BAB.

I Pendahuluan

E

valuasi merupakan subsistem yang sangat penting dan sangat

di butuhkan dalam setiap sistem pendidikan, karena evaluasi dapat mencerminkan seberapa jauh perkembangan atau kemajuan hasil pendidikan. Dengan evaluasi, maka maju dan mundurnya kualitas pendidikan dapat diketahui, dan dengan evaluasi pula, kita dapat mengetahui titik kelemahan serta mudah mencari jalan keluar untuk berubah menjadi lebih baik ke depan. Tanpa evaluasi, kita tidak bisa mengetahui seberapa jauh keberhasilan siswa, dan tanpa evaluasi pula kita tidak akan ada perubahan menjadi lebih baik,maka dari itu Jadi secara umum evaluasi adalah suatu proses sistemik umtuk mengetahui tingkat keberhasilan suatu program. Evaluasi pendidikan dan pengajaran adalah proses kegiatan untuk mendapatkan informasi data mengenai hasil belajar mengajar yang dialami siswa dan mengolah atau menafsirkannya menjadi nilai berupa data kualitatif atau kuantitatif sesuai dengan standar tertentu. Hasilnya diperlukan untuk membuat berbagai putusan dalam bidang pendidikan dan pengajaran.
Fungsi Evaluasi Pendidikan . Sangat diperlukan dalam pendidikan antara lain memberi informasi yang dipakai sebagai dasar untuk :
1) Membuat kebijaksanaan dan keputusan. 2) Menilai hasil yang dicapai para pelajar. 3) Menilai kurikulum. 4) Memberi kepercayaan kepada sekolah. 5) Memonitor dana yang telah diberikan . 6) Memperbaiki materi dan program pendidikan

Hasil evaluasi yang didapat sampai sekarang tentang dunia pendidikan Nasional kita cukup memperihatinkan, tidak hanya

dalam segi kualitas tapi juga kegagalan dalam membentuk karakter building generasi muda bangsa Pendidikan menjadi tanggung jawab semua pihak, dimana tujuan pendidikan adalah memanusiakan manusia. membentuk SDM yang berkualitas. Namun sayang kebijakan pendidikan yang ada sampai sekarang masih jauh dari harapan, karena kebijakan pendidikan seperti kata pakar pendidikan dari Universitas Nasional Jakarta yaitu HAR Tilaar kebijakan pendidikan di Indonesia sesuai dengan pameo ganti menteri ganti kebijakan. Mengingat terlalu luasnya cakupan dalam evaluasi pendidikan maka penulis akan membatasi hanya pada evaluasi hasil belajar siswa dikarenakan masalah ini sangat sesuai dengan tugas penulis sebagai guru.
Bab. II
Tugas Mata Kuliah Manajemen Kebijakan Pendidikan

2
ANALISIS KESENJANGAN DALAM EVALUASI PENDIDIKAN A. Keadaan Ideal

Seperti yang telah dikemukakan oleh Dr. Muchtar Buchori tujuan dan fungsi evaluasi adalah :
1.

untuk mengetahui kemajuan peserta didik setelah ia

mengalami pendidikan selama jangka waktu tertentu
2.

untuk mengetahui tingkat efisiensi metode-metode

pendidikan yang dipergunakan pendidik selam jangka

waktu tertentu tadi. Maka untuk memperoleh hasil evaluasi yang sebaik-baiknya, para evaluator dalam hal ini para guru dituntut untuk memiliki hal hal sebagai berikut : 1. Mampu melaksanakan, persyaratan pertama yang harus dipenuhi oleh evaluator adalah bahwa mereka harus memiliki kemampuan untuk melaksanakan evaluasi yang didukung oleh teori dan keterampilan praktik. 2.Cermat, dapat melihat celah-celah dan detail dari program serta bagian program yang akan dievaluasi. 3.Objekti f, tidak mudah dipengaruhi oleh keinginan pribadi, atau juga keinginan/tekanan dari pihak lain agar dapat mengumpulkan data sesuai dengan keadaannya, selanjutnya dapat mengambil kesimpulan sebagaimana diatur oleh ketentuan yang harus diikuti. 4. Sabar dan tekun , agar di dalam melaksanakan tugas dimulai dari membuat rancangan kegiatan dalam bentuk menyusun proposal,
Tugas Mata Kuliah Manajemen Kebijakan Pendidikan

3

Teknik evaluasi digolongkan menjadi 2 yaitu teknik tes dan teknik non Tes. 1. Teknik non tes meliputi ; skala bertingkat, kuesioner,daftar cocok, wawancara, pengamatan, riwayat hidup.

tetangga atau anggota keluarganya. Si penjawab diminta untuk memberikan tanda silang (X) atau cek (¥) pada jawaban yang ia anggap sesuai. Kuesioner langsung adalah kuesioner yang dijawab langsung oleh orang yang diminta jawabannya. kuesioner dibagi menjadi kuesioner langsung dan kuesioner tidak langsung. Dan bila ditinjau dari segi cara menjawab maka kuesioner terbagi menjadi kuesioner tertutup dan kuesioner terbuka. Angka-angka tersebut kemudian dapat dipergunakan untuk melakukan perbandingan terhadap angka yang lain. b. Kuesioner tertututp adalah daftar pertanyaan yang memiliki dua atau lebih jawaban dan si penjawab hanya memberikan tanda silang (X) atau cek (¥) Tugas Mata Kuliah Manajemen Kebijakan Pendidikan 20 pada awaban yang ia anggap sesuai. d. suatu cara yang dilakukan secara lisan yang berisikan pertanyaan-pertanyaan yang sesuai dengan tujuan informsi yang . apabila yang hendak dimintai jawaban adalah seseorang yang buta huruf maka dapat dibantu oleh anak. Rating scale atau skala bertingkat menggambarkan suatu nilai dalam bentuk angka. Daftar cocok adalah sebuah daftar yang berisikan pernyataan beserta dengan kolom pilihan jawaban. Sedangkan kuesiioner tidak langsung dijawab oleh secara tidak langsung oleh orang yang dekat dan mengetahui si penjawab seperti contoh. Dari segi yang memberikan jawaban. c. Sedangkan kuesioner terbuka adalah daftar pertanyaan dimana si penjawab diperkenankan memberikan jawaban dan pendapat nya secara terperinci sesuai dengan apa yang ia ketahui. Angka-angak diberikan secara bertingkat dari anggak terendah hingga angkat paling tinggi. Wawancara. Kuesioner adalah daftar pertanyaan yang terbagi dalam beberapa kategori.a.

e. 2. evaluasi ini dilakukan dengan mengumpulkan data dan informasi mengenai objek evaluasi sepanjang riwayat hidup objek evaluasi tersebut. (2) Observasi sistematik. Pengamatan atau observasi. Teknik Tes . Kedua adalah wawancara terpimpin dimana pewawancara telah menyusun pertanyaan pertanyaan terlebih dahulu yang bertujuan untuk menggiring penjawab pada informsi. pengamat tidak terlibat dalam kelompok yang diamati. Pengamat telah Tugas Mata Kuliah Manajemen Kebijakan Pendidikan 21 membuat list faktor faktor yang telah diprediksi sebagai memberikan pengaruh terhadap sistem yang terdapat dalam obejek pengamatan.hendak digali. yaitu pertama. wawancara bebas yaitu si penjawab (responden) diperkenankan untuk memberikan jawaban secara bebas sesuai dengan yang ia diketahui tanpa diberikan batasan oleh pewawancara. Pengamatan atau observasi terdiri dari 3 macam yaitu : (1) observasi partisipan yaitu pengamat terlibat dalam kegiatan kelompok yang diamati. Riwayat hidup. adalah suatu teknik yang dilakuakn dengan mengamati dan mencatat secara sistematik apa yang tampak dan terlihat sebenarnya. wawancara dibagi dalam 2 kategori.informasi yang diperlukan saja. f.

Sementara Tesmer menyatakan fo r m a tive evaluation is a judgement of the strengths and weakness of instruction in its developing stages.Dalam evaluasi pendidikan terdapat 3 macam tes yaitu : a. dirumuskan dengan mengacu pada tingkat kematangan siswa. diagnostik a. sumatif c. Artinya TIK dirumuskan dengan memperhatikan kemampuan awal anak dan . dan dimaksudkan untuk mengetahui sejauh manakah suatu proses pembelajaran telah berjalan sebagaimana yang direncanakan. Ukuran Tugas Mata Kuliah Manajemen Kebijakan Pendidikan 22 keberhasilan atau kemajuan siswa dalam evaluasi ini adalah penguasaan kemampuan yang telah dirumuskan dalam rumusan tujuan (TIK) yang telah ditetapkan sebelumnya. Wiersma menyatakan formative testing is done to monitor student progress over period of time . Formatif Evaluasi formatif adalah evaluasi yang dilakukan pada setiap akhir pembahasan suatu pokok bahasan / topik. Winkel menyatakan bahwa yang dimaksud dengan evaluasi formatif adalah penggunaan tes-tes selama proses pembelajaran yang masih berlangsung. formatif b. agar siswa dan guru memperoleh informasi ( feed b a ck) mengenai kemajuan yang telah dicapai. TIK yang akan dicapai pada setiap pembahasan suatu pokok bahasan. for purpose of revising the instruction to improve its effectiveness and appeal. Evaluasi ini dimaksudkan untuk mengontrol sampai seberapa jauh siswa telah menguasai materi yang diajarkan pada pokok bahasan tersebut.

Winkel mendefinisikan evaluasi sumatif Tugas Mata Kuliah Manajemen Kebijakan Pendidikan 23 . Sementara bagi siswa yang telah berhasil akan melanjutkan pada topik berikutnya. bahkan bagi mereka yang memiliki kemampuan yang lebih akan diberikan pengayaan. Sumatif Evaluasi sumatif adalah evaluasi yang dilakukan pada setiap akhir satu satuan waktu yang didalamnya tercakup lebih dari satu pokok bahasan. b. Dengan kata lain evaluasi formatif dilaksanakan untuk mengetahui seberapa jauh tujuan yang telah ditetapkan telah tercapai. Tindak lanjut dari evaluasi ini adalah bagi para siswa yang belum berhasil maka akan diberikan r em ed ia l. yaitu materi tambahan yang sifatnya perluasan dan pendalaman dari topik yang telah dibahas. dan dimaksudkan untuk mengetahui sejauhmana peserta didik telah dapat berpindah dari suatu unit ke unit berikutnya.tingkat kesulitan yang wajar yang diperkiran masih sangat mungkin dijangkau/ dikuasai dengan kemampuan yang dimiliki siswa. Dari hasil evaluasi ini akan diperoleh gambaran siapa saja yang telah berhasil dan siapa yang dianggap belum berhasil untuk selanjutnya diambil tindakan-tindakan yang tepat. yaitu bantuan khusus yang diberikan kepada siswa yang mengalami kesulitan memahami suatu pokok bahasan tertentu.

Pada tahap awal dilakukan terhadap calon siswa sebagai input. Dalam hal ini evaluasi diagnostik dilakukan untuk mengetahui kemampuan awal atau pengetahuan prasyarat yang harus dikuasai oleh siswa. sehingga guru dapat memberi bantuan secara dini agar siswa tidak tertinggal terlalu jauh. baik pada tahap awal.sebagai penggunaan tes-tes pada akhir suatu periode pengajaran tertentu. Sementara pada tahap akhir evaluasi . Diagnostik Evaluasi diagnostik adalah evaluasi yang digunakan untuk mengetahui kelebihan-kelebihan dan kelemahan. Evaluasi diagnostik dapat dilakukan dalam beberapa tahapan. bahkan setelah selesai pembahasan suatu bidang studi. Pada tahap proses evaluasi ini diperlukan untuk mengetahui bahanbahan pelajaran mana yang masih belum dikuasai dengan baik. selama proses. maupun akhir pembelajaran. c. yang meliputi beberapa atau semua unit pelajaran yang diajarkan dalam satu semester.kelemahan yang ada pada siswa sehingga dapat diberikan perlakuan yang tepat.

Evaluator tidak terikat pada satu sekolah demikian pula sebaliknya. Evaluator tidak berwennag untuk memberikan rekomendasi terhadap keberlangsungan sebuah program. 4. 2. Perbandingan Tes Diagnostik. Evaluasi adalah seni. memperoleh dan menyajikan informasi yang berguna untuk menilai alternatif keputusan.all 1971). Evaluasi sendiri memiliki beberapa prinsip dasar yaitu . Pelaku evaluasi atau evaluator tidak memberikan jawaban atas suatu pertanyaan tertentu. 5. Penelitian evaluasi adalah tanggung jawab tim bukan perorangan.diagnostik ini untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa atas seluruh materi yang telah dipelajarinya. dan menentukan Evaluasi merupakan kegiatan pengumpulan kenyataan mengenai proses pembelajaran secara sistematis untuk menetapkan apakah terjadi perubahan terhadap peserta didik dan sejauh apakah perubahan tersebut mempengaruhi kehidupan peserta didik. Evaluator hanya membantu memberikan alternatif.al 1971 mengatakan bahwa evaluasi adalah proses menggambarkan. 1. guru maupun program untuk menilai Memberi tanda telah mengikuti suatu program. Tes Formatif. . 3. tidak ada evaluasi yang sempurna. meski dilkukan dengan metode yang berbeda. Evaluasi bertujuan membantu pemerintah dalam mencapai tujuan pembeljaran bagi masyrakat. dan Tes Sumatif Ditinjau dari Tes Diagnostik Tes Formatif Tes Sumatif Fungsinya mengelompokkan siswa berdasarkan kemampuannya Umpan balik bagi siswa. (dikutip dari Bloom et. Stufflebeam et.

7. sekolah. metode pengajaran. media dan bahan beljar. input. Penentuan tindak lanjut pengembangan PRINSIP PRINSIP EVALUASI 1. Evaluasi pendidikan memiliki beberapa fungsi yaitu . Dengan demikian dapat dimengerti bahwa sesungguhnya evaluasi adalah proses mengukur dan menilai terhadap suatu objek dengan menampilkan hubungan sebab akibat diantara faktor yang mempengaruhi objek tersebut. Koherensi 6. Fungsi penempatan 4. materi pembelajaran dan metode pengjaran. Fungsi selektif 2. Keterpaduan 2. transformasi adalah segala unsur yang terkait dengan proses pembelajaran yaitu . 9. evaluasi harus berkaitan dengan materi pengajaran yang telah dipelajari dan sesuai dengan ranah kemampuan peserta didik yang hendak diukur. Evaluasi memberikan gambaran deskriptif yang jelas mengenai hubungan sebab akibat. Evaluator hendaknya mampu membedakan yang dimaksud dengan evaluasi formatif. Pedagogis 8. Keterlibatan peserta didik 4. Proses pembelajaran memiliki 3 hal penting yaitu. Sedangkan output adalah capaian yang dihasilkan dari proses pembelajaran. bukan terpaku pada angka soalan tes. hingga perlu pengalaman untuk pendalaman metode penggalian informasi. 1. guru. jika diperlukan revisi maka lakukanlah revisi. Perlu adanya tool penilai dari aspek pedagogis untuk melihat perubahan sikap dan perilaku sehingga pada akhirnya hasil evaluasi mampu menjadi motivator bagi diri siswa. dan lainnya. evauasi harus dilakukan dengan prinsip keterpaduan antara tujuan intrusional pengajaran. tapi kebutuhan mutlak. Evaluasi akan mntap apabila dilkukan dengan instrumen dan teknik yang aplicable. Hasil evaluasi haruslah menjadi aalat akuntabilitas atau bahan pertnggungjawaban bagi pihak yang berkepentingan seeprti orangtua siswa. sarana penunjang dan sistem administrasi. 4. 3. 10.6. Fungsi keberhasilan Maksud dari dilakukannya evaluasi adalah . 8. Evaluasi memerlukan data yang akurat dan cukup. transformasi dan output. 1. Perbaikan sistem 2. Tujuan evaluasi adalah untuk melihat dan mengetahui proses yang terjadi dalam proses pembelajaran. Pertanggungjawaban kepada pemerintah dan masyarakat 3. 9. prinsip ini merupakan suatu hal yang mutlak. evaluasi sumatif dan evaluasi program. Akuntabel 10. Input adalah peserta didik yang telah dinilai kemampuannya dan siap menjalani proses pembelajaran. TEKNIK EVALUASI . Fungsi diagnostik 3. 7. 5. karena keterlibatan peserta didik dalam evaluasi bukan alternatif. evaluasi adalah proses.

Wawancara. Riwayat hidup. Kuesioner langsung adalah kuesioner yang dijawab langsung oleh orang yang diminta jawabannya. Kuesioner tertututp adalah daftar pertanyaan yang memiliki dua atau lebih jawaban dan si penjawab hanya memberikan tanda silang (X) atau cek (¥) pada awaban yang ia anggap sesuai. d. Angkaangak diberikan secara bertingkat dari anggak terendah hingga angkat paling tinggi. Pengamat telah membuat list faktor faktor yang telah diprediksi sebagai memberikan pengaruh terhadap sistem yang terdapat dalam obejek pengamatan. tes sumatif Penjelasan mengenai 3 macam tes diatas dapat dibaca pada bagian Teknik Tes PROSEDUR MELAKSANAKAN EVALUASI . adalah suatu teknik yang dilakuakn dengan mengamati dan mencatat secara sistematik apa yang tampak dan terlihat sebenarnya. Dalam evaluasi pendidikan terdapat 3 macam tes yaitu : a. e. Kedua adalah wawancara terpimpin dimana pewawancara telah menyusun pertanyaan pertanyaan terlebih dahulu yang bertujuan untuk menggiring penjawab pada informsi-informasi yang diperlukan saja. teknik non tes meliputi . yaitu pertama. b. Pengamatan atau observasi. wawancara.daftar cocok. Sedangkan kuesiioner tidak langsung dijawab oleh secara tidak langsung oleh orang yang dekat dan mengetahui si penjawab seperti contoh. Daftar cocok adalah sebuah daftar yang berisikan pernyataan beserta dengan kolom pilihan jawaban. pengamatan. tetangga atau anggota keluarganya. kuesioner. riwayat hidup. Dari segi yang memberikan jawaban. skala bertingkat. wawancara bebas yaitu si penjawab (responden) diperkenankan untuk memberikan jawaban secara bebas sesuai dengan yang ia diketahui tanpa diberikan batasan oleh pewawancara. c. Si penjawab diminta untuk memberikan tanda silang (X) atau cek (¥) pada awaban yang ia anggap sesuai. suatu cara yang dilakukan secara lisan yang berisikan pertanyaan-pertanyaan yang sesuai dengan tujuan informsi yang hendak digali. f. tes formatif c. Angkaangka tersebut kemudian dapat dipergunakan untuk melakukan perbandingan terhadap angka yang lain. Pengamatan atau observasi terdiri dari 3 macam yaitu : (1) observasi partisipan yaitu pengamat terlibat dalam kegiatan kelompok yang diamati. Sedangkan kuesioner terbuka adalah daftar pertanyaan dimana si penjawab diperkenankan memberikan jawaban dan pendapat nya secara terperinci sesuai dengan apa yang ia ketahui. evaluasi ini dilakukan dengan mengumpulkan data dan informasi mengenai objek evaluasi sepanjang riwayat hidup objek evaluasi tersebut. Rating scale atau skala bertingkat menggambarkan suatu nilai dalam bentuk angka. pengamat tidak terlibat dalam kelompok yang diamati. 2. Kuesioner adalah daftar pertanyaan yang terbagi dalam beberapa kategori. apabila yang hendak dimintai jawaban adalah seseorang yang buta huruf maka dapat dibantu oleh anak. Teknik tes. Dan bila ditinjau dari segi cara menjawab maka kuesioner terbagi menjadi kuesioner tertutup dan kuesioner terbuka. a. tes diagnostik b. (2) Observasi sistematik. kuesioner dibagi menjadi kuesioner langsung dan kuesioner tidak langsung.Teknik evaluasi digolongkan menjadi 2 yaitu teknik tes dan teknik non Tes 1. wawancara dibagi dalam 2 kategori.

dimana. apakah hendak di olah dengan statistikatau non statistik. pengolahan data ( memaknai data yang terkumpul. jika ditolak mengapa? Jika diterima mengapa? Berapa taraf signifikannya?) interpretasikan data tersebut secara berkesinambungan dengan tujuan evaluasi sehingga akan tampak hubungan sebab akibat. ( ditafsirkan melalui berbagai teknik uji. verifiksi data (uji instrument. dsb) b. kualitatif atau kuantitatif. proses dan out put. apakah dengan manual atau dengan software (misal : SAS. Pengukuran. diakhiri dengan uji hipotesis ditolak atau diterima. dsb) d. Pengukuran Pengukuran dapat diartikan dengan kegiatan untuk mengukur sesuatu. data apa saja yang hendak digali. indikator. Langkah-langkah dalam melaksanakan kegiatan evaluasi pendidikan secara umum adalah sebagai berikut : a. . uji validitas.Dalam melaksanakan evaluasi pendidikan hendaknya dilakukan secara sistematis dan terstruktur. maka sesungguhnya yang sedang dilakukan adalah mengkuantifikasi keadaan seseorang atau tempat kedalam angka. Pengukuran ini dilakukan dengan jalan menguji hal yang ingin dinilai seperti kemajuan belajar dan lain sebagainya. Pada hakekatnya. tujuan evaluasi. apakah dengan parametrik atau non parametrik. teknikapa yang hendak dipakai. (2) pengukuran untuk menguji sesuatu seperti menguji daya tahan lampu pijar serta (3) pengukuran yang dilakukan untuk menilai. apa saja yang hendak dievaluasi. perencanaan (mengapa perlu evaluasi. dan sebagainya sesuai dengan tujuan) c. Penilaian dan Evaluasi Pendidikan a. atau mengukur jarak kota A dengan kota B. observasi. Apabila hubungan sebab akibat tersebut muncul maka akan lahir alternatif yang ditimbulkan oleh evaluasi itu. dapat dipahami bahwa pengukuran itu bersifat kuantitatif Maksud dilaksanakan pengukuran sebagaimana dikemukakan Anas Sudijono (1996: 4) ada tiga macam yaitu : (1) pengukuran yang dilakukan bukan untuk menguji sesuatu seperti orang mengukur jarak dua buah kota. Apabila prosesdur yang dilakukan tidak bercermin pada 3 unsur tersebut maka dikhawatirkan hasil yang digambarkan oleh hasil evaluasi tidak mampu menggambarkan gambaran yang sesungguhnya terjadi dalam proses pembelajaran. siapa yang hendak dievaluasi. uji reliabilitas. kuesioner. Karenanya. kegiatan ini adalah membandingkan sesuatu dengan atau sesuatu yang lain (Anas Sudijono. Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya bahwa evaluasi pendidikan secara garis besar melibatkan 3 unsur yaitu input. penafsiran data. SPSS ) e. penyusunan instrument. kapan. pengumpulan data ( tes. 1996: 3) Jika kita mengukur suhu badan seseorang dengan termometer.

terkadang juga dipergunakan nontes. Hasil jawaban siswa tersebut ditafsirkan dalam bentuk nilai. informasi yang diperoleh dari hasil pengukuran selanjutnya dideskripsikan dan ditafsirkan. afektif dan psikomotor dirubah menjadi angka. cara mengukur dan obyek yang diukur. Dalam melakukan penilaian dibidang pendidikan. menurut Djemari Mardapi (1999: 8) penilaian adalah kegiatan menafsirkan atau mendeskripsikan hasil pengukuran. maka nontes dapat memberikan informasi tentang karakteristik afektif obyek. Acuan norma berasumsi bahwa kemampuan seseorang berbeda serta dapat digambarkan menurut kurva distribusi normal. sistem penilaian yang baik akan mampu memberikan motivasi untuk selalu meningkatkan kemampuannya. Jika tes dapat memberikan informasi tentang karakteristik kognitif dan psikomotor. Penggunaan acuan norma dilakukan untuk menyeleksi dan mengetahui dimana posisi seseorang terhadap kelompoknya. Oleh karena itu. Sistem penilaian yang baik akan mampu memberikan gambaran tentang kualitas pembelajaran sehingga pada gilirannya akan mampu membantu guru merencanakan strategi pembelajaran. Proses pengumpulan ini dilakukan untuk menaksir apa yang telah diperoleh siswa setelah mengikuti pelajaran selama waktu tertentu. Menurut Cangelosi (1995: 21) penilaian adalah keputusan tentang nilai. Dalam sistem evaluasi hasil belajar. Tentu saja untuk itu diperlukan sistem penilaian yang baik dan tidak bias. yang dimaksud pengukuran sebagaimana disampaikan Cangelosi (1995: 21) adalah proses pengumpulan data melalui pengamatan empiris. Adapun acuan kriteria dipergunakan untuk menentukan kelulusan . maka hasil tes akan memberikan gambaran dimana posisinya jika dibandingkan dengan orang lain yang mengikuti tes tersebut. Karakteristik yang terdapat dalam obyek yang diukur ditransfer menjadi bentuk angka sehingga lebih mudah untuk dinilai. Bagi siswa sendiri. kesalahan dalam mengangkakan aspek-aspek ini harus sekecil mungkin. Menurut Djemari Mardapi (2004: 18) ada dua acuan yang dapat dipergunakan dalam melakukan penilaian yaitu acuan norma dan acuan kriteria. langkah selanjutnya setelah melaksanakan pengukuran adalah penilaian. Kesalahan yang mungkin muncul dalam melakukan pengukuran khususnya dibidang ilmuilmu sosial dapat berasal dari alat ukur. Sedangkan acuan kriteria berasumsi bahwa apapun bisa dipelajari semua orang namun waktunya bisa berbeda. Proses ini dapat dilakukan dengan mengamati kinerja mereka. penilaian merupakan langkah lanjutan setelah dilakukan pengukuran. Penilaian Penilaian merupakan bagian penting dan tak terpisahkan dalam sistem pendidikan saat ini. Karenanya. Misalnya jika seseorang mengikuti tes tertentu. mendengarkan apa yang mereka katakan serta mengumpulkan informasi yang sesuai dengan tujuan melalui apa yang telah dilakukan siswa. Peningkatan kualitas pendidikan dapat dilihat dari nilai-nilai yang diperoleh siswa. Selain dengan tes. Menurut Mardapi (2004: 14) pengukuran pada dasarnya adalah kegiatan penentuan angka terhadap suatu obyek secara sistematis. kedua acuan ini dapat dipergunakan. Karenanya. aspek-aspek yang terdapat dalam diri manusia seperti kognitif. b. Penilaian dilakukan setelah siswa menjawab soal-soal yang terdapat pada tes. Pengukuran dalam bidang pendidikan erat kaitannya dengan tes. Hal ini dikarenakan salah satu cara yang sering dipakai untuk mengukur hasil yang telah dicapai siswa adalah dengan tes.Dalam dunia pendidikan.

menganalisis dan menafsirkan informasi untuk menentukan sejauhmana tujuan pembelajaran telah dicapai oleh siswa. Acuan kriteria. ada beberapa hal yang menjadi ciri khas dari evaluasi yaitu: (1) sebagai kegiatan yang sistematis. hasil yang sama yang didapat dari pengukuran ataupun penilaian akan dapat diinterpretasikan berbeda sesuai dengan acuan yang digunakan. kecepatan kendaraan 40 km/jam akan memiliki interpretasi yang berbeda apabila kendaraan tersebut adalah sepeda dan mobil. ini biasanya dipergunakan untuk ujianujian praktek. Seseorang yang dikatakan telah lulus berarti bisa melakukan apa yang terdapat dalam kriteria yang telah ditetapkan dan sebaliknya. Karena itulah pendekatan goal oriented merupakan pendekatan yang paling sesuai untuk evaluasi pembelajaran. c. yang selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil keputusan. dan (3) kegiatan evaluasi dalam pendidikan tidak pernah terlepas dari tujuan-tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya. bukan merupakan landasan untuk mengambil keputusan dalam evaluasi. Dengan adanya acuan norma atau kriteria. Evaluasi Program: Sebuah Pengantar a. Acuan ini biasanya digunakan untuk menentukan kelulusan seseorang. (2) dalam pelaksanaan evaluasi dibutuhkan data dan informasi yang akurat untuk menunjang keputusan yang akan diambil. Evaluasi Pengukuran. evaluasi sebagaimana dikatakan Gronlund (1990: 5) merupakan proses yang sistematis tentang mengumpulkan. Sebuah program pembelajaran seharusnya dievaluasi disetiap akhir program tersebut. Dari pendapat di atas. Asumsi-asumsi ataupun prasangka. Evaluasi Menurut Suharsimi Arikunto (2004: 1) adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu. Menurut Djemari Mardapi (2004: 19) evaluasi adalah proses mengumpulkan informasi untuk mengetahui pencapaian belajar kelas atau kelompok. penilaian dan evaluasi merupakan kegiatan yang bersifat hierarki.seseorang dengan membandingkan hasil yang dicapai dengan kriteria yang telah ditetapkan terlebih dahulu. Artinya ketiga kegiatan tersebut dalam kaitannya dengan proses belajar mengajar tidak dapat dipisahkan satu sama lain dan dalam pelaksanaannya harus dilaksanakan secara berurutan. pelaksanaan evaluasi haruslah dilakukan secara berkesinambungan. Pengertian evaluasi Menurut Suharsimi Arikunto (2004 : 1) evaluasi adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu. yang selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk . Misalnya. Dalam bidang pendidikan.

pasti akan menilai apakah yang dilakukannya tersebut telah sesuai dengan keinginannya semula. penelitian dan evaluasi juga digabung menjadi satu frase. Fungsi utama evaluasi dalam hal ini adalah menyediakan informasi-informasi yang berguna bagi pihak decision maker untuk menentukan kebijakan yang akan diambil berdasarkan evaluasi yang telah dilakukan. Sesuatu yang berharga tersebut dapat berupa informasi tentang suatu program. Implementasi program harus senantiasa di evaluasi untuk melihat sejauh mana program tersebut telah berhasil mencapai maksud pelaksanaan program yang telah ditetapkan sebelumnya. Terkadang. penggambaran (delineating). . Seorang manusia yang telah mengerjakan suatu hal. demikian juga dengan evaluasi. Dari pengertian-pengertian tentang evaluasi yang telah dikemukakan beberapa orang diatas. b. Tujuan evaluasi program Setiap kegiatan yang dilaksanakan mempunyai tujuan tertentu. Keberhasilan program itu sendiri dapat dilihat dari dampak atau hasil yang dicapai oleh program tersebut. Menurut stufflebeam dalam worthen dan sanders (1979 : 129) evaluasi adalah : process of delineating. produksi serta alternatif prosedur tertentu. Tujuan umum diarahkan kepada program secara keseluruhan sedangkan tujuan khusus lebih difokuskan pada masing-masing komponen. Menurut Worthen dan Sanders (1979 : 1) evaluasi adalah mencari sesuatu yang berharga (worth). Dengan demikian. Karenanya. Karenanya evaluasi bukan merupakan hal baru dalam kehidupan manusia sebab hal tersebut senantiasa mengiringi kehidupan seseorang. Perbedaan tersebut terletak pada tujuan pelaksanaannya. Karenanya. memperbaiki atau menghentikan sebuah program. kebijakan-kebijakan baru sehubungan dengan program itu tidak akan didukung oleh data. kita dapat menarik benang merah tentang evaluasi yakni evaluasi merupakan sebuah proses yang dilakukan oleh seseorang untuk melihat sejauh mana keberhasilan sebuah program. Tanpa adanya evaluasi. Efektifitas merupakan perbandingan antara output dan inoutnya sedangkan efisiensi adalah taraf pendayagunaan input untuk menghasilkan output lewat suatu proses (Sudharsono 1994 : 2) Dalam evaluasi terdapat perbedaan yang mendasar dengan penelitian meskipun secara prinsip. dalam keberhasilan ada dua konsep yang terdapat didalamnya yaitu efektifitas dan efisiensi. Menurut Suharsimi Arikunto (2004 : 13) ada dua tujuan evaluasi yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. program-program yang berjalan tidak akan dapat dilihat efektifitasnya. Jika penelitian bertujuan untuk membuktikan sesuatu (prove) maka evaluasi bertujuan untuk mengembangkan (improve). penyediaan (providing) informasi yang berguna (useful information) dan alternatif keputusan (decision alternatives). Sebagaimana disampaikan oleh Sudharsono (1994 : 3) penelitian evaluasi mengandung makna pengumpulan informasi tentang hasil yang telah dicapai oleh sebuah program yang dilaksanakan secara sistematik dengan menggunakan metodologi ilmiah sehingga darinya dapat dihasilkan data yang akurat dan obyektif. antara kedua kegiatan ini memiliki metode yang sama. Dalam evaluasi ada beberapa unsur yang terdapat dalam evaluasi yaitu : adanya sebuah proses (process) perolehan (obtaining).menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil keputusan. obtaining and providing useful information for judging decision alternatives. penelitian evaluasi. evaluasi program bertujuan untuk menyediakan data dan informasi serta rekomendasi bagi pengambil kebijakan (decision maker) untuk memutuskan apakah akan melanjutkan.

Secara umum. maka sebuah program adalah rangkaian kegiatan yang dilaksanakan secara berkesinambungan secara waktu pelaksanaannya biasanya panjang. Hal ini dikarenakan kita akan melihat apakah program tersebut berhasil menjalankan fungsi sebagaimana yang telah ditetapkan sebelumnya. tetapi secara umum model-model tersebut memiliki persamaan yaitu mengumpulkan data atau informasi obyek yang dievaluasi sebagai bahan pertimbangan bagi pengambil kebijakan. Model-model evaluasi Ada banyak model yang bisa digunakan dalam melakukan evaluasi program khususnya program pendidikan. Menurut Isaac dan Michael (1984 : 6) sebuah program harus diakhiri dengan evaluasi. maka evaluasi program sebagaimana dimaknai oleh Kirkpatrick dapat dimaknai sebagai sebuah proses untuk mengetahui apakah sebuah program dapat direalisasikan atau tidak dengan cara mengetahui efektifitas masing-masing komponennya melalui rangkain informasi yang diperoleh evaluator (Kirkpatrick 1996 : 3). sebuah program juga tidak hanya terdiri dari satu kegiatan melainkan rangkaian kegiatan yang membentuk satu sistem yang saling terkait satu dengan lainnya dengan melibatkan lebih dari satu orang untuk melaksanakannya. (Suharsimi Arikunto dan Cecep Safruddin Abdul Jabbar : 2004). memperbaiki atau menghentikan program tersebut. Meskipun terdapat beberapa perbedaan antara model-model tersebut. program dapat diartikan dengan rencana atau rancangan kegiatan yang akan dilakukan oleh seseorang di kemudian hari. Sedangkan pengertian khusus dari program biasanya jika dikaitkan dengan evaluasi yang bermakna suatu unit atau kesatuan kegiatan yang merupakan ralisasi atau implementasi dari suatu kebijakan. Selain itu.c. (2) mencari data yang relevan dengan penelitian dan (3) menyediakan informasi yang dibutuhkan pihak pengambil keputusan untuk melanjutkan. Menurut mereka. Menilik pengertian secara khusus ini. Goal Oriented Evaluation Dalam model ini. Menurut Stephen Isaac dan Willian B. seorang evaluator secara terus menerus melakukan pantauan terhadap . Tetapi. Dari pengertian ini dapat ditarik benang merah bahwa semua perbuatan manusia yang darinya diharapkan akan memperoleh hasil dan manfaat dapat disebut program. Evaluator hanya menyediakan informasi-informasi yang dibutuhkan oleh pengambil kebijakan (decision maker) d. Berdasarkan pengertian diatas. pengambil keputusan itu sendiri bukanlah evaluator melainkan pihak lain yang lebih berwenang. Hakekat Evaluasi Program Menurut John L Herman dalam Tayibnapis (1989 : 6) program adalah segala sesuatu yang anda lakukan dengan harapan akan mendatangkan hasil atau manfaat. ada tiga tahap rangkaian evaluasi program yaitu : (1) menyatakan pertanyaan serta menspesifikasikan informasi yang hendak diperoleh. Michael ( 1984 : 7) model-model evaluasi dapat dikelompokan menjadi enam yaitu : 1. berlangsung dalam proses berkesinambungan dan terjadi dalam satu organisasi yang melibatkan sekelompok orang. Menurut Suharsimi Arikunto (2004 : 2) program dapat dipahami dalam dua pengertian yaitu secara umum dan khusus.

tujuan yang telah ditetapkan. Model ini melihat lebih jauh tentang adanya kesenjangan (Discrepancy) yang ada dalam setiap komponen yakni apa yang seharusnya dan apa yang secara riil telah dicapai. Evaluasi konteks (context evaluation) merupakan dasar dari evaluasi yang bertujuan menyediakan alasan-alasan (rationale) dalam penentuan tujuan (Baline R. dimodifikasi kembali atau bahkan akan dihentikan 3. 4. Transactional Evaluation Dalam model ini. Evaluasi ini bertujuan mengukur dan menginterpretasikan capaian-capaian program. Worthern & James R Sanders : 1979) Karenanya upaya yang dilakukan evaluator dalam evaluasi konteks ini adalah memberikan gambaran dan rincian terhadap lingkungan. Goal Free Evaluation Model yang dikembangkan oleh Michael Scriven ini yakni Goal Free Evaluation Model justru tidak memperhatikan apa yang menjadi tujuan program sebagaimana model goal oriented evaluation. Salah satu model yang bisa mewakili model ini adalah discrepancy model yang dikembangkan oleh Provus. Yang harus diperhatikan justru adalah bagaimana proses pelaksanaan program. Evaluasi produk menunjukkan perubahan-perubahan yang terjadi pada input. Evaluasi input (input evaluation) merupakan evaluasi yang bertujuan menyediakan informasi untuk menentukan bagaimana menggunakan sumberdaya yang tersedia dalam mencapai tujuan program. Model ini terdiri dari 4 komponen evaluasi sesuai dengan nama model itu sendiri yang merupakan singkatan dari Context. kebutuhan serta tujuan (goal). evaluasi produk menyediakan informasi apakah program itu akan dilanjutkan. maka dibutuhkanlah evaluasi proses dalam menyediakan umpan balik (feedback) bagi orang yang bertanggungjawab dalam melaksanakan program tersebut Evaluasi Produk (product evaluation) merupakan bagian terakhir dari model CIPP. Evaluasi CIPP yang dikembangkan oleh stufflebeam merupakan salah satu contoh model evaluasi ini. evaluasi berusaha melukiskan proses sebuah program dan pandangan tentang nilai dari orang-orang yang terlibat dalam program tersebut. Evaluation Research Sebagaimana disebutkan diatas. Dalam proses ini. Evaluasi proses (process evaluation) diarahkan pada sejauh mana kegiatan yang direncanakan tersebut sudah dilaksanakan. dengan jalan mengidentifikasi kejadian-kejadian yang terjadi selama pelaksanaannya. 2. Model CIPP merupakan salah satu model yang paling sering dipakai oleh evaluator. penelitian evaluasi memfokuskan kegiatannya pada penjelasan dampak-dampak pendidikan serta mencari solusi-solusi terkait dengan strategi instruksional. evaluasi harus dapat memberikan landasan berupa informasi-informasi yang akurat dan obyektif bagi pengambil kebijakan untuk memutuskan sesuatu yang berhubungan dengan program. . 5. Process dan Product. Decision Oriented Evaluation Dalam model ini. Penilaian yang terus-menerus ini menilai kemajuan-kemajuan yang dicapai peserta program serta efektifitas temuan-temuan yang dicapai oleh sebuah program. baik hal-hal yang positif maupun hal-hal yang negatif. Ketika sebuah program telah disetujui dan dimulai. Input.

Membentuk dua tim evaluasi yang berlawanan dan memberikan kepada mereka kesempatan untuk berargumen. model adversary terdiri atas empat tahapan yaitu : 1. Adversary Evaluation Model ini didasarkan pada prosedur yang digunakan oleh lembaga hukum. b. 2. . Analisis secara kualitatif dilakukan dengan melakukan penelaahan terhadap setiap butir soal dari aspek materi. Aspek materi yang ditelaah berkaitan dengan substansi keilmuan yang ditanyakan dalam butir tes serta tingkat kemampuan yang sesuai dengan tes. Setiap penelaah melakukan analisis terhadap setiap butir soal berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya dengan menuliskan huruf ³Y´ jika butir sesuai dengan kriteria dan huruf ³T´ jika butir tidak sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Butir tes yang baik yaitu butir yang memenuhi semua kriteria yang telah ditentukan. selain itu. Melakukan sebuah dengar pendapat yang formal. Analisis konstruksi dimaksudkan untuk melihat hal-hal yang berkaitan dengan kaidah penulisan tes. Butir tes yang kurang baik yaitu butir yang hanya memenuhi sebanyak-banyaknya 3 kriteria aspek konstruksi serta 1 kriteria aspek materi dan bahasa. Analisis Butir Soal untuk melakukan analisis terhadap sebuah butir soal ada dua pendekatan yang bisa digunakan yaitu dengan teori tes klasik dan teori respon butir. Tim evaluasi ini kemudian mengemukakan argument-argumen dan bukti sebelum mengambil keputusan. Hasil telaah kemudian dirangkum untuk selanjutnya ditentukan kualitas butir secara teoretis dengan menggunakan kriteria sebagai berikut: a. Mengungkapkan rentangan isu yang luas dengan cara melakukan survey berbagai kelompok yang terlibat dalam satu program untuk menentukan kepercayaan itu sebagai isu yang relevan. Insya Allah penulis akan sedikit membahas keempat hal tersebut. soal juga dapat di analisis dengan menggunakan analisis kualitatif (teoritis) dan kuantitatif (empiris). Dalam prakteknya. akan tetapi untuk saat ini. Analisis bahasa dimaksudkan untuk menelaah tes berkaitan dengan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar menurut Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Mengurangi jumlah isu yang dapat diukur. Telaah secara kualitatif dilakukan oleh tiga orang yang memiliki kompetensi sesuai dengan aspek materi konstruksi dan bahasa. 4.6. 3. penulis akan membahas analisis soal dengan cara kualitatif atau teoritis. konstruksi dan bahasa.

tes menggunakan bahasa yang komunikatif 16. atau lebih dari 3 untuk aspek konstruksi serta lebih dari 1 kriteria pada aspek bahasa. 12.c. Berikut contoh check list analisis kualitatif: a.tes tidak menggunakan bahasa yang berlaku setempat 17. Butir tes yang tidak baik yaitu butir yang tidak memenuhi semua kriteria yang telah ditetapkan pada aspek materi 1 dan 3.Pilihan jawaban tidak menggunakan pernyataan "semua jawaban di atas salah" atau "semua jawaban di atas benar". Hanya ada satu kunci jawaban yang tepat b. Materi 1. Tes sesuai indikator 2. konstruksi dan bahasa.Panjang rumusan jawaban relatif 11. Dari rangkuman hasil telaah kualitatif selanjutnya dapat ditentukan butir mana yang sudah atau belum memenuhi kriteria pada aspek materi. Konstruksi 4.tes menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia 15.pilihan jawaban tidak mengulang kata/kelompok kata yang sama yang bukan merupakan satu kesatuan Evaluasi Program: Sebuah Pengantar a. Pokok tes bebas dari pernyataan yang bersifat negatif ganda 9.Butir tes tidak tergantung pada jawaban sebelumnya c. Dengan demikian dapat diambil kesimpulan tentang butir yang baik dan tidak baik. Rumusan pokok tes dan pilihan jawaban 7. Pokok tes dirumuskun secara singkat dan jelas 5.Pilihan jawaban yang berbentuk angka atau waktu disusun berdasarkan urutan besar kecilnya angka atau kronologis 13. Pilihan jawab homogen dan logis 3. Gambar/grafik/table diagram dan sejenisnya jelas berfungsi 10. Pokok tes tidak memberi petunjuk ke kunci jawaban 8. yang selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk . Bahasa 14. Pengertian evaluasi Menurut Suharsimi Arikunto (2004 : 1) evaluasi adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu.

penelitian evaluasi. penggambaran (delineating). Keberhasilan program itu sendiri dapat dilihat dari dampak atau hasil yang dicapai oleh program tersebut. kebijakan-kebijakan baru sehubungan dengan program itu tidak akan didukung oleh data. penelitian dan evaluasi juga digabung menjadi satu frase. program-program yang berjalan tidak akan dapat dilihat efektifitasnya. Menurut stufflebeam dalam worthen dan sanders (1979 : 129) evaluasi adalah : process of delineating. memperbaiki atau menghentikan sebuah program. Perbedaan tersebut terletak pada tujuan pelaksanaannya. Tujuan evaluasi program Setiap kegiatan yang dilaksanakan mempunyai tujuan tertentu. antara kedua kegiatan ini memiliki metode yang sama. Dalam evaluasi ada beberapa unsur yang terdapat dalam evaluasi yaitu : adanya sebuah proses (process) perolehan (obtaining). Sebagaimana disampaikan oleh Sudharsono (1994 : 3) penelitian evaluasi mengandung makna pengumpulan informasi tentang hasil yang telah dicapai oleh sebuah program yang dilaksanakan secara sistematik dengan menggunakan metodologi ilmiah sehingga darinya dapat dihasilkan data yang akurat dan obyektif. penyediaan (providing) informasi yang berguna (useful information) dan alternatif keputusan (decision alternatives). Seorang manusia yang telah mengerjakan suatu hal. Dari pengertian-pengertian tentang evaluasi yang telah dikemukakan beberapa orang diatas. b. Tujuan umum diarahkan kepada program secara keseluruhan sedangkan tujuan khusus lebih difokuskan pada masing-masing komponen. Karenanya. Dengan demikian. dalam keberhasilan ada dua konsep yang terdapat didalamnya yaitu efektifitas dan efisiensi.menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil keputusan. Karenanya. Menurut Worthen dan Sanders (1979 : 1) evaluasi adalah mencari sesuatu yang berharga (worth). kita dapat menarik benang merah tentang evaluasi yakni evaluasi merupakan sebuah proses yang dilakukan oleh seseorang untuk melihat sejauh mana keberhasilan sebuah program. produksi serta alternatif prosedur tertentu. Sesuatu yang berharga tersebut dapat berupa informasi tentang suatu program. evaluasi program bertujuan untuk menyediakan data dan informasi serta rekomendasi bagi pengambil kebijakan (decision maker) untuk memutuskan apakah akan melanjutkan. Tanpa adanya evaluasi. Jika penelitian bertujuan untuk membuktikan sesuatu (prove) maka evaluasi bertujuan untuk mengembangkan (improve). pasti akan menilai apakah yang dilakukannya tersebut telah sesuai dengan keinginannya semula. Terkadang. obtaining and providing useful information for judging decision alternatives. Karenanya evaluasi bukan merupakan hal baru dalam kehidupan manusia sebab hal tersebut senantiasa mengiringi kehidupan seseorang. Efektifitas merupakan perbandingan antara output dan inoutnya sedangkan efisiensi adalah taraf pendayagunaan input untuk menghasilkan output lewat suatu proses (Sudharsono 1994 : 2) Dalam evaluasi terdapat perbedaan yang mendasar dengan penelitian meskipun secara prinsip. Fungsi utama evaluasi dalam hal ini adalah menyediakan informasi-informasi yang berguna bagi pihak decision maker untuk menentukan kebijakan yang akan diambil berdasarkan evaluasi yang telah dilakukan. demikian juga dengan evaluasi. Menurut Suharsimi Arikunto (2004 : 13) ada dua tujuan evaluasi yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. . Implementasi program harus senantiasa di evaluasi untuk melihat sejauh mana program tersebut telah berhasil mencapai maksud pelaksanaan program yang telah ditetapkan sebelumnya.

Menurut Suharsimi Arikunto (2004 : 2) program dapat dipahami dalam dua pengertian yaitu secara umum dan khusus. Selain itu. Evaluator hanya menyediakan informasi-informasi yang dibutuhkan oleh pengambil kebijakan (decision maker) d. berlangsung dalam proses berkesinambungan dan terjadi dalam satu organisasi yang melibatkan sekelompok orang. memperbaiki atau menghentikan program tersebut. program dapat diartikan dengan rencana atau rancangan kegiatan yang akan dilakukan oleh seseorang di kemudian hari. Tetapi. (2) mencari data yang relevan dengan penelitian dan (3) menyediakan informasi yang dibutuhkan pihak pengambil keputusan untuk melanjutkan. pengambil keputusan itu sendiri bukanlah evaluator melainkan pihak lain yang lebih berwenang. Dari pengertian ini dapat ditarik benang merah bahwa semua perbuatan manusia yang darinya diharapkan akan memperoleh hasil dan manfaat dapat disebut program. Michael ( 1984 : 7) model-model evaluasi dapat dikelompokan menjadi enam yaitu : 1.c. Berdasarkan pengertian diatas. maka evaluasi program sebagaimana dimaknai oleh Kirkpatrick dapat dimaknai sebagai sebuah proses untuk mengetahui apakah sebuah program dapat direalisasikan atau tidak dengan cara mengetahui efektifitas masing-masing komponennya melalui rangkain informasi yang diperoleh evaluator (Kirkpatrick 1996 : 3). Menurut Stephen Isaac dan Willian B. seorang evaluator secara terus menerus melakukan pantauan terhadap . (Suharsimi Arikunto dan Cecep Safruddin Abdul Jabbar : 2004). Goal Oriented Evaluation Dalam model ini. Menilik pengertian secara khusus ini. tetapi secara umum model-model tersebut memiliki persamaan yaitu mengumpulkan data atau informasi obyek yang dievaluasi sebagai bahan pertimbangan bagi pengambil kebijakan. Menurut mereka. Menurut Isaac dan Michael (1984 : 6) sebuah program harus diakhiri dengan evaluasi. Model-model evaluasi Ada banyak model yang bisa digunakan dalam melakukan evaluasi program khususnya program pendidikan. Hal ini dikarenakan kita akan melihat apakah program tersebut berhasil menjalankan fungsi sebagaimana yang telah ditetapkan sebelumnya. ada tiga tahap rangkaian evaluasi program yaitu : (1) menyatakan pertanyaan serta menspesifikasikan informasi yang hendak diperoleh. Hakekat Evaluasi Program Menurut John L Herman dalam Tayibnapis (1989 : 6) program adalah segala sesuatu yang anda lakukan dengan harapan akan mendatangkan hasil atau manfaat. sebuah program juga tidak hanya terdiri dari satu kegiatan melainkan rangkaian kegiatan yang membentuk satu sistem yang saling terkait satu dengan lainnya dengan melibatkan lebih dari satu orang untuk melaksanakannya. Meskipun terdapat beberapa perbedaan antara model-model tersebut. maka sebuah program adalah rangkaian kegiatan yang dilaksanakan secara berkesinambungan secara waktu pelaksanaannya biasanya panjang. Sedangkan pengertian khusus dari program biasanya jika dikaitkan dengan evaluasi yang bermakna suatu unit atau kesatuan kegiatan yang merupakan ralisasi atau implementasi dari suatu kebijakan. Secara umum.

baik hal-hal yang positif maupun hal-hal yang negatif. Model ini melihat lebih jauh tentang adanya kesenjangan (Discrepancy) yang ada dalam setiap komponen yakni apa yang seharusnya dan apa yang secara riil telah dicapai. evaluasi produk menyediakan informasi apakah program itu akan dilanjutkan. Transactional Evaluation Dalam model ini. Evaluasi ini bertujuan mengukur dan menginterpretasikan capaian-capaian program. Model ini terdiri dari 4 komponen evaluasi sesuai dengan nama model itu sendiri yang merupakan singkatan dari Context. Decision Oriented Evaluation Dalam model ini. kebutuhan serta tujuan (goal). Evaluasi konteks (context evaluation) merupakan dasar dari evaluasi yang bertujuan menyediakan alasan-alasan (rationale) dalam penentuan tujuan (Baline R. Evaluasi proses (process evaluation) diarahkan pada sejauh mana kegiatan yang direncanakan tersebut sudah dilaksanakan. Goal Free Evaluation Model yang dikembangkan oleh Michael Scriven ini yakni Goal Free Evaluation Model justru tidak memperhatikan apa yang menjadi tujuan program sebagaimana model goal oriented evaluation. Worthern & James R Sanders : 1979) Karenanya upaya yang dilakukan evaluator dalam evaluasi konteks ini adalah memberikan gambaran dan rincian terhadap lingkungan. Model CIPP merupakan salah satu model yang paling sering dipakai oleh evaluator. evaluasi harus dapat memberikan landasan berupa informasi-informasi yang akurat dan obyektif bagi pengambil kebijakan untuk memutuskan sesuatu yang berhubungan dengan program. Penilaian yang terus-menerus ini menilai kemajuan-kemajuan yang dicapai peserta program serta efektifitas temuan-temuan yang dicapai oleh sebuah program. Ketika sebuah program telah disetujui dan dimulai. 5. Evaluasi CIPP yang dikembangkan oleh stufflebeam merupakan salah satu contoh model evaluasi ini. dimodifikasi kembali atau bahkan akan dihentikan 3. maka dibutuhkanlah evaluasi proses dalam menyediakan umpan balik (feedback) bagi orang yang bertanggungjawab dalam melaksanakan program tersebut Evaluasi Produk (product evaluation) merupakan bagian terakhir dari model CIPP. Yang harus diperhatikan justru adalah bagaimana proses pelaksanaan program.tujuan yang telah ditetapkan. Evaluasi produk menunjukkan perubahan-perubahan yang terjadi pada input. 4. Evaluation Research Sebagaimana disebutkan diatas. penelitian evaluasi memfokuskan kegiatannya pada penjelasan dampak-dampak pendidikan serta mencari solusi-solusi terkait dengan strategi instruksional. dengan jalan mengidentifikasi kejadian-kejadian yang terjadi selama pelaksanaannya. Evaluasi input (input evaluation) merupakan evaluasi yang bertujuan menyediakan informasi untuk menentukan bagaimana menggunakan sumberdaya yang tersedia dalam mencapai tujuan program. . Process dan Product. evaluasi berusaha melukiskan proses sebuah program dan pandangan tentang nilai dari orang-orang yang terlibat dalam program tersebut. 2. Dalam proses ini. Input. Salah satu model yang bisa mewakili model ini adalah discrepancy model yang dikembangkan oleh Provus.

maka tidak boleh ada kesalahan pengukuran. Dalam prakteknya. Dengan demikian keandalan . Membentuk dua tim evaluasi yang berlawanan dan memberikan kepada mereka kesempatan untuk berargumen. Hasil pengukuran harus reliabel dalam artian harus memiliki tingkat konsistensi dan kemantapan.the degree of which test score are free from error measurement". model adversary terdiri atas empat tahapan yaitu : 1. bukan tentang tes ataupun bentuk tes. suatu tes dapat dikatakan memiliki reliabilitas yang tinggi apabila skor tampak tes tersebut berkorelasi tinggi dengan skor murninya sendiri. Dalam pandangan Brennan (2001: 295) reliabilitas merupakan karakteristik skor. Menurut John M. Dalam kerangka teori tes klasik.. Reliabilitas: Pendekatan Tes Ulang Reliabilitas diterjemahkan dari kata reliability. Untuk memperoleh skor yang sama. 3. sebuah alat ukur dapat dilihat dari dua petunjuk yaitu kesalahan baku pengukuran dan koefisien reliabilitas. Dalam pandangan Aiken (1987: 42) sebuah tes dikatakan reliabel jika skor yang diperoleh oleh peserta relatif sama meskipun dilakukan pengukuran berulang-ulang. Mengungkapkan rentangan isu yang luas dengan cara melakukan survey berbagai kelompok yang terlibat dalam satu program untuk menentukan kepercayaan itu sebagai isu yang relevan. Melakukan sebuah dengar pendapat yang formal. Kedua statistik di atas memiliki keterbatasannya masing-masing. 1989: 105) Berdasarkan sejarah. 2. Menurut Sumadi Suryabrata (2004: 28) reliabilitas menunjukkan sejauhmana hasil pengukuran dengan alat tersebut dapat dipercaya. Kedua statistik tersebut masing-masing memiliki kelebihan dan keterbatasan (Feldt & Brennan. 4. Echols dan Hasan Shadily (2003: 475) reliabilitas adalah hal yang dapat dipercaya. Kesalahan pengukuran merupakan rangkuman inkonsistensi peserta tes dalam unit-unit skala skor sedangkan koefisien reliabilitas merupakan kuantifikasi reliabilitas dengan merangkum konsistensi (atau inkonsistensi) diantara beberapa kesalahan pengukuran. Mengurangi jumlah isu yang dapat diukur. Interpretasi . Adversary Evaluation Model ini didasarkan pada prosedur yang digunakan oleh lembaga hukum.. Tim evaluasi ini kemudian mengemukakan argument-argumen dan bukti sebelum mengambil keputusan. Popham (1995: 21) menyatakan bahwa reliabilitas adalah ". reliabilitas sebuah instrumen dapat dihitung melalui dua cara yaitu kesalahan baku pengukuran dan koefisien reliabilitas (Feldt & Brennan: 105).6.

ada tiga cara yang sering digunakan yaitu (1) pendekatan tes ulang. Untuk memperoleh koefisien reliabilitas melalui pendekatan tes ulang dapat dilakukan dengan menghitung koefisien korelasi linear antara distribusi skor subyek pada pemberian tes pertama dengan skor subyek pada pemberian tes kedua. Asumsinya adalah bahwa skor yang dihasilkan oleh tes yang sama akan menghasilkan skor tampak yang relatif sama.lainnya adalah seberapa tinggi korelasi antara skor tampak pada dua tes yang pararel. Reliabilit as menurut Ross E. Estimasi dengan pendekatan tes ulang akan menghasilkan koefisien stabilitas. Secara matematis teori di atas dapat ditulis : Reliabilitas alat ukur tidak dapat diketahui dengan pasti tetapi dapat diperkirakan. Pendekatan tes ulang sangat sesuai untuk mengukur ketrampilan terutama ketrampilan fisik. Traub (1994: 38) yang disimbolkan oleh dapat didefinisikan sebagai rasio antara varian skor murni dan varian skor tampak . (2) pendekatan dengan tes pararel dan (3) pendekatan satu kali pengukuran. 2006: 29). Pendekatan tes ulang merupakan pemberian perangkat tes yang sama terhadap sekelompok subjek sebanyak dua kali dengan selang waktu yang berbeda. Setelah melakukan dua kali pengukuran didapatkan skor tes sebagai berikut: Koefisien reliabilitas test di atas dapat dihitung dengan menggunakan formula korelasi produk momen dari Pearson sebagai berikut: . Misalnya seorang guru hendak melihat reliabilitas tes yang telah dibuatnya. Dalam mengestimasi reliabilitas alat ukur. (Saifuddin Azwar.

Hal ini dapat meningkatkan korelasi serta overestimasi terhadap PXX¶. Dengan teknik nontes maka penilaian atau evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan tanpa ³menguji´ peserta didik melainkan dilakukan dengan cara tertentu. berenang. membongkar dan memasang peralatan dan lain sebagainya. Dalam dunia psikologi. sebagaimana dikutip Anas Sudijono (2005 : 54) mengembangkan taksonomi mengenai ranah afektif ini dengan membaginya kedalam lima jenjang yaitu : (1) receiving (menerima) (2) responding (merespon) (3) valuing (menilai atau memaknai). 1980: 76). melompat. Sedangkan komunikasi nondiskursip adalah kemampuan berkomunikasi dengan menggunakan bahasa gerakan. (4) organization (mengorganisasi) dan (5) characterization by a value or value complex (karakterisasi dengan suatu nilai atau nilai yang kompleks). . lari. Hal ini berarti bahwa jawaban yang diberikan oleh peserta tes tidak bisa dikategorikan sebagai jawaban benar atau salah sebagaimana interpretasi jawaban tes. kemampuan fisik. Kemampuan perseptual merupakan kombinasi kemampuan kognitif dan kemampuan motor. kemampuan fisik adalah kemampuan untuk mengembangkan gerakan yang paling terampil seperti gerakan tari ataupun olahrega ekstrim tertentu. Gerak reflek adalah gerakan yang muncul tanpa sadar. melukis. Penilaian yang dilakukan dengan teknis nontes terutama bertujuan untuk memperoleh informasi yang berkaitan dengan evaluasi hasil belajar peserta didik dari segi ranah sikap hidup (affective domain) dan ranah ketrampilan (psychomotoric domain). Masalah ini disebabkan oleh adanya kemungkinan pada test yang kedua dipengaruhi oleh test pertama. gerakan trampil dan komunikasi nondiskursip (Sax. korelasi sebesar 0.Dengan demikian. Kemampuan psikomotor (psychomotoric domain) adalah kemampuan yang berhubungan dengan gerak yaitu kemampuan dalam menggunakan otot-otot seperti berjalan. Penyusunan Instrumen Nontes Teknis nontes adalah suatu alat penilaian yang biasanya dipergunakan untuk mendapatkan informasi tertentu tentang keadaan peserta tes (Inggris: testee) dengan tidak menggunakan tes. kemampuan perseptual. Gerakan dasar adalah gerakan yang mengarah pada ketrampilan kompleks yang khusus seperti berlari dan berjalan. Salah satu kelemahan mendasar dari teknik test-retest adalah carry-over effect.954 menggambarkan bahwa reliabilitas tes cukup tinggi. jika peserta tes masih ingat dengan soal-soal dan bahkan jawaban ketika dilakukan test pertama. Kemampuan terakhir ini berhubungan dengan kemampuan mengucapkan kata-kata berbahasa asing. kemampuan psikomotor dibagi kedalam lima tingkatan yaitu gerak refleks. Misalnya. David Krathwohl (1974). gerakan dasar.

Dalam dunia pendidikan teknik nontes yang sering digunakan adalah pengamatan (observasi), dan terkadang, seorang guru juga menggunakan wawancara. Dalam penelitianpenelitian sosial, teknik nontes biasanya juga digunakan untuk mendapatkan informasi mengenai keadaan obyek penelitian. Teknik nontes yang sering digunakan dalam penelitianpenelitian sosial penelitian adalah kuesioner. Teknik pengamatan atau observasi merupakan salah satu bentuk teknik nontes yang biasa dipergunakan untuk menilai sesuatu melalui pengamatan terhadap objeknya secara langsung, seksama dan sistematis. Pengamatan memungkinkan untuk melihat dan mengamati sendiri kemudian mencatat perilaku dan kejadian yang terjadi pada keadaan sebenarnya. Menurut Moleong (2005 : 176) pengamatan dapat dibedakan menjadi dua yaitu pengamatan berperanserta dan tidak berperanserta. Dalam pengamatan yang tidak berperanserta, seseorang hanya melakukan satu fungsi yaitu mengamati tetapi pada pengamatan berperanserta seseorang disamping mengamati juga menjadi anggota dari obyek yang diamati. Pengamatan dapat pula dibagi atas pengamatan terbuka dan tertutup. Terbuka jika obyek yang diamati mengetahui bahwa mereka sedang diamati dan sebaliknya. Selain itu pengamatan juga dibagi pada latar alamiah (pengamatan tak terstruktur) dan latar buatan (pengamatan terstruktur). Pengamatan ini biasanya dapat dilakukan pada eksperimen. Dalam pengamatan berstruktur, kegiatan pengamatan itu telah diatur sebelumnya. Isi, maksud, objek yang diamati, kerangka kerja, dan lain-lain, telah ditetapkan sebelum kegiatan pengamatan dilaksanakan. Oleh karena itu, kegiatan pencatatan hanya dilakukan terhadap data -data yang sesuai dengan cakupan bidang kebutuhan seperti yang telah ditetapkan sejak semula. Lain halnya dengan pengamatan tak berstrukur, dalam melakukan pengamatannya, si pengamat tidak dibatasi oleh kerangka kerja yang telah dipersiapkan sebelumnya. Setiap data yang muncul yang dianggap relevan dengan tujuan pengamatannya langsung dicatat. Dengan demikian, data yang diperoleh lebih mencerminkan keadaan yang sesungguhnya. Perilaku siswa dalam keadaan seperti itu bersifat wajar, apa adanya dan tidak dibuat-buat. Teknik pengamatan jika dilakukan untuk melihat apakah perbuatan siswa sudah benar atau tidak dapat dikategorikan sebagai teknik tes. Misalnya jika dalam praktek olahraga seorang guru akan melihat apakah cara melempar lembing seseorang sudah sesuai dengan teori atau tidak, maka pengamatan jenis ini terkategori sebagai teknik tes. Tetapi jika pengamatan dilakukan terhadap aspek afektif seperti cara seorang siswa bersikap terhadap guru, menjaga kebersihan, perhatian terhadap tugas-tugas sekolah dan sebagainya, maka teknik ini termasuk teknik nontes. Wawancara atau interview merupakan salah satu alat penilaian nontes yang dipergunakan untuk mendapatkan informasi tertentu tentang keadaan responden dengan jalan tanya-jawab sepihak. Dikatakan sepihak karena pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam kegiatan wawancara itu hanya berasal dari pihak pewawancara saja, sementara responden hanya bertugas sebagai penjawab. Maksud diadakan wawancara sebagaimana dikutip Moleong dari Lincoln dan Guba (1985 : 266) antara lain mengkonstruksi mengenai orang, kejadian, organisasi, perasaan, motivasi, tuntutan, kepedulian dan lain sebagainya. Ada banyak pembagian wawancara yang dilakukan para ahli. salah satu diantaranya adalah membagi wawancara kedalam dua bentuk yaitu wawancara bebas dan wawancara terpimpin. Yang dimaksud wawancara terpimpin adalah suatu kegiatan wawancara yang pertanyaanpertanyaan serta kemungkinan-kemungkinan jawabannya itu telah dipersiapkan pihak pewawancara, responden tinggal memilih jawaban yang sudah dipersiapkan pewawancara.

Sebaliknya dalam wawancara bebas, responden diberi kebebasan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan pewawancara sesuai dengan pendapatnya tanpa terikat oleh ketentuanketentuan yang telah dibuat pewawancaranya. Kuesioner merupakan bentuk lain dari teknik nontes. Secara umum, ada dua jenis kuesioner yaitu kuesioner tertutup dan terbuka. Kuesioner tertutup adalah kuesioner yang telah disediakan alternatif jawabannya sehingga responden tinggal memilih yang sesuai dengan keadaan dirinya. Sedangkan kuesioner terbuka adalah kuesioner yang jawabannya belum disediakan sehingga responden bebas menuliskan apa yang dia rasakan. Satu hal yang menjadi ciri utama kuesioner adalah dalam kuesioner tidak ada jawaban benar atau salah. Salah satu contoh kuesioner tertutup adalah : Umur anda saat ini adalah : a. 15 ± 20 tahun b. 20 ± 25 tahun c. 25 ± 30 tahun d. 35 ± 35 tahun Adapun contoh kuesioner terbuka adalah : Setiap idul fitri tiba, ribuan orang seperti digerakkan untuk beridulfitri di kampung halamannya. Uraikanlah menurut pendapat anda apa yang menjadi penyebab pulangkampungnya orang yang ada diperantauan ketika Idul Fitri tiba! Ada beberapa alasan kenapa kuesioner sering dipergunakan orang dalam mengumpulkan informasi tertentu yaitu : (1) butir-butir kuesioner dapat diberikan kepada responden secara serentak sehingga lebih efektif, (2) butir-butir dalam kuesioner lebih menjamin keseragaman baik perumusan kata, isi maupun urutannya serta kuesioner lebih memudahkan dalam memberikan jawaban, (3) kuesioner memudahkan sumber data dalam memberikan jawaban serta kepraktisan serta relative lebih murah dibandingkan metode nontes yang lain.

Validitas Tes
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia senantiasa dihadapkan pada masalah keakuratan sebuah informasi. Informasi yang diterima manusia setiap hari sangat banyak dengan sumber yang semakin beragam. Koran dan televisi adalah dua sumber informasi utama saat ini. Dengan semakin banyaknya sumber-sumber informasi yang senantiasa berkembang, maka muncul sebuah pertanyaan mendasar tentang sejauhmana informasi yang diperoleh tersebut dapat dipercaya? Dalam penelitian-penelitian sosial, keakuratan informasi yang diperoleh sangat

mempengaruhi keputusan yang akan diambil. Sayangnya, akurasi informasi dalam penelitianpenelitian sosial tersebut tidak mudah diperoleh disebabkan sulitnya mendapatkan operasionalisasi konsep mengenai variabel yang hendak diukur. Untuk mengungkap aspekaspek yang hendak diteliti, maka diperlukan alat ukur yang baik dan berkualitas. Alat ukur tersebut dapat berupa skala atau tes. Sebuah tes yang baik sebagaimana disampaikan oleh Syaifuddin Azwar (2006 : 2) harus memiliki beberapa kriteria antara lain valid, reliable, standar, ekonomis dan praktis. Dalam Standards for Educational and Psychological Testing validitas adalah "... the degree to which evidence and theory support the interpretation of test scores entailed by proposed uses of tests " (1999: 9). Sebuah tes dikatakan valid jika ia memang mengukur apa yang seharusnya diukur (Allen & Yen, 1979: 95). Dalam bahasa yang hampir sama Djemari Mardapi (2004: 25) menyatakan bahwa validitas adalah ukuran seberapa cermat suatu tes melakukan fungsi ukurnya. Menurut Nitko & Brookhart (2007: 38) kevalidan sebuah alat ukur tergantung pada bagaimana hasil tes tersebut diinterpretasikan dan digunakan. Dalam pandangan Samuel Messick (1989: 13) validitas merupakan penilaian menyeluruh dimana bukti empiris dan logika teori mendukung pengambilan keputusan serta tindakan berdasarkan skor tes atau model-model penilaian yang lain Jika dikaitkan dengan bidang psikologi, penggunaan validitas dapat dijumpai dalam tiga konteks yaitu validitas penelitian, validitas soal dan validitas alat ukur. Validitas penelitian merupakan derajad kesesuaian hasil penelitian dengan keadaan sebenarnya. Validitas soal berkaitan dengan kesesuaian antara suatu soal dengan soal lain. Sedangkan validitas alat ukur merujuk pada kecermatan ukurnya suatu tes (Sumadi Suryabrata, 2004: 40). Menurut Allen & Yen (1979: 95) validitas tes dapat dibagi kedalam tiga kelompok utama yaitu : (1) validitas isi (content validity), (2) validitas konstruk (construct validity) dan (3) validitas kriteria (criterion related validity). Meskipun idealnya validasi dapat dilakukan dengan memakai semua bentuk validitas tes tersebut, tetapi pengembang tes dapat memilih bentuk validasi dengan melihat tujuan pengembangan tes (Kumaidi, 1994: 58). Validitas isi menunjuk pada sejauhmana isi perangkat soal tersebut mengukur apa yang seharusnya diukur. Dalam kaitannya dengan kegiatan pembelajaran menurut Djemari Mardapi (1996: 22) validitas ini adalah kesesuaian antara materi ujian dan materi yang telah dipelajari. Pengujian validitas isi tidak melalui analisis statistik melainkan analisis rasional yaitu dengan melihat apakah butir-butirnya telah sesuai dengan batasan domain ukur yang telah ditetapkan sebelumnya. Allen & Yen (1979: 95) membagi validitas isi kedalam dua kelompok yaitu face validity (validitas muka) dan logical validity (validitas logis). Validitas muka dapat dicapai jika tampilan tes tersebut telah meyakinkan untuk mengungkap atribut yang hendak diukur. Adapun validitas logis menunjukkan sejauhmana isi tes mengungkapkan representasi dari ciri-ciri atribut yang hendak diukur. Validitas konstruk merujuk pada sejauhmana suatu tes mengukur suatu konstruk teoretik atau trait yang hendak diukurnya (Allen & Yen, 1979: 108) konstruk dalam pengertian ini adalah berkaitan dengan aspek-aspek psikologi seseorang khususnya aspek kognitif, afektif dan psikomotor. Ada beberapa cara yang bisa digunakan untuk menguji validitas konstruk. Misalnya dengan melakukan pencocokan antara aspek-aspek berpikir yang terkandung dalam tes hasil belajar dengan aspek-aspek berpikir yang hendak diungkap oleh tujuan instruksional khusus. Pengujian yang lebih sederhana tentang validitas konstruk adalah malalui pendekatan multi trait multi-method (Saifuddin Azwar 2003: 176). Pendekatan ini akan menghasilkan bukti validitas diskriminan yang ditunjukkan dengan rendahnya korelasi antar skor yang mengukur trait yang berbeda bila digunakan metode yang sama dan validitas konvergen yang ditunjukkan oleh tingginya korelasi skor-skor tes yang mengukur trait yang sama dengan

koefisien validitas ditunjukkan dengan skor pada saat ujian masuk dengan skor yang diperoleh pada saat seseorang telah belajar selama beberapa waktu tertentu. korelasi antara L1 dengan C1 adalah -0. dengan perkecualian korelasi silang yang besarnya -0. Jadi jika diperoleh koefisien korelasi sebesar 0. Jika dimanfaatkan dalam waktu dekat maka disebut validitas konkurent (concurrent validity) dan jika dimanfaatkan diwaktu yang akan datang disebut validitas prediktif (predictive validity).37 antara L1 dan C2 validitas konstruk dalam skala sikap itu terdukung.07 serta antara L2 dengan C2 adalah 0. Menurut Sumadi Suryabrata.37 dan ini lebih tinggi daripada yang diprediksikan oleh teorinya (-0. Contoh mengenai estimasi koefisien validitas berdasarkan metode multitrait multimethod adalah sebagaimana disampaikan Fred N. maka koefisien determinasinya adalah sebesar 0.25. Korelasi antara kedua instrument tersebut disajikan dalam bentuk matriks multitrait-multimethod berikut : Dalam contoh tersebut secara teoritis dituntut adanya korelasi negative atau mendekati nol antara L dan C. Tetapi dalam ujian masuk perguruan tinggi misalnya. (2004: 46) dalam menafsirkan koefisien validitas yang didapat dari mengkorelasikan skor alat ukur dengan kriterianya sebaiknya dilakukan melalui koefisien determinasi yaitu koefisien korelasi kuadrat. kesahihan alat ukur dilihat dari sejauhmana hasil pengukuran tersebut sama dengan hasil pengukuran alat lain yang dijadikan kriteria. Biasanya.5. Kerlinger (1973:742) tentang matriks hubungan antara sikap sosial. Ada dua instrument berbeda yang digunakan untuk mengukur liberalisme (L) dan konservatisme (C) dalam hubungannya dengan sikap sosial seseorang yaitu dengan pernyataan sikap biasa (metode 1) dan referen (metode 2) menggunakan referensi-referensi sikap seperti sepatah kata atau frase singkat. Dalam validitas kriteria.30). Korelasi silang antara L dan C yakni korelasi antara L pada metode 1 dan C pada metode 2 atau antara L1 dan C2 adalah -0.09 yang berarti bahwa keduanya hampir selaras dengan teorinya. .menggunakan metode yang berbeda. Validitas kriteria ditunjukkan dengan angka korelasi antara skor pada alat yang dipergunakan dengan skor yang dihasilkan dari alat yang dijadikan kriteria. yang dijadikan kriteria. dalam pengukuran psikologis. diperlukan pengujian dengan menggunakan korelasi. adalab hasil Pengukuran lain yang telah dianggap sebagai alat ukur yang baik misalnya tes Stanford Binnet atau tes Weschler. Untuk memperoleh validitas kriteria. Validitas kriteria merupakan validitas yang disusun berdasarkan kriteria yang telah ada sebelumnya. semakin tinggi angka koefisien determinasi. Maka. Validitas kriteria dibedakan menjadi dua macam yaitu berdasarkan kapan kriteria itu dapat dimanfaatkan. maka semakin tinggi pula kecermatan prediksinya.

Dalam Permen No. dokumen pemanfaatan berbagai fasilitas yang menunjukkan difungsikannya sumbersumber belajar 4. dan lain-lain) yang menunjukkan adanya program pembiasaan mencari informasi/pengetahuan lebih lanjut dari berbagai sumber belajar . EVALUASI KOLABORATIF Guru dapat melakukan evaluasi proses pembelajaran secara kolaboratif. 41 tahun 2007 tentang Standar proses dinyatakan bahwa evaluasi proses pembelajaran dilakukan untuk menentukan kualitas pembelajaran secara keseluruhan. bahasa mandarin. kelompok belajar bahasa asing (bahasa inggris. bahasa jepang. seperti: ‡ Apa yang saya ajarkan hari ini? ‡ Apa yang masih membingunkan bagi siswa? ‡ Apakah saya menemukan masalah dan issu yang tidak diharapkan? ‡ Apa jenis pembelajaran tingkat tinggi yang saya sampaikan? ‡ Apa jenis pembelajaran tingkat rendah yang saya sampaikan? ‡ Apakah siswa saya dapat menerima materi yang saya ajarkan? ‡ Apakah saya telah membelajarkan siswa? ‡ Bagaimana saya memperbaiki tehnik pembelajaran? ‡ Apa yang ingin dan perlu kuketahui lebih banyak lagi? ‡ Apa sumber belajar yang memberi ilham dan menyenangkan saya (photo. dan lain-lain). Kolaborasi dapat dilakukan dengan rekan guru atau siswa. kelompok ilmiah remaja. dokumen silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) 2. Membandingkan poses pembelajaran yang dilaksanakan guru dengan standar proses b. Guru dapat menuangkan evaluasi yang telah dilakukannya dalam jurnal refleksi pembelajaran. Hal-hal yang perlu didokumentasikan adalah: 1. EVALUASI DIRI Evalusi proses pembelajaran dapat dilakukan oleh guru yang bersangkutan secara mandiri. dokumen hasil diskusi. mengunjungi sumber belajar di luar lingkungan sekolah (museum. bahasa arab. pelaksanaan proses pembelajaran. laporan hasil analis terhadap suatu masalah yang menunjukkan keterlibatan siswa dalam kegiatan belajar mengajar 3. Guru dapat mengisi jurnal ini pada setiap pelajaran yang telah diberikan/ diajarkan atau selama guru tersebut melaksanakan pekerjaan sehari-harinya sebagai guru Jurnal merekam renungan dan refleksi dari pikiran. Mengidentifikasi kinerja guru dalam proses pembelajaran sesuai dengan kompetensi guru A. dan penilaian hasil pembelajaran. websites.Evaluasi proses pembelajaran merupakan tahap yang perlu dilakukan oleh guru untuk menentukan kualitas pembelajaran. kebun raya. Evaluasi proses pembelajaran diselenggarakan dengan cara: a. yang perlu diperhatikan juga adalah mendokumentasikan berbagai hal yang menyangkut proses pembelajaran. mencakup tahap perencanaan poses pembelajaran. C. Kegiatan ini sering disebut juga sebagai refleksi proses pembelajaran. kliping. dll)? ‡ Apakah tujuan pembelajaran dapat tercapai? B. mengakses internet. karena kita akan menemukan kelebihan dan kekurangan dari proses pembelajaran yang telah dilakukan. dokumen yang menunjukkan adanya kegiatan mengunjungi perpustakaan. DOKUMENTASI PROSES PEMBELAJARAN Dalam evaluasi proses pembelajaran. bahasa perancis. pusat industri.

dokumen laporan kepengawasan proses pembelajaran yang dilakukan oleh kepala sekolah JURNAL I Kurikulum. membantu warga sekolah yang memerlukan 10. seni dan budaya. 9. dan Tenaga Pendidikan sebagai Unsur Strategis dalam Penyelenggaraan Sistem Pengajaran Nasional Prof. pagelaran tari. dokumen penugasan latihan ketrampilan menulis siswa. latihan tari. karya teknologi tepat guna dan lain sebagainya yang menunjukkan adanya pengalaman mengekspresikan diri melalui kegiatan seni dan budaya 7. dokumen kegiatan megunjungi pameran lukisan. tingkat kabupaten / propinsi / nasional yang menunjukkan adanya pengalaman belajar untuk menumbuhkan sikap kompetitif dan sportif. teater. dokumen kegiatan pekan bahasa.5. buletin siswa. laporan penulisan karya tulis. kunjungan ke laboratorium alam. laporan kunjungan lapangan. musik. dan lainlain 11. peringatan hari-hari besar agama. drama. daur ulang sampah. latihan musik. Dr. H. dan sebagainya yang menunjukkan adanya pengalaman belajar untuk memanfaatkan lingkungan secara produktif dan bertanggung jawab 6. MA *) . dokumen kegiatan mengikuti pertandingan antar kelas. Sistem Evaluasi. majalah dinding. dan sebagainya yang menunjukkan adanya pengalaman mengapresiasikan karya seni dan budaya 8. pameran lukisan. dokumen pemanfaatan lingkungan baik di dalam maupun di luar kelas seperti kebun untuk praktek biologi. konser musik. dokumen pembiasaan dan pengamalan ajaran agama seperti aktivitas ibadah bersama. ketrampilan membuat barang seni. seperti: hasil portofolio. pentas seni. Soedijarto.

The changes could raise several questions due to the important and strategic role of the curriculum in achieving the objective of national education system. . dan sistim evaluasi Abstract There have been several changes in the primary and secondary school curriculum system ever since Indonesia gained its independence. Dalam tulisan ini disebutkan bahwa apabila sekolah dengan kurikulum yang dirancang dan dilaksanakan secara relevan. pilar belajar. tulisan ini membahas (1) makna kurikulum sebagai unsur strategis dalam pendidikan sekolah. (3) pendekatan proses pembelajaran dan implikasinya terhadap sistem evaluasi. Dalam kaitannya dengan penyelenggaran sistem pengajaran nasional. particularly about (1) the role of curriculum as a strategic means in school education. (2) tujuan dan materi kurikulum yang relevan .Abstrak Sejak Indonesia merdeka. (4) evaluasi sebagai media pendidikan dan sarana umpan balik . dan memajukan kebudayaan nasional. dan (5) peranan guru dan implikasinya terhadap profesionalisasi jabatan guru. efisien dan efektif akan mempu mendukung terlaksanya fungsi pendidikan nasional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Kata kunci: Kurikulum. telah beberapa kali terjadi perubahan kurikulum S sekolah dasar dan menengah. Perubahan itu dapat menimbulkan berbagai pertanyaan mengingat betapa penting dan strategisnya peranan kurikulum dalam mencapai tujuan pendidikan nasional. This article discusses several issues related to the national instructional system.

and (5) teachers ole and its impact to the professionalism of education personnel. dan kurikulum 1994. Kurikulum 1994. kurikulum 1984. the school curriculum will be able to support the national education to function in educating the Indonesian people and developing the national culture. kita telah mengenal berbagai kurikulum. relevant. Dari serangkaian perubahan kurikulum. (4) evaluation as an educational medium as well as a feedback instrument. bukan . This article states.(2) the relevant objectives and contents of the curriculum. sejak Indonesia merdeka. perubahan kurikulum banyak yang dipengaruhi oleh perubahan politik. kurikulum tahun 1950-an. kurikulum 1975 digunakan untuk memasukkan Pendidikan Moral Pancasila. (3) the approaches in learning process and their implication to evaluation system. kurikulum tahun 1964. yang didasarkan atas hasil penilaian nasional pendidikan (national assessment) hanyalah kurikulum 1975 dan kurikulum PPSP (Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (1974 1981). kurikulum 1975. efficient and effective. Kurikulum 1964 disusun untuk meniadakan MANIPOL-USDEK. Selebihnya merupakan perubahan yang didasarkan atas asumsi teoretik. ada kurikulum 1947. kurikulum tahun 1968. Pendahuluan Memasuki tahun 2004 ini. dan kurikulum 1984 digunakan untuk memasukkan mata pelajaran Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB). if the design and the implementation are appropriate. Mengapa kurikulum yang satu diganti dengan kurikulum yang lainnya. di samping meniadakan mata pelajaran PSPB juga diperkenalkannya sistem kurikulum SMU yang dimaksudkan untuk menjadikan pendidikan umum benar benar sebagai pendidikan persiapan ke perguruan tinggi. Sampai dengan kurikulum 1984.

(4) evaluasi sebagai media pendidikan dan instrumen umpan balik. dan (5) peranan guru dan implikasinya terhadap profesionalisasi tenaga kependidikan. Makna Kurikulum sebagai Unsur yang Strategis dalam Pendidikan Sekolah . (2) tujuan dan materi kurikulum Kurikulum. dan Tenaga Kependidikan sebagai Unsur Strategis yang bermakna bagi kedudukan kurikulum yang strategis. Tetapi penggantian kurikulum 1975 menjadi kurikulum 1984 sama sekali tidak didasarkan atas hasil evaluasi tersebut. 1994 telah. Atas dasar pertimbangan di atas. Dr. Memang tradisi penelitian dan pengembangan yang dirintis oleh almarhum Menteri Mashuri dan diperkuat oleh Prof. 1984. belum atau tidak berhasil mempengaruhi peningkatan mutu pendidikan? Sesungguhnya pada tahun 1981 Balitbang Depdikbud telah selesai (dimulai tahun 1978) melakukan studi evaluasi kurikulum secara nasional yang komprehensif dengan datanya terkumpul dalam 6 (enam) disket komputer. Bahkan data yang terkumpul dari hasil penelitian evaluatif yang berlangsung dari tahun 1978 sampai tahun 1980-pun tidak sempat diolah lebih lanjut. Sistem Evaluasi. Dalam konteks praktek perubahan kurikulu m yang demikian. tulisan ini tidak berpretensi berangkat dari hasil evaluasi ilmiah melainkan berangkat dari premise teoretik.atas dasar temuan-temuan hasil evaluasi yang dilakukan secara sistematik. tulisan ini akan mencoba membahas : (1) makna kurikulum sebagai unsur yang strategis dalam pendidikan sekolah. Soemantri Brodjonegoro nampaknya berhenti sejak Menteri Nugroho Notosusanto. Karena itu kita sukar untuk menjawab pertanyaan Seberapa jauh kurikulum 1975. (3) pendekatan dan proses pembelajaran yang relevan.

Para pendiri Republik sadar akan adanya jurang antara kondisi yang dicita-citakan yaitu masyarakat negara kebangsaan yang moderen dan demokratis yang berdasarkan Pancasila dengan kondisi perkembangan masyarakat Indonesia pada saat proklamasi. dan sikap dari warga masyarakat moderen. Karena itu harapan terbesar dari suatu masyarakat yang melakukan transformasi budaya adalah menjadikan sekolah sebagai pusat pembudayaan berbagai kemampuan. Dalam mengemban peranan sekolah sebagai pusat pembudayaan inilah kedudukan kurikulum sangatlah strategis. Karena proses pembudayaan berbagai kemampuan nilai. Britania Raya. Kalau kita cermati. dan memajukan kebudayaan nasional melalui diselenggarakannya satu sistem pengajaran nasional (sekolah). mengamanatkan perlunya mencerdaskan kehidupan bangsa. Para pendiri Republik nampaknya terilhami oleh perkembangan negara-negara kebangsaan tersebut yang. Perancis. Italia. proses pembelajaran yang harus diterapkan. maupun Jepang. 4 Tahun 1950. Proses pembelajaran yang demikian hanya akan terjadi secara efisien. Jerman.Sekolah adalah lembaga sosial yang keberadaannya sebagai bagian dari sistem sosial negara bangsa sangat strategis sejak industrialisasi dan gerakan negara kebangsaan pada abad ke-19. jo UU No. dalam sejarahnya merupakan proses menjadi satunya kerajaan-kerajaan kecil dari masing-masing negara tersebut. tujuan pendidikan yang dirumuskan dalam UndangUndang Pendidikan Nasional. dan sistem evaluasi yang harus dikembangkan dan dilaksanakan. dan sikap itu hanya dapat berlangsung melalui proses pembelajaran yang bermakna sebagai proses pembudayaan. materi yang harus dipelajari. baik UU No. yang mencitakan manusia terdidik Indonesia sebagai manusia susila . dan efektif melalui suatu sistem kurikulum yang dirancang secara sistematik sejak penentuan tujuan yang harus dicapai. yang melahirkan negara-negara kebangsaan seperti Amerika Serikat. nilai. 12 Tahun 1954.

yang cakap dan demokratis serta bertanggung jawab . dalam pengertian rendahnya kesungguhan dan kemampuan guru. Ketercapaiannya tidak mungkin tanpa suatu proses yang terencana. 2 Tahun 1989 yang mencitakan wujud manusia Indonesia terdidik sebagai manusia yang beriman dan bertaqwa. Kalau tetap demikian memang segala tujuan itu tidak akan dapat dicapai. Sistem Evaluasi. sehat jasmani dan rohani. bertaqwa dan Kurikulum. dalam pengertian kalau penyelenggaraan pendidikan disekolah dengan kondisi seperti yang berlangsung sampai dengan hari ini. terprogram. atau UU No. Tetapi pada umumnya tujuan pendidikan yang demikian ideal selama ini tidak pernah dengan sungguh-sungguh diterjemahkan secara operasional dan diupayakan ketercapaiannya. dan Tenaga Kependidikan sebagai Unsur Strategis berakhlak mulia. karena semuanya tidak dengan sendirinya dapat meningkatkan mutu pendidikan. serta terbatasnya. kesemuanya mencitakan wujud sosok manusia yang ideal. dan menghafal dengan evaluasi hanya mengukur kemampuan mengingat apa yang telah dipelajari dengan keterbatasan buku bacaan baik untuk guru dan murid. Mereka ini adalah kaum realis. dalam pengertian model pembelajaran yang tidak lebih dari mendengar. mencatat. memiliki pengetahuan dan ketrampilan. berkepribadian yang mantap dan mandiri serta mempunyai rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan . dan relevan. dan seterusnya . bahkan tanpa fasilitas serta sarana dan prasarana yang diperlukan. dan terlaksana dengan efisien. efektif. Bahkan banyak sementara orang (termasuk para pejabat atau pakar) yang memandang hal tersebut tidak mungkin dapat dicapai oleh sekolah. 20 Tahun 2003 yang mencitakan manusia yang beriman. Kalau demikian sesungguhnya tidak perlu kita mengubah kurikulum bahkan tidak perlu mengubah UU Sisdiknas. dan yang terakhir UU No. . dengan pengertian waktu yang terbatas.

Tulisan ini berpandangan bahwa sekolah dengan kurikulum yang dirancang dan dilaksanakan secara relevan. (2) yang menguasai ilmu pengetahuan dan ketrampilan. dalam berbagai UU pendidikan nasional kita. sesungguhnya mengharapkan pendidikan nasional berfungsi mencerdaskan kehidupan bangsa sangat berlebihan karena tidak akan dapat terlaksana. dan Tenaga Kependidikan sebagai Unsur Strategis Keempat karakteristik manusia yang dirumuskan dalam berbagai Undang Undang Pendidikan Nasional tersebut hakekatnya karakteristik yang bersifat universal. (3) yang sehat jasmani dan rohani. pakar. yang masih perlu diterjemahkan kedalam rumusan yang operasional dan terkait dengan perkembangan masyarakat Indonesia khususnya dan . dan memajukan kebudayaan nasional.Tulisan ini memandang kalau sikap ini yang tetap berada di benak semua lapisan masyarakat Indonesia dari elit politik. Tujuan dan Materi Kurikulum yang Relevan Tujuan Kalau kita kaji secara mendalam tujuan pendidikan yang selama ini dirumuskan. sampai guru dan orang tua murid. Sistem Evaluasi. akan menemukan betapa pendidikan nasional diharapkan untuk dapat melahirkan manusia Indo nesia yang : (1) religius dan bermoral. (4) yang berkepribadian dan bertanggung jawab Kurikulum. efisien dan efektif akan mampu mendukung terlaksananya fungsi pendidikan nasional utnuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

hanya bangsa yang memiliki infrastruktur teknologi unggul yang dapat bertahan. agar negara bangsa Indonesia dapat bertahan sebagai negara yang merdeka dan bermartabat diperlukan manusia Indonesia yang berkualitas yang mampu mendukung : (1) sistem politik demokrasi yang stabil berdasarkan Pancasila. baik politik. Dari ulasan singkat di atas dapatlah kita sampai kepada suatu kesimpulan bahwa di tengah era globalisasi dengan segenap tantangan dan kesempatan yang terbuka. Dalam era semacam ini hanya bangsa yang berkualitas sumber daya manusianya. yang dalam bidang ekonomi ditunjukkan dengan kemampuannya dalam : (1) mengolah dan mengelola sumber daya alam. dan sikap yang dapat dijadikan rujukan dalam proses perencanaan kurikulum perlu dipahami tingkat dan arah perkembangan masyarakat Indonesia. dan (5) mengelola perdagangan (Harbison-Myers). bersaing dan terus maju. Yang maknanya adalah berlakunya berbagai ukuran dan aturan internasional dalam segala bidang kehidupan. sosial budaya. Dalam bidang politik. Dalam bidang ilmu pengetahuan dan tehnologi. (2) sistem ekonomi nasional yang mantap infrastruktur fisiknya. yang dapat bertahan dan secara berkesinambungan maju.masyarakat internasional pada umumnya. Wujud nyata dari setiap karakteristik tersebut akan berbeda dalam suatu tingkat perkembangan masyarakat dan tingkat pendidikan. Hampir tidak ada seorangpun yang dapat mengelakkan diri dari kenyataan bahwa Indonesia di millenium ketiga ini berada dalam era globalisasi. Karena itu dalam menterjemahkan keempat karakteristik tersebut kedalam rumusan wujud kemampuan. ilmu pengetahuan dan tehnologi. (4) mengelola modal. (2) pengembangan teknologi. ekonomi. komunikasi/transportasi bahkan kehidupan keagamaan. hanya bangsa yang sistem politik demokrasinya mantap yang mampu bertahan dan terus maju. infrastruktur . nilai. (3) menghasilkan komoditas yang bermutu dan dapat bersaing di pasar dunia.

etos kerja. nilai dan sikap yang memungkinkannya berpartisipasi secara aktif dan cerdas dalam proses politik.teknologinya. Berangkat dari pemahaman tentang karakteristik masyarakat moderen di era globalisasi yang perlu kita wujudkan di Indonesia dapatlah kiranya kita sampai kepada identifikasi kemampuan. kesusastraan. berkembang wirausahanya dan tumbuh pengusaha kecilnya. (3) memiliki kemampuan dan sikap ilmiah untuk dapat mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui kemampuan penelitian dan pengembangan. dan (5) mantapnya etika sosialnya. serta berakhlak mulia. Materi yang Relevan Setelah teridentifikasi empat gugus kemampuan. (4) memiliki kepribadian yang mantap. nilai dan sikap yang perlu dikuasai dan dimiliki manusia terdidik Indonesia yaitu : (1) memiliki kemampuan. (3) sistem pengembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi yang tangguh. maupun dimensi kognitif dan normatif dari kebudayaan nasional. (4) majunya kebudayaan dalam berbagai seginya baik kesenian. pertanyaannya adalah Materi pendidikan manakah yang harus dijadikan obyek belajar ? . nilai dan sikap yang terkait dengan kepentingan terwujudnya masyarakat Indonesia moderen dan bermartabat di era globalisasi. infrastruktur tenaga manusianya. (2) memiliki kemampuan. berkarakter dan bermoral. dan disiplin kerja yang memungkinkannya dapat secara aktif dan produktif berpartisipasi dalam berbagai kegiatan ekonomi.

20 Thn 2003 (Pendidikan Dasar) (Sampai Sekolah Menengah) a. Ilmu Pengetahuan Alam f. Bahasa Indonesia d. 2 th. Membaca dan Menulis e. Matematika. Kesenian dan Muatan i. Pendidikan Kewarganegaraan c. 2 Tahun 1989 maupun UU No. 1989 Menurut UU No. Matematika e. 20 tahun 2003 telah memberikan jawaban seperti yang dikutip dibawah ini. Pengantar Sains dan Teknologi g. Budaya. Ketrampilan. termasuk berhitung f. dan Olah raga. Pendidikan Kewarganegaraan c. Seni.Ilmu Bumi h. Pendidikan Pancasila a. serta h. Bahasa d. Menurut UU No.Pendidikan Agama b.Undang-undang No. Pendidikan Agama b. Ilmu Pengetahuan Sosial g. Kerajinan Tangan dan Kesenian . Sejarah Nasional dan Sejarah Umum Lokal j.

k. Philip Phenix dari pengamatannya terhadap perkembangan peradaban dan memandang perlunya generasi muda siap untuk melanjutkan perkembangan peradaban tersebut. A high level of civilization is the consequence of the dedicated service of person in the special gifts for the benefits of all. tetapi hakekatnya yang perlu anyakan adalah mengapa mata pelajaran tersebut yang ditentukan. 2 Th. 1989. and saints. Philip Phenix menyatakan : The richness of culture and the level of understanding achieve in advanced civilization are due almost entirely to the labours of individual men of genius and organized communities of specialists. scholars. Bahasa Inggris Kedua ketentuan yang terdapat dalam UU No. Every person is indebted for what he has to a great network of skilled inventors. Dalam menjawab pertanyaan tentang mengapa suatu bahan kajian dan suatu pendekatan ditempuh. Pertanyaannya adalah apakah benar mata pelajaran tersebut menunjang tercapainya fungsi dan tujuan pendidikan nasional. Pendidikan Jasmani dan Kesehatan l. 1989. artists. Demikian juga dengan IPS dalam UU SISDIKNAS tahun 2003 dengan Ilmu Bumi. experimenters. apa bedanya dengan dipisahkannya menggambar dan kesenian pada UU No. Sejarah pada UU No. who have devoted their special talents to the well being of all. Dalam kaitan ini. misalnya kalau dalam UU SISDIKNAS tahun 2003 Seni. Menggambar m. 1 . Budaya dan Olah Raga dalam satu gugus. prophets. 2 tentang SISDIKNAS dan UU SISDIKNAS (2003) nampaknya berbeda. seers. 2 th.

Symbolics. Esthetics. comprises ordinary language. Synnoetics. rhythmic patterns. and the like. rituals. meaning meditative thought . generalizations. which was devised because no existing concept appeared adequate to the type of understanding intended. and various types of nondiscursive symbolic forms such as gesture. and of man. Synnoetics. The third realm. yang penjelasannya diuraikan sebagai berikut : The first realm. These science provide factual descriptions. embraces what Michael Polanyi calls personel knowledge and Martin Buber the I-Thou relation. The novel term synnoetics . mind. and society. Mathematics. contains the various arts. the visual arts. life. These meaning are contained in arbitrary symbolic structures. includes the science of the physical world of living things. the arts of the movement.Berangkat dari pemahamannya tentang hakekat perkembangan peradaban Philip Phenix mengidentifikasikan enam wilayah yang bermakna untuk menjadikan peserta didik memahami makna dunia yang dimana mereka hidup dan mengembangkan dirinya. and theoretical formulation and experimentation in the world of the matter. and this in turn is compounded of syn. Esthetics. Keenam wilayah makna tersebut yaitu : Symbolics. dan Synoptics (Realms of Meaning). meaning cognition . Empirics. Meaning in this realm are concerned with the contemplative perception of particular significant things as unique objectifications of ideated subjectivities. The second realm. meaning with or together and noesis. Thus synnoetics signifies . derives from the Greek synnoesis. Ethics. fourth realm. and literature. such as music. with socially accepted rules of formation and transformation created as instrument for the expression and communication of any meaning whatsoever. Empirics.

Theses discipline combine empirical. struktur ilmu pengetahuan yang luas. and synnoetic meanings into coherent whole. The sixth realm. It include history. Penulis mengartikan bahwa pemikir seperti Philip Phenix dan J. which reflect intersubjective understanding. morality ha to do with personal conduct that is based on free. and philosophy.2) Disadari bahwa kandungan pengetahuan yang terdapat didalam setiap wilayah dan sub wilayah demikian luas. which are concerned with abstract cognitive understanding. refers to meanings that are comprehensively integrative. to the arts. which express idealized esthetic perceptions. karena itu pendidikan perlu memilih yang essensial. Kiranya kita sepakat bahwa setiap disiplin atau dalam bahasanya Phenix setiap Realms of Meaning mengandung kekhususan dalam metode. deliberate decision. Synoptics.relational insight or direct awareness . Karena itu Philip Phenix. Ethics. and to personal knowledge. esthetic. dan konsep-konsep dasar yang menonjol. Bruner hakekatnya menghidupkan pemikiran Whitehead pada tahun 1920-an. or awareness of relation. dan para pembaharu pendidikan yang mengakhiri gerakan pendidikanprogressive di Amerika Serikat seperti Jerome Brunner. perceptual form. yang hakekatnya merupakan penerus Alford North Whitehead mengutamakan pemilihan bahan pelajaran secara ketat agar para pelajar dapat mempelajari sesuatu sampai tingkatan memahami makna yang dipelajari bagi kehidupannya. religion. responsible. yaitu : . Berangkat dari pemikiran ini Philip Phenix selanjutnya mengemukakan empat prinsip dasar dalam memilih media pelajaran dari setiap wilayah arti. In contrast to the sciences. The fifth realm. includes moral meaning that express obligation rather than fact.

suatu pandangan yang sedang dipopulerkan oleh sementara pakar. Sesungguhnya penulis berpandangan bahwa UU no. bahan pelajaran mengutamakan method of inquiry . bahan pelajaran harus diambil dari disciplined of inquiry. c. d. Masalahnya terutama disebabkan karena berbagai ketentuan sebagai yang tercantum dalam pasal 13 ayat (1) tentang fungsi dan tujuan pendidikan dasar dan pasal 15 ayat (1) tentang fungsi dan tujuan pendidikan menengah dan pasal 16 ayat (1) tentang fungsi dan tujuan pendidikan tinggi. Proses pembelajaran yang terjadi dari tingkat SD sampai Perguruan Tinggi . tidak diupayakan untuk dapat terwujud. dan bahan pelajaran harus dapat mendorong peserta didik berpikir secara imajinatif Pendekatan pemilihan bahan ini jelas berbeda dari pendekatan Paul Freire yang menyerahkan pemilihan bahan kepada peserta didik. suatu aliran pemikian dalam pendidikan yang sering muncul dalam perjalanan sejarah pemikiran pendidikan tetapi selama ini belum mampu mengubah kenyataan pendidikan dalam masyarakat moderen dan post moderen dalam masyarakat demokratis yang selalu memerlukan suatu tatanan hidup bernegara dengan segala persyaratannya. b. Padahal pandangan Freire dan Ivan Hlich hakekatnya berangkat dari pandangan kaum nihilis yang mencitakan adanya Stateless Society . Yang menjadi pertanyaan adalah seberapa jauh perancang UU SISDIK NAS 2003 telah secara mendalam mempelajari kedudukan SISDIKNAS dalam proses pembangunan negara bangsa moderen Indonesia sebelum merumuskan pokok pokok pikiran yang mendasar tentang sistem pendidikan nasional.a. 2 th 1989 masih relevan untuk menjadikan sistem pendidikan nasional dapat berfungsi mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan kebudayaan nasional. bahan pelajaran harus dipilih konsep-konsep utama suatu disiplin yang mewakili hakekat disiplin tersebut.

pada umumnya masih proses penyajian informasi oleh pengajar untuk dicatat oleh peserta didik, suatu model pembelajaran yang terjadi sebelum berlakunya UU No. 2 th 1989. Adalah keyakinan profesional dan akademik saya bahwa tanpa proses pembelajaran yang bermakna sebagai proses pembudayaan, tujuan dan struktur kurikulum yang telah dirancang dengan baikpun tidak akan dapat meningkatkan mutu pendidikan.

Pendekatan Proses Pembelajaran dan Implikasinya terhadap Sistem Evaluasi Pendekatan Proses Pembelajaran

Bagian ini bermaksud mencoba menjawab pertanyaan

model

pembelajaran seperti apa yang dapat bermakna sebagai proses pembudayaan ? Pandangan kami adalah bahwa bila proses pembelajaran dapat merangsang, menantang dan menyenangkan seperti yang dikemukakan oleh Whitehead sampai pada tingkat joy of discovery diharapkan proses pembelajaran itu akan bermakna sebagai proses pembudayaan dan proses penguasaan seni menggunakan ilmu pengetahuan. Dalam kaitan ini UNESCO melalui International Commision on Education for The Twenty First Century 3) yang antara

lain bertujuan untuk mengubah dunia from technologically divided world where high technology is privilege of the few to technologically united world mengusulkan empat pilar belajar yaitu learning to know, learing to do, learning to be, and learning to live together . Menerapkan empat pilar tersebut berarti bahwa proses pembelajaran memungkinkan peserta didik dapat menguasai cara memperoleh pengetahuan, berkesempatan menerapkan pengetahuan yang dipelajarinya, berkesemp atan untuk berinteraksi secara aktif dengan sesama peserta didik sehingga dapat

menemukan dirinya. Model pembelajaran seperti ini hanya dapat berlangsung dengan tenaga guru yang penuh konsentrasi, peralatan yang memadai, dengan materi yang terpilih dan waktu yang cukup tanpa harus mengejar target untuk ujian nasional. Ujian nasional akan mengurangi kreatifitas belajar sampai tingkatan joy of discovery . Untuk jelasnya keempat pilar belajar akan diuraikan secara lebih rinci. Learning to know , learning to do , learning to live together dan learning to be , empat pilar belajar yang oleh UNESCO dipandang sebagai pendekatan belajar yang perlu diterapkan untuk menyiapkan generasi muda memasuki abad ke-21 hakekatnya merupakan pendekatan belajar yang telah diperkenalkan oleh tokoh-tokoh pemikir pendidikan sejak permulaan abad ke20. Pendekatan ini demikian berkembang di Amerika Serikat dan Eropa Barat, terutama sejak ketertinggalan Amerika Serikat dalam teknologi ruang angkasa Uni Soviet pada tahun 1957. Pemikir pendidikan seperti Whitehead (1916) memandang pendidikan sebagai acquisition of the art of the utilization of knowledge 4). Karena itu dia sampai menyatakan bahwa orang yang paling banyak pengetahuannya adalah orang yang tidak berguna dibumi Tuhan yang dalam bahasa aslinya tertulis sebagai berikut : A merely well informed man is the most useless bore on God s earth 5) Selanjutnya dalam ceramahnya pada

himpunan Matematika pada tahun 1916 dia menekankan aga peserta didik r sejak dini harus sudah dapat menikmati proses penemuan. Kalimat lengkapnya tertulis sebagai berikut: Let the main ideas which are introduced into a child s education be few and important, and let them be thrown into every combination possible. The child should made them his own, and should understand their application here and now in the circumstance of his actual life. From the very beginning of his education, the child should experience the joy of discovery 6) .

Kritik yang dia tujukan ke praktek pendidikan di Inggris pada permulaan abad ke-20 ini menjadi landasan pembaharuan pendidikan di Amerika Serikat pasca Sputnik. Selanjutnya muncul pemikir-pemikir pendidikan di Amerika Serikat seperti Philip Phenix, Jerome Bruner, dan Israel Sheffler, Philip Phenix misalnya mengatakan: It is more important for the student to become skillful in the ways of knowing than to learn about any particular product of investigation. Knowledge of methods makes it possible for a person to continue learning and undertake inquiries on his own 7)

Gerakan pembaharuan pendidikan di Amerika Serikat yang juga mempengaruhi negara-negara Eropa Barat telah membuahkan kemajuan IPTEK yang berpengaruh kepada perkembangan negara-negara Barat. Memasuki akhir abad ke-20, dalam dunia yang makin menjadi mengglobal, perbedaan kemampuan antara negara maju dan negara berkembang makin melebar. Sadar akan hal ini UNESCO membentuk suatu komisi International yang tujuannya memberikan rekomendasi kepada UNESCO untuk menerapkan empat pilar belajar. Dua kutipan dari laporan Komisi Internasional berikut menunjukkan situasi paradoksal yang dihadapi negara berkembang. The need for change from narrow nationalism to universalism, from ethnic and cultural prejurdice to tolerance, understanding and pluralism, from autocracy to democracy in its various manifestations, and from technologically united world, places enormous responsibilities on teacher who participate in the moulding of the characters and minds of the new generation 8)

dengan guru yang secara profesional kurang memenuhi syarat. while the quality of education itself was not given priority. dan mengingat kembali yang berdampak tidak adanya kesempatan menerapkan pendekatan moderen dalam proses pembelajaran. Mufti yakin bahwa tiadanya kesempatan bagi peserta didik untuk memperoleh pendidikan yang bermutu akan merugikan masyarakat karena sukar memperoleh sumber daya manusia yang bermutu untuk pembangunan masyarakat.Demikian tingginya tuntutan terhadap peranan yang diharapkan dari pendidikan untuk membentuk karakter dan mental generasi muda untuk dapat melakukan transformasi budaya. Suatu tuntutan yang pada hakekatnya telah digariskan oleh para pendiri Republik Indonesia yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan kebudayaan nasional. 9) Akibat dari perkembangan ini yang terjadi adalah sekolah yang berjubel. menghafal. This drive by developing countries was in fulfilment of UNESCO s mission to achieve Education for All . Dalam kalimat aslinya dia menyatakan: . proses pembelajaran tidak lebih dari mencatat. governments and international agencies in the developing world sought to respond to development challenges by focusing increasingly on expanding educational opportunities. But the expansion in education was concentrated on coping with growing demand for schooling. kondisi pendidikan di negara berkembang pada umumnya (termasuk Indonesia) dilukiskan oleh seorang anggota Komisi tersebut In am Al Mufti dalam artikelnya Excellence in Education : investing in human talent dalam: in the past two decades in particular. Tetapi untuk melaksanakan peranan ini.

Dalam kalimat lengkapnya tertulis sebagai berikut: Epistemological relevance in short requires us to reject both myth and mystic union. Learning to Know Seperti telah dikemukakan oleh Philip Phenix. 10) Dengan latar belakang inilah. proses pembelajaran yang mengutamakan penguasaan ways of knowing atau mode of inquiry telah memungkinkan peserta didik untuk terus belajar dan mampu memperoleh pengetahuan baru dan tidak hanya memperoleh pengetahuan hasil penelitian orang lain. learning to do. yaitu ketertinggalan negara berkembang dari negara maju dalam penguasaan IPTEK yang melatarbelakangi kemajuan ilmu dan stabilnya sistem politik demokrasi dan tiadanya dukungan bagi pemerataan pendidikan. but the flexibility of mind capable of transcend- . not immersion in the phenomenal and conceptual given. learning to live together. yaitu: Learning to know.Notwithstanding the good intentions of traditional policies. Dalam bahasan Israel Scheffler pilar ini pada hakekatnya terkait dengan relevansi epistemology. UNESCO memperkenalkan empat pilar belajar. yang mengutamakan proses pembelajaran yang memungkinkan peserta didik (pelajar/mahasiswa) terlibat dalam proses meneliti dan mengkaji. to deprive outstanding students of appropriate educational opportunities is to deprive society of the best human resources that lead towards real and effective development. dan learning to be. Karena itu hakekat dari Learning to Know adalah proses pembelajaran yang memungkinkan pelajar/mahasiswa menguasai teknik memperoleh pengetahuan dan bukan semata-mata memperoleh pengetahuan. It requires not contact but criticism.

exhausted in a concern for inquiry within the structure of several disciplines. The bearing of inquiry upon practice is moreover of the greatest educational interest. Such interest is not. criticism. thought is an adaptive instrument for overcoming environmental difficulties. Scientific inquiry. Scheffler memandang pentingnya pilar learning to know untuk berangkat dari disiplin ilmu pengetahuan karena bagi mereka mode of inquiry dari disiplin ilmu adalah bentuk yang paling tertinggi dari berpikir. An education that fosters criticism and conceptual flexibility transcends its environment and by erecting a mythical substitue for this world but rather striving for a systematic and penetrating 11) comprehension of it. Selanjutnya dia menguraikan pengkajian dalam kalimat berikut: Theoretical inquiry. Dalam kaitan ini dia menyatakan: In the revolutionary perspective. contrary to recent emphases. critique and execution upon responsible inquiry need the supplement theoretical attitude and 12) disciplinary proficiencies in the traing of the young. Habits of practical diagnosis.ing. . reordering. and expanding the given. independently pursued has the most powerful potential for the analysis and transformation of practice. the most highly form 13) of thought is the mos explicity problem directed. Seperti halnya Phenix. Sengaja penulis mengutip pandangan Scheffler demikian panjang karena dari sudut pandang pendidikan tinggi. and alteration of their practical outlook. pandangan Scheffler tentang relevansi pendidikan sangat terkait dengan learning to know pada tingkat pendidikan tinggi. Students should be encouraged to employ the information and technique of disciplines in analysis.

designing. maintaining. Suatu model yang penulis alami selama mengikuti kuliah di University of California . learning to do . monitoring. Learning to Do Bagaimana dengan pilar kedua learning to do . Dari uraian di atas dan kutipan yang sengaja penulis sajikan dapatlah ditarik pemahaman bahwa penerapan pilar learning to know pada tingkat pendidikan tinggi adalah penerapan paradigma penelitian ilmiah dalam pelaksanaan perkuliahan. to be favored 14) in all phases of education and culture. Kalau pilar pertama. sasarannya adalah kemampuan kerja generasi muda untuk mendukung dan memasuki ekonomi industri. Untuk menyiapkan anggota masyarakat dalam dunia kerja yang . Dalam masyarakat industri atau ekonomi industri tuntutan tidak lagi cukup dengan penguasaan ketrampilan motorik yang kaku melainkan diperlukan kemampuan untuk melaksanakan pekerjaan pekerjaan seperti controlling. Dengan model pendekatan ini dapatlah dihasilkan lulusan yang memiliki kemampuan intelektual dan akademik yang tinggi dan dengan sendirinya akan mampu mengembangkan ilmu pengetahuan. sasarannya adalah pengembangan ilmu pengetahuan danteknologi sehingga tercapai keseimbangan dalam penguasaan IPTEK antara negara di dunia dan tidak lagi dibagi antara negara utara-selatan. learn ing to know . organizing. is urges the outensible problem-solving pattern of scientifie research as the chief paradigm of intellectual activity. pilar kedua. yang dengan kemajuan teknologi pekerjaan yang sifatnya fisik telah diganti dengan mesin.Selanjutnya dia menyatakan: Interpreting science as the most refined and effective development to such adaptive thinking.

pengembangan kemampuan memecahkan masalah dan berinovasi sangatlah diperlukan. The blocking of conduct either throught internal conflict on environment hindrance. The functions is to overcome obstacles to the smooth flow of human activities. turns its energy inward. Dalam kaitan ini dengan pemahaman tentang pilar kedua learning to do pada tingkat pendidikan tinggi ini mengandung makna atau berimplikasi tentang perlunya pendidikan profesional pada pendidikan tinggi secara konsekuentif. Untuk itu penulis berpandangan dalam kaitan dengan pilar kedua yaitu learning to do perlu dikaitkan dengan pandangan Scheffler tentang relevansi psikologis. Dalam kaitan ini. Ini be rarti pula bahwa untuk melahirkan generasi baru yang intelligent dalam bekerja. bekerjasama dengan orang lain.dalam technology knowledge based economy . human energy is released into overt channel set by habit and custom. conflict. When action is coherent and well adapted to its circumstances. mengelola dan mengatasi konflik. penguasaan ketrampilan teknis dan intelektual. bermuara pada paradigma pemecahan masalah yang memungkinkan seorang mahasiswa berkesempatan mengintegrasikan pemahaman konsep. and difficulty. ada baiknya penulis kutipkan pandangan Scheffler tentang relevansi psikologis dalam kalimat berikut: Thought according to widely prevalent doctrine is problem oriented. belajar melakukan sesuatu dalam situasi yang konkrit yang tidak hanya terbatas kepada penguasaan ketrampilan yang mekanistis melainkan meliputi kemampuan berkomunikasi. menjadi penting. transforming its 15) into thought. untuk memecahkan masalah dan dapat . maupun doktrin Whitehead tentang hakekat pendidikan sebagai upaya penguasaan seni menggunakan pengetahuan. It originates in doubt.

dan kita bangsa Indonesia memiliki landasan pandangan hidup Pancasila yang hakekatnya adalah untuk membangun negara kebangsaan yang demokratis. antar suku. tends to give . Learning to Live Together Kemajuan dunia dalam bidang IPTEK dan ekonomi yang mengubah dunia menjadi desa global ternyata tidak menghapus konflik antara manusia yang selalu mewarnai sejarah umat manusia. within and above al! between nations. Tetapi kenyataan menunjukkan terjadinya berbagai konflik sosial baik horizontal maupun vertical. keadilan sosial dan perdamaianabadi . piagam PBB. since people very naturally tend overvalue their own qualities and those of their group and to harbour prejudies against others. Furthermore. Dalam pengamatan komisi tersebut sebabnya diuraikan dalam kalimat berikut : It is difficult task. toleransi dan saling pengertian dan bebas dari prasangka. ber-Ketuhanan yang Maha Esa. dan antar negara. berkeadilan sosial. the general climate of competition that is at present characteristic of economi activity.berlanjut kepada inovasi dan improvisasi. dan menggalang persatuan dan persaudaraan bukan hanya antar warga bangsa melainkan dengan seluruh umat manusia seperti dinyatakan dalam kalimat ketertiban dunia yang didasarkan kemerdekaan. Padahal sejak berakhirnya Perang Dunia ke II berbagai deklarasi untuk menjadi dasar penyelesaian konflik seperti Deklarasi HAM. Yang terjadi akhir-akhir ini bahkan sebaliknya yaitu terjadinya konflik antar manusia yang didasarkan atas prasangka. baik antar ras. Diakui oleh Komisi Internasional untuk pendidikan abad ke-21 tentang sulitnya menciptakan kerukunan. antar agama dan antar si kaya dan si miskin.

pengertian. Such competition now amounts to ruthless economic warfare and to a tension between rich and poor that is dividing nations and the world. kerjasama. Dalam hubungan ini. and exacerbating historic rivalries . prinsip relevansi sosial dan moral yang disarankan Israel Scheffler sangat memadai. dan tanpa prasangka. Suatu prinsip yang memerlukan suasana. melainkan kemampuan untuk hidup bersama dengan orang lain yang berbeda dengan penuh toleransi.16) Latar belakang kenyataan dalam masyarakat yang digambarkan oleh komisi diatas menuntut pendidikan tidak hanya membekali generasi muda untuk menguasai IPTEK dan kemampuan bekerja serta memecahkan masalah.priority to the competitive spirit and individual success. Kiranya bangsa Indonesia perlu belajar Learning to Be . Dalam kaitan ini adalah tugas pendidikan untuk pada saat yang bersamaan setiap peserta didik memperoleh pengetahuan dan memiliki kesadaran bahwa hakekat manusia adalah beragam tetapi dalam keragaman tersebut terdapat persamaan. Model sekolah berasrama dan kampus yang merupakan kawasan tersendiri merupakan pendekatan yang ditempuh Inggris dan Amerika Serikat dalam membangun bangsa yang bersatu. Ini diperlukan proses pembelajaran yang menuntut kerjasama untuk mencapai tujuan bersama. belajar yang secara inherently mengandung nilai-nilai toleransi saling ketergantungan. dan tenggang rasa. Kegiatan berlangsung mingguan dengan sasaran bersama camping yang yang harus dicapai oleh seluruh peserta merupakan salah satu model yang perlu ditempuh. Pendidikan untuk mencapai tingkat kesadaran akan persamaan antar sesama manusia dan terdapat saling ketergantungan satu sama lain tidak dapat ditempuh dengan pendidikan dengan pendekatan tradisional melainkan perlu menciptakan situasi kebersamaan dalam waktu yang relative lama.

Namun yang sering disoroti . dalam bahasa UU No. Evaluasi sebagai Media Pendidikan dan Sarana Umpan Balik Hampir tidak ada orang yang menolak bahwa diselenggarakannya suatu sistem pendidikan adalah dapat dihasilkannya manusia terdidik yang dewasa secara intelektual. yaitu muara akhir dari tiga pilar belajar. pada learning to do . kepribadian. Hasil akhirnya adalah manusia yang mampu mengenal dirinya. moral.Tiga pilar yaitu learning to know. Pendidikan yang berlangsung selama ini pada umumnya tidak mampu membantu peserta didik (pelajar/ mahasiswa) mencapai tingkatan kepribadian yang mantap dan mandiri atau manusia yang utuh karena proses pembelajaran pada berbagai pilar tidak pernah sampai kepada tingkatan joy of discovery pada pilar learning to know . Bila ketiganya berhasil dengan memuaskan akan menimbulkan adanya rasa percaya diri pada masing-masing peserta didik. dan tingkatanjoy of getting together to achieve common goal. yang mengenal dirinya. yang mampu melaksanakan tugas dalam memecahkan masalah. yang konsisten dan yang memiliki rasa empati(tepo sliro). dan kemampuan. 1989 adalah manusia yang berkepribadian yang mantap dan mandiri. tingkatanjoy of being succesful in achieving objective. Inilah kurang lebih makna learning to be . dan mampu bekerjasama. yang dapat mengendalikan dirinya. atau dalam kamus psikologi disebut memiliki Emotional Intelligance . dan learning to live together ditujukan bagi lahirnya generasi muda yang mampu mencari informasi dan/ atau menemukan ilmu pengetahuan. 2 Th. dan toleran terhadap perbedaan. learning to do. Manusia yang utuh yang memiliki kemantapan emosional dan intelektual. bertenggang rasa.

Agar peserta didik sejak memasuki suatu jenjang pendidikan secara terus menerus dan intensif melakukan proses pembelajaran yang bermakna bagi tercapainya berbagai tujuan pendidikan. belajar berdemokrasi dan berbagai proses belajar yang bermakna transformasi budaya. terus menerus dan obyektif. Evaluasi pendidikan yang berupa evaluasi hasil belajar yang dilakukan pada akhir jenjang satuan pendidikan seperti UAN (Ujian Akhir Nasional) tidak dapat diharapkan dapat berdampak terhadap efektifitas tercapainya tujuan pendidikan nasional. perlu dikembangkan dan dilaksanakan evaluasi secara komprehensif. seperti belajar meneliti. kematangan moral dan karakter. Tidak lain karena menurut hasil penelitian Benyamin Bloom tingkah laku belajar peserta didik akan dipengaruhi oleh perkiraan peserta didik tentang apa yang akan diujikan.orang seperti yang akhir-akhir ini berlangsung adalah dimensi penguasaan pengetahuan peserta didik yang belum tentu berdampak kepada pengembangan kemampuan intelektual. kematangan pribadi. Dengan demikian kalau yang akan diujikan adalah penguasaan pengetahuan yang telah dihafal. Evaluasi semacam ini hakekatnya merupakan bagian dari kurikulum itu sendiri. Evaluasi yang demikian hanya dapat dilakukan oleh seorang guru yang profesional yang mampu merencanakan. mengelola. memotivasi. dan menilai proses pembelajaran yang berlangsung dari hari ke hari. belajar menulis makalah. Adalah keyakinan profesional dan akademik bahwa sistem evaluasi yang diterapkan akan menentukan keberhasilan kita mencapai tujuan pendidikan nasional. Akibatnya peserta didik akan mengabaikan berbagai kegiatan be lajar yang tidak akan diujikan. yang berfungsi sebagai bagian dari strategi penguatan reinforcement strategy atau dalam bahasa teknis kurikulum disebut sebagai salah satu wujud . dengan sendirinya peserta didik hanya akan belajar menguasai materi yang akan diujikan. belajar mengapresiasi karya sastra.

nilai. dan berbagai kegiatan untuk meratakan mutu pendi ikan d nasional sesuai dengan standar yang ditetapkan. dampak negatifnya lebih banyak daripada dampak positifnya. belajar secara terus menerus. Model evaluasi yang merupakan bagian dari strategi pembelajaran ini dari sudut pandang teori belajar sosial (social learning theory) akan dapat menumbuhkan sikap dan kemampuan yang diharapkan. seperti etos kerja yang tinggi. disiplin. dan sikap (Inkoles).dari hidden curriculum . dan yang sukar untuk dikembangkan melalui model evaluasi hasil belajar yang tradisional yang dilakukan pada akhir satuan jenjang atau kelas seperti ulangan umum pada akhir semester dan hasilnya. Fungsinya sebagai bagian dari manajemen pendidikan secara nasional adalah untuk memperoleh gambaran tentang peta mutu pendidikan nasional sebagai alat umpan balik guna mendiagnosis faktorfaktor penyebab dari keberhasilan dan ketidakberhasilan suatu sekolah atau daerah dalam membantu peserta didik dalam mencapai tingkatan hasil belajar yang diharapkan. Kedua model evaluasi yang diuraikan dalam makalah ini adalah yang secara langsung terkait dengan . pembaharuan. dan sekolah sebagai pusat sosialisasi/pembudayaan berbagai kemampuan. Kegiatan semacam ini sangat penting dan bermakna bila dimanfaatkan untuk melakukan tindak lanjut berupa upaya perbaikan. tanpa dipengaruhi hasil dan kegiatan belajar harian dimasukkan ke dalam rapot atau Ujian Akhir Nasional (UAN) yang dilakukan pada akhir jenjang pendidikan dan hasilnya menentukan kelulusan seseorang. Untuk kepentingan pengelolaan pendidikan secara nasional disadari perlunya secara periodic diadakan evaluasi hasil belajar tingkat nasional atau lebih tepat disebut Nasional Assesment . Masalah evaluasi semacam inilah yang perlu dilaksanakan dalam suatu pendidikan yang mendudukkan classroom as social system (Parson). Model terakhir ini dari sudut pandang teori belajar sosial.

Untuk itu James B. dan teknologi pendidikan (didaktik. kemampuan mengelola. kemampuan menilai. Untuk guru yang berderajat profesional disamping kemampuan-kemampuan tersebut.kurikulum dan proses pembelajaran. jenis evaluasi konteks. bila dilaksanakan oleh guru yang memiliki kemampuan profesional. Peranan Guru dan Implikasinya terhadap Profesionalisasi Jabatan Guru Kurikulum yang dirancang dan dilaksanakan sesuai dengan kaidah kependidikan yang secara akademik dan profesional dapat dipertanggungjawabkan dengan didukung oleh penerapan model evaluasi yang relevan dengan tujuan pendidikan. Disamping itu kita mengenal dua lainnya. kemampuan mengendalikan. Dengan demikian jelas betapa tingginya tuntutan profesionalitas seorang guru profesional. hanya akan secara efisien dan efektif mendukung terlaksananya fungsi pendidikan sebagai proses pembudayaan dan tercapainya tujuan pendidikan. Jabatan profesional sebagai yang secara univer sal diakui adalah jabatan yang memerlukan pendidikan lanjutan dan pelatihan khusus (advanced education and special training). penguasaannya atas ilmu pengetahuan sebagai bahan ajar. kemampuan memonitor. dan paedagogik). diperlukan tambahan kemampuan memberikan bimbingan dan kepemimpinan yang didasarkan atas pemahamannya atas peserta didik. dan evaluasi masukan yang secara menyeluruh perlu dilakukan dalam proses pengambilan keputusan pendidikan. dan kemampuan mendiagnosis. metodik. Conant sebagai bagian dari reformasi pendidikan di Amerika Serikat akibat dari ketertinggalan Amerika Serikat dalam . Tidak lain karena jabatan profesional adalah jabatan yang memerlukan kemampuan merencanakan.

Realms of Meaning a Philosophy of The Curriculum For General Education.. The Aims of Education and Other Essays (1957) New York. hal 6 7 Jacques Delors et. hal. 14 .teknologi ruang angkasa mensyaratkan calon guru haruslah mereka (lulusan SMA) yang berada pada peringkat 20% keatas. Mc. Demikianlah beberapa pemikiran untuk dibahas sebagai upaya menyusun rekomendasi bagi peningkatan mutu pendidikan nasional. Learning: The Treasure Within. UNESCO 4) Whitehead. (4) standar pendidikan profesional tenaga kependidikan. Daftar Pustaka Catatan kaki 1) Philip Phenix. (5) sertifikasi profesional tenaga kependidikan.. Paris. ISPI perlu membahas dan menentukan hal hal berikut : (1) standar profesionalitas tenaga pendidik dan tenaga kependidikan lainnya: (2) hierarki profesional kependidikan. (3) persyaratan pendidikan pra-jabatan profesional tenaga pendidik berderajat profesional. Graw Hill Book Co. 13 Ibid. (1996). Al. Untuk memenuhi tuntutan profesional ini dalam mencoba untuk membahas masalah Guru dan pendidikannya. (1964) New York. hal. A. the New American Library.. hal 16 5) 6) Ibid.N. hal 10 2) 3) Ibid. Report to UNESCO of The International Commision on The Twenty First Century.

New York. Mc. Hal. Ibid. Pendidikan Nasional Untuk Mencerdaskan Kehidupan Bangsa Dan Memajukan Kebudayaan Nasional Melalui Sekolah Sebagai Pusat Pembudayaan. hal.. Martin Levit. et. Hal. Reflection on Educational Relevance . (1964).. 113 114 JURNAL KE II Model-Model-model model ModelModel--model model Evaluasi Pendidikan Evaluasi Pendidikan Evaluasi PendidikanEvaluasi Pendidikan . 112 12) Ibid. hal... Edit. dalam buku Curriculum : Readings in the Philosophy of Education (1971). Al. Makalah Prakongres Kebudayaan di Bali. 193 10) Jacques Delors. University of Illinois Press. hal. 28 April 2003 9) Jacques Delors. et. Realms of Meaning : A Philosophy of The Curriculum for General education. Urbana. Phenix.. Graw Hill Book *) Baca Tulisan Soedijarto. 193 11) Israel Scheffler. Ibid Hal. 113 114 14) Ibid. Al. 117 13) Ibid.7) Philip H.

1 . good evaluation have to comply with several principle. Sejak Oktober 2003 menduduki jabatan Lektor Kepala di STAIN Purwokerto.. Winkel. or even developing our specific model. Hisyam Zaini et al. Sekarang sedang mengikuti Program Doktor By Research di UIN Yogyakarta. Pendahuluan Dalam khazanah pembelajaran terdapat bermacam-macam model desain pembelajaran. Gerlach and Ely. Briggs and Wager. learning. for example model developed by Winarno Surakhmad.. continuity. measurement model. Those models design have component and pattern that different each other. Briggs dan Wager. By studying many models and broaden view not only to one model approach. namely validity. misalnya model yang dikembangkan oleh Winarno Surakhmad. Abstract: On learning literature. Winkel. illuminative model. Keywords: evaluation. reliability. and Kemp. and even combine (merger) between two or more models. As one basic rule. from model that have dominant quantitative measure like measurement model and model that using qualitative approach as illuminative model. objectivity. there many kind of learning model design. Hisyam Zaini dkk. and com-prehensive so the resulted information can became source to make right and wise decision.Rohmad Qomari *) *) Penulis menyelesaikan S-1 di IAIN Sunan Kalijaga Fakultas Tarbiyah dan S-2 Universitas Negeri Yogyakarta.

strategi. yaitu tujuan. media. dan mengevaluasi. evaluasi memiliki dua fungsi utama yaitu untuk mengetahui pencapaian hasil belajar 3 siswa dan hasil mengajar guru. Dengan kata lain. dan evaluasi adalah proses untuk mengetahui pencapaian hasil dan efektivitas pembelajaran. dan Kemp. evaluasi merupakan salah satu komponen pokok yang selalu ada dalam pembelajaran. strategi adalah langkah-langkah yang ditempuh siswa dan/atau guru dalam mempelajari (guru=mengajarkan) materi pelajaran untuk mencapai tujuan. Dengan demikian. Meskipun demikian. Secara umum. . sebuah pembelajaran tidak dapat dipisahkan dengan kegiatan evaluasi. Hasil 4 mengajar guru terkait dengan dalam hal sejauh mana guru sebagai manajer belajar siswa merencanakan. materi. Tujuan adalah sesuatu yang ingin dicapai. memimpin. Dari model-model desain tersebut komponen dan pola antara yang satu dengan lainnya terdapat perbedaan. mengelola.Gerlach dan Ely. media adalah sarana untuk memudahkan pencapaian tujuan. materi adalah bahan yang dipelajari siswa atau diajarkan guru kepada siswa. dan evaluasi. dari berbagai desain pembelajaran tersebut 2 terdapat komponen-komponen yang termasuk komponen pokok. Pengetahuan tentang hasil belajar siswa terkait dengan sejauh mana siswa telah mencapai tujuan pembelajaran atau kompetensi-kompetensi yang telah ditetapkan.

keseimbangan. Padahal. objektivitas. afektif. dan tes hanyalah salah satu dari teknik evaluasi (di samping teknik nontes/alternative test). tentunya tidak dapat memberikan informasi yang valid. tingkat jenjang pendidikan.Realitas menunjukkan bahwa masih banyak yang mereduksi evaluasi sebagai kegiatan tes. cakupan tujuan pendidikan. Hal ini dibuktikan dengan kegiatan evaluasi yang menonjol di lembaga. hingga ujian akhir sekolah dan ujian nasional. dan psikomotor). afektif. reliabel. 6 dan komprehensivitas sebuah evaluasi. satuan pendidikan. dan . sumatif. tetapi tidak tepat untuk mengukur pencapaian ranah afektif. serta tidak selaras dengan prinsip kontinuitas. dan satuan pendidikan. bahkan hingga tujuan mata pelajaran (standar kompetensi mata pelajaran) memuat domain kognitif. Tes akan tepat dipakai untuk mengukur pencapaian domain kognitif. Dari tes formatif. tes tertulis hanyalah salah satu bentuk tes (di samping tes lisan dan tindakan). Kegia ebut adalah pelaksanaan tes yang dilaksanakan setelah penyelesaikan pokok bahasan tertentu (kompetensi dasar tertentu) sebagai tes formatif dan tes akhir semester yang dikenal dengan tes sumatif serta tes yang diselenggarakan di akhir jenjang pendidikan tertentu dalam bentuk ujian akhir sekolah dan 5 ujian nasional. Menggunakan teknik tes tertulis untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik yang mencakup berbagai domain/anah ( kognitif. Tes tersebut sebagian besar dalam bentuk tes tertulis. baik pada tingkat nasional. sebagian besar dalam bentuk tes. Padahal.

dan Ibrahim (2001). 9 10 Stephen. 13 . Dengan mengetahui ragam model evaluasi diharapkan akan menambah khazanah informasi kepada para pelaku pendidikan. Said Hamid (1988). Lehman (1973). Mehren. Oleh karena itu. Blaine R. untuk mengetahui pencapaian hasil belajar siswa dan efektivitas proses pembelajaran dapat dilakukan dengan memilih salah satu model evaluasi atau menggabungkan dua model evaluasi atau lebih.7 Dalam tulisan ini akan mendeskripsikan secara ringkas perkembangan studi tentang evaluasi yang telah melahirkan berbagai model evaluasi. dan James R. terkadang ditentukan oleh hasil tes tertulis yang dilaksanakan beberapa jam pada mata pelajaran tertentu. William M. dan William B. Tayibnapis. Michael (1984) . 11 12 Nana.psikomotor sehingga ironis jika proses pembelajaran yang panjang (3 sampai dengan 6 tahun). yakni tulisan dari Hasan. dan Irvin J. Sudjana. Di antara literatur yang penulis temukan. Farida Yusuf (2000).. khususnya tenaga pengajar. Model-model Evaluasi Dalam beberapa literatur evaluasi terdapat berbagai model evaluasi.8 Issac.. Worthen. yang menjadi referensi utama tulisan ini.

penilaian pendidikan adalah pengukuran terhadap berbagai aspek tingkah laku dengan tujuan untuk melihat perbedaan -perbedaan individu atau kelompok. Thorndike. kemampuan pembawaan (intelegensi dan bakat). penulis mengklasifikasi model evaluasi menjadi model pengukuran (measurement model). R. dan juga aspek-aspek kepribadian siswa. Dengan kata lain. Ebel. tokoh-tokoh pengembang model ini antara lain R. Alat penilaian yang lazim digunakan dalam model ini adalah tes tertulis ataupaper and pencil test. model sistem (system model).Sanders (1987). Dengan acuan referensi di atas. it exists in quantity. yang hasilnya diperlukan dalam rangka seleksi. model kesesuaian (congruence model). terutama tingkah laku siswa. L. sikap. 14 Measurement Model Measurement Model merupakan model yang tertua dibanding model-model evaluasi yang lain. and if it exists in 15 quantity it can be measured. Menurut model ini. yang mencakup kemampuan hasil belajar. dan model illuminatif (illuminative model). dan perencanaan pendidikan bagi para siswa di sekolah. objek penilaian mencakup aspek kognitif maupun afektif dari tingkah laku siswa. Ruang lingkup evaluasi menurut model ini adalah tingkah laku. minat. Untuk mendapatkan hasil pengukuran kecenderungan untuk yang setepat mungkin ada . berkeyakinan: if anything exists. misalnya. bimbingan. Thorndike dan R. yang selengkapnya dapat dilihat pada daftar pustaka.

Untuk mengungkapkan hasil yang telah dicapai kelompok maupun masing-masing individu di dalam penilaian mengenai suatu bidang pelajaran tertentu. nilai yang dicapai siswa lebih menggambarkan kedudukan siswa tersebut di dalam kelompoknya disebut (relative norm) Penilaian Acuan Norma (PAN). Keterbatasan Measurement Model Keterbatasan dari model ini terletak pada penekanannya yang berlebihan pada aspekpengukuran .mengembangkan alat-alat penilaian (tes) yang baku atau standardized. Atas dasar norma kelompok inilah. Pendekatan lainnya dalam model ini adalah membandingkan hasil belajar antara dua atau lebih kelompok. Analisis variabel perbedaan nilai dilakukan dengan menggunakan cara-cara statistik tertentu untuk dapat menyimpulkan cara pengajaran mana yang lebih efektif di antara cara-cara yang dinilai. Oleh karena itu. Tes yang belum dibakukan dipandang kurang dapat mencapai tujuan dari pengukuran. Diperlukan uji coba berkali kali terhadap instrument yang dikembangkan. dilakukan analisis untuk mengetahui 16 reliabilitas tes secara keseluruhan maupun setiap soal (analisis butir tes) yang terdapat di dalamnya. kemudian berdasarkan validitas dan data yang diperoleh. dikembangkan suatu norma kelompok berdasarkan angka-angka nyata yang diperoleh siswa di dalam tes yang telah dilaksanakan. yang menggunakan cara pengajaran yang berbeda sebagai bebas. nilai untuk masing-masing siswa ditentukan. Setelah suatu tes diujicobakan kepada sampel yang cukup besar.

Adanya beberapa pengembangan ketidakserasian dengan peranan penilaian dalam proses kurikulum/sistem pendidikan berikut ini. model ini dipengaruhi oleh prosedur pengolahan hasil tes psikologis. Yang menjadi persoalan adalah hasil belajar yang bersifat kognitif tersebut bukan merupakan satu-satunya indikator bagi keberhasilan kurikulum.17 2. Kurikulum sebagai suatu alat untuk mencapai tujuan pendidikan diharapkan dapat mengembangkan berbagai potensi yang ada pada diri si wa. Untuk mengembangkan tes tersebut berlaku ketentuan bahwa soal tes yang memiliki daya pembeda rendah perlu direvisi atau diganti dengan tes lain. s tidak terbatas hanya pada potensi kognitif saja. Prosedur semacam ini kurang cocok untuk diterapkan dalam penilaian hasil belajar. yang mempunyai daya pembeda tinggi. 1. model ini banyak dipengaruhi oleh prosedur yang ditempuh dalam pengembangan tes psikologis. nilai semacam ini kurang mempunyai arti karena sifatnya relatif. Yang lebih berarti dalam proses pengembangan pendidikan adalah nilai nilai - . Dalam pengolahan hasil tes. dan nilai yang dicapai oleh masing-masing siswa lebih mencerminkan kedudukannya dalam kelompok. penilaian cenderung dibatasi pada dimensi tertentu dari sistem pendidikan yang dapat diukur . antara lain tes intelegensi dan tes bakat. Dalam pengembangan alat penilaian. Hal itu dalam rangka/pengembangan pendidikan karena dalam penilaian pendidikan yang penting adalah butir soal tes yang dibuat betulbetul konsisten dengan tujuan pendidikan yang ingin dinilai pencapaiannya.dalam kegiatan penilaian pendidikan. dalam hal ini adalah hasil belajar yang bersifat kognitif. Dalam proses pengembangan pendidikan. Konsekuensinya.

Aspek objektivitas yang ditekankan oleh model ini perlu dijadikan landasan yang terus-menerus sistem penilaian dalam rangka mengembangkan pendidikan.yang menunjukkan sejauh mana tujuan-tujuan pendidikan telah dicapai oleh siswa. bukan nilai relatif yang mencerminkan posisi siswa dalam kelompoknya. dan karenanya memerlukan perbaikan. Keunggulan Measurement Model Keunggulan dari model ini adalah sumbangannya yang sangat berarti dalam hal penekannya terhadap pentingnya objektivitas proses penilaian. Informasi semacam ini kurang relevan dengan kebutuhan yang dirasakan dalam proses pengembangan pendidikan karena nilai keseluruhan lebih banyak menyembunyikan daripada mengungkapkan informasi yang diperlukan untuk kepentingan penyempurnaan sistem. Yang lebih diperlukan dalam proses pengembangan pendidikan adalah bentuk penyajian hasil tes yang dapat memberikan petunjuk tentang bagian-bagian mana dari sistem pendidikan yang masih lemah. Congruence Model . Informasi yang disajikan menurut model ini lebih berbentuk nilai keseluruhan (total score) yang dicapai setiap siswa. 3. Di samping itu. secara individual maupun kelompok. yang dilengkapi dengan data mengenai nilai rata-rata dan standar deviasi yang dicapai kelompok. evaluasi dalam model ini memungkinkan untuk melakukan analisis intrumen dan hasil evaluasi secara statistik.

sekalipun dalam beberapa hal masih menunjukkan adanya persamaan dengan model yang pertama. dan hasil belajar yang telah dicapai. pengalaman belajar. maka yang dijadikan objek penilaian adalah tingkah laku siswa. Ruang lingkup evaluasi menurut model ini adalah memeriksa persesuaian (congruence) antara tujuan dan hasil belajar. maka penilaian dimaksudkan untuk memeriksa sejauh mana perubahan-perubahan yang diinginkan tersebut telah dicapai. Penilaian adalah usaha untuk memeriksa persesuaian (congruence) antara tujuan -tujuan pendidikan yang diinginkan. Tyler. Carrol. Penilaian merupakan kegiatan untuk mengetahui sejauh mana tujuan-tujuan pendidikan dapat dicapai oleh siswa dalam bentuk hasil belajar yang mereka perlihatkan pada akhir kegiatan pendidikan. Hal itu mengingat tujuan-tujuan pendidikan mencerminkan perubahan-perubahan tingkah laku yang diinginkan pada peserta didik. Secara lebih khusus. maka yang penting dalam proses penilaian adalah memeriksa sejauh mana perubahan-perubahan tingkah laku yang diinginkan tersebut telah dicapai peserta didik. Tokoh model ini Raph W.Model ini dapat dipandang sebagai reaksi terhadap model yang pertama. proses pendidikan berisi tiga komponen yang saling terkait. yang dinilai adalah perubahan tingkah laku yang diinginkan (intended behavior) yang . dan penilaian hasil belajar. dan Lee J. Tindak lanjut dari penilaian ini adalah sebagai bahan bimbingan lebih lanjut kepada peserta didik serta memberikan informasi kepada pihak luar yang terkait dengan hasil belajar peserta didik. Cronbach Menurut Tyler. Oleh karena tujuan pendidikan menyangkut tentang perubahan perilaku yang diinginkan pada peserta didik. John B. yaitu tujuan pendidikan.

keterampilan.diperlihatkan oleh siswa pada akhir kegiatan pendidikan. akan lebih tepat bila hasil penilaian tidak dinyatakan dalam bentuk hasil keseluruhan tes. Penilaian dipergunakan sebagai alat ukur pencapaian hasil belajar setelah menempuh proses pendidikan. pengetahuan. Tyler dan Cronbach lebih mengarahkan peranan penilaian pada tujuan untuk memperbaiki kurikulum atau sistem pendidikan. Menggunakan hasil penilaian. Ruang lingkup perilaku meliputi. 2. 4.18 Ringkasnya. dan nilai/sikap) berbagai kemungkinan alat penilaian perlu digunakan. menyebutkan perlunya digunakan alat-alat penilaian lain seperti tes perbuatan dan observasi. Menetapkan test situation yang diperlukan. Merumuskan atau mempertegas tujuan. terlihat jelas bagian-bagian dari sistem pendidikan yang masih perlu disempurnakan berhubung belum berhasil mencapai tujuannya. Model ini tidak menyarankan dilaksanakannya penilaian perbandingan untuk melihat sejauh mana kurikulum yang baru lebih efektif dari kurikulum yang ada. maka diperlukan prosedurpre and post test. dalam menilai hasil belajar yang mencakup berbagai jenis (pengetahuan. dan nilai/sikap. keterampilan. melainkan dalam bentuk hasil bagian demi bagian dari tes yang bersangkutan. Dengan demikian. Menyusun alat penilaian. Kontribusi Congruence Model . Berhubung setiap sistem pendidikan memiliki berbagai tujuan yang ingin dicapainya. 3. Langkah-langkah penilaiannya adalah sebagai berikut. Congruence model tidak membatasi alat penilaian pada tes tertulis ataupaper and pencil test saja. 1. Carrol. misalnya.

Pertanyaannya. ih relevan dengan kebutuhan pengembangan sistem. Menurut Daniel L. Menekankan pentingnya sistem sebagai suatu keseluruhan yang dijadikan objek penilaian. 1. Perbandingan antaraperformance dan criteria merupakan salah satu inti yang penting. tanpa membatasi pada aspek hasil yang dicapai saja. Class bahwa the complete and detailed description of what constitutes the educational program is a concern of the 20 educational sistem evaluation model. Pendekatan ini membantu pengembang kurikulum dalam menentukan bagian-bagian dari sistem yang masih lemah. Kegiatan penilaian tidak hanya berakhir pada suatu deskripsi tentang keadaan dari sistem yang . Stufflebeam salah satu kelemahan dari penilaian yang ada sekarang adalah kurang jelasnya kriteria yang digunakan sebagai dasar dalam penilaian tersebut. Dengan model pre da post test informasi yang dihasilkan hanya dapat menjawab pertanyaan tentang tujuantujuan mana yang telah dan belum dicapai.Sumbangan yang cukup berarti daricongruence model adalah sebagai berikut.19 Sistem Model Hakikat evaluasi menurut sistem model adalah untuk membandingkanperformance dari berbagai dimensi sistem yang sedang dikembangkan dengan sejumlah kriteria tertentu. tetapi kurang membantu di dalam mencari jawaban tentang segi-segi yang masih lemah dan kemungkinan mengatasi kelemahan-kelemahan tersebut. akhirnya sampai pada suatu deskripsi danjudgment mengenai sistem yang dinilai tersebut. Prinsip-prinsip model ini adalah sebagai berikut. 3. 1. mengapa tujuan -tujuan tertentu belum dapat dicapai belum dapat dijawab. 2. Keterbatasan Tidak menjadikan input dan proses pelaksanaan sebagai objek penilaian secara langsung. Dikatakan Gene V. Menghubungkan hasil belajar dengan tujuan pendidikan sebagai kriteria perbandingan.

dalam rangka penyempurnaan sistem maupun penyimpulan mengenai kebaikan sistem yang bersangkutan secara menyeluruh. dan hasil yang dicapai.22 3. Penilaian ditujukan kepada berbagai dimensi sistem.telah dinilainya. Scriven mencakup: sarana/bahan. penyimpulan mengenai kebaikan (merit. 2. Stufflebeam menggolongkan sistem pendidikan atas empat dimensi. dan product (CIPP). Ruang lingkup evaluasi menurut model ini berdasarkan pendapat tokohnya adalah sebagai berikut. transactions. interim products. Stake membagi objek penilaian atas tiga kategori:antecendent. Keunggulan Sistem Model . Perbandingan antaraperformance dan criteria. 4. proses. yaitu context. 4. 1. Tidak hanya berakhir dengan deskripsi. 2. proses. yaitu design. dan b. operation program. 1. dan 23 terminal product. Informasi yang diperoleh dari hasil penilaian berfungsi sebagai bahan atau input bagi pengambilan keputusan mengenai sistem yang bersangkutan dalam rangka: a. Objek sekurang-kurangnya terdiri dari peralatan/sarana. 3. melainkan harus sampai pada suatu judgment mengenai baik-buruknya dan efektif tidaknya sistem pendidikan tersebut. tetapi jugajudgment sebagai kesimpulan dari penilaian. process. worth) dari sistem pendidikan yang bersangkutan dibandingkan dengan sistem yang lain. dan hasil yang dicapai. input. Dari kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa ruang lingkup evaluasi dalam model ini adalah sebagai berikut.21 2. 1. 4. Hasil penilaian digunakan sebagai bahan atau input bagi pengampilan keputusan. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa hakikat evaluasi menurut sistem model adalah sebagai berikut. Mencakup data objektif maupun data subjektif. Provus mencakup empat dimensi. dan outcomes. penyempurnaan sistem selama sistem tersebut masih dalam tahap pengembangan.

Hasil evaluasi ditekankan pada deskripsi dan interpretasi. Dalam pelaksanaan evaluasi. kelemahan. tempat sistem tersebut dikembangkan. Objek evaluasi yang diajukan dalam model ini mencakup.Model ini mengemukan perlunya penilaian dilakukan terhadap berbagai dimensi sistem. model ini lebih 27 menekankan penggunaanjudgment . 24 Illuminative Model Nama Illuminatif. Model ini dikembangkan terutama di Inggris dan banyak dikaitkan dengan pendekatan di bidang antropologi. latar belakang dan perkembangan yang dialami oleh sistem yang bersangkutan. serta pengaruhnya terhadap proses belajar siswa. bukan pengukuran dan prediksi sebagaimana model sebelumnya. . keunggulan. proses implementasi (pelaksanaan) sistem. dampak yang ditimbulkan dari suatu sistem seperti. Studi difokuskan pada permasalahan bagaimana implementasi suatu sistem dipengaruhi oleh situasi sekolah. serta kesukaran-kesukaran yang dialami dari tahap perencanaan hingga implementasinya di lapangan. tidak hanya hasil yang dicapai saja. issues. and significant program features.25 Salah satu tokoh yang paling menonjol dalam pengembangan model ini adalah Malcolm Parlett. oleh pengembangnya didasarkan atas alasan bahwa penggunaan berbagai cara evaluasi di dalam model ini bila dikombinasikan akan help illuminative problems. Hal ini agar penyempurnaan sistem dapat dilakukan pada setiap tahap sehingga kelemahan yang masih terlihat pada suatu tahap tertentu tidak dibawa ke tahap berikutnya. hasil belajar yang diperlihatkan oleh siswa.26 Tujuan penilaian menurut model ini adalah mengadakan studi yang cermat terhadap sistem yang bersangkutan. Di samping itu. selaras dengan semboyannyathe judgment is the evaluation . melainkan juga input dan proses yang dilakukan tahap demi tahap.

Tahapan evaluasi dalam Illuminatif model terdiri dari tiga fase sebagai berikut.31 Keunggulan Illuminative Model . persoalan. serta reaksi dari guru maupun siswa terhadap pelaksanaan sistem tersebut. objek evaluasi dalam model ini meliputi 28 kurikulum yang terlihat maupun tersembunyi (hidden curriculum).kebosanan yang terlihat pada siswa dan guru. 3. Dari langkah-langkah tersebut. Langkah selanjutnya dilakukan interpretasi data yang diharapkan dapat 29 dijadikan bahan dalam pengambilan keputusan. faktor lainnya adalah pandangannya yang holistik dalam evaluasi. Di samping itu. Ringkasnya. Pada tahap ini. ketergantungan secara intelektual. Pada tahap ini. 1. berbagai persoalan yang terlihat atau terdengar dalam tahap pertama diseleksi untuk mendapatkan perhatian dan penelitian lebih lanjut. Pada tahap ini. Hal ini disebabkan model ini menggunakan pendekatan kualitatif yang menekankan pentingnya menjalin kedekatan dengan orang dan situasi yang sedang dievaluasi agar dapat memahami secara personal realitas dan hal-hal rinci tentang program atau 30 sistem yang sedang dikembangkan. yang berasumsi bahwa keseluruhan adalah lebih besar daripada sejumlah bagianbagian. Tahap ketiga Seek to explain. Pada tahap ini. dan sebagainya. Evaluator mendengarkan dan melihat berbagai peristiwa. faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya persoalan dicoba untuk ditelusuri. evaluator mengunjungi sekolah atau lembaga yang sedang mengembangkan sistem tertentu. hambatan terhadap kembangan sikap sosial. 2. Data semula terpisah satu dengan lainnya mulai disusun dan dihubungkan dalam kesatuan situasi. evaluator mulai meneliti sebab akibat dari masingmasing persoalan. Tahap pertama observe. Tahap kedua Inquiry further. faktor penting dalam evaluasi model ini adalah perlunya kontak langsung antara evaluator dengan pihak yang dievaluasi.

semangat. Jarak antara pengumpulan data dan laporan hasil penilaian cukup pendek sehingga informasi yang dihasilkan dapat digunakan pada waktunya. 32 Kontribusi Illuminative Model Sumbangan terbesar Illuminatif Model adalah kritikannya terhadap penggunaan model scientific experiment dalam penilaian pendidikan yang dirasakan kurang tepat. Objektivitas penilaian yang dilakukan perlu dipersoalkan. Keterbatasan Illuminative Model Kelemahan terutama terletak pada segi teknis pelaksanaannya yang meliputi: 1. sikap. Adanya kecenderungan untuk menggunakan alat penilaian yang terbuka dalam arti kurang spesifik dan berstruktur.Menekankan pentingnya dilakukan penilaian yang kontinu selama proses pelaksanaan pendidikan sedang berlangsung. Kegiatan penilaian tidak didahului oleh adanya perumusan kriteria secara eksplisit. dan sebagainya. 3. Penutup Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa evaluasi dalam dunia pendidikan memiliki banyak model dan pendekatan. Dengan mempelajari berbagai model akan memperluas cakrawala serta wawasan sehingga tidak terpancang pengunaan satu model saja. atau bahkan mengembangkan model tersendiri. Tidak menekankan pentingnya penilaian terhadap program bahan-bahan kurikulum selama bahan-bahan tersebut disusun dalam tahap perencanaan. Pada prinsipnya. motivasi. melainkan dapat menggabungkan (merger) dua model atau lebih. evaluasi yang baik adalah yang . mulai model yang dominasi pengukuran secara kuantitatif seperti pada measurement model hingga model yang menggunakan pendekatan kualitatif sepertiIlluminative model. 2. Pendidikan sebagai manusiakan manusia tidak dapat dideskripsikan secara matematis. seperti perasaan. Aspek-aspek kemanusiaan tidak semuanya dapat dilakukan pengukuran secara mudah dan tepat. 4.

. Pengantar Interaksi Mengajar Belajar: Dasar dan Teknik Metodologi Pengajaran (Bandung: Tarsito. Psikologi Pengajaran (Yogyakarta: Media Abadi. 2007). Mulyasa. dkk. 3 W. serta komprehensif sehingga informasi yang dihasilkan dapat dijadikan bahan dalam pembuatan keputusan benar dan bijak. memimpin. Dapat dilihat juga di Anas Sudijono. Dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi dikenal istilah Standar Kompetensi (SK). Dapat dilihat pula di Hisyam Zaini. hal. dan indikator pencapaian lihatPeraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. 1986). Ivor K. Pengantar Evaluasi Pendidikan (Jakarta: Raja Grafindo Persada. Pendekatan Sistem dalam Pendidikan (Surakarta: UNS Press. 2002). Yogyakarta: Kerjasama Madrasah Development Center (MDC) Jateng dan Pilar Media. Sudarsono Sudirdjo. Psikologi Pengajaran. Winkel. lihat juga Suharsimi Arikunto. mengorganisasikan. Lihat Davis.. Endnote 1 Winarno Surakhmad. 1991). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan (Jakarta: Bumi Aksara. reliabilitas. S. Desain Pembelajaran di Perguruan Tinggi (Yogyakarta: CTSD IAIN Sunan Kalijaga. 1996).memenuhi prinsip-prinsip validitas. 266-303. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: Konsep dan Implementasinya di Madrasah. dan mengawasi. dan Koyo Kartasurya (Jakarta: CV Rajawali . Apapun istilah yang dipakai pada prinsipnya adalah rumusan tentang sesuatu yang ingin dicapai dalam proses tersebut. 2006). 2002). Lily Rompas. Lihat pula tulisan Khaeruddin dan Mahfud Junaedi. Terj. Kompetensi Dasar (KD). lihat W. Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK). Kemudian Tujuan Pembelajaran Umum (TPU). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: Sebuah Panduan Praktis (Bandung: PT Remaja Rosdakarya. hal. 304 dan 531-532. kontinuitas. 2007). 2 Terdapat beberapa istilah tentang sesuatu yang ingin dicapai dalam pembelajaran. objektivitas. Winkel. Pengelolaan Belajar. S. Lihat juga Soenarwan. Sejak Kurikulum 1975 dikenal istilah tujuan yang dalam implementasi operasionalnya dikenal Tujuan Instruksional Umum (TIU) dan Tujuan Instruksional Khusus (TIK). Lihat juga E. 4 Guru sebagai manajer memiliki empat fungsi yaitu: merencanakan. hasil belajar.

Ibid. Michael. model evaluasi diklasifikasi menjadi enam. Sementara ahli mengemukan bahwa guru memiliki beberapa peran.. transactionaloriented evaluation. dan Bahasa Inggris. yaitu sebagai ahli instruksional. model (teladan). 7. 1984). Sasaran evaluasi sumatif merupakan gabungan dari sasaran evaluasi formatif. . hal. 2000). Bahasa Indonesia. Dalam buku ini. manager. 1987). Mehren dan Irvin J. Evaluasi Kurikulum (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Handbook in Research and Evaluation (California: Edits Publisher. reliabilitas. Penentuan tiga mata pelajaran ini mengundang polemik antara pro dan kontra. 58-63. konselor. 29-39. 1988). hal. decisionoriented evaluation. hal. 3-9. Lihat Suharsimi Arikunto. Dasar-dasar. 7 Mata pelajaran yang diujikan dalam Ujian Nasional adalah Matematika. 8 Hasan. Lehman. objektivitas. hal. 1973).bekerja sama demngan Pusat Antar Universitas di Universitas Terbuka. hal.. evaluation research. Lihat Suharsimi Arikunto. Lihat Woolfolk. Formatif difungsikan sebagai pengumpulan data pada waktu pendidikan masih berlangsung. 10 William M. 9 Stephen Issac and William B. Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan. pemimpin. Evaluasi sumatif dilaksanakan jika program kegiatan sudah betul-betul dilaksanakan. motivator. yaitu Goal-oriented evaluation. dan adversary evaluation. 5 Michael Sriven seorang ahli dalam penelitian evaluasi melihat pembagian evaluasi secara formatif dan sumatif dari segi fungsi. praktikabilitas. Said Hamid. 6 Terdapat beberapa prinsip dasar evaluasi antara lain: validitas. Ada sebagian ahli memandang formatif dan sumatif menunjuk pada lingkup atau luasnya yang dinilai. 283. Inc. Insinyur lingkungan . Measurement and Evaluation in Education and Psychology (Sydney: Rinehart and Winston. goal-free evaluation. ekonomis. Manajemen Penelitian (Jakarta: Rineka Cipta. Yang kontra mempertanyakan apakah ketiga mata pelajaran tersebut dapat mewakili (representatif) seluruh mata pelajaran PKn dan sebagainya. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi.

hal. Evaluasi Program (Jakarta: Rineka Cipta. dan Model Stake atau model Countenance. Lihat juga Sumadi Suryabrata. 13 Blaine R. Dalam buku ini. model evaluasi diklasifikasi menjadi empat. Klasifikasi pendekatan evaluasi ini hampir miripdengan pembagian menurut Worthen & Sanders.Pengembangan Tes Hasil Belajar (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. management oriented. Model Brinkerhoff. 13-35. 2001). yaitu: objectives oriented. ada enam pendekatan evaluasi. Seperti educational system model menurut Sudjana. Measurment. pendekatan berorientasi pada tujuan. consumer oriented. Model evaluasi diklasifikasi menjadi: Model CIPP. Worthen dan James R. Inc. 1997). & Yen. Lihat juga William M and Irvin J. Pendekatan evaluasi diklasifikasi menjadi: pendekatan eksperimental. Educational Evaluation: Alternative Approaches and Practical Guidelines (New York: Longman. Penelitian dan Penilaian Pendidikan (Bandung: Sinar Baru Algensindo. 234-260. pendekatan yang responsif dan pendekatan Goal Free Evaluation. Inroduction to Measurement Theory (California: Brooks/Cole Publishing Company. Classroom Measurement and Evaluation (Itasca. yaitu measurement model.E. dan naturalistic and participant oriented. congruence model. Antes. 12 Farida Yusuf Tayibnapis. adversary oriented. Model UCLA.11 Nana Sudjana dan Ibrahim. 41-160. hal. 1990). 14 Referensi model ini cukup banyak antara lain Allen. penulis lebih cocok dengan system model. dan illuminative model. Sanders. and Richard L. Peacock Publisher. 2000). lihat juga Hopkins. 1979). pendekatan yang berfokus pada tujuan. Worthen & Sanders mengistilahkan dengan pendekatan evaluasi (evaluation approach). Wendy M. Klasifikasi model evaluasi yang penulis sajikan dalam tulisan mengikuti model dari Sudjana dengan beberapa modifikasi dan tambahan. Menurutnya. Charles D. pendekatan berorientasi kepada pemakai. 1987). expertise oriented. hal. educational model. Dalam buku ini dibedakan pendekatan dengan model evaluasi. Dalam tulisan ini. Lehman. Mary J. Illionis: F. Lihat .

. 250. Cit. Penelitian. 235 16 Referensi Analisis Butir Tes antara lain dapat dilihat dalam Ronald K. 78. Fetterman (Ed. hal. 1996). 20 Ibid. Op. 68-70.. 258 259. hal. 132-133. hal.Op. hal. New Delhi: Sage Publications. H. 22 Worthen & Sanders. hal. hal. Lihat juga Worthen & Sanders. 19 Ibid. hal. 15 Sudjana.. 130-132. 17 Ibid. 18 Ibid. 23 Worthen & Sanders. hal. Tes Prestasi: Fungsi dan Pengembangan Pengukuran Prestasi Belajar (Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Penelitian.. Lihat juga Issac & Michael.Op. .. 1991). Swaminathan. 1988). Hambleton. 241.juga Azwas Saifuddin. Fundamentals of Item Response Theory. Cit. Nana dan Ibrahim. 21 Farida Yusuf Tayibnapis. 7-12. 244. 26 Nana Sudjana & Ibrahim. Evaluasi Program.).. hal. 25 Untuk referensi model ini dapat juga dilihat dalam David M. hal. Cit. Qualitative Approaches to Evaluation in Education: The Silent Scientific Revolution (London: Praeger. 21-22.. Educational. 256. Jane Rogers. 24 Ibid..

Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya Kampus Lidah Wetan Abstrak: Pembelajaran terpadu merupakan pendekatan yang melibatkan beberapa bidang studi/ mata pelajaran.JURNAL III EVALUASI DALAM PEMBELAJARAN TERPADU DI SEKOLAH DASAR Sutrisno Widodo Kurikulum dan Teknologi Pendidikan. Pendekatan pembelajaran itu akan dapat memberikan pengalaman yang bermakna kepada peserta didik. Pengertian bermakna di sini karena dalam pembelajaran terpadu diharapkan peserta didik memperoleh pemahaman terhadap konsep-konsep yang mereka pelajari dengan melalui pengalaman-pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang sudah mereka pahami. Pelaksanaan .

PENDAHULUAN berorientasi instruksional. Kata Kunci: Pembelajaran terpadu. maka dapat sifatnya terpadu (holistik). Jika hal ini dapat terpisahkan satu dengan lainnya. yang terjadi selama ini menunjukkan adanya maka dipandang perlu para guru Sekolah Dasar . Evaluasi pada pembelajaran terpadu berorientasi pada program. observasi merupakan komponen dasar. (3) sistem evaluasi testing. Model keterhubungan. Aspek Dari kenyataan tersebut terlihat jelas perkembangan yang satu saling terkait dan terjadinya kontradiksi antara proses mempengaruhi aspek perkembangan yang lain. dan dibiarkan terus berlanjut. agar data dan informasi proses pelaksanaannya dapat terekam dangan sempurna sehingga evaluasi dapat dilakukan secara objektif. perkembangan anak SD bersifat alamiah. dan observasi terhadap kegiatan pembelajaran terpadu seyogyanya dilakukan dengan cermat. Konsep-konsep dari bidang studi terkait dijadikan wahana pembelajaran dan penjelajahan topik atau tema. Perkembangan ini merupakan perkembangan dengan proses pendidikan/ pembelajaran yang phisik. seksama. pembelajaran/ pendidikan di Sekolah Dasar Bertolak dari berbagai gejala tersebut. dengan pengalaman diramalkan akan terjadi dampak negatif serta kehidupan dalam lingkungan sekitarnya. dan penyelenggaraannya dilakukan dengan menggunakan alat evaluasi tes dan non-tes. proses. terhadap mutu dan hasil Apabila kita cermati bersama proses pendidikan/pembelajaran di Sekolah Dasar. Dalam mengevaluasi proses pembelajaran terpadu. dan produk. Model jaring laba-laba dan Model keterpaduan 1. dan penekanannya pada reproduksi Perkembangan anak Sekolah Dasar informasi. mental.pembelajaran terpadu diawali dari pemilihan dan pengembangan topik atau tema yang dilakukan guru bersama peserta didik. emosional dan sosial yang tidak dilaksanakan di Sekolah Dasar. cenderung bersifat holistik.

Hal ini atau eksplorasi topik atau tema menjadi diharapkan hasil evaluasi dapat digunakan pengendali di dalam kegiatan pembelajaran. pembelajaran terpadu evaluasi tidak berbeda dengan pembelajaran merupakan pendekatan pembelajaran yang konvensional pada umumnya. pelajaran secara serempak. Oleh karena itu memperhatikan dan menyesuaikan dengan berbagai hal yang perlu diperhatikan dalam tingkat perkembangan peserta didik melaksanakan evaluasi kegiatan pembelajaran (developmentally appropriate practice). 1998) dampak pengiring (nurturant effects). sebagai salah satu tolok ukur keberhasilan dari Dengan berpartisipasi di dalam eksplorasi tema suatu proses pembelajaran. Dalam pembelajaran terpadu perhatian pengetahuan dan struktur intelektual anak. 1996): (1) terjadinya mengembangkan kompetensinya dalam pengkotakan-pengkotakan bidang studi/mata merancang pembelajaran dan merancang pelajaran khusunya untuk kelas-kelas tinggi di evaluasi terpadu pada setiap bidang studi yang Sekolah Dasar. dan juga dapat atau topik atau peristiwa tersebut peserta didik dimanfaatkan sebagai masukan dalam rangka belajar sekaligus proses dan isi berbagai mata perbaikan kualitas pembelajaran. Pada pembelajaran terpadu peran Pandangan lain. seperti Pelaksanaan pendekatan pembelajaran . yang cukup banyak diarahkan pada evaluasi (Depdikbud. baik yang menggunakan pendekatan terpadu Pendekatan berangkat dari teori pembelajaran maupun konvensional adalah yang menolak drill sebagai dasar pembentukan sama.kecenderungan yang relatif kuat dalam hal yang ada sekarang ini memulai untuk (Depdikbud. (2) pembelajaran difokuskan akan dibelajarkan kepada peserta didiknya. pada pencapaian dampak pembelajaran/efek Evaluasi dalam proses pembelajaran merupakan aktivitas yang bertujuan untuk mendapatkan informasi berkaitan dengan berlangsung apabila peristiwaperistiwa otentik kinerja (performance) peserta didik.

KARAKTERISTIK DAN dengan konsep lain yang sudah mereka KELEBIHAN SERTA pahami. dapat d ipandang sebagai upaya untuk Pendekatan pembelajaran seperti ini akan memperbaiki kualitas (improvement quality) dapat memberikan pengalaman yang bermakna pendidikan di tingkat dasar. KONSEP PEMBELAJARAN pembuatan keputusan. KETERBATASAN Pada dasarnya. membuat peserta didik aktif terlibat dalam proses pembelajaran dan 2. terpadu lebih menekankan keterlibatan peserta didik dalam belajar. pembelajaran proses maupun produk/ hasil pembelajaran. terpadu ini bertolak dari suatu tema atau topik menghargai pendapat orang lain. literasi bidang studi. Pendekatan ini lebih TERPADU mungkin menjadi sesuatu yang dikemukakan oleh John Dewey dengan konsep learning by Pembelajaran terpadu merupakan doing-nya. Tujuan dari tema ini bukan untuk (instructional effects). Pengertian bermakna di rangka mengimbangi gejala penjejalan sini karena dalam pembelajaran terpadu kurikulum yang serin g terjadi dalam proses diharapkan peserta didik memperoleh pembelajaran di sekolah belakang ini. di samping dampak pembelajaran peserta didik. tetapi konsep -konsep dari Ditinjau dari segi pentahapan aktivitas bidang studi terkait dijadikan alat dan wahana evaluasi dapat dilakukan baik pada tahap untuk mempelajari dan mengeksplorasi topik perencanaan maupun pada tahap pelaksanaan atau tema. pemahaman terhadap konsep-konsep yang mereka pelajari dengan melalui pengalamanpengalaman langsung dan menghubungkannya 3. pendekatan belajar mengajar yang melibatkan Pendekatan pembelajaran terpadu beberapa bidang studi/ mata pelajaran.halnya dengan kompetensi bekerja sama. terutama dalam kepada peserta didik. aktivitas pembelajaran terpadu. dan yang dipilih atau dikembangkan guru bersama sebagainya. Sedangkan dari Apabila dibandingkan dengan segi sasaran evaluasi difokuskan baik kepada pendekatan konvensional. pembelajaran terpadu PEMBELAJARAN TERPADU merupakan suatu sistem pembelajaran yang .

peserta didik sehingga hasil belajar akan dapat Beberapa kelebihan model bertahan lebih lama. (3) dan otentik. dan menemukan konsep serta anak (child centered). dan kerukunan yang ada pada mata (3) kegiatan belajar lebih bermakna bagi pelajaran Pkn semester II pada kelas II. satu topik dengan topik dapat berkembang sesuai dengan minat dan lain. (2) kegiatan yang dipilih sesuai dengan memadukan antara subtema kebersihan. bermakna. dan mengacu pada minat dan kebutuhan anak. proses memiliki ciri -ciri: (1) berpusat pada menggali.1991). diusahakan untuk menghubungkan satu konsep (5) bersifat luwes. aktif mencari.memungkinkan peserta didik baik secara Pembelajaran terpadu sebagai suatu individual maupun kelompok. tugas -tugas yang dilakukan dalam satu Kelebihan-kelebihan pada hari dengan tugas -tugas yang dilakukan pada pembelajaran terpadu dibandingkan dengan hari berikutnya. Misalnya. pengalaman langsung pada anak. satu keterampilan dengan keterampilan kebutuhan peserta didik. di antaranya: (1) pada satu semester dengan ideide yang akan pengalaman dan kegaiatan belajar peserta didik dipelajari pada semester berikutnya. keadilan. Pembelajaran terpadu akan pemisahan antar bidang studi tidak begitu jelas. (2) memberikan prinsip keilmuan secara holistik. (5) menyajikan kegiatan yang bersifat dalam satu bidang studi adalah peserta didik pragmatis sesuai dengan permasalahan yang memperoleh gambaran yang luas sebagaimana . selalu relevan dengan tingkat perkembangan (Fogarty. bahkan ide-ide yang dipelajari pembelajaran konvesional. guru secara sengaja anak. (4) menyajikan konsep dari berbagai pembelajaran terpadu secara sengaja bidang studi dalam suatu proses pembelajaran. lain. dan (6) hasil pembelajaran dengan konsep lain. (4) pembelajaran terpadu keterhubungan adalah sebagai berikut: (1) menumbuh kembangkan keterampilan berfikir dampak positif dari mengkaitkan ide-ide anak.

terabaikan menyusun. terhadap proses. mengembangkan konsep-konsep kunci secara dan respek atau menghargai terhadap gagasan terus menerus. toleransi. Pembelajaran terpadu untuk bekerja secara tim. sehingga terjadilah proses orang lain. komunikasi. kemudian pembelajaran terpadu yang menggunakan . internalisasi. (3) menghubungkan ide -ide Dalam pendekatan pembelajaran dalam suatu bidang studi memungkinkan terpadu mengandung keterbatasan terutama peserta didik mengkaji. mengkonseptualisasi. Model ini merupakan model studi dalam satu semester. tetapi juga ini adalah: (1) masih kelihatan terpisahnya dan mungkin lebih banyak dampak pengiring antar bidang studi. Tidak hanya evaluasi dampak Kekurangan dari model keterhubungan instruksional (instructional effect). dalam pelaksanaannya. sehingga isi pelajaran memang menghendaki teknnik evaluasi yang tetap terfokus tanpa merentangkan koseplebih beragam dibanding dengan pembelajaran konsep serta ide-ide antar bidang studi. (2) tidak mendorong guru (nurturant effect). (3) biasa.sering ditemui dalam lingkungan anak. maka usaha untuk mengembangkan sebelum mendesain pembelajaran terpadu keterhubungan antar bidang studi menjadi hendaknya para guru mengumpulkan. dan (6) suatu bidang studi yang terfokus pada suatu menumbuh kembangkan keterampilan sosial aspek tertentu. maka studi. (2) peserta didik anak seperti kerja sama. serta mengasimilasi ide-ide terutama terletak dalam aspek evaluasi yang secara terus -menerus sehingga memudahkan lebih banyak menuntut guru untuk melakukan terjadinya proses transfer ide-ide dalam evaluasi tidak hanya terhadap hasil tetapi juga memecahkan masalah. Keterbatasan itu memperbaiki. dalam memadukan ide-ide dalam satu bidang Bertolak dari hal-hal tersebut. dan memahami standar kompetensi Model J aring LabaLaba (Webbed maupun kompetensi dasar dari seluruh bidang models).

(2) model Jaring Laba-Laba lebih konsep dari masing-masing bidang studi mudah dilakukan oleh guru yang belum menuntut adanya sumber belajar yang berpengalaman. dengan minat akan memotivasi anak untuk pengintegrasian kurikulum dengan konsepbelajar. misalnya transportasi . Untuk . (3) dalam proses pengetahuan dan pemahaman peserta didik. (2) karena sulitnya menyeleksi tema. (4) pendekatan tematik dapat memotivasi peserta didik. beraneka ragam. perancangan pembelajaran terpadu. MODEL-MODEL dan peserta didik. Evaluasi Dalam Pembelajaran. asesmen alternatif dan cara formal. Pendekatan ini dimulai dengan menentukan tema tertentu. KONSEP EVALUASI dan ide-ide berbeda yang terkait. Model keterhubungan adalah model Beberapa kelebihan model Jaring Laba-Laba. 1991). dan pengembangan sosial perhatian pada kegiatan dari pada dan afektif peserta didik dengan memanfaatkan pengembangan konsep. (3) memudahkan perancangan. sub -subtemanya dengan PEMBELAJARAN TERPADU memperhatikan kaitannya dengan bidangYANG DISARANKAN DI SD bidang studi. pembelajaran. (5) memberikan kemudahan bagi peserta didik dalam melihat kegiatan-kegiatan 5. PEMBELAJARAN TERPADU Model Jaring Laba-laba mempunyai kelemahan. Tema bisa ditetapkan dengan negosiasi antara guru 4. Dari sub -subtema ini dikembangkan aktivitas belajar yang harus Model Keterhubungan (Connected dilakukan peserta didik. diartikan sebagai evaluasi yang berupaya maka ada kecenderungan untuk merumuskan mencari informasi tentang pencapaian tema yang dangkal... guru lebih memusatkan pengembangan skill.dilanjutkan dengan proses pendesainan/ pendekatan tematik (Fogarty. yaitu: (1) penyeleksian tema sesuai Sutrisno. antara lain: (1) sulitnya menyeleksi Evaluasi pembelajaran terpadu dapat tema. models).

keterampilan. 1991). dan sikap yang memiliki lebih besar pada nurturant effect ( kemampuan keterhubungan yang erat dan tumpang tindih di kerja sama. (6) evaluasi menyeleksi konsep-konsep. keterampilan. Pertama guru yang bersifat invidual dan sosial. maka besar portfolio asessment hendaknya dalam model keterpaduan tema yang berkaitan dimanfaatkan. Selanjutnya dipilih beberapa (PAN). Model ini diusahakan dengan sehingga selain memanfaatkan penilaian cara menggabungkan bidang studi dengan cara produk. memberikan perhatian pula pada refleksi diri Berbeda dengan model Jaring Laba-laba yang peserta didik (self reflecti on). Patokan(PAP) daripada penilaian acuan norma dan Bahasa). saling tergantung . (7) lebih memberikan perhatian yang konsep. dan sikap langkah evaluasi hendaknya peserta didik yang saling tumpang tindih/ overlapping di dilibatkan. dan pembelajaran terpadu hendaknya sikap yang diajarkan dalam satu semester dari mengutamakan Penilaian Acuan beberapa bidang studi (IPA. (5) dalam pelaksanaan penilaian dan bertumpang tindih merupakan hal terakhir umpan balik hendaknya dimanfaatkan sebesaryang ingin dicari dan dipilih oleh guru dalam besarnya untuk pengembangan peserta didik tahap perencanaan program. konsep. perlu menetapkan prioritas kurikuler dan mendapat pe rhatian yang besar. Matematika.Model Keterpaduan (Integrated menemukan asesmen alternatif didasarkan models). tenggang rasa. IPS. Model ini merupakan pembelajaran pa da prinsip-prinsip sebagai berikut: (1) terpadu yang menggunakan pendekatan antar evaluasi hendaknya berbasis unjuk kerja bidang studi. (3) evaluasi hendaknya dalam beberapa bidang studi (Fogarty. (4) karena menuntut pemilihan tema dan penilaian perlu memdapatkan perhatian yang pengembangannya sebagai langkah awal. penilaian terhadap proses. (2) pada setiap menemukan keterampilan.

Sedangkan dari yang diprioritaskan. dan keterampilan kegiatan pembelajaran terpadu. (3) guru. sehingga tercapailah aktivitas belajar) dan sistematis ( merupakan efisiensi dan efektivitas pembelajaran. (2) menentukan kriteria keberhasilan . (4) SASARAN EVALUASI 7. perencanaannya maupun pelaksanaannya. dan lain-lain). baik perkembangan konseptual anak. (9) evaluasi dilihat dimungkinkan pemahaman antar bidang studi. (3) model ini memerlukan segi sasaran evaluasi difokuskan baik kepada tim antar bidang studi. Sedangkan beberapa kelemahan dari Ditinjau dari segi pentahapan kegiatan model keterpaduan ini. peserta didik dan guru serta evaluasi terhadap Tahap ini kegiatan. (8) perlu memandang peserta Model Keterpaduan ini mempunyai didik itu adalah suatu keutuhan yang tak beberapa kelebihan.kegiatan mencakup. TAHAP-TAHAP EVALUASI PEMBELAJARAN TERPADU Evaluasi pembelajaran terpadu mencakup proses dan produk dengan sasaran Pada tahap pertama perencanaan. (2) guru harus perencanaan maupun pada tahap pelaksanaan menguasai konsep. sikap. baik dalam proses maupun produk/hasil pembelajaran. Evaluasi proses terhadap peserta merumuskan tujuan evaluasi apa yang ingin didik sebagai pembelajar meliputi: (1) dicapai melalui kegiatan evaluasi ini. sebagai proses yang terus menerus dan multi (2) memotivasi peserta didik dalam belajar. (2) tingkat tujuan ingin dicapai oleh peserta didik maupun kemampuan menghadapi tantangan. (1) program. antara lain: (1) terpisahkan (holistik). kestuan informasi bukan penggalan informasi). (3) dimensional. antara lain: (1) sulitnya evaluasi dapat dilakukan baik pada tahap menerapkannya secara penuh. (10) evaluasi harus bersfat guru tidak perlu mengulang kembali materi komprehensif (menggambarkan keseluruhan yang tumpang tindih.antara berbagai bidang studi.

topik. Penyajian Laporan. (2) pendekatan dan metode yang bagian suatu program. (8) penggunaan bahasa dengan baik tahap proses pelaksanaan ini harus disadari dan benar sesuai tingkat kemampuan peserta bahwa. baik oleh guru maupun kemampuan peserta didik berkomunikasi. (1) daftar cek dan komprehensif dan diakhiri dengan yang dilakukan oleh rekan / kolega guru sejumlah rekomendasi dan saransaran. pelaksanaan. Hasil pembelajaran lainnya. Penyusunan lain. dan unit. dan evaluasi aspek belajar yang harus dicapai sebagai pembelajar. Dalam kelompok. (3) rekaman. (4) program. (3) materi pembelajaran yang diarahkan pada pro ses maupun produk serta mencakup. Penyusunan dan guru. Tindal lanjut. lainnya terhadap strategi dan pengelolaan Tahap terakhir. (1) mempertimbangkan seluruh informasi yang laporan. Evaluasi laporan ini dilakukan secara logis. (2) Evaluasi proses terhadap guru evaluasi h arus dilihat sebagai proses yang mencakup: (1) proses pembelajaran terdiri. grafik. (3) evaluasi dapat digunakan. sampai dengan akhir proses pembelajaran. pemilihan tema. Laporan hasil penilaian Evaluasi terhadap produk kegiatan disusun dengan jalan memperhitungkan dan terhadap peserta didik dilakukan melalui. video dan kaset. (7) partisipasi anak dalam diskusi Tahap ke dua. (4) yang ingin dicapai. kelengkapan pembelajaran yang disediakan Tahap ke tiga. dan lainterkumpul dan pengolahannya. (1) evaluasi berlangsung sejak awal didik. lebih dari sekedar salah satu perencanaan. diagram. terhadap guru dilakukan melalui. (6) kerjasama dan ukur atau instrumen yang akan digunakan kekompakan serta produktivitas kegiatan dalam proses evaluasi. kelompok. (3) menentukan teknik dan alat kerasionalan argumentasi. (2) masukan dari peserta pengolahan informasi dan saran-saran . berkelanjutan. sistematis. pelaksanaan.interaksi peserta didik dengan anak lainnya. (5) peserta didik. (2) gambar.

Hasil Ba gaimana reaksi pesert didik terhadap Perubahan/perkembangan perilaku apa yang terjadi pada peserta didik? rencana yang telah disusun.didik. produk. sebagai dampak instruksional maupun dampak pengiring. orang tua dan rekan guru lainnya. Perlu Evaluasi program mencakup. kesimpulan yang rasional. (6) secara terus menerus. = aspek lain. lembaran . = aspek kognisi/intelektual. ditindak -lanjuti secara operasional. CAKUPAN EVALUASI portofolio. (3) rubrik. = aspek sosial = aspek etis = aspek pribadi dan sebagainya. kemampuan dimanfaatkan untuk meningkatkan kegiatan menyajikan pokok pikiran. (7) masukan orang tua. (2) analisis kesalahan akhir berupa tindak lanjut dilakukan pada akhir peserta didik. (1) dikemukakan bahwa tidak seluruh kegiatan catatan anekdot/file card . (4) konferensi gurukegiatan karena evaluasi yang diselenggarakan siswa. Hasil-hasil evaluasi proses. menarik pembelajaran. (5) diskusi peergroup . umpan balik perkembangan peserta didik. Evaluasi dengan menggunakan 8. PEMBELAJARAN TERPADU DI dan program dapat didokumentasikan dalam SEKOLAH DASA R suatu portofolio. Portofolio ini dapat dijadikan salah satu masukan bagi guru untuk Cakupan evaluasi pembelajaran memutuskan atau menetapkan nilai atau grade terpadu dapat disusun dalam matrik sebagai Tahapan Perencanaan Pelaks anaan sasaran Proses Bagaimana peserta didik berpartispasi dalam Bagaimana aktivitas dinamika interaksi dan kemampuan berfikir peserta menentukan tema-tema terkait. didik. Mencermati cakupan evaluasi rekaman guru pada pembelajaran terpadu seperti pada matrik misalnya untuk dilengkapi di dengan hasil pengamatan.

teknik dan alat evaluasi yang bervariasi pula. kecil dan direkam secara penuh. berorientasi pada perkembangan intelektual seperti halnya dalam mata pelajaran peserta didik serta lingkungan budayanya. evaluasi diri juga dapat dipakai. konteks yang alami. berlangsung dalam Dialog Pes erta Didik dengan Guru. Peserta didik dapat menyusun sendiri pertanyaan atau butir soal dan kemudian menjawabnya sendiri. maka evaluasi pembelajaran terpadu kelompok kecil. Perlu juga diketahui bahwa tes Observasi dan Dokumentasi. bersifat multi dimensional. Dalam hal ini Karena aspek perilaku yang menjadi sasaran peserta didik dapat diberi tugas untuk evaluasi banyak variasinya. matematika atau IPS. 1996). guru dapat yang cukup tentang bagaimana seorang peserta . tes formal yang sahih/valid dan handal/reliabel. beberapa tema.atas. Terdapat beberapa metode evaluasi Tes dan Ujian. Pada pembelajaran yang dapat digunakan dalam mengevaluasi terpadu dilakukan juga tes maupun ujian baik proses dan hasil pada pembelajaran terpadu untuk satu tema pembelajaran maupun untuk (Depdikbud. maka diperlukan merangkum hasil diskusi tersebut. Evaluasi Diri P eserta Didik-Guru. Kegiatan evaluasi dimulai dengan pengamatan Dalam melakukan evaluasi pembelajaran langsung yang bersifat informal sampai kepada terpadu. METODE EVALUASI DALAM juga mel akukan evaluasi diri untuk perbaikan PEMBELAJARAN TERPADU dalam perencanaan maupun pelaksanaan pembelajaran. kolaboratif. Selanjutnya guru dapat 9. berikut ini. Dialog peserta didik dan Pada pembelajaran terpadu penekanan guru dapat pula dilakukan dalam kelompok evaluasi terletak pada proses maupun hasil. Dengan formal tidak / belum memberikan informasi bekerja sama dengan peserta didik. dan Cara ini dapat dibatasi untuk masalah khusus.

ini guru berusaha memahami tugas maupun Oleh karena itu perlu dilakukan juga cara lain situasi dari sudut pandang peserta didik. untuk satu unit tema atau beberapa unit tema Pengamatan Orang tua. misalnya tersebut. bagaimana mereka dalam integral dari interaksi sosial. untuk melakukan kekurangan anak/ pesrta didik yang evaluasi proses digunakan alat evaluasi nonbersangkutan. verbal. satu semester. Sekaligus memungkinkan tes. Dalam kegiatan menggunakan kemampuan intelektualnya. Dalam pemaparan ini dapat diri anak. dan yaitu dengan analisis masalah dan pemaparan sementara itu evaluasi diri semakin kuat pada pemecahannya.melakukan observasi pada saat itu. dan terlibat. Dari sini didik sebagai individu berpikir dan memproses kelihatan bahwa evaluasi sebagai bagian konsep -konsep. Penyelenggaraan pengamatan oleh Pada dasarnya alat evaluasi terdiri dari orangtuapun memungkinkan guru dan orangtua dua macam yaitu tes dan non-tes. . Kegiatan penting dalam proses interaksi antara guru dengan peserta didik. sistematika penyajian dan dapat juga dilakukan dengan cara guru pengetahuan lain untuk memecahkan masalah merekam catatan kejadian di kelas. aktif. orangtua dianggap amat positif untuk Catatan ini berisi rekaman sekilas tentang meningkatkan prestasi belajar peserta didik. Catatan ini dapat juga dari pihak guru dan peserta didik. Keterlibatan selama satu periode satu tahun. ditekankan pentingnya penggunaan kosa kata Observasi dan dokumentasi berkala yang tepat. Dalam berorientasi dalam kaitan kemajuan dan pembelajaran terpadu. pembelajaran terpadu adalah observasi untuk Dalam kelas pembelajaran terpadu pengungkapan perilaku/ unjuk kerja nonpeserta didik asyik sibuk. sekilas tentang kesan yang tampak kelihatan Karena itu masukan dari orangtua akan dapat bermakna selama proses pembelajaran membantu menghapus penafsiran yang keliru berlangsung di kelas.

Alat Evaluasi Daftar Cek Keterampilan Keterampilan Intelektual dan Sosial Jenis Kemampuan Ya Belum Berkembang Intelektual: .Rasa ingin tahu Sosial: .Kepedulian lingkungan . mengevaluasi perkembangan peserta didik (Charbonneau & Reider. 1995). Berikut ini PEMBELAJARAN TERPADU disajikan contoh alat evaluasi berupa daftar cek dan skala penilaian/penilaian berskala pelaksanaan pembelajaran terpadu.Kepercayaan diri (Sumber: Buku Materi Pokok Pembelajaran Terpadu. 1996) Alat Evaluasi Skala Penilaian /Penilaian Berskala Pelaksanaan Pembelajaran Terpadu Pelaksanaan Kegiatan Nama (kelompok/individu) : -------------------------------------- . Hasil analisis ini tugas dan bagaimana mereka saling dapat dipakai sebagai bahan pertimbangan/ berinteraksi memberikan data pada guru dalam masukan dalam menilai proses pembelajaran rangka membantu perencanaan kurikulum dan terpadu.Keterbukaan . kegiatan peserta didik dalam menyelesaikan kemudian akan dianalisis. dalam hal ini observasi merupakan komponen dasar dalam 10. ALAT EVALUASI DALAM evaluasi pembelajaran terpadu. dan selalu membuat catatan.Kemampuan kerja sama .Kreativitas .Kepedulian terhadap orang lain .Guru hendaknya sadar akan aksi dan reaksi Observasi yang cermat terhadap peserta didik.Kemandirian termasuk percaya diiri dan kontrol diri .

KESIMPULAN observasi merupakan komponen dasar. dan kegiatan pembelajaran terpadu seyogyanya dilakukan seksama. (Sumber: Buku Materi Pokok Pembelajaran Terpadu. Produk/ Hasil*) *) Dirinci aspek-aspek hasil belajar yang akan dinilai. informasi proses a. Pembelajaran terpadu merupakan terekam dangan pendekatan pembelajaran yang evaluasi dapat melibatkan beberpa bidang studi dan bertujuan untuk memberikan pengalaman bermakna kepada peserta pelaksanaannya sempurna sehingga dilakukan secara objektif . Proses Pembelajaran a. stimultanius b. perhatian siswa c. partisipasi siswa d. 1996) 11. antusiasme b. beberapa kesimpulan yang dapat dipetik. berkomunikasi D. pemberian informasi b. yaitu. agar data dan dapat terhadap Berdasarkan pada uraian di atas. memotivasi kerja kelompok c. kejelasan b. ada dengan cermat. Ketaatan kepada perencanaan a. interaksi f. penggunaan sumber c. kerja sama antar siswa E.Skor Aspek Yang Dinilai 1 2 3 4 Keterangan A. . memotivasi indivdu C. penggunaan waktu B. penggunaan bahan dan alat d. Keberanian a. kreativitas siswa e. Pengelolaan Kelas: a. bertindak c.

Tokyo: Allyn and pengembangan topik atau tema yang Bacon dilakukan guru bersama peserta didik. Charboneau. 1991.didik.. evaluasi tes dan non-tes. 1996. Skylight Publishing. dan penjelajahan topik atau tema. Palatine. Depdikbud. Penerbit: Universitas Terbuka . dan penyelenggaraannya IGK. & Reider. Inc. Evaluasi pada pembelajaran terpadu Curricula. London. dan berorientasi pada proses DAFTAR PUSTAKA pembelajaran yang disesuaikan dengan perkembangan peserta didik. Jakarta. Pelaksanaan pembelajaran terpadu 1995. I llonis: IRI/ berorientasi pada program. b. dan produk. Materi Pokok dilakukan dengan menggunakan alat Pembelajaran Terpadu PGSD. proses. Barbara E. Materi Pokok Konsep-konsep dari bidang studi pembelajaran Terpadu PGSD . Wardani. Jakarta: terkait dijadikan wahana pembelajaran BP3GSD. 2000. Fogarty. How To Integrate The c. R. The Integrated Elementary diawali dari pemilihan dan Classroom. Manon P.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful