LAPORAN Kajian Kebijakan Penanggulangan (Wabah) Penyakit Menular

(Studi Kasus DBD)

Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat

Deputi Bidang SDM dan Kebudayaan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional 2006

LAPORAN AKHIR

KAJIAN KEBIJAKAN PENANGGULANGAN (WABAH) PENYAKIT MENULAR
Studi Kasus DBD

DIREKTORAT KESEHATAN DAN GIZI MASYARAKAT BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL TAHUN 2006

Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular

LAPORAN AKHIR

Ringkasan Eksekutif
Kajian ini dilatarbelakangi adanya kecenderungan terus meningkatnya wabah penyakit menular di berbagai daerah di Indonesia. Selain penyakit menular yang telah lama ada, penyakit menular baru (new emerging diseases) juga menunjukkan peningkatan. Kebijakan penanggulangan wabah penyakit menular telah diatur dalam peraturan perundangan. Namun demikian implementasi di lapangan masih menghadapi berbagai permasalahan. Beberapa permasalahan yang teridentifikasi antara lain berkaitan dengan (1) pelaksanaan surveilans, (2) upaya penanggulangan, serta (3) adanya desentralisasi kewenangan pengelolaan. Berdasarkan hasil penelitian WHO Tahun 2003 dilaporkan bahwa pelaksanaan kegiatan surveilans masih menghadapi kendala antara lain berkaitan dengan (1) kebijakan sistem surveilans yang belum dipahami sampai ke petugas teknis di lapangan, (2) terbatasnya tenaga pelaksana surveilans, (3) adanya ketidaksesuaian kompetensi, (4) terbatasnya dana pelaksanaan surveilans di tingkat operasional, dan (5) belum optimalnya penggunaan sarana kesehatan dalam mendukung pelaksanaan surveilans penyakit seperti pemanfaatan laboratorium dan peralatan. Berdasarkan latar belakang tersebut, tujuan utama kajian adalah menyusun rumusan kebijakan penanggulangan wabah penyakit menular secara terpadu berdasarkan analisis faktor-faktor yang berpengaruh melalui (1) identifikasi kinerja surveilans, (2) identifikasi kinerja penanggulangan wabah penyakit , serta (3) identifikasi peran dan tanggungjawab Pemerintah Daerah. Metode kajian dilakukan melalui analisis diskriptif (kualitatif) berdasarkan data dan informasi yang didapat di lapangan, baik berbentuk data sekunder maupun hasil wawancana mendalam serta melakukan pembahasan dengan nara sumber dalam bentuk focus group discussion (FGD) dan workshop. Landasan pemikiran kajian didasarkan pada asumsi adanya hubungan timbal balik antara rendahnya kinerja surveilans dan kinerja penanggulangan dengan implementasi kebijakan wabah penyakit menular khususnya dalam kasus kebijakan penanganan penyakit DBD. Kinerja surveilans diukur dengan melihat (1) keberadaan peta rawan, (2) pelaksanaan diseminasi informasi DBD, dan (3) Pelaporan serta dengan melihat faktor-faktor berpengaruh mencakup (1) tenaga, (2) data, (3) sarana, (4) dana, dan (5) SOP. Kinerja Penanggulangan diukur dengan melihat (1) Frekuensi KLB, (2) Jumlah Kasus, (3) Jumlah Kematian, (4) Luas Daerah Terserang serta dengan melihat faktor-faktor berpengaruh mencakup (1) tenaga, (2) data, (3) sarana, (4) dana, dan (5) SOP. Implementasi kebijakan wabah penyakit menular juga dipengaruhi kebijakan desentralisasi kewenangan pengelolaan pembangunan. Kajian menyimpulkan bahwa kendala utama yang dihadapi dalam implementasi kebijakan penanggulangan wabah penyakit menular dalam kasus DBD adalah (1) koordinasi antar instansi dan antar unit yang bertanggung jawab dalam penanganan DBD masih belum optimal, khususnya dalam pelaksanaan surveilans dan penanggulangan DBD, (2) koordinasi antara pusat dan daerah belum dilandasi suatu kebijakan operasional yang jelas tentang kewenangan dan tanggung jawab masingmasing, (3) sistem pengelolaan program penanganan penyakit menular masih didominasi pusat, (4) tingginya beban puskesmas sebagai unit operasional utama di lapangan dalam implementasi kebijakan penanggulangan wabah penyakit menular. Indikator Kinerja Surveilans dan Penanggulangan mencakup (1) Peta rawan, hampir semua dinkes propinsi maupun dinkes kab/kota memiliki peta rawan, sedangkan di Puskesmas sebagai unit pelayanan dasar dan rumah sakit sebagai unit pelayanan rujukan, peta rawan tidak selalu tersedia, (2) proses diseminasi informasi dilakukan
Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular ii

namun ketepatannya masih 60%. (5) sarana. Pemahaman tentang surveilans dan penanggulangan KLB masih belum sama. mengadakan pertemuan/ lokakarya. Data yang ada belum dilakukan analisis. Case Fatality Rate (CFR) DBD fluktuatif. Beberapa dinkes kabupaten/kota inisiatif melakukan modifikasi terhadap SOP yang dibuat Depkes. Operasi lapangan untuk suatu kasus (DBD) serentak dilakukan. Pengetahuan. khususnya ketika kasus terjadi. yang ada hanya pencatatan pelaporan yang dilakukan di bagian rekam medis. Sehingga untuk SKDKLB data yang seharusnya dapat dilihat/diprediksi diawal untuk kewaspadaan terjadinya KLB. Selain pelatihan formal. khusus untuk KLB tersedia block grant dari pusat. Kualitas dan kualifikasi masih belum terpenuhi sesuai dengan bidang tugas dan kompetensinya. Pengadaan insektisida dan mesin fogging di supply oleh Dinkes Propinsi karena kab/kota belum siap.LAPORAN AKHIR melalui penerbitan buletin kajian epidemiologi yang diterbitkan oleh dinkes propinsi dan dinkes kabupaten/kota. (4) Jumlah Kasus periode 2003-2005 cenderung stagnan untuk propinsi lokasi kajian (kecuali Jatim meningkat). Walaupun kondisi sarana dan prasarana untuk kegiatan penanggulangan penyakit menular tidak selalu memadai. Hampir semua unit pelayanan kesehatan di daerah memiliki pedoman dan peraturan dalam rangka pelaksanaan surveilans dan penanggulangan DBD. (2) ada masa ketiadaan anggaran. (3) sistem pelaporan ditunjukkan dengan kelengkapan laporan mencapai 90-100%. Validitas data yang dilaporkan tidak pernah dipermasalahkan. Namun demikian kebanyakan SOP tersebut belum operasional. dan (3) proporsi anggaran untuk preventif dan kuratif yang tidak seimbang. tetapi tidak menjadi kendala dalam berjalannya sistem. perpindahan yang begitu cepat. Pada tingkat propinsi. Untuk tingkat kabupaten/kota. Sarana utama yang dibutuhkan dalam penanganan kasus DBD adalah adanya mesin fogging serta insektisida. (3) dana. rakor dan melakukan berbagai pelatihan di bidang surveilans maupun penangulangan penyakit. Tenaga. Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular iii . Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kinerja surveilans dan penanggulangan terkait dengan (1) tenaga. Dana operasional selain bersumber dari dana operasional umum juga memanfaatkan dana JPK-MM. dan epidemiologi. Propinsi belum mempunyai sistem peringatan ke kabupaten bila terjadi keterlambatan atau ketidak lengkapan data. Upaya yang dilakukan Dinas Kesehatan Propinsi maupun kabupaten/kota dalam rangka peningkatan kemampuan adalah pembinaan teknis. (2) pengetahuan. dana untuk pelaksanaan penanggulangan wabah penyakit menular dirasakan pihak daerah mencukupi. (4) SOP. Data. pengetahuan tim pada umumnya dipenuhi dari pengalaman lapangan dalam penanganan P2M. Tidak ada batas yang tegas yang membedakan antara Surveilans dan Penanggulangan dalam praktek operasional di lapangan. Hampir semua level baik di propinsi hingga kabupaten/kota termasuk puskesmas dan rumah sakit mengalami masalah ketenagaan dalam kegiatan surveilans dan penanggulangan. Kurangnya jumlah SDM. Ketepatan dan kelengkapan laporan dari kabupaten masih rendah. Di rumah sakit tidak terdapat dana surveilans. beban kerja yang tinggi merupakan masalah yang hampir ditemukan disemua tingkatan. sedangkan data kematian cenderung meningkat. Struktur organisasi Dinkes propinsi maupun Kab/Kota tidak menggambarkan pembedaan kedua tugas tersebut. kualifikasi pendidikan yang belum sesuai. Sarjana (SKM) dan MKes. SOP. Puskesmas tidak memiliki alokasi dana khusus untuk kegiatan surveilans. hampir semuanya menggunakan dana APBD. Baik APBD propinsi maupun APBD kabupaten/kota atau APBD sharing. Permasalahan dana terutama berkaitan dengan (1) keterlamabatan turunnya DIPA. Dana menjadi persoalan dalam implementasi kebijakan penanggulangan penyakit menular. Dana. belum dilakukan. Dana yang digunakan untuk penanggulangan KLB berasal dari APBN (Dekon) dan APBD. Bidang pendidikan yang ada adalah perawat. Sarana. Pendidikan rata-rata perawat. baik di tingkat propinsi maupun kabupaten (baru bersifat pengumpulan data). dan (6) data.

Banyak kendala. (10) Diperlukan dukungan dalam bentuk peraturan perundangan dalam meningkatkan komitmen para pihak di daerah dalam rangkan pencegahan dan penanggulangan DBD. pelaksanaan (monitoring). dekonsentrasi maupun tugas perbantuan). Koordinasi penanganan kasus masih bersifat sporadis. (8) Membangun dan mengembangkan kemitraan dan jejaring kerja informasi dan konsultasi teknis pencegahan dan penanggulangan faktor resiko. (ii) Penyempurnaan SOP sesuai “local specific”. (3) Surveilans mulai diperlukan ketika ada kasus. belum tertata dalam sebuah sistem yang aktif dan terstruktur. (3) Mengurangi secara bertahap dominasi peran pengelolaan program oleh pusat melalui pendelegasian kewenangan ke daerah serta peningkatan profesionalisme pengelola program di daerah. namun belum maksimal. Pengobatan dapat dilakukan dengan baik kecuali kalau ada keterlambatan datang ke sarana pengobatan dan akibat terlambat merujuk. validasi dan pengembangan “respond system”. malalui (i) Peningkatan dukungan dana yang memadai dari APBN maupun APBD. (iii) Peningkatan kualitas sistem pelaporan melalui ketepatan data. Komitmen daerah dalam penyediaan anggaran (APBD) untuk penanganan wabah penyakit menular belum optimal. (9) Membangun dan mengembangkan kemitraan. (2) Percepatan penyusunan kebijakan operasional dalam koordinasi pelaksanaan program antar pusat daerah yang mencakup aspek perencnaaan. Penyelidikan Epidemiologi (PE) yang dilakukan Puskesmas belum maksimal. tidak setiap kasus DBD ditindaklnajuti dengan PE karena DBD dianggap kasus rutin. jejaring kerja informasi dan konsultasi teknis peningkatan komunikasi informasi dan edukasi (KIE) pencegahan dan pemberantasan penyakit. dan evaluasi kegiatan pencegahan dan penanggulangan faktor resiko. yang paling menonjol adalah penanggulangan (PE). sebagai suatu kegiatan rutin. advokasi. Penanggulangan DBD di Rumah sakit relatif tidak masalah. promosi dan koordinasi. Hal ini berkaitan dengan masih cukup besarnya alokasi dana yang berasal dari APBN (dalam bentuk DAU. namun belum maksimal melaksanakan surveilans karena keterbatasan tenaga. Rekomendasi kajian yang diusulkan mencakup (1) Peningkatan koordinasi antar instansi dan antar unit dalam berbagai tingkatan dalam penanganan wabah penyakit menular yang dilakukan oleh Menko Kesra. PE tidak dilakukan maksimal sesuai prosedur yang ada. (11) Diperlukan model manajemen pemberantasan penyakit dan penyehatan lingkungan secara terintegrasi yang berbasis wilayah kabupaten/kota dalam perspektif Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular iv . karena tidak seimbang antar area yang harus dipantau dengan kemampuan sumberdaya yang tersedia. baik pada internal sektor maupun lintas sektor. (6) Meningkatkan kemampuan tenaga pengendalian penyakit untuk melakukan pencegahan dan penanggulangan faktor risiko. Permasalahan operasional penanganan DBD juga dipengaruhi oleh sistem kepemerintahan yang belum sepenuhnya dapat mengakomodasi sistem perencanaan dan sistem keuangan yang baru. (2) Aktivitas surveilans dilakukan oleh Tim Lapangan. serta pelaporan (evaluasi). (7) Melakukan bimbingan. (iv) Optimalisasi penggunaan sarana dan prasarana dengan melibatkan peran aktif masyarakat. analisis. sarana dan dana. Namun pada saat kasus.LAPORAN AKHIR Kondisi umum Pelaksanaan Surveilans dan Penanggulangan DBD: (1) Ujung tombak pelaksanaan surveilans ada di Puskesmas. hal ini tampak dari keaktifan instansi kesehatan dalam penyebaran informasi kesehatan. antara lain keterbatasan tenaga. keterbatasan dana. dan sistem kewaspadaan dini (early warning system). pemantauan. (4) Memperkuat kapasitas dan kapabilitas Puskesmas sebagai unit terdepan dalam operasionalisasi surveilans dan penanggulangan wabah penyakit menular. Pengobatan dan isolasi penderita dirujuk ke rumah sakit. ketiadaan sarana. akibatnya kegiatan tindak lanjut yang seharusnya dilakukan tidak berjalan. Bupati/Walikota . Gubernur. Keperdulian pemerintah daerah masih belum terlihat. kecuali kalau ada kasus KLB yang menyebabkan sarana TT tidak mencukupi. (5) Meningkatkan peran dan tanggung jawab Pemerintah Daerah melalui intensifikasi kegiatan sosialisasi. bukan sebaliknya pemerintah daerah yang aktif meminta informasi. surveilans epidemiologi dan penanggulangan KLB/wabah.

Motivasi dankomitmen selain muncul atas kesadaran memerlukan dukungan eksternal dalam bentuk insentif. Puskesmas perlu diperkuat dengan kapasitas manajemen pelayanan untuk kegiatan yang bersifat promotif. selain kuratif. perlu terus dikembangkan pola pendanaan sistem jaminan kesehatan seperti askeskin sehingga kepastian dana sampai kepada masyarakat terjamin. (2) Pendanaan. dibuat sesederhana mungkin agar memudahkan pelaksanaan operasional tenaga lapangan dan distribusikan. Dukungan pendanaan serta tenaga dan sarana dalam rangka pelaksanaan operasional pencegahan dan penanggulangan (preventif. (4) Ketenagaan. (3) Data dan Informasi. sekaligus menjamin setiap masyarakat terlayani untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Implikasi Kebijakan dan Rencana Tindak Lanjut mencakup aspek-aspek: (1) Kelembagaan. perlu di kelola secara profesional dan berkesinambungan dengan memanfaatkan teknologi yang tepat dan mudah diaplikasikan serta dimungkinkan adanya Pusat Informasi Penanaganan DBD (DBD Center). mendorong terbangunnya motivasi dan komitmen para pelaksana pembangunan kesehatan di lapangan sebagai ujung tombak pembangunan kesehatan. dan rehabilitatif. promotif dan rehabilitatif) menyertai peran dimaksud secara memadai. (5) SOP.LAPORAN AKHIR komprehensif. Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular v . preventif. Sebagai perangkat utama Kesehatan. Serta didukung jaringan dan kerjasama erat baik antar wilayah dan adimistrasi pemerintah maupun diantara para pelaku pemberantasan penyakit menular dan penyehatan lingkungan itu sendiri dalam satu wilayah. diperlukan revitalisasi peran kelembagaan khususnya kelembagaan Puskesmas. Keberadaan data dan informasi yang akurat dan sinambung menjadi salah satu indikator kinerja pembangunan kesehatan.

DR. Sularsono. Hadiat. anggota FGD. Kasus penyakit menular dalam kajian ini adalah Demam Berdarah Dengue (DBD). Kajian ini dilatarbelakangi adanya kecenderungan terus meningkatnya wabah penyakit menular di berbagai daerah di Indonesia. akhirnya Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Desember 2006 Tim Perumus Rekomendasi Kebijakan 1. Namun demikian implementasi di lapangan masih menghadapi berbagai permasalahan. Selanjutnya berdasarkan rekomendasi yang dirumuskan. Banyak hal telah didapat dari pelaksanaan kajian ini. Dadang Rizki Ratman. SKM. khususnya Subdit Arbovirosis. Hasil temuan dan kesimpulan dirumuskan menjadi suatu rekomendasi kebijakan yang diharapkan dapat memperbaiki kebijakan dalam penanggulangan wabah penyakit menular. SH. Ucapan terima kasih pada seluruh pihak yang telah memberikan kontribusi pada pelaksanaan kajian ini mulai dari tim perumus rekomendasi kebijakan. penyakit menular baru (new emerging diseases) juga menunjukkan peningkatan. serta responden di dinas kesehatan propinsi dan dinas kesehatan kabupaten/kota. dibuat implikasi kebijakan yang harus menjadi langkah tindak lanjut. DR. Hasil kajian ini jelas belum menggambarkan kondisi utuh pelaksanaan kabijakan sehingga langkah kebijakan yang diambil pun tidak luput dari bias dari peneliti dan pengkaji. MPA 4. Selain penyakit menular yang telah lama ada. MA 3. Inti Wikanestri. MPH 2. masyarakat serta FGD dari Bappenas. MS 7. bappeda serta masyarakat. Yosi Diani Tresna. khususnya dalam penanganan kasus demam berdarah. Perguruan Tinggi. Nurlaili Aprilianti Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular vi . baik di di tingkat kebijakan makro (RKP) maupun dalam bentuk kebijakan teknis yang perlu di tindak lanjuti oleh departemen/instansi teknis maupun instansi terkait lainnya. tidak saja dalam bentuk temuan tetapi juga pengalaman proses pelaksanaan survey lapangan yang dilakukan sampai ke tingkat Puskesmas dan pelosok masyarakat untuk melakukan wawancara dan diskusi. Arum Atmawikarta. STP. Unuk itu saran dan masukan guna penyempurnaan hasil kajian ini secara terbuka dinantikan. Pemerintah Daerah. SKM 8. Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat serta seluruh staf di lingkungan Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas serta melibatkan nara sumber dari Departemen Kesehatan. MPM 5. Dinas Teknis terkait. ME 6.LAPORAN AKHIR KATA PENGANTAR Dengan memanjat puji dan syukur pada Allah SWT. Tiada gading yang tak retak. Pelaksanaan kajian telah melibatkan Deputi bidang SDM dan Kebudayaan Bappenas. Jakarta. Pungkas Bahjuri Ali. Kebijakan penanggulangan wabah penyakit menular telah diatur dalam peraturan perundangan. para nara sumber. khususnya kasus Demam Berdarah dengue (DBD). Mudah-mudahan laporan kajian ini memliki kontribusi substansial bagi penataan kebijakan di bidang kesehatan maupun menjadi salah satu referensi bagi penelitian kebijakan selanjutnya maupun untuk kepentingan bersifat akademis. SP. Ir.

2 3.6 Ruang Lingkup Kajian .1 1.1 3.2.Peran Masyarakat dalam Penanggulangan DBD .6 Kerangka Pemikiran – 27 Disain Kajian .29 Jenis dan Sumber Data – 30 Responden Kajian – 31 Lokasi Kajian – 32 Teknik Analisis – 32 BAB 4 : HASIL DAN PEMBAHASAN .3 1.1 2.2 1.3 3.1.i Kata Pengantar .5 Tujuan dan Sasaran – 5 Keluaran Kajian .6 BAB 2 : LANDASAN TEORI .6 2.LAPORAN AKHIR DAFTAR ISI Ringkasan Eksekutif .5 2.1 Implementasi Kebijakan Penanggulangan DBD – 33 4.Tatalaksana Penanggulangan DBD – 23 .2 Faktor-faktor Berpengaruh terhadap Kinerja Surveilans dan Kinerja Penangulangan KLB – 46 (1) Tenaga .8 2.25 BAB 3 : METODOLOGI .27 3.2.2 Kebijakan Penanggulangan Penyakit DBD – 35 4.1 Perumusan Masalah .9 Penyakit Menular di Indonesia – 8 Surveilans Epidemiologi – 8 Kebijakan Sistem Surveilans – 10 Indikator Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan – 11 Penanggulangan Wabah Penyakit Menular – 14 Epidemiologi Global Penyakit – 16 Strategi Pengendalian Penyakit – 18 Kejadian Luar Biasa – 18 Penyakit Demam Berdarah – 20 .3 Kendala Penanggulangan DBD – 41 Kinerja Surveilans dan Penanggulangan DBD – 41 4.4 1.4 2.1 1.vi BAB 1 : PENDAHULUAN .1 Indikator Kinerja Surveilans dan Penanggulangan KLB – 42 4.33 4.5 1.46 (2) Dana – 51 (3) Standar Operasi dan Prosedur – 53 (4) Data – 56 (5) Sarana – 57 vii 4.6 Sistematika Penulisan .8 2.5 3.7 2.1.2 2.1 Incidence Rate (IR) dan Case Fatalities Rata (CFR) – 33 4.Kendala Pencegahan DBD – 21 .6 Latar Belakang .3 2.4 3.2 Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular .1.

1 Kesimpulan – 65 5.3 Peran dan Tanngung Jawab Pememrintah Daerah dalam Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit DBD – 59 4.3 Koordinasi Antar Sektor – 63 BAB 5 : KESIMPULAN DAN REKOMENDASI KEBIJAKAN .2 Rekomendasi Kebijakan – 68 5.3 Implikasi Kebijakan .68 DAFTAR PUSTAKA .3.70 DAFTAR LAMPIRAN LAMPIRAN 1: Instrumen Kajian – 72 LAMPIRAN 2: Pelaksanaan Kegiatan dan Pembahasan – 76 LAMPIRAN 3 : Struktur Organisasi/Tim Pelaksana LAMPIRAN 4: Notulen Pembahsan Dengan Tim Pakar – 81 LAMPIRAN 5 : Pokok-Pokok Pikiran Hasil Ekspose dengan Tim Ahli – 83 LAMPIRAN 6 : Laporan Pelaksanaan Survey – 86 Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular viii .65 5.1 Kewenangan Daerah dan Stndar Pelayanan Minumum – 59 4.2 Peran Pemerintah Daerah Dalam Penanggulangan DBD – 61 4.3.LAPORAN AKHIR 4.3.

14 Tabel 4.4 Tabel 4.3 Tabel 4. RS dan Puskesmas – 58 : Distribusi Ketersediaan Sarana Penanggulangan di Dinkes Propinsi.2 Tabel 2. RS dan Puskesmas – 57 : Distribusi Ketersediaan Sarana Surveilans di Dinkes Propinsi.LAPORAN AKHIR DAFTAR TABEL Tabel 1. RS dan Puskesmas – 54 : Distribusi Ketersediaan SOP Penanggulangan KLB di Propinsi. Kab/Kota.13 Tabel 4.10 Tabel 4.9 Tabel 4.12 Tabel 4.1 Tabel 4.8 Tabel 4. Kab/Kota . Rs dan Puseksmas – 42 : Distribusi Indikator Diseminasi Informasi Surveilans di Dinkes Propinsi.1 Tabel 4.7 Tabel 4. RS dan Puskesmas – 44 : Distribusi Jenis Tenaga di Dinkes Propinsi dan Kab/Kota – 47 : Distribusi Jenis Tenaga di Rumah Sakit dan Puskesmas – 48 : Persepsi Responden Tentang Surveilans DBD – 49 : Persepsi Responden Tentang Penanggulangan DBD – 50 : Distribusi Sumber Dana di Dinkes Propinsi dan Kab/Kota – 51 : Distribusi Sumber Dana di Rumah Sakit dan Puskesmas – 52 : Distribusi Ketersediaan SOP Surveilans dan Dinkes Propinsi. Dikes Kab/Kota.15 : Sepuluh Penyakit Utama Pada Pasien Rawat Inap Tahun 2003 – 2 : Target dan Capaian Pemberantasan Penyakit DBD . RS dan Puskesmas – 56 : Distribusi Ketersediaan Data Penanggulangan KLB Propinsi.2 Tabel 4.1 Tabel 3.5 Tabel 4. Dnkes Kab/Kota. Kab/kota. RS dan Puskesmas – 55 : Distribusi Ketersediaan Data Surveilans di Dinkes Propinsi.11 Tabel 4.6 Tabel 4. RS dan Puskesmas – 58 : Daftar KW dan SPM Bidang Kesehatan – 60 Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular ix . Kab/Kota . Kab/Kota.1 Tabel 1. Dinkes Kab/Kota.4 : Indikator Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan – 12 : Responden Kajian – 31 : Distribusi Indikator Kinerja Surveilans di Dinkes Propinsi.

3 Gambar 3.5 Gambar 4.2 Gambar 2.2 Gambar 4.2 Gambar 3.LAPORAN AKHIR DAFTAR GAMBAR Gambar 2.3 Gambar 3.7 : Alusr Distribusi Data Surveilans Terpadu Penyakit – 10 : Skema Program Penanggulangan KLB – 15 : Bagan Penanggulangan Fokus (Penanggulangan Penderita DBD di Lapangan) – 24 : Kerangka Pikir Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular – 27 :Kerangka Konsep Kinerja Surveilans – 28 : kerangka Konsep Kinerja Penanggulangan – 28 : Tahapan Pelaksanan Kajian – 32 : IR & CFR DBD Tahun 1968-2004 – 33 : Perkembangan Kasus DBD Nasional Per bulan – 34 : Kasus DBD Per Bulan di Indonesia.4 Gambar 4.1 Gambar 3.1 Gambar 4.3 Gambar 4.6 Gambar 4.4 Gambar 4.1 Gambar 2. Tahuan 2005-20006 – 34 : Jumlah Kasus DBD di Indonesia Tahun 2005-2006 – 35 : Data Kasus DBD di Lokasi Kajian – 44 : Data Kematian DBD di Lokasi Kajian – 45 : Case Fatality Rate (CFR) DBD di Lokasi Kajian – 46 Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular x .

Mengubur ABJ : Angka Bebas Jentik APBN : Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara APBD : Anggaran Penerimaan dan Belanja Daerah Askeskin : Asuransi Kesehatan Masyarakat Miskin Bappeda : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Bappenas : Badan Perencanaan Pembangunan Nasional COMBI : Communication for Behavioral Impact CFR : Case Fatality Rate DAU : Dana Alokasi Umum DBD : Demam Berdarah Dengue Dekon : Dekonsentrasi DOP : Dana Operasional Puskesmas DPRD : Dewan Perwakilan Daerah Epidemiologi : Ilmu yang mempeljari penyebaran penyakit dan faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit pada manusia Epidemiologis: Orang yang ahli dalam ilmu epidemiologi FGD : Focused Group Discussion Gakin : Keluarga Miskin HIV/AIDS : Human Immuno deficiency Virus/Acquired Immuno Deficiency Syndrome IPTEK : Ilmu Pengetahuan dan Teknologi IR : Incidence Rate ISPA : Infeksi Saluran Pernafasan Akut JPK-MM : Jaminan Pelayanan Kesehatan Masyarakat miskin KIE : Komunikasi. Pemeriksaan Jentik Berkala PKK : Pembinaan Kesejahteraan Kelaurga PKPS-BBM : Program Kompensasi Pengurangan Subsidi Bahan Bakar Minyak Pokjanal : Kelompok Kerja Operasional Posyandu : Pos Pelayanan Terpadu PP & PL : Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan PSN : Pemberantasan Sarang Nyamuk Puskesmas : Pusat Kesehatan Masyarakat RSUD : Rumah Sakit Umum Daerah SARS : Severe Acute Respiratory Syndrome SKD-KLB : Sistem Kesiapan Dini Kejadian Luar Biasa SOP : Standar Operasional Prosedur SDM : Sumber Daya Manusia SKM : Sarjana Kesehatan Masyarakat Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular xi . Informasi dan Edukasi KLB : Kejadian Luar Biasa LSM : Lembaga Swadaya Masyarakat MDGs : Millennium Development Goals P2B2 : Penanggulangan Penyakit Bersumber Binatang P2M : Pemberantasan Penyakit Menular PE : Penyelidikan Epidemiologi PHBS : Pola Hidup Bersih dan Sehat PI : Perencanaan dan Informasi PJB .LAPORAN AKHIR DAFTAR SINGKATAN & DEFINISI ISTILAH 3M : Menguras. Menutup.

dan menginterpretasi suatu fenomena peristiwa kesehatan pada manusia/masyarakat tertentu yang hasilnya dipakai untuk melakukan tindakan terhadap peristiwa kesehatan tersebut : Tuberculosis : Tempat Penampungan Air : Unit Gawat Darurat : Usaha Kesehatan Sekolah : Unit Pelaksanan Teknis : Suatu peningkatan kejadian kesakitan dan atau kematian suatu penyakit di suatu tempat tertentu. mengumpulkan. secara aktif maupun pasif dalam mengamati. emnganalisis.LAPORAN AKHIR SPIRS SP2PT SST STP Surveilans TBC TPA UGD UKS UPT Wabah WHO Yanmedik : Sistem Pelaporan Rumah Sakit : Sistem Pencatatan Pelaporan Terpadu Puskesmas : Sistem Surveilans Terpadu : : Rangkaian kegiatan secara teratur dan terus menerus. yang melebihi keadaan biasanya : World Health Organization : Pelayanan Medik Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular xii .

4 persen (1999) menjadi 25. antar kawasan. indikator kesehatan dan gizi yang telah dicapai selama ini masih jauh dari sasaran yang telah ditargetkan dalam Millennium Development Goals (MDGs). (6) meningkatkan akses terhadap obat esensial. Angka kematian bayi menurun dari 46 (1997) menjadi 35 per 1.8 tahun (1999) menjadi 66. telah menurun dari 34.8 persen (2002). Pembangunan kesehatan selama ini secara umum dapat dilihat dari status kesehatan dan gizi masyarakat yang telah menunjukkan perbaikan seperti terlihat dari angka kematian bayi. (3) mengurangi tiga per empat angka kematian ibu. dan antar perkotaan-perdesaan. Kondisi Umum Pembangunan Kesehatan Pembangunan kesehatan di Indonesia ditujukan untuk meningkatkan kesadaran. kematian ibu melahirkan dan prevalensi gizi kurang. serta pada penduduk dengan tingkat ekonomi dan pendidikan rendah. Umur harapan hidup meningkat dari 65.1 Latar Belakang a. (4) menekan penyebaran penyakit HIV/AIDS. Di samping kemajuan yang telah dicapai di atas. (5) menekan penyebaran penyakit malaria dan TBC. kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. yang ditandai dengan penduduknya yang hidup dengan perilaku dan dalam lingkungan sehat. dan (7) mengurangi separuh proporsi penduduk yang tidak memiliki akses terhadap penyediaan air bersih. Selain itu. status kesehatan masyarakat Indonesia masih tertinggal. oleh karena itu secara operasional masalah-masalah kesehatan tidak dapat diselesaikan oleh Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular . yang berkaitan dengan pembangunan kesehatan di Indonesia antara lain adalah: (1) mengurangi separuh penduduk yang mengalami kelaparan. kemauan.BAB 1 PENDAHULUAN 1. MDGs merupakan suatu kesepakatan global. Masalah kesehatan dapat disebabkan oleh berbagai sebab. Malaysia. Jika dibandingkan dengan negara-negara ASEAN seperti Thailand.2 tahun (2003). dan Philipina.000 kelahiran hidup (2002-2003). sebagai “benchmarks” untuk mengukur perkembangan dalam pencapaian Deklarasi Millenium 2000. memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata. Beberapa target MDG yang ingin dicapai pada akhir tahun 2015. Prevalensi gizi kurang (underweight) pada anak balita. baik ditinjau dari tingkat sosial ekonomi. di masa datang pembangunan kesehatan menghadapi berbagai permasalahan dan tantangan yang cukup berat. Disparitas status kesehatan masih cukup tinggi.000 kelahiran hidup (2002–2003) dan angka kematian ibu melahirkan menurun dari 334 (1997) menjadi 307 per 100. AKB dan AKI lebih tinggi di daerah perdesaan. di kawasan timur Indonesia. (2) mengurangi dua per tiga angka kematian bayi dan angka kematian balita.

Tabel 1. Untuk itu perlu dikembangkan subsistem surveilans epidemiologi kesehatan yang terdiri dari Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular. hewan dan lain-lain antar Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 2 . Tidak ada obat untuk penyakit polio.0 2 Demam berdarah dengue 3. penyakit saluran pencernaan dan penyakit lainnya. Polio merupakan penyakit menular yang sangat berbahaya disebabkan oleh virus yang menyerang sistem syaraf dan bisa menyebabkan kelumpuhan total. YYT dan daerah badan multiple 1.LAPORAN AKHIR sektor kesehatan sendiri.9 8 Diabetes Melietus 1. Diperlukan tatalaksana terintegrasi dan komprehensif dengan kerjasama yang harmonis antar sektor dan antar program.0 6 Tuberkulosis paru 1. sehingga pemberantasan penyakit menular memerlukan kerjasama antar daerah. Beberapa penyakit menular yang menjadi masalah utama di Indonesia adalah diare. Penyakit ini hanya bisa dicegah dengan imunisasi. malaria. Berbagai emerging diseases misalnya polio dan flu burung dapat terjadi antara lain karena tingginya mobilitas penduduk antar negara.1 Sepuluh Penyakit Utama Pada Pasien Rawat Inap Tahun 2003 No Pasien Rawat inap % 1 Diare dan gastroenteritis infeksi tertentu 8. Surveilans Epidemiologi Penyakit Tidak Menular. influenza.7 5 Cedera intrakanial 2.9 4 Demam tifoid dan paratifoid 2. 5-10 % pasien meninggal akibat kelumpuhan pada otot pernafasan. tifus abdominalis.7 3 Penyakit kehamilan dan persalinan lainnya 2. Jawa Tengah. dan Surveilans Epidemiologi Kesehatan Matra. Surveilans Epidemiologi Masalah Kesehatan. Satu dari 200 kasus infeksi virus akan menyebabkan kelumpuhan. b. Penyakit Menular Penyakit menular masih merupakan masalah utama kesehatan masyarakat Indonesia. disamping mulai meningkatnya masalah penyakit tidak menular.9 7 Demam yang sebabnya tidak tahu 1. Penyakit menular tidak mengenal batas-batas daerah administratif. Dengan demikian penularan penyakit antar negara (trans-nasional) ini dapat terjadi dengan mudah mengingat semakin mudahnya transportasi manusia. Lampung dan Sumatera Selatan. Banten.8 10 Pneumonia 1. misalnya antar propinsi.6 Salah satu penyakit menular yang akhir-akhir ini menonjol adalah munculnya kasus polio di beberapa wilayah seperti Provinsi Jawa Barat. demam berdarah dengue.9 9 Cedera YDT lainnya. kabupaten/kota bahkan antar negara.

LAPORAN AKHIR negara. padahal tujuan program pemberantasan DBD dalam Indonesia Sehat 2010 adalah menurunkan angka kejadian di bawah 5 per 100. DBD masih sulit diberantas karena tidak tersedianya vaksin dan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 3 . Penyakit yang ditularkan melalui nyamuk Aedes aegypti ini dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti lingkungan domestik maupun iklim. kejadian luar biasa (KLB) DBD di Indonesia telah menyerang 39. Severe Acute Respiratory Syndrom (SARS) dan Flu Burung. Meskipun sudah lebih dari 35 tahun berada di Indonesia. (2) upaya penanggulangan. 40 tahun 1991 tentang Penanggulangan Penyakit Menular. tetapi bahkan semakin mewabah. Peraturan tersebut pada intinya mengatur (1) tata cara penetapan dan pencabutan penetapan daerah wabah . (3) peran serta masyarakat. Salah satu penyakit menular yang merupakan masalah kesehatan masyarakat dan menimbulkan dampak sosial maupun ekonomi adalah penyakit demam berdarah dengue (DBD). malaria. yaitu UU No 4 Tahun 1984 tentang Penyakit Menular serta Peraturan Pemerintah No. Thailand (0. Namun demikian.9 persen). Meskipun dibandingkan dengan KLB 1968 angka kematiannya jauh telah menurun.3 persen). DBD bukannya terkendali. pada umumnya kajian menunjukkan bahwa pengendalian DBD perlu dilakukan secara komprehensif dari berbagai aspek baik medis maupun sosial.000 penduduk. Dengan demikian telah terjadi transisi epidemiologi sehingga Indonesia menghadapi beban ganda pada waktu yang bersamaan (double burden). dengan keterlibatan petugas kesehatan maupun pemberdayaan masyarakat. dan Filipina (1 persen). sosial ekonomi dan perilaku. Daerah endemis tersebar di sebagian besar wilayah Indonesia.1 persen). (4) pengelolaan bahan-bahan yang mengandung penyebab penyakit. serta (7) pelaporan. polio dan penyakit kulit. sebenarnya angka kematian masih terlalu tinggi jika dibandingkan dengan Singapura (0. Vietnam (0. (6) pembiayaan penanggulangan wabah.000 penduduk pada tahun 2010.3 persen). pada waktu yang bersamaan terjadi peningkatan penyakit tidak menular seperti penyakit jantung dan pembuluh darah.2 persen). Penyakit DBD merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di wilayah tropis. Malaysia (0. (5) ganti rugi dan penghargaan.3 persen. Sejak Januari sampai 17 Maret 2004. Berbagai penelitian mengenai faktor risiko terhadap kejadian DBD telah dilakukan oleh beberapa peneliti dengan memberikan hasil yang selaras maupun yang kontradiktif. demografi.938 orang dengan angka kematian 1. chikunguya. India (0. diare. HIV/AIDS. infeksi saluran pernafasan akut (ISPA). Dalam KLB 2004 tercatat angka kejadian (incidence rate) 15 per 100. Indonesia juga menghadapi emerging diseases seperti demam berdarah dengue (DBD). serta diabetes mellitus dan kanker. Pola penyakit yang diderita oleh masyarakat sebagian besar adalah penyakit infeksi menular seperti tuberkulosis paru. Kebijakan penanggulangan penyakit menular khususnya dalam penanggulangan wabah telah diatur dalam bentuk peraturan perundangan. Walaupun demikian. Oleh karena itu perlu upaya ekstra agar penularan dapat dicegah dan ditangani sedini mungkin. dan berulang kali menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) disertai kematian yang banyak.

serta (3) adanya desentralisasi kewenangan pengelolaan. Beberapa permasalahan yang teridentifikasi antara lain berkaitan dengan (1) pelaksanaan surveilans. Gerakan 3M selama 30 menit setiap minggu juga dicanangkan. juga masih belum optimalnya pengendalian penyakit yang dilakukan oleh Pemerintah. entomologi. 2006 Kebijakan penanggulangan penyakit menular telah diatur dalam peraturan perundangan. (2) upaya penanggulangan.LAPORAN AKHIR kurangnya peran serta masyarakat. Meskipun demikian.2 Target dan Capaian Pemberantasan Penyakit DBD TARGET DAN CAPAIAN PEMBERANTASAN DBD 60 RASIO 40 20 0 Target Realisasi 2001 5. dan mengubur) sudah sering disosialisasikan namun hasilnya belum menggembirakan.000 penduduk selama periode tahun 2001-2005 selalu menunjukkan diatas rasio yang ditargetkan. Gerakan pemberantasan sarang nyamuk dengan instrumen 3M (menguras.5 24. Kendala yang dihadapi antara lain berkaitan dengan (1) kebijakan sistem surveilans yang belum dipahami sampai ke petugas teknis di lapangan. Pemerintah sejak tahun 1993 telah berusaha membina peran serta masyarakat melalui berbagai kelompok kerja pemberantasan DBD di desa atau kelurahan. Semuanya menyadari bahwa strategi hanya dapat diperoleh dengan melaksanakan analisis situasi berdasarkan aspek epidemiologi. Data ini selain menunjukkan kecenderungan makin tingginya penderita DBD dari tahun ke tahun. saat ini perkembangan vaksin masih memerlukan penelitian lebih lanjut agar dapat digunakan ke manusia.34 TAHUN 2004 4 37. Namun demikian implementasi di lapangan masih menghadapi berbagai permasalahan. pengetahuan. (2) terbatasnya tenaga pelaksana Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 4 .25 2003 4.66 2002 5 19.7 21. Berdasarkan hasil penelitian WHO Tahun 2003 dilaporkan bahwa pelaksanaan kegiatan surveilans masih menghadapi kendala. menutup. Ketiadaan vaksin merupakan penghambat utama eradikasi DBD. Berdasarkan data Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan.1 2005 10 43. Tabel 1. dan sikap masyarakat.31 Sumber: Ditjen PP & PL Depkes. rasio penderita DBD per 100.

dan (5) belum optimalnya penggunaan sarana kesehatan dalam mendukung pelaksanaan surveilans penyakit seperti pemanfaatan laboratorium dan peralatan. fasilitas pendukung. Tujuan khusus : 1. 1. SOP dan data ? 3. Identifikasi kinerja penanggulangan penyakit menular serta faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja penanggulangan penyakit menular 3.2 Perumusan Masalah Berdasarkan permasalahan di atas. Identifikasi kinerja surveilans serta faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja surveilans penyakit menular 2. dukungan logistik. Reformasi pemerintahan tersebut memberi dampak perubahan cukup signifikan terhadap peran pemerintah dan swasta dalam program dan pelayanan kesehatan. kemampuan SDM dan sumber dana daerah. Identifikasi peran dan tanggungjawab Pemerintah Daerah dalam penanggulangan penyakit menular Sasaran Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 5 . (3) adanya ketidaksesuaian kompetensi. dana serta sistem pelaporan.3 Tujuan dan Sasaran Tujuan Tujuan utama kajian adalah menyusun rumusan kebijakan penanggulangan penyakit menular secara terpadu berdasarkan analisis faktor-faktor yang berpengaruh dalam pelaksanaan kebijakan penanggulangan penyakit menular di pusat dan daerah. beberapa pertanyaan penelitian yang melandasi kajian ini antara lain adalah : 1. dana. mencakup aspek tenaga. sarana. (4) terbatasnya dana pelaksanaan surveilans di tingkat operasional. Langkah-langkah apa yang diperlukan untuk penanggulangan penyakit menular. 22 dan 25 tahun 1999 yang kemudian direvisi dengan UU No. 32 dan 33 Tahun 2005 telah memberikan pembagian kewenangan dalam pengelolaan pemerintahan di daerah. Adanya otonomi daerah ini juga berpengaruh terhadap peran dan tanggung jawab Kabupaten/Kota/Propinsi untuk mengembangkan diri sesuai masalah kesehatan masyarakat. adanya regulasi pemerintahan dalam bentuk UU No. Berkaitan dengan desentralisasi kewenangan pengelolaan kebijakan pembangunan (otonomi daerah). Permasalahan yang dihadapi dalam penanggulangan wabah terutama berkaitan dengan aspek manajemen menyangkut kesiapan tenaga lapangan.LAPORAN AKHIR surveilans. Bagaimana peran dan tanggungjawab (kewenangan) pemerintah daerah dalam penanggulangan penyakit menular ? 1. Faktor-faktor apa saja yang mwempengaruhi kinerja surveilans dan penaggulangan penyakit menular ? 2.

1. Identifikasi faktor berpengaruh terhadap kinerja surveilans mencakup kondisi tenaga. data. 1. adalah : 1. data. jumlah kasus. Lingkup kegiatan yang akan dilakukan dalam kajian ini antara lain. jenis. Identifikasi peran dan tanggung jawab daerah dalam penanganan penyakit menular khususnya pada kasus DBD. Bab III membahas tentang metodologi yang digunakan berkaitan dengan kerangka pemikiran. disain kajian.LAPORAN AKHIR Tersusunnya rumusan kebijakan upaya penanggulangan penyakit menular secara terpadu melalui optimalisasi sumberdaya yang tersedia sekaligus sebagai acuan bagi pelaksanaan program penanggulangan penyakit menular di pusat dan daerah. sarana dan SOP 5. 1. tujuan dan sasaran kajian.6 Sistematika Penulisan Penulisan laporan dibuat dengan sistematika sebagai berikut: Bab I membahas tentang latar belakang.4 Keluaran Keluaran kajian adalah rumusan kebijakan penanggulangan penyakit menular yang mencakup aspek surveilans. Identifikasi faktor berpengaruh terhadap kinerja penanggulangan KLB DBD mencakup tenaga. sumber. serta tanggung jawab dan kewenangan antara pusat dan daerah. penanganan wabah. Identifikasi kinerja penanggulangan KLB DBD yang mencakup frekuensi KLB. dana. sarana. dan SOP. 3. Identifikasi kinerja surveilans yang mencakup (1) ketersediaan peta rawan KLB DBD. jumlah kematian dan luas daerah terserang 4. dan (2) pelaksanaan diseminasi informasi 2. Bab II membahas tentang landasan teori mencakup pengertian dan hasil kajian yang sudah dilakukan. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 6 .5 Ruang Lingkup Kajian ini difokuskan pada evaluasi kebijakan penanggulangan penyakit menular yang telah dilakukan selama ini. dana. dan pengumpulan data serta metode analisis. keluaran serta ruang lingkup kajian.

dana. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 7 . Faktor-faktor Berpengaruh terhadap Kinerja Surveilans dan Penanggulangan KLB. Kinerja Surveilans dan Penanggulangan DBD. mencakup Gambaran Umum Penanggulangan DBD. mencakup tenaga. Indikator kinerja surveilans dan penanggulangan KLB.LAPORAN AKHIR Bab IV Hasil dan Pembahasan. Bab V Kesimpulan dan Rekomendasi Kebijakan. data. sarana dan SOP.

Kabupaten/kota bahkan antar negara. tifus abdominalis. Sekaligus merupakan kawasan yang berpotensi tinggi untuk hadirnya penyakit infeksi baru. bergabung menjadi satu sistem.LAPORAN AKHIR BAB 2 LANDASAN TEORI 2. HIV/AIDS (pertama kali di Denpasar 1987) kini merambah ke Indonesia. Epidemiologi global yakni perjalan penyakit antar benua. Penyakit lain merupakan penyakit infeksi endemik dan sudah lama di Indonesia dan endemik di berbagai kabupaten (daerah pegunungan maupun pantai) yaitu TBC dan Malaria. pemerintah. Strategi pengendalian penyakit menular secara umum pada dasarnya sama. Masing-masing penyakit memiliki peta endemisitas tersendiri. malaria. Tiap tahun diselenggarakan pertemuan nasional semacam konvensi untuk melakukan monitoring kemajuan program serta perkuatan dari networking. partner nonkesehatan. Epidemiologi lokal yang intinya dinamika tranmisi penyakit tertentu pada wilayah tertentu. Manajemen pemberantasan dan pengendalian penyakit menular juga memiliki dua perspektif: a. Beberapa penyakit infeksi baru (ketika itu) dan kini endemik adalah demam berdarah dengue (pertama kali tahun 1968 di Surabaya). merupakan kawasan endemik berbagai penyakit menular. virus hantaan (1977) dijumpai pada tikus diberbagai pelabuhan. misalnya antar propinsi.2 Surveilans Epidemiologi Selama ini pengertian konsep surveilans epidemiologi sering dipahami hanya sebagai kegiatan pengumpulan data dan penanggulangan KLB. 2. yakni apa yang dikenal sebagai Sistem Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan. Intervensi faktor resiko. b. influenza. demam berdarah dengue. misalnya lingkungan dan intervensi terhadap perilaku. Semua institusi pelayanan seperti kuratif penyakit menular maupun pelayanan kesehatan masyarakat. swasta. Penyakit menular tidak mengenal batas-batas daerah administratif. sehingga pemberantasan penyakit menular memerlukan kerjasama antar daerah. kemudian melakukan pengobatan hingga sembuh. Indonesia sebagai wilayah tropik dan wilayah dinamik secara sosial ekonomi. Beberapa penyakit menular yang menjadi masalah utama di Indonesia adalah diare. disamping mulai meningkatnya masalah penyakit tidak menular. yakni menghilangkan sumber penyakit dengan cara menemukan dan mencari kasus secara proaktif. orgfanisasi nonpemerintah.1 Penyakit Menular di Indonesia Penyakit menular masih merupakan masalah utama kesehatan masyarakat Indonesia. Pengertian Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 8 . kini diberbagai kota pelabuhan. penyakit saluran pencernaan dan penyakit lainnya.

Dinas Kesehatan Propinsi dan Ditjen PPM & PL Depkes termasuk Puskesmas Sentinel dan Rumah Sakit Sentinel c. sumber-sumber data. Propinsi dan Pusat. unit surveilans di Dinas Kesehatan Propinsi dan unit surveilans di Ditjen PPM & PL Depkes. Dalam sistem ini yang dimaksud dengan surveilans epidemiologi adalah kegiatan analisis secara sistematis dan terus menerus terhadap penyakit atau masalah-masalah kesehatan dan kondisi yang mempengaruhi terjadinya peningkatan dan penularan penyakit atau masalah-masalah kesehatan tersebut agar dapat melakukan tindakan penanggulangan secara efektif dan efesien melalui proses pengumpulan data. Jejaring surveilans dalam distribusi informasi kepada program terkait pusatpusat penelitian. Menurut WHO. Jejaring Surveilans Jejaring surveilans digunakan dalam Surveilans terpadu penyakit adalah a. Laboratorium. upaya peningkatan kemampuan sumberdaya antara unit surveilans Dinas Kesehatan Kab/Kota. Surveilans Terpadu Penyakit merupakan proses kegiatan yang dilakukan secara terus menerus dan sistematis. pengolahan dan penyebaran informasi epidemiologi kepada penyelenggara program kesehatan. Rumah Sakit. unit surveilans program pada masingmasing Puskesmas. Jejaring surveilans dalam pertukaran data. pusat penelitian. Sistem surveilans epidemiologi merupakan tatanan prosedur penyelenggaraan surveilans epidemiologi yang terintehrasi antara unit-unit penyelenggara surveilans dengan laboratorium. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 9 . Rumah Sakit. meliputi tata hubungan surveilans epidemiologi antar wilayah Kabupaten/Kota. pusat-pusat kajian. Jejaring surveilans dalam pengiriman data dan informasi serta peningkatan kemampuan manajemen surveilans epidemiologi antara Puskesmas. sehingga membutuhkan dukungan perencanaan. tanpa melupakan pentingnya kegiatan pengumpulan dan pengolahan data. analisis dan interpretasi data secara sistematik dan terus menerus serta penyebaran informasi kepada unit yang membutuhkan untuk mengambil tindakan. Dinas Kesehatan Kab/Kota. pengendalian dan evaluasi serta dukungan sumberdaya yang memadai sebagai suatu program surveilans terpadu. surveilans adalah proses pengumpulan. unit surveilans di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. pusat kajian dan penyelenggara program kesehatan. kajian. termasuk Puskesmas dan Rumah Sakit Sentinel.LAPORAN AKHIR seperti itu menyembunyikan makna analisis dan penyebaran informasi epidemiologi sebagai bagian yang sangat penting dari proses kegiatan surveilans epidemiologi. pengolahan. Oleh karena itu perlu dikembangkan suatu definisi surveilans epidemiologi yang lebih mengedepankan analisis atau kajian epidemiologi serta pemanfaatan informasi epidemiologi. pelaksanaan. unit surveilans Dinas Kesehatan Propinsi dan Unit Surveilans Ditjen PPM & PL Depkes. b. Alur distribusi data dan umpan balik dalam dilihat dalam skema di bawah.

3 Kebijakan Sistem Surveilans Surveilans Epidemiologi merupakan kegiatan yang sangat penting dalam manajemen kesehatan untuk memberikan dukungan data dan informasi epidemiologi agar pengelolaan program kesehatan dapat berdaya guna secara optimal. Untuk melakukan upaya pemberantasan penyakit menular.LAPORAN AKHIR Unit Surveilans Ditjen PPM & PL Depkes Unit Surveilans Dinas Kesehatan Propinsi Unit Surveilans Dinas Kesehatan Kab/Kota Unit Surveilans Puskesmas Unit Surveilans Rumah Sakit Unit Surveilans Laboratorium Gambar 2. Informasi epidemiologi yang berkualitas.1 Alur Distribusi Data Surveilans Terpadu Penyakit 2. penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit dan keracunan. akurat merupakan evidance atau bukti untuk digunakan dalam proses pengambilan kebijakan yang tepat dalam pembangunan kesehatan. cepat. serta penanggulangan penyakit tidak menular diperlukan suatu sistem surveilans penyakit yang mampu memberikan dukungan upaya program dalam daerah kerja Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 10 .

Surat Keputusan Menteri Kesehatan No. dan sistem Pelaporan Rumah Sakit (SPIRS). Surat Keputusan Menteri Kesehatan No. Peraturan Menteri Kesehatan tentang Sistem Kewaspadan Dini KLB No. 1116 tahun 2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Surveilans Epidemilogi Kesehatan. dukungan kerjasama antar program dan sektor serta kerjasama antara Kabupaten/Kota. Sistem Pencatatan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP). proses dan keluaran. Peraturan Pemerintah No. Ketiga indikator tersebut merupakan satu kesatuan. 1116/Menkes/SK/VIII/2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan serta kebutuhan informasi epidemiologi untuk mendukung upaya pemberantasan penyakit menular dan penyakit tidak menular. Surat Keputusan Menteri Kesehatan No. 2.LAPORAN AKHIR Kabupaten/Kota.4 Indikator Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan Kinerja penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan diukur dengan indikator masukan. 1479 tahun 2003 tentang Surveilans Terpadu Penyakit. Pada tahun 1987 telah dikembangkan Sistem Surveilans Terpadu (SST) berbasis data. Propinsi. 3. Nasional dan internasional. 4. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom. tatacara penyampaian laporannya dan tacara penanggulangan seperlunya. 40 tahun 1991 tentang Penanggulangan Penyakit Menular. Sistem surveilans tersebut perlu dikembangkan dan disesuaikan dengan ketetapan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah. Propinsi dan Nasional. dimana kelemahan salah satu indikator tersebut menunjukkan kinerja sistem surveilans yang belum memadai. 6. 949 tahun 2004. dan Keputusan Menteri Kesehatan No. Disamping keberadaan SST telah juga dikembangkan beberapa Sistem Surveilans khusus penyakit. 2. yang telah mengalami beberapa kali perubahan dan perbaikan. 5. Peraturan Menteri Kesehatan No. Beberapa produk hukum lain terkait dengan pelaksanaan surveilans epidemiologi adalah 1. Undang-Undang No. 4 tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular. 7. 560 tahun 1989 tentang Jenis Penyakit yang dapat menimbulkan wabah. Indikator-indikator tersebuat adalah sebagai berikut: Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 11 . 242 tahun 2003 tentang Penetapan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) sebagai penyakit yang dapat menimbulkan wabah dan pedoman penanggulangannya. Undang-Undang No. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pemerintah Pusat dan Daerah.

2 tenaga epidemiologi ahli (S1) c. SSB dan telekomunikasi lainnya) c. 1 tenaga epidemiologi ahli b. 1 paket alat komunikasi (telepon. Puskesmas 1. Propinsi 2. 2 tenaga epidemiologi terampil d. 2 tenaga epidemiologi ahli (S1) atau terampil c. 2 tenaga epidemiologi ahli (S2) b. 8 tenaga epidemiologi ahli (S2) c. 1 tenaga epidemiologi ahli (S2) b. 1 roda dua a. Rumah Sakit Sarana 5. 1 paket jaringan elektromedia b. Pusat Indikator Unit utama Departemen Kesehatan memiliki a. Pusat. 1 tenaga epidemiologi terampil 1 tenaga epidemiologi terampil a. faksimili.1 Indikator Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan Masukan Tenaga Tingkat 1. 1 tenaga dokter umum a. 4 paket peralatan pelaksanaan surveilans epidemiologi f. 1 tenaga epidemiologi ahli (S3) b. SSB dan telekomunikasi lainnya) c. 1 paket kepustakaan d.LAPORAN AKHIR Tabel 2. 1 tenaga epidemiologi ahli (S2) b. 4 tenaga epidemiologi ahli (S1) c. faksimili. 1 tenaga dokter umum a. 1 roda empat. 1 paket formulir 2. Propinsi 3. 4 tenaga epidemiologi terampil d. 1 paket pedoman pelaksanaan surveilans epidemiologi dan program aplikasi komputer e. 16 tenaga epidemiologi ahli (S1) d. 1 paket pedoman pelaksanaan surveilans epidemiologi dan program aplikasi komputer e. 1 tenaga dokter umum a. Kabupaten/Kota 4. Kabupaten/Kota Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 12 . 32 tenaga epidemiologi terampil UPT Departemen Kesehatan memiliki a. 1 paket jaringan elektromedia b. 1 paket kepustakaan d. 1 paket alat komunikasi (telepon.

Kelengkapan laporan unit pelapor dan sumber data awal sebesar 80% atau lebih b.LAPORAN AKHIR Proses Kegiatan Surveilans Keluaran f. Propinsi a. 1 roda empat. faksimili. Penerbitan buletin kajian epidemiologi sebesar 12 kali atau lebih setahun d. Kelengkapan laporan unit pelapor sebesar 80% atau lebih b. 1 paket komputer Rumah Sakit b. Umpan balik sebesar 80% atau lebih 3. 1 roda dua 1. Ketepatan laporan unit pelapor dan sumber data awal sebesar 80% atau lebih c. Puskesmas dan a. Umpan balik sebesar 80% atau lebih 1. Pusat a. Kelengkapan laporan bulanan STP unit pelayanan ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota sebesar 90% Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 13 . 1 paket alat komunikasi (telepon. 1 paket peralatan pelaksanaan surveilans epidemiologi g. 2 paket peralatan pelaksanaan surveilans epidemiologi g. Ketepatan laporan unit pelapor dan sumber data awal sebesar 80% atau lebih c. Kabupaten/Kota a. SSB) c. Pusat Profil Surveilans Epidemiologi Nasional sebesar 1 kali setahun Profil Surveilans Epidemiologi Propinsi sebesar 1 kali setahun Profil Surveilans Epidemiologi Kabupaten/ Kota sebesar 1 kali setahun Sumber: Inspektorat Jenderal Depkes RI. 1 paket pedoman pelaksanaan surveilans epidemiologi dan program aplikasi komputer e. Penerbitan buletin kajian epidemiologi sebesar 12 kali atau lebih setahun d. Kelengkapan laporan unit pelapor dan sumber data awal sebesar 80% atau lebih b. Umpan balik sebesar 80% atau lebih 2. 1 paket kepustakaan d. 1 paket formulir f. Ketepatan laporan unit pelapor sebesar 80% atau lebih c. Penerbitan buletin kajian epidemiologi sebesar 4 kali atau lebih setahun d. 1 roda dua 3. 2003 Selanjutnya Indikator Surveilans Kesehatan dijabarkan dalam Indikator Kinerja Penyelenggaraan terpadu Penyakit sebagai berikut: a.

5 Penanggulangan Penyakit Menular Penanggulangan penyakit menular merupakan bagian dari pelaksanaan pembangunan kesehatan. Penanggulangan secara dini dimaksudkan untuk mencegah timbulnya kejadian luar biasa dari suatu penyakit wabah yang dapat menjurus terjadinya wabah yang dapat mengakibatkan malapetaka.LAPORAN AKHIR b. Depatemen Sosial. yaitu upaya pencegahan. Oleh karena itu penanggulangan wabah harus dilakukan secara dini. Umpan balik laporan bulanan Kabupaten/Kota. Kondisi lain yang dapat menimbulkan penyakit menular adalah akibat kondisi masyarakat dari suatu wilayah tertentu yang kurang mendukung antara lain kesehatan lingkungan yang kurang baik atau gizi masyarakat yang belum baik. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota mencapai indikator Epidemiologi STP sebesar 80% d. Propinsi dan Nasional adalah satu kali setahun. Kelengkapan laporan bulanan STP Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota ke Dinas Kesehatan Propinsi sebesar 100% e. Penerbitan buletin Epidemiologi di Kabupaten/Kota adalah 4 kali setahun k. Wabah penyebaran penyakit dapat berlangsung secara cepat. baik melalui perpindahan. Dalam upaya penanggulangan penyakit menular. harus dilakukan secara terpadu dengan upaya kesehatan lain. Berbagai lintas sektor Pemerintah misalnya Departemen Pertahanan Keamanan. Penerbitan profil tahunan atau buku data surveilans epidemiologi Kabupaten/Kota. Penerbitan buletin Epidemologi di propinsi dan nasional adalah sebesar 12 kali setahun l. Oleh karena itu dalam pelaksanaan penanggulangannya memerlukan keterkaitan dan kerjasama dari berbagai lintas sektor Pemerintah dan masyarakat. 2. Ketepatan laporan bulanan STP Unit Pelayanan ke Dinas Kesehatan Kabupaten Kota sebesar 80% c. tetapi menjadi tanggung jawab bersama. wewenang dan tanggung jawabnya dalam upaya penanggulangan wabah. Distribusi data dan informasi bulanan Kabupaten/Kota. Penanggulangan wabah penyakit menular bukan hanya semata menjadi wewenang dan tanggung jawab Departemen Kesehatan. Departemen Keuangan dan Departemen Dalam Negeri. propinsi dan nasional sebesar 100% j. penyembuhan dan pemulihan kesehatan. Ketepatan laporan bulanan STP Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota ke Dinas Kesehatan Propinsi sebesar 90% f. maupun kontak hubungan langsung atau karena jenis dan sifat dari kuman penyebab penyakit wabah itu sendiri. Keterkaitan sektor-sektor dalam upaya penanggulangan wabah tersebut sesuai dengan tugas. Departemen Komunikasi dan Informasi. propinsi dan nasional sebesar 100% i. Ketepatan laporan bulanan STP Dinas Kesehatan Propinsi ke Ditjen PPM & PL Depkes sebesar 90% h. Selain itu dalam upaya Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 14 . Kelengkapan laporan bulanan STP Dinas Kesehatan Propinsi ke Ditjen PPM & PL Depkes sebesar 100% g.

32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan No. yang juga berdampak pada pariwisata. sehingga membutuhkan perhatian dan penanganan oleh semua pihak terkait. 25 tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Pada tahun 2000. Peraturan Menteri Kesehatan No. yamg kemudian diikuti dengan terbitnya PP No. 25 tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom yang berpengaruh terhadap penyelenggaraan penanggulangan KLB. KLB penyakit dapat mengakibatkan terjadinya peningkatan kesakitan dan kematian yang besar. perlu diidentifikasi adanya ancaman KLB beserta kondisi rentan yang memperbesar resiko terjadinya KLB agar dapat dilakukan peningkatan kewaspadaan dan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan KLB. masyarakat juga dapat diikutsertakan dalam penanggulangannya. yang keseluruhannya harus dilaksanakan secara terpadu. PP No. 560 tentang Jenis Penyakit Tertentu Yang dapat Menimbulkan Wabah. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan UU No.2 Skema Program Penanggulangan KLB Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 15 . Data & Informasi Penduduk dan Lingkungan Perbaikan kondisi rentan KLB Prioritas Penanggulangan KLB SKD-KLB KLB tidak Menjadi Masalah Kesehatan Masyarakat Penanggula ngan KLB Data KLB dan Data Epidemiologi Lain Kesiapsiagaan Menghadapi KLB Gambar 2. 40 tahun 1991 tentang Penanggulangan Penyakit Menular. Penanggulangan wabah/KLB penyakit menular diatur dalam UU No.LAPORAN AKHIR penanggulangan wabah tersebut. Kejadian-kejadian KLB perlu dideteksi secara dini dan diikuti tindakan yang cepat dan tepat. Undang-undang tersebut kemudian direvisi menjadi UU No. Indonesia menerapkan secara penuh UU No. 4 tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular. ekonomi dan sosial.

Wilayah-wilayah yang merupakan jalur transmisi sebaiknya memiliki kapasitas dan aktif mengakses informasi. serta sebaliknya. migrasi burung utara selatan dan sebaliknya. LSM. Lintas Batas Penyakit menular bersifat lintas batas. maka memiliki masalah yang sama seperti malaria. penyakit menular dipengaruhi mobilitas penduduk sebagai sumber penyakit. Termasuk petugas yang mengawasi jalur-jalur penerbangan internasional. setiap sudut Kabupaten dan Kota di Indonesia harus dianggap sebagai bagian dari komunitas dunia. Misalnya. kabupaten dan kota di Indonesia merupakan wilayah yang terkena resiko yang sama dalam perspektif global.LAPORAN AKHIR 2. Maksudnya. Filipina. memiliki jalur barat yakni kawasan semenanjung Malaysia. Demikian juga dengan daerah wisata internasional. Dengan demikian. kabupaten/kota terikat pada komitmen dunia. Seorang Kepala Dinas Kesehatan harus memahami benar apakah daerahnya termasuk lalulintas internasional atau bukan. Sebab. Penyakit menular juga dapat berpindah atau bergerak dari satu wilayah ke wilayah lainnya melalui mobilitas penduduk sebagai sumber penularan maupun komoditas sebagai wahana transmisi. KLB polio pada awal tahun 2005. Dengan kata lain. hendaknya meningkatkan kemampuannya untuk mengahadapi globalisasi penyakit menular. hingga Amerika Latin. Epidemiologi Global Penyakit Penyakit menular bersifat global. terutama penyakit menular melalui transmisi serangga atau binatang yang memiliki reservoir. Penyebaran global memiliki potensi terjadinya pandemik. kemudian melalui apa penyakit tersebut datang. Dalam hal ini Dinas Kesehatan. Penyakit menular yang sifatnya relatif “tertutup”. Peta endemisitas malaria terbentang dari Asia Tenggara. Binatang umumnya memiliki habitat tertentu dan terkait dan batasan ekosistem. kemudian langsung ke selatan menuju Australia. Oleh karena itu. Sedangkan wilayah timur dari arah utara menyusur pantai timur China. Sumatera. Sebagai contoh Avian influenza. Dengan kata lain. lebih dipengaruhi oleh batasan ekosistem. ketimbang batasan administratif. Dalam perspektif global. dua kabupaten berbatasan yang memiliki ekosistem penyakit yang sama wajib bekerjasama. Nusa Tenggara Timur. Hal ini memerlukan kerjasama global. Afrika Tengah.6. Sulawesi Utara. maupun masyarakat hendaknya memiliki kapasitas terhadap permasalahan epidemiologi global. Seperti asal datangnya penyakit. epidemiologi global harus pempelajari kejadian dan persebaran dalam perspektif dunia. Selain itu. wilayah tropik secara umum memiliki karakteristik ekosistem sama. Misalnya. dan mekanisme jaringan antar negara yang bersifat lintas batas. penyakit menular tidak mengenal batas wilayah administratif pemerintah. harus memahami hal ini. Seorang Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/kota yang berbatasan dengan negara lain. migrasi berbagai binatang seperti migrasi burung antar benua bisa merupakan sumber pembawa penyakit. Atau perjalanan kelelawar yang dapat menyebarluaskan virus Nipah. Sedangkan wilayah yang sifatnya “terbuka” dengan teknologi transportasi jarak jauh. Jawa. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 16 .

di daerah Pacitan berkaitan dengan cekungan-cekungan padas di sungai-sungai. antara stakeholder. Serta mengendalikan faktor risiko penyakit. untuk kepentingan perencanaan dan kegiatan berdasarkan keperluan (fakta). kendaraan. tenaga. Sebagai contoh. Dengan memahami faktor-faktor yang berperan timbulnya penyakit menular khas daerahnya. Namun. Keterpaduan pun termasuk penggunaan sumber daya. Desentralisasi juga memudahkan identifikasi faktor resiko yang bersifat lokal. Sehingga intervensi faktor resiko yang bersifat lokal lebih bisa mudah dikendalikan. antar negara. maka perlu identifikasi mitra kerja untuk menangani faktor risiko tersebut. antar propinsi. seorang “kepala” pengendalian penyakit harus mampu menemukan dan mengobati sumber penularan penyakit secara aktif. sekaligus sebagai mata air. Untuk itu. Di satu sisi. dan berbagai upaya lain secara bersama dengan lintas sektor. penggunaan mikroskop. Dengan demikian. Di lain pihak. sedangkan di wilayah Riau risiko tertular malaria datang ketika sedang menyadap karet di pagi buta. Analisis masing-masing faktor risiko dilakukan sekaligus dan terpadu melalui perencanaan. Bahkan keterpaduan surveilans yakni surveilans kasus sekaligus bersama-sama dengan faktor risiko terkait. secara teoritis Bupati atau Kepala Dinas Kesehatan secara efektif melakukan upaya pemberantasan penyakit menular yang bersifat spesifik lokal. Kemudian. Serta didukung jaringan dan kerjasama erat baik antar wilayah dan adimistrasi pemerintah maupun diantara para pelaku pemberantasan penyakit menular dan penyehatan lingkungan itu sendiri dalam satu wilayah. dalam perspektif ekosistem maupun dinamika/mobilitas faktor risiko penyakit antar kabupaten. seperti yang telah diuraikan sebelumnya hal-hal yang bersifat lintas batas berpotensi terabaikan. jadwal. mitra mana yang dianggap berkepentingan. memerlukan model manajemen pemberantasan penyakit dan penyehatan lingkungan secara terintegrasi yang berbasis wilayah kabupaten/kota dalam perspektif komprehensif. antara penyakit. membutuhkan model manajemen penyakit menular berbasis wilayah kabupaten/kota. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 17 . sehingga dapat meyakinkan pihak-pihak otoritas pendanaan seperti DPRD. Didukung fakta hasil surveilans terpadu. pendekatan wilayah kabupaten/kota membantu perencanaan dan pelaksanaan serta pelaksanaan program lebih fokus.LAPORAN AKHIR dalam satu wilayah otonomi kabupaten. Yakni. penularan Malaria di Kabupaten Banjarnegara berkenaan dengan nyamuk yang memiliki habitat kebun salak dan/atau kolam yang merupakan jamban keluarga. Kemudian ditentukan siapa saja yang harus diikutsertakan. desentralisasi berati mengharuskan manajemen penyakit menular melakukan pendekatan wilayah administratif. Semua itu dituangkan dalam bentuk perencanaan yang didukung fakta (evidences) lokal. Kemudian keterpaduan dikaitkan dengan promosi kesehatan seperti penggunaan alat pelindung ketika bekerja. intervensi holistik. penderita penyakit menular itu sendiri. Keterpaduan Untuk memvisualisasikan proses transmisi penyakit serta simpul manajemen.

harus ada jaminan ketersediaan obat dan jaminan disiplin menelan obat. tentu saja tidak semua penyakit menular dapat dicegah dengan imunisasi. 2. Juru Kusta. Untuk beberapa penyakit menular yang memerlukan pengobatan jangka panjang seperti halnya TBC. baik dari segi jumlah kasus maupun wilayah yang terkena persebaran penyakit tersebut. karena dikhawatirkan akan meluas.8 Kejadian Luar Biasa (KLB) Kejadian Luar Biasa (KLB) yaitu munculnya penyakit di luar kebiasaan (base line condition) yang terjadi dalam waktu relatif singkat serta memerlukan upaya penanggulangan secepat mungkin. Di masa mendatang sebaiknya diciptakan petugas lapangan penyakit menular setara dengan bidan di desa untuk menekan angka kematian ibu. memerlukan bantuan pemeriksaan yang dilakukan Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Penyelidikan Penyakit (Labkes) terdekat yang secara regional harus tersedia. Untuk penyakit tertentu yang membutuhkan konfirmasi laboratorium lebih tinggi.3 persen. (2) Memberikan Perlindungan Spesifik dan Imunisasi Manajemen pengendalian penyakit menular dapat dilakukan dengan cara memberikan kekebalan secara artifisial yaitu imunisasi. dan sebagainya. Kejadian luar biasa pertama di Indonesia dilaporkan oleh David Beylon di Batavia (Jakarta) pada tahun 1779. demam berdarah dengue baru dikenal pada tahun 1968 dalam KLB di Jakarta dan Surabaya dengan angka kematian sangat tinggi sekitar 41. keluarga terdekat atau tokoh masyarakat setempat dapat meminta bantuan Pengawas Menelan Obat (PMO).LAPORAN AKHIR 2. selain mengobati dan menyembuhkan penderita yang juga merupakan upaya pokok untuk menghilangkan sumber penularan dengan cara pemutusan mata rantai penularan. Untuk itu. perlu dilakukan upaya alternatif berupa pemberantasan penyakit yang berbasis lingkungan. Oleh sebab itu. Dalam satu wilayah kabupaten dapat dilakukan secara intensif dengan memperluas jangkauan pelayanan. Namun.7 Strategi Pengendalian Penyakit Strategi pemberantasan penyakit menular berbasis wilayah memiliki pengertian bahwa setiap wilayah administrasi pembangunan (kabupaten/kota) pemberantasan penyakit menggunakan “paket” pendekatan strategi sebagai berikut : (1) Intensifikasi Pencarian dan Pengobatan Kasus Melakukan pencarian dan pengobatan secara intensif terhadap penderita. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 18 . seperti pemberdayaan tenaga semi-profesional terlatih misalnya juru Malaria Desa. Namun. Cakupan imunisasi amat penting karena dapat mencegah penyakit dalam satu wilayah.

informasi pra-KLB menjadi penting. Sedangkan penanggugjawab teknis adalah Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Pengertian KLB seringkali dikacaukan dengan pengertian wabah. Penetapan daerah wabah merupakan pertimbangan epidemologis dan keadaan masyarakat (mencakup keamanan. Mengacu kepada teori simpul atau mengacu kepada patogenesis kejadian penyakit. penanganan saat kejadian KLB dan pascaKLB. atau suhu yang meningkat sehingga menimbulkan populasi nyamuk atau ledakan gas. Tahun 1991. Pasal 2 sampai 5). Pasal 1 Ayat 7. prediktif. sosial. Pasal 1). Manajemen pra-KLB termasuk sistem kewaspadaan dini. Penanggungjawab operasional pelaksanaan penanggulangan KLB adalah Bupati/Walikota. memang tidak lazim disebut sebagai KLB. Penetapan atau pencabutan daerah wabah diberlakukan dalam suatu wilayah Kabupaten/Kota. dan merupakan keadaan yang dapat menjurus pada terjadinya wabah. Kemudian kegiatan tersebut harus dilaporkan kepada Menteri Kesehatan secara berjenjang. KLB merupakan kejadian proses awal. Tahun 1984. Sedangkan untuk penetapan dan pencabutan KLB hingga saat ini belum diatur. Tahun 1984. Sedangkan yang menetapkan penyakit menular dan kemudian mencabut ketetapan tersebut adalah Menteri Kesehatan (UU Nomor 4. amat penting. tidak hanya mencegah terjadinya KLB. Apabila kita mencermati proses kejadiannya. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 19 . namun terminologi ini digunakan untuk tujuan atau rumusan upaya antisipatif. Pasal 12. dan sebagainya. namun draft Permenkes menyebutkan Pemerintah Daerah atas usulan Kepala Dinas Kesehatan setempat menetapkan dan mencabut KLB. ledakan industri. Bab IV. Bab I. tahun 1991. Gempa bumi di sebuah wilayah endemik malaria memerlukan peta dimana pengungsi akan ditempatkan. KLB pada dasarnya merupakan suatu kejadian baik pada sumber penyakit (penyebab) dengan dinamika transmisi. ekonomi dan budaya) yang disampaikan Kepala Daerah. adanya indikasi peningkatan jumlah dan kepadatan vektor penular penyakit. KLB adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan/kematian yang bermakna secara epidemologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu. dapat juga ditetapkan pada faktor risiko penyakit seperti bila terjadi ledakan gas beracun. Bila KLB terjadi lebih dari satu wilayah kabupaten/kota maka penanggulangannya dikoordinasikan oleh Gubernur. Misalnya. Ayat 1 dan 2 serta PP Nomor 40. Tahun 1984. Ayat 1).LAPORAN AKHIR Menurut PP 40. pencermatan ini dikenal sebagai pencermatan pra-KLB. serta korban kejadian penyakit yang berlangsung dalam tempo yang relatif singkat. Kepala wilayah ketika mengetahui adanya tersangka di wilayah atau adanya tersangka penderita penyakit menular yang dapat menimbulkan wabah. Bab 1. Penyakit menular adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat dengan jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi keadaan yang lazim pada waktu daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka (UU Nomor 4. dan akhirnya berupa pencegahan. Penetapan KLB. wajib melakukan tindakan secara cepat berupa penanggulangan seperlunya (UU Nomor 4. Pasal 4. pemantauan kondisi kualitas lingkungan tertentu yang menurun. terjadinya kerusakan hutan secara terus menerus.

Tugas Pemerintah Nasional (Pusat) antara lain menyusun berbagai kebijakan nasional. yakni manajemen kesehatan masyarakat untuk mengendalikan jatuhnya korban berikutnya. Di samping itu. Satu foci penyakit menular –entah itu demam berdarah. konflik sosial maupun timbulnya penyakit baru seperti SARS. Manajemen public health (manajemen faktor risiko) Manajemen public health atau manajemen kesehatan masyarakat. menyusun guidlines petunjuk. selama sistem atau kapasitas manajemen penyakit berbasis wilayah secara terintegrasi belum mapan. Kurun waktu 2000-2005 banyak terjadi kejadian luar biasa. Avian influenza. Contohnya tahun 2005 yaitu penyakit polio. tetapi sistem baru belum established atau mapan. penyakit menular tidak mengenal batas wilayah administratif seperti halnya kesehatan lingkungan. dan sebagainya. Sementara sistem lama telah dicabut. KLB pada dasarnya merupakan ujung dari sebuah proses. Mengapa hal tersebut terjadi? Pemberantasan penyakit menular memerlukan sistem manajemen. Sedangkan kewenangan pelaksanaan ada pada pemerintah Kabupaten/Kota. tetapi keduanya memiliki batas wlayah ekosistem. Untuk membangun sistem tersebut. TBC. untuk mencegah terjadinya penularan penyakit lebih lanjut. apabila dibiarkan berkembang. atau penyakit infeksi lama-selalu memiliki dua makna manajemen. maka KLB akan terus menjadi ancaman. Bahkan bila dipandang perlu. Sebagai perwujudan demokratisasi pembangunan maka sejak tahun 2000. perencanaan strategik. b. Sejak tahun 1968 jumlah kasusnya cenderung meningkat dan penyebarannya bertambah luas. dengan mobilitas penduduk yang tinggi akibat krisis sosial. maka berpotensi menyebarkan KLB ke saentero Nusantara. Manajemen kasus. Manajemen kasus maupun faktor risiko mencegah timbulnya eskalasi yang lebih luas.9 Penyakit Demam Berdarah Penyakit Demam berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. namun dalam hal KLB dan bencana dapat meminta bantuan Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Pusat. filariasis. Kegagalan manajemen penyakit secara terintegrasi dalam satu wilayah.LAPORAN AKHIR Setiap KLB-apakah itu bencana alam. upaya-upaya kesehatan termasuk didalamnya manajemen KLB semuanya sudah di desentralisasikan kepada Pemerintah Kabupaten dan Pemerintah Kota. dan menetapkan sasaran nasional. Oleh sebab itu. dan harus dilakukan secara simultan dalam waktu relatif singkat. yakni : a. pada hakekatnya adalah manejemen faktor risiko kejadian KLB. 2. memerlukan waktu. Keadaan ini erat kaitannya dengan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 20 . Manajemen KLB secara terintegrasi berbasis wilayah adalah juga manajemen dua bagian penting yang tak terpisahkan. Hal ini tampak adanya kesimpang siuran menajemen penyakit menular pada saat dimulainya otonomi atau peralihan sistem tersebut. Manajemen kasus menjadi amat penting. akan menimbulkan KLB. standar. khususnya saat penanganan KLB penyakit menular. HIV/AIDS. Pemerintah Pusat dapat mengambil inisiatif melakukan penanganan KLB. bencana lingkungan karena ulah manusia. malaria.

Kendala Pencegahan DBD Penularan DBD terjadi melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dewasa.0%.75. mengembangkan pedoman pemberantasan. mengembangkan teknologi pemberantasan. selalu menjadi KLB setiap tahun. Tugas dan tanggung jawab pemerintah dalam upaya pemberantasan penyakit DBD antara lain membuat kebijakan dan rencana strategis penanggulangan penyakit DBD. maka Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 21 . dengan perkembangan waktu penyakit ini kemudian tidak hanya berjangkit di daerah perkotaan. Usia penderita juga cenderung bergeser menyerang usia dewasa. Pada tahun 1999 IR menurun tajam sebesar 10. Cara penularan penyakit DBD adalah melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang menggigit penderita DBD kemudian ditularkan kepada orang sehat. Dengan fogging yang disemprotkan ke udara. tetapi juga menyebar ke daerah pedesaan. 21.17 per 100. kurangnya persediaan air bersih. selanjutnya menyebar ke berbagai negara. penyakit DBD dilaporkan pertama kali di Surabaya dan DKI Jakarta. memberikan pelatihan dan bantuan teknis. (2) Diagnosis dini dan pengobatan dini. Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit DBD merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah baik lintas sektor maupun lintas program dan masyarakat termasuk sektor swasta. adanya pemanasan global yang dapat mempengaruhi bionomik vektor Aedes aegypti. melakukan penyuluhan dan promosi kesehatan serta penggerakan masyarakat.000 penduduk berturutturut pada tahun 2000 sampai 2002. Penyakit DBD sering kali muncul sebagai wabah. yaitu: (1) Peningkatan kegiatan surveilans penyakit dan surveilans vektor. dan 19. namun pada tahun-tahun berikutnya tampak adanya peningkatan IR. yaitu urbanisasi yang cepat.19 per 100. Pemberantasan nyamuk dewasa dilakukan dengan menggunakan racun serangga (insektisida) yang disemprotkan atau dengan pengasapan (fogging) bila dilakukan pada wilayah yang luas.000 penduduk. perkembangan pembangunan di daerah pedesaan. mudahnya transportasi yang menyebabkan mudahnya lalu lintas manusia antardaerah. Namun. penyakit ini pertama kali dilaporkan pada tahun 1953 di Manila. yaitu 15. Upaya pemberantasan demam berdarah terdiri dari 3 hal. Di Asia Tenggara. KLB yang terbesar terjadi pada tahun 1998 dilaporkan dari 16 propinsi dengan IR=35. Melihat kondisi tersebut penyakit DBD harus diwaspadai kemungkinan adanya KLB lima tahunan. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi penyebaran dan penularan penyakit DBD. Penyakit demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit menular berbahaya yang disebabkan oleh virus Dengue dan dapat menimbulkan kematian dalam waktu singkat oleh karena terjadinya perdarahan dan shock. Di Indonesia sendiri. Pada awalnya penyakit DBD ini merupakan penyakit perkotaan dan menyerang terutama anak-anak usia di bawah 5 tahun.000 penduduk dan CFR 2. (3) Peningkatan upaya pemberantasan vektor penular penyakit DBD. Jumlah kasus terus meningkat baik dalam jumlah maupun luas wilayah yang terjangkit dan secara sporadis.99.24 per 100.LAPORAN AKHIR peningkatan mobilitas penduduk sejalan dengan semakin lancarnya hubungan transportasi serta tersebar luasnya virus dengue dan nyamuk penularnya di berbagai wilayah Indonesia.

penggunaan insektisida menjadi rawan keracunan bagi penghuni dan lingkungan hidup sekitar rumah. dalam waktu beberapa hari akan tumbuh nyamuk dewasa. nyamuk dewasa yang beterbangan atau yang hinggap di tempat persembunyiannya di lingkungan rumah penderita akan mati. Karena nyamuk dewasa Aedes aegypti berada di dalam lingkungan rumah tinggal. Sebab. Tidak usah menunggu terjadinya KLB atau wabah yang lebih luas. pada waktu ada laporan kasus DBD di satu rumah. Hal ini harus dilakukan karena sarang-sarang nyamuk Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 22 . Semua insektisida adalah bahan beracun yang jika penggunaannya tidak tepat dapat mengganggu kesehatan manusia maupun hewan dan dapat mencemari lingkungan. jika ada satu rumah saja tidak melakukan PSN. sebelum seseorang menunjukkan gejala klinis DBD dalam darahnya sudah beredar virus dengue yang dapat ditularkan kepada orang lain. Karena itu. Takaran insektisida yang dikurangi (asal bau obat). baik di musim hujan maupun di musim kemarau. Selain itu. sepanjang tahun. Fogging tidak akan berefek lama dan tidak boleh dilakukan terus-menerus karena insektisida yang digunakan adalah bahan beracun. Pemberian abate untuk membunuh jentik nyamuk yang terdapat di dalam air bak kamar mandi atau tandon air bersih lainnya cukup efektif mencegahnya berkembang biak. Gerakan PSN harus dilakukan terus-menerus. Dengan demikian. Fogging ditujukan untuk memberantas nyamuk betina dewasa karena hanya nyamuk betina yang mengisap darah. juga dapat menimbulkan dampak serius di kemudian hari. penggunaan insektisida yang tidak tepat dosisnya atau tidak tepat jenisnya dapat menjadikan fogging tidak memberikan hasil yang memuaskan atau gagal sama sekali. Menutup rapat tempat penyimpanan air bersih dan mengurasnya sesering mungkin akan bermanfaat mengurangi kesempatan nyamuk untuk bertelur dan berkembang biak. bukan sarang nyamuk Aedes aegypti). termasuk kaleng-kaleng berisi air atau bak mandi. Karena itu. penularan virus oleh nyamuk dapat dihentikan segera. yaitu terjadinya kekebalan nyamuk Aedes aegypti terhadap insektisida yang digunakan saat ini. Dengan melakukan fogging di sekitar tempat tinggal penderita. sebelum larva berubah jadi nyamuk dewasa. Karena itu. seharusnya segera dilakukan fogging terhadap rumah tinggal penderita dan area dengan radius 100 meter di sekitarnya.LAPORAN AKHIR nyamuk dewasa yang beterbangan atau yang hinggap di tempat persembunyiannya di lingkungan rumah penderita akan mati. fogging harus segera diikuti dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). selama tandon-tandon air masih dijumpai. Selain itu. sarang nyamuk harus segera dimusnahkan. PSN harus dilakukan segenap warga. Dari jentik nyamuk yang hidup di dalam air (tandon air). ia menjadi sumber terbentuknya populasi nyamuk Aedes aegypti untuk wilayah di sekitarnya. baik untuk manusia maupun lingkungan hidup. Gagalnya atau tidak efektifnya fogging dapat terjadi akibat salahnya lokasi pengasapan (yang diasapi adalah got-got atau saluran kota yang kotor dan mampet. Keberadaan sarang nyamuk Aedes aegypti di dalam rumah memerlukan tindakan yang spesifik. Apalagi nyamuk Aedes aegypti mampu terbang dalam radius 100 meter dari sarang asalnya. selain termasuk kategori korupsi.

sehingga kemungkinan penyebarluasan DBD dapat dibatasi dan KLB dapat dicegah. tanpa menunggu terjadinya KLB. baik di musim penghujan maupun di musim kemarau. mengetahui ada tidaknya jentik nyamuk penular DBD. baik untuk membantu kelancaran pelaksanaan kegiatan pemberantasan maupun dalam memberantas jentik nyamuk penularnya. Penanggulangan Fokus adalah kegiatan pemberantasan nyamuk penular DBD yang dilaksanakan dengan melakukan pemberantasan sarang nyamuk demam berdarah dengue (PSN DBD). Selanjutnya dalam melaksanakan kegiatan pemberantasan DBD sangat diperlukan peran serta masyarakat. termasuk tempat-tempat umum dalam radius sekurang-kurangnya 100 m. misalnya. Jika terjadi kegagalan fogging. segera ditindaklanjuti dengan kagiatan Penyelidikan Epidemiologis (PE) dan Penanggulangan Fokus. harus dicari penyebabnya. Tata Laksana Penanggulangan DBD Setiap diketahui adanya penderita DBD. tindakan yang pertamatama harus dilakukan adalah memberantas nyamuk dewasa di lingkungan tempat tinggal penderita dan sekitarnya dengan melakukan fogging. • Penyelidikan Epidemiolegis (PE) adalah kegiatan pencarian penderita DBD atau tersangka DBD lainnya dan pemeriksaan jentik nyamuk penular DBD di tempat tinggal penderita dan rumah/bangunan sekitarnya. ataukah terjadi "kesalahan teknis" di lapangan. Adanya nyamuk Aedes aegypti penular DBD sepanjang tahun di Indonesia menyebabkan penularan virus dengue juga akan terjadi sepanjang tahun. Tujuannya adalah membatasi penularan DBD dan mencegah terjadinya KLB di lokasi tempat tinggal penderita DBD dan rumah/bangunan sekitarnya serta tempat-tempat umum yang berpotensi menjadi sumber penularan DBD lebih lanjut. apakah telah terjadi resistensi nyamuk terhadap insektisida yang digunakan.LAPORAN AKHIR merupakan sumber produksi nyamuk dewasa. dan lingkungannya dari penularan DBD. Fogging akan sangat efisien jika dilakukan pada waktu populasi nyamuk masih rendah. larvadiasasi. sehingga setiap warga dapat saling melindungi diri. untuk mencegah penyebaran penyakit. Tujuannya adalah untuk mengetahui penularan dan penyebaran DBD lebih lanjut serta tindakan penanggulangan yang perlu dilakukan di wilayah sekitar tempat penderita. jika terdapat laporan adanya kasus DBD. keluarga. dan menentukan jenis tindakan (penanggulangan fokus) yang akan dilakukan. melalui GGPSN (Gebyar Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk). • Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 23 . Karena itu. PE juga dilakukan untuk mengetahui adanya penderita dan tersangka DBD lainnya. Sosialisasi dalam pelaksanaan PSN dan cara hidup gotong royong harus kembali digalakkan. penyuluhan dan penyemprotan (pengasapan) menggunakan insektisisda sesuai kriteria.

Pencarian Penderita Panas Ada penderita DBD lain atau ada jentik dan ada penderita panas ≥ 3 orang dan ditemukamn jentik (≥ 25%) Ya Penyuluhan PSN DBD Fogging radius 200m - Tidak Penyuluhan PSN FDBD Larvasidasi Gambar 2. Penilaian operasional ditujukan untuk mengetahui persentase (coverage) pemberantasan vektor dari jumlah yang direncanakan. Sedangkan penilaian epidemiologi ditujukan untuk mengetahui dampak upaya penanggulangan terhadap jumlah penderita dan kematian DBD dengan cara membandingkan data kasus/kematian DBD sebelum dan sesudah penanggulangan KLB. jentik dan kepompong nyamuk penular DBD (Aedes aegypti) di tempat-tempat perkembangbiakannya.LAPORAN AKHIR Penderita/tersangka DBD Penyelidikan Epidemiologi (PE) . Tujuannya adalah mengendalikan populasi nyamuk. Penilaian ini dilakukan melalui kunjungan rumah secara acak dan wilayah-wilayah yang direncanakan untuk pengasapan. Penilaian Penanggulangan KLB meliputi penilaian operasional dan penilaian epidemiologi. Sarang Nyamuk demam berdarah dengue (PSN DBD) adalah kegiatan memberantas telur. Tujuannya adalah membatasi penularan DBD.Pemeriksaan Jentik . sehingga penularan DBD dapat dicegah dan dikurangi. larvasidasi dan penyuluhan.3. Bagan Penanggulangan Fokus (Penanggulangan Penderita DBD di Lapangan) • Penanggulangan • Pemberantasan Kejadian Luar Biasa (KLB) adalah upaya penanggulangan yang meliputi : pengobatan/perawatan penderita. sehingga KLB yang terjadi di suatu wilayah tidak meluas ke wilayah lainnya. pemberantasan vektor penular DBD. Keberhasilan PSN DBD diukur dengan Angka Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 24 . penyuluhan kepada masyarakat dan evaluasi/penilaian penanggulangan yang dilakukan di seluruh wilayah yang terjadi KLB.

Mengubur/membuang pada tempatnya barang-barang bekas seperti ban bekas. Tujuannya adalah melakukan pemeriksaan jentik nyamuk penular demam berdarah dengue termasuk memotivasi keluarga/masyarakat dalam melaksanakan PSN DBD. Sehingga upaya pemberantasan dan pencegahan penyebaran penyakit DBD adalah upaya yang diarahkan untuk menghilangkan tempat perindukan (breeding places) nyamuk Aedes aegypti yang ada dalam lingkungan permukiman penduduk. teh manis. Sebagai contoh: peran masyarakat dalam kegiatan surveilans penyakit. Obat penurun panas yang tidak boleh diberikan adalah dari jenis yang mengandung asam salisilat yang dapat memperberat perdarahan.LAPORAN AKHIR • Pemeriksaan Bebas Jentik (ABJ). Peran Masyarakat dalam Penanggulangan DBD Masyarakat berperan dalam upaya pemberantasan penyakit DBD. Seperti diketahui nyamuk Aedes aegipty adalah nyamuk domestik yang hidup sangat dekat dengan pemukiman penduduk seperti halnya Culex. Masyarakat juga berperan dalam upaya pemberantasan vektor yang merupakan upaya paling penting untuk memutuskan rantai penularan dalam rangka mencegah dan memberantas penyakit DBD muncul di masa yang akan datang. Jentik Berkala adalah pemeriksaan tempat-tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti yang dilakukan secara teratur oleh petugas kesehatan atau kader atau petugas pemantau jentik (jumantik). Pertolongan pertama kepada tersangka penderita DBD dapat dilakukan di rumah sebelum dirujuk ke tempat pelayanan kesehatan yaitu dengan memberikan minum sebanyak-banyaknya dengan oralit. Cara PSN DBD dilakukan dengan ”3M”. Dengan demikian gerakan PSN dengan 3M Plus yaitu Menguras tempat-tempat penampungan air minimal seminggu sekali atau menaburinya dengan bubuk abate untuk membunuh jentik nyamuk Aedes aegypti. Dalam upaya pemberantasan vektor tersebut antara lain masyarakat berperan secara aktif dalam pemantauan jentik berkala dan melakukan gerakan serentak Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Apabila ABJ lebih atau sama dengan 95% diharapkan penularan DBD dapat dicegah atau dikurangi. juice buah-buahan. yaitu masyarakat dapat mengenali secara dini tanda-tanda penyakit DBD yang menimpa salah satu anggota keluarga maupun tetangga mereka dan segera merujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat. Menutup rapat-rapat tempat penampungan air agar nyamuk Aedes aegypti tidak bisa bertelur di tempat itu. (2) menutup rapat-arapat tempat penampungan air. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 25 . dan (3) mengubur atau menyingkirkan barang-barang bekas yang dapat menampung air hujan. Sehingga bisa dilakukan penegakan diagnosa secara dini dan diberikan pertolongan dan pengobatan dini. Tujuan pemberian pertolongan pertama di atas adalah untuk mempertahankan volume cairan dalam pembuluh darah penderita sehingga dapat membantu mengurangi angka kematian karena DBD. sirup. kaleng bekas yang dapat menampung air hujan. yaitu (1) menguras dan menyikat tempat-trempat penampungan air. pemberian obat penurun panas seperti paracetamol.

sehingga dapat mengubah perilaku masyarakat dan lingkungannya ke arah perilaku dan lingkungan yang bersih dan sehat. Hal sederhana lainnya yang dilakukan oleh masyarakat adalah menata gantungan baju dengan baik agar tidak menjadi tempat hinggap dan istirahat nyamuk Aedes aegypti. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 26 . Dan upaya tersebut sangat berkaitan dengan faktor perilaku dan faktor lingkungan. Kota Sehat dan gerakangerakan lain serupa dapat dihidupkan kembali untuk membudayakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). tidur dengan kelambu." Keberhasilan Jenderal WC Gorgas memberantas nyamuk Aedes aegypti untuk memberantas demam kuning (Yellow Fever) lebih dari 100 tahun yang lalu di Kuba dapat kita ulangi di Indonesia. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa dalam upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit DBD oleh masyarakat sangat besar. tidak kondusif untuk hidup nyamuk Aedes aegypti aegypti. Gerakan Jumat Bersih (GJB). Jika ini dilakukan maka selain penyakit DBD maka penyakit-penyakit lain yang berbasis lingkungan seperti leptospirosis. Sri Lanka menggunakan gerakan Green Home Movement untuk tujuan yang sama yaitu menempelkan stiker hijau bagi rumah yang memenuhi syarat kebersihan dan kesehatan termasuk bebas dari jentik Aedes aegypti dan menempelkan stiker hitam pada rumah yang tidak memenuhi syarat kebersihan dan kesehatan. Berbagai negara yang mempunyai masalah yang sama dengan Indonesia menggunakan berbagai macam pendekatan dalam melakukan PSN antara lain Singapura dan Malaysia menggunakan pendekatan hukum yaitu masayarakat yang rumahnya kedapatan ada jentik Aedes aegypti dihukum dengan membayar denda. Adipura. Sejak dulu tidak ada yang berubah dengan bionomik atau perilaku hidup nyamuk Aedes aegypti sehingga teknologi pemberantasannya pun dari dulu tidak berubah. Dalam era otonomi dan desentralisasi saat ini Pemerintah Kabupaten/Kota dalam mengatur rumah tangganya sendiri dapat melakukan gerakan-gerakan inovatif seperti yang disebutkan di atas yang didukung dengan berbagai Peraturan Daerah. Agar gerakan yang dilakukan oleh Jenderal Gorgas bisa dilakukan di Indonesia diperlukan komitmen yang kuat dari seluruh jajaran struktur pemerintahan bersama-sama masyarakat dan swasta. boleh dikatakan lebih dari 90% dari keseluruhan upaya pemberantasan penyakit DBD. Teknologi yang digunakan oleh Jenderal Gorgas adalah gerakan PSN yang dilaksanakan serentak dan secara besar-besaran di seluruh negeri.LAPORAN AKHIR Masyarakat juga melakukan upaya mencegah gigitan nyamuk dengan menggunakan obat gosok antinyamuk. Bagi pemilik rumah yang ditempeli stiker hitam diberi peringatan 3 kali untuk membersihan rumah dan lingkungannya dan jika tidak dilakukan maka orang tersebut dipanggil dan didenda. dua tiga pulau terlampaui. terus-menerus berupa gerakan serentak. diare dan lain-lain akan ikut terberantas ibaratkan "sekali merengkuh dayung. menyemprot rumah dengan obat nyamuk yang tersedia luas di pasaran.. Pemberantasan DBD akan berhasil dengan baik jika upaya PSN dengan 3M Plus dilakukan secara sistematis... Berbagai gerakan yang pernah ada di masyarakat seperti Gerakan Disiplin Nasional (GDN).

Berdasarkan landasan pemikiran diatas. (4) Luas Daerah Terserang.LAPORAN AKHIR METODOLOGI 3. (3) Jumlah Kematian.1 Kerangka Pikir Kajian Kebijakan Penannggulangan Penyakit Menular Kerangka pikir kajian tersebut selanjutnya dijabarkan dalam kerangka konsep kinerja surveilans dan kerangka konsep kinerja penanggulangan yang digambarkan dalam skema berikut: Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 27 . Implementasi kebijakan penyakit menular juga dipengaruhi kebijakan desentralisasi kewenangan pengelolaan pembangunan. (4) dana. (4) dana. (3) sarana. (2) pelaksanaan diseminasi informasi DBD. (2) data. dan (3) pelaporan. dan (5) SOP. dan (5) SOP. Faktor-faktor yang terkait dengan kinerja surveilans mencakup (1) tenaga. kerangka pikir kajian digambarkan dalam skema berikut: BAB 3 Kinerja Surveilans DESENTRALISASI KEWENANGAN IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENYAKIT MENULAR Kinerja Penanggulangan Gambar 3. Kinerja Penanggulangan diukur dengan melihat (1) Frekuensi KLB. Faktor-faktor yang terkait dengan kinerja surveilans mencakup (1) tenaga. Kinerja surveilans diukur dengan melihat (1) keberadaan peta rawan. (3) sarana. (2) Jumlah Kasus.1 Kerangka Pemikiran Kajian ini dilandasi pemikiran adanya hubungan timbal balik antara rendahnya kinerja surveilans dan kinerja penanggulangan dalam implementasi kebijakan penyakit menular khususnya dalam kasus kebijakan penanganan penyakit DBD. (2) data.

4. Logistik. APBD.Diseminasi Informasi . 3. Proses . lab. Pengolah data. 2. 2. 4.3 Kerangka Konsep Kinerja Penanggulangan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 28 . Proses. Jentik. 4.LAPORAN AKHIR Tenaga 1. 2. Pengetahuan . Curah Hujan. Jenis pengeluaran Data Kasus. Curah Hujan Kinerja Surveilans DBD •Peta Rawan KLB DBD . 5. Komunikasi SOP 1. 2. support). Lingkungan (genangan). Sumber . Transportasi . Vektor. jenis pengeluaran Data Kasus . 2. Pengolah data. Transportasi. 2. motivasi . insektisida. 3. Obat. Vektor . 3. Sumber (APBD. PHLN) 2. Pengetahuan (Penyelidikan & Penanggulangan) Kerangka Konsep Kinerja Penanggulangan Dana 1. Tim Penanggulangan (epid. Monev Kerangka Konsep Kinerja Surveilans Dana 1. Jumlah . 3. Pedoman (7 seri : modelpokjanal . 2. klinis. 3. alat penyemprotan SOP 1.2 Kerangka Konsep Kinerja Surveilans Tenaga 1. Pedoman.Peta Rawan KLB DBD •Diseminasi Informasi . Jumlah . Peraturan Gambar 3. Komunikasi. Jentik .Pelaporan Sarana 1. Peraturan Gambar 3. Logistik Kinerja Penanggulangan KLB DBD •Frekuensi KLB •Jumlah Kasus •Jumlah Kematian •Luas Daerah Terserang Sarana 1. 6. Prilaku (3M).

Jumlah 2. yaitu kinerja surveilans dan kinerja penanggulangan No Variabel Parameter yang diukur KINERJA SURVEILANS DBD Idependent Variabel 1 Kinerja Surveilans 1. Peraturan KINERJA PENANGGULANGAN KLB DBD Idependent Variabel 1 Tenaga 1 Kinerja Penanggulangan KLB 1. Tim Penanggulangan (epid. Peta rawan KLB DBD 2 Diseminasi informasi 3. 2. Kajian ini menggunakan metode penelitian survey explanatory. dimana data diperoleh melalui angket dan wawancara kepada sejumlah responden terpilih secara acak.2 Disain Kajian 1. Tujuannya adalah untuk memperoleh berbagai gambaran yang jelas dan diskripsi yang lengkap tentang variabel penelitian. Pelaporan Dependent Variabel 1. Luas Daerah Terserang 1. Pengetahuan 4. Proses 4. Kasus 2. support) 2. Pengetahuan (penyelidikan & Dependent Variabel 1 Tenaga Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 29 . klinis. Jumlah Kasus 3. Jumlah Kematian 4. Sumber 3. Transportasi 2. lab. Frekuensi KLB 2. Sumber 3. Jumlah 2.LAPORAN AKHIR 3. Curah Hujan 4 Sarana 1. Komunikasi 5 SOP 1. Jentik 3. Vektor 4. Pengolah data 3. Pedoman (7 seri modul pokjanal) 2. Jenis pengeluaran 3 Data 1. Monitoring dan Evaluasi 2 Dana 1. Variabel Penelitian Variabel penelitian mencakup 2 aspek.

Untuk interpretasi hasil analisis data. kab/kota). Sumber 3. Keputusan Dirjen. pengisian kuesioner. Curah hujan 7. Alat penyemprotan 1. Komunikasi 4. dilakukan pula studi kepustakaan terutama kajian teoritis dari hasil penelitian terdahulu yang relevan dengan kajian ini Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 30 . Peraturan 3. Logistik 5. peraturan perundangan dalam bentuk Undang-Undang. Keputusan Menteri Kesehatan. propinsi. Kasus 2. baik dalam bentuk data kualitatif maupun kuantitatif. Sumber dan Pengumpulan Data Data yang dikumpulkan dalam kajian ini meliputi data primer dan data sekunder. Pedoman (7 seri modul pokjanal) 2. laporan tentang wabah. Proses 4. Jentik 3. Keputusan Presiden. Vektor 6. Jenis pengeluaran 1. Lingkungan (genangan) 4. Insektisida 7. Prilaku (3M) 5. Peraturan Daerah maupun Peraturan Gubernur. laporan tahunan tentang Penanggulangan Penyakit Menular (P2M). Data primer yang didapat melalui wawancara mendalam (indepth interview) di berbagai tingkat (Pusat.LAPORAN AKHIR 2 Dana 3 Data 4 Sarana 5 SOP penanggulangan) 1. Pengolah data 3. Jumlah 2. Peraturan Pemerintah. Data sekunder mencakup data berkaitan dengan profil kesehatan pusat. Transportasi 2. Logistik 1.3 Jenis. Obat 6. propinsi dan kab/kota. serta focus group discussion.

(6) Kasubag Umum Kabupaten Dinas Kesehatan: (1) subdin P2M. (2) petugas P2M. (2) Seksi Surveilans. (3) staf Kesling Rumah Sakit: (1) Wakil Direktur Yanmed. Kota Pekanbaru 2. (2) UGD.LAPORAN AKHIR 3. Tabel 3. (3) P2B2. bagian PI dan kepegawaian. yaitu (1) kelompok pelaksana yang terlibat dalam penanggulangan penyakit menular. Siak Jawa Barat 1. subdit arbovirosis. Gresik Kalimantan Timur 1. Bogor Jawa Timur 1. Kab. (5) unit umum Puskesmas : (1) Kepala Puskesmas.1 Responden Kajian No 1 2 3 4 5 6 Propinsi/Kab Riau 1. Kota Surabaya 2. (2) ahli epidemiologi dari Departemen Kesehatan. Kelompok Pakar yang menjadi responden adalah (1) ahli epidemiologi dari Perguruan Tinggi. (4) Lab. Kota Balikpapan Sulawesi Selatan 1. Medical Record. (3) Bag. Kab. Kota Bandung 2. Kab Lombok Tengah TOTAL Dinas 5 3 2 3 2 2 1 1 2 2 1 2 2 1 2 3 2 3 47 PKM 4 5 3 2 3 4 2 2 4 4 4 6 43 Rumah Sakit 1 1 2 1 2 1 1 4 1 2 2 3 21 Bapp 2 1 1 2 1 1 2 1 1 1 1 1 15 Masy 1 1 20 1 1 18 1 1 13 2 1 20 1 1 25 2 0 13 122 Jml 26 Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 31 . Rumah Sakit. Kab. Kota Samarinda 2. Kelompok Pelaksana yang menjadi responden mencakup Pusat: Dit Epidemiologi dan P2B2 Ditjen P2M. serta (2) kelompok pakar. (2) unit surveilans. Kota Makasar 2. (3) pakar lain dari WHO. Gowa Nusa Tenggara Barat 1. Kab. yang memiliki keahlian dan pengalaman dalam penanggulangan penyakit menular. (3) unit penanggulangan P2B2. (4) Kabag Kepegawaian. Kota Mataram 2. (4) unit kepegawaian. Yanmedik dan Binkesmas Dinas Kesehatan Propinsi: (1) Kasubdin P2M.4 Responden Kajian Responden Kajian mencakup 2 (dua) kelompok. (5) Kabag Keuangan.

Pada setiap propinsi di ambil 2 (dua) Kabupaten/Kota dengan kriteria pemilihan kabupaten adalah o Prevalensi kasus DBD yang tinggi dan rendah o 1 kab/kota terletak di ibu kota propinsi dan 1 kab/kota di luar kab/ibu kota propinsi Pada setiap kabupaten dipilih dua puskesmas dan 1 (satu) rumah sakit. Berdasarkan hasil analisis dan temuan yang didapat selanjutnya dilakukan pembahasan dengan nara sumber dalam bentuk focus group discussion (FGD). baik berbentuk data sekunder maupun hasil wawancara mendalam. dengan kriteria. Hasil FGD disosialisasikan dalam bentuk workshop untuk kemudian dirumuskan dalam bentuk kesimpulan dan rekomendasi serta implikasi kebijakan.5.Data Primer (kuesioner & wawancara) Pengolahan Data .Data Sekunder .6 Teknik Analisis Teknik analisis yang dilakukan dalam kajian ini adalah dengan melakukan analisis diskriptif (kualitatif) berdasarkan data dan informasi yang didapat di lapangan.Interpertasi data . 24 puskesmas.Interpretasi hasil wawancara FGD Kesimpulan & Rekomendasi Kebijakan Gambar 3.Mengolah . Selanjutnya data hasil pengumpulan di lapangan dikelompokan. mendapatkan rumusan hasil kajian lebih fokus.4 Tahapan Pelaksanaan Kajian Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 32 . Pengumpulan Data . o Prevalensi kasus DBD tinggi dan rendah o Puskesmas di ibukota kabupaten o Puskesmas di kecamatan di luar ibu kota kab/kota Dengan demikian jumlah sampel kabupaten/kota sebanyak 12 buah. Tengah dan Timur.Mentabulasi Analisis Data .LAPORAN AKHIR 3. Lokasi Kajian Kajian ini dilaksanakan di 6 (enam) propinsi terpilih yang ditentukan berdasarkan karakteristik frekuensi terjadinya kejadian penyakit menular dari kelompok propinsi di Indonesia Bagian Barat. Analisis dan interpretsi selanjutnya data yang sudah dibuat dalam bentuk tabulasi serta berdasarkan hasil wawancara mendalam dengan responden.Mengelompokkan . diolah dan ditabulasikan untuk memudahkan dalam proses analisis. dan 12 rumah sakit 3.

00 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 00 01 02 03 04 TAHUN 0 . dan tidak terlaksananya program baik PSN Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 33 .1 IR & CFR Tahun 1968-2004 IR & CFR DBD DI INDONESIA TAHUN 1968-2004 4 0. 1988.00 CFR 4 0.00 CFR 2 5. di bawah ini).0 0 I.7. peningkatan IR yang paling tinggi tidak mengakibatkan CFR meningkat di tahun yang sama. Angka tertinggi IR terjadi pada tahun 1968. Depkes. gambaran Incidence Rate (IR) dan Case Fatalities Rate (CFR) penyakit DBD ini dapat dilihat pada Gambar di bawah ini. Ditjen PP&PL. namun demikian.LAPORAN AKHIR BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.00 5 .0 0 5. 1999 dan tahun 2004. hal ini dimungkinkan makin banyaknya kasus-kasus DBD yang tertangani. Gambar 4.00 1 0. Pada kurun waktu tahun 2000 – 2004 terjadi kecenderungan peningkatan IR.2004.1 Incidence Rate (IR) dan Case Fatalities Rate (CFR) Berdasarkan data tahun 1968 sampai dengan tahun 2004.00 2 0.00 1 5. Kesadaran masyarakat mengenai kasus DBD dapat memperkecil peningkatan CFR. terlihat makin menurunnya CFR. R 2 0.00 3 5.0 0 IR 3 5.1.0 0 1 0. Tingginya curah hujan menyebabkan banyaknya genangan-genangan air yang memudahkan nyamuk untuk berkembangbiak. PHBS yang rendah masih menjadi salah satu pemicu tidak menurunnya kasus IR. Dapat dilihat pada tahun 1998. Implementasi Kebijakan Penanggulangan DBD 4.0 0 1 5.00 0. Jika diperhatikan gambaran IR dan CFR (gambar) antara kurun waktu 1968 sampai 2004. maka kecenderungan terjadinya peningkatan kasus DBD lazimnya dimulai pada akhir bulan Desember sampai dengan terbanyak yang lazimnya terjadi pada sekitar bulan Februari – Maret (lihat Gambar 1.0 0 3 0.00 4 5.0 0 2 5. 2005 Apabila dilihat secara khusus per bulan selama kurun waktu 2003 .0 0 3 0.1.00 Sumber: Subdit Arbovirosis.

35 5. 2005 Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 34 .2 Perkembangan Kasus DBD Nasional Per Bulan PERKEMBANGAN KASUS DBD NASIONAL PER BULAN 30000 2003-2004 25000 20000 S SU KA 15000 KASUS IK NA 10000 5000 0 JAN FEB MAR APR MAY JUN JUL AUG SEP OCT NOV DEC JAN FEB MAR APR 2003 2004 Sumber: Subdit Arbovirosis.7. Gambar 4.61 10.99 7. Ditjen PP&PL.000 30. Depkes. 3 KASUS DBDPer Bulan di Indonesia.27 1. Depkes. Ditjen PP&PL.76 1.3 18.77 2. Gambar 4.a). menunjukkan bahwa kecenderungan peningkatan kasus DBD per bulan hampir sama polanya dengan tahun 2003 – 2004.03 5.94 6.10 908 992 1.004 2. yaitu pada bulan akhir Desember (lihat Gambar 1.79 1.LAPORAN AKHIR (Pemberantasan Sarang Nyamuk) maupun 3M mengakibatkan kecenderungan peningkatan kasus DBD.000 5.000 25.7 15. 2006 11. 2005 Sementara itu.61 5.005 14. 7.000 20.9 7.03 8.41 19.8 30.59 2. data tahun 2005 – 2006. Sumber: Subdit Arbovirosis.000 10.52 6.000 0 JAN FEB MARAPRMAYJUN JUL AUGSEPOCT NOVDECJAN FEB MARAPRMAYJUN JUL AUGSEPOCT NOVDES JAN FEB MARAPRMAY 2.0 335 KASUS 9.000 15.0 6.65 5.4 10. Hal ini ada kaitannya dengan pergantian musim kemarau ke musim hujan. tahun 2005-2006 Kasus DBD PER BULAN DI INDONESIA TAHUN 2005-2006 35.

Ditjen PP&PL. Strategi dalam pelaksanaan kebijakan di atas dilakukan melalui Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 35 . dan 1. Mengingat obat dan vaksin untuk membunuh virus dengue belum ada.7.935 1 2005 2006 6475 2 10916 3 7610 4 5033 5 5652 335 6 5357 7 5.686 Total sd Akhir Mei 2006: 50. yaitu kecenderungan terjadinya peningkatan kasus DBD pada akhir bulan Desember sampai dengan kasus terbanyak pada bulan Februari – Maret.418 7.7a. terlihat pola yang jelas mengenai kecenderungan peningkatan kasus DBD. Pada awalnya strategi utama pemberantasan DBD adalah pemberantasan nyamuk dewasa melalui pengasapan.143 11. (2) meningkatkan perlindungan kesehatan masyarakat terhadap penyakit DBD. 4.8. Kebijakan dalam rangka penanggulangan menyebarnya DBD adalah (1) peningkatan perilaku dalam hidup sehat dan keamandiriian masyarakat terhadap penyakit DBD.4 JUMLAH KASUS DBD DI INDONESIA TAHUN 2005 & 2006 JUMLAH KASUS DBD DI INDONESIA TAHUN 2004 DAN 2005 (SITUASI SD TGLJuni 2006) (s/d 19 19 JUNI 2006) 20000 18000 16000 14000 12000 10000 8000 6000 4000 2000 0 2005 2006 Total sd Akhir Mei 2005: 35. Kemudian strategi diperluas dengan menggunakan larvasida yang ditaburkan ke Tempat Penampungan Air (TPA). Hal ini menurut beberapa hasil analisa ada kaitannya dengan pergantian musim kemarau ke musim hujan. dan (4) memantapkan kerjasama lintas sektor/lintas program. maka cara yang paling efektif untuk mencegah penyakit DBD ialah dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) yang dilaksanakan oleh masyarakat/keluarga secara teratur setiap seminggu sekali. 1. 2005 Berdasarkan gambar 1. seperti di atas.01 14. Kedua metode ini sampai sekarang belum memperlihatkan hasil yang memuaskan dimana terbukti dengan peningkatan kasus dan bertambahnya jumlah wilayah yang terjangkit DBD.034 8 8528 9 6997 10 7610 11 12 10712 15355 18.028 Sumber: Subdit Arbovirosis.2 Kebijakan Penanggulangan Penyakit DBD Departemen Kesehatan telah melewati pengalaman yang cukup panjang dalam penanggulangan penyakit DBD.LAPORAN AKHIR Gambar 4. Depkes.1. data tahun 2003 hingga Juni 2006. (3) meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi program pemberantasan DBD.

maka identifikasi stakeholders baik sebagai mitra maupun pelaku potensial. advokasi. Optimalisasi pendelegasian wewenang pengelola kepada kabupaten/kota. guna memadukan berbagai sumber daya yang tersedia di masing-masing mitra. Pokok-pokok program pemberantasan DBD mencakup (1) Kewaspadaan dini DBD. dan pemeriksaan jentik berkala (PJB) yang dilakukan setiap 3 bulan sekali. Pertemuan berkala sejak dari tahap perencanaan sampai tahap pelaksanaan. sosialisasi. dimana Puskesmas melakukan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 36 . dikarenakan perbedaan situasi dan kondisi wilayah. (3) Bulan Bakti gerakan ”3M”. tata laksana kasus harus dikuasai karena hal-hal tersebut merupakan landasan dalam penyususnan kebijaksanaan program P2 DBD. Angka kesakitan penyakit ini bervariasi antara satu wilayah dengan wilayah lain. meningkatkan dan mewujudkan kemitraan. (5) Pembangunan Berwawasan Kesehatan Lingkungan. Jaringan kemitraan diselenggarakan melalui pertemuan berkala. Meningkatnya peran aktif masyarakat dalam pencegahan dan penanggulangan penyakit DBD merupakan salah satu kunci keberhasilan upaya pemberantasan penyakit DBD. (4) Desentralisasi. (3) Peningkatan Profesionalisme Pengelola Program. (2) Pemberantasan vektor melalui PSN dengan cara 3M Plus. Penyakit DBD hampir tersebar luas di seluruh Indonesia kecuali di daerah yang di atas 1000 m diatas permukaan air laut. Oleh sebab itu. Upaya pemberantasan penyakit DBD tidak dapat dilaksanakan oleh sektor kesehatan saja. pemantauan dan penilaian. sehingga populasi vektor sebagai penular penyakit DBD dapat berkurang. peran sektor terkait pemberantasan penyakit DBD sangat menentukan. dan berbagai upaya penyuluhan kesehatan lainnya dilaksanakan secara intensif dan berkesinambungan melalui berbagai media massa dan sarana. SDM yang terampil dan menguasai IPTEK merupakan salah satu unsur penting dalam pelaksanaan program P2 DBD. maka upaya-upaya KIE. Meningkatnya mutu lingkungan hidup dapat mengurangi angka kesakitan penyakit DBD karena di tempat-tempat penampungan air bersih dapat dibersihkan setiap minggu secara berkesinambungan. merupakan langkah awal dalam menggalang. (4) Penanggulangan kasus. virology dan faktor-faktor perubahan iklim. Untuk mendorong meningkatnya peran aktif masyarakat. Pengetahuan mengenai Bionomic vektor. social marketing.LAPORAN AKHIR (1) Pemberdayaan masyarakat. dan berbagai kegiatan KIE kepada semua pihak yang terkait perlu dilaksanakan agar semuanya dapat memahami peran lingkungan dalam pemberantasan penyakit DBD. Orientasi. (2) Peningkatan Kemitraan Berwawasan Bebas dari Penyakit DBD.

menyiapkan juknis dan juklaknya. melengkapi sarana pemberantasan vektor. sedangkan dana dari Dinas Kesehatan diutamakan untuk membeli peralatan dan kegiatan yang sifatnya pencegahan. (5) meningkatkan kemampuan penggalian sumberdaya daerah dan sumberdaya masyarakat dalam pengelolaan program P2M. sebagai dasar tindak lanjut perencanaan program dan penanggulangan KLB. Strategi dan program adalah (1) pertemuan dengan tim pokjanal DBD propinsi Riau menghasilkan beberapa kesepakatan yang menitikberatkan pada peran aktif dari pokja/pokjanal DBD dengan melibatkan masyarakat. Bila Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 37 . Tim Pokjanal DBD terdiri dari unsur-unsur Diknas. kab/kota. melalui pelaksanaan pertemuan berkala Pokjanal/Pokja DBD. maka uang tidak bisa dicairkan. sedangkan sekretariat berada di kantor Dinas Kesehatan. (2) surveilans epidemiologi. Dinkes. Bappeda. dan menyiapkan sarana pemeriksaan untuk diagnosa melaksanakan PE dan penanggulangan fokus. pelatihan tenaga operasional. yaitu dana tak terduga. (7) Pendekatan Peran Serta Masyarakat dann PSN DBD. lintas program dan lintas sektor terkait serta mengaktifkan kembali peran UKS (Usaha Kesehatan Sekolah) untuk menggerakkan anak sekolah dalam pemberantasan demam berdarah. (3) meningkatkan SDM. (2) mengembangkan dan memperkuat jejaring surveilans epidemiologi dengan fokus pemantauan wilayah setempat. PMD. (3) memantapkan jejaring lintas program. pengendalian faktor resiko dan penyehatan lingkungan. serta kemitraan dengan masyrakat (LSM) termasuk swasta. pembinaan dalam pelaksanaan gerakan 3M. Tim Pokjanal DBD diketuai oleh Walikota.LAPORAN AKHIR penyelidikan epidemiologi (PE) untuk mengurangi persebaran lebih luas dan tindakan yang lebih tepat. Depag dan pihak legislatif. (2) Di Kota Pekanbaru. (4) menyiapkan pengadaan dan distribusi kebutuhan obatobatan dan bahan-bahan yang esensial. kewaspadaan dini. melalui penyediaan insektisida dan larvasida. dana bencana dan dana belanja rutin sekretariat daerah. (2) pemberantasan vektor. tersedia pos untuk penanggulangan. Ketiga dana tersebut diatas berasal dari dana Kantor Walikota. PKK. perbaikan manajemen kasus diagnostik dan pengobatan serta rujukan. Strategi yang dilakukan mencakup (1) intensifikasi pelaksanaan kasus melalui pencarian kasus dan pemutusan rantai penularan. pemantauan dan informasi program pemberantasan penyakit dan meningkatkan kewaspadaan di semua tingkat administrasi. pelatihan tenaga puskesmas dan rumah sakit. (8) Penelitian. strategi dan program penanggulangan DBD di daerah lokasi kajian dilaporkan sebagai berikut: Propinsi Riau Kebijakan Daerah mecakup (1) pemberantasan DBD diselenggarakan dengan menggunakan penatalaksanaan kasus secara cepat dan tepat. Dana KLB dianggarkan dengan menggunakan pola kinerja artinya bila KLB tidak terjadi. Hasil implementasi kebijakan. (3) Bila terjadi KLB. (5) penanggulangan KLB. melalui perencanaan. komunikasi perubahan perilaku. Program yang dilakukan mencakup (1) kewaspadaan dini DBD melalui penyuluhan intensif. lintas sektor. (6) peningkatan profesionalisme SDM. Implementasi kebijakan.

Kegiatan pokok adalah melakukan rapat lintas sektor untuk menangani masalah-masalah khususnya penyakit menular. (3) Upaya peningkatan kemampuan tenaga kesehatan dalam penanggulangan DBD secara kuratif dilakukan melalui ”workshop tata laksana” dengan melibatkan dokter spesialis dan urusan dalam. kab/kota. Propinsi Jawa Barat Kebijakan penanggulangan di Jawa Barat secara umum mengacu pada kebijakan dan program yang telah ditetapkan oleh Departemen Kesehatan (Pusat). (2) Pemberantasan vektor melalui PSN dengan cara 3M Plus. (4) penemuan kasus dilaksanakan secara bekerjasama dengan masyarakat. (2) Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 38 . dan melakukan ”CLEAN-UP” lingkungan yang dipimpin oleh walikota selama 1-2 jam. (2) upaya preventif yang dilakukan melalui ”managing vector and environment” malalui gerakan 3M yang dilakukan secara lintas sektor dalam wadah Pokjanal DBD. dan tidak seimbangnya jumlah kader dengan cakupan daerah yang harus diselidiki. praktek swasta. pemeriksaan jentik dengan memberdayakan tenaga jumantik. (4) Penanggulangan kasus. (5) Pelibatan lintas sektor. dan propinsi.LAPORAN AKHIR terjadi KLB. (6) Sosialisasi Pola Hidup Bersih (PHBS). (3) Bulan Bakti gerakan ”3M”. (6) peningkatan profesionalisme SDM. yaitu mencakup 1) Kewaspadaan dini DBD. diketuai oleh Bappeda dan sekretariat juga berada di Bappeda. dimana Puskesmas melakukan penyelidikan epidemiologi (PE) untuk mengurangi persebaran lebih luas dan tindakan yang lebih tepat. Kota Pekanbaru juga memiliki Forum Perkampungan Sehat. (4) Pelibatan partisipasi masyarakat melalui gerakan PSN setiap hari Jumat pagi. dukun bayi dan kendaraan kesehatan. Strategi dalam penanggulangan DBD dilakukan melalui (1) penemuan kasus dan kematian melalui surveilans di rumah sakit. maka kinerjanya akan dipertanyakan (3) Disamping Tim Pokjanal DBD. dokter. yaitu pada setiap kasus petugas siap melakukan PE sehingga ditemukan akar permasalahan dan sumber penyebabnya untuk kemudian dilakukan tindakan agar tidak menyebar ke tempat lain. fogging focus massal. puskesmas dan masyarakat. (7) Pendekatan Peran Serta Masyarakat dann PSN DBD. (2) kegiatan surveilans epidemiologi dilaksanakan oleh tim fungsional di masingmasing tingkat mulai dari Puskesmas. uang dicairkan. perawat. Strategi pelaksanaan kebijakan penanggulangan DBD di Propinsi Jawa Barat dilakukan melalui (1) pendekatan ”gerak cepat” dan putus rantai. dan pemeriksaan jentik berkala (PJB) yang dilakukan setiap 3 bulan sekali. bidan. (3) komitmen dari pimpinan unit penyelenggara kesehatan diperlukan untuk kegiatan surveilans epidemiologi. Hasil pelaksanaan program ditunjukkan antara lain (1) pemantauan jentik belum optimal dilakukan oleh kader dengan alasan terbatasnya dana operasional. Propinsi Jawa Timur Kebijakan daerah mencakup (1) upaya penanggulangan masalah-masalah kesehatan yang dilakukan merupakan hasil dari kajian surveilans epidemiologi. kesibukan kader. (2) Fogging dilaksanakan apabila terjadi KLB dengan menggunakan dana yang berasal dari Dinas Kesehatan Kabupaten dengan peruntukan untuk larvasidasi dan abatesisasi. (8) Penelitian. (5) penanggulangan KLB.

LAPORAN AKHIR pencarian kasus tambahan dilakukan pada saat penyelidikan epidemiologi. lintas program dan lintas sekor terkait. APBD mengalokasikan dana 500 juta untuk penanggulangan KLB dan habis untuk penanggulangan KLB DBD. menetapkan sistem penemuan kasus baru. dan (3) Membangun kerja sama lintas sektor. pelatihan tenaga kesehatan. melalui persiapan penyelidikan lapangan. pertemuan berkala Pokjanal/Pokja DBD. pengolahan dan analisis data untuk penyusunan rumusan kegiatan perbaikan oleh tim epidemiologi. (3) penyelidikan epidemiologi terhadap kasus yang dicurigai pada daerah yang resiko rendah. beranggotakan kepala – kepala dinas yang ketika diadakan rapat-rapat selalu dihadiri oleh personal yang berlainan. sehingga sesuai data memang DBD di Kota Balikpapan tinggi. mendeskripsikan kasus berdasarkan waktu. pelaksanaan gerakan 3M. penyediaan insektisida dan larvasida. merencanakan penelitian lain yang sistematis. Strategi yang dilakukan mencakup (1) peningkatan pencarian kasus dan pemutusan rantai penularan perbaikan manajemen pengobatan serta rujukan. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 39 . melengkapi sarana pemerantasan vektor. (2) Pelaksanaan Surveilans Epidemiologi. menetapkan rekomendasi cara pencegahan dan penanggulangan. Kota Balikpapan memiliki Yayasan DBD yang ketuanya adalah kasubdin P2M Dinkes dan didanai oleh perusahaan minyak swasta. Pokok-pokok Program yang dilakukan mencakup Kewaspadaan Dini DBD. Propinsi Kalimantan Timur Kebijakan Daerah yang dilakukan mencakup (1) Pemberantasan DBD diselenggarakan dengan menggunakan penatalaksanaan kasus secara cepat dan tepat. (5) melakukan studi epidemiologi pada daerah dengan kinerja yang tidak baik. (4) melakukan kajian epidemiologi harus bekerjasama dengan lintas program dan lintas sektor. (3) Pelatihan tenaga surveilens (pelatihan epidemiologi. menetapkan apakah kejadian tersebut suatu KLB. kewaspadaan dini. (2) penyelidikan dan penanggulangan KLB. Pelaksanaan program penanggulangan DBD mencakup (1) SKD-KLB melalui kegiatan pengumpulan data baru dari penyakit-penyakit yang berpotensi KLB. perilaku masyarakat. Gambaran implementasi adalah (1) Pelaksanaan penanggulangan DBD melibatkan masyarakat. membuat cara penanggulangan sementara. (4) Di samping Tim Pokjanal DBD. penyehatan lingkungan. (5) Dinas kesehatan kota Balikpapan selalu melaksanakan pendataan DBD dengan rutin. mengamati indikasi pra-KLB misal cakupan program. pelaksanaan PE. status gizi. penyuluhan. mengidentifikasi dan menghitung kasus atau paparan. mengidentifikasikan sumber dan cara penyebaran. (6) Pelatihan khusus tentang epidemiologi dan surveillens baru dilakukan 1 kali dalam 5 tahun terakhir. (3) Untuk tahun 2005. mengidentifikasikan keadaan penyebab KLB. kerja sama dengan dengan masyarakat dan swasta. (2) Tim Pokjanal DBD diketuai oleh Walikota. memastikan diagnostik etiologi. (2) mengembangkan dan memperkuat jejaring surveilans epidemiologi dengan fokus pemantauan wilayah setempat. (2) Pemberantasan vector. perubahan perilaku dalam pola hidup bersih dan sehat. orang dan tempat.

Surveilans dilaksanakan pada tingkat dinas kesehatan propinsi. gerakan PSN. Implementasi kebijakan penanggulangan DBD di Sulawesi Selatan antara lain (1) Kewaspadaan Dini. kab/kota dan puskesmas. sedangkan tahun 2004 jumlah KLB DBD sebanyak 88 kasus. pengamatan bebas jentik dilakukan oleh murid-murid sekolah dan telah terbukti cukup efektif untuk dapat direflikasi di daerah lain. Namun terdapat ”gap” pelaksanaan/penanganan KLB. bulan kewaspadaan DBD. melalui penemuan dan pelaporan penderita. menghasilkan penemuan dan pelaporan penderita. Propinsi Nusa Tenggara Barat Pedoman surveilans dan KLB kurang operasional.1. Dinkes Propinsi Nusa Tenggara Barat membuat pedoman operasional yang berisi ”step by step” metodologi penanggulangan DBD. dukungan dana surveilans tertolong oleh adanya subsidi dari Askeskin. penanggulangan fokus. pembinaan di 23 kab/kota. terutama untuk insentif tenaga kesehatan dan kader. khususnya penyakit DBD di Propinsi Sulawesi Selatan.LAPORAN AKHIR Propinsi Sulawesi Selatan Upaya penanggulangan kejadian luar biasa (KLB)/penyakit menular. (2) Pemberantasan Nyamuk Penular DBD terhadap nyamuk dewasa dan jentik nyamuk. 4. dimana peran puskesmas sangat kecil karena dukungan dana dan personil sangat kecil. Pada pelaksanaan di Puskesmas. lintas program dan kabupaten/kota terdekat. melalui penyuluhan. abatisasi. pada dasarnya dilaksanakan berpedoman pada arah kebijakan dan program dari Pemerintah Pusat (Departemen Kesehatan). dan fogging massal. melalui pelatihan petugas kesehatan. pertemuan Kewaspadaan Dini DBD sebanyak 4 kali melibatkan sektor terkait. (3) Penanggulangan KLB. (3) Peningkatan Sumber Daya Manusia. melakukan pelatihan tatalaksana DBD bagi dokter di rumah sakit pada daerah endemis. pemantauan jentik berkala. pelatihan bagi pengelola program P2 DBD di 23 kab/kota. (2) Penanggulangan KLB menemukan jumlah kasus KLB DBD tahun 2005 sebanyak 66 kasus. Materi yang disusun dalam prosedur tetap (Protap) ini adalah langkahlangkah penanggulangan DBD sebagai berikut: (1) Kewaspadan Dini. Dengan demikian Puskesmas sebagai fasilitas yang paling dekat dengan masyarakat tidak dimanfaatkan dengan baik dalam penanggulangan KLB DBD.3 Kendala Penanggulangan DBD Kendala penting yang masih terjadi saat ini adalah kurang atau tidak adanya koordinasi dari instansi-instansi yang seharusnya terkait dalam menangani Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 40 . penyuluhan intensif melalui media cetak dan elektronik. Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Selatan selanjutnya menyusun Prosedur Tetap (Protap) Penanggulangan DBD sebagai pedoman/acuan pelaksanaan kegiatan Dinas Kesehatan Propinsi dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. pemantauan jentik berkala di berbagai kabupaten endemis dengan sasaran masing-masing 100 rumah. Di kabupaten Lombok Tengah. (4) Peningkatan SDM.

4. Sebagai contoh. dan di tiap kabupaten/kota tersebut. Adanya intervensi dalam pemilihan responden di tingkat dinas. Kinerja Surveilans dan Pe 4. Pada tiap propinsi dilakukan kunjungan dan wawancara terhadap 2 kabupaten/kota. baik dana maupun tenaga. Pihak daerah seringkali kewalahan dalam penyediaan biaya operasional penanganan penyakit karena keterbatasan sumberdaya. dilakukan kunjungan ke dinas kesehatan kabupaten/kota. Disisi lain adanya desentralisasi sumberdaya yang dimiliki. Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Barat. Instansi-instansi yang mengatur tata kota dan permukiman. kebersihan dan lingkungan hidup. populasi nyamuk Aides dewasa yang mempunyai potensi menyebarkan virus dengue juga akan selalu dijumpai dan menjadi sumber penularan di sepanjang tahun. sarang-sarang nyamuk Aides akan tetap ada di sepanjang tahun. diantaranya: 1. 4. Beberapa kendala yang ditemukan di lapangan. yaitu propinsi Riau. Penanganan DBD tidak semata-mata tugas Dinas Kesehatan. bahkan Dinas Pendidikan. Sumber informan yang seharusnya dan pada saat yang bersamaan tidak berada di tempat sehingga dilakukan wawancara terhadap informan pengganti.3. nanggulangan DBD Kajian P2M KLB DBD dilakukan di enam propinsi. Dengan demikian. Karena itu. Adanya intervensi dari pendamping (orang dinas) dalam wawancara di tingkat Kab/kota. yang memang membutuhkan biaya sangat tinggi. baik di musim penghujan maupun di musim kemarau. 2. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 41 . 2 puskesmas dan 1 Rumah Sakit. 4. serta melakukan wawancara ke Bappeda dan masyarakat.LAPORAN AKHIR DBD sehingga menimbulkan masalah tersendiri di lapangan. Hal ini menjadi faktor penghambat praktek penanganan kasus di lapangan. 4. 3. selama PDAM belum mampu menyediakan air bersih untuk seluruh penduduk. Kebijakan desentralisasi juga berpengaruh terhadap koordinasi antara pusat dan daerah dalam kewenangan penanganan DBD. Responden yang diharapkan sebagai informan tidak sesuai. Dengan adanya kewenangan penanganan yang didaerahkan terkadang menyulitkan dalam koordinasi penganggaran.2. pemerintah pusat mengalami kendala dalam pendistribusiannya ke daerah. puskesmas dan rumah sakit. Kebijakan tersebut terkait dengan anggaran kesehatan untuk pencegahan serta pemberantasan penyakit menular. melainkan juga terkait dengan instansi lainnya. serta instansi penyedia sarana air bersih (PDAM) juga harus ikut pula berpartisipasi. Jawa Timur. hal ini dikarenakan adanya perubahan posisi (rolling) yang terjadi beberapa bulan sebelum kunjungan. Jawa Barat. Kalimantan Timur. maka penduduk masih terpaksa menyiapkan bak mandi dan tandon-tandon air (yang dapat menjadi sarang nyamuk) untuk menampung air yang sering hanya menetes bahkan mampet.

6 miss) (nto= 5. dari 12 dinkes kab/kota sebanyak 10 dinkes kab/kota atau 83.0 jml 0 1 1 5 5 % 0. hanya 11 (52.LAPORAN AKHIR 5.1 Sumber: Data Lapangan.7 83. RS dan Puskesmas DINKES DINKES RUMAH INDIKATOR PUSKESMAS KAB/KOTA PROPINSI SAKIT (ntot =24. KDBD. Dinkes Kab/Kota. Tidak demikian dengan Rumah Sakit. W2 DBD. indikator kinerja surveilans lainnya adalah DP-DBD. Sedangkan di tingkat kab/kota indikator kinerja surveilans yang dimiliki dinkes kab/kota dan RS lebih banyak pada Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 42 . dan W1. 6. K-DBD.3 58. Tabel di bawah ini memperlihatkan persentase keberadaan indikator tersebut di Dinkes Propinsi.0 jml 10 7 6 9 9 % 83.7 16.0 16.3 83. tak satupun memiliki peta rawan DBD.0 80. Berdasarkan data tersebut terlihat 4 dari 5 dinkes propinsi memiliki peta rawan sebagai salah satu indikator kinerja surveilans. 2006 Selain peta rawan.0 75.0 75. Dari 19 puskesmas yang dikunjungi.0 60. Tabel 4.0 80. Kesulitan pada proses wawancara di beberapa puskesmas dan RS dikarenakan waktu wawancara dilakukan pada saat jam kerja.3% memiliki peta rawan. RS dan Puskesmas. Sementara di Puskesmas sebagai unit pelayanan kesehatan dasar. 4. DP-DBD. Ketidaklengkapan data dikarenakan keterbatasan waktu dalam pengumpulan data 3 tahun terakhir (tahun 2003-2005). W2-DBD dan W1.4 42. Dari tabel di atas tergambarkan di tingkat propinsi data tersebut hampir semuanya tersedia.1 Indikator Kinerja Surveilans dan Penanggulangan KLB (1) Indikator Kinerja Surveilans Peta Rawan Indikator Kinerja Surveilans bisa dilihat dari peta rawan. 5 miss) KINERJA (ntot =12.1 Distribusi Indikator Kinerja Surveilans di Dinkes Propinsi. peta rawan tidak tersedia disemua puskesmas. Indikator kinerja surveilans tersebut tidak sepenuhnya merupakan indikator surveilans. Begitu pula pada tingkat dinkes kab/kota.4%) yang memiliki peta rawan.3 jml 11 9 12 15 12 % 52.4 57.1 71.2. Dinkes Kab/Kota. dari sebanyak 12 rumah sakit kab-kota yang menjadi lokasi kajian. Hal ini dapat dipahami berkaitan dengan fungsi rumah sakit sebagai unit rujukan yang berperan melakukan tindakan medis atas kejadian kasus. 1 miss ) (ntot =12) Peta rawan DP-DBD K-DBD W2-DBD W1 jml 4 4 3 3 4 % 80.3 50.0 60.9 57.

Di Samarinda. 76% puskesmas sudah menerima laporan umpan balik dari Pemda kab/kota. namun ketepatannya hanya 60% saja. Yang perlu diperhatikan adalah meskipun semua indikator terpenuhi. Laporan umpan balik dari propinsi sudah dilakukan oleh sebagian dinkes propinsi. laporan peta rawan. namun apakah laporan tersebut tepat waktu atau tidak. Surveilans hanya menerima laporan yang berkaitan dengan KLB. Pada level puskesmas. Kadangkala diperlukan pengiriman informasi melalui short message system (sms dengan hand phone) untuk melaporkan kejadian BDB. dalam hal ini laporan W1. sementara untuk rumah sakit hanya 1 buah rumah sakit saja yang menerima laporan umpan balik dari Pemda kab/kota.LAPORAN AKHIR indikator W2 DBD dan W1. pengumpulan data surveilans dilakukan oleh dua bagian. meskipun kelengkapan laporan puskesmas mencapai 90-100%. Laporan umpan balik ke RS sangat jarang dilakukan. Pembuatan laporan pun tidak dilakukan setiap hari. Diseminasi Informasi Kinerja surveilans juga diukur berdasarkan indikator diseminasi informasi seperti terlihat pada tabel di bawah ini. Dalam pembuatan laporan. walau tidak semua puskesmas memilikinya. Demikian pula untuk pembuatan profil surveilans epidemiologi. merupakan gabungan dari bagian seksi surveilans dan program pemberantasan penyakit (DBD). maka peta rawan adalah seluruh kota Samarinda itu sendiri. dinkes kab/kota dan puskesmas. Seperti halnya di propinsi Riau. Sedangkan di tingkat Puskesmas. hanya pertanyaan mengenai adanya umpan balik dari kabupaten dan profil surveilans epidemiologi yang ditanyakan. Penerbitan bulletin kajian epidemiologi ternyata lebih banyak dilakukan oleh Dinkes propinsi. Pada tingkat puskesmas. Lokasi yang tercakup dalam peta rawan kadang kali tidak kecil. Ke dua pertanyaan lainnya (penerbitan epidemiologi dan laporan umpan balik dari propinsi) tidak berkaitan langsung pada aktifitas puskesmas. W2. DP-DBD. informasi mengenai ke lima indikator. Di Dinkes kota Samarinda. setelah kejadian KLB laporan W2 seringkali terlupakan untuk dilaporkan oleh dinas kesehatan kabupaten/kota. Sehingga. faktor ketepatan juga sangat penting. dan K-DBD. seksi surveilans dan program pemberantasan penyakit (dalam hal ini program DBD/pemberantasan penyakit bersumber binatang). diperoleh dari bagian program pemberantasan DBD. Di tingkat propinsi maupun kabupaten/kota. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 43 . ketiadaan indikator di atas karena pendekatan rumah sakit yang lebih kepada kuratif. Sementara. Dari hasil keseluruhan memperlihatkan adanya persentase yang tinggi dalam hal kinerja ditingkat propinsi. Pada tingkatan rumah sakit. keberadaaan datadata tersebut relatif tersedia. karena merupakan kota endemis.

3 10 76.0 DINKES KAB/KOTA ntot =12) jml 1 % 11.0 1 7.7 2 28.5 Data Kasus DBD di Lokasi Kajian Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 44 . angka kematian dan Case Fatality Rate (CFR).6 7 53. Gambar 4.0 5 55.8 1 14. RS dan Puskesmas INDIKATOR KINERJA DINKES PROPINSI (ntot=6) jml Penerbitan buletin kajian epidemiologi Laporan umpan balik dari propinsi Laporan umpan balik dari kab/kota (untuk RS & puskesmas) Profil survaeilans epidemiologi 3 % 75. 2006 (3) Indikator Kinerja Penanggulangan Data Kasus Hasil kinerja surveilans dan penanggulangan diukur dengan penemuan kasus.2 Distribusi Indikator Diseminasi Informasi Surveilans di Dinkes Propinsi.4 2 50.7 Sumber: Data Lapangan.1 RUMAH SAKIT (ntot =12) jml 0 % 0.LAPORAN AKHIR Tabel 4.0 PUSKESMAS (ntot =24) jml 2 % 15.6 0 0. Dinkes Kab/Kota.0 6 66. Grafik diatas ini memperlihatkan dari ke 6 lokasi kajian.9 3 75.

grafik di atas memperlihatkan jumlah kematian tertinggi di Jabar disusul dengan Jatim. Gambar 4. NTB adalah propinsi terendah Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 45 . disusul dengan Propinsi Jawa Timur. Sedangkan kasus terendah terjadi di propinsi Nusa Tenggara Barat. 2006 Sementara untuk jumlah kematian. Grafik ini adalah data yang diambil di Dinkes propinsi.LAPORAN AKHIR DATA KASUS DBD DI LOKASI KAJIAN TAHUN 2003-2005 20000 15000 10000 5000 0 RIAU JABAR JATIM KALTIM SU LSEL N TB 2003 739 8932 4243 2004 1059 19012 8321 2276 2005 1897 18590 14796 3165 3164 1062 2628 198 4175 805 Sumber: Ditjen PP & PL Depkes RI. 2006 Berdasarkan gambar tersebut terlihat propinsi Jawa Barat memiliki kasus DBD yang paling banyak. Berdasarkan data tersebut kecenderungan data selama tahun 2003-2005 menunjukkan peningkatan kasus di semua propinsi.6 Data Kematian DBD di Lokasi Kajian DATA KEMATIAN DBD DI LOKASI KAJIAN TAHUN 2003-2005 300 250 200 150 100 50 0 RIAU JABAR JATIM KALTIM SULSEL NTB 39 8 2003 6 201 59 2004 21 214 120 41 25 16 2005 32 285 254 82 59 15 Sumber: Ditjen PP & PL Depkes RI.

Dari data yang dicatat dinkes propinsi selama tahun 2003-2005 menunjukkan sejumlah propinsi mengalami peningkatan jumlah kematian.2 2005 1. yaitu di propinsi Riau. Masyarakat pun memiliki kebiasaan menampung air hujan (tadah hujan) yang menambah habitat jentik.39 0.50 1. Sementara Dinkes tidak memiliki kendaraan untuk menjangkaunya.86 1.50 4.60 1.41 1. Salah satu penyebab tingginya kasus DBD adalah faktor geografis dan perilaku masyarakat. Jatim. Gambar 4.00 3.36 Sumber: Ditjen PP & PL Depkes RI. dan Sulsel.44 1. Jabar. Seperti terjadi di Samarinda. Tipe rumah panggung yang merupakan ciri masyarakat asli Kaltim turut menambah risiko pertumbuhan habibat jentik karena biasanya bagian bawah rumah tergenang air buangan rumah tersebut dan menjadi sarang nyamuk.81 2. Kaltim. Namun bila Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 46 .72 2.13 1.7 Case Fatality Rate (CFR)DBD di Lokasi Kajian CASE FATALITY RATE (CFR) DBD DI LOKASI KAJIAN TAHUN 2003-2005 4.25 1.00 0.00 1. Indikator ini menunjukkan jumlah penderita DBD yang meninggal dari tiap 100 penderita DBD. CFR tertinggi adalah NTB.50 2.00 2.LAPORAN AKHIR dalam jumlah kematian. Grafik di atas memperlihatkan pada tahun 2003. di sana banyak perumahan penduduk yang tersebar di pulau-pulau kecil sehingga menyulitkan petugas untuk memantau.48 4.00 RIAU JABAR JATIM KALTIM SULSEL NTB NAS 2003 0. khususnya pada rumah sakit yang berfungsi kuratif.04 1. Pada tahun 2004 CFR di lokasi kajian terlihat rendah.69 1.99 1. bahkan di atas angka nasional.53 1.59 1. 2006 Untuk melihat kinerja penanganan kasus. dapat dilihat dengan indikator CFR.80 0.50 0.98 1.50 3.5 2004 1.00 1.

staf administrasi.7 9.6 8.2 Faktor-faktor Berpengaruh terhadap Kinerja Surveilans dan Kinerja Penanggulangan KLB (1) Tenaga Tenaga adalah sumberdaya manusia dari pihak provider kesehatan yang terlibat langsung dalam kegiatan surveilans maupun penanggulangan KLB.3 Distribusi Jenis Tenaga di Dinkes Propinsi dan Dinkes Kab/Kota DINKES PROPINSI JENIS TENAGA SURVEILANS PENANGGULA NGAN KLB DINKES KAB/KOTA SURVEILANS PENANGGULA NGAN KLB Jml S2 Epidemiologi S1 Epidemiologi Dokter umum Epidemiologi terampil 9 15 5 4 % 20.2. Kaltim dan NTB. sementara di tingkat dinkes kab/kota adalah dokter umum dan tenaga pendukung laibnya. lulusan SMA.2 Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 47 . teknik lingkungan.6 9. Lulusan S1 dan S2 Epidemiologi lebih banyak berperan sebagai tenaga surveilans.9 11. ahli gizi. CFR sejumlah propinsi lebih tinggi. APK. Pada tahun 2004.LAPORAN AKHIR dibandingkan dengan angka nasional. manajemen kesehatan. Tabel 4. Pada tingkat dinkes propinsi. sementara dokter umum berperan sebagai tenaga penanggulangan KLB. dan kader kesehatan/posyandu. kesehatan lingkungan/ sanitasi.3 jml 1 3 4 2 % 4.6 jml 5 17 65 6 % 2. angka CFR kembali meningkat di bandingkan tahun sebelumnya. tenaga fogging. CFR yang paling tertinggi dimiliki oleh Riau dan NTB.6 8.1 34. 4. tenaga rekam medis. komposisi jenis tenaga yang bertugas dalam pelaksanaan surveilans dan penanggulangan terbanyak adalah S1 dan S2 Epidemiologi. Semua CFR berada di atas angka nasional. Pada tahun 2005. dokter gigi.9 34.9 3.8 14.6 8.5 jml 3 14 4 8 % 8. Data pada grafik memperlihatkan pula adanya kenaikan CFR dari tahun 2003-2005 di sejumlah propinsi yaitu Jatim. lulusan D3. CFR tertinggi pada tahun 2005 adalah di propinsi Kaltim. Sementara di propinsi lain CFR terlihat fluktuatif (naik dan turun). Yang dimaksud tenaga pendukung/lainnya adalah tenaga yang berprofesi/ berpendidikan perawat.0 9. SKM.3 19.

5 0. maupun sebagai tenaga klinis pada saat penanggulangan. 2006 Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 48 . Banyaknya tenaga dokter untuk penanggulangan di tingkat kabupaten/kota dikarenakan pelaksana operasional penanggulangan KLB berada di tingkat kabuapten/kota.1 65. 2006 Di Rumah Sakit.2 15.2 21.4 4.7 PUSKESMAS SURVEILA NS jml 0 5 15 % 0. kepala seksi surveilans adalah seorang dokter dengan pendidikan strata dua epidemiologi.7 68. Sementara. Hal yang sama juga ditemukan pada tingkat puskesmas.0 27. Sehingga. dokter umum paling banyak terlibat dalam kegiatan surveilans maupun penanggulangan.6 100. Tabel 4.0 5 2 17 44 11.LAPORAN AKHIR Analis Laboratorium Pendukung/lainnya Jumlah 0 10 43 0. peran propinsi hanya sebagai koordinator.6 8.0 0 18 118 179 0. Seperti halnya di dinas kesehatan propinsi Riau. sehingga sumber daya yang bersifat klinis tidak banyak tersedia.0 50. Sehingga. tenaga dokter yang ada.0 2.9 100.5 38.6 PENANGGU LANGAN KLB jml 1 0 18 % 1.2 6.6 8.0 10.4 34.5 Sumber: Data Lapangan.4 2.6 100.0 2 1 7 % 4.8 20. adalah semua dokter yang berada di puskesmas.8 Sumber: Depkes RI.0 23. dimana mereka sebagai pemeriksa pasien.3 100.9 100.1 PENANGGU LANGAN KLB jml 0 4 39 % 0.8 47.0 100.0 11.0 0 6 35 8.6 35 59 187 18.0 1 10 21 4.4 Distribusi Jenis Tenaga di RS dan Puskesmas RS JENIS TENAGA SURVEILAN S jml S2 Epidemiologi S1 Epidemiologi Dokter umum Epidemiologi terampil Analis Laboratorium Pendukung/lainnya Jumlah 1 3 31 45 2.8 31. Sementara di tingkat puskesmas maupun rumah sakit. tenaga dokter masuk dalam kategori sebagai ‘pengumpul data’.0 0 33 13 65 0. dalam pengelompokkan dimasukkan dalam tenaga yang mempunyai latar belakang S2 Epidemiologi.7 100.

yaitu orang yang melakukan rekap data. filariasis dan zoonosis. Usaha lain yang dilakukan Dinas Kesehatan Propinsi dalam rangka peningkatan kemampuan adalah pembinaan teknis. “kalau sudah terjadi KLB. Hal ini mungkin yang menyebabkan tidak adanya laboran di tingkat dinas kabupaten/kota. seperti yang terjadi di propinsi Sulawesi Selatan. yang langsung berada di bawah institusi dinas kesehatan kabupaten/kota dan terlibat sebagai tim penanggulangan. Pada Dinas Kesehatan kabupaten atau kota. Selain itu. satu tenaga juga merangkap sebagai tenaga untuk program DBD. Ketiadaan tenaga epidemiologi pada tingkat rumah sakit salah satunya disebabkan karena sudah adanya tim pokja DBD seperti yang ada di di RSUD Mataram. Salah satu upaya untuk mengatasinya adalah pelatihan di dalam atau di luar negeri seperti terjadi di Jabar. Hal ini dikarenakan tenaga dokter yang diasumsikan oleh responden adalah tenaga dokter yang berada di puskesmas (seluruh puskesmas). Di lapangan juga ditemukan masih adanya perbedaan persepsi tentang tenaga surveilans dan tenaga penanggulangan. Selain jumlah. pengetahuan tim pada umumnya dipenuhi dari pengalaman lapangan dalam penanganan P2M. kualifikasi tenaga masih kurang. laporan kasus yang masuk biasanya penderita sudah dari rumah sakit. Di rumah sakit ini yang mengumpulkan data adalah bagian rekam medis yang bertugas mengumpulkan dan merekap data. Perawat atau sanitarian puskesmas sering merangkap sebagai tenaga surveilans dan tenaga penyelidikan epidemiologi (PE). tenaga perawat atau sanitarian sering dijadikan petugas yang merangkap sebagai tenaga surveilans dan penyelidikan epidemiologi (PE). untuk apa tenaga laboran?”. malaria. Jumlah tenaga dirasakan masih kurang. sehingga sudah terlihat hasil laboratoriumnya. seperti terjadi di RS Mataram. dan Puskesmas Kota Mataram berpendapat bahwa tenaga surveilans merupakan tenaga tersendiri. Khusus Jawa Barat sebagai daerah P2M pengetahuan praktis tenaga surveilans dan penanggulangan melebihi pengetahuan bersifat formal Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 49 . Hal yang berbeda di puskesmas lainnya. Namun. Di tingkat Puskesmas. Bahkan di tingkat puskesmas. Sehingga dokter-dokter tidak dianggap bukan tenaga surveilans.LAPORAN AKHIR Untuk penanggulangan. karena mereka berasumsi bahwa yang dimaksud dengan tim penanggulangan adalah tim penanggulangan yang berada di dinas kesehatan kabupaten itu sendiri. satu tenaga berperan sebagai tenaga DBD merangkap tenaga untuk program malaria dan zoonosis. Sementara bila dokter umum tidak terlibat dalam kegiatan penanggulangan seperti yang terjadi di kabupaten Lombok Tengah. terlihat jumlah tenaga dokter umum yang banyak. ada pula RS yang mengkategorikan dokter sebagai tenaga surveilans seperti di rumah sakit daerah Siak. mengadakan pertemuan/lokakarya. Di puskesmas Pekanbaru Kota. Puskesmas Tambak Rejo. rakor dan melakukan berbagai pelatihan di bidang surveilans maupun penanggulangan penyakit. Sementara itu untuk tenaga laboran/laboratorium. Selain pelatihan formal. ada hal yang menarik dari pernyataan dinas kota pekan baru. Tenaga laboran cenderung banyak di RS yang berfungsi sebagai RS pendidikan. yang berasumsi bahwa dokter juga merupakan tenaga surveilans.

3menyatakan kurang memahami. Dari sejumlah responden yang ditanya. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan responden tentang penanggulangan oleh tenaga penanggulangan. 85. sejumlah sampel dari daftar tenaga diambil. 2006 Total 10 9 19 % 52.3 Total 21 100. Tiap pertanyaan mempunyai skala 1 sampai 5 (buruk hingga baik). rerata 150 dan median 156.3 100. 2006 Berdasarkan tabel di atas tergambarkan bahwa pengetahuan para petugas (responden) terhadap pengetahuan surveilans cukup baik. rerata 127 dan median 128. Tabel 4.5 Persepsi Responden Tentang Surveilans DBD Total % Tinggi 18 85.0 Sumber: Data Lapangan. yaitu 52. Data menunjukkan bahwa total skor persepsi penanggulangan berkisar dari 86-156.LAPORAN AKHIR Untuk mengetahui tingkat pengetahuan responden tentang surveilans oleh tenaga surveilans. Pengetahuan ini diukur dengan persepsi terhadap 40 pertanyaan tentang surveilans.6 47. Cut off dipilih median karena distribusi data tidak normal.6% responden memiliki pengetahuan tinggi dan 47.7 Rendah 3 14. dan 14. 19 sampel dari daftar tenaga diambil.0 Berdasarkan data di atas dapat digambarkan bahwa persepsi responden terhadap pengetahuan berkaitan dengan penanggulangan DBD cukup baik. Tabel 4. Apabila dibandingkan persepsi responden terhadap Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 50 . Tiap pertanyaan mempunyai skala 1 sampai 5 (buruk hingga baik). Pengetahuan ini diukur dengan persepsi terhadap 36 pertanyaan tentang penanggulangan DBD. Berdasarkan cut off ≥ 128 untuk kategori pengetahuan tinggi didapat bahwa hanya 53 % dari 19 sampel tenaga mempunyai tingkat pengetahuan yang baik.6 Persepsi Responden Tentang Penanggulangan DBD Tingkat Pengetahuan Tinggi Rendah Total Sumber: data Lapangan. Berdasarkan cut off ≥ 156 untuk kategori pengetahuan tinggi didapat bahwa 85% dari 21 sampel tenaga mempunyai tingkat pengetahuan yang baik. Data menunjukkan bahwa total skor persepsi surveilans berkisar dari 93-181.3% responden memiliki pengetahuan rendah. Dari data tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa sebenarnya pemahaman aparat terhadap program surveilans cukup baik.7 % responden menyatakan cukup memahami tentang pengetahuan surveilans.

Sebagian besar dana ternyata berasal dari APBD. meskipun sudah teralokasi namun sebagian besar alokasi anggaran dipergunakan untuk pengadaan obat dan peralatan (investasi) tidak berupa biaya operasional. Sedangkan praktek penanggulangan dipahami lebih banyak oleh tenaga medis di rumas sakit sebagai unit rujukan dalam kasus penanganan DBD. Namun pemahaman ditingkat kabupaten/kota secara general terhadap penanggulangan KLB belum optimal. Hal ini menandakan terutama pada praktek di lapangan. Pengetahuan dalam penyelidikan dan penanggulangan KLB DBD sudah bagus. Sumber dana untuk kegiatan surveilans dan penanggulangan DBD di lokasi kajian terlihat pada tabel di bawah ini. (2) Dana Masalah pembiayaan dalam penanggulangan penyakit DBD menjadi permasalahan yang dihadapi setiap tahunnya oleh Dinas Kesehatan karena alokasi anggaran yang bersumber dari APBD tidak/belum mencukupi sesuai dengan kebutuhan. masing-masing kabupaten atau kota dalam melaksanakan tugas dan kewenangannya terkesan tidak memerlukan bantuan dinkes propinsi. yang sebenarnya merupakan salah satu tools untuk melakukan evaluasi. Tabel 4. namun dalam sistem pelaporan mereka masih ada masalah. Data di atas juga menggambarkan masih adanya persoalan berkaitan dengan tenaga dalam penanganan DBD khususnya dalam hal koordinasi. Di Sulsel terdapat Pokjanal yang terdiri dari lintas sektor. kabupaten/kota tidak mengirimkan. sesuai dengan standar. dimana dana APBN berkaitan dengan operasional di Puskesmas terbatas pada dana perbantuan untuk penguatan kapasitas. Hal ini sejalan dengan kebijakan yang ada. Masih banyak ditemukan masalah kurangnya atau lemahnya koordinasi untuk pemberantasan DBD. dimana sebagian responden adalah tenaga aparat dinas dan tenaga puskesmas yang memiliki informasi dalam praktek kegiatan surveilans. Selain itu. Hal tersebut berdampak pada pembiayaan untuk operasional Puskesmas dalam upaya penanggulangan KLB. terlihat persentase responden lebih tinggi dalam pemahaman surveilans. Dari hasil kunjungan lapangan ke Puskesmas diketahui bahwa dana atau anggaran yang dipergunakan untuk operasional penanggulangan penyakit menular di Puskesmas adalah sebagian besar mempergunakan dana operasional yang diperoleh dari program asuransi kesehatan masyarakat miskin (Askeskin). Namun setiap usulan dana dari APBD untuk kegiatan Pokjanal sering tidak mendapat persetujuan Pemda karena urusan DBD dianggap urusan dinas kesehatan. kabupaten/kota sering lupa untuk mengirimkan laporan W2 (mingguan). dana yang bersumber APBN sangat kecil.LAPORAN AKHIR pengetahuan berkaitan dengan surveilans dan pengetahuan berkaitan dengan penanggulangan. Dalam operasional di lapangan sudah baik karena mereka langsung cepat tanggap untuk menangani KLB dan mencegah penyebaran lebih luas. Untuk puskemas.7 Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 51 . Setiap terjadi KLB. Kalau tidak diminta oleh propinsi. Adanya otonomi daerah pun malah mempersulit koordinasi. Seperti terjadi di Sulsel.

biaya perawatan. seperti pelatihan tenaga puskesmas. larvasida. biaya transfusi darah. jasa kader.0 0.0 Sumber: Data Lapangan.0 75. khususnya di lingkungan RT/RW melalui posyandu. Salah satu peran kader jumantik adalah mendampingi petugas puskesmas dalam melakukan pemeriksaan di 20 rumah sekeliling rumah penderita jika ada kasus DBD. selain berasal dari APBN (dalam bentuk dana tugas perbantuan) dan APBD propinsi dan APBD kab/kota. seperti insektisida. pembelian bahan bakar/solar. selain untuk peningkatan kapasitas puskesmas. seperti JPK-MM. penyuluhan.0 80. Bila tidak mencukupi menggunakan dana program. Sementara di tingkat puskesmas. serta partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan penyuluhan. seperti dalam pelaksanaan fogging fokus.0 30. Berdasarkan wawancara dengan beberapa kepala puskesmas di lapangan. Dana APBN didapat dalam bentuk dana dekonsentrasi yang disalurkan melalui APBD propinsi. sumber dana untuk kegiatan surveilans berasal dari dana operasional puskesmas (DOP). penyediaan bahan-bahan pendukung untuk promosi kesehatan. penanggulangan kasus. jasa dokter.0 0.3 28. dan penanggulangan fokus.0 PENANGGULA NGAN KLB jml 5 4 0 % 100. Yang dimaksud dengan sumber dana lainnya adalah swadaya RS. Begitupula dana APBD. pembuatan laporan. 2006 Sumber dana untuk kegiatan surveilans dan penanggulangan di tingkat dinkes propinsi bersumber dari APBN (dekonsentrasi) dan APBD propinsi.LAPORAN AKHIR Distribusi sumber dana di Dinkes Propinsi dan Dinkes Kab/Kota DINKES PROPINSI SUMBER DANA SURVEILANS jml APBD APBN Lainnya 4 3 0 % 100. Kader merupakan salah satu tenaga yang terlibat dan dibiayai dengan dana kegiatan surveilans dan penanggulangan KLB. pembelian obat-obatan. dan swadana puskesmas. sumber dana untuk pelaksanaan opersional penanggulangan DBD juga bersumber dari APBN dan APBD serta sumber lainnya. pembelian insektisida. transport supervisor. Sedangkan di tingkat dinkes kab/kota. pembelian mesin. serta peningkatan manajamen puskesmas. fogging. swadaya masyarakat.0 14.0 10. upah kader. sebagian dana diberikan untuk pembelian bahan operasional. penyelidikan epidemiologi.0 DINKES KAB/KOTA SURVEILAN S jml 7 1 2 % 100. Dana tersebut digunakan untuk kegiatan peningkatan kapasitas. Tidak ada dana yang spesifik diperuntukkan untuk kegiatan surveilans.6 PENANGGULA NGAN KLB jml 10 1 3 % 100. juga berasal dari sumber lainnya. peralatan fogging. sebagian besar kegiatan operasional surveilans dan penanggulangan DBD mengggunakan dana Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 52 . Sumber dana lain tersebut didapat dari kelompok masyarakat yang peduli terhadap penanganan kesehatan masyarakat. biaya akomodasi.

Alokasi dana terbanyak adalah untuk obat dan peralatan (investasi). Sementara untuk puskesmas.0 25.0 0. Di kota Surabaya bahkan terkadang menggunakan dana pribadi. Sedangkan untuk tingkat kabupaen/kota.1 7. Hal tersebut karena dalam prakteknya kegiatan operasional di lapangan dilakukan oleh semua petugas puskesmas. Untuk tingkat kabupaten/kota penggunaan dana terbanyak berasal dari APBD baik APBD murni. seperti terjadi di Sulsel. rata-rata penggunaan operasional surveilans berasal dari APBD. yaitu berasal dari APBN dan APBD (Gakin). hampir semuanya menggunakan dana APBD. Tabel 4. Baik APBD propinsi maupun APBD kabupaten/kota atau APBD sharing.LAPORAN AKHIR operasional umum yang ada di puskesmas. Namun tidak menutup kemungkinan pendanaan dapat juga berasal dari APBN. Hanya rumah sakit Gresik yang menyatakan adanya dana surveilans. bila dana yang diusulkan belum turun. Sehingga wajar saja jika digunakan sumber lain. maupun APBD-ABT yang diajukan sebagai tambahan. seperti halnya kabupaten Gresik.0 100.0 PENANGGUL ANGAN KLB jml 4 0 1 % 100. Di rumah sakit tidak terdapat dana surveilans. Walaupun beberapa puskesmas terkadang menggunakan dana JPKMM sebagai tambahan. seringkali harus menggunakan dana tambahan dari PKPS-BBM (JPKMM) maupun Askeskin karena seringnya dana terlambat dicairkan. Masalah lain dalam aspek dana berkaitan dengan proses pencairan yang dirasakan prosesnya selalu lama dan terlambat.0 0. Seperti ditemukan di puskesmas Duduk Sampeyan dan puskesmas Kebomas.9 14. selain dana penanggulangan dari APBD. Dana yang digunakan untuk penanggulangan KLB berasal dari APBN (Dekon) dan APBD. Contoh di Jawa Barat DIPA Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 53 . 2006 Operasional surveilans di tingkat propinsi menggunakan dana APBN murni maupun Dekon. Hal ini karena adanya kebijakan setiap propinsi mendapatkan dana Rp. yang ada hanya pencatatan pelaporan yang dilakukan di bagian rekam medis.7 PENANGGUL ANGAN KLB jml 8 1 10 % 57. Untuk tingkat puskesmas.8 Distribusi Sumber Dana di RS dan Puskesmas RS SUMBER DANA SURVEILANS jml APBD APBN Lainnya 1 1 0 % 100.0 PUSKESMAS SURVEILAN S jml 3 1 6 % 42. Tidak jarang puskesmas juga harus menggunakan dana swadaya masyarakat atau pribadi. serta dana APBD.1 71. 2 milyar yang berasal dari dana dekon (APBN) khusus untuk penanggulangan KLB.3 85.4 Sumber: Data Lapangan.

Keberadaan SOP penting untuk panduan petugas. (c) bulan kewaspadaan DBD.9 Distribusi Ketersediaan SOP Surveilans di Dinkes Propinsi. Dinas Kesehatan Propinsi selanjutnya menyusun Prosedur Tetap (Protap) Penanggulangan DBD sebagai pedoman/acuan pelaksanaan kegiatan Dinas Kesehatan Propinsi dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. DBD masih merupakan masalah besar di Kaltim. peran swasta dalam kontribusi dana belum optimal. Bahkan meskipun sudah dibentuk Yayasan Penanggulangan DBD dengan SK Walikota dan didanai oleh perusahaanperusahaan minyak. Kewaspadaan Dini. Sementara SOP kegiatan penanggulangan KLB tampaknya sudah cukup banyak dimiliki di semua level. Sedangkan di tingkat puskesmas dan RS masih sangat rendah. Pada tingkat dinkes propinsi maupun dinkes kab/kota keberadaan SOP dalam bentuk peraturan dan pedoman cukup baik. Lebih banyak dana dikucurkan untuk kuratif. Materi yang disusun dalam Protap ini adalah langkah-langkah penanggulangan DBD sebagai berikut: 1. Dinkes Kab/Kota. antara lain pelatihan petugas kesehatan. 4.LAPORAN AKHIR seringkali terlambat. pada dasarnya dilaksanakan berpedoman pada arah kebijakan dan program dari Pemerintah Pusat (Departemen Kesehatan). (3) Standar Operasi dan Prosedur (SOP) Upaya penanggulangan kejadian luar biasa (KLB)/penyakit menular. Di propinsi Kalimantan Timur yang merupakan daerah endemis DBD. 3. 2. (c) abatisasi. (a) penyuluhan. Peningkatan SDM. (a) penemuan dan pelaporan penderita. Tabel 4. (b) Gerakan PSN. Pelaksanaan SOP kegiatan surveilans dilakukan berdasarkan pedoman dan peraturan. Penanggulangan KLB. RS dan Puskesmas Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 54 . (d) pemantauan jentik berkala. (d) fogging massal. khususnya penyakit DBD. (b) penangggulangan focus. Proporsi anggaran untuk preventiv (surveilans) dan kuratif (penanggulangan) tidak seimbang. Pemberantasan Nyamuk Penular DBD. Pedoman yang bersifat teknis di lapangan diwujudkan dalam bentuk SOP. (b) terhadap jentik nyamuk. (a) terhadap nyamuk dewasa.

6 81.0 100.7 57.4 jml 3 3 2 3 2 2 3 RS % 75. rumah sakit maupun puskesmas yang ada mencakup peraturan SKD-KLB.9 63. 2006 SOP dalam rangka penanggulangan KLB di Dinkes propinsi.0 0.3 100.0 100. dan laporan kondisi rentan KLB.10 Distribusi Ketersediaan SOP Penanggulangan KLB di Propinsi. Tabel 4.6 81.0 50.8 90. pedoman cara pelaporan. selama ini masih mengikuti pedoman dari pusat. pedoman SKD-KLB. pedoman penanggulangan KLB.1 78.4 57.1 SOP Sumber: Data Lapangan. Di tingkat kabupaten/kota SOP yang ada selain mengadopsi dari pusat juga mengadopsi SOP yang dibuat oleh Dinkes propinsi.0 DINKES KAB/KOTA jml 7 9 10 10 7 9 4 % 63.1 14.0 80.0 Pedoman Peraturan 4 1 Sumber: Data Lapangan.0 75.3 PUSKESMAS jml 12 0 % 50.0 80.9 90. kab/kota.LAPORAN AKHIR SOP DINKES PROPINSI jml % 5 3 83. Dinkes Kab/Kota. Kedepan propinsi juga akan menyusun Standar Pelayanan Minimal (SPM) dan Standar operasional (SOP) agar SOP bisa operasional di lapangan.0 75.0 PUSKESMA S jml 7 8 15 13 13 11 8 % 36. laporan penyakit potensi KLB.8 36. RS dan Puskesmas DINKES PROPINSI jml Peraturan SKD-KLB Pedoman SKD-KLB Pedoman penyelidikan KLB Pedoman Penanggulangan KLB Pedoman Cara Pelaporan Laporan Penyakit Potensi KLB Laporan Kondisi Rentan KLB 5 5 5 5 5 4 4 % 100.0 100.0 DINKES KAB/KOTA jml 11 4 % 91. pedoman penyelidikan KLB.4 68.1 jml RS % 57.9 42. 2006 Propinsi belum membuat SOP sendiri.0 100.9 68.0 75.0 50. Penyusunan SOP dimaksud dilakukan dengan melibatkan lintas program.0 50.8 42. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 55 .

LAPORAN AKHIR

Dari Tabel 4.10 tergambarkan keberadaan SOP di masing-masing tingkatan. Seperti halnya SOP dalam rangka kegiatan surveilans, pada kegiatan penanggulangan, setiap dinkes propinsi dan kabupaten/kota memiliki cukup lengkap pedoman dan peraturan sebagai landasan operasional penanggulangan penyakit. Namun demikian SOP dimaksud tidak secara lengkap dimiliki oleh puskesmas. Rumah sakit memiliki SOP penanggulangan cukup baik dibandingkan SOP surveilans. Hal ini dipahami berkaitan dengan fungsi rumah sakit sebagai unit rujukan dalam penanganan kasus penyakit menular termasuk kasus DBD. Walaupun keberadaan SOP dimaksud cukup lengkap hampir pada setiap tingkat unit pelayanan kesehatan, namun demikian keberadaan pedoman belum tentu digunakan. Seperti halnya di RSU Ujung Berung, di propinsi Jawa Barat SOP yang ada dianggap kurang operasional karena tidak sesuai dengan kondisi dan permasalahan yang ada di lapangan. Upaya yang dilakukan dalam melakukan operasionalnya dilakukan dengan membuat SOP yang lebih rinci dan sederhana menjabarkan SOP yang dibuat dinkes propinsi maupun dinkes kab/kota. Yang menarik adalah di RSUD Mataram yang juga merupakan rumah sakit pendidikan dan memilki tim pokja DBD, hanya laporan kondisi rentan KLB yang mereka miliki. Namun mereka juga membuat standar operasional dalam pertolongan pasien DBD yang tidak terdapat dalam ke-enam SOP tersebut. (4) Data

Ketersediaan data, baik pada kegiatan surveilans maupun penanggulangan KLB sangat penting. Data untuk surveilans yang dibutuhkan mencakup kasus, jentik, vektor dan curah hujan. Dari ke-4 data tersebut ternyata hanya data kasus yang tersedia di semua tingkatan. Data jentik yang sangat penting pun tidak tersedia kecuali pada level puskesmas. Jumlah puskesmas yang memiliki data tersebut sangat sedikit. Ketiadaan data di tingkat RS dikarenakan fungsi rumah sakit yang lebih sebagai kuratif. Informasi data surveilans diperoleh berdasarkan data dari seksi surveilans, yang notabene tidak melakukan pengumpulan data jentik, vektor maupun curah hujan. Baik di tingkat propinsi maupun di tingkat kabupaten/kota. Adapun informasi jentik dan curah hujan dilakukan oleh seksi pemberantasan penyakit (program DBD) yang bekerjasama dengan sanitasi. Oleh karena informasi yang diperoleh berasal dari seksi surveilans, maka ketiga data tersebut tidak ada. Sementara di bagian pemberantasan penyakit sendiri juga terdapat bagian surveilans, yang melakukan pengumpulan data rutin DBD. Oleh karena itu bukan berarti dalam surveilans data mengenai jentik dan vektor tidak ada, informasi mengenai jentik dan vektor tidak bisa didapatkan. Hal tersebut dapat dilihat dari informasi penanggulangan yang merupakan perpaduan informasi dari seksi surveilans dan pemberantasan. Tabel 4.11 Distribusi Ketersediaan Data Surveilans di Dinkes Propinsi, Dinkes Kab/Kota, RS dan Puskesmas

Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular

56

LAPORAN AKHIR

DATA

DINKES PROPINSI jml % 100.0 0.0 0.0 0.0

DINKES KAB/KOTA jml 6 0 0 1 % 100.0 0.0 0.0 16.7 jml 4 0 0 0

RS % 80.0 0.0 0.0 0.0

PUSKESMAS jml 11 2 0 0 % 100.0 18.2 0.0 0.0

Kasus Jentik Vektor Curah hujan

3 0 0 0

Sumber: Data Lapangan, 2006 Data yang dibutuhkan untuk penanggulangan DBD mencakup kasus, jentik, lingkungan/genangan, perilaku 3M, vektor, curah hujan dan logistik. Terlihat pada tabel di bawah ini bahwa data yang paling banyak tersedia adalah data kasus dan jentik. Tampaknya di dinkes propinsi dan dinkes kab/kota, data lebih lengkap tersedia dibandingkan di tingkat RS dan puskesmas. Tabel 4.12 Distribusi Ketersediaan Data Penanggulangan KLB di Propinsi, Dinkes Kab/Kota, RS dan Puskesmas
DINKES PROPINSI jml Kasus Jentik Lingkungan/genan gan Perilaku 3M Vektor Curah hujan Logistik 5 3 1 0 1 1 2 % 100.0 60.0 20.0 0.0 20.0 20.0 40.0 DINKES KAB/KOTA jml 12 12 4 2 1 1 4 % 100.0 100.0 33.3 16.7 8.3 8.3 33.3 jml 5 0 0 0 0 0 2 RS % 71.4 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 28.6 PUSKESMAS jml 18 7 1 0 1 2 5 % 94.7 36.8 5.3 0.0 5.3 10.5 26.3

DATA

Sumber: Data Lapangan, 2006 Di Dinkes Kota Bandung Jawa Barat kegiatan surveilans dilakukan secara manual dengan cara pengumpulan data, pencatatan dan pelaporan. Sementara pelaporan yang dilakukan Puskesmas dikirim langsung oleh petugas puskesmas ke dinas kesehatan kota sesuai format yang ditentukan dalam bentuk manual. Sharing informasi antar petugas bidang/unit puskesmas dilakukan dalam bentuk ”rakor bulanan”, sekaligus ajang tukar informasi dan pengalaman serta upaya pemecahan masalah yang ditemukan.
Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular

57

LAPORAN AKHIR

Temuan lain yang di dapat di lapangan adalah tidak dikumpulkannya data jentik, vektor, dan curah hujan. Selain itu ketepatan dan kelengkapan laporan dari kabupaten masih rendah. Juga belum dilakukan analisis data baik di tingkat propinsi maupun kabupaten (baru bersifat pengumpulan data). Sehingga untuk SKD-KLB data yang seharusnya dapat dilihat /diprediksi diawal untuk kewaspadaan terjadinya KLB, belum dilakukan. Selama ini propinsi tidak pernah mempermasalahkan validitas data yang dilaporkan. Untuk pengecekan data biasanya menyamakan informasi yang berasal dari media massa. Propinsi belum mempunyai sistem peringatan ke kabupaten bila terjadi keterlambatan atau ketidak lengkapan. (5) Sarana Ketersediaan sarana penunjang kegiatan surveilans terlihat pada tabel berikut ini. Dari tabel tersebut terlihat bahwa jumlah sarana masih sangat terbatas. Kepemilikan sarana transportasi dan pengolah data, dari level puskesmas hingga dinkes propinsi berkisar 11-50% saja. Sementara untuk sarana komunikasi sudah lebih baik; meskipun untuk level RS dan puskesmas masih perlu ditambah. Tabel 4.13 Distribusi Ketersediaan Sarana Surveilans di Dinkes Propinsi, Dinkes Kab/Kota, RS dan Puskesmas
DINKES PROPINSI jml Transportasi Pengolah data Komunikasi 3 3 6 % 50.0 50.0 100.0 DINKES KAB/KOTA jml 4 5 10 % 36.4 41.7 83.3 jml 1 4 6 RS % 11.1 44.4 66.7 PUSKESMAS jml 11 9 14 % 50.0 40.9 63.6

SARANA

Sumber: Data Lapangan, 2006 Bila di lokasi kajian lain, peralatan pengolah data sudah menggunakan komputer, tidak halnya di Puskesmas Benteng Hilir yang masih menggunakan cara manual. Padahal di puskesmas lainnya, sudah disediakan komputer. Faktor geografis rupanya menentukan jenis alat komunikasi dan dipakai. Di propinsi Jawa Timur, semua wilayah dapat dijangkau dengan telepon, sementara di NTB tidak hanya memanfaatkan telepon sebagai alat komunikasi, tetapi juga SSB. Di kabupaten Lombok Tengah yang menggunakan SSB sebagai sarana komunikasi karena belum adanya kabel telepon. Di propinsi Riau, sarana komunikasi menggunakan telepon, walaupun tidak semua wilayah dapat dijangkau dengan fasilitas telepon. Untuk kegiatan penanggulangan KLB, ketersediaan/kepemilikan sarana yang diperlukan terlihat sudah jauh lebih baik daripada ketersediaan/kepemilikan
Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular

58

alat transportasi untuk surveilans dalam kondisi rusak. 0 60. maupun dinkes di kab/kota. tersedia 3 mobil. Namun. Kondisinya pun belum tentu bisa digunakan. Sarana utama yang dibutuhkan dalam penanganan kasus DBD adalah adanya fogging fokus serta insektisida. Satu hal yang unik adalah ketiadaan sarana senter.3 jml 2 5 4 4 2 0 4 RS % 33.6 SARANA Sumber: Data Lapangan.3 75. Berkaitan dengan jumlah dan jenis sarana. kondisinya pun belum tentu bagus.2 77.8 50.0 100. Dinkes Kab/Kota. Tabel 4. untuk insektisida. Pengadaan insektisida dan fogging fokus untuk beberapa propinsi di kirim oleh Dinkes Propinsi karena kab/kota belum siap. obat.14 Distribusi Ketersediaan Sarana Penanggulangan KLB di Propinsi. alat penyemprot dan alat penyuluhan masih kurang tersedia di semua level.0 100. Misalnya di Dinkes Kota Samarinda tersedia 2 motor.7 100. Di Dinkes Kota Samarinda. Selain itu.0 33. rumah sakit dan puskesmas.0 0 DINKES KAB/KOTA jml 10 10 9 4 11 12 7 % 83.3 83. dan di Puskesmas Bojong Gede selain ada 1 mobil juga tersedia 1 motor. Di propinsi Jabar.3 91. Umumnya sarana yang demikian adalah untuk jenis transportasi. Untuk alat komunikasi. tetapi hanya 1 yang bisa digunakan. Artinya bisa digunakan juga untuk kegiatan lainnya.0 58. misalnya. RS dan Puskesmas DINKES PROPINSI jml Transportasi Pengolah data Komunikasi Obat Insektisida Alat penyemprot Alat Penyuluhan 4 5 5 4 5 3 0 % 80.LAPORAN AKHIR sarana untuk kegiatan surveilans. dalam kenyataannya terdapat variasi di berbagai dinkes propinsi.3 83. yaitu di Dinas Kesehatan Kota Bandung. seringkali digunakan fasilitas pribadi seperti handphone.7 PUSKESMAS jml 12 13 14 9 13 8 10 % 66.2 44. Senter digunakan untuk surveilans khususnya dalam penemuan jentik dari rumah ke rumah.7 72.3 0.0 66. Kaltim. Bahkan yang Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 59 .7 33. 0 100.0 72. 0 80. karena tidak adanya fasilitas kantor.7 66. seperti yang terjadi di Dinkes Kabupaten Gowa dan Puskesmas Palangga di Sulsel.4 55.3 66. 2006 Sarana yang dimiliki ada yang statusnya “tidak khusus” untuk kegiatan surveilans atau penanggulangan KLB. sementara di Dinkes Kabupaten Bogor hanya 1 mobil.

LAPORAN AKHIR

sangat menyedihkan, di puskesmas Temindung Kaltim penggantian biaya batere untuk senter hanya setahun sekali saja. 4.3 Peran dan Tanggung Jawab Penanggulangan Penyakit DBD Pemerintah Daerah dalam

4.3.1 Kewenangan Daerah dan Standar Pelayanan Minimum Sejak diberlakukannya paket UU Otonomi Daerah (UU No. 22 dan No. 25 tahun 1999 yang kemudian direvisi menjadi UU No. 32 dan No. 33 tahun 2004) telah terjadi perubahan pembagian fungsi antara pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten/kota. Sesuai dengan UU No. 22 tahun 1999 dan SK Menkes RI No. 1147 tahun 2000, maka tugas Depkes Pusat adalah menyusun kebijakan nasional, pedoman, standar, petunjuk teknis, fasilitasi dan bantuan teknis kepada daerah, sementara fungsi-fungsi yang bersifat operasional sudah harus diserahkan kepada daerah (propinsi dan kabupaten/kota). Penerapan UU tersebut, khususnya di bidang kesehatan belum disikapi dengan utuh, sehingga terkesan tidak tuntas dalam bertindak. Ini disebabkan adanya kegamangan dalam peran dan tanggungjawab di masing-masing jenjang ataupun instansi di pemerintahan. Selanjutnya pasal 12 UU No. 32/2004 menyatakan bahwa fungsi yang telah dilimpahkan kepada daerah tersebut termasuk tanggung jawab daerah untuk menyediakan sumberdaya yang diperlukan, termasuk pembiayaan, sarana dan ketenagaan yang diperlukan untuk melaksanakan standar pelayanan minimum (SPM). Untuk itu daerah wajib menyediakan pelayanan dasar yang dianggap esensial bagi kesejahteraan penduduk, termasuk di bidang kesehatan. SPM yang sekarang ini berlaku adalah daftar yang ditetapkan dalam Keputusan Menkes No. 1457/2003 (saat ini sedang dilakukan proses revisi). Dalam daftar tersebut ada 9 kewenangan wajib (KW) dan 31 jenis kegiatan/pelayanan/program, seperti dalam tabel di bawah. Tabel 4.15 Daftar KW dan SPM Bidang Kesehatan
No 1 Kewenangan Wajib (KW) Pelayanan Dasar No 1 2 3 4 5 6 7 8 Standar Pelayanan Minimum (SPM) KIA Kesehatan anak pra-sekolah 7 sekolah KB Imunisasi Pengobatan dan perawatan dasar Kesehatan Jiwa Kesehatan kerja *) Kesehatan usila *) Pemantauan pertumbuhan balita Pelayanan gizi

2

Giji Masyarakat

Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular

60

LAPORAN AKHIR 3 4 Rujukan dan Pelayanan Penunjang Pencegahan dan Penyakit Menular Pemberantasan 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Pelayanan obstetri dan neonatal emergency dasar Pelayanan emergency Surveilans dan pengendalian KLB kurang gizi Pencegahan dan pengobatan polio Pencegahan dan pengobatan TBC Pencegahan dan pengobatan infeksi saluran nafas Pencegahan dan pengobatan HIV/AIDS Pencegahan dan pengobatan DBD Pencegahan dan pengobatan Diare Pencegahan dan pengobatan Malaria *) Pencegahan dan pengobatan Kusta *) Pencegahan dan pengobatan Filaria *) Kesehatan lingkungan Pengendalian vektor Hygiene dan sanitasi tempat umum Promosi Kesehatan Promkes dan pengendalian penyalahgunaan obat Pengadaan obat dan bahan medis Obat generik Pembiayaan untuk pelayanan kesehatan perorangan Pembiayaan kesehata penduduk miskin dan risti

5 6 7 8 9

Kesehatan Dasar

Lingkungan

dan

Sanitasi

Promosi Kesehatan Pengendalian Napza Pelayanan Farmasi Pembiayaan kesehatan, kesehatan perorangan dan auransi kesehatan

18 19 20 21 22 23 24 25 26

Sumber: Depkes RI, 2006 *) Hanya di kab/kota tertentu

Berdasarkan hasil analisis tentang daftar SPM tersebut disebutkan bahwa kriteria yang tersirat dalam 3 kegunaan SPM seperti disebutkan dalam UU No. 32/2004 belum seluruhnya terakomodir. Tiga pelayanan dasar menurut UU tersebut adalah (1) hak konstitusi penduduk, (2) kepentingan nasional untuk kesejahteraan masyarakat, keamanan dan ketertiban umum serta integritas dan kesatuan nasional, (3) komitmen nasional terhadap kesepakatan dan konvensi internasional. Pelaksanaan SPM di tingkat kabupaten/kota ternyata menimbulkan kebingungan dan masalah. Pertama, penghitungan kebutuhan biaya untuk semua pelayanan dalam daftar SPM tersebut menghasilkan suatu jumlah yang tidak dapat ditanggung oleh banyak daerah. Ada daerah beranggapan bahwa pemerintah pusat harus menanggung selisih biaya yang tidak bisa ditanggung pemerintah daerah. Kedua, banyak daerah mengalami kesulitan menterjemahkan target nasional dalam target daerah. Misalnya, tidak banyak kabupaten/kota yang memiliki data dasar tentang prevalens penyakit, masalah kesehatan kerja, TBC dan penyakit lainnya, sehingga kesulitan dalam menetapkan target untuk Indonesia Sehat 2010. Ketiga, tidak mudah menterjemahkan target 2010 dalam target tahunan. Dalam kenyataan, banyak kabupaten/kota yang menetapkan target programnya atas dasar plafond anggaran yang akan diterima untuk tahun bersangkutan.
Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular

61

LAPORAN AKHIR

4.3.2 Peran Pemerintah daerah dalam Penanggulangan DBD Pemberantasan penyakit demam berdarah dengue (DBD) sangat tergantung pada peran besar pemerintah daerah, yang langsung menghadapi masyarakat. Daerah diharapkan lebih aktif menggerakkan masyarakatnya untuk menjaga lingkungan masing-masing. Peran daerah dalam penanggulangan DBD antara lain dilakukan dengan tindakan preventif seperti (1) mengeluarkan surat edaran kewaspadaan penyakit DBD kepada semua kepala dinas kesehatan kabupaten/kota, (2) kampanye gerakan pembersihan sarang nyamuk, (3) penyebaran poster, ceramah klinik penyegaran tata laksana kasus, maupun membahas penanganan dan antisipasi DBD. Pemerintah Provinsi memfasilitasi teknis dan pengamatan DBD di daerah endemis, membagikan bubuk abate dan malathion untuk pengasapan ke kabupaten/kota, selain juga memberikan bantuan cairan infus. Kebijakan pemerintah melalui PSN dalam mengendalikan tempat perindukan telah ditetapkan dan disosialisasikan melalui berbagai media. Usaha promosi kesehatan secara konvensional telah meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat mengenai pemberantasan DBD, namun belum diikuti dengan perbaikan sikap. Belajar dari negara tropis lainnya yang telah mengembangkan inovasi pemberdayaan masyarakat melalui COMBI (Communication for Behavioural Impact) menunjukkan bahwa sebelum menetapkan intervensi, perlu didasari pada suatu formative research yang mengungkap hal-hal yang dibutuhkan masyarakat (Park 2004, WHO 2003). Inovasi ini masih belum menjadi fokus perhatian dalam kegiatan PSN di Indonesia. Di propinsi pemantauan kasus terus dilakukan, para bupati dan wali kota disurati untuk mengantisipasi DBD, termasuk kampanye di media massa. Pemerintah Provinsi juga mendistribusikan abate, malathion, cynoft, dan filter paper ke kabupaten/kota. Selain itu juga dilakukan penyuluhan dan gerakan 3 M (menguras, menimbun, dan menutup tempat-tempat potensial perindukan nyamuk). Strategi penanganan DBD dilakukan dengan pengumpulan data kasus DBD dari RS, puskesmas, klinik swasta, pengumpulan data morbiditas kasus DBD yang lalu (tiga-lima tahun) yang akan dipakai sebagai data dasar. Pengumpulan data lapangan dengan mengunjungi rumah penderita, dan pencarian kasus baru, serta pengamatan terhadap perilaku masyarakat disertai penaburan abate 10 gr/100 lt pada TPA di setiap rumah penduduk dengan radius 400 meter persegi dari rumah kasus. Dinkes mengembangkan sistem kerja deteksi dini, yaitu mengidentifikasi berbagai kasus penyakit yang timbul, mulai dari gejala, penyebab, dan daerah sebarannya, terutama daerah rawan endemi. Pelaporan dini, pada tahap ini dilakukan Puskesmas sebagai ujung tombak dalam tindakan darurat mengatasi berbagai permasalahan.

Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular

62

abatisasi. karena tenaga Pokja DBD tidak aktif. tidak melibatkan instansi di luar kesehatan.3. Pemberdayaan lintas sektor dalam menjalankan Pokja/Pokjanal DBD yang telah dibentuk.3 Koordinasi antar sektor Koordinasi dengan instansi terkait di tingkat Kabupaten/Kota setelah adanya desentralisasi dan otonomi daerah. Di tingkat Propinsi. Hal ini diperkuat oleh Halstead (2000) mengenai sukses dan kegagalan pengendalian penyakit DBD. Praktis sektor kesehatan harus berjuang di tiap propinsi dan kabupaten/kota untuk mendapatkan anggaran. tidak/belum dapat berjalan dengan baik. yang merupakan salah satu wadah koordinasi antar instansi/lintas sektor. menjadi lebih sulit untuk dilakukan. Hal ini disebabkan tidak adanya dukungan pendanaan dari masing-masing instansi terkait yang tergabung dalam Pokjanal DBD. Setelah desentralisasi kebijakan sektor kesehatan menghadapi apa yang disebut anggaran pembangunan melalui Dana Alokasi Umum (DAU) yang berbasis pada formula. namun belum berhasil Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 63 . Sebelum desentralisasi alokasi anggaran kesehatan dilakukan oleh pemerintah pusat dengan menggunakan model negosiasi ke propinsi-propinsi. meski prosedur telah ada dan baku. Masalah lemahnya koordinasi lintas program dan lintas sektor. Masalah penanggulangan KLB semakin sulit penanganannya manakala mekanisme pelaporan tidak berjalan baik. Koordinasi yang sulit terlihat dari lambatnya mekanisme pelaporan kasus KLB. Metode konvensional promosi kesehatan melalui KIE (Komunikasi Informasi Edukasi) dan advokasi telah meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat. meskipun prosedur pelaporan ada dan telah baku. Secara implisit DAU kesehatan dianggap sudah termasuk dalam formula tersebut walaupun sebenarnya secara eksplisit tidak ada. Setiap usulan rencana kegiatan dan pembiayaan kegiatan Pokjanal DBD yang diajukan oleh masing-masing instansi terkait di luar kesehatan sering tidak mendapat persetujuan untuk mendapat dana APBD dari Pemerintah Daerah setempat. PSN dan PJB dalam menurunkan insidens DBD di Kota Medan. dengan pertimbangan antara lain bahwa urusan penyakit menular DBD adalah urusan dinas kesehatan. belum optimal. Dalam formula ini pembagian alokasi anggaran tidak hanya ke propinsi melainkan sampai ke sekitar 400-an kabupaten/kota di Indonesia. Hal ini sejalan dengan temuan Siregar (2003) tentang tidak adanya hubungan bermakna antara fogging. sektor kesehatan masih dipandang sebagai aktor dan inisiator utama dalam pencegahan DBD. Hal ini dikarenakan ada kesan masing-masing Kabupaten/Kota dalam melaksanakan tugas dan kewenangannya tidak memerlukan bantuan/koordinasi Dinas Kesehatan Propinsi. Dengan demikian daerah harus merencanakan dan menganggarkan program kesehatan dan bersaing dengan sektor lain untuk mendapatkannya. 4.LAPORAN AKHIR Kebijakan desentralisasi semakin rumit ketika harus dilaksanakan di sektor kesehatan yang mencakup area kegiatan luas dan yang selama ini didominasi peran pemerintah pusat. masih dijumpai dalam pelaksanaan penanggulangan penyakit. pelaksanaan tugas kelompok kerja operasional (Pokjanal) DBD tingkat Propinsi. Pada umumnya.

Petugas dinas kesehatan mengemukakan esensi intensifikasi penyuluhan mengenai PSN-DBD pada masa rendah penularan penyakit Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 64 . Communication for Behavioural Impact (COMBI) menawarkan pendekatan dinamis untuk mengubah perilaku dalam pengembangan sosial (Kusriastuti. 2004: Umniyati. 2004). Hampir seluruh petugas memahami takaran larutan untuk fogging dan mengatakan bahwa fogging fokus dilaksanakan hanya setelah ada kasus. tidak dilakukan sebelum masa penularan.LAPORAN AKHIR memperbaiki perilaku. Diakui oleh para petugas kesehatan adanya peminatan masyarakat yang lebih tinggi terhadap fogging bila dibandingkan dengan PSN. promosi kesehatan maupun lintas sektor dari lingkungan dan dinas tata kota. Mekanisme PSN-DBD terhadap masyarakat diakui berjalan dengan baik. diharapkan dapat merangkum berbagai pihak terkait dari lintas program pemberantasan penyakit. 2004. kesehatan lingkungan. menindaklanjutinya dengan menyusun protap pelaksanaan di lapangan. walaupun tidak di seluruh tempat. Adanya usulan mengenai pembentukan dan pengaktifan Tim Epidemiologi Kota sebagai wahana untuk penelusuran penyakit berbasis lingkungan. Parks. Semua petugas sektor kesehatan memiliki panduan mengenai tata laksana penanggulangan penyakit DBD yang diterbitkan oleh Departemen Kesehatan RI. Walaupun demikian hasil wawancara dengan masyarakat menunjukkan bahwa masyarakat mengakui PSN melalui 3M lebih baik dan lebih murah daripada pengasapan. bahkan seorang di antara enam Kepala Puskesmas yang diwawancarai.

(2) pengetahuan. iii. beban kerja yang tinggi merupakan masalah yang hampir ditemukan disemua tingkatan. (4) SOP. (2) Indikator Kinerja Surveilans dan Penanggulangan i. Kurangnya jumlah SDM. (3) Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kinerja surveilans dan penanggulangan terkait dengan (1) tenaga. peta rawan tidak selalu tersedia. (5) sarana. Kualitas dan kualifikasi masih belum terpenuhi sesuai dengan bidang tugas dan kompetensinya. Sarjana (SKM) dan MKes. Case Fatality Rate (CFR) DBD fluktuatif. perpindahan yang begitu cepat.LAPORAN AKHIR BAB 5 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 5. (3) dana. (2) koordinasi antara pusat dan daerah belum dilandasi suatu kebijakan operasional yang jelas tentang kewenangan dan tanggung jawab masing-masing. Tenaga. (3) sistem pengelolaan program penanganan penyakit menular masih didominasi pusat. kualifikasi pendidikan yang belum sesuai. Jumlah Kasus periode 2003-2005 cenderung stagnan untuk propinsi lokasi kajian (kecuali Jatim meningkat). Pendidikan rata-rata perawat.1 Kesimpulan (1) Kendala utama yang dihadapi dalam implementasi kebijakan penanggulangan penyakit menular dalam kasus DBD adalah (1) koordinasi antar instansi dan antar unit yang bertanggung jawab dalam penanganan DBD masih belum optimal. Hampir semua level baik di propinsi hingga kabupaten/kota termasuk puskesmas dan rumah sakit mengalami masalah ketenagaan dalam kegiatan surveilans dan penanggulangan. i. sedangkan di Puskesmas sebagai unit pelayanan dasar dan rumah sakit sebagai unit pelayanan rujukan. iv. Diseminasi informasi dilakukan melalui penerbitan buletin kajian epidemiologi yang diterbitkan oleh dinkes propinsi dan dinkes kabupaten/kota. ii. hampir semua dinkes propinsi maupun dinkes kab/kota memiliki peta rawan. Sistem Pelaporan ditunjukkan dengan kelengkapan laporan mencapai 90-100%. Tidak ada batas yang tegas yang membedakan antara Surveilans dan Penanggulangan dalam praktek operasional di lapangan. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 65 . dan (6) data. namun ketepatannya masih 60%. sedangkan data kematian cenderung meningkat. (4) tingginya beban puskesmas sebagai unit operasional utama di lapangan dalam implementasi kebijakan penanggulangan penyakit menular. khususnya dalam pelaksanaan surveilans dan penanggulangan DBD. Peta rawan.

tetapi tidak menjadi kendala dalam berjalannya sistem. sarana utama yang dibutuhkan dalam penanganan kasus DBD adalah adanya fogging fokus serta insektisida Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 66 . Dana. Hampir semua unit pelayanan kesehatan di daerah memiliki pedoman dan peraturan dalam rangka pelaksanaan surveilans dan penanggulangan DBD. Puskesmas tidak memiliki alokasi dana khusus untuk kegiatan surveilans. dan epidemiologi. Pemahaman tentang surveilans dan penanggulangan KLB masih belum sama. hampir semuanya menggunakan dana APBD. v. iv. Namun demikian kebanyakan SOP tersebut belum operasional. Selain pelatihan formal. Dana operasional selain bersumber dari dana operasional umum juga memanfaatkan dana JPK-MM. pengetahuan tim pada umumnya dipenuhi dari pengalaman lapangan dalam penanganan P2M. Walaupun kondisi sarana dan prasarana untuk kegiatan penanggulangan penyakit menular tidak selalu memadai. Untuk tingkat kabupaten/kota. dan (3) proporsi anggaran untuk preventif dan kuratif yang tidak seimbang. rakor dan melakukan berbagai pelatihan di bidang surveilans maupun penangulangan penyakit. Beberapa dinkes kabupaten/kota inisiatif melakukan modifikasi terhadap SOP yang dibuat Depkes. Operasi lapangan untuk suatu kasus (DBD) serentak dilakukan Bidang pendidikan yang ada adalah perawat. mengadakan pertemuan/ lokakarya. Dana menjadi persoalan dalam implementasi kebijakan penanggulangan penyakit menular. Di rumah sakit tidak terdapat dana surveilans. SOP. ii. yang ada hanya pencatatan pelaporan yang dilakukan di bagian rekam medis. (2) ada masa ketiadaan anggaran. iii. khususnya ketika kasus terjadi. Permasalahan dana terutama berkaitan dengan (1) keterlambatan turunnya DIPA. dana untuk pelaksanaan penanggulangan penyakit menular dirasakan pihak daerah mencukupi. Pengetahuan. Baik APBD propinsi maupun APBD kabupaten/kota atau APBD sharing. Upaya yang dilakukan Dinas Kesehatan Propinsi maupun kabupaten/kota dalam rangka peningkatan kemampuan adalah pembinaan teknis. Sarana. Dana yang digunakan untuk penanggulangan KLB berasal dari APBN (Dekon) dan APBD. khusus untuk KLB tersedia block grant dari pusat. Pada tingkat propinsi.LAPORAN AKHIR Struktur organisasi Dinkes propinsi maupun Kab/Kota tidak menggambarkan pembedaan kedua tugas tersebut.

Surveilans mulai diperlukan ketika ada kasus. sarana dan dana. sebagai suatu kegiatan rutin. Data yang ada belum dilakukan analisis. namun belum maksimal. i. Aktivitas surveilans dilakukan oleh Tim Lapangan. (2) Keterbatasan dana. karena tidak seimbang antar area yang harus dipantau dengan kemampuan sumberdaya yang tersedia. tidak setiap kasus DBD ditindaklanjuti dengan PE karena DBD dianggap kasus rutin. Data. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 67 . akibatnya kegiatan tindak lanjut yang seharusnya dilakukan tidak berjalan. baik di tingkat propinsi maupun kabupaten/kota (baru bersifat pengumpulan data). belum dilakukan. PE tidak dilakukan maksimal sesuai prosedur yang ada. Ketepatan dan kelengkapan laporan dari kabupaten/kota masih rendah. dekonsentrasi maupun tugas perbantuan). Namun pada saat kasus. Validitas data yang dilaporkan tidak pernah dipermasalahkan Propinsi belum mempunyai sistem peringatan ke kabupaten bila terjadi keterlambatan atau ketidak lengkapan data. Hal ini berkaitan dengan masih cukup besarnya alokasi dana yang berasal dari APBN (dalam bentuk DAU. Pengobatan dan isolasi penderita dirujuk ke rumah sakit. Sehingga untuk SKD-KLB data yang seharusnya dapat dilihat /diprediksi diawal untuk kewaspadaan terjadinya KLB. yang paling menonjol adalah penanggulangan (PE). antara lain (1) keterbatasan tenaga. Penyelidikan Epidemiolegi (PE) yang dilakukan Puskesmas belum maksimal. Penanggulangan DBD di Rumah sakit relatif tidak masalah.LAPORAN AKHIR pengadaan insektisida dan fogging fokus di supply oleh Dinkes Propinsi karena kab/kota belum siap vi. (3) ketiadaan sarana. namun belum maksimal melaksanakan surveilans karena keterbatasan tenaga. Komitmen daerah dalam penyediaan anggaran (APBD) untuk penanganan penyakit menular belum optimal. Banyak kendala. kecuali kalau ada kasus KLB yang menyebabkan sarana TT tidak mencukupi Pengobatan dapat dilakukan dengan baik kecuali kalau ada keterlambatan pengobatan akibat terlambat merujuk (5) Permasalahan operasional penanganan DBD juga dipengaruhi oleh sistem kepemerintahan yang belum sepenuhnya dapat mengakomodasi sistem perencanaan dan sistem keuangan yang baru. (4) Kondisi umum Pelaksanaan Surveilans dan Penanggulangan DBD Ujung tombak pelaksanaan surveilans ada di Puskesmas.

5. serta pelaporan (evaluasi). Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 68 . Membangun dan mengembangkan kemitraan. hal ini tampak dari keaktifan instansi kesehatan dalam penyebaran informasi kesehatan. Peningkatan kualitas sistem pelaporan melalui ketepatan data. Penyepurnaan SOP sesuai “local specific”.2 Rekomendasi Kebijakan Rekomendasi kajian yang diusulkan mencakup 1. Optimalisasi penggunaan sarana dan prasarana dengan melibatkan peran aktif masyarakat. analisis. Keperdulian pemerintah daerah masih belum terlihat. d. dan evaluasi kegiatan pencegahan dan penanggulangan faktor resiko. Meningkatkan kemampuan tenaga pengendalian penyakit untuk melakukan pencegahan dan penanggulangan faktor risiko. baik pada internal sektor maupun lintas sektor. Koordinasi penanganan kasus masih bersifat sporadis. promosi dan koordinasi. advokasi. validasi dan pengembangan “respond system”. Meningkatkan peran dan tanggung jawab Pemerintah Daerah melalui intensifikasi kegiatan sosialisasi. belum tertata dalam sebuah sistem yang aktif dan terstruktur. pelaksanaan (monitoring). b. Diperlukan dukungan dalam bentuk peraturan perundangan dalam meningkatkan komitmen para pihak di daerah dalam rangkan pencegahan dan penanggulangan DBD. Melakukan bimbingan. c. 9. bukan sebaliknya pemerintah daerah yang aktif meminta informasi. iii. 8.LAPORAN AKHIR ii. malalui a. Membangun dan mengembangkan kemitraan dan jejaring kerja informasi dan konsultasi teknis pencegahan dan penanggulangan faktor resiko. 6. Memperkuat kapasitas dan kapabilitas Puskesmas sebagai unit terdepan dalam operasionalisasi surveilans dan penanggulangan penyakit menular. 2. Percepatan penyusunan kebijakan operasional dalam koordinasi pelaksanaan program antar pusat daerah yang mencakup aspek perencanaaan. jejaring kerja informasi dan konsultasi teknis peningkatan komunikasi informasi dan edukasi (KIE) pencegahan dan pemberantasan penyakit. surveilans epidemiologi dan penanggulangan KLB/wabah. Peningkatan dukungan dana yang memadai dari APBN maupun APBD. 10. pemantauan. 3. 7. Peningkatan koordinasi antar instansi dan antar unit dalam berbagai tingkatan dalam penanganan penyakit menular. 4. Mengurangi secara bertahap dominasi peran pengelolaan program oleh pusat melalui pendelegasian kewenangan ke daerah serta peningkatan profesionalisme pengelola program di daerah. 5. dan sistem kesiapan dini (early warning system).

kesehatan seperti askeskin sehingga kepastian dana sampai kepada masyarakat terjamin. perlu di kelola secara profesional dan berkesinambungan dengan memanfaatkan teknologi yang tepat dan mudah diaplikasikan. diperlukan revitalisasi peran kelembagaan khususnya kelembagaan Puskesmas. sekaligus menjamin setiap masyarakat terlayani untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. mendorong terbangunnya motivasi dan komitmen para 5. Pola pendanaan diharapkan dapat lebih fleksibel dan dimungkinkan untuk kebutuhan KLB dalam bentuk multiyears fund. dan rehabilitatif. langkah tindak lanjut yang diperlukan mencakup 1. 2. Diperlukan model manajemen pemberantasan penyakit dan penyehatan lingkungan secara terintegrasi yang berbasis wilayah kabupaten/kota dalam perspektif komprehensif. promotif dan rehabilitatif) menyertai peran dimaksud secara memadai. Serta didukung jaringan dan kerjasama erat baik antar wilayah dan adimistrasi pemerintah maupun diantara para pelaku pemberantasan penyakit menular dan penyehatan lingkungan itu sendiri dalam satu wilayah. Aspek Pendanaan. Dukungan pendanaan serta tenaga dan sarana dalam rangka pelaksanaan operasional pencegahan dan penanggulangan (preventif. perlu terus dikembangkan pola pendanaan sistem jaminan 3. Motivasi dan komitmen selain muncul atas kesadaran memerlukan dukungan eksternal dalam bentuk insentif. 4. Sebagai perangkat utama Kesehatan.LAPORAN AKHIR 11. Aspek Ketenagaan. Aspek Kelembagaan. Data dan Informasi. dibuat sesederhana mungkin agar memudahkan pelaksanaan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 69 . opersional tenaga lapangan. 5. selain kuratif. Keberadaan data dan informasi yang akurat dan sinambung menjadi salah satu indikator kinerja pembangunan kesehatan.3 Implikasi Kebijakan dan Rencana Tindak Lanjut Berdasarkan kesimpulan dan rekomendasi yang disampaikan. Puskesmas perlu diperkuat dengan kapasitas manajemen pelayanan untuk kegiatan yang bersifat promotif. preventif. pelaksana pembangunan kesehatan di lapangan sebagai ujung tombak pembangunan kesehatan. Aspek SOP.

Ditjen PP & PL Depkes RI Muninjaya. Subdit Arbovirosis. Soekidjo. Kebijakan Penanggulangan Demam Berdarah Dengue di Indonesia. 2005. 2005. Jakarta: Prestasi Pustaka Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 70 .LAPORAN AKHIR DAFTAR PUSTAKA Achmadi. 2005. Scott B. 2005. 2000. Manajemen Berbasis Lingkungan. Modul Surveilans Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta: EGC Noor. Tata Laksana Demam Berdarah Dengue di Indonesia. Pengantar Epidemiologi Penyakit Menular. 2005.A. December-2000 [cited 9 Juli 2005] Available from : http://w3. dkk. Pemberantasan Demam Berdarah Dengue (DBD) Hadinegoro. Jakarta: Penerbit Buku KOMPAS Anies.2006. 2004. Successes and Failures in Dengue Control-Global Experience. Jakarta: Ditjen P2M & PL. Solusi Mencegah Menanggulangi Penyaki Menular. Standar Pengawasan Program Bidang Kesehatan.2004. Will & Linda Lloyd. Pencegahan Pemberantasan Demam Berdarah Dengue di Indonesia dan dan Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2006. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Reka Cipta. Mewaspadai Penyakit Lingkungan. Departemen Kesehatan RI Halstead. Jakarta: Infomedika Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Progress Report on The Millenium Development Goals Chin. Manual Pemberantasan Penyakit Menular. A. World Health Organization Santoso. 2006. Rita. Gde. Manajemen Penyakit Berbasis Wilayah. 2003. Dengue Bulletin Volume 24. Umar Fahmi.whosea. 2001. Gempur.org/en/Section10/Section332 Kusriastuti. Nur Nasry. Jakarta: Rekacipta. Jakarta: PT Gramedia Bappenas. Planning social mobilization and communication for dengue fever prevention and control. Metodologi Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. JMES. Sri Rezeki. Notoatmodjo. 2004. Manajemen Kesehatan. 2005. Jakarta: Elex Media Komputindo Anies. Parks.

Jakarta: Gramedia Pustaka Utama World Health Organization. 1116/MENKES/SK/VIII/2003 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan Keputusan Menteri Kesehatan RI No. Universitas Airlangga. 949/Menkes/SK/VIII/2004 tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Kewaspadaan Dini Kejadian Luar Biasa (KLB) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1984 Tentang Penyakit Menular Keputusan Menteri Kesehatan RI No. Resna A. Jakarta : Bina Putra Aksara. 2003.LAPORAN AKHIR Siregar. dan Azrul Azwar. Panduan Lengkap Pencegahan & Pengendalian Dengue dan Deman Berdarah Dengue. 1989. Manajemen Kesehatan. Analisa Penatalaksanaan Penanggulangan Demam Berdarah Dengue (DBD) dalam menurunkan Insidens DBD dan Menentukan Kebijakan Operasional di Kota Medan. 2001. Penanggulangan Wabah Oleh Puskesmas. Sari Nurhamida. 4 Tahun 1991 tentang Penanggulangan Penyakit Menular Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. Peraturan Perundangan Peraturan Pemerintah No. EGC. 949/MENKES/SK/VIII/2004 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Kewaspadaan Dini Kejadian Luar Biasa (KLB) Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 71 . 1479/MENKES/SK/X/2003 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular dan Penyakit Tidak Menular Terpadu Keputusan Menteri Kesehatan RI No.. 2003. Soerawidjaja. Sulastomo. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran.

LAPORAN AKHIR Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 72 .

Identifikasi peran dan tanggungjawab Pemerintah Daerah dalam penanggulangan penyakit menular c.LAPORAN LAMPIRAN 1 AKHIR RANCANGAN INSTRUMEN KAJIAN I. Kerangka Konsep SURVEILANS INPUT • • • • • • • PROSES • Koordinasi kegiatan pengumpulan • Validasi • Pengolahan data • Analisis data • Supervisi pengumpulan • Supervisi pengolahan OUTPUT Tenaga Dana Sarana Pengetahuan yang benar Pelatihan Metoda pengumpulan data Potensi komunitas • Identifikasi masalah • Penyelidikan sebab masalah • Diseminasi PENANGGULANGAN WABAH PENYAKIT MENULAR INPUT PROSES OUTPUT • • • • • III. Tenaga • Sarana • Dana • Protap • Pengetahuan ttg Wabah & Penanggulangan • Pelatihan Definisi Operasional • • Informasi surveilans • Pengambilan Keputusan SURVEILANS • Potensi komunitas Input Koordinasi lintas sektor Upaya perbaikan kondisi rentan Sistem kewaspadaan dini Penyelidikan & Penanggulangan wabah Kesiapsiagaan menghadapi wabah • Wabah tidak menjadi masalah kesehatan masyarakat Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 73 . Identifikasi langkah-langkah yang dilakukan dalam penanggulangan penyakit menular II. Tujuan a. Identifikasi faktor-faktor yang menghambat system informasi manajemen surveilans penyakit menular b.

5. pemenuhan dan sumber dana kegiatan. Dana merupakan ketersediaan pengalokasian. 7. 2. Pengetahuan petugas merupakan pemahaman petugas tentang survailans penyakit menular. 5. Supervisi pengumpulan merupakan keberadaan pengawasan terhadap proses pengumpulan data. Penyelidikan sebab masalah merupakan proses identifikasi sumber/penyebab timbulnya masalah 3. Output 1. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 74 . Metoda pengumpulan data merupakan keberadaan tata laksana kegiatan pengumpulan data dan kesesuaian dengan fungsinya. 4. Proses 1. 6. 2. Pengolahan data merupakan ketapatan waktu dan keakuratan suatu data di olah. Identifikasi masalah merupakan hasil analisis data yang sudah diproses untuk mengetahui kemungkinan munculnya/timbulnya kejadian (morbiditas/mortalitas) penyakit menular. 6. 6. Analisis data merupakan ketepatan penggunaan teknik analisa data. 3. Sarana merupakan ketersediaan dan kesuaian fasilitas alat atau bahan yang diperlukan dalam melakukan kegiatan penanggulangan wabah. 3. 2. Tenaga merupakan pelaksana kegiatan penanggulangan wabah yang meliputi jumlah pelaksana dan latar belakang pendidikan serta lamanya bekerja. Partisipasi komunitas merupakan peran serta berbagai kelompok komunitas (seperti: tenaga kesehatan. masyarakat/toma/toga) dalam kegiatan surveilans. Sarana merupakan ketersediaan dan kesuaian fasilitas alat atau bahan yang diperlukan dalam melakukan kegiatan surveilans. Supervisi pengolahan merupakan keberadaan pengawasan terhadap proses pengolahan data. pemenuhan dan sumber dana kegiatan surveilans. Pelatihan merupakan pernah dan tidaknya petugas mendapatkan pelatihan tentang surveilans penyakit. 3. Protap merupakan keberadaan peraturan yang sesuai dengan fungsinya dalam kegiatan. Kelengkapan diukur berdasarkan SOP yang ada PENANGGULANGAN PENYAKIT MENULAR Input 1. 4. 4.LAPORAN AKHIR 1. Validasi merupakan kesesuaian proses kegiatan dengan SOP yang sudah ada. Pengetahuan petugas merupakan pemahaman petugas tentang karakteristik dan kegiatan penanggulangan penyakit menular. Tenaga merupakan pelaksana kegiatan surveilans yang meliputi jumlah pelaksana dan tingkat pendidikan serta lamanya bekerja di surveilans. 5. Diseminasi merupakan ketepatan waktu penyebaran dan kelengkapan informasi surveilans kepada pihak-pihak yang berkepentingan (pengambil keputusan). Dana merupakan ketersediaan pengalokasian. Pelatihan merupakan pernah dan tidaknya petugas mendapatkan pelatihan tentang penanggulangan penyakit. Koordinasi kegiatan pengumpulan merupakan kerjasama tim surveilan dengan komunitas dan koordinasi di dalam tim itu sendiri dalam melakukan pengumpulan data 2.

masyarakat/toma/toga) dalam kegiatan penanggulangan wabah. dan penyilidikan wabah yang dilakukan oleh pihak yang bertanggung jawab (Dinas kesehatan dan pusat). Penyelidikan merupakan proses kegiatan kajian penyelidikan pendahuluan dan laporan awal. 5. Surveilans Ketat merupakan upaya pemantauan kecenderungan wabah. 3. Proses 1. dan peningkatan jumlah penderita yang merupakan indikasi adanya kemungkinan meletusnya suatu wabah. dan ketepatan waktu yang diterima oleh pihak-pihak pengambil keputusan. penyelidikan awal dan laporan perkembangan wabah (periodik). Informasi Surveilans merupakan hasil output system surveilans yang sudah diolah dan dianalisis dengan melihat ada dan tidaknya informasi. Potensi komunitas merupakan peran serta berbagai kelompok komunitas (seperti: tenaga kesehatan. Output 1. 9. Wabah tidak menjadi masalah kesehatan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 75 . 2. 7. Pengambilan Keputusan merupakan individu yang bertanggung jawab dalam pengambilan keputusan dalam kegiatan penanggulangan. Pelayanan pengobatan merupakan upaya pengobatan terhadap kelompok yang berisiko. 6. 8.LAPORAN AKHIR 7. ketepatan dan kelengkapan data. Pencegahan merupakan upaya memutus mata rantai penularan. 4. Sistem kewaspadaan dini merupakan pelaksanaan pemantauan terus menerus terhadap munculnya kerawanan yang terjadi pada unsur-unsur dasar penyebab terjadinya suatu wabah. Upaya perbaikan kondisi rentan merupakan upaya pencegahan melalui perbaikan keadaan yang menjadi sebab timbulnya kerentanan. Koordinasi lintas sektor merupakan kerjasama antar pihak-pihak yang bertanggung jawab dalam penanggulangan wabah.

petugas P2M. Kader Kesehatan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 76 . LMD/Dewan Kel. Masyarakat anatar lain: : Ka Desa. kasubdin P2M. staf Kesling 5. yaitu: 1. Sumber Informan adalah petugas yang terkait dengan pelaksanaan surveilans dan penanggulangan penyakit menular. Bappeda.. Puskesmas: Kepala Puskesmas.LAPORAN AKHIR IV. Biro Kesra 4. Ka RT. seksi surveilance.Pustu/polindes. Tingkat Kabupaten antara lain: kepala dinas kesehatan. Tingkat Provinsi antara lain: 3. Tingkat Pusat antara lain P2M. Yanmedik dan Binkesmas 2. Draft Instrumen Instrumen yang akan dirancang adalah instrument untuk wawancara mendalam (indepth interview) dan instrument observasi (check list).

MPH . Ph. yaitu . Dadi Argadiredja. Erna Tresnaningsih Suharsa.LAPORAN AKHIR LAMPIRAN 2 PELAKSANAAN KEGIATAN DAN PEMBAHASAN A. serta (3) Diskusi Internal. Dedi M. (2) Ekspose Tim Ahli Ekspose Tim Ahli dilaksanakan pada tanggal 5 April 2006 Ekspose Tim Pakar dimaksudkan untuk menggali lebih dalam lagi berbagai aspek yang berkaitan dengan Penanggulangan Penyakit Menular. pemilihan lokasi peneltian. oleh Prof. dr. MPH.Dr. Indrijono Tantoro. Tim yang diundang dalam acara brainstorming adalah nara sumber dari kajian ini serta beberapa pakar lainnya. (1) Brainstorming dengan Tim Pakar Pelaksanaan brainstorming dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 28 Pebruari 2006. Balitbang Depkes . Sukirman.Tim Fakultas Kesehatan Masyarakat. kerangka pemikiran. dan Masa Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 77 . Broto Warsito. MPH. Setditjen P3L Depkes .Prof. Dalam aspek metodologi masukan dari brainstorming yang diharapkan berkiatan dengan aspek runga lingkup kajian. Dr. Soedarto Romoatmojo. serta variabel kajian Hasil brainstorming selengkapnya pada LAMPIRAN 2. Masykur Riyadi. FKM-UI • Tinjauan Umum tentang Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular di Indonesia (Kebijakan Masa Lalu. Dr. Ahli Gizi IPB . Masa Kini.D.Dr. Penyempurnaan Proposal Dalam rangka memperkaya proposal telah dilakukan beberapa kegiatan mencakup (1) pelaksanaan brainstorming dengan Tim Pakar.Dr. mencakup aspek • Review tentang Kajian Penyakit Menulat (Aspek Metodologi Kajian. (2) Ekspose Tim Ahli. Deputi Bidang SDM dan Kebudayaan Bappenas Brainstorming dengan tim pakar dimaksudkan untuk mendapatkan wawasan yang lebih jelas mengenai penanggulangan penyakit menular.Dr. rumusan masalah serta tujuan dan sasaran penelitian. Fakultas Kedokteran Unpad . penetapan responden. MOH. Universitas Indonesia .Dr. Masukan yang diharapkan dari pelaskanaan brainstorming mencakup perbaikan konsep.

Penetapan Lokasi Kajian Lokasi kajian ditetapkan di 6 propinsi dengan kriteria pemilihan propinsi didasrkan pada ferkuensi dan jumlah kasus Keadaan Luar Biasa (KLB) penyakit. serta (4) teknik analisis data. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 78 . Depkes Penanggulangan penyakit Menular di Rumah Sakit Kabupaten/Kota. Teori dan Praktek dalam Penanggulangan Penyakit Menular. oleh Kepala Pusat Kajian Kebijakan Pembangunan Kesehatan. metodologi serta teknis pelaksanaan survei lapangan. Imunisasi dan Kesehatan Matra. serta rencana analisis data dan informasi dan bentuk laporan kajian. sekaligus dibahs tentang aspek kewenangan dari masing-masing tingkatan. Yang Akan datang. Kebijakan Penanggulangan Wabah DHF. (3) perumusan kuesioner. oleh Dr. Setditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Depkes Kebijakan Umum Departemen Kesehatan dan/atau Nasional dalam Upaya Penanggulangan Penyakit Menular. (2) penentuan sampel dan responden. (3) Diskusi Internal Diskusi internal dilakukan pada berbagai kesempatan diskusi yang diselenggarakan di Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Diskusi inernal dilakukan diantara anggota Tim Perumus Rekomendasi Kebijakan dengan melibatkan Tim dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Diskusi internal dilakukan dalam rangka menyempurnakan kerangka acuan kajian dengan mengakomodasi berbagai masukan yang didapat dalam pertemuan brainstorming tim pakar maupun dari hasil ekspose tim ahli. Indriono. oleh Direktur Bina Pelayanan Medik dasar.LAPORAN AKHIR • • • • • . (B) Pembahasan Disain Riset Pembahsan disain riset yang dilakukan mencakup aspek (1) penetapan lokasi kajian. Depkes Pokok-pokok Pikiran hasil Ekspose Tim Ahli selengkapnya dalam LAMPIRAN-3. oleh Direktur Bina Kesehatan Komunitas. Dalam diskusi internal juga dilakukan kesepakatan akhir berkaitan dengan disain kajian. Dalam diskusi internal juga dibahas berbagai pertauran perundangan yang berkaitan dengan penanggulangan penyakit menular. Depkes. ole Direktur Surveilans Epidemiologi. Depkes Penanggulangan Penyakit Menular di Puskesmas. Depkes Tinjauan terhadap Kebijakan Surveilans Epidemiologi. oleh Direktur Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang.

ditetapkan propinsi yang akan menjadi lokasi kajian adalah 1. mengolah. Popinsi Jawa Timur 6. Pelaksanaan Uji Coba Kuesioner dilakukan di Kota Depok. mentabulasikan dan menginterpertasikan data C. Propinsi Nusa Tenggara Barat Pada setiap porpinsi ditetapkan sampel 2 kabupaten . pada tanggal 3-11 Juli 2006. Pelaksanaan Uji Coba Kuesioner Uji Coba Kuesioner dilakukan dalam rangka menguji sejauhmana materi pertanyaan dan isian dalam kuesioner dapat dijawab sesuai dengan tujuan kajian. Propinsi Riau 2.LAPORAN AKHIR Berdasarkan hasil pembahasan dengan kriteria di atas. dengan responden adalah petugas di lingkungan Dinas Kesehatan. Aspek realibilitas dan vailiditas materi kuesioner juga menjadi target uji coba. konsistensi dari materi kuesioner sehingga runtut dan dapat dijawab dengan baik oleh responden. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 79 . Propinsi Sulawesi Selatan 5. mencakup (1) aspek surveilans dan (2) aspek penanggulangan wabah Kuesioner bersifat terbuka akan dilakukan dalambentuk interview dan wawancana mendalam Kuesioner dalam bentuk tertutup akan disampaikan kepada responden untuk mengisi Kuesioner Pada LAMPIRAN 1 Teknik Analisis Data Untuk menganalisis data yang bersumber dari responden dilakukan analisis data menggunakan analisis statistik deskriptif Analisis statistik deskriptif dilakukan dengan cara mengelompokkan. Uji coba juga dilakukan untuk melihat kesesuaian. Propinsi Kalimantan Timur 4. Pada setiap kabupaten ditetapkan 2 kecamatan/puskesmas Penetapan Responden Pada setiap Propinsi dan Kabupaten ditetapkan 4 orang responden mencakup Kepala Dinas/Subdinas Kepala Rumah Sakit/Bagian P2M Kepala Puskesmas pada 2 kecamatan Perumusan Kuesioner Rumusan Kuesioner dibuat dalam bentuk pertanyaan terbuka dan pertanyaan tertutup Pengelompokkan didasarkan pendekatan sistem serta berdasarkan kalster variabel dari konsep penanggulangan penyakit menular. Propinsi Sumatera Selatan 3.

mencakup aspek (1) Tujuan.. Namun pusat tepat ”take a lead” • Perlu kejelasan antara survailans dan penanggulangan: mekanisme kerja serta proses pengambilan keputusannya E. Pembahasan Dengan FGD Pembahasan dengan Forum Group Disscussion dilakukan untuk mendapatkan masukan dan penyempurnaan konsep kajian. dan fasilitas kesehatan (facility based). D. Pelaksanaan Survey di masing-masing propinsi dilakukan di 2 (dua) kabupaten. dan pada masing-masing kabupaten dilakukan wawancara mendalam serta pengisian kuesioner pada dinas kesehatan. (3) penetapan waktu wawancara yang sesuia sehingga tidak berbebnturan dengan agenda lain bagi petugas di lapangan.. (2) penetapan kontak person di lapangan. khususnya terkait dengan penanganan surveilans dan penaggulangan penyakit Demam Berdarah (DHF).. Pelaksanaan Survey Lapangan Sesuai dengan lokasi kajian yang telah ditetapkan. 2 puskesmas. survey lapangan dilakukan di 6 (enam) provinsi.. Provinsi Kalimantan Timur.LAPORAN AKHIR Puskesmas serta Rumah Sakit yang menangani bidang penyakit menular. Bappeda.. propinsi. (2) Lingkup Kajian. (3) Metode Kajian. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 80 . variabel serta parameter kajian. Provinsi Sulawesi Selatan dan Provinsi Nusa Tenggara Barat.. Hal lain yang juga menjadi masukan dari pelaksanaan uji coba kuesioner adalah berkaitan dengan (1) perijinan dalam pelaksanaan wawancara. 1 rumah sakit dan tokoh/perwakilan warga masyarakat. Provinsi Jawa Barat. tetapi juga dari unsur masyarakat (community based) • Unsur institusi selain Dinkes juga ditambah Bappeda • Bagaimana menemukan sistem penanggulangan yang cepat (efektif dan efesien) dengan mempertimbangkan sistem pelaporan (survailans) yang ada dan cenderung birokratis • Masalah kewenangan penanganan perlu diperjelas (otorisasi) antara kewenangan pusat. Hasil uji coba kuesioner selanjutnya dianalisa untuk kemudian dijadikan bahan perbaikan. kabupaten/kota. Provinsi Jawa Timur. termasuk lokasi. yaitu Provinsi Riau. Laporan umum hasil uji coba kuesioner dalam LAMPIRAN . Beberapa masukan dari FGD adalah • Responden perlu ditambah tidak hanya unsur aparat (institution base). Jadwal dan Tim pelaksana dari Survei Lapangan dalam LAMPIRAN ..

Erna Tresnaningsih Suharsa. Broto Wasisto. Indrijono Tantoro. 5. 3. SH. 4. Ir. SKM. MA Dadang Rizki Ratman. 4. Sulaeman Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 81 . 5. MPH Prof. ME. 3. Hadiat. Drs. Dr. Dadi Argadiredja. Nurlaily Aprilianti 2. SP. Dedy M. TIM PENDUKUNG 1. Masykur Riyadi.LAPORAN AKHIR LAMPIRAN 3 Struktur Organisasi/Tim Pelaksana PENANGGUNG JAWAB Dr. MPH Dr. Dr.D. Arum Atmawikarta. MPH Dr. MOH. 2. Deputi SDM dan Kebudayaan TPRK 1. Sularsono. 2. Yosi Diani Tresna. MPA. MPM NARA SUMBER 1. MPH Dr. Soekirman Dr. Ph.

LMD/Dewan Kel. staf Kesling – Desa: Ka Desa. Kabupaten/Kota.. petugas P2M. Pustu/polindes. Kader Kesehatan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 82 . Bappeda.LAPORAN AKHIR LAMPIRAN 4 NOTULENSI PEMBAHASAN DENGAN TIM PAKAR KAJIAN KEBIJAKAN PENANGGULANGAN WABAH PENYAKIT MENULAR Jakarta. Kasubdin P2M. Propinsi. Yanmedik dan Binkesmas – Propinsi: Kadinkes. Seksi Surveilance. Biro Kesra – Kabupaten : idem – Puskesmas : Kepala Puskemas. Rumah Sakit terpilih • Responden – Pusat: P2M. Puskesmas dan Desa. – Case Study : DBD • Kriteria Lokasi Kajian – Endemis dan Non Endemis – Sedang ada KLB dan tidak ada KLB – Pusat. Ka RT. 28 Februari 2006 • Fokus yang akan diteliti – Umum.

propinsi. PERTANYAAN PENELITIAN. TUJUAN. propinsi. kab/kota) – Managerial/sistem (pusat. PERUMUSAN MASALAH.LAPORAN AKHIR • Design Penelitian: Case Control • Variabel Penelitian: – Peraturan perundang-undangan (pusat. SASARAN dan REKOMENDASI Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 83 . kab/kota & kec) – Operasional (puskesmas ke bawah) • Cara Pengumpulan Data – data sekunder – data primer : wawancara mendalam di berbagai tingkat (Pusat s/d kab/kota) dan focus group discussion di tingkat Kecamatan dan desa • Perlu diperhatikan – Kaitan antara JUDUL.

Pendekatan kajian: • • policy review dengan fokus pada management oriented system model Identifikasi terhadap faktor penghambat dan diakhiri dengan rekomendasi kebijakan 2. 5 April 2006 I. Ruang Lingkup: Umum dengan case DBD Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 84 . Sampling: Non Propability Sampling 4. Jenis Penelitian: Penelitian Operasional 3.LAPORAN AKHIR LAMPIRAN 5 POKOK-POKOK PIKIRAN EKSPOSE TIM AHLI Kajian Penanggulangan Wabah Penyakit Menular Jakarta. METODOLOGI KAJIAN 1.

Infrastruktur Puskesmas untuk surveilans ditingkatkan : Poskesdes Vs Pustu III. Pemahaman terhadap produk hukum yang ada masih rendah 3. tenaga dan koordinasi 6. Dalam Renstra Depkes Penanggulangan Wabah masuk dalam 2 strategi utama: (1) memberdayakan masy. sarana. PRAKTEK PENANGGULANGAN DI LAPANGAN PUSKESMAS • Surveilans di Puskesmas belum Optimal • Koordinasi lintas sektor belum terintegrasi • Keterbatasan tenaga yang kompeten • Kontribusi utama Puskesmas dalam penanggulangan wabah PP dalam jejaring pelayanan. TINJAUAN KABIJAKAN 1. sesuai dengan kasus penyakit • • • • Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 85 . Kebijakan peraturan perundangan dapat diikuti oleh stakeholder: Kepmen Perpres 4. Kebijakan yang ada belum fokus 2. sistem pencatatan RUMAH SAKIT Pelayanan gawat darurat masih di bawah standar Sistem monev periodik antar pusat dan daerah belum terbangun Insentif petugas perlu menjadi perhatian Kelengkapan sarana. tenaga. sarana. u/ hidup sehat dan (2) peningkatan sistem surveilans 5.LAPORAN AKHIR II. Ketentuan yang ada belum dilaksanakan secara optimal di tingkat operasional akibat keterbatasan dana.

KEBIJAKAN PENANGGULANGAN DBD 1. KEBIJAKAN SURVEILANS 1. Daerah berperan dalam pengambilan keputusan menentukan prioritas masalah maupun penanggulangan 2. sarana dan anggaran V. Surveilans faktor resiko selain surveilans penyakit 5. Pelaksanaan SKD-KLB belum optimal 4. Penguatan program: evidence based. desa siaga 6. Fleksibilitas pencairan dana KLB 7. Penguatan komitmen semua pihak 2. Dukungan tenaga. Optimalisasi dan profesionalisme Sumber Daya (SDM dan dana) 4. Perlu Advokasi untuk dukungan legal aspek pelaksanaan dilapangan 3. Mobilisasi Sosial Gerakan Masyarakat “3M” Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 86 . Manajemen terpadu berbais wilayah: Jumantik. prioritisasi 5.LAPORAN AKHIR IV. Pengembangan jejaring kerjasama dan kemitraan 3.

Kota Mataram 2. Kab. Responden Kajian No 1 2 3 4 5 6 Propinsi/Kab Riau 1. (4) menyiapkan pengadaan dan distribusi kebutuhan obatobatan dan bahan-bahan yang esensial. perbaikan manajemen kasus diganostik dan pengobatan serta rujukan. Gresik Kalimantan Timur 1. Kota Surabaya 2. Kab. Gowa Nusa Tenggara Barat 1. Kesimpulan Hasil Survey PROPINSI RIAU Kebijakan Daerah mecakup (1) pemberantasan DBD diselenggarakan dengan menggunakan penatalaksanaan kasus secara cepat dan tepat. Kota Makasar 2. Strategi yang dilakukan mencakup (1) intensifikasi pelaksanaan kasus melalui pencarian kasus dan pemutusan rantai penularan. (3) memantapkan jejaring lintas program. Siak Jawa Barat 1. serta kemitraan dengan masyrakat (LSM) termasuk swasta. Kab. Bogor Jawa Timur 1. Kota Bandung 2. pengendalian faktor resiko dan penyehatan lingkungan. Kab Lombok Tengah TOTAL Dinas 5 3 2 3 2 2 1 1 2 2 1 2 2 1 2 3 2 3 47 PKM 4 5 3 2 3 4 2 2 4 4 4 6 43 Rumah Sakit 1 1 2 1 2 1 1 4 1 2 2 3 21 Bapp 2 1 1 2 1 1 2 1 1 1 1 1 15 Masy 1 1 20 1 1 18 1 1 13 2 1 20 1 1 25 2 0 13 122 Jml 26 2. imunisasi. Kota Pekanbaru 2. (2) surveilans epidemiologi. (2) mengembangkan dan memperkuat jejaring surveilans epidemiologi dengan fokus pemantauan wilayah setempat. kab/kota. perubahan perilaku. lintas sektor. kewaspadaan dini. Kota Balikpapan Sulawesi Selatan 1. Kota Samarinda 2. melalui Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 87 . Kab. (5) meningkatkan kemampuan penggalian sumberdaya daerah dan sumberdaya masyarakat dalam pengelolaan program P2M.LAPORAN AKHIR LAPORAN PELAKSANAAN SURVEY KAJIAN KEBIJAKAN PENYAKIT MENULAR 1. sebagai dasar tindak lanjut perencanaan program dan penanggulangan KLB.

yaitu mencakup 1) Kewaspadaan dini DBD. pelatihan tenaga puskesmas dan rumah sakit. (6) peningkatan profesionalisme SDM. Strategi dan program adaah (1) pertemuan dengan tim pokjanal DBD propinsi Riau menghasilkan beberpa kesepakatan yang menitikberatkan pada peran aktif dari pokja/pokjanal DBD dengan melibatkan masyarakat. pelatihan tenaga operasional. diketuai oleh Bappeda dan sekretariat juga berada di Bappeda. PMD. Bappeda. (5) penanggulangan KLB. (8) Penelitian. Tim Pokjanal DBD diketuai oleh Walikota. Kegiatan pokok adalah melakukan rapat lintas sektor untuk menangani masalah-masalah khususnya penyakit menular. Dana KLB dianggarakan dengan menggunakan pola kinerja artinya bila KLB tidak terjadi. (3) Bila terjadi KLB. sedangkan sekretariat berada di kantor Dinas Kesehatan. PKK. Ketiga dana tersebut diatas berasal dari dana Kantor Walikota. (7) Pendekatan Peran Serta Masyarakat dann PSN DBD. dan pemeriksaan jentik berkala (PJB) yang dilakukan setiap 3 bulan sekali. Tim Pokjanal DBD terdiri dari unsur-unsur Diknas. yaitu dana tak terduga. Kota Pekanbaru juga memiliki Forum Perkampungan Sehat. Nbila terjadi KLB. tersedia pos untuk penanggulangan. Strategi pelaksanaan kebijakan penanggulangan DBD di Propinsi Jawa Barat dilakukan melalui (1) pendekatan ”gerak cepat” dan putus rantai. uang dicairkan. Dinkes. Program yang dilakukan mencakup (1) kewaspadaan dini DBD melalui penyuluhan intensif. pembinaan dalam pelaksanaan gerakan 3M. (3) Bulan Bakti gerakan ”3M”. dan menyiapak sarana pemeriksaan untuk diagnosa melaksanakan PE dan penanggulangan fokus. Depag dan pihak legislatif. maka kinerjanya akan dipertanyakan. melengkapi sarana pemberantasan vektor. melalui penyediaan insektisida dan larvasida. Hasil implemnatsi kebijakan. dimana Puskesmas melakukan penyelidikan epidemiologi (PE) untuk mengurangi persebaran lebih luas dan tindakan yang lebih tepat. (4) Penanggulangan kasus. (2) Pemberantasan vektor melalui PSN dengan cara 3M Plus. menyiapkan juknis dan juklaknya. PROVINSI JAWA BARAT Kebijakan penannggulangan di Jawa Barat secara umum mengacu pada kebijakan dan program yang telah ditetapkan oleh Departemen Kesehatan (Pusat). dana bencana dan dana belanja rutin sekretariat daerah. melalui pelaksanaan pertemuan berkala Pojanal/Pokja DBD. (2) Di Kota Pekanbaru. (3) Disamping Tim Pokjanal DBD. (3) meningkatkan SDM. maka uang tidak bisa dicairkan. pematauan dan informasi program pemberantasan penyakit dan meningkatkan kewaspadaan di semua tingkat administrasi. lintas program dan lintas sektor terkait serta mengaktifkan kembali peran UKS (Usaha Kesehatan Sekolah) untuk menggerakkan anak sekolah dalam pemberantasan demam berdarah. (2) pemberantasan vektor. yaitu pada setiap Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 88 .LAPORAN AKHIR perencanaan. sedangkan dana dari Dinas Kesehatan diutamakan untuk membeli peralatan dan kegiatan yang sifatnya pencegahan.

(2) Fogging dilaksanakan apabila terjadi KLB dengan menggunakan dana yang berasal dari Dinas Kesehatan Kabupaten dengan peruntukan untuk larvasidasi dan abatesisasi. (2) kegiatan surveilans epidemiologi dilaksanakan oleh tim fungsional di masingmasing tingkat mulai dari Puskesmas. pemeriksaan jentik dengan memberdayakan tenaga jumantik. (3) penyelidikan epidemiologi terhadap kasus yang dicurigai pada daerah yang resiko rendah. (3) Upaya peningkatan kemamampuan tenaga kesehatan dalam penanggulangan DBD secara kuratif dilakukan melalui ”workshop tata laksana” dengan melibatkan dokter spesialis dan urusan dalam. mengidentifikasikan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 89 . dan melakukan ”CLEAN-UP” lingkungan yang dipimpin oleh wali kota selama 1-2 jam. memastikan diagnostik etiologi. (3) komitmen dari pimpinan unit penyelenggara kesehatan diperlukan untuk kegiatan surveilans epidemiologi. dokter. mengamati indikasi pra-KLB misala cakupan program. praktek swasta. puskesmas dan masyarakat. kesibukan kader. (2) upaya preventif yang dilakukan melalui ”managing vector and environment” malalui ger kan 3M yang dilakukan secara linta sektor dalam wadah Pokjanal DBD.LAPORAN AKHIR kasus petugas siap melakukan PE sehingga ditemukan akar permasalahan dan sumber penyebabnya untuk kemudian dilakukan tindakan agar tidak menyebar ke tempat lain. dan propinsi. PROVINSI JAWA TIMUR Kebijakan daerah mencakup (1) upaya penanggulangan masalah-masalah kesehatan yang dilakukan merupakan hasil dari kajian surveilans epidemiologi. (6) Sosialissi Pola Hidup Bersih (PHBS). status gizi. foggig focus massal. mengidentifikasi dan menghitung kasus atau paparan. bidan. dan tidak seimbangnya jumlah kader dengan cakupan daerah yang harus diselediki. (5) Pelibatan lintas sektor. perilaku masyarakat. (5) melakukan studi epidemiologi pada daerah dengan knerja yang tidak baik. orang dan tempat. kab/kota. melalui persiapan penyelidikan lapangan. pengolahan dan analisis data untuk penyususnan rumusan kegiatan perbaikan oleh tim epidemiologi. (2) penyeldikan dan penanggulangan KLB. Hasil pelaksanaan program ditunjukkan antara lain (1) pemantauan jentik belum optimal dilakukan oleh kader dengan alasan terbatasnya dana operasional. (2) pencarian kasus tambahan dilakukan pada saat penyelidikan epidemiologi. mendeskripsikan kasus berdasarkan waktu. menetapkan apakah kejadian tersebut suatu KLB. (4) Pelibatan partisipasi masyarakat melalui gerakan PSN setiap hari Jumat pagi. perawat. Pelaksanaan program penannggulangan DBD mencakup (1) SKD-KLB melalui kegiatan pengumpulan data baru dari penyakit-penyakit yang berpotensi KLB. membuat cara penanggulangan sementara. (4) penemuan kasus dilaksnakan secara bekerjasama dengan masyarakat. (4) melakukan kajian epidemiologi harus bekerjasama dengan lintas program dan lintas sektor. dukun bayi dan kendaraan kesehatan. Strategi dalam penanggulangan DBD dilakukan melalui (1) penemuan kasus dan kematian melalui surveilans di rumah sakit.

pada dasarnya dilaksanakan berpedoman pada arah kebijakan dan program dari Pemerintah Pusat (Departemen Kesehatan). Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Selatan selanjutnya menyusun Prosedur Tetap (Protap) Penanggulangan DBD sebagai pedoman/acuan pelaksanaan kegiatan Dinas Kesehatan Propinsi dan Dinas Kesehatan Kabupten/Kota. (3) Pelatihan tenaga surveilens (pelatihan epidemiologi. melengkapi sarana pemerantasan vektor. khususnya penyakit DBD di Propinsi Sulawesi Selatan. penyuluhan. perubahan perilaku dalam pola hidup bersih dan sehat. (3) Untuk tahun 2005. pelaksanaan gerakan 3M.LAPORAN AKHIR sumber dan cara penyebaran. Pokok-pokok Program yang dilakukan mencakup Kewaspadaan dini DBD. (2) mengembangkan dan memperkuat jejaring surveilans epidemiologi dengan fokus pemantauan wilayah setempat. sehingga sesuai data memang DBD di Kota Balikpapan tinggi. mengidentifikasikan keadaan penyebab KLB. (5) Dinas kesehatan kota Balikpapan selalu melaksanakan pendataan DBD dengan rutin. Gambaran implementasi adalah (1) Pelaksanaan penanggulangan DBD melibatkan masyarakat. beranggotakan kepala – kepala dinas yang ketika diadakan rapatrapat selalu dihadiri oleh personal yang berlainan. APBD mengalokasikan dana 500 juta untuk peanggulangan KLB dan habis untuk penanggukangan KLB DBD. (2) Pemberantasan vector. (2) Tim Pokjanal DBD diketuai oleh Walikota. lintas program dan lintas sekor terkait. (2) Pelaksanaan Surveilans Epidemiologi. penyehatan lingkungan. penyediaan insektiside dan larvasida. (6) Pelatihan khusus tentang epidemiologi dan surveillens baru dilakukan 1 kali dalam 5 tahun terakhir. Kota Balikpapan memiliki Yayasan DBD yang ketuanya adalah kasubdin P2M Dinkes dan didanai oleh perusahaahn2 minyak swasta. dan (3) Membangun kerja sama lintas sektor. pelatihan tenaga kesehatan. PROVINSI KALIMNATAN TIMUR Kebijakan Daerah yang dilakukan mencakup (1) Pemberantasan DBD diselenggarakan dengan menggunakan penatalaksanaan kasus secara cepat dan tepat. pelaksanaan PE. kerja sama dengan dengan masyarakat dan swasta. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 90 . merencanakan penelitian lain yang sistematis. menetapkan rekomendasi cara pencegahan dan penanggulangan. kewaspadaan dini. (4) Di samping Tim Pokjanal DBD. Strategi yang dilakukan mencakup (1) peningkatkan pencarian kasus dan pemutusan rantai penularan perbaikan manajemen pengobatan serta rujukan. menetapkan sistem penemuan kasus baru. PROVINSI SULAWESI SELATAN Upaya penanggulangan kejadian luar biasa (KLB)/penyakit menular. pertemuan berkala Pokjanal/Pokja DBD.

Dngan demikian Puskesmas sebagai fasilitas yang paling dekat edngan masyarakat tidak dimanfaatkan dengan baik dalam penanggulangan KLB DBD. lintas program dan kabupaten/kota terdekat. gerakan PSN. (4) Peningkatan SDM. pertemuan Kewaspadaan Dini DBD sebanyak 4 kali melibatkan sektor terkait. Namun terdapat ”gap” pelaksanaan/penanganan KLB. bulan kewaspadaan DBD. (2) Pemberantasan Nyamuk Penular DBD terhdap nyamuk dewasa dan jentik nyamuk. dukungan dana surveilans tertolong oleh adanya subsidi dari Askeskin. PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT Pedoman surveilans dan KLB kurang operasional. penanggulangan fokus. Implementasi kebijakan penanggulangan DBD di Sulawesi Selatan antara lain (1) Kewaspadaan Dini. abatisasi. Pada pelaksanaan di Puskesmas. melalui pelatihan petugas kesehatan. (3) Penanggulangan KLB. (3) Peningkatan Sumber Daya Manusia. menghasilkan penemuan dan pelaporan penderita. sedangkan tahun 2004 jumlah KLB DBD sebanyak 88 kasus. pelatihan bagi pengelola program P2 DBD di 23 kab/kota. (2) Penanggulangan KLB menemukan jumah kasus KLB DBD tahun 2005 sebanyak 66 kasus. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 91 . Di kabupaten Lombok Tengah. kab/kota dan puskesmas. melalui penyuluhan. pemantauan jentik berkala di berbagai kabupaten endemis dengan sasaran masing-masing 100 rumah.LAPORAN AKHIR Materi yang disusun dalam Protap ini adalah langkah-langkah penanggulangan DBD sebagai berikut: (1) Kewaspadan Dini. pembinaan di 23 kab/kota. melalui penemuan dan pelaporan penderita. dan fooging massal. pengamatan bebas jentik dilakukan oleh murid-murid sekolah dan telah terbukti cukup efektif untuk dapat direflikasi di daerah lain. melakukan pelatihan tatalaksana DBD bagi dokter di rumah sakit pada daerah endemis. Dinkes Propinsi Nusa Tenggara Barat membuat pedoman operasional yang berisi ”step by step” metodologi penanggulangan DBD. dimana peran puskesmas sangat kecil karena dukungan dana dan personil sangat kecil.. terutma untuk insentif tenaga kesehatan dan kader. Surveilans dilaksanakan pada tingkat dinas kesehatan propinsi. penyuluhan intensif melalui media cetak dan elektronik. pemantauan jentik berkala.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful