Otonomi Khusus Daerah Istimewa Yogyakarta : Berbasis Kultural Sejarah Yogyakarta Berdirinya Kota Yogyakarta berawal dari adanya Perjanjian Gianti pada Tanggal 13 Februari 1755 yang ditandatangani Kompeni Belanda di bawah tanda tangan Gubernur Nicholas Hartingh atas nama Gubernur Jendral Jacob Mossel. Isi Perjanjian Gianti : Negara Mataram dibagi dua : Setengah masih menjadi Hak Kerajaan Surakarta, setengah lagi menjadi Hak Pangeran Mangkubumi. Dalam perjanjian itu pula Pengeran Mangkubumi diakui menjadi Raja atas setengah daerah Pedalaman Kerajaan Jawa dengan Gelar Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing Alega Abdul Rachman Sayidin Panatagama Khalifatullah. Adapun daerah-daerah yang menjadi kekuasaannya adalah Mataram (Yogyakarta), Pojong, Sukowati, Bagelen, Kedu, Bumigede dan ditambah daerah mancanegara yaitu; Madiun, Magetan, Cirebon, Separuh Pacitan, Kartosuro, Kalangbret, Tulungagung, Mojokerto, Bojonegoro, Ngawen, Sela, Kuwu, Wonosari, Grobogan. Setelah selesai Perjanjian Pembagian Daerah itu, Pengeran Mangkubumi yang bergelar Sultan Hamengku Buwono I segera menetapkan bahwa Daerah Mataram yang ada di dalam kekuasaannya itu diberi nama Ngayogyakarta Hadiningrat dan beribukota di Ngayogyakarta (Yogyakarta). Ketetapan ini diumumkan pada tanggal 13 Maret 1755. Tempat yang dipilih menjadi ibukota dan pusat pemerintahan ini ialah Hutan yang disebut Beringin, dimana telah ada sebuah desa kecil bernama Pachetokan, sedang disana terdapat suatu pesanggrahan dinamai Garjitowati, yang dibuat oleh Susuhunan Paku Buwono II dulu dan namanya kemudian diubah menjadi Ayodya. Setelah penetapan tersebut diatas diumumkan, Sultan Hamengku Buwono segera memerintahkan kepada rakyat membabad hutan tadi untuk didirikan Kraton. Sebelum Kraton itu jadi, Sultan Hamengku Buwono I berkenan menempati pasanggrahan Ambarketawang daerah Gamping, yang tengah dikerjakan juga. Menempatinya pesanggrahan tersebut resminya pada tanggal 9 Oktober 1755. Dari tempat inilah beliau selalu mengawasi dan mengatur pembangunan kraton yang sedang dikerjakan. Setahun kemudian Sultan Hamengku Buwono I berkenan memasuki Istana Baru sebagai peresmiannya. Dengan demikian berdirilah Kota Yogyakarta atau dengan nama utuhnya ialah Negari Ngayogyakarta Hadiningrat. Pesanggrahan Ambarketawang ditinggalkan oleh Sultan Hamengku Buwono untuk berpindah menetap di Kraton yang baru. Peresmian mana terjadi Tanggal 7 Oktober 1756. Kota Yogyakarta dibangun pada tahun 1755, bersamaan dengan dibangunnya Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I di Hutan Beringin, suatu kawasan diantara sungai Winongo dan sungai Code dimana lokasi tersebut nampak strategis menurut segi pertahanan keamanan pada waktu itu. Yogyakarta Paska Proklamasi Daerah Istimewa Yogyakarta adalah provinsi tertua kedua di Indonesia setelah Jawa Timur, yang dibentuk oleh pemerintah negara bagian Indonesia. Provinsi ini juga memiliki status istimewa atau otonomi khusus. Status ini merupakan sebuah warisan dari zaman sebelum kemerdekaan. Kesultanan Yogyakarta dan juga Kadipaten Paku Alaman, sebagai cikal bakal atau asal usul DIY, memiliki status sebagai ³Kerajaan vasal/Negara bagian/Dependent state´ dalam pemerintahan penjajahan mulai dari VOC , Hindia Perancis (Republik Bataav Belanda-Perancis), India Timur/EIC (Kerajaan Inggris), Hindia Belanda (Kerajaan Nederland), dan terakhir Tentara Angkatan Darat XVI Jepang (Kekaisaran Jepang). Oleh Belanda status tersebut disebut sebagai Zelfbestuurende Lanschappen dan oleh Jepang disebut dengan Koti/Kooti. Status ini membawa konsekuensi hukum dan politik berupa kewenangan untuk mengatur dan mengurus wilayah sendiri di bawah pengawasan pemerintah penjajahan tentunya. Status ini pula yang kemudian juga diakui dan diberi payung hukum oleh Bapak Pendiri Bangsa Indonesia Soekarno yang duduk dalam BPUPKI dan PPKI sebagai sebuah daerah bukan lagi sebagai sebuah negara. Tanggal 18 Agustus 1945, sehari setelah proklamasi kemederkaan RI, Sultan HB IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII segera mengirim ucapan selamat dan dukungan kepada proklamator Soekarno-Hatta dan kepada ketua BPUPKI, DR KRT Rajiman Wedyodiningrat. Soekarno segera menanggapi dukungan Sultan HB IX dengan mengirimkan Piagam Penetapan Kedudukan Jogjakarta. Ditanda-tangani oleh Soekarno selaku presiden RI di Jakarta, pada 19 Agustus 1945. Intinya, piagam itu menetapkan Sultan HB IX pada kedudukannya, dengan kepercayaan, bahwa Sultan HB IX akan mencurahkan segala pikiran, tenaga, jiwa dan raga untuk keselamatan daerah Jogjakarta sebagai bagian NKRI. Di Jakarta pada 19 Agustus 1945 terjadi pembicaraan serius dalam sidang PPKI membahas kedudukan Kooti. Sebenarnya kedudukan Kooti sendiri sudah dijamin dalam UUD, namun belum diatur dengan rinci. Dalam sidang itu Pangeran Puruboyo, wakil dari Yogyakarta Kooti, meminta pada pemerintah pusat supaya Kooti dijadikan 100% otonom, dan hubungan dengan Pemerintah Pusat secara rinci akan diatur dengan sebaik-baiknya. Usul tersebut langsung ditolak oleh Soekarno karena bertentangan dengan bentuk negara kesatuan yang sudah disahkan sehari sebelumnya. Puruboyo menerangkan bahwa banyak kekuasaan sudah diserahkan Jepang kepada Kooti, sehingga jika diambil kembali dapat menimbulkan keguncangan. Ketua Panitia Kecil PPKI untuk Perancang Susunan Daerah dan Kementerian Negara , Otto Iskandardinata, dalam sidang itu menanggapi bahwa soal Kooti memang sangat sulit dipecahkan sehingga Panitia Kecil PPKI tersebut tidak membahasnya lebih lanjut dan menyerahkannya kepada beleid Presiden. Akhirnya dengan dukungan Mohammad Hatta, Suroso, Suryohamijoyo, dan Soepomo, kedudukan Kooti ditetapkan status quo sampai dengan terbentuknya Undang-Undang tentang Pemerintahan Daerah. Pada hari itu juga Soekarno mengeluarkan piagam penetapan kedudukan bagi kedua penguasa tahta Kesultanan Yogyakarta dan Kadipaten Paku Alaman. Piagam tersebut baru diserahkan pada 6 September 1945 setelah sikap resmi dari para penguasa monarki dikeluarkan. Pada tanggal 1 September 1945, Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID) Yogyakarta dibentuk dengan merombak keanggotaan Yogyakarta Kooti Hookookai. Pada hari yang sama juga dibentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR). Usai terbentuknya KNID dan BKR, Sultan HB IX mengadakan pembicaraan dengan Sri Paduka PA VIII dan Ki Hajar Dewantoro serta tokoh lainnya. Setelah mengetahui sikap rakyat Yogyakarta terhadap Proklamasi, barulah Sultan HB IX mengeluarkan dekrit kerajaan yang dikenal dengan Amanat 5 September 1945. Isi dekrit tersebut adalah integrasi monarki Yogyakarta ke dalam Republik Indonesia. Dekrit dengan isi yang serupa juga dikeluarkan oleh Sri Paduka PA VIII pada hari yang sama. Berikut ini catatan lengkap bunyi amanat Sultan Hamengku Buwono IX dan Paku Alam yang ditandatangani pada 5 September 1945. AMANAT SRIPADUKA KANGDJENG SULTAN JOGJAKARTA Kami HAMENGKU BUWONO IX, Sultan Negeri Ngajogjokarto Hadiningrat menjatakan: 1. Bahwa Negeri Ngajogjokarto Hadiningrat jang bersifat Keradjaan adalah daerah istimewa dari Negara Republik Indonesia. 2. Bahwa Kami sebagai Kepala Daerah memegang segala kekuasaan dalam Negeri Ngajogjokarto Hadiningrat, dan oleh karena itu berhubung dengan keadaan dewasa ini, segala urusan pemerintahan Dalam Negeri Ngajogjokarto Hadiningrat mulai saat ini berada ditangan Kami dan kekuasaan-kekuasaan lainnja Kami pegang seluruhnja. 3. Bahwa, perhubungan antara Negeri Ngajogjokarto Hadiningrat dengan Pemerintah Pusat Republik Indonesia bersifat langsung dan kami bertanggung-djawab atas negeri kami langsung kepada Presiden Republik Indonesia. Kami memerintahkan supaja segenap penduduk dalam Negeri Ngajogjokarto Hadiningrat mengindahkan amanat Kami ini. Ngajogjokarto Hadiningrat, 28 Puasa, Ehe 1976 (5 September 1945). HAMENGKU BUWONO IX1 AMANAT SRI PADUKA KANGDJENG GUSTI PANGERAN ADIPATI ARIO PAKU ALAM Kami Paku Alam VIII Kepala Negeri Paku Alaman, Negeri Ngajogjakarta Hadiningrat menjatakan: 1. Bahwa Negeri Paku Alaman jang bersifat keradjaan adalah daerah istimewa dari Negara Republik Indonesia. 2. Bahwa kami sebagai Kepala Daerah memegang segala kekuasaan dalam Negeri Paku Alaman, dan oleh karena itu berhubung dengan keadaan pada dewasa ini segala urusan pemerintahan dalam Negeri Paku Alaman mulai saat ini berada di tangan Kami dan kekuasaan-kekuasaan lainnja Kami pegang seluruhnja. 3. Bahwa perhubungan antara Negeri Paku Alaman dengan Pemerintah Pusat Negara Republik Indonesia, bersifat langsung dan Kami bertanggung djawab atas Negeri Kami langsung kepada Presiden Republik Indonesia. 1 http://regional.kompas.com/read/2010/12/06/11115737/Amanat.Lengkap.Sultan.Hamengku.Buwono.IX Kami memerintahkan supaja segenap penduduk dalam Negeri Paku Alaman mengindahkan Amanat Kami ini. Paku Alaman, 28 Puasa Ehe 1876 atau 5-9-1945 2 Ketika Badan Komite Nasional Daerah Jogjakarta terbentuk pada 29 Oktober 1945, sehari berikutnya Sultan HB IX dan Sri Paku Alam VIII yang menyadari pentingnya kesatuan dan persatuan kembali mengukuhkan integrasi Jogjakarta kepada NKRI dengan membuat secara bersama-sama, Maklumat 30 Oktober 1945. Keistimewaan Jogjakarta pun semakin dipertegas dengan Maklumat No 6/1948 dan Maklumat No 10/1948, yang menyatakan daerah Istimewa Jogjakarta sebagai bekas daerah swapraja sebagaimana diamanatkan UUD 1945. Keistimewaan DIY juga kian diperkuat lagi dengan UU No 3/1950 tentang Pembentukan Daerah Istimewa Jogjakarta dan jabatan gubernur yang bersifat melekat pada Sultan yang bertahta. Keistimewaan DIJ dengan berbagai landasan yuridis tersebut, bukan sekedar penghargaan kosong tanpa peran. Sejarah di awal terbentuknya NKRI sungguh menampakkan peran besar Sultan HB IX dan rakyatnya dalam mempertahankan keutuhan NKRI. Latar Belakang Tuntutan Keistimewaan Yogyakarta Yogyakarta sebagai bentuk daerah istimewa dengan identitasnya yang membedakan terhadap daerah lain. Yogyakarta sendiri mempunyai sejarah dan budaya yang kuat yang dipahami sebagai pondasi dalam upaya mempertahankan dan menjalankan daerahnya sendiri. Dalam perjalanannya, jika melihat sejarah yang ada bahwa Yogyakarta menyatakan mulai bergabung dengan Republik Indonesia yang tercantum dan diakui (diterima) oleh presiden pertama Ir. Soekarno dalam naskah Amanat 5 September 1945. Naskah tersebut berisikan pernyataan Kesultanan Yogyakarta dan Pakualaman untuk bergabung ke Republik Indonesia dengan beberapa poin tertentu yang menjelaskan posisi Yogyakarta terhadap pemerintah pusat. Berdasarkan kesepakatan itulah, semua yang ada di Yogyakarta dikelola dan dikuasai oleh Kesultanan Yogya dan Pakualaman baik urusan pemerintahan, pertanahan dan lainlain namun bertanggung jawab langsung terhadap pemerintah pusat. Posisi Gubernur dan Wakil Gubernur selama ini dijabat oleh Sultan Hamengku Buwono sebagai Gubernur dan Sultan Pakualam menjabat sebagai Wakil Gubernur. 2 http://ngada.org/maklumat5.9-1945.htm Setelah sekian lama sejak Yogyakarta bergabung dengan Republik Indonesia, muncul wacana tentang status keistimewaan yang kemudian akan diatur dalam rancangan Undang -undang Keistimewaan Yogyakarta pada tahun 1999 setelah runtuhnya rezim soeharto. Pembahasan mengenai RUU Keistimewaan Yogyakarta pun molor hingga saat ini karena terkendala di draf undang -undang yang diajukan pemerintah ke DPR yaitu salah satunya mengenai sistem pemilihan langsung atas posisi Gubernur dan Wakil Gubernur Yogyakarta. Hal inilah yang membuat masyarakat Yogyakarta resah dan segera menuntut penetepan atas RUU Keistimewaan Yogyakarta dengan format Sultan Hamengku Buwono sebagai Gubernur dan Sultan Pakualam sebagai Wakil Gubernur. Masyarakat Yogyakarta dibuat resah setelah sekian lama wacana pembahasan RUU Keistimewaan belum juga selesai dan ditambah dengan berbagai tanggapan dari berbagai tokoh bahkan oleh Presiden SBY yang seakan menambah kisruh pembahasan RUU ini. Pemerintahan DIY di Era Otonomi Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta (D.I. Yogyakarta) merupakan daerah yang memiliki struktur pemerintahan khas yang disebut istimewa. Keistimewaan tersebut timbul diantaranya dari latar belakang historis dan asal usul daerah. Salah satu keistimewaan yang paling pokok sampai saat ini adalah dalam hal rekrutmen Gubernur dan Wakil Gubernur yang dilakukan dengan penetapan bukan dengan pemilihan sebagaimana Daerah-daerah lain. Secara yuridis konstitusional, Pemerintahan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dibentuk secara legal formal berdasarkan UU No 3 Tahun 1950 Tentang Pembentukan DI Jogjakarta. Kemudian dari UU No 3 Tahun 1950 dilakukan perubahan ke dalam UndangUndang No 19 Tahun 1950 Tentang Perubahan Perubahan Pembentukan DI Jogjakarta yang selanjutnya diberlakukan mulai tanggal 15 Agustus 1950 dengan Peraturan Pemerintah (PP) No 31 Tahun 1950. UU No 3 Tahun 1950 berisikan 7 pasal dan sebuah lampiran daftar kewenangan otonomi yang secara keseluruhan mengatur wilayah, ibukota daerah, jumlah anggota DPRD, jenis kewenangan Pemerintah Daerah Istimewa, dan aturan-aturan yang sifatnya peralihan. Kemudian muncul UU No 19 Tahun 1950 yang merevisi UU No 3 Tahun 1950 dengan penambahan kewenangan bagi DI Yogyakarta.3 Mengenai pembagian wilayah administratif berupa kabupaten dan kota selanjutnya di atur dalam UU No 15 Tahun 1950 Tentang Pembentukan Daerah-Daerah Kabupaten Dalam Lingkungan Daerah Istimewa Yogyakarta dan UU No 16 Tahun 1950 Tentang Pembentukan Daerah-Daerah Besar Dalam Lingkungan Propinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, 3 http://id.wikipedia.org/wiki/Daerah_Istimewa_Yogyakarta diakses tanggal 10 Maret 2011 dan DI Yogyakarta (Berita Negara Tahun 1950 Nomor 45). Kedua undang-undang ini diberlakukan melalui PP No 32 Tahun 1950. Di dalamnya mengatur wilayah administratif DI Yogyakarta yang terdiri atas: 1. Kabupaten Bantul dengan ibukota Bantul 2. Kabupaten Sleman dengan ibukota Sleman 3. Kabupaten Gunung Kidul dengan ibukota Wonosari 4. Kabupaten Kulon Progo dengan ibukota Sentolo 5. Kabupaten Adikarto dengan ibukota Wates 6. Kota Besar Yogyakarta sebagai ibukota DI Yogyakarta. Dengan pertimbangan untuk mengefektifikan pelaksanaan pemerintahan, maka pada tahun 1951 dilakukan penyatuan Kabupaten Adikarto dengan Kabupaten Kulon Progo yang semula beribukota di Sentolo menjadi Kabupaten Kulon Progo yang beribukota di Wates. Penggabungan kedua daerah kabupaten ini dilandasi dengan UU No 18 Tahun 1951. Keseluruhan undang-undang yang membentuk DI Yogyakarta dan daerah kabupaten dan kota di dalam lingkungannya didasarkan UU Pokok Tentang Pemerintahan Daerah, yaitu UU No 22 Tahun 1948. Perampingan dan pengefektifan wilayah masih terus dilakukan oleh Pemerintah DI Yogyakarta. Sesuai dengan Mosi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 6 Tahun 1952 yang bertanggal 24 September 1952, daerah-daerah enclave seperti Imogiri, Kotagede, dan Ngawen dilepaskan dari Pemerintah Propinsi Jawa Tengah. Ketiga wilayah tadi kemudian dimasukkan ke dalam wilayah Pemerintahan Daerah Istimewa Yogyakarta. Penyatuan enclave tersebut didukung melalui UU Darurat Nomor 5 Tahun 1957 yang selanjutnya dijadikan UU No 14 Tahun 1958 . Perubahan pada tatanan pemerintahan daerah kembali dilakukan untuk mengefisienkan dan mengefektifkan pelaksanaan tujuan pembangunan nasional melalui Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 Tentang Pemerintahan Daerah. Pada undang-undang desentralisasi fiskal ini, dilakukan perubahan atas struktur dan wewenang pemerintahan daerah. Istilah pemerintahan Daerah Tingkat (Dati) I diganti dengan Pemerintahan Daerah Propinsi. Pemerintahan Daerah Tingkat (Dati) II diganti dengan Pemerintahan Daerah Kabupatan atau Kota. Berdasarkan ketentuan tersebut, istilah Kotamadya Yogyakarta diganti dengan Kota Yogyakarta. Dalam hal ini, pemerintahan Kota Yogyakarta memiliki wewenang penuh dalam mengatur rumah tangganya sendiri sesuai dengan sasaran otonomi dalam Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 yang sekarang menjadi UU No. 32/ 2004. Sampai saai ini, pemerintah Propinsi darah Istimewa Yogyakarta tetap menjalankan secara penuh roda pemerintahan sebagaimana amanat UU No. 32/ 2004, kecuali ketentuan pasal 58 tentang pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah yang tidak dapat dilaksanakan. Pasal ini tidak bisa dilaksanakan tanpa ada peraturan perundangan lebih lanjut dari pemerintah pusat karena akan berbenturan dengan UU No. 3/1950 tentang Pembentukan dan Asal-Usul Daerah Istimewa Yogyakarta.4 Rancangan Undang-Undang Keistimewaan Polemik Keistimewaan Yogyakarta bukanlah sesuatu yang baru, mulai 1998, 2003 dan 2008 penuh dengan ketegangan politik. Polarisasi pemaknaan terhadap keistimewaan sampai pada posisi dikotomis, antara penetapan dan pemilihan. Permasalahan RUUK ini semakin menghangat ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan ³tidak ada monarki di dalam negara ini´. Beberapa draf terkait RUUK pun telah dilayangkan. Draf pertama, mendukung status quo. Draf kedua, mengetengahkan sebuah model ³monarki konstitusional´ di mana Sultan diposisikan di atas Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta selaku ³Pengageng.´ Sementara draf ketiga, mengadopsi sejumlah aspek ³monarki konstitusional´ yang ditawarkan UGM, di mana Sultan diposisikan sebagai ³Parardhya.´ Namun, sampai saat ini draf RUUK yang telah masuk ke DPR pada 16 Desember 2010 belum memperoleh hasil, karena belum sampai pada tahap pembahasan oleh DPR. Berdasarkan data yang kelompok kami peroleh, terdapat enam substansi keistimewaan dalam draf RUU ini. Lima poin antara lain terkait soal kultural, pengelolaan tanah, adat, tata ruang, dan keuangan sudah disepakati, hanya tinggal satu yakni terkait posisi Gubernur yang ditetapkan atau dipilih. Secara keseluruhan tentu saja RUUK ini terdapat kekurangan maupun kelebihannya, yang akan dibahas sebagai berikut. Bila kita memperhatikan masing-masing poin yang terdapat dalam Draf RUUK tersebut, terdapat beberapa keganjilan yang bisa kita sebut sebagai kekurangan yakni pada: Wahyukismoyo, Heru. 2008. Merajut kembali Pemikiran Sri Sultan HB IX. Dharmakaryadhika: Yogyakarta. ( Hal.80) 4  Bagian Penetapan terhadap: UU tentang Keistimewaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Pada bagian tersebut secara tidak langsung tersirat bahwa penggunaan kata 'provinsi DI Yogyakarta' tidak sesuai dengan UU No. 3 Tahun 1950 tentang pembentukan DI Yogyakarta yang menyebutkan daerah ini setingkat provinsi. Menurut Sultan, DIY tidak sama dengan provinsi lainnya. Oleh karena itu, penulisan judul RUU seharusnya cukup dengan 'RUU tentang Daerah Istimewa Yogyakarta' dan tidak menggunakan kata provinsi.  Penyebutan Kedudukan Sultan sebagai Gubernur Utama Penyebutan tersebut bertentangan dengan UUD 1945 di pasal 18 yang menyebutkan bahwa provinsi atau daerah istimewa dipimpin gubernur. Prinsip gubernur dan wakil gubernur utama dinilai melanggar prinsip negara hukum. Penggunaan istilah ini dinilai sama saja kekuasaannya makin dipersempit. Juga dinilai mengandung resiko hukum yang besar bagi eksistensi DI Yogyakarta. Keistimewaan Yogyakarta diperkirakan bisa hilang saat ada pihak yang mengajukan uji materiil terhadap UU ini dan dikabulkan oleh Mahkamah Konstitusi nantinya.  Pada Bab II, Pasal 2, ayat 1b, tentang Batas dan Pembagian Wilayah Sebelah timur dengan Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah, Dalam draf disebutkan batas wilayah di timur dengan Kabupaten Klaten, padahal secara rill dengan Kabupaten Sukoharjo dan Wonogiri. Bila diamati pasal per pasal demikianlah kekurangan yang kelompok kami temukan. Namun, disisi lain pembahaasan mengenai RUUK ini sesungguhnya juga membawa beberapa kelebihan diantaranya, adalah : 1. Niat pemerintah untuk menutup celah perpecahan atau pemberontakan yang mungkin terjadi untuk melepaskan diri dari NKRI 2. Spesifikasi tugas antara pemimpin struktur pemerintahan dengan pemimpin adat derah Yogyakarta (Sultan) 3. Membuka peluang untuk masyarakat luas masuk dalam pemerintahan serta partisipasi dalam pemilihan gubernur Yogyakarta Respon Masyarakat Terhadap Polemik RUUK Seperti dilansir dalam media online www.kompas.com mengenai respon masyarakat Yogyakarta , mayoritas mengatakan kecewa dengan langkah pemerintah, berikut adalah hasil penelusuran kami terhadap artikel media online tersebut mengenai kekecewaan masyarakat. Kekecewaan masyarakat Yogyakarta karena daerah yang mereka banggakan dengan segala adat dan peraturan yang mereka taati justru dianggap sebagai daerah yang menganut paham monarki absolut karena gubernur tidak dipilih melalui pemilihan umum melainkan dipilih berdasarkan keturunan, oleh pernyataan Presiden SBY beberapa saat lalu. Sebagai ekspresi kekecewaan terhadap presiden, rakyat Jogja menggelar Kongres Rakyat untuk menetapkan Sri Sultan Hamengku Buwono dan Paku Alam sebagai gubernur dan wakil gubernur yang merupakan suatu bentuk tindakan atas mencuatnya masalah keistimewaan Jogjakarta. Masyarakat menyatakan tidak akan mengikuti alias memboikot pemilihan gubernur dan wakil gubernur, jika pemilihan itu diadakan. Masyarakat juga mendesak DPRD agar tidak menganggarkan biaya pemilihan kepala daerah. Masyarakat sudah sepakat mempertahankan keistimewaan, bagaimana tidak, keistimewaan yang diberikan kepada daerah Yogyakarta jelas sudah mendapatkan tandatangan dari Ir.soekarno sewaktu dulu. Begitu pula pemilihan adalah bentuk demokrasi, namun demikian demokrasi jangan dipaksakan karena yang melaksanakannya adalah rakyat DIY. Sejarah juga telah membuktikan bahwa peranan Kesultanan Yogya dalam perjuangan kemerdekaan sangatlah jelas. Siapa lagi kalau bukan Sultan Yogya yang memberi tempat perlindungan kepada para pemimpin republik dan memberi wilayah Yogyakarta sebagai ibu kota perjuangan Republik Indonesia ketika perang kemerdekaan berlangsung. Sehingga tak heran, jika pada 15 Agustus 1950 pemerintah RI memberikan keistimewaan Yogyakarta karena dukungan penuh kepada Republik yang masih muda itu dan Undang-undang No.03 Tahun 1950 menjadi dasar pembentukan provinsi DIY. Selain itu, jika kita simak Sultan Hamengkubuwono X sebagai Kepala Daerah Propinsi DIY selalu menjalankan tugas, peran, dan fungsinya sama dengan beberapa kepala darerah lainnya di propinsi yang ada di Indonesia. Bahkan perangkat pemerintahan Yogya juga sama sekali tidak berbeda dengan tatanan fungsi daerah lainnya seperti; sekda, kepala dinas, dan tatanan pemerintahan lainnya. Dalam hal kewenangan terkait keistimewaan diatur dalam Pasal 6 ayat (2). Dalam draft tersebut tertulis bahwa kewenangan dalam urusan istimewa sebagaimana dimaksud mencakup penetapan fungsi dan tugas dan wewenang gubernur utama dan wakil gubernur utama, penetapan kelembagaan pemda provinsi, kebudayaan dan pertanahan dan penataan ruang. Dalam ayat selanjutnya, diatur juga bahwa kewenangan dalam urusan istimewa didasarkan pada nilai-nilai kearifan lokal dan keberpihakan pada rakyat. Pengaturan lebih lanjut kewenangan dalam urusan-urusan istimewa didasarkan pada nilai-nilai kearifan lokal dan keberpihakan kepada rakyat dan pengaturan lebih lanjut kewenangan dalam urusan istimewa diatur dalam perda. Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Gandung Pardiman menilai aspirasi sejumlah kalangan yang menginginkan penghapusan keistimewaan DIY sebagai pandangan historis.5 Masyarakat menilai bahwa orang-orang yang memiliki pandangan seperti itu sebenarnya tidak mengerti sejarah tentang DIY, sehingga mereka dipastikan tidak paham masalah keistimewaan daerah ini. Berdasarkan Survei yang dilakukan Kompas dalam periode 2008-2010, hasilnya menunjukkan bahwa 79 Persen Warga DIY Tolak Pemilihan.6 Data survei yang menjadi pegangan Kementerian Dalam Negeri bertolak belakang dengan hasil jajak pendapat Kompas yang dilakukan sejak tahun 2008 hingga 2010. Faktanya ketika ditanya apakah sebaiknya Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta dipilih langsung oleh rakyat atau penetapan, sebagian besar masyarakat Yogyakarta menginginkan penetapan. Angkanya mencapai antara 53,5 persen dan 79,9 persen (Kompas, 2/12/2010). Selain itu, respon juga ditunjukkan dengan adanya berbagai golongan simpatisan yang kerap berdemo dengan kirab budaya maupun memasang tulisan-tulisan gerakan pro keistimewaan, maka tidak lazim bila sering kita jumpai gambar-gambar dibawah ini. 5 6 Dikutip dari http://regional.kompasiana.com pada 22 Februari 2011 Data berdasarkan survey yang diambil dari www.kompas.com pada 22 Februari 2011 Gambar diambil di salah satu sudut jalan Alun-Alun Selatan Berkenaan dengan masalah demokrasi yang merupakan akar masalah munculnya polemic keistimewaan Jogja ini, masyarakat menilai Demokrasi secara substansi memang baik. Namun kalau demokrasi hanya kulit, ini yang mengkhawatirkan. Politik saat ini lebih mengedepankan bungkus atau kulit. Jadi betapa pun terdengar baik, isinya tidak berkualitas. Betapapun terkesan indah, kualitasnya ternyata mengecewakan. Bagaimana dengan pemerintah dan aparat negara lainnya yang dipilih secara demokratis? Di beberapa daerah, pemerintah yang menjalankan demokrasi, tidak berhasil melindungi hak-hak beribadah sebagian rakyatnya. Di beberapa daerah, pemerintah yang menjalankan demokrasi tidak berhasil menciptakan lapangan kerja, juga pendidikan yang berkualitas untuk rakyatnya. Bahkan, untuk mengatur secara fisik daerah istimewa Jakarta dalam hal lalu lintas dan mengurangi bencana banjir, pemerintah yang menjalankan demokrasi masih jauh dari keberhasilan. Di situ vulgar terlihat, demokrasi masih berupa bungkus. Bandingkan dengan Yogya yang (katanya) monarki. Saat bencana Merapi terjadi, rakyatnya bahu-membahu membantu. Ada beberapa rumah tangga yang secara spontan menyiapkan lima bungkus nasi; ada dukuh yang segera mengumpulkan baju layak pakai satu jam setelah letusan besar 30 Oktober 2010 terjadi; ada warga yang dengan inisiatif sendiri menyiramkan air ke kaca-kaca mobil yang tertutup abu merapi. Seorang pedagang kaki lima dan seorang pedagang angkringan dengan bangga mengungkapkan keunikan Yogya, yang menurut mereka memiliki solidaritas sosial yang kuat dan membuat sebagian besar korban Merapi mampu menghadapi bencana besar itu. Lihat juga tata kota Yogya. Sepanjang jalan Solo dan jalan-jalan utama, terlihat pohon-pohon yang tertata rapi, terawat subur dan indah. Tidak salah kalau pemerintah daerah memasang tulisan: ´Jalan raya adalah taman terpanjang.´ Yogya juga memiliki tata kelola air yang sejauh ini berhasil menghindarkan rakyatnya dari banjir. Walaupun jumlah kendaraan sangat banyak, tetapi Yogya relatif berhasil mengatasi kemacetan. Salah satunya, karena kedisiplinan polisi menegakkan aturan lalu lintas. Dari sisi ekonomi, barang-barang di Yogya relatif lebih murah di banding daerah lainnya. Tingkat korupsi pemerintah Yogya juga sangat rendah. Kerukunan antarkelompok masyarakat juga sangat terjaga. Orang dengan berbagai latar belakang suku dan agama bisa hidup berdampingan dengan harmonis di Yogyakarta. Situasi yang jarang kita temukan di daerah lainnya. Indikator-indikator sederhana itu menunjukan, walau Yogya tidak demokratis, isinya relatif lebih dekat dengan arti demokrasi sesungguhnya, dibanding beberapa daerah yang menjalankan (bungkus) demokrasi. Jika arti demokrasi yaitu: pemerintah dipegang oleh rakyat dan untuk rakyat, maka silakan juga tanya warga Yogya. Sejauh ini rasa -rasanya, penetapan gubernur dalam diri Sri Sultan dan wakilnya adalah aspirasi mayoritas warga Yogya. Tentu, indikator-indikator tersebut bukan hanya karena prestasi Sri Sultan sebagai kepala daerah Yogyakarta, ini juga disebabkan pengaruh nilai dan budaya Yogya yang masih kuat dipegang rakyatnya. Nilai-nilai seperti harmoni, rasa malu yang positif, juga introspeksi diri saat menghadapi hal buruk, mendasari cara rakyat Yogya berpikir dan bertindak. Kesimpulan Secara tatanan otonomi daerah selama ini seluruh fungsional dan operasional sistem pemerintahan di Yogyakarta sama dengan daerah lainnya kecuali jabatan Gubernur yang dilakukan penetapan. Bila melihat secara regulasi hal ini memang bertentangan dengan azas pemilihan yang membolehkan semua warga negara yang memenuhi syara untuk menjadi t pejabat publik. Dalam UUD 1945 pasal 28 (Amandemen) tersebutkan bahwa Gubernur, wali kota, bupati, harus diplih secara langsung, sementara di DIY jabatan Gubernur dan Wakil Gubernur ditetapkan langsung.Namun bila dilihat secara historis, Yogyakarta memiliki sejarah panjang yang mendasari mengapa kebijkan itu dibuat dan dijalankan, sejarah panjang ini tidak bisa diabaikan oleh warga Yogyakarta. Keterkaitan emosional pada sosok Sultan dan Kraton membuat Yogyakarta merasa perlu dilakukan suatu tatanan khusus bagi sistem pemerintahan di DIY. Selama ini pembahasan mengenai RUUk masih berkutat pada konflik kepentingan berbagai pihak, aspirasi dari masyarakat yang begitu nyata belum tersentuh. Diseminasi perlu dilakukan untuk mendengar aspirasi masyarakat yaitu dengan mengembalikan draf RUUK kepada masyarakat Yogyakarta dan membiarkan masyarakat yang memilih. Secara tatanan pemerintahan pula seorang Gubernur di Indonesia bagaikan kepala dari kepala daerah yang tidak mempunyai kuasa wilayah administratif, karena kabupaten dan kota lah yang memiliki wilayah. Sesungguhnya pemerintah tak perlu kuatir keistimewaan ini akan berdamapak negatif pada kesatuan Republik Indonesia, karena sejarah lagi-lagi membuktikan betapa setia nya Yogyakarta pada RI. Pada dasarnya Keistimewaan Yogyakarta bukanlah hal yang harus dibesar -besarkan karena terkesan mencuri perhatian publik, sementara masih banyak lagi hal lain yang harus diselesaikan oleh negara dan pemerintah kita ini. Terlebih setelah melihat keadaan Yogyakarta dalam kurun waktu yang tidak singkat, menentukan siapa yang menjadi Gubernur atau pemimpin bagi masyarakat DIY adalah Sultan dan Paku Alam. Bukankah seyogyanya yang menjadi harapan suatu bangsa adalah ketentraman masyarakat yang dipimpinnya, dan senyatanya Yogyakarta tidak pernah mengalami konflik terhadap kedudukan Sultan sebagai Gubernur (pemimpin) di Yogyakarta, jadi mengapa harus terus dipermasalahkan. Sumber Referensi : Wahyukismoyo, Heru. 2008. Merajut kembali Pemikiran Sri Sultan HB IX. Dharmakaryadhika: Yogyakarta. ( Hal.80) http://regional.kompas.com/read/2010/12/06/11115737/Amanat.Lengkap.Sultan.Hamen gku.Buwono.IX , diakses pada tanggal 14 Maret 2010, pukul 13.24) http://ngada.org/maklumat5.9-1945.htm , diakses pada tanggal 14 Maret 2010, pukul 13.24) http://id.wikipedia.org/wiki/Daerah_Istimewa_Yogyakarta diakses tanggal 10 Maret 2011 http://regional.kompasiana.com diakses pada 22 Februari 2011 www.kompas.com diakses pada 22 Februari 2011
Sign up to vote on this title
UsefulNot useful