LAPORAN Kajian Kebijakan Penanggulangan (Wabah) Penyakit Menular

(Studi Kasus DBD)

Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat

Deputi Bidang SDM dan Kebudayaan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional 2006

LAPORAN AKHIR

KAJIAN KEBIJAKAN PENANGGULANGAN (WABAH) PENYAKIT MENULAR
Studi Kasus DBD

DIREKTORAT KESEHATAN DAN GIZI MASYARAKAT BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL TAHUN 2006

Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular

LAPORAN AKHIR

Ringkasan Eksekutif
Kajian ini dilatarbelakangi adanya kecenderungan terus meningkatnya wabah penyakit menular di berbagai daerah di Indonesia. Selain penyakit menular yang telah lama ada, penyakit menular baru (new emerging diseases) juga menunjukkan peningkatan. Kebijakan penanggulangan wabah penyakit menular telah diatur dalam peraturan perundangan. Namun demikian implementasi di lapangan masih menghadapi berbagai permasalahan. Beberapa permasalahan yang teridentifikasi antara lain berkaitan dengan (1) pelaksanaan surveilans, (2) upaya penanggulangan, serta (3) adanya desentralisasi kewenangan pengelolaan. Berdasarkan hasil penelitian WHO Tahun 2003 dilaporkan bahwa pelaksanaan kegiatan surveilans masih menghadapi kendala antara lain berkaitan dengan (1) kebijakan sistem surveilans yang belum dipahami sampai ke petugas teknis di lapangan, (2) terbatasnya tenaga pelaksana surveilans, (3) adanya ketidaksesuaian kompetensi, (4) terbatasnya dana pelaksanaan surveilans di tingkat operasional, dan (5) belum optimalnya penggunaan sarana kesehatan dalam mendukung pelaksanaan surveilans penyakit seperti pemanfaatan laboratorium dan peralatan. Berdasarkan latar belakang tersebut, tujuan utama kajian adalah menyusun rumusan kebijakan penanggulangan wabah penyakit menular secara terpadu berdasarkan analisis faktor-faktor yang berpengaruh melalui (1) identifikasi kinerja surveilans, (2) identifikasi kinerja penanggulangan wabah penyakit , serta (3) identifikasi peran dan tanggungjawab Pemerintah Daerah. Metode kajian dilakukan melalui analisis diskriptif (kualitatif) berdasarkan data dan informasi yang didapat di lapangan, baik berbentuk data sekunder maupun hasil wawancana mendalam serta melakukan pembahasan dengan nara sumber dalam bentuk focus group discussion (FGD) dan workshop. Landasan pemikiran kajian didasarkan pada asumsi adanya hubungan timbal balik antara rendahnya kinerja surveilans dan kinerja penanggulangan dengan implementasi kebijakan wabah penyakit menular khususnya dalam kasus kebijakan penanganan penyakit DBD. Kinerja surveilans diukur dengan melihat (1) keberadaan peta rawan, (2) pelaksanaan diseminasi informasi DBD, dan (3) Pelaporan serta dengan melihat faktor-faktor berpengaruh mencakup (1) tenaga, (2) data, (3) sarana, (4) dana, dan (5) SOP. Kinerja Penanggulangan diukur dengan melihat (1) Frekuensi KLB, (2) Jumlah Kasus, (3) Jumlah Kematian, (4) Luas Daerah Terserang serta dengan melihat faktor-faktor berpengaruh mencakup (1) tenaga, (2) data, (3) sarana, (4) dana, dan (5) SOP. Implementasi kebijakan wabah penyakit menular juga dipengaruhi kebijakan desentralisasi kewenangan pengelolaan pembangunan. Kajian menyimpulkan bahwa kendala utama yang dihadapi dalam implementasi kebijakan penanggulangan wabah penyakit menular dalam kasus DBD adalah (1) koordinasi antar instansi dan antar unit yang bertanggung jawab dalam penanganan DBD masih belum optimal, khususnya dalam pelaksanaan surveilans dan penanggulangan DBD, (2) koordinasi antara pusat dan daerah belum dilandasi suatu kebijakan operasional yang jelas tentang kewenangan dan tanggung jawab masingmasing, (3) sistem pengelolaan program penanganan penyakit menular masih didominasi pusat, (4) tingginya beban puskesmas sebagai unit operasional utama di lapangan dalam implementasi kebijakan penanggulangan wabah penyakit menular. Indikator Kinerja Surveilans dan Penanggulangan mencakup (1) Peta rawan, hampir semua dinkes propinsi maupun dinkes kab/kota memiliki peta rawan, sedangkan di Puskesmas sebagai unit pelayanan dasar dan rumah sakit sebagai unit pelayanan rujukan, peta rawan tidak selalu tersedia, (2) proses diseminasi informasi dilakukan
Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular ii

tetapi tidak menjadi kendala dalam berjalannya sistem. Beberapa dinkes kabupaten/kota inisiatif melakukan modifikasi terhadap SOP yang dibuat Depkes. Data. Kualitas dan kualifikasi masih belum terpenuhi sesuai dengan bidang tugas dan kompetensinya. hampir semuanya menggunakan dana APBD. Pada tingkat propinsi. yang ada hanya pencatatan pelaporan yang dilakukan di bagian rekam medis. Struktur organisasi Dinkes propinsi maupun Kab/Kota tidak menggambarkan pembedaan kedua tugas tersebut. sedangkan data kematian cenderung meningkat. Operasi lapangan untuk suatu kasus (DBD) serentak dilakukan. Pengadaan insektisida dan mesin fogging di supply oleh Dinkes Propinsi karena kab/kota belum siap. dan (3) proporsi anggaran untuk preventif dan kuratif yang tidak seimbang. Baik APBD propinsi maupun APBD kabupaten/kota atau APBD sharing. Sehingga untuk SKDKLB data yang seharusnya dapat dilihat/diprediksi diawal untuk kewaspadaan terjadinya KLB. kualifikasi pendidikan yang belum sesuai. Permasalahan dana terutama berkaitan dengan (1) keterlamabatan turunnya DIPA.LAPORAN AKHIR melalui penerbitan buletin kajian epidemiologi yang diterbitkan oleh dinkes propinsi dan dinkes kabupaten/kota. Dana. belum dilakukan. Dana yang digunakan untuk penanggulangan KLB berasal dari APBN (Dekon) dan APBD. Kurangnya jumlah SDM. Bidang pendidikan yang ada adalah perawat. perpindahan yang begitu cepat. Upaya yang dilakukan Dinas Kesehatan Propinsi maupun kabupaten/kota dalam rangka peningkatan kemampuan adalah pembinaan teknis. Untuk tingkat kabupaten/kota. Sarana utama yang dibutuhkan dalam penanganan kasus DBD adalah adanya mesin fogging serta insektisida. Pengetahuan. Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular iii . dan epidemiologi. namun ketepatannya masih 60%. Tidak ada batas yang tegas yang membedakan antara Surveilans dan Penanggulangan dalam praktek operasional di lapangan. (2) pengetahuan. Ketepatan dan kelengkapan laporan dari kabupaten masih rendah. Hampir semua level baik di propinsi hingga kabupaten/kota termasuk puskesmas dan rumah sakit mengalami masalah ketenagaan dalam kegiatan surveilans dan penanggulangan. (3) dana. rakor dan melakukan berbagai pelatihan di bidang surveilans maupun penangulangan penyakit. Sarana. Namun demikian kebanyakan SOP tersebut belum operasional. Puskesmas tidak memiliki alokasi dana khusus untuk kegiatan surveilans. (2) ada masa ketiadaan anggaran. Dana operasional selain bersumber dari dana operasional umum juga memanfaatkan dana JPK-MM. khususnya ketika kasus terjadi. Sarjana (SKM) dan MKes. (5) sarana. Pemahaman tentang surveilans dan penanggulangan KLB masih belum sama. beban kerja yang tinggi merupakan masalah yang hampir ditemukan disemua tingkatan. Tenaga. dana untuk pelaksanaan penanggulangan wabah penyakit menular dirasakan pihak daerah mencukupi. (3) sistem pelaporan ditunjukkan dengan kelengkapan laporan mencapai 90-100%. khusus untuk KLB tersedia block grant dari pusat. pengetahuan tim pada umumnya dipenuhi dari pengalaman lapangan dalam penanganan P2M. Data yang ada belum dilakukan analisis. Dana menjadi persoalan dalam implementasi kebijakan penanggulangan penyakit menular. Validitas data yang dilaporkan tidak pernah dipermasalahkan. Selain pelatihan formal. SOP. Pendidikan rata-rata perawat. baik di tingkat propinsi maupun kabupaten (baru bersifat pengumpulan data). dan (6) data. (4) Jumlah Kasus periode 2003-2005 cenderung stagnan untuk propinsi lokasi kajian (kecuali Jatim meningkat). Di rumah sakit tidak terdapat dana surveilans. Propinsi belum mempunyai sistem peringatan ke kabupaten bila terjadi keterlambatan atau ketidak lengkapan data. Hampir semua unit pelayanan kesehatan di daerah memiliki pedoman dan peraturan dalam rangka pelaksanaan surveilans dan penanggulangan DBD. mengadakan pertemuan/ lokakarya. (4) SOP. Walaupun kondisi sarana dan prasarana untuk kegiatan penanggulangan penyakit menular tidak selalu memadai. Case Fatality Rate (CFR) DBD fluktuatif. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kinerja surveilans dan penanggulangan terkait dengan (1) tenaga.

Keperdulian pemerintah daerah masih belum terlihat. Penanggulangan DBD di Rumah sakit relatif tidak masalah. Pengobatan dan isolasi penderita dirujuk ke rumah sakit. Hal ini berkaitan dengan masih cukup besarnya alokasi dana yang berasal dari APBN (dalam bentuk DAU. Banyak kendala. sebagai suatu kegiatan rutin. (iii) Peningkatan kualitas sistem pelaporan melalui ketepatan data. akibatnya kegiatan tindak lanjut yang seharusnya dilakukan tidak berjalan. yang paling menonjol adalah penanggulangan (PE). (3) Mengurangi secara bertahap dominasi peran pengelolaan program oleh pusat melalui pendelegasian kewenangan ke daerah serta peningkatan profesionalisme pengelola program di daerah. Permasalahan operasional penanganan DBD juga dipengaruhi oleh sistem kepemerintahan yang belum sepenuhnya dapat mengakomodasi sistem perencanaan dan sistem keuangan yang baru. hal ini tampak dari keaktifan instansi kesehatan dalam penyebaran informasi kesehatan. malalui (i) Peningkatan dukungan dana yang memadai dari APBN maupun APBD. (7) Melakukan bimbingan. Pengobatan dapat dilakukan dengan baik kecuali kalau ada keterlambatan datang ke sarana pengobatan dan akibat terlambat merujuk. ketiadaan sarana. pemantauan. promosi dan koordinasi. (6) Meningkatkan kemampuan tenaga pengendalian penyakit untuk melakukan pencegahan dan penanggulangan faktor risiko. namun belum maksimal melaksanakan surveilans karena keterbatasan tenaga. (ii) Penyempurnaan SOP sesuai “local specific”. antara lain keterbatasan tenaga. keterbatasan dana. tidak setiap kasus DBD ditindaklnajuti dengan PE karena DBD dianggap kasus rutin. (10) Diperlukan dukungan dalam bentuk peraturan perundangan dalam meningkatkan komitmen para pihak di daerah dalam rangkan pencegahan dan penanggulangan DBD. namun belum maksimal. (3) Surveilans mulai diperlukan ketika ada kasus. analisis. (8) Membangun dan mengembangkan kemitraan dan jejaring kerja informasi dan konsultasi teknis pencegahan dan penanggulangan faktor resiko. karena tidak seimbang antar area yang harus dipantau dengan kemampuan sumberdaya yang tersedia. (4) Memperkuat kapasitas dan kapabilitas Puskesmas sebagai unit terdepan dalam operasionalisasi surveilans dan penanggulangan wabah penyakit menular. dekonsentrasi maupun tugas perbantuan). PE tidak dilakukan maksimal sesuai prosedur yang ada. Namun pada saat kasus. dan evaluasi kegiatan pencegahan dan penanggulangan faktor resiko. serta pelaporan (evaluasi). (9) Membangun dan mengembangkan kemitraan. (11) Diperlukan model manajemen pemberantasan penyakit dan penyehatan lingkungan secara terintegrasi yang berbasis wilayah kabupaten/kota dalam perspektif Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular iv . kecuali kalau ada kasus KLB yang menyebabkan sarana TT tidak mencukupi. (2) Percepatan penyusunan kebijakan operasional dalam koordinasi pelaksanaan program antar pusat daerah yang mencakup aspek perencnaaan.LAPORAN AKHIR Kondisi umum Pelaksanaan Surveilans dan Penanggulangan DBD: (1) Ujung tombak pelaksanaan surveilans ada di Puskesmas. (5) Meningkatkan peran dan tanggung jawab Pemerintah Daerah melalui intensifikasi kegiatan sosialisasi. pelaksanaan (monitoring). Komitmen daerah dalam penyediaan anggaran (APBD) untuk penanganan wabah penyakit menular belum optimal. jejaring kerja informasi dan konsultasi teknis peningkatan komunikasi informasi dan edukasi (KIE) pencegahan dan pemberantasan penyakit. Koordinasi penanganan kasus masih bersifat sporadis. bukan sebaliknya pemerintah daerah yang aktif meminta informasi. belum tertata dalam sebuah sistem yang aktif dan terstruktur. sarana dan dana. dan sistem kewaspadaan dini (early warning system). baik pada internal sektor maupun lintas sektor. surveilans epidemiologi dan penanggulangan KLB/wabah. Bupati/Walikota . advokasi. Penyelidikan Epidemiologi (PE) yang dilakukan Puskesmas belum maksimal. (iv) Optimalisasi penggunaan sarana dan prasarana dengan melibatkan peran aktif masyarakat. validasi dan pengembangan “respond system”. (2) Aktivitas surveilans dilakukan oleh Tim Lapangan. Gubernur. Rekomendasi kajian yang diusulkan mencakup (1) Peningkatan koordinasi antar instansi dan antar unit dalam berbagai tingkatan dalam penanganan wabah penyakit menular yang dilakukan oleh Menko Kesra.

sekaligus menjamin setiap masyarakat terlayani untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Sebagai perangkat utama Kesehatan. perlu di kelola secara profesional dan berkesinambungan dengan memanfaatkan teknologi yang tepat dan mudah diaplikasikan serta dimungkinkan adanya Pusat Informasi Penanaganan DBD (DBD Center). Dukungan pendanaan serta tenaga dan sarana dalam rangka pelaksanaan operasional pencegahan dan penanggulangan (preventif. (4) Ketenagaan. (3) Data dan Informasi. (2) Pendanaan. mendorong terbangunnya motivasi dan komitmen para pelaksana pembangunan kesehatan di lapangan sebagai ujung tombak pembangunan kesehatan. preventif. Motivasi dankomitmen selain muncul atas kesadaran memerlukan dukungan eksternal dalam bentuk insentif. Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular v . (5) SOP. promotif dan rehabilitatif) menyertai peran dimaksud secara memadai. diperlukan revitalisasi peran kelembagaan khususnya kelembagaan Puskesmas. Implikasi Kebijakan dan Rencana Tindak Lanjut mencakup aspek-aspek: (1) Kelembagaan. selain kuratif. Serta didukung jaringan dan kerjasama erat baik antar wilayah dan adimistrasi pemerintah maupun diantara para pelaku pemberantasan penyakit menular dan penyehatan lingkungan itu sendiri dalam satu wilayah. dan rehabilitatif. Puskesmas perlu diperkuat dengan kapasitas manajemen pelayanan untuk kegiatan yang bersifat promotif.LAPORAN AKHIR komprehensif. perlu terus dikembangkan pola pendanaan sistem jaminan kesehatan seperti askeskin sehingga kepastian dana sampai kepada masyarakat terjamin. dibuat sesederhana mungkin agar memudahkan pelaksanaan operasional tenaga lapangan dan distribusikan. Keberadaan data dan informasi yang akurat dan sinambung menjadi salah satu indikator kinerja pembangunan kesehatan.

MPA 4. Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat serta seluruh staf di lingkungan Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas serta melibatkan nara sumber dari Departemen Kesehatan. MS 7. Yosi Diani Tresna. Ucapan terima kasih pada seluruh pihak yang telah memberikan kontribusi pada pelaksanaan kajian ini mulai dari tim perumus rekomendasi kebijakan. Banyak hal telah didapat dari pelaksanaan kajian ini. DR. tidak saja dalam bentuk temuan tetapi juga pengalaman proses pelaksanaan survey lapangan yang dilakukan sampai ke tingkat Puskesmas dan pelosok masyarakat untuk melakukan wawancara dan diskusi. Selanjutnya berdasarkan rekomendasi yang dirumuskan. Kasus penyakit menular dalam kajian ini adalah Demam Berdarah Dengue (DBD). baik di di tingkat kebijakan makro (RKP) maupun dalam bentuk kebijakan teknis yang perlu di tindak lanjuti oleh departemen/instansi teknis maupun instansi terkait lainnya. Desember 2006 Tim Perumus Rekomendasi Kebijakan 1. penyakit menular baru (new emerging diseases) juga menunjukkan peningkatan. Tiada gading yang tak retak. Arum Atmawikarta. para nara sumber. serta responden di dinas kesehatan propinsi dan dinas kesehatan kabupaten/kota. Selain penyakit menular yang telah lama ada. Hasil temuan dan kesimpulan dirumuskan menjadi suatu rekomendasi kebijakan yang diharapkan dapat memperbaiki kebijakan dalam penanggulangan wabah penyakit menular. Pungkas Bahjuri Ali. Namun demikian implementasi di lapangan masih menghadapi berbagai permasalahan. masyarakat serta FGD dari Bappenas. Pemerintah Daerah. Hasil kajian ini jelas belum menggambarkan kondisi utuh pelaksanaan kabijakan sehingga langkah kebijakan yang diambil pun tidak luput dari bias dari peneliti dan pengkaji. Jakarta. Kebijakan penanggulangan wabah penyakit menular telah diatur dalam peraturan perundangan. SKM. khususnya dalam penanganan kasus demam berdarah. SP. ME 6. khususnya kasus Demam Berdarah dengue (DBD). Sularsono. Mudah-mudahan laporan kajian ini memliki kontribusi substansial bagi penataan kebijakan di bidang kesehatan maupun menjadi salah satu referensi bagi penelitian kebijakan selanjutnya maupun untuk kepentingan bersifat akademis. MA 3. Kajian ini dilatarbelakangi adanya kecenderungan terus meningkatnya wabah penyakit menular di berbagai daerah di Indonesia. Perguruan Tinggi.LAPORAN AKHIR KATA PENGANTAR Dengan memanjat puji dan syukur pada Allah SWT. Unuk itu saran dan masukan guna penyempurnaan hasil kajian ini secara terbuka dinantikan. Pelaksanaan kajian telah melibatkan Deputi bidang SDM dan Kebudayaan Bappenas. STP. DR. Dinas Teknis terkait. Inti Wikanestri. Dadang Rizki Ratman. SKM 8. anggota FGD. Ir. bappeda serta masyarakat. Nurlaili Aprilianti Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular vi . dibuat implikasi kebijakan yang harus menjadi langkah tindak lanjut. MPH 2. Hadiat. akhirnya Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular dapat diselesaikan tepat pada waktunya. SH. MPM 5. khususnya Subdit Arbovirosis.

Tatalaksana Penanggulangan DBD – 23 .6 Latar Belakang .1 Perumusan Masalah .29 Jenis dan Sumber Data – 30 Responden Kajian – 31 Lokasi Kajian – 32 Teknik Analisis – 32 BAB 4 : HASIL DAN PEMBAHASAN .1 Incidence Rate (IR) dan Case Fatalities Rata (CFR) – 33 4.25 BAB 3 : METODOLOGI .2 Faktor-faktor Berpengaruh terhadap Kinerja Surveilans dan Kinerja Penangulangan KLB – 46 (1) Tenaga .2 Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular .5 Tujuan dan Sasaran – 5 Keluaran Kajian .6 Ruang Lingkup Kajian .2 2.6 Sistematika Penulisan .1.vi BAB 1 : PENDAHULUAN .2 1.3 Kendala Penanggulangan DBD – 41 Kinerja Surveilans dan Penanggulangan DBD – 41 4.33 4.2 Kebijakan Penanggulangan Penyakit DBD – 35 4.3 3.LAPORAN AKHIR DAFTAR ISI Ringkasan Eksekutif .46 (2) Dana – 51 (3) Standar Operasi dan Prosedur – 53 (4) Data – 56 (5) Sarana – 57 vii 4.3 1.4 2.6 2.5 3.1.6 BAB 2 : LANDASAN TEORI .5 2.2.2.1 Implementasi Kebijakan Penanggulangan DBD – 33 4.7 2.9 Penyakit Menular di Indonesia – 8 Surveilans Epidemiologi – 8 Kebijakan Sistem Surveilans – 10 Indikator Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan – 11 Penanggulangan Wabah Penyakit Menular – 14 Epidemiologi Global Penyakit – 16 Strategi Pengendalian Penyakit – 18 Kejadian Luar Biasa – 18 Penyakit Demam Berdarah – 20 .8 2.4 3.i Kata Pengantar .4 1.27 3.Peran Masyarakat dalam Penanggulangan DBD .1 Indikator Kinerja Surveilans dan Penanggulangan KLB – 42 4.8 2.2 3.1 1.1 1.Kendala Pencegahan DBD – 21 .6 Kerangka Pemikiran – 27 Disain Kajian .3 2.1 3.1 2.5 1.1.

3.2 Peran Pemerintah Daerah Dalam Penanggulangan DBD – 61 4.70 DAFTAR LAMPIRAN LAMPIRAN 1: Instrumen Kajian – 72 LAMPIRAN 2: Pelaksanaan Kegiatan dan Pembahasan – 76 LAMPIRAN 3 : Struktur Organisasi/Tim Pelaksana LAMPIRAN 4: Notulen Pembahsan Dengan Tim Pakar – 81 LAMPIRAN 5 : Pokok-Pokok Pikiran Hasil Ekspose dengan Tim Ahli – 83 LAMPIRAN 6 : Laporan Pelaksanaan Survey – 86 Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular viii .3 Peran dan Tanngung Jawab Pememrintah Daerah dalam Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit DBD – 59 4.1 Kewenangan Daerah dan Stndar Pelayanan Minumum – 59 4.3 Koordinasi Antar Sektor – 63 BAB 5 : KESIMPULAN DAN REKOMENDASI KEBIJAKAN .LAPORAN AKHIR 4.3 Implikasi Kebijakan .65 5.3.3.1 Kesimpulan – 65 5.2 Rekomendasi Kebijakan – 68 5.68 DAFTAR PUSTAKA .

Kab/Kota .3 Tabel 4.2 Tabel 4. Kab/Kota. Dnkes Kab/Kota. Dinkes Kab/Kota. RS dan Puskesmas – 58 : Daftar KW dan SPM Bidang Kesehatan – 60 Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular ix .5 Tabel 4.1 Tabel 1. RS dan Puskesmas – 44 : Distribusi Jenis Tenaga di Dinkes Propinsi dan Kab/Kota – 47 : Distribusi Jenis Tenaga di Rumah Sakit dan Puskesmas – 48 : Persepsi Responden Tentang Surveilans DBD – 49 : Persepsi Responden Tentang Penanggulangan DBD – 50 : Distribusi Sumber Dana di Dinkes Propinsi dan Kab/Kota – 51 : Distribusi Sumber Dana di Rumah Sakit dan Puskesmas – 52 : Distribusi Ketersediaan SOP Surveilans dan Dinkes Propinsi.LAPORAN AKHIR DAFTAR TABEL Tabel 1.1 Tabel 4.9 Tabel 4. Dikes Kab/Kota.13 Tabel 4.4 Tabel 4.2 Tabel 2. RS dan Puskesmas – 56 : Distribusi Ketersediaan Data Penanggulangan KLB Propinsi.6 Tabel 4. Rs dan Puseksmas – 42 : Distribusi Indikator Diseminasi Informasi Surveilans di Dinkes Propinsi. RS dan Puskesmas – 58 : Distribusi Ketersediaan Sarana Penanggulangan di Dinkes Propinsi. RS dan Puskesmas – 57 : Distribusi Ketersediaan Sarana Surveilans di Dinkes Propinsi.14 Tabel 4. Kab/Kota .1 Tabel 3.15 : Sepuluh Penyakit Utama Pada Pasien Rawat Inap Tahun 2003 – 2 : Target dan Capaian Pemberantasan Penyakit DBD . RS dan Puskesmas – 54 : Distribusi Ketersediaan SOP Penanggulangan KLB di Propinsi.7 Tabel 4. RS dan Puskesmas – 55 : Distribusi Ketersediaan Data Surveilans di Dinkes Propinsi.12 Tabel 4.11 Tabel 4.8 Tabel 4.10 Tabel 4. Kab/Kota.4 : Indikator Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan – 12 : Responden Kajian – 31 : Distribusi Indikator Kinerja Surveilans di Dinkes Propinsi.1 Tabel 4. Kab/kota.

4 Gambar 4.3 Gambar 3.2 Gambar 3.6 Gambar 4. Tahuan 2005-20006 – 34 : Jumlah Kasus DBD di Indonesia Tahun 2005-2006 – 35 : Data Kasus DBD di Lokasi Kajian – 44 : Data Kematian DBD di Lokasi Kajian – 45 : Case Fatality Rate (CFR) DBD di Lokasi Kajian – 46 Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular x .3 Gambar 3.7 : Alusr Distribusi Data Surveilans Terpadu Penyakit – 10 : Skema Program Penanggulangan KLB – 15 : Bagan Penanggulangan Fokus (Penanggulangan Penderita DBD di Lapangan) – 24 : Kerangka Pikir Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular – 27 :Kerangka Konsep Kinerja Surveilans – 28 : kerangka Konsep Kinerja Penanggulangan – 28 : Tahapan Pelaksanan Kajian – 32 : IR & CFR DBD Tahun 1968-2004 – 33 : Perkembangan Kasus DBD Nasional Per bulan – 34 : Kasus DBD Per Bulan di Indonesia.4 Gambar 4.1 Gambar 3.2 Gambar 4.1 Gambar 4.3 Gambar 4.5 Gambar 4.LAPORAN AKHIR DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1 Gambar 2.2 Gambar 2.

Menutup. Pemeriksaan Jentik Berkala PKK : Pembinaan Kesejahteraan Kelaurga PKPS-BBM : Program Kompensasi Pengurangan Subsidi Bahan Bakar Minyak Pokjanal : Kelompok Kerja Operasional Posyandu : Pos Pelayanan Terpadu PP & PL : Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan PSN : Pemberantasan Sarang Nyamuk Puskesmas : Pusat Kesehatan Masyarakat RSUD : Rumah Sakit Umum Daerah SARS : Severe Acute Respiratory Syndrome SKD-KLB : Sistem Kesiapan Dini Kejadian Luar Biasa SOP : Standar Operasional Prosedur SDM : Sumber Daya Manusia SKM : Sarjana Kesehatan Masyarakat Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular xi . Informasi dan Edukasi KLB : Kejadian Luar Biasa LSM : Lembaga Swadaya Masyarakat MDGs : Millennium Development Goals P2B2 : Penanggulangan Penyakit Bersumber Binatang P2M : Pemberantasan Penyakit Menular PE : Penyelidikan Epidemiologi PHBS : Pola Hidup Bersih dan Sehat PI : Perencanaan dan Informasi PJB .LAPORAN AKHIR DAFTAR SINGKATAN & DEFINISI ISTILAH 3M : Menguras. Mengubur ABJ : Angka Bebas Jentik APBN : Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara APBD : Anggaran Penerimaan dan Belanja Daerah Askeskin : Asuransi Kesehatan Masyarakat Miskin Bappeda : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Bappenas : Badan Perencanaan Pembangunan Nasional COMBI : Communication for Behavioral Impact CFR : Case Fatality Rate DAU : Dana Alokasi Umum DBD : Demam Berdarah Dengue Dekon : Dekonsentrasi DOP : Dana Operasional Puskesmas DPRD : Dewan Perwakilan Daerah Epidemiologi : Ilmu yang mempeljari penyebaran penyakit dan faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit pada manusia Epidemiologis: Orang yang ahli dalam ilmu epidemiologi FGD : Focused Group Discussion Gakin : Keluarga Miskin HIV/AIDS : Human Immuno deficiency Virus/Acquired Immuno Deficiency Syndrome IPTEK : Ilmu Pengetahuan dan Teknologi IR : Incidence Rate ISPA : Infeksi Saluran Pernafasan Akut JPK-MM : Jaminan Pelayanan Kesehatan Masyarakat miskin KIE : Komunikasi.

LAPORAN AKHIR SPIRS SP2PT SST STP Surveilans TBC TPA UGD UKS UPT Wabah WHO Yanmedik : Sistem Pelaporan Rumah Sakit : Sistem Pencatatan Pelaporan Terpadu Puskesmas : Sistem Surveilans Terpadu : : Rangkaian kegiatan secara teratur dan terus menerus. dan menginterpretasi suatu fenomena peristiwa kesehatan pada manusia/masyarakat tertentu yang hasilnya dipakai untuk melakukan tindakan terhadap peristiwa kesehatan tersebut : Tuberculosis : Tempat Penampungan Air : Unit Gawat Darurat : Usaha Kesehatan Sekolah : Unit Pelaksanan Teknis : Suatu peningkatan kejadian kesakitan dan atau kematian suatu penyakit di suatu tempat tertentu. emnganalisis. secara aktif maupun pasif dalam mengamati. yang melebihi keadaan biasanya : World Health Organization : Pelayanan Medik Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular xii . mengumpulkan.

AKB dan AKI lebih tinggi di daerah perdesaan. (5) menekan penyebaran penyakit malaria dan TBC.BAB 1 PENDAHULUAN 1. serta pada penduduk dengan tingkat ekonomi dan pendidikan rendah. Angka kematian bayi menurun dari 46 (1997) menjadi 35 per 1.8 tahun (1999) menjadi 66. (2) mengurangi dua per tiga angka kematian bayi dan angka kematian balita.8 persen (2002). Selain itu. yang ditandai dengan penduduknya yang hidup dengan perilaku dan dalam lingkungan sehat. kemauan. Pembangunan kesehatan selama ini secara umum dapat dilihat dari status kesehatan dan gizi masyarakat yang telah menunjukkan perbaikan seperti terlihat dari angka kematian bayi. di masa datang pembangunan kesehatan menghadapi berbagai permasalahan dan tantangan yang cukup berat. Malaysia. di kawasan timur Indonesia. dan antar perkotaan-perdesaan.4 persen (1999) menjadi 25. oleh karena itu secara operasional masalah-masalah kesehatan tidak dapat diselesaikan oleh Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular . (3) mengurangi tiga per empat angka kematian ibu.000 kelahiran hidup (2002–2003) dan angka kematian ibu melahirkan menurun dari 334 (1997) menjadi 307 per 100. Disparitas status kesehatan masih cukup tinggi. kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. yang berkaitan dengan pembangunan kesehatan di Indonesia antara lain adalah: (1) mengurangi separuh penduduk yang mengalami kelaparan.1 Latar Belakang a. Masalah kesehatan dapat disebabkan oleh berbagai sebab. Di samping kemajuan yang telah dicapai di atas. (6) meningkatkan akses terhadap obat esensial. antar kawasan. memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata. baik ditinjau dari tingkat sosial ekonomi. MDGs merupakan suatu kesepakatan global. Beberapa target MDG yang ingin dicapai pada akhir tahun 2015. Jika dibandingkan dengan negara-negara ASEAN seperti Thailand. indikator kesehatan dan gizi yang telah dicapai selama ini masih jauh dari sasaran yang telah ditargetkan dalam Millennium Development Goals (MDGs). Kondisi Umum Pembangunan Kesehatan Pembangunan kesehatan di Indonesia ditujukan untuk meningkatkan kesadaran. status kesehatan masyarakat Indonesia masih tertinggal. (4) menekan penyebaran penyakit HIV/AIDS. sebagai “benchmarks” untuk mengukur perkembangan dalam pencapaian Deklarasi Millenium 2000. kematian ibu melahirkan dan prevalensi gizi kurang.2 tahun (2003).000 kelahiran hidup (2002-2003). telah menurun dari 34. Prevalensi gizi kurang (underweight) pada anak balita. dan (7) mengurangi separuh proporsi penduduk yang tidak memiliki akses terhadap penyediaan air bersih. Umur harapan hidup meningkat dari 65. dan Philipina.

disamping mulai meningkatnya masalah penyakit tidak menular. demam berdarah dengue. tifus abdominalis. Tabel 1. Surveilans Epidemiologi Penyakit Tidak Menular. Diperlukan tatalaksana terintegrasi dan komprehensif dengan kerjasama yang harmonis antar sektor dan antar program.LAPORAN AKHIR sektor kesehatan sendiri.9 8 Diabetes Melietus 1.7 5 Cedera intrakanial 2. Banten. Penyakit Menular Penyakit menular masih merupakan masalah utama kesehatan masyarakat Indonesia. Untuk itu perlu dikembangkan subsistem surveilans epidemiologi kesehatan yang terdiri dari Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular.0 2 Demam berdarah dengue 3. dan Surveilans Epidemiologi Kesehatan Matra. misalnya antar propinsi. influenza.6 Salah satu penyakit menular yang akhir-akhir ini menonjol adalah munculnya kasus polio di beberapa wilayah seperti Provinsi Jawa Barat. malaria. 5-10 % pasien meninggal akibat kelumpuhan pada otot pernafasan. Polio merupakan penyakit menular yang sangat berbahaya disebabkan oleh virus yang menyerang sistem syaraf dan bisa menyebabkan kelumpuhan total. Penyakit menular tidak mengenal batas-batas daerah administratif. kabupaten/kota bahkan antar negara. YYT dan daerah badan multiple 1. b.9 4 Demam tifoid dan paratifoid 2. Berbagai emerging diseases misalnya polio dan flu burung dapat terjadi antara lain karena tingginya mobilitas penduduk antar negara.0 6 Tuberkulosis paru 1. Jawa Tengah. sehingga pemberantasan penyakit menular memerlukan kerjasama antar daerah. Beberapa penyakit menular yang menjadi masalah utama di Indonesia adalah diare. Penyakit ini hanya bisa dicegah dengan imunisasi. hewan dan lain-lain antar Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 2 .8 10 Pneumonia 1. Tidak ada obat untuk penyakit polio.9 9 Cedera YDT lainnya. Lampung dan Sumatera Selatan. penyakit saluran pencernaan dan penyakit lainnya.1 Sepuluh Penyakit Utama Pada Pasien Rawat Inap Tahun 2003 No Pasien Rawat inap % 1 Diare dan gastroenteritis infeksi tertentu 8.9 7 Demam yang sebabnya tidak tahu 1. Satu dari 200 kasus infeksi virus akan menyebabkan kelumpuhan. Dengan demikian penularan penyakit antar negara (trans-nasional) ini dapat terjadi dengan mudah mengingat semakin mudahnya transportasi manusia.7 3 Penyakit kehamilan dan persalinan lainnya 2. Surveilans Epidemiologi Masalah Kesehatan.

Daerah endemis tersebar di sebagian besar wilayah Indonesia. Sejak Januari sampai 17 Maret 2004. tetapi bahkan semakin mewabah. (4) pengelolaan bahan-bahan yang mengandung penyebab penyakit. Penyakit DBD merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di wilayah tropis. kejadian luar biasa (KLB) DBD di Indonesia telah menyerang 39. India (0. DBD bukannya terkendali. infeksi saluran pernafasan akut (ISPA).3 persen). serta diabetes mellitus dan kanker. Peraturan tersebut pada intinya mengatur (1) tata cara penetapan dan pencabutan penetapan daerah wabah . Namun demikian. Salah satu penyakit menular yang merupakan masalah kesehatan masyarakat dan menimbulkan dampak sosial maupun ekonomi adalah penyakit demam berdarah dengue (DBD). (2) upaya penanggulangan. pada umumnya kajian menunjukkan bahwa pengendalian DBD perlu dilakukan secara komprehensif dari berbagai aspek baik medis maupun sosial. Vietnam (0. Dengan demikian telah terjadi transisi epidemiologi sehingga Indonesia menghadapi beban ganda pada waktu yang bersamaan (double burden). malaria. Thailand (0. pada waktu yang bersamaan terjadi peningkatan penyakit tidak menular seperti penyakit jantung dan pembuluh darah.LAPORAN AKHIR negara. chikunguya. Malaysia (0. DBD masih sulit diberantas karena tidak tersedianya vaksin dan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 3 . (5) ganti rugi dan penghargaan. Severe Acute Respiratory Syndrom (SARS) dan Flu Burung. demografi. dengan keterlibatan petugas kesehatan maupun pemberdayaan masyarakat. 40 tahun 1991 tentang Penanggulangan Penyakit Menular. diare. dan berulang kali menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) disertai kematian yang banyak. Penyakit yang ditularkan melalui nyamuk Aedes aegypti ini dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti lingkungan domestik maupun iklim. Pola penyakit yang diderita oleh masyarakat sebagian besar adalah penyakit infeksi menular seperti tuberkulosis paru. Kebijakan penanggulangan penyakit menular khususnya dalam penanggulangan wabah telah diatur dalam bentuk peraturan perundangan. yaitu UU No 4 Tahun 1984 tentang Penyakit Menular serta Peraturan Pemerintah No.1 persen).938 orang dengan angka kematian 1. Meskipun dibandingkan dengan KLB 1968 angka kematiannya jauh telah menurun.000 penduduk pada tahun 2010. HIV/AIDS. Indonesia juga menghadapi emerging diseases seperti demam berdarah dengue (DBD). Dalam KLB 2004 tercatat angka kejadian (incidence rate) 15 per 100. sosial ekonomi dan perilaku. serta (7) pelaporan. dan Filipina (1 persen). Oleh karena itu perlu upaya ekstra agar penularan dapat dicegah dan ditangani sedini mungkin. Meskipun sudah lebih dari 35 tahun berada di Indonesia. sebenarnya angka kematian masih terlalu tinggi jika dibandingkan dengan Singapura (0. (6) pembiayaan penanggulangan wabah.3 persen.2 persen). Walaupun demikian.000 penduduk. polio dan penyakit kulit. Berbagai penelitian mengenai faktor risiko terhadap kejadian DBD telah dilakukan oleh beberapa peneliti dengan memberikan hasil yang selaras maupun yang kontradiktif.9 persen). (3) peran serta masyarakat.3 persen). padahal tujuan program pemberantasan DBD dalam Indonesia Sehat 2010 adalah menurunkan angka kejadian di bawah 5 per 100.

dan mengubur) sudah sering disosialisasikan namun hasilnya belum menggembirakan. entomologi. Semuanya menyadari bahwa strategi hanya dapat diperoleh dengan melaksanakan analisis situasi berdasarkan aspek epidemiologi.5 24. Berdasarkan data Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan. dan sikap masyarakat. juga masih belum optimalnya pengendalian penyakit yang dilakukan oleh Pemerintah. (2) terbatasnya tenaga pelaksana Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 4 . Kendala yang dihadapi antara lain berkaitan dengan (1) kebijakan sistem surveilans yang belum dipahami sampai ke petugas teknis di lapangan.7 21.34 TAHUN 2004 4 37. (2) upaya penanggulangan. menutup. serta (3) adanya desentralisasi kewenangan pengelolaan. Meskipun demikian.LAPORAN AKHIR kurangnya peran serta masyarakat. Pemerintah sejak tahun 1993 telah berusaha membina peran serta masyarakat melalui berbagai kelompok kerja pemberantasan DBD di desa atau kelurahan. 2006 Kebijakan penanggulangan penyakit menular telah diatur dalam peraturan perundangan. Gerakan 3M selama 30 menit setiap minggu juga dicanangkan. Tabel 1. Beberapa permasalahan yang teridentifikasi antara lain berkaitan dengan (1) pelaksanaan surveilans.25 2003 4. Gerakan pemberantasan sarang nyamuk dengan instrumen 3M (menguras. Data ini selain menunjukkan kecenderungan makin tingginya penderita DBD dari tahun ke tahun.31 Sumber: Ditjen PP & PL Depkes. Namun demikian implementasi di lapangan masih menghadapi berbagai permasalahan. rasio penderita DBD per 100.2 Target dan Capaian Pemberantasan Penyakit DBD TARGET DAN CAPAIAN PEMBERANTASAN DBD 60 RASIO 40 20 0 Target Realisasi 2001 5.000 penduduk selama periode tahun 2001-2005 selalu menunjukkan diatas rasio yang ditargetkan. pengetahuan.1 2005 10 43. Ketiadaan vaksin merupakan penghambat utama eradikasi DBD. saat ini perkembangan vaksin masih memerlukan penelitian lebih lanjut agar dapat digunakan ke manusia. Berdasarkan hasil penelitian WHO Tahun 2003 dilaporkan bahwa pelaksanaan kegiatan surveilans masih menghadapi kendala.66 2002 5 19.

Identifikasi peran dan tanggungjawab Pemerintah Daerah dalam penanggulangan penyakit menular Sasaran Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 5 . Reformasi pemerintahan tersebut memberi dampak perubahan cukup signifikan terhadap peran pemerintah dan swasta dalam program dan pelayanan kesehatan. 32 dan 33 Tahun 2005 telah memberikan pembagian kewenangan dalam pengelolaan pemerintahan di daerah. kemampuan SDM dan sumber dana daerah. Faktor-faktor apa saja yang mwempengaruhi kinerja surveilans dan penaggulangan penyakit menular ? 2. SOP dan data ? 3.2 Perumusan Masalah Berdasarkan permasalahan di atas. dana serta sistem pelaporan. sarana. (3) adanya ketidaksesuaian kompetensi. adanya regulasi pemerintahan dalam bentuk UU No. Adanya otonomi daerah ini juga berpengaruh terhadap peran dan tanggung jawab Kabupaten/Kota/Propinsi untuk mengembangkan diri sesuai masalah kesehatan masyarakat. mencakup aspek tenaga. Identifikasi kinerja surveilans serta faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja surveilans penyakit menular 2.3 Tujuan dan Sasaran Tujuan Tujuan utama kajian adalah menyusun rumusan kebijakan penanggulangan penyakit menular secara terpadu berdasarkan analisis faktor-faktor yang berpengaruh dalam pelaksanaan kebijakan penanggulangan penyakit menular di pusat dan daerah. Tujuan khusus : 1. Langkah-langkah apa yang diperlukan untuk penanggulangan penyakit menular. beberapa pertanyaan penelitian yang melandasi kajian ini antara lain adalah : 1. Identifikasi kinerja penanggulangan penyakit menular serta faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja penanggulangan penyakit menular 3.LAPORAN AKHIR surveilans. fasilitas pendukung. dukungan logistik. (4) terbatasnya dana pelaksanaan surveilans di tingkat operasional. Berkaitan dengan desentralisasi kewenangan pengelolaan kebijakan pembangunan (otonomi daerah). 22 dan 25 tahun 1999 yang kemudian direvisi dengan UU No. Bagaimana peran dan tanggungjawab (kewenangan) pemerintah daerah dalam penanggulangan penyakit menular ? 1. Permasalahan yang dihadapi dalam penanggulangan wabah terutama berkaitan dengan aspek manajemen menyangkut kesiapan tenaga lapangan. dana. dan (5) belum optimalnya penggunaan sarana kesehatan dalam mendukung pelaksanaan surveilans penyakit seperti pemanfaatan laboratorium dan peralatan. 1.

penanganan wabah. Identifikasi kinerja penanggulangan KLB DBD yang mencakup frekuensi KLB. dan pengumpulan data serta metode analisis. jumlah kematian dan luas daerah terserang 4. Identifikasi peran dan tanggung jawab daerah dalam penanganan penyakit menular khususnya pada kasus DBD. dan SOP. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 6 . serta tanggung jawab dan kewenangan antara pusat dan daerah. Bab III membahas tentang metodologi yang digunakan berkaitan dengan kerangka pemikiran. 1. adalah : 1. tujuan dan sasaran kajian. Identifikasi kinerja surveilans yang mencakup (1) ketersediaan peta rawan KLB DBD. dana. keluaran serta ruang lingkup kajian. jumlah kasus. jenis. Lingkup kegiatan yang akan dilakukan dalam kajian ini antara lain.LAPORAN AKHIR Tersusunnya rumusan kebijakan upaya penanggulangan penyakit menular secara terpadu melalui optimalisasi sumberdaya yang tersedia sekaligus sebagai acuan bagi pelaksanaan program penanggulangan penyakit menular di pusat dan daerah. Identifikasi faktor berpengaruh terhadap kinerja surveilans mencakup kondisi tenaga. disain kajian. Bab II membahas tentang landasan teori mencakup pengertian dan hasil kajian yang sudah dilakukan. sarana.6 Sistematika Penulisan Penulisan laporan dibuat dengan sistematika sebagai berikut: Bab I membahas tentang latar belakang. Identifikasi faktor berpengaruh terhadap kinerja penanggulangan KLB DBD mencakup tenaga. 3.5 Ruang Lingkup Kajian ini difokuskan pada evaluasi kebijakan penanggulangan penyakit menular yang telah dilakukan selama ini. sarana dan SOP 5.4 Keluaran Keluaran kajian adalah rumusan kebijakan penanggulangan penyakit menular yang mencakup aspek surveilans. 1. dana. sumber. data. dan (2) pelaksanaan diseminasi informasi 2. data. 1.

Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 7 . Faktor-faktor Berpengaruh terhadap Kinerja Surveilans dan Penanggulangan KLB. dana. Bab V Kesimpulan dan Rekomendasi Kebijakan. Kinerja Surveilans dan Penanggulangan DBD. mencakup tenaga. data.LAPORAN AKHIR Bab IV Hasil dan Pembahasan. Indikator kinerja surveilans dan penanggulangan KLB. mencakup Gambaran Umum Penanggulangan DBD. sarana dan SOP.

kini diberbagai kota pelabuhan. HIV/AIDS (pertama kali di Denpasar 1987) kini merambah ke Indonesia. partner nonkesehatan. Epidemiologi global yakni perjalan penyakit antar benua. Tiap tahun diselenggarakan pertemuan nasional semacam konvensi untuk melakukan monitoring kemajuan program serta perkuatan dari networking. misalnya antar propinsi.1 Penyakit Menular di Indonesia Penyakit menular masih merupakan masalah utama kesehatan masyarakat Indonesia. yakni menghilangkan sumber penyakit dengan cara menemukan dan mencari kasus secara proaktif. swasta. orgfanisasi nonpemerintah. Masing-masing penyakit memiliki peta endemisitas tersendiri. Pengertian Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 8 . Strategi pengendalian penyakit menular secara umum pada dasarnya sama. Penyakit menular tidak mengenal batas-batas daerah administratif.LAPORAN AKHIR BAB 2 LANDASAN TEORI 2. pemerintah. tifus abdominalis. Manajemen pemberantasan dan pengendalian penyakit menular juga memiliki dua perspektif: a. Epidemiologi lokal yang intinya dinamika tranmisi penyakit tertentu pada wilayah tertentu. disamping mulai meningkatnya masalah penyakit tidak menular. penyakit saluran pencernaan dan penyakit lainnya. Beberapa penyakit menular yang menjadi masalah utama di Indonesia adalah diare. Indonesia sebagai wilayah tropik dan wilayah dinamik secara sosial ekonomi. influenza. kemudian melakukan pengobatan hingga sembuh. bergabung menjadi satu sistem. b. Sekaligus merupakan kawasan yang berpotensi tinggi untuk hadirnya penyakit infeksi baru. sehingga pemberantasan penyakit menular memerlukan kerjasama antar daerah. misalnya lingkungan dan intervensi terhadap perilaku. yakni apa yang dikenal sebagai Sistem Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan. Kabupaten/kota bahkan antar negara. malaria. Intervensi faktor resiko. Semua institusi pelayanan seperti kuratif penyakit menular maupun pelayanan kesehatan masyarakat. 2. Penyakit lain merupakan penyakit infeksi endemik dan sudah lama di Indonesia dan endemik di berbagai kabupaten (daerah pegunungan maupun pantai) yaitu TBC dan Malaria. virus hantaan (1977) dijumpai pada tikus diberbagai pelabuhan. Beberapa penyakit infeksi baru (ketika itu) dan kini endemik adalah demam berdarah dengue (pertama kali tahun 1968 di Surabaya).2 Surveilans Epidemiologi Selama ini pengertian konsep surveilans epidemiologi sering dipahami hanya sebagai kegiatan pengumpulan data dan penanggulangan KLB. merupakan kawasan endemik berbagai penyakit menular. demam berdarah dengue.

b. pengolahan dan penyebaran informasi epidemiologi kepada penyelenggara program kesehatan. Dinas Kesehatan Kab/Kota. sumber-sumber data. upaya peningkatan kemampuan sumberdaya antara unit surveilans Dinas Kesehatan Kab/Kota. Oleh karena itu perlu dikembangkan suatu definisi surveilans epidemiologi yang lebih mengedepankan analisis atau kajian epidemiologi serta pemanfaatan informasi epidemiologi. Dinas Kesehatan Propinsi dan Ditjen PPM & PL Depkes termasuk Puskesmas Sentinel dan Rumah Sakit Sentinel c. termasuk Puskesmas dan Rumah Sakit Sentinel. Menurut WHO. pusat penelitian. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 9 . tanpa melupakan pentingnya kegiatan pengumpulan dan pengolahan data. Rumah Sakit.LAPORAN AKHIR seperti itu menyembunyikan makna analisis dan penyebaran informasi epidemiologi sebagai bagian yang sangat penting dari proses kegiatan surveilans epidemiologi. unit surveilans program pada masingmasing Puskesmas. pengolahan. Jejaring surveilans dalam distribusi informasi kepada program terkait pusatpusat penelitian. Sistem surveilans epidemiologi merupakan tatanan prosedur penyelenggaraan surveilans epidemiologi yang terintehrasi antara unit-unit penyelenggara surveilans dengan laboratorium. Propinsi dan Pusat. Dalam sistem ini yang dimaksud dengan surveilans epidemiologi adalah kegiatan analisis secara sistematis dan terus menerus terhadap penyakit atau masalah-masalah kesehatan dan kondisi yang mempengaruhi terjadinya peningkatan dan penularan penyakit atau masalah-masalah kesehatan tersebut agar dapat melakukan tindakan penanggulangan secara efektif dan efesien melalui proses pengumpulan data. Surveilans Terpadu Penyakit merupakan proses kegiatan yang dilakukan secara terus menerus dan sistematis. Jejaring surveilans dalam pertukaran data. pusat kajian dan penyelenggara program kesehatan. unit surveilans di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. pengendalian dan evaluasi serta dukungan sumberdaya yang memadai sebagai suatu program surveilans terpadu. pelaksanaan. Alur distribusi data dan umpan balik dalam dilihat dalam skema di bawah. surveilans adalah proses pengumpulan. Jejaring Surveilans Jejaring surveilans digunakan dalam Surveilans terpadu penyakit adalah a. Rumah Sakit. Laboratorium. analisis dan interpretasi data secara sistematik dan terus menerus serta penyebaran informasi kepada unit yang membutuhkan untuk mengambil tindakan. Jejaring surveilans dalam pengiriman data dan informasi serta peningkatan kemampuan manajemen surveilans epidemiologi antara Puskesmas. pusat-pusat kajian. kajian. unit surveilans Dinas Kesehatan Propinsi dan Unit Surveilans Ditjen PPM & PL Depkes. unit surveilans di Dinas Kesehatan Propinsi dan unit surveilans di Ditjen PPM & PL Depkes. meliputi tata hubungan surveilans epidemiologi antar wilayah Kabupaten/Kota. sehingga membutuhkan dukungan perencanaan.

penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit dan keracunan. serta penanggulangan penyakit tidak menular diperlukan suatu sistem surveilans penyakit yang mampu memberikan dukungan upaya program dalam daerah kerja Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 10 .LAPORAN AKHIR Unit Surveilans Ditjen PPM & PL Depkes Unit Surveilans Dinas Kesehatan Propinsi Unit Surveilans Dinas Kesehatan Kab/Kota Unit Surveilans Puskesmas Unit Surveilans Rumah Sakit Unit Surveilans Laboratorium Gambar 2.1 Alur Distribusi Data Surveilans Terpadu Penyakit 2. akurat merupakan evidance atau bukti untuk digunakan dalam proses pengambilan kebijakan yang tepat dalam pembangunan kesehatan.3 Kebijakan Sistem Surveilans Surveilans Epidemiologi merupakan kegiatan yang sangat penting dalam manajemen kesehatan untuk memberikan dukungan data dan informasi epidemiologi agar pengelolaan program kesehatan dapat berdaya guna secara optimal. cepat. Untuk melakukan upaya pemberantasan penyakit menular. Informasi epidemiologi yang berkualitas.

40 tahun 1991 tentang Penanggulangan Penyakit Menular. 2. Undang-Undang No. Beberapa produk hukum lain terkait dengan pelaksanaan surveilans epidemiologi adalah 1. dukungan kerjasama antar program dan sektor serta kerjasama antara Kabupaten/Kota. 2. Propinsi dan Nasional. 6. 242 tahun 2003 tentang Penetapan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) sebagai penyakit yang dapat menimbulkan wabah dan pedoman penanggulangannya. Nasional dan internasional. 3. Sistem surveilans tersebut perlu dikembangkan dan disesuaikan dengan ketetapan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah. Indikator-indikator tersebuat adalah sebagai berikut: Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 11 . 560 tahun 1989 tentang Jenis Penyakit yang dapat menimbulkan wabah. yang telah mengalami beberapa kali perubahan dan perbaikan. Surat Keputusan Menteri Kesehatan No. 4 tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular. Pada tahun 1987 telah dikembangkan Sistem Surveilans Terpadu (SST) berbasis data. Propinsi. tatacara penyampaian laporannya dan tacara penanggulangan seperlunya.LAPORAN AKHIR Kabupaten/Kota. Surat Keputusan Menteri Kesehatan No. 5. Undang-Undang No. Peraturan Menteri Kesehatan tentang Sistem Kewaspadan Dini KLB No. proses dan keluaran. Peraturan Pemerintah No. Peraturan Menteri Kesehatan No. 949 tahun 2004. 1479 tahun 2003 tentang Surveilans Terpadu Penyakit. Sistem Pencatatan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP). Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom. Disamping keberadaan SST telah juga dikembangkan beberapa Sistem Surveilans khusus penyakit.4 Indikator Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan Kinerja penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan diukur dengan indikator masukan. 4. dan sistem Pelaporan Rumah Sakit (SPIRS). 1116/Menkes/SK/VIII/2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan serta kebutuhan informasi epidemiologi untuk mendukung upaya pemberantasan penyakit menular dan penyakit tidak menular. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pemerintah Pusat dan Daerah. 7. dan Keputusan Menteri Kesehatan No. Ketiga indikator tersebut merupakan satu kesatuan. dimana kelemahan salah satu indikator tersebut menunjukkan kinerja sistem surveilans yang belum memadai. Surat Keputusan Menteri Kesehatan No. 1116 tahun 2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Surveilans Epidemilogi Kesehatan.

1 paket pedoman pelaksanaan surveilans epidemiologi dan program aplikasi komputer e. 4 paket peralatan pelaksanaan surveilans epidemiologi f. 1 paket formulir 2. Kabupaten/Kota 4. 1 tenaga epidemiologi ahli (S2) b. Rumah Sakit Sarana 5. Kabupaten/Kota Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 12 . 1 tenaga epidemiologi terampil 1 tenaga epidemiologi terampil a. faksimili. 1 tenaga epidemiologi ahli (S3) b. 1 paket kepustakaan d. 1 paket alat komunikasi (telepon. 1 paket jaringan elektromedia b. 4 tenaga epidemiologi ahli (S1) c.1 Indikator Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan Masukan Tenaga Tingkat 1. 1 tenaga epidemiologi ahli (S2) b. 2 tenaga epidemiologi ahli (S1) atau terampil c. 32 tenaga epidemiologi terampil UPT Departemen Kesehatan memiliki a. 1 paket kepustakaan d. 2 tenaga epidemiologi ahli (S2) b. Puskesmas 1. 1 tenaga dokter umum a. 8 tenaga epidemiologi ahli (S2) c. 1 paket alat komunikasi (telepon. 1 roda empat. 1 tenaga epidemiologi ahli b. 2 tenaga epidemiologi terampil d. 16 tenaga epidemiologi ahli (S1) d. SSB dan telekomunikasi lainnya) c. 4 tenaga epidemiologi terampil d. Pusat Indikator Unit utama Departemen Kesehatan memiliki a. SSB dan telekomunikasi lainnya) c. Pusat.LAPORAN AKHIR Tabel 2. 1 paket jaringan elektromedia b. faksimili. 2 tenaga epidemiologi ahli (S1) c. Propinsi 3. 1 paket pedoman pelaksanaan surveilans epidemiologi dan program aplikasi komputer e. 1 tenaga dokter umum a. Propinsi 2. 1 tenaga dokter umum a. 1 roda dua a.

Pusat a. Kelengkapan laporan bulanan STP unit pelayanan ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota sebesar 90% Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 13 . Umpan balik sebesar 80% atau lebih 3. Propinsi a. 1 paket peralatan pelaksanaan surveilans epidemiologi g. 1 paket komputer Rumah Sakit b. Kelengkapan laporan unit pelapor sebesar 80% atau lebih b.LAPORAN AKHIR Proses Kegiatan Surveilans Keluaran f. Kelengkapan laporan unit pelapor dan sumber data awal sebesar 80% atau lebih b. Kabupaten/Kota a. Kelengkapan laporan unit pelapor dan sumber data awal sebesar 80% atau lebih b. 1 paket alat komunikasi (telepon. Umpan balik sebesar 80% atau lebih 2. 2003 Selanjutnya Indikator Surveilans Kesehatan dijabarkan dalam Indikator Kinerja Penyelenggaraan terpadu Penyakit sebagai berikut: a. 1 paket pedoman pelaksanaan surveilans epidemiologi dan program aplikasi komputer e. Penerbitan buletin kajian epidemiologi sebesar 4 kali atau lebih setahun d. 1 paket kepustakaan d. 1 roda dua 1. 1 roda dua 3. Pusat Profil Surveilans Epidemiologi Nasional sebesar 1 kali setahun Profil Surveilans Epidemiologi Propinsi sebesar 1 kali setahun Profil Surveilans Epidemiologi Kabupaten/ Kota sebesar 1 kali setahun Sumber: Inspektorat Jenderal Depkes RI. Penerbitan buletin kajian epidemiologi sebesar 12 kali atau lebih setahun d. 2 paket peralatan pelaksanaan surveilans epidemiologi g. SSB) c. Ketepatan laporan unit pelapor dan sumber data awal sebesar 80% atau lebih c. Penerbitan buletin kajian epidemiologi sebesar 12 kali atau lebih setahun d. Puskesmas dan a. Ketepatan laporan unit pelapor sebesar 80% atau lebih c. 1 paket formulir f. 1 roda empat. faksimili. Umpan balik sebesar 80% atau lebih 1. Ketepatan laporan unit pelapor dan sumber data awal sebesar 80% atau lebih c.

harus dilakukan secara terpadu dengan upaya kesehatan lain. Ketepatan laporan bulanan STP Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota ke Dinas Kesehatan Propinsi sebesar 90% f. Departemen Komunikasi dan Informasi. Distribusi data dan informasi bulanan Kabupaten/Kota. propinsi dan nasional sebesar 100% j. Ketepatan laporan bulanan STP Unit Pelayanan ke Dinas Kesehatan Kabupaten Kota sebesar 80% c. Kelengkapan laporan bulanan STP Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota ke Dinas Kesehatan Propinsi sebesar 100% e. Oleh karena itu penanggulangan wabah harus dilakukan secara dini. Kondisi lain yang dapat menimbulkan penyakit menular adalah akibat kondisi masyarakat dari suatu wilayah tertentu yang kurang mendukung antara lain kesehatan lingkungan yang kurang baik atau gizi masyarakat yang belum baik. Ketepatan laporan bulanan STP Dinas Kesehatan Propinsi ke Ditjen PPM & PL Depkes sebesar 90% h. Penanggulangan wabah penyakit menular bukan hanya semata menjadi wewenang dan tanggung jawab Departemen Kesehatan. Penerbitan profil tahunan atau buku data surveilans epidemiologi Kabupaten/Kota. Penerbitan buletin Epidemologi di propinsi dan nasional adalah sebesar 12 kali setahun l. Penanggulangan secara dini dimaksudkan untuk mencegah timbulnya kejadian luar biasa dari suatu penyakit wabah yang dapat menjurus terjadinya wabah yang dapat mengakibatkan malapetaka. Wabah penyebaran penyakit dapat berlangsung secara cepat. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota mencapai indikator Epidemiologi STP sebesar 80% d. penyembuhan dan pemulihan kesehatan. Depatemen Sosial. Selain itu dalam upaya Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 14 . Penerbitan buletin Epidemiologi di Kabupaten/Kota adalah 4 kali setahun k. Oleh karena itu dalam pelaksanaan penanggulangannya memerlukan keterkaitan dan kerjasama dari berbagai lintas sektor Pemerintah dan masyarakat. Propinsi dan Nasional adalah satu kali setahun. Departemen Keuangan dan Departemen Dalam Negeri. propinsi dan nasional sebesar 100% i. Berbagai lintas sektor Pemerintah misalnya Departemen Pertahanan Keamanan.5 Penanggulangan Penyakit Menular Penanggulangan penyakit menular merupakan bagian dari pelaksanaan pembangunan kesehatan. baik melalui perpindahan. maupun kontak hubungan langsung atau karena jenis dan sifat dari kuman penyebab penyakit wabah itu sendiri.LAPORAN AKHIR b. Dalam upaya penanggulangan penyakit menular. Kelengkapan laporan bulanan STP Dinas Kesehatan Propinsi ke Ditjen PPM & PL Depkes sebesar 100% g. Keterkaitan sektor-sektor dalam upaya penanggulangan wabah tersebut sesuai dengan tugas. wewenang dan tanggung jawabnya dalam upaya penanggulangan wabah. 2. yaitu upaya pencegahan. tetapi menjadi tanggung jawab bersama. Umpan balik laporan bulanan Kabupaten/Kota.

ekonomi dan sosial.2 Skema Program Penanggulangan KLB Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 15 . yang keseluruhannya harus dilaksanakan secara terpadu. masyarakat juga dapat diikutsertakan dalam penanggulangannya. 25 tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom yang berpengaruh terhadap penyelenggaraan penanggulangan KLB. Peraturan Menteri Kesehatan No.LAPORAN AKHIR penanggulangan wabah tersebut. PP No. 560 tentang Jenis Penyakit Tertentu Yang dapat Menimbulkan Wabah. KLB penyakit dapat mengakibatkan terjadinya peningkatan kesakitan dan kematian yang besar. Data & Informasi Penduduk dan Lingkungan Perbaikan kondisi rentan KLB Prioritas Penanggulangan KLB SKD-KLB KLB tidak Menjadi Masalah Kesehatan Masyarakat Penanggula ngan KLB Data KLB dan Data Epidemiologi Lain Kesiapsiagaan Menghadapi KLB Gambar 2. yamg kemudian diikuti dengan terbitnya PP No. Indonesia menerapkan secara penuh UU No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan UU No. Undang-undang tersebut kemudian direvisi menjadi UU No. perlu diidentifikasi adanya ancaman KLB beserta kondisi rentan yang memperbesar resiko terjadinya KLB agar dapat dilakukan peningkatan kewaspadaan dan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan KLB. Penanggulangan wabah/KLB penyakit menular diatur dalam UU No. 40 tahun 1991 tentang Penanggulangan Penyakit Menular. Kejadian-kejadian KLB perlu dideteksi secara dini dan diikuti tindakan yang cepat dan tepat. 25 tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan No. yang juga berdampak pada pariwisata. sehingga membutuhkan perhatian dan penanganan oleh semua pihak terkait. 4 tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular. Pada tahun 2000. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.

terutama penyakit menular melalui transmisi serangga atau binatang yang memiliki reservoir. kemudian langsung ke selatan menuju Australia. Wilayah-wilayah yang merupakan jalur transmisi sebaiknya memiliki kapasitas dan aktif mengakses informasi. Dengan kata lain. maka memiliki masalah yang sama seperti malaria. kabupaten/kota terikat pada komitmen dunia. lebih dipengaruhi oleh batasan ekosistem. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 16 . Atau perjalanan kelelawar yang dapat menyebarluaskan virus Nipah. setiap sudut Kabupaten dan Kota di Indonesia harus dianggap sebagai bagian dari komunitas dunia. Binatang umumnya memiliki habitat tertentu dan terkait dan batasan ekosistem. Dengan demikian. penyakit menular dipengaruhi mobilitas penduduk sebagai sumber penyakit. maupun masyarakat hendaknya memiliki kapasitas terhadap permasalahan epidemiologi global. migrasi burung utara selatan dan sebaliknya. Sedangkan wilayah timur dari arah utara menyusur pantai timur China. KLB polio pada awal tahun 2005. wilayah tropik secara umum memiliki karakteristik ekosistem sama. Oleh karena itu. migrasi berbagai binatang seperti migrasi burung antar benua bisa merupakan sumber pembawa penyakit. Seorang Kepala Dinas Kesehatan harus memahami benar apakah daerahnya termasuk lalulintas internasional atau bukan. Selain itu. hendaknya meningkatkan kemampuannya untuk mengahadapi globalisasi penyakit menular. Dalam perspektif global. Dalam hal ini Dinas Kesehatan. Misalnya. harus memahami hal ini. Sumatera. Lintas Batas Penyakit menular bersifat lintas batas. Sebagai contoh Avian influenza. epidemiologi global harus pempelajari kejadian dan persebaran dalam perspektif dunia. Sebab. Afrika Tengah. LSM.6. Demikian juga dengan daerah wisata internasional. ketimbang batasan administratif. dan mekanisme jaringan antar negara yang bersifat lintas batas. Sedangkan wilayah yang sifatnya “terbuka” dengan teknologi transportasi jarak jauh. Nusa Tenggara Timur. Maksudnya. Penyebaran global memiliki potensi terjadinya pandemik. dua kabupaten berbatasan yang memiliki ekosistem penyakit yang sama wajib bekerjasama. Hal ini memerlukan kerjasama global. Peta endemisitas malaria terbentang dari Asia Tenggara. Filipina. serta sebaliknya. penyakit menular tidak mengenal batas wilayah administratif pemerintah. memiliki jalur barat yakni kawasan semenanjung Malaysia. Misalnya. Seperti asal datangnya penyakit. kemudian melalui apa penyakit tersebut datang. Seorang Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/kota yang berbatasan dengan negara lain. Dengan kata lain.LAPORAN AKHIR 2. Penyakit menular juga dapat berpindah atau bergerak dari satu wilayah ke wilayah lainnya melalui mobilitas penduduk sebagai sumber penularan maupun komoditas sebagai wahana transmisi. Sulawesi Utara. hingga Amerika Latin. kabupaten dan kota di Indonesia merupakan wilayah yang terkena resiko yang sama dalam perspektif global. Epidemiologi Global Penyakit Penyakit menular bersifat global. Jawa. Penyakit menular yang sifatnya relatif “tertutup”. Termasuk petugas yang mengawasi jalur-jalur penerbangan internasional.

Untuk itu. untuk kepentingan perencanaan dan kegiatan berdasarkan keperluan (fakta). Serta mengendalikan faktor risiko penyakit. di daerah Pacitan berkaitan dengan cekungan-cekungan padas di sungai-sungai. mitra mana yang dianggap berkepentingan. Desentralisasi juga memudahkan identifikasi faktor resiko yang bersifat lokal. sekaligus sebagai mata air. Bahkan keterpaduan surveilans yakni surveilans kasus sekaligus bersama-sama dengan faktor risiko terkait. seperti yang telah diuraikan sebelumnya hal-hal yang bersifat lintas batas berpotensi terabaikan. Kemudian keterpaduan dikaitkan dengan promosi kesehatan seperti penggunaan alat pelindung ketika bekerja. Dengan memahami faktor-faktor yang berperan timbulnya penyakit menular khas daerahnya. Didukung fakta hasil surveilans terpadu. antar negara. desentralisasi berati mengharuskan manajemen penyakit menular melakukan pendekatan wilayah administratif. seorang “kepala” pengendalian penyakit harus mampu menemukan dan mengobati sumber penularan penyakit secara aktif. dalam perspektif ekosistem maupun dinamika/mobilitas faktor risiko penyakit antar kabupaten. Di satu sisi. tenaga. Analisis masing-masing faktor risiko dilakukan sekaligus dan terpadu melalui perencanaan. Serta didukung jaringan dan kerjasama erat baik antar wilayah dan adimistrasi pemerintah maupun diantara para pelaku pemberantasan penyakit menular dan penyehatan lingkungan itu sendiri dalam satu wilayah. antara stakeholder. sehingga dapat meyakinkan pihak-pihak otoritas pendanaan seperti DPRD. Semua itu dituangkan dalam bentuk perencanaan yang didukung fakta (evidences) lokal. penggunaan mikroskop. Keterpaduan pun termasuk penggunaan sumber daya. penderita penyakit menular itu sendiri. Kemudian ditentukan siapa saja yang harus diikutsertakan. Dengan demikian. secara teoritis Bupati atau Kepala Dinas Kesehatan secara efektif melakukan upaya pemberantasan penyakit menular yang bersifat spesifik lokal. membutuhkan model manajemen penyakit menular berbasis wilayah kabupaten/kota. Sebagai contoh. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 17 . pendekatan wilayah kabupaten/kota membantu perencanaan dan pelaksanaan serta pelaksanaan program lebih fokus. Namun. antara penyakit. Yakni. penularan Malaria di Kabupaten Banjarnegara berkenaan dengan nyamuk yang memiliki habitat kebun salak dan/atau kolam yang merupakan jamban keluarga. Di lain pihak. kendaraan.LAPORAN AKHIR dalam satu wilayah otonomi kabupaten. Kemudian. intervensi holistik. sedangkan di wilayah Riau risiko tertular malaria datang ketika sedang menyadap karet di pagi buta. Sehingga intervensi faktor resiko yang bersifat lokal lebih bisa mudah dikendalikan. memerlukan model manajemen pemberantasan penyakit dan penyehatan lingkungan secara terintegrasi yang berbasis wilayah kabupaten/kota dalam perspektif komprehensif. antar propinsi. dan berbagai upaya lain secara bersama dengan lintas sektor. Keterpaduan Untuk memvisualisasikan proses transmisi penyakit serta simpul manajemen. jadwal. maka perlu identifikasi mitra kerja untuk menangani faktor risiko tersebut.

perlu dilakukan upaya alternatif berupa pemberantasan penyakit yang berbasis lingkungan. keluarga terdekat atau tokoh masyarakat setempat dapat meminta bantuan Pengawas Menelan Obat (PMO).7 Strategi Pengendalian Penyakit Strategi pemberantasan penyakit menular berbasis wilayah memiliki pengertian bahwa setiap wilayah administrasi pembangunan (kabupaten/kota) pemberantasan penyakit menggunakan “paket” pendekatan strategi sebagai berikut : (1) Intensifikasi Pencarian dan Pengobatan Kasus Melakukan pencarian dan pengobatan secara intensif terhadap penderita. 2. Untuk beberapa penyakit menular yang memerlukan pengobatan jangka panjang seperti halnya TBC.8 Kejadian Luar Biasa (KLB) Kejadian Luar Biasa (KLB) yaitu munculnya penyakit di luar kebiasaan (base line condition) yang terjadi dalam waktu relatif singkat serta memerlukan upaya penanggulangan secepat mungkin. Kejadian luar biasa pertama di Indonesia dilaporkan oleh David Beylon di Batavia (Jakarta) pada tahun 1779. demam berdarah dengue baru dikenal pada tahun 1968 dalam KLB di Jakarta dan Surabaya dengan angka kematian sangat tinggi sekitar 41. baik dari segi jumlah kasus maupun wilayah yang terkena persebaran penyakit tersebut. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 18 . selain mengobati dan menyembuhkan penderita yang juga merupakan upaya pokok untuk menghilangkan sumber penularan dengan cara pemutusan mata rantai penularan. Namun. memerlukan bantuan pemeriksaan yang dilakukan Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Penyelidikan Penyakit (Labkes) terdekat yang secara regional harus tersedia. Untuk penyakit tertentu yang membutuhkan konfirmasi laboratorium lebih tinggi. karena dikhawatirkan akan meluas. seperti pemberdayaan tenaga semi-profesional terlatih misalnya juru Malaria Desa. harus ada jaminan ketersediaan obat dan jaminan disiplin menelan obat. Juru Kusta. Oleh sebab itu. tentu saja tidak semua penyakit menular dapat dicegah dengan imunisasi. Untuk itu.LAPORAN AKHIR 2. Namun. dan sebagainya.3 persen. (2) Memberikan Perlindungan Spesifik dan Imunisasi Manajemen pengendalian penyakit menular dapat dilakukan dengan cara memberikan kekebalan secara artifisial yaitu imunisasi. Di masa mendatang sebaiknya diciptakan petugas lapangan penyakit menular setara dengan bidan di desa untuk menekan angka kematian ibu. Dalam satu wilayah kabupaten dapat dilakukan secara intensif dengan memperluas jangkauan pelayanan. Cakupan imunisasi amat penting karena dapat mencegah penyakit dalam satu wilayah.

Sedangkan yang menetapkan penyakit menular dan kemudian mencabut ketetapan tersebut adalah Menteri Kesehatan (UU Nomor 4. Penetapan KLB. Ayat 1 dan 2 serta PP Nomor 40. Penetapan daerah wabah merupakan pertimbangan epidemologis dan keadaan masyarakat (mencakup keamanan. Kepala wilayah ketika mengetahui adanya tersangka di wilayah atau adanya tersangka penderita penyakit menular yang dapat menimbulkan wabah. namun draft Permenkes menyebutkan Pemerintah Daerah atas usulan Kepala Dinas Kesehatan setempat menetapkan dan mencabut KLB. pencermatan ini dikenal sebagai pencermatan pra-KLB. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 19 . terjadinya kerusakan hutan secara terus menerus. Misalnya. amat penting. dan akhirnya berupa pencegahan. dan merupakan keadaan yang dapat menjurus pada terjadinya wabah. Bab IV. Pasal 1 Ayat 7. Penyakit menular adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat dengan jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi keadaan yang lazim pada waktu daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka (UU Nomor 4. Sedangkan untuk penetapan dan pencabutan KLB hingga saat ini belum diatur. KLB merupakan kejadian proses awal. serta korban kejadian penyakit yang berlangsung dalam tempo yang relatif singkat. dapat juga ditetapkan pada faktor risiko penyakit seperti bila terjadi ledakan gas beracun. Pasal 1). dan sebagainya. ekonomi dan budaya) yang disampaikan Kepala Daerah. wajib melakukan tindakan secara cepat berupa penanggulangan seperlunya (UU Nomor 4. Ayat 1). Pengertian KLB seringkali dikacaukan dengan pengertian wabah. Pasal 4. Mengacu kepada teori simpul atau mengacu kepada patogenesis kejadian penyakit. ledakan industri. KLB adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan/kematian yang bermakna secara epidemologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu. tahun 1991. Kemudian kegiatan tersebut harus dilaporkan kepada Menteri Kesehatan secara berjenjang. Tahun 1991. tidak hanya mencegah terjadinya KLB. informasi pra-KLB menjadi penting. Gempa bumi di sebuah wilayah endemik malaria memerlukan peta dimana pengungsi akan ditempatkan. Penetapan atau pencabutan daerah wabah diberlakukan dalam suatu wilayah Kabupaten/Kota. Tahun 1984. Bab 1.LAPORAN AKHIR Menurut PP 40. namun terminologi ini digunakan untuk tujuan atau rumusan upaya antisipatif. adanya indikasi peningkatan jumlah dan kepadatan vektor penular penyakit. Pasal 12. KLB pada dasarnya merupakan suatu kejadian baik pada sumber penyakit (penyebab) dengan dinamika transmisi. Tahun 1984. Manajemen pra-KLB termasuk sistem kewaspadaan dini. sosial. Bab I. penanganan saat kejadian KLB dan pascaKLB. prediktif. Apabila kita mencermati proses kejadiannya. Tahun 1984. Bila KLB terjadi lebih dari satu wilayah kabupaten/kota maka penanggulangannya dikoordinasikan oleh Gubernur. Sedangkan penanggugjawab teknis adalah Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. memang tidak lazim disebut sebagai KLB. Penanggungjawab operasional pelaksanaan penanggulangan KLB adalah Bupati/Walikota. atau suhu yang meningkat sehingga menimbulkan populasi nyamuk atau ledakan gas. pemantauan kondisi kualitas lingkungan tertentu yang menurun. Pasal 2 sampai 5).

dan menetapkan sasaran nasional. pada hakekatnya adalah manejemen faktor risiko kejadian KLB. Contohnya tahun 2005 yaitu penyakit polio. dan sebagainya. apabila dibiarkan berkembang. Sejak tahun 1968 jumlah kasusnya cenderung meningkat dan penyebarannya bertambah luas. b. untuk mencegah terjadinya penularan penyakit lebih lanjut. Sementara sistem lama telah dicabut. Bahkan bila dipandang perlu. Hal ini tampak adanya kesimpang siuran menajemen penyakit menular pada saat dimulainya otonomi atau peralihan sistem tersebut. yakni manajemen kesehatan masyarakat untuk mengendalikan jatuhnya korban berikutnya. tetapi keduanya memiliki batas wlayah ekosistem. memerlukan waktu. maka KLB akan terus menjadi ancaman. Kurun waktu 2000-2005 banyak terjadi kejadian luar biasa. Manajemen KLB secara terintegrasi berbasis wilayah adalah juga manajemen dua bagian penting yang tak terpisahkan. Oleh sebab itu. atau penyakit infeksi lama-selalu memiliki dua makna manajemen. upaya-upaya kesehatan termasuk didalamnya manajemen KLB semuanya sudah di desentralisasikan kepada Pemerintah Kabupaten dan Pemerintah Kota. Di samping itu. Sebagai perwujudan demokratisasi pembangunan maka sejak tahun 2000. dengan mobilitas penduduk yang tinggi akibat krisis sosial. KLB pada dasarnya merupakan ujung dari sebuah proses. Manajemen kasus menjadi amat penting. malaria. filariasis. yakni : a. Avian influenza. maka berpotensi menyebarkan KLB ke saentero Nusantara. Tugas Pemerintah Nasional (Pusat) antara lain menyusun berbagai kebijakan nasional. penyakit menular tidak mengenal batas wilayah administratif seperti halnya kesehatan lingkungan. Sedangkan kewenangan pelaksanaan ada pada pemerintah Kabupaten/Kota. Manajemen kasus. dan harus dilakukan secara simultan dalam waktu relatif singkat. Mengapa hal tersebut terjadi? Pemberantasan penyakit menular memerlukan sistem manajemen. TBC. Manajemen public health (manajemen faktor risiko) Manajemen public health atau manajemen kesehatan masyarakat. khususnya saat penanganan KLB penyakit menular. namun dalam hal KLB dan bencana dapat meminta bantuan Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Pusat. 2. konflik sosial maupun timbulnya penyakit baru seperti SARS. bencana lingkungan karena ulah manusia. selama sistem atau kapasitas manajemen penyakit berbasis wilayah secara terintegrasi belum mapan. Satu foci penyakit menular –entah itu demam berdarah. tetapi sistem baru belum established atau mapan. akan menimbulkan KLB.9 Penyakit Demam Berdarah Penyakit Demam berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia.LAPORAN AKHIR Setiap KLB-apakah itu bencana alam. Pemerintah Pusat dapat mengambil inisiatif melakukan penanganan KLB. Manajemen kasus maupun faktor risiko mencegah timbulnya eskalasi yang lebih luas. Kegagalan manajemen penyakit secara terintegrasi dalam satu wilayah. menyusun guidlines petunjuk. Keadaan ini erat kaitannya dengan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 20 . perencanaan strategik. Untuk membangun sistem tersebut. standar. HIV/AIDS.

Upaya pemberantasan demam berdarah terdiri dari 3 hal. Pada awalnya penyakit DBD ini merupakan penyakit perkotaan dan menyerang terutama anak-anak usia di bawah 5 tahun. Penyakit DBD sering kali muncul sebagai wabah. memberikan pelatihan dan bantuan teknis.24 per 100. Namun.99. tetapi juga menyebar ke daerah pedesaan. dengan perkembangan waktu penyakit ini kemudian tidak hanya berjangkit di daerah perkotaan. (3) Peningkatan upaya pemberantasan vektor penular penyakit DBD. Tugas dan tanggung jawab pemerintah dalam upaya pemberantasan penyakit DBD antara lain membuat kebijakan dan rencana strategis penanggulangan penyakit DBD. Jumlah kasus terus meningkat baik dalam jumlah maupun luas wilayah yang terjangkit dan secara sporadis. adanya pemanasan global yang dapat mempengaruhi bionomik vektor Aedes aegypti. selalu menjadi KLB setiap tahun. yaitu urbanisasi yang cepat. Di Asia Tenggara. Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit DBD merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah baik lintas sektor maupun lintas program dan masyarakat termasuk sektor swasta. maka Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 21 .000 penduduk dan CFR 2.000 penduduk. namun pada tahun-tahun berikutnya tampak adanya peningkatan IR. mengembangkan teknologi pemberantasan. Pada tahun 1999 IR menurun tajam sebesar 10.LAPORAN AKHIR peningkatan mobilitas penduduk sejalan dengan semakin lancarnya hubungan transportasi serta tersebar luasnya virus dengue dan nyamuk penularnya di berbagai wilayah Indonesia. melakukan penyuluhan dan promosi kesehatan serta penggerakan masyarakat.17 per 100. yaitu 15. 21. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi penyebaran dan penularan penyakit DBD. mudahnya transportasi yang menyebabkan mudahnya lalu lintas manusia antardaerah. kurangnya persediaan air bersih.0%. (2) Diagnosis dini dan pengobatan dini. KLB yang terbesar terjadi pada tahun 1998 dilaporkan dari 16 propinsi dengan IR=35. yaitu: (1) Peningkatan kegiatan surveilans penyakit dan surveilans vektor.75.19 per 100. selanjutnya menyebar ke berbagai negara. Usia penderita juga cenderung bergeser menyerang usia dewasa. Dengan fogging yang disemprotkan ke udara. penyakit ini pertama kali dilaporkan pada tahun 1953 di Manila. Cara penularan penyakit DBD adalah melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang menggigit penderita DBD kemudian ditularkan kepada orang sehat. penyakit DBD dilaporkan pertama kali di Surabaya dan DKI Jakarta. mengembangkan pedoman pemberantasan. perkembangan pembangunan di daerah pedesaan. Kendala Pencegahan DBD Penularan DBD terjadi melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dewasa.000 penduduk berturutturut pada tahun 2000 sampai 2002. Pemberantasan nyamuk dewasa dilakukan dengan menggunakan racun serangga (insektisida) yang disemprotkan atau dengan pengasapan (fogging) bila dilakukan pada wilayah yang luas. dan 19. Di Indonesia sendiri. Penyakit demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit menular berbahaya yang disebabkan oleh virus Dengue dan dapat menimbulkan kematian dalam waktu singkat oleh karena terjadinya perdarahan dan shock. Melihat kondisi tersebut penyakit DBD harus diwaspadai kemungkinan adanya KLB lima tahunan.

Fogging tidak akan berefek lama dan tidak boleh dilakukan terus-menerus karena insektisida yang digunakan adalah bahan beracun. Pemberian abate untuk membunuh jentik nyamuk yang terdapat di dalam air bak kamar mandi atau tandon air bersih lainnya cukup efektif mencegahnya berkembang biak. PSN harus dilakukan segenap warga. Karena nyamuk dewasa Aedes aegypti berada di dalam lingkungan rumah tinggal. Gerakan PSN harus dilakukan terus-menerus. fogging harus segera diikuti dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). seharusnya segera dilakukan fogging terhadap rumah tinggal penderita dan area dengan radius 100 meter di sekitarnya. Selain itu. Dengan melakukan fogging di sekitar tempat tinggal penderita. Sebab. dalam waktu beberapa hari akan tumbuh nyamuk dewasa. sebelum seseorang menunjukkan gejala klinis DBD dalam darahnya sudah beredar virus dengue yang dapat ditularkan kepada orang lain.LAPORAN AKHIR nyamuk dewasa yang beterbangan atau yang hinggap di tempat persembunyiannya di lingkungan rumah penderita akan mati. sarang nyamuk harus segera dimusnahkan. pada waktu ada laporan kasus DBD di satu rumah. ia menjadi sumber terbentuknya populasi nyamuk Aedes aegypti untuk wilayah di sekitarnya. penggunaan insektisida yang tidak tepat dosisnya atau tidak tepat jenisnya dapat menjadikan fogging tidak memberikan hasil yang memuaskan atau gagal sama sekali. sebelum larva berubah jadi nyamuk dewasa. Dengan demikian. bukan sarang nyamuk Aedes aegypti). Selain itu. yaitu terjadinya kekebalan nyamuk Aedes aegypti terhadap insektisida yang digunakan saat ini. Fogging ditujukan untuk memberantas nyamuk betina dewasa karena hanya nyamuk betina yang mengisap darah. Karena itu. juga dapat menimbulkan dampak serius di kemudian hari. Hal ini harus dilakukan karena sarang-sarang nyamuk Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 22 . Semua insektisida adalah bahan beracun yang jika penggunaannya tidak tepat dapat mengganggu kesehatan manusia maupun hewan dan dapat mencemari lingkungan. jika ada satu rumah saja tidak melakukan PSN. penularan virus oleh nyamuk dapat dihentikan segera. Menutup rapat tempat penyimpanan air bersih dan mengurasnya sesering mungkin akan bermanfaat mengurangi kesempatan nyamuk untuk bertelur dan berkembang biak. Takaran insektisida yang dikurangi (asal bau obat). Tidak usah menunggu terjadinya KLB atau wabah yang lebih luas. selain termasuk kategori korupsi. penggunaan insektisida menjadi rawan keracunan bagi penghuni dan lingkungan hidup sekitar rumah. Gagalnya atau tidak efektifnya fogging dapat terjadi akibat salahnya lokasi pengasapan (yang diasapi adalah got-got atau saluran kota yang kotor dan mampet. termasuk kaleng-kaleng berisi air atau bak mandi. baik untuk manusia maupun lingkungan hidup. baik di musim hujan maupun di musim kemarau. selama tandon-tandon air masih dijumpai. nyamuk dewasa yang beterbangan atau yang hinggap di tempat persembunyiannya di lingkungan rumah penderita akan mati. Karena itu. sepanjang tahun. Karena itu. Apalagi nyamuk Aedes aegypti mampu terbang dalam radius 100 meter dari sarang asalnya. Dari jentik nyamuk yang hidup di dalam air (tandon air). Keberadaan sarang nyamuk Aedes aegypti di dalam rumah memerlukan tindakan yang spesifik.

untuk mencegah penyebaran penyakit. misalnya. sehingga kemungkinan penyebarluasan DBD dapat dibatasi dan KLB dapat dicegah. Tujuannya adalah untuk mengetahui penularan dan penyebaran DBD lebih lanjut serta tindakan penanggulangan yang perlu dilakukan di wilayah sekitar tempat penderita. Tata Laksana Penanggulangan DBD Setiap diketahui adanya penderita DBD. Karena itu. tindakan yang pertamatama harus dilakukan adalah memberantas nyamuk dewasa di lingkungan tempat tinggal penderita dan sekitarnya dengan melakukan fogging. segera ditindaklanjuti dengan kagiatan Penyelidikan Epidemiologis (PE) dan Penanggulangan Fokus. larvadiasasi. apakah telah terjadi resistensi nyamuk terhadap insektisida yang digunakan. tanpa menunggu terjadinya KLB. PE juga dilakukan untuk mengetahui adanya penderita dan tersangka DBD lainnya. baik untuk membantu kelancaran pelaksanaan kegiatan pemberantasan maupun dalam memberantas jentik nyamuk penularnya. • Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 23 . dan lingkungannya dari penularan DBD. Penanggulangan Fokus adalah kegiatan pemberantasan nyamuk penular DBD yang dilaksanakan dengan melakukan pemberantasan sarang nyamuk demam berdarah dengue (PSN DBD). penyuluhan dan penyemprotan (pengasapan) menggunakan insektisisda sesuai kriteria. termasuk tempat-tempat umum dalam radius sekurang-kurangnya 100 m. Jika terjadi kegagalan fogging. melalui GGPSN (Gebyar Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk). ataukah terjadi "kesalahan teknis" di lapangan. mengetahui ada tidaknya jentik nyamuk penular DBD. jika terdapat laporan adanya kasus DBD. Adanya nyamuk Aedes aegypti penular DBD sepanjang tahun di Indonesia menyebabkan penularan virus dengue juga akan terjadi sepanjang tahun. • Penyelidikan Epidemiolegis (PE) adalah kegiatan pencarian penderita DBD atau tersangka DBD lainnya dan pemeriksaan jentik nyamuk penular DBD di tempat tinggal penderita dan rumah/bangunan sekitarnya. harus dicari penyebabnya. Tujuannya adalah membatasi penularan DBD dan mencegah terjadinya KLB di lokasi tempat tinggal penderita DBD dan rumah/bangunan sekitarnya serta tempat-tempat umum yang berpotensi menjadi sumber penularan DBD lebih lanjut. Fogging akan sangat efisien jika dilakukan pada waktu populasi nyamuk masih rendah. sehingga setiap warga dapat saling melindungi diri.LAPORAN AKHIR merupakan sumber produksi nyamuk dewasa. dan menentukan jenis tindakan (penanggulangan fokus) yang akan dilakukan. keluarga. Selanjutnya dalam melaksanakan kegiatan pemberantasan DBD sangat diperlukan peran serta masyarakat. baik di musim penghujan maupun di musim kemarau. Sosialisasi dalam pelaksanaan PSN dan cara hidup gotong royong harus kembali digalakkan.

Penilaian ini dilakukan melalui kunjungan rumah secara acak dan wilayah-wilayah yang direncanakan untuk pengasapan. larvasidasi dan penyuluhan. Keberhasilan PSN DBD diukur dengan Angka Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 24 . Tujuannya adalah mengendalikan populasi nyamuk. Bagan Penanggulangan Fokus (Penanggulangan Penderita DBD di Lapangan) • Penanggulangan • Pemberantasan Kejadian Luar Biasa (KLB) adalah upaya penanggulangan yang meliputi : pengobatan/perawatan penderita. Sedangkan penilaian epidemiologi ditujukan untuk mengetahui dampak upaya penanggulangan terhadap jumlah penderita dan kematian DBD dengan cara membandingkan data kasus/kematian DBD sebelum dan sesudah penanggulangan KLB. Sarang Nyamuk demam berdarah dengue (PSN DBD) adalah kegiatan memberantas telur. Tujuannya adalah membatasi penularan DBD. Penilaian Penanggulangan KLB meliputi penilaian operasional dan penilaian epidemiologi.Pemeriksaan Jentik .Pencarian Penderita Panas Ada penderita DBD lain atau ada jentik dan ada penderita panas ≥ 3 orang dan ditemukamn jentik (≥ 25%) Ya Penyuluhan PSN DBD Fogging radius 200m - Tidak Penyuluhan PSN FDBD Larvasidasi Gambar 2. pemberantasan vektor penular DBD. Penilaian operasional ditujukan untuk mengetahui persentase (coverage) pemberantasan vektor dari jumlah yang direncanakan.LAPORAN AKHIR Penderita/tersangka DBD Penyelidikan Epidemiologi (PE) . sehingga KLB yang terjadi di suatu wilayah tidak meluas ke wilayah lainnya. penyuluhan kepada masyarakat dan evaluasi/penilaian penanggulangan yang dilakukan di seluruh wilayah yang terjadi KLB. sehingga penularan DBD dapat dicegah dan dikurangi.3. jentik dan kepompong nyamuk penular DBD (Aedes aegypti) di tempat-tempat perkembangbiakannya.

(2) menutup rapat-arapat tempat penampungan air. Pertolongan pertama kepada tersangka penderita DBD dapat dilakukan di rumah sebelum dirujuk ke tempat pelayanan kesehatan yaitu dengan memberikan minum sebanyak-banyaknya dengan oralit. Dengan demikian gerakan PSN dengan 3M Plus yaitu Menguras tempat-tempat penampungan air minimal seminggu sekali atau menaburinya dengan bubuk abate untuk membunuh jentik nyamuk Aedes aegypti. Jentik Berkala adalah pemeriksaan tempat-tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti yang dilakukan secara teratur oleh petugas kesehatan atau kader atau petugas pemantau jentik (jumantik). Menutup rapat-rapat tempat penampungan air agar nyamuk Aedes aegypti tidak bisa bertelur di tempat itu. pemberian obat penurun panas seperti paracetamol. Sehingga upaya pemberantasan dan pencegahan penyebaran penyakit DBD adalah upaya yang diarahkan untuk menghilangkan tempat perindukan (breeding places) nyamuk Aedes aegypti yang ada dalam lingkungan permukiman penduduk. kaleng bekas yang dapat menampung air hujan. Tujuannya adalah melakukan pemeriksaan jentik nyamuk penular demam berdarah dengue termasuk memotivasi keluarga/masyarakat dalam melaksanakan PSN DBD. Sehingga bisa dilakukan penegakan diagnosa secara dini dan diberikan pertolongan dan pengobatan dini. yaitu (1) menguras dan menyikat tempat-trempat penampungan air. Cara PSN DBD dilakukan dengan ”3M”. Obat penurun panas yang tidak boleh diberikan adalah dari jenis yang mengandung asam salisilat yang dapat memperberat perdarahan. Sebagai contoh: peran masyarakat dalam kegiatan surveilans penyakit. Mengubur/membuang pada tempatnya barang-barang bekas seperti ban bekas. Apabila ABJ lebih atau sama dengan 95% diharapkan penularan DBD dapat dicegah atau dikurangi. Seperti diketahui nyamuk Aedes aegipty adalah nyamuk domestik yang hidup sangat dekat dengan pemukiman penduduk seperti halnya Culex. yaitu masyarakat dapat mengenali secara dini tanda-tanda penyakit DBD yang menimpa salah satu anggota keluarga maupun tetangga mereka dan segera merujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 25 . Tujuan pemberian pertolongan pertama di atas adalah untuk mempertahankan volume cairan dalam pembuluh darah penderita sehingga dapat membantu mengurangi angka kematian karena DBD.LAPORAN AKHIR • Pemeriksaan Bebas Jentik (ABJ). Masyarakat juga berperan dalam upaya pemberantasan vektor yang merupakan upaya paling penting untuk memutuskan rantai penularan dalam rangka mencegah dan memberantas penyakit DBD muncul di masa yang akan datang. teh manis. dan (3) mengubur atau menyingkirkan barang-barang bekas yang dapat menampung air hujan. Dalam upaya pemberantasan vektor tersebut antara lain masyarakat berperan secara aktif dalam pemantauan jentik berkala dan melakukan gerakan serentak Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Peran Masyarakat dalam Penanggulangan DBD Masyarakat berperan dalam upaya pemberantasan penyakit DBD. juice buah-buahan. sirup.

Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 26 . Jika ini dilakukan maka selain penyakit DBD maka penyakit-penyakit lain yang berbasis lingkungan seperti leptospirosis. Sri Lanka menggunakan gerakan Green Home Movement untuk tujuan yang sama yaitu menempelkan stiker hijau bagi rumah yang memenuhi syarat kebersihan dan kesehatan termasuk bebas dari jentik Aedes aegypti dan menempelkan stiker hitam pada rumah yang tidak memenuhi syarat kebersihan dan kesehatan. Teknologi yang digunakan oleh Jenderal Gorgas adalah gerakan PSN yang dilaksanakan serentak dan secara besar-besaran di seluruh negeri. Bagi pemilik rumah yang ditempeli stiker hitam diberi peringatan 3 kali untuk membersihan rumah dan lingkungannya dan jika tidak dilakukan maka orang tersebut dipanggil dan didenda. dua tiga pulau terlampaui. Berbagai negara yang mempunyai masalah yang sama dengan Indonesia menggunakan berbagai macam pendekatan dalam melakukan PSN antara lain Singapura dan Malaysia menggunakan pendekatan hukum yaitu masayarakat yang rumahnya kedapatan ada jentik Aedes aegypti dihukum dengan membayar denda. boleh dikatakan lebih dari 90% dari keseluruhan upaya pemberantasan penyakit DBD. Sejak dulu tidak ada yang berubah dengan bionomik atau perilaku hidup nyamuk Aedes aegypti sehingga teknologi pemberantasannya pun dari dulu tidak berubah. terus-menerus berupa gerakan serentak." Keberhasilan Jenderal WC Gorgas memberantas nyamuk Aedes aegypti untuk memberantas demam kuning (Yellow Fever) lebih dari 100 tahun yang lalu di Kuba dapat kita ulangi di Indonesia. tidur dengan kelambu.. Pemberantasan DBD akan berhasil dengan baik jika upaya PSN dengan 3M Plus dilakukan secara sistematis. Adipura. Kota Sehat dan gerakangerakan lain serupa dapat dihidupkan kembali untuk membudayakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Berbagai gerakan yang pernah ada di masyarakat seperti Gerakan Disiplin Nasional (GDN). tidak kondusif untuk hidup nyamuk Aedes aegypti aegypti.LAPORAN AKHIR Masyarakat juga melakukan upaya mencegah gigitan nyamuk dengan menggunakan obat gosok antinyamuk. Dan upaya tersebut sangat berkaitan dengan faktor perilaku dan faktor lingkungan... Agar gerakan yang dilakukan oleh Jenderal Gorgas bisa dilakukan di Indonesia diperlukan komitmen yang kuat dari seluruh jajaran struktur pemerintahan bersama-sama masyarakat dan swasta. Gerakan Jumat Bersih (GJB). Dalam era otonomi dan desentralisasi saat ini Pemerintah Kabupaten/Kota dalam mengatur rumah tangganya sendiri dapat melakukan gerakan-gerakan inovatif seperti yang disebutkan di atas yang didukung dengan berbagai Peraturan Daerah. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa dalam upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit DBD oleh masyarakat sangat besar. menyemprot rumah dengan obat nyamuk yang tersedia luas di pasaran. sehingga dapat mengubah perilaku masyarakat dan lingkungannya ke arah perilaku dan lingkungan yang bersih dan sehat. diare dan lain-lain akan ikut terberantas ibaratkan "sekali merengkuh dayung. Hal sederhana lainnya yang dilakukan oleh masyarakat adalah menata gantungan baju dengan baik agar tidak menjadi tempat hinggap dan istirahat nyamuk Aedes aegypti.

(4) dana. Berdasarkan landasan pemikiran diatas.1 Kerangka Pikir Kajian Kebijakan Penannggulangan Penyakit Menular Kerangka pikir kajian tersebut selanjutnya dijabarkan dalam kerangka konsep kinerja surveilans dan kerangka konsep kinerja penanggulangan yang digambarkan dalam skema berikut: Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 27 . Implementasi kebijakan penyakit menular juga dipengaruhi kebijakan desentralisasi kewenangan pengelolaan pembangunan. Kinerja Penanggulangan diukur dengan melihat (1) Frekuensi KLB. Kinerja surveilans diukur dengan melihat (1) keberadaan peta rawan. (3) sarana. Faktor-faktor yang terkait dengan kinerja surveilans mencakup (1) tenaga. (2) Jumlah Kasus. (2) pelaksanaan diseminasi informasi DBD. (4) dana. Faktor-faktor yang terkait dengan kinerja surveilans mencakup (1) tenaga. dan (5) SOP. (2) data. dan (3) pelaporan.1 Kerangka Pemikiran Kajian ini dilandasi pemikiran adanya hubungan timbal balik antara rendahnya kinerja surveilans dan kinerja penanggulangan dalam implementasi kebijakan penyakit menular khususnya dalam kasus kebijakan penanganan penyakit DBD. (4) Luas Daerah Terserang. (3) Jumlah Kematian. kerangka pikir kajian digambarkan dalam skema berikut: BAB 3 Kinerja Surveilans DESENTRALISASI KEWENANGAN IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENYAKIT MENULAR Kinerja Penanggulangan Gambar 3.LAPORAN AKHIR METODOLOGI 3. dan (5) SOP. (3) sarana. (2) data.

lab.LAPORAN AKHIR Tenaga 1.3 Kerangka Konsep Kinerja Penanggulangan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 28 . Jumlah . Vektor . Prilaku (3M). Monev Kerangka Konsep Kinerja Surveilans Dana 1. Sumber (APBD.2 Kerangka Konsep Kinerja Surveilans Tenaga 1. Pedoman (7 seri : modelpokjanal . Logistik Kinerja Penanggulangan KLB DBD •Frekuensi KLB •Jumlah Kasus •Jumlah Kematian •Luas Daerah Terserang Sarana 1. 3. 2. klinis. Obat. PHLN) 2. 2. 2. Vektor. Komunikasi. Pengetahuan (Penyelidikan & Penanggulangan) Kerangka Konsep Kinerja Penanggulangan Dana 1. 6. Jentik. 4. Curah Hujan Kinerja Surveilans DBD •Peta Rawan KLB DBD . Proses . Curah Hujan. 2. Sumber . 4. Peraturan Gambar 3.Peta Rawan KLB DBD •Diseminasi Informasi . 3. Transportasi. Transportasi . Proses. alat penyemprotan SOP 1. support).Diseminasi Informasi . Pengolah data.Pelaporan Sarana 1. Pengolah data. Jumlah . insektisida. Logistik. 3. 2. Pengetahuan . Komunikasi SOP 1. jenis pengeluaran Data Kasus . 2. Jenis pengeluaran Data Kasus. APBD. 4. Pedoman. 5. 3. motivasi . Lingkungan (genangan). Tim Penanggulangan (epid. 2. Peraturan Gambar 3. Jentik . 3.

Sumber 3. Jentik 3. Jumlah Kematian 4. dimana data diperoleh melalui angket dan wawancara kepada sejumlah responden terpilih secara acak. Pedoman (7 seri modul pokjanal) 2. lab. Tujuannya adalah untuk memperoleh berbagai gambaran yang jelas dan diskripsi yang lengkap tentang variabel penelitian. Peta rawan KLB DBD 2 Diseminasi informasi 3. Transportasi 2. Curah Hujan 4 Sarana 1. Kajian ini menggunakan metode penelitian survey explanatory. 2. Variabel Penelitian Variabel penelitian mencakup 2 aspek. Kasus 2. Tim Penanggulangan (epid. Pengolah data 3. Jumlah 2. Peraturan KINERJA PENANGGULANGAN KLB DBD Idependent Variabel 1 Tenaga 1 Kinerja Penanggulangan KLB 1. Pelaporan Dependent Variabel 1. Proses 4. Komunikasi 5 SOP 1. Frekuensi KLB 2. support) 2.LAPORAN AKHIR 3.2 Disain Kajian 1. Jumlah Kasus 3. Pengetahuan 4. Jumlah 2. Luas Daerah Terserang 1. klinis. Vektor 4. Jenis pengeluaran 3 Data 1. Monitoring dan Evaluasi 2 Dana 1. Sumber 3. Pengetahuan (penyelidikan & Dependent Variabel 1 Tenaga Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 29 . yaitu kinerja surveilans dan kinerja penanggulangan No Variabel Parameter yang diukur KINERJA SURVEILANS DBD Idependent Variabel 1 Kinerja Surveilans 1.

Komunikasi 4. baik dalam bentuk data kualitatif maupun kuantitatif.3 Jenis. serta focus group discussion. peraturan perundangan dalam bentuk Undang-Undang. Keputusan Dirjen. Sumber 3. Kasus 2. Alat penyemprotan 1. propinsi.LAPORAN AKHIR 2 Dana 3 Data 4 Sarana 5 SOP penanggulangan) 1. Peraturan Daerah maupun Peraturan Gubernur. dilakukan pula studi kepustakaan terutama kajian teoritis dari hasil penelitian terdahulu yang relevan dengan kajian ini Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 30 . Lingkungan (genangan) 4. Obat 6. Keputusan Presiden. Insektisida 7. Pedoman (7 seri modul pokjanal) 2. Data sekunder mencakup data berkaitan dengan profil kesehatan pusat. Proses 4. Jentik 3. Logistik 5. Sumber dan Pengumpulan Data Data yang dikumpulkan dalam kajian ini meliputi data primer dan data sekunder. laporan tentang wabah. Jenis pengeluaran 1. pengisian kuesioner. kab/kota). Peraturan Pemerintah. Jumlah 2. Pengolah data 3. Curah hujan 7. propinsi dan kab/kota. Untuk interpretasi hasil analisis data. Prilaku (3M) 5. Keputusan Menteri Kesehatan. laporan tahunan tentang Penanggulangan Penyakit Menular (P2M). Transportasi 2. Peraturan 3. Data primer yang didapat melalui wawancara mendalam (indepth interview) di berbagai tingkat (Pusat. Vektor 6. Logistik 1.

Kota Samarinda 2. (3) unit penanggulangan P2B2. Kota Surabaya 2. (3) P2B2. Kota Mataram 2. (5) unit umum Puskesmas : (1) Kepala Puskesmas. Kab Lombok Tengah TOTAL Dinas 5 3 2 3 2 2 1 1 2 2 1 2 2 1 2 3 2 3 47 PKM 4 5 3 2 3 4 2 2 4 4 4 6 43 Rumah Sakit 1 1 2 1 2 1 1 4 1 2 2 3 21 Bapp 2 1 1 2 1 1 2 1 1 1 1 1 15 Masy 1 1 20 1 1 18 1 1 13 2 1 20 1 1 25 2 0 13 122 Jml 26 Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 31 . (4) Kabag Kepegawaian. bagian PI dan kepegawaian. (2) unit surveilans. Gowa Nusa Tenggara Barat 1. Kab. yaitu (1) kelompok pelaksana yang terlibat dalam penanggulangan penyakit menular. Kab. (5) Kabag Keuangan. Gresik Kalimantan Timur 1. (4) unit kepegawaian. Siak Jawa Barat 1. (3) staf Kesling Rumah Sakit: (1) Wakil Direktur Yanmed. Kelompok Pakar yang menjadi responden adalah (1) ahli epidemiologi dari Perguruan Tinggi. subdit arbovirosis. Kota Pekanbaru 2. Medical Record. Kab. (2) ahli epidemiologi dari Departemen Kesehatan. (3) pakar lain dari WHO. Kelompok Pelaksana yang menjadi responden mencakup Pusat: Dit Epidemiologi dan P2B2 Ditjen P2M. Yanmedik dan Binkesmas Dinas Kesehatan Propinsi: (1) Kasubdin P2M. (4) Lab. Rumah Sakit. Bogor Jawa Timur 1. Kota Balikpapan Sulawesi Selatan 1. (2) Seksi Surveilans.LAPORAN AKHIR 3. serta (2) kelompok pakar. Kab. (6) Kasubag Umum Kabupaten Dinas Kesehatan: (1) subdin P2M. (3) Bag. (2) petugas P2M. Kota Bandung 2. Tabel 3. yang memiliki keahlian dan pengalaman dalam penanggulangan penyakit menular.1 Responden Kajian No 1 2 3 4 5 6 Propinsi/Kab Riau 1. Kota Makasar 2.4 Responden Kajian Responden Kajian mencakup 2 (dua) kelompok. (2) UGD.

5.4 Tahapan Pelaksanaan Kajian Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 32 .Interpertasi data . baik berbentuk data sekunder maupun hasil wawancara mendalam. Lokasi Kajian Kajian ini dilaksanakan di 6 (enam) propinsi terpilih yang ditentukan berdasarkan karakteristik frekuensi terjadinya kejadian penyakit menular dari kelompok propinsi di Indonesia Bagian Barat.Mengolah .Data Sekunder .LAPORAN AKHIR 3. diolah dan ditabulasikan untuk memudahkan dalam proses analisis.Mengelompokkan . Berdasarkan hasil analisis dan temuan yang didapat selanjutnya dilakukan pembahasan dengan nara sumber dalam bentuk focus group discussion (FGD). o Prevalensi kasus DBD tinggi dan rendah o Puskesmas di ibukota kabupaten o Puskesmas di kecamatan di luar ibu kota kab/kota Dengan demikian jumlah sampel kabupaten/kota sebanyak 12 buah. mendapatkan rumusan hasil kajian lebih fokus.Mentabulasi Analisis Data .6 Teknik Analisis Teknik analisis yang dilakukan dalam kajian ini adalah dengan melakukan analisis diskriptif (kualitatif) berdasarkan data dan informasi yang didapat di lapangan. dan 12 rumah sakit 3. Pada setiap propinsi di ambil 2 (dua) Kabupaten/Kota dengan kriteria pemilihan kabupaten adalah o Prevalensi kasus DBD yang tinggi dan rendah o 1 kab/kota terletak di ibu kota propinsi dan 1 kab/kota di luar kab/ibu kota propinsi Pada setiap kabupaten dipilih dua puskesmas dan 1 (satu) rumah sakit. Analisis dan interpretsi selanjutnya data yang sudah dibuat dalam bentuk tabulasi serta berdasarkan hasil wawancara mendalam dengan responden.Data Primer (kuesioner & wawancara) Pengolahan Data . dengan kriteria. Hasil FGD disosialisasikan dalam bentuk workshop untuk kemudian dirumuskan dalam bentuk kesimpulan dan rekomendasi serta implikasi kebijakan. Pengumpulan Data . 24 puskesmas.Interpretasi hasil wawancara FGD Kesimpulan & Rekomendasi Kebijakan Gambar 3. Tengah dan Timur. Selanjutnya data hasil pengumpulan di lapangan dikelompokan.

00 3 5.00 1 0. Jika diperhatikan gambaran IR dan CFR (gambar) antara kurun waktu 1968 sampai 2004.LAPORAN AKHIR BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4. Gambar 4.0 0 2 5. 1988. maka kecenderungan terjadinya peningkatan kasus DBD lazimnya dimulai pada akhir bulan Desember sampai dengan terbanyak yang lazimnya terjadi pada sekitar bulan Februari – Maret (lihat Gambar 1.0 0 3 0.0 0 3 0.00 CFR 2 5. Angka tertinggi IR terjadi pada tahun 1968.0 0 1 5.00 1 5.7. di bawah ini).2004. R 2 0.00 5 .0 0 IR 3 5. Implementasi Kebijakan Penanggulangan DBD 4. dan tidak terlaksananya program baik PSN Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 33 .1 Incidence Rate (IR) dan Case Fatalities Rate (CFR) Berdasarkan data tahun 1968 sampai dengan tahun 2004. gambaran Incidence Rate (IR) dan Case Fatalities Rate (CFR) penyakit DBD ini dapat dilihat pada Gambar di bawah ini. Ditjen PP&PL.1 IR & CFR Tahun 1968-2004 IR & CFR DBD DI INDONESIA TAHUN 1968-2004 4 0. Depkes.00 0. namun demikian.00 Sumber: Subdit Arbovirosis. hal ini dimungkinkan makin banyaknya kasus-kasus DBD yang tertangani. Dapat dilihat pada tahun 1998. Kesadaran masyarakat mengenai kasus DBD dapat memperkecil peningkatan CFR.00 2 0.1. Tingginya curah hujan menyebabkan banyaknya genangan-genangan air yang memudahkan nyamuk untuk berkembangbiak.00 4 5. terlihat makin menurunnya CFR. PHBS yang rendah masih menjadi salah satu pemicu tidak menurunnya kasus IR.0 0 5.00 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 00 01 02 03 04 TAHUN 0 . peningkatan IR yang paling tinggi tidak mengakibatkan CFR meningkat di tahun yang sama. Pada kurun waktu tahun 2000 – 2004 terjadi kecenderungan peningkatan IR. 1999 dan tahun 2004.0 0 I.00 CFR 4 0. 2005 Apabila dilihat secara khusus per bulan selama kurun waktu 2003 .0 0 1 0.1.

7.52 6. Ditjen PP&PL.000 5. Sumber: Subdit Arbovirosis.0 6.005 14.61 10. 2005 Sementara itu. Hal ini ada kaitannya dengan pergantian musim kemarau ke musim hujan.4 10.000 10. menunjukkan bahwa kecenderungan peningkatan kasus DBD per bulan hampir sama polanya dengan tahun 2003 – 2004. data tahun 2005 – 2006.000 20. Gambar 4.61 5.000 15. 2005 Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 34 .LAPORAN AKHIR (Pemberantasan Sarang Nyamuk) maupun 3M mengakibatkan kecenderungan peningkatan kasus DBD.a).59 2.7 15. Depkes.99 7.004 2.9 7. Ditjen PP&PL.65 5.0 335 KASUS 9.94 6.000 0 JAN FEB MARAPRMAYJUN JUL AUGSEPOCT NOVDECJAN FEB MARAPRMAYJUN JUL AUGSEPOCT NOVDES JAN FEB MARAPRMAY 2.35 5. tahun 2005-2006 Kasus DBD PER BULAN DI INDONESIA TAHUN 2005-2006 35. Depkes.77 2.000 25.000 30.03 5. yaitu pada bulan akhir Desember (lihat Gambar 1. Gambar 4.41 19.79 1.7.27 1.10 908 992 1.3 18. 2006 11.03 8.2 Perkembangan Kasus DBD Nasional Per Bulan PERKEMBANGAN KASUS DBD NASIONAL PER BULAN 30000 2003-2004 25000 20000 S SU KA 15000 KASUS IK NA 10000 5000 0 JAN FEB MAR APR MAY JUN JUL AUG SEP OCT NOV DEC JAN FEB MAR APR 2003 2004 Sumber: Subdit Arbovirosis.8 30. 3 KASUS DBDPer Bulan di Indonesia.76 1.

terlihat pola yang jelas mengenai kecenderungan peningkatan kasus DBD.LAPORAN AKHIR Gambar 4. Kemudian strategi diperluas dengan menggunakan larvasida yang ditaburkan ke Tempat Penampungan Air (TPA). dan 1.418 7.4 JUMLAH KASUS DBD DI INDONESIA TAHUN 2005 & 2006 JUMLAH KASUS DBD DI INDONESIA TAHUN 2004 DAN 2005 (SITUASI SD TGLJuni 2006) (s/d 19 19 JUNI 2006) 20000 18000 16000 14000 12000 10000 8000 6000 4000 2000 0 2005 2006 Total sd Akhir Mei 2005: 35. 4.8. (3) meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi program pemberantasan DBD.01 14. Hal ini menurut beberapa hasil analisa ada kaitannya dengan pergantian musim kemarau ke musim hujan.7.686 Total sd Akhir Mei 2006: 50. Kebijakan dalam rangka penanggulangan menyebarnya DBD adalah (1) peningkatan perilaku dalam hidup sehat dan keamandiriian masyarakat terhadap penyakit DBD. Depkes. yaitu kecenderungan terjadinya peningkatan kasus DBD pada akhir bulan Desember sampai dengan kasus terbanyak pada bulan Februari – Maret. maka cara yang paling efektif untuk mencegah penyakit DBD ialah dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) yang dilaksanakan oleh masyarakat/keluarga secara teratur setiap seminggu sekali. 2005 Berdasarkan gambar 1. Ditjen PP&PL. seperti di atas.028 Sumber: Subdit Arbovirosis. Strategi dalam pelaksanaan kebijakan di atas dilakukan melalui Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 35 . Pada awalnya strategi utama pemberantasan DBD adalah pemberantasan nyamuk dewasa melalui pengasapan.1.034 8 8528 9 6997 10 7610 11 12 10712 15355 18.2 Kebijakan Penanggulangan Penyakit DBD Departemen Kesehatan telah melewati pengalaman yang cukup panjang dalam penanggulangan penyakit DBD.935 1 2005 2006 6475 2 10916 3 7610 4 5033 5 5652 335 6 5357 7 5. Kedua metode ini sampai sekarang belum memperlihatkan hasil yang memuaskan dimana terbukti dengan peningkatan kasus dan bertambahnya jumlah wilayah yang terjangkit DBD. dan (4) memantapkan kerjasama lintas sektor/lintas program. Mengingat obat dan vaksin untuk membunuh virus dengue belum ada.143 11. (2) meningkatkan perlindungan kesehatan masyarakat terhadap penyakit DBD. 1.7a. data tahun 2003 hingga Juni 2006.

(3) Peningkatan Profesionalisme Pengelola Program. Meningkatnya peran aktif masyarakat dalam pencegahan dan penanggulangan penyakit DBD merupakan salah satu kunci keberhasilan upaya pemberantasan penyakit DBD. sosialisasi. advokasi. dikarenakan perbedaan situasi dan kondisi wilayah. virology dan faktor-faktor perubahan iklim. Oleh sebab itu. (2) Pemberantasan vektor melalui PSN dengan cara 3M Plus. merupakan langkah awal dalam menggalang. Orientasi. (5) Pembangunan Berwawasan Kesehatan Lingkungan. dimana Puskesmas melakukan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 36 . guna memadukan berbagai sumber daya yang tersedia di masing-masing mitra. peran sektor terkait pemberantasan penyakit DBD sangat menentukan. dan berbagai kegiatan KIE kepada semua pihak yang terkait perlu dilaksanakan agar semuanya dapat memahami peran lingkungan dalam pemberantasan penyakit DBD. Optimalisasi pendelegasian wewenang pengelola kepada kabupaten/kota. tata laksana kasus harus dikuasai karena hal-hal tersebut merupakan landasan dalam penyususnan kebijaksanaan program P2 DBD. SDM yang terampil dan menguasai IPTEK merupakan salah satu unsur penting dalam pelaksanaan program P2 DBD. Untuk mendorong meningkatnya peran aktif masyarakat. dan pemeriksaan jentik berkala (PJB) yang dilakukan setiap 3 bulan sekali. meningkatkan dan mewujudkan kemitraan. Angka kesakitan penyakit ini bervariasi antara satu wilayah dengan wilayah lain. Jaringan kemitraan diselenggarakan melalui pertemuan berkala. Pokok-pokok program pemberantasan DBD mencakup (1) Kewaspadaan dini DBD. sehingga populasi vektor sebagai penular penyakit DBD dapat berkurang. maka upaya-upaya KIE.LAPORAN AKHIR (1) Pemberdayaan masyarakat. social marketing. maka identifikasi stakeholders baik sebagai mitra maupun pelaku potensial. pemantauan dan penilaian. (4) Penanggulangan kasus. Upaya pemberantasan penyakit DBD tidak dapat dilaksanakan oleh sektor kesehatan saja. Meningkatnya mutu lingkungan hidup dapat mengurangi angka kesakitan penyakit DBD karena di tempat-tempat penampungan air bersih dapat dibersihkan setiap minggu secara berkesinambungan. (3) Bulan Bakti gerakan ”3M”. Pertemuan berkala sejak dari tahap perencanaan sampai tahap pelaksanaan. (4) Desentralisasi. (2) Peningkatan Kemitraan Berwawasan Bebas dari Penyakit DBD. Pengetahuan mengenai Bionomic vektor. Penyakit DBD hampir tersebar luas di seluruh Indonesia kecuali di daerah yang di atas 1000 m diatas permukaan air laut. dan berbagai upaya penyuluhan kesehatan lainnya dilaksanakan secara intensif dan berkesinambungan melalui berbagai media massa dan sarana.

pemantauan dan informasi program pemberantasan penyakit dan meningkatkan kewaspadaan di semua tingkat administrasi. yaitu dana tak terduga. (2) Di Kota Pekanbaru. melalui penyediaan insektisida dan larvasida. pelatihan tenaga puskesmas dan rumah sakit. (3) meningkatkan SDM. Bappeda. komunikasi perubahan perilaku. (2) mengembangkan dan memperkuat jejaring surveilans epidemiologi dengan fokus pemantauan wilayah setempat. PMD. dana bencana dan dana belanja rutin sekretariat daerah. Implementasi kebijakan. Depag dan pihak legislatif. pelatihan tenaga operasional. perbaikan manajemen kasus diagnostik dan pengobatan serta rujukan. Dinkes. melalui pelaksanaan pertemuan berkala Pokjanal/Pokja DBD. (3) memantapkan jejaring lintas program. tersedia pos untuk penanggulangan. dan menyiapkan sarana pemeriksaan untuk diagnosa melaksanakan PE dan penanggulangan fokus. (3) Bila terjadi KLB. Hasil implementasi kebijakan. (2) pemberantasan vektor.LAPORAN AKHIR penyelidikan epidemiologi (PE) untuk mengurangi persebaran lebih luas dan tindakan yang lebih tepat. lintas program dan lintas sektor terkait serta mengaktifkan kembali peran UKS (Usaha Kesehatan Sekolah) untuk menggerakkan anak sekolah dalam pemberantasan demam berdarah. melalui perencanaan. Ketiga dana tersebut diatas berasal dari dana Kantor Walikota. sedangkan sekretariat berada di kantor Dinas Kesehatan. (7) Pendekatan Peran Serta Masyarakat dann PSN DBD. maka uang tidak bisa dicairkan. Dana KLB dianggarkan dengan menggunakan pola kinerja artinya bila KLB tidak terjadi. (5) penanggulangan KLB. kab/kota. kewaspadaan dini. (6) peningkatan profesionalisme SDM. Tim Pokjanal DBD diketuai oleh Walikota. (2) surveilans epidemiologi. pembinaan dalam pelaksanaan gerakan 3M. Strategi dan program adalah (1) pertemuan dengan tim pokjanal DBD propinsi Riau menghasilkan beberapa kesepakatan yang menitikberatkan pada peran aktif dari pokja/pokjanal DBD dengan melibatkan masyarakat. (5) meningkatkan kemampuan penggalian sumberdaya daerah dan sumberdaya masyarakat dalam pengelolaan program P2M. (8) Penelitian. sedangkan dana dari Dinas Kesehatan diutamakan untuk membeli peralatan dan kegiatan yang sifatnya pencegahan. (4) menyiapkan pengadaan dan distribusi kebutuhan obatobatan dan bahan-bahan yang esensial. melengkapi sarana pemberantasan vektor. sebagai dasar tindak lanjut perencanaan program dan penanggulangan KLB. lintas sektor. Bila Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 37 . pengendalian faktor resiko dan penyehatan lingkungan. serta kemitraan dengan masyrakat (LSM) termasuk swasta. strategi dan program penanggulangan DBD di daerah lokasi kajian dilaporkan sebagai berikut: Propinsi Riau Kebijakan Daerah mecakup (1) pemberantasan DBD diselenggarakan dengan menggunakan penatalaksanaan kasus secara cepat dan tepat. menyiapkan juknis dan juklaknya. Program yang dilakukan mencakup (1) kewaspadaan dini DBD melalui penyuluhan intensif. PKK. Strategi yang dilakukan mencakup (1) intensifikasi pelaksanaan kasus melalui pencarian kasus dan pemutusan rantai penularan. Tim Pokjanal DBD terdiri dari unsur-unsur Diknas.

diketuai oleh Bappeda dan sekretariat juga berada di Bappeda. (6) peningkatan profesionalisme SDM. (5) Pelibatan lintas sektor. dimana Puskesmas melakukan penyelidikan epidemiologi (PE) untuk mengurangi persebaran lebih luas dan tindakan yang lebih tepat. (3) Upaya peningkatan kemampuan tenaga kesehatan dalam penanggulangan DBD secara kuratif dilakukan melalui ”workshop tata laksana” dengan melibatkan dokter spesialis dan urusan dalam. fogging focus massal. uang dicairkan. (7) Pendekatan Peran Serta Masyarakat dann PSN DBD. dan pemeriksaan jentik berkala (PJB) yang dilakukan setiap 3 bulan sekali. yaitu mencakup 1) Kewaspadaan dini DBD. (3) komitmen dari pimpinan unit penyelenggara kesehatan diperlukan untuk kegiatan surveilans epidemiologi. Strategi dalam penanggulangan DBD dilakukan melalui (1) penemuan kasus dan kematian melalui surveilans di rumah sakit. (2) Pemberantasan vektor melalui PSN dengan cara 3M Plus. Propinsi Jawa Timur Kebijakan daerah mencakup (1) upaya penanggulangan masalah-masalah kesehatan yang dilakukan merupakan hasil dari kajian surveilans epidemiologi. Kota Pekanbaru juga memiliki Forum Perkampungan Sehat. dokter. Strategi pelaksanaan kebijakan penanggulangan DBD di Propinsi Jawa Barat dilakukan melalui (1) pendekatan ”gerak cepat” dan putus rantai. kesibukan kader. kab/kota. (2) kegiatan surveilans epidemiologi dilaksanakan oleh tim fungsional di masingmasing tingkat mulai dari Puskesmas. perawat.LAPORAN AKHIR terjadi KLB. dan tidak seimbangnya jumlah kader dengan cakupan daerah yang harus diselidiki. praktek swasta. (4) penemuan kasus dilaksanakan secara bekerjasama dengan masyarakat. (8) Penelitian. dan melakukan ”CLEAN-UP” lingkungan yang dipimpin oleh walikota selama 1-2 jam. pemeriksaan jentik dengan memberdayakan tenaga jumantik. puskesmas dan masyarakat. (6) Sosialisasi Pola Hidup Bersih (PHBS). (4) Penanggulangan kasus. (3) Bulan Bakti gerakan ”3M”. (2) upaya preventif yang dilakukan melalui ”managing vector and environment” malalui gerakan 3M yang dilakukan secara lintas sektor dalam wadah Pokjanal DBD. (2) Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 38 . Hasil pelaksanaan program ditunjukkan antara lain (1) pemantauan jentik belum optimal dilakukan oleh kader dengan alasan terbatasnya dana operasional. dukun bayi dan kendaraan kesehatan. dan propinsi. (2) Fogging dilaksanakan apabila terjadi KLB dengan menggunakan dana yang berasal dari Dinas Kesehatan Kabupaten dengan peruntukan untuk larvasidasi dan abatesisasi. Propinsi Jawa Barat Kebijakan penanggulangan di Jawa Barat secara umum mengacu pada kebijakan dan program yang telah ditetapkan oleh Departemen Kesehatan (Pusat). Kegiatan pokok adalah melakukan rapat lintas sektor untuk menangani masalah-masalah khususnya penyakit menular. (4) Pelibatan partisipasi masyarakat melalui gerakan PSN setiap hari Jumat pagi. maka kinerjanya akan dipertanyakan (3) Disamping Tim Pokjanal DBD. (5) penanggulangan KLB. bidan. yaitu pada setiap kasus petugas siap melakukan PE sehingga ditemukan akar permasalahan dan sumber penyebabnya untuk kemudian dilakukan tindakan agar tidak menyebar ke tempat lain.

kewaspadaan dini. pertemuan berkala Pokjanal/Pokja DBD. (5) melakukan studi epidemiologi pada daerah dengan kinerja yang tidak baik. Strategi yang dilakukan mencakup (1) peningkatan pencarian kasus dan pemutusan rantai penularan perbaikan manajemen pengobatan serta rujukan. kerja sama dengan dengan masyarakat dan swasta. membuat cara penanggulangan sementara. (2) Tim Pokjanal DBD diketuai oleh Walikota. melalui persiapan penyelidikan lapangan. Pokok-pokok Program yang dilakukan mencakup Kewaspadaan Dini DBD. pelaksanaan PE. mendeskripsikan kasus berdasarkan waktu. perilaku masyarakat. (4) Di samping Tim Pokjanal DBD. memastikan diagnostik etiologi.LAPORAN AKHIR pencarian kasus tambahan dilakukan pada saat penyelidikan epidemiologi. menetapkan sistem penemuan kasus baru. mengidentifikasi dan menghitung kasus atau paparan. penyehatan lingkungan. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 39 . Propinsi Kalimantan Timur Kebijakan Daerah yang dilakukan mencakup (1) Pemberantasan DBD diselenggarakan dengan menggunakan penatalaksanaan kasus secara cepat dan tepat. (3) Untuk tahun 2005. Pelaksanaan program penanggulangan DBD mencakup (1) SKD-KLB melalui kegiatan pengumpulan data baru dari penyakit-penyakit yang berpotensi KLB. (2) penyelidikan dan penanggulangan KLB. Kota Balikpapan memiliki Yayasan DBD yang ketuanya adalah kasubdin P2M Dinkes dan didanai oleh perusahaan minyak swasta. pelatihan tenaga kesehatan. lintas program dan lintas sekor terkait. (2) Pemberantasan vector. dan (3) Membangun kerja sama lintas sektor. mengamati indikasi pra-KLB misal cakupan program. pelaksanaan gerakan 3M. (6) Pelatihan khusus tentang epidemiologi dan surveillens baru dilakukan 1 kali dalam 5 tahun terakhir. (2) mengembangkan dan memperkuat jejaring surveilans epidemiologi dengan fokus pemantauan wilayah setempat. penyediaan insektisida dan larvasida. mengidentifikasikan keadaan penyebab KLB. merencanakan penelitian lain yang sistematis. beranggotakan kepala – kepala dinas yang ketika diadakan rapat-rapat selalu dihadiri oleh personal yang berlainan. menetapkan rekomendasi cara pencegahan dan penanggulangan. (5) Dinas kesehatan kota Balikpapan selalu melaksanakan pendataan DBD dengan rutin. mengidentifikasikan sumber dan cara penyebaran. sehingga sesuai data memang DBD di Kota Balikpapan tinggi. APBD mengalokasikan dana 500 juta untuk penanggulangan KLB dan habis untuk penanggulangan KLB DBD. penyuluhan. melengkapi sarana pemerantasan vektor. (2) Pelaksanaan Surveilans Epidemiologi. menetapkan apakah kejadian tersebut suatu KLB. status gizi. (3) penyelidikan epidemiologi terhadap kasus yang dicurigai pada daerah yang resiko rendah. (3) Pelatihan tenaga surveilens (pelatihan epidemiologi. orang dan tempat. perubahan perilaku dalam pola hidup bersih dan sehat. (4) melakukan kajian epidemiologi harus bekerjasama dengan lintas program dan lintas sektor. Gambaran implementasi adalah (1) Pelaksanaan penanggulangan DBD melibatkan masyarakat. pengolahan dan analisis data untuk penyusunan rumusan kegiatan perbaikan oleh tim epidemiologi.

dimana peran puskesmas sangat kecil karena dukungan dana dan personil sangat kecil. (3) Penanggulangan KLB. (2) Penanggulangan KLB menemukan jumlah kasus KLB DBD tahun 2005 sebanyak 66 kasus. melalui pelatihan petugas kesehatan. (3) Peningkatan Sumber Daya Manusia. terutama untuk insentif tenaga kesehatan dan kader. Implementasi kebijakan penanggulangan DBD di Sulawesi Selatan antara lain (1) Kewaspadaan Dini. melalui penyuluhan. penyuluhan intensif melalui media cetak dan elektronik. abatisasi. Pada pelaksanaan di Puskesmas.3 Kendala Penanggulangan DBD Kendala penting yang masih terjadi saat ini adalah kurang atau tidak adanya koordinasi dari instansi-instansi yang seharusnya terkait dalam menangani Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 40 . kab/kota dan puskesmas. (2) Pemberantasan Nyamuk Penular DBD terhadap nyamuk dewasa dan jentik nyamuk. gerakan PSN.1. pembinaan di 23 kab/kota. sedangkan tahun 2004 jumlah KLB DBD sebanyak 88 kasus. Namun terdapat ”gap” pelaksanaan/penanganan KLB. dukungan dana surveilans tertolong oleh adanya subsidi dari Askeskin. melakukan pelatihan tatalaksana DBD bagi dokter di rumah sakit pada daerah endemis. Dengan demikian Puskesmas sebagai fasilitas yang paling dekat dengan masyarakat tidak dimanfaatkan dengan baik dalam penanggulangan KLB DBD. pemantauan jentik berkala di berbagai kabupaten endemis dengan sasaran masing-masing 100 rumah. 4. Surveilans dilaksanakan pada tingkat dinas kesehatan propinsi. pertemuan Kewaspadaan Dini DBD sebanyak 4 kali melibatkan sektor terkait. pelatihan bagi pengelola program P2 DBD di 23 kab/kota. pengamatan bebas jentik dilakukan oleh murid-murid sekolah dan telah terbukti cukup efektif untuk dapat direflikasi di daerah lain. bulan kewaspadaan DBD. dan fogging massal. Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Selatan selanjutnya menyusun Prosedur Tetap (Protap) Penanggulangan DBD sebagai pedoman/acuan pelaksanaan kegiatan Dinas Kesehatan Propinsi dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.LAPORAN AKHIR Propinsi Sulawesi Selatan Upaya penanggulangan kejadian luar biasa (KLB)/penyakit menular. penanggulangan fokus. lintas program dan kabupaten/kota terdekat. menghasilkan penemuan dan pelaporan penderita. Propinsi Nusa Tenggara Barat Pedoman surveilans dan KLB kurang operasional. Materi yang disusun dalam prosedur tetap (Protap) ini adalah langkahlangkah penanggulangan DBD sebagai berikut: (1) Kewaspadan Dini. Dinkes Propinsi Nusa Tenggara Barat membuat pedoman operasional yang berisi ”step by step” metodologi penanggulangan DBD. melalui penemuan dan pelaporan penderita. khususnya penyakit DBD di Propinsi Sulawesi Selatan. pemantauan jentik berkala. Di kabupaten Lombok Tengah. pada dasarnya dilaksanakan berpedoman pada arah kebijakan dan program dari Pemerintah Pusat (Departemen Kesehatan). (4) Peningkatan SDM.

Dengan demikian. Kinerja Surveilans dan Pe 4. Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Barat. 3. serta instansi penyedia sarana air bersih (PDAM) juga harus ikut pula berpartisipasi. Kalimantan Timur. Adanya intervensi dalam pemilihan responden di tingkat dinas. baik di musim penghujan maupun di musim kemarau. Hal ini menjadi faktor penghambat praktek penanganan kasus di lapangan. yaitu propinsi Riau.4. Instansi-instansi yang mengatur tata kota dan permukiman. diantaranya: 1. Disisi lain adanya desentralisasi sumberdaya yang dimiliki. 4. nanggulangan DBD Kajian P2M KLB DBD dilakukan di enam propinsi. Pada tiap propinsi dilakukan kunjungan dan wawancara terhadap 2 kabupaten/kota. selama PDAM belum mampu menyediakan air bersih untuk seluruh penduduk. Kebijakan desentralisasi juga berpengaruh terhadap koordinasi antara pusat dan daerah dalam kewenangan penanganan DBD. hal ini dikarenakan adanya perubahan posisi (rolling) yang terjadi beberapa bulan sebelum kunjungan. Dengan adanya kewenangan penanganan yang didaerahkan terkadang menyulitkan dalam koordinasi penganggaran. Jawa Timur. yang memang membutuhkan biaya sangat tinggi. 4. kebersihan dan lingkungan hidup. Sumber informan yang seharusnya dan pada saat yang bersamaan tidak berada di tempat sehingga dilakukan wawancara terhadap informan pengganti. 2 puskesmas dan 1 Rumah Sakit. Responden yang diharapkan sebagai informan tidak sesuai. bahkan Dinas Pendidikan. 4. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 41 . 2. Adanya intervensi dari pendamping (orang dinas) dalam wawancara di tingkat Kab/kota. dilakukan kunjungan ke dinas kesehatan kabupaten/kota.LAPORAN AKHIR DBD sehingga menimbulkan masalah tersendiri di lapangan. Jawa Barat. serta melakukan wawancara ke Bappeda dan masyarakat. dan di tiap kabupaten/kota tersebut.3. Karena itu. maka penduduk masih terpaksa menyiapkan bak mandi dan tandon-tandon air (yang dapat menjadi sarang nyamuk) untuk menampung air yang sering hanya menetes bahkan mampet. baik dana maupun tenaga. Kebijakan tersebut terkait dengan anggaran kesehatan untuk pencegahan serta pemberantasan penyakit menular. sarang-sarang nyamuk Aides akan tetap ada di sepanjang tahun. puskesmas dan rumah sakit. melainkan juga terkait dengan instansi lainnya. pemerintah pusat mengalami kendala dalam pendistribusiannya ke daerah. populasi nyamuk Aides dewasa yang mempunyai potensi menyebarkan virus dengue juga akan selalu dijumpai dan menjadi sumber penularan di sepanjang tahun. Pihak daerah seringkali kewalahan dalam penyediaan biaya operasional penanganan penyakit karena keterbatasan sumberdaya. Sebagai contoh. Beberapa kendala yang ditemukan di lapangan. Penanganan DBD tidak semata-mata tugas Dinas Kesehatan.2.

LAPORAN AKHIR 5.0 60. Ketidaklengkapan data dikarenakan keterbatasan waktu dalam pengumpulan data 3 tahun terakhir (tahun 2003-2005). 1 miss ) (ntot =12) Peta rawan DP-DBD K-DBD W2-DBD W1 jml 4 4 3 3 4 % 80. Dinkes Kab/Kota. 2006 Selain peta rawan.1 Indikator Kinerja Surveilans dan Penanggulangan KLB (1) Indikator Kinerja Surveilans Peta Rawan Indikator Kinerja Surveilans bisa dilihat dari peta rawan. Tabel di bawah ini memperlihatkan persentase keberadaan indikator tersebut di Dinkes Propinsi.2. Dari 19 puskesmas yang dikunjungi. dari sebanyak 12 rumah sakit kab-kota yang menjadi lokasi kajian.0 75.0 60. Tidak demikian dengan Rumah Sakit. DP-DBD. Kesulitan pada proses wawancara di beberapa puskesmas dan RS dikarenakan waktu wawancara dilakukan pada saat jam kerja. KDBD.3 83.1 Distribusi Indikator Kinerja Surveilans di Dinkes Propinsi. Sementara di Puskesmas sebagai unit pelayanan kesehatan dasar.0 80.3 jml 11 9 12 15 12 % 52.0 16. peta rawan tidak tersedia disemua puskesmas. dan W1. K-DBD. 5 miss) KINERJA (ntot =12.4 42.3 58.7 83. 6. Begitu pula pada tingkat dinkes kab/kota. Indikator kinerja surveilans tersebut tidak sepenuhnya merupakan indikator surveilans.0 75. RS dan Puskesmas DINKES DINKES RUMAH INDIKATOR PUSKESMAS KAB/KOTA PROPINSI SAKIT (ntot =24.4 57. RS dan Puskesmas. dari 12 dinkes kab/kota sebanyak 10 dinkes kab/kota atau 83. hanya 11 (52. 4. indikator kinerja surveilans lainnya adalah DP-DBD.3% memiliki peta rawan.4%) yang memiliki peta rawan. Sedangkan di tingkat kab/kota indikator kinerja surveilans yang dimiliki dinkes kab/kota dan RS lebih banyak pada Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 42 .1 71. tak satupun memiliki peta rawan DBD.1 Sumber: Data Lapangan. Berdasarkan data tersebut terlihat 4 dari 5 dinkes propinsi memiliki peta rawan sebagai salah satu indikator kinerja surveilans. Dinkes Kab/Kota. Hal ini dapat dipahami berkaitan dengan fungsi rumah sakit sebagai unit rujukan yang berperan melakukan tindakan medis atas kejadian kasus. 6 miss) (nto= 5.3 50.0 jml 0 1 1 5 5 % 0. W2 DBD. W2-DBD dan W1.0 jml 10 7 6 9 9 % 83. Dari tabel di atas tergambarkan di tingkat propinsi data tersebut hampir semuanya tersedia.0 80.9 57. Tabel 4.7 16.

Diseminasi Informasi Kinerja surveilans juga diukur berdasarkan indikator diseminasi informasi seperti terlihat pada tabel di bawah ini. Di Samarinda. faktor ketepatan juga sangat penting. dinkes kab/kota dan puskesmas. dan K-DBD. Laporan umpan balik ke RS sangat jarang dilakukan. diperoleh dari bagian program pemberantasan DBD. setelah kejadian KLB laporan W2 seringkali terlupakan untuk dilaporkan oleh dinas kesehatan kabupaten/kota. Seperti halnya di propinsi Riau. namun ketepatannya hanya 60% saja. Sementara. 76% puskesmas sudah menerima laporan umpan balik dari Pemda kab/kota. Dalam pembuatan laporan. Sehingga.LAPORAN AKHIR indikator W2 DBD dan W1. dalam hal ini laporan W1. laporan peta rawan. Pada level puskesmas. Demikian pula untuk pembuatan profil surveilans epidemiologi. Pembuatan laporan pun tidak dilakukan setiap hari. Surveilans hanya menerima laporan yang berkaitan dengan KLB. Sedangkan di tingkat Puskesmas. Pada tingkat puskesmas. Lokasi yang tercakup dalam peta rawan kadang kali tidak kecil. seksi surveilans dan program pemberantasan penyakit (dalam hal ini program DBD/pemberantasan penyakit bersumber binatang). karena merupakan kota endemis. walau tidak semua puskesmas memilikinya. Laporan umpan balik dari propinsi sudah dilakukan oleh sebagian dinkes propinsi. ketiadaan indikator di atas karena pendekatan rumah sakit yang lebih kepada kuratif. Yang perlu diperhatikan adalah meskipun semua indikator terpenuhi. meskipun kelengkapan laporan puskesmas mencapai 90-100%. informasi mengenai ke lima indikator. pengumpulan data surveilans dilakukan oleh dua bagian. maka peta rawan adalah seluruh kota Samarinda itu sendiri. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 43 . Di Dinkes kota Samarinda. Penerbitan bulletin kajian epidemiologi ternyata lebih banyak dilakukan oleh Dinkes propinsi. W2. hanya pertanyaan mengenai adanya umpan balik dari kabupaten dan profil surveilans epidemiologi yang ditanyakan. Ke dua pertanyaan lainnya (penerbitan epidemiologi dan laporan umpan balik dari propinsi) tidak berkaitan langsung pada aktifitas puskesmas. keberadaaan datadata tersebut relatif tersedia. merupakan gabungan dari bagian seksi surveilans dan program pemberantasan penyakit (DBD). Di tingkat propinsi maupun kabupaten/kota. namun apakah laporan tersebut tepat waktu atau tidak. DP-DBD. Dari hasil keseluruhan memperlihatkan adanya persentase yang tinggi dalam hal kinerja ditingkat propinsi. Kadangkala diperlukan pengiriman informasi melalui short message system (sms dengan hand phone) untuk melaporkan kejadian BDB. sementara untuk rumah sakit hanya 1 buah rumah sakit saja yang menerima laporan umpan balik dari Pemda kab/kota. Pada tingkatan rumah sakit.

6 0 0. 2006 (3) Indikator Kinerja Penanggulangan Data Kasus Hasil kinerja surveilans dan penanggulangan diukur dengan penemuan kasus.4 2 50.5 Data Kasus DBD di Lokasi Kajian Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 44 . Grafik diatas ini memperlihatkan dari ke 6 lokasi kajian.2 Distribusi Indikator Diseminasi Informasi Surveilans di Dinkes Propinsi.LAPORAN AKHIR Tabel 4.3 10 76. angka kematian dan Case Fatality Rate (CFR).7 2 28.0 DINKES KAB/KOTA ntot =12) jml 1 % 11.9 3 75. Dinkes Kab/Kota.6 7 53. RS dan Puskesmas INDIKATOR KINERJA DINKES PROPINSI (ntot=6) jml Penerbitan buletin kajian epidemiologi Laporan umpan balik dari propinsi Laporan umpan balik dari kab/kota (untuk RS & puskesmas) Profil survaeilans epidemiologi 3 % 75.7 Sumber: Data Lapangan. Gambar 4.8 1 14.0 1 7.0 PUSKESMAS (ntot =24) jml 2 % 15.1 RUMAH SAKIT (ntot =12) jml 0 % 0.0 5 55.0 6 66.

Grafik ini adalah data yang diambil di Dinkes propinsi. Berdasarkan data tersebut kecenderungan data selama tahun 2003-2005 menunjukkan peningkatan kasus di semua propinsi. grafik di atas memperlihatkan jumlah kematian tertinggi di Jabar disusul dengan Jatim. 2006 Sementara untuk jumlah kematian. disusul dengan Propinsi Jawa Timur. NTB adalah propinsi terendah Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 45 . 2006 Berdasarkan gambar tersebut terlihat propinsi Jawa Barat memiliki kasus DBD yang paling banyak. Sedangkan kasus terendah terjadi di propinsi Nusa Tenggara Barat.LAPORAN AKHIR DATA KASUS DBD DI LOKASI KAJIAN TAHUN 2003-2005 20000 15000 10000 5000 0 RIAU JABAR JATIM KALTIM SU LSEL N TB 2003 739 8932 4243 2004 1059 19012 8321 2276 2005 1897 18590 14796 3165 3164 1062 2628 198 4175 805 Sumber: Ditjen PP & PL Depkes RI. Gambar 4.6 Data Kematian DBD di Lokasi Kajian DATA KEMATIAN DBD DI LOKASI KAJIAN TAHUN 2003-2005 300 250 200 150 100 50 0 RIAU JABAR JATIM KALTIM SULSEL NTB 39 8 2003 6 201 59 2004 21 214 120 41 25 16 2005 32 285 254 82 59 15 Sumber: Ditjen PP & PL Depkes RI.

36 Sumber: Ditjen PP & PL Depkes RI.50 3. Namun bila Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 46 .81 2.48 4. dapat dilihat dengan indikator CFR.2 2005 1.00 RIAU JABAR JATIM KALTIM SULSEL NTB NAS 2003 0. di sana banyak perumahan penduduk yang tersebar di pulau-pulau kecil sehingga menyulitkan petugas untuk memantau. Jatim. Pada tahun 2004 CFR di lokasi kajian terlihat rendah. Tipe rumah panggung yang merupakan ciri masyarakat asli Kaltim turut menambah risiko pertumbuhan habibat jentik karena biasanya bagian bawah rumah tergenang air buangan rumah tersebut dan menjadi sarang nyamuk.99 1.25 1.50 2. Seperti terjadi di Samarinda.00 1. Dari data yang dicatat dinkes propinsi selama tahun 2003-2005 menunjukkan sejumlah propinsi mengalami peningkatan jumlah kematian.86 1. khususnya pada rumah sakit yang berfungsi kuratif. Kaltim. Indikator ini menunjukkan jumlah penderita DBD yang meninggal dari tiap 100 penderita DBD. 2006 Untuk melihat kinerja penanganan kasus. Gambar 4.72 2.LAPORAN AKHIR dalam jumlah kematian. Salah satu penyebab tingginya kasus DBD adalah faktor geografis dan perilaku masyarakat. yaitu di propinsi Riau.44 1.04 1.39 0. Grafik di atas memperlihatkan pada tahun 2003. CFR tertinggi adalah NTB.80 0.53 1.69 1. bahkan di atas angka nasional.60 1. Masyarakat pun memiliki kebiasaan menampung air hujan (tadah hujan) yang menambah habitat jentik.7 Case Fatality Rate (CFR)DBD di Lokasi Kajian CASE FATALITY RATE (CFR) DBD DI LOKASI KAJIAN TAHUN 2003-2005 4.00 1.13 1.00 3.41 1. dan Sulsel.98 1.50 0.59 1. Jabar.00 2.5 2004 1.00 0. Sementara Dinkes tidak memiliki kendaraan untuk menjangkaunya.50 1.50 4.

Yang dimaksud tenaga pendukung/lainnya adalah tenaga yang berprofesi/ berpendidikan perawat. Pada tingkat dinkes propinsi.8 14. komposisi jenis tenaga yang bertugas dalam pelaksanaan surveilans dan penanggulangan terbanyak adalah S1 dan S2 Epidemiologi.9 3. SKM.5 jml 3 14 4 8 % 8. lulusan SMA. Lulusan S1 dan S2 Epidemiologi lebih banyak berperan sebagai tenaga surveilans. Tabel 4. 4. CFR yang paling tertinggi dimiliki oleh Riau dan NTB. dan kader kesehatan/posyandu.LAPORAN AKHIR dibandingkan dengan angka nasional. Sementara di propinsi lain CFR terlihat fluktuatif (naik dan turun). Pada tahun 2004. lulusan D3.2.6 8. kesehatan lingkungan/ sanitasi.0 9.2 Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 47 . staf administrasi.6 8. ahli gizi.6 jml 5 17 65 6 % 2.9 34. tenaga fogging.7 9. Semua CFR berada di atas angka nasional. CFR tertinggi pada tahun 2005 adalah di propinsi Kaltim. Data pada grafik memperlihatkan pula adanya kenaikan CFR dari tahun 2003-2005 di sejumlah propinsi yaitu Jatim.3 jml 1 3 4 2 % 4. APK. manajemen kesehatan. Pada tahun 2005. angka CFR kembali meningkat di bandingkan tahun sebelumnya. dokter gigi. sementara dokter umum berperan sebagai tenaga penanggulangan KLB.6 8.9 11. teknik lingkungan. tenaga rekam medis. CFR sejumlah propinsi lebih tinggi.2 Faktor-faktor Berpengaruh terhadap Kinerja Surveilans dan Kinerja Penanggulangan KLB (1) Tenaga Tenaga adalah sumberdaya manusia dari pihak provider kesehatan yang terlibat langsung dalam kegiatan surveilans maupun penanggulangan KLB. sementara di tingkat dinkes kab/kota adalah dokter umum dan tenaga pendukung laibnya.6 9.3 Distribusi Jenis Tenaga di Dinkes Propinsi dan Dinkes Kab/Kota DINKES PROPINSI JENIS TENAGA SURVEILANS PENANGGULA NGAN KLB DINKES KAB/KOTA SURVEILANS PENANGGULA NGAN KLB Jml S2 Epidemiologi S1 Epidemiologi Dokter umum Epidemiologi terampil 9 15 5 4 % 20. Kaltim dan NTB.3 19.1 34.

0 2.0 0 18 118 179 0.5 Sumber: Data Lapangan.0 1 10 21 4. Sehingga.9 100.6 35 59 187 18.0 5 2 17 44 11. kepala seksi surveilans adalah seorang dokter dengan pendidikan strata dua epidemiologi. dalam pengelompokkan dimasukkan dalam tenaga yang mempunyai latar belakang S2 Epidemiologi.0 0 33 13 65 0.6 8.1 65.3 100.2 6.0 100.6 100.8 Sumber: Depkes RI.4 Distribusi Jenis Tenaga di RS dan Puskesmas RS JENIS TENAGA SURVEILAN S jml S2 Epidemiologi S1 Epidemiologi Dokter umum Epidemiologi terampil Analis Laboratorium Pendukung/lainnya Jumlah 1 3 31 45 2.7 100.5 0.4 34.9 100.8 47.LAPORAN AKHIR Analis Laboratorium Pendukung/lainnya Jumlah 0 10 43 0. Tabel 4.2 15. Sementara di tingkat puskesmas maupun rumah sakit. sehingga sumber daya yang bersifat klinis tidak banyak tersedia. Seperti halnya di dinas kesehatan propinsi Riau.6 100. 2006 Di Rumah Sakit.0 10.6 8.4 2. dimana mereka sebagai pemeriksa pasien. maupun sebagai tenaga klinis pada saat penanggulangan. tenaga dokter yang ada.5 38. Banyaknya tenaga dokter untuk penanggulangan di tingkat kabupaten/kota dikarenakan pelaksana operasional penanggulangan KLB berada di tingkat kabuapten/kota.0 2 1 7 % 4.0 0 6 35 8.0 23. tenaga dokter masuk dalam kategori sebagai ‘pengumpul data’.0 50.2 21.8 31.4 4.1 PENANGGU LANGAN KLB jml 0 4 39 % 0.0 27. Sementara. dokter umum paling banyak terlibat dalam kegiatan surveilans maupun penanggulangan.0 11. Sehingga.6 PENANGGU LANGAN KLB jml 1 0 18 % 1. peran propinsi hanya sebagai koordinator. Hal yang sama juga ditemukan pada tingkat puskesmas.7 PUSKESMAS SURVEILA NS jml 0 5 15 % 0.8 20. adalah semua dokter yang berada di puskesmas.7 68. 2006 Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 48 .

Di puskesmas Pekanbaru Kota. Selain jumlah. Hal yang berbeda di puskesmas lainnya. Tenaga laboran cenderung banyak di RS yang berfungsi sebagai RS pendidikan. terlihat jumlah tenaga dokter umum yang banyak. Hal ini mungkin yang menyebabkan tidak adanya laboran di tingkat dinas kabupaten/kota. Usaha lain yang dilakukan Dinas Kesehatan Propinsi dalam rangka peningkatan kemampuan adalah pembinaan teknis. karena mereka berasumsi bahwa yang dimaksud dengan tim penanggulangan adalah tim penanggulangan yang berada di dinas kesehatan kabupaten itu sendiri. Sehingga dokter-dokter tidak dianggap bukan tenaga surveilans. seperti yang terjadi di propinsi Sulawesi Selatan. filariasis dan zoonosis. yaitu orang yang melakukan rekap data. satu tenaga juga merangkap sebagai tenaga untuk program DBD. Bahkan di tingkat puskesmas. untuk apa tenaga laboran?”. Selain pelatihan formal. sehingga sudah terlihat hasil laboratoriumnya. Di lapangan juga ditemukan masih adanya perbedaan persepsi tentang tenaga surveilans dan tenaga penanggulangan. Selain itu. malaria. Di tingkat Puskesmas. Di rumah sakit ini yang mengumpulkan data adalah bagian rekam medis yang bertugas mengumpulkan dan merekap data. kualifikasi tenaga masih kurang. “kalau sudah terjadi KLB. Sementara bila dokter umum tidak terlibat dalam kegiatan penanggulangan seperti yang terjadi di kabupaten Lombok Tengah. ada hal yang menarik dari pernyataan dinas kota pekan baru. Jumlah tenaga dirasakan masih kurang. Puskesmas Tambak Rejo. Perawat atau sanitarian puskesmas sering merangkap sebagai tenaga surveilans dan tenaga penyelidikan epidemiologi (PE). pengetahuan tim pada umumnya dipenuhi dari pengalaman lapangan dalam penanganan P2M. Salah satu upaya untuk mengatasinya adalah pelatihan di dalam atau di luar negeri seperti terjadi di Jabar. Ketiadaan tenaga epidemiologi pada tingkat rumah sakit salah satunya disebabkan karena sudah adanya tim pokja DBD seperti yang ada di di RSUD Mataram. laporan kasus yang masuk biasanya penderita sudah dari rumah sakit. Khusus Jawa Barat sebagai daerah P2M pengetahuan praktis tenaga surveilans dan penanggulangan melebihi pengetahuan bersifat formal Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 49 . yang langsung berada di bawah institusi dinas kesehatan kabupaten/kota dan terlibat sebagai tim penanggulangan.LAPORAN AKHIR Untuk penanggulangan. Sementara itu untuk tenaga laboran/laboratorium. satu tenaga berperan sebagai tenaga DBD merangkap tenaga untuk program malaria dan zoonosis. Hal ini dikarenakan tenaga dokter yang diasumsikan oleh responden adalah tenaga dokter yang berada di puskesmas (seluruh puskesmas). Pada Dinas Kesehatan kabupaten atau kota. yang berasumsi bahwa dokter juga merupakan tenaga surveilans. rakor dan melakukan berbagai pelatihan di bidang surveilans maupun penanggulangan penyakit. seperti terjadi di RS Mataram. mengadakan pertemuan/lokakarya. tenaga perawat atau sanitarian sering dijadikan petugas yang merangkap sebagai tenaga surveilans dan penyelidikan epidemiologi (PE). ada pula RS yang mengkategorikan dokter sebagai tenaga surveilans seperti di rumah sakit daerah Siak. dan Puskesmas Kota Mataram berpendapat bahwa tenaga surveilans merupakan tenaga tersendiri. Namun.

19 sampel dari daftar tenaga diambil. Berdasarkan cut off ≥ 128 untuk kategori pengetahuan tinggi didapat bahwa hanya 53 % dari 19 sampel tenaga mempunyai tingkat pengetahuan yang baik. 2006 Total 10 9 19 % 52. Tiap pertanyaan mempunyai skala 1 sampai 5 (buruk hingga baik). rerata 127 dan median 128.6 Persepsi Responden Tentang Penanggulangan DBD Tingkat Pengetahuan Tinggi Rendah Total Sumber: data Lapangan.3menyatakan kurang memahami. Apabila dibandingkan persepsi responden terhadap Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 50 .7 Rendah 3 14.0 Berdasarkan data di atas dapat digambarkan bahwa persepsi responden terhadap pengetahuan berkaitan dengan penanggulangan DBD cukup baik. Tabel 4. rerata 150 dan median 156. 85.3 Total 21 100. Tiap pertanyaan mempunyai skala 1 sampai 5 (buruk hingga baik). Data menunjukkan bahwa total skor persepsi surveilans berkisar dari 93-181. Tabel 4. Data menunjukkan bahwa total skor persepsi penanggulangan berkisar dari 86-156. Pengetahuan ini diukur dengan persepsi terhadap 36 pertanyaan tentang penanggulangan DBD.5 Persepsi Responden Tentang Surveilans DBD Total % Tinggi 18 85.3 100. Dari data tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa sebenarnya pemahaman aparat terhadap program surveilans cukup baik. sejumlah sampel dari daftar tenaga diambil. dan 14. Cut off dipilih median karena distribusi data tidak normal. Berdasarkan cut off ≥ 156 untuk kategori pengetahuan tinggi didapat bahwa 85% dari 21 sampel tenaga mempunyai tingkat pengetahuan yang baik.7 % responden menyatakan cukup memahami tentang pengetahuan surveilans.LAPORAN AKHIR Untuk mengetahui tingkat pengetahuan responden tentang surveilans oleh tenaga surveilans.6% responden memiliki pengetahuan tinggi dan 47. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan responden tentang penanggulangan oleh tenaga penanggulangan.0 Sumber: Data Lapangan.6 47. Pengetahuan ini diukur dengan persepsi terhadap 40 pertanyaan tentang surveilans. Dari sejumlah responden yang ditanya. yaitu 52.3% responden memiliki pengetahuan rendah. 2006 Berdasarkan tabel di atas tergambarkan bahwa pengetahuan para petugas (responden) terhadap pengetahuan surveilans cukup baik.

Hal ini sejalan dengan kebijakan yang ada. Dari hasil kunjungan lapangan ke Puskesmas diketahui bahwa dana atau anggaran yang dipergunakan untuk operasional penanggulangan penyakit menular di Puskesmas adalah sebagian besar mempergunakan dana operasional yang diperoleh dari program asuransi kesehatan masyarakat miskin (Askeskin). Namun setiap usulan dana dari APBD untuk kegiatan Pokjanal sering tidak mendapat persetujuan Pemda karena urusan DBD dianggap urusan dinas kesehatan.7 Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 51 . dimana sebagian responden adalah tenaga aparat dinas dan tenaga puskesmas yang memiliki informasi dalam praktek kegiatan surveilans. Sebagian besar dana ternyata berasal dari APBD. Hal ini menandakan terutama pada praktek di lapangan.LAPORAN AKHIR pengetahuan berkaitan dengan surveilans dan pengetahuan berkaitan dengan penanggulangan. Adanya otonomi daerah pun malah mempersulit koordinasi. Untuk puskemas. Hal tersebut berdampak pada pembiayaan untuk operasional Puskesmas dalam upaya penanggulangan KLB. Sedangkan praktek penanggulangan dipahami lebih banyak oleh tenaga medis di rumas sakit sebagai unit rujukan dalam kasus penanganan DBD. masing-masing kabupaten atau kota dalam melaksanakan tugas dan kewenangannya terkesan tidak memerlukan bantuan dinkes propinsi. Setiap terjadi KLB. Pengetahuan dalam penyelidikan dan penanggulangan KLB DBD sudah bagus. Sumber dana untuk kegiatan surveilans dan penanggulangan DBD di lokasi kajian terlihat pada tabel di bawah ini. yang sebenarnya merupakan salah satu tools untuk melakukan evaluasi. dimana dana APBN berkaitan dengan operasional di Puskesmas terbatas pada dana perbantuan untuk penguatan kapasitas. kabupaten/kota sering lupa untuk mengirimkan laporan W2 (mingguan). Tabel 4. Masih banyak ditemukan masalah kurangnya atau lemahnya koordinasi untuk pemberantasan DBD. terlihat persentase responden lebih tinggi dalam pemahaman surveilans. namun dalam sistem pelaporan mereka masih ada masalah. Dalam operasional di lapangan sudah baik karena mereka langsung cepat tanggap untuk menangani KLB dan mencegah penyebaran lebih luas. Kalau tidak diminta oleh propinsi. Namun pemahaman ditingkat kabupaten/kota secara general terhadap penanggulangan KLB belum optimal. meskipun sudah teralokasi namun sebagian besar alokasi anggaran dipergunakan untuk pengadaan obat dan peralatan (investasi) tidak berupa biaya operasional. dana yang bersumber APBN sangat kecil. Selain itu. kabupaten/kota tidak mengirimkan. sesuai dengan standar. Data di atas juga menggambarkan masih adanya persoalan berkaitan dengan tenaga dalam penanganan DBD khususnya dalam hal koordinasi. Seperti terjadi di Sulsel. Di Sulsel terdapat Pokjanal yang terdiri dari lintas sektor. (2) Dana Masalah pembiayaan dalam penanggulangan penyakit DBD menjadi permasalahan yang dihadapi setiap tahunnya oleh Dinas Kesehatan karena alokasi anggaran yang bersumber dari APBD tidak/belum mencukupi sesuai dengan kebutuhan.

upah kader. serta peningkatan manajamen puskesmas. Dana tersebut digunakan untuk kegiatan peningkatan kapasitas. penyelidikan epidemiologi. seperti insektisida.0 14. Yang dimaksud dengan sumber dana lainnya adalah swadaya RS. dan penanggulangan fokus. 2006 Sumber dana untuk kegiatan surveilans dan penanggulangan di tingkat dinkes propinsi bersumber dari APBN (dekonsentrasi) dan APBD propinsi. sebagian besar kegiatan operasional surveilans dan penanggulangan DBD mengggunakan dana Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 52 . larvasida. penyediaan bahan-bahan pendukung untuk promosi kesehatan. sumber dana untuk pelaksanaan opersional penanggulangan DBD juga bersumber dari APBN dan APBD serta sumber lainnya.0 0. Sumber dana lain tersebut didapat dari kelompok masyarakat yang peduli terhadap penanganan kesehatan masyarakat.0 75. serta partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan penyuluhan. biaya transfusi darah. penanggulangan kasus. pembelian mesin. Salah satu peran kader jumantik adalah mendampingi petugas puskesmas dalam melakukan pemeriksaan di 20 rumah sekeliling rumah penderita jika ada kasus DBD. peralatan fogging. Sementara di tingkat puskesmas. swadaya masyarakat. sumber dana untuk kegiatan surveilans berasal dari dana operasional puskesmas (DOP).0 PENANGGULA NGAN KLB jml 5 4 0 % 100. seperti pelatihan tenaga puskesmas. dan swadana puskesmas. sebagian dana diberikan untuk pembelian bahan operasional. Tidak ada dana yang spesifik diperuntukkan untuk kegiatan surveilans. juga berasal dari sumber lainnya. jasa dokter. transport supervisor. Sedangkan di tingkat dinkes kab/kota. Berdasarkan wawancara dengan beberapa kepala puskesmas di lapangan.0 80. pembelian obat-obatan. pembelian bahan bakar/solar. selain berasal dari APBN (dalam bentuk dana tugas perbantuan) dan APBD propinsi dan APBD kab/kota.0 10. jasa kader. pembuatan laporan.0 Sumber: Data Lapangan. Bila tidak mencukupi menggunakan dana program.0 DINKES KAB/KOTA SURVEILAN S jml 7 1 2 % 100. seperti dalam pelaksanaan fogging fokus. penyuluhan.3 28. Dana APBN didapat dalam bentuk dana dekonsentrasi yang disalurkan melalui APBD propinsi.0 0. seperti JPK-MM. fogging. Begitupula dana APBD.0 30.6 PENANGGULA NGAN KLB jml 10 1 3 % 100. biaya akomodasi. Kader merupakan salah satu tenaga yang terlibat dan dibiayai dengan dana kegiatan surveilans dan penanggulangan KLB.LAPORAN AKHIR Distribusi sumber dana di Dinkes Propinsi dan Dinkes Kab/Kota DINKES PROPINSI SUMBER DANA SURVEILANS jml APBD APBN Lainnya 4 3 0 % 100. biaya perawatan. pembelian insektisida. khususnya di lingkungan RT/RW melalui posyandu. selain untuk peningkatan kapasitas puskesmas.

Alokasi dana terbanyak adalah untuk obat dan peralatan (investasi).0 0. seringkali harus menggunakan dana tambahan dari PKPS-BBM (JPKMM) maupun Askeskin karena seringnya dana terlambat dicairkan. Walaupun beberapa puskesmas terkadang menggunakan dana JPKMM sebagai tambahan. Untuk tingkat kabupaten/kota penggunaan dana terbanyak berasal dari APBD baik APBD murni. seperti terjadi di Sulsel. Contoh di Jawa Barat DIPA Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 53 . Untuk tingkat puskesmas. seperti halnya kabupaten Gresik.7 PENANGGUL ANGAN KLB jml 8 1 10 % 57. Hanya rumah sakit Gresik yang menyatakan adanya dana surveilans. Sementara untuk puskesmas. Tabel 4.4 Sumber: Data Lapangan. Tidak jarang puskesmas juga harus menggunakan dana swadaya masyarakat atau pribadi.1 71. Masalah lain dalam aspek dana berkaitan dengan proses pencairan yang dirasakan prosesnya selalu lama dan terlambat.0 100. 2 milyar yang berasal dari dana dekon (APBN) khusus untuk penanggulangan KLB. serta dana APBD. yaitu berasal dari APBN dan APBD (Gakin). Di kota Surabaya bahkan terkadang menggunakan dana pribadi. Hal tersebut karena dalam prakteknya kegiatan operasional di lapangan dilakukan oleh semua petugas puskesmas. bila dana yang diusulkan belum turun. Sehingga wajar saja jika digunakan sumber lain. Hal ini karena adanya kebijakan setiap propinsi mendapatkan dana Rp. Dana yang digunakan untuk penanggulangan KLB berasal dari APBN (Dekon) dan APBD. selain dana penanggulangan dari APBD.3 85.0 PUSKESMAS SURVEILAN S jml 3 1 6 % 42.0 25. rata-rata penggunaan operasional surveilans berasal dari APBD.8 Distribusi Sumber Dana di RS dan Puskesmas RS SUMBER DANA SURVEILANS jml APBD APBN Lainnya 1 1 0 % 100.1 7.0 0.LAPORAN AKHIR operasional umum yang ada di puskesmas. hampir semuanya menggunakan dana APBD. yang ada hanya pencatatan pelaporan yang dilakukan di bagian rekam medis. Di rumah sakit tidak terdapat dana surveilans.9 14. Namun tidak menutup kemungkinan pendanaan dapat juga berasal dari APBN. 2006 Operasional surveilans di tingkat propinsi menggunakan dana APBN murni maupun Dekon. Baik APBD propinsi maupun APBD kabupaten/kota atau APBD sharing. Sedangkan untuk tingkat kabupaen/kota. maupun APBD-ABT yang diajukan sebagai tambahan. Seperti ditemukan di puskesmas Duduk Sampeyan dan puskesmas Kebomas.0 PENANGGUL ANGAN KLB jml 4 0 1 % 100.

(d) fogging massal. (a) terhadap nyamuk dewasa. Di propinsi Kalimantan Timur yang merupakan daerah endemis DBD. 3. Pada tingkat dinkes propinsi maupun dinkes kab/kota keberadaan SOP dalam bentuk peraturan dan pedoman cukup baik. Pelaksanaan SOP kegiatan surveilans dilakukan berdasarkan pedoman dan peraturan. Penanggulangan KLB. (d) pemantauan jentik berkala. (3) Standar Operasi dan Prosedur (SOP) Upaya penanggulangan kejadian luar biasa (KLB)/penyakit menular. DBD masih merupakan masalah besar di Kaltim. (c) bulan kewaspadaan DBD. Pedoman yang bersifat teknis di lapangan diwujudkan dalam bentuk SOP.9 Distribusi Ketersediaan SOP Surveilans di Dinkes Propinsi. RS dan Puskesmas Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 54 . Lebih banyak dana dikucurkan untuk kuratif. Materi yang disusun dalam Protap ini adalah langkah-langkah penanggulangan DBD sebagai berikut: 1. 4. (a) penyuluhan. Bahkan meskipun sudah dibentuk Yayasan Penanggulangan DBD dengan SK Walikota dan didanai oleh perusahaanperusahaan minyak. Kewaspadaan Dini. Pemberantasan Nyamuk Penular DBD. (b) Gerakan PSN. (b) terhadap jentik nyamuk. (a) penemuan dan pelaporan penderita. Sementara SOP kegiatan penanggulangan KLB tampaknya sudah cukup banyak dimiliki di semua level. 2. Dinkes Kab/Kota. Proporsi anggaran untuk preventiv (surveilans) dan kuratif (penanggulangan) tidak seimbang.LAPORAN AKHIR seringkali terlambat. Dinas Kesehatan Propinsi selanjutnya menyusun Prosedur Tetap (Protap) Penanggulangan DBD sebagai pedoman/acuan pelaksanaan kegiatan Dinas Kesehatan Propinsi dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. (b) penangggulangan focus. peran swasta dalam kontribusi dana belum optimal. Tabel 4. Keberadaan SOP penting untuk panduan petugas. Sedangkan di tingkat puskesmas dan RS masih sangat rendah. khususnya penyakit DBD. (c) abatisasi. pada dasarnya dilaksanakan berpedoman pada arah kebijakan dan program dari Pemerintah Pusat (Departemen Kesehatan). antara lain pelatihan petugas kesehatan. Peningkatan SDM.

1 14.0 PUSKESMA S jml 7 8 15 13 13 11 8 % 36.1 78. rumah sakit maupun puskesmas yang ada mencakup peraturan SKD-KLB. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 55 .0 80.9 68.0 DINKES KAB/KOTA jml 11 4 % 91.0 50. Dinkes Kab/Kota. Penyusunan SOP dimaksud dilakukan dengan melibatkan lintas program. pedoman penyelidikan KLB.1 jml RS % 57.8 42.0 100. dan laporan kondisi rentan KLB. pedoman penanggulangan KLB.3 100. pedoman SKD-KLB.0 75. Di tingkat kabupaten/kota SOP yang ada selain mengadopsi dari pusat juga mengadopsi SOP yang dibuat oleh Dinkes propinsi. selama ini masih mengikuti pedoman dari pusat.0 DINKES KAB/KOTA jml 7 9 10 10 7 9 4 % 63.10 Distribusi Ketersediaan SOP Penanggulangan KLB di Propinsi.9 90.1 SOP Sumber: Data Lapangan.3 PUSKESMAS jml 12 0 % 50.0 75.0 100.6 81.4 jml 3 3 2 3 2 2 3 RS % 75.7 57. Tabel 4. Kedepan propinsi juga akan menyusun Standar Pelayanan Minimal (SPM) dan Standar operasional (SOP) agar SOP bisa operasional di lapangan. 2006 Propinsi belum membuat SOP sendiri.0 100.6 81.9 63.0 Pedoman Peraturan 4 1 Sumber: Data Lapangan.4 57.9 42.0 75. RS dan Puskesmas DINKES PROPINSI jml Peraturan SKD-KLB Pedoman SKD-KLB Pedoman penyelidikan KLB Pedoman Penanggulangan KLB Pedoman Cara Pelaporan Laporan Penyakit Potensi KLB Laporan Kondisi Rentan KLB 5 5 5 5 5 4 4 % 100.0 0.0 50.0 100.4 68. laporan penyakit potensi KLB.8 36. kab/kota. pedoman cara pelaporan.LAPORAN AKHIR SOP DINKES PROPINSI jml % 5 3 83.8 90.0 80. 2006 SOP dalam rangka penanggulangan KLB di Dinkes propinsi.0 50.

LAPORAN AKHIR

Dari Tabel 4.10 tergambarkan keberadaan SOP di masing-masing tingkatan. Seperti halnya SOP dalam rangka kegiatan surveilans, pada kegiatan penanggulangan, setiap dinkes propinsi dan kabupaten/kota memiliki cukup lengkap pedoman dan peraturan sebagai landasan operasional penanggulangan penyakit. Namun demikian SOP dimaksud tidak secara lengkap dimiliki oleh puskesmas. Rumah sakit memiliki SOP penanggulangan cukup baik dibandingkan SOP surveilans. Hal ini dipahami berkaitan dengan fungsi rumah sakit sebagai unit rujukan dalam penanganan kasus penyakit menular termasuk kasus DBD. Walaupun keberadaan SOP dimaksud cukup lengkap hampir pada setiap tingkat unit pelayanan kesehatan, namun demikian keberadaan pedoman belum tentu digunakan. Seperti halnya di RSU Ujung Berung, di propinsi Jawa Barat SOP yang ada dianggap kurang operasional karena tidak sesuai dengan kondisi dan permasalahan yang ada di lapangan. Upaya yang dilakukan dalam melakukan operasionalnya dilakukan dengan membuat SOP yang lebih rinci dan sederhana menjabarkan SOP yang dibuat dinkes propinsi maupun dinkes kab/kota. Yang menarik adalah di RSUD Mataram yang juga merupakan rumah sakit pendidikan dan memilki tim pokja DBD, hanya laporan kondisi rentan KLB yang mereka miliki. Namun mereka juga membuat standar operasional dalam pertolongan pasien DBD yang tidak terdapat dalam ke-enam SOP tersebut. (4) Data

Ketersediaan data, baik pada kegiatan surveilans maupun penanggulangan KLB sangat penting. Data untuk surveilans yang dibutuhkan mencakup kasus, jentik, vektor dan curah hujan. Dari ke-4 data tersebut ternyata hanya data kasus yang tersedia di semua tingkatan. Data jentik yang sangat penting pun tidak tersedia kecuali pada level puskesmas. Jumlah puskesmas yang memiliki data tersebut sangat sedikit. Ketiadaan data di tingkat RS dikarenakan fungsi rumah sakit yang lebih sebagai kuratif. Informasi data surveilans diperoleh berdasarkan data dari seksi surveilans, yang notabene tidak melakukan pengumpulan data jentik, vektor maupun curah hujan. Baik di tingkat propinsi maupun di tingkat kabupaten/kota. Adapun informasi jentik dan curah hujan dilakukan oleh seksi pemberantasan penyakit (program DBD) yang bekerjasama dengan sanitasi. Oleh karena informasi yang diperoleh berasal dari seksi surveilans, maka ketiga data tersebut tidak ada. Sementara di bagian pemberantasan penyakit sendiri juga terdapat bagian surveilans, yang melakukan pengumpulan data rutin DBD. Oleh karena itu bukan berarti dalam surveilans data mengenai jentik dan vektor tidak ada, informasi mengenai jentik dan vektor tidak bisa didapatkan. Hal tersebut dapat dilihat dari informasi penanggulangan yang merupakan perpaduan informasi dari seksi surveilans dan pemberantasan. Tabel 4.11 Distribusi Ketersediaan Data Surveilans di Dinkes Propinsi, Dinkes Kab/Kota, RS dan Puskesmas

Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular

56

LAPORAN AKHIR

DATA

DINKES PROPINSI jml % 100.0 0.0 0.0 0.0

DINKES KAB/KOTA jml 6 0 0 1 % 100.0 0.0 0.0 16.7 jml 4 0 0 0

RS % 80.0 0.0 0.0 0.0

PUSKESMAS jml 11 2 0 0 % 100.0 18.2 0.0 0.0

Kasus Jentik Vektor Curah hujan

3 0 0 0

Sumber: Data Lapangan, 2006 Data yang dibutuhkan untuk penanggulangan DBD mencakup kasus, jentik, lingkungan/genangan, perilaku 3M, vektor, curah hujan dan logistik. Terlihat pada tabel di bawah ini bahwa data yang paling banyak tersedia adalah data kasus dan jentik. Tampaknya di dinkes propinsi dan dinkes kab/kota, data lebih lengkap tersedia dibandingkan di tingkat RS dan puskesmas. Tabel 4.12 Distribusi Ketersediaan Data Penanggulangan KLB di Propinsi, Dinkes Kab/Kota, RS dan Puskesmas
DINKES PROPINSI jml Kasus Jentik Lingkungan/genan gan Perilaku 3M Vektor Curah hujan Logistik 5 3 1 0 1 1 2 % 100.0 60.0 20.0 0.0 20.0 20.0 40.0 DINKES KAB/KOTA jml 12 12 4 2 1 1 4 % 100.0 100.0 33.3 16.7 8.3 8.3 33.3 jml 5 0 0 0 0 0 2 RS % 71.4 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 28.6 PUSKESMAS jml 18 7 1 0 1 2 5 % 94.7 36.8 5.3 0.0 5.3 10.5 26.3

DATA

Sumber: Data Lapangan, 2006 Di Dinkes Kota Bandung Jawa Barat kegiatan surveilans dilakukan secara manual dengan cara pengumpulan data, pencatatan dan pelaporan. Sementara pelaporan yang dilakukan Puskesmas dikirim langsung oleh petugas puskesmas ke dinas kesehatan kota sesuai format yang ditentukan dalam bentuk manual. Sharing informasi antar petugas bidang/unit puskesmas dilakukan dalam bentuk ”rakor bulanan”, sekaligus ajang tukar informasi dan pengalaman serta upaya pemecahan masalah yang ditemukan.
Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular

57

LAPORAN AKHIR

Temuan lain yang di dapat di lapangan adalah tidak dikumpulkannya data jentik, vektor, dan curah hujan. Selain itu ketepatan dan kelengkapan laporan dari kabupaten masih rendah. Juga belum dilakukan analisis data baik di tingkat propinsi maupun kabupaten (baru bersifat pengumpulan data). Sehingga untuk SKD-KLB data yang seharusnya dapat dilihat /diprediksi diawal untuk kewaspadaan terjadinya KLB, belum dilakukan. Selama ini propinsi tidak pernah mempermasalahkan validitas data yang dilaporkan. Untuk pengecekan data biasanya menyamakan informasi yang berasal dari media massa. Propinsi belum mempunyai sistem peringatan ke kabupaten bila terjadi keterlambatan atau ketidak lengkapan. (5) Sarana Ketersediaan sarana penunjang kegiatan surveilans terlihat pada tabel berikut ini. Dari tabel tersebut terlihat bahwa jumlah sarana masih sangat terbatas. Kepemilikan sarana transportasi dan pengolah data, dari level puskesmas hingga dinkes propinsi berkisar 11-50% saja. Sementara untuk sarana komunikasi sudah lebih baik; meskipun untuk level RS dan puskesmas masih perlu ditambah. Tabel 4.13 Distribusi Ketersediaan Sarana Surveilans di Dinkes Propinsi, Dinkes Kab/Kota, RS dan Puskesmas
DINKES PROPINSI jml Transportasi Pengolah data Komunikasi 3 3 6 % 50.0 50.0 100.0 DINKES KAB/KOTA jml 4 5 10 % 36.4 41.7 83.3 jml 1 4 6 RS % 11.1 44.4 66.7 PUSKESMAS jml 11 9 14 % 50.0 40.9 63.6

SARANA

Sumber: Data Lapangan, 2006 Bila di lokasi kajian lain, peralatan pengolah data sudah menggunakan komputer, tidak halnya di Puskesmas Benteng Hilir yang masih menggunakan cara manual. Padahal di puskesmas lainnya, sudah disediakan komputer. Faktor geografis rupanya menentukan jenis alat komunikasi dan dipakai. Di propinsi Jawa Timur, semua wilayah dapat dijangkau dengan telepon, sementara di NTB tidak hanya memanfaatkan telepon sebagai alat komunikasi, tetapi juga SSB. Di kabupaten Lombok Tengah yang menggunakan SSB sebagai sarana komunikasi karena belum adanya kabel telepon. Di propinsi Riau, sarana komunikasi menggunakan telepon, walaupun tidak semua wilayah dapat dijangkau dengan fasilitas telepon. Untuk kegiatan penanggulangan KLB, ketersediaan/kepemilikan sarana yang diperlukan terlihat sudah jauh lebih baik daripada ketersediaan/kepemilikan
Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular

58

2 44. 0 80.3 83.3 66.0 66.7 PUSKESMAS jml 12 13 14 9 13 8 10 % 66. rumah sakit dan puskesmas. Namun. karena tidak adanya fasilitas kantor.0 72. 2006 Sarana yang dimiliki ada yang statusnya “tidak khusus” untuk kegiatan surveilans atau penanggulangan KLB. misalnya.3 jml 2 5 4 4 2 0 4 RS % 33. Berkaitan dengan jumlah dan jenis sarana. yaitu di Dinas Kesehatan Kota Bandung. seperti yang terjadi di Dinkes Kabupaten Gowa dan Puskesmas Palangga di Sulsel. Selain itu.2 77. tetapi hanya 1 yang bisa digunakan. Di propinsi Jabar.3 75. Senter digunakan untuk surveilans khususnya dalam penemuan jentik dari rumah ke rumah. Dinkes Kab/Kota. Satu hal yang unik adalah ketiadaan sarana senter.6 SARANA Sumber: Data Lapangan.0 0 DINKES KAB/KOTA jml 10 10 9 4 11 12 7 % 83.LAPORAN AKHIR sarana untuk kegiatan surveilans. 0 100. Di Dinkes Kota Samarinda. dalam kenyataannya terdapat variasi di berbagai dinkes propinsi. Umumnya sarana yang demikian adalah untuk jenis transportasi. dan di Puskesmas Bojong Gede selain ada 1 mobil juga tersedia 1 motor.8 50. untuk insektisida. obat. seringkali digunakan fasilitas pribadi seperti handphone.3 91. RS dan Puskesmas DINKES PROPINSI jml Transportasi Pengolah data Komunikasi Obat Insektisida Alat penyemprot Alat Penyuluhan 4 5 5 4 5 3 0 % 80. Misalnya di Dinkes Kota Samarinda tersedia 2 motor. Sarana utama yang dibutuhkan dalam penanganan kasus DBD adalah adanya fogging fokus serta insektisida.7 33.4 55.3 83.7 66. Pengadaan insektisida dan fogging fokus untuk beberapa propinsi di kirim oleh Dinkes Propinsi karena kab/kota belum siap. sementara di Dinkes Kabupaten Bogor hanya 1 mobil.7 72. Untuk alat komunikasi. alat penyemprot dan alat penyuluhan masih kurang tersedia di semua level.0 58. tersedia 3 mobil.0 33.0 100. Tabel 4. Artinya bisa digunakan juga untuk kegiatan lainnya. kondisinya pun belum tentu bagus.3 0. alat transportasi untuk surveilans dalam kondisi rusak. Kaltim. Bahkan yang Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 59 .0 100.14 Distribusi Ketersediaan Sarana Penanggulangan KLB di Propinsi.7 100. maupun dinkes di kab/kota. 0 60. Kondisinya pun belum tentu bisa digunakan.

LAPORAN AKHIR

sangat menyedihkan, di puskesmas Temindung Kaltim penggantian biaya batere untuk senter hanya setahun sekali saja. 4.3 Peran dan Tanggung Jawab Penanggulangan Penyakit DBD Pemerintah Daerah dalam

4.3.1 Kewenangan Daerah dan Standar Pelayanan Minimum Sejak diberlakukannya paket UU Otonomi Daerah (UU No. 22 dan No. 25 tahun 1999 yang kemudian direvisi menjadi UU No. 32 dan No. 33 tahun 2004) telah terjadi perubahan pembagian fungsi antara pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten/kota. Sesuai dengan UU No. 22 tahun 1999 dan SK Menkes RI No. 1147 tahun 2000, maka tugas Depkes Pusat adalah menyusun kebijakan nasional, pedoman, standar, petunjuk teknis, fasilitasi dan bantuan teknis kepada daerah, sementara fungsi-fungsi yang bersifat operasional sudah harus diserahkan kepada daerah (propinsi dan kabupaten/kota). Penerapan UU tersebut, khususnya di bidang kesehatan belum disikapi dengan utuh, sehingga terkesan tidak tuntas dalam bertindak. Ini disebabkan adanya kegamangan dalam peran dan tanggungjawab di masing-masing jenjang ataupun instansi di pemerintahan. Selanjutnya pasal 12 UU No. 32/2004 menyatakan bahwa fungsi yang telah dilimpahkan kepada daerah tersebut termasuk tanggung jawab daerah untuk menyediakan sumberdaya yang diperlukan, termasuk pembiayaan, sarana dan ketenagaan yang diperlukan untuk melaksanakan standar pelayanan minimum (SPM). Untuk itu daerah wajib menyediakan pelayanan dasar yang dianggap esensial bagi kesejahteraan penduduk, termasuk di bidang kesehatan. SPM yang sekarang ini berlaku adalah daftar yang ditetapkan dalam Keputusan Menkes No. 1457/2003 (saat ini sedang dilakukan proses revisi). Dalam daftar tersebut ada 9 kewenangan wajib (KW) dan 31 jenis kegiatan/pelayanan/program, seperti dalam tabel di bawah. Tabel 4.15 Daftar KW dan SPM Bidang Kesehatan
No 1 Kewenangan Wajib (KW) Pelayanan Dasar No 1 2 3 4 5 6 7 8 Standar Pelayanan Minimum (SPM) KIA Kesehatan anak pra-sekolah 7 sekolah KB Imunisasi Pengobatan dan perawatan dasar Kesehatan Jiwa Kesehatan kerja *) Kesehatan usila *) Pemantauan pertumbuhan balita Pelayanan gizi

2

Giji Masyarakat

Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular

60

LAPORAN AKHIR 3 4 Rujukan dan Pelayanan Penunjang Pencegahan dan Penyakit Menular Pemberantasan 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Pelayanan obstetri dan neonatal emergency dasar Pelayanan emergency Surveilans dan pengendalian KLB kurang gizi Pencegahan dan pengobatan polio Pencegahan dan pengobatan TBC Pencegahan dan pengobatan infeksi saluran nafas Pencegahan dan pengobatan HIV/AIDS Pencegahan dan pengobatan DBD Pencegahan dan pengobatan Diare Pencegahan dan pengobatan Malaria *) Pencegahan dan pengobatan Kusta *) Pencegahan dan pengobatan Filaria *) Kesehatan lingkungan Pengendalian vektor Hygiene dan sanitasi tempat umum Promosi Kesehatan Promkes dan pengendalian penyalahgunaan obat Pengadaan obat dan bahan medis Obat generik Pembiayaan untuk pelayanan kesehatan perorangan Pembiayaan kesehata penduduk miskin dan risti

5 6 7 8 9

Kesehatan Dasar

Lingkungan

dan

Sanitasi

Promosi Kesehatan Pengendalian Napza Pelayanan Farmasi Pembiayaan kesehatan, kesehatan perorangan dan auransi kesehatan

18 19 20 21 22 23 24 25 26

Sumber: Depkes RI, 2006 *) Hanya di kab/kota tertentu

Berdasarkan hasil analisis tentang daftar SPM tersebut disebutkan bahwa kriteria yang tersirat dalam 3 kegunaan SPM seperti disebutkan dalam UU No. 32/2004 belum seluruhnya terakomodir. Tiga pelayanan dasar menurut UU tersebut adalah (1) hak konstitusi penduduk, (2) kepentingan nasional untuk kesejahteraan masyarakat, keamanan dan ketertiban umum serta integritas dan kesatuan nasional, (3) komitmen nasional terhadap kesepakatan dan konvensi internasional. Pelaksanaan SPM di tingkat kabupaten/kota ternyata menimbulkan kebingungan dan masalah. Pertama, penghitungan kebutuhan biaya untuk semua pelayanan dalam daftar SPM tersebut menghasilkan suatu jumlah yang tidak dapat ditanggung oleh banyak daerah. Ada daerah beranggapan bahwa pemerintah pusat harus menanggung selisih biaya yang tidak bisa ditanggung pemerintah daerah. Kedua, banyak daerah mengalami kesulitan menterjemahkan target nasional dalam target daerah. Misalnya, tidak banyak kabupaten/kota yang memiliki data dasar tentang prevalens penyakit, masalah kesehatan kerja, TBC dan penyakit lainnya, sehingga kesulitan dalam menetapkan target untuk Indonesia Sehat 2010. Ketiga, tidak mudah menterjemahkan target 2010 dalam target tahunan. Dalam kenyataan, banyak kabupaten/kota yang menetapkan target programnya atas dasar plafond anggaran yang akan diterima untuk tahun bersangkutan.
Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular

61

LAPORAN AKHIR

4.3.2 Peran Pemerintah daerah dalam Penanggulangan DBD Pemberantasan penyakit demam berdarah dengue (DBD) sangat tergantung pada peran besar pemerintah daerah, yang langsung menghadapi masyarakat. Daerah diharapkan lebih aktif menggerakkan masyarakatnya untuk menjaga lingkungan masing-masing. Peran daerah dalam penanggulangan DBD antara lain dilakukan dengan tindakan preventif seperti (1) mengeluarkan surat edaran kewaspadaan penyakit DBD kepada semua kepala dinas kesehatan kabupaten/kota, (2) kampanye gerakan pembersihan sarang nyamuk, (3) penyebaran poster, ceramah klinik penyegaran tata laksana kasus, maupun membahas penanganan dan antisipasi DBD. Pemerintah Provinsi memfasilitasi teknis dan pengamatan DBD di daerah endemis, membagikan bubuk abate dan malathion untuk pengasapan ke kabupaten/kota, selain juga memberikan bantuan cairan infus. Kebijakan pemerintah melalui PSN dalam mengendalikan tempat perindukan telah ditetapkan dan disosialisasikan melalui berbagai media. Usaha promosi kesehatan secara konvensional telah meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat mengenai pemberantasan DBD, namun belum diikuti dengan perbaikan sikap. Belajar dari negara tropis lainnya yang telah mengembangkan inovasi pemberdayaan masyarakat melalui COMBI (Communication for Behavioural Impact) menunjukkan bahwa sebelum menetapkan intervensi, perlu didasari pada suatu formative research yang mengungkap hal-hal yang dibutuhkan masyarakat (Park 2004, WHO 2003). Inovasi ini masih belum menjadi fokus perhatian dalam kegiatan PSN di Indonesia. Di propinsi pemantauan kasus terus dilakukan, para bupati dan wali kota disurati untuk mengantisipasi DBD, termasuk kampanye di media massa. Pemerintah Provinsi juga mendistribusikan abate, malathion, cynoft, dan filter paper ke kabupaten/kota. Selain itu juga dilakukan penyuluhan dan gerakan 3 M (menguras, menimbun, dan menutup tempat-tempat potensial perindukan nyamuk). Strategi penanganan DBD dilakukan dengan pengumpulan data kasus DBD dari RS, puskesmas, klinik swasta, pengumpulan data morbiditas kasus DBD yang lalu (tiga-lima tahun) yang akan dipakai sebagai data dasar. Pengumpulan data lapangan dengan mengunjungi rumah penderita, dan pencarian kasus baru, serta pengamatan terhadap perilaku masyarakat disertai penaburan abate 10 gr/100 lt pada TPA di setiap rumah penduduk dengan radius 400 meter persegi dari rumah kasus. Dinkes mengembangkan sistem kerja deteksi dini, yaitu mengidentifikasi berbagai kasus penyakit yang timbul, mulai dari gejala, penyebab, dan daerah sebarannya, terutama daerah rawan endemi. Pelaporan dini, pada tahap ini dilakukan Puskesmas sebagai ujung tombak dalam tindakan darurat mengatasi berbagai permasalahan.

Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular

62

tidak melibatkan instansi di luar kesehatan.3 Koordinasi antar sektor Koordinasi dengan instansi terkait di tingkat Kabupaten/Kota setelah adanya desentralisasi dan otonomi daerah. dengan pertimbangan antara lain bahwa urusan penyakit menular DBD adalah urusan dinas kesehatan. Metode konvensional promosi kesehatan melalui KIE (Komunikasi Informasi Edukasi) dan advokasi telah meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat. Pada umumnya. Dalam formula ini pembagian alokasi anggaran tidak hanya ke propinsi melainkan sampai ke sekitar 400-an kabupaten/kota di Indonesia.3. Dengan demikian daerah harus merencanakan dan menganggarkan program kesehatan dan bersaing dengan sektor lain untuk mendapatkannya. Praktis sektor kesehatan harus berjuang di tiap propinsi dan kabupaten/kota untuk mendapatkan anggaran. Hal ini dikarenakan ada kesan masing-masing Kabupaten/Kota dalam melaksanakan tugas dan kewenangannya tidak memerlukan bantuan/koordinasi Dinas Kesehatan Propinsi. 4. Hal ini disebabkan tidak adanya dukungan pendanaan dari masing-masing instansi terkait yang tergabung dalam Pokjanal DBD. pelaksanaan tugas kelompok kerja operasional (Pokjanal) DBD tingkat Propinsi. karena tenaga Pokja DBD tidak aktif. Hal ini sejalan dengan temuan Siregar (2003) tentang tidak adanya hubungan bermakna antara fogging. namun belum berhasil Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 63 . meskipun prosedur pelaporan ada dan telah baku. masih dijumpai dalam pelaksanaan penanggulangan penyakit. tidak/belum dapat berjalan dengan baik. Koordinasi yang sulit terlihat dari lambatnya mekanisme pelaporan kasus KLB. yang merupakan salah satu wadah koordinasi antar instansi/lintas sektor. PSN dan PJB dalam menurunkan insidens DBD di Kota Medan. menjadi lebih sulit untuk dilakukan. Di tingkat Propinsi. belum optimal. Secara implisit DAU kesehatan dianggap sudah termasuk dalam formula tersebut walaupun sebenarnya secara eksplisit tidak ada. Setiap usulan rencana kegiatan dan pembiayaan kegiatan Pokjanal DBD yang diajukan oleh masing-masing instansi terkait di luar kesehatan sering tidak mendapat persetujuan untuk mendapat dana APBD dari Pemerintah Daerah setempat. abatisasi. Masalah penanggulangan KLB semakin sulit penanganannya manakala mekanisme pelaporan tidak berjalan baik.LAPORAN AKHIR Kebijakan desentralisasi semakin rumit ketika harus dilaksanakan di sektor kesehatan yang mencakup area kegiatan luas dan yang selama ini didominasi peran pemerintah pusat. Hal ini diperkuat oleh Halstead (2000) mengenai sukses dan kegagalan pengendalian penyakit DBD. Setelah desentralisasi kebijakan sektor kesehatan menghadapi apa yang disebut anggaran pembangunan melalui Dana Alokasi Umum (DAU) yang berbasis pada formula. Sebelum desentralisasi alokasi anggaran kesehatan dilakukan oleh pemerintah pusat dengan menggunakan model negosiasi ke propinsi-propinsi. Masalah lemahnya koordinasi lintas program dan lintas sektor. sektor kesehatan masih dipandang sebagai aktor dan inisiator utama dalam pencegahan DBD. Pemberdayaan lintas sektor dalam menjalankan Pokja/Pokjanal DBD yang telah dibentuk. meski prosedur telah ada dan baku.

2004). Parks. bahkan seorang di antara enam Kepala Puskesmas yang diwawancarai. Adanya usulan mengenai pembentukan dan pengaktifan Tim Epidemiologi Kota sebagai wahana untuk penelusuran penyakit berbasis lingkungan. Mekanisme PSN-DBD terhadap masyarakat diakui berjalan dengan baik. 2004. Hampir seluruh petugas memahami takaran larutan untuk fogging dan mengatakan bahwa fogging fokus dilaksanakan hanya setelah ada kasus.LAPORAN AKHIR memperbaiki perilaku. tidak dilakukan sebelum masa penularan. kesehatan lingkungan. Walaupun demikian hasil wawancara dengan masyarakat menunjukkan bahwa masyarakat mengakui PSN melalui 3M lebih baik dan lebih murah daripada pengasapan. Semua petugas sektor kesehatan memiliki panduan mengenai tata laksana penanggulangan penyakit DBD yang diterbitkan oleh Departemen Kesehatan RI. Petugas dinas kesehatan mengemukakan esensi intensifikasi penyuluhan mengenai PSN-DBD pada masa rendah penularan penyakit Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 64 . menindaklanjutinya dengan menyusun protap pelaksanaan di lapangan. promosi kesehatan maupun lintas sektor dari lingkungan dan dinas tata kota. diharapkan dapat merangkum berbagai pihak terkait dari lintas program pemberantasan penyakit. Communication for Behavioural Impact (COMBI) menawarkan pendekatan dinamis untuk mengubah perilaku dalam pengembangan sosial (Kusriastuti. 2004: Umniyati. walaupun tidak di seluruh tempat. Diakui oleh para petugas kesehatan adanya peminatan masyarakat yang lebih tinggi terhadap fogging bila dibandingkan dengan PSN.

dan (6) data. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 65 . sedangkan di Puskesmas sebagai unit pelayanan dasar dan rumah sakit sebagai unit pelayanan rujukan.LAPORAN AKHIR BAB 5 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 5. peta rawan tidak selalu tersedia. (2) koordinasi antara pusat dan daerah belum dilandasi suatu kebijakan operasional yang jelas tentang kewenangan dan tanggung jawab masing-masing. (3) Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kinerja surveilans dan penanggulangan terkait dengan (1) tenaga. iii. (5) sarana. Kurangnya jumlah SDM. Hampir semua level baik di propinsi hingga kabupaten/kota termasuk puskesmas dan rumah sakit mengalami masalah ketenagaan dalam kegiatan surveilans dan penanggulangan.1 Kesimpulan (1) Kendala utama yang dihadapi dalam implementasi kebijakan penanggulangan penyakit menular dalam kasus DBD adalah (1) koordinasi antar instansi dan antar unit yang bertanggung jawab dalam penanganan DBD masih belum optimal. (4) tingginya beban puskesmas sebagai unit operasional utama di lapangan dalam implementasi kebijakan penanggulangan penyakit menular. Sistem Pelaporan ditunjukkan dengan kelengkapan laporan mencapai 90-100%. (4) SOP. Pendidikan rata-rata perawat. Diseminasi informasi dilakukan melalui penerbitan buletin kajian epidemiologi yang diterbitkan oleh dinkes propinsi dan dinkes kabupaten/kota. Tidak ada batas yang tegas yang membedakan antara Surveilans dan Penanggulangan dalam praktek operasional di lapangan. Jumlah Kasus periode 2003-2005 cenderung stagnan untuk propinsi lokasi kajian (kecuali Jatim meningkat). (2) Indikator Kinerja Surveilans dan Penanggulangan i. Kualitas dan kualifikasi masih belum terpenuhi sesuai dengan bidang tugas dan kompetensinya. khususnya dalam pelaksanaan surveilans dan penanggulangan DBD. (3) sistem pengelolaan program penanganan penyakit menular masih didominasi pusat. (2) pengetahuan. ii. perpindahan yang begitu cepat. iv. kualifikasi pendidikan yang belum sesuai. Peta rawan. Case Fatality Rate (CFR) DBD fluktuatif. Tenaga. sedangkan data kematian cenderung meningkat. i. hampir semua dinkes propinsi maupun dinkes kab/kota memiliki peta rawan. beban kerja yang tinggi merupakan masalah yang hampir ditemukan disemua tingkatan. namun ketepatannya masih 60%. Sarjana (SKM) dan MKes. (3) dana.

hampir semuanya menggunakan dana APBD. ii. Sarana. Dana yang digunakan untuk penanggulangan KLB berasal dari APBN (Dekon) dan APBD. Walaupun kondisi sarana dan prasarana untuk kegiatan penanggulangan penyakit menular tidak selalu memadai. Dana menjadi persoalan dalam implementasi kebijakan penanggulangan penyakit menular. Namun demikian kebanyakan SOP tersebut belum operasional. Dana. pengetahuan tim pada umumnya dipenuhi dari pengalaman lapangan dalam penanganan P2M. Untuk tingkat kabupaten/kota. iv.LAPORAN AKHIR Struktur organisasi Dinkes propinsi maupun Kab/Kota tidak menggambarkan pembedaan kedua tugas tersebut. Pada tingkat propinsi. dana untuk pelaksanaan penanggulangan penyakit menular dirasakan pihak daerah mencukupi. khususnya ketika kasus terjadi. Hampir semua unit pelayanan kesehatan di daerah memiliki pedoman dan peraturan dalam rangka pelaksanaan surveilans dan penanggulangan DBD. Operasi lapangan untuk suatu kasus (DBD) serentak dilakukan Bidang pendidikan yang ada adalah perawat. Selain pelatihan formal. (2) ada masa ketiadaan anggaran. Beberapa dinkes kabupaten/kota inisiatif melakukan modifikasi terhadap SOP yang dibuat Depkes. tetapi tidak menjadi kendala dalam berjalannya sistem. rakor dan melakukan berbagai pelatihan di bidang surveilans maupun penangulangan penyakit. Permasalahan dana terutama berkaitan dengan (1) keterlambatan turunnya DIPA. Pemahaman tentang surveilans dan penanggulangan KLB masih belum sama. Dana operasional selain bersumber dari dana operasional umum juga memanfaatkan dana JPK-MM. dan (3) proporsi anggaran untuk preventif dan kuratif yang tidak seimbang. sarana utama yang dibutuhkan dalam penanganan kasus DBD adalah adanya fogging fokus serta insektisida Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 66 . Di rumah sakit tidak terdapat dana surveilans. khusus untuk KLB tersedia block grant dari pusat. SOP. dan epidemiologi. Puskesmas tidak memiliki alokasi dana khusus untuk kegiatan surveilans. Upaya yang dilakukan Dinas Kesehatan Propinsi maupun kabupaten/kota dalam rangka peningkatan kemampuan adalah pembinaan teknis. mengadakan pertemuan/ lokakarya. Baik APBD propinsi maupun APBD kabupaten/kota atau APBD sharing. v. Pengetahuan. iii. yang ada hanya pencatatan pelaporan yang dilakukan di bagian rekam medis.

sarana dan dana. namun belum maksimal. (3) ketiadaan sarana. Validitas data yang dilaporkan tidak pernah dipermasalahkan Propinsi belum mempunyai sistem peringatan ke kabupaten bila terjadi keterlambatan atau ketidak lengkapan data. antara lain (1) keterbatasan tenaga. Ketepatan dan kelengkapan laporan dari kabupaten/kota masih rendah. akibatnya kegiatan tindak lanjut yang seharusnya dilakukan tidak berjalan. yang paling menonjol adalah penanggulangan (PE). Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 67 . (4) Kondisi umum Pelaksanaan Surveilans dan Penanggulangan DBD Ujung tombak pelaksanaan surveilans ada di Puskesmas. Banyak kendala. kecuali kalau ada kasus KLB yang menyebabkan sarana TT tidak mencukupi Pengobatan dapat dilakukan dengan baik kecuali kalau ada keterlambatan pengobatan akibat terlambat merujuk (5) Permasalahan operasional penanganan DBD juga dipengaruhi oleh sistem kepemerintahan yang belum sepenuhnya dapat mengakomodasi sistem perencanaan dan sistem keuangan yang baru. Penanggulangan DBD di Rumah sakit relatif tidak masalah. Komitmen daerah dalam penyediaan anggaran (APBD) untuk penanganan penyakit menular belum optimal. (2) Keterbatasan dana. Sehingga untuk SKD-KLB data yang seharusnya dapat dilihat /diprediksi diawal untuk kewaspadaan terjadinya KLB. Hal ini berkaitan dengan masih cukup besarnya alokasi dana yang berasal dari APBN (dalam bentuk DAU. sebagai suatu kegiatan rutin. tidak setiap kasus DBD ditindaklanjuti dengan PE karena DBD dianggap kasus rutin. i. Aktivitas surveilans dilakukan oleh Tim Lapangan. Surveilans mulai diperlukan ketika ada kasus. karena tidak seimbang antar area yang harus dipantau dengan kemampuan sumberdaya yang tersedia. PE tidak dilakukan maksimal sesuai prosedur yang ada. namun belum maksimal melaksanakan surveilans karena keterbatasan tenaga. Data yang ada belum dilakukan analisis. belum dilakukan. baik di tingkat propinsi maupun kabupaten/kota (baru bersifat pengumpulan data). Data. Penyelidikan Epidemiolegi (PE) yang dilakukan Puskesmas belum maksimal. Namun pada saat kasus. dekonsentrasi maupun tugas perbantuan). Pengobatan dan isolasi penderita dirujuk ke rumah sakit.LAPORAN AKHIR pengadaan insektisida dan fogging fokus di supply oleh Dinkes Propinsi karena kab/kota belum siap vi.

belum tertata dalam sebuah sistem yang aktif dan terstruktur. Meningkatkan kemampuan tenaga pengendalian penyakit untuk melakukan pencegahan dan penanggulangan faktor risiko. c. Peningkatan koordinasi antar instansi dan antar unit dalam berbagai tingkatan dalam penanganan penyakit menular.2 Rekomendasi Kebijakan Rekomendasi kajian yang diusulkan mencakup 1. iii. 3. analisis. Keperdulian pemerintah daerah masih belum terlihat. Melakukan bimbingan. Percepatan penyusunan kebijakan operasional dalam koordinasi pelaksanaan program antar pusat daerah yang mencakup aspek perencanaaan. bukan sebaliknya pemerintah daerah yang aktif meminta informasi. Optimalisasi penggunaan sarana dan prasarana dengan melibatkan peran aktif masyarakat. hal ini tampak dari keaktifan instansi kesehatan dalam penyebaran informasi kesehatan. validasi dan pengembangan “respond system”. Memperkuat kapasitas dan kapabilitas Puskesmas sebagai unit terdepan dalam operasionalisasi surveilans dan penanggulangan penyakit menular. 7. 4. 5. surveilans epidemiologi dan penanggulangan KLB/wabah. dan sistem kesiapan dini (early warning system). pelaksanaan (monitoring). Diperlukan dukungan dalam bentuk peraturan perundangan dalam meningkatkan komitmen para pihak di daerah dalam rangkan pencegahan dan penanggulangan DBD. jejaring kerja informasi dan konsultasi teknis peningkatan komunikasi informasi dan edukasi (KIE) pencegahan dan pemberantasan penyakit. advokasi. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 68 . 9. 2. 6. Koordinasi penanganan kasus masih bersifat sporadis. baik pada internal sektor maupun lintas sektor. malalui a. 5. Penyepurnaan SOP sesuai “local specific”. Peningkatan dukungan dana yang memadai dari APBN maupun APBD. d. promosi dan koordinasi. b. Mengurangi secara bertahap dominasi peran pengelolaan program oleh pusat melalui pendelegasian kewenangan ke daerah serta peningkatan profesionalisme pengelola program di daerah. serta pelaporan (evaluasi). 10. Peningkatan kualitas sistem pelaporan melalui ketepatan data. Meningkatkan peran dan tanggung jawab Pemerintah Daerah melalui intensifikasi kegiatan sosialisasi. pemantauan. dan evaluasi kegiatan pencegahan dan penanggulangan faktor resiko. Membangun dan mengembangkan kemitraan.LAPORAN AKHIR ii. 8. Membangun dan mengembangkan kemitraan dan jejaring kerja informasi dan konsultasi teknis pencegahan dan penanggulangan faktor resiko.

2. Sebagai perangkat utama Kesehatan. selain kuratif. opersional tenaga lapangan. Aspek Pendanaan. pelaksana pembangunan kesehatan di lapangan sebagai ujung tombak pembangunan kesehatan. Data dan Informasi. 5. Puskesmas perlu diperkuat dengan kapasitas manajemen pelayanan untuk kegiatan yang bersifat promotif. perlu di kelola secara profesional dan berkesinambungan dengan memanfaatkan teknologi yang tepat dan mudah diaplikasikan. Pola pendanaan diharapkan dapat lebih fleksibel dan dimungkinkan untuk kebutuhan KLB dalam bentuk multiyears fund. dan rehabilitatif. langkah tindak lanjut yang diperlukan mencakup 1.LAPORAN AKHIR 11. Dukungan pendanaan serta tenaga dan sarana dalam rangka pelaksanaan operasional pencegahan dan penanggulangan (preventif. Motivasi dan komitmen selain muncul atas kesadaran memerlukan dukungan eksternal dalam bentuk insentif. Serta didukung jaringan dan kerjasama erat baik antar wilayah dan adimistrasi pemerintah maupun diantara para pelaku pemberantasan penyakit menular dan penyehatan lingkungan itu sendiri dalam satu wilayah. Diperlukan model manajemen pemberantasan penyakit dan penyehatan lingkungan secara terintegrasi yang berbasis wilayah kabupaten/kota dalam perspektif komprehensif. dibuat sesederhana mungkin agar memudahkan pelaksanaan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 69 . promotif dan rehabilitatif) menyertai peran dimaksud secara memadai. 4. sekaligus menjamin setiap masyarakat terlayani untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. kesehatan seperti askeskin sehingga kepastian dana sampai kepada masyarakat terjamin. Aspek Kelembagaan. diperlukan revitalisasi peran kelembagaan khususnya kelembagaan Puskesmas. Aspek SOP. preventif. Keberadaan data dan informasi yang akurat dan sinambung menjadi salah satu indikator kinerja pembangunan kesehatan. Aspek Ketenagaan.3 Implikasi Kebijakan dan Rencana Tindak Lanjut Berdasarkan kesimpulan dan rekomendasi yang disampaikan. perlu terus dikembangkan pola pendanaan sistem jaminan 3. mendorong terbangunnya motivasi dan komitmen para 5.

2006.A. Manajemen Berbasis Lingkungan. Sri Rezeki. 2005. Notoatmodjo. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Gde. Departemen Kesehatan RI Halstead. Subdit Arbovirosis. dkk. Pengantar Epidemiologi Penyakit Menular. Dengue Bulletin Volume 24. Jakarta: Penerbit Buku KOMPAS Anies. Jakarta: Rekacipta.whosea. Jakarta: Elex Media Komputindo Anies. Successes and Failures in Dengue Control-Global Experience. December-2000 [cited 9 Juli 2005] Available from : http://w3. Kebijakan Penanggulangan Demam Berdarah Dengue di Indonesia. Nur Nasry. Jakarta: PT Gramedia Bappenas. Parks. Rita. 2005. Progress Report on The Millenium Development Goals Chin. Pemberantasan Demam Berdarah Dengue (DBD) Hadinegoro. Jakarta: Infomedika Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2005. 2000. Mewaspadai Penyakit Lingkungan. Manual Pemberantasan Penyakit Menular. Manajemen Penyakit Berbasis Wilayah. Jakarta: Reka Cipta. Gempur. 2005. Umar Fahmi. 2004.org/en/Section10/Section332 Kusriastuti. JMES. Pencegahan Pemberantasan Demam Berdarah Dengue di Indonesia dan dan Departemen Kesehatan Republik Indonesia.LAPORAN AKHIR DAFTAR PUSTAKA Achmadi. Soekidjo. Will & Linda Lloyd. Scott B. 2001. 2005. Jakarta: Ditjen P2M & PL.2006. 2006. Manajemen Kesehatan. 2004. Jakarta: Prestasi Pustaka Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 70 . Solusi Mencegah Menanggulangi Penyaki Menular. Modul Surveilans Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta: EGC Noor. Standar Pengawasan Program Bidang Kesehatan. Planning social mobilization and communication for dengue fever prevention and control. Ditjen PP & PL Depkes RI Muninjaya. Metodologi Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. World Health Organization Santoso. 2003. A.2004. Tata Laksana Demam Berdarah Dengue di Indonesia.

LAPORAN AKHIR Siregar. Universitas Airlangga. 1989. EGC. Peraturan Perundangan Peraturan Pemerintah No. Sulastomo. Sari Nurhamida. 4 Tahun 1991 tentang Penanggulangan Penyakit Menular Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran.. Soerawidjaja. Penanggulangan Wabah Oleh Puskesmas. Resna A. 2003. 949/Menkes/SK/VIII/2004 tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Kewaspadaan Dini Kejadian Luar Biasa (KLB) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1984 Tentang Penyakit Menular Keputusan Menteri Kesehatan RI No. Jakarta : Bina Putra Aksara. 1479/MENKES/SK/X/2003 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular dan Penyakit Tidak Menular Terpadu Keputusan Menteri Kesehatan RI No. Manajemen Kesehatan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama World Health Organization. 1116/MENKES/SK/VIII/2003 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 2001. dan Azrul Azwar. Panduan Lengkap Pencegahan & Pengendalian Dengue dan Deman Berdarah Dengue. 2003. Analisa Penatalaksanaan Penanggulangan Demam Berdarah Dengue (DBD) dalam menurunkan Insidens DBD dan Menentukan Kebijakan Operasional di Kota Medan. 949/MENKES/SK/VIII/2004 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Kewaspadaan Dini Kejadian Luar Biasa (KLB) Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 71 .

LAPORAN AKHIR Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 72 .

Identifikasi langkah-langkah yang dilakukan dalam penanggulangan penyakit menular II. Tenaga • Sarana • Dana • Protap • Pengetahuan ttg Wabah & Penanggulangan • Pelatihan Definisi Operasional • • Informasi surveilans • Pengambilan Keputusan SURVEILANS • Potensi komunitas Input Koordinasi lintas sektor Upaya perbaikan kondisi rentan Sistem kewaspadaan dini Penyelidikan & Penanggulangan wabah Kesiapsiagaan menghadapi wabah • Wabah tidak menjadi masalah kesehatan masyarakat Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 73 . Tujuan a. Identifikasi faktor-faktor yang menghambat system informasi manajemen surveilans penyakit menular b. Identifikasi peran dan tanggungjawab Pemerintah Daerah dalam penanggulangan penyakit menular c.LAPORAN LAMPIRAN 1 AKHIR RANCANGAN INSTRUMEN KAJIAN I. Kerangka Konsep SURVEILANS INPUT • • • • • • • PROSES • Koordinasi kegiatan pengumpulan • Validasi • Pengolahan data • Analisis data • Supervisi pengumpulan • Supervisi pengolahan OUTPUT Tenaga Dana Sarana Pengetahuan yang benar Pelatihan Metoda pengumpulan data Potensi komunitas • Identifikasi masalah • Penyelidikan sebab masalah • Diseminasi PENANGGULANGAN WABAH PENYAKIT MENULAR INPUT PROSES OUTPUT • • • • • III.

masyarakat/toma/toga) dalam kegiatan surveilans. Supervisi pengumpulan merupakan keberadaan pengawasan terhadap proses pengumpulan data.LAPORAN AKHIR 1. Pengolahan data merupakan ketapatan waktu dan keakuratan suatu data di olah. Pelatihan merupakan pernah dan tidaknya petugas mendapatkan pelatihan tentang surveilans penyakit. Proses 1. Pengetahuan petugas merupakan pemahaman petugas tentang survailans penyakit menular. 3. Koordinasi kegiatan pengumpulan merupakan kerjasama tim surveilan dengan komunitas dan koordinasi di dalam tim itu sendiri dalam melakukan pengumpulan data 2. 2. Sarana merupakan ketersediaan dan kesuaian fasilitas alat atau bahan yang diperlukan dalam melakukan kegiatan surveilans. Dana merupakan ketersediaan pengalokasian. Partisipasi komunitas merupakan peran serta berbagai kelompok komunitas (seperti: tenaga kesehatan. Protap merupakan keberadaan peraturan yang sesuai dengan fungsinya dalam kegiatan. pemenuhan dan sumber dana kegiatan surveilans. Tenaga merupakan pelaksana kegiatan surveilans yang meliputi jumlah pelaksana dan tingkat pendidikan serta lamanya bekerja di surveilans. Supervisi pengolahan merupakan keberadaan pengawasan terhadap proses pengolahan data. Pelatihan merupakan pernah dan tidaknya petugas mendapatkan pelatihan tentang penanggulangan penyakit. Identifikasi masalah merupakan hasil analisis data yang sudah diproses untuk mengetahui kemungkinan munculnya/timbulnya kejadian (morbiditas/mortalitas) penyakit menular. 4. Diseminasi merupakan ketepatan waktu penyebaran dan kelengkapan informasi surveilans kepada pihak-pihak yang berkepentingan (pengambil keputusan). 4. 5. Kelengkapan diukur berdasarkan SOP yang ada PENANGGULANGAN PENYAKIT MENULAR Input 1. Pengetahuan petugas merupakan pemahaman petugas tentang karakteristik dan kegiatan penanggulangan penyakit menular. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 74 . Dana merupakan ketersediaan pengalokasian. 3. 4. 6. Validasi merupakan kesesuaian proses kegiatan dengan SOP yang sudah ada. 3. 6. 2. 5. Analisis data merupakan ketepatan penggunaan teknik analisa data. 2. Output 1. 5. 7. Metoda pengumpulan data merupakan keberadaan tata laksana kegiatan pengumpulan data dan kesesuaian dengan fungsinya. pemenuhan dan sumber dana kegiatan. Sarana merupakan ketersediaan dan kesuaian fasilitas alat atau bahan yang diperlukan dalam melakukan kegiatan penanggulangan wabah. 6. Penyelidikan sebab masalah merupakan proses identifikasi sumber/penyebab timbulnya masalah 3. Tenaga merupakan pelaksana kegiatan penanggulangan wabah yang meliputi jumlah pelaksana dan latar belakang pendidikan serta lamanya bekerja.

6. 3. Koordinasi lintas sektor merupakan kerjasama antar pihak-pihak yang bertanggung jawab dalam penanggulangan wabah. Pengambilan Keputusan merupakan individu yang bertanggung jawab dalam pengambilan keputusan dalam kegiatan penanggulangan. 4. dan penyilidikan wabah yang dilakukan oleh pihak yang bertanggung jawab (Dinas kesehatan dan pusat). 2. Potensi komunitas merupakan peran serta berbagai kelompok komunitas (seperti: tenaga kesehatan. 9. dan peningkatan jumlah penderita yang merupakan indikasi adanya kemungkinan meletusnya suatu wabah. 5. 7. Penyelidikan merupakan proses kegiatan kajian penyelidikan pendahuluan dan laporan awal. Proses 1. Output 1. Informasi Surveilans merupakan hasil output system surveilans yang sudah diolah dan dianalisis dengan melihat ada dan tidaknya informasi. 8. Pencegahan merupakan upaya memutus mata rantai penularan. Sistem kewaspadaan dini merupakan pelaksanaan pemantauan terus menerus terhadap munculnya kerawanan yang terjadi pada unsur-unsur dasar penyebab terjadinya suatu wabah. masyarakat/toma/toga) dalam kegiatan penanggulangan wabah. ketepatan dan kelengkapan data. Wabah tidak menjadi masalah kesehatan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 75 . penyelidikan awal dan laporan perkembangan wabah (periodik). dan ketepatan waktu yang diterima oleh pihak-pihak pengambil keputusan. Upaya perbaikan kondisi rentan merupakan upaya pencegahan melalui perbaikan keadaan yang menjadi sebab timbulnya kerentanan. Surveilans Ketat merupakan upaya pemantauan kecenderungan wabah.LAPORAN AKHIR 7. Pelayanan pengobatan merupakan upaya pengobatan terhadap kelompok yang berisiko.

Bappeda. kasubdin P2M. Tingkat Provinsi antara lain: 3. staf Kesling 5.. petugas P2M. Masyarakat anatar lain: : Ka Desa. seksi surveilance. Ka RT.Pustu/polindes. Kader Kesehatan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 76 . Draft Instrumen Instrumen yang akan dirancang adalah instrument untuk wawancara mendalam (indepth interview) dan instrument observasi (check list). Sumber Informan adalah petugas yang terkait dengan pelaksanaan surveilans dan penanggulangan penyakit menular. yaitu: 1. Tingkat Kabupaten antara lain: kepala dinas kesehatan.LAPORAN AKHIR IV. LMD/Dewan Kel. Yanmedik dan Binkesmas 2. Tingkat Pusat antara lain P2M. Puskesmas: Kepala Puskesmas. Biro Kesra 4.

(2) Ekspose Tim Ahli Ekspose Tim Ahli dilaksanakan pada tanggal 5 April 2006 Ekspose Tim Pakar dimaksudkan untuk menggali lebih dalam lagi berbagai aspek yang berkaitan dengan Penanggulangan Penyakit Menular. Dadi Argadiredja. Dalam aspek metodologi masukan dari brainstorming yang diharapkan berkiatan dengan aspek runga lingkup kajian. dan Masa Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 77 . MPH. MPH. Erna Tresnaningsih Suharsa.Dr. Fakultas Kedokteran Unpad . mencakup aspek • Review tentang Kajian Penyakit Menulat (Aspek Metodologi Kajian. serta variabel kajian Hasil brainstorming selengkapnya pada LAMPIRAN 2. Dedi M. pemilihan lokasi peneltian.Tim Fakultas Kesehatan Masyarakat. oleh Prof. yaitu . Universitas Indonesia . Masykur Riyadi. MOH. Dr.Dr. Deputi Bidang SDM dan Kebudayaan Bappenas Brainstorming dengan tim pakar dimaksudkan untuk mendapatkan wawasan yang lebih jelas mengenai penanggulangan penyakit menular. kerangka pemikiran. (2) Ekspose Tim Ahli. penetapan responden. Ahli Gizi IPB . Ph.Prof. dr.LAPORAN AKHIR LAMPIRAN 2 PELAKSANAAN KEGIATAN DAN PEMBAHASAN A. Setditjen P3L Depkes . Soedarto Romoatmojo. Dr.Dr. Indrijono Tantoro. (1) Brainstorming dengan Tim Pakar Pelaksanaan brainstorming dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 28 Pebruari 2006. Masukan yang diharapkan dari pelaskanaan brainstorming mencakup perbaikan konsep. MPH . Balitbang Depkes . Penyempurnaan Proposal Dalam rangka memperkaya proposal telah dilakukan beberapa kegiatan mencakup (1) pelaksanaan brainstorming dengan Tim Pakar. rumusan masalah serta tujuan dan sasaran penelitian. Sukirman.Dr. serta (3) Diskusi Internal. Broto Warsito.D. Masa Kini.Dr. Tim yang diundang dalam acara brainstorming adalah nara sumber dari kajian ini serta beberapa pakar lainnya. FKM-UI • Tinjauan Umum tentang Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular di Indonesia (Kebijakan Masa Lalu.

Dalam diskusi internal juga dibahas berbagai pertauran perundangan yang berkaitan dengan penanggulangan penyakit menular. (3) Diskusi Internal Diskusi internal dilakukan pada berbagai kesempatan diskusi yang diselenggarakan di Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Diskusi inernal dilakukan diantara anggota Tim Perumus Rekomendasi Kebijakan dengan melibatkan Tim dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Diskusi internal dilakukan dalam rangka menyempurnakan kerangka acuan kajian dengan mengakomodasi berbagai masukan yang didapat dalam pertemuan brainstorming tim pakar maupun dari hasil ekspose tim ahli. ole Direktur Surveilans Epidemiologi. oleh Direktur Bina Pelayanan Medik dasar. (2) penentuan sampel dan responden. Penetapan Lokasi Kajian Lokasi kajian ditetapkan di 6 propinsi dengan kriteria pemilihan propinsi didasrkan pada ferkuensi dan jumlah kasus Keadaan Luar Biasa (KLB) penyakit. Indriono. serta (4) teknik analisis data. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 78 . (B) Pembahasan Disain Riset Pembahsan disain riset yang dilakukan mencakup aspek (1) penetapan lokasi kajian. metodologi serta teknis pelaksanaan survei lapangan. Dalam diskusi internal juga dilakukan kesepakatan akhir berkaitan dengan disain kajian. (3) perumusan kuesioner. Depkes Penanggulangan Penyakit Menular di Puskesmas. Kebijakan Penanggulangan Wabah DHF. Setditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Depkes Kebijakan Umum Departemen Kesehatan dan/atau Nasional dalam Upaya Penanggulangan Penyakit Menular. oleh Direktur Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang. serta rencana analisis data dan informasi dan bentuk laporan kajian. Imunisasi dan Kesehatan Matra. Depkes Pokok-pokok Pikiran hasil Ekspose Tim Ahli selengkapnya dalam LAMPIRAN-3. Depkes Penanggulangan penyakit Menular di Rumah Sakit Kabupaten/Kota.LAPORAN AKHIR • • • • • . oleh Dr. Depkes Tinjauan terhadap Kebijakan Surveilans Epidemiologi. oleh Kepala Pusat Kajian Kebijakan Pembangunan Kesehatan. oleh Direktur Bina Kesehatan Komunitas. Teori dan Praktek dalam Penanggulangan Penyakit Menular. sekaligus dibahs tentang aspek kewenangan dari masing-masing tingkatan. Yang Akan datang. Depkes.

Pelaksanaan Uji Coba Kuesioner dilakukan di Kota Depok. Aspek realibilitas dan vailiditas materi kuesioner juga menjadi target uji coba. Propinsi Nusa Tenggara Barat Pada setiap porpinsi ditetapkan sampel 2 kabupaten . mencakup (1) aspek surveilans dan (2) aspek penanggulangan wabah Kuesioner bersifat terbuka akan dilakukan dalambentuk interview dan wawancana mendalam Kuesioner dalam bentuk tertutup akan disampaikan kepada responden untuk mengisi Kuesioner Pada LAMPIRAN 1 Teknik Analisis Data Untuk menganalisis data yang bersumber dari responden dilakukan analisis data menggunakan analisis statistik deskriptif Analisis statistik deskriptif dilakukan dengan cara mengelompokkan. mengolah. Pelaksanaan Uji Coba Kuesioner Uji Coba Kuesioner dilakukan dalam rangka menguji sejauhmana materi pertanyaan dan isian dalam kuesioner dapat dijawab sesuai dengan tujuan kajian. Popinsi Jawa Timur 6. dengan responden adalah petugas di lingkungan Dinas Kesehatan. ditetapkan propinsi yang akan menjadi lokasi kajian adalah 1. Propinsi Riau 2. Propinsi Sumatera Selatan 3. Propinsi Sulawesi Selatan 5. Pada setiap kabupaten ditetapkan 2 kecamatan/puskesmas Penetapan Responden Pada setiap Propinsi dan Kabupaten ditetapkan 4 orang responden mencakup Kepala Dinas/Subdinas Kepala Rumah Sakit/Bagian P2M Kepala Puskesmas pada 2 kecamatan Perumusan Kuesioner Rumusan Kuesioner dibuat dalam bentuk pertanyaan terbuka dan pertanyaan tertutup Pengelompokkan didasarkan pendekatan sistem serta berdasarkan kalster variabel dari konsep penanggulangan penyakit menular. konsistensi dari materi kuesioner sehingga runtut dan dapat dijawab dengan baik oleh responden. Propinsi Kalimantan Timur 4.LAPORAN AKHIR Berdasarkan hasil pembahasan dengan kriteria di atas. mentabulasikan dan menginterpertasikan data C. pada tanggal 3-11 Juli 2006. Uji coba juga dilakukan untuk melihat kesesuaian. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 79 .

. Namun pusat tepat ”take a lead” • Perlu kejelasan antara survailans dan penanggulangan: mekanisme kerja serta proses pengambilan keputusannya E. khususnya terkait dengan penanganan surveilans dan penaggulangan penyakit Demam Berdarah (DHF). Bappeda. D. Pelaksanaan Survey di masing-masing propinsi dilakukan di 2 (dua) kabupaten. Laporan umum hasil uji coba kuesioner dalam LAMPIRAN . 2 puskesmas.. survey lapangan dilakukan di 6 (enam) provinsi. Provinsi Sulawesi Selatan dan Provinsi Nusa Tenggara Barat. 1 rumah sakit dan tokoh/perwakilan warga masyarakat.LAPORAN AKHIR Puskesmas serta Rumah Sakit yang menangani bidang penyakit menular. variabel serta parameter kajian. Provinsi Jawa Timur. Pembahasan Dengan FGD Pembahasan dengan Forum Group Disscussion dilakukan untuk mendapatkan masukan dan penyempurnaan konsep kajian. tetapi juga dari unsur masyarakat (community based) • Unsur institusi selain Dinkes juga ditambah Bappeda • Bagaimana menemukan sistem penanggulangan yang cepat (efektif dan efesien) dengan mempertimbangkan sistem pelaporan (survailans) yang ada dan cenderung birokratis • Masalah kewenangan penanganan perlu diperjelas (otorisasi) antara kewenangan pusat. (3) Metode Kajian. propinsi. Hal lain yang juga menjadi masukan dari pelaksanaan uji coba kuesioner adalah berkaitan dengan (1) perijinan dalam pelaksanaan wawancara.. kabupaten/kota.. dan pada masing-masing kabupaten dilakukan wawancara mendalam serta pengisian kuesioner pada dinas kesehatan.. dan fasilitas kesehatan (facility based). Provinsi Jawa Barat. (2) Lingkup Kajian. Hasil uji coba kuesioner selanjutnya dianalisa untuk kemudian dijadikan bahan perbaikan. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 80 . yaitu Provinsi Riau. Jadwal dan Tim pelaksana dari Survei Lapangan dalam LAMPIRAN . (3) penetapan waktu wawancara yang sesuia sehingga tidak berbebnturan dengan agenda lain bagi petugas di lapangan. Pelaksanaan Survey Lapangan Sesuai dengan lokasi kajian yang telah ditetapkan... mencakup aspek (1) Tujuan. Provinsi Kalimantan Timur. termasuk lokasi. Beberapa masukan dari FGD adalah • Responden perlu ditambah tidak hanya unsur aparat (institution base). (2) penetapan kontak person di lapangan.

Nurlaily Aprilianti 2. MPH Dr. 5. Arum Atmawikarta. Dr. Masykur Riyadi. SP. Sulaeman Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 81 . Sularsono. ME. Dedy M. Erna Tresnaningsih Suharsa. MPH Dr. Indrijono Tantoro. SH. 4. Ph.D. MPM NARA SUMBER 1. TIM PENDUKUNG 1. Dadi Argadiredja. SKM. 3. Ir. MOH. Soekirman Dr. Deputi SDM dan Kebudayaan TPRK 1. Hadiat. MPH Dr. 4. MA Dadang Rizki Ratman. Broto Wasisto. 2. 5. Drs. Dr. 2. MPH Prof. 3.LAPORAN AKHIR LAMPIRAN 3 Struktur Organisasi/Tim Pelaksana PENANGGUNG JAWAB Dr. Yosi Diani Tresna. MPA.

LAPORAN AKHIR LAMPIRAN 4 NOTULENSI PEMBAHASAN DENGAN TIM PAKAR KAJIAN KEBIJAKAN PENANGGULANGAN WABAH PENYAKIT MENULAR Jakarta. Ka RT. LMD/Dewan Kel. Kasubdin P2M. 28 Februari 2006 • Fokus yang akan diteliti – Umum. staf Kesling – Desa: Ka Desa. Kader Kesehatan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 82 . Puskesmas dan Desa. Propinsi. Rumah Sakit terpilih • Responden – Pusat: P2M. – Case Study : DBD • Kriteria Lokasi Kajian – Endemis dan Non Endemis – Sedang ada KLB dan tidak ada KLB – Pusat. Yanmedik dan Binkesmas – Propinsi: Kadinkes. Bappeda. Biro Kesra – Kabupaten : idem – Puskesmas : Kepala Puskemas. petugas P2M. Kabupaten/Kota. Seksi Surveilance. Pustu/polindes..

kab/kota & kec) – Operasional (puskesmas ke bawah) • Cara Pengumpulan Data – data sekunder – data primer : wawancara mendalam di berbagai tingkat (Pusat s/d kab/kota) dan focus group discussion di tingkat Kecamatan dan desa • Perlu diperhatikan – Kaitan antara JUDUL. PERTANYAAN PENELITIAN. TUJUAN.LAPORAN AKHIR • Design Penelitian: Case Control • Variabel Penelitian: – Peraturan perundang-undangan (pusat. SASARAN dan REKOMENDASI Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 83 . PERUMUSAN MASALAH. propinsi. kab/kota) – Managerial/sistem (pusat. propinsi.

Ruang Lingkup: Umum dengan case DBD Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 84 . 5 April 2006 I. METODOLOGI KAJIAN 1. Pendekatan kajian: • • policy review dengan fokus pada management oriented system model Identifikasi terhadap faktor penghambat dan diakhiri dengan rekomendasi kebijakan 2.LAPORAN AKHIR LAMPIRAN 5 POKOK-POKOK PIKIRAN EKSPOSE TIM AHLI Kajian Penanggulangan Wabah Penyakit Menular Jakarta. Sampling: Non Propability Sampling 4. Jenis Penelitian: Penelitian Operasional 3.

u/ hidup sehat dan (2) peningkatan sistem surveilans 5. Ketentuan yang ada belum dilaksanakan secara optimal di tingkat operasional akibat keterbatasan dana.LAPORAN AKHIR II. sesuai dengan kasus penyakit • • • • Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 85 . TINJAUAN KABIJAKAN 1. sarana. Kebijakan yang ada belum fokus 2. Kebijakan peraturan perundangan dapat diikuti oleh stakeholder: Kepmen Perpres 4. PRAKTEK PENANGGULANGAN DI LAPANGAN PUSKESMAS • Surveilans di Puskesmas belum Optimal • Koordinasi lintas sektor belum terintegrasi • Keterbatasan tenaga yang kompeten • Kontribusi utama Puskesmas dalam penanggulangan wabah PP dalam jejaring pelayanan. tenaga. Pemahaman terhadap produk hukum yang ada masih rendah 3. sarana. tenaga dan koordinasi 6. Infrastruktur Puskesmas untuk surveilans ditingkatkan : Poskesdes Vs Pustu III. Dalam Renstra Depkes Penanggulangan Wabah masuk dalam 2 strategi utama: (1) memberdayakan masy. sistem pencatatan RUMAH SAKIT Pelayanan gawat darurat masih di bawah standar Sistem monev periodik antar pusat dan daerah belum terbangun Insentif petugas perlu menjadi perhatian Kelengkapan sarana.

Pengembangan jejaring kerjasama dan kemitraan 3. prioritisasi 5. Perlu Advokasi untuk dukungan legal aspek pelaksanaan dilapangan 3.LAPORAN AKHIR IV. Mobilisasi Sosial Gerakan Masyarakat “3M” Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 86 . Manajemen terpadu berbais wilayah: Jumantik. Penguatan program: evidence based. KEBIJAKAN PENANGGULANGAN DBD 1. KEBIJAKAN SURVEILANS 1. Pelaksanaan SKD-KLB belum optimal 4. Dukungan tenaga. Optimalisasi dan profesionalisme Sumber Daya (SDM dan dana) 4. sarana dan anggaran V. Surveilans faktor resiko selain surveilans penyakit 5. Penguatan komitmen semua pihak 2. Fleksibilitas pencairan dana KLB 7. Daerah berperan dalam pengambilan keputusan menentukan prioritas masalah maupun penanggulangan 2. desa siaga 6.

Kesimpulan Hasil Survey PROPINSI RIAU Kebijakan Daerah mecakup (1) pemberantasan DBD diselenggarakan dengan menggunakan penatalaksanaan kasus secara cepat dan tepat. Bogor Jawa Timur 1. perbaikan manajemen kasus diganostik dan pengobatan serta rujukan. (2) surveilans epidemiologi. (2) mengembangkan dan memperkuat jejaring surveilans epidemiologi dengan fokus pemantauan wilayah setempat. Siak Jawa Barat 1. Kota Makasar 2.LAPORAN AKHIR LAPORAN PELAKSANAAN SURVEY KAJIAN KEBIJAKAN PENYAKIT MENULAR 1. lintas sektor. imunisasi. Strategi yang dilakukan mencakup (1) intensifikasi pelaksanaan kasus melalui pencarian kasus dan pemutusan rantai penularan. Kota Balikpapan Sulawesi Selatan 1. kewaspadaan dini. kab/kota. perubahan perilaku. serta kemitraan dengan masyrakat (LSM) termasuk swasta. Gowa Nusa Tenggara Barat 1. (5) meningkatkan kemampuan penggalian sumberdaya daerah dan sumberdaya masyarakat dalam pengelolaan program P2M. Kab. Gresik Kalimantan Timur 1. Kab. Kab Lombok Tengah TOTAL Dinas 5 3 2 3 2 2 1 1 2 2 1 2 2 1 2 3 2 3 47 PKM 4 5 3 2 3 4 2 2 4 4 4 6 43 Rumah Sakit 1 1 2 1 2 1 1 4 1 2 2 3 21 Bapp 2 1 1 2 1 1 2 1 1 1 1 1 15 Masy 1 1 20 1 1 18 1 1 13 2 1 20 1 1 25 2 0 13 122 Jml 26 2. melalui Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 87 . Responden Kajian No 1 2 3 4 5 6 Propinsi/Kab Riau 1. Kota Bandung 2. Kab. Kab. Kota Pekanbaru 2. Kota Samarinda 2. pengendalian faktor resiko dan penyehatan lingkungan. Kota Surabaya 2. (4) menyiapkan pengadaan dan distribusi kebutuhan obatobatan dan bahan-bahan yang esensial. Kota Mataram 2. sebagai dasar tindak lanjut perencanaan program dan penanggulangan KLB. (3) memantapkan jejaring lintas program.

yaitu pada setiap Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 88 . dan pemeriksaan jentik berkala (PJB) yang dilakukan setiap 3 bulan sekali. Kegiatan pokok adalah melakukan rapat lintas sektor untuk menangani masalah-masalah khususnya penyakit menular. Strategi pelaksanaan kebijakan penanggulangan DBD di Propinsi Jawa Barat dilakukan melalui (1) pendekatan ”gerak cepat” dan putus rantai. (3) Bila terjadi KLB. dan menyiapak sarana pemeriksaan untuk diagnosa melaksanakan PE dan penanggulangan fokus. (6) peningkatan profesionalisme SDM. (7) Pendekatan Peran Serta Masyarakat dann PSN DBD. Dinkes. melengkapi sarana pemberantasan vektor. PKK. sedangkan sekretariat berada di kantor Dinas Kesehatan. lintas program dan lintas sektor terkait serta mengaktifkan kembali peran UKS (Usaha Kesehatan Sekolah) untuk menggerakkan anak sekolah dalam pemberantasan demam berdarah. Ketiga dana tersebut diatas berasal dari dana Kantor Walikota. pematauan dan informasi program pemberantasan penyakit dan meningkatkan kewaspadaan di semua tingkat administrasi. yaitu dana tak terduga. (3) meningkatkan SDM. pelatihan tenaga operasional. uang dicairkan. Nbila terjadi KLB. melalui penyediaan insektisida dan larvasida. Kota Pekanbaru juga memiliki Forum Perkampungan Sehat. yaitu mencakup 1) Kewaspadaan dini DBD. Program yang dilakukan mencakup (1) kewaspadaan dini DBD melalui penyuluhan intensif. PROVINSI JAWA BARAT Kebijakan penannggulangan di Jawa Barat secara umum mengacu pada kebijakan dan program yang telah ditetapkan oleh Departemen Kesehatan (Pusat). tersedia pos untuk penanggulangan. Hasil implemnatsi kebijakan. (3) Disamping Tim Pokjanal DBD. (2) Di Kota Pekanbaru. menyiapkan juknis dan juklaknya. Dana KLB dianggarakan dengan menggunakan pola kinerja artinya bila KLB tidak terjadi. pelatihan tenaga puskesmas dan rumah sakit. maka uang tidak bisa dicairkan. Tim Pokjanal DBD terdiri dari unsur-unsur Diknas. (5) penanggulangan KLB. (8) Penelitian. dana bencana dan dana belanja rutin sekretariat daerah. Depag dan pihak legislatif. dimana Puskesmas melakukan penyelidikan epidemiologi (PE) untuk mengurangi persebaran lebih luas dan tindakan yang lebih tepat. (4) Penanggulangan kasus. (2) pemberantasan vektor. maka kinerjanya akan dipertanyakan. melalui pelaksanaan pertemuan berkala Pojanal/Pokja DBD. PMD. (3) Bulan Bakti gerakan ”3M”. Strategi dan program adaah (1) pertemuan dengan tim pokjanal DBD propinsi Riau menghasilkan beberpa kesepakatan yang menitikberatkan pada peran aktif dari pokja/pokjanal DBD dengan melibatkan masyarakat. sedangkan dana dari Dinas Kesehatan diutamakan untuk membeli peralatan dan kegiatan yang sifatnya pencegahan. (2) Pemberantasan vektor melalui PSN dengan cara 3M Plus. pembinaan dalam pelaksanaan gerakan 3M.LAPORAN AKHIR perencanaan. Bappeda. Tim Pokjanal DBD diketuai oleh Walikota. diketuai oleh Bappeda dan sekretariat juga berada di Bappeda.

perilaku masyarakat. dukun bayi dan kendaraan kesehatan. (3) Upaya peningkatan kemamampuan tenaga kesehatan dalam penanggulangan DBD secara kuratif dilakukan melalui ”workshop tata laksana” dengan melibatkan dokter spesialis dan urusan dalam. dan tidak seimbangnya jumlah kader dengan cakupan daerah yang harus diselediki. pengolahan dan analisis data untuk penyususnan rumusan kegiatan perbaikan oleh tim epidemiologi. Hasil pelaksanaan program ditunjukkan antara lain (1) pemantauan jentik belum optimal dilakukan oleh kader dengan alasan terbatasnya dana operasional. dan melakukan ”CLEAN-UP” lingkungan yang dipimpin oleh wali kota selama 1-2 jam. pemeriksaan jentik dengan memberdayakan tenaga jumantik. (4) melakukan kajian epidemiologi harus bekerjasama dengan lintas program dan lintas sektor.LAPORAN AKHIR kasus petugas siap melakukan PE sehingga ditemukan akar permasalahan dan sumber penyebabnya untuk kemudian dilakukan tindakan agar tidak menyebar ke tempat lain. (6) Sosialissi Pola Hidup Bersih (PHBS). dan propinsi. menetapkan apakah kejadian tersebut suatu KLB. mendeskripsikan kasus berdasarkan waktu. kesibukan kader. praktek swasta. mengidentifikasikan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 89 . (3) penyelidikan epidemiologi terhadap kasus yang dicurigai pada daerah yang resiko rendah. melalui persiapan penyelidikan lapangan. kab/kota. (5) melakukan studi epidemiologi pada daerah dengan knerja yang tidak baik. (2) upaya preventif yang dilakukan melalui ”managing vector and environment” malalui ger kan 3M yang dilakukan secara linta sektor dalam wadah Pokjanal DBD. (2) Fogging dilaksanakan apabila terjadi KLB dengan menggunakan dana yang berasal dari Dinas Kesehatan Kabupaten dengan peruntukan untuk larvasidasi dan abatesisasi. (3) komitmen dari pimpinan unit penyelenggara kesehatan diperlukan untuk kegiatan surveilans epidemiologi. bidan. (2) pencarian kasus tambahan dilakukan pada saat penyelidikan epidemiologi. mengamati indikasi pra-KLB misala cakupan program. (2) penyeldikan dan penanggulangan KLB. PROVINSI JAWA TIMUR Kebijakan daerah mencakup (1) upaya penanggulangan masalah-masalah kesehatan yang dilakukan merupakan hasil dari kajian surveilans epidemiologi. orang dan tempat. dokter. status gizi. membuat cara penanggulangan sementara. memastikan diagnostik etiologi. perawat. puskesmas dan masyarakat. mengidentifikasi dan menghitung kasus atau paparan. (4) Pelibatan partisipasi masyarakat melalui gerakan PSN setiap hari Jumat pagi. foggig focus massal. (4) penemuan kasus dilaksnakan secara bekerjasama dengan masyarakat. (2) kegiatan surveilans epidemiologi dilaksanakan oleh tim fungsional di masingmasing tingkat mulai dari Puskesmas. (5) Pelibatan lintas sektor. Pelaksanaan program penannggulangan DBD mencakup (1) SKD-KLB melalui kegiatan pengumpulan data baru dari penyakit-penyakit yang berpotensi KLB. Strategi dalam penanggulangan DBD dilakukan melalui (1) penemuan kasus dan kematian melalui surveilans di rumah sakit.

pelaksanaan PE. perubahan perilaku dalam pola hidup bersih dan sehat. penyediaan insektiside dan larvasida. Pokok-pokok Program yang dilakukan mencakup Kewaspadaan dini DBD. merencanakan penelitian lain yang sistematis. (3) Untuk tahun 2005. (4) Di samping Tim Pokjanal DBD. (6) Pelatihan khusus tentang epidemiologi dan surveillens baru dilakukan 1 kali dalam 5 tahun terakhir. (3) Pelatihan tenaga surveilens (pelatihan epidemiologi. (2) Tim Pokjanal DBD diketuai oleh Walikota. pelaksanaan gerakan 3M. mengidentifikasikan keadaan penyebab KLB. khususnya penyakit DBD di Propinsi Sulawesi Selatan. (2) Pemberantasan vector. APBD mengalokasikan dana 500 juta untuk peanggulangan KLB dan habis untuk penanggukangan KLB DBD. (2) Pelaksanaan Surveilans Epidemiologi. kerja sama dengan dengan masyarakat dan swasta. (2) mengembangkan dan memperkuat jejaring surveilans epidemiologi dengan fokus pemantauan wilayah setempat. penyehatan lingkungan. lintas program dan lintas sekor terkait. sehingga sesuai data memang DBD di Kota Balikpapan tinggi. PROVINSI KALIMNATAN TIMUR Kebijakan Daerah yang dilakukan mencakup (1) Pemberantasan DBD diselenggarakan dengan menggunakan penatalaksanaan kasus secara cepat dan tepat. Strategi yang dilakukan mencakup (1) peningkatkan pencarian kasus dan pemutusan rantai penularan perbaikan manajemen pengobatan serta rujukan. Gambaran implementasi adalah (1) Pelaksanaan penanggulangan DBD melibatkan masyarakat.LAPORAN AKHIR sumber dan cara penyebaran. pada dasarnya dilaksanakan berpedoman pada arah kebijakan dan program dari Pemerintah Pusat (Departemen Kesehatan). beranggotakan kepala – kepala dinas yang ketika diadakan rapatrapat selalu dihadiri oleh personal yang berlainan. menetapkan sistem penemuan kasus baru. penyuluhan. menetapkan rekomendasi cara pencegahan dan penanggulangan. pertemuan berkala Pokjanal/Pokja DBD. Kota Balikpapan memiliki Yayasan DBD yang ketuanya adalah kasubdin P2M Dinkes dan didanai oleh perusahaahn2 minyak swasta. melengkapi sarana pemerantasan vektor. dan (3) Membangun kerja sama lintas sektor. kewaspadaan dini. (5) Dinas kesehatan kota Balikpapan selalu melaksanakan pendataan DBD dengan rutin. PROVINSI SULAWESI SELATAN Upaya penanggulangan kejadian luar biasa (KLB)/penyakit menular. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 90 . pelatihan tenaga kesehatan. Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Selatan selanjutnya menyusun Prosedur Tetap (Protap) Penanggulangan DBD sebagai pedoman/acuan pelaksanaan kegiatan Dinas Kesehatan Propinsi dan Dinas Kesehatan Kabupten/Kota.

Pada pelaksanaan di Puskesmas. melalui pelatihan petugas kesehatan. Implementasi kebijakan penanggulangan DBD di Sulawesi Selatan antara lain (1) Kewaspadaan Dini. melakukan pelatihan tatalaksana DBD bagi dokter di rumah sakit pada daerah endemis. dimana peran puskesmas sangat kecil karena dukungan dana dan personil sangat kecil. PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT Pedoman surveilans dan KLB kurang operasional. Di kabupaten Lombok Tengah. (4) Peningkatan SDM.. sedangkan tahun 2004 jumlah KLB DBD sebanyak 88 kasus. melalui penemuan dan pelaporan penderita. kab/kota dan puskesmas. penanggulangan fokus. pemantauan jentik berkala di berbagai kabupaten endemis dengan sasaran masing-masing 100 rumah.LAPORAN AKHIR Materi yang disusun dalam Protap ini adalah langkah-langkah penanggulangan DBD sebagai berikut: (1) Kewaspadan Dini. pemantauan jentik berkala. (2) Pemberantasan Nyamuk Penular DBD terhdap nyamuk dewasa dan jentik nyamuk. penyuluhan intensif melalui media cetak dan elektronik. bulan kewaspadaan DBD. melalui penyuluhan. Surveilans dilaksanakan pada tingkat dinas kesehatan propinsi. pembinaan di 23 kab/kota. (3) Peningkatan Sumber Daya Manusia. pelatihan bagi pengelola program P2 DBD di 23 kab/kota. terutma untuk insentif tenaga kesehatan dan kader. gerakan PSN. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 91 . pengamatan bebas jentik dilakukan oleh murid-murid sekolah dan telah terbukti cukup efektif untuk dapat direflikasi di daerah lain. lintas program dan kabupaten/kota terdekat. Dngan demikian Puskesmas sebagai fasilitas yang paling dekat edngan masyarakat tidak dimanfaatkan dengan baik dalam penanggulangan KLB DBD. (3) Penanggulangan KLB. Namun terdapat ”gap” pelaksanaan/penanganan KLB. abatisasi. dukungan dana surveilans tertolong oleh adanya subsidi dari Askeskin. (2) Penanggulangan KLB menemukan jumah kasus KLB DBD tahun 2005 sebanyak 66 kasus. Dinkes Propinsi Nusa Tenggara Barat membuat pedoman operasional yang berisi ”step by step” metodologi penanggulangan DBD. pertemuan Kewaspadaan Dini DBD sebanyak 4 kali melibatkan sektor terkait. dan fooging massal. menghasilkan penemuan dan pelaporan penderita.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful