Kontroversi rumusan Pancasila yang benar dan sah.

Minggu, September 05, 2010
| Diposkan oleh Kisah-Kisah | di Minggu, September 05, 2010 | Tinjauan historis tentang Pancasila dan UUD 1945 yang lengkap telah dibukukan dengan judul “Lahirnya UUD 1945”, 2004 (direvisi tahun 2009). Buku tersebut meluruskan data dan catatan di “Naskah Persiapan UUD” susunan Prof.M.Yamin, dan meluruskan Risalah BPUPKI-PPKI tahun 1992 dan 1995 serta meluruskan isi Kata Pengantar Risalah Sidang BPUPKI-PPKI terbitan Sekretariat Negara, 1998. Sebab itu pada kesempatan ini saya hanya mengemukakan secara singkat beberapa kontroversi yang masih membara, dan berusaha untuk memaparkan konsistensi nilai-nilai Pancasila dalam penyelenggaraan negara. Kontroversi yang akan dikemukakan adalah tentang 6 “Pancasila” yang mengandung “nilai pokok” (core value) dan norma yang berlain-lainan yaitu: 1.Pancasila yang diucapkan Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945, 2.Pancasila yang dirumuskan oleh “Panitia Delapan” dan “Panitia Sembilan” yang tercantum di alinea 4 Piagam Jakarta yang disusun pada tanggal 22 Juni 1945 dan kemudian disetujui oleh Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK) pada tanggal 11 Juli 1945, 3. Pancasila yang disahkan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada tanggal 18 Agustus 1945 sebagai bagian Pembukaan UUD 1945, 4.Pancasila sebagai bagian dari Mukaddimah Konstitusi RIS dan 5.Pancasila yang tercantum sebagai bagian dari Mukadimah UUDS 1950, 6.Pancasila yang tercantum di Dekrit Presiden tahun 1959 yang menyatakan bahwa Piagam Jakarta menjiwai UUD 1945 dan merupakan suatu rangkaian kesatuan dengan Konstitusi tersebut. Kontroversi tentang rumusan Pancasila yang benar dan sah. Pancasila adalah suatu komposisi dari nilai-nilai, bukan nilai-nilai yang terserak-serak tak beraturan. Rumusan “Pancasila 1 Juni” berbeda jauh dengan rumusan “Pancasila 18 Agustus” dalam hal hirarkhi norma (axiological hierarchy of norms). Penjelasannya demikian: - Pancasila yang diucapkan oleh Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945 dengan urutan: 1.Kebangsaan Indonesia, 2.Internasionalisme atau Peri-kemanusiaan, 3.Mufakat atau Demokrasi, 4.Kesejahteraan Sosial, dan 5.Ketuhanan Yang Maha Esa masih merupakan rancangan “philosophische grondslag” yang akan dirumuskan oleh “Panitia Delapan BPUPK” setelah mendapat masukan dari anggota BPUPK lainnya. - Pada tanggal 22 Juni 1945, rancangan Pancasila “Panitia Delapan” disempurnakan oleh “Panitia Sembilan” dengan mengubah urutan nilai pokok (core values) menjadi: 1.KeTuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya, 2.Menurut dasar Kemanusiaan yang adil dan beradab, 3.Persatuan Indonesia, 4.Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratanperwakilan dan 5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Perubahan urutan itu menyebabkan perubahan mendasar, perubahan “axiological hierarchy”. - Pancasila susunan “Panitia Sembilan” diresmikan oleh sidang BPUPK pada tanggal 11 Juli 1945 dengan urutan yang sama dengan urutan Pancasila di Piagam Jakarta tanggal 22 Juni 1945. - Pada tanggal 18 Agustus 1945 PPKI mensahkan Pancasila dengan rumusan sebagai

Persatuan Indonesia. Pada tanggal 22 Juni 1945 “axiological hierarchy”-nya berubah.Pengakuan Ketuhanan Yang Maha Esa. dan ada ditingkat perundang-undangan lainnya.Peri Kemanusiaan.Rumusan Pancasila di Konstitusi RIS adalah sebagai berikut: 1. istilah Staatsfundamentalnorm dan Grundnorm. 4. . 3. Jadi. sifatnya lebih umum sedangkan “Norma” lebih khusus. “Nilai” dapat dikatakan sebagai “norma tinggi” (“higher order norms”). 3. Pancasila yang disahkan pada tangal 18 Agustus 1945 itu benar-benar merupakan “hogere optrekking” (istilah Bung Karno.berikut: 1. . 4. “Nilai” “privacy” dapat menjadi ketentuan (norma) bahwa “surat tidak boleh dibuka oleh orang yang tidak berhak” atau adanya aturan (norma) bahwa “tidak boleh masuk rumah orang tanpa ijin pemiliknya”. artinya “peningkatan”) dari Declaration of Independence dan Manifesto Komunis karena yang diutamakan adalah moral yang berasal dari “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Demokrasi Pancasila yang mengutamakan musyawarah untuk mendapat mufakat. Hubungannya dapat digambarkan demikian. Tingkatan norma berbeda-beda. rumusan dari wakil-wakil selurah rakyat Nusantara setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. berbeda dengan Demokrasi Liberal yang mengutamakan “voting” dan menimbulkan perasaan kalah dan menang yang sering menyakitkan hati. “Nilai” masih abstrak. Norma memberi petunjuk umum tentang cara bertindak. “Nilai” dapat didefinisikan sebagai ukuran untuk “kebaikan” (goodness) atau “pemenuhan keinginan” (desirability). dengan kewajiban menjalankan syariat Islam diangkat keatas. ideologi. Tentang “Nilai”. Jadi. 5. bukan “Ketuhanan” saja. Pancasila berbeda dengan teori Grundnorm dari Hans Kelsen yang menyatakan bahwa hukum positif tidak perlu bersangkut paut dengan moral. nilai moral. mengutamakan “harmony”. pada tanggal 18 Agustus 1945 PPKI yang meliputi wakil-wakil dari seluruh Indonesia mengubah rumusan Pancasila dengan mengurangi “tujuh kata” (“dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”) dan menambahkan “tiga kata” (“Yang Maha Esa”). “Norma”. 2. Pancasila lahir pada tanggal 1 Juni 1945.Kerakyatan dan 5.Kemanusiaan yang adil dan beradab. kebaikan hukum positif harus diukur dari asas-asas yang bersumber kepada “Ketuhanan Yang Maha Esa”. sudah dapat dijatuhi sanksi hukum atau sanksi sosial bila dilanggar.Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan – perwakilan. . Setelah disetujui oleh rapat pleno BPUPK yang hanya terdiri dari wakil-wakil dari Jawa saja. ada ditingkat Pembukaan UUD/Tingkatan yang lebih tinggi daripada di UUD. dijadikan Norma Utama (norma normarum). 2. ada ditingkat UUD.Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.Rumusan Pancasila di UUDS 1950 sama dengan di Konstitusi RIS.Keadilan Sosial.Kebangsaan. yaitu “Ketuhanan.Ketuhanan Yang Maha Esa. rumusan Pancasila yang sah adalah rumusan PPKI. politik dan sejarah yang intinya berada diluar bidang hukum.

tujuan Nasional di UUD 1945 adalah sebagai berikut: 1. Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. Istilah Grundnorm baru muncul tahun delapan puluhan dan sampai sekarang kita belum sepakat tentang arti istilah Grundnorm tersebut. Tujuan Nasional-nya juga berbeda. Kesejahteraan 3. Istilah “Staatsfundamentalnorm” digunakan oleh Notonagoro untuk menyatakan seluruh kaidah (norma) di Pembukaan UUD 1945. Ketentuan itu dibuat agar tidak melanggar asas “nemo iudex in causa sua. “Pancasila” sebagai bagian dari Pembukaan UUD 1945 rumusannya berbeda dengan “Pancasila” yang tercantum sebagai bagian dari Mukaddimah Konstitusi RIS dan/atau Mukaddimah UUDS 1950.Pancasila Dasar Falsahah Negara. bahkan bertentangan”. Notonagoro membedakan antara Pembukaan UUD 1945 dan Pancasila tetapi tidak menyatakan mana yang dianggap sebagai Grundnorm. Sedangkan tujuan Nasional di Konstitusi RIS dan UUDS 1950 sama yaitu untuk mewujudkan: 1. Amendemen V menegaskan perlunya asas Due Process. perdamaian abadi dan keadilan sosial. Kebahagiaan 2.Notonagoro pada tahun 1955. Amendemen VII menentukan “Exessive bail shall not be required. nor excessive fines imposed. Jakarta.Penempatan “norma” ditingkat UUD atau undang-undang bersifat subjektif. Di Amerika Serikat. yaitu “mengapa Pancasila sebagai Grundnorm dapat menghasilkan norma yang berlainan. Padahal. sebagaimana disebutkan diatas. Dengan sendirinya norma yang dikandungnya juga berbeda. Pernyataan itu menimbulkan kontroversi seperti yang dikemukakan oleh Marsillam Simandjuntak. Mencerdaskan kehidupan bangsa 4. Konstitusi RIS dan UUDS 1950”.21 dan Amendemen XXVII (1992) menentukan bahwa perubahan “kompensasi” untuk anggota Congress berlaku untuk anggota Congress yang akan datang (No law varying the compensation for the services of the Senators and Representatives shall takes effect until an election of Representatives shall have intervened. ketentuan yang tidak tertulis atau yang tercantum di undang-undang biasa diangkat ketingkat Konstitusi. Istilah Staatsfundamentalnorm diperkenalkan oleh Prof. Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia 2. nor cruel and unusual punishment inflicted. 1974:8). Pendapat Marsillam dikemukakan karena dia mengira bahwa Pancasila 1945 sama dengan Pancasila tahun 1949 dan/atau Pancasila 1950. yaitu UUD 1945. Perdamaian . Agar lebih jelas. Contoh. Hal itu terlihat dari pernyataannya bahwa: “Kebaikan hukum positif Indonesia termasuk (tubuh) UUD harus diukur dari asas-asas yang tercantum dalam Pembukaan. Dan karena itu Pembukaan dan Pancasila harus dipergunakan sebagai pedoman bagi penyelesaian soal-soal pokok kenegaraan dan tertib hukum Indonesia”. (lihat: Notonagoro. Pernyataan Notonagoro yang perlu dikritisi adalah “bahwa Pancasila hidup di tiga UUD. Memajukan kesejahteraan umum 3.

Kemerdekaan dalam masyarakat dan Negara Hukum Indonesia Merdeka yang berdaulat sempurna. .4.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful