SKRIPSI

PERBEDAAN TINGKAT KECEMASAN PASIEN PRE OPERASI HERNIA SETELAH PEMBERIAN INFORMED CONSENT PADA TINDAKAN GENERAL ANESTESI DAN REGIONAL ANESTESI DI RSUP Dr. MOH. HOESIN PALEMBANG

Skripsi Disusun Sebagai Syarat Mencapai Derajat Diploma IV Keperawatan Anestesi Reanimasi

Disusun oleh :

PRABU BALADEWA
NIM : P07120208027

DEPARTEMEN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN YOGYAKARTA JURUSAN KEPERAWATAN TAHUN 2010

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi berjudul “Perbedaan Tingkat Kecemasan Pasien Pre operasi Hernia Setelah Pemberian Informed consent pada Tindakan General Anestesi dan Regional Anestesi di RSUP Dr. Moh. Hoesin Palembang” telah mendapat persetujuan pada tanggal : ...... Maret 2010.

Menyetujui,

Mengetahui Ketua Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Yogyakarta

Maria H. Bakri, SKM, M.Kes. NIP. 19531122 197903.2.001

ii

iii

.Kp. 5. Rekan-rekan sejawat dan semua pihak yang tidak mungkin disebutkan satupersatu. Moh. selaku Ketua Jurusan Keperawatan Poltekkes Depkes Yogyakarta. Yustiana Olfah.Kp. 6. SKM.. pengarahan dan bantuan dari berbagai pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu dan pada kesempatan ini penulis menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada : 1. S. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa Skripsi ini masih mempunyai kekurangan dan belum sempurna. Maria H.. M. selaku pembimbing utama.KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga tugas penyusunan Skripsi dengan judul “Perbedaan Tingkat Kecemasan Pasien Pre operasi Hernia Setelah Pemberian Informed consent pada Tindakan General Anestesi dan Regional Anestesi di RSUP Dr. 4.Kes.. selaku Direktur Poltekkes Depkes Yogyakarta. Akhirnya penulis berharap semoga Allah SWT membalas budi baik bapak / ibu yang telah membantu dan member motivasi kepada penulis dalam penyelesaian Skripsi ini.Kes. Hoesin Palembang” dapat terselesaikan tepat pada waktunya. M.Kes.Pd. sehingga dengan segala kerendahan hati penulis menerima kritikan dan saran yang membangun untuk kesempurnaan skripsi ini. Nunuk Sri Purwanti. M.Kes. SKM. 3. Amin ya rabbal alamin. Penulis iv . S.. M. Skripsi ini terwujud atas bimbingan.. Catur Budi S. selaku pembimbing pendamping. S.Sc. M. selaku Ketua Prodi DIV Keperawatan Anestesi Poltekkes Depkes Yogyakarta. Bakri. APP. 2. Lucky Herawati. DR.

............ DAFTAR TABEL ……………………………………………………....................................................... KATA PENGANTAR ............. Informed consent .. 4......................................................... 2... ABSTRACT………………………………………………………………… DAFTAR GAMBAR .......... Manfaat Penelitian ........ Jenis Penelitian ............ Kerangka Teori . I................................... Pengolahan dan Analisis Data ....................... Tujuan Penelitian ....... BAB IV...................................... Kecemasan ....................... B..... 1.. PENDAHULUAN A............... TINJAUAN PUSTAKA A.............. HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING…………………………… HALAMAN PENGESAHAN …………………….............. H..................... HasilPenelitian………………………………………… 1... Rumusan Masalah ............................. E... B.......... 2.................. C......... Uji Validitas dan Reliabilitas .................................................. Anestesi ............. Tinjauan Teori ........................................................................hoesin Palembang.............................. BAB III.... Populasi dan Sampel ..DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL……………………........... Lokasi penelitian RSUP dr.............. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A... …… DAFTAR LAMPIRAN .... D.................................... BAB I............................ BAB II....................... AnalisaBivariat…………………………………… i ii iii iv v vii viii ix x xi 1 4 4 5 6 8 8 16 22 24 32 35 35 36 36 37 38 39 41 41 41 42 44 45 45 50 v .......... Kerangka Konsep .................................. B................................................................ D.................. Hipotesis .............................................. G......................... DAFTAR ISI .......................................................... Definisi Operasional ........................................................... D............................................... Latar Belakang .................... Lokasi dan Waktu Penelitian ................... AnalisaUnivariat……………………………….................... Hernia .......... 3..... Instrumen Penelitian ............. METODE PENELITIAN A................................ C.......... E......... C................................. moh.................... Variabel Penelitian .................................................. INTISARI…………………………………………………… …………….......................................................... Tehnik Pengumpulan Data ............. Keaslian Penelitian ......................... B............................................. F...................................................................................................

C. Saran………………………………………………. Pembahasan…………………………………………. BAB V. Kesimpulan……………………………………… B. 53 56 57 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN vi . KESIMPULAN DAN SARAN A..

Kata Kunci : tingkat kecemasan. Regional Anestesi. vii .814 berarti p > 0.INTISARI Judul : Perbedaan tingkat kecemasan pasien pre op hernia setelah pemberian informed concent pada tindakan General Anestesi dan Regional Anestesi.88 secara sederhana tidak terdapat perbedaan tingkat kecemasan yang signitifikan. Tujuan Penelitian :Untuk mengetahui adakah perbedaan tingkat kecemasan pasien pre op hernia setelah pemberian informed concent pada tindakan General Anestesi dan Regional Anestesi.test.814 berarti p > 0.05 tidak terdapat perbedaan tingkat kecemasan yang signifikan antara pasien yang di General Anestesi dan yang di Regional Anestesi. Latar Belakang : Tindakan Pembedahan dengan Anestesi merupakan ancaman aktual maupun potensial pada intergritas seseorang yang dapat membangkitkan reaksi fisiologis maupun psikologis. Kesimpulan : Dari hasil uji Independent samples t test terhitung 0. Metode Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional untuk mengetahui perbedaan tingkat kecemasan pasien pre op hernia setelah pemberian informed concent pada tindakan General Anestesi dan Regional Anestesi dengan menggunakan uji Independent samples t.239 dengan signitifikasi 0. Hasil : Secara statistic di ketahui rata rata score kelompok General Anestesi 3 dan rata rata kelompok Regional Anestesi 2.05 tidak terdapat perbedaan tingkat kecemasan pada pasien Pre op hernia setelah pemberian informed concent pada tindakan General Anestesi dan Regional Anestesi.239 dengan sig 0.General Anestesi . dari hasil uji Independent samples t test terhitung 0.

Research Objectives: To know is there a difference in patient anxiety levels pre op hernia after giving informed concent in action General Anesthesia and Regional Anesthesia. from the results of independent testing samples t test with a 0239 count means signitifikasi 0814 (p > 0. Results: The statistical average in the know General Anesthesia score group 3 and group average 2. Conclusion: The results of the Independent test samples t test calculated with the 0239 sig 0814 means p > 0. Research Methods: The study was cross-sectional study to determine differences in anxiety levels of pre op hernia patient after giving informed concent in action General Anesthesia and Regional Anesthesia by using independent test samples t. General Anesthesia.88 Regional anesthesia is simply no difference signitifikan anxiety levels.ABSTRACT Title: Different levels of anxiety pre op hernia patient after giving informed concent in action General Anesthesia and Regional Anesthesia.05 there is no difference significant levels of anxiety among patients in general anesthesia and that in Regional Anesthesia.test. Background: Action Surgery with Anesthesia an actual or potential threat to the integrity someone who can evoke physiological and psychological reactions. Regional Anesthesia viii .05) not available differences in levels of anxiety in patients with pre op hernia after giving informed concent in action General Anesthesia and Regional Anesthesia. Keywords: level of anxiety.

.3 : Kerangka Teori ............2 : Rentang Respon Ansietas ............................... 2......................................4 : Kerangka Konsep ................................. 2.....................1 : Tingkat Kecemasan ............................. 2.. 9 11 34 35 ix ........................DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar Gambar Gambar Gambar 2.................

47 Tabel 4..1 : Distribusi Frekwensi Pasien yang akan di lakukan Tindakan General Anestesi…………………………………45 Tabel 4. 4. 49 Tabel 4. 51 Tabel.DAFTAR TABEL HALAMAN Tabel 4..3 : Distribusi frequensi tingkat kecemasan pasien yang akan di lakukan General Anestesi………………….4 : Distribusi Frequensi tingkat kecemasan pasien yang akan di lakukan tindakan Regional Anestesi…… 50 Tabel 4.2 : Distribusi Frekwensi Pasien yang akan di lakukan Tindakan Regional Anestesi ……………………………….6 : Uji beda tingkat kecemasan antara Responden yang di General Anestesi dan yang di Regional Anestesi………………………………………… 52 x .5 : statistic perbedaan tingkat kecemasan antara responden yang di lakukan tindakan General Anestesi dan responden yang dilakukan Regional anestesi…….

Instrumen Penelitian Tingkat Kecemasan Hamilton Rating Scala for Anxiety (HRS-A) 6.DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Lampiran Lampiran Lampiran Lampiran 1. Anggaran Penelitian Lampiran Lampiran xi . Surat Persetujuan Responden 3. Permohonan Menjadi Responden 2. Data Identitas Responden 5. Surat Persetujuan / Penolakan Medis Khusus 4. Jadwal Penelitian 7.

Tindakan pembedahan dengan anestesi merupakan ancaman aktual maupun potensial pada integritas seseorang yang dapat 1 . Latar Belakang Kecemasan merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. juga merupakan suatu respons emosional terhadap penilaian. Rasa takut terbentuk dari proses kognitif yang melibatkan penilaian intelektual terhadap stimulus yang mengancam. 1997). Ketakutan disebabkan oleh hal yang bersifat fisik dan psikologis ketika individu dapat mengidentifikasi dan menggambarkannya (Suliswati dkk. karakteristik rasa takut adalah adanya obyek atau sumber yang spesifik dan dapat diidentifikasi serta dapat dijelaskan oleh individu.BAB I PENDAHULUAN A. 2005). palpitasi. keringat dingin. Perasaan tersebut ditandai dengan rasa ketakutan yang tidak menyenangkan dan samar-samar sering kali disertai oleh gejala otomatis seperti nyeri kepala. kekakuan pada dada dan gangguan lambung ringan (Kaplan dan Sadock. Sebagian besar manusia merasa cemas dan tegang dalam menghadapi situasi yang mengancam dan menekan. Kecemasan berbeda dengan rasa takut.

Hal ini dimanifestasikan dengan perubahan fisik terutama tanda-tanda vital. psikososial dan psikoreligius. Berdasarkan studi pendahuluan di RSUP Dr. Segala bentuk prosedur pembedahan dan anestesi selalu didahului suatu reaksi emosional tertentu oleh pasien. Berdasarkan pengamatan yang saya lakukan. keganasan. dengan rata-rata per bulan 27 orang (16. nadi cepat bahkan tensi meningkat 20% sampai 30%. yaitu mencakup fisik (somatic). makin menampakan gejala berupa sering menarik napas dalam. kecemasan pre anestesi kemungkinan merupakan respon antisipasi terhadap pengalaman yang dianggap pasien . Penyebab cemas pada individu yang akan menjalani operasi. yaitu : nyeri. psiklogik/psikiatrik.3%) dan 87 (53. gagal atau pada kondisi yang lebih buruk.7%) orang menjalani regional anestesi. gelisah.66%). Dari 162 orang tersebut yang menjalani general anestesi sebanyak 75 orang (46. puncak kecemasan saat berada diruang operasi dengan penantian tindakan yang lama yaitu antara 20 menit sampai 150 menit untuk kasus elektif. sering buang air kecil. Manajemen kecemasan pada tahap pencegahan memerlukan suatu metode pendekatan yang bersifat holistic. apakah reaksi tersebut jelas atau tersembunyi. Hoesin Palembang. pasien hernia yang akan dilakukan tindakan operasi dengan general anestesi dan regional anestesi dalam kurun waktu Januari sampai Juni 2009 mencapai 162 orang. invalid. Sebagai contoh.2 membangkitkan reaksi stress fisiologis maupun psikologis. gangguan tidur dan sering buang air kecil sehingga seringkali terjadi pembatalan operasi. Moh.

kemudian diberi kesempatan untuk memilih. Terbitnya Permenkes nomor 585 tahun 1989 tentang Persetujuan Tindakan Medik sebenarnya Informed consent sudah menjadi hukum (Guwandi. pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang lainnya secara cermat dapat memprediksi penataan anestesi dan penanganan kedaruratannya. sesuai batas kemampuan dan kewenangan perawat. Informed consent diperlukan bukan hanya didasarkan pada kewajiban moral berkaitan . Karenanya penting artinya untuk mengidentifikasi kecemasan yang dialami pasien. Jika pasien setuju maka dimintakan tanda tangan persetujuan. 2004). tetapi jika pasien tidak setuju dilakukan tindakan medis maka diberikan motivasi tentang resiko yang terjadi. Dengan mengumpulkan data riwayat kesehatan. tetapi didelegasikan kepada perawat senior/yang ditunjuk. Pedoman untuk intervensi berbagai tingkat kecemasan sehingga akan lebih baik jika para praktisi atau klinisi khususnya yang sedang menangani pasien pre anestesi mampu menggunakan pedoman tersebut untuk mengetahui tingkat kecemasan pasien pada saat itu (Stuart dan Sundeen. Informed consent sesuai dengan hak pasien tidak seluruhnya disampaikan oleh dokter.3 sebagai ancaman terhadap perannya dalam hidup. Tidak diragukan lagi pasien yang menghadapi tindakan invasif dihantui oleh ketakutan termasuk ketakutan akan ketidaktahuan. 2007). integritas tubuh atau bahkan kehidupannya itu sendiri. Sudah diketahui bahwa pikiran yang bermasalah secara langsung mempengaruhi fungsi tubuh. apabila pasien tetap menolak maka pihak rumah sakit memberikan formulir pernyataan penolakan untuk dilakukan tindakan medis tersebut.

Diketahuinya perbedaan tingkat kecemasan pasien pre operasi hernia setelah pemberian informed consent pada tindakan general anestesi dan regional anestesi. Tujuan umum Diketahuinya perbedaan tingkat kecemasan pasien pre operasi hernia setelah pemberian informed consent pada tindakan general anestesi dan regional anestesi di RSUP Dr.4 dengan hak asasi individu atas kesehatannya. Diketahuinya tingkat kecemasan pasien pre operasi hernia setelah pemberian informed consent pada tindakan regional anestesi. Diketahuinya tingkat kecemasan pasien pre operasi hernia setelah pemberian informed consent pada tindakan general anestesi. b. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya maka. Tujuan khusus a. 2. c. Hoesin Palembang. peneliti tertarik untuk meneliti tentang perbedaan tingkat kecemasan pasien pre operasi hernia setelah pemberian informed consent pada tindakan general anestesi dan regional anestesi di RSUP Dr. tetapi juga berfungsi melindungi manusia agar tidak dimanipulasi sebagai objek kepentingan. Moh. peneliti merumuskan masalah sebagai berikut : “Adakah perbedaan tingkat kecemasan pasien pre operasi hernia setelah pemberian informed consent pada tindakan general anestesi dan regional anestesi di RSUP Dr. C. Tujuan Penelitian 1. Moh. B. Berdasarkan fenomena yang ada. Hoesin Palembang ?”. Moh. Hoesin Palembang. .

Secara praktis hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi : a. Profesi perawat anestesi Agar dapat menjadi acuan bagi perawat anestesi dalam memberikan informed consent pada tindakan general anestesi dan regional anestesi supaya tingkat kecemasan pasien pre operasi hernia dapat teratasi. terutama tindakan keperawatan anestesi reanimasi dalam menangani kecemasan pasien yang akan menjalani operasi hernia sehingga tidak terjadi kegagalan dan penundaan operasi. Peneliti Memberikan informasi tentang perbedaan tingkat kecemasan pasien pre operasi hernia setelah pemberian informed consent pada tindakan general anestesi dan regional anestesi dan meningkatkan pengetahuan peneliti dalam bidang riset keperawatan. e. Mahasiswa Sebagai pembelajaran dalam menerapkan ilmu yang diperoleh dalam memberikan asuhan keperawatan dan sebagai bahan masukan dalam proses kegiatan belajar mengajar.5 D. c. d. Manfaat Penelitian 1. Institusi Rumah Sakit Memberikan masukan untuk meningkatkan kualitas SDM dalam memberikan pelayanan dalam mempersiapkan pasien yang akan menjalani tindakan operasi hernia dengan anestesi baik secara psikologis maupun fisiologis yang mendukung tercapainya kenyamanan dan kesiapan pasien dalam pemahaman tindakan anestesi. Institusi pendidikan . b.

Sardjito Yogyakarta.6 Memberikan sumbangan kepada ilmu pengetahuan khususnya lingkup keperawatan anestesi tentang perbedaan tingkat kecemasan pasien pre operasi hernia setelah pemberian informed consent pada tindakan general anestesi dan regional anestesi. dengan judul Pengaruh Pemberian Informasi Pre Operasi terhadap Kecemasan Pasien yang Akan Menjalani Apendektomi di IRNA RSUP Dr. Moh. pada tindakan penelitian yang digunakan merupakan penelitian cross sectional . Hasil penelitian menunjukan bahwa dari 30 responden (36. Hoesin Palembang. . Keaslian Penelitian Penelitian mengenai tingkat kecemasan. E.7%) mengalami kecemasan ringan dan 19 responden (63.3%) mengalami kecemasan berat serta ada pengaruh yang signifikan antara informasi yang diperoleh dengan tingkat kecemasan pasien yang akan menjalani apendektomi. Secara teoritis Penelitian ini dapat memberikan informasi dan pemahaman yang dapat digunakan sebagai masukan pada ilmu pengetahuan dan acuan pengembangan ilmu keperawatan anestesi reanimasi pada setiap tindakan general anestesi dan regional anestesi. 2. pengujian hipotesa menggunakan uji Independent sampel t-test dan tempat penelitian di RSUP Dr. Penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitik jenis cross sectional. Perbedaan dengan peneliti adalah pemilihan variabel bebasnya ditekankan pada pemberian informed consent General Anestesi dan Regional Anestesi. antara lain yang dilakukan oleh Marlinda (2000).

2004) Kecemasan adalah kekhawatiran yang tidak jelas dan menyebar yang berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya.8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. tegang. Kecemasan berbeda dengan rasa takut. Berdasarkan definisi di atas. yang merupakan penilaian intelektual terhadap bahaya. tidak tentram disertai berbagai keluhan fisik.. Keadaan tersebut dapat terjadi atau menyertai berbagai kondisi atau situasi kehidupan dan berbagai gangguan sakit (Depkes. Tinjauan Teori 1. Kecemasan adalah respon emosional terhadap penilaian tersebut (Stuart.R. takut yang dihasilkan dari ancaman-ancaman terhadap kebahagiaan dan ketenangan dan dialami oleh semua manusia dengan derajat yang berbeda. Kecemasan a. Pengertian Kecemasan merupakan keadaan yang menggambarkan adanya rasa khawatir. takut.I. 2007). dapat disimpulkan bahwa kecemasan adalah keadaan emosi yang tidak menyenangkan yang ditandai dengan istilah seperti khawatir. gelisah. 8 .

Timbulnya kecemasan Berat Menurut Mahmud (cit. kegelisahan. karakteristik rasa takut adalah obyek atau sumber yang spesifik dan dapat diidentifikasi serta dapat dijelaskan oleh individu. Kecemasan berbeda dengan rasa takut. Teori Kecemasan Kecemasan merupakan pengalaman subyektif dari individu dan tidak dapat diobservasi secara langsung serta merupakan suatu keadaan emosi tanpa obyek yang spesifik. Froggatt. kebutuhan- kebutuhan dan ingatan yang tidak disetujui oleh orang tua maupun oleh lingkungan sekitarnya. Ketakutan disebabkan oleh hal yang bersifat fisik dan psikologis ketika individu dapat mengidentifikasi dan menggambarkannya (Suliswati dkk. perasaan tidak aman. menyatakan bahwa sebab kecemasan itu berupa keinginan-keinginan. Tingkat Kecemasan c.9 b. Skema kecemasan : Ringan Sedang Panik Sumber : Hawari (2001). Kecemasan ditandai oleh perasaan khawatir. Rasa takut terbentuk dari proses kognitif yang melibatkan penilaian intelektual terhadap stimulus yang mengancam.1. Kecemasan pada individu dapat memberikan motivasi untuk mencapai sesuatu dan merupakan sumber penting dalam usaha memelihara keseimbangan hidup. Gambar 2. 2005). ketidakmampuan dalam . 2003).

dari) Stressor pencetus mungkin berasal dari sumber internal atau eksternal. http://www. Dengan demikian.yakita. b) Kecemasan sedang : memungkinkan individu untuk berfokus pada hal yang penting dan mengesampingkan yang lain. berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari. Kecemasan ini mempersempit lapang persepsi individu. Stressor pencetus dapat dikelompokkan dalam dua kategori : 1) Ancaman terhadap integritas seseorang meliputi ketidakmampuan fisiologis yang akan datang atau menurunnya kapasitas untuk melakukan aktifitas sehari-hari.10 menghadapi tantangan. kecemasan ini menyebabkan individu menjadi waspada dan meningkatkan lapang persepsinya. 2007). 2002.htm. Mengenai Mekanisme Pertahanan Diri. harga diri dan fungsi sosial yang terintegrasi pada diri seseorang (Stuart. kurangnya kepercayaan diri atau ketidakberdayaan dalam menentukan dan memperoleh penyelesaian masalah (Mu’tadin.or. ¶1. Kecemasan ini dapat memotivasi belajar dan menghasilkan pertumbuhan serta kreatifitas.id/kecemasan. diunduh 10 Agustus 2009. ada empat tingkat kecemasan yaitu : a) Kecemasan ringan. 3) Timbulnya kecemasan menurut Stuart (2007). 2) Ancaman dari sistem diri seseorang dapat membahayakan identitas. individu mengalami tidak perhatian yang .

dan kehilangan pemikiran yang rasional. Panik mencakup disorganisasi kepribadian dan menimbulkan peningkatan aktivitas motorik. ketakutan. menurunnya kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain. dan teror. Semua perilaku ditujukan untuk mengurangi ketegangan. d) Tingkat panik : dari kecemasan berhubungan dengan terperangah. Individu tersebut memerlukan banyak arahan untuk berfokus pada area lain. RENTANG RESPONS ANSIETAS Respons adaptive Respon maladaptive Antisipasi Ringan Sedang Berat Panik Sumber : Stuart (2007) Gambar 2.2. persepsi yang menyimpan. Hal yang rinci terpecah dari proporsinya. individu yang mengalami panik tidak mampu melakukan sesuatu walaupun dengan arahan. Rentang Respon Ansietas . Karena mengalami kehilangan kendali. c) Kecemasan berat : sangat mengurangi lapang persepsi individu cenderung berfokus pada sesuatu yang rinci dan spesifik serta tidak berpikir tentang hal lain. jika berlangsung terus dalam waktu yang lama dapat terjadi kelelahan dan kematian. Tingkat kecemasan ini tidak sejalan dengan kehidupan.11 selektif namun dapat berfokus pada lebih banyak area jika diarahkan untuk melakukannya.

yang menimbulkan kerentanan tertentu. dan fungsi kecemasan mengingatkan ego bahwa ada bahaya. kecemasan merupakan produk frustasi yaitu segala sesuatu yang mengganggu kemampuan individu untuk mencapai tujuan yang diinginkan. sedangkan super ego mencerminkan hati nurani dan dikendalikan oleh norma budaya.12 d. 3) Menurut pandangan perilaku. kecemasan dan timbul dari terhadap Kecemasan ketidaksetujuan juga penolakan dengan interpersonal. Ego atau aku. kecemasan adalah konflik emosional yang terjadi antara dua elemen kepribadian : id dan super ego. Ahli teori konflik memandang kecemasan . Ahli teori pembelajaran meyakini bahwa individu yang terbiasa sejak kecil dihadapkan pada ketakutan yang berlebihan lebih sering menunjukkan kecemasan pada kehidupan sebelumnya. seperti perpisahan dan kehilangan. Faktor Predisposisi Menurut Stuart (2007). berfungsi menengahi tuntutan dari dua elemen yang bertentangan tersebut. Id mewakili dorongan insting dan impuls primitif. Individu dengan harga diri rendah terutama rentan mengalami kecemasan yang berat. Ahli teori perilaku lain menganggap kecemasan sebagai suatu dorongan yang mempelajari berdasarkan keinginan dari dalam diri untuk menghindari kepedihan. 2) Menurut perasaan pandangan takut interpersonal. bahwa faktor predisposisi kecemasan berasal dari beberapa teori : 1) Dalam pandangan psikoanalitis. berhubungan perkembangan trauma.

Mereka meyakini adanya hubungan timbal balik antar konflik dan kecemasan. regulasi suhu tubuh. Faktor Presipitasi Menurut Suliswati. meliputi kegagalan mekanisme fisiologis sistim imun. kesehatan umum individu dan riwayat kecemasan. konflik menimbulkan kecemasan dan kecemasan menimbulkan perasaan tidak berdaya yang pada gilirannya meningkatkan konflik yang dirasakan. bahwa stressor presipitasi adalah semua ketegangan dalam kehidupan yang dapat mencetuskan timbulnya kecemasan. obat-obatan yang meningkatkan neuro regulator inhibisi asam gama amino butirat (GABA). Gangguan kecemasan juga tumpang tindih antara gangguan kecemasan dan depresi. 5) Kajian biologis menunjukan bahwa otak mengandung reseptor khusus untuk benzodiazepine. Kecemasan mungkin disertai dengan gangguan fisik dan selanjutnya menurunkan kemampuan individu untuk mengatasi stressor. 4) Kajian keluarga menunjukkan bahwa gangguan kecemasan biasanya terjadi dalam keluarga.13 sebagai pertentangan antara dua kepentingan yang berlawanan. Selain itu. e. dkk (2005). yang berperan penting dalam mekanisme biologis yang berhubungan dengan kecemasan. . perubahan biologis normal (hamil). Stressor presipitasi kecemasan dikelompokan menjadi dua bagian : 1) Ancaman terhadap integritas fisik yang mengancam meliputi : a) Sumber internal.

polutan lingkungan. 1) Respon fisiologis. 2) Ancaman terhadap harga diri meliputi sumber internal dan eksternal.14 b) Sumber eksternal. Bila korteks otak menerima rangsang dan dikirim melalui saraf simpatik kekelenjar adrenal yang akan melepaskan adrenalin atau epinefrin sehingga efeknya . meliputi : a) Sumber internal kesulitan dalam berhubungan interpersonal dirumah dan tempat kerja. Sistim saraf simpatis akan mengaktifasi proses tubuh. Faktor Perilaku Menurut Suliswati dkk (2005). tekanan kelompok dan sosial budaya. meliputi paparan terhadap infeksi virus dan bakteri. perceraian. perubahan status pekerjaan. bahwa secara langsung kecemasan dapat diekspresikan melalui respon fisiologis dan psikologis dan secara tidak langsung melalui pengembangan mekanisme koping sebagai pertahanan melawan kecemasan. sedangkan proses saraf parasimpatis akan meminimalkan respon tubuh. tidak adekuatnya tempat tinggal. Reaksi tubuh terhadap stres (kecemasan) adalah “fliht” atau “flight“. Berbagai ancaman terhadap integritas fisik juga dapat mengancam harga diri. kekurangan nutrisi. f. penyesuaian terhadap peran baru. b) Sumber eksternal: kehilangan orang yang dicintai. kecelakaan. secara fisiologis respon tubuh terhadap kecemasan adalah dengan mengaktifkan sistim saraf otonom (simpatis maupun parasimpatis).

konsentrasi menurun. berat atau berat sekali (panik) digunakan alat ukur yang dipakai dengan nama Hamilton Rating Scala for Anxietas (HRSA). sedang. mudah lupa. 2) Respon psikologis. Kecemasan dapat mempengaruhi kemampuan berpikir diantaranya adalah tidak mampu memperhatikan. Kecemasan dapat mempengaruhi aspek interpersonal mempengaruhi maupun refleks. Dengan peningkatan glukogenolisis maka gula darah akan meningkat. nadi dan tekanan darah meningkat.15 antara lain napas lebih dalam. Kecemasan tinggi akan akan Kesulitan mendengarkan mengganggu hubungan dengan orang lain. susunan saraf pusat dan otot. 3) Respon kognitif. 4) Respon afektif. personal. Darah akan tercurah terutama ke jantung. Secara afektif klien akan mengekspresikan dalam bentuk kebingungan dan curiga berlebihan sebagai reaksi emosi terhadap kecemasan Untuk mengetahui derajat kecemasan seseorang apakah ringan. menurunkan lapang persepsi dan bingung. Alat ini terdiri dari 14 kelompok gejala yaitu : 1) Perasaan cemas 2) Ketegangan 3) Ketakutan 4) Gangguan tidur 5) Gagguan kecerdasan 6) Perasaan depresi (murung) .

4 = gejala berat sekali (panik). secara umum berarti suatu tindakan menghilangkan rasa sakit ketika melakukan pembedahan dan berbagai prosedur lainnya yang menimbulkan rasa sakit pada tubuh (http://id. 1 = gejala ringan. Anestesi dibagi dalam dua kelompok yakni : a. General anestesi menyebabkan mati rasa karena obat ini masuk ke jaringan otak dengan tekanan setempat yang tinggi. “persepsi. berasal dari bahasa Yunani an-“tidak. 3 = gejala berat. kemampuan untuk merasa”).org/ wiki/Anestesi). Dengan penilaian angka antara 0–4.16 7) Gejala somatik/fisik (otot) 8) Gejala somatik/fisik (sensorik) 9) Gejala kardiovaskuler(jantung dan pembuluh darah) 10) Gejala respiratori (pernapasan) 11) Gejala gastrointestinal(pencernaan) 12) Gejala urogenital (perkemihan dan kelamin) 13) Gejala otonom 14) Tingkah laku (sikap dalam wawancara) Yang masing-masing kelompok dirinci lagi dengan gejala yang lebih spesifik.wikipedia. tanpa” dan aesthētos. yang artinya adalah nilai 0 = tidak ada gejala (keluhan). 2 = gejala sedang. 2. Anestesi Anestesi (pembiusan. Istilah anestesi digunakan pertama kali oleh Oliver Wendel Holmes Sr pada tahun 1846. Anestesia umum (general anestesi) General anestesi merupakan tindakan meniadakan nyeri secara sentral disertai hilangnya kesadaran dan bersifat pulih kembali (reversibel). Selama masa induksi pemberian obat bius harus cukup yang beredar .

17 didalam darah dan tinggal didalam jaringan tubuh (Persatuan Perawat Nasional Indonesia Kota Bontang Kalimantan Timur. Hanya eter yang memiliki trias anestesia. ¶1. enfluran.blogspot.com/2009/03/anestesiumum_10. isofluran. diunduh 13 Agustus 2009) Umumnya anestesi umum dilakukan dengan induksi. analgesia (bebas dari nyeri) dan relaksasi otot. Induksi adalah usaha membawa / membuat kondisi pasien dari sadar ke stadium pembedahan (stadium III Skala Guedel). Anestesi Umum. Induksi anestesi umum dapat dikerjakan melalui cara : 1) Intravena (paling sering) .blogspot. sevofluran). analgetika narkotik. Relaksasi otot diperlukan untuk mengurangi tegangnya tonus otot sehingga akan mempermudah tindakan pembedahan. anestesi inhalasi (halotan. Karena anestesi modern saat ini menggunakan obat-obat selain eter. yaitu : hipnosis (tidur). Ko-induksi adalah setiap tindakan untuk mempermudah kegiatan induksi anestesi. Analgesia didapat dari N2O. http://ppnibontang. ¶2.com/2009/03/anestesi-umum_10. Hipnosis didapat dari sedatif. NSAID tertentu. beberapa menit sebelum induksi anestesi dapat dikategorikan sebagai ko-induksi. Anestesi Umum. akan menyebabkan triad (trias) anestesia. maka trias anestesi diperoleh dengan menggabungkan pelbagai macam obat. 2009.html. 2009. http://ppnibontang. Sedangkan relaksasi otot didapatkan dari obat pelumpuhan otot (muscle relaxant) (Persatuan Perawat Nasional Indonesia Kota Bontang Kalimantan Timur.html. diunduh 13 Agustus 2009) Penggunaan anestesi umum. Pemberian obat premedikasi di kamar bedah.

Induksi intravena sleeping dose yaitu pemberian obat induksi dengan dosis tertentu sampai pasien tertidur. gradual induction. tidak ada gerakan pada kelopak mata. dan single breath induction.htm) Obat bius lokal/anestesi lokal atau yang sering disebut pemati rasa adalah obat yang menghambat hantaran saraf bila digunakan secara lokal pada jaringan saraf dengan kadar yang cukup. baunya enak. cepat membuat pasien tertidur. Induksi intravena dapat dikerjakan secara full dose maupun sleeping dose. Jika bulu mata disentuh. Obat bius lokal bekerja . b. Sifat-sifat tersebut ditemukan pada halotan dan sevofluran.com/ apotik_online/obat_bius_lokal. Tanda-tanda induksi berhasil ditandai dengan hilangnya refleks bulu mata. Induksi inhalasi dapat dikerjakan dengan teknik : steal induction. Obat yang digunakan untuk induksi inhalasi adalah obat-obat yang memiliki sifat-sifat : tidak berbau menyengat / merangsang. Sleeping dose ini dari segi takarannya di bawah dari full dose ataupun maximal dose. Induksi sleeping dose dilakukan terhadap pasien yang kondisi fisiknya lemah (geriatri.18 2) Inhalasi 3) Intramuskular 4) Per rektal. Induksi intramuskular biasanya menggunakan injeksi ketamin. Obat bius lokal bekerja pada tiap bagian susunan saraf. Anestesia Lokal/regional anestesi (http://www.medicastore. pasien presyok).

rasa panas atau rasa dingin. Obat bius lokal mencegah pembentukan dan konduksi impuls saraf. anestesia lokal mengganggu fungsi semua organ dimana terjadi konduksi/transmisi dari beberapa impuls. Persyaratan obat yang boleh digunakan sebagai anestesi lokal: 1) Tidak mengiritasi dan tidak merusak jaringan saraf secara permanen 2) Batas keamanan harus lebar 3) Efektif dengan pemberian secara injeksi atau penggunaan setempat pada membran mukosa 4) Mulai kerjanya harus sesingkat mungkin dan bertahan untuk jangka waktu yang yang cukup lama 5) Dapat larut air dan menghasilkan larutan yang stabil. anestesi lokal digolongkan sebagai berikut : 1) Senyawa ester Adanya ikatan ester sangat menentukan sifat anestesi lokal sebab pada degradasi dan inaktivasi di dalam tubuh. ganglia otonom. Secara kimia. Karena itu golongan ester umumnya kurang . Disamping itu. gatal-gatal. Artinya. gugus tersebut akan dihidrolisis. juga stabil terhadap pemanasan. cabang-cabang neuromuskular dan semua jaringan otot. anestesi lokal mempunyai efek yang penting terhadap SSP.19 merintangi secara bolak-balik penerusan impuls-impuls saraf ke Susunan Saraf Pusat (SSP) dan dengan demikian menghilangkan atau mengurangi rasa nyeri. Tempat kerjanya terutama di selaput lendir.

benzokain. benzilalkohol. Contohnya: tetrakain. cryofluoran. Sebagai suntikan banyak digunakan sebagai penghilang rasa oleh dokter gigi untuk mencabut geraham atau oleh dokter keluarga untuk pembedahan kecil seperti menjahit luka di kulit. prilokain dan bupivacaine. 2) Anestesi Infiltrasi. Anestesi lokal sering kali digunakan secara parenteral (injeksi) pada pembedahan kecil dimana anestesi umum tidak perlu atau tidak diinginkan. kokain. lidokain. etilklorida. misalnya daerah kecil di kulit atau gusi (pada pencabutan gigi). Tujuannya untuk menimbulkan anestesi ujung saraf melalui injeksi pada atau sekitar jaringan yang akan dianestesi sehingga mengakibatkan hilangnya rasa di kulit dan jaringan yang terletak lebih dalam. 2) Senyawa amida Contohnya senyawa amida adalah dibukain. Jenis anestesi lokal dalam bentuk parenteral yang paling banyak digunakan adalah: 1) Anestesi permukaan. mepivakain.20 stabil dan mudah mengalami metabolisme dibandingkan golongan amida. Sediaan ini aman dan pada kadar yang tepat tidak akan mengganggu proses penyembuhan luka. . 3) Lainnya Contohnya fenol. prokain dengan prokain sebagai prototip.

6) Anestesi Kaudal Anestesi kaudal adalah bentuk anestesi epidural yang disuntikkan melalui tempat yang berbeda yaitu ke dalam kanalis sakralis melalui hiatus skralis.Ruang ligamentum flavum dan durameter. Efek sampingnya adalah akibat dari efek depresi terhadap SSP dan efek kardiodepresifnya (menekan fungsi jantung) dengan gejala penghambatan penapasan dan sirkulasi darah. 4) Anestesi Spinal Obat anestesi di suntikan kedalam rongga Subaraknoid melalui pungsi lumbal. Bagian atas berbatasan dengan foramen magnum di dasar tengkorak dan di bawah dengan selaput sakrokogsigeal.di lakukan pada di bawah vertebra lumbal I pada diskus Intervetebralis antara lumbal III dan IV. 5) Anestesi Epidural Blokade saraf dengan menempatkan ini obat berada di di ruang antara yang mengakibatkan epidural(peridural.21 3) Anestesi Blok Cara ini dapat digunakan pada tindakan pembedahan maupun untuk tujuan diagnostik dan terapi. Ada anggapan bahwa obat bius lokal dianalogikan dengan obat "doping" sehingga dilarang seperti kokain yang merupakan obat .extradural).Anestesi spinal yang berhasil akan memblok nervus simpatis vasodilatasi. Anestesi lokal dapat pula mengakibatkan reaksi hipersensitasi.

22 doping yang merangsang. 2005). dkk. Kokain adalah anestetik lokal yang pertama kali ditemukan. dan bertemunya pemikiran tentang apa yang akan dan tidak akan dilakukan terhadap pasien.htm). melainkan lebih ke arah persetujuan sepihak atas layanan yang ditawarkan pihak lain (Sampurna. Maka seorang dokter spesialis anestesipun sebenarnya harus meminta persetujuan pasien untuk dapat melakukan tindakan pembiusannya (Guwandi. Informed consent dilihat dari aspek hukum bukanlah sebagai perjanjian antara dua pihak. Saat ini. Menurut Dahlan (2003). keluarga atau walinya) yang isinya berupa izin atau persetujuan kepada dokter untuk melakukan tindakan medik sesudah orang yang berhak tersebut diberi informasi secukupnya.com/ informedconsent_a1/ informedconsent.freewebs. definisi operasional dari informed consent adalah suatu pernyataan sepihak dari orang yang berhak (yaitu pasien.. 3. . 2004). Tujuan dari informed consent adalah agar pasien mendapat informasi yang cukup untuk dapat mengambil keputusan atas terapi yang akan dilaksanakan (http://www. Informed consent Informed consent adalah suatu proses yang menunjukkan komunikasi yang efektif antara dokter dengan pasien. penggunaan kokain sangat dibatasi utuk pemakaian topikal khususnya untuk anestesi saluran napas atas. Demikian juga sebenarnya tindakan anestesi memenuhi perumusan KUHP tentang Penggunaan Kekerasan pasal 89 yang berbunyi : “Dianggap sama seperti menggunakan kekerasan suatu tindakan yang membuat seseorang menjadi pingsan atau tidak berdaya”.

dapat dilihat dari 3 standar. Diantaranya terdapat berbagai tingkat kompetensi membuat keputusan tertentu (keputusan yang reasonable berdasarkan alasan yang reasonable). yaitu : . Sedangkan keadaan mental yang dianggap tidak kompeten adalah apabila mempunyai penyakit mental sedemikian rupa sehingga kemampuan membuat keputusan menjadi terganggu. 2005) a. Threshold elements Elemen ini sebenarnya tidak tepat dianggap sebagai elemen.. sadar dan berada dalam keadaan mental yang tidak di bawah pengampuan. Dalam hal ini.23 Tiga elemen Informed consent : (Sampurna. b. Kompeten disini diartikan sebagai kapasitas untuk membuat keputusan medis. Dewasa diartikan sebagai usia telah mencapai 21 tahun atau telah pernah menikah. yaitu pemberi consent haruslah seseorang yang kompeten (cakap). dari sama sekali tidak memiliki kompetensi hingga memiliki kompetensi yang penuh. Information elements Elemen (pengungkapan) ini terdiri dari dua bagian yaitu. Kompetensi manusia untuk membuat keputusan sebenarnya merupakan suaut kontinuum. dkk. disclosure Pengertian dan understanding (pemahaman). Secara hukum seseorang dianggap cakap (kompeten) apabila telah dewasa. seberapa ”baik” informasi harus diberikan kepada pasien. ”berdasarkan pemahaman yang adekuat membawa konsekuensi kepada tenaga medis untuk memberikan informasi (disclosure) sedemikian rupa sehingga pasien dapat mencapai pemahaman yang adekuat. oleh karena sifatnya lebih ke arah syarat.

Dalam standar ini ada kemungkinan bahwa kebiasaan tersebut di atas tidak sesuai dengan nilai-nilai sosial setempat. 4. Gangguan ini sering terjadi di daerah . Dinding rongga yang lemah itu membentuk suatu kantong dengan pintu berupa cincin. voluntariness (kesukarelaan. misrepresentasi ataupun paksaan.24 1) Standar Praktik Profesi Bahwa kewajiban memberikan informasi dan kriteria keadekuatan informasi ditentukan bagaimana biasanya dilakukan dalam komunitas tenaga medis. yaitu dianggap cukup apabila informasi yang diberikan telah memenuhi kebutuhan umumnya orang awam. Hernia a. Consent elements Elemen ini terdiri dari dua bagian yaitu. kebebasan) dan authorization (persetujuan). Pengertian Hernia berasal dari bahasa Latin “herniae” yaitu menonjolnya isi suatu rongga melalui jaringan ikat tipis yang lemah pada dinding rongga. 2) Standar pada reasonable person Standar ini merupakan hasil kompromi dari kedua standar sebelumnya. misalnya resiko yang ”tidak bermakna” (menurut medis) tidak diinformasikan. c. Pasien juga harus bebas dari ”tekanan” yang dilakukan tenaga medis yang bersikap seolah-olah akan ”dibiarkan” apabila tidak menyetujui tawarannya. Kesukarelaan mengharuskan tidak ada tipuan. padahal mungkin bermakna dari sisi sosial pasien.

html). Pada orang dewasa. misalnya perut yang lemah.blogspot. hernia terjadi karena dua faktor. Umumnya pasien . b. Hernia ini terjadi melalui cincin inguinalis dan melewati korda spermatikus melalui kanalis inguinalis. Hernia adalah keluarnya isi tubuh (biasanya abdomen) melalui defek atau bagian terlemah dari dinding rongga yang bersangkutan. Ini umumnya terjadi pada pria daripada wanita.org/wiki/ Hernia). hernia dapat di klasifikasikan menurut macam.25 perut dengan isi yang keluar berupa bagian dari usus (http://id. Hernia ini dapat menjadi sangat besar dan sering turun ke skrotum. Kedua. adanya otot dinding rongga. Berdasarkan kedua definisi di atas. dapat disimpulkan bahwa hernia adalah keluarnya isi tubuh (biasanya abdomen) melalui defek atau bagian terlemah dari dinding rongga yang bersangkutan. dorongan yang menyebabkan tekanan di dalam rongga perut meningkat (http://perawatpskiatri. 1) Macam-macam hernia Berdasarkan macamnya hernia didasarkan menurut letaknya. sifat dan proses terjadinya.wikipedia. seperti : a) Inguinal. Insidennya tinggi pada bayi dan anak kecil. Hernia inguinal ini dibagi lagi menjadi : (1) Indirek / lateralis. Klasifikasi Menurut Erfandi (2009). Pertama. com/2009/04/asuhan- keperawatan-pasien-dengan-hernia.

mengejan atau mengangkat benda berat atau bila posisi pasien berdiri dapat timbul kembali. Pada pasien terlihat adanya massa bundar pada anulus inguinalis eksterna yang mudah mengecil bila pasien tidur. Hernia ini disebut direkta karena langsung menuju anulus inguinalis eksterna sehingga meskipun anulus inguinalis interna ditekan bila pasien berdiri atau mengejan. Benjolan tersebut bisa mengecil atau menghilang pada waktu tidur dan bila menangis. maka hanya akan sampai ke bagian atas skrotum. b) Femoral : Hernia femoralis terjadi melalui cincin femoral dan lebih umum pada wanita daripada pria. tetap akan timbul benjolan. Bila hernia ini sampai ke skrotum.26 mengatakan turun berok. tidak melalui kanal seperti pada hernia inguinalis dan femoralis indirek. sedangkan testis dan funikulus spermatikus dapat dipisahkan dari masa hernia. Karena besarnya defek pada dinding posterior maka hernia ini jarang sekali menjadi ireponibilis. (2) Direk / medialis Hernia ini melewati dinding abdomen di area kelemahan otot. Ini mulai sebagai penyumbat lemak di kanalis femoralis yang membesar dan . Ini lebih umum pada lansia. Hernia inguinalis direk secara bertahap terjadi pada area yang lemah ini karena defisiensi kongenital. burut atau kelingsir atau mengatakan adanya benjolan di selangkangan / kemaluan.

27 secara bertahap menarik peritoneum dan hampir tidak dapat dihindari kandung kemih masuk ke dalam kantung. nutrisi tidak adekuat. Pada bayi yang sudah lahir. Ini biasanya terjadi pada klien gemuk dan wanita multipara. hernia dibagi atas : a) Hernia bawaan atau kongenital Patogenesa pada jenis hernia inguinalis lateralis (indirek). c) Umbilikal : Hernia umbilikalis pada orang dewasa lebih umum pada wanita dan karena peningkatan tekanan abdominal. 2) Terjadinya hernia Berdasarkan terjadinya. yaitu : kanalis inguinalis merupakan kanal yang normal pada fetus. umumnya prosesus ini telah mengalami obliterasi sehingga isi rongga perut tidak dapat melalui kanalis tersebut. terjadi desensus testis melalui kanal tersebut. distensi ekstrem atau kegemukan. Pada bulan ke-8 kehamilan. Ada insiden yang tinggi dari inkarserata dan strangulasi dengan tipe hernia ini. Tipe hernia ini terjadi pada sisi insisi bedah sebelumnya yang telah sembuh secara tidak adekuat karena masalah pascaoperasi seperti infeksi. d) Incisional : batang usus atau organ lain menonjol melalui jaringan parut yang lemah. Namun . Penurunan testis tersebut akan menarik peritonium ke daerah skrotum sehingga terjadi penonjolan peritoneum yang disebut dengan prosesus vaginalis peritonei.

maka pada keadaan yang menyebabkan tekanan intra-abdominal meningkat. Pada orang tua kanalis tersebut telah menutup. . kanalis ini tidak menutup. yaitu bila isi hernia dapat keluar masuk. kanal tersebut dapat terbuka kembali dan timbul hernia inguinalis lateralis akuisita. b) Hernia dapatan atau akuisita (acquisitus = didapat) 3) Menurut sifatnya Berdasarkan sifatnya. hernia dapat disebut : a) Hernia reponibel/reducible. Bila prosesus terbuka terus (karena tidak mengalami obliterasi) akan timbul hernia inguinalis lateralis kongenital. Tidak ada keluhan rasa nyeri ataupun tanda sumbatan usus. yaitu bila isi kantong hernia tidak dapat dikembalikan ke dalam rongga. Bila kanalis kiri terbuka maka biasanya yang kanan juga terbuka. tidak ada keluhan nyeri atau gejala obstruksi usus.28 dalam beberapa hal. Hernia ini juga disebut hernia akreta (accretus = perlekatan karena fibrosis). Namun karena merupakan lokus minoris resistensie. maka kanalis inguinalis kanan lebih sering terbuka. kanalis yang terbuka ini akan menutup pada usia 2 bulan. Usus keluar jika berdiri atau mengedan dan masuk lagi jika berbaring atau didorong masuk. Dalam keadaan normal. Karena testis kiri turun terlebih dahulu. Ini biasanya disebabkan oleh perlekatan isi kantong pada peri tonium kantong hernia. b) Hernia ireponibel.

org/wiki/ Hernia). Etiologi Hernia yang terjadi pada anak-anak lebih disebabkan karena kurang sempurnanya procesus vaginalis untuk menutup seiring dengan turunnya testis atau buah zakar. Selain itu penyakit hernia akan meningkat sesuai dengan penambahan umur. c. carcer = penjara). yaitu bila isi hernia terjepit oleh cincin hernia. adanya pembesaran prostat pada pria. tidak dapat kembali ke dalam rongga perut disertai akibatnya yang berupa gangguan pasase atau vaskularisasi. Hernia inkarserata berarti isi kantong terperangkap. serta orang yang sering mengangkut barangbarang berat. sedangkan gangguan vaskularisasi disebut sebagai “hernia strangulata”. dikarenakan adanya tekanan yang tinggi dalam rongga perut dan faktor usia yang menyebabkan otot dinding perut lemah (http://id. Tekanan dalam perut yang meningkat dapat disebabkan oleh batuk yang kronik. Hal tersebut dapat disebabkan oleh melemahnya jaringan penyangga usus atau karena adanya penyakit . Sementara pada orang dewasa.29 c) Hernia strangulata atau inkarserata (incarceratio = terperangkap. susah buang air besar.wikipedia. Secara klinis “hernia inkarserata” lebih dimaksudkan untuk hernia ireponibel dengan gangguan pasase. Hernia jenis ini merupakan keadaan gawat darurat karenanya perlu mendapat pertolongan segera. Hernia strangulata mengakibatkan nekrosis dari isi abdomen di dalamnya karena tidak mendapat darah akibat pembuluh pemasoknya terjepit.

30 yang menyebabkan tekanan di dalam perut meningkat (http://www. akan terasa nyeri bila isi hernia terjepit oleh cincin hernia. dan infeksi tersebut akhirnya menjalar dan meracuni seluruh tubuh. Patofisiologi Defek pada dinding otot mungkin kongenital karena kelemahan jaringan atau ruas luas pada ligamen inguinal. Umumnya hernia tidak menyebabkan nyeri. 2000). . maka harus segera ditangani oleh dokter karena dapat mengancam nyawa penderita (Mansjoer.html). or. atau di pusar. Bila dua faktor ini ada bersama dengan kelemahan otot. bisa di lipatan paha. Infeksi akibat hernia menyebabkan penderita merasakan nyeri yang hebat.id/hernia-turun-perut-t18449. Tekanan intra-abdominal paling umum meningkat sebagai akibat dari kehamilan atau kegemukan.acehforum. Namun. atau dapat disebabkan oleh trauma. dan jaringan penyangga usus (omentum). Isi hernia yaitu usus. d. seperti pada batuk dancedera traumatik karena tekanan tumpul. Bila ada bagian yang lemah dari lapisan otot dinding perut. yakni bisa ke diafragma (batas antara perut dan dada). Bagian hernia terdiri dari cincin. Mengangkat berat juga menyebabkan peningkatan tekanan. Jika sudah terjadi keadaan seperti itu. ovarium. maka usus dapat keluar ke tempat yang tidak seharusnya. Manifestasi Klinis Keadaan umum pasien biasanya baik. dan isi hernia itu sendiri. bila benjolan tidak tampak pasien dapat disuruh mengejan dengan menutup mulut dalam keadaan berdiri. individu akan mengalami hernia. kantong. e.

f.htm. Penatalaksanaan bedah Perbaikan hernia dilakukan dengan menggunakan insisi kecil secara langsung diatas area yang lemah. Hernia di region inguinal biasanya diperbaikan hernia saat ini dilakukan sebagai prosedur rawat jalan. kantung hernia dibuang dan otot ditutup dengan kencang diatas area tersebut. Beberapa perbaikan sulit dilakukan karena ada insufisiensi massa otot untuk mempertahankan usus ditempatnya. diunduh 13 Agustus 2009). blogspot. 2009.com/ 2009/01/11/Puskesmas_Oke_Hernia. . kecuali menonjol keluar terutama bila mengejan. Hernia. http:// Puskesmas Oke. karena terdapat obstruksi menimbulkan hiperperistalsis dan akhirnya kolik abdomen. hernia yang tidak inkarserata / strangulata tidak memberi gejala apa-apa. Suatu penyokong dapat digunakan untuk mempertahankan hernia berkurang. Bantalan ditempatkan diatas hernia setelah hernia dikurangi dan dibiarkan ditempatnya untuk mencegah hernia dari kekambuhan. g. Usus ini kemudian dikembalikan ke rongga perineal.31 Menurut Erfandi (2009). ¶1. Pada hernia inkarserata / strangulata. Penyokong ini adalah bantalan yang diikatkan ditempatnya dengan sabuk. Klien harus secara cermat memperlihatkan kulit dibawah penyokong untuk memanifestasikan kerusakan (Erfandi. Penatalaksanaan medical Hernia yang tidak terstrangulata atau inkarserata dapat secara mekanis berkurang. Pada kasus ini.

takut yang dihasilkan dari ancaman-ancaman terhadap kebahagiaan dan ketenangan dan dialami oleh semua manusia dengan derajat yang berbeda (Depkes RI.htm.32 graft mata jala tembaga (steel mesh) digunakan untuk menguatkan area herniasi. 2005). kekurangan nutrisi. Sedangkan sumber eksternal bila mengalami paparan terhadap infeksi virus dan bakteri. dkk. Landasan Teori Beberapa teori yang telah diuraikan perlu intervensi berkesinambungan dan fokus untuk informed consent pre anestesi dalam rangka pemahaman persetujuan tindakan medik yang bukan hanya consentnya saja tetapi lebih kepada adanya informed untuk diberikan pada setiap pasien dengan tindakan anestesi.. Kecemasan merupakan keadaan emosi yang tidak menyenangkan yang ditandai dengan istilah seperti khawatir. diunduh 13 Agustus 2009). tegang. Sedangkan sumber eksternal bila .. http://PuskesmasOke. penyesuaian terhadap peran baru. Ancaman intergritas fisik meliputi sumber internal bila pasien mengalami kegagalan mekanisme fisiologi sistem umun. 2009.blogspot. dkk. 2005). ¶2. B. regulasi suhu tubuh dan perubahan biologis (hamil).com/ 2009/01/11/Puskesmas_Oke_Hernia. 2007) Ancaman tersebut dikelompokkan menjadi ancaman integritas fisik dan ancaman terhadap harga diri (Suliswati. polutan lingkungan. Hernia. Klien dengan kesulitan perbaikan biasanya dirawat di rumah sakit selama 1-2 hari untuk mendapatkan antibiotik profilaksis (Erfandi. Sebelum dan sesudah pemberian informed consent tetap memperhatikan respon kecemasan. kecelakaan. tidak adekuatnya tempat tinggal (Suliswati. 2004 dan Stuart. Ancaman terhadap harga diri meliputi sumber internal bila pasien mengalami kesulitan dalam berhubungan interpersonal dirumah dan tempat kerja.

blogspot. Obat bius jenis ini bila digunakan dalam operasi pembedahan. General anestesi pada umumnya dikerjakan dengan induksi secara intravena. ¶ 6. Anestesi Umum.medicastore. intramuskular dan per rektal (Persatuan Perawat Nasional Indonesia Kota Bontang Kalimantan Timur.html..wikipedia.33 mengalami kehilangan orang yang dicintai. 13 Agustus 2009). dkk.htm). 2009. maka setelah selesai operasi tidak membuat lama waktu penyembuhan operasi. Anestesi merupakan suatu tindakan menghilangkan rasa sakit ketika melakukan pembedahan dan berbagai prosedur lainnya yang menimbulkan rasa sakit pada tubuh (http://id. inhalasi. perceraian. diunduh http://ppnibontang.com/2009/03/anestesi-umum_10. perubahan status pekerjaan. tekanan kelompok dan sosial budaya (Suliswati.org/wiki/ Anestesi.com/ apotik_online/obat_bius_lokal. anestesi epidural dan anestesi kaudal (http://www. anestesi spinal. Jenis anestesi lokal dalam bentuk parenteral yang paling banyak digunakan adalah anestesi permukaan. anestesi blok. . 2005). anestesi infiltrasi. diunduh 13 Agustus 2009) General anestesi (anestesi umum) menyebabkan mati rasa yang merupakan tindakan meniadakan nyeri secara sentral disertai hilangnya kesadaran dan bersifat pulih kembali (reversibel). Regional anestesi (anestesi lokal) merupakan obat yang menghambat hantaran saraf bila digunakan secara lokal pada jaringan saraf dengan kadar yang cukup. Tingkat kecemasan pre operasi hernia merupakan kekhawatiran yang tidak jelas dan menyebar yang berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya yang dialami oleh pasien yang akan menjalani operasi hernia dengan tindakan general anestesi maupun regional anestesi.

Kerangka Teori Sumber : Suliswati. kekurangan nutrisi. Anestesi kaudal Tingkat kecemasan pasien pre operasi hernia Ancaman terhadap integritas fisik. (2005). meliputi sumber : 1. Ringan Sedang Berat Panik Gambar 2.htm . PPNI Kota Bontang Kalimantan Timur. regulasi suhu tubuh. Induksi pe rektal. Anestesi infiltrasi c.medicastore.34 Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan di atas. Eksternal : kehilangan orang yang dicintai. (2009) dan http://www.3. Anestesi epidural f. penyesuaian tehadap peran baru. tidak adekuatnya tempat tinggal Ancaman terhadap harga diri. Induksi intravena b. polutan lingkungan. General anestesi a. perubahan biologis normal (hamil) 2. Internal : kesulitan dalam berhubungan interpersonal di rumah dan tempat kerja.com/apotik_online/obat_ bius_lokal. Internal : kegagalan mekanisme fisiologi. 2. Anestesi spinal e. Induksi inhalasi c. dkk. Anestesi permukaan b. maka kerangka teoritis dalam penelitian ini dapat digambarkan seperti berikut di bawah ini : Pendidikan Umur Jenis kelamin Pemberian informed consent pada tindakan : 1. perceraian. Induksi intramuskular d. 2. meliputi : 1. sistem imun. Eksternal : paparan terhadap infeksi virus dan bakteri. perubahan status pekerjaan. tekanan kelompok dan sosial budaya. kecelakaan. Regional anestesi a. Anestesi blok d.

4. Kerangka Konsep Variabel Bebas Variabel Terikat Pemberian informed consent pada tindakan general anestesi dan regional anestesi Tingkat kecemasan pasien pre operasi hernia 1. Hipotesis Penelitian Terdapat perbedaan tingkat kecemasan pasien pre operasi hernia setelah pemberian informed consent pada tindakan general anestesi dan regional anestesi di RSUP Dr. Panik 2.35 C. Sedang 4. Moh. Hoesin Palembang . Berat 3. Kerangka Konsep D. Ringan Variabel Pengganggu Keterangan: : Diteliti : Tidak diteliti Pendidikan Umur Jenis kelamin Gambar 2.

Tempat dan Waktu Pelaksanaan Penelitian dilaksanakan di RSUP Dr. 36 . GA RA Keterangan: GA RA X1 X2 O1 O2 : General anestesi : Regional anestesi : Pemberian informed consent pada tindakan GA : Pemberian informed consent pada tindakan RA : Tingkat kecemasan GA sesudah pemberian informed consent. : Tingkat kecemasan RA sesudah pemberian informed consent. X1 X2 Q1 Q2 B. Moh.BAB III METODE PENELITIAN A. untuk mengetahui perbedaan tingkat kecemasan pasien pre op hernia setelah pemberian informed concent pada tindakan General Anestesi dan Regional Anestesi. Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional dengan observasi Analitik yaitu peneliti mengukur variabel di suatu saat secara bersamaan dan data yang di peroleh mengambarkan kondisi yang terjadi saat penelitian di lakukan.Januari 2010. Hoesin Palembang pada bulan Desember.

Tidak mengalami gangguan jiwa Penentuan besar sampel ditentukan berdasarkan untuk menguji hipotesis proporsi pada dua kelompok. Populasi Populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang menyangkut masalah yang diteliti. Hoesin Palembang. kejadian. 2002). Dapat berkomunikasi dengan baik f. Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien dalam kurun waktu dua bulan dengan tindakan general anestesi dan regional anestesi yang akan menjalani op hernia di RSUP Dr. yaitu sebanyak 54 orang. Umur 20-50 tahun c. b. 2003). Populasi dan Sampel 1. Variabel tersebut bisa berupa orang. n = N 1 + N d2 37 . dengan menggunakan rumus : (Notoatmojo.C. Sampel Sampel adalah bagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi yang diambil dengan cara atau teknik tertentu (Notoatmodjo. perilaku atau sesuatu yang akan dilakukan penelitian (Notoatmodjo. Bersedia menjadi responden. Pendidikan SD – PT d. Kriteria pengambilan sampel yang digunakan sebagai berikut : a. Moh. 2002). 2. e. Rata-rata per bulan pasien yang menjalani op hernia dengan tindakan GA maupun RA sebanyak 27 orang. Pasien pre operasi hernia dengan GA atau RA.

05.577 ≈ 48 Berdasar perhitungan di atas maka sampel yang diambil sebesar 48 orang.052) Dengan rumus di atas peneliti menetapkan N = 54.052 54 1. 38 . 2007). Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. adapun perhitungannya sebagai berikut : n = = 54 1 + 54 0. Variabel bebas Variabel bebas adalah varibel yang menjadi sebab timbulnya atau berubahnya varibel terikat (Sugiyono. d = 0. kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono.135 = 47. 2007). Definisi lain variabel adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut. sehingga untuk masing-masing kelompok didapat 24 orang sebagai sampel. Variabel Penelitian Variabel mengandung pengertian yaitu ukuran atau ciri yang dimiliki oleh anggota suatu kelompok yang berbeda dengan yang dimiliki oleh kelompok lain. D. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pemberian informed consent pada tindakan general anestesi dan regional anestesi.Keterangan : N n d = Besar Populasi = Besar Sampel = Tingkat kepercayaan/ketepatan yang di inginkan (0.

E. nilai 2 bila responden mengalami dua gejala. Tingkat kecemasan diukur dengan menggunakan alat ukur tingkat kecemasan klien yaitu Hamilton Rating Scale for Anxiety (HRS-A). Pemberian informed consent pada tindakan general anestesi dan regional anestesi merupakan intervensi kepada pasien yang akan dilakukan tindakan general anestesi dan regional anestesi dengan cara memberikan Informasi tentang semua tindakan yang berkaitan dengan operasi yang akan dijalani. Variabel terikat Variabel terikat adalah varibel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat. Tingkat kecemasan pasien pre operasi hernia adalah kekhawatiran yang tidak jelas dan menyebar yang berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya yang dialami oleh pasien pre operasi hernia. nilai 1 bila responden mengalami satu gejala. karena adanya variabel bebas (Sugiyono. Masing-masing kelompok gejala diberi penilaian angka (Score) antara 0-4. nilai 3 bila responden mengalami 3 gejala dan nilai 4 bila responden mengalami empat gejala atau lebih. Data hasil pengukuran tingkat kecemasan dikategorikan sebagai berikut (Hawari. Definisi Operasional 1. bila responden tidak mengalami gejala (keluhan) diberi nilai 0. Skala Nominal 2. Alat ukur ini terdiri dari 14 kelompok. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah tingkat kecemasan pasien pre operasi hernia. Informasi yang sudah difahami kemudian disepakati didokumentasikan dalam bentuk lembar persetujuan yang diakhiri dengan penandatanganan dari kedua belah pihak. gejala masing-masing kelompok dirinci lagi dengan gejala-gejala yang lebih spesifik. 2001) : 39 .2. 2007).

Total Nilai (Score) : < 14 14-20 21-27 28-41 42-56 = tidak ada kecemasan. = kecemasan ringan = kecemasan sedang = kecemasan berat = kecemasan berat sekali. Skala Nominal. Variabel ini berupa skala nominal 40 . petani. wiraswasta. SLTA dan Perguruan Tinggi. yang terdiri dari : a. Variabel ini berupa laki-laki dan perempuan. swasta. Jenis kelamin adalah jenis kelamin yang dimiliki oleh subyek penelitian. Jenis anestesi adalah jenis general anastesi dan regional anestesi subyek penelitian yang dijalankan. c. Variabel ini berupa skala nominal. pedagang. Variabel ini berupa skala nominal. Faktor individu yang didapatkan dari kuesioner identitas diri. Pekerjaan adalah jenis pekerjaan yang dimiliki oleh subyek penelitian. mahasiswa. 3. PNS. e. pelajar. Skala : ordinal Untuk kepentingan uji hipotesis digunakan data dengan skala : Interval. buruh. Umur adalah usia subyek penelitian saat pengisian kuesioner. tidak bekerja dan lain-lain. b. skala nominal d. Pendidikan adalah jenjang pendidikan terakhir yang pernah ditempuh pasien SLTP.

coding. dalam penelitian ini peneliti tidak melakukan uji coba karena instrument ini sudah baku. Responden diminta untuk menandatangani surat persetujuan untuk menjadi responden.F. Uji Validitas dan Reliabilitas Hamilton Rating Scala for Anxiety (HRS-A) yang merupakan alat ukur kecemasan responden. 41 . Instrumen Penelitian Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah instrumen tingkat kecemasan Hamilton Rating Scale for Anxiety (HRS-A) (Lampiran 5). transfering dan tabulating. Hawari (2001) menyatakan alat ukur ini dapat di gunakan untuk mengetahui sejauh mana derajat kecemasan seseorang apakah ringan. G. 3 = gejala berat. Teknik Pengumpulan Data Dalam penelitian ini responden terdiri dari dua kelompok yaitu kelompok yang akan menjalani general anestesi dan kelompok yang akan menjalani regional anestesi diamati tingkat kecemasannya. alat ini terdiri dari 14 kelompok gejala. sedang. H. yang artinya adalah nilai 0 = tidak ada gejala (keluhan). 1 = gejala ringan. 4 = gejala berat sekali (panik). 2 = gejala sedang. I. Data dari hasil checklist yang terkumpul kemudian dilakukan pengolahan data dengan langkah-langkah yaitu editing. 2007). Pengolahan dan Analisis Data Pengolahan data pada dasarnya merupakan suatu proses untuk memperoleh data atau data ringkasan berdasarkan kelompok data mentah dengan menggunakan rumus tertentu sehingga menghasilkan informasi yang diperlukan (Setiadi. berat atau berat sekali. Masing-masing kelompok dirinci lagi dengan gejala yang lebih spesifik. Dengan penilaian angka antara 0–4.

Editing / memeriksa Adalah memeriksa kelengkapan data yang telah terkumpul. Metode analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah : a. Mengeluarkan informasi Disesuaikan dengan tujuan penelitian. melihat kebenaran variabel. Cleaning Pembersihan data. b. d. 2. e. Analisa data Metode analisis data ini dilakukan dengan tujuan agar data hasil penelitian yang masih berupa data kasar menjadi lebih mudah untuk dibaca dan diinterpretasikan. yaitu dengan menganalisis variabel-variabel yang ada secara deskriptif dengan menghitung distribusi frekuensi dan proporsinya untuk mengetahui karakteristik responden. f. yaitu: a. Pengolahan data meliputi 6 kegiatan. 42 . Entry data Jawaban yang sudah diberi kode kategori kemudian dimasukkan dalam tabel dengan cara menghitung frekuensi data. 1 untuk gejala ringan. Analisis Univariat. Coding / memberi tanda kode Adalah mengklasifikasikan yaitu pemberian kode 0 untuk tidak ada gejala kecemasan. 2 untuk gejala sedang. Sorting Adalah mensortir dengan memilih atau mengelompokkan data menurut jenis yang dikehendaki (klasifikasi data). 3 untuk gejala berat dan 4 untuk gejala berat sekali (panik) c.1.

yaitu analisis data yang dilakukan untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas yaitu pemberian informed consent pada tindakan general anestesi dan regional anestesi terhadap variabel terikat yaitu tingkat kecemasan pasien pre operasi hernia. Analisis Bivariat.43 b. karena untuk uji hipotesa menggunakan skala interval maka analisa datanya menggunakan independent sample t-test dengan bantuan komputer program SPSS 13 for Windows. 43 .

gedung rawat pasien isolasi dan kamar jenazah. gedung ruang operasi.BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. kelembagaan dan pengelolaannya adalah sesuai dengan PERDA Nomor 7 tahun 2007 tentang Struktur Kelembagaan dan Fungsi RSUD Kabupaten Buru. gedung rawat inap anak. 44 . gedung rawat inap kelas I dan II.365 m2 yang terdiri atas gedung rawat jalan. RSUD Namlea Kabupaten Buru mempunyai total 183 pegawai. gedung rawat inap kelas III. ruangan UGD. Dari 92 PNS. Sebelumnya merupakan UPT Dinas Kesehatan Kabupaten Maluku Tengah. dengan klasifikasi kelas C. 15 PTT Pusat. Kabupaten Buru dan Kabupaten MTB. Gambaran RSUD Namlea Kabupaten Buru RSUD Namlea Kabupaten Buru adalah rumah sakit milik pemerintah Kabupaten Buru yang didirikan pada tahun 1983. 2 pegawai honor daerah. gedung radiologi. gedung kantor.468 m2 dengan luas bangunan 1. seiring dengan terbitnya Undang-Undang Nomor 46 tahun 1999 tentang pembentukan Provinsi Maluku Utara. yang terdiri dari 92 PNS. Saat ini status. gudang generator dan gedung instalasi gizi. tetapi dalam perkembangannya. maka secara otomatis RSUD Kabupaten Buru menjadi UPT Dinas Kesehatan Kabupaten Buru. 63 PTT daerah dan 9 pegawai sukarela. gedung kebidanan. RSUD Namlea Kabupaten Buru berdiri diatas tanah seluas 3. 2 pegawai kontrak.

Organisasi RSUD Namlea Kabupaten Buru terdiri dari beberapa instalasi. Pegawai kontrak (residen) terdiri dari 2 orang. instalasi gawat darurat. 54 orang paramedis perawatan. 17 paramedis non perawatan. 7 orang tenaga paramedis non perawatan dan 28 orang tenaga non paramedis. spesialis obstetri dan gynekologi. 2 dokter gigi. 2 orang tenaga paramedis non perawatan dan 1 orang tenaga non paramedis. yaitu bedah dan anastesi yang diperbantukan di RSUD Namlea sesuai kompetensinya berdasarkan perjanjian kerjasama antara pemerintah Kabupaten Buru dan Universitas Hasanuddin mengenai Peningkatan Pelayanan Spesialis di RSUD Namlea. . yang terdiri dari 10 dokter umum. yang terdiri dari 1 orang dokter umum.45 terdiri dari 2 dokter ahli yaitu ahli Obstetri dan Ginekologi dan ahli Radiologi. yang terdiri dari 6 orang tenaga paramedis peraatan. 1 dokter spesialis paru dan 2 tenaga bidan. 14 tenaga administrasi. spesialis anestesi dan spesialis radiologi. Selain itu terdapat 9 orang pegawai sukarela. Dalam peningkatan mutu pelayanan kesehatan sampai tahun 2009 RSUD Namlea Kabupaten Buru sudah mencakup pelayanan spesialis bedah. instalasi bedah sentral dan instalasi penunjang. Pegawai honorer daerah terdiri dari 2 orang tenaga non paramedis. 28 tenaga paramedis perawatan. 1 orang apoteker. yang terdiri dari intalasi rawat jalan. instalasi rawat inap. Tenaga medis PTT pusat 15 orang. spesialis paru. PTT Daerah 63 orang. 4 dokter umum dengan 1 orang berstatus tugas belajar pada PPDS Penyakit Dalam Universitas Brawijaya Malang.

3%) berjenis kelamin laki-laki. Sebagian besar responden yaitu 25 orang (83. sedangkan sisanya 13 orang (43. pengalaman mengenai operasi dan status sosial. Sebagian besar responden yaitu 24 orang (80. yaitu : < 40 tahun dan ≥ 40 tahun. teknik general anestesi.7%) berjenis kelamin perempuan.3%) dilakukan tindakan general anestesi fase mask. Sebagian besar responden yaitu 17 orang (46. Total responden dalam penelitian ini berjumlah 30 orang. Jumlah Responden Responden yang digunakan dalam penelitian ini adalah pasien pre general anestesi dengan tindakan appendiktomi yang berada di RSUD Namlea Kabupaten Buru. Karakteristik responden Data umur responden penelitian menunjukkan bahwa pasien yang memiliki umur paling rendah 17 tahun dan maksimum berusia 60 tahun. pendidikan. .46 B.0%) memiliki usia < 40 tahun. sedangkan sisanya 6 orang (20%) memiliki usia ≥ 40 tahun. b. Dalam penelitian ini diperoleh data tentang karakteristik responden berdasarkan usia. Peneliti selanjutnya mengelompokkan umur menjadi dua.7%) dilakukan intobasi. Rata-rata umur responden di kedua kelompok tanpa mobilisasi dan dengan mobilisasi adalah 42 tahun. pekerjaan. jenis kelamin. Hasil Penelitian Analisis Univariat a. sedangkan sisanya 5 orang (16.

Laki-laki b.3%). SLTA d.3 46. hanya 3 orang (10. Adapun responden yang mempunyai pekerjaan sebagai pensiunan dan tidak bekerja masing-masing hanya 1 orang (3.3 40. SD b. ≥ 40 tahun Jenis Kelamin a.3 100 2 3 4 5 . PNS b.0 43.0%) responden yang berpendidikan SD.1 : Distribusi responden sebelum dan sesudah pemberian informed consent pada pasien pre general anestesi dengan tindakan apendiktomi di RSUD Namlea Kabupaten Buru Tahun 2010 No 1 Karakteristik Umur a. SLTP c.0 10. Sebagian besar responden yaitu 12 orang (40.3 16.47 Sebagian besar responden yaitu 16 orang (53.7 13. Adapun hasil dapat dilihat dalam Tabel 4. Petani d.7 23. Tidak bekerja Total Frekwensi 24 6 13 17 25 5 3 6 16 5 7 2 4 12 3 1 1 30 Persen (%) 80. IRT f.0 20.0 20. Intobasi Pendidikan a. Pedagang c.3%) berpendidikan SLTA.3 6.7 83. Pelajar e.1 sebagai berikut : Tabel 4. Pensiunan g.3 3.7 10.3 16.0%) mempunyai pekerjaan sebagai pelajar. Perempuan Teknik General Anestesi a. Fase Mask b. D3/S1 Pekerjaan a.0 53.0 3. < 40 tahun b.

2 tersebut nampak jelas bahwa tingkat kecemasan sebelum pemberian informed consent pada pasien pre general anestesi dengan tindakan apendiktomi di RSUD Namlea Kabupaten Buru sebagian besar yaitu 25 orang (83.48 c.0 100% Dalam tabel 4.3 16.0 83.2 Distribusi frekwensi berdasarkan tingkat kecemasan sebelum pemberian informed consent pada pasien pre general anestesi dengan tindakan apendiktomi di RSUD Namlea Kabupaten Buru Tahun 2010 No 1 2 3 4 5 Kriteria Tingkat Kecemasan Tidak ada gejala (keluhan) Gejala ringan Gejala sedang Gejala berat Gejala berat sekali (panik) Total Frekwensi 0 0 25 5 0 30 Persen 0.7%) mempunyai gejala berat. .7 0. Distribusi tingkat kecemasan sebelum dan sesudah pemberian informed consent pada pasien pre general anestesi dengan tindakan apendiktomi Distribusi responden berdasarkan tingkat kecemasan sebelum dan sesudah pemberian informed consent pada pasien pre general anestesi dengan tindakan apendiktomi pada penelitian ini tersaji dalam berikut.0 0. Tabel 4. sedangkan sisanya yaitu 5 orang (16.3%) mempunyai gejala sedang.

3 86.0 0. sedangkan sisanya 4 orang (13.7) memiliki tingkat kecemasan dengan gejala ringan. Analisis inferensial perbedaan tingkat kecemasan sebelum dan sesudah pemberian informed consent pada pasien pre general anestesi dengan tindakan appendiktomi Hipotesis dalam penelitian ini adalah terdapat perbedaan tingkat kecemasan sebelum dan sesudah pemberian informed consent pada pasien pre general anestesi dengan tindakan appendiktomi pemberian di RSUD Namlea Kabupaten Buru.0 100% Dalam tabel 4.3 Distribusi frekwensi berdasarkan tingkat kecemasan sesudah pemberian informed consent pada pasien pre general anestesi dengan tindakan apendiktomi di RSUD Namlea Kabupaten Buru Tahun 2010 No 1 2 3 4 5 Kriteria Tingkat Kecemasan Tidak ada gejala (keluhan) Gejala ringan Gejala sedang Gejala berat Gejala berat sekali (panik) Total Frekwensi 4 26 0 0 0 30 Persen 13.0 0. Data tingkat informed consent untuk mengetahui .3%) tidak menunjukkan adanya gejala kecemasan.49 Tabel 4.7 0.3 tersebut nampak jelas bahwa tingkat kecemasan sesudah pemberian informed consent pada pasien pre general anestesi dengan tindakan apendiktomi di RSUD Namlea Kabupaten Buru sebagian besar yaitu 26 orang (86.

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa pasien sebelum diberi informed consent sebagian besar yaitu 25 orang (83. sedangkan sisanya 5 orang (16.0 8.3 0. Pasien yang sudah diberi informed consent sebagian besar yaitu 26 orang (86.0 100.0 41.7 43.7%) mengalami kecemasan tingkat ringan. Untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan tingkat kecemasan sebelum dan sesudah pemberian informed consent pada pasien pre general anestesi dengan tindakan appendiktomi digunakan Wilcoxon Rank Test.7 Ringan n 0 26 26 % 0.0 4 4 13.4 Uji Beda Wilcoxon tingkat kecemasan sebelum dan sesudah pemberian informed consent pada pasien pre general anestesi dengan tindakan apendiktomi Gejala Tingkat Kecemasan Perlakuan Tidak ada gejala (keluhan) n % 0 0.3%) mengalami kecemasan tingkat sedang.000 .0 86.3 Sedang n 25 0 25 % 83.0 for windows.7 0.0 P Sebelum informed consent Setelah informed consent 0.3 n 30 30 60 Total % 100.7%) mengalami tingkat kecemasan berat.50 kecemasan pada pasien pre general anestesi dengan tindakan appendiktomi yang diperoleh dari uji instrumen The Amsterdam Preoperatif Anxiety and Information Scale (APAIS) pada 30 orang.3 6. Uji statistik dalam penelitian ini menggunakan bantuan komputer yaitu program SPSS 13. .7 n 5 0 5 Berat % 16. Berikut ini adalah hasil Wilcoxon Rank Test : Tabel 4.

17 dan rata-rata skor tingkat kecemasan sesudah pemberian informed consent 1.05) antara pasien sebelum dan sesudah diberi informed consent.000 (p < 0. Pembahasan Data penelitian menunjukkan tingkat kecemasan responden sebelum dan sesudah pemberian informed consent pada pasien pre general anestesi dengan tindakan appendiktomi sebagian besar berumur < 40 tahun. penyebab apendicitis diduga disebabkan oleh meningkatnya pola makan berserat .51 sedangkan sisanya 4 orang (13.87.3%) tidak mengalami gejala kecemasan. C. Seperti dalam teori Mansjoer (2000). berdasarkan uji Wilcoxon tersebut disimpulkan bahwa tingkat kecemasan sesudah pemberian informed consent lebih kecil dibandingkan tingkat kecemasan sebelum pemberian informed consent. Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa hasil analisis data menggunakan Wilcoxon Rank Test dengan hasil terdapat perbedaan tingkat kecemasan yang signifikan (bermakna) dengan p = 0. Berdasarkan uji tersebut dapat diketahui bahwa ratarata skor tingkat kecemasan sebelum pemberian informed consent sebesar 3. sehingga dari ratarata tersebut dapat diketahui bahwa tingkat kecemasan pasien sesudah pemberian sebelum informed diberi consent informed akan berkurang Dan dibandingkan consent.

informed consent juga merupakan salah satu syarat atau payung yang digunakan para peneliti atau para dokter dalam melakukan suatu tindakan yang akan diambil terhadap kliennya (Andalas. Kecemasan berbeda dengan rasa takut. kecemasan adalah kekhawatiran yang tidak jelas dan menyebar yang berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya. . kegunaan dan juga kemungkinan risiko yang mungkin terjadi akibat suatu proses atau tindakan yang akan diambil. 2007). Ketakutan disebabkan oleh hal yang bersifat fisik dan psikologis ketika individu dapat mengidentifikasi dan menggambarkannya (Suliswati dkk.52 dalam menu sehari-hari. cara kerja. Selain itu. Informed consent (persetujuan setelah penjelasan) didefinisikan sebagai penjelasan kepada seseorang terhadap apa yang akan dilakukan pada seorang pasien mencakup tujuan. setelah itu menurun. berpendidikan SLTA dan pekerjaan sebagai pelajar yang menjalani operasi apendiktomi berdasarkan nomor urut pasien yang masuk ke kamar operasi. 2005). Menurut (Stuart. 2009). karakteristik rasa takut adalah obyek atau sumber yang spesifik dan dapat diidentifikasi serta dapat dijelaskan oleh individu. insiden tertnggi terjadi pada kelompok umur 20-30 tahun. Dalam penelitian ini menggunakan teknik aksidental. sehingga dapat dimungkinkan banyak pasien dengan jenis kelamin perempuan dengan teknik general anestesi fase mask. Rasa takut terbentuk dari proses kognitif yang melibatkan penilaian intelektual terhadap stimulus yang mengancam.

disclosure (pengungkapan) dan understanding (pemahaman).53 Menurut Sampurna. Tiga elemen yang perlu diperhatikan dalam pemberian informed consent. dan bertemunya pemikiran tentang apa yang akan dan tidak akan dilakukan terhadap pasien. information elements dan consent elements. voluntariness (kesukarelaan. yaitu treshold elements. Artinya pemahaman yang adekuat membawa konsekuensi tenaga medis untuk memberikan informasi (disclosure) sedemikian rupa sehingga pasien dapat mencapai pemahaman yang adekuat. (2005). Kesukarelaan kebebasan) dan authorization (persetujuan).. Selanjutnya information elements. informed consent adalah suatu proses yang menunjukkan komunikasi yang efektif antara dokter dengan pasien. Informed consent dilihat dari aspek hukum bukanlah sebagai perjanjian antara dua pihak. Pada treshold elements. elemen ini sifatnya lebih ke arah syarat. Selain itu consent elements. melainkan lebih ke arah persetujuan sepihak atas layanan yang ditawarkan pihak lain. yaitu pemberi consent haruslah seseorang yang kompeten (cakap) dalam membuat keputusan medis. elemen ini terdiri dari dua bagian yaitu. dkk. misrepresentasi mengharuskan tidak ada tipuan. elemen ini terdiri dari dua bagian yaitu. . ataupun paksaan serta pasien juga harus bebas dari ”tekanan” yang dilakukan tenaga medis yang bersikap seolah-olah akan ”dibiarkan” apabila tidak menyetujui tawarannya.

Dalam penelitian ini diketahui bahwa tingkat kecemasan sebelum pemberian informed consent sebagian besar yaitu 25 orang (83.54 Berdasarkan hasil penelitian di atas diketahui bahwa tingkat kecemasan sebelum dan sesudah pemberian informed consent pada pasien pre general anestesi dengan tindakan apendiktomi terdapat perbedaan yang signifikan. Hal ini ditunjukkan oleh perhitungan Wilcoxon Rank Test yang berbeda secara bermakna dengan p = 0. Hal itu senada dengan penelitian ini karena setelah pemberian informed consent pada pasien pre general anestesi dengan tindakan appendiktomi sebagian besar yaitu 26 orang .05) antara pasien sebelum dan sesudah diberi informed consent.7%) responden menunjukkan gejala kecemasan ringan. Selanjutnya sesudah pemberian informed consent sebagian besar yaitu 26 orang (86.7%) mengalami kecemasan ringan dan 19 responden (63. Marlinda (2000) dari hasil penelitiannya menunjukkan bahwa pasien yang diberi informasi pre operasi terhadap kecemasan pasien yang akan menjalani apendiktomi sebagian besar yaitu 30 responden (36. karena tingkat kecemasan sesudah pemberian informed consent lebih kecil dibandingkan sebelum pemberian informed consent.000 (p < 0.3%) mengalami kecemasan berat serta ada pengaruh yang signifikan antara informasi yang diperoleh dengan tingkat kecemasan pasien yang akan menjalani apendektomi.3%) responden menunjukkan gejala kecemasan sedang.

55

(86,7%) mengalami kecemasan ringan dan sisanya 4 orang (13,3%) tidak mengalami kecemasan. Menurut peneliti pemberian informed consent pada pasien pre general anestesi dengan tindakan apendiktomi merupakan suatu komunikasi antara perawat dengan pasien yang membahas tentang apa yang akan dan tidak akan dilakukan terhadap pasien serta mencakup tujuan, cara kerja, kegunaan dan juga kemungkinan risiko yang terjadi akibat suatu proses atau tindakan diambil. Adapun faktor yang dapat mempengaruhi timbulnya kecemasan antara lain faktor genetik, faktor demografi, dan faktor psikologis. Selain itu ada pula faktor pencetus, faktor perentan, dan faktor pembentuk gejala. Faktor genetik berkaitan dengan gen keturunan dan jenis kelamin, umumnya stress dan kecemasan lebih banyak dialami wanita dikarenakan faktor hormonal. Faktor demografi berkaitan dengan usia dimana individu yang matur adalah individu yang memiliki kematangan kepribadian, lebih sukar mengalami stress karena individu yang matur mempunyai daya adaptasi yang besar terhadap stressor yang timbul. Latar belakang faktor sosial berkaitan dengan strata sosial,

kebudayaan, agama, dan falsafah hidup. Faktor pencetus kecemasan misalnya kehilangan pekerjaan dan dikucilkan dari lingkungan sekitar. Faktor perentan antara lain hubungan suami istri tidak harmonis, tidak punya pekerjaan. Faktor pembentuk gejala antara lain pendidikan, pengetahuan, pengalaman sebelumnya, pekerjaan dan sosial

56

ekonomi. Kecemasan yang timbul dapat sedikit banyak ditolerir dengan adanya pola pikir yang didapatkan dari proses pendidikan. Adapun pendidikan dan status sosial ekonomi rendah dianggap lebih banyak mengalami stress dan kecemasan.

D. Keterbatasan Penelitian Penelitian ini memiliki keterbatasan yaitu jumlah responden yang relatif sedikit yaitu 30 responden dan memperhatikan

homogenitas teknik general anestesi yang digunakan. Dengan demikian untuk peneliti yang akan datang sebaiknya menambah jumlah responden dan memperhatikan faktor homogenitas

responden.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang

perbedaan tingkat kecemasan sebelum dan sesudah pemberian informed consent pada pasien pre general anestesi dengan tindakan appendiktomi di RSUD Namlea Kabupaten Buru, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. Responden general anestesi dengan tindakan apendiktomi

sebelum pemberian informed consent sebagian besar mengalami kecemasan sedang (83,3%). 2. Responden general anestesi dengan tindakan apendiktomi

sesudah pemberian informed consent sebagian besar mengalami kecemasan ringan (86,7%). 3. Terdapat perbedaan tingkat kecemasan pada pasien pre general anestesi dengan tindakan appendiktomi antara sebelum dan sesudah pemberian informed consent di RSUD Namlea Kabupaten Buru. Hal ini ditunjukkan dengan signifikasi sebesar 0,000 (p < 0,05). Dengan demikian hipotesa yang diajukan terbukti. Artinya pemberian informed consent pre general anestesi mempengaruhi tingkat kecemasan pasien dengan tindakan appendiktomi.

57

Perawat di RSUD Namlea Kabupaten Buru Dapat berperan aktif memberikan informed consent pada pasien dalam menangani kecemasan pre general anestesi yang akan menjalani operasi appendiktomi sehingga dapat memberikan dampak menguntungkan kepada pasien. disarankan untuk melakukan penelitian dengan memodifikasi desain penelitian yang menghubungkan antara karakteristik subyek penelitian terutama pada faktor yang dapat mempengaruhi tingkat kecemasan pada pasien pre general anestesi dengan tindakan appendiktomi agar hasilnya lebih bermanfaat bagi pasien. 3. Saran 1. Peneliti berikutnya Peneliti yang berkenan melanjutkan penelitian ini. .58 B. Kepala RSUD Namlea Kabupaten Buru Membuat kebijakan dalam memberikan informed consent untuk mempersiapkan pasien yang akan menjalani tindakan operasi dengan general anestesi baik secara psikologis maupun fisiologis untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan pasien akan merasa puas sehingga loyalitas pasien terhadap pelayanan di rumah sakit bisa dipertahankan 2.

Jakarta.N. Yayasan Essentia Medica. Arif dkk. Rineka Cipta. Sjamsuhidayat dan Wim De Jong. Metodologi Penelitian Kesehatan. Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Panduan untuk Mengatasi Kecemasan. B. H. 2003. Tjetjep D. Buku Ajar Ilmu Bedah. Konsep dan Penulisan Riset Keperawatan. Kapita Selekta Kedokteran.htm Notoatmodjo. I. MA.blogspot. 2004. Yogyakarta.htm.blogspot. 2007.S. Manajemen Stres Cemas dan Depresi.I & Sanddock. EGC. Bioetik dan Hukum Kedokteran. Wiguno. 2009. S. 1997. Jakarta. Mansjoer. 2005. Diunduh tanggal 13 Agustus 2009. Hernia.com/2009/01/11/Puskesmas_Oke_Herni a.com/2009/03/anestesi-umum_10. Kesuma W. Jakarta. Jakarta Depkes RI. 2009. Mengenai Mekanisme Pertahanan Diri. dari http://www. Handerson. S. Diunduh tanggal 10 Agustus 2009. 2000. Rineka Cipta.yakita. Diunduh tanggal 13 Agustus 2009 dari http://PuskesmasOke. Kaplan. dari http://ppnibontang. Mu’tadin.DAFTAR PUSTAKA Arikunto. 2002. 2003. 2006.or. Jakarta. Editor. Jakarta : Fakultas Kedokteran Trisakti. Erfandi. 1997. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. PT Buana Ilmu Populer Jakarta. Stress Dalam Hidup Kita. 2002. Balai Penerbit FKUI. Guwandi. Jakarta. Sampurna. Froggatt. Jakarta. Setiadi. 2002. Graha Ilmu. 2004. Cetakan I. Rineka Cipta.. Semarang . Gangguan Kecemasan Sinopsis Psikiatri Ilmu Pengetahuan Psikiatri Klinis. Pengantar bagi Mahasiswa Kedokteran dan Hukum. Hukum Kesehatan Rambu-rambu bagi Profesi Dokter.. Ilmu Bedah untuk Perawat. Media Aesculapius Fakultas Kedokteran. Sofyan Dahlan. Notoatmodjo. PT. B. Informed consent.J. Edisi 3.. Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan Depkes RI.html. Hawari. Anestesi Umum. Edisi 2. Prosedur Penelitian.id/kecemasan. Penerbit Pustaka Dwipar. 2003. Yogyakarta. Persatuan Perawat Nasional Indonesia Kota Bontang Kalimantan Timur. Zulhasmar. Balai Penerbit FKUI. Alih Bahasa. 1997. Jakarta. Jakarta.

com/informedconsent_a1/informedconsent. diunduh .wikipedia. Edisi 3. Konsep Dasar Keperawatan Kesehatan Jiwa.htm.org/wiki/Hernia. diunduh tanggal 10 Agustus 2009 http://www. diunduh tanggal 13 Agustus 2009.htm. Suliswati dkk.Stuart dan Sundeen. http://id. Statistik untuk Penelitian. Alfabeta. http://www. 2007.com/apotik_online/obat_bius_lokal. diunduh tanggal 13 Agustus 2009.medicastore. Jakarta http://www.acehforum.org/wiki/Anestesi.id/hernia-turun-perut-t18449. http://www.freewebs.com/2009/04/asuhan-keperawatan-pasiendengan-hernia. diunduh tanggal 10 Agustus 2009 http://perawatpskiatri. Bandung. tanggal 15 Agustus 2009.or. EGC Jakarta Sugiyono. diunduh tanggal 13 Agustus 2009.html. 2005.wikipedia.html. Cetakan 1. blogspot. 2007. EGC. Keperawatan Jiwa.

LAMPIRAN .

Prabu Baladewa . Moh.maka saya mohon kesediaan bapak/ibu untuk menandatangani lembar persetujuan saya dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang saya sertakan. Saya yang bertanda tangan di bawah ini adalah mahasiswa Program Diploma IV Politeknik Kesehatan Yogyakarta Jurusan Keperawatan Anestesi Reanimasi : Nama NIM : Prabu Baladewa : P7120208027 Akan melakukan penelitian dengan judul “Perbedaan Tingkat Kecemasan Pasien Pre operasi Hernia Setelah Pemberian Informed consent pada Tindakan General Anestesi dan Regional Anestesi di RSUP Dr. Atas perhatian dan kesediaan ibu sebagai responden saya ucapkan terima kasih. Hoesin Palembang”. Penelitian ini tidak akan menimbulkan akibat yang merugikan bagi bapak/ibu sebagai responden. Jika bapak/ibu menyetujui. Moh. Jika bapak/ibu tidak bersedia menjadi responden dalam penelitian ini. Peneliti. maka tidak ada ancaman bagi bapak/ibu. Hoesin Palembang Dengan hormat.Lampiran 1 PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN Kepada Yth : Bapak / Ibu calon responden Di RSUP Dr. Kerahasiaan semua informasi akan dijaga dan dipergunakan untuk kepentingan penelitian.

................. Penelitian ini tidak akan merugikan saya ataupun berakibat buruk bagi saya dan keluarga saya.. Dengan ini saya bersedia berpartisipasi sebagai responden dalam penelitian yang dilakukan oleh saudara Prabu Baladewa selaku mahasiswa DIV Keperawatan Anestesi Reanimasi Politeknik Kesehatan Yogyakarta dengan judul “Perbedaan Tingkat Kecemasan Pasien Pre operasi Hernia Setelah Pemberian Informed consent pada Tindakan General Anestesi dan Regional Anestesi di RSUP Dr....) ...................................………............ Hoesin Palembang”....................Lampiran 2 SURAT PERSETUJUAN RESPONDEN Saya yang bertanda tangan di bawah ini : Nama Umur Alamat : . : ....... Demikian surat persetujuan ini saya buat untuk dapat dipergunakan sebagaimana mestinya. Yogyakarta....... Moh.... : ................................................. September 2009 Responden (………........... maka jawaban yang saya berikan adalah yang sebenarbenarnya..... dengan suka rela dan tanpa paksaan dari siapapun...

. ) ttd ( ………………………….................. Dari penjelasan yang diberikan................................. ttd ( ………………………….................... serta tindakan medis yang akan dilakukan dan kemungkinana pasca tindakan yang dapat terjadi sesuai penjelasan yang diberikan................................... ........................................ (L/P) : ..................................... telah saya mengerti segala hal yang berhubungan dengan penyakit tersebut............ (L/P) : ........ Dokter/Pelaksana.................................................................. : ........... ) *Coret yang tidak perlu ........... : .................................. September 2009 Yang membuat pernyataan..... ) Saksi Keluarga / Perawat / Bidan*) ( ....................................Lampiran 3 SURAT PERSETUJUAN/PENOLAKAN MEDIS KHUSUS Saya yang bertanda tangan di bawah ini : Nama Umur/Tgl Lahir Alamat Telp : ....... Palembang................................................... dari saya sendiri/*sebagai orang Menyatakan dengan sesungguhnya tua/*suami/*istri/*anak/*wali dari : Nama Umur/Tgl Lahir : ......................... Dengan ini menyatakan SETUJU / MENOLAK untuk dilakukan Tindakan Medis berupa .................

................. Jenis general anestesi a. Induksi intravena b..........Lampiran 4 IDENTITAS RESPONDEN 1..... PNS b...... Pekerjaan a.. Induksi inhalasi c........ Induksi pre rektal... 6.. Jenis regional anestesi a........... Anestesi blok d........... Tamat SLTA d... Alamat 5. Anestesi kaudal : 7. Jenis Kelamin 4.......... : ............... Anestesi permukaan b.. Swasta c... Tamat SD b. Nama 2. Anestesi infiltrasi c. Wiraswasta g...... Anestesi spinal e............ Petani f. Anestesi epidural f........... Induksi intramuskular d....... Lain-lain . Tamat Perguruan Tinggi (D3/S1) 8...... Tingkat Pendidikan (formal) a... Pedagang e... Tamat SLTP c.......... Umur/Tanggal Lahir 3.......... : L/P : .... Tidak Bekerja h........ ................... : : .... Buruh d..

Sakit dan nyeri di otot b. Gemetar g. Cemas b. Gangguan tidur 0 1 2 3 4 a. Mimpi menakutkan 5. Tidur tidak nyenyak d. Mudah terkejut e. Gejala somatik/fisik (otot) 0 1 2 3 4 a. Ditinggal sendiri d. Lesu c. Pada gelap b. Pada orang asing c. Kaku c. Mudah menangis f. Sedih d. Pada kerumunan orang banyak 4. Berkurangnya kesenangan pada hobi c. 3 = gejala berat. Mudah tersinggung 2. Merasa tegang b. Mimpi buruk g. 1 = gejala ringan. Bangun dini hari e. Gangguan kecerdasan 0 1 2 3 4 a. Banyak mimpi-mimpi f. Pada keramaian lalu lintas e. Daya ingat buruk 6. Daya ingat menurun c. Gejala Kecemasan Nilai (Score) 1. Takut akan pikiran sendiri d. Sukar tidur b. Perasaan berubah-ubah sepanjang hari 7. yang artinya adalah nilai 0 = tidak ada gejala (keluhan). Perasaan cemas (ansietas) 0 12 3 4 a.Lampiran 5 INSTRUMEN PENELITIAN TINGKAT KECEMASAN HAMILTON RATING SCALA FOR ANXIETY (HRS-A) penilaian angka antara 0–4. Bangun dengan lesu e. Firasat buruk c. Kedutan otot . Ketakutan 0 1 2 3 4 a. Gelisah 3. Perasaan depresi (murung) 0 1 2 3 4 a. Tidak bisa istirahat tenang d. 4 = gejala berat sekali (panik). Sukar konsentrasi b. Ketengangan 0 1 2 3 4 a. Terbangun malam hari c. 2 = gejala sedang. Hilangnya minat b.

Gejala urogenital (perkemihan dan kelamin) a. Gejala resoiratorik (pernafasan) a. Gelisah b. Suara tidak stabil 8. Rasa lesu/lemas seperti mau pingsan f. Merasa lemas e. Mulut kering b. Muka berkeringat d. Denyud nadi mengeras e. Perut melilit c. Gejala autonom a. Perasaan di tusuk-tusuk 9. Gejala gastrointestinal (pencernakan) a. Gejala kardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah) a. Kaku e. Jari gemetar d. Sulit menelan b. Nafas pendek dan cepat 0 1 2 3 4 0 1 2 3 4 0 1 2 3 4 0 1 2 3 4 0 1 2 3 4 0 1 2 3 4 0 1 2 3 4 . Muka merah c. Tidak dapat menahan air seni c. Tinitus (telinga berdenging) b. Sukar buang air besar 12.d. Muka tegang f. Sering buang air kecil b. Kepala terasa berat 14. Darah haid berlebihan e. Muka merah atau pucat d. Rasa tertekan atau sempit di dada b. Gejala somatik/fisik (sensorik) a. Kepala pusing e. Tekanan darah tinggi 10. Tidak datang bulan d. Takikardia (deyud jantung cepat) b. Berdebar-debar c. Gigi gemerutuk f. Nyeri dada d. Nyeri sebelum dan sesudah makan d. Detak jantung menghilang (berhenti sekejap) g. Sering menarik nafas d. Penglihatan kabur c. Tingkah laku (sikap) pada wawancara a. Mual e. Menjadi dingin 13. Nafas pendek / sesak 11. Tidak tenang c. Kerut kening e. Rasa tercekik c.

Pelaksanaan penelitian 7 Pengolahan Data 8. Perijinan penelitian 5. Revisi proposal Skripsi 4. Penyusunan proposal Skripsi 2. Persiapan penelitian 6. Sidang Skripsi 10 Revisi laporan Skripsi Agustus 2 3 4 1 Sept 2 3 4 1 Oktober 2 3 4 1 Nov 2 3 4 1 Des 2 3 4 Januari’10 1 2 3 4 . Seminar proposal Skripsi 3. Laporan Skripsi 9.Lampiran 6 RENCANA JADWAL PENELITIAN WAKTU No Kegiatan 1 1.

00 proposal Pengetikan.00 350.00 Jumlah 5.000. Pelaksana penelitian Pengolahan data Laporan skripsi Sidaing skripsi Transportasi/akomodasi Jasa pengolahan data Pengetikan Penggandaan Revisi laporan Pengetikan dan penjilidan skripsi akhir Biaya tak terduga . penggandaan dan penjilidan proposal Pengetikan.00 100.00 200.000.00 350.500.00 350.250.00 2.000.00 300. penggandaan dan penjilidan Biaya perijinan Perijinan penelitian checklist Persiapan penelitian Penggandaan instrumen penelitian.00 300.000.000.00 250.000.000.00 250.000.Lampiran 10 RENCANA ANGGARAN PENELITIAN No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Kegiatan Penyusunan Proposal Skripsi Seminar skripsi Revisi skripsi Bahan dan alat Pengetikan Biaya (Rp) 300.000.000.000.000.