1

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Pelayanan kesehatan yang belum sesuai dengan harapan pasien, diharapkan menjadi suatu masukan bagi organisasi layanan kesehatan agar berupaya memenuhinya. Jika kinerja layanan kesehatan yang diperoleh pasien pada suatu fasilitas layanan kesehatan sesuai dengan harapannya, pasien pasti akan selalu datang berobat ke fasilitas pelayanan kesehatan tersebut. Pasien akan selalu mencari pelayanan kesehatan di fasilitas yang kinerja pelayanan kesehatannya dapat memenuhi harapan atau tidak mengecewakan pasien (Pohan, 2002). Dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 28 H dan Undang-Undang Nomor 23/ 1992 tentang Kesehatan, ditetapkan bahwa setiap orang berhak mendapatkan pelayanan kesehatan. Karena itu setiap individu, keluarga dan masyarakat berhak memperoleh perlindungan terhadap kesehatannya, dan negara bertanggungjawab mengatur agar terpenuhi hak hidup sehat bagi penduduknya termasuk bagi masyarakat miskin dan tidak mampu. Oleh karena itu, pada awal pemerintahan SBY ± JK telah diambil kebijakan strategis untuk menggratiskan pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin. Sejak 1 Januari 2005 program ini menjadi Program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Miskin (JPKMM) yang populer dengan nama Askeskin (Lubis, 2008). Program ini bertujuan meningkatkan akses pelayanan kesehatan

masyarakat miskin dan tidak mampu. Melalui Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Miskin ini diharapkan dapat menurunkan angka kematian ibu melahirkan, menurunkan angka kematian bayi dan balita serta penurunan angka kelahiran disamping dapat terlayaninya kasus-kasus kesehatan masyarakat miskin umumnya (KEPMENKES RI, 2008) Pada awal tahun 2005 sasaran program berjumlah 36,1 juta jiwa penduduk miskin di seluruh Indonesia. Sejalan dengan usulan Pemerintah Daerah dan bersamaan dengan Program Kompensasi Pengurangan Subsidi Bahan Bakar

2

Minyak (PKPS-BBM), mulai pertengahan tahun 2005 sampai tahun 2006 sasaran disesuiakan dengan jumlah rumah tangga (RTM) atau sekitar 76,4 juta jiwa. Masyarakat miskin memperoleh pelayanan kesehatan secara berjenjang mulai dari rawat jalan dan rawat inap di Puskesmas, sampai rujukan rawat spesifikasi dan rawat inap di kelas tiga rumah sakit (Lubis, 2008). Pada tahun 2008 program Askeskin ini diubah namanya menjadi Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) yang tidak mengubah jumlah sasaran. Program ini bertujuan untuk memberi akses pelayanan kesehatan kepada masyarakat sangat miskin, miskin dan mendekati miskin berjumlah 76.4 juta jiwa. Jumlah kuota masyarakat miskin yang ditanggung di provinsi Kalimantan Timur sebanyak 910.925 jiwa serta khusus untuk Kota Samarinda sebanyak 121.420 jiwa (KEPMENKES RI, 2008). Puskesmas sebagai wadah pelayanan kesehatan harus mempunyai fungsi utama menyelenggarakan upaya kesehatan yang bersifat penyembuhan dan pemulihan bagi penderita. Sehubungan dengan itu dapatlah dinyatakan puskesmas adalah sisi pemberi pelayanan kepada masyarakat dengan segala latar belakang sosial kulturnya, tanpa pandang bulu sebagai sisi yang mengharapkan akan menerima pelayanan dengan baik. Dalam mendukung pelaksanaan program Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Miskin atau yang sekarang lebih dikenal dengan Jamkesmas, puskesmas memiliki peranan yang sangat penting. Peranannya adalah memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang menjadi pengguna atau peserta Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) Miskin. Di Indonesia Puskesmas merupakan tulang punggung pelayanan kesehatan tingkat pertama. Konsep Puskesmas dilahirkan tahun 1968 ketika

dilangsungkannya Rapat Kerja Kesehatan Nasional (RAKERKESNAS) I di Jakarta. Waktu itu dibicarakan upaya pengorganisasian sistem pelayanan kesehatan Tanah Air, dimana pada saat itu pelayanan kesehatan tingkat pertama pada waktu itu dirasakan kurang menguntungkan dan dari kegiatan-kegiatan seperti BKIA, BP, P4M dan sebagainya masih berjalan sendiri-sendiri dan tidak

3

saling berhubungan. Hasil dari RAKERKESNAS tersebut timbullah suatu gagasan untuk menyatukan semua pelayanan tingkat pertama kedalam suatu organisasi yang dipercaya dan diberi nama Pusat Kesehatan Masyarakat (KEPMENKES, 2004) Puskesmas Pasundan, yang terletak di Kelurahan Jawa Samarinda, sebagai salah satu puskesmas di Samarinda yang merupakan ujung tombak pembangunan kesehatan dan tulang punggung upaya pelayanan kesehatan tingkat pertama dalam pelaksanaan program-program kesehatan bagi masyarakat, khususnya di Kecamatan Samarinda Ulu. Wilayah kerja Puskesmas Pasundan meliputi Kelurahan Teluk Lerong Ilir, Kelurahan Jawa dan Kelurahan Bugis. Puskesmas Pasundan memiliki tenaga dokter sebanyak 3 orang, tenaga bidan sebanyak 3 orang dan tenaga perawat sebanyak 7 orang (Puskesmas Pasundan, 2010). Puskesmas Pasundan merupakan sarana upaya perbaikan kesehatan yang melaksanakan pelayanan kesehatan dan dapat dimanfaatkan pula sebagai lembaga pendidikan tenaga kesehatan dan penelitian. Salah satu contoh dari hasil pembinaan Puskesmas bagi masyarakat adalah terbentuknya Posyandu. Terdapat 43 Posyandu di wilayah kerja Puskesmas Pasundan, diantaranya posyandu Asparagus, posyandu Cempaka dan posyandu Arjuna serta beberapa posyandu Lansia. Adapun jumlah kunjungan pasien pada tahun 2010 sebanyak 36.711 orang, dimana 927 orang diantaranya merupakan peserta program Jamkesmas Miskin yang memanfaatkan fasilitas pelayanan yang diterimanya sebagai peserta program Jamkesmas Miskin. Namun jumlah kunjungan pasien Jamkesmas Miskin pada puskesmas ini masih rendah, dimana terdapat 3.661 orang peserta Jamkesmas Miskin di wilayah kerja Puskesmas Pasundan namun hanya sekitar 25 % saja yang memanfaatkan program Jamkesmas Miskin yang diterimanya (Puskesmas Pasundan, 2010).

4

B. Rumusan Masalah Berdasarkan penjelasan pada latar belakang, maka dapat ditarik suatu rumusan masalah yaitu ³Bagaimana gambaran sistem pelayanan kesehatan peserta program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) Miskin di Puskesmas Pasundan Samarinda?´

C. Tujuan Tujuan yang ingin dicapai pada program magang ini adalah: 1. Tujuan Umum Memperoleh pengalaman keterampilan, penyesuaian sikap dan penghayatan di dunia kerja dalam rangka memperkaya pengetahuan dan melatih kemampuan bekerja sama serta keterampilan di bidang ilmu kesehatan masyarakat. 2. Tujuan Khusus a. Mengidentifikasi standar operasional prosedur pelayanan kesehatan peserta program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) Miskin di Puskesmas Pasundan Samarinda. b. Mengidentifikasi alur pelayanan kesehatan bagi peserta program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) Miskin di Puskesmas Pasundan Samarinda c. Mengidentifikasi masalah teknis pelayanan kesehatan dan prioritas masalah serta alternatif pemecahan masalah bagi peserta program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) Miskin di Puskesmas Pasundan Samarinda.

5

D. Manfaat Manfaat program magang ini yaitu: 1. Bagi mahasiswa a. Melatih mahasiswa dalam berfikir, bersikap dan bertanggung jawab. b. Menambah pengalaman/ wawasan dalam dunia kerja secara langsung berdasarkan disiplin ilmu kesehatan masyarakat. c. Meningkatkan keterampilan dan kreativitas mahasiswa. 2. Bagi Instansi a. Mengetahui permasalahan di dalam instansi khususnya di Puskesmas Pasundan Samarinda. b. Sebagai bahan pertimbangan dalam upaya pengambilan kebijakan dan penentuan keputusan di bidang kesehatan masyarakat. 3. Bagi Fakultas a. b. Sebagai bahan evaluasi penyempurnaan kurikulum di masa mendatang. Menjembatani antara instansi dengan pihak Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Mulawarman dalam hal kerjasama dalam bidang kesehatan.

6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Standar Operasional Prosedur (SOP) Standar Operasional Prosedur (SOP) adalah pedoman atau acuan untuk melaksanakan tugas pekerjaan sesuai dengan fungsi dan alat penilaian kinerja instasi pemerintah berdasarkan indikator indikator teknis, administrasif dan prosedural sesuai dengan tata kerja, prosedur kerja dan sistem kerja pada unit kerja yang bersangkutan. Standar operasional prosedur tidak saja bersifat internal tetapi juga eksternal, karena SOP selain dapat digunakan untuk mengukur kinerja organisasi publik, juga dapat digunakan untuk menilai kinerja organisasi publik di mata masyarakat berupa responsivitas, responsibilitas, dan akuntabilitas kinerja instansi pemerintah. Dengan demikian SOP merupakan pedoman atau acuan untuk menilai pelaksanaan kinerja instansi pemerintah berdasarkan indikator-indikator teknis, administratif dan prosedural sesuai dengan tata hubungan kerja dalam organisasi yang bersangkutan (Atmoko, 2009). Secara umum, SOP merupakan gambaran langkah-langkah kerja (sistem, mekanisme dan tata kerja internal) yang diperlukan dalam pelaksanaan suatu tugas untuk mencapai tujuan instansi pemerintah. SOP sebagai suatu dokumen/instrumen memuat tentang proses dan prosedur suatu kegiatan yang bersifat efektif dan efisisen berdasarkan suatu standar yang sudah baku. Pengembangan instrumen manajemen tersebut dimaksudkan untuk memastikan bahwa proses pelayanan di seluruh unit kerja pemerintahan dapat terkendali dan dapat berjalan sesuai dengan ketentuan yang berlaku (Atmoko, 2009). Sebagai suatu instrumen manajemen, SOP berlandaskan pada sistem manajemen kualitas (Quality Management System), yakni sekumpulan prosedur terdokumentasi dan praktek-praktek standar untuk manajemen sistem yang bertujuan menjamin kesesuaian dari suatu proses dan produk (barang dan/atau jasa) terhadap kebutuhan atau persyaratan tertentu. Sistem manajemen kualitas berfokus pada konsistensi dari proses kerja. Hal ini mencakup beberapa tingkat

7

dokumentasi terhadap standar-standar kerja. Sistem ini berlandaskan pada pencegahan kesalahan, sehingga bersifat proaktif, bukan pada deteksi kesalahan yang bersifat reaktif (Atmoko, 2009). Tahap penting dalam penyusunan Standar operasional prosedur adalah melakukan analisis sistem dan prosedur kerja, analisis tugas, dan melakukan analisis prosedur kerja, dapat diketahui sebagai berikut: 1. Analisis sistem dan prosedur kerja Analisis sistem dan prosedur kerja adalah kegiatan mengidentifikasikan fungsi-fungsi utama dalam suatu pekerjaan, dan langkah-langkah yang diperlukan dalam melaksanakan fungsi sistem dan prosedur kerja. Sistem adalah kesatuan unsur atau unit yang saling berhubungan dan saling mempengaruhi sedemikian rupa, sehingga muncul dalam bentuk keseluruhan, bekerja, berfungsi atau bergerak secara harmonis yang ditopang oleh sejumlah prosedur yang diperlukan, sedang prosedur merupakan urutan kerja atau kegiatan yang terencana untuk menangani pekerjaan yang berulang dengan cara seragam dan terpadu. 2. Analisis Tugas Analisis tugas merupakan proses manajemen yang merupakan penelaahan yang mendalam dan teratur terhadap suatu pekerjaan, karena itu analisa tugas diperlukan dalam setiap perencanaan dan perbaikan organisasi. Analisa tugas diharapkan dapat memberikan keterangan mengenai pekerjaan, sifat pekerjaan, syarat pejabat, dan tanggung jawab pejabat. Di bidang manajemen dikenal sedikitnya 5 aspek yang berkaitan langsung dengan analisis tugas yaitu : a. Analisa tugas, merupakan penghimpunan informasi dengan sistematis dan penetapan seluruh unsur yang tercakup dalam pelaksanaan tugas khusus. b. Deskripsi tugas, merupakan garis besar data informasi yang dihimpun dari analisa tugas, disajikan dalam bentuk terorganisasi yang

mengidentifikasikan dan menjelaskan isi tugas atau jabatan tertentu. Deskripsi tugas harus disusun berdasarkan fungsi atau posisi, bukan

8

individual; merupakan dokumen umum apabila terdapat sejumlah personel memiliki fungsi yang sama; dan mengidentifikasikan individual dan persyaratan kualifikasi untuk mereka serta harus dipastikan bahwa mereka memahami dan menyetujui terhadap wewenang dan tanggung jawab yang didefinisikan itu. c. Spesifikasi tugas berisi catatan-catatan terperinci mengenai kemampuan pekerja untuk tugas spesifik d. Penilaian tugas, berupa prosedur penggolongan dan penentuan kualitas tugas untuk menetapkan serangkaian nilai moneter untuk setiap tugas spesifik dalam hubungannya dengan tugas lain e. Pengukuran kerja dan penentuan standar tugas merupakan prosedur penetapan waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan setiap tugas dan menetapkan ukuran yang dipergunakan untuk menghitung tingkat pelaksanaan pekerjaan. Melalui analisa tugas ini tugas-tugas dapat dibakukan, sehingga dapat dibuat pelaksanaan tugas yang baku. Setidaknya ada dua manfaat analisis tugas dalam penyusunan standar operasional prosedur yaitu membuat penggolongan pekerjaan yang direncanakan dan dilaksanakan serta menetapkan hubungan kerja dengan sistematis. 3. Analisis prosedur kerja Analisis prosedur kerja adalah kegiatan untuk mengidentifikasi urutan langkah-langkah pekerjaan yang berhubungan apa yang dilakukan, bagaimana hal tersebut dilakukan, bilamana hal tersebut dilakukan, dimana hal tersebut dilakukan, dan siapa yang melakukannya. Prosedur diperoleh dengan merencanakan terlebih dahulu bermacam-macam langkah yang dianggap perlu untuk melaksanakan pekerjaan. Dengan demikian prosedur kerja dapat dirumuskan sebagai serangkaian langkah pekerjaan yang berhubungan, biasanya dilaksanakan oleh lebih dari satu orang, yang membentuk suatu cara tertentu dan dianggap baik untuk melakukan suatu keseluruhan tahap yang penting. Analisis terhadap prosedur kerja akan menghasilkan suatu diagram

9

alur (flow chart) dari aktivitas organisasi dan menentukan hal-hal kritis yang akan mempengaruhi keberhasilan organisasi. Aktivitas-aktivitas kritis ini perlu didokumetasikan dalam bentuk prosedur-prosedur dan selanjutnya memastikan bahwa fungsi-fungsi dan aktivitas itu dikendalikan oleh prosedurprosedur kerja yang telah terstandarisasi. Prosedur kerja merupakan salah satu komponen penting dalam pelaksanaan tujuan organisasi sebab prosedur memberikan beberapa keuntungan antara lain memberikan pengawasan yang lebih baik mengenai apa yang dilakukan dan bagaimana hal tersebut dilakukan; mengakibatkan penghematan dalam biaya tetap dan biaya tambahan; dan membuat koordinasi yang lebih baik di antara bagian-bagian yang berlainan (Atmoko, 2009).

B. Sistem Pelayanan Kesehatan Sehat adalah keadaan sejahtera baik dari segi badan, mental spiritual (dirinya sendiri) maupun dari segi social budaya (lingkungannya). Sehat merupakan kehendak semua pihak, tidak hanya perorangan, tetapi oleh keluarga, kelompok dan masyarakat. Keadaan sehat membutuhkan banyak hal, salah satu diantaranya adalah menyelenggarakan pelayanan kesehatan (Azwar, 1996). Pelayanan kesehatan adalah setiap upaya yang diselenggarakan sendiri atau bersama-sama dalam suatu organisasi untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan perseorangan, keluarga, kelompok ataupun masyarakat (Leevey dan Loomba, 1973 dalam Azwar 1996). Dalam Notoatmodjo (2003) sistem adalah suatu kesatuan yang utuh, terpadu yang terdiri dari berbagai elemen (subsistem) yang saling berhubungan di dalam suatu proses atau struktur dalam upaya menghasilkan sesuatu atau mencapai suatu tujuan tertentu. Oleh sebab itu kalau berbicara tentang sistem pelayanan kesehatan adalah struktur atau gabungan dari subsistem di dalam suatu unit atau di dalam suatu proses untuk mengupayakan pelayanan kesehatan masyarakat baik preventif, kuratif, promotif maupun rehabilitative. Sehingga sistem pelayanan kesehatan ini dapat berbentuk Puskesmas, Rumah Sakit,

10

Balkesmas dan unit-unit atau organisasi-organisasi lain yang mengupayakan peningkatan kesehatan. Lebih lanjut dalam Notoatmodjo (2003) sistem pelayanan kesehatan mencakup pelayanan kedokteran (medical services) dan pelayanan kesehatan masyarakat (public health services). Secara umum pelayanan kesehatan masyarakat adalah merupakan subsistem pelayanan kesehatan yang tujuan utamanya adalah pelayanan preventif (pencegahan) dan promotif (peningkatan kesehatan) dengan sasaran masyarakat. Terdapat tiga strata pelayanan kesehatan di Indonesia, yaitu: 1. Pelayanan kesehatan tingkat pertama (primary health care) Pelayanan jenis ini diperlukan untuk masyarakat yang sakit ringan dan masyarakat yang sehat untuk meningkatkan kesehatan mereka atau promosi kesehatan. Oleh karena itu jumlah kelompok ini di dalam suatu populasi sangat besar (lebih kurang 80%), pelayanan yang diperlukan oleh kelompok ini bersifat pelayanan kesehatan dasar (basic helath services), juga

merupakan pelayanan kesehatan primer atau utama (primary health care). Bentuk pelayanan ini di Indonesia adalah Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Puskesmas Keliling dan Balkesmas. 2. Pelayanan kesehatan tingkat kedua (secondary health care) Pelayanan kesehatan jenis ini diperlukan oleh kelompok masyarakat yang memerluka perawatan inap, yang sudah tidak dapat ditangani oleh pelayanan kesehatan primer. Bentuk pelayanann ini misalnya Rumah Sakit tipe C dan D, dan memerlukan tersedianya tenaga-tenaga spesialis. 3. Pelayanan kesehatan tingkat ketiga (tertiary health services) Pelayanan kesehatan ini diperlukan oleh kelompok masyarakat atau pasien yang sudah tidak dapat ditangani oleh pelayanan kesehatan sekunder. Pelayanan sudah komplek dan memerlukan tenaga-tenaga super spesialis. Contoh di Indonesia Rumah Sakit tipe A dan B. Dalam suatu sistem pelayanan kesehatan, ketiga strata atau jenis pelayanan tersebut tidak berdiri sendiri-sendiri, namun berada di dalam suatu sistem, dan

11

saling berhubungan. Apabila pelayanan kesehatan primer tidak dapat melakukan tindakan medis tingkat primer, maka ia menyerahnkan tanggung jawab tersebut ke tingkat pelayanan di atasnya, demikian seterusnya. Penyerahan tanggung jawab dari satu pelayanan ke pelayanan kesehatan yang lain disebut ³rujukan´.

C. Puskesmas Menurut Azwar, Pusat Kesehatan Masyarakat (PUSKESMAS) adalah suatu kesatuan organisasi fungsional yang langsung memberikan pelayanan secara menyeluruh kepada masyarakat dalam suatu wilayah kerja tertentu dalam bentuk usaha-usaha kesehatan pokok. Puskesmas adalah suatu unit pelaksana fungsional yang berfungsi sebagai pusat pembangunan kesehatan, pusat pembinaan peran serta masyarakat dalam bidang kesehatan serta pusat pelayanan kesehatan tingkat pertama yang menyelenggarakan kegiatannya secara

menyeluruh, terpadu, dan berkesinambungan pada suatu masyarakat yang bertempat tinggal dalam suatu wilayah tertentu (Azwar, 1996). Menurut Depkes RI (1991) Puskesmas adalah suatu kesatuan organisasi kesehatan fungsional yang merupakan pusat pengembangan kesehatan

masyarakat yang juga membina peran serta masyarakat di samping memberikan pelayanan secara menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat di wilayah kerjanya dalam bentuk kegiatan pokok (Effendi, 1998). Dari berbagai referensi definisi Puskesmas maka dapat diambil sebuah makna yang lebih mendalam, yang menunjukkan bahwa Puskesmas mempunyai wewenang dan tangguang jawab yang sangat besar dalam memelihara kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya dalam rangka meningkatkan status kesehatan masyarakat seoptimal mungkin. Dengan demikian Puskesmas harus lebih aktif terjun kemasyarakat karena Puskesmas dituntut untuk lebih mengutamakan tindakan pencegahan (preventif) dibandingkan tindakan pengobatan (kuratif). Puskesmas mempunyai tanggung jawab dalam pembinaan dan pengembangan posyandu di wilayahnya masing-masing (Notoatmodjo, 2005). Adapun struktur organisasi puskesmas, sebagai berikut:

12

1. Susunan Organisasi Puskesmas a. Unsur Pimpinan b. Unsur Pembantu Pimpinan c. Unsur Pelaksana 2. Tugas Pokok a. Kepala Puskesmas Mempunyai tugas memimpin, mengawasi dan mengkoordinasikan kegiatan puskesmas yang dapat dilakukan dalam jabatan struktural dan jabatan fungsional. b. Kepala Urusan Tata Usaha Mempunyai tugas dibidang kepegawaian, keuangan, perlengkapan, dan surat menyurat serta pencatatan dan laporan. c. Unit I Mempunyai tugas melaksanakan kegiatan kesejahteraan ibu dan anak, keluarga berencana dan perbaikan gizi. d. Unit II Mempunyai tugas melaksanakan kegiatan pencegahan dan : Kepala Puskesmas : Urusan Tata Usaha : Unit I s/d Unit VII

pemberantasan penyakit, khususnya imunisasi, kesehatan lingkungan, dan laboratorium sederhana. e. Unit III Mempunyai tugas melaksanakan kegiatan kesehatan gigi dan mulut, kesehatan tenaga kerja dan manula. f. Unit IV Mempunyai tugas melaksanakan kegiatan perawatan kesehatan masyarakat, kesehatan sekoalah dan olahraga, kesehatan jiwa,kesehatan mata dan kesehatan khusus lainnya. g. Unit V Mempunyai tugas melaksanakan kegiatan pembinaan dan

pengembangan upaya kesehatan masyarakat dan penyuluhan kesehatan masyarakat, kesehatan remaja dan dana sehat.

13

h. Unit VI Mempunyai tugas melaksanakan kegiatan pengobatan rawat jalan dan rawat inap. i. Unit VII Melaksanakan tugas kefarmasian.

Bagan 1. Struktur Organisasi Puskesmas Kepala Puskesmas Tata Usaha

1

2

3

4

5

I

II

III

IV

V

VI

VII

Puskesmas Pembantu

Puskesmas bertanggung jawab menyelenggarakan upaya kesehatan perseorangan dan upaya kesehatan masyarakat yang keduanya jika ditinjau dari sistem kesehatan nasional merupakan pelayanan kesehatan tingkat pertama. Upaya kesehatan tersebut dikelompokkan menjadi dua yakni : 1. Upaya Kesehatan Wajib Upaya Kesehatan wajib Puskesmas adalah upaya yang ditetapkan berdasarkan komitmen nasional, regional, dan global serta yang mempunyai daya ungkit tinggi untuk peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Upaya kesehatan wajib ini harus diselenggarakan oleh setiap Puskesmas yang ada di wilayah Indonesia. Upaya kesehatan Wajib tersebut adalah :

14

a. Kesejahteraan Ibu dan Anak (KIA) Tujuan umum : 1) Menurunkan kematian (mortality) dan kejadian sakit (morbility) dikalangan Ibu. 2) Kegiatan pokok ini ditujukan untuk menjaga kesehatan ibu selama kehamilan, pada saat bersalin dan saat ibu menyusui. 3) Meningkatkan derajat kesehatan anak, melalui pemantauan status gizi dan pencagahan sedini mungkin berbagai penyakit menular yang bisa dicegah dengan imunisasi dasar sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Sasarannya yaitu ibu hamil, ibu menyusui, anak-anak sampai dengan umur 5 tahun. Kelompok-kelompok masyarakat ini adalah sasaran primer program. Sasaran sekunder adalah dukun bersalin dan kader kesehatan (Dainur, 1995). b. Keluarga Berencana (KB) Program ini dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan kepedulian dan peran serta masyarakat terhadap pendewasaan usia perkawinan, penurunan angka kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, dan peningkatan kesejahteraan keluarga. Untuk mencapai tujuan tersebut, dilaksanakan kegiatan-kegiatan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE), pelayanan keluarga berencana, pembangunan keluarga sejahtera, pemantapan pelembagaan program, pendidikan dan pelatihan, pelaporan dan penelitian. Upaya-upaya tersebut telah meningkatkan jumlah peserta KB, meningkatkan kesejahteraan keluarga, dan mengajak masyarakat melaksanakan KB secara mandiri (www.bappenas.go.id). c. Usaha Kesehatan Gizi Program perbaikan gizi ditujukan untuk meningkatkan mutu gizi konsumsi pangan sehingga berdampak pada perbaikan keadaan gizi masyarakat. Kegiatan utama program ini meliputi penyuluhan gizi masyarakat, usaha perbaikan gizi keluarga (UPGK), upaya perbaikan gizi

15

institusi,

fortifikasi

pangan,

dan

peningkatan

penerapan

sistem

kewaspadaan pangan dan gizi (SKPG). Pelayanan gizi di posyandu, terutama ditujukan kepada kelompok masyarakat yang rawan gizi yaitu wanita pranikah, ibu hamil, ibu menyusui, bayi dan anak balita. Posyandu merupakan ujung tombak dalam penanggulangan masalah gizi kurang seperti kurang vitamin A (KVA), gangguan akibat kurang iodium (GAKI), anemia gizi besi (AGB) dan kurang energi protein (KEP). Kegiatan pemantauan pelayanan gizi di posyandu antara lain meliputi pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak, pemberian paket pelayanan gizi, pemberian makanan tambahan dan pemantauan dini terhadap perkembangan kehamilan (www.bapennas.go.id). d. Kesehatan Lingkungan Sanitasi lingkungan adalah wawasan lingkungan fisik, biologis, sosial, dan ekonomi yang mempengaruhi kesehatan manusia dimana lingkungan yang berguna ditingkatkan dan diperbanyak sedangkan yang merugikan diperbaiki atau dihilangkan. Pentingnya lingkungan sehat ini telah dibuktikan oleh WHO, dimana dari penyelidikan-penyelidikan di seluruh dunia didapatkan hasil bahwa angka kematian (mortalitas), angka perbandingan orang sakit (morbidity) yang tinggi serta seringnya terjadi epidemi terdapat di tempat-tempat yang higiene dan sanitasi

lingkungannya buruk, yaitu di tempat-tempat dimana terdapat banyak lalat dan nyamuk, seperti pembuangan kotoran dan sampah yang tidak teratur, air rumah tangga yang buruk, perumahan yang terlalu sesak dan keadaan sosial ekonomi yang buruk. Terbukti bahwa di tempat-tempat dimana higiene dan sanitasi lingkungan diperbaiki, mortality dan morbidity menurun dan wabah berkurang dengan sendirinya (Entjang, 2000).

16

Kegiatan-kegiatan utama kesehatan lingkungan yang dilakukan staf puskesmas adalah: 1) Penyehatan air bersih 2) Penyehatan pembuangan kotoran 3) Penyehatan lingkungan perumahan 4) Penyehatan air buangan/limbah 5) Pengawasan sanitasi tempat umum 6) Penyehatan makanan dan minuman 7) Pelaksanaan peraturan perundangan e. Pencegahan Penyakit Menular ( P2M ) Bertujuan menemukan kasus penyakit menular sedini mungkin dan mengurangi berbagai faktor resiko lingkungan masyarakat untuk memudahkan terjadinya penyebaran suatu penyakit menular. Dengan sasaran ibu hamil, balita dan anak-anak sekolah untuk kegiatan imunisasi. Sasaran sekunder adalah lingkungan pemukiman masyarakat. Untuk pemberantasan penyakit menular tertentu (misal, penyakit kelamin), kelompok-kelompok tertentu masyarakat yang berperilaku resiko tinggi juga perlu dijadikan sasaran kegiatan P2M. Penyakit menular adalah penyakit infeksi yang dapat dipindahkan dari orang atau hewan sakit, dan reservoir ataupun dari benda-benda yang mengandung bibit penyakit lainnya kepada manusia-manusia sehat (Efendi, 1998). Pengertian pencegahan secara umum adalah mengambil tindakaan terlebih dahulu sebelum kejadian. Dalam mengambil langkah-langkah untuk pencegahan, haruslah didasarkan pada data / keterangan yang bersumber pada hasil analisis epidemiologi atau hasil pengamatan / penelitian epidemiologi (Entjang, 2000). f. Pengobatan Bertujuan memberi pengobatan dan perawatan di puskesmas (khusus untuk puskesmas perawatan). Dengan sasaran masyarakat yang

17

mengunjungi puskesmas yang mencari pengobatan. Upaya yang dapat dilakukan: 1) Melaksanakan diagnosa sedini mungkin melalui: a) mendapatkan riwayat penyakit

b) mengadaan pemeriksaan fisik c) mengadaan pemeriksaaan laboratorium

2) Membuat diagnosa 3) Melaksanakan tindakan pengobatan. 4) Melakukan upaya rujukan bila dipandang perlu, rujukan tersebut dapat berupa : a) rujukan diagnostik b) rujukan pengobatan/rehabilitasi c) rujukan lain

2. Upaya Kesehatan Pengembangan Upaya Kesehatan pengembangan Puskesmas adalah upaya yang ditetapkan berdasarkan permasalahan Kesehatan yang ditemukan di masyarakat yang disesuaikan dengan kemampuan Puskesmas. Upaya kesehatan pengembangan dipilih dari daftar upaya kesehatan pokok Puskesmas yang telah ada yakni : a. Upaya Kesehatan sekolah b. Upaya Kesehatan Olahraga c. Upaya Perawatan Kesehatan Masyarakat d. Upaya Kesehatan Kerja e. Upaya Kesehatan Gigi dan Mulut f. Upaya Kesehatan Jiwa g. Upaya Kesehatan Mata h. Upaya Kesehatan Usia Lanjut i. Upaya Pembinaan Pengobatan Tradisional (KEPMENKES RI, 2004).

18

Lebih lanjut dalam Effendy (1998), ada 3 fungsi pokok puskesmas yaitu: 1. Sebagian pusat pembangunan kesehatan masyarakat di wilayahnya. 2. Membina peran serta masyarakat di wilayah kerjanya dalam rangka meningkatkan kemampuan untuk hidup sehat. 3. Memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat di wilayah kerjanya.

Menurut Effendy (1998) puskesmas memiliki proses dalam melaksanakan fungsinya, dilakukan dengan cara: 1. Merangsang masyarakat termasuk swasta untuk melaksanakan dalam rangka menolong dirinya sendiri. 2. Memberikan petunjuk kepada masyarakat tentang bagaimana menggali dan menggunakan sumberdaya yang ada secara efektif dan efisien. 3. Memberi bantuan yang bersifat bimbingan teknis materi dan rujukan medis maupun rujukan kesehatan kepada masyarakat dengan ketentuan bantuan tersebut tidak menimbulkan ketergantungan. 4. 5. Memberi pelayanan kesehatan langsung kepada masyarakat. Bekerja sama dengan sektor-sektor yang bersangkutan dalam melaksanakan program puskesmas. Dalam konteks otonomi daerah saat ini, puskesmas mempunyai peran yang sangat vital sebagai intitusi pelaksana teknis, dituntut memiliki kemampuan manajerial dan wawasan jauh kedepan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. Peran tersebut ditunjukkan dalam bentuk ikut serta menentukan kebijakan daerah melalui sistem perencanaan yang matang dan realisize, tatalaksana kegiatan yang disusun rapi, serta sistem evaluasi dan pemantauan yang akurat. Rangkaian manajerial diatas bermanfaat dalam penentuan skala prioritas daerah dan sebagai bahan kesesuaian dalam menentukan RAPBD yang berorientasi kepada kepentingan masyarakat. Adapun kedepan, puskesmas juga dituntut berperan dalam pemanfaatan teknologi informasi terkait upaya peningkatan pelayanan kesehatan secara komprehensif dan terpadu.

19

Manajemen puskesmas adalah rangkaian kegiatan yang secara sistematik untuk menghasilkan luaran puskesmas yang efektif dan efisien. Ada tiga fungsi manajemen Puskesmas yang dikenal yakni Perencanaan, Pelaksanaan, dan pengendalian serta pengawasan dan pertanggungjawaban. Semua fungsi Manajemen tersebut harus dilaksanakan secara terkait dan berkesinambungan (KEPMENKES RI, 2004). Sebagai sarana pelayanan kesehatan tingkat pertama di Indonesia, pengelolaan program kerja puskesmas berpedoman pada empat asas pokok yakni: 1. Asas pertanggung jawaban wilayah Dalam menyelenggarakan program kerjanya, puskesmas harus

melaksanakan pertanggung jawaban wilayah kerja. Dalam arti puskesmas bertanggung jawab meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang bertempat tinggal di wilayah kerjanya (KEPMENKES RI, 2004). Karena adanya asas yang seperti ini, maka program kerja puskesmas tidak dilaksanakan secara pasif saja, dalam arti hanya menanti kunjungan masyarakat ke puskesmas, melainkan harus secara aktif yakni memberikan pelayanan kesehatan sedekat mungkin dengan masyarakat. Lebih dari pada itu, karena karena puskesmas bertanggung jawab atas semua kesehatan yang terjadi di wilayah kerjanya, maka banyak dilakukan berbagai program pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit yang merupakan bagian dari pelayanan kesehatan masyarakat (Azwar,1999). 2. Asas peran serta masyarakat Dalam menyelenggarakan program kerjanya, puskesmas harus

melaksanakan asas peran serta masyarakat. Dalam arti Puskesmas wajib memeberdayakan perorangan, keluarga, dan masyarakat, agar berperan aktif dalam penyelenggaraan setiap upaya Puskesmas (KEPMENKES RI, 2004). Bentuk peran serta masyarakat dalam pelayanan masyarakat banyak macamnya. Di Indonesia dikenal dengan nama Pos Pelayanan Terpadu (Azwar, 1999).

20

3. Asas Keterpaduan Dalam menyelenggarakan program kerjanya, Puskesmas harus

melaksanakan asas keterpaduan. Artinya, berupaya memadukan kegiatan tersebut bukan saja dengan program kesehatan lain (lintas program) tetapi juga dengan sektor lain (lintas sektor). a. Keterpaduan lintas program. Keterpaduan lintas program adalah upaya memadukan

penyelenggaraan berbagai upaya kesehatan yang menjadi tanggung jawab Puskesmas (KEPMENKES RI, 2004). b. Keterpaduan lintas sektor Keterpaduan lintas sektor adalah upaya memadukan

penyelenggaraan upaya Puskesmas (wajib, pengemabangan dan inovasi) dengan berbagai program dari sektor terkait tingkat kecamatan, termasuk organisasi kemasyarakatan dan dunia usaha (KEPMENKES RI, 2004). Dengan dilaksanakannya keterpaduan ini, berbagai manfaat akan di dapat diperoleh. Bagi puskesmas dapat menghemat sumber daya, sedangkan bagi masyarakat, lebih mudah memperoleh pelayanan kesehatan (Azwar, 1999). c. Asas rujukan Rujukan adalah pelimpahan wewenang dan tanggung jawab atau kasus penyakit atau masalah kesehatan yang diselenggarakan secara timbal balik, baik secara vertikal dalam arti dari atau satu strata sarana pelayanan kesehatan ke strata sarana pelayanan kesehatan ke strata sarana pelayanan kesehatan lainnya, maupun secara horizontal dalam arti antar strata sarana pelayanan kesehatan yang sama (KEPMENKES RI, 2004). Dalam menyelenggarakan program kerjanya, puskesmas harus

melaksanakan asas rujukan. Artinya, jika tidak mampu menangani suatau masalah kesehatan harus merujuknya ke sarana kesehatan yang lebih mampu. Untuk pelayanan ke dokter jalur rujukannya adalah Rumah Sakit.

21

Sedangkan untuk jalur rujukannya adalah sebagai ´Kantor´ kesehatan ( Azwar, 1999).

Bagan 2. Rujukan Pelayanan Puskesmas Departemen Kesehatan Rumah Sakit Kelas A Rumah Sakit Kelas B

Kantor Wilayah/Dinas Kesehatan Propinsi Kantor Departemen/Dinas Kesehatan Kabupaten/Kotamadya Rujukan Kesehatan

Rumah Sakit Kelas C

Rujukan Medis

Puskesmas/Puskesmas Pembantu D. Jamkesmas Jamkesmas merupakan singkatan dari Jaminan Kesehatan Masyarakat dan merupakan bagian dari pengentasan kemiskinan yang bertujuan agar akses dan mutu pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin dapat ditingkatkan sehingga tidak ada lagi Maskin (Masyarakiat Miskin) yang kesulitan memperoleh pelayanan kesehatan karena alasan biaya (Lubis, 2008). Tujuan dari Jamkesmas yaitu: 1. Tujuan Umum Meningkatkan akses dan mutu kesehatan terhadap seluruh masyarakat miskin dan tidak mampu agar tercapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal secara efektif dan efisien.

22

2. Tujuan Khusus a) Meningkatkan cakupan masyarakat miskin dan tidak mampu mendapat pelayanan kesehatan di Puskesmas serta jaringannya dan Rumah Sakit. b) Meningkatnya kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin. c) Terselenggaranya pengelolaan keuangan yang transparan dan akuntabel. Sasaran program adalah masyarakat miskin dan tidak mampu di seluruh Indonesia sejumlah 76,4 juta jiwa, tidak termasuk yang sudah mempunyai jaminan kesehatan lainnya. Adapun kebijakan operasional Jamkesmas yaitu: 1. Jamkesmas adalah program bantuan sosial untuk pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin dan tidak mampu. Program ini diselenggarakan secara nasional agar terjadi subsidi silang dalam rangka mewujudkan pelayanan kesehatan yang menyeluruh bagi masyarakat miskin. 2. Pada hakekatnya pelayanan kesehatan terhadap masyarakat miskin menjadi tanggung jawab dan dilaksanakan bersama oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Pemerintah Propinsi/ Kabupaten/ Kota berkewajiban memberikan kontribusi sehingga menghasilkan pelayanan yang optimal. 3. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan masyarakat miskin mengacu pada prinsip-prinsip: a. Dana amanat dan nirlaba dengan pemanfaatan untuk semata-mata peningkatan derajat kesehatan masyarakat miskin. b. Menyeluruh (komprehensif) sesuai dengan standar pelayanan medik yang ³cost effective´ dan rasional. c. Pelayanan terstruktur, berjenjang dengan Portabilitas dan ekuitas. d. Transparan dan akuntabel (Mukti dan Moertjahjo, 2008).

23

Bagan 3. Struktur Organisasi Jamkesmas DEPKES Tim Pengelola: Pengarah Ketua Sekretaris Pelaksana

TIM KOORD PUSAT

PT. ASKES

PUSAT REGIONAL CABANG AAM

DINKES PROVINSI Tim Pengelola

TIM KOORD PROV

DINKES KEB/ KOTA Tim Pengelola

TIM KOORD KAB/ KOTA

Puskesmas Rumah Sakit PPATRS

Verifikator Independen

24

E. Metode Penentuan dan Penyelesaian Masalah 1. Penentuan Identifikasi Masalah a. Focus Group Discussion (FGD) Focus Group Discussion (FGD) adalah teknik pengumpulan data yang umumnya dilakukan pada penelitian kualitatif dengan tujuan menemukan makna sebuah tema menurut pemahaman sebuah kelompok. Teknik ini digunakan untuk mengungkap pemaknaan dari suatu kelompok berdasarkan hasil diskusi yang terpusat pada suatu permasalahan tertentu. FGD juga dimaksudkan untuk menghindari pemaknaan yang salah dari seorang peneliti terhadap fokus masalah yang sedang diteliti. b. Wawancara Wawancara merupakan alat re-cheking atau pembuktian terhadap informasi atau keterangan yang diperoleh sebelumnya. Tehnik wawancara yang digunakan dalam penelitian kualitatif adalah wawancara mendalam. Wawancara mendalam (in±depth interview) adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan informan atau orang yang diwawancarai, dengan atau tanpa menggunakan pedoman (guide) wawancara, di mana pewawancara dan informan terlibat dalam kehidupan sosial yang relatif lama. Beberapa hal yang perlu diperhatikan seorang peneliti saat mewawancarai responden adalah intonasi suara, kecepatan berbicara, sensitifitas pertanyaan, kontak mata, dan kepekaan nonverbal. Dalam mencari informasi, peneliti melakukan dua jenis wawancara, yaitu autoanamnesa (wawancara yang dilakukan dengan subjek atau responden) dan aloanamnesa (wawancara dengan keluarga responden). Beberapa tips saat melakukan wawancara adalah mulai dengan pertanyaan yang mudah, mulai dengan informasi fakta, hindari pertanyaan multiple, jangan menanyakan pertanyaan pribadi sebelum building raport, ulang kembali

25

jawaban untuk klarifikasi, berikan kesan positif, dan kontrol emosi negatif. c. Observasi Beberapa informasi yang diperoleh dari hasil observasi adalah ruang (tempat), pelaku, kegiatan, objek, perbuatan, kejadian atau peristiwa, waktu, dan perasaan. Alasan peneliti melakukan observasi adalah untuk menyajikan gambaran realistik perilaku atau kejadian, untuk menjawab pertanyaan, untuk membantu mengerti perilaku manusia, dan untuk evaluasi yaitu melakukan pengukuran terhadap aspek tertentu melakukan umpan balik terhadap pengukuran tersebut. Beberapa bentuk observasi yang dapat digunakan dalam penelitian kualitatif, yaitu observasi partisipasi, observasi tidak terstruktur, dan observasi kelompok tidak terstruktur. Observasi partisipasi (participant observation) adalah metode pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data penelitian melalui pengamatan dan pengindraan dimana observer atau peneliti benar-benar terlibat dalam keseharian responden. Observasi tidak berstruktur adalah observasi yang dilakukan tanpa menggunakan guide observasi. Pada observasi ini peneliti atau pengamat harus mampu mengembangkan daya pengamatannya dalam mengamati suatu objek. Sedangkan observasi kelompok adalah observasi yang dilakukan secara berkelompok terhadap suatu atau beberapa objek sekaligus. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam observasi adalah topografi, jumlah dan durasi, intensitas atau kekuatan respon, stimulus kontrol (kondisi dimana perilaku muncul), dan kualitas perilaku (www.blog.unila.ac.id) d. Curah Pendapat (Brainstorming) Curah pendapat adalah teknik mengembangkan ide dalam waktu singkat. Alat tersebut digunakan untuk mengenali adanya masalah, baik yang telah terjadi maupun potensial terjadi, menyusun daftar masalah,

26

menyusun alternatif pemecahan masalah, menetapkan kriteria untuk monitoring, mengembangkan kreativitas dan menggambarkan aspek-aspek yang perlu dianalisis dari suatu pokok bahasan. Hasil curah pendapat dapat berupa daftar masalah. Daftar pendapat dari anggota tersebut ditulis di papan tulis. Pendapat yang sama dikelompokan menjadi satu dan kepada setiap anggota diberikan kesempatan untuk meminta penjelasan terhadap apa yang disampaikan oleh anggota kelompok (Koentjoro, 2007). e. Fishbone Penyelesaian sebuah masalah akan efektif dan efisien jika yang diselesaikan adalah penyebab masalah yang utama. Penyebab masalah yang utama dapat diselesaikan dengan metode fishbone (metode tulang ikan) (Subirman, 2008). Diagram tulang ikan digunakan untuk memberikan gambatan umum suatu masalah dan penyebabnya. Diagram tersebut memfasilitasi tim untuk mengidentifikasi sebab masalah sebagai langkah awal untuk menentukan fokus perbaikan, mengembangkan ide pengumpulan data dan/atau mengembangkan solusi, mengenali penyebab terjadinya variasi proses, dan menganalisis masalah (Koentjoro, 2007)

Bagan 4. Metode Fishbone Market Masalah Material Money

Time

Method

Machine

Man

27

Langkah-langkah: a. Penyebab utama paling dekat dengan kepala ikan b. Penyebab merupakan sumber daya (6M+1T) c. Panah-panah kecil merupakan penyebab dari (6M+1T) (Subirman, 2008) 2. Penentuan Prioritas Masalah dengan Metode CARL Dalam menentukan prioritas masalah dapat dilakukan dengan metode CARL. Metode CARL merupakan metode yang cukup baru di kesehatan. Metode CARL juga di dasarkan pada serangkaian kriteria yang harus diberi skor 1-5. Kriteria CARL tersebut mempunyai arti: C : Capability Ketersediaan sumber daya (dana dan sarana/peralatan) A : Accesibility Kemudahan, masalah yang ada mudah diatasi atau tidak. Kemudahan dapat didasarkan pada ketersediaan metode/ cara/ teknologi serta penunjang pelaksanaan seperti juklak/ peraturan. R : Readiness Kesiapan dari tenaga pelaksana maupun kesiapan sasaran, seperti keahlian/ kemampuan dan motivasi. L : Leverage Seberapa besar pengaruh kriteria yang satu dengan yang lain dalam pemecahan yang dibahas. Setelah masalah atau alternatif pemecahan masalah diidentifikasi, kemudian dibuat tabel kriteria CARL dan diisi skornya, bila ada beberapa pendapat tentang nilai skor yang diambil adalah rerata. Nilai total merupakan hasil perkalian: C x A x R x L (Subirman, 2008). 3. Alternatif Pemecahan Masalah Apabila prioritas masalah telah ditetapkan, langkah selanjutnya yang dilakukan adalah menetapkan prioritas jalan keluar.

28

a. Menyusun alternatif jalan keluar 1) Menentukan berbagai penyebab masalah. Untuk dapat menentukan berbagai penyebab masalah, lakukan curah pendapat (brainstorming) dengan membahas data yang telah dikumpulkan. Gunakan alat bantu diagram hubungan sebab akibat (cause-effect diagram) atau popular pula dengan sebutan diagram tulang ikan (fish bone diagram). 2) Memeriksa kebenaran penyebab masalah. Karena daftar penyebab masalah yang disusun baru bersifat teoritis, perlu dilakukan pemeriksaan tentang kebenaran penyebab masalah (confirmation). 3) Mengubah penyebab masalah kedalam bentuk kegiatan. Apabila daftar penyebab masalah yang hasil uji statistiknya telah berhasil disusun, lanjutkan dengan mengubah daftar penyebab masalah tersebut kedalam bentuk kegiatan. b. Memilih prioritas jalan keluar 1) Efektivitas jalan keluar a) Besarnya masalah yang dapat diselesaikan b) Pentingnya jalan keluar c) Sensitvitas jalan keluar 2) Efisiensi jalan keluar c. Melakukan uji lapangan Untuk menilai berbagai faktor penopang dan faktor penghambat yang kiranya akan ditemukan, apabila jalan keluar tersebut dilaksanakan. d. Memperbaiki prioritas jalan keluar Memanfaatkan berbagai faktor penopang, dan bersama dengan itu meniadakan berbagai faktor penghambat yang ditemukan pada uji lapangan. e. Menyusun uraian rencana prioritas jalan keluar Kegiatan terakhir yang harus dilaksanakan pada penetapan prioritas jalan keluar adalah menyusun uraian rencana prioritas jalan keluar selengkapnya (Azwar, 1996).

29

BAB III METODE KEGIATAN MAGANG
A. Tempat Program magang akan dilaksanakan di Puskesmas Pasundan, Kelurahan Jawa, Kecamatan Samarinda Ulu, Kota Samarinda.

B. Waktu Waktu pelaksanaan program magang akan dilaksanakan selama 1 bulan, tepatnya mulai tanggal 2 Maret 2011 ± 2 April 2011.

C. Jadwal Kegiatan Tabel 1. Jadwal Kegiatan Magang No. 1. 2. 3. 4. Kegiatan Pengenalan lingkungan Identifikasi masalah Pengumpulan dan Penyusunan data Prioritas masalah Minggu I Waktu Minggu Minggu II III Minggu IV

30

Tabel 2. Planning Of Action (POA) No. 1. Kegiatan Perkenalan dengan pihak Puskesmas Pasundan Tujuan Sasaran Seluruh petugas kesehatan di Puskesmas Pasundan Tar get 100 % Metode Pelaksana PJ Sumber Biaya Tempat Puskesm as Pasunda n Indikator Dari hasil orientasi mahasiswa dapat mengenal kondisi puskesmas. Waktu Pelaks anaan Minggu I

2.

Mahasiswa dapat mengenal dan mempererat hubungan dengan pihak puskesmas Mengidentifi- Mahasiswa kasi standar dapat mengoperasional identifikasi prosedur standar pelayanan operasional peserta prosedur program pelayanan Jamkesmas peserta miskin program Jamkesmas miskin Mengidentifikasi alur pelayanan bagi peserta

Wawancara, Mahasiswa Observasi

Mahasiswa Mahasiswa

Petugas puskesmas

100 %

Brainstormi ng

Mahasiswa Mahasiswa Mahasiswa dan petugas dan pihak Puskesmas puskesmas Pasundan

3.

Mahasiswa Petugas dapat puskesmas mengidentifi kasi alur

100 %

Brainstormi ng dan observasi

80%, Minggu mahasiswa II dapat mengidentifika si standar operasional prosedur pelayanan peserta program Jamkesmas miskin Mahasiswa Mahasiswa Mahasiswa Puskesm 80%, Minggu dan petugas dan pihak as mahasiswa II Puskesmas puskesmas Pasunda dapat Pasundan n mengetahui

Puskesm as Pasunda n

31

program Jamkesmas miskin

pelayanan bagi peserta program Jamkesmas miskin

4.

Mengumpulkan data struktur organisasi, fungsi dan tugas di unit tempat magang Menentukan prioritas masalah yang ada dan alternatif pemecahannya

5.

Mahasiswa dapat mengetahui struktur organisasi, fungsi dan tugas di unit tempat magang Mahasiswa dapat menentukan prioritas masalah dan alternatif pemecahann ya

Seluruh petugas kesehatan di Puskesmas Pasundan

100 %

Observasi

alur pelayanan dari peserta program Jamkesmas miskin, masuk sampai keluar puskesmas Mahasiswa Mahasiswa Mahasiswa Puskesm 100%, dan petugas dan pihak as mahasiswa Puskesmas puskesmas Pasunda mengetahui Pasundan n struktur organisasi, fungsi dan tugas petugas di unit tersebut Mahasiswa Mahasiswa Mahasiswa dan petugas dan pihak Puskesmas puskesmas Pasundan Puskesm as Pasunda n 80%, mahasiswa dapat menemukan masalah dan mencari alternatif pemecahan masalah

Minggu III

Seluruh petugas kesehatan di Puskesmas Pasundan

100 %

Fishbone & CARL

Minggu IV

32

BAB IV HASIL KEGIATAN

A. Gambaran Instansi, Struktur Organisasi, Fungsi dan Tugas di Puskesmas Pasundan 1. Gambaran Umum Puskesmas Pasundan Puskesmas Pasundan berlokasi di Jalan Pasundan, Kelurahan Jawa, Kecamatan Samarinda Ulu. Puskesmas Pasundan berbatasan langsung dengan wilayah : a. Sebelah Utara berbatasan dengan Kelurahan Sidodadi b. Sebelah Selatan berbatasan dengan sungai Mahakam c. Sebelah Timur berbatasan dengan Kelurahan Bugis d. Sebelah Barat berbatasan dengan Kelurahan Teluk Lerong Ilir. Puskesmas Pasundan merupakan Puskesmas Induk dengan wilayah kerja meliputi tiga kelurahan yaitu: a. Kelurahan Jawa, terdiri dari 40 Rukun Tetangga (RT) dengan jumlah penduduk sebanyak 11.970 jiwa atau sebanyak 3.071 Kepala Keluarga (KK). Adapun jumlah penduduk miskin di kelurahan ini sebanyak 1.170 jiwa atau sebanyak 341 Kepala Keluarga (KK). b. Kelurahan Bugis, terdiri dari 19 Rukun Tetangga (RT) dengan jumlah penduduk sebanyak 4.758 jiwa atau sebanyak 1.344 Kepala Keluarga (KK). Adapun jumlah penduduk miskin di kelurahan ini sebanyak 452 jiwa atau sebanyak 148 Kepala Keluarga (KK). c. Kelurahan Teluk Lerong Ilir, terdiri dari 30 Rukun Tetangga (RT) dengan jumlah penduduk sebanyak 11.635 jiwa atau sebanyak 3.558 Kepala Keluarga (KK). Adapun jumlah penduduk miskin di kelurahan ini sebanyak 1.015 jiwa atau sebanyak 319 Kepala Keluarga (KK). Puskesmas Pasundan memiliki satu Puskesmas Pembantu yang terletak di Kelurahan Teluk Lerong Ilir.

33

2. Data Tenaga Puskesmas Pasundan

Tabel 3. Jumlah Tenaga Puskesmas Pasundan No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. Jenis Tenaga Jumlah (orang) 2 1 3 6 1 1 1 2 1 1 6 1 6 32

Dokter Umum Dokter Gigi Bidan Perawat Perawat Gigi Asisten Apoteker Gizi Sanitarian Analis Sarjana Kesehatan Administrasi Wakar Honorer TOTAL Sumber : Data Sekunder, 2011

3. Visi, Misi, Nilai serta Strategi Utama Puskesmas Pasundan Adapun Visi, Misi, Nilai serta Strategi Utama yang dimiliki Puskesmas Pasundan untuk peningkatan derajat kesehatan yaitu: a. Visi ³Mewujudkan keluarga sehat dan mandiri di wilayah kerja Puskesmas Pasundan´ b. Misi 1) Mendorong prilaku hidup sehat dan bersih 2) Mewujudkan keluarga mandiri sadar gizi 3) Mewujudkan pelayanan kesehatan yang bermutu c. Nilai 1) Tanggung Jawab 2) Kerjasama

34

3) Professional d. Strategi Utama 1) Menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat dan mandiri 2) Meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan 3) Meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau 4) Meningkatkan profesionalisme tenaga kesehatan 5) Meningkatkan peran serta masyarakat untuk mewujudkan keluarga sadar mandiri.

4. Struktur Organisasi Puskesmas Pasundan Puskesmas Pasundan terdiri dari: a. Kepala Puskesmas b. Kepala Tata Usaha 1) Data dan Informasi 2) Perencanaan dan Penilaian 3) Keuangan 4) Umum dan Kepegawaian 5) Inventaris Barang c. Promosi Kesehatan d. Kesehatan Ibu dan Anak 1) Anak 2) Ibu Hamil 3) Keluarga Berencana (KB) e. P2P f. Gizi g. Kesehatan Lingkungan h. Pengobatan 1) Kusta 2) TB Paru

35

i. j.

Gigi dan Mulut UKS

k. PHN l. Usila

m. Laboratorium n. Apotik o. Puskesmas Pembantu

5. Fungsi dan Tugas Unit di Puskesmas Pasundan Setiap unit maupun jabatan di dalam suatu puskesmas memiliki tugas dan fungsi masing-masing dalam agar dapat terlaksana sebuah kegiatan. Tugas yang dimiliki masing-masing unit antara lain: a. Kepala Puskesmas Mengatur serta mengkoordinasikan semua kegiatan usaha kesehatan baik itu di dalam lingkup puskesmas yang dipimpinnya maupun integrasi program-program kesehatan dari stakeholder seperti Dinas Kesehatan Kota maupun Dinas Kesehatan Provinsi. b. Tata Usaha Tugas pokok dari tata usaha yaitu menghimpun dan menyusun semua laporan kagiatan puskesmas, dimana dalam fungsinya membantu dokter dalam melaksanakan ketata usahaan puskesmas. Kegiatan pokok tata usaha yaitu: 1) Mengumpulkan laporan berkala setiap petugas puskesmas untuk disusun menjadi laporan Puskesmas sesuai dengan form yang telah ditentukan. 2) Membuat surat-surat dan menyimpan arsip masuk Kegiatan lain tata usaha yaitu: 1) Tata usaha Rumah Tangga Puskesmas 2) Tata usaha kepegawaian Puskesmas 3) Tata usaha keuangan Puskesmas

36

4) Menerima pembayaran uang di loket 5) Mempersiapkan/ menyediakan kartu-kartu penderita 6) Pengetikan laporan maupun surat c. Poli Kartu Melayani proses administrasi pasien masuk, memberikan kartu pengobatan, memberikan kartu pengenal pada pasien baru serta pemberian kertas resep baik itu untuk pasien yang membayar secara pribadi maupun pasien dari peserta program asuransi kesehatan seperti Jamkesmas, ASMARA dan ASKES. d. Poli Umum Tugas pokok dokter dan perawat di bagian ini yaitu mengusahakan agar fungsi puskesmas diselenggarakan dengan baik. Memberikan pelayanan kesehatan berupa kuratif, rujukan serta konsultasi kesehatan, berkoordinasi dengan kegiatan penyuluhan kesehatan masyarakat. e. Poli KIA Melaksanakan bimbingan teknis bagi program PWS, KB, Imunisasi, DDK dan MTBS. Poli ini juga memberikan pelayanan promotif, preventif dan kuratif kepada anak dan ibu hamil. Poli KIA berfungsi mengkoordinasi dan memonitor serta mengevaluasi

berjalannya program-program KIA baik di internal puskesmas maupun eksternal puskesmas seperti posyandu. f. Poli Gigi Poli gigi memiliki tugas pokok untuk dokter dan perawat gigi agar mengusahakan pelayanan kesehatan gigi dan mulut di wilayah kerja puskesmas dapat berjalan dengan baik, dimana dalam fungsinya mengawasi pelaksanaan pelayanan kesehatan gigi di puskesmas. Kegiatan pokok di poli gigi yaitu member pelayanan kesehatan gigi dan mulut diwilayah kerja puskesmas secara teratur. Kegiatan lainnya adalah memberikan penyuluhan kesehatan gigi pada penderita dan masyarakat di wilayah kerjanya.

37

g. Poli Gizi Memiliki tugas melaksanakan kegiatan perbaikan gizi di wilayah kerjanya, dimana dalam fungsinya membantu kepala puskesmas melaksanakan kegiatan-kegiatan puskesmas. Kegiatan pokok di unit ini yaitu: 1) Penyuluhan gizi dan melatih kader gizi dan menggerakkan masyarakat untuk mengadakan taman gizi 2) Demontrasi makanan sehat 3) Cara pemberian makanan tambahan 4) Pemberian vitamin A konsentrasi tinggi pada anak-anak balita 5) Pengisian dan penggunaan KMS oleh ibu-ibu PKK dan kader gizi Adapun kegiatan lain untuk poli gizi antara lain membantu surveillance penyakit menular dan imunisasi, pencatatan dan pelaporan kegiatan, mengembangkan PMKD dan membina kader gizi. h. Laboratorium Memiliki tugas menegakkan diagnosa penyakit dengan

melaksanakan pemeriksaan specimen. i. Apotek Dalam unit ini pengatur obat memiliki tugas pokok mengelola obatobatan yang ada di puskesmas, dengan fungsi membantu dokter untuk melaksanakan kegiatan, kegiatan di puskesmas. Dimana kegiatan pokoknya yaitu: 1) Mempersiapkan pengadaan obat di puskesmas 2) Mengatur penyimpanan obat dan alat kesehatan di puskesmas 3) Mengatur administrasi obat di puskesmas 4) Meracik obat-obatan untuk diberikan kepada penderita sesuai perintah dokter 5) Membuat zat reagens untuk laboratorium 6) Mengatur distribusi obat sederhana untuk UKS dan KIA/ KB

38

7) Menyediakan obat untuk puskesmas keliling dan puskesmas pembantu Kegiatan lain yaitu: 1) Penyuluhan kesehatan terutama dalam bidang penggunaan obat keras dan bahaya narkotika 2) Pencatatan dan pelaporan kegiatan yang dilakukan 3) Membantu pelaksanaan fungsi manajemen 4) Pemegang inventaris peralatan medis puskesmas Adapun tugas pokok juru obat dimana juru obat membantu meracik obat dan membungkusnya serta dalam fungsinya membantu

melaksanakan kegiatan pengatur obat. Kegiatan pokok juru obat yaitu: 1) Membantu dalam menyimpan obat dan administrasi obat 2) Membatu meracik dan membungkus obat 3) Membantu kegiatan distribusi obat untuk kader UKS serta menyediakan obat untuk puskesmas keliling 4) Membantu administrasi obat-obat yang bersumber khusus, antara lain: obat ASKES, obat P3M, vaksin, obat KB dan lain-lain Kegiatan lain juru obat yaitu: 1) Membantu kebersihan dan kerapihan kamar obat dan gudang obat 2) Membantu menyimpan administrasi makanan tambahan 3) Membantu inventarisasi semua peralatan medis puskesmas j. Sanitarian Tugas pokok sanitarian yaitu merubah, mengendalikan atau menghilangkan semua unsur fisik dan lingkungan yang member pengaruh buruk terhadap kesehatan masyarakat. Kegiatan pokok sanitarian antara lain: 1) Penyuluhan kepada masyarakat tentang penggunaan air bersih, jamban keluarga, rumah sakit, kebersihan lingkungan serta penanaman pekarangan

39

2) Membantu masyarakat dalam pembuatan sumur, perlindungan mata air, penampungan air hujan dan sebagainya serta melatih pembuatan leher angsa untuk jamban keluarga 3) Pengawasan hygiene perusahaan di tempat-tempat umum k. Puskesmas Pembantu Puskesmas pembantu adalah unit pelayanan kesehatan yang sederhana dan berfungsi menunjang dan membantu pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang dilakukan puskesmas dalam ruang lingkup wilayah yang lebih kecil. Puskesmas pembantu juga merupaka bagian integral dari puskesmas, dengan kata lain satu puskesmas meliputi juga seluruh puskesmas pembantu yang ada di wilayah kerjanya. 6. Perencanaan, Pelaksanaan dan Pengevaluasian Program di Puskesmas Pasundan a. Perencanaan Perencanaan mikro tingkat puskesmas atau microplannning adalah penyusunan rencana di tingkat puskesmas untuk 5 (lima ) tahun, termasuk rincian tahapan tiap tahunnya. Dimana perencanaan memiliki: 1) Tujuan umum Meningkatkan cakupan pelayanan program prioritas sesuai dengan masalah yang dihadapi puskesmas, sehingga dapat

meningkatkan fungsi puskesmas 2) Tujuan khusus a) Tersusunnya rencana kerja puskesmas untuk jangka waktu 5 tahun secara tertulis b) Tersusunnya rencana kerja tahunan puskesmas, sebagai jabaran rencana kerja 5 tahunan tersebut secara tertulis Langkah-langkah penyusunan rencana 1) Identifikasi keadaan dan masalah, langkah ini akan menghasilkan suatu rumusan tentang keadaan dan prioritas masalah yang dihadapi puskesmas serta alternatif permasalahannya

40

2) Penyusunan rencana, menyusun sistematiak tujuan dan sasaran, kebijaksanaan dan langkah-langkah, kegiatan serta sumber daya 3) Penyusunan POA, dimana dilakukan penjadwalan, alokasi sumber daya serta pelaksanaan kegiatan 4) Penulisan naskah rencana b. Pelaksanaan Pelaksanaan program dilakukan sesuai jadwal dan target dari POA. Pelaksanaan kegiatan dalam bentuk aktivitas nyata menentukan tingkat keberhasilan dari suatu puskesmas di setiap perencanaan yang dilakukan. c. Pengevaluasian Pada umumnya evaluasi adalah suatu pemeriksaan terhadap pelaksanaan suatu program yang telah dilakukan dan yang akan digunakan untuk meramalkan, memperhitungkan, dan mengendalikan pelaksanaan program ke depannya agar jauh lebih baik. Evaluasi lebih bersifat melihat ke depan dari pada melihat kesalahankesalahan dimasa lalu, dan ditujukan pada upaya peningkatan kesempatan demi keberhasilan program. Dengan demikian misi dari evaluasi itu adalah perbaikan atau penyempurnaan di masa mendatang atas suatu program. Evaluasi adalah suatu usaha untuk mengukur dan sumber nilai secara objektif dari pencapaian hasil-hasil yang direncanakan sebelumnya,

dimana hasil evaluasi tersebut dimaksudkan menjadi umpan balik untuk perencanaan yang akan dilakukan di depan (www.repository.usu). Adapun program Jamkesmas Miskin di Puskesmas Pasundan yang telah dievaluasi yaitu perencanaan pada tahun 2010, dimana perencanaan serta pelaksanaan kegiatan telah bejalan sesuai target dan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang berlaku.

41

Tabel 4. POA Jamkesmas Puskesmas Pasundan No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Kegiatan Pertemuan kader posyandu lansia Senam lansia di posyandu lansia Kunjungan rumah ibu hamil Pertolongan persalinan Kunjungan balita Revitalisasi posyandu Penyuluhan tentang makanan bergizi Pelayanan kesehatan Sasaran Kader posyandu lansia Anggota posyandu lansia Ibu hamil miskin Ibu hamil miskin Balita Posyandu 30 Posyandu Masyarakat miskin Manajemen Kader Target 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 %

Operasional dan manajemen 11. Penyegaran kader DDTK Sumber: Data Sekunder, 2010

B. Identifikasi Sistem Pelayanan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) Miskin 1. Identifikasi Standar Operasional Prosedur Pelayanan Kesehatan Peserta Program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) Miskin di Puskesmas Pasundan

Tabel 5. Jumlah Peserta Program Jamkesmas Miskin di Wilayah Kerja Puskesmas Pasundan tahun 2008 Wilayah Kelurahan Teluk Lerong Ilir Kelurahan Jawa Kelurahan Bugis Jumlah Sumber: Data Sekunder, 2008 Jumlah Peserta (orang) 1.015 1.184 452 3.661

42

Tabel 6. Jumlah Kunjungan Peserta Program Jamkesmas Miskin di Puskesmas Pasundan Tahun 2010 Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jumlah Sumber: Data Sekunder, 2010 Jumlah Kunjungan (orang) 53 86 61 103 101 67 106 96 62 60 60 72 927

Tabel 7. Jumlah Kunjungan Peserta Program Jamkesmas Miskin di Puskesmas Pasundan Periode Maret-April Tahun 2011 Bulan Januari Februari Maret Jumlah Sumber: Data Sekunder, 2011 Jumlah Kunjungan (orang) 78 89 97 264

Adapun prosedur untuk memperoleh pelayanan kesehatan bagi peserta, sebagai berikut: a. Peserta yang memerlukan pelayanan kesehatan dasar berkunjung ke Puskesmas dan jaringannya b. Untuk mendapatkan pelayanan kesehatan, peserta harus menunjukkan kartu yang keabsahan kepesertaannya merujuk kepada daftar masyarakat miskin yang ditetapkan oleh Bupati/Walikota setempat. Penggunaan SKTM hanya berlaku untuk setiap kali pelayanan kecuali pada kondisi pelayanan lanjutan terkait dengan penyakitnya

43

c. Apabila peserta JAMKESMAS memerlukan pelayanan kesehatan rujukan, maka yang bersangkutan dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan rujukan disertai surat rujukan dan kartu peserta yang ditunjukkan sejak awal sebelum mendapatkan pelayanan kesehatan, kecuali pada kasus

emergency d. Pelayanan rujukan sebagaimana butir c diatas meliputi : 1) Pelayanan rawat jalan lanjutan (spesialistik) di Rumah Sakit, BKMM/ BBKPM/BKPM/BP4/BKIM. 2) Pelayanan Rawat Inap kelas III di Rumah Sakit 3) Pelayanan obat-obatan 4) Pelayanan rujukan spesimen dan penunjang diagnostic Puskesmas Pasundan menetapkan aturan dimana pasien harus membawa kartu Jamkesmas Miskin yang berisikan pula nomor kartu pengobatan, yang berisikan rekam medis pasien pelayanan umum, anak, KB maupun hamil. Adapun Standar Operasional Pelayanan (SOP) yang ditetapkan oleh pemerintah telah sesuai dengan pelayanan peserta Jamkesmas Miskin di Puskesmas Pasundan. Beberapa peserta program Jamkesmas Miskin mengeluhkan

ketidaktahuan mereka akan informasi pemanfaatan Jamkesmas Miskin sendiri, dimana seringkali mereka memiliki kartu Jamkesmas Miskin namun mereka tidak tahu bagaimana memanfaatkan jaminan kesehatan tersebut. Adapula pasien yang tidak membawa persyaratan untuk berobat karena lupa atau tidak tahu, mengeluhkan pembayaran yang harus dibayar jika berobat. Kemudian untuk pasien yang kartu Jamkesmas Miskinnya berasal dari luar wilayah kerja Puskesmas Pasundan, maka akan dikelompokkan sebagai pasien umum dan diarahkan untuk ke puskesmas yang sesuai dengan wilayah domisilinya.

44

2. Identifikasi Alur Pelayanan Kesehatan bagi Peserta Program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) Miskin di Puskesmas Pasundan Samarinda Dari hasil identifikasi alur pelayanan kesehatan terutama untuk peserta program Jamkesmas Miskin di Puskesmas Pasundan, yang dilaksanakan sesuai Planning Of Action (POA), didapatkan alur sebagai berikut

Bagan 5. Alur Pelayanan Kesehatan bagi Peserta Program Jamkesmas Miskin Puskesmas Pasundan Pasien

Puskesmas

Registrasi

Pemeriksaan

Rujuk

Rumah Sakit

Pelayanan obat

Pasien pulang

Pasien (peserta program Jamkesmas) datang dengan membawa kartu Jamkesmas Miskin masuk ke ruang loket dan mengambil nomor antrian. Setelah nomor antrian dipanggil, pasien akan mendapatkan lembar registrasi berupa kertas resep dan kartu pengobatan yang berisi rekam medis pasien selama berobat di Puskesmas Pasundan. Setelah proses registrasi selesai, pasien masuk ke ruang pemeriksaan (poli) yang dituju untuk mendapatkan

45

pelayanan rawat jalan tingkat pertama, setelah itu dipersilahkan ke pelayanan obat (apotik) dan pulang. Alur pelayanan peserta program Jamkesmas miskin di Puskesmas Pasundan ini telah sesuai dengan alur pelayanan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Namun ada beberapa kendala dalam hal alur pelayanan kesehatan Jamkesmas miskin ini, dimana mayoritas peserta yang akan mendapatkan pelayanan kesehatan belum mengetahui alur pelayanan. Bagan alur yang tertempel didalam puskesmas kurang terlihat oleh pasien.

3. Identifikasi Masalah Teknis Pelayanan Kesehatan dan Prioritas Masalah serta Alternatif Pemecahan Masalah bagi Peserta Program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) Miskin di Puskesmas Pasundan Samarinda a. Penentuan Identifikasi Masalah 1) Tujuan Kegiatan Kegiatan identifikasi masalah bertujuan untuk mengetahui masalah yang berkaitan dengan teknis pelayanan bagi peserta program Jamkesmas Miskin yang berkaitan pula dengan mutu pelayaan kesehatan yang diberikan Puskesmas Pasundan kepada pasiennya. 2) Metode Kegiatan Dari hasil brainstorming, observasi serta wawancara yang dilakukan pada sejumlah petugas puskesmas serta peserta program Jamkesmas Miskin yang akan berobat di Puskesmas Pasundan. Adapun pada identifikasi penyebab masalah menggunakan metode fishbone atau diagram tulang ikan yang digunakan untuk memberikan gambaran umum suatu masalah. 3) Proses Kegiatan Kegiatan yang dilaksanakan pada minggu ke 2.

46

4) Hasil Kegiatan Penyebab masalah yang telah diidentifikasi melalui 6M + 1 T yaitu man, money, machine, material, method, market dan time dapat diketahui sebagai berikut: a) Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai cara pemanfaatan program Jamkesmas Miskin

Bagan 6. Analisa Penyebab Masalah Kurangnya Pengetahuan Masyarakat Cara Pemanfaatan Program Jamkesmas Miskin Market Masalah Material Money

Time Man

Method

Machine

Man

: Kurangnya informasi yang diterima masyarakat mengenai alur pelayanan dan bagaimana cara

memanfaatkan pelayanan kesehatan dari program Jamkesmas Miskin. Money Machine Material ::: Papan alur pelayanan yang kurang terlihat oleh pasien yang akan berobat karena terletak di dalam bangunan puskesmas. Methode Market : Sosialisasi yang tidak merata. : Tidak tepatnya sasaran yang mendapatkan Jamkesmas Miskin. Time : Pasien yang terburu-buru sehingga lupa atau tidak membawa kartu Jamkesmas Miskin.

47

b) Kurangnya tenaga kesehatan di Puskesmas Pasundan

Bagan 7. Analisa Penyebab Masalah Kurangnya Tenaga Kesehatan di Puskesmas Pasundan Market Masalah Material Money

Time

Method

Machine

Man

Man Money Machine Material Methode

: Pembagian job description yang tidak merata. :::: Belum ada pembahasan tupoksi masing-masing jabatan pada petugas Puskesmas Pasundan secara lebih lanjut.

Market Time

:: Kurang efektif dan efisiennya pelayanan dikarenakan tupoksi yang tidak sesuai.

c) Kurang efisiennya waktu pelayanan di loket pembayaran

Bagan 8. Analisa Penyebab Masalah Kurang Efisiennya Waktu Pelayanan di Loket Pembayaran Market Material Money

Masalah Time Method Machine Man

48

Man Money Machine

: Terbatasnya sumber daya manusia. : Biaya untuk menerapkan sistem online cukup mahal. : Belum diterapkannya sistem komputerisasi secara online dari tiap unit.

Material

: Beberapa komputer rusak sehingga menghambat penginputan data.

Methode

: - Pencatatan data pasien yang masih manual. - Rak kartu pengobatan yang tidak terurut.

Market Time

:: Antrian pasien yang cukup panjang ketika menunggu proses pembayaran, pendaftaran serta mengambil kartu pengobatan.

b. Penentuan Prioritas Masalah 1) Tujuan Kegiatan Kegiatan prioritas masalah bertujuan untuk memprioritaskan masalah yang berkaitan dengan teknis pelayanan bagi peserta program Jamkesmas Miskin, dimana hasil dari prioritas masalah akan menentukan permasalahan apa yang mendasari dalam teknis pelayanan Jamkesmas serta alternatif pemecahannya. 2) Metode Kegiatan Pada penentuan prioritas masalah yang menggunakan metode CARL dimana metode ini di dasarkan pada serangkaian kriteria yang harus diberi skor 1-5. Kriteria CARL tersebut mempunyai arti: C : Capability Ketersediaan sumber daya (dana dan sarana/peralatan) A : Accesibility Kemudahan, masalah yang ada mudah diatasi atau tidak. Kemudahan dapat didasarkan pada ketersediaan metode/ cara/

49

teknologi peraturan. R : Readiness

serta

penunjang

pelaksanaan

seperti

juklak/

Kesiapan dari tenaga pelaksana maupun kesiapan sasaran, seperti keahlian/ kemampuan dan motivasi. L : Leverage Seberapa besar pengaruh kriteria yang satu dengan yang lain dalam pemecahan yang dibahas. 3) Proses Kegiatan Kegiatan yang dilaksanakan pada minggu ke 2.

4) Hasil Kegiatan Tabel 8. Penentuan Prioritas Masalah dengan Metode CARL No. 1. Permasalahan Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai cara pemanfaatan program Jamkesmas Miskin Kurangnya tenaga kesehatan di Puskesmas Pasundan Kurang efisiennya waktu pelayanan di loket pembayaran C 4 Kriteria Penilaian A R L 5 4 3 Total Prioritas Skor 240 I

2.

3

3

4

4

144

II

3.

2

4

3

4

96

III

Dari hasil prioritas masalah di dapatkan prioritas masalah yang selanjutnya akan diberikan suatu rekomendasi alternatif pemecahan masalah.

50

c. Alternatif Pemecahan Masalah 1) Tujuan Kegiatan Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan rekomendasi alternatif pemecahan masalah yang berkaitan dengan teknis pelayanan bagi peserta program Jamkesmas Miskin yang harapannya dapat menjadi masukan atau penentu kebijakan dalam pengembangan Puskesmas Pasundan ke depannya. 2) Metode Kegiatan Pada alternatif pemecahan masalah, metode yang dipakai adalah penyusunan alternatif pemecahan masalah. 3) Proses Kegiatan Kegiatan yang dilaksanakan pada minggu ke 2. 4) Hasil Kegiatan Didapatkan sejumlah alternatif pemecahan masalah yang dapat direkomendasikan sebagai upaya penyelesaian atau solusi bagi permasalahan yang ada dalam sistem pelayanan Jamkesmas Miskin di Puskesmas Pasundan. Adapun rekomendasi alternatif pemecahan masalah, yaitu: Tabel 9. Alternatif Pemecahan Masalah No. 1. Permasalahan Alternatif Pemecahan Masalah Kurangnya pengetahuan 1. Memindahkan papan alur masyarakat mengenai pelayanan kesehatan yang ada cara pemanfaatan di dalam gedung program Jamkesmas 2. Sosialisasi tentang Miskin pemanfaatan Jamkesmas 3. Pembuatan leaflet dan poster mengenai Jamkesmas Kurangnya tenaga 1. Mengadakan pertemuan curah kesehatan di Puskesmas pendapat (brainstorming) Pasundan 2. Pembahasan tupoksi tiap unit maupun jabatan 3. Advokasi dengan stakeholder terkait

2.

51

No. 3.

Permasalahan Alternatif Pemecahan Masalah Kurang efisiennya waktu 1. Perbaikan sistem registrasi pelayanan di loket 2. Pembenahan di rak kartu pembayaran pengobatan 3. Penerapan sistem komputerisasi online 4. Perbaikan komputer

C. Kegiatan Partisipasi yang Dilakukan di Lokasi Magang Adapun kegiatan lapangan yang pernah dilakukan di lokasi magang yaitu: 1. Mengikuti kegiatan posyandu bayi/ balita di wilayah kerja Puskesmas Pasundan. 2. Mengikuti kegiatan posyandu lansia di wilayah kerja Puskesmas Pasundan. 3. Mengikuti kegiatan puskesmas pembantu di Kelurahan Teluk Lerong Ilir. 4. Berpartisipasi dalam kegiatan penyuluhan peningkatan gizi bayi/ balita.

52

BAB V PEMBAHASAN

A. Standar Operasional Prosedur Pelayanan Kesehatan Peserta Program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) Miskin di Puskesmas Pasundan Program Jamkesmas Miskin yang berasal dari permasalahan kesehatan masyarakat Indonesia dimana derajat kesehatan masyarakat miskin masih rendah, hal ini tergambarkan dari angka kematian bayi kelompok masyarakat miskin tiga setengah sampai dengan empat kali lebih tinggi dari kelompok masyarakat tidak miskin. Masyarakat miskin biasanya rentan terhadap penyakit dan mudah terjadi penularan penyakit karena berbagai kondisi seperti kurangnya kebersihan lingkungan dan perumahan yang saling berhimpitan, perilaku hidup bersih masyarakat yang belum membudaya, pengetahuan terhadap kesehatan dan pendidikan yang umumnya masih rendah. Derajat kesehatan masyarakat miskin berdasarkan indikator Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia, masih cukup tinggi, yaitu AKB sebesar 26,9 per 1000 kelahiran hidup dan AKI sebesar 248 per 100.000 kelahiran hidup serta Umur Harapan Hidup 70,5 Tahun (KEPMENKES RI, 2008) Derajat kesehatan masyarakat miskin yang masih rendah tersebut diakibatkan karena sulitnya akses terhadap pelayanan kesehatan. Kesulitan akses pelayanan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti tidak adanya kemampuan secara ekonomi dikarenakan biaya kesehatan memang mahal. Peningkatan biaya kesehatan yang diakibatkan oleh berbagai faktor seperti perubahan pola penyakit, perkembangan teknologi kesehatan dan kedokteran, pola pembiayaan kesehatan berbasis pembayaran out of pocket, kondisi geografis yang sulit untuk menjangkau sarana kesehatan. Derajat kesehatan yang rendah berpengaruh terhadap rendahnya produktifitas kerja yang pada akhirnya menjadi beban masyarakat dan pemerintah (KEPMENKES RI, 2008).

53

Maka, SOP (Standar Operasional Prosedur) yang menurut Atmoko (2009) merupakan gambaran langkah-langkah kerja (sistem, mekanisme dan tata kerja internal) yang diperlukan dalam pelaksanaan suatu tugas untuk mencapai tujuan instansi pemerintah. SOP sebagai suatu dokumen/instrumen memuat tentang proses dan prosedur suatu kegiatan yang bersifat efektif dan efisien berdasarkan suatu standar yang sudah baku. Dimana Puskesmas Pasundan sebagai salah satu instansi pemerintah Kota Samarinda, turut menerapkan SOP untuk pelayanan program Jamkesmas Miskin sebagai upaya untuk meningkatkan serta menjaga mutu layanan yang diberikan kepada peserta program Jamkesmas Miskin. Walaupun pelayanan ini diberikan kepada masyarakat miskin pada umumnya, namun mutu pelayanan harus tetap dipertahankan. Puskesmas Pasundan menetapkan aturan dimana pasien harus membawa kartu Jamkesmas Miskin yang berisikan pula nomor kartu pengobatan, yang berisikan rekam medis pasien pelayanan umum, anak, KB maupun hamil. Beberapa peserta program Jamkesmas Miskin mengeluhkan ketidaktahuan mereka akan informasi pemanfaatan Jamkesmas Miskin sendiri, dimana seringkali mereka memiliki kartu Jamkesmas Miskin namun mereka tidak tahu bagaimana memanfaatkan jaminan kesehatan tersebut. Adapula pasien yang tidak membawa persyaratan untuk berobat karena lupa atau tidak tahu, mengeluhkan pembayaran yang harus dibayar jika berobat. Kemudian untuk pasien yang kartu Jamkesmas Miskinnya berasal dari luar wilayah kerja Puskesmas Pasundan, maka akan dikelompokkan sebagai pasien umum dan diarahkan untuk ke puskesmas yang sesuai dengan wilayah domisilinya. Pada tahun 2010 kunjungan pasien peserta program jumlah kunjungan pasien Jamkesmas Miskin pada puskesmas ini masih rendah. Terdapat 3.661 orang peserta program Jamkesmas Miskin yang berdomisili di wilayah kerja Puskesmas Pasundan namun pada jumlah peserta Jamkesmas di wilayah ini, namun hanya sekitar 25 % saja yang memanfaatkan program Jamkesmas Miskin yang diterimanya. Pada dasarnya manfaat yang disediakan untuk masyarakat miskin bersifat komprehensif sesuai indikasi medis, kecuali beberapa hal yang

54

dibatasi dan tidak dijamin. Pelayanan kesehatan komprehensif pada pelayanan kesehatan program Jamkesmas Miskin di Puskesmas dan Jaringannya Rawat Jalan Tingkat Pertama (RJTP), dilaksanakan pada Puskesmas dan jaringannya baik dalam maupun luar gedung meliputi pelayanan : 1. Konsultasi medis, pemeriksaan fisik dan penyuluhan kesehatan 2. Laboratorium sederhana (darah, urin, dan feses rutin) 3. Tindakan medis kecil 4. Pemeriksaan dan pengobatan gigi, termasuk cabut/ tambal 5. Pemeriksaan ibu hamil/nifas/menyusui, bayi dan balita 6. Pelayanan KB dan penanganan efek samping 7. Pemberian obat (KEPMENKES RI, 2008)

B. Alur Pelayanan Kesehatan bagi Peserta Program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) Miskin di Puskesmas Pasundan Samarinda Menurut KEPMENKES RI Tahun 2008 administrasi kepesertaan Jamkesmas Miskin meliputi: registrasi, penerbitan dan pendistribusian Kartu sampai ke Peserta sepenuhnya menjadi tanggung jawab PT Askes (Persero) dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1. Data peserta yang telah ditetapkan Pemda, kemudian dilakukan entry oleh PT. Askes (Persero) untuk menjadi database kepesertaan di Kabupaten/Kota. 2. Entry data setiap peserta meliputi nomor kartu, nama peserta, jenis kelamin, tempat dan tanggal lahir/umur dan alamat 3. Berdasarkan database tersebut kemudian kartu diterbitkan dan didistribusikan sampai ke peserta. 4. PT Askes (Persero) menyerahkan Kartu peserta kepada yang berhak, mengacu kepada penetapan Bupati/Walikota dengan tanda terima yang ditanda tangani/cap jempol peserta atau anggota keluarga peserta. 5. PT Askes (Persero) melaporkan hasil pendistribusian kartu peserta kepada Bupati/Walikota, Gubernur, Departemen Kesehatan R.I, Dinas Kesehatan Propinsi dan Kabupaten/ Kota serta Rumah Sakit setempat.

55

Lebih lanjut dalam KEPMENKES RI Tahun 2008, disebutkan bahwa setiap peserta Jamkesmas Miskin mempunyai hak mendapat pelayanan kesehatan dasar meliputi pelayanan kesehatan rawat jalan (RJ) dan rawat inap (RI), serta pelayanan kesehatan rujukan rawat jalan tingkat lanjutan (RJTL), rawat inap tingkat lanjutan (RITL) dan pelayanan gawat darurat. Pelayanan kesehatan dalam program ini menerapkan pelayanan berjenjang berdasarkan rujukan. Pelayanan rawat jalan tingkat pertama diberikan di Puskesmas dan jaringannya. Pelayanan rawat jalan lanjutan diberikan di BKMM/BBKPM/BKPM/BP4/BKIM dan Rumah Sakit. Pelayanan rawat inap diberikan di Puskesmas Perawatan dan ruang rawat inap kelas III (tiga) di RS Pemerintah termasuk RS Khusus, RS TNI/POLRI dan RS Swasta yang bekerjasama dengan Departemen Kesehatan. Departemen Kesehatan melalui Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atas nama Menteri Kesehatan membuat perjanjian kerjasama (PKS) dengan RS setempat yang diketahui kepala dinas kesehatan Propinsi meliputi berbagai aspek pengaturan. Pada keadaan gawat darurat (emergency) seluruh Pemberi Pelayanan Kesehatan (PPK) wajib memberikan pelayanan kepada peserta walaupun tidak memiliki perjanjian kerjasama. Sedangkan untuk alur pelayanan kesehatan bagi peserta program Jamkesmas Miskin yang akan berobat ke Puskesmas Pasundan, sebagai berikut: 1. Pasien (peserta program Jamkesmas) datang dengan membawa kartu Jamkesmas Miskin masuk ke ruang loket dan mengambil nomor antrian. 2. Nomor antrian dipanggil dan pasien akan mendapatkan lembar registrasi berupa kertas resep dan kartu pengobatan yang berisi rekam medis pasien selama berobat di Puskesmas Pasundan. 3. Setelah proses registrasi selesai, pasien masuk ke ruang pemeriksaan (poli) yang dituju untuk mendapatkan pelayanan rawat jalan tingkat pertama. 4. Pasien dipersilahkan ke pelayanan obat (apotik) 5. Pasien pulang.

56

Alur pelayanan peserta program Jamkesmas Miskin di Puskesmas Pasundan ini telah sesuai dengan alur pelayanan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Namun ada beberapa kendala dalam hal alur pelayanan kesehatan Jamkesmas miskin ini, dimana mayoritas peserta yang akan mendapatkan pelayanan kesehatan belum mengetahui alur pelayanan. Bagan alur yang tertempel didalam puskesmas kurang terlihat oleh pasien. Alur pada sistem pelayanan program Jamkesmas Miskin untuk rujukan puskesmas ke rumah sakit mengalami beberapa kendala dimana puskesmas yang pada dasarnya merupakan pelayanan kesehatan tingkat pertama (primary health care), tidak diketahui oleh pasien. Pelayanan kesehatan tingkat pertama diperlukan untuk masyarakat yang sakit ringan dan masyarakat yang sehat untuk meningkatkan kesehatan mereka atau promosi kesehatan. Oleh karena itu jumlah kelompok ini di dalam suatu populasi sangat besar (lebih kurang 80%), pelayanan yang diperlukan oleh kelompok ini bersifat pelayanan kesehatan dasar (basic helath services). Namun karena informasi yang dirasakan kurang, beberapa pasien Jamkesmas Miskin, terkadang langsung berobat ke rumah sakit. Sehingga terdapat kerugian dimana pasien harus bolak-balik ke puskesmas maupun rumah sakit.

C. Masalah Teknis Pelayanan Kesehatan dan Prioritas Masalah serta Alternatif Pemecahan Masalah bagi Peserta Program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) Miskin di Puskesmas Pasundan Samarinda Pada kegiatan identifikasi masalah yang bertujuan untuk mengetahui masalah yang berkaitan dengan teknis pelayanan bagi peserta program Jamkesmas Miskin yang berkaitan pula dengan mutu pelayanan kesehatan yang diberikan Puskesmas Pasundan kepada pasiennya. Dari hasil brainstorming, observasi serta wawancara yang dilakukan pada sejumlah petugas puskesmas serta peserta program Jamkesmas Miskin yang akan berobat di Puskesmas Pasundan. Pada hasil kegiatan, didapatkan sejumlah masalah kemudian

57

identifikasi penyebab masalahnya yang menggunakan metode fishbone yang akan diprioritaskan menggunakan metode CARL, sebagai berikut: 1. Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai cara pemanfaatan program Jamkesmas Miskin. Permasalahan lain muncul ketika ada pasien yang ingin memanfaatkan Jamkesmas, padahal pasien tersebut tidak tergolong dalam kategori miskin. Dimana informasi yang diterima masyarakat cukup kurang mengenai alur pelayanan dan bagaimana cara memanfaatkan pelayanan kesehatan dari program Jamkesmas Miskin serta siapa sebenarnya sasaran dari program Jamkesmas Miskin ini sendiri. Tercatat dari dari 3.661 peserta Jamkesmas Miskin yang berdomisili di wilayah kerja Puskesmas Pasundan hanya 927 orang pada tahun 2010 yang memanfaatkan fasilitas ini. Selain itu papan alur pelayanan yang kurang terlihat oleh pasien yang akan berobat karena terletak di dalam bangunan puskesmas. 2. Kurangnya tenaga kesehatan di Puskesmas Pasundan yang mengakibatkan pembagian job description yang tidak merata. Adapun dampak lainnya yaitu Kurang efektif dan efisiennya pelayanan dikarenakan tupoksi yang tidak sesuai. Misalnya satu orang petugas yang tidak sesuai kompetensinya sebagai tenaga administrasi namun ia harus menjalankan tugas administrasi, sehingga tidak focus pada tupoksinya sendiri. Namun, belum ada pembahasan tupoksi masing-masing jabatan pada petugas Puskesmas Pasundan secara lebih lanjut. 3. Kurang efisiennya waktu pelayanan di loket pembayaran. Pencatatan register pasien yang masih manual mengakibatkan antrian pasien yang cukup panjang ketika menunggu proses pembayaran, pendaftaran serta mengambil kartu pengobatan. Salah satu penyebabnya yaitu belum diterapkannya sistem komputerisasi secara online dari tiap unit, dikarenakan terbatasnya sumber daya manusia yang berkompeten di bidang sistem informasi puskesmas (SIMPUS). Selain itu biaya untuk menerapkan sistem online cukup mahal. Maka, dengan metode penyusunan alternatif masalah, diberikanlah beberapa alternatif pemecahan masalah yang berkaitan dengan teknis pelayanan bagi peserta program Jamkesmas Miskin yang harapannya dapat menjadi

58

masukan atau penentu kebijakan dalam pengembangan Puskesmas Pasundan ke depannya. Didapatkan sejumlah alternatif pemecahan masalah, yaitu: 1. Masalah kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai cara pemanfaatan program Jamkesmas Miskin Alternatif pemecahan masalah ini yaitu dengan memindahkan papan alur pelayanan kesehatan yang ada di dalam gedung sehingga pasien yang sedang menunggu nomor antrian dapat melihat alur pelayanan. Sosialisasi tentang pemanfaatan Jamkesmas Miskin juga sangat penting dilakukan, dimana seharusnya masyarakat tahu siapa sasaran Jamkesmas Miskin, persyaratan apa yang harus dibawa jika hendak berobat dan bagaimana proses alur pelayanan kesehatan jika harus dirujuk ke rumah sakit. Sosialisasi dapat melalui penyuluhan, leaflet dan poster. 2. Kurangnya tenaga kesehatan di Puskesmas Pasundan. Alternatif pemecahan masalah yang dapat diberikan untuk permasalahan ketenagaan di Puskesmas Pasundan yaitu dengan mengadakan suatu pertemuan curah pendapat (brainstorming) serta pembahasan ulang mengenai tupoksi masing-masing unit serta jabatan sehingga job description tiap petugas menjadi terarah sesuai kompetensinya. Advokasi terhadap

stakeholder terkait juga perlu dilakukan misalnya Badan Kepegawaian Daerah, guna penambahan Sumber Daya Manusia (SDM) 3. Kurang efisiennya waktu pelayanan di loket pembayaran Alternatif pemecahan masalah untuk kurang efisiennya waktu pelayanan diloket pembayaran yaitu dengan menerapkan sistem online. Perbaikan sistem registrasi serta pembenahan di rak kartu pengobatan juga perlu dilakukan, dimana kartu pengobatan seharusnya diurutkan sesuai nomor registrasi. Alternatif pemecahan masalah yang terakhir yaitu sangat diperlukannya perbaikan komputer, dimana terdapat kerusakan pada 3 komputer, terutama pada komputer di ruang registrasi.

59

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan Berdasarkan hasil identifikasi dan observasi pada saat pelaksanaan kegiatan magang yang berlokasi di Puskesmas Pasundan, Kecamatan Samarinda Ulu, Kota Samarinda Tahun 2011, dapat disimpulkan: 1. Puskesmas Pasundan menerapkan SOP untuk pelayanan program Jamkesmas Miskin sebagai upaya untuk meningkatkan serta menjaga mutu layanan yang diberikan kepada peserta program Jamkesmas Miskin. 2. Alur pelayanan peserta program Jamkesmas Miskin di Puskesmas Pasundan telah sesuai dengan alur pelayanan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Namun ada beberapa kendala dalam hal alur pelayanan kesehatan Jamkesmas miskin ini, dimana mayoritas peserta yang akan mendapatkan pelayanan kesehatan belum mengetahui alur pelayanan. 3. Pada kegiatan identifikasi masalah yang bertujuan untuk mengetahui masalah yang berkaitan dengan teknis pelayanan bagi peserta program Jamkesmas Miskin yang berkaitan pula dengan mutu pelayanan kesehatan yang diberikan Puskesmas Pasundan kepada pasiennya. Didapatkan sejumlah masalah kemudian diidentifikasi penyebab masalahnya yang menggunakan metode fish bone serta diprioritaskan menggunakan metode CARL. Masalah pada prioritas pertama yaitu kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai cara pemanfaatan program Jamkesmas Miskin. 4. Beberapa rekomendasi sebagai alternatif pemecahan masalah yang berkaitan dengan teknis pelayanan bagi peserta program Jamkesmas Miskin. Pada masalah kurangnya pengetahuan masyarakat diberikan rekomendasi untuk memindahkan papan alur pelayanan kesehatan yang ada di dalam gedung dan sosialisasi tentang pemanfaatan Jamkesmas Miskin. Pada masalah kurangnya tenaga kesehatan diberikan rekomendasi untuk mengadakan suatu pertemuan curah pendapat (brainstorming) serta pembahasan ulang mengenai tupoksi

60

masing-masing unit serta jabatan. Pada masalah kurang efisiennya waktu pelayanan di loket pembayaran dapat diatasi dengan menerapkan sistem online, perbaikan sistem registrasi serta pembenahan di rak kartu pengobatan serta perbaikan komputer yang rusak.

B. Saran Setelah kegiatan magang yang berlokasi di Puskesmas Pasundan maka saran yang dapat diberikan sebagai rekomendasi dalam rangka meningkatkan kinerja dan mutu pada sistem pelayanan kesehatan peserta program Jamkesmas Miskin, adalah sebagai berikut: 1. Pemindahan papan alur pelayanan kesehatan yang ada di dalam gedung sehingga pasien yang sedang menunggu nomor antrian dapat melihat alur pelayanan serta sosialisasi tentang pemanfaatan Jamkesmas Miskin melalui penyuluhan, leaflet dan poster. 2. Mengadakan suatu pertemuan curah pendapat (brainstorming) serta

pembahasan ulang mengenai tupoksi masing-masing unit serta jabatan sehingga job description tiap petugas menjadi terarah sesuai kompetensinya. 3. Perbaikan sistem registrasi serta pembenahan di rak kartu pengobatan juga perlu dilakukan, dimana kartu pengobatan seharusnya diurutkan sesuai nomor registrasi. Penerapan sistem terkomputerisasi yang terintegrasi dengan jaringan internet dapat direncananakan untuk perbaikan sistem informasi puskesmas kedepannya serta perbaikan bagi beberapa komputer yang rusak.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful