DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG FAKULTAS EKONOMI

RANCANGAN SKRIPSI NAMA NIM PRODI : Rahayu Kurniawan : 3353404523 : Ekonomi Pembangunan ±S1

PENGEMBANGAN KOMPETENSI SUMBER DAYA MANUSIA DAN BANTUAN MODAL USAHA PENGARUHNYA TERHADAP KINERJA USAHA MIKRO KECIL MENENGAH (UMKM) MONEL DI KABUPATEN JEPARA

a. I.1.

PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Pengembangan Usaha Mikro Kecil Mengah (UMKM) di Indonesia

merupakan salah satu prioritas dalam pembangunan ekonomi nasional, selain karena UMKM merupakan tulang punggung sistem ekonomi kerakyatan yang tidak hanya ditujukan untuk mengurangi masalah kesenjangan antar golongan pendapatan dan antar pelaku usaha, ataupun pengentasan kemiskinan dan penyerapan tenaga kerja. Pengembangannya mampu memperluas basis ekonomi dan dapat memberikan

1

konstribusi yang signifikan dalam mempercepat perubahan struktural, yaitu meningkatnya perekonomian daerah dan ketahanan ekonomi nasional. Musran Munizu (2010: 30) menyebutkan program dan kegiatan yang dilakukan pemerintah dalam upaya mengembangkan sektor Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) selama ini sungguh menggembirakan. Peningkatan peran dan kegiatan usaha sektor ini semakin nampak khususnya sejak era krisis ekonomi dan keuangan pada tahun 1997. Ditengah-tengah proses restrukturisasi sektor korporat dan BUMN yang berlangsung lamban, sektor ini telah menunjukkan perkembangan yang terus meningkat dan bahkan mampu menjadi penopang pertumbuhan ekonomi nasional. Kondisi dan fakta tersebut sejalan dengan hasil penelitian empiris yang dilakukan Demirbag et al., (2006) dalam Musran Munizu (2010: 41) yang menyimpulkan bahwa keberhasilan usaha kecil dan menengah (small-medium enterprises) memiliki dampak langsung terhadap pembangunan ekonomi baik pada negara maju maupun negara berkembang. Usaha kecil dan menengah memiliki kemampuan untuk menciptakan lapangan kerja dengan biaya minimum, mereka adalah pelopor dalam dunia inovasi dan memiliki fleksibilitas tinggi yang memungkinkan usaha tersebut untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. UMKM menjadi tumpuan bagi 99,45% tenaga kerja di Indonesia selama periode 2005-2008, UMKM ternyata mampu membuka lapangan kerja baru bagi 9,6 juta orang, sementara usaha besar hanya mampu membuka lapangan kerja baru bagi

2

55.760 orang. Selain itu konstribusi UMKM terhadap eksport non migas nasional sebesar 19,9% (Ardiana, Brahmayanti, Subaedi, 2010 ; 44) Dengan demikian usaha kecil dan menengah merupakan kegiatan usaha yang mampu memperluas lapangan kerja dan memberikan pelayanan ekonomi yang luas pada masyarakat dapat berperan dalam proses pemerataan dan peningkatan pendapatan masyarakat, serta mendorong pertumbuhan ekonomi dan berperan dalam mewujudkan stabilitas nasional pada umumnya dan stabilitas ekonomi pada khususnya. Ketersediaan bahan baku lokal bagi industri kecil dan menengah merupakan keunggulan tersendiri yang memungkinkan dapat beroperasi secara efisien. Pada sisi lain modal kerja yang dibutuhkan relative kecil, sehingga memberi peluang kepada masyarakat yang memiliki jiwa wirausaha untuk mendirikan unit-unit usaha dengan kadar kecanggihan tehnik produksi yang terjangkau. Dalam batas-batas tertentu kegiatan industri kecil dan menengah dapat mengurangi sebagian beban import sehingga dalam kerangka strategis, hal ini dapat menghemat devisa. Selaras dengan program pembangunan ekonomi Pemerintah

Indonesia, dimana titik tolak diarahkan pada peningkatan kesejahteraan dan pengentasan kemiskinan melalui pemberdayaan ekonomi rakyat, maka diperkirakan Indonesia memerlukan tambahan sekitar 20 juta unit usaha baru di luar sektor pertanian, dalam 15 tahun mendatang dalam rangka meningkatkan daya dukung pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja bagi penduduk Indonesia. Hal ini berarti harus menumbuhkembangkan 1,3 juta unit usaha baru di Indonesia setiap tahunnya, padahal infrastruktur untuk mewujudkannya relatif sangat terbatas. Untuk 3

periode tahun 2005 - 2009 dicanangkan untuk menumbuhkan 6 juta unit usaha UMKM baru di Indonesia. Ardiana, Brahmayanti, Subaedi (2010: 2) menyebutkan pengembangan

wirausaha baru terkait dengan upaya menumbuhkan lingkungan usaha yang kondusif, menumbuhkan kemauan masyarakat untuk berwirausaha, meningkatkan kemampuan masyarakat untuk berwirausaha. Namun demikian pengembangan UMKM harus disertai dengan pengembangan sumber daya manusia (SDM) dalam berbagai aspek. Salah satu hasil survei menunjukkan bahwa tingkat pendidikan pengusaha UMKM di Indonesia adalah SLTA (44,1 persen), D-3 (7,4 persen), dan S-1 (17,9 persen) dan sisanya di bawah SLTA. Fakta ini sebenarnya menepis pandangan bahwa pendidikan UMKM di Indonesia relatif rendah. Namun peningkatan kualitas SDM sangat diperlukan terutama di bidang kompetensi SDM seperti knowledge, skill dan ability serta attitude dalam berwirausaha. Pengembangan SDM harus dilakukan tidak hanya kepada UMKM sebagai pemilik usaha, tetapi juga para pekerjanya. Semangat kewirausahaan dan peningkatan produktivitas yang didukung pengembangan teknologi menjadi penting dalam fokus penguatan SDM. Di sisi lain, penggunaan teknologi makin penting mengingat 60 persen proses produksi UMKM masih dilakukan secara sederhana. Ini

mengindikasikan bahwa penguasaan IPTEKS dan keahlian pemasaran oleh SDM UMKM masih sangat terbatas. Kabupaten Jepara merupakan salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang mempunyai banyak UMKM pada sentra-sentra industrinya, seperti sentra industri 4

kerajinan seni ukir, patung dan relief, sentra industri logam dan lain sebagainya. Sentra-sentra industri tersebut berkembang sangat baik, yang semula hanya beberapa saja, dari tahun ke tahun bertambah jumlahnya. Pemasaran yang dilakukan UMKM pun cukup luas, tersebar di Kabupaten-Kabupaten di seluruh Indonesia, mulai dari Yogyakarta, Jakarta, Bali hingga ke Sumatera. Bahkan beberapa UMKM telah dapat memasarkan hasilnya ke luar negeri seperti Kanada, Spanyol, Amerika dan Arab. Selain itu, banyak pembeli yang mengunjungi langsung sentra industri tersebut, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri (Dinas Koperasi, Usaha Mikro Kecil,
Menengah dan Pengelolaan Pasar Kabupaten Jepara, 2011)

Berbagai permasalahan mikro yang terdapat pada kebanyakan UMKM, dapat menghambat UMKM untuk dapat berkembang dengan baik, terutama dalam mengoptimalkan peluang yang ada. Kondisi tersebut memberikan isyarat bahwa UMKM sepantasnya diberikan bantuan sesuai dengan kebutuhannya. Sehubungan dengan permasalahan secara umum yang dialami oleh UMKM, Badan Pusat Statistik Kabupeten Jepara (2009) mengidentifikasikan sebagai berikut: (1) Kurang permodalan, (2) Kesulitan dalam pemasaran; (3) Persaingan usaha ketat; (4)

Kesulitan bahan baku; (5) kurang teknis produksi dan keahlian; (6) keterampilan manajerial kurang; (7) kurang pengetahuan manajemen; keuangan, (8) iklim usaha yang kurang kondusif (perijinan, aturan/perundangan) Suhendar Sulaeman (2004; 116) mengemukakan bahwa UMKM yang mengalami kesulitan usaha 72,47% sisanya 27,53 % tidak ada masalah. Dari 72,47 % yang mengalami kesulitan usaha tersebut, terutama meliputi kesulitan : (1) 5

28 %). (4) Tidak tahu prosedur (14.33 %).09 %).59 %). dan (6) Proposal ditolak (1. modal ventura.50 % tidak melakukan pinjaman ke bank tetapi ke lembaga Non bank seperti Koperasi Simpan Pinjam (KSP). Gambar 1 Banyaknya Unit Usaha dan Tenaga Kerja UMKM Kabupaten Jepara Tahun 2005-2009 Sumber: Jepara Dalam Angka. sisanya 82.30 %). (4) Ketenagakerjaan (1.Permodalan (51. dan (6) Lainnya (3. 2010 6 . (2) Pemasaran (34.93 %) Berdasarkan data dari BPS tahun 2009 menyatakan bahwa terdapat 7.842 buah perusahaan industri/ unit di Kabupaten Jepara.34 %). (2) Tidak berminat (25.22%).72 %). Lebih lanjut disebutkan bahwa dalam mengatasi kesulitan permodalannya diketahui sebanyak 17. (5) Suku bunga tinggi (8.50 % UMKM menambah modalnya dengan meminjam ke bank. keluarga. lainnya. (5) Distribusi transportasi (0. UMKM sangat berperan dalam penyerapan tenaga kerja dan kesempatan berusaha di Jepara. (3) Tidak punya agunan (19.93 %). (3) Bahan baku (8.82 %). perorangan. Angka tersebut mencakup seluruh perusahaan (unit usaha) UMKM. Alasan utama yang dikemukakan oleh UMKM kenapa mereka tidak meminjam ke bank adalah: (1) prosedur sulit (30.09 %).

jumlah unit usaha. Salah satu UMKM yang berpotensi dan sedang dikembangkan di Kabupaten Jepara adalah UMKM monel. Tetapi ironisnya UMKM monel yang dikembangkan di Kecamatan Kalinyamatan (Desa Robayan. Gambar 2 Perkembangan UMKM Monel Kabupaten Jepara Tahun 2005-2009 Sumber: Jepara Dalam Angka.Jumlah unit UMKM Kabupaten Jepara rata-rata dari tahun 2005-2009 yaitu sebesar 8000 dapat menyerap tenaga kerja sebanyak 10 kalinya yaitu sebesar 84000 orang. 2010 UMKM monel tiap tahunnya terus mengalami perkembangan dilihat dari indikator jumlah tenaga kerja. walaupun pada tahun 2008 mengalami penurunan jumlah unit usaha dan tenaga kerja akibat banyaknya UMKM rokok kretek yang tutup karena beban cukai yang semakin tinggi akan tetapi UMKM tetap menyerap tenaga kerja sebanyak 10 kali jumlanya. UMKM monel masuk pada industri pengolahan dalam pembagian sektor pada Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). nilai investasi dan nilai produksi. Desa Kriyan. Desa Margoyoso) dan Kecamatan 7 . Hal ini membuktikan bahwa peranan UMKM sangat penting dalam perekonomian Jepara terutama dalam penyerapan tenaga kerja. volume produksi.

802.782.Pecanggan (Desa Krasak dan Desa Gemulung) ini belum berproduksi secara maksimal.782. 2010 UMKM monel memiliki nilai produksi terkecil dibandingkan dengan UMKM lainnya yaitu sebesar Rp 394.000. nilai produksi gerabah masih lebih besar dibanding UMKM monel. Dibandingkan dengan industri gerabah yang memiliki unit usaha jauh lebih kecil dari UMKM monel. efektifitas dan 8 . Kurang baiknya kinerja UMKM monel di Jepara dikarenakan SDM yang relatif rendah (pengrajin berpendidikan SLTA ke bawah) sehingga kurang mahir dalam pemakaian alat-alat berbasis teknologi sehingga tidak dapat membantu mempermudah dan meningkatkan kualitas dan jumlah hasil produksi. Tabel 1 Perbandingan Unit Usaha (unit) dan Nilai Produksi (rupiah) UMKM Monel dan UMKM lainnya tahun 2009 Sumber: Jepara Dalam Angka. Pemanfaatan teknologi modern dan komputerisasi dapat meningkatkan kualitas.000 untuk nilai produksi monel. dilihat dari perbandingan nilai produksinya dengan UMKM lain. yaitu Rp 396.000 untuk nilai produksi gerabah dan Rp 394.

2. Sedangkan UMKM monel kekurangan dana untuk berinvestasi di teknologi sehingga mengakibatkan produksi UMKM monel kurang dapat ikut bersaing dengan kerajinan-kerajinan aksesoris dari bahan lain karena minimnya pemanfaatan teknologi disain untuk menghasilkan model dan kualitas prosuksi yang kurang baik. Karena kendala modal tersebut. Bagaimanakah pengaruh bantuan modal terhadap kinerja UMKM Monel di Kabupaten Jepara? 3. Perumusan Masalah Berdasarkan uraian di atas. Disamping itu peningkatan bantuan modal juga sangat diperlukan untuk meminimalkan kendala modal yang dimiliki pengusaha monel. Bagaimanakah pengaruh pengembangan kompetensi SDM terhadap kinerja UMKM Monel di Kabupaten Jepara? 2. produksi monel tidak dapat maksimal sehingga mempengaruhi omzet penjualan usaha monel di Kabupaten Jepara. Berdasarkan kondisi di atas maka pengembangan kompetensi sumberdaya manusia UMKM monel di Kabupaten Jepara harus diperhatikan. sehingga dapat menciptakan wirausaha yang dapat bersaing secara terbuka di pasar global. variabel manakah yang berpengaruh paling dominan terhadap kinerja UMKM di Kabupaten Jepara? 9 . maka permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: 1.efisiensi dalam proses produksi. Dari variabel kompetensi SDM dan bantuan modal. I.

Bantuan modal pengaruhnya terhadap kinerja UMKM Monel di Kabupaten Jepara? 3. I. 2.I. Tujuan Penelitian Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mendeskirpsikan dan menganalisis: 1. Teoritis memberikan tambahan informasi atau referensi bagi pembaca. Variabel kompetensi SDM dan bantuan modal UMKM. Kegunaan Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoritis maupun praktis 1. khususnya UMKM Monel. peneliti selanjutnya dan yang berkepentingan terhadap penelitian di bidang pengembangan UMKM. Praktis: a. Monel di Kabupaten 2. variabel mana yang berpengaruh paling dominan terhadap kinerja UMKM Jepara. menetapkan kebijakan dan mengambil langkah-langkah konkrit dalam pembinaan SDM dan permodalan UMKM Monel khususnya di Kabupaten Jepara . Sebagai informasi dalam mengambil keputusan.4. 10 . Pengembangan kompetensi SDM pengaruhnya terhadap kinerja UMKM Monel di Kabupaten Jepara.3.

00 (lima puluh juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.000.40/KMK. yaitu usaha produktif milik keluarga 11 . LANDASAN TEORI 2. 300. Usaha Mikro sebagaimana dimaksud menurut Keputusan Menteri Keuangan No.000.1. Sebagai informasi dalam menentukan program pengembangan SDM dan permodalan pada kelompok-kelompok UMKM di Kabupaten Jepara dan Kabupaten-Kabupaten lain di Indonesia. 50. Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp.000. Kriteria Usaha Mikro menurut Undang-Undang nomor 20 tahun 2008 pasal 6 adalah sebagai berikut: 1. Menurut Undang-Uundang nomor 20 Tahun 2008 pasal 1 mengenai UMKM. Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp. Pengertian UMKM Definisi mengenai usaha mikro di Indonesia beranekaragam.000.1. Beberapa lembaga bahkan undang-undang di Indonesia memberikan definisi sendiri mengenai usaha mikro.1.06/2003 tanggal 29 Januari 2003. Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/ atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria usaha mikro sebagaimana diatur dalam undang-undang ini. Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) 2. Biasanya usaha mikro didefinisikan berdasarkan jumlah tenaga kerja dan omzet penjualan.b. b. atau 2.00 (tiga ratus juta rupiah).

namun sebagian dari mereka sudah akses ke lembaga keuangan non bank. dan tidak memisahkan keuangan keluarga dengan keuangan usaha. Tingkat pendidikan rata-rata relatif sangat rendah. Umumnya tidak memiliki izin usaha atau persyaratan legalitas lainnya termasuk NPWP. mendorong pertumbuhan ekonomi. 4. dan dapat berperan dalam proses pemerataan dan peningkatan pendapatan masyarakat.atau perorangan Warga Negara Indonesia dan memiliki hasil penjualan paling banyak Rp. sewaktu-waktu dapat pindah tempat.000. perlindungan dan pengembangan seluas-luasnya sebagai wujud keberpihakan yang tegas kepada kelompok usaha 12 .100. 7.000. 3. Belum melakukan administrasi keuangan yang sederhana sekalipun. Selain itu. usaha mikro adalah salah satu pilar utama ekonomi nasional yang harus memperoleh kesempatan utama. Umumnya belum akses kepada perbankan.000. 2. 5. Sumber daya manusianya (pengusahanya) belum memiliki jiwa wirausaha yang memadai. Jenis barang/ komoditi usahanya tidak selalu tetap. 6.000. Usaha Mikro dapat mengajukan kredit kepada bank paling banyak Rp. Tempat usahanya tidak selalu menetap.00. Ciri-ciri usaha mikro: 1. Usaha mikro merupakan kegiatan usaha yang mampu memperluas lapangan kerja dan memberikan pelayanan ekonomi secara luas kepada masyarakat. dan berperan dalam mewujudkan stabilitas nasional. dukungan. 50.00 (seratus juta rupiah) per tahun. sewaktu-waktu dapat berganti.

Usaha mikro yang sudah go global. Ragam pengertian umum usaha mikro dapat dilihat pada tabel 2. 4. yaitu usaha mikro dan kecil yang menjalankan usaha secara domestik. Lembaga keuangan mikro merupakan lembaga yang melakukan kegiatan kegiatan penyedia jasa keuangan kepada pengusaha kecil dan mikro serta masyarakat berpenghasilan rendah yang tidak terlayani oleh lembaga keuangan formal dan yang telah berorientasi pasar untuk tujuan bisnis (Rudjito. Kemudin Ganewati (1997: 25) menyatakan bahwa usaha mikro berdasarkan perdagangan dan investasi dapat dikelompokkan menjadi 4 kelompok yaitu: 1. Hal yang sama juga didefinisikan oleh Bank Indonesia (BI) dan Badan Pusat Statistik (BPS) yang mendefinisikan usaha mikro sebagai usaha yang memiliki tenaga kerja 1-4 orang. 2. Usaha mikro menurut Departemen Tenaga Kerja (Depnaker) adalah usaha yang memiliki kurang dari 5 orang tenaga kerja. meliputi kawasan global seperti Asia. tanpa mengabaikan peranan usaha besar dan badan usaha milik pemerintah. Usaha mikro potensial. yaitu usaha mikro yang telah menjalankan kegiatan internasional secara sangat luas. atau Amerika Utara. misalnya ekspor. Usaha mikro yang sudah internationalized.ekonomi rakyat. 13 . yaitu usaha mikro yang telah menjalankan suatu kegiatan internasional. 3. Usaha mikro yang berorientasi domestik. yaitu usaha mikro yang memiliki potensi menjalankan kegiatan internasional. Eropa. 2003: 45).

Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memenuhi criteria Usaha Mikro sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini. atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar yang memenuhi kriteria Usaha Kecil sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini. dikuasai. yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki. b.Tabel 2 Ragam Pengertian Umum Usaha Mikro Dipertegas dalam Undang. 14 . Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri.Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro. Kecil dan Menengah (UMKM) : a.

tidak adanya pembagian tugas yang jelas antara bidang administrasi dan operasi.Undang ini. Kebanyakan industri kecil dikelola oleh perorangan yang merangkap sebagai pemilik sekaligus pengelola perusahaan. Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri. atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Kecil atau usaha besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan sebagaimana diatur dalam Undang. rendahnya akses industri kecil terhadap lembaga-lembaga kredit formal sehingga mereka cenderung menggantungkan pembiayaan usahanya dari 15 . Kecil dan Menengah Kendati beberapa definisi mengenai usaha kecil namun agaknya usaha kecil mempunyai karakteristik yang hampir seragam. dikuasai.c. Kemudian kriteria ke tiga (3) kategori usaha kategori tersebut di atas disajikan pada tabel 3. yang dilakukan oleh orang perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki. Pertama. serta memanfaatkan tenaga kerja dari keluarga dan kerabat dekatnya. Kedua. Tabel 3 Kriteria Usaha Mikro.

bahkan rentenir. dan industri kayu. industri tekstil (ISIC32). kewirausahaan. diikuti oleh kelompok industri barang galian bukan logam (ISIC36).bambu. pemasaran dan keuangan. rotan. dan hanya 1. manajemen sumber daya manusia. keahlian.7 persen yang sudah mempunyai badan hukum (PT/NV. CV. Lemahnya kemampuan manajerial dan 16 . Namun disadari pula bahwa pengembangan usaha kecil menghadapi beberapa kendala seperti tingkat kemampuan. 90. Ketiga.2. pedagang perantara. atau Koperasi).1. dilihat menurut golongan industri tampak bahwa hampir sepertiga bagian dari seluruh industri kecil bergerak pada kelompok usaha industri makanan.6 persen merupakan perusahaan perorangan yang tidak berakta notaris. Sedangkan yang bergerak pada kelompok usaha industri kertas (34) dan kimia (35) relatif masih sangat sedikit sekali yaitu kurang dari 1%.7 persen tergolong perusahaan perorangan berakta notaris. minuman dan tembakau (ISIC31).modal sendiri atau sumber-sumber lain seperti keluarga. 4. ketrampilan. Tantangan Dan Masalah UMKM Memang cukup berat tantangan yang dihadapi untuk memperkuat struktur perekonomian nasional. kerabat. Keempat. sebagian besar usaha kecil ditandai dengan belum dipunyainya status badan hukum. rumput dan sejenisnya termasuk perabotan rumahtangga (ISIC33) masing-masing berkisar antara 21% hingga 22% dari seluruh industri kecil yang ada. Pembinaan pengusaha kecil harus lebih diarahkan untuk meningkatkan kemampuan pengusaha kecil menjadi pengusaha menengah. Firma. 2.

umumnya asal dapat berjualan dengan ³aman´ sudah cukup. Secara garis besar. Keempat. kelemahan di bidang organisasi dan manajemen sumber daya manusia. Ketiga. Keenam. TPSP (Tempat Pelayanan Simpan PinjamKUD) amat membantu modal kerja mereka. Kedua. pembinaan yang telah dilakukan masih kurang terpadu dan kurangnya kepercayaan serta kepedulian masyarakat terhadap usaha kecil. tantangan yang dihadapi jauh lebih kompleks. tantangan yang dihadapi pengusaha kecil dapat dibagi dalam dua kategori: Pertama.sumberdaya manusia ini mengakibatkan pengusaha kecil tidak mampu menjalankan usahanya dengan baik. bagi PK dengan omset antara Rp 50 juta hingga Rp 1 milyar. BKK. iklim usaha yang kurang kondusif. karena persaingan yang saling mematikan. Bagi mereka. Bisa dipahami bila kredit dari BPR-BPR. Berdasarkan pengamatan Pusat 17 . kelemahan dalam struktur permodalan dan keterbatasan untuk memperoleh jalur terhadap sumber-sumber permodalan. Umumnya mereka mulai memikirkan untuk melakukan ekspansi usaha lebih lanjut. bagi PK dengan omset kurang dari Rp 50 juta umumnya tantangan yang dihadapi adalah bagaimana menjaga kelangsungan hidup usahanya. Kelima. Mereka umumnya tidak membutuhkan modal yang besar untuk ekspansi produksi. kelemahan dalam memperoleh peluang pasar dan memperbesar pangsa pasar. Kedua. Secara lebih spesifik. masalah dasar yang dihadapi pengusaha kecil adalah: Pertama. keterbatasan jaringan usaha kerjasama antar pengusaha kecil (sistem informasi pemasaran). biasanya modal yang diperlukan sekedar membantu kelancaran cashflow saja.

Konsultasi Pengusaha Kecil UGM. dan banyak barang pengganti. dan tingkat bunga dinilai terlalu tinggi. (7) Masalah tenaga kerja karena sulit mendapatkan tenaga kerja yang terampil. urutan prioritas permasalahan yang dihadapi oleh PK jenis ini adalah (Kuncoro. 2. agunan tidak memenuhi syarat. Kompetensi SDM Kompetensi atau kemampuan didefinisikan oleh Mitrani (1995:21) adalah sebagai suatu sifat dasar seseorang yang dengan sendirinya berkaitan dengan pelaksanaan suatu pekerjaan secara efektif atau sangat berhasil (and underlying charactheristic: of an individual which is casually related to effective or superior performance in job). 2000: 35): (1) Masalah belum dipunyainya sistem administrasi keuangan dan manajemen yang baik karena belum dipisahkannya kepemilikan dan pengelolaan perusahaan. (2) Masalah bagaimana menyusun proposal dan membuat studi kelayakan untuk memperoleh pinjaman baik dari bank maupun modal ventura karena kebanyakan PK mengeluh berbelitnya prosedur mendapatkan kredit. (5) Masalah memperoleh bahan baku terutama karena adanya persaingan yang ketat dalam mendapatkan bahan baku.2. (6) Masalah perbaikan kualitas barang dan efisiensi terutama bagi yang sudah menggarap pasar ekspor karena selera konsumen berubah cepat. Ketidaksamaan dalam kompetensi-kompetensi inilah yang 18 . (3) Masalah menyusun perencanaan bisnis karena persaingan dalam merebut pasar semakin ketat. dan tingginya harga bahan baku. pasar dikuasai perusahaan tertentu. (4) Masalah akses terhadap teknologi terutama bila pasar dikuasai oleh perusahaan/grup bisnis tertentu dan selera konsumen cepat berubah. bahan baku berkulaitas rendah.

Sesuatu yang dimaksud bisa menyangkut motif. dan pengembangan. Sedangkan motif kompentensi dapat diperoleh pada saat proses seleksi. 1992. konsep diri. Brahmayanti. 53 menyebutkan kompetensi dapat dibagi atas 2 (dua) kategori yaitu ³threshold competencies´ dan ³differentiating compentencies´. 1993 dalam Ardiana. Berangkat dari pengertian tersebut kompentensi seorang individu merupakan sesuatu yang melekat dalam dirinya yang dapat digunakan untuk memprediksi tingkat kinerjanya. Subaedi. Perencanaan pengalihan tugas (succestion planing).al. Kompentensi individu yang berupa kemampuan dan pengetahuan bisa dikembangkan melalui pendidikan dan pelatihan. Subaedi. 2010 . sifat. Selanjutnya menurut Spencer and Spencer (1993) Ardiana. Threshold competencies adalah karakteristik utama yang harus dimiliki oleh seseorang agar 19 . diperlukan kompetensi batas (threshold competemcies) atau kompetemsi essensial. pengetahuan maupun kemampuan/keahlian. peniliaian kinerja (performance appaisal). Atau karakteristik yang mendasari seseorang dan berkaitan dengan efektifitas kinerja individu dalam pekerjaannya. 2010: 46 mendefinisikan sebagai an underlying characteristic¶s of an individual which is causally related to criterion-referenced effective and or superior performance in a job or situasion.membedakan seseorang pelaku unggul dari perilaku yang berprestasi rata-rata. Spencer and Spencer. Kompetensi didefinisikan Mitrani et. Brahmayanti. Untuk mencapai kinerja sekedar cukup atau rata-rata. Komptensi batas atau kompetensi istimewa untuk suatu pekerjaan tertentu merupaka pola atau pedoman dalam pemilihan karyawan (personel selection).

konsep diri. cara mengajarnya mudah dipahami dan analisanya tajam sehingga dapat dibedakan tingkat kinerjanya maka hal itu sudah masuk kategori ³differentiating competencies´. perangai. Keterampilan walaupun sebagian dapat terlihat sebagian lagi kurang teridentifikasi. 20 . Misalnya seorang dosen harus mempunyai kemampuan utama mengajar. Pengetahuan lebih terlihat. teknik dan pengetahuan mengenai bidang khusus. atau ketrampilan kognitif maupun ketrampilan perilaku. kemampuan manusia untuk menggunakan prosedur.dapat melaksanakan pekerjaannya. Tetapi tidak untuk membedakan seorang yang berkinerja tinggi dan rata-rata. selanjutnya apabila dosen dapat mengajar dengan baik. telah mengidentifikasikan tiga macam keterampilan dasar yaitu: 1. itu berarti pada tataran ³threshold competencies´. sikap atau nilai. Komptensi dapat berupa tujuan. Keterampilan teknis yaitu. penguasaan masalah. dapat dikenali oleh perusahaan untuk mencocokkan orang dengan pekerjaan. Akan tetapi kompetensi tersembunyi berupa kecakapan yang mungkin lebih berharga dapat meningkatkan kinerja. Sedangkan ³differentiating competiencies´ adalah factor-faktor yang membedakan individu yang berkinerja tinggi dan rendah. Setiap sifat perorangan yang dapat diukur atau dihitung dengan jelas dan dapat ditunjukkan untuk membedakan secara gamblang seorang perilaku unggul dari seorang perilaku yang berprestasi rata-rata atau seorang perilaku efektif dari seorang pelaku yang tidak efektif (Alain Mitrani et. Stoner (1996: 137).al 1995) sedangkan Mathis dan Jackson (2001) mengilustrasikan bahwa kompetensi ada yang terlihat dan ada yang tersembunyi.

Standar diartikan sebagai ukuran atau patokan yang disepakati. Keterampilan konseptual yaitu. dan mengantisipasi bagaimana perubahan dalam suatu bagian tersebut akan mempengaruhi seluruh organisasi. 2005:3). memahami dan memotivasi orang lain sebagai individu atau kelompok. standar kompetensi terbuka atas dua kosa kata yaitu standar dan kompetensi. keahlian dan perilaku 21 . sedangkan kompetensi diartikan sebagai kemampuan melaksanakan tugas-tugas ditempat kerja yang mencakup menerapkan keterampilan (skills) yang didukung dengan pengetahuan (cognitive) dan kemampuan (ability) sesuai dengan kondisi yang dipersyaratkan. kemampuan untuk mengkoordina-sikan dan mengintegrasikan semua kepentingan dan aktivitas organisasi. dapat diperoleh dengan pemahaman ciri-ciri yang kita cari dari orang-orang yang bekerja dalam organisasi-organisasi tersebut. kemampuan untuk bekerja sama. baik kinerja individu maupun kinerja organisasi (perusahaan). Kompetensi erat kaitannya dengan kinerja. memahami bagaimana bagian-bagiannya saling tergantung. 3. Dengan demikian standar kompetensi dapat diasumsikan sebagai rumusan tentang kemampuan dan keahlian apa yang harus dimiliki oleh tenaga kerja (SDM) dalam melaksanakan pekerjaan sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan/disepakati (LPPKMITB. Menurut Amstrong (1994: 235) kinerja seseorang didasarkan pada pemahaman ilmu pengetahuan. Kompetensi SDM yang diperlukan untuk menghadapi tantangan baru dan jenis-jenis organisasi di tempat kerja. Konsep dasar standar kompetensi ditinjau dari estimologi. keterampilan. Keterampilan manusia yaitu.2. termasuk melihat organisasi secara keseluruhan.

Analisis kompetensi juga dapat menggambarkan sifat seseorang dengan cara menilai pengetahuan. Kemampuan berkomunikasi. Analisa kompetensi SDM UMKM dimaksudkan adalah untuk menghasilakan profil atau model yang digunakan untuk: 1. 12. keterampilan khusus yang dibutuhkan. Manajemen kinerja individu. 8. pendidikan. 11. yaitu digunakan untuk mengumpulkan dan memperoleh data mengenai perilaku yang efektif atau kurang efektif. Ketegasan dalam mengambil keputusan. Pengembangan karier. 2. Penerimaan atau penempatan dan 3. Kemampuan merencanakan dan mengendalikan proyek. 7.yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan dengan baik. yang dengan tolok ukur tertentu akan dapat diketahui berapa tingkat turbelensinya dan berapa tingkat kemampuan untuk mengantisipasinya. Critical Incident (Peristiwa kritis). Hubungan antar pribadi. Penilaian secarakomersial. Dorongan individu (motivasi untuk sekses). pelatihan dan pengalaman. 5. 6. Ada beberapa teknik analisis kompetensi yang sedang digunakan antara lain: 1. Berpikir kreatif (kemempuan berinovasi). lalu dihubungkan dengan peristiwa kritis yang sebenarnya. Kemampuan untuk beradaptasi dan mengatasi perubahan dan tekanan. 3. Tim manajemen dan kepemimpinan. Dampak dan hasil. 10. 22 . 2. Sedangkan kinerja organisasi (perusahaan) didasarkan pada bagaimana manajemen perusahaan merespon kondisi eksternal dan internalnya. 9. Daya analisis. Beberapa criteria yang dapat dianalisis antara lain:1. Berpikir strategis . 4.

karena tanpa modal yang cukup maka usaha yang dijalankan oleh suatu badan usaha tidak dapat berjalan lancar. membayar upah buruh dan sebagainya dengan harapan akan dapat memperoleh kembali dana yang telah dikeluarkan itu melalui hasil penjualan. Menurut lembaga penelitian UGM dalam Putra (2005:6) modal pada industri kecil adalah dana yang digunakan dalam proses produksi saja tidak termasuk nilai tanah dan bangunan yang ditempati atau biasa disebut modal kerja. misalnya untuk membeli bahan dasar. Peranan modal tersebut menjadi sedemikian penting. Digunakan untuk mengidentifikasi dimensi yang membedakan orang yang mempunyai kinerja baik dari orang yang mempunyai kinerja kurang standard. bahan pembantu. Besar kecilnya lapangan usaha juga tergantung pada besarnya kecilnya modal yang dapat dihimpun. Bantuan Modal Setiap usaha sangat memerlukan modal untuk mencapai hasil yang didinginkan tanpa adanya modal aktivitas usaha tidak dapat berjalan dengan baik. Yang dimaksud peneliti bantuan dana ini berasal dari luar pengusaha yaitu dari pemerintah. Modal yang dimiliki dapat digunakan untuk membiayai berbagai macam kebutuhan sesuai dengan bidang usaha.2. Job competency assessment (penilaian kompetensi pekerjaan) 2. 3. Repertory grid analysis.3. bisa berupa pinjaman atau utang juga bisa sebagai dana yang tidak 23 .

tujuannya antara lain : 1. bantuan ini selain berbentuk uang juga bisa berbentuk barang atau peralatan. Hibah adalah suatu persetujuan dalam mana satu pihak berdasarkan atas kemurahan hati (liberaliterit). Hibah adalah perjanjian dimana pemberi hibah dimasa hidupnya dengan cumacuma dan tidak dapat ditarik kembali memberi sebuah benda kepada si penerima yang menerima pemberian itu (Ali Afandi. Meningkatkan perekonomian rakyat terutama pelaku usaha kecil dan menengah 2.harus dikembalikan atau hibah. sedangkan pihak kedua menerima baik penghibahan ini (Wirjono Prajidikoro. perjanjian dalam hidupnya memberikan hak milik atas suatu barang kepada pihak kedua secara percuma (omneit) dan yang tidak dapat ditarik kembali. Menciptakan lapangan pekerjaan 3. 1961:104). Mengurangi kemiskinan Bantuan modal yang diberikan oleh Dinas Koperasi dan Usaha kecil menengah ada tiga macam yaitu : 1. 1986:30). 24 . Hibah yang diberikan bagi pengusaha dari pemerintah ini bisa berupa bantuan peralatan dan bisa juga berupa uang. Hibah Hibah adalah pemberian dengan suka rela dengan mengalihkan hak atas sesuatu kepada orang lain (kamus bahasa Indonesia). Bantuan modal yang diberikan kepada UMKM ini mempunyai tujuan.

Bantuan ini tidak berbunga dan tidak ada jaminan.2. Pengertian dana bergulir dalam pembahasan ini adalah dana yang diberikan pemerintah untuk kelompok usaha yang kemudian apabila sudah selesai pengembaliannya digulirkan ke kelompok lain. Besar kecilnya 25 . Jaminan untuk pinjaman ini berupa surat ijin usaha. Pinjaman ini menggunakan bunga yang relatif kecil yaitu 0. maupun jaminannya.com). (4) meningkatkan semangat berkoperasi.5% . bunga. Pola bergulir adalah cara memanfaatkan bantuan kepada KUMK Secara umum program dana bergulir bertujuan untuk (1) meningkatkan aktivitas ekonomi pedesaan. Dana tersebut disalurkan melalui pola bergulir . (2) meningkatkan volume usaha koperasi dan UMKM. Usaha Kecil Menengah (KUMK). Bantuan modal bergulir Dana bergulir adalah bantuan perkuatan pemerintah dalam bentuk uang atau barang modal yang disalurkan kepada Koperasi. (5) meningkatkan pendapatan anggota dan (6) membangkitkan etos kerja (www. baik mengenai jangka waktu. (3) meningkatkan penyerapan tenaga kerja. Bantuan ini berasal dari APBD/APBN (Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah).danabergulir.1% perbulan. sertifikat usaha dan lain-lain. jaminannya adalah kepercayaan. Bantuan pinjaman lunak Pengertian pinjaman lunak adalah pinjaman dengan syarat ringan. Pengertian pinjaman lunak dalam pembahasan ini merupakan dana dari pemerintah yang diberikan dengan sistem pinjaman. Jangka waktu pengembalian pinjaman ini biasanya 3 bulan atau sesuai dengan kesepakatan (Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah). 3.

4. Faktor (E) merupakan usaha yang dilakukan seseorang yang 26 . Sedangkan Mathis dan Jackson (2001) dalam Hening Yustika Pritariani (2009: 22).1. biasanya diberikan setengah dari modal usaha. Kinerja 2. 1999: 111). berpandangan bahwa kinerja adalah fungsi dari kemampuan. Apabila kinerja individu baik. jika bantuan berupa peralatan. Menurut Levbinson (1979) dalam Hening Yustika Pritariani (2009: 21) unjuk kerja atau kinerja adalah pencapaian atau prestasi seseorang berkenaan dengan tugastugas yang dibebankan kepadanya. Secara empiris dapat dinyatakan dengan persamaan berikut: Kinerja = f(A x E x S) A = Abitlity (kemampuan) E = Effort (usaha) S = Support (dukungan) Faktor (A) berhubungan dengan rekrutmen dan seleksi yaitu kemampuan alami dengan memilih orang berbakat dan memiliki minat yang tepat dengan pekerjaan yang diberikan.bantuan modal yang berupa uang diberikan tergantung dari besar kecilnya usaha.4. sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing dalam rangka mencapai tujuan organisasi (Suyudi. tergantung dari pemohon ingin meminta bantuan peralatan apa yang dibutuhkan. usaha dan dukungan. Pengertian Kinerja Kinerja atau performasi adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau kelompok orang dalam organisasi. 2. maka kemungkinan besar kinerja perusahaan atau organisasi akan baik.

insentif dan rangcangan pekerjaan. seperti motivasi. Komponen produtivitas individu dapat dijelaskan seperti Gambar 1. konsistensi manajemen.dipengruhi oleh masalah sumber daya manusia. Model ini berdasarkan penelitian Moorhead & Griffin (1989) dalam Hening Yustika Pritariani (2009: 23) dimana 27 .kinerja dan motivasi. pengembangan karier karyawan yang jelas dan adil. peralatan yang disediakan memadai dan harapan. kemudian diproyeksikan pada standard kinerja individu. Gambar 3 Komponen Perilaku Produktivitas Individu Untuk menentukan kinerja individu dapat diawali dengan menetapkan standard kinerja perusahaan berdasarkan tujuan yang akan dicapai. pelatihan. Kinerja individu dapat dilihat dari tiga elemen yang utama yaitu: produktivitas. Penilaian kinerja individu dilakukan dengan membanding-kan kinerja aktual dengan standard kinerja yang ditetapkan. kualitas dan pelayanan. Faktor (S) merupakan dukungan organisasi seperti. Pada gambar 3 ditunjukkan faktor utama tentang perilaku individu.

kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan. knowladge. Hubungan organisasi (gaya pengawasan. mnumbuhkan dan meningkatkan kompetisi individu. jam kerja dll) 3. Rancangan pekerjaan (tugas-tugas. kondisi psikologis kerja. Rancangan pekerjaan dapat meningkatkan kinerja. kinerja (performance) dapat diartikan sebagai suatu pencapaian hasil kerja sesuai dengan aturan dan standar yang berlaku pada masingmasing organisasi kerja. skill dan kemampuan) 4.variabel-variabel yang mempengaruhi kinerja dapat dikontrol dengan mengatur halhal berikut: 1. Pekerjaan mempunyai nilai motivasi yang lebih besar apabila karyawan diberikan perencanaan dan tanggung jawab yang lebih besar terhadap pekerjaannya. rancangan pekerjaan yang meliputi spesifakasi dan aktivitas. tim kerja. Dalam pengertian bebas. 2. Simamora (2001: 327) mengatakan bahwa kinerja merupakan suatu pencapain persyaratan-persyaratan pekerjaan tertentu yang akhirnya secara langsung dapat tercermin dari out put yang dihasilkan baik jumlah maupun 28 . Kinerja objektif (berhubungan dengan kinerja objektif : kompetensi.metode dan hubungan pekerjaan untuk memenuhi persyaratan kinerja. Organisasi Objektivitas dan sasaran pekerjaan sangat penting. beban kerja). Pekerjaan secara formal ditentukan di dalam uraian pekerjaan. misalnya aktivitas yang dilakukan oleh karyawan harus dapat diidentiikasi berwujud dan dapat dikontrol.

Pada organisasi kerja dimana outputnya dapat terindentitifikasi secara individu dalam bentuk kuantitas seperti pabrik rokok. Hal ini ditegaskan oleh Nawawi (1997:234) yang menyebut kinerja dengan isitilah karya. dalam menjalankan tugasnya. berasal dari akar kata ³to perform´ dengan beberapa ³entries´ yaitu: (1) melakukan. 2001: 327) kinerja antara lain dapat dilihat dari indikator-indikator berikut: kepatuhannya terhadap segala aturan yang telah ditetapkan dalam perusahaan. yaitu dari besarnya output yang dicapainya dalam kurun waktu tertentu. dapat melaksanakan tugasnya tanpa kesalahan (dengan tingkat kesalahan paling rendah).kualitasnya. seperti standar hasil kerja. yang menurut The Scribner-Bantam English Distionary. terbitan Amerika Serikat dan Canada (1979). indikator kinerja pekerjanya dapat diukur dengan mudah. Namun pada unit kerja kelompok atau tim. menjalankan. baik bersifat/material maupun non fisik/nonmaterial . yaitu suatu hasil pelaksanaan suatu pekerjaan. Jika dilihat dari asal katanya. Output yang dihasilkan sebagaimana yang dikatakan simamora di atas dapat berupa fisik maupun nonfisik. melaksanakan (to do or carry 29 . kata kinerja adalah terjemahan dari kata performance. Menurut Veithzal Rivai Ahmad Fawzi MB (2005. kinerja tersebut agak sulit teridentifikasi secara kuantitas secara individual. Dalam hubungan ini (Simamora. target atau sasaran atau kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu dan telah disepakati bersama. 35) menyebutkan kinerja adalah hasil atau tingkat keberhasilan seseorang secara keseluruhan selama periode tertentu di dalam melaksanakan tugas dibandingkan dengan berbagai kemungkinan.

Untuk menyelesaikan tugas atau pekerjaan. (2) memenuhi atau melaksanakan kewajiban suatu niat atau nazar ( to discharge of fulfill. execute). Kesediaan dan keterampilan seseorang tidaklah cukup efektif untuk mengerjakan sesuatu tanpapemahaman yang jelas tentang apa yang akan dikerjakan dan bagaimana mengerjakannya (Hersey and Blanchard: 1993). Subaedi (2010. as vow). 3. Kinerja dinyatakan 30 . 4. 6. Brahmayanti.out. Kinerja merupakan salah satu kumpulan total dari kerja yang ada pada diri pekerja (Griffin: 1987). Kinerja merujuk kepada tingkat keberhasilan dalam melaksanakan tugas serta kemampuan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. seseorang harus memliki derajat kesediaan dan tingkat kemampuan tertentu. Kinerja merupakan suatu fungsi dari motivasi dan kemampuan. dan (4) melakukan sesuatu yang diharapkan oleh seseorang atau mesin (to do what is expected of a person machine).A. 2. (3) melaksanakan atau menyempurnakan tanggung jawab (to execute or complete an understaking). I. Kinerja dipengaruhi oleh tujuan (Mondy and Premeaux: 1993). Ardiana. 25) menyebutkan beberapa pengertian tentang kinerja yaitu: 1. Kinerja merupakan seperangkat hasil yang dicapai dan merujuk pada tindakan pencapaian serta pelaksanaan sesuatu pekerjaan yang diminta (Stolovitch and Keeps: 1992). 5. Kinerja merujuk kepada pencapaian tujuan karyawan atas tugas yang diberikan (Casio: 1992).

bisa saja ada rintangan yang menjadi penghambat. Artinya: kinerja merupakan fungsi dari kemampuan. 8. Kesempatan kinerja adalah tingkat-tingkat kinerja yang tinggi yang sebagian merupakan fungsi dari tiadanya rintangan-ringtangan yang mengendalakan karyawan itu. motivasi dan kesempatan. motivasi dan kesempatan (Robbins: 1996). Kinerja sebagai fungsi interaksi antara kemampuan atau ability (A). baik yang dilakukan oleh individu. (b) perilaku individu. motivasi atau motivation (M) dan kesempatan atau opportunity (O). kelompok maupun perusahaan (Schermerhorn. pengertian performance atau kinerja adalah hasil 31 . Meskipun seorang individu mungkin bersedia dan mampu. Jika dikaitkan dengan performance sebagai kata benda (noun) di mana salah satu entrinya adalah hasil dari sesuatu pekerjaan (thing done). Gibson and Ivancevich: 1994). yakni: (a) tugas individu.baik dan sukses jika tujuan yang diinginkan dapat tercapai dengan baik (Donnelly. 7.Ada tiga kriteria dalam melakukan penilian kinerja individu. kinerja adalah kesediaan seseorang atau kelompok orang untuk melakukan sesuatu kegiatan dan menyempurnakannya sesuai dengan tanggung jawabnya dengan hasil seperti yang diharapkan. Pencapaian tujuan yang telah ditetapkan merupakan salah satu tolok ukur kinerja individu. kinerja ditentukan oleh factor-faktor kemampuan. Kinerja sebagai kualitas dan kuantitas dari pencapaian tugas-tugas. yaitu kinerja = (A x M x O). Sehubungan dengan itu. 9. Hunt and Osborn: 1991). dan (c) ciri individu (Robbins: 1996). Dengan demikian.

kinerja individu dapat ditingkatkan apabila ada kesesuaian antara pekerjaan dan kemampuan. (d) persepsi terhadap tugas. (c) kemampuan. tidak melanggar hukum dan tidak bertentangan dengan moral atau etika. (2) keinginan dan (3) lingkungan. kinerja individu pada dasarnya dipengaruhi oleh faktorfaktor. kemampuan dan sifat-sifat individu. agar mempunyai kinerja yang baik. yaitu: (1) kemampuan. seseorang harus mempunyai keinginan yang tinggi untuk mengerjakan serta mengetahui pekerjaannya. kinerja pada dasarnya ditentukan oleh tiga hal. Oleh karena itu. 32 . Dengan kata lain. tapi berhubungan dengan kepuasan kerja dan tingkat imbalan. Kinerja individu dipengaruhi oleh kepuasan kerja. (a) harapan mengenai imbalan. (b) dorongan. Oleh karena itu. Perasaan ini berupa suatu hasil penilaian mengenai seberapa jauh pekerjaannya secara keseluruhan mampu memuaskan kebutuhannya. Dengan demikian. Kinerja dalam menjalankan fungsinya tidak berdiri sendiri. Kepuasan kerja itu sendiri adalah perasaan individu terhadap pekerjaannya. menurut model partner-lawyer (Donnelly. Tanpa mengetahui ketiga faktor ini kinerja yang baik tidak akan tercapai. kebutuhan dan sifat.kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau kelompok orang dalam suatu perusahaan sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing dalam upaya pencapaian tujuan perusahaan secara legal. (e) imbalan internal dan eksternal. Gibson and Invancevich: 1994: 69). dipengaruhi oleh keterampilan. (f) persepsi terhadap tingkat imbalan dan kepuasan kerja.

3) Sebagian besar UMKM tidak mampu memenuhi persyaratan administratif guna memperoleh bantuan dari Bank. Jumlah investasi yang sangat kecil. 1. (2005. 33 . Sedangkan kendala-kendala yang umumnya dihadapi oleh usaha mikro kecil menengah (UMKM) adalah.4.2. Akses ke sumber modal dan bahan baku terbatas.: 79) menambahkan bahwa ada 4 faktor penyebab utama rendahnya kinerja usaha mikro kecil menengah (UMKM) di Indonesia yaitu: 1) Hampir 60% UMKM masih menggunakan teknologi tradisional. 55).2. 6. 2. Jangkuan pasar yang sempit. lemahnya teknologi dan manajerial. 4. Untuk mengukur kinerja perusahaa. 5. Nilai tambah rendah. Baswir (1995. Sejalan dengan pandangan di atas. Kinerja Usaha UMKM Kinerja perusahaan adalah hasil dari banyak keputusan individu yang dibuat secara terus menerus oleh manajemen (Veithzal Rivai Ahmad Fawzi MB. Disebutkan pula oleh Kotler (1991: 49) menyebutkan bahwa untuk mengukur kinerja bisnis. Jaringan usaha sangat terbatas. 3. 2) Pangsa pasar cendrung menurun karena kekurangan modal. dapat dilakukan dengan ³balanced score card´ (BSC). Produktivitas rendah. 4) Tingkat ketergantungan terhadap fasilitas pemerintah cendrung sangat besar. Kotler (1991: 47) menyarankan agar didasarkan pada ROI bukan pada margin laba/profit.

jumlah pembeli sebelum dan sesudah adanya binaan 34 . mutu. Hasil penelitian Hasil analisis penelitian ini menunjukkan bahwa program pinjaman dana bergulir P2KP berpengaruh positif terhadap pendapatan anggota KSM di kelurahan Peleburan Kecamatan Semarang Selatan Kabupaten Semarang.7. Berdasarkan beberapa kajian di atas penelitian ini mencoba untuk melihat dan mengkaji kendala yang berhubungan dengan kinerja UMKM. Hening Yustika Pritariani (2009) melakukan penelitian tetang Analisis Perkembangan Usaha Mikro dan Kecil Binaan BKM Arta Kawula di Kecamatan Semarang Barat Kabupaten Semarang. total penjualan. teknologi. PENELITIAN TERDAHULU Beberapa penelitian terdahulu yang berkaitan dengan penelitian ini diantaranya penelitian yang dilakukan oleh Isra Fenny Simangunsong (2008) yang berkaitan dengan Dampak Pinjaman Dana program Penanggulangan Kemiskinan PerKabupatenan (P2KP) Terhadap Pendapatan Anggota Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM). Manajemen yang masih belum profesional dan sumber daya manusia pada umumnya belum memiliki kualitas yang bisa bersaing untuk maju (Rizal. yang dikaitkan pada manajemen dan kualitas sumber daya manusia yang dimiliki oleh UMKM yang bersangkutan. Hasil penelitian adalah ada perbedaan modal. c. 2002: 56).

Ardiana. akan tetapi dua variable lainnya yaitu ketrampilan dan kemampuan memiliki pengaruh yang signifikan sehingga kedua variabel ini perlu diperhatikan dalam mengembangkan meningkatkan kinerja UMKM. Arif Pujiono (2010) meneliti Peranan Baitul Maal Wat Tamwil dalam Meningkatkan Kesejahteraan Pengusaha Mikro dan Kecil (Studi Empiris pada BMT Ya Ummi Fatimmah Pati).dari BKM Arta Kawula. Kemudian. Hasil penelitian di ketemukan variabel pengetahuan ternyata tidak sigjifikan terhadap kinerja UMKM karena nilainya negatif dan sangat kecil. Brahmayanti dan Subaedi (2010) melakukan penelitian Kompetensi SDM UMKM dan Pengaruhnya Terhadap Kinerja UMKM di Jepara. Hal ini terjadi karena skim yang diberi berupa BBA yang pada dasarnya tidak sesuai dengan prinsip bagi hasil. d. Hasil penelitian disimpulkan ternyata modal dari BMT tidak berpengaruh bagi pendapatan usaha mikro dan kecil. sedangkan keuntungan tidak memiliki perbedaan bahkan mengalami penurunan sebelum dan sesudah adanya binaan dari BKM Arta Kawula. lemahnya teknologi dan 35 . 2) Pangsa pasar cendrung menurun karena kekurangan modal. KERANGKA PENELITIAN Baswir (1995) menyebutkan ada 4 faktor penyebab utama rendahnya kinerja UMKM yaitu: 1) Hampir 60% UMKM masih menggunakan teknologi tradisional. Meskipun demikian secara umum BMT YA Ummi Fatimah memiliki peran yang strategis untuk meningkatkan kesejahteraan pengusaha mikro dan kecil di Kabupaten Pati.

manajerial. Dengan demikian standar kompetensi dapat diasumsikan sebagai rumusan tentang kemampuan dan keahlian apa yang harus dimiliki oleh tenaga kerja (SDM) dalam melaksanakan pekerjaan sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan/disepakati. sektor keuangan (bank) harus merasa yakin bahwa bantuan modal yang diberikan benar-benar memiliki peluang untuk kembali. 4) terhadap fasilitas pemerintah cendrung sangat besar. Penilaian bantuan modal oleh sektor keuangan dapat dilakukan dengan berbagai cara untuk mendapatkan keyakinan tentang UMKM 36 . Sedangkan Akyuwen (2005) yang menyebutkan beberapa permasalahan yang menghambat berkembangnya UMKM adalah rendahnya kemampuan SDM. Sebelum suatu bantuan modal diberikan. 3) sebagian besar UMKM tidak mampu memenuhi persyaratan Tingkat ketergantungan administratif guna memperoleh bantuan dari Bank. Kompetensi merupakan kemampuan melaksanakan tugas-tugas ditempat kerja yang mencakup menerapkan keterampilan (skills) yang didukung dengan pengetahuan (cognitive) dan kemampuan (ability) sesuai dengan kondisi yang dipersyaratkan. permodalan dan akses pasar. Ketrampilan dan Kemampuan memiliki peranan yang cukup penting dalam Penentuan Kinerja UMKM. Subaedi (2001) yang menemukan variabel Pengetahuan. terbatasnya. Brahmayanti. Keyakinan tersebut diperoleh dari hasil penilaian bantuan modal sebelum bantuan tersebut disalurkan. Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Ardiana.

y tingkat bunga y jangka waktu pengembalian Kinerja UMKM: y keuntungan. seperti melalui prosedur penilaian yang benar dan sungguh-sungguh. dan gambar hubungan yang skematis dapat dilihat pada Gambar 4. Sehingga tidak ada masalah kredit macet karena usaha bisa berjalan dengan lancar.yang akan diberikan bantuan. y syarat. dimana variabel independen yaitu kompetensi SDM (X1) dan bantuan modal (X2) berpengaruh terhadap variabel kinerja UMKM (Y). Kompentensi SDM: y Pengetahuan y Keterampilan y Kemampuan Bantuan Modal: y nominal bantuan. tidak lupa juga adanya promosi yang besar pula untuk bisa meningkatkan penjualan. y jumlah pelanggan yang dimiliki. y hasil produk mampu bersaing. y kondisi keuangan. Gambar 4 Model Kerangka Penelitian 37 . UMKM Monel di Kabupaten Jepara masih perlu adanya perhatian dari pihak pemerintahan berupa pengembangan kompetensi SDM serta dukungan modal yang mencukupi serta dengan suku bunga yang bisa terjangkau. Berdasarkan beberapa uraian konsep dan teori di atas. y omzet penjualan.

berpengaruh terhadap kinerja UMKM Monel di Kabupaten f. Bantuan Modal Jepara.2. Kompetensi SDM berpengaruh terhadap kinerja UMKM Monel di Kabupaten Jepara. HIPOTESIS Berdasarkan permasalahan dan kerangka penelitian seperti di atas. maka hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1.1. 38 . Jenis Penelitian Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian diskriptif yang bertujuan untuk menggambarkan keadaan Kompetensi populasi atau fakta empiris. 2.1. Variabel Penelitian Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini antara lain: variabel Kompetensi SDM (X1) dan Bantuan Modal (X2) Sedangkan variabel tergantung (dependent variable) yang digunakan adalah variable Kinerja UMKM (Y).1.e. METODE PENELITIAN 6. Keadaan populasi atau fakta empiris yang akan didiskripsikan dalam penelitian ini adalah tentang pengaruh kompetensi SDM (Sumber Daya Manusia) dan Bantuan Modal UMKM (Usaha Kecil Menengah) terhadap kinerja UMKM Monel di Kabupaten Jepara 6.

4.3. Keterampilan (Skill). Pengetahuan (Knowladge). y Kinerja Kinerja adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau kelompok orang dalam organisasi.6. pengetahuan tentang konsumen. keterampilan. pengetahuan (knowladge) dalam hal ini adalah. adalah kapasitas khusus 39 . merupakan penguasaan ilmu dan teknologi yang dimiliki seseorang. Keterampilan (Skill) dan Kemampuan (Ability). promosi dan strategi pemasaran. y Bantuan modal Bantuan modal adalah bantuan finansial usaha mikro monel dalam menjalankan operasional usaha untuk memproduksi kerajinan monel. Definisi Operasional y Kompetensi SDM UMKM dalam penelitian ini diukur melalui Pengetahuan (Knowladge). dan komptensi pengetahuan yang dibangkitkan oleh suatu keadaan. Definisi Konsep y Komptensi Pengembangan SDM Komptensi Pengembangan SDM adalah sebuah model alir sebab akibat yang menunjukkan bahwa kemampuan.1. dapat memprakirakan pelaku pelaku cakap. pengetahuan manajemen bisnis. 6.1. konsep diri. dan diperoleh melalui proses pembelajaran serta pengalaman selama kehidupannya. pengetahuan produk atau jasa. sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing dalam rangka mencapai tujuan organisasi.

keuangan. berinovasi. syarat. Populasi penelitian ini meliputi semua Pelaku atau SDM UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) Monel di Kabupaten Jepara yang masih aktif usahanya di tahun 2011. Sedangkan Kemampuan (Ability). y Bantuan modal adalah bantuan finansial berupa kredit dari lembaga keuangan (perbankan atau non perbankan). kemampuan meliputi : kemampuan mengelola bisnis. hasil produk mampu bersaing. omzet penjualan. y Kinerja. berkomunikasi. jumlah pelanggan dimiliki. Menurut Cooper & Emory (1995: 214) mengatakan populasi adalah seluruh kumpulan elemen yang dapat untuk membuat beberapa kesimpulan. adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau kelompok orang dalam organisasi dan merupakan sarana penentu dalam suatu proses untuk mencapai tujuan organisasi.1. administrasi dan akuntansi. kerjasama.5. 6. situasi dan perubahan lingkungan bisnis. Sesuai dengan Profil Data Sentra UMKM Kabupaten Jepara. Populasi dan Sampel Arikunto (1998: 115) mengatakan bahwa populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. memimpin. mengendalikan. pengawasan. Indikator kinerja meliputi: keuntungan.untuk memanipulasi suatu objek secara fisik. kondisi keuangan. Indikator bantuan modal yang digunakan adalah nominal uang dalam rupiah. mengambil keputusan. tingkat bunga dan jangka waktu pengembalian. Keterampilan meliputi: keterampilan produksi. terdapat 185 Unit Usaha 40 . adalah kapasitas seorang individu untuk mengerjakan berbagai tugas dalam suatu pekerjaan.

d.1.6. Sedangkan sumber data adalah dari responden (SDM UMKM) yang terdiri dari Pemilik atau jajaran manajemen UMKM yang terdapat pada Sentra UMKM Monel di Kabupaten Jepara.000. Dari jumlah Unit Usaha yang terseleksi sesuai poin 1 dan 2. Desa Kriyan. yang akan dijadikan sampel hanya sebesar 20%. Yang menjadi responden (sampel) adalah Pemilik/Pengurus dan jajaran manajemen di UMKM tersebut.000. 50. 41 . Jenis dan Sumber Data Jenis data dalam penelitian ini adalah data primer dari Pelaku UMKM dan data sekunder seperti profil data jumlah Sentra UMKM. dan ditentukan secara proporsional. UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) yang bergerak dibidang Monel dengan alasan bahwa UMKM ini memang memerlukan kompetensi SDM dan bantuan modal dalam bersaing di dunia bisnis. 6.(Lima puluh juta Rupiah) c. Desa Margoyoso) dan Kecamatan Pecanggan: (Desa Krasak dan Desa Gemulung) Penentuan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik Non Random sampling secara purposive yaitu memilih pelaku UMKM yang sesuai dengan kriteria yang ditetapkan sebagai berikut: a.. b. Usaha Kecil yang memiliki jumlah tenaga kerja (SDM) minimum 10 orang atau omzet minimum Rp.yang tersebar di Kecamatan Kalinyamatan (Desa Robayan.

1. Digunakan untuk pengumpulan data yang bersumber dari data sekunder seperti: Sentral UMKM monel yang ada dan Jumlah serta karakteristik UMKM Monel Kabupaten Jepara 2.6. Dilakukan dengan membuat serangkaian pertanyaan yang terkait dengan kompetensi SDM UMKM Monel di Kabupaten Jepara 3. Selanjutnya data yang terkumpul ditabulasi.1. Teknik Kuesioner.8. 2. 3.7. dan diinterpretasi sesuai tujuan penelitian. 6. Pelaksanaan pengumpulan data. 42 . diolah. Langkah-langkah yang akan dilakukan dalam proses pengumpulan data adalah sebagai berikut: 1. Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan dengan beberapa teknik sebagai berikut. Teknik Dokumenter. Digunakan sebagai pelengkap untuk memperoleh data yang tidak dapat dikumpulkan melalui teknik lain. Prosedur Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara yang dilengkapi dengan kuesioner. Data yang diperoleh dari lapangan akan dianalisa dengan cara deskriptif dengan menggunakan beberapa teknik analisa statistik yang sesuai dengan kebutuhan. sekaligus sebagai Cross-check terhadap data yang dikumpulkan. 1. Teknik Wawancara. Menyiapkan kuesioner dan melakukan uji validitas dan reliabilitas. Kuesioner digunakan sebagai panduan agar wawancara lebih terstruktur dan terstandar.

Uji Validitas dan Reliabilitas y Validitas Uji validitas untuk mengukur sah atau valid tidaknya kuesioner.60 dapat ditafsirkan suatu hasil pengukuran relatif konsisten apabila pengukuran diulangi dua kali atau lebih dengan kata lain instrumen tersebut dapat diandalkan (Nunnally. Gozali (2009: 140)). 6. 1969.1.10. karena ditegakan melalui prosedur analisis faktor. Uji reliabilitas digunakan koefisien Conbrach Alpha (E). Uji validitas menggunakan validitas faktorial. 2009: 142). Hasil analisis akan ditampilkan secara deskriptif baik kualitatif maupun kuantitatif dan dilengkapi dengan menggunakan tabel agar lebih komunikatif. Suatu kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan pada kuesioner mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut (Gozali. y Reliabilitas Suatu kuesioner dikatakan reliabel atau handal jika jawaban seseorang terhadap pernyataan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu (Gozali.6. Metode Analisis Data Data yang di-entry akan di cek ulang kebenarannya dan kelengkapannya sebelum dianalisis. 2009: 140).1.400.9. 43 . Apabila nilai E lebih besar dari 0. Pengolahan data dilakukan dengan bantuan program Ecxel dan SPSS serta software lain yang diperlukan. Item pertanyaan dikatakan valid apabila diperoleh muatan faktor (factor loading) lebih besar sama dengan 0.

35) yang digunakan dalam analisis ini yaitu: Y= Dimana : + ß1 X1+ ß2 X2 + e Y X1 X2 ß1. Uji asumsi klasik dalam penelitian ini terdiri dari uji normalitas data. ß2. e = = = = = = Kinerja UMKM Konstanta Pengembangan Kompetensi SDM Bantual Modal Parameter/koefisien regresi Residual y Uji Asumsi Klasik Imam Ghozali (2009: 55) menyebutkan model regresi yang baik harus tidak terjadi multikolinieritas. Model analisis regersi ganda menurut Gozali (2009. Variabel terikat adalah kinerja UMKM dan variabel bebas adalah kompetensi SDM. a) Uji Normalitas. dan Modal usaha. autokorelasi dan heteroskedastisitas. Uji ini dilakukan untuk menguji apakah dalam model regresi variabel dependen dan variabel independen keduanya mempunyai distribusi 44 . Karena jumlah variabel bebas lebih dari 1 (satu) dan variabel terikat hanya 1 (satu). uji multikolinieritas dan uji heteroskedastisitas. maka alat analisis yang sesuai adalah regresi ganda linier.y Regresi Variabel dalam penelitian ini dibedakan menjadi variabel bebas dan variabel terikat. Lebih lanjut disebutkan oleh Imam Ghozali (2009: 55) apabila menggunakan data crossection (silang waktu) autokorelasi relatif tidak terjadi.

Apabila hasil regresi menunjukkan tidak adanya satupun variabel bebas yang signifikan terhadap absolut Ut. Untuk mendeteksi adanya multikolinieritas dengan cara melihat VIF (Variance Inflation Factor). Untuk mendeteksi adanya heteroskedastisitas dilakukan dengan uji Glejser tingkat pertama.normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah yang memiliki distribusi normal atau mendekati normal. Nilai DW statistik berdasarkan hasil 45 . Imam Ghozali. e) Uji Autokorelasi Uji Autokorelasi dilakukan untuk menguji apakah kesalahan faktor pengganggu dari model regresi pada satu pengamatan berkorelasi dengan kesalahan faktor pengganggu pada pengamatan yang lain. maka dapat disimpulkan tidak terjadi heteroskedastisitas. yaitu meregresikan nilai absolut residual terhadap variabel bebas (Gujarati. uji ini bertujuan untuk menguji apakah model regresi yang terbentuk terdapat adanya korelasi antar variabel bebas. b) Uji Multikolinieritas. jika VIF lebih dari 10 maka terjadi multikolinieritas. d) Digunakan uji Glejser ini mengacu pada pendapat Gujarti. Cara mendeteksinya adalah dengan melihat normal probability plot yang membandingkan distribusi kumulatif dari data sesungguhnya dengan distribusi kumulatif dari distribusi normal. c) Uji Heteroskedastisitas. 1995. 2009: 50). bahwa uji Glejser lebih praktis untuk menjawab persoalan heteroskedastisitas karena dapat digunakan untuk sampel kecil maupun besar. uji ini bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain.

11. Uji Hipotesis Uji ini merupakan uji statistik yang dimaksudkan untuk menguji apakah hasil yang dicapai sudah sesuai dengan metode-metode statistik yang ada. = 0. variabel bebas () secara bersama-sama tidak ada pengaruh terhadap variabel tak bebas (Y). Ha : ß1. 46 . . penggunaan uji ini dalam pengujian hipotesis adalah untuk memutuskan signifikansi secara statistik (statistically significant) pengaruh variabel bebas terhadap variabel tak bebas baik secara individu maupun secara serempak atau simultan. Hipotesis yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Taraf signifikansi untuk menolak hipotesis dalam penelitian ini adalah sebesar 5%. 0.analisis berada di antara du < dw<4-du. ß2. Uji signifikansi bersama-sama (Uji Statistik F) Ftest uji ini menunjukkan apakah semua variabel independen yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependen (Gozali. variabel bebas (Xi) secara bersama-sama ada pengaruh terhadap variabel tak bebas (Y). 2. 6. Pada prinsipnya. ß2. Ho : ß1. maka dalam model tidak terdapat autokorelasi. a.1. 2009: 55).

Jika F.Pengambilan keputusan : 1. Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variabelvariabel independen (pengembangan kompetensi SDM dan bantuan modal) dalam menjelaskan variabel dependen (kinerja UMKM) sangat terbatas. yang pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variabel dependen (Gozali.hitung > F-tabel atau signifikansi F lebih kecil dari 5%. b. apakah dapat diterima secara statistik dengan 47 . berarti bahwa secara bersama-sama pengembangan kompetensi SDM dan bantuan modal berpengaruh terhadap kinerja UMKM Monel di Kabupaten Jepara. Uji Signifikansi Parameter Individu (Uji Statistik t) ttest merupakan metode pengujian secara parsial terhadap hipotesis yang diajukan. Uji t menguji tingkat signifikansi masing-masing parameter dari variabel yang diukur terhadap variabel terikat. Nilai koefisien determinasi adalah di antara nol dan satu.hitung < F-tabel atau signifikansi F lebih besar dari 5%. Jika F. Kemudian langkah selanjutnya memperhatikan nilai koefisien determinasi (R2). maka Ho ditolak dan Ha diterima. maka Ho diterima dan Ha ditolak. 2. berarti bahwa secara bersama-sama pengembangan kompetensi SDM dan bantuan modal tidak berpengaruh terhadap kinerja UMKM Monel di Kabupaten Jepara. 2009: 65). Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variabel dependen.

Hipotesis yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. tidak ada pengaruh antara pengembangan kompetensi SDM terhadap kinerja UMKM Monel di Kabupaten Jepara. maka Ho ditolak dan Ha diterima. Ho : ß1 = 0.hitung > t -tabel atau signifikansi t lebih kecil dari 5%. maka Ho diterima dan Ha ditolak.membandingkan antara t hitung dengan t tabel atau membandingkan signifikansi t dengan toleransi kesalahan 5% (Gujarati. ada pengaruh antara pengaruh positif antara pengembangan kompetensi SDM terhadap kinerja UMKM Monel di Kabupaten Jepara 2. y Jika t. ada pengaruh p antara bantuan modal terhadap kinerja UMKM Monel di Kabupaten Jepara Pengambilan keputusan pengujian hipotesis: y Jika t.hitung < t -tabel atau signifikansi t lebih kecil dari 5%. 1995). Ho : ß2 = 0. tidak ada pengaruh antara pengembangan kompetensi SDM terhadap kinerja UKM di Kabupaten Jepara Ha : ß2 > 0. Ha : ß1 < 0. berarti bahwa secara parsial tidak ada pengaruh antara pengembangan kompetensi SDM dan bantuan bantuan modal terhadap kinerja UMKM Monel di Kabupaten Jepara 48 . berarti bahwa secara parsial ada pengaruh antara pengembangan kompetensi SDM dan bantuan bantuan modal terhadap kinerja UMKM Monel di Kabupaten Jepara.

49 .Untuk mempermudah pengujian validitas dan reliabilitas butir-butir pertanyaan penelian. pembentukan garis regresi beserta pengujian hipotesis peneliti menggunakan alat bantu SPSS ver 16.

2010. 1993. Usaha Mikro Kecil. 1997. Ekonometrika: Teori. Proses. Organisasi Dan Manajemen: Prilaku. 2006. Hening Yustika Pritariani. 2011. Data Potensi Produk UMKM Ganewati Wuryandari. Erlangga. Yogyakarta. Manajemen Sumber Daya Manusia. Semarang: FE Undip Arikunto Suharsimi. Ivancevich & Donnely John. 2009. Kompetensi SDM UKM dan Pengaruhnya Terhadap Kinerja UKM di Surabaya. Jakarta Ardiana. Skripsi MIESP UNDIP. Indonesia dalam Kebijakan Luar Negri dan Pertahanan Australia 1996-2001. Gibson James. Vol.A.. 50 . 2009. Subaedi. Analisis Perkembangan Usaha Mikro dan Kecil Binaan BKM Arta Kawula Di Kecamatan Semarang Barat Kota Semarang. 1998. Jurnal Manajemen Dan Kewirausahaan.DAFTAR PUSTAKA Akyuwen. Tidak dipublikasikan. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta Handari Nawawi. Data Dalam Anggka Kabupaten Jepara. Jakarta Dinas Koperasi. Brahmayanti. Undip. Konsep dan Aplikasi dengan SPSS 17. Semarang Isra Fenny Simangungsong. I. Rineka Cipta. 2005. Cooper Donal R & Emory William C. Efeketivitas Kelembagaan Keuangan Dalam Penyaluran Kredit Mikro: kajian Pendekatan Ekonomi Kelembagaan Baru.12. 2001. Tidak dipublikasikan. Roberto. 2009. Erlangga. Skripsi MIESP UNDIP. 1 BPS Kabupaten Jepara. Struktur. ³Dampak Pinjaman Dana Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP) Terhadap Pendapatan Anggota Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM´). Gajah Mada University Press. Imam Gozali. Metode Penelitian Bisnis. NO. 1997. Jakarta: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Menengah dan Pengelolaan Pasar Kabupaten Jepara. Jilid I.

Masalah Dan Strategi Pemberdayaan. Jakarta. Statistik Usaha Kecil dan Menengah Tahun 2007-2008. Implementasi Dan Kontrol. Manajemen Sumber Daya Manusia. Prenhelindo. 2003. Kementrian Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah.I. Jurnal Empirika volume 16.id. Diakses tanggal 4 Februari 2010. Infokop Nomor 25 Tahun XX Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1995 Tentang Usaha Kecil Undang-Undang No. Strategi Pengembangan UMKM Berbasis Sinergi bisnis. Jakarta. Perilaku Organisasi. Pola Kluster Dan Orientasi Pasar : Studi Kasus Sentra Industri Keramik Di Kasongan. 1996. Usaha Kecil Di Indonesia: Profil. Vol. Jurnal Manajemen Dan Kewirausahaan. 20 tahun 2008 tentang Usaha Mikro. 2003. R. 2009. 1997. Prenhelindo. Edward Freeman. Suhendar Sulaeman. Kabupaten Bantul. Jakarta: Prenhallindo Mudrajad Kuncoro. Edisi I. no. YKPN. Perencanaan. dari http://www.Yogyakarta . 1 Rudjito. Yogyakarta Stephen P. April. STIE. 2001. Stoner. 2010.James A. No. D. Daniel R. Robbins.2004. F. STIE Kerja Sama. PT. 1998. dan Menengah. Analisis Formasi Keterkaitan. Yogyakarta Mudrajad Kuncoro & Irwan Adimaschandra Supomo. Philip. 2000. Kecil.12.1 Musran Munizu. Pengaruh Faktor-Faktor Eksternal dan Internal Terhadap Kinerja Usaha Mikro dan Kecil (UMK) di Sulawesi Selatan. Girbet.depkop.go. makalah yang disampaikan pada seminar peran perbankan dalam memperkokoh ketahanan nasional kerjasama Lemhanas RI dengan BRI. 51 . Jakarta. Pengembangan Usaha Kecil Dan Menengah Dalam Menghadapi Pasar Regional Dan Global. Kotler. Manajemen Pemasaran: Analisis. Simamora Henry. Manajemen.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.