P. 1
TEKNIK_PENGUMPULAN_DATA

TEKNIK_PENGUMPULAN_DATA

|Views: 140|Likes:
Published by lil_boggiezt

More info:

Published by: lil_boggiezt on Apr 05, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/20/2015

pdf

text

original

TEKNIK PENGUMPULAN DATA DAN PENGUKURAN A.

Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang penting dalam penelitian. Untuk mendapatkan data yang obyektif dan lengkap, maka harus diperhatikan teknik pengumpulannya. Teknik pengumpulan data ada bermacammacam. Pemilihan teknik pengumpulan data harus disesuaikan dengan karakteristik penelitiannya. Tidak semua teknik atau metode harus dipilih dan digunakan dalam pengumpulan data. Teknik pengumpulan data sangat berhubungan dengan permasalahan penelitian. Permasalahan penelitian memberi arah dan mempengaruhi dalam menentukan teknik pengumpulan data. Yang harus menjadi pertimbangan bagi peneliti ketika memilih teknik pengumpulan data, apakah teknik tersebut sesuai dengan sifat atau karakteristik penelitian yang dilakukan dan dapatkah teknik tersebut dilaksanakan. Apabila satu teknik saja dianggap sudah mencukupi, maka teknik yang lain tidak usah dipergunakan. Teknik pengumpulan data harus tepat agar data yang didapatkan benar-benar valid dan reliabel. Dalam penggumpulan data dapat menggunakan berbagai sumber, baik sumber primer maupun sumber sekunder. Data yang diperoleh secara langsung oleh peneliti dari lapangan disebut sebagai sumber primer. Sedangkan data yang diperoleh secara tidak langsung atau melalui tangan kedua disebut sebagi sumber sekunder. Sumber sekunder terdiri atas berbagai macam yang dapat berupa buku, surat-surat, jurnal, dokumen-dokumen dan sebagainya. Pengumpulan data dapat dilakukan dengan metode observasi, wawancara, dokumentasi, angket atau kuisoner dan tes. 1. Observasi Observasi merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui pengamatan terhadap suatu obyek penelitian. Observasi dilakukan untuk memperoleh informasi tentang perilaku manusia seperti yang terjadi secara nyata. Observasi bisa dilakukan apabila obyek yang diteliti atau respondennya tidak terlalu besar. Observasi berfungsi sebagai eksplorasi, sehingga hasil yang didapatkan dapat memberi gambaran yang jelas tentang permasalahan dan petunjuk dalam pemecahannya. Dalam observasi, peneliti melukiskan segala sesuatu yang terjadi pada obyek yang diteliti dengan kata-kata secara cermat dan tepat yang sesuai dengan kenyataan sesungguhnya, mencatatnya dan kemudian mengolah atau menganalisa secara ilmiah dalam menjawab permasalahan penelitian. Observasi harus dilakukan secara sistimatis, artinya pencatatn dilakukan sesuai dengan prosedur-prosedur atau ketentuan-ketentuan tertentu sehingga data yang dihasilkan valid dan reliabel. Surakhmad (1990:162) menyatakan bahwa observasi dibedakan menjadi dua yaitu observasi langsung dan observasi tidak langsung. Observasi langsung adalah teknik pengumpulan data di mana peneliti melakukan pengamatan secara langsung atau tanpa bantuan alat terhadap gejala-gejala subyek yang diteliti, baik pengamatan itu dilakukan di dalam situasi sebenarnya maupun di dalam situasi

29

siswa dengan siswa dan guru dengan guru. dilihat dari segi instrumennya observasi dibedakan menjadi observasi terstruktur dan observasi tidak terstruktur. bagaimana dengan kedisiplinan belajar siswa dan guru dalam mengajar. Observasi terstruktur ialah observasi yang dirancang secara sistimatis. lengkap dan dapat mengungkapan setiap makna dari perilaku yang dimunculkan oleh orang-orang yang diobservasi. Apabila hal ini terjadi. jangan sampai keberadaannya diketahui bahwa sedang melakukan kegiatan pengamatan. peneliti akan dapat memperoleh data yang sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Wawancara Wawancara merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan percakapan dalam bentuk tanya jawab secara lisan. Peneliti dapat mengamati bagaimana perilaku setiap para siswa dan guru dalam pembelajaran. Pelaksanaannya dapat berlangsung di dalam situasi yang sebenarnya maupun di dalam situasi buatan. Dalam wawancara si penanya sebagai pewawancara dan si penjawab sebagai responden. sehingga menyebabkan subyek penelitian tahu bahwa dirinya sedang dijadikan obyek pengamatan.. Dalam observasi partisipasi. Proses percakapan dapat dilakukan dengan tatap muka maupun dengan telepon. Sedangkan observasi tanpa partisipasi merupakan observasi di mana peneliti tidak terlibat dengan kegiatan-kegiatan orang yang diteliti. Bagaimana hubungan guru dengan siswa. dan sebagainya. Menurut Sugiyono (2004:139). sehingga data yang diperoleh akan bias. bagaimana semangat dan kesungguhan guru dalam mengajar. bagaimana model pembelajaran yang diterapkan guru.Bagaimana hubungannya dengan kepala sekolah. sehingga data tersebut tidak akurat. Menurut Nasution (2003:107) observasi dapat dilakukan dengan partisipasi atau participant observation dan tanpa partisipasi atau non participant observation. peneliti selain melakukan pengamatan juga melakukan kegiatan seperti apa yang dilakukan oleh orangorang yang diteliti. 2. Melalui kedekatan dan keharmonisan hubungan tersebut. Observasi ini dilakukan dengan menggunakan instrumen sebagai pedoman. Sedangkan observasi tidak langsung adalah teknik pengumpulan data di mana peneliti mengadakan pengamatan terhadap gejalagejala subyek yang diteliti dengan bantuan sebuah alat. Sedangkan observasi tidak terstruktur ialah observasi yang tidak dipersiapkan secara sistematis tentang apa yang diamati. tentang apa yang diamati dan di mana tempatnya. Hal yang perlu dihindari oleh peneliti. Observasi partisipasi merupakan observasi di mana peneliti terlibat dalam kegiatan orang-orang yang diteliti. sehingga peneliti memiliki kedekatan dengan orang yang diteliti dan keberadaan peneliti dianggap bukan sebagai “mahkluk asing”. bagaimana sikap siswa dalam pembelajaran ketika guru menyampaikan materi pelajaran. Misalnya penelitian tentang Model Pembelajaran Sekolah Unggulan. Bias adalah penyimpangan dari apa yang seharusnya.30 buatan yang khusus diadakan. maka kemungkinannya obyek yang sedang diamati akan menunjukan perilaku yang tidak sebenarnya atau dibuat-buat dan kepercayaannya terhadap pengamat berkurang. baik alat yang sudah ada. Wawancara . maupun yang sengaja dibuat untuk keperluan pengamatan tersebut.

Dalam wawancara biasanya antara pewawancara dengan yang diwawancarai tidak saling mengenal. Peneliti atau pewawancara menuliskan semua pertanyaan yang telah dirumuskan. Namun pewawancara tersebut diusahakan memiliki keterampilan yang sama. pertanyaan telah dirumuskan dan disusun secara sistimatis. yaitu mencari data untuk menjawab permasalahan penelitian. Ada dua jenis wawancara. Pewawancara hendaknya menjadi pendengar yang baik dan tidak menyela atau memotong ketika responden memberikan jawab. Untuk itu sangat penting bagi peneliti dalam melaksanakan wawancara harus dapat menciptakan hubungan dan kerjasama yang baik dengan responden Peneliti berusaha menciptakan suasana yang kondusif. Dalam wawancara tak berstruktur pewawancara hanya membuat garis-garis besar permasalahan yang akan ditanyakan. mengerti isi dan makna dari pertanyaan yang akan diajukan. Dalam wawancara materi dari percakapan dipersiapkan sedemikian rupa yang disesuaikan dengan tujuannya. Setiap responden yang diwawancarai diberikan pertanyaan yang sama. Pertanyaan yang dipersiapkan disertai dengan alternatif jawaban yang telah disiapkan. a. wawancara berstruktur ini dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa pewawancara dalam mengumpulkan data. maka pewawancara hanya tinggal melingkari jawaban yang dipilih oleh responden. yaitu wawancara berstruktur dan wawancara tak berstruktur. Pewawancara dapat mengajukan pertanyaan yang dianggapnya perlu dalam situasi wawancara tersebut.31 sebagai kegiatan dalam mengumpulkan data penelitian berbeda dengan percakapan sehari-hari. sehingga responden dapat memberikan informasi yang benar tentang permasalahan penelitian. meskipun wawancara juga merupakan percakapan. Peneliti sebagai pewawancara selalu mengajukan pertanyaan yang telah dipersiapkan dan responden memberikan jawaban. Peneliti dalam melakukan wawancara hendaknya tidak menggiring responden kepada jawaban yang diharapkan. b. Dikatakan demikian karena pewawancara tidak mempersiapkan atau menggunakan pertanyaan yang dirumuskan secara sistimatis. Namun jika pertanyaan yang diajukan kepada responden telah dihafalkan maka setiap jawaban responden yang diberikan harus dicatat. Wawancara Tak Berstruktur Wawancara tak berstruktur merupakan wawancara yang tak terarah. Dalam wawancara berstruktur. Wawancara Berstruktur Wawancara berstruktur merupakan wawancara yang terarah. Responden yang dipilih harus benar-benar memahami dan mengetahui tentang apa yang akan ditanyakan atau permasalahan penelitian. Apabila respondennya banyak. Setiap pertanyaan yang diajukan oleh . pewawancara dapat menggunakan daftar pertanyaan atau menghafalkan semua pertanyaan agar wawancara dapat menjadi lancar. Jika pewawancara menggunakan daftar pertanyaan yang disertai alternatif jawabannya. Dalam wawancara dapat menggunakan alat bantu berupa tape recorder atau alat bantu lainnya untuk merekam setiap jawaban yang diberikan responden. Dalam melaksanakan wawancara.

Keadaan responden menjadi perhatian dalam menuliskan pertanyaan penelitian. Dalam suatu penelitian menggunakan angket atau kuesioner dapat saja seluruh pertanyaan yang diajukan berupa kalimat tertutup atau seluruhnya berupa kalimat terbuka ataupun sebagian kalimat tertutup dan sebagian kalimat terbuka. Pada teknik ini. responden dapat menjawab secara bebas menurut pikiran atau isi hatinya. maka harus memungkinkan bahwa responden penelitian dapat membaca dan menulis. responden diminta untuk memberikan informasi sesuai dengan pertanyaan yang diberikan mengenai keadaan dirinya sendiri. maka angket tersebut diberikan kepada siswa untuk memberikan informasi melalui penilaian atau persepsinya terhadap kompetensi gurunya. Pertanyaan tertutup disebut juga angket tertutup apabila pertanyaan yang diajukan telah disediakan sejumlah jawaban sehingga responden tinggal memilih jawaban yang disediakan. Dalam menggunakan teknik pengumpulan data berupa angket. bukan mengukur mengenai diri responden melainkan orang lain. Namun kelemahan dari wawancara tak berstruktur ini ialah kesukaran dalam memberikan kode dan data susah untuk diolah karena data yang diperoleh secara bebas. 3. sehingga responden secara bebas dapat memberikan jawabannya. dilakukan pengukuran kompetensi guru. Setelah pertanyaan dijawab. Angket atau Kuesioner Angket atau kuesioner merupakan alat pengumpul data dalam penelitian. Dalam angket tidak langsung ini. Kalimat yang diajukan harus secara . Keuntungan dalam wawancara tak berstruktur ini ialah responden dengan secara spontan dapat mengungkapkan segala sesuatu yang ingin dikemukakannya. selanjutnya diberikan kepada peneliti. apabila pertanyaan yang diajukan tidak disertai dengan pilihan jawaban yang disediakan. Angket langsung merupakan angket yang dirancang sedemikian rupa untuk memperoleh data tentang keadaan atau kondisi yang dialami. Sumber datanya berupa orang yang sering dikenal dengan istilah responden. dirasakan sendiri oleh responden.32 pewawancara. Dalam angket langsuang ini. Sedangkat pertanyaan terbuka atau angket terbuka. Misalnya. Pertanyaan yang diajukan dapat berupa pertanyaan tertutup dan pertanyaan terbuka. yaitu angket langsung dan angket tidak langsung. Hal ini dapat dilakukan dengan cara peneliti melakukan wawancara kepada pihak-pihak yang dianggap dapat memberikan informasi tentang permasalahan yang akan dikaji pada obyek penelitian. sehingga pewawancara dapat memperoleh gambaran yang luas tentang permasalahan. Angket terdiri dari dua jenis. Hal ini dilakukan agar data yang dikumpulkan dapat memberikan gambaran atau mengungkapkan keadaan yang sebenarnya dialami dan dirasakan responden sesuai dengan pertanyaan yang diajukan. Wawancara tak berstruktur biasanya digunakan dalam melakukan studi pendahuluan untuk mendapatkan gambaran tentang permasalahan yang ada pada obyek penelitian. Sedangkan angket tidak langsung merupakan angket yang dirancang sedemikian rupa untuk memperoleh data tentang keadaan atau kondisi obyek atau sumbek tertentu yang dilihat dan ketahui oleh responden. sejumlah pertanyaan diajukan secara tertulis dan disebarkan kepada responden untuk memberikan jawaban.

sedangkan dalam tes digunakan untuk menguji atau mengukur pengetahuan dan kemampuan seseorang. Melalui suatu tes akan diperoleh informasi seberapa baik pengetahuan. Dengan demikian tes dapat diartikan sebagai prosedur yang sistematis untuk mengamati perilaku dan mendeskripsikan satu atau lebih karakteristik seseorang dengan menggunakan skala numerik atau kategori tertentu. Untuk itu. Melalui hasi tes dapat memberikan gambaran akan perkembangan atau kemajuan yang dicapai siswa setelah mengikuti proses pembelajaran dalam jangka waktu tertentu. menggunakan bahasa yang sederhana sehingga dapat dimengerti oleh responden yang karakteristiknya heterogen. sebab dalam wawancara dan angket hanya untuk memperoleh informasi atau keterangan mengenai apa yang dialami. mencakup ingatan (pengetahuan). terutama hasil belajar kognitif berkenaan dengan penguasaan bahan pengajaran sesuai dengan tujuan pendidikan dan pengajaran. Menurut Sudjana (2005:35) tes pada umumnya digunakan untuk menilai atau mengukur hasil belajar siswa. memberikan gambaran terhadap kualitas pembelajaran yang sudah dan sedang berlangsung. Tes Teknik pengumpulan data juga dapat dilakukan dalam bentuk tes.33 jelas. Dalam sutau penelitian. digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa. Anastasi dan Urbina (1997) mengemukakan bahwa tes adalah alat ukur yang mempunyai standar objektif sehingga dapat dipergunakan untuk mengukur dan membandingkan keadaan psikis atau tingkah laku individu. pemahaman. . yang menandakan bahwa tujuan pembelajaran belum tercapai. Materi tes disusun sesuai indikator dan kompetensi dasar yang ada dalam kurikulum. Hasil yang dicapai siswa menunjukkan apakah tujuan pembelajaran yang ditetapkan telah tercapai. maka kontens dari materi tes harus sesuai dengan materi yang telah diajarkan kepada siswa di kelas. Dalam teknik ini berbeda dengan wawancara atau angket. pemahaman dan kemampuan yang dicapai siswa menjadi ukuran akan keberhasilan program pembelajaran. Dalam penyusunan butir-butir tes disesuaikan dengan ranah kognitif yang diukur. Rendahnya pencapaian hasil belajar siswa secara keseluruhan sebagai ukuran dari rendahnya kualitas pembelajaran. Cronbach (1984:26) menyatakan bahwa ”A test is a systematic procedures for observing behavior and describing it with the aid of numerical scale or fixed categories”. Pengetahuan. mengunakan istilah yang baku dan tidak menimbulkan pengertian ganda dan juga perlu disertai petunjuk pengisian sebagaimana yang dikehendaki oleh peneliti. dapat didiagnosa materi pelajaran yang belum dikuasai oleh siswa. Ranah kognitif yang diukur dalam suatu tes berdasarkan pada taksonomi Bloom. singkat. Melalui hasil tes siswa terhadap materi pelajaran. tes digunakan dalam mengukur ranah kognitif seseorang terhadap sesuatu hal. sehingga dapat dilakukan pendalaman terhadap materi tersebut sebagai usaha dalam meningkatkan hasil belajarnya. Dalam penulisan instrumen tes sebagai alat pengumpul data penelitian. dan kemampuan siswa dari materi pelajaran yang telah diajarkan. Tes memberikan informasi terhadap kualitas pembelajaran. dirasakan atau diketahui oleh responden. 4. tes berfungsi sebagai informasi untuk melakukan perbaikan atas program pembelajaran. Melalui hasil tes. Dalam bidang pendidikan.

Misalnya jenis kelamin yang terdiri dari dua kategori yaitu laki-laki yang diberikan nomor 1 dan perempuan diberikan nomor 2. karena hanya mengelompokkan subyek pengukuran dengan memberikan label atau nomor. tidak setuju diberikan angka 2. Skala Nominal Skala nominal adalah pengkelompokan atau pengklasifikasian obyek ke dalam dua kategori atau lebih. netral diberikan angka 3. skala ordinal. dua alternatif pilihan (tes benar salah). Untuk menentukan ranah kognitif yang hendak diukur. setuju diberikan angka 4. a. analisis. Menurut Surakhmad (1990:79) pengukuran merupakan sebuah proses kuantitatif. artinya menetapkan sesuatu jumlah. Hasil dari pengukuran menunjukan jumlah. Namun pemberian angka tidak selalu dari 1 sampai dengan 5 tetapi yang terpenting menunjukan suatu kontinu yang nyata dari sifat-sifat tertentu. disesuaikan dengan kata-kata kerja operasional dari setiap indikator. menjodohkan. Angka-angka hasil pengukuran adalah suatu kontinu yang nyata dari sifat-sifat tertentu. yaitu: sakala nominal. Pengertian Pengukuran Dalam Bahasa Inggris pengukuran dikenal dengan istilah meansurement yang berarti suatu kegiatan yang dilakukan untuk memberi angka terhadap obyek yang diukur. 2. Skala nominal merupakan skala pengukuran yang paling mudah untuk dilakukan. Tes obyektif berupa tes pilihan ganda. aplikasi. Tes dapat berbentuk tes obyektif dan non obyektif. di mana kontinu tersebut adalah: sangat tidak setuju yang diberikan angka 1. dan isian singkat. B. dimensi atau taraf dari sesuatu yang diukur. maka skala pengukuran dibagi menjadi empat macam.34 pemahaman. Sedangkan Djaali (2004:3) memberikan definisi pengukuran sebagai suatu proses memasangkan fakta-fakta suatu obyek dengan satuan-satuan ukuran tertentu. Nomor yang diberikan hanya sebagai lambang atau simbol dari suatu kategori. skala interval dan skala rasio. Menurut Wiersma dan Jurs (Djaali. 2004:3). Dilihat dari bentuk data yang dihasilkan dari kegiatan pengukuran. Misalnya peneliti melakukan pengukuran terhadap pendapat seseorang yang dinyatakan dengan sangat tidak setuju sampai dengan sangat setuju yang diberikan angka dari 1 sampai dengan 5. Sedangkan tes non obyektif berupa tes essai. Pemberian nomor pada kategori tersebut bukan berarti . pengukuran adalah penilaian numerik terhadap fakta-fakta dari obyek yang akan diukur menurut kriteria tertentu. dimensi atau taraf yang harus dapat diungkapkan dalam bentuk bilangan. Pengukuran 1. sistesis dan evaluasi. Skala Pengukuran Skala pengukuran merupakan seperangkat aturan dalam mengubah faktafakta kualitatif dalam pengukuran suatu obyek penelitian menjadi urutan kuantitatif. dan sangat setuju yang diberikan angka 5.

rangking IV untuk nilai 70. besar atau kecil. namun skala rasio memiliki nilai nol yang mutlak. skala rasio juga menunjukan tingkatan atau perbedaan dengan membandingkan nilainya. c. Dari nilai tersebut. Sehingga anak yang mendapatkan nilai 0 dari hasil tes prestasi belajar Matematika tidak berarti anak tersebut sama sekali tidak memiliki pengetahuan tentang Matematika. rangking III untuk 85. Nilai nol dalam skala rasio menunjukan bahwa tidak adanya .35 perempuan lebih baik atau lebih tinggi nilainya dari laki-laki.87. Begitu juga dengan anak yang memperoleh nilai 60. Dalam skala interval tidak memiliki nilai nol mutlak. Skala ordinal tidak memiliki nilai angka 0 mutlak dan jarak dari tingkatan yang satu ke tingkatan yang lain tidak sama. Kalau dalam skla interval tidak terdapat nilai nol mutlak. rangking V untuk nilai 66 dan seterusnya hingga nilai terendah.70. b. namun merupakan gradasi atau perbedaan tingkat. Skala rasio memiliki jarak atau interval yang sama antara nilai yang satu dengan nilai yang lainnya seperti pada skala interval. rangking II untuk nilai 87. tinggi-rendah dan sejenisnya. Contoh dari skala ini adalah penilaian prestasi belajar siswa di sekolah yang dikenal dengan istilah rangking I. berdasarkan hasil tes mata pelajaran Bahasa Inggris didapatkan nilai 93.85. Maka dapat diartikan skala rasio adalah skala pengukuran yang memiliki jarak yang sama antara nilai yang satu dengan nilai yang lainnya dan memiliki nilai nol mutlak. Skala ordinal menempatkan obyek dalam suatu peringkat dalam kelompoknya. Dalam skala nominal tidak berlaku perhitungan matematika. jarak antara nilai pada rangking I dan II (93 dan 87) dengan jarak nilai pada II dan III (87 dan 85) tidak sama yaitu jarak pada rangking I dan II sebesar 6 sedangkan jarak pada rangking II dan III adalah 2. Skala Rasio Seperti halnya pada skala ordinal. bukan berarti memiliki pengetahuan dua kali lipat dari yang mendapatkan nilai 30. III dan seterusnya. Skala Interval Skala interval adalah skala pengukuiran yang memiliki jarak nilai antara yang satu dengan yang lainnya adalah sama. tinggi atau rendah. besar-kecil. 3 atau 4. Maka nilai tersebut mendapatkan rangking I untuk nilai 93. II. Misalnya.66 dan sampai yang terendah. Hal ini hanya untuk membedakan kategori yang diberi label 1 dengan kategori yang diberi label 2. Tes IQ dalam pengukuran psikologi dan prestasi belajar atau indeks prestasi dalam bidang pendidikan adalah contoh dari skala pengukuran interval. Angka dalam skala interval menunjukan perbedaan. tetapi hanya sebagai label untuk membedakan saja. Skala Ordinal Skala ordinal adalah skala pengukuran yang mengurutkan obyek dari tingkatan terendah ke tingkatan tertinggi atau sebaliknya dengan jarak yang tidak sama. Begitu juga dengan kategori-kategori yang diberikan nomor dari 1 sampai dengan 4. Angka dalam skala ordinal tidak digunakan sebagai lambang seperti pada skala nominal. d. Rangking menunjukan adanya suatu perbedaan atau tingkatan.

Skala Likert memberikan suatu nilai skala untuk tiap alternatif jawabannya dalam lima kategori. Jenis-jenis Skala Pengukuran Berdasarkan jenis instrumen dan pertanyaan yang dikembangkan dalam instrumen. dikenl berbagai skala pengukuran. Skala Likert adalah skala yang digunakan untuk mengukur sikap. Sedangkan pernyataan negatif untuk mengukur indikasi dari sikap. yaitu Rensis Likert pada tahun 1932. 2. Ranting Scale dan skala Thurstone. 5. Pernyataan dalam skala Likert terdiri dari pernyataan positif dan peryataan negatif. 5. Gejala atau fenomena social itu disebut sebagai variable penelitian. yaitu: skala Likert. 1. 1. a. Dalam skala Likert variable dijabarkan menjadi subsub variable atau indikator-indikator yang dapat diukur. Skala Likert Skala Likert diberi nama sesuai dengan orang yang mengembangkannya. maka angka tersebut menunjukan bahwa benda itu tidak memiliki berat. Misalnya angka 0 yang ditunjukan dari hasil pengukuran berat suatu benda. Pernyataan positif untuk mengukur indikasi dari sikap. pendapat atau persepsi yang negatif. 4. 3. Berikut ini contoh alternatif jawaban dan pemberian nilai pada skala Likert. skala Guttman. 3.36 variable atau gejala sama sekali. Sangat setuju Setuju Ragu-ragu Tidak setuju Sangat tidak setuju Selalu Sering Kadang-kadang Hampir Tidak Pernah Tidak Pernah Sangat Sesuai Sesuai Kadang Sesuai Hampir Tidak Pernah Sesuai Tidak Pernah Sesuai Nilai Pernyataan Positif 5 4 3 2 1 5 4 3 2 1 5 4 3 2 1 Nilai Pernyataan Negatif 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 . 5. pendapat atau persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang suatu gejala atau fenomena sosial. 3. Begitu juga dengan persembahan kasih nol rupiah bagi para pelayan gereja yang berarti mereka tidak menerima uang sedikit pun. 3. 2. yaitu: Alternatif Jawaban 1. 4. 2. 4. Dari indikator-indikator tersebut disusun item-item instrumen yang berupa pertanyaan atau pernyataan yang akan diisi oleh responden. pendapat atau persepsi yang positif. skala Semantik Differensial.

2. Selalu b. 1. Tidak Pernah 2) Contoh dalam bentuk checklist Nyatakan sikap anda pada setiap pernyataan berikut dengan memberikan tanda (√ ) pada kolom yang tersedia. Tidak Pernah 3. 1) Contoh dalam bentuk pilihan ganda. Saya merasa puas apabila nilai matematika lebih baik dari sebelumnya. Nyatakan sikap anda pada setiap pernyataan berikut dengan memberikan tanda silang (X) pada salah satu options yang tersedia. Sering c. Sering c. Hampir Tidak Pernah e. Saya memberikan perhatian terhadap materi pelajaran yang diajarkan guru matematika. Kadang-kadang d. √ Keteranga: SL = Selalu S = Sering KK = Kadang-kadang HTP = Hampir Tidak Pernah TP = Tidak Pernah . Selalu b. 1. Berikut ini contoh instrumen dengan menggunanaan skala Likert. No. Selalu b. Sering c. a. a. Saya merasa tertantang apabila mengerjakan soal matematika yang sulit. Hampir Tidak Pernah e. Saya merasa tidak siap menghadapi ujian matematika apabila tidak memiliki persiapan yang matang. Pernyataan SL Saya bekerja keras agar memiliki prestasi yang lebih baik dari teman-teman.37 Instrumen yang menggunakan skala Likert dapat dibuat dalam bentuk pilihan ganda maupun checklist. saya berusaha memecahkanya sendiri tanpa meminta bantuan orang lain Alternatif Jawaban S KK HTP √ √ TP 3. Tidak Pernah 2. Hampir Tidak Pernah e. Kadang-kadang d. Kadang-kadang d. Apabila ada tugas matematika yang sulit. a.

benar – salah. data yang diperoleh merupakan data kualitatif yang kemudian dikuantitatifkan. kuat-lemah. Dalam skala ini. berat-ringat.5 dan sebagainya dari setuju sampai sangat sangat tidak sangat setuju. cepat-lambat dan sebagainya. Skala bipolar ini mengandung tiga dimensi sikap yaitu: Evaluasi responden tentang obyek atau konsep yang sedang diukur. 2004:38). Contoh: Untuk mengukur sikap guru tentang program sekolah disusun skala perbedaan sematik sebgai berikut: Bagus Bermanfaat Menarik Aktif Berpengaruh 7 7 7 7 7 6 6 6 6 6 5 5 5 5 5 4 4 4 4 4 3 3 3 3 3 2 2 2 2 2 1 1 1 1 1 Buruk Tidak Bermanfaat Tidak Menarik Pasif Tidak Berpengaruh Dari contoh di atas. besar-kecil. positif –negatif dan sebagainya. responden diminta untuk memberikan arti atau menilai suatu obyek atau konsep dalam suatu skala bipolar. setuju – tidak setuju. persepsi responden tentang potensi obyek atau konsep yang sedang diukur dan persepsi responden tentang aktifitas obyek (Djaali. d. dalam skala Guttman hanya ada dua pilihan yaitu setuju dan tidak setuju. Skala bipolar merupakan skala yang berlawanan seperti baik-buruk. Sedangkan responden yang memberikan nilai 3 berarti netral atau ragu-ragu. Responden yang memberikan nilai 5 berarti memiliki persepsi terhadap program sekolah sangat positif.3. Suci dan Tannenbaun.4. Responden yang memberikan nilai 1 berarti memiliki persepsi yang negatif terhadap program sekolah. Skala Sematik Differensial Skala sematik differensial atau perbedaan samatik dikembangakan oleh Osgood. Pada skala ini responden tidak diminta untuk memilih salah satu jawaban kualitatif melainkan jawaban kuantitatif yang telah disediakan.2. Berbeda dengan ranting scale. Skala ini lebih fleksibel. Ranting Scale Dari dua skala pengukuran yang telah dikemukakan.38 b. Skala Guttman Skala ini digunakan apabil ingin memperoleh jawaban yang tegas terhadap sesuatu yang dipertanyakan. tetapi juga dapat untuk mengukur persepsi responden terhadap fenomena lingkungan seperti skala untuk mengukur . Data yang diperoleh berupa data dikotomi (dua alternative). data yang diperoleh merupakan data yang berupa angka-angka atau data kuantitatif yang kemudian ditafsirkan dalam pengertian kualitatif. Jawaban dalam skala ini dapat berupa ya – tidak. c. Apabila dalam skal Likert terdapat skor 1. yang tidak hanya untuk mengukur sikap saja.penskoran dalam skal ini apabila jawaban setuju dapat diberikan skor 1 dan apabila tidak setuju diberikan akor 0. responden melingkari terhadap nilai yang sesuai dengan persepsinya.

d. Misalnya Yohanes memilih alternatif jawaban angka 3. pengetahuan. sedangkan skla Trustone menilai sikap dengan cara mempresentasikan statmen tentang topik yang disusun dari yang tidak disukai. Yang terpenting dalam skala ini ialah kemampuan untuk mengartikan setiap angka dari alternatif jawaban yang dipilih responden. Skala Trustone dilihat dari bentuknya mirip dengan skala Likert. Skala Thurstone Skala ini diukembangkan oleh Trustone untuk menilai secara spesifik terhadap obyek atau subyek yang hendak diteliti. Responden dalam hal ini diajukan untuk memilih pernyataan item yang hampir mendekati pilihan sikap mereka. Bagaimanakan sikap anda terhadap keputusan rektor tentang kenaikan biaya kuliah? 1 A Sangat Disukai 2 B 3 C 4 D 5 E Netral 6 F 7 G 8 H 9 10 I J Sangat Tidak Disukai . kemampuan dan lain-lain. tetapi angka 3 bagi Yohanes belum tentu sama maknanya bagi Lukas dan Maria yang juga sama-sama memilih jawaban angka 3. Perbedaannya apabila skla Likert menilai sikap dengan cara menanyakan kepada responden untuk menunjuk atau memilih salah satu alternatif jawaban yang disediakan melalui pernyataan yang diajukan mana yang lebih mendekati kecocokan jawaban dengan pilihan sikapnya. netral dan sangat tidak disukai.39 status social ekonomi.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->