LAPORAN Kajian Kebijakan Penanggulangan (Wabah) Penyakit Menular

(Studi Kasus DBD)

Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat

Deputi Bidang SDM dan Kebudayaan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional 2006

LAPORAN AKHIR

KAJIAN KEBIJAKAN PENANGGULANGAN (WABAH) PENYAKIT MENULAR
Studi Kasus DBD

DIREKTORAT KESEHATAN DAN GIZI MASYARAKAT BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL TAHUN 2006

Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular

LAPORAN AKHIR

Ringkasan Eksekutif
Kajian ini dilatarbelakangi adanya kecenderungan terus meningkatnya wabah penyakit menular di berbagai daerah di Indonesia. Selain penyakit menular yang telah lama ada, penyakit menular baru (new emerging diseases) juga menunjukkan peningkatan. Kebijakan penanggulangan wabah penyakit menular telah diatur dalam peraturan perundangan. Namun demikian implementasi di lapangan masih menghadapi berbagai permasalahan. Beberapa permasalahan yang teridentifikasi antara lain berkaitan dengan (1) pelaksanaan surveilans, (2) upaya penanggulangan, serta (3) adanya desentralisasi kewenangan pengelolaan. Berdasarkan hasil penelitian WHO Tahun 2003 dilaporkan bahwa pelaksanaan kegiatan surveilans masih menghadapi kendala antara lain berkaitan dengan (1) kebijakan sistem surveilans yang belum dipahami sampai ke petugas teknis di lapangan, (2) terbatasnya tenaga pelaksana surveilans, (3) adanya ketidaksesuaian kompetensi, (4) terbatasnya dana pelaksanaan surveilans di tingkat operasional, dan (5) belum optimalnya penggunaan sarana kesehatan dalam mendukung pelaksanaan surveilans penyakit seperti pemanfaatan laboratorium dan peralatan. Berdasarkan latar belakang tersebut, tujuan utama kajian adalah menyusun rumusan kebijakan penanggulangan wabah penyakit menular secara terpadu berdasarkan analisis faktor-faktor yang berpengaruh melalui (1) identifikasi kinerja surveilans, (2) identifikasi kinerja penanggulangan wabah penyakit , serta (3) identifikasi peran dan tanggungjawab Pemerintah Daerah. Metode kajian dilakukan melalui analisis diskriptif (kualitatif) berdasarkan data dan informasi yang didapat di lapangan, baik berbentuk data sekunder maupun hasil wawancana mendalam serta melakukan pembahasan dengan nara sumber dalam bentuk focus group discussion (FGD) dan workshop. Landasan pemikiran kajian didasarkan pada asumsi adanya hubungan timbal balik antara rendahnya kinerja surveilans dan kinerja penanggulangan dengan implementasi kebijakan wabah penyakit menular khususnya dalam kasus kebijakan penanganan penyakit DBD. Kinerja surveilans diukur dengan melihat (1) keberadaan peta rawan, (2) pelaksanaan diseminasi informasi DBD, dan (3) Pelaporan serta dengan melihat faktor-faktor berpengaruh mencakup (1) tenaga, (2) data, (3) sarana, (4) dana, dan (5) SOP. Kinerja Penanggulangan diukur dengan melihat (1) Frekuensi KLB, (2) Jumlah Kasus, (3) Jumlah Kematian, (4) Luas Daerah Terserang serta dengan melihat faktor-faktor berpengaruh mencakup (1) tenaga, (2) data, (3) sarana, (4) dana, dan (5) SOP. Implementasi kebijakan wabah penyakit menular juga dipengaruhi kebijakan desentralisasi kewenangan pengelolaan pembangunan. Kajian menyimpulkan bahwa kendala utama yang dihadapi dalam implementasi kebijakan penanggulangan wabah penyakit menular dalam kasus DBD adalah (1) koordinasi antar instansi dan antar unit yang bertanggung jawab dalam penanganan DBD masih belum optimal, khususnya dalam pelaksanaan surveilans dan penanggulangan DBD, (2) koordinasi antara pusat dan daerah belum dilandasi suatu kebijakan operasional yang jelas tentang kewenangan dan tanggung jawab masingmasing, (3) sistem pengelolaan program penanganan penyakit menular masih didominasi pusat, (4) tingginya beban puskesmas sebagai unit operasional utama di lapangan dalam implementasi kebijakan penanggulangan wabah penyakit menular. Indikator Kinerja Surveilans dan Penanggulangan mencakup (1) Peta rawan, hampir semua dinkes propinsi maupun dinkes kab/kota memiliki peta rawan, sedangkan di Puskesmas sebagai unit pelayanan dasar dan rumah sakit sebagai unit pelayanan rujukan, peta rawan tidak selalu tersedia, (2) proses diseminasi informasi dilakukan
Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular ii

Pengadaan insektisida dan mesin fogging di supply oleh Dinkes Propinsi karena kab/kota belum siap. Untuk tingkat kabupaten/kota. kualifikasi pendidikan yang belum sesuai. pengetahuan tim pada umumnya dipenuhi dari pengalaman lapangan dalam penanganan P2M.LAPORAN AKHIR melalui penerbitan buletin kajian epidemiologi yang diterbitkan oleh dinkes propinsi dan dinkes kabupaten/kota. Bidang pendidikan yang ada adalah perawat. Struktur organisasi Dinkes propinsi maupun Kab/Kota tidak menggambarkan pembedaan kedua tugas tersebut. namun ketepatannya masih 60%. (4) SOP. Pendidikan rata-rata perawat. Dana yang digunakan untuk penanggulangan KLB berasal dari APBN (Dekon) dan APBD. SOP. Pengetahuan. tetapi tidak menjadi kendala dalam berjalannya sistem. Validitas data yang dilaporkan tidak pernah dipermasalahkan. Hampir semua level baik di propinsi hingga kabupaten/kota termasuk puskesmas dan rumah sakit mengalami masalah ketenagaan dalam kegiatan surveilans dan penanggulangan. Propinsi belum mempunyai sistem peringatan ke kabupaten bila terjadi keterlambatan atau ketidak lengkapan data. Permasalahan dana terutama berkaitan dengan (1) keterlamabatan turunnya DIPA. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kinerja surveilans dan penanggulangan terkait dengan (1) tenaga. Kualitas dan kualifikasi masih belum terpenuhi sesuai dengan bidang tugas dan kompetensinya. khusus untuk KLB tersedia block grant dari pusat. Di rumah sakit tidak terdapat dana surveilans. perpindahan yang begitu cepat. (2) ada masa ketiadaan anggaran. sedangkan data kematian cenderung meningkat. Puskesmas tidak memiliki alokasi dana khusus untuk kegiatan surveilans. (3) sistem pelaporan ditunjukkan dengan kelengkapan laporan mencapai 90-100%. Hampir semua unit pelayanan kesehatan di daerah memiliki pedoman dan peraturan dalam rangka pelaksanaan surveilans dan penanggulangan DBD. Data. belum dilakukan. Tenaga. Sarjana (SKM) dan MKes. dana untuk pelaksanaan penanggulangan wabah penyakit menular dirasakan pihak daerah mencukupi. Kurangnya jumlah SDM. Ketepatan dan kelengkapan laporan dari kabupaten masih rendah. Operasi lapangan untuk suatu kasus (DBD) serentak dilakukan. Namun demikian kebanyakan SOP tersebut belum operasional. dan epidemiologi. Sarana. (5) sarana. Sarana utama yang dibutuhkan dalam penanganan kasus DBD adalah adanya mesin fogging serta insektisida. dan (6) data. Tidak ada batas yang tegas yang membedakan antara Surveilans dan Penanggulangan dalam praktek operasional di lapangan. Baik APBD propinsi maupun APBD kabupaten/kota atau APBD sharing. khususnya ketika kasus terjadi. Upaya yang dilakukan Dinas Kesehatan Propinsi maupun kabupaten/kota dalam rangka peningkatan kemampuan adalah pembinaan teknis. baik di tingkat propinsi maupun kabupaten (baru bersifat pengumpulan data). (4) Jumlah Kasus periode 2003-2005 cenderung stagnan untuk propinsi lokasi kajian (kecuali Jatim meningkat). (3) dana. Dana. Beberapa dinkes kabupaten/kota inisiatif melakukan modifikasi terhadap SOP yang dibuat Depkes. Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular iii . Selain pelatihan formal. Dana menjadi persoalan dalam implementasi kebijakan penanggulangan penyakit menular. rakor dan melakukan berbagai pelatihan di bidang surveilans maupun penangulangan penyakit. Pada tingkat propinsi. hampir semuanya menggunakan dana APBD. mengadakan pertemuan/ lokakarya. dan (3) proporsi anggaran untuk preventif dan kuratif yang tidak seimbang. Sehingga untuk SKDKLB data yang seharusnya dapat dilihat/diprediksi diawal untuk kewaspadaan terjadinya KLB. Walaupun kondisi sarana dan prasarana untuk kegiatan penanggulangan penyakit menular tidak selalu memadai. (2) pengetahuan. yang ada hanya pencatatan pelaporan yang dilakukan di bagian rekam medis. beban kerja yang tinggi merupakan masalah yang hampir ditemukan disemua tingkatan. Case Fatality Rate (CFR) DBD fluktuatif. Data yang ada belum dilakukan analisis. Dana operasional selain bersumber dari dana operasional umum juga memanfaatkan dana JPK-MM. Pemahaman tentang surveilans dan penanggulangan KLB masih belum sama.

surveilans epidemiologi dan penanggulangan KLB/wabah. namun belum maksimal. serta pelaporan (evaluasi). Namun pada saat kasus. advokasi. pelaksanaan (monitoring). pemantauan. (5) Meningkatkan peran dan tanggung jawab Pemerintah Daerah melalui intensifikasi kegiatan sosialisasi. Koordinasi penanganan kasus masih bersifat sporadis. belum tertata dalam sebuah sistem yang aktif dan terstruktur. keterbatasan dana. (3) Mengurangi secara bertahap dominasi peran pengelolaan program oleh pusat melalui pendelegasian kewenangan ke daerah serta peningkatan profesionalisme pengelola program di daerah. Keperdulian pemerintah daerah masih belum terlihat. sebagai suatu kegiatan rutin. (2) Aktivitas surveilans dilakukan oleh Tim Lapangan. analisis. namun belum maksimal melaksanakan surveilans karena keterbatasan tenaga. antara lain keterbatasan tenaga. (6) Meningkatkan kemampuan tenaga pengendalian penyakit untuk melakukan pencegahan dan penanggulangan faktor risiko. validasi dan pengembangan “respond system”. akibatnya kegiatan tindak lanjut yang seharusnya dilakukan tidak berjalan. jejaring kerja informasi dan konsultasi teknis peningkatan komunikasi informasi dan edukasi (KIE) pencegahan dan pemberantasan penyakit. kecuali kalau ada kasus KLB yang menyebabkan sarana TT tidak mencukupi. (2) Percepatan penyusunan kebijakan operasional dalam koordinasi pelaksanaan program antar pusat daerah yang mencakup aspek perencnaaan. (9) Membangun dan mengembangkan kemitraan. Pengobatan dapat dilakukan dengan baik kecuali kalau ada keterlambatan datang ke sarana pengobatan dan akibat terlambat merujuk. karena tidak seimbang antar area yang harus dipantau dengan kemampuan sumberdaya yang tersedia. Hal ini berkaitan dengan masih cukup besarnya alokasi dana yang berasal dari APBN (dalam bentuk DAU. malalui (i) Peningkatan dukungan dana yang memadai dari APBN maupun APBD. PE tidak dilakukan maksimal sesuai prosedur yang ada. (11) Diperlukan model manajemen pemberantasan penyakit dan penyehatan lingkungan secara terintegrasi yang berbasis wilayah kabupaten/kota dalam perspektif Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular iv . (7) Melakukan bimbingan. (8) Membangun dan mengembangkan kemitraan dan jejaring kerja informasi dan konsultasi teknis pencegahan dan penanggulangan faktor resiko. sarana dan dana. Banyak kendala. Penyelidikan Epidemiologi (PE) yang dilakukan Puskesmas belum maksimal. bukan sebaliknya pemerintah daerah yang aktif meminta informasi. Rekomendasi kajian yang diusulkan mencakup (1) Peningkatan koordinasi antar instansi dan antar unit dalam berbagai tingkatan dalam penanganan wabah penyakit menular yang dilakukan oleh Menko Kesra. dan evaluasi kegiatan pencegahan dan penanggulangan faktor resiko. (3) Surveilans mulai diperlukan ketika ada kasus. Permasalahan operasional penanganan DBD juga dipengaruhi oleh sistem kepemerintahan yang belum sepenuhnya dapat mengakomodasi sistem perencanaan dan sistem keuangan yang baru. Gubernur. ketiadaan sarana. hal ini tampak dari keaktifan instansi kesehatan dalam penyebaran informasi kesehatan. dekonsentrasi maupun tugas perbantuan). promosi dan koordinasi. Komitmen daerah dalam penyediaan anggaran (APBD) untuk penanganan wabah penyakit menular belum optimal. (10) Diperlukan dukungan dalam bentuk peraturan perundangan dalam meningkatkan komitmen para pihak di daerah dalam rangkan pencegahan dan penanggulangan DBD. tidak setiap kasus DBD ditindaklnajuti dengan PE karena DBD dianggap kasus rutin. (ii) Penyempurnaan SOP sesuai “local specific”. (4) Memperkuat kapasitas dan kapabilitas Puskesmas sebagai unit terdepan dalam operasionalisasi surveilans dan penanggulangan wabah penyakit menular. baik pada internal sektor maupun lintas sektor. Pengobatan dan isolasi penderita dirujuk ke rumah sakit. Bupati/Walikota . (iv) Optimalisasi penggunaan sarana dan prasarana dengan melibatkan peran aktif masyarakat.LAPORAN AKHIR Kondisi umum Pelaksanaan Surveilans dan Penanggulangan DBD: (1) Ujung tombak pelaksanaan surveilans ada di Puskesmas. dan sistem kewaspadaan dini (early warning system). Penanggulangan DBD di Rumah sakit relatif tidak masalah. (iii) Peningkatan kualitas sistem pelaporan melalui ketepatan data. yang paling menonjol adalah penanggulangan (PE).

dan rehabilitatif. Motivasi dankomitmen selain muncul atas kesadaran memerlukan dukungan eksternal dalam bentuk insentif. diperlukan revitalisasi peran kelembagaan khususnya kelembagaan Puskesmas. perlu terus dikembangkan pola pendanaan sistem jaminan kesehatan seperti askeskin sehingga kepastian dana sampai kepada masyarakat terjamin. (3) Data dan Informasi. dibuat sesederhana mungkin agar memudahkan pelaksanaan operasional tenaga lapangan dan distribusikan. (4) Ketenagaan. (5) SOP. Dukungan pendanaan serta tenaga dan sarana dalam rangka pelaksanaan operasional pencegahan dan penanggulangan (preventif. Keberadaan data dan informasi yang akurat dan sinambung menjadi salah satu indikator kinerja pembangunan kesehatan. (2) Pendanaan. perlu di kelola secara profesional dan berkesinambungan dengan memanfaatkan teknologi yang tepat dan mudah diaplikasikan serta dimungkinkan adanya Pusat Informasi Penanaganan DBD (DBD Center). Implikasi Kebijakan dan Rencana Tindak Lanjut mencakup aspek-aspek: (1) Kelembagaan. Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular v . preventif. Puskesmas perlu diperkuat dengan kapasitas manajemen pelayanan untuk kegiatan yang bersifat promotif. promotif dan rehabilitatif) menyertai peran dimaksud secara memadai. selain kuratif. sekaligus menjamin setiap masyarakat terlayani untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Serta didukung jaringan dan kerjasama erat baik antar wilayah dan adimistrasi pemerintah maupun diantara para pelaku pemberantasan penyakit menular dan penyehatan lingkungan itu sendiri dalam satu wilayah. Sebagai perangkat utama Kesehatan. mendorong terbangunnya motivasi dan komitmen para pelaksana pembangunan kesehatan di lapangan sebagai ujung tombak pembangunan kesehatan.LAPORAN AKHIR komprehensif.

MA 3. khususnya kasus Demam Berdarah dengue (DBD). SP. baik di di tingkat kebijakan makro (RKP) maupun dalam bentuk kebijakan teknis yang perlu di tindak lanjuti oleh departemen/instansi teknis maupun instansi terkait lainnya. masyarakat serta FGD dari Bappenas. Ir. Desember 2006 Tim Perumus Rekomendasi Kebijakan 1. dibuat implikasi kebijakan yang harus menjadi langkah tindak lanjut. bappeda serta masyarakat. Tiada gading yang tak retak. Hasil temuan dan kesimpulan dirumuskan menjadi suatu rekomendasi kebijakan yang diharapkan dapat memperbaiki kebijakan dalam penanggulangan wabah penyakit menular. penyakit menular baru (new emerging diseases) juga menunjukkan peningkatan. SKM. Kebijakan penanggulangan wabah penyakit menular telah diatur dalam peraturan perundangan. Yosi Diani Tresna. MS 7. Selain penyakit menular yang telah lama ada. SKM 8. STP. Kasus penyakit menular dalam kajian ini adalah Demam Berdarah Dengue (DBD). Arum Atmawikarta. Ucapan terima kasih pada seluruh pihak yang telah memberikan kontribusi pada pelaksanaan kajian ini mulai dari tim perumus rekomendasi kebijakan. Sularsono. Selanjutnya berdasarkan rekomendasi yang dirumuskan.LAPORAN AKHIR KATA PENGANTAR Dengan memanjat puji dan syukur pada Allah SWT. Pelaksanaan kajian telah melibatkan Deputi bidang SDM dan Kebudayaan Bappenas. Dinas Teknis terkait. MPA 4. Dadang Rizki Ratman. Inti Wikanestri. Perguruan Tinggi. Jakarta. khususnya Subdit Arbovirosis. MPM 5. SH. khususnya dalam penanganan kasus demam berdarah. DR. Kajian ini dilatarbelakangi adanya kecenderungan terus meningkatnya wabah penyakit menular di berbagai daerah di Indonesia. Nurlaili Aprilianti Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular vi . anggota FGD. Hasil kajian ini jelas belum menggambarkan kondisi utuh pelaksanaan kabijakan sehingga langkah kebijakan yang diambil pun tidak luput dari bias dari peneliti dan pengkaji. Banyak hal telah didapat dari pelaksanaan kajian ini. serta responden di dinas kesehatan propinsi dan dinas kesehatan kabupaten/kota. Hadiat. tidak saja dalam bentuk temuan tetapi juga pengalaman proses pelaksanaan survey lapangan yang dilakukan sampai ke tingkat Puskesmas dan pelosok masyarakat untuk melakukan wawancara dan diskusi. ME 6. Pungkas Bahjuri Ali. Namun demikian implementasi di lapangan masih menghadapi berbagai permasalahan. akhirnya Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular dapat diselesaikan tepat pada waktunya. MPH 2. Mudah-mudahan laporan kajian ini memliki kontribusi substansial bagi penataan kebijakan di bidang kesehatan maupun menjadi salah satu referensi bagi penelitian kebijakan selanjutnya maupun untuk kepentingan bersifat akademis. Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat serta seluruh staf di lingkungan Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas serta melibatkan nara sumber dari Departemen Kesehatan. para nara sumber. DR. Pemerintah Daerah. Unuk itu saran dan masukan guna penyempurnaan hasil kajian ini secara terbuka dinantikan.

4 2.1 2.46 (2) Dana – 51 (3) Standar Operasi dan Prosedur – 53 (4) Data – 56 (5) Sarana – 57 vii 4.2 3.4 1.2.1 3.5 3.27 3.Kendala Pencegahan DBD – 21 .3 3.29 Jenis dan Sumber Data – 30 Responden Kajian – 31 Lokasi Kajian – 32 Teknik Analisis – 32 BAB 4 : HASIL DAN PEMBAHASAN .25 BAB 3 : METODOLOGI .1 Perumusan Masalah .1 1.2 Kebijakan Penanggulangan Penyakit DBD – 35 4.2.1.2 1.1 Implementasi Kebijakan Penanggulangan DBD – 33 4.6 Latar Belakang .8 2.Peran Masyarakat dalam Penanggulangan DBD .6 Ruang Lingkup Kajian .3 1.1.LAPORAN AKHIR DAFTAR ISI Ringkasan Eksekutif .i Kata Pengantar .8 2.2 Faktor-faktor Berpengaruh terhadap Kinerja Surveilans dan Kinerja Penangulangan KLB – 46 (1) Tenaga .6 BAB 2 : LANDASAN TEORI .5 1.7 2.3 2.33 4.vi BAB 1 : PENDAHULUAN .9 Penyakit Menular di Indonesia – 8 Surveilans Epidemiologi – 8 Kebijakan Sistem Surveilans – 10 Indikator Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan – 11 Penanggulangan Wabah Penyakit Menular – 14 Epidemiologi Global Penyakit – 16 Strategi Pengendalian Penyakit – 18 Kejadian Luar Biasa – 18 Penyakit Demam Berdarah – 20 .5 Tujuan dan Sasaran – 5 Keluaran Kajian .1.4 3.6 2.1 Indikator Kinerja Surveilans dan Penanggulangan KLB – 42 4.2 Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular .3 Kendala Penanggulangan DBD – 41 Kinerja Surveilans dan Penanggulangan DBD – 41 4.Tatalaksana Penanggulangan DBD – 23 .6 Sistematika Penulisan .2 2.1 1.5 2.6 Kerangka Pemikiran – 27 Disain Kajian .1 Incidence Rate (IR) dan Case Fatalities Rata (CFR) – 33 4.

1 Kewenangan Daerah dan Stndar Pelayanan Minumum – 59 4.3.1 Kesimpulan – 65 5.3.3 Koordinasi Antar Sektor – 63 BAB 5 : KESIMPULAN DAN REKOMENDASI KEBIJAKAN .2 Rekomendasi Kebijakan – 68 5.3.LAPORAN AKHIR 4.70 DAFTAR LAMPIRAN LAMPIRAN 1: Instrumen Kajian – 72 LAMPIRAN 2: Pelaksanaan Kegiatan dan Pembahasan – 76 LAMPIRAN 3 : Struktur Organisasi/Tim Pelaksana LAMPIRAN 4: Notulen Pembahsan Dengan Tim Pakar – 81 LAMPIRAN 5 : Pokok-Pokok Pikiran Hasil Ekspose dengan Tim Ahli – 83 LAMPIRAN 6 : Laporan Pelaksanaan Survey – 86 Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular viii .2 Peran Pemerintah Daerah Dalam Penanggulangan DBD – 61 4.65 5.3 Peran dan Tanngung Jawab Pememrintah Daerah dalam Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit DBD – 59 4.3 Implikasi Kebijakan .68 DAFTAR PUSTAKA .

3 Tabel 4.9 Tabel 4.12 Tabel 4.LAPORAN AKHIR DAFTAR TABEL Tabel 1. Rs dan Puseksmas – 42 : Distribusi Indikator Diseminasi Informasi Surveilans di Dinkes Propinsi. Kab/Kota. RS dan Puskesmas – 58 : Distribusi Ketersediaan Sarana Penanggulangan di Dinkes Propinsi.1 Tabel 1.11 Tabel 4.5 Tabel 4. Dnkes Kab/Kota.13 Tabel 4. Dikes Kab/Kota. Dinkes Kab/Kota. RS dan Puskesmas – 58 : Daftar KW dan SPM Bidang Kesehatan – 60 Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular ix . RS dan Puskesmas – 56 : Distribusi Ketersediaan Data Penanggulangan KLB Propinsi.6 Tabel 4. RS dan Puskesmas – 54 : Distribusi Ketersediaan SOP Penanggulangan KLB di Propinsi.10 Tabel 4.2 Tabel 4.1 Tabel 4. RS dan Puskesmas – 55 : Distribusi Ketersediaan Data Surveilans di Dinkes Propinsi.4 : Indikator Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan – 12 : Responden Kajian – 31 : Distribusi Indikator Kinerja Surveilans di Dinkes Propinsi. Kab/Kota. Kab/kota.2 Tabel 2.1 Tabel 4.7 Tabel 4. Kab/Kota . RS dan Puskesmas – 44 : Distribusi Jenis Tenaga di Dinkes Propinsi dan Kab/Kota – 47 : Distribusi Jenis Tenaga di Rumah Sakit dan Puskesmas – 48 : Persepsi Responden Tentang Surveilans DBD – 49 : Persepsi Responden Tentang Penanggulangan DBD – 50 : Distribusi Sumber Dana di Dinkes Propinsi dan Kab/Kota – 51 : Distribusi Sumber Dana di Rumah Sakit dan Puskesmas – 52 : Distribusi Ketersediaan SOP Surveilans dan Dinkes Propinsi.15 : Sepuluh Penyakit Utama Pada Pasien Rawat Inap Tahun 2003 – 2 : Target dan Capaian Pemberantasan Penyakit DBD .1 Tabel 3. Kab/Kota .4 Tabel 4. RS dan Puskesmas – 57 : Distribusi Ketersediaan Sarana Surveilans di Dinkes Propinsi.8 Tabel 4.14 Tabel 4.

2 Gambar 2.1 Gambar 3.1 Gambar 2.6 Gambar 4.5 Gambar 4.2 Gambar 3.2 Gambar 4.7 : Alusr Distribusi Data Surveilans Terpadu Penyakit – 10 : Skema Program Penanggulangan KLB – 15 : Bagan Penanggulangan Fokus (Penanggulangan Penderita DBD di Lapangan) – 24 : Kerangka Pikir Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular – 27 :Kerangka Konsep Kinerja Surveilans – 28 : kerangka Konsep Kinerja Penanggulangan – 28 : Tahapan Pelaksanan Kajian – 32 : IR & CFR DBD Tahun 1968-2004 – 33 : Perkembangan Kasus DBD Nasional Per bulan – 34 : Kasus DBD Per Bulan di Indonesia. Tahuan 2005-20006 – 34 : Jumlah Kasus DBD di Indonesia Tahun 2005-2006 – 35 : Data Kasus DBD di Lokasi Kajian – 44 : Data Kematian DBD di Lokasi Kajian – 45 : Case Fatality Rate (CFR) DBD di Lokasi Kajian – 46 Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular x .1 Gambar 4.3 Gambar 3.3 Gambar 3.LAPORAN AKHIR DAFTAR GAMBAR Gambar 2.3 Gambar 4.4 Gambar 4.4 Gambar 4.

Menutup. Informasi dan Edukasi KLB : Kejadian Luar Biasa LSM : Lembaga Swadaya Masyarakat MDGs : Millennium Development Goals P2B2 : Penanggulangan Penyakit Bersumber Binatang P2M : Pemberantasan Penyakit Menular PE : Penyelidikan Epidemiologi PHBS : Pola Hidup Bersih dan Sehat PI : Perencanaan dan Informasi PJB .LAPORAN AKHIR DAFTAR SINGKATAN & DEFINISI ISTILAH 3M : Menguras. Pemeriksaan Jentik Berkala PKK : Pembinaan Kesejahteraan Kelaurga PKPS-BBM : Program Kompensasi Pengurangan Subsidi Bahan Bakar Minyak Pokjanal : Kelompok Kerja Operasional Posyandu : Pos Pelayanan Terpadu PP & PL : Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan PSN : Pemberantasan Sarang Nyamuk Puskesmas : Pusat Kesehatan Masyarakat RSUD : Rumah Sakit Umum Daerah SARS : Severe Acute Respiratory Syndrome SKD-KLB : Sistem Kesiapan Dini Kejadian Luar Biasa SOP : Standar Operasional Prosedur SDM : Sumber Daya Manusia SKM : Sarjana Kesehatan Masyarakat Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular xi . Mengubur ABJ : Angka Bebas Jentik APBN : Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara APBD : Anggaran Penerimaan dan Belanja Daerah Askeskin : Asuransi Kesehatan Masyarakat Miskin Bappeda : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Bappenas : Badan Perencanaan Pembangunan Nasional COMBI : Communication for Behavioral Impact CFR : Case Fatality Rate DAU : Dana Alokasi Umum DBD : Demam Berdarah Dengue Dekon : Dekonsentrasi DOP : Dana Operasional Puskesmas DPRD : Dewan Perwakilan Daerah Epidemiologi : Ilmu yang mempeljari penyebaran penyakit dan faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit pada manusia Epidemiologis: Orang yang ahli dalam ilmu epidemiologi FGD : Focused Group Discussion Gakin : Keluarga Miskin HIV/AIDS : Human Immuno deficiency Virus/Acquired Immuno Deficiency Syndrome IPTEK : Ilmu Pengetahuan dan Teknologi IR : Incidence Rate ISPA : Infeksi Saluran Pernafasan Akut JPK-MM : Jaminan Pelayanan Kesehatan Masyarakat miskin KIE : Komunikasi.

secara aktif maupun pasif dalam mengamati. yang melebihi keadaan biasanya : World Health Organization : Pelayanan Medik Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular xii . mengumpulkan.LAPORAN AKHIR SPIRS SP2PT SST STP Surveilans TBC TPA UGD UKS UPT Wabah WHO Yanmedik : Sistem Pelaporan Rumah Sakit : Sistem Pencatatan Pelaporan Terpadu Puskesmas : Sistem Surveilans Terpadu : : Rangkaian kegiatan secara teratur dan terus menerus. emnganalisis. dan menginterpretasi suatu fenomena peristiwa kesehatan pada manusia/masyarakat tertentu yang hasilnya dipakai untuk melakukan tindakan terhadap peristiwa kesehatan tersebut : Tuberculosis : Tempat Penampungan Air : Unit Gawat Darurat : Usaha Kesehatan Sekolah : Unit Pelaksanan Teknis : Suatu peningkatan kejadian kesakitan dan atau kematian suatu penyakit di suatu tempat tertentu.

sebagai “benchmarks” untuk mengukur perkembangan dalam pencapaian Deklarasi Millenium 2000. Masalah kesehatan dapat disebabkan oleh berbagai sebab. baik ditinjau dari tingkat sosial ekonomi. Selain itu. di kawasan timur Indonesia. Disparitas status kesehatan masih cukup tinggi. yang ditandai dengan penduduknya yang hidup dengan perilaku dan dalam lingkungan sehat. status kesehatan masyarakat Indonesia masih tertinggal.2 tahun (2003).000 kelahiran hidup (2002-2003). dan (7) mengurangi separuh proporsi penduduk yang tidak memiliki akses terhadap penyediaan air bersih. Beberapa target MDG yang ingin dicapai pada akhir tahun 2015. kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. AKB dan AKI lebih tinggi di daerah perdesaan. kemauan. dan Philipina. (4) menekan penyebaran penyakit HIV/AIDS. (5) menekan penyebaran penyakit malaria dan TBC. Prevalensi gizi kurang (underweight) pada anak balita. memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata. indikator kesehatan dan gizi yang telah dicapai selama ini masih jauh dari sasaran yang telah ditargetkan dalam Millennium Development Goals (MDGs).1 Latar Belakang a. oleh karena itu secara operasional masalah-masalah kesehatan tidak dapat diselesaikan oleh Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular .8 persen (2002). Di samping kemajuan yang telah dicapai di atas. dan antar perkotaan-perdesaan. yang berkaitan dengan pembangunan kesehatan di Indonesia antara lain adalah: (1) mengurangi separuh penduduk yang mengalami kelaparan.4 persen (1999) menjadi 25. kematian ibu melahirkan dan prevalensi gizi kurang.000 kelahiran hidup (2002–2003) dan angka kematian ibu melahirkan menurun dari 334 (1997) menjadi 307 per 100. MDGs merupakan suatu kesepakatan global. Jika dibandingkan dengan negara-negara ASEAN seperti Thailand. antar kawasan. Pembangunan kesehatan selama ini secara umum dapat dilihat dari status kesehatan dan gizi masyarakat yang telah menunjukkan perbaikan seperti terlihat dari angka kematian bayi. (6) meningkatkan akses terhadap obat esensial. Angka kematian bayi menurun dari 46 (1997) menjadi 35 per 1.BAB 1 PENDAHULUAN 1. Malaysia. Kondisi Umum Pembangunan Kesehatan Pembangunan kesehatan di Indonesia ditujukan untuk meningkatkan kesadaran. (3) mengurangi tiga per empat angka kematian ibu.8 tahun (1999) menjadi 66. serta pada penduduk dengan tingkat ekonomi dan pendidikan rendah. telah menurun dari 34. Umur harapan hidup meningkat dari 65. di masa datang pembangunan kesehatan menghadapi berbagai permasalahan dan tantangan yang cukup berat. (2) mengurangi dua per tiga angka kematian bayi dan angka kematian balita.

Surveilans Epidemiologi Penyakit Tidak Menular.6 Salah satu penyakit menular yang akhir-akhir ini menonjol adalah munculnya kasus polio di beberapa wilayah seperti Provinsi Jawa Barat. Tidak ada obat untuk penyakit polio. YYT dan daerah badan multiple 1. penyakit saluran pencernaan dan penyakit lainnya. demam berdarah dengue. Jawa Tengah.9 7 Demam yang sebabnya tidak tahu 1. dan Surveilans Epidemiologi Kesehatan Matra. hewan dan lain-lain antar Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 2 . Banten. Beberapa penyakit menular yang menjadi masalah utama di Indonesia adalah diare. Dengan demikian penularan penyakit antar negara (trans-nasional) ini dapat terjadi dengan mudah mengingat semakin mudahnya transportasi manusia. malaria. Untuk itu perlu dikembangkan subsistem surveilans epidemiologi kesehatan yang terdiri dari Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular.0 6 Tuberkulosis paru 1. b. sehingga pemberantasan penyakit menular memerlukan kerjasama antar daerah.7 3 Penyakit kehamilan dan persalinan lainnya 2.9 9 Cedera YDT lainnya. kabupaten/kota bahkan antar negara. Tabel 1. influenza. Satu dari 200 kasus infeksi virus akan menyebabkan kelumpuhan.9 4 Demam tifoid dan paratifoid 2. Penyakit Menular Penyakit menular masih merupakan masalah utama kesehatan masyarakat Indonesia. tifus abdominalis.0 2 Demam berdarah dengue 3.8 10 Pneumonia 1. Penyakit ini hanya bisa dicegah dengan imunisasi. Surveilans Epidemiologi Masalah Kesehatan. Lampung dan Sumatera Selatan. 5-10 % pasien meninggal akibat kelumpuhan pada otot pernafasan. Berbagai emerging diseases misalnya polio dan flu burung dapat terjadi antara lain karena tingginya mobilitas penduduk antar negara. disamping mulai meningkatnya masalah penyakit tidak menular.9 8 Diabetes Melietus 1. misalnya antar propinsi.LAPORAN AKHIR sektor kesehatan sendiri.1 Sepuluh Penyakit Utama Pada Pasien Rawat Inap Tahun 2003 No Pasien Rawat inap % 1 Diare dan gastroenteritis infeksi tertentu 8. Polio merupakan penyakit menular yang sangat berbahaya disebabkan oleh virus yang menyerang sistem syaraf dan bisa menyebabkan kelumpuhan total. Diperlukan tatalaksana terintegrasi dan komprehensif dengan kerjasama yang harmonis antar sektor dan antar program.7 5 Cedera intrakanial 2. Penyakit menular tidak mengenal batas-batas daerah administratif.

Penyakit DBD merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di wilayah tropis. pada waktu yang bersamaan terjadi peningkatan penyakit tidak menular seperti penyakit jantung dan pembuluh darah. demografi. infeksi saluran pernafasan akut (ISPA).1 persen). Indonesia juga menghadapi emerging diseases seperti demam berdarah dengue (DBD). pada umumnya kajian menunjukkan bahwa pengendalian DBD perlu dilakukan secara komprehensif dari berbagai aspek baik medis maupun sosial. Vietnam (0. Pola penyakit yang diderita oleh masyarakat sebagian besar adalah penyakit infeksi menular seperti tuberkulosis paru. padahal tujuan program pemberantasan DBD dalam Indonesia Sehat 2010 adalah menurunkan angka kejadian di bawah 5 per 100.2 persen). (2) upaya penanggulangan. India (0. Penyakit yang ditularkan melalui nyamuk Aedes aegypti ini dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti lingkungan domestik maupun iklim. sebenarnya angka kematian masih terlalu tinggi jika dibandingkan dengan Singapura (0.000 penduduk.3 persen. sosial ekonomi dan perilaku. Namun demikian.000 penduduk pada tahun 2010. Malaysia (0. dengan keterlibatan petugas kesehatan maupun pemberdayaan masyarakat. Meskipun dibandingkan dengan KLB 1968 angka kematiannya jauh telah menurun. chikunguya. (4) pengelolaan bahan-bahan yang mengandung penyebab penyakit. serta diabetes mellitus dan kanker. DBD bukannya terkendali.3 persen). kejadian luar biasa (KLB) DBD di Indonesia telah menyerang 39. Sejak Januari sampai 17 Maret 2004. Severe Acute Respiratory Syndrom (SARS) dan Flu Burung. dan Filipina (1 persen). Peraturan tersebut pada intinya mengatur (1) tata cara penetapan dan pencabutan penetapan daerah wabah . Walaupun demikian.9 persen). Dengan demikian telah terjadi transisi epidemiologi sehingga Indonesia menghadapi beban ganda pada waktu yang bersamaan (double burden). Oleh karena itu perlu upaya ekstra agar penularan dapat dicegah dan ditangani sedini mungkin. Daerah endemis tersebar di sebagian besar wilayah Indonesia. Berbagai penelitian mengenai faktor risiko terhadap kejadian DBD telah dilakukan oleh beberapa peneliti dengan memberikan hasil yang selaras maupun yang kontradiktif. dan berulang kali menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) disertai kematian yang banyak. Dalam KLB 2004 tercatat angka kejadian (incidence rate) 15 per 100. 40 tahun 1991 tentang Penanggulangan Penyakit Menular. diare. (6) pembiayaan penanggulangan wabah. Thailand (0. (5) ganti rugi dan penghargaan. serta (7) pelaporan.3 persen). (3) peran serta masyarakat. polio dan penyakit kulit. yaitu UU No 4 Tahun 1984 tentang Penyakit Menular serta Peraturan Pemerintah No. Salah satu penyakit menular yang merupakan masalah kesehatan masyarakat dan menimbulkan dampak sosial maupun ekonomi adalah penyakit demam berdarah dengue (DBD). Meskipun sudah lebih dari 35 tahun berada di Indonesia.LAPORAN AKHIR negara. Kebijakan penanggulangan penyakit menular khususnya dalam penanggulangan wabah telah diatur dalam bentuk peraturan perundangan.938 orang dengan angka kematian 1. malaria. HIV/AIDS. tetapi bahkan semakin mewabah. DBD masih sulit diberantas karena tidak tersedianya vaksin dan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 3 .

66 2002 5 19. dan sikap masyarakat. Ketiadaan vaksin merupakan penghambat utama eradikasi DBD. Gerakan pemberantasan sarang nyamuk dengan instrumen 3M (menguras.7 21. 2006 Kebijakan penanggulangan penyakit menular telah diatur dalam peraturan perundangan. entomologi. Semuanya menyadari bahwa strategi hanya dapat diperoleh dengan melaksanakan analisis situasi berdasarkan aspek epidemiologi. Berdasarkan data Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan. Berdasarkan hasil penelitian WHO Tahun 2003 dilaporkan bahwa pelaksanaan kegiatan surveilans masih menghadapi kendala. Namun demikian implementasi di lapangan masih menghadapi berbagai permasalahan.5 24. Data ini selain menunjukkan kecenderungan makin tingginya penderita DBD dari tahun ke tahun.000 penduduk selama periode tahun 2001-2005 selalu menunjukkan diatas rasio yang ditargetkan.2 Target dan Capaian Pemberantasan Penyakit DBD TARGET DAN CAPAIAN PEMBERANTASAN DBD 60 RASIO 40 20 0 Target Realisasi 2001 5. Beberapa permasalahan yang teridentifikasi antara lain berkaitan dengan (1) pelaksanaan surveilans.25 2003 4.31 Sumber: Ditjen PP & PL Depkes. dan mengubur) sudah sering disosialisasikan namun hasilnya belum menggembirakan. Pemerintah sejak tahun 1993 telah berusaha membina peran serta masyarakat melalui berbagai kelompok kerja pemberantasan DBD di desa atau kelurahan. saat ini perkembangan vaksin masih memerlukan penelitian lebih lanjut agar dapat digunakan ke manusia. pengetahuan. (2) terbatasnya tenaga pelaksana Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 4 . Meskipun demikian.LAPORAN AKHIR kurangnya peran serta masyarakat. menutup. rasio penderita DBD per 100.34 TAHUN 2004 4 37.1 2005 10 43. Kendala yang dihadapi antara lain berkaitan dengan (1) kebijakan sistem surveilans yang belum dipahami sampai ke petugas teknis di lapangan. Tabel 1. serta (3) adanya desentralisasi kewenangan pengelolaan. Gerakan 3M selama 30 menit setiap minggu juga dicanangkan. juga masih belum optimalnya pengendalian penyakit yang dilakukan oleh Pemerintah. (2) upaya penanggulangan.

LAPORAN AKHIR surveilans. dana serta sistem pelaporan. (4) terbatasnya dana pelaksanaan surveilans di tingkat operasional. 32 dan 33 Tahun 2005 telah memberikan pembagian kewenangan dalam pengelolaan pemerintahan di daerah. dan (5) belum optimalnya penggunaan sarana kesehatan dalam mendukung pelaksanaan surveilans penyakit seperti pemanfaatan laboratorium dan peralatan.2 Perumusan Masalah Berdasarkan permasalahan di atas. 1. Adanya otonomi daerah ini juga berpengaruh terhadap peran dan tanggung jawab Kabupaten/Kota/Propinsi untuk mengembangkan diri sesuai masalah kesehatan masyarakat. Identifikasi kinerja penanggulangan penyakit menular serta faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja penanggulangan penyakit menular 3. Tujuan khusus : 1. (3) adanya ketidaksesuaian kompetensi. beberapa pertanyaan penelitian yang melandasi kajian ini antara lain adalah : 1. Faktor-faktor apa saja yang mwempengaruhi kinerja surveilans dan penaggulangan penyakit menular ? 2. SOP dan data ? 3. Langkah-langkah apa yang diperlukan untuk penanggulangan penyakit menular. adanya regulasi pemerintahan dalam bentuk UU No. fasilitas pendukung. dana. sarana. kemampuan SDM dan sumber dana daerah.3 Tujuan dan Sasaran Tujuan Tujuan utama kajian adalah menyusun rumusan kebijakan penanggulangan penyakit menular secara terpadu berdasarkan analisis faktor-faktor yang berpengaruh dalam pelaksanaan kebijakan penanggulangan penyakit menular di pusat dan daerah. Permasalahan yang dihadapi dalam penanggulangan wabah terutama berkaitan dengan aspek manajemen menyangkut kesiapan tenaga lapangan. Bagaimana peran dan tanggungjawab (kewenangan) pemerintah daerah dalam penanggulangan penyakit menular ? 1. 22 dan 25 tahun 1999 yang kemudian direvisi dengan UU No. Identifikasi peran dan tanggungjawab Pemerintah Daerah dalam penanggulangan penyakit menular Sasaran Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 5 . mencakup aspek tenaga. Reformasi pemerintahan tersebut memberi dampak perubahan cukup signifikan terhadap peran pemerintah dan swasta dalam program dan pelayanan kesehatan. Berkaitan dengan desentralisasi kewenangan pengelolaan kebijakan pembangunan (otonomi daerah). Identifikasi kinerja surveilans serta faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja surveilans penyakit menular 2. dukungan logistik.

Identifikasi faktor berpengaruh terhadap kinerja penanggulangan KLB DBD mencakup tenaga. sumber.4 Keluaran Keluaran kajian adalah rumusan kebijakan penanggulangan penyakit menular yang mencakup aspek surveilans. jumlah kematian dan luas daerah terserang 4. dan pengumpulan data serta metode analisis. Lingkup kegiatan yang akan dilakukan dalam kajian ini antara lain. adalah : 1. jenis.5 Ruang Lingkup Kajian ini difokuskan pada evaluasi kebijakan penanggulangan penyakit menular yang telah dilakukan selama ini. Identifikasi kinerja surveilans yang mencakup (1) ketersediaan peta rawan KLB DBD. data. dan SOP.LAPORAN AKHIR Tersusunnya rumusan kebijakan upaya penanggulangan penyakit menular secara terpadu melalui optimalisasi sumberdaya yang tersedia sekaligus sebagai acuan bagi pelaksanaan program penanggulangan penyakit menular di pusat dan daerah. 1. 3. Bab II membahas tentang landasan teori mencakup pengertian dan hasil kajian yang sudah dilakukan. Identifikasi peran dan tanggung jawab daerah dalam penanganan penyakit menular khususnya pada kasus DBD. dana. tujuan dan sasaran kajian. data. 1. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 6 . dana. 1. keluaran serta ruang lingkup kajian.6 Sistematika Penulisan Penulisan laporan dibuat dengan sistematika sebagai berikut: Bab I membahas tentang latar belakang. Identifikasi kinerja penanggulangan KLB DBD yang mencakup frekuensi KLB. dan (2) pelaksanaan diseminasi informasi 2. serta tanggung jawab dan kewenangan antara pusat dan daerah. sarana dan SOP 5. jumlah kasus. disain kajian. penanganan wabah. Identifikasi faktor berpengaruh terhadap kinerja surveilans mencakup kondisi tenaga. Bab III membahas tentang metodologi yang digunakan berkaitan dengan kerangka pemikiran. sarana.

Indikator kinerja surveilans dan penanggulangan KLB. mencakup Gambaran Umum Penanggulangan DBD. mencakup tenaga. sarana dan SOP. data. Faktor-faktor Berpengaruh terhadap Kinerja Surveilans dan Penanggulangan KLB. Bab V Kesimpulan dan Rekomendasi Kebijakan. Kinerja Surveilans dan Penanggulangan DBD. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 7 .LAPORAN AKHIR Bab IV Hasil dan Pembahasan. dana.

Beberapa penyakit infeksi baru (ketika itu) dan kini endemik adalah demam berdarah dengue (pertama kali tahun 1968 di Surabaya). Epidemiologi lokal yang intinya dinamika tranmisi penyakit tertentu pada wilayah tertentu. Manajemen pemberantasan dan pengendalian penyakit menular juga memiliki dua perspektif: a. Epidemiologi global yakni perjalan penyakit antar benua. Strategi pengendalian penyakit menular secara umum pada dasarnya sama. partner nonkesehatan. b. Intervensi faktor resiko. sehingga pemberantasan penyakit menular memerlukan kerjasama antar daerah. Masing-masing penyakit memiliki peta endemisitas tersendiri. swasta. kemudian melakukan pengobatan hingga sembuh. disamping mulai meningkatnya masalah penyakit tidak menular. bergabung menjadi satu sistem.1 Penyakit Menular di Indonesia Penyakit menular masih merupakan masalah utama kesehatan masyarakat Indonesia. yakni apa yang dikenal sebagai Sistem Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan. Sekaligus merupakan kawasan yang berpotensi tinggi untuk hadirnya penyakit infeksi baru. Tiap tahun diselenggarakan pertemuan nasional semacam konvensi untuk melakukan monitoring kemajuan program serta perkuatan dari networking. Semua institusi pelayanan seperti kuratif penyakit menular maupun pelayanan kesehatan masyarakat. Pengertian Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 8 . Beberapa penyakit menular yang menjadi masalah utama di Indonesia adalah diare. pemerintah. Kabupaten/kota bahkan antar negara.2 Surveilans Epidemiologi Selama ini pengertian konsep surveilans epidemiologi sering dipahami hanya sebagai kegiatan pengumpulan data dan penanggulangan KLB. 2. Indonesia sebagai wilayah tropik dan wilayah dinamik secara sosial ekonomi. HIV/AIDS (pertama kali di Denpasar 1987) kini merambah ke Indonesia.LAPORAN AKHIR BAB 2 LANDASAN TEORI 2. orgfanisasi nonpemerintah. influenza. Penyakit menular tidak mengenal batas-batas daerah administratif. demam berdarah dengue. malaria. merupakan kawasan endemik berbagai penyakit menular. penyakit saluran pencernaan dan penyakit lainnya. kini diberbagai kota pelabuhan. virus hantaan (1977) dijumpai pada tikus diberbagai pelabuhan. tifus abdominalis. misalnya antar propinsi. Penyakit lain merupakan penyakit infeksi endemik dan sudah lama di Indonesia dan endemik di berbagai kabupaten (daerah pegunungan maupun pantai) yaitu TBC dan Malaria. yakni menghilangkan sumber penyakit dengan cara menemukan dan mencari kasus secara proaktif. misalnya lingkungan dan intervensi terhadap perilaku.

pusat-pusat kajian. Rumah Sakit. Sistem surveilans epidemiologi merupakan tatanan prosedur penyelenggaraan surveilans epidemiologi yang terintehrasi antara unit-unit penyelenggara surveilans dengan laboratorium. Dinas Kesehatan Propinsi dan Ditjen PPM & PL Depkes termasuk Puskesmas Sentinel dan Rumah Sakit Sentinel c. pengolahan.LAPORAN AKHIR seperti itu menyembunyikan makna analisis dan penyebaran informasi epidemiologi sebagai bagian yang sangat penting dari proses kegiatan surveilans epidemiologi. Jejaring surveilans dalam pertukaran data. pelaksanaan. pengendalian dan evaluasi serta dukungan sumberdaya yang memadai sebagai suatu program surveilans terpadu. Dinas Kesehatan Kab/Kota. surveilans adalah proses pengumpulan. Jejaring surveilans dalam pengiriman data dan informasi serta peningkatan kemampuan manajemen surveilans epidemiologi antara Puskesmas. pengolahan dan penyebaran informasi epidemiologi kepada penyelenggara program kesehatan. kajian. Dalam sistem ini yang dimaksud dengan surveilans epidemiologi adalah kegiatan analisis secara sistematis dan terus menerus terhadap penyakit atau masalah-masalah kesehatan dan kondisi yang mempengaruhi terjadinya peningkatan dan penularan penyakit atau masalah-masalah kesehatan tersebut agar dapat melakukan tindakan penanggulangan secara efektif dan efesien melalui proses pengumpulan data. Menurut WHO. pusat kajian dan penyelenggara program kesehatan. unit surveilans program pada masingmasing Puskesmas. Jejaring surveilans dalam distribusi informasi kepada program terkait pusatpusat penelitian. tanpa melupakan pentingnya kegiatan pengumpulan dan pengolahan data. Rumah Sakit. unit surveilans Dinas Kesehatan Propinsi dan Unit Surveilans Ditjen PPM & PL Depkes. meliputi tata hubungan surveilans epidemiologi antar wilayah Kabupaten/Kota. Laboratorium. Surveilans Terpadu Penyakit merupakan proses kegiatan yang dilakukan secara terus menerus dan sistematis. b. termasuk Puskesmas dan Rumah Sakit Sentinel. Propinsi dan Pusat. sehingga membutuhkan dukungan perencanaan. unit surveilans di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 9 . upaya peningkatan kemampuan sumberdaya antara unit surveilans Dinas Kesehatan Kab/Kota. pusat penelitian. Jejaring Surveilans Jejaring surveilans digunakan dalam Surveilans terpadu penyakit adalah a. analisis dan interpretasi data secara sistematik dan terus menerus serta penyebaran informasi kepada unit yang membutuhkan untuk mengambil tindakan. sumber-sumber data. Alur distribusi data dan umpan balik dalam dilihat dalam skema di bawah. unit surveilans di Dinas Kesehatan Propinsi dan unit surveilans di Ditjen PPM & PL Depkes. Oleh karena itu perlu dikembangkan suatu definisi surveilans epidemiologi yang lebih mengedepankan analisis atau kajian epidemiologi serta pemanfaatan informasi epidemiologi.

1 Alur Distribusi Data Surveilans Terpadu Penyakit 2. Untuk melakukan upaya pemberantasan penyakit menular. penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit dan keracunan. Informasi epidemiologi yang berkualitas. cepat.LAPORAN AKHIR Unit Surveilans Ditjen PPM & PL Depkes Unit Surveilans Dinas Kesehatan Propinsi Unit Surveilans Dinas Kesehatan Kab/Kota Unit Surveilans Puskesmas Unit Surveilans Rumah Sakit Unit Surveilans Laboratorium Gambar 2. akurat merupakan evidance atau bukti untuk digunakan dalam proses pengambilan kebijakan yang tepat dalam pembangunan kesehatan. serta penanggulangan penyakit tidak menular diperlukan suatu sistem surveilans penyakit yang mampu memberikan dukungan upaya program dalam daerah kerja Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 10 .3 Kebijakan Sistem Surveilans Surveilans Epidemiologi merupakan kegiatan yang sangat penting dalam manajemen kesehatan untuk memberikan dukungan data dan informasi epidemiologi agar pengelolaan program kesehatan dapat berdaya guna secara optimal.

Undang-Undang No. Sistem surveilans tersebut perlu dikembangkan dan disesuaikan dengan ketetapan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah.LAPORAN AKHIR Kabupaten/Kota. Beberapa produk hukum lain terkait dengan pelaksanaan surveilans epidemiologi adalah 1. 3.4 Indikator Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan Kinerja penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan diukur dengan indikator masukan. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pemerintah Pusat dan Daerah. Propinsi dan Nasional. dan Keputusan Menteri Kesehatan No. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom. Peraturan Menteri Kesehatan No. 2. Nasional dan internasional. 560 tahun 1989 tentang Jenis Penyakit yang dapat menimbulkan wabah. 2. 5. 1116/Menkes/SK/VIII/2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan serta kebutuhan informasi epidemiologi untuk mendukung upaya pemberantasan penyakit menular dan penyakit tidak menular. Indikator-indikator tersebuat adalah sebagai berikut: Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 11 . Surat Keputusan Menteri Kesehatan No. 40 tahun 1991 tentang Penanggulangan Penyakit Menular. Undang-Undang No. 6. 4 tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular. Sistem Pencatatan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP). dimana kelemahan salah satu indikator tersebut menunjukkan kinerja sistem surveilans yang belum memadai. tatacara penyampaian laporannya dan tacara penanggulangan seperlunya. 4. 242 tahun 2003 tentang Penetapan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) sebagai penyakit yang dapat menimbulkan wabah dan pedoman penanggulangannya. Surat Keputusan Menteri Kesehatan No. Disamping keberadaan SST telah juga dikembangkan beberapa Sistem Surveilans khusus penyakit. proses dan keluaran. dan sistem Pelaporan Rumah Sakit (SPIRS). Ketiga indikator tersebut merupakan satu kesatuan. yang telah mengalami beberapa kali perubahan dan perbaikan. Peraturan Menteri Kesehatan tentang Sistem Kewaspadan Dini KLB No. Pada tahun 1987 telah dikembangkan Sistem Surveilans Terpadu (SST) berbasis data. 949 tahun 2004. Peraturan Pemerintah No. 1479 tahun 2003 tentang Surveilans Terpadu Penyakit. Surat Keputusan Menteri Kesehatan No. dukungan kerjasama antar program dan sektor serta kerjasama antara Kabupaten/Kota. 1116 tahun 2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Surveilans Epidemilogi Kesehatan. Propinsi. 7.

1 tenaga epidemiologi ahli b. 1 tenaga dokter umum a. Pusat Indikator Unit utama Departemen Kesehatan memiliki a. 1 roda dua a. 8 tenaga epidemiologi ahli (S2) c. 16 tenaga epidemiologi ahli (S1) d. 1 paket alat komunikasi (telepon. 1 tenaga epidemiologi ahli (S2) b. Pusat. 1 tenaga epidemiologi ahli (S2) b. 2 tenaga epidemiologi terampil d. 32 tenaga epidemiologi terampil UPT Departemen Kesehatan memiliki a. Kabupaten/Kota Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 12 . 2 tenaga epidemiologi ahli (S2) b. 1 tenaga dokter umum a. 1 paket jaringan elektromedia b. 1 paket kepustakaan d. 1 paket alat komunikasi (telepon. 4 tenaga epidemiologi ahli (S1) c. 1 paket pedoman pelaksanaan surveilans epidemiologi dan program aplikasi komputer e.LAPORAN AKHIR Tabel 2. 1 tenaga dokter umum a. Propinsi 3. 2 tenaga epidemiologi ahli (S1) atau terampil c. 1 tenaga epidemiologi ahli (S3) b. Propinsi 2. Kabupaten/Kota 4. 4 paket peralatan pelaksanaan surveilans epidemiologi f. SSB dan telekomunikasi lainnya) c. 1 paket jaringan elektromedia b. 1 paket kepustakaan d. Puskesmas 1. faksimili. 1 paket formulir 2. 2 tenaga epidemiologi ahli (S1) c. 1 paket pedoman pelaksanaan surveilans epidemiologi dan program aplikasi komputer e. faksimili. SSB dan telekomunikasi lainnya) c. 1 roda empat.1 Indikator Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan Masukan Tenaga Tingkat 1. 4 tenaga epidemiologi terampil d. Rumah Sakit Sarana 5. 1 tenaga epidemiologi terampil 1 tenaga epidemiologi terampil a.

1 roda dua 3. 1 roda empat. Umpan balik sebesar 80% atau lebih 1. Pusat a. Umpan balik sebesar 80% atau lebih 2. 1 paket kepustakaan d. Kelengkapan laporan unit pelapor dan sumber data awal sebesar 80% atau lebih b. Penerbitan buletin kajian epidemiologi sebesar 4 kali atau lebih setahun d. Penerbitan buletin kajian epidemiologi sebesar 12 kali atau lebih setahun d. Kelengkapan laporan unit pelapor sebesar 80% atau lebih b. 1 paket alat komunikasi (telepon. Kabupaten/Kota a.LAPORAN AKHIR Proses Kegiatan Surveilans Keluaran f. 1 paket komputer Rumah Sakit b. Umpan balik sebesar 80% atau lebih 3. 1 roda dua 1. Ketepatan laporan unit pelapor dan sumber data awal sebesar 80% atau lebih c. Pusat Profil Surveilans Epidemiologi Nasional sebesar 1 kali setahun Profil Surveilans Epidemiologi Propinsi sebesar 1 kali setahun Profil Surveilans Epidemiologi Kabupaten/ Kota sebesar 1 kali setahun Sumber: Inspektorat Jenderal Depkes RI. 2003 Selanjutnya Indikator Surveilans Kesehatan dijabarkan dalam Indikator Kinerja Penyelenggaraan terpadu Penyakit sebagai berikut: a. Ketepatan laporan unit pelapor dan sumber data awal sebesar 80% atau lebih c. 2 paket peralatan pelaksanaan surveilans epidemiologi g. Penerbitan buletin kajian epidemiologi sebesar 12 kali atau lebih setahun d. Puskesmas dan a. faksimili. SSB) c. Kelengkapan laporan unit pelapor dan sumber data awal sebesar 80% atau lebih b. Kelengkapan laporan bulanan STP unit pelayanan ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota sebesar 90% Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 13 . 1 paket peralatan pelaksanaan surveilans epidemiologi g. Ketepatan laporan unit pelapor sebesar 80% atau lebih c. 1 paket pedoman pelaksanaan surveilans epidemiologi dan program aplikasi komputer e. 1 paket formulir f. Propinsi a.

Distribusi data dan informasi bulanan Kabupaten/Kota. maupun kontak hubungan langsung atau karena jenis dan sifat dari kuman penyebab penyakit wabah itu sendiri. Berbagai lintas sektor Pemerintah misalnya Departemen Pertahanan Keamanan. Kelengkapan laporan bulanan STP Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota ke Dinas Kesehatan Propinsi sebesar 100% e. Departemen Komunikasi dan Informasi.5 Penanggulangan Penyakit Menular Penanggulangan penyakit menular merupakan bagian dari pelaksanaan pembangunan kesehatan. Selain itu dalam upaya Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 14 . penyembuhan dan pemulihan kesehatan. Penerbitan profil tahunan atau buku data surveilans epidemiologi Kabupaten/Kota. Oleh karena itu penanggulangan wabah harus dilakukan secara dini. Wabah penyebaran penyakit dapat berlangsung secara cepat. Penerbitan buletin Epidemologi di propinsi dan nasional adalah sebesar 12 kali setahun l. wewenang dan tanggung jawabnya dalam upaya penanggulangan wabah. Propinsi dan Nasional adalah satu kali setahun. Kondisi lain yang dapat menimbulkan penyakit menular adalah akibat kondisi masyarakat dari suatu wilayah tertentu yang kurang mendukung antara lain kesehatan lingkungan yang kurang baik atau gizi masyarakat yang belum baik. Oleh karena itu dalam pelaksanaan penanggulangannya memerlukan keterkaitan dan kerjasama dari berbagai lintas sektor Pemerintah dan masyarakat. yaitu upaya pencegahan. Umpan balik laporan bulanan Kabupaten/Kota. tetapi menjadi tanggung jawab bersama. Departemen Keuangan dan Departemen Dalam Negeri. Kelengkapan laporan bulanan STP Dinas Kesehatan Propinsi ke Ditjen PPM & PL Depkes sebesar 100% g. Penanggulangan wabah penyakit menular bukan hanya semata menjadi wewenang dan tanggung jawab Departemen Kesehatan.LAPORAN AKHIR b. Ketepatan laporan bulanan STP Dinas Kesehatan Propinsi ke Ditjen PPM & PL Depkes sebesar 90% h. 2. Depatemen Sosial. propinsi dan nasional sebesar 100% j. Dalam upaya penanggulangan penyakit menular. Ketepatan laporan bulanan STP Unit Pelayanan ke Dinas Kesehatan Kabupaten Kota sebesar 80% c. propinsi dan nasional sebesar 100% i. harus dilakukan secara terpadu dengan upaya kesehatan lain. Keterkaitan sektor-sektor dalam upaya penanggulangan wabah tersebut sesuai dengan tugas. Ketepatan laporan bulanan STP Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota ke Dinas Kesehatan Propinsi sebesar 90% f. baik melalui perpindahan. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota mencapai indikator Epidemiologi STP sebesar 80% d. Penanggulangan secara dini dimaksudkan untuk mencegah timbulnya kejadian luar biasa dari suatu penyakit wabah yang dapat menjurus terjadinya wabah yang dapat mengakibatkan malapetaka. Penerbitan buletin Epidemiologi di Kabupaten/Kota adalah 4 kali setahun k.

4 tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular. perlu diidentifikasi adanya ancaman KLB beserta kondisi rentan yang memperbesar resiko terjadinya KLB agar dapat dilakukan peningkatan kewaspadaan dan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan KLB. Pada tahun 2000. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Data & Informasi Penduduk dan Lingkungan Perbaikan kondisi rentan KLB Prioritas Penanggulangan KLB SKD-KLB KLB tidak Menjadi Masalah Kesehatan Masyarakat Penanggula ngan KLB Data KLB dan Data Epidemiologi Lain Kesiapsiagaan Menghadapi KLB Gambar 2. KLB penyakit dapat mengakibatkan terjadinya peningkatan kesakitan dan kematian yang besar. 25 tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Penanggulangan wabah/KLB penyakit menular diatur dalam UU No. yang juga berdampak pada pariwisata. yamg kemudian diikuti dengan terbitnya PP No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan UU No. ekonomi dan sosial. Kejadian-kejadian KLB perlu dideteksi secara dini dan diikuti tindakan yang cepat dan tepat. Undang-undang tersebut kemudian direvisi menjadi UU No. 560 tentang Jenis Penyakit Tertentu Yang dapat Menimbulkan Wabah. yang keseluruhannya harus dilaksanakan secara terpadu. masyarakat juga dapat diikutsertakan dalam penanggulangannya. sehingga membutuhkan perhatian dan penanganan oleh semua pihak terkait. Peraturan Menteri Kesehatan No.2 Skema Program Penanggulangan KLB Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 15 . 25 tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom yang berpengaruh terhadap penyelenggaraan penanggulangan KLB. 40 tahun 1991 tentang Penanggulangan Penyakit Menular. Indonesia menerapkan secara penuh UU No.LAPORAN AKHIR penanggulangan wabah tersebut. PP No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan No.

maupun masyarakat hendaknya memiliki kapasitas terhadap permasalahan epidemiologi global. hendaknya meningkatkan kemampuannya untuk mengahadapi globalisasi penyakit menular. Sumatera. Dalam perspektif global. Hal ini memerlukan kerjasama global. Dalam hal ini Dinas Kesehatan. kabupaten dan kota di Indonesia merupakan wilayah yang terkena resiko yang sama dalam perspektif global. lebih dipengaruhi oleh batasan ekosistem. Peta endemisitas malaria terbentang dari Asia Tenggara. Penyakit menular juga dapat berpindah atau bergerak dari satu wilayah ke wilayah lainnya melalui mobilitas penduduk sebagai sumber penularan maupun komoditas sebagai wahana transmisi. Sulawesi Utara.LAPORAN AKHIR 2. KLB polio pada awal tahun 2005. Wilayah-wilayah yang merupakan jalur transmisi sebaiknya memiliki kapasitas dan aktif mengakses informasi. Nusa Tenggara Timur. epidemiologi global harus pempelajari kejadian dan persebaran dalam perspektif dunia. Dengan demikian. Selain itu. migrasi berbagai binatang seperti migrasi burung antar benua bisa merupakan sumber pembawa penyakit.6. Afrika Tengah. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 16 . Sebagai contoh Avian influenza. Lintas Batas Penyakit menular bersifat lintas batas. terutama penyakit menular melalui transmisi serangga atau binatang yang memiliki reservoir. ketimbang batasan administratif. dan mekanisme jaringan antar negara yang bersifat lintas batas. Dengan kata lain. hingga Amerika Latin. LSM. Atau perjalanan kelelawar yang dapat menyebarluaskan virus Nipah. Seorang Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/kota yang berbatasan dengan negara lain. Demikian juga dengan daerah wisata internasional. Sedangkan wilayah timur dari arah utara menyusur pantai timur China. migrasi burung utara selatan dan sebaliknya. kemudian langsung ke selatan menuju Australia. Seperti asal datangnya penyakit. Misalnya. Sebab. Oleh karena itu. memiliki jalur barat yakni kawasan semenanjung Malaysia. Maksudnya. Epidemiologi Global Penyakit Penyakit menular bersifat global. maka memiliki masalah yang sama seperti malaria. Termasuk petugas yang mengawasi jalur-jalur penerbangan internasional. dua kabupaten berbatasan yang memiliki ekosistem penyakit yang sama wajib bekerjasama. Seorang Kepala Dinas Kesehatan harus memahami benar apakah daerahnya termasuk lalulintas internasional atau bukan. Binatang umumnya memiliki habitat tertentu dan terkait dan batasan ekosistem. Jawa. kemudian melalui apa penyakit tersebut datang. penyakit menular tidak mengenal batas wilayah administratif pemerintah. Dengan kata lain. Penyakit menular yang sifatnya relatif “tertutup”. kabupaten/kota terikat pada komitmen dunia. Penyebaran global memiliki potensi terjadinya pandemik. wilayah tropik secara umum memiliki karakteristik ekosistem sama. Misalnya. Filipina. setiap sudut Kabupaten dan Kota di Indonesia harus dianggap sebagai bagian dari komunitas dunia. harus memahami hal ini. serta sebaliknya. Sedangkan wilayah yang sifatnya “terbuka” dengan teknologi transportasi jarak jauh. penyakit menular dipengaruhi mobilitas penduduk sebagai sumber penyakit.

penggunaan mikroskop. antar negara. antar propinsi. secara teoritis Bupati atau Kepala Dinas Kesehatan secara efektif melakukan upaya pemberantasan penyakit menular yang bersifat spesifik lokal. pendekatan wilayah kabupaten/kota membantu perencanaan dan pelaksanaan serta pelaksanaan program lebih fokus. Semua itu dituangkan dalam bentuk perencanaan yang didukung fakta (evidences) lokal. Yakni. Kemudian ditentukan siapa saja yang harus diikutsertakan. Untuk itu. Desentralisasi juga memudahkan identifikasi faktor resiko yang bersifat lokal. Serta mengendalikan faktor risiko penyakit. mitra mana yang dianggap berkepentingan. Dengan memahami faktor-faktor yang berperan timbulnya penyakit menular khas daerahnya. Didukung fakta hasil surveilans terpadu. intervensi holistik. dan berbagai upaya lain secara bersama dengan lintas sektor. Sebagai contoh. Di satu sisi. seperti yang telah diuraikan sebelumnya hal-hal yang bersifat lintas batas berpotensi terabaikan. membutuhkan model manajemen penyakit menular berbasis wilayah kabupaten/kota. untuk kepentingan perencanaan dan kegiatan berdasarkan keperluan (fakta). Kemudian. sekaligus sebagai mata air. jadwal. tenaga. maka perlu identifikasi mitra kerja untuk menangani faktor risiko tersebut. antara penyakit. Sehingga intervensi faktor resiko yang bersifat lokal lebih bisa mudah dikendalikan. sehingga dapat meyakinkan pihak-pihak otoritas pendanaan seperti DPRD. Serta didukung jaringan dan kerjasama erat baik antar wilayah dan adimistrasi pemerintah maupun diantara para pelaku pemberantasan penyakit menular dan penyehatan lingkungan itu sendiri dalam satu wilayah. Bahkan keterpaduan surveilans yakni surveilans kasus sekaligus bersama-sama dengan faktor risiko terkait. di daerah Pacitan berkaitan dengan cekungan-cekungan padas di sungai-sungai. Keterpaduan Untuk memvisualisasikan proses transmisi penyakit serta simpul manajemen. Namun. memerlukan model manajemen pemberantasan penyakit dan penyehatan lingkungan secara terintegrasi yang berbasis wilayah kabupaten/kota dalam perspektif komprehensif. penderita penyakit menular itu sendiri. sedangkan di wilayah Riau risiko tertular malaria datang ketika sedang menyadap karet di pagi buta. Analisis masing-masing faktor risiko dilakukan sekaligus dan terpadu melalui perencanaan. Dengan demikian. desentralisasi berati mengharuskan manajemen penyakit menular melakukan pendekatan wilayah administratif. dalam perspektif ekosistem maupun dinamika/mobilitas faktor risiko penyakit antar kabupaten. Kemudian keterpaduan dikaitkan dengan promosi kesehatan seperti penggunaan alat pelindung ketika bekerja. antara stakeholder. Di lain pihak. kendaraan. penularan Malaria di Kabupaten Banjarnegara berkenaan dengan nyamuk yang memiliki habitat kebun salak dan/atau kolam yang merupakan jamban keluarga. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 17 . Keterpaduan pun termasuk penggunaan sumber daya. seorang “kepala” pengendalian penyakit harus mampu menemukan dan mengobati sumber penularan penyakit secara aktif.LAPORAN AKHIR dalam satu wilayah otonomi kabupaten.

tentu saja tidak semua penyakit menular dapat dicegah dengan imunisasi. Namun. Kejadian luar biasa pertama di Indonesia dilaporkan oleh David Beylon di Batavia (Jakarta) pada tahun 1779.LAPORAN AKHIR 2. demam berdarah dengue baru dikenal pada tahun 1968 dalam KLB di Jakarta dan Surabaya dengan angka kematian sangat tinggi sekitar 41. perlu dilakukan upaya alternatif berupa pemberantasan penyakit yang berbasis lingkungan. Di masa mendatang sebaiknya diciptakan petugas lapangan penyakit menular setara dengan bidan di desa untuk menekan angka kematian ibu. Cakupan imunisasi amat penting karena dapat mencegah penyakit dalam satu wilayah. Oleh sebab itu. Dalam satu wilayah kabupaten dapat dilakukan secara intensif dengan memperluas jangkauan pelayanan. dan sebagainya. karena dikhawatirkan akan meluas. (2) Memberikan Perlindungan Spesifik dan Imunisasi Manajemen pengendalian penyakit menular dapat dilakukan dengan cara memberikan kekebalan secara artifisial yaitu imunisasi.8 Kejadian Luar Biasa (KLB) Kejadian Luar Biasa (KLB) yaitu munculnya penyakit di luar kebiasaan (base line condition) yang terjadi dalam waktu relatif singkat serta memerlukan upaya penanggulangan secepat mungkin. memerlukan bantuan pemeriksaan yang dilakukan Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Penyelidikan Penyakit (Labkes) terdekat yang secara regional harus tersedia.7 Strategi Pengendalian Penyakit Strategi pemberantasan penyakit menular berbasis wilayah memiliki pengertian bahwa setiap wilayah administrasi pembangunan (kabupaten/kota) pemberantasan penyakit menggunakan “paket” pendekatan strategi sebagai berikut : (1) Intensifikasi Pencarian dan Pengobatan Kasus Melakukan pencarian dan pengobatan secara intensif terhadap penderita.3 persen. 2. Untuk penyakit tertentu yang membutuhkan konfirmasi laboratorium lebih tinggi. seperti pemberdayaan tenaga semi-profesional terlatih misalnya juru Malaria Desa. keluarga terdekat atau tokoh masyarakat setempat dapat meminta bantuan Pengawas Menelan Obat (PMO). Juru Kusta. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 18 . Untuk beberapa penyakit menular yang memerlukan pengobatan jangka panjang seperti halnya TBC. harus ada jaminan ketersediaan obat dan jaminan disiplin menelan obat. baik dari segi jumlah kasus maupun wilayah yang terkena persebaran penyakit tersebut. Namun. Untuk itu. selain mengobati dan menyembuhkan penderita yang juga merupakan upaya pokok untuk menghilangkan sumber penularan dengan cara pemutusan mata rantai penularan.

Pasal 1 Ayat 7. Bab IV. KLB pada dasarnya merupakan suatu kejadian baik pada sumber penyakit (penyebab) dengan dinamika transmisi. Sedangkan penanggugjawab teknis adalah Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. dan sebagainya. penanganan saat kejadian KLB dan pascaKLB. Pasal 4. serta korban kejadian penyakit yang berlangsung dalam tempo yang relatif singkat. KLB merupakan kejadian proses awal. Pasal 2 sampai 5). Sedangkan yang menetapkan penyakit menular dan kemudian mencabut ketetapan tersebut adalah Menteri Kesehatan (UU Nomor 4. Bab I. Apabila kita mencermati proses kejadiannya. wajib melakukan tindakan secara cepat berupa penanggulangan seperlunya (UU Nomor 4. Manajemen pra-KLB termasuk sistem kewaspadaan dini. prediktif. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 19 . Pasal 1). Penanggungjawab operasional pelaksanaan penanggulangan KLB adalah Bupati/Walikota. Tahun 1984. Penetapan atau pencabutan daerah wabah diberlakukan dalam suatu wilayah Kabupaten/Kota. amat penting. dan merupakan keadaan yang dapat menjurus pada terjadinya wabah. Bab 1. dan akhirnya berupa pencegahan. Mengacu kepada teori simpul atau mengacu kepada patogenesis kejadian penyakit. atau suhu yang meningkat sehingga menimbulkan populasi nyamuk atau ledakan gas. sosial. ledakan industri. Tahun 1991. Pengertian KLB seringkali dikacaukan dengan pengertian wabah. pemantauan kondisi kualitas lingkungan tertentu yang menurun. informasi pra-KLB menjadi penting. KLB adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan/kematian yang bermakna secara epidemologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu. Sedangkan untuk penetapan dan pencabutan KLB hingga saat ini belum diatur. pencermatan ini dikenal sebagai pencermatan pra-KLB. Ayat 1 dan 2 serta PP Nomor 40. namun draft Permenkes menyebutkan Pemerintah Daerah atas usulan Kepala Dinas Kesehatan setempat menetapkan dan mencabut KLB. memang tidak lazim disebut sebagai KLB. Misalnya. Penetapan daerah wabah merupakan pertimbangan epidemologis dan keadaan masyarakat (mencakup keamanan. Penetapan KLB. Ayat 1). tidak hanya mencegah terjadinya KLB. Kepala wilayah ketika mengetahui adanya tersangka di wilayah atau adanya tersangka penderita penyakit menular yang dapat menimbulkan wabah. Penyakit menular adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat dengan jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi keadaan yang lazim pada waktu daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka (UU Nomor 4. terjadinya kerusakan hutan secara terus menerus. Bila KLB terjadi lebih dari satu wilayah kabupaten/kota maka penanggulangannya dikoordinasikan oleh Gubernur. dapat juga ditetapkan pada faktor risiko penyakit seperti bila terjadi ledakan gas beracun. tahun 1991. Tahun 1984. Gempa bumi di sebuah wilayah endemik malaria memerlukan peta dimana pengungsi akan ditempatkan. Tahun 1984. ekonomi dan budaya) yang disampaikan Kepala Daerah.LAPORAN AKHIR Menurut PP 40. adanya indikasi peningkatan jumlah dan kepadatan vektor penular penyakit. namun terminologi ini digunakan untuk tujuan atau rumusan upaya antisipatif. Pasal 12. Kemudian kegiatan tersebut harus dilaporkan kepada Menteri Kesehatan secara berjenjang.

bencana lingkungan karena ulah manusia. Pemerintah Pusat dapat mengambil inisiatif melakukan penanganan KLB. Kegagalan manajemen penyakit secara terintegrasi dalam satu wilayah. malaria. Manajemen kasus.LAPORAN AKHIR Setiap KLB-apakah itu bencana alam. dan menetapkan sasaran nasional. dan harus dilakukan secara simultan dalam waktu relatif singkat. akan menimbulkan KLB. yakni manajemen kesehatan masyarakat untuk mengendalikan jatuhnya korban berikutnya. selama sistem atau kapasitas manajemen penyakit berbasis wilayah secara terintegrasi belum mapan. Mengapa hal tersebut terjadi? Pemberantasan penyakit menular memerlukan sistem manajemen. apabila dibiarkan berkembang. untuk mencegah terjadinya penularan penyakit lebih lanjut. Untuk membangun sistem tersebut. Sejak tahun 1968 jumlah kasusnya cenderung meningkat dan penyebarannya bertambah luas. b. Satu foci penyakit menular –entah itu demam berdarah. HIV/AIDS. 2. KLB pada dasarnya merupakan ujung dari sebuah proses. Oleh sebab itu.9 Penyakit Demam Berdarah Penyakit Demam berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Hal ini tampak adanya kesimpang siuran menajemen penyakit menular pada saat dimulainya otonomi atau peralihan sistem tersebut. tetapi sistem baru belum established atau mapan. Tugas Pemerintah Nasional (Pusat) antara lain menyusun berbagai kebijakan nasional. Keadaan ini erat kaitannya dengan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 20 . Bahkan bila dipandang perlu. penyakit menular tidak mengenal batas wilayah administratif seperti halnya kesehatan lingkungan. filariasis. namun dalam hal KLB dan bencana dapat meminta bantuan Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Pusat. yakni : a. dan sebagainya. Di samping itu. Contohnya tahun 2005 yaitu penyakit polio. maka berpotensi menyebarkan KLB ke saentero Nusantara. Sebagai perwujudan demokratisasi pembangunan maka sejak tahun 2000. Manajemen kasus maupun faktor risiko mencegah timbulnya eskalasi yang lebih luas. Sementara sistem lama telah dicabut. TBC. memerlukan waktu. menyusun guidlines petunjuk. Sedangkan kewenangan pelaksanaan ada pada pemerintah Kabupaten/Kota. khususnya saat penanganan KLB penyakit menular. tetapi keduanya memiliki batas wlayah ekosistem. Manajemen KLB secara terintegrasi berbasis wilayah adalah juga manajemen dua bagian penting yang tak terpisahkan. standar. konflik sosial maupun timbulnya penyakit baru seperti SARS. maka KLB akan terus menjadi ancaman. pada hakekatnya adalah manejemen faktor risiko kejadian KLB. upaya-upaya kesehatan termasuk didalamnya manajemen KLB semuanya sudah di desentralisasikan kepada Pemerintah Kabupaten dan Pemerintah Kota. atau penyakit infeksi lama-selalu memiliki dua makna manajemen. perencanaan strategik. Kurun waktu 2000-2005 banyak terjadi kejadian luar biasa. Manajemen public health (manajemen faktor risiko) Manajemen public health atau manajemen kesehatan masyarakat. dengan mobilitas penduduk yang tinggi akibat krisis sosial. Manajemen kasus menjadi amat penting. Avian influenza.

yaitu 15.19 per 100. (3) Peningkatan upaya pemberantasan vektor penular penyakit DBD. Cara penularan penyakit DBD adalah melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang menggigit penderita DBD kemudian ditularkan kepada orang sehat.000 penduduk dan CFR 2. selanjutnya menyebar ke berbagai negara.000 penduduk. dengan perkembangan waktu penyakit ini kemudian tidak hanya berjangkit di daerah perkotaan. mengembangkan pedoman pemberantasan. adanya pemanasan global yang dapat mempengaruhi bionomik vektor Aedes aegypti. Jumlah kasus terus meningkat baik dalam jumlah maupun luas wilayah yang terjangkit dan secara sporadis. kurangnya persediaan air bersih. Namun. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi penyebaran dan penularan penyakit DBD. Pada awalnya penyakit DBD ini merupakan penyakit perkotaan dan menyerang terutama anak-anak usia di bawah 5 tahun. memberikan pelatihan dan bantuan teknis. dan 19.17 per 100. melakukan penyuluhan dan promosi kesehatan serta penggerakan masyarakat. Dengan fogging yang disemprotkan ke udara. KLB yang terbesar terjadi pada tahun 1998 dilaporkan dari 16 propinsi dengan IR=35. Kendala Pencegahan DBD Penularan DBD terjadi melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dewasa. Di Asia Tenggara. Melihat kondisi tersebut penyakit DBD harus diwaspadai kemungkinan adanya KLB lima tahunan.0%. penyakit ini pertama kali dilaporkan pada tahun 1953 di Manila. Usia penderita juga cenderung bergeser menyerang usia dewasa. 21. penyakit DBD dilaporkan pertama kali di Surabaya dan DKI Jakarta. Penyakit demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit menular berbahaya yang disebabkan oleh virus Dengue dan dapat menimbulkan kematian dalam waktu singkat oleh karena terjadinya perdarahan dan shock. Upaya pemberantasan demam berdarah terdiri dari 3 hal. maka Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 21 . Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit DBD merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah baik lintas sektor maupun lintas program dan masyarakat termasuk sektor swasta. Tugas dan tanggung jawab pemerintah dalam upaya pemberantasan penyakit DBD antara lain membuat kebijakan dan rencana strategis penanggulangan penyakit DBD. Pada tahun 1999 IR menurun tajam sebesar 10. tetapi juga menyebar ke daerah pedesaan. Penyakit DBD sering kali muncul sebagai wabah.75. namun pada tahun-tahun berikutnya tampak adanya peningkatan IR. yaitu urbanisasi yang cepat. Pemberantasan nyamuk dewasa dilakukan dengan menggunakan racun serangga (insektisida) yang disemprotkan atau dengan pengasapan (fogging) bila dilakukan pada wilayah yang luas. yaitu: (1) Peningkatan kegiatan surveilans penyakit dan surveilans vektor. mengembangkan teknologi pemberantasan.99. (2) Diagnosis dini dan pengobatan dini. perkembangan pembangunan di daerah pedesaan. Di Indonesia sendiri.24 per 100.000 penduduk berturutturut pada tahun 2000 sampai 2002.LAPORAN AKHIR peningkatan mobilitas penduduk sejalan dengan semakin lancarnya hubungan transportasi serta tersebar luasnya virus dengue dan nyamuk penularnya di berbagai wilayah Indonesia. mudahnya transportasi yang menyebabkan mudahnya lalu lintas manusia antardaerah. selalu menjadi KLB setiap tahun.

Apalagi nyamuk Aedes aegypti mampu terbang dalam radius 100 meter dari sarang asalnya. penggunaan insektisida menjadi rawan keracunan bagi penghuni dan lingkungan hidup sekitar rumah. pada waktu ada laporan kasus DBD di satu rumah. sepanjang tahun. Karena nyamuk dewasa Aedes aegypti berada di dalam lingkungan rumah tinggal. bukan sarang nyamuk Aedes aegypti). Gagalnya atau tidak efektifnya fogging dapat terjadi akibat salahnya lokasi pengasapan (yang diasapi adalah got-got atau saluran kota yang kotor dan mampet. termasuk kaleng-kaleng berisi air atau bak mandi. Takaran insektisida yang dikurangi (asal bau obat). dalam waktu beberapa hari akan tumbuh nyamuk dewasa. sarang nyamuk harus segera dimusnahkan. Dengan demikian. Dari jentik nyamuk yang hidup di dalam air (tandon air). jika ada satu rumah saja tidak melakukan PSN. Tidak usah menunggu terjadinya KLB atau wabah yang lebih luas. sebelum seseorang menunjukkan gejala klinis DBD dalam darahnya sudah beredar virus dengue yang dapat ditularkan kepada orang lain. Keberadaan sarang nyamuk Aedes aegypti di dalam rumah memerlukan tindakan yang spesifik. fogging harus segera diikuti dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). PSN harus dilakukan segenap warga. Selain itu. juga dapat menimbulkan dampak serius di kemudian hari. selain termasuk kategori korupsi. Hal ini harus dilakukan karena sarang-sarang nyamuk Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 22 . Fogging ditujukan untuk memberantas nyamuk betina dewasa karena hanya nyamuk betina yang mengisap darah. Karena itu.LAPORAN AKHIR nyamuk dewasa yang beterbangan atau yang hinggap di tempat persembunyiannya di lingkungan rumah penderita akan mati. nyamuk dewasa yang beterbangan atau yang hinggap di tempat persembunyiannya di lingkungan rumah penderita akan mati. seharusnya segera dilakukan fogging terhadap rumah tinggal penderita dan area dengan radius 100 meter di sekitarnya. ia menjadi sumber terbentuknya populasi nyamuk Aedes aegypti untuk wilayah di sekitarnya. Gerakan PSN harus dilakukan terus-menerus. Karena itu. Selain itu. selama tandon-tandon air masih dijumpai. Menutup rapat tempat penyimpanan air bersih dan mengurasnya sesering mungkin akan bermanfaat mengurangi kesempatan nyamuk untuk bertelur dan berkembang biak. Karena itu. Sebab. penularan virus oleh nyamuk dapat dihentikan segera. Dengan melakukan fogging di sekitar tempat tinggal penderita. Pemberian abate untuk membunuh jentik nyamuk yang terdapat di dalam air bak kamar mandi atau tandon air bersih lainnya cukup efektif mencegahnya berkembang biak. baik di musim hujan maupun di musim kemarau. Semua insektisida adalah bahan beracun yang jika penggunaannya tidak tepat dapat mengganggu kesehatan manusia maupun hewan dan dapat mencemari lingkungan. sebelum larva berubah jadi nyamuk dewasa. baik untuk manusia maupun lingkungan hidup. penggunaan insektisida yang tidak tepat dosisnya atau tidak tepat jenisnya dapat menjadikan fogging tidak memberikan hasil yang memuaskan atau gagal sama sekali. yaitu terjadinya kekebalan nyamuk Aedes aegypti terhadap insektisida yang digunakan saat ini. Fogging tidak akan berefek lama dan tidak boleh dilakukan terus-menerus karena insektisida yang digunakan adalah bahan beracun.

jika terdapat laporan adanya kasus DBD. Penanggulangan Fokus adalah kegiatan pemberantasan nyamuk penular DBD yang dilaksanakan dengan melakukan pemberantasan sarang nyamuk demam berdarah dengue (PSN DBD). Tujuannya adalah membatasi penularan DBD dan mencegah terjadinya KLB di lokasi tempat tinggal penderita DBD dan rumah/bangunan sekitarnya serta tempat-tempat umum yang berpotensi menjadi sumber penularan DBD lebih lanjut. melalui GGPSN (Gebyar Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk). tanpa menunggu terjadinya KLB. misalnya. sehingga setiap warga dapat saling melindungi diri. apakah telah terjadi resistensi nyamuk terhadap insektisida yang digunakan. Jika terjadi kegagalan fogging. mengetahui ada tidaknya jentik nyamuk penular DBD. untuk mencegah penyebaran penyakit. keluarga. penyuluhan dan penyemprotan (pengasapan) menggunakan insektisisda sesuai kriteria. baik untuk membantu kelancaran pelaksanaan kegiatan pemberantasan maupun dalam memberantas jentik nyamuk penularnya. sehingga kemungkinan penyebarluasan DBD dapat dibatasi dan KLB dapat dicegah. larvadiasasi. • Penyelidikan Epidemiolegis (PE) adalah kegiatan pencarian penderita DBD atau tersangka DBD lainnya dan pemeriksaan jentik nyamuk penular DBD di tempat tinggal penderita dan rumah/bangunan sekitarnya. Sosialisasi dalam pelaksanaan PSN dan cara hidup gotong royong harus kembali digalakkan. tindakan yang pertamatama harus dilakukan adalah memberantas nyamuk dewasa di lingkungan tempat tinggal penderita dan sekitarnya dengan melakukan fogging. harus dicari penyebabnya. Selanjutnya dalam melaksanakan kegiatan pemberantasan DBD sangat diperlukan peran serta masyarakat. ataukah terjadi "kesalahan teknis" di lapangan. Fogging akan sangat efisien jika dilakukan pada waktu populasi nyamuk masih rendah. dan menentukan jenis tindakan (penanggulangan fokus) yang akan dilakukan. Tujuannya adalah untuk mengetahui penularan dan penyebaran DBD lebih lanjut serta tindakan penanggulangan yang perlu dilakukan di wilayah sekitar tempat penderita.LAPORAN AKHIR merupakan sumber produksi nyamuk dewasa. Tata Laksana Penanggulangan DBD Setiap diketahui adanya penderita DBD. segera ditindaklanjuti dengan kagiatan Penyelidikan Epidemiologis (PE) dan Penanggulangan Fokus. Adanya nyamuk Aedes aegypti penular DBD sepanjang tahun di Indonesia menyebabkan penularan virus dengue juga akan terjadi sepanjang tahun. Karena itu. termasuk tempat-tempat umum dalam radius sekurang-kurangnya 100 m. PE juga dilakukan untuk mengetahui adanya penderita dan tersangka DBD lainnya. dan lingkungannya dari penularan DBD. baik di musim penghujan maupun di musim kemarau. • Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 23 .

3. Tujuannya adalah mengendalikan populasi nyamuk. Penilaian ini dilakukan melalui kunjungan rumah secara acak dan wilayah-wilayah yang direncanakan untuk pengasapan. Sedangkan penilaian epidemiologi ditujukan untuk mengetahui dampak upaya penanggulangan terhadap jumlah penderita dan kematian DBD dengan cara membandingkan data kasus/kematian DBD sebelum dan sesudah penanggulangan KLB.Pencarian Penderita Panas Ada penderita DBD lain atau ada jentik dan ada penderita panas ≥ 3 orang dan ditemukamn jentik (≥ 25%) Ya Penyuluhan PSN DBD Fogging radius 200m - Tidak Penyuluhan PSN FDBD Larvasidasi Gambar 2.Pemeriksaan Jentik . Penilaian operasional ditujukan untuk mengetahui persentase (coverage) pemberantasan vektor dari jumlah yang direncanakan. jentik dan kepompong nyamuk penular DBD (Aedes aegypti) di tempat-tempat perkembangbiakannya. Sarang Nyamuk demam berdarah dengue (PSN DBD) adalah kegiatan memberantas telur. sehingga KLB yang terjadi di suatu wilayah tidak meluas ke wilayah lainnya. larvasidasi dan penyuluhan. Tujuannya adalah membatasi penularan DBD. penyuluhan kepada masyarakat dan evaluasi/penilaian penanggulangan yang dilakukan di seluruh wilayah yang terjadi KLB. Keberhasilan PSN DBD diukur dengan Angka Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 24 . Bagan Penanggulangan Fokus (Penanggulangan Penderita DBD di Lapangan) • Penanggulangan • Pemberantasan Kejadian Luar Biasa (KLB) adalah upaya penanggulangan yang meliputi : pengobatan/perawatan penderita. pemberantasan vektor penular DBD. Penilaian Penanggulangan KLB meliputi penilaian operasional dan penilaian epidemiologi.LAPORAN AKHIR Penderita/tersangka DBD Penyelidikan Epidemiologi (PE) . sehingga penularan DBD dapat dicegah dan dikurangi.

Peran Masyarakat dalam Penanggulangan DBD Masyarakat berperan dalam upaya pemberantasan penyakit DBD. Sehingga bisa dilakukan penegakan diagnosa secara dini dan diberikan pertolongan dan pengobatan dini. Seperti diketahui nyamuk Aedes aegipty adalah nyamuk domestik yang hidup sangat dekat dengan pemukiman penduduk seperti halnya Culex. (2) menutup rapat-arapat tempat penampungan air. Sehingga upaya pemberantasan dan pencegahan penyebaran penyakit DBD adalah upaya yang diarahkan untuk menghilangkan tempat perindukan (breeding places) nyamuk Aedes aegypti yang ada dalam lingkungan permukiman penduduk. kaleng bekas yang dapat menampung air hujan. Mengubur/membuang pada tempatnya barang-barang bekas seperti ban bekas. yaitu (1) menguras dan menyikat tempat-trempat penampungan air. dan (3) mengubur atau menyingkirkan barang-barang bekas yang dapat menampung air hujan. teh manis. Dengan demikian gerakan PSN dengan 3M Plus yaitu Menguras tempat-tempat penampungan air minimal seminggu sekali atau menaburinya dengan bubuk abate untuk membunuh jentik nyamuk Aedes aegypti.LAPORAN AKHIR • Pemeriksaan Bebas Jentik (ABJ). Dalam upaya pemberantasan vektor tersebut antara lain masyarakat berperan secara aktif dalam pemantauan jentik berkala dan melakukan gerakan serentak Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Cara PSN DBD dilakukan dengan ”3M”. pemberian obat penurun panas seperti paracetamol. Menutup rapat-rapat tempat penampungan air agar nyamuk Aedes aegypti tidak bisa bertelur di tempat itu. Masyarakat juga berperan dalam upaya pemberantasan vektor yang merupakan upaya paling penting untuk memutuskan rantai penularan dalam rangka mencegah dan memberantas penyakit DBD muncul di masa yang akan datang. sirup. Apabila ABJ lebih atau sama dengan 95% diharapkan penularan DBD dapat dicegah atau dikurangi. Tujuannya adalah melakukan pemeriksaan jentik nyamuk penular demam berdarah dengue termasuk memotivasi keluarga/masyarakat dalam melaksanakan PSN DBD. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 25 . Pertolongan pertama kepada tersangka penderita DBD dapat dilakukan di rumah sebelum dirujuk ke tempat pelayanan kesehatan yaitu dengan memberikan minum sebanyak-banyaknya dengan oralit. yaitu masyarakat dapat mengenali secara dini tanda-tanda penyakit DBD yang menimpa salah satu anggota keluarga maupun tetangga mereka dan segera merujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat. Tujuan pemberian pertolongan pertama di atas adalah untuk mempertahankan volume cairan dalam pembuluh darah penderita sehingga dapat membantu mengurangi angka kematian karena DBD. juice buah-buahan. Obat penurun panas yang tidak boleh diberikan adalah dari jenis yang mengandung asam salisilat yang dapat memperberat perdarahan. Jentik Berkala adalah pemeriksaan tempat-tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti yang dilakukan secara teratur oleh petugas kesehatan atau kader atau petugas pemantau jentik (jumantik). Sebagai contoh: peran masyarakat dalam kegiatan surveilans penyakit.

Sejak dulu tidak ada yang berubah dengan bionomik atau perilaku hidup nyamuk Aedes aegypti sehingga teknologi pemberantasannya pun dari dulu tidak berubah. sehingga dapat mengubah perilaku masyarakat dan lingkungannya ke arah perilaku dan lingkungan yang bersih dan sehat. Jika ini dilakukan maka selain penyakit DBD maka penyakit-penyakit lain yang berbasis lingkungan seperti leptospirosis. terus-menerus berupa gerakan serentak. boleh dikatakan lebih dari 90% dari keseluruhan upaya pemberantasan penyakit DBD. Adipura. Berbagai negara yang mempunyai masalah yang sama dengan Indonesia menggunakan berbagai macam pendekatan dalam melakukan PSN antara lain Singapura dan Malaysia menggunakan pendekatan hukum yaitu masayarakat yang rumahnya kedapatan ada jentik Aedes aegypti dihukum dengan membayar denda. Hal sederhana lainnya yang dilakukan oleh masyarakat adalah menata gantungan baju dengan baik agar tidak menjadi tempat hinggap dan istirahat nyamuk Aedes aegypti. Pemberantasan DBD akan berhasil dengan baik jika upaya PSN dengan 3M Plus dilakukan secara sistematis. Kota Sehat dan gerakangerakan lain serupa dapat dihidupkan kembali untuk membudayakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Sri Lanka menggunakan gerakan Green Home Movement untuk tujuan yang sama yaitu menempelkan stiker hijau bagi rumah yang memenuhi syarat kebersihan dan kesehatan termasuk bebas dari jentik Aedes aegypti dan menempelkan stiker hitam pada rumah yang tidak memenuhi syarat kebersihan dan kesehatan. Dalam era otonomi dan desentralisasi saat ini Pemerintah Kabupaten/Kota dalam mengatur rumah tangganya sendiri dapat melakukan gerakan-gerakan inovatif seperti yang disebutkan di atas yang didukung dengan berbagai Peraturan Daerah. diare dan lain-lain akan ikut terberantas ibaratkan "sekali merengkuh dayung. tidur dengan kelambu. dua tiga pulau terlampaui.LAPORAN AKHIR Masyarakat juga melakukan upaya mencegah gigitan nyamuk dengan menggunakan obat gosok antinyamuk." Keberhasilan Jenderal WC Gorgas memberantas nyamuk Aedes aegypti untuk memberantas demam kuning (Yellow Fever) lebih dari 100 tahun yang lalu di Kuba dapat kita ulangi di Indonesia. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa dalam upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit DBD oleh masyarakat sangat besar. Dan upaya tersebut sangat berkaitan dengan faktor perilaku dan faktor lingkungan. Berbagai gerakan yang pernah ada di masyarakat seperti Gerakan Disiplin Nasional (GDN).. menyemprot rumah dengan obat nyamuk yang tersedia luas di pasaran.. Teknologi yang digunakan oleh Jenderal Gorgas adalah gerakan PSN yang dilaksanakan serentak dan secara besar-besaran di seluruh negeri. Agar gerakan yang dilakukan oleh Jenderal Gorgas bisa dilakukan di Indonesia diperlukan komitmen yang kuat dari seluruh jajaran struktur pemerintahan bersama-sama masyarakat dan swasta.. Bagi pemilik rumah yang ditempeli stiker hitam diberi peringatan 3 kali untuk membersihan rumah dan lingkungannya dan jika tidak dilakukan maka orang tersebut dipanggil dan didenda. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 26 . Gerakan Jumat Bersih (GJB). tidak kondusif untuk hidup nyamuk Aedes aegypti aegypti.

(2) data. (3) sarana. Berdasarkan landasan pemikiran diatas. Faktor-faktor yang terkait dengan kinerja surveilans mencakup (1) tenaga.LAPORAN AKHIR METODOLOGI 3. (2) data. (4) dana. (3) sarana. (3) Jumlah Kematian. dan (5) SOP. dan (3) pelaporan. (2) pelaksanaan diseminasi informasi DBD. (4) dana.1 Kerangka Pemikiran Kajian ini dilandasi pemikiran adanya hubungan timbal balik antara rendahnya kinerja surveilans dan kinerja penanggulangan dalam implementasi kebijakan penyakit menular khususnya dalam kasus kebijakan penanganan penyakit DBD. Faktor-faktor yang terkait dengan kinerja surveilans mencakup (1) tenaga. (2) Jumlah Kasus. dan (5) SOP. Kinerja surveilans diukur dengan melihat (1) keberadaan peta rawan. (4) Luas Daerah Terserang. Kinerja Penanggulangan diukur dengan melihat (1) Frekuensi KLB. Implementasi kebijakan penyakit menular juga dipengaruhi kebijakan desentralisasi kewenangan pengelolaan pembangunan.1 Kerangka Pikir Kajian Kebijakan Penannggulangan Penyakit Menular Kerangka pikir kajian tersebut selanjutnya dijabarkan dalam kerangka konsep kinerja surveilans dan kerangka konsep kinerja penanggulangan yang digambarkan dalam skema berikut: Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 27 . kerangka pikir kajian digambarkan dalam skema berikut: BAB 3 Kinerja Surveilans DESENTRALISASI KEWENANGAN IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENYAKIT MENULAR Kinerja Penanggulangan Gambar 3.

Prilaku (3M). 4. 3. 2. 2. Transportasi. Komunikasi. alat penyemprotan SOP 1. 2. klinis. Komunikasi SOP 1. 3. Proses . APBD. motivasi . Vektor. Pedoman (7 seri : modelpokjanal . Jentik .Peta Rawan KLB DBD •Diseminasi Informasi .3 Kerangka Konsep Kinerja Penanggulangan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 28 .Diseminasi Informasi . Obat.2 Kerangka Konsep Kinerja Surveilans Tenaga 1. Lingkungan (genangan). 2. 2. Monev Kerangka Konsep Kinerja Surveilans Dana 1. Peraturan Gambar 3. PHLN) 2. jenis pengeluaran Data Kasus . 4. Transportasi . Proses. Logistik. lab. Curah Hujan Kinerja Surveilans DBD •Peta Rawan KLB DBD . Pengolah data. Jentik. Tim Penanggulangan (epid. Pengolah data. Curah Hujan. Logistik Kinerja Penanggulangan KLB DBD •Frekuensi KLB •Jumlah Kasus •Jumlah Kematian •Luas Daerah Terserang Sarana 1. Vektor . insektisida. Peraturan Gambar 3. Sumber . 6. 3. Pengetahuan (Penyelidikan & Penanggulangan) Kerangka Konsep Kinerja Penanggulangan Dana 1. support).LAPORAN AKHIR Tenaga 1. Pedoman. 3. 2. Jumlah . Sumber (APBD. Jumlah . 4. 2. 5. 3. Pengetahuan .Pelaporan Sarana 1. Jenis pengeluaran Data Kasus.

Jenis pengeluaran 3 Data 1. Peta rawan KLB DBD 2 Diseminasi informasi 3. support) 2. Transportasi 2. 2. Komunikasi 5 SOP 1. Jumlah Kasus 3. Sumber 3.LAPORAN AKHIR 3. Vektor 4. Pengetahuan (penyelidikan & Dependent Variabel 1 Tenaga Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 29 . Tujuannya adalah untuk memperoleh berbagai gambaran yang jelas dan diskripsi yang lengkap tentang variabel penelitian. Kasus 2. Luas Daerah Terserang 1. lab. Jumlah 2. Tim Penanggulangan (epid. Curah Hujan 4 Sarana 1. Sumber 3. Pengolah data 3. Jumlah Kematian 4. Proses 4. Variabel Penelitian Variabel penelitian mencakup 2 aspek. Kajian ini menggunakan metode penelitian survey explanatory. Pelaporan Dependent Variabel 1. Peraturan KINERJA PENANGGULANGAN KLB DBD Idependent Variabel 1 Tenaga 1 Kinerja Penanggulangan KLB 1. Monitoring dan Evaluasi 2 Dana 1. Jentik 3. Pedoman (7 seri modul pokjanal) 2. Frekuensi KLB 2. klinis. Pengetahuan 4. yaitu kinerja surveilans dan kinerja penanggulangan No Variabel Parameter yang diukur KINERJA SURVEILANS DBD Idependent Variabel 1 Kinerja Surveilans 1.2 Disain Kajian 1. Jumlah 2. dimana data diperoleh melalui angket dan wawancara kepada sejumlah responden terpilih secara acak.

Peraturan 3. Logistik 1. Data primer yang didapat melalui wawancara mendalam (indepth interview) di berbagai tingkat (Pusat. Logistik 5. Kasus 2. propinsi dan kab/kota. Sumber 3. pengisian kuesioner. Insektisida 7. Keputusan Menteri Kesehatan.3 Jenis. Keputusan Dirjen. laporan tentang wabah. Peraturan Daerah maupun Peraturan Gubernur. laporan tahunan tentang Penanggulangan Penyakit Menular (P2M). serta focus group discussion.LAPORAN AKHIR 2 Dana 3 Data 4 Sarana 5 SOP penanggulangan) 1. Untuk interpretasi hasil analisis data. Obat 6. Proses 4. Prilaku (3M) 5. dilakukan pula studi kepustakaan terutama kajian teoritis dari hasil penelitian terdahulu yang relevan dengan kajian ini Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 30 . Transportasi 2. Jenis pengeluaran 1. Jentik 3. Keputusan Presiden. Vektor 6. Peraturan Pemerintah. Curah hujan 7. Jumlah 2. Sumber dan Pengumpulan Data Data yang dikumpulkan dalam kajian ini meliputi data primer dan data sekunder. Lingkungan (genangan) 4. Komunikasi 4. propinsi. Data sekunder mencakup data berkaitan dengan profil kesehatan pusat. Pengolah data 3. kab/kota). baik dalam bentuk data kualitatif maupun kuantitatif. Alat penyemprotan 1. peraturan perundangan dalam bentuk Undang-Undang. Pedoman (7 seri modul pokjanal) 2.

Medical Record. (3) P2B2. (3) Bag. Kab. Kab. (5) Kabag Keuangan. (3) pakar lain dari WHO. Kelompok Pakar yang menjadi responden adalah (1) ahli epidemiologi dari Perguruan Tinggi.1 Responden Kajian No 1 2 3 4 5 6 Propinsi/Kab Riau 1. (2) UGD. Gowa Nusa Tenggara Barat 1. Kota Makasar 2. serta (2) kelompok pakar. yang memiliki keahlian dan pengalaman dalam penanggulangan penyakit menular. Kota Surabaya 2.4 Responden Kajian Responden Kajian mencakup 2 (dua) kelompok. (2) petugas P2M. (6) Kasubag Umum Kabupaten Dinas Kesehatan: (1) subdin P2M. Kelompok Pelaksana yang menjadi responden mencakup Pusat: Dit Epidemiologi dan P2B2 Ditjen P2M. (4) unit kepegawaian. yaitu (1) kelompok pelaksana yang terlibat dalam penanggulangan penyakit menular. (3) unit penanggulangan P2B2. Kab Lombok Tengah TOTAL Dinas 5 3 2 3 2 2 1 1 2 2 1 2 2 1 2 3 2 3 47 PKM 4 5 3 2 3 4 2 2 4 4 4 6 43 Rumah Sakit 1 1 2 1 2 1 1 4 1 2 2 3 21 Bapp 2 1 1 2 1 1 2 1 1 1 1 1 15 Masy 1 1 20 1 1 18 1 1 13 2 1 20 1 1 25 2 0 13 122 Jml 26 Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 31 . Kota Mataram 2. Kota Balikpapan Sulawesi Selatan 1. (5) unit umum Puskesmas : (1) Kepala Puskesmas. subdit arbovirosis. (4) Lab. Kab. Tabel 3. Rumah Sakit. (2) unit surveilans. bagian PI dan kepegawaian. Gresik Kalimantan Timur 1. (2) Seksi Surveilans. (3) staf Kesling Rumah Sakit: (1) Wakil Direktur Yanmed. Yanmedik dan Binkesmas Dinas Kesehatan Propinsi: (1) Kasubdin P2M. (2) ahli epidemiologi dari Departemen Kesehatan. Siak Jawa Barat 1. Kota Samarinda 2. Kab. Kota Bandung 2.LAPORAN AKHIR 3. Bogor Jawa Timur 1. (4) Kabag Kepegawaian. Kota Pekanbaru 2.

Selanjutnya data hasil pengumpulan di lapangan dikelompokan. o Prevalensi kasus DBD tinggi dan rendah o Puskesmas di ibukota kabupaten o Puskesmas di kecamatan di luar ibu kota kab/kota Dengan demikian jumlah sampel kabupaten/kota sebanyak 12 buah.4 Tahapan Pelaksanaan Kajian Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 32 . Tengah dan Timur.5.Mentabulasi Analisis Data .Mengelompokkan .Interpretasi hasil wawancara FGD Kesimpulan & Rekomendasi Kebijakan Gambar 3. baik berbentuk data sekunder maupun hasil wawancara mendalam.6 Teknik Analisis Teknik analisis yang dilakukan dalam kajian ini adalah dengan melakukan analisis diskriptif (kualitatif) berdasarkan data dan informasi yang didapat di lapangan.Mengolah . 24 puskesmas. Lokasi Kajian Kajian ini dilaksanakan di 6 (enam) propinsi terpilih yang ditentukan berdasarkan karakteristik frekuensi terjadinya kejadian penyakit menular dari kelompok propinsi di Indonesia Bagian Barat. Analisis dan interpretsi selanjutnya data yang sudah dibuat dalam bentuk tabulasi serta berdasarkan hasil wawancara mendalam dengan responden. Berdasarkan hasil analisis dan temuan yang didapat selanjutnya dilakukan pembahasan dengan nara sumber dalam bentuk focus group discussion (FGD). mendapatkan rumusan hasil kajian lebih fokus.LAPORAN AKHIR 3.Interpertasi data . dengan kriteria. Hasil FGD disosialisasikan dalam bentuk workshop untuk kemudian dirumuskan dalam bentuk kesimpulan dan rekomendasi serta implikasi kebijakan.Data Primer (kuesioner & wawancara) Pengolahan Data . Pengumpulan Data . diolah dan ditabulasikan untuk memudahkan dalam proses analisis.Data Sekunder . dan 12 rumah sakit 3. Pada setiap propinsi di ambil 2 (dua) Kabupaten/Kota dengan kriteria pemilihan kabupaten adalah o Prevalensi kasus DBD yang tinggi dan rendah o 1 kab/kota terletak di ibu kota propinsi dan 1 kab/kota di luar kab/ibu kota propinsi Pada setiap kabupaten dipilih dua puskesmas dan 1 (satu) rumah sakit.

0 0 I. Depkes. Ditjen PP&PL.00 5 . Tingginya curah hujan menyebabkan banyaknya genangan-genangan air yang memudahkan nyamuk untuk berkembangbiak. Jika diperhatikan gambaran IR dan CFR (gambar) antara kurun waktu 1968 sampai 2004. PHBS yang rendah masih menjadi salah satu pemicu tidak menurunnya kasus IR. R 2 0.00 2 0.0 0 5. Angka tertinggi IR terjadi pada tahun 1968.7. peningkatan IR yang paling tinggi tidak mengakibatkan CFR meningkat di tahun yang sama. Pada kurun waktu tahun 2000 – 2004 terjadi kecenderungan peningkatan IR. 2005 Apabila dilihat secara khusus per bulan selama kurun waktu 2003 . gambaran Incidence Rate (IR) dan Case Fatalities Rate (CFR) penyakit DBD ini dapat dilihat pada Gambar di bawah ini.00 0. di bawah ini). Dapat dilihat pada tahun 1998.LAPORAN AKHIR BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.0 0 3 0. namun demikian.1 Incidence Rate (IR) dan Case Fatalities Rate (CFR) Berdasarkan data tahun 1968 sampai dengan tahun 2004.1.00 CFR 4 0. hal ini dimungkinkan makin banyaknya kasus-kasus DBD yang tertangani. maka kecenderungan terjadinya peningkatan kasus DBD lazimnya dimulai pada akhir bulan Desember sampai dengan terbanyak yang lazimnya terjadi pada sekitar bulan Februari – Maret (lihat Gambar 1.1 IR & CFR Tahun 1968-2004 IR & CFR DBD DI INDONESIA TAHUN 1968-2004 4 0.00 CFR 2 5.0 0 3 0. Kesadaran masyarakat mengenai kasus DBD dapat memperkecil peningkatan CFR.2004. dan tidak terlaksananya program baik PSN Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 33 .0 0 IR 3 5.00 1 0. Implementasi Kebijakan Penanggulangan DBD 4.0 0 1 0.1. 1999 dan tahun 2004. Gambar 4. terlihat makin menurunnya CFR.00 1 5.0 0 2 5.00 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 00 01 02 03 04 TAHUN 0 .00 3 5. 1988.0 0 1 5.00 Sumber: Subdit Arbovirosis.00 4 5.

data tahun 2005 – 2006.03 8.59 2.000 10.41 19.61 5.8 30. 2006 11. 2005 Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 34 .9 7.000 30.76 1.2 Perkembangan Kasus DBD Nasional Per Bulan PERKEMBANGAN KASUS DBD NASIONAL PER BULAN 30000 2003-2004 25000 20000 S SU KA 15000 KASUS IK NA 10000 5000 0 JAN FEB MAR APR MAY JUN JUL AUG SEP OCT NOV DEC JAN FEB MAR APR 2003 2004 Sumber: Subdit Arbovirosis.000 5.10 908 992 1.000 25. Sumber: Subdit Arbovirosis.61 10.000 0 JAN FEB MARAPRMAYJUN JUL AUGSEPOCT NOVDECJAN FEB MARAPRMAYJUN JUL AUGSEPOCT NOVDES JAN FEB MARAPRMAY 2.000 15. 2005 Sementara itu.005 14. Depkes.27 1.0 335 KASUS 9.7. 3 KASUS DBDPer Bulan di Indonesia.65 5.4 10. Ditjen PP&PL.77 2.7 15.004 2. tahun 2005-2006 Kasus DBD PER BULAN DI INDONESIA TAHUN 2005-2006 35. Gambar 4. 7.35 5. Gambar 4.a). menunjukkan bahwa kecenderungan peningkatan kasus DBD per bulan hampir sama polanya dengan tahun 2003 – 2004.94 6.79 1.99 7.03 5.LAPORAN AKHIR (Pemberantasan Sarang Nyamuk) maupun 3M mengakibatkan kecenderungan peningkatan kasus DBD.52 6. Hal ini ada kaitannya dengan pergantian musim kemarau ke musim hujan.000 20. yaitu pada bulan akhir Desember (lihat Gambar 1.3 18. Depkes.0 6. Ditjen PP&PL.

data tahun 2003 hingga Juni 2006.935 1 2005 2006 6475 2 10916 3 7610 4 5033 5 5652 335 6 5357 7 5.01 14.7a.418 7. 2005 Berdasarkan gambar 1.7. Pada awalnya strategi utama pemberantasan DBD adalah pemberantasan nyamuk dewasa melalui pengasapan. dan 1. Kemudian strategi diperluas dengan menggunakan larvasida yang ditaburkan ke Tempat Penampungan Air (TPA).2 Kebijakan Penanggulangan Penyakit DBD Departemen Kesehatan telah melewati pengalaman yang cukup panjang dalam penanggulangan penyakit DBD. Hal ini menurut beberapa hasil analisa ada kaitannya dengan pergantian musim kemarau ke musim hujan. (2) meningkatkan perlindungan kesehatan masyarakat terhadap penyakit DBD. terlihat pola yang jelas mengenai kecenderungan peningkatan kasus DBD.028 Sumber: Subdit Arbovirosis. Kebijakan dalam rangka penanggulangan menyebarnya DBD adalah (1) peningkatan perilaku dalam hidup sehat dan keamandiriian masyarakat terhadap penyakit DBD. 1.143 11. Kedua metode ini sampai sekarang belum memperlihatkan hasil yang memuaskan dimana terbukti dengan peningkatan kasus dan bertambahnya jumlah wilayah yang terjangkit DBD. Depkes.034 8 8528 9 6997 10 7610 11 12 10712 15355 18. dan (4) memantapkan kerjasama lintas sektor/lintas program. 4. Mengingat obat dan vaksin untuk membunuh virus dengue belum ada.1. (3) meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi program pemberantasan DBD.8.4 JUMLAH KASUS DBD DI INDONESIA TAHUN 2005 & 2006 JUMLAH KASUS DBD DI INDONESIA TAHUN 2004 DAN 2005 (SITUASI SD TGLJuni 2006) (s/d 19 19 JUNI 2006) 20000 18000 16000 14000 12000 10000 8000 6000 4000 2000 0 2005 2006 Total sd Akhir Mei 2005: 35. Ditjen PP&PL. yaitu kecenderungan terjadinya peningkatan kasus DBD pada akhir bulan Desember sampai dengan kasus terbanyak pada bulan Februari – Maret.LAPORAN AKHIR Gambar 4. seperti di atas. Strategi dalam pelaksanaan kebijakan di atas dilakukan melalui Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 35 . maka cara yang paling efektif untuk mencegah penyakit DBD ialah dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) yang dilaksanakan oleh masyarakat/keluarga secara teratur setiap seminggu sekali.686 Total sd Akhir Mei 2006: 50.

(2) Pemberantasan vektor melalui PSN dengan cara 3M Plus. meningkatkan dan mewujudkan kemitraan. maka upaya-upaya KIE. guna memadukan berbagai sumber daya yang tersedia di masing-masing mitra. Untuk mendorong meningkatnya peran aktif masyarakat. social marketing. Meningkatnya mutu lingkungan hidup dapat mengurangi angka kesakitan penyakit DBD karena di tempat-tempat penampungan air bersih dapat dibersihkan setiap minggu secara berkesinambungan. (4) Desentralisasi. Jaringan kemitraan diselenggarakan melalui pertemuan berkala. Upaya pemberantasan penyakit DBD tidak dapat dilaksanakan oleh sektor kesehatan saja. dimana Puskesmas melakukan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 36 . Pertemuan berkala sejak dari tahap perencanaan sampai tahap pelaksanaan. (2) Peningkatan Kemitraan Berwawasan Bebas dari Penyakit DBD. peran sektor terkait pemberantasan penyakit DBD sangat menentukan. (3) Peningkatan Profesionalisme Pengelola Program. dikarenakan perbedaan situasi dan kondisi wilayah. virology dan faktor-faktor perubahan iklim.LAPORAN AKHIR (1) Pemberdayaan masyarakat. maka identifikasi stakeholders baik sebagai mitra maupun pelaku potensial. (3) Bulan Bakti gerakan ”3M”. Meningkatnya peran aktif masyarakat dalam pencegahan dan penanggulangan penyakit DBD merupakan salah satu kunci keberhasilan upaya pemberantasan penyakit DBD. sosialisasi. dan pemeriksaan jentik berkala (PJB) yang dilakukan setiap 3 bulan sekali. Pokok-pokok program pemberantasan DBD mencakup (1) Kewaspadaan dini DBD. Optimalisasi pendelegasian wewenang pengelola kepada kabupaten/kota. (5) Pembangunan Berwawasan Kesehatan Lingkungan. sehingga populasi vektor sebagai penular penyakit DBD dapat berkurang. Oleh sebab itu. tata laksana kasus harus dikuasai karena hal-hal tersebut merupakan landasan dalam penyususnan kebijaksanaan program P2 DBD. pemantauan dan penilaian. advokasi. dan berbagai kegiatan KIE kepada semua pihak yang terkait perlu dilaksanakan agar semuanya dapat memahami peran lingkungan dalam pemberantasan penyakit DBD. merupakan langkah awal dalam menggalang. Angka kesakitan penyakit ini bervariasi antara satu wilayah dengan wilayah lain. Pengetahuan mengenai Bionomic vektor. (4) Penanggulangan kasus. Penyakit DBD hampir tersebar luas di seluruh Indonesia kecuali di daerah yang di atas 1000 m diatas permukaan air laut. SDM yang terampil dan menguasai IPTEK merupakan salah satu unsur penting dalam pelaksanaan program P2 DBD. dan berbagai upaya penyuluhan kesehatan lainnya dilaksanakan secara intensif dan berkesinambungan melalui berbagai media massa dan sarana. Orientasi.

LAPORAN AKHIR penyelidikan epidemiologi (PE) untuk mengurangi persebaran lebih luas dan tindakan yang lebih tepat. tersedia pos untuk penanggulangan. Hasil implementasi kebijakan. pemantauan dan informasi program pemberantasan penyakit dan meningkatkan kewaspadaan di semua tingkat administrasi. (2) Di Kota Pekanbaru. strategi dan program penanggulangan DBD di daerah lokasi kajian dilaporkan sebagai berikut: Propinsi Riau Kebijakan Daerah mecakup (1) pemberantasan DBD diselenggarakan dengan menggunakan penatalaksanaan kasus secara cepat dan tepat. Dana KLB dianggarkan dengan menggunakan pola kinerja artinya bila KLB tidak terjadi. melalui pelaksanaan pertemuan berkala Pokjanal/Pokja DBD. sedangkan dana dari Dinas Kesehatan diutamakan untuk membeli peralatan dan kegiatan yang sifatnya pencegahan. pembinaan dalam pelaksanaan gerakan 3M. serta kemitraan dengan masyrakat (LSM) termasuk swasta. Depag dan pihak legislatif. (5) penanggulangan KLB. Bila Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 37 . Bappeda. pelatihan tenaga puskesmas dan rumah sakit. melalui perencanaan. Strategi yang dilakukan mencakup (1) intensifikasi pelaksanaan kasus melalui pencarian kasus dan pemutusan rantai penularan. Tim Pokjanal DBD diketuai oleh Walikota. PKK. (3) Bila terjadi KLB. sedangkan sekretariat berada di kantor Dinas Kesehatan. Program yang dilakukan mencakup (1) kewaspadaan dini DBD melalui penyuluhan intensif. Strategi dan program adalah (1) pertemuan dengan tim pokjanal DBD propinsi Riau menghasilkan beberapa kesepakatan yang menitikberatkan pada peran aktif dari pokja/pokjanal DBD dengan melibatkan masyarakat. dana bencana dan dana belanja rutin sekretariat daerah. (5) meningkatkan kemampuan penggalian sumberdaya daerah dan sumberdaya masyarakat dalam pengelolaan program P2M. (2) mengembangkan dan memperkuat jejaring surveilans epidemiologi dengan fokus pemantauan wilayah setempat. perbaikan manajemen kasus diagnostik dan pengobatan serta rujukan. (3) meningkatkan SDM. (4) menyiapkan pengadaan dan distribusi kebutuhan obatobatan dan bahan-bahan yang esensial. Implementasi kebijakan. melengkapi sarana pemberantasan vektor. Dinkes. (2) pemberantasan vektor. menyiapkan juknis dan juklaknya. (2) surveilans epidemiologi. Ketiga dana tersebut diatas berasal dari dana Kantor Walikota. pelatihan tenaga operasional. (3) memantapkan jejaring lintas program. lintas sektor. Tim Pokjanal DBD terdiri dari unsur-unsur Diknas. sebagai dasar tindak lanjut perencanaan program dan penanggulangan KLB. (7) Pendekatan Peran Serta Masyarakat dann PSN DBD. PMD. (8) Penelitian. (6) peningkatan profesionalisme SDM. pengendalian faktor resiko dan penyehatan lingkungan. kab/kota. komunikasi perubahan perilaku. melalui penyediaan insektisida dan larvasida. kewaspadaan dini. yaitu dana tak terduga. lintas program dan lintas sektor terkait serta mengaktifkan kembali peran UKS (Usaha Kesehatan Sekolah) untuk menggerakkan anak sekolah dalam pemberantasan demam berdarah. dan menyiapkan sarana pemeriksaan untuk diagnosa melaksanakan PE dan penanggulangan fokus. maka uang tidak bisa dicairkan.

(2) Pemberantasan vektor melalui PSN dengan cara 3M Plus. Strategi pelaksanaan kebijakan penanggulangan DBD di Propinsi Jawa Barat dilakukan melalui (1) pendekatan ”gerak cepat” dan putus rantai. dan pemeriksaan jentik berkala (PJB) yang dilakukan setiap 3 bulan sekali. (3) Bulan Bakti gerakan ”3M”. yaitu mencakup 1) Kewaspadaan dini DBD. (7) Pendekatan Peran Serta Masyarakat dann PSN DBD. (5) Pelibatan lintas sektor. dan tidak seimbangnya jumlah kader dengan cakupan daerah yang harus diselidiki. Kota Pekanbaru juga memiliki Forum Perkampungan Sehat. dimana Puskesmas melakukan penyelidikan epidemiologi (PE) untuk mengurangi persebaran lebih luas dan tindakan yang lebih tepat. (3) komitmen dari pimpinan unit penyelenggara kesehatan diperlukan untuk kegiatan surveilans epidemiologi. (3) Upaya peningkatan kemampuan tenaga kesehatan dalam penanggulangan DBD secara kuratif dilakukan melalui ”workshop tata laksana” dengan melibatkan dokter spesialis dan urusan dalam. (2) kegiatan surveilans epidemiologi dilaksanakan oleh tim fungsional di masingmasing tingkat mulai dari Puskesmas. yaitu pada setiap kasus petugas siap melakukan PE sehingga ditemukan akar permasalahan dan sumber penyebabnya untuk kemudian dilakukan tindakan agar tidak menyebar ke tempat lain. pemeriksaan jentik dengan memberdayakan tenaga jumantik. (5) penanggulangan KLB. diketuai oleh Bappeda dan sekretariat juga berada di Bappeda. (4) penemuan kasus dilaksanakan secara bekerjasama dengan masyarakat. dan propinsi. bidan. Kegiatan pokok adalah melakukan rapat lintas sektor untuk menangani masalah-masalah khususnya penyakit menular. (6) peningkatan profesionalisme SDM. praktek swasta. (6) Sosialisasi Pola Hidup Bersih (PHBS). dan melakukan ”CLEAN-UP” lingkungan yang dipimpin oleh walikota selama 1-2 jam. fogging focus massal. perawat. kesibukan kader. maka kinerjanya akan dipertanyakan (3) Disamping Tim Pokjanal DBD. (8) Penelitian. (2) Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 38 . puskesmas dan masyarakat. (2) Fogging dilaksanakan apabila terjadi KLB dengan menggunakan dana yang berasal dari Dinas Kesehatan Kabupaten dengan peruntukan untuk larvasidasi dan abatesisasi. uang dicairkan. dokter. Propinsi Jawa Timur Kebijakan daerah mencakup (1) upaya penanggulangan masalah-masalah kesehatan yang dilakukan merupakan hasil dari kajian surveilans epidemiologi. kab/kota. Propinsi Jawa Barat Kebijakan penanggulangan di Jawa Barat secara umum mengacu pada kebijakan dan program yang telah ditetapkan oleh Departemen Kesehatan (Pusat). dukun bayi dan kendaraan kesehatan. (4) Penanggulangan kasus.LAPORAN AKHIR terjadi KLB. (4) Pelibatan partisipasi masyarakat melalui gerakan PSN setiap hari Jumat pagi. Hasil pelaksanaan program ditunjukkan antara lain (1) pemantauan jentik belum optimal dilakukan oleh kader dengan alasan terbatasnya dana operasional. (2) upaya preventif yang dilakukan melalui ”managing vector and environment” malalui gerakan 3M yang dilakukan secara lintas sektor dalam wadah Pokjanal DBD. Strategi dalam penanggulangan DBD dilakukan melalui (1) penemuan kasus dan kematian melalui surveilans di rumah sakit.

memastikan diagnostik etiologi. (2) Pelaksanaan Surveilans Epidemiologi. (2) Pemberantasan vector. mengidentifikasikan keadaan penyebab KLB. dan (3) Membangun kerja sama lintas sektor. membuat cara penanggulangan sementara. melengkapi sarana pemerantasan vektor. (4) melakukan kajian epidemiologi harus bekerjasama dengan lintas program dan lintas sektor. pelaksanaan gerakan 3M.LAPORAN AKHIR pencarian kasus tambahan dilakukan pada saat penyelidikan epidemiologi. (5) melakukan studi epidemiologi pada daerah dengan kinerja yang tidak baik. (6) Pelatihan khusus tentang epidemiologi dan surveillens baru dilakukan 1 kali dalam 5 tahun terakhir. orang dan tempat. (3) penyelidikan epidemiologi terhadap kasus yang dicurigai pada daerah yang resiko rendah. perubahan perilaku dalam pola hidup bersih dan sehat. Propinsi Kalimantan Timur Kebijakan Daerah yang dilakukan mencakup (1) Pemberantasan DBD diselenggarakan dengan menggunakan penatalaksanaan kasus secara cepat dan tepat. mengamati indikasi pra-KLB misal cakupan program. lintas program dan lintas sekor terkait. (5) Dinas kesehatan kota Balikpapan selalu melaksanakan pendataan DBD dengan rutin. merencanakan penelitian lain yang sistematis. Pelaksanaan program penanggulangan DBD mencakup (1) SKD-KLB melalui kegiatan pengumpulan data baru dari penyakit-penyakit yang berpotensi KLB. Gambaran implementasi adalah (1) Pelaksanaan penanggulangan DBD melibatkan masyarakat. mengidentifikasikan sumber dan cara penyebaran. status gizi. kerja sama dengan dengan masyarakat dan swasta. pengolahan dan analisis data untuk penyusunan rumusan kegiatan perbaikan oleh tim epidemiologi. perilaku masyarakat. pertemuan berkala Pokjanal/Pokja DBD. (3) Untuk tahun 2005. (2) Tim Pokjanal DBD diketuai oleh Walikota. mengidentifikasi dan menghitung kasus atau paparan. menetapkan rekomendasi cara pencegahan dan penanggulangan. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 39 . mendeskripsikan kasus berdasarkan waktu. Pokok-pokok Program yang dilakukan mencakup Kewaspadaan Dini DBD. beranggotakan kepala – kepala dinas yang ketika diadakan rapat-rapat selalu dihadiri oleh personal yang berlainan. pelaksanaan PE. kewaspadaan dini. Strategi yang dilakukan mencakup (1) peningkatan pencarian kasus dan pemutusan rantai penularan perbaikan manajemen pengobatan serta rujukan. penyuluhan. menetapkan sistem penemuan kasus baru. penyediaan insektisida dan larvasida. penyehatan lingkungan. (3) Pelatihan tenaga surveilens (pelatihan epidemiologi. (2) mengembangkan dan memperkuat jejaring surveilans epidemiologi dengan fokus pemantauan wilayah setempat. sehingga sesuai data memang DBD di Kota Balikpapan tinggi. (4) Di samping Tim Pokjanal DBD. melalui persiapan penyelidikan lapangan. Kota Balikpapan memiliki Yayasan DBD yang ketuanya adalah kasubdin P2M Dinkes dan didanai oleh perusahaan minyak swasta. (2) penyelidikan dan penanggulangan KLB. APBD mengalokasikan dana 500 juta untuk penanggulangan KLB dan habis untuk penanggulangan KLB DBD. menetapkan apakah kejadian tersebut suatu KLB. pelatihan tenaga kesehatan.

LAPORAN AKHIR Propinsi Sulawesi Selatan Upaya penanggulangan kejadian luar biasa (KLB)/penyakit menular. pemantauan jentik berkala. abatisasi. melalui pelatihan petugas kesehatan. dimana peran puskesmas sangat kecil karena dukungan dana dan personil sangat kecil. (3) Peningkatan Sumber Daya Manusia. penyuluhan intensif melalui media cetak dan elektronik. (2) Pemberantasan Nyamuk Penular DBD terhadap nyamuk dewasa dan jentik nyamuk.1. 4. Dinkes Propinsi Nusa Tenggara Barat membuat pedoman operasional yang berisi ”step by step” metodologi penanggulangan DBD. khususnya penyakit DBD di Propinsi Sulawesi Selatan. melakukan pelatihan tatalaksana DBD bagi dokter di rumah sakit pada daerah endemis. pada dasarnya dilaksanakan berpedoman pada arah kebijakan dan program dari Pemerintah Pusat (Departemen Kesehatan). penanggulangan fokus. Di kabupaten Lombok Tengah. pertemuan Kewaspadaan Dini DBD sebanyak 4 kali melibatkan sektor terkait. gerakan PSN. pengamatan bebas jentik dilakukan oleh murid-murid sekolah dan telah terbukti cukup efektif untuk dapat direflikasi di daerah lain. melalui penemuan dan pelaporan penderita.3 Kendala Penanggulangan DBD Kendala penting yang masih terjadi saat ini adalah kurang atau tidak adanya koordinasi dari instansi-instansi yang seharusnya terkait dalam menangani Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 40 . Pada pelaksanaan di Puskesmas. Namun terdapat ”gap” pelaksanaan/penanganan KLB. sedangkan tahun 2004 jumlah KLB DBD sebanyak 88 kasus. Materi yang disusun dalam prosedur tetap (Protap) ini adalah langkahlangkah penanggulangan DBD sebagai berikut: (1) Kewaspadan Dini. Dengan demikian Puskesmas sebagai fasilitas yang paling dekat dengan masyarakat tidak dimanfaatkan dengan baik dalam penanggulangan KLB DBD. dukungan dana surveilans tertolong oleh adanya subsidi dari Askeskin. Surveilans dilaksanakan pada tingkat dinas kesehatan propinsi. Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Selatan selanjutnya menyusun Prosedur Tetap (Protap) Penanggulangan DBD sebagai pedoman/acuan pelaksanaan kegiatan Dinas Kesehatan Propinsi dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. pemantauan jentik berkala di berbagai kabupaten endemis dengan sasaran masing-masing 100 rumah. Implementasi kebijakan penanggulangan DBD di Sulawesi Selatan antara lain (1) Kewaspadaan Dini. pembinaan di 23 kab/kota. lintas program dan kabupaten/kota terdekat. bulan kewaspadaan DBD. melalui penyuluhan. Propinsi Nusa Tenggara Barat Pedoman surveilans dan KLB kurang operasional. kab/kota dan puskesmas. (3) Penanggulangan KLB. (4) Peningkatan SDM. menghasilkan penemuan dan pelaporan penderita. terutama untuk insentif tenaga kesehatan dan kader. dan fogging massal. (2) Penanggulangan KLB menemukan jumlah kasus KLB DBD tahun 2005 sebanyak 66 kasus. pelatihan bagi pengelola program P2 DBD di 23 kab/kota.

Instansi-instansi yang mengatur tata kota dan permukiman. nanggulangan DBD Kajian P2M KLB DBD dilakukan di enam propinsi.4. 4. Kalimantan Timur. sarang-sarang nyamuk Aides akan tetap ada di sepanjang tahun. dilakukan kunjungan ke dinas kesehatan kabupaten/kota.3. yaitu propinsi Riau. Pada tiap propinsi dilakukan kunjungan dan wawancara terhadap 2 kabupaten/kota. Adanya intervensi dalam pemilihan responden di tingkat dinas. serta instansi penyedia sarana air bersih (PDAM) juga harus ikut pula berpartisipasi. hal ini dikarenakan adanya perubahan posisi (rolling) yang terjadi beberapa bulan sebelum kunjungan. maka penduduk masih terpaksa menyiapkan bak mandi dan tandon-tandon air (yang dapat menjadi sarang nyamuk) untuk menampung air yang sering hanya menetes bahkan mampet. Kinerja Surveilans dan Pe 4. populasi nyamuk Aides dewasa yang mempunyai potensi menyebarkan virus dengue juga akan selalu dijumpai dan menjadi sumber penularan di sepanjang tahun. Dengan demikian.LAPORAN AKHIR DBD sehingga menimbulkan masalah tersendiri di lapangan. Sebagai contoh. selama PDAM belum mampu menyediakan air bersih untuk seluruh penduduk. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 41 . Jawa Barat. Sumber informan yang seharusnya dan pada saat yang bersamaan tidak berada di tempat sehingga dilakukan wawancara terhadap informan pengganti. Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Barat. 4. puskesmas dan rumah sakit. Penanganan DBD tidak semata-mata tugas Dinas Kesehatan. 3. Dengan adanya kewenangan penanganan yang didaerahkan terkadang menyulitkan dalam koordinasi penganggaran. serta melakukan wawancara ke Bappeda dan masyarakat. 2. baik dana maupun tenaga.2. melainkan juga terkait dengan instansi lainnya. Adanya intervensi dari pendamping (orang dinas) dalam wawancara di tingkat Kab/kota. pemerintah pusat mengalami kendala dalam pendistribusiannya ke daerah. 4. Kebijakan desentralisasi juga berpengaruh terhadap koordinasi antara pusat dan daerah dalam kewenangan penanganan DBD. Pihak daerah seringkali kewalahan dalam penyediaan biaya operasional penanganan penyakit karena keterbatasan sumberdaya. Karena itu. baik di musim penghujan maupun di musim kemarau. Jawa Timur. bahkan Dinas Pendidikan. diantaranya: 1. 2 puskesmas dan 1 Rumah Sakit. Kebijakan tersebut terkait dengan anggaran kesehatan untuk pencegahan serta pemberantasan penyakit menular. Beberapa kendala yang ditemukan di lapangan. kebersihan dan lingkungan hidup. dan di tiap kabupaten/kota tersebut. Disisi lain adanya desentralisasi sumberdaya yang dimiliki. Hal ini menjadi faktor penghambat praktek penanganan kasus di lapangan. Responden yang diharapkan sebagai informan tidak sesuai. yang memang membutuhkan biaya sangat tinggi.

0 60. Dari 19 puskesmas yang dikunjungi. Hal ini dapat dipahami berkaitan dengan fungsi rumah sakit sebagai unit rujukan yang berperan melakukan tindakan medis atas kejadian kasus. DP-DBD.3 jml 11 9 12 15 12 % 52. dari 12 dinkes kab/kota sebanyak 10 dinkes kab/kota atau 83. dari sebanyak 12 rumah sakit kab-kota yang menjadi lokasi kajian. Begitu pula pada tingkat dinkes kab/kota. Dinkes Kab/Kota. peta rawan tidak tersedia disemua puskesmas. indikator kinerja surveilans lainnya adalah DP-DBD. K-DBD.0 16. Tidak demikian dengan Rumah Sakit. dan W1. Sedangkan di tingkat kab/kota indikator kinerja surveilans yang dimiliki dinkes kab/kota dan RS lebih banyak pada Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 42 . Dari tabel di atas tergambarkan di tingkat propinsi data tersebut hampir semuanya tersedia.0 80. RS dan Puskesmas DINKES DINKES RUMAH INDIKATOR PUSKESMAS KAB/KOTA PROPINSI SAKIT (ntot =24. hanya 11 (52. Indikator kinerja surveilans tersebut tidak sepenuhnya merupakan indikator surveilans. 4.3 58. Dinkes Kab/Kota.0 75. tak satupun memiliki peta rawan DBD.1 Sumber: Data Lapangan. Kesulitan pada proses wawancara di beberapa puskesmas dan RS dikarenakan waktu wawancara dilakukan pada saat jam kerja.1 Distribusi Indikator Kinerja Surveilans di Dinkes Propinsi.LAPORAN AKHIR 5.4 42.1 Indikator Kinerja Surveilans dan Penanggulangan KLB (1) Indikator Kinerja Surveilans Peta Rawan Indikator Kinerja Surveilans bisa dilihat dari peta rawan. Berdasarkan data tersebut terlihat 4 dari 5 dinkes propinsi memiliki peta rawan sebagai salah satu indikator kinerja surveilans. W2 DBD. 5 miss) KINERJA (ntot =12. RS dan Puskesmas.9 57. Sementara di Puskesmas sebagai unit pelayanan kesehatan dasar. 1 miss ) (ntot =12) Peta rawan DP-DBD K-DBD W2-DBD W1 jml 4 4 3 3 4 % 80. KDBD.0 75.4%) yang memiliki peta rawan.3 50.7 16. Tabel 4.0 jml 10 7 6 9 9 % 83. 6 miss) (nto= 5.3 83.7 83.2.4 57. 2006 Selain peta rawan.0 80. 6.3% memiliki peta rawan.0 jml 0 1 1 5 5 % 0.0 60. Ketidaklengkapan data dikarenakan keterbatasan waktu dalam pengumpulan data 3 tahun terakhir (tahun 2003-2005). Tabel di bawah ini memperlihatkan persentase keberadaan indikator tersebut di Dinkes Propinsi. W2-DBD dan W1.1 71.

Sedangkan di tingkat Puskesmas. merupakan gabungan dari bagian seksi surveilans dan program pemberantasan penyakit (DBD). seksi surveilans dan program pemberantasan penyakit (dalam hal ini program DBD/pemberantasan penyakit bersumber binatang). Pada tingkatan rumah sakit. dalam hal ini laporan W1. Laporan umpan balik dari propinsi sudah dilakukan oleh sebagian dinkes propinsi. Dalam pembuatan laporan. DP-DBD. walau tidak semua puskesmas memilikinya. Laporan umpan balik ke RS sangat jarang dilakukan. Kadangkala diperlukan pengiriman informasi melalui short message system (sms dengan hand phone) untuk melaporkan kejadian BDB. dinkes kab/kota dan puskesmas. Seperti halnya di propinsi Riau. Diseminasi Informasi Kinerja surveilans juga diukur berdasarkan indikator diseminasi informasi seperti terlihat pada tabel di bawah ini. Di tingkat propinsi maupun kabupaten/kota. faktor ketepatan juga sangat penting. Pada level puskesmas. Sehingga. sementara untuk rumah sakit hanya 1 buah rumah sakit saja yang menerima laporan umpan balik dari Pemda kab/kota. Di Dinkes kota Samarinda. Demikian pula untuk pembuatan profil surveilans epidemiologi. ketiadaan indikator di atas karena pendekatan rumah sakit yang lebih kepada kuratif. karena merupakan kota endemis. diperoleh dari bagian program pemberantasan DBD. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 43 . informasi mengenai ke lima indikator. Di Samarinda. maka peta rawan adalah seluruh kota Samarinda itu sendiri. Yang perlu diperhatikan adalah meskipun semua indikator terpenuhi. dan K-DBD. Lokasi yang tercakup dalam peta rawan kadang kali tidak kecil. 76% puskesmas sudah menerima laporan umpan balik dari Pemda kab/kota. Sementara.LAPORAN AKHIR indikator W2 DBD dan W1. laporan peta rawan. Dari hasil keseluruhan memperlihatkan adanya persentase yang tinggi dalam hal kinerja ditingkat propinsi. Surveilans hanya menerima laporan yang berkaitan dengan KLB. meskipun kelengkapan laporan puskesmas mencapai 90-100%. keberadaaan datadata tersebut relatif tersedia. Penerbitan bulletin kajian epidemiologi ternyata lebih banyak dilakukan oleh Dinkes propinsi. pengumpulan data surveilans dilakukan oleh dua bagian. Ke dua pertanyaan lainnya (penerbitan epidemiologi dan laporan umpan balik dari propinsi) tidak berkaitan langsung pada aktifitas puskesmas. Pembuatan laporan pun tidak dilakukan setiap hari. namun ketepatannya hanya 60% saja. hanya pertanyaan mengenai adanya umpan balik dari kabupaten dan profil surveilans epidemiologi yang ditanyakan. setelah kejadian KLB laporan W2 seringkali terlupakan untuk dilaporkan oleh dinas kesehatan kabupaten/kota. W2. Pada tingkat puskesmas. namun apakah laporan tersebut tepat waktu atau tidak.

0 6 66.3 10 76.1 RUMAH SAKIT (ntot =12) jml 0 % 0.7 Sumber: Data Lapangan.4 2 50.2 Distribusi Indikator Diseminasi Informasi Surveilans di Dinkes Propinsi.7 2 28. Grafik diatas ini memperlihatkan dari ke 6 lokasi kajian.0 PUSKESMAS (ntot =24) jml 2 % 15.0 DINKES KAB/KOTA ntot =12) jml 1 % 11. RS dan Puskesmas INDIKATOR KINERJA DINKES PROPINSI (ntot=6) jml Penerbitan buletin kajian epidemiologi Laporan umpan balik dari propinsi Laporan umpan balik dari kab/kota (untuk RS & puskesmas) Profil survaeilans epidemiologi 3 % 75.8 1 14.0 5 55.9 3 75. Dinkes Kab/Kota.0 1 7. angka kematian dan Case Fatality Rate (CFR).6 7 53.LAPORAN AKHIR Tabel 4. 2006 (3) Indikator Kinerja Penanggulangan Data Kasus Hasil kinerja surveilans dan penanggulangan diukur dengan penemuan kasus.5 Data Kasus DBD di Lokasi Kajian Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 44 .6 0 0. Gambar 4.

Berdasarkan data tersebut kecenderungan data selama tahun 2003-2005 menunjukkan peningkatan kasus di semua propinsi. 2006 Berdasarkan gambar tersebut terlihat propinsi Jawa Barat memiliki kasus DBD yang paling banyak. grafik di atas memperlihatkan jumlah kematian tertinggi di Jabar disusul dengan Jatim.6 Data Kematian DBD di Lokasi Kajian DATA KEMATIAN DBD DI LOKASI KAJIAN TAHUN 2003-2005 300 250 200 150 100 50 0 RIAU JABAR JATIM KALTIM SULSEL NTB 39 8 2003 6 201 59 2004 21 214 120 41 25 16 2005 32 285 254 82 59 15 Sumber: Ditjen PP & PL Depkes RI. Grafik ini adalah data yang diambil di Dinkes propinsi. 2006 Sementara untuk jumlah kematian. NTB adalah propinsi terendah Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 45 .LAPORAN AKHIR DATA KASUS DBD DI LOKASI KAJIAN TAHUN 2003-2005 20000 15000 10000 5000 0 RIAU JABAR JATIM KALTIM SU LSEL N TB 2003 739 8932 4243 2004 1059 19012 8321 2276 2005 1897 18590 14796 3165 3164 1062 2628 198 4175 805 Sumber: Ditjen PP & PL Depkes RI. disusul dengan Propinsi Jawa Timur. Gambar 4. Sedangkan kasus terendah terjadi di propinsi Nusa Tenggara Barat.

Gambar 4.2 2005 1. CFR tertinggi adalah NTB.53 1.25 1.36 Sumber: Ditjen PP & PL Depkes RI. Jatim.00 0.LAPORAN AKHIR dalam jumlah kematian.50 4. 2006 Untuk melihat kinerja penanganan kasus.50 2. Pada tahun 2004 CFR di lokasi kajian terlihat rendah.00 3. Salah satu penyebab tingginya kasus DBD adalah faktor geografis dan perilaku masyarakat.99 1.48 4.13 1.39 0. Masyarakat pun memiliki kebiasaan menampung air hujan (tadah hujan) yang menambah habitat jentik.00 2.50 0.44 1. Tipe rumah panggung yang merupakan ciri masyarakat asli Kaltim turut menambah risiko pertumbuhan habibat jentik karena biasanya bagian bawah rumah tergenang air buangan rumah tersebut dan menjadi sarang nyamuk.41 1. yaitu di propinsi Riau. Indikator ini menunjukkan jumlah penderita DBD yang meninggal dari tiap 100 penderita DBD. Kaltim.86 1. dan Sulsel. Sementara Dinkes tidak memiliki kendaraan untuk menjangkaunya. Jabar.69 1.80 0. Seperti terjadi di Samarinda.00 RIAU JABAR JATIM KALTIM SULSEL NTB NAS 2003 0. di sana banyak perumahan penduduk yang tersebar di pulau-pulau kecil sehingga menyulitkan petugas untuk memantau.50 1.5 2004 1.04 1. bahkan di atas angka nasional.00 1.00 1. Namun bila Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 46 .81 2.60 1.59 1.72 2. Dari data yang dicatat dinkes propinsi selama tahun 2003-2005 menunjukkan sejumlah propinsi mengalami peningkatan jumlah kematian.98 1. dapat dilihat dengan indikator CFR. khususnya pada rumah sakit yang berfungsi kuratif.50 3. Grafik di atas memperlihatkan pada tahun 2003.7 Case Fatality Rate (CFR)DBD di Lokasi Kajian CASE FATALITY RATE (CFR) DBD DI LOKASI KAJIAN TAHUN 2003-2005 4.

ahli gizi. Pada tahun 2005. sementara di tingkat dinkes kab/kota adalah dokter umum dan tenaga pendukung laibnya.6 8.2 Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 47 . CFR sejumlah propinsi lebih tinggi.3 Distribusi Jenis Tenaga di Dinkes Propinsi dan Dinkes Kab/Kota DINKES PROPINSI JENIS TENAGA SURVEILANS PENANGGULA NGAN KLB DINKES KAB/KOTA SURVEILANS PENANGGULA NGAN KLB Jml S2 Epidemiologi S1 Epidemiologi Dokter umum Epidemiologi terampil 9 15 5 4 % 20. Semua CFR berada di atas angka nasional. dan kader kesehatan/posyandu.3 jml 1 3 4 2 % 4. dokter gigi. Pada tahun 2004.8 14. 4. Pada tingkat dinkes propinsi.6 9.6 8.6 8.2 Faktor-faktor Berpengaruh terhadap Kinerja Surveilans dan Kinerja Penanggulangan KLB (1) Tenaga Tenaga adalah sumberdaya manusia dari pihak provider kesehatan yang terlibat langsung dalam kegiatan surveilans maupun penanggulangan KLB.1 34. tenaga fogging.5 jml 3 14 4 8 % 8. angka CFR kembali meningkat di bandingkan tahun sebelumnya. sementara dokter umum berperan sebagai tenaga penanggulangan KLB.7 9. Sementara di propinsi lain CFR terlihat fluktuatif (naik dan turun).2. tenaga rekam medis. lulusan SMA.3 19. APK.9 3. lulusan D3.9 11. kesehatan lingkungan/ sanitasi.6 jml 5 17 65 6 % 2.9 34. Tabel 4. Lulusan S1 dan S2 Epidemiologi lebih banyak berperan sebagai tenaga surveilans. komposisi jenis tenaga yang bertugas dalam pelaksanaan surveilans dan penanggulangan terbanyak adalah S1 dan S2 Epidemiologi. Data pada grafik memperlihatkan pula adanya kenaikan CFR dari tahun 2003-2005 di sejumlah propinsi yaitu Jatim.LAPORAN AKHIR dibandingkan dengan angka nasional. Yang dimaksud tenaga pendukung/lainnya adalah tenaga yang berprofesi/ berpendidikan perawat. teknik lingkungan. Kaltim dan NTB. SKM. staf administrasi. CFR tertinggi pada tahun 2005 adalah di propinsi Kaltim.0 9. CFR yang paling tertinggi dimiliki oleh Riau dan NTB. manajemen kesehatan.

0 50.LAPORAN AKHIR Analis Laboratorium Pendukung/lainnya Jumlah 0 10 43 0. Sementara.1 PENANGGU LANGAN KLB jml 0 4 39 % 0.5 Sumber: Data Lapangan.6 8.6 8.8 31.0 0 33 13 65 0. adalah semua dokter yang berada di puskesmas.9 100.6 100.0 100.1 65. Banyaknya tenaga dokter untuk penanggulangan di tingkat kabupaten/kota dikarenakan pelaksana operasional penanggulangan KLB berada di tingkat kabuapten/kota.4 2.5 38.0 10. 2006 Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 48 . Sehingga.6 35 59 187 18.5 0.0 0 6 35 8.7 100.7 PUSKESMAS SURVEILA NS jml 0 5 15 % 0.6 100.0 1 10 21 4. peran propinsi hanya sebagai koordinator.8 Sumber: Depkes RI. dalam pengelompokkan dimasukkan dalam tenaga yang mempunyai latar belakang S2 Epidemiologi. Tabel 4.6 PENANGGU LANGAN KLB jml 1 0 18 % 1.4 Distribusi Jenis Tenaga di RS dan Puskesmas RS JENIS TENAGA SURVEILAN S jml S2 Epidemiologi S1 Epidemiologi Dokter umum Epidemiologi terampil Analis Laboratorium Pendukung/lainnya Jumlah 1 3 31 45 2.8 20. sehingga sumber daya yang bersifat klinis tidak banyak tersedia.3 100. kepala seksi surveilans adalah seorang dokter dengan pendidikan strata dua epidemiologi.7 68. tenaga dokter masuk dalam kategori sebagai ‘pengumpul data’. 2006 Di Rumah Sakit. dimana mereka sebagai pemeriksa pasien. Hal yang sama juga ditemukan pada tingkat puskesmas.8 47.2 21. Seperti halnya di dinas kesehatan propinsi Riau. maupun sebagai tenaga klinis pada saat penanggulangan.2 6.0 0 18 118 179 0.0 27.4 4. tenaga dokter yang ada.0 23. Sementara di tingkat puskesmas maupun rumah sakit.0 11. Sehingga.4 34.0 2 1 7 % 4.0 2. dokter umum paling banyak terlibat dalam kegiatan surveilans maupun penanggulangan.0 5 2 17 44 11.2 15.9 100.

Salah satu upaya untuk mengatasinya adalah pelatihan di dalam atau di luar negeri seperti terjadi di Jabar. “kalau sudah terjadi KLB. Hal yang berbeda di puskesmas lainnya. Puskesmas Tambak Rejo. Sementara itu untuk tenaga laboran/laboratorium. tenaga perawat atau sanitarian sering dijadikan petugas yang merangkap sebagai tenaga surveilans dan penyelidikan epidemiologi (PE). Di tingkat Puskesmas. yaitu orang yang melakukan rekap data. untuk apa tenaga laboran?”. yang langsung berada di bawah institusi dinas kesehatan kabupaten/kota dan terlibat sebagai tim penanggulangan. Pada Dinas Kesehatan kabupaten atau kota. Namun. Perawat atau sanitarian puskesmas sering merangkap sebagai tenaga surveilans dan tenaga penyelidikan epidemiologi (PE). Bahkan di tingkat puskesmas. laporan kasus yang masuk biasanya penderita sudah dari rumah sakit. Hal ini dikarenakan tenaga dokter yang diasumsikan oleh responden adalah tenaga dokter yang berada di puskesmas (seluruh puskesmas). pengetahuan tim pada umumnya dipenuhi dari pengalaman lapangan dalam penanganan P2M. Selain pelatihan formal. filariasis dan zoonosis.LAPORAN AKHIR Untuk penanggulangan. ada pula RS yang mengkategorikan dokter sebagai tenaga surveilans seperti di rumah sakit daerah Siak. dan Puskesmas Kota Mataram berpendapat bahwa tenaga surveilans merupakan tenaga tersendiri. Ketiadaan tenaga epidemiologi pada tingkat rumah sakit salah satunya disebabkan karena sudah adanya tim pokja DBD seperti yang ada di di RSUD Mataram. satu tenaga berperan sebagai tenaga DBD merangkap tenaga untuk program malaria dan zoonosis. yang berasumsi bahwa dokter juga merupakan tenaga surveilans. ada hal yang menarik dari pernyataan dinas kota pekan baru. malaria. Di lapangan juga ditemukan masih adanya perbedaan persepsi tentang tenaga surveilans dan tenaga penanggulangan. seperti yang terjadi di propinsi Sulawesi Selatan. Sementara bila dokter umum tidak terlibat dalam kegiatan penanggulangan seperti yang terjadi di kabupaten Lombok Tengah. Hal ini mungkin yang menyebabkan tidak adanya laboran di tingkat dinas kabupaten/kota. Usaha lain yang dilakukan Dinas Kesehatan Propinsi dalam rangka peningkatan kemampuan adalah pembinaan teknis. rakor dan melakukan berbagai pelatihan di bidang surveilans maupun penanggulangan penyakit. sehingga sudah terlihat hasil laboratoriumnya. Khusus Jawa Barat sebagai daerah P2M pengetahuan praktis tenaga surveilans dan penanggulangan melebihi pengetahuan bersifat formal Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 49 . Tenaga laboran cenderung banyak di RS yang berfungsi sebagai RS pendidikan. mengadakan pertemuan/lokakarya. kualifikasi tenaga masih kurang. Di puskesmas Pekanbaru Kota. terlihat jumlah tenaga dokter umum yang banyak. Selain itu. Selain jumlah. Di rumah sakit ini yang mengumpulkan data adalah bagian rekam medis yang bertugas mengumpulkan dan merekap data. karena mereka berasumsi bahwa yang dimaksud dengan tim penanggulangan adalah tim penanggulangan yang berada di dinas kesehatan kabupaten itu sendiri. seperti terjadi di RS Mataram. Sehingga dokter-dokter tidak dianggap bukan tenaga surveilans. Jumlah tenaga dirasakan masih kurang. satu tenaga juga merangkap sebagai tenaga untuk program DBD.

yaitu 52. Tabel 4. Pengetahuan ini diukur dengan persepsi terhadap 36 pertanyaan tentang penanggulangan DBD. 19 sampel dari daftar tenaga diambil. dan 14. rerata 150 dan median 156.6 47. Cut off dipilih median karena distribusi data tidak normal. Data menunjukkan bahwa total skor persepsi surveilans berkisar dari 93-181. Tiap pertanyaan mempunyai skala 1 sampai 5 (buruk hingga baik). Tiap pertanyaan mempunyai skala 1 sampai 5 (buruk hingga baik). 85. Apabila dibandingkan persepsi responden terhadap Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 50 .3 Total 21 100. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan responden tentang penanggulangan oleh tenaga penanggulangan. 2006 Berdasarkan tabel di atas tergambarkan bahwa pengetahuan para petugas (responden) terhadap pengetahuan surveilans cukup baik.3menyatakan kurang memahami. Berdasarkan cut off ≥ 156 untuk kategori pengetahuan tinggi didapat bahwa 85% dari 21 sampel tenaga mempunyai tingkat pengetahuan yang baik. Data menunjukkan bahwa total skor persepsi penanggulangan berkisar dari 86-156.0 Berdasarkan data di atas dapat digambarkan bahwa persepsi responden terhadap pengetahuan berkaitan dengan penanggulangan DBD cukup baik.0 Sumber: Data Lapangan. Tabel 4. sejumlah sampel dari daftar tenaga diambil.6% responden memiliki pengetahuan tinggi dan 47.5 Persepsi Responden Tentang Surveilans DBD Total % Tinggi 18 85.3% responden memiliki pengetahuan rendah.6 Persepsi Responden Tentang Penanggulangan DBD Tingkat Pengetahuan Tinggi Rendah Total Sumber: data Lapangan. rerata 127 dan median 128. 2006 Total 10 9 19 % 52.3 100. Dari sejumlah responden yang ditanya.7 % responden menyatakan cukup memahami tentang pengetahuan surveilans.7 Rendah 3 14. Berdasarkan cut off ≥ 128 untuk kategori pengetahuan tinggi didapat bahwa hanya 53 % dari 19 sampel tenaga mempunyai tingkat pengetahuan yang baik. Dari data tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa sebenarnya pemahaman aparat terhadap program surveilans cukup baik. Pengetahuan ini diukur dengan persepsi terhadap 40 pertanyaan tentang surveilans.LAPORAN AKHIR Untuk mengetahui tingkat pengetahuan responden tentang surveilans oleh tenaga surveilans.

terlihat persentase responden lebih tinggi dalam pemahaman surveilans. Kalau tidak diminta oleh propinsi. Di Sulsel terdapat Pokjanal yang terdiri dari lintas sektor. Seperti terjadi di Sulsel. Hal ini sejalan dengan kebijakan yang ada. Pengetahuan dalam penyelidikan dan penanggulangan KLB DBD sudah bagus. Namun pemahaman ditingkat kabupaten/kota secara general terhadap penanggulangan KLB belum optimal. (2) Dana Masalah pembiayaan dalam penanggulangan penyakit DBD menjadi permasalahan yang dihadapi setiap tahunnya oleh Dinas Kesehatan karena alokasi anggaran yang bersumber dari APBD tidak/belum mencukupi sesuai dengan kebutuhan. kabupaten/kota tidak mengirimkan. namun dalam sistem pelaporan mereka masih ada masalah. Selain itu. Untuk puskemas. Adanya otonomi daerah pun malah mempersulit koordinasi. Data di atas juga menggambarkan masih adanya persoalan berkaitan dengan tenaga dalam penanganan DBD khususnya dalam hal koordinasi. Dalam operasional di lapangan sudah baik karena mereka langsung cepat tanggap untuk menangani KLB dan mencegah penyebaran lebih luas. Dari hasil kunjungan lapangan ke Puskesmas diketahui bahwa dana atau anggaran yang dipergunakan untuk operasional penanggulangan penyakit menular di Puskesmas adalah sebagian besar mempergunakan dana operasional yang diperoleh dari program asuransi kesehatan masyarakat miskin (Askeskin). meskipun sudah teralokasi namun sebagian besar alokasi anggaran dipergunakan untuk pengadaan obat dan peralatan (investasi) tidak berupa biaya operasional. sesuai dengan standar. kabupaten/kota sering lupa untuk mengirimkan laporan W2 (mingguan).7 Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 51 . Hal ini menandakan terutama pada praktek di lapangan. dimana dana APBN berkaitan dengan operasional di Puskesmas terbatas pada dana perbantuan untuk penguatan kapasitas. dana yang bersumber APBN sangat kecil. Hal tersebut berdampak pada pembiayaan untuk operasional Puskesmas dalam upaya penanggulangan KLB. Sebagian besar dana ternyata berasal dari APBD. Masih banyak ditemukan masalah kurangnya atau lemahnya koordinasi untuk pemberantasan DBD. masing-masing kabupaten atau kota dalam melaksanakan tugas dan kewenangannya terkesan tidak memerlukan bantuan dinkes propinsi. Sumber dana untuk kegiatan surveilans dan penanggulangan DBD di lokasi kajian terlihat pada tabel di bawah ini. Tabel 4. dimana sebagian responden adalah tenaga aparat dinas dan tenaga puskesmas yang memiliki informasi dalam praktek kegiatan surveilans. yang sebenarnya merupakan salah satu tools untuk melakukan evaluasi.LAPORAN AKHIR pengetahuan berkaitan dengan surveilans dan pengetahuan berkaitan dengan penanggulangan. Setiap terjadi KLB. Sedangkan praktek penanggulangan dipahami lebih banyak oleh tenaga medis di rumas sakit sebagai unit rujukan dalam kasus penanganan DBD. Namun setiap usulan dana dari APBD untuk kegiatan Pokjanal sering tidak mendapat persetujuan Pemda karena urusan DBD dianggap urusan dinas kesehatan.

Berdasarkan wawancara dengan beberapa kepala puskesmas di lapangan. dan penanggulangan fokus. Dana tersebut digunakan untuk kegiatan peningkatan kapasitas. seperti pelatihan tenaga puskesmas. Yang dimaksud dengan sumber dana lainnya adalah swadaya RS.0 80. Bila tidak mencukupi menggunakan dana program. peralatan fogging. larvasida.3 28. Dana APBN didapat dalam bentuk dana dekonsentrasi yang disalurkan melalui APBD propinsi. sebagian besar kegiatan operasional surveilans dan penanggulangan DBD mengggunakan dana Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 52 . serta peningkatan manajamen puskesmas. Begitupula dana APBD. fogging. Kader merupakan salah satu tenaga yang terlibat dan dibiayai dengan dana kegiatan surveilans dan penanggulangan KLB. khususnya di lingkungan RT/RW melalui posyandu. selain berasal dari APBN (dalam bentuk dana tugas perbantuan) dan APBD propinsi dan APBD kab/kota. serta partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan penyuluhan. transport supervisor.6 PENANGGULA NGAN KLB jml 10 1 3 % 100. dan swadana puskesmas. Sumber dana lain tersebut didapat dari kelompok masyarakat yang peduli terhadap penanganan kesehatan masyarakat. pembuatan laporan.0 Sumber: Data Lapangan. juga berasal dari sumber lainnya. seperti dalam pelaksanaan fogging fokus. penanggulangan kasus. selain untuk peningkatan kapasitas puskesmas. biaya transfusi darah. sumber dana untuk kegiatan surveilans berasal dari dana operasional puskesmas (DOP).0 30. seperti insektisida. Salah satu peran kader jumantik adalah mendampingi petugas puskesmas dalam melakukan pemeriksaan di 20 rumah sekeliling rumah penderita jika ada kasus DBD.0 14. sebagian dana diberikan untuk pembelian bahan operasional. pembelian insektisida. Tidak ada dana yang spesifik diperuntukkan untuk kegiatan surveilans. jasa dokter. jasa kader. biaya akomodasi.0 75.0 0. penyediaan bahan-bahan pendukung untuk promosi kesehatan. penyelidikan epidemiologi. swadaya masyarakat. penyuluhan. Sedangkan di tingkat dinkes kab/kota.0 PENANGGULA NGAN KLB jml 5 4 0 % 100. sumber dana untuk pelaksanaan opersional penanggulangan DBD juga bersumber dari APBN dan APBD serta sumber lainnya. pembelian obat-obatan. Sementara di tingkat puskesmas. upah kader.0 10. pembelian bahan bakar/solar.LAPORAN AKHIR Distribusi sumber dana di Dinkes Propinsi dan Dinkes Kab/Kota DINKES PROPINSI SUMBER DANA SURVEILANS jml APBD APBN Lainnya 4 3 0 % 100.0 0.0 DINKES KAB/KOTA SURVEILAN S jml 7 1 2 % 100. pembelian mesin. biaya perawatan. seperti JPK-MM. 2006 Sumber dana untuk kegiatan surveilans dan penanggulangan di tingkat dinkes propinsi bersumber dari APBN (dekonsentrasi) dan APBD propinsi.

bila dana yang diusulkan belum turun. Tabel 4. Dana yang digunakan untuk penanggulangan KLB berasal dari APBN (Dekon) dan APBD.4 Sumber: Data Lapangan. Hanya rumah sakit Gresik yang menyatakan adanya dana surveilans. Sementara untuk puskesmas. seperti halnya kabupaten Gresik.LAPORAN AKHIR operasional umum yang ada di puskesmas. seperti terjadi di Sulsel. serta dana APBD. Tidak jarang puskesmas juga harus menggunakan dana swadaya masyarakat atau pribadi.0 25. Namun tidak menutup kemungkinan pendanaan dapat juga berasal dari APBN. yaitu berasal dari APBN dan APBD (Gakin).0 0. Di rumah sakit tidak terdapat dana surveilans.0 100. selain dana penanggulangan dari APBD. Hal ini karena adanya kebijakan setiap propinsi mendapatkan dana Rp. Contoh di Jawa Barat DIPA Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 53 .9 14. seringkali harus menggunakan dana tambahan dari PKPS-BBM (JPKMM) maupun Askeskin karena seringnya dana terlambat dicairkan. Hal tersebut karena dalam prakteknya kegiatan operasional di lapangan dilakukan oleh semua petugas puskesmas.1 7. Sedangkan untuk tingkat kabupaen/kota. Seperti ditemukan di puskesmas Duduk Sampeyan dan puskesmas Kebomas. maupun APBD-ABT yang diajukan sebagai tambahan. Sehingga wajar saja jika digunakan sumber lain. Untuk tingkat kabupaten/kota penggunaan dana terbanyak berasal dari APBD baik APBD murni.8 Distribusi Sumber Dana di RS dan Puskesmas RS SUMBER DANA SURVEILANS jml APBD APBN Lainnya 1 1 0 % 100. 2006 Operasional surveilans di tingkat propinsi menggunakan dana APBN murni maupun Dekon. Walaupun beberapa puskesmas terkadang menggunakan dana JPKMM sebagai tambahan. 2 milyar yang berasal dari dana dekon (APBN) khusus untuk penanggulangan KLB.3 85. hampir semuanya menggunakan dana APBD.0 PENANGGUL ANGAN KLB jml 4 0 1 % 100. Masalah lain dalam aspek dana berkaitan dengan proses pencairan yang dirasakan prosesnya selalu lama dan terlambat. Untuk tingkat puskesmas. Alokasi dana terbanyak adalah untuk obat dan peralatan (investasi). Di kota Surabaya bahkan terkadang menggunakan dana pribadi.1 71. Baik APBD propinsi maupun APBD kabupaten/kota atau APBD sharing. yang ada hanya pencatatan pelaporan yang dilakukan di bagian rekam medis. rata-rata penggunaan operasional surveilans berasal dari APBD.0 0.0 PUSKESMAS SURVEILAN S jml 3 1 6 % 42.7 PENANGGUL ANGAN KLB jml 8 1 10 % 57.

(b) Gerakan PSN. Dinas Kesehatan Propinsi selanjutnya menyusun Prosedur Tetap (Protap) Penanggulangan DBD sebagai pedoman/acuan pelaksanaan kegiatan Dinas Kesehatan Propinsi dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Pedoman yang bersifat teknis di lapangan diwujudkan dalam bentuk SOP. (d) fogging massal. Sementara SOP kegiatan penanggulangan KLB tampaknya sudah cukup banyak dimiliki di semua level. Pemberantasan Nyamuk Penular DBD.LAPORAN AKHIR seringkali terlambat. DBD masih merupakan masalah besar di Kaltim. (c) bulan kewaspadaan DBD. Bahkan meskipun sudah dibentuk Yayasan Penanggulangan DBD dengan SK Walikota dan didanai oleh perusahaanperusahaan minyak. (c) abatisasi. Penanggulangan KLB. Keberadaan SOP penting untuk panduan petugas. Tabel 4. Dinkes Kab/Kota. (b) terhadap jentik nyamuk. (3) Standar Operasi dan Prosedur (SOP) Upaya penanggulangan kejadian luar biasa (KLB)/penyakit menular. 4. Pada tingkat dinkes propinsi maupun dinkes kab/kota keberadaan SOP dalam bentuk peraturan dan pedoman cukup baik. Proporsi anggaran untuk preventiv (surveilans) dan kuratif (penanggulangan) tidak seimbang. (b) penangggulangan focus. Pelaksanaan SOP kegiatan surveilans dilakukan berdasarkan pedoman dan peraturan. Di propinsi Kalimantan Timur yang merupakan daerah endemis DBD. (d) pemantauan jentik berkala. 3. pada dasarnya dilaksanakan berpedoman pada arah kebijakan dan program dari Pemerintah Pusat (Departemen Kesehatan). Kewaspadaan Dini. Lebih banyak dana dikucurkan untuk kuratif. Sedangkan di tingkat puskesmas dan RS masih sangat rendah. antara lain pelatihan petugas kesehatan. khususnya penyakit DBD. peran swasta dalam kontribusi dana belum optimal.9 Distribusi Ketersediaan SOP Surveilans di Dinkes Propinsi. Materi yang disusun dalam Protap ini adalah langkah-langkah penanggulangan DBD sebagai berikut: 1. (a) penemuan dan pelaporan penderita. RS dan Puskesmas Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 54 . (a) penyuluhan. (a) terhadap nyamuk dewasa. 2. Peningkatan SDM.

1 78. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 55 .0 DINKES KAB/KOTA jml 11 4 % 91. 2006 SOP dalam rangka penanggulangan KLB di Dinkes propinsi.4 68.0 75. kab/kota. RS dan Puskesmas DINKES PROPINSI jml Peraturan SKD-KLB Pedoman SKD-KLB Pedoman penyelidikan KLB Pedoman Penanggulangan KLB Pedoman Cara Pelaporan Laporan Penyakit Potensi KLB Laporan Kondisi Rentan KLB 5 5 5 5 5 4 4 % 100. pedoman SKD-KLB.9 68.0 0.8 36. pedoman penanggulangan KLB.8 42.0 75.0 50. selama ini masih mengikuti pedoman dari pusat. dan laporan kondisi rentan KLB. laporan penyakit potensi KLB. pedoman cara pelaporan. Dinkes Kab/Kota.LAPORAN AKHIR SOP DINKES PROPINSI jml % 5 3 83.9 42.0 Pedoman Peraturan 4 1 Sumber: Data Lapangan.0 50. pedoman penyelidikan KLB.0 100.9 90.10 Distribusi Ketersediaan SOP Penanggulangan KLB di Propinsi.0 80.8 90.9 63.0 75.0 100.0 DINKES KAB/KOTA jml 7 9 10 10 7 9 4 % 63.1 jml RS % 57. Di tingkat kabupaten/kota SOP yang ada selain mengadopsi dari pusat juga mengadopsi SOP yang dibuat oleh Dinkes propinsi.0 PUSKESMA S jml 7 8 15 13 13 11 8 % 36.4 jml 3 3 2 3 2 2 3 RS % 75.6 81.4 57.6 81. Tabel 4. Kedepan propinsi juga akan menyusun Standar Pelayanan Minimal (SPM) dan Standar operasional (SOP) agar SOP bisa operasional di lapangan.3 100.3 PUSKESMAS jml 12 0 % 50.0 100.7 57. Penyusunan SOP dimaksud dilakukan dengan melibatkan lintas program.0 50.0 100. 2006 Propinsi belum membuat SOP sendiri.1 14.1 SOP Sumber: Data Lapangan.0 80. rumah sakit maupun puskesmas yang ada mencakup peraturan SKD-KLB.

LAPORAN AKHIR

Dari Tabel 4.10 tergambarkan keberadaan SOP di masing-masing tingkatan. Seperti halnya SOP dalam rangka kegiatan surveilans, pada kegiatan penanggulangan, setiap dinkes propinsi dan kabupaten/kota memiliki cukup lengkap pedoman dan peraturan sebagai landasan operasional penanggulangan penyakit. Namun demikian SOP dimaksud tidak secara lengkap dimiliki oleh puskesmas. Rumah sakit memiliki SOP penanggulangan cukup baik dibandingkan SOP surveilans. Hal ini dipahami berkaitan dengan fungsi rumah sakit sebagai unit rujukan dalam penanganan kasus penyakit menular termasuk kasus DBD. Walaupun keberadaan SOP dimaksud cukup lengkap hampir pada setiap tingkat unit pelayanan kesehatan, namun demikian keberadaan pedoman belum tentu digunakan. Seperti halnya di RSU Ujung Berung, di propinsi Jawa Barat SOP yang ada dianggap kurang operasional karena tidak sesuai dengan kondisi dan permasalahan yang ada di lapangan. Upaya yang dilakukan dalam melakukan operasionalnya dilakukan dengan membuat SOP yang lebih rinci dan sederhana menjabarkan SOP yang dibuat dinkes propinsi maupun dinkes kab/kota. Yang menarik adalah di RSUD Mataram yang juga merupakan rumah sakit pendidikan dan memilki tim pokja DBD, hanya laporan kondisi rentan KLB yang mereka miliki. Namun mereka juga membuat standar operasional dalam pertolongan pasien DBD yang tidak terdapat dalam ke-enam SOP tersebut. (4) Data

Ketersediaan data, baik pada kegiatan surveilans maupun penanggulangan KLB sangat penting. Data untuk surveilans yang dibutuhkan mencakup kasus, jentik, vektor dan curah hujan. Dari ke-4 data tersebut ternyata hanya data kasus yang tersedia di semua tingkatan. Data jentik yang sangat penting pun tidak tersedia kecuali pada level puskesmas. Jumlah puskesmas yang memiliki data tersebut sangat sedikit. Ketiadaan data di tingkat RS dikarenakan fungsi rumah sakit yang lebih sebagai kuratif. Informasi data surveilans diperoleh berdasarkan data dari seksi surveilans, yang notabene tidak melakukan pengumpulan data jentik, vektor maupun curah hujan. Baik di tingkat propinsi maupun di tingkat kabupaten/kota. Adapun informasi jentik dan curah hujan dilakukan oleh seksi pemberantasan penyakit (program DBD) yang bekerjasama dengan sanitasi. Oleh karena informasi yang diperoleh berasal dari seksi surveilans, maka ketiga data tersebut tidak ada. Sementara di bagian pemberantasan penyakit sendiri juga terdapat bagian surveilans, yang melakukan pengumpulan data rutin DBD. Oleh karena itu bukan berarti dalam surveilans data mengenai jentik dan vektor tidak ada, informasi mengenai jentik dan vektor tidak bisa didapatkan. Hal tersebut dapat dilihat dari informasi penanggulangan yang merupakan perpaduan informasi dari seksi surveilans dan pemberantasan. Tabel 4.11 Distribusi Ketersediaan Data Surveilans di Dinkes Propinsi, Dinkes Kab/Kota, RS dan Puskesmas

Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular

56

LAPORAN AKHIR

DATA

DINKES PROPINSI jml % 100.0 0.0 0.0 0.0

DINKES KAB/KOTA jml 6 0 0 1 % 100.0 0.0 0.0 16.7 jml 4 0 0 0

RS % 80.0 0.0 0.0 0.0

PUSKESMAS jml 11 2 0 0 % 100.0 18.2 0.0 0.0

Kasus Jentik Vektor Curah hujan

3 0 0 0

Sumber: Data Lapangan, 2006 Data yang dibutuhkan untuk penanggulangan DBD mencakup kasus, jentik, lingkungan/genangan, perilaku 3M, vektor, curah hujan dan logistik. Terlihat pada tabel di bawah ini bahwa data yang paling banyak tersedia adalah data kasus dan jentik. Tampaknya di dinkes propinsi dan dinkes kab/kota, data lebih lengkap tersedia dibandingkan di tingkat RS dan puskesmas. Tabel 4.12 Distribusi Ketersediaan Data Penanggulangan KLB di Propinsi, Dinkes Kab/Kota, RS dan Puskesmas
DINKES PROPINSI jml Kasus Jentik Lingkungan/genan gan Perilaku 3M Vektor Curah hujan Logistik 5 3 1 0 1 1 2 % 100.0 60.0 20.0 0.0 20.0 20.0 40.0 DINKES KAB/KOTA jml 12 12 4 2 1 1 4 % 100.0 100.0 33.3 16.7 8.3 8.3 33.3 jml 5 0 0 0 0 0 2 RS % 71.4 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 28.6 PUSKESMAS jml 18 7 1 0 1 2 5 % 94.7 36.8 5.3 0.0 5.3 10.5 26.3

DATA

Sumber: Data Lapangan, 2006 Di Dinkes Kota Bandung Jawa Barat kegiatan surveilans dilakukan secara manual dengan cara pengumpulan data, pencatatan dan pelaporan. Sementara pelaporan yang dilakukan Puskesmas dikirim langsung oleh petugas puskesmas ke dinas kesehatan kota sesuai format yang ditentukan dalam bentuk manual. Sharing informasi antar petugas bidang/unit puskesmas dilakukan dalam bentuk ”rakor bulanan”, sekaligus ajang tukar informasi dan pengalaman serta upaya pemecahan masalah yang ditemukan.
Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular

57

LAPORAN AKHIR

Temuan lain yang di dapat di lapangan adalah tidak dikumpulkannya data jentik, vektor, dan curah hujan. Selain itu ketepatan dan kelengkapan laporan dari kabupaten masih rendah. Juga belum dilakukan analisis data baik di tingkat propinsi maupun kabupaten (baru bersifat pengumpulan data). Sehingga untuk SKD-KLB data yang seharusnya dapat dilihat /diprediksi diawal untuk kewaspadaan terjadinya KLB, belum dilakukan. Selama ini propinsi tidak pernah mempermasalahkan validitas data yang dilaporkan. Untuk pengecekan data biasanya menyamakan informasi yang berasal dari media massa. Propinsi belum mempunyai sistem peringatan ke kabupaten bila terjadi keterlambatan atau ketidak lengkapan. (5) Sarana Ketersediaan sarana penunjang kegiatan surveilans terlihat pada tabel berikut ini. Dari tabel tersebut terlihat bahwa jumlah sarana masih sangat terbatas. Kepemilikan sarana transportasi dan pengolah data, dari level puskesmas hingga dinkes propinsi berkisar 11-50% saja. Sementara untuk sarana komunikasi sudah lebih baik; meskipun untuk level RS dan puskesmas masih perlu ditambah. Tabel 4.13 Distribusi Ketersediaan Sarana Surveilans di Dinkes Propinsi, Dinkes Kab/Kota, RS dan Puskesmas
DINKES PROPINSI jml Transportasi Pengolah data Komunikasi 3 3 6 % 50.0 50.0 100.0 DINKES KAB/KOTA jml 4 5 10 % 36.4 41.7 83.3 jml 1 4 6 RS % 11.1 44.4 66.7 PUSKESMAS jml 11 9 14 % 50.0 40.9 63.6

SARANA

Sumber: Data Lapangan, 2006 Bila di lokasi kajian lain, peralatan pengolah data sudah menggunakan komputer, tidak halnya di Puskesmas Benteng Hilir yang masih menggunakan cara manual. Padahal di puskesmas lainnya, sudah disediakan komputer. Faktor geografis rupanya menentukan jenis alat komunikasi dan dipakai. Di propinsi Jawa Timur, semua wilayah dapat dijangkau dengan telepon, sementara di NTB tidak hanya memanfaatkan telepon sebagai alat komunikasi, tetapi juga SSB. Di kabupaten Lombok Tengah yang menggunakan SSB sebagai sarana komunikasi karena belum adanya kabel telepon. Di propinsi Riau, sarana komunikasi menggunakan telepon, walaupun tidak semua wilayah dapat dijangkau dengan fasilitas telepon. Untuk kegiatan penanggulangan KLB, ketersediaan/kepemilikan sarana yang diperlukan terlihat sudah jauh lebih baik daripada ketersediaan/kepemilikan
Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular

58

Tabel 4. seringkali digunakan fasilitas pribadi seperti handphone. misalnya. Untuk alat komunikasi. obat.3 91.8 50.4 55. Kondisinya pun belum tentu bisa digunakan. Senter digunakan untuk surveilans khususnya dalam penemuan jentik dari rumah ke rumah.3 0. alat penyemprot dan alat penyuluhan masih kurang tersedia di semua level. 0 60. dalam kenyataannya terdapat variasi di berbagai dinkes propinsi. Umumnya sarana yang demikian adalah untuk jenis transportasi.7 72.7 33. Misalnya di Dinkes Kota Samarinda tersedia 2 motor. Artinya bisa digunakan juga untuk kegiatan lainnya.6 SARANA Sumber: Data Lapangan. Berkaitan dengan jumlah dan jenis sarana. rumah sakit dan puskesmas. Pengadaan insektisida dan fogging fokus untuk beberapa propinsi di kirim oleh Dinkes Propinsi karena kab/kota belum siap.0 100. karena tidak adanya fasilitas kantor. Namun. Di propinsi Jabar.0 72.2 77. 2006 Sarana yang dimiliki ada yang statusnya “tidak khusus” untuk kegiatan surveilans atau penanggulangan KLB.7 100. Bahkan yang Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 59 . 0 100. sementara di Dinkes Kabupaten Bogor hanya 1 mobil. 0 80. seperti yang terjadi di Dinkes Kabupaten Gowa dan Puskesmas Palangga di Sulsel.0 33. Kaltim.LAPORAN AKHIR sarana untuk kegiatan surveilans. tersedia 3 mobil.14 Distribusi Ketersediaan Sarana Penanggulangan KLB di Propinsi.3 jml 2 5 4 4 2 0 4 RS % 33.3 75. Satu hal yang unik adalah ketiadaan sarana senter. Dinkes Kab/Kota. dan di Puskesmas Bojong Gede selain ada 1 mobil juga tersedia 1 motor.2 44.3 66.0 0 DINKES KAB/KOTA jml 10 10 9 4 11 12 7 % 83.3 83.3 83.7 66. Sarana utama yang dibutuhkan dalam penanganan kasus DBD adalah adanya fogging fokus serta insektisida. untuk insektisida. Di Dinkes Kota Samarinda. RS dan Puskesmas DINKES PROPINSI jml Transportasi Pengolah data Komunikasi Obat Insektisida Alat penyemprot Alat Penyuluhan 4 5 5 4 5 3 0 % 80. alat transportasi untuk surveilans dalam kondisi rusak.0 100. Selain itu. maupun dinkes di kab/kota.0 58.7 PUSKESMAS jml 12 13 14 9 13 8 10 % 66. yaitu di Dinas Kesehatan Kota Bandung.0 66. kondisinya pun belum tentu bagus. tetapi hanya 1 yang bisa digunakan.

LAPORAN AKHIR

sangat menyedihkan, di puskesmas Temindung Kaltim penggantian biaya batere untuk senter hanya setahun sekali saja. 4.3 Peran dan Tanggung Jawab Penanggulangan Penyakit DBD Pemerintah Daerah dalam

4.3.1 Kewenangan Daerah dan Standar Pelayanan Minimum Sejak diberlakukannya paket UU Otonomi Daerah (UU No. 22 dan No. 25 tahun 1999 yang kemudian direvisi menjadi UU No. 32 dan No. 33 tahun 2004) telah terjadi perubahan pembagian fungsi antara pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten/kota. Sesuai dengan UU No. 22 tahun 1999 dan SK Menkes RI No. 1147 tahun 2000, maka tugas Depkes Pusat adalah menyusun kebijakan nasional, pedoman, standar, petunjuk teknis, fasilitasi dan bantuan teknis kepada daerah, sementara fungsi-fungsi yang bersifat operasional sudah harus diserahkan kepada daerah (propinsi dan kabupaten/kota). Penerapan UU tersebut, khususnya di bidang kesehatan belum disikapi dengan utuh, sehingga terkesan tidak tuntas dalam bertindak. Ini disebabkan adanya kegamangan dalam peran dan tanggungjawab di masing-masing jenjang ataupun instansi di pemerintahan. Selanjutnya pasal 12 UU No. 32/2004 menyatakan bahwa fungsi yang telah dilimpahkan kepada daerah tersebut termasuk tanggung jawab daerah untuk menyediakan sumberdaya yang diperlukan, termasuk pembiayaan, sarana dan ketenagaan yang diperlukan untuk melaksanakan standar pelayanan minimum (SPM). Untuk itu daerah wajib menyediakan pelayanan dasar yang dianggap esensial bagi kesejahteraan penduduk, termasuk di bidang kesehatan. SPM yang sekarang ini berlaku adalah daftar yang ditetapkan dalam Keputusan Menkes No. 1457/2003 (saat ini sedang dilakukan proses revisi). Dalam daftar tersebut ada 9 kewenangan wajib (KW) dan 31 jenis kegiatan/pelayanan/program, seperti dalam tabel di bawah. Tabel 4.15 Daftar KW dan SPM Bidang Kesehatan
No 1 Kewenangan Wajib (KW) Pelayanan Dasar No 1 2 3 4 5 6 7 8 Standar Pelayanan Minimum (SPM) KIA Kesehatan anak pra-sekolah 7 sekolah KB Imunisasi Pengobatan dan perawatan dasar Kesehatan Jiwa Kesehatan kerja *) Kesehatan usila *) Pemantauan pertumbuhan balita Pelayanan gizi

2

Giji Masyarakat

Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular

60

LAPORAN AKHIR 3 4 Rujukan dan Pelayanan Penunjang Pencegahan dan Penyakit Menular Pemberantasan 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Pelayanan obstetri dan neonatal emergency dasar Pelayanan emergency Surveilans dan pengendalian KLB kurang gizi Pencegahan dan pengobatan polio Pencegahan dan pengobatan TBC Pencegahan dan pengobatan infeksi saluran nafas Pencegahan dan pengobatan HIV/AIDS Pencegahan dan pengobatan DBD Pencegahan dan pengobatan Diare Pencegahan dan pengobatan Malaria *) Pencegahan dan pengobatan Kusta *) Pencegahan dan pengobatan Filaria *) Kesehatan lingkungan Pengendalian vektor Hygiene dan sanitasi tempat umum Promosi Kesehatan Promkes dan pengendalian penyalahgunaan obat Pengadaan obat dan bahan medis Obat generik Pembiayaan untuk pelayanan kesehatan perorangan Pembiayaan kesehata penduduk miskin dan risti

5 6 7 8 9

Kesehatan Dasar

Lingkungan

dan

Sanitasi

Promosi Kesehatan Pengendalian Napza Pelayanan Farmasi Pembiayaan kesehatan, kesehatan perorangan dan auransi kesehatan

18 19 20 21 22 23 24 25 26

Sumber: Depkes RI, 2006 *) Hanya di kab/kota tertentu

Berdasarkan hasil analisis tentang daftar SPM tersebut disebutkan bahwa kriteria yang tersirat dalam 3 kegunaan SPM seperti disebutkan dalam UU No. 32/2004 belum seluruhnya terakomodir. Tiga pelayanan dasar menurut UU tersebut adalah (1) hak konstitusi penduduk, (2) kepentingan nasional untuk kesejahteraan masyarakat, keamanan dan ketertiban umum serta integritas dan kesatuan nasional, (3) komitmen nasional terhadap kesepakatan dan konvensi internasional. Pelaksanaan SPM di tingkat kabupaten/kota ternyata menimbulkan kebingungan dan masalah. Pertama, penghitungan kebutuhan biaya untuk semua pelayanan dalam daftar SPM tersebut menghasilkan suatu jumlah yang tidak dapat ditanggung oleh banyak daerah. Ada daerah beranggapan bahwa pemerintah pusat harus menanggung selisih biaya yang tidak bisa ditanggung pemerintah daerah. Kedua, banyak daerah mengalami kesulitan menterjemahkan target nasional dalam target daerah. Misalnya, tidak banyak kabupaten/kota yang memiliki data dasar tentang prevalens penyakit, masalah kesehatan kerja, TBC dan penyakit lainnya, sehingga kesulitan dalam menetapkan target untuk Indonesia Sehat 2010. Ketiga, tidak mudah menterjemahkan target 2010 dalam target tahunan. Dalam kenyataan, banyak kabupaten/kota yang menetapkan target programnya atas dasar plafond anggaran yang akan diterima untuk tahun bersangkutan.
Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular

61

LAPORAN AKHIR

4.3.2 Peran Pemerintah daerah dalam Penanggulangan DBD Pemberantasan penyakit demam berdarah dengue (DBD) sangat tergantung pada peran besar pemerintah daerah, yang langsung menghadapi masyarakat. Daerah diharapkan lebih aktif menggerakkan masyarakatnya untuk menjaga lingkungan masing-masing. Peran daerah dalam penanggulangan DBD antara lain dilakukan dengan tindakan preventif seperti (1) mengeluarkan surat edaran kewaspadaan penyakit DBD kepada semua kepala dinas kesehatan kabupaten/kota, (2) kampanye gerakan pembersihan sarang nyamuk, (3) penyebaran poster, ceramah klinik penyegaran tata laksana kasus, maupun membahas penanganan dan antisipasi DBD. Pemerintah Provinsi memfasilitasi teknis dan pengamatan DBD di daerah endemis, membagikan bubuk abate dan malathion untuk pengasapan ke kabupaten/kota, selain juga memberikan bantuan cairan infus. Kebijakan pemerintah melalui PSN dalam mengendalikan tempat perindukan telah ditetapkan dan disosialisasikan melalui berbagai media. Usaha promosi kesehatan secara konvensional telah meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat mengenai pemberantasan DBD, namun belum diikuti dengan perbaikan sikap. Belajar dari negara tropis lainnya yang telah mengembangkan inovasi pemberdayaan masyarakat melalui COMBI (Communication for Behavioural Impact) menunjukkan bahwa sebelum menetapkan intervensi, perlu didasari pada suatu formative research yang mengungkap hal-hal yang dibutuhkan masyarakat (Park 2004, WHO 2003). Inovasi ini masih belum menjadi fokus perhatian dalam kegiatan PSN di Indonesia. Di propinsi pemantauan kasus terus dilakukan, para bupati dan wali kota disurati untuk mengantisipasi DBD, termasuk kampanye di media massa. Pemerintah Provinsi juga mendistribusikan abate, malathion, cynoft, dan filter paper ke kabupaten/kota. Selain itu juga dilakukan penyuluhan dan gerakan 3 M (menguras, menimbun, dan menutup tempat-tempat potensial perindukan nyamuk). Strategi penanganan DBD dilakukan dengan pengumpulan data kasus DBD dari RS, puskesmas, klinik swasta, pengumpulan data morbiditas kasus DBD yang lalu (tiga-lima tahun) yang akan dipakai sebagai data dasar. Pengumpulan data lapangan dengan mengunjungi rumah penderita, dan pencarian kasus baru, serta pengamatan terhadap perilaku masyarakat disertai penaburan abate 10 gr/100 lt pada TPA di setiap rumah penduduk dengan radius 400 meter persegi dari rumah kasus. Dinkes mengembangkan sistem kerja deteksi dini, yaitu mengidentifikasi berbagai kasus penyakit yang timbul, mulai dari gejala, penyebab, dan daerah sebarannya, terutama daerah rawan endemi. Pelaporan dini, pada tahap ini dilakukan Puskesmas sebagai ujung tombak dalam tindakan darurat mengatasi berbagai permasalahan.

Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular

62

sektor kesehatan masih dipandang sebagai aktor dan inisiator utama dalam pencegahan DBD. meski prosedur telah ada dan baku. Masalah penanggulangan KLB semakin sulit penanganannya manakala mekanisme pelaporan tidak berjalan baik. menjadi lebih sulit untuk dilakukan. Setiap usulan rencana kegiatan dan pembiayaan kegiatan Pokjanal DBD yang diajukan oleh masing-masing instansi terkait di luar kesehatan sering tidak mendapat persetujuan untuk mendapat dana APBD dari Pemerintah Daerah setempat. dengan pertimbangan antara lain bahwa urusan penyakit menular DBD adalah urusan dinas kesehatan. Di tingkat Propinsi. Secara implisit DAU kesehatan dianggap sudah termasuk dalam formula tersebut walaupun sebenarnya secara eksplisit tidak ada. Setelah desentralisasi kebijakan sektor kesehatan menghadapi apa yang disebut anggaran pembangunan melalui Dana Alokasi Umum (DAU) yang berbasis pada formula. tidak/belum dapat berjalan dengan baik. meskipun prosedur pelaporan ada dan telah baku. namun belum berhasil Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 63 . Pada umumnya. karena tenaga Pokja DBD tidak aktif. Masalah lemahnya koordinasi lintas program dan lintas sektor. Dengan demikian daerah harus merencanakan dan menganggarkan program kesehatan dan bersaing dengan sektor lain untuk mendapatkannya. Praktis sektor kesehatan harus berjuang di tiap propinsi dan kabupaten/kota untuk mendapatkan anggaran. yang merupakan salah satu wadah koordinasi antar instansi/lintas sektor. PSN dan PJB dalam menurunkan insidens DBD di Kota Medan. Dalam formula ini pembagian alokasi anggaran tidak hanya ke propinsi melainkan sampai ke sekitar 400-an kabupaten/kota di Indonesia. tidak melibatkan instansi di luar kesehatan. pelaksanaan tugas kelompok kerja operasional (Pokjanal) DBD tingkat Propinsi. Koordinasi yang sulit terlihat dari lambatnya mekanisme pelaporan kasus KLB.3.3 Koordinasi antar sektor Koordinasi dengan instansi terkait di tingkat Kabupaten/Kota setelah adanya desentralisasi dan otonomi daerah.LAPORAN AKHIR Kebijakan desentralisasi semakin rumit ketika harus dilaksanakan di sektor kesehatan yang mencakup area kegiatan luas dan yang selama ini didominasi peran pemerintah pusat. Hal ini dikarenakan ada kesan masing-masing Kabupaten/Kota dalam melaksanakan tugas dan kewenangannya tidak memerlukan bantuan/koordinasi Dinas Kesehatan Propinsi. abatisasi. Metode konvensional promosi kesehatan melalui KIE (Komunikasi Informasi Edukasi) dan advokasi telah meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat. 4. belum optimal. masih dijumpai dalam pelaksanaan penanggulangan penyakit. Pemberdayaan lintas sektor dalam menjalankan Pokja/Pokjanal DBD yang telah dibentuk. Hal ini diperkuat oleh Halstead (2000) mengenai sukses dan kegagalan pengendalian penyakit DBD. Hal ini disebabkan tidak adanya dukungan pendanaan dari masing-masing instansi terkait yang tergabung dalam Pokjanal DBD. Sebelum desentralisasi alokasi anggaran kesehatan dilakukan oleh pemerintah pusat dengan menggunakan model negosiasi ke propinsi-propinsi. Hal ini sejalan dengan temuan Siregar (2003) tentang tidak adanya hubungan bermakna antara fogging.

Petugas dinas kesehatan mengemukakan esensi intensifikasi penyuluhan mengenai PSN-DBD pada masa rendah penularan penyakit Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 64 . walaupun tidak di seluruh tempat. bahkan seorang di antara enam Kepala Puskesmas yang diwawancarai. diharapkan dapat merangkum berbagai pihak terkait dari lintas program pemberantasan penyakit. 2004). promosi kesehatan maupun lintas sektor dari lingkungan dan dinas tata kota. kesehatan lingkungan.LAPORAN AKHIR memperbaiki perilaku. menindaklanjutinya dengan menyusun protap pelaksanaan di lapangan. Diakui oleh para petugas kesehatan adanya peminatan masyarakat yang lebih tinggi terhadap fogging bila dibandingkan dengan PSN. Mekanisme PSN-DBD terhadap masyarakat diakui berjalan dengan baik. Parks. Communication for Behavioural Impact (COMBI) menawarkan pendekatan dinamis untuk mengubah perilaku dalam pengembangan sosial (Kusriastuti. Adanya usulan mengenai pembentukan dan pengaktifan Tim Epidemiologi Kota sebagai wahana untuk penelusuran penyakit berbasis lingkungan. 2004. Hampir seluruh petugas memahami takaran larutan untuk fogging dan mengatakan bahwa fogging fokus dilaksanakan hanya setelah ada kasus. Semua petugas sektor kesehatan memiliki panduan mengenai tata laksana penanggulangan penyakit DBD yang diterbitkan oleh Departemen Kesehatan RI. Walaupun demikian hasil wawancara dengan masyarakat menunjukkan bahwa masyarakat mengakui PSN melalui 3M lebih baik dan lebih murah daripada pengasapan. tidak dilakukan sebelum masa penularan. 2004: Umniyati.

Diseminasi informasi dilakukan melalui penerbitan buletin kajian epidemiologi yang diterbitkan oleh dinkes propinsi dan dinkes kabupaten/kota.LAPORAN AKHIR BAB 5 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 5. perpindahan yang begitu cepat. ii. i. khususnya dalam pelaksanaan surveilans dan penanggulangan DBD. (2) koordinasi antara pusat dan daerah belum dilandasi suatu kebijakan operasional yang jelas tentang kewenangan dan tanggung jawab masing-masing. Pendidikan rata-rata perawat. Kualitas dan kualifikasi masih belum terpenuhi sesuai dengan bidang tugas dan kompetensinya. Jumlah Kasus periode 2003-2005 cenderung stagnan untuk propinsi lokasi kajian (kecuali Jatim meningkat).1 Kesimpulan (1) Kendala utama yang dihadapi dalam implementasi kebijakan penanggulangan penyakit menular dalam kasus DBD adalah (1) koordinasi antar instansi dan antar unit yang bertanggung jawab dalam penanganan DBD masih belum optimal. hampir semua dinkes propinsi maupun dinkes kab/kota memiliki peta rawan. Case Fatality Rate (CFR) DBD fluktuatif. Tidak ada batas yang tegas yang membedakan antara Surveilans dan Penanggulangan dalam praktek operasional di lapangan. (2) Indikator Kinerja Surveilans dan Penanggulangan i. (4) tingginya beban puskesmas sebagai unit operasional utama di lapangan dalam implementasi kebijakan penanggulangan penyakit menular. dan (6) data. sedangkan di Puskesmas sebagai unit pelayanan dasar dan rumah sakit sebagai unit pelayanan rujukan. Tenaga. (4) SOP. Peta rawan. Hampir semua level baik di propinsi hingga kabupaten/kota termasuk puskesmas dan rumah sakit mengalami masalah ketenagaan dalam kegiatan surveilans dan penanggulangan. Sarjana (SKM) dan MKes. (3) Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kinerja surveilans dan penanggulangan terkait dengan (1) tenaga. (2) pengetahuan. peta rawan tidak selalu tersedia. kualifikasi pendidikan yang belum sesuai. Sistem Pelaporan ditunjukkan dengan kelengkapan laporan mencapai 90-100%. (3) sistem pengelolaan program penanganan penyakit menular masih didominasi pusat. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 65 . sedangkan data kematian cenderung meningkat. (5) sarana. iv. iii. Kurangnya jumlah SDM. namun ketepatannya masih 60%. (3) dana. beban kerja yang tinggi merupakan masalah yang hampir ditemukan disemua tingkatan.

rakor dan melakukan berbagai pelatihan di bidang surveilans maupun penangulangan penyakit. (2) ada masa ketiadaan anggaran.LAPORAN AKHIR Struktur organisasi Dinkes propinsi maupun Kab/Kota tidak menggambarkan pembedaan kedua tugas tersebut. Namun demikian kebanyakan SOP tersebut belum operasional. Hampir semua unit pelayanan kesehatan di daerah memiliki pedoman dan peraturan dalam rangka pelaksanaan surveilans dan penanggulangan DBD. Pemahaman tentang surveilans dan penanggulangan KLB masih belum sama. Puskesmas tidak memiliki alokasi dana khusus untuk kegiatan surveilans. Permasalahan dana terutama berkaitan dengan (1) keterlambatan turunnya DIPA. pengetahuan tim pada umumnya dipenuhi dari pengalaman lapangan dalam penanganan P2M. iii. dana untuk pelaksanaan penanggulangan penyakit menular dirasakan pihak daerah mencukupi. Dana. v. khusus untuk KLB tersedia block grant dari pusat. Sarana. SOP. iv. ii. sarana utama yang dibutuhkan dalam penanganan kasus DBD adalah adanya fogging fokus serta insektisida Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 66 . dan epidemiologi. khususnya ketika kasus terjadi. hampir semuanya menggunakan dana APBD. Dana operasional selain bersumber dari dana operasional umum juga memanfaatkan dana JPK-MM. Beberapa dinkes kabupaten/kota inisiatif melakukan modifikasi terhadap SOP yang dibuat Depkes. Dana yang digunakan untuk penanggulangan KLB berasal dari APBN (Dekon) dan APBD. Dana menjadi persoalan dalam implementasi kebijakan penanggulangan penyakit menular. Pengetahuan. tetapi tidak menjadi kendala dalam berjalannya sistem. Operasi lapangan untuk suatu kasus (DBD) serentak dilakukan Bidang pendidikan yang ada adalah perawat. dan (3) proporsi anggaran untuk preventif dan kuratif yang tidak seimbang. Untuk tingkat kabupaten/kota. Upaya yang dilakukan Dinas Kesehatan Propinsi maupun kabupaten/kota dalam rangka peningkatan kemampuan adalah pembinaan teknis. Selain pelatihan formal. Pada tingkat propinsi. yang ada hanya pencatatan pelaporan yang dilakukan di bagian rekam medis. Walaupun kondisi sarana dan prasarana untuk kegiatan penanggulangan penyakit menular tidak selalu memadai. Di rumah sakit tidak terdapat dana surveilans. mengadakan pertemuan/ lokakarya. Baik APBD propinsi maupun APBD kabupaten/kota atau APBD sharing.

(3) ketiadaan sarana. Penyelidikan Epidemiolegi (PE) yang dilakukan Puskesmas belum maksimal. Data. Komitmen daerah dalam penyediaan anggaran (APBD) untuk penanganan penyakit menular belum optimal. baik di tingkat propinsi maupun kabupaten/kota (baru bersifat pengumpulan data). yang paling menonjol adalah penanggulangan (PE). Pengobatan dan isolasi penderita dirujuk ke rumah sakit.LAPORAN AKHIR pengadaan insektisida dan fogging fokus di supply oleh Dinkes Propinsi karena kab/kota belum siap vi. namun belum maksimal melaksanakan surveilans karena keterbatasan tenaga. Aktivitas surveilans dilakukan oleh Tim Lapangan. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 67 . Surveilans mulai diperlukan ketika ada kasus. namun belum maksimal. i. Data yang ada belum dilakukan analisis. kecuali kalau ada kasus KLB yang menyebabkan sarana TT tidak mencukupi Pengobatan dapat dilakukan dengan baik kecuali kalau ada keterlambatan pengobatan akibat terlambat merujuk (5) Permasalahan operasional penanganan DBD juga dipengaruhi oleh sistem kepemerintahan yang belum sepenuhnya dapat mengakomodasi sistem perencanaan dan sistem keuangan yang baru. tidak setiap kasus DBD ditindaklanjuti dengan PE karena DBD dianggap kasus rutin. belum dilakukan. sebagai suatu kegiatan rutin. antara lain (1) keterbatasan tenaga. Penanggulangan DBD di Rumah sakit relatif tidak masalah. PE tidak dilakukan maksimal sesuai prosedur yang ada. dekonsentrasi maupun tugas perbantuan). Ketepatan dan kelengkapan laporan dari kabupaten/kota masih rendah. Validitas data yang dilaporkan tidak pernah dipermasalahkan Propinsi belum mempunyai sistem peringatan ke kabupaten bila terjadi keterlambatan atau ketidak lengkapan data. Sehingga untuk SKD-KLB data yang seharusnya dapat dilihat /diprediksi diawal untuk kewaspadaan terjadinya KLB. (4) Kondisi umum Pelaksanaan Surveilans dan Penanggulangan DBD Ujung tombak pelaksanaan surveilans ada di Puskesmas. sarana dan dana. Banyak kendala. Namun pada saat kasus. karena tidak seimbang antar area yang harus dipantau dengan kemampuan sumberdaya yang tersedia. akibatnya kegiatan tindak lanjut yang seharusnya dilakukan tidak berjalan. (2) Keterbatasan dana. Hal ini berkaitan dengan masih cukup besarnya alokasi dana yang berasal dari APBN (dalam bentuk DAU.

Peningkatan dukungan dana yang memadai dari APBN maupun APBD. Penyepurnaan SOP sesuai “local specific”. Meningkatkan peran dan tanggung jawab Pemerintah Daerah melalui intensifikasi kegiatan sosialisasi. 4. Optimalisasi penggunaan sarana dan prasarana dengan melibatkan peran aktif masyarakat. Memperkuat kapasitas dan kapabilitas Puskesmas sebagai unit terdepan dalam operasionalisasi surveilans dan penanggulangan penyakit menular. dan sistem kesiapan dini (early warning system). b. 2. Melakukan bimbingan. pemantauan. promosi dan koordinasi. c. serta pelaporan (evaluasi). 9. Koordinasi penanganan kasus masih bersifat sporadis. 5. 7. belum tertata dalam sebuah sistem yang aktif dan terstruktur. pelaksanaan (monitoring). Meningkatkan kemampuan tenaga pengendalian penyakit untuk melakukan pencegahan dan penanggulangan faktor risiko. surveilans epidemiologi dan penanggulangan KLB/wabah. analisis. Diperlukan dukungan dalam bentuk peraturan perundangan dalam meningkatkan komitmen para pihak di daerah dalam rangkan pencegahan dan penanggulangan DBD. Keperdulian pemerintah daerah masih belum terlihat. jejaring kerja informasi dan konsultasi teknis peningkatan komunikasi informasi dan edukasi (KIE) pencegahan dan pemberantasan penyakit. 10. 3.LAPORAN AKHIR ii. 8. validasi dan pengembangan “respond system”. iii. Peningkatan koordinasi antar instansi dan antar unit dalam berbagai tingkatan dalam penanganan penyakit menular. Peningkatan kualitas sistem pelaporan melalui ketepatan data. d. Membangun dan mengembangkan kemitraan dan jejaring kerja informasi dan konsultasi teknis pencegahan dan penanggulangan faktor resiko. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 68 . Membangun dan mengembangkan kemitraan. 6. bukan sebaliknya pemerintah daerah yang aktif meminta informasi. 5. Percepatan penyusunan kebijakan operasional dalam koordinasi pelaksanaan program antar pusat daerah yang mencakup aspek perencanaaan. malalui a. dan evaluasi kegiatan pencegahan dan penanggulangan faktor resiko. Mengurangi secara bertahap dominasi peran pengelolaan program oleh pusat melalui pendelegasian kewenangan ke daerah serta peningkatan profesionalisme pengelola program di daerah. hal ini tampak dari keaktifan instansi kesehatan dalam penyebaran informasi kesehatan.2 Rekomendasi Kebijakan Rekomendasi kajian yang diusulkan mencakup 1. advokasi. baik pada internal sektor maupun lintas sektor.

selain kuratif. Pola pendanaan diharapkan dapat lebih fleksibel dan dimungkinkan untuk kebutuhan KLB dalam bentuk multiyears fund. mendorong terbangunnya motivasi dan komitmen para 5. kesehatan seperti askeskin sehingga kepastian dana sampai kepada masyarakat terjamin. Data dan Informasi. Keberadaan data dan informasi yang akurat dan sinambung menjadi salah satu indikator kinerja pembangunan kesehatan. sekaligus menjamin setiap masyarakat terlayani untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Dukungan pendanaan serta tenaga dan sarana dalam rangka pelaksanaan operasional pencegahan dan penanggulangan (preventif. promotif dan rehabilitatif) menyertai peran dimaksud secara memadai. pelaksana pembangunan kesehatan di lapangan sebagai ujung tombak pembangunan kesehatan. Sebagai perangkat utama Kesehatan. Aspek Ketenagaan. Diperlukan model manajemen pemberantasan penyakit dan penyehatan lingkungan secara terintegrasi yang berbasis wilayah kabupaten/kota dalam perspektif komprehensif. 4. Aspek Kelembagaan. diperlukan revitalisasi peran kelembagaan khususnya kelembagaan Puskesmas. dibuat sesederhana mungkin agar memudahkan pelaksanaan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 69 . 2. Motivasi dan komitmen selain muncul atas kesadaran memerlukan dukungan eksternal dalam bentuk insentif.3 Implikasi Kebijakan dan Rencana Tindak Lanjut Berdasarkan kesimpulan dan rekomendasi yang disampaikan.LAPORAN AKHIR 11. preventif. Aspek SOP. dan rehabilitatif. perlu terus dikembangkan pola pendanaan sistem jaminan 3. langkah tindak lanjut yang diperlukan mencakup 1. Aspek Pendanaan. Puskesmas perlu diperkuat dengan kapasitas manajemen pelayanan untuk kegiatan yang bersifat promotif. opersional tenaga lapangan. 5. Serta didukung jaringan dan kerjasama erat baik antar wilayah dan adimistrasi pemerintah maupun diantara para pelaku pemberantasan penyakit menular dan penyehatan lingkungan itu sendiri dalam satu wilayah. perlu di kelola secara profesional dan berkesinambungan dengan memanfaatkan teknologi yang tepat dan mudah diaplikasikan.

Planning social mobilization and communication for dengue fever prevention and control. A. Nur Nasry. 2000. Jakarta: Reka Cipta. Successes and Failures in Dengue Control-Global Experience. Progress Report on The Millenium Development Goals Chin.LAPORAN AKHIR DAFTAR PUSTAKA Achmadi. 2005. 2005. 2003. Rita. Notoatmodjo. Jakarta: Elex Media Komputindo Anies.whosea. Pengantar Epidemiologi Penyakit Menular. Pencegahan Pemberantasan Demam Berdarah Dengue di Indonesia dan dan Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Gde. Jakarta: Prestasi Pustaka Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 70 . Will & Linda Lloyd. Jakarta: Rekacipta. Jakarta: PT Gramedia Bappenas. 2005. Sri Rezeki. Jakarta: EGC Noor. 2005. Jakarta: Infomedika Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Ditjen PP & PL Depkes RI Muninjaya. Manual Pemberantasan Penyakit Menular.A. Scott B. 2006. Solusi Mencegah Menanggulangi Penyaki Menular. 2004.2004. Pemberantasan Demam Berdarah Dengue (DBD) Hadinegoro. 2005. Kebijakan Penanggulangan Demam Berdarah Dengue di Indonesia. 2004. Manajemen Berbasis Lingkungan. 2001.2006. Modul Surveilans Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Ditjen P2M & PL. World Health Organization Santoso. Soekidjo. dkk. December-2000 [cited 9 Juli 2005] Available from : http://w3. Dengue Bulletin Volume 24. Departemen Kesehatan RI Halstead.org/en/Section10/Section332 Kusriastuti. Umar Fahmi. 2005. 2006. Metodologi Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Subdit Arbovirosis. Mewaspadai Penyakit Lingkungan. JMES. Tata Laksana Demam Berdarah Dengue di Indonesia. Parks. Jakarta: Penerbit Buku KOMPAS Anies. Gempur. Manajemen Penyakit Berbasis Wilayah. Standar Pengawasan Program Bidang Kesehatan. Manajemen Kesehatan.

2003. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran. Soerawidjaja. Manajemen Kesehatan. 1116/MENKES/SK/VIII/2003 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 2003.LAPORAN AKHIR Siregar. EGC. 949/Menkes/SK/VIII/2004 tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Kewaspadaan Dini Kejadian Luar Biasa (KLB) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1984 Tentang Penyakit Menular Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 2001. Resna A. dan Azrul Azwar. 1479/MENKES/SK/X/2003 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular dan Penyakit Tidak Menular Terpadu Keputusan Menteri Kesehatan RI No. Jakarta : Bina Putra Aksara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama World Health Organization. Peraturan Perundangan Peraturan Pemerintah No. Analisa Penatalaksanaan Penanggulangan Demam Berdarah Dengue (DBD) dalam menurunkan Insidens DBD dan Menentukan Kebijakan Operasional di Kota Medan. 1989. Penanggulangan Wabah Oleh Puskesmas. Sulastomo. Sari Nurhamida. Panduan Lengkap Pencegahan & Pengendalian Dengue dan Deman Berdarah Dengue. 4 Tahun 1991 tentang Penanggulangan Penyakit Menular Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. Universitas Airlangga.. 949/MENKES/SK/VIII/2004 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Kewaspadaan Dini Kejadian Luar Biasa (KLB) Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 71 .

LAPORAN AKHIR Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 72 .

Identifikasi peran dan tanggungjawab Pemerintah Daerah dalam penanggulangan penyakit menular c. Identifikasi langkah-langkah yang dilakukan dalam penanggulangan penyakit menular II. Tujuan a.LAPORAN LAMPIRAN 1 AKHIR RANCANGAN INSTRUMEN KAJIAN I. Identifikasi faktor-faktor yang menghambat system informasi manajemen surveilans penyakit menular b. Kerangka Konsep SURVEILANS INPUT • • • • • • • PROSES • Koordinasi kegiatan pengumpulan • Validasi • Pengolahan data • Analisis data • Supervisi pengumpulan • Supervisi pengolahan OUTPUT Tenaga Dana Sarana Pengetahuan yang benar Pelatihan Metoda pengumpulan data Potensi komunitas • Identifikasi masalah • Penyelidikan sebab masalah • Diseminasi PENANGGULANGAN WABAH PENYAKIT MENULAR INPUT PROSES OUTPUT • • • • • III. Tenaga • Sarana • Dana • Protap • Pengetahuan ttg Wabah & Penanggulangan • Pelatihan Definisi Operasional • • Informasi surveilans • Pengambilan Keputusan SURVEILANS • Potensi komunitas Input Koordinasi lintas sektor Upaya perbaikan kondisi rentan Sistem kewaspadaan dini Penyelidikan & Penanggulangan wabah Kesiapsiagaan menghadapi wabah • Wabah tidak menjadi masalah kesehatan masyarakat Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 73 .

LAPORAN AKHIR 1. 4. 2. Dana merupakan ketersediaan pengalokasian. 2. pemenuhan dan sumber dana kegiatan surveilans. Pengolahan data merupakan ketapatan waktu dan keakuratan suatu data di olah. Supervisi pengumpulan merupakan keberadaan pengawasan terhadap proses pengumpulan data. 4. Sarana merupakan ketersediaan dan kesuaian fasilitas alat atau bahan yang diperlukan dalam melakukan kegiatan surveilans. pemenuhan dan sumber dana kegiatan. Tenaga merupakan pelaksana kegiatan surveilans yang meliputi jumlah pelaksana dan tingkat pendidikan serta lamanya bekerja di surveilans. Pengetahuan petugas merupakan pemahaman petugas tentang karakteristik dan kegiatan penanggulangan penyakit menular. Kelengkapan diukur berdasarkan SOP yang ada PENANGGULANGAN PENYAKIT MENULAR Input 1. 3. 7. Koordinasi kegiatan pengumpulan merupakan kerjasama tim surveilan dengan komunitas dan koordinasi di dalam tim itu sendiri dalam melakukan pengumpulan data 2. 6. Tenaga merupakan pelaksana kegiatan penanggulangan wabah yang meliputi jumlah pelaksana dan latar belakang pendidikan serta lamanya bekerja. Identifikasi masalah merupakan hasil analisis data yang sudah diproses untuk mengetahui kemungkinan munculnya/timbulnya kejadian (morbiditas/mortalitas) penyakit menular. Pelatihan merupakan pernah dan tidaknya petugas mendapatkan pelatihan tentang penanggulangan penyakit. Dana merupakan ketersediaan pengalokasian. Output 1. Protap merupakan keberadaan peraturan yang sesuai dengan fungsinya dalam kegiatan. 5. 6. 6. 2. 5. masyarakat/toma/toga) dalam kegiatan surveilans. 3. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 74 . Validasi merupakan kesesuaian proses kegiatan dengan SOP yang sudah ada. Diseminasi merupakan ketepatan waktu penyebaran dan kelengkapan informasi surveilans kepada pihak-pihak yang berkepentingan (pengambil keputusan). Partisipasi komunitas merupakan peran serta berbagai kelompok komunitas (seperti: tenaga kesehatan. Analisis data merupakan ketepatan penggunaan teknik analisa data. 5. Pelatihan merupakan pernah dan tidaknya petugas mendapatkan pelatihan tentang surveilans penyakit. Sarana merupakan ketersediaan dan kesuaian fasilitas alat atau bahan yang diperlukan dalam melakukan kegiatan penanggulangan wabah. 3. Pengetahuan petugas merupakan pemahaman petugas tentang survailans penyakit menular. 4. Metoda pengumpulan data merupakan keberadaan tata laksana kegiatan pengumpulan data dan kesesuaian dengan fungsinya. Supervisi pengolahan merupakan keberadaan pengawasan terhadap proses pengolahan data. Penyelidikan sebab masalah merupakan proses identifikasi sumber/penyebab timbulnya masalah 3. Proses 1.

dan penyilidikan wabah yang dilakukan oleh pihak yang bertanggung jawab (Dinas kesehatan dan pusat). Pelayanan pengobatan merupakan upaya pengobatan terhadap kelompok yang berisiko. Output 1. 9.LAPORAN AKHIR 7. masyarakat/toma/toga) dalam kegiatan penanggulangan wabah. Penyelidikan merupakan proses kegiatan kajian penyelidikan pendahuluan dan laporan awal. Upaya perbaikan kondisi rentan merupakan upaya pencegahan melalui perbaikan keadaan yang menjadi sebab timbulnya kerentanan. Potensi komunitas merupakan peran serta berbagai kelompok komunitas (seperti: tenaga kesehatan. 2. penyelidikan awal dan laporan perkembangan wabah (periodik). Pengambilan Keputusan merupakan individu yang bertanggung jawab dalam pengambilan keputusan dalam kegiatan penanggulangan. 3. Sistem kewaspadaan dini merupakan pelaksanaan pemantauan terus menerus terhadap munculnya kerawanan yang terjadi pada unsur-unsur dasar penyebab terjadinya suatu wabah. dan peningkatan jumlah penderita yang merupakan indikasi adanya kemungkinan meletusnya suatu wabah. 7. Proses 1. ketepatan dan kelengkapan data. 4. Pencegahan merupakan upaya memutus mata rantai penularan. 6. dan ketepatan waktu yang diterima oleh pihak-pihak pengambil keputusan. Surveilans Ketat merupakan upaya pemantauan kecenderungan wabah. 5. Koordinasi lintas sektor merupakan kerjasama antar pihak-pihak yang bertanggung jawab dalam penanggulangan wabah. Informasi Surveilans merupakan hasil output system surveilans yang sudah diolah dan dianalisis dengan melihat ada dan tidaknya informasi. 8. Wabah tidak menjadi masalah kesehatan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 75 .

Pustu/polindes. staf Kesling 5. Masyarakat anatar lain: : Ka Desa. Draft Instrumen Instrumen yang akan dirancang adalah instrument untuk wawancara mendalam (indepth interview) dan instrument observasi (check list). seksi surveilance. Tingkat Pusat antara lain P2M. yaitu: 1. petugas P2M. Ka RT.. Biro Kesra 4. Yanmedik dan Binkesmas 2. Puskesmas: Kepala Puskesmas. LMD/Dewan Kel. Sumber Informan adalah petugas yang terkait dengan pelaksanaan surveilans dan penanggulangan penyakit menular. Tingkat Provinsi antara lain: 3. Tingkat Kabupaten antara lain: kepala dinas kesehatan. Kader Kesehatan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 76 .LAPORAN AKHIR IV. Bappeda. kasubdin P2M.

(1) Brainstorming dengan Tim Pakar Pelaksanaan brainstorming dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 28 Pebruari 2006. MPH.D. Fakultas Kedokteran Unpad .Dr. Dr. Tim yang diundang dalam acara brainstorming adalah nara sumber dari kajian ini serta beberapa pakar lainnya. oleh Prof. Deputi Bidang SDM dan Kebudayaan Bappenas Brainstorming dengan tim pakar dimaksudkan untuk mendapatkan wawasan yang lebih jelas mengenai penanggulangan penyakit menular. yaitu .Tim Fakultas Kesehatan Masyarakat. Sukirman. Masa Kini. Soedarto Romoatmojo. dan Masa Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 77 . dr. mencakup aspek • Review tentang Kajian Penyakit Menulat (Aspek Metodologi Kajian. FKM-UI • Tinjauan Umum tentang Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular di Indonesia (Kebijakan Masa Lalu.LAPORAN AKHIR LAMPIRAN 2 PELAKSANAAN KEGIATAN DAN PEMBAHASAN A.Prof. Universitas Indonesia . Dalam aspek metodologi masukan dari brainstorming yang diharapkan berkiatan dengan aspek runga lingkup kajian. Setditjen P3L Depkes . MOH. Ph. Dr. rumusan masalah serta tujuan dan sasaran penelitian.Dr. serta variabel kajian Hasil brainstorming selengkapnya pada LAMPIRAN 2. Indrijono Tantoro. Broto Warsito. pemilihan lokasi peneltian. Dadi Argadiredja. penetapan responden. Masykur Riyadi. Dedi M. Erna Tresnaningsih Suharsa. MPH. Masukan yang diharapkan dari pelaskanaan brainstorming mencakup perbaikan konsep. Penyempurnaan Proposal Dalam rangka memperkaya proposal telah dilakukan beberapa kegiatan mencakup (1) pelaksanaan brainstorming dengan Tim Pakar. (2) Ekspose Tim Ahli. MPH . Balitbang Depkes .Dr. (2) Ekspose Tim Ahli Ekspose Tim Ahli dilaksanakan pada tanggal 5 April 2006 Ekspose Tim Pakar dimaksudkan untuk menggali lebih dalam lagi berbagai aspek yang berkaitan dengan Penanggulangan Penyakit Menular.Dr.Dr. Ahli Gizi IPB . kerangka pemikiran. serta (3) Diskusi Internal.

(B) Pembahasan Disain Riset Pembahsan disain riset yang dilakukan mencakup aspek (1) penetapan lokasi kajian. Setditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Depkes Kebijakan Umum Departemen Kesehatan dan/atau Nasional dalam Upaya Penanggulangan Penyakit Menular. metodologi serta teknis pelaksanaan survei lapangan. oleh Dr. Imunisasi dan Kesehatan Matra. Depkes Penanggulangan penyakit Menular di Rumah Sakit Kabupaten/Kota. Dalam diskusi internal juga dilakukan kesepakatan akhir berkaitan dengan disain kajian. Depkes Penanggulangan Penyakit Menular di Puskesmas. oleh Kepala Pusat Kajian Kebijakan Pembangunan Kesehatan. oleh Direktur Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang. Teori dan Praktek dalam Penanggulangan Penyakit Menular. oleh Direktur Bina Pelayanan Medik dasar. (3) perumusan kuesioner. Depkes. Depkes Tinjauan terhadap Kebijakan Surveilans Epidemiologi. serta rencana analisis data dan informasi dan bentuk laporan kajian. Indriono.LAPORAN AKHIR • • • • • . Penetapan Lokasi Kajian Lokasi kajian ditetapkan di 6 propinsi dengan kriteria pemilihan propinsi didasrkan pada ferkuensi dan jumlah kasus Keadaan Luar Biasa (KLB) penyakit. (2) penentuan sampel dan responden. Yang Akan datang. Dalam diskusi internal juga dibahas berbagai pertauran perundangan yang berkaitan dengan penanggulangan penyakit menular. sekaligus dibahs tentang aspek kewenangan dari masing-masing tingkatan. Depkes Pokok-pokok Pikiran hasil Ekspose Tim Ahli selengkapnya dalam LAMPIRAN-3. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 78 . oleh Direktur Bina Kesehatan Komunitas. (3) Diskusi Internal Diskusi internal dilakukan pada berbagai kesempatan diskusi yang diselenggarakan di Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Diskusi inernal dilakukan diantara anggota Tim Perumus Rekomendasi Kebijakan dengan melibatkan Tim dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Diskusi internal dilakukan dalam rangka menyempurnakan kerangka acuan kajian dengan mengakomodasi berbagai masukan yang didapat dalam pertemuan brainstorming tim pakar maupun dari hasil ekspose tim ahli. Kebijakan Penanggulangan Wabah DHF. serta (4) teknik analisis data. ole Direktur Surveilans Epidemiologi.

Pelaksanaan Uji Coba Kuesioner Uji Coba Kuesioner dilakukan dalam rangka menguji sejauhmana materi pertanyaan dan isian dalam kuesioner dapat dijawab sesuai dengan tujuan kajian. mentabulasikan dan menginterpertasikan data C. Popinsi Jawa Timur 6. Propinsi Nusa Tenggara Barat Pada setiap porpinsi ditetapkan sampel 2 kabupaten . konsistensi dari materi kuesioner sehingga runtut dan dapat dijawab dengan baik oleh responden. Aspek realibilitas dan vailiditas materi kuesioner juga menjadi target uji coba. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 79 . ditetapkan propinsi yang akan menjadi lokasi kajian adalah 1. Pada setiap kabupaten ditetapkan 2 kecamatan/puskesmas Penetapan Responden Pada setiap Propinsi dan Kabupaten ditetapkan 4 orang responden mencakup Kepala Dinas/Subdinas Kepala Rumah Sakit/Bagian P2M Kepala Puskesmas pada 2 kecamatan Perumusan Kuesioner Rumusan Kuesioner dibuat dalam bentuk pertanyaan terbuka dan pertanyaan tertutup Pengelompokkan didasarkan pendekatan sistem serta berdasarkan kalster variabel dari konsep penanggulangan penyakit menular. dengan responden adalah petugas di lingkungan Dinas Kesehatan. Propinsi Riau 2. Uji coba juga dilakukan untuk melihat kesesuaian. mengolah. Propinsi Kalimantan Timur 4. Propinsi Sumatera Selatan 3. mencakup (1) aspek surveilans dan (2) aspek penanggulangan wabah Kuesioner bersifat terbuka akan dilakukan dalambentuk interview dan wawancana mendalam Kuesioner dalam bentuk tertutup akan disampaikan kepada responden untuk mengisi Kuesioner Pada LAMPIRAN 1 Teknik Analisis Data Untuk menganalisis data yang bersumber dari responden dilakukan analisis data menggunakan analisis statistik deskriptif Analisis statistik deskriptif dilakukan dengan cara mengelompokkan. Pelaksanaan Uji Coba Kuesioner dilakukan di Kota Depok. Propinsi Sulawesi Selatan 5.LAPORAN AKHIR Berdasarkan hasil pembahasan dengan kriteria di atas. pada tanggal 3-11 Juli 2006.

. 1 rumah sakit dan tokoh/perwakilan warga masyarakat. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 80 .. mencakup aspek (1) Tujuan.. 2 puskesmas. Provinsi Kalimantan Timur. Hasil uji coba kuesioner selanjutnya dianalisa untuk kemudian dijadikan bahan perbaikan. khususnya terkait dengan penanganan surveilans dan penaggulangan penyakit Demam Berdarah (DHF). Pelaksanaan Survey di masing-masing propinsi dilakukan di 2 (dua) kabupaten. (3) Metode Kajian. dan fasilitas kesehatan (facility based). D. dan pada masing-masing kabupaten dilakukan wawancara mendalam serta pengisian kuesioner pada dinas kesehatan.. Jadwal dan Tim pelaksana dari Survei Lapangan dalam LAMPIRAN . yaitu Provinsi Riau. propinsi. (3) penetapan waktu wawancara yang sesuia sehingga tidak berbebnturan dengan agenda lain bagi petugas di lapangan.LAPORAN AKHIR Puskesmas serta Rumah Sakit yang menangani bidang penyakit menular. tetapi juga dari unsur masyarakat (community based) • Unsur institusi selain Dinkes juga ditambah Bappeda • Bagaimana menemukan sistem penanggulangan yang cepat (efektif dan efesien) dengan mempertimbangkan sistem pelaporan (survailans) yang ada dan cenderung birokratis • Masalah kewenangan penanganan perlu diperjelas (otorisasi) antara kewenangan pusat. Provinsi Sulawesi Selatan dan Provinsi Nusa Tenggara Barat. survey lapangan dilakukan di 6 (enam) provinsi. Laporan umum hasil uji coba kuesioner dalam LAMPIRAN ... termasuk lokasi. Bappeda. Beberapa masukan dari FGD adalah • Responden perlu ditambah tidak hanya unsur aparat (institution base). Pelaksanaan Survey Lapangan Sesuai dengan lokasi kajian yang telah ditetapkan. (2) Lingkup Kajian. kabupaten/kota. Provinsi Jawa Timur. Hal lain yang juga menjadi masukan dari pelaksanaan uji coba kuesioner adalah berkaitan dengan (1) perijinan dalam pelaksanaan wawancara.. (2) penetapan kontak person di lapangan. Provinsi Jawa Barat. Pembahasan Dengan FGD Pembahasan dengan Forum Group Disscussion dilakukan untuk mendapatkan masukan dan penyempurnaan konsep kajian. variabel serta parameter kajian. Namun pusat tepat ”take a lead” • Perlu kejelasan antara survailans dan penanggulangan: mekanisme kerja serta proses pengambilan keputusannya E.

MPH Dr. TIM PENDUKUNG 1. 5. Nurlaily Aprilianti 2. Deputi SDM dan Kebudayaan TPRK 1. Sularsono. MA Dadang Rizki Ratman. MPH Prof. Dedy M. Hadiat. 3. Drs. Dadi Argadiredja. Masykur Riyadi. Dr. 4. MPH Dr. Ph. ME. 4. SP.D. Dr. Broto Wasisto. Ir. Erna Tresnaningsih Suharsa. 5. MPA. Arum Atmawikarta. Sulaeman Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 81 . 2.LAPORAN AKHIR LAMPIRAN 3 Struktur Organisasi/Tim Pelaksana PENANGGUNG JAWAB Dr. SKM. SH. Yosi Diani Tresna. Soekirman Dr. 2. 3. MPH Dr. MOH. MPM NARA SUMBER 1. Indrijono Tantoro.

Puskesmas dan Desa. Propinsi. Kabupaten/Kota. Ka RT. Seksi Surveilance. Kasubdin P2M. Biro Kesra – Kabupaten : idem – Puskesmas : Kepala Puskemas. 28 Februari 2006 • Fokus yang akan diteliti – Umum. petugas P2M.. staf Kesling – Desa: Ka Desa. Yanmedik dan Binkesmas – Propinsi: Kadinkes. LMD/Dewan Kel. Pustu/polindes.LAPORAN AKHIR LAMPIRAN 4 NOTULENSI PEMBAHASAN DENGAN TIM PAKAR KAJIAN KEBIJAKAN PENANGGULANGAN WABAH PENYAKIT MENULAR Jakarta. Bappeda. – Case Study : DBD • Kriteria Lokasi Kajian – Endemis dan Non Endemis – Sedang ada KLB dan tidak ada KLB – Pusat. Kader Kesehatan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 82 . Rumah Sakit terpilih • Responden – Pusat: P2M.

kab/kota) – Managerial/sistem (pusat. SASARAN dan REKOMENDASI Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 83 . TUJUAN.LAPORAN AKHIR • Design Penelitian: Case Control • Variabel Penelitian: – Peraturan perundang-undangan (pusat. PERUMUSAN MASALAH. propinsi. propinsi. PERTANYAAN PENELITIAN. kab/kota & kec) – Operasional (puskesmas ke bawah) • Cara Pengumpulan Data – data sekunder – data primer : wawancara mendalam di berbagai tingkat (Pusat s/d kab/kota) dan focus group discussion di tingkat Kecamatan dan desa • Perlu diperhatikan – Kaitan antara JUDUL.

METODOLOGI KAJIAN 1. 5 April 2006 I. Sampling: Non Propability Sampling 4. Ruang Lingkup: Umum dengan case DBD Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 84 . Pendekatan kajian: • • policy review dengan fokus pada management oriented system model Identifikasi terhadap faktor penghambat dan diakhiri dengan rekomendasi kebijakan 2.LAPORAN AKHIR LAMPIRAN 5 POKOK-POKOK PIKIRAN EKSPOSE TIM AHLI Kajian Penanggulangan Wabah Penyakit Menular Jakarta. Jenis Penelitian: Penelitian Operasional 3.

tenaga. Dalam Renstra Depkes Penanggulangan Wabah masuk dalam 2 strategi utama: (1) memberdayakan masy. sarana. PRAKTEK PENANGGULANGAN DI LAPANGAN PUSKESMAS • Surveilans di Puskesmas belum Optimal • Koordinasi lintas sektor belum terintegrasi • Keterbatasan tenaga yang kompeten • Kontribusi utama Puskesmas dalam penanggulangan wabah PP dalam jejaring pelayanan.LAPORAN AKHIR II. sarana. Infrastruktur Puskesmas untuk surveilans ditingkatkan : Poskesdes Vs Pustu III. Kebijakan peraturan perundangan dapat diikuti oleh stakeholder: Kepmen Perpres 4. u/ hidup sehat dan (2) peningkatan sistem surveilans 5. Pemahaman terhadap produk hukum yang ada masih rendah 3. Ketentuan yang ada belum dilaksanakan secara optimal di tingkat operasional akibat keterbatasan dana. sesuai dengan kasus penyakit • • • • Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 85 . tenaga dan koordinasi 6. sistem pencatatan RUMAH SAKIT Pelayanan gawat darurat masih di bawah standar Sistem monev periodik antar pusat dan daerah belum terbangun Insentif petugas perlu menjadi perhatian Kelengkapan sarana. TINJAUAN KABIJAKAN 1. Kebijakan yang ada belum fokus 2.

sarana dan anggaran V. Dukungan tenaga. desa siaga 6. Fleksibilitas pencairan dana KLB 7. Daerah berperan dalam pengambilan keputusan menentukan prioritas masalah maupun penanggulangan 2. Optimalisasi dan profesionalisme Sumber Daya (SDM dan dana) 4. Penguatan program: evidence based. Pelaksanaan SKD-KLB belum optimal 4. KEBIJAKAN SURVEILANS 1. Surveilans faktor resiko selain surveilans penyakit 5. Mobilisasi Sosial Gerakan Masyarakat “3M” Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 86 . Penguatan komitmen semua pihak 2. Perlu Advokasi untuk dukungan legal aspek pelaksanaan dilapangan 3. Pengembangan jejaring kerjasama dan kemitraan 3. KEBIJAKAN PENANGGULANGAN DBD 1. prioritisasi 5. Manajemen terpadu berbais wilayah: Jumantik.LAPORAN AKHIR IV.

Kab. sebagai dasar tindak lanjut perencanaan program dan penanggulangan KLB. Bogor Jawa Timur 1. serta kemitraan dengan masyrakat (LSM) termasuk swasta. perubahan perilaku. imunisasi. Siak Jawa Barat 1. (5) meningkatkan kemampuan penggalian sumberdaya daerah dan sumberdaya masyarakat dalam pengelolaan program P2M. perbaikan manajemen kasus diganostik dan pengobatan serta rujukan. Kota Bandung 2. Kota Mataram 2. Kota Samarinda 2. melalui Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 87 . Kab Lombok Tengah TOTAL Dinas 5 3 2 3 2 2 1 1 2 2 1 2 2 1 2 3 2 3 47 PKM 4 5 3 2 3 4 2 2 4 4 4 6 43 Rumah Sakit 1 1 2 1 2 1 1 4 1 2 2 3 21 Bapp 2 1 1 2 1 1 2 1 1 1 1 1 15 Masy 1 1 20 1 1 18 1 1 13 2 1 20 1 1 25 2 0 13 122 Jml 26 2. Kesimpulan Hasil Survey PROPINSI RIAU Kebijakan Daerah mecakup (1) pemberantasan DBD diselenggarakan dengan menggunakan penatalaksanaan kasus secara cepat dan tepat. kewaspadaan dini. kab/kota.LAPORAN AKHIR LAPORAN PELAKSANAAN SURVEY KAJIAN KEBIJAKAN PENYAKIT MENULAR 1. Responden Kajian No 1 2 3 4 5 6 Propinsi/Kab Riau 1. Gowa Nusa Tenggara Barat 1. (2) surveilans epidemiologi. Kota Makasar 2. Kota Pekanbaru 2. pengendalian faktor resiko dan penyehatan lingkungan. Kab. Strategi yang dilakukan mencakup (1) intensifikasi pelaksanaan kasus melalui pencarian kasus dan pemutusan rantai penularan. Kota Surabaya 2. (3) memantapkan jejaring lintas program. lintas sektor. Kota Balikpapan Sulawesi Selatan 1. (4) menyiapkan pengadaan dan distribusi kebutuhan obatobatan dan bahan-bahan yang esensial. Gresik Kalimantan Timur 1. (2) mengembangkan dan memperkuat jejaring surveilans epidemiologi dengan fokus pemantauan wilayah setempat. Kab. Kab.

Tim Pokjanal DBD diketuai oleh Walikota. pembinaan dalam pelaksanaan gerakan 3M. pelatihan tenaga operasional. uang dicairkan. melalui pelaksanaan pertemuan berkala Pojanal/Pokja DBD. Tim Pokjanal DBD terdiri dari unsur-unsur Diknas. pelatihan tenaga puskesmas dan rumah sakit. (8) Penelitian. Kegiatan pokok adalah melakukan rapat lintas sektor untuk menangani masalah-masalah khususnya penyakit menular. PMD. (4) Penanggulangan kasus. Program yang dilakukan mencakup (1) kewaspadaan dini DBD melalui penyuluhan intensif. sedangkan sekretariat berada di kantor Dinas Kesehatan. lintas program dan lintas sektor terkait serta mengaktifkan kembali peran UKS (Usaha Kesehatan Sekolah) untuk menggerakkan anak sekolah dalam pemberantasan demam berdarah. Depag dan pihak legislatif. yaitu mencakup 1) Kewaspadaan dini DBD. yaitu pada setiap Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 88 . melalui penyediaan insektisida dan larvasida. Hasil implemnatsi kebijakan. (3) Disamping Tim Pokjanal DBD. dan menyiapak sarana pemeriksaan untuk diagnosa melaksanakan PE dan penanggulangan fokus. (2) pemberantasan vektor. sedangkan dana dari Dinas Kesehatan diutamakan untuk membeli peralatan dan kegiatan yang sifatnya pencegahan. (7) Pendekatan Peran Serta Masyarakat dann PSN DBD. menyiapkan juknis dan juklaknya. tersedia pos untuk penanggulangan. dana bencana dan dana belanja rutin sekretariat daerah. Kota Pekanbaru juga memiliki Forum Perkampungan Sehat. Dinkes. (2) Pemberantasan vektor melalui PSN dengan cara 3M Plus. (3) Bulan Bakti gerakan ”3M”. (3) meningkatkan SDM. Nbila terjadi KLB. diketuai oleh Bappeda dan sekretariat juga berada di Bappeda. Dana KLB dianggarakan dengan menggunakan pola kinerja artinya bila KLB tidak terjadi. dan pemeriksaan jentik berkala (PJB) yang dilakukan setiap 3 bulan sekali. Ketiga dana tersebut diatas berasal dari dana Kantor Walikota. Bappeda. maka uang tidak bisa dicairkan. yaitu dana tak terduga. dimana Puskesmas melakukan penyelidikan epidemiologi (PE) untuk mengurangi persebaran lebih luas dan tindakan yang lebih tepat. Strategi pelaksanaan kebijakan penanggulangan DBD di Propinsi Jawa Barat dilakukan melalui (1) pendekatan ”gerak cepat” dan putus rantai. maka kinerjanya akan dipertanyakan. (5) penanggulangan KLB. (3) Bila terjadi KLB.LAPORAN AKHIR perencanaan. PKK. Strategi dan program adaah (1) pertemuan dengan tim pokjanal DBD propinsi Riau menghasilkan beberpa kesepakatan yang menitikberatkan pada peran aktif dari pokja/pokjanal DBD dengan melibatkan masyarakat. (6) peningkatan profesionalisme SDM. (2) Di Kota Pekanbaru. pematauan dan informasi program pemberantasan penyakit dan meningkatkan kewaspadaan di semua tingkat administrasi. PROVINSI JAWA BARAT Kebijakan penannggulangan di Jawa Barat secara umum mengacu pada kebijakan dan program yang telah ditetapkan oleh Departemen Kesehatan (Pusat). melengkapi sarana pemberantasan vektor.

mendeskripsikan kasus berdasarkan waktu. dukun bayi dan kendaraan kesehatan. (3) Upaya peningkatan kemamampuan tenaga kesehatan dalam penanggulangan DBD secara kuratif dilakukan melalui ”workshop tata laksana” dengan melibatkan dokter spesialis dan urusan dalam. mengidentifikasi dan menghitung kasus atau paparan. dan propinsi. (6) Sosialissi Pola Hidup Bersih (PHBS). dan melakukan ”CLEAN-UP” lingkungan yang dipimpin oleh wali kota selama 1-2 jam. kesibukan kader. dan tidak seimbangnya jumlah kader dengan cakupan daerah yang harus diselediki. bidan. (2) kegiatan surveilans epidemiologi dilaksanakan oleh tim fungsional di masingmasing tingkat mulai dari Puskesmas. (3) komitmen dari pimpinan unit penyelenggara kesehatan diperlukan untuk kegiatan surveilans epidemiologi.LAPORAN AKHIR kasus petugas siap melakukan PE sehingga ditemukan akar permasalahan dan sumber penyebabnya untuk kemudian dilakukan tindakan agar tidak menyebar ke tempat lain. perawat. menetapkan apakah kejadian tersebut suatu KLB. dokter. mengamati indikasi pra-KLB misala cakupan program. puskesmas dan masyarakat. Pelaksanaan program penannggulangan DBD mencakup (1) SKD-KLB melalui kegiatan pengumpulan data baru dari penyakit-penyakit yang berpotensi KLB. Hasil pelaksanaan program ditunjukkan antara lain (1) pemantauan jentik belum optimal dilakukan oleh kader dengan alasan terbatasnya dana operasional. praktek swasta. melalui persiapan penyelidikan lapangan. (2) pencarian kasus tambahan dilakukan pada saat penyelidikan epidemiologi. (2) upaya preventif yang dilakukan melalui ”managing vector and environment” malalui ger kan 3M yang dilakukan secara linta sektor dalam wadah Pokjanal DBD. (4) melakukan kajian epidemiologi harus bekerjasama dengan lintas program dan lintas sektor. kab/kota. (4) penemuan kasus dilaksnakan secara bekerjasama dengan masyarakat. status gizi. orang dan tempat. (3) penyelidikan epidemiologi terhadap kasus yang dicurigai pada daerah yang resiko rendah. (2) Fogging dilaksanakan apabila terjadi KLB dengan menggunakan dana yang berasal dari Dinas Kesehatan Kabupaten dengan peruntukan untuk larvasidasi dan abatesisasi. mengidentifikasikan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 89 . pemeriksaan jentik dengan memberdayakan tenaga jumantik. memastikan diagnostik etiologi. perilaku masyarakat. (5) Pelibatan lintas sektor. (2) penyeldikan dan penanggulangan KLB. pengolahan dan analisis data untuk penyususnan rumusan kegiatan perbaikan oleh tim epidemiologi. PROVINSI JAWA TIMUR Kebijakan daerah mencakup (1) upaya penanggulangan masalah-masalah kesehatan yang dilakukan merupakan hasil dari kajian surveilans epidemiologi. Strategi dalam penanggulangan DBD dilakukan melalui (1) penemuan kasus dan kematian melalui surveilans di rumah sakit. foggig focus massal. (5) melakukan studi epidemiologi pada daerah dengan knerja yang tidak baik. membuat cara penanggulangan sementara. (4) Pelibatan partisipasi masyarakat melalui gerakan PSN setiap hari Jumat pagi.

Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 90 . beranggotakan kepala – kepala dinas yang ketika diadakan rapatrapat selalu dihadiri oleh personal yang berlainan. pelaksanaan gerakan 3M. Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Selatan selanjutnya menyusun Prosedur Tetap (Protap) Penanggulangan DBD sebagai pedoman/acuan pelaksanaan kegiatan Dinas Kesehatan Propinsi dan Dinas Kesehatan Kabupten/Kota. khususnya penyakit DBD di Propinsi Sulawesi Selatan. sehingga sesuai data memang DBD di Kota Balikpapan tinggi. menetapkan sistem penemuan kasus baru. perubahan perilaku dalam pola hidup bersih dan sehat. (3) Untuk tahun 2005. penyediaan insektiside dan larvasida. (3) Pelatihan tenaga surveilens (pelatihan epidemiologi. pelatihan tenaga kesehatan. Pokok-pokok Program yang dilakukan mencakup Kewaspadaan dini DBD. mengidentifikasikan keadaan penyebab KLB. Gambaran implementasi adalah (1) Pelaksanaan penanggulangan DBD melibatkan masyarakat. pertemuan berkala Pokjanal/Pokja DBD. (2) Pemberantasan vector. (4) Di samping Tim Pokjanal DBD. lintas program dan lintas sekor terkait. (5) Dinas kesehatan kota Balikpapan selalu melaksanakan pendataan DBD dengan rutin. penyuluhan. melengkapi sarana pemerantasan vektor. PROVINSI KALIMNATAN TIMUR Kebijakan Daerah yang dilakukan mencakup (1) Pemberantasan DBD diselenggarakan dengan menggunakan penatalaksanaan kasus secara cepat dan tepat. penyehatan lingkungan. Kota Balikpapan memiliki Yayasan DBD yang ketuanya adalah kasubdin P2M Dinkes dan didanai oleh perusahaahn2 minyak swasta. kewaspadaan dini. (2) mengembangkan dan memperkuat jejaring surveilans epidemiologi dengan fokus pemantauan wilayah setempat. (2) Tim Pokjanal DBD diketuai oleh Walikota. PROVINSI SULAWESI SELATAN Upaya penanggulangan kejadian luar biasa (KLB)/penyakit menular. Strategi yang dilakukan mencakup (1) peningkatkan pencarian kasus dan pemutusan rantai penularan perbaikan manajemen pengobatan serta rujukan. menetapkan rekomendasi cara pencegahan dan penanggulangan. (2) Pelaksanaan Surveilans Epidemiologi.LAPORAN AKHIR sumber dan cara penyebaran. pada dasarnya dilaksanakan berpedoman pada arah kebijakan dan program dari Pemerintah Pusat (Departemen Kesehatan). dan (3) Membangun kerja sama lintas sektor. (6) Pelatihan khusus tentang epidemiologi dan surveillens baru dilakukan 1 kali dalam 5 tahun terakhir. merencanakan penelitian lain yang sistematis. APBD mengalokasikan dana 500 juta untuk peanggulangan KLB dan habis untuk penanggukangan KLB DBD. kerja sama dengan dengan masyarakat dan swasta. pelaksanaan PE.

melakukan pelatihan tatalaksana DBD bagi dokter di rumah sakit pada daerah endemis. penyuluhan intensif melalui media cetak dan elektronik. pemantauan jentik berkala.. (3) Peningkatan Sumber Daya Manusia. gerakan PSN. melalui penemuan dan pelaporan penderita. bulan kewaspadaan DBD. lintas program dan kabupaten/kota terdekat. Surveilans dilaksanakan pada tingkat dinas kesehatan propinsi. pengamatan bebas jentik dilakukan oleh murid-murid sekolah dan telah terbukti cukup efektif untuk dapat direflikasi di daerah lain. PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT Pedoman surveilans dan KLB kurang operasional. Dinkes Propinsi Nusa Tenggara Barat membuat pedoman operasional yang berisi ”step by step” metodologi penanggulangan DBD. pelatihan bagi pengelola program P2 DBD di 23 kab/kota. (2) Penanggulangan KLB menemukan jumah kasus KLB DBD tahun 2005 sebanyak 66 kasus. penanggulangan fokus. pertemuan Kewaspadaan Dini DBD sebanyak 4 kali melibatkan sektor terkait. Implementasi kebijakan penanggulangan DBD di Sulawesi Selatan antara lain (1) Kewaspadaan Dini. (2) Pemberantasan Nyamuk Penular DBD terhdap nyamuk dewasa dan jentik nyamuk. Namun terdapat ”gap” pelaksanaan/penanganan KLB. Dngan demikian Puskesmas sebagai fasilitas yang paling dekat edngan masyarakat tidak dimanfaatkan dengan baik dalam penanggulangan KLB DBD. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 91 . dukungan dana surveilans tertolong oleh adanya subsidi dari Askeskin. dan fooging massal. abatisasi. pemantauan jentik berkala di berbagai kabupaten endemis dengan sasaran masing-masing 100 rumah. dimana peran puskesmas sangat kecil karena dukungan dana dan personil sangat kecil. sedangkan tahun 2004 jumlah KLB DBD sebanyak 88 kasus. menghasilkan penemuan dan pelaporan penderita. melalui penyuluhan. Di kabupaten Lombok Tengah. terutma untuk insentif tenaga kesehatan dan kader. pembinaan di 23 kab/kota.LAPORAN AKHIR Materi yang disusun dalam Protap ini adalah langkah-langkah penanggulangan DBD sebagai berikut: (1) Kewaspadan Dini. (4) Peningkatan SDM. kab/kota dan puskesmas. melalui pelatihan petugas kesehatan. Pada pelaksanaan di Puskesmas. (3) Penanggulangan KLB.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful