P. 1
41. CEDERA KEPALA

41. CEDERA KEPALA

|Views: 168|Likes:
Published by diingdeengdoong

More info:

Published by: diingdeengdoong on Apr 05, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/31/2015

pdf

text

original

CEDERA KEPALA Perhatian • Cedera kepala merupakan penyebab utama mortalitas dan morbiditas setelah trauma.

• Walaupun bisaanya tidak ada terapi spesifik untuk mengatasi primary brain injury, beberapa secondary brain injury dapat dicegah atau diterapi. Catatan : Primary brain injury merupakan kerusakan yang terjadi secara langsung oleh trauma/gerakan mekanikal. Secondary brain injury terjadi setelah initial trauma. • Hipoksemia dan hipotensi merupakan penyebab sistemik yang paling sering menyebabakan secondary brain injury. • Jangan mengasumsikan Penurunan Kesadaran pada penderita trauma kepala terjadi karena intoksikasi alcohol. Keadaan tersebut dapat disebabkan oleh hipoglikemi, hiperkarbi, hipotensi atau concomitant dengan intoksikasi obat. • Fraktur tulang tengkorak meningkatkan kecenderungan adanya underlying cedera otak (tabel 1). • Lucid interval harus menjadi penanda untuk menyingkirkan adanya hematoma ekstradural yang akut. • Semua penderita dengan trauma mayor harus dianggap mengalami cedera kepala atau fraktur cervical spine sampai terbukti tidak. • Pemeriksa tidak dapat mengandalkan hasil pemeriksaan neurology sebelum perfusi dan oksigenasi yang adekuat telah diberikan. • Observasi penderita cedera kepala meliputi pemeriksaan neurology yang berulang. • Jangan menganggap hipotensi yang terjadi pada penderita trauma timbul hanya akibat cedera kepala. Sumber perdarahan lain tetap harus dicari. • Hipertensi dan bradikardi (Cushing reflex) menunjukkan adanya peningkatan tekanan intracranial. • Dilatasi pupil unilateral atau respon cahaya yang lemah mengindikasikan adanya massa yang berkembang pada sisi yang sama dengan pupil yang berdilatasi. Tanda ini terjadi pada tahap akhir keadaan peningkatan intracranial. Tabel 1 : Resiko Hematoma Intrakranial setelah cedera kepala Resiko Hematoma Intrakranial Orientasi cukup tidak ada Skull fracture 1 dari 6000 kasus Disorientasi tidak ada Skull fracture 1 dari 120 kasus Orientasi cukup Skull fracture 1 dari 30 kasus Disorientasi Skull fracture 1 dari 4 kasus • Deficit motorik fokal baru merupakan tanda yang penting yang menunjukkan bahwa px membutuhkan perawatan yang agresif dan immediate. • Jangan pernah memberikan sedasi pada pasien cedera kepala yang gelisah sebelum mengetahui hasil CT scan karena hal tersebut dapat meningkatkan perkembangan hematoma intrakrnial.

Air-fluid level pada sinus (termasuk sinus sphenoidal) Catatan : fluid level pada sinus sphenoidal terdeteksi pada SXR lateral yang diambil dengan horizontal beam menunjukkan basal skull fracture. Antibiotik diberikan apabila terdapat posttraumatic meningitis. Base of skull fracture bukan indikasi urgent untuk dilakukannya CT scan kepala jika GCS 15. GCS ≤ 14 dengan adanya fraktur tulang tengkorak Pupil yang berdilatasi unilateral pada keadaan AMS depressed skull fracture Defisit neurologik fokal pasien cedera kepala yang membutuhkan ventilasi . yang umumnya sensitive terhadap benzyl penicillin. fraktur facial 6. fraktur tulang tengkorak linear atau depressed 2. Pergeseran > 3mm pada satu sisi menandakan adanya hematoma intracranial yang besar.Penatalaksanaan Skull X ray (SXR) • Indikasi: kontroversi. namun dengan tidak adanya fraktur tengkorak tidak akan menghilangkan pentingnya CT scan untuk dilakukan. Large boggy scalp hematoma yang menghalangi palpasi akurat terhadap adanya depressed skull fracture (dimana CT scan kepala juga harus dilakukan). 2. 5. posisi midline dari kalsified glandula pineal. tidak berkaitan dengan adanya fraktur tulang tengkorak. 4. Benda asing 7. Hal ini karena occult CSF leakage dapat berlanjut berbulan-bulan dan bertahun-tahun serta delayed meningitis dapat muncul kadang-kadang pada beberapa tahun setelah cedera. namun merupakan indikasi untuk MRS. 3. 2. 3. Indikasi emergent CT scan setelah cedera kepala GCS ≤ 13 tanpa adanya intoksikasi alcohol atau fraktur tulang tengkorak. SXR bisaanya tidak diindikasikan untuk cedera kepala ringan yang akan di MRSkan untuk observasi dengan pengecualian pada keadaan berikut: 1. Penelitian terbaru menunjukkan tidak adanya bukti penggunaan profilaksis antibiotik pada basal skull fracture. Catatan : simple scalp laceration bukan merupakan kriteria dilakukannya SXR. aerocele 5. 6. diastasis (pelebaran) sutura. bisaanya karena infeksi Streptococcus pneumoniae. Luka harus dipalpasi terlebih dahulu sebelum penjahitan dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan fraktur. 4. CT scan • 1. 50% abnormalitas intrakranial yang terdapat pada kasus trauma kepala. Sehingga dengan adanya fraktur tulang tengkorak akan meningkatkan kecurigaan adanya lesi intracranial. Suspek benda asing radioopaque pada laserasi kulit kepala (contoh : karena pecahan kaca). • Apa yang harus dicari pada sebuah SXR 1.

Namun tingginya kadar alkohol tidak dapat dikatakan sebagai penyebab terjadinya keadaan AMS pada penderita cedera kepala tersebut. deteriorasi GCS yang cepat ≥ 2. PCO2 harus berada pada kisaran 34-40 mmHg. 2. • Indikasi penggunaan Mannitol pada cedera kepala : . • Pemeriksaan neurologik • Indikasi Intubasi pada cedera kepala 1. hipoksia. • Sirkulasi 1. Catatan : kadar alcohol darah < 2g/l menunjukkan bahwa penurunan kesadaran yang terjadi adalah akibat cedera kepala bukan karena intoksikasi alkohol.l : • kontrol jalan nafas dan cervical spine • pernafasan Catatan : penyebab perburukan respirasi meliputi : (1) penyebab sentral seperti obat-obatan dan brain stem injury. namun akan sangat membutuhkan biaya yang besar. Menurut ATLS. Catatan: CT scan emergent masih controversial. distress respirasi secara klinis. kejang dan perluasan aneurisme intrakrnial. lakukan pemeriksaan GDA pada semua penderita cedera kepala dengan penurunan kesadaran untuk mengeksklusi adanya hipoglikemi. concurrent edema pulmonal berat. 5. GCS ≤ 14 dengan adanya dilatasi pupil unilateral. cedera penyerta pada maxillofacial 6. 4. Dalam keadaan bisaa. (2) penyebab perifer seperti obstruksi jalan nafas. namun juga disebabkan oleh perluasan trauma mata. aspirasi darah/vomit. RR > 30x/menit atau < 10x/menit. Koma (GCS <8) 2. cedera jantung atau abdominal bagian atas. Pemeriksaan darah : darah lengkap. adult respiratory distress syndrome dan edema pulmonary neurogenik. bermacam-macam obat. profil koagulasi. Catatan : hiperventilasi harus digunakan untuk mencapai PCO2 antara 30-35 mmHg jika ada indikasi peningkatan tekanan intrakrnial. cross match ± kadar serum etanol. trauma dada. semua px bahkan dengan cedera kepala ringan membutuhkan CT scan kepala. 3. cedera langsung pada nervus kranialis ketiga.7. kejang berulang 7. hipotensi. Cek ulang BGA 10-15 menit setelah hiperventilasi. pasien cedera kepala yang membutuhkan anestesi general untuk operasi lainnya. abnormalitas pola pernafasan atau hipokemia yan gtidak terkoreksi dengan O2 100% yang diberikan melalui non-rebreather mask. Catatan : dilatasi atau fixed pupil pada penderita trauma bisaanya disebabkan oleh hematoma atau kerusakan otak. Resusitasi Prioritas resusitasi menurut ATLS. urea/elektrolit/kreatinin. a. aneurisme intracranial.

pasien koma yang awalnya memiliki pupil yang normal dan reaktif namun kemudian berkembang menjadi dilatasi disertai atau tanpa adanya hemiparesis. atau vomiting • Intoksikasi alcohol • Penetrating injury • Fraktur tulang tengkorak • Associated injuries yang signifikan • Tidak adanya pengawas yang dapat diandalkan dirumah Instruksi pada cedera Kepala Sebelum KRS.1. Pastikan px tidak hipotensi c. Pasang kateter urinary b. Pastikan px tidak menderita gagal ginjal kronis Catatan : hiperventilasi dan IV mannitol akan membutuhkan waktu selama 2jam. berikan KIE bahwa px harus segera kembali ke RS bila mengalami : • Sakit kepala hebat • Muntah yang sering • Keluarnya cairan dari hidung atau telinga • Kebingungan yang tidak appropriate • kejang . Kriteria Merujuk ke Bedah Saraf Dapat berbeda menurut institusi. dan tidak boleh ada waktu yang terbuang dalam pembuatan keputusan terapi definitive. Dosis Mannitol : 1g/kgBB. a. Dilatasi pupil bilateral dan nonreaktif tetapi tidak hipotensive. 2. Perhatian sebelum menggunakan mannitol : a.l: • Cedera kepala dengan deteriorasi GCS • Depressed skull fracture • Pneumokranium • Penetrating skull injuries • Penemuan yang positif pada CT scan Kriteria MRS pada cedera kepala ringan • Hilang kesadaran > 10 menit • Amnesia • Kejang post traumatic • Tanda klinis fracture basis cranii • Sakit kepala moderate atau severe. cth [5x BB (kg)] ml larutan mannitol 20% dalam infus cepat selama 5 menit.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->