`

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Pada dasarnya perjanjian kerja dibuat dengan motivasi yang menguntungkan semua pihak baik perusahaan maupun karyawan. Perusahaan membutuhkan komitmen karyawan untuk memberikan yang terbaik, dengan begitu perusahaan juga memberikan apa-apa yang menjadi hak karyawan. Sehingga sebenarnya perselisihan yang terjadi antara perusahaan dan karyawan seharusnya dapat dihindari. sangatlah penting untuk dipahami. Makalah ini memberikan rambu-rambu bagaimana membuat perjanjian kerja yang saling menguntungkan. Dalam makalah ini dijelaskan secara lengkap perihal perjanjian kerja, cara membuat perjanjian kerja, kewajiban / hak pengusaha dan pekerja / buruh, pemutusan hubungan kerja (PHK), peraturan perusahaan dan perjanjian kerja bersama. Peraturan perundang-undangan Nomor 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan yang saat ini berlaku, disamping berbagai peraturan pelaksanaan di bidang ketenagakerjaan yang masih relevan. Dari makalah ini berbagai pihak, baik pengusaha dan buruh/pekerja mampu membuat suatu perjanjian kerja yang berlandaskan undang-undang. Perjanjian kerja seperti itu tentunya amat dibutuhkan dalam mencipatakan iklim kerja yang kondusif karena masing-masing pihak telah mengetahui bahwa segala hak dan kewajibannya telah dilindungi oleh hukum. B. PENGERTIAN Sebelum secara langsung membahas tentang perjanjian kerja terlebih dahulu akan dikemukakan pengertian perjanjian kerja. Perjanjian kerja sebagaimana diatur dalam bab IX Undang-undang ketenagakerjaan tahun 2003. Dalam angka 14 undang-undang tersebut dijelaskan bahwa perjanjian kerja adalah perjanjian antara pekerja/buruh dengan pengusaha atau pemberi kerja yang memuat syarat-syarat, hak dan kewajiban para pihak. Kemudian dalam pasal 1 nomor 15 disebutkan bahwa hubungan kerja adalah hubungan antara pengusaha dengan pekerja atau buruh berdasarkan perjanjian kerja, yang mempunyai unsur
1

Pemahaman yang mendalam mengenai

perjanjian kerja mulai siapa saja yang terlibat sampai kesesuaian dengan ketentuan hukum

pekerjaan, upah dan perintah. Dalam KUH Perdata 1601 a. dijelaskan bahwa perjanjian perburuhan adalah perjanjian dengan mana pihak yang satu, si buruh, mengikatkan dirinya untuk dibawah perintah pihak yang lain si majikan, untuk sesuatu waktu tertentu, melakukan pekerjaan dengan menerima upah.1 Sesuai dengan kondisi dan sasaran yang akan dicapai dapat dibagi menjadi dalam 2 bentuk yaitu : pertama, pekerjaan yang dilakukan secara berulang-ulang atau terusmenerus dalam waktu tak tertentu ; kedua, pekerjaan yang menurut sifat jenis dan tuntunan kegiatannya perlu diselesaikan dan dilakukan dalam waktu tertentu dan relatif pendek. Untuk memulai suatu pekerjaan, pengusahaan dan pekerja membuat perjanjian kerja, yaitu perjanjian pengikatan diri antara pekerja dan pengusaha bahwa pekerja menyatakan kesediaan membayar upah dan hak-hak pekerjaan lainnya. Dari definisi diatas dapat diambil inti bawa perjanjian kerja yang berdampak bagi timbulnya hubungan kerja harus mempunyai 3 unsur, antara lain :
1. Adanya orang yang dipimpin dan memimpin : harus ada dua pihak yang berbeda

dalam kedudukannya , ada yang memerintah dan ada yang diperintah atau bisa disebut dengan hubungan subordinasi.
2. Adanya penunaian kerja : penunaian kerja maksudnya melakukan pekerjaan akan

tetapi bukan persewaan kerja karena yang tersangkut dalam kerja adalah tenaga mausia, sehingga upah sebagai kontraprestasi dipandang dari sudut ekonomis.
3. Adanya upah : ketentuan mengenai upah ini diatur dlam pasal 1 angka 30 UU

ketenagakerjaan tahun 2003. Disebutkan bahwa adalah hak pekerja yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pengusaha atau pemberi kerja pada pekerja yang dibayarkan menurut suatu perjanjian kerja, kesepakatan atau suatu peraturan perundang-undangan, termasuk tunjangan bagi pekerja dan keluarga atas suatu jasa yang telah atau akan dilakukan.

BAB II PERMASALAHAN
1 Menurut UU 21/1954:”Perjanjian Perburuhan” diadakan antara majikan dan “serikat buruh”, “perjanjian kerja” antara majikan dan buruh perseorangan

2

Pengusaha sebagai pihak yang kuat secara sosial ekonomi akan selalu menekan pihak pekerja yang berada pada posisi yang lemah/rendah. Atas dasar itu, pemerintah secara berangsur-angsur turut serta dalam menangani masalah perburuhan melalui berbagai peraturan perundang-undangan yang memberikan kepastian hukum terhadap hak dan kewajiban pengusaha maupun pekerja. Campur tangan pemerintah dalam bidang perburuhan melalui peraturan perundangundangan yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan telah membawa perubahan mendasar yakni menjadikan sifat hukum perburuhan menjadi ganda yakni sifat privat dan sifat publik. Sifat privat melekat pada prinsip dasar adanya hubungan kerja yang ditandai dengan adanya perjanjian kerja antara pekerja dengan pengusaha. Sedangkan sifat publik dari hukum perburuhan dapat dilihat dari adanya sanksi pidana, sanksi administratif bagi pelanggar ketentuan di bidang perburuhan/ketenagakerjaan dan dapat dilihat dari adanya ikut campur tangan pemerintah dalam menetapkan besarnya standar upah (upah minimum). Hubungan kerja merupakan hubungan antara pekerja dengan pengusaha yang terjadi setelah adanya perjanjian kerja. Dalam Pasal 1 angka 15 UndangUndang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan disebutkan bahwa hubungan kerja adalah hubungan antara pengusaha dengan pekerja berdasarkan perjanjian kerja yang mempunyai unsur pekerjaan, upah dan perintah. Dengan demikian jelaslah bahwa hubungan kerja terjadi karena adanya perjanjian kerja antara pengusaha dan pekerja. Saat ini masih banyak pekerja yang tidak mengerti akan hak dan kewajibannya sehingga banyak pekerja yang merasa dirugikan oleh pengusaha yang memaksakan kehendaknya pada pihak pekerja dengan mendiktekan perjanjian kerja tersebut pada pekerjanya Isi dari penyelenggaraan hubungan kerja tidak boleh bertentangan dengan ketentuan dalam undang-undang yang bersifat memaksa ataupun yang bertentangan dengan tata susila yang berlaku dalam masyarakat, ataupun ketertiban umum. Bila

3

Walaupun suatu perjanjian kerja telah mengikat para pihak. namun dalam pelakasanaannya sering berjalan tidak seperti apa yang diharapkan misalnya masalah jam masuk kerja. BAB III PEMBAHASAN A. Dengan kata lain. pihak buruh/pekerja turut saja terhadap peraturan yang diberikan oleh pihak pengusaha. Permasalahan yang diangkat dalam makalah ini adalah pembahasan mengenai perjanjian kerja dan perburuhan agar perselisihan antara pihak pengusaha dengan pekerja/buruh dapat dihindari. masalah upah. Salah satu faktor penyebabnya adalah masih banyaknya pihak yang belum mengerti tentang hak–hak dan kewajiban-kewajiban yang mereka miliki dalam suatu perjanjian kerja yang notabennya adalah suatu perikatan hukum. yang tak lain untuk mengurangi jumlah pengangguran di Indonesia. Perselisihan antara pengusaha dan buruh/pekerja kerap terjadi dalam dunia ketenagakerjaan di tanah air.hal tersebut sampai terjadi maka perjanjian kerja tersebut dianggap tidak sah dan batal. Sementara itu pihak buruh/pekerja sendiri kurang mengetahui apa-apa yang menjadi hak dan kewajibannya. Padahal dalam suatu hubungan kerja sama yang baik tidak ada pihak yang lebih penting karena pengusaha dan buruh/pekerja masing-masing saling membutuhkan. sehingga menimbulkan perselisihan paham mengenai hubungan kerja dan akhirnya terjadilah pemutusan hubungan kerja. PERJANJIAN KERJA DAN PERJANJIAN KERJA BERSAMA 4 . Dengan adanya perjanjian kerja. Perjanjian kerja memegang peranan penting dan merupakan sarana untuk mewujudkan hubungan kerja yang baik dalam praktek sehari-hari. maka perjanjian kerja pada umumnya hanya berlaku bagi pekerja dan pengusaha yang mengadakan perjanjian kerja. pengusaha harus mampu memberikan pengarahan/penempatan kerja sehubungan dengan adanya kewajiban mengusahakan pekerjaan atau menyediakan pekerjaan. Di satu sisi pengusaha masih melihat pihak pekerja/buruh sebagai pihak yang lemah tanpa posisi tawar.

Perjanjian Kerja Perjanjian kerja dan perjanjian kerja bersama mempunyai manfaat yang besar bagi pihak yang mengadakannya. adanya sebab yang halal Keempat hal inilah yang membuat perbedaan antara kesepakatan dan perjanjian karena dalam kesepakatan kerja bersama hanya memenuhi unsur kesepakatan. Dalam pasal 1320 KUH Perdata telah disebutkan syarat sahnya suatu perjanjian.1. si buruh. adanya kecakapan c. dan sekarang UU no. adanya kesepakatan b. Hal ini didasari dengan adanya i’tikad baik dari para pembuat perjanjian agar dapat menciptakan suatu ketenangna kerja. adanya suatu hal tertentu d. Dalam hal pengertian sebenarnya tak ada pengertian yang berbeda mengenai perjanjian kerja. yang memandang orang-orang yang melakukan 5 . berbeda dengan perjanjian kerja bersama yang mencakup empat syarat sahnya perjanjian tersebut.Pengertian a. si majikan. Perjanjian kerja menurut pasal 1601a KUH Perdata berbunyi: ”persetujuan perburuhan adalah persetujuan dengan mana pihak yang satu. 13 tahuin 2003) telah memberikan pengertian yang jelas mengenai perjanjian kerja bersama. mengikatkan dirinya untuk di bawah perintah pihak lai. 21 tahun 1954 tentang Perjanjian Perburuhan antara Serikat Buruh dan Majikan. yaitu: a.” Namun menurut Iman Soepomo hal ini kurang lengkap karena menurutnya pasal tersebut di atas hanya mengikat pekerja/buruh. jaminan kepastian hak dan kewajiban para pihak. bukan pengusahanya. Sehingga. ”Perumusan semacam itu sangat mungkin terpengaruh oleh pandangan dari zaman ke zaman di mana masyarakat mana pun. untuk suatu waktu tertentu melakukan pekerjaan dengan menerima upah. dengan adanya perjanjian kerja diharapkan produktivitas meningkat sehingga pengusaha dapat mengembangkan usahanya dan lebih jauh lagi dapat menciptakan lapangan kerja baru. Hal ini dikarenakan undang-undang yang telah mengaturnya ( UU no.

di mana si buruh menyatakan kesanggupannya untuk bekerja pada majikan dengan menerima upah dan di mana majikan menyatakna kesanggupannya untu mempekerjakan buruh denga membayar upah. 13 tahun 2003 menentukan: ”Perjanjian kerja adalah perjanjian antara pekerja/buruh dengan pengusaha atau pemberi kerja yang memuat syarat kerja. pengusaha dan pekerja dapat bersama-sama menjamin kelangusungan produktifitas perusahaan. Sebagai pedoman bagi pengusaha menjalankan kewajibannya dan penegasan atas kewenangan pimpinan perusahaan 2 Iman Soepomo (1983:41) 6 . jaminan sosial. Manfaat Perjanjian Kerja Bersama a. terutama untuk orang lain.. 2..pekerjaan. hak. untuk kemudian meningkatkan kesejahteraan pekerja dan keluarganya.. ” Suatu Perjanjian yang diadakan oleh buruh dan majikan. Tujuan perumusan PKB adalah melibatkan para pekerja melalui serikat pekerja dalam perundingan dengan pengusaha untuk menentukan hak dan kewajiban pekerja serta kewenangan dan kewajiban pengusaha. dan kewajiban para pihak. Isi perjanjian PKB diantaranya adalah penegasan kembali tentang ketentuan mengenai hak dan kewajiban pekerja. Dengan demikian.” Sedangkan menurut pasal 1 angka 14 UU No. sebagai orang yang sangat rendah. tata tertib kerja.” a.”2. Untuk melengkapi rumusan pasal 1601 KUH Perdata maka Iman Soepomo menyatakan bahwa perjanjian kerja adalah. Perjanjian Kerja Bersama Perjanjian kerja bersama atau PKB adalah kesepakatan atau perjanjian yang dicapai melalui perundingan antara wakil serikat pekerja dan wakil pengusaha mengenai hak dan kewajiban pekerja serta kewenangan dan kewajiban pengusaha. Di samping itu PKB juga memuat beberapa ketentuan yang belum diatur secara spesifik oleh Pemerintah seperti skala san tingkat upah.. Baik karana inisiatif pengusaha maupun sebagai hasil perundingan antara pengusaha dan serikat pekerja. dan penyelesaian keluh kesah pekerja dan penyediaan fasilitas bagi serikat pekerja.

3. Dalam kesimpulan tersebut masa percobaan boleh diladakan atau tidak diadakan dan selama masa percobaan karyawan berhak mendapatkan upah. bahkan untuk menyelesaikan perselisihan antara pengusaha dan serikat pekerja. Mengenai masa percobaan kerja pasal 60 jo. Mempertegas pengakuan pengusaha atas kehadiran dan peranan serikat pekerja serta fasilitas yang diperoleh serikat pekerja d. Tata Cara Pembuatan Perjanjian Kerja dan PKB 1. perbedaan tafsir peraturan antara pengusaha dan pekerja. 7 . Tujuan diadakan masa percobaan ini untuk mengetahui apakah calon karyawan mampu melakukan tugas yang diberikan atau tidak kepadanya dan untuk mengetahui kepribadiannya.13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan mengatur sebagai berikut : a) Perjanjian kerja waktu tidak menentu dapat mensyaratkan perjanjian kerja. kepastian usaha bagi pengusaha. c) Dibuat secara tertulis. Apabila menurut penilaian pengusaha karyawan layak untuk dipekerjakan maka majikan mengangkat calon karyawan menjadi karyawan dengan membuat perjanjian kerja. Sebagai acuan atau referensi utama untuk menyelesaikan keluh kesah pekerja. d) Upah yang dibayarkan tidak boleh dibawah upah minimum yang berlaku. e. Pasal 154 huruf a UU no. ketenangan kerja bagi pekerja. 1. Untuk menciptakan hubungan industrial yang aman dan harmonis yang didukung oleh suasana musyawarah dan kekeluargaan dalam perusahaan. berkurangnya kasus perselisihan dan gangguan produksi. Sebagai pedoman bagi pekerja menjalankan kewajibannya dan memperoleh hakhaknya serta untuk mengakui dan menghormati kewenangan pengusaha c. Yang dapat membuat perjanjian kerja.b. b) Masa perjanjian kerja palng lama 3 bulan. Masa percobaan Sebelum melakukan perjanjian kerja perusahaan melakukan masa percobaan atau bisa disebut megang.

Menurut hukum perburuhan. c. KEP0235/MEN/2003 tanggal 31 Oktober 2003 mengatur halhal sebagai berikut : a. menyediakan atau melibatkan anak untuk produksi minuman keras. seseorang dapat disebut orang dewasa apabila sudah akil baliq atau sudah kawin. Ketentuan mengenai pengusaha dilarang mempekerjakan anak dapat dilakukan pengecualian sebagai berikut : 8 . seseorang dapat dikatakan dewasa apabila sudah berumur 18 tahun atau diatas 18 tahun. Pengusahan dilarang mempekerjakan anak. zat adiktif lainnya. UU ketenagakerjaan dan keputusan menteri tenaga kerja dan transmigrasi No. b. Menurut KUH Perdata. produksi pornografi.Untuk dapat mmbuat perjanjian kerja pada intinya adalah orang dewasa. dimana UU ketnagakerjaan pasal 1 angka 26 mendefinisikan adalah anak ada.ah setiap berumur dibawah 18 tahun. narkotika. seorang dianggap dewasa dan karenanya mampu bertindak dalam lalu lintas hukum. Menurut hukum adat. Siapapun dilarang mempekerjakan dan melibatkan anak pada pekerjaanpekerjaan terburuk. atau biasanya telah berusia 16 s/d 18 tahun. psikotopika. yaitu : • • Segala pekerjaan dalam bentuk perbudakan. b. atau menawarkan anak untuk pelacuran. pertunjukan porno atau perjudian. • Semua pekerjaa yang membahayakan keselamatan dan moral anak. jika berumur 21 tahun ata sudah kawin. • Segala pekerjaan yang memanfaatkan. Mengenai pengertian orang dewasa ada perbedaan pendapat sebagai berikut : a. Segala pekerjaan yang memanfaatkan. menyediakan.

Untuk itu pengusaha wajib memenuhi persyaratan sebagai berikut: • Dibawah pengawasan langsung dari orang tua atau wali. Tahap keempat. • • a.selama perundingan . tata cara perundingan dan cara menyeselaikan bila menemui kesulitan mencapai kesepakatan. 48 tahun 2004. masing-masing pihak membentuk tim perunding .a. Tahap pertama. kedua belah pihak 9 . Perjanjian kerja antara orang tua atau wali Waktu kerja maksimal 3jam. perundingan dilakukan secara musyawarah untuk mufakat. dan waktu sekolah. Pedoman PKB telah diatur dalam Peraturan Menteri Tenaga kerja dan Transmigrasi No. • Kondisi lingkungan kerja tidak menggangu perkembangan fisik. Adanya hubungan kerja yang jelas.tempat perundingan . Pengusaha yang ingn mempekerjakan anak harus memenuhi hal-hal sebagai tersebut : • • • • Izin tertulis dari orang tua/ wali. • Waktu kerja maksimal 3 jam. adalah melakukan perundingan . pengurus serikat pekerja yang telah terdaftar dikantor pemerintah setempat mengajukan permintaan secara tertulis kepada manajemen atau pengusaha untuk berunding merumuskan PKB dilampir dengan rancangan PKB. perusahaan dan pimpinan serikat pekerja menyepakati tata tertib perundingan yang antara lain mencakup : tujuan pembuatan tata tertib. Anak yang berumur 13 smpai 15 tahun dapat melakukan pekerjaan ringan sepanjang tidak menggangu perkembangan dankeshatan fisik maupun mental dan sosial. susunan tim perunding. sosial. lama masa perundingan materi perundingan . Anak dapat melakukan pekerjaan untuk mengembangkan bakat yang diminatinya. Dilakukan siang hari dan tidak menggangu waktu Adanya jaminan kesehatan dan keselamatan kerja. Tahap ketiga. tidak secara pemungutan suara ( voting ). Tahap kedua. sekolah. mental.

Disamping itu . akad memiliki arti secara umum (al ma’na al-am) adalah ”segala sesuatu yang dikehendaki seseorang untuk dikerjakan. Dalam konsep muamalat janji dibedakan dengan akad namun keduanya sering diakitkan ketika terjadinya transaksi. thalak.tidak diperbolehkan melakukan tindakan penekanan atau pemaksaan seperti ancaman PHK atau pemogokan. 10 . Pengertian Perjanjian Kerja menurut Islam Dalam islam perjanjian disebut akad. PKB yang telah ditandatangani kedua belah pihak harus didaftarkan ke Dinas Ketenagakerjaan setempat. sewa menyewa. maupun yang membutuhkan pada kehendak dua pihak dalam melakukannya seperti jual beli. dan gadai/jaminan” Sedangkan dalam arti khusus (al-ma’na al-khas) akad adalah ”pertalian atau perikatan antara ijab qabul sesuai dengan kehendak syari’ah (Allah dan Rasulnya) yang menimbulkan akibat hukum pada obyek akad. Pencantuman kata ”sesuai dengan kehendak syariah” dalam definisi diatas maksudnya adalah bahwa setiap akad yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih tidak dipandang sah jika tidak sejalan dengan kehendak atau ketentuan syariah. perjanjian. dan permufakatan. 4. seperti kehendak untuk wakaf.” Ijab dan qabul dimaksudkan untuk menunjukkan adanya keunginan dan kerelaan timbal balik para pihak yang bersangkutan terhaap isi akad. Akad sendiri mempunyai arti secara etimologi perikatan. Secara terminologi. Oleh karena itu. pengusaha mempunyai kewajiban untuk menyebarluaskan PKB melalui tempat atau papan pengumuman yang mudah dibaca. Janji biasanya diucapkan sebelum akad terjadi sebagai upaya pemberian harapan kepada orang yang akan menerimanya bahwa orang yang berjanji akan melakukan sesuatu yang berguna. Demikian juga serikat pekerja berkewajiban menyebarluaskan isi PKB kepada anggotaanggotanya. ijab dan qabul menimbulkan hak dan kewajiban atas masing-masing pihak secara timbal balik. perwakilan. Tahap kelima. baik yang muncul dari kehendaknya sendiri. membebaskan hutang.

h. Bisa saja dianggap seperti tidak ada akad yang terjadi. pengusaha dan pekerja.Dalam kajian fiqh muamalat. Op. H. Wahbah. yaitu orang yang sudah akhil baligh. Subjek Perjanjian Kerja dan Perjanjian Kerja Bersama Subjek perjanjian adalah orang-orang yang terikat dalam perjanjia yang dibuatnya. ‘Aqd al-Qardh fi al-Syari’ah al-Islamiyyah wa al Qanun al-Wadh’iy. 65 4 Uraian mengenai rukun akad didasarkan pada penjelasan Wahbah. 2930 dst. baik perbuatan maupun ucapan. obyek akal.4 Menurut mayoritas ulama. serta hak dan kewajiban atas masing-masing. Shighat. dalam rangka memberikan keuntungan bagi pihak lain. Sementara itu. 1. (Bairut: Muassassah Nawfal. Sedangkan janji adalah ”keinginan yang dikemukakan oleh seseorang untuk melakukan sesuatu. akad dibedakan dengng janji. dua pihak yang melakukan akad c. Jadi dalam bagian pengertian antara perjanjian dalam bisnis global terutama Indonesia dengan bisnis dalam Islam (akad) tidak banyak hal yang berbeda. Maudhu’ al-’aqd. ’Aqidain. subjek perjanjian kerja bersama bukan hanya serikat pekerja atau serikat 11 . Justru lebih banyak kesamaan antara perjanjian dalam pandangan ekonomi Indonesia dengan perjanjian dalam pandangan Islam. rukun akad terdiri atas: a. Ma’qud ’alaih. 3 ‘Ala’ al-Din kharufah.cit. berakal sehat dan dewasa atau cakap hukum. tujuan akad menjadi penting karena jika akad tersebut tujuannya bertentangan dengan syara’ hukumnya adalah tidak sah dan tidak menimbulkan akibat hukum. Dengan pengertian ini maka subjek perjanjia kerja adalah buruh dan pengusaha saja tetapi juga pekerja atau buruh.”3 Adapun perangkat-perangkat yang nantinya menjadi:unsur-unsur pembentuk akad. Pada akad terdapat pernyataan atas suatu keinginan positif dan salah satu pihak yang terlibat dan diterima oleh pihak lainnya yang menimbulkan akibat hukum pada obyek akad. d. Dirasah Muqaranah.1982). Dalam hal dua pihak yang melakukan akad diahruskan ia adalah orang yang mukallaf. pernyataan ijab qabul b.

serikat pekerja atau serikat buruh tersebut dapat mewakili pekerja atau buruh unutk membuat perjanjian kerja bersama apabila memiliki jumlah anggota lebid dari 50 % dari jumlah pekeja atau buruh yang ada di perusahhan tersebut. 23 tahun 1953 tentang Kewajiban Melaporkan Perusahaan diperbolehkan mambuat perjanjia kerja dengan pengusaha apabila telah berusia 18 tahun. Persoalan sah atau tidaknya perusahaan itu telah diatur dalam hukum dagang atau hukum bisnis. Dalam pasal 1330 KUH Perdata ditentukan bahwa orang yang belum dewasa. Dalam perundang-undangan ketenagakerjaan memang tidak dijumpai tentang syaratsyarat-syarat seseorang pengusaha berhak atau tidak membuat perjanjian kerja dan perjanjian kerja bersama. Dalam segi ini tidak ada permasalahan tentang berhak atau tidaknya pengusaha membuat perjanjian kerja dan perjanjia kerja bersama. Hanya saja sekarang tergantung perusahaannya itu sah atau tidak. serikat pekerja atau serikat buruh tentu saja akan mengikat anggota-anggotanya ke dalam perjanjia yang mereka buat dengan pengusaha.Pekerja atau buruh terikat dalam perjanjia kerja bersama yang dibuat oleh serikat pekerja atau serikat buruhnya adalah berdasarkan suatu asas perkumpulan yang menyatakan bahwa setia anggota perkumpulan terikat oleh perjanjian-perjanjian yang dibuat oleh perkumpulannya. untuk serikat pekerja atau serikat 12 . orang yang ditauh di bawah pengampunan dan orang gila tidak berhak membuat suatu persetujuan.” perusahaan yang telah didirikan ataupun yang baru didirikan kembali. yang dipindahkan atau dibubarkan agar dilaporkan kepada Kepala Resort Jawatan Pengawasan Perburuhan pada Kementrian Tenaga Kerja. Apalagi menjadi seorang pengusaha. Jika dalam suatu perusahaan hanya ada satu serikat pekerja atau serikat buruh. 5 Pasal 2 UU no. Hukum ketenaga kerjaan hanya mengharuskan. Karenanya hukum ketenagakerjaan tidak berhak untuk mengaturnya. Oleh karena itu.”5 Seorang pekerja atau buruh baru buruh ditentukan sebagai berikut. a. Sementara itu.

6 h. muamalat adalah aturan-aturan hukum Isalam yang berkaitan dengan tindakan hukum manusia dalam persoalan keduniaan. 1971). waris. (Makkah:Rabithah al-‘iam al-Islami. 748 7 Abdussattar Fathullah Sa’id. berbuat. d. 1402H) hal. mudharabah. Dalam hal serikat pekerja atau serikat buruh yang tidak memenuhi poin 3 di atas. pekerjaan.b. al-Muamalat fi al-Islam. pekerjaan sosial. dan segala hal yang dibutuhkan manusia selama hidupnya. (Beirut: Dar al-Ma’rifah. 12 13 . perdamaian. bisnis. Subjek Perjanjian Kerja dan Perjanjian Kerja Bersama dalam Islam Dalam bisnis Islam dikenl sebutam Muamalat yang berasal dari bahasa arab muamalat yang merupakan bentukan dari kata ’amala-yuamilu-muamalatan yang menurut bahasa memiliki arti saling bertindak.j. Idarah Kitab al Islami. c. hibah.6seperti jual beli. wasiat. Dalam hal satu perusahaan mempunyai lebih dari satu serikat pekerja atau serikat buruh maka serikat pekerja atau serikat buruh yang dapat membuat perjanjian kerja bersama adalah serikat pkerja atau serikat buruh yang memiliki anggota lebih dari 50% darijumlah pekerja atau buruh yang ada di perusahaan tersebut. gadai. 1. maka serikat pekerja atau serikat buruh baru dapat membuat perjanjian kerja bersama apabila dapat berkoalisi dengan serikat pekerja atau serikat buruh yang ada sehingga memiliki suara lebih dari 50% dari jumlah pekerja atau buruh yang ada di perusahaan tersebut. serikat pekerja atau serikat buruh tersebut baru dapat membuat perjanjian kerja bersama jika mendapat dukungan lebih dari 50% dari jumlah pekerja atau buruh yang bekerja di perusahaan tersebut. sewa. berserikat. nikah.7 Sedangkan mengenai subjek dalam perjanjia menurut Islam harusla orang yang mukallaf. perang. perdagangan. Dalam artian luas. pergaulan. dan transaksi. Jika serikat pekerja atau serikat buruh tersebut tidak memiliki jumlah anggota lebih dari 50%. Mukallaf adalah oarang yang sudah ’aqil-baligh berakal sehat dan dewasa atau 6 Muhammad Farid Wajdi. Da’ irah Ma’arif al-Qur’an al-Isyrin.

mulai dan jangka waktu berlakunya perjanjian kerja h. tanda tangan para pihak dalam perjanjian. jenis kelamin. nama. dan jenis usaha b. besarnya upah dan cara pembayaran f. syarat-syarat kerja yang memuat hak dan kewajiban pengusaha dan pekerja atau buruh g. kemampuan atau kecakapan melakukan perbuatan hukum c.9 Perjanjian kerja bersama paling sedikit harus memuat: a. dan alamat pekerja atau buruh c. umur. adanya pekerjaan yang dijanjikan d. tempat dan tanggal perjanjian kerja dibuat i. kesusilaan.cakap hukum.8 Sedangkan perjanjian kerja yang dibuat tertulis sekurang-kurangnya memuat: a. 13 tahun 2003 14 . nama. dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 13 tahun 2003 9 Berdasarkan pasal 54 UU No. tempat pekerjaan e. 2. diantaranya: a. alamat perusahaan. hak dan kewajiban perusahaan 8 Pasal 52 UU No. kesepakatan kedua belah pihak b. Mengenai batasan umur pelaku atau keabsahan perjanjian diserahkan pada ’urf atau peraturan perundang-undangan yang dapat menjamin kemaslahatan para pihak. Syarat Sahnya Perjanjian Kerja dan Perjanjian Kerja Bersama Dalam setiap perjanjian kerja terdapat syarat-syarat yang harus dapat terpenuhi. jabatan atau jenis pekerjaan d. pekerjaan yang diperjanjikan tidak bertentangan dengan ketertiban umum.

golongan warga negara atau bangsa. Selain itu. 13 tahun 2003 15 . tanda tangan para pihak pembuat perjanjian kerja bersama.b.Perjanjian Kerja untuk Waktu Tertentu Perjanjian kerja waktu tertentu hanya dapat dibuat untuk pekerjaan tertentu yang menurut jenis dan sifat atau kegiatan pekerjaannya akan selesai dalam waktu tertentu. golongan warga negara atau bangsa. dan dapat diperpanjang lagi masa berlakunya paling lama satu tahun berdasarkan kesepakatan tertulis antar pengusaha dengan serikat pekerja atau serikat buruh yang membuatnya. yaitu: 1) pekerjaan yang sekali selesi atau yang sementara sifatnya 10 Berdasrkan pasal 124 UU No. memuat peraturan yang mewajibkan seorang pengusaha hanya boleh menerima atau menolak pekerja atau buruh dari suatu golongan. 2. memuat aturan yang bertentangan dengan ketertiban umum dan kesusilaan. hak dan kewajiban serikat pekerja atau serikat buruh serta pekerja atau buruh c. maupun keyakinan politik atau anggota dari suatu perkumpulan c.13 tahun 20043) ditentukan ada beberapa jenis perjanjian kerja sebagai berikut: 1. maupun keyakinan politik atau anggota dari suatu perkumpulan b. maka dalam perjanjian kerja bersama tidak diperboleh kan untuk: a. baik berkenaan dengan agama. Jenis-jenis Perjanjian Kerja Dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan (UU No. memuat aturan yang mewajibkan seorang pekerja atau buruh hanya bekerja atau tidak boleh bekerja pada pngusaha dari suatu golongan. baik berkenaan dengan agama. jangka waktu dan tanggal mulai berlakunya perjanjian kerja bersama d. sesuai dengan sifat serikat pekerja atau serikat buruh yang bebas.10 Perjanjian kerja bersama dapat dibuat dalam jangka waktu paling lama dua tahun.

atau produk tambahan yang masih dalam percobaan atau penjajakan. Perjanjian kerja waktu tertentu yang didasarkan atas jangka waktu tertentu dapat diadakan untuk paling lama dua tahun dan boleh diperpanjang atau diperbarui satu kali untuk jangka waktu paling lama satu tahun. pembaruan perjanjian waktu tertentu ini hanya boleh dilakukan satu kali dan paling lama dua tahun. Pembaruan perjanjian kerja waktu tertentu hanya dapat diadakan setelah melebihi masa tenggang waktu tiga puluh hari berakhirnya perjanjia kerja waktu tertentu yang lama. dan adanya upah. 16 . Dengan demikian dalam perjanjian kerja harus dipenuhi tiga unsur yaitu ada orang dibawah pimpinan orang lain. Pengertian Perjanjian Kerja Waktu tertentu Dalam Pasal 59 ayat l. pengertian Perjanjian Kerja Waktu tertentu adalah perjanjian kerja antara pekerja/buruh dengan pengusaha yang hanya dibuat untuk pekerjaan tertentu yang menurut jenis dan sifat atau kegiatan pekerjaannya akan selesai dalam waktu tertentu. dan perintah. kegiatan baru.2) pekerjaan yang diperkirakan penyelesaiannya dalam waktu yang tidak terlalu lama dan paling lama dalam waktu tiga tahun 3) pekerjaan yang bersifat musiman 4) pekerjaan yang berhubungan dengan produk baru.Kep. upah.100/Men/VI/2004 tanggal 21 Juni 2004 menyebutkan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu adalah perjanjian kerja antara pekerja dengan pengusaha untuk mengadakan hubungan kerja dalam waktu tertentu atau untuk pekerjaan tertentu. penunaian kerja. pelaksanaan perjanjian kerja waktu tertentu pada pasal 1 tentang ketentuan umum dalam keputusan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. Perjanjian Kerja Waktu Tertentu yang selanjutnya disebut PKWT adalah perjanjian kerja antara pekerja/buruh dengan pengusaha untuk mengadakan hubungan kerja dalam waktu tertentu atau untuk pekerja tertentu. Di dalam Keputusan Menteri tersebut mengatur tentang. Dalam perjanjian kerja yang menimbulkan hubungan kerja mempunyai unsur pekerjaan.

Pekerjaan yang berhubungan dengan produk baru. 2. Perjanjian Kerja Waktu Tertentu hanya dapat dibuat untuk pekerjaan tertentu yang menurut jenis dan sifat atau kegiatan pekerjaannya. Pekerja/buruh adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan menetapkan kategori pekerjaan untuk Perjanjian Kerja Waktu Tertentu sebagai berikut: 1. 3. Guna mengantisipasi masalah ini Pasal 59 ayat 1 Undang-Undang No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan menegaskan bahwa Perjanjian Kerja Waktu Tertentu tidak dapat diadakan untuk pekerjaan yang bersifat 17 . Menteri dapat menetapkan ketentuan PKWT khusus untuk sektor usaha dan atau pekerjaan tertentu. Pekerjaan yang bersifat musiman. kegiatan baru atau produk tambahan yang masih dalam percobaan atau penjajagan. 4. tidak boleh lebih rendah daripada ketentuan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kemudian dalam Pasal 2 memberikan batasan-batasan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu sebagai berikut: 1. Dengan latar belakang dan alasan tertentu kadang terdapat pengusaha dengan sengaja memberlakukan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu untuk pekerjaan yang bersifat rutin atau tetap. Pekerjaan yang sekali selesai atau sementara sifatnya. Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu yang selanjutnya disebut PKWTT adalah perjanjian kerja antara pekerja/buruh dengan pengusaha untuk mengadakan hubungan kerja yang bersifat tetap. Pasal 59 ayat 2 Undang-Undang No. 2.2. Dalam praktek sering terjadi penyimpangan atas hal ini. Pekerjaan yang diperkirakan penyelesaiannya dalam waktu yang tidak terlalu lama dan paling lama 3 (tiga) tahun. 3. Syarat kerja yang diperjanjikan dalam PKWT.

4. tidak terputus-putus.tetap. alamat perusahaan. 9. 8. 3.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. yaitu syarat materiil dan syarat for-nil. 2. Nama. Syarat-syarat kerja yang memuat hak dan kewajiban pengusaha dan pekerja/buruh. maka syarat-syarat kerja yang berlaku 18 . 7. Jangka waktu mulai berlakunya Perjanjian Kerja. Pekerjaan yang diperjanjikan tidak bertentangan dengan ketertiban umum.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan Perjanjian kerja Waktu Tertentu harus memuat: 1. Syarat-syarat Pembuatan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu Sebagaimana perjanjian kerja pada umumnya. dan jenis usaha. kesusilaan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. dan alamat pekerja/buruh. Kesepakatan kedua belah pihak. tidak dibatasi waktu dan merupakan bagian dari suatu proses produksi dalam 1 (satu) perusahaan atau pekerjaan yang bukan musiman. 2. yaitu sebagai berikut: 1. Jabatan dan jenis pekerjaan. jenis kelamin. yaitu pekerjaan yang sifatnya terus-menerus. Tempat pekerjaan. Besarnya upah dan cara pembayarannya. Syarat-syarat yang dimuat dalam Perjanjian Kerja Waktu Tertentu tidak boleh lebih rendah dari syarat-syarat kerja yang termuat dalam Peraturan Perusahaan atau Perjanjian Kerja Bersama. Kesepakatan atau kecakapan melakukan perbuatan hukum. 4. Tempat lokasi perjanjian kerja dibuat. Perjanjian Kerja Waktu Tertentu harus memenuhi syarat-syarat pembuatan yang terbagi dalam 2 (dua) macam. Syarat materiil diatur pada Pasal 52 ayat 1 Undang-Undang No. Bila ternyata kualitas isinya lebih rendah. Sedangkan syarat pembuatan secara formil Perkanjian Kerja Waktu Tertentu yang diatur dalam pasal 54 ayat 1 Undang-undang No. 5. 6. umur. Nama. Tanda tangan para pihak dalam perjanjian kerja. Adanya perjanjian yang diperjanjikan. 3.

yang tidak memiliki jangka waktu berlakunya. pekerja atau buruh meninggal dunia d.Perjanjian Kerja untuk Waktu Tidak Tertentu Perjanjian untuk waktu tidak tertentu di sini adalah salah suatu jenis perjanjian kerja yang umum dijumpai dalam suatu perusahaan. Surat yang dimaksud memuat sekurang-kurangnya tentang: 1) nama dan alamat pekerja atau buruh 2) tanggal mulai bekerja 3) jenis pekerjaan 4) besarnya upah. Perjanjian Kerja Waktu Tertentu dibuat dalam rangkap 3 (tiga). pengusaha. Dengan demikian. pewarisan atau hibah. pihak pekerja atau buruh diputuskan hubuingan kerjanya karena melakukan kesalahan c. Perjanjian kerja untuk waktu tidak tertentu dapat dibuat secara tertulis dan lisan. adanya putusan pengadilan yang menyatakan pekerja atau buruh telah melakukan tindak pidana sehingga perjanjian kerja tidak dapat dilanjutkan Perjanjian kerja untuk waktu tidak tertentu tidak akan berakhir karena meninggalnya pengusaha atau beralihnya hak atas perusahaan ayng disebabkan oleh penjualan. masing-masing rangkap untuk pekerja. Dalam hal perjanjian jenis ini.adalah yang termuat dalam Peraturan Perusahaan atau Perjanjian Kerja Bersama. Perubahan PKWT Menjadi PKWTT yang diatur dalam pasal 15 menyatakan bahwa: 19 . Seluruh biaya yang timbul atas pembuatan Perjanjian Kerja Waktu tertentu menjadi tanggungan pengusaha. perjanjian kerja untuk waktu tidak tertentu berlaku terus sampai: a. pengusaha wajib membuat surat pengangkatan bagi pekerja atau buruh. 1. pihak pekerja atau buruh memasuki usia pensiun b. dan dinas atau instansi yang membidangi ketenagakerjaan setempat.

Dalam hal pembaharuan PKWT tidak melalui masa tenggang waktu 30 (tiga puluh) hari setelah berakhirnya perpanjangan PKWT dan tidak diperjanjikan lain sebgaimana dimaksud dalam pasal 3. Adapun bentuk perjanjian kerja dalam islam dalah sebagai berikut: 1.”11 Adapun syarat-syarat mudharabah adalah sebagai berikut:12 11 Al-Sarakhsi. Dalam hal PKWT dilakukan untuk pekerjaan yang berhubungan dengan produk baru menyimpang dari ketentuan pasal 8 ayat 2 dan ayat 3. 3. Mudharabah Para ulama fiqh mendefinisikan mudharabah dengan ”pemilik modal menyertakan modalnya kepada para pekerja (pengusaha) untuk diinvesatsikan. Dalam hal PKWT dibuat tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 ayat 2. sedangkan keuntungan yang diperoleh kejadi milik bersama dan dibagi menurut kesepakatan bersama. hal. maka PKWT berubah menjadi PKWTT sejak tidak terpenuhinya syarat PKWT tersebut. Cit. perjanjian kerja lebih kepada kerja sama bukan sebagai pengusaha atau majikan dan pekerja atau buruh. Op. maka PKWT berubah menjadi PKWTT sejak adanya hubungan kerja. ayat 3 dan ayat 4. PKWT yang tidak dibuat dalam bahasa Indonesia dan huruf latin berubah menjadi PKWTT sejak adanya hubungan kerja. atau pasal 5 ayat 2. 2. jilid XXII. ayat 2. maka hak-hak pekerja/buruh dan prosedur penyelesaian dilakukan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan bagi PKWT. maka PKWT berubah menjadi PKWT sejak dilakukan penyimpangan. 18 20 . Jenis Perjanjian Kerja dalam Islam Dalam sudut pandang islam. Dalam hal pengusaha mengakhiri hubungan kerja terhadap pekerja/buruh dengan hubungan kerja PKWT sebagaimana dimaksud dalam ayat 1. 4.1. 1. 5.

Yang terkai dengan keuntungan. objeknya adalah lahan dan hasil yang diperoleh sebagai keuntungan. hal. hal 234. 4683 14 Sayyid Sabiq. Cit. Fiqh Sunnah. jilid 3. dimana pemilik ternak menyerahkan hewannya untuk digembalakan sedangkan hasilnya baiksecara lahir maupun nilai jual di bagi sesuai dengan kesepakatan.. hal.a.14 Hal yang sama juga terjadi pada hewan ternak dengan penggembala. jilid 6. 2. (3)tunai.. 151 13 Wahbah Zuhaili. c. petani penggarap. 91 21 . Adapun rukun muzara’ah terdiri dari pemilik lahan. Masing-masing ini harus memenuhi syarat yang ditentukan. Cit. karena pada satu sisi posisi orang yang akan mengelola modal adalah wakil dari pemilik modal. Op.. Ibnu Qudamah. hal. 1. 3600. Op. disyaratkan bahwa pembagian keuntungan harus jelas dan porsi masing-masing diambilkan dari keuntungan dagang itu. Op.33. dan ijab qabul. sepertiga atau lebih dari itu. Yang terkait dengan ijab qabul.. b. Op. harus diucapkan oleh kedua pihak guna menunjukkan kemauan mereka untuk menyempurnakan kontrak. jilid V hal.13 Sedangkan menurut terminologi muzara’ah adalah akad kerjasama dalam usaha pertanian di mana pemilik lahan pertanian menyerahkan lahan pertaniannya berikut bibit yang diperlukan kepada pekerja tani untuk diusahakan sedangkan hasil yang diperoleh dibagi sesuai dengan kesepakatan bersama seperti setengah. al kasani jilid VII. Musaqah Secara sederhana musaqah diartikan dengan kejasama dalam perawatan tanaman dengan imbalan bagian dari hasil yang diperoleh dari tanaman tersebut. yang berkaitan dengan orang yang melakukan akad.Cit. hal. atau seperempat. sepertiga. Cit. (2)jelas jumlahnya. d. Yang terkait dengan modal disyaratkan (1) berbentuk uang. seperti setengah.Ibnu Rusyd. Kerjasama 12 Al-Sarakhsi Op.. dan (4) diserahkan sepenuhnya pada pedagang atau pengelola modal. muzara’ah berarti al-inhat yakni menumbuhkan. harus orang yang cakap hukum dan cakap diangkat sebagai wakil. Cit. Muzara’ah Secara etimologi.

dalam bentuk musaqah ini berbeda dengan mengupah tukan kebun untuk merawat tanamankarena hasil yang diperolehnya adalah upah yang sudah pasti ukurannya dan bukan dari hasil yang belum tentu. maka kerjasama ini memerlukan suatu akad dengan cara dan bentuk yang sama-sama diketahui oleh kedual belah pihak. Sebagai kerjasama yang timbul dari kehendak bersama.Kewajiban Pekerja atau Buruh Buruh yang menjalankan kewajiban-kewajibannya dengan baik. menghasilkan namun belum dapat dipanene sehingga perlu perawatan. hukum dari musaqah ini adalah boleh.15 1.16 Selanjutnya dalam KUH Perdata ( yang sampai sekarang tetap dipakai sebagai pedoman) dirinci kewajiban pekerja atau buruh sebagai berikut: a. dapat dikerjakan. Menurut kebanykan ulama. seharusnya dilakukan ataupun tidak dilakukan. Persyaratan objek kerjasama dalam hal ini adalah pohon-pohon atau tanaman keras yang jelas wujudnya dan diketahui oleh kedua pihak. yang dalam hal ini kewajiban untuk melakukan atau tidak melakukan segala sesuatu yang dalam keadaan yang sama. 1. . dan sebaliknya suatu pihak yang memikul kewajiban-kewajiban juga memeperoleh hak yang dianggap sebagai kewajiban-kewajiban yang dibebankan kepadanya. Kewajiban Para Pihak dalam Perjanjian Kerja Suatu pihak yang memperoleh hak-hak dari perjanjian itu juga menerima kewajibankewajiban yang merupakan kebalikan dari hak yang diperolehnya. pekerja atau buruh mempunyai kewajiban untuk melakukan pekerjaan yang dijanjikan menurut kemampuannya dengan sebaik-baiknya 15 Soebekti 1984:29-30 16 KUH Perdata 1603d 22 .

kewajiban tambahan adalah memberikan surat keterangan kepada pekerja atau buruh yang dengan kemauan sendiri hendak berhenti bekerja di perusahaan. Pekerja atau buruh yang tinggal pada pengusaha. Menurut Iman Soepomo (1983:63). Upah adalah ”hak pekerja atau buruh yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pengusaha atau pemberi kerja kepada pekerja atau buruh yag ditetapkan dan dibayarkan menurut suatu perjanjian kerja. Pengusaha yang baik menurut pasal 1602y KUH Perdata ialah. kesepakatan. dan membayar kerugian. Surat keterangan umumnya dibutuhkan oleh pekerja atau buruh yang berhenti bekerja pada suatu perusahaan sebagai tanda pengalaman bekerjanya. Kewajiban memberikan surat keterangan ini dapat dikatakan sebagai kewajiban tambahan dari seorang pengusaha. 13 tahun 2003 23 . c. termasuk tunjangan bagipekerja atau buruh dan keluarganya atas suatu pekerjaan dan atau jasa yang telah atau akan dilakukan.”17 Dengan demikian upah adalah hak dari pekerja atau buruh yang merupakan dalah satu bentuk kebijakan perlindungan bagi pekerja atau buruh. kewajiban utama dari pekerja atau buruh adalah melakukan pekerjaan menurut pengusaha. Kewajiban Pengusaha Kewajiban utama pengusaha dengan adanya hubungan kerja dengan pekerja atau buruh adalah membayar upah. hanya dengan seizin pengusaha ia menyuruh orang ketiga untuk menggantikannya.”pengusaha yang baik wajib melakukan atau tidak melakukan segala sesuatu yang 17 Pasal 1 angka 30 UU N. wajib berkelakuan baik menurut tata tertib rumah tangga pengusaha.b. 2. pekerja atau buruh mempunyai kewajiban melakukan sendiri kewajibannya. Pekerja atau buruh wajib taat terhadap peraturan mengenai hal melakukan pekerjaannya d. atau perundang-undangan. Sementara itu. Hal yang tak kalah penting dalam kewajiban pengusaha adalah bertindak sebagai pengusaha yang baik.

b. syarat dari perjanjian kerja dan perjanjian kerja bersama termasuk dari rukun perjanjian tersebut. sesuatu yang menjadi obyek syaratnya a. a. tujuan akad itu tercapai segera setelah akad dilakukan apabila syarat-syarat yang diperlukan terpenuh 24 . ia harus merupakan sesuatu yang menurut hukum islam sah dijadikan obyek c. shighat (formulasi) ijab kabul syaratnya: a. Adapun syarat dalam perjanjian adalah sebagai berikut: 1. ini berarti bahwa pengusaha itu harus bebuat dan bertindak sebijaksana mungkin. ijab dan Kabul harus secara jelas menunjukkan maksud kedua belah pihak b. dibiasakan untuk dilakukan dengan sebaik-baiknya. 2. ia sudah harus ada ketika terjadi perjanjian b. ia harus dapat diserahkan ketika terjadi perjanjia. mmelkukan atau tidak melakukan sesuatu yang dalam keadaan yang sama seharusnya dialkuakn atau tidak dilakukan. yaitu sebagai berikut.” Ketentuan di atas mengandung arti yang sangat luas. apa yang seharusnya berdasar ketentuan hukum harus dilakukan. dibiasakan untuk dicegah. Apa yang seharusnya berdasarkan ketentuan hukum harus dicegah dan dihindari.dalam keadaan yang sama seharusnya dilakukan atau tidak dilakukan dalm lingkungan usahanya. antara ijab dan kabul harus berkaitan yang dilakukan dalam satu tempat kontak 2. antara ijab dan kabul harus selaras c. dihindari dan tidak dilakukan dengan penuh ketaatan. namun bukan berarti harus diserahkan seketika d. Syarat Sahnya Perjanjian Kerja dan Perjanjian Kerja Bersama Dalam Islam Dalam ilmu Islam. perjanjian harus jelas dan diketahui oleh kedua belah pihak 2.

dan khulafaurrasyidin. Hak dan kewajiban pekerja dalam islam.155) sebagai berikut: a. Allah S. Islam membolehkan wanita melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sesuai dengan syariat dan dilakukan dengan baik. 25 . dan potensi yang dimiliki dalam hadist dinyatakan: “setiap yang mudah (dikerjakan) karena sesuatu yang (sengaja) diciptakan untuknya.W.W.1. dimana kaum wanita aktif diberbagai bidang seperti berdagang. Islam mensejajarkan pria dan wanita dalam bekerja. atau bahkan ikut berperang (khusus untuk mengobati prajurit yang terluka).S. dan bagi perempuan bagian dari apa-apa yang mereka usah akan (pula) (Q. Seperti yang digambarkan oleh Abdul Hamid (185. Persamaan wanita dan pria dalam bekerja. Islam telah menggariskan norma-norma dan aturan normatif untuk asalah ini. mengobati. An-nisa : 32) “maka tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman) : sesungguhnya aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal diantara kamu. serta tidak bertentangan dengan tabiatnya.” b.T berfirman dalam surat an-nisa 32 : “bagi laki-laki bagian apa yang telah mereka usahakan. Al-qur’an menegaskan.A. mengajar. pengalaman. c. Hak memperoleh gaji. hasil wanita dan kesungguhannyapun dihargai sama seperti pria. Sebagai acuan dan tuntutan moral baik bagi pekerja maupun pengusaha ada baiknya kita kaji masalah hubungan kerja dari sudut pandang norma-norma islam. Hak memilih pekerjaan yang sesuai: Islam menetapkan hak-hak setiap individu untuk memilih pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya. baik laki-laki maupun perempuan (karena) sebagian kamu adlah turunan yang lain” (Q:S: Ali-Imran : 195 ) Persamaan kedudukan ini sudah dilakukan pada zaman rasulullah S.

dantidak menhendaki kesukaran bagimu”. Islam memberi peluang adanya rangsangan kerja baik yang bersifat positf dalam bentuk pemberian insentif maupun negatif dalam bentuk sanksi dan teguran. Hak memperoleh jaminan dan perlindungan. Allah S.A. Untuk merealisaikan maka didirikanlah “lembaga zakat” yang 26 . Hak cuti dan keringanan pekerjaan Hak cuti biasanya dimasukan dalam ketentuan jam kerja dan hari libur. (Q:S: Al-Zalzalah : 7-8) e.W. Tidak ada kezhaliman. Hak menerima rangsangan kerja atau motivasi.T berfirman : “janganlah kamu kurangkan bagi manusia barangbarang takaran dan timbangannya”.W. Islam telah memproklamirkan konsep jaminan dan perlindungan pekerja ke seluruh dunia. (Q:S: AL-A’raf :85) Selanjutnya : dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang telah mreka kerjakan dan agar Allah mencukupkan bagi mereka (balasan) pekerjaan-pekerjaan mereka sedang mereka tiada ragu”. Islam menetapkan jaminan dan perlindungan pekerja sejak empat belas abad yang lalu.W bersabda : “istirahatkan hati dalam waktu ke waktu.W. (Q:S Al-Baqarah : 286) Rasullulah S.T berfirman : “maka barang siapa yang melakukan kebaikan sekecil atom pun akan dilihat (Allah). islam menetapkan hak diatas hak. sesungguhnya hati itu jika mengalami kelelahan akan buta”. Dan barang siapa yang melakukan kejahatan sekecil ayom pn akan dilihat(nya)”. Allah S. pengurangan atau anarki. (Q:S: Al-Ahqaf :19) d. Allah S.Kaidah islam menegaskan bahwa gaji harus sesuai dengan pekerjaan. (H:R: Bchari dan Muslim) f.T berfirman : “allah menghendaki kebaikan bagimu. Tjuannya untuk meingkatkan produksivitas kerja dan memperbaiki tingkat kinerjanya.

Seorang muslim yang bekerja dengan Allah .A. (Q:S: An-Nahl :93) Kemudian rasulullah S. bekerja dengan baik untuk dunia dan akhiratnya. (H:R: Muslim) • Kejujuran dan bekerja adalah ibadah : islam memandang kejujuran dan bekerja bukan hanya merupakan tuntutan.merupakan lembaga independen. Firman Allah : “dan dia memerkenankan doa orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal saleh dan menambah pahala kepada mereka dari karunianya (Q:S: AsSyura :26) Islam memenuhi amanah kerja merupakan jenis ibadah yang paling utama. sebagaimana firman Allah : “dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan”. dan janganlah kamu mengambur-hamburkan hartamu secara boros”. memahami agama dan bidang kerja. melainkan juga ibadah. Allah berfirman : “dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat haknya.W bersabda : “sesungguhnya allah senang jika diantara kamu mengerjakan sesuatu pekerjaan yang dilakukan secara tekun dan sungguh-sungguh. Mendalami agama dan profesi : 27 . a. (Q:S: AL-Isra :26) Disamping telah menetapkan hak-hak pekrja islam juga menetapkan kewajiban-kewajiban yang terpenting adalah menegakan amanah dalam pekerjaan. Amanah dalam bekerja seperti : • Bekerja secara professional : pekerjaan dilakukan semaksimal mungkin sehingga mmperoleh hasil yang terbaik. kepada orang miskin dan orang yang sedang dalam perjalanan. a.

bagi setiap perusahaan yang mempekerjakan pekerja atau buruh sekurang-kurangnya sepuluh orang. jelas bahwa peraturan perusahaan disusun dan menjadi tanggung jawab pengusaha dengan memperhatikan saran dan pertimbangan dari wakil pekerja atau buruh di perusahaan yang bersangkutan. PERATURAN PERUSAHAAN Peraturan perusahaan adalah peraturan yang dibuat secara tertulis oleh pengusaha yang memuat syarat-syarat kerja dan tata tertib perusahaan. hak dan kewajiban pengusaha b. syarat kerja d. Sepanjang dalam perusahaan belum ada perjanjian kerja bersama. jangka waktu berlakunya peraturan perusahaan 18 Pasal 1 angka 20 UU No. apapun profesinya. hakdan kewajiban pekerja atau buruh c.18 Dengan pengertian di atas.Mendalami agama merupakan kewajiban setiap muslim. Rasullullah bersabda : “sedikit kerja dengan ilmu berarti banyak. Peraturan perusahaan sekurang-kurangnya memuat: a. dan banyak bekerja dengan kebodohan berarti sdikit”. 13 tahun 2003 28 . Selain itu pekerjaan dituntut memahami secara mendalam strategistrategi mutakhir dalam bekerja. (H:R As-Syuti) A. tata tertib perusahaan e. pengusaha diwajibkan untuk memeberitahukan dan menjelaskan isis peraturan yang berlaku di perusahaan yang bersangkutan. Jika peraturan perusahaan telah dibentuk. diwajibkan untuk membuat peraturan perusahaan yang mulai berlaku setelah disahkan oleh Menteri Teanga Kerja atau pejabat yang ditunjuk.

Peraturan perusahaan dapat diperpanjang hanya satu kali untuk satu tahun dan kemudian diperbarui. Semua pekerja wajib mengetahui dan memahami PP supaya mengetahui hak dan kewajibannya. Bila terjadi kesepakatan antara pengusaha dan pekerja. jika serikat pekerja atau serikat buruh di perusahaan menghentikan perundingan pembuatan perjanjian kerja bersama. Tujuan peraturan perusahaan adalah untuk menjamin keseimbangan anatara hak dan kewajiban pekerja serta kewenangan dan kewajiban pengusaha. aman dan dinamis dalam usaha bersama memajukan dan menjamin kelangsungan perusahaan serts meningkatkan kesejahteraan pekerja dan keluarganya. Bila pekerja membentuk serikat pekerja dan serikat meminta berunding maka pengusaha wajib memenuhi perundingan tersebut walaupun masa berlaku PP belum berakhir. maka perjanjian kerja 29 . menciptakan hubungan kerja yang harmonis. Sebab itu. setiap rancangan peraturan perusahaan perlu diajukan pejabat pemerintah yang berwenang untuk diteliti dan disahkan. Setiap peraturan perusahaan berlaku untuk 2 tahun. Peraturan perusahaan antara lain memuat ketentuan mengenai : • • • • • • • • • A. dan peraturan perusahaan tetap berlaku sampai habis masa berlakunya.Selama jangka waktu berlakunya perusahaan. kriteria penerimaan kerja ketentuan perjanjian kerja hari dan waktu kerja waktu kerja lembur dan upah lembur skala upah dan tunjangan hak cuti program keselamatan dan kesehatan kerja pemutusan hubungan kerja jaminan sosial dan pension SYARAT RUMUSAN PERATURAN KERJA Setiap peraturan perusahaan harus terjamin tidak melanggar peraturan perundangundangan yang berlaku. pengusaha wajib melayani. Untuk itu pengusaha wajib memberikan PP dan menjelaskannya kepada pekerja.

B. A. Selama dalam masa percobaan masing-masing pihak dapat memutuskan hubungan kerja tanpa syarat. Pekerja yang telah menyelesaikan masa percobaan dengan baik diangkat sebagai pekerja tetap sesuai dengan golongan atau jabatan yang ditetapkan perusahaan dan masa percobaan dihitung sebagai masa kerja. Upah kerja lembur sesuai dengan Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. Dibawah ini beberapa contoh standar minimum yang perlu diikuti dan di masukkan kedalam PP.bersama (PKB) yang telah disepakati langsung berlaku menggantikan PP yang ada. pengusaha dapat meminta kesediaan pekerja untuk melakukan pekerjaan lembur.13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan mengatur bahwa setiap pekerja berhak memperoleh cuti selama paling sedikit 12 hari kerja dalam setahun. perusahaan dapat menetapkan menerima pekerja dengan masa percobaan paling lama 3 bulan. Salah satu tujuan peraturan perundang-undangan dibidang ketenagakerjaan adalah melindungi pekerja dan hak-hak mereka yang menjadi kewajiban perusahaan. Kerja Lembur dan Upah Kerja Lembur Dalam keadaan mendesak. Dengan demikian PP tidak berlaku. Kesediaan pekerjaan lembur biasanya dapat dimintakan antara lain untuk mengejar target dan atau memenuhi permintaan khusus dari rekanan. Perusahaan dapat memberikan hak yang lebuh lama. Undang-undan No. Misalnya mengenai hak cuti. 20 hari pekerja untuk masa kerja 10 tahun dan 24 hari bagi pekerja yang masa kerjanya 15 tahun atau lebih tak terputus-putus. Proses rekrutmen dilakukan untuk mencari pekerja dengan kualifikasi yang paling sesuai dengan atau paling memenuhi syarat dan jabatan dimaksud. 102 tahun 2004 diatur sebagai berikut : 30 . 18 hari kerja bagi pekerja yang sudah 5 tahun bekerja. Bila pengusaha belum yakin mengenai kecocokan kualifikasi dan jabatannya. Rekrutmen dapat dilakukan melalui proses ujian atau tes masuk dan wawancara. Penerimaan Pegawai dan Masa percobaan penerimaan pegawai atau pekerja di perusahaan disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan. misalnya 15 hari bagi pemula.

dan kabupaaten atau kota. Peraturan perundangan tidak mengatur ketentuan jam kerja dimulai dan berakhir.5 upah sejam. Bagi perusahaan yang mengikuti 5 hari kerja dalam satu minggu dan lembur dilakukan pada hari istirahat mingguan atau libur resmi. maksimum 8 jam satu hari dan 40 jam seminggu. upah satu bulan adalah 25 kali upah per hari. C. maupun secara sector regional. Bagi pekerja harian yang bekerja 6 hari satu minggu. Itu peraturan masing-masing perusahaan. upah lembur untuk satu jam pertama adalah: 1. Upah atau gaji pada dasarnya terdiri dari gaji pokok (GP) dan berbgai tunjangan. Untuk pekerjaan harian upah dinyatakan per hari dan pembayarannya dilakukan setiap hari atau per minggu. Pertama. 2. maksimum 7 jam sehari dan 40 jam seminggu. Gaji pokok didasarkan pada jenjang kepangkatan dan masa kerja.13 Tahun 2003 mengatur waktu kerja dalam 2 pilihan. Karena karena mereka sudah menerima tunjangan jabatan. Pemerintah setiap tahun menetapkan upah minimum baik secara regional atau provinsi. perhitungan upah biasa sejam adalah 1/173 dari upah sebulan. maka upah lembur setiap jam kerja lembur untuk 8 jam pertama dibayar 2 kali upah sejam dan untuk jam kesepuluh dibayar 4kali upah sejam Beberapa pekerja yang menduduki jabatan tertentu diberikan tunjangan jabatan. Kedua. Bagi pekerja berdasarkan satuan hasil. Apabila kerja lembur dilakukan pada hari biasa. 31 . 6 hari dalam seminggu. Pembayarannya dilakukan per bulan atau per dua minggu.1. 5 jam dalam seminggu. Untuk menghindari eksploitasi pekerja oleh pengusaha yang memanfaatkan kondisi pasar kerja. Pengupahan dan Jaminan Sosial Upah atau gaji biasanya dinyatakan perbulan atau per tahun. D. pengusaha tidak wajib lagi membayar upah lembur. untuk jam ke 8 dibayar sebesar 3 kali upah sejam. Hari dan Waktu Kerja Undang-undang No. upah satu bulan adalah rata-rata upah selama 12 bulan terakhir. serta jam ke 9 dan seterusnya 4 kalli upah sejam 3.

pengusaha wajib mempertanggungjawabkan setiap pekerja untuk asuransi kecelakaan kerja. Pekerja yang sakit lebih dari satu hari dengan pembuktian surat keterangan dokter. diberikan THR keagamaan secara proporsional. jaminan kematian dan jaminan pemeliharaan kesehatan pekerja dan keluarganya. pengusaha memberikan izin dan wajib membayar upah pekerja yang tidak masuk kerja karena urusan pribadi dan urusan keluarga yaitu: • • • • • 3 hari bila pekerja sendiri kawin 2 hari bila istri melahirkan 2hari bila menyunatkan atau membaptis anak 2 hari apabila mengawinkan anak 2 hari bila anggota keluarga meninggal dunia. sesuai dengan Undang-undang No. Serikat pekerja 32 . Pengusaha wajib memberikan tunjangan hari raya keagamaan ( THR keagamaan ) sebesar satu bulan gaji yang sudah bekerja pada perusahaan selama 12 bulan atau. Atas permintaan pekerja. tetap mendapat upah. Apabila pekerja sakit dalam waktu lama yang dibuktikan dengan surat keterangan dokter yang ditentukan oleh perusahaan maka pengusaha wajib memberikan upah dalam : • • • • Empat bulan pertama: 100 % upah Empat bulan kedua paling sedikit 75% upah Empat bulan ketiga paling sedkit 50 % upah Untuk bulan berikutnya dibayar 25 % upah hingga pemutusan kerja dilakukan.Tunjangan hari raya keagamaan bersifat wajib. program jaminan sosial tenaga kerja ( jamsostek ) juga mencakup program jaminan hari tua. Kecelakaan kerja merupakan risiko kerja atau risiko berusaha atau risiko berusaha dan sebab itu pembiayaannya harus ditanggung oleh perusahaan.3 tahun 1992 mengenai jaminan sosial tenaga kerja. Disamping asuransi atau jaminan keselamatan kerja. Untuk itu.

kepada sesame manusia. Hubungan pekerja dengan pngusaha disebut dengan hubungan industrial atau hubunga perburuhan. Di Indonesia hubungan perburuhan dikenal dengan nama hubungan industrial pancasila. Kemudian serikat pekerja bersama-sama dengan pengusaha meetapkan perjanjian kerja antara pekerja dengan perusahaan. ole karena itu prilaku pengusaha terhadap pekerjanya bukan hanya dilihat dari kepentingan produksi belaka. • Setiap ada perbedaan antara pekerja dengan pengusaha harus dapat diselsaikan dengan jalan musyawarah untuk menapai mufakat yang dilakukan dengan 33 . serikat pekerja adalah organisasi yang dibentuk dari . membela serta melindungi hak dan kpentingan pekerja serta meningkatkan kesejahteraan pekerja. masyarakat. dan pendapatan buruh mengenai masalah yang dihadapi. Serikat pekerja memberi usul kepada pengusaha tentang syarat-syarat kerja. tetapi harus dilihat dalam rangka meningkatkan harkat dan martabat sebagai manusia. tetapi sebagai manusia pribadi dengan sgala harkat dan martabatnya. Menurut pasal 1 angka 1 UU no. terbuka. pengusaha. oleh dan untuk pekerja baik di perusahaan maupun diluar perusahaan yang bersifat bebas. yaitu suatu hubungan yang terbentuk antar pelaku dalam proses produksi barang atau jasa (pekerja. Pada umumnya serikat pekerja didapati pada perusahaan besar yang jumlah pekerjanya banyak. pemerintah) yang didasarkan atas nilai-nilai yang merupakan manifestasi dari seluruh sila dalam pancasila dan nilai-nilai dasar UUD 1945 yang tumbuh berkembang diatas kepribadian dan kebudayaan bangsa Indonesia. perbaikan kehidupan buruh. demokratis dan bertanggung jawab guna memperjuangkan. Ciri-ciri khas hubungan industrial pancasila : • Mengakui dan meyakini bahwa bekerja bukan hanya bertujuan untuk sekedar mencari nafkah tetapi sebagai pengabdian anusia dengan tuhannya. mandiri.21 tahun 2000 tentang serikat pekerja .Serikat pekerja adalah organisasi pekerja yang dibentuk oleh anggota-anggotanya dengan tujuan untuk memajukan dan melindungi kepentingan pekerja dalam hubungan kerja dengan perusahaan tempat mereka bekerja. bangsa dan Negara • Menganggap pekerja bukan hanya sekedar factor produksi belaka.

Istirahat Mingguan dan Hak Cuti Pekerja yang bekerja 6 hari berturut-turut dalam satu mingguan diberikan istirahat mingguan selama satu hari. menyediakan saran pencegahan kecelakaan dan penyakit kerja meyusun rencana tindakan penyelamatan darurat termasuk cara evakuasi. pekerja diminta bekerja lembur pada hari istirahat mingguan tersebut hari istirahat tersebut harus diganti pada minggu berikutnya.kekeluargaan. F . Keselamatan Kerja atau Perlengkapan kerja pengusaha dan pekerja sama-sama bertanggung jawab menjaga keselamatan kerja yaitu : dengan berupa menghindari kecelakaan kerja. Pengusaha juga perlu menbentuk Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3) menyusun perkiraan potensial kecelakaan. Apabila pekerja menemui hal-hal yang dapat 34 . dengan memperhatikan kepentingan pekerja. karena itu dalam tindakan mogok. harus mengajukan permohonan kepada atau melalui atasan langsung kepada pimpinan perusahaan. Setiap pekerja wajib memelihara alat-alat dan perlengkapan kerja dengan baik dan teliti. andaikata karena satu pekerjaan mendesak. Hak atas istirahat tahunan gugur apabila setelah 6 bulan sejak lahirnya hak tersebut ternyata pekerja tidak mempergunakan haknya bukan karena alasan alasan yang diberikan perusahaan. E. Pengusaha sudah harus mengupayakan menghindari kecelakaan kerja jauh jauh dari sebelum kegiatan inti usaha dimulai yaitu sejak pemilihan lokasi dan disain bangunan. Pekerja yang akan menggunakan istirahat tahunan. Istirahat tahunan tersebut dapat dibagi dalam 2 bagian dengan ketentuan satu bagian terdapat sekurang-kurangnya 6 hari kerja terus menerus. Perusahaan dapat menunda permohonan istirahat tahunan atau hak cuti paling lama 6 bulan terhitung sejak lahirnya hak istirahat tahunan. penekanan dan peutupan perusahaan adalah tidak sesuai dengan prinsip-prinsp hubungan indusrial pancasila. Setiap pekerja yang telah bekerja selama 12 bulan berturut-turut berhak atas istirahat tahunan atau cuti paling sedikit 12 hari kerja dengan mendapat upah penuh.

Melalaikan kewajiban secara serampangan e. Tata Tertib dan Tindakan Disiplin pengusaha dapat mewajibkan pekerja tepat waktu untuk hadir di tempat tugas masing-masing sesuai waktu yang telah ditetapkan. pencurian dan penggelapan barang atau uaang milik perusahaan atau milik teman sekerja atau milik teman pengusaha. serta meninggalkan pekerjaan untuk pulang ke rumah masing-masing. Tidak mematuhi ketentuan ketentuan yang berlaku di perusahaan c. G. Menolak perintah yang layak d. Sering datang terlambat atau pulang mendahului waktu yang ditentukan b. Tidak cakap melakukan pekerjaan walaupun telah bimbingan dan petunjuk kerja 35 . setiap pekerja dilarang membawa atau menggunakan barang atau alat milik perusahaan keluar dari lingkungan perusahaan tanpa izin dari pimpinan perusahaan atau yang berwenang.membahayakan terhadap keselamatan pekerja dan perusahaan harus segara melaporkan kepada pimpinan atau atasan. antara lain. Pekerja dilarang berbuat asusila di lingkungan perusahaan. Pekerja dilarang membujuk pengusaha atau teman sekerja untuk melakukan sesuatu perbuatan yang bertentangan dengan hukum atau kesusilaan serta peraaturan perundangan yang berlaku. pekerja harus mematuhi laranganlarangan. Pekerja dilarang melakukan penipuan. Disamping beberapa kewajiban tersebut. Pengusaha dapat membuat surat peringatan kepada pekerja yang melakukan pelanggaran tata tertib kerja perusahaan antara lain sebagai berikut : a. Pekerja wajib menjaga dan memelihara dengan baik milik perusahaan dan juga memelihara dan memegang teguh rahasia perusahaan terhadap siapapun mengenai segala hal yang di ketahuinya mengenai perusahaan. Pekerja wajib memeriksa semua alat-alat masing-masing sebelum mulai bekerja atau akan meniggalkan pekerjaan sehingga benar-benar tidak akan menimbulkan kerusakan atau bahaya yang akan mengganggu pekerjaan.

Dalam ketidakpastian hukum.78 tanggal 4 mei 2001 yang serta merta ditolak pula oleh serikat pekerja. Peraturan Menteri tersebut diganti dengan Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. Masing-masing peringatan dapat diberikan masa berlaku misalnya 3-6 bulan. maka perusahaan dapat mengajukan proses pemberhentian. dan surat peringatan III. surat peringatan II. I.150 tahun 2000.ini kemudian diakomodasikan pada pasal 156 UU No. yaitu surat peringatan I. 13 tahum 2003 dengan menetapkan besar uang pesangon bagi pekerja yang diberhentikan karena kesalahan ringan : •1 bulan upah bila masa kerja kurang dari 1 tahun •2 bulan upah apabila masa kerja hamper mencapai 2 tahun •3 bulan upah apabila masa kerja 2 tahun atau kurang dari 3 tahun •4 bulan upah apabila masa kerja 3 tahun atau kurang dari 4 tahun •5 bulan upah apabila masa kerja 4 tahun atau kurang dari 5 tahun •6 bulan upah apabila masa kerja 5 tahun atau kurang dari 6 tahun •7 bulan upah apabila masa kerja 6 tahun atau kurang dari 7 tahun 36 . uang penghargaan masa kerja (PMK) dan uang pengganti hak semula ditetapkan Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. Kepmen No 78 reami menggantikan Kepmen no.Surat peringatan tersebut menurut urgensinya dapat diberikan secara bertahap. 150 tahun 2000.apabila ternyata yang bersangkutan melakukan hal yang sama. Inti Kepmen No.150 tahun 2000.3 tahun 1996. Banyak pengusaha menolak kepmen No 150 tersebut karena dianggap terlalu memberatkan pengusaha kemudian Menteeri TenagaKerja dan Transmigrasi menerbitkan Keputusan No. Uang Pesangon Ketentuan mengenai pemberian uang pesangon. akan tetapi yang dianggap berlaku adalah Kepmen No.150 tahun 2000.

Hal ini bisa dihindari jika para pihak menyadari hak dan kewajibannya. sering kali terdapat perselisihan. terdapat keseimbangan hak dan kewajiban bagi pekerja berdasarkan kesepakatan. Namun dalam kenyataannya.•8 bulan upah apabila masa kerja 7 tahun atau kurang dari 8 tahun •9 bulan upah apabila masa kerja 8 tahun atau kurang dari 9 tahun BAB IV KESIMPULAN Pada dasarnya para pihak dapat menentukan dengan bebas mengenai hak dan kewajiban dalam Pejanjian kerja. dan Perjanjian Kerja Bersama. Peraturan Perusahaan. Perlindungan hukum terhadap pekerja 37 . perusahaan penyedia pekerja/perusahaan pemborong dan pekerja itu sendiri seharusnya menciptakan suatu hubungan yang saling menguntungkan. Hak dan kewajiban dalam perjanjian kerja tidak boleh kurang dari syarat yang ditentukan oleh perundang-undangan ketenagakerjaan. Hubungan antara perusahaan pemberi kerja.

dalam perjanjian kerja sudah diatur dalam undang-undang Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. 2. 2. Dan untuk perusahaan telah diatur dalam Pasal 1 angka 6 Undangundang No. milik orang perseorangan. Persekutuan atau Badan hukum yang menjalankan suatu perusahaan milik sendiri.3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja dan Pasal 1 ayat 5 Undang-undang No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan menyebutkan perusahaan adalah: 1. Hubungan keduanya juga sudah diatur oleh undang-undang. Persekutuan atau Badan hukum yang secara berdiri sendiri menjalankan perusahaan bukan miliknya.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan menjabarkan pengusaha adalah: 1. atau milik badan hukum. Orang. Persekutuan atau Badan Hukum yang berada di Indonesia mewakili perusahaan sebagai mana dimaksud dalam huruf (a) dan (b) yang berkedudukan di luar wilayah Indonesia. 3. Orang. Dengan demikian jelaslah bahwa hubungan kerja terjadi karena adanya perjanjian kerja antara pengusaha dan pekerja. baik milik swasta maupun milik negara yang mempekerjakan pekerja/buruh dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain. 38 .4 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja menyebutkan perusahaan adalah setiap bentuk badan usaha yang mempekerjakan tenaga kerja dengan tujuan mencari untung atau tidak baik milik Swasta maupun milik Negara Sedangkan untuk pengusaha menurut Pasal 1 ayat 3 Undang-undang No.Saat ini masih banyak pekerja yang tidak mengerti akan hak dan kewajibannya sehingga banyak pekerja yang merasa dirugikan oleh pengusaha yang memaksakan kehendaknya pada pihak pekerja dengan mendiktekan perjanjian kerja tersebut pada pekerjanya. Orang. Setiap bentuk usaha yang berbadan hukum atau tidak. milik persekutuan. Pasal 1 ayat 4 Undang-undang No. upah dan perintah. Usaha-usaha sosial dan usaha-usaha lain yang mempunyai pengurus dan mempekerjakan orang lain dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain. Dalam Pasal 1 angka 15 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan disebutkan bahwa hubungan kerja adalah hubungan antara pengusaha dengan pekerja berdasarkan perjanjian kerja yang mempunyai unsur pekerjaan.

Sebagaimana yang diatur di dalam ketentuan Kep No. Hal itu bertujuan untuk menciptakan hubungan industrial yang aman dan harmonis yang didukung oleh suasana musyawarah dan kekeluargaan dalam perusahaan. Dengan demikian segala perselisihan yang ada antara pekerja dan perusahaan seharusnya dapat dihindari. Borongan dan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu. Dan akhirnya. 150/Men/1999 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja Bagi Tenaga Kerja Harian Lepas. Demikian makalah tentang perjanjian kerja. tidak ada perselisihan antara pekerja dan pengusaha. karena kesemuanya sudah diatur dalam undang-undang dan ke dua belah pihak berkewajiban untuk mematuhinya agar tercipta suanana yang saling menguntungkan antara pekerja dan pengusaha PENUTUP Dari pembahasan ini dapat diketahui mengenai berbagai peraturan dari perusahaan terhadap pekerja. Pembahasan mengenai permasalahan ini kami kira masih akan perlu untuk dimunculkan seiring dengan makin ketatnya kompetisi dunia usaha dan kerja yang tak dapat terhindar dari makin ketatnya persaingan di antara para pihak. demikian makalah ini kami susun. kemudian hak dan kewajiban pengusaha terhadap pekerja.Para pekerja juga diikutkan dalam program jaminan sosial oleh perusahaan. berarti perusahaan hanya memberi fasilitas sesuai dengan standar jamsostek dan bukan standar penyelenggaraan pemeliharaan kesehatan dengan manfaat yang lebih baik. kepastian usaha bagi pengusaha. Para pekerja sangat penting untuk mempelajari dan memahami isi dari kontrak kerja sebelum menandatangani atau menyetujui kontrak. 39 . ketenangan kerja bagi pekerja. semoga bermanfaat. Jika dalam klausul perjanjian kerja dinyatakan bahwa pekerja kontrak diikutsertakan dalam program jaminan sosial tenaga kerja.

karena kesemuanya sudah diatur dalam undang-undang dan ke dua belah pihak berkewajiban untuk mematuhinya agar tercipta suanana yang saling menguntungkan antara pekerja dan pengusaha 40 . Dengan demikian segala perselisihan yang ada antara pekerja dan perusahaan seharusnya dapat dihindari.3. Orang. Persekutuan atau Badan Hukum yang berada di Indonesia mewakili perusahaan sebagai mana dimaksud dalam huruf (a) dan (b) yang berkedudukan di luar wilayah Indonesia. Jika dalam klausul perjanjian kerja dinyatakan bahwa pekerja kontrak diikutsertakan dalam program jaminan sosial tenaga kerja.Saat ini masih banyak pekerja yang tidak mengerti akan hak dan kewajibannya sehingga banyak pekerja yang merasa dirugikan oleh pengusaha yang memaksakan kehendaknya pada pihak pekerja dengan mendiktekan perjanjian kerja tersebut pada pekerjanya. Para pekerja juga diikutkan dalam program jaminan sosial oleh perusahaan. Para pekerja sangat penting untuk mempelajari dan memahami isi dari kontrak kerja sebelum menandatangani atau menyetujui kontrak. Borongan dan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu. Sebagaimana yang diatur di dalam ketentuan Kep No. berarti perusahaan hanya memberi fasilitas sesuai dengan standar jamsostek dan bukan standar penyelenggaraan pemeliharaan kesehatan dengan manfaat yang lebih baik. Dalam Pasal 1 angka 15 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan disebutkan bahwa hubungan kerja adalah hubungan antara pengusaha dengan pekerja berdasarkan perjanjian kerja yang mempunyai unsur pekerjaan. upah dan perintah. 150/Men/1999 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja Bagi Tenaga Kerja Harian Lepas. Dengan demikian jelaslah bahwa hubungan kerja terjadi karena adanya perjanjian kerja antara pengusaha dan pekerja. Hubungan keduanya juga sudah diatur oleh undang-undang.

Dan akhirnya. Pembahasan mengenai permasalahan ini kami kira masih akan perlu untuk dimunculkan seiring dengan makin ketatnya kompetisi dunia usaha dan kerja yang tak dapat terhindar dari makin ketatnya persaingan di antara para pihak.PENUTUP Dari pembahasan ini dapat diketahui mengenai berbagai peraturan dari perusahaan terhadap pekerja. semoga bermanfaat. kemudian hak dan kewajiban pengusaha terhadap pekerja. ketenangan kerja bagi pekerja. demikian makalah ini kami susun. kepastian usaha bagi pengusaha. 41 . Hal itu bertujuan untuk menciptakan hubungan industrial yang aman dan harmonis yang didukung oleh suasana musyawarah dan kekeluargaan dalam perusahaan. Demikian makalah tentang perjanjian kerja. tidak ada perselisihan antara pekerja dan pengusaha.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful