P. 1
Penyimpangan Sosial

Penyimpangan Sosial

|Views: 2,270|Likes:
Published by Faiz Dhyfa
gambar dan keterangan tentang perilaku yang menyimpang
gambar dan keterangan tentang perilaku yang menyimpang

More info:

Published by: Faiz Dhyfa on Apr 04, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/13/2013

pdf

text

original

PENYALAHGUNAAN NARKOBA

PENYALAHGUNAAN NARKOBA Peristiwa makin banyaknya penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja saat ini benar-benar telah menggelisahkan masyarakat dan keluarga-keluarga di Indonesia. Menurut analisis Dr. Graham Blaine (psikiater), penyebab seseorang mengkonsumsi narkoba tidak hanya berasal dari keinginan individu itu sendiri akan tetapi juga berasal dari lingkungan sekitarnya. Karakteristik pengguna narkoba biasanya adalah remaja-remaja kita yang

"bermasalah". Bermasalah disini artinya memiliki beban mental/kejiwaan yang menurut mereka sangat berat dan sulit untuk ditanggung. Misalnya terlalu sering dimarahi orangtua, tidak disukai lingkungan, merasa bersalah karena orangtuanya bercerai, tidak mendapat kasih sayang, prestasi belajar jelek, merasa diremehkan teman yang membuat sakit hati, merasa kurang percaya diri dan sebagainya. Bagaimana menangkalnya? Ada tiga langkah penting yang perlu dicoba untuk membangun remaja masa depan yang bebas narkoba. Pertama, dalam lingkungan keluarga, orangtua berkewajiban memberikan kasih sayang yang cukup terhadap para remajanya. Mereka tidak boleh cepat marah dan main pukul tatkala sang remaja melakukan kesalahan baik dalam tutur kata, sikap, maupun perbuatannya, tanpa diberi kesempatan untuk membela diri. Kedua, dalam lingkungan sekolah, pihak sekolah berkewajiban memberikan informasi yang benar dan lengkap tentang narkoba sebagai bentuk antisipasi terhadap informasi serba sedikit namun salah tentang narkoba yang selama ini diterima dari pihak lain. Pihak sekolah juga perlu mengembangkan kegiatan yang berhubungan dengan penanggulangan narkoba dalam rangka mencegah dan mengatasi meluasnya penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar. Ketiga, dalam lingkungan masyarakat, para tokoh agama, perangkat pemerintahan di semua tingkatan mulai dari Presiden, Gubernur, Bupati, Camat, Lurah, hingga RT dan RW perlu bersikap tegas dan konsisten terhadap upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba dilingkungannya masing-masing yang didukung penuh oleh phak keamanan dan kepolisian. Mereka perlu terus menerus memberi penyadaran pada seluruh warga masyarakat akan bahaya mengkonsumsi narkoba tanpa indikasi medik dan pengawasan ketat dari dokter dalam rangka penyembuhan.

MINUM MINUMAN KERAS

MINUM MINUMAN KERAS Seorang remaja yang masih dalam masa mencari jati diri selalu berusaha mencobacoba hal-hal yang baru, sehingga apabila tidak adanya kontrol dari orang dewasa maka kalangan remaja tersebut akan terjerumus dalam perbuatan yang bersifat negatif. Dalam hal ini, kebiasaan minumminuman keras di kalangan remaja, banyak sekali kasus-kasus yang dialami seringkali membahayakan diri sendiri dan juga orang lain seperti yang di beritakan di harian suara merdeka terjadinya pembunuhan terhadap temannya sendiri. Masalah minuman keras dan pemabuk pada kebanyakan masyarakat pada umumnya tidak berkisar pada apakah minuman keras boleh atau di larang dipergunakan. Persoalan pokoknya adalah siapa ynag boleh menggunakannya, di mana, bilamana, dan dalam kondisi yang bagaimana, akibatnya orang awam berpendapat bahwa minuman keras merupakan suatu stimulant. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penggunaan Minuman keras di Kalangan Remaja 1. Lingkungan sosial Motif ingin tahu, bahwa remaja selalu mempunya sifat selalu ingi tahu segala sesuatu yang belum atau kurang diketahui dampak negatifnya. Misalnya saja ingin tahu bagaimanakah rasanya minuman keras. .Kesempatan, karena kesibukan orang tua maupun keluarga dengan kegiatannya masing-masing atau akibat broken home, kurang kasih sayang dan sebagainya maka dalam kesempatan terebut kalangan remaja berupanya mencari pelarian dengan cara minum-minuman keras. . 2. Keperibadian Rendah diri, rendah diri dalam pergaulan masyarakat, karena tidak dapat mengatasi perasaan tersebut maka untuk menutupi kekurangan dan agar dapat menunjukan eksistensi dirinya. Maka menyalah gunakan minuman keras sehingga dapat merasa mendapatkan apa yang diangan-angankan antara lain lebih aktif, lebih berani dan sebagainya. .Emosional, emosi remaja pada umunnya masih labil apabila pada masa puberitas, pada masa tersebut biasanya ingin lepas dari ikatan aturan-aturan yang diberlakukan oleh orang tua untuk memenuhi kehidupan peribadinya, sehingga hal tersebut menimbulakn konflik pribadi. Penanggulangan Minum Minuman Keras Penanggulangan bersifat preventif menurut Widjaja (1985:26) menjelaskan upaya untuk pencegahan terhadap penggunaan minum-minuman keras yaitu mempersempit pengaruhnya, Pengawasan harus dilakukan dengan ketat baik di rumah tangga, sekolah dan masyarakat. Di sekolah-sekolah : penegakan disiplin, ketertiban, kesopanan, kesusilaan, saling hormat menghormati, pengawasan di perketat dengan lebih bersifat eduktif dan persuasif, keaktifan guru yang mengajar, jarang terlalu banyak batal, dengan dalih atau alasan apapun juga.

PELACURAN REMAJA

ANALISIS PELACURAN REMAJA Masa remaja merupakan masa transisi dari kanak-kanak ke dewasa. Setiap individu pada masa ini sudah memiliki keadaan fisik seperti orang dewasa, tetapi secara psikologis ia belum cukup matang. Apalagi dengan perkembangan badan anak-anaka sekarang yang begitu pesat. "Remaja belum mampu menentukan secara memadai apa yang sebaiknya ia lakukan. Jadi apa yang dilakukannya besar kemungkinan belum mantap dan tidak didasari oleh pertimbangan yang matang," ujar Bagus. Tugas perkembangan remaja terpenting adalah menentukan identitas diri. Jika terselesaikan maka ia dapat naik ke tahap dewasa. Di sini peran keluarga sangat penting. Faktor hedonisme atau gaya hidup konsumtif, tuntutan ekonomi keluarga, lingkungan sekitar, dan pergaulan saja merupakan faktor yang berperan dalam menentukan profesi sebagai pelacur pada remaja. Namun, menurut Takwin, keluarga merupakan lingkungan yang pertama dan utama bagi pelaksanaan pendidikan anak. Jika keluarga gagal membantu anaknya untuk menanamkan nilai-nilai dalam diri sang anak dan tidak memfasilitasi perkembangan karakter yang baik, maka anak akan mencari nilai-nilai dari luar dan pembentukan karakternya akan bergantung pada peneladanan di lingkungan sosial yang lebih luas. FAKTOR PELACURAN 1. Faktor internal adalah yang datang dari individu wanita itu sendiri, yaitu yang berkenaan dengan hasrat, rasa frustrasi, kualitas konsep diri, Karakter remaja perempuan yang sering inging mencoba hal-hal baru dan sebagainya. 2. Faktor eksternal ini bisa berbentuk desakan kondisi ekonomi, pengaruh lingkungan, kegagalan kehidupan keluarga, kegagalan percintaan, Kenakalan remaja, Adat ketimuran yang sudah terkikis. CARA MENANGGULANGI PELACURAN REMAJA Solusi untuk mengurangi banyaknya Penjaja Seks Komersial di Subang adalah: Jam mata pelajaran pendidikan agama di setiap sekolah perlu ditambah. Sosialisasi kepada masyarakat tentang bahaya dan akibat dari hubungan seksual di luar nikah. Adanya reformasi dari aparat pemerintah. Adanya program merubah karakter masyarakat.

MENCOPET

MENCURI

ANALISIS KRIMINALITAS REMAJA
Faktor Penyebab Ada beberapa faktor penyebab terjadinya kejahatan/pelanggaran yang dilakukan oleh anak/ABG, diantaranya adalah faktor keluarga, faktor lingkungan dan faktor ekonomi. Dari ketiga faktor tersebut, bisa ketiganya sekaligus menjadi faktor penyebab atau hanya salah satunya saja. Pertama, faktor keluarga. Faktor ini dapat terjadi karena beberapa hal, seperti ketidakharmonisan dalam keluarga. Hal ini bisa membentuk anak kearah negatif, karena keluarga memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam mengarahkan perilaku, pergaulan dan kepatuhan norma si anak. Ketidakharmonisan bisa terjadi karena perceraian orang tua, orang tua yang super sibuk dengan pekerjaannya, orang tua yang berlaku diskriminatif terhadap anak, minimnya penghargaan kepada anak dan dan lain-lain. Kesemua hal tersebut membuat anak merasa sendiri dalam mengatasi masalahnya di sekolah dan lingkungannya, tidak ada tauladan yang patut dicontoh dirumah, minimnya perhatian, selalu dalam posisi dipersalahkan, bahkan anak merasa diperlakukan tidak adil dalam keluarga. Kedua, faktor lingkungan. Setelah keluarga, tempat anak bersosialisasi adalah lingkungan sekolah dan lingkungan tempat bermainnya. Mau tidak mau, lingkungan merupakan institusi pendidikan kedua setelah keluarga, sehingga kontrol di sekolah dan siapa teman bermain anak juga mempengaruhi kecenderungan kenakalan anak yang mengarah pada perbuatan melanggar hukum. Tidak semua anak dengan keluarga tidak harmonis memiliki kecenderungan melakukan pelanggaran hukum, karena ada juga kasus dimana anak sebagai pelaku ternyata memiliki keluarga yang harmonis. Hal ini dikarenakan begitu kuatnya faktor lingkungan bermainnya yang negatif. Ketiga, faktor ekonomi. Alasan tuntutan ekonomi merupakan alasan klasik yang sudah menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya kejahatan sejak perkembangan awal ilmu kriminologi (ilmu yang mempelajari kejahatan). Mulai dari kebutuhan keluarga, sekolah sampai dengan ingin menambah uang jajan sering menjadi alasan ketika anak melakukan pelanggaran hukum. CARA MENANGGULANGI Orang tua harus memberikan perhatian ekstra terhadap anak, baik itu pendidikannya maupun teman bermainnya. Pihak sekolah juga harus melakukan pengawasan yang maksimal, meskipun keberadaan anak disekolah tidak lama, minimal dapat mencegah berkembangbiaknya ”geng-geng” yang nakal disekolah dan menghindari terjadinya perkelahian antar siswa dan tawuran antar sekolah. Terakhir, sosial kontrol dari tokoh masyarakat dan tokoh agama, serta peran pemerintah dan swasta untuk memberikan ruang bermain bagi anak dilingkungannya, sehingga anak tidak bermain dijalan dan membentuk komunitas yang negatif.

SEKS BEBAS

ANALISIS SEKS BEBAS Remaja adalah masa peralihan antara tahap anak dan dewasa yang jangka waktunya berbeda-beda tergantung faktor sosial dan budaya. Cirinya adalah alat reproduksi mulai berfungsi, libido mulai muncul, intelegensi mencapai puncak perkembangannya, emosi sangat labil, kesetiakawanan yang kuat terhadap teman sebaya dan belum menikah. Kondisi yang belum menikah menyebabkan remaja secara sosial budaya termasuk agama dianggap belum berhak atas informasi dan edukasi apalagi pelayanan medis untuk kesehatan reproduksi (Sarlito, 1998). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Seks Bebas Dengan terus berkembangnya teknologi, maka informasi yang salah tentang seksual mudah sekali didapatkan oleh para remaja, sehingga media massa dan segala hal yang bersifat pornografis akan menguasai pikiran remaja yang kurang kuat dalam menahan pikiran emosinya, karena mereka belum boleh melakukan hubungan seks yang sebenarnya yang disebabkan adanya norma-norma, adat, hukum dan juga agama. Mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya hubungan seksual pranikah, survei MCR-PKBI Jabar membagi dalam 8 faktor : 1. Sulit mengendalikan dorongan seksual menduduki peringkat tertinggi, yakni 63,68%. 2. faktor kurang taat menjalankan agama (55,79%), 3. rangsangan seksual (52,63%), 4. sering nonton blue film (49,47%), 5. dan tak ada bimbingan orangtua (9,47%). 6. pengaruh tren (24,74%), 7. tekanan dari lingkungan (18,42%), 8. masalah ekonomi (12,11). Cara Mencegah Seks Bebas Dari beberapa methode yang dilakukan juga telah membuktikan bahwa Pendidikan seksual adalah cara pengajaran atau pendidikan yang dapat menolong muda-mudi untuk menghadapi masalah hidup yang bersumber pada dorongan seksual. Dengan demikian pendidikan seksual ini bermaksud untuk menerangkan segala hal yang berhubungan dengan seks dan seksualitas dalam bentuk yang wajar. Menurut Singgih, D. Gunarsa, penyampaian materi pendidikan seksual ini seharusnya diberikan sejak dini ketika anak sudah mulai bertanya tentang perbedaan kelamin antara dirinya dan orang lain, berkesinambungan dan bertahap, disesuaikan dengan kebutuhan dan umur anak serta daya tangkap anak ( dalam Psikologi praktis, anak, remaja dan keluarga, 1991). Dalam hal ini pendidikan seksual idealnya diberikan pertama kali oleh orangtua di rumah, mengingat yang paling tahu keadaan anak adalah orangtuanya sendiri.

TAWURAN

ANALISIS TAWURAN “Tawuran” dalam kamus bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai perkelahian yang meliputi banyak orang. Sedangkan “pelajar” adalah seorang manusia yang belajar. Sehingga apabila kita menarik garis besarnya yaitu perkelahian antar banyak orang yang tugas pelakunya adalah manusia yang sedang belajar. Ironis memang orang yang sedang belajar melakukan perkelahian, namun itu kenyataan yang terjadi. Penyebab Pelajar Suka Tawuran 1. Faktor internal Remaja yang terlibat perkelahian biasanya kurang mampu melakukan adaptasi pada situasi lingkungan yang kompleks. Kompleks di sini berarti adanya keanekaragaman pandangan, budaya, tingkat ekonomi, dan semua rangsang dari lingkungan yang makin lama makin beragam dan banyak. 2. Faktor keluarga. Rumah tangga yang dipenuhi kekerasan (entah antar orang tua atau pada anaknya) jelas berdampak pada anak. Anak, ketika meningkat remaja, belajar bahwa kekerasan adalah bagian dari dirinya, sehingga adalah hal yang wajar kalau melakukan kekerasan yang sama. 3. Faktor sekolah. Sekolah pertama-tama bukan dipandang sebagai lembaga yang harus mendidik siswanya menjadi sesuatu. Tetapi sekolah terlebih dahulu harus dinilai dari kualitas pengajarannya. Karena itu, lingkungan sekolah yang tidak merangsang siswanya untuk belajar (misalnya suasana kelas yang monoton, peraturan yang tidak relevan dengan pengajaran, tidak adanya fasilitas praktikum, dsb.) akan menyebabkan siswa lebih senang melakukan kegiatan di luar sekolah bersama teman-temannya. 4. Faktor lingkungan. Lingkungan di antara rumah dan sekolah yang sehari-hari remaja alami, juga membawa dampak terhadap munculnya perkelahian. Misalnya lingkungan rumah yang sempit dan kumuh, dan anggota lingkungan yang berperilaku buruk (misalnya narkoba). Begitu pula sarana transportasi umum yang sering menomor-sekiankan pelajar. Juga lingkungan kota (bisa negara) yang penuh kekerasan. eberapa hal yang dapat digunakan sebagai salah satu cara meminimalisasi tawuran pelajar; 1. Banyak mawas diri, melihat kelemahan dan kekurangan sendiri dan melakukan koreksi terhadap kekeliruan yang sifatnya tidak mendidik dan tidak menuntun 2. Memberikan kesempatan kepada remaja untuk beremansipasi dengan cara yang baik dan sehat 3. Memberikan bentuk kegiatan dan pendidikan yang relevan dengan kebutuhan remaja zaman sekarang serta kaitannya dengan perkembangan bakat dan potensi remaja

PELAJAR MEROKOK

ANALISIS PELAJAR MEROKOK Saat ini, generasi muda sebagai penerus masa depan pembangunan daerah, mulai terlihat mengalamai keracunan waktu yang diakibatkan dari mengkonsumsi sebuah pergaulan dari luar. Akibatnya, banyak sikap dan prilaku pergaulan anak remaja khususnya anak sekolah mulai mengarah pada menjerumuskan diri pada hal-hal yang menuju merugikan diri sendiri. Budaya ‘Kumpul’ bareng anak sekolah terlihat dari pergumpulan anak sekolah dibeberapa tempat yang terlihat sedang merokok dengan memakai seragam sekolah disaat hari sekolah. Jika kebiasaan yang kurang bagus tersebut tidak ditegaskan nama sekolah pasti akan terkena imbasnya. Lebih lanjut ia mengungkapkan, banyak Kebiasaan yang kurang bagus yang terlihat pada anak sekolah saat ini, bukan hanya merokok saja tapi bolos saat jam sekolah masih berlangsung juga menjadi salah satu kebisaan anak sekolah saat ini. Faktor Pelajar Merokok 1. Adanya pergaulan yang bebas 2. Lingkungan yang memungkinkan pelajar untuk merokok 3. Kurangnya pengawasan dari orang tua dan guru 4. Fenomena anggapan merokok adalah menunjukkan kejantanan Cara mencegah pelajar merokok 1. meminimalisir pergaulan pelajar agar bergaul dalam hal positif 2. memberikan bimbingan dan pembelajaran tentang bahaya merokok 3. “Guru diharapkan sering melakukan razia saat jam sekolah masih berlangsung. Bila perlu pihak sekolah bekerja sama dengan pihak Pemda melalui pihak terkait seperti Satpol PP, melakukan razia pelajar yang berkeluyuran saat jam sekolah,” 4. Sekolah harus terbebas dari asap rokok. Setiap guru, orang tua, maupun orang lain yang berkunjung ke sekolah harus dilarang merokok seperti halnya di sebuah rumah sakit. 5. Setiap ada event atau kegiatan yang melibatkan anak-anak pelajar dilarang menggunakan sponsor dari perusahaan rokok. 6. Ketika anak berada di rumah, orang tua dilarang memperlihatkan dirinya merokok. Ini khusus bagi orang tua yang belum berhenti merokok. Namun alangkah lebih baiknya lagi jika orang tuanya juga berhenti merokok, karena biasanya apa yang dicontohkan orang tua akan diikuti si anak. 7. Setiap orang tua diharapkan mengikusertakan anak-anaknya ke dalam kegiatan-kegiatan positif sepulangnya dari sekolah, seperti: kursus, olahraga, dan lain sebagainya.

GAYA HIDUP MENYIMPANG

Analisis Gaya Hidup Menyimpang Remaja adalah mereka yang berusia 13-18 tahun. Pada usia tersebut, seseorang sudah melampaui masa kanak-kanak, namun masih belum cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa. Ia berada pada masa transisi. Karena transisi itulah yang kerap banyak godaan untuk menuju matang. Definisi kenakalan remaja menurut para ahli : 1. Kartono, ilmuwan sosiologi, berpendapat Kenakalan Remaja atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah juvenile delinquency merupakan gejala patologis sosial pada remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial. Akibatnya, mereka mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang. 2. Sedangkan Santrock berpendapat “Kenakalan remaja merupakan kumpulan dari berbagai perilaku remaja yang tidak dapat diterima secara sosial hingga terjadi tindakan kriminal.” Perilaku ‘nakal’ ini bisa disebabkan oleh faktor dari remaja itu sendiri (internal) maupun faktor dari luar (eksternal). 1. Faktor internal: • Krisis identitas : masa transisi memang pusatnya pencarian jati diri seseorang • Kontrol diri yang lemah : karena belum punya kejelasan siapa dan bagaimana dirinya, maka merekapun belum punya tameng kuat atas segala yang ditemui dalam proses transisi. 2. Faktor eksternal: • Keluarga : Perceraian orangtua, tidak adanya komunikasi antar anggota keluarga, atau perselisihan antar anggota keluarga bisa memicu perilaku negatif pada remaja. Pendidikan yang salah di keluarga pun, seperti terlalu memanjakan anak, tidak memberikan pendidikan agama, atau penolakan terhadap eksistensi anak, bisa menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja • Teman sebaya yang kurang baik : Komunitas/lingkungan tempat tinggal yang kurang baik. Mencegah Kenakalan Remaja • Jadilah teladan bagi mereka. Sebisa mungkin, sesering mungkin. Karena mayoritas remaja tidak suka digurui namun lebih suka dicontohi. Fakta bahwa tindakan lebih ampuh dari kata. Buktikan. • Jangan keburu shock karena anak renaja kita punya seabrek teman. Jangan juga menggurui mereka akan cara bergaul, apalagi melarang-larang dengan siapa saja mereka boleh bergaul, hmm haram hukumnya ! solusinya : cukup arahkan selanjutnya, biar jati diri yang akan membimbing mereka.

ABORSI

ANALISIS ABORSI Aborsi pun akhirnya menjadi buah simalakama di Indonesia.Di sisi lain aborsi dengan alasan non medik dilarang dengan keras di Indonesia tapi di sisi lainnya aborsi ilegal meningkatkan resiko kematian akibat kurangnya fasilitas dan prasarana medis , bahkan aborsi ilegal sebagian besarnya dilakukan dengan cara tradisonal yang semakin meningkatkan resiko tersebut. Angka kematian akibat aborsi mencapai sekitar 11 % dari angka kematian ibu hami dan melahirkan , yang di Indonesia mencapai 390 per 100.000 kelahiran hidup , sebuah angka yang cukup tinggi bahkan untuk ukuran Asia maupun dunia FAKTOR PENYEBAB ABORSI Resiko meningkatnya perilaku seks pra nikah dan seks bebas tidak dapat dihindari akibat perkembangan budaya modern dan meningkatnya usia pasangan nikah. Hal inilah yang menyebabkan benyaknya kasus hamil diluar nikan (MBA) dan aborsi. Tapi sangat disayangkan apabila pemerintah dan juga kalangan pendidik dan komponen masyarakat tidak memiliki sebuah konsep yang terarah dan jelas untuk menghadap fenomena sosial ini. Peningkatan usia nikah harusnya juga diikuti dengan pembekalan mengenai sex pada kalangan remaja sehingga mereka bisa mengendalikan diri dan menjauhi perilaku sex beresiko tersebut. Akan tetapi budaya sex tabu menempatkan kalangan remaja seperti anak kecil yang dipandang dan dianggap tidak perlu tau masalah sex. CARA MENANANGGULANGI ABORSI Memang mencegah lebih baik daripada mengobati. Memberi pengetahuan mengenai beresikonya melakukan seks pra nikah atau sex bebas adalah salah satu metode paling tepat untuk menurunkan resiko kehamilan di luar nikah. Akan tetapi ketika nasi telah menjadi bubur apa tindakan kita.Apakah kita hanya terbatas pada menghukum dan menghakimi mereka saja. Kesalahan mereka tidak bisa dilepaskan dari kesalahan kita juga, baik sebagai orang tua, pendidik maupun komponen masyarakat lainnya. Oleh karena itulah perlu dicarikan sebuah solusi yang tepat dalam menangani masalah ini. Selain itu perlu ada jaminan, bila memang pemerintah mengambil kebijakan pro live seharusnya diikuti kebijakan-kebijakan lain yang sifatnya melindungi hak kalangan remaja bila mereka mengalami kehamilan di luar nikah , diantaranya hak untuk meneruskan pendidikan, hak untuk mendapatkan fasilitas perawatan medis dan psikis yang memadai serta jaminan perawatan terhadap bayi yang akan dilahirkannya. Apabila jaminan-jaminan seperti ini tidak mampu disediakan oleh pemerintah maupun lembaga swadaya masyarakat maupun komponen masyarakat lainnya termasuk orang tua dan pendidik, maka kebijakan pelarangan aborsi menjadi kontra produktif bagi remaja, dan pencegahan praktek aborsi ilegal oleh remaja menjadi sia-sia.

MELIHAT VIDEO PORNO

ANALISIS MELIHAT VIDEO PORNO Perkembangan teknologi informasi dan media tidak hanya membawa berbagai macam keuntungan, tapi juga membawa serta dampak negatif karena menyebabkan materi pornografi mengalir hampir tanpa terkendali melalui jaringannya. Materi yang menimbulkan kecanduan itu hampir bisa diakses oleh siapa saja, termasuk anak-anak. Sepanjang tahun 2008, konselor Yayasan Kita dan Buah Hati melakukan survei terhadap 1.625 siswa kelas empat hingga enam Sekolah Dasar di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi. Hasilnya menunjukkan bahwa 66 persen dari anak-anak tersebut sudah menyaksikan materi pornografi dari berbagai media seperti komik (24 persen), permainan (18 persen), situs porno (16 persen), film (14 persen), cakram digital (10 persen), telepon genggam (delapan persen) serta majalah dna koran (4-6 persen). Survei Komisi Nasional Perlindungan Anak terhadap 4.500 remaja di 12 kota besar di Indonesia tahun 2007 juga tidak memberikan gambaran yang lebih baik. Menurut hasil survei itu, 97 persen remaja pernah menonton film porno. “Pornografi dapat merusak sel-sel otak, akibatnya perilaku dan kemampuan intelegensia akan mengalami gangguan,” kata Kepala Pusat Pemeliharaan, Peningkatan dan Penanggulangan Intelegensia Kesehatan H. Jofizal Jannis. Ia menjelaskan, penurunan intelegensia secara langsung dan tidak langsung akan menurunkan produktifitas dan menurunkan indeks pembangunan sumber daya manusia.
Beberapa faktor yang menyebabkan remaja ingin melihat situs porno, yaitu: 1. Keingintahuan tentang seks merupakan faktor utama remaja dalam melihat situs porno. 2. Agar menjadi lebih bergairah. 3. Ingin meningkatkan kehidupan seksual mereka dengan pacar dikehidupan sebenarnya dengan mencontohkan berbagai hal yang ada di situs porno tersebut. 4. Kurangnya pemberian informasi tentang pendidikan seksual secara benar. Cara menanggulanginya 1. Pengetahuan Agama. Agama dapat membantu untuk mengerem seseorang dari godaan-godaan maksiat yang hadir di sekitar mereka. 2. Pendidikan Seks Sejak Dini Orang tua juga penting untuk membekali pendidikan seks kepada anak-anak mreka sejak dini. 3. Komunikasi Menumbuhkan suasana komunikasi yang sehat, yaitu setiap anggota keluarga merasa nyaman dan aman bila mengungkapkan perasaannya dan sikap saling menghargai. 4. Menumbuhkan Sikap Asertif

Kemampuan untuk bersikap tegas terhadap ancaman yang datang. Para orang tua penting untuk membekali anak-anak mereka kemampuan ini. Hal ini karena orang tua tidak selamanya dapat berada setiap saat disamping anak-anaknya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->