P. 1
SISTEM_ADMINISTRASI_KEUANGAN_DAERAH_I

SISTEM_ADMINISTRASI_KEUANGAN_DAERAH_I

|Views: 616|Likes:
Published by addinmadjid

More info:

Published by: addinmadjid on Apr 06, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/21/2012

pdf

text

original

Sections

  • A. LATAR BELAKANG
  • B. TUJUAN PEMELAJARAN UMUM
  • C. TUJUAN PEMELAJARAN KHUSUS
  • E. METODOLOGI PEMELAJARAN
  • A. PENGERTIAN KEUANGAN DAERAH
  • NEGARA
  • C. PENGELOLA KEUANGAN DAERAH
  • D. LATIHAN
  • A. PENGERTIAN
  • B. FUNGSI-FUNGSI ANGGARAN DAERAH
  • C. PRINSIP-PRINSIP ANGGARAN DAERAH
  • D. STRUKTUR ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH
  • E. LATIHAN
  • A. SIKLUS ANGGARAN
  • B. PENYUSUNAN RANCANGAN APBD
  • C. LATIHAN
  • PERTANGGUNGJAWABAN APBD
  • A. PELAKSANAAN APBD
  • B. PENATAUSAHAAN KEUANGAN DAERAH
  • C. AKUNTANSI KEUANGAN DAERAH
  • A. UMUM
  • B. DASAR-DASAR PENGERTIAN YANG DIGUNAKAN
  • C. TATA CARA PENYELESAIAN KERUGIAN KEUANGAN DAERAH
  • D. TUNTUTAN PERBENDAHARAAN (TP)
  • E. TUNTUTAN GANTI RUGI (TGR)
  • F. DALUWARSA TP/TGR
  • G. PENGHAPUSAN
  • H. PEMBEBASAN
  • I. PENYETORAN
  • J. PELAPORAN
  • K. LAIN-LAIN
  • DAFTAR ISTILAH/SINGKATAN

DIKLAT PEMBENTUKAN AUDITOR TERAMPIL

SAKD I
KODE MA : 1.141

SISTEM ADMINISTRASI KEUANGAN DAERAH I

2007
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PENGAWASAN BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN EDISI KEENAM

Judul Modul

: Sistem Administrasi Keuangan Daerah I

Penyusun Perevisi I Perevisi II Perevisi III Perevisi IV Perevisi V Pereviu Editor

: : : : : : : :

Drs. Sunarto & Drs. Soedarsono DP, M.M. Djedje Abdul Aziz, S.H. & Drs. Sigit Edi Surono Drs. Bistok Manurung Budiman Slamet, Ak., M.Si. Budiman Slamet, Ak., M.Si. Fatchudin, S.E., Ak. Linda Ellen Theresia, S.E., Ak., M.B.A. Daissy Erdianthy, S.E., Ak., M.Ak.

Dikeluarkan oleh Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pengawasan BPKP dalam rangka Diklat Sertifikasi JFA Tingkat Pembentukan Auditor Anggota Tim
Edisi Pertama Edisi Kedua (Revisi Pertama) Edisi Ketiga (Revisi Kedua) Edisi Keempat (Revisi Ketiga) Edisi Kelima (Revisi Keempat) Edisi Keenam (Revisi Kelima) : : : : : : Tahun 1998 Tahun 2000 Tahun 2002 Tahun 2004 Tahun 2006 Tahun 2007

ISBN 979-95661-4-2 (no. jilid lengkap) ISBN 979-95661-5-0 (jilid 1)

Dilarang keras mengutip, menjiplak, atau menggandakan sebagian atau seluruh isi modul ini, serta memperjualbelikan tanpa izin tertulis dari Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pengawasan BPKP

Pusdiklat Pengawasan BPKP Sistem Administrasi Keuangan Daerah I ISBN 979-95661-4-2 (no. jilid lengkap) ISBN 979-95661-5-0 (jilid 1)

.

...….......………………………………..... Metodologi Pemelajaran........... Latar Belakang ……....... Hubungan antara Keuangan Daerah dengan Keuangan Negara…......…..… Daftar Isi……………………............…………….….…............……............ E..……..……………………........…………………………………………...... Deskripsi Singkat Struktur Modul..…………… D........……… D.........………………………........ B..……….. Latihan .......……................………………. BAB II Keuangan Daerah……………..........………….………….……………………….......... B...…………… C...….… C.......... C..... Tujuan Pemelajaran Umum…….…. Pengertian…………......…........... Pengelola Keuangan Daerah……….………........... BAB I Pendahuluan.... D.. Struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah …. B.. Prinsip-Prinsip Anggaran Daerah…........ Pengertian Keuangan Daerah………. Latihan………………………………........……….. E.........……………………… A. Fungsi-Fungsi Anggaran Daerah....…..Sistem Administrasi Keuangan Daerah I DAFTAR ISI Kata Pengantar……………... A... Tujuan Pemelajaran Khusus……............……………………..........… 5 7 16 18 18 19 20 22 27 i ii 1 1 2 2 3 3 4 4 Pusdiklatwas BPKP – 2007 ii .………………… BAB III Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah ( APBD )…… A..... ………........………..............

..........….... Pelaksanaan APBD……………….…......... Tuntutan Ganti Rugi (TGR). Siklus Anggaran...................... Akuntansi Keuangan Daerah…………................................…............................. Penyetoran........... 71 71 74 78 79 85 90 91 92 92 Pusdiklatwas BPKP – 2007 iii ..…… C...……..................................................... Latihan........ Pelaporan dan Pertanggungjawaban APBD………………. A............……………………….............. Penatausahaan...... Pembebasan.........…………………………………… 65 69 50 50 57 63 BAB VI Tuntutan Perbendaharaan dan Tuntutan Ganti Rugi (TP/TGR) ............................. D................................………… C... Tata Cara Penyelesaian Kerugian Keuangan Daerah............ D...............................…..…............. Penyusunan Rancangan APBD………………….............……………....... E...........Sistem Administrasi Keuangan Daerah I BAB IV Penyusunan APBD….... Penghapusan............................................ Dasar-dasar Pengertian yang Digunakan.......… C.... B...... E.......................…………...........…..…………………………… B.…………................... B......... A. Umum..................... G................................... A............ Latihan .... Penatausahaan Keuangan Daerah…………………........................……….. F.... Pelaporan dan Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD............. H...…………………………………………… 29 29 30 48 BAB V Pelaksanaan................ Tuntutan Perbendaharaan................................ Daluwarsa TP/TGR........... I.....…...........

.................... Pelaporan.................................................... Majelis Pertimbangan Tuntutan Perbendaharaan dan Tuntutan Ganti Rugi Keuangan dan Barang Daerah... Latihan... Daftar Istilah/Singkatan........................... 93 93 93 95 97 99 102 Pusdiklatwas BPKP – 2007 iv ........……………….Sistem Administrasi Keuangan Daerah I J............................. K................………............................ M................... Teknis dan Prosedur Penyelesaian TP/TGR Melalui Majelis Pertimbangan TP/TGR Keuangan dan Barang Daerah (Misalnya Untuk Tingkat Provinsi)...........……………………………….......................................................……… Daftar Pustaka…. N.........................…………………………………...................... L.................... Lain-lain...........

Mata ajaran SAKD I merupakan kelompok mata ajar inti. diharapkan mereka mampu untuk melaksanakan tugasnya sebagai anggota tim. LATAR BELAKANG Sesuai dengan keputusan Kepala BPKP Nomor: KEP-06. Setelah lulus dari pendidikan dan pelatihan ini. sedangkan SAKD I diajarkan bagi calon auditor pada unit pengawasan daerah.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I Bab I PENDAHULUAN A. Mata ajar Sistem Administrasi Keuangan Negara I (SAKN I) dipergunakan/diajarkan bagi calon auditor pada unit pengawasan pusat. akan tetapi mata ajar SAKD I sebagai mata ajar yang tidak diujikan. modul Sistem Administrasi Keuangan Daerah I (disingkat SAKD I) merupakan salah satu kurikulum/mata ajar dalam rangka diklat pembentukan auditor terampil.00-847/K/ 1998 tanggal 11 Nopember 1998 tentang Pola Pendidikan Dan Pelatihan Auditor Bagi Aparat Pengawasan Fungsional Pemerintah. Diklat pembentukan auditor terampil adalah diklat untuk menjaring calon auditor yang berlatar belakang pendidikan minimal sarjana muda (D-III) atau SLTA dengan kualifikasi yang ditentukan oleh instansi pembina atau yang sederajat yang status ijazahnya telah disamakan oleh Departemen Pendidikan Nasional RI. dengan lama pelatihan (jamlat) sebesar 20 jamlat. Untuk calon auditor BPKP dan Inspektorat Jenderal Departemen Dalam Negeri RI. Pusdiklatwas BPKP – 2007 1 .04. kedua mata ajaran tersebut (SAKN I dan SAKD I) diberikan.

maka setiap peserta pelatihan diharapkan mampu melakukan pengawasan keuangan daerah. TUJUAN PEMELAJARAN KHUSUS Setelah mengikuti pelatihan ini. Seorang auditor terampil harus memahami sistem administrasi keuangan yang diaudit. fungsi dan prinsip anggaran daerah. menjelaskan pengertian keuangan daerah. TUJUAN PEMELAJARAN UMUM Modul ini disusun untuk memenuhi materi pelajaran pada diklat pembentukan auditor terampil di lingkungan aparat pengawasan intern pemerintah (APIP). Instansi pengawasan internal pemerintah mempunyai andil yang cukup besar demi terwujudnya kedua hal tersebut. belanja daerah. menjelaskan pengertian APBD. memahami proses pelaksanaan. Pusdiklatwas BPKP – 2007 2 . Dengan pemahaman itu. peserta diklat diharapkan mampu 1. struktur APBD. penatausahaan. mulai dari penyusunan rancangan hingga penetapan APBD 4. Hal ini sejalan dengan keinginan pemerintah akan terwujudnya akuntabilitas dan good governance di lingkungan instansi pemerintah. pelaporan dan pertanggungjawaban APBD 5. serta pembiayaan daerah 3. menjelaskan pengertian penggantian kerugian negara/daerah. C. memahami siklus anggaran. sumber-sumber penerimaan daerah. hubungan keuangan daerah dengan keuangan pusat. khususnya proses penyusunan APBD. Tujuan pemelajaran umum (TPU) modul ini adalah agar peserta diklat mampu memahami SAKD dalam rangka pengawasan keuangan daerah. serta pengurusan keuangan daerah 2.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I B.

Selain membahas soal latihan yang ada pada modul ini. dan Pertanggungjawaban APBD Penggantian Kerugian Negara/Daerah Pada masing-masing bab akan disajikan dasar teori.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I D. maka metode pemelajaran yang akan digunakan adalah ceramah. Penatausahaan. latihan soal dan kasus yang harus dijawab oleh para peserta baik secara perseorangan maupun kelompok. untuk itu diperlukan proses belajar mengajar dengan pendekatan andragogi. DESKRIPSI SINGKAT MODUL Diklat ini membekali peserta untuk memahami pengertian dan konsep tentang SAKD dengan materi pembahasan sebagai berikut : Bab I Bab II Bab III Bab IV Bab V Bab VI : : : : : : Pendahuluan Keuangan Daerah Anggaran Pendapan dan Belanja Daerah (APBD) Penyusunan APBD Pelaksanaan. para widyaiswara /instruktur diharapkan juga memberikan bahan-bahan pelatihan yang dapat menambah wawasan para peserta. E. Pusdiklatwas BPKP – 2007 3 . diskusi dan pemecahan kasus. METODOLOGI PEMELAJARAN Peserta diklat diharapkan mampu memahami secara optimal substansi yang terdapat dalam modul ini. Untuk mencapai tujuan pemelajaran di atas. Penggunaan referensi tambahan juga diperlukan guna menambah wawasan para peserta diklat. Pelaporan.

Sistem Administrasi Keuangan Daerah I BAB II KEUANGAN DAERAH Pada akhir pemelajaran ini peserta dapat menjelaskan tentang pengertian keuangan daerah. hubungan keuangan daerah dengan keuangan pusat. serta pengurusan keuangan daerah dalam rangka membantu pelaksanaan tugasnya sebagai auditor. Berdasarkan pengertian tersebut pada prinsipnya keuangan daerah mengandung unsur pokok yaitu: Hak Daerah Kewajiban Daerah yang dapat dinilai dengan uang Kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban tersebut. Pusdiklatwas BPKP – 2007 4 . Hak daerah dalam rangka keuangan daerah adalah segala hak yang melekat pada Daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang digunakan dalam usaha pemerintah daerah mengisi kas daerah. A. PENGERTIAN KEUANGAN DAERAH Pengertian keuangan daerah sebagaimana dimuat dalam penjelasan pasal 156 ayat 1 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah adalah sebagai berikut : “Keuangan daerah adalah semua hak dan kewajiban daerah yang dapat dinilai dengan uang dan segala sesuatu berupa uang dan barang yang dapat dijadikan milik daerah yang berhubungan dengan pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut”.

Sistem Administrasi Keuangan Daerah I Hak Daerah tersebut meliputi antara lain : 1. Hak mengadakan pinjaman (UU No. ikut serta melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan perdamaian abadi dan keadilan sosial. 33 tahun 2004). 34 tahun 2000). 3. 34 Tahun 2000). Hak menarik pajak daerah (UU No. 33 tahun 2004 ). mencerdaskan kehidupan bangsa. Hak untuk menarik retribusi/iuran daerah (UU No. Kewajiban daerah juga merupakan bagian pelaksanaan tugas-tugas Pemerintahan pusat sesuai pembukaan UUD 1945 yaitu: 1. 4. 18 Tahun 1997 jo UU No. 3. Pembangunan daerah sebagai bagian integral dari pembangunan nasional dilaksanakan berdasarkan prinsip otonomi daerah dan pengaturan sumbersumber daya nasional yang memberikan kesempatan bagi peningkatan demokrasi dan kinerja daerah untuk meningkatkan kesejahteraan Pusdiklatwas BPKP – 2007 5 . memajukan kesejahteraan umum. HUBUNGAN ANTARA KEUANGAN DAERAH DENGAN KEUANGAN NEGARA Pasal 1 UUD 1945 menetapkan negara Indonesia adalah negara kesatuan yang berbentuk republik. 4. Selanjutnya dalam pasal 18 UUD 1945 beserta penjelasannya menyatakan bahwa daerah Indonesia terbagi dalam daerah yang bersifat otonom dan bersifat daerah administrasi. melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Hak untuk memperoleh dana perimbangan dari pusat (UU No. 2. B. 18 Tahun 1997 jo UU No. 2.

Pusdiklatwas BPKP – 2007 6 . kolusi dan nepotisme (KKN). dekonsentrasi dan tugas pembantuan. pembagian dan pemanfaatan sumber daya nasional yang berkeadilan. Sumber pembiayaan pemerintahan daerah dalam rangka perimbangan keuangan pemerintah pusat dan daerah dilaksanakan atas dasar desentralisasi. serta perimbangan keuangan pemerintah pusat dan daerah. Untuk mendukung penyelenggaraan otonomi daerah diperlukan kewenangan yang luas. hanya pelimpahan wewenang dalam rangka pelaksanaan desentralisasi saja yang merupakan sumber keuangan daerah melalui alokasi dana perimbangan dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. Setiap penyerahan atau pelimpahan kewenangan dari pemerintah pusat kepada daerah dalam rangka desentralisasi dan dekonsentrasi disertai dengan pengalihan sumber daya manusia dan sarana serta pengalokasian anggaran yang diperlukan untuk kelancaran pelaksanaan penyerahan dan pelimpahan kewenangan tersebut. nyata dan bertanggung jawab di daerah serta secara proporsional diwujudkan dengan pengaturan.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I masyarakat menuju masyarakat madani yang bebas korupsi. Sedangkan penugasan dari pemerintah pusat kepada daerah dalam rangka tugas pembantuan disertai pengalokasian anggaran. Sedangkan alokasi dana dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah dalam rangka sumber dekonsentrasi dan tugas pembantuan tidak merupakan penerimaan APBD dan diadministrasikan serta dipertanggungjawabkan secara terpisah dari administrasi keuangan dalam pembiayaan pelaksanaan desentralisasi. Dari ketiga jenis pelimpahan wewenang tersebut. Penyelenggaraan pemerintahan daerah juga merupakan subsistem dari pemerintahan negara sehingga antara keuangan daerah dengan keuangan negara akan mempunyai hubungan yang erat dan saling mempengaruhi.

Pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah mempunyai kewenangan: a. Kepala Daerah selaku kepala pemerintah daerah adalah pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah dan mewakili pemerintah daerah dalam kepemilikan kekayaan daerah yang dipisahkan. b. 6. Pejabat Pengguna Anggaran/Pengguna Barang (PPA/PB). Koordinator Pengelolaan Keuangan Daerah (Koordinator PKD). Bendahara Penerimaan dan Bendahara Pengeluaran. Berikut ini adalah uraian tentang tugas-tugas para pejabat pengelola keuangan daerah tersebut. Pemegang Kekuasaan Pengelolaan Keuangan Daerah Kepala Daerah selaku kepala pemerintah daerah adalah pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah dan mewakili pemerintah daerah dalam kepemilikan kekayaan daerah yang dipisahkan. 3. Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK). Menetapkan kebijakan tentang pengelolaan barang daerah. 1. Menetapkan kebijakan tentang pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Para pengelola keuangan daerah tersebut adalah: 1. Pejabat Penatausahaan Keuangan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). PENGELOLA KEUANGAN DAERAH Pengelolaan Keuangan Daerah dilaksanakan oleh pemegang kekuasaan pengelola keuangan daerah. Pusdiklatwas BPKP – 2007 7 . 5. 4. 2. Kepala Daerah perlu menetapkan pejabat-pejabat tertentu dan para bendahara untuk melaksanakan pengelolaan keuangan daerah. Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD).Sistem Administrasi Keuangan Daerah I C.

Menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pemungutan penerimaan daerah. Menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengelolaan utang dan piutang daerah. Menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengujian atas tagihan dan memerintahkan pembayaran. g. d. h. Pelimpahan tersebut ditetapkan dengan keputusan kepala daerah berdasarkan prinsip pemisahan kewenangan antara yang memerintahkan. menguji. Kepala Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah (SKPKD) selaku Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD). bendahara penerimaan dan/atau bendahara Pusdiklatwas BPKP – 2007 8 . yang merupakan unsur penting dalam sistem pengendalian intern. dan yang menerima atau mengeluarkan uang.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I c. Sekretaris Daerah selaku Koordinator Pengelola Keuangan Daerah. Menetapkan pengeluaran. Menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengelolaan barang milik daerah. Menetapkan kuasa pengguna anggaran/pengguna barang. Kepala daerah selaku pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah melimpahkan sebagian atau seluruh kekuasaannya kepada: a. Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) selaku pejabat pengguna anggaran/pengguna barang. e. b. c. f.

Penyusunan dan pelaksanaan kebijakan pengelolaan barang daerah. Sekretaris Daerah selaku koordinator pengelolaan keuangan daerah mempunyai tugas koordinasi di bidang: a. f. Penyusunan laporan keuangan daerah dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. dan Pusdiklatwas BPKP – 2007 9 . e. c. perubahan APBD. Penyusunan rancangan APBD dan rancangan perubahan APBD.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I 2. Selain mempunyai tugas koordinasi. b. Penyusunan dan pelaksanaan kebijakan pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Tugas-tugas pejabat perencana daerah. Pejabat Pengelola Keuangan Daerah. Koordinator Pengelolaan Keuangan Daerah Sekretaris daerah selaku koordinator pengelolaan keuangan daerah membantu kepala daerah menyusun kebijakan dan mengkoordinasikan penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah termasuk pengelolaan keuangan daerah. b. c. menyiapkan pedoman pengelolaan barang daerah. Penyusunan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) APBD. d. d. dan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. dan pejabat pengawas keuangan daerah. menyiapkan pedoman pelaksanaan APBD. memimpin Tim Anggaran Pemerintah Daerah. memberikan persetujuan pengesahan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA-SKPD) / Dokumen Perubahan Pelaksanaan Anggaran (DPPA). Sekretaris Daerah mempunyai tugas: a.

Koordinator pengelolaan keuangan daerah bertanggung jawab atas pelaksanaan tugas-tugas tersebut kepada kepala daerah. memberikan petunjuk teknis pelaksanaan sistem penerimaan dan pengeluaran kas daerah. b. melaksanakan pemungutan pendapatan daerah yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah. d. b. melaksanakan tugas lainnya berdasarkan kuasa yang dilimpahkan oleh kepala daerah. 3. e. Pejabat Pengelola Keuangan Daerah Kepala Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah (SKPKD) selaku Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD) mempunyai tugas: a. menyusun kebijakan dan pedoman pelaksanaan APBD. c. melaksanakan tugas-tugas koordinasi pengelolaan keuangan daerah lainnya berdasarkan kuasa yang dilimpahkan oleh kepala daerah. melakukan pengendalian pelaksanaan APBD. Pusdiklatwas BPKP – 2007 10 . mengesahkan DPA-SKPD/DPPA-SKPD. melaksanakan fungsi Bendahara Umum Daerah (BUD). menyusun rancangan APBD dan rancangan Perubahan APBD. PPKD dalam melaksanakan fungsinya selaku Bendahara Umum Daerah (BUD) berwenang: a. dan f.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I e. menyusun laporan keuangan daerah dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. d. menyusun dan melaksanakan kebijakan pengelolaan keuangan daerah. c.

mengusahakan dan mengatur dana yang diperlukan dalam pelaksanaan APBD. menyajikan informasi keuangan daerah. menyimpan uang daerah. Penunjukan Kuasa BUD oleh PPKD ditetapkan dengan keputusan kepala daerah. f. menetapkan Surat Penyediaan Dana (SPD). h.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I e. menyiapkan anggaran kas. g. Kuasa BUD mempunyai tugas: a. Pusdiklatwas BPKP – 2007 11 . PPKD selaku BUD menunjuk pejabat di lingkungan satuan kerja pengelola keuangan daerah selaku Kuasa Bendahara Umum Daerah (Kuasa BUD). melaksanakan sistem akuntansi dan pelaporan keuangan daerah. PPKD mempertanggungjawabkan pelaksanaan tugasnya kepada Kepala Daerah melalui Sekretaris Daerah. c. menyiapkan pelaksanaan pinjaman dan pemberian pinjaman atas nama pemerintah daerah. h. melaksanakan penghapusan barang milik daerah. g. i. b. menyimpan seluruh bukti asli kepemilikan kekayaan daerah. f. melaksanakan penempatan uang daerah dan mengelola/menatausahakan investasi daerah. dan kebijakan dan pedoman pengelolaan serta j. melaksanakan pemungutan pajak daerah. menerbitkan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D). d. menyiapkan Surat Penyediaan Dana (SPD). e. memantau pelaksanaan penerimaan dan pengeluaran APBD oleh bank dan/atau lembaga keuangan lainnya yang ditunjuk.

melakukan pembayaran berdasarkan permintaan pejabat pengguna anggaran atas beban rekening kas umum daerah. e. 4. b. dan g. melaksanakan kebijakan dan pedoman pengelolaan serta pemberian pinjaman atas nama pemerintah penghapusan barang milik daerah. melaksanakan pemungutan pajak daerah. melakukan pengendalian pelaksanaan APBD. b. melakukan penagihan piutang daerah. menyajikan informasi keuangan daerah. melakukan pengelolaan utang dan piutang daerah.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I i. f. Pusdiklatwas BPKP – 2007 12 . menyiapkan pelaksanaan pinjaman dan pemberian jaminan atas nama pemerintah daerah. j. d. menyusun Rencana Kerja dan Anggaran SKPD (RKA-SKPD). menyusun rancangan APBD dan rancangan Perubahan APBD. PPKD dapat melimpahkan kepada pejabat lainnya di lingkungan SKPKD untuk melaksanakan tugas-tugas sebagai berikut: a. dan l. Kuasa BUD bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada BUD. melaksanakan sistem akuntansi dan pelaporan keuangan daerah. melaksanakan daerah. c. k. Pejabat Pengguna Anggaran/Pengguna Barang Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) selaku Pejabat Pengguna Anggaran /Pengguna Barang (PPA/PB) mempunyai tugas: a. menyusun Dokumen Pelaksanaan Anggaran SKPD (DPA-SKPD).

Pelimpahan sebagian kewenangan tersebut berdasarkan pertimbangan tingkatan daerah. h. melaksanakan anggaran SKPD yang dipimpinnya. j. melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran atas beban anggaran belanja. Pejabat pengguna anggaran/pengguna barang bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada Kepala Daerah melalui Sekretaris Daerah. f. Pusdiklatwas BPKP – 2007 13 . g. mengawasi pelaksanaan anggaran SKPD yang dipimpinnya. mengadakan ikatan/perjanjian kerjasama dengan pihak lain dalam batas anggaran yang telah ditetapkan. menyusun dan menyampaikan laporan keuangan SKPD yang dipimpinnya.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I c. mengelola barang milik daerah/kekayaan daerah yang menjadi tanggung jawab SKPD yang dipimpinnya. dan m. l. mengelola utang dan piutang yang menjadi tanggung jawab SKPD yang dipimpinnya. menandatangani Surat Perintah Membayar (SPM). e. melaksanakan pemungutan penerimaan bukan pajak. melaksanakan tugas-tugas pengguna anggaran/pengguna barang lainnya berdasarkan kuasa yang dilimpahkan oleh kepala daerah. d. Pejabat Pengguna Anggaran/Pengguna Barang dalam melaksanakan tugas-tugasnya dapat melimpahkan sebagian kewenangannya pengujian atas tagihan dan memerintahkan kepada Kepala Unit Kerja pada SKPD selaku Kuasa Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Barang. i. k. melakukan pembayaran.

Penunjukan pejabat tersebut berdasarkan pertimbangan kompetensi jabatan. menyiapkan dokumen anggaran atas beban pengeluaran pelaksanaan kegiatan. lokasi. besaran jumlah uang yang dikelola. mengendalikan pelaksanaan kegiatan. Kuasa pengguna anggaran/kuasa pengguna barang mempertanggung jawabkan pelaksanaan tugas-tugasnya kepada pengguna anggaran/ pengguna barang.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I besaran SKPD. anggaran kegiatan. b. melaporkan perkembangan pelaksanaan kegiatan. dan c. Pelimpahan sebagian kewenangan tersebut ditetapkan oleh kepala daerah atas usul kepala SKPD. Tugastugas tersebut adalah: a. PPTK bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada pengguna anggaran/pengguna barang atau kuasa pengguna anggaran/kuasa pengguna barang yang telah menunjuknya. 5. kompetensi dan/atau rentang kendali dan pertimbangan objektif lainnya. beban kerja. Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan SKPD Pejabat Pengguna Anggaran/Pengguna Barang dan Kuasa Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Barang dalam melaksanakan program dan kegiatan menunjuk pejabat pada unit kerja SKPD selaku Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK). Pusdiklatwas BPKP – 2007 14 . beban kerja. yang mencakup dokumen administrasi kegiatan maupun dokumen administrasi yang terkait dengan persyaratan pembayaran yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. dan/atau rentang kendali dan pertimbangan objektif lainnya. lokasi.

menyiapkan Surat Perintah Membayar (SPM). dan g. e. Pusdiklatwas BPKP – 2007 15 .Sistem Administrasi Keuangan Daerah I 6. Kepala SKPD menetapkan pejabat yang melaksanakan fungsi tata usaha keuangan pada SKPD sebagai Pejabat Penatausahaan Keuangan SKPD (PPKSKPD). c. dan/atau PPTK. Surat Permintaan Pembayaran Ganti Uang Persediaan (SPP-GU). b. Surat Permintaan Pembayaran Tambah Uang Persediaan (SPP-TU) dan SPP-LS gaji dan tunjangan PNS serta penghasilan lainnya yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang diajukan oleh bendahara pengeluaran. Pejabat Penatausahaan Keuangan SKPD Untuk melaksanakan anggaran yang dimuat dalam Dokumen Pelaksanaan Anggaran SKPD (DPA-SKPD). f. melakukan verifikasi Surat Permintaan Pembayaran (SPP). bendahara. meneliti kelengkapan Surat Permintaan Pembayaran Langsung (SPP-LS) pengadaan barang dan jasa yang disampaikan oleh bendahara pengeluaran dan diketahui/ disetujui oleh PPTK. melakukan verifikasi harian atas penerimaan. meneliti kelengkapan Surat Permintaan Pembayaran Uang Persediaan (SPP-UP). PPK-SKPD tidak boleh merangkap sebagai pejabat yang bertugas melakukan pemungutan penerimaan negara/daerah. melaksanakan akuntansi SKPD. PPK-SKPD mempunyai tugas: a. d. menyiapkan laporan keuangan SKPD.

d. Hak untuk memperoleh bagian laba dari Perusahaan Daerah.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I 7. Hak untuk memperoleh dana perimbangan dari pusat. Bendahara Penerimaan dan Bendahara Pengeluaran Kepala daerah atas usul PPKD menetapkan Bendahara Penerimaan dan Bendahara Pengeluaran untuk melaksanakan tugas kebendaharaan dalam rangka pelaksanaan anggaran pada SKPD. pekerjaan pemborongan dan penjualan jasa atau bertindak sebagai penjamin atas kegiatan/ pekerjaan/penjualan. Semua hak di bawah ini adalah hak yang dilakukan dalam rangka Keuangan Daerah kecuali : a. Bendahara Penerimaan dan Bendahara Pengeluaran tersebut adalah pejabat fungsional. Bendahara Penerimaan dan Bendahara Pengeluaran secara fungsional bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada PPKD selaku BUD. Bendahara Penerimaan dan Bendahara Pengeluaran dalam melaksanakan tugasnya dapat dibantu oleh Bendahara Penerimaan Pembantu dan/atau Bendahara Pengeluaran Pembantu. serta membuka rekening/giro pos atau menyimpan uang pada suatu bank atau lembaga keuangan lainnya atas nama pribadi. Hak menarik pajak Daerah. LATIHAN 1. Hak untuk mengadakan pinjaman Daerah. Bendahara Penerimaan dan Bendahara Pengeluaran baik secara langsung maupun tidak langsung dilarang melakukan kegiatan perdagangan. b. c. D. Pusdiklatwas BPKP – 2007 16 .

d. Melaksanakan sistem akuntansi dan pelaporan keuangan daerah. 3. Bendahara Umum Daerah berwenang antara lain: a. Melaksanakan pemungutan penerimaan bukan pajak. b. Menggunakan barang milik daerah. 4.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I Pemegang kekuasaan umum Pengelolaan Keuangan Daerah adalah : a. c. c. b. Menyusun dan menyampaikan laporan keuangan. Mengesahkan dokumen pelaksanaan anggaran. Pengguna Anggaran/ Pengguna Barang berwenang antara lain : a. Kepala Biro Keuangan Daerah. Pengguna Anggaran/Pengguna barang. Melaksanakan pemungutan pajak daerah. Bendahara Umum Daerah. Kepala Daerah . Melakukan pengelolaan utang dan piutang daerah. Bendahara Umum Negara. Sekretaris Daerah. b. c. Pusdiklatwas BPKP – 2007 17 . Bupati. d. Kepala Daerah. Menyusun dokumen pelaksanaan anggaran. d. d. Persyaratan dan pembinaan karir bendahara diatur oleh : a. c. 5. b.

Karena APBD merupakan dasar pengelolaan keuangan daerah. APBD merupakan rencana pelaksanaan semua Pendapatan Daerah dan semua Belanja Daerah dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi dalam tahun anggaran tertentu.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I BAB III ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH (APBD) Pada akhir pemelajaran ini peserta dapat menjelaskan pengertian APBD. Semua Penerimaan Daerah dan Pengeluaran Daerah harus dicatat dan dikelola dalam APBD. serta pembiayaan daerah dalam rangka membantu pelaksanaan tugasnya sebagai auditor. 17 Tahun 2003 pasal 1 butir 8 tentang Keuangan Negara). belanja daerah. Penerimaan dan pengeluaran daerah tersebut adalah dalam rangka pelaksanaan tugas-tugas desentralisasi. APBD merupakan dasar pengelolaan keuangan daerah dalam satu tahun anggaran. maka APBD menjadi Pusdiklatwas BPKP – 2007 18 . A. Sedangkan penerimaan dan pengeluaran yang berkaitan dengan pelaksanaan Dekonsentrasi atau Tugas Pembantuan tidak dicatat dalam APBD. struktur APBD. Pemungutan semua penerimaan Daerah bertujuan untuk memenuhi target yang ditetapkan dalam APBD. Demikian pula semua pengeluaran daerah dan ikatan yang membebani daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi dilakukan sesuai jumlah dan sasaran yang ditetapkan dalam APBD. fungsi dan prinsip anggaran daerah. sumber-sumber penerimaan daerah. PENGERTIAN Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah selanjutnya disingkat APBD adalah suatu rencana keuangan tahunan pemerintah daerah yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (UU No.

APBD disusun dengan pendekatan kinerja yaitu suatu sistem anggaran yang mengutamakan upaya pencapaian hasil kerja atau output dari perencanaan alokasi biaya atau input yang ditetapkan. Jadi. dan pengawasan keuangan daerah dapat dilaksanakan berdasarkan kerangka waktu tersebut. Sehingga pengelolaan. Fungsi Otorisasi Anggaran daerah merupakan dasar untuk melaksanakan pendapatan dan belanja pada tahun yang bersangkutan. pengendalian. Pusdiklatwas BPKP – 2007 19 . realisasi belanja tidak boleh melebihi jumlah anggaran belanja yang telah ditetapkan. Setiap pejabat dilarang melakukan tindakan yang berakibat pengeluaran atas beban APBD apabila tidak tersedia atau tidak cukup tersedia anggaran untuk membiayai pengeluaran tersebut. jumlah belanja yang dianggarkan merupakan batas tertinggi untuk setiap jenis belanja.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I dasar pula bagi kegiatan pengendalian. Tahun anggaran APBD sama dengan tahun anggaran APBN yaitu mulai 1 Januari dan berakhir tanggal 31 Desember tahun yang bersangkutan. Jumlah pendapatan yang dianggarkan dalam APBD merupakan perkiraan yang terukur secara rasional yang dapat tercapai untuk setiap sumber pendapatan. Berkaitan dengan belanja. Penganggaran pengeluaran harus didukung dengan adanya kepastian tersedianya penerimaan dalam jumlah yang cukup. FUNGSI-FUNGSI ANGGARAN DAERAH Berbagai fungsi APBN/APBD sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 3 ayat (4) UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. B. pemeriksaan dan pengawasan keuangan daerah. Pendapatan dapat direalisasikan melebihi jumlah anggaran yang telah ditetapkan. yaitu : 1.

3. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. Fungsi Distribusi Anggaran daerah harus mengandung arti/ memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan 6.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I 2. Fungsi Alokasi Anggaran daerah diarahkan untuk mengurangi pengangguran dan pemborosan sumber daya. Fungsi Stabilisasi Anggaran daerah harus mengandung arti/ harus menjadi alat untuk memelihara dan mengupayakan keseimbangan fundamental perekonomian. serta meningkatkan efisiensi dan efektivitas perekonomian. 4. 5. yaitu : Pusdiklatwas BPKP – 2007 20 . Fungsi Pengawasan Anggaran daerah menjadi pedoman untuk menilai apakah kegiatan penyelenggaraan pemerintah daerah sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. PRINSIP-PRINSIP ANGGARAN DAERAH Prinsip-prinsip dasar (azas) yang berlaku di bidang pengelolaan Anggaran Daerah yang berlaku juga dalam pengelolaan Anggaran Negara / Daerah sebagaimana bunyi penjelasan dalam Undang Undang No. C. Fungsi Perencanaan Anggaran daerah merupakan pedoman bagi manajemen dalam merencanakan kegiatan pada tahun yang bersangkutan.

3. Akrual Azas ini menghendaki anggaran suatu tahun anggaran dibebani untuk pengeluaran yang seharusnya dibayar. walaupun sebenarnya belum dibayar atau belum diterima pada kas 6. 5. Spesialitas Azas ini mewajibkan agar kredit anggaran yang disediakan terinci secara jelas peruntukannya. Kas Azas ini menghendaki anggaran suatu tahun anggaran dibebani pada saat terjadi pengeluaran/ penerimaan uang dari/ ke Kas Daerah Ketentuan mengenai pengakuan dan pengukuran pendapatan dan belanja berbasis akrual sebagaimana dimaksud dalam pasal 1 angka 13.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I 1. 2. Pusdiklatwas BPKP – 2007 21 . digunakan pengakuan dan pengukuran berbasis kas. Selama pengakuan dan pengukuran pendapatan dan belanja berbasis akrual belum dilaksanakan. Tahunan Azas ini membatasi masa berlakunya anggaran untuk suatu tahun tertentu 4. 14. dilaksanakan selambatlambatnya dalam 5 (lima) tahun. Universalitas Azas ini mengharuskan agar setiap transaksi keuangan ditampilkan secara utuh dalam dokumen anggaran. 15 dan 16 dalam UU Nomor 17 Tahun 2003. Kesatuan Azas ini menghendaki agar semua Pendapatan dan Belanja Negara/Daerah disajikan dalam satu dokumen anggaran. atau menguntungkan anggaran untuk penerimaan yang seharusnya diterima.

1. Pendapatan Asli Daerah terdiri atas: a. Jumlah pembiayaan sama dengan jumlah surplus atau jumlah defisit anggaran. Perincian selanjutnya. c. pajak daerah.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I D. Pendapatan Daerah Pendapatan daerah meliputi semua penerimaan uang melalui Rekening Kas Umum Daerah. dan c. Lain-lain PAD yang sah terdiri dari: a. Dana Perimbangan. b. retribusi daerah. 2. 3. tapi apabila terjadi selisih kurang maka hal itu disebut defisit anggaran. hasil penjualan kekayaan daerah yang tidak dipisahkan. Lain-lain pendapatan daerah yang sah. dan d. Pendapatan daerah terdiri atas: a. b. Pendapatan Daerah Belanja Daerah Pembiayaan Selisih lebih pendapatan daerah terhadap belanja daerah disebut surplus anggaran. yang menambah ekuitas dana lancar. Pusdiklatwas BPKP – 2007 22 . lain-lain PAD yang sah. yang merupakan hak daerah dalam satu tahun anggaran yang tidak perlu dibayar kembali oleh Daerah. Pendapatan Asli Daerah (PAD). STRUKTUR ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH Struktur APBD merupakan satu kesatuan yang terdiri dari: 1. hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan.

keuntungan selisih nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing. Belanja daerah Pusdiklatwas BPKP – 2007 23 . f. dan c. komisi. Belanja Daerah Komponen berikutnya dari APBD adalah Belanja Daerah. ataupun bentuk lain sebagai akibat dari penjualan dan/atau pengadaan barang dan/atau jasa oleh daerah. jasa giro. dan g. Hibah yang merupakan bagian dari Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah merupakan bantuan berupa uang. b. Dana Bagi Hasil. tuntutan ganti rugi. c. pendapatan bunga. Pendapatan daerah yang berasal dari Dana Perimbangan terdiri dari: a. masyarakat. selain PAD dan Dana Perimbangan. Belanja daerah meliputi semua pengeluaran dari Rekening Kas Umum Daerah yang mengurangi ekuitas dana lancar. Dana Alokasi Umum. dan/atau jasa yang berasal dari pemerintah. dan badan usaha dalam negeri atau luar negeri yang tidak mengikat. hasil pemanfaatan atau pendayagunaan kekayaan daerah yang tidak dipisahkan. 2. adalah Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah yang meliputi hibah. dana darurat. Pendapatan daerah. barang.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I b. Dana Alokasi Khusus. e. potongan. dan lain-lain pendapatan yang ditetapkan oleh pemerintah. d. yang merupakan kewajiban daerah dalam satu tahun anggaran yang tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh Daerah.

klasifikasi berdasarkan urusan pemerintahan. kekhasan. Belanja penyelenggaraan urusan wajib tersebut diprioritaskan untuk melindungi dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dalam upaya memenuhi kewajiban daerah yang diwujudkan dalam bentuk peningkatan pelayanan dasar. Pusdiklatwas BPKP – 2007 24 .Sistem Administrasi Keuangan Daerah I dipergunakan dalam rangka pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan provinsi atau kabupaten/kota yang terdiri dari urusan wajib dan urusan pilihan yang ditetapkan dengan ketentuan perundang-undangan. serta jenis belanja. klasifikasi fungsi pengelolaan keuangan negara. dan b. pendidikan. Klasifikasi belanja menurut fungsi terdiri dari: a. Sedangkan urusan pilihan adalah urusan pemerintah yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai kondisi. fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak serta mengembangkan sistem jaminan sosial. dan potensi keunggulan daerah. kesehatan. Klasifikasi belanja berdasarkan urusan pemerintahan diklasifikasikan menurut kewenangan pemerintahan provinsi dan kabupaten/kota. Klasifikasi belanja menurut organisasi disesuaikan dengan susunan organisasi pemerintahan daerah. fungsi. Belanja daerah diklasifikasikan menurut organisasi. Peningkatan prestasi kualitas kerja kehidupan masyarakat standar diwujudkan melalui dalam pencapaian pelayanan minimal berdasarkan urusan wajib pemerintahan daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Urusan wajib adalah urusan yang sangat mendasar yang berkaitan dengan hak dan pelayanan dasar kepada masyarakat yang wajib diselenggarakan oleh pemerintah daerah. program dan kegiatan.

belanja barang dan jasa. lingkungan hidup. kesehatan. belanja modal. perlindungan sosial. g. Pusdiklatwas BPKP – 2007 25 . b. subsidi. bunga. d. agama. i. h. d. g.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I Sedangkan klasifikasi belanja menurut fungsi pengelolaan negara digunakan untuk tujuan keselarasan dan keterpaduan pengelolaan keuangan negara terdiri dari: a. c. pendidikan. e. serta j. belanja pegawai. c. ketertiban dan keamanan. ekonomi. bantuan sosial. pariwisata dan budaya. Klasifikasi belanja menurut program dan kegiatan disesuaikan dengan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah. Sedangkan klasifikasi belanja menurut jenis belanja terdiri dari: a. f. perumahan dan fasilitas umum. e. b. f. pelayanan umum. hibah.

Jumlah pembiayaan neto harus dapat menutup defisit anggaran. dan d. hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan. c. SiLPA tahun anggaran sebelumnya.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I h. 3. belanja tidak terduga. b. dan i. Pembiayaan daerah tersebut terdiri dari penerimaan pembiayaan dan pengeluaran pembiayaan. Pusdiklatwas BPKP – 2007 26 . baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya. penyertaan modal pemerintah daerah. Penganggaran dalam APBD untuk setiap jenis belanja berdasarkan ketentuan perundang-undangan. Pembiayaan neto merupakan selisih lebih penerimaan pembiayaan terhadap pengeluaran pembiayaan. penerimaan pinjaman. belanja bagi hasil dan bantuan keuangan. Penerimaan pembiayaan mencakup: a. d. pembayaran pokok utang. pemberian pinjaman. pencairan dana cadangan. Pengeluaran pembiayaan mencakup: a. dan e. pembentukan dana cadangan. c. b. Pembiayaan Daerah Pembiayaan daerah meliputi semua penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali. penerimaan kembali pemberian pinjaman.

kecuali : a. Selisih lebih pendapatan daerah terhadap Belanja Daerah disebut : a. Pendapatan Asli Daerah. Penerimaan Pajak dan Retribusi Daerah. Struktur APBD merupakan satu kesatuan yang terdiri dari : a. d. 2. b. Pendapatan Daerah. Pengeluaran Daerah dan Pembiayaan. Pembiayaan anggaran. Belanja Pegawai. Belanja Barang dan Jasa adalah belanja yang diklasifikasikan berdasarkan : a. d. Pusdiklatwas BPKP – 2007 27 . Urusan Pemerintahan. Jenis. d. Belanja Daerah dan Pembiayaan. Surplus Anggaran. Penerimaan Daerah. c. LATIHAN 1. b. Sumber-sumber penerimaan Daerah dalam pelaksanaan desentralisasi adalah seperti disebut di bawah ini. c. b. d. 3. Penerimaan Daerah. Belanja Daerah dan Pembiayaan. b. Fungsi. c.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I E. Pendapatan Daerah. c. Dana Perimbangan. Selisih lebih anggaran. Pengeluaran Daerah dan Pembiayaan. 4. Program dan Kegiatan. Kelebihan anggaran. Pinjaman Daerah.

Pengeluaran Pembiayaan. Pendapatan. d. Belanja. Pembentukan Dana Cadangan termasuk dalam komponen : a. c.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I 5. b. Penerimaan Pembiayaan. Pusdiklatwas BPKP – 2007 28 .

APBD disusun sesuai dengan kebutuhan penyelenggaraan pemerintahan dan kemampuan pendapatan daerah. penganggaran pengeluaran harus didukung dengan adanya kepastian atas tersedianya penerimaan dalam jumlah yang cukup. SIKLUS ANGGARAN APBD merupakan dasar pengelolaan keuangan daerah dalam masa 1 (satu) tahun anggaran terhitung mulai tanggal 1 Januari sampai dengan tanggal 31 Desember. Penyusunan dan Penetapan APBD. A. mulai dari penyusunan rancangan hingga penetapan APBD. belanja dan pembiayaan daerah Pusdiklatwas BPKP – 2007 29 . pemerintah melaksanakan kegiatan keuangan dalam siklus pengelolaan anggaran yang secara garis besar terdiri dari: 1. 2. khususnya proses penyusunan APBD. 3. Pelaksanaan dan Penatausahaan APBD. perubahan APBD. Dalam menyusun APBD. Pelaporan dan Pertanggungjawaban APBD. Pendapatan. Penyusunan APBD berpedoman kepada Rencana Kerja Pemerintah Daerah dalam rangka mewujudkan pelayanan kepada masyarakat untuk tercapainya tujuan bernegara.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I BAB IV PENYUSUNAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH (APBD) Pada akhir pemelajaran ini peserta dapat memahami siklus anggaran. dan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD ditetapkan setiap tahun dengan peraturan daerah. APBD. Dalam pelaksanaan tugas-tugas pemerintahan.

Pusdiklatwas BPKP – 2007 30 . PENYUSUNAN RANCANGAN APBD Pemerintah Daerah perlu menyusun APBD untuk menjamin kecukupan dana dalam menyelenggarakan urusan pemerintahannya. B. Penyelenggaraan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintah pusat di daerah didanai dari dan atas beban APBN. didanai dari dan atas beban APBD provinsi. Penyelenggaraan urusan pemerintahan provinsi yang penugasannya dilimpahkan kepada kabupaten/kota dan/atau desa. 4. Seluruh penerimaan dan pengeluaran pemerintahan daerah baik dalam bentuk uang. 3. Anggaran belanja daerah diprioritaskan untuk melaksanakan dalam kewajiban peraturan pemerintahan daerah sebagaimana ditetapkan perundang-undangan. didanai dari dan atas beban APBD kabupaten/kota. Penganggaran penerimaan dan pengeluaran APBD harus memiliki dasar hukum penganggaran. barang dan/atau jasa pada tahun anggaran yang berkenaan harus dianggarkan dalam APBD.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I yang dianggarkan dalam APBD harus berdasarkan pada ketentuan peraturan perundang-undangan dan dianggarkan secara bruto dalam APBD. perlu diperhatikan kesesuaian antara kewenangan pemerintahan dan sumber pendanaannya. Pengaturan kesesuaian kewenangan dengan pendanaannya adalah sebagai berikut: 1. Penyelenggaraan urusan pemerintahan kabupaten/kota yang penugasannya dilimpahkan kepada desa. 2. Karena itu. Penyelenggaraan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah didanai dari dan atas beban APBD.

baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah. pemerintah daerah maupun ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat. Pemerintah daerah perlu menyusun Kebijakan Umum APBD (KUA) serta Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS) yang menjadi acuan bagi Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dalam menyusun Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) SKPD. RKPD ditetapkan dengan peraturan kepala daerah. kewajiban daerah mempertimbangkan prestasi capaian standar pelayanan minimal yang ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. RKPD disusun untuk menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan. RKPD tersebut memuat rancangan kerangka ekonomi daerah. dan pengawasan. pelaksanaan. prioritas pembangunan dan kewajiban daerah. 2. rencana kerja yang terukur dan pendanaannya. Penyusunan RKPD diselesaikan paling lambat akhir bulan Mei sebelum tahun anggaran berkenaan. Secara khusus. Rencana Kerja Pemerintahan Daerah Penyusunan APBD berpedoman kepada Rencana Kerja Pemerintah Daerah. Pemerintah daerah menyusun RKPD yang merupakan penjabaran dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dengan menggunakan bahan dari Renja SKPD untuk jangka waktu 1 (satu) tahun yang mengacu kepada Rencana Kerja Pemerintah Pusat. Pusdiklatwas BPKP – 2007 31 . Karena itu kegiatan pertama dalam penyusunan APBD adalah penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). Kebijakan Umum APBD Setelah Rencana Kerja Pemerintah Daerah ditetapkan. penganggaran.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I 1.

alokasi belanja daerah. prinsip dan kebijakan penyusunan APBD tahun anggaran berkenaan. b. paling lambat pada awal bulan Juni. disampaikan oleh sekretaris daerah selaku koordinator pengelola keuangan daerah kepada kepala daerah. Sedangkan asumsi yang mendasari adalah pertimbangan atas perkembangan ekonomi makro dan perubahan pokok-pokok kebijakan fiskal yang ditetapkan oleh pemerintah pusat. Pedoman penyusunan APBD yang ditetapkan Menteri Dalam Negeri tersebut memuat antara lain: a. c. teknis penyusunan APBD. sumber dan penggunaan pembiayaan yang disertai dengan asumsi yang mendasarinya. Program-program diselaraskan dengan prioritas pembangunan yang ditetapkan oleh pemerintah pusat. dan d. Rancangan KUA yang telah disusun. Dalam menyusun rancangan KUA. Rancangan KUA memuat target pencapaian kinerja yang terukur dari program-program yang akan dilaksanakan oleh pemerintah daerah untuk setiap urusan pemerintahan daerah yang disertai dengan proyeksi pendapatan daerah.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I Kepala daerah menyusun rancangan KUA berdasarkan RKPD dan pedoman penyusunan APBD yang ditetapkan Menteri Dalam Negeri setiap tahun. pokok-pokok kebijakan yang memuat sinkronisasi kebijakan pemerintah dengan pemerintah daerah. Rancangan KUA disampaikan kepala daerah kepada DPRD paling lambat pertengahan bulan Juni tahun anggaran berjalan untuk dibahas dalam pembicaraan pendahuluan RAPBD tahun anggaran Pusdiklatwas BPKP – 2007 32 . kepala daerah dibantu oleh Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) yang dipimpin oleh sekretaris daerah. hal-hal khusus lainnya.

Pusdiklatwas BPKP – 2007 33 .Sistem Administrasi Keuangan Daerah I berikutnya. 3. menentukan skala prioritas untuk urusan wajib dan urusan pilihan. penandatanganan nota kepakatan KUA dan PPA dilakukan oleh pejabat yang ditunjuk oleh pejabat yang berwenang. Rancangan PPAS yang telah dibahas selanjutnya disepakati menjadi PPA paling lambat akhir bulan Juli tahun anggaran berjalan. menentukan urutan program untuk masing-masing urusan. menyusun plafon anggaran sementara untuk masing-masing program. Pembahasan dilakukan oleh TAPD bersama panitia anggaran DPRD. Rancangan KUA yang telah dibahas selanjutnya disepakati menjadi KUA paling lambat minggu pertama bulan Juli tahun anggaran berjalan. Kepala daerah menyampaikan rancangan PPAS yang telah disusun kepada DPRD untuk dibahas paling lambat minggu kedua bulan Juli tahun anggaran berjalan. dan c. pemerintah daerah menyusun rancangan Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS). Dalam hal kepala daerah berhalangan tetap. masing-masing dituangkan ke dalam nota kesepakatan yang ditandatangani bersama antara kepala daerah dengan pimpinan DPRD. yang bersangkutan dapat menunjuk pejabat yang diberi wewenang untuk menandatangani nota kepakatan KUA dan PPA. b. Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara Selanjutnya berdasarkan KUA yang telah disepakati. Dalam hal kepala daerah berhalangan. Rancangan PPAS tersebut disusun dengan tahapan sebagai berikut: a. KUA serta PPA yang telah disepakati. Pembahasan dilakukan oleh TAPD bersama panitia anggaran DPRD.

efektifitas. b. batas waktu penyampaian RKA-SKPD kepada PPKD. Surat edaran kepala daerah perihal pedoman penyusunan RKASKPD diterbitkan paling lambat awal bulan Agustus tahun anggaran berjalan. penganggaran terpadu dan penganggaran berdasarkan prestasi kerja. format RKASKPD. TAPD menyiapkan rancangan surat edaran kepala daerah tentang pedoman penyusunan RKA SKPD sebagai acuan kepala SKPD dalam menyusun RKA-SKPD. Berdasarkan pedoman penyusunan RKA-SKPD. hal-hal lainnya yang perlu mendapatkan perhatian dari SKPD terkait dengan prinsip-prinsip peningkatan efisiensi. kepala SKPD menyusun RKA-SKPD. d. c. Pendekatan kerangka pengeluaran jangka menengah daerah dilaksanakan dengan Pusdiklatwas BPKP – 2007 34 . kode rekening APBD.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I 4. PPA yang dialokasikan untuk setiap program SKPD berikut rencana pendapatan dan pembiayaan. analisis standar belanja dan standar satuan harga. tranparansi dan akuntabilitas penyusunan anggaran dalam rangka pencapaian prestasi kerja. PPA. dan e. sinkronisasi program dan kegiatan antar SKPD dengan kinerja SKPD berkenaan sesuai dengan standar pelayanan minimal yang ditetapkan. RKA-SKPD disusun dengan menggunakan pendekatan kerangka pengeluaran jangka menengah daerah. dokumen sebagai lampiran meliputi KUA. Rancangan surat edaran kepala daerah tentang pedoman penyusunan RKA-SKPD mencakup: a. Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran SKPD Berdasarkan nota kesepakatan yang berisi KUA dan PPAS.

belanja. dan pembiayaan di lingkungan SKPD untuk menghasilkan dokumen rencana kerja dan anggaran. dan terciptanya kesinambungan RKA-SKPD. pendekatan menengah penganggaran terpadu dan penganggaran berdasarkan prestasi kerja.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I menyusun prakiraan maju. Evaluasi tersebut bertujuan menilai program dan kegiatan yang belum dapat dilaksanakan dan/atau belum diselesaikan tahun-tahun sebelumnya untuk dilaksanakan dan/atau diselesaikan pada tahun yang direncanakan atau 1 (satu) tahun berikutnya dari tahun yang direncanakan. Pendekatan penganggaran berdasarkan prestasi kerja dilakukan dengan memperhatikan keterkaitan antara pendanaan dengan keluaran yang diharapkan dari kegiatan dan hasil serta manfaat yang diharapkan termasuk efisiensi dalam pencapaian hasil dan keluaran tersebut. kepala SKPD mengevaluasi hasil pelaksanaan program dan kegiatan 2 (dua) tahun anggaran sebelumnya sampai dengan semester pertama tahun anggaran berjalan. Dalam hal suatu program dan kegiatan merupakan tahun terakhir untuk pencapaian prestasi kerja yang ditetapkan. Prakiraan maju tersebut berisi perkiraan kebutuhan anggaran untuk program dan kegiatan yang direncanakan dalam tahun anggaran berikutnya dari tahun anggaran yang direncanakan. Untuk terlaksananya kerangka penyusunan pengeluaran RKA-SKPD jangka berdasarkan daerah. kebutuhan dananya harus dianggarkan pada tahun yang direncanakan. Pendekatan penganggaran terpadu dilakukan dengan memadukan seluruh proses perencanaan dan penganggaran pendapatan. Pusdiklatwas BPKP – 2007 35 .

Capaian kinerja merupakan ukuran prestasi kerja yang akan dicapai yang berwujud kualitas. Analisis standar belanja merupakan penilaian kewajaran atas beban kerja dan biaya yang digunakan untuk melaksanakan suatu kegiatan. serta rencana pembiayaan untuk tahun yang direncanakan dirinci sampai dengan rincian objek pendapatan. e. dan pembiayaan serta prakiraan maju untuk tahun berikutnya. standar pelayanan minimal. capaian atau target kinerja. RKA-SKPD juga memuat informasi tentang urusan Pusdiklatwas BPKP – 2007 36 .Sistem Administrasi Keuangan Daerah I Penyusunan RKA-SKPD berdasarkan prestasi kerja memperhatikan: a. Standar pelayanan minimal merupakan tolok ukur kinerja dalam menentukan capaian jenis dan mutu pelayanan dasar yang merupakan urusan wajib daerah. rencana belanja untuk masing-masing program dan kegiatan. RKA-SKPD memuat rencana pendapatan. Standar satuan harga merupakan harga satuan setiap unit barang/jasa yang berlaku di suatu daerah yang ditetapkan dengan keputusan kepala daerah. belanja. b. Indikator kinerja adalah ukuran keberhasilan yang akan dicapai dari program dan kegiatan yang direncanakan. analisis standar belanja. efisiensi dan efektifitas pelaksanaan dari setiap program dan kegiatan. c. standar satuan harga. kuantitas. d. indikator kinerja.

indikator kinerja. Rancangan peraturan daerah tentang APBD dilengkapi dengan lampiran yang terdiri dari: a. belanja dan pembiayaan. ringkasan APBD menurut urusan pemerintahan daerah dan organisasi. kelompok sasaran kegiatan. berdasarkan RKA-SKPD yang telah disusun oleh SKPD dilakukan pembahasan penyusunan Raperda oleh TAPD. standar pelayanan minimal. kepala SKPD melakukan penyempurnaan. dan dokumen perencanaan lainnya. organisasi. standar biaya. RKA-SKPD yang telah disusun oleh SKPD disampaikan kepada PPKD untuk dibahas lebih lanjut oleh TAPD. Pusdiklatwas BPKP – 2007 37 . prakiraan maju yang telah disetujui tahun anggaran sebelumnya. 5.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I pemerintahan daerah. RKA-SKPD yang telah disempurnakan oleh kepala SKPD disampaikan kepada PPKD sebagai bahan penyusunan rancangan peraturan daerah tentang APBD dan rancangan peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD. serta capaian kinerja. c. Dalam hal hasil pembahasan RKA-SKPD terdapat ketidaksesuaian. serta sinkronisasi program dan kegiatan antar SKPD. b. Pembahasan oleh TAPD dilakukan untuk menelaah kesesuaian antara RKA-SKPD dengan KUA. organisasi. standar analisis belanja. rincian APBD menurut urusan pemerintahan daerah. prestasi kerja yang akan dicapai dari program dan kegiatan. ringkasan APBD. pendapatan. standar satuan harga. PPA. Penyiapan Raperda APBD Selanjutnya.

i. organisasi. Rancangan peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD wajib memuat penjelasan sebagai berikut: Pusdiklatwas BPKP – 2007 38 . daftar perkiraan penambahan dan pengurangan aset tetap daerah. disusun rancangan peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD. Rancangan peraturan kepala daerah tersebut dilengkapi dengan lampiran yang terdiri dari: a. jenis. Bersamaan dengan penyusunan rancangan Perda APBD. dan m. l. e. daftar dana cadangan daerah. f. k. belanja dan pembiayaan. daftar piutang daerah. penjabaran APBD menurut urusan pemerintahan daerah. program dan kegiatan. kelompok. rincian obyek pendapatan. rekapitulasi belanja menurut urusan pemerintahan daerah.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I d. rekapitulasi belanja daerah untuk keselarasan dan keterpaduan urusan pemerintahan daerah dan fungsi dalam kerangka pengelolaan keuangan negara. obyek. daftar kegiatan-kegiatan tahun anggaran sebelumnya yang belum diselesaikan dan dianggarkan kembali dalam tahun anggaran ini. ringkasan penjabaran APBD. daftar jumlah pegawai per golongan dan per jabatan. h. daftar penyertaan modal (investasi) daerah. daftar perkiraan penambahan dan pengurangan aset lain-lain. program. daftar pinjaman daerah. kegiatan. g. b. organisasi. j.

target/volume yang direncanakan. Selanjutnya rancangan peraturan daerah tentang APBD sebelum disampaikan kepada DPRD disosialisasikan kepada masyarakat. satuan volume/tolok ukur. 6. sasaran. untuk pendapatan mencakup dasar hukum. c. Penyampaian rancangan peraturan daerah tersebut disertai dengan nota keuangan. untuk pembiayaan mencakup dasar hukum. Rancangan peraturan daerah tentang APBD yang telah disusun oleh PPKD disampaikan kepada kepala daerah. tarif pungutan/harga. untuk belanja mencakup dasar hukum. Sosialisasi rancangan peraturan daerah tentang APBD tersebut bersifat memberikan informasi mengenai hak dan kewajiban pemerintah daerah serta masyarakat dalam pelaksanaan APBD tahun anggaran yang direncanakan. Penetapan agenda pembahasan rancangan Pusdiklatwas BPKP – 2007 39 . b. Penyampaian dan Pembahasan Rancangan Peraturan Daerah tentang APBD Kepala daerah menyampaikan rancangan peraturan daerah tentang APBD beserta lampirannya kepada DPRD paling lambat pada minggu pertama bulan Oktober tahun anggaran sebelumnya dari tahun yang direncanakan untuk mendapatkan persetujuan bersama. lokasi kegiatan dan sumber pendanaan kegiatan. harga satuan. sumber penerimaan pembiayaan dan tujuan pengeluaran pembiayaan.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I a. Penyebarluasan rancangan peraturan daerah tentang APBD dilaksanakan oleh sekretaris daerah selaku koordinator pengelolaan keuangan daerah. Pengambilan keputusan bersama DPRD dan kepala daerah terhadap rancangan peraturan daerah tentang APBD dilakukan paling lama 1 (satu) bulan sebelum tahun anggaran yang bersangkutan dilaksanakan.

ringkasan APBD. Pusdiklatwas BPKP – 2007 40 . Apabila DPRD sampai batas waktu 1 bulan sebelum tahun anggaran berkenaan. seperti belanja pegawai. kepala daerah menyiapkan rancangan peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD. Belanja yang bersifat mengikat merupakan belanja yang dibutuhkan secara terus menerus dan harus dialokasikan oleh pemerintah daerah dengan jumlah yang cukup untuk keperluan setiap bulan dalam tahun anggaran yang bersangkutan. maka kepala daerah melaksanakan pengeluaran setinggi-tingginya sebesar angka APBD tahun anggaran sebelumnya untuk membiayai untuk keperluan setiap bulan. Atas dasar persetujuan bersama. Sedangkan Belanja yang bersifat wajib adalah belanja untuk terjaminnya kelangsungan pemenuhan pendanaan pelayanan dasar masyarakat antara lain pendidikan dan kesehatan dan/atau melaksanakan kewajiban kepada fihak ketiga. diprioritaskan untuk belanja yang bersifat mengikat dan belanja yang bersifat wajib. Pembahasan rancangan peraturan daerah tersebut berpedoman pada KUA. Pengeluaran setinggi-tingginya keperluan setiap bulan tersebut. serta PPA yang telah disepakati bersama antara pemerintah daerah dan DPRD.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I peraturan daerah tentang APBD untuk mendapatkan persetujuan bersama. disesuaikan dengan tata tertib DPRD masing-masing daerah. Rancangan peraturan kepala daerah tentang Penjabaran APBD tersebut dilengkapi dengan lampiran yang terdiri dari : a. dapat meminta RKA-SKPD berkenaan kepada kepala daerah. Dalam hal DPRD memerlukan tambahan penjelasan terkait dengan pembahasan program dan kegiatan tertentu. belanja barang dan jasa. tidak menetapkan persetujuan bersama dengan kepala daerah terhadap rancangan peraturan daerah tentang APBD.

jenis. daftar piutang daerah. i. daftar kegiatan-kegiatan tahun anggaran sebelumnya yang belum diselesaikan dan dianggarkan kembali dalam tahun anggaran ini. program dan kegiatan. g. program. j. obyek. daftar jumlah pegawai per golongan dan per jabatan. rekapitulasi belanja daerah untuk keselarasan dan keterpaduan urusan pemerintahan daerah dan fungsi dalam kerangka pengelolaan keuangan negara. rekapitulasi belanja menurut urusan pemerintahan daerah. f. rincian obyek pendapatan. Rancangan peraturan kepala daerah tentang APBD dapat dilaksanakan setelah memperoleh pengesahan dari Menteri Dalam Pusdiklatwas BPKP – 2007 41 . k. l. belanja dan pembiayaan. ringkasan APBD menurut urusan pemerintahan daerah dan organisasi.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I b. d. dan m. daftar perkiraan penambahan dan pengurangan aset tetap daerah. e. maka pejabat yang ditunjuk dan ditetapkan oleh pejabat yang berwenang selaku penjabat/pelaksana tugas kepala daerah dan/atau selaku pimpinan sementara DPRD yang menandatangani persetujuan bersama. daftar penyertaan modal (investasi) daerah. daftar perkiraan penambahan dan pengurangan aset lain-lain. organisasi. Dalam hal kepala daerah dan/atau pimpinan DPRD berhalangan tetap. h. rincian APBD menurut urusan pemerintahan daerah. kegiatan. daftar pinjaman daerah. daftar dana cadangan daerah. kelompok. organisasi. c.

Sistem Administrasi Keuangan Daerah I Negeri bagi provinsi dan gubernur bagi kabupaten/kota. Sedangkan pengesahan rancangan peraturan kepala daerah tentang APBD ditetapkan dengan keputusan Menteri Dalam Negeri bagi provinsi dan keputusan gubernur bagi kabupaten/kota. Penyampaian rancangan peraturan kepala daerah untuk memperoleh pengesahan paling lama 15 (lima belas) hari kerja terhitung sejak DPRD tidak menetapkan keputusan bersama dengan kepala daerah terhadap rancangan peraturan daerah tentang APBD. Khusus untuk pengeluaran. Pusdiklatwas BPKP – 2007 42 . hanya diperkenankan apabila ada kebijakan pemerintah untuk kenaikan gaji dan tunjangan pegawai negeri sipil serta penyediaan dana pendamping atas program dan kegiatan yang ditetapkan oleh pemerintah serta bagi hasil pajak daerah dan retribusi daerah yang ditetapkan dalam undang-undang. 7. Apabila dalam batas waktu 30 (tiga puluh) hari kerja Menteri Dalam Negeri/gubernur tidak mengesahkan rancangan peraturan kepala daerah tentang APBD. kepala daerah menetapkan rancangan peraturan kepala daerah dimaksud menjadi peraturan kepala daerah. persetujuan bersama antara pemerintah daerah dan DPRD terhadap rancangan peraturan daerah tentang APBD. Evaluasi Rancangan Peraturan Daerah tentang APBD dan Rancangan Peraturan Kepala Daerah tentang Penjabaran APBD Rancangan peraturan daerah provinsi tentang APBD yang telah disetujui bersama DPRD dan rancangan peraturan gubernur tentang penjabaran APBD sebelum ditetapkan oleh gubernur paling lama 3 (tiga) hari kerja disampaikan terlebih dahulu kepada Menteri Dalam Negeri untuk dievaluasi. diatur bahwa pelampauan batas tertinggi dari jumlah pengeluaran. Penyampaian rancangan disertai dengan: a.

Evaluasi bertujuan untuk tercapainya keserasian antara kebijakan daerah dan kebijakan nasional. Apabila Menteri Dalam Negeri menyatakan hasil evaluasi atas rancangan peraturan daerah tentang APBD dan rancangan peraturan gubemur tentang penjabaran APBD sudah sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Dalam hal Menteri Dalam Negeri menyatakan bahwa hasil evaluasi rancangan peraturan daerah tentang APBD dan rancangan peraturan gubernur tentang penjabaran APBD bertentangan dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. c. keserasian antara kepentingan publik dan kepentingan aparatur serta untuk meneliti sejauh mana APBD provinsi tidak bertentangan dengan kepentingan umum. gubernur menetapkan rancangan dimaksud menjadi peraturan daerah dan peraturan gubemur. risalah sidang jalannya pembahasan terhadap rancangan peraturan daerah tentang APBD. Menteri Dalam Negeri dapat mengundang pejabat pemerintah daerah provinsi yang terkait. nota keuangan dan pidato kepala daerah perihal penyampaian pengantar nota keuangan pada sidang DPRD. peraturan yang lebih tinggi dan/atau peraturan daerah lainnya yang ditetapkan oleh provinsi bersangkutan. gubernur bersama DPRD melakukan penyempurnaan paling Pusdiklatwas BPKP – 2007 43 . KUA dan PPA yang disepakati antara kepala daerah dan pimpinan DPRD.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I b. dan d. Untuk efektivitas pelaksanaan evaluasi. Hasil evaluasi dituangkan dalam keputusan Menteri Dalam Negeri dan disampaikan kepada gubernur paling lama 15 (lima betas) hari kerja terhitung sejak diterimanya rancangan dimaksud.

Pembatalan peraturan daerah dan peraturan bupati/walikota dan pernyataan berlakunya pagu APBD tahun sebelumnya ditetapkan dengan peraturan gubernur. kepala daerah harus memberhentikan pelaksanaan peraturan daerah dan selanjutnya DPRD bersama kepala daerah mencabut peraturan daerah dimaksud. rancangan peraturan daerah kabupaten/kota tentang APBD yang telah disetujui bersama DPRD dan rancangan peraturan bupati/walikota tentang penjabaran APBD sebelum ditetapkan oleh bupati/walikota paling lama 3 (tiga) hari kerja disampaikan kepada gubernur untuk dievaluasi. Pembatalan peraturan daerah dan peraturan gubernur serta pernyataan berlakunya pagu APBD tahun sebelumnya ditetapkan dengan peraturan Menteri Dalam Negeri. Paling lama 7 (tujuh) hari kerja setelah pembatalan. Apabila hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti oleh gubernur dan DPRD. Pencabutan peraturan daerah tersebut dilakukan dengan peraturan daerah tentang pencabutan peraturan daerah tentang APBD. Menteri Dalam Negeri membatalkan peraturan daerah dan peraturan gubernur dimaksud sekaligus menyatakan berlakunya pagu APBD tahun sebelumnya. Pelaksanaan pengeluaran atas pagu APBD tahun sebelumnya. Sementara itu.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I lama 7 (tujuh) hari kerja terhitung sejak diterimanya hasil evaluasi. Pelaksanaan dan ketentuan evaluasi adalah sebagaimana halnya evaluasi oleh Menteri Dalam Negeri untuk Rancangan APBD Provinsi. dan gubernur tetap menetapkan rancangan peraturan daerah tentang APBD dan rancangan peraturan gubernur tentang penjabaran APBD menjadi peraturan daerah dan peraturan gubernur. ditetapkan dengan peraturan kepala daerah. Penyempurnaan hasil evaluasi dilakukan oleh kepala daerah bersama dengan panitia Pusdiklatwas BPKP – 2007 44 .

8. maka pejabat yang ditunjuk dan ditetapkan oleh pejabat yang berwenang selaku pimpinan sementara DPRD yang menandatangani keputusan pimpinan DPRD. Pusdiklatwas BPKP – 2007 45 . Penetapan rancangan peraturan daerah tentang APBD dan peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD tersebut dilakukan paling lambat tanggal 31 Desember tahun anggaran sebelumnya. Keputusan pimpinan DPRD bersifat final dan dilaporkan pada sidang paripurna berikutnya. Hasil penyempurnaan ditetapkan oleh pimpinan DPRD. Keputusan pimpinan DPRD disampaikan kepada Menteri Dalam Negeri bagi APBD provinsi dan kepada gubernur bagi APBD kabupaten/kota paling lama 3 (tiga) hari kerja setelah keputusan tersebut ditetapkan.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I anggaran DPRD. Keputusan pimpinan DPRD dijadikan dasar penetapan peraturan daerah tentang APBD. Gubernur menyampaikan hasil evaluasi yang dilakukan atas rancangan peraturan daerah kabupaten/kota tentang APBD dan rancangan peraturan bupati/walikota tentang penjabaran APBD kepada Menteri Dalam Negeri. Dalam hal pimpinan DPRD berhalangan tetap. Sidang paripurna berikutnya yakni setelah sidang paripurna pengambilan keputusan bersama terhadap rancangan peraturan daerah tentang APBD. Penetapan Peraturan Daerah tentang APBD dan Peraturan Kepala Daerah tentang Penjabaran APBD Rancangan peraturan daerah tentang APBD dan rancangan peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD yang telah dievaluasi ditetapkan oleh kepala daerah menjadi peraturan daerah tentang APBD dan peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD.

keadaan yang menyebabkan harus dilakukan pergeseran anggaran antar unit organisasi. d. antar kegiatan. maka pejabat yang ditunjuk dan ditetapkan oleh pejabat yang berwenang selaku penjabat/pelaksana tugas kepala daerah yang menetapkan peraturan daerah tentang APBD dan peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD. dibahas bersama DPRD dengan pemerintah daerah dalam rangka penyusunan prakiraan perubahan atas APBD tahun anggaran yang bersangkutan. pemerintah daerah dapat melakukan pengeluaran yang belum tersedia anggarannya. b. perkembangan yang tidak sesuai dengan asumsi KUA. Perubahan APBD Penyesuaian APBD dengan perkembangan dan/atau perubahan keadaan. keadaan luar biasa. Kepala daerah menyampaikan peraturan daerah tentang APBD dan peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD kepada Menteri Dalam Negeri bagi provinsi dan gubernur bagi kabupaten/kota paling lama 7 (tujuh) hari kerja setelah ditetapkan. c. 9. dan/atau disampaikan dalam laporan realisasi anggaran. dan e. Keadaan darurat tersebut sekurang-kurangnya memenuhi kriteria sebagai berikut: Pusdiklatwas BPKP – 2007 46 . Dalam keadaan darurat. keadaan darurat. apabila terjadi: a. keadaan yang menyebabkan saldo anggaran Iebih tahun sebelumnya harus digunakan dalam tahun berjalan. yang selanjutnya diusulkan dalam rancangan perubahan APBD. dan antar jenis belanja.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I Dalam hal kepala daerah berhalangan tetap.

bukan merupakan kegiatan normal dari aktivitas pemerintah daerah dan tidak dapat diprediksikan sebelumnya. Keadaan luar biasa tersebut adalah keadaan yang menyebabkan estimasi penerimaan dan/atau pengeluaran dalam APBD mengalami kenaikan atau penurunan lebih besar dari 50% (lima puluh persen). Realisasi pengeluaran atas pendanaan keadaan darurat dan/atau keadaan luar biasa tersebut dicantumkan dalam rancangan peraturan daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. Proses evaluasi dan penetapan rancangan peraturan daerah tentang perubahan APBD dan rancangan peraturan kepala daerah tentang penjabaran perubahan APBD menjadi peraturan daerah dan peraturan kepala daerah berlaku ketentuan seperti halnya evaluasi dan penetapan rancangan APBD. Perubahan APBD hanya dapat dilakukan 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun anggaran. dan d. Pelaksanaan pengeluaran atas pendanaan keadaan darurat dan/atau keadaan luar biasa ditetapkan dengan peraturan kepala daerah.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I a. kecuali dalam keadaan luar biasa. Pemerintah daerah mengajukan rancangan peraturan daerah tentang perubahan APBD tahun anggaran yang bersangkutan untuk mendapatkan persetujuan DPRD sebelum tahun anggaran yang bersangkutan berakhir. Apabila hasil evaluasi tersebut tidak ditindaklanjuti oleh kepala daerah dan DPRD. c. tidak diharapkan terjadi secara berulang. berada di luar kendali dan pengaruh pemerintah daerah. b. Persetujuan DPRD terhadap rancangan peraturan daerah tersebut selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan sebelum berakhirnya tahun anggaran. memiliki dampak yang signifikan terhadap anggaran dalam rangka pemulihan yang disebabkan oleh keadaan darurat. dan kepala daerah Pusdiklatwas BPKP – 2007 47 .

Pembatalan peraturan daerah tentang perubahan APBD kabupaten/kota dan peraturan bupati/walikota tentang penjabaran perubahan APBD dilakukan oleh gubernur. Jumlah pendapatan. Kepala daerah wajib memberhentikan pelaksanaan peraturan daerah tentang perubahan APBD dan selanjutnya kepala daerah bersama DPRD mencabut peraturan daerah dimaksud. Selanjutnya berdasarkan KUA yang telah disepakati. LATIHAN 1. Paling lama 7 (tujuh) hari setelah keputusan tentang pembatalan. Insidentil b. pemerintah daerah menyusun rancangan lebih pendapatan daerah terhadap belanja daerah yang disebut : Pusdiklatwas BPKP – 2007 48 . Pencabutan peraturan daerah tersebut dilakukan dengan peraturan daerah tentang pencabutan peraturan daerah tentang perubahan APBD.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I tetap menetapkan rancangan peraturan daerah tentang perubahan APBD dan rancangan peraturan kepala daerah tentang penjabaran perubahan APBD. Periodik c. Bruto d. peraturan daerah dan peraturan kepala daerah dimaksud dibatalkan dan sekaligus menyatakan berlakunya pagu APBD tahun berjalan termasuk untuk pendanaan keadaan darurat. Pembatalan peraturan daerah tentang perubahan APBD provinsi dan peraturan gubernur tentang penjabaran perubahan APBD dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri. Netto 2. belanja dan pembiayaan daerah dianggarkan dalam APBD secara: a. C.

Presiden Pusdiklatwas BPKP – 2007 49 . Sekretaris Daerah c. Tim Anggaran Pemerintah Daerah b.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I a. Dirjen Otonomi Daerah c. DPA-SKPD d. PPAS c. Indikator Kinerja Standar Pelayanan Minimal Standar Satuan Harga Analisis Standar Belanja RKA-SKPD yang telah disusun oleh SKPD disampaikan kepada PPKD untuk dibahas lebih lanjut oleh: a. Menteri Dalam Negeri d. Penilaian kewajaran atas beban kerja dan biaya yang digunakan untuk melaksanakan suatu kegiatan disebut: a. RKPD 3. d. Pembatalan peraturan daerah tentang perubahan APBD provinsi dan peraturan gubernur tentang penjabaran perubahan APBD dilakukan oleh: a. DPRD Provinsi b. Panitia Anggaran DPRD d. c. Kepala Daerah 5. 4. RPJMD b. b.

Sistem Administrasi Keuangan Daerah I

BAB V

PELAKSANAAN, PENATAUSAHAAN, PELAPORAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN APBD
Pada akhir pemelajaran ini peserta dapat memahami siklus anggaran, khususnya proses pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan dan pertanggungjawaban APBD.

A.

PELAKSANAAN APBD Semua penerimaan daerah dan pengeluaran daerah dalam rangka pelaksanaan urusan pemerintahan daerah dikelola dalam APBD.

Pelaksanaan APBD meliputi pelaksanaan anggaran pendapatan, belanja, dan pembiayaan. Penjelasan berikut ini didasarkan pada Peraturan Pemerintah No. 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah. Peraturan ini telah disusun pedoman pelaksanaannya yaitu Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. Pengeluaran dapat dilakukan jika dalam keadaan darurat, yang selanjutnya diusulkan dalam rancangan perubahan APBD dan/atau disampaikan dalam laporan realisasi anggaran. Kriteria keadaan darurat ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pelaksanaan Anggaran oleh Kepala SKPD dilaksanakan setelah Dokumen Pelaksanaan Anggaran SKPD (DPA-SKPD) ditetapkan oleh PPKD dengan persetujuan Sekretaris Daerah. Proses penetapan DPA-SKPD adalah sebagai berikut.

Pusdiklatwas BPKP – 2007

50

Sistem Administrasi Keuangan Daerah I

1.

PPKD paling lama 3 (tiga) hari kerja setelah peraturan daerah tentang APBD ditetapkan, memberitahukan kepada semua kepala SKPD agar menyusun rancangan DPA-SKPD.

2.

Rancangan DPA-SKPD merinci sasaran yang hendak dicapai, program, kegiatan, anggaran yang disediakan untuk mencapai sasaran tersebut, dan rencana penarikan dana tiap-tiap SKPD serta pendapatan yang diperkirakan.

3.

Kepala SKPD menyerahkan rancangan DPA-SKPD kepada PPKD paling lama 6 (enam) hari kerja setelah pemberitahuan.

4.

TAPD melakukan verifikasi rancangan DPA-SKPD bersama-sama dengan kepala SKPD paling lama 15 (lima belas) hari kerja sejak ditetapkannya peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD.

5.

Berdasarkan hasil verifikasi, PPKD mengesahkan rancangan DPASKPD dengan persetujuan sekretaris daerah.

6.

DPA-SKPD yang telah disahkan disampaikan kepada kepala SKPD, satuan kerja pengawasan daerah, dan Badan Pemeriksa Keuangan paling lama 7 (tujuh) hari kerja sejak tanggal disahkan.

Setelah DPA-SKPD ditetapkan, Kepala SKPD melaksanakan kegiatankegiatan SKPD berdasarkan dokumen tersebut. 1. Pelaksanaan Anggaran Pendapatan Daerah Setiap SKPD yang mempunyai tugas memungut dan/atau menerima pendapatan daerah wajib melaksanakan pemungutan dan/atau penerimaan berdasarkan ketentuan yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan. Penerimaan SKPD dilarang digunakan

langsung untuk membiayai pengeluaran, kecuali ditentukan lain oleh peraturan perundang-undangan. Penerimaan SKPD berupa uang atau cek harus disetor ke rekening kas umum daerah paling lama 1

Pusdiklatwas BPKP – 2007

51

Sistem Administrasi Keuangan Daerah I

(satu) hari kerja oleh Bendahara Penerimaan dengan didukung oleh bukti yang lengkap. Semua penerimaan daerah dilakukan melalui rekening kas umum daerah. SKPD dilarang melakukan pungutan selain dari yang ditetapkan dalam peraturan daerah. SKPD yang mempunyai tugas memungut dan/atau menerima dan/atau kegiatannya berdampak pada penerimaan daerah wajib mengintensifkan pemungutan dan penerimaan tersebut. Komisi, rabat, potongan atau penerimaan lain dengan nama dan dalam bentuk apa pun yang dapat dinilai dengan uang, baik secara langsung sebagai akibat dari penjualan, tukar-menukar, hibah, asuransi dan/atau pengadaan barang dan jasa termasuk penerimaan bunga, jasa giro atau penerimaan lain sebagai akibat penyimpanan dana anggaran pada bank serta penerimaan dari hasil pemanfaatan barang daerah atas kegiatan lainnya merupakan pendapatan daerah. Semua penerimaan daerah apabila berbentuk uang harus segera disetor ke kas umum daerah dan berbentuk barang menjadi milik/aset daerah yang dicatat sebagai inventaris daerah. Pengembalian atas kelebihan pajak, retribusi, pengembalian tuntutan ganti rugi dan sejenisnya dilakukan dengan membebankan pada rekening penerimaan yang yang bersangkutan dalam tahun untuk yang pengembalian sama. Untuk

penerimaan

terjadi

pengembalian kelebihan penerimaan yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya dibebankan pada rekening belanja tidak terduga. 2. Pelaksanaan Anggaran Belanja Daerah Jumlah belanja yang dianggarkan dalam APBD merupakan batas tertinggi untuk setiap pengeluaran belanja. Pengeluaran tidak dapat dibebankan pada anggaran belanja jika untuk pengeluaran tersebut

Pusdiklatwas BPKP – 2007

52

Pembayaran atas beban APBD dapat dilakukan berdasarkan Surat Penyediaan Dana (SPD). efektif. atau dokumen lain yang dipersamakan dengan SPD. Pemerintah daerah dapat memberikan tambahan penghasilan kepada pegawai negeri sipil daerah berdasarkan pertimbangan yang obyektif dengan memperhatikan kemampuan keuangan daerah dan memperoleh persetujuan DPRD sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. efisien dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pengeluaran kas tersebut tidak termasuk belanja yang bersifat mengikat dan belanja yang bersifat wajib. Pengeluaran kas yang mengakibatkan beban APBD tidak dapat dilakukan sebelum rancangan peraturan daerah tentang APBD ditetapkan dan ditempatkan dalam lembaran daerah. wajib menyetorkan seluruh penerimaan potongan dan pajak yang dipungutnya ke rekening Kas Negara pada bank pemerintah atau bank lain yang ditetapkan Menteri Keuangan sebagai Pusdiklatwas BPKP – 2007 53 . atau Dokumen Pelaksanaan Anggaran SKPD (DPA-SKPD). Khusus untuk biaya pegawai diatur bahwa gaji pegawai negeri sipil daerah dibebankan dalam APBD. Setiap SKPD dilarang melakukan pengeluaran atas beban anggaran daerah untuk tujuan lain dari yang telah ditetapkan dalam APBD. bendahara pengeluaran sebagai wajib pungut Pajak Penghasilan (PPh) dan pajak lainnya.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I tidak tersedia atau tidak cukup tersedia dalam APBD. Setiap pengeluaran harus didukung oleh bukti yang lengkap dan sah mengenai hak yang diperoleh oleh pihak yang menagih. Pengeluaran belanja daerah menggunakan prinsip hemat. tidak mewah. Dalam pelaksanaan pembayaran yang terhutang pajak.

kepala SKPD selaku pengguna anggaran dilarang menerbitkan SPM yang membebani tahun anggaran berkenaan. Pelaksanaan pengeluaran atas beban APBD dilakukan berdasarkan SPM yang diterbitkan oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran. b. Perlu menjadi perhatian bahwa penerbitan SPM tidak boleh dilakukan sebelum barang dan/atau jasa diterima kecuali ditentukan lain dalam peraturan perundang-undangan. meneliti kelengkapan perintah pembayaran yang diterbitkan oleh pengguna anggaran. Karena itu. Setelah tahun anggaran berakhir. menolak pencairan dana. kepada pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran dapat diberikan uang persediaan yang dikelola oleh bendahara pengeluaran. apabila perintah pembayaran yang diterbitkan oleh pengguna anggaran tidak memenuhi persyaratan yang ditetapkan. menguji ketersediaan dana yang bersangkutan. Bendahara pengeluaran melaksanakan pembayaran dari uang persediaan yang dikelolanya setelah: Pusdiklatwas BPKP – 2007 54 . d. Untuk kelancaran pelaksanaan tugas SKPD. kuasa BUD berkewajiban untuk: a.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I bank persepsi atau pos giro dalam jangka waktu sesuai ketentuan perundang-undangan. Selanjutnya pembayaran dilakukan dengan penerbitan SP2D oleh kuasa BUD. menguji kebenaran perhitungan tagihan atas beban APBD yang tercantum dalam perintah pembayaran. memerintahkan pencairan dana sebagai dasar pengeluaran daerah. c. dan e.

Bendahara pengeluaran wajib menolak perintah bayar dari pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran apabila kelengkapan dokumen. Bendahara pengeluaran wajib melakukan hal tersebut karena dia bertanggung jawab secara pribadi atas pembayaran yang dilaksanakannya.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I a. dan c. kebenaran perhitungan dan ketersediaan dana tidak terpenuhi. menguji ketersediaan dana yang bersangkutan. Untuk pencairan dana cadangan. Kepala daerah dapat memberikan izin pembukaan rekening untuk keperluan pelaksanaan pengeluaran di lingkungan SKPD. Pelaksanaan Anggaran Pembiayaan Daerah Pengelolaan anggaran pembiayaan daerah dilakukan oleh Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD). meneliti kelengkapan perintah pembayaran yang diterbitkan oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran. b. pagu dana Pemindahbukuan tersebut cadangan yang akan digunakan untuk mendanai pelaksanaan kegiatan dalam tahun anggaran berkenaan sesuai dengan yang ditetapkan dalam peraturan daerah tentang pembentukan dana Pusdiklatwas BPKP – 2007 55 . Semua penerimaan dan pengeluaraan pembiayaan daerah dilakukan melalui Rekening Kas Umum Daerah. pemindahbukuan dari rekening dana cadangan ke Rekening Kas Umum Daerah dilakukan berdasarkan rencana pelaksanaan kegiatan. 3. setelah jumlah dana cadangan yang ditetapkan berdasarkan peraturan daerah tentang pembentukan dana cadangan paling yang tinggi berkenaan sejumlah mencukupi. menguji kebenaran perhitungan tagihan yang tercantum dalam perintah pembayaran.

Sistem Administrasi Keuangan Daerah I

cadangan. Pemindahbukuan dari rekening dana cadangan ke rekening kas umum daerah tersebut dilakukan dengan surat perintah pemindahbukuan oleh kuasa BUD atas persetujuan PPKD. Penjualan kekayaan milik daerah yang dipisahkan dilakukan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. Pencatatan penerimaan atas penjualan kekayaan daerah didasarkan pada bukti penerimaan yang sah. Penerimaan pinjaman daerah didasarkan pada jumlah pinjaman yang akan diterima dalam tahun anggaran yang bersangkutan sesuai dengan yang ditetapkan dalam perjanjian pinjaman berkenaan. Penerimaan pinjaman dalam bentuk mata uang asing dibukukan dalam nilai rupiah. Penerimaan kembali pemberian pinjaman daerah didasarkan pada perjanjian pemberian pinjaman daerah sebelumnya, untuk kesesuaian pengembalian pokok pinjaman dan kewajiban lainnya yang menjadi tanggungan pihak peminjam. Pelaksanaan pengeluaran pembiayaan mencakup pelaksanaan

pembentukan dana cadangan, penyertaan modal, pembayaran pokok utang, dan pemberian pinjaman daerah. Jumlah pendapatan daerah yang disisihkan untuk pembentukan dana cadangan dalam tahun anggaran bersangkutan sesuai dengan jumlah yang ditetapkan dalam peraturan daerah. Pemindahbukuan jumlah pendapatan daerah yang disisihkan yang ditransfer dari rekening kas umum daerah ke rekening dana cadangan dilakukan dengan surat perintah pemindahbukuan oleh kuasa BUD atas persetujuan PPKD. Penyertaan modal pemerintah daerah dapat dilaksanakan apabila jumlah yang akan disertakan dalam tahun anggaran berkenaan telah ditetapkan dalam peraturan daerah tentang penyertaan modal daerah berkenaan.

Pusdiklatwas BPKP – 2007

56

Sistem Administrasi Keuangan Daerah I

Pembayaran pokok utang didasarkan pada jumlah yang harus dibayarkan sesuai dengan perjanjian pinjaman dan pelaksanaannya merupakan prioritas utama dari seluruh kewajiban pemerintah daerah yang harus diselesaikan dalam tahun anggaran yang berkenaan. Pemberian pinjaman daerah kepada pihak lain berdasarkan

keputusan kepala daerah atas persetujuan DPRD. Pelaksanaan pengeluaran pembiayaan penyertaan modal pemerintah daerah, pembayaran pokok utang dan pemberian pinjaman daerah tersebut dilakukan berdasarkan SPM yang diterbitkan oleh PPKD. Dalam rangka pelaksanaan pengeluaran pembiayaan, kuasa BUD berkewajiban untuk: a. meneliti kelengkapan perintah pembayaran/pemindah bukuan yang diterbitkan oleh PPKD; b. menguji kebenaran perhitungan pengeluaran pembiayaan yang tercantum dalam perintah pembayaran; c. menguji ketersediaan dana yang bersangkutan; d. menolak pencairan dana, apabila perintah pembayaran atas pengeluaran pembiayaan tidak memenuhi persyaratan yang ditetapkan. B. PENATAUSAHAAN KEUANGAN DAERAH Pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran, bendahara penerimaan, bendahara pengeluaran dan orang atau badan yang menerima atau menguasai uang/barang/kekayaan daerah wajib menyelenggarakan

penatausahaan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pejabat yang menandatangani dan/atau mengesahkan dokumen yang berkaitan dengan surat bukti yang menjadi dasar penerimaan dan/atau pengeluaran

Pusdiklatwas BPKP – 2007

57

Sistem Administrasi Keuangan Daerah I

atas pelaksanaan APBD bertanggung jawab terhadap kebenaran material dan akibat yang timbul dari penggunaan surat bukti dimaksud. 1. Penatausahaan Penerimaan Penerimaan daerah disetor ke rekening kas umum daerah pada bank pemerintah yang ditunjuk dan dianggap sah setelah kuasa BUD menerima nota kredit. Penerimaan daerah yang disetor tersebut dilakukan dengan cara: a. disetor langsung ke bank oleh pihak ketiga; b. disetor melalui bank lain, badan, lembaga keuangan dan/atau kantor pos oleh pihak ketiga; dan disetor melalui bendahara penerimaan oleh pihak ketiga. Bendahara penerimaan wajib menyelenggarakan penatausahaan terhadap seluruh penerimaan dan penyetoran atas penerimaan yang menjadi tanggung jawabnya. Bendahara penerimaan pada SKPD wajib mempertanggungjawabkan uang yang menjadi secara tanggung administratif jawabnya atas dengan

pengelolaan

menyampaikan laporan pertanggungjawaban penerimaan kepada pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran melalui PPK-SKPD paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya. Disamping

pertanggungjawaban secara administratif, Bendahara penerimaan pada SKPD wajib mempertanggung jawabkan secara fungsional atas pengelolaan uang yang menjadi tanggung jawabnya dengan

menyampaikan laporan pertanggungjawaban penerimaan kepada PPKD selaku BUD paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya. Selanjutnya PPKD selaku BUD melakukan verifikasi, evaluasi dan analisis atas laporan pertanggungjawaban bendahara penerimaan pada SKPD.

Pusdiklatwas BPKP – 2007

58

PPKD dalam rangka manajemen kas menerbitkan Surat Penyediaan Dana (SPD). Anggaran kas tersebut memuat perkiraan arus kas masuk yang bersumber dari penerimaan dan perkiraan arus kas keluar yang digunakan guna mendanai pelaksanaan kegiatan dalam setiap periode. Penatausahaan Pengeluaran Kepala SKPD berdasarkan rancangan DPA-SKPD menyusun rancangan anggaran kas SKPD. PPKD selaku BUD menyusun anggaran kas pemerintah daerah guna mengatur ketersediaan dana yang cukup untuk mendanai pengeluaran-pengeluaran sesuai dengan rencana penarikan dana yang tercantum dalam DPA-SKPD yang telah disahkan. Penyediaan Dana Setelah penetapan anggaran kas. Permintaan Pembayaran Berdasarkan SPD. Rancangan anggaran kas SKPD tersebut disampaikan kepada PPKD selaku BUD bersamaan dengan rancangan DPA-SKPD. Permintaan pembayaran hanya dapat dilaksanakan. bendahara pengeluaran mengajukan Surat Permintaan Pembayaran (SPP) kepada pengguna anggaran/ kuasa pengguna anggaran melalui Pejabat Pengelola Keuangan SKPD (PPK-SKPD). b. SPD atau dokumen lain yang dipersamakan dengan SPD merupakan dasar pengeluaran kas atas beban APBD. Pembahasan rancangan anggaran kas SKPD dilaksanakan bersamaan dengan pembahasan DPA-SKPD. Pusdiklatwas BPKP – 2007 59 . Setelah DPA-SKPD ditetapkan. jika SPD telah diterbitkan. Ada 4 jenis SPP yaitu: 1) Surat Permintaan Pembayaran Uang Persediaan (SPP-UP). a.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I 2.

Penerbitan dan pengajuan dokumen SPP-LS untuk pembayaran gaji dan tunjangan serta penghasilan lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan guna dilakukan oleh bendahara pengguna PPK-SKPD. Selanjutnya. Pengajuan dokumen SPP-UP. Sedangkan dilakukan penerbitan oleh dan pengajuan pengeluaran dokumen untuk SPP-TU bendahara memperoleh persetujuan dari pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran melalui PPK-SKPD dalam rangka tambahan uang persediaan. Bendahara Pusdiklatwas BPKP – 2007 60 .Sistem Administrasi Keuangan Daerah I 2) Surat Permintaan Pembayaran Ganti Uang Persediaan (SPPGU). pengeluaran anggaran/kuasa memperoleh persetujuan melalui pengguna anggaran Prosedur pengajuan dan penerbitan SPM-LS dimulai dengan penyiapan dokumen SPP-LS untuk pengadaan barang dan jasa oleh Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) untuk disampaikan kepada bendahara pengeluaran dalam rangka pengajuan permintaan pembayaran. Penerbitan dan pengajuan dokumen SPP-UP dilakukan oleh bendahara pengeluaran untuk memperoleh persetujuan dari pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran melalui PPKSKPD dalam rangka pengisian uang persediaan. Penerbitan dan pengajuan dokumen SPP-GU dilakukan untuk memperoleh persetujuan dari pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran melalui PPK-SKPD dalam rangka mengganti uang persediaan. 3) Surat Permintaan Pembayaran Tambahan Uang Persediaan (SPP TU). SPP-GU dan SPP-TU tersebut digunakan dalam rangka pelaksanaan pengeluaran SKPD yang harus dipertanggungjawabkan. 4) Surat Permintaan Pembayaran Langsung (SPP-LS).

pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran menerbitkan Surat Perintah Membayar (SPM). pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran dilarang menerbitkan SPM yang membebani tahun anggaran berkenaan. c. Pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran meneliti kelengkapan dokumen SPP-UP. Penolakan penerbitan SPM paling lama 1 (satu) hari kerja terhitung sejak diterimanya pengajuan SPP. pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran harus menyatakan apakan dokumen SPP telah lengkap dan sah. Pencairan Dana Kuasa BUD meneliti kelengkapan dokumen SPM yang diajukan oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran agar Pusdiklatwas BPKP – 2007 61 . SPP-GU. Dalam hal dokumen SPP dinyatakan lengkap dan sah. SPM yang telah diterbitkan diajukan kepada kuasa BUD untuk penerbitan SP2D. Jika dokumen SPP dinyatakan tidak lengkap dan/atau tidak sah. pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran menolak menerbitkan SPM. SPP-TU. Penerbitan SPM paling lama 2 (dua) hari kerja terhitung sejak diterimanya dokumen SPP.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I pengeluaran mengajukan SPP-LS kepada pengguna anggaran setelah ditandatangani oleh PPTK guna memperoleh persetujuan pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran melalui PPKSKPD. dan SPP-LS yang diajukan oleh bendahara pengeluaran sebelum menerbitkan Surat Perintah Pembayaran (SPP). Setelah tahun anggaran berakhir. Perintah Membayar Setelah meneliti SPP. d.

Hal ini dilaksanakan dengan menutup Buku Kas Umum setiap bulan dengan sepengetahuan dan persetujuan pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran. Kuasa BUD menyerahkan SP2D yang diterbitkan kepada pihak ketiga. kuasa BUD menolak menerbitkan SP2D. e. Jika dokumen SPM dinyatakan tidak lengkap. Dalam hal laporan pertanggungjawaban telah sesuai. Kuasa BUD menyerahkan SP2D yang diterbitkan untuk keperluan uang persediaan/ganti kepada uang persediaan/tambahan anggaran/kuasa uang persediaan pengguna pengguna anggaran. pengguna anggaran menerbitkan surat pengesahan laporan pertanggungjawaban. Penolakan penerbitan SP2D paling lama 1 (satu) hari kerja terhitung sejak diterimanya pengajuan SPM. pertanggungjawaban pengeluaran Pusdiklatwas BPKP – 2007 62 .Sistem Administrasi Keuangan Daerah I pengeluaran yang diajukan tidak melampaui pagu dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam peraturan perundangundangan. Sedangkan untuk pembayaran langsung. Pertanggungjawaban Penggunaan Dana Bendahara pengeluaran secara administratif wajib mempertanggung jawabkan penggunaan uang persediaan/ganti uang persediaan/tambah uang persediaan kepada kepala SKPD melalui PPK-SKPD paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya. kuasa BUD menerbitkan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D). Untuk tertib laporan pertanggungjawaban pada akhir tahun anggaran. Selanjutnya Bendahara Pengeluaran menyusun laporan pertanggungjawaban penggunaan uang persediaan. Jika dokumen SPM dinyatakan lengkap. Penerbitan SP2D paling lama 2 (dua) hari kerja terhitung sejak diterimanya pengajuan SPM.

Bendahara Pengeluaran pada SKPD juga wajib mempertanggungjawabkan secara fungsional atas pengelolaan uang yang menjadi tanggung jawabnya dengan menyampaikan laporan pertanggungjawaban pengeluaran kepada PPKD selaku BUD paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I dana bulan Desember disampaikan paling lambat tanggal 31 Desember. Pemerintah daerah menyusun sistem akuntansi pemerintah daerah yang mengacu kepada standar akuntansi pemerintahan. Penyampaian pertanggungjawaban tersebut dilaksanakan setelah diterbitkan surat pengesahan pertanggungjawaban pengeluaran oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran. Sistem akuntansi pemerintahan daerah meliputi serangkaian prosedur mulai dari proses pengumpulan data. AKUNTANSI KEUANGAN DAERAH Untuk melakukan penyusunan laporan keuangan. Disamping pertanggungjawaban secara administratif. Proses tersebut didokumentasikan dalam bentuk buku jurnal dan buku besar. Sistem akuntansi pemerintahan daerah sekurang-kurangnya meliputi: 1. dan apabila diperlukan ditambah dengan buku besar pembantu. pencatatan. Sistem akuntansi pemerintah daerah dilaksanakan oleh Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah (SKPKD) sebagai entitas pelaporan dan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) sebagai entitas akuntansi. pengikhtisaran. prosedur akuntansi penerimaan kas. Pusdiklatwas BPKP – 2007 63 . C. sampai dengan pelaporan APBD keuangan yang dalam rangka pertanggungjawaban secara manual atau pelaksanaan dapat dilakukan menggunakan aplikasi komputer.

prosedur akuntansi pengeluaran kas. Dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. 4. 4. PPK-SKPD mengkoordinasikan pelaksanaan sistem dan prosedur penatausahaan bendahara penerimaan dan bendahara pengeluaran. 2. laporan arus kas. 2. neraca. 3. laporan realisasi anggaran. entitas pelaporan menyusun laporan keuangan yang meliputi: 1. 3. dan catatan atas laporan keuangan. neraca. Sistem akuntansi pemerintahan daerah dilaksanakan oleh PPKD. laporan realisasi anggaran.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I 2. Dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. dan catatan atas laporan keuangan. Pusdiklatwas BPKP – 2007 64 . prosedur akuntansi aset tetap/barang milik daerah. Sistem akuntansi SKPD dilaksanakan oleh PPKSKPD. entitas akuntansi menyusun laporan keuangan yang meliputi: 1. dan prosedur akuntansi selain kas. 3. Sistem akuntansi pemerintahan daerah disusun dengan berpedoman pada prinsip pengendalian intern sesuai dengan peraturan pemerintah yang mengatur tentang pengendalian internal dan peraturan pemerintah tentang standar akuntansi pemerintahan.

Laporan disiapkan oleh PPK-SKPD dan disampaikan kepada pejabat pengguna anggaran untuk ditetapkan sebagai laporan realisasi semester pertama anggaran pendapatan dan belanja SKPD serta prognosis untuk 6 (enam) bulan berikutnya paling lama 7 (tujuh) hari kerja setelah semester pertama tahun anggaran berkenaan berakhir. Laporan tersebut disertai dengan prognosis untuk 6 (enam) bulan berikutnya. Selanjutnya PPKD menyusun laporan realisasi semester seluruh pertama APBD dengan cara menggabungkan laporan realisasi semester pertama anggaran pendapatan dan belanja SKPD paling lambat minggu kedua bulan Juli dan disampaikan kepada sekretaris daerah.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I D. Pejabat pengguna anggaran menyampaikan laporan tersebut kepada PPKD sebagai dasar penyusunan laporan realisasi semester pertama APBD paling lama 10 (sepuluh) hari kerja setelah semester pertama tahun anggaran berkenaan berakhir. Selanjutnya laporan realisasi semester pertama APBD dan prognosis untuk 6 (enam) bulan berikutnya disampaikan kepada DPRD paling lambat akhir bulan. Laporan realisasi semester pertama APBD dan prognosis untuk 6 (enam) bulan berikutnya disampaikan kepada kepala daerah paling lambat minggu ketiga bulan Juli tahun anggaran berkenaan untuk ditetapkan sebagai laporan realisasi semester pertama APBD dan prognosis untuk 6 (enam) bulan berikutnya. PELAPORAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN PELAKSANAAN APBD 1. Laporan Realisasi Semester Pertama Anggaran Pendapatan dan Belanja Kepala SKPD menyusun laporan realisasi semester pertama anggaran pendapatan dan belanja SKPD sebagai hasil pelaksanaan anggaran yang menjadi tanggung jawabnya. Pusdiklatwas BPKP – 2007 65 .

Laporan keuangan SKPD tersebut terdiri dari: laporan realisasi anggaran. Laporan keuangan tersebut terdiri dari: laporan realisasi anggaran. neraca. dan catatan atas laporan keuangan. Laporan keuangan SKPD dilampiri dengan surat pernyataan kepala SKPD bahwa pengelolaan APBD yang menjadi tanggung jawabnya telah diselenggarakan berdasarkan sistem pengendalian intern yang memadai dan standar akuntansi pemerintahan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Laporan keuangan pemerintah daerah disampaikan kepada kepala daerah melalui sekretaris daerah dalam rangka memenuhi pertanggungjawaban pelaksanaan APBD.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I 2. Laporan Tahunan PPK-SKPD menyiapkan laporan keuangan SKPD tahun anggaran berkenaan dan disampaikan kepada kepala SKPD untuk ditetapkan sebagai laporan pertanggungjawaban pelaksanaan anggaran SKPD. Pusdiklatwas BPKP – 2007 66 . Laporan keuangan tersebut disusun oleh pejabat pengguna anggaran sebagai hasil pelaksanaan anggaran yang berada di SKPD yang menjadi tanggung jawabnya. laporan arus kas. Laporan keuangan pemerintah daerah dilampiri dengan surat pernyataan kepala daerah yang menyatakan pengelolaan APBD yang menjadi tanggung jawabnya telah diselenggarakan berdasarkan sistem pengendalian intern yang memadai. dan catatan atas laporan keuangan. PPKD menyusun laporan keuangan pemerintah daerah dengan cara menggabungkan laporan-laporan keuangan SKPD paling lambat 3 (tiga) bulan setelah berakhirnya tahun anggaran berkenaan. Laporan keuangan tersebut disampaikan kepada PPKD sebagai dasar penyusunan laporan keuangan pemerintah daerah. Laporan keuangan SKPD disampaikan kepada kepala daerah melalui PPKD paling lambat 2 (dua) bulan setelah tahun anggaran berakhir. sesuai dengan peraturan perundangundangan. neraca.

4. Persetujuan bersama terhadap rancangan peraturan daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD oleh DPRD paling lama 1 (satu) bulan terhitung sejak rancangan peraturan daerah diterima. Evaluasi Rancangan Peraturan Daerah tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD dan Peraturan Kepala Daerah tentang Penjabaran Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD Rancangan peraturan daerah provinsi tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD yang telah disetujui bersama DPRD dan rancangan peraturan gubernur tentang penjabaran pertanggungjawaban pelaksanaan APBD sebelum ditetapkan oleh gubernur paling lama 3 (tiga) hari kerja disampaikan terlebih dahulu kepada Menteri Dalam Negeri untuk dievaluasi. 3. neraca. Hasil evaluasi Pusdiklatwas BPKP – 2007 67 . Kepala daerah memberikan tanggapan dan melakukan penyesuaian terhadap laporan keuangan pemerintah daerah berdasarkan hasil pemeriksaan BPK. Penetapan Raperda Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD Kepala daerah menyampaikan rancangan peraturan daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD kepada DPRD paling lambat 6 (enam) bulan setelah tahun anggaran berakhir. laporan arus kas. Setelah disampaikan laporan hasil audit. catatan atas laporan keuangan. serta dilampiri dengan laporan kinerja yang telah diperiksa BPK dan ikhtisar laporan keuangan badan usaha milik daerah/perusahaan daerah.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I Laporan keuangan disampaikan oleh kepala daerah kepada Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk dilakukan pemeriksaan paling lambat 3 (tiga) bulan setelah tahun anggaran berakhir. Rancangan peraturan daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD memuat laporan keuangan yang meliputi laporan realisasi anggaran.

Rancangan peraturan daerah kabupaten/kota APBD yang telah tentang disetujui pertanggungjawaban pelaksanaan bersama DPRD dan rancangan peraturan bupati/walikota tentang penjabaran pertanggungjawaban pelaksanaan APBD sebelum ditetapkan oleh bupati/walikota paling lama 3 (tiga) hari kerja disampaikan kepada gubernur untuk dievaluasi.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I disampaikan oleh Menteri Dalam Negeri kepada Gubernur paling lama 15 (lima belas) hari kerja terhitung sejak diterimanya rancangan dimaksud. Apabila gubernur menyatakan hasil evaluasi rancangan peraturan daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan tentang APBD dan rancangan peraturan bupati/walikota penjabaran pertanggungjawaban pelaksanaan APBD sudah sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Pusdiklatwas BPKP – 2007 68 . bupati/walikota menetapkan rancangan dimaksud menjadi peraturan daerah dan peraturan bupati/walikota. Hasil evaluasi disampaikan oleh gubernur kepada bupati/walikota paling lama 15 (lima belas) hari kerja terhitung sejak diterimanya rancangan peraturan daerah kabupaten/kota dan rancangan peraturan bupati/walikota tentang penjabaran pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. Apabila Menteri Dalam Negeri menyatakan hasil evaluasi rancangan peraturan daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD dan rancangan peraturan gubernur tentang penjabaran pertanggungjawaban pelaksanaan APBD sudah sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. gubernur menetapkan rancangan peraturan daerah dan rancangan peraturan gubernur menjadi peraturan daerah dan peraturan gubernur.

d. LATIHAN 1. Jumlah anggaran belanja daerah merupakan: a. 7 (tujuh) hari kerja. 2. Pusdiklatwas BPKP – 2007 69 . Sekretaris Daerah. Rencana nilai kontrak pengadaan barang / jasa. DPRD. b. 1 (satu) hari kerja.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I E. b. Plafon realisasi belanja. Penerimaan SKPD berupa uang atau cek harus disetor ke rekening kas umum daerah oleh Bendahara Penerimaan paling lama: a. d. 3 (tiga) hari kerja. Prakiraan realisasi belanja. 3. Pelaksanaan Anggaran oleh Kepala SKPD dilaksanakan setelah Dokumen Pelaksanaan Anggaran SKPD (DPA-SKPD) ditetapkan oleh PPKD dengan persetujuan: a. 5 (lima) hari kerja. Rencana nilai fisik kegiatan. c. c. Kepala Daerah. c. b. Tim Anggaran Pemerintah Daerah. d.

d. Neraca. Kuasa Pengguna Anggaran. LRA. Laporan Semesteran dan Tahunan Pelaksanaan APBD. LAK dan Catatan atas Laporan Keuangan. 5. d. Neraca. entitas akuntansi menyusun laporan keuangan yang meliputi : a. Kuasa Bendahara Umum Daerah. c. LRA. Laporan Perhitungan Anggaran dan Nota Keuangan.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I 4. dan Catatan atas Laporan Keuangan. b. Dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. Bendahara Pengeluaran. Pusdiklatwas BPKP – 2007 70 . c. Penerbitan SPM atas SPP yang telah lengkap dan sah dilakukan oleh: a. Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan. b.

Bab XI Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I BAB VI TUNTUTAN PERBENDAHARAAN DAN TUNTUTAN GANTI RUGI Setelah mempelajari bab ini diharapkan peserta diklat mampu menjelaskan pengertian Tuntutan Perbendaharaan dan Tuntutan Ganti Rugi serta mampu menerapkan dalam pelaksanaan tugas pengawasan. Setiap kerugian negara/daerah yang disebabkan oleh tindakan melanggar hukum atau kelalaian seseorang harus segera diselesaikan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Bendahara. serta dalam Bab V UndangUndang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. wajib menggantikan kerugian tersebut. UMUM Ketentuan mengenai penyelesaian maupun pengenaan ganti kerugian negara/daerah diatur dalam Bab IX Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2004 tentang Keuangan Negara. c. 1. A. Setiap pimpinan kementrian negara/lembaga/kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dapat segera melakukan tuntutan ganti rugi setelah mengetahui bahwa dalam kementrian Pusdiklatwas BPKP – 2007 71 . b. pegawai negeri bukan bendahara. atau pejabat lain yang karena perbuatannya melanggar hukum atau melalaikan kewajiban yang dibebankan kepadanya secara langsung merugikan negara. Penyelesaian Kerugian Daerah Penyelesaian kerugian daerah adalah sebagai berikut : a.

Pengenaan ganti kerugian daerah terhadap bendahara ditetapkan oleh BPK. atau pejabat lain yang telah ditetapkan untuk mengganti kerugian negara/daerah Pusdiklatwas BPKP – 2007 72 . Bendahara. f. Tatacara tuntutan ganti kerugian negara/daerah diatur dengan peraturan pemerintah. d. i. Setiap kerugian daerah wajib dilaporkan oleh atasan langsung atau oleh kepala SKPD kepada gubernur/bupati/walikota dan diberitahukan kepada BPK selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kerja setelah kerugian daerah itu diketahui. Pengenaan ganti kerugian negara/daerah terhadap pegawai negeri bukan bendahara. pegawai negeri bukan bendahara. Apabila dalam pemeriksaan kerugian daerah ditemukan unsur pidana. e.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I negara/lembaga/SKPD yang bersangkutan terjadi kerugian akibat perbuatan dari pihak manapun. atau pejabat lain ditetapkan oleh menteri/pimpinan lembaga/gubernur/bupati/walikota. maka gubernur/bupati/walikota yang bersangkutan segera mengeluarkan surat keputusan pembebanan penggantian kerugian sementara kepada yang bersangkutan. Jika surat keterangan tanggung jawab mutlak (SKTJM) tidak mungkin diperoleh atau tidak dapat menjamin pengembalian kerugian daerah. atau pejabat lain yang nyatanyata melanggar hukum dapat segera dimintakan surat pernyataan kesanggupan dan/atau pengakuan bahwa kerugian tersebut menjadi tanggung jawabnya dan bersedia mengganti kerugian daerah dimaksud. h. Segera setelah kerugian daerah diketahui. pegawai negeri bukan bendahara. maka BPK menindaklanjutinya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. g. kepada bendahara.

BPK menerbitkan surat keputusan penetapan batas waktu pertanggungjawaban bendahara atas kekurangan kas/barang yang terjadi. Gubernur/bupati/walikota melaporkan penyelesaian kerugian daerah kepada BPK selambat-lambatnya 60 (enam puluh) hari setelah diketahuinya kerugian daerah dimaksud. dicegah Pusdiklatwas BPKP – 2007 73 . sehingga dapat diantisipasi terjadinya kerugian daerah. b. Apabila bendahara tidak mengajukan keberatan atau pembelaan ditolak. daerah kepada bendahara d. Tatacara tuntutan ganti kerugian negara/daerah maupun pengenaan ganti kerugian negara/daerah terhadap pegawai negeri bukan bendahara. Putusan pidana tidak membebaskan dari tuntutan ganti rugi. Ketentuan tersebut diharapkan dapat digunakan oleh pihakpihak yang terkait dalam menangani dan menyelesaikan kerugian negara/daerah yang semakin hari semakin bertambah besar. Bendahara dapat mengajukan keberatan atau pembelaan diri kepada BPK dalam waktu 14 (empat belas) hari kerja setelah menerima surat keputusan tersebut di atas. atau pejabat lain diatur dengan peraturan pemerintah yang merupakan petunjuk pelaksanaan ketiga paket undang-undang di atas. BPK menetapkan kerugian surat keputusan pembebanan yang penggantian bersangkutan. c.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I dapat dikenakan sanksi administratif dan/atau sanksi pidana. setelah mengetahui ada kekurangan kas/barang dalam persediaan yang merugikan keuangan daerah. 2. Pengenaan Ganti Kerugian Negara/Daerah Pengenaan ganti kerugian daerah terhadap bendahara adalah sebagai berikut : a.

Perlu dikemukakan di sini. sambil menunggu terbitnya peraturan pemerintah sebagai petunjuk pelaksanaan ketiga ketentuan di atas. kelalaian seseorang dan atau disebabkan oleh majeure)”. serta dipercepat proses pemulihan kerugian daerah maupun diperkecil terjadinya kerugian daerah. penyalahgunaan wewenang/kesempatan atau sarana yang ada pada seseorang karena jabatan atau kedudukan. 2. 5 Tahun 1997 tentang Tuntutan Ganti Rugi dan Tuntutan Perbendaharaan Keuangan dan Barang Daerah. DASAR-DASAR PENGERTIAN YANG DIGUNAKAN 1. keadaan di luar kemampuan manusia (force Pusdiklatwas BPKP – 2007 74 . Pengertian Merugikan Merugikan dapat diartikan sebagai suatu perbuatan yang bertentangan dengan norma-norma yang harus dilaksanakan dalam pergaulan masyarakat dan bernegara. B. BPK memantau penyelesaian pengenaan ganti kerugian daerah terhadap pegawai negeri bukan bendahara dan/atau pejabat lain pada kementerian/lembaga/pemerintah daerah. dalam modul ini (subbab C sampai dengan sub bab M) masih digunakan ketentuan lama yaitu Peraturan Menteri Dalam Negeri No. Pengertian Kerugian Daerah Pengertian kerugian negara/daerah berdasarkan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi adalah “berkurangnya kekayaan negara/daerah yang disebabkan oleh suatu tindakan melawan hukum. terhadap pribadi atau badan dan harta benda orang lain.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I penyelesaian kerugian daerah yang berlarut-larut.

b) Tidak melakukan pencatatan atas penerimaan/pengeluaran uang/barang.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I 3. b) Penyalahgunaan wewenang dan jabatan. 2) Pegawai negeri bukan bendahara yang melakukan perbuatan : a) Korupsi. Ditinjau dari pelakunya 1) Bendahara. menghilangkan barang inventaris milik daerah. penodongan. j) Tidak melakukan tugas yang menjadi tanggung jawabnya (wajib pungut pajak). penyelewengan. Pusdiklatwas BPKP – 2007 75 . d) Tidak membuat pertanggungjawaban keuangan/ pengurusan barang. f) Korupsi. perampokan dan/atau kolusi. penggelapan. d) Merusak. yang melakukan perbuatan : a) Tidak melakukan pencatatan dan penyetoran atas penerimaan uang/barang. penyelewengan. i) Penyalahgunaan wewenang/jabatan. h) Pertanggungjawaban atau laporan yang tidak sesuai dengan kenyataan. c) Membayar/memberi/mengeluarkan uang/barang kepada pihak yang tidak berhak dan/atau secara tidak sah. g) Kecurian. e) Menerima dan menyimpan uang palsu. Sifat dan Bentuk Kerugian Daerah a. penggelapan. c) Pencurian dan penipuan.

tanah longsor. kealpaan.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I e) Menaikkan harga. f) Meninggalkan tugas dan atau pekerjaan setelah selesai melaksanakan tugas belajar. kesalahan. menyusut. c) Penipuan. c) Di luar kemampuan si pelaku. penggelapan dan perbuatan lainnya yang secara langsung atau tidak langsung menimbulkan kerugian bagi daerah. Pusdiklatwas BPKP – 2007 76 . b) Proses alamiah seperti membusuk. menguraikan dan dimakan rayap. 2) Karena kejadian alam : a) Bencana alam seperti gempa bumi. mencair. banjir dan kebakaran. 3) Pihak ketiga. g) Meninggalkan tugas belajar sebelum selesai batas waktu yang telah ditentukan. b. karena melakukan perbuatan : a) Tidak menepati janji/kontrak (wanprestasi). menguap. b) Pengiriman barang yang mengalami kerusakan karena kesalahannya. b) Kelalaian. merubah kualitas/mutu. Ditinjau dari sebabnya 1) Perbuatan manusia yang disebabkan karena : a) Kesengajaan.

pegawai negeri bukan bendahara.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I c. atau 2) 8 (delapan) tahun sejak terjadinya kerugian tidak dilakukan penuntutan ganti rugi terhadap yang bersangkutan. Setelah lewat batas-batas waktu daluwarsa tersebut di atas. atau pihak ketiga. Pusdiklatwas BPKP – 2007 77 . maka setiap ada kerugian negara/daerah wajib segera dilakukan pemrosesan tuntutan ganti rugi. Oleh karena itu mengingat batas waktu daluwarsa yang relatif singkat. perlu diperhatikan ketentuan daluwarsa sebagai berikut : 1) 5 (lima) tahun sejak diketahuinya kerugian tersebut. atau pejabat lain yang dikenai tuntutan ganti rugi daerah berada dalam pengampuan. 3) Dalam hal bendahara. Dalam hal tuntutan ganti rugi. penuntutan dan penagihan terhadapnya beralih kepada pengampu/yang memperoleh hak/ahli warisnya. melarikan diri atau meninggal dunia. tidak dapat lagi dilakukan tuntutan ganti rugi. Tanggung jawab pengampu/ahli warisnya untuk membayar ganti rugi daerah menjadi hapus. Ditinjau dari waktu terjadinya kerugian daerah Tinjauan dari waktu di sini dimaksudkan untuk memastikan apakah suatu peristiwa kerugian negara/daerah masih dapat dilakukan penuntutannya atau tidak. pegawai negeri bukan bendahara. atau yang memperoleh hak/ahli waris tidak diberitahu oleh pejabat yang berwenang mengenai adanya kerugian daerah. baik terhadap bendahara. apabila dalam waktu 3 (tiga) tahun sejak keputusan pengadilan yang menetapkan pengampuan.

Melalui Tuntutan Ganti Rugi Penyelesaian kerugian keuangan daerah melalui proses Tuntutan Ganti Rugi dilakukan apabila upaya damai yang dilakukan secara tunai sekaligus atau angsuran tidak berhasil. kepala daerah melakukan eksekusi keputusan dimaksud dan membantu proses pelaksanaan penyelesaiannya. Apabila pembebanan perbendaharaan telah diterbitkan. TATA CARA PENYELESAIAN KERUGIAN KEUANGAN DAERAH 1. Proses penuntutannya menjadi wewenang kepala daerah melalui Majelis Pertimbangan. 3. Melalui Tuntutan Perbendaharaan Penyelesaian kerugian keuangan daerah melalui proses Tuntutan Perbendaharaan dilakukan apabila upaya damai yang dilakukan secara tunai sekaligus atau angsuran tidak berhasil.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I C. Tuntutan Ganti Rugi baru dapat dilakukan apabila: Pusdiklatwas BPKP – 2007 78 . Proses penuntutannya merupakan kewenangan kepala daerah melalui Majelis Pertimbangan Tuntutan Perbendaharaan dan Tuntutan Ganti Rugi Keuangan dan Barang Daerah (Majelis Pertimbangan). Melalui Upaya Damai Penyelesaian kerugian keuangan daerah melalui upaya damai dilakukan apabila penggantian kerugian keuangan daerah dilakukan secara tunai sekaligus dan angsuran dalam jangka waktu selambatlambatnya 2 (dua) tahun dengan menandatangani Surat Keterangan Tanggung jawab Mutlak (SKTJM) 2.

D. b. Apabila pembebanan ganti rugi telah diterbitkan. c. jika dalam pengurusannya terdapat kekurangan perbendaharaan dan kepada bendahara yang bersangkutan diharuskan mengganti kerugian. Adanya perbuatan melanggar hukum. kesalahan atau kelalaian pegawai negeri termasuk melalaikan kewajibannya yang berhubungan dengan pelaksanaan fungsi atau status dalam jabatannya.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I a. menyimpan dan membayar atau menyerahkan uang daerah. Tuntutan ini berlaku untuk bendahara yang dalam hal ini adalah seseorang yang ditugaskan untuk menerima. Melalui Cara Lain Apabila pelaku kerugian daerah ternyata ingkar janji (wanprestasi). serta bertanggung-jawab kepada kepala daerah. TUNTUTAN PERBENDAHARAAN (TP) Tuntutan perbendaharaan adalah suatu tata cara perhitungan terhadap bendahara. Yang merupakan objek dari Pusdiklatwas BPKP – 2007 79 . Pemerintah daerah baik secara langsung maupun tidak langsung telah dirugikan oleh perbuatan melanggar hukum/kelalaian itu. maka daerah dapat melakukan dengan cara tagihan secara paksa melalui Badan/Instansi penagih yang berwenang setelah diputuskan kepala daerah bahwa tagihan akan/telah macet. surat-surat berharga dan barang milik daerah. Kepala Daerah melakukan eksekusi keputusan dimaksud dan membantu proses pelaksanaan penyelesaiannya. Pegawai negeri yang bersangkutan dalam melakukan perbuatan melanggar hukum/kesalahan itu tidak berkedudukan sebagai bendahara. 4.

baik melalui pembayaran sekaligus (tunai) atau angsuran. 3) Pembayaran angsuran yang dilakukan melalui pemotongan gaji/penghasilan harus dilengkapi dengan surat kuasa pemotongan. a. dan surat kuasa untuk menjual. tuntutan perbendaharaan biasa. jaminan barang beserta surat kuasa pemilikan yang sah. yaitu: upaya damai. tuntutan perbendaharaan khusus.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I penuntutan ini adalah adanya kekurangan perbendaharaan yang pada dasarnya merupakan selisih kurang antara saldo buku kas dengan saldo fisik kas. dan pencatatan. Penyelesaian Tuntutan Perbendaharaan Dalam hal ini dapat diselesaikan melalui 4 (empat) cara. Pelaksanaan upaya damai ini dilakukan oleh Badan Pengawas Daerah (Bawasda). maka barang jaminan pembayaran angsuran dapat dijual sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Upaya Damai 1) Penyelesaian tuntutan perbendaharaan sedapat mungkin dilakukan dengan upaya damai oleh bendahara/ahli waris/pengampu. maka dapat dilakukan selambat-lambatnya dalam jangka waktu 2 (dua) tahun sejak ditanda tanganinya SKTJM dan harus disertai jaminan barang yang nilainya cukup. Dalam hal penyelesaian kerugian daerah dilaksanakan melalui cara mengangsur. maka terlebih dahulu harus dibuat Surat Keterangan Tanggung Jawab Mutlak (SKTJM). 1. Pusdiklatwas BPKP – 2007 80 . 2) Apabila pembayaran dilakukan secara angsuran. 4) Apabila bendahara tidak dapat melaksanakan pembayaran angsuran dalam waktu yang ditetapkan dalam SKTJM.

Pusdiklatwas BPKP – 2007 81 . 3) Apabila dalam pemeriksaan oleh bawasda terhadap bendahara terbukti bahwa kekurangan perbendaharaan tersebut dilakukan oleh beberapa pegawai atau atasan langsung. 2) Bendahara bertanggung jawab atas kekurangan perbendaharaan yang terjadi dalam pengurusannya. Sebaliknya apabila terdapat kelebihan dari hasil penjualan barang jaminan. b.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I 5) Apabila terdapat kekurangan dari hasil penjualan barang jaminan seperti yang dimaksud di atas. maka akan dikembalikan kepada bendahara yang bersangkutan. kecuali apabila ia dapat memberikan pembuktian bahwa ia bebas dari kesalahan atau kelalaian atas kekurangan perbendaharaan tersebut. 4) Proses tuntutan perbendaharaan dimulai dengan suatu pemberitahuan tertulis dari kepala daerah kepada pihak yang akan dituntut. urutan inisiatif dan kelalaian atau kesalahannya. 6) Pelaksanaan keputusan tuntutan perbendaharaan (eksekusi) dilakukan oleh majelis pertimbangan. maka kepada yang bersangkutan dikenakan tanggung jawab renteng sesuai dengan bobot keterlibatan dan tanggung jawabnya. maka kekurangan tersebut tetap menjadi kewajiban bendahara yang bersangkutan. dengan menyebutkan : a) Identitas pelaku. Tuntutan Perbendaharaan Biasa 1) Dilakukan atas dasar perhitungan yang diberikan oleh Bendahara yang bersangkutan kepada kepala daerah.

8) Keputusan pembebanan tetap dilaksanakan. bagi bendahara yang telah mengajukan keberatan tertulis akan tetapi kepala daerah salah/lalai tetap dan berpendapat dengan bahwa yang tetap bersangkutan membebankan demikian penggantian kekurangan perbendaharaan kepadanya. Pelaksanaan pemotongan gaji dan penghasilan lainnya dapat dilakukan dengan cara mengangsur dan dilunasi selambat-lambatnya dalam 2 (dua) tahun. d) Tenggang waktu 14 (empat belas) hari yang diberikan untuk mengajukan keberatan/pembelaan diri. dapat mengajukan permohonan banding kepada pejabat yang berwenang selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari setelah diterima surat keputusan pembebanan oleh yang bersangkutan. 7) Keputusan kepala daerah mengenai pembebanan kekurangan perbendaharaan mempunyai kekuatan hukum yang pelaksanaannya dapat dilakukan dengan cara pemotongan gaji dan penghasilan lainnya. Pusdiklatwas BPKP – 2007 82 . 6) Berdasarkan Surat Keputusan Pembebanan Kepala Daerah. c) Sebab-sebab serta alasan penuntutan dilakukan.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I b) Jumlah kekurangan perbendaharaan yang diderita oleh daerah yang harus diganti. maka kepala daerah menetapkan Surat Keputusan Pembebanan. meskipun yang bersangkutan naik banding. 5) Apabila bendahara tidak mengajukan keberatan/pembelaan diri sampai dengan batas waktu yang ditetapkan atau telah mengajukan pembelaan diri tetapi tidak dapat membuktikan bahwa ia bebas sama sekali dari kesalahan/kelalaian.

Pusdiklatwas BPKP – 2007 83 . ahli waris atau pengampunya. kepala daerah menunjuk pegawai (atas saran majelis pertimbangan) yang ditugaskan untuk membuat perhitungan ex-officio. melarikan diri atau berada di bawah pengampuan dan lalai membuat perhitungan setelah ditegur 3 (tiga) kali berturut-turut. Besarnya biaya pembuatan perhitungan ex-officio ditetapkan oleh kepala daerah. Tuntutan Perbendaharaan Khusus 1) Apabila seorang bendahara meninggal dunia. Biaya pembuatan perhitungan ex-officio dibebankan kepada bendahara yang bersangkutan. surat dan barang berharga. keluarga dekat (bagi yang melarikan diri) atau pengampu/kurator (dalam hal bendahara berada di bawah pengampuan). surat-surat bukti maupun buku-buku disimpan/dimasukkan ke dalam lemari besi dan disegel. Tindakan-tindakan di atas harus dituangkan dalam Berita Acara Penyegelan dan disaksikan oleh ahli waris (bagi yang meninggal dunia). maka pada kesempatan pertama atasan langsung atas nama kepala daerah melakukan tindakan pengamanan untuk menjamin kepentingan daerah berupa : a) Buku Kas dan semua buku bendahara diberi garis penutup b) Semua uang.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I 9) Keputusan tingkat banding dari pejabat yang berwenang dapat berupa memperkuat atau membatalkan surat keputusan pembebanan atau merubah besarnya jumlah kerugian yang harus dibayar oleh bendahara. 2) Atas dasar laporan atasan langsung. c.

4) Tata cara Tuntutan Perbendaharaan Khusus yang dipertanggungawabkan terhadap ahli waris (bagi bendahara yang meninggal dunia). kasus yang bersangkutan dikeluarkan dari administrasi pembukuan.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I 3) Hasil perhitungan ex-officio satu eksemplar diberikan kepada pengampu atau ahli waris atau bendahara yang tidak membuat perhitungan dan dalam batas waktu 14 (empat belas) hari diberi kesempatan untuk mengajukan keberatan. Pencatatan 1) Kepala daerah menerbitkan Surat Keputusan Pencatatan jika proses Tuntutan Perbendaharaan belum dapat dilaksanakan karena: a) bendaharawan meninggal dunia tanpa ada ahli waris yang diketahui b) ada ahli waris tetapi tidak dapat dimintakan pertanggungjawabannya c) bendaharawan melarikan diri dan tidak diketahui alamatnya 2) Dengan diterbitkannya Surat Keputusan Pencatatan. keluarga terdekat (bagi bendahara yang melarikan diri). pengampu (bagi bendahara yang di bawah perwalian). atau bendahara yang tidak membuat perhitungan. apabila terjadi kekurangan perbendaharaan mengikuti ketentuan-ketentuan sebagaimana yang berlaku pada Tuntutan Perbendaharaan Biasa. d. 3) Pencatatan yang telah dilakukan sewaktu-waktu dapat ditagih apabila : a) yang bersangkutan diketahui alamatnya Pusdiklatwas BPKP – 2007 84 .

5. Pegawai daerah Pegawai negeri/pegawai daerah yang diperbantukan/dipekerjakan Pegawai perusahaan daerah Pekerja daerah ABRI/purnawirawan ABRI yang dikaryakan/dipekerjakan pada daerah Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam pelaksanaan TGR ini adalah sebagai berikut : 1. dan Pencatatan.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I b) ahli waris dapat dimintakan pertanggungjawabannya c) upaya penyetoran ke kas daerah berhasil ditarik dari kas negara E. Tuntutan Ganti Rugi Biasa. 4. 3. yaitu Upaya Damai. Penyelesaian Tuntutan Ganti Rugi Dalam hal ini dapat diselesaikan melalui 3 (tiga) cara. TUNTUTAN GANTI RUGI (TGR) Tuntutan Ganti Rugi adalah suatu proses tuntutan terhadap pegawai dalam kedudukannya bukan sebagai bendahara. Upaya Damai 1) Penyelesaian kerugian daerah sedapat mungkin dilakukan dengan upaya damai oleh pegawai/ahli waris baik dengan Pusdiklatwas BPKP – 2007 85 . Yang termasuk dalam klasifikasi pegawai disini adalah : 1. a. dengan tujuan menuntut penggantian kerugian disebabkan oleh perbuatannya melanggar hukum dan/atau melalaikan kewajibannya atau tidak melaksanakan kewajibannya sebagaimana mestinya sehingga baik secara langsung maupun tidak langsung daerah menderita kerugian. 2.

6) Pelaksanaan keputusan Tuntutan Ganti Rugi (eksekusi) dilakukan oleh majelis pertimbangan. 2) Dalam keadaan terpaksa yang bersangkutan dapat melakukan dengan cara angsuran selambat-lambatnya selama 2 (dua) tahun sejak ditandatanganinya Surat Keterangan Tanggung Jawab Mutlak (SKTJM) dan harus disertai jaminan barang yang nilainya cukup. maka barang jaminan pembayaran angsuran dapat dijual sesuai dengan ketentuan yang berlaku.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I pembayaran sekaligus (tunai) atau angsuran. 3) Pembayaran angsuran yang dilakukan melalui pemotongan gaji/penghasilan harus dilengkapi dengan surat kuasa pemotongan. jaminan barang beserta surat kuasa pemilikan yang sah. b. 5) Apabila terdapat kekurangan dari hasil penjualan barang jaminan seperti yang dimaksud di atas. Sebaliknya apabila terdapat kelebihan dari hasil penjualan barang jaminan. Tuntutan Ganti Rugi Biasa 1) Kerugian daerah yang dituntut dengan TGR adalah diakibatkan oleh perbuatan melanggar hukum atau perbuatan melalaikan kewajiban atau tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana mestinya yang dipersalahkan kepadanya. serta ada Pusdiklatwas BPKP – 2007 86 . maka kekurangan tersebut tetap menjadi kewajiban pegawai yang bersangkutan. Pelaksanaan upaya damai ini dilakukan oleh Badan Pengawas Daerah. maka akan dikembalikan kepada pegawai yang bersangkutan. dan surat kuasa untuk menjual 4) Apabila pegawai tidak dapat melaksanakan pembayaran angsuran dalam waktu yang ditetapkan dalam SKTJM.

apabila merugikan daerah wajib dikenakan TGR. 4) Pelaksanaan TGR sebagai akibat perbuatan melanggar hukum atau melalaikan kewajiban yang dipersalahkan kepadanya dan/atau tidak menjalankan kewajiban sebagaimana mestinya diserahkan Pertimbangan. 5) Proses Tuntutan Ganti Rugi dimulai dengan suatu penyelesaiannya melalui Tim Majelis pemberitahuan tertulis dari kepala daerah kepada pegawai negeri yang bersangkutan. 2) TGR dilakukan atas dasar pada kenyataan yang sebenarnya dari hasil pengumpulan bahan-bahan bukti dan penelitian inspektorat terhadap pegawai yang bersangkutan. dengan menyebutkan : a) Identitas pelaku b) Jumlah kerugian yang diderita daerah yang harus diganti c) Sebab-sebab serta alasan penuntutan dilakukan d) Tenggang waktu yang diberikan untuk mengajukan pembelaan diri selama 14 (empat belas) hari.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I hubungannya dengan pelaksanaan fungsi ataupun dengan status jabatannya baik langsung maupun tidak langsung. terhitung sejak diterimanya pemberitahuan oleh pegawai yang bersangkutan. 6) Apabila pegawai yang diharuskan mengganti kerugian dalam waktu 14 (empat belas) diri atau hari atau tidak telah mengajukan mengajukan keberatan/pembelaan pembelaan diri tetapi tidak dapat membebaskannya sama Pusdiklatwas BPKP – 2007 87 . 3) Semua pegawai daerah bukan bendahara atau ahli warisnya.

Pusdiklatwas BPKP – 2007 88 . memberi izin untuk mengangsur dan melunasinya selambat-lambatnya selama 2 (dua) tahun.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I sekali dari kesalahan/kelalaian. 8) Keputusan Pembebanan Ganti Rugi tersebut pelaksanaannya dapat dilakukan dengan cara memotong gaji dan penghasilan lainnya yang bersangkutan. kepala daerah melaksanakan penagihan atas pembayaran ganti rugi kepada yang bersangkutan. dalam pencatatan wajib dikenakan TGR berdasarkan keputusan kepala daerah tentang pencatatan TGR setelah mendapat pertimbangan majelis. c. 9) Permohonan banding kepada pejabat yang berwenang dapat diajukan selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari setelah diterima surat keputusan pembebanan oleh yang bersangkutan. dan apabila dianggap perlu dapat meminta bantuan kepada yang berwajib untuk dilakukan penagihan dengan paksa. Pencatatan 1) Pegawai negeri yang meninggal dunia tanpa ahli waris atau melarikan diri tidak diketahui alamatnya. kepala daerah menerbitkan surat keputusan tentang peninjauan kembali. atau menambah/mengurangi besarnya jumlah kerugian yang harus dibayar oleh yang bersangkutan. 10) Keputusan tingkat banding dari pejabat yang berwenang dapat berupa memperkuat atau membatalkan surat keputusan pembebanan. 11) Apabila permohonan banding diterima. 7) Berdasarkan surat keputusan pembebanan. kepala daerah menetapkan Surat Keputusan Pembebanan.

Pusdiklatwas BPKP – 2007 89 . 4) Pencatatan yang telah dilakukan sewaktu-waktu dapat ditagih apabila yang bersangkutan diketahui alamatnya d. TGR tetap dilakukan terhadap ahli warisnya yang dengan memperhatikan dari perbuatan harta yang peninggalan dihasilkan menyebabkan kerugian daerah tersebut. 4) Nilai taksiran jumlah harga benda yang akan diganti rugi dalam bentuk uang maupun barang ditetapkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 3) Penggantian kerugian dalam bentuk uang dapat dilakukan terhadap barang tidak bergerak atau yang bergerak selain yang dimaksudkan di atas dengan cara tunai atau angsuran selama 2 (dua) tahun.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I 2) Bagi pegawai yang melarikan diri. 2) Penggantian kerugian dalam bentuk barang dilakukan khusus terhadap barang bergerak berupa kendaraan bermotor roda 4 (empat) dan roda 2 (dua) yang umur pembeliannya 1 sampai 3 tahun. kasus yang bersangkutan dikeluarkan dari administrasi pembukuan. Penyelesaian Kerugian Barang Daerah 1) Pegawai yang bertanggung jawab atas terjadinya kehilangan barang daerah (bergerak/tidak bergerak) dapat melakukan penggantian dalam bentuk uang atau barang yang sesuai dengan cara penggantian kerugian yang telah ditetapkan sesuai ketentuan yang berlaku. 3) Dengan diterbitkannya Surat Keputusan Pencatatan.

2) Jangka waktu surat untuk mengajukan keberatan berakhir. maka kerugian keuangan daerah tersebut mengalami daluwarsa 5 tahun sesudah tahun 1991 atau akhir tahun anggaran 1996/1997. b. Tetapi apabila baru diketahui dalam tahun 1994 maka kerugian daerah tersebut mengalami daluwarsa 8 tahun sesudah tahun 1990 atau akhir tahun anggaran 1998/1999 dan bukan 5 tahun sesudah tahun anggaran 1994/1995 atau akhir tahun anggaran 1999/2000. 2. TP Khusus terhadap ahli waris atau yang berhak lainnya dinyatakan daluwarsa (lewat waktu) apabila jangka waktu 3 (tiga) tahun telah berakhir setelah : 1) Meninggalnya bendahara tanpa adanya pemberitahuan. Apabila perbuatan/kelalaian dilakukan dalam tahun 1990 dan diketahui dalam tahun 1991. tidak pernah sedangkan ditetapkan. dalam kasus dimaksud tidak dilakukan upaya-upaya damai. keputusan pembebanan Tuntutan Ganti Rugi Biasa TGR dinyatakan daluwarsa setelah lewat 5 (lima) tahun sejak akhir tahun kerugian daerah diketahui atau setelah 8 (delapan) tahun sejak akhir tahun dimana kerugian tersebut terjadi/perbuatan tersebut dilakukan . Contoh : a.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I F. Selanjutnya apabila Pusdiklatwas BPKP – 2007 90 . Tuntutan Perbendaharaan (TP) a. TP Biasa dinyatakan daluwarsa (lewat waktu) apabila baru diketahui setelah lewat 30 (tiga puluh) tahun sejak kekurangan kas/barang tersebut diketahui. DALUWARSA TP/TGR 1.

b. sedangkan kerugian tahun 1985 sampai dengan 1989 tidak diperhitungkan.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I kerugian daerah akibat dari perbuatan/kelalaian berturut-turut. Penghapusan yang telah dilakukan dapat ditagih kembali apabila dikemudian hari terbukti bahwa bendahara/pegawai/ahli waris yang bersangkutan ternyata mampu. memerintahkan Apabila ternyata Majelis yang bersangkutan memang tidak mampu. Dalam menentukan besarnya kerugian daerah dihitung kerugian daerah yang terjadi 8 (delapan) tahun sebelum tahun penggantian kerugian daerah dibebankan. PENGHAPUSAN Apabila bendahara/pegawai ataupun ahli waris/keluarga terdekat/ pengampu yang berdasarkan keputusan kepala daerah diwajibkan mengganti kerugian tidak mampu membayar ganti rugi. waktu 8 tahun tersebut dimulai pada akhir tahun perbuatan/kelalaian yang terakhir dilakukan. maka kerugian daerah tersebut akan daluwarsa 8 tahun sesudah 1995 atau tahun 2003. maka yang bersangkutan harus mengajukan permohonan secara tertulis kepada kepala daerah untuk penghapusan atas kewajibannya. maka setelah mendapatkan persetujuan dari DPRD selanjutnya kepala daerah dengan surat keputusan dapat menghapuskan TP/TGR baik sebagian ataupun seluruhnya. Apabila pembebanan ganti rugi dilakukan dalam tahun 1998 maka jumlah ganti rugi hanya terbatas sampai jumlah kerugian yang timbul sejak tahun 1990 saja. Apabila perbuatan/kelalaian dilakukan berturut-turut sejak tahun 1985 sampai dengan tahun 1995. G. Berdasarkan permohonan Pertimbangan tersebut kepala untuk melakukan daerah penelitian. Pusdiklatwas BPKP – 2007 91 .

Pusdiklatwas BPKP – 2007 92 .00 (sepuluh juta rupiah) dapat diproses penghapusannya bersamaan dengan penetapan peraturan daerah tentang Perhitungan APBD tahun anggaran yang berkenaan.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I Surat keputusan penghapusan baru dapat dilaksanakan setelah memperoleh pengesahan dari menteri dalam negeri. Dalam kasus kerugian daerah dimana penyelesaiannya diserahkan melalui pengadilan. Berdasarkan pertimbangan efisiensi. yang berdasarkan surat keputusan kepala daerah diwajibkan mengganti kerugian daerah.000. H. I. PENYETORAN Penyetoran/pengembalian secara tunai/sekaligus atau melalui angsuran atas kekurangan perbendaharaan/kerugian daerah atau hasil penjualan barang jaminan/kebendaan harus melalui kas daerah atau dinas/lembaga/satuan kerja daerah yang ditunjuk oleh pemerintah daerah. PEMBEBASAN Dalam hal bendahara atau pegawai bukan bendahara meninggal dunia tanpa ahli waris atau tidak layak untuk ditagih.000. dengan terlebih dahulu mendapatkan persetujuan dari DPRD dan menteri dalam negeri. maka majelis pertimbangan memohon secara tertulis kepada kepala daerah yang bersangkutan untuk membebaskan sebagian/seluruh kewajiban yang harus dipenuhi. setelah diterima kas daerah segera dipindahbukukan ke rekening BUMD yang bersangkutan. Khusus penyetoran kerugian daerah yang berasal dari Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). kepala daerah berupaya agar putusan pengadilan menyatakan bahwa barang yang dirampas diserahkan kepada daerah dan selanjutnya hasil penjualannya disetorkan ke kas daerah. maka kerugian daerah yang bernilai sampai dengan Rp 10.

Apabila proses melalui badan peradilan ini tidak terselesaikan. setiap Selanjutnya gubernur wajib melaporkan perkembangan pelaksanaan penyelesaian kerugian daerah untuk tingkat provinsi/kabupaten/kota yang berada di wilayahnya setiap semester kepada Menteri Dalam Negeri cq. Kerugian daerah yang tidak dapat diselesaikan oleh pemerintah daerah dapat diserahkan penyelesaiannya melalui badan peradilan dengan mengajukan gugatan perdata. Direktur Jenderal Pemerintahan Umum dan Otonomi Daerah untuk dijadikan bahan pemantauan. maka kepala daerah dapat melakukan hukuman disiplin berupa pembebasan yang bersangkutan dari jabatannya dan segera menunjuk pejabat sementara untuk melakukan kegiatannya. tidak menggugurkan hak daerah untuk tetap melaksanakan TP/TGR. K. maka permasalahan ini dikembalikan kepada daerah dan penyelesaiannya dapat dilakukan dengan cara pencatatan atau penghentian/penghapusan. MAJELIS PERTIMBANGAN TUNTUTAN PERBENDAHARAAN DAN TUNTUTAN GANTI RUGI KEUANGAN DAN BARANG DAERAH Untuk menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dengan penyimpangan pengelolaan keuangan daerah maka dibentuklah Majelis Pusdiklatwas BPKP – 2007 93 . LAIN-LAIN Apabila bendahara atau pegawai bukan bendahara berdasarkan laporan dan pemeriksaan terbukti telah merugikan daerah. Keputusan pengadilan untuk menghukum atau membebaskan yang bersangkutan dari tindak pidana.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I J. L. PELAPORAN Bupati/walikota penyelesaian wajib kerugian melaporkan daerah kepada perkembangan gubernur pelaksanaan semester.

Adapun susunan Majelis Pertimbangan adalah sebagai berikut : 1. Tingkat Kabupaten/Kota Ketua Wakil Ketua I Wakil Ketua II : Sekwilda : Kepala Bawasda Kabupaten/Kota : Asisten Sekwilda Bidang Keuangan.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I Pertimbangan Perbendaharaan dan Tuntutan Ganti Rugi Keuangan dan Barang Daerah. Kepala Bagian Hukum c. Barang dan Kepegawaian Sekretaris Anggota : Kepala Bagian Keuangan : a. c. Kepala Bagian Kepegawaian Kepala Biro Perlengkapan Kepala Biro Hukum Kepala Biro Kepegawaian Pusdiklatwas BPKP – 2007 94 . 2. Kepala Bagian Perlengkapan b. Majelis Pertimbangan ini pada dasarnya adalah para pejabat yang ex-officio ditunjuk dan ditetapkan oleh kepala daerah yang bertugas membantu kepala daerah dalam penyelesaian kerugian daerah. b. Tingkat Provinsi Ketua Wakil Ketua I Wakil Ketua II Sekretaris Anggota : : : : : Sekwilda Kepala Bawasda Provinsi Asisten Administrasi dan Umum Kepala Biro Keuangan a.

Penelitian kelengkapan berkas laporan dan pencatatan serta penomoran berkas laporan oleh staf administrasi. banding. pencatatan. Pembahasan laporan oleh tim pembahas yang dipimpin oleh ketua tim pembahas yang ditunjuk oleh kepala sekretariat. Sekretariat Jenderal dan Inspektorat Jenderal Departemen Dalam Negeri. menatausahakan. Memberikan pendapat. menganalisis dan mengevaluasi kasus TP/TGR yang diterima.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I Tugas pokok dari Majelis Pertimbangan yang ditetapkan adalah sebagai berikut: 1. M. penyerahan melalui Badan Peradilan. Penyelesaian kerugian daerah apabila terjadi hambatan dan penagihan melalui instansi terkait. penghapusan. 2. Laporan kasus kerugian daerah dilaporkan oleh kepala unit/satuan kerja yang bersangkutan kepada majelis melalui kepala sekretariat. pembebasan. Anggota Sekretariat Majelis melakukan : a. Direktur Jenderal PUOD. hukuman disiplin. 2. tembusan kepada BPK. DAERAH Pusdiklatwas BPKP – 2007 95 . Mengumpulkan. Memproses dan melaksanakan eksekusi TP/TGR. Menyiapkan laporan kepala daerah mengenai perkembangan penyelesaian kasus kerugian daerah secara periodik kepada Menteri Dalam Negeri cq. TEKNIS DAN PROSEDUR PENYELESAIAN TP/TGR MELALUI MAJELIS PERTIMBANGAN TP/TGR KEUANGAN DAN BARANG (MISALNYA UNTUK TINGKAT PROVINSI) 1. 3. 4. saran dan pertimbangan kepada kepala daerah pada setiap kasus yang menyangkut TP/TGR termasuk pembebanan. b.

Gubernur/kepala daerah menganalisis keputusan majelis dan ketua. Kepala sekretariat menyampaikan (setelah terlebih dahulu dicatat dalam (buku register) surat keputusan gubernur/kepala daerah kepada bendahara/pegawai yang bersangkutan melalui kepala unit/satuan kerja. menandatangani surat keputusan untuk selanjutnya diserahkan kepada majelis. b. wakil sekretaris dan seluruh anggota majelis. 4. Keputusan majelis disertai konsep surat keputusan gubernur kepala daerah disampaikan oleh majelis kepada gubernur kepala daerah. 5. Majelis menyampaikan surat keputusan gubernur/kepala daerah kepada bendahara/pegawai yang bersangkutan melalui kepala sekretariat. Majelis melaksanakan pemeriksaan berkas perkara dan pengambilan keputusan dalam proses Tuntutan Perbendaharaan dan Tuntutan Ganti Rugi yang dipimpin oleh Ketua Majelis : a. 7. 8. Sekretaris majelis meneliti/menganalisis berkas laporan hasil pembahasan sekretariat majelis dan selanjutnya menyampaikan berkas laporan kepada majelis. Pusdiklatwas BPKP – 2007 96 . 6.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I 3. Keputusan majelis ditandatangani oleh ketua. Kepala sekretariat menyampaikan laporan kepada sekretaris majelis.

b. b. Tuntutan khusus. Tuntutan perbendaharaan khusus. b. DPRD dan Mendagri. Tuntutan hukuman jabatan. 2. Gubernur dan Bupati/Walikota. Apabila seorang kasir melarikan diri. d. Hukuman disiplin. maka kepala daerah dapat melakukan : a.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I N. Tuntutan perbendaharaan. c. Apabila terjadi kerugian terhadap aset daerah. Upaya damai. c. b. Dalam hal tuntutan ganti rugi tidak dapat dijalankan dan diberikan “Pembebasan”. maka dilakukan proses : a. 3. Hukuman percobaan. Pusdiklatwas BPKP – 2007 97 . Presiden. Tuntutan ganti rugi khusus. 4. c. SOAL LATIHAN 1. Apabila ternyata pegawai daerah terbukti bersalah dan merugikan keuangan daerah. Gubernur dan Mendagri. Tuntutan ganti rugi. hal tersebut terlebih dahulu disetujui oleh : a. d. Tuntutan ganti rugi. yang pertama-tama ditempuh adalah melakukan : a. d.

b. d. Dalam hal daerah telah menetapkan “penghapusan” terhadap penggantian kerugian maka daerah : a. Tidak dapat menagih kembali. 5. Hukuman denda. Hukuman kurungan. Pusdiklatwas BPKP – 2007 98 . Dapat menagih kembali berdasarkan persetujuan DPRD. Masih dapat menagih kembali. d. c.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I c. Dapat menagih lagi sebesar 50% dari nilai kerugian daerah.

Peraturan Pemerintah No. Jakarta: PT Pradnya Paramita. S. 6. 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan. 8.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I DAFTAR PUSTAKA 1.. Muhammad. M. 12. 3. Prof. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.. 2 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengadaan Pinjaman dan/atau Penerusan Pinjaman dan/atau Hibah Luar Negeri. 7. 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah. Modul Sistem Administrasi Keuangan Daerah II . 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah.H. 9. Edisi Keempat. 2004. 13. 4. Peraturan Pemerintah No. Instruksi Menteri Dalam Negeri No. 5. 23 Tahun 2005 tentang Badan Layanan Umum. 54 Tahun 2005 tentang Pinjaman Daerah. Peraturan Pemerintah No. Peraturan Pemerintah No.H. 2. Gade. Kitab 2.. 14 tahun 2005 tentang Tata Cara Penghapusan Piutang Negara/Daerah. 10. 5 Tahun 1997. 2001. Akuntansi Pemerintahan. Drs.dan Kansil Christine S. Kitab Undang-Undang Otonomi Daerah 1999 – 2001. Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan. Edisi Revisi.T. Peraturan Pemerintah No. Pusdiklatwas BPKP – 2007 99 . 21 Tahun 1997 tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Menteri Dalam Negeri No.H. Peraturan Pemerintah No. 1998. S. 11. Modul-Modul Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Peraturan Pemerintah No. Kansil CST.

26. Ekonomi Makro. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 5 Tahun 1997 tentang Tuntutan Ganti Rugi dan Tuntutan Perbendaharaan Keuangan dan Barang Daerah. Peraturan Pemerintah No. 21. 23 Tahun 2003 tentang Pengendalian Jumlah Kumulatif APBN dan APBD. 15. 25. Undang-Undang No. Pengantar Analisis Pendapatan Nasional. 28. Undang-Undang No. 79 Tahun 2005 tentang Pedoman Pembinaan Dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I 14. 19. Undang-Undang No. 56 Tahun 2005 tentang Sistem Informasi Keuangan Daerah. 65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Peraturan Pemerintah No. DR. 24. Edisi ke-5. 17. 16. Peraturan Pemerintah No. Peraturan Pemerintah No. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. Peraturan Pemerintah No. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. Undang-Undang No. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggungjawab Keuangan Negara. 1989. 18. 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan dan Pertanggung Jawaban Keuangan Daerah. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. 57 Tahun 2005 tentang Hibah kepada Daerah. 20. 66 Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah. 23. Peraturan Pemerintah No. 27. Peraturan Pemerintah No. Yogyakarta: Penerbit Liberty. 22. MBA.1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. Soediyono. Pusdiklatwas BPKP – 2007 100 . Prof. 59 Tahun 2007 tentang Perubahan Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah.

33. 30. 19 Tahun 1997 tentang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa. 34 Tahun 2000 tentang Perubahan Undang-Undang No.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I 29. Undang-Undang No. 32. Undang-Undang No. 18 Tahun 1997.17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Undang-Undang No. 31. 17 Tahun 1997 tentang Badan Penyelesaian Sengketa Pajak. 34. 21 Tahun 1997 tentang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Undang-Undang No. Undang-Undang No. Undang-Undang No. Pusdiklatwas BPKP – 2007 101 .

dan ditetapkan dengan peraturan daerah. dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah. 8. 6. dan pengawasan keuangan daerah. Keuangan Daerah adalah semua hak dan kewajiban daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah yang dapat dinilai dengan uang termasuk didalamnya segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban daerah tersebut. Pemerintahan Daerah adalah penyelenggara urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan daerah yang dibahas dan disetujui bersama oleh pemerintah daerah dan DPRD. 4. adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam UndangUndang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945. 2. Peraturan Daerah adalah peraturan yang dibentuk oleh DPRD dengan persetujuan bersama kepala daerah. pelaksanaan. dan/atau walikota. Daerah Otonom. 5. termasuk Qanun yang berlaku di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan peraturan daerah provinsi (perdasi) yang berlaku di Provinsi Papua.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I DAFTAR ISTILAH/SINGKATAN 1. Pengelolaan Keuangan Daerah adalah keseluruhan kegiatan yang meliputi perencanaan. pelaporan. 7. 3. pertanggungjawaban. bupati. selanjutnya disebut pemerintah. Pemerintah Pusat. selanjutnya disebut daerah. Pemerintah Daerah adalah gubernur. penatausahaan. Pusdiklatwas BPKP – 2007 102 .

PPKD (Pejabat Pengelola Keuangan Daerah) adalah kepala satuan kerja pengelola keuangan daerah yang mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan APBD dan bertindak sebagai bendahara umum daerah. Kuasa BUD adalah pejabat yang diberi kuasa untuk melaksanakan tugas bendahara umum daerah. 21. Pusdiklatwas BPKP – 2007 103 . 20.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I 9. 16. 15. Kas Umum Daerah adalah tempat penyimpanan uang daerah yang ditentukan oleh kepala daerah untuk menampung seluruh penerimaan daerah dan membayar seluruh pengeluaran daerah. 11. SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) adalah perangkat daerah pada pemerintah daerah selaku pengguna anggaran/barang. Unit Kerja adalah bagian SKPD yang melaksanakan satu atau beberapa program. Kepala Daerah adalah gubernur bagi daerah provinsi atau bupati bagi daerah kabupaten atau walikota bagi daerah kota. 19. 12. 17. PPK-SKPD (Pejabat Penatausahaan Keuangan SKPD) adalah pejabat yang melaksanakan fungsi tata usaha keuangan pada SKPD. Pemegang Kekuasaan Pengelolaan Keuangan Daerah adalah kepala daerah yang karena jabatannya mempunyai kewenangan menyelenggarakan keseluruhan pengelolaan keuangan daerah. Pengguna Anggaran adalah pejabat pemegang kewenangan penggunaan anggaran untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsi SKPD yang dipimpinnya. Pengguna Barang adalah pejabat pemegang kewenangan penggunaan barang milik daerah. PPTK (Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan) adalah pejabat pada unit kerja SKPD yang melaksanakan satu atau beberapa kegiatan dari suatu program sesuai dengan bidang tugasnya. 18. BUD (Bendahara Umum Daerah) adalah PPKD yang bertindak dalam kapasitas sebagai bendahara umum daerah. 13. Kuasa Pengguna Anggaran adalah pejabat yang diberi kuasa untuk melaksanakan sebagian kewenangan pengguna anggaran dalam melaksanakan sebagian tugas dan fungsi SKPD. 10. 14.

Rekening Kas Umum Daerah adalah rekening tempat penyimpanan uang daerah yang ditentukan oleh kepala daerah untuk menampung seluruh penerimaan daerah dan membayar seluruh pengeluaran daerah pada bank yang ditetapkan. 29. 30. dan mempertanggungjawabkan uang pendapatan daerah dalam rangka pelaksanaan APBD pada SKPD. membayarkan. 28. Pusdiklatwas BPKP – 2007 104 . menyimpan. 24. menatausahakan. Defisit Anggaran Daerah adalah selisih kurang antara pendapatan daerah dan belanja daerah. Bendahara Pengeluaran adalah pejabat fungsional yang ditunjuk menerima. Belanja Daerah adalah kewajiban pemerintah daerah yang diakui sebagai pengurang nilai kekayaan bersih. Bendahara Penerimaan adalah pejabat fungsional yang ditunjuk untuk menerima.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I 22. 32. 27. menatausahakan. yang menurut ketentuan peraturan perundangundangan wajib menyampaikan laporan pertanggungjawaban berupa laporan keuangan. Penerimaan Daerah adalah uang yang masuk ke kas daerah. 25. dan mempertanggung jawabkan uang untuk keperluan belanja daerah dalam rangka pelaksanaan APBD pada SKPD. Entitas Akuntansi adalah unit pemerintahan pengguna anggaran/ pengguna barang dan oleh karenanya wajib menyelenggarakan akuntansi dan menyusun laporan keuangan untuk digabungkan pada entitas pelaporan. 26. 31. Pendapatan Daerah adalah hak pemerintah daerah yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih. Pengeluaran Daerah adalah uang yang keluar dari kas daerah. Entitas Pelaporan adalah unit pemerintahan yang terdiri dari satu atau lebih entitas akuntansi. 23. menyetorkan. menyimpan. Surplus Anggaran Daerah adalah selisih lebih antara pendapatan daerah dan belanja daerah.

Pembiayaan Daerah adalah semua penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali. Penganggaran Terpadu (unified budgeting) adalah penyusunan rencana keuangan tahunan yang dilakukan secara terintegrasi untuk seluruh jenis belanja guna melaksanakan kegiatan pemerintahan yang didasarkan pada prinsip pencapaian efisiensi alokasi dana. SiKPA (Sisa Kurang Perhitungan Anggaran) adalah selisih kurang realisasi penerimaan dan pengeluaran anggaran selama satu periode anggaran. SiLPA (Sisa Lebih Perhitungan Anggaran) adalah selisih lebih realisasi penerimaan dan pengeluaran anggaran selama satu periode anggaran. 36. Kinerja adalah keluaran/hasil dari kegiatan/program yang akan atau telah dicapai sehubungan dengan penggunaan anggaran dengan kuantitas dan kualitas yang terukur. 40. Prakiraan Maju (forward estimate) adalah perhitungan kebutuhan dana untuk tahun anggaran berikutnya dari tahun yang direncanakan guna memastikan kesinambungan program dan kegiatan yang telah disetujui dan menjadi dasar penyusunan anggaran tahun berikutnya. 37. baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya. 34. 41. Program adalah penjabaran kebijakan SKPD dalam bentuk upaya yang berisi satu atau lebih kegiatan dengan menggunakan sumber daya yang disediakan untuk mencapai hasil yang terukur sesuai dengan misi SKPD. dengan pengambilan keputusan terhadap kebijakan tersebut dilakukan dalam perspektif lebih dari satu tahun anggaran. 35. 38. Pusdiklatwas BPKP – 2007 105 . Pinjaman Daerah adalah semua transaksi yang mengakibatkan daerah menerima sejumlah uang atau menerima manfaat yang bernilai uang dari pihak lain sehingga daerah dibebani kewajiban untuk membayar kembali. 42. Fungsi adalah perwujudan tugas kepemerintahan dibidang tertentu yang dilaksanakan dalam rangka mencapai tujuan pembangunan nasional.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I 33. Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah adalah pendekatan penganggaran berdasarkan kebijakan. dengan mempertimbangkan implikasi biaya akibat keputusan yang bersangkutan pada tahun berikutnya yang dituangkan dalam prakiraan maju. 39.

RKA-SKPD (Rencana Kerja dan Anggaran SKPD) adalah dokumen perencanaan dan penganggaran yang berisi program dan kegiatan SKPD serta anggaran yang diperlukan untuk melaksanakannya. Kegiatan adalah bagian dari program yang dilaksanakan oleh satu atau lebih unit kerja pada SKPD sebagai bagian dari pencapaian sasaran terukur pada suatu program dan terdiri dari sekumpulan tindakan pengerahan sumber daya baik yang berupa personal (sumber daya manusia). dana. 50.belanja. dan pejabat lainnya sesuai dengan kebutuhan. 47. RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah) adalah dokumen perencanaan untuk periode lima tahun. Keluaran (output) adalah barang atau jasa yang dihasilkan oleh kegiatan yang dilaksanakan untuk mendukung pencapaian sasaran dan tujuan program dan kebijakan. TAPD (Tim Anggaran Pemerintah Daerah) adalah tim yang dibentuk dengan keputusan kepala daerah dan dipimpin oleh sekretaris daerah yang mempunyai tugas menyiapkan serta melaksanakan kebijakan kepala daerah dalam rangka penyusunan APBD yang anggotanya terdiri pejabat perencana daerah. 52. atau kombinasi dari beberapa atau kesemua jenis sumber daya tersebut sebagai masukan (input) untuk menghasilkan keluaran (output) dalam bentuk barang/jasa. PPAS (Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara) merupakan program prioritas dan patokan batas maksimal anggaran yang diberikan kepada SKPD untuk setiap program sebagai acuan dalam penyusunan RKASKPD. 48. KUA (Kebijakan Umum APBD) adalah dokumen yang memuat kebijakan bidang pendapatan. 51.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I 43. 45. RKPD (Rencana Kerja Pemerintah Daerah) perencanaan daerah untuk periode satu tahun. PPKD. Sasaran (target) adalah hasil yang diharapkan dari suatu program atau keluaran yang diharapkan dari suatu kegiatan. Pusdiklatwas BPKP – 2007 106 . adalah dokumen 49. Hasil (outcome) adalah segala sesuatu yang mencerminkan berfungsinya keluaran dari kegiatan-kegiatan dalam satu program. dan pembiayaan serta asumsi yang mendasarinya untuk periode 1 (satu) tahun. 44. barang modal termasuk peralatan dan teknologi. 46.

54. SPP (Surat Permintaan Pembayaran) adalah dokumen yang diterbitkan oleh pejabat yang bertanggung jawab atas pelaksanaan kegiatan/ bendahara pengeluaran untuk mengajukan permintaan pembayaran. Surat Perintah Membayar (SPM) adalah dokumen yang digunakan/ diterbitkan oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran untuk penerbitan SP2D atas beban pengeluaran DPA-SKPD. 58. SPM-UP (Surat Perintah Membayar Uang Persediaan) adalah dokumen yang diterbitkan oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran untuk penerbitan SP2D atas beban pengeluaran DPA-SKPD yang dipergunakan sebagai uang persediaan untuk mendanai kegiatan operasional kantor sehari-hari. 57. karena kebutuhan dananya melebihi dari jumlah batas pagu uang persediaan yang telah ditetapkan sesuai dengan ketentuan. DPA-SKPD (Dokumen Pelaksanaan Anggaran SKPD) merupakan dokumen yang memuat pendapatan dan belanja setiap SKPD yang digunakan sebagai dasar pelaksanaan oleh pengguna anggaran. 56.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I 53. 59. Pusdiklatwas BPKP – 2007 107 . SPM-GU (Surat Perintah Membayar Ganti Uang Persediaan) adalah dokumen yang diterbitkan oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran untuk penerbitan SP2D atas beban pengeluaran DPA-SKPD yang dananya dipergunakan untuk mengganti uang persediaan yang telah dibelanjakan. SPM-TU (Surat Perintah Membayar Tambahan Uang Persediaan) adalah dokumen yang diterbitkan oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran untuk penerbitan SP2D atas beban pengeluaran DPASKPD. 55. 60. Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) adalah dokumen yang digunakan sebagai dasar pencairan dana yang diterbitkan oleh BUD berdasarkan SPM. UP (Uang Persediaan) adalah sejumlah uang tunai yang disediakan untuk satuan kerja dalam melaksanakan kegiatan operasional sehari-hari. 61. SPM-LS (Surat Perintah Membayar Langsung) adalah dokumen yang diterbitkan oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran untuk penerbitan SP2D atas beban pengeluaran DPA-SKPD kepada pihak ketiga.

SPD (Surat Penyediaan Dana) adalah dokumen yang menyatakan tersedianya dana untuk melaksanakan kegiatan sebagai dasar penerbitan SPP. 65. Dana Cadangan adalah dana yang disisihkan untuk menampung kebutuhan yang memerlukan dana relatif besar yang tidak dapat dipenuhi dalam satu tahun anggaran. royalti. Investasi adalah penggunaan aset untuk memperoleh manfaat ekonomis seperti bunga. Piutang Daerah adalah jumlah uang yang wajib dibayar kepada pemerintah daerah dan/atau hak pemerintah daerah yang dapat dinilai dengan uang sebagai akibat perjanjian atau akibat lainnya berdasarkan peraturan perundang-undangan atau akibat lainnya yang sah. 63. 69. dividen. 64. perjanjian. dan dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas. 66. atau berdasarkan sebab lainnya yang sah. 70.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I 62. Sistem Pengendalian Intern Keuangan Daerah merupakan suatu proses yang berkesinambungan yang dilakukan oleh lembaga/badan/unit yang mempunyai tugas dan fungsi melakukan pengendalian melalui audit dan evaluasi. Kerugian Daerah adalah kekurangan uang. manfaat sosial dan/atau manfaat lainnya sehingga dapat meningkatkan kemampuan pemerintah dalam rangka pelayanan kepada masyarakat. surat berharga. Utang Daerah adalah jumlah uang yang wajib dibayar pemerintah daerah dan/atau kewajiban pemerintah daerah yang dapat dinilai dengan uang berdasarkan peraturan perundang-undangan. 68. Pusdiklatwas BPKP – 2007 108 . 67. Barang Milik Daerah adalah semua barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBD atau berasal dari perolehan lainnya yang sah. BLUD (Badan Layanan Umum Daerah) adalah SKPD/unit kerja pada SKPD di lingkungan pemerintah daerah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan. dan barang yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai. untuk menjamin agar pelaksanaan kebijakan pengelolaan keuangan daerah sesuai dengan rencana dan peraturan perundangundangan.

dan jumlah yang masih harus dibayar. jumlah kekurangan pembayaran pokok pajak. 80. dan/atau harta dan kewajiban. SKPD (Surat Ketetapan Pajak Daerah) adalah surat ketetapan pajak yang menentukan besarnya jumlah pokok pajak. SKPDKB (Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar) adalah surat ketetapan pajak yang menentukan besarnya jumlah pokok pajak. 78. 73. 76. objek pajak dan/atau bukan objek pajak.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I 71. SKPDKBT (Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan) adalah surat ketetapan pajak yang menentukan tambahan atas jumlah pajak yang telah ditetapkan. SKRDLB (Surat Ketetapan Retribusi Daerah Lebih Bayar) adalah surat ketetapan retribusi yang menentukan jumlah kelebihan pembayaran retribusi karena jumlah kredit retribusi lebih besar daripada retribusi yang terutang atau tidak seharusnya terutang. STPD (Surat Tagihan Pajak Daerah) adalah surat untuk melakukan tagihan pajak dan/atau sanksi administrasi berupa bunga dan/atau denda. 77. SSPD (Surat Setoran Pajak Daerah) adalah surat yang oleh wajib pajak digunakan untuk melakukan pembayaran atau penyetoran pajak yang terutang ke kas daerah atau ke tempat pembayaran lain yang ditunjuk oleh kepala daerah. jumlah kredit pajak. menurut ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan Daerah. besarnya sanksi administrasi. 79. 72. Pusdiklatwas BPKP – 2007 109 . 74. SKRD (Surat Ketetapan Retribusi Daerah) adalah surat ketetapan retribusi yang menentukan besarnya pokok retribusi. 75. Surat Pemberitahuan Pajak Daerah (SPTPD) adalah surat yang oleh wajib pajak digunakan untuk melaporkan penghitungan dan/atau pembayaran pajak. SKPDLB (Surat Ketetapan Pajak Daerah Lebih Bayar) adalah surat ketetapan pajak yang menentukan jumlah kelebihan pembayaran pajak karena jumlah kredit pajak lebih besar daripada pajak yang terutang atau tidak seharusnya terutang. SKPDN (Surat Ketetapan Pajak Daerah Nihil) adalah surat ketetapan pajak yang menentukan jumlah pokok pajak sama besarnya dengan jumlah kredit pajak atau pajak tidak terutang dan tidak ada kredit pajak.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->