P. 1
Proposal-04-04-11

Proposal-04-04-11

|Views: 7,531|Likes:
Published by Wan Muk

More info:

Published by: Wan Muk on Apr 06, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/17/2013

pdf

text

original

Sections

  • 1. Pengembangan kompetensi SDM pengaruhnya terhadap kinerja UMKM Monel
  • 2.1.1. Pengertian UMKM
  • 2.1.2. Tantangan Dan Masalah UMKM
  • 2.2. Kompetensi SDM
  • 2.3. Bantuan Modal
  • 2.4.1. Pengertian Kinerja
  • 2.4.2. Kinerja Usaha UMKM
  • 3. Jumlah investasi yang sangat kecil
  • 4. Jangkuan pasar yang sempit
  • 5. Jaringan usaha sangat terbatas
  • 6.1.1. Jenis Penelitian
  • 6.1.2. Variabel Penelitian
  • 6.1.3. Definisi Konsep
  • 6.1.4. Definisi Operasional
  • 6.1.5. Populasi dan Sampel
  • 6.1.6. Jenis dan Sumber Data
  • 6.1.7. Prosedur Pengumpulan Data
  • 6.1.8. Teknik Pengumpulan Data
  • 6.1.9. Uji Validitas dan Reliabilitas
  • 6.1.10. Metode Analisis Data
  • 6.1.11. Uji Hipotesis

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG FAKULTAS EKONOMI

RANCANGAN SKRIPSI NAMA NIM PRODI : Rahayu Kurniawan : 3353404523 : Ekonomi Pembangunan ±S1

PENGEMBANGAN KOMPETENSI SUMBER DAYA MANUSIA DAN BANTUAN MODAL USAHA PENGARUHNYA TERHADAP KINERJA USAHA MIKRO KECIL MENENGAH (UMKM) MONEL DI KABUPATEN JEPARA

a. I.1.

PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Pengembangan Usaha Mikro Kecil Mengah (UMKM) di Indonesia

merupakan salah satu prioritas dalam pembangunan ekonomi nasional, selain karena UMKM merupakan tulang punggung sistem ekonomi kerakyatan yang tidak hanya ditujukan untuk mengurangi masalah kesenjangan antar golongan pendapatan dan antar pelaku usaha, ataupun pengentasan kemiskinan dan penyerapan tenaga kerja. Pengembangannya mampu memperluas basis ekonomi dan dapat memberikan

1

konstribusi yang signifikan dalam mempercepat perubahan struktural, yaitu meningkatnya perekonomian daerah dan ketahanan ekonomi nasional. Musran Munizu (2010: 30) menyebutkan program dan kegiatan yang dilakukan pemerintah dalam upaya mengembangkan sektor Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) selama ini sungguh menggembirakan. Peningkatan peran dan kegiatan usaha sektor ini semakin nampak khususnya sejak era krisis ekonomi dan keuangan pada tahun 1997. Ditengah-tengah proses restrukturisasi sektor korporat dan BUMN yang berlangsung lamban, sektor ini telah menunjukkan perkembangan yang terus meningkat dan bahkan mampu menjadi penopang pertumbuhan ekonomi nasional. Kondisi dan fakta tersebut sejalan dengan hasil penelitian empiris yang dilakukan Demirbag et al., (2006) dalam Musran Munizu (2010: 41) yang menyimpulkan bahwa keberhasilan usaha kecil dan menengah (small-medium enterprises) memiliki dampak langsung terhadap pembangunan ekonomi baik pada negara maju maupun negara berkembang. Usaha kecil dan menengah memiliki kemampuan untuk menciptakan lapangan kerja dengan biaya minimum, mereka adalah pelopor dalam dunia inovasi dan memiliki fleksibilitas tinggi yang memungkinkan usaha tersebut untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. UMKM menjadi tumpuan bagi 99,45% tenaga kerja di Indonesia selama periode 2005-2008, UMKM ternyata mampu membuka lapangan kerja baru bagi 9,6 juta orang, sementara usaha besar hanya mampu membuka lapangan kerja baru bagi

2

55.760 orang. Selain itu konstribusi UMKM terhadap eksport non migas nasional sebesar 19,9% (Ardiana, Brahmayanti, Subaedi, 2010 ; 44) Dengan demikian usaha kecil dan menengah merupakan kegiatan usaha yang mampu memperluas lapangan kerja dan memberikan pelayanan ekonomi yang luas pada masyarakat dapat berperan dalam proses pemerataan dan peningkatan pendapatan masyarakat, serta mendorong pertumbuhan ekonomi dan berperan dalam mewujudkan stabilitas nasional pada umumnya dan stabilitas ekonomi pada khususnya. Ketersediaan bahan baku lokal bagi industri kecil dan menengah merupakan keunggulan tersendiri yang memungkinkan dapat beroperasi secara efisien. Pada sisi lain modal kerja yang dibutuhkan relative kecil, sehingga memberi peluang kepada masyarakat yang memiliki jiwa wirausaha untuk mendirikan unit-unit usaha dengan kadar kecanggihan tehnik produksi yang terjangkau. Dalam batas-batas tertentu kegiatan industri kecil dan menengah dapat mengurangi sebagian beban import sehingga dalam kerangka strategis, hal ini dapat menghemat devisa. Selaras dengan program pembangunan ekonomi Pemerintah

Indonesia, dimana titik tolak diarahkan pada peningkatan kesejahteraan dan pengentasan kemiskinan melalui pemberdayaan ekonomi rakyat, maka diperkirakan Indonesia memerlukan tambahan sekitar 20 juta unit usaha baru di luar sektor pertanian, dalam 15 tahun mendatang dalam rangka meningkatkan daya dukung pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja bagi penduduk Indonesia. Hal ini berarti harus menumbuhkembangkan 1,3 juta unit usaha baru di Indonesia setiap tahunnya, padahal infrastruktur untuk mewujudkannya relatif sangat terbatas. Untuk 3

periode tahun 2005 - 2009 dicanangkan untuk menumbuhkan 6 juta unit usaha UMKM baru di Indonesia. Ardiana, Brahmayanti, Subaedi (2010: 2) menyebutkan pengembangan

wirausaha baru terkait dengan upaya menumbuhkan lingkungan usaha yang kondusif, menumbuhkan kemauan masyarakat untuk berwirausaha, meningkatkan kemampuan masyarakat untuk berwirausaha. Namun demikian pengembangan UMKM harus disertai dengan pengembangan sumber daya manusia (SDM) dalam berbagai aspek. Salah satu hasil survei menunjukkan bahwa tingkat pendidikan pengusaha UMKM di Indonesia adalah SLTA (44,1 persen), D-3 (7,4 persen), dan S-1 (17,9 persen) dan sisanya di bawah SLTA. Fakta ini sebenarnya menepis pandangan bahwa pendidikan UMKM di Indonesia relatif rendah. Namun peningkatan kualitas SDM sangat diperlukan terutama di bidang kompetensi SDM seperti knowledge, skill dan ability serta attitude dalam berwirausaha. Pengembangan SDM harus dilakukan tidak hanya kepada UMKM sebagai pemilik usaha, tetapi juga para pekerjanya. Semangat kewirausahaan dan peningkatan produktivitas yang didukung pengembangan teknologi menjadi penting dalam fokus penguatan SDM. Di sisi lain, penggunaan teknologi makin penting mengingat 60 persen proses produksi UMKM masih dilakukan secara sederhana. Ini

mengindikasikan bahwa penguasaan IPTEKS dan keahlian pemasaran oleh SDM UMKM masih sangat terbatas. Kabupaten Jepara merupakan salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang mempunyai banyak UMKM pada sentra-sentra industrinya, seperti sentra industri 4

kerajinan seni ukir, patung dan relief, sentra industri logam dan lain sebagainya. Sentra-sentra industri tersebut berkembang sangat baik, yang semula hanya beberapa saja, dari tahun ke tahun bertambah jumlahnya. Pemasaran yang dilakukan UMKM pun cukup luas, tersebar di Kabupaten-Kabupaten di seluruh Indonesia, mulai dari Yogyakarta, Jakarta, Bali hingga ke Sumatera. Bahkan beberapa UMKM telah dapat memasarkan hasilnya ke luar negeri seperti Kanada, Spanyol, Amerika dan Arab. Selain itu, banyak pembeli yang mengunjungi langsung sentra industri tersebut, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri (Dinas Koperasi, Usaha Mikro Kecil,
Menengah dan Pengelolaan Pasar Kabupaten Jepara, 2011)

Berbagai permasalahan mikro yang terdapat pada kebanyakan UMKM, dapat menghambat UMKM untuk dapat berkembang dengan baik, terutama dalam mengoptimalkan peluang yang ada. Kondisi tersebut memberikan isyarat bahwa UMKM sepantasnya diberikan bantuan sesuai dengan kebutuhannya. Sehubungan dengan permasalahan secara umum yang dialami oleh UMKM, Badan Pusat Statistik Kabupeten Jepara (2009) mengidentifikasikan sebagai berikut: (1) Kurang permodalan, (2) Kesulitan dalam pemasaran; (3) Persaingan usaha ketat; (4)

Kesulitan bahan baku; (5) kurang teknis produksi dan keahlian; (6) keterampilan manajerial kurang; (7) kurang pengetahuan manajemen; keuangan, (8) iklim usaha yang kurang kondusif (perijinan, aturan/perundangan) Suhendar Sulaeman (2004; 116) mengemukakan bahwa UMKM yang mengalami kesulitan usaha 72,47% sisanya 27,53 % tidak ada masalah. Dari 72,47 % yang mengalami kesulitan usaha tersebut, terutama meliputi kesulitan : (1) 5

Lebih lanjut disebutkan bahwa dalam mengatasi kesulitan permodalannya diketahui sebanyak 17. dan (6) Lainnya (3. Angka tersebut mencakup seluruh perusahaan (unit usaha) UMKM. (3) Tidak punya agunan (19.50 % tidak melakukan pinjaman ke bank tetapi ke lembaga Non bank seperti Koperasi Simpan Pinjam (KSP).93 %) Berdasarkan data dari BPS tahun 2009 menyatakan bahwa terdapat 7. dan (6) Proposal ditolak (1. (4) Tidak tahu prosedur (14. (4) Ketenagakerjaan (1.842 buah perusahaan industri/ unit di Kabupaten Jepara. (5) Suku bunga tinggi (8. (3) Bahan baku (8. UMKM sangat berperan dalam penyerapan tenaga kerja dan kesempatan berusaha di Jepara.22%).72 %). keluarga.82 %).93 %). modal ventura.09 %). Alasan utama yang dikemukakan oleh UMKM kenapa mereka tidak meminjam ke bank adalah: (1) prosedur sulit (30.59 %). (2) Tidak berminat (25.34 %). sisanya 82.50 % UMKM menambah modalnya dengan meminjam ke bank.30 %).33 %).09 %).28 %). Gambar 1 Banyaknya Unit Usaha dan Tenaga Kerja UMKM Kabupaten Jepara Tahun 2005-2009 Sumber: Jepara Dalam Angka. perorangan. lainnya. 2010 6 .Permodalan (51. (2) Pemasaran (34. (5) Distribusi transportasi (0.

Gambar 2 Perkembangan UMKM Monel Kabupaten Jepara Tahun 2005-2009 Sumber: Jepara Dalam Angka.Jumlah unit UMKM Kabupaten Jepara rata-rata dari tahun 2005-2009 yaitu sebesar 8000 dapat menyerap tenaga kerja sebanyak 10 kalinya yaitu sebesar 84000 orang. nilai investasi dan nilai produksi. Desa Kriyan. 2010 UMKM monel tiap tahunnya terus mengalami perkembangan dilihat dari indikator jumlah tenaga kerja. Hal ini membuktikan bahwa peranan UMKM sangat penting dalam perekonomian Jepara terutama dalam penyerapan tenaga kerja. UMKM monel masuk pada industri pengolahan dalam pembagian sektor pada Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). volume produksi. Salah satu UMKM yang berpotensi dan sedang dikembangkan di Kabupaten Jepara adalah UMKM monel. Tetapi ironisnya UMKM monel yang dikembangkan di Kecamatan Kalinyamatan (Desa Robayan. jumlah unit usaha. Desa Margoyoso) dan Kecamatan 7 . walaupun pada tahun 2008 mengalami penurunan jumlah unit usaha dan tenaga kerja akibat banyaknya UMKM rokok kretek yang tutup karena beban cukai yang semakin tinggi akan tetapi UMKM tetap menyerap tenaga kerja sebanyak 10 kali jumlanya.

Pecanggan (Desa Krasak dan Desa Gemulung) ini belum berproduksi secara maksimal. efektifitas dan 8 . dilihat dari perbandingan nilai produksinya dengan UMKM lain. 2010 UMKM monel memiliki nilai produksi terkecil dibandingkan dengan UMKM lainnya yaitu sebesar Rp 394.782. Pemanfaatan teknologi modern dan komputerisasi dapat meningkatkan kualitas. Dibandingkan dengan industri gerabah yang memiliki unit usaha jauh lebih kecil dari UMKM monel.782.802. yaitu Rp 396. Tabel 1 Perbandingan Unit Usaha (unit) dan Nilai Produksi (rupiah) UMKM Monel dan UMKM lainnya tahun 2009 Sumber: Jepara Dalam Angka.000 untuk nilai produksi gerabah dan Rp 394. nilai produksi gerabah masih lebih besar dibanding UMKM monel.000. Kurang baiknya kinerja UMKM monel di Jepara dikarenakan SDM yang relatif rendah (pengrajin berpendidikan SLTA ke bawah) sehingga kurang mahir dalam pemakaian alat-alat berbasis teknologi sehingga tidak dapat membantu mempermudah dan meningkatkan kualitas dan jumlah hasil produksi.000 untuk nilai produksi monel.

Berdasarkan kondisi di atas maka pengembangan kompetensi sumberdaya manusia UMKM monel di Kabupaten Jepara harus diperhatikan. I.2.efisiensi dalam proses produksi. Dari variabel kompetensi SDM dan bantuan modal. Disamping itu peningkatan bantuan modal juga sangat diperlukan untuk meminimalkan kendala modal yang dimiliki pengusaha monel. sehingga dapat menciptakan wirausaha yang dapat bersaing secara terbuka di pasar global. Bagaimanakah pengaruh bantuan modal terhadap kinerja UMKM Monel di Kabupaten Jepara? 3. variabel manakah yang berpengaruh paling dominan terhadap kinerja UMKM di Kabupaten Jepara? 9 . Karena kendala modal tersebut. Sedangkan UMKM monel kekurangan dana untuk berinvestasi di teknologi sehingga mengakibatkan produksi UMKM monel kurang dapat ikut bersaing dengan kerajinan-kerajinan aksesoris dari bahan lain karena minimnya pemanfaatan teknologi disain untuk menghasilkan model dan kualitas prosuksi yang kurang baik. Perumusan Masalah Berdasarkan uraian di atas. Bagaimanakah pengaruh pengembangan kompetensi SDM terhadap kinerja UMKM Monel di Kabupaten Jepara? 2. produksi monel tidak dapat maksimal sehingga mempengaruhi omzet penjualan usaha monel di Kabupaten Jepara. maka permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: 1.

Variabel kompetensi SDM dan bantuan modal UMKM. Tujuan Penelitian Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mendeskirpsikan dan menganalisis: 1. Pengembangan kompetensi SDM pengaruhnya terhadap kinerja UMKM Monel di Kabupaten Jepara.3. khususnya UMKM Monel. variabel mana yang berpengaruh paling dominan terhadap kinerja UMKM Jepara. I. Praktis: a. Sebagai informasi dalam mengambil keputusan. Monel di Kabupaten 2. peneliti selanjutnya dan yang berkepentingan terhadap penelitian di bidang pengembangan UMKM. 2.I. Kegunaan Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoritis maupun praktis 1. 10 . Teoritis memberikan tambahan informasi atau referensi bagi pembaca. Bantuan modal pengaruhnya terhadap kinerja UMKM Monel di Kabupaten Jepara? 3.4. menetapkan kebijakan dan mengambil langkah-langkah konkrit dalam pembinaan SDM dan permodalan UMKM Monel khususnya di Kabupaten Jepara .

Biasanya usaha mikro didefinisikan berdasarkan jumlah tenaga kerja dan omzet penjualan.00 (tiga ratus juta rupiah).00 (lima puluh juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha. b.000.000. 50.40/KMK. Sebagai informasi dalam menentukan program pengembangan SDM dan permodalan pada kelompok-kelompok UMKM di Kabupaten Jepara dan Kabupaten-Kabupaten lain di Indonesia. Kriteria Usaha Mikro menurut Undang-Undang nomor 20 tahun 2008 pasal 6 adalah sebagai berikut: 1. atau 2. 300. Beberapa lembaga bahkan undang-undang di Indonesia memberikan definisi sendiri mengenai usaha mikro. yaitu usaha produktif milik keluarga 11 . Menurut Undang-Uundang nomor 20 Tahun 2008 pasal 1 mengenai UMKM. Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp.000. Usaha Mikro sebagaimana dimaksud menurut Keputusan Menteri Keuangan No.000. Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) 2. Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/ atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria usaha mikro sebagaimana diatur dalam undang-undang ini.06/2003 tanggal 29 Januari 2003. LANDASAN TEORI 2.1. Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp.b.1.1. Pengertian UMKM Definisi mengenai usaha mikro di Indonesia beranekaragam.

2. Ciri-ciri usaha mikro: 1.100. mendorong pertumbuhan ekonomi. Tempat usahanya tidak selalu menetap. Selain itu. usaha mikro adalah salah satu pilar utama ekonomi nasional yang harus memperoleh kesempatan utama. dan dapat berperan dalam proses pemerataan dan peningkatan pendapatan masyarakat. Umumnya belum akses kepada perbankan. Usaha Mikro dapat mengajukan kredit kepada bank paling banyak Rp.atau perorangan Warga Negara Indonesia dan memiliki hasil penjualan paling banyak Rp. 3. 4. dan berperan dalam mewujudkan stabilitas nasional.000. Tingkat pendidikan rata-rata relatif sangat rendah.000. Sumber daya manusianya (pengusahanya) belum memiliki jiwa wirausaha yang memadai. 6. 7. dan tidak memisahkan keuangan keluarga dengan keuangan usaha. Umumnya tidak memiliki izin usaha atau persyaratan legalitas lainnya termasuk NPWP.000. sewaktu-waktu dapat pindah tempat. namun sebagian dari mereka sudah akses ke lembaga keuangan non bank. dukungan.00. Usaha mikro merupakan kegiatan usaha yang mampu memperluas lapangan kerja dan memberikan pelayanan ekonomi secara luas kepada masyarakat.00 (seratus juta rupiah) per tahun. Jenis barang/ komoditi usahanya tidak selalu tetap.000. 5. perlindungan dan pengembangan seluas-luasnya sebagai wujud keberpihakan yang tegas kepada kelompok usaha 12 . 50. sewaktu-waktu dapat berganti. Belum melakukan administrasi keuangan yang sederhana sekalipun.

Usaha mikro yang berorientasi domestik. yaitu usaha mikro yang telah menjalankan kegiatan internasional secara sangat luas. 4. yaitu usaha mikro dan kecil yang menjalankan usaha secara domestik. Eropa. Lembaga keuangan mikro merupakan lembaga yang melakukan kegiatan kegiatan penyedia jasa keuangan kepada pengusaha kecil dan mikro serta masyarakat berpenghasilan rendah yang tidak terlayani oleh lembaga keuangan formal dan yang telah berorientasi pasar untuk tujuan bisnis (Rudjito. Usaha mikro yang sudah internationalized. Usaha mikro potensial. Ragam pengertian umum usaha mikro dapat dilihat pada tabel 2. Usaha mikro menurut Departemen Tenaga Kerja (Depnaker) adalah usaha yang memiliki kurang dari 5 orang tenaga kerja. meliputi kawasan global seperti Asia. 2003: 45). yaitu usaha mikro yang memiliki potensi menjalankan kegiatan internasional. 2. 3. misalnya ekspor. Kemudin Ganewati (1997: 25) menyatakan bahwa usaha mikro berdasarkan perdagangan dan investasi dapat dikelompokkan menjadi 4 kelompok yaitu: 1. 13 . Hal yang sama juga didefinisikan oleh Bank Indonesia (BI) dan Badan Pusat Statistik (BPS) yang mendefinisikan usaha mikro sebagai usaha yang memiliki tenaga kerja 1-4 orang. atau Amerika Utara.ekonomi rakyat. yaitu usaha mikro yang telah menjalankan suatu kegiatan internasional. tanpa mengabaikan peranan usaha besar dan badan usaha milik pemerintah. Usaha mikro yang sudah go global.

Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro. Kecil dan Menengah (UMKM) : a. Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memenuhi criteria Usaha Mikro sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini. yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki. b. Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri. 14 .Tabel 2 Ragam Pengertian Umum Usaha Mikro Dipertegas dalam Undang. atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar yang memenuhi kriteria Usaha Kecil sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini. dikuasai.

serta memanfaatkan tenaga kerja dari keluarga dan kerabat dekatnya.Undang ini. dikuasai. tidak adanya pembagian tugas yang jelas antara bidang administrasi dan operasi. rendahnya akses industri kecil terhadap lembaga-lembaga kredit formal sehingga mereka cenderung menggantungkan pembiayaan usahanya dari 15 . atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Kecil atau usaha besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan sebagaimana diatur dalam Undang. Kebanyakan industri kecil dikelola oleh perorangan yang merangkap sebagai pemilik sekaligus pengelola perusahaan.c. Pertama. yang dilakukan oleh orang perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki. Kedua. Kemudian kriteria ke tiga (3) kategori usaha kategori tersebut di atas disajikan pada tabel 3. Kecil dan Menengah Kendati beberapa definisi mengenai usaha kecil namun agaknya usaha kecil mempunyai karakteristik yang hampir seragam. Tabel 3 Kriteria Usaha Mikro. Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri.

2. pemasaran dan keuangan. pedagang perantara. sebagian besar usaha kecil ditandai dengan belum dipunyainya status badan hukum. rotan. keahlian. kerabat. rumput dan sejenisnya termasuk perabotan rumahtangga (ISIC33) masing-masing berkisar antara 21% hingga 22% dari seluruh industri kecil yang ada. Lemahnya kemampuan manajerial dan 16 . 90.7 persen tergolong perusahaan perorangan berakta notaris. Namun disadari pula bahwa pengembangan usaha kecil menghadapi beberapa kendala seperti tingkat kemampuan. kewirausahaan. Firma. Tantangan Dan Masalah UMKM Memang cukup berat tantangan yang dihadapi untuk memperkuat struktur perekonomian nasional.7 persen yang sudah mempunyai badan hukum (PT/NV. diikuti oleh kelompok industri barang galian bukan logam (ISIC36).modal sendiri atau sumber-sumber lain seperti keluarga.1. dan industri kayu. atau Koperasi). bahkan rentenir. industri tekstil (ISIC32). dan hanya 1. 4. manajemen sumber daya manusia. CV. ketrampilan. Sedangkan yang bergerak pada kelompok usaha industri kertas (34) dan kimia (35) relatif masih sangat sedikit sekali yaitu kurang dari 1%.2. Keempat. minuman dan tembakau (ISIC31). Ketiga. Pembinaan pengusaha kecil harus lebih diarahkan untuk meningkatkan kemampuan pengusaha kecil menjadi pengusaha menengah.6 persen merupakan perusahaan perorangan yang tidak berakta notaris.bambu. dilihat menurut golongan industri tampak bahwa hampir sepertiga bagian dari seluruh industri kecil bergerak pada kelompok usaha industri makanan.

umumnya asal dapat berjualan dengan ³aman´ sudah cukup. bagi PK dengan omset kurang dari Rp 50 juta umumnya tantangan yang dihadapi adalah bagaimana menjaga kelangsungan hidup usahanya. TPSP (Tempat Pelayanan Simpan PinjamKUD) amat membantu modal kerja mereka. Secara garis besar. Mereka umumnya tidak membutuhkan modal yang besar untuk ekspansi produksi. Kedua. BKK. Keenam. iklim usaha yang kurang kondusif. Berdasarkan pengamatan Pusat 17 . tantangan yang dihadapi pengusaha kecil dapat dibagi dalam dua kategori: Pertama. kelemahan dalam memperoleh peluang pasar dan memperbesar pangsa pasar. keterbatasan jaringan usaha kerjasama antar pengusaha kecil (sistem informasi pemasaran). Bisa dipahami bila kredit dari BPR-BPR. Bagi mereka. Keempat. Kelima. Secara lebih spesifik. masalah dasar yang dihadapi pengusaha kecil adalah: Pertama. Kedua. tantangan yang dihadapi jauh lebih kompleks. pembinaan yang telah dilakukan masih kurang terpadu dan kurangnya kepercayaan serta kepedulian masyarakat terhadap usaha kecil. bagi PK dengan omset antara Rp 50 juta hingga Rp 1 milyar.sumberdaya manusia ini mengakibatkan pengusaha kecil tidak mampu menjalankan usahanya dengan baik. karena persaingan yang saling mematikan. biasanya modal yang diperlukan sekedar membantu kelancaran cashflow saja. kelemahan dalam struktur permodalan dan keterbatasan untuk memperoleh jalur terhadap sumber-sumber permodalan. kelemahan di bidang organisasi dan manajemen sumber daya manusia. Umumnya mereka mulai memikirkan untuk melakukan ekspansi usaha lebih lanjut. Ketiga.

2. (5) Masalah memperoleh bahan baku terutama karena adanya persaingan yang ketat dalam mendapatkan bahan baku. (2) Masalah bagaimana menyusun proposal dan membuat studi kelayakan untuk memperoleh pinjaman baik dari bank maupun modal ventura karena kebanyakan PK mengeluh berbelitnya prosedur mendapatkan kredit.Konsultasi Pengusaha Kecil UGM. (7) Masalah tenaga kerja karena sulit mendapatkan tenaga kerja yang terampil. 2000: 35): (1) Masalah belum dipunyainya sistem administrasi keuangan dan manajemen yang baik karena belum dipisahkannya kepemilikan dan pengelolaan perusahaan. pasar dikuasai perusahaan tertentu. (4) Masalah akses terhadap teknologi terutama bila pasar dikuasai oleh perusahaan/grup bisnis tertentu dan selera konsumen cepat berubah. urutan prioritas permasalahan yang dihadapi oleh PK jenis ini adalah (Kuncoro. bahan baku berkulaitas rendah. dan tingginya harga bahan baku. agunan tidak memenuhi syarat. (3) Masalah menyusun perencanaan bisnis karena persaingan dalam merebut pasar semakin ketat. dan banyak barang pengganti. dan tingkat bunga dinilai terlalu tinggi. (6) Masalah perbaikan kualitas barang dan efisiensi terutama bagi yang sudah menggarap pasar ekspor karena selera konsumen berubah cepat. Ketidaksamaan dalam kompetensi-kompetensi inilah yang 18 . Kompetensi SDM Kompetensi atau kemampuan didefinisikan oleh Mitrani (1995:21) adalah sebagai suatu sifat dasar seseorang yang dengan sendirinya berkaitan dengan pelaksanaan suatu pekerjaan secara efektif atau sangat berhasil (and underlying charactheristic: of an individual which is casually related to effective or superior performance in job).2.

1993 dalam Ardiana. 2010 . Komptensi batas atau kompetensi istimewa untuk suatu pekerjaan tertentu merupaka pola atau pedoman dalam pemilihan karyawan (personel selection). Sedangkan motif kompentensi dapat diperoleh pada saat proses seleksi. peniliaian kinerja (performance appaisal).al. Kompetensi didefinisikan Mitrani et. Kompentensi individu yang berupa kemampuan dan pengetahuan bisa dikembangkan melalui pendidikan dan pelatihan. 53 menyebutkan kompetensi dapat dibagi atas 2 (dua) kategori yaitu ³threshold competencies´ dan ³differentiating compentencies´. Perencanaan pengalihan tugas (succestion planing). Subaedi. Untuk mencapai kinerja sekedar cukup atau rata-rata. Spencer and Spencer. 1992. Threshold competencies adalah karakteristik utama yang harus dimiliki oleh seseorang agar 19 . 2010: 46 mendefinisikan sebagai an underlying characteristic¶s of an individual which is causally related to criterion-referenced effective and or superior performance in a job or situasion. konsep diri. sifat. dan pengembangan. Berangkat dari pengertian tersebut kompentensi seorang individu merupakan sesuatu yang melekat dalam dirinya yang dapat digunakan untuk memprediksi tingkat kinerjanya. Selanjutnya menurut Spencer and Spencer (1993) Ardiana. Brahmayanti. Subaedi. pengetahuan maupun kemampuan/keahlian. Sesuatu yang dimaksud bisa menyangkut motif. Atau karakteristik yang mendasari seseorang dan berkaitan dengan efektifitas kinerja individu dalam pekerjaannya. diperlukan kompetensi batas (threshold competemcies) atau kompetemsi essensial. Brahmayanti.membedakan seseorang pelaku unggul dari perilaku yang berprestasi rata-rata.

telah mengidentifikasikan tiga macam keterampilan dasar yaitu: 1. atau ketrampilan kognitif maupun ketrampilan perilaku. 20 . itu berarti pada tataran ³threshold competencies´. Sedangkan ³differentiating competiencies´ adalah factor-faktor yang membedakan individu yang berkinerja tinggi dan rendah. konsep diri. kemampuan manusia untuk menggunakan prosedur. teknik dan pengetahuan mengenai bidang khusus. dapat dikenali oleh perusahaan untuk mencocokkan orang dengan pekerjaan.al 1995) sedangkan Mathis dan Jackson (2001) mengilustrasikan bahwa kompetensi ada yang terlihat dan ada yang tersembunyi. Komptensi dapat berupa tujuan. penguasaan masalah. Keterampilan teknis yaitu. Tetapi tidak untuk membedakan seorang yang berkinerja tinggi dan rata-rata. Misalnya seorang dosen harus mempunyai kemampuan utama mengajar. Setiap sifat perorangan yang dapat diukur atau dihitung dengan jelas dan dapat ditunjukkan untuk membedakan secara gamblang seorang perilaku unggul dari seorang perilaku yang berprestasi rata-rata atau seorang perilaku efektif dari seorang pelaku yang tidak efektif (Alain Mitrani et. Keterampilan walaupun sebagian dapat terlihat sebagian lagi kurang teridentifikasi. selanjutnya apabila dosen dapat mengajar dengan baik. perangai. Stoner (1996: 137). sikap atau nilai. cara mengajarnya mudah dipahami dan analisanya tajam sehingga dapat dibedakan tingkat kinerjanya maka hal itu sudah masuk kategori ³differentiating competencies´.dapat melaksanakan pekerjaannya. Akan tetapi kompetensi tersembunyi berupa kecakapan yang mungkin lebih berharga dapat meningkatkan kinerja. Pengetahuan lebih terlihat.

Menurut Amstrong (1994: 235) kinerja seseorang didasarkan pada pemahaman ilmu pengetahuan. Dengan demikian standar kompetensi dapat diasumsikan sebagai rumusan tentang kemampuan dan keahlian apa yang harus dimiliki oleh tenaga kerja (SDM) dalam melaksanakan pekerjaan sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan/disepakati (LPPKMITB. Keterampilan manusia yaitu. memahami dan memotivasi orang lain sebagai individu atau kelompok. baik kinerja individu maupun kinerja organisasi (perusahaan). kemampuan untuk bekerja sama. keahlian dan perilaku 21 . Kompetensi erat kaitannya dengan kinerja. dan mengantisipasi bagaimana perubahan dalam suatu bagian tersebut akan mempengaruhi seluruh organisasi. sedangkan kompetensi diartikan sebagai kemampuan melaksanakan tugas-tugas ditempat kerja yang mencakup menerapkan keterampilan (skills) yang didukung dengan pengetahuan (cognitive) dan kemampuan (ability) sesuai dengan kondisi yang dipersyaratkan. Standar diartikan sebagai ukuran atau patokan yang disepakati. 2005:3). memahami bagaimana bagian-bagiannya saling tergantung. dapat diperoleh dengan pemahaman ciri-ciri yang kita cari dari orang-orang yang bekerja dalam organisasi-organisasi tersebut. termasuk melihat organisasi secara keseluruhan. Kompetensi SDM yang diperlukan untuk menghadapi tantangan baru dan jenis-jenis organisasi di tempat kerja. Konsep dasar standar kompetensi ditinjau dari estimologi. 3. Keterampilan konseptual yaitu. kemampuan untuk mengkoordina-sikan dan mengintegrasikan semua kepentingan dan aktivitas organisasi.2. standar kompetensi terbuka atas dua kosa kata yaitu standar dan kompetensi. keterampilan.

Dampak dan hasil. Kemampuan untuk beradaptasi dan mengatasi perubahan dan tekanan. Penerimaan atau penempatan dan 3. Ketegasan dalam mengambil keputusan. Berpikir strategis . pendidikan. 10. Sedangkan kinerja organisasi (perusahaan) didasarkan pada bagaimana manajemen perusahaan merespon kondisi eksternal dan internalnya. 11. Analisis kompetensi juga dapat menggambarkan sifat seseorang dengan cara menilai pengetahuan. 2. Ada beberapa teknik analisis kompetensi yang sedang digunakan antara lain: 1. pelatihan dan pengalaman. Penilaian secarakomersial.yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan dengan baik. Critical Incident (Peristiwa kritis). Analisa kompetensi SDM UMKM dimaksudkan adalah untuk menghasilakan profil atau model yang digunakan untuk: 1. keterampilan khusus yang dibutuhkan. Tim manajemen dan kepemimpinan. 3. lalu dihubungkan dengan peristiwa kritis yang sebenarnya. Kemampuan berkomunikasi. Kemampuan merencanakan dan mengendalikan proyek. Beberapa criteria yang dapat dianalisis antara lain:1. 6. Manajemen kinerja individu. 22 . yang dengan tolok ukur tertentu akan dapat diketahui berapa tingkat turbelensinya dan berapa tingkat kemampuan untuk mengantisipasinya. yaitu digunakan untuk mengumpulkan dan memperoleh data mengenai perilaku yang efektif atau kurang efektif. Pengembangan karier. 4. Dorongan individu (motivasi untuk sekses). 8. 5. 9. Daya analisis. 2. Berpikir kreatif (kemempuan berinovasi). Hubungan antar pribadi. 12. 7.

bahan pembantu. karena tanpa modal yang cukup maka usaha yang dijalankan oleh suatu badan usaha tidak dapat berjalan lancar. Bantuan Modal Setiap usaha sangat memerlukan modal untuk mencapai hasil yang didinginkan tanpa adanya modal aktivitas usaha tidak dapat berjalan dengan baik.3. bisa berupa pinjaman atau utang juga bisa sebagai dana yang tidak 23 . misalnya untuk membeli bahan dasar. 3. Modal yang dimiliki dapat digunakan untuk membiayai berbagai macam kebutuhan sesuai dengan bidang usaha. Job competency assessment (penilaian kompetensi pekerjaan) 2. Peranan modal tersebut menjadi sedemikian penting. Yang dimaksud peneliti bantuan dana ini berasal dari luar pengusaha yaitu dari pemerintah.2. membayar upah buruh dan sebagainya dengan harapan akan dapat memperoleh kembali dana yang telah dikeluarkan itu melalui hasil penjualan. Besar kecilnya lapangan usaha juga tergantung pada besarnya kecilnya modal yang dapat dihimpun. Repertory grid analysis. Digunakan untuk mengidentifikasi dimensi yang membedakan orang yang mempunyai kinerja baik dari orang yang mempunyai kinerja kurang standard. Menurut lembaga penelitian UGM dalam Putra (2005:6) modal pada industri kecil adalah dana yang digunakan dalam proses produksi saja tidak termasuk nilai tanah dan bangunan yang ditempati atau biasa disebut modal kerja.

Hibah Hibah adalah pemberian dengan suka rela dengan mengalihkan hak atas sesuatu kepada orang lain (kamus bahasa Indonesia). bantuan ini selain berbentuk uang juga bisa berbentuk barang atau peralatan. Menciptakan lapangan pekerjaan 3. Bantuan modal yang diberikan kepada UMKM ini mempunyai tujuan. tujuannya antara lain : 1. Hibah adalah suatu persetujuan dalam mana satu pihak berdasarkan atas kemurahan hati (liberaliterit). Hibah adalah perjanjian dimana pemberi hibah dimasa hidupnya dengan cumacuma dan tidak dapat ditarik kembali memberi sebuah benda kepada si penerima yang menerima pemberian itu (Ali Afandi. 1961:104). Meningkatkan perekonomian rakyat terutama pelaku usaha kecil dan menengah 2.harus dikembalikan atau hibah. Hibah yang diberikan bagi pengusaha dari pemerintah ini bisa berupa bantuan peralatan dan bisa juga berupa uang. 24 . 1986:30). Mengurangi kemiskinan Bantuan modal yang diberikan oleh Dinas Koperasi dan Usaha kecil menengah ada tiga macam yaitu : 1. perjanjian dalam hidupnya memberikan hak milik atas suatu barang kepada pihak kedua secara percuma (omneit) dan yang tidak dapat ditarik kembali. sedangkan pihak kedua menerima baik penghibahan ini (Wirjono Prajidikoro.

5% .1% perbulan. Usaha Kecil Menengah (KUMK).com). (2) meningkatkan volume usaha koperasi dan UMKM. Jangka waktu pengembalian pinjaman ini biasanya 3 bulan atau sesuai dengan kesepakatan (Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah). (3) meningkatkan penyerapan tenaga kerja. bunga. baik mengenai jangka waktu. Besar kecilnya 25 . maupun jaminannya. Bantuan ini berasal dari APBD/APBN (Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah). jaminannya adalah kepercayaan. Pola bergulir adalah cara memanfaatkan bantuan kepada KUMK Secara umum program dana bergulir bertujuan untuk (1) meningkatkan aktivitas ekonomi pedesaan. 3. Pengertian dana bergulir dalam pembahasan ini adalah dana yang diberikan pemerintah untuk kelompok usaha yang kemudian apabila sudah selesai pengembaliannya digulirkan ke kelompok lain.2. Bantuan pinjaman lunak Pengertian pinjaman lunak adalah pinjaman dengan syarat ringan. Pinjaman ini menggunakan bunga yang relatif kecil yaitu 0.danabergulir. (4) meningkatkan semangat berkoperasi. Dana tersebut disalurkan melalui pola bergulir . Bantuan ini tidak berbunga dan tidak ada jaminan. (5) meningkatkan pendapatan anggota dan (6) membangkitkan etos kerja (www. Bantuan modal bergulir Dana bergulir adalah bantuan perkuatan pemerintah dalam bentuk uang atau barang modal yang disalurkan kepada Koperasi. Jaminan untuk pinjaman ini berupa surat ijin usaha. Pengertian pinjaman lunak dalam pembahasan ini merupakan dana dari pemerintah yang diberikan dengan sistem pinjaman. sertifikat usaha dan lain-lain.

Kinerja 2. usaha dan dukungan.1. biasanya diberikan setengah dari modal usaha.bantuan modal yang berupa uang diberikan tergantung dari besar kecilnya usaha. maka kemungkinan besar kinerja perusahaan atau organisasi akan baik.4. Secara empiris dapat dinyatakan dengan persamaan berikut: Kinerja = f(A x E x S) A = Abitlity (kemampuan) E = Effort (usaha) S = Support (dukungan) Faktor (A) berhubungan dengan rekrutmen dan seleksi yaitu kemampuan alami dengan memilih orang berbakat dan memiliki minat yang tepat dengan pekerjaan yang diberikan. Faktor (E) merupakan usaha yang dilakukan seseorang yang 26 . Apabila kinerja individu baik. Pengertian Kinerja Kinerja atau performasi adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau kelompok orang dalam organisasi. berpandangan bahwa kinerja adalah fungsi dari kemampuan.4. 1999: 111). 2. sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing dalam rangka mencapai tujuan organisasi (Suyudi. Sedangkan Mathis dan Jackson (2001) dalam Hening Yustika Pritariani (2009: 22). tergantung dari pemohon ingin meminta bantuan peralatan apa yang dibutuhkan. Menurut Levbinson (1979) dalam Hening Yustika Pritariani (2009: 21) unjuk kerja atau kinerja adalah pencapaian atau prestasi seseorang berkenaan dengan tugastugas yang dibebankan kepadanya. jika bantuan berupa peralatan.

Kinerja individu dapat dilihat dari tiga elemen yang utama yaitu: produktivitas. peralatan yang disediakan memadai dan harapan. Faktor (S) merupakan dukungan organisasi seperti. pengembangan karier karyawan yang jelas dan adil. Komponen produtivitas individu dapat dijelaskan seperti Gambar 1. kualitas dan pelayanan.kinerja dan motivasi. Model ini berdasarkan penelitian Moorhead & Griffin (1989) dalam Hening Yustika Pritariani (2009: 23) dimana 27 . konsistensi manajemen. seperti motivasi. Penilaian kinerja individu dilakukan dengan membanding-kan kinerja aktual dengan standard kinerja yang ditetapkan. Gambar 3 Komponen Perilaku Produktivitas Individu Untuk menentukan kinerja individu dapat diawali dengan menetapkan standard kinerja perusahaan berdasarkan tujuan yang akan dicapai. Pada gambar 3 ditunjukkan faktor utama tentang perilaku individu. kemudian diproyeksikan pada standard kinerja individu. insentif dan rangcangan pekerjaan. pelatihan.dipengruhi oleh masalah sumber daya manusia.

tim kerja. Rancangan pekerjaan (tugas-tugas. misalnya aktivitas yang dilakukan oleh karyawan harus dapat diidentiikasi berwujud dan dapat dikontrol. Hubungan organisasi (gaya pengawasan. kinerja (performance) dapat diartikan sebagai suatu pencapaian hasil kerja sesuai dengan aturan dan standar yang berlaku pada masingmasing organisasi kerja. mnumbuhkan dan meningkatkan kompetisi individu. Pekerjaan mempunyai nilai motivasi yang lebih besar apabila karyawan diberikan perencanaan dan tanggung jawab yang lebih besar terhadap pekerjaannya.variabel-variabel yang mempengaruhi kinerja dapat dikontrol dengan mengatur halhal berikut: 1. Organisasi Objektivitas dan sasaran pekerjaan sangat penting. jam kerja dll) 3. Rancangan pekerjaan dapat meningkatkan kinerja. skill dan kemampuan) 4. Dalam pengertian bebas. kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan. kondisi psikologis kerja. Simamora (2001: 327) mengatakan bahwa kinerja merupakan suatu pencapain persyaratan-persyaratan pekerjaan tertentu yang akhirnya secara langsung dapat tercermin dari out put yang dihasilkan baik jumlah maupun 28 .metode dan hubungan pekerjaan untuk memenuhi persyaratan kinerja. rancangan pekerjaan yang meliputi spesifakasi dan aktivitas. Kinerja objektif (berhubungan dengan kinerja objektif : kompetensi. beban kerja). Pekerjaan secara formal ditentukan di dalam uraian pekerjaan. knowladge. 2.

Menurut Veithzal Rivai Ahmad Fawzi MB (2005. dapat melaksanakan tugasnya tanpa kesalahan (dengan tingkat kesalahan paling rendah). 2001: 327) kinerja antara lain dapat dilihat dari indikator-indikator berikut: kepatuhannya terhadap segala aturan yang telah ditetapkan dalam perusahaan. Pada organisasi kerja dimana outputnya dapat terindentitifikasi secara individu dalam bentuk kuantitas seperti pabrik rokok. dalam menjalankan tugasnya. Hal ini ditegaskan oleh Nawawi (1997:234) yang menyebut kinerja dengan isitilah karya. terbitan Amerika Serikat dan Canada (1979). Jika dilihat dari asal katanya. yaitu dari besarnya output yang dicapainya dalam kurun waktu tertentu. Namun pada unit kerja kelompok atau tim. melaksanakan (to do or carry 29 . target atau sasaran atau kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu dan telah disepakati bersama. berasal dari akar kata ³to perform´ dengan beberapa ³entries´ yaitu: (1) melakukan. indikator kinerja pekerjanya dapat diukur dengan mudah. Output yang dihasilkan sebagaimana yang dikatakan simamora di atas dapat berupa fisik maupun nonfisik. baik bersifat/material maupun non fisik/nonmaterial . menjalankan. kata kinerja adalah terjemahan dari kata performance. seperti standar hasil kerja. yaitu suatu hasil pelaksanaan suatu pekerjaan. 35) menyebutkan kinerja adalah hasil atau tingkat keberhasilan seseorang secara keseluruhan selama periode tertentu di dalam melaksanakan tugas dibandingkan dengan berbagai kemungkinan. yang menurut The Scribner-Bantam English Distionary. Dalam hubungan ini (Simamora.kualitasnya. kinerja tersebut agak sulit teridentifikasi secara kuantitas secara individual.

25) menyebutkan beberapa pengertian tentang kinerja yaitu: 1. Kinerja merujuk kepada pencapaian tujuan karyawan atas tugas yang diberikan (Casio: 1992). Kinerja merupakan seperangkat hasil yang dicapai dan merujuk pada tindakan pencapaian serta pelaksanaan sesuatu pekerjaan yang diminta (Stolovitch and Keeps: 1992).out. Kinerja merupakan salah satu kumpulan total dari kerja yang ada pada diri pekerja (Griffin: 1987). (3) melaksanakan atau menyempurnakan tanggung jawab (to execute or complete an understaking). 2. Subaedi (2010. (2) memenuhi atau melaksanakan kewajiban suatu niat atau nazar ( to discharge of fulfill. as vow). Brahmayanti. 5.A. 3. Kinerja merujuk kepada tingkat keberhasilan dalam melaksanakan tugas serta kemampuan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. execute). 6. Kinerja merupakan suatu fungsi dari motivasi dan kemampuan. I. Untuk menyelesaikan tugas atau pekerjaan. Kinerja dinyatakan 30 . 4. Ardiana. dan (4) melakukan sesuatu yang diharapkan oleh seseorang atau mesin (to do what is expected of a person machine). Kesediaan dan keterampilan seseorang tidaklah cukup efektif untuk mengerjakan sesuatu tanpapemahaman yang jelas tentang apa yang akan dikerjakan dan bagaimana mengerjakannya (Hersey and Blanchard: 1993). Kinerja dipengaruhi oleh tujuan (Mondy and Premeaux: 1993). seseorang harus memliki derajat kesediaan dan tingkat kemampuan tertentu.

Dengan demikian. Sehubungan dengan itu. yakni: (a) tugas individu. motivasi dan kesempatan. Kinerja sebagai fungsi interaksi antara kemampuan atau ability (A). Hunt and Osborn: 1991). 9.baik dan sukses jika tujuan yang diinginkan dapat tercapai dengan baik (Donnelly. Jika dikaitkan dengan performance sebagai kata benda (noun) di mana salah satu entrinya adalah hasil dari sesuatu pekerjaan (thing done). 8. (b) perilaku individu. Artinya: kinerja merupakan fungsi dari kemampuan. Gibson and Ivancevich: 1994). kinerja adalah kesediaan seseorang atau kelompok orang untuk melakukan sesuatu kegiatan dan menyempurnakannya sesuai dengan tanggung jawabnya dengan hasil seperti yang diharapkan.Ada tiga kriteria dalam melakukan penilian kinerja individu. Pencapaian tujuan yang telah ditetapkan merupakan salah satu tolok ukur kinerja individu. dan (c) ciri individu (Robbins: 1996). Meskipun seorang individu mungkin bersedia dan mampu. 7. yaitu kinerja = (A x M x O). kinerja ditentukan oleh factor-faktor kemampuan. Kinerja sebagai kualitas dan kuantitas dari pencapaian tugas-tugas. kelompok maupun perusahaan (Schermerhorn. bisa saja ada rintangan yang menjadi penghambat. motivasi dan kesempatan (Robbins: 1996). pengertian performance atau kinerja adalah hasil 31 . motivasi atau motivation (M) dan kesempatan atau opportunity (O). Kesempatan kinerja adalah tingkat-tingkat kinerja yang tinggi yang sebagian merupakan fungsi dari tiadanya rintangan-ringtangan yang mengendalakan karyawan itu. baik yang dilakukan oleh individu.

Kinerja dalam menjalankan fungsinya tidak berdiri sendiri. Dengan demikian. Oleh karena itu. Gibson and Invancevich: 1994: 69). (2) keinginan dan (3) lingkungan. seseorang harus mempunyai keinginan yang tinggi untuk mengerjakan serta mengetahui pekerjaannya. Kepuasan kerja itu sendiri adalah perasaan individu terhadap pekerjaannya. (e) imbalan internal dan eksternal. Kinerja individu dipengaruhi oleh kepuasan kerja. menurut model partner-lawyer (Donnelly. kinerja individu pada dasarnya dipengaruhi oleh faktorfaktor. kemampuan dan sifat-sifat individu. kinerja individu dapat ditingkatkan apabila ada kesesuaian antara pekerjaan dan kemampuan. Oleh karena itu. (a) harapan mengenai imbalan. (c) kemampuan. dipengaruhi oleh keterampilan. yaitu: (1) kemampuan. agar mempunyai kinerja yang baik. Dengan kata lain. Perasaan ini berupa suatu hasil penilaian mengenai seberapa jauh pekerjaannya secara keseluruhan mampu memuaskan kebutuhannya. kebutuhan dan sifat. (b) dorongan. kinerja pada dasarnya ditentukan oleh tiga hal.kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau kelompok orang dalam suatu perusahaan sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing dalam upaya pencapaian tujuan perusahaan secara legal. Tanpa mengetahui ketiga faktor ini kinerja yang baik tidak akan tercapai. tapi berhubungan dengan kepuasan kerja dan tingkat imbalan. tidak melanggar hukum dan tidak bertentangan dengan moral atau etika. (f) persepsi terhadap tingkat imbalan dan kepuasan kerja. (d) persepsi terhadap tugas. 32 .

4. Jaringan usaha sangat terbatas. 55). Sejalan dengan pandangan di atas. Jumlah investasi yang sangat kecil. Jangkuan pasar yang sempit. 4) Tingkat ketergantungan terhadap fasilitas pemerintah cendrung sangat besar.2. 5. 1. 3) Sebagian besar UMKM tidak mampu memenuhi persyaratan administratif guna memperoleh bantuan dari Bank. Produktivitas rendah. lemahnya teknologi dan manajerial. 2. 2) Pangsa pasar cendrung menurun karena kekurangan modal. Akses ke sumber modal dan bahan baku terbatas. Sedangkan kendala-kendala yang umumnya dihadapi oleh usaha mikro kecil menengah (UMKM) adalah.: 79) menambahkan bahwa ada 4 faktor penyebab utama rendahnya kinerja usaha mikro kecil menengah (UMKM) di Indonesia yaitu: 1) Hampir 60% UMKM masih menggunakan teknologi tradisional. Kotler (1991: 47) menyarankan agar didasarkan pada ROI bukan pada margin laba/profit. Nilai tambah rendah. Untuk mengukur kinerja perusahaa. 3. Baswir (1995. (2005. dapat dilakukan dengan ³balanced score card´ (BSC). Disebutkan pula oleh Kotler (1991: 49) menyebutkan bahwa untuk mengukur kinerja bisnis. 6. 4.2. 33 . Kinerja Usaha UMKM Kinerja perusahaan adalah hasil dari banyak keputusan individu yang dibuat secara terus menerus oleh manajemen (Veithzal Rivai Ahmad Fawzi MB.

jumlah pembeli sebelum dan sesudah adanya binaan 34 . c. total penjualan.7. mutu. PENELITIAN TERDAHULU Beberapa penelitian terdahulu yang berkaitan dengan penelitian ini diantaranya penelitian yang dilakukan oleh Isra Fenny Simangunsong (2008) yang berkaitan dengan Dampak Pinjaman Dana program Penanggulangan Kemiskinan PerKabupatenan (P2KP) Terhadap Pendapatan Anggota Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM). Berdasarkan beberapa kajian di atas penelitian ini mencoba untuk melihat dan mengkaji kendala yang berhubungan dengan kinerja UMKM. yang dikaitkan pada manajemen dan kualitas sumber daya manusia yang dimiliki oleh UMKM yang bersangkutan. Hasil penelitian Hasil analisis penelitian ini menunjukkan bahwa program pinjaman dana bergulir P2KP berpengaruh positif terhadap pendapatan anggota KSM di kelurahan Peleburan Kecamatan Semarang Selatan Kabupaten Semarang. Hasil penelitian adalah ada perbedaan modal. Hening Yustika Pritariani (2009) melakukan penelitian tetang Analisis Perkembangan Usaha Mikro dan Kecil Binaan BKM Arta Kawula di Kecamatan Semarang Barat Kabupaten Semarang. teknologi. Manajemen yang masih belum profesional dan sumber daya manusia pada umumnya belum memiliki kualitas yang bisa bersaing untuk maju (Rizal. 2002: 56).

Hasil penelitian disimpulkan ternyata modal dari BMT tidak berpengaruh bagi pendapatan usaha mikro dan kecil. Hal ini terjadi karena skim yang diberi berupa BBA yang pada dasarnya tidak sesuai dengan prinsip bagi hasil. lemahnya teknologi dan 35 . Meskipun demikian secara umum BMT YA Ummi Fatimah memiliki peran yang strategis untuk meningkatkan kesejahteraan pengusaha mikro dan kecil di Kabupaten Pati. Arif Pujiono (2010) meneliti Peranan Baitul Maal Wat Tamwil dalam Meningkatkan Kesejahteraan Pengusaha Mikro dan Kecil (Studi Empiris pada BMT Ya Ummi Fatimmah Pati).dari BKM Arta Kawula. akan tetapi dua variable lainnya yaitu ketrampilan dan kemampuan memiliki pengaruh yang signifikan sehingga kedua variabel ini perlu diperhatikan dalam mengembangkan meningkatkan kinerja UMKM. sedangkan keuntungan tidak memiliki perbedaan bahkan mengalami penurunan sebelum dan sesudah adanya binaan dari BKM Arta Kawula. Brahmayanti dan Subaedi (2010) melakukan penelitian Kompetensi SDM UMKM dan Pengaruhnya Terhadap Kinerja UMKM di Jepara. d. Kemudian. Hasil penelitian di ketemukan variabel pengetahuan ternyata tidak sigjifikan terhadap kinerja UMKM karena nilainya negatif dan sangat kecil. Ardiana. 2) Pangsa pasar cendrung menurun karena kekurangan modal. KERANGKA PENELITIAN Baswir (1995) menyebutkan ada 4 faktor penyebab utama rendahnya kinerja UMKM yaitu: 1) Hampir 60% UMKM masih menggunakan teknologi tradisional.

Kompetensi merupakan kemampuan melaksanakan tugas-tugas ditempat kerja yang mencakup menerapkan keterampilan (skills) yang didukung dengan pengetahuan (cognitive) dan kemampuan (ability) sesuai dengan kondisi yang dipersyaratkan. Sedangkan Akyuwen (2005) yang menyebutkan beberapa permasalahan yang menghambat berkembangnya UMKM adalah rendahnya kemampuan SDM. Dengan demikian standar kompetensi dapat diasumsikan sebagai rumusan tentang kemampuan dan keahlian apa yang harus dimiliki oleh tenaga kerja (SDM) dalam melaksanakan pekerjaan sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan/disepakati. Keyakinan tersebut diperoleh dari hasil penilaian bantuan modal sebelum bantuan tersebut disalurkan.manajerial. Ketrampilan dan Kemampuan memiliki peranan yang cukup penting dalam Penentuan Kinerja UMKM. Penilaian bantuan modal oleh sektor keuangan dapat dilakukan dengan berbagai cara untuk mendapatkan keyakinan tentang UMKM 36 . sektor keuangan (bank) harus merasa yakin bahwa bantuan modal yang diberikan benar-benar memiliki peluang untuk kembali. 4) terhadap fasilitas pemerintah cendrung sangat besar. Sebelum suatu bantuan modal diberikan. Subaedi (2001) yang menemukan variabel Pengetahuan. terbatasnya. Brahmayanti. permodalan dan akses pasar. 3) sebagian besar UMKM tidak mampu memenuhi persyaratan Tingkat ketergantungan administratif guna memperoleh bantuan dari Bank. Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Ardiana.

y omzet penjualan. Sehingga tidak ada masalah kredit macet karena usaha bisa berjalan dengan lancar. UMKM Monel di Kabupaten Jepara masih perlu adanya perhatian dari pihak pemerintahan berupa pengembangan kompetensi SDM serta dukungan modal yang mencukupi serta dengan suku bunga yang bisa terjangkau. seperti melalui prosedur penilaian yang benar dan sungguh-sungguh. dan gambar hubungan yang skematis dapat dilihat pada Gambar 4. y kondisi keuangan.yang akan diberikan bantuan. y hasil produk mampu bersaing. dimana variabel independen yaitu kompetensi SDM (X1) dan bantuan modal (X2) berpengaruh terhadap variabel kinerja UMKM (Y). tidak lupa juga adanya promosi yang besar pula untuk bisa meningkatkan penjualan. y jumlah pelanggan yang dimiliki. Berdasarkan beberapa uraian konsep dan teori di atas. y tingkat bunga y jangka waktu pengembalian Kinerja UMKM: y keuntungan. y syarat. Gambar 4 Model Kerangka Penelitian 37 . Kompentensi SDM: y Pengetahuan y Keterampilan y Kemampuan Bantuan Modal: y nominal bantuan.

1. maka hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1.1. Jenis Penelitian Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian diskriptif yang bertujuan untuk menggambarkan keadaan Kompetensi populasi atau fakta empiris. HIPOTESIS Berdasarkan permasalahan dan kerangka penelitian seperti di atas. Kompetensi SDM berpengaruh terhadap kinerja UMKM Monel di Kabupaten Jepara.e.2. Variabel Penelitian Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini antara lain: variabel Kompetensi SDM (X1) dan Bantuan Modal (X2) Sedangkan variabel tergantung (dependent variable) yang digunakan adalah variable Kinerja UMKM (Y). Bantuan Modal Jepara. Keadaan populasi atau fakta empiris yang akan didiskripsikan dalam penelitian ini adalah tentang pengaruh kompetensi SDM (Sumber Daya Manusia) dan Bantuan Modal UMKM (Usaha Kecil Menengah) terhadap kinerja UMKM Monel di Kabupaten Jepara 6. berpengaruh terhadap kinerja UMKM Monel di Kabupaten f. 2.1. METODE PENELITIAN 6. 38 .

Pengetahuan (Knowladge). dapat memprakirakan pelaku pelaku cakap. pengetahuan manajemen bisnis. merupakan penguasaan ilmu dan teknologi yang dimiliki seseorang. promosi dan strategi pemasaran. pengetahuan produk atau jasa. 6. sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing dalam rangka mencapai tujuan organisasi.3. keterampilan.4. pengetahuan (knowladge) dalam hal ini adalah. dan diperoleh melalui proses pembelajaran serta pengalaman selama kehidupannya. y Kinerja Kinerja adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau kelompok orang dalam organisasi. y Bantuan modal Bantuan modal adalah bantuan finansial usaha mikro monel dalam menjalankan operasional usaha untuk memproduksi kerajinan monel. pengetahuan tentang konsumen.6.1. dan komptensi pengetahuan yang dibangkitkan oleh suatu keadaan. Keterampilan (Skill) dan Kemampuan (Ability). adalah kapasitas khusus 39 . konsep diri. Definisi Operasional y Kompetensi SDM UMKM dalam penelitian ini diukur melalui Pengetahuan (Knowladge). Definisi Konsep y Komptensi Pengembangan SDM Komptensi Pengembangan SDM adalah sebuah model alir sebab akibat yang menunjukkan bahwa kemampuan.1. Keterampilan (Skill).

Indikator kinerja meliputi: keuntungan. adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau kelompok orang dalam organisasi dan merupakan sarana penentu dalam suatu proses untuk mencapai tujuan organisasi. hasil produk mampu bersaing.untuk memanipulasi suatu objek secara fisik. Populasi dan Sampel Arikunto (1998: 115) mengatakan bahwa populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. adalah kapasitas seorang individu untuk mengerjakan berbagai tugas dalam suatu pekerjaan. syarat. Keterampilan meliputi: keterampilan produksi. mengendalikan. Sesuai dengan Profil Data Sentra UMKM Kabupaten Jepara. omzet penjualan. keuangan. pengawasan. Menurut Cooper & Emory (1995: 214) mengatakan populasi adalah seluruh kumpulan elemen yang dapat untuk membuat beberapa kesimpulan. mengambil keputusan. berkomunikasi.5. Sedangkan Kemampuan (Ability). berinovasi. y Bantuan modal adalah bantuan finansial berupa kredit dari lembaga keuangan (perbankan atau non perbankan). tingkat bunga dan jangka waktu pengembalian. Populasi penelitian ini meliputi semua Pelaku atau SDM UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) Monel di Kabupaten Jepara yang masih aktif usahanya di tahun 2011. y Kinerja. memimpin. kondisi keuangan. situasi dan perubahan lingkungan bisnis. kemampuan meliputi : kemampuan mengelola bisnis. administrasi dan akuntansi. Indikator bantuan modal yang digunakan adalah nominal uang dalam rupiah. terdapat 185 Unit Usaha 40 . 6. jumlah pelanggan dimiliki.1. kerjasama.

000. Desa Kriyan..6. dan ditentukan secara proporsional. Jenis dan Sumber Data Jenis data dalam penelitian ini adalah data primer dari Pelaku UMKM dan data sekunder seperti profil data jumlah Sentra UMKM. b.000. d. Desa Margoyoso) dan Kecamatan Pecanggan: (Desa Krasak dan Desa Gemulung) Penentuan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik Non Random sampling secara purposive yaitu memilih pelaku UMKM yang sesuai dengan kriteria yang ditetapkan sebagai berikut: a. Sedangkan sumber data adalah dari responden (SDM UMKM) yang terdiri dari Pemilik atau jajaran manajemen UMKM yang terdapat pada Sentra UMKM Monel di Kabupaten Jepara. yang akan dijadikan sampel hanya sebesar 20%. Dari jumlah Unit Usaha yang terseleksi sesuai poin 1 dan 2.(Lima puluh juta Rupiah) c. 41 .yang tersebar di Kecamatan Kalinyamatan (Desa Robayan. Yang menjadi responden (sampel) adalah Pemilik/Pengurus dan jajaran manajemen di UMKM tersebut. UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) yang bergerak dibidang Monel dengan alasan bahwa UMKM ini memang memerlukan kompetensi SDM dan bantuan modal dalam bersaing di dunia bisnis. Usaha Kecil yang memiliki jumlah tenaga kerja (SDM) minimum 10 orang atau omzet minimum Rp.1. 50. 6.

sekaligus sebagai Cross-check terhadap data yang dikumpulkan. Kuesioner digunakan sebagai panduan agar wawancara lebih terstruktur dan terstandar. Dilakukan dengan membuat serangkaian pertanyaan yang terkait dengan kompetensi SDM UMKM Monel di Kabupaten Jepara 3. Data yang diperoleh dari lapangan akan dianalisa dengan cara deskriptif dengan menggunakan beberapa teknik analisa statistik yang sesuai dengan kebutuhan. Prosedur Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara yang dilengkapi dengan kuesioner. Langkah-langkah yang akan dilakukan dalam proses pengumpulan data adalah sebagai berikut: 1.7. Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan dengan beberapa teknik sebagai berikut. Menyiapkan kuesioner dan melakukan uji validitas dan reliabilitas. 6. Selanjutnya data yang terkumpul ditabulasi. Pelaksanaan pengumpulan data. Teknik Wawancara.6.8. 1. Teknik Kuesioner. 2. Digunakan untuk pengumpulan data yang bersumber dari data sekunder seperti: Sentral UMKM monel yang ada dan Jumlah serta karakteristik UMKM Monel Kabupaten Jepara 2. Digunakan sebagai pelengkap untuk memperoleh data yang tidak dapat dikumpulkan melalui teknik lain.1. Teknik Dokumenter. dan diinterpretasi sesuai tujuan penelitian. diolah. 42 . 3.1.

6. Apabila nilai E lebih besar dari 0. Metode Analisis Data Data yang di-entry akan di cek ulang kebenarannya dan kelengkapannya sebelum dianalisis.1. 2009: 142). 1969. Suatu kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan pada kuesioner mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut (Gozali. Item pertanyaan dikatakan valid apabila diperoleh muatan faktor (factor loading) lebih besar sama dengan 0. 2009: 140).9. Uji reliabilitas digunakan koefisien Conbrach Alpha (E). 43 .1. 6. karena ditegakan melalui prosedur analisis faktor. Uji validitas menggunakan validitas faktorial.10. Pengolahan data dilakukan dengan bantuan program Ecxel dan SPSS serta software lain yang diperlukan. y Reliabilitas Suatu kuesioner dikatakan reliabel atau handal jika jawaban seseorang terhadap pernyataan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu (Gozali. Gozali (2009: 140)).400. Uji Validitas dan Reliabilitas y Validitas Uji validitas untuk mengukur sah atau valid tidaknya kuesioner.60 dapat ditafsirkan suatu hasil pengukuran relatif konsisten apabila pengukuran diulangi dua kali atau lebih dengan kata lain instrumen tersebut dapat diandalkan (Nunnally. Hasil analisis akan ditampilkan secara deskriptif baik kualitatif maupun kuantitatif dan dilengkapi dengan menggunakan tabel agar lebih komunikatif.

Model analisis regersi ganda menurut Gozali (2009. uji multikolinieritas dan uji heteroskedastisitas. a) Uji Normalitas. Karena jumlah variabel bebas lebih dari 1 (satu) dan variabel terikat hanya 1 (satu). Lebih lanjut disebutkan oleh Imam Ghozali (2009: 55) apabila menggunakan data crossection (silang waktu) autokorelasi relatif tidak terjadi. Uji ini dilakukan untuk menguji apakah dalam model regresi variabel dependen dan variabel independen keduanya mempunyai distribusi 44 . 35) yang digunakan dalam analisis ini yaitu: Y= Dimana : + ß1 X1+ ß2 X2 + e Y X1 X2 ß1. ß2. maka alat analisis yang sesuai adalah regresi ganda linier. e = = = = = = Kinerja UMKM Konstanta Pengembangan Kompetensi SDM Bantual Modal Parameter/koefisien regresi Residual y Uji Asumsi Klasik Imam Ghozali (2009: 55) menyebutkan model regresi yang baik harus tidak terjadi multikolinieritas. autokorelasi dan heteroskedastisitas. Variabel terikat adalah kinerja UMKM dan variabel bebas adalah kompetensi SDM. dan Modal usaha.y Regresi Variabel dalam penelitian ini dibedakan menjadi variabel bebas dan variabel terikat. Uji asumsi klasik dalam penelitian ini terdiri dari uji normalitas data.

2009: 50). jika VIF lebih dari 10 maka terjadi multikolinieritas. 1995. b) Uji Multikolinieritas. Untuk mendeteksi adanya heteroskedastisitas dilakukan dengan uji Glejser tingkat pertama. bahwa uji Glejser lebih praktis untuk menjawab persoalan heteroskedastisitas karena dapat digunakan untuk sampel kecil maupun besar. Apabila hasil regresi menunjukkan tidak adanya satupun variabel bebas yang signifikan terhadap absolut Ut. Nilai DW statistik berdasarkan hasil 45 . yaitu meregresikan nilai absolut residual terhadap variabel bebas (Gujarati.normal atau tidak. maka dapat disimpulkan tidak terjadi heteroskedastisitas. e) Uji Autokorelasi Uji Autokorelasi dilakukan untuk menguji apakah kesalahan faktor pengganggu dari model regresi pada satu pengamatan berkorelasi dengan kesalahan faktor pengganggu pada pengamatan yang lain. c) Uji Heteroskedastisitas. Cara mendeteksinya adalah dengan melihat normal probability plot yang membandingkan distribusi kumulatif dari data sesungguhnya dengan distribusi kumulatif dari distribusi normal. d) Digunakan uji Glejser ini mengacu pada pendapat Gujarti. Imam Ghozali. Untuk mendeteksi adanya multikolinieritas dengan cara melihat VIF (Variance Inflation Factor). Model regresi yang baik adalah yang memiliki distribusi normal atau mendekati normal. uji ini bertujuan untuk menguji apakah model regresi yang terbentuk terdapat adanya korelasi antar variabel bebas. uji ini bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain.

1. ß2.11. 0. a. Uji signifikansi bersama-sama (Uji Statistik F) Ftest uji ini menunjukkan apakah semua variabel independen yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependen (Gozali. 6. Ho : ß1. Taraf signifikansi untuk menolak hipotesis dalam penelitian ini adalah sebesar 5%. Hipotesis yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. ß2. Ha : ß1. Uji Hipotesis Uji ini merupakan uji statistik yang dimaksudkan untuk menguji apakah hasil yang dicapai sudah sesuai dengan metode-metode statistik yang ada. Pada prinsipnya. variabel bebas (Xi) secara bersama-sama ada pengaruh terhadap variabel tak bebas (Y). 2009: 55).analisis berada di antara du < dw<4-du. 2. maka dalam model tidak terdapat autokorelasi. penggunaan uji ini dalam pengujian hipotesis adalah untuk memutuskan signifikansi secara statistik (statistically significant) pengaruh variabel bebas terhadap variabel tak bebas baik secara individu maupun secara serempak atau simultan. variabel bebas () secara bersama-sama tidak ada pengaruh terhadap variabel tak bebas (Y). = 0. 46 . .

berarti bahwa secara bersama-sama pengembangan kompetensi SDM dan bantuan modal berpengaruh terhadap kinerja UMKM Monel di Kabupaten Jepara. Uji Signifikansi Parameter Individu (Uji Statistik t) ttest merupakan metode pengujian secara parsial terhadap hipotesis yang diajukan. berarti bahwa secara bersama-sama pengembangan kompetensi SDM dan bantuan modal tidak berpengaruh terhadap kinerja UMKM Monel di Kabupaten Jepara.hitung > F-tabel atau signifikansi F lebih kecil dari 5%. Jika F. 2. Kemudian langkah selanjutnya memperhatikan nilai koefisien determinasi (R2). Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variabel dependen. maka Ho diterima dan Ha ditolak.hitung < F-tabel atau signifikansi F lebih besar dari 5%. Jika F. Uji t menguji tingkat signifikansi masing-masing parameter dari variabel yang diukur terhadap variabel terikat. Nilai koefisien determinasi adalah di antara nol dan satu.Pengambilan keputusan : 1. yang pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variabel dependen (Gozali. 2009: 65). b. apakah dapat diterima secara statistik dengan 47 . maka Ho ditolak dan Ha diterima. Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variabelvariabel independen (pengembangan kompetensi SDM dan bantuan modal) dalam menjelaskan variabel dependen (kinerja UMKM) sangat terbatas.

maka Ho ditolak dan Ha diterima. tidak ada pengaruh antara pengembangan kompetensi SDM terhadap kinerja UMKM Monel di Kabupaten Jepara. ada pengaruh p antara bantuan modal terhadap kinerja UMKM Monel di Kabupaten Jepara Pengambilan keputusan pengujian hipotesis: y Jika t.membandingkan antara t hitung dengan t tabel atau membandingkan signifikansi t dengan toleransi kesalahan 5% (Gujarati. tidak ada pengaruh antara pengembangan kompetensi SDM terhadap kinerja UKM di Kabupaten Jepara Ha : ß2 > 0. ada pengaruh antara pengaruh positif antara pengembangan kompetensi SDM terhadap kinerja UMKM Monel di Kabupaten Jepara 2.hitung > t -tabel atau signifikansi t lebih kecil dari 5%. Ha : ß1 < 0. berarti bahwa secara parsial ada pengaruh antara pengembangan kompetensi SDM dan bantuan bantuan modal terhadap kinerja UMKM Monel di Kabupaten Jepara. Ho : ß1 = 0. Ho : ß2 = 0. 1995). y Jika t. Hipotesis yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. maka Ho diterima dan Ha ditolak.hitung < t -tabel atau signifikansi t lebih kecil dari 5%. berarti bahwa secara parsial tidak ada pengaruh antara pengembangan kompetensi SDM dan bantuan bantuan modal terhadap kinerja UMKM Monel di Kabupaten Jepara 48 .

Untuk mempermudah pengujian validitas dan reliabilitas butir-butir pertanyaan penelian. pembentukan garis regresi beserta pengujian hipotesis peneliti menggunakan alat bantu SPSS ver 16. 49 .

DAFTAR PUSTAKA Akyuwen. Manajemen Sumber Daya Manusia. 2005. Jilid I. 1993. 1997. 2006. Vol. Tidak dipublikasikan. Tidak dipublikasikan. 1997.. Indonesia dalam Kebijakan Luar Negri dan Pertahanan Australia 1996-2001. Semarang Isra Fenny Simangungsong. Data Dalam Anggka Kabupaten Jepara. Jakarta Dinas Koperasi. Yogyakarta. Jakarta: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. I. Semarang: FE Undip Arikunto Suharsimi. Hening Yustika Pritariani. Roberto. Struktur.A. Skripsi MIESP UNDIP. 2009. Skripsi MIESP UNDIP. Menengah dan Pengelolaan Pasar Kabupaten Jepara. Analisis Perkembangan Usaha Mikro dan Kecil Binaan BKM Arta Kawula Di Kecamatan Semarang Barat Kota Semarang. Rineka Cipta. Subaedi. Ivancevich & Donnely John. Metode Penelitian Bisnis. Gibson James. Ekonometrika: Teori. 2011. Jakarta Handari Nawawi. 2009. Data Potensi Produk UMKM Ganewati Wuryandari. Usaha Mikro Kecil. 50 .12. 2001. Undip. Jurnal Manajemen Dan Kewirausahaan. Erlangga. Brahmayanti. Kompetensi SDM UKM dan Pengaruhnya Terhadap Kinerja UKM di Surabaya. NO. Organisasi Dan Manajemen: Prilaku. 1998. Gajah Mada University Press. 2010. Jakarta Ardiana. Imam Gozali. Efeketivitas Kelembagaan Keuangan Dalam Penyaluran Kredit Mikro: kajian Pendekatan Ekonomi Kelembagaan Baru. Proses. 2009. ³Dampak Pinjaman Dana Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP) Terhadap Pendapatan Anggota Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM´). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Cooper Donal R & Emory William C. Erlangga. Konsep dan Aplikasi dengan SPSS 17. 1 BPS Kabupaten Jepara.

Manajemen Pemasaran: Analisis. 1998.depkop. makalah yang disampaikan pada seminar peran perbankan dalam memperkokoh ketahanan nasional kerjasama Lemhanas RI dengan BRI. 2003. Suhendar Sulaeman. Jakarta. dan Menengah. Jakarta: Prenhallindo Mudrajad Kuncoro. 51 . 1 Rudjito. Kementrian Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah. Manajemen Sumber Daya Manusia.James A. Pola Kluster Dan Orientasi Pasar : Studi Kasus Sentra Industri Keramik Di Kasongan. Perencanaan. Kabupaten Bantul.2004. No.Yogyakarta . 1996. Pengembangan Usaha Kecil Dan Menengah Dalam Menghadapi Pasar Regional Dan Global. PT. Jurnal Manajemen Dan Kewirausahaan. Prenhelindo. Edward Freeman. 2000. Usaha Kecil Di Indonesia: Profil. April. Diakses tanggal 4 Februari 2010. Implementasi Dan Kontrol. 20 tahun 2008 tentang Usaha Mikro. F. Masalah Dan Strategi Pemberdayaan. Robbins. Daniel R. YKPN. D. Pengaruh Faktor-Faktor Eksternal dan Internal Terhadap Kinerja Usaha Mikro dan Kecil (UMK) di Sulawesi Selatan. Kotler. Manajemen. R. 2009. Vol. 2001. Yogyakarta Mudrajad Kuncoro & Irwan Adimaschandra Supomo.12. Girbet. Statistik Usaha Kecil dan Menengah Tahun 2007-2008. Perilaku Organisasi. Jakarta. Analisis Formasi Keterkaitan. Prenhelindo. Strategi Pengembangan UMKM Berbasis Sinergi bisnis. Kecil.I. 2003. STIE. 1997. Jakarta. Simamora Henry. Infokop Nomor 25 Tahun XX Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1995 Tentang Usaha Kecil Undang-Undang No. 2010. no. STIE Kerja Sama. Jurnal Empirika volume 16. Philip. Yogyakarta Stephen P.go.1 Musran Munizu. Edisi I. dari http://www. Stoner.id.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->