P. 1
TEKNIK BUDIDAYA KELAPA SAWIT

TEKNIK BUDIDAYA KELAPA SAWIT

|Views: 9,703|Likes:
Published by Amin No Hitori

More info:

Published by: Amin No Hitori on Apr 04, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/14/2014

pdf

text

original

DAFTAR ISI

1. PENDAHULUAN .................................................................................. A. Syarat-Syarat Tumbuh Kelapa Sawit ............................................... B. Jenis-Jenis Tanah .............................................................................. 2. PEMBIBITAN ........................................................................................ A. Perkecambahan ................................................................................. B. Pembibitan Awal .............................................................................. C. Pembibitan Utama ............................................................................ D. Seleksi .............................................................................................. 3. PERSIAPAN LAHAN DAN PENANAMAN BIBIT .......................... A. Teknik Pembukaan Lahan ................................................................ B. Jaringan Jalan ................................................................................... C. Drainase ............................................................................................ 4. PENANAMAN ....................................................................................... A. Penentuan Jarak Tanam .................................................................... B. Pemasangan Ajir ............................................................................... C. Lubang Tanam .................................................................................. D. Penanaman ........................................................................................ E. Tanaman Penutup Tanah .................................................................. 5. PEMELIHARAAN ................................................................................ A. Pengendalian Gulma ......................................................................... B. Kastrasi ............................................................................................. C. Pemupukan ....................................................................................... D. Pengendalian Hama dan Penyakit .................................................... E. Penunasan ......................................................................................... 6. PANEN .................................................................................................... 1 2 2 4 4 4 5 6 6 6 7 8 9 9 9 10 10 11 11 11 11 12 15 16 16

1. PENDAHULUAN

Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jack) diduga berasal dari dua tempat, yaitu Amerika Selatan dan Afrika. Spesies Elaeis oleivera diduga berasal dari Amerika Selatan dan spesies Elaeis guineensis berasal dari Afrika (Guenia). Kelapa Sawit adalah tanaman penghasil minyak nabati yang memiliki berbagai keunggulan dibandingkan dengan minyak yang dihasilkan oleh tanaman lain. Keunggulan tersebut di antaranya memiliki kadar kolesterol rendah, bahkan tanpa kolesterol. Minyak nabati yang dihasilkan dari pengolahan buah kelapa sawit berupa minyak mentah (CPO atau Crude Palm Oil) yang berwarna kuning dan minyak inti sawit (PKO atau Palm Kernel Oil) yang tidak berwarna (jernih). CPO atau PKO banyak digunakan sebagai bahan industri pangan (minyak goreng dan margarin), industri sabun (bahan penghasil busa), industri baja (bahan pelumas), industri tekstil, kosmetik, dan sebagai bahan bakar alternatif (minyak diesel).

KLASIFIKASI KELAPA SAWIT

Divisi Subdivisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies

: Spermatophyta : Angiospermae : Monocotyledonae : Palmales : Palmaceae : Elaesis : Elaeis guineensis Elaeis melanococca / E. oleivera

Varietas

: Elaeis guineensis Elaeis guineensis Elaeis guineensis

dura tenera pisifera

1

A. Syarat Tumbuh Kelapa Sawit a. Curah Hujan Curah hujan yang ideal bagi kelapa sawit yakni 2.000 – 2.500 mm per tahun dan tersebar merata setiap tahun. Musim kemarau selama tiga bulan atau lebih dapat menurunkan produksi kelapa sawit. Sedangkan curah hujan yang tinggi tidak berpengaruh buruk terhadap produksi kelapa sawit, asalkan drainase dan penyinaran matahari cukup baik.

b. Penyinaran Matahari Tanaman kelapa sawit termasuk tanama heliofil atau menyukai cahaya matahari. Tanaman yang ternaungi karena jarak tanam yang sempit,

pertumbuhannya akan terhambat karena hasil asimilasinya kurang. Selain itu, tanaman dewasa yang ternaungi produksi bunga betinanya sedikit sehingga perbandingan bunga betina dengan bunga jantan (Sex Ratio) kecil.

c. Tanam Tanaman kelapa sawit dapat tumbuh dengan baik di banyak jenis tanah, yang penting tidak kekurangan air pada musim kemarau dan tidak tergenang air pada musim kemarau dan tidak tergenang air pada musim hujan (drainase baik). Tanaman kelapa sawit dapat tumbuh pada pH 4 – 6.5.

B. Jenis-Jenis Tanah 1. Tanah-tanah yang baik untuk pertumbuhan kelapa sawit Tanah Latosol Tanah latosol di daerah tropis bisa berwarna merah, coklat, dan kuning. Tanah latosol terbentuk di daerah yang iklimnya juga cocok untuk tanaman kelapa sawit. Tanah Aluvial Tanah-tanah aluvial sangat penting untuk tanaman kelapa sawit, meskipun kesuburannya di setiap daerah/tempat berbeda-beda.

2

Di Sumatera, jenis tanah yang ditanami kelapa sawit seperti : Laparitik latasol yang disebut podsolik merah kuning. Basallik, andesitik yang berasal dari deposit vulkanik tua. Sedimen (endapan) dari laut dan sungai. Tanah-tanah aluvial yang ditutupi gambut dengan ketebalan kurang dari 10 cm.

2. Tanah yang tidak baik untuk pertumbuhan kelapa sawit Tanah-tanah yang berdrainase buruk. Tanah berdrainase buruk disebabkan karena permukaan air tanah yang tinggi, dekat sungai, dan rawa-rawa. Tanah-tanah lateritik yang mengandung lapisan besi. Pada musim kemarau tanah lateritik akan cepat kering sehingga tanaman menderita kekeringan. Tanah-tanah yang berpasir di pantai. Gambut yang dalam (deep peat). Pada tanah gambut sedalam lebih dari 2 meter. Tanaman kelapa sawit tumbuh kurang baik karena akar sulit mencapai tanah dan tanaman akan mudah rubuh.

Potensi lahan yang baik untuk budidaya kelapa sawit adalah pada jenis tanah mineral seperti tanah latosol maupun tanah aluvial. Podsolik merah-kuning. Namun persoalannya adalah bahwa jenis-jenis tanah tersebut tidak habis dimanfaatkan untuk segala jenis keperluan hidup manusia. Sehingga, perlu dicari potensi lahan yang lain untuk budidaya tanaman kelapa sawit. Salah satu alternatif lahan yang telah digunakan yakni lahan gambut. Keunggulan lahan gambut untuk perkebunan kelapa sawit, di antaranya topografi datar, penggunaan lahan lebih mudah dibandingkan lahan yang berbukit, lahan gambuk kaya bahan organik dari hasil pelapukan organisme dan tumbuhtumbuhan. Kelemahan lahan gambut di antaranya; pH asam, miskin har mikro, drainase buruk. Selain itu, resiko hama dan penyakit di lahan gambut juga tinggi.

3

2. PEMBIBITAN

a. Perkecambahan Berikut ini proses perkecambahan kelapa sawit : 1) Tendon buah diperam selama ± 3 hari supaya semua buah rontok dari tendon buah. Siram air sesekali. 2) Pisahkan buah dari tendonnya dan peram lagi selama 3 hari. 3) Masukkan buah ke mesin pengaduk untuk memisahkan daging basah dan biji. 4) Cuci biji dengan air, lalu rendam selama 6-7 hari. Ganti air rendaman setiap hari. 5) Rendam biji dengan Dithane M-45 pada konsentrasi 0,2 % selama 2 menit lalu keringkan. 6) Masukkan biji dalam kaleng perkecambahan, lalu simpan dalam ruangan khusus bersuhu ruang 39ºC dengan kelembaban 60-70 % selama 60 hari. 7) Angin-anginkan benih selama 3 menit setiap 7 hari sekali. 8) Setelah 60 hari, rendam benih ke dalam larutan Dithane M-45 0,2 % selama 2 menit. 9) Simpan benih di ruangan dengan suhu 27ºC. Setelah 10 hari benih akan berkecambah.

b. Pembibitan Awal (Pre-Nursery) Siapkan polybag kecil warna hitam dengan ukuran panjang 14 cm, lebar 8 cm dan tebal 0,14 cm. Kemudian media tanam berupa tanah bagian atas (topsoil) + kompos dengan perbandingan 6 : 1. Media tanam dimasukkan ke dalam polybag dan disusun di bedengan yang berukuran Panjang 10 meter x Lebar 1,2 meter x Tinggi 0,15 meter. Jarak antar bedengan 0,8 meter. Sebelum penanaman kecambah, polybag harus disiram dahulu. Tanah di tengah-tengah polybag dilubangi dengan telunjuk tangan, lalu kecambah dimasukkan ke dalam lubang dengan bakal daun (plumula) yang bentuknya agak tajam dan berwarna kuning yang menghadap ke atas.

4

Pemeliharaan bibit di pembibitan awal dengan cara sebagai berikut : (1) Bibit disiram setiap hari (pagi atau sore). (2) Bibit yang berada di bedengan dinaungi hingga kecambah berdaun 2-3 helai. (3) Mencabut rumput yang berada dalam polybag. (4) Jika bibit terlihat kekurangan unsur hara dengan ciri daun menguning, maka bibit perlu dipupuk menggunakan urea (N) dengan dosis 2 gram per liter air (0,21%) untuk 100 bibit. Pupuk diaplikasikan dengan cara disemprot. (5) Pemberantasan hama dan penyakit secara terpadu.

Pembibitan awal dilakukan sampai umur 3 bulan atau kecambah sudah berdaun 4 lembar. Selanjutnya bibit dipindahkan ke pembibitan utama (Main Nursery).

c. Pembibitan Utama (Main-Nursery) Main Nursery sebaiknya berada dekat jalan untuk memudahkan pengangkutan, lokasi ini juga harus bebas genangan air atau banjir serta dekat dengan sumber air untuk memudahkan penyiraman. Tanah yang sudah dibersihkan dimasukkan ke dalam polybag besar berukuran 40 x 50 cm. Pengisian tanah jangan terlalu penuh agar saat pemupukan dan penyiraman tidak keluar. Selanjutnya polybag disiram dan bibit sawit dipindahkan dari polybag kecil (baby bag) ke polybag besar. Bibit yang telah dipindahkan ke polybag besar, selanjutnya disusun dengan jarak 70 x 70 x 70 cm satu hektar pembibitan main nursery dapat menyediakan 50–60 hektar lahan penanaman. Petak atau bedengan dibuat memanjang dengan arah timur ke barat. Ukuran panjang dan lebarnya disesuaikan dengan kondisi lapangan dan jaringan irigasi. Penyiraman dilakukan 2 kali sehari, yaitu pagi dan sore hari. Penyiangan dilakukan dengan mencabut gulma yang timbul dalam polybag satu bulan sekali. Rumput-rumput yang tumbuh di luar polybag dibersihkan 2 bulan sekali dengan cangkul atau herbisida.

5

Untuk pemupukan dosis dan jadwalnya tergantung pada umur dan pertumbuhan bibit. Di main nursery, lebih dianjurkan untuk menggunakan pupuk majemuk N-P-K-Mg dengan komposisi 15-15-6-4 atau 12-12-17-2 serta ditambah kieserite (pupuk yang mengandung unsur Ca dan Mg). Rekomendasi pemupukan bibit kelapa sawit di main nursery (gram per bibit). Pengendalian hama dan penyakit dilakukan secara manual dan kimiawi (disemprot) dan dilakukan apabila ada gejala serangan.

d. Seleksi Seleksi di main nursery dilakukan dalam 4 tahap sebagai berikut : (1) Setelah bibit dipindahkan dari prenursery. (2) Setelah bibit berumur 4 bulan. (3) Setelah bibit berumur 8 bulan. (4) Saat dipindahkan ke lapangan.

Ciri bibit tidak normal dan harus dibuang sebagai berikut : (1) Bibit yang memanjang kaku (errectic), tinggi melebihi rata-rata dan kaku daunnya. (2) Bibit yang permukaannya rata (flat) dan daun muda lebih pendek. (3) Bibit yang merunduk (limp). (4) Bibit yang daunnya tidak membelah. (5) Anak daun yang pendek (short leaflet), sempit, dan selalu menggulung.

3. PEMBIBITAN

a. Teknik Pembukaan Lahan Metode pembukaan lahan tergantung pada kondisi dan situasi di lapangan serta faktor lain. Seperti jenis lahan, dan lain-lain.

6

Sistem pembukaan lahan antara lain : 1) Manual Sistem ini menggunakan tenaga manusia dan alat sederhana. Metode manual banyak digunakan di daerah yang tersedia tenaga kerja yang banyak.

2) Mekanis Sistem ini dengan menggunakan alat-alat pertanian, seperti traktor dan buldoser. Cara ini juga dapat digunakan pada areal yang rata, waktu pekerjaan lebih cepat.

3) Kimia Metode kimia dengan menggunakan herbisida (racun rumput).

Ketiga metode tersebut juga dapat dikombinasikan, sesuai dengan kondisi lapangan.

b. Jaringan Jalan Jaringan jalan perlu dipersiapkan terlebih dahulu sebelum proses penanaman. Karena jaringan jalan berfungsi sehingga sarana pengangkutan bahan pupuk produksi, dan lain-lain. Jenis jalan tersebut antara lain : (1) Jalan sekunder/jalan produksi (submain road) merupakan jalan transportasi yang menghubungkan jalan utama dengan jalan koleksi (pengumpul hasil).

(2) Jalan koleksi (collecting road), yakni jalan yang berada di dalam blok-blok penanaman yang berfungsi untuk pengumpulan hasil (buah), dimana lebar jalan ± 4 meter.

(3) Jalan panen, yakni jalan untuk para pemanen mengangkut buah dari pohon ke tempat pengumpul hasil. Umumnya menggunakan gerobak sorong.

7

Ket : x

= Tanaman

- - - - = Jalan Panen 1 2 = Jalan Koleksi = Jalan Sekunder/Jalan Produksi

(4) Jalan utama, yaitu jalan pengumpulan utama yang melayani sejumlah jalan pengumpul hasil. Kendaraan yang telah penuh bermuatan buah sawit siap menuju pabrik.

c. Drainase Parit drainase (saluran air). Sangat penting terutama di lahan gambut yang memang lebih banyak memerlukan parit dan juga pintu-pintu air yang berfungsi untuk mengatur kebutuhan air di lokasi perkebunan. Macam Drainase (1) Drainase Lapangan (field drain) Yaitu parit yang searah dengan barisan pohon kelapa sawit. Lebar dan dalamnya 1 meter x 1 meter.

(2) Drainase pengumpul (collection drain) Yaitu parit yang berfungsi menampung air dari drainase lapangan. Lebar parit 2 – 2,5 meter dan kedalaman 1,5 – 2,0 meter.

(3) Drainase pembuang (outlet drain) Yaitu parit yang menerima air dari drainase pengumpul dan mengalirkan langsung ke sungai lebar parit 3,5 meter ke dalaman 2 – 2,5 meter.

8

4. PENANAMAN

A. Penentuan Jarak Tanam Tanaman kelapa sawit di tanam dengan pola segi tiga sama sisi. Untuk menentukan jarak tanam, ataupun populasi tanaman dalam satu hektar dapat ditentukan dengan rumus : Jarak antar barisan =

Luas Lahan (Ha) Jumlah Populasi × Sin 60°

Jarak Tanam

=

Jarak Antar Barisan Sin 60°

Jumlah Populasi

=

Luas Lahan Jarak Tanam × Jarak Antar Barisan

Keterangan : Sin 60° = 0,866

Jarak tanam yang biasa digunakan adalah 9 x 9 x 9, sehingga dalam 1 Ha ada 142 tanaman.

B. Pemasangan Ajir
Ajir adalah kayu atau bambu yang ditancapkan di tempat-tempat yang akan ditanam kelapa sawit. Ajir ini sebagai tanda bagi kontraktor atau buruh untuk membuat lubang tanam. Barisan panjang dibuat dari arah utara – selatan. Pemancangan dilakukan setelah selesai pembukaan lahan. Alat dan bahan yang digunakan untuk pemasangan ajir antara lain;

theodolite atau kompas, tali, pancang.

9

Jarak tanam 9 x 9 x 9 meter dengan pola segitiga sama sisi

C. Lubang Tanam
Lubang tanam dibuat dengan ukuran 60 x 60 x 60 cm dan dibiarkan selama 2 minggu. Sebelum ditanami di beri pupuk Rock Fosfat yang merupakan jenis pupuk fosfat alam. Dosis 1 kg per lubang dan diaplikasikan setelah lubang tanam dibuat atau bersamaan dengan kegiatan menanam.

D. Penanaman
Bibit yang ditanam di lapangan sebaiknya telah berumur 12 – 14 bulan. Kedalaman lubang tanam harus diatur agar suhu dengan tinggi polybag ditambah 5 cm. Misalnya tinggi polybag 45 cm kedalaman lubang menjadi 50 cm. Penanaman sebaiknya dilakukan pada musim hujan agar tanaman tidak kekurangan air. Tanaman yang mati harus segera disulam agar pertumbuhan tanaman tersebut tidak ketinggalan dari tanaman lainnya.

10

E. Tanaman Penutup Tanah (Cover Crop)
Penanaman tanaman penutup tanah dapat ditanam sebelum maupun sesudah bibit kelapa sawit ditanam. Tanaman penutup tanah sangat dianjurkan di perkebunan kelapa sawit karena tanaman penutup tanah memiliki manfaat sebagai berikut : Menghindarkan tanah dari bahaya erosi. Guguran daun dari bintil akarnya bisa memberi tambahan unsur Nitrogen (N) pada tanah. Menekan pertumbuhan alang-alang dan gulma lain. Jenis-jenis tertentu seperti Pueraria triloba mampu menghisap banyak air sehingga cocok ditanam di lokasi yang rendah atau bekas rawa.

5. PEMELIHARAAN A. Pengendalian Gulma
Gulma (rumput pengganggu) di perkebunan kelapa sawit harus dikendalikan karena gulma menjadi pesaing tanaman kelapa sawit alam menyerap unsur hara dan air, serta kemungkinan gulma menjadi tanaman inang hama dan penyakit. Pengendalian gulma dapat dilakukan secara manual menggunakan parang ataupun cangkul, dan juga dapat dilakukan dengan cara kimia, yaitu dengan menyemprotkan larutan herbisida (racun rumput). Pengendalian gulma dilakukan tergantung pada banyaknya gulma di areal perkebunan.

B. Kastrasi
Kastrasi yaitu membuang semua bunga yang ada pada tanaman kelapa sawit muda atau TBM (Tanamam Belum Menghasilkan). Kastrasi dilakukan kirakira ketika tanaman berumur 20 – 30 bulan. Kastrasi perlu dilakukan karena buah yang dihasilkan berat tandannya hanya 0,5 – 1 kg. Kadar minyak sangat kecil, dan secara fisiologis, kastrasi menguntungkan karena semua hasil fotosintesis akan tersalurkan untuk pertumbuhan batang sehingga batang lebih tegap dan sehat.

11

C. Pemupukan
Pemupukan dilakukan dengan cara menaburkan pupuk dalam piringan yang dibuat melingkar di sekitar tanaman. Untuk waktu aplikasi dan dosis pemupukan dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Dosis Pupuk TBM Pedoman Pemupukan Kelapa Sawit TBM (143 pohon/hektare)
Umur (bulan) Pupuk N 16 P K Mg N 20 P K Mg N 24 P K Mg N 27 P K Mg N 30 P K Mg Sumber : Publikasi PPKS Keterangan :
TBM N P = = = Tanaman belum menghasilkan Nitrogen (misalnya pupuk ZA, urea) Fosfor (misalnya pupuk RP,TSP,SP 36) K Mg Bo = = = Kalium (misalnya pupuk ZK,MOP/KCl) Magnesium (misalnya Kieserite) Boron (misalnya pupuk HGF Borate)

Gram/Pohon 270 375 75 115 935 285 400 285 75 1.045 355 500 355 95 1.305 535 750 150 230 1.665 430 600 425 115 1.570

Kg/Hektare 39 54 11 16 120 41 57 41 11 150 51 72 51 14 188 77 107 22 33 239 62 86 61 16 225

12

Pedoman Pemupukan Kelapa Sawit TM (143 pohon/hektare)
Umur (tahun) Pupuk N P 3 K Mg Bo N P 4-6 K Mg Bo N P 7-9 K Mg Bo N P 10 - 14 K Mg Bo N P 15 - 18 K Mg Bo N 19 - 22 P K Mg Sumber : Publikasi PPKS dan LPP Gram/Pohon 380 500 1.000 500 25 1.405 750 1.000 2.000 1.000 50 4.800 1.000 1.000 2.500 1.000 50 5.550 1.250 1.000 3.000 1.000 50 6.300 1.000 100 2.000 1.000 50 5.050 1.000 1.000 1.500 750 4.250 Kg/Hektare 54 72 143 72 3,6 344,6 107 143 281 143 7,2 686,2 143 143 358 143 7,2 794,2 179 143 429 143 7,2 901,2 143 143 286 143 7,2 722,2 107 143 281 143 608

13

Fungsi dan peranan setiap unsur hara terdapat pertumbuhan dan produksi tanaman kelapa sawit sebagai berikut :
Nitrogen (N) Nitrogen merupakan unsur utama pembentuk protoplasma sel, asam amino, protein, amida, alkaloid, dan klorofil. Kekurangan nitrogen akan menurunkan aktivitas metabolisme tanaman yang dapat menimbulkan klorosis (warna daun memucat). Pemupukan nitrogen berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi buah. Penelitian di Sumatera Utara dan Malaysia menunjukkan pemupukan nitrogen meningkatkan perkembangan batang dan memperbesar leaf area index sehingga meningkatkan produksi tandan buah. Fosfor (P) Fosfor (P) berperan dalam setiap proses fisiologis tanaman, baik yang menyangkut pertumbuhan vegetatif maupun pertumbuhan generatif. Fosfor merupakan komponen utama asam nukleat yang berperan dalam pembentukan akar. Fungsi lain unsur fosfor adalah membentuk ikatan fosfolipid dalam minyak. Kekurangan unsur fosfor akan menghambat pertumbuhan, melemahkan jaringan, serta memperlambat proses fisiologis. Kebutuhan unsur P lebih sedikit dibandingkan dengan N dan K. Untuk menambah produksi tandan buah, unsur P tidak dapat bekerja sendiri, tetapi akan berkombinasi dengan unsur-unsur lainnya.

Kalium (K) Kalium merupakan unsur hara terpenting untuk kelapa sawit, karena unsur ini paling banyak ditransfer ke tandan buah. Aktivitas penting dalam proses fisiologis, seperti fotosintesis dan respirasi banyak dipengaruhi oleh unsur kalium. Unsur kalium juga berperan sebagai katalisator dalam setiap proses biokimia dan sebagai regulator dalam proses pembentukan minyak. Pada tanaman muda, unsur kalium nyata memperbesar perkembangan batang dan mempercepat panen pertama. Pemupukan kalium di berbagai jenis tanah, terutama tanah yang kandungan pasirnya tinggi atau alluvial dan hidromorfik, bisa meningkatkan produksi tandan kelapa sawit.

Magnesium (Mg) Unsur magnesium unsur utama pembentuk klorifil dan berperan dalam sistem kerja enzim. Magnesium memiliki pengaruh yang besar terhadap pertumbuhan tanaman. Sementara itu, pengaruhnya terhadap produksi tandan relatif kecil dan tidak secara langsung.

14

D. Pengendalian Hama dan Penyakit

1. Babi
Babi biasanya hanya menyerang tanaman yang berumur kurang dari 1 tahun. Menyerang tanaman dengan cara memakan titik tumbuh dari kelapa sawit. Pengendalian hama ini dengan cara diburu dan dibunuh. Bisa juga dengan membuat parit isolasi yang dalam dan lebar.

2. Tikus
Hama tikus biasanya menyerang bagian buah dan tandan.

Pemberantasannya bisa menggunakan perangkap tikus yang diberi umpan, bisa juga dengan menggunakan racun tikus.

3. Hama Ulat
Hama ini menyerang bagian daun tanaman. Dapat dikendalikan dengan penyemprotan insektisida Dipterex atau Bayrusil.

4. Hama Kumbang (Apogonia Sp. dan Oryctes rhinoceros)
Menyerang daun tanaman yang belum terbuka. Hama ini dapat dikendalikan dengan menyemprotkan larutan Azodrin yang bersifat sistemik ataupun dengan cara menggunakan lampu perangkap yang diletakkan di atas papan yang telah diberi lem atau lampu perangkap yang diletakkan di atas ember yang berisi larutan insektisida.

5. Penyakit Little Leaf
Penyakit ini disebut juga penyakit fisiologis karena tanaman kekurangan unsur barium. Gejalanya berupa pertumbuhan anak daun tidak normal, kecil, jumlah daunnya sedikit, dan tidak beraturan. Penyakit ini dapat diatasi dengan cara pemupukan borax dosis 50 g/tahun.

15

6. Penyakit Tajuk (Crown Disease)
Penyakit ini disebabkan oleh jamur Fusarium sp. umumnya menyerang tanaman yang berumur 2 – 3 tahun. Penyakit ini tidak bisa diberantas. Cara pencegahan penyakit ini dengan mengurangi pemberian pupuk yang mengandung unsur Nitrogen. Pasalnya, unsur ini merangsang pertumbuhan vegetatif dan merangsang pertumbuhan jamur.

E. Penunasan
Penunasan merupakan kegiatan membuang daun kelapa sawit yang telah tua dan kering. Penunasan mulai dilakukan 6 bulan sebelum tanaman menghasilkan (TM) dan setelah tanaman menghasilkan penunasan dilakukan 1 ataupun 2 kali dalam 1 tahun. Penunasan perlu dilakukan dengan tujuan untuk memudahkan pemanenan, mengurangi penghalang pembesaran tandan,

menghemat penggunaan unsur hara dan air. Peralatan untuk penunasan yakni

Dodos atau Egrek.

6. PANEN

Panen dapat dilakukan setelah buah masak. Ciri-ciri tandan buah yang masak ditentukan oleh angka kematangan yang masak ditentukan oleh angka kematangan, yaitu jumlah buah yang brondol dari tandannya. Jumlah buah brondol sebanyak 5 – 10, menunjukkan bahwa tandan bisa sudah siap dipanen. Alat panen yang digunakan yakni Dodos untuk tanaman yang tingginya kurang dari 3 meter. Untuk tanaman yang tingginya lebih dari 3 meter, maka pemanenan dengan menggunakan Egrek. Pemanenan umumnya dilakukan 3 kali sebulan (10 hari sekali). Namun ada juga yang melakukan pemanenan dengan rotasi 15 hari sekali.

16

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->