Uji Difusi Uji difusi dilakukan menggunakan membrane Whatman yang telah dilapisi dengan cairan Spangler sebelumnya

. Uji permeasi perkutan dilakukan dengan menggunakan metode flow through yang terdiri dari sel difusi Franz, pompa peristaltik, batang pengaduk, gelas kimia, penangas air, penampung reseptor, termometer, dan selang dengan diameter 5 mm. Sampel krim uji ditimbang 1,0 g dan diratakan diatas membran. Suhu media adalah 37±0,5 ºC dengan total volume cairan reseptor 100 mL. Pompa peristaltik menghisap cairan reseptor dari gelas kimia kemudian dipompa ke sel sehingga terjadi aliran hidrodinamis. Proses dilakukan se!ama 1 jam. Kadar obat yang terdifusi melalui membran ke media permeasi kemudian ditetapkan dengan cara spekrofotometri UV pada _ = 276 nm. 1. Alat dan Bahan AL AT : - Alat-alat gelas - Pompa peristaltic - Pengaduk - Gelas piala - Penangas air - Termometer - Selang dengan diameter 4 mm BAH AN : - Membran difusi - Kertas whatman No. 1 - Cairan spangler - Asam oleat - Asam stearat - Minyak kelapa - Parafin - Lecitin Cera alba - Parasetamol - Na CMC - Propilen glikol - Na benzoat - Air suling 2. Cara Kerja Pembuatan Membran difusi a) Digunting kertas whatman sesuai dengan diameter alat donor b) Ditimbang kertas whatman tersebut c) Dibuat cairan spangler dengan komposisi : ‡ Asam oleat 10 g

Setelah 20 menit. 1997). Difusi pasif merupakan bagian terbesar dari proses trans -membran bagi umumnya obat.‡ Asam stearat 2. diratakan di atas kertas membran . Prinsip absorbsi obat melalui kulit adalah difusi pasif yaitu proses di mana suatu substan si bergerak dari daerah suatu sistem ke daerah lain dan terjadi penurunan kadar gradien diikuti bergeraknya molekul (Anief. membran padat digunakan sebagai model pendekatan membran biologis.dimasukkan kertas membran tersebut kedalam alat flow through dengan posisi gel berada diatas.5 g ‡ Minyak kelapa 7. Diambil 1 gram gel.Percobaan dilakukan selama 1 jam dengan rentang waktu 20 menit Pembahasan Praktikum kali ini. . Difusi pasif merupakan suatu proses perpindahan masa dari tempat yang berkonsentrasi tinggi ke tempat yang berkonsentrasi rendah.5 g ‡ Cera Alba 10 g d) Bahan untuk cairan spangler dilebur dan diaaduk sampai rata e) Dimasukkan kedalamnya kertas whatman selama 15 menit f) Diangkat segera dan dikeringkan dengan kertas saring dan ditimbang kembali ( ditentukan jumlah cairan yang terserap ).Dioperasikan alat tersebut . kami melakukan uji difusi obat untuk mengetahui seberapa banyak obat menembus membran tiap waktu. Tenaga pendorong untuk difusi pasif in i adalah perbedaan konsentrasi obat pada kedua sisi membran sel. diambil 5 ml cairan yang mengandung obat yang sudah menembus membrane dan diganti cairan reseptor dengan 5 ml air yang berada di beker glass sebelahnya . Membran padat juga digunakan sebagai model untuk mempelajari kompleks atau .5 g ‡ Parafin 5 g ‡ Lesitin 2.

Peran asam oleat sebagai peningkat penetrasi ini ditunjang oleh sifat lipofil asam oleat dan kepolaran medium gel yang cukup tinggi. Lesitin.interaksi antara zat aktif dan bahan tambahan serta proses pelepasan dan pelarutan Uji difusi secara transdermal dengan mengumpakan kertas whatman sebagai membran/kulit. Alat ini dilengkapi oleh pompa peristaltic yang bertujuan untuk menghisap cairan reseptor dari gelas kimia kemudian dipompa ke sel difusi melewati penghilang gelembung sehingga aliran terjadi secara hidrodinamis. Di alat flow . Alat flow through juga dilengkapi dengan donor yang berfungsi untuk meletakkan membrane dan mengalirkan hasil cuplikan sample. Cera Alba. sehingga asam oleat mudah d ilepas-kan dari sediaan dan berpenetrasi ke dalam membran. cairan spangler sebagai cairan yang dioleskan diatas membran . hal ini bertujuan agar mekanisme difusi terjadi melewati membrane dan membran tiruan ini yang berfungsi sebagai sawar yang memisahkan sediaan dengan cairan disekitarnya. Parafin. Gel yang sudah dibuat dioleskan kertas whatman yang telah dioleskan dengan cairan spangler yang sebelumnya telah dikeringkan. kolesterol dan fosfat lemak. Komposisi cairan spangler banyak mengandung lipid karena stratum korneum yang terdiri dari kurang lebih 40 % protein (pada umumnya keratin) dan 40 % air dengan lemak berupa trigliserida. Gel juga dibuat dengan formulasi yang berbeda-beda untuk mengetahui seberapa besar kemampuan obat menembus membran. Minyak kelapa... Gel juga terdiri atas bahan pembantu yang berfungsi untuk meningkatkan penetrasi zat kedalam kulit. Membran yang telah dioleskan dengan g el diletakan mengehadap keatas dimana posisi gel berada diatas. Mekanisme asam oleat dalam meningkatkan penetrasi absorpsi perkutan berdasarkan kemampuannya mengubah fluiditas lipida dalam stratum korneum yang dapat meningkatkan permeabilitas lapisan stratum korneum. Alat yang digunakan untuk melakukan uji difusi adalah flow through. Propilen glkol pada formula juga bertujuan untuk penambahan propilen glikol pada sediaan topikal juga dapat menin gkatkan laju difusi. Asam stearat. cairan spangler dibuat dengan komposisi Asam oleat. Kandungan air yang tinggi dalam basis gel dapat menyebabkan terjadinya hidrasi pada stratum korneum sehingga akan memudahkan penetrasi obat melalui kulit. asam lemak bebas.

0773 . Absorpsi perkutan didefinisikan sebagai absorpsi menembus stratum korneum (lapisan tanduk) dan berlanjut menembus lapisan di bawahnya dan akhirnya masuk ke sirkulasi darah. Kulit merupakan perintang yang efektif terhadap penetrasi perkutan obat. 60¶. Dan obat harus melewati barier absorpsi. 0. Setelah dihitung konsentrasinya juga meningkat. dan disebelahnya beker glass yang berisi air untuk menggantikan air pada beker glass pertama setelah diambil cuplikan sebnyak 5 ml. jadi jumlah obat yang pindah menyebrangi lapisan kulit tergantung pada konsentrasi obat atau aimya . Sedangkan pada konsentrasi parasetamol dengan kadar 1 % menghasilkan Konsentrasi terus menurun dari waktu ke waktu. Lapisan tersebut mengandung asam asam lemak dan bertindak sebgai barier. Sedangkan Tujuan umum penggunaan obat pada terapi dermatologi adalah untuk menghasilkan efek terapetik pada tempat-tempat spesifik di jaringan epidermis. Kesimpulan ‡ Difusi pasif merupakan suatu proses perpindahan masa dari tempat yang berkonsentrasi tinggi ke tempat yang berkonsentrasi rendah. yaitu mulai dari interval 20¶.5 % adalah 0. Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan nilai Absorban berbanding lurus dengan konsentrasi. 40¶.5 % diperoleh konsentrasi yang menurun pada menit ke 40. Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil spektrofotometri nilai Absorban parasetamol konsentrasi 0. padahal konsentrasi gel parasetamolnya lebih tinggi. ‡ Prinsip absorbsi obat melalui kulit adalah difusi pasif yaitu proses di mana suatu substansi bergerak dari daerah suatu sistem ke daerah lain dan terjadi penurunan kadar gradien diikuti bergeraknya molekul ‡ . 60 menit. Sehingga tidak semuanya konsentrasi parasetamol yang berdifusi ke membrane. Hal tersebut terjadi karena parasetamol belum semuanya berdifusi ke membrane. Absorban yang diperoleh meningkat karena waktunya juga meningkat. Dan mengalami kenaikan lagi pada menit ke-60. Konsentrasi yang meningkat menunjukan bahwa telah terjadi difusi obat pada membrane kulit. Seharusnya gel parasetamol 1% menghas ilkan absorban yang lebih tinggi dan menigkat sesuai dengan interval waktu. Untuk Gel parasetamol 1.0921 . karena mencerminkan penundaan penembusan senyawa ke bagian stratum corneum dan pencapaian gradient difusi. beker glass yang satu berisi cairan aquadest 330 ml yang diibaratkan sebagai cairan tubuh. Cuplikan atau sample yang sudah ditampung dalam beker glass diambil sebanyak 5 ml tiap interval waktu 20 menit. Penurunan konsentrasi terjadi karena pada membrane difusi terdapat cairan spangler yang diibaratkan dikulit manusia adalah sebagai barier pada permukaan kulit. 4-0 menit. Molekul obat mempenetrasi dengan cara difusi pasif. 0.through ini terdapat dua beker glass yang diletakkan bersebelahan dan susu pada alat ini adalah 370 C sesuai dengan suhu tubuh manusia.1869.

1995).Komposisi cairan spangler banyak mengandung lipid karena stratum korneum yang terdiri dari kurang lebih 40 % protein (pada umumnya keratin) dan 40 % air dengan lemak berupa trigliserida. 1987). 1993). Istilah perkutan menunjukkan bahwa penembusan terjadi pada lapisan epidermis dan penyerapan dapat terjadi pada lapisan epidermis yang berbeda (Aiache. 1987). Semakin besar nilai Absorban maka konsentrasi yang diperoleh semakin besar. begitu juga sebaliknya. Meskipun kulit relatif permeabel terhadap senyawa -senyawa kimia. Secara mikroskopik. Dan semakin lama waktu uji difusi dilakukan konsentrasi akan bertambah. Anatomi dan Fisiologi Kulit Kulit merupakan lapisan pelindung tubuh yang sempurna terhadap pengaruh luar. kulit tersusun dari berbagai lapisan yang berbeda -beda. kemudian masuknya molekul ke dalam . baik pengaruh fisik maupun pengaruh kimia (Aiache. tahapan pada absorpsi perkutan dapat melalui penetrasi pada permukaan stratum corneum di bawah gradien konsentrasi. penyerapan perkutan merupakan gabungan fenomena penembusan senyawa dari lingkungan luar ke bagian da lam kulit ke dalam peredaran darah dan kelenjar getah bening. epidermis dan dermis. 1987). Untuk memasuki sistem sistemik. namun dalam keadaan tertentu kulit dapat ditembus oleh senyawa-senyawa obat atau bahan yang berbahaya yang dapat menimbulkan efek terapetik atau efek toksik baik ya ng bersifat setempat maupun sistemik (Aiache. dermis dan hipodermis dapat dilihat pada gambar 1. berturut-turut dari luar ke dalam yaitu lapisan epidermis. Chien. Mengacu pada Rothaman. ‡ Absorban berbanding lurus dengan konsentrasi. kemudian masuk ke dalam sirkulasi darah dengan mekanisme difusi pasif (Chien. 1987). Dari suatu penelitian diketahui bahwa pergerakan air melalui lapisan kulit yang tebal tergantung pada pertahanan lapisan stratum corneum yang berfungsi sebagai rate limiting barrier pada kulit (Swarbrick dan Boylan. lapisan dermis yang tersusun atas pembuluh darah dan pembuluh getah bening dan lapisan jaringan di bawah kulit yang berlemak atau yang disebut lapisan hipodermis (Aiache 1993. difusi melaluistratum corneum. D. Tinjauan Pustaka 1. 1993). Struktur kulit yang terdiri dari lapisan epidermis. kolesterol dan fosfat lemak. Absorpsi Perkutan Absorpsi perkutan adalah masuknya molekul ob at dari kulit ke dalam jaringan di bawah kulit. Kulit berfungsi sebagai sistem epitel pada tubuh untuk menjaga keluarnya substansi -substansi penting dari dalam tubuh dan masuknya substansi-substansi asing ke dalam tubuh (Chien. asam lemak bebas.

Akan tetapi. karena hanya mempunyai daerah yang kecil (kurang dari 0. rute ini berperan penting pada beberapa senyawa polar dan molekul ion yang hampir tidak .1% dari total permukaan kulit). secara nyata dapat terjadi baik maupun penetrasi transapenpendageal bersifat aktif secara metabolik topikal. masuknya penetran ke Obat-obat yang obat-obat yang interselluler. Pada prinsipnya. Rute transappendageal merupakan rute yang sedikit digunakan untuk transport molekul obat. jalur penetrasi obat umumnya melalui transepidermal). a. Tahapan ini dapat digambarkan pada model gambar 2.mikrosirkulasi (Chien. Mekanisme penghan taran obat melalui rute transdermal mulai dari pelepasan obat sampai menuju jaringan target (Chien. epidermis (transepidermal) melewati kelenjar keringat ( dalam stratum corneum bersifat hidrofilik akan berpartisi melalui jalur transeluler sedangkan obat bersifat lipofilik akan masuk ke dalam . pada proses melalui ruang . Penembusan molekul dari luar ke bagian dalam kulit s melalui penetrasi transepidermal Boylan. masukn adalah adanya koefisien partisi dari penetran. Sebagian besar obat berpenetrasi intraselluler dan ekstraselluler. 1995). 1995). b. Penetrasi Transappendageal. melintasi stratum corneum Pada kulit normal. Kulit merupakan organ yang kemungkinan dapat merubah obat setelah penggunaan secara terjadi dapat berperan sebagai absorpsi perkutan (Swarbrick dan Boylan. ). Pada penetrasi transappendageal akan membawa senyawa obat melalui kelenjar keringat dan folikel rambut yang berhubungan dengan kelenjar sebaseus. 1987) Gambar 2. 1995). 1987). Obat stratum corneum melalui rute in ecara (Swarbrick dan dan . Biotransformasi yang faktor penentu kecepatan (rate limiting step) dermal. 1995). Penetrasi melalui rute transapendageal adalah penetrasi melalui kelenjar -kelenjar dan folikel yang ada pada kulit (Swarbrick dan Boylan. interselluler yang berliku dapat berperan sebagai rute utama permeasi obat dan penghalang utama dari sebagian besar obat -obatan (Swarbrick dan Boylan. dibandingkan penetrasi melalui folikel rambut maupun ngat transappendageal). Penetrasi transepidermal. 1987).

Bagian yang pertama adalah penstabilan gradien konsentrasi molekul yang melintasi membran sehingga difusi terjadi secara homogen dan tetap. . h adalah tebal membran dan D¶ adalah tetapan atau koefisiens permeabilitas (Aiache.(1) Dimana J adalah fluks atau jumlah Q linarut yang melintasi membran setiap satuan waktu t. 1993). Aspek Teori Perlintasan Membran Membran dalam kajian formulasi dan biofarmasi merupakan suatu fase padat . Bagian kedua adalah difusi dengan cara dan jumlah yang tetap. Dalam biofarmasi. A adalah luas permukaan efektif membran. dan tahap kedua adalah pengangkutan. Perlintasan dalam membran sintesis pada umumnya berlangsung dalam dua tahap. Hal ini menunjukkan bahwa perbedaan konsentrasi tidak berubah sebagai fungsi waktu. dari lapisan kontak dengan membran. 1993). Tahap ini dapat dibagi atas dua bagian. Tahap awal adalah proses difusi zat aktif menuju permukaan yang kontak dengan membran. Penghantaran Obat melalui Transdermal. ( ) ! ««««««««««««««. dapat menghasilkan difusi yang cepat dan segera setelah penggunaan obat karena dapat menghilangkan waktu yang diperlukan oleh obat untukmelintasi stratum corneum. atau cair dengan ukuran tertentu. 1999). Tahap kedua adalah pengangkutan. Difusi melalui transapendageal ini dapat terjadi dalam 5 menit dari pemakaian obat (Swarbrick dan Boylan. et al. Cd dan Cr adalah konsentrasi pada kompartemen reseptor. membran padat digunakan sebagai model untuk mempelajari kompleks atau interaksi antara zat aktif dan bahan tambahan serta proses pelepasan dan pelarutan (Aiache. Dalam hal ini diasumsikan interaksi zat aktif -pelarut dan pelarut-pelarut tidak berpengaruh terhadap aliran zat aktif. 4. 3. umumnya oleh fase cair. Pada tahap difusi zat aktif daya difusi merupakan mekanisme pertama untuk menembus daerah yang tidak diaduk. setengah padat. 1995). Pada rute ini. tidak larut atau tidak tercampurkan dengan lingkungan sekitarnya dan dipisahkan satu dan lainnya.. Difusi dalam jumlah yang tetap dinyatakan dalam hukum Fick I: J= h D A Cd Cr dt dQ '.berpenetrasi melalui stratum corneum (Moghimi.

seperti yang dinyatakan pada persamaan Stokes -Einstein dengan persamaan berikut (Aiache. 1993). Koefisien difusi melalui jaringan k ulit dapat dipengaruhi oleh viskositas. sehingga pelepasan obatnya akan kecil. jumlah senyawa yang meninggalkan membran permukaan dermis adalah sama dengan senyawa yang epidermis maka dapat dinyatakan dalam hukum Fick¶s 1 dengan persamaan berikut (Aiache. D adalah koefisien difusi melalui jaringan kulit pada keadaan tunak. 1987). 1987) : dt dQ = Ps (Cd-Cr)«««««««««««««««. dan h adalah tebal jaringan kulit (Chien.(2) Dimana Cd dan Cr adalah konsentrasi zat yang berpenetrasi melalui kulit dalam kompartemen donor (konsentrasi obat pada permukaan kompartemen reseptor (tubuh).D«««««««««« h molekul yang berdifusi melalui kulit difusi. Obat akan mengalami difusi menembus lapisan stratum corneum Ps adalah koefisien permeabilitas jaringan kulit. 1993): __ _ ___ ___ ««««««««««««««««««. Apabila keadaan seimbang dapat dicapai. 1993). 19 87) : Ps=K. P Koefisien permeabilitas dapat dinyatakan dengan persamaan (Chien.. Laju penyerapan melalui kulit tidak segera mencapai keadaan tunak. 1993. Semakin tinggi viskositas maka koefisien difusinya rendah. tetapiselalu teramati den gan adanya waktu laten (Gambar 3). Waktu laten mencerminkan penundaan penembusan senyawa ke bagian corneum dan pencapaian gradien tetapan difusi obat dalam stratum corneum sesuai gradien konsentrasi dengan gerakan yang acak (Swarbrick dan Boylan.(4) . itas ««««««««««««««««« ul (Aiache. stratum corneum) dan dalam Dimana K adalah koefisien partisi stratum corneum (pembawa).Sebagian besar obat -obat yang diberikan melalui kulit berpenetrasi dengan mekanisme difusi pasif . Chien. 1995). 2005). Persamaan ini menunjukkan bahwa suatu molekul obat akan berhasil melalui membran (kulit) apabila mempunyai kelarutan yang cukup (C d yang besar) dan sifat lipofilitas yang cukup untuk berpartisi menuju membran (Loftsson et al.. Waktu laten ditentukan oleh tebal membran dan (Aiache.

Peningkat penetrasi yang efektif dapat meningkatkan koefisien .14 r = jari-jari molekul 5. 1987). Untuk obat-obat dengan indeks terapi yang sempit dapat menggunakan rute transdermal sebagai sistem penghantaran obat. dan sebagainya. tidak mengiritasi dan tidak menimbulkan alergi. tidak memiliki sifat farmakologi. pengobatan dapat dengan segera dihentikan melalui penghilangan sediaan transdermal dari permukaan kulit (Chien. juga untuk obat -obat dengan waktu paro yangkecil. 5) Dapat diterima oleh tubuh dan dengan segera dapat mengembalikan fungsi kulit ketika dihilangkan dari sediaan. 6. tidak berbau dan relatif murah. 1987). 2004) : 1) Tidak toksis. tidak berasa. 2) Inert. Enhancer adalah zat yang dapat meningkatkan permeabilitas obat menembus kulit tanpa menyebabkan iritasi atau kerusakan permanen struktur permukaan kulit. 1995). digunakan bahan-bahan yang dapat meningkatkan penetrasi dalam kulit (Swarbrick dan Boylan. koefisien partisi antar obat dengan stratum corneum dan tebal lapisan membran. Peningkat Penetrasi Perkutan (Penetration Enhancers) Untuk mengurangi resistensi stratum corneum dan variasi biologis dari stratum corneum. Persyaratan bahan yang digunakan sebagai peningkat penetrasi antara lain (Williams dan Barry. Peningkat penetrasi yang digunakan pada formulasi obat transdermal bertujuan untuk memperbaiki fluks obat yang melewati membran. 6) Tidak berwarna. konsentrasi efektif obat yang terlarut dalam pembawa.Dimana: Dv = koefisien difusi K = konstanta Boltzman T = temperatur _ = viskositas _ = 3. iritasi lambung. Pemberian obat melalui transdermal juga dapat meningkatkan bioavailabilitas dan efikasi obat dengan menghindari first-pass elimination pada hati (Chien. Fluks obat yang melewati membran dapat dipengaruhi oleh koefisien difusi membran melalui stratum corneum. 3) Dapat mencegah hilangnya substansi endogen dari dalam tubuh 4) Dapat bercampur dengan bahan aktif dan bahan pembawa dalam sediaan. KeuntunganPenghantaran Obat Secara Transdermal Sistem penghantaran obat secara transdermal bertujuan untuk menghindari berbagai masalah absorpsi pada saluran cerna seperti deaktivasi oleh enzim pencernaan. Pada penggunaan transdermal.

terpen dan fosfol ipid (Swarbrick dan Boylan. asam-asam lemak. urea. semakin panjangnya rantai pada asam lemak maka akan meningkatan penetrasi perkutan. yaitu dengan cara merusak struktur stratum corneum. Asam lemak yang biasa digunakan adalah asam oleat. Fatty alcohol seperti propilen glikol dapat digunakan sebagai peningkat penetrasi pada konsentrasi 1 -10% (Swarbrick dan Boylan. 1995. minyak atsiri. Asam laurat dapat meningkatkan penetrasi senyawa yang bersifat hidrofilik maupun lipofilik. peristiwa ini disebut tiksotropi (Ansel. senyawa-senyawa azone. 2004). 2004). Williams dan Barry. sulfoksida. Bahan yang dapat dipakai sebagai basis gel antara lain adalah natural g um. dan asam laurat. 1995). 1995. derivat HPMC merupakan serbuk putih atau putih kekuningan. surfaktan. Beberapa gel akan menjadi encer setelah pengocokan padat atau padat kembali setelah d ibiarkan tidak terganggu untuk beberapa waktu tertentu. 1989). Air dapat berfungsi sebagai peningkat penetrasi karena air akan meningkatkan hidrasi pada jaringan kulit sehingga akan meningkatkan penghantaran obat baik untuk obatobat yang bersifat hidrofilik maupun lipofilik. 1989). 2004). coenhancer atau cosolvent kedalam stratum corneum (Swarbrick dan Boylan. estradiol. Bahan-bahan yang dapat digunakan sebagai peningkat penetrasi antara lain air. alkohol dan glikol. Adanya air juga akan mempengaruhikelarutan obat dalam stratum corneum dan mempengaruhi partisi pembawa ke dalam membran (Williams dan Barry. Pada asam lemak. Mekanismenya dengan cara berinteraksi dengan lipid pada stratum corneum menggunakan konfigurasi cis (Swarbrick dan Boylan. 1995. berinteraksi dengan protein intraseluler dan memperbaiki partisi obat. Perubahan dalam temperatur dapat menyebabkan gel cairnya. Peningkat penetrasi dapat bekerja melalui tiga mekanisme. Efek peningkatan penetrasi etanol tergantung dari konsentrasi yang digunakan. asam linoleat. Williams dan Barry. Williams dan Barry. Etanol dapat meningkatkan penetrasi dari levonorgestrel. 2004). Gel umumnya merupakan suatu sediaan semi padat yang jernih dan tembus c yang mengandung zat aktif. Pada umumnya basis gel yang ideal yaitu haru dengna komponen lain dalam formula. 2004). da n disebabkan oleh jaringan yang saling menganyam dari fase terdispers memegang medium pendispersi (Ansel.difusi obatke dalam stratum corneum dengan cara mengganggu sifat penghalangan stratumcorneum (Williams dan Barry. pyrollidones. t dalam air dingin.dan polietilen . dan hidrokortison.

dalam kloroform. Gambar 7. (Harwood. 2006). sukar larut dalam etanol dan dalam larutan alkali mengandung air (Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Berat molekul piroksikam adalah 331. stabil pada pH 3 -11. derivat mempunyai nama kimia 4-hidroksi-2-metil cahaya punyai s idak ). 1995). larut glikol. sangat sukar larut dalam air. 2007).1-dioksida. Piroksikam tidak dianjurkan diberikan kepada wanita hamil.2-benzoyiazin-3-karboksamida1. pasien tukak lambung. Kadar taraf mantap dicapai sekitar 7 -10 hari dan kadar plasma kira-kira sama dengan kadar di dalam cairan sino via (Wilmana. suspending agent dan stabilizing agent. sakit kepala. dengan 8. Efek samping piroksikam yang lazim adalah gangguan saluran cerna antara lain tukak lambung. spondilitis ankilosa . Struktur HPMC. Struktur piroksikam dapat dilihat pada gambar 7. Struktur Piroksikam (Departemen Kesehatan Republik Indonesia. truktur R adalah HCH 3 atau (CH 3CH(OH)CH2) inflamasi non steroid turunan oksikam. atibilitas dengan agen pengoksida si (Harwood. bentuk monohidrat berwarna kuning. tidak berbau. Piroksikam merupakan dispersi koloid dan mepunyai kekakuan yang terdispersi yang mengurung dan mendapatkan kembali bentuk apa dan segera menjadi setengah harus inert. 1995) Piroksikam digunakan untuk terapi penyakit inflamasi sendi seperti arthritisrematoid. osteoarthritis. praktis tidak larut eter. Piroksikam merupakan serbuk hampir putih atau coklat terang atau kuning terang . Efek samping yang lain adalah eritema kulit. etanol (95%) dan eter dalam sediaan oral dan topikal HPMC dapat inkompatibilitas Gambar 6.35 dengan rumus molekul C H N O S. Obat ini mengalami siklus enterohepatik. da n sebagian besar pelarut organik. Obat ini terikat 99% pada protein pl asma dan mempunyai waktu paruh dalam plasma lebih dari 45 jam sehingga dapat diberikan satu kali sehari. aman. membentuk cairan yang kental. dan . dan tinitus. dan carbomer (Zatz dan Kushla. HPMC biasanya digunakan sebagai emulgator. Absorpsi piroksikam pada saluran cerna berlangsung cepat dan lengkap. 2007). asam metil-N-2-piridil2H-1. dan tidak bereaksi sellulosa. dalam asam encer. Piroksikam Piroksikam merupakan obat enolat (Wilmana. tidak berbau dan berasa. 1989). 2006).

Membran kulit yang digunakan harus mengandung stratum corneum dan lapisan epidermis (Gummer. 1987). Uji difusi in vitro pada sediaan transdermal Uji difusi in vitro melibatkan sel difusi yang terdiri dari dua kompartemen. tikus. Piroksikam juga dapatdiberikan secara topical sebesar 1 gram dari 0. 2007). hidrasi membran. temperatur. bahkan ular (Swarbrick dan Boylan.pasien yang sedang minum antikoagulan. Teknik pengukuran laju pelepasan yang tidak menggunakan membran akan mengalami kesulitan karena perubahan yang cepat dari luas permukaan sediaan yang kont ak dengan larutan uji. 1989). Kelebihan uji in vitro adalah kemudahan dalam mengontrol parameter pada kondisi percobaan (Gummer. teknik sampling yang digunakan menggunakan teknik continuous sampling. 1992 ). Pada sel difusi flow-through. yaitu bagian donor dan reseptor dan diantaranya terdapat membran.5% gel sebanyak 3 -4 kali sehari untuk pengobatan nyeri dan inflamasi (Reynold dan Prashad. Pengadukan pada media reseptor sangat berperan untuk mencegah kejenuhan lapisan difusi yang kontak dengan membran (Aiache. pH donor dan reseptor. Dosis pemakaian piroksikam adalah 10 -20 mg sehari diberikan pada pasien yang tidak memberikan respon cukup dengan anti inflamasi non steroid yang lebih aman (Wilmana. 1995). Hal-hal yang harus diperhatikan pada saat menggunakan sel difusi antara lain kondisi stratum corneum. 1993). dan aktivitas termodinamik pada formula donor (Swarbrick dan Boylan. Pada teknik ini konsentrasi donor dan reseptor dapat dimonitor secarakontinyu (Tojo. . Dalam studi pelepasan zat aktif yang berada dalam suatu bentuk sediaan digunakan membran padat tiruan yang berfungsi sebagai sawar yang memisahkan sediaan dengan cairan disekitarnya. babi. Membran yang digunakan dapat berupa spesimen kulit. 1995). 9. dapat digunakan kulit kelinci. 1989). Sebagai pengganti kulit manusia. Untuk pasien gout akut dosis pemakaian yang biasa diberikan 40 mg sehari diberikan selama 5 -7 hari.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful