TUGAS HUKUM PERIKATAN “KONTRAK”

DISUSUN OLEH:
1. Renhard purba 2. SRI ERNI ELIZABETH 3. NOVA HUTABARAT 4. DEVI C. MALAU

(02071001031) (02071001175) (02071001178) (02071001078) (02071001116) (02071001117) (02071001065)

5. EMERENCIA RIANTY B. (02071001119) 6. MULAWARMAN TURNIP 7. JONATHAN PURBA 8. FERY ANCIS S.

9. SAOR SANDI TIKANA S. (02071001170) 10. JOHANSEN C. HUTABARAT (02071001141)

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SRIWIJAYA INDERALAYA 2009

yang paling dominan adalah Undang-Undang atau hukum yang bersifat sektoral. Dalam bidang hukum. Walaupun . ekonomi. baik berbentuk lisan maupun tertulis. Hukum kontrak kita masih menggunakan peraturan Pemerintah Kolonial Belanda yang terdapat dalam buku III KUHPerdata. tukar menukar. Kontrak-kontrak yang telah diatur dalam KUH Perdata. LATAR BELAKANG Era reformasi merupakan era perubahan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. beli sewa. subrogate mother. penanggungan utang. Hukum Pidana. hibah. Hal ini tampak dari kurangnya pembahasan dari berbagai hukum dasar.BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang lahirnya era reformasi adalah tidak berfungsinya roda pemerintahan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. terutama di bidang politik. Hukum Kontrak. diarahkan kepada pembentukan peraturan perundang-undangan yang baru dan penegakan hukum (law of enforcement). Di luar KUHPerdata. seperti Hukum Perdata. diperkenankan untuk membuat kontrak baik yang telah dikenal dalam KUHPerdata maupun di luar KUHPerdata. perjanjian untung-untungan. sedangkan hukum yang bersifat dasar (basic law) kurang mendapat perhatian. penitipan barang. persekutuan perdata. pinjam meminjam. franchise. dan hukum. dan lain-lain. dan bentuk kontrak. menentukan syarat-syaratnya. penyelenggaran negara berkeinginan untuk melakukan perubahan secara radikal (mendasar) dalam ketiga bidang tersebut. Hukum Dagang. Undang-Undang yang dibentuk dan dibuat dalam era reformasi ini. production sharing. joint venture. pinjam pakai. sewa menyewa. seperti jual beli. Era reformasi telah dimulai sejak tahun 1998 yang lalu. pelaksanaannya. pemberian kuasa. Di samping itu. seperti leasing. Maka dengan adanya reformasi. Buku III KUHPerdata menganut sistem terbuka (open system) artinya bahwa para pihak bebas mengadakan kontrak dengan siapapun. dan lainnya. dan perdamaian. kini telah berkembang berbagai kontrak baru. Hukum Tata Negara.

peraturan perundang-undangan di luar KUH Prerdata. yang menggantikan peraturan yang lama. namun peraturan yang berbentuk Undang-Undang belum ada. B. dan berbagai perjanjian internasional kontrak. 2. Untuk memberikan pemaparan tentang pengertian kontrak dan fungsi berpedoman dan bertitik tolak pada KUHPerdata. PERMASALAHAN 1. Akibat dari tidak adanya kepastian hukum tentang kontrak tersebut maka akan menimbulkan persoalan dalam dunia perdagangan.kontrak-kontrak itu telah hidup dan berkembang dalam masyarakat. Peraturan itu hanya terbatas peraturan yang menangani leasing. Undang-Undang tersebut juga memberikan kedudukan yang seimbang kepada para pihak dalam memenuhi hak dan kewajibannya. Bagaimana proses dari penyusunan kontrak? C. Yang ada hanya dalam bentuk Peraturan Menteri. Untuk mengetahui proses penyusunan kontrak secara benar dan sah menurut hukum. TUJUAN 1. sedangkan pihak lainnya akan menerima kontrak tersebut karena kondisi sosial ekonomi mereka yang lemah. Dalam kenyataannya salah satu pihak sering kali membuat kontrak dalam bentuk standar. Walaupun belum adanya Undang-Undang tentang kontrak yang khusus dan bersifat nasional maka kajian teoritis maupun empirik dalam proporsal ini adalah lainnya. sedangkan kontrak-kontrak yang lain belum mendapat pengaturan yang khusus. Untuk itu pada masa mendatang diperlukan adanya Undang-Undang tentang kontrak yang bersifat nasional. terutama ketidakpastian bagi para pihak yang mengadakan kontrak. Apa yang dimaksud Kontrak serta fungsi dari kontrak? 2. .

Tahap post contractual. yaitu pelaksanaan perjanjian Fungsi kontrak Fungsi kontrak ada dua macam yaitu: 1.” Menurut teori baru yang dikemukakan oleh Van Dunne. Ada tiga tahap dalam membuat perjanjian. disebut dengan overeenkomst (perjanjian). yaitu adanya persesuaian pernyataan kehendak antara para pihak. 2. yaitu adanya penawaran dan penerimaan. Psal 1313 KUH Perdata berbunyi : ”Perjanjian adalah suatu perbuatan dengan manasatu pihak atau lebih mengikatkan diri terhadap satu orng atau lebih.BAB II PEMBAHASAN A. Fungsi yuridis Fungsi yuridis kontrak adalah dapat memeberi kepastian hukum bagi para pihak. Sedangkan menurut doktrin (teori lama) yang disebut perjanjian adalah ”Perbuatan hukum berdasarkan kata sepakat untuk menimbulkan akibat hukum. Tahap pra contractual. Pengertian perjanjian atau kontrak diatur Pasal 1313 KUHPerdata. tetapi juga harus dilihat perbuatan sebelumnya atau yang mendahuluinya. yaitu contracts. yang diartikan dengan perjanjian.” Teori baru tersebut tidak hanya melihat perjanjian semata-mata. PENGERTIAN DAN FUNGSI Istilah dan Pengertian Kontrak Istilah kontrak berasal dari bahasa Inggris. yaitu : 1. . 2.”. Sedangkan dalam bahasa Belanda. menurut teori baru. Fungsi ekonomis Fungsi ekonomis adalah mengerakkan (hak milik) sumber daya dari nilai penggunaan yang lebih rendah menjadi nilai yang lebih tinggi. adalah ”Suatu hubungan hukum antara dua pihak atau lebih berdasarkan kata sepakat untuk menimbulkan akibat hukum. Tahap contractual. 3.

3) Pembuatan Memorandum of Understanding (MoU) MoU dianggap sebgai kontrak yang simple atau sebagai pembuka suatu kesepakatan. 2) Penelitian awal aspek terkait Pada dasarnya pihak-pihak dalam kontrak yang ditandatangani dapat menampung semua keinginannya sehingga diharapkan dalam penyusunan kontrak harus menjelaskan hal-hal yang tertuang dalam kontrak yang bersangkutan. yang akan diikuti suatu kontrak terperinci. ganti rugi. 4) Negosiasi Merupakan sarana bagi para pihak untukmengasdakan komunikasi dua arah yang dirancang untuk mencapai kesepakatan sebagai akibat dari adanya perbedaan . dan untuk adanya kontrak terperinci. Merupakan pendahuluan. Keempat hal itu yakni: 1) Identifikasi para pihak Para pihak dalam kontrak harus teridentigikasi secara jelas. konsekuensi yuridis. serta perpajakan. Pada hakekatnya MoU merupakan suatu perjanjian pendahuluan dalam arti akan diikuti perjanjian lainnya. serta alternatif lain yang mungkin dapat dilakukan. perlu diperhatikan peraturan perundang-undangan yang berkaitan. PROSES PENYUSUNAN Sebelum kontrak disusun ada empat hal yang perlu diperhatikan oleh para pihak.B. Jangka waktunya terbatas. seperti unsur pembayaran. Ciri-ciri MoU sendiri yaitu: Isinya singkat berupa hal pokok.Biasanya tidak dibuat secara formal serta tidak ada kewajiban yang memaksa . terutama tentang kewenangannya sebagai pihak dalam kontrak yang bersangkutan. memperhatikan hal terkait dengan isi kontrak. Pada akhirnya penyusun kontrak menyimpulkan hal dan kewajiban masing-masing pihak. Meskipun MoU diakui banyak manfaatnya tetapi banyak pihak meragukan berlakunya secara yuridis. dan apa yang menjadi dasar kewenanganya tersebut.

d) Racital Yaitu penjelasan resmi atau latar belakang terjadinya suatu kontrak. apabila keliru dalam pembuatan kontrak maka akan menimbulkan persoalan didalam pemlaksanaannya. yang meliputi: a) Judul kontrak Dalam kontrak harus diperhatikan kesesuaian antara isi dengan judul.pandangan terhadap suatu ahal dan dilatarbelaknagi oleh kesamaan atau ketidaksamaan kepentingan diantara mereka. dan kewajiban termasuk pilihan penyelesaian sengketa. e) Isi kontrak Bagian yang merupakan inti kontrak. Ada lima tahap dalam penyusunan kontrak di Indonesia sebagaimana dikemukan berikut ini: 1. Saling menukar draft kontrak 3. b) Pembukaan Biasanya berisi tanggal pembuatan kontrak. sehingga kemungkinan adanya kesalahpahaman dapat dihindari. Penyusunan kontrak ini perlu ketelitian dan kejelian dari para pihak maupun dari para notaris. Penutup dengan penandatangannan kontrak oleh masing-masing pihak . Jika perlu diadakan revisi 4. Karena. yaitu tahap penyusunan kontrak. terutama kewenangannya untuk melakukan perbuatan hukum dalam bidang kontrak. serta ketentuan hukum yang mengaturnya. Dilakukan penyelesaian akhir 5. Pembuatan draf pertama. 2. c) Pihak-pihak dalam Kontrak Perlu diperhatikan jika pihak tersebut orang pribadi serta badan hukum. Yang memuat apa yang dikehendaki. Salah satu tahap yang menentuan dalam pembuatan kontrak. hak. f) Penutup Memuat tata cara pengesahan suatu kontrak.

Seperti juga halnya tidak terpenuhinya syarat kewenangan berbuat.Syarat sah kontrak dan Konsekuensi Yuridisnya Agar suatu kontrak oleh hukum dianggap sah sehingga mengikat kedua belah pihak. Bagaimana konsekwensi hukumnya jika syarat kesepakatan kehendak ini tidak terpenuhi dalam kontrak tersebut. Syarat-syarat sahnya kontrak tersbut dapat digolongkan sebagai berikut: 1. Syarat sah umum di luar Pasal 1338 dan 1339 KUH Perdata. maka kontrak tersebut haruslah memenuhi syarat-syarat tertentu. yang terdiri dari: • • • • Kesepakatan kehendak. 2. Perihal tertentu. seperti misalnya ditentukan dalam pasal 1320 KUHPerdata. Syarat sesuai dengan kepentingan umum. dan Kausa yang halal. Syarat akta pejabat tertentu (yang bukan notaris) untuk kontrakkontrak tertentu. kesepakatan kehendak merupakan salah satu syarat sahnya suatu kontrak. Syarat sah yang khusus. • • C. SYARAT KESEPAKATAN KEHENDAK Kesepakatan kehendak sebagai syarat sahnya kontrak Sebagaimana diketahui bahwa menurut sistem hukum manapun didunia ini. yang terdiri dari Syarat sah umum berdasarkan Pasal 1320 KUH Perdata. Syarat sesuai dengan kebiasaan. bersama-sama dengan syarat kewenangan berbuat. Cakap. Syarat akta notaris untuk kontrak-kontrak tertentu. Syarat kesepakatan kehendak ini. Syarat sah umum. yang merupakan syarat subjektif dari kontrak. yang terdiri dari: Syarat itikad baik. maka tidak tertpenuhinya syarat kesepakatan . Syarat sesuai dengan kepatutan. yang terdiri dari : • • Syarat tertulis untuk kontrak-kontrak tertentu. Syarat izin dari yang berwenang.

b) Teori kehendak (willstheorie) Teori yang bersifat subjektif ini terbilang teori yang sangat tua. Teori ini diakui secara umum diretiap system hukum. D. Jadi suatu kontrak mula-mula dibentuk dahulu (berdasarkan kehendak). tetapi apa yang mereka inginkan. sungguhpun pengembangan dari teori ini banyak dilakukan di negara-negara yang menganut sistem hukum Common Law. menurut teori ini yang terpenting dalam suatu kontrak bukan apa yang dilakukan oleh para pihak dalam kontrak tersebut. . Suatu kesepakatan kehendak terhadap suatu kontrak dimulai dari adanya unsur penawaran (offer) oleh salah satu pihak. Yang terpenting adalah manifestasi dari kehendak para pihak bukan kehendak yang actual dari mereka. yaitu sebagai berikut: a) Teori penawaran dan penerimaan (offer and acceptance) Yang merupakan teori dasar dari adanya kesepakatan kehendak adalah teori offer and acceptance yang dapat dimaksudkan bahwa pada prinsipnya suatu kesepakatan kehendak baru terjadi setelah adanya penawaran (offer) dari salah satu pihak dan diikuti dengan penerimaan tawaran (acceptance) oleh pihak lain dalam kontrak tersebut. maka yang berlaku adalah apa yang dikehendaki. sementar apa yang dinyatakan tersebut dianggap tidak berlaku. dalam ilmu hukum kontrak dikenal beberapa teori. Jadi bukan ”batal demi hukum” (nietige. diikuti oleh penerimaan penawaran (acceptence) dari pihak lainnya. sehingga akhirnya terjadilah suatu kontrak. TEORI-TEORI MENGENAI KESEPAKATAN KEHENDAK Mengenai kapan suatu kesepakatan kehendak terjadi sehingga saat itu pula kontrak dianggap telah mulai berlaku. sedangkan pelaksanaan (atau tidak dilaksanakan) kontrak merupakan persoalan belakangan.kehendak ini akan mengakibatkan bahwa kontrak yang bersangkutan ”dapat dibatalkan” (vernietigebaar. null and void). voidable). Teori kehendak tersebut berusaha untuk menjelaskan jika ada kontroversi antara apa yang dikehendaki dengan apa yaang dinyatakan dalam kontrak. yang terutama untuk kontrak-kontrak bisnis sering dilakukan secara tertulis. Jadi.

suatu kata sepakat terbentuk pada saat dikirimnya surat jawaban oleh pihak yang kepadanya telah ditawarkan suatu kontrak. saat tercapainya kata sepakat sehingga saat itu dianggap juga sebagai saat terjadinya suatu kontrak adalah pada saat pihak yang menerima . g) Teori ucapan (uitings theorie) Menurut teori ”ucapan” ini bahwa suatu kesepakatan kehendak terjadi manakala pihak yang menerima penawaran telah menyiapkan surat jawaban yang menyatakan bahwa dia telah menerima tawaran tersebut. apabila ada kontroversi antara apa yang dikehendaki dengan apa yang dinyatakan. maka apa yang dinyatakan tersebutlah yang berlaku. si pengirim jawaban telah kehilangan kekuasaan atas surat yang dikirimnya itu.c) Teori pernyataan (verklarings theorie) Teori pernyataan ini bersifat objektif dan berdiri berseberangan dengan teori kehendak seperti yang baru saja dijelaskan. d) Teori pengiriman (verzendings theorie) Menurut teori pengieriman ini (Verzendings Theorie). h) Teori dugaan Teori dugaan yang bersifat subjektif ini antara lain dianut oleh Pitlo. Sebab. e) Teori Penerimaan (ontvangs theorie) Menurut teori ini . Menurut teori dugaan ini. f) Teori Kepercayaan (vetrouwens theorie) Teori kepercayaan ini (vetrouwens theorie) mengajarkan bahwa suatu kata sepakat dianggap terjadi manakala ada pernyataan yang secara objektif dapat dipercaya. masyarakat menghendaki bahwa apa yang dinyatakakan itu dapat dipegang. teori ini sangat konservatif. Menurut teori pernyataan ini. karena sejak saat pengiriman tersebut. karena sebelum diterimanya jawaban atas tawaran tersebut. suatu kata sepakat diangap telah terjadi pada saat balasan dari tawaran tersebut telah diterima oleh pihak yang melakukan tawaran tersebut. sehingga persyaratan untuk sahnya suatu kontrak dianggap belum terpenuhi. kata sepakat dianggap belum terjadi. Dengan demikian.

tawaran telah mengirim surat jawaban dan dia secara patut daat menduga bahwa pihak lainnya (pihak yang menawarkan) telah mengetahui isi surat itu. c. c. PERIHAL TERTENTU Syarat ini penting untuk menghindari apa yang dalam praktek disebut dengan istilah ”membeli kucing dalam karung”. E. d. adalah sebagai berikut : a. KECAKAPAN BERBUAT DARI PARA PIHAK Salah satu syarat sahnya suatu kontrak sebagaimana yang diimaksudkan dalam Pasal 1320 KUHPerata adalah bahwa para pihak dalam kontrak yang bersangkutan haruslah dalam keadaan ”cakap berbuat” (bevoegd). Jadi suatu kontrak haruslah mempunyai objek tertentu. d. F. minimal barang tersebut sudah dapat ditentukan jenisnya (vide Pasal 1333 ayat (1) KUH Perdata). Orang yang ditempatkan di bawah pengampuan. . Barang yang merupakan objek kontrak tersebut haruslah barang yang dapat diperdagangkan (vide Pasal 1332 KUHPerdata). b. Orang yang dilarang oleh Undang-undang untuk melakukan perbuatan tertentu. Beberapa persyaratan yang ditentukan oleh undang-undang terhadap objek tertentu dari kontrak. Orang yang belum dewasa. asal saja jumlah tersebut kemudian dapat ditentukan atau dihitung (vide Pasal 1333 ayat (2) KUHPerdata). Yang dimaksudkan dengan perihal tertentu tidak lain adalah perihal yang merupakan objek dari suatu kontrak. Jumlah barang tersebut boleh tidak tertentu. Siapakah yang dimaksudkan dengan orang-orang yang cakap (kompeten) dalam membuat perjanjian. b. khususnya jika objek kontrak itu berupa barang. Wanita bersuami. Menurut keentuan yang berlaku bahwa semua orang cakap (berwenang) membuat kontrak kecuali mereka yang tergolong sebagai berikut: a. Pada saat kontrak dibuat. Barang tersebut dapat juga barang yang baru akan ada dikemudian hari (vide Pasal 1334 ayat (1) KUHPerdata).

Sementara yang subjektif. Kausa yang bertentangan dengan kesusilaan Kausa yang bertentangan dengan ketertiban umum (vide Pasal 1335 jo Pasal 1337 KUHPerdata) 4. Kausa Berbeda dengan Motif Dalam hal ini yang dimaksudkan adalah kausa yang objektif. 5. Kontrak sama sekali tanpa kausa b. Kontrak dibuat dengan kausa terlarang. 3. yang intinya menyatakan bahwa semua perjanjian yang dibuat secara sah mempunyai kekuatan yang sama dengan undang-undang. Syarat Kausa Sebagai Mekanisme Netralisasi Yakni sarana untuk menetralisir terhadap prinsip hukum kontrak yang lain. yang terdiri dari : • • • Kausa yang dilarang oleh perundang-undangan. G. KAUSA YANG HALAL Syarat kausa (oorzaak) yang legal untuk suatu kontrak adalah sebab mengapa kontrak tersebut dibuat. 2. Kontrak Tanpa Causa yang Legal Undang-undang menentukan bahwa suatu kontrak tidak memenuhi unsur kausa yang legal jika : a. Tetapi tidak dapat dibuat kontrak terhadap barangyang masih dalam warisan yang belum terbuka (vide Pasal 1334 yat (2) KUH Perdata). Kontrak tanpa suatu causa yang halal batal demi hukum.e. yakni yang lebih sering disebut dengan ”motif” tidak relevan bagi suatu kontrak. 1. Konsekuansi Yuridis Jika Kausa Yang Legal Tidak Terpenuhi Apabila Konsekuensi yuridis tidak terpenuhi maka Konsekuensi Hukumnya adalah bahwa kontrak yang bersangkutan tidak mempunyai kekuatan hukum (asal 1335 KUHPerdata). yaitu prinsip kebebasan berkontrak (freedom of contract) yang terdapat dalam Pasal 1338 ayat (1) KUH Perdata. Sebab yang legal juga merupakan salah satu syarat sahnya suatu kontrak (Pasal 1320 KUHPerdata). Contoh – contoh Kontrak Dengan Causa yang Tidak Legal . Kontrak dibuat dengan kausa palsu c.

Kontrak yang mengandung unsur riba/lintah darat. Larangan pemindahan barang. SYARAT ITIKAD BAIK. d. Janji tidak menyaingi. Kontrak Tidak Melanggar Prinsip Kepentingan Umum Suatu pembuatan dan pelaksanaan kontrak tidaklah boleh melanggar prinsip kepentingan Umum (openbaar orde). H. bona fide) Pasal 1338 ayat (3) KUHPerdata. Kontrak jual beli dengan hak beli kembali. KEPENTINGAN UMUM DAN KEBIASAAN 1. 2. unsur ”itikad baik” dalam hal pembuatan suatu kontrak sudah dapat dicangkup oleh unsur ”kausa yang halal” dari pasal 1320. Kontrak untuk bercerai h. exculpaatory) i. Kontrak pembebasan (exonoratie. KEPATUTAN. c. Karena. Kontrak Harus Sesuai dengan Asas Kepatutan Kontrak haruslah sesuai dengan asas ”kepatutan” (vide pasal 1339 KUHPerdata). g. Sebab. Kontrak dengan syarat wajib. e. Kontrak yang mengandung unsur judi.Berikut ini beberapa contoh yang sering terjadi dalam praktek. jika ada kontrak yang . Kontrak tanpa license. Kontrak yang dilakukan dengan sogok menyogok. Unsur itikad baik hanya disyaratkan dalam ”pelaksanaan” dari suatu kontrak. Fungsi yang Melarang b. Kontrak harus Dilaksanakan dengan itikad Baik Suatu Kontrak haruslah dilaksanakan dengan itikad baik (goeder trouw. bukan pada ”pembuatan” kontrak. Fungsi yang Menambah 3. Untuk ini pemberlakuan asas kepatutan terhadap suatu kontrak mengandung 2 fungsi sebagai berikut : a. yaitu : a. j. f. b. itikad baik bukan merupakan syarat sahnya suatu kontrak sebagaimana terdapat dalam Pasal 1320 KUH Perdata.

musnahnya barang terutang. sewa-menyewa. CARA BERAKHIRNYA KONTRAK Berakhirnya kontrak merupakan selesai atau hapusnya sebuah kontrak yang dibuat antara dua pihak. mana perikatan yang berakhir karena perjanjian dan undang-undang. Cara berakhirnya perikatan dibagi menjadi sepuluh cara. kompensasi. Kontrak harus Sesuai dengan kebiasaan Pasal 1339 KUH perdata menentukan pula bahwa suatu kontrak tidak hanya mengikat terhadap isi dari kontrak tersebut. Kesepuluh cara berakhirnya perikatan tersebut tidak disebutkan. Sebab untuk mengaklasifikasikan diperlukan sebuah pengkajian yang teliti dan seksama. Sedangkan berakhirnya perikatan karena perjanjian dibagi menjadi tujuh macam. Sedangkan debitur adalah pihak yang berkewajiban untuk memenuhi prestasi. bisa jual beli. yaitu : pembayaran. Berdasarkan hasil kajian terhadap pasal-pasal yang mengatur tentang berakhirnya perikatan maka kesepuluh cara itu dapat digolongkan menjadi dua macam. utang piutang. yaitu berakhirnya perikatan karena perjanjian dan UU. Sesuatu hal disini bisa berarti segala perbuatan hukum yang dilakukuan oleh kedua pihak. Berakhirnya perikatan diatur dalam Pasal 1381 KUH Perdata. dan daluwarsa. novasi (pembaruan utang). berlaku syarat batal. konsignasi. yaitu pihak kreditur dan debitur tentang sesuatu hal. 4. dan lain-lain. melainkan mengikat dangan hal-hal yang merupakan kebiasaan . kebatalan atau pembatalan. yang menurut pasal 1339 KUHPerdata itu tidak dibenarkan. Dalam KUH Perdata juga telah diatur tentang berakhirnya perikatan. maka kontrak tersebut sudah pasti bertentangan dengan undang-undang yang berlaku. yaitu pembayaran. .bertentangan dengan kepentingan/ketertiban umum. Yang termasuk berakhirnya perikatan karena UU adalah konsignasi. novasi (pembaruan utang). dan daluwarsa (Pasal 1381 KUH Perdata). I. musnahnya barang terutang. konfusio (percampuran utang) pembebasan utang. kompensasi. Pihak kreditur adalah pihak atau orang yang berhak atas suatu prestasi.

10. kebatalan atau pembatalan. Pembayaran. 2. Berlaku syarat batal. bahwa berakhirnya kontrak dapat . Kompensasi. 4. Dengan demikian. Pemutusan kontrak secara sepihak oleh salah satu pihak. dapat dikatakan digolongkan menjadi dua belas macam. Pemutusan kontrak secara sepihak oleh salah satu pihak. pembebasan uatang. Dilaksanakan objek perjanjian. Kebatalan atau pembatalan.konfusio (percampuran utang). Novasi (pembaruan utang). Kesepakatan kedua belah pihak. Adanya putusan pengadilan. Jangka waktu kontrak telah berakhir. 11. dan berlaku syarat batal. Adanya putusan pengadilan. Jangka waktu berakhir. 6. 3. Konfusio (Percampuran utang). dan 5. Pembebasan utang. dalam praktek dikenal pula cara berakhirnya kontrak. 8. 4. 9. yaitu: 1. 2. Kesepakatan kedua belah pihak. 7. 5. Dilaksanakan objek perjanjian. Di samping ketujuh cara tersebut. dan 12. yaitu : 1. 3.

BAB III PENUTUP KESIMPULAN Dalam kebanyakan sistem hukum jenis kontrak tertentu harus dibuat secara tertulis untuk dapat diterapkan. Secara umum hukum mengharuskan bahwa begitu suatu kontrak dibuat. Walaupun ada yang tertulis. . maka harus dilakukan sesuai dengan ketentuan-ketentuannya. Kebanyakan orang membuat berates-ratus kontrak setahunnya. dan bagaimana ketentuan itu diwujudkan dalam setiap peristiwa yang mungkin terjadi. Tetapi kebanyakan kontrak demikian tidak tertulis. maka sebuah kontrak sudah diadakan. Serupa pula halnya bahwa sebuah kontrak dapat dinyatakan tak dapat dilaksanakan tak dapat dilaksanakan bilamana ada unsur paksaan/ancaman dalam panyusunan kontrak tersebut. Apabila suatu penawaran sudah dibuat dan diterima sesuai dengan peraturan yang diringkas diatas. Banyak kontrak dibuat tanpa formalitas atau kehati-hatian yang mendetail. kontraknya tidak dapat menguraikan secara persis tentang apa arti dari setiap ketentuan kontraknya.

Hukum Kontrak (Dari Sudut Pandang Hukum Bisnis). 2006. Salim. Pengantar Umum Hukum Ekonomi. Bandung: PT Citra Aditya Bakhti. 2001. Jakarta: Sinar Grafika.DAFTAR PUSTAKA Fuady. Hukum Kontrak (Teori Dan Teknik Penyusunan Kontrak). HS. Munir. Bandung: Elips . Head. John W.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful