P. 1
dbd

dbd

|Views: 566|Likes:
Published by Afrisal Taurus

More info:

Published by: Afrisal Taurus on Apr 06, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/12/2013

pdf

text

original

LAPORAN Kajian Kebijakan Penanggulangan (Wabah) Penyakit Menular

(Studi Kasus DBD)

Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat

Deputi Bidang SDM dan Kebudayaan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional 2006

LAPORAN AKHIR

KAJIAN KEBIJAKAN PENANGGULANGAN (WABAH) PENYAKIT MENULAR
Studi Kasus DBD

DIREKTORAT KESEHATAN DAN GIZI MASYARAKAT BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL TAHUN 2006

Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular

LAPORAN AKHIR

Ringkasan Eksekutif
Kajian ini dilatarbelakangi adanya kecenderungan terus meningkatnya wabah penyakit menular di berbagai daerah di Indonesia. Selain penyakit menular yang telah lama ada, penyakit menular baru (new emerging diseases) juga menunjukkan peningkatan. Kebijakan penanggulangan wabah penyakit menular telah diatur dalam peraturan perundangan. Namun demikian implementasi di lapangan masih menghadapi berbagai permasalahan. Beberapa permasalahan yang teridentifikasi antara lain berkaitan dengan (1) pelaksanaan surveilans, (2) upaya penanggulangan, serta (3) adanya desentralisasi kewenangan pengelolaan. Berdasarkan hasil penelitian WHO Tahun 2003 dilaporkan bahwa pelaksanaan kegiatan surveilans masih menghadapi kendala antara lain berkaitan dengan (1) kebijakan sistem surveilans yang belum dipahami sampai ke petugas teknis di lapangan, (2) terbatasnya tenaga pelaksana surveilans, (3) adanya ketidaksesuaian kompetensi, (4) terbatasnya dana pelaksanaan surveilans di tingkat operasional, dan (5) belum optimalnya penggunaan sarana kesehatan dalam mendukung pelaksanaan surveilans penyakit seperti pemanfaatan laboratorium dan peralatan. Berdasarkan latar belakang tersebut, tujuan utama kajian adalah menyusun rumusan kebijakan penanggulangan wabah penyakit menular secara terpadu berdasarkan analisis faktor-faktor yang berpengaruh melalui (1) identifikasi kinerja surveilans, (2) identifikasi kinerja penanggulangan wabah penyakit , serta (3) identifikasi peran dan tanggungjawab Pemerintah Daerah. Metode kajian dilakukan melalui analisis diskriptif (kualitatif) berdasarkan data dan informasi yang didapat di lapangan, baik berbentuk data sekunder maupun hasil wawancana mendalam serta melakukan pembahasan dengan nara sumber dalam bentuk focus group discussion (FGD) dan workshop. Landasan pemikiran kajian didasarkan pada asumsi adanya hubungan timbal balik antara rendahnya kinerja surveilans dan kinerja penanggulangan dengan implementasi kebijakan wabah penyakit menular khususnya dalam kasus kebijakan penanganan penyakit DBD. Kinerja surveilans diukur dengan melihat (1) keberadaan peta rawan, (2) pelaksanaan diseminasi informasi DBD, dan (3) Pelaporan serta dengan melihat faktor-faktor berpengaruh mencakup (1) tenaga, (2) data, (3) sarana, (4) dana, dan (5) SOP. Kinerja Penanggulangan diukur dengan melihat (1) Frekuensi KLB, (2) Jumlah Kasus, (3) Jumlah Kematian, (4) Luas Daerah Terserang serta dengan melihat faktor-faktor berpengaruh mencakup (1) tenaga, (2) data, (3) sarana, (4) dana, dan (5) SOP. Implementasi kebijakan wabah penyakit menular juga dipengaruhi kebijakan desentralisasi kewenangan pengelolaan pembangunan. Kajian menyimpulkan bahwa kendala utama yang dihadapi dalam implementasi kebijakan penanggulangan wabah penyakit menular dalam kasus DBD adalah (1) koordinasi antar instansi dan antar unit yang bertanggung jawab dalam penanganan DBD masih belum optimal, khususnya dalam pelaksanaan surveilans dan penanggulangan DBD, (2) koordinasi antara pusat dan daerah belum dilandasi suatu kebijakan operasional yang jelas tentang kewenangan dan tanggung jawab masingmasing, (3) sistem pengelolaan program penanganan penyakit menular masih didominasi pusat, (4) tingginya beban puskesmas sebagai unit operasional utama di lapangan dalam implementasi kebijakan penanggulangan wabah penyakit menular. Indikator Kinerja Surveilans dan Penanggulangan mencakup (1) Peta rawan, hampir semua dinkes propinsi maupun dinkes kab/kota memiliki peta rawan, sedangkan di Puskesmas sebagai unit pelayanan dasar dan rumah sakit sebagai unit pelayanan rujukan, peta rawan tidak selalu tersedia, (2) proses diseminasi informasi dilakukan
Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular ii

Dana yang digunakan untuk penanggulangan KLB berasal dari APBN (Dekon) dan APBD. dan epidemiologi. Ketepatan dan kelengkapan laporan dari kabupaten masih rendah. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kinerja surveilans dan penanggulangan terkait dengan (1) tenaga. perpindahan yang begitu cepat. tetapi tidak menjadi kendala dalam berjalannya sistem. hampir semuanya menggunakan dana APBD. Namun demikian kebanyakan SOP tersebut belum operasional. Di rumah sakit tidak terdapat dana surveilans. Baik APBD propinsi maupun APBD kabupaten/kota atau APBD sharing. Dana operasional selain bersumber dari dana operasional umum juga memanfaatkan dana JPK-MM. Bidang pendidikan yang ada adalah perawat. Puskesmas tidak memiliki alokasi dana khusus untuk kegiatan surveilans. Permasalahan dana terutama berkaitan dengan (1) keterlamabatan turunnya DIPA. Hampir semua unit pelayanan kesehatan di daerah memiliki pedoman dan peraturan dalam rangka pelaksanaan surveilans dan penanggulangan DBD. Dana menjadi persoalan dalam implementasi kebijakan penanggulangan penyakit menular. Sarana utama yang dibutuhkan dalam penanganan kasus DBD adalah adanya mesin fogging serta insektisida. Kualitas dan kualifikasi masih belum terpenuhi sesuai dengan bidang tugas dan kompetensinya. (4) Jumlah Kasus periode 2003-2005 cenderung stagnan untuk propinsi lokasi kajian (kecuali Jatim meningkat).LAPORAN AKHIR melalui penerbitan buletin kajian epidemiologi yang diterbitkan oleh dinkes propinsi dan dinkes kabupaten/kota. Upaya yang dilakukan Dinas Kesehatan Propinsi maupun kabupaten/kota dalam rangka peningkatan kemampuan adalah pembinaan teknis. Tenaga. dan (6) data. dan (3) proporsi anggaran untuk preventif dan kuratif yang tidak seimbang. pengetahuan tim pada umumnya dipenuhi dari pengalaman lapangan dalam penanganan P2M. kualifikasi pendidikan yang belum sesuai. rakor dan melakukan berbagai pelatihan di bidang surveilans maupun penangulangan penyakit. Beberapa dinkes kabupaten/kota inisiatif melakukan modifikasi terhadap SOP yang dibuat Depkes. Struktur organisasi Dinkes propinsi maupun Kab/Kota tidak menggambarkan pembedaan kedua tugas tersebut. SOP. Pengadaan insektisida dan mesin fogging di supply oleh Dinkes Propinsi karena kab/kota belum siap. Pemahaman tentang surveilans dan penanggulangan KLB masih belum sama. Propinsi belum mempunyai sistem peringatan ke kabupaten bila terjadi keterlambatan atau ketidak lengkapan data. mengadakan pertemuan/ lokakarya. (4) SOP. Kurangnya jumlah SDM. khusus untuk KLB tersedia block grant dari pusat. Walaupun kondisi sarana dan prasarana untuk kegiatan penanggulangan penyakit menular tidak selalu memadai. Data. Tidak ada batas yang tegas yang membedakan antara Surveilans dan Penanggulangan dalam praktek operasional di lapangan. Pada tingkat propinsi. Operasi lapangan untuk suatu kasus (DBD) serentak dilakukan. (5) sarana. Pengetahuan. Untuk tingkat kabupaten/kota. Selain pelatihan formal. (3) sistem pelaporan ditunjukkan dengan kelengkapan laporan mencapai 90-100%. khususnya ketika kasus terjadi. Sarjana (SKM) dan MKes. namun ketepatannya masih 60%. Hampir semua level baik di propinsi hingga kabupaten/kota termasuk puskesmas dan rumah sakit mengalami masalah ketenagaan dalam kegiatan surveilans dan penanggulangan. sedangkan data kematian cenderung meningkat. dana untuk pelaksanaan penanggulangan wabah penyakit menular dirasakan pihak daerah mencukupi. Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular iii . Case Fatality Rate (CFR) DBD fluktuatif. belum dilakukan. beban kerja yang tinggi merupakan masalah yang hampir ditemukan disemua tingkatan. baik di tingkat propinsi maupun kabupaten (baru bersifat pengumpulan data). (2) ada masa ketiadaan anggaran. yang ada hanya pencatatan pelaporan yang dilakukan di bagian rekam medis. Data yang ada belum dilakukan analisis. Sehingga untuk SKDKLB data yang seharusnya dapat dilihat/diprediksi diawal untuk kewaspadaan terjadinya KLB. Dana. (2) pengetahuan. Sarana. Pendidikan rata-rata perawat. Validitas data yang dilaporkan tidak pernah dipermasalahkan. (3) dana.

analisis. promosi dan koordinasi. (iv) Optimalisasi penggunaan sarana dan prasarana dengan melibatkan peran aktif masyarakat. sarana dan dana. baik pada internal sektor maupun lintas sektor. ketiadaan sarana. Hal ini berkaitan dengan masih cukup besarnya alokasi dana yang berasal dari APBN (dalam bentuk DAU. tidak setiap kasus DBD ditindaklnajuti dengan PE karena DBD dianggap kasus rutin. Gubernur. (6) Meningkatkan kemampuan tenaga pengendalian penyakit untuk melakukan pencegahan dan penanggulangan faktor risiko. karena tidak seimbang antar area yang harus dipantau dengan kemampuan sumberdaya yang tersedia. (7) Melakukan bimbingan. (3) Mengurangi secara bertahap dominasi peran pengelolaan program oleh pusat melalui pendelegasian kewenangan ke daerah serta peningkatan profesionalisme pengelola program di daerah. namun belum maksimal melaksanakan surveilans karena keterbatasan tenaga. bukan sebaliknya pemerintah daerah yang aktif meminta informasi. pemantauan. surveilans epidemiologi dan penanggulangan KLB/wabah. Komitmen daerah dalam penyediaan anggaran (APBD) untuk penanganan wabah penyakit menular belum optimal. PE tidak dilakukan maksimal sesuai prosedur yang ada.LAPORAN AKHIR Kondisi umum Pelaksanaan Surveilans dan Penanggulangan DBD: (1) Ujung tombak pelaksanaan surveilans ada di Puskesmas. dan evaluasi kegiatan pencegahan dan penanggulangan faktor resiko. (3) Surveilans mulai diperlukan ketika ada kasus. dan sistem kewaspadaan dini (early warning system). serta pelaporan (evaluasi). (2) Aktivitas surveilans dilakukan oleh Tim Lapangan. (iii) Peningkatan kualitas sistem pelaporan melalui ketepatan data. Penanggulangan DBD di Rumah sakit relatif tidak masalah. (5) Meningkatkan peran dan tanggung jawab Pemerintah Daerah melalui intensifikasi kegiatan sosialisasi. akibatnya kegiatan tindak lanjut yang seharusnya dilakukan tidak berjalan. Keperdulian pemerintah daerah masih belum terlihat. (9) Membangun dan mengembangkan kemitraan. Koordinasi penanganan kasus masih bersifat sporadis. keterbatasan dana. (ii) Penyempurnaan SOP sesuai “local specific”. namun belum maksimal. (8) Membangun dan mengembangkan kemitraan dan jejaring kerja informasi dan konsultasi teknis pencegahan dan penanggulangan faktor resiko. (4) Memperkuat kapasitas dan kapabilitas Puskesmas sebagai unit terdepan dalam operasionalisasi surveilans dan penanggulangan wabah penyakit menular. (10) Diperlukan dukungan dalam bentuk peraturan perundangan dalam meningkatkan komitmen para pihak di daerah dalam rangkan pencegahan dan penanggulangan DBD. Banyak kendala. pelaksanaan (monitoring). Pengobatan dapat dilakukan dengan baik kecuali kalau ada keterlambatan datang ke sarana pengobatan dan akibat terlambat merujuk. dekonsentrasi maupun tugas perbantuan). belum tertata dalam sebuah sistem yang aktif dan terstruktur. kecuali kalau ada kasus KLB yang menyebabkan sarana TT tidak mencukupi. Rekomendasi kajian yang diusulkan mencakup (1) Peningkatan koordinasi antar instansi dan antar unit dalam berbagai tingkatan dalam penanganan wabah penyakit menular yang dilakukan oleh Menko Kesra. (11) Diperlukan model manajemen pemberantasan penyakit dan penyehatan lingkungan secara terintegrasi yang berbasis wilayah kabupaten/kota dalam perspektif Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular iv . advokasi. Permasalahan operasional penanganan DBD juga dipengaruhi oleh sistem kepemerintahan yang belum sepenuhnya dapat mengakomodasi sistem perencanaan dan sistem keuangan yang baru. Bupati/Walikota . sebagai suatu kegiatan rutin. antara lain keterbatasan tenaga. hal ini tampak dari keaktifan instansi kesehatan dalam penyebaran informasi kesehatan. malalui (i) Peningkatan dukungan dana yang memadai dari APBN maupun APBD. jejaring kerja informasi dan konsultasi teknis peningkatan komunikasi informasi dan edukasi (KIE) pencegahan dan pemberantasan penyakit. Pengobatan dan isolasi penderita dirujuk ke rumah sakit. Penyelidikan Epidemiologi (PE) yang dilakukan Puskesmas belum maksimal. validasi dan pengembangan “respond system”. Namun pada saat kasus. yang paling menonjol adalah penanggulangan (PE). (2) Percepatan penyusunan kebijakan operasional dalam koordinasi pelaksanaan program antar pusat daerah yang mencakup aspek perencnaaan.

(2) Pendanaan.LAPORAN AKHIR komprehensif. Sebagai perangkat utama Kesehatan. (5) SOP. mendorong terbangunnya motivasi dan komitmen para pelaksana pembangunan kesehatan di lapangan sebagai ujung tombak pembangunan kesehatan. Puskesmas perlu diperkuat dengan kapasitas manajemen pelayanan untuk kegiatan yang bersifat promotif. Motivasi dankomitmen selain muncul atas kesadaran memerlukan dukungan eksternal dalam bentuk insentif. Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular v . Serta didukung jaringan dan kerjasama erat baik antar wilayah dan adimistrasi pemerintah maupun diantara para pelaku pemberantasan penyakit menular dan penyehatan lingkungan itu sendiri dalam satu wilayah. promotif dan rehabilitatif) menyertai peran dimaksud secara memadai. dibuat sesederhana mungkin agar memudahkan pelaksanaan operasional tenaga lapangan dan distribusikan. preventif. diperlukan revitalisasi peran kelembagaan khususnya kelembagaan Puskesmas. perlu di kelola secara profesional dan berkesinambungan dengan memanfaatkan teknologi yang tepat dan mudah diaplikasikan serta dimungkinkan adanya Pusat Informasi Penanaganan DBD (DBD Center). (3) Data dan Informasi. perlu terus dikembangkan pola pendanaan sistem jaminan kesehatan seperti askeskin sehingga kepastian dana sampai kepada masyarakat terjamin. dan rehabilitatif. (4) Ketenagaan. selain kuratif. Dukungan pendanaan serta tenaga dan sarana dalam rangka pelaksanaan operasional pencegahan dan penanggulangan (preventif. sekaligus menjamin setiap masyarakat terlayani untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Implikasi Kebijakan dan Rencana Tindak Lanjut mencakup aspek-aspek: (1) Kelembagaan. Keberadaan data dan informasi yang akurat dan sinambung menjadi salah satu indikator kinerja pembangunan kesehatan.

MPM 5. Dadang Rizki Ratman. Desember 2006 Tim Perumus Rekomendasi Kebijakan 1. SKM. Pemerintah Daerah. Selain penyakit menular yang telah lama ada. Inti Wikanestri. Hadiat. Perguruan Tinggi. Hasil kajian ini jelas belum menggambarkan kondisi utuh pelaksanaan kabijakan sehingga langkah kebijakan yang diambil pun tidak luput dari bias dari peneliti dan pengkaji. khususnya kasus Demam Berdarah dengue (DBD). SP. DR. Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat serta seluruh staf di lingkungan Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas serta melibatkan nara sumber dari Departemen Kesehatan. MS 7. akhirnya Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular dapat diselesaikan tepat pada waktunya. ME 6. SH. serta responden di dinas kesehatan propinsi dan dinas kesehatan kabupaten/kota. STP. Jakarta. SKM 8.LAPORAN AKHIR KATA PENGANTAR Dengan memanjat puji dan syukur pada Allah SWT. Banyak hal telah didapat dari pelaksanaan kajian ini. Pelaksanaan kajian telah melibatkan Deputi bidang SDM dan Kebudayaan Bappenas. Selanjutnya berdasarkan rekomendasi yang dirumuskan. Nurlaili Aprilianti Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular vi . Sularsono. Kebijakan penanggulangan wabah penyakit menular telah diatur dalam peraturan perundangan. Namun demikian implementasi di lapangan masih menghadapi berbagai permasalahan. Pungkas Bahjuri Ali. MA 3. tidak saja dalam bentuk temuan tetapi juga pengalaman proses pelaksanaan survey lapangan yang dilakukan sampai ke tingkat Puskesmas dan pelosok masyarakat untuk melakukan wawancara dan diskusi. Kajian ini dilatarbelakangi adanya kecenderungan terus meningkatnya wabah penyakit menular di berbagai daerah di Indonesia. Tiada gading yang tak retak. Mudah-mudahan laporan kajian ini memliki kontribusi substansial bagi penataan kebijakan di bidang kesehatan maupun menjadi salah satu referensi bagi penelitian kebijakan selanjutnya maupun untuk kepentingan bersifat akademis. khususnya Subdit Arbovirosis. DR. MPA 4. para nara sumber. Dinas Teknis terkait. Kasus penyakit menular dalam kajian ini adalah Demam Berdarah Dengue (DBD). penyakit menular baru (new emerging diseases) juga menunjukkan peningkatan. khususnya dalam penanganan kasus demam berdarah. Hasil temuan dan kesimpulan dirumuskan menjadi suatu rekomendasi kebijakan yang diharapkan dapat memperbaiki kebijakan dalam penanggulangan wabah penyakit menular. anggota FGD. baik di di tingkat kebijakan makro (RKP) maupun dalam bentuk kebijakan teknis yang perlu di tindak lanjuti oleh departemen/instansi teknis maupun instansi terkait lainnya. dibuat implikasi kebijakan yang harus menjadi langkah tindak lanjut. MPH 2. Arum Atmawikarta. Unuk itu saran dan masukan guna penyempurnaan hasil kajian ini secara terbuka dinantikan. Ucapan terima kasih pada seluruh pihak yang telah memberikan kontribusi pada pelaksanaan kajian ini mulai dari tim perumus rekomendasi kebijakan. Yosi Diani Tresna. bappeda serta masyarakat. Ir. masyarakat serta FGD dari Bappenas.

1.25 BAB 3 : METODOLOGI .Kendala Pencegahan DBD – 21 .3 3.5 Tujuan dan Sasaran – 5 Keluaran Kajian .27 3.1 Indikator Kinerja Surveilans dan Penanggulangan KLB – 42 4.8 2.2.1.1 1.1 3.46 (2) Dana – 51 (3) Standar Operasi dan Prosedur – 53 (4) Data – 56 (5) Sarana – 57 vii 4.3 1.6 2.1 Perumusan Masalah .2 1.3 2.3 Kendala Penanggulangan DBD – 41 Kinerja Surveilans dan Penanggulangan DBD – 41 4.6 Sistematika Penulisan .33 4.5 2.2 2.4 1.1 1.2 3.29 Jenis dan Sumber Data – 30 Responden Kajian – 31 Lokasi Kajian – 32 Teknik Analisis – 32 BAB 4 : HASIL DAN PEMBAHASAN .2 Faktor-faktor Berpengaruh terhadap Kinerja Surveilans dan Kinerja Penangulangan KLB – 46 (1) Tenaga .6 Ruang Lingkup Kajian .7 2.6 Latar Belakang .4 2.6 Kerangka Pemikiran – 27 Disain Kajian .9 Penyakit Menular di Indonesia – 8 Surveilans Epidemiologi – 8 Kebijakan Sistem Surveilans – 10 Indikator Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan – 11 Penanggulangan Wabah Penyakit Menular – 14 Epidemiologi Global Penyakit – 16 Strategi Pengendalian Penyakit – 18 Kejadian Luar Biasa – 18 Penyakit Demam Berdarah – 20 .2.LAPORAN AKHIR DAFTAR ISI Ringkasan Eksekutif .1 2.Tatalaksana Penanggulangan DBD – 23 .1 Implementasi Kebijakan Penanggulangan DBD – 33 4.1.2 Kebijakan Penanggulangan Penyakit DBD – 35 4.Peran Masyarakat dalam Penanggulangan DBD .5 1.4 3.vi BAB 1 : PENDAHULUAN .2 Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular .8 2.1 Incidence Rate (IR) dan Case Fatalities Rata (CFR) – 33 4.5 3.6 BAB 2 : LANDASAN TEORI .i Kata Pengantar .

70 DAFTAR LAMPIRAN LAMPIRAN 1: Instrumen Kajian – 72 LAMPIRAN 2: Pelaksanaan Kegiatan dan Pembahasan – 76 LAMPIRAN 3 : Struktur Organisasi/Tim Pelaksana LAMPIRAN 4: Notulen Pembahsan Dengan Tim Pakar – 81 LAMPIRAN 5 : Pokok-Pokok Pikiran Hasil Ekspose dengan Tim Ahli – 83 LAMPIRAN 6 : Laporan Pelaksanaan Survey – 86 Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular viii .3.2 Peran Pemerintah Daerah Dalam Penanggulangan DBD – 61 4.1 Kesimpulan – 65 5.LAPORAN AKHIR 4.3.65 5.2 Rekomendasi Kebijakan – 68 5.3 Koordinasi Antar Sektor – 63 BAB 5 : KESIMPULAN DAN REKOMENDASI KEBIJAKAN .3.3 Implikasi Kebijakan .3 Peran dan Tanngung Jawab Pememrintah Daerah dalam Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit DBD – 59 4.1 Kewenangan Daerah dan Stndar Pelayanan Minumum – 59 4.68 DAFTAR PUSTAKA .

7 Tabel 4. Kab/Kota .LAPORAN AKHIR DAFTAR TABEL Tabel 1. Dikes Kab/Kota.1 Tabel 4.6 Tabel 4. Dnkes Kab/Kota.4 Tabel 4.4 : Indikator Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan – 12 : Responden Kajian – 31 : Distribusi Indikator Kinerja Surveilans di Dinkes Propinsi.12 Tabel 4.5 Tabel 4.10 Tabel 4. RS dan Puskesmas – 57 : Distribusi Ketersediaan Sarana Surveilans di Dinkes Propinsi. RS dan Puskesmas – 58 : Daftar KW dan SPM Bidang Kesehatan – 60 Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular ix . Kab/Kota. RS dan Puskesmas – 58 : Distribusi Ketersediaan Sarana Penanggulangan di Dinkes Propinsi. Kab/kota.15 : Sepuluh Penyakit Utama Pada Pasien Rawat Inap Tahun 2003 – 2 : Target dan Capaian Pemberantasan Penyakit DBD .1 Tabel 1. Dinkes Kab/Kota.11 Tabel 4. Kab/Kota .2 Tabel 4. RS dan Puskesmas – 56 : Distribusi Ketersediaan Data Penanggulangan KLB Propinsi. RS dan Puskesmas – 55 : Distribusi Ketersediaan Data Surveilans di Dinkes Propinsi. Kab/Kota.2 Tabel 2.1 Tabel 3.9 Tabel 4. Rs dan Puseksmas – 42 : Distribusi Indikator Diseminasi Informasi Surveilans di Dinkes Propinsi.13 Tabel 4.3 Tabel 4.14 Tabel 4. RS dan Puskesmas – 44 : Distribusi Jenis Tenaga di Dinkes Propinsi dan Kab/Kota – 47 : Distribusi Jenis Tenaga di Rumah Sakit dan Puskesmas – 48 : Persepsi Responden Tentang Surveilans DBD – 49 : Persepsi Responden Tentang Penanggulangan DBD – 50 : Distribusi Sumber Dana di Dinkes Propinsi dan Kab/Kota – 51 : Distribusi Sumber Dana di Rumah Sakit dan Puskesmas – 52 : Distribusi Ketersediaan SOP Surveilans dan Dinkes Propinsi. RS dan Puskesmas – 54 : Distribusi Ketersediaan SOP Penanggulangan KLB di Propinsi.1 Tabel 4.8 Tabel 4.

4 Gambar 4. Tahuan 2005-20006 – 34 : Jumlah Kasus DBD di Indonesia Tahun 2005-2006 – 35 : Data Kasus DBD di Lokasi Kajian – 44 : Data Kematian DBD di Lokasi Kajian – 45 : Case Fatality Rate (CFR) DBD di Lokasi Kajian – 46 Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular x .2 Gambar 4.7 : Alusr Distribusi Data Surveilans Terpadu Penyakit – 10 : Skema Program Penanggulangan KLB – 15 : Bagan Penanggulangan Fokus (Penanggulangan Penderita DBD di Lapangan) – 24 : Kerangka Pikir Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular – 27 :Kerangka Konsep Kinerja Surveilans – 28 : kerangka Konsep Kinerja Penanggulangan – 28 : Tahapan Pelaksanan Kajian – 32 : IR & CFR DBD Tahun 1968-2004 – 33 : Perkembangan Kasus DBD Nasional Per bulan – 34 : Kasus DBD Per Bulan di Indonesia.LAPORAN AKHIR DAFTAR GAMBAR Gambar 2.3 Gambar 4.5 Gambar 4.4 Gambar 4.1 Gambar 3.2 Gambar 2.1 Gambar 4.2 Gambar 3.6 Gambar 4.3 Gambar 3.1 Gambar 2.3 Gambar 3.

Pemeriksaan Jentik Berkala PKK : Pembinaan Kesejahteraan Kelaurga PKPS-BBM : Program Kompensasi Pengurangan Subsidi Bahan Bakar Minyak Pokjanal : Kelompok Kerja Operasional Posyandu : Pos Pelayanan Terpadu PP & PL : Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan PSN : Pemberantasan Sarang Nyamuk Puskesmas : Pusat Kesehatan Masyarakat RSUD : Rumah Sakit Umum Daerah SARS : Severe Acute Respiratory Syndrome SKD-KLB : Sistem Kesiapan Dini Kejadian Luar Biasa SOP : Standar Operasional Prosedur SDM : Sumber Daya Manusia SKM : Sarjana Kesehatan Masyarakat Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular xi . Mengubur ABJ : Angka Bebas Jentik APBN : Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara APBD : Anggaran Penerimaan dan Belanja Daerah Askeskin : Asuransi Kesehatan Masyarakat Miskin Bappeda : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Bappenas : Badan Perencanaan Pembangunan Nasional COMBI : Communication for Behavioral Impact CFR : Case Fatality Rate DAU : Dana Alokasi Umum DBD : Demam Berdarah Dengue Dekon : Dekonsentrasi DOP : Dana Operasional Puskesmas DPRD : Dewan Perwakilan Daerah Epidemiologi : Ilmu yang mempeljari penyebaran penyakit dan faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit pada manusia Epidemiologis: Orang yang ahli dalam ilmu epidemiologi FGD : Focused Group Discussion Gakin : Keluarga Miskin HIV/AIDS : Human Immuno deficiency Virus/Acquired Immuno Deficiency Syndrome IPTEK : Ilmu Pengetahuan dan Teknologi IR : Incidence Rate ISPA : Infeksi Saluran Pernafasan Akut JPK-MM : Jaminan Pelayanan Kesehatan Masyarakat miskin KIE : Komunikasi. Menutup. Informasi dan Edukasi KLB : Kejadian Luar Biasa LSM : Lembaga Swadaya Masyarakat MDGs : Millennium Development Goals P2B2 : Penanggulangan Penyakit Bersumber Binatang P2M : Pemberantasan Penyakit Menular PE : Penyelidikan Epidemiologi PHBS : Pola Hidup Bersih dan Sehat PI : Perencanaan dan Informasi PJB .LAPORAN AKHIR DAFTAR SINGKATAN & DEFINISI ISTILAH 3M : Menguras.

secara aktif maupun pasif dalam mengamati. dan menginterpretasi suatu fenomena peristiwa kesehatan pada manusia/masyarakat tertentu yang hasilnya dipakai untuk melakukan tindakan terhadap peristiwa kesehatan tersebut : Tuberculosis : Tempat Penampungan Air : Unit Gawat Darurat : Usaha Kesehatan Sekolah : Unit Pelaksanan Teknis : Suatu peningkatan kejadian kesakitan dan atau kematian suatu penyakit di suatu tempat tertentu.LAPORAN AKHIR SPIRS SP2PT SST STP Surveilans TBC TPA UGD UKS UPT Wabah WHO Yanmedik : Sistem Pelaporan Rumah Sakit : Sistem Pencatatan Pelaporan Terpadu Puskesmas : Sistem Surveilans Terpadu : : Rangkaian kegiatan secara teratur dan terus menerus. mengumpulkan. emnganalisis. yang melebihi keadaan biasanya : World Health Organization : Pelayanan Medik Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular xii .

8 tahun (1999) menjadi 66.1 Latar Belakang a. Masalah kesehatan dapat disebabkan oleh berbagai sebab. antar kawasan.4 persen (1999) menjadi 25. Di samping kemajuan yang telah dicapai di atas.000 kelahiran hidup (2002-2003). dan (7) mengurangi separuh proporsi penduduk yang tidak memiliki akses terhadap penyediaan air bersih. Prevalensi gizi kurang (underweight) pada anak balita. kemauan. Umur harapan hidup meningkat dari 65. Angka kematian bayi menurun dari 46 (1997) menjadi 35 per 1. indikator kesehatan dan gizi yang telah dicapai selama ini masih jauh dari sasaran yang telah ditargetkan dalam Millennium Development Goals (MDGs). baik ditinjau dari tingkat sosial ekonomi. serta pada penduduk dengan tingkat ekonomi dan pendidikan rendah. memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata. Selain itu.2 tahun (2003). di kawasan timur Indonesia. (6) meningkatkan akses terhadap obat esensial. Beberapa target MDG yang ingin dicapai pada akhir tahun 2015. AKB dan AKI lebih tinggi di daerah perdesaan. MDGs merupakan suatu kesepakatan global. (5) menekan penyebaran penyakit malaria dan TBC. (3) mengurangi tiga per empat angka kematian ibu.BAB 1 PENDAHULUAN 1. dan Philipina. telah menurun dari 34. kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. di masa datang pembangunan kesehatan menghadapi berbagai permasalahan dan tantangan yang cukup berat. sebagai “benchmarks” untuk mengukur perkembangan dalam pencapaian Deklarasi Millenium 2000. yang ditandai dengan penduduknya yang hidup dengan perilaku dan dalam lingkungan sehat.8 persen (2002). (4) menekan penyebaran penyakit HIV/AIDS. Disparitas status kesehatan masih cukup tinggi. Pembangunan kesehatan selama ini secara umum dapat dilihat dari status kesehatan dan gizi masyarakat yang telah menunjukkan perbaikan seperti terlihat dari angka kematian bayi. oleh karena itu secara operasional masalah-masalah kesehatan tidak dapat diselesaikan oleh Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular . status kesehatan masyarakat Indonesia masih tertinggal. dan antar perkotaan-perdesaan. yang berkaitan dengan pembangunan kesehatan di Indonesia antara lain adalah: (1) mengurangi separuh penduduk yang mengalami kelaparan. Malaysia.000 kelahiran hidup (2002–2003) dan angka kematian ibu melahirkan menurun dari 334 (1997) menjadi 307 per 100. kematian ibu melahirkan dan prevalensi gizi kurang. Kondisi Umum Pembangunan Kesehatan Pembangunan kesehatan di Indonesia ditujukan untuk meningkatkan kesadaran. Jika dibandingkan dengan negara-negara ASEAN seperti Thailand. (2) mengurangi dua per tiga angka kematian bayi dan angka kematian balita.

0 6 Tuberkulosis paru 1. Dengan demikian penularan penyakit antar negara (trans-nasional) ini dapat terjadi dengan mudah mengingat semakin mudahnya transportasi manusia. dan Surveilans Epidemiologi Kesehatan Matra. disamping mulai meningkatnya masalah penyakit tidak menular. 5-10 % pasien meninggal akibat kelumpuhan pada otot pernafasan.9 9 Cedera YDT lainnya. Satu dari 200 kasus infeksi virus akan menyebabkan kelumpuhan. Lampung dan Sumatera Selatan. malaria. misalnya antar propinsi. Penyakit menular tidak mengenal batas-batas daerah administratif. Penyakit Menular Penyakit menular masih merupakan masalah utama kesehatan masyarakat Indonesia.1 Sepuluh Penyakit Utama Pada Pasien Rawat Inap Tahun 2003 No Pasien Rawat inap % 1 Diare dan gastroenteritis infeksi tertentu 8. Untuk itu perlu dikembangkan subsistem surveilans epidemiologi kesehatan yang terdiri dari Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular. Surveilans Epidemiologi Masalah Kesehatan. Surveilans Epidemiologi Penyakit Tidak Menular.9 8 Diabetes Melietus 1. penyakit saluran pencernaan dan penyakit lainnya. Berbagai emerging diseases misalnya polio dan flu burung dapat terjadi antara lain karena tingginya mobilitas penduduk antar negara. Banten. YYT dan daerah badan multiple 1.7 3 Penyakit kehamilan dan persalinan lainnya 2. b. Beberapa penyakit menular yang menjadi masalah utama di Indonesia adalah diare.LAPORAN AKHIR sektor kesehatan sendiri. demam berdarah dengue. kabupaten/kota bahkan antar negara. hewan dan lain-lain antar Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 2 .6 Salah satu penyakit menular yang akhir-akhir ini menonjol adalah munculnya kasus polio di beberapa wilayah seperti Provinsi Jawa Barat. Penyakit ini hanya bisa dicegah dengan imunisasi. Tabel 1.9 4 Demam tifoid dan paratifoid 2. Jawa Tengah. Diperlukan tatalaksana terintegrasi dan komprehensif dengan kerjasama yang harmonis antar sektor dan antar program.9 7 Demam yang sebabnya tidak tahu 1. influenza.7 5 Cedera intrakanial 2.8 10 Pneumonia 1.0 2 Demam berdarah dengue 3. Tidak ada obat untuk penyakit polio. Polio merupakan penyakit menular yang sangat berbahaya disebabkan oleh virus yang menyerang sistem syaraf dan bisa menyebabkan kelumpuhan total. sehingga pemberantasan penyakit menular memerlukan kerjasama antar daerah. tifus abdominalis.

Walaupun demikian. diare. polio dan penyakit kulit. Daerah endemis tersebar di sebagian besar wilayah Indonesia. tetapi bahkan semakin mewabah. Penyakit DBD merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di wilayah tropis. Kebijakan penanggulangan penyakit menular khususnya dalam penanggulangan wabah telah diatur dalam bentuk peraturan perundangan. sosial ekonomi dan perilaku. Pola penyakit yang diderita oleh masyarakat sebagian besar adalah penyakit infeksi menular seperti tuberkulosis paru. chikunguya. kejadian luar biasa (KLB) DBD di Indonesia telah menyerang 39. dengan keterlibatan petugas kesehatan maupun pemberdayaan masyarakat. pada waktu yang bersamaan terjadi peningkatan penyakit tidak menular seperti penyakit jantung dan pembuluh darah. serta diabetes mellitus dan kanker. Vietnam (0.9 persen). (3) peran serta masyarakat.938 orang dengan angka kematian 1. (2) upaya penanggulangan. India (0. Meskipun dibandingkan dengan KLB 1968 angka kematiannya jauh telah menurun.000 penduduk pada tahun 2010. Penyakit yang ditularkan melalui nyamuk Aedes aegypti ini dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti lingkungan domestik maupun iklim. Malaysia (0. DBD bukannya terkendali. sebenarnya angka kematian masih terlalu tinggi jika dibandingkan dengan Singapura (0.3 persen. padahal tujuan program pemberantasan DBD dalam Indonesia Sehat 2010 adalah menurunkan angka kejadian di bawah 5 per 100.3 persen). Oleh karena itu perlu upaya ekstra agar penularan dapat dicegah dan ditangani sedini mungkin.3 persen). dan Filipina (1 persen). pada umumnya kajian menunjukkan bahwa pengendalian DBD perlu dilakukan secara komprehensif dari berbagai aspek baik medis maupun sosial. DBD masih sulit diberantas karena tidak tersedianya vaksin dan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 3 . HIV/AIDS. Berbagai penelitian mengenai faktor risiko terhadap kejadian DBD telah dilakukan oleh beberapa peneliti dengan memberikan hasil yang selaras maupun yang kontradiktif. infeksi saluran pernafasan akut (ISPA). Salah satu penyakit menular yang merupakan masalah kesehatan masyarakat dan menimbulkan dampak sosial maupun ekonomi adalah penyakit demam berdarah dengue (DBD). Meskipun sudah lebih dari 35 tahun berada di Indonesia. (5) ganti rugi dan penghargaan. Sejak Januari sampai 17 Maret 2004. serta (7) pelaporan. (4) pengelolaan bahan-bahan yang mengandung penyebab penyakit. (6) pembiayaan penanggulangan wabah. Peraturan tersebut pada intinya mengatur (1) tata cara penetapan dan pencabutan penetapan daerah wabah . 40 tahun 1991 tentang Penanggulangan Penyakit Menular.000 penduduk. Severe Acute Respiratory Syndrom (SARS) dan Flu Burung.LAPORAN AKHIR negara. dan berulang kali menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) disertai kematian yang banyak. Indonesia juga menghadapi emerging diseases seperti demam berdarah dengue (DBD). yaitu UU No 4 Tahun 1984 tentang Penyakit Menular serta Peraturan Pemerintah No. demografi. Dengan demikian telah terjadi transisi epidemiologi sehingga Indonesia menghadapi beban ganda pada waktu yang bersamaan (double burden). Thailand (0. malaria. Namun demikian.2 persen). Dalam KLB 2004 tercatat angka kejadian (incidence rate) 15 per 100.1 persen).

juga masih belum optimalnya pengendalian penyakit yang dilakukan oleh Pemerintah. Pemerintah sejak tahun 1993 telah berusaha membina peran serta masyarakat melalui berbagai kelompok kerja pemberantasan DBD di desa atau kelurahan. entomologi.25 2003 4. Kendala yang dihadapi antara lain berkaitan dengan (1) kebijakan sistem surveilans yang belum dipahami sampai ke petugas teknis di lapangan. rasio penderita DBD per 100. Data ini selain menunjukkan kecenderungan makin tingginya penderita DBD dari tahun ke tahun. Gerakan pemberantasan sarang nyamuk dengan instrumen 3M (menguras. Semuanya menyadari bahwa strategi hanya dapat diperoleh dengan melaksanakan analisis situasi berdasarkan aspek epidemiologi. Tabel 1. dan sikap masyarakat.31 Sumber: Ditjen PP & PL Depkes. Berdasarkan hasil penelitian WHO Tahun 2003 dilaporkan bahwa pelaksanaan kegiatan surveilans masih menghadapi kendala.5 24. Ketiadaan vaksin merupakan penghambat utama eradikasi DBD. 2006 Kebijakan penanggulangan penyakit menular telah diatur dalam peraturan perundangan. Meskipun demikian.LAPORAN AKHIR kurangnya peran serta masyarakat. serta (3) adanya desentralisasi kewenangan pengelolaan.34 TAHUN 2004 4 37. pengetahuan. Namun demikian implementasi di lapangan masih menghadapi berbagai permasalahan.000 penduduk selama periode tahun 2001-2005 selalu menunjukkan diatas rasio yang ditargetkan.1 2005 10 43.7 21.2 Target dan Capaian Pemberantasan Penyakit DBD TARGET DAN CAPAIAN PEMBERANTASAN DBD 60 RASIO 40 20 0 Target Realisasi 2001 5. (2) terbatasnya tenaga pelaksana Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 4 . saat ini perkembangan vaksin masih memerlukan penelitian lebih lanjut agar dapat digunakan ke manusia. Beberapa permasalahan yang teridentifikasi antara lain berkaitan dengan (1) pelaksanaan surveilans.66 2002 5 19. Gerakan 3M selama 30 menit setiap minggu juga dicanangkan. dan mengubur) sudah sering disosialisasikan namun hasilnya belum menggembirakan. Berdasarkan data Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan. (2) upaya penanggulangan. menutup.

sarana. dan (5) belum optimalnya penggunaan sarana kesehatan dalam mendukung pelaksanaan surveilans penyakit seperti pemanfaatan laboratorium dan peralatan. Berkaitan dengan desentralisasi kewenangan pengelolaan kebijakan pembangunan (otonomi daerah). 32 dan 33 Tahun 2005 telah memberikan pembagian kewenangan dalam pengelolaan pemerintahan di daerah. 1. Identifikasi peran dan tanggungjawab Pemerintah Daerah dalam penanggulangan penyakit menular Sasaran Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 5 . mencakup aspek tenaga. dana. dana serta sistem pelaporan. Reformasi pemerintahan tersebut memberi dampak perubahan cukup signifikan terhadap peran pemerintah dan swasta dalam program dan pelayanan kesehatan. Adanya otonomi daerah ini juga berpengaruh terhadap peran dan tanggung jawab Kabupaten/Kota/Propinsi untuk mengembangkan diri sesuai masalah kesehatan masyarakat. Tujuan khusus : 1. (3) adanya ketidaksesuaian kompetensi. 22 dan 25 tahun 1999 yang kemudian direvisi dengan UU No. (4) terbatasnya dana pelaksanaan surveilans di tingkat operasional. beberapa pertanyaan penelitian yang melandasi kajian ini antara lain adalah : 1. fasilitas pendukung.3 Tujuan dan Sasaran Tujuan Tujuan utama kajian adalah menyusun rumusan kebijakan penanggulangan penyakit menular secara terpadu berdasarkan analisis faktor-faktor yang berpengaruh dalam pelaksanaan kebijakan penanggulangan penyakit menular di pusat dan daerah.2 Perumusan Masalah Berdasarkan permasalahan di atas. SOP dan data ? 3. Identifikasi kinerja penanggulangan penyakit menular serta faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja penanggulangan penyakit menular 3. Identifikasi kinerja surveilans serta faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja surveilans penyakit menular 2. Bagaimana peran dan tanggungjawab (kewenangan) pemerintah daerah dalam penanggulangan penyakit menular ? 1. dukungan logistik. Faktor-faktor apa saja yang mwempengaruhi kinerja surveilans dan penaggulangan penyakit menular ? 2. Langkah-langkah apa yang diperlukan untuk penanggulangan penyakit menular. Permasalahan yang dihadapi dalam penanggulangan wabah terutama berkaitan dengan aspek manajemen menyangkut kesiapan tenaga lapangan.LAPORAN AKHIR surveilans. kemampuan SDM dan sumber dana daerah. adanya regulasi pemerintahan dalam bentuk UU No.

disain kajian. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 6 . sarana.6 Sistematika Penulisan Penulisan laporan dibuat dengan sistematika sebagai berikut: Bab I membahas tentang latar belakang. Identifikasi peran dan tanggung jawab daerah dalam penanganan penyakit menular khususnya pada kasus DBD. 1.4 Keluaran Keluaran kajian adalah rumusan kebijakan penanggulangan penyakit menular yang mencakup aspek surveilans. jenis. Bab II membahas tentang landasan teori mencakup pengertian dan hasil kajian yang sudah dilakukan. dana. sarana dan SOP 5. sumber. penanganan wabah. keluaran serta ruang lingkup kajian. Identifikasi faktor berpengaruh terhadap kinerja penanggulangan KLB DBD mencakup tenaga. dan pengumpulan data serta metode analisis.LAPORAN AKHIR Tersusunnya rumusan kebijakan upaya penanggulangan penyakit menular secara terpadu melalui optimalisasi sumberdaya yang tersedia sekaligus sebagai acuan bagi pelaksanaan program penanggulangan penyakit menular di pusat dan daerah. 1. Bab III membahas tentang metodologi yang digunakan berkaitan dengan kerangka pemikiran. jumlah kematian dan luas daerah terserang 4. Identifikasi faktor berpengaruh terhadap kinerja surveilans mencakup kondisi tenaga. 3.5 Ruang Lingkup Kajian ini difokuskan pada evaluasi kebijakan penanggulangan penyakit menular yang telah dilakukan selama ini. dan (2) pelaksanaan diseminasi informasi 2. tujuan dan sasaran kajian. data. adalah : 1. jumlah kasus. Lingkup kegiatan yang akan dilakukan dalam kajian ini antara lain. Identifikasi kinerja penanggulangan KLB DBD yang mencakup frekuensi KLB. data. dana. serta tanggung jawab dan kewenangan antara pusat dan daerah. Identifikasi kinerja surveilans yang mencakup (1) ketersediaan peta rawan KLB DBD. dan SOP. 1.

Indikator kinerja surveilans dan penanggulangan KLB.LAPORAN AKHIR Bab IV Hasil dan Pembahasan. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 7 . Faktor-faktor Berpengaruh terhadap Kinerja Surveilans dan Penanggulangan KLB. data. Bab V Kesimpulan dan Rekomendasi Kebijakan. dana. mencakup tenaga. Kinerja Surveilans dan Penanggulangan DBD. mencakup Gambaran Umum Penanggulangan DBD. sarana dan SOP.

influenza. Beberapa penyakit menular yang menjadi masalah utama di Indonesia adalah diare. demam berdarah dengue. Intervensi faktor resiko. partner nonkesehatan. orgfanisasi nonpemerintah. Penyakit menular tidak mengenal batas-batas daerah administratif. Epidemiologi lokal yang intinya dinamika tranmisi penyakit tertentu pada wilayah tertentu. yakni apa yang dikenal sebagai Sistem Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan. kini diberbagai kota pelabuhan. Pengertian Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 8 . Sekaligus merupakan kawasan yang berpotensi tinggi untuk hadirnya penyakit infeksi baru. disamping mulai meningkatnya masalah penyakit tidak menular. Manajemen pemberantasan dan pengendalian penyakit menular juga memiliki dua perspektif: a. b. Penyakit lain merupakan penyakit infeksi endemik dan sudah lama di Indonesia dan endemik di berbagai kabupaten (daerah pegunungan maupun pantai) yaitu TBC dan Malaria. Masing-masing penyakit memiliki peta endemisitas tersendiri. 2. bergabung menjadi satu sistem. Kabupaten/kota bahkan antar negara. Semua institusi pelayanan seperti kuratif penyakit menular maupun pelayanan kesehatan masyarakat.LAPORAN AKHIR BAB 2 LANDASAN TEORI 2. merupakan kawasan endemik berbagai penyakit menular. penyakit saluran pencernaan dan penyakit lainnya. misalnya lingkungan dan intervensi terhadap perilaku. virus hantaan (1977) dijumpai pada tikus diberbagai pelabuhan. Beberapa penyakit infeksi baru (ketika itu) dan kini endemik adalah demam berdarah dengue (pertama kali tahun 1968 di Surabaya).1 Penyakit Menular di Indonesia Penyakit menular masih merupakan masalah utama kesehatan masyarakat Indonesia. Indonesia sebagai wilayah tropik dan wilayah dinamik secara sosial ekonomi. Strategi pengendalian penyakit menular secara umum pada dasarnya sama. sehingga pemberantasan penyakit menular memerlukan kerjasama antar daerah. Epidemiologi global yakni perjalan penyakit antar benua. malaria. tifus abdominalis. HIV/AIDS (pertama kali di Denpasar 1987) kini merambah ke Indonesia. misalnya antar propinsi. pemerintah.2 Surveilans Epidemiologi Selama ini pengertian konsep surveilans epidemiologi sering dipahami hanya sebagai kegiatan pengumpulan data dan penanggulangan KLB. kemudian melakukan pengobatan hingga sembuh. Tiap tahun diselenggarakan pertemuan nasional semacam konvensi untuk melakukan monitoring kemajuan program serta perkuatan dari networking. swasta. yakni menghilangkan sumber penyakit dengan cara menemukan dan mencari kasus secara proaktif.

Jejaring surveilans dalam distribusi informasi kepada program terkait pusatpusat penelitian. Menurut WHO. unit surveilans di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Dinas Kesehatan Kab/Kota. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 9 . pusat kajian dan penyelenggara program kesehatan. kajian.LAPORAN AKHIR seperti itu menyembunyikan makna analisis dan penyebaran informasi epidemiologi sebagai bagian yang sangat penting dari proses kegiatan surveilans epidemiologi. surveilans adalah proses pengumpulan. pengolahan. pelaksanaan. Alur distribusi data dan umpan balik dalam dilihat dalam skema di bawah. Dalam sistem ini yang dimaksud dengan surveilans epidemiologi adalah kegiatan analisis secara sistematis dan terus menerus terhadap penyakit atau masalah-masalah kesehatan dan kondisi yang mempengaruhi terjadinya peningkatan dan penularan penyakit atau masalah-masalah kesehatan tersebut agar dapat melakukan tindakan penanggulangan secara efektif dan efesien melalui proses pengumpulan data. sehingga membutuhkan dukungan perencanaan. Jejaring surveilans dalam pertukaran data. tanpa melupakan pentingnya kegiatan pengumpulan dan pengolahan data. Rumah Sakit. b. termasuk Puskesmas dan Rumah Sakit Sentinel. Sistem surveilans epidemiologi merupakan tatanan prosedur penyelenggaraan surveilans epidemiologi yang terintehrasi antara unit-unit penyelenggara surveilans dengan laboratorium. unit surveilans program pada masingmasing Puskesmas. pengendalian dan evaluasi serta dukungan sumberdaya yang memadai sebagai suatu program surveilans terpadu. sumber-sumber data. meliputi tata hubungan surveilans epidemiologi antar wilayah Kabupaten/Kota. pusat penelitian. unit surveilans di Dinas Kesehatan Propinsi dan unit surveilans di Ditjen PPM & PL Depkes. Laboratorium. analisis dan interpretasi data secara sistematik dan terus menerus serta penyebaran informasi kepada unit yang membutuhkan untuk mengambil tindakan. unit surveilans Dinas Kesehatan Propinsi dan Unit Surveilans Ditjen PPM & PL Depkes. Jejaring Surveilans Jejaring surveilans digunakan dalam Surveilans terpadu penyakit adalah a. upaya peningkatan kemampuan sumberdaya antara unit surveilans Dinas Kesehatan Kab/Kota. Propinsi dan Pusat. pengolahan dan penyebaran informasi epidemiologi kepada penyelenggara program kesehatan. pusat-pusat kajian. Dinas Kesehatan Propinsi dan Ditjen PPM & PL Depkes termasuk Puskesmas Sentinel dan Rumah Sakit Sentinel c. Jejaring surveilans dalam pengiriman data dan informasi serta peningkatan kemampuan manajemen surveilans epidemiologi antara Puskesmas. Surveilans Terpadu Penyakit merupakan proses kegiatan yang dilakukan secara terus menerus dan sistematis. Oleh karena itu perlu dikembangkan suatu definisi surveilans epidemiologi yang lebih mengedepankan analisis atau kajian epidemiologi serta pemanfaatan informasi epidemiologi. Rumah Sakit.

1 Alur Distribusi Data Surveilans Terpadu Penyakit 2. Untuk melakukan upaya pemberantasan penyakit menular.LAPORAN AKHIR Unit Surveilans Ditjen PPM & PL Depkes Unit Surveilans Dinas Kesehatan Propinsi Unit Surveilans Dinas Kesehatan Kab/Kota Unit Surveilans Puskesmas Unit Surveilans Rumah Sakit Unit Surveilans Laboratorium Gambar 2. akurat merupakan evidance atau bukti untuk digunakan dalam proses pengambilan kebijakan yang tepat dalam pembangunan kesehatan. cepat. serta penanggulangan penyakit tidak menular diperlukan suatu sistem surveilans penyakit yang mampu memberikan dukungan upaya program dalam daerah kerja Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 10 .3 Kebijakan Sistem Surveilans Surveilans Epidemiologi merupakan kegiatan yang sangat penting dalam manajemen kesehatan untuk memberikan dukungan data dan informasi epidemiologi agar pengelolaan program kesehatan dapat berdaya guna secara optimal. Informasi epidemiologi yang berkualitas. penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit dan keracunan.

dimana kelemahan salah satu indikator tersebut menunjukkan kinerja sistem surveilans yang belum memadai. 2. Surat Keputusan Menteri Kesehatan No. 3. 2. dukungan kerjasama antar program dan sektor serta kerjasama antara Kabupaten/Kota. dan Keputusan Menteri Kesehatan No. proses dan keluaran. dan sistem Pelaporan Rumah Sakit (SPIRS). 40 tahun 1991 tentang Penanggulangan Penyakit Menular. Propinsi dan Nasional. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pemerintah Pusat dan Daerah.4 Indikator Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan Kinerja penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan diukur dengan indikator masukan. 1116/Menkes/SK/VIII/2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan serta kebutuhan informasi epidemiologi untuk mendukung upaya pemberantasan penyakit menular dan penyakit tidak menular. yang telah mengalami beberapa kali perubahan dan perbaikan. Peraturan Pemerintah No. Peraturan Menteri Kesehatan No. 6. Surat Keputusan Menteri Kesehatan No. Sistem surveilans tersebut perlu dikembangkan dan disesuaikan dengan ketetapan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah.LAPORAN AKHIR Kabupaten/Kota. Ketiga indikator tersebut merupakan satu kesatuan. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom. 1479 tahun 2003 tentang Surveilans Terpadu Penyakit. 5. Surat Keputusan Menteri Kesehatan No. Disamping keberadaan SST telah juga dikembangkan beberapa Sistem Surveilans khusus penyakit. 949 tahun 2004. Indikator-indikator tersebuat adalah sebagai berikut: Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 11 . Peraturan Menteri Kesehatan tentang Sistem Kewaspadan Dini KLB No. 4. 242 tahun 2003 tentang Penetapan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) sebagai penyakit yang dapat menimbulkan wabah dan pedoman penanggulangannya. 4 tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular. Beberapa produk hukum lain terkait dengan pelaksanaan surveilans epidemiologi adalah 1. 1116 tahun 2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Surveilans Epidemilogi Kesehatan. 7. Nasional dan internasional. tatacara penyampaian laporannya dan tacara penanggulangan seperlunya. Undang-Undang No. Pada tahun 1987 telah dikembangkan Sistem Surveilans Terpadu (SST) berbasis data. Undang-Undang No. Sistem Pencatatan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP). Propinsi. 560 tahun 1989 tentang Jenis Penyakit yang dapat menimbulkan wabah.

1 tenaga dokter umum a. 4 tenaga epidemiologi ahli (S1) c. 1 paket pedoman pelaksanaan surveilans epidemiologi dan program aplikasi komputer e. Puskesmas 1. 16 tenaga epidemiologi ahli (S1) d. faksimili. Pusat Indikator Unit utama Departemen Kesehatan memiliki a. 8 tenaga epidemiologi ahli (S2) c. 1 paket pedoman pelaksanaan surveilans epidemiologi dan program aplikasi komputer e. 1 paket jaringan elektromedia b. 4 paket peralatan pelaksanaan surveilans epidemiologi f. 1 tenaga epidemiologi terampil 1 tenaga epidemiologi terampil a. 2 tenaga epidemiologi terampil d. 1 paket kepustakaan d. 1 tenaga epidemiologi ahli (S2) b. 4 tenaga epidemiologi terampil d. 2 tenaga epidemiologi ahli (S1) c. 1 tenaga epidemiologi ahli b. 1 paket alat komunikasi (telepon. SSB dan telekomunikasi lainnya) c. 2 tenaga epidemiologi ahli (S2) b. Kabupaten/Kota Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 12 . 1 tenaga dokter umum a. 1 roda empat. Kabupaten/Kota 4. 1 tenaga epidemiologi ahli (S3) b. SSB dan telekomunikasi lainnya) c. 1 roda dua a. 1 paket formulir 2. 1 paket kepustakaan d. 2 tenaga epidemiologi ahli (S1) atau terampil c. Pusat. Propinsi 3. Propinsi 2. 1 paket alat komunikasi (telepon. Rumah Sakit Sarana 5. 1 paket jaringan elektromedia b. faksimili.1 Indikator Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan Masukan Tenaga Tingkat 1. 32 tenaga epidemiologi terampil UPT Departemen Kesehatan memiliki a. 1 tenaga epidemiologi ahli (S2) b.LAPORAN AKHIR Tabel 2. 1 tenaga dokter umum a.

faksimili. 1 paket formulir f. Penerbitan buletin kajian epidemiologi sebesar 12 kali atau lebih setahun d. 1 paket alat komunikasi (telepon. Kelengkapan laporan unit pelapor dan sumber data awal sebesar 80% atau lebih b. Pusat a. 1 paket peralatan pelaksanaan surveilans epidemiologi g. 1 roda dua 1. 2003 Selanjutnya Indikator Surveilans Kesehatan dijabarkan dalam Indikator Kinerja Penyelenggaraan terpadu Penyakit sebagai berikut: a. Puskesmas dan a. 1 paket pedoman pelaksanaan surveilans epidemiologi dan program aplikasi komputer e. 1 paket kepustakaan d. Umpan balik sebesar 80% atau lebih 1. Kelengkapan laporan unit pelapor sebesar 80% atau lebih b. Propinsi a. Kelengkapan laporan bulanan STP unit pelayanan ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota sebesar 90% Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 13 . 2 paket peralatan pelaksanaan surveilans epidemiologi g. Umpan balik sebesar 80% atau lebih 2. 1 paket komputer Rumah Sakit b. 1 roda empat. Umpan balik sebesar 80% atau lebih 3. Ketepatan laporan unit pelapor dan sumber data awal sebesar 80% atau lebih c. Kelengkapan laporan unit pelapor dan sumber data awal sebesar 80% atau lebih b. 1 roda dua 3. Kabupaten/Kota a. Penerbitan buletin kajian epidemiologi sebesar 12 kali atau lebih setahun d. SSB) c. Pusat Profil Surveilans Epidemiologi Nasional sebesar 1 kali setahun Profil Surveilans Epidemiologi Propinsi sebesar 1 kali setahun Profil Surveilans Epidemiologi Kabupaten/ Kota sebesar 1 kali setahun Sumber: Inspektorat Jenderal Depkes RI. Ketepatan laporan unit pelapor dan sumber data awal sebesar 80% atau lebih c. Ketepatan laporan unit pelapor sebesar 80% atau lebih c. Penerbitan buletin kajian epidemiologi sebesar 4 kali atau lebih setahun d.LAPORAN AKHIR Proses Kegiatan Surveilans Keluaran f.

Penerbitan buletin Epidemologi di propinsi dan nasional adalah sebesar 12 kali setahun l. Kelengkapan laporan bulanan STP Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota ke Dinas Kesehatan Propinsi sebesar 100% e. Oleh karena itu dalam pelaksanaan penanggulangannya memerlukan keterkaitan dan kerjasama dari berbagai lintas sektor Pemerintah dan masyarakat. Keterkaitan sektor-sektor dalam upaya penanggulangan wabah tersebut sesuai dengan tugas. Ketepatan laporan bulanan STP Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota ke Dinas Kesehatan Propinsi sebesar 90% f.5 Penanggulangan Penyakit Menular Penanggulangan penyakit menular merupakan bagian dari pelaksanaan pembangunan kesehatan.LAPORAN AKHIR b. Departemen Keuangan dan Departemen Dalam Negeri. Penerbitan profil tahunan atau buku data surveilans epidemiologi Kabupaten/Kota. Depatemen Sosial. Penerbitan buletin Epidemiologi di Kabupaten/Kota adalah 4 kali setahun k. Ketepatan laporan bulanan STP Unit Pelayanan ke Dinas Kesehatan Kabupaten Kota sebesar 80% c. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota mencapai indikator Epidemiologi STP sebesar 80% d. Penanggulangan secara dini dimaksudkan untuk mencegah timbulnya kejadian luar biasa dari suatu penyakit wabah yang dapat menjurus terjadinya wabah yang dapat mengakibatkan malapetaka. 2. Ketepatan laporan bulanan STP Dinas Kesehatan Propinsi ke Ditjen PPM & PL Depkes sebesar 90% h. propinsi dan nasional sebesar 100% j. Umpan balik laporan bulanan Kabupaten/Kota. Penanggulangan wabah penyakit menular bukan hanya semata menjadi wewenang dan tanggung jawab Departemen Kesehatan. maupun kontak hubungan langsung atau karena jenis dan sifat dari kuman penyebab penyakit wabah itu sendiri. tetapi menjadi tanggung jawab bersama. harus dilakukan secara terpadu dengan upaya kesehatan lain. yaitu upaya pencegahan. penyembuhan dan pemulihan kesehatan. Dalam upaya penanggulangan penyakit menular. Distribusi data dan informasi bulanan Kabupaten/Kota. Selain itu dalam upaya Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 14 . Wabah penyebaran penyakit dapat berlangsung secara cepat. Berbagai lintas sektor Pemerintah misalnya Departemen Pertahanan Keamanan. Kelengkapan laporan bulanan STP Dinas Kesehatan Propinsi ke Ditjen PPM & PL Depkes sebesar 100% g. propinsi dan nasional sebesar 100% i. Departemen Komunikasi dan Informasi. Kondisi lain yang dapat menimbulkan penyakit menular adalah akibat kondisi masyarakat dari suatu wilayah tertentu yang kurang mendukung antara lain kesehatan lingkungan yang kurang baik atau gizi masyarakat yang belum baik. Oleh karena itu penanggulangan wabah harus dilakukan secara dini. Propinsi dan Nasional adalah satu kali setahun. baik melalui perpindahan. wewenang dan tanggung jawabnya dalam upaya penanggulangan wabah.

Pada tahun 2000. ekonomi dan sosial. Penanggulangan wabah/KLB penyakit menular diatur dalam UU No.2 Skema Program Penanggulangan KLB Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 15 . 4 tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular. perlu diidentifikasi adanya ancaman KLB beserta kondisi rentan yang memperbesar resiko terjadinya KLB agar dapat dilakukan peningkatan kewaspadaan dan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan KLB. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan UU No. yamg kemudian diikuti dengan terbitnya PP No. 560 tentang Jenis Penyakit Tertentu Yang dapat Menimbulkan Wabah. Indonesia menerapkan secara penuh UU No. PP No. sehingga membutuhkan perhatian dan penanganan oleh semua pihak terkait. 40 tahun 1991 tentang Penanggulangan Penyakit Menular. Undang-undang tersebut kemudian direvisi menjadi UU No. KLB penyakit dapat mengakibatkan terjadinya peningkatan kesakitan dan kematian yang besar. Kejadian-kejadian KLB perlu dideteksi secara dini dan diikuti tindakan yang cepat dan tepat. 25 tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Peraturan Menteri Kesehatan No. yang keseluruhannya harus dilaksanakan secara terpadu. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. yang juga berdampak pada pariwisata. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan No.LAPORAN AKHIR penanggulangan wabah tersebut. 25 tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom yang berpengaruh terhadap penyelenggaraan penanggulangan KLB. masyarakat juga dapat diikutsertakan dalam penanggulangannya. Data & Informasi Penduduk dan Lingkungan Perbaikan kondisi rentan KLB Prioritas Penanggulangan KLB SKD-KLB KLB tidak Menjadi Masalah Kesehatan Masyarakat Penanggula ngan KLB Data KLB dan Data Epidemiologi Lain Kesiapsiagaan Menghadapi KLB Gambar 2.

Penyebaran global memiliki potensi terjadinya pandemik. Atau perjalanan kelelawar yang dapat menyebarluaskan virus Nipah. kemudian melalui apa penyakit tersebut datang. hingga Amerika Latin. Sedangkan wilayah timur dari arah utara menyusur pantai timur China. maka memiliki masalah yang sama seperti malaria. Dalam hal ini Dinas Kesehatan. Selain itu. Binatang umumnya memiliki habitat tertentu dan terkait dan batasan ekosistem. Dengan demikian. Seorang Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/kota yang berbatasan dengan negara lain. kabupaten/kota terikat pada komitmen dunia. ketimbang batasan administratif. maupun masyarakat hendaknya memiliki kapasitas terhadap permasalahan epidemiologi global. Sebab. Misalnya. Filipina. penyakit menular dipengaruhi mobilitas penduduk sebagai sumber penyakit. Dalam perspektif global. Jawa. migrasi burung utara selatan dan sebaliknya.LAPORAN AKHIR 2. Nusa Tenggara Timur.6. Demikian juga dengan daerah wisata internasional. Termasuk petugas yang mengawasi jalur-jalur penerbangan internasional. epidemiologi global harus pempelajari kejadian dan persebaran dalam perspektif dunia. memiliki jalur barat yakni kawasan semenanjung Malaysia. KLB polio pada awal tahun 2005. wilayah tropik secara umum memiliki karakteristik ekosistem sama. Sulawesi Utara. Afrika Tengah. Sebagai contoh Avian influenza. setiap sudut Kabupaten dan Kota di Indonesia harus dianggap sebagai bagian dari komunitas dunia. Sumatera. Maksudnya. lebih dipengaruhi oleh batasan ekosistem. serta sebaliknya. LSM. terutama penyakit menular melalui transmisi serangga atau binatang yang memiliki reservoir. hendaknya meningkatkan kemampuannya untuk mengahadapi globalisasi penyakit menular. harus memahami hal ini. dan mekanisme jaringan antar negara yang bersifat lintas batas. kabupaten dan kota di Indonesia merupakan wilayah yang terkena resiko yang sama dalam perspektif global. Wilayah-wilayah yang merupakan jalur transmisi sebaiknya memiliki kapasitas dan aktif mengakses informasi. Seorang Kepala Dinas Kesehatan harus memahami benar apakah daerahnya termasuk lalulintas internasional atau bukan. Epidemiologi Global Penyakit Penyakit menular bersifat global. Peta endemisitas malaria terbentang dari Asia Tenggara. Dengan kata lain. Dengan kata lain. dua kabupaten berbatasan yang memiliki ekosistem penyakit yang sama wajib bekerjasama. kemudian langsung ke selatan menuju Australia. Hal ini memerlukan kerjasama global. Penyakit menular yang sifatnya relatif “tertutup”. Lintas Batas Penyakit menular bersifat lintas batas. migrasi berbagai binatang seperti migrasi burung antar benua bisa merupakan sumber pembawa penyakit. Oleh karena itu. Sedangkan wilayah yang sifatnya “terbuka” dengan teknologi transportasi jarak jauh. Penyakit menular juga dapat berpindah atau bergerak dari satu wilayah ke wilayah lainnya melalui mobilitas penduduk sebagai sumber penularan maupun komoditas sebagai wahana transmisi. penyakit menular tidak mengenal batas wilayah administratif pemerintah. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 16 . Misalnya. Seperti asal datangnya penyakit.

Didukung fakta hasil surveilans terpadu. Serta mengendalikan faktor risiko penyakit. mitra mana yang dianggap berkepentingan. membutuhkan model manajemen penyakit menular berbasis wilayah kabupaten/kota. Namun. Kemudian ditentukan siapa saja yang harus diikutsertakan. penularan Malaria di Kabupaten Banjarnegara berkenaan dengan nyamuk yang memiliki habitat kebun salak dan/atau kolam yang merupakan jamban keluarga.LAPORAN AKHIR dalam satu wilayah otonomi kabupaten. Dengan demikian. penggunaan mikroskop. Yakni. sehingga dapat meyakinkan pihak-pihak otoritas pendanaan seperti DPRD. di daerah Pacitan berkaitan dengan cekungan-cekungan padas di sungai-sungai. memerlukan model manajemen pemberantasan penyakit dan penyehatan lingkungan secara terintegrasi yang berbasis wilayah kabupaten/kota dalam perspektif komprehensif. Sebagai contoh. desentralisasi berati mengharuskan manajemen penyakit menular melakukan pendekatan wilayah administratif. sekaligus sebagai mata air. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 17 . intervensi holistik. Kemudian. Analisis masing-masing faktor risiko dilakukan sekaligus dan terpadu melalui perencanaan. Untuk itu. jadwal. seperti yang telah diuraikan sebelumnya hal-hal yang bersifat lintas batas berpotensi terabaikan. Di satu sisi. antar negara. dalam perspektif ekosistem maupun dinamika/mobilitas faktor risiko penyakit antar kabupaten. sedangkan di wilayah Riau risiko tertular malaria datang ketika sedang menyadap karet di pagi buta. antara penyakit. pendekatan wilayah kabupaten/kota membantu perencanaan dan pelaksanaan serta pelaksanaan program lebih fokus. penderita penyakit menular itu sendiri. maka perlu identifikasi mitra kerja untuk menangani faktor risiko tersebut. dan berbagai upaya lain secara bersama dengan lintas sektor. antar propinsi. Serta didukung jaringan dan kerjasama erat baik antar wilayah dan adimistrasi pemerintah maupun diantara para pelaku pemberantasan penyakit menular dan penyehatan lingkungan itu sendiri dalam satu wilayah. Keterpaduan Untuk memvisualisasikan proses transmisi penyakit serta simpul manajemen. seorang “kepala” pengendalian penyakit harus mampu menemukan dan mengobati sumber penularan penyakit secara aktif. tenaga. Desentralisasi juga memudahkan identifikasi faktor resiko yang bersifat lokal. secara teoritis Bupati atau Kepala Dinas Kesehatan secara efektif melakukan upaya pemberantasan penyakit menular yang bersifat spesifik lokal. Dengan memahami faktor-faktor yang berperan timbulnya penyakit menular khas daerahnya. Kemudian keterpaduan dikaitkan dengan promosi kesehatan seperti penggunaan alat pelindung ketika bekerja. antara stakeholder. Di lain pihak. Semua itu dituangkan dalam bentuk perencanaan yang didukung fakta (evidences) lokal. kendaraan. Keterpaduan pun termasuk penggunaan sumber daya. Bahkan keterpaduan surveilans yakni surveilans kasus sekaligus bersama-sama dengan faktor risiko terkait. untuk kepentingan perencanaan dan kegiatan berdasarkan keperluan (fakta). Sehingga intervensi faktor resiko yang bersifat lokal lebih bisa mudah dikendalikan.

Untuk itu. demam berdarah dengue baru dikenal pada tahun 1968 dalam KLB di Jakarta dan Surabaya dengan angka kematian sangat tinggi sekitar 41. karena dikhawatirkan akan meluas. Cakupan imunisasi amat penting karena dapat mencegah penyakit dalam satu wilayah. (2) Memberikan Perlindungan Spesifik dan Imunisasi Manajemen pengendalian penyakit menular dapat dilakukan dengan cara memberikan kekebalan secara artifisial yaitu imunisasi. Kejadian luar biasa pertama di Indonesia dilaporkan oleh David Beylon di Batavia (Jakarta) pada tahun 1779.3 persen. tentu saja tidak semua penyakit menular dapat dicegah dengan imunisasi. seperti pemberdayaan tenaga semi-profesional terlatih misalnya juru Malaria Desa. Untuk penyakit tertentu yang membutuhkan konfirmasi laboratorium lebih tinggi.8 Kejadian Luar Biasa (KLB) Kejadian Luar Biasa (KLB) yaitu munculnya penyakit di luar kebiasaan (base line condition) yang terjadi dalam waktu relatif singkat serta memerlukan upaya penanggulangan secepat mungkin. keluarga terdekat atau tokoh masyarakat setempat dapat meminta bantuan Pengawas Menelan Obat (PMO). dan sebagainya.7 Strategi Pengendalian Penyakit Strategi pemberantasan penyakit menular berbasis wilayah memiliki pengertian bahwa setiap wilayah administrasi pembangunan (kabupaten/kota) pemberantasan penyakit menggunakan “paket” pendekatan strategi sebagai berikut : (1) Intensifikasi Pencarian dan Pengobatan Kasus Melakukan pencarian dan pengobatan secara intensif terhadap penderita. Namun.LAPORAN AKHIR 2. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 18 . Untuk beberapa penyakit menular yang memerlukan pengobatan jangka panjang seperti halnya TBC. Oleh sebab itu. Juru Kusta. selain mengobati dan menyembuhkan penderita yang juga merupakan upaya pokok untuk menghilangkan sumber penularan dengan cara pemutusan mata rantai penularan. baik dari segi jumlah kasus maupun wilayah yang terkena persebaran penyakit tersebut. Dalam satu wilayah kabupaten dapat dilakukan secara intensif dengan memperluas jangkauan pelayanan. harus ada jaminan ketersediaan obat dan jaminan disiplin menelan obat. Namun. memerlukan bantuan pemeriksaan yang dilakukan Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Penyelidikan Penyakit (Labkes) terdekat yang secara regional harus tersedia. 2. Di masa mendatang sebaiknya diciptakan petugas lapangan penyakit menular setara dengan bidan di desa untuk menekan angka kematian ibu. perlu dilakukan upaya alternatif berupa pemberantasan penyakit yang berbasis lingkungan.

Sedangkan penanggugjawab teknis adalah Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. atau suhu yang meningkat sehingga menimbulkan populasi nyamuk atau ledakan gas. Tahun 1984. penanganan saat kejadian KLB dan pascaKLB. Bab 1. KLB merupakan kejadian proses awal. ekonomi dan budaya) yang disampaikan Kepala Daerah. Misalnya. pemantauan kondisi kualitas lingkungan tertentu yang menurun. Penanggungjawab operasional pelaksanaan penanggulangan KLB adalah Bupati/Walikota. Apabila kita mencermati proses kejadiannya. dan akhirnya berupa pencegahan. Kepala wilayah ketika mengetahui adanya tersangka di wilayah atau adanya tersangka penderita penyakit menular yang dapat menimbulkan wabah. Ayat 1). Sedangkan yang menetapkan penyakit menular dan kemudian mencabut ketetapan tersebut adalah Menteri Kesehatan (UU Nomor 4. Penyakit menular adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat dengan jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi keadaan yang lazim pada waktu daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka (UU Nomor 4. Penetapan KLB. Manajemen pra-KLB termasuk sistem kewaspadaan dini. tidak hanya mencegah terjadinya KLB. Pasal 12. namun terminologi ini digunakan untuk tujuan atau rumusan upaya antisipatif. dan merupakan keadaan yang dapat menjurus pada terjadinya wabah. Bila KLB terjadi lebih dari satu wilayah kabupaten/kota maka penanggulangannya dikoordinasikan oleh Gubernur. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 19 . amat penting. Pasal 4. dapat juga ditetapkan pada faktor risiko penyakit seperti bila terjadi ledakan gas beracun. tahun 1991. KLB adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan/kematian yang bermakna secara epidemologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu. prediktif. ledakan industri. namun draft Permenkes menyebutkan Pemerintah Daerah atas usulan Kepala Dinas Kesehatan setempat menetapkan dan mencabut KLB. informasi pra-KLB menjadi penting. Sedangkan untuk penetapan dan pencabutan KLB hingga saat ini belum diatur. Tahun 1984. sosial. Penetapan daerah wabah merupakan pertimbangan epidemologis dan keadaan masyarakat (mencakup keamanan. Bab I. Ayat 1 dan 2 serta PP Nomor 40. KLB pada dasarnya merupakan suatu kejadian baik pada sumber penyakit (penyebab) dengan dinamika transmisi. serta korban kejadian penyakit yang berlangsung dalam tempo yang relatif singkat. Pasal 2 sampai 5). Pasal 1 Ayat 7. adanya indikasi peningkatan jumlah dan kepadatan vektor penular penyakit. Gempa bumi di sebuah wilayah endemik malaria memerlukan peta dimana pengungsi akan ditempatkan. dan sebagainya. Bab IV. memang tidak lazim disebut sebagai KLB. Tahun 1991.LAPORAN AKHIR Menurut PP 40. Pengertian KLB seringkali dikacaukan dengan pengertian wabah. Penetapan atau pencabutan daerah wabah diberlakukan dalam suatu wilayah Kabupaten/Kota. Tahun 1984. Mengacu kepada teori simpul atau mengacu kepada patogenesis kejadian penyakit. wajib melakukan tindakan secara cepat berupa penanggulangan seperlunya (UU Nomor 4. pencermatan ini dikenal sebagai pencermatan pra-KLB. Pasal 1). terjadinya kerusakan hutan secara terus menerus. Kemudian kegiatan tersebut harus dilaporkan kepada Menteri Kesehatan secara berjenjang.

LAPORAN AKHIR Setiap KLB-apakah itu bencana alam. khususnya saat penanganan KLB penyakit menular. Manajemen public health (manajemen faktor risiko) Manajemen public health atau manajemen kesehatan masyarakat. Sebagai perwujudan demokratisasi pembangunan maka sejak tahun 2000. dan harus dilakukan secara simultan dalam waktu relatif singkat. memerlukan waktu. penyakit menular tidak mengenal batas wilayah administratif seperti halnya kesehatan lingkungan. akan menimbulkan KLB. selama sistem atau kapasitas manajemen penyakit berbasis wilayah secara terintegrasi belum mapan. yakni manajemen kesehatan masyarakat untuk mengendalikan jatuhnya korban berikutnya. Manajemen KLB secara terintegrasi berbasis wilayah adalah juga manajemen dua bagian penting yang tak terpisahkan. maka KLB akan terus menjadi ancaman. Manajemen kasus menjadi amat penting. upaya-upaya kesehatan termasuk didalamnya manajemen KLB semuanya sudah di desentralisasikan kepada Pemerintah Kabupaten dan Pemerintah Kota. perencanaan strategik. menyusun guidlines petunjuk. Hal ini tampak adanya kesimpang siuran menajemen penyakit menular pada saat dimulainya otonomi atau peralihan sistem tersebut. dan menetapkan sasaran nasional. Di samping itu. pada hakekatnya adalah manejemen faktor risiko kejadian KLB. bencana lingkungan karena ulah manusia. atau penyakit infeksi lama-selalu memiliki dua makna manajemen. Satu foci penyakit menular –entah itu demam berdarah. TBC. apabila dibiarkan berkembang. tetapi keduanya memiliki batas wlayah ekosistem. Kurun waktu 2000-2005 banyak terjadi kejadian luar biasa. dan sebagainya. filariasis. Avian influenza. Oleh sebab itu. namun dalam hal KLB dan bencana dapat meminta bantuan Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Pusat. Kegagalan manajemen penyakit secara terintegrasi dalam satu wilayah. Mengapa hal tersebut terjadi? Pemberantasan penyakit menular memerlukan sistem manajemen. Manajemen kasus maupun faktor risiko mencegah timbulnya eskalasi yang lebih luas. tetapi sistem baru belum established atau mapan. standar. Bahkan bila dipandang perlu. Manajemen kasus. Keadaan ini erat kaitannya dengan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 20 . b. yakni : a. 2. untuk mencegah terjadinya penularan penyakit lebih lanjut.9 Penyakit Demam Berdarah Penyakit Demam berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Pemerintah Pusat dapat mengambil inisiatif melakukan penanganan KLB. Sejak tahun 1968 jumlah kasusnya cenderung meningkat dan penyebarannya bertambah luas. Untuk membangun sistem tersebut. Contohnya tahun 2005 yaitu penyakit polio. KLB pada dasarnya merupakan ujung dari sebuah proses. malaria. HIV/AIDS. dengan mobilitas penduduk yang tinggi akibat krisis sosial. Sementara sistem lama telah dicabut. maka berpotensi menyebarkan KLB ke saentero Nusantara. Tugas Pemerintah Nasional (Pusat) antara lain menyusun berbagai kebijakan nasional. Sedangkan kewenangan pelaksanaan ada pada pemerintah Kabupaten/Kota. konflik sosial maupun timbulnya penyakit baru seperti SARS.

000 penduduk berturutturut pada tahun 2000 sampai 2002.24 per 100.75. Cara penularan penyakit DBD adalah melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang menggigit penderita DBD kemudian ditularkan kepada orang sehat. penyakit ini pertama kali dilaporkan pada tahun 1953 di Manila. penyakit DBD dilaporkan pertama kali di Surabaya dan DKI Jakarta. Pada tahun 1999 IR menurun tajam sebesar 10. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi penyebaran dan penularan penyakit DBD. Pada awalnya penyakit DBD ini merupakan penyakit perkotaan dan menyerang terutama anak-anak usia di bawah 5 tahun. yaitu: (1) Peningkatan kegiatan surveilans penyakit dan surveilans vektor. Di Asia Tenggara. mengembangkan pedoman pemberantasan. memberikan pelatihan dan bantuan teknis. mudahnya transportasi yang menyebabkan mudahnya lalu lintas manusia antardaerah. Melihat kondisi tersebut penyakit DBD harus diwaspadai kemungkinan adanya KLB lima tahunan. Penyakit demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit menular berbahaya yang disebabkan oleh virus Dengue dan dapat menimbulkan kematian dalam waktu singkat oleh karena terjadinya perdarahan dan shock.17 per 100. dan 19. adanya pemanasan global yang dapat mempengaruhi bionomik vektor Aedes aegypti.99. namun pada tahun-tahun berikutnya tampak adanya peningkatan IR. (2) Diagnosis dini dan pengobatan dini.000 penduduk dan CFR 2. Jumlah kasus terus meningkat baik dalam jumlah maupun luas wilayah yang terjangkit dan secara sporadis. Pemberantasan nyamuk dewasa dilakukan dengan menggunakan racun serangga (insektisida) yang disemprotkan atau dengan pengasapan (fogging) bila dilakukan pada wilayah yang luas. Usia penderita juga cenderung bergeser menyerang usia dewasa. dengan perkembangan waktu penyakit ini kemudian tidak hanya berjangkit di daerah perkotaan. selanjutnya menyebar ke berbagai negara.LAPORAN AKHIR peningkatan mobilitas penduduk sejalan dengan semakin lancarnya hubungan transportasi serta tersebar luasnya virus dengue dan nyamuk penularnya di berbagai wilayah Indonesia. tetapi juga menyebar ke daerah pedesaan.0%.000 penduduk. Penyakit DBD sering kali muncul sebagai wabah. Namun. Di Indonesia sendiri. (3) Peningkatan upaya pemberantasan vektor penular penyakit DBD. Dengan fogging yang disemprotkan ke udara. selalu menjadi KLB setiap tahun. 21. Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit DBD merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah baik lintas sektor maupun lintas program dan masyarakat termasuk sektor swasta. yaitu 15. Kendala Pencegahan DBD Penularan DBD terjadi melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dewasa. yaitu urbanisasi yang cepat. kurangnya persediaan air bersih. Tugas dan tanggung jawab pemerintah dalam upaya pemberantasan penyakit DBD antara lain membuat kebijakan dan rencana strategis penanggulangan penyakit DBD. maka Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 21 . perkembangan pembangunan di daerah pedesaan.19 per 100. mengembangkan teknologi pemberantasan. melakukan penyuluhan dan promosi kesehatan serta penggerakan masyarakat. Upaya pemberantasan demam berdarah terdiri dari 3 hal. KLB yang terbesar terjadi pada tahun 1998 dilaporkan dari 16 propinsi dengan IR=35.

Gagalnya atau tidak efektifnya fogging dapat terjadi akibat salahnya lokasi pengasapan (yang diasapi adalah got-got atau saluran kota yang kotor dan mampet. seharusnya segera dilakukan fogging terhadap rumah tinggal penderita dan area dengan radius 100 meter di sekitarnya. Karena itu. baik di musim hujan maupun di musim kemarau. baik untuk manusia maupun lingkungan hidup. penularan virus oleh nyamuk dapat dihentikan segera. Menutup rapat tempat penyimpanan air bersih dan mengurasnya sesering mungkin akan bermanfaat mengurangi kesempatan nyamuk untuk bertelur dan berkembang biak. yaitu terjadinya kekebalan nyamuk Aedes aegypti terhadap insektisida yang digunakan saat ini. ia menjadi sumber terbentuknya populasi nyamuk Aedes aegypti untuk wilayah di sekitarnya. sarang nyamuk harus segera dimusnahkan. selama tandon-tandon air masih dijumpai. Fogging ditujukan untuk memberantas nyamuk betina dewasa karena hanya nyamuk betina yang mengisap darah. jika ada satu rumah saja tidak melakukan PSN. penggunaan insektisida yang tidak tepat dosisnya atau tidak tepat jenisnya dapat menjadikan fogging tidak memberikan hasil yang memuaskan atau gagal sama sekali. Dari jentik nyamuk yang hidup di dalam air (tandon air). juga dapat menimbulkan dampak serius di kemudian hari. Takaran insektisida yang dikurangi (asal bau obat). nyamuk dewasa yang beterbangan atau yang hinggap di tempat persembunyiannya di lingkungan rumah penderita akan mati. Karena itu. Tidak usah menunggu terjadinya KLB atau wabah yang lebih luas. Dengan melakukan fogging di sekitar tempat tinggal penderita. Gerakan PSN harus dilakukan terus-menerus. Keberadaan sarang nyamuk Aedes aegypti di dalam rumah memerlukan tindakan yang spesifik. Selain itu. termasuk kaleng-kaleng berisi air atau bak mandi. Pemberian abate untuk membunuh jentik nyamuk yang terdapat di dalam air bak kamar mandi atau tandon air bersih lainnya cukup efektif mencegahnya berkembang biak. pada waktu ada laporan kasus DBD di satu rumah. Hal ini harus dilakukan karena sarang-sarang nyamuk Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 22 . Karena itu. Apalagi nyamuk Aedes aegypti mampu terbang dalam radius 100 meter dari sarang asalnya. sebelum seseorang menunjukkan gejala klinis DBD dalam darahnya sudah beredar virus dengue yang dapat ditularkan kepada orang lain. bukan sarang nyamuk Aedes aegypti). Semua insektisida adalah bahan beracun yang jika penggunaannya tidak tepat dapat mengganggu kesehatan manusia maupun hewan dan dapat mencemari lingkungan. dalam waktu beberapa hari akan tumbuh nyamuk dewasa. Selain itu. Sebab. Dengan demikian.LAPORAN AKHIR nyamuk dewasa yang beterbangan atau yang hinggap di tempat persembunyiannya di lingkungan rumah penderita akan mati. PSN harus dilakukan segenap warga. penggunaan insektisida menjadi rawan keracunan bagi penghuni dan lingkungan hidup sekitar rumah. selain termasuk kategori korupsi. sepanjang tahun. fogging harus segera diikuti dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Fogging tidak akan berefek lama dan tidak boleh dilakukan terus-menerus karena insektisida yang digunakan adalah bahan beracun. Karena nyamuk dewasa Aedes aegypti berada di dalam lingkungan rumah tinggal. sebelum larva berubah jadi nyamuk dewasa.

ataukah terjadi "kesalahan teknis" di lapangan. keluarga. • Penyelidikan Epidemiolegis (PE) adalah kegiatan pencarian penderita DBD atau tersangka DBD lainnya dan pemeriksaan jentik nyamuk penular DBD di tempat tinggal penderita dan rumah/bangunan sekitarnya. PE juga dilakukan untuk mengetahui adanya penderita dan tersangka DBD lainnya. dan lingkungannya dari penularan DBD. Jika terjadi kegagalan fogging. Tujuannya adalah untuk mengetahui penularan dan penyebaran DBD lebih lanjut serta tindakan penanggulangan yang perlu dilakukan di wilayah sekitar tempat penderita. Fogging akan sangat efisien jika dilakukan pada waktu populasi nyamuk masih rendah. Tata Laksana Penanggulangan DBD Setiap diketahui adanya penderita DBD. harus dicari penyebabnya. tanpa menunggu terjadinya KLB. baik untuk membantu kelancaran pelaksanaan kegiatan pemberantasan maupun dalam memberantas jentik nyamuk penularnya. termasuk tempat-tempat umum dalam radius sekurang-kurangnya 100 m. larvadiasasi. untuk mencegah penyebaran penyakit. dan menentukan jenis tindakan (penanggulangan fokus) yang akan dilakukan. tindakan yang pertamatama harus dilakukan adalah memberantas nyamuk dewasa di lingkungan tempat tinggal penderita dan sekitarnya dengan melakukan fogging. Tujuannya adalah membatasi penularan DBD dan mencegah terjadinya KLB di lokasi tempat tinggal penderita DBD dan rumah/bangunan sekitarnya serta tempat-tempat umum yang berpotensi menjadi sumber penularan DBD lebih lanjut. jika terdapat laporan adanya kasus DBD. Adanya nyamuk Aedes aegypti penular DBD sepanjang tahun di Indonesia menyebabkan penularan virus dengue juga akan terjadi sepanjang tahun. Karena itu. Selanjutnya dalam melaksanakan kegiatan pemberantasan DBD sangat diperlukan peran serta masyarakat. apakah telah terjadi resistensi nyamuk terhadap insektisida yang digunakan. baik di musim penghujan maupun di musim kemarau. misalnya. melalui GGPSN (Gebyar Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk). • Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 23 .LAPORAN AKHIR merupakan sumber produksi nyamuk dewasa. segera ditindaklanjuti dengan kagiatan Penyelidikan Epidemiologis (PE) dan Penanggulangan Fokus. sehingga kemungkinan penyebarluasan DBD dapat dibatasi dan KLB dapat dicegah. Sosialisasi dalam pelaksanaan PSN dan cara hidup gotong royong harus kembali digalakkan. mengetahui ada tidaknya jentik nyamuk penular DBD. penyuluhan dan penyemprotan (pengasapan) menggunakan insektisisda sesuai kriteria. Penanggulangan Fokus adalah kegiatan pemberantasan nyamuk penular DBD yang dilaksanakan dengan melakukan pemberantasan sarang nyamuk demam berdarah dengue (PSN DBD). sehingga setiap warga dapat saling melindungi diri.

LAPORAN AKHIR Penderita/tersangka DBD Penyelidikan Epidemiologi (PE) . Tujuannya adalah membatasi penularan DBD. pemberantasan vektor penular DBD. Penilaian operasional ditujukan untuk mengetahui persentase (coverage) pemberantasan vektor dari jumlah yang direncanakan. Tujuannya adalah mengendalikan populasi nyamuk.3. jentik dan kepompong nyamuk penular DBD (Aedes aegypti) di tempat-tempat perkembangbiakannya. larvasidasi dan penyuluhan. sehingga penularan DBD dapat dicegah dan dikurangi. penyuluhan kepada masyarakat dan evaluasi/penilaian penanggulangan yang dilakukan di seluruh wilayah yang terjadi KLB. Keberhasilan PSN DBD diukur dengan Angka Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 24 .Pencarian Penderita Panas Ada penderita DBD lain atau ada jentik dan ada penderita panas ≥ 3 orang dan ditemukamn jentik (≥ 25%) Ya Penyuluhan PSN DBD Fogging radius 200m - Tidak Penyuluhan PSN FDBD Larvasidasi Gambar 2. sehingga KLB yang terjadi di suatu wilayah tidak meluas ke wilayah lainnya. Sedangkan penilaian epidemiologi ditujukan untuk mengetahui dampak upaya penanggulangan terhadap jumlah penderita dan kematian DBD dengan cara membandingkan data kasus/kematian DBD sebelum dan sesudah penanggulangan KLB. Penilaian ini dilakukan melalui kunjungan rumah secara acak dan wilayah-wilayah yang direncanakan untuk pengasapan. Sarang Nyamuk demam berdarah dengue (PSN DBD) adalah kegiatan memberantas telur. Bagan Penanggulangan Fokus (Penanggulangan Penderita DBD di Lapangan) • Penanggulangan • Pemberantasan Kejadian Luar Biasa (KLB) adalah upaya penanggulangan yang meliputi : pengobatan/perawatan penderita. Penilaian Penanggulangan KLB meliputi penilaian operasional dan penilaian epidemiologi.Pemeriksaan Jentik .

Menutup rapat-rapat tempat penampungan air agar nyamuk Aedes aegypti tidak bisa bertelur di tempat itu. Jentik Berkala adalah pemeriksaan tempat-tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti yang dilakukan secara teratur oleh petugas kesehatan atau kader atau petugas pemantau jentik (jumantik). kaleng bekas yang dapat menampung air hujan. Mengubur/membuang pada tempatnya barang-barang bekas seperti ban bekas. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 25 . Sehingga upaya pemberantasan dan pencegahan penyebaran penyakit DBD adalah upaya yang diarahkan untuk menghilangkan tempat perindukan (breeding places) nyamuk Aedes aegypti yang ada dalam lingkungan permukiman penduduk. Masyarakat juga berperan dalam upaya pemberantasan vektor yang merupakan upaya paling penting untuk memutuskan rantai penularan dalam rangka mencegah dan memberantas penyakit DBD muncul di masa yang akan datang. Sehingga bisa dilakukan penegakan diagnosa secara dini dan diberikan pertolongan dan pengobatan dini. juice buah-buahan. Tujuan pemberian pertolongan pertama di atas adalah untuk mempertahankan volume cairan dalam pembuluh darah penderita sehingga dapat membantu mengurangi angka kematian karena DBD. sirup. Tujuannya adalah melakukan pemeriksaan jentik nyamuk penular demam berdarah dengue termasuk memotivasi keluarga/masyarakat dalam melaksanakan PSN DBD.LAPORAN AKHIR • Pemeriksaan Bebas Jentik (ABJ). Seperti diketahui nyamuk Aedes aegipty adalah nyamuk domestik yang hidup sangat dekat dengan pemukiman penduduk seperti halnya Culex. teh manis. Apabila ABJ lebih atau sama dengan 95% diharapkan penularan DBD dapat dicegah atau dikurangi. dan (3) mengubur atau menyingkirkan barang-barang bekas yang dapat menampung air hujan. Peran Masyarakat dalam Penanggulangan DBD Masyarakat berperan dalam upaya pemberantasan penyakit DBD. Dalam upaya pemberantasan vektor tersebut antara lain masyarakat berperan secara aktif dalam pemantauan jentik berkala dan melakukan gerakan serentak Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Sebagai contoh: peran masyarakat dalam kegiatan surveilans penyakit. Cara PSN DBD dilakukan dengan ”3M”. pemberian obat penurun panas seperti paracetamol. Obat penurun panas yang tidak boleh diberikan adalah dari jenis yang mengandung asam salisilat yang dapat memperberat perdarahan. yaitu masyarakat dapat mengenali secara dini tanda-tanda penyakit DBD yang menimpa salah satu anggota keluarga maupun tetangga mereka dan segera merujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat. Dengan demikian gerakan PSN dengan 3M Plus yaitu Menguras tempat-tempat penampungan air minimal seminggu sekali atau menaburinya dengan bubuk abate untuk membunuh jentik nyamuk Aedes aegypti. (2) menutup rapat-arapat tempat penampungan air. yaitu (1) menguras dan menyikat tempat-trempat penampungan air. Pertolongan pertama kepada tersangka penderita DBD dapat dilakukan di rumah sebelum dirujuk ke tempat pelayanan kesehatan yaitu dengan memberikan minum sebanyak-banyaknya dengan oralit.

Dan upaya tersebut sangat berkaitan dengan faktor perilaku dan faktor lingkungan. Teknologi yang digunakan oleh Jenderal Gorgas adalah gerakan PSN yang dilaksanakan serentak dan secara besar-besaran di seluruh negeri. tidur dengan kelambu. Jika ini dilakukan maka selain penyakit DBD maka penyakit-penyakit lain yang berbasis lingkungan seperti leptospirosis. sehingga dapat mengubah perilaku masyarakat dan lingkungannya ke arah perilaku dan lingkungan yang bersih dan sehat. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 26 . menyemprot rumah dengan obat nyamuk yang tersedia luas di pasaran.. Berbagai negara yang mempunyai masalah yang sama dengan Indonesia menggunakan berbagai macam pendekatan dalam melakukan PSN antara lain Singapura dan Malaysia menggunakan pendekatan hukum yaitu masayarakat yang rumahnya kedapatan ada jentik Aedes aegypti dihukum dengan membayar denda. Hal sederhana lainnya yang dilakukan oleh masyarakat adalah menata gantungan baju dengan baik agar tidak menjadi tempat hinggap dan istirahat nyamuk Aedes aegypti. boleh dikatakan lebih dari 90% dari keseluruhan upaya pemberantasan penyakit DBD. Dalam era otonomi dan desentralisasi saat ini Pemerintah Kabupaten/Kota dalam mengatur rumah tangganya sendiri dapat melakukan gerakan-gerakan inovatif seperti yang disebutkan di atas yang didukung dengan berbagai Peraturan Daerah. Sri Lanka menggunakan gerakan Green Home Movement untuk tujuan yang sama yaitu menempelkan stiker hijau bagi rumah yang memenuhi syarat kebersihan dan kesehatan termasuk bebas dari jentik Aedes aegypti dan menempelkan stiker hitam pada rumah yang tidak memenuhi syarat kebersihan dan kesehatan. dua tiga pulau terlampaui. tidak kondusif untuk hidup nyamuk Aedes aegypti aegypti. Bagi pemilik rumah yang ditempeli stiker hitam diberi peringatan 3 kali untuk membersihan rumah dan lingkungannya dan jika tidak dilakukan maka orang tersebut dipanggil dan didenda.. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa dalam upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit DBD oleh masyarakat sangat besar. Sejak dulu tidak ada yang berubah dengan bionomik atau perilaku hidup nyamuk Aedes aegypti sehingga teknologi pemberantasannya pun dari dulu tidak berubah. Gerakan Jumat Bersih (GJB).. Agar gerakan yang dilakukan oleh Jenderal Gorgas bisa dilakukan di Indonesia diperlukan komitmen yang kuat dari seluruh jajaran struktur pemerintahan bersama-sama masyarakat dan swasta. diare dan lain-lain akan ikut terberantas ibaratkan "sekali merengkuh dayung." Keberhasilan Jenderal WC Gorgas memberantas nyamuk Aedes aegypti untuk memberantas demam kuning (Yellow Fever) lebih dari 100 tahun yang lalu di Kuba dapat kita ulangi di Indonesia. Pemberantasan DBD akan berhasil dengan baik jika upaya PSN dengan 3M Plus dilakukan secara sistematis. Berbagai gerakan yang pernah ada di masyarakat seperti Gerakan Disiplin Nasional (GDN). Adipura. Kota Sehat dan gerakangerakan lain serupa dapat dihidupkan kembali untuk membudayakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).LAPORAN AKHIR Masyarakat juga melakukan upaya mencegah gigitan nyamuk dengan menggunakan obat gosok antinyamuk. terus-menerus berupa gerakan serentak.

(2) Jumlah Kasus. (2) data. (3) sarana. dan (3) pelaporan. (2) pelaksanaan diseminasi informasi DBD. (2) data. Berdasarkan landasan pemikiran diatas. Kinerja Penanggulangan diukur dengan melihat (1) Frekuensi KLB.LAPORAN AKHIR METODOLOGI 3. dan (5) SOP. (3) sarana. (3) Jumlah Kematian.1 Kerangka Pemikiran Kajian ini dilandasi pemikiran adanya hubungan timbal balik antara rendahnya kinerja surveilans dan kinerja penanggulangan dalam implementasi kebijakan penyakit menular khususnya dalam kasus kebijakan penanganan penyakit DBD. (4) Luas Daerah Terserang. (4) dana. Implementasi kebijakan penyakit menular juga dipengaruhi kebijakan desentralisasi kewenangan pengelolaan pembangunan.1 Kerangka Pikir Kajian Kebijakan Penannggulangan Penyakit Menular Kerangka pikir kajian tersebut selanjutnya dijabarkan dalam kerangka konsep kinerja surveilans dan kerangka konsep kinerja penanggulangan yang digambarkan dalam skema berikut: Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 27 . (4) dana. dan (5) SOP. Faktor-faktor yang terkait dengan kinerja surveilans mencakup (1) tenaga. Faktor-faktor yang terkait dengan kinerja surveilans mencakup (1) tenaga. kerangka pikir kajian digambarkan dalam skema berikut: BAB 3 Kinerja Surveilans DESENTRALISASI KEWENANGAN IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENYAKIT MENULAR Kinerja Penanggulangan Gambar 3. Kinerja surveilans diukur dengan melihat (1) keberadaan peta rawan.

Peraturan Gambar 3. Proses. 2.Diseminasi Informasi . 6. Jenis pengeluaran Data Kasus. PHLN) 2. motivasi . Curah Hujan Kinerja Surveilans DBD •Peta Rawan KLB DBD . Jumlah . 2. 3. Komunikasi. Jentik.LAPORAN AKHIR Tenaga 1.Peta Rawan KLB DBD •Diseminasi Informasi .2 Kerangka Konsep Kinerja Surveilans Tenaga 1. 4. 3. 4. Sumber (APBD.Pelaporan Sarana 1. Pedoman (7 seri : modelpokjanal . Transportasi.3 Kerangka Konsep Kinerja Penanggulangan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 28 . Jumlah . Pengolah data. 2. Monev Kerangka Konsep Kinerja Surveilans Dana 1. Logistik Kinerja Penanggulangan KLB DBD •Frekuensi KLB •Jumlah Kasus •Jumlah Kematian •Luas Daerah Terserang Sarana 1. Transportasi . Proses . 2. 3. Pedoman. klinis. lab. insektisida. Pengetahuan . Pengolah data. 2. Peraturan Gambar 3. support). Sumber . APBD. 2. Tim Penanggulangan (epid. jenis pengeluaran Data Kasus . Curah Hujan. 5. Jentik . 4. Pengetahuan (Penyelidikan & Penanggulangan) Kerangka Konsep Kinerja Penanggulangan Dana 1. Komunikasi SOP 1. 2. Obat. alat penyemprotan SOP 1. 3. Vektor . Vektor. 3. Lingkungan (genangan). Prilaku (3M). Logistik.

Jenis pengeluaran 3 Data 1. klinis. Vektor 4. Pelaporan Dependent Variabel 1. Pedoman (7 seri modul pokjanal) 2. Tujuannya adalah untuk memperoleh berbagai gambaran yang jelas dan diskripsi yang lengkap tentang variabel penelitian. Jumlah Kasus 3. dimana data diperoleh melalui angket dan wawancara kepada sejumlah responden terpilih secara acak. Jentik 3. support) 2. Kajian ini menggunakan metode penelitian survey explanatory. Proses 4. Kasus 2. Variabel Penelitian Variabel penelitian mencakup 2 aspek. Monitoring dan Evaluasi 2 Dana 1. Peraturan KINERJA PENANGGULANGAN KLB DBD Idependent Variabel 1 Tenaga 1 Kinerja Penanggulangan KLB 1. yaitu kinerja surveilans dan kinerja penanggulangan No Variabel Parameter yang diukur KINERJA SURVEILANS DBD Idependent Variabel 1 Kinerja Surveilans 1. Luas Daerah Terserang 1. Komunikasi 5 SOP 1.2 Disain Kajian 1. Jumlah 2. 2. Peta rawan KLB DBD 2 Diseminasi informasi 3. Tim Penanggulangan (epid. Jumlah 2. Pengetahuan (penyelidikan & Dependent Variabel 1 Tenaga Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 29 . Sumber 3. Frekuensi KLB 2. Transportasi 2. Jumlah Kematian 4. Pengolah data 3. Sumber 3.LAPORAN AKHIR 3. Curah Hujan 4 Sarana 1. Pengetahuan 4. lab.

Komunikasi 4. Keputusan Menteri Kesehatan. propinsi dan kab/kota. Sumber 3.LAPORAN AKHIR 2 Dana 3 Data 4 Sarana 5 SOP penanggulangan) 1. Logistik 1. Kasus 2. Obat 6. pengisian kuesioner. Data primer yang didapat melalui wawancara mendalam (indepth interview) di berbagai tingkat (Pusat. Vektor 6. peraturan perundangan dalam bentuk Undang-Undang. Peraturan Pemerintah. Keputusan Dirjen. Keputusan Presiden. serta focus group discussion. baik dalam bentuk data kualitatif maupun kuantitatif. laporan tentang wabah. Lingkungan (genangan) 4. Logistik 5. Peraturan Daerah maupun Peraturan Gubernur. Peraturan 3. Jentik 3. kab/kota). Untuk interpretasi hasil analisis data. Jumlah 2. Pengolah data 3. Proses 4. Sumber dan Pengumpulan Data Data yang dikumpulkan dalam kajian ini meliputi data primer dan data sekunder. Curah hujan 7. Pedoman (7 seri modul pokjanal) 2. Alat penyemprotan 1.3 Jenis. Prilaku (3M) 5. Transportasi 2. propinsi. Jenis pengeluaran 1. laporan tahunan tentang Penanggulangan Penyakit Menular (P2M). Insektisida 7. dilakukan pula studi kepustakaan terutama kajian teoritis dari hasil penelitian terdahulu yang relevan dengan kajian ini Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 30 . Data sekunder mencakup data berkaitan dengan profil kesehatan pusat.

Kab. (2) UGD. (3) unit penanggulangan P2B2. (2) unit surveilans. (4) unit kepegawaian. Kelompok Pakar yang menjadi responden adalah (1) ahli epidemiologi dari Perguruan Tinggi. subdit arbovirosis. (3) Bag. Rumah Sakit. Kota Surabaya 2. Kelompok Pelaksana yang menjadi responden mencakup Pusat: Dit Epidemiologi dan P2B2 Ditjen P2M. (4) Kabag Kepegawaian. (4) Lab. Kota Pekanbaru 2. Kota Samarinda 2. Gresik Kalimantan Timur 1. (5) unit umum Puskesmas : (1) Kepala Puskesmas. yaitu (1) kelompok pelaksana yang terlibat dalam penanggulangan penyakit menular. Tabel 3. (2) petugas P2M. (2) ahli epidemiologi dari Departemen Kesehatan. Kota Mataram 2. (2) Seksi Surveilans. serta (2) kelompok pakar. Kab. (6) Kasubag Umum Kabupaten Dinas Kesehatan: (1) subdin P2M.1 Responden Kajian No 1 2 3 4 5 6 Propinsi/Kab Riau 1. (3) P2B2. Kota Bandung 2. (3) pakar lain dari WHO.LAPORAN AKHIR 3. Kab. Siak Jawa Barat 1. Kab. (5) Kabag Keuangan. Kota Makasar 2. yang memiliki keahlian dan pengalaman dalam penanggulangan penyakit menular. bagian PI dan kepegawaian. Gowa Nusa Tenggara Barat 1. Kota Balikpapan Sulawesi Selatan 1. Yanmedik dan Binkesmas Dinas Kesehatan Propinsi: (1) Kasubdin P2M. (3) staf Kesling Rumah Sakit: (1) Wakil Direktur Yanmed.4 Responden Kajian Responden Kajian mencakup 2 (dua) kelompok. Kab Lombok Tengah TOTAL Dinas 5 3 2 3 2 2 1 1 2 2 1 2 2 1 2 3 2 3 47 PKM 4 5 3 2 3 4 2 2 4 4 4 6 43 Rumah Sakit 1 1 2 1 2 1 1 4 1 2 2 3 21 Bapp 2 1 1 2 1 1 2 1 1 1 1 1 15 Masy 1 1 20 1 1 18 1 1 13 2 1 20 1 1 25 2 0 13 122 Jml 26 Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 31 . Bogor Jawa Timur 1. Medical Record.

Mentabulasi Analisis Data .Interpretasi hasil wawancara FGD Kesimpulan & Rekomendasi Kebijakan Gambar 3. Pengumpulan Data .6 Teknik Analisis Teknik analisis yang dilakukan dalam kajian ini adalah dengan melakukan analisis diskriptif (kualitatif) berdasarkan data dan informasi yang didapat di lapangan.5. baik berbentuk data sekunder maupun hasil wawancara mendalam.Interpertasi data . Lokasi Kajian Kajian ini dilaksanakan di 6 (enam) propinsi terpilih yang ditentukan berdasarkan karakteristik frekuensi terjadinya kejadian penyakit menular dari kelompok propinsi di Indonesia Bagian Barat.LAPORAN AKHIR 3. Pada setiap propinsi di ambil 2 (dua) Kabupaten/Kota dengan kriteria pemilihan kabupaten adalah o Prevalensi kasus DBD yang tinggi dan rendah o 1 kab/kota terletak di ibu kota propinsi dan 1 kab/kota di luar kab/ibu kota propinsi Pada setiap kabupaten dipilih dua puskesmas dan 1 (satu) rumah sakit. dan 12 rumah sakit 3. Berdasarkan hasil analisis dan temuan yang didapat selanjutnya dilakukan pembahasan dengan nara sumber dalam bentuk focus group discussion (FGD). Tengah dan Timur. dengan kriteria.Data Primer (kuesioner & wawancara) Pengolahan Data .Mengelompokkan . o Prevalensi kasus DBD tinggi dan rendah o Puskesmas di ibukota kabupaten o Puskesmas di kecamatan di luar ibu kota kab/kota Dengan demikian jumlah sampel kabupaten/kota sebanyak 12 buah.Data Sekunder . mendapatkan rumusan hasil kajian lebih fokus.4 Tahapan Pelaksanaan Kajian Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 32 . diolah dan ditabulasikan untuk memudahkan dalam proses analisis. 24 puskesmas.Mengolah . Selanjutnya data hasil pengumpulan di lapangan dikelompokan. Analisis dan interpretsi selanjutnya data yang sudah dibuat dalam bentuk tabulasi serta berdasarkan hasil wawancara mendalam dengan responden. Hasil FGD disosialisasikan dalam bentuk workshop untuk kemudian dirumuskan dalam bentuk kesimpulan dan rekomendasi serta implikasi kebijakan.

0 0 I.LAPORAN AKHIR BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4. terlihat makin menurunnya CFR.0 0 1 0. 2005 Apabila dilihat secara khusus per bulan selama kurun waktu 2003 . hal ini dimungkinkan makin banyaknya kasus-kasus DBD yang tertangani.00 Sumber: Subdit Arbovirosis. PHBS yang rendah masih menjadi salah satu pemicu tidak menurunnya kasus IR. 1999 dan tahun 2004. peningkatan IR yang paling tinggi tidak mengakibatkan CFR meningkat di tahun yang sama.00 1 0.00 CFR 4 0.00 4 5. namun demikian. Depkes.1. Gambar 4. gambaran Incidence Rate (IR) dan Case Fatalities Rate (CFR) penyakit DBD ini dapat dilihat pada Gambar di bawah ini.0 0 2 5. Implementasi Kebijakan Penanggulangan DBD 4.1.0 0 5.7. maka kecenderungan terjadinya peningkatan kasus DBD lazimnya dimulai pada akhir bulan Desember sampai dengan terbanyak yang lazimnya terjadi pada sekitar bulan Februari – Maret (lihat Gambar 1.00 3 5. 1988.0 0 1 5. Dapat dilihat pada tahun 1998.00 5 . R 2 0.00 1 5.1 IR & CFR Tahun 1968-2004 IR & CFR DBD DI INDONESIA TAHUN 1968-2004 4 0. Pada kurun waktu tahun 2000 – 2004 terjadi kecenderungan peningkatan IR. di bawah ini).00 2 0.00 0. Tingginya curah hujan menyebabkan banyaknya genangan-genangan air yang memudahkan nyamuk untuk berkembangbiak. dan tidak terlaksananya program baik PSN Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 33 .0 0 3 0.1 Incidence Rate (IR) dan Case Fatalities Rate (CFR) Berdasarkan data tahun 1968 sampai dengan tahun 2004. Ditjen PP&PL.00 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 00 01 02 03 04 TAHUN 0 .00 CFR 2 5.0 0 IR 3 5.0 0 3 0. Kesadaran masyarakat mengenai kasus DBD dapat memperkecil peningkatan CFR.2004. Angka tertinggi IR terjadi pada tahun 1968. Jika diperhatikan gambaran IR dan CFR (gambar) antara kurun waktu 1968 sampai 2004.

0 335 KASUS 9.005 14.9 7.4 10.35 5. Gambar 4.000 5. menunjukkan bahwa kecenderungan peningkatan kasus DBD per bulan hampir sama polanya dengan tahun 2003 – 2004.000 15.2 Perkembangan Kasus DBD Nasional Per Bulan PERKEMBANGAN KASUS DBD NASIONAL PER BULAN 30000 2003-2004 25000 20000 S SU KA 15000 KASUS IK NA 10000 5000 0 JAN FEB MAR APR MAY JUN JUL AUG SEP OCT NOV DEC JAN FEB MAR APR 2003 2004 Sumber: Subdit Arbovirosis.79 1. 2005 Sementara itu.7. Gambar 4. 3 KASUS DBDPer Bulan di Indonesia. Depkes. 2005 Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 34 .0 6.000 25. 2006 11. tahun 2005-2006 Kasus DBD PER BULAN DI INDONESIA TAHUN 2005-2006 35.76 1. Sumber: Subdit Arbovirosis.77 2.000 0 JAN FEB MARAPRMAYJUN JUL AUGSEPOCT NOVDECJAN FEB MARAPRMAYJUN JUL AUGSEPOCT NOVDES JAN FEB MARAPRMAY 2.52 6.61 10.03 8.000 20.10 908 992 1.61 5. data tahun 2005 – 2006.3 18. Ditjen PP&PL. 7. Hal ini ada kaitannya dengan pergantian musim kemarau ke musim hujan.004 2.7 15.65 5.8 30.a).03 5. yaitu pada bulan akhir Desember (lihat Gambar 1.000 10. Ditjen PP&PL.94 6. Depkes.41 19.59 2.000 30.27 1.99 7.LAPORAN AKHIR (Pemberantasan Sarang Nyamuk) maupun 3M mengakibatkan kecenderungan peningkatan kasus DBD.

data tahun 2003 hingga Juni 2006. Kemudian strategi diperluas dengan menggunakan larvasida yang ditaburkan ke Tempat Penampungan Air (TPA). Ditjen PP&PL. Pada awalnya strategi utama pemberantasan DBD adalah pemberantasan nyamuk dewasa melalui pengasapan. Strategi dalam pelaksanaan kebijakan di atas dilakukan melalui Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 35 .034 8 8528 9 6997 10 7610 11 12 10712 15355 18. 2005 Berdasarkan gambar 1. Kedua metode ini sampai sekarang belum memperlihatkan hasil yang memuaskan dimana terbukti dengan peningkatan kasus dan bertambahnya jumlah wilayah yang terjangkit DBD. 4. Kebijakan dalam rangka penanggulangan menyebarnya DBD adalah (1) peningkatan perilaku dalam hidup sehat dan keamandiriian masyarakat terhadap penyakit DBD. dan 1. maka cara yang paling efektif untuk mencegah penyakit DBD ialah dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) yang dilaksanakan oleh masyarakat/keluarga secara teratur setiap seminggu sekali.7a. seperti di atas. Depkes.LAPORAN AKHIR Gambar 4. Mengingat obat dan vaksin untuk membunuh virus dengue belum ada.686 Total sd Akhir Mei 2006: 50.1. Hal ini menurut beberapa hasil analisa ada kaitannya dengan pergantian musim kemarau ke musim hujan.2 Kebijakan Penanggulangan Penyakit DBD Departemen Kesehatan telah melewati pengalaman yang cukup panjang dalam penanggulangan penyakit DBD.7. (3) meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi program pemberantasan DBD.8.418 7. (2) meningkatkan perlindungan kesehatan masyarakat terhadap penyakit DBD.01 14.4 JUMLAH KASUS DBD DI INDONESIA TAHUN 2005 & 2006 JUMLAH KASUS DBD DI INDONESIA TAHUN 2004 DAN 2005 (SITUASI SD TGLJuni 2006) (s/d 19 19 JUNI 2006) 20000 18000 16000 14000 12000 10000 8000 6000 4000 2000 0 2005 2006 Total sd Akhir Mei 2005: 35.028 Sumber: Subdit Arbovirosis. yaitu kecenderungan terjadinya peningkatan kasus DBD pada akhir bulan Desember sampai dengan kasus terbanyak pada bulan Februari – Maret. terlihat pola yang jelas mengenai kecenderungan peningkatan kasus DBD. 1. dan (4) memantapkan kerjasama lintas sektor/lintas program.143 11.935 1 2005 2006 6475 2 10916 3 7610 4 5033 5 5652 335 6 5357 7 5.

merupakan langkah awal dalam menggalang. (3) Bulan Bakti gerakan ”3M”. peran sektor terkait pemberantasan penyakit DBD sangat menentukan. sosialisasi. (2) Pemberantasan vektor melalui PSN dengan cara 3M Plus. advokasi. SDM yang terampil dan menguasai IPTEK merupakan salah satu unsur penting dalam pelaksanaan program P2 DBD. dikarenakan perbedaan situasi dan kondisi wilayah. virology dan faktor-faktor perubahan iklim. guna memadukan berbagai sumber daya yang tersedia di masing-masing mitra. dimana Puskesmas melakukan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 36 . meningkatkan dan mewujudkan kemitraan. dan pemeriksaan jentik berkala (PJB) yang dilakukan setiap 3 bulan sekali. tata laksana kasus harus dikuasai karena hal-hal tersebut merupakan landasan dalam penyususnan kebijaksanaan program P2 DBD. maka identifikasi stakeholders baik sebagai mitra maupun pelaku potensial. social marketing. Optimalisasi pendelegasian wewenang pengelola kepada kabupaten/kota. Meningkatnya mutu lingkungan hidup dapat mengurangi angka kesakitan penyakit DBD karena di tempat-tempat penampungan air bersih dapat dibersihkan setiap minggu secara berkesinambungan. maka upaya-upaya KIE. Pertemuan berkala sejak dari tahap perencanaan sampai tahap pelaksanaan.LAPORAN AKHIR (1) Pemberdayaan masyarakat. pemantauan dan penilaian. (5) Pembangunan Berwawasan Kesehatan Lingkungan. (3) Peningkatan Profesionalisme Pengelola Program. (4) Desentralisasi. Pengetahuan mengenai Bionomic vektor. Penyakit DBD hampir tersebar luas di seluruh Indonesia kecuali di daerah yang di atas 1000 m diatas permukaan air laut. Orientasi. Untuk mendorong meningkatnya peran aktif masyarakat. dan berbagai upaya penyuluhan kesehatan lainnya dilaksanakan secara intensif dan berkesinambungan melalui berbagai media massa dan sarana. (4) Penanggulangan kasus. Jaringan kemitraan diselenggarakan melalui pertemuan berkala. Meningkatnya peran aktif masyarakat dalam pencegahan dan penanggulangan penyakit DBD merupakan salah satu kunci keberhasilan upaya pemberantasan penyakit DBD. dan berbagai kegiatan KIE kepada semua pihak yang terkait perlu dilaksanakan agar semuanya dapat memahami peran lingkungan dalam pemberantasan penyakit DBD. (2) Peningkatan Kemitraan Berwawasan Bebas dari Penyakit DBD. Pokok-pokok program pemberantasan DBD mencakup (1) Kewaspadaan dini DBD. sehingga populasi vektor sebagai penular penyakit DBD dapat berkurang. Angka kesakitan penyakit ini bervariasi antara satu wilayah dengan wilayah lain. Upaya pemberantasan penyakit DBD tidak dapat dilaksanakan oleh sektor kesehatan saja. Oleh sebab itu.

(5) penanggulangan KLB. (2) mengembangkan dan memperkuat jejaring surveilans epidemiologi dengan fokus pemantauan wilayah setempat. dana bencana dan dana belanja rutin sekretariat daerah. perbaikan manajemen kasus diagnostik dan pengobatan serta rujukan. (2) surveilans epidemiologi. Implementasi kebijakan. PKK. pelatihan tenaga puskesmas dan rumah sakit. Depag dan pihak legislatif. melalui pelaksanaan pertemuan berkala Pokjanal/Pokja DBD. kewaspadaan dini. strategi dan program penanggulangan DBD di daerah lokasi kajian dilaporkan sebagai berikut: Propinsi Riau Kebijakan Daerah mecakup (1) pemberantasan DBD diselenggarakan dengan menggunakan penatalaksanaan kasus secara cepat dan tepat. maka uang tidak bisa dicairkan. (7) Pendekatan Peran Serta Masyarakat dann PSN DBD. PMD. Bappeda. sebagai dasar tindak lanjut perencanaan program dan penanggulangan KLB. Tim Pokjanal DBD terdiri dari unsur-unsur Diknas. Dana KLB dianggarkan dengan menggunakan pola kinerja artinya bila KLB tidak terjadi. Strategi yang dilakukan mencakup (1) intensifikasi pelaksanaan kasus melalui pencarian kasus dan pemutusan rantai penularan. Tim Pokjanal DBD diketuai oleh Walikota. pembinaan dalam pelaksanaan gerakan 3M. (8) Penelitian. melalui perencanaan. lintas program dan lintas sektor terkait serta mengaktifkan kembali peran UKS (Usaha Kesehatan Sekolah) untuk menggerakkan anak sekolah dalam pemberantasan demam berdarah.LAPORAN AKHIR penyelidikan epidemiologi (PE) untuk mengurangi persebaran lebih luas dan tindakan yang lebih tepat. Dinkes. (5) meningkatkan kemampuan penggalian sumberdaya daerah dan sumberdaya masyarakat dalam pengelolaan program P2M. melengkapi sarana pemberantasan vektor. komunikasi perubahan perilaku. menyiapkan juknis dan juklaknya. (3) memantapkan jejaring lintas program. (2) Di Kota Pekanbaru. lintas sektor. sedangkan sekretariat berada di kantor Dinas Kesehatan. pengendalian faktor resiko dan penyehatan lingkungan. kab/kota. (3) meningkatkan SDM. Strategi dan program adalah (1) pertemuan dengan tim pokjanal DBD propinsi Riau menghasilkan beberapa kesepakatan yang menitikberatkan pada peran aktif dari pokja/pokjanal DBD dengan melibatkan masyarakat. serta kemitraan dengan masyrakat (LSM) termasuk swasta. Bila Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 37 . (4) menyiapkan pengadaan dan distribusi kebutuhan obatobatan dan bahan-bahan yang esensial. melalui penyediaan insektisida dan larvasida. Ketiga dana tersebut diatas berasal dari dana Kantor Walikota. pelatihan tenaga operasional. Program yang dilakukan mencakup (1) kewaspadaan dini DBD melalui penyuluhan intensif. yaitu dana tak terduga. (6) peningkatan profesionalisme SDM. Hasil implementasi kebijakan. tersedia pos untuk penanggulangan. sedangkan dana dari Dinas Kesehatan diutamakan untuk membeli peralatan dan kegiatan yang sifatnya pencegahan. (3) Bila terjadi KLB. dan menyiapkan sarana pemeriksaan untuk diagnosa melaksanakan PE dan penanggulangan fokus. pemantauan dan informasi program pemberantasan penyakit dan meningkatkan kewaspadaan di semua tingkat administrasi. (2) pemberantasan vektor.

Strategi dalam penanggulangan DBD dilakukan melalui (1) penemuan kasus dan kematian melalui surveilans di rumah sakit. dan propinsi. (2) upaya preventif yang dilakukan melalui ”managing vector and environment” malalui gerakan 3M yang dilakukan secara lintas sektor dalam wadah Pokjanal DBD. (6) Sosialisasi Pola Hidup Bersih (PHBS). dokter. pemeriksaan jentik dengan memberdayakan tenaga jumantik. Propinsi Jawa Barat Kebijakan penanggulangan di Jawa Barat secara umum mengacu pada kebijakan dan program yang telah ditetapkan oleh Departemen Kesehatan (Pusat). kab/kota. Kota Pekanbaru juga memiliki Forum Perkampungan Sehat. (3) Bulan Bakti gerakan ”3M”. perawat. Propinsi Jawa Timur Kebijakan daerah mencakup (1) upaya penanggulangan masalah-masalah kesehatan yang dilakukan merupakan hasil dari kajian surveilans epidemiologi. (2) Fogging dilaksanakan apabila terjadi KLB dengan menggunakan dana yang berasal dari Dinas Kesehatan Kabupaten dengan peruntukan untuk larvasidasi dan abatesisasi. Kegiatan pokok adalah melakukan rapat lintas sektor untuk menangani masalah-masalah khususnya penyakit menular. praktek swasta. yaitu pada setiap kasus petugas siap melakukan PE sehingga ditemukan akar permasalahan dan sumber penyebabnya untuk kemudian dilakukan tindakan agar tidak menyebar ke tempat lain. yaitu mencakup 1) Kewaspadaan dini DBD. kesibukan kader. (8) Penelitian. dukun bayi dan kendaraan kesehatan. (2) kegiatan surveilans epidemiologi dilaksanakan oleh tim fungsional di masingmasing tingkat mulai dari Puskesmas. (3) komitmen dari pimpinan unit penyelenggara kesehatan diperlukan untuk kegiatan surveilans epidemiologi. dimana Puskesmas melakukan penyelidikan epidemiologi (PE) untuk mengurangi persebaran lebih luas dan tindakan yang lebih tepat. puskesmas dan masyarakat. diketuai oleh Bappeda dan sekretariat juga berada di Bappeda. Strategi pelaksanaan kebijakan penanggulangan DBD di Propinsi Jawa Barat dilakukan melalui (1) pendekatan ”gerak cepat” dan putus rantai. (5) Pelibatan lintas sektor. dan pemeriksaan jentik berkala (PJB) yang dilakukan setiap 3 bulan sekali. (6) peningkatan profesionalisme SDM.LAPORAN AKHIR terjadi KLB. (4) Pelibatan partisipasi masyarakat melalui gerakan PSN setiap hari Jumat pagi. (7) Pendekatan Peran Serta Masyarakat dann PSN DBD. (4) penemuan kasus dilaksanakan secara bekerjasama dengan masyarakat. dan melakukan ”CLEAN-UP” lingkungan yang dipimpin oleh walikota selama 1-2 jam. dan tidak seimbangnya jumlah kader dengan cakupan daerah yang harus diselidiki. Hasil pelaksanaan program ditunjukkan antara lain (1) pemantauan jentik belum optimal dilakukan oleh kader dengan alasan terbatasnya dana operasional. uang dicairkan. maka kinerjanya akan dipertanyakan (3) Disamping Tim Pokjanal DBD. bidan. (2) Pemberantasan vektor melalui PSN dengan cara 3M Plus. (2) Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 38 . fogging focus massal. (3) Upaya peningkatan kemampuan tenaga kesehatan dalam penanggulangan DBD secara kuratif dilakukan melalui ”workshop tata laksana” dengan melibatkan dokter spesialis dan urusan dalam. (4) Penanggulangan kasus. (5) penanggulangan KLB.

memastikan diagnostik etiologi. lintas program dan lintas sekor terkait. orang dan tempat. (4) melakukan kajian epidemiologi harus bekerjasama dengan lintas program dan lintas sektor. sehingga sesuai data memang DBD di Kota Balikpapan tinggi. merencanakan penelitian lain yang sistematis. perilaku masyarakat. membuat cara penanggulangan sementara. penyediaan insektisida dan larvasida. melalui persiapan penyelidikan lapangan. (4) Di samping Tim Pokjanal DBD. pelatihan tenaga kesehatan. (5) melakukan studi epidemiologi pada daerah dengan kinerja yang tidak baik. menetapkan rekomendasi cara pencegahan dan penanggulangan. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 39 . Pelaksanaan program penanggulangan DBD mencakup (1) SKD-KLB melalui kegiatan pengumpulan data baru dari penyakit-penyakit yang berpotensi KLB. menetapkan sistem penemuan kasus baru. mengidentifikasi dan menghitung kasus atau paparan. mengidentifikasikan keadaan penyebab KLB. beranggotakan kepala – kepala dinas yang ketika diadakan rapat-rapat selalu dihadiri oleh personal yang berlainan. pelaksanaan gerakan 3M. (3) Untuk tahun 2005. (2) Pemberantasan vector. pertemuan berkala Pokjanal/Pokja DBD. perubahan perilaku dalam pola hidup bersih dan sehat.LAPORAN AKHIR pencarian kasus tambahan dilakukan pada saat penyelidikan epidemiologi. mengidentifikasikan sumber dan cara penyebaran. penyuluhan. Propinsi Kalimantan Timur Kebijakan Daerah yang dilakukan mencakup (1) Pemberantasan DBD diselenggarakan dengan menggunakan penatalaksanaan kasus secara cepat dan tepat. (3) penyelidikan epidemiologi terhadap kasus yang dicurigai pada daerah yang resiko rendah. (2) penyelidikan dan penanggulangan KLB. menetapkan apakah kejadian tersebut suatu KLB. mengamati indikasi pra-KLB misal cakupan program. kerja sama dengan dengan masyarakat dan swasta. pelaksanaan PE. penyehatan lingkungan. (5) Dinas kesehatan kota Balikpapan selalu melaksanakan pendataan DBD dengan rutin. kewaspadaan dini. status gizi. dan (3) Membangun kerja sama lintas sektor. Strategi yang dilakukan mencakup (1) peningkatan pencarian kasus dan pemutusan rantai penularan perbaikan manajemen pengobatan serta rujukan. Gambaran implementasi adalah (1) Pelaksanaan penanggulangan DBD melibatkan masyarakat. (3) Pelatihan tenaga surveilens (pelatihan epidemiologi. Pokok-pokok Program yang dilakukan mencakup Kewaspadaan Dini DBD. (2) Tim Pokjanal DBD diketuai oleh Walikota. pengolahan dan analisis data untuk penyusunan rumusan kegiatan perbaikan oleh tim epidemiologi. Kota Balikpapan memiliki Yayasan DBD yang ketuanya adalah kasubdin P2M Dinkes dan didanai oleh perusahaan minyak swasta. (2) Pelaksanaan Surveilans Epidemiologi. melengkapi sarana pemerantasan vektor. (2) mengembangkan dan memperkuat jejaring surveilans epidemiologi dengan fokus pemantauan wilayah setempat. (6) Pelatihan khusus tentang epidemiologi dan surveillens baru dilakukan 1 kali dalam 5 tahun terakhir. APBD mengalokasikan dana 500 juta untuk penanggulangan KLB dan habis untuk penanggulangan KLB DBD. mendeskripsikan kasus berdasarkan waktu.

pembinaan di 23 kab/kota. melalui penyuluhan. Surveilans dilaksanakan pada tingkat dinas kesehatan propinsi. Materi yang disusun dalam prosedur tetap (Protap) ini adalah langkahlangkah penanggulangan DBD sebagai berikut: (1) Kewaspadan Dini. pertemuan Kewaspadaan Dini DBD sebanyak 4 kali melibatkan sektor terkait.LAPORAN AKHIR Propinsi Sulawesi Selatan Upaya penanggulangan kejadian luar biasa (KLB)/penyakit menular. (2) Penanggulangan KLB menemukan jumlah kasus KLB DBD tahun 2005 sebanyak 66 kasus. pemantauan jentik berkala di berbagai kabupaten endemis dengan sasaran masing-masing 100 rumah. penanggulangan fokus. abatisasi. Di kabupaten Lombok Tengah. menghasilkan penemuan dan pelaporan penderita. lintas program dan kabupaten/kota terdekat. pada dasarnya dilaksanakan berpedoman pada arah kebijakan dan program dari Pemerintah Pusat (Departemen Kesehatan). 4. kab/kota dan puskesmas. Pada pelaksanaan di Puskesmas. penyuluhan intensif melalui media cetak dan elektronik. Implementasi kebijakan penanggulangan DBD di Sulawesi Selatan antara lain (1) Kewaspadaan Dini. Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Selatan selanjutnya menyusun Prosedur Tetap (Protap) Penanggulangan DBD sebagai pedoman/acuan pelaksanaan kegiatan Dinas Kesehatan Propinsi dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. dan fogging massal. pelatihan bagi pengelola program P2 DBD di 23 kab/kota. Propinsi Nusa Tenggara Barat Pedoman surveilans dan KLB kurang operasional. khususnya penyakit DBD di Propinsi Sulawesi Selatan. bulan kewaspadaan DBD. melalui penemuan dan pelaporan penderita. melalui pelatihan petugas kesehatan. melakukan pelatihan tatalaksana DBD bagi dokter di rumah sakit pada daerah endemis. dimana peran puskesmas sangat kecil karena dukungan dana dan personil sangat kecil. (3) Penanggulangan KLB. Dinkes Propinsi Nusa Tenggara Barat membuat pedoman operasional yang berisi ”step by step” metodologi penanggulangan DBD. dukungan dana surveilans tertolong oleh adanya subsidi dari Askeskin. pemantauan jentik berkala. (2) Pemberantasan Nyamuk Penular DBD terhadap nyamuk dewasa dan jentik nyamuk. terutama untuk insentif tenaga kesehatan dan kader. gerakan PSN. (3) Peningkatan Sumber Daya Manusia. Namun terdapat ”gap” pelaksanaan/penanganan KLB. Dengan demikian Puskesmas sebagai fasilitas yang paling dekat dengan masyarakat tidak dimanfaatkan dengan baik dalam penanggulangan KLB DBD. pengamatan bebas jentik dilakukan oleh murid-murid sekolah dan telah terbukti cukup efektif untuk dapat direflikasi di daerah lain.3 Kendala Penanggulangan DBD Kendala penting yang masih terjadi saat ini adalah kurang atau tidak adanya koordinasi dari instansi-instansi yang seharusnya terkait dalam menangani Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 40 . (4) Peningkatan SDM.1. sedangkan tahun 2004 jumlah KLB DBD sebanyak 88 kasus.

Instansi-instansi yang mengatur tata kota dan permukiman. Adanya intervensi dalam pemilihan responden di tingkat dinas. bahkan Dinas Pendidikan. Jawa Timur.4. puskesmas dan rumah sakit. 2. 3. maka penduduk masih terpaksa menyiapkan bak mandi dan tandon-tandon air (yang dapat menjadi sarang nyamuk) untuk menampung air yang sering hanya menetes bahkan mampet. serta instansi penyedia sarana air bersih (PDAM) juga harus ikut pula berpartisipasi. Dengan adanya kewenangan penanganan yang didaerahkan terkadang menyulitkan dalam koordinasi penganggaran.2. selama PDAM belum mampu menyediakan air bersih untuk seluruh penduduk. Responden yang diharapkan sebagai informan tidak sesuai. 2 puskesmas dan 1 Rumah Sakit. Kalimantan Timur. Beberapa kendala yang ditemukan di lapangan. kebersihan dan lingkungan hidup. hal ini dikarenakan adanya perubahan posisi (rolling) yang terjadi beberapa bulan sebelum kunjungan. nanggulangan DBD Kajian P2M KLB DBD dilakukan di enam propinsi. populasi nyamuk Aides dewasa yang mempunyai potensi menyebarkan virus dengue juga akan selalu dijumpai dan menjadi sumber penularan di sepanjang tahun. yaitu propinsi Riau. Sumber informan yang seharusnya dan pada saat yang bersamaan tidak berada di tempat sehingga dilakukan wawancara terhadap informan pengganti. 4. Dengan demikian. dilakukan kunjungan ke dinas kesehatan kabupaten/kota.LAPORAN AKHIR DBD sehingga menimbulkan masalah tersendiri di lapangan. Disisi lain adanya desentralisasi sumberdaya yang dimiliki. 4. Kebijakan tersebut terkait dengan anggaran kesehatan untuk pencegahan serta pemberantasan penyakit menular.3. sarang-sarang nyamuk Aides akan tetap ada di sepanjang tahun. baik di musim penghujan maupun di musim kemarau. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 41 . yang memang membutuhkan biaya sangat tinggi. Sebagai contoh. dan di tiap kabupaten/kota tersebut. Penanganan DBD tidak semata-mata tugas Dinas Kesehatan. diantaranya: 1. Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Barat. Hal ini menjadi faktor penghambat praktek penanganan kasus di lapangan. Karena itu. Pihak daerah seringkali kewalahan dalam penyediaan biaya operasional penanganan penyakit karena keterbatasan sumberdaya. baik dana maupun tenaga. melainkan juga terkait dengan instansi lainnya. Adanya intervensi dari pendamping (orang dinas) dalam wawancara di tingkat Kab/kota. pemerintah pusat mengalami kendala dalam pendistribusiannya ke daerah. Kinerja Surveilans dan Pe 4. Kebijakan desentralisasi juga berpengaruh terhadap koordinasi antara pusat dan daerah dalam kewenangan penanganan DBD. 4. Jawa Barat. Pada tiap propinsi dilakukan kunjungan dan wawancara terhadap 2 kabupaten/kota. serta melakukan wawancara ke Bappeda dan masyarakat.

Ketidaklengkapan data dikarenakan keterbatasan waktu dalam pengumpulan data 3 tahun terakhir (tahun 2003-2005). hanya 11 (52.3 83. Dinkes Kab/Kota.0 75. Tabel 4.3 jml 11 9 12 15 12 % 52.7 16.9 57. Sementara di Puskesmas sebagai unit pelayanan kesehatan dasar. 6 miss) (nto= 5. KDBD. W2 DBD. Tidak demikian dengan Rumah Sakit.7 83. 1 miss ) (ntot =12) Peta rawan DP-DBD K-DBD W2-DBD W1 jml 4 4 3 3 4 % 80. Hal ini dapat dipahami berkaitan dengan fungsi rumah sakit sebagai unit rujukan yang berperan melakukan tindakan medis atas kejadian kasus. Dari tabel di atas tergambarkan di tingkat propinsi data tersebut hampir semuanya tersedia. Kesulitan pada proses wawancara di beberapa puskesmas dan RS dikarenakan waktu wawancara dilakukan pada saat jam kerja.0 60. RS dan Puskesmas DINKES DINKES RUMAH INDIKATOR PUSKESMAS KAB/KOTA PROPINSI SAKIT (ntot =24. dari 12 dinkes kab/kota sebanyak 10 dinkes kab/kota atau 83.1 71. 5 miss) KINERJA (ntot =12. Tabel di bawah ini memperlihatkan persentase keberadaan indikator tersebut di Dinkes Propinsi. 6. tak satupun memiliki peta rawan DBD.0 80.1 Sumber: Data Lapangan.4 57.0 jml 10 7 6 9 9 % 83.0 16.1 Indikator Kinerja Surveilans dan Penanggulangan KLB (1) Indikator Kinerja Surveilans Peta Rawan Indikator Kinerja Surveilans bisa dilihat dari peta rawan. Dinkes Kab/Kota. Sedangkan di tingkat kab/kota indikator kinerja surveilans yang dimiliki dinkes kab/kota dan RS lebih banyak pada Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 42 .1 Distribusi Indikator Kinerja Surveilans di Dinkes Propinsi. W2-DBD dan W1. indikator kinerja surveilans lainnya adalah DP-DBD. 4. Berdasarkan data tersebut terlihat 4 dari 5 dinkes propinsi memiliki peta rawan sebagai salah satu indikator kinerja surveilans. Dari 19 puskesmas yang dikunjungi.4%) yang memiliki peta rawan. Indikator kinerja surveilans tersebut tidak sepenuhnya merupakan indikator surveilans.0 75. RS dan Puskesmas. Begitu pula pada tingkat dinkes kab/kota.4 42.0 jml 0 1 1 5 5 % 0. dan W1.3% memiliki peta rawan.LAPORAN AKHIR 5. dari sebanyak 12 rumah sakit kab-kota yang menjadi lokasi kajian.0 60.3 50. peta rawan tidak tersedia disemua puskesmas. K-DBD. DP-DBD.2. 2006 Selain peta rawan.3 58.0 80.

Dalam pembuatan laporan. Sehingga. W2. dalam hal ini laporan W1. sementara untuk rumah sakit hanya 1 buah rumah sakit saja yang menerima laporan umpan balik dari Pemda kab/kota. Lokasi yang tercakup dalam peta rawan kadang kali tidak kecil.LAPORAN AKHIR indikator W2 DBD dan W1. Di Samarinda. namun apakah laporan tersebut tepat waktu atau tidak. seksi surveilans dan program pemberantasan penyakit (dalam hal ini program DBD/pemberantasan penyakit bersumber binatang). namun ketepatannya hanya 60% saja. Pada tingkatan rumah sakit. Penerbitan bulletin kajian epidemiologi ternyata lebih banyak dilakukan oleh Dinkes propinsi. Laporan umpan balik ke RS sangat jarang dilakukan. keberadaaan datadata tersebut relatif tersedia. Sementara. pengumpulan data surveilans dilakukan oleh dua bagian. faktor ketepatan juga sangat penting. Pada tingkat puskesmas. Kadangkala diperlukan pengiriman informasi melalui short message system (sms dengan hand phone) untuk melaporkan kejadian BDB. Ke dua pertanyaan lainnya (penerbitan epidemiologi dan laporan umpan balik dari propinsi) tidak berkaitan langsung pada aktifitas puskesmas. karena merupakan kota endemis. Demikian pula untuk pembuatan profil surveilans epidemiologi. Yang perlu diperhatikan adalah meskipun semua indikator terpenuhi. diperoleh dari bagian program pemberantasan DBD. 76% puskesmas sudah menerima laporan umpan balik dari Pemda kab/kota. walau tidak semua puskesmas memilikinya. hanya pertanyaan mengenai adanya umpan balik dari kabupaten dan profil surveilans epidemiologi yang ditanyakan. Di Dinkes kota Samarinda. Diseminasi Informasi Kinerja surveilans juga diukur berdasarkan indikator diseminasi informasi seperti terlihat pada tabel di bawah ini. setelah kejadian KLB laporan W2 seringkali terlupakan untuk dilaporkan oleh dinas kesehatan kabupaten/kota. dinkes kab/kota dan puskesmas. Pada level puskesmas. Laporan umpan balik dari propinsi sudah dilakukan oleh sebagian dinkes propinsi. informasi mengenai ke lima indikator. Seperti halnya di propinsi Riau. Pembuatan laporan pun tidak dilakukan setiap hari. meskipun kelengkapan laporan puskesmas mencapai 90-100%. Di tingkat propinsi maupun kabupaten/kota. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 43 . laporan peta rawan. Surveilans hanya menerima laporan yang berkaitan dengan KLB. dan K-DBD. Sedangkan di tingkat Puskesmas. ketiadaan indikator di atas karena pendekatan rumah sakit yang lebih kepada kuratif. DP-DBD. Dari hasil keseluruhan memperlihatkan adanya persentase yang tinggi dalam hal kinerja ditingkat propinsi. merupakan gabungan dari bagian seksi surveilans dan program pemberantasan penyakit (DBD). maka peta rawan adalah seluruh kota Samarinda itu sendiri.

0 5 55.4 2 50.8 1 14.7 Sumber: Data Lapangan.0 1 7.5 Data Kasus DBD di Lokasi Kajian Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 44 . RS dan Puskesmas INDIKATOR KINERJA DINKES PROPINSI (ntot=6) jml Penerbitan buletin kajian epidemiologi Laporan umpan balik dari propinsi Laporan umpan balik dari kab/kota (untuk RS & puskesmas) Profil survaeilans epidemiologi 3 % 75.0 DINKES KAB/KOTA ntot =12) jml 1 % 11.2 Distribusi Indikator Diseminasi Informasi Surveilans di Dinkes Propinsi.0 PUSKESMAS (ntot =24) jml 2 % 15.6 7 53.3 10 76. Gambar 4.7 2 28.9 3 75. Dinkes Kab/Kota.1 RUMAH SAKIT (ntot =12) jml 0 % 0. Grafik diatas ini memperlihatkan dari ke 6 lokasi kajian. angka kematian dan Case Fatality Rate (CFR).0 6 66.LAPORAN AKHIR Tabel 4. 2006 (3) Indikator Kinerja Penanggulangan Data Kasus Hasil kinerja surveilans dan penanggulangan diukur dengan penemuan kasus.6 0 0.

2006 Sementara untuk jumlah kematian. Gambar 4.LAPORAN AKHIR DATA KASUS DBD DI LOKASI KAJIAN TAHUN 2003-2005 20000 15000 10000 5000 0 RIAU JABAR JATIM KALTIM SU LSEL N TB 2003 739 8932 4243 2004 1059 19012 8321 2276 2005 1897 18590 14796 3165 3164 1062 2628 198 4175 805 Sumber: Ditjen PP & PL Depkes RI. 2006 Berdasarkan gambar tersebut terlihat propinsi Jawa Barat memiliki kasus DBD yang paling banyak. Sedangkan kasus terendah terjadi di propinsi Nusa Tenggara Barat. NTB adalah propinsi terendah Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 45 . Berdasarkan data tersebut kecenderungan data selama tahun 2003-2005 menunjukkan peningkatan kasus di semua propinsi.6 Data Kematian DBD di Lokasi Kajian DATA KEMATIAN DBD DI LOKASI KAJIAN TAHUN 2003-2005 300 250 200 150 100 50 0 RIAU JABAR JATIM KALTIM SULSEL NTB 39 8 2003 6 201 59 2004 21 214 120 41 25 16 2005 32 285 254 82 59 15 Sumber: Ditjen PP & PL Depkes RI. Grafik ini adalah data yang diambil di Dinkes propinsi. grafik di atas memperlihatkan jumlah kematian tertinggi di Jabar disusul dengan Jatim. disusul dengan Propinsi Jawa Timur.

khususnya pada rumah sakit yang berfungsi kuratif. Jabar. Kaltim.50 0.5 2004 1.69 1.48 4.00 3. 2006 Untuk melihat kinerja penanganan kasus.13 1.39 0. Pada tahun 2004 CFR di lokasi kajian terlihat rendah.2 2005 1.60 1. CFR tertinggi adalah NTB. bahkan di atas angka nasional. Tipe rumah panggung yang merupakan ciri masyarakat asli Kaltim turut menambah risiko pertumbuhan habibat jentik karena biasanya bagian bawah rumah tergenang air buangan rumah tersebut dan menjadi sarang nyamuk. Grafik di atas memperlihatkan pada tahun 2003. Sementara Dinkes tidak memiliki kendaraan untuk menjangkaunya. yaitu di propinsi Riau. dapat dilihat dengan indikator CFR.00 0. Namun bila Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 46 .7 Case Fatality Rate (CFR)DBD di Lokasi Kajian CASE FATALITY RATE (CFR) DBD DI LOKASI KAJIAN TAHUN 2003-2005 4.98 1.80 0.50 4.59 1. Masyarakat pun memiliki kebiasaan menampung air hujan (tadah hujan) yang menambah habitat jentik.50 2.04 1.72 2.53 1.00 2.50 1.41 1. di sana banyak perumahan penduduk yang tersebar di pulau-pulau kecil sehingga menyulitkan petugas untuk memantau.81 2. Jatim.86 1. Salah satu penyebab tingginya kasus DBD adalah faktor geografis dan perilaku masyarakat.LAPORAN AKHIR dalam jumlah kematian. Indikator ini menunjukkan jumlah penderita DBD yang meninggal dari tiap 100 penderita DBD.00 1. Seperti terjadi di Samarinda. Dari data yang dicatat dinkes propinsi selama tahun 2003-2005 menunjukkan sejumlah propinsi mengalami peningkatan jumlah kematian.50 3.99 1. Gambar 4.36 Sumber: Ditjen PP & PL Depkes RI.25 1.00 1.44 1.00 RIAU JABAR JATIM KALTIM SULSEL NTB NAS 2003 0. dan Sulsel.

3 19. manajemen kesehatan. APK. CFR tertinggi pada tahun 2005 adalah di propinsi Kaltim.5 jml 3 14 4 8 % 8. dan kader kesehatan/posyandu.9 3.2 Faktor-faktor Berpengaruh terhadap Kinerja Surveilans dan Kinerja Penanggulangan KLB (1) Tenaga Tenaga adalah sumberdaya manusia dari pihak provider kesehatan yang terlibat langsung dalam kegiatan surveilans maupun penanggulangan KLB. ahli gizi.6 8.8 14.2 Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 47 .6 jml 5 17 65 6 % 2. angka CFR kembali meningkat di bandingkan tahun sebelumnya. kesehatan lingkungan/ sanitasi. Kaltim dan NTB.9 34.7 9. tenaga rekam medis. Sementara di propinsi lain CFR terlihat fluktuatif (naik dan turun). lulusan SMA. dokter gigi.3 jml 1 3 4 2 % 4. CFR sejumlah propinsi lebih tinggi.6 9. Tabel 4.2. Pada tingkat dinkes propinsi.LAPORAN AKHIR dibandingkan dengan angka nasional. sementara dokter umum berperan sebagai tenaga penanggulangan KLB. sementara di tingkat dinkes kab/kota adalah dokter umum dan tenaga pendukung laibnya. Yang dimaksud tenaga pendukung/lainnya adalah tenaga yang berprofesi/ berpendidikan perawat. 4. CFR yang paling tertinggi dimiliki oleh Riau dan NTB. Semua CFR berada di atas angka nasional. Pada tahun 2004. tenaga fogging.3 Distribusi Jenis Tenaga di Dinkes Propinsi dan Dinkes Kab/Kota DINKES PROPINSI JENIS TENAGA SURVEILANS PENANGGULA NGAN KLB DINKES KAB/KOTA SURVEILANS PENANGGULA NGAN KLB Jml S2 Epidemiologi S1 Epidemiologi Dokter umum Epidemiologi terampil 9 15 5 4 % 20. Lulusan S1 dan S2 Epidemiologi lebih banyak berperan sebagai tenaga surveilans. SKM.1 34.0 9. lulusan D3. teknik lingkungan. Pada tahun 2005.6 8. staf administrasi.9 11. Data pada grafik memperlihatkan pula adanya kenaikan CFR dari tahun 2003-2005 di sejumlah propinsi yaitu Jatim.6 8. komposisi jenis tenaga yang bertugas dalam pelaksanaan surveilans dan penanggulangan terbanyak adalah S1 dan S2 Epidemiologi.

tenaga dokter masuk dalam kategori sebagai ‘pengumpul data’.0 50.6 100. dokter umum paling banyak terlibat dalam kegiatan surveilans maupun penanggulangan.1 65.7 PUSKESMAS SURVEILA NS jml 0 5 15 % 0.6 8.6 100.2 21.6 PENANGGU LANGAN KLB jml 1 0 18 % 1.0 0 18 118 179 0. sehingga sumber daya yang bersifat klinis tidak banyak tersedia.8 47. Banyaknya tenaga dokter untuk penanggulangan di tingkat kabupaten/kota dikarenakan pelaksana operasional penanggulangan KLB berada di tingkat kabuapten/kota.0 0 6 35 8. 2006 Di Rumah Sakit.0 11. adalah semua dokter yang berada di puskesmas.8 20.LAPORAN AKHIR Analis Laboratorium Pendukung/lainnya Jumlah 0 10 43 0.2 15.0 5 2 17 44 11. kepala seksi surveilans adalah seorang dokter dengan pendidikan strata dua epidemiologi.5 0.9 100.4 34.4 4. Sementara. peran propinsi hanya sebagai koordinator.3 100.5 Sumber: Data Lapangan.0 10. tenaga dokter yang ada.0 1 10 21 4.0 27.4 Distribusi Jenis Tenaga di RS dan Puskesmas RS JENIS TENAGA SURVEILAN S jml S2 Epidemiologi S1 Epidemiologi Dokter umum Epidemiologi terampil Analis Laboratorium Pendukung/lainnya Jumlah 1 3 31 45 2. Seperti halnya di dinas kesehatan propinsi Riau.0 2 1 7 % 4. maupun sebagai tenaga klinis pada saat penanggulangan.9 100.6 35 59 187 18. Tabel 4.1 PENANGGU LANGAN KLB jml 0 4 39 % 0.4 2.5 38.8 Sumber: Depkes RI.7 68.0 2. 2006 Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 48 .2 6. dalam pengelompokkan dimasukkan dalam tenaga yang mempunyai latar belakang S2 Epidemiologi. dimana mereka sebagai pemeriksa pasien. Hal yang sama juga ditemukan pada tingkat puskesmas.0 0 33 13 65 0.0 23. Sementara di tingkat puskesmas maupun rumah sakit. Sehingga.7 100.6 8.0 100. Sehingga.8 31.

dan Puskesmas Kota Mataram berpendapat bahwa tenaga surveilans merupakan tenaga tersendiri. Perawat atau sanitarian puskesmas sering merangkap sebagai tenaga surveilans dan tenaga penyelidikan epidemiologi (PE). mengadakan pertemuan/lokakarya. Namun. Selain itu. ada hal yang menarik dari pernyataan dinas kota pekan baru. sehingga sudah terlihat hasil laboratoriumnya. Selain jumlah. yang langsung berada di bawah institusi dinas kesehatan kabupaten/kota dan terlibat sebagai tim penanggulangan. Tenaga laboran cenderung banyak di RS yang berfungsi sebagai RS pendidikan. Ketiadaan tenaga epidemiologi pada tingkat rumah sakit salah satunya disebabkan karena sudah adanya tim pokja DBD seperti yang ada di di RSUD Mataram. karena mereka berasumsi bahwa yang dimaksud dengan tim penanggulangan adalah tim penanggulangan yang berada di dinas kesehatan kabupaten itu sendiri. ada pula RS yang mengkategorikan dokter sebagai tenaga surveilans seperti di rumah sakit daerah Siak. Jumlah tenaga dirasakan masih kurang. Hal ini dikarenakan tenaga dokter yang diasumsikan oleh responden adalah tenaga dokter yang berada di puskesmas (seluruh puskesmas). seperti yang terjadi di propinsi Sulawesi Selatan. Usaha lain yang dilakukan Dinas Kesehatan Propinsi dalam rangka peningkatan kemampuan adalah pembinaan teknis. yang berasumsi bahwa dokter juga merupakan tenaga surveilans. Pada Dinas Kesehatan kabupaten atau kota. Hal yang berbeda di puskesmas lainnya. malaria. Sementara bila dokter umum tidak terlibat dalam kegiatan penanggulangan seperti yang terjadi di kabupaten Lombok Tengah. satu tenaga juga merangkap sebagai tenaga untuk program DBD. Bahkan di tingkat puskesmas. Puskesmas Tambak Rejo. Sehingga dokter-dokter tidak dianggap bukan tenaga surveilans. Hal ini mungkin yang menyebabkan tidak adanya laboran di tingkat dinas kabupaten/kota. kualifikasi tenaga masih kurang. Sementara itu untuk tenaga laboran/laboratorium. Di tingkat Puskesmas. Di puskesmas Pekanbaru Kota. Selain pelatihan formal. Di lapangan juga ditemukan masih adanya perbedaan persepsi tentang tenaga surveilans dan tenaga penanggulangan. “kalau sudah terjadi KLB. Salah satu upaya untuk mengatasinya adalah pelatihan di dalam atau di luar negeri seperti terjadi di Jabar. filariasis dan zoonosis. yaitu orang yang melakukan rekap data. tenaga perawat atau sanitarian sering dijadikan petugas yang merangkap sebagai tenaga surveilans dan penyelidikan epidemiologi (PE). laporan kasus yang masuk biasanya penderita sudah dari rumah sakit. satu tenaga berperan sebagai tenaga DBD merangkap tenaga untuk program malaria dan zoonosis. untuk apa tenaga laboran?”. terlihat jumlah tenaga dokter umum yang banyak. seperti terjadi di RS Mataram. rakor dan melakukan berbagai pelatihan di bidang surveilans maupun penanggulangan penyakit.LAPORAN AKHIR Untuk penanggulangan. Khusus Jawa Barat sebagai daerah P2M pengetahuan praktis tenaga surveilans dan penanggulangan melebihi pengetahuan bersifat formal Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 49 . pengetahuan tim pada umumnya dipenuhi dari pengalaman lapangan dalam penanganan P2M. Di rumah sakit ini yang mengumpulkan data adalah bagian rekam medis yang bertugas mengumpulkan dan merekap data.

rerata 127 dan median 128.7 Rendah 3 14. Cut off dipilih median karena distribusi data tidak normal.3 100. 2006 Berdasarkan tabel di atas tergambarkan bahwa pengetahuan para petugas (responden) terhadap pengetahuan surveilans cukup baik. 2006 Total 10 9 19 % 52. Tiap pertanyaan mempunyai skala 1 sampai 5 (buruk hingga baik). Berdasarkan cut off ≥ 156 untuk kategori pengetahuan tinggi didapat bahwa 85% dari 21 sampel tenaga mempunyai tingkat pengetahuan yang baik.3menyatakan kurang memahami.0 Berdasarkan data di atas dapat digambarkan bahwa persepsi responden terhadap pengetahuan berkaitan dengan penanggulangan DBD cukup baik.5 Persepsi Responden Tentang Surveilans DBD Total % Tinggi 18 85. sejumlah sampel dari daftar tenaga diambil. Data menunjukkan bahwa total skor persepsi penanggulangan berkisar dari 86-156. dan 14.3% responden memiliki pengetahuan rendah.3 Total 21 100.6 47. Tabel 4. yaitu 52. Tabel 4. Dari sejumlah responden yang ditanya. 85. Pengetahuan ini diukur dengan persepsi terhadap 36 pertanyaan tentang penanggulangan DBD. 19 sampel dari daftar tenaga diambil.7 % responden menyatakan cukup memahami tentang pengetahuan surveilans. Pengetahuan ini diukur dengan persepsi terhadap 40 pertanyaan tentang surveilans.6% responden memiliki pengetahuan tinggi dan 47.0 Sumber: Data Lapangan. Tiap pertanyaan mempunyai skala 1 sampai 5 (buruk hingga baik). Apabila dibandingkan persepsi responden terhadap Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 50 . Dari data tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa sebenarnya pemahaman aparat terhadap program surveilans cukup baik. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan responden tentang penanggulangan oleh tenaga penanggulangan. Berdasarkan cut off ≥ 128 untuk kategori pengetahuan tinggi didapat bahwa hanya 53 % dari 19 sampel tenaga mempunyai tingkat pengetahuan yang baik.6 Persepsi Responden Tentang Penanggulangan DBD Tingkat Pengetahuan Tinggi Rendah Total Sumber: data Lapangan. Data menunjukkan bahwa total skor persepsi surveilans berkisar dari 93-181.LAPORAN AKHIR Untuk mengetahui tingkat pengetahuan responden tentang surveilans oleh tenaga surveilans. rerata 150 dan median 156.

Untuk puskemas. sesuai dengan standar. Data di atas juga menggambarkan masih adanya persoalan berkaitan dengan tenaga dalam penanganan DBD khususnya dalam hal koordinasi. kabupaten/kota sering lupa untuk mengirimkan laporan W2 (mingguan). Dari hasil kunjungan lapangan ke Puskesmas diketahui bahwa dana atau anggaran yang dipergunakan untuk operasional penanggulangan penyakit menular di Puskesmas adalah sebagian besar mempergunakan dana operasional yang diperoleh dari program asuransi kesehatan masyarakat miskin (Askeskin). terlihat persentase responden lebih tinggi dalam pemahaman surveilans. dimana sebagian responden adalah tenaga aparat dinas dan tenaga puskesmas yang memiliki informasi dalam praktek kegiatan surveilans. Seperti terjadi di Sulsel. Di Sulsel terdapat Pokjanal yang terdiri dari lintas sektor. Namun pemahaman ditingkat kabupaten/kota secara general terhadap penanggulangan KLB belum optimal. Tabel 4. Hal tersebut berdampak pada pembiayaan untuk operasional Puskesmas dalam upaya penanggulangan KLB.7 Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 51 . Adanya otonomi daerah pun malah mempersulit koordinasi. meskipun sudah teralokasi namun sebagian besar alokasi anggaran dipergunakan untuk pengadaan obat dan peralatan (investasi) tidak berupa biaya operasional. Selain itu. masing-masing kabupaten atau kota dalam melaksanakan tugas dan kewenangannya terkesan tidak memerlukan bantuan dinkes propinsi. Sumber dana untuk kegiatan surveilans dan penanggulangan DBD di lokasi kajian terlihat pada tabel di bawah ini. namun dalam sistem pelaporan mereka masih ada masalah. (2) Dana Masalah pembiayaan dalam penanggulangan penyakit DBD menjadi permasalahan yang dihadapi setiap tahunnya oleh Dinas Kesehatan karena alokasi anggaran yang bersumber dari APBD tidak/belum mencukupi sesuai dengan kebutuhan. Hal ini menandakan terutama pada praktek di lapangan. yang sebenarnya merupakan salah satu tools untuk melakukan evaluasi. Namun setiap usulan dana dari APBD untuk kegiatan Pokjanal sering tidak mendapat persetujuan Pemda karena urusan DBD dianggap urusan dinas kesehatan. Dalam operasional di lapangan sudah baik karena mereka langsung cepat tanggap untuk menangani KLB dan mencegah penyebaran lebih luas. Masih banyak ditemukan masalah kurangnya atau lemahnya koordinasi untuk pemberantasan DBD. Sebagian besar dana ternyata berasal dari APBD. Hal ini sejalan dengan kebijakan yang ada. Kalau tidak diminta oleh propinsi. kabupaten/kota tidak mengirimkan. dana yang bersumber APBN sangat kecil. Pengetahuan dalam penyelidikan dan penanggulangan KLB DBD sudah bagus. Sedangkan praktek penanggulangan dipahami lebih banyak oleh tenaga medis di rumas sakit sebagai unit rujukan dalam kasus penanganan DBD.LAPORAN AKHIR pengetahuan berkaitan dengan surveilans dan pengetahuan berkaitan dengan penanggulangan. Setiap terjadi KLB. dimana dana APBN berkaitan dengan operasional di Puskesmas terbatas pada dana perbantuan untuk penguatan kapasitas.

pembelian insektisida. seperti dalam pelaksanaan fogging fokus. penyuluhan. pembelian bahan bakar/solar. jasa dokter. khususnya di lingkungan RT/RW melalui posyandu. Sedangkan di tingkat dinkes kab/kota. transport supervisor. serta peningkatan manajamen puskesmas. pembelian mesin. jasa kader.0 DINKES KAB/KOTA SURVEILAN S jml 7 1 2 % 100. fogging. Dana APBN didapat dalam bentuk dana dekonsentrasi yang disalurkan melalui APBD propinsi.0 75. penyediaan bahan-bahan pendukung untuk promosi kesehatan.0 14.0 0.0 0. Begitupula dana APBD. Kader merupakan salah satu tenaga yang terlibat dan dibiayai dengan dana kegiatan surveilans dan penanggulangan KLB. selain berasal dari APBN (dalam bentuk dana tugas perbantuan) dan APBD propinsi dan APBD kab/kota. seperti pelatihan tenaga puskesmas. Sementara di tingkat puskesmas. juga berasal dari sumber lainnya. serta partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan penyuluhan. 2006 Sumber dana untuk kegiatan surveilans dan penanggulangan di tingkat dinkes propinsi bersumber dari APBN (dekonsentrasi) dan APBD propinsi. dan penanggulangan fokus. sumber dana untuk pelaksanaan opersional penanggulangan DBD juga bersumber dari APBN dan APBD serta sumber lainnya. sebagian dana diberikan untuk pembelian bahan operasional.3 28.0 10. Sumber dana lain tersebut didapat dari kelompok masyarakat yang peduli terhadap penanganan kesehatan masyarakat. dan swadana puskesmas. seperti JPK-MM. penyelidikan epidemiologi. seperti insektisida. Berdasarkan wawancara dengan beberapa kepala puskesmas di lapangan.0 PENANGGULA NGAN KLB jml 5 4 0 % 100. Bila tidak mencukupi menggunakan dana program. biaya akomodasi. biaya transfusi darah.0 Sumber: Data Lapangan. penanggulangan kasus. swadaya masyarakat. sumber dana untuk kegiatan surveilans berasal dari dana operasional puskesmas (DOP). Dana tersebut digunakan untuk kegiatan peningkatan kapasitas. sebagian besar kegiatan operasional surveilans dan penanggulangan DBD mengggunakan dana Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 52 . biaya perawatan.0 30. pembuatan laporan. Tidak ada dana yang spesifik diperuntukkan untuk kegiatan surveilans.6 PENANGGULA NGAN KLB jml 10 1 3 % 100.0 80. larvasida.LAPORAN AKHIR Distribusi sumber dana di Dinkes Propinsi dan Dinkes Kab/Kota DINKES PROPINSI SUMBER DANA SURVEILANS jml APBD APBN Lainnya 4 3 0 % 100. peralatan fogging. selain untuk peningkatan kapasitas puskesmas. Salah satu peran kader jumantik adalah mendampingi petugas puskesmas dalam melakukan pemeriksaan di 20 rumah sekeliling rumah penderita jika ada kasus DBD. pembelian obat-obatan. upah kader. Yang dimaksud dengan sumber dana lainnya adalah swadaya RS.

seperti terjadi di Sulsel. hampir semuanya menggunakan dana APBD. seringkali harus menggunakan dana tambahan dari PKPS-BBM (JPKMM) maupun Askeskin karena seringnya dana terlambat dicairkan. Hal tersebut karena dalam prakteknya kegiatan operasional di lapangan dilakukan oleh semua petugas puskesmas. Sementara untuk puskesmas.8 Distribusi Sumber Dana di RS dan Puskesmas RS SUMBER DANA SURVEILANS jml APBD APBN Lainnya 1 1 0 % 100. Dana yang digunakan untuk penanggulangan KLB berasal dari APBN (Dekon) dan APBD.0 0. Seperti ditemukan di puskesmas Duduk Sampeyan dan puskesmas Kebomas. maupun APBD-ABT yang diajukan sebagai tambahan.4 Sumber: Data Lapangan. Alokasi dana terbanyak adalah untuk obat dan peralatan (investasi). Sedangkan untuk tingkat kabupaen/kota. Namun tidak menutup kemungkinan pendanaan dapat juga berasal dari APBN. Untuk tingkat puskesmas. Hal ini karena adanya kebijakan setiap propinsi mendapatkan dana Rp.0 PUSKESMAS SURVEILAN S jml 3 1 6 % 42.0 100.7 PENANGGUL ANGAN KLB jml 8 1 10 % 57. yang ada hanya pencatatan pelaporan yang dilakukan di bagian rekam medis.0 0. Hanya rumah sakit Gresik yang menyatakan adanya dana surveilans. Tabel 4. Masalah lain dalam aspek dana berkaitan dengan proses pencairan yang dirasakan prosesnya selalu lama dan terlambat. Di kota Surabaya bahkan terkadang menggunakan dana pribadi. Tidak jarang puskesmas juga harus menggunakan dana swadaya masyarakat atau pribadi. Di rumah sakit tidak terdapat dana surveilans. Baik APBD propinsi maupun APBD kabupaten/kota atau APBD sharing.1 7. rata-rata penggunaan operasional surveilans berasal dari APBD. Untuk tingkat kabupaten/kota penggunaan dana terbanyak berasal dari APBD baik APBD murni. yaitu berasal dari APBN dan APBD (Gakin).3 85. Contoh di Jawa Barat DIPA Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 53 . Walaupun beberapa puskesmas terkadang menggunakan dana JPKMM sebagai tambahan.0 25. 2 milyar yang berasal dari dana dekon (APBN) khusus untuk penanggulangan KLB. 2006 Operasional surveilans di tingkat propinsi menggunakan dana APBN murni maupun Dekon. selain dana penanggulangan dari APBD.1 71. seperti halnya kabupaten Gresik.0 PENANGGUL ANGAN KLB jml 4 0 1 % 100. bila dana yang diusulkan belum turun.LAPORAN AKHIR operasional umum yang ada di puskesmas.9 14. Sehingga wajar saja jika digunakan sumber lain. serta dana APBD.

Lebih banyak dana dikucurkan untuk kuratif. Materi yang disusun dalam Protap ini adalah langkah-langkah penanggulangan DBD sebagai berikut: 1. (c) bulan kewaspadaan DBD. (a) penemuan dan pelaporan penderita. Bahkan meskipun sudah dibentuk Yayasan Penanggulangan DBD dengan SK Walikota dan didanai oleh perusahaanperusahaan minyak. Sementara SOP kegiatan penanggulangan KLB tampaknya sudah cukup banyak dimiliki di semua level. 4. (a) penyuluhan. khususnya penyakit DBD. Di propinsi Kalimantan Timur yang merupakan daerah endemis DBD. (d) fogging massal. (c) abatisasi. Keberadaan SOP penting untuk panduan petugas. Peningkatan SDM. Kewaspadaan Dini. Dinas Kesehatan Propinsi selanjutnya menyusun Prosedur Tetap (Protap) Penanggulangan DBD sebagai pedoman/acuan pelaksanaan kegiatan Dinas Kesehatan Propinsi dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Proporsi anggaran untuk preventiv (surveilans) dan kuratif (penanggulangan) tidak seimbang. Sedangkan di tingkat puskesmas dan RS masih sangat rendah. Pemberantasan Nyamuk Penular DBD. (d) pemantauan jentik berkala. antara lain pelatihan petugas kesehatan.9 Distribusi Ketersediaan SOP Surveilans di Dinkes Propinsi. (b) terhadap jentik nyamuk. DBD masih merupakan masalah besar di Kaltim. Pelaksanaan SOP kegiatan surveilans dilakukan berdasarkan pedoman dan peraturan. Tabel 4. Penanggulangan KLB. 3. Pada tingkat dinkes propinsi maupun dinkes kab/kota keberadaan SOP dalam bentuk peraturan dan pedoman cukup baik. (a) terhadap nyamuk dewasa. pada dasarnya dilaksanakan berpedoman pada arah kebijakan dan program dari Pemerintah Pusat (Departemen Kesehatan). Dinkes Kab/Kota. 2.LAPORAN AKHIR seringkali terlambat. (b) penangggulangan focus. (b) Gerakan PSN. RS dan Puskesmas Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 54 . (3) Standar Operasi dan Prosedur (SOP) Upaya penanggulangan kejadian luar biasa (KLB)/penyakit menular. Pedoman yang bersifat teknis di lapangan diwujudkan dalam bentuk SOP. peran swasta dalam kontribusi dana belum optimal.

0 0.0 100.9 68.0 50.0 100.8 90. Penyusunan SOP dimaksud dilakukan dengan melibatkan lintas program.1 jml RS % 57. Tabel 4.9 90. pedoman penyelidikan KLB.0 75.0 PUSKESMA S jml 7 8 15 13 13 11 8 % 36.8 42.1 78. Kedepan propinsi juga akan menyusun Standar Pelayanan Minimal (SPM) dan Standar operasional (SOP) agar SOP bisa operasional di lapangan.LAPORAN AKHIR SOP DINKES PROPINSI jml % 5 3 83. 2006 SOP dalam rangka penanggulangan KLB di Dinkes propinsi.4 68.6 81.6 81. pedoman cara pelaporan. pedoman penanggulangan KLB.3 100. 2006 Propinsi belum membuat SOP sendiri. Dinkes Kab/Kota.0 100.0 Pedoman Peraturan 4 1 Sumber: Data Lapangan.9 63.4 57. laporan penyakit potensi KLB. rumah sakit maupun puskesmas yang ada mencakup peraturan SKD-KLB.9 42. pedoman SKD-KLB.0 75.1 14.0 100.0 50.4 jml 3 3 2 3 2 2 3 RS % 75. Di tingkat kabupaten/kota SOP yang ada selain mengadopsi dari pusat juga mengadopsi SOP yang dibuat oleh Dinkes propinsi.0 80.7 57.10 Distribusi Ketersediaan SOP Penanggulangan KLB di Propinsi.0 DINKES KAB/KOTA jml 11 4 % 91. selama ini masih mengikuti pedoman dari pusat.0 50. dan laporan kondisi rentan KLB.1 SOP Sumber: Data Lapangan. RS dan Puskesmas DINKES PROPINSI jml Peraturan SKD-KLB Pedoman SKD-KLB Pedoman penyelidikan KLB Pedoman Penanggulangan KLB Pedoman Cara Pelaporan Laporan Penyakit Potensi KLB Laporan Kondisi Rentan KLB 5 5 5 5 5 4 4 % 100.0 75. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 55 .0 DINKES KAB/KOTA jml 7 9 10 10 7 9 4 % 63.0 80.3 PUSKESMAS jml 12 0 % 50. kab/kota.8 36.

LAPORAN AKHIR

Dari Tabel 4.10 tergambarkan keberadaan SOP di masing-masing tingkatan. Seperti halnya SOP dalam rangka kegiatan surveilans, pada kegiatan penanggulangan, setiap dinkes propinsi dan kabupaten/kota memiliki cukup lengkap pedoman dan peraturan sebagai landasan operasional penanggulangan penyakit. Namun demikian SOP dimaksud tidak secara lengkap dimiliki oleh puskesmas. Rumah sakit memiliki SOP penanggulangan cukup baik dibandingkan SOP surveilans. Hal ini dipahami berkaitan dengan fungsi rumah sakit sebagai unit rujukan dalam penanganan kasus penyakit menular termasuk kasus DBD. Walaupun keberadaan SOP dimaksud cukup lengkap hampir pada setiap tingkat unit pelayanan kesehatan, namun demikian keberadaan pedoman belum tentu digunakan. Seperti halnya di RSU Ujung Berung, di propinsi Jawa Barat SOP yang ada dianggap kurang operasional karena tidak sesuai dengan kondisi dan permasalahan yang ada di lapangan. Upaya yang dilakukan dalam melakukan operasionalnya dilakukan dengan membuat SOP yang lebih rinci dan sederhana menjabarkan SOP yang dibuat dinkes propinsi maupun dinkes kab/kota. Yang menarik adalah di RSUD Mataram yang juga merupakan rumah sakit pendidikan dan memilki tim pokja DBD, hanya laporan kondisi rentan KLB yang mereka miliki. Namun mereka juga membuat standar operasional dalam pertolongan pasien DBD yang tidak terdapat dalam ke-enam SOP tersebut. (4) Data

Ketersediaan data, baik pada kegiatan surveilans maupun penanggulangan KLB sangat penting. Data untuk surveilans yang dibutuhkan mencakup kasus, jentik, vektor dan curah hujan. Dari ke-4 data tersebut ternyata hanya data kasus yang tersedia di semua tingkatan. Data jentik yang sangat penting pun tidak tersedia kecuali pada level puskesmas. Jumlah puskesmas yang memiliki data tersebut sangat sedikit. Ketiadaan data di tingkat RS dikarenakan fungsi rumah sakit yang lebih sebagai kuratif. Informasi data surveilans diperoleh berdasarkan data dari seksi surveilans, yang notabene tidak melakukan pengumpulan data jentik, vektor maupun curah hujan. Baik di tingkat propinsi maupun di tingkat kabupaten/kota. Adapun informasi jentik dan curah hujan dilakukan oleh seksi pemberantasan penyakit (program DBD) yang bekerjasama dengan sanitasi. Oleh karena informasi yang diperoleh berasal dari seksi surveilans, maka ketiga data tersebut tidak ada. Sementara di bagian pemberantasan penyakit sendiri juga terdapat bagian surveilans, yang melakukan pengumpulan data rutin DBD. Oleh karena itu bukan berarti dalam surveilans data mengenai jentik dan vektor tidak ada, informasi mengenai jentik dan vektor tidak bisa didapatkan. Hal tersebut dapat dilihat dari informasi penanggulangan yang merupakan perpaduan informasi dari seksi surveilans dan pemberantasan. Tabel 4.11 Distribusi Ketersediaan Data Surveilans di Dinkes Propinsi, Dinkes Kab/Kota, RS dan Puskesmas

Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular

56

LAPORAN AKHIR

DATA

DINKES PROPINSI jml % 100.0 0.0 0.0 0.0

DINKES KAB/KOTA jml 6 0 0 1 % 100.0 0.0 0.0 16.7 jml 4 0 0 0

RS % 80.0 0.0 0.0 0.0

PUSKESMAS jml 11 2 0 0 % 100.0 18.2 0.0 0.0

Kasus Jentik Vektor Curah hujan

3 0 0 0

Sumber: Data Lapangan, 2006 Data yang dibutuhkan untuk penanggulangan DBD mencakup kasus, jentik, lingkungan/genangan, perilaku 3M, vektor, curah hujan dan logistik. Terlihat pada tabel di bawah ini bahwa data yang paling banyak tersedia adalah data kasus dan jentik. Tampaknya di dinkes propinsi dan dinkes kab/kota, data lebih lengkap tersedia dibandingkan di tingkat RS dan puskesmas. Tabel 4.12 Distribusi Ketersediaan Data Penanggulangan KLB di Propinsi, Dinkes Kab/Kota, RS dan Puskesmas
DINKES PROPINSI jml Kasus Jentik Lingkungan/genan gan Perilaku 3M Vektor Curah hujan Logistik 5 3 1 0 1 1 2 % 100.0 60.0 20.0 0.0 20.0 20.0 40.0 DINKES KAB/KOTA jml 12 12 4 2 1 1 4 % 100.0 100.0 33.3 16.7 8.3 8.3 33.3 jml 5 0 0 0 0 0 2 RS % 71.4 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 28.6 PUSKESMAS jml 18 7 1 0 1 2 5 % 94.7 36.8 5.3 0.0 5.3 10.5 26.3

DATA

Sumber: Data Lapangan, 2006 Di Dinkes Kota Bandung Jawa Barat kegiatan surveilans dilakukan secara manual dengan cara pengumpulan data, pencatatan dan pelaporan. Sementara pelaporan yang dilakukan Puskesmas dikirim langsung oleh petugas puskesmas ke dinas kesehatan kota sesuai format yang ditentukan dalam bentuk manual. Sharing informasi antar petugas bidang/unit puskesmas dilakukan dalam bentuk ”rakor bulanan”, sekaligus ajang tukar informasi dan pengalaman serta upaya pemecahan masalah yang ditemukan.
Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular

57

LAPORAN AKHIR

Temuan lain yang di dapat di lapangan adalah tidak dikumpulkannya data jentik, vektor, dan curah hujan. Selain itu ketepatan dan kelengkapan laporan dari kabupaten masih rendah. Juga belum dilakukan analisis data baik di tingkat propinsi maupun kabupaten (baru bersifat pengumpulan data). Sehingga untuk SKD-KLB data yang seharusnya dapat dilihat /diprediksi diawal untuk kewaspadaan terjadinya KLB, belum dilakukan. Selama ini propinsi tidak pernah mempermasalahkan validitas data yang dilaporkan. Untuk pengecekan data biasanya menyamakan informasi yang berasal dari media massa. Propinsi belum mempunyai sistem peringatan ke kabupaten bila terjadi keterlambatan atau ketidak lengkapan. (5) Sarana Ketersediaan sarana penunjang kegiatan surveilans terlihat pada tabel berikut ini. Dari tabel tersebut terlihat bahwa jumlah sarana masih sangat terbatas. Kepemilikan sarana transportasi dan pengolah data, dari level puskesmas hingga dinkes propinsi berkisar 11-50% saja. Sementara untuk sarana komunikasi sudah lebih baik; meskipun untuk level RS dan puskesmas masih perlu ditambah. Tabel 4.13 Distribusi Ketersediaan Sarana Surveilans di Dinkes Propinsi, Dinkes Kab/Kota, RS dan Puskesmas
DINKES PROPINSI jml Transportasi Pengolah data Komunikasi 3 3 6 % 50.0 50.0 100.0 DINKES KAB/KOTA jml 4 5 10 % 36.4 41.7 83.3 jml 1 4 6 RS % 11.1 44.4 66.7 PUSKESMAS jml 11 9 14 % 50.0 40.9 63.6

SARANA

Sumber: Data Lapangan, 2006 Bila di lokasi kajian lain, peralatan pengolah data sudah menggunakan komputer, tidak halnya di Puskesmas Benteng Hilir yang masih menggunakan cara manual. Padahal di puskesmas lainnya, sudah disediakan komputer. Faktor geografis rupanya menentukan jenis alat komunikasi dan dipakai. Di propinsi Jawa Timur, semua wilayah dapat dijangkau dengan telepon, sementara di NTB tidak hanya memanfaatkan telepon sebagai alat komunikasi, tetapi juga SSB. Di kabupaten Lombok Tengah yang menggunakan SSB sebagai sarana komunikasi karena belum adanya kabel telepon. Di propinsi Riau, sarana komunikasi menggunakan telepon, walaupun tidak semua wilayah dapat dijangkau dengan fasilitas telepon. Untuk kegiatan penanggulangan KLB, ketersediaan/kepemilikan sarana yang diperlukan terlihat sudah jauh lebih baik daripada ketersediaan/kepemilikan
Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular

58

obat. yaitu di Dinas Kesehatan Kota Bandung. alat transportasi untuk surveilans dalam kondisi rusak.3 75. Pengadaan insektisida dan fogging fokus untuk beberapa propinsi di kirim oleh Dinkes Propinsi karena kab/kota belum siap.0 66. seringkali digunakan fasilitas pribadi seperti handphone.0 100.7 72.6 SARANA Sumber: Data Lapangan. Senter digunakan untuk surveilans khususnya dalam penemuan jentik dari rumah ke rumah. seperti yang terjadi di Dinkes Kabupaten Gowa dan Puskesmas Palangga di Sulsel. Umumnya sarana yang demikian adalah untuk jenis transportasi.2 44.3 91. Misalnya di Dinkes Kota Samarinda tersedia 2 motor.7 100.0 0 DINKES KAB/KOTA jml 10 10 9 4 11 12 7 % 83.3 jml 2 5 4 4 2 0 4 RS % 33. tersedia 3 mobil.3 0. Kaltim. maupun dinkes di kab/kota. Selain itu. 2006 Sarana yang dimiliki ada yang statusnya “tidak khusus” untuk kegiatan surveilans atau penanggulangan KLB. karena tidak adanya fasilitas kantor. kondisinya pun belum tentu bagus. Di Dinkes Kota Samarinda. Namun.3 66.7 66. dan di Puskesmas Bojong Gede selain ada 1 mobil juga tersedia 1 motor.14 Distribusi Ketersediaan Sarana Penanggulangan KLB di Propinsi. Satu hal yang unik adalah ketiadaan sarana senter.0 72. untuk insektisida.7 PUSKESMAS jml 12 13 14 9 13 8 10 % 66. 0 80.7 33. Tabel 4. Artinya bisa digunakan juga untuk kegiatan lainnya. Berkaitan dengan jumlah dan jenis sarana. Kondisinya pun belum tentu bisa digunakan.3 83. sementara di Dinkes Kabupaten Bogor hanya 1 mobil. 0 100. tetapi hanya 1 yang bisa digunakan.0 100.3 83.LAPORAN AKHIR sarana untuk kegiatan surveilans. Untuk alat komunikasi. Bahkan yang Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 59 .0 58.0 33.2 77. Dinkes Kab/Kota.4 55. misalnya. rumah sakit dan puskesmas.8 50. dalam kenyataannya terdapat variasi di berbagai dinkes propinsi. 0 60. Di propinsi Jabar. alat penyemprot dan alat penyuluhan masih kurang tersedia di semua level. Sarana utama yang dibutuhkan dalam penanganan kasus DBD adalah adanya fogging fokus serta insektisida. RS dan Puskesmas DINKES PROPINSI jml Transportasi Pengolah data Komunikasi Obat Insektisida Alat penyemprot Alat Penyuluhan 4 5 5 4 5 3 0 % 80.

LAPORAN AKHIR

sangat menyedihkan, di puskesmas Temindung Kaltim penggantian biaya batere untuk senter hanya setahun sekali saja. 4.3 Peran dan Tanggung Jawab Penanggulangan Penyakit DBD Pemerintah Daerah dalam

4.3.1 Kewenangan Daerah dan Standar Pelayanan Minimum Sejak diberlakukannya paket UU Otonomi Daerah (UU No. 22 dan No. 25 tahun 1999 yang kemudian direvisi menjadi UU No. 32 dan No. 33 tahun 2004) telah terjadi perubahan pembagian fungsi antara pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten/kota. Sesuai dengan UU No. 22 tahun 1999 dan SK Menkes RI No. 1147 tahun 2000, maka tugas Depkes Pusat adalah menyusun kebijakan nasional, pedoman, standar, petunjuk teknis, fasilitasi dan bantuan teknis kepada daerah, sementara fungsi-fungsi yang bersifat operasional sudah harus diserahkan kepada daerah (propinsi dan kabupaten/kota). Penerapan UU tersebut, khususnya di bidang kesehatan belum disikapi dengan utuh, sehingga terkesan tidak tuntas dalam bertindak. Ini disebabkan adanya kegamangan dalam peran dan tanggungjawab di masing-masing jenjang ataupun instansi di pemerintahan. Selanjutnya pasal 12 UU No. 32/2004 menyatakan bahwa fungsi yang telah dilimpahkan kepada daerah tersebut termasuk tanggung jawab daerah untuk menyediakan sumberdaya yang diperlukan, termasuk pembiayaan, sarana dan ketenagaan yang diperlukan untuk melaksanakan standar pelayanan minimum (SPM). Untuk itu daerah wajib menyediakan pelayanan dasar yang dianggap esensial bagi kesejahteraan penduduk, termasuk di bidang kesehatan. SPM yang sekarang ini berlaku adalah daftar yang ditetapkan dalam Keputusan Menkes No. 1457/2003 (saat ini sedang dilakukan proses revisi). Dalam daftar tersebut ada 9 kewenangan wajib (KW) dan 31 jenis kegiatan/pelayanan/program, seperti dalam tabel di bawah. Tabel 4.15 Daftar KW dan SPM Bidang Kesehatan
No 1 Kewenangan Wajib (KW) Pelayanan Dasar No 1 2 3 4 5 6 7 8 Standar Pelayanan Minimum (SPM) KIA Kesehatan anak pra-sekolah 7 sekolah KB Imunisasi Pengobatan dan perawatan dasar Kesehatan Jiwa Kesehatan kerja *) Kesehatan usila *) Pemantauan pertumbuhan balita Pelayanan gizi

2

Giji Masyarakat

Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular

60

LAPORAN AKHIR 3 4 Rujukan dan Pelayanan Penunjang Pencegahan dan Penyakit Menular Pemberantasan 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Pelayanan obstetri dan neonatal emergency dasar Pelayanan emergency Surveilans dan pengendalian KLB kurang gizi Pencegahan dan pengobatan polio Pencegahan dan pengobatan TBC Pencegahan dan pengobatan infeksi saluran nafas Pencegahan dan pengobatan HIV/AIDS Pencegahan dan pengobatan DBD Pencegahan dan pengobatan Diare Pencegahan dan pengobatan Malaria *) Pencegahan dan pengobatan Kusta *) Pencegahan dan pengobatan Filaria *) Kesehatan lingkungan Pengendalian vektor Hygiene dan sanitasi tempat umum Promosi Kesehatan Promkes dan pengendalian penyalahgunaan obat Pengadaan obat dan bahan medis Obat generik Pembiayaan untuk pelayanan kesehatan perorangan Pembiayaan kesehata penduduk miskin dan risti

5 6 7 8 9

Kesehatan Dasar

Lingkungan

dan

Sanitasi

Promosi Kesehatan Pengendalian Napza Pelayanan Farmasi Pembiayaan kesehatan, kesehatan perorangan dan auransi kesehatan

18 19 20 21 22 23 24 25 26

Sumber: Depkes RI, 2006 *) Hanya di kab/kota tertentu

Berdasarkan hasil analisis tentang daftar SPM tersebut disebutkan bahwa kriteria yang tersirat dalam 3 kegunaan SPM seperti disebutkan dalam UU No. 32/2004 belum seluruhnya terakomodir. Tiga pelayanan dasar menurut UU tersebut adalah (1) hak konstitusi penduduk, (2) kepentingan nasional untuk kesejahteraan masyarakat, keamanan dan ketertiban umum serta integritas dan kesatuan nasional, (3) komitmen nasional terhadap kesepakatan dan konvensi internasional. Pelaksanaan SPM di tingkat kabupaten/kota ternyata menimbulkan kebingungan dan masalah. Pertama, penghitungan kebutuhan biaya untuk semua pelayanan dalam daftar SPM tersebut menghasilkan suatu jumlah yang tidak dapat ditanggung oleh banyak daerah. Ada daerah beranggapan bahwa pemerintah pusat harus menanggung selisih biaya yang tidak bisa ditanggung pemerintah daerah. Kedua, banyak daerah mengalami kesulitan menterjemahkan target nasional dalam target daerah. Misalnya, tidak banyak kabupaten/kota yang memiliki data dasar tentang prevalens penyakit, masalah kesehatan kerja, TBC dan penyakit lainnya, sehingga kesulitan dalam menetapkan target untuk Indonesia Sehat 2010. Ketiga, tidak mudah menterjemahkan target 2010 dalam target tahunan. Dalam kenyataan, banyak kabupaten/kota yang menetapkan target programnya atas dasar plafond anggaran yang akan diterima untuk tahun bersangkutan.
Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular

61

LAPORAN AKHIR

4.3.2 Peran Pemerintah daerah dalam Penanggulangan DBD Pemberantasan penyakit demam berdarah dengue (DBD) sangat tergantung pada peran besar pemerintah daerah, yang langsung menghadapi masyarakat. Daerah diharapkan lebih aktif menggerakkan masyarakatnya untuk menjaga lingkungan masing-masing. Peran daerah dalam penanggulangan DBD antara lain dilakukan dengan tindakan preventif seperti (1) mengeluarkan surat edaran kewaspadaan penyakit DBD kepada semua kepala dinas kesehatan kabupaten/kota, (2) kampanye gerakan pembersihan sarang nyamuk, (3) penyebaran poster, ceramah klinik penyegaran tata laksana kasus, maupun membahas penanganan dan antisipasi DBD. Pemerintah Provinsi memfasilitasi teknis dan pengamatan DBD di daerah endemis, membagikan bubuk abate dan malathion untuk pengasapan ke kabupaten/kota, selain juga memberikan bantuan cairan infus. Kebijakan pemerintah melalui PSN dalam mengendalikan tempat perindukan telah ditetapkan dan disosialisasikan melalui berbagai media. Usaha promosi kesehatan secara konvensional telah meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat mengenai pemberantasan DBD, namun belum diikuti dengan perbaikan sikap. Belajar dari negara tropis lainnya yang telah mengembangkan inovasi pemberdayaan masyarakat melalui COMBI (Communication for Behavioural Impact) menunjukkan bahwa sebelum menetapkan intervensi, perlu didasari pada suatu formative research yang mengungkap hal-hal yang dibutuhkan masyarakat (Park 2004, WHO 2003). Inovasi ini masih belum menjadi fokus perhatian dalam kegiatan PSN di Indonesia. Di propinsi pemantauan kasus terus dilakukan, para bupati dan wali kota disurati untuk mengantisipasi DBD, termasuk kampanye di media massa. Pemerintah Provinsi juga mendistribusikan abate, malathion, cynoft, dan filter paper ke kabupaten/kota. Selain itu juga dilakukan penyuluhan dan gerakan 3 M (menguras, menimbun, dan menutup tempat-tempat potensial perindukan nyamuk). Strategi penanganan DBD dilakukan dengan pengumpulan data kasus DBD dari RS, puskesmas, klinik swasta, pengumpulan data morbiditas kasus DBD yang lalu (tiga-lima tahun) yang akan dipakai sebagai data dasar. Pengumpulan data lapangan dengan mengunjungi rumah penderita, dan pencarian kasus baru, serta pengamatan terhadap perilaku masyarakat disertai penaburan abate 10 gr/100 lt pada TPA di setiap rumah penduduk dengan radius 400 meter persegi dari rumah kasus. Dinkes mengembangkan sistem kerja deteksi dini, yaitu mengidentifikasi berbagai kasus penyakit yang timbul, mulai dari gejala, penyebab, dan daerah sebarannya, terutama daerah rawan endemi. Pelaporan dini, pada tahap ini dilakukan Puskesmas sebagai ujung tombak dalam tindakan darurat mengatasi berbagai permasalahan.

Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular

62

Hal ini dikarenakan ada kesan masing-masing Kabupaten/Kota dalam melaksanakan tugas dan kewenangannya tidak memerlukan bantuan/koordinasi Dinas Kesehatan Propinsi. Setelah desentralisasi kebijakan sektor kesehatan menghadapi apa yang disebut anggaran pembangunan melalui Dana Alokasi Umum (DAU) yang berbasis pada formula. masih dijumpai dalam pelaksanaan penanggulangan penyakit. Metode konvensional promosi kesehatan melalui KIE (Komunikasi Informasi Edukasi) dan advokasi telah meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat. Hal ini sejalan dengan temuan Siregar (2003) tentang tidak adanya hubungan bermakna antara fogging. Masalah lemahnya koordinasi lintas program dan lintas sektor.3. belum optimal. Secara implisit DAU kesehatan dianggap sudah termasuk dalam formula tersebut walaupun sebenarnya secara eksplisit tidak ada. Pada umumnya. pelaksanaan tugas kelompok kerja operasional (Pokjanal) DBD tingkat Propinsi. tidak/belum dapat berjalan dengan baik. Dengan demikian daerah harus merencanakan dan menganggarkan program kesehatan dan bersaing dengan sektor lain untuk mendapatkannya. PSN dan PJB dalam menurunkan insidens DBD di Kota Medan. sektor kesehatan masih dipandang sebagai aktor dan inisiator utama dalam pencegahan DBD. abatisasi. tidak melibatkan instansi di luar kesehatan. Hal ini disebabkan tidak adanya dukungan pendanaan dari masing-masing instansi terkait yang tergabung dalam Pokjanal DBD. menjadi lebih sulit untuk dilakukan. Di tingkat Propinsi. Praktis sektor kesehatan harus berjuang di tiap propinsi dan kabupaten/kota untuk mendapatkan anggaran. Sebelum desentralisasi alokasi anggaran kesehatan dilakukan oleh pemerintah pusat dengan menggunakan model negosiasi ke propinsi-propinsi. dengan pertimbangan antara lain bahwa urusan penyakit menular DBD adalah urusan dinas kesehatan. namun belum berhasil Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 63 . meski prosedur telah ada dan baku. 4. Koordinasi yang sulit terlihat dari lambatnya mekanisme pelaporan kasus KLB.3 Koordinasi antar sektor Koordinasi dengan instansi terkait di tingkat Kabupaten/Kota setelah adanya desentralisasi dan otonomi daerah. Pemberdayaan lintas sektor dalam menjalankan Pokja/Pokjanal DBD yang telah dibentuk. Setiap usulan rencana kegiatan dan pembiayaan kegiatan Pokjanal DBD yang diajukan oleh masing-masing instansi terkait di luar kesehatan sering tidak mendapat persetujuan untuk mendapat dana APBD dari Pemerintah Daerah setempat. Hal ini diperkuat oleh Halstead (2000) mengenai sukses dan kegagalan pengendalian penyakit DBD.LAPORAN AKHIR Kebijakan desentralisasi semakin rumit ketika harus dilaksanakan di sektor kesehatan yang mencakup area kegiatan luas dan yang selama ini didominasi peran pemerintah pusat. meskipun prosedur pelaporan ada dan telah baku. Dalam formula ini pembagian alokasi anggaran tidak hanya ke propinsi melainkan sampai ke sekitar 400-an kabupaten/kota di Indonesia. yang merupakan salah satu wadah koordinasi antar instansi/lintas sektor. karena tenaga Pokja DBD tidak aktif. Masalah penanggulangan KLB semakin sulit penanganannya manakala mekanisme pelaporan tidak berjalan baik.

Walaupun demikian hasil wawancara dengan masyarakat menunjukkan bahwa masyarakat mengakui PSN melalui 3M lebih baik dan lebih murah daripada pengasapan. kesehatan lingkungan. bahkan seorang di antara enam Kepala Puskesmas yang diwawancarai.LAPORAN AKHIR memperbaiki perilaku. Mekanisme PSN-DBD terhadap masyarakat diakui berjalan dengan baik. walaupun tidak di seluruh tempat. Hampir seluruh petugas memahami takaran larutan untuk fogging dan mengatakan bahwa fogging fokus dilaksanakan hanya setelah ada kasus. tidak dilakukan sebelum masa penularan. Communication for Behavioural Impact (COMBI) menawarkan pendekatan dinamis untuk mengubah perilaku dalam pengembangan sosial (Kusriastuti. promosi kesehatan maupun lintas sektor dari lingkungan dan dinas tata kota. 2004). Parks. Petugas dinas kesehatan mengemukakan esensi intensifikasi penyuluhan mengenai PSN-DBD pada masa rendah penularan penyakit Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 64 . Semua petugas sektor kesehatan memiliki panduan mengenai tata laksana penanggulangan penyakit DBD yang diterbitkan oleh Departemen Kesehatan RI. menindaklanjutinya dengan menyusun protap pelaksanaan di lapangan. 2004: Umniyati. Diakui oleh para petugas kesehatan adanya peminatan masyarakat yang lebih tinggi terhadap fogging bila dibandingkan dengan PSN. 2004. Adanya usulan mengenai pembentukan dan pengaktifan Tim Epidemiologi Kota sebagai wahana untuk penelusuran penyakit berbasis lingkungan. diharapkan dapat merangkum berbagai pihak terkait dari lintas program pemberantasan penyakit.

peta rawan tidak selalu tersedia. iii. namun ketepatannya masih 60%. Tenaga. kualifikasi pendidikan yang belum sesuai. ii. (2) Indikator Kinerja Surveilans dan Penanggulangan i. Case Fatality Rate (CFR) DBD fluktuatif. (3) dana. Peta rawan. (3) sistem pengelolaan program penanganan penyakit menular masih didominasi pusat. Jumlah Kasus periode 2003-2005 cenderung stagnan untuk propinsi lokasi kajian (kecuali Jatim meningkat). (3) Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kinerja surveilans dan penanggulangan terkait dengan (1) tenaga. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 65 . Tidak ada batas yang tegas yang membedakan antara Surveilans dan Penanggulangan dalam praktek operasional di lapangan. Sistem Pelaporan ditunjukkan dengan kelengkapan laporan mencapai 90-100%. Pendidikan rata-rata perawat. (2) pengetahuan. khususnya dalam pelaksanaan surveilans dan penanggulangan DBD. (5) sarana. Hampir semua level baik di propinsi hingga kabupaten/kota termasuk puskesmas dan rumah sakit mengalami masalah ketenagaan dalam kegiatan surveilans dan penanggulangan. iv.1 Kesimpulan (1) Kendala utama yang dihadapi dalam implementasi kebijakan penanggulangan penyakit menular dalam kasus DBD adalah (1) koordinasi antar instansi dan antar unit yang bertanggung jawab dalam penanganan DBD masih belum optimal. (4) SOP. Diseminasi informasi dilakukan melalui penerbitan buletin kajian epidemiologi yang diterbitkan oleh dinkes propinsi dan dinkes kabupaten/kota. perpindahan yang begitu cepat. sedangkan di Puskesmas sebagai unit pelayanan dasar dan rumah sakit sebagai unit pelayanan rujukan. Kualitas dan kualifikasi masih belum terpenuhi sesuai dengan bidang tugas dan kompetensinya.LAPORAN AKHIR BAB 5 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 5. beban kerja yang tinggi merupakan masalah yang hampir ditemukan disemua tingkatan. sedangkan data kematian cenderung meningkat. (2) koordinasi antara pusat dan daerah belum dilandasi suatu kebijakan operasional yang jelas tentang kewenangan dan tanggung jawab masing-masing. Kurangnya jumlah SDM. Sarjana (SKM) dan MKes. dan (6) data. (4) tingginya beban puskesmas sebagai unit operasional utama di lapangan dalam implementasi kebijakan penanggulangan penyakit menular. hampir semua dinkes propinsi maupun dinkes kab/kota memiliki peta rawan. i.

Permasalahan dana terutama berkaitan dengan (1) keterlambatan turunnya DIPA. khusus untuk KLB tersedia block grant dari pusat. mengadakan pertemuan/ lokakarya. sarana utama yang dibutuhkan dalam penanganan kasus DBD adalah adanya fogging fokus serta insektisida Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 66 . Pada tingkat propinsi. Hampir semua unit pelayanan kesehatan di daerah memiliki pedoman dan peraturan dalam rangka pelaksanaan surveilans dan penanggulangan DBD. dan (3) proporsi anggaran untuk preventif dan kuratif yang tidak seimbang. Pemahaman tentang surveilans dan penanggulangan KLB masih belum sama. yang ada hanya pencatatan pelaporan yang dilakukan di bagian rekam medis.LAPORAN AKHIR Struktur organisasi Dinkes propinsi maupun Kab/Kota tidak menggambarkan pembedaan kedua tugas tersebut. Untuk tingkat kabupaten/kota. Di rumah sakit tidak terdapat dana surveilans. tetapi tidak menjadi kendala dalam berjalannya sistem. iv. Upaya yang dilakukan Dinas Kesehatan Propinsi maupun kabupaten/kota dalam rangka peningkatan kemampuan adalah pembinaan teknis. Namun demikian kebanyakan SOP tersebut belum operasional. Dana operasional selain bersumber dari dana operasional umum juga memanfaatkan dana JPK-MM. SOP. Puskesmas tidak memiliki alokasi dana khusus untuk kegiatan surveilans. iii. Walaupun kondisi sarana dan prasarana untuk kegiatan penanggulangan penyakit menular tidak selalu memadai. Beberapa dinkes kabupaten/kota inisiatif melakukan modifikasi terhadap SOP yang dibuat Depkes. Dana menjadi persoalan dalam implementasi kebijakan penanggulangan penyakit menular. rakor dan melakukan berbagai pelatihan di bidang surveilans maupun penangulangan penyakit. Dana. Selain pelatihan formal. Baik APBD propinsi maupun APBD kabupaten/kota atau APBD sharing. khususnya ketika kasus terjadi. Pengetahuan. Sarana. dana untuk pelaksanaan penanggulangan penyakit menular dirasakan pihak daerah mencukupi. pengetahuan tim pada umumnya dipenuhi dari pengalaman lapangan dalam penanganan P2M. Operasi lapangan untuk suatu kasus (DBD) serentak dilakukan Bidang pendidikan yang ada adalah perawat. dan epidemiologi. (2) ada masa ketiadaan anggaran. v. ii. hampir semuanya menggunakan dana APBD. Dana yang digunakan untuk penanggulangan KLB berasal dari APBN (Dekon) dan APBD.

Hal ini berkaitan dengan masih cukup besarnya alokasi dana yang berasal dari APBN (dalam bentuk DAU. Komitmen daerah dalam penyediaan anggaran (APBD) untuk penanganan penyakit menular belum optimal. Validitas data yang dilaporkan tidak pernah dipermasalahkan Propinsi belum mempunyai sistem peringatan ke kabupaten bila terjadi keterlambatan atau ketidak lengkapan data. Sehingga untuk SKD-KLB data yang seharusnya dapat dilihat /diprediksi diawal untuk kewaspadaan terjadinya KLB. (4) Kondisi umum Pelaksanaan Surveilans dan Penanggulangan DBD Ujung tombak pelaksanaan surveilans ada di Puskesmas. karena tidak seimbang antar area yang harus dipantau dengan kemampuan sumberdaya yang tersedia. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 67 . Banyak kendala. Penanggulangan DBD di Rumah sakit relatif tidak masalah. Aktivitas surveilans dilakukan oleh Tim Lapangan. kecuali kalau ada kasus KLB yang menyebabkan sarana TT tidak mencukupi Pengobatan dapat dilakukan dengan baik kecuali kalau ada keterlambatan pengobatan akibat terlambat merujuk (5) Permasalahan operasional penanganan DBD juga dipengaruhi oleh sistem kepemerintahan yang belum sepenuhnya dapat mengakomodasi sistem perencanaan dan sistem keuangan yang baru. Surveilans mulai diperlukan ketika ada kasus. antara lain (1) keterbatasan tenaga. PE tidak dilakukan maksimal sesuai prosedur yang ada. Penyelidikan Epidemiolegi (PE) yang dilakukan Puskesmas belum maksimal.LAPORAN AKHIR pengadaan insektisida dan fogging fokus di supply oleh Dinkes Propinsi karena kab/kota belum siap vi. baik di tingkat propinsi maupun kabupaten/kota (baru bersifat pengumpulan data). Pengobatan dan isolasi penderita dirujuk ke rumah sakit. yang paling menonjol adalah penanggulangan (PE). Namun pada saat kasus. (3) ketiadaan sarana. (2) Keterbatasan dana. Data. Data yang ada belum dilakukan analisis. Ketepatan dan kelengkapan laporan dari kabupaten/kota masih rendah. akibatnya kegiatan tindak lanjut yang seharusnya dilakukan tidak berjalan. dekonsentrasi maupun tugas perbantuan). sebagai suatu kegiatan rutin. i. tidak setiap kasus DBD ditindaklanjuti dengan PE karena DBD dianggap kasus rutin. belum dilakukan. namun belum maksimal. namun belum maksimal melaksanakan surveilans karena keterbatasan tenaga. sarana dan dana.

10. 2. iii. pemantauan. Meningkatkan peran dan tanggung jawab Pemerintah Daerah melalui intensifikasi kegiatan sosialisasi. Peningkatan koordinasi antar instansi dan antar unit dalam berbagai tingkatan dalam penanganan penyakit menular. Percepatan penyusunan kebijakan operasional dalam koordinasi pelaksanaan program antar pusat daerah yang mencakup aspek perencanaaan. d.LAPORAN AKHIR ii. Membangun dan mengembangkan kemitraan dan jejaring kerja informasi dan konsultasi teknis pencegahan dan penanggulangan faktor resiko. 5. 8. analisis. Penyepurnaan SOP sesuai “local specific”. Koordinasi penanganan kasus masih bersifat sporadis. hal ini tampak dari keaktifan instansi kesehatan dalam penyebaran informasi kesehatan. bukan sebaliknya pemerintah daerah yang aktif meminta informasi. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 68 . 3. baik pada internal sektor maupun lintas sektor. 9. Membangun dan mengembangkan kemitraan. 7. promosi dan koordinasi. dan sistem kesiapan dini (early warning system). Peningkatan kualitas sistem pelaporan melalui ketepatan data. serta pelaporan (evaluasi). Peningkatan dukungan dana yang memadai dari APBN maupun APBD. Meningkatkan kemampuan tenaga pengendalian penyakit untuk melakukan pencegahan dan penanggulangan faktor risiko. dan evaluasi kegiatan pencegahan dan penanggulangan faktor resiko. Memperkuat kapasitas dan kapabilitas Puskesmas sebagai unit terdepan dalam operasionalisasi surveilans dan penanggulangan penyakit menular. advokasi. Optimalisasi penggunaan sarana dan prasarana dengan melibatkan peran aktif masyarakat. c. jejaring kerja informasi dan konsultasi teknis peningkatan komunikasi informasi dan edukasi (KIE) pencegahan dan pemberantasan penyakit. b. malalui a. validasi dan pengembangan “respond system”. Mengurangi secara bertahap dominasi peran pengelolaan program oleh pusat melalui pendelegasian kewenangan ke daerah serta peningkatan profesionalisme pengelola program di daerah. Diperlukan dukungan dalam bentuk peraturan perundangan dalam meningkatkan komitmen para pihak di daerah dalam rangkan pencegahan dan penanggulangan DBD. 4. Melakukan bimbingan. 6. Keperdulian pemerintah daerah masih belum terlihat. pelaksanaan (monitoring). belum tertata dalam sebuah sistem yang aktif dan terstruktur.2 Rekomendasi Kebijakan Rekomendasi kajian yang diusulkan mencakup 1. surveilans epidemiologi dan penanggulangan KLB/wabah. 5.

2. preventif. Pola pendanaan diharapkan dapat lebih fleksibel dan dimungkinkan untuk kebutuhan KLB dalam bentuk multiyears fund. Aspek Ketenagaan. perlu di kelola secara profesional dan berkesinambungan dengan memanfaatkan teknologi yang tepat dan mudah diaplikasikan. perlu terus dikembangkan pola pendanaan sistem jaminan 3.LAPORAN AKHIR 11. Puskesmas perlu diperkuat dengan kapasitas manajemen pelayanan untuk kegiatan yang bersifat promotif. Keberadaan data dan informasi yang akurat dan sinambung menjadi salah satu indikator kinerja pembangunan kesehatan. dibuat sesederhana mungkin agar memudahkan pelaksanaan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 69 . promotif dan rehabilitatif) menyertai peran dimaksud secara memadai. Data dan Informasi. kesehatan seperti askeskin sehingga kepastian dana sampai kepada masyarakat terjamin. opersional tenaga lapangan. Aspek SOP. pelaksana pembangunan kesehatan di lapangan sebagai ujung tombak pembangunan kesehatan. 5.3 Implikasi Kebijakan dan Rencana Tindak Lanjut Berdasarkan kesimpulan dan rekomendasi yang disampaikan. Dukungan pendanaan serta tenaga dan sarana dalam rangka pelaksanaan operasional pencegahan dan penanggulangan (preventif. langkah tindak lanjut yang diperlukan mencakup 1. 4. sekaligus menjamin setiap masyarakat terlayani untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Diperlukan model manajemen pemberantasan penyakit dan penyehatan lingkungan secara terintegrasi yang berbasis wilayah kabupaten/kota dalam perspektif komprehensif. Serta didukung jaringan dan kerjasama erat baik antar wilayah dan adimistrasi pemerintah maupun diantara para pelaku pemberantasan penyakit menular dan penyehatan lingkungan itu sendiri dalam satu wilayah. Motivasi dan komitmen selain muncul atas kesadaran memerlukan dukungan eksternal dalam bentuk insentif. selain kuratif. dan rehabilitatif. Sebagai perangkat utama Kesehatan. Aspek Kelembagaan. Aspek Pendanaan. diperlukan revitalisasi peran kelembagaan khususnya kelembagaan Puskesmas. mendorong terbangunnya motivasi dan komitmen para 5.

2006. Rita. Modul Surveilans Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Gde. Umar Fahmi. 2005. Nur Nasry. Ditjen PP & PL Depkes RI Muninjaya. 2005. Jakarta: Infomedika Departemen Kesehatan Republik Indonesia.2006. Manajemen Penyakit Berbasis Wilayah. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT Gramedia Bappenas. Soekidjo. World Health Organization Santoso. Kebijakan Penanggulangan Demam Berdarah Dengue di Indonesia. Progress Report on The Millenium Development Goals Chin. 2003. Scott B. Mewaspadai Penyakit Lingkungan. 2005. Jakarta: Penerbit Buku KOMPAS Anies. dkk. Jakarta: EGC Noor. December-2000 [cited 9 Juli 2005] Available from : http://w3.A. Will & Linda Lloyd. 2000. Metodologi Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif.whosea. Jakarta: Ditjen P2M & PL. Notoatmodjo. Parks. 2005. Planning social mobilization and communication for dengue fever prevention and control. Dengue Bulletin Volume 24. 2005.2004. A. 2006. Pemberantasan Demam Berdarah Dengue (DBD) Hadinegoro. Tata Laksana Demam Berdarah Dengue di Indonesia. Jakarta: Reka Cipta. Jakarta: Elex Media Komputindo Anies. Pengantar Epidemiologi Penyakit Menular. Standar Pengawasan Program Bidang Kesehatan. 2004. Jakarta: Rekacipta. Pencegahan Pemberantasan Demam Berdarah Dengue di Indonesia dan dan Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Gempur. Solusi Mencegah Menanggulangi Penyaki Menular. Manajemen Berbasis Lingkungan. Departemen Kesehatan RI Halstead. 2004. 2005. JMES. Manajemen Kesehatan. 2001. Jakarta: Prestasi Pustaka Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 70 .org/en/Section10/Section332 Kusriastuti. Successes and Failures in Dengue Control-Global Experience. Subdit Arbovirosis. Sri Rezeki. Manual Pemberantasan Penyakit Menular.LAPORAN AKHIR DAFTAR PUSTAKA Achmadi.

. Manajemen Kesehatan. EGC. 1479/MENKES/SK/X/2003 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular dan Penyakit Tidak Menular Terpadu Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 949/Menkes/SK/VIII/2004 tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Kewaspadaan Dini Kejadian Luar Biasa (KLB) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1984 Tentang Penyakit Menular Keputusan Menteri Kesehatan RI No. Peraturan Perundangan Peraturan Pemerintah No. 2001. 2003. Sulastomo. dan Azrul Azwar. Panduan Lengkap Pencegahan & Pengendalian Dengue dan Deman Berdarah Dengue. Soerawidjaja. Resna A. Analisa Penatalaksanaan Penanggulangan Demam Berdarah Dengue (DBD) dalam menurunkan Insidens DBD dan Menentukan Kebijakan Operasional di Kota Medan. 4 Tahun 1991 tentang Penanggulangan Penyakit Menular Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 2003. 949/MENKES/SK/VIII/2004 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Kewaspadaan Dini Kejadian Luar Biasa (KLB) Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 71 . Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran. Universitas Airlangga. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama World Health Organization. 1116/MENKES/SK/VIII/2003 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1989. Jakarta : Bina Putra Aksara. Penanggulangan Wabah Oleh Puskesmas.LAPORAN AKHIR Siregar. Sari Nurhamida.

LAPORAN AKHIR Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 72 .

Identifikasi langkah-langkah yang dilakukan dalam penanggulangan penyakit menular II. Tujuan a. Identifikasi faktor-faktor yang menghambat system informasi manajemen surveilans penyakit menular b. Tenaga • Sarana • Dana • Protap • Pengetahuan ttg Wabah & Penanggulangan • Pelatihan Definisi Operasional • • Informasi surveilans • Pengambilan Keputusan SURVEILANS • Potensi komunitas Input Koordinasi lintas sektor Upaya perbaikan kondisi rentan Sistem kewaspadaan dini Penyelidikan & Penanggulangan wabah Kesiapsiagaan menghadapi wabah • Wabah tidak menjadi masalah kesehatan masyarakat Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 73 . Identifikasi peran dan tanggungjawab Pemerintah Daerah dalam penanggulangan penyakit menular c. Kerangka Konsep SURVEILANS INPUT • • • • • • • PROSES • Koordinasi kegiatan pengumpulan • Validasi • Pengolahan data • Analisis data • Supervisi pengumpulan • Supervisi pengolahan OUTPUT Tenaga Dana Sarana Pengetahuan yang benar Pelatihan Metoda pengumpulan data Potensi komunitas • Identifikasi masalah • Penyelidikan sebab masalah • Diseminasi PENANGGULANGAN WABAH PENYAKIT MENULAR INPUT PROSES OUTPUT • • • • • III.LAPORAN LAMPIRAN 1 AKHIR RANCANGAN INSTRUMEN KAJIAN I.

Sarana merupakan ketersediaan dan kesuaian fasilitas alat atau bahan yang diperlukan dalam melakukan kegiatan penanggulangan wabah. Partisipasi komunitas merupakan peran serta berbagai kelompok komunitas (seperti: tenaga kesehatan. 7. Pelatihan merupakan pernah dan tidaknya petugas mendapatkan pelatihan tentang penanggulangan penyakit. Pengetahuan petugas merupakan pemahaman petugas tentang karakteristik dan kegiatan penanggulangan penyakit menular. Pelatihan merupakan pernah dan tidaknya petugas mendapatkan pelatihan tentang surveilans penyakit. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 74 . Pengetahuan petugas merupakan pemahaman petugas tentang survailans penyakit menular. Supervisi pengumpulan merupakan keberadaan pengawasan terhadap proses pengumpulan data. 6. 3. Pengolahan data merupakan ketapatan waktu dan keakuratan suatu data di olah. pemenuhan dan sumber dana kegiatan surveilans. Tenaga merupakan pelaksana kegiatan surveilans yang meliputi jumlah pelaksana dan tingkat pendidikan serta lamanya bekerja di surveilans. 2. Metoda pengumpulan data merupakan keberadaan tata laksana kegiatan pengumpulan data dan kesesuaian dengan fungsinya. Sarana merupakan ketersediaan dan kesuaian fasilitas alat atau bahan yang diperlukan dalam melakukan kegiatan surveilans. 6. Koordinasi kegiatan pengumpulan merupakan kerjasama tim surveilan dengan komunitas dan koordinasi di dalam tim itu sendiri dalam melakukan pengumpulan data 2. Proses 1. Penyelidikan sebab masalah merupakan proses identifikasi sumber/penyebab timbulnya masalah 3. Supervisi pengolahan merupakan keberadaan pengawasan terhadap proses pengolahan data. 4. Diseminasi merupakan ketepatan waktu penyebaran dan kelengkapan informasi surveilans kepada pihak-pihak yang berkepentingan (pengambil keputusan). Tenaga merupakan pelaksana kegiatan penanggulangan wabah yang meliputi jumlah pelaksana dan latar belakang pendidikan serta lamanya bekerja. Analisis data merupakan ketepatan penggunaan teknik analisa data. 6. Output 1. Dana merupakan ketersediaan pengalokasian. 2. masyarakat/toma/toga) dalam kegiatan surveilans. Dana merupakan ketersediaan pengalokasian. Validasi merupakan kesesuaian proses kegiatan dengan SOP yang sudah ada. 3. 4. 5. 2. 3. 5. 4. Protap merupakan keberadaan peraturan yang sesuai dengan fungsinya dalam kegiatan. Identifikasi masalah merupakan hasil analisis data yang sudah diproses untuk mengetahui kemungkinan munculnya/timbulnya kejadian (morbiditas/mortalitas) penyakit menular. 5.LAPORAN AKHIR 1. pemenuhan dan sumber dana kegiatan. Kelengkapan diukur berdasarkan SOP yang ada PENANGGULANGAN PENYAKIT MENULAR Input 1.

Sistem kewaspadaan dini merupakan pelaksanaan pemantauan terus menerus terhadap munculnya kerawanan yang terjadi pada unsur-unsur dasar penyebab terjadinya suatu wabah. Output 1. 2. Wabah tidak menjadi masalah kesehatan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 75 . 4. Informasi Surveilans merupakan hasil output system surveilans yang sudah diolah dan dianalisis dengan melihat ada dan tidaknya informasi. 6. penyelidikan awal dan laporan perkembangan wabah (periodik). 5. dan penyilidikan wabah yang dilakukan oleh pihak yang bertanggung jawab (Dinas kesehatan dan pusat). Koordinasi lintas sektor merupakan kerjasama antar pihak-pihak yang bertanggung jawab dalam penanggulangan wabah. masyarakat/toma/toga) dalam kegiatan penanggulangan wabah. 7. Pencegahan merupakan upaya memutus mata rantai penularan. ketepatan dan kelengkapan data. Pengambilan Keputusan merupakan individu yang bertanggung jawab dalam pengambilan keputusan dalam kegiatan penanggulangan. Proses 1.LAPORAN AKHIR 7. Pelayanan pengobatan merupakan upaya pengobatan terhadap kelompok yang berisiko. 9. dan peningkatan jumlah penderita yang merupakan indikasi adanya kemungkinan meletusnya suatu wabah. Potensi komunitas merupakan peran serta berbagai kelompok komunitas (seperti: tenaga kesehatan. Upaya perbaikan kondisi rentan merupakan upaya pencegahan melalui perbaikan keadaan yang menjadi sebab timbulnya kerentanan. 3. Surveilans Ketat merupakan upaya pemantauan kecenderungan wabah. Penyelidikan merupakan proses kegiatan kajian penyelidikan pendahuluan dan laporan awal. dan ketepatan waktu yang diterima oleh pihak-pihak pengambil keputusan. 8.

seksi surveilance.Pustu/polindes.. Tingkat Provinsi antara lain: 3. Masyarakat anatar lain: : Ka Desa. staf Kesling 5. Puskesmas: Kepala Puskesmas. LMD/Dewan Kel. Sumber Informan adalah petugas yang terkait dengan pelaksanaan surveilans dan penanggulangan penyakit menular. petugas P2M. Tingkat Pusat antara lain P2M. Ka RT. Yanmedik dan Binkesmas 2. Draft Instrumen Instrumen yang akan dirancang adalah instrument untuk wawancara mendalam (indepth interview) dan instrument observasi (check list). Tingkat Kabupaten antara lain: kepala dinas kesehatan. Kader Kesehatan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 76 . yaitu: 1. Bappeda.LAPORAN AKHIR IV. Biro Kesra 4. kasubdin P2M.

Indrijono Tantoro. Soedarto Romoatmojo. MOH.Dr. Dalam aspek metodologi masukan dari brainstorming yang diharapkan berkiatan dengan aspek runga lingkup kajian.Dr.LAPORAN AKHIR LAMPIRAN 2 PELAKSANAAN KEGIATAN DAN PEMBAHASAN A. Broto Warsito. dan Masa Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 77 . Setditjen P3L Depkes . mencakup aspek • Review tentang Kajian Penyakit Menulat (Aspek Metodologi Kajian. serta variabel kajian Hasil brainstorming selengkapnya pada LAMPIRAN 2.Tim Fakultas Kesehatan Masyarakat. FKM-UI • Tinjauan Umum tentang Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular di Indonesia (Kebijakan Masa Lalu. (2) Ekspose Tim Ahli. MPH. (2) Ekspose Tim Ahli Ekspose Tim Ahli dilaksanakan pada tanggal 5 April 2006 Ekspose Tim Pakar dimaksudkan untuk menggali lebih dalam lagi berbagai aspek yang berkaitan dengan Penanggulangan Penyakit Menular. MPH . Dr. dr.Dr. Masa Kini. Balitbang Depkes . penetapan responden. Dadi Argadiredja. rumusan masalah serta tujuan dan sasaran penelitian. Masykur Riyadi. Tim yang diundang dalam acara brainstorming adalah nara sumber dari kajian ini serta beberapa pakar lainnya. Dedi M. yaitu .D. pemilihan lokasi peneltian. Ph.Prof. serta (3) Diskusi Internal.Dr. Dr. Deputi Bidang SDM dan Kebudayaan Bappenas Brainstorming dengan tim pakar dimaksudkan untuk mendapatkan wawasan yang lebih jelas mengenai penanggulangan penyakit menular.Dr. Sukirman. Masukan yang diharapkan dari pelaskanaan brainstorming mencakup perbaikan konsep. (1) Brainstorming dengan Tim Pakar Pelaksanaan brainstorming dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 28 Pebruari 2006. Erna Tresnaningsih Suharsa. Penyempurnaan Proposal Dalam rangka memperkaya proposal telah dilakukan beberapa kegiatan mencakup (1) pelaksanaan brainstorming dengan Tim Pakar. Universitas Indonesia . kerangka pemikiran. MPH. oleh Prof. Fakultas Kedokteran Unpad . Ahli Gizi IPB .

oleh Direktur Bina Pelayanan Medik dasar. serta (4) teknik analisis data. Indriono. oleh Kepala Pusat Kajian Kebijakan Pembangunan Kesehatan. (3) perumusan kuesioner. ole Direktur Surveilans Epidemiologi. Teori dan Praktek dalam Penanggulangan Penyakit Menular. (B) Pembahasan Disain Riset Pembahsan disain riset yang dilakukan mencakup aspek (1) penetapan lokasi kajian. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 78 . Depkes. Depkes Tinjauan terhadap Kebijakan Surveilans Epidemiologi. Depkes Penanggulangan Penyakit Menular di Puskesmas. (3) Diskusi Internal Diskusi internal dilakukan pada berbagai kesempatan diskusi yang diselenggarakan di Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Diskusi inernal dilakukan diantara anggota Tim Perumus Rekomendasi Kebijakan dengan melibatkan Tim dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Diskusi internal dilakukan dalam rangka menyempurnakan kerangka acuan kajian dengan mengakomodasi berbagai masukan yang didapat dalam pertemuan brainstorming tim pakar maupun dari hasil ekspose tim ahli. oleh Direktur Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang. oleh Dr. serta rencana analisis data dan informasi dan bentuk laporan kajian. (2) penentuan sampel dan responden. Dalam diskusi internal juga dilakukan kesepakatan akhir berkaitan dengan disain kajian. Setditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Depkes Kebijakan Umum Departemen Kesehatan dan/atau Nasional dalam Upaya Penanggulangan Penyakit Menular. Yang Akan datang. oleh Direktur Bina Kesehatan Komunitas. Depkes Pokok-pokok Pikiran hasil Ekspose Tim Ahli selengkapnya dalam LAMPIRAN-3. sekaligus dibahs tentang aspek kewenangan dari masing-masing tingkatan.LAPORAN AKHIR • • • • • . Penetapan Lokasi Kajian Lokasi kajian ditetapkan di 6 propinsi dengan kriteria pemilihan propinsi didasrkan pada ferkuensi dan jumlah kasus Keadaan Luar Biasa (KLB) penyakit. metodologi serta teknis pelaksanaan survei lapangan. Kebijakan Penanggulangan Wabah DHF. Imunisasi dan Kesehatan Matra. Dalam diskusi internal juga dibahas berbagai pertauran perundangan yang berkaitan dengan penanggulangan penyakit menular. Depkes Penanggulangan penyakit Menular di Rumah Sakit Kabupaten/Kota.

Propinsi Sulawesi Selatan 5. Pelaksanaan Uji Coba Kuesioner Uji Coba Kuesioner dilakukan dalam rangka menguji sejauhmana materi pertanyaan dan isian dalam kuesioner dapat dijawab sesuai dengan tujuan kajian. Pelaksanaan Uji Coba Kuesioner dilakukan di Kota Depok. Propinsi Kalimantan Timur 4. Popinsi Jawa Timur 6. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 79 . pada tanggal 3-11 Juli 2006. Pada setiap kabupaten ditetapkan 2 kecamatan/puskesmas Penetapan Responden Pada setiap Propinsi dan Kabupaten ditetapkan 4 orang responden mencakup Kepala Dinas/Subdinas Kepala Rumah Sakit/Bagian P2M Kepala Puskesmas pada 2 kecamatan Perumusan Kuesioner Rumusan Kuesioner dibuat dalam bentuk pertanyaan terbuka dan pertanyaan tertutup Pengelompokkan didasarkan pendekatan sistem serta berdasarkan kalster variabel dari konsep penanggulangan penyakit menular. ditetapkan propinsi yang akan menjadi lokasi kajian adalah 1. Propinsi Nusa Tenggara Barat Pada setiap porpinsi ditetapkan sampel 2 kabupaten . mentabulasikan dan menginterpertasikan data C. Propinsi Sumatera Selatan 3. Uji coba juga dilakukan untuk melihat kesesuaian. mencakup (1) aspek surveilans dan (2) aspek penanggulangan wabah Kuesioner bersifat terbuka akan dilakukan dalambentuk interview dan wawancana mendalam Kuesioner dalam bentuk tertutup akan disampaikan kepada responden untuk mengisi Kuesioner Pada LAMPIRAN 1 Teknik Analisis Data Untuk menganalisis data yang bersumber dari responden dilakukan analisis data menggunakan analisis statistik deskriptif Analisis statistik deskriptif dilakukan dengan cara mengelompokkan. Aspek realibilitas dan vailiditas materi kuesioner juga menjadi target uji coba. Propinsi Riau 2. mengolah. konsistensi dari materi kuesioner sehingga runtut dan dapat dijawab dengan baik oleh responden. dengan responden adalah petugas di lingkungan Dinas Kesehatan.LAPORAN AKHIR Berdasarkan hasil pembahasan dengan kriteria di atas.

Provinsi Sulawesi Selatan dan Provinsi Nusa Tenggara Barat.. Laporan umum hasil uji coba kuesioner dalam LAMPIRAN . Beberapa masukan dari FGD adalah • Responden perlu ditambah tidak hanya unsur aparat (institution base). Provinsi Jawa Barat. propinsi. yaitu Provinsi Riau... Namun pusat tepat ”take a lead” • Perlu kejelasan antara survailans dan penanggulangan: mekanisme kerja serta proses pengambilan keputusannya E. mencakup aspek (1) Tujuan... 2 puskesmas. (3) penetapan waktu wawancara yang sesuia sehingga tidak berbebnturan dengan agenda lain bagi petugas di lapangan. Hal lain yang juga menjadi masukan dari pelaksanaan uji coba kuesioner adalah berkaitan dengan (1) perijinan dalam pelaksanaan wawancara.. 1 rumah sakit dan tokoh/perwakilan warga masyarakat.. variabel serta parameter kajian. Pembahasan Dengan FGD Pembahasan dengan Forum Group Disscussion dilakukan untuk mendapatkan masukan dan penyempurnaan konsep kajian. survey lapangan dilakukan di 6 (enam) provinsi. dan pada masing-masing kabupaten dilakukan wawancara mendalam serta pengisian kuesioner pada dinas kesehatan. Pelaksanaan Survey Lapangan Sesuai dengan lokasi kajian yang telah ditetapkan. (2) Lingkup Kajian. tetapi juga dari unsur masyarakat (community based) • Unsur institusi selain Dinkes juga ditambah Bappeda • Bagaimana menemukan sistem penanggulangan yang cepat (efektif dan efesien) dengan mempertimbangkan sistem pelaporan (survailans) yang ada dan cenderung birokratis • Masalah kewenangan penanganan perlu diperjelas (otorisasi) antara kewenangan pusat. Bappeda. khususnya terkait dengan penanganan surveilans dan penaggulangan penyakit Demam Berdarah (DHF). Pelaksanaan Survey di masing-masing propinsi dilakukan di 2 (dua) kabupaten. (2) penetapan kontak person di lapangan. termasuk lokasi. kabupaten/kota. dan fasilitas kesehatan (facility based). Provinsi Kalimantan Timur. Jadwal dan Tim pelaksana dari Survei Lapangan dalam LAMPIRAN . Provinsi Jawa Timur. D.LAPORAN AKHIR Puskesmas serta Rumah Sakit yang menangani bidang penyakit menular. (3) Metode Kajian. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 80 . Hasil uji coba kuesioner selanjutnya dianalisa untuk kemudian dijadikan bahan perbaikan.

5. 3. TIM PENDUKUNG 1. SP. Deputi SDM dan Kebudayaan TPRK 1. Hadiat. Dedy M. Dr. Masykur Riyadi. MA Dadang Rizki Ratman. Sularsono. Soekirman Dr. MPA. MPH Prof. 3. Broto Wasisto. SKM. Sulaeman Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 81 . Ir. Ph. Arum Atmawikarta. Nurlaily Aprilianti 2. MPM NARA SUMBER 1. MPH Dr. MPH Dr.D. 5. ME. 2. Erna Tresnaningsih Suharsa. Yosi Diani Tresna. Indrijono Tantoro. 4. 4. Drs. Dr. MPH Dr. MOH. Dadi Argadiredja.LAPORAN AKHIR LAMPIRAN 3 Struktur Organisasi/Tim Pelaksana PENANGGUNG JAWAB Dr. 2. SH.

Yanmedik dan Binkesmas – Propinsi: Kadinkes. Kasubdin P2M. Rumah Sakit terpilih • Responden – Pusat: P2M. Propinsi. petugas P2M. Puskesmas dan Desa. Kader Kesehatan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 82 .LAPORAN AKHIR LAMPIRAN 4 NOTULENSI PEMBAHASAN DENGAN TIM PAKAR KAJIAN KEBIJAKAN PENANGGULANGAN WABAH PENYAKIT MENULAR Jakarta. Seksi Surveilance.. Bappeda. Biro Kesra – Kabupaten : idem – Puskesmas : Kepala Puskemas. LMD/Dewan Kel. – Case Study : DBD • Kriteria Lokasi Kajian – Endemis dan Non Endemis – Sedang ada KLB dan tidak ada KLB – Pusat. Pustu/polindes. 28 Februari 2006 • Fokus yang akan diteliti – Umum. Kabupaten/Kota. staf Kesling – Desa: Ka Desa. Ka RT.

SASARAN dan REKOMENDASI Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 83 . PERUMUSAN MASALAH. PERTANYAAN PENELITIAN.LAPORAN AKHIR • Design Penelitian: Case Control • Variabel Penelitian: – Peraturan perundang-undangan (pusat. propinsi. kab/kota) – Managerial/sistem (pusat. propinsi. TUJUAN. kab/kota & kec) – Operasional (puskesmas ke bawah) • Cara Pengumpulan Data – data sekunder – data primer : wawancara mendalam di berbagai tingkat (Pusat s/d kab/kota) dan focus group discussion di tingkat Kecamatan dan desa • Perlu diperhatikan – Kaitan antara JUDUL.

Ruang Lingkup: Umum dengan case DBD Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 84 . Sampling: Non Propability Sampling 4. Pendekatan kajian: • • policy review dengan fokus pada management oriented system model Identifikasi terhadap faktor penghambat dan diakhiri dengan rekomendasi kebijakan 2. METODOLOGI KAJIAN 1.LAPORAN AKHIR LAMPIRAN 5 POKOK-POKOK PIKIRAN EKSPOSE TIM AHLI Kajian Penanggulangan Wabah Penyakit Menular Jakarta. 5 April 2006 I. Jenis Penelitian: Penelitian Operasional 3.

PRAKTEK PENANGGULANGAN DI LAPANGAN PUSKESMAS • Surveilans di Puskesmas belum Optimal • Koordinasi lintas sektor belum terintegrasi • Keterbatasan tenaga yang kompeten • Kontribusi utama Puskesmas dalam penanggulangan wabah PP dalam jejaring pelayanan. sarana. u/ hidup sehat dan (2) peningkatan sistem surveilans 5. sarana. sistem pencatatan RUMAH SAKIT Pelayanan gawat darurat masih di bawah standar Sistem monev periodik antar pusat dan daerah belum terbangun Insentif petugas perlu menjadi perhatian Kelengkapan sarana. sesuai dengan kasus penyakit • • • • Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 85 . TINJAUAN KABIJAKAN 1. Infrastruktur Puskesmas untuk surveilans ditingkatkan : Poskesdes Vs Pustu III.LAPORAN AKHIR II. Pemahaman terhadap produk hukum yang ada masih rendah 3. Kebijakan peraturan perundangan dapat diikuti oleh stakeholder: Kepmen Perpres 4. tenaga dan koordinasi 6. Dalam Renstra Depkes Penanggulangan Wabah masuk dalam 2 strategi utama: (1) memberdayakan masy. tenaga. Ketentuan yang ada belum dilaksanakan secara optimal di tingkat operasional akibat keterbatasan dana. Kebijakan yang ada belum fokus 2.

desa siaga 6. prioritisasi 5. Mobilisasi Sosial Gerakan Masyarakat “3M” Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 86 . Pelaksanaan SKD-KLB belum optimal 4. Daerah berperan dalam pengambilan keputusan menentukan prioritas masalah maupun penanggulangan 2. Perlu Advokasi untuk dukungan legal aspek pelaksanaan dilapangan 3. Optimalisasi dan profesionalisme Sumber Daya (SDM dan dana) 4. Penguatan komitmen semua pihak 2. Surveilans faktor resiko selain surveilans penyakit 5. Penguatan program: evidence based. KEBIJAKAN SURVEILANS 1. Fleksibilitas pencairan dana KLB 7. sarana dan anggaran V.LAPORAN AKHIR IV. Pengembangan jejaring kerjasama dan kemitraan 3. Dukungan tenaga. KEBIJAKAN PENANGGULANGAN DBD 1. Manajemen terpadu berbais wilayah: Jumantik.

Kota Balikpapan Sulawesi Selatan 1. melalui Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 87 . perbaikan manajemen kasus diganostik dan pengobatan serta rujukan. Kab. sebagai dasar tindak lanjut perencanaan program dan penanggulangan KLB. (2) surveilans epidemiologi. (5) meningkatkan kemampuan penggalian sumberdaya daerah dan sumberdaya masyarakat dalam pengelolaan program P2M. Kab. serta kemitraan dengan masyrakat (LSM) termasuk swasta. Bogor Jawa Timur 1. Kesimpulan Hasil Survey PROPINSI RIAU Kebijakan Daerah mecakup (1) pemberantasan DBD diselenggarakan dengan menggunakan penatalaksanaan kasus secara cepat dan tepat. kewaspadaan dini. Kota Pekanbaru 2. Gresik Kalimantan Timur 1. perubahan perilaku. (2) mengembangkan dan memperkuat jejaring surveilans epidemiologi dengan fokus pemantauan wilayah setempat. Kab.LAPORAN AKHIR LAPORAN PELAKSANAAN SURVEY KAJIAN KEBIJAKAN PENYAKIT MENULAR 1. Kota Surabaya 2. Kab Lombok Tengah TOTAL Dinas 5 3 2 3 2 2 1 1 2 2 1 2 2 1 2 3 2 3 47 PKM 4 5 3 2 3 4 2 2 4 4 4 6 43 Rumah Sakit 1 1 2 1 2 1 1 4 1 2 2 3 21 Bapp 2 1 1 2 1 1 2 1 1 1 1 1 15 Masy 1 1 20 1 1 18 1 1 13 2 1 20 1 1 25 2 0 13 122 Jml 26 2. Strategi yang dilakukan mencakup (1) intensifikasi pelaksanaan kasus melalui pencarian kasus dan pemutusan rantai penularan. kab/kota. Responden Kajian No 1 2 3 4 5 6 Propinsi/Kab Riau 1. imunisasi. Kota Makasar 2. Kota Bandung 2. Kota Samarinda 2. Gowa Nusa Tenggara Barat 1. Kab. pengendalian faktor resiko dan penyehatan lingkungan. lintas sektor. Siak Jawa Barat 1. (3) memantapkan jejaring lintas program. (4) menyiapkan pengadaan dan distribusi kebutuhan obatobatan dan bahan-bahan yang esensial. Kota Mataram 2.

(2) Di Kota Pekanbaru. yaitu dana tak terduga. yaitu pada setiap Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 88 . (3) Bulan Bakti gerakan ”3M”. (4) Penanggulangan kasus. dana bencana dan dana belanja rutin sekretariat daerah. maka kinerjanya akan dipertanyakan. pelatihan tenaga puskesmas dan rumah sakit. (8) Penelitian. Dinkes. tersedia pos untuk penanggulangan.LAPORAN AKHIR perencanaan. Strategi pelaksanaan kebijakan penanggulangan DBD di Propinsi Jawa Barat dilakukan melalui (1) pendekatan ”gerak cepat” dan putus rantai. PROVINSI JAWA BARAT Kebijakan penannggulangan di Jawa Barat secara umum mengacu pada kebijakan dan program yang telah ditetapkan oleh Departemen Kesehatan (Pusat). Dana KLB dianggarakan dengan menggunakan pola kinerja artinya bila KLB tidak terjadi. (3) Disamping Tim Pokjanal DBD. menyiapkan juknis dan juklaknya. pelatihan tenaga operasional. (3) meningkatkan SDM. melalui penyediaan insektisida dan larvasida. dan menyiapak sarana pemeriksaan untuk diagnosa melaksanakan PE dan penanggulangan fokus. sedangkan sekretariat berada di kantor Dinas Kesehatan. (2) pemberantasan vektor. sedangkan dana dari Dinas Kesehatan diutamakan untuk membeli peralatan dan kegiatan yang sifatnya pencegahan. Depag dan pihak legislatif. pematauan dan informasi program pemberantasan penyakit dan meningkatkan kewaspadaan di semua tingkat administrasi. maka uang tidak bisa dicairkan. Hasil implemnatsi kebijakan. (3) Bila terjadi KLB. (7) Pendekatan Peran Serta Masyarakat dann PSN DBD. lintas program dan lintas sektor terkait serta mengaktifkan kembali peran UKS (Usaha Kesehatan Sekolah) untuk menggerakkan anak sekolah dalam pemberantasan demam berdarah. Kegiatan pokok adalah melakukan rapat lintas sektor untuk menangani masalah-masalah khususnya penyakit menular. melalui pelaksanaan pertemuan berkala Pojanal/Pokja DBD. Kota Pekanbaru juga memiliki Forum Perkampungan Sehat. Bappeda. (5) penanggulangan KLB. diketuai oleh Bappeda dan sekretariat juga berada di Bappeda. Program yang dilakukan mencakup (1) kewaspadaan dini DBD melalui penyuluhan intensif. Tim Pokjanal DBD diketuai oleh Walikota. Nbila terjadi KLB. PKK. melengkapi sarana pemberantasan vektor. uang dicairkan. Tim Pokjanal DBD terdiri dari unsur-unsur Diknas. dan pemeriksaan jentik berkala (PJB) yang dilakukan setiap 3 bulan sekali. pembinaan dalam pelaksanaan gerakan 3M. Ketiga dana tersebut diatas berasal dari dana Kantor Walikota. (2) Pemberantasan vektor melalui PSN dengan cara 3M Plus. yaitu mencakup 1) Kewaspadaan dini DBD. Strategi dan program adaah (1) pertemuan dengan tim pokjanal DBD propinsi Riau menghasilkan beberpa kesepakatan yang menitikberatkan pada peran aktif dari pokja/pokjanal DBD dengan melibatkan masyarakat. (6) peningkatan profesionalisme SDM. dimana Puskesmas melakukan penyelidikan epidemiologi (PE) untuk mengurangi persebaran lebih luas dan tindakan yang lebih tepat. PMD.

membuat cara penanggulangan sementara. (2) pencarian kasus tambahan dilakukan pada saat penyelidikan epidemiologi. status gizi. (4) melakukan kajian epidemiologi harus bekerjasama dengan lintas program dan lintas sektor. menetapkan apakah kejadian tersebut suatu KLB. melalui persiapan penyelidikan lapangan. mengamati indikasi pra-KLB misala cakupan program. kesibukan kader. (4) Pelibatan partisipasi masyarakat melalui gerakan PSN setiap hari Jumat pagi. mendeskripsikan kasus berdasarkan waktu. bidan. (2) Fogging dilaksanakan apabila terjadi KLB dengan menggunakan dana yang berasal dari Dinas Kesehatan Kabupaten dengan peruntukan untuk larvasidasi dan abatesisasi. (2) upaya preventif yang dilakukan melalui ”managing vector and environment” malalui ger kan 3M yang dilakukan secara linta sektor dalam wadah Pokjanal DBD. Pelaksanaan program penannggulangan DBD mencakup (1) SKD-KLB melalui kegiatan pengumpulan data baru dari penyakit-penyakit yang berpotensi KLB. (3) penyelidikan epidemiologi terhadap kasus yang dicurigai pada daerah yang resiko rendah. (5) Pelibatan lintas sektor. (2) penyeldikan dan penanggulangan KLB. (6) Sosialissi Pola Hidup Bersih (PHBS). pengolahan dan analisis data untuk penyususnan rumusan kegiatan perbaikan oleh tim epidemiologi. dan tidak seimbangnya jumlah kader dengan cakupan daerah yang harus diselediki. perilaku masyarakat. Hasil pelaksanaan program ditunjukkan antara lain (1) pemantauan jentik belum optimal dilakukan oleh kader dengan alasan terbatasnya dana operasional.LAPORAN AKHIR kasus petugas siap melakukan PE sehingga ditemukan akar permasalahan dan sumber penyebabnya untuk kemudian dilakukan tindakan agar tidak menyebar ke tempat lain. Strategi dalam penanggulangan DBD dilakukan melalui (1) penemuan kasus dan kematian melalui surveilans di rumah sakit. puskesmas dan masyarakat. PROVINSI JAWA TIMUR Kebijakan daerah mencakup (1) upaya penanggulangan masalah-masalah kesehatan yang dilakukan merupakan hasil dari kajian surveilans epidemiologi. dan melakukan ”CLEAN-UP” lingkungan yang dipimpin oleh wali kota selama 1-2 jam. (2) kegiatan surveilans epidemiologi dilaksanakan oleh tim fungsional di masingmasing tingkat mulai dari Puskesmas. mengidentifikasi dan menghitung kasus atau paparan. dokter. pemeriksaan jentik dengan memberdayakan tenaga jumantik. orang dan tempat. mengidentifikasikan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 89 . foggig focus massal. perawat. (4) penemuan kasus dilaksnakan secara bekerjasama dengan masyarakat. dukun bayi dan kendaraan kesehatan. (3) Upaya peningkatan kemamampuan tenaga kesehatan dalam penanggulangan DBD secara kuratif dilakukan melalui ”workshop tata laksana” dengan melibatkan dokter spesialis dan urusan dalam. kab/kota. memastikan diagnostik etiologi. (5) melakukan studi epidemiologi pada daerah dengan knerja yang tidak baik. dan propinsi. (3) komitmen dari pimpinan unit penyelenggara kesehatan diperlukan untuk kegiatan surveilans epidemiologi. praktek swasta.

(5) Dinas kesehatan kota Balikpapan selalu melaksanakan pendataan DBD dengan rutin. kewaspadaan dini. (2) Tim Pokjanal DBD diketuai oleh Walikota. lintas program dan lintas sekor terkait. melengkapi sarana pemerantasan vektor. mengidentifikasikan keadaan penyebab KLB.LAPORAN AKHIR sumber dan cara penyebaran. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 90 . menetapkan rekomendasi cara pencegahan dan penanggulangan. pelatihan tenaga kesehatan. merencanakan penelitian lain yang sistematis. (3) Untuk tahun 2005. (2) Pemberantasan vector. pelaksanaan gerakan 3M. Gambaran implementasi adalah (1) Pelaksanaan penanggulangan DBD melibatkan masyarakat. Kota Balikpapan memiliki Yayasan DBD yang ketuanya adalah kasubdin P2M Dinkes dan didanai oleh perusahaahn2 minyak swasta. Pokok-pokok Program yang dilakukan mencakup Kewaspadaan dini DBD. PROVINSI SULAWESI SELATAN Upaya penanggulangan kejadian luar biasa (KLB)/penyakit menular. PROVINSI KALIMNATAN TIMUR Kebijakan Daerah yang dilakukan mencakup (1) Pemberantasan DBD diselenggarakan dengan menggunakan penatalaksanaan kasus secara cepat dan tepat. perubahan perilaku dalam pola hidup bersih dan sehat. (3) Pelatihan tenaga surveilens (pelatihan epidemiologi. APBD mengalokasikan dana 500 juta untuk peanggulangan KLB dan habis untuk penanggukangan KLB DBD. menetapkan sistem penemuan kasus baru. sehingga sesuai data memang DBD di Kota Balikpapan tinggi. beranggotakan kepala – kepala dinas yang ketika diadakan rapatrapat selalu dihadiri oleh personal yang berlainan. (6) Pelatihan khusus tentang epidemiologi dan surveillens baru dilakukan 1 kali dalam 5 tahun terakhir. penyehatan lingkungan. penyuluhan. Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Selatan selanjutnya menyusun Prosedur Tetap (Protap) Penanggulangan DBD sebagai pedoman/acuan pelaksanaan kegiatan Dinas Kesehatan Propinsi dan Dinas Kesehatan Kabupten/Kota. (4) Di samping Tim Pokjanal DBD. pelaksanaan PE. (2) Pelaksanaan Surveilans Epidemiologi. (2) mengembangkan dan memperkuat jejaring surveilans epidemiologi dengan fokus pemantauan wilayah setempat. penyediaan insektiside dan larvasida. dan (3) Membangun kerja sama lintas sektor. Strategi yang dilakukan mencakup (1) peningkatkan pencarian kasus dan pemutusan rantai penularan perbaikan manajemen pengobatan serta rujukan. kerja sama dengan dengan masyarakat dan swasta. pertemuan berkala Pokjanal/Pokja DBD. khususnya penyakit DBD di Propinsi Sulawesi Selatan. pada dasarnya dilaksanakan berpedoman pada arah kebijakan dan program dari Pemerintah Pusat (Departemen Kesehatan).

lintas program dan kabupaten/kota terdekat. dimana peran puskesmas sangat kecil karena dukungan dana dan personil sangat kecil.. (2) Penanggulangan KLB menemukan jumah kasus KLB DBD tahun 2005 sebanyak 66 kasus. pembinaan di 23 kab/kota. pemantauan jentik berkala di berbagai kabupaten endemis dengan sasaran masing-masing 100 rumah. melalui penemuan dan pelaporan penderita. pemantauan jentik berkala. Dinkes Propinsi Nusa Tenggara Barat membuat pedoman operasional yang berisi ”step by step” metodologi penanggulangan DBD.LAPORAN AKHIR Materi yang disusun dalam Protap ini adalah langkah-langkah penanggulangan DBD sebagai berikut: (1) Kewaspadan Dini. melalui pelatihan petugas kesehatan. pengamatan bebas jentik dilakukan oleh murid-murid sekolah dan telah terbukti cukup efektif untuk dapat direflikasi di daerah lain. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 91 . melalui penyuluhan. Implementasi kebijakan penanggulangan DBD di Sulawesi Selatan antara lain (1) Kewaspadaan Dini. kab/kota dan puskesmas. PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT Pedoman surveilans dan KLB kurang operasional. penyuluhan intensif melalui media cetak dan elektronik. melakukan pelatihan tatalaksana DBD bagi dokter di rumah sakit pada daerah endemis. dukungan dana surveilans tertolong oleh adanya subsidi dari Askeskin. Surveilans dilaksanakan pada tingkat dinas kesehatan propinsi. Namun terdapat ”gap” pelaksanaan/penanganan KLB. Pada pelaksanaan di Puskesmas. Di kabupaten Lombok Tengah. penanggulangan fokus. menghasilkan penemuan dan pelaporan penderita. terutma untuk insentif tenaga kesehatan dan kader. bulan kewaspadaan DBD. (3) Peningkatan Sumber Daya Manusia. (3) Penanggulangan KLB. Dngan demikian Puskesmas sebagai fasilitas yang paling dekat edngan masyarakat tidak dimanfaatkan dengan baik dalam penanggulangan KLB DBD. dan fooging massal. (2) Pemberantasan Nyamuk Penular DBD terhdap nyamuk dewasa dan jentik nyamuk. (4) Peningkatan SDM. pertemuan Kewaspadaan Dini DBD sebanyak 4 kali melibatkan sektor terkait. gerakan PSN. abatisasi. sedangkan tahun 2004 jumlah KLB DBD sebanyak 88 kasus. pelatihan bagi pengelola program P2 DBD di 23 kab/kota.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->