LAPORAN Kajian Kebijakan Penanggulangan (Wabah) Penyakit Menular

(Studi Kasus DBD)

Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat

Deputi Bidang SDM dan Kebudayaan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional 2006

LAPORAN AKHIR

KAJIAN KEBIJAKAN PENANGGULANGAN (WABAH) PENYAKIT MENULAR
Studi Kasus DBD

DIREKTORAT KESEHATAN DAN GIZI MASYARAKAT BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL TAHUN 2006

Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular

LAPORAN AKHIR

Ringkasan Eksekutif
Kajian ini dilatarbelakangi adanya kecenderungan terus meningkatnya wabah penyakit menular di berbagai daerah di Indonesia. Selain penyakit menular yang telah lama ada, penyakit menular baru (new emerging diseases) juga menunjukkan peningkatan. Kebijakan penanggulangan wabah penyakit menular telah diatur dalam peraturan perundangan. Namun demikian implementasi di lapangan masih menghadapi berbagai permasalahan. Beberapa permasalahan yang teridentifikasi antara lain berkaitan dengan (1) pelaksanaan surveilans, (2) upaya penanggulangan, serta (3) adanya desentralisasi kewenangan pengelolaan. Berdasarkan hasil penelitian WHO Tahun 2003 dilaporkan bahwa pelaksanaan kegiatan surveilans masih menghadapi kendala antara lain berkaitan dengan (1) kebijakan sistem surveilans yang belum dipahami sampai ke petugas teknis di lapangan, (2) terbatasnya tenaga pelaksana surveilans, (3) adanya ketidaksesuaian kompetensi, (4) terbatasnya dana pelaksanaan surveilans di tingkat operasional, dan (5) belum optimalnya penggunaan sarana kesehatan dalam mendukung pelaksanaan surveilans penyakit seperti pemanfaatan laboratorium dan peralatan. Berdasarkan latar belakang tersebut, tujuan utama kajian adalah menyusun rumusan kebijakan penanggulangan wabah penyakit menular secara terpadu berdasarkan analisis faktor-faktor yang berpengaruh melalui (1) identifikasi kinerja surveilans, (2) identifikasi kinerja penanggulangan wabah penyakit , serta (3) identifikasi peran dan tanggungjawab Pemerintah Daerah. Metode kajian dilakukan melalui analisis diskriptif (kualitatif) berdasarkan data dan informasi yang didapat di lapangan, baik berbentuk data sekunder maupun hasil wawancana mendalam serta melakukan pembahasan dengan nara sumber dalam bentuk focus group discussion (FGD) dan workshop. Landasan pemikiran kajian didasarkan pada asumsi adanya hubungan timbal balik antara rendahnya kinerja surveilans dan kinerja penanggulangan dengan implementasi kebijakan wabah penyakit menular khususnya dalam kasus kebijakan penanganan penyakit DBD. Kinerja surveilans diukur dengan melihat (1) keberadaan peta rawan, (2) pelaksanaan diseminasi informasi DBD, dan (3) Pelaporan serta dengan melihat faktor-faktor berpengaruh mencakup (1) tenaga, (2) data, (3) sarana, (4) dana, dan (5) SOP. Kinerja Penanggulangan diukur dengan melihat (1) Frekuensi KLB, (2) Jumlah Kasus, (3) Jumlah Kematian, (4) Luas Daerah Terserang serta dengan melihat faktor-faktor berpengaruh mencakup (1) tenaga, (2) data, (3) sarana, (4) dana, dan (5) SOP. Implementasi kebijakan wabah penyakit menular juga dipengaruhi kebijakan desentralisasi kewenangan pengelolaan pembangunan. Kajian menyimpulkan bahwa kendala utama yang dihadapi dalam implementasi kebijakan penanggulangan wabah penyakit menular dalam kasus DBD adalah (1) koordinasi antar instansi dan antar unit yang bertanggung jawab dalam penanganan DBD masih belum optimal, khususnya dalam pelaksanaan surveilans dan penanggulangan DBD, (2) koordinasi antara pusat dan daerah belum dilandasi suatu kebijakan operasional yang jelas tentang kewenangan dan tanggung jawab masingmasing, (3) sistem pengelolaan program penanganan penyakit menular masih didominasi pusat, (4) tingginya beban puskesmas sebagai unit operasional utama di lapangan dalam implementasi kebijakan penanggulangan wabah penyakit menular. Indikator Kinerja Surveilans dan Penanggulangan mencakup (1) Peta rawan, hampir semua dinkes propinsi maupun dinkes kab/kota memiliki peta rawan, sedangkan di Puskesmas sebagai unit pelayanan dasar dan rumah sakit sebagai unit pelayanan rujukan, peta rawan tidak selalu tersedia, (2) proses diseminasi informasi dilakukan
Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular ii

(4) Jumlah Kasus periode 2003-2005 cenderung stagnan untuk propinsi lokasi kajian (kecuali Jatim meningkat). Dana menjadi persoalan dalam implementasi kebijakan penanggulangan penyakit menular. dana untuk pelaksanaan penanggulangan wabah penyakit menular dirasakan pihak daerah mencukupi. Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular iii . Baik APBD propinsi maupun APBD kabupaten/kota atau APBD sharing. Dana yang digunakan untuk penanggulangan KLB berasal dari APBN (Dekon) dan APBD. kualifikasi pendidikan yang belum sesuai. Tidak ada batas yang tegas yang membedakan antara Surveilans dan Penanggulangan dalam praktek operasional di lapangan. Pemahaman tentang surveilans dan penanggulangan KLB masih belum sama. Upaya yang dilakukan Dinas Kesehatan Propinsi maupun kabupaten/kota dalam rangka peningkatan kemampuan adalah pembinaan teknis. (3) sistem pelaporan ditunjukkan dengan kelengkapan laporan mencapai 90-100%. Tenaga. tetapi tidak menjadi kendala dalam berjalannya sistem. Dana. Operasi lapangan untuk suatu kasus (DBD) serentak dilakukan. Bidang pendidikan yang ada adalah perawat. (2) ada masa ketiadaan anggaran. Pengetahuan. (4) SOP. (5) sarana. khusus untuk KLB tersedia block grant dari pusat. Pengadaan insektisida dan mesin fogging di supply oleh Dinkes Propinsi karena kab/kota belum siap. Untuk tingkat kabupaten/kota. Struktur organisasi Dinkes propinsi maupun Kab/Kota tidak menggambarkan pembedaan kedua tugas tersebut. Namun demikian kebanyakan SOP tersebut belum operasional. dan (6) data. Case Fatality Rate (CFR) DBD fluktuatif. pengetahuan tim pada umumnya dipenuhi dari pengalaman lapangan dalam penanganan P2M. baik di tingkat propinsi maupun kabupaten (baru bersifat pengumpulan data). dan (3) proporsi anggaran untuk preventif dan kuratif yang tidak seimbang. dan epidemiologi. belum dilakukan. Dana operasional selain bersumber dari dana operasional umum juga memanfaatkan dana JPK-MM. Data. Ketepatan dan kelengkapan laporan dari kabupaten masih rendah. hampir semuanya menggunakan dana APBD. Hampir semua unit pelayanan kesehatan di daerah memiliki pedoman dan peraturan dalam rangka pelaksanaan surveilans dan penanggulangan DBD. Permasalahan dana terutama berkaitan dengan (1) keterlamabatan turunnya DIPA. mengadakan pertemuan/ lokakarya. Validitas data yang dilaporkan tidak pernah dipermasalahkan. sedangkan data kematian cenderung meningkat. Sehingga untuk SKDKLB data yang seharusnya dapat dilihat/diprediksi diawal untuk kewaspadaan terjadinya KLB. khususnya ketika kasus terjadi. Puskesmas tidak memiliki alokasi dana khusus untuk kegiatan surveilans. beban kerja yang tinggi merupakan masalah yang hampir ditemukan disemua tingkatan. perpindahan yang begitu cepat. (3) dana.LAPORAN AKHIR melalui penerbitan buletin kajian epidemiologi yang diterbitkan oleh dinkes propinsi dan dinkes kabupaten/kota. Di rumah sakit tidak terdapat dana surveilans. Hampir semua level baik di propinsi hingga kabupaten/kota termasuk puskesmas dan rumah sakit mengalami masalah ketenagaan dalam kegiatan surveilans dan penanggulangan. Selain pelatihan formal. Sarjana (SKM) dan MKes. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kinerja surveilans dan penanggulangan terkait dengan (1) tenaga. Sarana. Pendidikan rata-rata perawat. Walaupun kondisi sarana dan prasarana untuk kegiatan penanggulangan penyakit menular tidak selalu memadai. yang ada hanya pencatatan pelaporan yang dilakukan di bagian rekam medis. Kualitas dan kualifikasi masih belum terpenuhi sesuai dengan bidang tugas dan kompetensinya. (2) pengetahuan. Beberapa dinkes kabupaten/kota inisiatif melakukan modifikasi terhadap SOP yang dibuat Depkes. namun ketepatannya masih 60%. Data yang ada belum dilakukan analisis. Propinsi belum mempunyai sistem peringatan ke kabupaten bila terjadi keterlambatan atau ketidak lengkapan data. SOP. rakor dan melakukan berbagai pelatihan di bidang surveilans maupun penangulangan penyakit. Pada tingkat propinsi. Sarana utama yang dibutuhkan dalam penanganan kasus DBD adalah adanya mesin fogging serta insektisida. Kurangnya jumlah SDM.

malalui (i) Peningkatan dukungan dana yang memadai dari APBN maupun APBD. surveilans epidemiologi dan penanggulangan KLB/wabah. (iii) Peningkatan kualitas sistem pelaporan melalui ketepatan data. Gubernur. Penanggulangan DBD di Rumah sakit relatif tidak masalah. Pengobatan dan isolasi penderita dirujuk ke rumah sakit. yang paling menonjol adalah penanggulangan (PE). Komitmen daerah dalam penyediaan anggaran (APBD) untuk penanganan wabah penyakit menular belum optimal. serta pelaporan (evaluasi). (3) Surveilans mulai diperlukan ketika ada kasus. (ii) Penyempurnaan SOP sesuai “local specific”. (10) Diperlukan dukungan dalam bentuk peraturan perundangan dalam meningkatkan komitmen para pihak di daerah dalam rangkan pencegahan dan penanggulangan DBD. Bupati/Walikota . PE tidak dilakukan maksimal sesuai prosedur yang ada. analisis. Permasalahan operasional penanganan DBD juga dipengaruhi oleh sistem kepemerintahan yang belum sepenuhnya dapat mengakomodasi sistem perencanaan dan sistem keuangan yang baru. dekonsentrasi maupun tugas perbantuan). validasi dan pengembangan “respond system”. kecuali kalau ada kasus KLB yang menyebabkan sarana TT tidak mencukupi. Hal ini berkaitan dengan masih cukup besarnya alokasi dana yang berasal dari APBN (dalam bentuk DAU. akibatnya kegiatan tindak lanjut yang seharusnya dilakukan tidak berjalan. Pengobatan dapat dilakukan dengan baik kecuali kalau ada keterlambatan datang ke sarana pengobatan dan akibat terlambat merujuk. (9) Membangun dan mengembangkan kemitraan. sebagai suatu kegiatan rutin. (2) Aktivitas surveilans dilakukan oleh Tim Lapangan. bukan sebaliknya pemerintah daerah yang aktif meminta informasi. (4) Memperkuat kapasitas dan kapabilitas Puskesmas sebagai unit terdepan dalam operasionalisasi surveilans dan penanggulangan wabah penyakit menular. (6) Meningkatkan kemampuan tenaga pengendalian penyakit untuk melakukan pencegahan dan penanggulangan faktor risiko. dan evaluasi kegiatan pencegahan dan penanggulangan faktor resiko. hal ini tampak dari keaktifan instansi kesehatan dalam penyebaran informasi kesehatan. belum tertata dalam sebuah sistem yang aktif dan terstruktur. (iv) Optimalisasi penggunaan sarana dan prasarana dengan melibatkan peran aktif masyarakat. jejaring kerja informasi dan konsultasi teknis peningkatan komunikasi informasi dan edukasi (KIE) pencegahan dan pemberantasan penyakit. Keperdulian pemerintah daerah masih belum terlihat. advokasi. promosi dan koordinasi. keterbatasan dana. sarana dan dana. pelaksanaan (monitoring). (2) Percepatan penyusunan kebijakan operasional dalam koordinasi pelaksanaan program antar pusat daerah yang mencakup aspek perencnaaan. (11) Diperlukan model manajemen pemberantasan penyakit dan penyehatan lingkungan secara terintegrasi yang berbasis wilayah kabupaten/kota dalam perspektif Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular iv . tidak setiap kasus DBD ditindaklnajuti dengan PE karena DBD dianggap kasus rutin. (3) Mengurangi secara bertahap dominasi peran pengelolaan program oleh pusat melalui pendelegasian kewenangan ke daerah serta peningkatan profesionalisme pengelola program di daerah. karena tidak seimbang antar area yang harus dipantau dengan kemampuan sumberdaya yang tersedia. baik pada internal sektor maupun lintas sektor. namun belum maksimal. Banyak kendala. Rekomendasi kajian yang diusulkan mencakup (1) Peningkatan koordinasi antar instansi dan antar unit dalam berbagai tingkatan dalam penanganan wabah penyakit menular yang dilakukan oleh Menko Kesra. ketiadaan sarana. (7) Melakukan bimbingan. dan sistem kewaspadaan dini (early warning system). Penyelidikan Epidemiologi (PE) yang dilakukan Puskesmas belum maksimal. (8) Membangun dan mengembangkan kemitraan dan jejaring kerja informasi dan konsultasi teknis pencegahan dan penanggulangan faktor resiko. Namun pada saat kasus.LAPORAN AKHIR Kondisi umum Pelaksanaan Surveilans dan Penanggulangan DBD: (1) Ujung tombak pelaksanaan surveilans ada di Puskesmas. pemantauan. namun belum maksimal melaksanakan surveilans karena keterbatasan tenaga. (5) Meningkatkan peran dan tanggung jawab Pemerintah Daerah melalui intensifikasi kegiatan sosialisasi. antara lain keterbatasan tenaga. Koordinasi penanganan kasus masih bersifat sporadis.

dibuat sesederhana mungkin agar memudahkan pelaksanaan operasional tenaga lapangan dan distribusikan. Dukungan pendanaan serta tenaga dan sarana dalam rangka pelaksanaan operasional pencegahan dan penanggulangan (preventif. (5) SOP. Sebagai perangkat utama Kesehatan. (4) Ketenagaan. Puskesmas perlu diperkuat dengan kapasitas manajemen pelayanan untuk kegiatan yang bersifat promotif. (2) Pendanaan.LAPORAN AKHIR komprehensif. Keberadaan data dan informasi yang akurat dan sinambung menjadi salah satu indikator kinerja pembangunan kesehatan. dan rehabilitatif. mendorong terbangunnya motivasi dan komitmen para pelaksana pembangunan kesehatan di lapangan sebagai ujung tombak pembangunan kesehatan. (3) Data dan Informasi. preventif. perlu terus dikembangkan pola pendanaan sistem jaminan kesehatan seperti askeskin sehingga kepastian dana sampai kepada masyarakat terjamin. Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular v . perlu di kelola secara profesional dan berkesinambungan dengan memanfaatkan teknologi yang tepat dan mudah diaplikasikan serta dimungkinkan adanya Pusat Informasi Penanaganan DBD (DBD Center). sekaligus menjamin setiap masyarakat terlayani untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. diperlukan revitalisasi peran kelembagaan khususnya kelembagaan Puskesmas. Motivasi dankomitmen selain muncul atas kesadaran memerlukan dukungan eksternal dalam bentuk insentif. selain kuratif. Serta didukung jaringan dan kerjasama erat baik antar wilayah dan adimistrasi pemerintah maupun diantara para pelaku pemberantasan penyakit menular dan penyehatan lingkungan itu sendiri dalam satu wilayah. promotif dan rehabilitatif) menyertai peran dimaksud secara memadai. Implikasi Kebijakan dan Rencana Tindak Lanjut mencakup aspek-aspek: (1) Kelembagaan.

MPM 5. anggota FGD. SKM 8. Banyak hal telah didapat dari pelaksanaan kajian ini. MS 7. Hasil kajian ini jelas belum menggambarkan kondisi utuh pelaksanaan kabijakan sehingga langkah kebijakan yang diambil pun tidak luput dari bias dari peneliti dan pengkaji.LAPORAN AKHIR KATA PENGANTAR Dengan memanjat puji dan syukur pada Allah SWT. Dadang Rizki Ratman. Ucapan terima kasih pada seluruh pihak yang telah memberikan kontribusi pada pelaksanaan kajian ini mulai dari tim perumus rekomendasi kebijakan. tidak saja dalam bentuk temuan tetapi juga pengalaman proses pelaksanaan survey lapangan yang dilakukan sampai ke tingkat Puskesmas dan pelosok masyarakat untuk melakukan wawancara dan diskusi. penyakit menular baru (new emerging diseases) juga menunjukkan peningkatan. DR. SH. Hasil temuan dan kesimpulan dirumuskan menjadi suatu rekomendasi kebijakan yang diharapkan dapat memperbaiki kebijakan dalam penanggulangan wabah penyakit menular. Inti Wikanestri. Ir. Dinas Teknis terkait. khususnya Subdit Arbovirosis. Perguruan Tinggi. Jakarta. MPH 2. Selanjutnya berdasarkan rekomendasi yang dirumuskan. Pelaksanaan kajian telah melibatkan Deputi bidang SDM dan Kebudayaan Bappenas. MPA 4. Tiada gading yang tak retak. masyarakat serta FGD dari Bappenas. Selain penyakit menular yang telah lama ada. ME 6. Desember 2006 Tim Perumus Rekomendasi Kebijakan 1. SKM. Kajian ini dilatarbelakangi adanya kecenderungan terus meningkatnya wabah penyakit menular di berbagai daerah di Indonesia. khususnya kasus Demam Berdarah dengue (DBD). Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat serta seluruh staf di lingkungan Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas serta melibatkan nara sumber dari Departemen Kesehatan. Pemerintah Daerah. Arum Atmawikarta. Pungkas Bahjuri Ali. STP. serta responden di dinas kesehatan propinsi dan dinas kesehatan kabupaten/kota. SP. Mudah-mudahan laporan kajian ini memliki kontribusi substansial bagi penataan kebijakan di bidang kesehatan maupun menjadi salah satu referensi bagi penelitian kebijakan selanjutnya maupun untuk kepentingan bersifat akademis. Unuk itu saran dan masukan guna penyempurnaan hasil kajian ini secara terbuka dinantikan. Kasus penyakit menular dalam kajian ini adalah Demam Berdarah Dengue (DBD). Nurlaili Aprilianti Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular vi . dibuat implikasi kebijakan yang harus menjadi langkah tindak lanjut. Namun demikian implementasi di lapangan masih menghadapi berbagai permasalahan. para nara sumber. Kebijakan penanggulangan wabah penyakit menular telah diatur dalam peraturan perundangan. Sularsono. bappeda serta masyarakat. akhirnya Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular dapat diselesaikan tepat pada waktunya. MA 3. DR. Yosi Diani Tresna. baik di di tingkat kebijakan makro (RKP) maupun dalam bentuk kebijakan teknis yang perlu di tindak lanjuti oleh departemen/instansi teknis maupun instansi terkait lainnya. khususnya dalam penanganan kasus demam berdarah. Hadiat.

4 1.3 2.4 2.5 1.5 Tujuan dan Sasaran – 5 Keluaran Kajian .1 1.6 BAB 2 : LANDASAN TEORI .27 3.1 2.5 2.1 Implementasi Kebijakan Penanggulangan DBD – 33 4.6 2.1.4 3.3 1.5 3.2 2.2 1.6 Ruang Lingkup Kajian .8 2.i Kata Pengantar .1 Perumusan Masalah .33 4.1.2 Faktor-faktor Berpengaruh terhadap Kinerja Surveilans dan Kinerja Penangulangan KLB – 46 (1) Tenaga .2 Kebijakan Penanggulangan Penyakit DBD – 35 4.3 3.46 (2) Dana – 51 (3) Standar Operasi dan Prosedur – 53 (4) Data – 56 (5) Sarana – 57 vii 4.2 Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular .Tatalaksana Penanggulangan DBD – 23 .LAPORAN AKHIR DAFTAR ISI Ringkasan Eksekutif .2.1.2.2 3.vi BAB 1 : PENDAHULUAN .8 2.6 Sistematika Penulisan .3 Kendala Penanggulangan DBD – 41 Kinerja Surveilans dan Penanggulangan DBD – 41 4.7 2.Kendala Pencegahan DBD – 21 .9 Penyakit Menular di Indonesia – 8 Surveilans Epidemiologi – 8 Kebijakan Sistem Surveilans – 10 Indikator Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan – 11 Penanggulangan Wabah Penyakit Menular – 14 Epidemiologi Global Penyakit – 16 Strategi Pengendalian Penyakit – 18 Kejadian Luar Biasa – 18 Penyakit Demam Berdarah – 20 .1 1.1 Incidence Rate (IR) dan Case Fatalities Rata (CFR) – 33 4.6 Kerangka Pemikiran – 27 Disain Kajian .1 3.29 Jenis dan Sumber Data – 30 Responden Kajian – 31 Lokasi Kajian – 32 Teknik Analisis – 32 BAB 4 : HASIL DAN PEMBAHASAN .25 BAB 3 : METODOLOGI .6 Latar Belakang .1 Indikator Kinerja Surveilans dan Penanggulangan KLB – 42 4.Peran Masyarakat dalam Penanggulangan DBD .

3 Koordinasi Antar Sektor – 63 BAB 5 : KESIMPULAN DAN REKOMENDASI KEBIJAKAN .1 Kewenangan Daerah dan Stndar Pelayanan Minumum – 59 4.1 Kesimpulan – 65 5.3 Implikasi Kebijakan .LAPORAN AKHIR 4.3 Peran dan Tanngung Jawab Pememrintah Daerah dalam Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit DBD – 59 4.3.3.2 Rekomendasi Kebijakan – 68 5.70 DAFTAR LAMPIRAN LAMPIRAN 1: Instrumen Kajian – 72 LAMPIRAN 2: Pelaksanaan Kegiatan dan Pembahasan – 76 LAMPIRAN 3 : Struktur Organisasi/Tim Pelaksana LAMPIRAN 4: Notulen Pembahsan Dengan Tim Pakar – 81 LAMPIRAN 5 : Pokok-Pokok Pikiran Hasil Ekspose dengan Tim Ahli – 83 LAMPIRAN 6 : Laporan Pelaksanaan Survey – 86 Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular viii .68 DAFTAR PUSTAKA .65 5.3.2 Peran Pemerintah Daerah Dalam Penanggulangan DBD – 61 4.

Dnkes Kab/Kota.LAPORAN AKHIR DAFTAR TABEL Tabel 1.2 Tabel 4.1 Tabel 3.10 Tabel 4. Kab/kota.7 Tabel 4.14 Tabel 4. RS dan Puskesmas – 55 : Distribusi Ketersediaan Data Surveilans di Dinkes Propinsi. Kab/Kota.1 Tabel 4.9 Tabel 4.4 Tabel 4. RS dan Puskesmas – 54 : Distribusi Ketersediaan SOP Penanggulangan KLB di Propinsi.15 : Sepuluh Penyakit Utama Pada Pasien Rawat Inap Tahun 2003 – 2 : Target dan Capaian Pemberantasan Penyakit DBD .13 Tabel 4. RS dan Puskesmas – 58 : Distribusi Ketersediaan Sarana Penanggulangan di Dinkes Propinsi. RS dan Puskesmas – 57 : Distribusi Ketersediaan Sarana Surveilans di Dinkes Propinsi.1 Tabel 4. Dikes Kab/Kota.5 Tabel 4.4 : Indikator Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan – 12 : Responden Kajian – 31 : Distribusi Indikator Kinerja Surveilans di Dinkes Propinsi. RS dan Puskesmas – 58 : Daftar KW dan SPM Bidang Kesehatan – 60 Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular ix .3 Tabel 4. RS dan Puskesmas – 44 : Distribusi Jenis Tenaga di Dinkes Propinsi dan Kab/Kota – 47 : Distribusi Jenis Tenaga di Rumah Sakit dan Puskesmas – 48 : Persepsi Responden Tentang Surveilans DBD – 49 : Persepsi Responden Tentang Penanggulangan DBD – 50 : Distribusi Sumber Dana di Dinkes Propinsi dan Kab/Kota – 51 : Distribusi Sumber Dana di Rumah Sakit dan Puskesmas – 52 : Distribusi Ketersediaan SOP Surveilans dan Dinkes Propinsi. Kab/Kota.12 Tabel 4.1 Tabel 1.11 Tabel 4. Rs dan Puseksmas – 42 : Distribusi Indikator Diseminasi Informasi Surveilans di Dinkes Propinsi.6 Tabel 4. Kab/Kota . Dinkes Kab/Kota.2 Tabel 2.8 Tabel 4. Kab/Kota . RS dan Puskesmas – 56 : Distribusi Ketersediaan Data Penanggulangan KLB Propinsi.

LAPORAN AKHIR DAFTAR GAMBAR Gambar 2.2 Gambar 2.1 Gambar 3.1 Gambar 2.4 Gambar 4.5 Gambar 4.3 Gambar 4.7 : Alusr Distribusi Data Surveilans Terpadu Penyakit – 10 : Skema Program Penanggulangan KLB – 15 : Bagan Penanggulangan Fokus (Penanggulangan Penderita DBD di Lapangan) – 24 : Kerangka Pikir Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular – 27 :Kerangka Konsep Kinerja Surveilans – 28 : kerangka Konsep Kinerja Penanggulangan – 28 : Tahapan Pelaksanan Kajian – 32 : IR & CFR DBD Tahun 1968-2004 – 33 : Perkembangan Kasus DBD Nasional Per bulan – 34 : Kasus DBD Per Bulan di Indonesia.2 Gambar 3.2 Gambar 4.4 Gambar 4.6 Gambar 4.1 Gambar 4.3 Gambar 3.3 Gambar 3. Tahuan 2005-20006 – 34 : Jumlah Kasus DBD di Indonesia Tahun 2005-2006 – 35 : Data Kasus DBD di Lokasi Kajian – 44 : Data Kematian DBD di Lokasi Kajian – 45 : Case Fatality Rate (CFR) DBD di Lokasi Kajian – 46 Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular x .

Mengubur ABJ : Angka Bebas Jentik APBN : Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara APBD : Anggaran Penerimaan dan Belanja Daerah Askeskin : Asuransi Kesehatan Masyarakat Miskin Bappeda : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Bappenas : Badan Perencanaan Pembangunan Nasional COMBI : Communication for Behavioral Impact CFR : Case Fatality Rate DAU : Dana Alokasi Umum DBD : Demam Berdarah Dengue Dekon : Dekonsentrasi DOP : Dana Operasional Puskesmas DPRD : Dewan Perwakilan Daerah Epidemiologi : Ilmu yang mempeljari penyebaran penyakit dan faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit pada manusia Epidemiologis: Orang yang ahli dalam ilmu epidemiologi FGD : Focused Group Discussion Gakin : Keluarga Miskin HIV/AIDS : Human Immuno deficiency Virus/Acquired Immuno Deficiency Syndrome IPTEK : Ilmu Pengetahuan dan Teknologi IR : Incidence Rate ISPA : Infeksi Saluran Pernafasan Akut JPK-MM : Jaminan Pelayanan Kesehatan Masyarakat miskin KIE : Komunikasi. Menutup. Informasi dan Edukasi KLB : Kejadian Luar Biasa LSM : Lembaga Swadaya Masyarakat MDGs : Millennium Development Goals P2B2 : Penanggulangan Penyakit Bersumber Binatang P2M : Pemberantasan Penyakit Menular PE : Penyelidikan Epidemiologi PHBS : Pola Hidup Bersih dan Sehat PI : Perencanaan dan Informasi PJB . Pemeriksaan Jentik Berkala PKK : Pembinaan Kesejahteraan Kelaurga PKPS-BBM : Program Kompensasi Pengurangan Subsidi Bahan Bakar Minyak Pokjanal : Kelompok Kerja Operasional Posyandu : Pos Pelayanan Terpadu PP & PL : Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan PSN : Pemberantasan Sarang Nyamuk Puskesmas : Pusat Kesehatan Masyarakat RSUD : Rumah Sakit Umum Daerah SARS : Severe Acute Respiratory Syndrome SKD-KLB : Sistem Kesiapan Dini Kejadian Luar Biasa SOP : Standar Operasional Prosedur SDM : Sumber Daya Manusia SKM : Sarjana Kesehatan Masyarakat Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular xi .LAPORAN AKHIR DAFTAR SINGKATAN & DEFINISI ISTILAH 3M : Menguras.

yang melebihi keadaan biasanya : World Health Organization : Pelayanan Medik Kajian Kebijakan Penanggulangan Wabah Penyakit Menular xii .LAPORAN AKHIR SPIRS SP2PT SST STP Surveilans TBC TPA UGD UKS UPT Wabah WHO Yanmedik : Sistem Pelaporan Rumah Sakit : Sistem Pencatatan Pelaporan Terpadu Puskesmas : Sistem Surveilans Terpadu : : Rangkaian kegiatan secara teratur dan terus menerus. dan menginterpretasi suatu fenomena peristiwa kesehatan pada manusia/masyarakat tertentu yang hasilnya dipakai untuk melakukan tindakan terhadap peristiwa kesehatan tersebut : Tuberculosis : Tempat Penampungan Air : Unit Gawat Darurat : Usaha Kesehatan Sekolah : Unit Pelaksanan Teknis : Suatu peningkatan kejadian kesakitan dan atau kematian suatu penyakit di suatu tempat tertentu. mengumpulkan. emnganalisis. secara aktif maupun pasif dalam mengamati.

Malaysia. Jika dibandingkan dengan negara-negara ASEAN seperti Thailand. Masalah kesehatan dapat disebabkan oleh berbagai sebab.BAB 1 PENDAHULUAN 1. serta pada penduduk dengan tingkat ekonomi dan pendidikan rendah. Disparitas status kesehatan masih cukup tinggi. Kondisi Umum Pembangunan Kesehatan Pembangunan kesehatan di Indonesia ditujukan untuk meningkatkan kesadaran. Pembangunan kesehatan selama ini secara umum dapat dilihat dari status kesehatan dan gizi masyarakat yang telah menunjukkan perbaikan seperti terlihat dari angka kematian bayi. Di samping kemajuan yang telah dicapai di atas. antar kawasan. di masa datang pembangunan kesehatan menghadapi berbagai permasalahan dan tantangan yang cukup berat. status kesehatan masyarakat Indonesia masih tertinggal.4 persen (1999) menjadi 25. yang berkaitan dengan pembangunan kesehatan di Indonesia antara lain adalah: (1) mengurangi separuh penduduk yang mengalami kelaparan.000 kelahiran hidup (2002-2003). (4) menekan penyebaran penyakit HIV/AIDS. dan (7) mengurangi separuh proporsi penduduk yang tidak memiliki akses terhadap penyediaan air bersih. dan Philipina. Selain itu. Umur harapan hidup meningkat dari 65.8 tahun (1999) menjadi 66. dan antar perkotaan-perdesaan. MDGs merupakan suatu kesepakatan global. AKB dan AKI lebih tinggi di daerah perdesaan. Angka kematian bayi menurun dari 46 (1997) menjadi 35 per 1. kematian ibu melahirkan dan prevalensi gizi kurang.1 Latar Belakang a. (2) mengurangi dua per tiga angka kematian bayi dan angka kematian balita. Prevalensi gizi kurang (underweight) pada anak balita. baik ditinjau dari tingkat sosial ekonomi. kemauan. di kawasan timur Indonesia. sebagai “benchmarks” untuk mengukur perkembangan dalam pencapaian Deklarasi Millenium 2000. (6) meningkatkan akses terhadap obat esensial. Beberapa target MDG yang ingin dicapai pada akhir tahun 2015.000 kelahiran hidup (2002–2003) dan angka kematian ibu melahirkan menurun dari 334 (1997) menjadi 307 per 100. memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata.8 persen (2002). telah menurun dari 34.2 tahun (2003). (5) menekan penyebaran penyakit malaria dan TBC. oleh karena itu secara operasional masalah-masalah kesehatan tidak dapat diselesaikan oleh Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular . (3) mengurangi tiga per empat angka kematian ibu. indikator kesehatan dan gizi yang telah dicapai selama ini masih jauh dari sasaran yang telah ditargetkan dalam Millennium Development Goals (MDGs). yang ditandai dengan penduduknya yang hidup dengan perilaku dan dalam lingkungan sehat. kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.

b. Diperlukan tatalaksana terintegrasi dan komprehensif dengan kerjasama yang harmonis antar sektor dan antar program. Penyakit Menular Penyakit menular masih merupakan masalah utama kesehatan masyarakat Indonesia. Penyakit menular tidak mengenal batas-batas daerah administratif.7 5 Cedera intrakanial 2.0 6 Tuberkulosis paru 1.1 Sepuluh Penyakit Utama Pada Pasien Rawat Inap Tahun 2003 No Pasien Rawat inap % 1 Diare dan gastroenteritis infeksi tertentu 8.9 4 Demam tifoid dan paratifoid 2. Tidak ada obat untuk penyakit polio. malaria.6 Salah satu penyakit menular yang akhir-akhir ini menonjol adalah munculnya kasus polio di beberapa wilayah seperti Provinsi Jawa Barat. Satu dari 200 kasus infeksi virus akan menyebabkan kelumpuhan. Untuk itu perlu dikembangkan subsistem surveilans epidemiologi kesehatan yang terdiri dari Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular.0 2 Demam berdarah dengue 3.9 7 Demam yang sebabnya tidak tahu 1. demam berdarah dengue. hewan dan lain-lain antar Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 2 . Banten. Berbagai emerging diseases misalnya polio dan flu burung dapat terjadi antara lain karena tingginya mobilitas penduduk antar negara. dan Surveilans Epidemiologi Kesehatan Matra.8 10 Pneumonia 1. sehingga pemberantasan penyakit menular memerlukan kerjasama antar daerah. Beberapa penyakit menular yang menjadi masalah utama di Indonesia adalah diare. misalnya antar propinsi.LAPORAN AKHIR sektor kesehatan sendiri. 5-10 % pasien meninggal akibat kelumpuhan pada otot pernafasan. Tabel 1.9 8 Diabetes Melietus 1.9 9 Cedera YDT lainnya.7 3 Penyakit kehamilan dan persalinan lainnya 2. Surveilans Epidemiologi Masalah Kesehatan. kabupaten/kota bahkan antar negara. Polio merupakan penyakit menular yang sangat berbahaya disebabkan oleh virus yang menyerang sistem syaraf dan bisa menyebabkan kelumpuhan total. tifus abdominalis. Jawa Tengah. Dengan demikian penularan penyakit antar negara (trans-nasional) ini dapat terjadi dengan mudah mengingat semakin mudahnya transportasi manusia. YYT dan daerah badan multiple 1. Lampung dan Sumatera Selatan. penyakit saluran pencernaan dan penyakit lainnya. Penyakit ini hanya bisa dicegah dengan imunisasi. disamping mulai meningkatnya masalah penyakit tidak menular. Surveilans Epidemiologi Penyakit Tidak Menular. influenza.

serta diabetes mellitus dan kanker.3 persen.938 orang dengan angka kematian 1. Meskipun dibandingkan dengan KLB 1968 angka kematiannya jauh telah menurun. infeksi saluran pernafasan akut (ISPA). Namun demikian. chikunguya. pada waktu yang bersamaan terjadi peningkatan penyakit tidak menular seperti penyakit jantung dan pembuluh darah. Peraturan tersebut pada intinya mengatur (1) tata cara penetapan dan pencabutan penetapan daerah wabah . tetapi bahkan semakin mewabah. Daerah endemis tersebar di sebagian besar wilayah Indonesia.3 persen). kejadian luar biasa (KLB) DBD di Indonesia telah menyerang 39. (6) pembiayaan penanggulangan wabah. (3) peran serta masyarakat. Oleh karena itu perlu upaya ekstra agar penularan dapat dicegah dan ditangani sedini mungkin.3 persen). (4) pengelolaan bahan-bahan yang mengandung penyebab penyakit. Pola penyakit yang diderita oleh masyarakat sebagian besar adalah penyakit infeksi menular seperti tuberkulosis paru. sosial ekonomi dan perilaku. DBD bukannya terkendali. Meskipun sudah lebih dari 35 tahun berada di Indonesia. yaitu UU No 4 Tahun 1984 tentang Penyakit Menular serta Peraturan Pemerintah No. dan berulang kali menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) disertai kematian yang banyak. Salah satu penyakit menular yang merupakan masalah kesehatan masyarakat dan menimbulkan dampak sosial maupun ekonomi adalah penyakit demam berdarah dengue (DBD). demografi.000 penduduk pada tahun 2010. Thailand (0. (5) ganti rugi dan penghargaan. (2) upaya penanggulangan. 40 tahun 1991 tentang Penanggulangan Penyakit Menular. Dengan demikian telah terjadi transisi epidemiologi sehingga Indonesia menghadapi beban ganda pada waktu yang bersamaan (double burden).1 persen).000 penduduk. Dalam KLB 2004 tercatat angka kejadian (incidence rate) 15 per 100. dengan keterlibatan petugas kesehatan maupun pemberdayaan masyarakat. Berbagai penelitian mengenai faktor risiko terhadap kejadian DBD telah dilakukan oleh beberapa peneliti dengan memberikan hasil yang selaras maupun yang kontradiktif. Kebijakan penanggulangan penyakit menular khususnya dalam penanggulangan wabah telah diatur dalam bentuk peraturan perundangan. Indonesia juga menghadapi emerging diseases seperti demam berdarah dengue (DBD).2 persen). serta (7) pelaporan. DBD masih sulit diberantas karena tidak tersedianya vaksin dan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 3 . pada umumnya kajian menunjukkan bahwa pengendalian DBD perlu dilakukan secara komprehensif dari berbagai aspek baik medis maupun sosial. sebenarnya angka kematian masih terlalu tinggi jika dibandingkan dengan Singapura (0. HIV/AIDS. Malaysia (0. malaria. dan Filipina (1 persen). Penyakit yang ditularkan melalui nyamuk Aedes aegypti ini dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti lingkungan domestik maupun iklim. diare. India (0. padahal tujuan program pemberantasan DBD dalam Indonesia Sehat 2010 adalah menurunkan angka kejadian di bawah 5 per 100. polio dan penyakit kulit. Walaupun demikian. Penyakit DBD merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di wilayah tropis.LAPORAN AKHIR negara.9 persen). Sejak Januari sampai 17 Maret 2004. Vietnam (0. Severe Acute Respiratory Syndrom (SARS) dan Flu Burung.

rasio penderita DBD per 100. Kendala yang dihadapi antara lain berkaitan dengan (1) kebijakan sistem surveilans yang belum dipahami sampai ke petugas teknis di lapangan. Meskipun demikian. Pemerintah sejak tahun 1993 telah berusaha membina peran serta masyarakat melalui berbagai kelompok kerja pemberantasan DBD di desa atau kelurahan.000 penduduk selama periode tahun 2001-2005 selalu menunjukkan diatas rasio yang ditargetkan. entomologi.LAPORAN AKHIR kurangnya peran serta masyarakat. Beberapa permasalahan yang teridentifikasi antara lain berkaitan dengan (1) pelaksanaan surveilans. serta (3) adanya desentralisasi kewenangan pengelolaan.2 Target dan Capaian Pemberantasan Penyakit DBD TARGET DAN CAPAIAN PEMBERANTASAN DBD 60 RASIO 40 20 0 Target Realisasi 2001 5. Berdasarkan hasil penelitian WHO Tahun 2003 dilaporkan bahwa pelaksanaan kegiatan surveilans masih menghadapi kendala. Namun demikian implementasi di lapangan masih menghadapi berbagai permasalahan.31 Sumber: Ditjen PP & PL Depkes. Data ini selain menunjukkan kecenderungan makin tingginya penderita DBD dari tahun ke tahun. saat ini perkembangan vaksin masih memerlukan penelitian lebih lanjut agar dapat digunakan ke manusia. Gerakan pemberantasan sarang nyamuk dengan instrumen 3M (menguras.7 21.1 2005 10 43. dan mengubur) sudah sering disosialisasikan namun hasilnya belum menggembirakan. menutup. Gerakan 3M selama 30 menit setiap minggu juga dicanangkan.25 2003 4. dan sikap masyarakat. (2) upaya penanggulangan. Berdasarkan data Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan.34 TAHUN 2004 4 37.5 24. Ketiadaan vaksin merupakan penghambat utama eradikasi DBD. juga masih belum optimalnya pengendalian penyakit yang dilakukan oleh Pemerintah.66 2002 5 19. (2) terbatasnya tenaga pelaksana Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 4 . pengetahuan. Semuanya menyadari bahwa strategi hanya dapat diperoleh dengan melaksanakan analisis situasi berdasarkan aspek epidemiologi. Tabel 1. 2006 Kebijakan penanggulangan penyakit menular telah diatur dalam peraturan perundangan.

Faktor-faktor apa saja yang mwempengaruhi kinerja surveilans dan penaggulangan penyakit menular ? 2. (4) terbatasnya dana pelaksanaan surveilans di tingkat operasional. Tujuan khusus : 1.LAPORAN AKHIR surveilans.3 Tujuan dan Sasaran Tujuan Tujuan utama kajian adalah menyusun rumusan kebijakan penanggulangan penyakit menular secara terpadu berdasarkan analisis faktor-faktor yang berpengaruh dalam pelaksanaan kebijakan penanggulangan penyakit menular di pusat dan daerah. adanya regulasi pemerintahan dalam bentuk UU No. Reformasi pemerintahan tersebut memberi dampak perubahan cukup signifikan terhadap peran pemerintah dan swasta dalam program dan pelayanan kesehatan. Langkah-langkah apa yang diperlukan untuk penanggulangan penyakit menular. kemampuan SDM dan sumber dana daerah.2 Perumusan Masalah Berdasarkan permasalahan di atas. 1. (3) adanya ketidaksesuaian kompetensi. Adanya otonomi daerah ini juga berpengaruh terhadap peran dan tanggung jawab Kabupaten/Kota/Propinsi untuk mengembangkan diri sesuai masalah kesehatan masyarakat. dukungan logistik. dana serta sistem pelaporan. dan (5) belum optimalnya penggunaan sarana kesehatan dalam mendukung pelaksanaan surveilans penyakit seperti pemanfaatan laboratorium dan peralatan. SOP dan data ? 3. Permasalahan yang dihadapi dalam penanggulangan wabah terutama berkaitan dengan aspek manajemen menyangkut kesiapan tenaga lapangan. Bagaimana peran dan tanggungjawab (kewenangan) pemerintah daerah dalam penanggulangan penyakit menular ? 1. Identifikasi peran dan tanggungjawab Pemerintah Daerah dalam penanggulangan penyakit menular Sasaran Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 5 . beberapa pertanyaan penelitian yang melandasi kajian ini antara lain adalah : 1. Identifikasi kinerja surveilans serta faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja surveilans penyakit menular 2. fasilitas pendukung. mencakup aspek tenaga. Berkaitan dengan desentralisasi kewenangan pengelolaan kebijakan pembangunan (otonomi daerah). 22 dan 25 tahun 1999 yang kemudian direvisi dengan UU No. sarana. 32 dan 33 Tahun 2005 telah memberikan pembagian kewenangan dalam pengelolaan pemerintahan di daerah. dana. Identifikasi kinerja penanggulangan penyakit menular serta faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja penanggulangan penyakit menular 3.

penanganan wabah. jumlah kematian dan luas daerah terserang 4. jumlah kasus. dana. Bab II membahas tentang landasan teori mencakup pengertian dan hasil kajian yang sudah dilakukan. sarana dan SOP 5. 1. keluaran serta ruang lingkup kajian. 3. Identifikasi kinerja surveilans yang mencakup (1) ketersediaan peta rawan KLB DBD. dan SOP. 1. Identifikasi faktor berpengaruh terhadap kinerja penanggulangan KLB DBD mencakup tenaga.LAPORAN AKHIR Tersusunnya rumusan kebijakan upaya penanggulangan penyakit menular secara terpadu melalui optimalisasi sumberdaya yang tersedia sekaligus sebagai acuan bagi pelaksanaan program penanggulangan penyakit menular di pusat dan daerah. jenis. Identifikasi peran dan tanggung jawab daerah dalam penanganan penyakit menular khususnya pada kasus DBD. 1.6 Sistematika Penulisan Penulisan laporan dibuat dengan sistematika sebagai berikut: Bab I membahas tentang latar belakang. sumber. dan (2) pelaksanaan diseminasi informasi 2. Lingkup kegiatan yang akan dilakukan dalam kajian ini antara lain. sarana. adalah : 1. data. dana. Identifikasi kinerja penanggulangan KLB DBD yang mencakup frekuensi KLB. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 6 . serta tanggung jawab dan kewenangan antara pusat dan daerah.5 Ruang Lingkup Kajian ini difokuskan pada evaluasi kebijakan penanggulangan penyakit menular yang telah dilakukan selama ini. dan pengumpulan data serta metode analisis. data. disain kajian. tujuan dan sasaran kajian. Bab III membahas tentang metodologi yang digunakan berkaitan dengan kerangka pemikiran. Identifikasi faktor berpengaruh terhadap kinerja surveilans mencakup kondisi tenaga.4 Keluaran Keluaran kajian adalah rumusan kebijakan penanggulangan penyakit menular yang mencakup aspek surveilans.

mencakup tenaga. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 7 . Kinerja Surveilans dan Penanggulangan DBD. data. Bab V Kesimpulan dan Rekomendasi Kebijakan. Faktor-faktor Berpengaruh terhadap Kinerja Surveilans dan Penanggulangan KLB. dana. mencakup Gambaran Umum Penanggulangan DBD. Indikator kinerja surveilans dan penanggulangan KLB. sarana dan SOP.LAPORAN AKHIR Bab IV Hasil dan Pembahasan.

LAPORAN AKHIR BAB 2 LANDASAN TEORI 2. Strategi pengendalian penyakit menular secara umum pada dasarnya sama. Beberapa penyakit infeksi baru (ketika itu) dan kini endemik adalah demam berdarah dengue (pertama kali tahun 1968 di Surabaya). Tiap tahun diselenggarakan pertemuan nasional semacam konvensi untuk melakukan monitoring kemajuan program serta perkuatan dari networking. partner nonkesehatan. disamping mulai meningkatnya masalah penyakit tidak menular. influenza. HIV/AIDS (pertama kali di Denpasar 1987) kini merambah ke Indonesia. Epidemiologi global yakni perjalan penyakit antar benua. misalnya antar propinsi.1 Penyakit Menular di Indonesia Penyakit menular masih merupakan masalah utama kesehatan masyarakat Indonesia. Intervensi faktor resiko. misalnya lingkungan dan intervensi terhadap perilaku. Penyakit lain merupakan penyakit infeksi endemik dan sudah lama di Indonesia dan endemik di berbagai kabupaten (daerah pegunungan maupun pantai) yaitu TBC dan Malaria. Semua institusi pelayanan seperti kuratif penyakit menular maupun pelayanan kesehatan masyarakat. Masing-masing penyakit memiliki peta endemisitas tersendiri. sehingga pemberantasan penyakit menular memerlukan kerjasama antar daerah. Manajemen pemberantasan dan pengendalian penyakit menular juga memiliki dua perspektif: a. swasta. 2. Sekaligus merupakan kawasan yang berpotensi tinggi untuk hadirnya penyakit infeksi baru. kemudian melakukan pengobatan hingga sembuh. yakni menghilangkan sumber penyakit dengan cara menemukan dan mencari kasus secara proaktif. penyakit saluran pencernaan dan penyakit lainnya. kini diberbagai kota pelabuhan. Kabupaten/kota bahkan antar negara. tifus abdominalis. merupakan kawasan endemik berbagai penyakit menular. demam berdarah dengue. Beberapa penyakit menular yang menjadi masalah utama di Indonesia adalah diare. b. orgfanisasi nonpemerintah. virus hantaan (1977) dijumpai pada tikus diberbagai pelabuhan. Pengertian Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 8 . Penyakit menular tidak mengenal batas-batas daerah administratif.2 Surveilans Epidemiologi Selama ini pengertian konsep surveilans epidemiologi sering dipahami hanya sebagai kegiatan pengumpulan data dan penanggulangan KLB. pemerintah. bergabung menjadi satu sistem. malaria. Epidemiologi lokal yang intinya dinamika tranmisi penyakit tertentu pada wilayah tertentu. yakni apa yang dikenal sebagai Sistem Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan. Indonesia sebagai wilayah tropik dan wilayah dinamik secara sosial ekonomi.

LAPORAN AKHIR seperti itu menyembunyikan makna analisis dan penyebaran informasi epidemiologi sebagai bagian yang sangat penting dari proses kegiatan surveilans epidemiologi. b. Rumah Sakit. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 9 . analisis dan interpretasi data secara sistematik dan terus menerus serta penyebaran informasi kepada unit yang membutuhkan untuk mengambil tindakan. pusat-pusat kajian. Laboratorium. Surveilans Terpadu Penyakit merupakan proses kegiatan yang dilakukan secara terus menerus dan sistematis. Alur distribusi data dan umpan balik dalam dilihat dalam skema di bawah. unit surveilans di Dinas Kesehatan Propinsi dan unit surveilans di Ditjen PPM & PL Depkes. Oleh karena itu perlu dikembangkan suatu definisi surveilans epidemiologi yang lebih mengedepankan analisis atau kajian epidemiologi serta pemanfaatan informasi epidemiologi. pelaksanaan. pengolahan. sehingga membutuhkan dukungan perencanaan. pusat kajian dan penyelenggara program kesehatan. upaya peningkatan kemampuan sumberdaya antara unit surveilans Dinas Kesehatan Kab/Kota. Dinas Kesehatan Kab/Kota. unit surveilans di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. pengolahan dan penyebaran informasi epidemiologi kepada penyelenggara program kesehatan. pusat penelitian. Dinas Kesehatan Propinsi dan Ditjen PPM & PL Depkes termasuk Puskesmas Sentinel dan Rumah Sakit Sentinel c. Sistem surveilans epidemiologi merupakan tatanan prosedur penyelenggaraan surveilans epidemiologi yang terintehrasi antara unit-unit penyelenggara surveilans dengan laboratorium. termasuk Puskesmas dan Rumah Sakit Sentinel. kajian. pengendalian dan evaluasi serta dukungan sumberdaya yang memadai sebagai suatu program surveilans terpadu. unit surveilans program pada masingmasing Puskesmas. meliputi tata hubungan surveilans epidemiologi antar wilayah Kabupaten/Kota. Menurut WHO. unit surveilans Dinas Kesehatan Propinsi dan Unit Surveilans Ditjen PPM & PL Depkes. Jejaring surveilans dalam pengiriman data dan informasi serta peningkatan kemampuan manajemen surveilans epidemiologi antara Puskesmas. tanpa melupakan pentingnya kegiatan pengumpulan dan pengolahan data. Jejaring Surveilans Jejaring surveilans digunakan dalam Surveilans terpadu penyakit adalah a. Propinsi dan Pusat. surveilans adalah proses pengumpulan. sumber-sumber data. Dalam sistem ini yang dimaksud dengan surveilans epidemiologi adalah kegiatan analisis secara sistematis dan terus menerus terhadap penyakit atau masalah-masalah kesehatan dan kondisi yang mempengaruhi terjadinya peningkatan dan penularan penyakit atau masalah-masalah kesehatan tersebut agar dapat melakukan tindakan penanggulangan secara efektif dan efesien melalui proses pengumpulan data. Jejaring surveilans dalam distribusi informasi kepada program terkait pusatpusat penelitian. Jejaring surveilans dalam pertukaran data. Rumah Sakit.

cepat. Untuk melakukan upaya pemberantasan penyakit menular. akurat merupakan evidance atau bukti untuk digunakan dalam proses pengambilan kebijakan yang tepat dalam pembangunan kesehatan. Informasi epidemiologi yang berkualitas.LAPORAN AKHIR Unit Surveilans Ditjen PPM & PL Depkes Unit Surveilans Dinas Kesehatan Propinsi Unit Surveilans Dinas Kesehatan Kab/Kota Unit Surveilans Puskesmas Unit Surveilans Rumah Sakit Unit Surveilans Laboratorium Gambar 2. serta penanggulangan penyakit tidak menular diperlukan suatu sistem surveilans penyakit yang mampu memberikan dukungan upaya program dalam daerah kerja Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 10 .3 Kebijakan Sistem Surveilans Surveilans Epidemiologi merupakan kegiatan yang sangat penting dalam manajemen kesehatan untuk memberikan dukungan data dan informasi epidemiologi agar pengelolaan program kesehatan dapat berdaya guna secara optimal. penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit dan keracunan.1 Alur Distribusi Data Surveilans Terpadu Penyakit 2.

4 Indikator Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan Kinerja penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan diukur dengan indikator masukan. 2. Undang-Undang No. Indikator-indikator tersebuat adalah sebagai berikut: Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 11 . yang telah mengalami beberapa kali perubahan dan perbaikan. Undang-Undang No. dan Keputusan Menteri Kesehatan No. 2. 1116 tahun 2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Surveilans Epidemilogi Kesehatan. 1116/Menkes/SK/VIII/2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan serta kebutuhan informasi epidemiologi untuk mendukung upaya pemberantasan penyakit menular dan penyakit tidak menular. proses dan keluaran. 3. 949 tahun 2004. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pemerintah Pusat dan Daerah. 6. dukungan kerjasama antar program dan sektor serta kerjasama antara Kabupaten/Kota. Surat Keputusan Menteri Kesehatan No. Sistem Pencatatan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP). Peraturan Pemerintah No. Sistem surveilans tersebut perlu dikembangkan dan disesuaikan dengan ketetapan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah. 560 tahun 1989 tentang Jenis Penyakit yang dapat menimbulkan wabah. dan sistem Pelaporan Rumah Sakit (SPIRS). Surat Keputusan Menteri Kesehatan No. 5. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom. Surat Keputusan Menteri Kesehatan No. 7. 4. Peraturan Menteri Kesehatan tentang Sistem Kewaspadan Dini KLB No. Propinsi. Ketiga indikator tersebut merupakan satu kesatuan. Peraturan Menteri Kesehatan No. Nasional dan internasional. 40 tahun 1991 tentang Penanggulangan Penyakit Menular. 1479 tahun 2003 tentang Surveilans Terpadu Penyakit. Pada tahun 1987 telah dikembangkan Sistem Surveilans Terpadu (SST) berbasis data. dimana kelemahan salah satu indikator tersebut menunjukkan kinerja sistem surveilans yang belum memadai. Disamping keberadaan SST telah juga dikembangkan beberapa Sistem Surveilans khusus penyakit. Propinsi dan Nasional.LAPORAN AKHIR Kabupaten/Kota. Beberapa produk hukum lain terkait dengan pelaksanaan surveilans epidemiologi adalah 1. 4 tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular. tatacara penyampaian laporannya dan tacara penanggulangan seperlunya. 242 tahun 2003 tentang Penetapan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) sebagai penyakit yang dapat menimbulkan wabah dan pedoman penanggulangannya.

faksimili. 2 tenaga epidemiologi terampil d. 1 paket alat komunikasi (telepon. 1 tenaga epidemiologi ahli (S2) b. SSB dan telekomunikasi lainnya) c. 1 paket kepustakaan d. Rumah Sakit Sarana 5. 1 paket jaringan elektromedia b. 1 paket kepustakaan d. 1 paket pedoman pelaksanaan surveilans epidemiologi dan program aplikasi komputer e. 32 tenaga epidemiologi terampil UPT Departemen Kesehatan memiliki a. SSB dan telekomunikasi lainnya) c. Kabupaten/Kota Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 12 . Kabupaten/Kota 4. 1 roda dua a. Propinsi 3. 2 tenaga epidemiologi ahli (S1) atau terampil c. Pusat Indikator Unit utama Departemen Kesehatan memiliki a. 4 tenaga epidemiologi ahli (S1) c. 1 paket formulir 2. 1 roda empat. 16 tenaga epidemiologi ahli (S1) d. 1 tenaga dokter umum a. 1 paket jaringan elektromedia b. 1 paket alat komunikasi (telepon. 1 tenaga epidemiologi ahli (S2) b. 1 tenaga epidemiologi ahli b.1 Indikator Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan Masukan Tenaga Tingkat 1. 1 paket pedoman pelaksanaan surveilans epidemiologi dan program aplikasi komputer e. Puskesmas 1. 1 tenaga epidemiologi ahli (S3) b. 1 tenaga epidemiologi terampil 1 tenaga epidemiologi terampil a. 4 paket peralatan pelaksanaan surveilans epidemiologi f. 8 tenaga epidemiologi ahli (S2) c. Propinsi 2. Pusat. faksimili. 1 tenaga dokter umum a. 2 tenaga epidemiologi ahli (S2) b. 1 tenaga dokter umum a. 4 tenaga epidemiologi terampil d.LAPORAN AKHIR Tabel 2. 2 tenaga epidemiologi ahli (S1) c.

Umpan balik sebesar 80% atau lebih 1. 1 roda dua 1. 1 paket formulir f. Ketepatan laporan unit pelapor dan sumber data awal sebesar 80% atau lebih c. Pusat Profil Surveilans Epidemiologi Nasional sebesar 1 kali setahun Profil Surveilans Epidemiologi Propinsi sebesar 1 kali setahun Profil Surveilans Epidemiologi Kabupaten/ Kota sebesar 1 kali setahun Sumber: Inspektorat Jenderal Depkes RI. Umpan balik sebesar 80% atau lebih 3. Puskesmas dan a. 1 roda dua 3. 1 roda empat. Penerbitan buletin kajian epidemiologi sebesar 4 kali atau lebih setahun d. Kabupaten/Kota a. Kelengkapan laporan unit pelapor dan sumber data awal sebesar 80% atau lebih b. 1 paket kepustakaan d. 1 paket pedoman pelaksanaan surveilans epidemiologi dan program aplikasi komputer e. 2003 Selanjutnya Indikator Surveilans Kesehatan dijabarkan dalam Indikator Kinerja Penyelenggaraan terpadu Penyakit sebagai berikut: a. SSB) c. 1 paket peralatan pelaksanaan surveilans epidemiologi g. faksimili. Kelengkapan laporan unit pelapor dan sumber data awal sebesar 80% atau lebih b. Propinsi a. 1 paket komputer Rumah Sakit b. Ketepatan laporan unit pelapor dan sumber data awal sebesar 80% atau lebih c. Umpan balik sebesar 80% atau lebih 2.LAPORAN AKHIR Proses Kegiatan Surveilans Keluaran f. Pusat a. Kelengkapan laporan unit pelapor sebesar 80% atau lebih b. Penerbitan buletin kajian epidemiologi sebesar 12 kali atau lebih setahun d. 2 paket peralatan pelaksanaan surveilans epidemiologi g. Penerbitan buletin kajian epidemiologi sebesar 12 kali atau lebih setahun d. Ketepatan laporan unit pelapor sebesar 80% atau lebih c. Kelengkapan laporan bulanan STP unit pelayanan ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota sebesar 90% Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 13 . 1 paket alat komunikasi (telepon.

Umpan balik laporan bulanan Kabupaten/Kota. wewenang dan tanggung jawabnya dalam upaya penanggulangan wabah. Selain itu dalam upaya Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 14 . tetapi menjadi tanggung jawab bersama. Ketepatan laporan bulanan STP Unit Pelayanan ke Dinas Kesehatan Kabupaten Kota sebesar 80% c. Keterkaitan sektor-sektor dalam upaya penanggulangan wabah tersebut sesuai dengan tugas. Oleh karena itu dalam pelaksanaan penanggulangannya memerlukan keterkaitan dan kerjasama dari berbagai lintas sektor Pemerintah dan masyarakat. harus dilakukan secara terpadu dengan upaya kesehatan lain. Propinsi dan Nasional adalah satu kali setahun.LAPORAN AKHIR b. Berbagai lintas sektor Pemerintah misalnya Departemen Pertahanan Keamanan. Distribusi data dan informasi bulanan Kabupaten/Kota. Kondisi lain yang dapat menimbulkan penyakit menular adalah akibat kondisi masyarakat dari suatu wilayah tertentu yang kurang mendukung antara lain kesehatan lingkungan yang kurang baik atau gizi masyarakat yang belum baik. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota mencapai indikator Epidemiologi STP sebesar 80% d. Kelengkapan laporan bulanan STP Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota ke Dinas Kesehatan Propinsi sebesar 100% e. Oleh karena itu penanggulangan wabah harus dilakukan secara dini. baik melalui perpindahan. Penanggulangan wabah penyakit menular bukan hanya semata menjadi wewenang dan tanggung jawab Departemen Kesehatan. Ketepatan laporan bulanan STP Dinas Kesehatan Propinsi ke Ditjen PPM & PL Depkes sebesar 90% h. Dalam upaya penanggulangan penyakit menular. Penanggulangan secara dini dimaksudkan untuk mencegah timbulnya kejadian luar biasa dari suatu penyakit wabah yang dapat menjurus terjadinya wabah yang dapat mengakibatkan malapetaka.5 Penanggulangan Penyakit Menular Penanggulangan penyakit menular merupakan bagian dari pelaksanaan pembangunan kesehatan. Ketepatan laporan bulanan STP Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota ke Dinas Kesehatan Propinsi sebesar 90% f. maupun kontak hubungan langsung atau karena jenis dan sifat dari kuman penyebab penyakit wabah itu sendiri. Departemen Keuangan dan Departemen Dalam Negeri. yaitu upaya pencegahan. Penerbitan profil tahunan atau buku data surveilans epidemiologi Kabupaten/Kota. Depatemen Sosial. Penerbitan buletin Epidemiologi di Kabupaten/Kota adalah 4 kali setahun k. Wabah penyebaran penyakit dapat berlangsung secara cepat. propinsi dan nasional sebesar 100% i. penyembuhan dan pemulihan kesehatan. Kelengkapan laporan bulanan STP Dinas Kesehatan Propinsi ke Ditjen PPM & PL Depkes sebesar 100% g. Departemen Komunikasi dan Informasi. propinsi dan nasional sebesar 100% j. 2. Penerbitan buletin Epidemologi di propinsi dan nasional adalah sebesar 12 kali setahun l.

22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan UU No. 25 tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom yang berpengaruh terhadap penyelenggaraan penanggulangan KLB. Data & Informasi Penduduk dan Lingkungan Perbaikan kondisi rentan KLB Prioritas Penanggulangan KLB SKD-KLB KLB tidak Menjadi Masalah Kesehatan Masyarakat Penanggula ngan KLB Data KLB dan Data Epidemiologi Lain Kesiapsiagaan Menghadapi KLB Gambar 2. yang juga berdampak pada pariwisata. PP No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan No. Peraturan Menteri Kesehatan No. 560 tentang Jenis Penyakit Tertentu Yang dapat Menimbulkan Wabah. yang keseluruhannya harus dilaksanakan secara terpadu. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. yamg kemudian diikuti dengan terbitnya PP No. Undang-undang tersebut kemudian direvisi menjadi UU No. 4 tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular. 40 tahun 1991 tentang Penanggulangan Penyakit Menular. Indonesia menerapkan secara penuh UU No.2 Skema Program Penanggulangan KLB Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 15 . ekonomi dan sosial. sehingga membutuhkan perhatian dan penanganan oleh semua pihak terkait. Pada tahun 2000. 25 tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah. masyarakat juga dapat diikutsertakan dalam penanggulangannya.LAPORAN AKHIR penanggulangan wabah tersebut. Kejadian-kejadian KLB perlu dideteksi secara dini dan diikuti tindakan yang cepat dan tepat. perlu diidentifikasi adanya ancaman KLB beserta kondisi rentan yang memperbesar resiko terjadinya KLB agar dapat dilakukan peningkatan kewaspadaan dan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan KLB. KLB penyakit dapat mengakibatkan terjadinya peningkatan kesakitan dan kematian yang besar. Penanggulangan wabah/KLB penyakit menular diatur dalam UU No.

Seperti asal datangnya penyakit. serta sebaliknya. Penyebaran global memiliki potensi terjadinya pandemik. KLB polio pada awal tahun 2005. Sebab. epidemiologi global harus pempelajari kejadian dan persebaran dalam perspektif dunia. hingga Amerika Latin. terutama penyakit menular melalui transmisi serangga atau binatang yang memiliki reservoir. Selain itu. penyakit menular dipengaruhi mobilitas penduduk sebagai sumber penyakit. Nusa Tenggara Timur. Misalnya. Hal ini memerlukan kerjasama global. Sedangkan wilayah yang sifatnya “terbuka” dengan teknologi transportasi jarak jauh. Sumatera. harus memahami hal ini. Filipina. Dengan kata lain. dua kabupaten berbatasan yang memiliki ekosistem penyakit yang sama wajib bekerjasama. Penyakit menular juga dapat berpindah atau bergerak dari satu wilayah ke wilayah lainnya melalui mobilitas penduduk sebagai sumber penularan maupun komoditas sebagai wahana transmisi. Sedangkan wilayah timur dari arah utara menyusur pantai timur China.6. Wilayah-wilayah yang merupakan jalur transmisi sebaiknya memiliki kapasitas dan aktif mengakses informasi. Dalam hal ini Dinas Kesehatan. Demikian juga dengan daerah wisata internasional. kabupaten dan kota di Indonesia merupakan wilayah yang terkena resiko yang sama dalam perspektif global. penyakit menular tidak mengenal batas wilayah administratif pemerintah. kemudian melalui apa penyakit tersebut datang. Maksudnya. Epidemiologi Global Penyakit Penyakit menular bersifat global. lebih dipengaruhi oleh batasan ekosistem. hendaknya meningkatkan kemampuannya untuk mengahadapi globalisasi penyakit menular. Penyakit menular yang sifatnya relatif “tertutup”. maupun masyarakat hendaknya memiliki kapasitas terhadap permasalahan epidemiologi global. Atau perjalanan kelelawar yang dapat menyebarluaskan virus Nipah. Afrika Tengah. Jawa. setiap sudut Kabupaten dan Kota di Indonesia harus dianggap sebagai bagian dari komunitas dunia. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 16 . Lintas Batas Penyakit menular bersifat lintas batas. migrasi burung utara selatan dan sebaliknya. wilayah tropik secara umum memiliki karakteristik ekosistem sama. Termasuk petugas yang mengawasi jalur-jalur penerbangan internasional. kabupaten/kota terikat pada komitmen dunia. Oleh karena itu. memiliki jalur barat yakni kawasan semenanjung Malaysia. Binatang umumnya memiliki habitat tertentu dan terkait dan batasan ekosistem. Sulawesi Utara. Peta endemisitas malaria terbentang dari Asia Tenggara. Seorang Kepala Dinas Kesehatan harus memahami benar apakah daerahnya termasuk lalulintas internasional atau bukan. Seorang Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/kota yang berbatasan dengan negara lain. Dengan demikian.LAPORAN AKHIR 2. maka memiliki masalah yang sama seperti malaria. Misalnya. LSM. Dengan kata lain. Dalam perspektif global. migrasi berbagai binatang seperti migrasi burung antar benua bisa merupakan sumber pembawa penyakit. kemudian langsung ke selatan menuju Australia. Sebagai contoh Avian influenza. dan mekanisme jaringan antar negara yang bersifat lintas batas. ketimbang batasan administratif.

desentralisasi berati mengharuskan manajemen penyakit menular melakukan pendekatan wilayah administratif. penderita penyakit menular itu sendiri. mitra mana yang dianggap berkepentingan. sekaligus sebagai mata air. antar propinsi. seorang “kepala” pengendalian penyakit harus mampu menemukan dan mengobati sumber penularan penyakit secara aktif. Dengan demikian. Yakni. intervensi holistik. di daerah Pacitan berkaitan dengan cekungan-cekungan padas di sungai-sungai. Kemudian ditentukan siapa saja yang harus diikutsertakan. Serta didukung jaringan dan kerjasama erat baik antar wilayah dan adimistrasi pemerintah maupun diantara para pelaku pemberantasan penyakit menular dan penyehatan lingkungan itu sendiri dalam satu wilayah. antara penyakit. Semua itu dituangkan dalam bentuk perencanaan yang didukung fakta (evidences) lokal. seperti yang telah diuraikan sebelumnya hal-hal yang bersifat lintas batas berpotensi terabaikan. Bahkan keterpaduan surveilans yakni surveilans kasus sekaligus bersama-sama dengan faktor risiko terkait. membutuhkan model manajemen penyakit menular berbasis wilayah kabupaten/kota. tenaga. penularan Malaria di Kabupaten Banjarnegara berkenaan dengan nyamuk yang memiliki habitat kebun salak dan/atau kolam yang merupakan jamban keluarga. Kemudian keterpaduan dikaitkan dengan promosi kesehatan seperti penggunaan alat pelindung ketika bekerja. Sehingga intervensi faktor resiko yang bersifat lokal lebih bisa mudah dikendalikan. jadwal. Didukung fakta hasil surveilans terpadu. untuk kepentingan perencanaan dan kegiatan berdasarkan keperluan (fakta). Di satu sisi. Di lain pihak. dalam perspektif ekosistem maupun dinamika/mobilitas faktor risiko penyakit antar kabupaten. Untuk itu. Analisis masing-masing faktor risiko dilakukan sekaligus dan terpadu melalui perencanaan. Desentralisasi juga memudahkan identifikasi faktor resiko yang bersifat lokal. penggunaan mikroskop. sedangkan di wilayah Riau risiko tertular malaria datang ketika sedang menyadap karet di pagi buta. Serta mengendalikan faktor risiko penyakit. memerlukan model manajemen pemberantasan penyakit dan penyehatan lingkungan secara terintegrasi yang berbasis wilayah kabupaten/kota dalam perspektif komprehensif. Dengan memahami faktor-faktor yang berperan timbulnya penyakit menular khas daerahnya. Namun. dan berbagai upaya lain secara bersama dengan lintas sektor. Sebagai contoh. secara teoritis Bupati atau Kepala Dinas Kesehatan secara efektif melakukan upaya pemberantasan penyakit menular yang bersifat spesifik lokal. Keterpaduan pun termasuk penggunaan sumber daya.LAPORAN AKHIR dalam satu wilayah otonomi kabupaten. Keterpaduan Untuk memvisualisasikan proses transmisi penyakit serta simpul manajemen. antar negara. pendekatan wilayah kabupaten/kota membantu perencanaan dan pelaksanaan serta pelaksanaan program lebih fokus. kendaraan. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 17 . antara stakeholder. sehingga dapat meyakinkan pihak-pihak otoritas pendanaan seperti DPRD. Kemudian. maka perlu identifikasi mitra kerja untuk menangani faktor risiko tersebut.

perlu dilakukan upaya alternatif berupa pemberantasan penyakit yang berbasis lingkungan. Cakupan imunisasi amat penting karena dapat mencegah penyakit dalam satu wilayah. seperti pemberdayaan tenaga semi-profesional terlatih misalnya juru Malaria Desa. (2) Memberikan Perlindungan Spesifik dan Imunisasi Manajemen pengendalian penyakit menular dapat dilakukan dengan cara memberikan kekebalan secara artifisial yaitu imunisasi. Oleh sebab itu. memerlukan bantuan pemeriksaan yang dilakukan Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Penyelidikan Penyakit (Labkes) terdekat yang secara regional harus tersedia. selain mengobati dan menyembuhkan penderita yang juga merupakan upaya pokok untuk menghilangkan sumber penularan dengan cara pemutusan mata rantai penularan. Di masa mendatang sebaiknya diciptakan petugas lapangan penyakit menular setara dengan bidan di desa untuk menekan angka kematian ibu. keluarga terdekat atau tokoh masyarakat setempat dapat meminta bantuan Pengawas Menelan Obat (PMO). tentu saja tidak semua penyakit menular dapat dicegah dengan imunisasi.7 Strategi Pengendalian Penyakit Strategi pemberantasan penyakit menular berbasis wilayah memiliki pengertian bahwa setiap wilayah administrasi pembangunan (kabupaten/kota) pemberantasan penyakit menggunakan “paket” pendekatan strategi sebagai berikut : (1) Intensifikasi Pencarian dan Pengobatan Kasus Melakukan pencarian dan pengobatan secara intensif terhadap penderita. karena dikhawatirkan akan meluas. Untuk penyakit tertentu yang membutuhkan konfirmasi laboratorium lebih tinggi. Juru Kusta. Kejadian luar biasa pertama di Indonesia dilaporkan oleh David Beylon di Batavia (Jakarta) pada tahun 1779. Namun. baik dari segi jumlah kasus maupun wilayah yang terkena persebaran penyakit tersebut. Untuk itu. Dalam satu wilayah kabupaten dapat dilakukan secara intensif dengan memperluas jangkauan pelayanan. Untuk beberapa penyakit menular yang memerlukan pengobatan jangka panjang seperti halnya TBC.LAPORAN AKHIR 2. harus ada jaminan ketersediaan obat dan jaminan disiplin menelan obat. Namun.3 persen. demam berdarah dengue baru dikenal pada tahun 1968 dalam KLB di Jakarta dan Surabaya dengan angka kematian sangat tinggi sekitar 41. 2. dan sebagainya.8 Kejadian Luar Biasa (KLB) Kejadian Luar Biasa (KLB) yaitu munculnya penyakit di luar kebiasaan (base line condition) yang terjadi dalam waktu relatif singkat serta memerlukan upaya penanggulangan secepat mungkin. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 18 .

Bab I. Sedangkan yang menetapkan penyakit menular dan kemudian mencabut ketetapan tersebut adalah Menteri Kesehatan (UU Nomor 4. Mengacu kepada teori simpul atau mengacu kepada patogenesis kejadian penyakit. wajib melakukan tindakan secara cepat berupa penanggulangan seperlunya (UU Nomor 4. Tahun 1984. Penyakit menular adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat dengan jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi keadaan yang lazim pada waktu daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka (UU Nomor 4. Ayat 1). Kemudian kegiatan tersebut harus dilaporkan kepada Menteri Kesehatan secara berjenjang. Gempa bumi di sebuah wilayah endemik malaria memerlukan peta dimana pengungsi akan ditempatkan. Bab IV. memang tidak lazim disebut sebagai KLB. Sedangkan penanggugjawab teknis adalah Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.LAPORAN AKHIR Menurut PP 40. serta korban kejadian penyakit yang berlangsung dalam tempo yang relatif singkat. Sedangkan untuk penetapan dan pencabutan KLB hingga saat ini belum diatur. Kepala wilayah ketika mengetahui adanya tersangka di wilayah atau adanya tersangka penderita penyakit menular yang dapat menimbulkan wabah. Penanggungjawab operasional pelaksanaan penanggulangan KLB adalah Bupati/Walikota. KLB merupakan kejadian proses awal. pencermatan ini dikenal sebagai pencermatan pra-KLB. Apabila kita mencermati proses kejadiannya. sosial. Pasal 2 sampai 5). Pasal 1 Ayat 7. Pasal 12. Tahun 1984. dan akhirnya berupa pencegahan. dapat juga ditetapkan pada faktor risiko penyakit seperti bila terjadi ledakan gas beracun. Ayat 1 dan 2 serta PP Nomor 40. prediktif. Penetapan KLB. KLB pada dasarnya merupakan suatu kejadian baik pada sumber penyakit (penyebab) dengan dinamika transmisi. Misalnya. informasi pra-KLB menjadi penting. KLB adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan/kematian yang bermakna secara epidemologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu. dan sebagainya. ledakan industri. Pasal 4. pemantauan kondisi kualitas lingkungan tertentu yang menurun. penanganan saat kejadian KLB dan pascaKLB. Penetapan atau pencabutan daerah wabah diberlakukan dalam suatu wilayah Kabupaten/Kota. amat penting. Tahun 1991. Manajemen pra-KLB termasuk sistem kewaspadaan dini. namun draft Permenkes menyebutkan Pemerintah Daerah atas usulan Kepala Dinas Kesehatan setempat menetapkan dan mencabut KLB. adanya indikasi peningkatan jumlah dan kepadatan vektor penular penyakit. Tahun 1984. ekonomi dan budaya) yang disampaikan Kepala Daerah. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 19 . Pasal 1). Pengertian KLB seringkali dikacaukan dengan pengertian wabah. tahun 1991. namun terminologi ini digunakan untuk tujuan atau rumusan upaya antisipatif. Bab 1. Penetapan daerah wabah merupakan pertimbangan epidemologis dan keadaan masyarakat (mencakup keamanan. terjadinya kerusakan hutan secara terus menerus. atau suhu yang meningkat sehingga menimbulkan populasi nyamuk atau ledakan gas. dan merupakan keadaan yang dapat menjurus pada terjadinya wabah. tidak hanya mencegah terjadinya KLB. Bila KLB terjadi lebih dari satu wilayah kabupaten/kota maka penanggulangannya dikoordinasikan oleh Gubernur.

menyusun guidlines petunjuk. Sementara sistem lama telah dicabut. pada hakekatnya adalah manejemen faktor risiko kejadian KLB. Kurun waktu 2000-2005 banyak terjadi kejadian luar biasa. tetapi keduanya memiliki batas wlayah ekosistem. dan sebagainya. apabila dibiarkan berkembang. Untuk membangun sistem tersebut. untuk mencegah terjadinya penularan penyakit lebih lanjut. standar. Mengapa hal tersebut terjadi? Pemberantasan penyakit menular memerlukan sistem manajemen. TBC. atau penyakit infeksi lama-selalu memiliki dua makna manajemen. konflik sosial maupun timbulnya penyakit baru seperti SARS. namun dalam hal KLB dan bencana dapat meminta bantuan Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Pusat. bencana lingkungan karena ulah manusia. Kegagalan manajemen penyakit secara terintegrasi dalam satu wilayah. KLB pada dasarnya merupakan ujung dari sebuah proses. Satu foci penyakit menular –entah itu demam berdarah. Sejak tahun 1968 jumlah kasusnya cenderung meningkat dan penyebarannya bertambah luas. Keadaan ini erat kaitannya dengan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 20 . Bahkan bila dipandang perlu. selama sistem atau kapasitas manajemen penyakit berbasis wilayah secara terintegrasi belum mapan. upaya-upaya kesehatan termasuk didalamnya manajemen KLB semuanya sudah di desentralisasikan kepada Pemerintah Kabupaten dan Pemerintah Kota. Manajemen kasus menjadi amat penting. penyakit menular tidak mengenal batas wilayah administratif seperti halnya kesehatan lingkungan. dan menetapkan sasaran nasional. Hal ini tampak adanya kesimpang siuran menajemen penyakit menular pada saat dimulainya otonomi atau peralihan sistem tersebut.9 Penyakit Demam Berdarah Penyakit Demam berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Oleh sebab itu. tetapi sistem baru belum established atau mapan. khususnya saat penanganan KLB penyakit menular. yakni : a. maka KLB akan terus menjadi ancaman. memerlukan waktu. malaria. Tugas Pemerintah Nasional (Pusat) antara lain menyusun berbagai kebijakan nasional. Sedangkan kewenangan pelaksanaan ada pada pemerintah Kabupaten/Kota. maka berpotensi menyebarkan KLB ke saentero Nusantara. Avian influenza. yakni manajemen kesehatan masyarakat untuk mengendalikan jatuhnya korban berikutnya.LAPORAN AKHIR Setiap KLB-apakah itu bencana alam. HIV/AIDS. Di samping itu. akan menimbulkan KLB. Manajemen public health (manajemen faktor risiko) Manajemen public health atau manajemen kesehatan masyarakat. Manajemen kasus. Contohnya tahun 2005 yaitu penyakit polio. dan harus dilakukan secara simultan dalam waktu relatif singkat. Manajemen KLB secara terintegrasi berbasis wilayah adalah juga manajemen dua bagian penting yang tak terpisahkan. perencanaan strategik. filariasis. 2. dengan mobilitas penduduk yang tinggi akibat krisis sosial. Manajemen kasus maupun faktor risiko mencegah timbulnya eskalasi yang lebih luas. Sebagai perwujudan demokratisasi pembangunan maka sejak tahun 2000. Pemerintah Pusat dapat mengambil inisiatif melakukan penanganan KLB. b.

penyakit ini pertama kali dilaporkan pada tahun 1953 di Manila. yaitu: (1) Peningkatan kegiatan surveilans penyakit dan surveilans vektor.000 penduduk berturutturut pada tahun 2000 sampai 2002. memberikan pelatihan dan bantuan teknis. Usia penderita juga cenderung bergeser menyerang usia dewasa. Penyakit demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit menular berbahaya yang disebabkan oleh virus Dengue dan dapat menimbulkan kematian dalam waktu singkat oleh karena terjadinya perdarahan dan shock.17 per 100. Penyakit DBD sering kali muncul sebagai wabah. Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit DBD merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah baik lintas sektor maupun lintas program dan masyarakat termasuk sektor swasta. Di Indonesia sendiri. tetapi juga menyebar ke daerah pedesaan. melakukan penyuluhan dan promosi kesehatan serta penggerakan masyarakat. 21. Cara penularan penyakit DBD adalah melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang menggigit penderita DBD kemudian ditularkan kepada orang sehat. Upaya pemberantasan demam berdarah terdiri dari 3 hal.19 per 100. mengembangkan teknologi pemberantasan.99. Pada awalnya penyakit DBD ini merupakan penyakit perkotaan dan menyerang terutama anak-anak usia di bawah 5 tahun. Namun.0%.000 penduduk dan CFR 2. Melihat kondisi tersebut penyakit DBD harus diwaspadai kemungkinan adanya KLB lima tahunan. maka Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 21 . penyakit DBD dilaporkan pertama kali di Surabaya dan DKI Jakarta. Tugas dan tanggung jawab pemerintah dalam upaya pemberantasan penyakit DBD antara lain membuat kebijakan dan rencana strategis penanggulangan penyakit DBD. yaitu 15. dengan perkembangan waktu penyakit ini kemudian tidak hanya berjangkit di daerah perkotaan. namun pada tahun-tahun berikutnya tampak adanya peningkatan IR. selanjutnya menyebar ke berbagai negara. mudahnya transportasi yang menyebabkan mudahnya lalu lintas manusia antardaerah.75. selalu menjadi KLB setiap tahun.24 per 100. mengembangkan pedoman pemberantasan. dan 19. Di Asia Tenggara.000 penduduk. Pemberantasan nyamuk dewasa dilakukan dengan menggunakan racun serangga (insektisida) yang disemprotkan atau dengan pengasapan (fogging) bila dilakukan pada wilayah yang luas. perkembangan pembangunan di daerah pedesaan. Dengan fogging yang disemprotkan ke udara. Jumlah kasus terus meningkat baik dalam jumlah maupun luas wilayah yang terjangkit dan secara sporadis. adanya pemanasan global yang dapat mempengaruhi bionomik vektor Aedes aegypti. Kendala Pencegahan DBD Penularan DBD terjadi melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dewasa. Pada tahun 1999 IR menurun tajam sebesar 10. KLB yang terbesar terjadi pada tahun 1998 dilaporkan dari 16 propinsi dengan IR=35.LAPORAN AKHIR peningkatan mobilitas penduduk sejalan dengan semakin lancarnya hubungan transportasi serta tersebar luasnya virus dengue dan nyamuk penularnya di berbagai wilayah Indonesia. (2) Diagnosis dini dan pengobatan dini. (3) Peningkatan upaya pemberantasan vektor penular penyakit DBD. yaitu urbanisasi yang cepat. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi penyebaran dan penularan penyakit DBD. kurangnya persediaan air bersih.

Semua insektisida adalah bahan beracun yang jika penggunaannya tidak tepat dapat mengganggu kesehatan manusia maupun hewan dan dapat mencemari lingkungan. selama tandon-tandon air masih dijumpai. Menutup rapat tempat penyimpanan air bersih dan mengurasnya sesering mungkin akan bermanfaat mengurangi kesempatan nyamuk untuk bertelur dan berkembang biak. yaitu terjadinya kekebalan nyamuk Aedes aegypti terhadap insektisida yang digunakan saat ini. Karena nyamuk dewasa Aedes aegypti berada di dalam lingkungan rumah tinggal. sebelum larva berubah jadi nyamuk dewasa. Dengan demikian. jika ada satu rumah saja tidak melakukan PSN. bukan sarang nyamuk Aedes aegypti). seharusnya segera dilakukan fogging terhadap rumah tinggal penderita dan area dengan radius 100 meter di sekitarnya. Karena itu. termasuk kaleng-kaleng berisi air atau bak mandi. Karena itu. Apalagi nyamuk Aedes aegypti mampu terbang dalam radius 100 meter dari sarang asalnya. Sebab. fogging harus segera diikuti dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Selain itu. Takaran insektisida yang dikurangi (asal bau obat). sepanjang tahun. juga dapat menimbulkan dampak serius di kemudian hari. pada waktu ada laporan kasus DBD di satu rumah. Gerakan PSN harus dilakukan terus-menerus. Keberadaan sarang nyamuk Aedes aegypti di dalam rumah memerlukan tindakan yang spesifik. sarang nyamuk harus segera dimusnahkan. PSN harus dilakukan segenap warga. sebelum seseorang menunjukkan gejala klinis DBD dalam darahnya sudah beredar virus dengue yang dapat ditularkan kepada orang lain. Hal ini harus dilakukan karena sarang-sarang nyamuk Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 22 . Dengan melakukan fogging di sekitar tempat tinggal penderita. baik untuk manusia maupun lingkungan hidup. penggunaan insektisida yang tidak tepat dosisnya atau tidak tepat jenisnya dapat menjadikan fogging tidak memberikan hasil yang memuaskan atau gagal sama sekali. Fogging ditujukan untuk memberantas nyamuk betina dewasa karena hanya nyamuk betina yang mengisap darah. selain termasuk kategori korupsi. ia menjadi sumber terbentuknya populasi nyamuk Aedes aegypti untuk wilayah di sekitarnya.LAPORAN AKHIR nyamuk dewasa yang beterbangan atau yang hinggap di tempat persembunyiannya di lingkungan rumah penderita akan mati. Selain itu. Tidak usah menunggu terjadinya KLB atau wabah yang lebih luas. Pemberian abate untuk membunuh jentik nyamuk yang terdapat di dalam air bak kamar mandi atau tandon air bersih lainnya cukup efektif mencegahnya berkembang biak. Dari jentik nyamuk yang hidup di dalam air (tandon air). Fogging tidak akan berefek lama dan tidak boleh dilakukan terus-menerus karena insektisida yang digunakan adalah bahan beracun. nyamuk dewasa yang beterbangan atau yang hinggap di tempat persembunyiannya di lingkungan rumah penderita akan mati. penularan virus oleh nyamuk dapat dihentikan segera. baik di musim hujan maupun di musim kemarau. Gagalnya atau tidak efektifnya fogging dapat terjadi akibat salahnya lokasi pengasapan (yang diasapi adalah got-got atau saluran kota yang kotor dan mampet. penggunaan insektisida menjadi rawan keracunan bagi penghuni dan lingkungan hidup sekitar rumah. Karena itu. dalam waktu beberapa hari akan tumbuh nyamuk dewasa.

segera ditindaklanjuti dengan kagiatan Penyelidikan Epidemiologis (PE) dan Penanggulangan Fokus. termasuk tempat-tempat umum dalam radius sekurang-kurangnya 100 m. Penanggulangan Fokus adalah kegiatan pemberantasan nyamuk penular DBD yang dilaksanakan dengan melakukan pemberantasan sarang nyamuk demam berdarah dengue (PSN DBD). baik di musim penghujan maupun di musim kemarau. Sosialisasi dalam pelaksanaan PSN dan cara hidup gotong royong harus kembali digalakkan. tindakan yang pertamatama harus dilakukan adalah memberantas nyamuk dewasa di lingkungan tempat tinggal penderita dan sekitarnya dengan melakukan fogging. ataukah terjadi "kesalahan teknis" di lapangan. Tujuannya adalah untuk mengetahui penularan dan penyebaran DBD lebih lanjut serta tindakan penanggulangan yang perlu dilakukan di wilayah sekitar tempat penderita. Tata Laksana Penanggulangan DBD Setiap diketahui adanya penderita DBD. Karena itu. jika terdapat laporan adanya kasus DBD. • Penyelidikan Epidemiolegis (PE) adalah kegiatan pencarian penderita DBD atau tersangka DBD lainnya dan pemeriksaan jentik nyamuk penular DBD di tempat tinggal penderita dan rumah/bangunan sekitarnya. larvadiasasi. PE juga dilakukan untuk mengetahui adanya penderita dan tersangka DBD lainnya. penyuluhan dan penyemprotan (pengasapan) menggunakan insektisisda sesuai kriteria. Fogging akan sangat efisien jika dilakukan pada waktu populasi nyamuk masih rendah. untuk mencegah penyebaran penyakit. dan menentukan jenis tindakan (penanggulangan fokus) yang akan dilakukan.LAPORAN AKHIR merupakan sumber produksi nyamuk dewasa. • Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 23 . mengetahui ada tidaknya jentik nyamuk penular DBD. Selanjutnya dalam melaksanakan kegiatan pemberantasan DBD sangat diperlukan peran serta masyarakat. misalnya. melalui GGPSN (Gebyar Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk). dan lingkungannya dari penularan DBD. apakah telah terjadi resistensi nyamuk terhadap insektisida yang digunakan. Jika terjadi kegagalan fogging. Adanya nyamuk Aedes aegypti penular DBD sepanjang tahun di Indonesia menyebabkan penularan virus dengue juga akan terjadi sepanjang tahun. keluarga. Tujuannya adalah membatasi penularan DBD dan mencegah terjadinya KLB di lokasi tempat tinggal penderita DBD dan rumah/bangunan sekitarnya serta tempat-tempat umum yang berpotensi menjadi sumber penularan DBD lebih lanjut. sehingga kemungkinan penyebarluasan DBD dapat dibatasi dan KLB dapat dicegah. baik untuk membantu kelancaran pelaksanaan kegiatan pemberantasan maupun dalam memberantas jentik nyamuk penularnya. harus dicari penyebabnya. tanpa menunggu terjadinya KLB. sehingga setiap warga dapat saling melindungi diri.

Tujuannya adalah membatasi penularan DBD. Penilaian ini dilakukan melalui kunjungan rumah secara acak dan wilayah-wilayah yang direncanakan untuk pengasapan.Pencarian Penderita Panas Ada penderita DBD lain atau ada jentik dan ada penderita panas ≥ 3 orang dan ditemukamn jentik (≥ 25%) Ya Penyuluhan PSN DBD Fogging radius 200m - Tidak Penyuluhan PSN FDBD Larvasidasi Gambar 2. Sarang Nyamuk demam berdarah dengue (PSN DBD) adalah kegiatan memberantas telur. larvasidasi dan penyuluhan.Pemeriksaan Jentik . Penilaian operasional ditujukan untuk mengetahui persentase (coverage) pemberantasan vektor dari jumlah yang direncanakan. Penilaian Penanggulangan KLB meliputi penilaian operasional dan penilaian epidemiologi. jentik dan kepompong nyamuk penular DBD (Aedes aegypti) di tempat-tempat perkembangbiakannya. Sedangkan penilaian epidemiologi ditujukan untuk mengetahui dampak upaya penanggulangan terhadap jumlah penderita dan kematian DBD dengan cara membandingkan data kasus/kematian DBD sebelum dan sesudah penanggulangan KLB. Bagan Penanggulangan Fokus (Penanggulangan Penderita DBD di Lapangan) • Penanggulangan • Pemberantasan Kejadian Luar Biasa (KLB) adalah upaya penanggulangan yang meliputi : pengobatan/perawatan penderita. Keberhasilan PSN DBD diukur dengan Angka Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 24 . Tujuannya adalah mengendalikan populasi nyamuk. sehingga penularan DBD dapat dicegah dan dikurangi.LAPORAN AKHIR Penderita/tersangka DBD Penyelidikan Epidemiologi (PE) . sehingga KLB yang terjadi di suatu wilayah tidak meluas ke wilayah lainnya. penyuluhan kepada masyarakat dan evaluasi/penilaian penanggulangan yang dilakukan di seluruh wilayah yang terjadi KLB.3. pemberantasan vektor penular DBD.

Tujuannya adalah melakukan pemeriksaan jentik nyamuk penular demam berdarah dengue termasuk memotivasi keluarga/masyarakat dalam melaksanakan PSN DBD. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 25 . Masyarakat juga berperan dalam upaya pemberantasan vektor yang merupakan upaya paling penting untuk memutuskan rantai penularan dalam rangka mencegah dan memberantas penyakit DBD muncul di masa yang akan datang. Tujuan pemberian pertolongan pertama di atas adalah untuk mempertahankan volume cairan dalam pembuluh darah penderita sehingga dapat membantu mengurangi angka kematian karena DBD.LAPORAN AKHIR • Pemeriksaan Bebas Jentik (ABJ). yaitu (1) menguras dan menyikat tempat-trempat penampungan air. pemberian obat penurun panas seperti paracetamol. Pertolongan pertama kepada tersangka penderita DBD dapat dilakukan di rumah sebelum dirujuk ke tempat pelayanan kesehatan yaitu dengan memberikan minum sebanyak-banyaknya dengan oralit. teh manis. Sehingga bisa dilakukan penegakan diagnosa secara dini dan diberikan pertolongan dan pengobatan dini. (2) menutup rapat-arapat tempat penampungan air. sirup. Sehingga upaya pemberantasan dan pencegahan penyebaran penyakit DBD adalah upaya yang diarahkan untuk menghilangkan tempat perindukan (breeding places) nyamuk Aedes aegypti yang ada dalam lingkungan permukiman penduduk. Apabila ABJ lebih atau sama dengan 95% diharapkan penularan DBD dapat dicegah atau dikurangi. Obat penurun panas yang tidak boleh diberikan adalah dari jenis yang mengandung asam salisilat yang dapat memperberat perdarahan. Jentik Berkala adalah pemeriksaan tempat-tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti yang dilakukan secara teratur oleh petugas kesehatan atau kader atau petugas pemantau jentik (jumantik). Dalam upaya pemberantasan vektor tersebut antara lain masyarakat berperan secara aktif dalam pemantauan jentik berkala dan melakukan gerakan serentak Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Menutup rapat-rapat tempat penampungan air agar nyamuk Aedes aegypti tidak bisa bertelur di tempat itu. Sebagai contoh: peran masyarakat dalam kegiatan surveilans penyakit. dan (3) mengubur atau menyingkirkan barang-barang bekas yang dapat menampung air hujan. Mengubur/membuang pada tempatnya barang-barang bekas seperti ban bekas. Dengan demikian gerakan PSN dengan 3M Plus yaitu Menguras tempat-tempat penampungan air minimal seminggu sekali atau menaburinya dengan bubuk abate untuk membunuh jentik nyamuk Aedes aegypti. kaleng bekas yang dapat menampung air hujan. Cara PSN DBD dilakukan dengan ”3M”. juice buah-buahan. Peran Masyarakat dalam Penanggulangan DBD Masyarakat berperan dalam upaya pemberantasan penyakit DBD. yaitu masyarakat dapat mengenali secara dini tanda-tanda penyakit DBD yang menimpa salah satu anggota keluarga maupun tetangga mereka dan segera merujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat. Seperti diketahui nyamuk Aedes aegipty adalah nyamuk domestik yang hidup sangat dekat dengan pemukiman penduduk seperti halnya Culex.

tidak kondusif untuk hidup nyamuk Aedes aegypti aegypti. Berbagai negara yang mempunyai masalah yang sama dengan Indonesia menggunakan berbagai macam pendekatan dalam melakukan PSN antara lain Singapura dan Malaysia menggunakan pendekatan hukum yaitu masayarakat yang rumahnya kedapatan ada jentik Aedes aegypti dihukum dengan membayar denda. Bagi pemilik rumah yang ditempeli stiker hitam diberi peringatan 3 kali untuk membersihan rumah dan lingkungannya dan jika tidak dilakukan maka orang tersebut dipanggil dan didenda. diare dan lain-lain akan ikut terberantas ibaratkan "sekali merengkuh dayung. Sejak dulu tidak ada yang berubah dengan bionomik atau perilaku hidup nyamuk Aedes aegypti sehingga teknologi pemberantasannya pun dari dulu tidak berubah. Jika ini dilakukan maka selain penyakit DBD maka penyakit-penyakit lain yang berbasis lingkungan seperti leptospirosis.. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 26 .. Gerakan Jumat Bersih (GJB). Berbagai gerakan yang pernah ada di masyarakat seperti Gerakan Disiplin Nasional (GDN).LAPORAN AKHIR Masyarakat juga melakukan upaya mencegah gigitan nyamuk dengan menggunakan obat gosok antinyamuk. Sri Lanka menggunakan gerakan Green Home Movement untuk tujuan yang sama yaitu menempelkan stiker hijau bagi rumah yang memenuhi syarat kebersihan dan kesehatan termasuk bebas dari jentik Aedes aegypti dan menempelkan stiker hitam pada rumah yang tidak memenuhi syarat kebersihan dan kesehatan. Teknologi yang digunakan oleh Jenderal Gorgas adalah gerakan PSN yang dilaksanakan serentak dan secara besar-besaran di seluruh negeri." Keberhasilan Jenderal WC Gorgas memberantas nyamuk Aedes aegypti untuk memberantas demam kuning (Yellow Fever) lebih dari 100 tahun yang lalu di Kuba dapat kita ulangi di Indonesia. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa dalam upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit DBD oleh masyarakat sangat besar. Kota Sehat dan gerakangerakan lain serupa dapat dihidupkan kembali untuk membudayakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Agar gerakan yang dilakukan oleh Jenderal Gorgas bisa dilakukan di Indonesia diperlukan komitmen yang kuat dari seluruh jajaran struktur pemerintahan bersama-sama masyarakat dan swasta. Dalam era otonomi dan desentralisasi saat ini Pemerintah Kabupaten/Kota dalam mengatur rumah tangganya sendiri dapat melakukan gerakan-gerakan inovatif seperti yang disebutkan di atas yang didukung dengan berbagai Peraturan Daerah. terus-menerus berupa gerakan serentak. sehingga dapat mengubah perilaku masyarakat dan lingkungannya ke arah perilaku dan lingkungan yang bersih dan sehat. Adipura. Pemberantasan DBD akan berhasil dengan baik jika upaya PSN dengan 3M Plus dilakukan secara sistematis. menyemprot rumah dengan obat nyamuk yang tersedia luas di pasaran. tidur dengan kelambu. boleh dikatakan lebih dari 90% dari keseluruhan upaya pemberantasan penyakit DBD. Dan upaya tersebut sangat berkaitan dengan faktor perilaku dan faktor lingkungan. Hal sederhana lainnya yang dilakukan oleh masyarakat adalah menata gantungan baju dengan baik agar tidak menjadi tempat hinggap dan istirahat nyamuk Aedes aegypti. dua tiga pulau terlampaui..

(2) data. (4) Luas Daerah Terserang. (4) dana. (3) sarana. (2) pelaksanaan diseminasi informasi DBD. (4) dana. Kinerja Penanggulangan diukur dengan melihat (1) Frekuensi KLB. kerangka pikir kajian digambarkan dalam skema berikut: BAB 3 Kinerja Surveilans DESENTRALISASI KEWENANGAN IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENYAKIT MENULAR Kinerja Penanggulangan Gambar 3. Kinerja surveilans diukur dengan melihat (1) keberadaan peta rawan. Faktor-faktor yang terkait dengan kinerja surveilans mencakup (1) tenaga. (3) sarana. dan (3) pelaporan. (2) data.LAPORAN AKHIR METODOLOGI 3. dan (5) SOP. Implementasi kebijakan penyakit menular juga dipengaruhi kebijakan desentralisasi kewenangan pengelolaan pembangunan. dan (5) SOP. (2) Jumlah Kasus.1 Kerangka Pemikiran Kajian ini dilandasi pemikiran adanya hubungan timbal balik antara rendahnya kinerja surveilans dan kinerja penanggulangan dalam implementasi kebijakan penyakit menular khususnya dalam kasus kebijakan penanganan penyakit DBD.1 Kerangka Pikir Kajian Kebijakan Penannggulangan Penyakit Menular Kerangka pikir kajian tersebut selanjutnya dijabarkan dalam kerangka konsep kinerja surveilans dan kerangka konsep kinerja penanggulangan yang digambarkan dalam skema berikut: Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 27 . Berdasarkan landasan pemikiran diatas. Faktor-faktor yang terkait dengan kinerja surveilans mencakup (1) tenaga. (3) Jumlah Kematian.

Curah Hujan Kinerja Surveilans DBD •Peta Rawan KLB DBD .Peta Rawan KLB DBD •Diseminasi Informasi . Vektor . 2. Jentik . 2. Monev Kerangka Konsep Kinerja Surveilans Dana 1. 3. 2. PHLN) 2.Pelaporan Sarana 1. Sumber . Komunikasi. 6. 4. Jumlah . Pengolah data. support). klinis. Logistik. 2. APBD. Pengetahuan . Peraturan Gambar 3.3 Kerangka Konsep Kinerja Penanggulangan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 28 . Proses . Pengolah data. 3. Pedoman. Transportasi. Curah Hujan. insektisida. lab.2 Kerangka Konsep Kinerja Surveilans Tenaga 1. Logistik Kinerja Penanggulangan KLB DBD •Frekuensi KLB •Jumlah Kasus •Jumlah Kematian •Luas Daerah Terserang Sarana 1. Komunikasi SOP 1. Transportasi . Pedoman (7 seri : modelpokjanal . jenis pengeluaran Data Kasus . motivasi . Proses. Sumber (APBD. Vektor.Diseminasi Informasi . 3. alat penyemprotan SOP 1. 2. Jumlah . 5.LAPORAN AKHIR Tenaga 1. Tim Penanggulangan (epid. Lingkungan (genangan). 4. Peraturan Gambar 3. Pengetahuan (Penyelidikan & Penanggulangan) Kerangka Konsep Kinerja Penanggulangan Dana 1. 4. Jenis pengeluaran Data Kasus. 2. 3. Jentik. 3. 2. Obat. Prilaku (3M).

Curah Hujan 4 Sarana 1. Variabel Penelitian Variabel penelitian mencakup 2 aspek. dimana data diperoleh melalui angket dan wawancara kepada sejumlah responden terpilih secara acak. Peraturan KINERJA PENANGGULANGAN KLB DBD Idependent Variabel 1 Tenaga 1 Kinerja Penanggulangan KLB 1. Jentik 3. Kajian ini menggunakan metode penelitian survey explanatory. Frekuensi KLB 2. Pengetahuan (penyelidikan & Dependent Variabel 1 Tenaga Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 29 . Pelaporan Dependent Variabel 1. Jumlah 2. 2. Jenis pengeluaran 3 Data 1. Proses 4. Pengetahuan 4.2 Disain Kajian 1. Sumber 3. Tujuannya adalah untuk memperoleh berbagai gambaran yang jelas dan diskripsi yang lengkap tentang variabel penelitian. Jumlah 2. lab. Jumlah Kematian 4. klinis. Sumber 3. Vektor 4. Monitoring dan Evaluasi 2 Dana 1. Luas Daerah Terserang 1. Kasus 2.LAPORAN AKHIR 3. Komunikasi 5 SOP 1. Transportasi 2. Pengolah data 3. support) 2. Pedoman (7 seri modul pokjanal) 2. yaitu kinerja surveilans dan kinerja penanggulangan No Variabel Parameter yang diukur KINERJA SURVEILANS DBD Idependent Variabel 1 Kinerja Surveilans 1. Jumlah Kasus 3. Peta rawan KLB DBD 2 Diseminasi informasi 3. Tim Penanggulangan (epid.

baik dalam bentuk data kualitatif maupun kuantitatif. Alat penyemprotan 1. Keputusan Presiden. Logistik 5. Komunikasi 4. Peraturan Daerah maupun Peraturan Gubernur. laporan tahunan tentang Penanggulangan Penyakit Menular (P2M). Obat 6. Curah hujan 7. Jenis pengeluaran 1. Untuk interpretasi hasil analisis data. propinsi dan kab/kota. Peraturan Pemerintah. serta focus group discussion. Transportasi 2. Logistik 1. Proses 4. pengisian kuesioner. Data sekunder mencakup data berkaitan dengan profil kesehatan pusat.3 Jenis. Data primer yang didapat melalui wawancara mendalam (indepth interview) di berbagai tingkat (Pusat. Keputusan Dirjen. Sumber dan Pengumpulan Data Data yang dikumpulkan dalam kajian ini meliputi data primer dan data sekunder. laporan tentang wabah. peraturan perundangan dalam bentuk Undang-Undang. Pedoman (7 seri modul pokjanal) 2. Pengolah data 3. Jumlah 2. dilakukan pula studi kepustakaan terutama kajian teoritis dari hasil penelitian terdahulu yang relevan dengan kajian ini Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 30 . Kasus 2. Keputusan Menteri Kesehatan. Jentik 3. Sumber 3. Peraturan 3. Vektor 6. kab/kota). Insektisida 7. Prilaku (3M) 5. Lingkungan (genangan) 4.LAPORAN AKHIR 2 Dana 3 Data 4 Sarana 5 SOP penanggulangan) 1. propinsi.

(2) Seksi Surveilans. (5) unit umum Puskesmas : (1) Kepala Puskesmas. Kota Makasar 2. (3) staf Kesling Rumah Sakit: (1) Wakil Direktur Yanmed. Kab. Kab Lombok Tengah TOTAL Dinas 5 3 2 3 2 2 1 1 2 2 1 2 2 1 2 3 2 3 47 PKM 4 5 3 2 3 4 2 2 4 4 4 6 43 Rumah Sakit 1 1 2 1 2 1 1 4 1 2 2 3 21 Bapp 2 1 1 2 1 1 2 1 1 1 1 1 15 Masy 1 1 20 1 1 18 1 1 13 2 1 20 1 1 25 2 0 13 122 Jml 26 Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 31 . Tabel 3. (2) ahli epidemiologi dari Departemen Kesehatan. Bogor Jawa Timur 1. Kota Balikpapan Sulawesi Selatan 1. (3) unit penanggulangan P2B2. subdit arbovirosis. Rumah Sakit. Gowa Nusa Tenggara Barat 1. (2) unit surveilans. Gresik Kalimantan Timur 1. (4) unit kepegawaian. (2) petugas P2M. yang memiliki keahlian dan pengalaman dalam penanggulangan penyakit menular. Siak Jawa Barat 1. (5) Kabag Keuangan. (4) Kabag Kepegawaian. yaitu (1) kelompok pelaksana yang terlibat dalam penanggulangan penyakit menular. (3) pakar lain dari WHO. Kab. Kab. Kota Bandung 2. bagian PI dan kepegawaian. (4) Lab. Kota Mataram 2. Kota Pekanbaru 2. Medical Record. Kab. Yanmedik dan Binkesmas Dinas Kesehatan Propinsi: (1) Kasubdin P2M. Kota Samarinda 2.LAPORAN AKHIR 3. (3) P2B2. Kelompok Pelaksana yang menjadi responden mencakup Pusat: Dit Epidemiologi dan P2B2 Ditjen P2M. serta (2) kelompok pakar.1 Responden Kajian No 1 2 3 4 5 6 Propinsi/Kab Riau 1. (6) Kasubag Umum Kabupaten Dinas Kesehatan: (1) subdin P2M. (2) UGD. Kelompok Pakar yang menjadi responden adalah (1) ahli epidemiologi dari Perguruan Tinggi.4 Responden Kajian Responden Kajian mencakup 2 (dua) kelompok. Kota Surabaya 2. (3) Bag.

Interpretasi hasil wawancara FGD Kesimpulan & Rekomendasi Kebijakan Gambar 3. baik berbentuk data sekunder maupun hasil wawancara mendalam. Pada setiap propinsi di ambil 2 (dua) Kabupaten/Kota dengan kriteria pemilihan kabupaten adalah o Prevalensi kasus DBD yang tinggi dan rendah o 1 kab/kota terletak di ibu kota propinsi dan 1 kab/kota di luar kab/ibu kota propinsi Pada setiap kabupaten dipilih dua puskesmas dan 1 (satu) rumah sakit. Analisis dan interpretsi selanjutnya data yang sudah dibuat dalam bentuk tabulasi serta berdasarkan hasil wawancara mendalam dengan responden.5. diolah dan ditabulasikan untuk memudahkan dalam proses analisis.LAPORAN AKHIR 3.Mengelompokkan .Mengolah .Data Primer (kuesioner & wawancara) Pengolahan Data . 24 puskesmas. Pengumpulan Data .4 Tahapan Pelaksanaan Kajian Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 32 . mendapatkan rumusan hasil kajian lebih fokus. dan 12 rumah sakit 3. Selanjutnya data hasil pengumpulan di lapangan dikelompokan. Hasil FGD disosialisasikan dalam bentuk workshop untuk kemudian dirumuskan dalam bentuk kesimpulan dan rekomendasi serta implikasi kebijakan.Interpertasi data . dengan kriteria. o Prevalensi kasus DBD tinggi dan rendah o Puskesmas di ibukota kabupaten o Puskesmas di kecamatan di luar ibu kota kab/kota Dengan demikian jumlah sampel kabupaten/kota sebanyak 12 buah.Data Sekunder . Tengah dan Timur. Berdasarkan hasil analisis dan temuan yang didapat selanjutnya dilakukan pembahasan dengan nara sumber dalam bentuk focus group discussion (FGD).6 Teknik Analisis Teknik analisis yang dilakukan dalam kajian ini adalah dengan melakukan analisis diskriptif (kualitatif) berdasarkan data dan informasi yang didapat di lapangan.Mentabulasi Analisis Data . Lokasi Kajian Kajian ini dilaksanakan di 6 (enam) propinsi terpilih yang ditentukan berdasarkan karakteristik frekuensi terjadinya kejadian penyakit menular dari kelompok propinsi di Indonesia Bagian Barat.

1 Incidence Rate (IR) dan Case Fatalities Rate (CFR) Berdasarkan data tahun 1968 sampai dengan tahun 2004.00 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 00 01 02 03 04 TAHUN 0 .00 2 0. 1999 dan tahun 2004. Implementasi Kebijakan Penanggulangan DBD 4. R 2 0. Angka tertinggi IR terjadi pada tahun 1968.00 CFR 4 0. hal ini dimungkinkan makin banyaknya kasus-kasus DBD yang tertangani.0 0 1 5. peningkatan IR yang paling tinggi tidak mengakibatkan CFR meningkat di tahun yang sama. Pada kurun waktu tahun 2000 – 2004 terjadi kecenderungan peningkatan IR.00 5 . terlihat makin menurunnya CFR.2004.1 IR & CFR Tahun 1968-2004 IR & CFR DBD DI INDONESIA TAHUN 1968-2004 4 0.7. 1988. 2005 Apabila dilihat secara khusus per bulan selama kurun waktu 2003 .00 3 5.00 4 5. maka kecenderungan terjadinya peningkatan kasus DBD lazimnya dimulai pada akhir bulan Desember sampai dengan terbanyak yang lazimnya terjadi pada sekitar bulan Februari – Maret (lihat Gambar 1.0 0 1 0. Depkes.00 Sumber: Subdit Arbovirosis.00 0.00 CFR 2 5. Jika diperhatikan gambaran IR dan CFR (gambar) antara kurun waktu 1968 sampai 2004. Tingginya curah hujan menyebabkan banyaknya genangan-genangan air yang memudahkan nyamuk untuk berkembangbiak.0 0 3 0. Gambar 4.0 0 2 5.0 0 I.0 0 3 0. Ditjen PP&PL.LAPORAN AKHIR BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.0 0 5. dan tidak terlaksananya program baik PSN Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 33 . Kesadaran masyarakat mengenai kasus DBD dapat memperkecil peningkatan CFR. Dapat dilihat pada tahun 1998. gambaran Incidence Rate (IR) dan Case Fatalities Rate (CFR) penyakit DBD ini dapat dilihat pada Gambar di bawah ini.1. namun demikian.00 1 0.1. di bawah ini). PHBS yang rendah masih menjadi salah satu pemicu tidak menurunnya kasus IR.0 0 IR 3 5.00 1 5.

0 335 KASUS 9.79 1. Sumber: Subdit Arbovirosis. menunjukkan bahwa kecenderungan peningkatan kasus DBD per bulan hampir sama polanya dengan tahun 2003 – 2004.61 5.59 2. data tahun 2005 – 2006.94 6. 2006 11.35 5.76 1. Hal ini ada kaitannya dengan pergantian musim kemarau ke musim hujan.LAPORAN AKHIR (Pemberantasan Sarang Nyamuk) maupun 3M mengakibatkan kecenderungan peningkatan kasus DBD.3 18.7 15.000 10. Ditjen PP&PL.65 5.2 Perkembangan Kasus DBD Nasional Per Bulan PERKEMBANGAN KASUS DBD NASIONAL PER BULAN 30000 2003-2004 25000 20000 S SU KA 15000 KASUS IK NA 10000 5000 0 JAN FEB MAR APR MAY JUN JUL AUG SEP OCT NOV DEC JAN FEB MAR APR 2003 2004 Sumber: Subdit Arbovirosis.7. 7.77 2. 3 KASUS DBDPer Bulan di Indonesia.4 10.004 2.99 7.000 0 JAN FEB MARAPRMAYJUN JUL AUGSEPOCT NOVDECJAN FEB MARAPRMAYJUN JUL AUGSEPOCT NOVDES JAN FEB MARAPRMAY 2.03 8. Depkes. Depkes. Ditjen PP&PL.000 20.000 25.0 6.27 1. Gambar 4.61 10.03 5.10 908 992 1.9 7. tahun 2005-2006 Kasus DBD PER BULAN DI INDONESIA TAHUN 2005-2006 35.52 6.8 30. yaitu pada bulan akhir Desember (lihat Gambar 1.000 5. Gambar 4. 2005 Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 34 .a).41 19.005 14.000 15. 2005 Sementara itu.000 30.

LAPORAN AKHIR Gambar 4. data tahun 2003 hingga Juni 2006. maka cara yang paling efektif untuk mencegah penyakit DBD ialah dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) yang dilaksanakan oleh masyarakat/keluarga secara teratur setiap seminggu sekali. Pada awalnya strategi utama pemberantasan DBD adalah pemberantasan nyamuk dewasa melalui pengasapan.034 8 8528 9 6997 10 7610 11 12 10712 15355 18. 1. Ditjen PP&PL. 4. Kedua metode ini sampai sekarang belum memperlihatkan hasil yang memuaskan dimana terbukti dengan peningkatan kasus dan bertambahnya jumlah wilayah yang terjangkit DBD.4 JUMLAH KASUS DBD DI INDONESIA TAHUN 2005 & 2006 JUMLAH KASUS DBD DI INDONESIA TAHUN 2004 DAN 2005 (SITUASI SD TGLJuni 2006) (s/d 19 19 JUNI 2006) 20000 18000 16000 14000 12000 10000 8000 6000 4000 2000 0 2005 2006 Total sd Akhir Mei 2005: 35. (3) meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi program pemberantasan DBD.686 Total sd Akhir Mei 2006: 50.7.935 1 2005 2006 6475 2 10916 3 7610 4 5033 5 5652 335 6 5357 7 5.028 Sumber: Subdit Arbovirosis. yaitu kecenderungan terjadinya peningkatan kasus DBD pada akhir bulan Desember sampai dengan kasus terbanyak pada bulan Februari – Maret. (2) meningkatkan perlindungan kesehatan masyarakat terhadap penyakit DBD. Mengingat obat dan vaksin untuk membunuh virus dengue belum ada.1. terlihat pola yang jelas mengenai kecenderungan peningkatan kasus DBD. 2005 Berdasarkan gambar 1. Kebijakan dalam rangka penanggulangan menyebarnya DBD adalah (1) peningkatan perilaku dalam hidup sehat dan keamandiriian masyarakat terhadap penyakit DBD. dan 1.143 11.2 Kebijakan Penanggulangan Penyakit DBD Departemen Kesehatan telah melewati pengalaman yang cukup panjang dalam penanggulangan penyakit DBD. dan (4) memantapkan kerjasama lintas sektor/lintas program. Strategi dalam pelaksanaan kebijakan di atas dilakukan melalui Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 35 . seperti di atas.01 14. Depkes. Hal ini menurut beberapa hasil analisa ada kaitannya dengan pergantian musim kemarau ke musim hujan.418 7.7a.8. Kemudian strategi diperluas dengan menggunakan larvasida yang ditaburkan ke Tempat Penampungan Air (TPA).

Meningkatnya peran aktif masyarakat dalam pencegahan dan penanggulangan penyakit DBD merupakan salah satu kunci keberhasilan upaya pemberantasan penyakit DBD. meningkatkan dan mewujudkan kemitraan. dan berbagai kegiatan KIE kepada semua pihak yang terkait perlu dilaksanakan agar semuanya dapat memahami peran lingkungan dalam pemberantasan penyakit DBD. (2) Peningkatan Kemitraan Berwawasan Bebas dari Penyakit DBD. (3) Peningkatan Profesionalisme Pengelola Program. sosialisasi. maka identifikasi stakeholders baik sebagai mitra maupun pelaku potensial. Optimalisasi pendelegasian wewenang pengelola kepada kabupaten/kota. SDM yang terampil dan menguasai IPTEK merupakan salah satu unsur penting dalam pelaksanaan program P2 DBD. Oleh sebab itu. (5) Pembangunan Berwawasan Kesehatan Lingkungan. dan pemeriksaan jentik berkala (PJB) yang dilakukan setiap 3 bulan sekali. advokasi. virology dan faktor-faktor perubahan iklim. (4) Desentralisasi. Pertemuan berkala sejak dari tahap perencanaan sampai tahap pelaksanaan. Penyakit DBD hampir tersebar luas di seluruh Indonesia kecuali di daerah yang di atas 1000 m diatas permukaan air laut. peran sektor terkait pemberantasan penyakit DBD sangat menentukan. Pengetahuan mengenai Bionomic vektor. Meningkatnya mutu lingkungan hidup dapat mengurangi angka kesakitan penyakit DBD karena di tempat-tempat penampungan air bersih dapat dibersihkan setiap minggu secara berkesinambungan. dikarenakan perbedaan situasi dan kondisi wilayah.LAPORAN AKHIR (1) Pemberdayaan masyarakat. Orientasi. merupakan langkah awal dalam menggalang. pemantauan dan penilaian. tata laksana kasus harus dikuasai karena hal-hal tersebut merupakan landasan dalam penyususnan kebijaksanaan program P2 DBD. (3) Bulan Bakti gerakan ”3M”. Upaya pemberantasan penyakit DBD tidak dapat dilaksanakan oleh sektor kesehatan saja. Untuk mendorong meningkatnya peran aktif masyarakat. maka upaya-upaya KIE. dan berbagai upaya penyuluhan kesehatan lainnya dilaksanakan secara intensif dan berkesinambungan melalui berbagai media massa dan sarana. Jaringan kemitraan diselenggarakan melalui pertemuan berkala. (2) Pemberantasan vektor melalui PSN dengan cara 3M Plus. sehingga populasi vektor sebagai penular penyakit DBD dapat berkurang. guna memadukan berbagai sumber daya yang tersedia di masing-masing mitra. Angka kesakitan penyakit ini bervariasi antara satu wilayah dengan wilayah lain. (4) Penanggulangan kasus. social marketing. Pokok-pokok program pemberantasan DBD mencakup (1) Kewaspadaan dini DBD. dimana Puskesmas melakukan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 36 .

PMD. sedangkan sekretariat berada di kantor Dinas Kesehatan.LAPORAN AKHIR penyelidikan epidemiologi (PE) untuk mengurangi persebaran lebih luas dan tindakan yang lebih tepat. Dana KLB dianggarkan dengan menggunakan pola kinerja artinya bila KLB tidak terjadi. lintas sektor. Dinkes. dana bencana dan dana belanja rutin sekretariat daerah. (2) surveilans epidemiologi. melengkapi sarana pemberantasan vektor. (2) mengembangkan dan memperkuat jejaring surveilans epidemiologi dengan fokus pemantauan wilayah setempat. pengendalian faktor resiko dan penyehatan lingkungan. Depag dan pihak legislatif. (6) peningkatan profesionalisme SDM. (8) Penelitian. (2) pemberantasan vektor. perbaikan manajemen kasus diagnostik dan pengobatan serta rujukan. Strategi yang dilakukan mencakup (1) intensifikasi pelaksanaan kasus melalui pencarian kasus dan pemutusan rantai penularan. komunikasi perubahan perilaku. melalui pelaksanaan pertemuan berkala Pokjanal/Pokja DBD. (3) meningkatkan SDM. dan menyiapkan sarana pemeriksaan untuk diagnosa melaksanakan PE dan penanggulangan fokus. melalui perencanaan. pemantauan dan informasi program pemberantasan penyakit dan meningkatkan kewaspadaan di semua tingkat administrasi. sebagai dasar tindak lanjut perencanaan program dan penanggulangan KLB. pelatihan tenaga operasional. serta kemitraan dengan masyrakat (LSM) termasuk swasta. Program yang dilakukan mencakup (1) kewaspadaan dini DBD melalui penyuluhan intensif. Tim Pokjanal DBD terdiri dari unsur-unsur Diknas. (3) memantapkan jejaring lintas program. Ketiga dana tersebut diatas berasal dari dana Kantor Walikota. kab/kota. (5) meningkatkan kemampuan penggalian sumberdaya daerah dan sumberdaya masyarakat dalam pengelolaan program P2M. (5) penanggulangan KLB. Bila Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 37 . yaitu dana tak terduga. kewaspadaan dini. melalui penyediaan insektisida dan larvasida. pembinaan dalam pelaksanaan gerakan 3M. (7) Pendekatan Peran Serta Masyarakat dann PSN DBD. pelatihan tenaga puskesmas dan rumah sakit. tersedia pos untuk penanggulangan. Strategi dan program adalah (1) pertemuan dengan tim pokjanal DBD propinsi Riau menghasilkan beberapa kesepakatan yang menitikberatkan pada peran aktif dari pokja/pokjanal DBD dengan melibatkan masyarakat. Bappeda. (2) Di Kota Pekanbaru. (4) menyiapkan pengadaan dan distribusi kebutuhan obatobatan dan bahan-bahan yang esensial. strategi dan program penanggulangan DBD di daerah lokasi kajian dilaporkan sebagai berikut: Propinsi Riau Kebijakan Daerah mecakup (1) pemberantasan DBD diselenggarakan dengan menggunakan penatalaksanaan kasus secara cepat dan tepat. menyiapkan juknis dan juklaknya. maka uang tidak bisa dicairkan. lintas program dan lintas sektor terkait serta mengaktifkan kembali peran UKS (Usaha Kesehatan Sekolah) untuk menggerakkan anak sekolah dalam pemberantasan demam berdarah. PKK. (3) Bila terjadi KLB. Implementasi kebijakan. sedangkan dana dari Dinas Kesehatan diutamakan untuk membeli peralatan dan kegiatan yang sifatnya pencegahan. Hasil implementasi kebijakan. Tim Pokjanal DBD diketuai oleh Walikota.

kesibukan kader. dan melakukan ”CLEAN-UP” lingkungan yang dipimpin oleh walikota selama 1-2 jam. diketuai oleh Bappeda dan sekretariat juga berada di Bappeda. dan tidak seimbangnya jumlah kader dengan cakupan daerah yang harus diselidiki. (7) Pendekatan Peran Serta Masyarakat dann PSN DBD. yaitu mencakup 1) Kewaspadaan dini DBD. (5) Pelibatan lintas sektor.LAPORAN AKHIR terjadi KLB. dan propinsi. (3) Upaya peningkatan kemampuan tenaga kesehatan dalam penanggulangan DBD secara kuratif dilakukan melalui ”workshop tata laksana” dengan melibatkan dokter spesialis dan urusan dalam. Hasil pelaksanaan program ditunjukkan antara lain (1) pemantauan jentik belum optimal dilakukan oleh kader dengan alasan terbatasnya dana operasional. (4) Penanggulangan kasus. (4) penemuan kasus dilaksanakan secara bekerjasama dengan masyarakat. puskesmas dan masyarakat. Strategi dalam penanggulangan DBD dilakukan melalui (1) penemuan kasus dan kematian melalui surveilans di rumah sakit. Propinsi Jawa Timur Kebijakan daerah mencakup (1) upaya penanggulangan masalah-masalah kesehatan yang dilakukan merupakan hasil dari kajian surveilans epidemiologi. pemeriksaan jentik dengan memberdayakan tenaga jumantik. perawat. praktek swasta. (3) Bulan Bakti gerakan ”3M”. (4) Pelibatan partisipasi masyarakat melalui gerakan PSN setiap hari Jumat pagi. bidan. dukun bayi dan kendaraan kesehatan. Kegiatan pokok adalah melakukan rapat lintas sektor untuk menangani masalah-masalah khususnya penyakit menular. dimana Puskesmas melakukan penyelidikan epidemiologi (PE) untuk mengurangi persebaran lebih luas dan tindakan yang lebih tepat. (2) Fogging dilaksanakan apabila terjadi KLB dengan menggunakan dana yang berasal dari Dinas Kesehatan Kabupaten dengan peruntukan untuk larvasidasi dan abatesisasi. maka kinerjanya akan dipertanyakan (3) Disamping Tim Pokjanal DBD. Kota Pekanbaru juga memiliki Forum Perkampungan Sehat. (5) penanggulangan KLB. (2) kegiatan surveilans epidemiologi dilaksanakan oleh tim fungsional di masingmasing tingkat mulai dari Puskesmas. Strategi pelaksanaan kebijakan penanggulangan DBD di Propinsi Jawa Barat dilakukan melalui (1) pendekatan ”gerak cepat” dan putus rantai. uang dicairkan. (2) upaya preventif yang dilakukan melalui ”managing vector and environment” malalui gerakan 3M yang dilakukan secara lintas sektor dalam wadah Pokjanal DBD. (2) Pemberantasan vektor melalui PSN dengan cara 3M Plus. (3) komitmen dari pimpinan unit penyelenggara kesehatan diperlukan untuk kegiatan surveilans epidemiologi. Propinsi Jawa Barat Kebijakan penanggulangan di Jawa Barat secara umum mengacu pada kebijakan dan program yang telah ditetapkan oleh Departemen Kesehatan (Pusat). (6) Sosialisasi Pola Hidup Bersih (PHBS). dokter. (6) peningkatan profesionalisme SDM. yaitu pada setiap kasus petugas siap melakukan PE sehingga ditemukan akar permasalahan dan sumber penyebabnya untuk kemudian dilakukan tindakan agar tidak menyebar ke tempat lain. (2) Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 38 . kab/kota. (8) Penelitian. fogging focus massal. dan pemeriksaan jentik berkala (PJB) yang dilakukan setiap 3 bulan sekali.

(3) Pelatihan tenaga surveilens (pelatihan epidemiologi. Gambaran implementasi adalah (1) Pelaksanaan penanggulangan DBD melibatkan masyarakat. (3) penyelidikan epidemiologi terhadap kasus yang dicurigai pada daerah yang resiko rendah. kerja sama dengan dengan masyarakat dan swasta. memastikan diagnostik etiologi. (3) Untuk tahun 2005. (5) Dinas kesehatan kota Balikpapan selalu melaksanakan pendataan DBD dengan rutin. (2) Pemberantasan vector. mengidentifikasikan sumber dan cara penyebaran. Kota Balikpapan memiliki Yayasan DBD yang ketuanya adalah kasubdin P2M Dinkes dan didanai oleh perusahaan minyak swasta. orang dan tempat. lintas program dan lintas sekor terkait. pertemuan berkala Pokjanal/Pokja DBD. membuat cara penanggulangan sementara. mengidentifikasi dan menghitung kasus atau paparan. beranggotakan kepala – kepala dinas yang ketika diadakan rapat-rapat selalu dihadiri oleh personal yang berlainan. menetapkan sistem penemuan kasus baru. Pokok-pokok Program yang dilakukan mencakup Kewaspadaan Dini DBD. melalui persiapan penyelidikan lapangan. perubahan perilaku dalam pola hidup bersih dan sehat. (5) melakukan studi epidemiologi pada daerah dengan kinerja yang tidak baik. (2) Tim Pokjanal DBD diketuai oleh Walikota. kewaspadaan dini. pelaksanaan gerakan 3M. penyuluhan. APBD mengalokasikan dana 500 juta untuk penanggulangan KLB dan habis untuk penanggulangan KLB DBD. (6) Pelatihan khusus tentang epidemiologi dan surveillens baru dilakukan 1 kali dalam 5 tahun terakhir. dan (3) Membangun kerja sama lintas sektor. menetapkan rekomendasi cara pencegahan dan penanggulangan. (4) melakukan kajian epidemiologi harus bekerjasama dengan lintas program dan lintas sektor. (2) Pelaksanaan Surveilans Epidemiologi. status gizi. mendeskripsikan kasus berdasarkan waktu. mengamati indikasi pra-KLB misal cakupan program. pelaksanaan PE.LAPORAN AKHIR pencarian kasus tambahan dilakukan pada saat penyelidikan epidemiologi. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 39 . melengkapi sarana pemerantasan vektor. pengolahan dan analisis data untuk penyusunan rumusan kegiatan perbaikan oleh tim epidemiologi. penyehatan lingkungan. Strategi yang dilakukan mencakup (1) peningkatan pencarian kasus dan pemutusan rantai penularan perbaikan manajemen pengobatan serta rujukan. merencanakan penelitian lain yang sistematis. menetapkan apakah kejadian tersebut suatu KLB. perilaku masyarakat. Pelaksanaan program penanggulangan DBD mencakup (1) SKD-KLB melalui kegiatan pengumpulan data baru dari penyakit-penyakit yang berpotensi KLB. (4) Di samping Tim Pokjanal DBD. sehingga sesuai data memang DBD di Kota Balikpapan tinggi. (2) mengembangkan dan memperkuat jejaring surveilans epidemiologi dengan fokus pemantauan wilayah setempat. mengidentifikasikan keadaan penyebab KLB. penyediaan insektisida dan larvasida. Propinsi Kalimantan Timur Kebijakan Daerah yang dilakukan mencakup (1) Pemberantasan DBD diselenggarakan dengan menggunakan penatalaksanaan kasus secara cepat dan tepat. pelatihan tenaga kesehatan. (2) penyelidikan dan penanggulangan KLB.

pada dasarnya dilaksanakan berpedoman pada arah kebijakan dan program dari Pemerintah Pusat (Departemen Kesehatan). Namun terdapat ”gap” pelaksanaan/penanganan KLB. gerakan PSN. kab/kota dan puskesmas. 4. Materi yang disusun dalam prosedur tetap (Protap) ini adalah langkahlangkah penanggulangan DBD sebagai berikut: (1) Kewaspadan Dini.3 Kendala Penanggulangan DBD Kendala penting yang masih terjadi saat ini adalah kurang atau tidak adanya koordinasi dari instansi-instansi yang seharusnya terkait dalam menangani Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 40 . pengamatan bebas jentik dilakukan oleh murid-murid sekolah dan telah terbukti cukup efektif untuk dapat direflikasi di daerah lain. melalui pelatihan petugas kesehatan. (2) Penanggulangan KLB menemukan jumlah kasus KLB DBD tahun 2005 sebanyak 66 kasus. sedangkan tahun 2004 jumlah KLB DBD sebanyak 88 kasus. dimana peran puskesmas sangat kecil karena dukungan dana dan personil sangat kecil. (3) Peningkatan Sumber Daya Manusia. melalui penemuan dan pelaporan penderita. terutama untuk insentif tenaga kesehatan dan kader. dan fogging massal.1. abatisasi. Surveilans dilaksanakan pada tingkat dinas kesehatan propinsi. pembinaan di 23 kab/kota. (3) Penanggulangan KLB. Dinkes Propinsi Nusa Tenggara Barat membuat pedoman operasional yang berisi ”step by step” metodologi penanggulangan DBD. dukungan dana surveilans tertolong oleh adanya subsidi dari Askeskin. Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Selatan selanjutnya menyusun Prosedur Tetap (Protap) Penanggulangan DBD sebagai pedoman/acuan pelaksanaan kegiatan Dinas Kesehatan Propinsi dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. pertemuan Kewaspadaan Dini DBD sebanyak 4 kali melibatkan sektor terkait. lintas program dan kabupaten/kota terdekat. (2) Pemberantasan Nyamuk Penular DBD terhadap nyamuk dewasa dan jentik nyamuk. (4) Peningkatan SDM. menghasilkan penemuan dan pelaporan penderita. penanggulangan fokus. pemantauan jentik berkala. Dengan demikian Puskesmas sebagai fasilitas yang paling dekat dengan masyarakat tidak dimanfaatkan dengan baik dalam penanggulangan KLB DBD. Di kabupaten Lombok Tengah. Pada pelaksanaan di Puskesmas. Implementasi kebijakan penanggulangan DBD di Sulawesi Selatan antara lain (1) Kewaspadaan Dini. pemantauan jentik berkala di berbagai kabupaten endemis dengan sasaran masing-masing 100 rumah. khususnya penyakit DBD di Propinsi Sulawesi Selatan. bulan kewaspadaan DBD. penyuluhan intensif melalui media cetak dan elektronik. melakukan pelatihan tatalaksana DBD bagi dokter di rumah sakit pada daerah endemis. Propinsi Nusa Tenggara Barat Pedoman surveilans dan KLB kurang operasional.LAPORAN AKHIR Propinsi Sulawesi Selatan Upaya penanggulangan kejadian luar biasa (KLB)/penyakit menular. pelatihan bagi pengelola program P2 DBD di 23 kab/kota. melalui penyuluhan.

3. Responden yang diharapkan sebagai informan tidak sesuai. 4.2. yang memang membutuhkan biaya sangat tinggi. selama PDAM belum mampu menyediakan air bersih untuk seluruh penduduk. serta instansi penyedia sarana air bersih (PDAM) juga harus ikut pula berpartisipasi. Kalimantan Timur. Jawa Barat. Beberapa kendala yang ditemukan di lapangan. 2 puskesmas dan 1 Rumah Sakit. Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Barat. diantaranya: 1. Instansi-instansi yang mengatur tata kota dan permukiman.3. Jawa Timur. pemerintah pusat mengalami kendala dalam pendistribusiannya ke daerah. melainkan juga terkait dengan instansi lainnya. serta melakukan wawancara ke Bappeda dan masyarakat. Kebijakan tersebut terkait dengan anggaran kesehatan untuk pencegahan serta pemberantasan penyakit menular.4. bahkan Dinas Pendidikan. Pada tiap propinsi dilakukan kunjungan dan wawancara terhadap 2 kabupaten/kota. 4. Pihak daerah seringkali kewalahan dalam penyediaan biaya operasional penanganan penyakit karena keterbatasan sumberdaya. Penanganan DBD tidak semata-mata tugas Dinas Kesehatan. Dengan demikian.LAPORAN AKHIR DBD sehingga menimbulkan masalah tersendiri di lapangan. baik di musim penghujan maupun di musim kemarau. Disisi lain adanya desentralisasi sumberdaya yang dimiliki. 4. yaitu propinsi Riau. Hal ini menjadi faktor penghambat praktek penanganan kasus di lapangan. dan di tiap kabupaten/kota tersebut. Dengan adanya kewenangan penanganan yang didaerahkan terkadang menyulitkan dalam koordinasi penganggaran. baik dana maupun tenaga. nanggulangan DBD Kajian P2M KLB DBD dilakukan di enam propinsi. Sumber informan yang seharusnya dan pada saat yang bersamaan tidak berada di tempat sehingga dilakukan wawancara terhadap informan pengganti. Sebagai contoh. puskesmas dan rumah sakit. Adanya intervensi dalam pemilihan responden di tingkat dinas. Kinerja Surveilans dan Pe 4. dilakukan kunjungan ke dinas kesehatan kabupaten/kota. maka penduduk masih terpaksa menyiapkan bak mandi dan tandon-tandon air (yang dapat menjadi sarang nyamuk) untuk menampung air yang sering hanya menetes bahkan mampet. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 41 . populasi nyamuk Aides dewasa yang mempunyai potensi menyebarkan virus dengue juga akan selalu dijumpai dan menjadi sumber penularan di sepanjang tahun. Kebijakan desentralisasi juga berpengaruh terhadap koordinasi antara pusat dan daerah dalam kewenangan penanganan DBD. sarang-sarang nyamuk Aides akan tetap ada di sepanjang tahun. Karena itu. Adanya intervensi dari pendamping (orang dinas) dalam wawancara di tingkat Kab/kota. 2. kebersihan dan lingkungan hidup. hal ini dikarenakan adanya perubahan posisi (rolling) yang terjadi beberapa bulan sebelum kunjungan.

Berdasarkan data tersebut terlihat 4 dari 5 dinkes propinsi memiliki peta rawan sebagai salah satu indikator kinerja surveilans. dan W1. dari 12 dinkes kab/kota sebanyak 10 dinkes kab/kota atau 83.0 16. Dari 19 puskesmas yang dikunjungi. DP-DBD.1 Distribusi Indikator Kinerja Surveilans di Dinkes Propinsi.0 60.3 jml 11 9 12 15 12 % 52.0 80. KDBD.LAPORAN AKHIR 5.4%) yang memiliki peta rawan. W2-DBD dan W1. RS dan Puskesmas DINKES DINKES RUMAH INDIKATOR PUSKESMAS KAB/KOTA PROPINSI SAKIT (ntot =24. Tabel 4. hanya 11 (52. Kesulitan pada proses wawancara di beberapa puskesmas dan RS dikarenakan waktu wawancara dilakukan pada saat jam kerja. 5 miss) KINERJA (ntot =12.0 80.9 57. Dinkes Kab/Kota. Sedangkan di tingkat kab/kota indikator kinerja surveilans yang dimiliki dinkes kab/kota dan RS lebih banyak pada Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 42 . Indikator kinerja surveilans tersebut tidak sepenuhnya merupakan indikator surveilans.0 jml 0 1 1 5 5 % 0. 4. 6 miss) (nto= 5. peta rawan tidak tersedia disemua puskesmas.3 58.0 60. RS dan Puskesmas.0 75. 6. dari sebanyak 12 rumah sakit kab-kota yang menjadi lokasi kajian. Dari tabel di atas tergambarkan di tingkat propinsi data tersebut hampir semuanya tersedia.4 42. 1 miss ) (ntot =12) Peta rawan DP-DBD K-DBD W2-DBD W1 jml 4 4 3 3 4 % 80. Begitu pula pada tingkat dinkes kab/kota. Dinkes Kab/Kota.1 Indikator Kinerja Surveilans dan Penanggulangan KLB (1) Indikator Kinerja Surveilans Peta Rawan Indikator Kinerja Surveilans bisa dilihat dari peta rawan.0 75. tak satupun memiliki peta rawan DBD.7 83. 2006 Selain peta rawan.3 50.2.3% memiliki peta rawan.0 jml 10 7 6 9 9 % 83. indikator kinerja surveilans lainnya adalah DP-DBD. Ketidaklengkapan data dikarenakan keterbatasan waktu dalam pengumpulan data 3 tahun terakhir (tahun 2003-2005). W2 DBD. Tidak demikian dengan Rumah Sakit.1 71. Hal ini dapat dipahami berkaitan dengan fungsi rumah sakit sebagai unit rujukan yang berperan melakukan tindakan medis atas kejadian kasus. Tabel di bawah ini memperlihatkan persentase keberadaan indikator tersebut di Dinkes Propinsi.1 Sumber: Data Lapangan.4 57.7 16. K-DBD. Sementara di Puskesmas sebagai unit pelayanan kesehatan dasar.3 83.

namun ketepatannya hanya 60% saja. Surveilans hanya menerima laporan yang berkaitan dengan KLB. 76% puskesmas sudah menerima laporan umpan balik dari Pemda kab/kota. Sementara. sementara untuk rumah sakit hanya 1 buah rumah sakit saja yang menerima laporan umpan balik dari Pemda kab/kota. faktor ketepatan juga sangat penting. Di tingkat propinsi maupun kabupaten/kota. dalam hal ini laporan W1. Pada level puskesmas. dinkes kab/kota dan puskesmas. meskipun kelengkapan laporan puskesmas mencapai 90-100%. Kadangkala diperlukan pengiriman informasi melalui short message system (sms dengan hand phone) untuk melaporkan kejadian BDB. Laporan umpan balik ke RS sangat jarang dilakukan. Diseminasi Informasi Kinerja surveilans juga diukur berdasarkan indikator diseminasi informasi seperti terlihat pada tabel di bawah ini. seksi surveilans dan program pemberantasan penyakit (dalam hal ini program DBD/pemberantasan penyakit bersumber binatang).LAPORAN AKHIR indikator W2 DBD dan W1. Dalam pembuatan laporan. ketiadaan indikator di atas karena pendekatan rumah sakit yang lebih kepada kuratif. Dari hasil keseluruhan memperlihatkan adanya persentase yang tinggi dalam hal kinerja ditingkat propinsi. Ke dua pertanyaan lainnya (penerbitan epidemiologi dan laporan umpan balik dari propinsi) tidak berkaitan langsung pada aktifitas puskesmas. Pada tingkatan rumah sakit. Di Samarinda. Pada tingkat puskesmas. Seperti halnya di propinsi Riau. W2. Sehingga. walau tidak semua puskesmas memilikinya. Demikian pula untuk pembuatan profil surveilans epidemiologi. keberadaaan datadata tersebut relatif tersedia. maka peta rawan adalah seluruh kota Samarinda itu sendiri. hanya pertanyaan mengenai adanya umpan balik dari kabupaten dan profil surveilans epidemiologi yang ditanyakan. diperoleh dari bagian program pemberantasan DBD. Laporan umpan balik dari propinsi sudah dilakukan oleh sebagian dinkes propinsi. setelah kejadian KLB laporan W2 seringkali terlupakan untuk dilaporkan oleh dinas kesehatan kabupaten/kota. Yang perlu diperhatikan adalah meskipun semua indikator terpenuhi. informasi mengenai ke lima indikator. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 43 . Di Dinkes kota Samarinda. pengumpulan data surveilans dilakukan oleh dua bagian. karena merupakan kota endemis. Lokasi yang tercakup dalam peta rawan kadang kali tidak kecil. merupakan gabungan dari bagian seksi surveilans dan program pemberantasan penyakit (DBD). laporan peta rawan. Penerbitan bulletin kajian epidemiologi ternyata lebih banyak dilakukan oleh Dinkes propinsi. DP-DBD. namun apakah laporan tersebut tepat waktu atau tidak. dan K-DBD. Sedangkan di tingkat Puskesmas. Pembuatan laporan pun tidak dilakukan setiap hari.

Gambar 4.LAPORAN AKHIR Tabel 4. Grafik diatas ini memperlihatkan dari ke 6 lokasi kajian. Dinkes Kab/Kota.0 1 7.1 RUMAH SAKIT (ntot =12) jml 0 % 0.0 DINKES KAB/KOTA ntot =12) jml 1 % 11.3 10 76.4 2 50.0 PUSKESMAS (ntot =24) jml 2 % 15.0 5 55.7 2 28.0 6 66.9 3 75.6 0 0.5 Data Kasus DBD di Lokasi Kajian Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 44 . 2006 (3) Indikator Kinerja Penanggulangan Data Kasus Hasil kinerja surveilans dan penanggulangan diukur dengan penemuan kasus.6 7 53. angka kematian dan Case Fatality Rate (CFR).7 Sumber: Data Lapangan.8 1 14.2 Distribusi Indikator Diseminasi Informasi Surveilans di Dinkes Propinsi. RS dan Puskesmas INDIKATOR KINERJA DINKES PROPINSI (ntot=6) jml Penerbitan buletin kajian epidemiologi Laporan umpan balik dari propinsi Laporan umpan balik dari kab/kota (untuk RS & puskesmas) Profil survaeilans epidemiologi 3 % 75.

2006 Berdasarkan gambar tersebut terlihat propinsi Jawa Barat memiliki kasus DBD yang paling banyak. Sedangkan kasus terendah terjadi di propinsi Nusa Tenggara Barat.LAPORAN AKHIR DATA KASUS DBD DI LOKASI KAJIAN TAHUN 2003-2005 20000 15000 10000 5000 0 RIAU JABAR JATIM KALTIM SU LSEL N TB 2003 739 8932 4243 2004 1059 19012 8321 2276 2005 1897 18590 14796 3165 3164 1062 2628 198 4175 805 Sumber: Ditjen PP & PL Depkes RI. disusul dengan Propinsi Jawa Timur. NTB adalah propinsi terendah Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 45 . 2006 Sementara untuk jumlah kematian. Berdasarkan data tersebut kecenderungan data selama tahun 2003-2005 menunjukkan peningkatan kasus di semua propinsi.6 Data Kematian DBD di Lokasi Kajian DATA KEMATIAN DBD DI LOKASI KAJIAN TAHUN 2003-2005 300 250 200 150 100 50 0 RIAU JABAR JATIM KALTIM SULSEL NTB 39 8 2003 6 201 59 2004 21 214 120 41 25 16 2005 32 285 254 82 59 15 Sumber: Ditjen PP & PL Depkes RI. Gambar 4. Grafik ini adalah data yang diambil di Dinkes propinsi. grafik di atas memperlihatkan jumlah kematian tertinggi di Jabar disusul dengan Jatim.

di sana banyak perumahan penduduk yang tersebar di pulau-pulau kecil sehingga menyulitkan petugas untuk memantau.86 1.59 1. CFR tertinggi adalah NTB. Pada tahun 2004 CFR di lokasi kajian terlihat rendah.41 1.98 1.00 0.LAPORAN AKHIR dalam jumlah kematian. khususnya pada rumah sakit yang berfungsi kuratif.44 1.2 2005 1.50 4.7 Case Fatality Rate (CFR)DBD di Lokasi Kajian CASE FATALITY RATE (CFR) DBD DI LOKASI KAJIAN TAHUN 2003-2005 4. Kaltim. Gambar 4.81 2.00 3. 2006 Untuk melihat kinerja penanganan kasus.00 1. bahkan di atas angka nasional. Seperti terjadi di Samarinda.00 RIAU JABAR JATIM KALTIM SULSEL NTB NAS 2003 0.50 1. Dari data yang dicatat dinkes propinsi selama tahun 2003-2005 menunjukkan sejumlah propinsi mengalami peningkatan jumlah kematian.53 1. yaitu di propinsi Riau. dapat dilihat dengan indikator CFR.36 Sumber: Ditjen PP & PL Depkes RI. Grafik di atas memperlihatkan pada tahun 2003. dan Sulsel.00 1.50 3.00 2.60 1. Tipe rumah panggung yang merupakan ciri masyarakat asli Kaltim turut menambah risiko pertumbuhan habibat jentik karena biasanya bagian bawah rumah tergenang air buangan rumah tersebut dan menjadi sarang nyamuk.5 2004 1. Masyarakat pun memiliki kebiasaan menampung air hujan (tadah hujan) yang menambah habitat jentik. Jabar.50 2.04 1.80 0. Namun bila Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 46 .39 0.48 4.69 1.50 0. Indikator ini menunjukkan jumlah penderita DBD yang meninggal dari tiap 100 penderita DBD.72 2. Sementara Dinkes tidak memiliki kendaraan untuk menjangkaunya.99 1.13 1. Jatim. Salah satu penyebab tingginya kasus DBD adalah faktor geografis dan perilaku masyarakat.25 1.

0 9.9 11. dokter gigi. tenaga rekam medis.2 Faktor-faktor Berpengaruh terhadap Kinerja Surveilans dan Kinerja Penanggulangan KLB (1) Tenaga Tenaga adalah sumberdaya manusia dari pihak provider kesehatan yang terlibat langsung dalam kegiatan surveilans maupun penanggulangan KLB. ahli gizi. Sementara di propinsi lain CFR terlihat fluktuatif (naik dan turun).9 3. kesehatan lingkungan/ sanitasi. Pada tingkat dinkes propinsi. 4. CFR tertinggi pada tahun 2005 adalah di propinsi Kaltim.LAPORAN AKHIR dibandingkan dengan angka nasional.1 34. tenaga fogging. Lulusan S1 dan S2 Epidemiologi lebih banyak berperan sebagai tenaga surveilans. komposisi jenis tenaga yang bertugas dalam pelaksanaan surveilans dan penanggulangan terbanyak adalah S1 dan S2 Epidemiologi. APK. Tabel 4.6 8.6 9.3 Distribusi Jenis Tenaga di Dinkes Propinsi dan Dinkes Kab/Kota DINKES PROPINSI JENIS TENAGA SURVEILANS PENANGGULA NGAN KLB DINKES KAB/KOTA SURVEILANS PENANGGULA NGAN KLB Jml S2 Epidemiologi S1 Epidemiologi Dokter umum Epidemiologi terampil 9 15 5 4 % 20. sementara di tingkat dinkes kab/kota adalah dokter umum dan tenaga pendukung laibnya.2. Kaltim dan NTB.6 jml 5 17 65 6 % 2. lulusan D3. Semua CFR berada di atas angka nasional.2 Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 47 .6 8. manajemen kesehatan. SKM. sementara dokter umum berperan sebagai tenaga penanggulangan KLB.3 jml 1 3 4 2 % 4. Yang dimaksud tenaga pendukung/lainnya adalah tenaga yang berprofesi/ berpendidikan perawat.6 8. Pada tahun 2005. CFR yang paling tertinggi dimiliki oleh Riau dan NTB. Data pada grafik memperlihatkan pula adanya kenaikan CFR dari tahun 2003-2005 di sejumlah propinsi yaitu Jatim. lulusan SMA.5 jml 3 14 4 8 % 8. staf administrasi. angka CFR kembali meningkat di bandingkan tahun sebelumnya. CFR sejumlah propinsi lebih tinggi.7 9. Pada tahun 2004.8 14. dan kader kesehatan/posyandu. teknik lingkungan.9 34.3 19.

2006 Di Rumah Sakit.0 0 6 35 8. Tabel 4. Sementara di tingkat puskesmas maupun rumah sakit.3 100. Banyaknya tenaga dokter untuk penanggulangan di tingkat kabupaten/kota dikarenakan pelaksana operasional penanggulangan KLB berada di tingkat kabuapten/kota.9 100. peran propinsi hanya sebagai koordinator.0 27.7 100.1 65.6 35 59 187 18.5 38. maupun sebagai tenaga klinis pada saat penanggulangan.6 100.2 21. Seperti halnya di dinas kesehatan propinsi Riau.6 PENANGGU LANGAN KLB jml 1 0 18 % 1.7 PUSKESMAS SURVEILA NS jml 0 5 15 % 0.0 100. dokter umum paling banyak terlibat dalam kegiatan surveilans maupun penanggulangan.2 15.8 Sumber: Depkes RI.9 100.4 34.0 50. tenaga dokter masuk dalam kategori sebagai ‘pengumpul data’.8 20.0 10.6 8.2 6.0 1 10 21 4.0 0 33 13 65 0.0 2.7 68.5 0. dalam pengelompokkan dimasukkan dalam tenaga yang mempunyai latar belakang S2 Epidemiologi. Sementara. dimana mereka sebagai pemeriksa pasien.LAPORAN AKHIR Analis Laboratorium Pendukung/lainnya Jumlah 0 10 43 0. adalah semua dokter yang berada di puskesmas.4 Distribusi Jenis Tenaga di RS dan Puskesmas RS JENIS TENAGA SURVEILAN S jml S2 Epidemiologi S1 Epidemiologi Dokter umum Epidemiologi terampil Analis Laboratorium Pendukung/lainnya Jumlah 1 3 31 45 2.0 11. 2006 Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 48 . Sehingga.0 2 1 7 % 4.0 0 18 118 179 0.8 31.4 2. tenaga dokter yang ada.0 23. Hal yang sama juga ditemukan pada tingkat puskesmas. Sehingga. sehingga sumber daya yang bersifat klinis tidak banyak tersedia.5 Sumber: Data Lapangan. kepala seksi surveilans adalah seorang dokter dengan pendidikan strata dua epidemiologi.0 5 2 17 44 11.4 4.6 100.1 PENANGGU LANGAN KLB jml 0 4 39 % 0.6 8.8 47.

karena mereka berasumsi bahwa yang dimaksud dengan tim penanggulangan adalah tim penanggulangan yang berada di dinas kesehatan kabupaten itu sendiri. yang berasumsi bahwa dokter juga merupakan tenaga surveilans. Hal yang berbeda di puskesmas lainnya. Selain pelatihan formal. pengetahuan tim pada umumnya dipenuhi dari pengalaman lapangan dalam penanganan P2M. Selain itu. ada hal yang menarik dari pernyataan dinas kota pekan baru. sehingga sudah terlihat hasil laboratoriumnya. Hal ini mungkin yang menyebabkan tidak adanya laboran di tingkat dinas kabupaten/kota. Selain jumlah. ada pula RS yang mengkategorikan dokter sebagai tenaga surveilans seperti di rumah sakit daerah Siak. untuk apa tenaga laboran?”. kualifikasi tenaga masih kurang. dan Puskesmas Kota Mataram berpendapat bahwa tenaga surveilans merupakan tenaga tersendiri. Di tingkat Puskesmas. Di lapangan juga ditemukan masih adanya perbedaan persepsi tentang tenaga surveilans dan tenaga penanggulangan.LAPORAN AKHIR Untuk penanggulangan. Pada Dinas Kesehatan kabupaten atau kota. malaria. laporan kasus yang masuk biasanya penderita sudah dari rumah sakit. Hal ini dikarenakan tenaga dokter yang diasumsikan oleh responden adalah tenaga dokter yang berada di puskesmas (seluruh puskesmas). yang langsung berada di bawah institusi dinas kesehatan kabupaten/kota dan terlibat sebagai tim penanggulangan. rakor dan melakukan berbagai pelatihan di bidang surveilans maupun penanggulangan penyakit. “kalau sudah terjadi KLB. Sehingga dokter-dokter tidak dianggap bukan tenaga surveilans. Sementara itu untuk tenaga laboran/laboratorium. yaitu orang yang melakukan rekap data. Perawat atau sanitarian puskesmas sering merangkap sebagai tenaga surveilans dan tenaga penyelidikan epidemiologi (PE). Jumlah tenaga dirasakan masih kurang. satu tenaga juga merangkap sebagai tenaga untuk program DBD. seperti terjadi di RS Mataram. satu tenaga berperan sebagai tenaga DBD merangkap tenaga untuk program malaria dan zoonosis. Bahkan di tingkat puskesmas. Namun. Ketiadaan tenaga epidemiologi pada tingkat rumah sakit salah satunya disebabkan karena sudah adanya tim pokja DBD seperti yang ada di di RSUD Mataram. terlihat jumlah tenaga dokter umum yang banyak. seperti yang terjadi di propinsi Sulawesi Selatan. filariasis dan zoonosis. Sementara bila dokter umum tidak terlibat dalam kegiatan penanggulangan seperti yang terjadi di kabupaten Lombok Tengah. Tenaga laboran cenderung banyak di RS yang berfungsi sebagai RS pendidikan. Khusus Jawa Barat sebagai daerah P2M pengetahuan praktis tenaga surveilans dan penanggulangan melebihi pengetahuan bersifat formal Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 49 . mengadakan pertemuan/lokakarya. Salah satu upaya untuk mengatasinya adalah pelatihan di dalam atau di luar negeri seperti terjadi di Jabar. Di puskesmas Pekanbaru Kota. Di rumah sakit ini yang mengumpulkan data adalah bagian rekam medis yang bertugas mengumpulkan dan merekap data. Usaha lain yang dilakukan Dinas Kesehatan Propinsi dalam rangka peningkatan kemampuan adalah pembinaan teknis. tenaga perawat atau sanitarian sering dijadikan petugas yang merangkap sebagai tenaga surveilans dan penyelidikan epidemiologi (PE). Puskesmas Tambak Rejo.

Pengetahuan ini diukur dengan persepsi terhadap 40 pertanyaan tentang surveilans. sejumlah sampel dari daftar tenaga diambil. Dari data tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa sebenarnya pemahaman aparat terhadap program surveilans cukup baik. Berdasarkan cut off ≥ 156 untuk kategori pengetahuan tinggi didapat bahwa 85% dari 21 sampel tenaga mempunyai tingkat pengetahuan yang baik. Tiap pertanyaan mempunyai skala 1 sampai 5 (buruk hingga baik).LAPORAN AKHIR Untuk mengetahui tingkat pengetahuan responden tentang surveilans oleh tenaga surveilans. Tiap pertanyaan mempunyai skala 1 sampai 5 (buruk hingga baik). rerata 127 dan median 128.7 Rendah 3 14. Cut off dipilih median karena distribusi data tidak normal. Berdasarkan cut off ≥ 128 untuk kategori pengetahuan tinggi didapat bahwa hanya 53 % dari 19 sampel tenaga mempunyai tingkat pengetahuan yang baik. Tabel 4.3% responden memiliki pengetahuan rendah. Dari sejumlah responden yang ditanya.5 Persepsi Responden Tentang Surveilans DBD Total % Tinggi 18 85. Data menunjukkan bahwa total skor persepsi surveilans berkisar dari 93-181. Tabel 4. 2006 Total 10 9 19 % 52.0 Berdasarkan data di atas dapat digambarkan bahwa persepsi responden terhadap pengetahuan berkaitan dengan penanggulangan DBD cukup baik. 85. Data menunjukkan bahwa total skor persepsi penanggulangan berkisar dari 86-156. Apabila dibandingkan persepsi responden terhadap Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 50 .6 47. yaitu 52.3 100. rerata 150 dan median 156.6% responden memiliki pengetahuan tinggi dan 47. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan responden tentang penanggulangan oleh tenaga penanggulangan.0 Sumber: Data Lapangan.3 Total 21 100. 19 sampel dari daftar tenaga diambil. 2006 Berdasarkan tabel di atas tergambarkan bahwa pengetahuan para petugas (responden) terhadap pengetahuan surveilans cukup baik. dan 14.7 % responden menyatakan cukup memahami tentang pengetahuan surveilans. Pengetahuan ini diukur dengan persepsi terhadap 36 pertanyaan tentang penanggulangan DBD.6 Persepsi Responden Tentang Penanggulangan DBD Tingkat Pengetahuan Tinggi Rendah Total Sumber: data Lapangan.3menyatakan kurang memahami.

dimana sebagian responden adalah tenaga aparat dinas dan tenaga puskesmas yang memiliki informasi dalam praktek kegiatan surveilans. Masih banyak ditemukan masalah kurangnya atau lemahnya koordinasi untuk pemberantasan DBD. Dari hasil kunjungan lapangan ke Puskesmas diketahui bahwa dana atau anggaran yang dipergunakan untuk operasional penanggulangan penyakit menular di Puskesmas adalah sebagian besar mempergunakan dana operasional yang diperoleh dari program asuransi kesehatan masyarakat miskin (Askeskin). Hal ini sejalan dengan kebijakan yang ada.LAPORAN AKHIR pengetahuan berkaitan dengan surveilans dan pengetahuan berkaitan dengan penanggulangan. Di Sulsel terdapat Pokjanal yang terdiri dari lintas sektor. dana yang bersumber APBN sangat kecil. Tabel 4. kabupaten/kota sering lupa untuk mengirimkan laporan W2 (mingguan).7 Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 51 . Kalau tidak diminta oleh propinsi. Untuk puskemas. Sumber dana untuk kegiatan surveilans dan penanggulangan DBD di lokasi kajian terlihat pada tabel di bawah ini. Adanya otonomi daerah pun malah mempersulit koordinasi. Dalam operasional di lapangan sudah baik karena mereka langsung cepat tanggap untuk menangani KLB dan mencegah penyebaran lebih luas. kabupaten/kota tidak mengirimkan. Sedangkan praktek penanggulangan dipahami lebih banyak oleh tenaga medis di rumas sakit sebagai unit rujukan dalam kasus penanganan DBD. Hal ini menandakan terutama pada praktek di lapangan. Selain itu. Namun setiap usulan dana dari APBD untuk kegiatan Pokjanal sering tidak mendapat persetujuan Pemda karena urusan DBD dianggap urusan dinas kesehatan. Seperti terjadi di Sulsel. Setiap terjadi KLB. (2) Dana Masalah pembiayaan dalam penanggulangan penyakit DBD menjadi permasalahan yang dihadapi setiap tahunnya oleh Dinas Kesehatan karena alokasi anggaran yang bersumber dari APBD tidak/belum mencukupi sesuai dengan kebutuhan. namun dalam sistem pelaporan mereka masih ada masalah. sesuai dengan standar. Namun pemahaman ditingkat kabupaten/kota secara general terhadap penanggulangan KLB belum optimal. yang sebenarnya merupakan salah satu tools untuk melakukan evaluasi. Hal tersebut berdampak pada pembiayaan untuk operasional Puskesmas dalam upaya penanggulangan KLB. terlihat persentase responden lebih tinggi dalam pemahaman surveilans. dimana dana APBN berkaitan dengan operasional di Puskesmas terbatas pada dana perbantuan untuk penguatan kapasitas. Data di atas juga menggambarkan masih adanya persoalan berkaitan dengan tenaga dalam penanganan DBD khususnya dalam hal koordinasi. masing-masing kabupaten atau kota dalam melaksanakan tugas dan kewenangannya terkesan tidak memerlukan bantuan dinkes propinsi. Sebagian besar dana ternyata berasal dari APBD. meskipun sudah teralokasi namun sebagian besar alokasi anggaran dipergunakan untuk pengadaan obat dan peralatan (investasi) tidak berupa biaya operasional. Pengetahuan dalam penyelidikan dan penanggulangan KLB DBD sudah bagus.

0 14. jasa dokter.0 30. Berdasarkan wawancara dengan beberapa kepala puskesmas di lapangan.0 Sumber: Data Lapangan. Dana APBN didapat dalam bentuk dana dekonsentrasi yang disalurkan melalui APBD propinsi. biaya akomodasi. khususnya di lingkungan RT/RW melalui posyandu. Sumber dana lain tersebut didapat dari kelompok masyarakat yang peduli terhadap penanganan kesehatan masyarakat. seperti JPK-MM. sebagian dana diberikan untuk pembelian bahan operasional. pembuatan laporan. Sedangkan di tingkat dinkes kab/kota. Kader merupakan salah satu tenaga yang terlibat dan dibiayai dengan dana kegiatan surveilans dan penanggulangan KLB. jasa kader. seperti pelatihan tenaga puskesmas. seperti insektisida. pembelian bahan bakar/solar. transport supervisor. biaya transfusi darah.0 PENANGGULA NGAN KLB jml 5 4 0 % 100. penyediaan bahan-bahan pendukung untuk promosi kesehatan.0 10. penanggulangan kasus. peralatan fogging. sebagian besar kegiatan operasional surveilans dan penanggulangan DBD mengggunakan dana Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 52 . pembelian insektisida. Tidak ada dana yang spesifik diperuntukkan untuk kegiatan surveilans. Dana tersebut digunakan untuk kegiatan peningkatan kapasitas.0 0. serta partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan penyuluhan. swadaya masyarakat. biaya perawatan. larvasida. Yang dimaksud dengan sumber dana lainnya adalah swadaya RS. dan penanggulangan fokus.LAPORAN AKHIR Distribusi sumber dana di Dinkes Propinsi dan Dinkes Kab/Kota DINKES PROPINSI SUMBER DANA SURVEILANS jml APBD APBN Lainnya 4 3 0 % 100. pembelian obat-obatan. sumber dana untuk kegiatan surveilans berasal dari dana operasional puskesmas (DOP). 2006 Sumber dana untuk kegiatan surveilans dan penanggulangan di tingkat dinkes propinsi bersumber dari APBN (dekonsentrasi) dan APBD propinsi. selain berasal dari APBN (dalam bentuk dana tugas perbantuan) dan APBD propinsi dan APBD kab/kota. serta peningkatan manajamen puskesmas. penyelidikan epidemiologi. dan swadana puskesmas.0 80. juga berasal dari sumber lainnya. Salah satu peran kader jumantik adalah mendampingi petugas puskesmas dalam melakukan pemeriksaan di 20 rumah sekeliling rumah penderita jika ada kasus DBD. Bila tidak mencukupi menggunakan dana program. selain untuk peningkatan kapasitas puskesmas.0 DINKES KAB/KOTA SURVEILAN S jml 7 1 2 % 100.0 0. sumber dana untuk pelaksanaan opersional penanggulangan DBD juga bersumber dari APBN dan APBD serta sumber lainnya. upah kader. Sementara di tingkat puskesmas. penyuluhan.3 28. pembelian mesin. Begitupula dana APBD. seperti dalam pelaksanaan fogging fokus.0 75. fogging.6 PENANGGULA NGAN KLB jml 10 1 3 % 100.

Sehingga wajar saja jika digunakan sumber lain. Seperti ditemukan di puskesmas Duduk Sampeyan dan puskesmas Kebomas. yaitu berasal dari APBN dan APBD (Gakin).0 0.0 0. Untuk tingkat puskesmas. Di kota Surabaya bahkan terkadang menggunakan dana pribadi. Sementara untuk puskesmas. 2006 Operasional surveilans di tingkat propinsi menggunakan dana APBN murni maupun Dekon. rata-rata penggunaan operasional surveilans berasal dari APBD. Dana yang digunakan untuk penanggulangan KLB berasal dari APBN (Dekon) dan APBD. Masalah lain dalam aspek dana berkaitan dengan proses pencairan yang dirasakan prosesnya selalu lama dan terlambat.3 85.8 Distribusi Sumber Dana di RS dan Puskesmas RS SUMBER DANA SURVEILANS jml APBD APBN Lainnya 1 1 0 % 100. serta dana APBD. Untuk tingkat kabupaten/kota penggunaan dana terbanyak berasal dari APBD baik APBD murni. seperti halnya kabupaten Gresik. Hanya rumah sakit Gresik yang menyatakan adanya dana surveilans. maupun APBD-ABT yang diajukan sebagai tambahan.1 7.9 14.LAPORAN AKHIR operasional umum yang ada di puskesmas.7 PENANGGUL ANGAN KLB jml 8 1 10 % 57. bila dana yang diusulkan belum turun.1 71.0 100. yang ada hanya pencatatan pelaporan yang dilakukan di bagian rekam medis. Hal ini karena adanya kebijakan setiap propinsi mendapatkan dana Rp. Namun tidak menutup kemungkinan pendanaan dapat juga berasal dari APBN. Di rumah sakit tidak terdapat dana surveilans. Tabel 4. Hal tersebut karena dalam prakteknya kegiatan operasional di lapangan dilakukan oleh semua petugas puskesmas.0 PUSKESMAS SURVEILAN S jml 3 1 6 % 42. Tidak jarang puskesmas juga harus menggunakan dana swadaya masyarakat atau pribadi. Walaupun beberapa puskesmas terkadang menggunakan dana JPKMM sebagai tambahan. Alokasi dana terbanyak adalah untuk obat dan peralatan (investasi). seringkali harus menggunakan dana tambahan dari PKPS-BBM (JPKMM) maupun Askeskin karena seringnya dana terlambat dicairkan. seperti terjadi di Sulsel. Contoh di Jawa Barat DIPA Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 53 . hampir semuanya menggunakan dana APBD.0 PENANGGUL ANGAN KLB jml 4 0 1 % 100. selain dana penanggulangan dari APBD.4 Sumber: Data Lapangan. 2 milyar yang berasal dari dana dekon (APBN) khusus untuk penanggulangan KLB. Baik APBD propinsi maupun APBD kabupaten/kota atau APBD sharing. Sedangkan untuk tingkat kabupaen/kota.0 25.

Pelaksanaan SOP kegiatan surveilans dilakukan berdasarkan pedoman dan peraturan. (b) penangggulangan focus. pada dasarnya dilaksanakan berpedoman pada arah kebijakan dan program dari Pemerintah Pusat (Departemen Kesehatan). (b) Gerakan PSN. Sementara SOP kegiatan penanggulangan KLB tampaknya sudah cukup banyak dimiliki di semua level. (3) Standar Operasi dan Prosedur (SOP) Upaya penanggulangan kejadian luar biasa (KLB)/penyakit menular. Lebih banyak dana dikucurkan untuk kuratif. Pada tingkat dinkes propinsi maupun dinkes kab/kota keberadaan SOP dalam bentuk peraturan dan pedoman cukup baik. (a) terhadap nyamuk dewasa. peran swasta dalam kontribusi dana belum optimal. (a) penemuan dan pelaporan penderita. Bahkan meskipun sudah dibentuk Yayasan Penanggulangan DBD dengan SK Walikota dan didanai oleh perusahaanperusahaan minyak. 2. Sedangkan di tingkat puskesmas dan RS masih sangat rendah.9 Distribusi Ketersediaan SOP Surveilans di Dinkes Propinsi. Peningkatan SDM. Penanggulangan KLB. Proporsi anggaran untuk preventiv (surveilans) dan kuratif (penanggulangan) tidak seimbang. antara lain pelatihan petugas kesehatan. Di propinsi Kalimantan Timur yang merupakan daerah endemis DBD. (b) terhadap jentik nyamuk. DBD masih merupakan masalah besar di Kaltim. Dinas Kesehatan Propinsi selanjutnya menyusun Prosedur Tetap (Protap) Penanggulangan DBD sebagai pedoman/acuan pelaksanaan kegiatan Dinas Kesehatan Propinsi dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.LAPORAN AKHIR seringkali terlambat. khususnya penyakit DBD. (c) bulan kewaspadaan DBD. Dinkes Kab/Kota. Materi yang disusun dalam Protap ini adalah langkah-langkah penanggulangan DBD sebagai berikut: 1. (d) fogging massal. Kewaspadaan Dini. 4. 3. (c) abatisasi. (d) pemantauan jentik berkala. Tabel 4. Pemberantasan Nyamuk Penular DBD. (a) penyuluhan. Keberadaan SOP penting untuk panduan petugas. RS dan Puskesmas Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 54 . Pedoman yang bersifat teknis di lapangan diwujudkan dalam bentuk SOP.

0 DINKES KAB/KOTA jml 11 4 % 91.0 100.10 Distribusi Ketersediaan SOP Penanggulangan KLB di Propinsi.3 100.0 DINKES KAB/KOTA jml 7 9 10 10 7 9 4 % 63. Tabel 4.6 81.0 100.0 0.9 63. RS dan Puskesmas DINKES PROPINSI jml Peraturan SKD-KLB Pedoman SKD-KLB Pedoman penyelidikan KLB Pedoman Penanggulangan KLB Pedoman Cara Pelaporan Laporan Penyakit Potensi KLB Laporan Kondisi Rentan KLB 5 5 5 5 5 4 4 % 100.9 68.8 90. laporan penyakit potensi KLB.0 100. pedoman penyelidikan KLB. selama ini masih mengikuti pedoman dari pusat. pedoman SKD-KLB. Kedepan propinsi juga akan menyusun Standar Pelayanan Minimal (SPM) dan Standar operasional (SOP) agar SOP bisa operasional di lapangan.0 75. rumah sakit maupun puskesmas yang ada mencakup peraturan SKD-KLB. kab/kota.0 50.4 68.1 jml RS % 57.0 80. dan laporan kondisi rentan KLB.6 81.1 78.8 42.9 90. Dinkes Kab/Kota. pedoman penanggulangan KLB.0 80. 2006 SOP dalam rangka penanggulangan KLB di Dinkes propinsi.LAPORAN AKHIR SOP DINKES PROPINSI jml % 5 3 83.1 14.4 jml 3 3 2 3 2 2 3 RS % 75. pedoman cara pelaporan. Di tingkat kabupaten/kota SOP yang ada selain mengadopsi dari pusat juga mengadopsi SOP yang dibuat oleh Dinkes propinsi.0 PUSKESMA S jml 7 8 15 13 13 11 8 % 36.0 50. Penyusunan SOP dimaksud dilakukan dengan melibatkan lintas program.1 SOP Sumber: Data Lapangan.0 75.7 57. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 55 .0 100.0 75.9 42.4 57.8 36.0 Pedoman Peraturan 4 1 Sumber: Data Lapangan.3 PUSKESMAS jml 12 0 % 50.0 50. 2006 Propinsi belum membuat SOP sendiri.

LAPORAN AKHIR

Dari Tabel 4.10 tergambarkan keberadaan SOP di masing-masing tingkatan. Seperti halnya SOP dalam rangka kegiatan surveilans, pada kegiatan penanggulangan, setiap dinkes propinsi dan kabupaten/kota memiliki cukup lengkap pedoman dan peraturan sebagai landasan operasional penanggulangan penyakit. Namun demikian SOP dimaksud tidak secara lengkap dimiliki oleh puskesmas. Rumah sakit memiliki SOP penanggulangan cukup baik dibandingkan SOP surveilans. Hal ini dipahami berkaitan dengan fungsi rumah sakit sebagai unit rujukan dalam penanganan kasus penyakit menular termasuk kasus DBD. Walaupun keberadaan SOP dimaksud cukup lengkap hampir pada setiap tingkat unit pelayanan kesehatan, namun demikian keberadaan pedoman belum tentu digunakan. Seperti halnya di RSU Ujung Berung, di propinsi Jawa Barat SOP yang ada dianggap kurang operasional karena tidak sesuai dengan kondisi dan permasalahan yang ada di lapangan. Upaya yang dilakukan dalam melakukan operasionalnya dilakukan dengan membuat SOP yang lebih rinci dan sederhana menjabarkan SOP yang dibuat dinkes propinsi maupun dinkes kab/kota. Yang menarik adalah di RSUD Mataram yang juga merupakan rumah sakit pendidikan dan memilki tim pokja DBD, hanya laporan kondisi rentan KLB yang mereka miliki. Namun mereka juga membuat standar operasional dalam pertolongan pasien DBD yang tidak terdapat dalam ke-enam SOP tersebut. (4) Data

Ketersediaan data, baik pada kegiatan surveilans maupun penanggulangan KLB sangat penting. Data untuk surveilans yang dibutuhkan mencakup kasus, jentik, vektor dan curah hujan. Dari ke-4 data tersebut ternyata hanya data kasus yang tersedia di semua tingkatan. Data jentik yang sangat penting pun tidak tersedia kecuali pada level puskesmas. Jumlah puskesmas yang memiliki data tersebut sangat sedikit. Ketiadaan data di tingkat RS dikarenakan fungsi rumah sakit yang lebih sebagai kuratif. Informasi data surveilans diperoleh berdasarkan data dari seksi surveilans, yang notabene tidak melakukan pengumpulan data jentik, vektor maupun curah hujan. Baik di tingkat propinsi maupun di tingkat kabupaten/kota. Adapun informasi jentik dan curah hujan dilakukan oleh seksi pemberantasan penyakit (program DBD) yang bekerjasama dengan sanitasi. Oleh karena informasi yang diperoleh berasal dari seksi surveilans, maka ketiga data tersebut tidak ada. Sementara di bagian pemberantasan penyakit sendiri juga terdapat bagian surveilans, yang melakukan pengumpulan data rutin DBD. Oleh karena itu bukan berarti dalam surveilans data mengenai jentik dan vektor tidak ada, informasi mengenai jentik dan vektor tidak bisa didapatkan. Hal tersebut dapat dilihat dari informasi penanggulangan yang merupakan perpaduan informasi dari seksi surveilans dan pemberantasan. Tabel 4.11 Distribusi Ketersediaan Data Surveilans di Dinkes Propinsi, Dinkes Kab/Kota, RS dan Puskesmas

Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular

56

LAPORAN AKHIR

DATA

DINKES PROPINSI jml % 100.0 0.0 0.0 0.0

DINKES KAB/KOTA jml 6 0 0 1 % 100.0 0.0 0.0 16.7 jml 4 0 0 0

RS % 80.0 0.0 0.0 0.0

PUSKESMAS jml 11 2 0 0 % 100.0 18.2 0.0 0.0

Kasus Jentik Vektor Curah hujan

3 0 0 0

Sumber: Data Lapangan, 2006 Data yang dibutuhkan untuk penanggulangan DBD mencakup kasus, jentik, lingkungan/genangan, perilaku 3M, vektor, curah hujan dan logistik. Terlihat pada tabel di bawah ini bahwa data yang paling banyak tersedia adalah data kasus dan jentik. Tampaknya di dinkes propinsi dan dinkes kab/kota, data lebih lengkap tersedia dibandingkan di tingkat RS dan puskesmas. Tabel 4.12 Distribusi Ketersediaan Data Penanggulangan KLB di Propinsi, Dinkes Kab/Kota, RS dan Puskesmas
DINKES PROPINSI jml Kasus Jentik Lingkungan/genan gan Perilaku 3M Vektor Curah hujan Logistik 5 3 1 0 1 1 2 % 100.0 60.0 20.0 0.0 20.0 20.0 40.0 DINKES KAB/KOTA jml 12 12 4 2 1 1 4 % 100.0 100.0 33.3 16.7 8.3 8.3 33.3 jml 5 0 0 0 0 0 2 RS % 71.4 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 28.6 PUSKESMAS jml 18 7 1 0 1 2 5 % 94.7 36.8 5.3 0.0 5.3 10.5 26.3

DATA

Sumber: Data Lapangan, 2006 Di Dinkes Kota Bandung Jawa Barat kegiatan surveilans dilakukan secara manual dengan cara pengumpulan data, pencatatan dan pelaporan. Sementara pelaporan yang dilakukan Puskesmas dikirim langsung oleh petugas puskesmas ke dinas kesehatan kota sesuai format yang ditentukan dalam bentuk manual. Sharing informasi antar petugas bidang/unit puskesmas dilakukan dalam bentuk ”rakor bulanan”, sekaligus ajang tukar informasi dan pengalaman serta upaya pemecahan masalah yang ditemukan.
Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular

57

LAPORAN AKHIR

Temuan lain yang di dapat di lapangan adalah tidak dikumpulkannya data jentik, vektor, dan curah hujan. Selain itu ketepatan dan kelengkapan laporan dari kabupaten masih rendah. Juga belum dilakukan analisis data baik di tingkat propinsi maupun kabupaten (baru bersifat pengumpulan data). Sehingga untuk SKD-KLB data yang seharusnya dapat dilihat /diprediksi diawal untuk kewaspadaan terjadinya KLB, belum dilakukan. Selama ini propinsi tidak pernah mempermasalahkan validitas data yang dilaporkan. Untuk pengecekan data biasanya menyamakan informasi yang berasal dari media massa. Propinsi belum mempunyai sistem peringatan ke kabupaten bila terjadi keterlambatan atau ketidak lengkapan. (5) Sarana Ketersediaan sarana penunjang kegiatan surveilans terlihat pada tabel berikut ini. Dari tabel tersebut terlihat bahwa jumlah sarana masih sangat terbatas. Kepemilikan sarana transportasi dan pengolah data, dari level puskesmas hingga dinkes propinsi berkisar 11-50% saja. Sementara untuk sarana komunikasi sudah lebih baik; meskipun untuk level RS dan puskesmas masih perlu ditambah. Tabel 4.13 Distribusi Ketersediaan Sarana Surveilans di Dinkes Propinsi, Dinkes Kab/Kota, RS dan Puskesmas
DINKES PROPINSI jml Transportasi Pengolah data Komunikasi 3 3 6 % 50.0 50.0 100.0 DINKES KAB/KOTA jml 4 5 10 % 36.4 41.7 83.3 jml 1 4 6 RS % 11.1 44.4 66.7 PUSKESMAS jml 11 9 14 % 50.0 40.9 63.6

SARANA

Sumber: Data Lapangan, 2006 Bila di lokasi kajian lain, peralatan pengolah data sudah menggunakan komputer, tidak halnya di Puskesmas Benteng Hilir yang masih menggunakan cara manual. Padahal di puskesmas lainnya, sudah disediakan komputer. Faktor geografis rupanya menentukan jenis alat komunikasi dan dipakai. Di propinsi Jawa Timur, semua wilayah dapat dijangkau dengan telepon, sementara di NTB tidak hanya memanfaatkan telepon sebagai alat komunikasi, tetapi juga SSB. Di kabupaten Lombok Tengah yang menggunakan SSB sebagai sarana komunikasi karena belum adanya kabel telepon. Di propinsi Riau, sarana komunikasi menggunakan telepon, walaupun tidak semua wilayah dapat dijangkau dengan fasilitas telepon. Untuk kegiatan penanggulangan KLB, ketersediaan/kepemilikan sarana yang diperlukan terlihat sudah jauh lebih baik daripada ketersediaan/kepemilikan
Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular

58

7 33.0 33. obat.3 83.0 58. Sarana utama yang dibutuhkan dalam penanganan kasus DBD adalah adanya fogging fokus serta insektisida. 0 100. alat transportasi untuk surveilans dalam kondisi rusak.0 66. Berkaitan dengan jumlah dan jenis sarana. Satu hal yang unik adalah ketiadaan sarana senter. Tabel 4. Pengadaan insektisida dan fogging fokus untuk beberapa propinsi di kirim oleh Dinkes Propinsi karena kab/kota belum siap.0 72.3 83. Namun. rumah sakit dan puskesmas.0 0 DINKES KAB/KOTA jml 10 10 9 4 11 12 7 % 83.2 44.4 55. Umumnya sarana yang demikian adalah untuk jenis transportasi. 0 80. untuk insektisida. Artinya bisa digunakan juga untuk kegiatan lainnya. 0 60. kondisinya pun belum tentu bagus. Dinkes Kab/Kota.LAPORAN AKHIR sarana untuk kegiatan surveilans.3 0. Di propinsi Jabar. Selain itu. Untuk alat komunikasi.3 91. seperti yang terjadi di Dinkes Kabupaten Gowa dan Puskesmas Palangga di Sulsel. Kaltim.3 75.14 Distribusi Ketersediaan Sarana Penanggulangan KLB di Propinsi.7 72. tersedia 3 mobil.7 PUSKESMAS jml 12 13 14 9 13 8 10 % 66. dalam kenyataannya terdapat variasi di berbagai dinkes propinsi. misalnya. maupun dinkes di kab/kota. Bahkan yang Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 59 . yaitu di Dinas Kesehatan Kota Bandung. alat penyemprot dan alat penyuluhan masih kurang tersedia di semua level. karena tidak adanya fasilitas kantor. 2006 Sarana yang dimiliki ada yang statusnya “tidak khusus” untuk kegiatan surveilans atau penanggulangan KLB. Senter digunakan untuk surveilans khususnya dalam penemuan jentik dari rumah ke rumah.3 jml 2 5 4 4 2 0 4 RS % 33. Kondisinya pun belum tentu bisa digunakan. sementara di Dinkes Kabupaten Bogor hanya 1 mobil. Misalnya di Dinkes Kota Samarinda tersedia 2 motor.7 66.8 50.6 SARANA Sumber: Data Lapangan. seringkali digunakan fasilitas pribadi seperti handphone.7 100. tetapi hanya 1 yang bisa digunakan. Di Dinkes Kota Samarinda.0 100.0 100.3 66.2 77. dan di Puskesmas Bojong Gede selain ada 1 mobil juga tersedia 1 motor. RS dan Puskesmas DINKES PROPINSI jml Transportasi Pengolah data Komunikasi Obat Insektisida Alat penyemprot Alat Penyuluhan 4 5 5 4 5 3 0 % 80.

LAPORAN AKHIR

sangat menyedihkan, di puskesmas Temindung Kaltim penggantian biaya batere untuk senter hanya setahun sekali saja. 4.3 Peran dan Tanggung Jawab Penanggulangan Penyakit DBD Pemerintah Daerah dalam

4.3.1 Kewenangan Daerah dan Standar Pelayanan Minimum Sejak diberlakukannya paket UU Otonomi Daerah (UU No. 22 dan No. 25 tahun 1999 yang kemudian direvisi menjadi UU No. 32 dan No. 33 tahun 2004) telah terjadi perubahan pembagian fungsi antara pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten/kota. Sesuai dengan UU No. 22 tahun 1999 dan SK Menkes RI No. 1147 tahun 2000, maka tugas Depkes Pusat adalah menyusun kebijakan nasional, pedoman, standar, petunjuk teknis, fasilitasi dan bantuan teknis kepada daerah, sementara fungsi-fungsi yang bersifat operasional sudah harus diserahkan kepada daerah (propinsi dan kabupaten/kota). Penerapan UU tersebut, khususnya di bidang kesehatan belum disikapi dengan utuh, sehingga terkesan tidak tuntas dalam bertindak. Ini disebabkan adanya kegamangan dalam peran dan tanggungjawab di masing-masing jenjang ataupun instansi di pemerintahan. Selanjutnya pasal 12 UU No. 32/2004 menyatakan bahwa fungsi yang telah dilimpahkan kepada daerah tersebut termasuk tanggung jawab daerah untuk menyediakan sumberdaya yang diperlukan, termasuk pembiayaan, sarana dan ketenagaan yang diperlukan untuk melaksanakan standar pelayanan minimum (SPM). Untuk itu daerah wajib menyediakan pelayanan dasar yang dianggap esensial bagi kesejahteraan penduduk, termasuk di bidang kesehatan. SPM yang sekarang ini berlaku adalah daftar yang ditetapkan dalam Keputusan Menkes No. 1457/2003 (saat ini sedang dilakukan proses revisi). Dalam daftar tersebut ada 9 kewenangan wajib (KW) dan 31 jenis kegiatan/pelayanan/program, seperti dalam tabel di bawah. Tabel 4.15 Daftar KW dan SPM Bidang Kesehatan
No 1 Kewenangan Wajib (KW) Pelayanan Dasar No 1 2 3 4 5 6 7 8 Standar Pelayanan Minimum (SPM) KIA Kesehatan anak pra-sekolah 7 sekolah KB Imunisasi Pengobatan dan perawatan dasar Kesehatan Jiwa Kesehatan kerja *) Kesehatan usila *) Pemantauan pertumbuhan balita Pelayanan gizi

2

Giji Masyarakat

Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular

60

LAPORAN AKHIR 3 4 Rujukan dan Pelayanan Penunjang Pencegahan dan Penyakit Menular Pemberantasan 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Pelayanan obstetri dan neonatal emergency dasar Pelayanan emergency Surveilans dan pengendalian KLB kurang gizi Pencegahan dan pengobatan polio Pencegahan dan pengobatan TBC Pencegahan dan pengobatan infeksi saluran nafas Pencegahan dan pengobatan HIV/AIDS Pencegahan dan pengobatan DBD Pencegahan dan pengobatan Diare Pencegahan dan pengobatan Malaria *) Pencegahan dan pengobatan Kusta *) Pencegahan dan pengobatan Filaria *) Kesehatan lingkungan Pengendalian vektor Hygiene dan sanitasi tempat umum Promosi Kesehatan Promkes dan pengendalian penyalahgunaan obat Pengadaan obat dan bahan medis Obat generik Pembiayaan untuk pelayanan kesehatan perorangan Pembiayaan kesehata penduduk miskin dan risti

5 6 7 8 9

Kesehatan Dasar

Lingkungan

dan

Sanitasi

Promosi Kesehatan Pengendalian Napza Pelayanan Farmasi Pembiayaan kesehatan, kesehatan perorangan dan auransi kesehatan

18 19 20 21 22 23 24 25 26

Sumber: Depkes RI, 2006 *) Hanya di kab/kota tertentu

Berdasarkan hasil analisis tentang daftar SPM tersebut disebutkan bahwa kriteria yang tersirat dalam 3 kegunaan SPM seperti disebutkan dalam UU No. 32/2004 belum seluruhnya terakomodir. Tiga pelayanan dasar menurut UU tersebut adalah (1) hak konstitusi penduduk, (2) kepentingan nasional untuk kesejahteraan masyarakat, keamanan dan ketertiban umum serta integritas dan kesatuan nasional, (3) komitmen nasional terhadap kesepakatan dan konvensi internasional. Pelaksanaan SPM di tingkat kabupaten/kota ternyata menimbulkan kebingungan dan masalah. Pertama, penghitungan kebutuhan biaya untuk semua pelayanan dalam daftar SPM tersebut menghasilkan suatu jumlah yang tidak dapat ditanggung oleh banyak daerah. Ada daerah beranggapan bahwa pemerintah pusat harus menanggung selisih biaya yang tidak bisa ditanggung pemerintah daerah. Kedua, banyak daerah mengalami kesulitan menterjemahkan target nasional dalam target daerah. Misalnya, tidak banyak kabupaten/kota yang memiliki data dasar tentang prevalens penyakit, masalah kesehatan kerja, TBC dan penyakit lainnya, sehingga kesulitan dalam menetapkan target untuk Indonesia Sehat 2010. Ketiga, tidak mudah menterjemahkan target 2010 dalam target tahunan. Dalam kenyataan, banyak kabupaten/kota yang menetapkan target programnya atas dasar plafond anggaran yang akan diterima untuk tahun bersangkutan.
Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular

61

LAPORAN AKHIR

4.3.2 Peran Pemerintah daerah dalam Penanggulangan DBD Pemberantasan penyakit demam berdarah dengue (DBD) sangat tergantung pada peran besar pemerintah daerah, yang langsung menghadapi masyarakat. Daerah diharapkan lebih aktif menggerakkan masyarakatnya untuk menjaga lingkungan masing-masing. Peran daerah dalam penanggulangan DBD antara lain dilakukan dengan tindakan preventif seperti (1) mengeluarkan surat edaran kewaspadaan penyakit DBD kepada semua kepala dinas kesehatan kabupaten/kota, (2) kampanye gerakan pembersihan sarang nyamuk, (3) penyebaran poster, ceramah klinik penyegaran tata laksana kasus, maupun membahas penanganan dan antisipasi DBD. Pemerintah Provinsi memfasilitasi teknis dan pengamatan DBD di daerah endemis, membagikan bubuk abate dan malathion untuk pengasapan ke kabupaten/kota, selain juga memberikan bantuan cairan infus. Kebijakan pemerintah melalui PSN dalam mengendalikan tempat perindukan telah ditetapkan dan disosialisasikan melalui berbagai media. Usaha promosi kesehatan secara konvensional telah meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat mengenai pemberantasan DBD, namun belum diikuti dengan perbaikan sikap. Belajar dari negara tropis lainnya yang telah mengembangkan inovasi pemberdayaan masyarakat melalui COMBI (Communication for Behavioural Impact) menunjukkan bahwa sebelum menetapkan intervensi, perlu didasari pada suatu formative research yang mengungkap hal-hal yang dibutuhkan masyarakat (Park 2004, WHO 2003). Inovasi ini masih belum menjadi fokus perhatian dalam kegiatan PSN di Indonesia. Di propinsi pemantauan kasus terus dilakukan, para bupati dan wali kota disurati untuk mengantisipasi DBD, termasuk kampanye di media massa. Pemerintah Provinsi juga mendistribusikan abate, malathion, cynoft, dan filter paper ke kabupaten/kota. Selain itu juga dilakukan penyuluhan dan gerakan 3 M (menguras, menimbun, dan menutup tempat-tempat potensial perindukan nyamuk). Strategi penanganan DBD dilakukan dengan pengumpulan data kasus DBD dari RS, puskesmas, klinik swasta, pengumpulan data morbiditas kasus DBD yang lalu (tiga-lima tahun) yang akan dipakai sebagai data dasar. Pengumpulan data lapangan dengan mengunjungi rumah penderita, dan pencarian kasus baru, serta pengamatan terhadap perilaku masyarakat disertai penaburan abate 10 gr/100 lt pada TPA di setiap rumah penduduk dengan radius 400 meter persegi dari rumah kasus. Dinkes mengembangkan sistem kerja deteksi dini, yaitu mengidentifikasi berbagai kasus penyakit yang timbul, mulai dari gejala, penyebab, dan daerah sebarannya, terutama daerah rawan endemi. Pelaporan dini, pada tahap ini dilakukan Puskesmas sebagai ujung tombak dalam tindakan darurat mengatasi berbagai permasalahan.

Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular

62

3 Koordinasi antar sektor Koordinasi dengan instansi terkait di tingkat Kabupaten/Kota setelah adanya desentralisasi dan otonomi daerah. Di tingkat Propinsi. namun belum berhasil Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 63 . Hal ini dikarenakan ada kesan masing-masing Kabupaten/Kota dalam melaksanakan tugas dan kewenangannya tidak memerlukan bantuan/koordinasi Dinas Kesehatan Propinsi. belum optimal. Secara implisit DAU kesehatan dianggap sudah termasuk dalam formula tersebut walaupun sebenarnya secara eksplisit tidak ada. 4. Koordinasi yang sulit terlihat dari lambatnya mekanisme pelaporan kasus KLB. meskipun prosedur pelaporan ada dan telah baku. Dalam formula ini pembagian alokasi anggaran tidak hanya ke propinsi melainkan sampai ke sekitar 400-an kabupaten/kota di Indonesia. masih dijumpai dalam pelaksanaan penanggulangan penyakit. karena tenaga Pokja DBD tidak aktif. Pemberdayaan lintas sektor dalam menjalankan Pokja/Pokjanal DBD yang telah dibentuk. Praktis sektor kesehatan harus berjuang di tiap propinsi dan kabupaten/kota untuk mendapatkan anggaran. Hal ini diperkuat oleh Halstead (2000) mengenai sukses dan kegagalan pengendalian penyakit DBD. sektor kesehatan masih dipandang sebagai aktor dan inisiator utama dalam pencegahan DBD. tidak melibatkan instansi di luar kesehatan. pelaksanaan tugas kelompok kerja operasional (Pokjanal) DBD tingkat Propinsi. Dengan demikian daerah harus merencanakan dan menganggarkan program kesehatan dan bersaing dengan sektor lain untuk mendapatkannya. Setiap usulan rencana kegiatan dan pembiayaan kegiatan Pokjanal DBD yang diajukan oleh masing-masing instansi terkait di luar kesehatan sering tidak mendapat persetujuan untuk mendapat dana APBD dari Pemerintah Daerah setempat. meski prosedur telah ada dan baku. Pada umumnya. Masalah penanggulangan KLB semakin sulit penanganannya manakala mekanisme pelaporan tidak berjalan baik. abatisasi. menjadi lebih sulit untuk dilakukan. Metode konvensional promosi kesehatan melalui KIE (Komunikasi Informasi Edukasi) dan advokasi telah meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat.3. tidak/belum dapat berjalan dengan baik. Setelah desentralisasi kebijakan sektor kesehatan menghadapi apa yang disebut anggaran pembangunan melalui Dana Alokasi Umum (DAU) yang berbasis pada formula.LAPORAN AKHIR Kebijakan desentralisasi semakin rumit ketika harus dilaksanakan di sektor kesehatan yang mencakup area kegiatan luas dan yang selama ini didominasi peran pemerintah pusat. Hal ini sejalan dengan temuan Siregar (2003) tentang tidak adanya hubungan bermakna antara fogging. Sebelum desentralisasi alokasi anggaran kesehatan dilakukan oleh pemerintah pusat dengan menggunakan model negosiasi ke propinsi-propinsi. Hal ini disebabkan tidak adanya dukungan pendanaan dari masing-masing instansi terkait yang tergabung dalam Pokjanal DBD. yang merupakan salah satu wadah koordinasi antar instansi/lintas sektor. Masalah lemahnya koordinasi lintas program dan lintas sektor. PSN dan PJB dalam menurunkan insidens DBD di Kota Medan. dengan pertimbangan antara lain bahwa urusan penyakit menular DBD adalah urusan dinas kesehatan.

Petugas dinas kesehatan mengemukakan esensi intensifikasi penyuluhan mengenai PSN-DBD pada masa rendah penularan penyakit Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 64 . kesehatan lingkungan. Semua petugas sektor kesehatan memiliki panduan mengenai tata laksana penanggulangan penyakit DBD yang diterbitkan oleh Departemen Kesehatan RI.LAPORAN AKHIR memperbaiki perilaku. Mekanisme PSN-DBD terhadap masyarakat diakui berjalan dengan baik. 2004. bahkan seorang di antara enam Kepala Puskesmas yang diwawancarai. Communication for Behavioural Impact (COMBI) menawarkan pendekatan dinamis untuk mengubah perilaku dalam pengembangan sosial (Kusriastuti. diharapkan dapat merangkum berbagai pihak terkait dari lintas program pemberantasan penyakit. Diakui oleh para petugas kesehatan adanya peminatan masyarakat yang lebih tinggi terhadap fogging bila dibandingkan dengan PSN. Hampir seluruh petugas memahami takaran larutan untuk fogging dan mengatakan bahwa fogging fokus dilaksanakan hanya setelah ada kasus. menindaklanjutinya dengan menyusun protap pelaksanaan di lapangan. Adanya usulan mengenai pembentukan dan pengaktifan Tim Epidemiologi Kota sebagai wahana untuk penelusuran penyakit berbasis lingkungan. tidak dilakukan sebelum masa penularan. Parks. promosi kesehatan maupun lintas sektor dari lingkungan dan dinas tata kota. Walaupun demikian hasil wawancara dengan masyarakat menunjukkan bahwa masyarakat mengakui PSN melalui 3M lebih baik dan lebih murah daripada pengasapan. 2004). 2004: Umniyati. walaupun tidak di seluruh tempat.

1 Kesimpulan (1) Kendala utama yang dihadapi dalam implementasi kebijakan penanggulangan penyakit menular dalam kasus DBD adalah (1) koordinasi antar instansi dan antar unit yang bertanggung jawab dalam penanganan DBD masih belum optimal. Sarjana (SKM) dan MKes. Jumlah Kasus periode 2003-2005 cenderung stagnan untuk propinsi lokasi kajian (kecuali Jatim meningkat). iv. (3) Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kinerja surveilans dan penanggulangan terkait dengan (1) tenaga. Kurangnya jumlah SDM. Peta rawan. Case Fatality Rate (CFR) DBD fluktuatif. sedangkan di Puskesmas sebagai unit pelayanan dasar dan rumah sakit sebagai unit pelayanan rujukan. (2) pengetahuan. Tidak ada batas yang tegas yang membedakan antara Surveilans dan Penanggulangan dalam praktek operasional di lapangan. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 65 . sedangkan data kematian cenderung meningkat. (4) tingginya beban puskesmas sebagai unit operasional utama di lapangan dalam implementasi kebijakan penanggulangan penyakit menular. ii. (3) dana. beban kerja yang tinggi merupakan masalah yang hampir ditemukan disemua tingkatan. Hampir semua level baik di propinsi hingga kabupaten/kota termasuk puskesmas dan rumah sakit mengalami masalah ketenagaan dalam kegiatan surveilans dan penanggulangan. Sistem Pelaporan ditunjukkan dengan kelengkapan laporan mencapai 90-100%. Tenaga. namun ketepatannya masih 60%. kualifikasi pendidikan yang belum sesuai. (5) sarana. khususnya dalam pelaksanaan surveilans dan penanggulangan DBD. Diseminasi informasi dilakukan melalui penerbitan buletin kajian epidemiologi yang diterbitkan oleh dinkes propinsi dan dinkes kabupaten/kota. peta rawan tidak selalu tersedia. perpindahan yang begitu cepat. iii. i. (3) sistem pengelolaan program penanganan penyakit menular masih didominasi pusat. Kualitas dan kualifikasi masih belum terpenuhi sesuai dengan bidang tugas dan kompetensinya.LAPORAN AKHIR BAB 5 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 5. (4) SOP. dan (6) data. (2) koordinasi antara pusat dan daerah belum dilandasi suatu kebijakan operasional yang jelas tentang kewenangan dan tanggung jawab masing-masing. hampir semua dinkes propinsi maupun dinkes kab/kota memiliki peta rawan. Pendidikan rata-rata perawat. (2) Indikator Kinerja Surveilans dan Penanggulangan i.

dan epidemiologi. Dana. Di rumah sakit tidak terdapat dana surveilans. Selain pelatihan formal. Pemahaman tentang surveilans dan penanggulangan KLB masih belum sama. dan (3) proporsi anggaran untuk preventif dan kuratif yang tidak seimbang. rakor dan melakukan berbagai pelatihan di bidang surveilans maupun penangulangan penyakit. sarana utama yang dibutuhkan dalam penanganan kasus DBD adalah adanya fogging fokus serta insektisida Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 66 . Baik APBD propinsi maupun APBD kabupaten/kota atau APBD sharing. Beberapa dinkes kabupaten/kota inisiatif melakukan modifikasi terhadap SOP yang dibuat Depkes. Namun demikian kebanyakan SOP tersebut belum operasional. Dana operasional selain bersumber dari dana operasional umum juga memanfaatkan dana JPK-MM. dana untuk pelaksanaan penanggulangan penyakit menular dirasakan pihak daerah mencukupi. Sarana. Pada tingkat propinsi. hampir semuanya menggunakan dana APBD. mengadakan pertemuan/ lokakarya. khususnya ketika kasus terjadi. pengetahuan tim pada umumnya dipenuhi dari pengalaman lapangan dalam penanganan P2M. ii. Walaupun kondisi sarana dan prasarana untuk kegiatan penanggulangan penyakit menular tidak selalu memadai. tetapi tidak menjadi kendala dalam berjalannya sistem. Puskesmas tidak memiliki alokasi dana khusus untuk kegiatan surveilans. yang ada hanya pencatatan pelaporan yang dilakukan di bagian rekam medis. (2) ada masa ketiadaan anggaran. Pengetahuan. Operasi lapangan untuk suatu kasus (DBD) serentak dilakukan Bidang pendidikan yang ada adalah perawat. Hampir semua unit pelayanan kesehatan di daerah memiliki pedoman dan peraturan dalam rangka pelaksanaan surveilans dan penanggulangan DBD. v. Upaya yang dilakukan Dinas Kesehatan Propinsi maupun kabupaten/kota dalam rangka peningkatan kemampuan adalah pembinaan teknis. Dana menjadi persoalan dalam implementasi kebijakan penanggulangan penyakit menular. iv. Dana yang digunakan untuk penanggulangan KLB berasal dari APBN (Dekon) dan APBD. Permasalahan dana terutama berkaitan dengan (1) keterlambatan turunnya DIPA. Untuk tingkat kabupaten/kota. SOP. khusus untuk KLB tersedia block grant dari pusat.LAPORAN AKHIR Struktur organisasi Dinkes propinsi maupun Kab/Kota tidak menggambarkan pembedaan kedua tugas tersebut. iii.

Surveilans mulai diperlukan ketika ada kasus. sebagai suatu kegiatan rutin.LAPORAN AKHIR pengadaan insektisida dan fogging fokus di supply oleh Dinkes Propinsi karena kab/kota belum siap vi. Penyelidikan Epidemiolegi (PE) yang dilakukan Puskesmas belum maksimal. belum dilakukan. (4) Kondisi umum Pelaksanaan Surveilans dan Penanggulangan DBD Ujung tombak pelaksanaan surveilans ada di Puskesmas. antara lain (1) keterbatasan tenaga. Pengobatan dan isolasi penderita dirujuk ke rumah sakit. (3) ketiadaan sarana. Namun pada saat kasus. PE tidak dilakukan maksimal sesuai prosedur yang ada. dekonsentrasi maupun tugas perbantuan). Validitas data yang dilaporkan tidak pernah dipermasalahkan Propinsi belum mempunyai sistem peringatan ke kabupaten bila terjadi keterlambatan atau ketidak lengkapan data. baik di tingkat propinsi maupun kabupaten/kota (baru bersifat pengumpulan data). Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 67 . Hal ini berkaitan dengan masih cukup besarnya alokasi dana yang berasal dari APBN (dalam bentuk DAU. Sehingga untuk SKD-KLB data yang seharusnya dapat dilihat /diprediksi diawal untuk kewaspadaan terjadinya KLB. karena tidak seimbang antar area yang harus dipantau dengan kemampuan sumberdaya yang tersedia. Banyak kendala. sarana dan dana. akibatnya kegiatan tindak lanjut yang seharusnya dilakukan tidak berjalan. tidak setiap kasus DBD ditindaklanjuti dengan PE karena DBD dianggap kasus rutin. namun belum maksimal melaksanakan surveilans karena keterbatasan tenaga. Komitmen daerah dalam penyediaan anggaran (APBD) untuk penanganan penyakit menular belum optimal. yang paling menonjol adalah penanggulangan (PE). Aktivitas surveilans dilakukan oleh Tim Lapangan. i. Ketepatan dan kelengkapan laporan dari kabupaten/kota masih rendah. namun belum maksimal. Penanggulangan DBD di Rumah sakit relatif tidak masalah. (2) Keterbatasan dana. Data yang ada belum dilakukan analisis. Data. kecuali kalau ada kasus KLB yang menyebabkan sarana TT tidak mencukupi Pengobatan dapat dilakukan dengan baik kecuali kalau ada keterlambatan pengobatan akibat terlambat merujuk (5) Permasalahan operasional penanganan DBD juga dipengaruhi oleh sistem kepemerintahan yang belum sepenuhnya dapat mengakomodasi sistem perencanaan dan sistem keuangan yang baru.

3. advokasi. pemantauan. hal ini tampak dari keaktifan instansi kesehatan dalam penyebaran informasi kesehatan. Membangun dan mengembangkan kemitraan dan jejaring kerja informasi dan konsultasi teknis pencegahan dan penanggulangan faktor resiko. Percepatan penyusunan kebijakan operasional dalam koordinasi pelaksanaan program antar pusat daerah yang mencakup aspek perencanaaan. Peningkatan koordinasi antar instansi dan antar unit dalam berbagai tingkatan dalam penanganan penyakit menular. Membangun dan mengembangkan kemitraan. 5. Keperdulian pemerintah daerah masih belum terlihat. iii. bukan sebaliknya pemerintah daerah yang aktif meminta informasi. Optimalisasi penggunaan sarana dan prasarana dengan melibatkan peran aktif masyarakat. Peningkatan dukungan dana yang memadai dari APBN maupun APBD. d. 7. Memperkuat kapasitas dan kapabilitas Puskesmas sebagai unit terdepan dalam operasionalisasi surveilans dan penanggulangan penyakit menular. belum tertata dalam sebuah sistem yang aktif dan terstruktur.LAPORAN AKHIR ii. 4. analisis. Meningkatkan kemampuan tenaga pengendalian penyakit untuk melakukan pencegahan dan penanggulangan faktor risiko. c. pelaksanaan (monitoring).2 Rekomendasi Kebijakan Rekomendasi kajian yang diusulkan mencakup 1. jejaring kerja informasi dan konsultasi teknis peningkatan komunikasi informasi dan edukasi (KIE) pencegahan dan pemberantasan penyakit. Koordinasi penanganan kasus masih bersifat sporadis. surveilans epidemiologi dan penanggulangan KLB/wabah. dan evaluasi kegiatan pencegahan dan penanggulangan faktor resiko. dan sistem kesiapan dini (early warning system). 2. 8. serta pelaporan (evaluasi). baik pada internal sektor maupun lintas sektor. Penyepurnaan SOP sesuai “local specific”. 10. Melakukan bimbingan. promosi dan koordinasi. Meningkatkan peran dan tanggung jawab Pemerintah Daerah melalui intensifikasi kegiatan sosialisasi. Peningkatan kualitas sistem pelaporan melalui ketepatan data. 9. 6. b. Diperlukan dukungan dalam bentuk peraturan perundangan dalam meningkatkan komitmen para pihak di daerah dalam rangkan pencegahan dan penanggulangan DBD. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 68 . validasi dan pengembangan “respond system”. malalui a. Mengurangi secara bertahap dominasi peran pengelolaan program oleh pusat melalui pendelegasian kewenangan ke daerah serta peningkatan profesionalisme pengelola program di daerah. 5.

perlu di kelola secara profesional dan berkesinambungan dengan memanfaatkan teknologi yang tepat dan mudah diaplikasikan. Serta didukung jaringan dan kerjasama erat baik antar wilayah dan adimistrasi pemerintah maupun diantara para pelaku pemberantasan penyakit menular dan penyehatan lingkungan itu sendiri dalam satu wilayah. kesehatan seperti askeskin sehingga kepastian dana sampai kepada masyarakat terjamin. sekaligus menjamin setiap masyarakat terlayani untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. opersional tenaga lapangan. Pola pendanaan diharapkan dapat lebih fleksibel dan dimungkinkan untuk kebutuhan KLB dalam bentuk multiyears fund. langkah tindak lanjut yang diperlukan mencakup 1. 5. Dukungan pendanaan serta tenaga dan sarana dalam rangka pelaksanaan operasional pencegahan dan penanggulangan (preventif. dibuat sesederhana mungkin agar memudahkan pelaksanaan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 69 . mendorong terbangunnya motivasi dan komitmen para 5. Aspek Kelembagaan. preventif. Sebagai perangkat utama Kesehatan. dan rehabilitatif. promotif dan rehabilitatif) menyertai peran dimaksud secara memadai. Data dan Informasi. Puskesmas perlu diperkuat dengan kapasitas manajemen pelayanan untuk kegiatan yang bersifat promotif. Aspek SOP.3 Implikasi Kebijakan dan Rencana Tindak Lanjut Berdasarkan kesimpulan dan rekomendasi yang disampaikan. Keberadaan data dan informasi yang akurat dan sinambung menjadi salah satu indikator kinerja pembangunan kesehatan.LAPORAN AKHIR 11. 4. diperlukan revitalisasi peran kelembagaan khususnya kelembagaan Puskesmas. selain kuratif. Motivasi dan komitmen selain muncul atas kesadaran memerlukan dukungan eksternal dalam bentuk insentif. Diperlukan model manajemen pemberantasan penyakit dan penyehatan lingkungan secara terintegrasi yang berbasis wilayah kabupaten/kota dalam perspektif komprehensif. 2. pelaksana pembangunan kesehatan di lapangan sebagai ujung tombak pembangunan kesehatan. Aspek Pendanaan. perlu terus dikembangkan pola pendanaan sistem jaminan 3. Aspek Ketenagaan.

2005. Jakarta: Rekacipta. Parks. Sri Rezeki. World Health Organization Santoso. Gempur. 2004. Jakarta: Ditjen P2M & PL.A. JMES. Pencegahan Pemberantasan Demam Berdarah Dengue di Indonesia dan dan Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Departemen Kesehatan RI Halstead. Jakarta: Penerbit Buku KOMPAS Anies. Dengue Bulletin Volume 24. Manajemen Berbasis Lingkungan. Jakarta: PT Gramedia Bappenas. December-2000 [cited 9 Juli 2005] Available from : http://w3. Jakarta: Infomedika Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Successes and Failures in Dengue Control-Global Experience.whosea. Notoatmodjo. Planning social mobilization and communication for dengue fever prevention and control. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Nur Nasry. 2005. Progress Report on The Millenium Development Goals Chin.2004. 2006. Subdit Arbovirosis. Standar Pengawasan Program Bidang Kesehatan. Manajemen Penyakit Berbasis Wilayah. 2001. dkk. Will & Linda Lloyd. Umar Fahmi. Manajemen Kesehatan. 2005.LAPORAN AKHIR DAFTAR PUSTAKA Achmadi. Gde. A. Tata Laksana Demam Berdarah Dengue di Indonesia.2006. Pengantar Epidemiologi Penyakit Menular. Mewaspadai Penyakit Lingkungan. Manual Pemberantasan Penyakit Menular. Jakarta: Elex Media Komputindo Anies. 2006. Rita. Kebijakan Penanggulangan Demam Berdarah Dengue di Indonesia. Metodologi Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. 2003. Soekidjo. Modul Surveilans Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2005. Jakarta: EGC Noor. Jakarta: Reka Cipta. Solusi Mencegah Menanggulangi Penyaki Menular. 2004. Scott B. Jakarta: Prestasi Pustaka Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 70 . Ditjen PP & PL Depkes RI Muninjaya. 2000.org/en/Section10/Section332 Kusriastuti. 2005. Pemberantasan Demam Berdarah Dengue (DBD) Hadinegoro.

1116/MENKES/SK/VIII/2003 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 2001. 949/Menkes/SK/VIII/2004 tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Kewaspadaan Dini Kejadian Luar Biasa (KLB) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1984 Tentang Penyakit Menular Keputusan Menteri Kesehatan RI No. EGC. Peraturan Perundangan Peraturan Pemerintah No. Penanggulangan Wabah Oleh Puskesmas. Sulastomo. Universitas Airlangga. Panduan Lengkap Pencegahan & Pengendalian Dengue dan Deman Berdarah Dengue. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran. Sari Nurhamida. 2003.. Analisa Penatalaksanaan Penanggulangan Demam Berdarah Dengue (DBD) dalam menurunkan Insidens DBD dan Menentukan Kebijakan Operasional di Kota Medan. Resna A. 4 Tahun 1991 tentang Penanggulangan Penyakit Menular Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. dan Azrul Azwar. Jakarta : Bina Putra Aksara. Soerawidjaja. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama World Health Organization. 1989.LAPORAN AKHIR Siregar. Manajemen Kesehatan. 949/MENKES/SK/VIII/2004 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Kewaspadaan Dini Kejadian Luar Biasa (KLB) Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 71 . 2003. 1479/MENKES/SK/X/2003 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular dan Penyakit Tidak Menular Terpadu Keputusan Menteri Kesehatan RI No.

LAPORAN AKHIR Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 72 .

Kerangka Konsep SURVEILANS INPUT • • • • • • • PROSES • Koordinasi kegiatan pengumpulan • Validasi • Pengolahan data • Analisis data • Supervisi pengumpulan • Supervisi pengolahan OUTPUT Tenaga Dana Sarana Pengetahuan yang benar Pelatihan Metoda pengumpulan data Potensi komunitas • Identifikasi masalah • Penyelidikan sebab masalah • Diseminasi PENANGGULANGAN WABAH PENYAKIT MENULAR INPUT PROSES OUTPUT • • • • • III.LAPORAN LAMPIRAN 1 AKHIR RANCANGAN INSTRUMEN KAJIAN I. Tenaga • Sarana • Dana • Protap • Pengetahuan ttg Wabah & Penanggulangan • Pelatihan Definisi Operasional • • Informasi surveilans • Pengambilan Keputusan SURVEILANS • Potensi komunitas Input Koordinasi lintas sektor Upaya perbaikan kondisi rentan Sistem kewaspadaan dini Penyelidikan & Penanggulangan wabah Kesiapsiagaan menghadapi wabah • Wabah tidak menjadi masalah kesehatan masyarakat Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 73 . Identifikasi faktor-faktor yang menghambat system informasi manajemen surveilans penyakit menular b. Identifikasi langkah-langkah yang dilakukan dalam penanggulangan penyakit menular II. Tujuan a. Identifikasi peran dan tanggungjawab Pemerintah Daerah dalam penanggulangan penyakit menular c.

3. Proses 1. 5. Diseminasi merupakan ketepatan waktu penyebaran dan kelengkapan informasi surveilans kepada pihak-pihak yang berkepentingan (pengambil keputusan). Sarana merupakan ketersediaan dan kesuaian fasilitas alat atau bahan yang diperlukan dalam melakukan kegiatan surveilans. Pelatihan merupakan pernah dan tidaknya petugas mendapatkan pelatihan tentang penanggulangan penyakit. Pengetahuan petugas merupakan pemahaman petugas tentang karakteristik dan kegiatan penanggulangan penyakit menular. 5. 2. pemenuhan dan sumber dana kegiatan. 4. Supervisi pengolahan merupakan keberadaan pengawasan terhadap proses pengolahan data. 6. Sarana merupakan ketersediaan dan kesuaian fasilitas alat atau bahan yang diperlukan dalam melakukan kegiatan penanggulangan wabah. Tenaga merupakan pelaksana kegiatan surveilans yang meliputi jumlah pelaksana dan tingkat pendidikan serta lamanya bekerja di surveilans. 2. 3.LAPORAN AKHIR 1. pemenuhan dan sumber dana kegiatan surveilans. Tenaga merupakan pelaksana kegiatan penanggulangan wabah yang meliputi jumlah pelaksana dan latar belakang pendidikan serta lamanya bekerja. 2. Pelatihan merupakan pernah dan tidaknya petugas mendapatkan pelatihan tentang surveilans penyakit. Output 1. 6. Protap merupakan keberadaan peraturan yang sesuai dengan fungsinya dalam kegiatan. Pengolahan data merupakan ketapatan waktu dan keakuratan suatu data di olah. 3. Dana merupakan ketersediaan pengalokasian. masyarakat/toma/toga) dalam kegiatan surveilans. Koordinasi kegiatan pengumpulan merupakan kerjasama tim surveilan dengan komunitas dan koordinasi di dalam tim itu sendiri dalam melakukan pengumpulan data 2. 5. 6. Pengetahuan petugas merupakan pemahaman petugas tentang survailans penyakit menular. Kelengkapan diukur berdasarkan SOP yang ada PENANGGULANGAN PENYAKIT MENULAR Input 1. Validasi merupakan kesesuaian proses kegiatan dengan SOP yang sudah ada. Identifikasi masalah merupakan hasil analisis data yang sudah diproses untuk mengetahui kemungkinan munculnya/timbulnya kejadian (morbiditas/mortalitas) penyakit menular. Supervisi pengumpulan merupakan keberadaan pengawasan terhadap proses pengumpulan data. Dana merupakan ketersediaan pengalokasian. Partisipasi komunitas merupakan peran serta berbagai kelompok komunitas (seperti: tenaga kesehatan. 4. Penyelidikan sebab masalah merupakan proses identifikasi sumber/penyebab timbulnya masalah 3. Metoda pengumpulan data merupakan keberadaan tata laksana kegiatan pengumpulan data dan kesesuaian dengan fungsinya. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 74 . Analisis data merupakan ketepatan penggunaan teknik analisa data. 7. 4.

Upaya perbaikan kondisi rentan merupakan upaya pencegahan melalui perbaikan keadaan yang menjadi sebab timbulnya kerentanan. Koordinasi lintas sektor merupakan kerjasama antar pihak-pihak yang bertanggung jawab dalam penanggulangan wabah. Informasi Surveilans merupakan hasil output system surveilans yang sudah diolah dan dianalisis dengan melihat ada dan tidaknya informasi. 6. 3. dan peningkatan jumlah penderita yang merupakan indikasi adanya kemungkinan meletusnya suatu wabah. Proses 1. 8. Pencegahan merupakan upaya memutus mata rantai penularan. 5. Wabah tidak menjadi masalah kesehatan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 75 . Penyelidikan merupakan proses kegiatan kajian penyelidikan pendahuluan dan laporan awal.LAPORAN AKHIR 7. Surveilans Ketat merupakan upaya pemantauan kecenderungan wabah. Sistem kewaspadaan dini merupakan pelaksanaan pemantauan terus menerus terhadap munculnya kerawanan yang terjadi pada unsur-unsur dasar penyebab terjadinya suatu wabah. penyelidikan awal dan laporan perkembangan wabah (periodik). Potensi komunitas merupakan peran serta berbagai kelompok komunitas (seperti: tenaga kesehatan. Pengambilan Keputusan merupakan individu yang bertanggung jawab dalam pengambilan keputusan dalam kegiatan penanggulangan. Pelayanan pengobatan merupakan upaya pengobatan terhadap kelompok yang berisiko. 4. dan ketepatan waktu yang diterima oleh pihak-pihak pengambil keputusan. dan penyilidikan wabah yang dilakukan oleh pihak yang bertanggung jawab (Dinas kesehatan dan pusat). masyarakat/toma/toga) dalam kegiatan penanggulangan wabah. 7. Output 1. 9. ketepatan dan kelengkapan data. 2.

Pustu/polindes. Tingkat Provinsi antara lain: 3. Tingkat Pusat antara lain P2M. Kader Kesehatan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 76 . Bappeda. Masyarakat anatar lain: : Ka Desa. Draft Instrumen Instrumen yang akan dirancang adalah instrument untuk wawancara mendalam (indepth interview) dan instrument observasi (check list). seksi surveilance. Biro Kesra 4.. Yanmedik dan Binkesmas 2. Tingkat Kabupaten antara lain: kepala dinas kesehatan. Sumber Informan adalah petugas yang terkait dengan pelaksanaan surveilans dan penanggulangan penyakit menular. kasubdin P2M. Ka RT. yaitu: 1. staf Kesling 5. petugas P2M. Puskesmas: Kepala Puskesmas. LMD/Dewan Kel.LAPORAN AKHIR IV.

yaitu . Broto Warsito.Dr.Dr. Erna Tresnaningsih Suharsa.LAPORAN AKHIR LAMPIRAN 2 PELAKSANAAN KEGIATAN DAN PEMBAHASAN A. Deputi Bidang SDM dan Kebudayaan Bappenas Brainstorming dengan tim pakar dimaksudkan untuk mendapatkan wawasan yang lebih jelas mengenai penanggulangan penyakit menular. Fakultas Kedokteran Unpad . dan Masa Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 77 . Balitbang Depkes . Setditjen P3L Depkes . rumusan masalah serta tujuan dan sasaran penelitian. (2) Ekspose Tim Ahli. Dadi Argadiredja. Ph. MPH. Universitas Indonesia . MOH. serta (3) Diskusi Internal.Dr. Sukirman. Dr. Masa Kini.Tim Fakultas Kesehatan Masyarakat.Prof. FKM-UI • Tinjauan Umum tentang Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular di Indonesia (Kebijakan Masa Lalu. (2) Ekspose Tim Ahli Ekspose Tim Ahli dilaksanakan pada tanggal 5 April 2006 Ekspose Tim Pakar dimaksudkan untuk menggali lebih dalam lagi berbagai aspek yang berkaitan dengan Penanggulangan Penyakit Menular. Dr. Tim yang diundang dalam acara brainstorming adalah nara sumber dari kajian ini serta beberapa pakar lainnya.Dr. MPH. Soedarto Romoatmojo. Masykur Riyadi. Masukan yang diharapkan dari pelaskanaan brainstorming mencakup perbaikan konsep. serta variabel kajian Hasil brainstorming selengkapnya pada LAMPIRAN 2. oleh Prof. Dedi M. (1) Brainstorming dengan Tim Pakar Pelaksanaan brainstorming dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 28 Pebruari 2006. mencakup aspek • Review tentang Kajian Penyakit Menulat (Aspek Metodologi Kajian. Indrijono Tantoro. penetapan responden. MPH . kerangka pemikiran. Dalam aspek metodologi masukan dari brainstorming yang diharapkan berkiatan dengan aspek runga lingkup kajian. Penyempurnaan Proposal Dalam rangka memperkaya proposal telah dilakukan beberapa kegiatan mencakup (1) pelaksanaan brainstorming dengan Tim Pakar. Ahli Gizi IPB . dr. pemilihan lokasi peneltian.Dr.D.

(3) Diskusi Internal Diskusi internal dilakukan pada berbagai kesempatan diskusi yang diselenggarakan di Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Diskusi inernal dilakukan diantara anggota Tim Perumus Rekomendasi Kebijakan dengan melibatkan Tim dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Diskusi internal dilakukan dalam rangka menyempurnakan kerangka acuan kajian dengan mengakomodasi berbagai masukan yang didapat dalam pertemuan brainstorming tim pakar maupun dari hasil ekspose tim ahli. ole Direktur Surveilans Epidemiologi. Depkes Penanggulangan penyakit Menular di Rumah Sakit Kabupaten/Kota. Depkes Tinjauan terhadap Kebijakan Surveilans Epidemiologi. serta (4) teknik analisis data. Yang Akan datang. Indriono. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 78 . oleh Kepala Pusat Kajian Kebijakan Pembangunan Kesehatan. sekaligus dibahs tentang aspek kewenangan dari masing-masing tingkatan. Teori dan Praktek dalam Penanggulangan Penyakit Menular. Depkes Pokok-pokok Pikiran hasil Ekspose Tim Ahli selengkapnya dalam LAMPIRAN-3. Setditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Depkes Kebijakan Umum Departemen Kesehatan dan/atau Nasional dalam Upaya Penanggulangan Penyakit Menular. (3) perumusan kuesioner. oleh Direktur Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang. Kebijakan Penanggulangan Wabah DHF. oleh Direktur Bina Pelayanan Medik dasar. (B) Pembahasan Disain Riset Pembahsan disain riset yang dilakukan mencakup aspek (1) penetapan lokasi kajian. Dalam diskusi internal juga dibahas berbagai pertauran perundangan yang berkaitan dengan penanggulangan penyakit menular. (2) penentuan sampel dan responden. metodologi serta teknis pelaksanaan survei lapangan. oleh Direktur Bina Kesehatan Komunitas. Penetapan Lokasi Kajian Lokasi kajian ditetapkan di 6 propinsi dengan kriteria pemilihan propinsi didasrkan pada ferkuensi dan jumlah kasus Keadaan Luar Biasa (KLB) penyakit. Dalam diskusi internal juga dilakukan kesepakatan akhir berkaitan dengan disain kajian. Depkes Penanggulangan Penyakit Menular di Puskesmas. Imunisasi dan Kesehatan Matra. oleh Dr. Depkes.LAPORAN AKHIR • • • • • . serta rencana analisis data dan informasi dan bentuk laporan kajian.

mengolah. Propinsi Sumatera Selatan 3. Propinsi Sulawesi Selatan 5. mentabulasikan dan menginterpertasikan data C. dengan responden adalah petugas di lingkungan Dinas Kesehatan. pada tanggal 3-11 Juli 2006. Aspek realibilitas dan vailiditas materi kuesioner juga menjadi target uji coba. konsistensi dari materi kuesioner sehingga runtut dan dapat dijawab dengan baik oleh responden. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 79 .LAPORAN AKHIR Berdasarkan hasil pembahasan dengan kriteria di atas. Pelaksanaan Uji Coba Kuesioner Uji Coba Kuesioner dilakukan dalam rangka menguji sejauhmana materi pertanyaan dan isian dalam kuesioner dapat dijawab sesuai dengan tujuan kajian. ditetapkan propinsi yang akan menjadi lokasi kajian adalah 1. Uji coba juga dilakukan untuk melihat kesesuaian. Popinsi Jawa Timur 6. Pada setiap kabupaten ditetapkan 2 kecamatan/puskesmas Penetapan Responden Pada setiap Propinsi dan Kabupaten ditetapkan 4 orang responden mencakup Kepala Dinas/Subdinas Kepala Rumah Sakit/Bagian P2M Kepala Puskesmas pada 2 kecamatan Perumusan Kuesioner Rumusan Kuesioner dibuat dalam bentuk pertanyaan terbuka dan pertanyaan tertutup Pengelompokkan didasarkan pendekatan sistem serta berdasarkan kalster variabel dari konsep penanggulangan penyakit menular. Propinsi Kalimantan Timur 4. mencakup (1) aspek surveilans dan (2) aspek penanggulangan wabah Kuesioner bersifat terbuka akan dilakukan dalambentuk interview dan wawancana mendalam Kuesioner dalam bentuk tertutup akan disampaikan kepada responden untuk mengisi Kuesioner Pada LAMPIRAN 1 Teknik Analisis Data Untuk menganalisis data yang bersumber dari responden dilakukan analisis data menggunakan analisis statistik deskriptif Analisis statistik deskriptif dilakukan dengan cara mengelompokkan. Pelaksanaan Uji Coba Kuesioner dilakukan di Kota Depok. Propinsi Riau 2. Propinsi Nusa Tenggara Barat Pada setiap porpinsi ditetapkan sampel 2 kabupaten .

Hasil uji coba kuesioner selanjutnya dianalisa untuk kemudian dijadikan bahan perbaikan. (2) Lingkup Kajian. survey lapangan dilakukan di 6 (enam) provinsi..LAPORAN AKHIR Puskesmas serta Rumah Sakit yang menangani bidang penyakit menular. variabel serta parameter kajian. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 80 . tetapi juga dari unsur masyarakat (community based) • Unsur institusi selain Dinkes juga ditambah Bappeda • Bagaimana menemukan sistem penanggulangan yang cepat (efektif dan efesien) dengan mempertimbangkan sistem pelaporan (survailans) yang ada dan cenderung birokratis • Masalah kewenangan penanganan perlu diperjelas (otorisasi) antara kewenangan pusat... kabupaten/kota.. Pembahasan Dengan FGD Pembahasan dengan Forum Group Disscussion dilakukan untuk mendapatkan masukan dan penyempurnaan konsep kajian. termasuk lokasi. Provinsi Jawa Barat. Laporan umum hasil uji coba kuesioner dalam LAMPIRAN . Pelaksanaan Survey Lapangan Sesuai dengan lokasi kajian yang telah ditetapkan. Pelaksanaan Survey di masing-masing propinsi dilakukan di 2 (dua) kabupaten. propinsi. Provinsi Jawa Timur. (3) Metode Kajian.. Namun pusat tepat ”take a lead” • Perlu kejelasan antara survailans dan penanggulangan: mekanisme kerja serta proses pengambilan keputusannya E. Provinsi Sulawesi Selatan dan Provinsi Nusa Tenggara Barat. (3) penetapan waktu wawancara yang sesuia sehingga tidak berbebnturan dengan agenda lain bagi petugas di lapangan. Hal lain yang juga menjadi masukan dari pelaksanaan uji coba kuesioner adalah berkaitan dengan (1) perijinan dalam pelaksanaan wawancara. 1 rumah sakit dan tokoh/perwakilan warga masyarakat. Bappeda. yaitu Provinsi Riau. dan fasilitas kesehatan (facility based). mencakup aspek (1) Tujuan. Jadwal dan Tim pelaksana dari Survei Lapangan dalam LAMPIRAN .. 2 puskesmas. (2) penetapan kontak person di lapangan. dan pada masing-masing kabupaten dilakukan wawancara mendalam serta pengisian kuesioner pada dinas kesehatan. D.. khususnya terkait dengan penanganan surveilans dan penaggulangan penyakit Demam Berdarah (DHF). Provinsi Kalimantan Timur. Beberapa masukan dari FGD adalah • Responden perlu ditambah tidak hanya unsur aparat (institution base).

MPH Dr. Drs. Hadiat. Masykur Riyadi. MPH Prof. 5. Ir. Dr. TIM PENDUKUNG 1. SH. Broto Wasisto. SKM. Nurlaily Aprilianti 2. 3. 5. 4. 3. Dedy M. Dadi Argadiredja. MPH Dr. Erna Tresnaningsih Suharsa. SP. Sularsono. Deputi SDM dan Kebudayaan TPRK 1. Soekirman Dr. MPM NARA SUMBER 1.LAPORAN AKHIR LAMPIRAN 3 Struktur Organisasi/Tim Pelaksana PENANGGUNG JAWAB Dr. Ph. 2. 2. Indrijono Tantoro.D. MPA. Dr. MPH Dr. 4. Arum Atmawikarta. MA Dadang Rizki Ratman. ME. Yosi Diani Tresna. MOH. Sulaeman Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 81 .

petugas P2M. Propinsi. Puskesmas dan Desa. LMD/Dewan Kel. Rumah Sakit terpilih • Responden – Pusat: P2M. Seksi Surveilance. staf Kesling – Desa: Ka Desa. Kasubdin P2M. Biro Kesra – Kabupaten : idem – Puskesmas : Kepala Puskemas. Yanmedik dan Binkesmas – Propinsi: Kadinkes.LAPORAN AKHIR LAMPIRAN 4 NOTULENSI PEMBAHASAN DENGAN TIM PAKAR KAJIAN KEBIJAKAN PENANGGULANGAN WABAH PENYAKIT MENULAR Jakarta. – Case Study : DBD • Kriteria Lokasi Kajian – Endemis dan Non Endemis – Sedang ada KLB dan tidak ada KLB – Pusat. 28 Februari 2006 • Fokus yang akan diteliti – Umum. Kader Kesehatan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 82 . Ka RT. Kabupaten/Kota.. Bappeda. Pustu/polindes.

propinsi. propinsi. TUJUAN. SASARAN dan REKOMENDASI Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 83 .LAPORAN AKHIR • Design Penelitian: Case Control • Variabel Penelitian: – Peraturan perundang-undangan (pusat. PERTANYAAN PENELITIAN. PERUMUSAN MASALAH. kab/kota & kec) – Operasional (puskesmas ke bawah) • Cara Pengumpulan Data – data sekunder – data primer : wawancara mendalam di berbagai tingkat (Pusat s/d kab/kota) dan focus group discussion di tingkat Kecamatan dan desa • Perlu diperhatikan – Kaitan antara JUDUL. kab/kota) – Managerial/sistem (pusat.

LAPORAN AKHIR LAMPIRAN 5 POKOK-POKOK PIKIRAN EKSPOSE TIM AHLI Kajian Penanggulangan Wabah Penyakit Menular Jakarta. 5 April 2006 I. METODOLOGI KAJIAN 1. Pendekatan kajian: • • policy review dengan fokus pada management oriented system model Identifikasi terhadap faktor penghambat dan diakhiri dengan rekomendasi kebijakan 2. Ruang Lingkup: Umum dengan case DBD Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 84 . Jenis Penelitian: Penelitian Operasional 3. Sampling: Non Propability Sampling 4.

Infrastruktur Puskesmas untuk surveilans ditingkatkan : Poskesdes Vs Pustu III. sesuai dengan kasus penyakit • • • • Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 85 . tenaga. PRAKTEK PENANGGULANGAN DI LAPANGAN PUSKESMAS • Surveilans di Puskesmas belum Optimal • Koordinasi lintas sektor belum terintegrasi • Keterbatasan tenaga yang kompeten • Kontribusi utama Puskesmas dalam penanggulangan wabah PP dalam jejaring pelayanan. Kebijakan peraturan perundangan dapat diikuti oleh stakeholder: Kepmen Perpres 4. sarana. TINJAUAN KABIJAKAN 1. sarana.LAPORAN AKHIR II. u/ hidup sehat dan (2) peningkatan sistem surveilans 5. Pemahaman terhadap produk hukum yang ada masih rendah 3. Kebijakan yang ada belum fokus 2. Ketentuan yang ada belum dilaksanakan secara optimal di tingkat operasional akibat keterbatasan dana. sistem pencatatan RUMAH SAKIT Pelayanan gawat darurat masih di bawah standar Sistem monev periodik antar pusat dan daerah belum terbangun Insentif petugas perlu menjadi perhatian Kelengkapan sarana. Dalam Renstra Depkes Penanggulangan Wabah masuk dalam 2 strategi utama: (1) memberdayakan masy. tenaga dan koordinasi 6.

Dukungan tenaga. Optimalisasi dan profesionalisme Sumber Daya (SDM dan dana) 4. Daerah berperan dalam pengambilan keputusan menentukan prioritas masalah maupun penanggulangan 2.LAPORAN AKHIR IV. Fleksibilitas pencairan dana KLB 7. Penguatan program: evidence based. Perlu Advokasi untuk dukungan legal aspek pelaksanaan dilapangan 3. desa siaga 6. Surveilans faktor resiko selain surveilans penyakit 5. Pengembangan jejaring kerjasama dan kemitraan 3. KEBIJAKAN PENANGGULANGAN DBD 1. Pelaksanaan SKD-KLB belum optimal 4. prioritisasi 5. Manajemen terpadu berbais wilayah: Jumantik. Penguatan komitmen semua pihak 2. sarana dan anggaran V. Mobilisasi Sosial Gerakan Masyarakat “3M” Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 86 . KEBIJAKAN SURVEILANS 1.

Kota Samarinda 2. Bogor Jawa Timur 1.LAPORAN AKHIR LAPORAN PELAKSANAAN SURVEY KAJIAN KEBIJAKAN PENYAKIT MENULAR 1. (4) menyiapkan pengadaan dan distribusi kebutuhan obatobatan dan bahan-bahan yang esensial. (3) memantapkan jejaring lintas program. Kota Bandung 2. melalui Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 87 . perubahan perilaku. (2) mengembangkan dan memperkuat jejaring surveilans epidemiologi dengan fokus pemantauan wilayah setempat. lintas sektor. kewaspadaan dini. sebagai dasar tindak lanjut perencanaan program dan penanggulangan KLB. Kab. kab/kota. imunisasi. Responden Kajian No 1 2 3 4 5 6 Propinsi/Kab Riau 1. Kota Balikpapan Sulawesi Selatan 1. Strategi yang dilakukan mencakup (1) intensifikasi pelaksanaan kasus melalui pencarian kasus dan pemutusan rantai penularan. Kesimpulan Hasil Survey PROPINSI RIAU Kebijakan Daerah mecakup (1) pemberantasan DBD diselenggarakan dengan menggunakan penatalaksanaan kasus secara cepat dan tepat. Gresik Kalimantan Timur 1. Siak Jawa Barat 1. Kab. (2) surveilans epidemiologi. Kota Mataram 2. serta kemitraan dengan masyrakat (LSM) termasuk swasta. Kab. Kab. Kab Lombok Tengah TOTAL Dinas 5 3 2 3 2 2 1 1 2 2 1 2 2 1 2 3 2 3 47 PKM 4 5 3 2 3 4 2 2 4 4 4 6 43 Rumah Sakit 1 1 2 1 2 1 1 4 1 2 2 3 21 Bapp 2 1 1 2 1 1 2 1 1 1 1 1 15 Masy 1 1 20 1 1 18 1 1 13 2 1 20 1 1 25 2 0 13 122 Jml 26 2. Gowa Nusa Tenggara Barat 1. Kota Surabaya 2. (5) meningkatkan kemampuan penggalian sumberdaya daerah dan sumberdaya masyarakat dalam pengelolaan program P2M. perbaikan manajemen kasus diganostik dan pengobatan serta rujukan. pengendalian faktor resiko dan penyehatan lingkungan. Kota Pekanbaru 2. Kota Makasar 2.

Dinkes. (5) penanggulangan KLB. Tim Pokjanal DBD terdiri dari unsur-unsur Diknas. yaitu pada setiap Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 88 . Nbila terjadi KLB. (2) Di Kota Pekanbaru. pelatihan tenaga operasional. (8) Penelitian. Strategi dan program adaah (1) pertemuan dengan tim pokjanal DBD propinsi Riau menghasilkan beberpa kesepakatan yang menitikberatkan pada peran aktif dari pokja/pokjanal DBD dengan melibatkan masyarakat. Kota Pekanbaru juga memiliki Forum Perkampungan Sehat. (3) Bila terjadi KLB. PKK. dan pemeriksaan jentik berkala (PJB) yang dilakukan setiap 3 bulan sekali. PMD. Program yang dilakukan mencakup (1) kewaspadaan dini DBD melalui penyuluhan intensif. (2) pemberantasan vektor. Hasil implemnatsi kebijakan. Kegiatan pokok adalah melakukan rapat lintas sektor untuk menangani masalah-masalah khususnya penyakit menular. sedangkan dana dari Dinas Kesehatan diutamakan untuk membeli peralatan dan kegiatan yang sifatnya pencegahan. pematauan dan informasi program pemberantasan penyakit dan meningkatkan kewaspadaan di semua tingkat administrasi. (3) Bulan Bakti gerakan ”3M”. (2) Pemberantasan vektor melalui PSN dengan cara 3M Plus. melalui penyediaan insektisida dan larvasida. sedangkan sekretariat berada di kantor Dinas Kesehatan. (7) Pendekatan Peran Serta Masyarakat dann PSN DBD. dana bencana dan dana belanja rutin sekretariat daerah. (3) meningkatkan SDM. (3) Disamping Tim Pokjanal DBD. uang dicairkan. PROVINSI JAWA BARAT Kebijakan penannggulangan di Jawa Barat secara umum mengacu pada kebijakan dan program yang telah ditetapkan oleh Departemen Kesehatan (Pusat). maka uang tidak bisa dicairkan. tersedia pos untuk penanggulangan. Tim Pokjanal DBD diketuai oleh Walikota. yaitu mencakup 1) Kewaspadaan dini DBD. diketuai oleh Bappeda dan sekretariat juga berada di Bappeda. (4) Penanggulangan kasus. Depag dan pihak legislatif. Dana KLB dianggarakan dengan menggunakan pola kinerja artinya bila KLB tidak terjadi. (6) peningkatan profesionalisme SDM. dan menyiapak sarana pemeriksaan untuk diagnosa melaksanakan PE dan penanggulangan fokus. pelatihan tenaga puskesmas dan rumah sakit. yaitu dana tak terduga. Strategi pelaksanaan kebijakan penanggulangan DBD di Propinsi Jawa Barat dilakukan melalui (1) pendekatan ”gerak cepat” dan putus rantai.LAPORAN AKHIR perencanaan. melalui pelaksanaan pertemuan berkala Pojanal/Pokja DBD. maka kinerjanya akan dipertanyakan. menyiapkan juknis dan juklaknya. Bappeda. pembinaan dalam pelaksanaan gerakan 3M. melengkapi sarana pemberantasan vektor. Ketiga dana tersebut diatas berasal dari dana Kantor Walikota. lintas program dan lintas sektor terkait serta mengaktifkan kembali peran UKS (Usaha Kesehatan Sekolah) untuk menggerakkan anak sekolah dalam pemberantasan demam berdarah. dimana Puskesmas melakukan penyelidikan epidemiologi (PE) untuk mengurangi persebaran lebih luas dan tindakan yang lebih tepat.

(5) Pelibatan lintas sektor. (6) Sosialissi Pola Hidup Bersih (PHBS). (4) penemuan kasus dilaksnakan secara bekerjasama dengan masyarakat. membuat cara penanggulangan sementara. kesibukan kader. (2) penyeldikan dan penanggulangan KLB. perilaku masyarakat. memastikan diagnostik etiologi. dan melakukan ”CLEAN-UP” lingkungan yang dipimpin oleh wali kota selama 1-2 jam. menetapkan apakah kejadian tersebut suatu KLB. (2) upaya preventif yang dilakukan melalui ”managing vector and environment” malalui ger kan 3M yang dilakukan secara linta sektor dalam wadah Pokjanal DBD. (2) Fogging dilaksanakan apabila terjadi KLB dengan menggunakan dana yang berasal dari Dinas Kesehatan Kabupaten dengan peruntukan untuk larvasidasi dan abatesisasi. (3) Upaya peningkatan kemamampuan tenaga kesehatan dalam penanggulangan DBD secara kuratif dilakukan melalui ”workshop tata laksana” dengan melibatkan dokter spesialis dan urusan dalam. bidan. pengolahan dan analisis data untuk penyususnan rumusan kegiatan perbaikan oleh tim epidemiologi. melalui persiapan penyelidikan lapangan. perawat. mengidentifikasikan Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 89 . (2) pencarian kasus tambahan dilakukan pada saat penyelidikan epidemiologi. kab/kota. (3) penyelidikan epidemiologi terhadap kasus yang dicurigai pada daerah yang resiko rendah. PROVINSI JAWA TIMUR Kebijakan daerah mencakup (1) upaya penanggulangan masalah-masalah kesehatan yang dilakukan merupakan hasil dari kajian surveilans epidemiologi. praktek swasta. (5) melakukan studi epidemiologi pada daerah dengan knerja yang tidak baik. dan propinsi. Hasil pelaksanaan program ditunjukkan antara lain (1) pemantauan jentik belum optimal dilakukan oleh kader dengan alasan terbatasnya dana operasional. (3) komitmen dari pimpinan unit penyelenggara kesehatan diperlukan untuk kegiatan surveilans epidemiologi.LAPORAN AKHIR kasus petugas siap melakukan PE sehingga ditemukan akar permasalahan dan sumber penyebabnya untuk kemudian dilakukan tindakan agar tidak menyebar ke tempat lain. foggig focus massal. dan tidak seimbangnya jumlah kader dengan cakupan daerah yang harus diselediki. mengidentifikasi dan menghitung kasus atau paparan. Strategi dalam penanggulangan DBD dilakukan melalui (1) penemuan kasus dan kematian melalui surveilans di rumah sakit. mendeskripsikan kasus berdasarkan waktu. Pelaksanaan program penannggulangan DBD mencakup (1) SKD-KLB melalui kegiatan pengumpulan data baru dari penyakit-penyakit yang berpotensi KLB. orang dan tempat. status gizi. (2) kegiatan surveilans epidemiologi dilaksanakan oleh tim fungsional di masingmasing tingkat mulai dari Puskesmas. mengamati indikasi pra-KLB misala cakupan program. (4) melakukan kajian epidemiologi harus bekerjasama dengan lintas program dan lintas sektor. puskesmas dan masyarakat. dokter. dukun bayi dan kendaraan kesehatan. pemeriksaan jentik dengan memberdayakan tenaga jumantik. (4) Pelibatan partisipasi masyarakat melalui gerakan PSN setiap hari Jumat pagi.

(2) Tim Pokjanal DBD diketuai oleh Walikota. merencanakan penelitian lain yang sistematis. pelaksanaan gerakan 3M. (3) Pelatihan tenaga surveilens (pelatihan epidemiologi. (2) mengembangkan dan memperkuat jejaring surveilans epidemiologi dengan fokus pemantauan wilayah setempat. (4) Di samping Tim Pokjanal DBD. Pokok-pokok Program yang dilakukan mencakup Kewaspadaan dini DBD. lintas program dan lintas sekor terkait. pelaksanaan PE. beranggotakan kepala – kepala dinas yang ketika diadakan rapatrapat selalu dihadiri oleh personal yang berlainan. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 90 . Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Selatan selanjutnya menyusun Prosedur Tetap (Protap) Penanggulangan DBD sebagai pedoman/acuan pelaksanaan kegiatan Dinas Kesehatan Propinsi dan Dinas Kesehatan Kabupten/Kota. sehingga sesuai data memang DBD di Kota Balikpapan tinggi. PROVINSI SULAWESI SELATAN Upaya penanggulangan kejadian luar biasa (KLB)/penyakit menular. penyediaan insektiside dan larvasida. pertemuan berkala Pokjanal/Pokja DBD. (2) Pelaksanaan Surveilans Epidemiologi. PROVINSI KALIMNATAN TIMUR Kebijakan Daerah yang dilakukan mencakup (1) Pemberantasan DBD diselenggarakan dengan menggunakan penatalaksanaan kasus secara cepat dan tepat. khususnya penyakit DBD di Propinsi Sulawesi Selatan. (6) Pelatihan khusus tentang epidemiologi dan surveillens baru dilakukan 1 kali dalam 5 tahun terakhir. APBD mengalokasikan dana 500 juta untuk peanggulangan KLB dan habis untuk penanggukangan KLB DBD. kewaspadaan dini. menetapkan sistem penemuan kasus baru.LAPORAN AKHIR sumber dan cara penyebaran. pelatihan tenaga kesehatan. dan (3) Membangun kerja sama lintas sektor. mengidentifikasikan keadaan penyebab KLB. penyehatan lingkungan. Gambaran implementasi adalah (1) Pelaksanaan penanggulangan DBD melibatkan masyarakat. menetapkan rekomendasi cara pencegahan dan penanggulangan. perubahan perilaku dalam pola hidup bersih dan sehat. Strategi yang dilakukan mencakup (1) peningkatkan pencarian kasus dan pemutusan rantai penularan perbaikan manajemen pengobatan serta rujukan. (5) Dinas kesehatan kota Balikpapan selalu melaksanakan pendataan DBD dengan rutin. Kota Balikpapan memiliki Yayasan DBD yang ketuanya adalah kasubdin P2M Dinkes dan didanai oleh perusahaahn2 minyak swasta. pada dasarnya dilaksanakan berpedoman pada arah kebijakan dan program dari Pemerintah Pusat (Departemen Kesehatan). (3) Untuk tahun 2005. kerja sama dengan dengan masyarakat dan swasta. melengkapi sarana pemerantasan vektor. (2) Pemberantasan vector. penyuluhan.

Pada pelaksanaan di Puskesmas. Dngan demikian Puskesmas sebagai fasilitas yang paling dekat edngan masyarakat tidak dimanfaatkan dengan baik dalam penanggulangan KLB DBD. dukungan dana surveilans tertolong oleh adanya subsidi dari Askeskin.. penyuluhan intensif melalui media cetak dan elektronik. Di kabupaten Lombok Tengah. bulan kewaspadaan DBD. gerakan PSN. PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT Pedoman surveilans dan KLB kurang operasional. pemantauan jentik berkala. terutma untuk insentif tenaga kesehatan dan kader. (2) Pemberantasan Nyamuk Penular DBD terhdap nyamuk dewasa dan jentik nyamuk. pembinaan di 23 kab/kota. abatisasi. Kajian Kebijakan Penanggulangan Penyakit Menular 91 . (3) Peningkatan Sumber Daya Manusia. sedangkan tahun 2004 jumlah KLB DBD sebanyak 88 kasus. penanggulangan fokus. dimana peran puskesmas sangat kecil karena dukungan dana dan personil sangat kecil. Dinkes Propinsi Nusa Tenggara Barat membuat pedoman operasional yang berisi ”step by step” metodologi penanggulangan DBD. melalui pelatihan petugas kesehatan. lintas program dan kabupaten/kota terdekat.LAPORAN AKHIR Materi yang disusun dalam Protap ini adalah langkah-langkah penanggulangan DBD sebagai berikut: (1) Kewaspadan Dini. pengamatan bebas jentik dilakukan oleh murid-murid sekolah dan telah terbukti cukup efektif untuk dapat direflikasi di daerah lain. Surveilans dilaksanakan pada tingkat dinas kesehatan propinsi. melalui penyuluhan. (2) Penanggulangan KLB menemukan jumah kasus KLB DBD tahun 2005 sebanyak 66 kasus. dan fooging massal. (4) Peningkatan SDM. pertemuan Kewaspadaan Dini DBD sebanyak 4 kali melibatkan sektor terkait. melalui penemuan dan pelaporan penderita. Namun terdapat ”gap” pelaksanaan/penanganan KLB. melakukan pelatihan tatalaksana DBD bagi dokter di rumah sakit pada daerah endemis. pelatihan bagi pengelola program P2 DBD di 23 kab/kota. menghasilkan penemuan dan pelaporan penderita. (3) Penanggulangan KLB. pemantauan jentik berkala di berbagai kabupaten endemis dengan sasaran masing-masing 100 rumah. Implementasi kebijakan penanggulangan DBD di Sulawesi Selatan antara lain (1) Kewaspadaan Dini. kab/kota dan puskesmas.