membingunkan bagi siswa? ‡ Apakah saya menemukan masalah dan issu yang tidak diharapkan? ‡ Apa jenis pembelajaran tingkat tinggi yang saya sampaikan? ‡ Apa jenis pembelajaran tingkat rendah yang saya sampaikan? ‡ Apakah siswa saya dapat menerima materi yang saya ajarkan? ‡ Apakah saya telah membelajarkan siswa? ‡ Bagaimana saya memperbaiki tehnik pembelajaran? ‡ Apa yang ingin dan perlu kuketahui lebih banyak lagi? ‡ Apa sumber belajar yang memberi ilham dan menyenangkan saya (photo. pelaksanaan proses pembelajaran. dan penilaian hasil pembelajaran. Dalam Permen No. DOKUMENTASI PROSES PEMBELAJARAN Dalam evaluasi proses pembelajaran. karena kita akan menemukan kelebihan dan kekurangan dari proses pembelajaran yang telah dilakukan. EVALUASI DIRI Evalusi proses pembelajaran dapat dilakukan oleh guru yang bersangkutan secara mandiri. Guru dapat menuangkan evaluasi yang telah dilakukannya dalam jurnal refleksi pembelajaran. dokumen hasil diskusi. Mengidentifikasi kinerja guru dalam proses pembelajaran sesuai dengan kompetensi guru A. bahasa jepang. Membandingkan poses pembelajaran yang dilaksanakan guru dengan standar proses b. dll)? ‡ Apakah tujuan pembelajaran dapat tercapai? B. Guru dapat mengisi jurnal ini pada setiap pelajaran yang telah diberikan/ diajarkan atau selama guru tersebut melaksanakan pekerjaan sehari-harinya sebagai guru Jurnal merekam renungan dan refleksi dari pikiran. mengakses internet. Kegiatan ini sering disebut juga sebagai refleksi proses pembelajaran. laporan hasil analis terhadap suatu masalah yang menunjukkan keterlibatan siswa dalam kegiatan belajar mengajar 3. pusat industri. kelompok belajar bahasa asing (bahasa inggris. EVALUASI KOLABORATIF Guru dapat melakukan evaluasi proses pembelajaran secara kolaboratif. Kolaborasi dapat dilakukan dengan rekan guru atau siswa. dokumen pemanfaatan berbagai fasilitas yang menunjukkan difungsikannya sumbersumber belajar 4. mengunjungi sumber belajar di luar lingkungan sekolah (museum.

daur ulang sampah. karya teknologi tepat guna dan lain sebagainya yang menunjukkan adanya pengalaman mengekspresikan diri melalui kegiatan seni dan budaya 7. konser musik. Soedijarto. 9. H.5. seperti: hasil portofolio. latihan tari. seni dan budaya. teater. Sistem Evaluasi. pagelaran tari. dan sebagainya yang menunjukkan adanya pengalaman mengapresiasikan karya seni dan budaya 8. musik. dan Tenaga Pendidikan sebagai Unsur Strategis dalam Penyelenggaraan Sistem Pengajaran Nasional Prof. Dr. dokumen pembiasaan dan pengamalan ajaran agama seperti aktivitas ibadah bersama. drama. dan lainlain 11. majalah dinding. dokumen kegiatan megunjungi pameran lukisan. latihan musik. laporan penulisan karya tulis. pameran lukisan. dokumen kegiatan mengikuti pertandingan antar kelas. pentas seni. tingkat kabupaten / propinsi / nasional yang menunjukkan adanya pengalaman belajar untuk menumbuhkan sikap kompetitif dan sportif. buletin siswa. dokumen kegiatan pekan bahasa. ketrampilan membuat barang seni. dokumen pemanfaatan lingkungan baik di dalam maupun di luar kelas seperti kebun untuk praktek biologi. dokumen laporan kepengawasan proses pembelajaran yang dilakukan oleh kepala sekolah JURNAL I Kurikulum. membantu warga sekolah yang memerlukan 10. dan sebagainya yang menunjukkan adanya pengalaman belajar untuk memanfaatkan lingkungan secara produktif dan bertanggung jawab 6. dokumen penugasan latihan ketrampilan menulis siswa. kunjungan ke laboratorium alam. MA *) . laporan kunjungan lapangan. peringatan hari-hari besar agama.

dan memajukan kebudayaan nasional. (4) evaluasi sebagai media pendidikan dan sarana umpan balik . particularly about (1) the role of curriculum as a strategic means in school education. (2) tujuan dan materi kurikulum yang relevan . . Perubahan itu dapat menimbulkan berbagai pertanyaan mengingat betapa penting dan strategisnya peranan kurikulum dalam mencapai tujuan pendidikan nasional. dan (5) peranan guru dan implikasinya terhadap profesionalisasi jabatan guru. The changes could raise several questions due to the important and strategic role of the curriculum in achieving the objective of national education system. dan sistim evaluasi Abstract There have been several changes in the primary and secondary school curriculum system ever since Indonesia gained its independence. telah beberapa kali terjadi perubahan kurikulum S sekolah dasar dan menengah. efisien dan efektif akan mempu mendukung terlaksanya fungsi pendidikan nasional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. tulisan ini membahas (1) makna kurikulum sebagai unsur strategis dalam pendidikan sekolah.Abstrak Sejak Indonesia merdeka. Dalam kaitannya dengan penyelenggaran sistem pengajaran nasional. (3) pendekatan proses pembelajaran dan implikasinya terhadap sistem evaluasi. Dalam tulisan ini disebutkan bahwa apabila sekolah dengan kurikulum yang dirancang dan dilaksanakan secara relevan. Kata kunci: Kurikulum. pilar belajar. This article discusses several issues related to the national instructional system.

efficient and effective. This article states. bukan . Dari serangkaian perubahan kurikulum. kita telah mengenal berbagai kurikulum. the school curriculum will be able to support the national education to function in educating the Indonesian people and developing the national culture. relevant. kurikulum 1984. yang didasarkan atas hasil penilaian nasional pendidikan (national assessment) hanyalah kurikulum 1975 dan kurikulum PPSP (Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (1974 1981). and (5) teachers ole and its impact to the professionalism of education personnel. Selebihnya merupakan perubahan yang didasarkan atas asumsi teoretik. dan kurikulum 1984 digunakan untuk memasukkan mata pelajaran Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB). (3) the approaches in learning process and their implication to evaluation system. kurikulum 1975. Sampai dengan kurikulum 1984. kurikulum tahun 1968. Mengapa kurikulum yang satu diganti dengan kurikulum yang lainnya. ada kurikulum 1947. dan kurikulum 1994. kurikulum tahun 1950-an. di samping meniadakan mata pelajaran PSPB juga diperkenalkannya sistem kurikulum SMU yang dimaksudkan untuk menjadikan pendidikan umum benar benar sebagai pendidikan persiapan ke perguruan tinggi. Kurikulum 1964 disusun untuk meniadakan MANIPOL-USDEK. sejak Indonesia merdeka.(2) the relevant objectives and contents of the curriculum. Pendahuluan Memasuki tahun 2004 ini. if the design and the implementation are appropriate. (4) evaluation as an educational medium as well as a feedback instrument. kurikulum 1975 digunakan untuk memasukkan Pendidikan Moral Pancasila. perubahan kurikulum banyak yang dipengaruhi oleh perubahan politik. Kurikulum 1994. kurikulum tahun 1964.

Makna Kurikulum sebagai Unsur yang Strategis dalam Pendidikan Sekolah . (4) evaluasi sebagai media pendidikan dan instrumen umpan balik. Memang tradisi penelitian dan pengembangan yang dirintis oleh almarhum Menteri Mashuri dan diperkuat oleh Prof. (3) pendekatan dan proses pembelajaran yang relevan. Karena itu kita sukar untuk menjawab pertanyaan Seberapa jauh kurikulum 1975. Dalam konteks praktek perubahan kurikulu m yang demikian. Atas dasar pertimbangan di atas. tulisan ini tidak berpretensi berangkat dari hasil evaluasi ilmiah melainkan berangkat dari premise teoretik. Soemantri Brodjonegoro nampaknya berhenti sejak Menteri Nugroho Notosusanto. Dr. 1994 telah. Bahkan data yang terkumpul dari hasil penelitian evaluatif yang berlangsung dari tahun 1978 sampai tahun 1980-pun tidak sempat diolah lebih lanjut. tulisan ini akan mencoba membahas : (1) makna kurikulum sebagai unsur yang strategis dalam pendidikan sekolah. Tetapi penggantian kurikulum 1975 menjadi kurikulum 1984 sama sekali tidak didasarkan atas hasil evaluasi tersebut. dan Tenaga Kependidikan sebagai Unsur Strategis yang bermakna bagi kedudukan kurikulum yang strategis. dan (5) peranan guru dan implikasinya terhadap profesionalisasi tenaga kependidikan. Sistem Evaluasi. (2) tujuan dan materi kurikulum Kurikulum. belum atau tidak berhasil mempengaruhi peningkatan mutu pendidikan? Sesungguhnya pada tahun 1981 Balitbang Depdikbud telah selesai (dimulai tahun 1978) melakukan studi evaluasi kurikulum secara nasional yang komprehensif dengan datanya terkumpul dalam 6 (enam) disket komputer.atas dasar temuan-temuan hasil evaluasi yang dilakukan secara sistematik. 1984.

12 Tahun 1954. nilai. Dalam mengemban peranan sekolah sebagai pusat pembudayaan inilah kedudukan kurikulum sangatlah strategis. Karena itu harapan terbesar dari suatu masyarakat yang melakukan transformasi budaya adalah menjadikan sekolah sebagai pusat pembudayaan berbagai kemampuan. dan sikap itu hanya dapat berlangsung melalui proses pembelajaran yang bermakna sebagai proses pembudayaan. Para pendiri Republik nampaknya terilhami oleh perkembangan negara-negara kebangsaan tersebut yang. tujuan pendidikan yang dirumuskan dalam UndangUndang Pendidikan Nasional. dalam sejarahnya merupakan proses menjadi satunya kerajaan-kerajaan kecil dari masing-masing negara tersebut. Karena proses pembudayaan berbagai kemampuan nilai. dan efektif melalui suatu sistem kurikulum yang dirancang secara sistematik sejak penentuan tujuan yang harus dicapai. yang melahirkan negara-negara kebangsaan seperti Amerika Serikat. jo UU No. Proses pembelajaran yang demikian hanya akan terjadi secara efisien.Sekolah adalah lembaga sosial yang keberadaannya sebagai bagian dari sistem sosial negara bangsa sangat strategis sejak industrialisasi dan gerakan negara kebangsaan pada abad ke-19. yang mencitakan manusia terdidik Indonesia sebagai manusia susila . Italia. Kalau kita cermati. baik UU No. Para pendiri Republik sadar akan adanya jurang antara kondisi yang dicita-citakan yaitu masyarakat negara kebangsaan yang moderen dan demokratis yang berdasarkan Pancasila dengan kondisi perkembangan masyarakat Indonesia pada saat proklamasi. proses pembelajaran yang harus diterapkan. Jerman. dan memajukan kebudayaan nasional melalui diselenggarakannya satu sistem pengajaran nasional (sekolah). materi yang harus dipelajari. dan sistem evaluasi yang harus dikembangkan dan dilaksanakan. 4 Tahun 1950. Britania Raya. Perancis. mengamanatkan perlunya mencerdaskan kehidupan bangsa. maupun Jepang. dan sikap dari warga masyarakat moderen.

Bahkan banyak sementara orang (termasuk para pejabat atau pakar) yang memandang hal tersebut tidak mungkin dapat dicapai oleh sekolah. mencatat. 20 Tahun 2003 yang mencitakan manusia yang beriman. dengan pengertian waktu yang terbatas. dan relevan. dalam pengertian model pembelajaran yang tidak lebih dari mendengar.yang cakap dan demokratis serta bertanggung jawab . serta terbatasnya. . memiliki pengetahuan dan ketrampilan. dan seterusnya . terprogram. kesemuanya mencitakan wujud sosok manusia yang ideal. bertaqwa dan Kurikulum. efektif. bahkan tanpa fasilitas serta sarana dan prasarana yang diperlukan. Kalau tetap demikian memang segala tujuan itu tidak akan dapat dicapai. Sistem Evaluasi. 2 Tahun 1989 yang mencitakan wujud manusia Indonesia terdidik sebagai manusia yang beriman dan bertaqwa. dan Tenaga Kependidikan sebagai Unsur Strategis berakhlak mulia. dalam pengertian kalau penyelenggaraan pendidikan disekolah dengan kondisi seperti yang berlangsung sampai dengan hari ini. karena semuanya tidak dengan sendirinya dapat meningkatkan mutu pendidikan. sehat jasmani dan rohani. Kalau demikian sesungguhnya tidak perlu kita mengubah kurikulum bahkan tidak perlu mengubah UU Sisdiknas. dan terlaksana dengan efisien. Mereka ini adalah kaum realis. dan menghafal dengan evaluasi hanya mengukur kemampuan mengingat apa yang telah dipelajari dengan keterbatasan buku bacaan baik untuk guru dan murid. atau UU No. Tetapi pada umumnya tujuan pendidikan yang demikian ideal selama ini tidak pernah dengan sungguh-sungguh diterjemahkan secara operasional dan diupayakan ketercapaiannya. dalam pengertian rendahnya kesungguhan dan kemampuan guru. berkepribadian yang mantap dan mandiri serta mempunyai rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan . Ketercapaiannya tidak mungkin tanpa suatu proses yang terencana. dan yang terakhir UU No.

Tujuan dan Materi Kurikulum yang Relevan Tujuan Kalau kita kaji secara mendalam tujuan pendidikan yang selama ini dirumuskan. (2) yang menguasai ilmu pengetahuan dan ketrampilan. (3) yang sehat jasmani dan rohani. Sistem Evaluasi. (4) yang berkepribadian dan bertanggung jawab Kurikulum. dan Tenaga Kependidikan sebagai Unsur Strategis Keempat karakteristik manusia yang dirumuskan dalam berbagai Undang Undang Pendidikan Nasional tersebut hakekatnya karakteristik yang bersifat universal. Tulisan ini berpandangan bahwa sekolah dengan kurikulum yang dirancang dan dilaksanakan secara relevan. akan menemukan betapa pendidikan nasional diharapkan untuk dapat melahirkan manusia Indo nesia yang : (1) religius dan bermoral. sesungguhnya mengharapkan pendidikan nasional berfungsi mencerdaskan kehidupan bangsa sangat berlebihan karena tidak akan dapat terlaksana. dan memajukan kebudayaan nasional. yang masih perlu diterjemahkan kedalam rumusan yang operasional dan terkait dengan perkembangan masyarakat Indonesia khususnya dan . efisien dan efektif akan mampu mendukung terlaksananya fungsi pendidikan nasional utnuk mencerdaskan kehidupan bangsa. dalam berbagai UU pendidikan nasional kita.Tulisan ini memandang kalau sikap ini yang tetap berada di benak semua lapisan masyarakat Indonesia dari elit politik. sampai guru dan orang tua murid. pakar.

Dalam era semacam ini hanya bangsa yang berkualitas sumber daya manusianya. Dari ulasan singkat di atas dapatlah kita sampai kepada suatu kesimpulan bahwa di tengah era globalisasi dengan segenap tantangan dan kesempatan yang terbuka. yang dapat bertahan dan secara berkesinambungan maju. ekonomi. agar negara bangsa Indonesia dapat bertahan sebagai negara yang merdeka dan bermartabat diperlukan manusia Indonesia yang berkualitas yang mampu mendukung : (1) sistem politik demokrasi yang stabil berdasarkan Pancasila. nilai. komunikasi/transportasi bahkan kehidupan keagamaan. Karena itu dalam menterjemahkan keempat karakteristik tersebut kedalam rumusan wujud kemampuan. Dalam bidang ilmu pengetahuan dan tehnologi. ilmu pengetahuan dan tehnologi. dan (5) mengelola perdagangan (Harbison-Myers). baik politik. (2) sistem ekonomi nasional yang mantap infrastruktur fisiknya. (3) menghasilkan komoditas yang bermutu dan dapat bersaing di pasar dunia. yang dalam bidang ekonomi ditunjukkan dengan kemampuannya dalam : (1) mengolah dan mengelola sumber daya alam. sosial budaya. Hampir tidak ada seorangpun yang dapat mengelakkan diri dari kenyataan bahwa Indonesia di millenium ketiga ini berada dalam era globalisasi. Dalam bidang politik. hanya bangsa yang memiliki infrastruktur teknologi unggul yang dapat bertahan. hanya bangsa yang sistem politik demokrasinya mantap yang mampu bertahan dan terus maju. infrastruktur . bersaing dan terus maju. Wujud nyata dari setiap karakteristik tersebut akan berbeda dalam suatu tingkat perkembangan masyarakat dan tingkat pendidikan. (4) mengelola modal.masyarakat internasional pada umumnya. Yang maknanya adalah berlakunya berbagai ukuran dan aturan internasional dalam segala bidang kehidupan. dan sikap yang dapat dijadikan rujukan dalam proses perencanaan kurikulum perlu dipahami tingkat dan arah perkembangan masyarakat Indonesia. (2) pengembangan teknologi.

kesusastraan. pertanyaannya adalah Materi pendidikan manakah yang harus dijadikan obyek belajar ? . dan disiplin kerja yang memungkinkannya dapat secara aktif dan produktif berpartisipasi dalam berbagai kegiatan ekonomi.teknologinya. Berangkat dari pemahaman tentang karakteristik masyarakat moderen di era globalisasi yang perlu kita wujudkan di Indonesia dapatlah kiranya kita sampai kepada identifikasi kemampuan. (4) memiliki kepribadian yang mantap. nilai dan sikap yang memungkinkannya berpartisipasi secara aktif dan cerdas dalam proses politik. (4) majunya kebudayaan dalam berbagai seginya baik kesenian. (3) memiliki kemampuan dan sikap ilmiah untuk dapat mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui kemampuan penelitian dan pengembangan. nilai dan sikap yang terkait dengan kepentingan terwujudnya masyarakat Indonesia moderen dan bermartabat di era globalisasi. serta berakhlak mulia. nilai dan sikap yang perlu dikuasai dan dimiliki manusia terdidik Indonesia yaitu : (1) memiliki kemampuan. (3) sistem pengembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi yang tangguh. infrastruktur tenaga manusianya. etos kerja. (2) memiliki kemampuan. berkembang wirausahanya dan tumbuh pengusaha kecilnya. berkarakter dan bermoral. maupun dimensi kognitif dan normatif dari kebudayaan nasional. dan (5) mantapnya etika sosialnya. Materi yang Relevan Setelah teridentifikasi empat gugus kemampuan.

20 Thn 2003 (Pendidikan Dasar) (Sampai Sekolah Menengah) a. Membaca dan Menulis e. Pendidikan Agama b. Kesenian dan Muatan i. Pengantar Sains dan Teknologi g. Menurut UU No. Kerajinan Tangan dan Kesenian . Pendidikan Kewarganegaraan c.Undang-undang No. Ilmu Pengetahuan Alam f. Matematika e. Bahasa Indonesia d. Pendidikan Kewarganegaraan c. Seni. Matematika. serta h. 2 th. Sejarah Nasional dan Sejarah Umum Lokal j. 2 Tahun 1989 maupun UU No.Ilmu Bumi h. Ilmu Pengetahuan Sosial g. Budaya. termasuk berhitung f. Pendidikan Pancasila a. 1989 Menurut UU No. Bahasa d. dan Olah raga. Ketrampilan.Pendidikan Agama b. 20 tahun 2003 telah memberikan jawaban seperti yang dikutip dibawah ini.

Demikian juga dengan IPS dalam UU SISDIKNAS tahun 2003 dengan Ilmu Bumi. Bahasa Inggris Kedua ketentuan yang terdapat dalam UU No. Pertanyaannya adalah apakah benar mata pelajaran tersebut menunjang tercapainya fungsi dan tujuan pendidikan nasional. misalnya kalau dalam UU SISDIKNAS tahun 2003 Seni. tetapi hakekatnya yang perlu anyakan adalah mengapa mata pelajaran tersebut yang ditentukan. Pendidikan Jasmani dan Kesehatan l. 1989. 1 . 2 Th. Menggambar m. Sejarah pada UU No. prophets. seers. experimenters. Dalam kaitan ini. 2 tentang SISDIKNAS dan UU SISDIKNAS (2003) nampaknya berbeda.k. who have devoted their special talents to the well being of all. 1989. Philip Phenix menyatakan : The richness of culture and the level of understanding achieve in advanced civilization are due almost entirely to the labours of individual men of genius and organized communities of specialists. Philip Phenix dari pengamatannya terhadap perkembangan peradaban dan memandang perlunya generasi muda siap untuk melanjutkan perkembangan peradaban tersebut. Every person is indebted for what he has to a great network of skilled inventors. Dalam menjawab pertanyaan tentang mengapa suatu bahan kajian dan suatu pendekatan ditempuh. scholars. Budaya dan Olah Raga dalam satu gugus. 2 th. and saints. apa bedanya dengan dipisahkannya menggambar dan kesenian pada UU No. artists. A high level of civilization is the consequence of the dedicated service of person in the special gifts for the benefits of all.

the arts of the movement. such as music. These science provide factual descriptions. and literature. The second realm. Keenam wilayah makna tersebut yaitu : Symbolics. Esthetics. Empirics. contains the various arts. The third realm. and the like. dan Synoptics (Realms of Meaning). life. with socially accepted rules of formation and transformation created as instrument for the expression and communication of any meaning whatsoever. rituals. and of man. Synnoetics. Meaning in this realm are concerned with the contemplative perception of particular significant things as unique objectifications of ideated subjectivities. derives from the Greek synnoesis. Mathematics. Esthetics. yang penjelasannya diuraikan sebagai berikut : The first realm. fourth realm. These meaning are contained in arbitrary symbolic structures. and this in turn is compounded of syn. Symbolics. meaning meditative thought . generalizations. meaning cognition . Thus synnoetics signifies . the visual arts. mind. The novel term synnoetics . meaning with or together and noesis. which was devised because no existing concept appeared adequate to the type of understanding intended. and society. Empirics. and theoretical formulation and experimentation in the world of the matter. comprises ordinary language.Berangkat dari pemahamannya tentang hakekat perkembangan peradaban Philip Phenix mengidentifikasikan enam wilayah yang bermakna untuk menjadikan peserta didik memahami makna dunia yang dimana mereka hidup dan mengembangkan dirinya. Ethics. embraces what Michael Polanyi calls personel knowledge and Martin Buber the I-Thou relation. includes the science of the physical world of living things. and various types of nondiscursive symbolic forms such as gesture. rhythmic patterns. Synnoetics.

or awareness of relation. and to personal knowledge. Ethics. deliberate decision. and philosophy. The fifth realm. includes moral meaning that express obligation rather than fact. which express idealized esthetic perceptions. It include history. yang hakekatnya merupakan penerus Alford North Whitehead mengutamakan pemilihan bahan pelajaran secara ketat agar para pelajar dapat mempelajari sesuatu sampai tingkatan memahami makna yang dipelajari bagi kehidupannya.2) Disadari bahwa kandungan pengetahuan yang terdapat didalam setiap wilayah dan sub wilayah demikian luas. Bruner hakekatnya menghidupkan pemikiran Whitehead pada tahun 1920-an. yaitu : . which are concerned with abstract cognitive understanding. which reflect intersubjective understanding. religion. Theses discipline combine empirical. dan para pembaharu pendidikan yang mengakhiri gerakan pendidikanprogressive di Amerika Serikat seperti Jerome Brunner. dan konsep-konsep dasar yang menonjol. Karena itu Philip Phenix. Kiranya kita sepakat bahwa setiap disiplin atau dalam bahasanya Phenix setiap Realms of Meaning mengandung kekhususan dalam metode. The sixth realm. to the arts. In contrast to the sciences. perceptual form. responsible. and synnoetic meanings into coherent whole. Synoptics. morality ha to do with personal conduct that is based on free.relational insight or direct awareness . esthetic. Berangkat dari pemikiran ini Philip Phenix selanjutnya mengemukakan empat prinsip dasar dalam memilih media pelajaran dari setiap wilayah arti. Penulis mengartikan bahwa pemikir seperti Philip Phenix dan J. karena itu pendidikan perlu memilih yang essensial. struktur ilmu pengetahuan yang luas. refers to meanings that are comprehensively integrative.

2 th 1989 masih relevan untuk menjadikan sistem pendidikan nasional dapat berfungsi mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan kebudayaan nasional. bahan pelajaran harus diambil dari disciplined of inquiry. Proses pembelajaran yang terjadi dari tingkat SD sampai Perguruan Tinggi . Padahal pandangan Freire dan Ivan Hlich hakekatnya berangkat dari pandangan kaum nihilis yang mencitakan adanya Stateless Society . dan bahan pelajaran harus dapat mendorong peserta didik berpikir secara imajinatif Pendekatan pemilihan bahan ini jelas berbeda dari pendekatan Paul Freire yang menyerahkan pemilihan bahan kepada peserta didik.a. bahan pelajaran mengutamakan method of inquiry . suatu pandangan yang sedang dipopulerkan oleh sementara pakar. tidak diupayakan untuk dapat terwujud. c. Sesungguhnya penulis berpandangan bahwa UU no. Masalahnya terutama disebabkan karena berbagai ketentuan sebagai yang tercantum dalam pasal 13 ayat (1) tentang fungsi dan tujuan pendidikan dasar dan pasal 15 ayat (1) tentang fungsi dan tujuan pendidikan menengah dan pasal 16 ayat (1) tentang fungsi dan tujuan pendidikan tinggi. d. suatu aliran pemikian dalam pendidikan yang sering muncul dalam perjalanan sejarah pemikiran pendidikan tetapi selama ini belum mampu mengubah kenyataan pendidikan dalam masyarakat moderen dan post moderen dalam masyarakat demokratis yang selalu memerlukan suatu tatanan hidup bernegara dengan segala persyaratannya. Yang menjadi pertanyaan adalah seberapa jauh perancang UU SISDIK NAS 2003 telah secara mendalam mempelajari kedudukan SISDIKNAS dalam proses pembangunan negara bangsa moderen Indonesia sebelum merumuskan pokok pokok pikiran yang mendasar tentang sistem pendidikan nasional. bahan pelajaran harus dipilih konsep-konsep utama suatu disiplin yang mewakili hakekat disiplin tersebut. b.

pada umumnya masih proses penyajian informasi oleh pengajar untuk dicatat oleh peserta didik, suatu model pembelajaran yang terjadi sebelum berlakunya UU No. 2 th 1989. Adalah keyakinan profesional dan akademik saya bahwa tanpa proses pembelajaran yang bermakna sebagai proses pembudayaan, tujuan dan struktur kurikulum yang telah dirancang dengan baikpun tidak akan dapat meningkatkan mutu pendidikan.

Pendekatan Proses Pembelajaran dan Implikasinya terhadap Sistem Evaluasi Pendekatan Proses Pembelajaran

Bagian ini bermaksud mencoba menjawab pertanyaan

model

pembelajaran seperti apa yang dapat bermakna sebagai proses pembudayaan ? Pandangan kami adalah bahwa bila proses pembelajaran dapat merangsang, menantang dan menyenangkan seperti yang dikemukakan oleh Whitehead sampai pada tingkat joy of discovery diharapkan proses pembelajaran itu akan bermakna sebagai proses pembudayaan dan proses penguasaan seni menggunakan ilmu pengetahuan. Dalam kaitan ini UNESCO melalui International Commision on Education for The Twenty First Century 3) yang antara

lain bertujuan untuk mengubah dunia from technologically divided world where high technology is privilege of the few to technologically united world mengusulkan empat pilar belajar yaitu learning to know, learing to do, learning to be, and learning to live together . Menerapkan empat pilar tersebut berarti bahwa proses pembelajaran memungkinkan peserta didik dapat menguasai cara memperoleh pengetahuan, berkesempatan menerapkan pengetahuan yang dipelajarinya, berkesemp atan untuk berinteraksi secara aktif dengan sesama peserta didik sehingga dapat

menemukan dirinya. Model pembelajaran seperti ini hanya dapat berlangsung dengan tenaga guru yang penuh konsentrasi, peralatan yang memadai, dengan materi yang terpilih dan waktu yang cukup tanpa harus mengejar target untuk ujian nasional. Ujian nasional akan mengurangi kreatifitas belajar sampai tingkatan joy of discovery . Untuk jelasnya keempat pilar belajar akan diuraikan secara lebih rinci. Learning to know , learning to do , learning to live together dan learning to be , empat pilar belajar yang oleh UNESCO dipandang sebagai pendekatan belajar yang perlu diterapkan untuk menyiapkan generasi muda memasuki abad ke-21 hakekatnya merupakan pendekatan belajar yang telah diperkenalkan oleh tokoh-tokoh pemikir pendidikan sejak permulaan abad ke20. Pendekatan ini demikian berkembang di Amerika Serikat dan Eropa Barat, terutama sejak ketertinggalan Amerika Serikat dalam teknologi ruang angkasa Uni Soviet pada tahun 1957. Pemikir pendidikan seperti Whitehead (1916) memandang pendidikan sebagai acquisition of the art of the utilization of knowledge 4). Karena itu dia sampai menyatakan bahwa orang yang paling banyak pengetahuannya adalah orang yang tidak berguna dibumi Tuhan yang dalam bahasa aslinya tertulis sebagai berikut : A merely well informed man is the most useless bore on God s earth 5) Selanjutnya dalam ceramahnya pada

himpunan Matematika pada tahun 1916 dia menekankan aga peserta didik r sejak dini harus sudah dapat menikmati proses penemuan. Kalimat lengkapnya tertulis sebagai berikut: Let the main ideas which are introduced into a child s education be few and important, and let them be thrown into every combination possible. The child should made them his own, and should understand their application here and now in the circumstance of his actual life. From the very beginning of his education, the child should experience the joy of discovery 6) .

Kritik yang dia tujukan ke praktek pendidikan di Inggris pada permulaan abad ke-20 ini menjadi landasan pembaharuan pendidikan di Amerika Serikat pasca Sputnik. Selanjutnya muncul pemikir-pemikir pendidikan di Amerika Serikat seperti Philip Phenix, Jerome Bruner, dan Israel Sheffler, Philip Phenix misalnya mengatakan: It is more important for the student to become skillful in the ways of knowing than to learn about any particular product of investigation. Knowledge of methods makes it possible for a person to continue learning and undertake inquiries on his own 7)

Gerakan pembaharuan pendidikan di Amerika Serikat yang juga mempengaruhi negara-negara Eropa Barat telah membuahkan kemajuan IPTEK yang berpengaruh kepada perkembangan negara-negara Barat. Memasuki akhir abad ke-20, dalam dunia yang makin menjadi mengglobal, perbedaan kemampuan antara negara maju dan negara berkembang makin melebar. Sadar akan hal ini UNESCO membentuk suatu komisi International yang tujuannya memberikan rekomendasi kepada UNESCO untuk menerapkan empat pilar belajar. Dua kutipan dari laporan Komisi Internasional berikut menunjukkan situasi paradoksal yang dihadapi negara berkembang. The need for change from narrow nationalism to universalism, from ethnic and cultural prejurdice to tolerance, understanding and pluralism, from autocracy to democracy in its various manifestations, and from technologically united world, places enormous responsibilities on teacher who participate in the moulding of the characters and minds of the new generation 8)

dan mengingat kembali yang berdampak tidak adanya kesempatan menerapkan pendekatan moderen dalam proses pembelajaran. kondisi pendidikan di negara berkembang pada umumnya (termasuk Indonesia) dilukiskan oleh seorang anggota Komisi tersebut In am Al Mufti dalam artikelnya Excellence in Education : investing in human talent dalam: in the past two decades in particular. Dalam kalimat aslinya dia menyatakan: . Mufti yakin bahwa tiadanya kesempatan bagi peserta didik untuk memperoleh pendidikan yang bermutu akan merugikan masyarakat karena sukar memperoleh sumber daya manusia yang bermutu untuk pembangunan masyarakat. while the quality of education itself was not given priority. 9) Akibat dari perkembangan ini yang terjadi adalah sekolah yang berjubel. But the expansion in education was concentrated on coping with growing demand for schooling. menghafal. governments and international agencies in the developing world sought to respond to development challenges by focusing increasingly on expanding educational opportunities. Suatu tuntutan yang pada hakekatnya telah digariskan oleh para pendiri Republik Indonesia yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan kebudayaan nasional.Demikian tingginya tuntutan terhadap peranan yang diharapkan dari pendidikan untuk membentuk karakter dan mental generasi muda untuk dapat melakukan transformasi budaya. Tetapi untuk melaksanakan peranan ini. proses pembelajaran tidak lebih dari mencatat. This drive by developing countries was in fulfilment of UNESCO s mission to achieve Education for All . dengan guru yang secara profesional kurang memenuhi syarat.

Dalam kalimat lengkapnya tertulis sebagai berikut: Epistemological relevance in short requires us to reject both myth and mystic union. Karena itu hakekat dari Learning to Know adalah proses pembelajaran yang memungkinkan pelajar/mahasiswa menguasai teknik memperoleh pengetahuan dan bukan semata-mata memperoleh pengetahuan. but the flexibility of mind capable of transcend- . yaitu ketertinggalan negara berkembang dari negara maju dalam penguasaan IPTEK yang melatarbelakangi kemajuan ilmu dan stabilnya sistem politik demokrasi dan tiadanya dukungan bagi pemerataan pendidikan. proses pembelajaran yang mengutamakan penguasaan ways of knowing atau mode of inquiry telah memungkinkan peserta didik untuk terus belajar dan mampu memperoleh pengetahuan baru dan tidak hanya memperoleh pengetahuan hasil penelitian orang lain. It requires not contact but criticism. Dalam bahasan Israel Scheffler pilar ini pada hakekatnya terkait dengan relevansi epistemology. UNESCO memperkenalkan empat pilar belajar. 10) Dengan latar belakang inilah. learning to live together. not immersion in the phenomenal and conceptual given.Notwithstanding the good intentions of traditional policies. Learning to Know Seperti telah dikemukakan oleh Philip Phenix. learning to do. yaitu: Learning to know. to deprive outstanding students of appropriate educational opportunities is to deprive society of the best human resources that lead towards real and effective development. yang mengutamakan proses pembelajaran yang memungkinkan peserta didik (pelajar/mahasiswa) terlibat dalam proses meneliti dan mengkaji. dan learning to be.

critique and execution upon responsible inquiry need the supplement theoretical attitude and 12) disciplinary proficiencies in the traing of the young. reordering. An education that fosters criticism and conceptual flexibility transcends its environment and by erecting a mythical substitue for this world but rather striving for a systematic and penetrating 11) comprehension of it. . Scheffler memandang pentingnya pilar learning to know untuk berangkat dari disiplin ilmu pengetahuan karena bagi mereka mode of inquiry dari disiplin ilmu adalah bentuk yang paling tertinggi dari berpikir. and alteration of their practical outlook. Seperti halnya Phenix. and expanding the given. contrary to recent emphases. criticism. Students should be encouraged to employ the information and technique of disciplines in analysis. Selanjutnya dia menguraikan pengkajian dalam kalimat berikut: Theoretical inquiry. The bearing of inquiry upon practice is moreover of the greatest educational interest. Scientific inquiry. Such interest is not. the most highly form 13) of thought is the mos explicity problem directed. Dalam kaitan ini dia menyatakan: In the revolutionary perspective. pandangan Scheffler tentang relevansi pendidikan sangat terkait dengan learning to know pada tingkat pendidikan tinggi. Habits of practical diagnosis. thought is an adaptive instrument for overcoming environmental difficulties.ing. exhausted in a concern for inquiry within the structure of several disciplines. Sengaja penulis mengutip pandangan Scheffler demikian panjang karena dari sudut pandang pendidikan tinggi. independently pursued has the most powerful potential for the analysis and transformation of practice.

Dengan model pendekatan ini dapatlah dihasilkan lulusan yang memiliki kemampuan intelektual dan akademik yang tinggi dan dengan sendirinya akan mampu mengembangkan ilmu pengetahuan. yang dengan kemajuan teknologi pekerjaan yang sifatnya fisik telah diganti dengan mesin. sasarannya adalah kemampuan kerja generasi muda untuk mendukung dan memasuki ekonomi industri. learning to do . Kalau pilar pertama. Learning to Do Bagaimana dengan pilar kedua learning to do . is urges the outensible problem-solving pattern of scientifie research as the chief paradigm of intellectual activity. learn ing to know . maintaining. designing. Dalam masyarakat industri atau ekonomi industri tuntutan tidak lagi cukup dengan penguasaan ketrampilan motorik yang kaku melainkan diperlukan kemampuan untuk melaksanakan pekerjaan pekerjaan seperti controlling. Suatu model yang penulis alami selama mengikuti kuliah di University of California . Dari uraian di atas dan kutipan yang sengaja penulis sajikan dapatlah ditarik pemahaman bahwa penerapan pilar learning to know pada tingkat pendidikan tinggi adalah penerapan paradigma penelitian ilmiah dalam pelaksanaan perkuliahan. to be favored 14) in all phases of education and culture. monitoring.Selanjutnya dia menyatakan: Interpreting science as the most refined and effective development to such adaptive thinking. Untuk menyiapkan anggota masyarakat dalam dunia kerja yang . organizing. pilar kedua. sasarannya adalah pengembangan ilmu pengetahuan danteknologi sehingga tercapai keseimbangan dalam penguasaan IPTEK antara negara di dunia dan tidak lagi dibagi antara negara utara-selatan.

The blocking of conduct either throught internal conflict on environment hindrance. untuk memecahkan masalah dan dapat . and difficulty. conflict. Ini be rarti pula bahwa untuk melahirkan generasi baru yang intelligent dalam bekerja. It originates in doubt. Dalam kaitan ini dengan pemahaman tentang pilar kedua learning to do pada tingkat pendidikan tinggi ini mengandung makna atau berimplikasi tentang perlunya pendidikan profesional pada pendidikan tinggi secara konsekuentif. transforming its 15) into thought. bermuara pada paradigma pemecahan masalah yang memungkinkan seorang mahasiswa berkesempatan mengintegrasikan pemahaman konsep.dalam technology knowledge based economy . The functions is to overcome obstacles to the smooth flow of human activities. Untuk itu penulis berpandangan dalam kaitan dengan pilar kedua yaitu learning to do perlu dikaitkan dengan pandangan Scheffler tentang relevansi psikologis. ada baiknya penulis kutipkan pandangan Scheffler tentang relevansi psikologis dalam kalimat berikut: Thought according to widely prevalent doctrine is problem oriented. When action is coherent and well adapted to its circumstances. mengelola dan mengatasi konflik. human energy is released into overt channel set by habit and custom. bekerjasama dengan orang lain. pengembangan kemampuan memecahkan masalah dan berinovasi sangatlah diperlukan. turns its energy inward. belajar melakukan sesuatu dalam situasi yang konkrit yang tidak hanya terbatas kepada penguasaan ketrampilan yang mekanistis melainkan meliputi kemampuan berkomunikasi. menjadi penting. Dalam kaitan ini. penguasaan ketrampilan teknis dan intelektual. maupun doktrin Whitehead tentang hakekat pendidikan sebagai upaya penguasaan seni menggunakan pengetahuan.

since people very naturally tend overvalue their own qualities and those of their group and to harbour prejudies against others. Dalam pengamatan komisi tersebut sebabnya diuraikan dalam kalimat berikut : It is difficult task. Learning to Live Together Kemajuan dunia dalam bidang IPTEK dan ekonomi yang mengubah dunia menjadi desa global ternyata tidak menghapus konflik antara manusia yang selalu mewarnai sejarah umat manusia. tends to give . Padahal sejak berakhirnya Perang Dunia ke II berbagai deklarasi untuk menjadi dasar penyelesaian konflik seperti Deklarasi HAM. within and above al! between nations. Diakui oleh Komisi Internasional untuk pendidikan abad ke-21 tentang sulitnya menciptakan kerukunan. baik antar ras. ber-Ketuhanan yang Maha Esa. Furthermore.berlanjut kepada inovasi dan improvisasi. Tetapi kenyataan menunjukkan terjadinya berbagai konflik sosial baik horizontal maupun vertical. Yang terjadi akhir-akhir ini bahkan sebaliknya yaitu terjadinya konflik antar manusia yang didasarkan atas prasangka. dan menggalang persatuan dan persaudaraan bukan hanya antar warga bangsa melainkan dengan seluruh umat manusia seperti dinyatakan dalam kalimat ketertiban dunia yang didasarkan kemerdekaan. berkeadilan sosial. dan kita bangsa Indonesia memiliki landasan pandangan hidup Pancasila yang hakekatnya adalah untuk membangun negara kebangsaan yang demokratis. antar suku. antar agama dan antar si kaya dan si miskin. toleransi dan saling pengertian dan bebas dari prasangka. keadilan sosial dan perdamaianabadi . piagam PBB. the general climate of competition that is at present characteristic of economi activity. dan antar negara.

Dalam hubungan ini. Model sekolah berasrama dan kampus yang merupakan kawasan tersendiri merupakan pendekatan yang ditempuh Inggris dan Amerika Serikat dalam membangun bangsa yang bersatu.priority to the competitive spirit and individual success.16) Latar belakang kenyataan dalam masyarakat yang digambarkan oleh komisi diatas menuntut pendidikan tidak hanya membekali generasi muda untuk menguasai IPTEK dan kemampuan bekerja serta memecahkan masalah. belajar yang secara inherently mengandung nilai-nilai toleransi saling ketergantungan. dan tenggang rasa. Dalam kaitan ini adalah tugas pendidikan untuk pada saat yang bersamaan setiap peserta didik memperoleh pengetahuan dan memiliki kesadaran bahwa hakekat manusia adalah beragam tetapi dalam keragaman tersebut terdapat persamaan. pengertian. Kiranya bangsa Indonesia perlu belajar Learning to Be . Suatu prinsip yang memerlukan suasana. and exacerbating historic rivalries . Ini diperlukan proses pembelajaran yang menuntut kerjasama untuk mencapai tujuan bersama. Such competition now amounts to ruthless economic warfare and to a tension between rich and poor that is dividing nations and the world. prinsip relevansi sosial dan moral yang disarankan Israel Scheffler sangat memadai. dan tanpa prasangka. melainkan kemampuan untuk hidup bersama dengan orang lain yang berbeda dengan penuh toleransi. kerjasama. Pendidikan untuk mencapai tingkat kesadaran akan persamaan antar sesama manusia dan terdapat saling ketergantungan satu sama lain tidak dapat ditempuh dengan pendidikan dengan pendekatan tradisional melainkan perlu menciptakan situasi kebersamaan dalam waktu yang relative lama. Kegiatan berlangsung mingguan dengan sasaran bersama camping yang yang harus dicapai oleh seluruh peserta merupakan salah satu model yang perlu ditempuh.

Manusia yang utuh yang memiliki kemantapan emosional dan intelektual. dan kemampuan. Inilah kurang lebih makna learning to be . Namun yang sering disoroti . Hasil akhirnya adalah manusia yang mampu mengenal dirinya. Bila ketiganya berhasil dengan memuaskan akan menimbulkan adanya rasa percaya diri pada masing-masing peserta didik. yang mengenal dirinya. yaitu muara akhir dari tiga pilar belajar. dan toleran terhadap perbedaan. Pendidikan yang berlangsung selama ini pada umumnya tidak mampu membantu peserta didik (pelajar/ mahasiswa) mencapai tingkatan kepribadian yang mantap dan mandiri atau manusia yang utuh karena proses pembelajaran pada berbagai pilar tidak pernah sampai kepada tingkatan joy of discovery pada pilar learning to know . 1989 adalah manusia yang berkepribadian yang mantap dan mandiri. Evaluasi sebagai Media Pendidikan dan Sarana Umpan Balik Hampir tidak ada orang yang menolak bahwa diselenggarakannya suatu sistem pendidikan adalah dapat dihasilkannya manusia terdidik yang dewasa secara intelektual. pada learning to do . learning to do. kepribadian. yang dapat mengendalikan dirinya. dan learning to live together ditujukan bagi lahirnya generasi muda yang mampu mencari informasi dan/ atau menemukan ilmu pengetahuan. tingkatanjoy of being succesful in achieving objective. atau dalam kamus psikologi disebut memiliki Emotional Intelligance . dan tingkatanjoy of getting together to achieve common goal. yang konsisten dan yang memiliki rasa empati(tepo sliro). 2 Th. yang mampu melaksanakan tugas dalam memecahkan masalah. moral. dalam bahasa UU No. dan mampu bekerjasama. bertenggang rasa.Tiga pilar yaitu learning to know.

mengelola. Agar peserta didik sejak memasuki suatu jenjang pendidikan secara terus menerus dan intensif melakukan proses pembelajaran yang bermakna bagi tercapainya berbagai tujuan pendidikan. Tidak lain karena menurut hasil penelitian Benyamin Bloom tingkah laku belajar peserta didik akan dipengaruhi oleh perkiraan peserta didik tentang apa yang akan diujikan. Evaluasi pendidikan yang berupa evaluasi hasil belajar yang dilakukan pada akhir jenjang satuan pendidikan seperti UAN (Ujian Akhir Nasional) tidak dapat diharapkan dapat berdampak terhadap efektifitas tercapainya tujuan pendidikan nasional. dan menilai proses pembelajaran yang berlangsung dari hari ke hari. Evaluasi yang demikian hanya dapat dilakukan oleh seorang guru yang profesional yang mampu merencanakan. kematangan pribadi. Evaluasi semacam ini hakekatnya merupakan bagian dari kurikulum itu sendiri. perlu dikembangkan dan dilaksanakan evaluasi secara komprehensif. belajar menulis makalah. yang berfungsi sebagai bagian dari strategi penguatan reinforcement strategy atau dalam bahasa teknis kurikulum disebut sebagai salah satu wujud . memotivasi. kematangan moral dan karakter. belajar berdemokrasi dan berbagai proses belajar yang bermakna transformasi budaya. Dengan demikian kalau yang akan diujikan adalah penguasaan pengetahuan yang telah dihafal. seperti belajar meneliti. belajar mengapresiasi karya sastra. dengan sendirinya peserta didik hanya akan belajar menguasai materi yang akan diujikan. Adalah keyakinan profesional dan akademik bahwa sistem evaluasi yang diterapkan akan menentukan keberhasilan kita mencapai tujuan pendidikan nasional.orang seperti yang akhir-akhir ini berlangsung adalah dimensi penguasaan pengetahuan peserta didik yang belum tentu berdampak kepada pengembangan kemampuan intelektual. terus menerus dan obyektif. Akibatnya peserta didik akan mengabaikan berbagai kegiatan be lajar yang tidak akan diujikan.

seperti etos kerja yang tinggi. dan yang sukar untuk dikembangkan melalui model evaluasi hasil belajar yang tradisional yang dilakukan pada akhir satuan jenjang atau kelas seperti ulangan umum pada akhir semester dan hasilnya. dan sikap (Inkoles). Fungsinya sebagai bagian dari manajemen pendidikan secara nasional adalah untuk memperoleh gambaran tentang peta mutu pendidikan nasional sebagai alat umpan balik guna mendiagnosis faktorfaktor penyebab dari keberhasilan dan ketidakberhasilan suatu sekolah atau daerah dalam membantu peserta didik dalam mencapai tingkatan hasil belajar yang diharapkan. belajar secara terus menerus. Untuk kepentingan pengelolaan pendidikan secara nasional disadari perlunya secara periodic diadakan evaluasi hasil belajar tingkat nasional atau lebih tepat disebut Nasional Assesment . Model evaluasi yang merupakan bagian dari strategi pembelajaran ini dari sudut pandang teori belajar sosial (social learning theory) akan dapat menumbuhkan sikap dan kemampuan yang diharapkan.dari hidden curriculum . Masalah evaluasi semacam inilah yang perlu dilaksanakan dalam suatu pendidikan yang mendudukkan classroom as social system (Parson). Kedua model evaluasi yang diuraikan dalam makalah ini adalah yang secara langsung terkait dengan . dan berbagai kegiatan untuk meratakan mutu pendi ikan d nasional sesuai dengan standar yang ditetapkan. nilai. dampak negatifnya lebih banyak daripada dampak positifnya. disiplin. dan sekolah sebagai pusat sosialisasi/pembudayaan berbagai kemampuan. Model terakhir ini dari sudut pandang teori belajar sosial. pembaharuan. Kegiatan semacam ini sangat penting dan bermakna bila dimanfaatkan untuk melakukan tindak lanjut berupa upaya perbaikan. tanpa dipengaruhi hasil dan kegiatan belajar harian dimasukkan ke dalam rapot atau Ujian Akhir Nasional (UAN) yang dilakukan pada akhir jenjang pendidikan dan hasilnya menentukan kelulusan seseorang.

kurikulum dan proses pembelajaran. Conant sebagai bagian dari reformasi pendidikan di Amerika Serikat akibat dari ketertinggalan Amerika Serikat dalam . metodik. dan paedagogik). Tidak lain karena jabatan profesional adalah jabatan yang memerlukan kemampuan merencanakan. Disamping itu kita mengenal dua lainnya. Dengan demikian jelas betapa tingginya tuntutan profesionalitas seorang guru profesional. Untuk guru yang berderajat profesional disamping kemampuan-kemampuan tersebut. dan evaluasi masukan yang secara menyeluruh perlu dilakukan dalam proses pengambilan keputusan pendidikan. Untuk itu James B. kemampuan menilai. kemampuan mengelola. jenis evaluasi konteks. Jabatan profesional sebagai yang secara univer sal diakui adalah jabatan yang memerlukan pendidikan lanjutan dan pelatihan khusus (advanced education and special training). diperlukan tambahan kemampuan memberikan bimbingan dan kepemimpinan yang didasarkan atas pemahamannya atas peserta didik. hanya akan secara efisien dan efektif mendukung terlaksananya fungsi pendidikan sebagai proses pembudayaan dan tercapainya tujuan pendidikan. kemampuan mengendalikan. penguasaannya atas ilmu pengetahuan sebagai bahan ajar. dan teknologi pendidikan (didaktik. Peranan Guru dan Implikasinya terhadap Profesionalisasi Jabatan Guru Kurikulum yang dirancang dan dilaksanakan sesuai dengan kaidah kependidikan yang secara akademik dan profesional dapat dipertanggungjawabkan dengan didukung oleh penerapan model evaluasi yang relevan dengan tujuan pendidikan. kemampuan memonitor. dan kemampuan mendiagnosis. bila dilaksanakan oleh guru yang memiliki kemampuan profesional.

A. UNESCO 4) Whitehead. (1964) New York. ISPI perlu membahas dan menentukan hal hal berikut : (1) standar profesionalitas tenaga pendidik dan tenaga kependidikan lainnya: (2) hierarki profesional kependidikan. Daftar Pustaka Catatan kaki 1) Philip Phenix. hal 10 2) 3) Ibid. Demikianlah beberapa pemikiran untuk dibahas sebagai upaya menyusun rekomendasi bagi peningkatan mutu pendidikan nasional. (3) persyaratan pendidikan pra-jabatan profesional tenaga pendidik berderajat profesional. The Aims of Education and Other Essays (1957) New York.N. Report to UNESCO of The International Commision on The Twenty First Century. Paris. Al. Learning: The Treasure Within. Mc.. Realms of Meaning a Philosophy of The Curriculum For General Education. the New American Library. hal 6 7 Jacques Delors et. Graw Hill Book Co. 14 . hal 16 5) 6) Ibid.teknologi ruang angkasa mensyaratkan calon guru haruslah mereka (lulusan SMA) yang berada pada peringkat 20% keatas.. (5) sertifikasi profesional tenaga kependidikan. hal. hal. (4) standar pendidikan profesional tenaga kependidikan.. (1996). Untuk memenuhi tuntutan profesional ini dalam mencoba untuk membahas masalah Guru dan pendidikannya. 13 Ibid.

hal. 113 114 JURNAL KE II Model-Model-model model ModelModel--model model Evaluasi Pendidikan Evaluasi Pendidikan Evaluasi PendidikanEvaluasi Pendidikan . Edit.7) Philip H. 112 12) Ibid. hal. Urbana. New York. (1964).. Makalah Prakongres Kebudayaan di Bali. Realms of Meaning : A Philosophy of The Curriculum for General education. 113 114 14) Ibid. Graw Hill Book *) Baca Tulisan Soedijarto. Reflection on Educational Relevance . Ibid Hal... 193 11) Israel Scheffler. Al. et. Martin Levit. Hal. University of Illinois Press. dalam buku Curriculum : Readings in the Philosophy of Education (1971). Al. Mc. 117 13) Ibid. hal. 28 April 2003 9) Jacques Delors. Phenix. Pendidikan Nasional Untuk Mencerdaskan Kehidupan Bangsa Dan Memajukan Kebudayaan Nasional Melalui Sekolah Sebagai Pusat Pembudayaan. et.. Hal. 193 10) Jacques Delors.. Ibid.

By studying many models and broaden view not only to one model approach. and even combine (merger) between two or more models. illuminative model. Those models design have component and pattern that different each other. objectivity.. measurement model. As one basic rule.. Winkel. and Kemp. good evaluation have to comply with several principle. Gerlach and Ely. Briggs and Wager. reliability. Keywords: evaluation. Sekarang sedang mengikuti Program Doktor By Research di UIN Yogyakarta. Sejak Oktober 2003 menduduki jabatan Lektor Kepala di STAIN Purwokerto. or even developing our specific model. namely validity. misalnya model yang dikembangkan oleh Winarno Surakhmad. Hisyam Zaini dkk.Rohmad Qomari *) *) Penulis menyelesaikan S-1 di IAIN Sunan Kalijaga Fakultas Tarbiyah dan S-2 Universitas Negeri Yogyakarta. continuity. Abstract: On learning literature. Briggs dan Wager. Pendahuluan Dalam khazanah pembelajaran terdapat bermacam-macam model desain pembelajaran. from model that have dominant quantitative measure like measurement model and model that using qualitative approach as illuminative model. there many kind of learning model design. and com-prehensive so the resulted information can became source to make right and wise decision. for example model developed by Winarno Surakhmad. Winkel. Hisyam Zaini et al. 1 . learning.

evaluasi memiliki dua fungsi utama yaitu untuk mengetahui pencapaian hasil belajar 3 siswa dan hasil mengajar guru. Hasil 4 mengajar guru terkait dengan dalam hal sejauh mana guru sebagai manajer belajar siswa merencanakan. strategi adalah langkah-langkah yang ditempuh siswa dan/atau guru dalam mempelajari (guru=mengajarkan) materi pelajaran untuk mencapai tujuan. Secara umum. strategi. Dengan kata lain.Gerlach dan Ely. Dari model-model desain tersebut komponen dan pola antara yang satu dengan lainnya terdapat perbedaan. mengelola. dan evaluasi. evaluasi merupakan salah satu komponen pokok yang selalu ada dalam pembelajaran. Meskipun demikian. dari berbagai desain pembelajaran tersebut 2 terdapat komponen-komponen yang termasuk komponen pokok. dan Kemp. media adalah sarana untuk memudahkan pencapaian tujuan. materi adalah bahan yang dipelajari siswa atau diajarkan guru kepada siswa. dan evaluasi adalah proses untuk mengetahui pencapaian hasil dan efektivitas pembelajaran. Tujuan adalah sesuatu yang ingin dicapai. yaitu tujuan. sebuah pembelajaran tidak dapat dipisahkan dengan kegiatan evaluasi. materi. Pengetahuan tentang hasil belajar siswa terkait dengan sejauh mana siswa telah mencapai tujuan pembelajaran atau kompetensi-kompetensi yang telah ditetapkan. . media. Dengan demikian. memimpin. dan mengevaluasi.

objektivitas. sumatif. satuan pendidikan. keseimbangan. tes tertulis hanyalah salah satu bentuk tes (di samping tes lisan dan tindakan). Padahal. sebagian besar dalam bentuk tes. reliabel. dan psikomotor). Hal ini dibuktikan dengan kegiatan evaluasi yang menonjol di lembaga. dan satuan pendidikan. bahkan hingga tujuan mata pelajaran (standar kompetensi mata pelajaran) memuat domain kognitif. Dari tes formatif.Realitas menunjukkan bahwa masih banyak yang mereduksi evaluasi sebagai kegiatan tes. dan tes hanyalah salah satu dari teknik evaluasi (di samping teknik nontes/alternative test). 6 dan komprehensivitas sebuah evaluasi. Padahal. dan . hingga ujian akhir sekolah dan ujian nasional. baik pada tingkat nasional. Tes tersebut sebagian besar dalam bentuk tes tertulis. cakupan tujuan pendidikan. afektif. Kegia ebut adalah pelaksanaan tes yang dilaksanakan setelah penyelesaikan pokok bahasan tertentu (kompetensi dasar tertentu) sebagai tes formatif dan tes akhir semester yang dikenal dengan tes sumatif serta tes yang diselenggarakan di akhir jenjang pendidikan tertentu dalam bentuk ujian akhir sekolah dan 5 ujian nasional. tingkat jenjang pendidikan. afektif. tetapi tidak tepat untuk mengukur pencapaian ranah afektif. serta tidak selaras dengan prinsip kontinuitas. Tes akan tepat dipakai untuk mengukur pencapaian domain kognitif. Menggunakan teknik tes tertulis untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik yang mencakup berbagai domain/anah ( kognitif. tentunya tidak dapat memberikan informasi yang valid.

khususnya tenaga pengajar. Di antara literatur yang penulis temukan. Farida Yusuf (2000). Model-model Evaluasi Dalam beberapa literatur evaluasi terdapat berbagai model evaluasi. Said Hamid (1988). Tayibnapis. dan Ibrahim (2001).. Blaine R. 11 12 Nana. dan Irvin J. yakni tulisan dari Hasan. Lehman (1973). Oleh karena itu. 13 . Dengan mengetahui ragam model evaluasi diharapkan akan menambah khazanah informasi kepada para pelaku pendidikan. dan William B.8 Issac. Mehren. untuk mengetahui pencapaian hasil belajar siswa dan efektivitas proses pembelajaran dapat dilakukan dengan memilih salah satu model evaluasi atau menggabungkan dua model evaluasi atau lebih. yang menjadi referensi utama tulisan ini. Sudjana. 9 10 Stephen. dan James R.7 Dalam tulisan ini akan mendeskripsikan secara ringkas perkembangan studi tentang evaluasi yang telah melahirkan berbagai model evaluasi. Michael (1984) .psikomotor sehingga ironis jika proses pembelajaran yang panjang (3 sampai dengan 6 tahun). William M.. Worthen. terkadang ditentukan oleh hasil tes tertulis yang dilaksanakan beberapa jam pada mata pelajaran tertentu.

kemampuan pembawaan (intelegensi dan bakat). Alat penilaian yang lazim digunakan dalam model ini adalah tes tertulis ataupaper and pencil test. Dengan kata lain. Thorndike dan R. yang hasilnya diperlukan dalam rangka seleksi. sikap. dan perencanaan pendidikan bagi para siswa di sekolah.Sanders (1987). Untuk mendapatkan hasil pengukuran kecenderungan untuk yang setepat mungkin ada . Dengan acuan referensi di atas. penilaian pendidikan adalah pengukuran terhadap berbagai aspek tingkah laku dengan tujuan untuk melihat perbedaan -perbedaan individu atau kelompok. Ebel. model kesesuaian (congruence model). Menurut model ini. minat. L. dan model illuminatif (illuminative model). and if it exists in 15 quantity it can be measured. it exists in quantity. model sistem (system model). dan juga aspek-aspek kepribadian siswa. terutama tingkah laku siswa. tokoh-tokoh pengembang model ini antara lain R. bimbingan. Thorndike. yang selengkapnya dapat dilihat pada daftar pustaka. penulis mengklasifikasi model evaluasi menjadi model pengukuran (measurement model). 14 Measurement Model Measurement Model merupakan model yang tertua dibanding model-model evaluasi yang lain. misalnya. Ruang lingkup evaluasi menurut model ini adalah tingkah laku. berkeyakinan: if anything exists. objek penilaian mencakup aspek kognitif maupun afektif dari tingkah laku siswa. R. yang mencakup kemampuan hasil belajar.

nilai yang dicapai siswa lebih menggambarkan kedudukan siswa tersebut di dalam kelompoknya disebut (relative norm) Penilaian Acuan Norma (PAN). kemudian berdasarkan validitas dan data yang diperoleh. Analisis variabel perbedaan nilai dilakukan dengan menggunakan cara-cara statistik tertentu untuk dapat menyimpulkan cara pengajaran mana yang lebih efektif di antara cara-cara yang dinilai. Oleh karena itu. Tes yang belum dibakukan dipandang kurang dapat mencapai tujuan dari pengukuran. dikembangkan suatu norma kelompok berdasarkan angka-angka nyata yang diperoleh siswa di dalam tes yang telah dilaksanakan. Keterbatasan Measurement Model Keterbatasan dari model ini terletak pada penekanannya yang berlebihan pada aspekpengukuran . nilai untuk masing-masing siswa ditentukan. Pendekatan lainnya dalam model ini adalah membandingkan hasil belajar antara dua atau lebih kelompok. Setelah suatu tes diujicobakan kepada sampel yang cukup besar. Diperlukan uji coba berkali kali terhadap instrument yang dikembangkan. Untuk mengungkapkan hasil yang telah dicapai kelompok maupun masing-masing individu di dalam penilaian mengenai suatu bidang pelajaran tertentu. dilakukan analisis untuk mengetahui 16 reliabilitas tes secara keseluruhan maupun setiap soal (analisis butir tes) yang terdapat di dalamnya.mengembangkan alat-alat penilaian (tes) yang baku atau standardized. yang menggunakan cara pengajaran yang berbeda sebagai bebas. Atas dasar norma kelompok inilah.

Hal itu dalam rangka/pengembangan pendidikan karena dalam penilaian pendidikan yang penting adalah butir soal tes yang dibuat betulbetul konsisten dengan tujuan pendidikan yang ingin dinilai pencapaiannya. 1. Adanya beberapa pengembangan ketidakserasian dengan peranan penilaian dalam proses kurikulum/sistem pendidikan berikut ini. s tidak terbatas hanya pada potensi kognitif saja. Kurikulum sebagai suatu alat untuk mencapai tujuan pendidikan diharapkan dapat mengembangkan berbagai potensi yang ada pada diri si wa. penilaian cenderung dibatasi pada dimensi tertentu dari sistem pendidikan yang dapat diukur .17 2. Dalam proses pengembangan pendidikan. model ini banyak dipengaruhi oleh prosedur yang ditempuh dalam pengembangan tes psikologis. model ini dipengaruhi oleh prosedur pengolahan hasil tes psikologis. Prosedur semacam ini kurang cocok untuk diterapkan dalam penilaian hasil belajar.dalam kegiatan penilaian pendidikan. Dalam pengembangan alat penilaian. yang mempunyai daya pembeda tinggi. antara lain tes intelegensi dan tes bakat. Konsekuensinya. nilai semacam ini kurang mempunyai arti karena sifatnya relatif. Yang lebih berarti dalam proses pengembangan pendidikan adalah nilai nilai - . dalam hal ini adalah hasil belajar yang bersifat kognitif. Yang menjadi persoalan adalah hasil belajar yang bersifat kognitif tersebut bukan merupakan satu-satunya indikator bagi keberhasilan kurikulum. Untuk mengembangkan tes tersebut berlaku ketentuan bahwa soal tes yang memiliki daya pembeda rendah perlu direvisi atau diganti dengan tes lain. dan nilai yang dicapai oleh masing-masing siswa lebih mencerminkan kedudukannya dalam kelompok. Dalam pengolahan hasil tes.

yang dilengkapi dengan data mengenai nilai rata-rata dan standar deviasi yang dicapai kelompok. Aspek objektivitas yang ditekankan oleh model ini perlu dijadikan landasan yang terus-menerus sistem penilaian dalam rangka mengembangkan pendidikan. bukan nilai relatif yang mencerminkan posisi siswa dalam kelompoknya. Congruence Model . 3.yang menunjukkan sejauh mana tujuan-tujuan pendidikan telah dicapai oleh siswa. Keunggulan Measurement Model Keunggulan dari model ini adalah sumbangannya yang sangat berarti dalam hal penekannya terhadap pentingnya objektivitas proses penilaian. Di samping itu. Yang lebih diperlukan dalam proses pengembangan pendidikan adalah bentuk penyajian hasil tes yang dapat memberikan petunjuk tentang bagian-bagian mana dari sistem pendidikan yang masih lemah. Informasi yang disajikan menurut model ini lebih berbentuk nilai keseluruhan (total score) yang dicapai setiap siswa. dan karenanya memerlukan perbaikan. evaluasi dalam model ini memungkinkan untuk melakukan analisis intrumen dan hasil evaluasi secara statistik. secara individual maupun kelompok. Informasi semacam ini kurang relevan dengan kebutuhan yang dirasakan dalam proses pengembangan pendidikan karena nilai keseluruhan lebih banyak menyembunyikan daripada mengungkapkan informasi yang diperlukan untuk kepentingan penyempurnaan sistem.

maka yang penting dalam proses penilaian adalah memeriksa sejauh mana perubahan-perubahan tingkah laku yang diinginkan tersebut telah dicapai peserta didik. Carrol. yaitu tujuan pendidikan. Penilaian adalah usaha untuk memeriksa persesuaian (congruence) antara tujuan -tujuan pendidikan yang diinginkan. Penilaian merupakan kegiatan untuk mengetahui sejauh mana tujuan-tujuan pendidikan dapat dicapai oleh siswa dalam bentuk hasil belajar yang mereka perlihatkan pada akhir kegiatan pendidikan. Ruang lingkup evaluasi menurut model ini adalah memeriksa persesuaian (congruence) antara tujuan dan hasil belajar. John B. dan Lee J. dan hasil belajar yang telah dicapai. Tokoh model ini Raph W. dan penilaian hasil belajar. Cronbach Menurut Tyler. proses pendidikan berisi tiga komponen yang saling terkait. yang dinilai adalah perubahan tingkah laku yang diinginkan (intended behavior) yang . Tyler. Oleh karena tujuan pendidikan menyangkut tentang perubahan perilaku yang diinginkan pada peserta didik. Secara lebih khusus. pengalaman belajar. maka yang dijadikan objek penilaian adalah tingkah laku siswa. maka penilaian dimaksudkan untuk memeriksa sejauh mana perubahan-perubahan yang diinginkan tersebut telah dicapai. sekalipun dalam beberapa hal masih menunjukkan adanya persamaan dengan model yang pertama. Tindak lanjut dari penilaian ini adalah sebagai bahan bimbingan lebih lanjut kepada peserta didik serta memberikan informasi kepada pihak luar yang terkait dengan hasil belajar peserta didik.Model ini dapat dipandang sebagai reaksi terhadap model yang pertama. Hal itu mengingat tujuan-tujuan pendidikan mencerminkan perubahan-perubahan tingkah laku yang diinginkan pada peserta didik.

Kontribusi Congruence Model . pengetahuan. menyebutkan perlunya digunakan alat-alat penilaian lain seperti tes perbuatan dan observasi. misalnya. terlihat jelas bagian-bagian dari sistem pendidikan yang masih perlu disempurnakan berhubung belum berhasil mencapai tujuannya. Dengan demikian. Ruang lingkup perilaku meliputi.18 Ringkasnya. Menggunakan hasil penilaian. maka diperlukan prosedurpre and post test. Congruence model tidak membatasi alat penilaian pada tes tertulis ataupaper and pencil test saja. Model ini tidak menyarankan dilaksanakannya penilaian perbandingan untuk melihat sejauh mana kurikulum yang baru lebih efektif dari kurikulum yang ada. dan nilai/sikap) berbagai kemungkinan alat penilaian perlu digunakan. Menyusun alat penilaian. 1. Berhubung setiap sistem pendidikan memiliki berbagai tujuan yang ingin dicapainya. 2. 4. dan nilai/sikap. dalam menilai hasil belajar yang mencakup berbagai jenis (pengetahuan. Carrol.diperlihatkan oleh siswa pada akhir kegiatan pendidikan. keterampilan. Penilaian dipergunakan sebagai alat ukur pencapaian hasil belajar setelah menempuh proses pendidikan. 3. Merumuskan atau mempertegas tujuan. keterampilan. Tyler dan Cronbach lebih mengarahkan peranan penilaian pada tujuan untuk memperbaiki kurikulum atau sistem pendidikan. melainkan dalam bentuk hasil bagian demi bagian dari tes yang bersangkutan. Menetapkan test situation yang diperlukan. Langkah-langkah penilaiannya adalah sebagai berikut. akan lebih tepat bila hasil penilaian tidak dinyatakan dalam bentuk hasil keseluruhan tes.

3.19 Sistem Model Hakikat evaluasi menurut sistem model adalah untuk membandingkanperformance dari berbagai dimensi sistem yang sedang dikembangkan dengan sejumlah kriteria tertentu. Pendekatan ini membantu pengembang kurikulum dalam menentukan bagian-bagian dari sistem yang masih lemah. akhirnya sampai pada suatu deskripsi danjudgment mengenai sistem yang dinilai tersebut. tanpa membatasi pada aspek hasil yang dicapai saja. Menghubungkan hasil belajar dengan tujuan pendidikan sebagai kriteria perbandingan. Menurut Daniel L. 1. 1. Menekankan pentingnya sistem sebagai suatu keseluruhan yang dijadikan objek penilaian. Stufflebeam salah satu kelemahan dari penilaian yang ada sekarang adalah kurang jelasnya kriteria yang digunakan sebagai dasar dalam penilaian tersebut. Prinsip-prinsip model ini adalah sebagai berikut. Keterbatasan Tidak menjadikan input dan proses pelaksanaan sebagai objek penilaian secara langsung. Dikatakan Gene V. tetapi kurang membantu di dalam mencari jawaban tentang segi-segi yang masih lemah dan kemungkinan mengatasi kelemahan-kelemahan tersebut. Perbandingan antaraperformance dan criteria merupakan salah satu inti yang penting. Dengan model pre da post test informasi yang dihasilkan hanya dapat menjawab pertanyaan tentang tujuantujuan mana yang telah dan belum dicapai. Pertanyaannya. Class bahwa the complete and detailed description of what constitutes the educational program is a concern of the 20 educational sistem evaluation model. mengapa tujuan -tujuan tertentu belum dapat dicapai belum dapat dijawab. Kegiatan penilaian tidak hanya berakhir pada suatu deskripsi tentang keadaan dari sistem yang . ih relevan dengan kebutuhan pengembangan sistem. 2.Sumbangan yang cukup berarti daricongruence model adalah sebagai berikut.

2. process. Provus mencakup empat dimensi. dan outcomes. 1.21 2. 2. Ruang lingkup evaluasi menurut model ini berdasarkan pendapat tokohnya adalah sebagai berikut. Informasi yang diperoleh dari hasil penilaian berfungsi sebagai bahan atau input bagi pengambilan keputusan mengenai sistem yang bersangkutan dalam rangka: a. 4. Tidak hanya berakhir dengan deskripsi. dan hasil yang dicapai. 3. dan product (CIPP). Dari kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa ruang lingkup evaluasi dalam model ini adalah sebagai berikut. Keunggulan Sistem Model . dan hasil yang dicapai. 4. Stufflebeam menggolongkan sistem pendidikan atas empat dimensi. input. proses. proses. melainkan harus sampai pada suatu judgment mengenai baik-buruknya dan efektif tidaknya sistem pendidikan tersebut. 1.telah dinilainya. Perbandingan antaraperformance dan criteria. 1. Mencakup data objektif maupun data subjektif. dalam rangka penyempurnaan sistem maupun penyimpulan mengenai kebaikan sistem yang bersangkutan secara menyeluruh. 4. operation program. yaitu context. penyimpulan mengenai kebaikan (merit. interim products. Objek sekurang-kurangnya terdiri dari peralatan/sarana. Hasil penilaian digunakan sebagai bahan atau input bagi pengampilan keputusan. Scriven mencakup: sarana/bahan. dan b. tetapi jugajudgment sebagai kesimpulan dari penilaian. worth) dari sistem pendidikan yang bersangkutan dibandingkan dengan sistem yang lain. penyempurnaan sistem selama sistem tersebut masih dalam tahap pengembangan. yaitu design.22 3. transactions. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa hakikat evaluasi menurut sistem model adalah sebagai berikut. Penilaian ditujukan kepada berbagai dimensi sistem. Stake membagi objek penilaian atas tiga kategori:antecendent. dan 23 terminal product.

kelemahan. Hasil evaluasi ditekankan pada deskripsi dan interpretasi. serta pengaruhnya terhadap proses belajar siswa. serta kesukaran-kesukaran yang dialami dari tahap perencanaan hingga implementasinya di lapangan. melainkan juga input dan proses yang dilakukan tahap demi tahap. dampak yang ditimbulkan dari suatu sistem seperti. . proses implementasi (pelaksanaan) sistem. Studi difokuskan pada permasalahan bagaimana implementasi suatu sistem dipengaruhi oleh situasi sekolah. Di samping itu. Objek evaluasi yang diajukan dalam model ini mencakup. issues. Hal ini agar penyempurnaan sistem dapat dilakukan pada setiap tahap sehingga kelemahan yang masih terlihat pada suatu tahap tertentu tidak dibawa ke tahap berikutnya. tidak hanya hasil yang dicapai saja. hasil belajar yang diperlihatkan oleh siswa.26 Tujuan penilaian menurut model ini adalah mengadakan studi yang cermat terhadap sistem yang bersangkutan. Dalam pelaksanaan evaluasi. latar belakang dan perkembangan yang dialami oleh sistem yang bersangkutan. Model ini dikembangkan terutama di Inggris dan banyak dikaitkan dengan pendekatan di bidang antropologi.25 Salah satu tokoh yang paling menonjol dalam pengembangan model ini adalah Malcolm Parlett. 24 Illuminative Model Nama Illuminatif. oleh pengembangnya didasarkan atas alasan bahwa penggunaan berbagai cara evaluasi di dalam model ini bila dikombinasikan akan help illuminative problems. selaras dengan semboyannyathe judgment is the evaluation . keunggulan. bukan pengukuran dan prediksi sebagaimana model sebelumnya. tempat sistem tersebut dikembangkan.Model ini mengemukan perlunya penilaian dilakukan terhadap berbagai dimensi sistem. model ini lebih 27 menekankan penggunaanjudgment . and significant program features.

31 Keunggulan Illuminative Model . 2. evaluator mulai meneliti sebab akibat dari masingmasing persoalan. Di samping itu. Pada tahap ini. objek evaluasi dalam model ini meliputi 28 kurikulum yang terlihat maupun tersembunyi (hidden curriculum). berbagai persoalan yang terlihat atau terdengar dalam tahap pertama diseleksi untuk mendapatkan perhatian dan penelitian lebih lanjut. faktor lainnya adalah pandangannya yang holistik dalam evaluasi. Pada tahap ini. Ringkasnya. serta reaksi dari guru maupun siswa terhadap pelaksanaan sistem tersebut. Data semula terpisah satu dengan lainnya mulai disusun dan dihubungkan dalam kesatuan situasi. Dari langkah-langkah tersebut. Hal ini disebabkan model ini menggunakan pendekatan kualitatif yang menekankan pentingnya menjalin kedekatan dengan orang dan situasi yang sedang dievaluasi agar dapat memahami secara personal realitas dan hal-hal rinci tentang program atau 30 sistem yang sedang dikembangkan. ketergantungan secara intelektual.kebosanan yang terlihat pada siswa dan guru. faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya persoalan dicoba untuk ditelusuri. Tahap pertama observe. hambatan terhadap kembangan sikap sosial. Pada tahap ini. faktor penting dalam evaluasi model ini adalah perlunya kontak langsung antara evaluator dengan pihak yang dievaluasi. Evaluator mendengarkan dan melihat berbagai peristiwa. Pada tahap ini. Langkah selanjutnya dilakukan interpretasi data yang diharapkan dapat 29 dijadikan bahan dalam pengambilan keputusan. evaluator mengunjungi sekolah atau lembaga yang sedang mengembangkan sistem tertentu. persoalan. 3. yang berasumsi bahwa keseluruhan adalah lebih besar daripada sejumlah bagianbagian. Tahapan evaluasi dalam Illuminatif model terdiri dari tiga fase sebagai berikut. Tahap kedua Inquiry further. Tahap ketiga Seek to explain. dan sebagainya. 1.

Tidak menekankan pentingnya penilaian terhadap program bahan-bahan kurikulum selama bahan-bahan tersebut disusun dalam tahap perencanaan. semangat. sikap. 4. Adanya kecenderungan untuk menggunakan alat penilaian yang terbuka dalam arti kurang spesifik dan berstruktur. Kegiatan penilaian tidak didahului oleh adanya perumusan kriteria secara eksplisit. Jarak antara pengumpulan data dan laporan hasil penilaian cukup pendek sehingga informasi yang dihasilkan dapat digunakan pada waktunya. seperti perasaan. mulai model yang dominasi pengukuran secara kuantitatif seperti pada measurement model hingga model yang menggunakan pendekatan kualitatif sepertiIlluminative model. 2. Pendidikan sebagai manusiakan manusia tidak dapat dideskripsikan secara matematis.Menekankan pentingnya dilakukan penilaian yang kontinu selama proses pelaksanaan pendidikan sedang berlangsung. Objektivitas penilaian yang dilakukan perlu dipersoalkan. Dengan mempelajari berbagai model akan memperluas cakrawala serta wawasan sehingga tidak terpancang pengunaan satu model saja. Pada prinsipnya. evaluasi yang baik adalah yang . Keterbatasan Illuminative Model Kelemahan terutama terletak pada segi teknis pelaksanaannya yang meliputi: 1. dan sebagainya. 3. melainkan dapat menggabungkan (merger) dua model atau lebih. Aspek-aspek kemanusiaan tidak semuanya dapat dilakukan pengukuran secara mudah dan tepat. Penutup Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa evaluasi dalam dunia pendidikan memiliki banyak model dan pendekatan. 32 Kontribusi Illuminative Model Sumbangan terbesar Illuminatif Model adalah kritikannya terhadap penggunaan model scientific experiment dalam penilaian pendidikan yang dirasakan kurang tepat. motivasi. atau bahkan mengembangkan model tersendiri.

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: Sebuah Panduan Praktis (Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Sudarsono Sudirdjo. hal. Terj.. 2002). Lihat juga E. dkk. Apapun istilah yang dipakai pada prinsipnya adalah rumusan tentang sesuatu yang ingin dicapai dalam proses tersebut. Dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi dikenal istilah Standar Kompetensi (SK). Dapat dilihat juga di Anas Sudijono. 1986). 3 W. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan (Jakarta: Bumi Aksara. 1991). lihat juga Suharsimi Arikunto. 2002). Dapat dilihat pula di Hisyam Zaini. Winkel. Pengantar Interaksi Mengajar Belajar: Dasar dan Teknik Metodologi Pengajaran (Bandung: Tarsito. 2007). Pendekatan Sistem dalam Pendidikan (Surakarta: UNS Press. 4 Guru sebagai manajer memiliki empat fungsi yaitu: merencanakan. dan indikator pencapaian lihatPeraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Ivor K. serta komprehensif sehingga informasi yang dihasilkan dapat dijadikan bahan dalam pembuatan keputusan benar dan bijak. objektivitas. dan Koyo Kartasurya (Jakarta: CV Rajawali . Kemudian Tujuan Pembelajaran Umum (TPU). memimpin. dan mengawasi. lihat W. Winkel. Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK). Pengelolaan Belajar. Psikologi Pengajaran (Yogyakarta: Media Abadi. Desain Pembelajaran di Perguruan Tinggi (Yogyakarta: CTSD IAIN Sunan Kalijaga. Psikologi Pengajaran.memenuhi prinsip-prinsip validitas. reliabilitas. 2006). 304 dan 531-532. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: Konsep dan Implementasinya di Madrasah. 2007). kontinuitas. 1996). Pengantar Evaluasi Pendidikan (Jakarta: Raja Grafindo Persada. mengorganisasikan. Lihat Davis. hasil belajar. 266-303. S. 2 Terdapat beberapa istilah tentang sesuatu yang ingin dicapai dalam pembelajaran. Yogyakarta: Kerjasama Madrasah Development Center (MDC) Jateng dan Pilar Media. Endnote 1 Winarno Surakhmad. Mulyasa. hal. Sejak Kurikulum 1975 dikenal istilah tujuan yang dalam implementasi operasionalnya dikenal Tujuan Instruksional Umum (TIU) dan Tujuan Instruksional Khusus (TIK). Lihat juga Soenarwan. Lily Rompas. S. Lihat pula tulisan Khaeruddin dan Mahfud Junaedi. Kompetensi Dasar (KD)..

bekerja sama demngan Pusat Antar Universitas di Universitas Terbuka. Yang kontra mempertanyakan apakah ketiga mata pelajaran tersebut dapat mewakili (representatif) seluruh mata pelajaran PKn dan sebagainya. 29-39. goal-free evaluation. Handbook in Research and Evaluation (California: Edits Publisher. decisionoriented evaluation. Lehman.. 1987). Lihat Woolfolk. 283. hal. ekonomis. Penentuan tiga mata pelajaran ini mengundang polemik antara pro dan kontra. 1988). Dalam buku ini. Michael. motivator. Evaluasi Kurikulum (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 5 Michael Sriven seorang ahli dalam penelitian evaluasi melihat pembagian evaluasi secara formatif dan sumatif dari segi fungsi. Formatif difungsikan sebagai pengumpulan data pada waktu pendidikan masih berlangsung. Manajemen Penelitian (Jakarta: Rineka Cipta. hal. Ada sebagian ahli memandang formatif dan sumatif menunjuk pada lingkup atau luasnya yang dinilai. praktikabilitas. 8 Hasan. 6 Terdapat beberapa prinsip dasar evaluasi antara lain: validitas. Evaluasi sumatif dilaksanakan jika program kegiatan sudah betul-betul dilaksanakan. reliabilitas. konselor. yaitu sebagai ahli instruksional. manager. Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan. Inc. yaitu Goal-oriented evaluation. 10 William M. Sementara ahli mengemukan bahwa guru memiliki beberapa peran. transactionaloriented evaluation. Measurement and Evaluation in Education and Psychology (Sydney: Rinehart and Winston. hal. 2000). Bahasa Indonesia. Lihat Suharsimi Arikunto. Said Hamid. dan adversary evaluation. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi. hal. Mehren dan Irvin J..Ibid. Dasar-dasar. 1973). 1984). hal. 58-63. 7. 9 Stephen Issac and William B. Sasaran evaluasi sumatif merupakan gabungan dari sasaran evaluasi formatif. objektivitas. pemimpin. 3-9. . model (teladan). Insinyur lingkungan . dan Bahasa Inggris. evaluation research. Lihat Suharsimi Arikunto. 7 Mata pelajaran yang diujikan dalam Ujian Nasional adalah Matematika. model evaluasi diklasifikasi menjadi enam.

Lihat . Charles D. yaitu measurement model. 2000).Pengembangan Tes Hasil Belajar (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Dalam buku ini. Evaluasi Program (Jakarta: Rineka Cipta. & Yen. Lihat juga William M and Irvin J. 14 Referensi model ini cukup banyak antara lain Allen. Worthen dan James R. pendekatan berorientasi pada tujuan. yaitu: objectives oriented. 1979). dan naturalistic and participant oriented. Classroom Measurement and Evaluation (Itasca. pendekatan yang berfokus pada tujuan. hal. and Richard L. Model evaluasi diklasifikasi menjadi: Model CIPP. educational model. Model Brinkerhoff. 13-35. penulis lebih cocok dengan system model. Penelitian dan Penilaian Pendidikan (Bandung: Sinar Baru Algensindo. Klasifikasi pendekatan evaluasi ini hampir miripdengan pembagian menurut Worthen & Sanders. Measurment. Mary J. management oriented. 1987). Antes. Inroduction to Measurement Theory (California: Brooks/Cole Publishing Company. Peacock Publisher. lihat juga Hopkins. 1997). dan Model Stake atau model Countenance.E. Model UCLA. Seperti educational system model menurut Sudjana. Educational Evaluation: Alternative Approaches and Practical Guidelines (New York: Longman. adversary oriented. Menurutnya. Sanders. Dalam tulisan ini. Wendy M. 41-160. hal. Illionis: F. consumer oriented. 234-260. 1990). Lihat juga Sumadi Suryabrata. pendekatan yang responsif dan pendekatan Goal Free Evaluation. hal. dan illuminative model. Klasifikasi model evaluasi yang penulis sajikan dalam tulisan mengikuti model dari Sudjana dengan beberapa modifikasi dan tambahan. 13 Blaine R.11 Nana Sudjana dan Ibrahim. 12 Farida Yusuf Tayibnapis. pendekatan berorientasi kepada pemakai. expertise oriented. Dalam buku ini dibedakan pendekatan dengan model evaluasi. Lehman. ada enam pendekatan evaluasi. congruence model. model evaluasi diklasifikasi menjadi empat. 2001). Pendekatan evaluasi diklasifikasi menjadi: pendekatan eksperimental. Inc. Worthen & Sanders mengistilahkan dengan pendekatan evaluasi (evaluation approach).

Cit..juga Azwas Saifuddin. 1996). 1991). 244. New Delhi: Sage Publications. 26 Nana Sudjana & Ibrahim. 256.Op. Tes Prestasi: Fungsi dan Pengembangan Pengukuran Prestasi Belajar (Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Lihat juga Worthen & Sanders. 19 Ibid.Op.. 78. 7-12. hal. 17 Ibid. H.. Evaluasi Program. hal. Fetterman (Ed. 25 Untuk referensi model ini dapat juga dilihat dalam David M. Op. Nana dan Ibrahim.. 235 16 Referensi Analisis Butir Tes antara lain dapat dilihat dalam Ronald K. 20 Ibid. 24 Ibid. 68-70. 132-133. 241. hal. Qualitative Approaches to Evaluation in Education: The Silent Scientific Revolution (London: Praeger. 250. hal. Penelitian. 258 259. 22 Worthen & Sanders.. 21-22. 21 Farida Yusuf Tayibnapis. Educational..). 130-132. . 18 Ibid. hal. hal. Penelitian. Swaminathan. Cit. 23 Worthen & Sanders.. Cit. 1988). hal. Jane Rogers. Lihat juga Issac & Michael. hal. 15 Sudjana. Hambleton. hal. hal.. Fundamentals of Item Response Theory.

Pendekatan pembelajaran itu akan dapat memberikan pengalaman yang bermakna kepada peserta didik. Pengertian bermakna di sini karena dalam pembelajaran terpadu diharapkan peserta didik memperoleh pemahaman terhadap konsep-konsep yang mereka pelajari dengan melalui pengalaman-pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang sudah mereka pahami. Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya Kampus Lidah Wetan Abstrak: Pembelajaran terpadu merupakan pendekatan yang melibatkan beberapa bidang studi/ mata pelajaran. Pelaksanaan .JURNAL III EVALUASI DALAM PEMBELAJARAN TERPADU DI SEKOLAH DASAR Sutrisno Widodo Kurikulum dan Teknologi Pendidikan.

dan produk.pembelajaran terpadu diawali dari pemilihan dan pengembangan topik atau tema yang dilakukan guru bersama peserta didik. Kata Kunci: Pembelajaran terpadu. PENDAHULUAN berorientasi instruksional. (3) sistem evaluasi testing. maka dapat sifatnya terpadu (holistik). dan observasi terhadap kegiatan pembelajaran terpadu seyogyanya dilakukan dengan cermat. Jika hal ini dapat terpisahkan satu dengan lainnya. Evaluasi pada pembelajaran terpadu berorientasi pada program. Aspek Dari kenyataan tersebut terlihat jelas perkembangan yang satu saling terkait dan terjadinya kontradiksi antara proses mempengaruhi aspek perkembangan yang lain. perkembangan anak SD bersifat alamiah. dan penekanannya pada reproduksi Perkembangan anak Sekolah Dasar informasi. mental. Model jaring laba-laba dan Model keterpaduan 1. Perkembangan ini merupakan perkembangan dengan proses pendidikan/ pembelajaran yang phisik. pembelajaran/ pendidikan di Sekolah Dasar Bertolak dari berbagai gejala tersebut. proses. agar data dan informasi proses pelaksanaannya dapat terekam dangan sempurna sehingga evaluasi dapat dilakukan secara objektif. seksama. Model keterhubungan. dengan pengalaman diramalkan akan terjadi dampak negatif serta kehidupan dalam lingkungan sekitarnya. emosional dan sosial yang tidak dilaksanakan di Sekolah Dasar. cenderung bersifat holistik. dan dibiarkan terus berlanjut. Konsep-konsep dari bidang studi terkait dijadikan wahana pembelajaran dan penjelajahan topik atau tema. observasi merupakan komponen dasar. yang terjadi selama ini menunjukkan adanya maka dipandang perlu para guru Sekolah Dasar . dan penyelenggaraannya dilakukan dengan menggunakan alat evaluasi tes dan non-tes. Dalam mengevaluasi proses pembelajaran terpadu. terhadap mutu dan hasil Apabila kita cermati bersama proses pendidikan/pembelajaran di Sekolah Dasar.

yang cukup banyak diarahkan pada evaluasi (Depdikbud. pada pencapaian dampak pembelajaran/efek Evaluasi dalam proses pembelajaran merupakan aktivitas yang bertujuan untuk mendapatkan informasi berkaitan dengan berlangsung apabila peristiwaperistiwa otentik kinerja (performance) peserta didik. pembelajaran terpadu evaluasi tidak berbeda dengan pembelajaran merupakan pendekatan pembelajaran yang konvensional pada umumnya. 1998) dampak pengiring (nurturant effects). Pada pembelajaran terpadu peran Pandangan lain. dan juga dapat atau topik atau peristiwa tersebut peserta didik dimanfaatkan sebagai masukan dalam rangka belajar sekaligus proses dan isi berbagai mata perbaikan kualitas pembelajaran. baik yang menggunakan pendekatan terpadu Pendekatan berangkat dari teori pembelajaran maupun konvensional adalah yang menolak drill sebagai dasar pembentukan sama.kecenderungan yang relatif kuat dalam hal yang ada sekarang ini memulai untuk (Depdikbud. sebagai salah satu tolok ukur keberhasilan dari Dengan berpartisipasi di dalam eksplorasi tema suatu proses pembelajaran. Hal ini atau eksplorasi topik atau tema menjadi diharapkan hasil evaluasi dapat digunakan pengendali di dalam kegiatan pembelajaran. pelajaran secara serempak. Dalam pembelajaran terpadu perhatian pengetahuan dan struktur intelektual anak. Oleh karena itu memperhatikan dan menyesuaikan dengan berbagai hal yang perlu diperhatikan dalam tingkat perkembangan peserta didik melaksanakan evaluasi kegiatan pembelajaran (developmentally appropriate practice). seperti Pelaksanaan pendekatan pembelajaran . 1996): (1) terjadinya mengembangkan kompetensinya dalam pengkotakan-pengkotakan bidang studi/mata merancang pembelajaran dan merancang pelajaran khusunya untuk kelas-kelas tinggi di evaluasi terpadu pada setiap bidang studi yang Sekolah Dasar. (2) pembelajaran difokuskan akan dibelajarkan kepada peserta didiknya.

terutama dalam kepada peserta didik. Pengertian bermakna di rangka mengimbangi gejala penjejalan sini karena dalam pembelajaran terpadu kurikulum yang serin g terjadi dalam proses diharapkan peserta didik memperoleh pembelajaran di sekolah belakang ini. pembelajaran terpadu PEMBELAJARAN TERPADU merupakan suatu sistem pembelajaran yang .halnya dengan kompetensi bekerja sama. di samping dampak pembelajaran peserta didik. aktivitas pembelajaran terpadu. KETERBATASAN Pada dasarnya. terpadu lebih menekankan keterlibatan peserta didik dalam belajar. KONSEP PEMBELAJARAN pembuatan keputusan. pembelajaran proses maupun produk/ hasil pembelajaran. tetapi konsep -konsep dari Ditinjau dari segi pentahapan aktivitas bidang studi terkait dijadikan alat dan wahana evaluasi dapat dilakukan baik pada tahap untuk mempelajari dan mengeksplorasi topik perencanaan maupun pada tahap pelaksanaan atau tema. Sedangkan dari Apabila dibandingkan dengan segi sasaran evaluasi difokuskan baik kepada pendekatan konvensional. terpadu ini bertolak dari suatu tema atau topik menghargai pendapat orang lain. membuat peserta didik aktif terlibat dalam proses pembelajaran dan 2. Pendekatan ini lebih TERPADU mungkin menjadi sesuatu yang dikemukakan oleh John Dewey dengan konsep learning by Pembelajaran terpadu merupakan doing-nya. Tujuan dari tema ini bukan untuk (instructional effects). dapat d ipandang sebagai upaya untuk Pendekatan pembelajaran seperti ini akan memperbaiki kualitas (improvement quality) dapat memberikan pengalaman yang bermakna pendidikan di tingkat dasar. KARAKTERISTIK DAN dengan konsep lain yang sudah mereka KELEBIHAN SERTA pahami. literasi bidang studi. pendekatan belajar mengajar yang melibatkan Pendekatan pembelajaran terpadu beberapa bidang studi/ mata pelajaran. dan yang dipilih atau dikembangkan guru bersama sebagainya. pemahaman terhadap konsep-konsep yang mereka pelajari dengan melalui pengalamanpengalaman langsung dan menghubungkannya 3.

proses memiliki ciri -ciri: (1) berpusat pada menggali. pengalaman langsung pada anak. (3) dan otentik. selalu relevan dengan tingkat perkembangan (Fogarty. dan (6) hasil pembelajaran dengan konsep lain. (5) menyajikan kegiatan yang bersifat dalam satu bidang studi adalah peserta didik pragmatis sesuai dengan permasalahan yang memperoleh gambaran yang luas sebagaimana . diusahakan untuk menghubungkan satu konsep (5) bersifat luwes. bermakna. bahkan ide-ide yang dipelajari pembelajaran konvesional.1991). dan menemukan konsep serta anak (child centered). dan mengacu pada minat dan kebutuhan anak. satu keterampilan dengan keterampilan kebutuhan peserta didik. (2) kegiatan yang dipilih sesuai dengan memadukan antara subtema kebersihan. keadilan. Misalnya. guru secara sengaja anak. dan kerukunan yang ada pada mata (3) kegiatan belajar lebih bermakna bagi pelajaran Pkn semester II pada kelas II. (2) memberikan prinsip keilmuan secara holistik. di antaranya: (1) pada satu semester dengan ideide yang akan pengalaman dan kegaiatan belajar peserta didik dipelajari pada semester berikutnya. (4) pembelajaran terpadu keterhubungan adalah sebagai berikut: (1) menumbuh kembangkan keterampilan berfikir dampak positif dari mengkaitkan ide-ide anak. aktif mencari. lain. (4) menyajikan konsep dari berbagai pembelajaran terpadu secara sengaja bidang studi dalam suatu proses pembelajaran. peserta didik sehingga hasil belajar akan dapat Beberapa kelebihan model bertahan lebih lama. satu topik dengan topik dapat berkembang sesuai dengan minat dan lain. tugas -tugas yang dilakukan dalam satu Kelebihan-kelebihan pada hari dengan tugas -tugas yang dilakukan pada pembelajaran terpadu dibandingkan dengan hari berikutnya. Pembelajaran terpadu akan pemisahan antar bidang studi tidak begitu jelas.memungkinkan peserta didik baik secara Pembelajaran terpadu sebagai suatu individual maupun kelompok.

toleransi. Tidak hanya evaluasi dampak Kekurangan dari model keterhubungan instruksional (instructional effect). maka studi. (2) tidak mendorong guru (nurturant effect). komunikasi. Model ini merupakan model studi dalam satu semester. serta mengasimilasi ide-ide terutama terletak dalam aspek evaluasi yang secara terus -menerus sehingga memudahkan lebih banyak menuntut guru untuk melakukan terjadinya proses transfer ide-ide dalam evaluasi tidak hanya terhadap hasil tetapi juga memecahkan masalah. Keterbatasan itu memperbaiki. kemudian pembelajaran terpadu yang menggunakan . dalam pelaksanaannya. dan memahami standar kompetensi Model J aring LabaLaba (Webbed maupun kompetensi dasar dari seluruh bidang models). tetapi juga ini adalah: (1) masih kelihatan terpisahnya dan mungkin lebih banyak dampak pengiring antar bidang studi. (2) peserta didik anak seperti kerja sama. internalisasi. terhadap proses.sering ditemui dalam lingkungan anak. maka usaha untuk mengembangkan sebelum mendesain pembelajaran terpadu keterhubungan antar bidang studi menjadi hendaknya para guru mengumpulkan. terabaikan menyusun. sehingga isi pelajaran memang menghendaki teknnik evaluasi yang tetap terfokus tanpa merentangkan koseplebih beragam dibanding dengan pembelajaran konsep serta ide-ide antar bidang studi. (3) menghubungkan ide -ide Dalam pendekatan pembelajaran dalam suatu bidang studi memungkinkan terpadu mengandung keterbatasan terutama peserta didik mengkaji. (3) biasa. Pembelajaran terpadu untuk bekerja secara tim. dan (6) suatu bidang studi yang terfokus pada suatu menumbuh kembangkan keterampilan sosial aspek tertentu. mengembangkan konsep-konsep kunci secara dan respek atau menghargai terhadap gagasan terus menerus. sehingga terjadilah proses orang lain. mengkonseptualisasi. dalam memadukan ide-ide dalam satu bidang Bertolak dari hal-hal tersebut.

beraneka ragam. asesmen alternatif dan cara formal. guru lebih memusatkan pengembangan skill. (2) karena sulitnya menyeleksi tema. MODEL-MODEL dan peserta didik. Evaluasi Dalam Pembelajaran. Model keterhubungan adalah model Beberapa kelebihan model Jaring Laba-Laba. antara lain: (1) sulitnya menyeleksi Evaluasi pembelajaran terpadu dapat tema. Untuk . yaitu: (1) penyeleksian tema sesuai Sutrisno.dilanjutkan dengan proses pendesainan/ pendekatan tematik (Fogarty.. sub -subtemanya dengan PEMBELAJARAN TERPADU memperhatikan kaitannya dengan bidangYANG DISARANKAN DI SD bidang studi. 1991). (3) memudahkan perancangan. Tema bisa ditetapkan dengan negosiasi antara guru 4. pembelajaran. dan pengembangan sosial perhatian pada kegiatan dari pada dan afektif peserta didik dengan memanfaatkan pengembangan konsep. (3) dalam proses pengetahuan dan pemahaman peserta didik. perancangan pembelajaran terpadu.. Pendekatan ini dimulai dengan menentukan tema tertentu. dengan minat akan memotivasi anak untuk pengintegrasian kurikulum dengan konsepbelajar. KONSEP EVALUASI dan ide-ide berbeda yang terkait. misalnya transportasi . (5) memberikan kemudahan bagi peserta didik dalam melihat kegiatan-kegiatan 5. (4) pendekatan tematik dapat memotivasi peserta didik. PEMBELAJARAN TERPADU Model Jaring Laba-laba mempunyai kelemahan. diartikan sebagai evaluasi yang berupaya maka ada kecenderungan untuk merumuskan mencari informasi tentang pencapaian tema yang dangkal. (2) model Jaring Laba-Laba lebih konsep dari masing-masing bidang studi mudah dilakukan oleh guru yang belum menuntut adanya sumber belajar yang berpengalaman. models). Dari sub -subtema ini dikembangkan aktivitas belajar yang harus Model Keterhubungan (Connected dilakukan peserta didik.

memberikan perhatian pula pada refleksi diri Berbeda dengan model Jaring Laba-laba yang peserta didik (self reflecti on). Model ini merupakan pembelajaran pa da prinsip-prinsip sebagai berikut: (1) terpadu yang menggunakan pendekatan antar evaluasi hendaknya berbasis unjuk kerja bidang studi. dan pembelajaran terpadu hendaknya sikap yang diajarkan dalam satu semester dari mengutamakan Penilaian Acuan beberapa bidang studi (IPA. 1991). (7) lebih memberikan perhatian yang konsep. keterampilan. (5) dalam pelaksanaan penilaian dan bertumpang tindih merupakan hal terakhir umpan balik hendaknya dimanfaatkan sebesaryang ingin dicari dan dipilih oleh guru dalam besarnya untuk pengembangan peserta didik tahap perencanaan program. (3) evaluasi hendaknya dalam beberapa bidang studi (Fogarty. maka besar portfolio asessment hendaknya dalam model keterpaduan tema yang berkaitan dimanfaatkan. (4) karena menuntut pemilihan tema dan penilaian perlu memdapatkan perhatian yang pengembangannya sebagai langkah awal. dan sikap langkah evaluasi hendaknya peserta didik yang saling tumpang tindih/ overlapping di dilibatkan.Model Keterpaduan (Integrated menemukan asesmen alternatif didasarkan models). dan sikap yang memiliki lebih besar pada nurturant effect ( kemampuan keterhubungan yang erat dan tumpang tindih di kerja sama. (2) pada setiap menemukan keterampilan. saling tergantung . Matematika. Pertama guru yang bersifat invidual dan sosial. penilaian terhadap proses. perlu menetapkan prioritas kurikuler dan mendapat pe rhatian yang besar. (6) evaluasi menyeleksi konsep-konsep. keterampilan. Model ini diusahakan dengan sehingga selain memanfaatkan penilaian cara menggabungkan bidang studi dengan cara produk. Selanjutnya dipilih beberapa (PAN). Patokan(PAP) daripada penilaian acuan norma dan Bahasa). IPS. konsep. tenggang rasa.

(10) evaluasi harus bersfat guru tidak perlu mengulang kembali materi komprehensif (menggambarkan keseluruhan yang tumpang tindih. (1) program. antara lain: (1) sulitnya evaluasi dapat dilakukan baik pada tahap menerapkannya secara penuh. sehingga tercapailah aktivitas belajar) dan sistematis ( merupakan efisiensi dan efektivitas pembelajaran. (4) SASARAN EVALUASI 7. (8) perlu memandang peserta Model Keterpaduan ini mempunyai didik itu adalah suatu keutuhan yang tak beberapa kelebihan. baik dalam proses maupun produk/hasil pembelajaran. Evaluasi proses terhadap peserta merumuskan tujuan evaluasi apa yang ingin didik sebagai pembelajar meliputi: (1) dicapai melalui kegiatan evaluasi ini. TAHAP-TAHAP EVALUASI PEMBELAJARAN TERPADU Evaluasi pembelajaran terpadu mencakup proses dan produk dengan sasaran Pada tahap pertama perencanaan. (9) evaluasi dilihat dimungkinkan pemahaman antar bidang studi. Sedangkan beberapa kelemahan dari Ditinjau dari segi pentahapan kegiatan model keterpaduan ini. Sedangkan dari yang diprioritaskan. antara lain: (1) terpisahkan (holistik). dan lain-lain). kestuan informasi bukan penggalan informasi). baik perkembangan konseptual anak. (3) guru. (2) guru harus perencanaan maupun pada tahap pelaksanaan menguasai konsep. (3) model ini memerlukan segi sasaran evaluasi difokuskan baik kepada tim antar bidang studi. perencanaannya maupun pelaksanaannya. (2) menentukan kriteria keberhasilan . peserta didik dan guru serta evaluasi terhadap Tahap ini kegiatan.kegiatan mencakup. (2) tingkat tujuan ingin dicapai oleh peserta didik maupun kemampuan menghadapi tantangan. (3) dimensional. dan keterampilan kegiatan pembelajaran terpadu.antara berbagai bidang studi. sebagai proses yang terus menerus dan multi (2) memotivasi peserta didik dalam belajar. sikap.

(2) masukan dari peserta pengolahan informasi dan saran-saran . pelaksanaan. (1) mempertimbangkan seluruh informasi yang laporan. dan unit. Penyajian Laporan. dan evaluasi aspek belajar yang harus dicapai sebagai pembelajar. sampai dengan akhir proses pembelajaran. lainnya terhadap strategi dan pengelolaan Tahap terakhir. baik oleh guru maupun kemampuan peserta didik berkomunikasi. dan lainterkumpul dan pengolahannya. (3) menentukan teknik dan alat kerasionalan argumentasi. berkelanjutan. (1) daftar cek dan komprehensif dan diakhiri dengan yang dilakukan oleh rekan / kolega guru sejumlah rekomendasi dan saransaran. lebih dari sekedar salah satu perencanaan. Dalam kelompok. kelengkapan pembelajaran yang disediakan Tahap ke tiga.interaksi peserta didik dengan anak lainnya. sistematis. diagram. (2) Evaluasi proses terhadap guru evaluasi h arus dilihat sebagai proses yang mencakup: (1) proses pembelajaran terdiri. pemilihan tema. (4) program. terhadap guru dilakukan melalui. (3) materi pembelajaran yang diarahkan pada pro ses maupun produk serta mencakup. Evaluasi laporan ini dilakukan secara logis. kelompok. topik. (2) gambar. video dan kaset. (1) evaluasi berlangsung sejak awal didik. (8) penggunaan bahasa dengan baik tahap proses pelaksanaan ini harus disadari dan benar sesuai tingkat kemampuan peserta bahwa. (2) pendekatan dan metode yang bagian suatu program. (5) peserta didik. Tindal lanjut. grafik. pelaksanaan. Hasil pembelajaran lainnya. (6) kerjasama dan ukur atau instrumen yang akan digunakan kekompakan serta produktivitas kegiatan dalam proses evaluasi. (7) partisipasi anak dalam diskusi Tahap ke dua. (4) yang ingin dicapai. (3) rekaman. Laporan hasil penilaian Evaluasi terhadap produk kegiatan disusun dengan jalan memperhitungkan dan terhadap peserta didik dilakukan melalui. Penyusunan dan guru. Penyusunan lain. (3) evaluasi dapat digunakan.

kesimpulan yang rasional. PEMBELAJARAN TERPADU DI dan program dapat didokumentasikan dalam SEKOLAH DASA R suatu portofolio. = aspek kognisi/intelektual. Hasil-hasil evaluasi proses. kemampuan dimanfaatkan untuk meningkatkan kegiatan menyajikan pokok pikiran. sebagai dampak instruksional maupun dampak pengiring. = aspek lain. Perlu Evaluasi program mencakup. menarik pembelajaran. CAKUPAN EVALUASI portofolio. orang tua dan rekan guru lainnya. = aspek sosial = aspek etis = aspek pribadi dan sebagainya. (7) masukan orang tua. Evaluasi dengan menggunakan 8. (1) dikemukakan bahwa tidak seluruh kegiatan catatan anekdot/file card . didik. (6) secara terus menerus.didik. ditindak -lanjuti secara operasional. umpan balik perkembangan peserta didik. Portofolio ini dapat dijadikan salah satu masukan bagi guru untuk Cakupan evaluasi pembelajaran memutuskan atau menetapkan nilai atau grade terpadu dapat disusun dalam matrik sebagai Tahapan Perencanaan Pelaks anaan sasaran Proses Bagaimana peserta didik berpartispasi dalam Bagaimana aktivitas dinamika interaksi dan kemampuan berfikir peserta menentukan tema-tema terkait. Mencermati cakupan evaluasi rekaman guru pada pembelajaran terpadu seperti pada matrik misalnya untuk dilengkapi di dengan hasil pengamatan. produk. Hasil Ba gaimana reaksi pesert didik terhadap Perubahan/perkembangan perilaku apa yang terjadi pada peserta didik? rencana yang telah disusun. lembaran . (5) diskusi peergroup . (4) konferensi gurukegiatan karena evaluasi yang diselenggarakan siswa. (3) rubrik. (2) analisis kesalahan akhir berupa tindak lanjut dilakukan pada akhir peserta didik.

maka evaluasi pembelajaran terpadu kelompok kecil. berlangsung dalam Dialog Pes erta Didik dengan Guru. guru dapat yang cukup tentang bagaimana seorang peserta . Dalam hal ini Karena aspek perilaku yang menjadi sasaran peserta didik dapat diberi tugas untuk evaluasi banyak variasinya. 1996). beberapa tema. Kegiatan evaluasi dimulai dengan pengamatan Dalam melakukan evaluasi pembelajaran langsung yang bersifat informal sampai kepada terpadu. Evaluasi Diri P eserta Didik-Guru. Dengan formal tidak / belum memberikan informasi bekerja sama dengan peserta didik. berikut ini. METODE EVALUASI DALAM juga mel akukan evaluasi diri untuk perbaikan PEMBELAJARAN TERPADU dalam perencanaan maupun pelaksanaan pembelajaran. dan Cara ini dapat dibatasi untuk masalah khusus. kolaboratif. Peserta didik dapat menyusun sendiri pertanyaan atau butir soal dan kemudian menjawabnya sendiri.atas. teknik dan alat evaluasi yang bervariasi pula. matematika atau IPS. Dialog peserta didik dan Pada pembelajaran terpadu penekanan guru dapat pula dilakukan dalam kelompok evaluasi terletak pada proses maupun hasil. Terdapat beberapa metode evaluasi Tes dan Ujian. Pada pembelajaran yang dapat digunakan dalam mengevaluasi terpadu dilakukan juga tes maupun ujian baik proses dan hasil pada pembelajaran terpadu untuk satu tema pembelajaran maupun untuk (Depdikbud. evaluasi diri juga dapat dipakai. maka diperlukan merangkum hasil diskusi tersebut. Perlu juga diketahui bahwa tes Observasi dan Dokumentasi. Selanjutnya guru dapat 9. berorientasi pada perkembangan intelektual seperti halnya dalam mata pelajaran peserta didik serta lingkungan budayanya. tes formal yang sahih/valid dan handal/reliabel. kecil dan direkam secara penuh. bersifat multi dimensional. konteks yang alami.

verbal. bagaimana mereka dalam integral dari interaksi sosial. ini guru berusaha memahami tugas maupun Oleh karena itu perlu dilakukan juga cara lain situasi dari sudut pandang peserta didik. untuk satu unit tema atau beberapa unit tema Pengamatan Orang tua. Dalam pemaparan ini dapat diri anak. Kegiatan penting dalam proses interaksi antara guru dengan peserta didik. dan terlibat. pembelajaran terpadu adalah observasi untuk Dalam kelas pembelajaran terpadu pengungkapan perilaku/ unjuk kerja nonpeserta didik asyik sibuk. orangtua dianggap amat positif untuk Catatan ini berisi rekaman sekilas tentang meningkatkan prestasi belajar peserta didik. satu semester. aktif. Sekaligus memungkinkan tes. misalnya tersebut. Dalam kegiatan menggunakan kemampuan intelektualnya. Dalam berorientasi dalam kaitan kemajuan dan pembelajaran terpadu.melakukan observasi pada saat itu. sistematika penyajian dan dapat juga dilakukan dengan cara guru pengetahuan lain untuk memecahkan masalah merekam catatan kejadian di kelas. ditekankan pentingnya penggunaan kosa kata Observasi dan dokumentasi berkala yang tepat. dan yaitu dengan analisis masalah dan pemaparan sementara itu evaluasi diri semakin kuat pada pemecahannya. Dari sini didik sebagai individu berpikir dan memproses kelihatan bahwa evaluasi sebagai bagian konsep -konsep. . untuk melakukan kekurangan anak/ pesrta didik yang evaluasi proses digunakan alat evaluasi nonbersangkutan. sekilas tentang kesan yang tampak kelihatan Karena itu masukan dari orangtua akan dapat bermakna selama proses pembelajaran membantu menghapus penafsiran yang keliru berlangsung di kelas. Keterlibatan selama satu periode satu tahun. Catatan ini dapat juga dari pihak guru dan peserta didik. Penyelenggaraan pengamatan oleh Pada dasarnya alat evaluasi terdiri dari orangtuapun memungkinkan guru dan orangtua dua macam yaitu tes dan non-tes.

Kepercayaan diri (Sumber: Buku Materi Pokok Pembelajaran Terpadu. ALAT EVALUASI DALAM evaluasi pembelajaran terpadu.Kemampuan kerja sama . dalam hal ini observasi merupakan komponen dasar dalam 10. Berikut ini PEMBELAJARAN TERPADU disajikan contoh alat evaluasi berupa daftar cek dan skala penilaian/penilaian berskala pelaksanaan pembelajaran terpadu. Alat Evaluasi Daftar Cek Keterampilan Keterampilan Intelektual dan Sosial Jenis Kemampuan Ya Belum Berkembang Intelektual: .Keterbukaan . dan selalu membuat catatan. 1996) Alat Evaluasi Skala Penilaian /Penilaian Berskala Pelaksanaan Pembelajaran Terpadu Pelaksanaan Kegiatan Nama (kelompok/individu) : -------------------------------------- . 1995).Kreativitas . kegiatan peserta didik dalam menyelesaikan kemudian akan dianalisis.Kepedulian lingkungan .Kemandirian termasuk percaya diiri dan kontrol diri .Guru hendaknya sadar akan aksi dan reaksi Observasi yang cermat terhadap peserta didik. mengevaluasi perkembangan peserta didik (Charbonneau & Reider.Kepedulian terhadap orang lain . Hasil analisis ini tugas dan bagaimana mereka saling dapat dipakai sebagai bahan pertimbangan/ berinteraksi memberikan data pada guru dalam masukan dalam menilai proses pembelajaran rangka membantu perencanaan kurikulum dan terpadu.Rasa ingin tahu Sosial: .

penggunaan sumber c. Proses Pembelajaran a. Pengelolaan Kelas: a. penggunaan bahan dan alat d. 1996) 11. beberapa kesimpulan yang dapat dipetik. memotivasi kerja kelompok c.Skor Aspek Yang Dinilai 1 2 3 4 Keterangan A. Pembelajaran terpadu merupakan terekam dangan pendekatan pembelajaran yang evaluasi dapat melibatkan beberpa bidang studi dan bertujuan untuk memberikan pengalaman bermakna kepada peserta pelaksanaannya sempurna sehingga dilakukan secara objektif . bertindak c. Keberanian a. interaksi f. antusiasme b. kreativitas siswa e. KESIMPULAN observasi merupakan komponen dasar. agar data dan dapat terhadap Berdasarkan pada uraian di atas. partisipasi siswa d. perhatian siswa c. penggunaan waktu B. pemberian informasi b. stimultanius b. berkomunikasi D. kejelasan b. dan kegiatan pembelajaran terpadu seyogyanya dilakukan seksama. yaitu. kerja sama antar siswa E. Ketaatan kepada perencanaan a. (Sumber: Buku Materi Pokok Pembelajaran Terpadu. . memotivasi indivdu C. Produk/ Hasil*) *) Dirinci aspek-aspek hasil belajar yang akan dinilai. ada dengan cermat. informasi proses a.

Evaluasi pada pembelajaran terpadu Curricula. Materi Pokok Konsep-konsep dari bidang studi pembelajaran Terpadu PGSD . Depdikbud. dan produk. Manon P.. Jakarta: terkait dijadikan wahana pembelajaran BP3GSD. Wardani. Penerbit: Universitas Terbuka . dan berorientasi pada proses DAFTAR PUSTAKA pembelajaran yang disesuaikan dengan perkembangan peserta didik. proses. 2000. dan penjelajahan topik atau tema. Fogarty. evaluasi tes dan non-tes. Barbara E. dan penyelenggaraannya IGK. R. Tokyo: Allyn and pengembangan topik atau tema yang Bacon dilakukan guru bersama peserta didik. The Integrated Elementary diawali dari pemilihan dan Classroom. b. I llonis: IRI/ berorientasi pada program. & Reider. 1991. Inc. Skylight Publishing. Pelaksanaan pembelajaran terpadu 1995.didik. Jakarta. How To Integrate The c. Charboneau. London. 1996. Palatine. Materi Pokok dilakukan dengan menggunakan alat Pembelajaran Terpadu PGSD.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->