LAPORAN Kajian Kebijakan Penanggulangan (Wabah) Penyakit Menular

(Studi Kasus DBD)

Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat

Deputi Bidang SDM dan Kebudayaan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional 2006

LAPORAN AKHIR

KAJIAN KEBIJAKAN PENANGGULANGAN (WABAH) PENYAKIT MENULAR
Studi Kasus DBD

DIREKTORAT KESEHATAN DAN GIZI MASYARAKAT BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL TAHUN 2006

Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular

LAPORAN AKHIR

Ringkasan Eksekutif
Kajian ini dilatarbelakangi adanya kecenderungan terus meningkatnya wabah penyakit menular di berbagai daerah di Indonesia. Selain penyakit menular yang telah lama ada, penyakit menular baru (new emerging diseases) juga menunjukkan peningkatan. Kebijakan penanggulangan wabah penyakit menular telah diatur dalam peraturan perundangan. Namun demikian implementasi di lapangan masih menghadapi berbagai permasalahan. Beberapa permasalahan yang teridentifikasi antara lain berkaitan dengan (1) pelaksanaan surveilans, (2) upaya penanggulangan, serta (3) adanya desentralisasi kewenangan pengelolaan. Berdasarkan hasil penelitian WHO Tahun 2003 dilaporkan bahwa pelaksanaan kegiatan surveilans masih menghadapi kendala antara lain berkaitan dengan (1) kebijakan sistem surveilans yang belum dipahami sampai ke petugas teknis di lapangan, (2) terbatasnya tenaga pelaksana surveilans, (3) adanya ketidaksesuaian kompetensi, (4) terbatasnya dana pelaksanaan surveilans di tingkat operasional, dan (5) belum optimalnya penggunaan sarana kesehatan dalam mendukung pelaksanaan surveilans penyakit seperti pemanfaatan laboratorium dan peralatan. Berdasarkan latar belakang tersebut, tujuan utama kajian adalah menyusun rumusan kebijakan penanggulangan wabah penyakit menular secara terpadu berdasarkan analisis faktor-faktor yang berpengaruh melalui (1) identifikasi kinerja surveilans, (2) identifikasi kinerja penanggulangan wabah penyakit , serta (3) identifikasi peran dan tanggungjawab Pemerintah Daerah. Metode kajian dilakukan melalui analisis diskriptif (kualitatif) berdasarkan data dan informasi yang didapat di lapangan, baik berbentuk data sekunder maupun hasil wawancana mendalam serta melakukan pembahasan dengan nara sumber dalam bentuk focus group discussion (FGD) dan workshop. Landasan pemikiran kajian didasarkan pada asumsi adanya hubungan timbal balik antara rendahnya kinerja surveilans dan kinerja penanggulangan dengan implementasi kebijakan wabah penyakit menular khususnya dalam kasus kebijakan penanganan penyakit DBD. Kinerja surveilans diukur dengan melihat (1) keberadaan peta rawan, (2) pelaksanaan diseminasi informasi DBD, dan (3) Pelaporan serta dengan melihat faktor-faktor berpengaruh mencakup (1) tenaga, (2) data, (3) sarana, (4) dana, dan (5) SOP. Kinerja Penanggulangan diukur dengan melihat (1) Frekuensi KLB, (2) Jumlah Kasus, (3) Jumlah Kematian, (4) Luas Daerah Terserang serta dengan melihat faktor-faktor berpengaruh mencakup (1) tenaga, (2) data, (3) sarana, (4) dana, dan (5) SOP. Implementasi kebijakan wabah penyakit menular juga dipengaruhi kebijakan desentralisasi kewenangan pengelolaan pembangunan. Kajian menyimpulkan bahwa kendala utama yang dihadapi dalam implementasi kebijakan penanggulangan wabah penyakit menular dalam kasus DBD adalah (1) koordinasi antar instansi dan antar unit yang bertanggung jawab dalam penanganan DBD masih belum optimal, khususnya dalam pelaksanaan surveilans dan penanggulangan DBD, (2) koordinasi antara pusat dan daerah belum dilandasi suatu kebijakan operasional yang jelas tentang kewenangan dan tanggung jawab masingmasing, (3) sistem pengelolaan program penanganan penyakit menular masih didominasi pusat, (4) tingginya beban puskesmas sebagai unit operasional utama di lapangan dalam implementasi kebijakan penanggulangan wabah penyakit menular. Indikator Kinerja Surveilans dan Penanggulangan mencakup (1) Peta rawan, hampir semua dinkes propinsi maupun dinkes kab/kota memiliki peta rawan, sedangkan di Puskesmas sebagai unit pelayanan dasar dan rumah sakit sebagai unit pelayanan rujukan, peta rawan tidak selalu tersedia, (2) proses diseminasi informasi dilakukan
Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular ii

Sehingga untuk SKDKLB data yang seharusnya dapat dilihat/diprediksi diawal untuk kewaspadaan terjadinya KLB. beban kerja yang tinggi merupakan masalah yang hampir ditemukan disemua tingkatan. Baik APBD propinsi maupun APBD kabupaten/kota atau APBD sharing. Puskesmas tidak memiliki alokasi dana khusus untuk kegiatan surveilans. (2) pengetahuan. Struktur organisasi Dinkes propinsi maupun Kab/Kota tidak menggambarkan pembedaan kedua tugas tersebut. dan epidemiologi. Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular iii . Pendidikan rata-rata perawat. Hampir semua level baik di propinsi hingga kabupaten/kota termasuk puskesmas dan rumah sakit mengalami masalah ketenagaan dalam kegiatan surveilans dan penanggulangan. (3) sistem pelaporan ditunjukkan dengan kelengkapan laporan mencapai 90-100%. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kinerja surveilans dan penanggulangan terkait dengan (1) tenaga. Operasi lapangan untuk suatu kasus (DBD) serentak dilakukan. baik di tingkat propinsi maupun kabupaten (baru bersifat pengumpulan data). Data. hampir semuanya menggunakan dana APBD. Hampir semua unit pelayanan kesehatan di daerah memiliki pedoman dan peraturan dalam rangka pelaksanaan surveilans dan penanggulangan DBD. Ketepatan dan kelengkapan laporan dari kabupaten masih rendah. belum dilakukan. dan (6) data. Pengadaan insektisida dan mesin fogging di supply oleh Dinkes Propinsi karena kab/kota belum siap.LAPORAN AKHIR melalui penerbitan buletin kajian epidemiologi yang diterbitkan oleh dinkes propinsi dan dinkes kabupaten/kota. Dana operasional selain bersumber dari dana operasional umum juga memanfaatkan dana JPK-MM. Kurangnya jumlah SDM. mengadakan pertemuan/ lokakarya. Pemahaman tentang surveilans dan penanggulangan KLB masih belum sama. namun ketepatannya masih 60%. Tidak ada batas yang tegas yang membedakan antara Surveilans dan Penanggulangan dalam praktek operasional di lapangan. Bidang pendidikan yang ada adalah perawat. Permasalahan dana terutama berkaitan dengan (1) keterlamabatan turunnya DIPA. (3) dana. Tenaga. Data yang ada belum dilakukan analisis. rakor dan melakukan berbagai pelatihan di bidang surveilans maupun penangulangan penyakit. Pengetahuan. SOP. Dana. Kualitas dan kualifikasi masih belum terpenuhi sesuai dengan bidang tugas dan kompetensinya. kualifikasi pendidikan yang belum sesuai. Propinsi belum mempunyai sistem peringatan ke kabupaten bila terjadi keterlambatan atau ketidak lengkapan data. dan (3) proporsi anggaran untuk preventif dan kuratif yang tidak seimbang. (4) SOP. sedangkan data kematian cenderung meningkat. khususnya ketika kasus terjadi. Selain pelatihan formal. perpindahan yang begitu cepat. Upaya yang dilakukan Dinas Kesehatan Propinsi maupun kabupaten/kota dalam rangka peningkatan kemampuan adalah pembinaan teknis. pengetahuan tim pada umumnya dipenuhi dari pengalaman lapangan dalam penanganan P2M. (5) sarana. yang ada hanya pencatatan pelaporan yang dilakukan di bagian rekam medis. (2) ada masa ketiadaan anggaran. Namun demikian kebanyakan SOP tersebut belum operasional. Beberapa dinkes kabupaten/kota inisiatif melakukan modifikasi terhadap SOP yang dibuat Depkes. Sarana utama yang dibutuhkan dalam penanganan kasus DBD adalah adanya mesin fogging serta insektisida. Validitas data yang dilaporkan tidak pernah dipermasalahkan. khusus untuk KLB tersedia block grant dari pusat. tetapi tidak menjadi kendala dalam berjalannya sistem. Untuk tingkat kabupaten/kota. Walaupun kondisi sarana dan prasarana untuk kegiatan penanggulangan penyakit menular tidak selalu memadai. Dana yang digunakan untuk penanggulangan KLB berasal dari APBN (Dekon) dan APBD. Sarana. Di rumah sakit tidak terdapat dana surveilans. Case Fatality Rate (CFR) DBD fluktuatif. Dana menjadi persoalan dalam implementasi kebijakan penanggulangan penyakit menular. (4) Jumlah Kasus periode 2003-2005 cenderung stagnan untuk propinsi lokasi kajian (kecuali Jatim meningkat). dana untuk pelaksanaan penanggulangan wabah penyakit menular dirasakan pihak daerah mencukupi. Sarjana (SKM) dan MKes. Pada tingkat propinsi.

Rekomendasi kajian yang diusulkan mencakup (1) Peningkatan koordinasi antar instansi dan antar unit dalam berbagai tingkatan dalam penanganan wabah penyakit menular yang dilakukan oleh Menko Kesra. hal ini tampak dari keaktifan instansi kesehatan dalam penyebaran informasi kesehatan. surveilans epidemiologi dan penanggulangan KLB/wabah. kecuali kalau ada kasus KLB yang menyebabkan sarana TT tidak mencukupi. (4) Memperkuat kapasitas dan kapabilitas Puskesmas sebagai unit terdepan dalam operasionalisasi surveilans dan penanggulangan wabah penyakit menular. ketiadaan sarana. keterbatasan dana. advokasi. serta pelaporan (evaluasi). belum tertata dalam sebuah sistem yang aktif dan terstruktur. Koordinasi penanganan kasus masih bersifat sporadis. (5) Meningkatkan peran dan tanggung jawab Pemerintah Daerah melalui intensifikasi kegiatan sosialisasi. (3) Mengurangi secara bertahap dominasi peran pengelolaan program oleh pusat melalui pendelegasian kewenangan ke daerah serta peningkatan profesionalisme pengelola program di daerah. PE tidak dilakukan maksimal sesuai prosedur yang ada. sarana dan dana. Pengobatan dan isolasi penderita dirujuk ke rumah sakit. promosi dan koordinasi. Penyelidikan Epidemiologi (PE) yang dilakukan Puskesmas belum maksimal. yang paling menonjol adalah penanggulangan (PE). Hal ini berkaitan dengan masih cukup besarnya alokasi dana yang berasal dari APBN (dalam bentuk DAU. malalui (i) Peningkatan dukungan dana yang memadai dari APBN maupun APBD. Penanggulangan DBD di Rumah sakit relatif tidak masalah. baik pada internal sektor maupun lintas sektor. (2) Aktivitas surveilans dilakukan oleh Tim Lapangan. dan evaluasi kegiatan pencegahan dan penanggulangan faktor resiko. Namun pada saat kasus.LAPORAN AKHIR Kondisi umum Pelaksanaan Surveilans dan Penanggulangan DBD: (1) Ujung tombak pelaksanaan surveilans ada di Puskesmas. jejaring kerja informasi dan konsultasi teknis peningkatan komunikasi informasi dan edukasi (KIE) pencegahan dan pemberantasan penyakit. Permasalahan operasional penanganan DBD juga dipengaruhi oleh sistem kepemerintahan yang belum sepenuhnya dapat mengakomodasi sistem perencanaan dan sistem keuangan yang baru. tidak setiap kasus DBD ditindaklnajuti dengan PE karena DBD dianggap kasus rutin. (iii) Peningkatan kualitas sistem pelaporan melalui ketepatan data. antara lain keterbatasan tenaga. Bupati/Walikota . validasi dan pengembangan “respond system”. (iv) Optimalisasi penggunaan sarana dan prasarana dengan melibatkan peran aktif masyarakat. (8) Membangun dan mengembangkan kemitraan dan jejaring kerja informasi dan konsultasi teknis pencegahan dan penanggulangan faktor resiko. Banyak kendala. (10) Diperlukan dukungan dalam bentuk peraturan perundangan dalam meningkatkan komitmen para pihak di daerah dalam rangkan pencegahan dan penanggulangan DBD. Pengobatan dapat dilakukan dengan baik kecuali kalau ada keterlambatan datang ke sarana pengobatan dan akibat terlambat merujuk. Komitmen daerah dalam penyediaan anggaran (APBD) untuk penanganan wabah penyakit menular belum optimal. sebagai suatu kegiatan rutin. (3) Surveilans mulai diperlukan ketika ada kasus. (9) Membangun dan mengembangkan kemitraan. karena tidak seimbang antar area yang harus dipantau dengan kemampuan sumberdaya yang tersedia. namun belum maksimal melaksanakan surveilans karena keterbatasan tenaga. analisis. akibatnya kegiatan tindak lanjut yang seharusnya dilakukan tidak berjalan. (11) Diperlukan model manajemen pemberantasan penyakit dan penyehatan lingkungan secara terintegrasi yang berbasis wilayah kabupaten/kota dalam perspektif Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular iv . namun belum maksimal. bukan sebaliknya pemerintah daerah yang aktif meminta informasi. (2) Percepatan penyusunan kebijakan operasional dalam koordinasi pelaksanaan program antar pusat daerah yang mencakup aspek perencnaaan. (6) Meningkatkan kemampuan tenaga pengendalian penyakit untuk melakukan pencegahan dan penanggulangan faktor risiko. Keperdulian pemerintah daerah masih belum terlihat. pelaksanaan (monitoring). pemantauan. (ii) Penyempurnaan SOP sesuai “local specific”. dan sistem kewaspadaan dini (early warning system). dekonsentrasi maupun tugas perbantuan). Gubernur. (7) Melakukan bimbingan.

diperlukan revitalisasi peran kelembagaan khususnya kelembagaan Puskesmas. preventif. (5) SOP. perlu terus dikembangkan pola pendanaan sistem jaminan kesehatan seperti askeskin sehingga kepastian dana sampai kepada masyarakat terjamin. Keberadaan data dan informasi yang akurat dan sinambung menjadi salah satu indikator kinerja pembangunan kesehatan. perlu di kelola secara profesional dan berkesinambungan dengan memanfaatkan teknologi yang tepat dan mudah diaplikasikan serta dimungkinkan adanya Pusat Informasi Penanaganan DBD (DBD Center). Serta didukung jaringan dan kerjasama erat baik antar wilayah dan adimistrasi pemerintah maupun diantara para pelaku pemberantasan penyakit menular dan penyehatan lingkungan itu sendiri dalam satu wilayah. promotif dan rehabilitatif) menyertai peran dimaksud secara memadai. dibuat sesederhana mungkin agar memudahkan pelaksanaan operasional tenaga lapangan dan distribusikan. mendorong terbangunnya motivasi dan komitmen para pelaksana pembangunan kesehatan di lapangan sebagai ujung tombak pembangunan kesehatan. selain kuratif. sekaligus menjamin setiap masyarakat terlayani untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Implikasi Kebijakan dan Rencana Tindak Lanjut mencakup aspek-aspek: (1) Kelembagaan.LAPORAN AKHIR komprehensif. (3) Data dan Informasi. dan rehabilitatif. Dukungan pendanaan serta tenaga dan sarana dalam rangka pelaksanaan operasional pencegahan dan penanggulangan (preventif. (2) Pendanaan. (4) Ketenagaan. Motivasi dankomitmen selain muncul atas kesadaran memerlukan dukungan eksternal dalam bentuk insentif. Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular v . Sebagai perangkat utama Kesehatan. Puskesmas perlu diperkuat dengan kapasitas manajemen pelayanan untuk kegiatan yang bersifat promotif.

Ir. Selain penyakit menular yang telah lama ada. baik di di tingkat kebijakan makro (RKP) maupun dalam bentuk kebijakan teknis yang perlu di tindak lanjuti oleh departemen/instansi teknis maupun instansi terkait lainnya. SP. MA 3. Hasil temuan dan kesimpulan dirumuskan menjadi suatu rekomendasi kebijakan yang diharapkan dapat memperbaiki kebijakan dalam penanggulangan wabah penyakit menular. MPA 4. Kasus penyakit menular dalam kajian ini adalah Demam Berdarah Dengue (DBD). Banyak hal telah didapat dari pelaksanaan kajian ini. Pungkas Bahjuri Ali. para nara sumber. Pemerintah Daerah. Desember 2006 Tim Perumus Rekomendasi Kebijakan 1.LAPORAN AKHIR KATA PENGANTAR Dengan memanjat puji dan syukur pada Allah SWT. masyarakat serta FGD dari Bappenas. Namun demikian implementasi di lapangan masih menghadapi berbagai permasalahan. ME 6. Unuk itu saran dan masukan guna penyempurnaan hasil kajian ini secara terbuka dinantikan. Kajian ini dilatarbelakangi adanya kecenderungan terus meningkatnya wabah penyakit menular di berbagai daerah di Indonesia. SKM 8. DR. Tiada gading yang tak retak. Ucapan terima kasih pada seluruh pihak yang telah memberikan kontribusi pada pelaksanaan kajian ini mulai dari tim perumus rekomendasi kebijakan. Mudah-mudahan laporan kajian ini memliki kontribusi substansial bagi penataan kebijakan di bidang kesehatan maupun menjadi salah satu referensi bagi penelitian kebijakan selanjutnya maupun untuk kepentingan bersifat akademis. bappeda serta masyarakat. Sularsono. MPM 5. Inti Wikanestri. Jakarta. DR. Yosi Diani Tresna. penyakit menular baru (new emerging diseases) juga menunjukkan peningkatan. SH. Dadang Rizki Ratman. Hadiat. Hasil kajian ini jelas belum menggambarkan kondisi utuh pelaksanaan kabijakan sehingga langkah kebijakan yang diambil pun tidak luput dari bias dari peneliti dan pengkaji. Perguruan Tinggi. Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat serta seluruh staf di lingkungan Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas serta melibatkan nara sumber dari Departemen Kesehatan. khususnya kasus Demam Berdarah dengue (DBD). khususnya Subdit Arbovirosis. Nurlaili Aprilianti Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular vi . MS 7. SKM. Pelaksanaan kajian telah melibatkan Deputi bidang SDM dan Kebudayaan Bappenas. khususnya dalam penanganan kasus demam berdarah. Kebijakan penanggulangan wabah penyakit menular telah diatur dalam peraturan perundangan. Dinas Teknis terkait. dibuat implikasi kebijakan yang harus menjadi langkah tindak lanjut. anggota FGD. STP. MPH 2. serta responden di dinas kesehatan propinsi dan dinas kesehatan kabupaten/kota. tidak saja dalam bentuk temuan tetapi juga pengalaman proses pelaksanaan survey lapangan yang dilakukan sampai ke tingkat Puskesmas dan pelosok masyarakat untuk melakukan wawancara dan diskusi. akhirnya Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Selanjutnya berdasarkan rekomendasi yang dirumuskan. Arum Atmawikarta.

2.2 Kebijakan Penanggulangan Penyakit DBD – 35 4.1 Incidence Rate (IR) dan Case Fatalities Rata (CFR) – 33 4.1.3 Kendala Penanggulangan DBD – 41 Kinerja Surveilans dan Penanggulangan DBD – 41 4.3 1.6 Latar Belakang .8 2.8 2.2 2.5 1.Tatalaksana Penanggulangan DBD – 23 .5 3.9 Penyakit Menular di Indonesia – 8 Surveilans Epidemiologi – 8 Kebijakan Sistem Surveilans – 10 Indikator Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan – 11 Penanggulangan Wabah Penyakit Menular – 14 Epidemiologi Global Penyakit – 16 Strategi Pengendalian Penyakit – 18 Kejadian Luar Biasa – 18 Penyakit Demam Berdarah – 20 .2 Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular .6 BAB 2 : LANDASAN TEORI .Peran Masyarakat dalam Penanggulangan DBD .1 Perumusan Masalah .1.3 3.33 4.1 1.6 Kerangka Pemikiran – 27 Disain Kajian .46 (2) Dana – 51 (3) Standar Operasi dan Prosedur – 53 (4) Data – 56 (5) Sarana – 57 vii 4.i Kata Pengantar .1 1.29 Jenis dan Sumber Data – 30 Responden Kajian – 31 Lokasi Kajian – 32 Teknik Analisis – 32 BAB 4 : HASIL DAN PEMBAHASAN .1 Indikator Kinerja Surveilans dan Penanggulangan KLB – 42 4.2.5 Tujuan dan Sasaran – 5 Keluaran Kajian .2 1.4 1.5 2.3 2.Kendala Pencegahan DBD – 21 .1.2 Faktor-faktor Berpengaruh terhadap Kinerja Surveilans dan Kinerja Penangulangan KLB – 46 (1) Tenaga .7 2.vi BAB 1 : PENDAHULUAN .1 3.4 3.27 3.6 Ruang Lingkup Kajian .1 2.4 2.LAPORAN AKHIR DAFTAR ISI Ringkasan Eksekutif .2 3.6 Sistematika Penulisan .25 BAB 3 : METODOLOGI .1 Implementasi Kebijakan Penanggulangan DBD – 33 4.6 2.

3.1 Kesimpulan – 65 5.3 Koordinasi Antar Sektor – 63 BAB 5 : KESIMPULAN DAN REKOMENDASI KEBIJAKAN .65 5.LAPORAN AKHIR 4.68 DAFTAR PUSTAKA .1 Kewenangan Daerah dan Stndar Pelayanan Minumum – 59 4.3.70 DAFTAR LAMPIRAN LAMPIRAN 1: Instrumen Kajian – 72 LAMPIRAN 2: Pelaksanaan Kegiatan dan Pembahasan – 76 LAMPIRAN 3 : Struktur Organisasi/Tim Pelaksana LAMPIRAN 4: Notulen Pembahsan Dengan Tim Pakar – 81 LAMPIRAN 5 : Pokok-Pokok Pikiran Hasil Ekspose dengan Tim Ahli – 83 LAMPIRAN 6 : Laporan Pelaksanaan Survey – 86 Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular viii .3 Implikasi Kebijakan .3.3 Peran dan Tanngung Jawab Pememrintah Daerah dalam Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit DBD – 59 4.2 Peran Pemerintah Daerah Dalam Penanggulangan DBD – 61 4.2 Rekomendasi Kebijakan – 68 5.

1 Tabel 4.11 Tabel 4. RS dan Puskesmas – 44 : Distribusi Jenis Tenaga di Dinkes Propinsi dan Kab/Kota – 47 : Distribusi Jenis Tenaga di Rumah Sakit dan Puskesmas – 48 : Persepsi Responden Tentang Surveilans DBD – 49 : Persepsi Responden Tentang Penanggulangan DBD – 50 : Distribusi Sumber Dana di Dinkes Propinsi dan Kab/Kota – 51 : Distribusi Sumber Dana di Rumah Sakit dan Puskesmas – 52 : Distribusi Ketersediaan SOP Surveilans dan Dinkes Propinsi. Kab/Kota. RS dan Puskesmas – 56 : Distribusi Ketersediaan Data Penanggulangan KLB Propinsi. Dikes Kab/Kota.1 Tabel 3. RS dan Puskesmas – 55 : Distribusi Ketersediaan Data Surveilans di Dinkes Propinsi. Rs dan Puseksmas – 42 : Distribusi Indikator Diseminasi Informasi Surveilans di Dinkes Propinsi.1 Tabel 1.10 Tabel 4.4 : Indikator Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan – 12 : Responden Kajian – 31 : Distribusi Indikator Kinerja Surveilans di Dinkes Propinsi. Kab/Kota. Dinkes Kab/Kota. RS dan Puskesmas – 58 : Daftar KW dan SPM Bidang Kesehatan – 60 Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular ix .12 Tabel 4. Kab/Kota .7 Tabel 4. RS dan Puskesmas – 58 : Distribusi Ketersediaan Sarana Penanggulangan di Dinkes Propinsi.8 Tabel 4.4 Tabel 4.9 Tabel 4.1 Tabel 4.3 Tabel 4.LAPORAN AKHIR DAFTAR TABEL Tabel 1. Dnkes Kab/Kota. Kab/kota.14 Tabel 4. Kab/Kota .13 Tabel 4. RS dan Puskesmas – 54 : Distribusi Ketersediaan SOP Penanggulangan KLB di Propinsi.15 : Sepuluh Penyakit Utama Pada Pasien Rawat Inap Tahun 2003 – 2 : Target dan Capaian Pemberantasan Penyakit DBD .2 Tabel 2.2 Tabel 4.6 Tabel 4. RS dan Puskesmas – 57 : Distribusi Ketersediaan Sarana Surveilans di Dinkes Propinsi.5 Tabel 4.

6 Gambar 4.1 Gambar 2.4 Gambar 4.4 Gambar 4.2 Gambar 2.1 Gambar 3.2 Gambar 4.3 Gambar 4.3 Gambar 3.3 Gambar 3.5 Gambar 4.7 : Alusr Distribusi Data Surveilans Terpadu Penyakit – 10 : Skema Program Penanggulangan KLB – 15 : Bagan Penanggulangan Fokus (Penanggulangan Penderita DBD di Lapangan) – 24 : Kerangka Pikir Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular – 27 :Kerangka Konsep Kinerja Surveilans – 28 : kerangka Konsep Kinerja Penanggulangan – 28 : Tahapan Pelaksanan Kajian – 32 : IR & CFR DBD Tahun 1968-2004 – 33 : Perkembangan Kasus DBD Nasional Per bulan – 34 : Kasus DBD Per Bulan di Indonesia.2 Gambar 3.1 Gambar 4.LAPORAN AKHIR DAFTAR GAMBAR Gambar 2. Tahuan 2005-20006 – 34 : Jumlah Kasus DBD di Indonesia Tahun 2005-2006 – 35 : Data Kasus DBD di Lokasi Kajian – 44 : Data Kematian DBD di Lokasi Kajian – 45 : Case Fatality Rate (CFR) DBD di Lokasi Kajian – 46 Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular x .

Menutup. Pemeriksaan Jentik Berkala PKK : Pembinaan Kesejahteraan Kelaurga PKPS-BBM : Program Kompensasi Pengurangan Subsidi Bahan Bakar Minyak Pokjanal : Kelompok Kerja Operasional Posyandu : Pos Pelayanan Terpadu PP & PL : Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan PSN : Pemberantasan Sarang Nyamuk Puskesmas : Pusat Kesehatan Masyarakat RSUD : Rumah Sakit Umum Daerah SARS : Severe Acute Respiratory Syndrome SKD-KLB : Sistem Kesiapan Dini Kejadian Luar Biasa SOP : Standar Operasional Prosedur SDM : Sumber Daya Manusia SKM : Sarjana Kesehatan Masyarakat Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular xi . Informasi dan Edukasi KLB : Kejadian Luar Biasa LSM : Lembaga Swadaya Masyarakat MDGs : Millennium Development Goals P2B2 : Penanggulangan Penyakit Bersumber Binatang P2M : Pemberantasan Penyakit Menular PE : Penyelidikan Epidemiologi PHBS : Pola Hidup Bersih dan Sehat PI : Perencanaan dan Informasi PJB .LAPORAN AKHIR DAFTAR SINGKATAN & DEFINISI ISTILAH 3M : Menguras. Mengubur ABJ : Angka Bebas Jentik APBN : Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara APBD : Anggaran Penerimaan dan Belanja Daerah Askeskin : Asuransi Kesehatan Masyarakat Miskin Bappeda : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Bappenas : Badan Perencanaan Pembangunan Nasional COMBI : Communication for Behavioral Impact CFR : Case Fatality Rate DAU : Dana Alokasi Umum DBD : Demam Berdarah Dengue Dekon : Dekonsentrasi DOP : Dana Operasional Puskesmas DPRD : Dewan Perwakilan Daerah Epidemiologi : Ilmu yang mempeljari penyebaran penyakit dan faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit pada manusia Epidemiologis: Orang yang ahli dalam ilmu epidemiologi FGD : Focused Group Discussion Gakin : Keluarga Miskin HIV/AIDS : Human Immuno deficiency Virus/Acquired Immuno Deficiency Syndrome IPTEK : Ilmu Pengetahuan dan Teknologi IR : Incidence Rate ISPA : Infeksi Saluran Pernafasan Akut JPK-MM : Jaminan Pelayanan Kesehatan Masyarakat miskin KIE : Komunikasi.

emnganalisis. mengumpulkan.LAPORAN AKHIR SPIRS SP2PT SST STP Surveilans TBC TPA UGD UKS UPT Wabah WHO Yanmedik : Sistem Pelaporan Rumah Sakit : Sistem Pencatatan Pelaporan Terpadu Puskesmas : Sistem Surveilans Terpadu : : Rangkaian kegiatan secara teratur dan terus menerus. yang melebihi keadaan biasanya : World Health Organization : Pelayanan Medik Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular xii . secara aktif maupun pasif dalam mengamati. dan menginterpretasi suatu fenomena peristiwa kesehatan pada manusia/masyarakat tertentu yang hasilnya dipakai untuk melakukan tindakan terhadap peristiwa kesehatan tersebut : Tuberculosis : Tempat Penampungan Air : Unit Gawat Darurat : Usaha Kesehatan Sekolah : Unit Pelaksanan Teknis : Suatu peningkatan kejadian kesakitan dan atau kematian suatu penyakit di suatu tempat tertentu.

Angka kematian bayi menurun dari 46 (1997) menjadi 35 per 1. (5) menekan penyebaran penyakit malaria dan TBC. oleh karena itu secara operasional masalah-masalah kesehatan tidak dapat diselesaikan oleh Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular .000 kelahiran hidup (2002–2003) dan angka kematian ibu melahirkan menurun dari 334 (1997) menjadi 307 per 100. kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Jika dibandingkan dengan negara-negara ASEAN seperti Thailand.BAB 1 PENDAHULUAN 1.000 kelahiran hidup (2002-2003). dan antar perkotaan-perdesaan. telah menurun dari 34. status kesehatan masyarakat Indonesia masih tertinggal. sebagai “benchmarks” untuk mengukur perkembangan dalam pencapaian Deklarasi Millenium 2000.1 Latar Belakang a.8 tahun (1999) menjadi 66. antar kawasan. serta pada penduduk dengan tingkat ekonomi dan pendidikan rendah. kematian ibu melahirkan dan prevalensi gizi kurang. Prevalensi gizi kurang (underweight) pada anak balita. Disparitas status kesehatan masih cukup tinggi. (3) mengurangi tiga per empat angka kematian ibu. baik ditinjau dari tingkat sosial ekonomi. di masa datang pembangunan kesehatan menghadapi berbagai permasalahan dan tantangan yang cukup berat. yang ditandai dengan penduduknya yang hidup dengan perilaku dan dalam lingkungan sehat.8 persen (2002). MDGs merupakan suatu kesepakatan global. kemauan. dan Philipina. di kawasan timur Indonesia.4 persen (1999) menjadi 25. yang berkaitan dengan pembangunan kesehatan di Indonesia antara lain adalah: (1) mengurangi separuh penduduk yang mengalami kelaparan. Selain itu. Malaysia. (6) meningkatkan akses terhadap obat esensial. (4) menekan penyebaran penyakit HIV/AIDS. indikator kesehatan dan gizi yang telah dicapai selama ini masih jauh dari sasaran yang telah ditargetkan dalam Millennium Development Goals (MDGs). Umur harapan hidup meningkat dari 65.2 tahun (2003). Beberapa target MDG yang ingin dicapai pada akhir tahun 2015. memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata. Pembangunan kesehatan selama ini secara umum dapat dilihat dari status kesehatan dan gizi masyarakat yang telah menunjukkan perbaikan seperti terlihat dari angka kematian bayi. Kondisi Umum Pembangunan Kesehatan Pembangunan kesehatan di Indonesia ditujukan untuk meningkatkan kesadaran. Di samping kemajuan yang telah dicapai di atas. AKB dan AKI lebih tinggi di daerah perdesaan. dan (7) mengurangi separuh proporsi penduduk yang tidak memiliki akses terhadap penyediaan air bersih. (2) mengurangi dua per tiga angka kematian bayi dan angka kematian balita. Masalah kesehatan dapat disebabkan oleh berbagai sebab.

Untuk itu perlu dikembangkan subsistem surveilans epidemiologi kesehatan yang terdiri dari Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular. Penyakit ini hanya bisa dicegah dengan imunisasi. Satu dari 200 kasus infeksi virus akan menyebabkan kelumpuhan.6 Salah satu penyakit menular yang akhir-akhir ini menonjol adalah munculnya kasus polio di beberapa wilayah seperti Provinsi Jawa Barat.1 Sepuluh Penyakit Utama Pada Pasien Rawat Inap Tahun 2003 No Pasien Rawat inap % 1 Diare dan gastroenteritis infeksi tertentu 8.8 10 Pneumonia 1. Dengan demikian penularan penyakit antar negara (trans-nasional) ini dapat terjadi dengan mudah mengingat semakin mudahnya transportasi manusia. sehingga pemberantasan penyakit menular memerlukan kerjasama antar daerah. malaria.LAPORAN AKHIR sektor kesehatan sendiri.7 3 Penyakit kehamilan dan persalinan lainnya 2. influenza. disamping mulai meningkatnya masalah penyakit tidak menular. tifus abdominalis. Surveilans Epidemiologi Masalah Kesehatan. Beberapa penyakit menular yang menjadi masalah utama di Indonesia adalah diare. Banten. Tabel 1. hewan dan lain-lain antar Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 2 . Penyakit menular tidak mengenal batas-batas daerah administratif. Berbagai emerging diseases misalnya polio dan flu burung dapat terjadi antara lain karena tingginya mobilitas penduduk antar negara.7 5 Cedera intrakanial 2. Diperlukan tatalaksana terintegrasi dan komprehensif dengan kerjasama yang harmonis antar sektor dan antar program. b.9 9 Cedera YDT lainnya. Jawa Tengah. YYT dan daerah badan multiple 1. Penyakit Menular Penyakit menular masih merupakan masalah utama kesehatan masyarakat Indonesia. Polio merupakan penyakit menular yang sangat berbahaya disebabkan oleh virus yang menyerang sistem syaraf dan bisa menyebabkan kelumpuhan total.0 2 Demam berdarah dengue 3. kabupaten/kota bahkan antar negara. 5-10 % pasien meninggal akibat kelumpuhan pada otot pernafasan. penyakit saluran pencernaan dan penyakit lainnya.9 4 Demam tifoid dan paratifoid 2.9 8 Diabetes Melietus 1. dan Surveilans Epidemiologi Kesehatan Matra. Tidak ada obat untuk penyakit polio. misalnya antar propinsi. Lampung dan Sumatera Selatan. Surveilans Epidemiologi Penyakit Tidak Menular.9 7 Demam yang sebabnya tidak tahu 1. demam berdarah dengue.0 6 Tuberkulosis paru 1.

Kebijakan penanggulangan penyakit menular khususnya dalam penanggulangan wabah telah diatur dalam bentuk peraturan perundangan. Sejak Januari sampai 17 Maret 2004. Thailand (0. Severe Acute Respiratory Syndrom (SARS) dan Flu Burung.3 persen). Berbagai penelitian mengenai faktor risiko terhadap kejadian DBD telah dilakukan oleh beberapa peneliti dengan memberikan hasil yang selaras maupun yang kontradiktif. Penyakit yang ditularkan melalui nyamuk Aedes aegypti ini dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti lingkungan domestik maupun iklim. Namun demikian. dan berulang kali menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) disertai kematian yang banyak. (2) upaya penanggulangan. yaitu UU No 4 Tahun 1984 tentang Penyakit Menular serta Peraturan Pemerintah No. dengan keterlibatan petugas kesehatan maupun pemberdayaan masyarakat. DBD masih sulit diberantas karena tidak tersedianya vaksin dan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 3 . Malaysia (0. Vietnam (0. diare.LAPORAN AKHIR negara. (4) pengelolaan bahan-bahan yang mengandung penyebab penyakit.000 penduduk. sebenarnya angka kematian masih terlalu tinggi jika dibandingkan dengan Singapura (0. serta diabetes mellitus dan kanker.000 penduduk pada tahun 2010. sosial ekonomi dan perilaku. pada umumnya kajian menunjukkan bahwa pengendalian DBD perlu dilakukan secara komprehensif dari berbagai aspek baik medis maupun sosial. demografi. serta (7) pelaporan. padahal tujuan program pemberantasan DBD dalam Indonesia Sehat 2010 adalah menurunkan angka kejadian di bawah 5 per 100. India (0.9 persen). polio dan penyakit kulit.3 persen. Walaupun demikian. 40 tahun 1991 tentang Penanggulangan Penyakit Menular. Indonesia juga menghadapi emerging diseases seperti demam berdarah dengue (DBD). kejadian luar biasa (KLB) DBD di Indonesia telah menyerang 39. Meskipun dibandingkan dengan KLB 1968 angka kematiannya jauh telah menurun. (6) pembiayaan penanggulangan wabah. chikunguya.1 persen). (3) peran serta masyarakat. Daerah endemis tersebar di sebagian besar wilayah Indonesia. Meskipun sudah lebih dari 35 tahun berada di Indonesia.938 orang dengan angka kematian 1. Oleh karena itu perlu upaya ekstra agar penularan dapat dicegah dan ditangani sedini mungkin. Penyakit DBD merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di wilayah tropis. DBD bukannya terkendali. Dalam KLB 2004 tercatat angka kejadian (incidence rate) 15 per 100. Peraturan tersebut pada intinya mengatur (1) tata cara penetapan dan pencabutan penetapan daerah wabah .3 persen). dan Filipina (1 persen).2 persen). Salah satu penyakit menular yang merupakan masalah kesehatan masyarakat dan menimbulkan dampak sosial maupun ekonomi adalah penyakit demam berdarah dengue (DBD). Dengan demikian telah terjadi transisi epidemiologi sehingga Indonesia menghadapi beban ganda pada waktu yang bersamaan (double burden). Pola penyakit yang diderita oleh masyarakat sebagian besar adalah penyakit infeksi menular seperti tuberkulosis paru. pada waktu yang bersamaan terjadi peningkatan penyakit tidak menular seperti penyakit jantung dan pembuluh darah. (5) ganti rugi dan penghargaan. infeksi saluran pernafasan akut (ISPA). HIV/AIDS. tetapi bahkan semakin mewabah. malaria.

000 penduduk selama periode tahun 2001-2005 selalu menunjukkan diatas rasio yang ditargetkan. saat ini perkembangan vaksin masih memerlukan penelitian lebih lanjut agar dapat digunakan ke manusia. (2) upaya penanggulangan. menutup.5 24. Kendala yang dihadapi antara lain berkaitan dengan (1) kebijakan sistem surveilans yang belum dipahami sampai ke petugas teknis di lapangan. Gerakan pemberantasan sarang nyamuk dengan instrumen 3M (menguras.2 Target dan Capaian Pemberantasan Penyakit DBD TARGET DAN CAPAIAN PEMBERANTASAN DBD 60 RASIO 40 20 0 Target Realisasi 2001 5. Ketiadaan vaksin merupakan penghambat utama eradikasi DBD. Data ini selain menunjukkan kecenderungan makin tingginya penderita DBD dari tahun ke tahun. entomologi. Meskipun demikian.34 TAHUN 2004 4 37. pengetahuan. dan sikap masyarakat. Namun demikian implementasi di lapangan masih menghadapi berbagai permasalahan. juga masih belum optimalnya pengendalian penyakit yang dilakukan oleh Pemerintah. (2) terbatasnya tenaga pelaksana Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 4 . Berdasarkan data Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan. Pemerintah sejak tahun 1993 telah berusaha membina peran serta masyarakat melalui berbagai kelompok kerja pemberantasan DBD di desa atau kelurahan.31 Sumber: Ditjen PP & PL Depkes.7 21.LAPORAN AKHIR kurangnya peran serta masyarakat.25 2003 4. Beberapa permasalahan yang teridentifikasi antara lain berkaitan dengan (1) pelaksanaan surveilans. serta (3) adanya desentralisasi kewenangan pengelolaan. Gerakan 3M selama 30 menit setiap minggu juga dicanangkan.1 2005 10 43. rasio penderita DBD per 100. Tabel 1. Semuanya menyadari bahwa strategi hanya dapat diperoleh dengan melaksanakan analisis situasi berdasarkan aspek epidemiologi.66 2002 5 19. dan mengubur) sudah sering disosialisasikan namun hasilnya belum menggembirakan. 2006 Kebijakan penanggulangan penyakit menular telah diatur dalam peraturan perundangan. Berdasarkan hasil penelitian WHO Tahun 2003 dilaporkan bahwa pelaksanaan kegiatan surveilans masih menghadapi kendala.

mencakup aspek tenaga. Tujuan khusus : 1. Permasalahan yang dihadapi dalam penanggulangan wabah terutama berkaitan dengan aspek manajemen menyangkut kesiapan tenaga lapangan. sarana. kemampuan SDM dan sumber dana daerah. Faktor-faktor apa saja yang mwempengaruhi kinerja surveilans dan penaggulangan penyakit menular ? 2. Berkaitan dengan desentralisasi kewenangan pengelolaan kebijakan pembangunan (otonomi daerah). dukungan logistik. dana. Bagaimana peran dan tanggungjawab (kewenangan) pemerintah daerah dalam penanggulangan penyakit menular ? 1.LAPORAN AKHIR surveilans. Identifikasi peran dan tanggungjawab Pemerintah Daerah dalam penanggulangan penyakit menular Sasaran Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 5 . dana serta sistem pelaporan. Adanya otonomi daerah ini juga berpengaruh terhadap peran dan tanggung jawab Kabupaten/Kota/Propinsi untuk mengembangkan diri sesuai masalah kesehatan masyarakat. 1. dan (5) belum optimalnya penggunaan sarana kesehatan dalam mendukung pelaksanaan surveilans penyakit seperti pemanfaatan laboratorium dan peralatan. Identifikasi kinerja penanggulangan penyakit menular serta faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja penanggulangan penyakit menular 3. Identifikasi kinerja surveilans serta faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja surveilans penyakit menular 2. adanya regulasi pemerintahan dalam bentuk UU No. (3) adanya ketidaksesuaian kompetensi. Langkah-langkah apa yang diperlukan untuk penanggulangan penyakit menular. fasilitas pendukung. 32 dan 33 Tahun 2005 telah memberikan pembagian kewenangan dalam pengelolaan pemerintahan di daerah. beberapa pertanyaan penelitian yang melandasi kajian ini antara lain adalah : 1. (4) terbatasnya dana pelaksanaan surveilans di tingkat operasional. SOP dan data ? 3. 22 dan 25 tahun 1999 yang kemudian direvisi dengan UU No. Reformasi pemerintahan tersebut memberi dampak perubahan cukup signifikan terhadap peran pemerintah dan swasta dalam program dan pelayanan kesehatan.3 Tujuan dan Sasaran Tujuan Tujuan utama kajian adalah menyusun rumusan kebijakan penanggulangan penyakit menular secara terpadu berdasarkan analisis faktor-faktor yang berpengaruh dalam pelaksanaan kebijakan penanggulangan penyakit menular di pusat dan daerah.2 Perumusan Masalah Berdasarkan permasalahan di atas.

serta tanggung jawab dan kewenangan antara pusat dan daerah. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 6 . tujuan dan sasaran kajian. Bab III membahas tentang metodologi yang digunakan berkaitan dengan kerangka pemikiran. 1. disain kajian. 1. Bab II membahas tentang landasan teori mencakup pengertian dan hasil kajian yang sudah dilakukan. dan (2) pelaksanaan diseminasi informasi 2. 3. sarana.LAPORAN AKHIR Tersusunnya rumusan kebijakan upaya penanggulangan penyakit menular secara terpadu melalui optimalisasi sumberdaya yang tersedia sekaligus sebagai acuan bagi pelaksanaan program penanggulangan penyakit menular di pusat dan daerah.5 Ruang Lingkup Kajian ini difokuskan pada evaluasi kebijakan penanggulangan penyakit menular yang telah dilakukan selama ini. jumlah kematian dan luas daerah terserang 4. dan pengumpulan data serta metode analisis. Identifikasi kinerja penanggulangan KLB DBD yang mencakup frekuensi KLB.4 Keluaran Keluaran kajian adalah rumusan kebijakan penanggulangan penyakit menular yang mencakup aspek surveilans. sarana dan SOP 5. keluaran serta ruang lingkup kajian. dana. Lingkup kegiatan yang akan dilakukan dalam kajian ini antara lain. dan SOP. dana. Identifikasi faktor berpengaruh terhadap kinerja surveilans mencakup kondisi tenaga.6 Sistematika Penulisan Penulisan laporan dibuat dengan sistematika sebagai berikut: Bab I membahas tentang latar belakang. Identifikasi peran dan tanggung jawab daerah dalam penanganan penyakit menular khususnya pada kasus DBD. jenis. adalah : 1. Identifikasi faktor berpengaruh terhadap kinerja penanggulangan KLB DBD mencakup tenaga. jumlah kasus. Identifikasi kinerja surveilans yang mencakup (1) ketersediaan peta rawan KLB DBD. 1. data. sumber. data. penanganan wabah.

mencakup tenaga. data. mencakup Gambaran Umum Penanggulangan DBD. Kinerja Surveilans dan Penanggulangan DBD. Faktor-faktor Berpengaruh terhadap Kinerja Surveilans dan Penanggulangan KLB. Bab V Kesimpulan dan Rekomendasi Kebijakan. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 7 . Indikator kinerja surveilans dan penanggulangan KLB. dana. sarana dan SOP.LAPORAN AKHIR Bab IV Hasil dan Pembahasan.

Indonesia sebagai wilayah tropik dan wilayah dinamik secara sosial ekonomi. penyakit saluran pencernaan dan penyakit lainnya. 2. Pengertian Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 8 . disamping mulai meningkatnya masalah penyakit tidak menular.LAPORAN AKHIR BAB 2 LANDASAN TEORI 2. HIV/AIDS (pertama kali di Denpasar 1987) kini merambah ke Indonesia. Beberapa penyakit infeksi baru (ketika itu) dan kini endemik adalah demam berdarah dengue (pertama kali tahun 1968 di Surabaya). virus hantaan (1977) dijumpai pada tikus diberbagai pelabuhan. yakni apa yang dikenal sebagai Sistem Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan. tifus abdominalis. merupakan kawasan endemik berbagai penyakit menular. malaria. kini diberbagai kota pelabuhan. Penyakit menular tidak mengenal batas-batas daerah administratif. Beberapa penyakit menular yang menjadi masalah utama di Indonesia adalah diare. Manajemen pemberantasan dan pengendalian penyakit menular juga memiliki dua perspektif: a.1 Penyakit Menular di Indonesia Penyakit menular masih merupakan masalah utama kesehatan masyarakat Indonesia. yakni menghilangkan sumber penyakit dengan cara menemukan dan mencari kasus secara proaktif. Epidemiologi lokal yang intinya dinamika tranmisi penyakit tertentu pada wilayah tertentu. Sekaligus merupakan kawasan yang berpotensi tinggi untuk hadirnya penyakit infeksi baru. Intervensi faktor resiko. Semua institusi pelayanan seperti kuratif penyakit menular maupun pelayanan kesehatan masyarakat. partner nonkesehatan. Epidemiologi global yakni perjalan penyakit antar benua. misalnya antar propinsi. Masing-masing penyakit memiliki peta endemisitas tersendiri.2 Surveilans Epidemiologi Selama ini pengertian konsep surveilans epidemiologi sering dipahami hanya sebagai kegiatan pengumpulan data dan penanggulangan KLB. misalnya lingkungan dan intervensi terhadap perilaku. Kabupaten/kota bahkan antar negara. kemudian melakukan pengobatan hingga sembuh. b. bergabung menjadi satu sistem. Penyakit lain merupakan penyakit infeksi endemik dan sudah lama di Indonesia dan endemik di berbagai kabupaten (daerah pegunungan maupun pantai) yaitu TBC dan Malaria. orgfanisasi nonpemerintah. pemerintah. sehingga pemberantasan penyakit menular memerlukan kerjasama antar daerah. Tiap tahun diselenggarakan pertemuan nasional semacam konvensi untuk melakukan monitoring kemajuan program serta perkuatan dari networking. Strategi pengendalian penyakit menular secara umum pada dasarnya sama. demam berdarah dengue. swasta. influenza.

Oleh karena itu perlu dikembangkan suatu definisi surveilans epidemiologi yang lebih mengedepankan analisis atau kajian epidemiologi serta pemanfaatan informasi epidemiologi. kajian. Jejaring surveilans dalam distribusi informasi kepada program terkait pusatpusat penelitian. tanpa melupakan pentingnya kegiatan pengumpulan dan pengolahan data. pusat-pusat kajian. sumber-sumber data. Dinas Kesehatan Kab/Kota. sehingga membutuhkan dukungan perencanaan. pengendalian dan evaluasi serta dukungan sumberdaya yang memadai sebagai suatu program surveilans terpadu. Rumah Sakit. Jejaring surveilans dalam pengiriman data dan informasi serta peningkatan kemampuan manajemen surveilans epidemiologi antara Puskesmas. Jejaring surveilans dalam pertukaran data. unit surveilans Dinas Kesehatan Propinsi dan Unit Surveilans Ditjen PPM & PL Depkes. Sistem surveilans epidemiologi merupakan tatanan prosedur penyelenggaraan surveilans epidemiologi yang terintehrasi antara unit-unit penyelenggara surveilans dengan laboratorium. Jejaring Surveilans Jejaring surveilans digunakan dalam Surveilans terpadu penyakit adalah a. Menurut WHO. Dinas Kesehatan Propinsi dan Ditjen PPM & PL Depkes termasuk Puskesmas Sentinel dan Rumah Sakit Sentinel c. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 9 .LAPORAN AKHIR seperti itu menyembunyikan makna analisis dan penyebaran informasi epidemiologi sebagai bagian yang sangat penting dari proses kegiatan surveilans epidemiologi. Rumah Sakit. pelaksanaan. termasuk Puskesmas dan Rumah Sakit Sentinel. b. Dalam sistem ini yang dimaksud dengan surveilans epidemiologi adalah kegiatan analisis secara sistematis dan terus menerus terhadap penyakit atau masalah-masalah kesehatan dan kondisi yang mempengaruhi terjadinya peningkatan dan penularan penyakit atau masalah-masalah kesehatan tersebut agar dapat melakukan tindakan penanggulangan secara efektif dan efesien melalui proses pengumpulan data. surveilans adalah proses pengumpulan. pusat penelitian. upaya peningkatan kemampuan sumberdaya antara unit surveilans Dinas Kesehatan Kab/Kota. unit surveilans di Dinas Kesehatan Propinsi dan unit surveilans di Ditjen PPM & PL Depkes. Propinsi dan Pusat. Surveilans Terpadu Penyakit merupakan proses kegiatan yang dilakukan secara terus menerus dan sistematis. unit surveilans di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. meliputi tata hubungan surveilans epidemiologi antar wilayah Kabupaten/Kota. Laboratorium. pengolahan dan penyebaran informasi epidemiologi kepada penyelenggara program kesehatan. Alur distribusi data dan umpan balik dalam dilihat dalam skema di bawah. unit surveilans program pada masingmasing Puskesmas. analisis dan interpretasi data secara sistematik dan terus menerus serta penyebaran informasi kepada unit yang membutuhkan untuk mengambil tindakan. pusat kajian dan penyelenggara program kesehatan. pengolahan.

3 Kebijakan Sistem Surveilans Surveilans Epidemiologi merupakan kegiatan yang sangat penting dalam manajemen kesehatan untuk memberikan dukungan data dan informasi epidemiologi agar pengelolaan program kesehatan dapat berdaya guna secara optimal. penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit dan keracunan. cepat. Informasi epidemiologi yang berkualitas.1 Alur Distribusi Data Surveilans Terpadu Penyakit 2. akurat merupakan evidance atau bukti untuk digunakan dalam proses pengambilan kebijakan yang tepat dalam pembangunan kesehatan. Untuk melakukan upaya pemberantasan penyakit menular.LAPORAN AKHIR Unit Surveilans Ditjen PPM & PL Depkes Unit Surveilans Dinas Kesehatan Propinsi Unit Surveilans Dinas Kesehatan Kab/Kota Unit Surveilans Puskesmas Unit Surveilans Rumah Sakit Unit Surveilans Laboratorium Gambar 2. serta penanggulangan penyakit tidak menular diperlukan suatu sistem surveilans penyakit yang mampu memberikan dukungan upaya program dalam daerah kerja Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 10 .

7. 3. tatacara penyampaian laporannya dan tacara penanggulangan seperlunya. proses dan keluaran.LAPORAN AKHIR Kabupaten/Kota. 2. 4 tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular. Indikator-indikator tersebuat adalah sebagai berikut: Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 11 . Peraturan Pemerintah No. 2. 560 tahun 1989 tentang Jenis Penyakit yang dapat menimbulkan wabah. Surat Keputusan Menteri Kesehatan No. 40 tahun 1991 tentang Penanggulangan Penyakit Menular. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom. dan Keputusan Menteri Kesehatan No. yang telah mengalami beberapa kali perubahan dan perbaikan. Pada tahun 1987 telah dikembangkan Sistem Surveilans Terpadu (SST) berbasis data. Surat Keputusan Menteri Kesehatan No. Undang-Undang No. 6. Sistem Pencatatan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP). 5. Propinsi. dimana kelemahan salah satu indikator tersebut menunjukkan kinerja sistem surveilans yang belum memadai. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pemerintah Pusat dan Daerah. Disamping keberadaan SST telah juga dikembangkan beberapa Sistem Surveilans khusus penyakit. 4. Surat Keputusan Menteri Kesehatan No. 1479 tahun 2003 tentang Surveilans Terpadu Penyakit. 949 tahun 2004. Beberapa produk hukum lain terkait dengan pelaksanaan surveilans epidemiologi adalah 1. Peraturan Menteri Kesehatan tentang Sistem Kewaspadan Dini KLB No. dan sistem Pelaporan Rumah Sakit (SPIRS). Peraturan Menteri Kesehatan No. 242 tahun 2003 tentang Penetapan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) sebagai penyakit yang dapat menimbulkan wabah dan pedoman penanggulangannya.4 Indikator Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan Kinerja penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan diukur dengan indikator masukan. Propinsi dan Nasional. Nasional dan internasional. 1116 tahun 2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Surveilans Epidemilogi Kesehatan. 1116/Menkes/SK/VIII/2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan serta kebutuhan informasi epidemiologi untuk mendukung upaya pemberantasan penyakit menular dan penyakit tidak menular. dukungan kerjasama antar program dan sektor serta kerjasama antara Kabupaten/Kota. Sistem surveilans tersebut perlu dikembangkan dan disesuaikan dengan ketetapan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah. Ketiga indikator tersebut merupakan satu kesatuan. Undang-Undang No.

1 tenaga dokter umum a. 1 roda dua a. SSB dan telekomunikasi lainnya) c. 1 tenaga epidemiologi ahli (S2) b. Kabupaten/Kota 4. 1 paket pedoman pelaksanaan surveilans epidemiologi dan program aplikasi komputer e. 2 tenaga epidemiologi ahli (S1) atau terampil c. 1 roda empat. 1 paket alat komunikasi (telepon. 1 paket jaringan elektromedia b. 1 tenaga dokter umum a. 1 paket alat komunikasi (telepon. faksimili. 4 tenaga epidemiologi ahli (S1) c. 1 tenaga epidemiologi ahli b. 16 tenaga epidemiologi ahli (S1) d. 1 paket jaringan elektromedia b. 1 tenaga epidemiologi terampil 1 tenaga epidemiologi terampil a. 32 tenaga epidemiologi terampil UPT Departemen Kesehatan memiliki a. 1 paket kepustakaan d. Puskesmas 1. 2 tenaga epidemiologi ahli (S1) c. 4 tenaga epidemiologi terampil d. 1 tenaga epidemiologi ahli (S3) b. faksimili. 8 tenaga epidemiologi ahli (S2) c. 4 paket peralatan pelaksanaan surveilans epidemiologi f. 1 paket formulir 2. 2 tenaga epidemiologi terampil d. 1 paket kepustakaan d. 1 tenaga dokter umum a. 2 tenaga epidemiologi ahli (S2) b. SSB dan telekomunikasi lainnya) c.1 Indikator Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan Masukan Tenaga Tingkat 1. Pusat Indikator Unit utama Departemen Kesehatan memiliki a. Pusat. Propinsi 3. Propinsi 2.LAPORAN AKHIR Tabel 2. 1 paket pedoman pelaksanaan surveilans epidemiologi dan program aplikasi komputer e. Rumah Sakit Sarana 5. 1 tenaga epidemiologi ahli (S2) b. Kabupaten/Kota Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 12 .

LAPORAN AKHIR Proses Kegiatan Surveilans Keluaran f. Penerbitan buletin kajian epidemiologi sebesar 4 kali atau lebih setahun d. Pusat a. Ketepatan laporan unit pelapor sebesar 80% atau lebih c. faksimili. Ketepatan laporan unit pelapor dan sumber data awal sebesar 80% atau lebih c. 1 paket alat komunikasi (telepon. SSB) c. 1 roda dua 3. Kelengkapan laporan unit pelapor dan sumber data awal sebesar 80% atau lebih b. 1 paket formulir f. Umpan balik sebesar 80% atau lebih 3. Umpan balik sebesar 80% atau lebih 2. Pusat Profil Surveilans Epidemiologi Nasional sebesar 1 kali setahun Profil Surveilans Epidemiologi Propinsi sebesar 1 kali setahun Profil Surveilans Epidemiologi Kabupaten/ Kota sebesar 1 kali setahun Sumber: Inspektorat Jenderal Depkes RI. Penerbitan buletin kajian epidemiologi sebesar 12 kali atau lebih setahun d. Penerbitan buletin kajian epidemiologi sebesar 12 kali atau lebih setahun d. Kelengkapan laporan unit pelapor dan sumber data awal sebesar 80% atau lebih b. 2 paket peralatan pelaksanaan surveilans epidemiologi g. 1 paket peralatan pelaksanaan surveilans epidemiologi g. 2003 Selanjutnya Indikator Surveilans Kesehatan dijabarkan dalam Indikator Kinerja Penyelenggaraan terpadu Penyakit sebagai berikut: a. 1 roda dua 1. 1 paket pedoman pelaksanaan surveilans epidemiologi dan program aplikasi komputer e. 1 paket kepustakaan d. Umpan balik sebesar 80% atau lebih 1. Ketepatan laporan unit pelapor dan sumber data awal sebesar 80% atau lebih c. 1 paket komputer Rumah Sakit b. Kabupaten/Kota a. Kelengkapan laporan unit pelapor sebesar 80% atau lebih b. Propinsi a. Puskesmas dan a. Kelengkapan laporan bulanan STP unit pelayanan ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota sebesar 90% Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 13 . 1 roda empat.

propinsi dan nasional sebesar 100% i. baik melalui perpindahan. Ketepatan laporan bulanan STP Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota ke Dinas Kesehatan Propinsi sebesar 90% f. Propinsi dan Nasional adalah satu kali setahun. Kelengkapan laporan bulanan STP Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota ke Dinas Kesehatan Propinsi sebesar 100% e. harus dilakukan secara terpadu dengan upaya kesehatan lain. 2. Keterkaitan sektor-sektor dalam upaya penanggulangan wabah tersebut sesuai dengan tugas. yaitu upaya pencegahan. propinsi dan nasional sebesar 100% j.5 Penanggulangan Penyakit Menular Penanggulangan penyakit menular merupakan bagian dari pelaksanaan pembangunan kesehatan. Penerbitan profil tahunan atau buku data surveilans epidemiologi Kabupaten/Kota. Penanggulangan wabah penyakit menular bukan hanya semata menjadi wewenang dan tanggung jawab Departemen Kesehatan. Penerbitan buletin Epidemologi di propinsi dan nasional adalah sebesar 12 kali setahun l. Wabah penyebaran penyakit dapat berlangsung secara cepat. Oleh karena itu penanggulangan wabah harus dilakukan secara dini. Penerbitan buletin Epidemiologi di Kabupaten/Kota adalah 4 kali setahun k. Oleh karena itu dalam pelaksanaan penanggulangannya memerlukan keterkaitan dan kerjasama dari berbagai lintas sektor Pemerintah dan masyarakat. Selain itu dalam upaya Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 14 . penyembuhan dan pemulihan kesehatan. tetapi menjadi tanggung jawab bersama. Departemen Keuangan dan Departemen Dalam Negeri. Kelengkapan laporan bulanan STP Dinas Kesehatan Propinsi ke Ditjen PPM & PL Depkes sebesar 100% g. Ketepatan laporan bulanan STP Dinas Kesehatan Propinsi ke Ditjen PPM & PL Depkes sebesar 90% h. Kondisi lain yang dapat menimbulkan penyakit menular adalah akibat kondisi masyarakat dari suatu wilayah tertentu yang kurang mendukung antara lain kesehatan lingkungan yang kurang baik atau gizi masyarakat yang belum baik. Departemen Komunikasi dan Informasi. maupun kontak hubungan langsung atau karena jenis dan sifat dari kuman penyebab penyakit wabah itu sendiri. Distribusi data dan informasi bulanan Kabupaten/Kota. wewenang dan tanggung jawabnya dalam upaya penanggulangan wabah. Penanggulangan secara dini dimaksudkan untuk mencegah timbulnya kejadian luar biasa dari suatu penyakit wabah yang dapat menjurus terjadinya wabah yang dapat mengakibatkan malapetaka. Dalam upaya penanggulangan penyakit menular.LAPORAN AKHIR b. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota mencapai indikator Epidemiologi STP sebesar 80% d. Ketepatan laporan bulanan STP Unit Pelayanan ke Dinas Kesehatan Kabupaten Kota sebesar 80% c. Depatemen Sosial. Berbagai lintas sektor Pemerintah misalnya Departemen Pertahanan Keamanan. Umpan balik laporan bulanan Kabupaten/Kota.

yang keseluruhannya harus dilaksanakan secara terpadu. KLB penyakit dapat mengakibatkan terjadinya peningkatan kesakitan dan kematian yang besar. Undang-undang tersebut kemudian direvisi menjadi UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan No. Pada tahun 2000. Peraturan Menteri Kesehatan No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. 40 tahun 1991 tentang Penanggulangan Penyakit Menular.LAPORAN AKHIR penanggulangan wabah tersebut. 25 tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah. yamg kemudian diikuti dengan terbitnya PP No. PP No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan UU No. 4 tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular. 25 tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom yang berpengaruh terhadap penyelenggaraan penanggulangan KLB. ekonomi dan sosial. yang juga berdampak pada pariwisata. Kejadian-kejadian KLB perlu dideteksi secara dini dan diikuti tindakan yang cepat dan tepat. perlu diidentifikasi adanya ancaman KLB beserta kondisi rentan yang memperbesar resiko terjadinya KLB agar dapat dilakukan peningkatan kewaspadaan dan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan KLB. Data & Informasi Penduduk dan Lingkungan Perbaikan kondisi rentan KLB Prioritas Penanggulangan KLB SKD-KLB KLB tidak Menjadi Masalah Kesehatan Masyarakat Penanggula ngan KLB Data KLB dan Data Epidemiologi Lain Kesiapsiagaan Menghadapi KLB Gambar 2. Indonesia menerapkan secara penuh UU No. sehingga membutuhkan perhatian dan penanganan oleh semua pihak terkait. masyarakat juga dapat diikutsertakan dalam penanggulangannya. Penanggulangan wabah/KLB penyakit menular diatur dalam UU No.2 Skema Program Penanggulangan KLB Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 15 . 560 tentang Jenis Penyakit Tertentu Yang dapat Menimbulkan Wabah.

Peta endemisitas malaria terbentang dari Asia Tenggara. penyakit menular dipengaruhi mobilitas penduduk sebagai sumber penyakit. Sedangkan wilayah yang sifatnya “terbuka” dengan teknologi transportasi jarak jauh. hendaknya meningkatkan kemampuannya untuk mengahadapi globalisasi penyakit menular. Seperti asal datangnya penyakit. Nusa Tenggara Timur. dua kabupaten berbatasan yang memiliki ekosistem penyakit yang sama wajib bekerjasama. Atau perjalanan kelelawar yang dapat menyebarluaskan virus Nipah. maupun masyarakat hendaknya memiliki kapasitas terhadap permasalahan epidemiologi global. Oleh karena itu. Dalam perspektif global. Dengan demikian. Maksudnya. dan mekanisme jaringan antar negara yang bersifat lintas batas. Penyakit menular juga dapat berpindah atau bergerak dari satu wilayah ke wilayah lainnya melalui mobilitas penduduk sebagai sumber penularan maupun komoditas sebagai wahana transmisi. Jawa. Afrika Tengah. kemudian langsung ke selatan menuju Australia. hingga Amerika Latin. kemudian melalui apa penyakit tersebut datang. epidemiologi global harus pempelajari kejadian dan persebaran dalam perspektif dunia. maka memiliki masalah yang sama seperti malaria. Termasuk petugas yang mengawasi jalur-jalur penerbangan internasional. kabupaten dan kota di Indonesia merupakan wilayah yang terkena resiko yang sama dalam perspektif global. Sulawesi Utara. Penyakit menular yang sifatnya relatif “tertutup”. Demikian juga dengan daerah wisata internasional. ketimbang batasan administratif. Wilayah-wilayah yang merupakan jalur transmisi sebaiknya memiliki kapasitas dan aktif mengakses informasi. terutama penyakit menular melalui transmisi serangga atau binatang yang memiliki reservoir. Misalnya. penyakit menular tidak mengenal batas wilayah administratif pemerintah. Binatang umumnya memiliki habitat tertentu dan terkait dan batasan ekosistem. Filipina. Sedangkan wilayah timur dari arah utara menyusur pantai timur China. Sebab. migrasi berbagai binatang seperti migrasi burung antar benua bisa merupakan sumber pembawa penyakit. wilayah tropik secara umum memiliki karakteristik ekosistem sama. Lintas Batas Penyakit menular bersifat lintas batas. setiap sudut Kabupaten dan Kota di Indonesia harus dianggap sebagai bagian dari komunitas dunia. Dengan kata lain. Selain itu. Misalnya. memiliki jalur barat yakni kawasan semenanjung Malaysia. Seorang Kepala Dinas Kesehatan harus memahami benar apakah daerahnya termasuk lalulintas internasional atau bukan.LAPORAN AKHIR 2. kabupaten/kota terikat pada komitmen dunia. serta sebaliknya. Dalam hal ini Dinas Kesehatan. migrasi burung utara selatan dan sebaliknya. Seorang Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/kota yang berbatasan dengan negara lain. Sebagai contoh Avian influenza.6. harus memahami hal ini. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 16 . Epidemiologi Global Penyakit Penyakit menular bersifat global. Penyebaran global memiliki potensi terjadinya pandemik. KLB polio pada awal tahun 2005. Hal ini memerlukan kerjasama global. LSM. Dengan kata lain. lebih dipengaruhi oleh batasan ekosistem. Sumatera.

Di satu sisi. Namun. antar negara. sedangkan di wilayah Riau risiko tertular malaria datang ketika sedang menyadap karet di pagi buta. untuk kepentingan perencanaan dan kegiatan berdasarkan keperluan (fakta). penderita penyakit menular itu sendiri. Untuk itu. membutuhkan model manajemen penyakit menular berbasis wilayah kabupaten/kota. Dengan demikian. Di lain pihak. Serta didukung jaringan dan kerjasama erat baik antar wilayah dan adimistrasi pemerintah maupun diantara para pelaku pemberantasan penyakit menular dan penyehatan lingkungan itu sendiri dalam satu wilayah. seorang “kepala” pengendalian penyakit harus mampu menemukan dan mengobati sumber penularan penyakit secara aktif. tenaga. Keterpaduan pun termasuk penggunaan sumber daya. Keterpaduan Untuk memvisualisasikan proses transmisi penyakit serta simpul manajemen. desentralisasi berati mengharuskan manajemen penyakit menular melakukan pendekatan wilayah administratif. antara stakeholder. Kemudian ditentukan siapa saja yang harus diikutsertakan.LAPORAN AKHIR dalam satu wilayah otonomi kabupaten. dan berbagai upaya lain secara bersama dengan lintas sektor. Sehingga intervensi faktor resiko yang bersifat lokal lebih bisa mudah dikendalikan. dalam perspektif ekosistem maupun dinamika/mobilitas faktor risiko penyakit antar kabupaten. intervensi holistik. seperti yang telah diuraikan sebelumnya hal-hal yang bersifat lintas batas berpotensi terabaikan. jadwal. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 17 . Kemudian keterpaduan dikaitkan dengan promosi kesehatan seperti penggunaan alat pelindung ketika bekerja. sehingga dapat meyakinkan pihak-pihak otoritas pendanaan seperti DPRD. antar propinsi. Semua itu dituangkan dalam bentuk perencanaan yang didukung fakta (evidences) lokal. Bahkan keterpaduan surveilans yakni surveilans kasus sekaligus bersama-sama dengan faktor risiko terkait. Desentralisasi juga memudahkan identifikasi faktor resiko yang bersifat lokal. di daerah Pacitan berkaitan dengan cekungan-cekungan padas di sungai-sungai. memerlukan model manajemen pemberantasan penyakit dan penyehatan lingkungan secara terintegrasi yang berbasis wilayah kabupaten/kota dalam perspektif komprehensif. penggunaan mikroskop. kendaraan. Serta mengendalikan faktor risiko penyakit. sekaligus sebagai mata air. penularan Malaria di Kabupaten Banjarnegara berkenaan dengan nyamuk yang memiliki habitat kebun salak dan/atau kolam yang merupakan jamban keluarga. Analisis masing-masing faktor risiko dilakukan sekaligus dan terpadu melalui perencanaan. Didukung fakta hasil surveilans terpadu. Yakni. mitra mana yang dianggap berkepentingan. Dengan memahami faktor-faktor yang berperan timbulnya penyakit menular khas daerahnya. maka perlu identifikasi mitra kerja untuk menangani faktor risiko tersebut. pendekatan wilayah kabupaten/kota membantu perencanaan dan pelaksanaan serta pelaksanaan program lebih fokus. Kemudian. antara penyakit. Sebagai contoh. secara teoritis Bupati atau Kepala Dinas Kesehatan secara efektif melakukan upaya pemberantasan penyakit menular yang bersifat spesifik lokal.

Dalam satu wilayah kabupaten dapat dilakukan secara intensif dengan memperluas jangkauan pelayanan. tentu saja tidak semua penyakit menular dapat dicegah dengan imunisasi. Untuk itu.7 Strategi Pengendalian Penyakit Strategi pemberantasan penyakit menular berbasis wilayah memiliki pengertian bahwa setiap wilayah administrasi pembangunan (kabupaten/kota) pemberantasan penyakit menggunakan “paket” pendekatan strategi sebagai berikut : (1) Intensifikasi Pencarian dan Pengobatan Kasus Melakukan pencarian dan pengobatan secara intensif terhadap penderita. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 18 . (2) Memberikan Perlindungan Spesifik dan Imunisasi Manajemen pengendalian penyakit menular dapat dilakukan dengan cara memberikan kekebalan secara artifisial yaitu imunisasi. 2. Di masa mendatang sebaiknya diciptakan petugas lapangan penyakit menular setara dengan bidan di desa untuk menekan angka kematian ibu. selain mengobati dan menyembuhkan penderita yang juga merupakan upaya pokok untuk menghilangkan sumber penularan dengan cara pemutusan mata rantai penularan. Kejadian luar biasa pertama di Indonesia dilaporkan oleh David Beylon di Batavia (Jakarta) pada tahun 1779. karena dikhawatirkan akan meluas. perlu dilakukan upaya alternatif berupa pemberantasan penyakit yang berbasis lingkungan. Untuk penyakit tertentu yang membutuhkan konfirmasi laboratorium lebih tinggi. dan sebagainya. Namun. baik dari segi jumlah kasus maupun wilayah yang terkena persebaran penyakit tersebut.8 Kejadian Luar Biasa (KLB) Kejadian Luar Biasa (KLB) yaitu munculnya penyakit di luar kebiasaan (base line condition) yang terjadi dalam waktu relatif singkat serta memerlukan upaya penanggulangan secepat mungkin. seperti pemberdayaan tenaga semi-profesional terlatih misalnya juru Malaria Desa. memerlukan bantuan pemeriksaan yang dilakukan Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Penyelidikan Penyakit (Labkes) terdekat yang secara regional harus tersedia. keluarga terdekat atau tokoh masyarakat setempat dapat meminta bantuan Pengawas Menelan Obat (PMO). Juru Kusta. demam berdarah dengue baru dikenal pada tahun 1968 dalam KLB di Jakarta dan Surabaya dengan angka kematian sangat tinggi sekitar 41.3 persen. Namun. Untuk beberapa penyakit menular yang memerlukan pengobatan jangka panjang seperti halnya TBC. Cakupan imunisasi amat penting karena dapat mencegah penyakit dalam satu wilayah. Oleh sebab itu. harus ada jaminan ketersediaan obat dan jaminan disiplin menelan obat.LAPORAN AKHIR 2.

Tahun 1984.LAPORAN AKHIR Menurut PP 40. Pasal 1). Bab I. tidak hanya mencegah terjadinya KLB. Penetapan daerah wabah merupakan pertimbangan epidemologis dan keadaan masyarakat (mencakup keamanan. Sedangkan untuk penetapan dan pencabutan KLB hingga saat ini belum diatur. pencermatan ini dikenal sebagai pencermatan pra-KLB. adanya indikasi peningkatan jumlah dan kepadatan vektor penular penyakit. Penetapan atau pencabutan daerah wabah diberlakukan dalam suatu wilayah Kabupaten/Kota. atau suhu yang meningkat sehingga menimbulkan populasi nyamuk atau ledakan gas. Bab 1. Penanggungjawab operasional pelaksanaan penanggulangan KLB adalah Bupati/Walikota. namun draft Permenkes menyebutkan Pemerintah Daerah atas usulan Kepala Dinas Kesehatan setempat menetapkan dan mencabut KLB. KLB merupakan kejadian proses awal. ekonomi dan budaya) yang disampaikan Kepala Daerah. Pasal 1 Ayat 7. Tahun 1984. dapat juga ditetapkan pada faktor risiko penyakit seperti bila terjadi ledakan gas beracun. sosial. Manajemen pra-KLB termasuk sistem kewaspadaan dini. informasi pra-KLB menjadi penting. KLB adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan/kematian yang bermakna secara epidemologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu. Sedangkan yang menetapkan penyakit menular dan kemudian mencabut ketetapan tersebut adalah Menteri Kesehatan (UU Nomor 4. terjadinya kerusakan hutan secara terus menerus. Kemudian kegiatan tersebut harus dilaporkan kepada Menteri Kesehatan secara berjenjang. Penyakit menular adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat dengan jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi keadaan yang lazim pada waktu daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka (UU Nomor 4. memang tidak lazim disebut sebagai KLB. Kepala wilayah ketika mengetahui adanya tersangka di wilayah atau adanya tersangka penderita penyakit menular yang dapat menimbulkan wabah. Penetapan KLB. Misalnya. Apabila kita mencermati proses kejadiannya. tahun 1991. wajib melakukan tindakan secara cepat berupa penanggulangan seperlunya (UU Nomor 4. dan sebagainya. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 19 . Ayat 1 dan 2 serta PP Nomor 40. Pasal 2 sampai 5). Tahun 1984. ledakan industri. penanganan saat kejadian KLB dan pascaKLB. Ayat 1). Mengacu kepada teori simpul atau mengacu kepada patogenesis kejadian penyakit. serta korban kejadian penyakit yang berlangsung dalam tempo yang relatif singkat. Bila KLB terjadi lebih dari satu wilayah kabupaten/kota maka penanggulangannya dikoordinasikan oleh Gubernur. Pasal 4. Gempa bumi di sebuah wilayah endemik malaria memerlukan peta dimana pengungsi akan ditempatkan. amat penting. pemantauan kondisi kualitas lingkungan tertentu yang menurun. namun terminologi ini digunakan untuk tujuan atau rumusan upaya antisipatif. dan akhirnya berupa pencegahan. Pasal 12. Bab IV. dan merupakan keadaan yang dapat menjurus pada terjadinya wabah. KLB pada dasarnya merupakan suatu kejadian baik pada sumber penyakit (penyebab) dengan dinamika transmisi. Pengertian KLB seringkali dikacaukan dengan pengertian wabah. prediktif. Tahun 1991. Sedangkan penanggugjawab teknis adalah Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.

dengan mobilitas penduduk yang tinggi akibat krisis sosial. TBC. maka berpotensi menyebarkan KLB ke saentero Nusantara. Pemerintah Pusat dapat mengambil inisiatif melakukan penanganan KLB. Kegagalan manajemen penyakit secara terintegrasi dalam satu wilayah. Tugas Pemerintah Nasional (Pusat) antara lain menyusun berbagai kebijakan nasional. tetapi sistem baru belum established atau mapan. tetapi keduanya memiliki batas wlayah ekosistem. dan sebagainya. dan menetapkan sasaran nasional. filariasis. atau penyakit infeksi lama-selalu memiliki dua makna manajemen. khususnya saat penanganan KLB penyakit menular. akan menimbulkan KLB. memerlukan waktu.LAPORAN AKHIR Setiap KLB-apakah itu bencana alam. HIV/AIDS. namun dalam hal KLB dan bencana dapat meminta bantuan Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Pusat. Oleh sebab itu. KLB pada dasarnya merupakan ujung dari sebuah proses. Manajemen kasus menjadi amat penting. Sedangkan kewenangan pelaksanaan ada pada pemerintah Kabupaten/Kota. upaya-upaya kesehatan termasuk didalamnya manajemen KLB semuanya sudah di desentralisasikan kepada Pemerintah Kabupaten dan Pemerintah Kota. perencanaan strategik. 2. Di samping itu. Hal ini tampak adanya kesimpang siuran menajemen penyakit menular pada saat dimulainya otonomi atau peralihan sistem tersebut. malaria. Bahkan bila dipandang perlu. dan harus dilakukan secara simultan dalam waktu relatif singkat. Keadaan ini erat kaitannya dengan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 20 . Mengapa hal tersebut terjadi? Pemberantasan penyakit menular memerlukan sistem manajemen. Avian influenza. b. Manajemen kasus. Sementara sistem lama telah dicabut. pada hakekatnya adalah manejemen faktor risiko kejadian KLB. Contohnya tahun 2005 yaitu penyakit polio. Manajemen public health (manajemen faktor risiko) Manajemen public health atau manajemen kesehatan masyarakat. selama sistem atau kapasitas manajemen penyakit berbasis wilayah secara terintegrasi belum mapan. standar. Manajemen KLB secara terintegrasi berbasis wilayah adalah juga manajemen dua bagian penting yang tak terpisahkan. bencana lingkungan karena ulah manusia.9 Penyakit Demam Berdarah Penyakit Demam berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Satu foci penyakit menular –entah itu demam berdarah. yakni : a. penyakit menular tidak mengenal batas wilayah administratif seperti halnya kesehatan lingkungan. untuk mencegah terjadinya penularan penyakit lebih lanjut. Kurun waktu 2000-2005 banyak terjadi kejadian luar biasa. konflik sosial maupun timbulnya penyakit baru seperti SARS. Untuk membangun sistem tersebut. apabila dibiarkan berkembang. Manajemen kasus maupun faktor risiko mencegah timbulnya eskalasi yang lebih luas. yakni manajemen kesehatan masyarakat untuk mengendalikan jatuhnya korban berikutnya. menyusun guidlines petunjuk. Sejak tahun 1968 jumlah kasusnya cenderung meningkat dan penyebarannya bertambah luas. maka KLB akan terus menjadi ancaman. Sebagai perwujudan demokratisasi pembangunan maka sejak tahun 2000.

penyakit ini pertama kali dilaporkan pada tahun 1953 di Manila. yaitu urbanisasi yang cepat.99. Namun. Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit DBD merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah baik lintas sektor maupun lintas program dan masyarakat termasuk sektor swasta. kurangnya persediaan air bersih. perkembangan pembangunan di daerah pedesaan.000 penduduk. adanya pemanasan global yang dapat mempengaruhi bionomik vektor Aedes aegypti. yaitu 15.LAPORAN AKHIR peningkatan mobilitas penduduk sejalan dengan semakin lancarnya hubungan transportasi serta tersebar luasnya virus dengue dan nyamuk penularnya di berbagai wilayah Indonesia. (3) Peningkatan upaya pemberantasan vektor penular penyakit DBD. maka Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 21 .75. KLB yang terbesar terjadi pada tahun 1998 dilaporkan dari 16 propinsi dengan IR=35. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi penyebaran dan penularan penyakit DBD.0%. dengan perkembangan waktu penyakit ini kemudian tidak hanya berjangkit di daerah perkotaan. tetapi juga menyebar ke daerah pedesaan. mengembangkan teknologi pemberantasan.19 per 100. memberikan pelatihan dan bantuan teknis. Pada tahun 1999 IR menurun tajam sebesar 10.24 per 100. Di Asia Tenggara. (2) Diagnosis dini dan pengobatan dini. selalu menjadi KLB setiap tahun. melakukan penyuluhan dan promosi kesehatan serta penggerakan masyarakat.17 per 100. Penyakit DBD sering kali muncul sebagai wabah. yaitu: (1) Peningkatan kegiatan surveilans penyakit dan surveilans vektor.000 penduduk berturutturut pada tahun 2000 sampai 2002. Penyakit demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit menular berbahaya yang disebabkan oleh virus Dengue dan dapat menimbulkan kematian dalam waktu singkat oleh karena terjadinya perdarahan dan shock. Pada awalnya penyakit DBD ini merupakan penyakit perkotaan dan menyerang terutama anak-anak usia di bawah 5 tahun. Melihat kondisi tersebut penyakit DBD harus diwaspadai kemungkinan adanya KLB lima tahunan. 21. Jumlah kasus terus meningkat baik dalam jumlah maupun luas wilayah yang terjangkit dan secara sporadis. Pemberantasan nyamuk dewasa dilakukan dengan menggunakan racun serangga (insektisida) yang disemprotkan atau dengan pengasapan (fogging) bila dilakukan pada wilayah yang luas. mengembangkan pedoman pemberantasan. dan 19. selanjutnya menyebar ke berbagai negara. namun pada tahun-tahun berikutnya tampak adanya peningkatan IR. Tugas dan tanggung jawab pemerintah dalam upaya pemberantasan penyakit DBD antara lain membuat kebijakan dan rencana strategis penanggulangan penyakit DBD. Upaya pemberantasan demam berdarah terdiri dari 3 hal.000 penduduk dan CFR 2. Di Indonesia sendiri. penyakit DBD dilaporkan pertama kali di Surabaya dan DKI Jakarta. Dengan fogging yang disemprotkan ke udara. Cara penularan penyakit DBD adalah melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang menggigit penderita DBD kemudian ditularkan kepada orang sehat. mudahnya transportasi yang menyebabkan mudahnya lalu lintas manusia antardaerah. Usia penderita juga cenderung bergeser menyerang usia dewasa. Kendala Pencegahan DBD Penularan DBD terjadi melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dewasa.

baik di musim hujan maupun di musim kemarau. Menutup rapat tempat penyimpanan air bersih dan mengurasnya sesering mungkin akan bermanfaat mengurangi kesempatan nyamuk untuk bertelur dan berkembang biak. sarang nyamuk harus segera dimusnahkan. penggunaan insektisida menjadi rawan keracunan bagi penghuni dan lingkungan hidup sekitar rumah. Karena itu. fogging harus segera diikuti dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). ia menjadi sumber terbentuknya populasi nyamuk Aedes aegypti untuk wilayah di sekitarnya. Keberadaan sarang nyamuk Aedes aegypti di dalam rumah memerlukan tindakan yang spesifik. baik untuk manusia maupun lingkungan hidup. Takaran insektisida yang dikurangi (asal bau obat). Semua insektisida adalah bahan beracun yang jika penggunaannya tidak tepat dapat mengganggu kesehatan manusia maupun hewan dan dapat mencemari lingkungan. pada waktu ada laporan kasus DBD di satu rumah. Dari jentik nyamuk yang hidup di dalam air (tandon air). Dengan melakukan fogging di sekitar tempat tinggal penderita. seharusnya segera dilakukan fogging terhadap rumah tinggal penderita dan area dengan radius 100 meter di sekitarnya. Pemberian abate untuk membunuh jentik nyamuk yang terdapat di dalam air bak kamar mandi atau tandon air bersih lainnya cukup efektif mencegahnya berkembang biak. bukan sarang nyamuk Aedes aegypti). termasuk kaleng-kaleng berisi air atau bak mandi. sebelum larva berubah jadi nyamuk dewasa. Apalagi nyamuk Aedes aegypti mampu terbang dalam radius 100 meter dari sarang asalnya. Karena nyamuk dewasa Aedes aegypti berada di dalam lingkungan rumah tinggal. Sebab. Gagalnya atau tidak efektifnya fogging dapat terjadi akibat salahnya lokasi pengasapan (yang diasapi adalah got-got atau saluran kota yang kotor dan mampet. penggunaan insektisida yang tidak tepat dosisnya atau tidak tepat jenisnya dapat menjadikan fogging tidak memberikan hasil yang memuaskan atau gagal sama sekali. yaitu terjadinya kekebalan nyamuk Aedes aegypti terhadap insektisida yang digunakan saat ini. Tidak usah menunggu terjadinya KLB atau wabah yang lebih luas. selama tandon-tandon air masih dijumpai. sepanjang tahun. juga dapat menimbulkan dampak serius di kemudian hari. sebelum seseorang menunjukkan gejala klinis DBD dalam darahnya sudah beredar virus dengue yang dapat ditularkan kepada orang lain. jika ada satu rumah saja tidak melakukan PSN. Dengan demikian.LAPORAN AKHIR nyamuk dewasa yang beterbangan atau yang hinggap di tempat persembunyiannya di lingkungan rumah penderita akan mati. Selain itu. Fogging ditujukan untuk memberantas nyamuk betina dewasa karena hanya nyamuk betina yang mengisap darah. Selain itu. selain termasuk kategori korupsi. Karena itu. Hal ini harus dilakukan karena sarang-sarang nyamuk Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 22 . dalam waktu beberapa hari akan tumbuh nyamuk dewasa. PSN harus dilakukan segenap warga. Karena itu. Gerakan PSN harus dilakukan terus-menerus. nyamuk dewasa yang beterbangan atau yang hinggap di tempat persembunyiannya di lingkungan rumah penderita akan mati. Fogging tidak akan berefek lama dan tidak boleh dilakukan terus-menerus karena insektisida yang digunakan adalah bahan beracun. penularan virus oleh nyamuk dapat dihentikan segera.

• Penyelidikan Epidemiolegis (PE) adalah kegiatan pencarian penderita DBD atau tersangka DBD lainnya dan pemeriksaan jentik nyamuk penular DBD di tempat tinggal penderita dan rumah/bangunan sekitarnya. Adanya nyamuk Aedes aegypti penular DBD sepanjang tahun di Indonesia menyebabkan penularan virus dengue juga akan terjadi sepanjang tahun. melalui GGPSN (Gebyar Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk). keluarga. segera ditindaklanjuti dengan kagiatan Penyelidikan Epidemiologis (PE) dan Penanggulangan Fokus. Penanggulangan Fokus adalah kegiatan pemberantasan nyamuk penular DBD yang dilaksanakan dengan melakukan pemberantasan sarang nyamuk demam berdarah dengue (PSN DBD). misalnya. baik di musim penghujan maupun di musim kemarau. tindakan yang pertamatama harus dilakukan adalah memberantas nyamuk dewasa di lingkungan tempat tinggal penderita dan sekitarnya dengan melakukan fogging. apakah telah terjadi resistensi nyamuk terhadap insektisida yang digunakan. Tata Laksana Penanggulangan DBD Setiap diketahui adanya penderita DBD. termasuk tempat-tempat umum dalam radius sekurang-kurangnya 100 m. jika terdapat laporan adanya kasus DBD. ataukah terjadi "kesalahan teknis" di lapangan. larvadiasasi. Sosialisasi dalam pelaksanaan PSN dan cara hidup gotong royong harus kembali digalakkan. untuk mencegah penyebaran penyakit. Tujuannya adalah membatasi penularan DBD dan mencegah terjadinya KLB di lokasi tempat tinggal penderita DBD dan rumah/bangunan sekitarnya serta tempat-tempat umum yang berpotensi menjadi sumber penularan DBD lebih lanjut. Fogging akan sangat efisien jika dilakukan pada waktu populasi nyamuk masih rendah. Selanjutnya dalam melaksanakan kegiatan pemberantasan DBD sangat diperlukan peran serta masyarakat. PE juga dilakukan untuk mengetahui adanya penderita dan tersangka DBD lainnya. dan menentukan jenis tindakan (penanggulangan fokus) yang akan dilakukan. dan lingkungannya dari penularan DBD. harus dicari penyebabnya. • Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 23 . baik untuk membantu kelancaran pelaksanaan kegiatan pemberantasan maupun dalam memberantas jentik nyamuk penularnya. Tujuannya adalah untuk mengetahui penularan dan penyebaran DBD lebih lanjut serta tindakan penanggulangan yang perlu dilakukan di wilayah sekitar tempat penderita. penyuluhan dan penyemprotan (pengasapan) menggunakan insektisisda sesuai kriteria.LAPORAN AKHIR merupakan sumber produksi nyamuk dewasa. Jika terjadi kegagalan fogging. Karena itu. tanpa menunggu terjadinya KLB. sehingga setiap warga dapat saling melindungi diri. mengetahui ada tidaknya jentik nyamuk penular DBD. sehingga kemungkinan penyebarluasan DBD dapat dibatasi dan KLB dapat dicegah.

3. larvasidasi dan penyuluhan.LAPORAN AKHIR Penderita/tersangka DBD Penyelidikan Epidemiologi (PE) . sehingga penularan DBD dapat dicegah dan dikurangi. pemberantasan vektor penular DBD. sehingga KLB yang terjadi di suatu wilayah tidak meluas ke wilayah lainnya. Tujuannya adalah mengendalikan populasi nyamuk. Sarang Nyamuk demam berdarah dengue (PSN DBD) adalah kegiatan memberantas telur.Pemeriksaan Jentik . Penilaian Penanggulangan KLB meliputi penilaian operasional dan penilaian epidemiologi. Penilaian ini dilakukan melalui kunjungan rumah secara acak dan wilayah-wilayah yang direncanakan untuk pengasapan. Penilaian operasional ditujukan untuk mengetahui persentase (coverage) pemberantasan vektor dari jumlah yang direncanakan.Pencarian Penderita Panas Ada penderita DBD lain atau ada jentik dan ada penderita panas ≥ 3 orang dan ditemukamn jentik (≥ 25%) Ya Penyuluhan PSN DBD Fogging radius 200m - Tidak Penyuluhan PSN FDBD Larvasidasi Gambar 2. penyuluhan kepada masyarakat dan evaluasi/penilaian penanggulangan yang dilakukan di seluruh wilayah yang terjadi KLB. Sedangkan penilaian epidemiologi ditujukan untuk mengetahui dampak upaya penanggulangan terhadap jumlah penderita dan kematian DBD dengan cara membandingkan data kasus/kematian DBD sebelum dan sesudah penanggulangan KLB. Tujuannya adalah membatasi penularan DBD. Bagan Penanggulangan Fokus (Penanggulangan Penderita DBD di Lapangan) • Penanggulangan • Pemberantasan Kejadian Luar Biasa (KLB) adalah upaya penanggulangan yang meliputi : pengobatan/perawatan penderita. jentik dan kepompong nyamuk penular DBD (Aedes aegypti) di tempat-tempat perkembangbiakannya. Keberhasilan PSN DBD diukur dengan Angka Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 24 .

Jentik Berkala adalah pemeriksaan tempat-tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti yang dilakukan secara teratur oleh petugas kesehatan atau kader atau petugas pemantau jentik (jumantik). juice buah-buahan. Mengubur/membuang pada tempatnya barang-barang bekas seperti ban bekas. Menutup rapat-rapat tempat penampungan air agar nyamuk Aedes aegypti tidak bisa bertelur di tempat itu. (2) menutup rapat-arapat tempat penampungan air. Cara PSN DBD dilakukan dengan ”3M”. Peran Masyarakat dalam Penanggulangan DBD Masyarakat berperan dalam upaya pemberantasan penyakit DBD. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 25 . Sebagai contoh: peran masyarakat dalam kegiatan surveilans penyakit.LAPORAN AKHIR • Pemeriksaan Bebas Jentik (ABJ). Sehingga upaya pemberantasan dan pencegahan penyebaran penyakit DBD adalah upaya yang diarahkan untuk menghilangkan tempat perindukan (breeding places) nyamuk Aedes aegypti yang ada dalam lingkungan permukiman penduduk. Dalam upaya pemberantasan vektor tersebut antara lain masyarakat berperan secara aktif dalam pemantauan jentik berkala dan melakukan gerakan serentak Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). pemberian obat penurun panas seperti paracetamol. Seperti diketahui nyamuk Aedes aegipty adalah nyamuk domestik yang hidup sangat dekat dengan pemukiman penduduk seperti halnya Culex. Sehingga bisa dilakukan penegakan diagnosa secara dini dan diberikan pertolongan dan pengobatan dini. sirup. Apabila ABJ lebih atau sama dengan 95% diharapkan penularan DBD dapat dicegah atau dikurangi. kaleng bekas yang dapat menampung air hujan. Pertolongan pertama kepada tersangka penderita DBD dapat dilakukan di rumah sebelum dirujuk ke tempat pelayanan kesehatan yaitu dengan memberikan minum sebanyak-banyaknya dengan oralit. Masyarakat juga berperan dalam upaya pemberantasan vektor yang merupakan upaya paling penting untuk memutuskan rantai penularan dalam rangka mencegah dan memberantas penyakit DBD muncul di masa yang akan datang. Obat penurun panas yang tidak boleh diberikan adalah dari jenis yang mengandung asam salisilat yang dapat memperberat perdarahan. dan (3) mengubur atau menyingkirkan barang-barang bekas yang dapat menampung air hujan. yaitu (1) menguras dan menyikat tempat-trempat penampungan air. Tujuannya adalah melakukan pemeriksaan jentik nyamuk penular demam berdarah dengue termasuk memotivasi keluarga/masyarakat dalam melaksanakan PSN DBD. Tujuan pemberian pertolongan pertama di atas adalah untuk mempertahankan volume cairan dalam pembuluh darah penderita sehingga dapat membantu mengurangi angka kematian karena DBD. Dengan demikian gerakan PSN dengan 3M Plus yaitu Menguras tempat-tempat penampungan air minimal seminggu sekali atau menaburinya dengan bubuk abate untuk membunuh jentik nyamuk Aedes aegypti. teh manis. yaitu masyarakat dapat mengenali secara dini tanda-tanda penyakit DBD yang menimpa salah satu anggota keluarga maupun tetangga mereka dan segera merujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.

Hal sederhana lainnya yang dilakukan oleh masyarakat adalah menata gantungan baju dengan baik agar tidak menjadi tempat hinggap dan istirahat nyamuk Aedes aegypti. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 26 .LAPORAN AKHIR Masyarakat juga melakukan upaya mencegah gigitan nyamuk dengan menggunakan obat gosok antinyamuk. Sri Lanka menggunakan gerakan Green Home Movement untuk tujuan yang sama yaitu menempelkan stiker hijau bagi rumah yang memenuhi syarat kebersihan dan kesehatan termasuk bebas dari jentik Aedes aegypti dan menempelkan stiker hitam pada rumah yang tidak memenuhi syarat kebersihan dan kesehatan. Gerakan Jumat Bersih (GJB). dua tiga pulau terlampaui. Pemberantasan DBD akan berhasil dengan baik jika upaya PSN dengan 3M Plus dilakukan secara sistematis. Adipura. Berbagai gerakan yang pernah ada di masyarakat seperti Gerakan Disiplin Nasional (GDN). Agar gerakan yang dilakukan oleh Jenderal Gorgas bisa dilakukan di Indonesia diperlukan komitmen yang kuat dari seluruh jajaran struktur pemerintahan bersama-sama masyarakat dan swasta. tidak kondusif untuk hidup nyamuk Aedes aegypti aegypti. diare dan lain-lain akan ikut terberantas ibaratkan "sekali merengkuh dayung. Dalam era otonomi dan desentralisasi saat ini Pemerintah Kabupaten/Kota dalam mengatur rumah tangganya sendiri dapat melakukan gerakan-gerakan inovatif seperti yang disebutkan di atas yang didukung dengan berbagai Peraturan Daerah. Kota Sehat dan gerakangerakan lain serupa dapat dihidupkan kembali untuk membudayakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)." Keberhasilan Jenderal WC Gorgas memberantas nyamuk Aedes aegypti untuk memberantas demam kuning (Yellow Fever) lebih dari 100 tahun yang lalu di Kuba dapat kita ulangi di Indonesia. menyemprot rumah dengan obat nyamuk yang tersedia luas di pasaran. tidur dengan kelambu. Sejak dulu tidak ada yang berubah dengan bionomik atau perilaku hidup nyamuk Aedes aegypti sehingga teknologi pemberantasannya pun dari dulu tidak berubah. Bagi pemilik rumah yang ditempeli stiker hitam diberi peringatan 3 kali untuk membersihan rumah dan lingkungannya dan jika tidak dilakukan maka orang tersebut dipanggil dan didenda. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa dalam upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit DBD oleh masyarakat sangat besar. Dan upaya tersebut sangat berkaitan dengan faktor perilaku dan faktor lingkungan. terus-menerus berupa gerakan serentak.. Teknologi yang digunakan oleh Jenderal Gorgas adalah gerakan PSN yang dilaksanakan serentak dan secara besar-besaran di seluruh negeri. sehingga dapat mengubah perilaku masyarakat dan lingkungannya ke arah perilaku dan lingkungan yang bersih dan sehat... Berbagai negara yang mempunyai masalah yang sama dengan Indonesia menggunakan berbagai macam pendekatan dalam melakukan PSN antara lain Singapura dan Malaysia menggunakan pendekatan hukum yaitu masayarakat yang rumahnya kedapatan ada jentik Aedes aegypti dihukum dengan membayar denda. Jika ini dilakukan maka selain penyakit DBD maka penyakit-penyakit lain yang berbasis lingkungan seperti leptospirosis. boleh dikatakan lebih dari 90% dari keseluruhan upaya pemberantasan penyakit DBD.

Implementasi kebijakan penyakit menular juga dipengaruhi kebijakan desentralisasi kewenangan pengelolaan pembangunan. (2) pelaksanaan diseminasi informasi DBD. dan (3) pelaporan. (4) dana. dan (5) SOP. Kinerja Penanggulangan diukur dengan melihat (1) Frekuensi KLB. Faktor-faktor yang terkait dengan kinerja surveilans mencakup (1) tenaga. (2) data. (3) Jumlah Kematian. (4) Luas Daerah Terserang. Berdasarkan landasan pemikiran diatas.LAPORAN AKHIR METODOLOGI 3. Kinerja surveilans diukur dengan melihat (1) keberadaan peta rawan. dan (5) SOP. (3) sarana. kerangka pikir kajian digambarkan dalam skema berikut: BAB 3 Kinerja Surveilans DESENTRALISASI KEWENANGAN IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENYAKIT MENULAR Kinerja Penanggulangan Gambar 3. Faktor-faktor yang terkait dengan kinerja surveilans mencakup (1) tenaga. (3) sarana. (2) Jumlah Kasus.1 Kerangka Pikir Kajian Kebijakan Penannggulangan Penyakit Menular Kerangka pikir kajian tersebut selanjutnya dijabarkan dalam kerangka konsep kinerja surveilans dan kerangka konsep kinerja penanggulangan yang digambarkan dalam skema berikut: Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 27 . (2) data. (4) dana.1 Kerangka Pemikiran Kajian ini dilandasi pemikiran adanya hubungan timbal balik antara rendahnya kinerja surveilans dan kinerja penanggulangan dalam implementasi kebijakan penyakit menular khususnya dalam kasus kebijakan penanganan penyakit DBD.

alat penyemprotan SOP 1. 2. Jenis pengeluaran Data Kasus. Sumber (APBD. Proses. Lingkungan (genangan). 3. Vektor. 2. Pengolah data. Pedoman (7 seri : modelpokjanal . Pengetahuan . 3.Pelaporan Sarana 1. Jentik . 2. Pengolah data. Transportasi . 2. jenis pengeluaran Data Kasus . Pengetahuan (Penyelidikan & Penanggulangan) Kerangka Konsep Kinerja Penanggulangan Dana 1. 4.LAPORAN AKHIR Tenaga 1. 2. Peraturan Gambar 3. Tim Penanggulangan (epid. Curah Hujan. 6.Diseminasi Informasi . Jumlah . 4.3 Kerangka Konsep Kinerja Penanggulangan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 28 . Monev Kerangka Konsep Kinerja Surveilans Dana 1. lab. Sumber . 3. 2.Peta Rawan KLB DBD •Diseminasi Informasi . 2. Vektor . Komunikasi. Obat. Komunikasi SOP 1. Curah Hujan Kinerja Surveilans DBD •Peta Rawan KLB DBD . Transportasi. Jentik. Logistik. Prilaku (3M). Peraturan Gambar 3. 4. insektisida. Proses . Pedoman. 5. 3.2 Kerangka Konsep Kinerja Surveilans Tenaga 1. 3. Jumlah . PHLN) 2. motivasi . Logistik Kinerja Penanggulangan KLB DBD •Frekuensi KLB •Jumlah Kasus •Jumlah Kematian •Luas Daerah Terserang Sarana 1. support). klinis. APBD.

Variabel Penelitian Variabel penelitian mencakup 2 aspek. Tim Penanggulangan (epid. Tujuannya adalah untuk memperoleh berbagai gambaran yang jelas dan diskripsi yang lengkap tentang variabel penelitian. Jenis pengeluaran 3 Data 1. Jumlah Kematian 4. 2. Jumlah Kasus 3. Sumber 3. Kasus 2. Frekuensi KLB 2. klinis. Curah Hujan 4 Sarana 1.LAPORAN AKHIR 3. dimana data diperoleh melalui angket dan wawancara kepada sejumlah responden terpilih secara acak. Pengetahuan 4. Pengolah data 3. Transportasi 2. Pengetahuan (penyelidikan & Dependent Variabel 1 Tenaga Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 29 . Luas Daerah Terserang 1. Pelaporan Dependent Variabel 1.2 Disain Kajian 1. Monitoring dan Evaluasi 2 Dana 1. Jentik 3. Peraturan KINERJA PENANGGULANGAN KLB DBD Idependent Variabel 1 Tenaga 1 Kinerja Penanggulangan KLB 1. Pedoman (7 seri modul pokjanal) 2. Komunikasi 5 SOP 1. support) 2. lab. Sumber 3. Jumlah 2. Jumlah 2. yaitu kinerja surveilans dan kinerja penanggulangan No Variabel Parameter yang diukur KINERJA SURVEILANS DBD Idependent Variabel 1 Kinerja Surveilans 1. Proses 4. Peta rawan KLB DBD 2 Diseminasi informasi 3. Vektor 4. Kajian ini menggunakan metode penelitian survey explanatory.

Proses 4. Peraturan Pemerintah. Komunikasi 4. Keputusan Presiden. Curah hujan 7. Jentik 3. Prilaku (3M) 5. Sumber dan Pengumpulan Data Data yang dikumpulkan dalam kajian ini meliputi data primer dan data sekunder. Alat penyemprotan 1. Jumlah 2. propinsi. serta focus group discussion. Logistik 5. laporan tahunan tentang Penanggulangan Penyakit Menular (P2M). Pengolah data 3. Keputusan Dirjen.3 Jenis. dilakukan pula studi kepustakaan terutama kajian teoritis dari hasil penelitian terdahulu yang relevan dengan kajian ini Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 30 . Vektor 6. Transportasi 2. peraturan perundangan dalam bentuk Undang-Undang. Insektisida 7. Pedoman (7 seri modul pokjanal) 2. Kasus 2. Keputusan Menteri Kesehatan.LAPORAN AKHIR 2 Dana 3 Data 4 Sarana 5 SOP penanggulangan) 1. pengisian kuesioner. Data primer yang didapat melalui wawancara mendalam (indepth interview) di berbagai tingkat (Pusat. Data sekunder mencakup data berkaitan dengan profil kesehatan pusat. Obat 6. Peraturan Daerah maupun Peraturan Gubernur. Sumber 3. Logistik 1. kab/kota). Untuk interpretasi hasil analisis data. laporan tentang wabah. Peraturan 3. Jenis pengeluaran 1. propinsi dan kab/kota. baik dalam bentuk data kualitatif maupun kuantitatif. Lingkungan (genangan) 4.

bagian PI dan kepegawaian. (3) staf Kesling Rumah Sakit: (1) Wakil Direktur Yanmed. (6) Kasubag Umum Kabupaten Dinas Kesehatan: (1) subdin P2M. Kota Surabaya 2.4 Responden Kajian Responden Kajian mencakup 2 (dua) kelompok.LAPORAN AKHIR 3. Kab. Bogor Jawa Timur 1. (2) petugas P2M. (3) P2B2. (2) ahli epidemiologi dari Departemen Kesehatan. (3) pakar lain dari WHO. (4) Kabag Kepegawaian. Gowa Nusa Tenggara Barat 1. subdit arbovirosis. Kelompok Pelaksana yang menjadi responden mencakup Pusat: Dit Epidemiologi dan P2B2 Ditjen P2M. yang memiliki keahlian dan pengalaman dalam penanggulangan penyakit menular. (2) unit surveilans. serta (2) kelompok pakar. Kelompok Pakar yang menjadi responden adalah (1) ahli epidemiologi dari Perguruan Tinggi. (2) Seksi Surveilans. (3) unit penanggulangan P2B2. Kab. Rumah Sakit. Kota Bandung 2. Kota Balikpapan Sulawesi Selatan 1. yaitu (1) kelompok pelaksana yang terlibat dalam penanggulangan penyakit menular. Siak Jawa Barat 1. Kab Lombok Tengah TOTAL Dinas 5 3 2 3 2 2 1 1 2 2 1 2 2 1 2 3 2 3 47 PKM 4 5 3 2 3 4 2 2 4 4 4 6 43 Rumah Sakit 1 1 2 1 2 1 1 4 1 2 2 3 21 Bapp 2 1 1 2 1 1 2 1 1 1 1 1 15 Masy 1 1 20 1 1 18 1 1 13 2 1 20 1 1 25 2 0 13 122 Jml 26 Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 31 . (2) UGD. Gresik Kalimantan Timur 1. (5) Kabag Keuangan. (4) Lab. (5) unit umum Puskesmas : (1) Kepala Puskesmas. Kab. Yanmedik dan Binkesmas Dinas Kesehatan Propinsi: (1) Kasubdin P2M. Tabel 3. Kota Mataram 2. (4) unit kepegawaian. Medical Record. Kab. Kota Pekanbaru 2. Kota Samarinda 2.1 Responden Kajian No 1 2 3 4 5 6 Propinsi/Kab Riau 1. (3) Bag. Kota Makasar 2.

Berdasarkan hasil analisis dan temuan yang didapat selanjutnya dilakukan pembahasan dengan nara sumber dalam bentuk focus group discussion (FGD). o Prevalensi kasus DBD tinggi dan rendah o Puskesmas di ibukota kabupaten o Puskesmas di kecamatan di luar ibu kota kab/kota Dengan demikian jumlah sampel kabupaten/kota sebanyak 12 buah. Analisis dan interpretsi selanjutnya data yang sudah dibuat dalam bentuk tabulasi serta berdasarkan hasil wawancara mendalam dengan responden. Tengah dan Timur.6 Teknik Analisis Teknik analisis yang dilakukan dalam kajian ini adalah dengan melakukan analisis diskriptif (kualitatif) berdasarkan data dan informasi yang didapat di lapangan.Mentabulasi Analisis Data .4 Tahapan Pelaksanaan Kajian Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 32 . Pada setiap propinsi di ambil 2 (dua) Kabupaten/Kota dengan kriteria pemilihan kabupaten adalah o Prevalensi kasus DBD yang tinggi dan rendah o 1 kab/kota terletak di ibu kota propinsi dan 1 kab/kota di luar kab/ibu kota propinsi Pada setiap kabupaten dipilih dua puskesmas dan 1 (satu) rumah sakit. Lokasi Kajian Kajian ini dilaksanakan di 6 (enam) propinsi terpilih yang ditentukan berdasarkan karakteristik frekuensi terjadinya kejadian penyakit menular dari kelompok propinsi di Indonesia Bagian Barat. dengan kriteria. Selanjutnya data hasil pengumpulan di lapangan dikelompokan. diolah dan ditabulasikan untuk memudahkan dalam proses analisis. Pengumpulan Data . 24 puskesmas. dan 12 rumah sakit 3.Mengelompokkan .LAPORAN AKHIR 3. Hasil FGD disosialisasikan dalam bentuk workshop untuk kemudian dirumuskan dalam bentuk kesimpulan dan rekomendasi serta implikasi kebijakan.5.Mengolah . baik berbentuk data sekunder maupun hasil wawancara mendalam.Interpertasi data .Data Sekunder .Data Primer (kuesioner & wawancara) Pengolahan Data . mendapatkan rumusan hasil kajian lebih fokus.Interpretasi hasil wawancara FGD Kesimpulan & Rekomendasi Kebijakan Gambar 3.

00 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 00 01 02 03 04 TAHUN 0 . 1999 dan tahun 2004.0 0 1 5.0 0 2 5. Angka tertinggi IR terjadi pada tahun 1968.1. Ditjen PP&PL. 1988. Dapat dilihat pada tahun 1998. R 2 0.1.00 5 . Depkes.00 1 5. terlihat makin menurunnya CFR. Gambar 4. Implementasi Kebijakan Penanggulangan DBD 4.00 CFR 2 5.0 0 5. namun demikian.00 3 5. Jika diperhatikan gambaran IR dan CFR (gambar) antara kurun waktu 1968 sampai 2004.1 IR & CFR Tahun 1968-2004 IR & CFR DBD DI INDONESIA TAHUN 1968-2004 4 0. dan tidak terlaksananya program baik PSN Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 33 .LAPORAN AKHIR BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4. PHBS yang rendah masih menjadi salah satu pemicu tidak menurunnya kasus IR.00 Sumber: Subdit Arbovirosis.2004.00 CFR 4 0.0 0 I.0 0 3 0. 2005 Apabila dilihat secara khusus per bulan selama kurun waktu 2003 . Pada kurun waktu tahun 2000 – 2004 terjadi kecenderungan peningkatan IR.0 0 3 0.00 2 0. maka kecenderungan terjadinya peningkatan kasus DBD lazimnya dimulai pada akhir bulan Desember sampai dengan terbanyak yang lazimnya terjadi pada sekitar bulan Februari – Maret (lihat Gambar 1.0 0 1 0.00 0.0 0 IR 3 5. hal ini dimungkinkan makin banyaknya kasus-kasus DBD yang tertangani.00 1 0. Tingginya curah hujan menyebabkan banyaknya genangan-genangan air yang memudahkan nyamuk untuk berkembangbiak. gambaran Incidence Rate (IR) dan Case Fatalities Rate (CFR) penyakit DBD ini dapat dilihat pada Gambar di bawah ini. peningkatan IR yang paling tinggi tidak mengakibatkan CFR meningkat di tahun yang sama.7.1 Incidence Rate (IR) dan Case Fatalities Rate (CFR) Berdasarkan data tahun 1968 sampai dengan tahun 2004. Kesadaran masyarakat mengenai kasus DBD dapat memperkecil peningkatan CFR. di bawah ini).00 4 5.

0 6.61 5.52 6.LAPORAN AKHIR (Pemberantasan Sarang Nyamuk) maupun 3M mengakibatkan kecenderungan peningkatan kasus DBD.a).000 15. Depkes.77 2. Ditjen PP&PL. data tahun 2005 – 2006.76 1. Gambar 4.79 1.03 8.7 15.000 10. 2005 Sementara itu.99 7.65 5. Gambar 4.9 7.2 Perkembangan Kasus DBD Nasional Per Bulan PERKEMBANGAN KASUS DBD NASIONAL PER BULAN 30000 2003-2004 25000 20000 S SU KA 15000 KASUS IK NA 10000 5000 0 JAN FEB MAR APR MAY JUN JUL AUG SEP OCT NOV DEC JAN FEB MAR APR 2003 2004 Sumber: Subdit Arbovirosis.8 30.41 19. 7.000 25.61 10.4 10.000 20.3 18.27 1. 3 KASUS DBDPer Bulan di Indonesia.94 6. menunjukkan bahwa kecenderungan peningkatan kasus DBD per bulan hampir sama polanya dengan tahun 2003 – 2004.000 30.10 908 992 1.03 5. Depkes.005 14.59 2.0 335 KASUS 9. Ditjen PP&PL. Sumber: Subdit Arbovirosis.35 5. 2006 11. yaitu pada bulan akhir Desember (lihat Gambar 1.000 0 JAN FEB MARAPRMAYJUN JUL AUGSEPOCT NOVDECJAN FEB MARAPRMAYJUN JUL AUGSEPOCT NOVDES JAN FEB MARAPRMAY 2. 2005 Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 34 . tahun 2005-2006 Kasus DBD PER BULAN DI INDONESIA TAHUN 2005-2006 35.7. Hal ini ada kaitannya dengan pergantian musim kemarau ke musim hujan.000 5.004 2.

1.418 7. Kebijakan dalam rangka penanggulangan menyebarnya DBD adalah (1) peningkatan perilaku dalam hidup sehat dan keamandiriian masyarakat terhadap penyakit DBD. Kemudian strategi diperluas dengan menggunakan larvasida yang ditaburkan ke Tempat Penampungan Air (TPA).8. Mengingat obat dan vaksin untuk membunuh virus dengue belum ada. Ditjen PP&PL. 4. Kedua metode ini sampai sekarang belum memperlihatkan hasil yang memuaskan dimana terbukti dengan peningkatan kasus dan bertambahnya jumlah wilayah yang terjangkit DBD. data tahun 2003 hingga Juni 2006. Pada awalnya strategi utama pemberantasan DBD adalah pemberantasan nyamuk dewasa melalui pengasapan.686 Total sd Akhir Mei 2006: 50. maka cara yang paling efektif untuk mencegah penyakit DBD ialah dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) yang dilaksanakan oleh masyarakat/keluarga secara teratur setiap seminggu sekali. terlihat pola yang jelas mengenai kecenderungan peningkatan kasus DBD. 2005 Berdasarkan gambar 1.7a.7.028 Sumber: Subdit Arbovirosis.143 11. Strategi dalam pelaksanaan kebijakan di atas dilakukan melalui Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 35 . dan 1.01 14.2 Kebijakan Penanggulangan Penyakit DBD Departemen Kesehatan telah melewati pengalaman yang cukup panjang dalam penanggulangan penyakit DBD.1. yaitu kecenderungan terjadinya peningkatan kasus DBD pada akhir bulan Desember sampai dengan kasus terbanyak pada bulan Februari – Maret. Depkes. (3) meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi program pemberantasan DBD.935 1 2005 2006 6475 2 10916 3 7610 4 5033 5 5652 335 6 5357 7 5. dan (4) memantapkan kerjasama lintas sektor/lintas program.LAPORAN AKHIR Gambar 4. Hal ini menurut beberapa hasil analisa ada kaitannya dengan pergantian musim kemarau ke musim hujan.034 8 8528 9 6997 10 7610 11 12 10712 15355 18.4 JUMLAH KASUS DBD DI INDONESIA TAHUN 2005 & 2006 JUMLAH KASUS DBD DI INDONESIA TAHUN 2004 DAN 2005 (SITUASI SD TGLJuni 2006) (s/d 19 19 JUNI 2006) 20000 18000 16000 14000 12000 10000 8000 6000 4000 2000 0 2005 2006 Total sd Akhir Mei 2005: 35. (2) meningkatkan perlindungan kesehatan masyarakat terhadap penyakit DBD. seperti di atas.

dimana Puskesmas melakukan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 36 . sosialisasi. (2) Peningkatan Kemitraan Berwawasan Bebas dari Penyakit DBD. (4) Desentralisasi. tata laksana kasus harus dikuasai karena hal-hal tersebut merupakan landasan dalam penyususnan kebijaksanaan program P2 DBD. guna memadukan berbagai sumber daya yang tersedia di masing-masing mitra. dan berbagai upaya penyuluhan kesehatan lainnya dilaksanakan secara intensif dan berkesinambungan melalui berbagai media massa dan sarana. social marketing. meningkatkan dan mewujudkan kemitraan. dan pemeriksaan jentik berkala (PJB) yang dilakukan setiap 3 bulan sekali. dan berbagai kegiatan KIE kepada semua pihak yang terkait perlu dilaksanakan agar semuanya dapat memahami peran lingkungan dalam pemberantasan penyakit DBD. Oleh sebab itu. (3) Bulan Bakti gerakan ”3M”. Orientasi. Meningkatnya peran aktif masyarakat dalam pencegahan dan penanggulangan penyakit DBD merupakan salah satu kunci keberhasilan upaya pemberantasan penyakit DBD. SDM yang terampil dan menguasai IPTEK merupakan salah satu unsur penting dalam pelaksanaan program P2 DBD. (4) Penanggulangan kasus. (2) Pemberantasan vektor melalui PSN dengan cara 3M Plus. pemantauan dan penilaian. Pokok-pokok program pemberantasan DBD mencakup (1) Kewaspadaan dini DBD. Penyakit DBD hampir tersebar luas di seluruh Indonesia kecuali di daerah yang di atas 1000 m diatas permukaan air laut. maka upaya-upaya KIE.LAPORAN AKHIR (1) Pemberdayaan masyarakat. merupakan langkah awal dalam menggalang. Meningkatnya mutu lingkungan hidup dapat mengurangi angka kesakitan penyakit DBD karena di tempat-tempat penampungan air bersih dapat dibersihkan setiap minggu secara berkesinambungan. sehingga populasi vektor sebagai penular penyakit DBD dapat berkurang. Upaya pemberantasan penyakit DBD tidak dapat dilaksanakan oleh sektor kesehatan saja. virology dan faktor-faktor perubahan iklim. Jaringan kemitraan diselenggarakan melalui pertemuan berkala. (5) Pembangunan Berwawasan Kesehatan Lingkungan. Optimalisasi pendelegasian wewenang pengelola kepada kabupaten/kota. dikarenakan perbedaan situasi dan kondisi wilayah. peran sektor terkait pemberantasan penyakit DBD sangat menentukan. Pertemuan berkala sejak dari tahap perencanaan sampai tahap pelaksanaan. Untuk mendorong meningkatnya peran aktif masyarakat. Pengetahuan mengenai Bionomic vektor. advokasi. Angka kesakitan penyakit ini bervariasi antara satu wilayah dengan wilayah lain. (3) Peningkatan Profesionalisme Pengelola Program. maka identifikasi stakeholders baik sebagai mitra maupun pelaku potensial.

(5) penanggulangan KLB. menyiapkan juknis dan juklaknya. Bappeda. melengkapi sarana pemberantasan vektor. melalui perencanaan. sedangkan sekretariat berada di kantor Dinas Kesehatan. sedangkan dana dari Dinas Kesehatan diutamakan untuk membeli peralatan dan kegiatan yang sifatnya pencegahan. serta kemitraan dengan masyrakat (LSM) termasuk swasta. (3) memantapkan jejaring lintas program. melalui penyediaan insektisida dan larvasida. (3) Bila terjadi KLB. kab/kota. pengendalian faktor resiko dan penyehatan lingkungan. melalui pelaksanaan pertemuan berkala Pokjanal/Pokja DBD. Strategi yang dilakukan mencakup (1) intensifikasi pelaksanaan kasus melalui pencarian kasus dan pemutusan rantai penularan. kewaspadaan dini. pelatihan tenaga operasional. strategi dan program penanggulangan DBD di daerah lokasi kajian dilaporkan sebagai berikut: Propinsi Riau Kebijakan Daerah mecakup (1) pemberantasan DBD diselenggarakan dengan menggunakan penatalaksanaan kasus secara cepat dan tepat. (2) Di Kota Pekanbaru. (2) pemberantasan vektor. yaitu dana tak terduga. sebagai dasar tindak lanjut perencanaan program dan penanggulangan KLB. (3) meningkatkan SDM. (8) Penelitian. Tim Pokjanal DBD diketuai oleh Walikota. Dana KLB dianggarkan dengan menggunakan pola kinerja artinya bila KLB tidak terjadi. komunikasi perubahan perilaku. (2) mengembangkan dan memperkuat jejaring surveilans epidemiologi dengan fokus pemantauan wilayah setempat. Hasil implementasi kebijakan.LAPORAN AKHIR penyelidikan epidemiologi (PE) untuk mengurangi persebaran lebih luas dan tindakan yang lebih tepat. PMD. (7) Pendekatan Peran Serta Masyarakat dann PSN DBD. (4) menyiapkan pengadaan dan distribusi kebutuhan obatobatan dan bahan-bahan yang esensial. (6) peningkatan profesionalisme SDM. Ketiga dana tersebut diatas berasal dari dana Kantor Walikota. dan menyiapkan sarana pemeriksaan untuk diagnosa melaksanakan PE dan penanggulangan fokus. Bila Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 37 . Tim Pokjanal DBD terdiri dari unsur-unsur Diknas. pembinaan dalam pelaksanaan gerakan 3M. (2) surveilans epidemiologi. pelatihan tenaga puskesmas dan rumah sakit. Dinkes. perbaikan manajemen kasus diagnostik dan pengobatan serta rujukan. PKK. pemantauan dan informasi program pemberantasan penyakit dan meningkatkan kewaspadaan di semua tingkat administrasi. lintas program dan lintas sektor terkait serta mengaktifkan kembali peran UKS (Usaha Kesehatan Sekolah) untuk menggerakkan anak sekolah dalam pemberantasan demam berdarah. Implementasi kebijakan. maka uang tidak bisa dicairkan. (5) meningkatkan kemampuan penggalian sumberdaya daerah dan sumberdaya masyarakat dalam pengelolaan program P2M. Program yang dilakukan mencakup (1) kewaspadaan dini DBD melalui penyuluhan intensif. Strategi dan program adalah (1) pertemuan dengan tim pokjanal DBD propinsi Riau menghasilkan beberapa kesepakatan yang menitikberatkan pada peran aktif dari pokja/pokjanal DBD dengan melibatkan masyarakat. tersedia pos untuk penanggulangan. dana bencana dan dana belanja rutin sekretariat daerah. Depag dan pihak legislatif. lintas sektor.

bidan. uang dicairkan. (6) Sosialisasi Pola Hidup Bersih (PHBS). (2) Pemberantasan vektor melalui PSN dengan cara 3M Plus. dimana Puskesmas melakukan penyelidikan epidemiologi (PE) untuk mengurangi persebaran lebih luas dan tindakan yang lebih tepat. yaitu pada setiap kasus petugas siap melakukan PE sehingga ditemukan akar permasalahan dan sumber penyebabnya untuk kemudian dilakukan tindakan agar tidak menyebar ke tempat lain. dokter. Propinsi Jawa Barat Kebijakan penanggulangan di Jawa Barat secara umum mengacu pada kebijakan dan program yang telah ditetapkan oleh Departemen Kesehatan (Pusat). (7) Pendekatan Peran Serta Masyarakat dann PSN DBD. (2) Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 38 . puskesmas dan masyarakat.LAPORAN AKHIR terjadi KLB. Propinsi Jawa Timur Kebijakan daerah mencakup (1) upaya penanggulangan masalah-masalah kesehatan yang dilakukan merupakan hasil dari kajian surveilans epidemiologi. kab/kota. fogging focus massal. dan propinsi. dan pemeriksaan jentik berkala (PJB) yang dilakukan setiap 3 bulan sekali. dukun bayi dan kendaraan kesehatan. Hasil pelaksanaan program ditunjukkan antara lain (1) pemantauan jentik belum optimal dilakukan oleh kader dengan alasan terbatasnya dana operasional. (5) penanggulangan KLB. (3) Bulan Bakti gerakan ”3M”. (3) komitmen dari pimpinan unit penyelenggara kesehatan diperlukan untuk kegiatan surveilans epidemiologi. (4) Penanggulangan kasus. kesibukan kader. (2) Fogging dilaksanakan apabila terjadi KLB dengan menggunakan dana yang berasal dari Dinas Kesehatan Kabupaten dengan peruntukan untuk larvasidasi dan abatesisasi. diketuai oleh Bappeda dan sekretariat juga berada di Bappeda. Kota Pekanbaru juga memiliki Forum Perkampungan Sehat. perawat. Kegiatan pokok adalah melakukan rapat lintas sektor untuk menangani masalah-masalah khususnya penyakit menular. dan tidak seimbangnya jumlah kader dengan cakupan daerah yang harus diselidiki. pemeriksaan jentik dengan memberdayakan tenaga jumantik. praktek swasta. (6) peningkatan profesionalisme SDM. (3) Upaya peningkatan kemampuan tenaga kesehatan dalam penanggulangan DBD secara kuratif dilakukan melalui ”workshop tata laksana” dengan melibatkan dokter spesialis dan urusan dalam. (2) kegiatan surveilans epidemiologi dilaksanakan oleh tim fungsional di masingmasing tingkat mulai dari Puskesmas. (2) upaya preventif yang dilakukan melalui ”managing vector and environment” malalui gerakan 3M yang dilakukan secara lintas sektor dalam wadah Pokjanal DBD. (8) Penelitian. (5) Pelibatan lintas sektor. (4) Pelibatan partisipasi masyarakat melalui gerakan PSN setiap hari Jumat pagi. yaitu mencakup 1) Kewaspadaan dini DBD. Strategi dalam penanggulangan DBD dilakukan melalui (1) penemuan kasus dan kematian melalui surveilans di rumah sakit. (4) penemuan kasus dilaksanakan secara bekerjasama dengan masyarakat. maka kinerjanya akan dipertanyakan (3) Disamping Tim Pokjanal DBD. Strategi pelaksanaan kebijakan penanggulangan DBD di Propinsi Jawa Barat dilakukan melalui (1) pendekatan ”gerak cepat” dan putus rantai. dan melakukan ”CLEAN-UP” lingkungan yang dipimpin oleh walikota selama 1-2 jam.

(3) penyelidikan epidemiologi terhadap kasus yang dicurigai pada daerah yang resiko rendah. (2) penyelidikan dan penanggulangan KLB. kerja sama dengan dengan masyarakat dan swasta. (6) Pelatihan khusus tentang epidemiologi dan surveillens baru dilakukan 1 kali dalam 5 tahun terakhir. mengamati indikasi pra-KLB misal cakupan program. melengkapi sarana pemerantasan vektor. Strategi yang dilakukan mencakup (1) peningkatan pencarian kasus dan pemutusan rantai penularan perbaikan manajemen pengobatan serta rujukan. pelatihan tenaga kesehatan. dan (3) Membangun kerja sama lintas sektor. mengidentifikasi dan menghitung kasus atau paparan. sehingga sesuai data memang DBD di Kota Balikpapan tinggi. status gizi.LAPORAN AKHIR pencarian kasus tambahan dilakukan pada saat penyelidikan epidemiologi. perilaku masyarakat. Pelaksanaan program penanggulangan DBD mencakup (1) SKD-KLB melalui kegiatan pengumpulan data baru dari penyakit-penyakit yang berpotensi KLB. merencanakan penelitian lain yang sistematis. orang dan tempat. memastikan diagnostik etiologi. APBD mengalokasikan dana 500 juta untuk penanggulangan KLB dan habis untuk penanggulangan KLB DBD. lintas program dan lintas sekor terkait. pertemuan berkala Pokjanal/Pokja DBD. menetapkan apakah kejadian tersebut suatu KLB. penyediaan insektisida dan larvasida. melalui persiapan penyelidikan lapangan. mendeskripsikan kasus berdasarkan waktu. kewaspadaan dini. (2) Pemberantasan vector. (5) melakukan studi epidemiologi pada daerah dengan kinerja yang tidak baik. Gambaran implementasi adalah (1) Pelaksanaan penanggulangan DBD melibatkan masyarakat. Pokok-pokok Program yang dilakukan mencakup Kewaspadaan Dini DBD. menetapkan sistem penemuan kasus baru. (3) Pelatihan tenaga surveilens (pelatihan epidemiologi. beranggotakan kepala – kepala dinas yang ketika diadakan rapat-rapat selalu dihadiri oleh personal yang berlainan. menetapkan rekomendasi cara pencegahan dan penanggulangan. perubahan perilaku dalam pola hidup bersih dan sehat. penyuluhan. (4) melakukan kajian epidemiologi harus bekerjasama dengan lintas program dan lintas sektor. (2) Tim Pokjanal DBD diketuai oleh Walikota. (5) Dinas kesehatan kota Balikpapan selalu melaksanakan pendataan DBD dengan rutin. Kota Balikpapan memiliki Yayasan DBD yang ketuanya adalah kasubdin P2M Dinkes dan didanai oleh perusahaan minyak swasta. membuat cara penanggulangan sementara. pelaksanaan PE. (2) Pelaksanaan Surveilans Epidemiologi. (3) Untuk tahun 2005. mengidentifikasikan keadaan penyebab KLB. (4) Di samping Tim Pokjanal DBD. pengolahan dan analisis data untuk penyusunan rumusan kegiatan perbaikan oleh tim epidemiologi. (2) mengembangkan dan memperkuat jejaring surveilans epidemiologi dengan fokus pemantauan wilayah setempat. pelaksanaan gerakan 3M. Propinsi Kalimantan Timur Kebijakan Daerah yang dilakukan mencakup (1) Pemberantasan DBD diselenggarakan dengan menggunakan penatalaksanaan kasus secara cepat dan tepat. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 39 . mengidentifikasikan sumber dan cara penyebaran. penyehatan lingkungan.

melakukan pelatihan tatalaksana DBD bagi dokter di rumah sakit pada daerah endemis. melalui pelatihan petugas kesehatan. menghasilkan penemuan dan pelaporan penderita. Implementasi kebijakan penanggulangan DBD di Sulawesi Selatan antara lain (1) Kewaspadaan Dini. Namun terdapat ”gap” pelaksanaan/penanganan KLB. melalui penemuan dan pelaporan penderita. Dinkes Propinsi Nusa Tenggara Barat membuat pedoman operasional yang berisi ”step by step” metodologi penanggulangan DBD. 4. bulan kewaspadaan DBD. pada dasarnya dilaksanakan berpedoman pada arah kebijakan dan program dari Pemerintah Pusat (Departemen Kesehatan). Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Selatan selanjutnya menyusun Prosedur Tetap (Protap) Penanggulangan DBD sebagai pedoman/acuan pelaksanaan kegiatan Dinas Kesehatan Propinsi dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. lintas program dan kabupaten/kota terdekat. penyuluhan intensif melalui media cetak dan elektronik. (4) Peningkatan SDM. terutama untuk insentif tenaga kesehatan dan kader. (2) Pemberantasan Nyamuk Penular DBD terhadap nyamuk dewasa dan jentik nyamuk. (3) Penanggulangan KLB. Materi yang disusun dalam prosedur tetap (Protap) ini adalah langkahlangkah penanggulangan DBD sebagai berikut: (1) Kewaspadan Dini. pengamatan bebas jentik dilakukan oleh murid-murid sekolah dan telah terbukti cukup efektif untuk dapat direflikasi di daerah lain. dan fogging massal. khususnya penyakit DBD di Propinsi Sulawesi Selatan. (2) Penanggulangan KLB menemukan jumlah kasus KLB DBD tahun 2005 sebanyak 66 kasus. Propinsi Nusa Tenggara Barat Pedoman surveilans dan KLB kurang operasional. kab/kota dan puskesmas. (3) Peningkatan Sumber Daya Manusia. sedangkan tahun 2004 jumlah KLB DBD sebanyak 88 kasus.1. Pada pelaksanaan di Puskesmas. pemantauan jentik berkala di berbagai kabupaten endemis dengan sasaran masing-masing 100 rumah. dimana peran puskesmas sangat kecil karena dukungan dana dan personil sangat kecil. Di kabupaten Lombok Tengah. Dengan demikian Puskesmas sebagai fasilitas yang paling dekat dengan masyarakat tidak dimanfaatkan dengan baik dalam penanggulangan KLB DBD. melalui penyuluhan. pemantauan jentik berkala. penanggulangan fokus. abatisasi. pembinaan di 23 kab/kota.3 Kendala Penanggulangan DBD Kendala penting yang masih terjadi saat ini adalah kurang atau tidak adanya koordinasi dari instansi-instansi yang seharusnya terkait dalam menangani Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 40 . dukungan dana surveilans tertolong oleh adanya subsidi dari Askeskin. gerakan PSN. pertemuan Kewaspadaan Dini DBD sebanyak 4 kali melibatkan sektor terkait.LAPORAN AKHIR Propinsi Sulawesi Selatan Upaya penanggulangan kejadian luar biasa (KLB)/penyakit menular. pelatihan bagi pengelola program P2 DBD di 23 kab/kota. Surveilans dilaksanakan pada tingkat dinas kesehatan propinsi.

Instansi-instansi yang mengatur tata kota dan permukiman.3. 2 puskesmas dan 1 Rumah Sakit. Kebijakan desentralisasi juga berpengaruh terhadap koordinasi antara pusat dan daerah dalam kewenangan penanganan DBD. baik di musim penghujan maupun di musim kemarau. sarang-sarang nyamuk Aides akan tetap ada di sepanjang tahun. nanggulangan DBD Kajian P2M KLB DBD dilakukan di enam propinsi. Hal ini menjadi faktor penghambat praktek penanganan kasus di lapangan. 4.2. serta instansi penyedia sarana air bersih (PDAM) juga harus ikut pula berpartisipasi. Sumber informan yang seharusnya dan pada saat yang bersamaan tidak berada di tempat sehingga dilakukan wawancara terhadap informan pengganti. Pihak daerah seringkali kewalahan dalam penyediaan biaya operasional penanganan penyakit karena keterbatasan sumberdaya. puskesmas dan rumah sakit. 4. Dengan demikian. kebersihan dan lingkungan hidup. Kalimantan Timur.4. hal ini dikarenakan adanya perubahan posisi (rolling) yang terjadi beberapa bulan sebelum kunjungan. Beberapa kendala yang ditemukan di lapangan. Jawa Timur. Kebijakan tersebut terkait dengan anggaran kesehatan untuk pencegahan serta pemberantasan penyakit menular. Karena itu. Disisi lain adanya desentralisasi sumberdaya yang dimiliki. yaitu propinsi Riau. diantaranya: 1. dilakukan kunjungan ke dinas kesehatan kabupaten/kota. melainkan juga terkait dengan instansi lainnya. Responden yang diharapkan sebagai informan tidak sesuai. populasi nyamuk Aides dewasa yang mempunyai potensi menyebarkan virus dengue juga akan selalu dijumpai dan menjadi sumber penularan di sepanjang tahun. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 41 . 4. Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Barat. Adanya intervensi dari pendamping (orang dinas) dalam wawancara di tingkat Kab/kota. baik dana maupun tenaga. 2. bahkan Dinas Pendidikan. yang memang membutuhkan biaya sangat tinggi. Adanya intervensi dalam pemilihan responden di tingkat dinas. maka penduduk masih terpaksa menyiapkan bak mandi dan tandon-tandon air (yang dapat menjadi sarang nyamuk) untuk menampung air yang sering hanya menetes bahkan mampet. pemerintah pusat mengalami kendala dalam pendistribusiannya ke daerah. 3.LAPORAN AKHIR DBD sehingga menimbulkan masalah tersendiri di lapangan. Dengan adanya kewenangan penanganan yang didaerahkan terkadang menyulitkan dalam koordinasi penganggaran. selama PDAM belum mampu menyediakan air bersih untuk seluruh penduduk. Kinerja Surveilans dan Pe 4. serta melakukan wawancara ke Bappeda dan masyarakat. Pada tiap propinsi dilakukan kunjungan dan wawancara terhadap 2 kabupaten/kota. dan di tiap kabupaten/kota tersebut. Sebagai contoh. Jawa Barat. Penanganan DBD tidak semata-mata tugas Dinas Kesehatan.

7 16. Tidak demikian dengan Rumah Sakit.0 80.0 60. Dinkes Kab/Kota. Dari 19 puskesmas yang dikunjungi. W2 DBD. indikator kinerja surveilans lainnya adalah DP-DBD. DP-DBD. dari 12 dinkes kab/kota sebanyak 10 dinkes kab/kota atau 83.4%) yang memiliki peta rawan.1 Sumber: Data Lapangan. dari sebanyak 12 rumah sakit kab-kota yang menjadi lokasi kajian.3% memiliki peta rawan.1 Distribusi Indikator Kinerja Surveilans di Dinkes Propinsi. tak satupun memiliki peta rawan DBD. Begitu pula pada tingkat dinkes kab/kota. K-DBD.0 jml 0 1 1 5 5 % 0. 6 miss) (nto= 5.7 83. Tabel 4.0 75.9 57. W2-DBD dan W1. 1 miss ) (ntot =12) Peta rawan DP-DBD K-DBD W2-DBD W1 jml 4 4 3 3 4 % 80. Tabel di bawah ini memperlihatkan persentase keberadaan indikator tersebut di Dinkes Propinsi.0 80.1 71. Hal ini dapat dipahami berkaitan dengan fungsi rumah sakit sebagai unit rujukan yang berperan melakukan tindakan medis atas kejadian kasus.2.0 16.0 75. Sementara di Puskesmas sebagai unit pelayanan kesehatan dasar. KDBD.0 jml 10 7 6 9 9 % 83. Dari tabel di atas tergambarkan di tingkat propinsi data tersebut hampir semuanya tersedia.0 60. Ketidaklengkapan data dikarenakan keterbatasan waktu dalam pengumpulan data 3 tahun terakhir (tahun 2003-2005).3 jml 11 9 12 15 12 % 52. RS dan Puskesmas DINKES DINKES RUMAH INDIKATOR PUSKESMAS KAB/KOTA PROPINSI SAKIT (ntot =24. Berdasarkan data tersebut terlihat 4 dari 5 dinkes propinsi memiliki peta rawan sebagai salah satu indikator kinerja surveilans.1 Indikator Kinerja Surveilans dan Penanggulangan KLB (1) Indikator Kinerja Surveilans Peta Rawan Indikator Kinerja Surveilans bisa dilihat dari peta rawan. 6. Kesulitan pada proses wawancara di beberapa puskesmas dan RS dikarenakan waktu wawancara dilakukan pada saat jam kerja. RS dan Puskesmas. peta rawan tidak tersedia disemua puskesmas. Indikator kinerja surveilans tersebut tidak sepenuhnya merupakan indikator surveilans.3 58. Sedangkan di tingkat kab/kota indikator kinerja surveilans yang dimiliki dinkes kab/kota dan RS lebih banyak pada Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 42 .4 57. Dinkes Kab/Kota.3 50. hanya 11 (52. dan W1.LAPORAN AKHIR 5. 4. 5 miss) KINERJA (ntot =12.3 83.4 42. 2006 Selain peta rawan.

Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 43 . DP-DBD. meskipun kelengkapan laporan puskesmas mencapai 90-100%. ketiadaan indikator di atas karena pendekatan rumah sakit yang lebih kepada kuratif. merupakan gabungan dari bagian seksi surveilans dan program pemberantasan penyakit (DBD). Laporan umpan balik ke RS sangat jarang dilakukan. walau tidak semua puskesmas memilikinya. Di tingkat propinsi maupun kabupaten/kota. Yang perlu diperhatikan adalah meskipun semua indikator terpenuhi. laporan peta rawan. namun apakah laporan tersebut tepat waktu atau tidak. hanya pertanyaan mengenai adanya umpan balik dari kabupaten dan profil surveilans epidemiologi yang ditanyakan. 76% puskesmas sudah menerima laporan umpan balik dari Pemda kab/kota. Surveilans hanya menerima laporan yang berkaitan dengan KLB. diperoleh dari bagian program pemberantasan DBD. Ke dua pertanyaan lainnya (penerbitan epidemiologi dan laporan umpan balik dari propinsi) tidak berkaitan langsung pada aktifitas puskesmas. Laporan umpan balik dari propinsi sudah dilakukan oleh sebagian dinkes propinsi.LAPORAN AKHIR indikator W2 DBD dan W1. Kadangkala diperlukan pengiriman informasi melalui short message system (sms dengan hand phone) untuk melaporkan kejadian BDB. Sedangkan di tingkat Puskesmas. seksi surveilans dan program pemberantasan penyakit (dalam hal ini program DBD/pemberantasan penyakit bersumber binatang). W2. maka peta rawan adalah seluruh kota Samarinda itu sendiri. sementara untuk rumah sakit hanya 1 buah rumah sakit saja yang menerima laporan umpan balik dari Pemda kab/kota. Dari hasil keseluruhan memperlihatkan adanya persentase yang tinggi dalam hal kinerja ditingkat propinsi. informasi mengenai ke lima indikator. Pembuatan laporan pun tidak dilakukan setiap hari. Di Dinkes kota Samarinda. setelah kejadian KLB laporan W2 seringkali terlupakan untuk dilaporkan oleh dinas kesehatan kabupaten/kota. Seperti halnya di propinsi Riau. Demikian pula untuk pembuatan profil surveilans epidemiologi. Lokasi yang tercakup dalam peta rawan kadang kali tidak kecil. pengumpulan data surveilans dilakukan oleh dua bagian. Pada level puskesmas. Pada tingkatan rumah sakit. keberadaaan datadata tersebut relatif tersedia. Sehingga. Sementara. dan K-DBD. Dalam pembuatan laporan. Penerbitan bulletin kajian epidemiologi ternyata lebih banyak dilakukan oleh Dinkes propinsi. faktor ketepatan juga sangat penting. Diseminasi Informasi Kinerja surveilans juga diukur berdasarkan indikator diseminasi informasi seperti terlihat pada tabel di bawah ini. dinkes kab/kota dan puskesmas. dalam hal ini laporan W1. namun ketepatannya hanya 60% saja. karena merupakan kota endemis. Pada tingkat puskesmas. Di Samarinda.

angka kematian dan Case Fatality Rate (CFR).LAPORAN AKHIR Tabel 4.7 Sumber: Data Lapangan. RS dan Puskesmas INDIKATOR KINERJA DINKES PROPINSI (ntot=6) jml Penerbitan buletin kajian epidemiologi Laporan umpan balik dari propinsi Laporan umpan balik dari kab/kota (untuk RS & puskesmas) Profil survaeilans epidemiologi 3 % 75.8 1 14.5 Data Kasus DBD di Lokasi Kajian Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 44 .6 7 53.0 5 55. 2006 (3) Indikator Kinerja Penanggulangan Data Kasus Hasil kinerja surveilans dan penanggulangan diukur dengan penemuan kasus.7 2 28. Dinkes Kab/Kota.0 1 7.0 PUSKESMAS (ntot =24) jml 2 % 15.0 DINKES KAB/KOTA ntot =12) jml 1 % 11.2 Distribusi Indikator Diseminasi Informasi Surveilans di Dinkes Propinsi.9 3 75.0 6 66.3 10 76.4 2 50. Gambar 4.6 0 0.1 RUMAH SAKIT (ntot =12) jml 0 % 0. Grafik diatas ini memperlihatkan dari ke 6 lokasi kajian.

grafik di atas memperlihatkan jumlah kematian tertinggi di Jabar disusul dengan Jatim. NTB adalah propinsi terendah Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 45 .6 Data Kematian DBD di Lokasi Kajian DATA KEMATIAN DBD DI LOKASI KAJIAN TAHUN 2003-2005 300 250 200 150 100 50 0 RIAU JABAR JATIM KALTIM SULSEL NTB 39 8 2003 6 201 59 2004 21 214 120 41 25 16 2005 32 285 254 82 59 15 Sumber: Ditjen PP & PL Depkes RI. 2006 Sementara untuk jumlah kematian. Sedangkan kasus terendah terjadi di propinsi Nusa Tenggara Barat.LAPORAN AKHIR DATA KASUS DBD DI LOKASI KAJIAN TAHUN 2003-2005 20000 15000 10000 5000 0 RIAU JABAR JATIM KALTIM SU LSEL N TB 2003 739 8932 4243 2004 1059 19012 8321 2276 2005 1897 18590 14796 3165 3164 1062 2628 198 4175 805 Sumber: Ditjen PP & PL Depkes RI. disusul dengan Propinsi Jawa Timur. 2006 Berdasarkan gambar tersebut terlihat propinsi Jawa Barat memiliki kasus DBD yang paling banyak. Berdasarkan data tersebut kecenderungan data selama tahun 2003-2005 menunjukkan peningkatan kasus di semua propinsi. Grafik ini adalah data yang diambil di Dinkes propinsi. Gambar 4.

72 2.80 0.00 1. khususnya pada rumah sakit yang berfungsi kuratif. Indikator ini menunjukkan jumlah penderita DBD yang meninggal dari tiap 100 penderita DBD. Jatim.60 1.2 2005 1.5 2004 1.13 1. Namun bila Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 46 .59 1.50 3.00 RIAU JABAR JATIM KALTIM SULSEL NTB NAS 2003 0.99 1. Seperti terjadi di Samarinda. dapat dilihat dengan indikator CFR.98 1. dan Sulsel. Tipe rumah panggung yang merupakan ciri masyarakat asli Kaltim turut menambah risiko pertumbuhan habibat jentik karena biasanya bagian bawah rumah tergenang air buangan rumah tersebut dan menjadi sarang nyamuk.7 Case Fatality Rate (CFR)DBD di Lokasi Kajian CASE FATALITY RATE (CFR) DBD DI LOKASI KAJIAN TAHUN 2003-2005 4.00 0.LAPORAN AKHIR dalam jumlah kematian. CFR tertinggi adalah NTB.50 0. Jabar. Grafik di atas memperlihatkan pada tahun 2003. Pada tahun 2004 CFR di lokasi kajian terlihat rendah.00 1.36 Sumber: Ditjen PP & PL Depkes RI.00 3.41 1.69 1.48 4.81 2. yaitu di propinsi Riau.50 1.25 1.50 4. di sana banyak perumahan penduduk yang tersebar di pulau-pulau kecil sehingga menyulitkan petugas untuk memantau. Gambar 4. bahkan di atas angka nasional. Masyarakat pun memiliki kebiasaan menampung air hujan (tadah hujan) yang menambah habitat jentik. Kaltim.39 0.53 1. 2006 Untuk melihat kinerja penanganan kasus.00 2.04 1.44 1.50 2. Sementara Dinkes tidak memiliki kendaraan untuk menjangkaunya.86 1. Dari data yang dicatat dinkes propinsi selama tahun 2003-2005 menunjukkan sejumlah propinsi mengalami peningkatan jumlah kematian. Salah satu penyebab tingginya kasus DBD adalah faktor geografis dan perilaku masyarakat.

6 8. dokter gigi. komposisi jenis tenaga yang bertugas dalam pelaksanaan surveilans dan penanggulangan terbanyak adalah S1 dan S2 Epidemiologi.6 jml 5 17 65 6 % 2. sementara di tingkat dinkes kab/kota adalah dokter umum dan tenaga pendukung laibnya. teknik lingkungan.9 11.3 19.3 Distribusi Jenis Tenaga di Dinkes Propinsi dan Dinkes Kab/Kota DINKES PROPINSI JENIS TENAGA SURVEILANS PENANGGULA NGAN KLB DINKES KAB/KOTA SURVEILANS PENANGGULA NGAN KLB Jml S2 Epidemiologi S1 Epidemiologi Dokter umum Epidemiologi terampil 9 15 5 4 % 20. manajemen kesehatan.6 8. APK.6 9. Pada tahun 2005.7 9. CFR yang paling tertinggi dimiliki oleh Riau dan NTB.2 Faktor-faktor Berpengaruh terhadap Kinerja Surveilans dan Kinerja Penanggulangan KLB (1) Tenaga Tenaga adalah sumberdaya manusia dari pihak provider kesehatan yang terlibat langsung dalam kegiatan surveilans maupun penanggulangan KLB. Kaltim dan NTB. Pada tingkat dinkes propinsi. SKM. angka CFR kembali meningkat di bandingkan tahun sebelumnya. Sementara di propinsi lain CFR terlihat fluktuatif (naik dan turun).1 34. tenaga rekam medis. CFR sejumlah propinsi lebih tinggi. staf administrasi.LAPORAN AKHIR dibandingkan dengan angka nasional. Tabel 4. Lulusan S1 dan S2 Epidemiologi lebih banyak berperan sebagai tenaga surveilans. dan kader kesehatan/posyandu.3 jml 1 3 4 2 % 4.9 34.8 14. Semua CFR berada di atas angka nasional. lulusan SMA.2 Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 47 . sementara dokter umum berperan sebagai tenaga penanggulangan KLB. CFR tertinggi pada tahun 2005 adalah di propinsi Kaltim.2. kesehatan lingkungan/ sanitasi. lulusan D3. ahli gizi. Pada tahun 2004.0 9. 4. tenaga fogging. Data pada grafik memperlihatkan pula adanya kenaikan CFR dari tahun 2003-2005 di sejumlah propinsi yaitu Jatim.5 jml 3 14 4 8 % 8.6 8. Yang dimaksud tenaga pendukung/lainnya adalah tenaga yang berprofesi/ berpendidikan perawat.9 3.

1 PENANGGU LANGAN KLB jml 0 4 39 % 0.8 20.8 47.0 0 6 35 8.5 0.5 Sumber: Data Lapangan.4 4.7 68. dalam pengelompokkan dimasukkan dalam tenaga yang mempunyai latar belakang S2 Epidemiologi.0 5 2 17 44 11.6 100.6 8.6 8.0 27. Seperti halnya di dinas kesehatan propinsi Riau. tenaga dokter yang ada. kepala seksi surveilans adalah seorang dokter dengan pendidikan strata dua epidemiologi. 2006 Di Rumah Sakit.9 100. peran propinsi hanya sebagai koordinator.4 Distribusi Jenis Tenaga di RS dan Puskesmas RS JENIS TENAGA SURVEILAN S jml S2 Epidemiologi S1 Epidemiologi Dokter umum Epidemiologi terampil Analis Laboratorium Pendukung/lainnya Jumlah 1 3 31 45 2. dimana mereka sebagai pemeriksa pasien. Hal yang sama juga ditemukan pada tingkat puskesmas.7 PUSKESMAS SURVEILA NS jml 0 5 15 % 0. Banyaknya tenaga dokter untuk penanggulangan di tingkat kabupaten/kota dikarenakan pelaksana operasional penanggulangan KLB berada di tingkat kabuapten/kota. Sehingga.6 35 59 187 18.3 100.7 100.0 11. maupun sebagai tenaga klinis pada saat penanggulangan. tenaga dokter masuk dalam kategori sebagai ‘pengumpul data’.0 23. Sementara.0 2.8 31.LAPORAN AKHIR Analis Laboratorium Pendukung/lainnya Jumlah 0 10 43 0.0 0 33 13 65 0.8 Sumber: Depkes RI. Sehingga.4 34. adalah semua dokter yang berada di puskesmas.0 100.6 100. Sementara di tingkat puskesmas maupun rumah sakit.1 65.5 38.2 6. Tabel 4. dokter umum paling banyak terlibat dalam kegiatan surveilans maupun penanggulangan.2 15.6 PENANGGU LANGAN KLB jml 1 0 18 % 1.0 50.0 1 10 21 4.0 2 1 7 % 4.2 21.0 10.4 2.9 100. sehingga sumber daya yang bersifat klinis tidak banyak tersedia. 2006 Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 48 .0 0 18 118 179 0.

Di puskesmas Pekanbaru Kota. sehingga sudah terlihat hasil laboratoriumnya. Di lapangan juga ditemukan masih adanya perbedaan persepsi tentang tenaga surveilans dan tenaga penanggulangan.LAPORAN AKHIR Untuk penanggulangan. “kalau sudah terjadi KLB. Sehingga dokter-dokter tidak dianggap bukan tenaga surveilans. mengadakan pertemuan/lokakarya. ada hal yang menarik dari pernyataan dinas kota pekan baru. Sementara bila dokter umum tidak terlibat dalam kegiatan penanggulangan seperti yang terjadi di kabupaten Lombok Tengah. Puskesmas Tambak Rejo. yaitu orang yang melakukan rekap data. Salah satu upaya untuk mengatasinya adalah pelatihan di dalam atau di luar negeri seperti terjadi di Jabar. Tenaga laboran cenderung banyak di RS yang berfungsi sebagai RS pendidikan. Ketiadaan tenaga epidemiologi pada tingkat rumah sakit salah satunya disebabkan karena sudah adanya tim pokja DBD seperti yang ada di di RSUD Mataram. Sementara itu untuk tenaga laboran/laboratorium. terlihat jumlah tenaga dokter umum yang banyak. Pada Dinas Kesehatan kabupaten atau kota. satu tenaga juga merangkap sebagai tenaga untuk program DBD. dan Puskesmas Kota Mataram berpendapat bahwa tenaga surveilans merupakan tenaga tersendiri. Di rumah sakit ini yang mengumpulkan data adalah bagian rekam medis yang bertugas mengumpulkan dan merekap data. yang langsung berada di bawah institusi dinas kesehatan kabupaten/kota dan terlibat sebagai tim penanggulangan. Selain itu. Selain jumlah. Usaha lain yang dilakukan Dinas Kesehatan Propinsi dalam rangka peningkatan kemampuan adalah pembinaan teknis. seperti yang terjadi di propinsi Sulawesi Selatan. Perawat atau sanitarian puskesmas sering merangkap sebagai tenaga surveilans dan tenaga penyelidikan epidemiologi (PE). tenaga perawat atau sanitarian sering dijadikan petugas yang merangkap sebagai tenaga surveilans dan penyelidikan epidemiologi (PE). karena mereka berasumsi bahwa yang dimaksud dengan tim penanggulangan adalah tim penanggulangan yang berada di dinas kesehatan kabupaten itu sendiri. seperti terjadi di RS Mataram. Namun. yang berasumsi bahwa dokter juga merupakan tenaga surveilans. satu tenaga berperan sebagai tenaga DBD merangkap tenaga untuk program malaria dan zoonosis. kualifikasi tenaga masih kurang. Hal ini dikarenakan tenaga dokter yang diasumsikan oleh responden adalah tenaga dokter yang berada di puskesmas (seluruh puskesmas). Jumlah tenaga dirasakan masih kurang. untuk apa tenaga laboran?”. Hal yang berbeda di puskesmas lainnya. laporan kasus yang masuk biasanya penderita sudah dari rumah sakit. malaria. Selain pelatihan formal. Bahkan di tingkat puskesmas. pengetahuan tim pada umumnya dipenuhi dari pengalaman lapangan dalam penanganan P2M. filariasis dan zoonosis. Khusus Jawa Barat sebagai daerah P2M pengetahuan praktis tenaga surveilans dan penanggulangan melebihi pengetahuan bersifat formal Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 49 . rakor dan melakukan berbagai pelatihan di bidang surveilans maupun penanggulangan penyakit. Di tingkat Puskesmas. Hal ini mungkin yang menyebabkan tidak adanya laboran di tingkat dinas kabupaten/kota. ada pula RS yang mengkategorikan dokter sebagai tenaga surveilans seperti di rumah sakit daerah Siak.

Tabel 4.6% responden memiliki pengetahuan tinggi dan 47. 2006 Berdasarkan tabel di atas tergambarkan bahwa pengetahuan para petugas (responden) terhadap pengetahuan surveilans cukup baik.7 % responden menyatakan cukup memahami tentang pengetahuan surveilans. Pengetahuan ini diukur dengan persepsi terhadap 36 pertanyaan tentang penanggulangan DBD. Cut off dipilih median karena distribusi data tidak normal.3% responden memiliki pengetahuan rendah. Pengetahuan ini diukur dengan persepsi terhadap 40 pertanyaan tentang surveilans.6 Persepsi Responden Tentang Penanggulangan DBD Tingkat Pengetahuan Tinggi Rendah Total Sumber: data Lapangan. Apabila dibandingkan persepsi responden terhadap Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 50 . Berdasarkan cut off ≥ 128 untuk kategori pengetahuan tinggi didapat bahwa hanya 53 % dari 19 sampel tenaga mempunyai tingkat pengetahuan yang baik. Dari sejumlah responden yang ditanya.3menyatakan kurang memahami. Tabel 4. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan responden tentang penanggulangan oleh tenaga penanggulangan.3 100.0 Berdasarkan data di atas dapat digambarkan bahwa persepsi responden terhadap pengetahuan berkaitan dengan penanggulangan DBD cukup baik. Data menunjukkan bahwa total skor persepsi penanggulangan berkisar dari 86-156.LAPORAN AKHIR Untuk mengetahui tingkat pengetahuan responden tentang surveilans oleh tenaga surveilans. 2006 Total 10 9 19 % 52.0 Sumber: Data Lapangan. rerata 127 dan median 128.5 Persepsi Responden Tentang Surveilans DBD Total % Tinggi 18 85. Dari data tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa sebenarnya pemahaman aparat terhadap program surveilans cukup baik. yaitu 52. Tiap pertanyaan mempunyai skala 1 sampai 5 (buruk hingga baik). dan 14.3 Total 21 100. rerata 150 dan median 156.7 Rendah 3 14. sejumlah sampel dari daftar tenaga diambil. 85. Data menunjukkan bahwa total skor persepsi surveilans berkisar dari 93-181. Tiap pertanyaan mempunyai skala 1 sampai 5 (buruk hingga baik).6 47. Berdasarkan cut off ≥ 156 untuk kategori pengetahuan tinggi didapat bahwa 85% dari 21 sampel tenaga mempunyai tingkat pengetahuan yang baik. 19 sampel dari daftar tenaga diambil.

dimana sebagian responden adalah tenaga aparat dinas dan tenaga puskesmas yang memiliki informasi dalam praktek kegiatan surveilans. Masih banyak ditemukan masalah kurangnya atau lemahnya koordinasi untuk pemberantasan DBD. Sumber dana untuk kegiatan surveilans dan penanggulangan DBD di lokasi kajian terlihat pada tabel di bawah ini. Tabel 4. masing-masing kabupaten atau kota dalam melaksanakan tugas dan kewenangannya terkesan tidak memerlukan bantuan dinkes propinsi. Selain itu. Hal ini menandakan terutama pada praktek di lapangan. kabupaten/kota sering lupa untuk mengirimkan laporan W2 (mingguan). Dari hasil kunjungan lapangan ke Puskesmas diketahui bahwa dana atau anggaran yang dipergunakan untuk operasional penanggulangan penyakit menular di Puskesmas adalah sebagian besar mempergunakan dana operasional yang diperoleh dari program asuransi kesehatan masyarakat miskin (Askeskin). Kalau tidak diminta oleh propinsi. namun dalam sistem pelaporan mereka masih ada masalah.LAPORAN AKHIR pengetahuan berkaitan dengan surveilans dan pengetahuan berkaitan dengan penanggulangan. dimana dana APBN berkaitan dengan operasional di Puskesmas terbatas pada dana perbantuan untuk penguatan kapasitas. Namun setiap usulan dana dari APBD untuk kegiatan Pokjanal sering tidak mendapat persetujuan Pemda karena urusan DBD dianggap urusan dinas kesehatan. Data di atas juga menggambarkan masih adanya persoalan berkaitan dengan tenaga dalam penanganan DBD khususnya dalam hal koordinasi.7 Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 51 . Namun pemahaman ditingkat kabupaten/kota secara general terhadap penanggulangan KLB belum optimal. yang sebenarnya merupakan salah satu tools untuk melakukan evaluasi. Hal ini sejalan dengan kebijakan yang ada. Untuk puskemas. Sedangkan praktek penanggulangan dipahami lebih banyak oleh tenaga medis di rumas sakit sebagai unit rujukan dalam kasus penanganan DBD. Setiap terjadi KLB. Di Sulsel terdapat Pokjanal yang terdiri dari lintas sektor. terlihat persentase responden lebih tinggi dalam pemahaman surveilans. Dalam operasional di lapangan sudah baik karena mereka langsung cepat tanggap untuk menangani KLB dan mencegah penyebaran lebih luas. dana yang bersumber APBN sangat kecil. sesuai dengan standar. (2) Dana Masalah pembiayaan dalam penanggulangan penyakit DBD menjadi permasalahan yang dihadapi setiap tahunnya oleh Dinas Kesehatan karena alokasi anggaran yang bersumber dari APBD tidak/belum mencukupi sesuai dengan kebutuhan. Pengetahuan dalam penyelidikan dan penanggulangan KLB DBD sudah bagus. Adanya otonomi daerah pun malah mempersulit koordinasi. Seperti terjadi di Sulsel. Sebagian besar dana ternyata berasal dari APBD. meskipun sudah teralokasi namun sebagian besar alokasi anggaran dipergunakan untuk pengadaan obat dan peralatan (investasi) tidak berupa biaya operasional. kabupaten/kota tidak mengirimkan. Hal tersebut berdampak pada pembiayaan untuk operasional Puskesmas dalam upaya penanggulangan KLB.

biaya transfusi darah. seperti JPK-MM.0 0. Yang dimaksud dengan sumber dana lainnya adalah swadaya RS. sumber dana untuk kegiatan surveilans berasal dari dana operasional puskesmas (DOP). penyediaan bahan-bahan pendukung untuk promosi kesehatan. penyuluhan. biaya perawatan. dan swadana puskesmas. sumber dana untuk pelaksanaan opersional penanggulangan DBD juga bersumber dari APBN dan APBD serta sumber lainnya. serta peningkatan manajamen puskesmas. jasa kader. biaya akomodasi. selain berasal dari APBN (dalam bentuk dana tugas perbantuan) dan APBD propinsi dan APBD kab/kota. Berdasarkan wawancara dengan beberapa kepala puskesmas di lapangan. dan penanggulangan fokus. juga berasal dari sumber lainnya. sebagian dana diberikan untuk pembelian bahan operasional. seperti dalam pelaksanaan fogging fokus.0 Sumber: Data Lapangan. 2006 Sumber dana untuk kegiatan surveilans dan penanggulangan di tingkat dinkes propinsi bersumber dari APBN (dekonsentrasi) dan APBD propinsi. peralatan fogging. larvasida.3 28. pembelian bahan bakar/solar. Kader merupakan salah satu tenaga yang terlibat dan dibiayai dengan dana kegiatan surveilans dan penanggulangan KLB.0 75.0 DINKES KAB/KOTA SURVEILAN S jml 7 1 2 % 100.0 30. upah kader. Tidak ada dana yang spesifik diperuntukkan untuk kegiatan surveilans. Salah satu peran kader jumantik adalah mendampingi petugas puskesmas dalam melakukan pemeriksaan di 20 rumah sekeliling rumah penderita jika ada kasus DBD.0 PENANGGULA NGAN KLB jml 5 4 0 % 100. sebagian besar kegiatan operasional surveilans dan penanggulangan DBD mengggunakan dana Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 52 . Dana APBN didapat dalam bentuk dana dekonsentrasi yang disalurkan melalui APBD propinsi. pembelian mesin. Begitupula dana APBD. Bila tidak mencukupi menggunakan dana program. seperti pelatihan tenaga puskesmas. penanggulangan kasus.0 80. khususnya di lingkungan RT/RW melalui posyandu. Sedangkan di tingkat dinkes kab/kota. fogging.LAPORAN AKHIR Distribusi sumber dana di Dinkes Propinsi dan Dinkes Kab/Kota DINKES PROPINSI SUMBER DANA SURVEILANS jml APBD APBN Lainnya 4 3 0 % 100. swadaya masyarakat.0 0.0 10.0 14. serta partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan penyuluhan. Dana tersebut digunakan untuk kegiatan peningkatan kapasitas. Sementara di tingkat puskesmas. pembuatan laporan. seperti insektisida. pembelian insektisida. jasa dokter. Sumber dana lain tersebut didapat dari kelompok masyarakat yang peduli terhadap penanganan kesehatan masyarakat. penyelidikan epidemiologi.6 PENANGGULA NGAN KLB jml 10 1 3 % 100. pembelian obat-obatan. transport supervisor. selain untuk peningkatan kapasitas puskesmas.

4 Sumber: Data Lapangan. maupun APBD-ABT yang diajukan sebagai tambahan. Hanya rumah sakit Gresik yang menyatakan adanya dana surveilans.3 85.1 7.0 0.0 0. Sementara untuk puskesmas. Di kota Surabaya bahkan terkadang menggunakan dana pribadi. 2006 Operasional surveilans di tingkat propinsi menggunakan dana APBN murni maupun Dekon.LAPORAN AKHIR operasional umum yang ada di puskesmas. Di rumah sakit tidak terdapat dana surveilans. 2 milyar yang berasal dari dana dekon (APBN) khusus untuk penanggulangan KLB. bila dana yang diusulkan belum turun. yang ada hanya pencatatan pelaporan yang dilakukan di bagian rekam medis.1 71. Dana yang digunakan untuk penanggulangan KLB berasal dari APBN (Dekon) dan APBD.7 PENANGGUL ANGAN KLB jml 8 1 10 % 57.0 PUSKESMAS SURVEILAN S jml 3 1 6 % 42. Namun tidak menutup kemungkinan pendanaan dapat juga berasal dari APBN. Untuk tingkat kabupaten/kota penggunaan dana terbanyak berasal dari APBD baik APBD murni. seperti terjadi di Sulsel. Walaupun beberapa puskesmas terkadang menggunakan dana JPKMM sebagai tambahan.0 25.8 Distribusi Sumber Dana di RS dan Puskesmas RS SUMBER DANA SURVEILANS jml APBD APBN Lainnya 1 1 0 % 100. Contoh di Jawa Barat DIPA Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 53 . selain dana penanggulangan dari APBD. Untuk tingkat puskesmas. hampir semuanya menggunakan dana APBD. Baik APBD propinsi maupun APBD kabupaten/kota atau APBD sharing. Tabel 4.9 14.0 PENANGGUL ANGAN KLB jml 4 0 1 % 100. rata-rata penggunaan operasional surveilans berasal dari APBD. Seperti ditemukan di puskesmas Duduk Sampeyan dan puskesmas Kebomas. seringkali harus menggunakan dana tambahan dari PKPS-BBM (JPKMM) maupun Askeskin karena seringnya dana terlambat dicairkan. yaitu berasal dari APBN dan APBD (Gakin). Hal tersebut karena dalam prakteknya kegiatan operasional di lapangan dilakukan oleh semua petugas puskesmas. serta dana APBD. Masalah lain dalam aspek dana berkaitan dengan proses pencairan yang dirasakan prosesnya selalu lama dan terlambat. Sehingga wajar saja jika digunakan sumber lain. Tidak jarang puskesmas juga harus menggunakan dana swadaya masyarakat atau pribadi. seperti halnya kabupaten Gresik.0 100. Alokasi dana terbanyak adalah untuk obat dan peralatan (investasi). Hal ini karena adanya kebijakan setiap propinsi mendapatkan dana Rp. Sedangkan untuk tingkat kabupaen/kota.

Peningkatan SDM. RS dan Puskesmas Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 54 . Proporsi anggaran untuk preventiv (surveilans) dan kuratif (penanggulangan) tidak seimbang. 4. (d) fogging massal. (b) penangggulangan focus. (b) Gerakan PSN. Lebih banyak dana dikucurkan untuk kuratif. (d) pemantauan jentik berkala. Sementara SOP kegiatan penanggulangan KLB tampaknya sudah cukup banyak dimiliki di semua level. (a) penyuluhan. Dinkes Kab/Kota. Keberadaan SOP penting untuk panduan petugas. Pemberantasan Nyamuk Penular DBD. (a) terhadap nyamuk dewasa. Penanggulangan KLB. khususnya penyakit DBD. Pada tingkat dinkes propinsi maupun dinkes kab/kota keberadaan SOP dalam bentuk peraturan dan pedoman cukup baik. Bahkan meskipun sudah dibentuk Yayasan Penanggulangan DBD dengan SK Walikota dan didanai oleh perusahaanperusahaan minyak. Pedoman yang bersifat teknis di lapangan diwujudkan dalam bentuk SOP. 2. (b) terhadap jentik nyamuk. (a) penemuan dan pelaporan penderita. (3) Standar Operasi dan Prosedur (SOP) Upaya penanggulangan kejadian luar biasa (KLB)/penyakit menular. (c) bulan kewaspadaan DBD. DBD masih merupakan masalah besar di Kaltim. Dinas Kesehatan Propinsi selanjutnya menyusun Prosedur Tetap (Protap) Penanggulangan DBD sebagai pedoman/acuan pelaksanaan kegiatan Dinas Kesehatan Propinsi dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Materi yang disusun dalam Protap ini adalah langkah-langkah penanggulangan DBD sebagai berikut: 1.LAPORAN AKHIR seringkali terlambat. pada dasarnya dilaksanakan berpedoman pada arah kebijakan dan program dari Pemerintah Pusat (Departemen Kesehatan).9 Distribusi Ketersediaan SOP Surveilans di Dinkes Propinsi. Sedangkan di tingkat puskesmas dan RS masih sangat rendah. antara lain pelatihan petugas kesehatan. Tabel 4. peran swasta dalam kontribusi dana belum optimal. (c) abatisasi. Pelaksanaan SOP kegiatan surveilans dilakukan berdasarkan pedoman dan peraturan. Di propinsi Kalimantan Timur yang merupakan daerah endemis DBD. Kewaspadaan Dini. 3.

0 Pedoman Peraturan 4 1 Sumber: Data Lapangan.6 81.9 63.6 81.4 68.3 PUSKESMAS jml 12 0 % 50.1 SOP Sumber: Data Lapangan. dan laporan kondisi rentan KLB.9 68. 2006 Propinsi belum membuat SOP sendiri. Penyusunan SOP dimaksud dilakukan dengan melibatkan lintas program. 2006 SOP dalam rangka penanggulangan KLB di Dinkes propinsi.4 57.8 36.0 50.0 80.0 50.0 75.9 42.0 0.0 100.4 jml 3 3 2 3 2 2 3 RS % 75.0 100. Di tingkat kabupaten/kota SOP yang ada selain mengadopsi dari pusat juga mengadopsi SOP yang dibuat oleh Dinkes propinsi.LAPORAN AKHIR SOP DINKES PROPINSI jml % 5 3 83. rumah sakit maupun puskesmas yang ada mencakup peraturan SKD-KLB.0 DINKES KAB/KOTA jml 7 9 10 10 7 9 4 % 63. pedoman cara pelaporan.1 jml RS % 57.10 Distribusi Ketersediaan SOP Penanggulangan KLB di Propinsi.0 100. pedoman SKD-KLB.0 50.0 75.0 DINKES KAB/KOTA jml 11 4 % 91. pedoman penyelidikan KLB.8 42. selama ini masih mengikuti pedoman dari pusat. Kedepan propinsi juga akan menyusun Standar Pelayanan Minimal (SPM) dan Standar operasional (SOP) agar SOP bisa operasional di lapangan.7 57. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 55 .9 90. pedoman penanggulangan KLB.3 100. Dinkes Kab/Kota. kab/kota.1 14.0 PUSKESMA S jml 7 8 15 13 13 11 8 % 36.8 90. Tabel 4.0 100.1 78.0 80. laporan penyakit potensi KLB.0 75. RS dan Puskesmas DINKES PROPINSI jml Peraturan SKD-KLB Pedoman SKD-KLB Pedoman penyelidikan KLB Pedoman Penanggulangan KLB Pedoman Cara Pelaporan Laporan Penyakit Potensi KLB Laporan Kondisi Rentan KLB 5 5 5 5 5 4 4 % 100.

LAPORAN AKHIR

Dari Tabel 4.10 tergambarkan keberadaan SOP di masing-masing tingkatan. Seperti halnya SOP dalam rangka kegiatan surveilans, pada kegiatan penanggulangan, setiap dinkes propinsi dan kabupaten/kota memiliki cukup lengkap pedoman dan peraturan sebagai landasan operasional penanggulangan penyakit. Namun demikian SOP dimaksud tidak secara lengkap dimiliki oleh puskesmas. Rumah sakit memiliki SOP penanggulangan cukup baik dibandingkan SOP surveilans. Hal ini dipahami berkaitan dengan fungsi rumah sakit sebagai unit rujukan dalam penanganan kasus penyakit menular termasuk kasus DBD. Walaupun keberadaan SOP dimaksud cukup lengkap hampir pada setiap tingkat unit pelayanan kesehatan, namun demikian keberadaan pedoman belum tentu digunakan. Seperti halnya di RSU Ujung Berung, di propinsi Jawa Barat SOP yang ada dianggap kurang operasional karena tidak sesuai dengan kondisi dan permasalahan yang ada di lapangan. Upaya yang dilakukan dalam melakukan operasionalnya dilakukan dengan membuat SOP yang lebih rinci dan sederhana menjabarkan SOP yang dibuat dinkes propinsi maupun dinkes kab/kota. Yang menarik adalah di RSUD Mataram yang juga merupakan rumah sakit pendidikan dan memilki tim pokja DBD, hanya laporan kondisi rentan KLB yang mereka miliki. Namun mereka juga membuat standar operasional dalam pertolongan pasien DBD yang tidak terdapat dalam ke-enam SOP tersebut. (4) Data

Ketersediaan data, baik pada kegiatan surveilans maupun penanggulangan KLB sangat penting. Data untuk surveilans yang dibutuhkan mencakup kasus, jentik, vektor dan curah hujan. Dari ke-4 data tersebut ternyata hanya data kasus yang tersedia di semua tingkatan. Data jentik yang sangat penting pun tidak tersedia kecuali pada level puskesmas. Jumlah puskesmas yang memiliki data tersebut sangat sedikit. Ketiadaan data di tingkat RS dikarenakan fungsi rumah sakit yang lebih sebagai kuratif. Informasi data surveilans diperoleh berdasarkan data dari seksi surveilans, yang notabene tidak melakukan pengumpulan data jentik, vektor maupun curah hujan. Baik di tingkat propinsi maupun di tingkat kabupaten/kota. Adapun informasi jentik dan curah hujan dilakukan oleh seksi pemberantasan penyakit (program DBD) yang bekerjasama dengan sanitasi. Oleh karena informasi yang diperoleh berasal dari seksi surveilans, maka ketiga data tersebut tidak ada. Sementara di bagian pemberantasan penyakit sendiri juga terdapat bagian surveilans, yang melakukan pengumpulan data rutin DBD. Oleh karena itu bukan berarti dalam surveilans data mengenai jentik dan vektor tidak ada, informasi mengenai jentik dan vektor tidak bisa didapatkan. Hal tersebut dapat dilihat dari informasi penanggulangan yang merupakan perpaduan informasi dari seksi surveilans dan pemberantasan. Tabel 4.11 Distribusi Ketersediaan Data Surveilans di Dinkes Propinsi, Dinkes Kab/Kota, RS dan Puskesmas

Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular

56

LAPORAN AKHIR

DATA

DINKES PROPINSI jml % 100.0 0.0 0.0 0.0

DINKES KAB/KOTA jml 6 0 0 1 % 100.0 0.0 0.0 16.7 jml 4 0 0 0

RS % 80.0 0.0 0.0 0.0

PUSKESMAS jml 11 2 0 0 % 100.0 18.2 0.0 0.0

Kasus Jentik Vektor Curah hujan

3 0 0 0

Sumber: Data Lapangan, 2006 Data yang dibutuhkan untuk penanggulangan DBD mencakup kasus, jentik, lingkungan/genangan, perilaku 3M, vektor, curah hujan dan logistik. Terlihat pada tabel di bawah ini bahwa data yang paling banyak tersedia adalah data kasus dan jentik. Tampaknya di dinkes propinsi dan dinkes kab/kota, data lebih lengkap tersedia dibandingkan di tingkat RS dan puskesmas. Tabel 4.12 Distribusi Ketersediaan Data Penanggulangan KLB di Propinsi, Dinkes Kab/Kota, RS dan Puskesmas
DINKES PROPINSI jml Kasus Jentik Lingkungan/genan gan Perilaku 3M Vektor Curah hujan Logistik 5 3 1 0 1 1 2 % 100.0 60.0 20.0 0.0 20.0 20.0 40.0 DINKES KAB/KOTA jml 12 12 4 2 1 1 4 % 100.0 100.0 33.3 16.7 8.3 8.3 33.3 jml 5 0 0 0 0 0 2 RS % 71.4 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 28.6 PUSKESMAS jml 18 7 1 0 1 2 5 % 94.7 36.8 5.3 0.0 5.3 10.5 26.3

DATA

Sumber: Data Lapangan, 2006 Di Dinkes Kota Bandung Jawa Barat kegiatan surveilans dilakukan secara manual dengan cara pengumpulan data, pencatatan dan pelaporan. Sementara pelaporan yang dilakukan Puskesmas dikirim langsung oleh petugas puskesmas ke dinas kesehatan kota sesuai format yang ditentukan dalam bentuk manual. Sharing informasi antar petugas bidang/unit puskesmas dilakukan dalam bentuk ”rakor bulanan”, sekaligus ajang tukar informasi dan pengalaman serta upaya pemecahan masalah yang ditemukan.
Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular

57

LAPORAN AKHIR

Temuan lain yang di dapat di lapangan adalah tidak dikumpulkannya data jentik, vektor, dan curah hujan. Selain itu ketepatan dan kelengkapan laporan dari kabupaten masih rendah. Juga belum dilakukan analisis data baik di tingkat propinsi maupun kabupaten (baru bersifat pengumpulan data). Sehingga untuk SKD-KLB data yang seharusnya dapat dilihat /diprediksi diawal untuk kewaspadaan terjadinya KLB, belum dilakukan. Selama ini propinsi tidak pernah mempermasalahkan validitas data yang dilaporkan. Untuk pengecekan data biasanya menyamakan informasi yang berasal dari media massa. Propinsi belum mempunyai sistem peringatan ke kabupaten bila terjadi keterlambatan atau ketidak lengkapan. (5) Sarana Ketersediaan sarana penunjang kegiatan surveilans terlihat pada tabel berikut ini. Dari tabel tersebut terlihat bahwa jumlah sarana masih sangat terbatas. Kepemilikan sarana transportasi dan pengolah data, dari level puskesmas hingga dinkes propinsi berkisar 11-50% saja. Sementara untuk sarana komunikasi sudah lebih baik; meskipun untuk level RS dan puskesmas masih perlu ditambah. Tabel 4.13 Distribusi Ketersediaan Sarana Surveilans di Dinkes Propinsi, Dinkes Kab/Kota, RS dan Puskesmas
DINKES PROPINSI jml Transportasi Pengolah data Komunikasi 3 3 6 % 50.0 50.0 100.0 DINKES KAB/KOTA jml 4 5 10 % 36.4 41.7 83.3 jml 1 4 6 RS % 11.1 44.4 66.7 PUSKESMAS jml 11 9 14 % 50.0 40.9 63.6

SARANA

Sumber: Data Lapangan, 2006 Bila di lokasi kajian lain, peralatan pengolah data sudah menggunakan komputer, tidak halnya di Puskesmas Benteng Hilir yang masih menggunakan cara manual. Padahal di puskesmas lainnya, sudah disediakan komputer. Faktor geografis rupanya menentukan jenis alat komunikasi dan dipakai. Di propinsi Jawa Timur, semua wilayah dapat dijangkau dengan telepon, sementara di NTB tidak hanya memanfaatkan telepon sebagai alat komunikasi, tetapi juga SSB. Di kabupaten Lombok Tengah yang menggunakan SSB sebagai sarana komunikasi karena belum adanya kabel telepon. Di propinsi Riau, sarana komunikasi menggunakan telepon, walaupun tidak semua wilayah dapat dijangkau dengan fasilitas telepon. Untuk kegiatan penanggulangan KLB, ketersediaan/kepemilikan sarana yang diperlukan terlihat sudah jauh lebih baik daripada ketersediaan/kepemilikan
Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular

58

yaitu di Dinas Kesehatan Kota Bandung. 2006 Sarana yang dimiliki ada yang statusnya “tidak khusus” untuk kegiatan surveilans atau penanggulangan KLB. Sarana utama yang dibutuhkan dalam penanganan kasus DBD adalah adanya fogging fokus serta insektisida.0 100. alat transportasi untuk surveilans dalam kondisi rusak. Berkaitan dengan jumlah dan jenis sarana. tersedia 3 mobil.7 72. seringkali digunakan fasilitas pribadi seperti handphone. maupun dinkes di kab/kota. rumah sakit dan puskesmas. Senter digunakan untuk surveilans khususnya dalam penemuan jentik dari rumah ke rumah.2 44.14 Distribusi Ketersediaan Sarana Penanggulangan KLB di Propinsi. karena tidak adanya fasilitas kantor.7 66.3 75. Selain itu. Misalnya di Dinkes Kota Samarinda tersedia 2 motor. Namun. 0 100.0 72. Kondisinya pun belum tentu bisa digunakan. 0 80.6 SARANA Sumber: Data Lapangan. sementara di Dinkes Kabupaten Bogor hanya 1 mobil. Pengadaan insektisida dan fogging fokus untuk beberapa propinsi di kirim oleh Dinkes Propinsi karena kab/kota belum siap. RS dan Puskesmas DINKES PROPINSI jml Transportasi Pengolah data Komunikasi Obat Insektisida Alat penyemprot Alat Penyuluhan 4 5 5 4 5 3 0 % 80. Umumnya sarana yang demikian adalah untuk jenis transportasi. Di propinsi Jabar.0 0 DINKES KAB/KOTA jml 10 10 9 4 11 12 7 % 83. Artinya bisa digunakan juga untuk kegiatan lainnya. kondisinya pun belum tentu bagus.4 55.8 50.0 100. untuk insektisida.7 33.7 PUSKESMAS jml 12 13 14 9 13 8 10 % 66.0 33.3 0. alat penyemprot dan alat penyuluhan masih kurang tersedia di semua level. obat.3 91. Bahkan yang Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 59 .3 jml 2 5 4 4 2 0 4 RS % 33.3 66. Satu hal yang unik adalah ketiadaan sarana senter. Kaltim. Untuk alat komunikasi. Dinkes Kab/Kota.LAPORAN AKHIR sarana untuk kegiatan surveilans. Tabel 4. dan di Puskesmas Bojong Gede selain ada 1 mobil juga tersedia 1 motor. seperti yang terjadi di Dinkes Kabupaten Gowa dan Puskesmas Palangga di Sulsel.3 83. misalnya. Di Dinkes Kota Samarinda.0 66.3 83. 0 60. dalam kenyataannya terdapat variasi di berbagai dinkes propinsi.2 77. tetapi hanya 1 yang bisa digunakan.7 100.0 58.

LAPORAN AKHIR

sangat menyedihkan, di puskesmas Temindung Kaltim penggantian biaya batere untuk senter hanya setahun sekali saja. 4.3 Peran dan Tanggung Jawab Penanggulangan Penyakit DBD Pemerintah Daerah dalam

4.3.1 Kewenangan Daerah dan Standar Pelayanan Minimum Sejak diberlakukannya paket UU Otonomi Daerah (UU No. 22 dan No. 25 tahun 1999 yang kemudian direvisi menjadi UU No. 32 dan No. 33 tahun 2004) telah terjadi perubahan pembagian fungsi antara pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten/kota. Sesuai dengan UU No. 22 tahun 1999 dan SK Menkes RI No. 1147 tahun 2000, maka tugas Depkes Pusat adalah menyusun kebijakan nasional, pedoman, standar, petunjuk teknis, fasilitasi dan bantuan teknis kepada daerah, sementara fungsi-fungsi yang bersifat operasional sudah harus diserahkan kepada daerah (propinsi dan kabupaten/kota). Penerapan UU tersebut, khususnya di bidang kesehatan belum disikapi dengan utuh, sehingga terkesan tidak tuntas dalam bertindak. Ini disebabkan adanya kegamangan dalam peran dan tanggungjawab di masing-masing jenjang ataupun instansi di pemerintahan. Selanjutnya pasal 12 UU No. 32/2004 menyatakan bahwa fungsi yang telah dilimpahkan kepada daerah tersebut termasuk tanggung jawab daerah untuk menyediakan sumberdaya yang diperlukan, termasuk pembiayaan, sarana dan ketenagaan yang diperlukan untuk melaksanakan standar pelayanan minimum (SPM). Untuk itu daerah wajib menyediakan pelayanan dasar yang dianggap esensial bagi kesejahteraan penduduk, termasuk di bidang kesehatan. SPM yang sekarang ini berlaku adalah daftar yang ditetapkan dalam Keputusan Menkes No. 1457/2003 (saat ini sedang dilakukan proses revisi). Dalam daftar tersebut ada 9 kewenangan wajib (KW) dan 31 jenis kegiatan/pelayanan/program, seperti dalam tabel di bawah. Tabel 4.15 Daftar KW dan SPM Bidang Kesehatan
No 1 Kewenangan Wajib (KW) Pelayanan Dasar No 1 2 3 4 5 6 7 8 Standar Pelayanan Minimum (SPM) KIA Kesehatan anak pra-sekolah 7 sekolah KB Imunisasi Pengobatan dan perawatan dasar Kesehatan Jiwa Kesehatan kerja *) Kesehatan usila *) Pemantauan pertumbuhan balita Pelayanan gizi

2

Giji Masyarakat

Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular

60

LAPORAN AKHIR 3 4 Rujukan dan Pelayanan Penunjang Pencegahan dan Penyakit Menular Pemberantasan 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Pelayanan obstetri dan neonatal emergency dasar Pelayanan emergency Surveilans dan pengendalian KLB kurang gizi Pencegahan dan pengobatan polio Pencegahan dan pengobatan TBC Pencegahan dan pengobatan infeksi saluran nafas Pencegahan dan pengobatan HIV/AIDS Pencegahan dan pengobatan DBD Pencegahan dan pengobatan Diare Pencegahan dan pengobatan Malaria *) Pencegahan dan pengobatan Kusta *) Pencegahan dan pengobatan Filaria *) Kesehatan lingkungan Pengendalian vektor Hygiene dan sanitasi tempat umum Promosi Kesehatan Promkes dan pengendalian penyalahgunaan obat Pengadaan obat dan bahan medis Obat generik Pembiayaan untuk pelayanan kesehatan perorangan Pembiayaan kesehata penduduk miskin dan risti

5 6 7 8 9

Kesehatan Dasar

Lingkungan

dan

Sanitasi

Promosi Kesehatan Pengendalian Napza Pelayanan Farmasi Pembiayaan kesehatan, kesehatan perorangan dan auransi kesehatan

18 19 20 21 22 23 24 25 26

Sumber: Depkes RI, 2006 *) Hanya di kab/kota tertentu

Berdasarkan hasil analisis tentang daftar SPM tersebut disebutkan bahwa kriteria yang tersirat dalam 3 kegunaan SPM seperti disebutkan dalam UU No. 32/2004 belum seluruhnya terakomodir. Tiga pelayanan dasar menurut UU tersebut adalah (1) hak konstitusi penduduk, (2) kepentingan nasional untuk kesejahteraan masyarakat, keamanan dan ketertiban umum serta integritas dan kesatuan nasional, (3) komitmen nasional terhadap kesepakatan dan konvensi internasional. Pelaksanaan SPM di tingkat kabupaten/kota ternyata menimbulkan kebingungan dan masalah. Pertama, penghitungan kebutuhan biaya untuk semua pelayanan dalam daftar SPM tersebut menghasilkan suatu jumlah yang tidak dapat ditanggung oleh banyak daerah. Ada daerah beranggapan bahwa pemerintah pusat harus menanggung selisih biaya yang tidak bisa ditanggung pemerintah daerah. Kedua, banyak daerah mengalami kesulitan menterjemahkan target nasional dalam target daerah. Misalnya, tidak banyak kabupaten/kota yang memiliki data dasar tentang prevalens penyakit, masalah kesehatan kerja, TBC dan penyakit lainnya, sehingga kesulitan dalam menetapkan target untuk Indonesia Sehat 2010. Ketiga, tidak mudah menterjemahkan target 2010 dalam target tahunan. Dalam kenyataan, banyak kabupaten/kota yang menetapkan target programnya atas dasar plafond anggaran yang akan diterima untuk tahun bersangkutan.
Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular

61

LAPORAN AKHIR

4.3.2 Peran Pemerintah daerah dalam Penanggulangan DBD Pemberantasan penyakit demam berdarah dengue (DBD) sangat tergantung pada peran besar pemerintah daerah, yang langsung menghadapi masyarakat. Daerah diharapkan lebih aktif menggerakkan masyarakatnya untuk menjaga lingkungan masing-masing. Peran daerah dalam penanggulangan DBD antara lain dilakukan dengan tindakan preventif seperti (1) mengeluarkan surat edaran kewaspadaan penyakit DBD kepada semua kepala dinas kesehatan kabupaten/kota, (2) kampanye gerakan pembersihan sarang nyamuk, (3) penyebaran poster, ceramah klinik penyegaran tata laksana kasus, maupun membahas penanganan dan antisipasi DBD. Pemerintah Provinsi memfasilitasi teknis dan pengamatan DBD di daerah endemis, membagikan bubuk abate dan malathion untuk pengasapan ke kabupaten/kota, selain juga memberikan bantuan cairan infus. Kebijakan pemerintah melalui PSN dalam mengendalikan tempat perindukan telah ditetapkan dan disosialisasikan melalui berbagai media. Usaha promosi kesehatan secara konvensional telah meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat mengenai pemberantasan DBD, namun belum diikuti dengan perbaikan sikap. Belajar dari negara tropis lainnya yang telah mengembangkan inovasi pemberdayaan masyarakat melalui COMBI (Communication for Behavioural Impact) menunjukkan bahwa sebelum menetapkan intervensi, perlu didasari pada suatu formative research yang mengungkap hal-hal yang dibutuhkan masyarakat (Park 2004, WHO 2003). Inovasi ini masih belum menjadi fokus perhatian dalam kegiatan PSN di Indonesia. Di propinsi pemantauan kasus terus dilakukan, para bupati dan wali kota disurati untuk mengantisipasi DBD, termasuk kampanye di media massa. Pemerintah Provinsi juga mendistribusikan abate, malathion, cynoft, dan filter paper ke kabupaten/kota. Selain itu juga dilakukan penyuluhan dan gerakan 3 M (menguras, menimbun, dan menutup tempat-tempat potensial perindukan nyamuk). Strategi penanganan DBD dilakukan dengan pengumpulan data kasus DBD dari RS, puskesmas, klinik swasta, pengumpulan data morbiditas kasus DBD yang lalu (tiga-lima tahun) yang akan dipakai sebagai data dasar. Pengumpulan data lapangan dengan mengunjungi rumah penderita, dan pencarian kasus baru, serta pengamatan terhadap perilaku masyarakat disertai penaburan abate 10 gr/100 lt pada TPA di setiap rumah penduduk dengan radius 400 meter persegi dari rumah kasus. Dinkes mengembangkan sistem kerja deteksi dini, yaitu mengidentifikasi berbagai kasus penyakit yang timbul, mulai dari gejala, penyebab, dan daerah sebarannya, terutama daerah rawan endemi. Pelaporan dini, pada tahap ini dilakukan Puskesmas sebagai ujung tombak dalam tindakan darurat mengatasi berbagai permasalahan.

Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular

62

Koordinasi yang sulit terlihat dari lambatnya mekanisme pelaporan kasus KLB. Secara implisit DAU kesehatan dianggap sudah termasuk dalam formula tersebut walaupun sebenarnya secara eksplisit tidak ada.3 Koordinasi antar sektor Koordinasi dengan instansi terkait di tingkat Kabupaten/Kota setelah adanya desentralisasi dan otonomi daerah. Pada umumnya. Dalam formula ini pembagian alokasi anggaran tidak hanya ke propinsi melainkan sampai ke sekitar 400-an kabupaten/kota di Indonesia. 4. dengan pertimbangan antara lain bahwa urusan penyakit menular DBD adalah urusan dinas kesehatan. Pemberdayaan lintas sektor dalam menjalankan Pokja/Pokjanal DBD yang telah dibentuk. Praktis sektor kesehatan harus berjuang di tiap propinsi dan kabupaten/kota untuk mendapatkan anggaran. pelaksanaan tugas kelompok kerja operasional (Pokjanal) DBD tingkat Propinsi. sektor kesehatan masih dipandang sebagai aktor dan inisiator utama dalam pencegahan DBD. karena tenaga Pokja DBD tidak aktif. menjadi lebih sulit untuk dilakukan. Hal ini diperkuat oleh Halstead (2000) mengenai sukses dan kegagalan pengendalian penyakit DBD. Setiap usulan rencana kegiatan dan pembiayaan kegiatan Pokjanal DBD yang diajukan oleh masing-masing instansi terkait di luar kesehatan sering tidak mendapat persetujuan untuk mendapat dana APBD dari Pemerintah Daerah setempat. PSN dan PJB dalam menurunkan insidens DBD di Kota Medan. Masalah lemahnya koordinasi lintas program dan lintas sektor. Hal ini disebabkan tidak adanya dukungan pendanaan dari masing-masing instansi terkait yang tergabung dalam Pokjanal DBD.3. Hal ini dikarenakan ada kesan masing-masing Kabupaten/Kota dalam melaksanakan tugas dan kewenangannya tidak memerlukan bantuan/koordinasi Dinas Kesehatan Propinsi. masih dijumpai dalam pelaksanaan penanggulangan penyakit. Dengan demikian daerah harus merencanakan dan menganggarkan program kesehatan dan bersaing dengan sektor lain untuk mendapatkannya. Setelah desentralisasi kebijakan sektor kesehatan menghadapi apa yang disebut anggaran pembangunan melalui Dana Alokasi Umum (DAU) yang berbasis pada formula. yang merupakan salah satu wadah koordinasi antar instansi/lintas sektor. Metode konvensional promosi kesehatan melalui KIE (Komunikasi Informasi Edukasi) dan advokasi telah meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat. meskipun prosedur pelaporan ada dan telah baku. Di tingkat Propinsi. tidak melibatkan instansi di luar kesehatan. abatisasi. Hal ini sejalan dengan temuan Siregar (2003) tentang tidak adanya hubungan bermakna antara fogging. tidak/belum dapat berjalan dengan baik. namun belum berhasil Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 63 . Masalah penanggulangan KLB semakin sulit penanganannya manakala mekanisme pelaporan tidak berjalan baik. meski prosedur telah ada dan baku. Sebelum desentralisasi alokasi anggaran kesehatan dilakukan oleh pemerintah pusat dengan menggunakan model negosiasi ke propinsi-propinsi. belum optimal.LAPORAN AKHIR Kebijakan desentralisasi semakin rumit ketika harus dilaksanakan di sektor kesehatan yang mencakup area kegiatan luas dan yang selama ini didominasi peran pemerintah pusat.

tidak dilakukan sebelum masa penularan.LAPORAN AKHIR memperbaiki perilaku. Walaupun demikian hasil wawancara dengan masyarakat menunjukkan bahwa masyarakat mengakui PSN melalui 3M lebih baik dan lebih murah daripada pengasapan. Mekanisme PSN-DBD terhadap masyarakat diakui berjalan dengan baik. Communication for Behavioural Impact (COMBI) menawarkan pendekatan dinamis untuk mengubah perilaku dalam pengembangan sosial (Kusriastuti. Petugas dinas kesehatan mengemukakan esensi intensifikasi penyuluhan mengenai PSN-DBD pada masa rendah penularan penyakit Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 64 . kesehatan lingkungan. promosi kesehatan maupun lintas sektor dari lingkungan dan dinas tata kota. 2004). menindaklanjutinya dengan menyusun protap pelaksanaan di lapangan. 2004: Umniyati. Diakui oleh para petugas kesehatan adanya peminatan masyarakat yang lebih tinggi terhadap fogging bila dibandingkan dengan PSN. bahkan seorang di antara enam Kepala Puskesmas yang diwawancarai. Hampir seluruh petugas memahami takaran larutan untuk fogging dan mengatakan bahwa fogging fokus dilaksanakan hanya setelah ada kasus. Parks. walaupun tidak di seluruh tempat. Semua petugas sektor kesehatan memiliki panduan mengenai tata laksana penanggulangan penyakit DBD yang diterbitkan oleh Departemen Kesehatan RI. Adanya usulan mengenai pembentukan dan pengaktifan Tim Epidemiologi Kota sebagai wahana untuk penelusuran penyakit berbasis lingkungan. diharapkan dapat merangkum berbagai pihak terkait dari lintas program pemberantasan penyakit. 2004.

(4) SOP. peta rawan tidak selalu tersedia. (3) dana. Peta rawan. Hampir semua level baik di propinsi hingga kabupaten/kota termasuk puskesmas dan rumah sakit mengalami masalah ketenagaan dalam kegiatan surveilans dan penanggulangan. Kualitas dan kualifikasi masih belum terpenuhi sesuai dengan bidang tugas dan kompetensinya. Jumlah Kasus periode 2003-2005 cenderung stagnan untuk propinsi lokasi kajian (kecuali Jatim meningkat). sedangkan data kematian cenderung meningkat. (2) Indikator Kinerja Surveilans dan Penanggulangan i. Pendidikan rata-rata perawat. Tenaga. khususnya dalam pelaksanaan surveilans dan penanggulangan DBD. (2) pengetahuan. kualifikasi pendidikan yang belum sesuai. beban kerja yang tinggi merupakan masalah yang hampir ditemukan disemua tingkatan. dan (6) data. i. (3) Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kinerja surveilans dan penanggulangan terkait dengan (1) tenaga. Diseminasi informasi dilakukan melalui penerbitan buletin kajian epidemiologi yang diterbitkan oleh dinkes propinsi dan dinkes kabupaten/kota. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 65 . Sarjana (SKM) dan MKes. iv. perpindahan yang begitu cepat. hampir semua dinkes propinsi maupun dinkes kab/kota memiliki peta rawan. Sistem Pelaporan ditunjukkan dengan kelengkapan laporan mencapai 90-100%. sedangkan di Puskesmas sebagai unit pelayanan dasar dan rumah sakit sebagai unit pelayanan rujukan. ii. Kurangnya jumlah SDM. (3) sistem pengelolaan program penanganan penyakit menular masih didominasi pusat. (4) tingginya beban puskesmas sebagai unit operasional utama di lapangan dalam implementasi kebijakan penanggulangan penyakit menular.1 Kesimpulan (1) Kendala utama yang dihadapi dalam implementasi kebijakan penanggulangan penyakit menular dalam kasus DBD adalah (1) koordinasi antar instansi dan antar unit yang bertanggung jawab dalam penanganan DBD masih belum optimal.LAPORAN AKHIR BAB 5 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 5. namun ketepatannya masih 60%. Tidak ada batas yang tegas yang membedakan antara Surveilans dan Penanggulangan dalam praktek operasional di lapangan. (5) sarana. iii. Case Fatality Rate (CFR) DBD fluktuatif. (2) koordinasi antara pusat dan daerah belum dilandasi suatu kebijakan operasional yang jelas tentang kewenangan dan tanggung jawab masing-masing.

Puskesmas tidak memiliki alokasi dana khusus untuk kegiatan surveilans. Untuk tingkat kabupaten/kota.LAPORAN AKHIR Struktur organisasi Dinkes propinsi maupun Kab/Kota tidak menggambarkan pembedaan kedua tugas tersebut. Baik APBD propinsi maupun APBD kabupaten/kota atau APBD sharing. khusus untuk KLB tersedia block grant dari pusat. hampir semuanya menggunakan dana APBD. Pada tingkat propinsi. Permasalahan dana terutama berkaitan dengan (1) keterlambatan turunnya DIPA. iii. Walaupun kondisi sarana dan prasarana untuk kegiatan penanggulangan penyakit menular tidak selalu memadai. Selain pelatihan formal. SOP. tetapi tidak menjadi kendala dalam berjalannya sistem. khususnya ketika kasus terjadi. dana untuk pelaksanaan penanggulangan penyakit menular dirasakan pihak daerah mencukupi. (2) ada masa ketiadaan anggaran. Pengetahuan. sarana utama yang dibutuhkan dalam penanganan kasus DBD adalah adanya fogging fokus serta insektisida Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 66 . Beberapa dinkes kabupaten/kota inisiatif melakukan modifikasi terhadap SOP yang dibuat Depkes. Operasi lapangan untuk suatu kasus (DBD) serentak dilakukan Bidang pendidikan yang ada adalah perawat. Dana operasional selain bersumber dari dana operasional umum juga memanfaatkan dana JPK-MM. Namun demikian kebanyakan SOP tersebut belum operasional. v. Pemahaman tentang surveilans dan penanggulangan KLB masih belum sama. mengadakan pertemuan/ lokakarya. ii. iv. dan (3) proporsi anggaran untuk preventif dan kuratif yang tidak seimbang. dan epidemiologi. Dana. Di rumah sakit tidak terdapat dana surveilans. Dana menjadi persoalan dalam implementasi kebijakan penanggulangan penyakit menular. rakor dan melakukan berbagai pelatihan di bidang surveilans maupun penangulangan penyakit. Sarana. Dana yang digunakan untuk penanggulangan KLB berasal dari APBN (Dekon) dan APBD. yang ada hanya pencatatan pelaporan yang dilakukan di bagian rekam medis. Hampir semua unit pelayanan kesehatan di daerah memiliki pedoman dan peraturan dalam rangka pelaksanaan surveilans dan penanggulangan DBD. Upaya yang dilakukan Dinas Kesehatan Propinsi maupun kabupaten/kota dalam rangka peningkatan kemampuan adalah pembinaan teknis. pengetahuan tim pada umumnya dipenuhi dari pengalaman lapangan dalam penanganan P2M.

(2) Keterbatasan dana. akibatnya kegiatan tindak lanjut yang seharusnya dilakukan tidak berjalan.LAPORAN AKHIR pengadaan insektisida dan fogging fokus di supply oleh Dinkes Propinsi karena kab/kota belum siap vi. Sehingga untuk SKD-KLB data yang seharusnya dapat dilihat /diprediksi diawal untuk kewaspadaan terjadinya KLB. antara lain (1) keterbatasan tenaga. Data yang ada belum dilakukan analisis. Hal ini berkaitan dengan masih cukup besarnya alokasi dana yang berasal dari APBN (dalam bentuk DAU. kecuali kalau ada kasus KLB yang menyebabkan sarana TT tidak mencukupi Pengobatan dapat dilakukan dengan baik kecuali kalau ada keterlambatan pengobatan akibat terlambat merujuk (5) Permasalahan operasional penanganan DBD juga dipengaruhi oleh sistem kepemerintahan yang belum sepenuhnya dapat mengakomodasi sistem perencanaan dan sistem keuangan yang baru. sebagai suatu kegiatan rutin. baik di tingkat propinsi maupun kabupaten/kota (baru bersifat pengumpulan data). Data. Penanggulangan DBD di Rumah sakit relatif tidak masalah. (4) Kondisi umum Pelaksanaan Surveilans dan Penanggulangan DBD Ujung tombak pelaksanaan surveilans ada di Puskesmas. Validitas data yang dilaporkan tidak pernah dipermasalahkan Propinsi belum mempunyai sistem peringatan ke kabupaten bila terjadi keterlambatan atau ketidak lengkapan data. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 67 . Penyelidikan Epidemiolegi (PE) yang dilakukan Puskesmas belum maksimal. Pengobatan dan isolasi penderita dirujuk ke rumah sakit. Namun pada saat kasus. belum dilakukan. Banyak kendala. sarana dan dana. namun belum maksimal melaksanakan surveilans karena keterbatasan tenaga. yang paling menonjol adalah penanggulangan (PE). Aktivitas surveilans dilakukan oleh Tim Lapangan. Ketepatan dan kelengkapan laporan dari kabupaten/kota masih rendah. tidak setiap kasus DBD ditindaklanjuti dengan PE karena DBD dianggap kasus rutin. dekonsentrasi maupun tugas perbantuan). Komitmen daerah dalam penyediaan anggaran (APBD) untuk penanganan penyakit menular belum optimal. namun belum maksimal. karena tidak seimbang antar area yang harus dipantau dengan kemampuan sumberdaya yang tersedia. i. Surveilans mulai diperlukan ketika ada kasus. PE tidak dilakukan maksimal sesuai prosedur yang ada. (3) ketiadaan sarana.

2. 5. analisis. 3. d. Koordinasi penanganan kasus masih bersifat sporadis. 8. Optimalisasi penggunaan sarana dan prasarana dengan melibatkan peran aktif masyarakat. dan evaluasi kegiatan pencegahan dan penanggulangan faktor resiko. malalui a. promosi dan koordinasi. baik pada internal sektor maupun lintas sektor. pemantauan. 4. iii. advokasi. surveilans epidemiologi dan penanggulangan KLB/wabah. Meningkatkan peran dan tanggung jawab Pemerintah Daerah melalui intensifikasi kegiatan sosialisasi. Peningkatan kualitas sistem pelaporan melalui ketepatan data. 5. dan sistem kesiapan dini (early warning system).LAPORAN AKHIR ii. 6. b. validasi dan pengembangan “respond system”. Percepatan penyusunan kebijakan operasional dalam koordinasi pelaksanaan program antar pusat daerah yang mencakup aspek perencanaaan. Diperlukan dukungan dalam bentuk peraturan perundangan dalam meningkatkan komitmen para pihak di daerah dalam rangkan pencegahan dan penanggulangan DBD. hal ini tampak dari keaktifan instansi kesehatan dalam penyebaran informasi kesehatan. Memperkuat kapasitas dan kapabilitas Puskesmas sebagai unit terdepan dalam operasionalisasi surveilans dan penanggulangan penyakit menular. Mengurangi secara bertahap dominasi peran pengelolaan program oleh pusat melalui pendelegasian kewenangan ke daerah serta peningkatan profesionalisme pengelola program di daerah. 10. serta pelaporan (evaluasi). Peningkatan koordinasi antar instansi dan antar unit dalam berbagai tingkatan dalam penanganan penyakit menular. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 68 . Meningkatkan kemampuan tenaga pengendalian penyakit untuk melakukan pencegahan dan penanggulangan faktor risiko.2 Rekomendasi Kebijakan Rekomendasi kajian yang diusulkan mencakup 1. 7. Membangun dan mengembangkan kemitraan. pelaksanaan (monitoring). Peningkatan dukungan dana yang memadai dari APBN maupun APBD. Penyepurnaan SOP sesuai “local specific”. belum tertata dalam sebuah sistem yang aktif dan terstruktur. 9. Keperdulian pemerintah daerah masih belum terlihat. c. Membangun dan mengembangkan kemitraan dan jejaring kerja informasi dan konsultasi teknis pencegahan dan penanggulangan faktor resiko. Melakukan bimbingan. bukan sebaliknya pemerintah daerah yang aktif meminta informasi. jejaring kerja informasi dan konsultasi teknis peningkatan komunikasi informasi dan edukasi (KIE) pencegahan dan pemberantasan penyakit.

Serta didukung jaringan dan kerjasama erat baik antar wilayah dan adimistrasi pemerintah maupun diantara para pelaku pemberantasan penyakit menular dan penyehatan lingkungan itu sendiri dalam satu wilayah. Diperlukan model manajemen pemberantasan penyakit dan penyehatan lingkungan secara terintegrasi yang berbasis wilayah kabupaten/kota dalam perspektif komprehensif. 2. sekaligus menjamin setiap masyarakat terlayani untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Pola pendanaan diharapkan dapat lebih fleksibel dan dimungkinkan untuk kebutuhan KLB dalam bentuk multiyears fund. dan rehabilitatif. perlu terus dikembangkan pola pendanaan sistem jaminan 3. perlu di kelola secara profesional dan berkesinambungan dengan memanfaatkan teknologi yang tepat dan mudah diaplikasikan. opersional tenaga lapangan. Aspek Pendanaan. kesehatan seperti askeskin sehingga kepastian dana sampai kepada masyarakat terjamin. diperlukan revitalisasi peran kelembagaan khususnya kelembagaan Puskesmas. dibuat sesederhana mungkin agar memudahkan pelaksanaan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 69 . pelaksana pembangunan kesehatan di lapangan sebagai ujung tombak pembangunan kesehatan. Puskesmas perlu diperkuat dengan kapasitas manajemen pelayanan untuk kegiatan yang bersifat promotif. Aspek Kelembagaan. promotif dan rehabilitatif) menyertai peran dimaksud secara memadai. Sebagai perangkat utama Kesehatan. Data dan Informasi.LAPORAN AKHIR 11. Motivasi dan komitmen selain muncul atas kesadaran memerlukan dukungan eksternal dalam bentuk insentif. Keberadaan data dan informasi yang akurat dan sinambung menjadi salah satu indikator kinerja pembangunan kesehatan. mendorong terbangunnya motivasi dan komitmen para 5.3 Implikasi Kebijakan dan Rencana Tindak Lanjut Berdasarkan kesimpulan dan rekomendasi yang disampaikan. langkah tindak lanjut yang diperlukan mencakup 1. Dukungan pendanaan serta tenaga dan sarana dalam rangka pelaksanaan operasional pencegahan dan penanggulangan (preventif. 4. selain kuratif. Aspek Ketenagaan. preventif. Aspek SOP. 5.

Umar Fahmi.2006. 2003. 2006. 2001. Manajemen Kesehatan. Pemberantasan Demam Berdarah Dengue (DBD) Hadinegoro. 2006. Jakarta: Prestasi Pustaka Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 70 . Soekidjo. Rita. 2005.LAPORAN AKHIR DAFTAR PUSTAKA Achmadi. Manajemen Berbasis Lingkungan.whosea. JMES. 2004. dkk.A. Standar Pengawasan Program Bidang Kesehatan. World Health Organization Santoso. Successes and Failures in Dengue Control-Global Experience. Nur Nasry. Jakarta: Ditjen P2M & PL. Planning social mobilization and communication for dengue fever prevention and control. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Elex Media Komputindo Anies. Metodologi Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Gempur. Notoatmodjo. Jakarta: PT Gramedia Bappenas. 2000. Jakarta: EGC Noor. Tata Laksana Demam Berdarah Dengue di Indonesia. Scott B. Sri Rezeki. A. 2005. Jakarta: Penerbit Buku KOMPAS Anies. 2005. Gde. Jakarta: Rekacipta. 2005. Jakarta: Reka Cipta.org/en/Section10/Section332 Kusriastuti. Manajemen Penyakit Berbasis Wilayah. Solusi Mencegah Menanggulangi Penyaki Menular. Dengue Bulletin Volume 24.2004. 2005. Progress Report on The Millenium Development Goals Chin. 2004. Kebijakan Penanggulangan Demam Berdarah Dengue di Indonesia. Parks. Mewaspadai Penyakit Lingkungan. 2005. Departemen Kesehatan RI Halstead. Modul Surveilans Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Ditjen PP & PL Depkes RI Muninjaya. Will & Linda Lloyd. Manual Pemberantasan Penyakit Menular. Pengantar Epidemiologi Penyakit Menular. Subdit Arbovirosis. Jakarta: Infomedika Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Pencegahan Pemberantasan Demam Berdarah Dengue di Indonesia dan dan Departemen Kesehatan Republik Indonesia. December-2000 [cited 9 Juli 2005] Available from : http://w3.

949/Menkes/SK/VIII/2004 tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Kewaspadaan Dini Kejadian Luar Biasa (KLB) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1984 Tentang Penyakit Menular Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1479/MENKES/SK/X/2003 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular dan Penyakit Tidak Menular Terpadu Keputusan Menteri Kesehatan RI No. EGC. Universitas Airlangga.LAPORAN AKHIR Siregar. 2003. Sulastomo. 1989. 2003. 4 Tahun 1991 tentang Penanggulangan Penyakit Menular Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. Peraturan Perundangan Peraturan Pemerintah No.. Penanggulangan Wabah Oleh Puskesmas. Soerawidjaja. 949/MENKES/SK/VIII/2004 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Kewaspadaan Dini Kejadian Luar Biasa (KLB) Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 71 . 1116/MENKES/SK/VIII/2003 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan Keputusan Menteri Kesehatan RI No. Manajemen Kesehatan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama World Health Organization. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran. Analisa Penatalaksanaan Penanggulangan Demam Berdarah Dengue (DBD) dalam menurunkan Insidens DBD dan Menentukan Kebijakan Operasional di Kota Medan. Sari Nurhamida. 2001. Resna A. dan Azrul Azwar. Panduan Lengkap Pencegahan & Pengendalian Dengue dan Deman Berdarah Dengue. Jakarta : Bina Putra Aksara.

LAPORAN AKHIR Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 72 .

LAPORAN LAMPIRAN 1 AKHIR RANCANGAN INSTRUMEN KAJIAN I. Identifikasi langkah-langkah yang dilakukan dalam penanggulangan penyakit menular II. Tenaga • Sarana • Dana • Protap • Pengetahuan ttg Wabah & Penanggulangan • Pelatihan Definisi Operasional • • Informasi surveilans • Pengambilan Keputusan SURVEILANS • Potensi komunitas Input Koordinasi lintas sektor Upaya perbaikan kondisi rentan Sistem kewaspadaan dini Penyelidikan & Penanggulangan wabah Kesiapsiagaan menghadapi wabah • Wabah tidak menjadi masalah kesehatan masyarakat Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 73 . Tujuan a. Identifikasi faktor-faktor yang menghambat system informasi manajemen surveilans penyakit menular b. Kerangka Konsep SURVEILANS INPUT • • • • • • • PROSES • Koordinasi kegiatan pengumpulan • Validasi • Pengolahan data • Analisis data • Supervisi pengumpulan • Supervisi pengolahan OUTPUT Tenaga Dana Sarana Pengetahuan yang benar Pelatihan Metoda pengumpulan data Potensi komunitas • Identifikasi masalah • Penyelidikan sebab masalah • Diseminasi PENANGGULANGAN WABAH PENYAKIT MENULAR INPUT PROSES OUTPUT • • • • • III. Identifikasi peran dan tanggungjawab Pemerintah Daerah dalam penanggulangan penyakit menular c.

Identifikasi masalah merupakan hasil analisis data yang sudah diproses untuk mengetahui kemungkinan munculnya/timbulnya kejadian (morbiditas/mortalitas) penyakit menular. pemenuhan dan sumber dana kegiatan. Penyelidikan sebab masalah merupakan proses identifikasi sumber/penyebab timbulnya masalah 3. masyarakat/toma/toga) dalam kegiatan surveilans. Dana merupakan ketersediaan pengalokasian. 4. 4. Supervisi pengumpulan merupakan keberadaan pengawasan terhadap proses pengumpulan data. Supervisi pengolahan merupakan keberadaan pengawasan terhadap proses pengolahan data. 7.LAPORAN AKHIR 1. 5. 6. Tenaga merupakan pelaksana kegiatan surveilans yang meliputi jumlah pelaksana dan tingkat pendidikan serta lamanya bekerja di surveilans. 3. Pelatihan merupakan pernah dan tidaknya petugas mendapatkan pelatihan tentang surveilans penyakit. Output 1. 4. Kelengkapan diukur berdasarkan SOP yang ada PENANGGULANGAN PENYAKIT MENULAR Input 1. Sarana merupakan ketersediaan dan kesuaian fasilitas alat atau bahan yang diperlukan dalam melakukan kegiatan penanggulangan wabah. 2. Partisipasi komunitas merupakan peran serta berbagai kelompok komunitas (seperti: tenaga kesehatan. 6. 2. Diseminasi merupakan ketepatan waktu penyebaran dan kelengkapan informasi surveilans kepada pihak-pihak yang berkepentingan (pengambil keputusan). Dana merupakan ketersediaan pengalokasian. Pengolahan data merupakan ketapatan waktu dan keakuratan suatu data di olah. Proses 1. Pengetahuan petugas merupakan pemahaman petugas tentang karakteristik dan kegiatan penanggulangan penyakit menular. Analisis data merupakan ketepatan penggunaan teknik analisa data. Tenaga merupakan pelaksana kegiatan penanggulangan wabah yang meliputi jumlah pelaksana dan latar belakang pendidikan serta lamanya bekerja. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 74 . Pengetahuan petugas merupakan pemahaman petugas tentang survailans penyakit menular. 6. Protap merupakan keberadaan peraturan yang sesuai dengan fungsinya dalam kegiatan. Koordinasi kegiatan pengumpulan merupakan kerjasama tim surveilan dengan komunitas dan koordinasi di dalam tim itu sendiri dalam melakukan pengumpulan data 2. Pelatihan merupakan pernah dan tidaknya petugas mendapatkan pelatihan tentang penanggulangan penyakit. Sarana merupakan ketersediaan dan kesuaian fasilitas alat atau bahan yang diperlukan dalam melakukan kegiatan surveilans. 3. 5. 3. Metoda pengumpulan data merupakan keberadaan tata laksana kegiatan pengumpulan data dan kesesuaian dengan fungsinya. Validasi merupakan kesesuaian proses kegiatan dengan SOP yang sudah ada. pemenuhan dan sumber dana kegiatan surveilans. 5. 2.

2. Upaya perbaikan kondisi rentan merupakan upaya pencegahan melalui perbaikan keadaan yang menjadi sebab timbulnya kerentanan. masyarakat/toma/toga) dalam kegiatan penanggulangan wabah. 7. Sistem kewaspadaan dini merupakan pelaksanaan pemantauan terus menerus terhadap munculnya kerawanan yang terjadi pada unsur-unsur dasar penyebab terjadinya suatu wabah. 4. dan penyilidikan wabah yang dilakukan oleh pihak yang bertanggung jawab (Dinas kesehatan dan pusat). Pencegahan merupakan upaya memutus mata rantai penularan.LAPORAN AKHIR 7. 5. Wabah tidak menjadi masalah kesehatan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 75 . ketepatan dan kelengkapan data. Proses 1. 3. dan ketepatan waktu yang diterima oleh pihak-pihak pengambil keputusan. 8. Penyelidikan merupakan proses kegiatan kajian penyelidikan pendahuluan dan laporan awal. Potensi komunitas merupakan peran serta berbagai kelompok komunitas (seperti: tenaga kesehatan. 6. 9. Pelayanan pengobatan merupakan upaya pengobatan terhadap kelompok yang berisiko. penyelidikan awal dan laporan perkembangan wabah (periodik). Pengambilan Keputusan merupakan individu yang bertanggung jawab dalam pengambilan keputusan dalam kegiatan penanggulangan. dan peningkatan jumlah penderita yang merupakan indikasi adanya kemungkinan meletusnya suatu wabah. Output 1. Surveilans Ketat merupakan upaya pemantauan kecenderungan wabah. Informasi Surveilans merupakan hasil output system surveilans yang sudah diolah dan dianalisis dengan melihat ada dan tidaknya informasi. Koordinasi lintas sektor merupakan kerjasama antar pihak-pihak yang bertanggung jawab dalam penanggulangan wabah.

. Tingkat Kabupaten antara lain: kepala dinas kesehatan.LAPORAN AKHIR IV. Kader Kesehatan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 76 . staf Kesling 5. yaitu: 1. kasubdin P2M. petugas P2M. Ka RT. Biro Kesra 4. Draft Instrumen Instrumen yang akan dirancang adalah instrument untuk wawancara mendalam (indepth interview) dan instrument observasi (check list). Masyarakat anatar lain: : Ka Desa. Sumber Informan adalah petugas yang terkait dengan pelaksanaan surveilans dan penanggulangan penyakit menular. Tingkat Pusat antara lain P2M. Tingkat Provinsi antara lain: 3.Pustu/polindes. Puskesmas: Kepala Puskesmas. Yanmedik dan Binkesmas 2. LMD/Dewan Kel. seksi surveilance. Bappeda.

Broto Warsito. mencakup aspek • Review tentang Kajian Penyakit Menulat (Aspek Metodologi Kajian. FKM-UI • Tinjauan Umum tentang Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular di Indonesia (Kebijakan Masa Lalu. penetapan responden. Dadi Argadiredja. Indrijono Tantoro. Balitbang Depkes . Dr. (1) Brainstorming dengan Tim Pakar Pelaksanaan brainstorming dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 28 Pebruari 2006. Penyempurnaan Proposal Dalam rangka memperkaya proposal telah dilakukan beberapa kegiatan mencakup (1) pelaksanaan brainstorming dengan Tim Pakar. Dr. Setditjen P3L Depkes . Dedi M. Soedarto Romoatmojo. Ahli Gizi IPB . dan Masa Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 77 .Dr.LAPORAN AKHIR LAMPIRAN 2 PELAKSANAAN KEGIATAN DAN PEMBAHASAN A. Deputi Bidang SDM dan Kebudayaan Bappenas Brainstorming dengan tim pakar dimaksudkan untuk mendapatkan wawasan yang lebih jelas mengenai penanggulangan penyakit menular. Masa Kini. MPH. MOH. Tim yang diundang dalam acara brainstorming adalah nara sumber dari kajian ini serta beberapa pakar lainnya. rumusan masalah serta tujuan dan sasaran penelitian.Tim Fakultas Kesehatan Masyarakat.Dr. Erna Tresnaningsih Suharsa. Sukirman. kerangka pemikiran. Fakultas Kedokteran Unpad . serta variabel kajian Hasil brainstorming selengkapnya pada LAMPIRAN 2. pemilihan lokasi peneltian.Dr. dr. MPH.D. Dalam aspek metodologi masukan dari brainstorming yang diharapkan berkiatan dengan aspek runga lingkup kajian. Universitas Indonesia .Dr. Ph.Prof. (2) Ekspose Tim Ahli. oleh Prof.Dr. MPH . (2) Ekspose Tim Ahli Ekspose Tim Ahli dilaksanakan pada tanggal 5 April 2006 Ekspose Tim Pakar dimaksudkan untuk menggali lebih dalam lagi berbagai aspek yang berkaitan dengan Penanggulangan Penyakit Menular. Masykur Riyadi. Masukan yang diharapkan dari pelaskanaan brainstorming mencakup perbaikan konsep. serta (3) Diskusi Internal. yaitu .

Setditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Depkes Kebijakan Umum Departemen Kesehatan dan/atau Nasional dalam Upaya Penanggulangan Penyakit Menular. Dalam diskusi internal juga dibahas berbagai pertauran perundangan yang berkaitan dengan penanggulangan penyakit menular. Depkes Pokok-pokok Pikiran hasil Ekspose Tim Ahli selengkapnya dalam LAMPIRAN-3. Yang Akan datang. Depkes Penanggulangan penyakit Menular di Rumah Sakit Kabupaten/Kota. Depkes Penanggulangan Penyakit Menular di Puskesmas. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 78 . oleh Kepala Pusat Kajian Kebijakan Pembangunan Kesehatan. metodologi serta teknis pelaksanaan survei lapangan. oleh Direktur Bina Pelayanan Medik dasar. Penetapan Lokasi Kajian Lokasi kajian ditetapkan di 6 propinsi dengan kriteria pemilihan propinsi didasrkan pada ferkuensi dan jumlah kasus Keadaan Luar Biasa (KLB) penyakit. (3) Diskusi Internal Diskusi internal dilakukan pada berbagai kesempatan diskusi yang diselenggarakan di Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Diskusi inernal dilakukan diantara anggota Tim Perumus Rekomendasi Kebijakan dengan melibatkan Tim dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Diskusi internal dilakukan dalam rangka menyempurnakan kerangka acuan kajian dengan mengakomodasi berbagai masukan yang didapat dalam pertemuan brainstorming tim pakar maupun dari hasil ekspose tim ahli. ole Direktur Surveilans Epidemiologi. Dalam diskusi internal juga dilakukan kesepakatan akhir berkaitan dengan disain kajian. (2) penentuan sampel dan responden. oleh Dr. Imunisasi dan Kesehatan Matra. Kebijakan Penanggulangan Wabah DHF. Depkes Tinjauan terhadap Kebijakan Surveilans Epidemiologi. (B) Pembahasan Disain Riset Pembahsan disain riset yang dilakukan mencakup aspek (1) penetapan lokasi kajian. Indriono. Teori dan Praktek dalam Penanggulangan Penyakit Menular. oleh Direktur Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang. (3) perumusan kuesioner. oleh Direktur Bina Kesehatan Komunitas. serta (4) teknik analisis data. sekaligus dibahs tentang aspek kewenangan dari masing-masing tingkatan. serta rencana analisis data dan informasi dan bentuk laporan kajian.LAPORAN AKHIR • • • • • . Depkes.

Propinsi Nusa Tenggara Barat Pada setiap porpinsi ditetapkan sampel 2 kabupaten . dengan responden adalah petugas di lingkungan Dinas Kesehatan. konsistensi dari materi kuesioner sehingga runtut dan dapat dijawab dengan baik oleh responden. mengolah. Propinsi Sumatera Selatan 3. Pelaksanaan Uji Coba Kuesioner dilakukan di Kota Depok. Pada setiap kabupaten ditetapkan 2 kecamatan/puskesmas Penetapan Responden Pada setiap Propinsi dan Kabupaten ditetapkan 4 orang responden mencakup Kepala Dinas/Subdinas Kepala Rumah Sakit/Bagian P2M Kepala Puskesmas pada 2 kecamatan Perumusan Kuesioner Rumusan Kuesioner dibuat dalam bentuk pertanyaan terbuka dan pertanyaan tertutup Pengelompokkan didasarkan pendekatan sistem serta berdasarkan kalster variabel dari konsep penanggulangan penyakit menular. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 79 . Popinsi Jawa Timur 6. pada tanggal 3-11 Juli 2006. Pelaksanaan Uji Coba Kuesioner Uji Coba Kuesioner dilakukan dalam rangka menguji sejauhmana materi pertanyaan dan isian dalam kuesioner dapat dijawab sesuai dengan tujuan kajian.LAPORAN AKHIR Berdasarkan hasil pembahasan dengan kriteria di atas. Propinsi Riau 2. Aspek realibilitas dan vailiditas materi kuesioner juga menjadi target uji coba. mencakup (1) aspek surveilans dan (2) aspek penanggulangan wabah Kuesioner bersifat terbuka akan dilakukan dalambentuk interview dan wawancana mendalam Kuesioner dalam bentuk tertutup akan disampaikan kepada responden untuk mengisi Kuesioner Pada LAMPIRAN 1 Teknik Analisis Data Untuk menganalisis data yang bersumber dari responden dilakukan analisis data menggunakan analisis statistik deskriptif Analisis statistik deskriptif dilakukan dengan cara mengelompokkan. Propinsi Sulawesi Selatan 5. Uji coba juga dilakukan untuk melihat kesesuaian. ditetapkan propinsi yang akan menjadi lokasi kajian adalah 1. Propinsi Kalimantan Timur 4. mentabulasikan dan menginterpertasikan data C.

mencakup aspek (1) Tujuan.. D. survey lapangan dilakukan di 6 (enam) provinsi. Pelaksanaan Survey Lapangan Sesuai dengan lokasi kajian yang telah ditetapkan. tetapi juga dari unsur masyarakat (community based) • Unsur institusi selain Dinkes juga ditambah Bappeda • Bagaimana menemukan sistem penanggulangan yang cepat (efektif dan efesien) dengan mempertimbangkan sistem pelaporan (survailans) yang ada dan cenderung birokratis • Masalah kewenangan penanganan perlu diperjelas (otorisasi) antara kewenangan pusat. Provinsi Sulawesi Selatan dan Provinsi Nusa Tenggara Barat. Provinsi Kalimantan Timur. yaitu Provinsi Riau. Provinsi Jawa Timur. (2) penetapan kontak person di lapangan.. (3) Metode Kajian. Provinsi Jawa Barat. dan fasilitas kesehatan (facility based). Pelaksanaan Survey di masing-masing propinsi dilakukan di 2 (dua) kabupaten. kabupaten/kota. (3) penetapan waktu wawancara yang sesuia sehingga tidak berbebnturan dengan agenda lain bagi petugas di lapangan.. Beberapa masukan dari FGD adalah • Responden perlu ditambah tidak hanya unsur aparat (institution base). propinsi. termasuk lokasi. Hal lain yang juga menjadi masukan dari pelaksanaan uji coba kuesioner adalah berkaitan dengan (1) perijinan dalam pelaksanaan wawancara. Bappeda.. 1 rumah sakit dan tokoh/perwakilan warga masyarakat.. Laporan umum hasil uji coba kuesioner dalam LAMPIRAN . 2 puskesmas. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 80 . (2) Lingkup Kajian. variabel serta parameter kajian. Pembahasan Dengan FGD Pembahasan dengan Forum Group Disscussion dilakukan untuk mendapatkan masukan dan penyempurnaan konsep kajian. Hasil uji coba kuesioner selanjutnya dianalisa untuk kemudian dijadikan bahan perbaikan. dan pada masing-masing kabupaten dilakukan wawancara mendalam serta pengisian kuesioner pada dinas kesehatan. khususnya terkait dengan penanganan surveilans dan penaggulangan penyakit Demam Berdarah (DHF).LAPORAN AKHIR Puskesmas serta Rumah Sakit yang menangani bidang penyakit menular.. Namun pusat tepat ”take a lead” • Perlu kejelasan antara survailans dan penanggulangan: mekanisme kerja serta proses pengambilan keputusannya E.. Jadwal dan Tim pelaksana dari Survei Lapangan dalam LAMPIRAN .

D. Masykur Riyadi. Erna Tresnaningsih Suharsa. Dr. 4. Broto Wasisto. SKM. MPH Dr. Nurlaily Aprilianti 2. MA Dadang Rizki Ratman. MOH. MPA. MPH Prof. Arum Atmawikarta. Ph. MPH Dr. SP. 3. MPH Dr. 5. 3. Dr. 2. Yosi Diani Tresna. 5. Hadiat. Deputi SDM dan Kebudayaan TPRK 1. Drs. Indrijono Tantoro. Dadi Argadiredja. ME. Ir. 4. TIM PENDUKUNG 1. Soekirman Dr. Sulaeman Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 81 . Dedy M. Sularsono. MPM NARA SUMBER 1. 2.LAPORAN AKHIR LAMPIRAN 3 Struktur Organisasi/Tim Pelaksana PENANGGUNG JAWAB Dr. SH.

Yanmedik dan Binkesmas – Propinsi: Kadinkes. Kabupaten/Kota. 28 Februari 2006 • Fokus yang akan diteliti – Umum. Propinsi. Seksi Surveilance. Puskesmas dan Desa. Biro Kesra – Kabupaten : idem – Puskesmas : Kepala Puskemas. staf Kesling – Desa: Ka Desa. Rumah Sakit terpilih • Responden – Pusat: P2M. Pustu/polindes.. Kasubdin P2M. petugas P2M. – Case Study : DBD • Kriteria Lokasi Kajian – Endemis dan Non Endemis – Sedang ada KLB dan tidak ada KLB – Pusat. Ka RT. Bappeda.LAPORAN AKHIR LAMPIRAN 4 NOTULENSI PEMBAHASAN DENGAN TIM PAKAR KAJIAN KEBIJAKAN PENANGGULANGAN WABAH PENYAKIT MENULAR Jakarta. LMD/Dewan Kel. Kader Kesehatan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 82 .

PERUMUSAN MASALAH. propinsi.LAPORAN AKHIR • Design Penelitian: Case Control • Variabel Penelitian: – Peraturan perundang-undangan (pusat. PERTANYAAN PENELITIAN. propinsi. kab/kota) – Managerial/sistem (pusat. SASARAN dan REKOMENDASI Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 83 . kab/kota & kec) – Operasional (puskesmas ke bawah) • Cara Pengumpulan Data – data sekunder – data primer : wawancara mendalam di berbagai tingkat (Pusat s/d kab/kota) dan focus group discussion di tingkat Kecamatan dan desa • Perlu diperhatikan – Kaitan antara JUDUL. TUJUAN.

Sampling: Non Propability Sampling 4. Jenis Penelitian: Penelitian Operasional 3. Ruang Lingkup: Umum dengan case DBD Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 84 .LAPORAN AKHIR LAMPIRAN 5 POKOK-POKOK PIKIRAN EKSPOSE TIM AHLI Kajian Penanggulangan Wabah Penyakit Menular Jakarta. 5 April 2006 I. Pendekatan kajian: • • policy review dengan fokus pada management oriented system model Identifikasi terhadap faktor penghambat dan diakhiri dengan rekomendasi kebijakan 2. METODOLOGI KAJIAN 1.

tenaga. tenaga dan koordinasi 6. sarana. Pemahaman terhadap produk hukum yang ada masih rendah 3. Ketentuan yang ada belum dilaksanakan secara optimal di tingkat operasional akibat keterbatasan dana. Dalam Renstra Depkes Penanggulangan Wabah masuk dalam 2 strategi utama: (1) memberdayakan masy. Kebijakan peraturan perundangan dapat diikuti oleh stakeholder: Kepmen Perpres 4. Infrastruktur Puskesmas untuk surveilans ditingkatkan : Poskesdes Vs Pustu III. u/ hidup sehat dan (2) peningkatan sistem surveilans 5. TINJAUAN KABIJAKAN 1. sesuai dengan kasus penyakit • • • • Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 85 . PRAKTEK PENANGGULANGAN DI LAPANGAN PUSKESMAS • Surveilans di Puskesmas belum Optimal • Koordinasi lintas sektor belum terintegrasi • Keterbatasan tenaga yang kompeten • Kontribusi utama Puskesmas dalam penanggulangan wabah PP dalam jejaring pelayanan. sistem pencatatan RUMAH SAKIT Pelayanan gawat darurat masih di bawah standar Sistem monev periodik antar pusat dan daerah belum terbangun Insentif petugas perlu menjadi perhatian Kelengkapan sarana. Kebijakan yang ada belum fokus 2. sarana.LAPORAN AKHIR II.

Perlu Advokasi untuk dukungan legal aspek pelaksanaan dilapangan 3. Mobilisasi Sosial Gerakan Masyarakat “3M” Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 86 . Optimalisasi dan profesionalisme Sumber Daya (SDM dan dana) 4. Fleksibilitas pencairan dana KLB 7. Surveilans faktor resiko selain surveilans penyakit 5. Penguatan komitmen semua pihak 2.LAPORAN AKHIR IV. Dukungan tenaga. KEBIJAKAN SURVEILANS 1. Daerah berperan dalam pengambilan keputusan menentukan prioritas masalah maupun penanggulangan 2. sarana dan anggaran V. Pengembangan jejaring kerjasama dan kemitraan 3. Pelaksanaan SKD-KLB belum optimal 4. Penguatan program: evidence based. KEBIJAKAN PENANGGULANGAN DBD 1. prioritisasi 5. Manajemen terpadu berbais wilayah: Jumantik. desa siaga 6.

Bogor Jawa Timur 1. Kota Samarinda 2. Kota Bandung 2. Kota Balikpapan Sulawesi Selatan 1. pengendalian faktor resiko dan penyehatan lingkungan. (3) memantapkan jejaring lintas program. Kab. Strategi yang dilakukan mencakup (1) intensifikasi pelaksanaan kasus melalui pencarian kasus dan pemutusan rantai penularan. Kab. Kesimpulan Hasil Survey PROPINSI RIAU Kebijakan Daerah mecakup (1) pemberantasan DBD diselenggarakan dengan menggunakan penatalaksanaan kasus secara cepat dan tepat. perubahan perilaku. Gowa Nusa Tenggara Barat 1. (2) mengembangkan dan memperkuat jejaring surveilans epidemiologi dengan fokus pemantauan wilayah setempat.LAPORAN AKHIR LAPORAN PELAKSANAAN SURVEY KAJIAN KEBIJAKAN PENYAKIT MENULAR 1. kewaspadaan dini. perbaikan manajemen kasus diganostik dan pengobatan serta rujukan. kab/kota. Kab. sebagai dasar tindak lanjut perencanaan program dan penanggulangan KLB. Kota Mataram 2. Kab Lombok Tengah TOTAL Dinas 5 3 2 3 2 2 1 1 2 2 1 2 2 1 2 3 2 3 47 PKM 4 5 3 2 3 4 2 2 4 4 4 6 43 Rumah Sakit 1 1 2 1 2 1 1 4 1 2 2 3 21 Bapp 2 1 1 2 1 1 2 1 1 1 1 1 15 Masy 1 1 20 1 1 18 1 1 13 2 1 20 1 1 25 2 0 13 122 Jml 26 2. Kab. (4) menyiapkan pengadaan dan distribusi kebutuhan obatobatan dan bahan-bahan yang esensial. (5) meningkatkan kemampuan penggalian sumberdaya daerah dan sumberdaya masyarakat dalam pengelolaan program P2M. Kota Makasar 2. serta kemitraan dengan masyrakat (LSM) termasuk swasta. (2) surveilans epidemiologi. lintas sektor. Gresik Kalimantan Timur 1. Kota Pekanbaru 2. Siak Jawa Barat 1. Responden Kajian No 1 2 3 4 5 6 Propinsi/Kab Riau 1. Kota Surabaya 2. melalui Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 87 . imunisasi.

(3) meningkatkan SDM. Kota Pekanbaru juga memiliki Forum Perkampungan Sehat. lintas program dan lintas sektor terkait serta mengaktifkan kembali peran UKS (Usaha Kesehatan Sekolah) untuk menggerakkan anak sekolah dalam pemberantasan demam berdarah. melalui pelaksanaan pertemuan berkala Pojanal/Pokja DBD. PKK. pelatihan tenaga operasional. Depag dan pihak legislatif. dan pemeriksaan jentik berkala (PJB) yang dilakukan setiap 3 bulan sekali. (8) Penelitian. (4) Penanggulangan kasus. (7) Pendekatan Peran Serta Masyarakat dann PSN DBD. Ketiga dana tersebut diatas berasal dari dana Kantor Walikota. Tim Pokjanal DBD terdiri dari unsur-unsur Diknas. diketuai oleh Bappeda dan sekretariat juga berada di Bappeda. (3) Bulan Bakti gerakan ”3M”. menyiapkan juknis dan juklaknya. Tim Pokjanal DBD diketuai oleh Walikota.LAPORAN AKHIR perencanaan. dimana Puskesmas melakukan penyelidikan epidemiologi (PE) untuk mengurangi persebaran lebih luas dan tindakan yang lebih tepat. yaitu pada setiap Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 88 . Bappeda. pelatihan tenaga puskesmas dan rumah sakit. maka kinerjanya akan dipertanyakan. tersedia pos untuk penanggulangan. PROVINSI JAWA BARAT Kebijakan penannggulangan di Jawa Barat secara umum mengacu pada kebijakan dan program yang telah ditetapkan oleh Departemen Kesehatan (Pusat). (5) penanggulangan KLB. Kegiatan pokok adalah melakukan rapat lintas sektor untuk menangani masalah-masalah khususnya penyakit menular. (2) Di Kota Pekanbaru. Program yang dilakukan mencakup (1) kewaspadaan dini DBD melalui penyuluhan intensif. melengkapi sarana pemberantasan vektor. pematauan dan informasi program pemberantasan penyakit dan meningkatkan kewaspadaan di semua tingkat administrasi. (6) peningkatan profesionalisme SDM. (3) Bila terjadi KLB. Dana KLB dianggarakan dengan menggunakan pola kinerja artinya bila KLB tidak terjadi. pembinaan dalam pelaksanaan gerakan 3M. melalui penyediaan insektisida dan larvasida. yaitu dana tak terduga. uang dicairkan. sedangkan sekretariat berada di kantor Dinas Kesehatan. dan menyiapak sarana pemeriksaan untuk diagnosa melaksanakan PE dan penanggulangan fokus. (3) Disamping Tim Pokjanal DBD. Nbila terjadi KLB. yaitu mencakup 1) Kewaspadaan dini DBD. maka uang tidak bisa dicairkan. Strategi pelaksanaan kebijakan penanggulangan DBD di Propinsi Jawa Barat dilakukan melalui (1) pendekatan ”gerak cepat” dan putus rantai. (2) Pemberantasan vektor melalui PSN dengan cara 3M Plus. (2) pemberantasan vektor. PMD. Strategi dan program adaah (1) pertemuan dengan tim pokjanal DBD propinsi Riau menghasilkan beberpa kesepakatan yang menitikberatkan pada peran aktif dari pokja/pokjanal DBD dengan melibatkan masyarakat. dana bencana dan dana belanja rutin sekretariat daerah. Hasil implemnatsi kebijakan. sedangkan dana dari Dinas Kesehatan diutamakan untuk membeli peralatan dan kegiatan yang sifatnya pencegahan. Dinkes.

(2) Fogging dilaksanakan apabila terjadi KLB dengan menggunakan dana yang berasal dari Dinas Kesehatan Kabupaten dengan peruntukan untuk larvasidasi dan abatesisasi. (6) Sosialissi Pola Hidup Bersih (PHBS). (4) penemuan kasus dilaksnakan secara bekerjasama dengan masyarakat. orang dan tempat. puskesmas dan masyarakat. Strategi dalam penanggulangan DBD dilakukan melalui (1) penemuan kasus dan kematian melalui surveilans di rumah sakit. (3) komitmen dari pimpinan unit penyelenggara kesehatan diperlukan untuk kegiatan surveilans epidemiologi. perilaku masyarakat. menetapkan apakah kejadian tersebut suatu KLB. dukun bayi dan kendaraan kesehatan. (2) penyeldikan dan penanggulangan KLB. (4) melakukan kajian epidemiologi harus bekerjasama dengan lintas program dan lintas sektor. bidan. dan tidak seimbangnya jumlah kader dengan cakupan daerah yang harus diselediki. pemeriksaan jentik dengan memberdayakan tenaga jumantik.LAPORAN AKHIR kasus petugas siap melakukan PE sehingga ditemukan akar permasalahan dan sumber penyebabnya untuk kemudian dilakukan tindakan agar tidak menyebar ke tempat lain. mendeskripsikan kasus berdasarkan waktu. (2) kegiatan surveilans epidemiologi dilaksanakan oleh tim fungsional di masingmasing tingkat mulai dari Puskesmas. (3) penyelidikan epidemiologi terhadap kasus yang dicurigai pada daerah yang resiko rendah. membuat cara penanggulangan sementara. melalui persiapan penyelidikan lapangan. praktek swasta. pengolahan dan analisis data untuk penyususnan rumusan kegiatan perbaikan oleh tim epidemiologi. memastikan diagnostik etiologi. mengidentifikasi dan menghitung kasus atau paparan. (3) Upaya peningkatan kemamampuan tenaga kesehatan dalam penanggulangan DBD secara kuratif dilakukan melalui ”workshop tata laksana” dengan melibatkan dokter spesialis dan urusan dalam. Hasil pelaksanaan program ditunjukkan antara lain (1) pemantauan jentik belum optimal dilakukan oleh kader dengan alasan terbatasnya dana operasional. Pelaksanaan program penannggulangan DBD mencakup (1) SKD-KLB melalui kegiatan pengumpulan data baru dari penyakit-penyakit yang berpotensi KLB. foggig focus massal. kesibukan kader. perawat. (2) pencarian kasus tambahan dilakukan pada saat penyelidikan epidemiologi. dan melakukan ”CLEAN-UP” lingkungan yang dipimpin oleh wali kota selama 1-2 jam. (2) upaya preventif yang dilakukan melalui ”managing vector and environment” malalui ger kan 3M yang dilakukan secara linta sektor dalam wadah Pokjanal DBD. (4) Pelibatan partisipasi masyarakat melalui gerakan PSN setiap hari Jumat pagi. mengidentifikasikan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 89 . dan propinsi. status gizi. dokter. (5) Pelibatan lintas sektor. PROVINSI JAWA TIMUR Kebijakan daerah mencakup (1) upaya penanggulangan masalah-masalah kesehatan yang dilakukan merupakan hasil dari kajian surveilans epidemiologi. mengamati indikasi pra-KLB misala cakupan program. kab/kota. (5) melakukan studi epidemiologi pada daerah dengan knerja yang tidak baik.

perubahan perilaku dalam pola hidup bersih dan sehat. pada dasarnya dilaksanakan berpedoman pada arah kebijakan dan program dari Pemerintah Pusat (Departemen Kesehatan). (2) mengembangkan dan memperkuat jejaring surveilans epidemiologi dengan fokus pemantauan wilayah setempat. (5) Dinas kesehatan kota Balikpapan selalu melaksanakan pendataan DBD dengan rutin. melengkapi sarana pemerantasan vektor. mengidentifikasikan keadaan penyebab KLB. beranggotakan kepala – kepala dinas yang ketika diadakan rapatrapat selalu dihadiri oleh personal yang berlainan. kewaspadaan dini. (2) Tim Pokjanal DBD diketuai oleh Walikota. (3) Pelatihan tenaga surveilens (pelatihan epidemiologi. menetapkan rekomendasi cara pencegahan dan penanggulangan. pelaksanaan PE. Pokok-pokok Program yang dilakukan mencakup Kewaspadaan dini DBD. sehingga sesuai data memang DBD di Kota Balikpapan tinggi. (4) Di samping Tim Pokjanal DBD. pertemuan berkala Pokjanal/Pokja DBD. Kota Balikpapan memiliki Yayasan DBD yang ketuanya adalah kasubdin P2M Dinkes dan didanai oleh perusahaahn2 minyak swasta. penyediaan insektiside dan larvasida. (2) Pemberantasan vector. pelatihan tenaga kesehatan. penyuluhan. lintas program dan lintas sekor terkait. penyehatan lingkungan. PROVINSI KALIMNATAN TIMUR Kebijakan Daerah yang dilakukan mencakup (1) Pemberantasan DBD diselenggarakan dengan menggunakan penatalaksanaan kasus secara cepat dan tepat. APBD mengalokasikan dana 500 juta untuk peanggulangan KLB dan habis untuk penanggukangan KLB DBD.LAPORAN AKHIR sumber dan cara penyebaran. Strategi yang dilakukan mencakup (1) peningkatkan pencarian kasus dan pemutusan rantai penularan perbaikan manajemen pengobatan serta rujukan. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 90 . Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Selatan selanjutnya menyusun Prosedur Tetap (Protap) Penanggulangan DBD sebagai pedoman/acuan pelaksanaan kegiatan Dinas Kesehatan Propinsi dan Dinas Kesehatan Kabupten/Kota. Gambaran implementasi adalah (1) Pelaksanaan penanggulangan DBD melibatkan masyarakat. PROVINSI SULAWESI SELATAN Upaya penanggulangan kejadian luar biasa (KLB)/penyakit menular. pelaksanaan gerakan 3M. khususnya penyakit DBD di Propinsi Sulawesi Selatan. (2) Pelaksanaan Surveilans Epidemiologi. menetapkan sistem penemuan kasus baru. kerja sama dengan dengan masyarakat dan swasta. (3) Untuk tahun 2005. merencanakan penelitian lain yang sistematis. dan (3) Membangun kerja sama lintas sektor. (6) Pelatihan khusus tentang epidemiologi dan surveillens baru dilakukan 1 kali dalam 5 tahun terakhir.

Dinkes Propinsi Nusa Tenggara Barat membuat pedoman operasional yang berisi ”step by step” metodologi penanggulangan DBD. (2) Pemberantasan Nyamuk Penular DBD terhdap nyamuk dewasa dan jentik nyamuk. penanggulangan fokus. dimana peran puskesmas sangat kecil karena dukungan dana dan personil sangat kecil. sedangkan tahun 2004 jumlah KLB DBD sebanyak 88 kasus. melalui pelatihan petugas kesehatan. pelatihan bagi pengelola program P2 DBD di 23 kab/kota. terutma untuk insentif tenaga kesehatan dan kader. pemantauan jentik berkala. Namun terdapat ”gap” pelaksanaan/penanganan KLB. abatisasi. Di kabupaten Lombok Tengah.LAPORAN AKHIR Materi yang disusun dalam Protap ini adalah langkah-langkah penanggulangan DBD sebagai berikut: (1) Kewaspadan Dini. kab/kota dan puskesmas. pengamatan bebas jentik dilakukan oleh murid-murid sekolah dan telah terbukti cukup efektif untuk dapat direflikasi di daerah lain. dan fooging massal. (2) Penanggulangan KLB menemukan jumah kasus KLB DBD tahun 2005 sebanyak 66 kasus.. gerakan PSN. (4) Peningkatan SDM. melakukan pelatihan tatalaksana DBD bagi dokter di rumah sakit pada daerah endemis. PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT Pedoman surveilans dan KLB kurang operasional. pembinaan di 23 kab/kota. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 91 . Pada pelaksanaan di Puskesmas. Surveilans dilaksanakan pada tingkat dinas kesehatan propinsi. bulan kewaspadaan DBD. melalui penemuan dan pelaporan penderita. pemantauan jentik berkala di berbagai kabupaten endemis dengan sasaran masing-masing 100 rumah. Implementasi kebijakan penanggulangan DBD di Sulawesi Selatan antara lain (1) Kewaspadaan Dini. lintas program dan kabupaten/kota terdekat. pertemuan Kewaspadaan Dini DBD sebanyak 4 kali melibatkan sektor terkait. (3) Peningkatan Sumber Daya Manusia. dukungan dana surveilans tertolong oleh adanya subsidi dari Askeskin. penyuluhan intensif melalui media cetak dan elektronik. (3) Penanggulangan KLB. menghasilkan penemuan dan pelaporan penderita. melalui penyuluhan. Dngan demikian Puskesmas sebagai fasilitas yang paling dekat edngan masyarakat tidak dimanfaatkan dengan baik dalam penanggulangan KLB DBD.