DIKLAT PEMBENTUKAN AUDITOR TERAMPIL

SAKD I
KODE MA : 1.141

SISTEM ADMINISTRASI KEUANGAN DAERAH I

2007
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PENGAWASAN BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN EDISI KEENAM

Judul Modul

: Sistem Administrasi Keuangan Daerah I

Penyusun Perevisi I Perevisi II Perevisi III Perevisi IV Perevisi V Pereviu Editor

: : : : : : : :

Drs. Sunarto & Drs. Soedarsono DP, M.M. Djedje Abdul Aziz, S.H. & Drs. Sigit Edi Surono Drs. Bistok Manurung Budiman Slamet, Ak., M.Si. Budiman Slamet, Ak., M.Si. Fatchudin, S.E., Ak. Linda Ellen Theresia, S.E., Ak., M.B.A. Daissy Erdianthy, S.E., Ak., M.Ak.

Dikeluarkan oleh Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pengawasan BPKP dalam rangka Diklat Sertifikasi JFA Tingkat Pembentukan Auditor Anggota Tim
Edisi Pertama Edisi Kedua (Revisi Pertama) Edisi Ketiga (Revisi Kedua) Edisi Keempat (Revisi Ketiga) Edisi Kelima (Revisi Keempat) Edisi Keenam (Revisi Kelima) : : : : : : Tahun 1998 Tahun 2000 Tahun 2002 Tahun 2004 Tahun 2006 Tahun 2007

ISBN 979-95661-4-2 (no. jilid lengkap) ISBN 979-95661-5-0 (jilid 1)

Dilarang keras mengutip, menjiplak, atau menggandakan sebagian atau seluruh isi modul ini, serta memperjualbelikan tanpa izin tertulis dari Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pengawasan BPKP

Pusdiklat Pengawasan BPKP Sistem Administrasi Keuangan Daerah I ISBN 979-95661-4-2 (no. jilid lengkap) ISBN 979-95661-5-0 (jilid 1)

.

.…………………….. BAB II Keuangan Daerah……………...….......……..…………… C..……………………. Tujuan Pemelajaran Khusus……. E.. Pengertian Keuangan Daerah………..…………............... Prinsip-Prinsip Anggaran Daerah…...........……….………………… BAB III Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah ( APBD )…… A..... Latihan ............Sistem Administrasi Keuangan Daerah I DAFTAR ISI Kata Pengantar…………….....…………......... Pengertian………….....….........................… C........………………………....……………..….... ………...........………………………...... A.............…. B.………………... Pengelola Keuangan Daerah………. E.…... Deskripsi Singkat Struktur Modul.... Struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah …........… 5 7 16 18 18 19 20 22 27 i ii 1 1 2 2 3 3 4 4 Pusdiklatwas BPKP – 2007 ii .….….…………… D.............… Daftar Isi……………………........……… D.... Latihan………………………………....……….......... Fungsi-Fungsi Anggaran Daerah.................. BAB I Pendahuluan....... C...... Metodologi Pemelajaran.... Hubungan antara Keuangan Daerah dengan Keuangan Negara….....…….…….…...………………………………..................………………………………………….......………...... Tujuan Pemelajaran Umum…….......... B..……………………… A.........………. B.... Latar Belakang ……. D.

.... D.........................Sistem Administrasi Keuangan Daerah I BAB IV Penyusunan APBD….. B.............................……………………….. Dasar-dasar Pengertian yang Digunakan................…………........…..................…………………………… B...... Umum............………….................... Penyusunan Rancangan APBD…………………................ Penatausahaan Keuangan Daerah…………………..............…………………………………………… 29 29 30 48 BAB V Pelaksanaan..…....... A... A........................... Penyetoran........................................ H........ B.... E.............. Tuntutan Perbendaharaan........................................................ Tata Cara Penyelesaian Kerugian Keuangan Daerah.....…….......... 71 71 74 78 79 85 90 91 92 92 Pusdiklatwas BPKP – 2007 iii ........................ Daluwarsa TP/TGR.................................…………….......................................…........…… C......................… C....................... Tuntutan Ganti Rugi (TGR)............. E....... Pembebasan............... A............………… C..... D....... Penatausahaan....... F........ Pelaporan dan Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD....... Latihan ...... Akuntansi Keuangan Daerah…………...…....………................ Pelaksanaan APBD………………...........…………………………………… 65 69 50 50 57 63 BAB VI Tuntutan Perbendaharaan dan Tuntutan Ganti Rugi (TP/TGR) ..... Penghapusan.............. Latihan.........….......... Siklus Anggaran.... Pelaporan dan Pertanggungjawaban APBD………………........... G...........…................. I.…....

......………................................Sistem Administrasi Keuangan Daerah I J...........……… Daftar Pustaka….. Latihan.................................... M.......................... N............ K..........................………………........... Daftar Istilah/Singkatan....…………………………………...... Majelis Pertimbangan Tuntutan Perbendaharaan dan Tuntutan Ganti Rugi Keuangan dan Barang Daerah.......... L.......................... Pelaporan............................................………………………………................................................ 93 93 93 95 97 99 102 Pusdiklatwas BPKP – 2007 iv ..................... Teknis dan Prosedur Penyelesaian TP/TGR Melalui Majelis Pertimbangan TP/TGR Keuangan dan Barang Daerah (Misalnya Untuk Tingkat Provinsi)................. Lain-lain.............

Pusdiklatwas BPKP – 2007 1 . Untuk calon auditor BPKP dan Inspektorat Jenderal Departemen Dalam Negeri RI. modul Sistem Administrasi Keuangan Daerah I (disingkat SAKD I) merupakan salah satu kurikulum/mata ajar dalam rangka diklat pembentukan auditor terampil. kedua mata ajaran tersebut (SAKN I dan SAKD I) diberikan. Diklat pembentukan auditor terampil adalah diklat untuk menjaring calon auditor yang berlatar belakang pendidikan minimal sarjana muda (D-III) atau SLTA dengan kualifikasi yang ditentukan oleh instansi pembina atau yang sederajat yang status ijazahnya telah disamakan oleh Departemen Pendidikan Nasional RI. LATAR BELAKANG Sesuai dengan keputusan Kepala BPKP Nomor: KEP-06.00-847/K/ 1998 tanggal 11 Nopember 1998 tentang Pola Pendidikan Dan Pelatihan Auditor Bagi Aparat Pengawasan Fungsional Pemerintah. sedangkan SAKD I diajarkan bagi calon auditor pada unit pengawasan daerah.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I Bab I PENDAHULUAN A. Setelah lulus dari pendidikan dan pelatihan ini. Mata ajaran SAKD I merupakan kelompok mata ajar inti. dengan lama pelatihan (jamlat) sebesar 20 jamlat. diharapkan mereka mampu untuk melaksanakan tugasnya sebagai anggota tim.04. Mata ajar Sistem Administrasi Keuangan Negara I (SAKN I) dipergunakan/diajarkan bagi calon auditor pada unit pengawasan pusat. akan tetapi mata ajar SAKD I sebagai mata ajar yang tidak diujikan.

Tujuan pemelajaran umum (TPU) modul ini adalah agar peserta diklat mampu memahami SAKD dalam rangka pengawasan keuangan daerah. TUJUAN PEMELAJARAN UMUM Modul ini disusun untuk memenuhi materi pelajaran pada diklat pembentukan auditor terampil di lingkungan aparat pengawasan intern pemerintah (APIP). menjelaskan pengertian APBD. fungsi dan prinsip anggaran daerah. sumber-sumber penerimaan daerah. TUJUAN PEMELAJARAN KHUSUS Setelah mengikuti pelatihan ini. belanja daerah. Instansi pengawasan internal pemerintah mempunyai andil yang cukup besar demi terwujudnya kedua hal tersebut. memahami proses pelaksanaan. C. khususnya proses penyusunan APBD. menjelaskan pengertian penggantian kerugian negara/daerah.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I B. peserta diklat diharapkan mampu 1. serta pembiayaan daerah 3. maka setiap peserta pelatihan diharapkan mampu melakukan pengawasan keuangan daerah. hubungan keuangan daerah dengan keuangan pusat. Hal ini sejalan dengan keinginan pemerintah akan terwujudnya akuntabilitas dan good governance di lingkungan instansi pemerintah. penatausahaan. serta pengurusan keuangan daerah 2. mulai dari penyusunan rancangan hingga penetapan APBD 4. Seorang auditor terampil harus memahami sistem administrasi keuangan yang diaudit. Pusdiklatwas BPKP – 2007 2 . memahami siklus anggaran. Dengan pemahaman itu. pelaporan dan pertanggungjawaban APBD 5. struktur APBD. menjelaskan pengertian keuangan daerah.

Pusdiklatwas BPKP – 2007 3 . dan Pertanggungjawaban APBD Penggantian Kerugian Negara/Daerah Pada masing-masing bab akan disajikan dasar teori. Untuk mencapai tujuan pemelajaran di atas. para widyaiswara /instruktur diharapkan juga memberikan bahan-bahan pelatihan yang dapat menambah wawasan para peserta. latihan soal dan kasus yang harus dijawab oleh para peserta baik secara perseorangan maupun kelompok. METODOLOGI PEMELAJARAN Peserta diklat diharapkan mampu memahami secara optimal substansi yang terdapat dalam modul ini. diskusi dan pemecahan kasus. Penatausahaan. Pelaporan. untuk itu diperlukan proses belajar mengajar dengan pendekatan andragogi. Penggunaan referensi tambahan juga diperlukan guna menambah wawasan para peserta diklat.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I D. DESKRIPSI SINGKAT MODUL Diklat ini membekali peserta untuk memahami pengertian dan konsep tentang SAKD dengan materi pembahasan sebagai berikut : Bab I Bab II Bab III Bab IV Bab V Bab VI : : : : : : Pendahuluan Keuangan Daerah Anggaran Pendapan dan Belanja Daerah (APBD) Penyusunan APBD Pelaksanaan. E. Selain membahas soal latihan yang ada pada modul ini. maka metode pemelajaran yang akan digunakan adalah ceramah.

PENGERTIAN KEUANGAN DAERAH Pengertian keuangan daerah sebagaimana dimuat dalam penjelasan pasal 156 ayat 1 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah adalah sebagai berikut : “Keuangan daerah adalah semua hak dan kewajiban daerah yang dapat dinilai dengan uang dan segala sesuatu berupa uang dan barang yang dapat dijadikan milik daerah yang berhubungan dengan pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut”. A. Pusdiklatwas BPKP – 2007 4 . serta pengurusan keuangan daerah dalam rangka membantu pelaksanaan tugasnya sebagai auditor. Berdasarkan pengertian tersebut pada prinsipnya keuangan daerah mengandung unsur pokok yaitu: Hak Daerah Kewajiban Daerah yang dapat dinilai dengan uang Kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban tersebut.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I BAB II KEUANGAN DAERAH Pada akhir pemelajaran ini peserta dapat menjelaskan tentang pengertian keuangan daerah. hubungan keuangan daerah dengan keuangan pusat. Hak daerah dalam rangka keuangan daerah adalah segala hak yang melekat pada Daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang digunakan dalam usaha pemerintah daerah mengisi kas daerah.

Hak untuk memperoleh dana perimbangan dari pusat (UU No. 18 Tahun 1997 jo UU No. memajukan kesejahteraan umum. 34 Tahun 2000). ikut serta melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan perdamaian abadi dan keadilan sosial. 4. melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. 34 tahun 2000). 3. Hak mengadakan pinjaman (UU No. 18 Tahun 1997 jo UU No. Hak menarik pajak daerah (UU No. mencerdaskan kehidupan bangsa. B. 33 tahun 2004). Selanjutnya dalam pasal 18 UUD 1945 beserta penjelasannya menyatakan bahwa daerah Indonesia terbagi dalam daerah yang bersifat otonom dan bersifat daerah administrasi. 3. Pembangunan daerah sebagai bagian integral dari pembangunan nasional dilaksanakan berdasarkan prinsip otonomi daerah dan pengaturan sumbersumber daya nasional yang memberikan kesempatan bagi peningkatan demokrasi dan kinerja daerah untuk meningkatkan kesejahteraan Pusdiklatwas BPKP – 2007 5 . 2. Kewajiban daerah juga merupakan bagian pelaksanaan tugas-tugas Pemerintahan pusat sesuai pembukaan UUD 1945 yaitu: 1.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I Hak Daerah tersebut meliputi antara lain : 1. 2. 4. 33 tahun 2004 ). Hak untuk menarik retribusi/iuran daerah (UU No. HUBUNGAN ANTARA KEUANGAN DAERAH DENGAN KEUANGAN NEGARA Pasal 1 UUD 1945 menetapkan negara Indonesia adalah negara kesatuan yang berbentuk republik.

Setiap penyerahan atau pelimpahan kewenangan dari pemerintah pusat kepada daerah dalam rangka desentralisasi dan dekonsentrasi disertai dengan pengalihan sumber daya manusia dan sarana serta pengalokasian anggaran yang diperlukan untuk kelancaran pelaksanaan penyerahan dan pelimpahan kewenangan tersebut. Dari ketiga jenis pelimpahan wewenang tersebut. Sedangkan penugasan dari pemerintah pusat kepada daerah dalam rangka tugas pembantuan disertai pengalokasian anggaran. serta perimbangan keuangan pemerintah pusat dan daerah. hanya pelimpahan wewenang dalam rangka pelaksanaan desentralisasi saja yang merupakan sumber keuangan daerah melalui alokasi dana perimbangan dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. Pusdiklatwas BPKP – 2007 6 . Penyelenggaraan pemerintahan daerah juga merupakan subsistem dari pemerintahan negara sehingga antara keuangan daerah dengan keuangan negara akan mempunyai hubungan yang erat dan saling mempengaruhi. nyata dan bertanggung jawab di daerah serta secara proporsional diwujudkan dengan pengaturan. Untuk mendukung penyelenggaraan otonomi daerah diperlukan kewenangan yang luas. kolusi dan nepotisme (KKN). Sedangkan alokasi dana dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah dalam rangka sumber dekonsentrasi dan tugas pembantuan tidak merupakan penerimaan APBD dan diadministrasikan serta dipertanggungjawabkan secara terpisah dari administrasi keuangan dalam pembiayaan pelaksanaan desentralisasi. dekonsentrasi dan tugas pembantuan. Sumber pembiayaan pemerintahan daerah dalam rangka perimbangan keuangan pemerintah pusat dan daerah dilaksanakan atas dasar desentralisasi. pembagian dan pemanfaatan sumber daya nasional yang berkeadilan.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I masyarakat menuju masyarakat madani yang bebas korupsi.

4. 1. Koordinator Pengelolaan Keuangan Daerah (Koordinator PKD).Sistem Administrasi Keuangan Daerah I C. Menetapkan kebijakan tentang pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Kepala Daerah selaku kepala pemerintah daerah adalah pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah dan mewakili pemerintah daerah dalam kepemilikan kekayaan daerah yang dipisahkan. b. Menetapkan kebijakan tentang pengelolaan barang daerah. Berikut ini adalah uraian tentang tugas-tugas para pejabat pengelola keuangan daerah tersebut. Pejabat Pengguna Anggaran/Pengguna Barang (PPA/PB). Bendahara Penerimaan dan Bendahara Pengeluaran. Pusdiklatwas BPKP – 2007 7 . PENGELOLA KEUANGAN DAERAH Pengelolaan Keuangan Daerah dilaksanakan oleh pemegang kekuasaan pengelola keuangan daerah. 6. Para pengelola keuangan daerah tersebut adalah: 1. Pemegang Kekuasaan Pengelolaan Keuangan Daerah Kepala Daerah selaku kepala pemerintah daerah adalah pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah dan mewakili pemerintah daerah dalam kepemilikan kekayaan daerah yang dipisahkan. 3. Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD). Pejabat Penatausahaan Keuangan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK). Pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah mempunyai kewenangan: a. 5. 2. Kepala Daerah perlu menetapkan pejabat-pejabat tertentu dan para bendahara untuk melaksanakan pengelolaan keuangan daerah.

Pelimpahan tersebut ditetapkan dengan keputusan kepala daerah berdasarkan prinsip pemisahan kewenangan antara yang memerintahkan. h. g. Sekretaris Daerah selaku Koordinator Pengelola Keuangan Daerah. Menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengujian atas tagihan dan memerintahkan pembayaran. Menetapkan pengeluaran. b.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I c. e. yang merupakan unsur penting dalam sistem pengendalian intern. bendahara penerimaan dan/atau bendahara Pusdiklatwas BPKP – 2007 8 . Kepala daerah selaku pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah melimpahkan sebagian atau seluruh kekuasaannya kepada: a. c. Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) selaku pejabat pengguna anggaran/pengguna barang. menguji. f. Menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pemungutan penerimaan daerah. Menetapkan kuasa pengguna anggaran/pengguna barang. dan yang menerima atau mengeluarkan uang. Kepala Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah (SKPKD) selaku Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD). Menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengelolaan barang milik daerah. Menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengelolaan utang dan piutang daerah. d.

dan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. dan Pusdiklatwas BPKP – 2007 9 . Tugas-tugas pejabat perencana daerah. f. Koordinator Pengelolaan Keuangan Daerah Sekretaris daerah selaku koordinator pengelolaan keuangan daerah membantu kepala daerah menyusun kebijakan dan mengkoordinasikan penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah termasuk pengelolaan keuangan daerah. dan pejabat pengawas keuangan daerah. Penyusunan dan pelaksanaan kebijakan pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Penyusunan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) APBD.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I 2. b. Selain mempunyai tugas koordinasi. Penyusunan rancangan APBD dan rancangan perubahan APBD. Sekretaris Daerah mempunyai tugas: a. Sekretaris Daerah selaku koordinator pengelolaan keuangan daerah mempunyai tugas koordinasi di bidang: a. c. Penyusunan dan pelaksanaan kebijakan pengelolaan barang daerah. Penyusunan laporan keuangan daerah dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. menyiapkan pedoman pelaksanaan APBD. perubahan APBD. e. b. Pejabat Pengelola Keuangan Daerah. menyiapkan pedoman pengelolaan barang daerah. c. memberikan persetujuan pengesahan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA-SKPD) / Dokumen Perubahan Pelaksanaan Anggaran (DPPA). memimpin Tim Anggaran Pemerintah Daerah. d. d.

menyusun kebijakan dan pedoman pelaksanaan APBD. b. dan f. melaksanakan tugas-tugas koordinasi pengelolaan keuangan daerah lainnya berdasarkan kuasa yang dilimpahkan oleh kepala daerah. Koordinator pengelolaan keuangan daerah bertanggung jawab atas pelaksanaan tugas-tugas tersebut kepada kepala daerah. d. memberikan petunjuk teknis pelaksanaan sistem penerimaan dan pengeluaran kas daerah.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I e. Pejabat Pengelola Keuangan Daerah Kepala Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah (SKPKD) selaku Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD) mempunyai tugas: a. b. Pusdiklatwas BPKP – 2007 10 . melaksanakan pemungutan pendapatan daerah yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah. c. e. menyusun laporan keuangan daerah dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. d. mengesahkan DPA-SKPD/DPPA-SKPD. c. melakukan pengendalian pelaksanaan APBD. 3. melaksanakan fungsi Bendahara Umum Daerah (BUD). menyusun rancangan APBD dan rancangan Perubahan APBD. melaksanakan tugas lainnya berdasarkan kuasa yang dilimpahkan oleh kepala daerah. PPKD dalam melaksanakan fungsinya selaku Bendahara Umum Daerah (BUD) berwenang: a. menyusun dan melaksanakan kebijakan pengelolaan keuangan daerah.

melaksanakan penghapusan barang milik daerah. melaksanakan penempatan uang daerah dan mengelola/menatausahakan investasi daerah. menyimpan uang daerah. g. memantau pelaksanaan penerimaan dan pengeluaran APBD oleh bank dan/atau lembaga keuangan lainnya yang ditunjuk. PPKD mempertanggungjawabkan pelaksanaan tugasnya kepada Kepala Daerah melalui Sekretaris Daerah. d. f. mengusahakan dan mengatur dana yang diperlukan dalam pelaksanaan APBD. dan kebijakan dan pedoman pengelolaan serta j. Penunjukan Kuasa BUD oleh PPKD ditetapkan dengan keputusan kepala daerah. melaksanakan pemungutan pajak daerah. c.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I e. e. menerbitkan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D). melaksanakan sistem akuntansi dan pelaporan keuangan daerah. menyiapkan Surat Penyediaan Dana (SPD). i. menetapkan Surat Penyediaan Dana (SPD). Kuasa BUD mempunyai tugas: a. g. menyiapkan pelaksanaan pinjaman dan pemberian pinjaman atas nama pemerintah daerah. menyiapkan anggaran kas. Pusdiklatwas BPKP – 2007 11 . menyajikan informasi keuangan daerah. f. h. b. menyimpan seluruh bukti asli kepemilikan kekayaan daerah. PPKD selaku BUD menunjuk pejabat di lingkungan satuan kerja pengelola keuangan daerah selaku Kuasa Bendahara Umum Daerah (Kuasa BUD). h.

Pusdiklatwas BPKP – 2007 12 . dan l. b. menyajikan informasi keuangan daerah. melakukan pengendalian pelaksanaan APBD. menyusun Dokumen Pelaksanaan Anggaran SKPD (DPA-SKPD). Pejabat Pengguna Anggaran/Pengguna Barang Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) selaku Pejabat Pengguna Anggaran /Pengguna Barang (PPA/PB) mempunyai tugas: a. b. melakukan pembayaran berdasarkan permintaan pejabat pengguna anggaran atas beban rekening kas umum daerah. melaksanakan kebijakan dan pedoman pengelolaan serta pemberian pinjaman atas nama pemerintah penghapusan barang milik daerah. d. menyusun rancangan APBD dan rancangan Perubahan APBD. dan g. c. melaksanakan pemungutan pajak daerah. melaksanakan sistem akuntansi dan pelaporan keuangan daerah.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I i. 4. PPKD dapat melimpahkan kepada pejabat lainnya di lingkungan SKPKD untuk melaksanakan tugas-tugas sebagai berikut: a. menyiapkan pelaksanaan pinjaman dan pemberian jaminan atas nama pemerintah daerah. melakukan penagihan piutang daerah. k. j. f. e. melakukan pengelolaan utang dan piutang daerah. menyusun Rencana Kerja dan Anggaran SKPD (RKA-SKPD). melaksanakan daerah. Kuasa BUD bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada BUD.

menandatangani Surat Perintah Membayar (SPM). melaksanakan tugas-tugas pengguna anggaran/pengguna barang lainnya berdasarkan kuasa yang dilimpahkan oleh kepala daerah. h. f. mengelola barang milik daerah/kekayaan daerah yang menjadi tanggung jawab SKPD yang dipimpinnya. e. mengawasi pelaksanaan anggaran SKPD yang dipimpinnya. Pelimpahan sebagian kewenangan tersebut berdasarkan pertimbangan tingkatan daerah. melaksanakan anggaran SKPD yang dipimpinnya. d. dan m. mengadakan ikatan/perjanjian kerjasama dengan pihak lain dalam batas anggaran yang telah ditetapkan. i. g. menyusun dan menyampaikan laporan keuangan SKPD yang dipimpinnya. k. l. melakukan pembayaran.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I c. j. mengelola utang dan piutang yang menjadi tanggung jawab SKPD yang dipimpinnya. melaksanakan pemungutan penerimaan bukan pajak. Pejabat Pengguna Anggaran/Pengguna Barang dalam melaksanakan tugas-tugasnya dapat melimpahkan sebagian kewenangannya pengujian atas tagihan dan memerintahkan kepada Kepala Unit Kerja pada SKPD selaku Kuasa Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Barang. melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran atas beban anggaran belanja. Pusdiklatwas BPKP – 2007 13 . Pejabat pengguna anggaran/pengguna barang bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada Kepala Daerah melalui Sekretaris Daerah.

b. menyiapkan dokumen anggaran atas beban pengeluaran pelaksanaan kegiatan. PPTK bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada pengguna anggaran/pengguna barang atau kuasa pengguna anggaran/kuasa pengguna barang yang telah menunjuknya. Tugastugas tersebut adalah: a. anggaran kegiatan. besaran jumlah uang yang dikelola. Penunjukan pejabat tersebut berdasarkan pertimbangan kompetensi jabatan. mengendalikan pelaksanaan kegiatan. Kuasa pengguna anggaran/kuasa pengguna barang mempertanggung jawabkan pelaksanaan tugas-tugasnya kepada pengguna anggaran/ pengguna barang. Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan SKPD Pejabat Pengguna Anggaran/Pengguna Barang dan Kuasa Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Barang dalam melaksanakan program dan kegiatan menunjuk pejabat pada unit kerja SKPD selaku Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK). beban kerja. melaporkan perkembangan pelaksanaan kegiatan. dan c. 5. yang mencakup dokumen administrasi kegiatan maupun dokumen administrasi yang terkait dengan persyaratan pembayaran yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. lokasi. kompetensi dan/atau rentang kendali dan pertimbangan objektif lainnya. Pelimpahan sebagian kewenangan tersebut ditetapkan oleh kepala daerah atas usul kepala SKPD.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I besaran SKPD. lokasi. beban kerja. dan/atau rentang kendali dan pertimbangan objektif lainnya. Pusdiklatwas BPKP – 2007 14 .

b. melakukan verifikasi Surat Permintaan Pembayaran (SPP). melaksanakan akuntansi SKPD. Pejabat Penatausahaan Keuangan SKPD Untuk melaksanakan anggaran yang dimuat dalam Dokumen Pelaksanaan Anggaran SKPD (DPA-SKPD). bendahara. menyiapkan Surat Perintah Membayar (SPM). c. dan g. PPK-SKPD tidak boleh merangkap sebagai pejabat yang bertugas melakukan pemungutan penerimaan negara/daerah. dan/atau PPTK. e.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I 6. Pusdiklatwas BPKP – 2007 15 . meneliti kelengkapan Surat Permintaan Pembayaran Uang Persediaan (SPP-UP). d. f. PPK-SKPD mempunyai tugas: a. Surat Permintaan Pembayaran Tambah Uang Persediaan (SPP-TU) dan SPP-LS gaji dan tunjangan PNS serta penghasilan lainnya yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang diajukan oleh bendahara pengeluaran. Kepala SKPD menetapkan pejabat yang melaksanakan fungsi tata usaha keuangan pada SKPD sebagai Pejabat Penatausahaan Keuangan SKPD (PPKSKPD). menyiapkan laporan keuangan SKPD. Surat Permintaan Pembayaran Ganti Uang Persediaan (SPP-GU). melakukan verifikasi harian atas penerimaan. meneliti kelengkapan Surat Permintaan Pembayaran Langsung (SPP-LS) pengadaan barang dan jasa yang disampaikan oleh bendahara pengeluaran dan diketahui/ disetujui oleh PPTK.

Bendahara Penerimaan dan Bendahara Pengeluaran baik secara langsung maupun tidak langsung dilarang melakukan kegiatan perdagangan. Semua hak di bawah ini adalah hak yang dilakukan dalam rangka Keuangan Daerah kecuali : a. b. D. LATIHAN 1. Pusdiklatwas BPKP – 2007 16 . c. Hak untuk mengadakan pinjaman Daerah. Bendahara Penerimaan dan Bendahara Pengeluaran Kepala daerah atas usul PPKD menetapkan Bendahara Penerimaan dan Bendahara Pengeluaran untuk melaksanakan tugas kebendaharaan dalam rangka pelaksanaan anggaran pada SKPD. pekerjaan pemborongan dan penjualan jasa atau bertindak sebagai penjamin atas kegiatan/ pekerjaan/penjualan. Bendahara Penerimaan dan Bendahara Pengeluaran secara fungsional bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada PPKD selaku BUD.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I 7. serta membuka rekening/giro pos atau menyimpan uang pada suatu bank atau lembaga keuangan lainnya atas nama pribadi. Bendahara Penerimaan dan Bendahara Pengeluaran tersebut adalah pejabat fungsional. Bendahara Penerimaan dan Bendahara Pengeluaran dalam melaksanakan tugasnya dapat dibantu oleh Bendahara Penerimaan Pembantu dan/atau Bendahara Pengeluaran Pembantu. Hak untuk memperoleh dana perimbangan dari pusat. Hak menarik pajak Daerah. d. Hak untuk memperoleh bagian laba dari Perusahaan Daerah.

Pengguna Anggaran/ Pengguna Barang berwenang antara lain : a. Sekretaris Daerah. Mengesahkan dokumen pelaksanaan anggaran. Menyusun dan menyampaikan laporan keuangan. Melaksanakan pemungutan penerimaan bukan pajak.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I Pemegang kekuasaan umum Pengelolaan Keuangan Daerah adalah : a. 5. d. Kepala Daerah. 3. Menggunakan barang milik daerah. 4. Bendahara Umum Daerah berwenang antara lain: a. Melaksanakan sistem akuntansi dan pelaporan keuangan daerah. Pengguna Anggaran/Pengguna barang. d. c. Bendahara Umum Negara. c. d. b. c. Menyusun dokumen pelaksanaan anggaran. Bendahara Umum Daerah. b. Kepala Biro Keuangan Daerah. Kepala Daerah . c. Melakukan pengelolaan utang dan piutang daerah. b. Persyaratan dan pembinaan karir bendahara diatur oleh : a. d. Melaksanakan pemungutan pajak daerah. b. Bupati. Pusdiklatwas BPKP – 2007 17 .

APBD merupakan dasar pengelolaan keuangan daerah dalam satu tahun anggaran. maka APBD menjadi Pusdiklatwas BPKP – 2007 18 . APBD merupakan rencana pelaksanaan semua Pendapatan Daerah dan semua Belanja Daerah dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi dalam tahun anggaran tertentu. Sedangkan penerimaan dan pengeluaran yang berkaitan dengan pelaksanaan Dekonsentrasi atau Tugas Pembantuan tidak dicatat dalam APBD. belanja daerah. fungsi dan prinsip anggaran daerah. 17 Tahun 2003 pasal 1 butir 8 tentang Keuangan Negara). Demikian pula semua pengeluaran daerah dan ikatan yang membebani daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi dilakukan sesuai jumlah dan sasaran yang ditetapkan dalam APBD. Pemungutan semua penerimaan Daerah bertujuan untuk memenuhi target yang ditetapkan dalam APBD. Penerimaan dan pengeluaran daerah tersebut adalah dalam rangka pelaksanaan tugas-tugas desentralisasi. Karena APBD merupakan dasar pengelolaan keuangan daerah. Semua Penerimaan Daerah dan Pengeluaran Daerah harus dicatat dan dikelola dalam APBD. sumber-sumber penerimaan daerah. serta pembiayaan daerah dalam rangka membantu pelaksanaan tugasnya sebagai auditor. struktur APBD. PENGERTIAN Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah selanjutnya disingkat APBD adalah suatu rencana keuangan tahunan pemerintah daerah yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (UU No. A.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I BAB III ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH (APBD) Pada akhir pemelajaran ini peserta dapat menjelaskan pengertian APBD.

Fungsi Otorisasi Anggaran daerah merupakan dasar untuk melaksanakan pendapatan dan belanja pada tahun yang bersangkutan. jumlah belanja yang dianggarkan merupakan batas tertinggi untuk setiap jenis belanja. Pusdiklatwas BPKP – 2007 19 . pemeriksaan dan pengawasan keuangan daerah. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Jadi. B. pengendalian.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I dasar pula bagi kegiatan pengendalian. FUNGSI-FUNGSI ANGGARAN DAERAH Berbagai fungsi APBN/APBD sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 3 ayat (4) UU No. Berkaitan dengan belanja. Jumlah pendapatan yang dianggarkan dalam APBD merupakan perkiraan yang terukur secara rasional yang dapat tercapai untuk setiap sumber pendapatan. Setiap pejabat dilarang melakukan tindakan yang berakibat pengeluaran atas beban APBD apabila tidak tersedia atau tidak cukup tersedia anggaran untuk membiayai pengeluaran tersebut. yaitu : 1. APBD disusun dengan pendekatan kinerja yaitu suatu sistem anggaran yang mengutamakan upaya pencapaian hasil kerja atau output dari perencanaan alokasi biaya atau input yang ditetapkan. Pendapatan dapat direalisasikan melebihi jumlah anggaran yang telah ditetapkan. dan pengawasan keuangan daerah dapat dilaksanakan berdasarkan kerangka waktu tersebut. Sehingga pengelolaan. Tahun anggaran APBD sama dengan tahun anggaran APBN yaitu mulai 1 Januari dan berakhir tanggal 31 Desember tahun yang bersangkutan. Penganggaran pengeluaran harus didukung dengan adanya kepastian tersedianya penerimaan dalam jumlah yang cukup. realisasi belanja tidak boleh melebihi jumlah anggaran belanja yang telah ditetapkan.

5. serta meningkatkan efisiensi dan efektivitas perekonomian. yaitu : Pusdiklatwas BPKP – 2007 20 . PRINSIP-PRINSIP ANGGARAN DAERAH Prinsip-prinsip dasar (azas) yang berlaku di bidang pengelolaan Anggaran Daerah yang berlaku juga dalam pengelolaan Anggaran Negara / Daerah sebagaimana bunyi penjelasan dalam Undang Undang No. Fungsi Perencanaan Anggaran daerah merupakan pedoman bagi manajemen dalam merencanakan kegiatan pada tahun yang bersangkutan. 3. C. Fungsi Distribusi Anggaran daerah harus mengandung arti/ memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan 6. 4. Fungsi Alokasi Anggaran daerah diarahkan untuk mengurangi pengangguran dan pemborosan sumber daya. Fungsi Pengawasan Anggaran daerah menjadi pedoman untuk menilai apakah kegiatan penyelenggaraan pemerintah daerah sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I 2. Fungsi Stabilisasi Anggaran daerah harus mengandung arti/ harus menjadi alat untuk memelihara dan mengupayakan keseimbangan fundamental perekonomian. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara.

5. walaupun sebenarnya belum dibayar atau belum diterima pada kas 6. 2. Pusdiklatwas BPKP – 2007 21 . 3. 15 dan 16 dalam UU Nomor 17 Tahun 2003. Kesatuan Azas ini menghendaki agar semua Pendapatan dan Belanja Negara/Daerah disajikan dalam satu dokumen anggaran. Tahunan Azas ini membatasi masa berlakunya anggaran untuk suatu tahun tertentu 4. atau menguntungkan anggaran untuk penerimaan yang seharusnya diterima.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I 1. dilaksanakan selambatlambatnya dalam 5 (lima) tahun. Selama pengakuan dan pengukuran pendapatan dan belanja berbasis akrual belum dilaksanakan. Universalitas Azas ini mengharuskan agar setiap transaksi keuangan ditampilkan secara utuh dalam dokumen anggaran. digunakan pengakuan dan pengukuran berbasis kas. Kas Azas ini menghendaki anggaran suatu tahun anggaran dibebani pada saat terjadi pengeluaran/ penerimaan uang dari/ ke Kas Daerah Ketentuan mengenai pengakuan dan pengukuran pendapatan dan belanja berbasis akrual sebagaimana dimaksud dalam pasal 1 angka 13. Akrual Azas ini menghendaki anggaran suatu tahun anggaran dibebani untuk pengeluaran yang seharusnya dibayar. Spesialitas Azas ini mewajibkan agar kredit anggaran yang disediakan terinci secara jelas peruntukannya. 14.

Pendapatan Daerah Pendapatan daerah meliputi semua penerimaan uang melalui Rekening Kas Umum Daerah. Jumlah pembiayaan sama dengan jumlah surplus atau jumlah defisit anggaran. Pendapatan daerah terdiri atas: a. Pendapatan Asli Daerah (PAD). Pusdiklatwas BPKP – 2007 22 . hasil penjualan kekayaan daerah yang tidak dipisahkan. 2. retribusi daerah. hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan. b.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I D. STRUKTUR ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH Struktur APBD merupakan satu kesatuan yang terdiri dari: 1. yang menambah ekuitas dana lancar. Lain-lain pendapatan daerah yang sah. Lain-lain PAD yang sah terdiri dari: a. c. 3. Pendapatan Asli Daerah terdiri atas: a. pajak daerah. 1. Perincian selanjutnya. Dana Perimbangan. dan d. Pendapatan Daerah Belanja Daerah Pembiayaan Selisih lebih pendapatan daerah terhadap belanja daerah disebut surplus anggaran. b. lain-lain PAD yang sah. tapi apabila terjadi selisih kurang maka hal itu disebut defisit anggaran. yang merupakan hak daerah dalam satu tahun anggaran yang tidak perlu dibayar kembali oleh Daerah. dan c.

adalah Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah yang meliputi hibah. Belanja daerah Pusdiklatwas BPKP – 2007 23 . Dana Bagi Hasil. dan lain-lain pendapatan yang ditetapkan oleh pemerintah. dana darurat. Belanja Daerah Komponen berikutnya dari APBD adalah Belanja Daerah. potongan. yang merupakan kewajiban daerah dalam satu tahun anggaran yang tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh Daerah. dan c. Pendapatan daerah. c. tuntutan ganti rugi. dan/atau jasa yang berasal dari pemerintah. e. b. pendapatan bunga. Dana Alokasi Khusus. ataupun bentuk lain sebagai akibat dari penjualan dan/atau pengadaan barang dan/atau jasa oleh daerah. barang. Dana Alokasi Umum. dan badan usaha dalam negeri atau luar negeri yang tidak mengikat. hasil pemanfaatan atau pendayagunaan kekayaan daerah yang tidak dipisahkan. Hibah yang merupakan bagian dari Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah merupakan bantuan berupa uang. keuntungan selisih nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing. selain PAD dan Dana Perimbangan. masyarakat. dan g. komisi. Pendapatan daerah yang berasal dari Dana Perimbangan terdiri dari: a. d. jasa giro. Belanja daerah meliputi semua pengeluaran dari Rekening Kas Umum Daerah yang mengurangi ekuitas dana lancar. f.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I b. 2.

dan b. dan potensi keunggulan daerah. kekhasan. Klasifikasi belanja menurut fungsi terdiri dari: a. klasifikasi fungsi pengelolaan keuangan negara. Klasifikasi belanja menurut organisasi disesuaikan dengan susunan organisasi pemerintahan daerah. Pusdiklatwas BPKP – 2007 24 . Belanja penyelenggaraan urusan wajib tersebut diprioritaskan untuk melindungi dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dalam upaya memenuhi kewajiban daerah yang diwujudkan dalam bentuk peningkatan pelayanan dasar. Sedangkan urusan pilihan adalah urusan pemerintah yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai kondisi. fungsi. serta jenis belanja. pendidikan. program dan kegiatan. fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak serta mengembangkan sistem jaminan sosial. klasifikasi berdasarkan urusan pemerintahan. Peningkatan prestasi kualitas kerja kehidupan masyarakat standar diwujudkan melalui dalam pencapaian pelayanan minimal berdasarkan urusan wajib pemerintahan daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Belanja daerah diklasifikasikan menurut organisasi. kesehatan.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I dipergunakan dalam rangka pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan provinsi atau kabupaten/kota yang terdiri dari urusan wajib dan urusan pilihan yang ditetapkan dengan ketentuan perundang-undangan. Klasifikasi belanja berdasarkan urusan pemerintahan diklasifikasikan menurut kewenangan pemerintahan provinsi dan kabupaten/kota. Urusan wajib adalah urusan yang sangat mendasar yang berkaitan dengan hak dan pelayanan dasar kepada masyarakat yang wajib diselenggarakan oleh pemerintah daerah.

perumahan dan fasilitas umum. Pusdiklatwas BPKP – 2007 25 . bunga. b. e. Klasifikasi belanja menurut program dan kegiatan disesuaikan dengan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah. f. ekonomi. hibah. belanja barang dan jasa. perlindungan sosial. ketertiban dan keamanan. kesehatan. c. f. serta j. lingkungan hidup. i. subsidi. c. pelayanan umum. h. bantuan sosial. b. Sedangkan klasifikasi belanja menurut jenis belanja terdiri dari: a.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I Sedangkan klasifikasi belanja menurut fungsi pengelolaan negara digunakan untuk tujuan keselarasan dan keterpaduan pengelolaan keuangan negara terdiri dari: a. agama. pendidikan. pariwisata dan budaya. d. e. belanja modal. belanja pegawai. g. d. g.

pencairan dana cadangan. pembayaran pokok utang. pembentukan dana cadangan. Pengeluaran pembiayaan mencakup: a. baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya. hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan. dan e.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I h. b. Pembiayaan Daerah Pembiayaan daerah meliputi semua penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali. Pembiayaan daerah tersebut terdiri dari penerimaan pembiayaan dan pengeluaran pembiayaan. c. SiLPA tahun anggaran sebelumnya. pemberian pinjaman. belanja tidak terduga. d. Pusdiklatwas BPKP – 2007 26 . belanja bagi hasil dan bantuan keuangan. penerimaan pinjaman. Jumlah pembiayaan neto harus dapat menutup defisit anggaran. Pembiayaan neto merupakan selisih lebih penerimaan pembiayaan terhadap pengeluaran pembiayaan. b. penyertaan modal pemerintah daerah. Penganggaran dalam APBD untuk setiap jenis belanja berdasarkan ketentuan perundang-undangan. 3. Penerimaan pembiayaan mencakup: a. c. penerimaan kembali pemberian pinjaman. dan d. dan i.

Pinjaman Daerah. Pengeluaran Daerah dan Pembiayaan. Sumber-sumber penerimaan Daerah dalam pelaksanaan desentralisasi adalah seperti disebut di bawah ini. Urusan Pemerintahan. b. Belanja Daerah dan Pembiayaan. Belanja Daerah dan Pembiayaan.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I E. Pusdiklatwas BPKP – 2007 27 . Selisih lebih anggaran. LATIHAN 1. Kelebihan anggaran. 4. d. Fungsi. Pendapatan Daerah. Pendapatan Asli Daerah. Penerimaan Daerah. Surplus Anggaran. Penerimaan Daerah. c. kecuali : a. b. c. Belanja Pegawai. Belanja Barang dan Jasa adalah belanja yang diklasifikasikan berdasarkan : a. c. d. Jenis. Pembiayaan anggaran. d. b. Dana Perimbangan. Pendapatan Daerah. Pengeluaran Daerah dan Pembiayaan. c. Struktur APBD merupakan satu kesatuan yang terdiri dari : a. 3. b. Penerimaan Pajak dan Retribusi Daerah. Program dan Kegiatan. d. 2. Selisih lebih pendapatan daerah terhadap Belanja Daerah disebut : a.

Pusdiklatwas BPKP – 2007 28 . d.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I 5. Penerimaan Pembiayaan. Belanja. Pembentukan Dana Cadangan termasuk dalam komponen : a. c. Pengeluaran Pembiayaan. b. Pendapatan.

Pendapatan. Penyusunan dan Penetapan APBD. dan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD ditetapkan setiap tahun dengan peraturan daerah.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I BAB IV PENYUSUNAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH (APBD) Pada akhir pemelajaran ini peserta dapat memahami siklus anggaran. pemerintah melaksanakan kegiatan keuangan dalam siklus pengelolaan anggaran yang secara garis besar terdiri dari: 1. perubahan APBD. Dalam menyusun APBD. 3. 2. mulai dari penyusunan rancangan hingga penetapan APBD. Penyusunan APBD berpedoman kepada Rencana Kerja Pemerintah Daerah dalam rangka mewujudkan pelayanan kepada masyarakat untuk tercapainya tujuan bernegara. penganggaran pengeluaran harus didukung dengan adanya kepastian atas tersedianya penerimaan dalam jumlah yang cukup. belanja dan pembiayaan daerah Pusdiklatwas BPKP – 2007 29 . APBD disusun sesuai dengan kebutuhan penyelenggaraan pemerintahan dan kemampuan pendapatan daerah. Pelaksanaan dan Penatausahaan APBD. APBD. A. Dalam pelaksanaan tugas-tugas pemerintahan. Pelaporan dan Pertanggungjawaban APBD. SIKLUS ANGGARAN APBD merupakan dasar pengelolaan keuangan daerah dalam masa 1 (satu) tahun anggaran terhitung mulai tanggal 1 Januari sampai dengan tanggal 31 Desember. khususnya proses penyusunan APBD.

B. perlu diperhatikan kesesuaian antara kewenangan pemerintahan dan sumber pendanaannya. 2. Anggaran belanja daerah diprioritaskan untuk melaksanakan dalam kewajiban peraturan pemerintahan daerah sebagaimana ditetapkan perundang-undangan. Penyelenggaraan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintah pusat di daerah didanai dari dan atas beban APBN. Pusdiklatwas BPKP – 2007 30 . didanai dari dan atas beban APBD provinsi. Penyelenggaraan urusan pemerintahan kabupaten/kota yang penugasannya dilimpahkan kepada desa.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I yang dianggarkan dalam APBD harus berdasarkan pada ketentuan peraturan perundang-undangan dan dianggarkan secara bruto dalam APBD. Pengaturan kesesuaian kewenangan dengan pendanaannya adalah sebagai berikut: 1. 3. Penganggaran penerimaan dan pengeluaran APBD harus memiliki dasar hukum penganggaran. didanai dari dan atas beban APBD kabupaten/kota. Karena itu. 4. Penyelenggaraan urusan pemerintahan provinsi yang penugasannya dilimpahkan kepada kabupaten/kota dan/atau desa. Seluruh penerimaan dan pengeluaran pemerintahan daerah baik dalam bentuk uang. PENYUSUNAN RANCANGAN APBD Pemerintah Daerah perlu menyusun APBD untuk menjamin kecukupan dana dalam menyelenggarakan urusan pemerintahannya. Penyelenggaraan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah didanai dari dan atas beban APBD. barang dan/atau jasa pada tahun anggaran yang berkenaan harus dianggarkan dalam APBD.

rencana kerja yang terukur dan pendanaannya. pemerintah daerah maupun ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat. prioritas pembangunan dan kewajiban daerah. Kebijakan Umum APBD Setelah Rencana Kerja Pemerintah Daerah ditetapkan.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I 1. Secara khusus. Pemerintah daerah menyusun RKPD yang merupakan penjabaran dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dengan menggunakan bahan dari Renja SKPD untuk jangka waktu 1 (satu) tahun yang mengacu kepada Rencana Kerja Pemerintah Pusat. kewajiban daerah mempertimbangkan prestasi capaian standar pelayanan minimal yang ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. pelaksanaan. RKPD ditetapkan dengan peraturan kepala daerah. RKPD tersebut memuat rancangan kerangka ekonomi daerah. Rencana Kerja Pemerintahan Daerah Penyusunan APBD berpedoman kepada Rencana Kerja Pemerintah Daerah. dan pengawasan. Pemerintah daerah perlu menyusun Kebijakan Umum APBD (KUA) serta Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS) yang menjadi acuan bagi Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dalam menyusun Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) SKPD. Karena itu kegiatan pertama dalam penyusunan APBD adalah penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah. penganggaran. Penyusunan RKPD diselesaikan paling lambat akhir bulan Mei sebelum tahun anggaran berkenaan. 2. RKPD disusun untuk menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan. Pusdiklatwas BPKP – 2007 31 .

alokasi belanja daerah. c. disampaikan oleh sekretaris daerah selaku koordinator pengelola keuangan daerah kepada kepala daerah. hal-hal khusus lainnya. dan d. Pedoman penyusunan APBD yang ditetapkan Menteri Dalam Negeri tersebut memuat antara lain: a.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I Kepala daerah menyusun rancangan KUA berdasarkan RKPD dan pedoman penyusunan APBD yang ditetapkan Menteri Dalam Negeri setiap tahun. Rancangan KUA yang telah disusun. b. kepala daerah dibantu oleh Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) yang dipimpin oleh sekretaris daerah. pokok-pokok kebijakan yang memuat sinkronisasi kebijakan pemerintah dengan pemerintah daerah. Dalam menyusun rancangan KUA. teknis penyusunan APBD. Rancangan KUA disampaikan kepala daerah kepada DPRD paling lambat pertengahan bulan Juni tahun anggaran berjalan untuk dibahas dalam pembicaraan pendahuluan RAPBD tahun anggaran Pusdiklatwas BPKP – 2007 32 . Program-program diselaraskan dengan prioritas pembangunan yang ditetapkan oleh pemerintah pusat. prinsip dan kebijakan penyusunan APBD tahun anggaran berkenaan. sumber dan penggunaan pembiayaan yang disertai dengan asumsi yang mendasarinya. Sedangkan asumsi yang mendasari adalah pertimbangan atas perkembangan ekonomi makro dan perubahan pokok-pokok kebijakan fiskal yang ditetapkan oleh pemerintah pusat. Rancangan KUA memuat target pencapaian kinerja yang terukur dari program-program yang akan dilaksanakan oleh pemerintah daerah untuk setiap urusan pemerintahan daerah yang disertai dengan proyeksi pendapatan daerah. paling lambat pada awal bulan Juni.

Rancangan PPAS tersebut disusun dengan tahapan sebagai berikut: a. Pusdiklatwas BPKP – 2007 33 . 3. pemerintah daerah menyusun rancangan Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS). yang bersangkutan dapat menunjuk pejabat yang diberi wewenang untuk menandatangani nota kepakatan KUA dan PPA. menyusun plafon anggaran sementara untuk masing-masing program. penandatanganan nota kepakatan KUA dan PPA dilakukan oleh pejabat yang ditunjuk oleh pejabat yang berwenang. Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara Selanjutnya berdasarkan KUA yang telah disepakati. dan c. Pembahasan dilakukan oleh TAPD bersama panitia anggaran DPRD. Kepala daerah menyampaikan rancangan PPAS yang telah disusun kepada DPRD untuk dibahas paling lambat minggu kedua bulan Juli tahun anggaran berjalan. menentukan urutan program untuk masing-masing urusan. Dalam hal kepala daerah berhalangan tetap. Rancangan PPAS yang telah dibahas selanjutnya disepakati menjadi PPA paling lambat akhir bulan Juli tahun anggaran berjalan.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I berikutnya. Dalam hal kepala daerah berhalangan. masing-masing dituangkan ke dalam nota kesepakatan yang ditandatangani bersama antara kepala daerah dengan pimpinan DPRD. b. Pembahasan dilakukan oleh TAPD bersama panitia anggaran DPRD. menentukan skala prioritas untuk urusan wajib dan urusan pilihan. KUA serta PPA yang telah disepakati. Rancangan KUA yang telah dibahas selanjutnya disepakati menjadi KUA paling lambat minggu pertama bulan Juli tahun anggaran berjalan.

kode rekening APBD. sinkronisasi program dan kegiatan antar SKPD dengan kinerja SKPD berkenaan sesuai dengan standar pelayanan minimal yang ditetapkan. penganggaran terpadu dan penganggaran berdasarkan prestasi kerja. dan e. tranparansi dan akuntabilitas penyusunan anggaran dalam rangka pencapaian prestasi kerja. format RKASKPD. efektifitas. hal-hal lainnya yang perlu mendapatkan perhatian dari SKPD terkait dengan prinsip-prinsip peningkatan efisiensi. kepala SKPD menyusun RKA-SKPD. PPA yang dialokasikan untuk setiap program SKPD berikut rencana pendapatan dan pembiayaan. Pendekatan kerangka pengeluaran jangka menengah daerah dilaksanakan dengan Pusdiklatwas BPKP – 2007 34 . Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran SKPD Berdasarkan nota kesepakatan yang berisi KUA dan PPAS. d. batas waktu penyampaian RKA-SKPD kepada PPKD. RKA-SKPD disusun dengan menggunakan pendekatan kerangka pengeluaran jangka menengah daerah. Surat edaran kepala daerah perihal pedoman penyusunan RKASKPD diterbitkan paling lambat awal bulan Agustus tahun anggaran berjalan. PPA. b. Berdasarkan pedoman penyusunan RKA-SKPD.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I 4. Rancangan surat edaran kepala daerah tentang pedoman penyusunan RKA-SKPD mencakup: a. analisis standar belanja dan standar satuan harga. dokumen sebagai lampiran meliputi KUA. c. TAPD menyiapkan rancangan surat edaran kepala daerah tentang pedoman penyusunan RKA SKPD sebagai acuan kepala SKPD dalam menyusun RKA-SKPD.

Pendekatan penganggaran berdasarkan prestasi kerja dilakukan dengan memperhatikan keterkaitan antara pendanaan dengan keluaran yang diharapkan dari kegiatan dan hasil serta manfaat yang diharapkan termasuk efisiensi dalam pencapaian hasil dan keluaran tersebut. dan pembiayaan di lingkungan SKPD untuk menghasilkan dokumen rencana kerja dan anggaran. belanja. dan terciptanya kesinambungan RKA-SKPD. Pendekatan penganggaran terpadu dilakukan dengan memadukan seluruh proses perencanaan dan penganggaran pendapatan. Prakiraan maju tersebut berisi perkiraan kebutuhan anggaran untuk program dan kegiatan yang direncanakan dalam tahun anggaran berikutnya dari tahun anggaran yang direncanakan. Pusdiklatwas BPKP – 2007 35 . Untuk terlaksananya kerangka penyusunan pengeluaran RKA-SKPD jangka berdasarkan daerah. kepala SKPD mengevaluasi hasil pelaksanaan program dan kegiatan 2 (dua) tahun anggaran sebelumnya sampai dengan semester pertama tahun anggaran berjalan.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I menyusun prakiraan maju. Evaluasi tersebut bertujuan menilai program dan kegiatan yang belum dapat dilaksanakan dan/atau belum diselesaikan tahun-tahun sebelumnya untuk dilaksanakan dan/atau diselesaikan pada tahun yang direncanakan atau 1 (satu) tahun berikutnya dari tahun yang direncanakan. pendekatan menengah penganggaran terpadu dan penganggaran berdasarkan prestasi kerja. Dalam hal suatu program dan kegiatan merupakan tahun terakhir untuk pencapaian prestasi kerja yang ditetapkan. kebutuhan dananya harus dianggarkan pada tahun yang direncanakan.

Standar pelayanan minimal merupakan tolok ukur kinerja dalam menentukan capaian jenis dan mutu pelayanan dasar yang merupakan urusan wajib daerah. standar pelayanan minimal. c. rencana belanja untuk masing-masing program dan kegiatan. indikator kinerja. capaian atau target kinerja. dan pembiayaan serta prakiraan maju untuk tahun berikutnya. Analisis standar belanja merupakan penilaian kewajaran atas beban kerja dan biaya yang digunakan untuk melaksanakan suatu kegiatan. kuantitas. efisiensi dan efektifitas pelaksanaan dari setiap program dan kegiatan. e. analisis standar belanja. serta rencana pembiayaan untuk tahun yang direncanakan dirinci sampai dengan rincian objek pendapatan. Standar satuan harga merupakan harga satuan setiap unit barang/jasa yang berlaku di suatu daerah yang ditetapkan dengan keputusan kepala daerah. b. RKA-SKPD juga memuat informasi tentang urusan Pusdiklatwas BPKP – 2007 36 . standar satuan harga. Indikator kinerja adalah ukuran keberhasilan yang akan dicapai dari program dan kegiatan yang direncanakan. d. RKA-SKPD memuat rencana pendapatan.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I Penyusunan RKA-SKPD berdasarkan prestasi kerja memperhatikan: a. belanja. Capaian kinerja merupakan ukuran prestasi kerja yang akan dicapai yang berwujud kualitas.

organisasi. Dalam hal hasil pembahasan RKA-SKPD terdapat ketidaksesuaian. b. indikator kinerja. organisasi. serta capaian kinerja. Pusdiklatwas BPKP – 2007 37 . dan dokumen perencanaan lainnya. kepala SKPD melakukan penyempurnaan. prestasi kerja yang akan dicapai dari program dan kegiatan. PPA. Rancangan peraturan daerah tentang APBD dilengkapi dengan lampiran yang terdiri dari: a. ringkasan APBD menurut urusan pemerintahan daerah dan organisasi. serta sinkronisasi program dan kegiatan antar SKPD. standar analisis belanja. belanja dan pembiayaan. ringkasan APBD. Pembahasan oleh TAPD dilakukan untuk menelaah kesesuaian antara RKA-SKPD dengan KUA. Penyiapan Raperda APBD Selanjutnya. standar pelayanan minimal. RKA-SKPD yang telah disusun oleh SKPD disampaikan kepada PPKD untuk dibahas lebih lanjut oleh TAPD. standar biaya. rincian APBD menurut urusan pemerintahan daerah. 5. prakiraan maju yang telah disetujui tahun anggaran sebelumnya. RKA-SKPD yang telah disempurnakan oleh kepala SKPD disampaikan kepada PPKD sebagai bahan penyusunan rancangan peraturan daerah tentang APBD dan rancangan peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD. berdasarkan RKA-SKPD yang telah disusun oleh SKPD dilakukan pembahasan penyusunan Raperda oleh TAPD. kelompok sasaran kegiatan.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I pemerintahan daerah. c. standar satuan harga. pendapatan.

h. rincian obyek pendapatan. Rancangan peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD wajib memuat penjelasan sebagai berikut: Pusdiklatwas BPKP – 2007 38 . j. f. i. rekapitulasi belanja menurut urusan pemerintahan daerah. rekapitulasi belanja daerah untuk keselarasan dan keterpaduan urusan pemerintahan daerah dan fungsi dalam kerangka pengelolaan keuangan negara. organisasi. obyek. daftar jumlah pegawai per golongan dan per jabatan. belanja dan pembiayaan. b. kegiatan. daftar perkiraan penambahan dan pengurangan aset tetap daerah. daftar kegiatan-kegiatan tahun anggaran sebelumnya yang belum diselesaikan dan dianggarkan kembali dalam tahun anggaran ini. l. dan m. g. jenis. Bersamaan dengan penyusunan rancangan Perda APBD. penjabaran APBD menurut urusan pemerintahan daerah. program. daftar dana cadangan daerah. kelompok. organisasi. daftar piutang daerah. daftar pinjaman daerah. ringkasan penjabaran APBD.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I d. k. program dan kegiatan. disusun rancangan peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD. Rancangan peraturan kepala daerah tersebut dilengkapi dengan lampiran yang terdiri dari: a. daftar penyertaan modal (investasi) daerah. daftar perkiraan penambahan dan pengurangan aset lain-lain. e.

untuk pendapatan mencakup dasar hukum. lokasi kegiatan dan sumber pendanaan kegiatan. Selanjutnya rancangan peraturan daerah tentang APBD sebelum disampaikan kepada DPRD disosialisasikan kepada masyarakat. sumber penerimaan pembiayaan dan tujuan pengeluaran pembiayaan. sasaran. Sosialisasi rancangan peraturan daerah tentang APBD tersebut bersifat memberikan informasi mengenai hak dan kewajiban pemerintah daerah serta masyarakat dalam pelaksanaan APBD tahun anggaran yang direncanakan. untuk belanja mencakup dasar hukum. Penyebarluasan rancangan peraturan daerah tentang APBD dilaksanakan oleh sekretaris daerah selaku koordinator pengelolaan keuangan daerah. target/volume yang direncanakan. Penetapan agenda pembahasan rancangan Pusdiklatwas BPKP – 2007 39 . c. Pengambilan keputusan bersama DPRD dan kepala daerah terhadap rancangan peraturan daerah tentang APBD dilakukan paling lama 1 (satu) bulan sebelum tahun anggaran yang bersangkutan dilaksanakan. Penyampaian rancangan peraturan daerah tersebut disertai dengan nota keuangan. satuan volume/tolok ukur. Penyampaian dan Pembahasan Rancangan Peraturan Daerah tentang APBD Kepala daerah menyampaikan rancangan peraturan daerah tentang APBD beserta lampirannya kepada DPRD paling lambat pada minggu pertama bulan Oktober tahun anggaran sebelumnya dari tahun yang direncanakan untuk mendapatkan persetujuan bersama. tarif pungutan/harga. b. untuk pembiayaan mencakup dasar hukum.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I a. 6. harga satuan. Rancangan peraturan daerah tentang APBD yang telah disusun oleh PPKD disampaikan kepada kepala daerah.

serta PPA yang telah disepakati bersama antara pemerintah daerah dan DPRD. diprioritaskan untuk belanja yang bersifat mengikat dan belanja yang bersifat wajib. dapat meminta RKA-SKPD berkenaan kepada kepala daerah. seperti belanja pegawai. Apabila DPRD sampai batas waktu 1 bulan sebelum tahun anggaran berkenaan. Sedangkan Belanja yang bersifat wajib adalah belanja untuk terjaminnya kelangsungan pemenuhan pendanaan pelayanan dasar masyarakat antara lain pendidikan dan kesehatan dan/atau melaksanakan kewajiban kepada fihak ketiga. kepala daerah menyiapkan rancangan peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD. tidak menetapkan persetujuan bersama dengan kepala daerah terhadap rancangan peraturan daerah tentang APBD. ringkasan APBD. Pembahasan rancangan peraturan daerah tersebut berpedoman pada KUA. Pusdiklatwas BPKP – 2007 40 . Atas dasar persetujuan bersama. Belanja yang bersifat mengikat merupakan belanja yang dibutuhkan secara terus menerus dan harus dialokasikan oleh pemerintah daerah dengan jumlah yang cukup untuk keperluan setiap bulan dalam tahun anggaran yang bersangkutan. Pengeluaran setinggi-tingginya keperluan setiap bulan tersebut. maka kepala daerah melaksanakan pengeluaran setinggi-tingginya sebesar angka APBD tahun anggaran sebelumnya untuk membiayai untuk keperluan setiap bulan. Rancangan peraturan kepala daerah tentang Penjabaran APBD tersebut dilengkapi dengan lampiran yang terdiri dari : a.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I peraturan daerah tentang APBD untuk mendapatkan persetujuan bersama. disesuaikan dengan tata tertib DPRD masing-masing daerah. belanja barang dan jasa. Dalam hal DPRD memerlukan tambahan penjelasan terkait dengan pembahasan program dan kegiatan tertentu.

f. rekapitulasi belanja menurut urusan pemerintahan daerah. daftar jumlah pegawai per golongan dan per jabatan. Rancangan peraturan kepala daerah tentang APBD dapat dilaksanakan setelah memperoleh pengesahan dari Menteri Dalam Pusdiklatwas BPKP – 2007 41 . daftar piutang daerah. organisasi. e. g. h. dan m. l. i. daftar kegiatan-kegiatan tahun anggaran sebelumnya yang belum diselesaikan dan dianggarkan kembali dalam tahun anggaran ini. program dan kegiatan. ringkasan APBD menurut urusan pemerintahan daerah dan organisasi. Dalam hal kepala daerah dan/atau pimpinan DPRD berhalangan tetap. organisasi. rekapitulasi belanja daerah untuk keselarasan dan keterpaduan urusan pemerintahan daerah dan fungsi dalam kerangka pengelolaan keuangan negara. obyek. rincian obyek pendapatan. rincian APBD menurut urusan pemerintahan daerah. kegiatan. daftar perkiraan penambahan dan pengurangan aset lain-lain. k.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I b. maka pejabat yang ditunjuk dan ditetapkan oleh pejabat yang berwenang selaku penjabat/pelaksana tugas kepala daerah dan/atau selaku pimpinan sementara DPRD yang menandatangani persetujuan bersama. d. daftar dana cadangan daerah. kelompok. jenis. belanja dan pembiayaan. j. program. c. daftar pinjaman daerah. daftar penyertaan modal (investasi) daerah. daftar perkiraan penambahan dan pengurangan aset tetap daerah.

Pusdiklatwas BPKP – 2007 42 . diatur bahwa pelampauan batas tertinggi dari jumlah pengeluaran. persetujuan bersama antara pemerintah daerah dan DPRD terhadap rancangan peraturan daerah tentang APBD. Apabila dalam batas waktu 30 (tiga puluh) hari kerja Menteri Dalam Negeri/gubernur tidak mengesahkan rancangan peraturan kepala daerah tentang APBD.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I Negeri bagi provinsi dan gubernur bagi kabupaten/kota. Penyampaian rancangan disertai dengan: a. Sedangkan pengesahan rancangan peraturan kepala daerah tentang APBD ditetapkan dengan keputusan Menteri Dalam Negeri bagi provinsi dan keputusan gubernur bagi kabupaten/kota. Penyampaian rancangan peraturan kepala daerah untuk memperoleh pengesahan paling lama 15 (lima belas) hari kerja terhitung sejak DPRD tidak menetapkan keputusan bersama dengan kepala daerah terhadap rancangan peraturan daerah tentang APBD. 7. Evaluasi Rancangan Peraturan Daerah tentang APBD dan Rancangan Peraturan Kepala Daerah tentang Penjabaran APBD Rancangan peraturan daerah provinsi tentang APBD yang telah disetujui bersama DPRD dan rancangan peraturan gubernur tentang penjabaran APBD sebelum ditetapkan oleh gubernur paling lama 3 (tiga) hari kerja disampaikan terlebih dahulu kepada Menteri Dalam Negeri untuk dievaluasi. Khusus untuk pengeluaran. hanya diperkenankan apabila ada kebijakan pemerintah untuk kenaikan gaji dan tunjangan pegawai negeri sipil serta penyediaan dana pendamping atas program dan kegiatan yang ditetapkan oleh pemerintah serta bagi hasil pajak daerah dan retribusi daerah yang ditetapkan dalam undang-undang. kepala daerah menetapkan rancangan peraturan kepala daerah dimaksud menjadi peraturan kepala daerah.

risalah sidang jalannya pembahasan terhadap rancangan peraturan daerah tentang APBD. gubernur menetapkan rancangan dimaksud menjadi peraturan daerah dan peraturan gubemur. dan d. Hasil evaluasi dituangkan dalam keputusan Menteri Dalam Negeri dan disampaikan kepada gubernur paling lama 15 (lima betas) hari kerja terhitung sejak diterimanya rancangan dimaksud. keserasian antara kepentingan publik dan kepentingan aparatur serta untuk meneliti sejauh mana APBD provinsi tidak bertentangan dengan kepentingan umum. c. Dalam hal Menteri Dalam Negeri menyatakan bahwa hasil evaluasi rancangan peraturan daerah tentang APBD dan rancangan peraturan gubernur tentang penjabaran APBD bertentangan dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. gubernur bersama DPRD melakukan penyempurnaan paling Pusdiklatwas BPKP – 2007 43 . KUA dan PPA yang disepakati antara kepala daerah dan pimpinan DPRD. Evaluasi bertujuan untuk tercapainya keserasian antara kebijakan daerah dan kebijakan nasional. nota keuangan dan pidato kepala daerah perihal penyampaian pengantar nota keuangan pada sidang DPRD. peraturan yang lebih tinggi dan/atau peraturan daerah lainnya yang ditetapkan oleh provinsi bersangkutan. Untuk efektivitas pelaksanaan evaluasi. Menteri Dalam Negeri dapat mengundang pejabat pemerintah daerah provinsi yang terkait.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I b. Apabila Menteri Dalam Negeri menyatakan hasil evaluasi atas rancangan peraturan daerah tentang APBD dan rancangan peraturan gubemur tentang penjabaran APBD sudah sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.

Sementara itu. Pembatalan peraturan daerah dan peraturan gubernur serta pernyataan berlakunya pagu APBD tahun sebelumnya ditetapkan dengan peraturan Menteri Dalam Negeri. Pelaksanaan dan ketentuan evaluasi adalah sebagaimana halnya evaluasi oleh Menteri Dalam Negeri untuk Rancangan APBD Provinsi. dan gubernur tetap menetapkan rancangan peraturan daerah tentang APBD dan rancangan peraturan gubernur tentang penjabaran APBD menjadi peraturan daerah dan peraturan gubernur. Penyempurnaan hasil evaluasi dilakukan oleh kepala daerah bersama dengan panitia Pusdiklatwas BPKP – 2007 44 . Pelaksanaan pengeluaran atas pagu APBD tahun sebelumnya. Pembatalan peraturan daerah dan peraturan bupati/walikota dan pernyataan berlakunya pagu APBD tahun sebelumnya ditetapkan dengan peraturan gubernur. Paling lama 7 (tujuh) hari kerja setelah pembatalan. Apabila hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti oleh gubernur dan DPRD.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I lama 7 (tujuh) hari kerja terhitung sejak diterimanya hasil evaluasi. Pencabutan peraturan daerah tersebut dilakukan dengan peraturan daerah tentang pencabutan peraturan daerah tentang APBD. kepala daerah harus memberhentikan pelaksanaan peraturan daerah dan selanjutnya DPRD bersama kepala daerah mencabut peraturan daerah dimaksud. Menteri Dalam Negeri membatalkan peraturan daerah dan peraturan gubernur dimaksud sekaligus menyatakan berlakunya pagu APBD tahun sebelumnya. ditetapkan dengan peraturan kepala daerah. rancangan peraturan daerah kabupaten/kota tentang APBD yang telah disetujui bersama DPRD dan rancangan peraturan bupati/walikota tentang penjabaran APBD sebelum ditetapkan oleh bupati/walikota paling lama 3 (tiga) hari kerja disampaikan kepada gubernur untuk dievaluasi.

Hasil penyempurnaan ditetapkan oleh pimpinan DPRD. Pusdiklatwas BPKP – 2007 45 . Dalam hal pimpinan DPRD berhalangan tetap. Keputusan pimpinan DPRD dijadikan dasar penetapan peraturan daerah tentang APBD. Keputusan pimpinan DPRD bersifat final dan dilaporkan pada sidang paripurna berikutnya. Gubernur menyampaikan hasil evaluasi yang dilakukan atas rancangan peraturan daerah kabupaten/kota tentang APBD dan rancangan peraturan bupati/walikota tentang penjabaran APBD kepada Menteri Dalam Negeri. Sidang paripurna berikutnya yakni setelah sidang paripurna pengambilan keputusan bersama terhadap rancangan peraturan daerah tentang APBD. Keputusan pimpinan DPRD disampaikan kepada Menteri Dalam Negeri bagi APBD provinsi dan kepada gubernur bagi APBD kabupaten/kota paling lama 3 (tiga) hari kerja setelah keputusan tersebut ditetapkan.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I anggaran DPRD. 8. Penetapan rancangan peraturan daerah tentang APBD dan peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD tersebut dilakukan paling lambat tanggal 31 Desember tahun anggaran sebelumnya. Penetapan Peraturan Daerah tentang APBD dan Peraturan Kepala Daerah tentang Penjabaran APBD Rancangan peraturan daerah tentang APBD dan rancangan peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD yang telah dievaluasi ditetapkan oleh kepala daerah menjadi peraturan daerah tentang APBD dan peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD. maka pejabat yang ditunjuk dan ditetapkan oleh pejabat yang berwenang selaku pimpinan sementara DPRD yang menandatangani keputusan pimpinan DPRD.

apabila terjadi: a. 9. d. keadaan yang menyebabkan saldo anggaran Iebih tahun sebelumnya harus digunakan dalam tahun berjalan. maka pejabat yang ditunjuk dan ditetapkan oleh pejabat yang berwenang selaku penjabat/pelaksana tugas kepala daerah yang menetapkan peraturan daerah tentang APBD dan peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I Dalam hal kepala daerah berhalangan tetap. keadaan darurat. keadaan luar biasa. Dalam keadaan darurat. Perubahan APBD Penyesuaian APBD dengan perkembangan dan/atau perubahan keadaan. c. dan antar jenis belanja. dan e. perkembangan yang tidak sesuai dengan asumsi KUA. antar kegiatan. pemerintah daerah dapat melakukan pengeluaran yang belum tersedia anggarannya. dan/atau disampaikan dalam laporan realisasi anggaran. Kepala daerah menyampaikan peraturan daerah tentang APBD dan peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD kepada Menteri Dalam Negeri bagi provinsi dan gubernur bagi kabupaten/kota paling lama 7 (tujuh) hari kerja setelah ditetapkan. keadaan yang menyebabkan harus dilakukan pergeseran anggaran antar unit organisasi. b. yang selanjutnya diusulkan dalam rancangan perubahan APBD. dibahas bersama DPRD dengan pemerintah daerah dalam rangka penyusunan prakiraan perubahan atas APBD tahun anggaran yang bersangkutan. Keadaan darurat tersebut sekurang-kurangnya memenuhi kriteria sebagai berikut: Pusdiklatwas BPKP – 2007 46 .

memiliki dampak yang signifikan terhadap anggaran dalam rangka pemulihan yang disebabkan oleh keadaan darurat. b. Pemerintah daerah mengajukan rancangan peraturan daerah tentang perubahan APBD tahun anggaran yang bersangkutan untuk mendapatkan persetujuan DPRD sebelum tahun anggaran yang bersangkutan berakhir. Perubahan APBD hanya dapat dilakukan 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun anggaran. Proses evaluasi dan penetapan rancangan peraturan daerah tentang perubahan APBD dan rancangan peraturan kepala daerah tentang penjabaran perubahan APBD menjadi peraturan daerah dan peraturan kepala daerah berlaku ketentuan seperti halnya evaluasi dan penetapan rancangan APBD. kecuali dalam keadaan luar biasa. bukan merupakan kegiatan normal dari aktivitas pemerintah daerah dan tidak dapat diprediksikan sebelumnya. Pelaksanaan pengeluaran atas pendanaan keadaan darurat dan/atau keadaan luar biasa ditetapkan dengan peraturan kepala daerah. berada di luar kendali dan pengaruh pemerintah daerah. Persetujuan DPRD terhadap rancangan peraturan daerah tersebut selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan sebelum berakhirnya tahun anggaran. dan kepala daerah Pusdiklatwas BPKP – 2007 47 . c. Keadaan luar biasa tersebut adalah keadaan yang menyebabkan estimasi penerimaan dan/atau pengeluaran dalam APBD mengalami kenaikan atau penurunan lebih besar dari 50% (lima puluh persen). tidak diharapkan terjadi secara berulang. Apabila hasil evaluasi tersebut tidak ditindaklanjuti oleh kepala daerah dan DPRD.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I a. dan d. Realisasi pengeluaran atas pendanaan keadaan darurat dan/atau keadaan luar biasa tersebut dicantumkan dalam rancangan peraturan daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD.

Pembatalan peraturan daerah tentang perubahan APBD kabupaten/kota dan peraturan bupati/walikota tentang penjabaran perubahan APBD dilakukan oleh gubernur. Pembatalan peraturan daerah tentang perubahan APBD provinsi dan peraturan gubernur tentang penjabaran perubahan APBD dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri. peraturan daerah dan peraturan kepala daerah dimaksud dibatalkan dan sekaligus menyatakan berlakunya pagu APBD tahun berjalan termasuk untuk pendanaan keadaan darurat. Netto 2. Jumlah pendapatan. Paling lama 7 (tujuh) hari setelah keputusan tentang pembatalan. Kepala daerah wajib memberhentikan pelaksanaan peraturan daerah tentang perubahan APBD dan selanjutnya kepala daerah bersama DPRD mencabut peraturan daerah dimaksud. LATIHAN 1. Insidentil b.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I tetap menetapkan rancangan peraturan daerah tentang perubahan APBD dan rancangan peraturan kepala daerah tentang penjabaran perubahan APBD. Selanjutnya berdasarkan KUA yang telah disepakati. Pencabutan peraturan daerah tersebut dilakukan dengan peraturan daerah tentang pencabutan peraturan daerah tentang perubahan APBD. Bruto d. Periodik c. pemerintah daerah menyusun rancangan lebih pendapatan daerah terhadap belanja daerah yang disebut : Pusdiklatwas BPKP – 2007 48 . belanja dan pembiayaan daerah dianggarkan dalam APBD secara: a. C.

DPRD Provinsi b. Penilaian kewajaran atas beban kerja dan biaya yang digunakan untuk melaksanakan suatu kegiatan disebut: a. Sekretaris Daerah c. Presiden Pusdiklatwas BPKP – 2007 49 . Pembatalan peraturan daerah tentang perubahan APBD provinsi dan peraturan gubernur tentang penjabaran perubahan APBD dilakukan oleh: a. Kepala Daerah 5. RKPD 3. Panitia Anggaran DPRD d. Dirjen Otonomi Daerah c. DPA-SKPD d. d. Tim Anggaran Pemerintah Daerah b. RPJMD b. PPAS c. 4. b. Menteri Dalam Negeri d. c.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I a. Indikator Kinerja Standar Pelayanan Minimal Standar Satuan Harga Analisis Standar Belanja RKA-SKPD yang telah disusun oleh SKPD disampaikan kepada PPKD untuk dibahas lebih lanjut oleh: a.

Sistem Administrasi Keuangan Daerah I

BAB V

PELAKSANAAN, PENATAUSAHAAN, PELAPORAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN APBD
Pada akhir pemelajaran ini peserta dapat memahami siklus anggaran, khususnya proses pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan dan pertanggungjawaban APBD.

A.

PELAKSANAAN APBD Semua penerimaan daerah dan pengeluaran daerah dalam rangka pelaksanaan urusan pemerintahan daerah dikelola dalam APBD.

Pelaksanaan APBD meliputi pelaksanaan anggaran pendapatan, belanja, dan pembiayaan. Penjelasan berikut ini didasarkan pada Peraturan Pemerintah No. 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah. Peraturan ini telah disusun pedoman pelaksanaannya yaitu Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. Pengeluaran dapat dilakukan jika dalam keadaan darurat, yang selanjutnya diusulkan dalam rancangan perubahan APBD dan/atau disampaikan dalam laporan realisasi anggaran. Kriteria keadaan darurat ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pelaksanaan Anggaran oleh Kepala SKPD dilaksanakan setelah Dokumen Pelaksanaan Anggaran SKPD (DPA-SKPD) ditetapkan oleh PPKD dengan persetujuan Sekretaris Daerah. Proses penetapan DPA-SKPD adalah sebagai berikut.

Pusdiklatwas BPKP – 2007

50

Sistem Administrasi Keuangan Daerah I

1.

PPKD paling lama 3 (tiga) hari kerja setelah peraturan daerah tentang APBD ditetapkan, memberitahukan kepada semua kepala SKPD agar menyusun rancangan DPA-SKPD.

2.

Rancangan DPA-SKPD merinci sasaran yang hendak dicapai, program, kegiatan, anggaran yang disediakan untuk mencapai sasaran tersebut, dan rencana penarikan dana tiap-tiap SKPD serta pendapatan yang diperkirakan.

3.

Kepala SKPD menyerahkan rancangan DPA-SKPD kepada PPKD paling lama 6 (enam) hari kerja setelah pemberitahuan.

4.

TAPD melakukan verifikasi rancangan DPA-SKPD bersama-sama dengan kepala SKPD paling lama 15 (lima belas) hari kerja sejak ditetapkannya peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD.

5.

Berdasarkan hasil verifikasi, PPKD mengesahkan rancangan DPASKPD dengan persetujuan sekretaris daerah.

6.

DPA-SKPD yang telah disahkan disampaikan kepada kepala SKPD, satuan kerja pengawasan daerah, dan Badan Pemeriksa Keuangan paling lama 7 (tujuh) hari kerja sejak tanggal disahkan.

Setelah DPA-SKPD ditetapkan, Kepala SKPD melaksanakan kegiatankegiatan SKPD berdasarkan dokumen tersebut. 1. Pelaksanaan Anggaran Pendapatan Daerah Setiap SKPD yang mempunyai tugas memungut dan/atau menerima pendapatan daerah wajib melaksanakan pemungutan dan/atau penerimaan berdasarkan ketentuan yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan. Penerimaan SKPD dilarang digunakan

langsung untuk membiayai pengeluaran, kecuali ditentukan lain oleh peraturan perundang-undangan. Penerimaan SKPD berupa uang atau cek harus disetor ke rekening kas umum daerah paling lama 1

Pusdiklatwas BPKP – 2007

51

Sistem Administrasi Keuangan Daerah I

(satu) hari kerja oleh Bendahara Penerimaan dengan didukung oleh bukti yang lengkap. Semua penerimaan daerah dilakukan melalui rekening kas umum daerah. SKPD dilarang melakukan pungutan selain dari yang ditetapkan dalam peraturan daerah. SKPD yang mempunyai tugas memungut dan/atau menerima dan/atau kegiatannya berdampak pada penerimaan daerah wajib mengintensifkan pemungutan dan penerimaan tersebut. Komisi, rabat, potongan atau penerimaan lain dengan nama dan dalam bentuk apa pun yang dapat dinilai dengan uang, baik secara langsung sebagai akibat dari penjualan, tukar-menukar, hibah, asuransi dan/atau pengadaan barang dan jasa termasuk penerimaan bunga, jasa giro atau penerimaan lain sebagai akibat penyimpanan dana anggaran pada bank serta penerimaan dari hasil pemanfaatan barang daerah atas kegiatan lainnya merupakan pendapatan daerah. Semua penerimaan daerah apabila berbentuk uang harus segera disetor ke kas umum daerah dan berbentuk barang menjadi milik/aset daerah yang dicatat sebagai inventaris daerah. Pengembalian atas kelebihan pajak, retribusi, pengembalian tuntutan ganti rugi dan sejenisnya dilakukan dengan membebankan pada rekening penerimaan yang yang bersangkutan dalam tahun untuk yang pengembalian sama. Untuk

penerimaan

terjadi

pengembalian kelebihan penerimaan yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya dibebankan pada rekening belanja tidak terduga. 2. Pelaksanaan Anggaran Belanja Daerah Jumlah belanja yang dianggarkan dalam APBD merupakan batas tertinggi untuk setiap pengeluaran belanja. Pengeluaran tidak dapat dibebankan pada anggaran belanja jika untuk pengeluaran tersebut

Pusdiklatwas BPKP – 2007

52

atau dokumen lain yang dipersamakan dengan SPD. Pengeluaran kas yang mengakibatkan beban APBD tidak dapat dilakukan sebelum rancangan peraturan daerah tentang APBD ditetapkan dan ditempatkan dalam lembaran daerah. Pembayaran atas beban APBD dapat dilakukan berdasarkan Surat Penyediaan Dana (SPD). efektif. Dalam pelaksanaan pembayaran yang terhutang pajak. Setiap pengeluaran harus didukung oleh bukti yang lengkap dan sah mengenai hak yang diperoleh oleh pihak yang menagih. wajib menyetorkan seluruh penerimaan potongan dan pajak yang dipungutnya ke rekening Kas Negara pada bank pemerintah atau bank lain yang ditetapkan Menteri Keuangan sebagai Pusdiklatwas BPKP – 2007 53 . Khusus untuk biaya pegawai diatur bahwa gaji pegawai negeri sipil daerah dibebankan dalam APBD. Setiap SKPD dilarang melakukan pengeluaran atas beban anggaran daerah untuk tujuan lain dari yang telah ditetapkan dalam APBD. bendahara pengeluaran sebagai wajib pungut Pajak Penghasilan (PPh) dan pajak lainnya. Pengeluaran belanja daerah menggunakan prinsip hemat. Pemerintah daerah dapat memberikan tambahan penghasilan kepada pegawai negeri sipil daerah berdasarkan pertimbangan yang obyektif dengan memperhatikan kemampuan keuangan daerah dan memperoleh persetujuan DPRD sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. tidak mewah. Pengeluaran kas tersebut tidak termasuk belanja yang bersifat mengikat dan belanja yang bersifat wajib.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I tidak tersedia atau tidak cukup tersedia dalam APBD. efisien dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. atau Dokumen Pelaksanaan Anggaran SKPD (DPA-SKPD).

kepala SKPD selaku pengguna anggaran dilarang menerbitkan SPM yang membebani tahun anggaran berkenaan. Pelaksanaan pengeluaran atas beban APBD dilakukan berdasarkan SPM yang diterbitkan oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran. menolak pencairan dana.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I bank persepsi atau pos giro dalam jangka waktu sesuai ketentuan perundang-undangan. Bendahara pengeluaran melaksanakan pembayaran dari uang persediaan yang dikelolanya setelah: Pusdiklatwas BPKP – 2007 54 . Untuk kelancaran pelaksanaan tugas SKPD. Karena itu. kepada pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran dapat diberikan uang persediaan yang dikelola oleh bendahara pengeluaran. kuasa BUD berkewajiban untuk: a. c. dan e. menguji kebenaran perhitungan tagihan atas beban APBD yang tercantum dalam perintah pembayaran. apabila perintah pembayaran yang diterbitkan oleh pengguna anggaran tidak memenuhi persyaratan yang ditetapkan. Setelah tahun anggaran berakhir. meneliti kelengkapan perintah pembayaran yang diterbitkan oleh pengguna anggaran. Selanjutnya pembayaran dilakukan dengan penerbitan SP2D oleh kuasa BUD. menguji ketersediaan dana yang bersangkutan. memerintahkan pencairan dana sebagai dasar pengeluaran daerah. b. d. Perlu menjadi perhatian bahwa penerbitan SPM tidak boleh dilakukan sebelum barang dan/atau jasa diterima kecuali ditentukan lain dalam peraturan perundang-undangan.

Pelaksanaan Anggaran Pembiayaan Daerah Pengelolaan anggaran pembiayaan daerah dilakukan oleh Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD). Untuk pencairan dana cadangan. Bendahara pengeluaran wajib melakukan hal tersebut karena dia bertanggung jawab secara pribadi atas pembayaran yang dilaksanakannya. 3. Bendahara pengeluaran wajib menolak perintah bayar dari pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran apabila kelengkapan dokumen. setelah jumlah dana cadangan yang ditetapkan berdasarkan peraturan daerah tentang pembentukan dana cadangan paling yang tinggi berkenaan sejumlah mencukupi. Semua penerimaan dan pengeluaraan pembiayaan daerah dilakukan melalui Rekening Kas Umum Daerah. menguji ketersediaan dana yang bersangkutan. pemindahbukuan dari rekening dana cadangan ke Rekening Kas Umum Daerah dilakukan berdasarkan rencana pelaksanaan kegiatan. b. kebenaran perhitungan dan ketersediaan dana tidak terpenuhi. menguji kebenaran perhitungan tagihan yang tercantum dalam perintah pembayaran. pagu dana Pemindahbukuan tersebut cadangan yang akan digunakan untuk mendanai pelaksanaan kegiatan dalam tahun anggaran berkenaan sesuai dengan yang ditetapkan dalam peraturan daerah tentang pembentukan dana Pusdiklatwas BPKP – 2007 55 .Sistem Administrasi Keuangan Daerah I a. meneliti kelengkapan perintah pembayaran yang diterbitkan oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran. Kepala daerah dapat memberikan izin pembukaan rekening untuk keperluan pelaksanaan pengeluaran di lingkungan SKPD. dan c.

Sistem Administrasi Keuangan Daerah I

cadangan. Pemindahbukuan dari rekening dana cadangan ke rekening kas umum daerah tersebut dilakukan dengan surat perintah pemindahbukuan oleh kuasa BUD atas persetujuan PPKD. Penjualan kekayaan milik daerah yang dipisahkan dilakukan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. Pencatatan penerimaan atas penjualan kekayaan daerah didasarkan pada bukti penerimaan yang sah. Penerimaan pinjaman daerah didasarkan pada jumlah pinjaman yang akan diterima dalam tahun anggaran yang bersangkutan sesuai dengan yang ditetapkan dalam perjanjian pinjaman berkenaan. Penerimaan pinjaman dalam bentuk mata uang asing dibukukan dalam nilai rupiah. Penerimaan kembali pemberian pinjaman daerah didasarkan pada perjanjian pemberian pinjaman daerah sebelumnya, untuk kesesuaian pengembalian pokok pinjaman dan kewajiban lainnya yang menjadi tanggungan pihak peminjam. Pelaksanaan pengeluaran pembiayaan mencakup pelaksanaan

pembentukan dana cadangan, penyertaan modal, pembayaran pokok utang, dan pemberian pinjaman daerah. Jumlah pendapatan daerah yang disisihkan untuk pembentukan dana cadangan dalam tahun anggaran bersangkutan sesuai dengan jumlah yang ditetapkan dalam peraturan daerah. Pemindahbukuan jumlah pendapatan daerah yang disisihkan yang ditransfer dari rekening kas umum daerah ke rekening dana cadangan dilakukan dengan surat perintah pemindahbukuan oleh kuasa BUD atas persetujuan PPKD. Penyertaan modal pemerintah daerah dapat dilaksanakan apabila jumlah yang akan disertakan dalam tahun anggaran berkenaan telah ditetapkan dalam peraturan daerah tentang penyertaan modal daerah berkenaan.

Pusdiklatwas BPKP – 2007

56

Sistem Administrasi Keuangan Daerah I

Pembayaran pokok utang didasarkan pada jumlah yang harus dibayarkan sesuai dengan perjanjian pinjaman dan pelaksanaannya merupakan prioritas utama dari seluruh kewajiban pemerintah daerah yang harus diselesaikan dalam tahun anggaran yang berkenaan. Pemberian pinjaman daerah kepada pihak lain berdasarkan

keputusan kepala daerah atas persetujuan DPRD. Pelaksanaan pengeluaran pembiayaan penyertaan modal pemerintah daerah, pembayaran pokok utang dan pemberian pinjaman daerah tersebut dilakukan berdasarkan SPM yang diterbitkan oleh PPKD. Dalam rangka pelaksanaan pengeluaran pembiayaan, kuasa BUD berkewajiban untuk: a. meneliti kelengkapan perintah pembayaran/pemindah bukuan yang diterbitkan oleh PPKD; b. menguji kebenaran perhitungan pengeluaran pembiayaan yang tercantum dalam perintah pembayaran; c. menguji ketersediaan dana yang bersangkutan; d. menolak pencairan dana, apabila perintah pembayaran atas pengeluaran pembiayaan tidak memenuhi persyaratan yang ditetapkan. B. PENATAUSAHAAN KEUANGAN DAERAH Pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran, bendahara penerimaan, bendahara pengeluaran dan orang atau badan yang menerima atau menguasai uang/barang/kekayaan daerah wajib menyelenggarakan

penatausahaan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pejabat yang menandatangani dan/atau mengesahkan dokumen yang berkaitan dengan surat bukti yang menjadi dasar penerimaan dan/atau pengeluaran

Pusdiklatwas BPKP – 2007

57

Sistem Administrasi Keuangan Daerah I

atas pelaksanaan APBD bertanggung jawab terhadap kebenaran material dan akibat yang timbul dari penggunaan surat bukti dimaksud. 1. Penatausahaan Penerimaan Penerimaan daerah disetor ke rekening kas umum daerah pada bank pemerintah yang ditunjuk dan dianggap sah setelah kuasa BUD menerima nota kredit. Penerimaan daerah yang disetor tersebut dilakukan dengan cara: a. disetor langsung ke bank oleh pihak ketiga; b. disetor melalui bank lain, badan, lembaga keuangan dan/atau kantor pos oleh pihak ketiga; dan disetor melalui bendahara penerimaan oleh pihak ketiga. Bendahara penerimaan wajib menyelenggarakan penatausahaan terhadap seluruh penerimaan dan penyetoran atas penerimaan yang menjadi tanggung jawabnya. Bendahara penerimaan pada SKPD wajib mempertanggungjawabkan uang yang menjadi secara tanggung administratif jawabnya atas dengan

pengelolaan

menyampaikan laporan pertanggungjawaban penerimaan kepada pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran melalui PPK-SKPD paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya. Disamping

pertanggungjawaban secara administratif, Bendahara penerimaan pada SKPD wajib mempertanggung jawabkan secara fungsional atas pengelolaan uang yang menjadi tanggung jawabnya dengan

menyampaikan laporan pertanggungjawaban penerimaan kepada PPKD selaku BUD paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya. Selanjutnya PPKD selaku BUD melakukan verifikasi, evaluasi dan analisis atas laporan pertanggungjawaban bendahara penerimaan pada SKPD.

Pusdiklatwas BPKP – 2007

58

Permintaan pembayaran hanya dapat dilaksanakan. b. jika SPD telah diterbitkan. Pembahasan rancangan anggaran kas SKPD dilaksanakan bersamaan dengan pembahasan DPA-SKPD. bendahara pengeluaran mengajukan Surat Permintaan Pembayaran (SPP) kepada pengguna anggaran/ kuasa pengguna anggaran melalui Pejabat Pengelola Keuangan SKPD (PPK-SKPD). Permintaan Pembayaran Berdasarkan SPD. Ada 4 jenis SPP yaitu: 1) Surat Permintaan Pembayaran Uang Persediaan (SPP-UP). Penyediaan Dana Setelah penetapan anggaran kas. a. Anggaran kas tersebut memuat perkiraan arus kas masuk yang bersumber dari penerimaan dan perkiraan arus kas keluar yang digunakan guna mendanai pelaksanaan kegiatan dalam setiap periode. Setelah DPA-SKPD ditetapkan. SPD atau dokumen lain yang dipersamakan dengan SPD merupakan dasar pengeluaran kas atas beban APBD. Penatausahaan Pengeluaran Kepala SKPD berdasarkan rancangan DPA-SKPD menyusun rancangan anggaran kas SKPD. PPKD selaku BUD menyusun anggaran kas pemerintah daerah guna mengatur ketersediaan dana yang cukup untuk mendanai pengeluaran-pengeluaran sesuai dengan rencana penarikan dana yang tercantum dalam DPA-SKPD yang telah disahkan. Pusdiklatwas BPKP – 2007 59 . Rancangan anggaran kas SKPD tersebut disampaikan kepada PPKD selaku BUD bersamaan dengan rancangan DPA-SKPD. PPKD dalam rangka manajemen kas menerbitkan Surat Penyediaan Dana (SPD).Sistem Administrasi Keuangan Daerah I 2.

Bendahara Pusdiklatwas BPKP – 2007 60 . Sedangkan dilakukan penerbitan oleh dan pengajuan pengeluaran dokumen untuk SPP-TU bendahara memperoleh persetujuan dari pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran melalui PPK-SKPD dalam rangka tambahan uang persediaan. Selanjutnya. Penerbitan dan pengajuan dokumen SPP-GU dilakukan untuk memperoleh persetujuan dari pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran melalui PPK-SKPD dalam rangka mengganti uang persediaan. Pengajuan dokumen SPP-UP. 3) Surat Permintaan Pembayaran Tambahan Uang Persediaan (SPP TU). 4) Surat Permintaan Pembayaran Langsung (SPP-LS). Penerbitan dan pengajuan dokumen SPP-UP dilakukan oleh bendahara pengeluaran untuk memperoleh persetujuan dari pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran melalui PPKSKPD dalam rangka pengisian uang persediaan. pengeluaran anggaran/kuasa memperoleh persetujuan melalui pengguna anggaran Prosedur pengajuan dan penerbitan SPM-LS dimulai dengan penyiapan dokumen SPP-LS untuk pengadaan barang dan jasa oleh Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) untuk disampaikan kepada bendahara pengeluaran dalam rangka pengajuan permintaan pembayaran.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I 2) Surat Permintaan Pembayaran Ganti Uang Persediaan (SPPGU). SPP-GU dan SPP-TU tersebut digunakan dalam rangka pelaksanaan pengeluaran SKPD yang harus dipertanggungjawabkan. Penerbitan dan pengajuan dokumen SPP-LS untuk pembayaran gaji dan tunjangan serta penghasilan lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan guna dilakukan oleh bendahara pengguna PPK-SKPD.

c. Pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran meneliti kelengkapan dokumen SPP-UP. SPP-TU. Penolakan penerbitan SPM paling lama 1 (satu) hari kerja terhitung sejak diterimanya pengajuan SPP. pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran menolak menerbitkan SPM. pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran menerbitkan Surat Perintah Membayar (SPM). dan SPP-LS yang diajukan oleh bendahara pengeluaran sebelum menerbitkan Surat Perintah Pembayaran (SPP). Perintah Membayar Setelah meneliti SPP. SPP-GU. pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran dilarang menerbitkan SPM yang membebani tahun anggaran berkenaan.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I pengeluaran mengajukan SPP-LS kepada pengguna anggaran setelah ditandatangani oleh PPTK guna memperoleh persetujuan pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran melalui PPKSKPD. pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran harus menyatakan apakan dokumen SPP telah lengkap dan sah. Penerbitan SPM paling lama 2 (dua) hari kerja terhitung sejak diterimanya dokumen SPP. Jika dokumen SPP dinyatakan tidak lengkap dan/atau tidak sah. SPM yang telah diterbitkan diajukan kepada kuasa BUD untuk penerbitan SP2D. d. Dalam hal dokumen SPP dinyatakan lengkap dan sah. Setelah tahun anggaran berakhir. Pencairan Dana Kuasa BUD meneliti kelengkapan dokumen SPM yang diajukan oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran agar Pusdiklatwas BPKP – 2007 61 .

pengguna anggaran menerbitkan surat pengesahan laporan pertanggungjawaban. kuasa BUD menolak menerbitkan SP2D. pertanggungjawaban pengeluaran Pusdiklatwas BPKP – 2007 62 . kuasa BUD menerbitkan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D). Kuasa BUD menyerahkan SP2D yang diterbitkan untuk keperluan uang persediaan/ganti kepada uang persediaan/tambahan anggaran/kuasa uang persediaan pengguna pengguna anggaran. Penerbitan SP2D paling lama 2 (dua) hari kerja terhitung sejak diterimanya pengajuan SPM. e. Jika dokumen SPM dinyatakan lengkap. Sedangkan untuk pembayaran langsung. Kuasa BUD menyerahkan SP2D yang diterbitkan kepada pihak ketiga. Dalam hal laporan pertanggungjawaban telah sesuai. Penolakan penerbitan SP2D paling lama 1 (satu) hari kerja terhitung sejak diterimanya pengajuan SPM. Hal ini dilaksanakan dengan menutup Buku Kas Umum setiap bulan dengan sepengetahuan dan persetujuan pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran. Jika dokumen SPM dinyatakan tidak lengkap.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I pengeluaran yang diajukan tidak melampaui pagu dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam peraturan perundangundangan. Pertanggungjawaban Penggunaan Dana Bendahara pengeluaran secara administratif wajib mempertanggung jawabkan penggunaan uang persediaan/ganti uang persediaan/tambah uang persediaan kepada kepala SKPD melalui PPK-SKPD paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya. Untuk tertib laporan pertanggungjawaban pada akhir tahun anggaran. Selanjutnya Bendahara Pengeluaran menyusun laporan pertanggungjawaban penggunaan uang persediaan.

sampai dengan pelaporan APBD keuangan yang dalam rangka pertanggungjawaban secara manual atau pelaksanaan dapat dilakukan menggunakan aplikasi komputer. dan apabila diperlukan ditambah dengan buku besar pembantu. Pemerintah daerah menyusun sistem akuntansi pemerintah daerah yang mengacu kepada standar akuntansi pemerintahan. Penyampaian pertanggungjawaban tersebut dilaksanakan setelah diterbitkan surat pengesahan pertanggungjawaban pengeluaran oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran. Disamping pertanggungjawaban secara administratif. Sistem akuntansi pemerintahan daerah sekurang-kurangnya meliputi: 1. Proses tersebut didokumentasikan dalam bentuk buku jurnal dan buku besar.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I dana bulan Desember disampaikan paling lambat tanggal 31 Desember. Sistem akuntansi pemerintah daerah dilaksanakan oleh Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah (SKPKD) sebagai entitas pelaporan dan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) sebagai entitas akuntansi. pencatatan. AKUNTANSI KEUANGAN DAERAH Untuk melakukan penyusunan laporan keuangan. prosedur akuntansi penerimaan kas. Sistem akuntansi pemerintahan daerah meliputi serangkaian prosedur mulai dari proses pengumpulan data. Pusdiklatwas BPKP – 2007 63 . Bendahara Pengeluaran pada SKPD juga wajib mempertanggungjawabkan secara fungsional atas pengelolaan uang yang menjadi tanggung jawabnya dengan menyampaikan laporan pertanggungjawaban pengeluaran kepada PPKD selaku BUD paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya. C. pengikhtisaran.

Sistem akuntansi pemerintahan daerah dilaksanakan oleh PPKD. Pusdiklatwas BPKP – 2007 64 . 3. Dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. dan catatan atas laporan keuangan. laporan realisasi anggaran. Sistem akuntansi SKPD dilaksanakan oleh PPKSKPD.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I 2. laporan realisasi anggaran. dan prosedur akuntansi selain kas. laporan arus kas. neraca. Dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. 4. 2. Sistem akuntansi pemerintahan daerah disusun dengan berpedoman pada prinsip pengendalian intern sesuai dengan peraturan pemerintah yang mengatur tentang pengendalian internal dan peraturan pemerintah tentang standar akuntansi pemerintahan. 4. 2. neraca. prosedur akuntansi aset tetap/barang milik daerah. PPK-SKPD mengkoordinasikan pelaksanaan sistem dan prosedur penatausahaan bendahara penerimaan dan bendahara pengeluaran. 3. dan catatan atas laporan keuangan. 3. prosedur akuntansi pengeluaran kas. entitas pelaporan menyusun laporan keuangan yang meliputi: 1. entitas akuntansi menyusun laporan keuangan yang meliputi: 1.

Pejabat pengguna anggaran menyampaikan laporan tersebut kepada PPKD sebagai dasar penyusunan laporan realisasi semester pertama APBD paling lama 10 (sepuluh) hari kerja setelah semester pertama tahun anggaran berkenaan berakhir. Selanjutnya laporan realisasi semester pertama APBD dan prognosis untuk 6 (enam) bulan berikutnya disampaikan kepada DPRD paling lambat akhir bulan. Laporan Realisasi Semester Pertama Anggaran Pendapatan dan Belanja Kepala SKPD menyusun laporan realisasi semester pertama anggaran pendapatan dan belanja SKPD sebagai hasil pelaksanaan anggaran yang menjadi tanggung jawabnya. Laporan tersebut disertai dengan prognosis untuk 6 (enam) bulan berikutnya. Laporan realisasi semester pertama APBD dan prognosis untuk 6 (enam) bulan berikutnya disampaikan kepada kepala daerah paling lambat minggu ketiga bulan Juli tahun anggaran berkenaan untuk ditetapkan sebagai laporan realisasi semester pertama APBD dan prognosis untuk 6 (enam) bulan berikutnya. Selanjutnya PPKD menyusun laporan realisasi semester seluruh pertama APBD dengan cara menggabungkan laporan realisasi semester pertama anggaran pendapatan dan belanja SKPD paling lambat minggu kedua bulan Juli dan disampaikan kepada sekretaris daerah. Pusdiklatwas BPKP – 2007 65 . Laporan disiapkan oleh PPK-SKPD dan disampaikan kepada pejabat pengguna anggaran untuk ditetapkan sebagai laporan realisasi semester pertama anggaran pendapatan dan belanja SKPD serta prognosis untuk 6 (enam) bulan berikutnya paling lama 7 (tujuh) hari kerja setelah semester pertama tahun anggaran berkenaan berakhir.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I D. PELAPORAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN PELAKSANAAN APBD 1.

sesuai dengan peraturan perundangundangan. dan catatan atas laporan keuangan. Laporan keuangan tersebut disampaikan kepada PPKD sebagai dasar penyusunan laporan keuangan pemerintah daerah. Laporan keuangan tersebut disusun oleh pejabat pengguna anggaran sebagai hasil pelaksanaan anggaran yang berada di SKPD yang menjadi tanggung jawabnya. Laporan Tahunan PPK-SKPD menyiapkan laporan keuangan SKPD tahun anggaran berkenaan dan disampaikan kepada kepala SKPD untuk ditetapkan sebagai laporan pertanggungjawaban pelaksanaan anggaran SKPD.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I 2. neraca. Pusdiklatwas BPKP – 2007 66 . Laporan keuangan tersebut terdiri dari: laporan realisasi anggaran. Laporan keuangan SKPD tersebut terdiri dari: laporan realisasi anggaran. PPKD menyusun laporan keuangan pemerintah daerah dengan cara menggabungkan laporan-laporan keuangan SKPD paling lambat 3 (tiga) bulan setelah berakhirnya tahun anggaran berkenaan. Laporan keuangan SKPD dilampiri dengan surat pernyataan kepala SKPD bahwa pengelolaan APBD yang menjadi tanggung jawabnya telah diselenggarakan berdasarkan sistem pengendalian intern yang memadai dan standar akuntansi pemerintahan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Laporan keuangan pemerintah daerah dilampiri dengan surat pernyataan kepala daerah yang menyatakan pengelolaan APBD yang menjadi tanggung jawabnya telah diselenggarakan berdasarkan sistem pengendalian intern yang memadai. neraca. dan catatan atas laporan keuangan. laporan arus kas. Laporan keuangan pemerintah daerah disampaikan kepada kepala daerah melalui sekretaris daerah dalam rangka memenuhi pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. Laporan keuangan SKPD disampaikan kepada kepala daerah melalui PPKD paling lambat 2 (dua) bulan setelah tahun anggaran berakhir.

Kepala daerah memberikan tanggapan dan melakukan penyesuaian terhadap laporan keuangan pemerintah daerah berdasarkan hasil pemeriksaan BPK. laporan arus kas. Setelah disampaikan laporan hasil audit. catatan atas laporan keuangan. Hasil evaluasi Pusdiklatwas BPKP – 2007 67 . Evaluasi Rancangan Peraturan Daerah tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD dan Peraturan Kepala Daerah tentang Penjabaran Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD Rancangan peraturan daerah provinsi tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD yang telah disetujui bersama DPRD dan rancangan peraturan gubernur tentang penjabaran pertanggungjawaban pelaksanaan APBD sebelum ditetapkan oleh gubernur paling lama 3 (tiga) hari kerja disampaikan terlebih dahulu kepada Menteri Dalam Negeri untuk dievaluasi. Penetapan Raperda Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD Kepala daerah menyampaikan rancangan peraturan daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD kepada DPRD paling lambat 6 (enam) bulan setelah tahun anggaran berakhir. 3. serta dilampiri dengan laporan kinerja yang telah diperiksa BPK dan ikhtisar laporan keuangan badan usaha milik daerah/perusahaan daerah. Rancangan peraturan daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD memuat laporan keuangan yang meliputi laporan realisasi anggaran. 4. neraca.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I Laporan keuangan disampaikan oleh kepala daerah kepada Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk dilakukan pemeriksaan paling lambat 3 (tiga) bulan setelah tahun anggaran berakhir. Persetujuan bersama terhadap rancangan peraturan daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD oleh DPRD paling lama 1 (satu) bulan terhitung sejak rancangan peraturan daerah diterima.

Sistem Administrasi Keuangan Daerah I disampaikan oleh Menteri Dalam Negeri kepada Gubernur paling lama 15 (lima belas) hari kerja terhitung sejak diterimanya rancangan dimaksud. Pusdiklatwas BPKP – 2007 68 . Apabila Menteri Dalam Negeri menyatakan hasil evaluasi rancangan peraturan daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD dan rancangan peraturan gubernur tentang penjabaran pertanggungjawaban pelaksanaan APBD sudah sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. gubernur menetapkan rancangan peraturan daerah dan rancangan peraturan gubernur menjadi peraturan daerah dan peraturan gubernur. bupati/walikota menetapkan rancangan dimaksud menjadi peraturan daerah dan peraturan bupati/walikota. Rancangan peraturan daerah kabupaten/kota APBD yang telah tentang disetujui pertanggungjawaban pelaksanaan bersama DPRD dan rancangan peraturan bupati/walikota tentang penjabaran pertanggungjawaban pelaksanaan APBD sebelum ditetapkan oleh bupati/walikota paling lama 3 (tiga) hari kerja disampaikan kepada gubernur untuk dievaluasi. Apabila gubernur menyatakan hasil evaluasi rancangan peraturan daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan tentang APBD dan rancangan peraturan bupati/walikota penjabaran pertanggungjawaban pelaksanaan APBD sudah sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Hasil evaluasi disampaikan oleh gubernur kepada bupati/walikota paling lama 15 (lima belas) hari kerja terhitung sejak diterimanya rancangan peraturan daerah kabupaten/kota dan rancangan peraturan bupati/walikota tentang penjabaran pertanggungjawaban pelaksanaan APBD.

3. 5 (lima) hari kerja. Plafon realisasi belanja. Rencana nilai kontrak pengadaan barang / jasa. DPRD. c. d.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I E. c. Tim Anggaran Pemerintah Daerah. 1 (satu) hari kerja. b. Sekretaris Daerah. Pusdiklatwas BPKP – 2007 69 . Rencana nilai fisik kegiatan. 7 (tujuh) hari kerja. LATIHAN 1. 3 (tiga) hari kerja. Kepala Daerah. d. b. Pelaksanaan Anggaran oleh Kepala SKPD dilaksanakan setelah Dokumen Pelaksanaan Anggaran SKPD (DPA-SKPD) ditetapkan oleh PPKD dengan persetujuan: a. Jumlah anggaran belanja daerah merupakan: a. c. Penerimaan SKPD berupa uang atau cek harus disetor ke rekening kas umum daerah oleh Bendahara Penerimaan paling lama: a. b. Prakiraan realisasi belanja. 2. d.

Dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. b. Penerbitan SPM atas SPP yang telah lengkap dan sah dilakukan oleh: a. Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan. 5. b. Pusdiklatwas BPKP – 2007 70 . entitas akuntansi menyusun laporan keuangan yang meliputi : a. Kuasa Pengguna Anggaran. c. Laporan Semesteran dan Tahunan Pelaksanaan APBD. LRA.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I 4. Laporan Perhitungan Anggaran dan Nota Keuangan. Kuasa Bendahara Umum Daerah. dan Catatan atas Laporan Keuangan. Neraca. Bendahara Pengeluaran. d. LAK dan Catatan atas Laporan Keuangan. LRA. d. Neraca. c.

Bab XI Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. atau pejabat lain yang karena perbuatannya melanggar hukum atau melalaikan kewajiban yang dibebankan kepadanya secara langsung merugikan negara. c. Setiap kerugian negara/daerah yang disebabkan oleh tindakan melanggar hukum atau kelalaian seseorang harus segera diselesaikan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku. pegawai negeri bukan bendahara. Setiap pimpinan kementrian negara/lembaga/kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dapat segera melakukan tuntutan ganti rugi setelah mengetahui bahwa dalam kementrian Pusdiklatwas BPKP – 2007 71 . serta dalam Bab V UndangUndang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I BAB VI TUNTUTAN PERBENDAHARAAN DAN TUNTUTAN GANTI RUGI Setelah mempelajari bab ini diharapkan peserta diklat mampu menjelaskan pengertian Tuntutan Perbendaharaan dan Tuntutan Ganti Rugi serta mampu menerapkan dalam pelaksanaan tugas pengawasan. A. Bendahara. UMUM Ketentuan mengenai penyelesaian maupun pengenaan ganti kerugian negara/daerah diatur dalam Bab IX Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2004 tentang Keuangan Negara. wajib menggantikan kerugian tersebut. b. 1. Penyelesaian Kerugian Daerah Penyelesaian kerugian daerah adalah sebagai berikut : a.

maka gubernur/bupati/walikota yang bersangkutan segera mengeluarkan surat keputusan pembebanan penggantian kerugian sementara kepada yang bersangkutan.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I negara/lembaga/SKPD yang bersangkutan terjadi kerugian akibat perbuatan dari pihak manapun. pegawai negeri bukan bendahara. atau pejabat lain yang nyatanyata melanggar hukum dapat segera dimintakan surat pernyataan kesanggupan dan/atau pengakuan bahwa kerugian tersebut menjadi tanggung jawabnya dan bersedia mengganti kerugian daerah dimaksud. g. h. e. i. Segera setelah kerugian daerah diketahui. Pengenaan ganti kerugian negara/daerah terhadap pegawai negeri bukan bendahara. Jika surat keterangan tanggung jawab mutlak (SKTJM) tidak mungkin diperoleh atau tidak dapat menjamin pengembalian kerugian daerah. Tatacara tuntutan ganti kerugian negara/daerah diatur dengan peraturan pemerintah. atau pejabat lain yang telah ditetapkan untuk mengganti kerugian negara/daerah Pusdiklatwas BPKP – 2007 72 . d. f. kepada bendahara. Bendahara. pegawai negeri bukan bendahara. maka BPK menindaklanjutinya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Apabila dalam pemeriksaan kerugian daerah ditemukan unsur pidana. Pengenaan ganti kerugian daerah terhadap bendahara ditetapkan oleh BPK. atau pejabat lain ditetapkan oleh menteri/pimpinan lembaga/gubernur/bupati/walikota. Setiap kerugian daerah wajib dilaporkan oleh atasan langsung atau oleh kepala SKPD kepada gubernur/bupati/walikota dan diberitahukan kepada BPK selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kerja setelah kerugian daerah itu diketahui.

c. Putusan pidana tidak membebaskan dari tuntutan ganti rugi. Ketentuan tersebut diharapkan dapat digunakan oleh pihakpihak yang terkait dalam menangani dan menyelesaikan kerugian negara/daerah yang semakin hari semakin bertambah besar. daerah kepada bendahara d. dicegah Pusdiklatwas BPKP – 2007 73 . sehingga dapat diantisipasi terjadinya kerugian daerah. b. setelah mengetahui ada kekurangan kas/barang dalam persediaan yang merugikan keuangan daerah.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I dapat dikenakan sanksi administratif dan/atau sanksi pidana. BPK menetapkan kerugian surat keputusan pembebanan yang penggantian bersangkutan. Bendahara dapat mengajukan keberatan atau pembelaan diri kepada BPK dalam waktu 14 (empat belas) hari kerja setelah menerima surat keputusan tersebut di atas. Apabila bendahara tidak mengajukan keberatan atau pembelaan ditolak. 2. Pengenaan Ganti Kerugian Negara/Daerah Pengenaan ganti kerugian daerah terhadap bendahara adalah sebagai berikut : a. BPK menerbitkan surat keputusan penetapan batas waktu pertanggungjawaban bendahara atas kekurangan kas/barang yang terjadi. Gubernur/bupati/walikota melaporkan penyelesaian kerugian daerah kepada BPK selambat-lambatnya 60 (enam puluh) hari setelah diketahuinya kerugian daerah dimaksud. atau pejabat lain diatur dengan peraturan pemerintah yang merupakan petunjuk pelaksanaan ketiga paket undang-undang di atas. Tatacara tuntutan ganti kerugian negara/daerah maupun pengenaan ganti kerugian negara/daerah terhadap pegawai negeri bukan bendahara.

kelalaian seseorang dan atau disebabkan oleh majeure)”. Pengertian Merugikan Merugikan dapat diartikan sebagai suatu perbuatan yang bertentangan dengan norma-norma yang harus dilaksanakan dalam pergaulan masyarakat dan bernegara. DASAR-DASAR PENGERTIAN YANG DIGUNAKAN 1. B.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I penyelesaian kerugian daerah yang berlarut-larut. keadaan di luar kemampuan manusia (force Pusdiklatwas BPKP – 2007 74 . BPK memantau penyelesaian pengenaan ganti kerugian daerah terhadap pegawai negeri bukan bendahara dan/atau pejabat lain pada kementerian/lembaga/pemerintah daerah. 2. serta dipercepat proses pemulihan kerugian daerah maupun diperkecil terjadinya kerugian daerah. dalam modul ini (subbab C sampai dengan sub bab M) masih digunakan ketentuan lama yaitu Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 5 Tahun 1997 tentang Tuntutan Ganti Rugi dan Tuntutan Perbendaharaan Keuangan dan Barang Daerah. sambil menunggu terbitnya peraturan pemerintah sebagai petunjuk pelaksanaan ketiga ketentuan di atas. Pengertian Kerugian Daerah Pengertian kerugian negara/daerah berdasarkan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi adalah “berkurangnya kekayaan negara/daerah yang disebabkan oleh suatu tindakan melawan hukum. terhadap pribadi atau badan dan harta benda orang lain. Perlu dikemukakan di sini. penyalahgunaan wewenang/kesempatan atau sarana yang ada pada seseorang karena jabatan atau kedudukan.

c) Pencurian dan penipuan. b) Penyalahgunaan wewenang dan jabatan. Ditinjau dari pelakunya 1) Bendahara. c) Membayar/memberi/mengeluarkan uang/barang kepada pihak yang tidak berhak dan/atau secara tidak sah. j) Tidak melakukan tugas yang menjadi tanggung jawabnya (wajib pungut pajak). Pusdiklatwas BPKP – 2007 75 .Sistem Administrasi Keuangan Daerah I 3. penodongan. e) Menerima dan menyimpan uang palsu. penggelapan. penyelewengan. d) Merusak. penggelapan. menghilangkan barang inventaris milik daerah. d) Tidak membuat pertanggungjawaban keuangan/ pengurusan barang. 2) Pegawai negeri bukan bendahara yang melakukan perbuatan : a) Korupsi. yang melakukan perbuatan : a) Tidak melakukan pencatatan dan penyetoran atas penerimaan uang/barang. f) Korupsi. b) Tidak melakukan pencatatan atas penerimaan/pengeluaran uang/barang. h) Pertanggungjawaban atau laporan yang tidak sesuai dengan kenyataan. perampokan dan/atau kolusi. Sifat dan Bentuk Kerugian Daerah a. penyelewengan. g) Kecurian. i) Penyalahgunaan wewenang/jabatan.

merubah kualitas/mutu. f) Meninggalkan tugas dan atau pekerjaan setelah selesai melaksanakan tugas belajar. tanah longsor. mencair. karena melakukan perbuatan : a) Tidak menepati janji/kontrak (wanprestasi). penggelapan dan perbuatan lainnya yang secara langsung atau tidak langsung menimbulkan kerugian bagi daerah. menyusut. b) Proses alamiah seperti membusuk. kesalahan. b) Pengiriman barang yang mengalami kerusakan karena kesalahannya. Ditinjau dari sebabnya 1) Perbuatan manusia yang disebabkan karena : a) Kesengajaan. g) Meninggalkan tugas belajar sebelum selesai batas waktu yang telah ditentukan. banjir dan kebakaran. menguap. c) Di luar kemampuan si pelaku. b. Pusdiklatwas BPKP – 2007 76 . menguraikan dan dimakan rayap. kealpaan. 3) Pihak ketiga. c) Penipuan. 2) Karena kejadian alam : a) Bencana alam seperti gempa bumi. b) Kelalaian.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I e) Menaikkan harga.

atau pejabat lain yang dikenai tuntutan ganti rugi daerah berada dalam pengampuan. tidak dapat lagi dilakukan tuntutan ganti rugi. atau pihak ketiga.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I c. atau 2) 8 (delapan) tahun sejak terjadinya kerugian tidak dilakukan penuntutan ganti rugi terhadap yang bersangkutan. Setelah lewat batas-batas waktu daluwarsa tersebut di atas. Tanggung jawab pengampu/ahli warisnya untuk membayar ganti rugi daerah menjadi hapus. melarikan diri atau meninggal dunia. penuntutan dan penagihan terhadapnya beralih kepada pengampu/yang memperoleh hak/ahli warisnya. Dalam hal tuntutan ganti rugi. pegawai negeri bukan bendahara. apabila dalam waktu 3 (tiga) tahun sejak keputusan pengadilan yang menetapkan pengampuan. pegawai negeri bukan bendahara. Oleh karena itu mengingat batas waktu daluwarsa yang relatif singkat. Ditinjau dari waktu terjadinya kerugian daerah Tinjauan dari waktu di sini dimaksudkan untuk memastikan apakah suatu peristiwa kerugian negara/daerah masih dapat dilakukan penuntutannya atau tidak. maka setiap ada kerugian negara/daerah wajib segera dilakukan pemrosesan tuntutan ganti rugi. baik terhadap bendahara. perlu diperhatikan ketentuan daluwarsa sebagai berikut : 1) 5 (lima) tahun sejak diketahuinya kerugian tersebut. 3) Dalam hal bendahara. atau yang memperoleh hak/ahli waris tidak diberitahu oleh pejabat yang berwenang mengenai adanya kerugian daerah. Pusdiklatwas BPKP – 2007 77 .

3. Proses penuntutannya merupakan kewenangan kepala daerah melalui Majelis Pertimbangan Tuntutan Perbendaharaan dan Tuntutan Ganti Rugi Keuangan dan Barang Daerah (Majelis Pertimbangan). Melalui Tuntutan Perbendaharaan Penyelesaian kerugian keuangan daerah melalui proses Tuntutan Perbendaharaan dilakukan apabila upaya damai yang dilakukan secara tunai sekaligus atau angsuran tidak berhasil.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I C. TATA CARA PENYELESAIAN KERUGIAN KEUANGAN DAERAH 1. Melalui Upaya Damai Penyelesaian kerugian keuangan daerah melalui upaya damai dilakukan apabila penggantian kerugian keuangan daerah dilakukan secara tunai sekaligus dan angsuran dalam jangka waktu selambatlambatnya 2 (dua) tahun dengan menandatangani Surat Keterangan Tanggung jawab Mutlak (SKTJM) 2. kepala daerah melakukan eksekusi keputusan dimaksud dan membantu proses pelaksanaan penyelesaiannya. Apabila pembebanan perbendaharaan telah diterbitkan. Melalui Tuntutan Ganti Rugi Penyelesaian kerugian keuangan daerah melalui proses Tuntutan Ganti Rugi dilakukan apabila upaya damai yang dilakukan secara tunai sekaligus atau angsuran tidak berhasil. Proses penuntutannya menjadi wewenang kepala daerah melalui Majelis Pertimbangan. Tuntutan Ganti Rugi baru dapat dilakukan apabila: Pusdiklatwas BPKP – 2007 78 .

b. c. Pegawai negeri yang bersangkutan dalam melakukan perbuatan melanggar hukum/kesalahan itu tidak berkedudukan sebagai bendahara. Pemerintah daerah baik secara langsung maupun tidak langsung telah dirugikan oleh perbuatan melanggar hukum/kelalaian itu. kesalahan atau kelalaian pegawai negeri termasuk melalaikan kewajibannya yang berhubungan dengan pelaksanaan fungsi atau status dalam jabatannya. Apabila pembebanan ganti rugi telah diterbitkan. TUNTUTAN PERBENDAHARAAN (TP) Tuntutan perbendaharaan adalah suatu tata cara perhitungan terhadap bendahara. surat-surat berharga dan barang milik daerah. 4. D. maka daerah dapat melakukan dengan cara tagihan secara paksa melalui Badan/Instansi penagih yang berwenang setelah diputuskan kepala daerah bahwa tagihan akan/telah macet. menyimpan dan membayar atau menyerahkan uang daerah. Kepala Daerah melakukan eksekusi keputusan dimaksud dan membantu proses pelaksanaan penyelesaiannya.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I a. Adanya perbuatan melanggar hukum. Tuntutan ini berlaku untuk bendahara yang dalam hal ini adalah seseorang yang ditugaskan untuk menerima. Melalui Cara Lain Apabila pelaku kerugian daerah ternyata ingkar janji (wanprestasi). Yang merupakan objek dari Pusdiklatwas BPKP – 2007 79 . jika dalam pengurusannya terdapat kekurangan perbendaharaan dan kepada bendahara yang bersangkutan diharuskan mengganti kerugian. serta bertanggung-jawab kepada kepala daerah.

dan surat kuasa untuk menjual. yaitu: upaya damai. 3) Pembayaran angsuran yang dilakukan melalui pemotongan gaji/penghasilan harus dilengkapi dengan surat kuasa pemotongan. Penyelesaian Tuntutan Perbendaharaan Dalam hal ini dapat diselesaikan melalui 4 (empat) cara. Dalam hal penyelesaian kerugian daerah dilaksanakan melalui cara mengangsur. maka dapat dilakukan selambat-lambatnya dalam jangka waktu 2 (dua) tahun sejak ditanda tanganinya SKTJM dan harus disertai jaminan barang yang nilainya cukup. Pelaksanaan upaya damai ini dilakukan oleh Badan Pengawas Daerah (Bawasda). 4) Apabila bendahara tidak dapat melaksanakan pembayaran angsuran dalam waktu yang ditetapkan dalam SKTJM. a. 2) Apabila pembayaran dilakukan secara angsuran. Upaya Damai 1) Penyelesaian tuntutan perbendaharaan sedapat mungkin dilakukan dengan upaya damai oleh bendahara/ahli waris/pengampu. dan pencatatan. jaminan barang beserta surat kuasa pemilikan yang sah. baik melalui pembayaran sekaligus (tunai) atau angsuran. 1. maka terlebih dahulu harus dibuat Surat Keterangan Tanggung Jawab Mutlak (SKTJM). maka barang jaminan pembayaran angsuran dapat dijual sesuai dengan ketentuan yang berlaku.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I penuntutan ini adalah adanya kekurangan perbendaharaan yang pada dasarnya merupakan selisih kurang antara saldo buku kas dengan saldo fisik kas. Pusdiklatwas BPKP – 2007 80 . tuntutan perbendaharaan khusus. tuntutan perbendaharaan biasa.

b. Sebaliknya apabila terdapat kelebihan dari hasil penjualan barang jaminan. 6) Pelaksanaan keputusan tuntutan perbendaharaan (eksekusi) dilakukan oleh majelis pertimbangan.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I 5) Apabila terdapat kekurangan dari hasil penjualan barang jaminan seperti yang dimaksud di atas. kecuali apabila ia dapat memberikan pembuktian bahwa ia bebas dari kesalahan atau kelalaian atas kekurangan perbendaharaan tersebut. Tuntutan Perbendaharaan Biasa 1) Dilakukan atas dasar perhitungan yang diberikan oleh Bendahara yang bersangkutan kepada kepala daerah. dengan menyebutkan : a) Identitas pelaku. 2) Bendahara bertanggung jawab atas kekurangan perbendaharaan yang terjadi dalam pengurusannya. urutan inisiatif dan kelalaian atau kesalahannya. maka kekurangan tersebut tetap menjadi kewajiban bendahara yang bersangkutan. Pusdiklatwas BPKP – 2007 81 . maka akan dikembalikan kepada bendahara yang bersangkutan. maka kepada yang bersangkutan dikenakan tanggung jawab renteng sesuai dengan bobot keterlibatan dan tanggung jawabnya. 4) Proses tuntutan perbendaharaan dimulai dengan suatu pemberitahuan tertulis dari kepala daerah kepada pihak yang akan dituntut. 3) Apabila dalam pemeriksaan oleh bawasda terhadap bendahara terbukti bahwa kekurangan perbendaharaan tersebut dilakukan oleh beberapa pegawai atau atasan langsung.

maka kepala daerah menetapkan Surat Keputusan Pembebanan. Pusdiklatwas BPKP – 2007 82 . meskipun yang bersangkutan naik banding. c) Sebab-sebab serta alasan penuntutan dilakukan. Pelaksanaan pemotongan gaji dan penghasilan lainnya dapat dilakukan dengan cara mengangsur dan dilunasi selambat-lambatnya dalam 2 (dua) tahun. dapat mengajukan permohonan banding kepada pejabat yang berwenang selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari setelah diterima surat keputusan pembebanan oleh yang bersangkutan. 8) Keputusan pembebanan tetap dilaksanakan. 7) Keputusan kepala daerah mengenai pembebanan kekurangan perbendaharaan mempunyai kekuatan hukum yang pelaksanaannya dapat dilakukan dengan cara pemotongan gaji dan penghasilan lainnya. 6) Berdasarkan Surat Keputusan Pembebanan Kepala Daerah. d) Tenggang waktu 14 (empat belas) hari yang diberikan untuk mengajukan keberatan/pembelaan diri.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I b) Jumlah kekurangan perbendaharaan yang diderita oleh daerah yang harus diganti. 5) Apabila bendahara tidak mengajukan keberatan/pembelaan diri sampai dengan batas waktu yang ditetapkan atau telah mengajukan pembelaan diri tetapi tidak dapat membuktikan bahwa ia bebas sama sekali dari kesalahan/kelalaian. bagi bendahara yang telah mengajukan keberatan tertulis akan tetapi kepala daerah salah/lalai tetap dan berpendapat dengan bahwa yang tetap bersangkutan membebankan demikian penggantian kekurangan perbendaharaan kepadanya.

Sistem Administrasi Keuangan Daerah I 9) Keputusan tingkat banding dari pejabat yang berwenang dapat berupa memperkuat atau membatalkan surat keputusan pembebanan atau merubah besarnya jumlah kerugian yang harus dibayar oleh bendahara. Biaya pembuatan perhitungan ex-officio dibebankan kepada bendahara yang bersangkutan. Pusdiklatwas BPKP – 2007 83 . maka pada kesempatan pertama atasan langsung atas nama kepala daerah melakukan tindakan pengamanan untuk menjamin kepentingan daerah berupa : a) Buku Kas dan semua buku bendahara diberi garis penutup b) Semua uang. surat-surat bukti maupun buku-buku disimpan/dimasukkan ke dalam lemari besi dan disegel. Tuntutan Perbendaharaan Khusus 1) Apabila seorang bendahara meninggal dunia. c. 2) Atas dasar laporan atasan langsung. surat dan barang berharga. kepala daerah menunjuk pegawai (atas saran majelis pertimbangan) yang ditugaskan untuk membuat perhitungan ex-officio. melarikan diri atau berada di bawah pengampuan dan lalai membuat perhitungan setelah ditegur 3 (tiga) kali berturut-turut. ahli waris atau pengampunya. keluarga dekat (bagi yang melarikan diri) atau pengampu/kurator (dalam hal bendahara berada di bawah pengampuan). Tindakan-tindakan di atas harus dituangkan dalam Berita Acara Penyegelan dan disaksikan oleh ahli waris (bagi yang meninggal dunia). Besarnya biaya pembuatan perhitungan ex-officio ditetapkan oleh kepala daerah.

3) Pencatatan yang telah dilakukan sewaktu-waktu dapat ditagih apabila : a) yang bersangkutan diketahui alamatnya Pusdiklatwas BPKP – 2007 84 . 4) Tata cara Tuntutan Perbendaharaan Khusus yang dipertanggungawabkan terhadap ahli waris (bagi bendahara yang meninggal dunia). kasus yang bersangkutan dikeluarkan dari administrasi pembukuan. d. Pencatatan 1) Kepala daerah menerbitkan Surat Keputusan Pencatatan jika proses Tuntutan Perbendaharaan belum dapat dilaksanakan karena: a) bendaharawan meninggal dunia tanpa ada ahli waris yang diketahui b) ada ahli waris tetapi tidak dapat dimintakan pertanggungjawabannya c) bendaharawan melarikan diri dan tidak diketahui alamatnya 2) Dengan diterbitkannya Surat Keputusan Pencatatan. apabila terjadi kekurangan perbendaharaan mengikuti ketentuan-ketentuan sebagaimana yang berlaku pada Tuntutan Perbendaharaan Biasa. keluarga terdekat (bagi bendahara yang melarikan diri). atau bendahara yang tidak membuat perhitungan. pengampu (bagi bendahara yang di bawah perwalian).Sistem Administrasi Keuangan Daerah I 3) Hasil perhitungan ex-officio satu eksemplar diberikan kepada pengampu atau ahli waris atau bendahara yang tidak membuat perhitungan dan dalam batas waktu 14 (empat belas) hari diberi kesempatan untuk mengajukan keberatan.

Yang termasuk dalam klasifikasi pegawai disini adalah : 1. Tuntutan Ganti Rugi Biasa.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I b) ahli waris dapat dimintakan pertanggungjawabannya c) upaya penyetoran ke kas daerah berhasil ditarik dari kas negara E. Pegawai daerah Pegawai negeri/pegawai daerah yang diperbantukan/dipekerjakan Pegawai perusahaan daerah Pekerja daerah ABRI/purnawirawan ABRI yang dikaryakan/dipekerjakan pada daerah Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam pelaksanaan TGR ini adalah sebagai berikut : 1. 5. dan Pencatatan. dengan tujuan menuntut penggantian kerugian disebabkan oleh perbuatannya melanggar hukum dan/atau melalaikan kewajibannya atau tidak melaksanakan kewajibannya sebagaimana mestinya sehingga baik secara langsung maupun tidak langsung daerah menderita kerugian. a. 3. 2. Penyelesaian Tuntutan Ganti Rugi Dalam hal ini dapat diselesaikan melalui 3 (tiga) cara. 4. TUNTUTAN GANTI RUGI (TGR) Tuntutan Ganti Rugi adalah suatu proses tuntutan terhadap pegawai dalam kedudukannya bukan sebagai bendahara. yaitu Upaya Damai. Upaya Damai 1) Penyelesaian kerugian daerah sedapat mungkin dilakukan dengan upaya damai oleh pegawai/ahli waris baik dengan Pusdiklatwas BPKP – 2007 85 .

5) Apabila terdapat kekurangan dari hasil penjualan barang jaminan seperti yang dimaksud di atas. Tuntutan Ganti Rugi Biasa 1) Kerugian daerah yang dituntut dengan TGR adalah diakibatkan oleh perbuatan melanggar hukum atau perbuatan melalaikan kewajiban atau tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana mestinya yang dipersalahkan kepadanya. 6) Pelaksanaan keputusan Tuntutan Ganti Rugi (eksekusi) dilakukan oleh majelis pertimbangan. dan surat kuasa untuk menjual 4) Apabila pegawai tidak dapat melaksanakan pembayaran angsuran dalam waktu yang ditetapkan dalam SKTJM.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I pembayaran sekaligus (tunai) atau angsuran. maka barang jaminan pembayaran angsuran dapat dijual sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Pelaksanaan upaya damai ini dilakukan oleh Badan Pengawas Daerah. jaminan barang beserta surat kuasa pemilikan yang sah. Sebaliknya apabila terdapat kelebihan dari hasil penjualan barang jaminan. maka akan dikembalikan kepada pegawai yang bersangkutan. b. 2) Dalam keadaan terpaksa yang bersangkutan dapat melakukan dengan cara angsuran selambat-lambatnya selama 2 (dua) tahun sejak ditandatanganinya Surat Keterangan Tanggung Jawab Mutlak (SKTJM) dan harus disertai jaminan barang yang nilainya cukup. serta ada Pusdiklatwas BPKP – 2007 86 . maka kekurangan tersebut tetap menjadi kewajiban pegawai yang bersangkutan. 3) Pembayaran angsuran yang dilakukan melalui pemotongan gaji/penghasilan harus dilengkapi dengan surat kuasa pemotongan.

2) TGR dilakukan atas dasar pada kenyataan yang sebenarnya dari hasil pengumpulan bahan-bahan bukti dan penelitian inspektorat terhadap pegawai yang bersangkutan. apabila merugikan daerah wajib dikenakan TGR. 5) Proses Tuntutan Ganti Rugi dimulai dengan suatu penyelesaiannya melalui Tim Majelis pemberitahuan tertulis dari kepala daerah kepada pegawai negeri yang bersangkutan. 4) Pelaksanaan TGR sebagai akibat perbuatan melanggar hukum atau melalaikan kewajiban yang dipersalahkan kepadanya dan/atau tidak menjalankan kewajiban sebagaimana mestinya diserahkan Pertimbangan. dengan menyebutkan : a) Identitas pelaku b) Jumlah kerugian yang diderita daerah yang harus diganti c) Sebab-sebab serta alasan penuntutan dilakukan d) Tenggang waktu yang diberikan untuk mengajukan pembelaan diri selama 14 (empat belas) hari. terhitung sejak diterimanya pemberitahuan oleh pegawai yang bersangkutan.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I hubungannya dengan pelaksanaan fungsi ataupun dengan status jabatannya baik langsung maupun tidak langsung. 6) Apabila pegawai yang diharuskan mengganti kerugian dalam waktu 14 (empat belas) diri atau hari atau tidak telah mengajukan mengajukan keberatan/pembelaan pembelaan diri tetapi tidak dapat membebaskannya sama Pusdiklatwas BPKP – 2007 87 . 3) Semua pegawai daerah bukan bendahara atau ahli warisnya.

11) Apabila permohonan banding diterima. kepala daerah menerbitkan surat keputusan tentang peninjauan kembali.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I sekali dari kesalahan/kelalaian. c. dan apabila dianggap perlu dapat meminta bantuan kepada yang berwajib untuk dilakukan penagihan dengan paksa. 7) Berdasarkan surat keputusan pembebanan. atau menambah/mengurangi besarnya jumlah kerugian yang harus dibayar oleh yang bersangkutan. Pusdiklatwas BPKP – 2007 88 . 9) Permohonan banding kepada pejabat yang berwenang dapat diajukan selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari setelah diterima surat keputusan pembebanan oleh yang bersangkutan. dalam pencatatan wajib dikenakan TGR berdasarkan keputusan kepala daerah tentang pencatatan TGR setelah mendapat pertimbangan majelis. kepala daerah melaksanakan penagihan atas pembayaran ganti rugi kepada yang bersangkutan. Pencatatan 1) Pegawai negeri yang meninggal dunia tanpa ahli waris atau melarikan diri tidak diketahui alamatnya. 8) Keputusan Pembebanan Ganti Rugi tersebut pelaksanaannya dapat dilakukan dengan cara memotong gaji dan penghasilan lainnya yang bersangkutan. memberi izin untuk mengangsur dan melunasinya selambat-lambatnya selama 2 (dua) tahun. kepala daerah menetapkan Surat Keputusan Pembebanan. 10) Keputusan tingkat banding dari pejabat yang berwenang dapat berupa memperkuat atau membatalkan surat keputusan pembebanan.

Sistem Administrasi Keuangan Daerah I 2) Bagi pegawai yang melarikan diri. 4) Pencatatan yang telah dilakukan sewaktu-waktu dapat ditagih apabila yang bersangkutan diketahui alamatnya d. 4) Nilai taksiran jumlah harga benda yang akan diganti rugi dalam bentuk uang maupun barang ditetapkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 3) Dengan diterbitkannya Surat Keputusan Pencatatan. kasus yang bersangkutan dikeluarkan dari administrasi pembukuan. Penyelesaian Kerugian Barang Daerah 1) Pegawai yang bertanggung jawab atas terjadinya kehilangan barang daerah (bergerak/tidak bergerak) dapat melakukan penggantian dalam bentuk uang atau barang yang sesuai dengan cara penggantian kerugian yang telah ditetapkan sesuai ketentuan yang berlaku. 3) Penggantian kerugian dalam bentuk uang dapat dilakukan terhadap barang tidak bergerak atau yang bergerak selain yang dimaksudkan di atas dengan cara tunai atau angsuran selama 2 (dua) tahun. 2) Penggantian kerugian dalam bentuk barang dilakukan khusus terhadap barang bergerak berupa kendaraan bermotor roda 4 (empat) dan roda 2 (dua) yang umur pembeliannya 1 sampai 3 tahun. Pusdiklatwas BPKP – 2007 89 . TGR tetap dilakukan terhadap ahli warisnya yang dengan memperhatikan dari perbuatan harta yang peninggalan dihasilkan menyebabkan kerugian daerah tersebut.

2) Jangka waktu surat untuk mengajukan keberatan berakhir. b. Selanjutnya apabila Pusdiklatwas BPKP – 2007 90 . 2. keputusan pembebanan Tuntutan Ganti Rugi Biasa TGR dinyatakan daluwarsa setelah lewat 5 (lima) tahun sejak akhir tahun kerugian daerah diketahui atau setelah 8 (delapan) tahun sejak akhir tahun dimana kerugian tersebut terjadi/perbuatan tersebut dilakukan . TP Biasa dinyatakan daluwarsa (lewat waktu) apabila baru diketahui setelah lewat 30 (tiga puluh) tahun sejak kekurangan kas/barang tersebut diketahui. Tetapi apabila baru diketahui dalam tahun 1994 maka kerugian daerah tersebut mengalami daluwarsa 8 tahun sesudah tahun 1990 atau akhir tahun anggaran 1998/1999 dan bukan 5 tahun sesudah tahun anggaran 1994/1995 atau akhir tahun anggaran 1999/2000. Contoh : a. Tuntutan Perbendaharaan (TP) a. TP Khusus terhadap ahli waris atau yang berhak lainnya dinyatakan daluwarsa (lewat waktu) apabila jangka waktu 3 (tiga) tahun telah berakhir setelah : 1) Meninggalnya bendahara tanpa adanya pemberitahuan. dalam kasus dimaksud tidak dilakukan upaya-upaya damai. tidak pernah sedangkan ditetapkan. DALUWARSA TP/TGR 1. Apabila perbuatan/kelalaian dilakukan dalam tahun 1990 dan diketahui dalam tahun 1991.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I F. maka kerugian keuangan daerah tersebut mengalami daluwarsa 5 tahun sesudah tahun 1991 atau akhir tahun anggaran 1996/1997.

maka kerugian daerah tersebut akan daluwarsa 8 tahun sesudah 1995 atau tahun 2003. waktu 8 tahun tersebut dimulai pada akhir tahun perbuatan/kelalaian yang terakhir dilakukan. sedangkan kerugian tahun 1985 sampai dengan 1989 tidak diperhitungkan. Penghapusan yang telah dilakukan dapat ditagih kembali apabila dikemudian hari terbukti bahwa bendahara/pegawai/ahli waris yang bersangkutan ternyata mampu.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I kerugian daerah akibat dari perbuatan/kelalaian berturut-turut. maka setelah mendapatkan persetujuan dari DPRD selanjutnya kepala daerah dengan surat keputusan dapat menghapuskan TP/TGR baik sebagian ataupun seluruhnya. Apabila perbuatan/kelalaian dilakukan berturut-turut sejak tahun 1985 sampai dengan tahun 1995. PENGHAPUSAN Apabila bendahara/pegawai ataupun ahli waris/keluarga terdekat/ pengampu yang berdasarkan keputusan kepala daerah diwajibkan mengganti kerugian tidak mampu membayar ganti rugi. maka yang bersangkutan harus mengajukan permohonan secara tertulis kepada kepala daerah untuk penghapusan atas kewajibannya. Dalam menentukan besarnya kerugian daerah dihitung kerugian daerah yang terjadi 8 (delapan) tahun sebelum tahun penggantian kerugian daerah dibebankan. Berdasarkan permohonan Pertimbangan tersebut kepala untuk melakukan daerah penelitian. b. Pusdiklatwas BPKP – 2007 91 . Apabila pembebanan ganti rugi dilakukan dalam tahun 1998 maka jumlah ganti rugi hanya terbatas sampai jumlah kerugian yang timbul sejak tahun 1990 saja. G. memerintahkan Apabila ternyata Majelis yang bersangkutan memang tidak mampu.

dengan terlebih dahulu mendapatkan persetujuan dari DPRD dan menteri dalam negeri.000. setelah diterima kas daerah segera dipindahbukukan ke rekening BUMD yang bersangkutan.00 (sepuluh juta rupiah) dapat diproses penghapusannya bersamaan dengan penetapan peraturan daerah tentang Perhitungan APBD tahun anggaran yang berkenaan. kepala daerah berupaya agar putusan pengadilan menyatakan bahwa barang yang dirampas diserahkan kepada daerah dan selanjutnya hasil penjualannya disetorkan ke kas daerah. Berdasarkan pertimbangan efisiensi. Dalam kasus kerugian daerah dimana penyelesaiannya diserahkan melalui pengadilan. PEMBEBASAN Dalam hal bendahara atau pegawai bukan bendahara meninggal dunia tanpa ahli waris atau tidak layak untuk ditagih. I. maka kerugian daerah yang bernilai sampai dengan Rp 10. maka majelis pertimbangan memohon secara tertulis kepada kepala daerah yang bersangkutan untuk membebaskan sebagian/seluruh kewajiban yang harus dipenuhi. Pusdiklatwas BPKP – 2007 92 .000. H. PENYETORAN Penyetoran/pengembalian secara tunai/sekaligus atau melalui angsuran atas kekurangan perbendaharaan/kerugian daerah atau hasil penjualan barang jaminan/kebendaan harus melalui kas daerah atau dinas/lembaga/satuan kerja daerah yang ditunjuk oleh pemerintah daerah.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I Surat keputusan penghapusan baru dapat dilaksanakan setelah memperoleh pengesahan dari menteri dalam negeri. Khusus penyetoran kerugian daerah yang berasal dari Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). yang berdasarkan surat keputusan kepala daerah diwajibkan mengganti kerugian daerah.

setiap Selanjutnya gubernur wajib melaporkan perkembangan pelaksanaan penyelesaian kerugian daerah untuk tingkat provinsi/kabupaten/kota yang berada di wilayahnya setiap semester kepada Menteri Dalam Negeri cq. maka kepala daerah dapat melakukan hukuman disiplin berupa pembebasan yang bersangkutan dari jabatannya dan segera menunjuk pejabat sementara untuk melakukan kegiatannya. PELAPORAN Bupati/walikota penyelesaian wajib kerugian melaporkan daerah kepada perkembangan gubernur pelaksanaan semester.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I J. Apabila proses melalui badan peradilan ini tidak terselesaikan. Kerugian daerah yang tidak dapat diselesaikan oleh pemerintah daerah dapat diserahkan penyelesaiannya melalui badan peradilan dengan mengajukan gugatan perdata. LAIN-LAIN Apabila bendahara atau pegawai bukan bendahara berdasarkan laporan dan pemeriksaan terbukti telah merugikan daerah. Keputusan pengadilan untuk menghukum atau membebaskan yang bersangkutan dari tindak pidana. L. maka permasalahan ini dikembalikan kepada daerah dan penyelesaiannya dapat dilakukan dengan cara pencatatan atau penghentian/penghapusan. Direktur Jenderal Pemerintahan Umum dan Otonomi Daerah untuk dijadikan bahan pemantauan. K. MAJELIS PERTIMBANGAN TUNTUTAN PERBENDAHARAAN DAN TUNTUTAN GANTI RUGI KEUANGAN DAN BARANG DAERAH Untuk menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dengan penyimpangan pengelolaan keuangan daerah maka dibentuklah Majelis Pusdiklatwas BPKP – 2007 93 . tidak menggugurkan hak daerah untuk tetap melaksanakan TP/TGR.

Adapun susunan Majelis Pertimbangan adalah sebagai berikut : 1. Barang dan Kepegawaian Sekretaris Anggota : Kepala Bagian Keuangan : a.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I Pertimbangan Perbendaharaan dan Tuntutan Ganti Rugi Keuangan dan Barang Daerah. 2. c. Kepala Bagian Perlengkapan b. b. Tingkat Kabupaten/Kota Ketua Wakil Ketua I Wakil Ketua II : Sekwilda : Kepala Bawasda Kabupaten/Kota : Asisten Sekwilda Bidang Keuangan. Tingkat Provinsi Ketua Wakil Ketua I Wakil Ketua II Sekretaris Anggota : : : : : Sekwilda Kepala Bawasda Provinsi Asisten Administrasi dan Umum Kepala Biro Keuangan a. Kepala Bagian Hukum c. Majelis Pertimbangan ini pada dasarnya adalah para pejabat yang ex-officio ditunjuk dan ditetapkan oleh kepala daerah yang bertugas membantu kepala daerah dalam penyelesaian kerugian daerah. Kepala Bagian Kepegawaian Kepala Biro Perlengkapan Kepala Biro Hukum Kepala Biro Kepegawaian Pusdiklatwas BPKP – 2007 94 .

pembebasan. hukuman disiplin. M. 2. banding. 4. menganalisis dan mengevaluasi kasus TP/TGR yang diterima. Penelitian kelengkapan berkas laporan dan pencatatan serta penomoran berkas laporan oleh staf administrasi. Anggota Sekretariat Majelis melakukan : a. penghapusan. Mengumpulkan. Menyiapkan laporan kepala daerah mengenai perkembangan penyelesaian kasus kerugian daerah secara periodik kepada Menteri Dalam Negeri cq. Memberikan pendapat. TEKNIS DAN PROSEDUR PENYELESAIAN TP/TGR MELALUI MAJELIS PERTIMBANGAN TP/TGR KEUANGAN DAN BARANG (MISALNYA UNTUK TINGKAT PROVINSI) 1.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I Tugas pokok dari Majelis Pertimbangan yang ditetapkan adalah sebagai berikut: 1. Laporan kasus kerugian daerah dilaporkan oleh kepala unit/satuan kerja yang bersangkutan kepada majelis melalui kepala sekretariat. DAERAH Pusdiklatwas BPKP – 2007 95 . Pembahasan laporan oleh tim pembahas yang dipimpin oleh ketua tim pembahas yang ditunjuk oleh kepala sekretariat. penyerahan melalui Badan Peradilan. Penyelesaian kerugian daerah apabila terjadi hambatan dan penagihan melalui instansi terkait. tembusan kepada BPK. pencatatan. b. 3. Memproses dan melaksanakan eksekusi TP/TGR. saran dan pertimbangan kepada kepala daerah pada setiap kasus yang menyangkut TP/TGR termasuk pembebanan. Sekretariat Jenderal dan Inspektorat Jenderal Departemen Dalam Negeri. menatausahakan. 2. Direktur Jenderal PUOD.

8. Majelis melaksanakan pemeriksaan berkas perkara dan pengambilan keputusan dalam proses Tuntutan Perbendaharaan dan Tuntutan Ganti Rugi yang dipimpin oleh Ketua Majelis : a. 7. Keputusan majelis ditandatangani oleh ketua. wakil sekretaris dan seluruh anggota majelis. 6. Pusdiklatwas BPKP – 2007 96 . Majelis menyampaikan surat keputusan gubernur/kepala daerah kepada bendahara/pegawai yang bersangkutan melalui kepala sekretariat. menandatangani surat keputusan untuk selanjutnya diserahkan kepada majelis. 5. Kepala sekretariat menyampaikan laporan kepada sekretaris majelis. Sekretaris majelis meneliti/menganalisis berkas laporan hasil pembahasan sekretariat majelis dan selanjutnya menyampaikan berkas laporan kepada majelis. Kepala sekretariat menyampaikan (setelah terlebih dahulu dicatat dalam (buku register) surat keputusan gubernur/kepala daerah kepada bendahara/pegawai yang bersangkutan melalui kepala unit/satuan kerja. b. 4.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I 3. Keputusan majelis disertai konsep surat keputusan gubernur kepala daerah disampaikan oleh majelis kepada gubernur kepala daerah. Gubernur/kepala daerah menganalisis keputusan majelis dan ketua.

b. Pusdiklatwas BPKP – 2007 97 . Apabila terjadi kerugian terhadap aset daerah. c. Tuntutan khusus. maka dilakukan proses : a. Tuntutan ganti rugi khusus. maka kepala daerah dapat melakukan : a. Tuntutan ganti rugi. Presiden. b. Gubernur dan Mendagri. Hukuman disiplin. Tuntutan ganti rugi. Apabila ternyata pegawai daerah terbukti bersalah dan merugikan keuangan daerah. 4. b. 3. Tuntutan perbendaharaan. d. Hukuman percobaan.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I N. c. b. Gubernur dan Bupati/Walikota. SOAL LATIHAN 1. d. hal tersebut terlebih dahulu disetujui oleh : a. d. 2. Dalam hal tuntutan ganti rugi tidak dapat dijalankan dan diberikan “Pembebasan”. yang pertama-tama ditempuh adalah melakukan : a. Upaya damai. Apabila seorang kasir melarikan diri. Tuntutan hukuman jabatan. Tuntutan perbendaharaan khusus. DPRD dan Mendagri. c.

Dapat menagih lagi sebesar 50% dari nilai kerugian daerah. 5. Tidak dapat menagih kembali. Pusdiklatwas BPKP – 2007 98 . d. c. b. Masih dapat menagih kembali.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I c. Dalam hal daerah telah menetapkan “penghapusan” terhadap penggantian kerugian maka daerah : a. Hukuman denda. Dapat menagih kembali berdasarkan persetujuan DPRD. d. Hukuman kurungan.

Muhammad. Peraturan Pemerintah No. 2 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengadaan Pinjaman dan/atau Penerusan Pinjaman dan/atau Hibah Luar Negeri.. Jakarta: PT Pradnya Paramita. 14 tahun 2005 tentang Tata Cara Penghapusan Piutang Negara/Daerah. Edisi Keempat. 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan. Peraturan Pemerintah No. Akuntansi Pemerintahan. Peraturan Pemerintah No.H. 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah.dan Kansil Christine S. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan. S. 5. 13. 2. Peraturan Pemerintah No.H. Drs. Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah. 5 Tahun 1997... 7. 2001. 6. 4. Peraturan Pemerintah No. Edisi Revisi. Modul Sistem Administrasi Keuangan Daerah II . 10. Instruksi Menteri Dalam Negeri No. 8. Prof. Kitab Undang-Undang Otonomi Daerah 1999 – 2001. 11. Modul-Modul Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Peraturan Pemerintah No. 2004.H. 54 Tahun 2005 tentang Pinjaman Daerah. S. Gade.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I DAFTAR PUSTAKA 1. Pusdiklatwas BPKP – 2007 99 . Kansil CST. 12. 9.T. 21 Tahun 1997 tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Menteri Dalam Negeri No. Peraturan Pemerintah No. 3. Kitab 2. 1998. M. 23 Tahun 2005 tentang Badan Layanan Umum.

58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan dan Pertanggung Jawaban Keuangan Daerah. 24. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. 28. 22. 23. 15. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. Prof. 19. 18. 57 Tahun 2005 tentang Hibah kepada Daerah. Peraturan Pemerintah No. Peraturan Pemerintah No. Peraturan Pemerintah No. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. Soediyono. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggungjawab Keuangan Negara. DR. MBA. Pusdiklatwas BPKP – 2007 100 . 66 Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I 14. 21. 25. Peraturan Pemerintah No. 5 Tahun 1997 tentang Tuntutan Ganti Rugi dan Tuntutan Perbendaharaan Keuangan dan Barang Daerah. 27. Undang-Undang No. 20. 23 Tahun 2003 tentang Pengendalian Jumlah Kumulatif APBN dan APBD. Peraturan Pemerintah No.1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. Undang-Undang No. Undang-Undang No. 79 Tahun 2005 tentang Pedoman Pembinaan Dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah. 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. Pengantar Analisis Pendapatan Nasional. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 26. Edisi ke-5. 1989. 56 Tahun 2005 tentang Sistem Informasi Keuangan Daerah. Undang-Undang No. 16. 17. Peraturan Pemerintah No. Yogyakarta: Penerbit Liberty. 65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah. 59 Tahun 2007 tentang Perubahan Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. Ekonomi Makro. Peraturan Pemerintah No.

Sistem Administrasi Keuangan Daerah I 29. 30. Undang-Undang No. Undang-Undang No. Undang-Undang No. Undang-Undang No. 33. Pusdiklatwas BPKP – 2007 101 . 21 Tahun 1997 tentang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. Undang-Undang No. 32. 34. 18 Tahun 1997. 31. 19 Tahun 1997 tentang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa. 34 Tahun 2000 tentang Perubahan Undang-Undang No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. 17 Tahun 1997 tentang Badan Penyelesaian Sengketa Pajak.17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Undang-Undang No.

4. Pemerintah Pusat. 6. termasuk Qanun yang berlaku di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan peraturan daerah provinsi (perdasi) yang berlaku di Provinsi Papua. selanjutnya disebut pemerintah. APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan daerah yang dibahas dan disetujui bersama oleh pemerintah daerah dan DPRD. Pengelolaan Keuangan Daerah adalah keseluruhan kegiatan yang meliputi perencanaan. 3. Keuangan Daerah adalah semua hak dan kewajiban daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah yang dapat dinilai dengan uang termasuk didalamnya segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban daerah tersebut. Pemerintahan Daerah adalah penyelenggara urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam UndangUndang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945. penatausahaan. Pemerintah Daerah adalah gubernur. Peraturan Daerah adalah peraturan yang dibentuk oleh DPRD dengan persetujuan bersama kepala daerah. dan/atau walikota. Pusdiklatwas BPKP – 2007 102 . dan pengawasan keuangan daerah. pelaksanaan. Daerah Otonom. dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah. pertanggungjawaban. 8. 2. bupati. dan ditetapkan dengan peraturan daerah. selanjutnya disebut daerah. 5. adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I DAFTAR ISTILAH/SINGKATAN 1. pelaporan. 7.

Pengguna Barang adalah pejabat pemegang kewenangan penggunaan barang milik daerah. 14. 16. 20. SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) adalah perangkat daerah pada pemerintah daerah selaku pengguna anggaran/barang. Kuasa Pengguna Anggaran adalah pejabat yang diberi kuasa untuk melaksanakan sebagian kewenangan pengguna anggaran dalam melaksanakan sebagian tugas dan fungsi SKPD. 11. Kuasa BUD adalah pejabat yang diberi kuasa untuk melaksanakan tugas bendahara umum daerah. 13. 19. Kas Umum Daerah adalah tempat penyimpanan uang daerah yang ditentukan oleh kepala daerah untuk menampung seluruh penerimaan daerah dan membayar seluruh pengeluaran daerah. PPTK (Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan) adalah pejabat pada unit kerja SKPD yang melaksanakan satu atau beberapa kegiatan dari suatu program sesuai dengan bidang tugasnya. PPK-SKPD (Pejabat Penatausahaan Keuangan SKPD) adalah pejabat yang melaksanakan fungsi tata usaha keuangan pada SKPD.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I 9. Pusdiklatwas BPKP – 2007 103 . Pemegang Kekuasaan Pengelolaan Keuangan Daerah adalah kepala daerah yang karena jabatannya mempunyai kewenangan menyelenggarakan keseluruhan pengelolaan keuangan daerah. PPKD (Pejabat Pengelola Keuangan Daerah) adalah kepala satuan kerja pengelola keuangan daerah yang mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan APBD dan bertindak sebagai bendahara umum daerah. 21. 12. Unit Kerja adalah bagian SKPD yang melaksanakan satu atau beberapa program. 18. Pengguna Anggaran adalah pejabat pemegang kewenangan penggunaan anggaran untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsi SKPD yang dipimpinnya. BUD (Bendahara Umum Daerah) adalah PPKD yang bertindak dalam kapasitas sebagai bendahara umum daerah. 10. 17. 15. Kepala Daerah adalah gubernur bagi daerah provinsi atau bupati bagi daerah kabupaten atau walikota bagi daerah kota.

Penerimaan Daerah adalah uang yang masuk ke kas daerah. menatausahakan. dan mempertanggung jawabkan uang untuk keperluan belanja daerah dalam rangka pelaksanaan APBD pada SKPD. menyimpan. 23. Pusdiklatwas BPKP – 2007 104 .Sistem Administrasi Keuangan Daerah I 22. Entitas Akuntansi adalah unit pemerintahan pengguna anggaran/ pengguna barang dan oleh karenanya wajib menyelenggarakan akuntansi dan menyusun laporan keuangan untuk digabungkan pada entitas pelaporan. Belanja Daerah adalah kewajiban pemerintah daerah yang diakui sebagai pengurang nilai kekayaan bersih. dan mempertanggungjawabkan uang pendapatan daerah dalam rangka pelaksanaan APBD pada SKPD. Surplus Anggaran Daerah adalah selisih lebih antara pendapatan daerah dan belanja daerah. membayarkan. Bendahara Pengeluaran adalah pejabat fungsional yang ditunjuk menerima. 32. 31. Rekening Kas Umum Daerah adalah rekening tempat penyimpanan uang daerah yang ditentukan oleh kepala daerah untuk menampung seluruh penerimaan daerah dan membayar seluruh pengeluaran daerah pada bank yang ditetapkan. Defisit Anggaran Daerah adalah selisih kurang antara pendapatan daerah dan belanja daerah. menyimpan. yang menurut ketentuan peraturan perundangundangan wajib menyampaikan laporan pertanggungjawaban berupa laporan keuangan. menatausahakan. 25. Pendapatan Daerah adalah hak pemerintah daerah yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih. 30. 29. 26. menyetorkan. 24. Bendahara Penerimaan adalah pejabat fungsional yang ditunjuk untuk menerima. Pengeluaran Daerah adalah uang yang keluar dari kas daerah. Entitas Pelaporan adalah unit pemerintahan yang terdiri dari satu atau lebih entitas akuntansi. 28. 27.

38. dengan mempertimbangkan implikasi biaya akibat keputusan yang bersangkutan pada tahun berikutnya yang dituangkan dalam prakiraan maju. Prakiraan Maju (forward estimate) adalah perhitungan kebutuhan dana untuk tahun anggaran berikutnya dari tahun yang direncanakan guna memastikan kesinambungan program dan kegiatan yang telah disetujui dan menjadi dasar penyusunan anggaran tahun berikutnya. 39. Pusdiklatwas BPKP – 2007 105 . Program adalah penjabaran kebijakan SKPD dalam bentuk upaya yang berisi satu atau lebih kegiatan dengan menggunakan sumber daya yang disediakan untuk mencapai hasil yang terukur sesuai dengan misi SKPD. 40. baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya. Kinerja adalah keluaran/hasil dari kegiatan/program yang akan atau telah dicapai sehubungan dengan penggunaan anggaran dengan kuantitas dan kualitas yang terukur. Fungsi adalah perwujudan tugas kepemerintahan dibidang tertentu yang dilaksanakan dalam rangka mencapai tujuan pembangunan nasional. dengan pengambilan keputusan terhadap kebijakan tersebut dilakukan dalam perspektif lebih dari satu tahun anggaran. Penganggaran Terpadu (unified budgeting) adalah penyusunan rencana keuangan tahunan yang dilakukan secara terintegrasi untuk seluruh jenis belanja guna melaksanakan kegiatan pemerintahan yang didasarkan pada prinsip pencapaian efisiensi alokasi dana. 41. SiLPA (Sisa Lebih Perhitungan Anggaran) adalah selisih lebih realisasi penerimaan dan pengeluaran anggaran selama satu periode anggaran. 37. Pinjaman Daerah adalah semua transaksi yang mengakibatkan daerah menerima sejumlah uang atau menerima manfaat yang bernilai uang dari pihak lain sehingga daerah dibebani kewajiban untuk membayar kembali. SiKPA (Sisa Kurang Perhitungan Anggaran) adalah selisih kurang realisasi penerimaan dan pengeluaran anggaran selama satu periode anggaran. Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah adalah pendekatan penganggaran berdasarkan kebijakan. 42. Pembiayaan Daerah adalah semua penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali. 35. 34. 36.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I 33.

Keluaran (output) adalah barang atau jasa yang dihasilkan oleh kegiatan yang dilaksanakan untuk mendukung pencapaian sasaran dan tujuan program dan kebijakan. KUA (Kebijakan Umum APBD) adalah dokumen yang memuat kebijakan bidang pendapatan. Sasaran (target) adalah hasil yang diharapkan dari suatu program atau keluaran yang diharapkan dari suatu kegiatan. 48. PPAS (Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara) merupakan program prioritas dan patokan batas maksimal anggaran yang diberikan kepada SKPD untuk setiap program sebagai acuan dalam penyusunan RKASKPD. RKA-SKPD (Rencana Kerja dan Anggaran SKPD) adalah dokumen perencanaan dan penganggaran yang berisi program dan kegiatan SKPD serta anggaran yang diperlukan untuk melaksanakannya.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I 43. 52. RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah) adalah dokumen perencanaan untuk periode lima tahun. PPKD. adalah dokumen 49. dan pejabat lainnya sesuai dengan kebutuhan. Kegiatan adalah bagian dari program yang dilaksanakan oleh satu atau lebih unit kerja pada SKPD sebagai bagian dari pencapaian sasaran terukur pada suatu program dan terdiri dari sekumpulan tindakan pengerahan sumber daya baik yang berupa personal (sumber daya manusia). 45. dan pembiayaan serta asumsi yang mendasarinya untuk periode 1 (satu) tahun. TAPD (Tim Anggaran Pemerintah Daerah) adalah tim yang dibentuk dengan keputusan kepala daerah dan dipimpin oleh sekretaris daerah yang mempunyai tugas menyiapkan serta melaksanakan kebijakan kepala daerah dalam rangka penyusunan APBD yang anggotanya terdiri pejabat perencana daerah. 44. 47. barang modal termasuk peralatan dan teknologi. RKPD (Rencana Kerja Pemerintah Daerah) perencanaan daerah untuk periode satu tahun. 51. 50. atau kombinasi dari beberapa atau kesemua jenis sumber daya tersebut sebagai masukan (input) untuk menghasilkan keluaran (output) dalam bentuk barang/jasa. 46.belanja. dana. Pusdiklatwas BPKP – 2007 106 . Hasil (outcome) adalah segala sesuatu yang mencerminkan berfungsinya keluaran dari kegiatan-kegiatan dalam satu program.

Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) adalah dokumen yang digunakan sebagai dasar pencairan dana yang diterbitkan oleh BUD berdasarkan SPM. SPM-GU (Surat Perintah Membayar Ganti Uang Persediaan) adalah dokumen yang diterbitkan oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran untuk penerbitan SP2D atas beban pengeluaran DPA-SKPD yang dananya dipergunakan untuk mengganti uang persediaan yang telah dibelanjakan. SPM-UP (Surat Perintah Membayar Uang Persediaan) adalah dokumen yang diterbitkan oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran untuk penerbitan SP2D atas beban pengeluaran DPA-SKPD yang dipergunakan sebagai uang persediaan untuk mendanai kegiatan operasional kantor sehari-hari. 55. SPP (Surat Permintaan Pembayaran) adalah dokumen yang diterbitkan oleh pejabat yang bertanggung jawab atas pelaksanaan kegiatan/ bendahara pengeluaran untuk mengajukan permintaan pembayaran. Pusdiklatwas BPKP – 2007 107 . SPM-LS (Surat Perintah Membayar Langsung) adalah dokumen yang diterbitkan oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran untuk penerbitan SP2D atas beban pengeluaran DPA-SKPD kepada pihak ketiga.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I 53. 54. Surat Perintah Membayar (SPM) adalah dokumen yang digunakan/ diterbitkan oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran untuk penerbitan SP2D atas beban pengeluaran DPA-SKPD. 59. UP (Uang Persediaan) adalah sejumlah uang tunai yang disediakan untuk satuan kerja dalam melaksanakan kegiatan operasional sehari-hari. 61. 57. DPA-SKPD (Dokumen Pelaksanaan Anggaran SKPD) merupakan dokumen yang memuat pendapatan dan belanja setiap SKPD yang digunakan sebagai dasar pelaksanaan oleh pengguna anggaran. 60. 56. 58. SPM-TU (Surat Perintah Membayar Tambahan Uang Persediaan) adalah dokumen yang diterbitkan oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran untuk penerbitan SP2D atas beban pengeluaran DPASKPD. karena kebutuhan dananya melebihi dari jumlah batas pagu uang persediaan yang telah ditetapkan sesuai dengan ketentuan.

Pusdiklatwas BPKP – 2007 108 . 67. 70. BLUD (Badan Layanan Umum Daerah) adalah SKPD/unit kerja pada SKPD di lingkungan pemerintah daerah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan. 63. untuk menjamin agar pelaksanaan kebijakan pengelolaan keuangan daerah sesuai dengan rencana dan peraturan perundangundangan. Dana Cadangan adalah dana yang disisihkan untuk menampung kebutuhan yang memerlukan dana relatif besar yang tidak dapat dipenuhi dalam satu tahun anggaran. royalti. 64. Barang Milik Daerah adalah semua barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBD atau berasal dari perolehan lainnya yang sah. Investasi adalah penggunaan aset untuk memperoleh manfaat ekonomis seperti bunga. atau berdasarkan sebab lainnya yang sah. manfaat sosial dan/atau manfaat lainnya sehingga dapat meningkatkan kemampuan pemerintah dalam rangka pelayanan kepada masyarakat. surat berharga. SPD (Surat Penyediaan Dana) adalah dokumen yang menyatakan tersedianya dana untuk melaksanakan kegiatan sebagai dasar penerbitan SPP. 69. Utang Daerah adalah jumlah uang yang wajib dibayar pemerintah daerah dan/atau kewajiban pemerintah daerah yang dapat dinilai dengan uang berdasarkan peraturan perundang-undangan.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I 62. Piutang Daerah adalah jumlah uang yang wajib dibayar kepada pemerintah daerah dan/atau hak pemerintah daerah yang dapat dinilai dengan uang sebagai akibat perjanjian atau akibat lainnya berdasarkan peraturan perundang-undangan atau akibat lainnya yang sah. 65. 66. dividen. dan dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas. 68. perjanjian. dan barang yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai. Sistem Pengendalian Intern Keuangan Daerah merupakan suatu proses yang berkesinambungan yang dilakukan oleh lembaga/badan/unit yang mempunyai tugas dan fungsi melakukan pengendalian melalui audit dan evaluasi. Kerugian Daerah adalah kekurangan uang.

STPD (Surat Tagihan Pajak Daerah) adalah surat untuk melakukan tagihan pajak dan/atau sanksi administrasi berupa bunga dan/atau denda. SKPDKB (Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar) adalah surat ketetapan pajak yang menentukan besarnya jumlah pokok pajak. SKPDLB (Surat Ketetapan Pajak Daerah Lebih Bayar) adalah surat ketetapan pajak yang menentukan jumlah kelebihan pembayaran pajak karena jumlah kredit pajak lebih besar daripada pajak yang terutang atau tidak seharusnya terutang. 74. Pusdiklatwas BPKP – 2007 109 . dan/atau harta dan kewajiban.Sistem Administrasi Keuangan Daerah I 71. SKRDLB (Surat Ketetapan Retribusi Daerah Lebih Bayar) adalah surat ketetapan retribusi yang menentukan jumlah kelebihan pembayaran retribusi karena jumlah kredit retribusi lebih besar daripada retribusi yang terutang atau tidak seharusnya terutang. dan jumlah yang masih harus dibayar. 79. SKPDN (Surat Ketetapan Pajak Daerah Nihil) adalah surat ketetapan pajak yang menentukan jumlah pokok pajak sama besarnya dengan jumlah kredit pajak atau pajak tidak terutang dan tidak ada kredit pajak. SKRD (Surat Ketetapan Retribusi Daerah) adalah surat ketetapan retribusi yang menentukan besarnya pokok retribusi. SSPD (Surat Setoran Pajak Daerah) adalah surat yang oleh wajib pajak digunakan untuk melakukan pembayaran atau penyetoran pajak yang terutang ke kas daerah atau ke tempat pembayaran lain yang ditunjuk oleh kepala daerah. SKPDKBT (Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan) adalah surat ketetapan pajak yang menentukan tambahan atas jumlah pajak yang telah ditetapkan. 75. objek pajak dan/atau bukan objek pajak. 73. 72. jumlah kredit pajak. menurut ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan Daerah. Surat Pemberitahuan Pajak Daerah (SPTPD) adalah surat yang oleh wajib pajak digunakan untuk melaporkan penghitungan dan/atau pembayaran pajak. 76. SKPD (Surat Ketetapan Pajak Daerah) adalah surat ketetapan pajak yang menentukan besarnya jumlah pokok pajak. 78. 77. 80. besarnya sanksi administrasi. jumlah kekurangan pembayaran pokok pajak.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful