I.

LATAR BELAKANG Usaha mempelajari sejarah pertumbuhan dan perkembangan ilmu hadits diharapkan

dapat mengetahui sikap dan tindakan ummat Islam yang sebenarnya, khususnya para ulama¶ ahli hadits terhadap hadits serta usaha pembinaan dan pemeliharaan mereka pada tiap -tiap periodenya sampai akhirnya terwujud kitab-kitab hasil tadwin (pengumpulan hadits) secara sempurna. Bahkan, menguatnya kajian hadits dalam dunia Islam tidak lepas dari upaya ummat Islam yang melakukan counter balik terhadap sangkaan-sangkaan negatif kalangan orientalis terhadap keaslian hadits. Oleh karena itu mengkaji sejarah ini melakukan upaya untuk mengungkap fakta-fakta yang sebenarnya sehingg sulit untuk ditolak keberadaannya. Perjalanan hadits pada tiap-tiap periodenya mengalami bebagai persoalan dan hambatan. Dalam pembahasan kali ini, periode pertumbuhan dan perkembangan hadits terbagi menjadi beberapa periode: masa Rosulullah SAW, masa sahabat, masa tabi¶in, dan masa pentadwinan hadits. II. RUMUSAN MASALAH 1. Bagaimana kondisi Hadits pada masa kelahirannya? 2. Upaya apa yang dilakukan para sahabat untuk menjaga kemurnian Hadits? 3. Siapa saja tokoh-tokoh ahli Hadits pada masa kelahirannya? 4. Kapan terjadinya masa pentadwinan Hadits?

III.

PEMBAHASAN

A. Hadits Pada Masa Rosulullah SAW

Membicarakan hadits pada masa Rosul SAW. berarti membicarakan hadits pada awal pertumbuhanya. Maka dalam uraiannya akan terkait langsung dengan pribadi Rosul SAW. sebagai sumber hadits. Rosul SAW. membina ummatnya selama 23 tahun. Masa ini merupakan kurun waktu turunnya wahyu dan sekaligus diwurudkannya hadits. Keadaan ini menuntut keseriusan dan kehati-hatian para sahabat sebagai pewaris pertama sejarah Islam. 1

Ketiga. Menyampaikan hadits Ada suatu keistimewaan pada masa ini yang membedakannya dengan masa lainnya. Kedua. Ummat Islam pada masa ini dapat secara langsung memperoleh hadits dari R osul SAW. adalah melalui ceramah atau pidato di tempat terbuka. seperti ketika haji wada¶ dan futuh Makkah. Pertama. juga menyampaikan haditsnya melalui para sahabat tertentu yang kemudian disampaikannya kepada orang lain. Kedua. Musthafa Al-Siba¶i. Al-Sunnah wa Makkanatuha fi Al-Tasyri¶ Al-Islami. a bahkan hanya satu orang. sehingga mereka berusaha untuk selalu mengkonsentrasikan diri guna mengikuti kegiatan dan ajaran yang diberikan oleh nabi SAW. sebagai sumber hadits. Ada yang memilikinya lebih banyak. menyampaikan hadits kepada para sahabatnya. dilihat dan disaksikan oleh sahabat. cara lain yang dilakukan Rasul SAW. Perbedaan Para Sahabat dalam Menguasai Hadits Di antara para sahabat tidak sama kadar perolehan dan penguasaan hadits. Ke-1. perbedaan mereka dalam hal kesanggupan bertanya kepada para sahabat lain.64-65. Hal ini karena terkadang ketika ia mewurudkan hadits. 1998). melalui para jama¶ah dan pusat pembinaannya yang disebut majelis al-µIlmi.1 2. Melalui majlis ini para sahabat memperoleh banyak peluang untuk menerima hadits. yaitu: Pertama. Ada beberapa cara Rosul SAW. Antara Rosul SAW. para sahabat yang hadir hanya beberapa orang saj . perbedaan mereka kerena berbedanya waktu masuk Islam dan jarak tempat tinggal dari masjid Rasul SAW. dengan mereka tidak ada jarak atau hijab yang dapat menghambat atau mempersulit pertemuannya. dalam banyak kesempatan Rasul SAW. perbedaan mereka dalam soal kesempatan bersama Rasul SAW.Wahyu yang diturunkan Allah SWT. Hal ini tergantung kepada beberapa hal.(Kairo: Dar Al-Salam. 1 2 . sehingga apa yang didengar. tetapi ada yang sedikit sekali. Kepadanya dijelaskannya melalui perkataan (aqwal). Cara Rosul SAW. Cet. Ketiga. perbuatan (af¶al) dan penetapan (taqrir)-nya. seperti hadits-hadits yang ditulis oleh Abdullah Ibn Al-µAsh. 1. hal.

seperti Abdullah Amr Ibn Al-µAsh. Usman Bin µAffan. Sedang tehadap hadits ia hanya menyuruh menghafalnya dan melarang menulisnya secara resmi. Ali Bin Abi Thalib dan Ibnu Mas¶ud. Mereka secara pribadi lebih dekat dengan Rasul SAWi. d. banyak bertanya kepada sahabat lain dari sudut usia tergolong yang hidup lebih lama dari wafatnya Rasul SAW.). daripada sahabat-sahabat lainnya. seperti Siti Aisyah dan Ummu Salamah. Para sahabat yang disamping selalu dekat dengan Rasul SAW. dan Abdullah Ibn Abbas. menempuh jalan yang berbeda. Menghafal dan Menulis Hadits a. seperti Abu Bakar. Hadits-hadits yang diterimanya banyak yang berkaitan dengan soal-soal keluarga dan pergaulan suami-istri. 3. b.. Umar Ibn Khattab. Sahabat yang meskipun tidak lama bersama Rasul SAW.. e. dengan beberapa penyebabnya. c. Anas Ibn Malik. akan tetapi banyak bertanya kepada para sahabat lainnya secara sungguh-sungguh. Rasul SAW. Terhadap alQur¶an ia secara resmi menginstruksikan kepada sahabat supaya menulis hadits disamping dihafal. juga menuliskan hadits-hadits yang diterimanya. Dalam hal ini ia bersabda: ( ) 3 .Ada beberapa orang sahabat yang tercatat sebagai sahabat yang banyak menerima hadits dari Rasul SAW. Para sahabat yang secara sungguh-sungguh mengikuti Majelis Rasul SAW. karena lebih awal masuk islam dari sahabat-sahabat lainnya. Mereka banyak menerima hadits dari Rasul SAW. Ummahat Al-Mukminin (Istri-istri Rasul SAW. Mereka itu antara lain: a. Menghafal Hadits Untuk memelihara kemurnian dan mencapai kemaslahatan al-Qur¶an dan hadits sebagai dua sumber ajaran Islam. seperti Abdullah Ibn Umar. seperti Abu Hurairah. Para sahabat yang tergolong kelompok Al-Sabiqunal Al-Awwalun(orang yang pertama masuk islam).

khususnya masa Khulafaurrosyiddin yang berlangsung sekitar tahun 11 H . B. Abu Syah ( Umar Ibn Sa¶ad Al-Anmari) seorang penduduk Yaman. Barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka´. Masa ini juga disebut masa sahabat besar. seperti Rafi¶ bin Khadij.sehingga diberinya nama alsahifah al-shodiqoh. ini tidak dariku selain Al-Qur¶an.40 H.³Janganlah kalian tulis apa saja dariku selain al-Qur¶an. mereka ialah : 1. hendaklah dihapus.(HR. Disamping nama-nama diatas masih banyak lagi nama-nama sahabat lainnya yang juga mengaku memiliki catatan hadits dan dibenarkan Rosul SAW. tentang manasikh haji. Jabir Ibnu Abdillah ibn Amr Al-Anshori (w 78 H). hendaklah dihapus. 4 . ia memiliki catatan hadits yang dikenal dengan Al-sahifah Al-shohihah. Ceritakan saja apa yang diterima dariku. ini tidak mengapa. Ceritakan saja apa yang diterima dariku. Hasil karyanya diwariskan kepada anaknya yangbernama Hammam. 59 H. Ia memiliki catatan hadits dari Rosul SAW. Abu Hurairah Al-Dausi (w. Amr bin Hazm. dan Ibn Mas¶ud.).. Catatannya ini dikenal dengan sahifah jabir. Abdullah bin Amr Al-Ash. Ia meminta kepada Rosul SAW. 2. dicatatkan hadits yang disampaikannya ketika pidato pada peristiwa futuh Makkah sehubungan dengan terjadinya pembunuhan yang dilakukan oleh sahabat dari Bani Khuza¶ah terhadap seorang lelaki Bani Lais. Haditsnya kemudian diriwayatkan oleh Muslim. Ia memiliki catatan hadits yang menurut pengakuannya dibenarkan oleh Rosul SAW. Barang siapa telah menulis dariku selain al-Qur¶an. 3. Hadits Pada Masa Sahabat Periode kedua sejarah perkembangan hadits adalah masa sahabat. Muslim) b. 4. Menulis Hadits Ada beberapa sahabat yang melakukan penulisan hadits dan memiliki catatan catatannya. Ali bin Abi Tholib.

1. Menjaga Pesan Rosul SAW Pada masa menjelang akhir kerasulannya. dan kelihatannya berusaha membatasinya. berpesan kepada para sahabat agar berpegang teguh kepada Al-Qur¶an dan hadits serta mengajarkannya kepada orang lain. dibuktikan denganmelaksanakan segala yang dicontohkannya. Berhati-hati dalam Meriwayatkan dan Menerima Hadits Perhatian para sahabat pada masa ini terfokus pada usaha memelihara dan menyebarkan Al-Qur¶an.dari Zaid Ibn ibn al-Khottob dari Ibn Muslim ibn Yasar Al-Juhany. sanagat mendalam pengaruhnya kepada para sahabat sehingga segala perhatian yang tercurah semata-mata untuk melaksanakan dan memelihara pesan-pesannya. Urut-urutan sanadnya. 2. Oleh karena itu masa ini oleh para Ulama¶ dianggap sebagai masa yag menunjukkan adanya pembatasan periwayatan (al-tasabbut wa al-iqlal min al-riwayah). dari Abd Al-Hamid ibn Abdurrahman.usaha pembukuan ini diulanag juga pada masa Utsman bin µAffan dan melahirkan mushaf Utsmani. (H. Satu yang disimpan di Madinah pyang dinamai 2 Lihat kigtab Al-Jami¶ (hadits nomor 1. diterima dari Zaid ibn Abi Unaisah. Kecintaan mereka kepada Rosul SAW. Rosul SAW. yang tidak akan sesat setelah berpegang kepada keduanya yaitu kitab Allah ( Al-Qur¶an) dan sunnahku ( Al-Hadits).395)dalam Imam Malik. sebagai mana sabdanya : 2 ( ) ³telah aku tinggalkan untuk kalian dua macam. Pesan-pesan Rosul SAW. Ini terlihat bagaimana Al-Qur¶an dibukukan pada masa Abu Bakar atas saran Umar Ibn Khattab. 5 .Karena pada masa ini perhatian para sahabat masih terfokus pada pemeliharaan dan penyebaran Al-Qur¶an maka periwayatan hadits belum begitu berkembang. Al-Muwaththo¶.R Malik) Dan sabdanya pula : ( ) ³ sampaikanlah dariku walau satu ayat/satu hadits´.

dengan jalan periwayatan lafdzi (redaksinya persis saperti yang disampaikan Rosul SAW. dan Abu Ubaidah berusaha memperketat periwayatan dan penerimaan Hadits. Begitu pila 3 Ajjaj al-khathib. Kebanyakan sahabat menempuh periwayatan hadits melalui jalan ini.). Basrah. yang harus terjaga dari kekeliruannya sebagai Al-Qur¶an. khususnya yang berkaitan dengan kebutuhan hidup masyarakat sehari-harinya.3 3. .Mushaf Al-Imam. seperti Al-Zubair. Periwayatan Hadits dengan Lafadz dan Makna Pembatasan atau penyederhanaan periwayatan hadits yang ditunjukkan oleh para sahabat debgan sikap kehati-hatiannya tidak berarti hadits-hadits Rosul tidak diriwayatkan. bukan menurut redaksi mereka sendiri. disebabkan karena mereka kawatir terjadinya kekeliruan. itu Pertama. yang padahal mereka sadari bahwa hadits merupakan sumber tasyri¶ setelah Al-Qur¶an. Kehati-hatian dan usaha membatasi periwayatan yang dilakukan para sahabat. Periwayatan Lafdzi Separti telah dikatakan. Ini hanya bisa dilakukan apabila mereka hafal benar apa yang disabdakan Rosul SAW. Al-sunnah Qobla Al-tadwin. Ada dua jalan para sahabat dalam meriwyatkan hadits dari Rosul SAW. Syiria. Periwayatan tersebut dilakukan setelah diteliti secara ketat pembawa hadits tersebut dan kebenaran matannya. a. Ibn Abbas. (Beirut: Dar Al-Fikr. ke-6 hlm: 92-93 6 . seperti dalam permasalhan ibadah dan mu¶amalah. Dalam batas-batas tertentu hadits-hadits itu diriwayatkan. para sahabat khususnya Khulafaurrasyiddin dan sahabat lainnya. kedua. dengan jalan periwayatan maknawi (maknanya saja). bahwa periwayatan lafdzi adalah periwayatan hadits yang redaksinya atau matannya persis seperti apa yang diwurudkan Rosul SAW. Oleh karenanya. dan Kufah. sampai satu huruf atau satu katapun tidak boleh diganti. 1997) cet. dan yang empat lagi masing-masing disimpan di Makkah. Sebagian dari mereka secara ketat melarang meriwayatkan hadits dengan maknanya saja.mereka berusaha agar periwayatan hadits sesuai dengan redaksi dari Rosulullah SAW.

usaha yang telah dirintis oleh para sahabat pada masa Khulafurrosyiddin khususnya masa Kholifah Utsman para sahabat ahli hadits menyebar kebeberapa wilayah kekuasaan Islam. boleh meriwayatkan hadits secara maknawi. atau Qola Rosul SAW. atau meringankan bacaan yang tadinya tsiqol (berat) dan sebaliknya. Hadits Pada Masa Tabi¶in Pada dasarnya periwayatan yang dilakukan oleh jalangan Tabi¶in tidak berbeda dengan yang dilakukan oleh para sahabat. sebagai tempat tujua para Tabi¶in dalam mencari hadits. Dipihak lain. Abdullah Ibn Umar. sesuai dengan yang dimaksudkan oleh Rosul SAW. (Bairut: Dar al-fikr. 4 Ajjaj al-Khatib. Mereka. Periwayatan Maknawi Diantara para sahabat lainnya ada yang berpendapat bahwa dalam keadaan darurat. Madinah Al-Miunawwaroh. al-Sunnah Qobla al-Tadwin. Ke-6 hlm.. Periwayatan maknawi artinya periwayatan hadits yangmatannya tidak sama persis dengan apa yang didengarkannya dari Rosul SAW.tidak boleh mendahulukan susunan kata yang disampaikan Rosul dibelakang atau sebaliknya. Ibnu Mas¶ud misalnya. hakadza ( Rosul SAW. Kufah. Hanya saja persoalan yang dihadapi mereka agak bebeda dengan yang dihadapi sahabat. 1997) cet. tercatat beberapa periwayat hadits yang meriwayatkan cukup banyak. Dari sejumlah para sahabat pembina hadits pada kota-kota tersebut. 1. Yaman dan Khurasan. Kepada merekalah para Tabi¶in mempelajari hadits. karena tidak hafal persis seperti yang diwurudkan Rosul SAW. 4 C. 130. Kota-kota tersebut ialah. Syam. Basrah. Maghrbi dan Andalus. qoryban min hadza. Pada masa ini Al-Qur¶an sudah dikumpulkan dalalm satu mushaf. ketika ia meriwayatkan hadits ada istilah-istilah tertentu yang digunakannya untuk menguatkan penukilannya. b. seperti dengan kata : Qola Rosulullah SAW. 7 .. Meskipun demikian. tanpa ada perubahan sedikitpun. bagaimanapun mengikuti jejak para sahabat sebagai guru-guru mereka. antara lain Abu Hurairoh. para sahabat melakukannya dengan sangat hati-hati. Mesir. telah bersabda begini ). akan tetapiisi atau maknanya tetap terjaga secara utuh.atau nahwan. Pusat-pusat Pembinaan Hadits Tercatat beberapa kota sebagai pusat pembinaan dalam periwayatan hadits. Makkah Al-Mukarromah.

Dengan melihat berbagai persoalan yang muncul. bahwa dengan semakin meluasnya daerah kek uasaan Islam. sebagai akibat dari pergolakan politik tersebut. Muawiyyah. ia khawatir juga akan tercampurnya antara hadits-hadits yang shahih dengan hadits-hadits palsu. sementara kemampuan para Tabi¶in antara satu dengan yang lainnya tidak sama. sebagai akibat terjadinya pergolakan politik yang sudah cukup lama. ia khawatir terhadap hilangnya hadits-hadits dengan meninggalnya para ulama di medan perang. ialah dengan munculnya hadits-hadits palsu (Maudlu¶) untuk mendukung kepentinghan politiknya masing-masing kelompok dan untuk menjatuhka posisi lawan-lawannya. 2. setelah terjadinya perang Jamal dan perang Siffin. µAisyah. adalah lahirnya rencana dan usaha yang mendorong diadakannya kodifikasi atau tadwin hadits. Pertama. jelas sangat memerlukan adanya usaha pentadwinan ini. Kedua. Pergolakan Politik dalam Pemalsuan Hadits Pergolakan-pergolakan ini sebenarnya terjadi pada masa sahabat. Adapun pengaruh yang berdifat positif. sebagai upaya penyelamatan dari pemusnahan dan pemalsuan. yairu ketika kekuasaan dipegang oleh Ali Ibn Abi Tholib. da Abi Sa¶id Al-khudry. Langsung atau tidak dari pergolakan politik seperti diatas cukup memberikan pengaruh terhadap perkembangan hadits berikutnya. Masa Tadwin Hadits Secara bahasa. Jabir Ibn Abdillah. Syi¶ah. dan mendesaknya kebutuhan untuk 8 . Secara luas Tadwin diartikan dengan Al-jam¶u (mengumpulkan). Tadwin diterjemahkan dengan kumpulan shohifah (Mujtama¶ AlShuhuf). Abdullah Ibn Abbas. D. Akan tetapi akibatnya cukup panjang dan berlarut-laut dengan terpecahnya ummat Islam kedalam beberapa kelompok (Khawarij. Latar Belakang Munculnya Pemikiran Usaha Tadwin Hadits Sekurang-kurangnya ada dua hal pokok mengapa Umar Ibn Abd Azis mengambil sikap seperti ini. dan golongan mayoritas lainnya). Dipihak lain. Pengaruh yang langsung dan bersifat negatif. 1.Anas Ibn Malik.

) di Mesir.) di Syam. Para ulama menilai Muwaththa¶ini sebagai kitab tadwin yang pertama dan banyak dijadikan rujukan oleh para muhaddits selanjutnya. adil. Para pentadwin berikutnya. 2. Gerakan Menulis Hadits Pada Kalangan Tabi¶in dan Tabi¶at Tabi¶in setelah Ibn Syihab az-Zuhri Ada ulama ahli hadits yang berhasil menyusun kitab tadwin. ialah Muhammad Ibn Ishaq (w.segera mengambil tindakan guna penyelamatan hadits dari kemusnahan dan pemalsuan. 151 H) dan Ibn Abi Zi¶bin (80-158 H) di Madinah.) di Rei. Sufyan AlTsauri (97-161 H) di Kufah.) di Yaman. terdorong untuk mengambil tindakan ini. Bahkan menurut beberapa riwayat. 160 H) dan Hammad Ibn Salamah (w. Ibn Al-Mubarrak (118-181 H. dan Jarir Ibn Abd Al-Hamid (110-188 H. maka Umar Ibn Abd Azis sebagai seorang Khalifah yang berakhlak mulia. 167 H) di Basrah. Kitab tersebut disusun pada tahun 143 H atas permintaan Khalifah al-Mansur. Abdullah Ibn Al-wahhab (125-197 H. ia turut terlibat mendiskusikan hadits-hadits yang sedang dihimpunnya. dan wira¶i. yang bisa diwariskan kepada generasi sekarang. 9 . Ibn Juraij (80-150 H) di Makkah. yaitu Malik Ubn Anas di Madinah.) di Khurasan. Al-Auza¶i (88-151 H. Ma¶mar Ibn Rasyid (93-153 H. dengan kitab hasil karyanya al-Muwaththa¶. Al-Rabi¶ Ibn Shabih (w.

Periwayatan hadits di masa sahabat melalui periwayatan lafdzi dan maknawi. pertama. diantaranya. Ini menuntut para sahabat untuk berhati-hati dalam meriwayatkan hadits. madinah. Beliauberalasan. Hadits sebagai pedoman kedua setelah al-Qur¶an harus terjaga kemurniannya. Khulafa Urrasyidin. Pada masa menjelang akhir kerasulannya. Kami selaku penyusun makalah menyadari masih terdapat banyak kekurangan didalamnya. dijelaskannya melalui aqwaj. diantaranya. Basrah. dan sebagainya. yang mana itu merupakan pedoman bagi amaliah dan ubudiah mereka. Siti Aisyah. Hal ini terjadi ketika Islam dipegang oleh Khalifah Umar Ibn Abd Azis. Rasul SAW. 10 . KESIMPULAN Rasulullah SAW. af¶al dan taqriryang kemudian disampaikan kepada para sahabat dan umatnya. Abu Hurairah. Andalus dan Khurasan. Abdullah Ibn Abbas.IV. Ini memicu munculnya pusat-pusat pembinaan hadits. PENUTUP Demikian makalah ini kami susun. wilayah Islam sangat luas. baik dari segi susunan maupun isinya. Di masa inilah turunnya wahyu dan sekaligus diwurudkannya hadits. Anas Ibn Malik.ia khawatir akan tercampurnya antara hadits-hadits shahih dengan hadits palsu. Maka dari itu Kami mengharap kritik dan saran dari anda sekalian sebagai bahan pertimbangan kami dalam penyusunan makalah dikemudian hari. semoga dapat bermanfaat bagi kita semua. ini memicu terjadinya pentadwinan hadits. Ketika dikalangan Umat Islam terjadi pergolakan politik dan munculnya beberapa peperangan di kalangan umat islam sendiri. Mesir. Kedua.hadits dengan meninggalnya para ulama di medan perang. Syam. ia khawatir akan hilangnya hadits. Kufah. Wahyu yang diturunkan kepadanya. Amr Ibn Al-µAsh. Sedangkan tokohtokoh ahli Hadits diantaranya. V. sebagaimana al-Qur¶an. berpesan kepada para sahabat agar berpegang teguh pada al-Qur¶n dan Hadits. Ketika kekuasaan Islam dipegang oleh Bani Umayyah. membina umatnya selama 23 tahun. Makkah.

Ilmu Hadits_ed.D. Ph. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits. 1999. Munzier. DAFTAR PUSTAKA Azami. 2003. Muhammad. Teungku Hasbi Ash Shiddieqy. M. Jakarta: Lentera. Revisi cet.VI. Jakarta: PT Raja Grasindo Persada. 11 . Suparta. 2003. Telaah Metodologi dan Literatur hadits. Semarang: PT Pustaka Rizki Putra. 4. MA.

Ag. Drs. Ikhrom. Disusun Oleh: Robi ah Robby Syukron Fauzi Sai ul Huda Shafiyuddin Rifni (103811034) (093411051) (093411053) (093411055) FAKULTAS TARBIYAH INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG 2011 12 .SEJARAH PER dan MB HAN PEMB NAAN HADITS MAKALAH Di n Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah: Ulumul Hadits Dosen Pengampu: Bpk. M.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful