LAPORAN Kajian Kebijakan Penanggulangan (Wabah) Penyakit Menular

(Studi Kasus DBD)

Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat

Deputi Bidang SDM dan Kebudayaan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional 2006

LAPORAN AKHIR

KAJIAN KEBIJAKAN PENANGGULANGAN (WABAH) PENYAKIT MENULAR
Studi Kasus DBD

DIREKTORAT KESEHATAN DAN GIZI MASYARAKAT BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL TAHUN 2006

Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular

LAPORAN AKHIR

Ringkasan Eksekutif
Kajian ini dilatarbelakangi adanya kecenderungan terus meningkatnya wabah penyakit menular di berbagai daerah di Indonesia. Selain penyakit menular yang telah lama ada, penyakit menular baru (new emerging diseases) juga menunjukkan peningkatan. Kebijakan penanggulangan wabah penyakit menular telah diatur dalam peraturan perundangan. Namun demikian implementasi di lapangan masih menghadapi berbagai permasalahan. Beberapa permasalahan yang teridentifikasi antara lain berkaitan dengan (1) pelaksanaan surveilans, (2) upaya penanggulangan, serta (3) adanya desentralisasi kewenangan pengelolaan. Berdasarkan hasil penelitian WHO Tahun 2003 dilaporkan bahwa pelaksanaan kegiatan surveilans masih menghadapi kendala antara lain berkaitan dengan (1) kebijakan sistem surveilans yang belum dipahami sampai ke petugas teknis di lapangan, (2) terbatasnya tenaga pelaksana surveilans, (3) adanya ketidaksesuaian kompetensi, (4) terbatasnya dana pelaksanaan surveilans di tingkat operasional, dan (5) belum optimalnya penggunaan sarana kesehatan dalam mendukung pelaksanaan surveilans penyakit seperti pemanfaatan laboratorium dan peralatan. Berdasarkan latar belakang tersebut, tujuan utama kajian adalah menyusun rumusan kebijakan penanggulangan wabah penyakit menular secara terpadu berdasarkan analisis faktor-faktor yang berpengaruh melalui (1) identifikasi kinerja surveilans, (2) identifikasi kinerja penanggulangan wabah penyakit , serta (3) identifikasi peran dan tanggungjawab Pemerintah Daerah. Metode kajian dilakukan melalui analisis diskriptif (kualitatif) berdasarkan data dan informasi yang didapat di lapangan, baik berbentuk data sekunder maupun hasil wawancana mendalam serta melakukan pembahasan dengan nara sumber dalam bentuk focus group discussion (FGD) dan workshop. Landasan pemikiran kajian didasarkan pada asumsi adanya hubungan timbal balik antara rendahnya kinerja surveilans dan kinerja penanggulangan dengan implementasi kebijakan wabah penyakit menular khususnya dalam kasus kebijakan penanganan penyakit DBD. Kinerja surveilans diukur dengan melihat (1) keberadaan peta rawan, (2) pelaksanaan diseminasi informasi DBD, dan (3) Pelaporan serta dengan melihat faktor-faktor berpengaruh mencakup (1) tenaga, (2) data, (3) sarana, (4) dana, dan (5) SOP. Kinerja Penanggulangan diukur dengan melihat (1) Frekuensi KLB, (2) Jumlah Kasus, (3) Jumlah Kematian, (4) Luas Daerah Terserang serta dengan melihat faktor-faktor berpengaruh mencakup (1) tenaga, (2) data, (3) sarana, (4) dana, dan (5) SOP. Implementasi kebijakan wabah penyakit menular juga dipengaruhi kebijakan desentralisasi kewenangan pengelolaan pembangunan. Kajian menyimpulkan bahwa kendala utama yang dihadapi dalam implementasi kebijakan penanggulangan wabah penyakit menular dalam kasus DBD adalah (1) koordinasi antar instansi dan antar unit yang bertanggung jawab dalam penanganan DBD masih belum optimal, khususnya dalam pelaksanaan surveilans dan penanggulangan DBD, (2) koordinasi antara pusat dan daerah belum dilandasi suatu kebijakan operasional yang jelas tentang kewenangan dan tanggung jawab masingmasing, (3) sistem pengelolaan program penanganan penyakit menular masih didominasi pusat, (4) tingginya beban puskesmas sebagai unit operasional utama di lapangan dalam implementasi kebijakan penanggulangan wabah penyakit menular. Indikator Kinerja Surveilans dan Penanggulangan mencakup (1) Peta rawan, hampir semua dinkes propinsi maupun dinkes kab/kota memiliki peta rawan, sedangkan di Puskesmas sebagai unit pelayanan dasar dan rumah sakit sebagai unit pelayanan rujukan, peta rawan tidak selalu tersedia, (2) proses diseminasi informasi dilakukan
Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular ii

Bidang pendidikan yang ada adalah perawat. Selain pelatihan formal. Sehingga untuk SKDKLB data yang seharusnya dapat dilihat/diprediksi diawal untuk kewaspadaan terjadinya KLB. Data. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kinerja surveilans dan penanggulangan terkait dengan (1) tenaga. dan (6) data. khusus untuk KLB tersedia block grant dari pusat. dan (3) proporsi anggaran untuk preventif dan kuratif yang tidak seimbang. Sarjana (SKM) dan MKes. Pengadaan insektisida dan mesin fogging di supply oleh Dinkes Propinsi karena kab/kota belum siap. Propinsi belum mempunyai sistem peringatan ke kabupaten bila terjadi keterlambatan atau ketidak lengkapan data. belum dilakukan. beban kerja yang tinggi merupakan masalah yang hampir ditemukan disemua tingkatan. Hampir semua unit pelayanan kesehatan di daerah memiliki pedoman dan peraturan dalam rangka pelaksanaan surveilans dan penanggulangan DBD. dan epidemiologi. Permasalahan dana terutama berkaitan dengan (1) keterlamabatan turunnya DIPA.LAPORAN AKHIR melalui penerbitan buletin kajian epidemiologi yang diterbitkan oleh dinkes propinsi dan dinkes kabupaten/kota. (4) SOP. Pemahaman tentang surveilans dan penanggulangan KLB masih belum sama. Struktur organisasi Dinkes propinsi maupun Kab/Kota tidak menggambarkan pembedaan kedua tugas tersebut. Untuk tingkat kabupaten/kota. pengetahuan tim pada umumnya dipenuhi dari pengalaman lapangan dalam penanganan P2M. (2) pengetahuan. kualifikasi pendidikan yang belum sesuai. Sarana utama yang dibutuhkan dalam penanganan kasus DBD adalah adanya mesin fogging serta insektisida. Walaupun kondisi sarana dan prasarana untuk kegiatan penanggulangan penyakit menular tidak selalu memadai. Namun demikian kebanyakan SOP tersebut belum operasional. Baik APBD propinsi maupun APBD kabupaten/kota atau APBD sharing. (3) dana. (4) Jumlah Kasus periode 2003-2005 cenderung stagnan untuk propinsi lokasi kajian (kecuali Jatim meningkat). Tenaga. Dana. Dana yang digunakan untuk penanggulangan KLB berasal dari APBN (Dekon) dan APBD. (3) sistem pelaporan ditunjukkan dengan kelengkapan laporan mencapai 90-100%. Beberapa dinkes kabupaten/kota inisiatif melakukan modifikasi terhadap SOP yang dibuat Depkes. Pendidikan rata-rata perawat. Case Fatality Rate (CFR) DBD fluktuatif. Upaya yang dilakukan Dinas Kesehatan Propinsi maupun kabupaten/kota dalam rangka peningkatan kemampuan adalah pembinaan teknis. Pengetahuan. sedangkan data kematian cenderung meningkat. Ketepatan dan kelengkapan laporan dari kabupaten masih rendah. Dana menjadi persoalan dalam implementasi kebijakan penanggulangan penyakit menular. Kurangnya jumlah SDM. Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular iii . baik di tingkat propinsi maupun kabupaten (baru bersifat pengumpulan data). Puskesmas tidak memiliki alokasi dana khusus untuk kegiatan surveilans. rakor dan melakukan berbagai pelatihan di bidang surveilans maupun penangulangan penyakit. Kualitas dan kualifikasi masih belum terpenuhi sesuai dengan bidang tugas dan kompetensinya. Validitas data yang dilaporkan tidak pernah dipermasalahkan. Hampir semua level baik di propinsi hingga kabupaten/kota termasuk puskesmas dan rumah sakit mengalami masalah ketenagaan dalam kegiatan surveilans dan penanggulangan. Data yang ada belum dilakukan analisis. hampir semuanya menggunakan dana APBD. Dana operasional selain bersumber dari dana operasional umum juga memanfaatkan dana JPK-MM. Sarana. dana untuk pelaksanaan penanggulangan wabah penyakit menular dirasakan pihak daerah mencukupi. Tidak ada batas yang tegas yang membedakan antara Surveilans dan Penanggulangan dalam praktek operasional di lapangan. namun ketepatannya masih 60%. mengadakan pertemuan/ lokakarya. yang ada hanya pencatatan pelaporan yang dilakukan di bagian rekam medis. Pada tingkat propinsi. Operasi lapangan untuk suatu kasus (DBD) serentak dilakukan. (5) sarana. (2) ada masa ketiadaan anggaran. Di rumah sakit tidak terdapat dana surveilans. perpindahan yang begitu cepat. tetapi tidak menjadi kendala dalam berjalannya sistem. SOP. khususnya ketika kasus terjadi.

pelaksanaan (monitoring). akibatnya kegiatan tindak lanjut yang seharusnya dilakukan tidak berjalan. yang paling menonjol adalah penanggulangan (PE). analisis. keterbatasan dana. Penyelidikan Epidemiologi (PE) yang dilakukan Puskesmas belum maksimal. kecuali kalau ada kasus KLB yang menyebabkan sarana TT tidak mencukupi. (3) Surveilans mulai diperlukan ketika ada kasus. Gubernur. tidak setiap kasus DBD ditindaklnajuti dengan PE karena DBD dianggap kasus rutin. Penanggulangan DBD di Rumah sakit relatif tidak masalah. validasi dan pengembangan “respond system”. PE tidak dilakukan maksimal sesuai prosedur yang ada.LAPORAN AKHIR Kondisi umum Pelaksanaan Surveilans dan Penanggulangan DBD: (1) Ujung tombak pelaksanaan surveilans ada di Puskesmas. Bupati/Walikota . promosi dan koordinasi. serta pelaporan (evaluasi). Koordinasi penanganan kasus masih bersifat sporadis. belum tertata dalam sebuah sistem yang aktif dan terstruktur. dan evaluasi kegiatan pencegahan dan penanggulangan faktor resiko. Pengobatan dan isolasi penderita dirujuk ke rumah sakit. (4) Memperkuat kapasitas dan kapabilitas Puskesmas sebagai unit terdepan dalam operasionalisasi surveilans dan penanggulangan wabah penyakit menular. (iii) Peningkatan kualitas sistem pelaporan melalui ketepatan data. dan sistem kewaspadaan dini (early warning system). (11) Diperlukan model manajemen pemberantasan penyakit dan penyehatan lingkungan secara terintegrasi yang berbasis wilayah kabupaten/kota dalam perspektif Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular iv . bukan sebaliknya pemerintah daerah yang aktif meminta informasi. pemantauan. (iv) Optimalisasi penggunaan sarana dan prasarana dengan melibatkan peran aktif masyarakat. hal ini tampak dari keaktifan instansi kesehatan dalam penyebaran informasi kesehatan. dekonsentrasi maupun tugas perbantuan). Rekomendasi kajian yang diusulkan mencakup (1) Peningkatan koordinasi antar instansi dan antar unit dalam berbagai tingkatan dalam penanganan wabah penyakit menular yang dilakukan oleh Menko Kesra. Namun pada saat kasus. Hal ini berkaitan dengan masih cukup besarnya alokasi dana yang berasal dari APBN (dalam bentuk DAU. (ii) Penyempurnaan SOP sesuai “local specific”. advokasi. Pengobatan dapat dilakukan dengan baik kecuali kalau ada keterlambatan datang ke sarana pengobatan dan akibat terlambat merujuk. Permasalahan operasional penanganan DBD juga dipengaruhi oleh sistem kepemerintahan yang belum sepenuhnya dapat mengakomodasi sistem perencanaan dan sistem keuangan yang baru. Banyak kendala. (9) Membangun dan mengembangkan kemitraan. (5) Meningkatkan peran dan tanggung jawab Pemerintah Daerah melalui intensifikasi kegiatan sosialisasi. (10) Diperlukan dukungan dalam bentuk peraturan perundangan dalam meningkatkan komitmen para pihak di daerah dalam rangkan pencegahan dan penanggulangan DBD. karena tidak seimbang antar area yang harus dipantau dengan kemampuan sumberdaya yang tersedia. namun belum maksimal. malalui (i) Peningkatan dukungan dana yang memadai dari APBN maupun APBD. (8) Membangun dan mengembangkan kemitraan dan jejaring kerja informasi dan konsultasi teknis pencegahan dan penanggulangan faktor resiko. antara lain keterbatasan tenaga. (3) Mengurangi secara bertahap dominasi peran pengelolaan program oleh pusat melalui pendelegasian kewenangan ke daerah serta peningkatan profesionalisme pengelola program di daerah. (2) Percepatan penyusunan kebijakan operasional dalam koordinasi pelaksanaan program antar pusat daerah yang mencakup aspek perencnaaan. (7) Melakukan bimbingan. Keperdulian pemerintah daerah masih belum terlihat. Komitmen daerah dalam penyediaan anggaran (APBD) untuk penanganan wabah penyakit menular belum optimal. (2) Aktivitas surveilans dilakukan oleh Tim Lapangan. ketiadaan sarana. surveilans epidemiologi dan penanggulangan KLB/wabah. (6) Meningkatkan kemampuan tenaga pengendalian penyakit untuk melakukan pencegahan dan penanggulangan faktor risiko. baik pada internal sektor maupun lintas sektor. namun belum maksimal melaksanakan surveilans karena keterbatasan tenaga. sebagai suatu kegiatan rutin. jejaring kerja informasi dan konsultasi teknis peningkatan komunikasi informasi dan edukasi (KIE) pencegahan dan pemberantasan penyakit. sarana dan dana.

(3) Data dan Informasi. perlu terus dikembangkan pola pendanaan sistem jaminan kesehatan seperti askeskin sehingga kepastian dana sampai kepada masyarakat terjamin. Implikasi Kebijakan dan Rencana Tindak Lanjut mencakup aspek-aspek: (1) Kelembagaan. Serta didukung jaringan dan kerjasama erat baik antar wilayah dan adimistrasi pemerintah maupun diantara para pelaku pemberantasan penyakit menular dan penyehatan lingkungan itu sendiri dalam satu wilayah. mendorong terbangunnya motivasi dan komitmen para pelaksana pembangunan kesehatan di lapangan sebagai ujung tombak pembangunan kesehatan. perlu di kelola secara profesional dan berkesinambungan dengan memanfaatkan teknologi yang tepat dan mudah diaplikasikan serta dimungkinkan adanya Pusat Informasi Penanaganan DBD (DBD Center). diperlukan revitalisasi peran kelembagaan khususnya kelembagaan Puskesmas. (2) Pendanaan. sekaligus menjamin setiap masyarakat terlayani untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. (5) SOP. Puskesmas perlu diperkuat dengan kapasitas manajemen pelayanan untuk kegiatan yang bersifat promotif. dibuat sesederhana mungkin agar memudahkan pelaksanaan operasional tenaga lapangan dan distribusikan. Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular v . Sebagai perangkat utama Kesehatan. dan rehabilitatif. selain kuratif. preventif. Keberadaan data dan informasi yang akurat dan sinambung menjadi salah satu indikator kinerja pembangunan kesehatan. Dukungan pendanaan serta tenaga dan sarana dalam rangka pelaksanaan operasional pencegahan dan penanggulangan (preventif. (4) Ketenagaan. Motivasi dankomitmen selain muncul atas kesadaran memerlukan dukungan eksternal dalam bentuk insentif.LAPORAN AKHIR komprehensif. promotif dan rehabilitatif) menyertai peran dimaksud secara memadai.

Pemerintah Daerah. tidak saja dalam bentuk temuan tetapi juga pengalaman proses pelaksanaan survey lapangan yang dilakukan sampai ke tingkat Puskesmas dan pelosok masyarakat untuk melakukan wawancara dan diskusi. khususnya kasus Demam Berdarah dengue (DBD). Namun demikian implementasi di lapangan masih menghadapi berbagai permasalahan. Hasil kajian ini jelas belum menggambarkan kondisi utuh pelaksanaan kabijakan sehingga langkah kebijakan yang diambil pun tidak luput dari bias dari peneliti dan pengkaji. Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat serta seluruh staf di lingkungan Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas serta melibatkan nara sumber dari Departemen Kesehatan. Pungkas Bahjuri Ali. DR. SKM 8. khususnya dalam penanganan kasus demam berdarah. Desember 2006 Tim Perumus Rekomendasi Kebijakan 1. Dadang Rizki Ratman. akhirnya Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular dapat diselesaikan tepat pada waktunya. para nara sumber. Selanjutnya berdasarkan rekomendasi yang dirumuskan. Ucapan terima kasih pada seluruh pihak yang telah memberikan kontribusi pada pelaksanaan kajian ini mulai dari tim perumus rekomendasi kebijakan. Hasil temuan dan kesimpulan dirumuskan menjadi suatu rekomendasi kebijakan yang diharapkan dapat memperbaiki kebijakan dalam penanggulangan wabah penyakit menular. Kajian ini dilatarbelakangi adanya kecenderungan terus meningkatnya wabah penyakit menular di berbagai daerah di Indonesia. Inti Wikanestri. Jakarta. baik di di tingkat kebijakan makro (RKP) maupun dalam bentuk kebijakan teknis yang perlu di tindak lanjuti oleh departemen/instansi teknis maupun instansi terkait lainnya. SKM. Kasus penyakit menular dalam kajian ini adalah Demam Berdarah Dengue (DBD). Sularsono. Nurlaili Aprilianti Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular vi . DR. SP. Tiada gading yang tak retak. Ir. MA 3. Mudah-mudahan laporan kajian ini memliki kontribusi substansial bagi penataan kebijakan di bidang kesehatan maupun menjadi salah satu referensi bagi penelitian kebijakan selanjutnya maupun untuk kepentingan bersifat akademis. MPA 4. Unuk itu saran dan masukan guna penyempurnaan hasil kajian ini secara terbuka dinantikan. STP. Selain penyakit menular yang telah lama ada. anggota FGD. SH. Hadiat. dibuat implikasi kebijakan yang harus menjadi langkah tindak lanjut. serta responden di dinas kesehatan propinsi dan dinas kesehatan kabupaten/kota. Banyak hal telah didapat dari pelaksanaan kajian ini. bappeda serta masyarakat. Pelaksanaan kajian telah melibatkan Deputi bidang SDM dan Kebudayaan Bappenas. MPH 2. ME 6. Arum Atmawikarta. Kebijakan penanggulangan wabah penyakit menular telah diatur dalam peraturan perundangan. Yosi Diani Tresna. Perguruan Tinggi. masyarakat serta FGD dari Bappenas. penyakit menular baru (new emerging diseases) juga menunjukkan peningkatan. khususnya Subdit Arbovirosis.LAPORAN AKHIR KATA PENGANTAR Dengan memanjat puji dan syukur pada Allah SWT. MPM 5. Dinas Teknis terkait. MS 7.

5 1.2.LAPORAN AKHIR DAFTAR ISI Ringkasan Eksekutif .1 2.9 Penyakit Menular di Indonesia – 8 Surveilans Epidemiologi – 8 Kebijakan Sistem Surveilans – 10 Indikator Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan – 11 Penanggulangan Wabah Penyakit Menular – 14 Epidemiologi Global Penyakit – 16 Strategi Pengendalian Penyakit – 18 Kejadian Luar Biasa – 18 Penyakit Demam Berdarah – 20 .3 1.i Kata Pengantar .1 Implementasi Kebijakan Penanggulangan DBD – 33 4.2.1 1.1 Indikator Kinerja Surveilans dan Penanggulangan KLB – 42 4.3 Kendala Penanggulangan DBD – 41 Kinerja Surveilans dan Penanggulangan DBD – 41 4.2 3.vi BAB 1 : PENDAHULUAN .1.4 1.1.2 2.6 Sistematika Penulisan .8 2.1 1.5 3.5 Tujuan dan Sasaran – 5 Keluaran Kajian .2 Faktor-faktor Berpengaruh terhadap Kinerja Surveilans dan Kinerja Penangulangan KLB – 46 (1) Tenaga .1 Perumusan Masalah .7 2.46 (2) Dana – 51 (3) Standar Operasi dan Prosedur – 53 (4) Data – 56 (5) Sarana – 57 vii 4.4 3.5 2.2 Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular .6 BAB 2 : LANDASAN TEORI .1 Incidence Rate (IR) dan Case Fatalities Rata (CFR) – 33 4.6 Latar Belakang .2 Kebijakan Penanggulangan Penyakit DBD – 35 4.Kendala Pencegahan DBD – 21 .8 2.6 Kerangka Pemikiran – 27 Disain Kajian .1 3.6 2.29 Jenis dan Sumber Data – 30 Responden Kajian – 31 Lokasi Kajian – 32 Teknik Analisis – 32 BAB 4 : HASIL DAN PEMBAHASAN .1.2 1.3 2.3 3.6 Ruang Lingkup Kajian .4 2.27 3.Peran Masyarakat dalam Penanggulangan DBD .25 BAB 3 : METODOLOGI .33 4.Tatalaksana Penanggulangan DBD – 23 .

LAPORAN AKHIR 4.1 Kesimpulan – 65 5.3.2 Rekomendasi Kebijakan – 68 5.68 DAFTAR PUSTAKA .3.3 Koordinasi Antar Sektor – 63 BAB 5 : KESIMPULAN DAN REKOMENDASI KEBIJAKAN .1 Kewenangan Daerah dan Stndar Pelayanan Minumum – 59 4.65 5.2 Peran Pemerintah Daerah Dalam Penanggulangan DBD – 61 4.70 DAFTAR LAMPIRAN LAMPIRAN 1: Instrumen Kajian – 72 LAMPIRAN 2: Pelaksanaan Kegiatan dan Pembahasan – 76 LAMPIRAN 3 : Struktur Organisasi/Tim Pelaksana LAMPIRAN 4: Notulen Pembahsan Dengan Tim Pakar – 81 LAMPIRAN 5 : Pokok-Pokok Pikiran Hasil Ekspose dengan Tim Ahli – 83 LAMPIRAN 6 : Laporan Pelaksanaan Survey – 86 Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular viii .3.3 Peran dan Tanngung Jawab Pememrintah Daerah dalam Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit DBD – 59 4.3 Implikasi Kebijakan .

1 Tabel 4.14 Tabel 4.2 Tabel 4. RS dan Puskesmas – 58 : Distribusi Ketersediaan Sarana Penanggulangan di Dinkes Propinsi. RS dan Puskesmas – 54 : Distribusi Ketersediaan SOP Penanggulangan KLB di Propinsi.11 Tabel 4.10 Tabel 4.1 Tabel 1. Kab/Kota .9 Tabel 4. RS dan Puskesmas – 55 : Distribusi Ketersediaan Data Surveilans di Dinkes Propinsi. Kab/kota.12 Tabel 4. RS dan Puskesmas – 44 : Distribusi Jenis Tenaga di Dinkes Propinsi dan Kab/Kota – 47 : Distribusi Jenis Tenaga di Rumah Sakit dan Puskesmas – 48 : Persepsi Responden Tentang Surveilans DBD – 49 : Persepsi Responden Tentang Penanggulangan DBD – 50 : Distribusi Sumber Dana di Dinkes Propinsi dan Kab/Kota – 51 : Distribusi Sumber Dana di Rumah Sakit dan Puskesmas – 52 : Distribusi Ketersediaan SOP Surveilans dan Dinkes Propinsi.6 Tabel 4. Dnkes Kab/Kota. RS dan Puskesmas – 56 : Distribusi Ketersediaan Data Penanggulangan KLB Propinsi.1 Tabel 3. RS dan Puskesmas – 58 : Daftar KW dan SPM Bidang Kesehatan – 60 Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular ix . Dinkes Kab/Kota.4 Tabel 4. RS dan Puskesmas – 57 : Distribusi Ketersediaan Sarana Surveilans di Dinkes Propinsi.5 Tabel 4.LAPORAN AKHIR DAFTAR TABEL Tabel 1.1 Tabel 4.15 : Sepuluh Penyakit Utama Pada Pasien Rawat Inap Tahun 2003 – 2 : Target dan Capaian Pemberantasan Penyakit DBD .7 Tabel 4. Kab/Kota .8 Tabel 4.13 Tabel 4. Kab/Kota.3 Tabel 4. Rs dan Puseksmas – 42 : Distribusi Indikator Diseminasi Informasi Surveilans di Dinkes Propinsi.2 Tabel 2. Dikes Kab/Kota. Kab/Kota.4 : Indikator Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan – 12 : Responden Kajian – 31 : Distribusi Indikator Kinerja Surveilans di Dinkes Propinsi.

1 Gambar 3.4 Gambar 4.6 Gambar 4.LAPORAN AKHIR DAFTAR GAMBAR Gambar 2.3 Gambar 3.1 Gambar 2. Tahuan 2005-20006 – 34 : Jumlah Kasus DBD di Indonesia Tahun 2005-2006 – 35 : Data Kasus DBD di Lokasi Kajian – 44 : Data Kematian DBD di Lokasi Kajian – 45 : Case Fatality Rate (CFR) DBD di Lokasi Kajian – 46 Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular x .3 Gambar 4.5 Gambar 4.2 Gambar 4.1 Gambar 4.4 Gambar 4.7 : Alusr Distribusi Data Surveilans Terpadu Penyakit – 10 : Skema Program Penanggulangan KLB – 15 : Bagan Penanggulangan Fokus (Penanggulangan Penderita DBD di Lapangan) – 24 : Kerangka Pikir Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular – 27 :Kerangka Konsep Kinerja Surveilans – 28 : kerangka Konsep Kinerja Penanggulangan – 28 : Tahapan Pelaksanan Kajian – 32 : IR & CFR DBD Tahun 1968-2004 – 33 : Perkembangan Kasus DBD Nasional Per bulan – 34 : Kasus DBD Per Bulan di Indonesia.2 Gambar 3.2 Gambar 2.3 Gambar 3.

Informasi dan Edukasi KLB : Kejadian Luar Biasa LSM : Lembaga Swadaya Masyarakat MDGs : Millennium Development Goals P2B2 : Penanggulangan Penyakit Bersumber Binatang P2M : Pemberantasan Penyakit Menular PE : Penyelidikan Epidemiologi PHBS : Pola Hidup Bersih dan Sehat PI : Perencanaan dan Informasi PJB . Mengubur ABJ : Angka Bebas Jentik APBN : Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara APBD : Anggaran Penerimaan dan Belanja Daerah Askeskin : Asuransi Kesehatan Masyarakat Miskin Bappeda : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Bappenas : Badan Perencanaan Pembangunan Nasional COMBI : Communication for Behavioral Impact CFR : Case Fatality Rate DAU : Dana Alokasi Umum DBD : Demam Berdarah Dengue Dekon : Dekonsentrasi DOP : Dana Operasional Puskesmas DPRD : Dewan Perwakilan Daerah Epidemiologi : Ilmu yang mempeljari penyebaran penyakit dan faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit pada manusia Epidemiologis: Orang yang ahli dalam ilmu epidemiologi FGD : Focused Group Discussion Gakin : Keluarga Miskin HIV/AIDS : Human Immuno deficiency Virus/Acquired Immuno Deficiency Syndrome IPTEK : Ilmu Pengetahuan dan Teknologi IR : Incidence Rate ISPA : Infeksi Saluran Pernafasan Akut JPK-MM : Jaminan Pelayanan Kesehatan Masyarakat miskin KIE : Komunikasi.LAPORAN AKHIR DAFTAR SINGKATAN & DEFINISI ISTILAH 3M : Menguras. Menutup. Pemeriksaan Jentik Berkala PKK : Pembinaan Kesejahteraan Kelaurga PKPS-BBM : Program Kompensasi Pengurangan Subsidi Bahan Bakar Minyak Pokjanal : Kelompok Kerja Operasional Posyandu : Pos Pelayanan Terpadu PP & PL : Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan PSN : Pemberantasan Sarang Nyamuk Puskesmas : Pusat Kesehatan Masyarakat RSUD : Rumah Sakit Umum Daerah SARS : Severe Acute Respiratory Syndrome SKD-KLB : Sistem Kesiapan Dini Kejadian Luar Biasa SOP : Standar Operasional Prosedur SDM : Sumber Daya Manusia SKM : Sarjana Kesehatan Masyarakat Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular xi .

emnganalisis.LAPORAN AKHIR SPIRS SP2PT SST STP Surveilans TBC TPA UGD UKS UPT Wabah WHO Yanmedik : Sistem Pelaporan Rumah Sakit : Sistem Pencatatan Pelaporan Terpadu Puskesmas : Sistem Surveilans Terpadu : : Rangkaian kegiatan secara teratur dan terus menerus. secara aktif maupun pasif dalam mengamati. yang melebihi keadaan biasanya : World Health Organization : Pelayanan Medik Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular xii . dan menginterpretasi suatu fenomena peristiwa kesehatan pada manusia/masyarakat tertentu yang hasilnya dipakai untuk melakukan tindakan terhadap peristiwa kesehatan tersebut : Tuberculosis : Tempat Penampungan Air : Unit Gawat Darurat : Usaha Kesehatan Sekolah : Unit Pelaksanan Teknis : Suatu peningkatan kejadian kesakitan dan atau kematian suatu penyakit di suatu tempat tertentu. mengumpulkan.

kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. status kesehatan masyarakat Indonesia masih tertinggal. (5) menekan penyebaran penyakit malaria dan TBC. MDGs merupakan suatu kesepakatan global. memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata. (3) mengurangi tiga per empat angka kematian ibu.BAB 1 PENDAHULUAN 1. di kawasan timur Indonesia.8 tahun (1999) menjadi 66.4 persen (1999) menjadi 25. Selain itu. Umur harapan hidup meningkat dari 65. dan Philipina. serta pada penduduk dengan tingkat ekonomi dan pendidikan rendah. Jika dibandingkan dengan negara-negara ASEAN seperti Thailand.8 persen (2002). yang ditandai dengan penduduknya yang hidup dengan perilaku dan dalam lingkungan sehat.1 Latar Belakang a. AKB dan AKI lebih tinggi di daerah perdesaan. (4) menekan penyebaran penyakit HIV/AIDS. di masa datang pembangunan kesehatan menghadapi berbagai permasalahan dan tantangan yang cukup berat. Pembangunan kesehatan selama ini secara umum dapat dilihat dari status kesehatan dan gizi masyarakat yang telah menunjukkan perbaikan seperti terlihat dari angka kematian bayi. Beberapa target MDG yang ingin dicapai pada akhir tahun 2015. dan (7) mengurangi separuh proporsi penduduk yang tidak memiliki akses terhadap penyediaan air bersih. sebagai “benchmarks” untuk mengukur perkembangan dalam pencapaian Deklarasi Millenium 2000. Masalah kesehatan dapat disebabkan oleh berbagai sebab.000 kelahiran hidup (2002-2003). oleh karena itu secara operasional masalah-masalah kesehatan tidak dapat diselesaikan oleh Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular . antar kawasan. baik ditinjau dari tingkat sosial ekonomi. Angka kematian bayi menurun dari 46 (1997) menjadi 35 per 1. kemauan. Malaysia. dan antar perkotaan-perdesaan. kematian ibu melahirkan dan prevalensi gizi kurang.2 tahun (2003). (6) meningkatkan akses terhadap obat esensial. Kondisi Umum Pembangunan Kesehatan Pembangunan kesehatan di Indonesia ditujukan untuk meningkatkan kesadaran. telah menurun dari 34.000 kelahiran hidup (2002–2003) dan angka kematian ibu melahirkan menurun dari 334 (1997) menjadi 307 per 100. yang berkaitan dengan pembangunan kesehatan di Indonesia antara lain adalah: (1) mengurangi separuh penduduk yang mengalami kelaparan. indikator kesehatan dan gizi yang telah dicapai selama ini masih jauh dari sasaran yang telah ditargetkan dalam Millennium Development Goals (MDGs). (2) mengurangi dua per tiga angka kematian bayi dan angka kematian balita. Disparitas status kesehatan masih cukup tinggi. Prevalensi gizi kurang (underweight) pada anak balita. Di samping kemajuan yang telah dicapai di atas.

sehingga pemberantasan penyakit menular memerlukan kerjasama antar daerah.0 2 Demam berdarah dengue 3. Lampung dan Sumatera Selatan. Surveilans Epidemiologi Penyakit Tidak Menular.8 10 Pneumonia 1. dan Surveilans Epidemiologi Kesehatan Matra. misalnya antar propinsi. Penyakit Menular Penyakit menular masih merupakan masalah utama kesehatan masyarakat Indonesia. Banten. 5-10 % pasien meninggal akibat kelumpuhan pada otot pernafasan.9 7 Demam yang sebabnya tidak tahu 1. hewan dan lain-lain antar Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 2 . Beberapa penyakit menular yang menjadi masalah utama di Indonesia adalah diare. Penyakit ini hanya bisa dicegah dengan imunisasi.6 Salah satu penyakit menular yang akhir-akhir ini menonjol adalah munculnya kasus polio di beberapa wilayah seperti Provinsi Jawa Barat. tifus abdominalis. YYT dan daerah badan multiple 1. Diperlukan tatalaksana terintegrasi dan komprehensif dengan kerjasama yang harmonis antar sektor dan antar program.7 5 Cedera intrakanial 2.9 4 Demam tifoid dan paratifoid 2. Berbagai emerging diseases misalnya polio dan flu burung dapat terjadi antara lain karena tingginya mobilitas penduduk antar negara. Satu dari 200 kasus infeksi virus akan menyebabkan kelumpuhan.LAPORAN AKHIR sektor kesehatan sendiri.9 9 Cedera YDT lainnya. Penyakit menular tidak mengenal batas-batas daerah administratif. Untuk itu perlu dikembangkan subsistem surveilans epidemiologi kesehatan yang terdiri dari Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular.0 6 Tuberkulosis paru 1.9 8 Diabetes Melietus 1. Tidak ada obat untuk penyakit polio. Jawa Tengah. Polio merupakan penyakit menular yang sangat berbahaya disebabkan oleh virus yang menyerang sistem syaraf dan bisa menyebabkan kelumpuhan total. penyakit saluran pencernaan dan penyakit lainnya. disamping mulai meningkatnya masalah penyakit tidak menular. Surveilans Epidemiologi Masalah Kesehatan. kabupaten/kota bahkan antar negara.7 3 Penyakit kehamilan dan persalinan lainnya 2.1 Sepuluh Penyakit Utama Pada Pasien Rawat Inap Tahun 2003 No Pasien Rawat inap % 1 Diare dan gastroenteritis infeksi tertentu 8. Dengan demikian penularan penyakit antar negara (trans-nasional) ini dapat terjadi dengan mudah mengingat semakin mudahnya transportasi manusia. influenza. b. Tabel 1. demam berdarah dengue. malaria.

Penyakit DBD merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di wilayah tropis. sebenarnya angka kematian masih terlalu tinggi jika dibandingkan dengan Singapura (0. malaria. Peraturan tersebut pada intinya mengatur (1) tata cara penetapan dan pencabutan penetapan daerah wabah .3 persen. diare. Salah satu penyakit menular yang merupakan masalah kesehatan masyarakat dan menimbulkan dampak sosial maupun ekonomi adalah penyakit demam berdarah dengue (DBD).000 penduduk pada tahun 2010. Penyakit yang ditularkan melalui nyamuk Aedes aegypti ini dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti lingkungan domestik maupun iklim. Vietnam (0. (3) peran serta masyarakat. demografi.9 persen). Berbagai penelitian mengenai faktor risiko terhadap kejadian DBD telah dilakukan oleh beberapa peneliti dengan memberikan hasil yang selaras maupun yang kontradiktif.2 persen). (6) pembiayaan penanggulangan wabah. Meskipun sudah lebih dari 35 tahun berada di Indonesia. dengan keterlibatan petugas kesehatan maupun pemberdayaan masyarakat. Meskipun dibandingkan dengan KLB 1968 angka kematiannya jauh telah menurun. Sejak Januari sampai 17 Maret 2004. (4) pengelolaan bahan-bahan yang mengandung penyebab penyakit. DBD bukannya terkendali. Severe Acute Respiratory Syndrom (SARS) dan Flu Burung. serta diabetes mellitus dan kanker. Namun demikian. pada waktu yang bersamaan terjadi peningkatan penyakit tidak menular seperti penyakit jantung dan pembuluh darah. yaitu UU No 4 Tahun 1984 tentang Penyakit Menular serta Peraturan Pemerintah No. kejadian luar biasa (KLB) DBD di Indonesia telah menyerang 39.LAPORAN AKHIR negara. Kebijakan penanggulangan penyakit menular khususnya dalam penanggulangan wabah telah diatur dalam bentuk peraturan perundangan. Dengan demikian telah terjadi transisi epidemiologi sehingga Indonesia menghadapi beban ganda pada waktu yang bersamaan (double burden).000 penduduk. DBD masih sulit diberantas karena tidak tersedianya vaksin dan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 3 . India (0. infeksi saluran pernafasan akut (ISPA). serta (7) pelaporan. 40 tahun 1991 tentang Penanggulangan Penyakit Menular.1 persen). chikunguya. Dalam KLB 2004 tercatat angka kejadian (incidence rate) 15 per 100.938 orang dengan angka kematian 1. Oleh karena itu perlu upaya ekstra agar penularan dapat dicegah dan ditangani sedini mungkin. (2) upaya penanggulangan. Indonesia juga menghadapi emerging diseases seperti demam berdarah dengue (DBD). tetapi bahkan semakin mewabah.3 persen). (5) ganti rugi dan penghargaan. polio dan penyakit kulit. pada umumnya kajian menunjukkan bahwa pengendalian DBD perlu dilakukan secara komprehensif dari berbagai aspek baik medis maupun sosial.3 persen). Thailand (0. Malaysia (0. dan Filipina (1 persen). sosial ekonomi dan perilaku. padahal tujuan program pemberantasan DBD dalam Indonesia Sehat 2010 adalah menurunkan angka kejadian di bawah 5 per 100. Pola penyakit yang diderita oleh masyarakat sebagian besar adalah penyakit infeksi menular seperti tuberkulosis paru. Walaupun demikian. HIV/AIDS. dan berulang kali menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) disertai kematian yang banyak. Daerah endemis tersebar di sebagian besar wilayah Indonesia.

menutup. Tabel 1. Gerakan 3M selama 30 menit setiap minggu juga dicanangkan. pengetahuan. serta (3) adanya desentralisasi kewenangan pengelolaan.5 24. Beberapa permasalahan yang teridentifikasi antara lain berkaitan dengan (1) pelaksanaan surveilans. (2) terbatasnya tenaga pelaksana Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 4 . Semuanya menyadari bahwa strategi hanya dapat diperoleh dengan melaksanakan analisis situasi berdasarkan aspek epidemiologi. Kendala yang dihadapi antara lain berkaitan dengan (1) kebijakan sistem surveilans yang belum dipahami sampai ke petugas teknis di lapangan. rasio penderita DBD per 100.LAPORAN AKHIR kurangnya peran serta masyarakat.2 Target dan Capaian Pemberantasan Penyakit DBD TARGET DAN CAPAIAN PEMBERANTASAN DBD 60 RASIO 40 20 0 Target Realisasi 2001 5.34 TAHUN 2004 4 37. Pemerintah sejak tahun 1993 telah berusaha membina peran serta masyarakat melalui berbagai kelompok kerja pemberantasan DBD di desa atau kelurahan.66 2002 5 19.25 2003 4. Namun demikian implementasi di lapangan masih menghadapi berbagai permasalahan.1 2005 10 43. (2) upaya penanggulangan.000 penduduk selama periode tahun 2001-2005 selalu menunjukkan diatas rasio yang ditargetkan. Berdasarkan data Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan. saat ini perkembangan vaksin masih memerlukan penelitian lebih lanjut agar dapat digunakan ke manusia. Berdasarkan hasil penelitian WHO Tahun 2003 dilaporkan bahwa pelaksanaan kegiatan surveilans masih menghadapi kendala.7 21. dan sikap masyarakat. dan mengubur) sudah sering disosialisasikan namun hasilnya belum menggembirakan. 2006 Kebijakan penanggulangan penyakit menular telah diatur dalam peraturan perundangan. juga masih belum optimalnya pengendalian penyakit yang dilakukan oleh Pemerintah. Gerakan pemberantasan sarang nyamuk dengan instrumen 3M (menguras. entomologi. Data ini selain menunjukkan kecenderungan makin tingginya penderita DBD dari tahun ke tahun. Meskipun demikian. Ketiadaan vaksin merupakan penghambat utama eradikasi DBD.31 Sumber: Ditjen PP & PL Depkes.

dana. Permasalahan yang dihadapi dalam penanggulangan wabah terutama berkaitan dengan aspek manajemen menyangkut kesiapan tenaga lapangan. Identifikasi kinerja surveilans serta faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja surveilans penyakit menular 2. fasilitas pendukung.3 Tujuan dan Sasaran Tujuan Tujuan utama kajian adalah menyusun rumusan kebijakan penanggulangan penyakit menular secara terpadu berdasarkan analisis faktor-faktor yang berpengaruh dalam pelaksanaan kebijakan penanggulangan penyakit menular di pusat dan daerah. Identifikasi kinerja penanggulangan penyakit menular serta faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja penanggulangan penyakit menular 3. 1. 22 dan 25 tahun 1999 yang kemudian direvisi dengan UU No. (3) adanya ketidaksesuaian kompetensi. Faktor-faktor apa saja yang mwempengaruhi kinerja surveilans dan penaggulangan penyakit menular ? 2. Berkaitan dengan desentralisasi kewenangan pengelolaan kebijakan pembangunan (otonomi daerah). mencakup aspek tenaga. Adanya otonomi daerah ini juga berpengaruh terhadap peran dan tanggung jawab Kabupaten/Kota/Propinsi untuk mengembangkan diri sesuai masalah kesehatan masyarakat.2 Perumusan Masalah Berdasarkan permasalahan di atas. dan (5) belum optimalnya penggunaan sarana kesehatan dalam mendukung pelaksanaan surveilans penyakit seperti pemanfaatan laboratorium dan peralatan.LAPORAN AKHIR surveilans. sarana. SOP dan data ? 3. Tujuan khusus : 1. beberapa pertanyaan penelitian yang melandasi kajian ini antara lain adalah : 1. Langkah-langkah apa yang diperlukan untuk penanggulangan penyakit menular. dana serta sistem pelaporan. dukungan logistik. kemampuan SDM dan sumber dana daerah. adanya regulasi pemerintahan dalam bentuk UU No. (4) terbatasnya dana pelaksanaan surveilans di tingkat operasional. Identifikasi peran dan tanggungjawab Pemerintah Daerah dalam penanggulangan penyakit menular Sasaran Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 5 . Bagaimana peran dan tanggungjawab (kewenangan) pemerintah daerah dalam penanggulangan penyakit menular ? 1. 32 dan 33 Tahun 2005 telah memberikan pembagian kewenangan dalam pengelolaan pemerintahan di daerah. Reformasi pemerintahan tersebut memberi dampak perubahan cukup signifikan terhadap peran pemerintah dan swasta dalam program dan pelayanan kesehatan.

1. penanganan wabah. tujuan dan sasaran kajian. Bab III membahas tentang metodologi yang digunakan berkaitan dengan kerangka pemikiran. 3. adalah : 1. dan SOP. dan pengumpulan data serta metode analisis. data. Identifikasi peran dan tanggung jawab daerah dalam penanganan penyakit menular khususnya pada kasus DBD. jumlah kematian dan luas daerah terserang 4. jenis. dana. jumlah kasus. Identifikasi kinerja surveilans yang mencakup (1) ketersediaan peta rawan KLB DBD. keluaran serta ruang lingkup kajian. 1. Identifikasi faktor berpengaruh terhadap kinerja penanggulangan KLB DBD mencakup tenaga. data. Lingkup kegiatan yang akan dilakukan dalam kajian ini antara lain. dan (2) pelaksanaan diseminasi informasi 2. sumber. disain kajian. dana. sarana dan SOP 5.LAPORAN AKHIR Tersusunnya rumusan kebijakan upaya penanggulangan penyakit menular secara terpadu melalui optimalisasi sumberdaya yang tersedia sekaligus sebagai acuan bagi pelaksanaan program penanggulangan penyakit menular di pusat dan daerah.5 Ruang Lingkup Kajian ini difokuskan pada evaluasi kebijakan penanggulangan penyakit menular yang telah dilakukan selama ini. sarana. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 6 . Bab II membahas tentang landasan teori mencakup pengertian dan hasil kajian yang sudah dilakukan.4 Keluaran Keluaran kajian adalah rumusan kebijakan penanggulangan penyakit menular yang mencakup aspek surveilans. 1.6 Sistematika Penulisan Penulisan laporan dibuat dengan sistematika sebagai berikut: Bab I membahas tentang latar belakang. serta tanggung jawab dan kewenangan antara pusat dan daerah. Identifikasi faktor berpengaruh terhadap kinerja surveilans mencakup kondisi tenaga. Identifikasi kinerja penanggulangan KLB DBD yang mencakup frekuensi KLB.

dana. mencakup Gambaran Umum Penanggulangan DBD. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 7 . data. mencakup tenaga. Indikator kinerja surveilans dan penanggulangan KLB. Faktor-faktor Berpengaruh terhadap Kinerja Surveilans dan Penanggulangan KLB. sarana dan SOP. Kinerja Surveilans dan Penanggulangan DBD. Bab V Kesimpulan dan Rekomendasi Kebijakan.LAPORAN AKHIR Bab IV Hasil dan Pembahasan.

pemerintah. bergabung menjadi satu sistem.1 Penyakit Menular di Indonesia Penyakit menular masih merupakan masalah utama kesehatan masyarakat Indonesia. yakni menghilangkan sumber penyakit dengan cara menemukan dan mencari kasus secara proaktif. b. Tiap tahun diselenggarakan pertemuan nasional semacam konvensi untuk melakukan monitoring kemajuan program serta perkuatan dari networking. Intervensi faktor resiko. misalnya antar propinsi. malaria. Epidemiologi lokal yang intinya dinamika tranmisi penyakit tertentu pada wilayah tertentu.LAPORAN AKHIR BAB 2 LANDASAN TEORI 2. Strategi pengendalian penyakit menular secara umum pada dasarnya sama.2 Surveilans Epidemiologi Selama ini pengertian konsep surveilans epidemiologi sering dipahami hanya sebagai kegiatan pengumpulan data dan penanggulangan KLB. Sekaligus merupakan kawasan yang berpotensi tinggi untuk hadirnya penyakit infeksi baru. kemudian melakukan pengobatan hingga sembuh. kini diberbagai kota pelabuhan. tifus abdominalis. Penyakit lain merupakan penyakit infeksi endemik dan sudah lama di Indonesia dan endemik di berbagai kabupaten (daerah pegunungan maupun pantai) yaitu TBC dan Malaria. Beberapa penyakit menular yang menjadi masalah utama di Indonesia adalah diare. Pengertian Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 8 . Indonesia sebagai wilayah tropik dan wilayah dinamik secara sosial ekonomi. yakni apa yang dikenal sebagai Sistem Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan. partner nonkesehatan. Semua institusi pelayanan seperti kuratif penyakit menular maupun pelayanan kesehatan masyarakat. Epidemiologi global yakni perjalan penyakit antar benua. 2. virus hantaan (1977) dijumpai pada tikus diberbagai pelabuhan. demam berdarah dengue. orgfanisasi nonpemerintah. Kabupaten/kota bahkan antar negara. swasta. penyakit saluran pencernaan dan penyakit lainnya. Manajemen pemberantasan dan pengendalian penyakit menular juga memiliki dua perspektif: a. disamping mulai meningkatnya masalah penyakit tidak menular. misalnya lingkungan dan intervensi terhadap perilaku. Beberapa penyakit infeksi baru (ketika itu) dan kini endemik adalah demam berdarah dengue (pertama kali tahun 1968 di Surabaya). Masing-masing penyakit memiliki peta endemisitas tersendiri. HIV/AIDS (pertama kali di Denpasar 1987) kini merambah ke Indonesia. sehingga pemberantasan penyakit menular memerlukan kerjasama antar daerah. merupakan kawasan endemik berbagai penyakit menular. Penyakit menular tidak mengenal batas-batas daerah administratif. influenza.

upaya peningkatan kemampuan sumberdaya antara unit surveilans Dinas Kesehatan Kab/Kota. unit surveilans di Dinas Kesehatan Propinsi dan unit surveilans di Ditjen PPM & PL Depkes. Jejaring surveilans dalam pertukaran data. Surveilans Terpadu Penyakit merupakan proses kegiatan yang dilakukan secara terus menerus dan sistematis. pengendalian dan evaluasi serta dukungan sumberdaya yang memadai sebagai suatu program surveilans terpadu. Rumah Sakit. Menurut WHO. Propinsi dan Pusat. Dalam sistem ini yang dimaksud dengan surveilans epidemiologi adalah kegiatan analisis secara sistematis dan terus menerus terhadap penyakit atau masalah-masalah kesehatan dan kondisi yang mempengaruhi terjadinya peningkatan dan penularan penyakit atau masalah-masalah kesehatan tersebut agar dapat melakukan tindakan penanggulangan secara efektif dan efesien melalui proses pengumpulan data.LAPORAN AKHIR seperti itu menyembunyikan makna analisis dan penyebaran informasi epidemiologi sebagai bagian yang sangat penting dari proses kegiatan surveilans epidemiologi. sumber-sumber data. b. unit surveilans di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. surveilans adalah proses pengumpulan. pusat penelitian. pelaksanaan. Dinas Kesehatan Kab/Kota. unit surveilans Dinas Kesehatan Propinsi dan Unit Surveilans Ditjen PPM & PL Depkes. tanpa melupakan pentingnya kegiatan pengumpulan dan pengolahan data. kajian. sehingga membutuhkan dukungan perencanaan. meliputi tata hubungan surveilans epidemiologi antar wilayah Kabupaten/Kota. Jejaring Surveilans Jejaring surveilans digunakan dalam Surveilans terpadu penyakit adalah a. pusat kajian dan penyelenggara program kesehatan. Dinas Kesehatan Propinsi dan Ditjen PPM & PL Depkes termasuk Puskesmas Sentinel dan Rumah Sakit Sentinel c. pengolahan dan penyebaran informasi epidemiologi kepada penyelenggara program kesehatan. termasuk Puskesmas dan Rumah Sakit Sentinel. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 9 . Jejaring surveilans dalam pengiriman data dan informasi serta peningkatan kemampuan manajemen surveilans epidemiologi antara Puskesmas. Alur distribusi data dan umpan balik dalam dilihat dalam skema di bawah. Laboratorium. pengolahan. unit surveilans program pada masingmasing Puskesmas. analisis dan interpretasi data secara sistematik dan terus menerus serta penyebaran informasi kepada unit yang membutuhkan untuk mengambil tindakan. Jejaring surveilans dalam distribusi informasi kepada program terkait pusatpusat penelitian. Rumah Sakit. Sistem surveilans epidemiologi merupakan tatanan prosedur penyelenggaraan surveilans epidemiologi yang terintehrasi antara unit-unit penyelenggara surveilans dengan laboratorium. pusat-pusat kajian. Oleh karena itu perlu dikembangkan suatu definisi surveilans epidemiologi yang lebih mengedepankan analisis atau kajian epidemiologi serta pemanfaatan informasi epidemiologi.

akurat merupakan evidance atau bukti untuk digunakan dalam proses pengambilan kebijakan yang tepat dalam pembangunan kesehatan.1 Alur Distribusi Data Surveilans Terpadu Penyakit 2. serta penanggulangan penyakit tidak menular diperlukan suatu sistem surveilans penyakit yang mampu memberikan dukungan upaya program dalam daerah kerja Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 10 .LAPORAN AKHIR Unit Surveilans Ditjen PPM & PL Depkes Unit Surveilans Dinas Kesehatan Propinsi Unit Surveilans Dinas Kesehatan Kab/Kota Unit Surveilans Puskesmas Unit Surveilans Rumah Sakit Unit Surveilans Laboratorium Gambar 2. cepat. Untuk melakukan upaya pemberantasan penyakit menular.3 Kebijakan Sistem Surveilans Surveilans Epidemiologi merupakan kegiatan yang sangat penting dalam manajemen kesehatan untuk memberikan dukungan data dan informasi epidemiologi agar pengelolaan program kesehatan dapat berdaya guna secara optimal. penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit dan keracunan. Informasi epidemiologi yang berkualitas.

949 tahun 2004. Surat Keputusan Menteri Kesehatan No. Undang-Undang No. 2. Indikator-indikator tersebuat adalah sebagai berikut: Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 11 . 3. dimana kelemahan salah satu indikator tersebut menunjukkan kinerja sistem surveilans yang belum memadai. proses dan keluaran. 7. Nasional dan internasional. dan sistem Pelaporan Rumah Sakit (SPIRS). Surat Keputusan Menteri Kesehatan No. Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pemerintah Pusat dan Daerah. 40 tahun 1991 tentang Penanggulangan Penyakit Menular. Ketiga indikator tersebut merupakan satu kesatuan. tatacara penyampaian laporannya dan tacara penanggulangan seperlunya. Sistem surveilans tersebut perlu dikembangkan dan disesuaikan dengan ketetapan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah. Disamping keberadaan SST telah juga dikembangkan beberapa Sistem Surveilans khusus penyakit.LAPORAN AKHIR Kabupaten/Kota. dan Keputusan Menteri Kesehatan No. Surat Keputusan Menteri Kesehatan No. 2. 242 tahun 2003 tentang Penetapan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) sebagai penyakit yang dapat menimbulkan wabah dan pedoman penanggulangannya. dukungan kerjasama antar program dan sektor serta kerjasama antara Kabupaten/Kota. Propinsi dan Nasional. 4. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom. Peraturan Menteri Kesehatan tentang Sistem Kewaspadan Dini KLB No. Propinsi. 1116 tahun 2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Surveilans Epidemilogi Kesehatan. 1479 tahun 2003 tentang Surveilans Terpadu Penyakit. 5. Pada tahun 1987 telah dikembangkan Sistem Surveilans Terpadu (SST) berbasis data. 560 tahun 1989 tentang Jenis Penyakit yang dapat menimbulkan wabah. Undang-Undang No. Beberapa produk hukum lain terkait dengan pelaksanaan surveilans epidemiologi adalah 1. yang telah mengalami beberapa kali perubahan dan perbaikan. 1116/Menkes/SK/VIII/2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan serta kebutuhan informasi epidemiologi untuk mendukung upaya pemberantasan penyakit menular dan penyakit tidak menular. 4 tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular. Peraturan Menteri Kesehatan No. Sistem Pencatatan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP). 6.4 Indikator Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan Kinerja penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan diukur dengan indikator masukan.

SSB dan telekomunikasi lainnya) c. faksimili. 1 paket pedoman pelaksanaan surveilans epidemiologi dan program aplikasi komputer e. 1 paket kepustakaan d. 1 paket alat komunikasi (telepon. 4 paket peralatan pelaksanaan surveilans epidemiologi f. 1 tenaga epidemiologi ahli (S2) b. Propinsi 3. 1 tenaga epidemiologi terampil 1 tenaga epidemiologi terampil a. Propinsi 2. 2 tenaga epidemiologi ahli (S2) b. Kabupaten/Kota 4. 1 paket jaringan elektromedia b. 4 tenaga epidemiologi ahli (S1) c. 1 paket jaringan elektromedia b.1 Indikator Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan Masukan Tenaga Tingkat 1. SSB dan telekomunikasi lainnya) c. 2 tenaga epidemiologi terampil d. faksimili. 1 paket kepustakaan d. Pusat. Pusat Indikator Unit utama Departemen Kesehatan memiliki a. 32 tenaga epidemiologi terampil UPT Departemen Kesehatan memiliki a. 1 tenaga dokter umum a. 1 tenaga epidemiologi ahli b. 1 tenaga dokter umum a. 1 roda empat. Kabupaten/Kota Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 12 . 1 paket pedoman pelaksanaan surveilans epidemiologi dan program aplikasi komputer e. 8 tenaga epidemiologi ahli (S2) c. 1 roda dua a. 16 tenaga epidemiologi ahli (S1) d. 2 tenaga epidemiologi ahli (S1) c. 1 tenaga epidemiologi ahli (S3) b. Rumah Sakit Sarana 5. 1 tenaga epidemiologi ahli (S2) b. 2 tenaga epidemiologi ahli (S1) atau terampil c. 1 paket formulir 2. Puskesmas 1.LAPORAN AKHIR Tabel 2. 1 paket alat komunikasi (telepon. 4 tenaga epidemiologi terampil d. 1 tenaga dokter umum a.

Umpan balik sebesar 80% atau lebih 1. 1 paket komputer Rumah Sakit b. Pusat a. 1 paket formulir f. 1 roda dua 1. Kelengkapan laporan unit pelapor dan sumber data awal sebesar 80% atau lebih b. faksimili. Penerbitan buletin kajian epidemiologi sebesar 12 kali atau lebih setahun d. Puskesmas dan a. Kelengkapan laporan bulanan STP unit pelayanan ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota sebesar 90% Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 13 . 1 paket peralatan pelaksanaan surveilans epidemiologi g. Kabupaten/Kota a. 2003 Selanjutnya Indikator Surveilans Kesehatan dijabarkan dalam Indikator Kinerja Penyelenggaraan terpadu Penyakit sebagai berikut: a. Penerbitan buletin kajian epidemiologi sebesar 4 kali atau lebih setahun d.LAPORAN AKHIR Proses Kegiatan Surveilans Keluaran f. Kelengkapan laporan unit pelapor dan sumber data awal sebesar 80% atau lebih b. Ketepatan laporan unit pelapor dan sumber data awal sebesar 80% atau lebih c. 1 paket alat komunikasi (telepon. 1 roda dua 3. SSB) c. 1 paket kepustakaan d. Ketepatan laporan unit pelapor dan sumber data awal sebesar 80% atau lebih c. 1 paket pedoman pelaksanaan surveilans epidemiologi dan program aplikasi komputer e. 1 roda empat. Umpan balik sebesar 80% atau lebih 2. 2 paket peralatan pelaksanaan surveilans epidemiologi g. Penerbitan buletin kajian epidemiologi sebesar 12 kali atau lebih setahun d. Ketepatan laporan unit pelapor sebesar 80% atau lebih c. Pusat Profil Surveilans Epidemiologi Nasional sebesar 1 kali setahun Profil Surveilans Epidemiologi Propinsi sebesar 1 kali setahun Profil Surveilans Epidemiologi Kabupaten/ Kota sebesar 1 kali setahun Sumber: Inspektorat Jenderal Depkes RI. Umpan balik sebesar 80% atau lebih 3. Propinsi a. Kelengkapan laporan unit pelapor sebesar 80% atau lebih b.

5 Penanggulangan Penyakit Menular Penanggulangan penyakit menular merupakan bagian dari pelaksanaan pembangunan kesehatan. Kelengkapan laporan bulanan STP Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota ke Dinas Kesehatan Propinsi sebesar 100% e. penyembuhan dan pemulihan kesehatan. Oleh karena itu penanggulangan wabah harus dilakukan secara dini. Oleh karena itu dalam pelaksanaan penanggulangannya memerlukan keterkaitan dan kerjasama dari berbagai lintas sektor Pemerintah dan masyarakat. harus dilakukan secara terpadu dengan upaya kesehatan lain. Umpan balik laporan bulanan Kabupaten/Kota. Distribusi data dan informasi bulanan Kabupaten/Kota. Berbagai lintas sektor Pemerintah misalnya Departemen Pertahanan Keamanan. Ketepatan laporan bulanan STP Unit Pelayanan ke Dinas Kesehatan Kabupaten Kota sebesar 80% c. tetapi menjadi tanggung jawab bersama. propinsi dan nasional sebesar 100% i. Kondisi lain yang dapat menimbulkan penyakit menular adalah akibat kondisi masyarakat dari suatu wilayah tertentu yang kurang mendukung antara lain kesehatan lingkungan yang kurang baik atau gizi masyarakat yang belum baik. Ketepatan laporan bulanan STP Dinas Kesehatan Propinsi ke Ditjen PPM & PL Depkes sebesar 90% h. Penanggulangan wabah penyakit menular bukan hanya semata menjadi wewenang dan tanggung jawab Departemen Kesehatan. Dalam upaya penanggulangan penyakit menular. maupun kontak hubungan langsung atau karena jenis dan sifat dari kuman penyebab penyakit wabah itu sendiri. wewenang dan tanggung jawabnya dalam upaya penanggulangan wabah. Departemen Komunikasi dan Informasi. Kelengkapan laporan bulanan STP Dinas Kesehatan Propinsi ke Ditjen PPM & PL Depkes sebesar 100% g. Penerbitan buletin Epidemologi di propinsi dan nasional adalah sebesar 12 kali setahun l. Wabah penyebaran penyakit dapat berlangsung secara cepat. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota mencapai indikator Epidemiologi STP sebesar 80% d. yaitu upaya pencegahan. Propinsi dan Nasional adalah satu kali setahun. propinsi dan nasional sebesar 100% j. Depatemen Sosial. Penanggulangan secara dini dimaksudkan untuk mencegah timbulnya kejadian luar biasa dari suatu penyakit wabah yang dapat menjurus terjadinya wabah yang dapat mengakibatkan malapetaka. Departemen Keuangan dan Departemen Dalam Negeri.LAPORAN AKHIR b. baik melalui perpindahan. Keterkaitan sektor-sektor dalam upaya penanggulangan wabah tersebut sesuai dengan tugas. 2. Ketepatan laporan bulanan STP Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota ke Dinas Kesehatan Propinsi sebesar 90% f. Penerbitan buletin Epidemiologi di Kabupaten/Kota adalah 4 kali setahun k. Selain itu dalam upaya Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 14 . Penerbitan profil tahunan atau buku data surveilans epidemiologi Kabupaten/Kota.

ekonomi dan sosial. yang juga berdampak pada pariwisata. 25 tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom yang berpengaruh terhadap penyelenggaraan penanggulangan KLB. PP No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Penanggulangan wabah/KLB penyakit menular diatur dalam UU No. yamg kemudian diikuti dengan terbitnya PP No. Data & Informasi Penduduk dan Lingkungan Perbaikan kondisi rentan KLB Prioritas Penanggulangan KLB SKD-KLB KLB tidak Menjadi Masalah Kesehatan Masyarakat Penanggula ngan KLB Data KLB dan Data Epidemiologi Lain Kesiapsiagaan Menghadapi KLB Gambar 2. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan No. sehingga membutuhkan perhatian dan penanganan oleh semua pihak terkait. Kejadian-kejadian KLB perlu dideteksi secara dini dan diikuti tindakan yang cepat dan tepat. 4 tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular. KLB penyakit dapat mengakibatkan terjadinya peningkatan kesakitan dan kematian yang besar. Pada tahun 2000. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan UU No. Indonesia menerapkan secara penuh UU No. yang keseluruhannya harus dilaksanakan secara terpadu. masyarakat juga dapat diikutsertakan dalam penanggulangannya. 560 tentang Jenis Penyakit Tertentu Yang dapat Menimbulkan Wabah. perlu diidentifikasi adanya ancaman KLB beserta kondisi rentan yang memperbesar resiko terjadinya KLB agar dapat dilakukan peningkatan kewaspadaan dan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan KLB. Undang-undang tersebut kemudian direvisi menjadi UU No. 40 tahun 1991 tentang Penanggulangan Penyakit Menular. Peraturan Menteri Kesehatan No. 25 tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah.LAPORAN AKHIR penanggulangan wabah tersebut.2 Skema Program Penanggulangan KLB Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 15 .

serta sebaliknya. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 16 . penyakit menular dipengaruhi mobilitas penduduk sebagai sumber penyakit. Wilayah-wilayah yang merupakan jalur transmisi sebaiknya memiliki kapasitas dan aktif mengakses informasi. Selain itu. setiap sudut Kabupaten dan Kota di Indonesia harus dianggap sebagai bagian dari komunitas dunia. kemudian langsung ke selatan menuju Australia. dua kabupaten berbatasan yang memiliki ekosistem penyakit yang sama wajib bekerjasama. terutama penyakit menular melalui transmisi serangga atau binatang yang memiliki reservoir. Sebagai contoh Avian influenza. LSM. penyakit menular tidak mengenal batas wilayah administratif pemerintah. Maksudnya. Penyakit menular yang sifatnya relatif “tertutup”. Termasuk petugas yang mengawasi jalur-jalur penerbangan internasional. kabupaten dan kota di Indonesia merupakan wilayah yang terkena resiko yang sama dalam perspektif global. Misalnya. Afrika Tengah. Sebab. Peta endemisitas malaria terbentang dari Asia Tenggara. Penyakit menular juga dapat berpindah atau bergerak dari satu wilayah ke wilayah lainnya melalui mobilitas penduduk sebagai sumber penularan maupun komoditas sebagai wahana transmisi. Hal ini memerlukan kerjasama global.6.LAPORAN AKHIR 2. wilayah tropik secara umum memiliki karakteristik ekosistem sama. Filipina. KLB polio pada awal tahun 2005. Seorang Kepala Dinas Kesehatan harus memahami benar apakah daerahnya termasuk lalulintas internasional atau bukan. Misalnya. Dalam hal ini Dinas Kesehatan. kemudian melalui apa penyakit tersebut datang. maka memiliki masalah yang sama seperti malaria. migrasi burung utara selatan dan sebaliknya. maupun masyarakat hendaknya memiliki kapasitas terhadap permasalahan epidemiologi global. lebih dipengaruhi oleh batasan ekosistem. Demikian juga dengan daerah wisata internasional. Jawa. Dalam perspektif global. ketimbang batasan administratif. Epidemiologi Global Penyakit Penyakit menular bersifat global. hingga Amerika Latin. Binatang umumnya memiliki habitat tertentu dan terkait dan batasan ekosistem. hendaknya meningkatkan kemampuannya untuk mengahadapi globalisasi penyakit menular. Nusa Tenggara Timur. Oleh karena itu. Sumatera. Dengan demikian. epidemiologi global harus pempelajari kejadian dan persebaran dalam perspektif dunia. memiliki jalur barat yakni kawasan semenanjung Malaysia. Dengan kata lain. Atau perjalanan kelelawar yang dapat menyebarluaskan virus Nipah. Lintas Batas Penyakit menular bersifat lintas batas. Sedangkan wilayah timur dari arah utara menyusur pantai timur China. harus memahami hal ini. Penyebaran global memiliki potensi terjadinya pandemik. dan mekanisme jaringan antar negara yang bersifat lintas batas. Sedangkan wilayah yang sifatnya “terbuka” dengan teknologi transportasi jarak jauh. Seorang Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/kota yang berbatasan dengan negara lain. Dengan kata lain. migrasi berbagai binatang seperti migrasi burung antar benua bisa merupakan sumber pembawa penyakit. Sulawesi Utara. Seperti asal datangnya penyakit. kabupaten/kota terikat pada komitmen dunia.

seorang “kepala” pengendalian penyakit harus mampu menemukan dan mengobati sumber penularan penyakit secara aktif. sedangkan di wilayah Riau risiko tertular malaria datang ketika sedang menyadap karet di pagi buta. dan berbagai upaya lain secara bersama dengan lintas sektor. Yakni. intervensi holistik. Keterpaduan Untuk memvisualisasikan proses transmisi penyakit serta simpul manajemen. Dengan memahami faktor-faktor yang berperan timbulnya penyakit menular khas daerahnya. tenaga. Namun. Di satu sisi. Didukung fakta hasil surveilans terpadu. Bahkan keterpaduan surveilans yakni surveilans kasus sekaligus bersama-sama dengan faktor risiko terkait. Di lain pihak. Serta mengendalikan faktor risiko penyakit. secara teoritis Bupati atau Kepala Dinas Kesehatan secara efektif melakukan upaya pemberantasan penyakit menular yang bersifat spesifik lokal. Kemudian keterpaduan dikaitkan dengan promosi kesehatan seperti penggunaan alat pelindung ketika bekerja. kendaraan. sehingga dapat meyakinkan pihak-pihak otoritas pendanaan seperti DPRD. antara penyakit. sekaligus sebagai mata air. seperti yang telah diuraikan sebelumnya hal-hal yang bersifat lintas batas berpotensi terabaikan. untuk kepentingan perencanaan dan kegiatan berdasarkan keperluan (fakta). mitra mana yang dianggap berkepentingan. Untuk itu. Keterpaduan pun termasuk penggunaan sumber daya. Sehingga intervensi faktor resiko yang bersifat lokal lebih bisa mudah dikendalikan. Desentralisasi juga memudahkan identifikasi faktor resiko yang bersifat lokal. Analisis masing-masing faktor risiko dilakukan sekaligus dan terpadu melalui perencanaan.LAPORAN AKHIR dalam satu wilayah otonomi kabupaten. antar negara. Serta didukung jaringan dan kerjasama erat baik antar wilayah dan adimistrasi pemerintah maupun diantara para pelaku pemberantasan penyakit menular dan penyehatan lingkungan itu sendiri dalam satu wilayah. antara stakeholder. penularan Malaria di Kabupaten Banjarnegara berkenaan dengan nyamuk yang memiliki habitat kebun salak dan/atau kolam yang merupakan jamban keluarga. maka perlu identifikasi mitra kerja untuk menangani faktor risiko tersebut. antar propinsi. Kemudian. Dengan demikian. desentralisasi berati mengharuskan manajemen penyakit menular melakukan pendekatan wilayah administratif. Sebagai contoh. membutuhkan model manajemen penyakit menular berbasis wilayah kabupaten/kota. jadwal. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 17 . pendekatan wilayah kabupaten/kota membantu perencanaan dan pelaksanaan serta pelaksanaan program lebih fokus. Kemudian ditentukan siapa saja yang harus diikutsertakan. di daerah Pacitan berkaitan dengan cekungan-cekungan padas di sungai-sungai. Semua itu dituangkan dalam bentuk perencanaan yang didukung fakta (evidences) lokal. penggunaan mikroskop. memerlukan model manajemen pemberantasan penyakit dan penyehatan lingkungan secara terintegrasi yang berbasis wilayah kabupaten/kota dalam perspektif komprehensif. dalam perspektif ekosistem maupun dinamika/mobilitas faktor risiko penyakit antar kabupaten. penderita penyakit menular itu sendiri.

demam berdarah dengue baru dikenal pada tahun 1968 dalam KLB di Jakarta dan Surabaya dengan angka kematian sangat tinggi sekitar 41. perlu dilakukan upaya alternatif berupa pemberantasan penyakit yang berbasis lingkungan. Di masa mendatang sebaiknya diciptakan petugas lapangan penyakit menular setara dengan bidan di desa untuk menekan angka kematian ibu. harus ada jaminan ketersediaan obat dan jaminan disiplin menelan obat. seperti pemberdayaan tenaga semi-profesional terlatih misalnya juru Malaria Desa. Namun. Untuk penyakit tertentu yang membutuhkan konfirmasi laboratorium lebih tinggi.8 Kejadian Luar Biasa (KLB) Kejadian Luar Biasa (KLB) yaitu munculnya penyakit di luar kebiasaan (base line condition) yang terjadi dalam waktu relatif singkat serta memerlukan upaya penanggulangan secepat mungkin. Namun. Oleh sebab itu. Kejadian luar biasa pertama di Indonesia dilaporkan oleh David Beylon di Batavia (Jakarta) pada tahun 1779. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 18 .7 Strategi Pengendalian Penyakit Strategi pemberantasan penyakit menular berbasis wilayah memiliki pengertian bahwa setiap wilayah administrasi pembangunan (kabupaten/kota) pemberantasan penyakit menggunakan “paket” pendekatan strategi sebagai berikut : (1) Intensifikasi Pencarian dan Pengobatan Kasus Melakukan pencarian dan pengobatan secara intensif terhadap penderita. (2) Memberikan Perlindungan Spesifik dan Imunisasi Manajemen pengendalian penyakit menular dapat dilakukan dengan cara memberikan kekebalan secara artifisial yaitu imunisasi. selain mengobati dan menyembuhkan penderita yang juga merupakan upaya pokok untuk menghilangkan sumber penularan dengan cara pemutusan mata rantai penularan. Dalam satu wilayah kabupaten dapat dilakukan secara intensif dengan memperluas jangkauan pelayanan. keluarga terdekat atau tokoh masyarakat setempat dapat meminta bantuan Pengawas Menelan Obat (PMO).LAPORAN AKHIR 2. Untuk itu. 2. Untuk beberapa penyakit menular yang memerlukan pengobatan jangka panjang seperti halnya TBC. Cakupan imunisasi amat penting karena dapat mencegah penyakit dalam satu wilayah. tentu saja tidak semua penyakit menular dapat dicegah dengan imunisasi. Juru Kusta. karena dikhawatirkan akan meluas.3 persen. baik dari segi jumlah kasus maupun wilayah yang terkena persebaran penyakit tersebut. memerlukan bantuan pemeriksaan yang dilakukan Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Penyelidikan Penyakit (Labkes) terdekat yang secara regional harus tersedia. dan sebagainya.

terjadinya kerusakan hutan secara terus menerus. Bab 1. amat penting. Sedangkan penanggugjawab teknis adalah Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Penetapan daerah wabah merupakan pertimbangan epidemologis dan keadaan masyarakat (mencakup keamanan. Tahun 1991. Pasal 1).LAPORAN AKHIR Menurut PP 40. tahun 1991. Bab I. memang tidak lazim disebut sebagai KLB. Kemudian kegiatan tersebut harus dilaporkan kepada Menteri Kesehatan secara berjenjang. Ayat 1 dan 2 serta PP Nomor 40. Pasal 2 sampai 5). Penyakit menular adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat dengan jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi keadaan yang lazim pada waktu daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka (UU Nomor 4. prediktif. Bila KLB terjadi lebih dari satu wilayah kabupaten/kota maka penanggulangannya dikoordinasikan oleh Gubernur. Ayat 1). Penanggungjawab operasional pelaksanaan penanggulangan KLB adalah Bupati/Walikota. adanya indikasi peningkatan jumlah dan kepadatan vektor penular penyakit. Pasal 1 Ayat 7. Pasal 12. namun terminologi ini digunakan untuk tujuan atau rumusan upaya antisipatif. Misalnya. pencermatan ini dikenal sebagai pencermatan pra-KLB. dan sebagainya. Manajemen pra-KLB termasuk sistem kewaspadaan dini. Tahun 1984. penanganan saat kejadian KLB dan pascaKLB. Kepala wilayah ketika mengetahui adanya tersangka di wilayah atau adanya tersangka penderita penyakit menular yang dapat menimbulkan wabah. Mengacu kepada teori simpul atau mengacu kepada patogenesis kejadian penyakit. KLB adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan/kematian yang bermakna secara epidemologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu. Sedangkan yang menetapkan penyakit menular dan kemudian mencabut ketetapan tersebut adalah Menteri Kesehatan (UU Nomor 4. Pasal 4. Tahun 1984. dapat juga ditetapkan pada faktor risiko penyakit seperti bila terjadi ledakan gas beracun. wajib melakukan tindakan secara cepat berupa penanggulangan seperlunya (UU Nomor 4. Sedangkan untuk penetapan dan pencabutan KLB hingga saat ini belum diatur. Pengertian KLB seringkali dikacaukan dengan pengertian wabah. Apabila kita mencermati proses kejadiannya. sosial. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 19 . ledakan industri. KLB pada dasarnya merupakan suatu kejadian baik pada sumber penyakit (penyebab) dengan dinamika transmisi. KLB merupakan kejadian proses awal. informasi pra-KLB menjadi penting. namun draft Permenkes menyebutkan Pemerintah Daerah atas usulan Kepala Dinas Kesehatan setempat menetapkan dan mencabut KLB. Bab IV. Penetapan KLB. atau suhu yang meningkat sehingga menimbulkan populasi nyamuk atau ledakan gas. serta korban kejadian penyakit yang berlangsung dalam tempo yang relatif singkat. pemantauan kondisi kualitas lingkungan tertentu yang menurun. tidak hanya mencegah terjadinya KLB. dan merupakan keadaan yang dapat menjurus pada terjadinya wabah. dan akhirnya berupa pencegahan. Tahun 1984. ekonomi dan budaya) yang disampaikan Kepala Daerah. Penetapan atau pencabutan daerah wabah diberlakukan dalam suatu wilayah Kabupaten/Kota. Gempa bumi di sebuah wilayah endemik malaria memerlukan peta dimana pengungsi akan ditempatkan.

Tugas Pemerintah Nasional (Pusat) antara lain menyusun berbagai kebijakan nasional. Hal ini tampak adanya kesimpang siuran menajemen penyakit menular pada saat dimulainya otonomi atau peralihan sistem tersebut. Contohnya tahun 2005 yaitu penyakit polio. maka berpotensi menyebarkan KLB ke saentero Nusantara. untuk mencegah terjadinya penularan penyakit lebih lanjut. Manajemen KLB secara terintegrasi berbasis wilayah adalah juga manajemen dua bagian penting yang tak terpisahkan. Kegagalan manajemen penyakit secara terintegrasi dalam satu wilayah. yakni manajemen kesehatan masyarakat untuk mengendalikan jatuhnya korban berikutnya. bencana lingkungan karena ulah manusia. khususnya saat penanganan KLB penyakit menular. akan menimbulkan KLB. Oleh sebab itu. KLB pada dasarnya merupakan ujung dari sebuah proses. Manajemen kasus. tetapi keduanya memiliki batas wlayah ekosistem. Sebagai perwujudan demokratisasi pembangunan maka sejak tahun 2000. upaya-upaya kesehatan termasuk didalamnya manajemen KLB semuanya sudah di desentralisasikan kepada Pemerintah Kabupaten dan Pemerintah Kota. Manajemen kasus menjadi amat penting. Manajemen public health (manajemen faktor risiko) Manajemen public health atau manajemen kesehatan masyarakat. Manajemen kasus maupun faktor risiko mencegah timbulnya eskalasi yang lebih luas. filariasis. maka KLB akan terus menjadi ancaman. penyakit menular tidak mengenal batas wilayah administratif seperti halnya kesehatan lingkungan. Pemerintah Pusat dapat mengambil inisiatif melakukan penanganan KLB. malaria. Kurun waktu 2000-2005 banyak terjadi kejadian luar biasa. Mengapa hal tersebut terjadi? Pemberantasan penyakit menular memerlukan sistem manajemen. namun dalam hal KLB dan bencana dapat meminta bantuan Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Pusat. Keadaan ini erat kaitannya dengan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 20 . perencanaan strategik. dan sebagainya. tetapi sistem baru belum established atau mapan. dan harus dilakukan secara simultan dalam waktu relatif singkat. Di samping itu.9 Penyakit Demam Berdarah Penyakit Demam berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Satu foci penyakit menular –entah itu demam berdarah. standar. memerlukan waktu. Sejak tahun 1968 jumlah kasusnya cenderung meningkat dan penyebarannya bertambah luas. dan menetapkan sasaran nasional. apabila dibiarkan berkembang. yakni : a. pada hakekatnya adalah manejemen faktor risiko kejadian KLB. atau penyakit infeksi lama-selalu memiliki dua makna manajemen. Sementara sistem lama telah dicabut. HIV/AIDS. Untuk membangun sistem tersebut. selama sistem atau kapasitas manajemen penyakit berbasis wilayah secara terintegrasi belum mapan. TBC. menyusun guidlines petunjuk. Sedangkan kewenangan pelaksanaan ada pada pemerintah Kabupaten/Kota.LAPORAN AKHIR Setiap KLB-apakah itu bencana alam. Avian influenza. b. dengan mobilitas penduduk yang tinggi akibat krisis sosial. Bahkan bila dipandang perlu. konflik sosial maupun timbulnya penyakit baru seperti SARS. 2.

24 per 100. adanya pemanasan global yang dapat mempengaruhi bionomik vektor Aedes aegypti. Cara penularan penyakit DBD adalah melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang menggigit penderita DBD kemudian ditularkan kepada orang sehat. penyakit DBD dilaporkan pertama kali di Surabaya dan DKI Jakarta. (3) Peningkatan upaya pemberantasan vektor penular penyakit DBD. yaitu: (1) Peningkatan kegiatan surveilans penyakit dan surveilans vektor. Namun.19 per 100. Penyakit demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit menular berbahaya yang disebabkan oleh virus Dengue dan dapat menimbulkan kematian dalam waktu singkat oleh karena terjadinya perdarahan dan shock.LAPORAN AKHIR peningkatan mobilitas penduduk sejalan dengan semakin lancarnya hubungan transportasi serta tersebar luasnya virus dengue dan nyamuk penularnya di berbagai wilayah Indonesia. mengembangkan teknologi pemberantasan. Pada awalnya penyakit DBD ini merupakan penyakit perkotaan dan menyerang terutama anak-anak usia di bawah 5 tahun. Pemberantasan nyamuk dewasa dilakukan dengan menggunakan racun serangga (insektisida) yang disemprotkan atau dengan pengasapan (fogging) bila dilakukan pada wilayah yang luas. melakukan penyuluhan dan promosi kesehatan serta penggerakan masyarakat. mengembangkan pedoman pemberantasan. Kendala Pencegahan DBD Penularan DBD terjadi melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dewasa. Usia penderita juga cenderung bergeser menyerang usia dewasa. Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit DBD merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah baik lintas sektor maupun lintas program dan masyarakat termasuk sektor swasta. (2) Diagnosis dini dan pengobatan dini. Di Asia Tenggara. memberikan pelatihan dan bantuan teknis. Penyakit DBD sering kali muncul sebagai wabah. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi penyebaran dan penularan penyakit DBD. dan 19. selalu menjadi KLB setiap tahun. perkembangan pembangunan di daerah pedesaan. selanjutnya menyebar ke berbagai negara. maka Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 21 .17 per 100. yaitu urbanisasi yang cepat. Tugas dan tanggung jawab pemerintah dalam upaya pemberantasan penyakit DBD antara lain membuat kebijakan dan rencana strategis penanggulangan penyakit DBD. Pada tahun 1999 IR menurun tajam sebesar 10. 21.0%.99. KLB yang terbesar terjadi pada tahun 1998 dilaporkan dari 16 propinsi dengan IR=35. tetapi juga menyebar ke daerah pedesaan. kurangnya persediaan air bersih. Dengan fogging yang disemprotkan ke udara. Melihat kondisi tersebut penyakit DBD harus diwaspadai kemungkinan adanya KLB lima tahunan. namun pada tahun-tahun berikutnya tampak adanya peningkatan IR.000 penduduk berturutturut pada tahun 2000 sampai 2002. dengan perkembangan waktu penyakit ini kemudian tidak hanya berjangkit di daerah perkotaan. Di Indonesia sendiri. mudahnya transportasi yang menyebabkan mudahnya lalu lintas manusia antardaerah. Upaya pemberantasan demam berdarah terdiri dari 3 hal.000 penduduk.000 penduduk dan CFR 2. Jumlah kasus terus meningkat baik dalam jumlah maupun luas wilayah yang terjangkit dan secara sporadis.75. penyakit ini pertama kali dilaporkan pada tahun 1953 di Manila. yaitu 15.

baik untuk manusia maupun lingkungan hidup. sebelum seseorang menunjukkan gejala klinis DBD dalam darahnya sudah beredar virus dengue yang dapat ditularkan kepada orang lain. ia menjadi sumber terbentuknya populasi nyamuk Aedes aegypti untuk wilayah di sekitarnya. sebelum larva berubah jadi nyamuk dewasa. Dengan melakukan fogging di sekitar tempat tinggal penderita. Menutup rapat tempat penyimpanan air bersih dan mengurasnya sesering mungkin akan bermanfaat mengurangi kesempatan nyamuk untuk bertelur dan berkembang biak. Tidak usah menunggu terjadinya KLB atau wabah yang lebih luas. Fogging ditujukan untuk memberantas nyamuk betina dewasa karena hanya nyamuk betina yang mengisap darah. Keberadaan sarang nyamuk Aedes aegypti di dalam rumah memerlukan tindakan yang spesifik. jika ada satu rumah saja tidak melakukan PSN. Karena itu. pada waktu ada laporan kasus DBD di satu rumah. termasuk kaleng-kaleng berisi air atau bak mandi. Sebab. Karena itu. Selain itu. nyamuk dewasa yang beterbangan atau yang hinggap di tempat persembunyiannya di lingkungan rumah penderita akan mati. Semua insektisida adalah bahan beracun yang jika penggunaannya tidak tepat dapat mengganggu kesehatan manusia maupun hewan dan dapat mencemari lingkungan. Apalagi nyamuk Aedes aegypti mampu terbang dalam radius 100 meter dari sarang asalnya. penularan virus oleh nyamuk dapat dihentikan segera. selama tandon-tandon air masih dijumpai. bukan sarang nyamuk Aedes aegypti). Gerakan PSN harus dilakukan terus-menerus. Karena nyamuk dewasa Aedes aegypti berada di dalam lingkungan rumah tinggal. Dengan demikian.LAPORAN AKHIR nyamuk dewasa yang beterbangan atau yang hinggap di tempat persembunyiannya di lingkungan rumah penderita akan mati. Dari jentik nyamuk yang hidup di dalam air (tandon air). juga dapat menimbulkan dampak serius di kemudian hari. sarang nyamuk harus segera dimusnahkan. Gagalnya atau tidak efektifnya fogging dapat terjadi akibat salahnya lokasi pengasapan (yang diasapi adalah got-got atau saluran kota yang kotor dan mampet. sepanjang tahun. yaitu terjadinya kekebalan nyamuk Aedes aegypti terhadap insektisida yang digunakan saat ini. seharusnya segera dilakukan fogging terhadap rumah tinggal penderita dan area dengan radius 100 meter di sekitarnya. fogging harus segera diikuti dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Hal ini harus dilakukan karena sarang-sarang nyamuk Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 22 . selain termasuk kategori korupsi. dalam waktu beberapa hari akan tumbuh nyamuk dewasa. Fogging tidak akan berefek lama dan tidak boleh dilakukan terus-menerus karena insektisida yang digunakan adalah bahan beracun. baik di musim hujan maupun di musim kemarau. penggunaan insektisida yang tidak tepat dosisnya atau tidak tepat jenisnya dapat menjadikan fogging tidak memberikan hasil yang memuaskan atau gagal sama sekali. Pemberian abate untuk membunuh jentik nyamuk yang terdapat di dalam air bak kamar mandi atau tandon air bersih lainnya cukup efektif mencegahnya berkembang biak. Karena itu. Selain itu. penggunaan insektisida menjadi rawan keracunan bagi penghuni dan lingkungan hidup sekitar rumah. PSN harus dilakukan segenap warga. Takaran insektisida yang dikurangi (asal bau obat).

• Penyelidikan Epidemiolegis (PE) adalah kegiatan pencarian penderita DBD atau tersangka DBD lainnya dan pemeriksaan jentik nyamuk penular DBD di tempat tinggal penderita dan rumah/bangunan sekitarnya. Jika terjadi kegagalan fogging. keluarga. untuk mencegah penyebaran penyakit.LAPORAN AKHIR merupakan sumber produksi nyamuk dewasa. baik di musim penghujan maupun di musim kemarau. Adanya nyamuk Aedes aegypti penular DBD sepanjang tahun di Indonesia menyebabkan penularan virus dengue juga akan terjadi sepanjang tahun. PE juga dilakukan untuk mengetahui adanya penderita dan tersangka DBD lainnya. • Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 23 . segera ditindaklanjuti dengan kagiatan Penyelidikan Epidemiologis (PE) dan Penanggulangan Fokus. Tujuannya adalah untuk mengetahui penularan dan penyebaran DBD lebih lanjut serta tindakan penanggulangan yang perlu dilakukan di wilayah sekitar tempat penderita. misalnya. Selanjutnya dalam melaksanakan kegiatan pemberantasan DBD sangat diperlukan peran serta masyarakat. Fogging akan sangat efisien jika dilakukan pada waktu populasi nyamuk masih rendah. penyuluhan dan penyemprotan (pengasapan) menggunakan insektisisda sesuai kriteria. larvadiasasi. ataukah terjadi "kesalahan teknis" di lapangan. dan menentukan jenis tindakan (penanggulangan fokus) yang akan dilakukan. Sosialisasi dalam pelaksanaan PSN dan cara hidup gotong royong harus kembali digalakkan. termasuk tempat-tempat umum dalam radius sekurang-kurangnya 100 m. Karena itu. baik untuk membantu kelancaran pelaksanaan kegiatan pemberantasan maupun dalam memberantas jentik nyamuk penularnya. apakah telah terjadi resistensi nyamuk terhadap insektisida yang digunakan. harus dicari penyebabnya. sehingga setiap warga dapat saling melindungi diri. sehingga kemungkinan penyebarluasan DBD dapat dibatasi dan KLB dapat dicegah. Tujuannya adalah membatasi penularan DBD dan mencegah terjadinya KLB di lokasi tempat tinggal penderita DBD dan rumah/bangunan sekitarnya serta tempat-tempat umum yang berpotensi menjadi sumber penularan DBD lebih lanjut. Tata Laksana Penanggulangan DBD Setiap diketahui adanya penderita DBD. mengetahui ada tidaknya jentik nyamuk penular DBD. tanpa menunggu terjadinya KLB. Penanggulangan Fokus adalah kegiatan pemberantasan nyamuk penular DBD yang dilaksanakan dengan melakukan pemberantasan sarang nyamuk demam berdarah dengue (PSN DBD). jika terdapat laporan adanya kasus DBD. tindakan yang pertamatama harus dilakukan adalah memberantas nyamuk dewasa di lingkungan tempat tinggal penderita dan sekitarnya dengan melakukan fogging. dan lingkungannya dari penularan DBD. melalui GGPSN (Gebyar Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk).

pemberantasan vektor penular DBD. Penilaian operasional ditujukan untuk mengetahui persentase (coverage) pemberantasan vektor dari jumlah yang direncanakan. Keberhasilan PSN DBD diukur dengan Angka Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 24 . larvasidasi dan penyuluhan. Sarang Nyamuk demam berdarah dengue (PSN DBD) adalah kegiatan memberantas telur. Penilaian Penanggulangan KLB meliputi penilaian operasional dan penilaian epidemiologi. jentik dan kepompong nyamuk penular DBD (Aedes aegypti) di tempat-tempat perkembangbiakannya. Penilaian ini dilakukan melalui kunjungan rumah secara acak dan wilayah-wilayah yang direncanakan untuk pengasapan.3.LAPORAN AKHIR Penderita/tersangka DBD Penyelidikan Epidemiologi (PE) .Pemeriksaan Jentik . sehingga KLB yang terjadi di suatu wilayah tidak meluas ke wilayah lainnya. penyuluhan kepada masyarakat dan evaluasi/penilaian penanggulangan yang dilakukan di seluruh wilayah yang terjadi KLB. sehingga penularan DBD dapat dicegah dan dikurangi. Sedangkan penilaian epidemiologi ditujukan untuk mengetahui dampak upaya penanggulangan terhadap jumlah penderita dan kematian DBD dengan cara membandingkan data kasus/kematian DBD sebelum dan sesudah penanggulangan KLB. Tujuannya adalah mengendalikan populasi nyamuk.Pencarian Penderita Panas Ada penderita DBD lain atau ada jentik dan ada penderita panas ≥ 3 orang dan ditemukamn jentik (≥ 25%) Ya Penyuluhan PSN DBD Fogging radius 200m - Tidak Penyuluhan PSN FDBD Larvasidasi Gambar 2. Tujuannya adalah membatasi penularan DBD. Bagan Penanggulangan Fokus (Penanggulangan Penderita DBD di Lapangan) • Penanggulangan • Pemberantasan Kejadian Luar Biasa (KLB) adalah upaya penanggulangan yang meliputi : pengobatan/perawatan penderita.

Pertolongan pertama kepada tersangka penderita DBD dapat dilakukan di rumah sebelum dirujuk ke tempat pelayanan kesehatan yaitu dengan memberikan minum sebanyak-banyaknya dengan oralit. yaitu masyarakat dapat mengenali secara dini tanda-tanda penyakit DBD yang menimpa salah satu anggota keluarga maupun tetangga mereka dan segera merujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat. Tujuan pemberian pertolongan pertama di atas adalah untuk mempertahankan volume cairan dalam pembuluh darah penderita sehingga dapat membantu mengurangi angka kematian karena DBD. Cara PSN DBD dilakukan dengan ”3M”. Sehingga upaya pemberantasan dan pencegahan penyebaran penyakit DBD adalah upaya yang diarahkan untuk menghilangkan tempat perindukan (breeding places) nyamuk Aedes aegypti yang ada dalam lingkungan permukiman penduduk. pemberian obat penurun panas seperti paracetamol. (2) menutup rapat-arapat tempat penampungan air. Mengubur/membuang pada tempatnya barang-barang bekas seperti ban bekas. Dengan demikian gerakan PSN dengan 3M Plus yaitu Menguras tempat-tempat penampungan air minimal seminggu sekali atau menaburinya dengan bubuk abate untuk membunuh jentik nyamuk Aedes aegypti. kaleng bekas yang dapat menampung air hujan. Apabila ABJ lebih atau sama dengan 95% diharapkan penularan DBD dapat dicegah atau dikurangi. sirup. dan (3) mengubur atau menyingkirkan barang-barang bekas yang dapat menampung air hujan. Menutup rapat-rapat tempat penampungan air agar nyamuk Aedes aegypti tidak bisa bertelur di tempat itu. yaitu (1) menguras dan menyikat tempat-trempat penampungan air. Seperti diketahui nyamuk Aedes aegipty adalah nyamuk domestik yang hidup sangat dekat dengan pemukiman penduduk seperti halnya Culex.LAPORAN AKHIR • Pemeriksaan Bebas Jentik (ABJ). Dalam upaya pemberantasan vektor tersebut antara lain masyarakat berperan secara aktif dalam pemantauan jentik berkala dan melakukan gerakan serentak Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Tujuannya adalah melakukan pemeriksaan jentik nyamuk penular demam berdarah dengue termasuk memotivasi keluarga/masyarakat dalam melaksanakan PSN DBD. Masyarakat juga berperan dalam upaya pemberantasan vektor yang merupakan upaya paling penting untuk memutuskan rantai penularan dalam rangka mencegah dan memberantas penyakit DBD muncul di masa yang akan datang. juice buah-buahan. Jentik Berkala adalah pemeriksaan tempat-tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti yang dilakukan secara teratur oleh petugas kesehatan atau kader atau petugas pemantau jentik (jumantik). Obat penurun panas yang tidak boleh diberikan adalah dari jenis yang mengandung asam salisilat yang dapat memperberat perdarahan. Sebagai contoh: peran masyarakat dalam kegiatan surveilans penyakit. teh manis. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 25 . Sehingga bisa dilakukan penegakan diagnosa secara dini dan diberikan pertolongan dan pengobatan dini. Peran Masyarakat dalam Penanggulangan DBD Masyarakat berperan dalam upaya pemberantasan penyakit DBD.

Sejak dulu tidak ada yang berubah dengan bionomik atau perilaku hidup nyamuk Aedes aegypti sehingga teknologi pemberantasannya pun dari dulu tidak berubah. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 26 . Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa dalam upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit DBD oleh masyarakat sangat besar. boleh dikatakan lebih dari 90% dari keseluruhan upaya pemberantasan penyakit DBD. tidak kondusif untuk hidup nyamuk Aedes aegypti aegypti.." Keberhasilan Jenderal WC Gorgas memberantas nyamuk Aedes aegypti untuk memberantas demam kuning (Yellow Fever) lebih dari 100 tahun yang lalu di Kuba dapat kita ulangi di Indonesia.. Berbagai gerakan yang pernah ada di masyarakat seperti Gerakan Disiplin Nasional (GDN). Hal sederhana lainnya yang dilakukan oleh masyarakat adalah menata gantungan baju dengan baik agar tidak menjadi tempat hinggap dan istirahat nyamuk Aedes aegypti. Agar gerakan yang dilakukan oleh Jenderal Gorgas bisa dilakukan di Indonesia diperlukan komitmen yang kuat dari seluruh jajaran struktur pemerintahan bersama-sama masyarakat dan swasta.. Dan upaya tersebut sangat berkaitan dengan faktor perilaku dan faktor lingkungan. menyemprot rumah dengan obat nyamuk yang tersedia luas di pasaran. Berbagai negara yang mempunyai masalah yang sama dengan Indonesia menggunakan berbagai macam pendekatan dalam melakukan PSN antara lain Singapura dan Malaysia menggunakan pendekatan hukum yaitu masayarakat yang rumahnya kedapatan ada jentik Aedes aegypti dihukum dengan membayar denda. dua tiga pulau terlampaui. sehingga dapat mengubah perilaku masyarakat dan lingkungannya ke arah perilaku dan lingkungan yang bersih dan sehat. Sri Lanka menggunakan gerakan Green Home Movement untuk tujuan yang sama yaitu menempelkan stiker hijau bagi rumah yang memenuhi syarat kebersihan dan kesehatan termasuk bebas dari jentik Aedes aegypti dan menempelkan stiker hitam pada rumah yang tidak memenuhi syarat kebersihan dan kesehatan. terus-menerus berupa gerakan serentak. Teknologi yang digunakan oleh Jenderal Gorgas adalah gerakan PSN yang dilaksanakan serentak dan secara besar-besaran di seluruh negeri. Jika ini dilakukan maka selain penyakit DBD maka penyakit-penyakit lain yang berbasis lingkungan seperti leptospirosis. Pemberantasan DBD akan berhasil dengan baik jika upaya PSN dengan 3M Plus dilakukan secara sistematis.LAPORAN AKHIR Masyarakat juga melakukan upaya mencegah gigitan nyamuk dengan menggunakan obat gosok antinyamuk. Adipura. Gerakan Jumat Bersih (GJB). tidur dengan kelambu. Bagi pemilik rumah yang ditempeli stiker hitam diberi peringatan 3 kali untuk membersihan rumah dan lingkungannya dan jika tidak dilakukan maka orang tersebut dipanggil dan didenda. Kota Sehat dan gerakangerakan lain serupa dapat dihidupkan kembali untuk membudayakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). diare dan lain-lain akan ikut terberantas ibaratkan "sekali merengkuh dayung. Dalam era otonomi dan desentralisasi saat ini Pemerintah Kabupaten/Kota dalam mengatur rumah tangganya sendiri dapat melakukan gerakan-gerakan inovatif seperti yang disebutkan di atas yang didukung dengan berbagai Peraturan Daerah.

1 Kerangka Pikir Kajian Kebijakan Penannggulangan Penyakit Menular Kerangka pikir kajian tersebut selanjutnya dijabarkan dalam kerangka konsep kinerja surveilans dan kerangka konsep kinerja penanggulangan yang digambarkan dalam skema berikut: Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 27 .LAPORAN AKHIR METODOLOGI 3. Faktor-faktor yang terkait dengan kinerja surveilans mencakup (1) tenaga. dan (5) SOP. Implementasi kebijakan penyakit menular juga dipengaruhi kebijakan desentralisasi kewenangan pengelolaan pembangunan. (3) sarana. (3) Jumlah Kematian. Kinerja Penanggulangan diukur dengan melihat (1) Frekuensi KLB. (2) pelaksanaan diseminasi informasi DBD. (4) dana. (2) data. dan (3) pelaporan. Faktor-faktor yang terkait dengan kinerja surveilans mencakup (1) tenaga. Kinerja surveilans diukur dengan melihat (1) keberadaan peta rawan. (2) data. (4) dana. (4) Luas Daerah Terserang. (3) sarana. Berdasarkan landasan pemikiran diatas. kerangka pikir kajian digambarkan dalam skema berikut: BAB 3 Kinerja Surveilans DESENTRALISASI KEWENANGAN IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENYAKIT MENULAR Kinerja Penanggulangan Gambar 3. (2) Jumlah Kasus.1 Kerangka Pemikiran Kajian ini dilandasi pemikiran adanya hubungan timbal balik antara rendahnya kinerja surveilans dan kinerja penanggulangan dalam implementasi kebijakan penyakit menular khususnya dalam kasus kebijakan penanganan penyakit DBD. dan (5) SOP.

Vektor . support). Sumber (APBD. Jenis pengeluaran Data Kasus. Peraturan Gambar 3.Diseminasi Informasi . Pedoman. Komunikasi SOP 1.Peta Rawan KLB DBD •Diseminasi Informasi . 4. 3. APBD. 4. 2. 5. 3.3 Kerangka Konsep Kinerja Penanggulangan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 28 . Proses . Logistik. Transportasi . Proses. Komunikasi. Curah Hujan. 2. Pengolah data. Sumber . 6. 2. Pengetahuan (Penyelidikan & Penanggulangan) Kerangka Konsep Kinerja Penanggulangan Dana 1. Curah Hujan Kinerja Surveilans DBD •Peta Rawan KLB DBD . lab. 2.Pelaporan Sarana 1. Jentik. Jumlah . insektisida. Transportasi. Obat. Pengetahuan . Prilaku (3M). 3. Tim Penanggulangan (epid. Jentik . Monev Kerangka Konsep Kinerja Surveilans Dana 1. 3. PHLN) 2. Lingkungan (genangan). jenis pengeluaran Data Kasus . Jumlah . alat penyemprotan SOP 1. 4. 2. 3. Pengolah data. Vektor. Peraturan Gambar 3. Pedoman (7 seri : modelpokjanal .LAPORAN AKHIR Tenaga 1. motivasi . Logistik Kinerja Penanggulangan KLB DBD •Frekuensi KLB •Jumlah Kasus •Jumlah Kematian •Luas Daerah Terserang Sarana 1. 2.2 Kerangka Konsep Kinerja Surveilans Tenaga 1. 2. klinis.

Luas Daerah Terserang 1. support) 2. Vektor 4. Tujuannya adalah untuk memperoleh berbagai gambaran yang jelas dan diskripsi yang lengkap tentang variabel penelitian. Jentik 3. Peraturan KINERJA PENANGGULANGAN KLB DBD Idependent Variabel 1 Tenaga 1 Kinerja Penanggulangan KLB 1. Pengetahuan 4.2 Disain Kajian 1. Jumlah 2. Jumlah 2. Tim Penanggulangan (epid. Sumber 3. Kajian ini menggunakan metode penelitian survey explanatory. Kasus 2. Jenis pengeluaran 3 Data 1. Pengolah data 3. Frekuensi KLB 2. Jumlah Kasus 3. yaitu kinerja surveilans dan kinerja penanggulangan No Variabel Parameter yang diukur KINERJA SURVEILANS DBD Idependent Variabel 1 Kinerja Surveilans 1. Monitoring dan Evaluasi 2 Dana 1. Pengetahuan (penyelidikan & Dependent Variabel 1 Tenaga Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 29 . Jumlah Kematian 4. Curah Hujan 4 Sarana 1. Pelaporan Dependent Variabel 1. Komunikasi 5 SOP 1. lab. 2. Pedoman (7 seri modul pokjanal) 2. Sumber 3. Proses 4. klinis. Variabel Penelitian Variabel penelitian mencakup 2 aspek. dimana data diperoleh melalui angket dan wawancara kepada sejumlah responden terpilih secara acak. Peta rawan KLB DBD 2 Diseminasi informasi 3. Transportasi 2.LAPORAN AKHIR 3.

Vektor 6. Sumber dan Pengumpulan Data Data yang dikumpulkan dalam kajian ini meliputi data primer dan data sekunder. propinsi. Keputusan Dirjen. Data primer yang didapat melalui wawancara mendalam (indepth interview) di berbagai tingkat (Pusat. Curah hujan 7. Jentik 3. Proses 4. baik dalam bentuk data kualitatif maupun kuantitatif. Pedoman (7 seri modul pokjanal) 2. Peraturan Daerah maupun Peraturan Gubernur. Kasus 2. Komunikasi 4. Jumlah 2. Obat 6.LAPORAN AKHIR 2 Dana 3 Data 4 Sarana 5 SOP penanggulangan) 1. Logistik 5. dilakukan pula studi kepustakaan terutama kajian teoritis dari hasil penelitian terdahulu yang relevan dengan kajian ini Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 30 . kab/kota). Peraturan Pemerintah. propinsi dan kab/kota. Peraturan 3. Lingkungan (genangan) 4. serta focus group discussion. Data sekunder mencakup data berkaitan dengan profil kesehatan pusat. Keputusan Presiden. Pengolah data 3. laporan tentang wabah. Sumber 3. Jenis pengeluaran 1. pengisian kuesioner.3 Jenis. Keputusan Menteri Kesehatan. Prilaku (3M) 5. Transportasi 2. laporan tahunan tentang Penanggulangan Penyakit Menular (P2M). Insektisida 7. peraturan perundangan dalam bentuk Undang-Undang. Untuk interpretasi hasil analisis data. Logistik 1. Alat penyemprotan 1.

Yanmedik dan Binkesmas Dinas Kesehatan Propinsi: (1) Kasubdin P2M. (3) P2B2. serta (2) kelompok pakar. Kab. Kota Balikpapan Sulawesi Selatan 1. Kab Lombok Tengah TOTAL Dinas 5 3 2 3 2 2 1 1 2 2 1 2 2 1 2 3 2 3 47 PKM 4 5 3 2 3 4 2 2 4 4 4 6 43 Rumah Sakit 1 1 2 1 2 1 1 4 1 2 2 3 21 Bapp 2 1 1 2 1 1 2 1 1 1 1 1 15 Masy 1 1 20 1 1 18 1 1 13 2 1 20 1 1 25 2 0 13 122 Jml 26 Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 31 . Rumah Sakit. Tabel 3. (3) unit penanggulangan P2B2. yaitu (1) kelompok pelaksana yang terlibat dalam penanggulangan penyakit menular. (6) Kasubag Umum Kabupaten Dinas Kesehatan: (1) subdin P2M. Kelompok Pelaksana yang menjadi responden mencakup Pusat: Dit Epidemiologi dan P2B2 Ditjen P2M. yang memiliki keahlian dan pengalaman dalam penanggulangan penyakit menular. (2) ahli epidemiologi dari Departemen Kesehatan. Kota Surabaya 2. Gowa Nusa Tenggara Barat 1.4 Responden Kajian Responden Kajian mencakup 2 (dua) kelompok. Kab. (2) petugas P2M. Kelompok Pakar yang menjadi responden adalah (1) ahli epidemiologi dari Perguruan Tinggi. Kab. Kota Bandung 2.LAPORAN AKHIR 3. (3) pakar lain dari WHO. bagian PI dan kepegawaian. (5) Kabag Keuangan. Kota Samarinda 2. Kota Mataram 2. Kota Pekanbaru 2. Siak Jawa Barat 1. (3) staf Kesling Rumah Sakit: (1) Wakil Direktur Yanmed. (2) unit surveilans. (2) Seksi Surveilans. (4) unit kepegawaian. subdit arbovirosis. (2) UGD.1 Responden Kajian No 1 2 3 4 5 6 Propinsi/Kab Riau 1. Medical Record. (3) Bag. Kota Makasar 2. (4) Kabag Kepegawaian. (5) unit umum Puskesmas : (1) Kepala Puskesmas. Kab. Gresik Kalimantan Timur 1. Bogor Jawa Timur 1. (4) Lab.

4 Tahapan Pelaksanaan Kajian Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 32 .LAPORAN AKHIR 3. o Prevalensi kasus DBD tinggi dan rendah o Puskesmas di ibukota kabupaten o Puskesmas di kecamatan di luar ibu kota kab/kota Dengan demikian jumlah sampel kabupaten/kota sebanyak 12 buah. Pengumpulan Data . diolah dan ditabulasikan untuk memudahkan dalam proses analisis. Hasil FGD disosialisasikan dalam bentuk workshop untuk kemudian dirumuskan dalam bentuk kesimpulan dan rekomendasi serta implikasi kebijakan. baik berbentuk data sekunder maupun hasil wawancara mendalam.Mengelompokkan . Selanjutnya data hasil pengumpulan di lapangan dikelompokan. dengan kriteria. Lokasi Kajian Kajian ini dilaksanakan di 6 (enam) propinsi terpilih yang ditentukan berdasarkan karakteristik frekuensi terjadinya kejadian penyakit menular dari kelompok propinsi di Indonesia Bagian Barat. mendapatkan rumusan hasil kajian lebih fokus.Data Sekunder .6 Teknik Analisis Teknik analisis yang dilakukan dalam kajian ini adalah dengan melakukan analisis diskriptif (kualitatif) berdasarkan data dan informasi yang didapat di lapangan. dan 12 rumah sakit 3. Pada setiap propinsi di ambil 2 (dua) Kabupaten/Kota dengan kriteria pemilihan kabupaten adalah o Prevalensi kasus DBD yang tinggi dan rendah o 1 kab/kota terletak di ibu kota propinsi dan 1 kab/kota di luar kab/ibu kota propinsi Pada setiap kabupaten dipilih dua puskesmas dan 1 (satu) rumah sakit. Tengah dan Timur. 24 puskesmas.Mentabulasi Analisis Data .5.Data Primer (kuesioner & wawancara) Pengolahan Data .Interpertasi data . Analisis dan interpretsi selanjutnya data yang sudah dibuat dalam bentuk tabulasi serta berdasarkan hasil wawancara mendalam dengan responden.Interpretasi hasil wawancara FGD Kesimpulan & Rekomendasi Kebijakan Gambar 3. Berdasarkan hasil analisis dan temuan yang didapat selanjutnya dilakukan pembahasan dengan nara sumber dalam bentuk focus group discussion (FGD).Mengolah .

peningkatan IR yang paling tinggi tidak mengakibatkan CFR meningkat di tahun yang sama.7.00 CFR 4 0.00 Sumber: Subdit Arbovirosis.0 0 3 0.00 3 5. 1988. Depkes.LAPORAN AKHIR BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.00 0.0 0 5.00 2 0. hal ini dimungkinkan makin banyaknya kasus-kasus DBD yang tertangani.00 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 00 01 02 03 04 TAHUN 0 . Ditjen PP&PL. Dapat dilihat pada tahun 1998. Gambar 4.00 5 .0 0 1 0. R 2 0. di bawah ini). 2005 Apabila dilihat secara khusus per bulan selama kurun waktu 2003 . terlihat makin menurunnya CFR.0 0 I.0 0 3 0.1 IR & CFR Tahun 1968-2004 IR & CFR DBD DI INDONESIA TAHUN 1968-2004 4 0. 1999 dan tahun 2004.0 0 1 5. Implementasi Kebijakan Penanggulangan DBD 4.00 4 5.1.2004.1 Incidence Rate (IR) dan Case Fatalities Rate (CFR) Berdasarkan data tahun 1968 sampai dengan tahun 2004.00 1 0.0 0 2 5. dan tidak terlaksananya program baik PSN Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 33 .0 0 IR 3 5. Angka tertinggi IR terjadi pada tahun 1968. Tingginya curah hujan menyebabkan banyaknya genangan-genangan air yang memudahkan nyamuk untuk berkembangbiak. namun demikian. Pada kurun waktu tahun 2000 – 2004 terjadi kecenderungan peningkatan IR.00 1 5.00 CFR 2 5. Jika diperhatikan gambaran IR dan CFR (gambar) antara kurun waktu 1968 sampai 2004. PHBS yang rendah masih menjadi salah satu pemicu tidak menurunnya kasus IR. gambaran Incidence Rate (IR) dan Case Fatalities Rate (CFR) penyakit DBD ini dapat dilihat pada Gambar di bawah ini.1. Kesadaran masyarakat mengenai kasus DBD dapat memperkecil peningkatan CFR. maka kecenderungan terjadinya peningkatan kasus DBD lazimnya dimulai pada akhir bulan Desember sampai dengan terbanyak yang lazimnya terjadi pada sekitar bulan Februari – Maret (lihat Gambar 1.

10 908 992 1.000 5.000 0 JAN FEB MARAPRMAYJUN JUL AUGSEPOCT NOVDECJAN FEB MARAPRMAYJUN JUL AUGSEPOCT NOVDES JAN FEB MARAPRMAY 2. 2005 Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 34 .000 30.99 7. Hal ini ada kaitannya dengan pergantian musim kemarau ke musim hujan. menunjukkan bahwa kecenderungan peningkatan kasus DBD per bulan hampir sama polanya dengan tahun 2003 – 2004.0 335 KASUS 9.77 2.76 1. data tahun 2005 – 2006.8 30.000 15.000 25.61 10. Ditjen PP&PL.004 2.2 Perkembangan Kasus DBD Nasional Per Bulan PERKEMBANGAN KASUS DBD NASIONAL PER BULAN 30000 2003-2004 25000 20000 S SU KA 15000 KASUS IK NA 10000 5000 0 JAN FEB MAR APR MAY JUN JUL AUG SEP OCT NOV DEC JAN FEB MAR APR 2003 2004 Sumber: Subdit Arbovirosis.000 20. yaitu pada bulan akhir Desember (lihat Gambar 1.27 1. tahun 2005-2006 Kasus DBD PER BULAN DI INDONESIA TAHUN 2005-2006 35. Depkes.4 10.7 15.35 5. 2005 Sementara itu. Gambar 4.9 7.94 6.52 6. Ditjen PP&PL.7.0 6.03 5. Gambar 4. 3 KASUS DBDPer Bulan di Indonesia.79 1. 2006 11.41 19.03 8. Sumber: Subdit Arbovirosis. Depkes. 7.65 5.59 2.005 14.LAPORAN AKHIR (Pemberantasan Sarang Nyamuk) maupun 3M mengakibatkan kecenderungan peningkatan kasus DBD.3 18.a).000 10.61 5.

4.034 8 8528 9 6997 10 7610 11 12 10712 15355 18. yaitu kecenderungan terjadinya peningkatan kasus DBD pada akhir bulan Desember sampai dengan kasus terbanyak pada bulan Februari – Maret. maka cara yang paling efektif untuk mencegah penyakit DBD ialah dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) yang dilaksanakan oleh masyarakat/keluarga secara teratur setiap seminggu sekali.028 Sumber: Subdit Arbovirosis. data tahun 2003 hingga Juni 2006.01 14.7a. Ditjen PP&PL.935 1 2005 2006 6475 2 10916 3 7610 4 5033 5 5652 335 6 5357 7 5. Kedua metode ini sampai sekarang belum memperlihatkan hasil yang memuaskan dimana terbukti dengan peningkatan kasus dan bertambahnya jumlah wilayah yang terjangkit DBD.8. dan (4) memantapkan kerjasama lintas sektor/lintas program.7.143 11. 2005 Berdasarkan gambar 1. Depkes.LAPORAN AKHIR Gambar 4. Hal ini menurut beberapa hasil analisa ada kaitannya dengan pergantian musim kemarau ke musim hujan. dan 1. Strategi dalam pelaksanaan kebijakan di atas dilakukan melalui Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 35 . Mengingat obat dan vaksin untuk membunuh virus dengue belum ada.1.4 JUMLAH KASUS DBD DI INDONESIA TAHUN 2005 & 2006 JUMLAH KASUS DBD DI INDONESIA TAHUN 2004 DAN 2005 (SITUASI SD TGLJuni 2006) (s/d 19 19 JUNI 2006) 20000 18000 16000 14000 12000 10000 8000 6000 4000 2000 0 2005 2006 Total sd Akhir Mei 2005: 35.686 Total sd Akhir Mei 2006: 50. (3) meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi program pemberantasan DBD. Kemudian strategi diperluas dengan menggunakan larvasida yang ditaburkan ke Tempat Penampungan Air (TPA). (2) meningkatkan perlindungan kesehatan masyarakat terhadap penyakit DBD. Kebijakan dalam rangka penanggulangan menyebarnya DBD adalah (1) peningkatan perilaku dalam hidup sehat dan keamandiriian masyarakat terhadap penyakit DBD. terlihat pola yang jelas mengenai kecenderungan peningkatan kasus DBD.2 Kebijakan Penanggulangan Penyakit DBD Departemen Kesehatan telah melewati pengalaman yang cukup panjang dalam penanggulangan penyakit DBD. 1. Pada awalnya strategi utama pemberantasan DBD adalah pemberantasan nyamuk dewasa melalui pengasapan. seperti di atas.418 7.

Pokok-pokok program pemberantasan DBD mencakup (1) Kewaspadaan dini DBD. Orientasi. (3) Bulan Bakti gerakan ”3M”. Angka kesakitan penyakit ini bervariasi antara satu wilayah dengan wilayah lain. (4) Penanggulangan kasus. dan berbagai kegiatan KIE kepada semua pihak yang terkait perlu dilaksanakan agar semuanya dapat memahami peran lingkungan dalam pemberantasan penyakit DBD. sehingga populasi vektor sebagai penular penyakit DBD dapat berkurang. Pertemuan berkala sejak dari tahap perencanaan sampai tahap pelaksanaan. Untuk mendorong meningkatnya peran aktif masyarakat. Penyakit DBD hampir tersebar luas di seluruh Indonesia kecuali di daerah yang di atas 1000 m diatas permukaan air laut. advokasi. SDM yang terampil dan menguasai IPTEK merupakan salah satu unsur penting dalam pelaksanaan program P2 DBD. tata laksana kasus harus dikuasai karena hal-hal tersebut merupakan landasan dalam penyususnan kebijaksanaan program P2 DBD. (2) Pemberantasan vektor melalui PSN dengan cara 3M Plus. sosialisasi. guna memadukan berbagai sumber daya yang tersedia di masing-masing mitra. meningkatkan dan mewujudkan kemitraan. dikarenakan perbedaan situasi dan kondisi wilayah. virology dan faktor-faktor perubahan iklim. dan pemeriksaan jentik berkala (PJB) yang dilakukan setiap 3 bulan sekali. social marketing. peran sektor terkait pemberantasan penyakit DBD sangat menentukan. Upaya pemberantasan penyakit DBD tidak dapat dilaksanakan oleh sektor kesehatan saja. Meningkatnya peran aktif masyarakat dalam pencegahan dan penanggulangan penyakit DBD merupakan salah satu kunci keberhasilan upaya pemberantasan penyakit DBD. (2) Peningkatan Kemitraan Berwawasan Bebas dari Penyakit DBD. dan berbagai upaya penyuluhan kesehatan lainnya dilaksanakan secara intensif dan berkesinambungan melalui berbagai media massa dan sarana. merupakan langkah awal dalam menggalang. Oleh sebab itu. dimana Puskesmas melakukan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 36 . Pengetahuan mengenai Bionomic vektor. Meningkatnya mutu lingkungan hidup dapat mengurangi angka kesakitan penyakit DBD karena di tempat-tempat penampungan air bersih dapat dibersihkan setiap minggu secara berkesinambungan.LAPORAN AKHIR (1) Pemberdayaan masyarakat. Optimalisasi pendelegasian wewenang pengelola kepada kabupaten/kota. maka identifikasi stakeholders baik sebagai mitra maupun pelaku potensial. (4) Desentralisasi. maka upaya-upaya KIE. (5) Pembangunan Berwawasan Kesehatan Lingkungan. Jaringan kemitraan diselenggarakan melalui pertemuan berkala. (3) Peningkatan Profesionalisme Pengelola Program. pemantauan dan penilaian.

Tim Pokjanal DBD terdiri dari unsur-unsur Diknas. sedangkan dana dari Dinas Kesehatan diutamakan untuk membeli peralatan dan kegiatan yang sifatnya pencegahan. melalui perencanaan. Depag dan pihak legislatif. Ketiga dana tersebut diatas berasal dari dana Kantor Walikota. melengkapi sarana pemberantasan vektor. lintas sektor. sebagai dasar tindak lanjut perencanaan program dan penanggulangan KLB. (2) pemberantasan vektor.LAPORAN AKHIR penyelidikan epidemiologi (PE) untuk mengurangi persebaran lebih luas dan tindakan yang lebih tepat. Strategi yang dilakukan mencakup (1) intensifikasi pelaksanaan kasus melalui pencarian kasus dan pemutusan rantai penularan. melalui penyediaan insektisida dan larvasida. (2) surveilans epidemiologi. PMD. Program yang dilakukan mencakup (1) kewaspadaan dini DBD melalui penyuluhan intensif. (8) Penelitian. kab/kota. Implementasi kebijakan. sedangkan sekretariat berada di kantor Dinas Kesehatan. pelatihan tenaga operasional. strategi dan program penanggulangan DBD di daerah lokasi kajian dilaporkan sebagai berikut: Propinsi Riau Kebijakan Daerah mecakup (1) pemberantasan DBD diselenggarakan dengan menggunakan penatalaksanaan kasus secara cepat dan tepat. (3) meningkatkan SDM. kewaspadaan dini. Bappeda. serta kemitraan dengan masyrakat (LSM) termasuk swasta. PKK. perbaikan manajemen kasus diagnostik dan pengobatan serta rujukan. pengendalian faktor resiko dan penyehatan lingkungan. Dana KLB dianggarkan dengan menggunakan pola kinerja artinya bila KLB tidak terjadi. (2) mengembangkan dan memperkuat jejaring surveilans epidemiologi dengan fokus pemantauan wilayah setempat. (3) Bila terjadi KLB. yaitu dana tak terduga. melalui pelaksanaan pertemuan berkala Pokjanal/Pokja DBD. Tim Pokjanal DBD diketuai oleh Walikota. Dinkes. pelatihan tenaga puskesmas dan rumah sakit. (6) peningkatan profesionalisme SDM. pemantauan dan informasi program pemberantasan penyakit dan meningkatkan kewaspadaan di semua tingkat administrasi. (3) memantapkan jejaring lintas program. (5) meningkatkan kemampuan penggalian sumberdaya daerah dan sumberdaya masyarakat dalam pengelolaan program P2M. (2) Di Kota Pekanbaru. tersedia pos untuk penanggulangan. (7) Pendekatan Peran Serta Masyarakat dann PSN DBD. dana bencana dan dana belanja rutin sekretariat daerah. maka uang tidak bisa dicairkan. lintas program dan lintas sektor terkait serta mengaktifkan kembali peran UKS (Usaha Kesehatan Sekolah) untuk menggerakkan anak sekolah dalam pemberantasan demam berdarah. (4) menyiapkan pengadaan dan distribusi kebutuhan obatobatan dan bahan-bahan yang esensial. menyiapkan juknis dan juklaknya. pembinaan dalam pelaksanaan gerakan 3M. Hasil implementasi kebijakan. Strategi dan program adalah (1) pertemuan dengan tim pokjanal DBD propinsi Riau menghasilkan beberapa kesepakatan yang menitikberatkan pada peran aktif dari pokja/pokjanal DBD dengan melibatkan masyarakat. Bila Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 37 . dan menyiapkan sarana pemeriksaan untuk diagnosa melaksanakan PE dan penanggulangan fokus. komunikasi perubahan perilaku. (5) penanggulangan KLB.

Strategi pelaksanaan kebijakan penanggulangan DBD di Propinsi Jawa Barat dilakukan melalui (1) pendekatan ”gerak cepat” dan putus rantai. pemeriksaan jentik dengan memberdayakan tenaga jumantik. Propinsi Jawa Barat Kebijakan penanggulangan di Jawa Barat secara umum mengacu pada kebijakan dan program yang telah ditetapkan oleh Departemen Kesehatan (Pusat). (7) Pendekatan Peran Serta Masyarakat dann PSN DBD. dan tidak seimbangnya jumlah kader dengan cakupan daerah yang harus diselidiki. Strategi dalam penanggulangan DBD dilakukan melalui (1) penemuan kasus dan kematian melalui surveilans di rumah sakit. kesibukan kader. (8) Penelitian. (2) Fogging dilaksanakan apabila terjadi KLB dengan menggunakan dana yang berasal dari Dinas Kesehatan Kabupaten dengan peruntukan untuk larvasidasi dan abatesisasi. (6) Sosialisasi Pola Hidup Bersih (PHBS). diketuai oleh Bappeda dan sekretariat juga berada di Bappeda. (5) Pelibatan lintas sektor. yaitu pada setiap kasus petugas siap melakukan PE sehingga ditemukan akar permasalahan dan sumber penyebabnya untuk kemudian dilakukan tindakan agar tidak menyebar ke tempat lain. fogging focus massal. dan pemeriksaan jentik berkala (PJB) yang dilakukan setiap 3 bulan sekali. (3) Upaya peningkatan kemampuan tenaga kesehatan dalam penanggulangan DBD secara kuratif dilakukan melalui ”workshop tata laksana” dengan melibatkan dokter spesialis dan urusan dalam.LAPORAN AKHIR terjadi KLB. (2) Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 38 . dan propinsi. dukun bayi dan kendaraan kesehatan. perawat. praktek swasta. Hasil pelaksanaan program ditunjukkan antara lain (1) pemantauan jentik belum optimal dilakukan oleh kader dengan alasan terbatasnya dana operasional. (6) peningkatan profesionalisme SDM. (4) Penanggulangan kasus. (2) kegiatan surveilans epidemiologi dilaksanakan oleh tim fungsional di masingmasing tingkat mulai dari Puskesmas. (5) penanggulangan KLB. (2) Pemberantasan vektor melalui PSN dengan cara 3M Plus. (4) penemuan kasus dilaksanakan secara bekerjasama dengan masyarakat. uang dicairkan. puskesmas dan masyarakat. maka kinerjanya akan dipertanyakan (3) Disamping Tim Pokjanal DBD. yaitu mencakup 1) Kewaspadaan dini DBD. dokter. dan melakukan ”CLEAN-UP” lingkungan yang dipimpin oleh walikota selama 1-2 jam. (4) Pelibatan partisipasi masyarakat melalui gerakan PSN setiap hari Jumat pagi. bidan. (3) komitmen dari pimpinan unit penyelenggara kesehatan diperlukan untuk kegiatan surveilans epidemiologi. Kota Pekanbaru juga memiliki Forum Perkampungan Sehat. dimana Puskesmas melakukan penyelidikan epidemiologi (PE) untuk mengurangi persebaran lebih luas dan tindakan yang lebih tepat. kab/kota. (3) Bulan Bakti gerakan ”3M”. (2) upaya preventif yang dilakukan melalui ”managing vector and environment” malalui gerakan 3M yang dilakukan secara lintas sektor dalam wadah Pokjanal DBD. Propinsi Jawa Timur Kebijakan daerah mencakup (1) upaya penanggulangan masalah-masalah kesehatan yang dilakukan merupakan hasil dari kajian surveilans epidemiologi. Kegiatan pokok adalah melakukan rapat lintas sektor untuk menangani masalah-masalah khususnya penyakit menular.

LAPORAN AKHIR pencarian kasus tambahan dilakukan pada saat penyelidikan epidemiologi. (3) penyelidikan epidemiologi terhadap kasus yang dicurigai pada daerah yang resiko rendah. mendeskripsikan kasus berdasarkan waktu. (3) Pelatihan tenaga surveilens (pelatihan epidemiologi. melengkapi sarana pemerantasan vektor. kerja sama dengan dengan masyarakat dan swasta. melalui persiapan penyelidikan lapangan. menetapkan sistem penemuan kasus baru. penyediaan insektisida dan larvasida. penyehatan lingkungan. Kota Balikpapan memiliki Yayasan DBD yang ketuanya adalah kasubdin P2M Dinkes dan didanai oleh perusahaan minyak swasta. (2) penyelidikan dan penanggulangan KLB. (2) Tim Pokjanal DBD diketuai oleh Walikota. (2) mengembangkan dan memperkuat jejaring surveilans epidemiologi dengan fokus pemantauan wilayah setempat. pelaksanaan gerakan 3M. Propinsi Kalimantan Timur Kebijakan Daerah yang dilakukan mencakup (1) Pemberantasan DBD diselenggarakan dengan menggunakan penatalaksanaan kasus secara cepat dan tepat. membuat cara penanggulangan sementara. Gambaran implementasi adalah (1) Pelaksanaan penanggulangan DBD melibatkan masyarakat. (3) Untuk tahun 2005. (6) Pelatihan khusus tentang epidemiologi dan surveillens baru dilakukan 1 kali dalam 5 tahun terakhir. dan (3) Membangun kerja sama lintas sektor. memastikan diagnostik etiologi. beranggotakan kepala – kepala dinas yang ketika diadakan rapat-rapat selalu dihadiri oleh personal yang berlainan. mengidentifikasikan sumber dan cara penyebaran. pertemuan berkala Pokjanal/Pokja DBD. (5) Dinas kesehatan kota Balikpapan selalu melaksanakan pendataan DBD dengan rutin. mengamati indikasi pra-KLB misal cakupan program. Pelaksanaan program penanggulangan DBD mencakup (1) SKD-KLB melalui kegiatan pengumpulan data baru dari penyakit-penyakit yang berpotensi KLB. (2) Pelaksanaan Surveilans Epidemiologi. APBD mengalokasikan dana 500 juta untuk penanggulangan KLB dan habis untuk penanggulangan KLB DBD. Pokok-pokok Program yang dilakukan mencakup Kewaspadaan Dini DBD. pengolahan dan analisis data untuk penyusunan rumusan kegiatan perbaikan oleh tim epidemiologi. menetapkan rekomendasi cara pencegahan dan penanggulangan. lintas program dan lintas sekor terkait. (4) Di samping Tim Pokjanal DBD. mengidentifikasi dan menghitung kasus atau paparan. perubahan perilaku dalam pola hidup bersih dan sehat. (4) melakukan kajian epidemiologi harus bekerjasama dengan lintas program dan lintas sektor. pelaksanaan PE. menetapkan apakah kejadian tersebut suatu KLB. pelatihan tenaga kesehatan. kewaspadaan dini. perilaku masyarakat. orang dan tempat. (5) melakukan studi epidemiologi pada daerah dengan kinerja yang tidak baik. merencanakan penelitian lain yang sistematis. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 39 . penyuluhan. Strategi yang dilakukan mencakup (1) peningkatan pencarian kasus dan pemutusan rantai penularan perbaikan manajemen pengobatan serta rujukan. (2) Pemberantasan vector. sehingga sesuai data memang DBD di Kota Balikpapan tinggi. mengidentifikasikan keadaan penyebab KLB. status gizi.

kab/kota dan puskesmas. (2) Penanggulangan KLB menemukan jumlah kasus KLB DBD tahun 2005 sebanyak 66 kasus. pelatihan bagi pengelola program P2 DBD di 23 kab/kota. Dinkes Propinsi Nusa Tenggara Barat membuat pedoman operasional yang berisi ”step by step” metodologi penanggulangan DBD. Materi yang disusun dalam prosedur tetap (Protap) ini adalah langkahlangkah penanggulangan DBD sebagai berikut: (1) Kewaspadan Dini. Namun terdapat ”gap” pelaksanaan/penanganan KLB. sedangkan tahun 2004 jumlah KLB DBD sebanyak 88 kasus. Propinsi Nusa Tenggara Barat Pedoman surveilans dan KLB kurang operasional. dukungan dana surveilans tertolong oleh adanya subsidi dari Askeskin. lintas program dan kabupaten/kota terdekat. penyuluhan intensif melalui media cetak dan elektronik. 4. Implementasi kebijakan penanggulangan DBD di Sulawesi Selatan antara lain (1) Kewaspadaan Dini. Dengan demikian Puskesmas sebagai fasilitas yang paling dekat dengan masyarakat tidak dimanfaatkan dengan baik dalam penanggulangan KLB DBD. pemantauan jentik berkala di berbagai kabupaten endemis dengan sasaran masing-masing 100 rumah. melalui penemuan dan pelaporan penderita. menghasilkan penemuan dan pelaporan penderita. Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Selatan selanjutnya menyusun Prosedur Tetap (Protap) Penanggulangan DBD sebagai pedoman/acuan pelaksanaan kegiatan Dinas Kesehatan Propinsi dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. pertemuan Kewaspadaan Dini DBD sebanyak 4 kali melibatkan sektor terkait. khususnya penyakit DBD di Propinsi Sulawesi Selatan. abatisasi. Surveilans dilaksanakan pada tingkat dinas kesehatan propinsi. melakukan pelatihan tatalaksana DBD bagi dokter di rumah sakit pada daerah endemis.LAPORAN AKHIR Propinsi Sulawesi Selatan Upaya penanggulangan kejadian luar biasa (KLB)/penyakit menular.3 Kendala Penanggulangan DBD Kendala penting yang masih terjadi saat ini adalah kurang atau tidak adanya koordinasi dari instansi-instansi yang seharusnya terkait dalam menangani Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 40 . (4) Peningkatan SDM. dimana peran puskesmas sangat kecil karena dukungan dana dan personil sangat kecil. bulan kewaspadaan DBD.1. Pada pelaksanaan di Puskesmas. melalui pelatihan petugas kesehatan. Di kabupaten Lombok Tengah. gerakan PSN. (3) Peningkatan Sumber Daya Manusia. pada dasarnya dilaksanakan berpedoman pada arah kebijakan dan program dari Pemerintah Pusat (Departemen Kesehatan). pengamatan bebas jentik dilakukan oleh murid-murid sekolah dan telah terbukti cukup efektif untuk dapat direflikasi di daerah lain. (3) Penanggulangan KLB. terutama untuk insentif tenaga kesehatan dan kader. penanggulangan fokus. dan fogging massal. melalui penyuluhan. (2) Pemberantasan Nyamuk Penular DBD terhadap nyamuk dewasa dan jentik nyamuk. pemantauan jentik berkala. pembinaan di 23 kab/kota.

Jawa Timur. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 41 .4. yaitu propinsi Riau. bahkan Dinas Pendidikan. Penanganan DBD tidak semata-mata tugas Dinas Kesehatan. diantaranya: 1. Adanya intervensi dalam pemilihan responden di tingkat dinas. 4. Pihak daerah seringkali kewalahan dalam penyediaan biaya operasional penanganan penyakit karena keterbatasan sumberdaya. melainkan juga terkait dengan instansi lainnya. nanggulangan DBD Kajian P2M KLB DBD dilakukan di enam propinsi. serta melakukan wawancara ke Bappeda dan masyarakat. kebersihan dan lingkungan hidup. pemerintah pusat mengalami kendala dalam pendistribusiannya ke daerah. dan di tiap kabupaten/kota tersebut. hal ini dikarenakan adanya perubahan posisi (rolling) yang terjadi beberapa bulan sebelum kunjungan. serta instansi penyedia sarana air bersih (PDAM) juga harus ikut pula berpartisipasi. populasi nyamuk Aides dewasa yang mempunyai potensi menyebarkan virus dengue juga akan selalu dijumpai dan menjadi sumber penularan di sepanjang tahun. Adanya intervensi dari pendamping (orang dinas) dalam wawancara di tingkat Kab/kota. Karena itu. sarang-sarang nyamuk Aides akan tetap ada di sepanjang tahun.2. Sumber informan yang seharusnya dan pada saat yang bersamaan tidak berada di tempat sehingga dilakukan wawancara terhadap informan pengganti. Kebijakan tersebut terkait dengan anggaran kesehatan untuk pencegahan serta pemberantasan penyakit menular. selama PDAM belum mampu menyediakan air bersih untuk seluruh penduduk. Disisi lain adanya desentralisasi sumberdaya yang dimiliki. 3. Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Barat. maka penduduk masih terpaksa menyiapkan bak mandi dan tandon-tandon air (yang dapat menjadi sarang nyamuk) untuk menampung air yang sering hanya menetes bahkan mampet. Hal ini menjadi faktor penghambat praktek penanganan kasus di lapangan. baik dana maupun tenaga. 2 puskesmas dan 1 Rumah Sakit. Sebagai contoh. Dengan demikian. 4. yang memang membutuhkan biaya sangat tinggi. baik di musim penghujan maupun di musim kemarau. 2.LAPORAN AKHIR DBD sehingga menimbulkan masalah tersendiri di lapangan. dilakukan kunjungan ke dinas kesehatan kabupaten/kota. Kebijakan desentralisasi juga berpengaruh terhadap koordinasi antara pusat dan daerah dalam kewenangan penanganan DBD. Pada tiap propinsi dilakukan kunjungan dan wawancara terhadap 2 kabupaten/kota. Responden yang diharapkan sebagai informan tidak sesuai. 4. Dengan adanya kewenangan penanganan yang didaerahkan terkadang menyulitkan dalam koordinasi penganggaran. puskesmas dan rumah sakit. Kinerja Surveilans dan Pe 4.3. Beberapa kendala yang ditemukan di lapangan. Instansi-instansi yang mengatur tata kota dan permukiman. Jawa Barat. Kalimantan Timur.

3 58. Tabel di bawah ini memperlihatkan persentase keberadaan indikator tersebut di Dinkes Propinsi. peta rawan tidak tersedia disemua puskesmas. 2006 Selain peta rawan.4 57. RS dan Puskesmas.7 16.0 60.1 Distribusi Indikator Kinerja Surveilans di Dinkes Propinsi. Berdasarkan data tersebut terlihat 4 dari 5 dinkes propinsi memiliki peta rawan sebagai salah satu indikator kinerja surveilans. tak satupun memiliki peta rawan DBD.1 Indikator Kinerja Surveilans dan Penanggulangan KLB (1) Indikator Kinerja Surveilans Peta Rawan Indikator Kinerja Surveilans bisa dilihat dari peta rawan.3 83. hanya 11 (52.0 75. 5 miss) KINERJA (ntot =12. Tabel 4. Dinkes Kab/Kota. Dari tabel di atas tergambarkan di tingkat propinsi data tersebut hampir semuanya tersedia. indikator kinerja surveilans lainnya adalah DP-DBD. Ketidaklengkapan data dikarenakan keterbatasan waktu dalam pengumpulan data 3 tahun terakhir (tahun 2003-2005).0 75. dan W1.0 jml 10 7 6 9 9 % 83. DP-DBD. dari sebanyak 12 rumah sakit kab-kota yang menjadi lokasi kajian.0 jml 0 1 1 5 5 % 0. Sementara di Puskesmas sebagai unit pelayanan kesehatan dasar. 6. W2 DBD.1 Sumber: Data Lapangan.7 83.2. KDBD.4%) yang memiliki peta rawan. Begitu pula pada tingkat dinkes kab/kota. Tidak demikian dengan Rumah Sakit.3 jml 11 9 12 15 12 % 52. 4. W2-DBD dan W1. K-DBD.3 50. Sedangkan di tingkat kab/kota indikator kinerja surveilans yang dimiliki dinkes kab/kota dan RS lebih banyak pada Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 42 . dari 12 dinkes kab/kota sebanyak 10 dinkes kab/kota atau 83. 6 miss) (nto= 5.4 42. 1 miss ) (ntot =12) Peta rawan DP-DBD K-DBD W2-DBD W1 jml 4 4 3 3 4 % 80.0 60.0 80. Dari 19 puskesmas yang dikunjungi. Kesulitan pada proses wawancara di beberapa puskesmas dan RS dikarenakan waktu wawancara dilakukan pada saat jam kerja.LAPORAN AKHIR 5.9 57. Indikator kinerja surveilans tersebut tidak sepenuhnya merupakan indikator surveilans. RS dan Puskesmas DINKES DINKES RUMAH INDIKATOR PUSKESMAS KAB/KOTA PROPINSI SAKIT (ntot =24.0 80.3% memiliki peta rawan.1 71. Dinkes Kab/Kota.0 16. Hal ini dapat dipahami berkaitan dengan fungsi rumah sakit sebagai unit rujukan yang berperan melakukan tindakan medis atas kejadian kasus.

dalam hal ini laporan W1. Di Dinkes kota Samarinda. informasi mengenai ke lima indikator. DP-DBD. namun apakah laporan tersebut tepat waktu atau tidak. Penerbitan bulletin kajian epidemiologi ternyata lebih banyak dilakukan oleh Dinkes propinsi. Diseminasi Informasi Kinerja surveilans juga diukur berdasarkan indikator diseminasi informasi seperti terlihat pada tabel di bawah ini. diperoleh dari bagian program pemberantasan DBD. maka peta rawan adalah seluruh kota Samarinda itu sendiri. Pada tingkat puskesmas. 76% puskesmas sudah menerima laporan umpan balik dari Pemda kab/kota. Pada tingkatan rumah sakit. W2. Di tingkat propinsi maupun kabupaten/kota. namun ketepatannya hanya 60% saja. karena merupakan kota endemis. dinkes kab/kota dan puskesmas. faktor ketepatan juga sangat penting. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 43 . Di Samarinda. Demikian pula untuk pembuatan profil surveilans epidemiologi. Kadangkala diperlukan pengiriman informasi melalui short message system (sms dengan hand phone) untuk melaporkan kejadian BDB. merupakan gabungan dari bagian seksi surveilans dan program pemberantasan penyakit (DBD). Sedangkan di tingkat Puskesmas. laporan peta rawan. pengumpulan data surveilans dilakukan oleh dua bagian. Dari hasil keseluruhan memperlihatkan adanya persentase yang tinggi dalam hal kinerja ditingkat propinsi. Laporan umpan balik dari propinsi sudah dilakukan oleh sebagian dinkes propinsi. ketiadaan indikator di atas karena pendekatan rumah sakit yang lebih kepada kuratif. seksi surveilans dan program pemberantasan penyakit (dalam hal ini program DBD/pemberantasan penyakit bersumber binatang). Ke dua pertanyaan lainnya (penerbitan epidemiologi dan laporan umpan balik dari propinsi) tidak berkaitan langsung pada aktifitas puskesmas. sementara untuk rumah sakit hanya 1 buah rumah sakit saja yang menerima laporan umpan balik dari Pemda kab/kota. Sementara. Pembuatan laporan pun tidak dilakukan setiap hari. Pada level puskesmas. Sehingga.LAPORAN AKHIR indikator W2 DBD dan W1. Seperti halnya di propinsi Riau. Surveilans hanya menerima laporan yang berkaitan dengan KLB. Lokasi yang tercakup dalam peta rawan kadang kali tidak kecil. Laporan umpan balik ke RS sangat jarang dilakukan. dan K-DBD. hanya pertanyaan mengenai adanya umpan balik dari kabupaten dan profil surveilans epidemiologi yang ditanyakan. Dalam pembuatan laporan. meskipun kelengkapan laporan puskesmas mencapai 90-100%. setelah kejadian KLB laporan W2 seringkali terlupakan untuk dilaporkan oleh dinas kesehatan kabupaten/kota. walau tidak semua puskesmas memilikinya. Yang perlu diperhatikan adalah meskipun semua indikator terpenuhi. keberadaaan datadata tersebut relatif tersedia.

LAPORAN AKHIR Tabel 4.1 RUMAH SAKIT (ntot =12) jml 0 % 0. Dinkes Kab/Kota.5 Data Kasus DBD di Lokasi Kajian Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 44 .7 2 28.6 7 53.3 10 76.0 5 55. 2006 (3) Indikator Kinerja Penanggulangan Data Kasus Hasil kinerja surveilans dan penanggulangan diukur dengan penemuan kasus.6 0 0.4 2 50. angka kematian dan Case Fatality Rate (CFR).2 Distribusi Indikator Diseminasi Informasi Surveilans di Dinkes Propinsi. Gambar 4.0 PUSKESMAS (ntot =24) jml 2 % 15. RS dan Puskesmas INDIKATOR KINERJA DINKES PROPINSI (ntot=6) jml Penerbitan buletin kajian epidemiologi Laporan umpan balik dari propinsi Laporan umpan balik dari kab/kota (untuk RS & puskesmas) Profil survaeilans epidemiologi 3 % 75.8 1 14.0 DINKES KAB/KOTA ntot =12) jml 1 % 11.7 Sumber: Data Lapangan.0 6 66.9 3 75.0 1 7. Grafik diatas ini memperlihatkan dari ke 6 lokasi kajian.

2006 Berdasarkan gambar tersebut terlihat propinsi Jawa Barat memiliki kasus DBD yang paling banyak. Grafik ini adalah data yang diambil di Dinkes propinsi. Berdasarkan data tersebut kecenderungan data selama tahun 2003-2005 menunjukkan peningkatan kasus di semua propinsi.LAPORAN AKHIR DATA KASUS DBD DI LOKASI KAJIAN TAHUN 2003-2005 20000 15000 10000 5000 0 RIAU JABAR JATIM KALTIM SU LSEL N TB 2003 739 8932 4243 2004 1059 19012 8321 2276 2005 1897 18590 14796 3165 3164 1062 2628 198 4175 805 Sumber: Ditjen PP & PL Depkes RI. NTB adalah propinsi terendah Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 45 .6 Data Kematian DBD di Lokasi Kajian DATA KEMATIAN DBD DI LOKASI KAJIAN TAHUN 2003-2005 300 250 200 150 100 50 0 RIAU JABAR JATIM KALTIM SULSEL NTB 39 8 2003 6 201 59 2004 21 214 120 41 25 16 2005 32 285 254 82 59 15 Sumber: Ditjen PP & PL Depkes RI. grafik di atas memperlihatkan jumlah kematian tertinggi di Jabar disusul dengan Jatim. 2006 Sementara untuk jumlah kematian. Sedangkan kasus terendah terjadi di propinsi Nusa Tenggara Barat. Gambar 4. disusul dengan Propinsi Jawa Timur.

Namun bila Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 46 .50 3. Jatim.50 2. Dari data yang dicatat dinkes propinsi selama tahun 2003-2005 menunjukkan sejumlah propinsi mengalami peningkatan jumlah kematian.00 2.00 3.41 1. dapat dilihat dengan indikator CFR. di sana banyak perumahan penduduk yang tersebar di pulau-pulau kecil sehingga menyulitkan petugas untuk memantau.50 0. Jabar. Tipe rumah panggung yang merupakan ciri masyarakat asli Kaltim turut menambah risiko pertumbuhan habibat jentik karena biasanya bagian bawah rumah tergenang air buangan rumah tersebut dan menjadi sarang nyamuk. Sementara Dinkes tidak memiliki kendaraan untuk menjangkaunya.13 1. bahkan di atas angka nasional. yaitu di propinsi Riau. 2006 Untuk melihat kinerja penanganan kasus.00 0.80 0.86 1. Grafik di atas memperlihatkan pada tahun 2003.36 Sumber: Ditjen PP & PL Depkes RI.5 2004 1.59 1.50 1.04 1.LAPORAN AKHIR dalam jumlah kematian. Masyarakat pun memiliki kebiasaan menampung air hujan (tadah hujan) yang menambah habitat jentik.60 1. Seperti terjadi di Samarinda.50 4. Pada tahun 2004 CFR di lokasi kajian terlihat rendah.2 2005 1.69 1.7 Case Fatality Rate (CFR)DBD di Lokasi Kajian CASE FATALITY RATE (CFR) DBD DI LOKASI KAJIAN TAHUN 2003-2005 4.99 1. Gambar 4. CFR tertinggi adalah NTB.53 1.39 0.00 1. dan Sulsel.44 1. Kaltim.00 RIAU JABAR JATIM KALTIM SULSEL NTB NAS 2003 0.48 4.00 1.98 1. Indikator ini menunjukkan jumlah penderita DBD yang meninggal dari tiap 100 penderita DBD.25 1. khususnya pada rumah sakit yang berfungsi kuratif. Salah satu penyebab tingginya kasus DBD adalah faktor geografis dan perilaku masyarakat.81 2.72 2.

Tabel 4. lulusan SMA. SKM. teknik lingkungan.6 8. dan kader kesehatan/posyandu. Pada tahun 2004. angka CFR kembali meningkat di bandingkan tahun sebelumnya.2 Faktor-faktor Berpengaruh terhadap Kinerja Surveilans dan Kinerja Penanggulangan KLB (1) Tenaga Tenaga adalah sumberdaya manusia dari pihak provider kesehatan yang terlibat langsung dalam kegiatan surveilans maupun penanggulangan KLB. Semua CFR berada di atas angka nasional.7 9. tenaga fogging. CFR sejumlah propinsi lebih tinggi. kesehatan lingkungan/ sanitasi.LAPORAN AKHIR dibandingkan dengan angka nasional. 4. tenaga rekam medis.2.1 34. Pada tingkat dinkes propinsi. APK. manajemen kesehatan.6 9. CFR tertinggi pada tahun 2005 adalah di propinsi Kaltim. dokter gigi. Data pada grafik memperlihatkan pula adanya kenaikan CFR dari tahun 2003-2005 di sejumlah propinsi yaitu Jatim. komposisi jenis tenaga yang bertugas dalam pelaksanaan surveilans dan penanggulangan terbanyak adalah S1 dan S2 Epidemiologi. Sementara di propinsi lain CFR terlihat fluktuatif (naik dan turun). Yang dimaksud tenaga pendukung/lainnya adalah tenaga yang berprofesi/ berpendidikan perawat. sementara dokter umum berperan sebagai tenaga penanggulangan KLB.3 Distribusi Jenis Tenaga di Dinkes Propinsi dan Dinkes Kab/Kota DINKES PROPINSI JENIS TENAGA SURVEILANS PENANGGULA NGAN KLB DINKES KAB/KOTA SURVEILANS PENANGGULA NGAN KLB Jml S2 Epidemiologi S1 Epidemiologi Dokter umum Epidemiologi terampil 9 15 5 4 % 20.5 jml 3 14 4 8 % 8.3 jml 1 3 4 2 % 4.2 Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 47 .0 9.6 8. ahli gizi. staf administrasi. CFR yang paling tertinggi dimiliki oleh Riau dan NTB. Pada tahun 2005.3 19.9 3.8 14. sementara di tingkat dinkes kab/kota adalah dokter umum dan tenaga pendukung laibnya.9 34. Kaltim dan NTB. Lulusan S1 dan S2 Epidemiologi lebih banyak berperan sebagai tenaga surveilans.6 8.6 jml 5 17 65 6 % 2.9 11. lulusan D3.

Seperti halnya di dinas kesehatan propinsi Riau. tenaga dokter masuk dalam kategori sebagai ‘pengumpul data’.8 Sumber: Depkes RI.7 100.2 6. dimana mereka sebagai pemeriksa pasien.LAPORAN AKHIR Analis Laboratorium Pendukung/lainnya Jumlah 0 10 43 0. Banyaknya tenaga dokter untuk penanggulangan di tingkat kabupaten/kota dikarenakan pelaksana operasional penanggulangan KLB berada di tingkat kabuapten/kota.0 5 2 17 44 11.9 100.0 10.4 2.0 0 6 35 8.6 8.7 68. Sementara di tingkat puskesmas maupun rumah sakit.6 PENANGGU LANGAN KLB jml 1 0 18 % 1. Sehingga. Tabel 4.1 65. kepala seksi surveilans adalah seorang dokter dengan pendidikan strata dua epidemiologi.2 21. dalam pengelompokkan dimasukkan dalam tenaga yang mempunyai latar belakang S2 Epidemiologi.6 100.6 35 59 187 18.6 8.0 2 1 7 % 4. maupun sebagai tenaga klinis pada saat penanggulangan.0 27. Sementara.4 4.0 100.3 100.0 11.0 2.4 Distribusi Jenis Tenaga di RS dan Puskesmas RS JENIS TENAGA SURVEILAN S jml S2 Epidemiologi S1 Epidemiologi Dokter umum Epidemiologi terampil Analis Laboratorium Pendukung/lainnya Jumlah 1 3 31 45 2.0 1 10 21 4.8 31.1 PENANGGU LANGAN KLB jml 0 4 39 % 0.5 0.7 PUSKESMAS SURVEILA NS jml 0 5 15 % 0. sehingga sumber daya yang bersifat klinis tidak banyak tersedia. peran propinsi hanya sebagai koordinator.8 20.0 23.2 15.0 0 33 13 65 0. adalah semua dokter yang berada di puskesmas.0 0 18 118 179 0.4 34.5 Sumber: Data Lapangan. tenaga dokter yang ada. Sehingga.0 50.5 38.9 100. 2006 Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 48 . Hal yang sama juga ditemukan pada tingkat puskesmas.6 100. dokter umum paling banyak terlibat dalam kegiatan surveilans maupun penanggulangan.8 47. 2006 Di Rumah Sakit.

Hal yang berbeda di puskesmas lainnya. Hal ini mungkin yang menyebabkan tidak adanya laboran di tingkat dinas kabupaten/kota. “kalau sudah terjadi KLB. Pada Dinas Kesehatan kabupaten atau kota. Di rumah sakit ini yang mengumpulkan data adalah bagian rekam medis yang bertugas mengumpulkan dan merekap data. yang berasumsi bahwa dokter juga merupakan tenaga surveilans. dan Puskesmas Kota Mataram berpendapat bahwa tenaga surveilans merupakan tenaga tersendiri. seperti terjadi di RS Mataram. Sementara itu untuk tenaga laboran/laboratorium. sehingga sudah terlihat hasil laboratoriumnya. ada hal yang menarik dari pernyataan dinas kota pekan baru. filariasis dan zoonosis. seperti yang terjadi di propinsi Sulawesi Selatan. Namun. pengetahuan tim pada umumnya dipenuhi dari pengalaman lapangan dalam penanganan P2M. Ketiadaan tenaga epidemiologi pada tingkat rumah sakit salah satunya disebabkan karena sudah adanya tim pokja DBD seperti yang ada di di RSUD Mataram. Selain itu. karena mereka berasumsi bahwa yang dimaksud dengan tim penanggulangan adalah tim penanggulangan yang berada di dinas kesehatan kabupaten itu sendiri. Khusus Jawa Barat sebagai daerah P2M pengetahuan praktis tenaga surveilans dan penanggulangan melebihi pengetahuan bersifat formal Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 49 . satu tenaga juga merangkap sebagai tenaga untuk program DBD. Usaha lain yang dilakukan Dinas Kesehatan Propinsi dalam rangka peningkatan kemampuan adalah pembinaan teknis. Selain pelatihan formal. kualifikasi tenaga masih kurang. Hal ini dikarenakan tenaga dokter yang diasumsikan oleh responden adalah tenaga dokter yang berada di puskesmas (seluruh puskesmas).LAPORAN AKHIR Untuk penanggulangan. malaria. laporan kasus yang masuk biasanya penderita sudah dari rumah sakit. Perawat atau sanitarian puskesmas sering merangkap sebagai tenaga surveilans dan tenaga penyelidikan epidemiologi (PE). Sementara bila dokter umum tidak terlibat dalam kegiatan penanggulangan seperti yang terjadi di kabupaten Lombok Tengah. rakor dan melakukan berbagai pelatihan di bidang surveilans maupun penanggulangan penyakit. tenaga perawat atau sanitarian sering dijadikan petugas yang merangkap sebagai tenaga surveilans dan penyelidikan epidemiologi (PE). Jumlah tenaga dirasakan masih kurang. yang langsung berada di bawah institusi dinas kesehatan kabupaten/kota dan terlibat sebagai tim penanggulangan. Di tingkat Puskesmas. mengadakan pertemuan/lokakarya. Di puskesmas Pekanbaru Kota. Selain jumlah. Tenaga laboran cenderung banyak di RS yang berfungsi sebagai RS pendidikan. untuk apa tenaga laboran?”. Bahkan di tingkat puskesmas. Di lapangan juga ditemukan masih adanya perbedaan persepsi tentang tenaga surveilans dan tenaga penanggulangan. terlihat jumlah tenaga dokter umum yang banyak. Sehingga dokter-dokter tidak dianggap bukan tenaga surveilans. Puskesmas Tambak Rejo. yaitu orang yang melakukan rekap data. satu tenaga berperan sebagai tenaga DBD merangkap tenaga untuk program malaria dan zoonosis. Salah satu upaya untuk mengatasinya adalah pelatihan di dalam atau di luar negeri seperti terjadi di Jabar. ada pula RS yang mengkategorikan dokter sebagai tenaga surveilans seperti di rumah sakit daerah Siak.

0 Sumber: Data Lapangan.6 Persepsi Responden Tentang Penanggulangan DBD Tingkat Pengetahuan Tinggi Rendah Total Sumber: data Lapangan. Data menunjukkan bahwa total skor persepsi surveilans berkisar dari 93-181.7 % responden menyatakan cukup memahami tentang pengetahuan surveilans. Tiap pertanyaan mempunyai skala 1 sampai 5 (buruk hingga baik).3menyatakan kurang memahami.6 47. Cut off dipilih median karena distribusi data tidak normal.LAPORAN AKHIR Untuk mengetahui tingkat pengetahuan responden tentang surveilans oleh tenaga surveilans. Apabila dibandingkan persepsi responden terhadap Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 50 . yaitu 52.6% responden memiliki pengetahuan tinggi dan 47. sejumlah sampel dari daftar tenaga diambil. 19 sampel dari daftar tenaga diambil. 2006 Total 10 9 19 % 52.0 Berdasarkan data di atas dapat digambarkan bahwa persepsi responden terhadap pengetahuan berkaitan dengan penanggulangan DBD cukup baik. dan 14. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan responden tentang penanggulangan oleh tenaga penanggulangan. Berdasarkan cut off ≥ 156 untuk kategori pengetahuan tinggi didapat bahwa 85% dari 21 sampel tenaga mempunyai tingkat pengetahuan yang baik. Tabel 4. Berdasarkan cut off ≥ 128 untuk kategori pengetahuan tinggi didapat bahwa hanya 53 % dari 19 sampel tenaga mempunyai tingkat pengetahuan yang baik. Dari sejumlah responden yang ditanya. 85.7 Rendah 3 14. Tiap pertanyaan mempunyai skala 1 sampai 5 (buruk hingga baik). Data menunjukkan bahwa total skor persepsi penanggulangan berkisar dari 86-156.3 Total 21 100. Pengetahuan ini diukur dengan persepsi terhadap 36 pertanyaan tentang penanggulangan DBD. rerata 150 dan median 156. Tabel 4. rerata 127 dan median 128.3 100.5 Persepsi Responden Tentang Surveilans DBD Total % Tinggi 18 85. Dari data tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa sebenarnya pemahaman aparat terhadap program surveilans cukup baik. Pengetahuan ini diukur dengan persepsi terhadap 40 pertanyaan tentang surveilans.3% responden memiliki pengetahuan rendah. 2006 Berdasarkan tabel di atas tergambarkan bahwa pengetahuan para petugas (responden) terhadap pengetahuan surveilans cukup baik.

Selain itu. Hal ini sejalan dengan kebijakan yang ada.LAPORAN AKHIR pengetahuan berkaitan dengan surveilans dan pengetahuan berkaitan dengan penanggulangan. dana yang bersumber APBN sangat kecil. yang sebenarnya merupakan salah satu tools untuk melakukan evaluasi. namun dalam sistem pelaporan mereka masih ada masalah. Sebagian besar dana ternyata berasal dari APBD. Sumber dana untuk kegiatan surveilans dan penanggulangan DBD di lokasi kajian terlihat pada tabel di bawah ini. Data di atas juga menggambarkan masih adanya persoalan berkaitan dengan tenaga dalam penanganan DBD khususnya dalam hal koordinasi. Setiap terjadi KLB. Tabel 4. (2) Dana Masalah pembiayaan dalam penanggulangan penyakit DBD menjadi permasalahan yang dihadapi setiap tahunnya oleh Dinas Kesehatan karena alokasi anggaran yang bersumber dari APBD tidak/belum mencukupi sesuai dengan kebutuhan. masing-masing kabupaten atau kota dalam melaksanakan tugas dan kewenangannya terkesan tidak memerlukan bantuan dinkes propinsi. sesuai dengan standar. Sedangkan praktek penanggulangan dipahami lebih banyak oleh tenaga medis di rumas sakit sebagai unit rujukan dalam kasus penanganan DBD. Untuk puskemas. Pengetahuan dalam penyelidikan dan penanggulangan KLB DBD sudah bagus. Namun setiap usulan dana dari APBD untuk kegiatan Pokjanal sering tidak mendapat persetujuan Pemda karena urusan DBD dianggap urusan dinas kesehatan. Adanya otonomi daerah pun malah mempersulit koordinasi. Namun pemahaman ditingkat kabupaten/kota secara general terhadap penanggulangan KLB belum optimal. Dari hasil kunjungan lapangan ke Puskesmas diketahui bahwa dana atau anggaran yang dipergunakan untuk operasional penanggulangan penyakit menular di Puskesmas adalah sebagian besar mempergunakan dana operasional yang diperoleh dari program asuransi kesehatan masyarakat miskin (Askeskin). Hal ini menandakan terutama pada praktek di lapangan. Dalam operasional di lapangan sudah baik karena mereka langsung cepat tanggap untuk menangani KLB dan mencegah penyebaran lebih luas. kabupaten/kota sering lupa untuk mengirimkan laporan W2 (mingguan). meskipun sudah teralokasi namun sebagian besar alokasi anggaran dipergunakan untuk pengadaan obat dan peralatan (investasi) tidak berupa biaya operasional. Kalau tidak diminta oleh propinsi. Seperti terjadi di Sulsel.7 Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 51 . Di Sulsel terdapat Pokjanal yang terdiri dari lintas sektor. kabupaten/kota tidak mengirimkan. Masih banyak ditemukan masalah kurangnya atau lemahnya koordinasi untuk pemberantasan DBD. Hal tersebut berdampak pada pembiayaan untuk operasional Puskesmas dalam upaya penanggulangan KLB. terlihat persentase responden lebih tinggi dalam pemahaman surveilans. dimana dana APBN berkaitan dengan operasional di Puskesmas terbatas pada dana perbantuan untuk penguatan kapasitas. dimana sebagian responden adalah tenaga aparat dinas dan tenaga puskesmas yang memiliki informasi dalam praktek kegiatan surveilans.

3 28. seperti pelatihan tenaga puskesmas. penyediaan bahan-bahan pendukung untuk promosi kesehatan. serta peningkatan manajamen puskesmas. upah kader. biaya akomodasi. pembelian bahan bakar/solar. serta partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan penyuluhan. dan swadana puskesmas. Kader merupakan salah satu tenaga yang terlibat dan dibiayai dengan dana kegiatan surveilans dan penanggulangan KLB.0 30. seperti insektisida. sumber dana untuk pelaksanaan opersional penanggulangan DBD juga bersumber dari APBN dan APBD serta sumber lainnya. jasa kader. selain untuk peningkatan kapasitas puskesmas. biaya perawatan.0 0. seperti JPK-MM. Yang dimaksud dengan sumber dana lainnya adalah swadaya RS. transport supervisor. swadaya masyarakat.6 PENANGGULA NGAN KLB jml 10 1 3 % 100. fogging. larvasida.0 14. selain berasal dari APBN (dalam bentuk dana tugas perbantuan) dan APBD propinsi dan APBD kab/kota. juga berasal dari sumber lainnya. jasa dokter. khususnya di lingkungan RT/RW melalui posyandu. Sementara di tingkat puskesmas. biaya transfusi darah. penyuluhan. pembuatan laporan.0 75. penanggulangan kasus. sebagian besar kegiatan operasional surveilans dan penanggulangan DBD mengggunakan dana Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 52 . peralatan fogging.0 0. Begitupula dana APBD. seperti dalam pelaksanaan fogging fokus. penyelidikan epidemiologi.0 Sumber: Data Lapangan. Sedangkan di tingkat dinkes kab/kota. Salah satu peran kader jumantik adalah mendampingi petugas puskesmas dalam melakukan pemeriksaan di 20 rumah sekeliling rumah penderita jika ada kasus DBD. Dana tersebut digunakan untuk kegiatan peningkatan kapasitas. 2006 Sumber dana untuk kegiatan surveilans dan penanggulangan di tingkat dinkes propinsi bersumber dari APBN (dekonsentrasi) dan APBD propinsi. Bila tidak mencukupi menggunakan dana program.0 10.0 DINKES KAB/KOTA SURVEILAN S jml 7 1 2 % 100. Sumber dana lain tersebut didapat dari kelompok masyarakat yang peduli terhadap penanganan kesehatan masyarakat.0 80. sumber dana untuk kegiatan surveilans berasal dari dana operasional puskesmas (DOP). pembelian obat-obatan. sebagian dana diberikan untuk pembelian bahan operasional.LAPORAN AKHIR Distribusi sumber dana di Dinkes Propinsi dan Dinkes Kab/Kota DINKES PROPINSI SUMBER DANA SURVEILANS jml APBD APBN Lainnya 4 3 0 % 100. pembelian insektisida. pembelian mesin. Dana APBN didapat dalam bentuk dana dekonsentrasi yang disalurkan melalui APBD propinsi. Tidak ada dana yang spesifik diperuntukkan untuk kegiatan surveilans. Berdasarkan wawancara dengan beberapa kepala puskesmas di lapangan.0 PENANGGULA NGAN KLB jml 5 4 0 % 100. dan penanggulangan fokus.

0 0. Namun tidak menutup kemungkinan pendanaan dapat juga berasal dari APBN. Di kota Surabaya bahkan terkadang menggunakan dana pribadi. seperti terjadi di Sulsel. Sedangkan untuk tingkat kabupaen/kota. Dana yang digunakan untuk penanggulangan KLB berasal dari APBN (Dekon) dan APBD. Baik APBD propinsi maupun APBD kabupaten/kota atau APBD sharing.0 0.LAPORAN AKHIR operasional umum yang ada di puskesmas.8 Distribusi Sumber Dana di RS dan Puskesmas RS SUMBER DANA SURVEILANS jml APBD APBN Lainnya 1 1 0 % 100. hampir semuanya menggunakan dana APBD. Untuk tingkat kabupaten/kota penggunaan dana terbanyak berasal dari APBD baik APBD murni. Masalah lain dalam aspek dana berkaitan dengan proses pencairan yang dirasakan prosesnya selalu lama dan terlambat. maupun APBD-ABT yang diajukan sebagai tambahan.9 14. 2006 Operasional surveilans di tingkat propinsi menggunakan dana APBN murni maupun Dekon.0 25.0 PUSKESMAS SURVEILAN S jml 3 1 6 % 42. Sementara untuk puskesmas.4 Sumber: Data Lapangan. Tabel 4. Contoh di Jawa Barat DIPA Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 53 . Alokasi dana terbanyak adalah untuk obat dan peralatan (investasi). Sehingga wajar saja jika digunakan sumber lain. 2 milyar yang berasal dari dana dekon (APBN) khusus untuk penanggulangan KLB.0 PENANGGUL ANGAN KLB jml 4 0 1 % 100.0 100. Di rumah sakit tidak terdapat dana surveilans. serta dana APBD. Tidak jarang puskesmas juga harus menggunakan dana swadaya masyarakat atau pribadi.1 71. Untuk tingkat puskesmas. bila dana yang diusulkan belum turun. seperti halnya kabupaten Gresik.3 85. rata-rata penggunaan operasional surveilans berasal dari APBD. yaitu berasal dari APBN dan APBD (Gakin).1 7. Hanya rumah sakit Gresik yang menyatakan adanya dana surveilans. selain dana penanggulangan dari APBD. seringkali harus menggunakan dana tambahan dari PKPS-BBM (JPKMM) maupun Askeskin karena seringnya dana terlambat dicairkan. Hal tersebut karena dalam prakteknya kegiatan operasional di lapangan dilakukan oleh semua petugas puskesmas. yang ada hanya pencatatan pelaporan yang dilakukan di bagian rekam medis.7 PENANGGUL ANGAN KLB jml 8 1 10 % 57. Walaupun beberapa puskesmas terkadang menggunakan dana JPKMM sebagai tambahan. Seperti ditemukan di puskesmas Duduk Sampeyan dan puskesmas Kebomas. Hal ini karena adanya kebijakan setiap propinsi mendapatkan dana Rp.

antara lain pelatihan petugas kesehatan. (d) pemantauan jentik berkala.9 Distribusi Ketersediaan SOP Surveilans di Dinkes Propinsi. peran swasta dalam kontribusi dana belum optimal. Dinas Kesehatan Propinsi selanjutnya menyusun Prosedur Tetap (Protap) Penanggulangan DBD sebagai pedoman/acuan pelaksanaan kegiatan Dinas Kesehatan Propinsi dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. (d) fogging massal. Pedoman yang bersifat teknis di lapangan diwujudkan dalam bentuk SOP. khususnya penyakit DBD. Di propinsi Kalimantan Timur yang merupakan daerah endemis DBD. (a) penemuan dan pelaporan penderita. Materi yang disusun dalam Protap ini adalah langkah-langkah penanggulangan DBD sebagai berikut: 1. RS dan Puskesmas Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 54 . 2. Keberadaan SOP penting untuk panduan petugas. Sementara SOP kegiatan penanggulangan KLB tampaknya sudah cukup banyak dimiliki di semua level. Penanggulangan KLB. (3) Standar Operasi dan Prosedur (SOP) Upaya penanggulangan kejadian luar biasa (KLB)/penyakit menular. 3. Bahkan meskipun sudah dibentuk Yayasan Penanggulangan DBD dengan SK Walikota dan didanai oleh perusahaanperusahaan minyak. pada dasarnya dilaksanakan berpedoman pada arah kebijakan dan program dari Pemerintah Pusat (Departemen Kesehatan). Pemberantasan Nyamuk Penular DBD. Pelaksanaan SOP kegiatan surveilans dilakukan berdasarkan pedoman dan peraturan. Sedangkan di tingkat puskesmas dan RS masih sangat rendah. (c) abatisasi. (b) Gerakan PSN. DBD masih merupakan masalah besar di Kaltim. Peningkatan SDM. (a) penyuluhan. 4. Kewaspadaan Dini. Tabel 4. Lebih banyak dana dikucurkan untuk kuratif. (b) terhadap jentik nyamuk. Pada tingkat dinkes propinsi maupun dinkes kab/kota keberadaan SOP dalam bentuk peraturan dan pedoman cukup baik. Proporsi anggaran untuk preventiv (surveilans) dan kuratif (penanggulangan) tidak seimbang. (a) terhadap nyamuk dewasa. (b) penangggulangan focus. Dinkes Kab/Kota. (c) bulan kewaspadaan DBD.LAPORAN AKHIR seringkali terlambat.

8 42.0 PUSKESMA S jml 7 8 15 13 13 11 8 % 36.0 0.4 57.1 SOP Sumber: Data Lapangan.3 100.9 68. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 55 .0 100.LAPORAN AKHIR SOP DINKES PROPINSI jml % 5 3 83.0 DINKES KAB/KOTA jml 7 9 10 10 7 9 4 % 63.0 Pedoman Peraturan 4 1 Sumber: Data Lapangan.1 14.0 80. Di tingkat kabupaten/kota SOP yang ada selain mengadopsi dari pusat juga mengadopsi SOP yang dibuat oleh Dinkes propinsi. pedoman SKD-KLB.0 DINKES KAB/KOTA jml 11 4 % 91.1 jml RS % 57.9 42.0 50.0 80. kab/kota.0 50. rumah sakit maupun puskesmas yang ada mencakup peraturan SKD-KLB. laporan penyakit potensi KLB.8 36. pedoman penyelidikan KLB. 2006 Propinsi belum membuat SOP sendiri.0 75.0 75.0 100.10 Distribusi Ketersediaan SOP Penanggulangan KLB di Propinsi.0 100.6 81. 2006 SOP dalam rangka penanggulangan KLB di Dinkes propinsi. Tabel 4. pedoman cara pelaporan. Dinkes Kab/Kota. dan laporan kondisi rentan KLB.9 63.6 81. Kedepan propinsi juga akan menyusun Standar Pelayanan Minimal (SPM) dan Standar operasional (SOP) agar SOP bisa operasional di lapangan. selama ini masih mengikuti pedoman dari pusat.9 90.0 50.1 78. RS dan Puskesmas DINKES PROPINSI jml Peraturan SKD-KLB Pedoman SKD-KLB Pedoman penyelidikan KLB Pedoman Penanggulangan KLB Pedoman Cara Pelaporan Laporan Penyakit Potensi KLB Laporan Kondisi Rentan KLB 5 5 5 5 5 4 4 % 100.0 100. Penyusunan SOP dimaksud dilakukan dengan melibatkan lintas program.4 jml 3 3 2 3 2 2 3 RS % 75.3 PUSKESMAS jml 12 0 % 50. pedoman penanggulangan KLB.4 68.0 75.8 90.7 57.

LAPORAN AKHIR

Dari Tabel 4.10 tergambarkan keberadaan SOP di masing-masing tingkatan. Seperti halnya SOP dalam rangka kegiatan surveilans, pada kegiatan penanggulangan, setiap dinkes propinsi dan kabupaten/kota memiliki cukup lengkap pedoman dan peraturan sebagai landasan operasional penanggulangan penyakit. Namun demikian SOP dimaksud tidak secara lengkap dimiliki oleh puskesmas. Rumah sakit memiliki SOP penanggulangan cukup baik dibandingkan SOP surveilans. Hal ini dipahami berkaitan dengan fungsi rumah sakit sebagai unit rujukan dalam penanganan kasus penyakit menular termasuk kasus DBD. Walaupun keberadaan SOP dimaksud cukup lengkap hampir pada setiap tingkat unit pelayanan kesehatan, namun demikian keberadaan pedoman belum tentu digunakan. Seperti halnya di RSU Ujung Berung, di propinsi Jawa Barat SOP yang ada dianggap kurang operasional karena tidak sesuai dengan kondisi dan permasalahan yang ada di lapangan. Upaya yang dilakukan dalam melakukan operasionalnya dilakukan dengan membuat SOP yang lebih rinci dan sederhana menjabarkan SOP yang dibuat dinkes propinsi maupun dinkes kab/kota. Yang menarik adalah di RSUD Mataram yang juga merupakan rumah sakit pendidikan dan memilki tim pokja DBD, hanya laporan kondisi rentan KLB yang mereka miliki. Namun mereka juga membuat standar operasional dalam pertolongan pasien DBD yang tidak terdapat dalam ke-enam SOP tersebut. (4) Data

Ketersediaan data, baik pada kegiatan surveilans maupun penanggulangan KLB sangat penting. Data untuk surveilans yang dibutuhkan mencakup kasus, jentik, vektor dan curah hujan. Dari ke-4 data tersebut ternyata hanya data kasus yang tersedia di semua tingkatan. Data jentik yang sangat penting pun tidak tersedia kecuali pada level puskesmas. Jumlah puskesmas yang memiliki data tersebut sangat sedikit. Ketiadaan data di tingkat RS dikarenakan fungsi rumah sakit yang lebih sebagai kuratif. Informasi data surveilans diperoleh berdasarkan data dari seksi surveilans, yang notabene tidak melakukan pengumpulan data jentik, vektor maupun curah hujan. Baik di tingkat propinsi maupun di tingkat kabupaten/kota. Adapun informasi jentik dan curah hujan dilakukan oleh seksi pemberantasan penyakit (program DBD) yang bekerjasama dengan sanitasi. Oleh karena informasi yang diperoleh berasal dari seksi surveilans, maka ketiga data tersebut tidak ada. Sementara di bagian pemberantasan penyakit sendiri juga terdapat bagian surveilans, yang melakukan pengumpulan data rutin DBD. Oleh karena itu bukan berarti dalam surveilans data mengenai jentik dan vektor tidak ada, informasi mengenai jentik dan vektor tidak bisa didapatkan. Hal tersebut dapat dilihat dari informasi penanggulangan yang merupakan perpaduan informasi dari seksi surveilans dan pemberantasan. Tabel 4.11 Distribusi Ketersediaan Data Surveilans di Dinkes Propinsi, Dinkes Kab/Kota, RS dan Puskesmas

Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular

56

LAPORAN AKHIR

DATA

DINKES PROPINSI jml % 100.0 0.0 0.0 0.0

DINKES KAB/KOTA jml 6 0 0 1 % 100.0 0.0 0.0 16.7 jml 4 0 0 0

RS % 80.0 0.0 0.0 0.0

PUSKESMAS jml 11 2 0 0 % 100.0 18.2 0.0 0.0

Kasus Jentik Vektor Curah hujan

3 0 0 0

Sumber: Data Lapangan, 2006 Data yang dibutuhkan untuk penanggulangan DBD mencakup kasus, jentik, lingkungan/genangan, perilaku 3M, vektor, curah hujan dan logistik. Terlihat pada tabel di bawah ini bahwa data yang paling banyak tersedia adalah data kasus dan jentik. Tampaknya di dinkes propinsi dan dinkes kab/kota, data lebih lengkap tersedia dibandingkan di tingkat RS dan puskesmas. Tabel 4.12 Distribusi Ketersediaan Data Penanggulangan KLB di Propinsi, Dinkes Kab/Kota, RS dan Puskesmas
DINKES PROPINSI jml Kasus Jentik Lingkungan/genan gan Perilaku 3M Vektor Curah hujan Logistik 5 3 1 0 1 1 2 % 100.0 60.0 20.0 0.0 20.0 20.0 40.0 DINKES KAB/KOTA jml 12 12 4 2 1 1 4 % 100.0 100.0 33.3 16.7 8.3 8.3 33.3 jml 5 0 0 0 0 0 2 RS % 71.4 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 28.6 PUSKESMAS jml 18 7 1 0 1 2 5 % 94.7 36.8 5.3 0.0 5.3 10.5 26.3

DATA

Sumber: Data Lapangan, 2006 Di Dinkes Kota Bandung Jawa Barat kegiatan surveilans dilakukan secara manual dengan cara pengumpulan data, pencatatan dan pelaporan. Sementara pelaporan yang dilakukan Puskesmas dikirim langsung oleh petugas puskesmas ke dinas kesehatan kota sesuai format yang ditentukan dalam bentuk manual. Sharing informasi antar petugas bidang/unit puskesmas dilakukan dalam bentuk ”rakor bulanan”, sekaligus ajang tukar informasi dan pengalaman serta upaya pemecahan masalah yang ditemukan.
Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular

57

LAPORAN AKHIR

Temuan lain yang di dapat di lapangan adalah tidak dikumpulkannya data jentik, vektor, dan curah hujan. Selain itu ketepatan dan kelengkapan laporan dari kabupaten masih rendah. Juga belum dilakukan analisis data baik di tingkat propinsi maupun kabupaten (baru bersifat pengumpulan data). Sehingga untuk SKD-KLB data yang seharusnya dapat dilihat /diprediksi diawal untuk kewaspadaan terjadinya KLB, belum dilakukan. Selama ini propinsi tidak pernah mempermasalahkan validitas data yang dilaporkan. Untuk pengecekan data biasanya menyamakan informasi yang berasal dari media massa. Propinsi belum mempunyai sistem peringatan ke kabupaten bila terjadi keterlambatan atau ketidak lengkapan. (5) Sarana Ketersediaan sarana penunjang kegiatan surveilans terlihat pada tabel berikut ini. Dari tabel tersebut terlihat bahwa jumlah sarana masih sangat terbatas. Kepemilikan sarana transportasi dan pengolah data, dari level puskesmas hingga dinkes propinsi berkisar 11-50% saja. Sementara untuk sarana komunikasi sudah lebih baik; meskipun untuk level RS dan puskesmas masih perlu ditambah. Tabel 4.13 Distribusi Ketersediaan Sarana Surveilans di Dinkes Propinsi, Dinkes Kab/Kota, RS dan Puskesmas
DINKES PROPINSI jml Transportasi Pengolah data Komunikasi 3 3 6 % 50.0 50.0 100.0 DINKES KAB/KOTA jml 4 5 10 % 36.4 41.7 83.3 jml 1 4 6 RS % 11.1 44.4 66.7 PUSKESMAS jml 11 9 14 % 50.0 40.9 63.6

SARANA

Sumber: Data Lapangan, 2006 Bila di lokasi kajian lain, peralatan pengolah data sudah menggunakan komputer, tidak halnya di Puskesmas Benteng Hilir yang masih menggunakan cara manual. Padahal di puskesmas lainnya, sudah disediakan komputer. Faktor geografis rupanya menentukan jenis alat komunikasi dan dipakai. Di propinsi Jawa Timur, semua wilayah dapat dijangkau dengan telepon, sementara di NTB tidak hanya memanfaatkan telepon sebagai alat komunikasi, tetapi juga SSB. Di kabupaten Lombok Tengah yang menggunakan SSB sebagai sarana komunikasi karena belum adanya kabel telepon. Di propinsi Riau, sarana komunikasi menggunakan telepon, walaupun tidak semua wilayah dapat dijangkau dengan fasilitas telepon. Untuk kegiatan penanggulangan KLB, ketersediaan/kepemilikan sarana yang diperlukan terlihat sudah jauh lebih baik daripada ketersediaan/kepemilikan
Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular

58

dan di Puskesmas Bojong Gede selain ada 1 mobil juga tersedia 1 motor.3 75.7 33. sementara di Dinkes Kabupaten Bogor hanya 1 mobil.0 100. tersedia 3 mobil. Tabel 4.7 72. seperti yang terjadi di Dinkes Kabupaten Gowa dan Puskesmas Palangga di Sulsel.8 50.LAPORAN AKHIR sarana untuk kegiatan surveilans. alat transportasi untuk surveilans dalam kondisi rusak. Kondisinya pun belum tentu bisa digunakan. 2006 Sarana yang dimiliki ada yang statusnya “tidak khusus” untuk kegiatan surveilans atau penanggulangan KLB.3 83. Di propinsi Jabar. yaitu di Dinas Kesehatan Kota Bandung. tetapi hanya 1 yang bisa digunakan. karena tidak adanya fasilitas kantor.0 66. Selain itu.3 66.2 44.3 83. Senter digunakan untuk surveilans khususnya dalam penemuan jentik dari rumah ke rumah.3 0.2 77. seringkali digunakan fasilitas pribadi seperti handphone. Pengadaan insektisida dan fogging fokus untuk beberapa propinsi di kirim oleh Dinkes Propinsi karena kab/kota belum siap.0 58.0 0 DINKES KAB/KOTA jml 10 10 9 4 11 12 7 % 83. Sarana utama yang dibutuhkan dalam penanganan kasus DBD adalah adanya fogging fokus serta insektisida.0 72. Artinya bisa digunakan juga untuk kegiatan lainnya.7 66.3 jml 2 5 4 4 2 0 4 RS % 33. Namun. Berkaitan dengan jumlah dan jenis sarana. Di Dinkes Kota Samarinda. RS dan Puskesmas DINKES PROPINSI jml Transportasi Pengolah data Komunikasi Obat Insektisida Alat penyemprot Alat Penyuluhan 4 5 5 4 5 3 0 % 80.0 100. 0 100. Satu hal yang unik adalah ketiadaan sarana senter. Umumnya sarana yang demikian adalah untuk jenis transportasi. maupun dinkes di kab/kota. rumah sakit dan puskesmas.0 33. Untuk alat komunikasi. Bahkan yang Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 59 . Kaltim.3 91. 0 60. dalam kenyataannya terdapat variasi di berbagai dinkes propinsi. Misalnya di Dinkes Kota Samarinda tersedia 2 motor. misalnya. 0 80.4 55.7 100. kondisinya pun belum tentu bagus. alat penyemprot dan alat penyuluhan masih kurang tersedia di semua level. obat.14 Distribusi Ketersediaan Sarana Penanggulangan KLB di Propinsi. untuk insektisida.7 PUSKESMAS jml 12 13 14 9 13 8 10 % 66. Dinkes Kab/Kota.6 SARANA Sumber: Data Lapangan.

LAPORAN AKHIR

sangat menyedihkan, di puskesmas Temindung Kaltim penggantian biaya batere untuk senter hanya setahun sekali saja. 4.3 Peran dan Tanggung Jawab Penanggulangan Penyakit DBD Pemerintah Daerah dalam

4.3.1 Kewenangan Daerah dan Standar Pelayanan Minimum Sejak diberlakukannya paket UU Otonomi Daerah (UU No. 22 dan No. 25 tahun 1999 yang kemudian direvisi menjadi UU No. 32 dan No. 33 tahun 2004) telah terjadi perubahan pembagian fungsi antara pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten/kota. Sesuai dengan UU No. 22 tahun 1999 dan SK Menkes RI No. 1147 tahun 2000, maka tugas Depkes Pusat adalah menyusun kebijakan nasional, pedoman, standar, petunjuk teknis, fasilitasi dan bantuan teknis kepada daerah, sementara fungsi-fungsi yang bersifat operasional sudah harus diserahkan kepada daerah (propinsi dan kabupaten/kota). Penerapan UU tersebut, khususnya di bidang kesehatan belum disikapi dengan utuh, sehingga terkesan tidak tuntas dalam bertindak. Ini disebabkan adanya kegamangan dalam peran dan tanggungjawab di masing-masing jenjang ataupun instansi di pemerintahan. Selanjutnya pasal 12 UU No. 32/2004 menyatakan bahwa fungsi yang telah dilimpahkan kepada daerah tersebut termasuk tanggung jawab daerah untuk menyediakan sumberdaya yang diperlukan, termasuk pembiayaan, sarana dan ketenagaan yang diperlukan untuk melaksanakan standar pelayanan minimum (SPM). Untuk itu daerah wajib menyediakan pelayanan dasar yang dianggap esensial bagi kesejahteraan penduduk, termasuk di bidang kesehatan. SPM yang sekarang ini berlaku adalah daftar yang ditetapkan dalam Keputusan Menkes No. 1457/2003 (saat ini sedang dilakukan proses revisi). Dalam daftar tersebut ada 9 kewenangan wajib (KW) dan 31 jenis kegiatan/pelayanan/program, seperti dalam tabel di bawah. Tabel 4.15 Daftar KW dan SPM Bidang Kesehatan
No 1 Kewenangan Wajib (KW) Pelayanan Dasar No 1 2 3 4 5 6 7 8 Standar Pelayanan Minimum (SPM) KIA Kesehatan anak pra-sekolah 7 sekolah KB Imunisasi Pengobatan dan perawatan dasar Kesehatan Jiwa Kesehatan kerja *) Kesehatan usila *) Pemantauan pertumbuhan balita Pelayanan gizi

2

Giji Masyarakat

Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular

60

LAPORAN AKHIR 3 4 Rujukan dan Pelayanan Penunjang Pencegahan dan Penyakit Menular Pemberantasan 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Pelayanan obstetri dan neonatal emergency dasar Pelayanan emergency Surveilans dan pengendalian KLB kurang gizi Pencegahan dan pengobatan polio Pencegahan dan pengobatan TBC Pencegahan dan pengobatan infeksi saluran nafas Pencegahan dan pengobatan HIV/AIDS Pencegahan dan pengobatan DBD Pencegahan dan pengobatan Diare Pencegahan dan pengobatan Malaria *) Pencegahan dan pengobatan Kusta *) Pencegahan dan pengobatan Filaria *) Kesehatan lingkungan Pengendalian vektor Hygiene dan sanitasi tempat umum Promosi Kesehatan Promkes dan pengendalian penyalahgunaan obat Pengadaan obat dan bahan medis Obat generik Pembiayaan untuk pelayanan kesehatan perorangan Pembiayaan kesehata penduduk miskin dan risti

5 6 7 8 9

Kesehatan Dasar

Lingkungan

dan

Sanitasi

Promosi Kesehatan Pengendalian Napza Pelayanan Farmasi Pembiayaan kesehatan, kesehatan perorangan dan auransi kesehatan

18 19 20 21 22 23 24 25 26

Sumber: Depkes RI, 2006 *) Hanya di kab/kota tertentu

Berdasarkan hasil analisis tentang daftar SPM tersebut disebutkan bahwa kriteria yang tersirat dalam 3 kegunaan SPM seperti disebutkan dalam UU No. 32/2004 belum seluruhnya terakomodir. Tiga pelayanan dasar menurut UU tersebut adalah (1) hak konstitusi penduduk, (2) kepentingan nasional untuk kesejahteraan masyarakat, keamanan dan ketertiban umum serta integritas dan kesatuan nasional, (3) komitmen nasional terhadap kesepakatan dan konvensi internasional. Pelaksanaan SPM di tingkat kabupaten/kota ternyata menimbulkan kebingungan dan masalah. Pertama, penghitungan kebutuhan biaya untuk semua pelayanan dalam daftar SPM tersebut menghasilkan suatu jumlah yang tidak dapat ditanggung oleh banyak daerah. Ada daerah beranggapan bahwa pemerintah pusat harus menanggung selisih biaya yang tidak bisa ditanggung pemerintah daerah. Kedua, banyak daerah mengalami kesulitan menterjemahkan target nasional dalam target daerah. Misalnya, tidak banyak kabupaten/kota yang memiliki data dasar tentang prevalens penyakit, masalah kesehatan kerja, TBC dan penyakit lainnya, sehingga kesulitan dalam menetapkan target untuk Indonesia Sehat 2010. Ketiga, tidak mudah menterjemahkan target 2010 dalam target tahunan. Dalam kenyataan, banyak kabupaten/kota yang menetapkan target programnya atas dasar plafond anggaran yang akan diterima untuk tahun bersangkutan.
Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular

61

LAPORAN AKHIR

4.3.2 Peran Pemerintah daerah dalam Penanggulangan DBD Pemberantasan penyakit demam berdarah dengue (DBD) sangat tergantung pada peran besar pemerintah daerah, yang langsung menghadapi masyarakat. Daerah diharapkan lebih aktif menggerakkan masyarakatnya untuk menjaga lingkungan masing-masing. Peran daerah dalam penanggulangan DBD antara lain dilakukan dengan tindakan preventif seperti (1) mengeluarkan surat edaran kewaspadaan penyakit DBD kepada semua kepala dinas kesehatan kabupaten/kota, (2) kampanye gerakan pembersihan sarang nyamuk, (3) penyebaran poster, ceramah klinik penyegaran tata laksana kasus, maupun membahas penanganan dan antisipasi DBD. Pemerintah Provinsi memfasilitasi teknis dan pengamatan DBD di daerah endemis, membagikan bubuk abate dan malathion untuk pengasapan ke kabupaten/kota, selain juga memberikan bantuan cairan infus. Kebijakan pemerintah melalui PSN dalam mengendalikan tempat perindukan telah ditetapkan dan disosialisasikan melalui berbagai media. Usaha promosi kesehatan secara konvensional telah meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat mengenai pemberantasan DBD, namun belum diikuti dengan perbaikan sikap. Belajar dari negara tropis lainnya yang telah mengembangkan inovasi pemberdayaan masyarakat melalui COMBI (Communication for Behavioural Impact) menunjukkan bahwa sebelum menetapkan intervensi, perlu didasari pada suatu formative research yang mengungkap hal-hal yang dibutuhkan masyarakat (Park 2004, WHO 2003). Inovasi ini masih belum menjadi fokus perhatian dalam kegiatan PSN di Indonesia. Di propinsi pemantauan kasus terus dilakukan, para bupati dan wali kota disurati untuk mengantisipasi DBD, termasuk kampanye di media massa. Pemerintah Provinsi juga mendistribusikan abate, malathion, cynoft, dan filter paper ke kabupaten/kota. Selain itu juga dilakukan penyuluhan dan gerakan 3 M (menguras, menimbun, dan menutup tempat-tempat potensial perindukan nyamuk). Strategi penanganan DBD dilakukan dengan pengumpulan data kasus DBD dari RS, puskesmas, klinik swasta, pengumpulan data morbiditas kasus DBD yang lalu (tiga-lima tahun) yang akan dipakai sebagai data dasar. Pengumpulan data lapangan dengan mengunjungi rumah penderita, dan pencarian kasus baru, serta pengamatan terhadap perilaku masyarakat disertai penaburan abate 10 gr/100 lt pada TPA di setiap rumah penduduk dengan radius 400 meter persegi dari rumah kasus. Dinkes mengembangkan sistem kerja deteksi dini, yaitu mengidentifikasi berbagai kasus penyakit yang timbul, mulai dari gejala, penyebab, dan daerah sebarannya, terutama daerah rawan endemi. Pelaporan dini, pada tahap ini dilakukan Puskesmas sebagai ujung tombak dalam tindakan darurat mengatasi berbagai permasalahan.

Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular

62

meski prosedur telah ada dan baku. Metode konvensional promosi kesehatan melalui KIE (Komunikasi Informasi Edukasi) dan advokasi telah meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat. sektor kesehatan masih dipandang sebagai aktor dan inisiator utama dalam pencegahan DBD. Praktis sektor kesehatan harus berjuang di tiap propinsi dan kabupaten/kota untuk mendapatkan anggaran. yang merupakan salah satu wadah koordinasi antar instansi/lintas sektor.3. Koordinasi yang sulit terlihat dari lambatnya mekanisme pelaporan kasus KLB. menjadi lebih sulit untuk dilakukan. Di tingkat Propinsi. Hal ini sejalan dengan temuan Siregar (2003) tentang tidak adanya hubungan bermakna antara fogging. Masalah lemahnya koordinasi lintas program dan lintas sektor. tidak/belum dapat berjalan dengan baik. abatisasi. tidak melibatkan instansi di luar kesehatan.3 Koordinasi antar sektor Koordinasi dengan instansi terkait di tingkat Kabupaten/Kota setelah adanya desentralisasi dan otonomi daerah. Dengan demikian daerah harus merencanakan dan menganggarkan program kesehatan dan bersaing dengan sektor lain untuk mendapatkannya. Secara implisit DAU kesehatan dianggap sudah termasuk dalam formula tersebut walaupun sebenarnya secara eksplisit tidak ada. Dalam formula ini pembagian alokasi anggaran tidak hanya ke propinsi melainkan sampai ke sekitar 400-an kabupaten/kota di Indonesia. karena tenaga Pokja DBD tidak aktif. namun belum berhasil Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 63 . Masalah penanggulangan KLB semakin sulit penanganannya manakala mekanisme pelaporan tidak berjalan baik. Setiap usulan rencana kegiatan dan pembiayaan kegiatan Pokjanal DBD yang diajukan oleh masing-masing instansi terkait di luar kesehatan sering tidak mendapat persetujuan untuk mendapat dana APBD dari Pemerintah Daerah setempat. 4. Sebelum desentralisasi alokasi anggaran kesehatan dilakukan oleh pemerintah pusat dengan menggunakan model negosiasi ke propinsi-propinsi. dengan pertimbangan antara lain bahwa urusan penyakit menular DBD adalah urusan dinas kesehatan. pelaksanaan tugas kelompok kerja operasional (Pokjanal) DBD tingkat Propinsi. belum optimal. Hal ini disebabkan tidak adanya dukungan pendanaan dari masing-masing instansi terkait yang tergabung dalam Pokjanal DBD. masih dijumpai dalam pelaksanaan penanggulangan penyakit. Pada umumnya.LAPORAN AKHIR Kebijakan desentralisasi semakin rumit ketika harus dilaksanakan di sektor kesehatan yang mencakup area kegiatan luas dan yang selama ini didominasi peran pemerintah pusat. Pemberdayaan lintas sektor dalam menjalankan Pokja/Pokjanal DBD yang telah dibentuk. Hal ini dikarenakan ada kesan masing-masing Kabupaten/Kota dalam melaksanakan tugas dan kewenangannya tidak memerlukan bantuan/koordinasi Dinas Kesehatan Propinsi. PSN dan PJB dalam menurunkan insidens DBD di Kota Medan. Hal ini diperkuat oleh Halstead (2000) mengenai sukses dan kegagalan pengendalian penyakit DBD. meskipun prosedur pelaporan ada dan telah baku. Setelah desentralisasi kebijakan sektor kesehatan menghadapi apa yang disebut anggaran pembangunan melalui Dana Alokasi Umum (DAU) yang berbasis pada formula.

2004). Semua petugas sektor kesehatan memiliki panduan mengenai tata laksana penanggulangan penyakit DBD yang diterbitkan oleh Departemen Kesehatan RI. Walaupun demikian hasil wawancara dengan masyarakat menunjukkan bahwa masyarakat mengakui PSN melalui 3M lebih baik dan lebih murah daripada pengasapan. Mekanisme PSN-DBD terhadap masyarakat diakui berjalan dengan baik. promosi kesehatan maupun lintas sektor dari lingkungan dan dinas tata kota.LAPORAN AKHIR memperbaiki perilaku. Parks. kesehatan lingkungan. 2004: Umniyati. menindaklanjutinya dengan menyusun protap pelaksanaan di lapangan. bahkan seorang di antara enam Kepala Puskesmas yang diwawancarai. diharapkan dapat merangkum berbagai pihak terkait dari lintas program pemberantasan penyakit. Hampir seluruh petugas memahami takaran larutan untuk fogging dan mengatakan bahwa fogging fokus dilaksanakan hanya setelah ada kasus. Petugas dinas kesehatan mengemukakan esensi intensifikasi penyuluhan mengenai PSN-DBD pada masa rendah penularan penyakit Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 64 . walaupun tidak di seluruh tempat. Communication for Behavioural Impact (COMBI) menawarkan pendekatan dinamis untuk mengubah perilaku dalam pengembangan sosial (Kusriastuti. Adanya usulan mengenai pembentukan dan pengaktifan Tim Epidemiologi Kota sebagai wahana untuk penelusuran penyakit berbasis lingkungan. 2004. tidak dilakukan sebelum masa penularan. Diakui oleh para petugas kesehatan adanya peminatan masyarakat yang lebih tinggi terhadap fogging bila dibandingkan dengan PSN.

Kualitas dan kualifikasi masih belum terpenuhi sesuai dengan bidang tugas dan kompetensinya. peta rawan tidak selalu tersedia. Hampir semua level baik di propinsi hingga kabupaten/kota termasuk puskesmas dan rumah sakit mengalami masalah ketenagaan dalam kegiatan surveilans dan penanggulangan. i. (3) sistem pengelolaan program penanganan penyakit menular masih didominasi pusat. (3) Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kinerja surveilans dan penanggulangan terkait dengan (1) tenaga. Pendidikan rata-rata perawat. beban kerja yang tinggi merupakan masalah yang hampir ditemukan disemua tingkatan.LAPORAN AKHIR BAB 5 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 5. (2) pengetahuan. (4) SOP. Diseminasi informasi dilakukan melalui penerbitan buletin kajian epidemiologi yang diterbitkan oleh dinkes propinsi dan dinkes kabupaten/kota. Tenaga. namun ketepatannya masih 60%. khususnya dalam pelaksanaan surveilans dan penanggulangan DBD. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 65 . iii. Tidak ada batas yang tegas yang membedakan antara Surveilans dan Penanggulangan dalam praktek operasional di lapangan. Kurangnya jumlah SDM. (2) Indikator Kinerja Surveilans dan Penanggulangan i.1 Kesimpulan (1) Kendala utama yang dihadapi dalam implementasi kebijakan penanggulangan penyakit menular dalam kasus DBD adalah (1) koordinasi antar instansi dan antar unit yang bertanggung jawab dalam penanganan DBD masih belum optimal. ii. Jumlah Kasus periode 2003-2005 cenderung stagnan untuk propinsi lokasi kajian (kecuali Jatim meningkat). hampir semua dinkes propinsi maupun dinkes kab/kota memiliki peta rawan. (4) tingginya beban puskesmas sebagai unit operasional utama di lapangan dalam implementasi kebijakan penanggulangan penyakit menular. Case Fatality Rate (CFR) DBD fluktuatif. (2) koordinasi antara pusat dan daerah belum dilandasi suatu kebijakan operasional yang jelas tentang kewenangan dan tanggung jawab masing-masing. (5) sarana. (3) dana. Sistem Pelaporan ditunjukkan dengan kelengkapan laporan mencapai 90-100%. Peta rawan. kualifikasi pendidikan yang belum sesuai. perpindahan yang begitu cepat. dan (6) data. iv. sedangkan data kematian cenderung meningkat. sedangkan di Puskesmas sebagai unit pelayanan dasar dan rumah sakit sebagai unit pelayanan rujukan. Sarjana (SKM) dan MKes.

Dana. tetapi tidak menjadi kendala dalam berjalannya sistem. dana untuk pelaksanaan penanggulangan penyakit menular dirasakan pihak daerah mencukupi. Di rumah sakit tidak terdapat dana surveilans.LAPORAN AKHIR Struktur organisasi Dinkes propinsi maupun Kab/Kota tidak menggambarkan pembedaan kedua tugas tersebut. Beberapa dinkes kabupaten/kota inisiatif melakukan modifikasi terhadap SOP yang dibuat Depkes. Dana menjadi persoalan dalam implementasi kebijakan penanggulangan penyakit menular. Pemahaman tentang surveilans dan penanggulangan KLB masih belum sama. mengadakan pertemuan/ lokakarya. SOP. khususnya ketika kasus terjadi. Permasalahan dana terutama berkaitan dengan (1) keterlambatan turunnya DIPA. Walaupun kondisi sarana dan prasarana untuk kegiatan penanggulangan penyakit menular tidak selalu memadai. Operasi lapangan untuk suatu kasus (DBD) serentak dilakukan Bidang pendidikan yang ada adalah perawat. rakor dan melakukan berbagai pelatihan di bidang surveilans maupun penangulangan penyakit. Dana yang digunakan untuk penanggulangan KLB berasal dari APBN (Dekon) dan APBD. yang ada hanya pencatatan pelaporan yang dilakukan di bagian rekam medis. iii. ii. Selain pelatihan formal. Dana operasional selain bersumber dari dana operasional umum juga memanfaatkan dana JPK-MM. Pada tingkat propinsi. khusus untuk KLB tersedia block grant dari pusat. dan epidemiologi. (2) ada masa ketiadaan anggaran. Untuk tingkat kabupaten/kota. v. pengetahuan tim pada umumnya dipenuhi dari pengalaman lapangan dalam penanganan P2M. Baik APBD propinsi maupun APBD kabupaten/kota atau APBD sharing. Puskesmas tidak memiliki alokasi dana khusus untuk kegiatan surveilans. sarana utama yang dibutuhkan dalam penanganan kasus DBD adalah adanya fogging fokus serta insektisida Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 66 . Namun demikian kebanyakan SOP tersebut belum operasional. iv. Upaya yang dilakukan Dinas Kesehatan Propinsi maupun kabupaten/kota dalam rangka peningkatan kemampuan adalah pembinaan teknis. Pengetahuan. hampir semuanya menggunakan dana APBD. Sarana. Hampir semua unit pelayanan kesehatan di daerah memiliki pedoman dan peraturan dalam rangka pelaksanaan surveilans dan penanggulangan DBD. dan (3) proporsi anggaran untuk preventif dan kuratif yang tidak seimbang.

Komitmen daerah dalam penyediaan anggaran (APBD) untuk penanganan penyakit menular belum optimal. Banyak kendala. belum dilakukan. Data. PE tidak dilakukan maksimal sesuai prosedur yang ada. dekonsentrasi maupun tugas perbantuan). Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 67 . namun belum maksimal melaksanakan surveilans karena keterbatasan tenaga. Ketepatan dan kelengkapan laporan dari kabupaten/kota masih rendah. sarana dan dana. (4) Kondisi umum Pelaksanaan Surveilans dan Penanggulangan DBD Ujung tombak pelaksanaan surveilans ada di Puskesmas. kecuali kalau ada kasus KLB yang menyebabkan sarana TT tidak mencukupi Pengobatan dapat dilakukan dengan baik kecuali kalau ada keterlambatan pengobatan akibat terlambat merujuk (5) Permasalahan operasional penanganan DBD juga dipengaruhi oleh sistem kepemerintahan yang belum sepenuhnya dapat mengakomodasi sistem perencanaan dan sistem keuangan yang baru. Validitas data yang dilaporkan tidak pernah dipermasalahkan Propinsi belum mempunyai sistem peringatan ke kabupaten bila terjadi keterlambatan atau ketidak lengkapan data. Data yang ada belum dilakukan analisis. baik di tingkat propinsi maupun kabupaten/kota (baru bersifat pengumpulan data). Aktivitas surveilans dilakukan oleh Tim Lapangan. namun belum maksimal.LAPORAN AKHIR pengadaan insektisida dan fogging fokus di supply oleh Dinkes Propinsi karena kab/kota belum siap vi. akibatnya kegiatan tindak lanjut yang seharusnya dilakukan tidak berjalan. Sehingga untuk SKD-KLB data yang seharusnya dapat dilihat /diprediksi diawal untuk kewaspadaan terjadinya KLB. Surveilans mulai diperlukan ketika ada kasus. yang paling menonjol adalah penanggulangan (PE). (2) Keterbatasan dana. karena tidak seimbang antar area yang harus dipantau dengan kemampuan sumberdaya yang tersedia. sebagai suatu kegiatan rutin. tidak setiap kasus DBD ditindaklanjuti dengan PE karena DBD dianggap kasus rutin. Penanggulangan DBD di Rumah sakit relatif tidak masalah. i. Hal ini berkaitan dengan masih cukup besarnya alokasi dana yang berasal dari APBN (dalam bentuk DAU. Namun pada saat kasus. Pengobatan dan isolasi penderita dirujuk ke rumah sakit. (3) ketiadaan sarana. Penyelidikan Epidemiolegi (PE) yang dilakukan Puskesmas belum maksimal. antara lain (1) keterbatasan tenaga.

Meningkatkan peran dan tanggung jawab Pemerintah Daerah melalui intensifikasi kegiatan sosialisasi. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 68 . Membangun dan mengembangkan kemitraan. dan evaluasi kegiatan pencegahan dan penanggulangan faktor resiko. promosi dan koordinasi. c. 6. Mengurangi secara bertahap dominasi peran pengelolaan program oleh pusat melalui pendelegasian kewenangan ke daerah serta peningkatan profesionalisme pengelola program di daerah. 9. Percepatan penyusunan kebijakan operasional dalam koordinasi pelaksanaan program antar pusat daerah yang mencakup aspek perencanaaan. Memperkuat kapasitas dan kapabilitas Puskesmas sebagai unit terdepan dalam operasionalisasi surveilans dan penanggulangan penyakit menular. Penyepurnaan SOP sesuai “local specific”. 2. Koordinasi penanganan kasus masih bersifat sporadis. 10. advokasi. b. 8. jejaring kerja informasi dan konsultasi teknis peningkatan komunikasi informasi dan edukasi (KIE) pencegahan dan pemberantasan penyakit.2 Rekomendasi Kebijakan Rekomendasi kajian yang diusulkan mencakup 1. d. Peningkatan koordinasi antar instansi dan antar unit dalam berbagai tingkatan dalam penanganan penyakit menular. 7. Optimalisasi penggunaan sarana dan prasarana dengan melibatkan peran aktif masyarakat. Melakukan bimbingan. baik pada internal sektor maupun lintas sektor. Peningkatan dukungan dana yang memadai dari APBN maupun APBD. pemantauan. serta pelaporan (evaluasi). Membangun dan mengembangkan kemitraan dan jejaring kerja informasi dan konsultasi teknis pencegahan dan penanggulangan faktor resiko. belum tertata dalam sebuah sistem yang aktif dan terstruktur. iii. 4. 5. malalui a. hal ini tampak dari keaktifan instansi kesehatan dalam penyebaran informasi kesehatan. dan sistem kesiapan dini (early warning system). Meningkatkan kemampuan tenaga pengendalian penyakit untuk melakukan pencegahan dan penanggulangan faktor risiko. validasi dan pengembangan “respond system”. bukan sebaliknya pemerintah daerah yang aktif meminta informasi. 3. 5. Diperlukan dukungan dalam bentuk peraturan perundangan dalam meningkatkan komitmen para pihak di daerah dalam rangkan pencegahan dan penanggulangan DBD. Keperdulian pemerintah daerah masih belum terlihat. analisis. pelaksanaan (monitoring). surveilans epidemiologi dan penanggulangan KLB/wabah.LAPORAN AKHIR ii. Peningkatan kualitas sistem pelaporan melalui ketepatan data.

selain kuratif. 5. Aspek Ketenagaan.3 Implikasi Kebijakan dan Rencana Tindak Lanjut Berdasarkan kesimpulan dan rekomendasi yang disampaikan. Aspek SOP. dibuat sesederhana mungkin agar memudahkan pelaksanaan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 69 . perlu di kelola secara profesional dan berkesinambungan dengan memanfaatkan teknologi yang tepat dan mudah diaplikasikan. Serta didukung jaringan dan kerjasama erat baik antar wilayah dan adimistrasi pemerintah maupun diantara para pelaku pemberantasan penyakit menular dan penyehatan lingkungan itu sendiri dalam satu wilayah. mendorong terbangunnya motivasi dan komitmen para 5. Aspek Pendanaan. langkah tindak lanjut yang diperlukan mencakup 1. diperlukan revitalisasi peran kelembagaan khususnya kelembagaan Puskesmas. Data dan Informasi. preventif. Diperlukan model manajemen pemberantasan penyakit dan penyehatan lingkungan secara terintegrasi yang berbasis wilayah kabupaten/kota dalam perspektif komprehensif. Pola pendanaan diharapkan dapat lebih fleksibel dan dimungkinkan untuk kebutuhan KLB dalam bentuk multiyears fund. Keberadaan data dan informasi yang akurat dan sinambung menjadi salah satu indikator kinerja pembangunan kesehatan. Motivasi dan komitmen selain muncul atas kesadaran memerlukan dukungan eksternal dalam bentuk insentif. Aspek Kelembagaan. Sebagai perangkat utama Kesehatan. 2. Puskesmas perlu diperkuat dengan kapasitas manajemen pelayanan untuk kegiatan yang bersifat promotif. dan rehabilitatif. kesehatan seperti askeskin sehingga kepastian dana sampai kepada masyarakat terjamin. promotif dan rehabilitatif) menyertai peran dimaksud secara memadai.LAPORAN AKHIR 11. 4. pelaksana pembangunan kesehatan di lapangan sebagai ujung tombak pembangunan kesehatan. opersional tenaga lapangan. perlu terus dikembangkan pola pendanaan sistem jaminan 3. sekaligus menjamin setiap masyarakat terlayani untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Dukungan pendanaan serta tenaga dan sarana dalam rangka pelaksanaan operasional pencegahan dan penanggulangan (preventif.

Jakarta: Prestasi Pustaka Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 70 . 2001. Successes and Failures in Dengue Control-Global Experience. Umar Fahmi. Standar Pengawasan Program Bidang Kesehatan.LAPORAN AKHIR DAFTAR PUSTAKA Achmadi. 2005. Subdit Arbovirosis. Jakarta: Infomedika Departemen Kesehatan Republik Indonesia. December-2000 [cited 9 Juli 2005] Available from : http://w3. 2005. Parks. Jakarta: PT Gramedia Bappenas. 2005. Pengantar Epidemiologi Penyakit Menular. A. 2003. Jakarta: Elex Media Komputindo Anies. Solusi Mencegah Menanggulangi Penyaki Menular. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Reka Cipta.A. Scott B. 2000. Jakarta: Penerbit Buku KOMPAS Anies. Ditjen PP & PL Depkes RI Muninjaya.org/en/Section10/Section332 Kusriastuti. Soekidjo. Jakarta: Ditjen P2M & PL. Modul Surveilans Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Mewaspadai Penyakit Lingkungan. Departemen Kesehatan RI Halstead. JMES. Rita. Pemberantasan Demam Berdarah Dengue (DBD) Hadinegoro. Sri Rezeki. Nur Nasry. Kebijakan Penanggulangan Demam Berdarah Dengue di Indonesia. Gde. 2006. 2004. Tata Laksana Demam Berdarah Dengue di Indonesia.whosea. Manual Pemberantasan Penyakit Menular. Dengue Bulletin Volume 24. 2006. 2005. 2004.2006. Notoatmodjo. Manajemen Kesehatan. Metodologi Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. dkk. 2005. Manajemen Berbasis Lingkungan.2004. Pencegahan Pemberantasan Demam Berdarah Dengue di Indonesia dan dan Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Will & Linda Lloyd. Gempur. Progress Report on The Millenium Development Goals Chin. World Health Organization Santoso. 2005. Jakarta: EGC Noor. Planning social mobilization and communication for dengue fever prevention and control. Manajemen Penyakit Berbasis Wilayah. Jakarta: Rekacipta.

2003. Peraturan Perundangan Peraturan Pemerintah No. 2001. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran. Resna A. 2003. 1479/MENKES/SK/X/2003 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular dan Penyakit Tidak Menular Terpadu Keputusan Menteri Kesehatan RI No. EGC.. Analisa Penatalaksanaan Penanggulangan Demam Berdarah Dengue (DBD) dalam menurunkan Insidens DBD dan Menentukan Kebijakan Operasional di Kota Medan. Universitas Airlangga. 4 Tahun 1991 tentang Penanggulangan Penyakit Menular Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 949/Menkes/SK/VIII/2004 tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Kewaspadaan Dini Kejadian Luar Biasa (KLB) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1984 Tentang Penyakit Menular Keputusan Menteri Kesehatan RI No. Sulastomo. 1116/MENKES/SK/VIII/2003 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 949/MENKES/SK/VIII/2004 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Kewaspadaan Dini Kejadian Luar Biasa (KLB) Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 71 . Penanggulangan Wabah Oleh Puskesmas.LAPORAN AKHIR Siregar. dan Azrul Azwar. 1989. Sari Nurhamida. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama World Health Organization. Manajemen Kesehatan. Soerawidjaja. Panduan Lengkap Pencegahan & Pengendalian Dengue dan Deman Berdarah Dengue. Jakarta : Bina Putra Aksara.

LAPORAN AKHIR Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 72 .

Identifikasi faktor-faktor yang menghambat system informasi manajemen surveilans penyakit menular b. Identifikasi peran dan tanggungjawab Pemerintah Daerah dalam penanggulangan penyakit menular c. Tujuan a.LAPORAN LAMPIRAN 1 AKHIR RANCANGAN INSTRUMEN KAJIAN I. Tenaga • Sarana • Dana • Protap • Pengetahuan ttg Wabah & Penanggulangan • Pelatihan Definisi Operasional • • Informasi surveilans • Pengambilan Keputusan SURVEILANS • Potensi komunitas Input Koordinasi lintas sektor Upaya perbaikan kondisi rentan Sistem kewaspadaan dini Penyelidikan & Penanggulangan wabah Kesiapsiagaan menghadapi wabah • Wabah tidak menjadi masalah kesehatan masyarakat Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 73 . Identifikasi langkah-langkah yang dilakukan dalam penanggulangan penyakit menular II. Kerangka Konsep SURVEILANS INPUT • • • • • • • PROSES • Koordinasi kegiatan pengumpulan • Validasi • Pengolahan data • Analisis data • Supervisi pengumpulan • Supervisi pengolahan OUTPUT Tenaga Dana Sarana Pengetahuan yang benar Pelatihan Metoda pengumpulan data Potensi komunitas • Identifikasi masalah • Penyelidikan sebab masalah • Diseminasi PENANGGULANGAN WABAH PENYAKIT MENULAR INPUT PROSES OUTPUT • • • • • III.

pemenuhan dan sumber dana kegiatan surveilans. 4. Metoda pengumpulan data merupakan keberadaan tata laksana kegiatan pengumpulan data dan kesesuaian dengan fungsinya. Pengetahuan petugas merupakan pemahaman petugas tentang karakteristik dan kegiatan penanggulangan penyakit menular. 6. Partisipasi komunitas merupakan peran serta berbagai kelompok komunitas (seperti: tenaga kesehatan. Protap merupakan keberadaan peraturan yang sesuai dengan fungsinya dalam kegiatan. 3. Dana merupakan ketersediaan pengalokasian. 4. Proses 1. Supervisi pengumpulan merupakan keberadaan pengawasan terhadap proses pengumpulan data. pemenuhan dan sumber dana kegiatan. 6. 2. Identifikasi masalah merupakan hasil analisis data yang sudah diproses untuk mengetahui kemungkinan munculnya/timbulnya kejadian (morbiditas/mortalitas) penyakit menular. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 74 . Kelengkapan diukur berdasarkan SOP yang ada PENANGGULANGAN PENYAKIT MENULAR Input 1. Diseminasi merupakan ketepatan waktu penyebaran dan kelengkapan informasi surveilans kepada pihak-pihak yang berkepentingan (pengambil keputusan). Analisis data merupakan ketepatan penggunaan teknik analisa data. Koordinasi kegiatan pengumpulan merupakan kerjasama tim surveilan dengan komunitas dan koordinasi di dalam tim itu sendiri dalam melakukan pengumpulan data 2. 5.LAPORAN AKHIR 1. 6. 5. 2. Validasi merupakan kesesuaian proses kegiatan dengan SOP yang sudah ada. Penyelidikan sebab masalah merupakan proses identifikasi sumber/penyebab timbulnya masalah 3. 2. Pengetahuan petugas merupakan pemahaman petugas tentang survailans penyakit menular. Pelatihan merupakan pernah dan tidaknya petugas mendapatkan pelatihan tentang penanggulangan penyakit. Pelatihan merupakan pernah dan tidaknya petugas mendapatkan pelatihan tentang surveilans penyakit. Dana merupakan ketersediaan pengalokasian. Tenaga merupakan pelaksana kegiatan penanggulangan wabah yang meliputi jumlah pelaksana dan latar belakang pendidikan serta lamanya bekerja. Sarana merupakan ketersediaan dan kesuaian fasilitas alat atau bahan yang diperlukan dalam melakukan kegiatan penanggulangan wabah. 3. 5. Sarana merupakan ketersediaan dan kesuaian fasilitas alat atau bahan yang diperlukan dalam melakukan kegiatan surveilans. 4. Tenaga merupakan pelaksana kegiatan surveilans yang meliputi jumlah pelaksana dan tingkat pendidikan serta lamanya bekerja di surveilans. Pengolahan data merupakan ketapatan waktu dan keakuratan suatu data di olah. Output 1. masyarakat/toma/toga) dalam kegiatan surveilans. 3. 7. Supervisi pengolahan merupakan keberadaan pengawasan terhadap proses pengolahan data.

dan penyilidikan wabah yang dilakukan oleh pihak yang bertanggung jawab (Dinas kesehatan dan pusat). Pengambilan Keputusan merupakan individu yang bertanggung jawab dalam pengambilan keputusan dalam kegiatan penanggulangan. penyelidikan awal dan laporan perkembangan wabah (periodik). Sistem kewaspadaan dini merupakan pelaksanaan pemantauan terus menerus terhadap munculnya kerawanan yang terjadi pada unsur-unsur dasar penyebab terjadinya suatu wabah. 9. Upaya perbaikan kondisi rentan merupakan upaya pencegahan melalui perbaikan keadaan yang menjadi sebab timbulnya kerentanan. Pencegahan merupakan upaya memutus mata rantai penularan. Wabah tidak menjadi masalah kesehatan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 75 . Potensi komunitas merupakan peran serta berbagai kelompok komunitas (seperti: tenaga kesehatan. dan ketepatan waktu yang diterima oleh pihak-pihak pengambil keputusan. Surveilans Ketat merupakan upaya pemantauan kecenderungan wabah. dan peningkatan jumlah penderita yang merupakan indikasi adanya kemungkinan meletusnya suatu wabah. 4.LAPORAN AKHIR 7. 2. Proses 1. Pelayanan pengobatan merupakan upaya pengobatan terhadap kelompok yang berisiko. Koordinasi lintas sektor merupakan kerjasama antar pihak-pihak yang bertanggung jawab dalam penanggulangan wabah. Penyelidikan merupakan proses kegiatan kajian penyelidikan pendahuluan dan laporan awal. 8. 3. masyarakat/toma/toga) dalam kegiatan penanggulangan wabah. ketepatan dan kelengkapan data. Informasi Surveilans merupakan hasil output system surveilans yang sudah diolah dan dianalisis dengan melihat ada dan tidaknya informasi. 5. 7. Output 1. 6.

Ka RT. petugas P2M.Pustu/polindes. staf Kesling 5. seksi surveilance. kasubdin P2M. Tingkat Pusat antara lain P2M.LAPORAN AKHIR IV. Masyarakat anatar lain: : Ka Desa. Tingkat Kabupaten antara lain: kepala dinas kesehatan. Sumber Informan adalah petugas yang terkait dengan pelaksanaan surveilans dan penanggulangan penyakit menular. Puskesmas: Kepala Puskesmas. yaitu: 1. Biro Kesra 4.. Kader Kesehatan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 76 . Yanmedik dan Binkesmas 2. Bappeda. Tingkat Provinsi antara lain: 3. Draft Instrumen Instrumen yang akan dirancang adalah instrument untuk wawancara mendalam (indepth interview) dan instrument observasi (check list). LMD/Dewan Kel.

Dedi M. Dadi Argadiredja. Deputi Bidang SDM dan Kebudayaan Bappenas Brainstorming dengan tim pakar dimaksudkan untuk mendapatkan wawasan yang lebih jelas mengenai penanggulangan penyakit menular.Dr. Masukan yang diharapkan dari pelaskanaan brainstorming mencakup perbaikan konsep. Masa Kini.Dr. Sukirman. Balitbang Depkes . Dr.Tim Fakultas Kesehatan Masyarakat. MPH. Tim yang diundang dalam acara brainstorming adalah nara sumber dari kajian ini serta beberapa pakar lainnya. serta (3) Diskusi Internal. FKM-UI • Tinjauan Umum tentang Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular di Indonesia (Kebijakan Masa Lalu. (2) Ekspose Tim Ahli Ekspose Tim Ahli dilaksanakan pada tanggal 5 April 2006 Ekspose Tim Pakar dimaksudkan untuk menggali lebih dalam lagi berbagai aspek yang berkaitan dengan Penanggulangan Penyakit Menular. Ph. Penyempurnaan Proposal Dalam rangka memperkaya proposal telah dilakukan beberapa kegiatan mencakup (1) pelaksanaan brainstorming dengan Tim Pakar. Soedarto Romoatmojo. Universitas Indonesia . Fakultas Kedokteran Unpad . Indrijono Tantoro. MPH . pemilihan lokasi peneltian. Broto Warsito. Dr. Masykur Riyadi. (1) Brainstorming dengan Tim Pakar Pelaksanaan brainstorming dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 28 Pebruari 2006. dan Masa Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 77 . serta variabel kajian Hasil brainstorming selengkapnya pada LAMPIRAN 2. Ahli Gizi IPB . MOH. (2) Ekspose Tim Ahli. Erna Tresnaningsih Suharsa. MPH. mencakup aspek • Review tentang Kajian Penyakit Menulat (Aspek Metodologi Kajian. oleh Prof. yaitu .Dr.D. dr. Setditjen P3L Depkes .Dr.Prof. Dalam aspek metodologi masukan dari brainstorming yang diharapkan berkiatan dengan aspek runga lingkup kajian. penetapan responden. kerangka pemikiran. rumusan masalah serta tujuan dan sasaran penelitian.LAPORAN AKHIR LAMPIRAN 2 PELAKSANAAN KEGIATAN DAN PEMBAHASAN A.Dr.

Indriono. Depkes Tinjauan terhadap Kebijakan Surveilans Epidemiologi. serta rencana analisis data dan informasi dan bentuk laporan kajian. ole Direktur Surveilans Epidemiologi. Yang Akan datang. Setditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Depkes Kebijakan Umum Departemen Kesehatan dan/atau Nasional dalam Upaya Penanggulangan Penyakit Menular. (3) perumusan kuesioner. Penetapan Lokasi Kajian Lokasi kajian ditetapkan di 6 propinsi dengan kriteria pemilihan propinsi didasrkan pada ferkuensi dan jumlah kasus Keadaan Luar Biasa (KLB) penyakit. oleh Direktur Bina Pelayanan Medik dasar. oleh Kepala Pusat Kajian Kebijakan Pembangunan Kesehatan. Dalam diskusi internal juga dibahas berbagai pertauran perundangan yang berkaitan dengan penanggulangan penyakit menular. sekaligus dibahs tentang aspek kewenangan dari masing-masing tingkatan. Depkes Penanggulangan Penyakit Menular di Puskesmas. Imunisasi dan Kesehatan Matra. Depkes Pokok-pokok Pikiran hasil Ekspose Tim Ahli selengkapnya dalam LAMPIRAN-3. oleh Direktur Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang. Teori dan Praktek dalam Penanggulangan Penyakit Menular. metodologi serta teknis pelaksanaan survei lapangan. (3) Diskusi Internal Diskusi internal dilakukan pada berbagai kesempatan diskusi yang diselenggarakan di Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Diskusi inernal dilakukan diantara anggota Tim Perumus Rekomendasi Kebijakan dengan melibatkan Tim dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Diskusi internal dilakukan dalam rangka menyempurnakan kerangka acuan kajian dengan mengakomodasi berbagai masukan yang didapat dalam pertemuan brainstorming tim pakar maupun dari hasil ekspose tim ahli.LAPORAN AKHIR • • • • • . Dalam diskusi internal juga dilakukan kesepakatan akhir berkaitan dengan disain kajian. oleh Direktur Bina Kesehatan Komunitas. Depkes Penanggulangan penyakit Menular di Rumah Sakit Kabupaten/Kota. Kebijakan Penanggulangan Wabah DHF. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 78 . (2) penentuan sampel dan responden. oleh Dr. Depkes. (B) Pembahasan Disain Riset Pembahsan disain riset yang dilakukan mencakup aspek (1) penetapan lokasi kajian. serta (4) teknik analisis data.

Propinsi Riau 2. mentabulasikan dan menginterpertasikan data C.LAPORAN AKHIR Berdasarkan hasil pembahasan dengan kriteria di atas. Pada setiap kabupaten ditetapkan 2 kecamatan/puskesmas Penetapan Responden Pada setiap Propinsi dan Kabupaten ditetapkan 4 orang responden mencakup Kepala Dinas/Subdinas Kepala Rumah Sakit/Bagian P2M Kepala Puskesmas pada 2 kecamatan Perumusan Kuesioner Rumusan Kuesioner dibuat dalam bentuk pertanyaan terbuka dan pertanyaan tertutup Pengelompokkan didasarkan pendekatan sistem serta berdasarkan kalster variabel dari konsep penanggulangan penyakit menular. mengolah. mencakup (1) aspek surveilans dan (2) aspek penanggulangan wabah Kuesioner bersifat terbuka akan dilakukan dalambentuk interview dan wawancana mendalam Kuesioner dalam bentuk tertutup akan disampaikan kepada responden untuk mengisi Kuesioner Pada LAMPIRAN 1 Teknik Analisis Data Untuk menganalisis data yang bersumber dari responden dilakukan analisis data menggunakan analisis statistik deskriptif Analisis statistik deskriptif dilakukan dengan cara mengelompokkan. Popinsi Jawa Timur 6. Aspek realibilitas dan vailiditas materi kuesioner juga menjadi target uji coba. dengan responden adalah petugas di lingkungan Dinas Kesehatan. Propinsi Sumatera Selatan 3. konsistensi dari materi kuesioner sehingga runtut dan dapat dijawab dengan baik oleh responden. Propinsi Sulawesi Selatan 5. ditetapkan propinsi yang akan menjadi lokasi kajian adalah 1. Propinsi Kalimantan Timur 4. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 79 . pada tanggal 3-11 Juli 2006. Pelaksanaan Uji Coba Kuesioner dilakukan di Kota Depok. Pelaksanaan Uji Coba Kuesioner Uji Coba Kuesioner dilakukan dalam rangka menguji sejauhmana materi pertanyaan dan isian dalam kuesioner dapat dijawab sesuai dengan tujuan kajian. Uji coba juga dilakukan untuk melihat kesesuaian. Propinsi Nusa Tenggara Barat Pada setiap porpinsi ditetapkan sampel 2 kabupaten .

Beberapa masukan dari FGD adalah • Responden perlu ditambah tidak hanya unsur aparat (institution base).... Pelaksanaan Survey Lapangan Sesuai dengan lokasi kajian yang telah ditetapkan. (2) penetapan kontak person di lapangan. 2 puskesmas. khususnya terkait dengan penanganan surveilans dan penaggulangan penyakit Demam Berdarah (DHF). kabupaten/kota. Provinsi Jawa Barat. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 80 ... survey lapangan dilakukan di 6 (enam) provinsi. Hal lain yang juga menjadi masukan dari pelaksanaan uji coba kuesioner adalah berkaitan dengan (1) perijinan dalam pelaksanaan wawancara.LAPORAN AKHIR Puskesmas serta Rumah Sakit yang menangani bidang penyakit menular. Provinsi Sulawesi Selatan dan Provinsi Nusa Tenggara Barat.. mencakup aspek (1) Tujuan. Laporan umum hasil uji coba kuesioner dalam LAMPIRAN . Bappeda. 1 rumah sakit dan tokoh/perwakilan warga masyarakat. variabel serta parameter kajian. Provinsi Kalimantan Timur. tetapi juga dari unsur masyarakat (community based) • Unsur institusi selain Dinkes juga ditambah Bappeda • Bagaimana menemukan sistem penanggulangan yang cepat (efektif dan efesien) dengan mempertimbangkan sistem pelaporan (survailans) yang ada dan cenderung birokratis • Masalah kewenangan penanganan perlu diperjelas (otorisasi) antara kewenangan pusat. Provinsi Jawa Timur. Hasil uji coba kuesioner selanjutnya dianalisa untuk kemudian dijadikan bahan perbaikan. propinsi.. D. Jadwal dan Tim pelaksana dari Survei Lapangan dalam LAMPIRAN . yaitu Provinsi Riau. dan fasilitas kesehatan (facility based). Pembahasan Dengan FGD Pembahasan dengan Forum Group Disscussion dilakukan untuk mendapatkan masukan dan penyempurnaan konsep kajian. Pelaksanaan Survey di masing-masing propinsi dilakukan di 2 (dua) kabupaten. (2) Lingkup Kajian. (3) penetapan waktu wawancara yang sesuia sehingga tidak berbebnturan dengan agenda lain bagi petugas di lapangan. Namun pusat tepat ”take a lead” • Perlu kejelasan antara survailans dan penanggulangan: mekanisme kerja serta proses pengambilan keputusannya E. (3) Metode Kajian. termasuk lokasi. dan pada masing-masing kabupaten dilakukan wawancara mendalam serta pengisian kuesioner pada dinas kesehatan.

Soekirman Dr. 5. Hadiat. MPH Dr. 4. Sulaeman Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 81 . SH. SKM. Broto Wasisto. Erna Tresnaningsih Suharsa. 2. Ir. MPH Dr. 3. 4. Ph. Dadi Argadiredja. MOH. Drs. Dedy M.D. Dr. MPH Prof. Yosi Diani Tresna. MA Dadang Rizki Ratman. MPA. TIM PENDUKUNG 1. 5. 3. Indrijono Tantoro. SP. Deputi SDM dan Kebudayaan TPRK 1.LAPORAN AKHIR LAMPIRAN 3 Struktur Organisasi/Tim Pelaksana PENANGGUNG JAWAB Dr. MPH Dr. Nurlaily Aprilianti 2. Dr. MPM NARA SUMBER 1. Sularsono. Arum Atmawikarta. ME. Masykur Riyadi. 2.

Biro Kesra – Kabupaten : idem – Puskesmas : Kepala Puskemas. Puskesmas dan Desa. Seksi Surveilance. Propinsi.LAPORAN AKHIR LAMPIRAN 4 NOTULENSI PEMBAHASAN DENGAN TIM PAKAR KAJIAN KEBIJAKAN PENANGGULANGAN WABAH PENYAKIT MENULAR Jakarta.. petugas P2M. Bappeda. Kader Kesehatan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 82 . Kasubdin P2M. – Case Study : DBD • Kriteria Lokasi Kajian – Endemis dan Non Endemis – Sedang ada KLB dan tidak ada KLB – Pusat. 28 Februari 2006 • Fokus yang akan diteliti – Umum. Yanmedik dan Binkesmas – Propinsi: Kadinkes. LMD/Dewan Kel. Ka RT. staf Kesling – Desa: Ka Desa. Pustu/polindes. Kabupaten/Kota. Rumah Sakit terpilih • Responden – Pusat: P2M.

kab/kota) – Managerial/sistem (pusat. TUJUAN. propinsi. SASARAN dan REKOMENDASI Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 83 . PERTANYAAN PENELITIAN. propinsi. PERUMUSAN MASALAH. kab/kota & kec) – Operasional (puskesmas ke bawah) • Cara Pengumpulan Data – data sekunder – data primer : wawancara mendalam di berbagai tingkat (Pusat s/d kab/kota) dan focus group discussion di tingkat Kecamatan dan desa • Perlu diperhatikan – Kaitan antara JUDUL.LAPORAN AKHIR • Design Penelitian: Case Control • Variabel Penelitian: – Peraturan perundang-undangan (pusat.

Sampling: Non Propability Sampling 4. METODOLOGI KAJIAN 1.LAPORAN AKHIR LAMPIRAN 5 POKOK-POKOK PIKIRAN EKSPOSE TIM AHLI Kajian Penanggulangan Wabah Penyakit Menular Jakarta. Jenis Penelitian: Penelitian Operasional 3. Ruang Lingkup: Umum dengan case DBD Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 84 . 5 April 2006 I. Pendekatan kajian: • • policy review dengan fokus pada management oriented system model Identifikasi terhadap faktor penghambat dan diakhiri dengan rekomendasi kebijakan 2.

Ketentuan yang ada belum dilaksanakan secara optimal di tingkat operasional akibat keterbatasan dana.LAPORAN AKHIR II. Dalam Renstra Depkes Penanggulangan Wabah masuk dalam 2 strategi utama: (1) memberdayakan masy. sarana. tenaga dan koordinasi 6. Kebijakan peraturan perundangan dapat diikuti oleh stakeholder: Kepmen Perpres 4. sistem pencatatan RUMAH SAKIT Pelayanan gawat darurat masih di bawah standar Sistem monev periodik antar pusat dan daerah belum terbangun Insentif petugas perlu menjadi perhatian Kelengkapan sarana. Kebijakan yang ada belum fokus 2. Pemahaman terhadap produk hukum yang ada masih rendah 3. sesuai dengan kasus penyakit • • • • Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 85 . tenaga. u/ hidup sehat dan (2) peningkatan sistem surveilans 5. TINJAUAN KABIJAKAN 1. sarana. Infrastruktur Puskesmas untuk surveilans ditingkatkan : Poskesdes Vs Pustu III. PRAKTEK PENANGGULANGAN DI LAPANGAN PUSKESMAS • Surveilans di Puskesmas belum Optimal • Koordinasi lintas sektor belum terintegrasi • Keterbatasan tenaga yang kompeten • Kontribusi utama Puskesmas dalam penanggulangan wabah PP dalam jejaring pelayanan.

Optimalisasi dan profesionalisme Sumber Daya (SDM dan dana) 4. Perlu Advokasi untuk dukungan legal aspek pelaksanaan dilapangan 3. Dukungan tenaga. Manajemen terpadu berbais wilayah: Jumantik.LAPORAN AKHIR IV. Pengembangan jejaring kerjasama dan kemitraan 3. sarana dan anggaran V. Fleksibilitas pencairan dana KLB 7. KEBIJAKAN PENANGGULANGAN DBD 1. Penguatan komitmen semua pihak 2. Penguatan program: evidence based. Surveilans faktor resiko selain surveilans penyakit 5. KEBIJAKAN SURVEILANS 1. desa siaga 6. Mobilisasi Sosial Gerakan Masyarakat “3M” Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 86 . Daerah berperan dalam pengambilan keputusan menentukan prioritas masalah maupun penanggulangan 2. prioritisasi 5. Pelaksanaan SKD-KLB belum optimal 4.

Strategi yang dilakukan mencakup (1) intensifikasi pelaksanaan kasus melalui pencarian kasus dan pemutusan rantai penularan. Bogor Jawa Timur 1. Kota Surabaya 2. pengendalian faktor resiko dan penyehatan lingkungan. Kesimpulan Hasil Survey PROPINSI RIAU Kebijakan Daerah mecakup (1) pemberantasan DBD diselenggarakan dengan menggunakan penatalaksanaan kasus secara cepat dan tepat. Kota Bandung 2. Kota Pekanbaru 2. Gowa Nusa Tenggara Barat 1. sebagai dasar tindak lanjut perencanaan program dan penanggulangan KLB. Kab. kewaspadaan dini. Kab. perbaikan manajemen kasus diganostik dan pengobatan serta rujukan.LAPORAN AKHIR LAPORAN PELAKSANAAN SURVEY KAJIAN KEBIJAKAN PENYAKIT MENULAR 1. Gresik Kalimantan Timur 1. melalui Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 87 . (3) memantapkan jejaring lintas program. imunisasi. Responden Kajian No 1 2 3 4 5 6 Propinsi/Kab Riau 1. perubahan perilaku. (2) mengembangkan dan memperkuat jejaring surveilans epidemiologi dengan fokus pemantauan wilayah setempat. Kab. kab/kota. (2) surveilans epidemiologi. lintas sektor. Kab. Kab Lombok Tengah TOTAL Dinas 5 3 2 3 2 2 1 1 2 2 1 2 2 1 2 3 2 3 47 PKM 4 5 3 2 3 4 2 2 4 4 4 6 43 Rumah Sakit 1 1 2 1 2 1 1 4 1 2 2 3 21 Bapp 2 1 1 2 1 1 2 1 1 1 1 1 15 Masy 1 1 20 1 1 18 1 1 13 2 1 20 1 1 25 2 0 13 122 Jml 26 2. serta kemitraan dengan masyrakat (LSM) termasuk swasta. Kota Mataram 2. Kota Makasar 2. (4) menyiapkan pengadaan dan distribusi kebutuhan obatobatan dan bahan-bahan yang esensial. Siak Jawa Barat 1. Kota Balikpapan Sulawesi Selatan 1. (5) meningkatkan kemampuan penggalian sumberdaya daerah dan sumberdaya masyarakat dalam pengelolaan program P2M. Kota Samarinda 2.

(5) penanggulangan KLB. yaitu dana tak terduga. Kota Pekanbaru juga memiliki Forum Perkampungan Sehat. Tim Pokjanal DBD terdiri dari unsur-unsur Diknas. menyiapkan juknis dan juklaknya. dimana Puskesmas melakukan penyelidikan epidemiologi (PE) untuk mengurangi persebaran lebih luas dan tindakan yang lebih tepat. sedangkan dana dari Dinas Kesehatan diutamakan untuk membeli peralatan dan kegiatan yang sifatnya pencegahan. (4) Penanggulangan kasus. yaitu pada setiap Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 88 . Depag dan pihak legislatif. (7) Pendekatan Peran Serta Masyarakat dann PSN DBD. maka kinerjanya akan dipertanyakan.LAPORAN AKHIR perencanaan. pelatihan tenaga operasional. dan pemeriksaan jentik berkala (PJB) yang dilakukan setiap 3 bulan sekali. (2) Pemberantasan vektor melalui PSN dengan cara 3M Plus. uang dicairkan. (3) Disamping Tim Pokjanal DBD. diketuai oleh Bappeda dan sekretariat juga berada di Bappeda. Ketiga dana tersebut diatas berasal dari dana Kantor Walikota. (2) pemberantasan vektor. melalui pelaksanaan pertemuan berkala Pojanal/Pokja DBD. melalui penyediaan insektisida dan larvasida. Nbila terjadi KLB. Strategi dan program adaah (1) pertemuan dengan tim pokjanal DBD propinsi Riau menghasilkan beberpa kesepakatan yang menitikberatkan pada peran aktif dari pokja/pokjanal DBD dengan melibatkan masyarakat. maka uang tidak bisa dicairkan. (8) Penelitian. Kegiatan pokok adalah melakukan rapat lintas sektor untuk menangani masalah-masalah khususnya penyakit menular. sedangkan sekretariat berada di kantor Dinas Kesehatan. (2) Di Kota Pekanbaru. pembinaan dalam pelaksanaan gerakan 3M. tersedia pos untuk penanggulangan. pematauan dan informasi program pemberantasan penyakit dan meningkatkan kewaspadaan di semua tingkat administrasi. (3) Bila terjadi KLB. PROVINSI JAWA BARAT Kebijakan penannggulangan di Jawa Barat secara umum mengacu pada kebijakan dan program yang telah ditetapkan oleh Departemen Kesehatan (Pusat). pelatihan tenaga puskesmas dan rumah sakit. yaitu mencakup 1) Kewaspadaan dini DBD. PKK. (3) meningkatkan SDM. (6) peningkatan profesionalisme SDM. Dinkes. Program yang dilakukan mencakup (1) kewaspadaan dini DBD melalui penyuluhan intensif. dana bencana dan dana belanja rutin sekretariat daerah. Strategi pelaksanaan kebijakan penanggulangan DBD di Propinsi Jawa Barat dilakukan melalui (1) pendekatan ”gerak cepat” dan putus rantai. lintas program dan lintas sektor terkait serta mengaktifkan kembali peran UKS (Usaha Kesehatan Sekolah) untuk menggerakkan anak sekolah dalam pemberantasan demam berdarah. dan menyiapak sarana pemeriksaan untuk diagnosa melaksanakan PE dan penanggulangan fokus. Dana KLB dianggarakan dengan menggunakan pola kinerja artinya bila KLB tidak terjadi. PMD. (3) Bulan Bakti gerakan ”3M”. Hasil implemnatsi kebijakan. Bappeda. Tim Pokjanal DBD diketuai oleh Walikota. melengkapi sarana pemberantasan vektor.

menetapkan apakah kejadian tersebut suatu KLB. (5) Pelibatan lintas sektor. perilaku masyarakat. (5) melakukan studi epidemiologi pada daerah dengan knerja yang tidak baik. dan tidak seimbangnya jumlah kader dengan cakupan daerah yang harus diselediki. (4) melakukan kajian epidemiologi harus bekerjasama dengan lintas program dan lintas sektor. kab/kota. (4) penemuan kasus dilaksnakan secara bekerjasama dengan masyarakat. puskesmas dan masyarakat. dokter. melalui persiapan penyelidikan lapangan. memastikan diagnostik etiologi. PROVINSI JAWA TIMUR Kebijakan daerah mencakup (1) upaya penanggulangan masalah-masalah kesehatan yang dilakukan merupakan hasil dari kajian surveilans epidemiologi. status gizi. mendeskripsikan kasus berdasarkan waktu. orang dan tempat.LAPORAN AKHIR kasus petugas siap melakukan PE sehingga ditemukan akar permasalahan dan sumber penyebabnya untuk kemudian dilakukan tindakan agar tidak menyebar ke tempat lain. pemeriksaan jentik dengan memberdayakan tenaga jumantik. dukun bayi dan kendaraan kesehatan. pengolahan dan analisis data untuk penyususnan rumusan kegiatan perbaikan oleh tim epidemiologi. (4) Pelibatan partisipasi masyarakat melalui gerakan PSN setiap hari Jumat pagi. (3) Upaya peningkatan kemamampuan tenaga kesehatan dalam penanggulangan DBD secara kuratif dilakukan melalui ”workshop tata laksana” dengan melibatkan dokter spesialis dan urusan dalam. kesibukan kader. (3) penyelidikan epidemiologi terhadap kasus yang dicurigai pada daerah yang resiko rendah. mengidentifikasi dan menghitung kasus atau paparan. mengidentifikasikan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 89 . perawat. (2) pencarian kasus tambahan dilakukan pada saat penyelidikan epidemiologi. (2) Fogging dilaksanakan apabila terjadi KLB dengan menggunakan dana yang berasal dari Dinas Kesehatan Kabupaten dengan peruntukan untuk larvasidasi dan abatesisasi. membuat cara penanggulangan sementara. dan melakukan ”CLEAN-UP” lingkungan yang dipimpin oleh wali kota selama 1-2 jam. (2) upaya preventif yang dilakukan melalui ”managing vector and environment” malalui ger kan 3M yang dilakukan secara linta sektor dalam wadah Pokjanal DBD. dan propinsi. (3) komitmen dari pimpinan unit penyelenggara kesehatan diperlukan untuk kegiatan surveilans epidemiologi. Strategi dalam penanggulangan DBD dilakukan melalui (1) penemuan kasus dan kematian melalui surveilans di rumah sakit. foggig focus massal. (2) penyeldikan dan penanggulangan KLB. praktek swasta. bidan. mengamati indikasi pra-KLB misala cakupan program. (2) kegiatan surveilans epidemiologi dilaksanakan oleh tim fungsional di masingmasing tingkat mulai dari Puskesmas. Hasil pelaksanaan program ditunjukkan antara lain (1) pemantauan jentik belum optimal dilakukan oleh kader dengan alasan terbatasnya dana operasional. Pelaksanaan program penannggulangan DBD mencakup (1) SKD-KLB melalui kegiatan pengumpulan data baru dari penyakit-penyakit yang berpotensi KLB. (6) Sosialissi Pola Hidup Bersih (PHBS).

merencanakan penelitian lain yang sistematis. Strategi yang dilakukan mencakup (1) peningkatkan pencarian kasus dan pemutusan rantai penularan perbaikan manajemen pengobatan serta rujukan. (2) mengembangkan dan memperkuat jejaring surveilans epidemiologi dengan fokus pemantauan wilayah setempat. (3) Untuk tahun 2005. melengkapi sarana pemerantasan vektor. penyehatan lingkungan.LAPORAN AKHIR sumber dan cara penyebaran. lintas program dan lintas sekor terkait. khususnya penyakit DBD di Propinsi Sulawesi Selatan. Pokok-pokok Program yang dilakukan mencakup Kewaspadaan dini DBD. PROVINSI SULAWESI SELATAN Upaya penanggulangan kejadian luar biasa (KLB)/penyakit menular. kerja sama dengan dengan masyarakat dan swasta. pada dasarnya dilaksanakan berpedoman pada arah kebijakan dan program dari Pemerintah Pusat (Departemen Kesehatan). Kota Balikpapan memiliki Yayasan DBD yang ketuanya adalah kasubdin P2M Dinkes dan didanai oleh perusahaahn2 minyak swasta. pertemuan berkala Pokjanal/Pokja DBD. (2) Tim Pokjanal DBD diketuai oleh Walikota. pelatihan tenaga kesehatan. menetapkan rekomendasi cara pencegahan dan penanggulangan. (2) Pemberantasan vector. kewaspadaan dini. Gambaran implementasi adalah (1) Pelaksanaan penanggulangan DBD melibatkan masyarakat. perubahan perilaku dalam pola hidup bersih dan sehat. (6) Pelatihan khusus tentang epidemiologi dan surveillens baru dilakukan 1 kali dalam 5 tahun terakhir. penyediaan insektiside dan larvasida. (5) Dinas kesehatan kota Balikpapan selalu melaksanakan pendataan DBD dengan rutin. penyuluhan. APBD mengalokasikan dana 500 juta untuk peanggulangan KLB dan habis untuk penanggukangan KLB DBD. (2) Pelaksanaan Surveilans Epidemiologi. sehingga sesuai data memang DBD di Kota Balikpapan tinggi. pelaksanaan PE. (3) Pelatihan tenaga surveilens (pelatihan epidemiologi. (4) Di samping Tim Pokjanal DBD. dan (3) Membangun kerja sama lintas sektor. beranggotakan kepala – kepala dinas yang ketika diadakan rapatrapat selalu dihadiri oleh personal yang berlainan. PROVINSI KALIMNATAN TIMUR Kebijakan Daerah yang dilakukan mencakup (1) Pemberantasan DBD diselenggarakan dengan menggunakan penatalaksanaan kasus secara cepat dan tepat. pelaksanaan gerakan 3M. mengidentifikasikan keadaan penyebab KLB. menetapkan sistem penemuan kasus baru. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 90 . Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Selatan selanjutnya menyusun Prosedur Tetap (Protap) Penanggulangan DBD sebagai pedoman/acuan pelaksanaan kegiatan Dinas Kesehatan Propinsi dan Dinas Kesehatan Kabupten/Kota.

gerakan PSN. Dinkes Propinsi Nusa Tenggara Barat membuat pedoman operasional yang berisi ”step by step” metodologi penanggulangan DBD. sedangkan tahun 2004 jumlah KLB DBD sebanyak 88 kasus. pengamatan bebas jentik dilakukan oleh murid-murid sekolah dan telah terbukti cukup efektif untuk dapat direflikasi di daerah lain. bulan kewaspadaan DBD. melalui penyuluhan. PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT Pedoman surveilans dan KLB kurang operasional.. dan fooging massal. pertemuan Kewaspadaan Dini DBD sebanyak 4 kali melibatkan sektor terkait. kab/kota dan puskesmas. dimana peran puskesmas sangat kecil karena dukungan dana dan personil sangat kecil. Surveilans dilaksanakan pada tingkat dinas kesehatan propinsi. lintas program dan kabupaten/kota terdekat. pemantauan jentik berkala. pemantauan jentik berkala di berbagai kabupaten endemis dengan sasaran masing-masing 100 rumah. dukungan dana surveilans tertolong oleh adanya subsidi dari Askeskin. pembinaan di 23 kab/kota.LAPORAN AKHIR Materi yang disusun dalam Protap ini adalah langkah-langkah penanggulangan DBD sebagai berikut: (1) Kewaspadan Dini. abatisasi. penyuluhan intensif melalui media cetak dan elektronik. terutma untuk insentif tenaga kesehatan dan kader. pelatihan bagi pengelola program P2 DBD di 23 kab/kota. Implementasi kebijakan penanggulangan DBD di Sulawesi Selatan antara lain (1) Kewaspadaan Dini. melakukan pelatihan tatalaksana DBD bagi dokter di rumah sakit pada daerah endemis. melalui pelatihan petugas kesehatan. (2) Penanggulangan KLB menemukan jumah kasus KLB DBD tahun 2005 sebanyak 66 kasus. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 91 . menghasilkan penemuan dan pelaporan penderita. penanggulangan fokus. Di kabupaten Lombok Tengah. Namun terdapat ”gap” pelaksanaan/penanganan KLB. (2) Pemberantasan Nyamuk Penular DBD terhdap nyamuk dewasa dan jentik nyamuk. Pada pelaksanaan di Puskesmas. melalui penemuan dan pelaporan penderita. (4) Peningkatan SDM. (3) Peningkatan Sumber Daya Manusia. Dngan demikian Puskesmas sebagai fasilitas yang paling dekat edngan masyarakat tidak dimanfaatkan dengan baik dalam penanggulangan KLB DBD. (3) Penanggulangan KLB.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful