GWR/4/5/2006

LATAR BELAKANG LAHIRNYA UUPA-1960 DAN EKSISTENSINYA SELAMA 46 TAHUN Antara Gagasan dan Tindakan*) Oleh : Gunawan Wiradi

PENGANTAR (1) Dengan sedikit diubah dan ditambah, isi makalah ini diambil dari naskah asli berjudul serupa yang pernah disampaikan dalam suatu sarasehan beberapa waktu yang lalu. Karena berbagai sebab, naskah ini ditulis secara mengalir begitu saja, tanpa menggunakan rujukanrujukan langsung secara ketat. (Jadi, tidak seperti yang biasa saya lakukan). Meninjau ulang suatu produk hukum yang keberadaannya sudah 46 tahun, tentu memerlukan uraian yang panjang lebar dan bukan hal yang mudah. Namun karena berbagai keterbatasan, maka tinjauan ini sifatnya umum, dan amat ringkas. Di sini tidak akan disajikan angkaangka, ataupun pembahasan mengenai pasal-pasal Undang-Undang (kecuali disinggung seperlunya), melainkan lebih menekankan pada visinya, spiritnya, misi yang diembannya, serta konteks jamannya. Mengapa lahir UUPA-1960 ? Mengapa isi UUPA-1960 seperti itu ? Mengapa sekarang ini kondisi keagrariaan kita carut-marut ? Mengapa selama + 30 tahun terakhir ini sekitar 8000 kasus konflik agraria merebak di mana-mana mencakup berbagai sektor di hampir semua wilayah ? Inilah antara lain, pertanyaan-pertanyaan pokok yang untuk menjawabnya diperlukan pemahaman terhadap latar belakang kelahiran UU tersebut serta proses-proses selanjutnya. Dengan kata lain, tinjauan ini menggunakan pendekatan historis. ___________________

(2)

1

*) Bahan masukan bagi Sekretariat Jenderal Wantannas. Dengan sedikit diubah dan ditambah, diambil dari naskah asli yang pernah disampaikan dalam seminar/kesempatan lain. (3) Selain tinjauan ulang itu, ada juga baiknya untuk walaupun sepintas melihat ke depan, terutama dalam waktu dekat ini. Dengan demikian isi makalah ini terdiri dari tiga bagian besar, yaitu: (1) Latar Belakang lahirnya UUPA-60; (2) Eksistensinya selama 46 tahun, yang terbagi menjadi tiga periode, (a) 1960-1965; (b) masa Orde Baru; dan (c) posta Orde Baru; dan (3) Bagaimana ke depan.

(4)

I. LATAR BELAKANG Lahirnya UUPA-1960 Bagian ini hanya menampilkan secara amat ringkas semacam snapshots saja, atau “potret-potret” kejadian penting yang dialami bangsa Indonesia sebelum merdeka, terutama sejak lahirnya UU Agraria kolonial Belanda tahun 1870. Walaupun masa-masa sebelumnya juga mengandung hal-hal yang penting, namun pengalaman sejak 1870 itulah yang kemudian menjadi landasan alur pemikiran para pendiri NKRI ini dalam mengambil kebijakan di b idang agraria. (1) Periode 1870 – 1942 (a) UU Agraria 1870 melahirkan masuknya modal besar swasta asing, khususnya Belanda, ke Indonesia, dan lahirlah sejumlah banyak perkebunan-perkebunan besar di Jawa dan Sumatera. Ternyata kemudian, sistem ekonomi perkebunan besar ini menyengsarakan rakyat. Hal itu dari awal sudah mendapat berbagai kritik tajam dari sejumlah intelektual Belanda sendiri, a.l. Mr. Bool, Prof. van Gelderen, dll, yang memuncak pada apa yang terkenal dengan “Gugatan van Kol”, pada tahun 1902. Kata-kata Prof van Gelderen sangat terkenal, yang sekarang ini juga banyak dikutip orang, yaitu: “Bangsa Indonesia akan menjadi bangsa koelie”, dan menjadi “koelie diantara bangsa-bangsa” !.

(b) (c)

(d)

2

Spanyol membangun universitas-universitas. reboisasi. membabat habis kebudayaan pribumi. pendidikan. Tujuannya mencari pasaran bagi produk industrinya. Pakistan. Kesengsaraan rakyat itu memang terbukti ! Maka pemerintah kolonial lalu mengambil langkah kebijakan yang dikenal sebagai “Ethical Policy” (Ethische Politiek) yang berisi enam program perbaikan. dan perkreditan. semua aspek kehidupan (bahasa. Di negara bekas jajahan Inggris. Ciri Inggris adalah Commerce colonialism. nyanyian. Karena itu lalu Inggris memberi pendidikan. Ciri kolonialisme Belanda berbeda dari ciri kolonialisme Inggris ataupun Spanyol. cara makan. Namun di sisi lain. walaupun semula tujuannya memang diperuntukkan bagi orangorang Spanyol sendiri. kesehatan. dan pada tahun 1929 – 1933. Karena itu. jauh sebelum merdeka. kolonisasi (transmigrasi). Untuk itu perlu diciptakan terbentuknya kelas menengah. (f) (g) Lima diantara enam program Politik Etis tersebut di atas (kecuali kesehatan). India. Namun dua diantaranya perlu diberi catatan (karena itu diberi garis bawah). Indonesia mengalami krisis ekonomi yang berat. Pertama soal pendidikan. mengeduk sumber alam. karena tujuannya memang untuk membangun wilayah baru bagi orangorang Spanyol sendiri. Saat Indonesia 3 . dan bukannya tanpa hasil sama sekali. tahun 1622 sudah ada Universitas. di hampir semua negara Amerika Latin misalnya. Malaysia). Sekalipun mungkin maksudnya baik. sudah ada Universitas (mis. Bahkan sengketa-sengketa agraria juga merebak di mana-mana. cara berpakaian. karena kolonialisme Belanda itu sifatnya ekstraktif. yaitu: irigasi. Semua itu berbeda dari apa yang terjadi di Indonesia. Pendidikan baru dibangun pada awal abad-20.(e) Karena banyak kritik maka pemerintah kolonial Belanda lalu melakukan penelitian mengenai “Menurunnya kesejahteraan rakyat” (Mindere Welvaarts Onderzoek – MWO). namun ternyata “Politik Etis” itu tidak banyak mengubah keadaan. langsung atau tak langsung berkaitan dengan masalah agraria. Ciri Spanyol adalah kolonialisme total. Di Argentina misalnya. dll) ter-Spanyolkan. dan itupun bukan tingkat universitas.

Hukum). di Indonesia jumlah ”pakar agraria” menjadi sangat terbatas. Sebelum Indonesia merdeka. Soal kedua adalah perkreditan. Barulah tanggal 8 Maret 1942 Belanda di Indonesia menyerah kepada Jepang. Tetapi di Indonesia. hampir tidak ada pejuang (baik sipil maupun militer) yang mengangkat isyu agraria sebagai platform perjuangan (kecuali dua orang). akibat keterbelakangan pendidikan tersebut. Negeri Belanda jatuh dan diduduki Jerman. (b) Perkebunan-perkebunan besar menjadi terlantar karena ditinggalkan oleh pemiliknya (Belanda maupun modal asing lainnya). Secara sosiologis. maka rakyat lalu menduduki tanah-tanah terlantar tersebut.merdeka 1945. pemerintah kolonial Belanda masih ada karena Perang Pasifik belum pecah. di sini belum ada universitas. Boeke). Kedokteran. barangkali dua saja soal penting yang perlu dicatat dalam hubungannya dengan soal agraria (walaupun tentu saja ada yang lain-lain). Apa relevansi semua cerita ini bagi masalah agraria ? Berbeda dari berbagai negara bekas jajahan Inggris atau Spanyol. Di Keuangan. Pemerintah pendudukan Jepang ternyata mentolerir bahkan mendorong tindakan rakyat tersebut. Gongrijp). Dengan beban pajak yang tinggi tersebut di atas. (2) Masa Pendudukan Jepang (1942 – 1945) (Perang Dunia II) Tanggal 10 Mei 1940. J. Sedangkan para Pamongpraja Belanda umumnya adalah penganut pemikiran neo-populis (murid-murid Prof. yaitu: (a) Petani dibebani pajak bumi sebesar 40% dari hasil produksinya.H. dan pemerintah Belanda lari ke Inggris. pos-pos penting diduduki oleh pejabat-pejabat Belanda yang didominasi oleh pemikiran ekonomi neo-klasik (aliran Prof. Yang ada hanya beberapa “Sekolah Tinggi” (Teknik. Program perkreditan dalam Politik Etis tersebut dalam pelaksanaannya di pedesan mengalami hambatan karena terjadinya pertentangan paham antara Kementerian Keuangan dan Kementerian Tanah Jajahan. Pada masa pendudukan Jepang. kenyataan ini telah 4 .

(3) Masa Awal Indonesia Merdeka (1945 – 1960) Belajar dari pengalaman sejarah tersebut di atas. Panglima Tentara Sekutu di Asia. 5 .menciptakan suatu collective perception diantara rakyat. Diantara berbagai petuah beliau yang penting di masa itu. melancarkan ”landreform” kecil-kecilan di daerah Banyumas.13/ 1946. maka pusat perhatian utama di bidang sosial ekonomi haruslah diletakkan. penguasaan. dan berhasil. Namun toh. Kita semua tahu bahwa periode 1945 – 1950 dikenal sebagai masa revolusi fisik. Dua hal itulah yang merupakan landasan pemikiran para pendiri RI bahwa begitu merdeka. Kemudian. yang dulu digusur oleh Belanda melalui UU Agraria kolonial 1870. yaitu melalui UU no. yaitu bahwa (a) tanah-tanah perkebunan besar itu dahulunya adalah tanah rakyat. Baru sekitar setengah tahun Indonesia merdeka. pemerintah telah melakukan langkah percobaan. Sementara itu pada tahun 1948 itu pula dibentuklah sebuah Panitia Negara yang bertugas mengembangkan pemikiran dalam rangka mempersiapkan Undang-Undang Agraria yang baru. pada perencanaan untuk ”menata-ulang” masalah pemilikan. dan (b) bagi bangsa Indonesia. Lalu. pada awal Agustus 1945 Perang Dunia II berakhir karena Jepang menyerah kepada tentara Sekutu. menghapus hak-hak istimewa dari sekitar 40 perkebunan tebu terutama di daerah istimewa Yogyakarta dan Surakarta.13/1948. belum ada satu tahun umur RI. melalui UU Darurat no. terutama karena telah menggusur tanah-tanah luas yang semula menjadi garapan rakyat. hanya empat bulan setelah itu. perang dan damai silih berganti. maka dapat ditarik pelajaran bahwa sistem ekonomi perkebunan besar ternyata menyengsarakan rayat. dalam suasana yang diliputi penuh ketegangan itu. yaitu tanggal 9 Desember 1945. Wakil Presiden Bung Hatta (sebagai seorang ekonom) telah menguraikan masalah ”ekonomi Indonesia dimasa depan”. Jenderal Mac Arthur memerintahkan kepada Kaisar Jepang untuk segera melaksanakan “landreform” di Jepang. ada dua butir yang perlu disebut (yang dikemudian hari turut menjiwai isi dan semangat UUPA-1960). di tahun 1948. dan penggunaan tanah. tanah jangan dijadikan komoditi komersial (istilahnya saat itu: barang dagangan yang semata-mata untuk mencari keuntungan). bahwa seolah-olah mereka telah memperoleh kembali haknya atas tanah. Sementara itu.

disamping substansinya. sebagai hasil perundingan Indonesia – Belanda melalui perjanjian KMB (Konperensi Meja Bundar). dan Panitia Sunaryo. Namun atas saran Presiden Soekarno RUU ini digodog kembali oleh kerjasama DPR dengan Universitas Gajah Mada (UGM). Tapi kemudian. 1958).Undang-Undang nasional. dan sistem pemerintahan parlementer. Indonesia kembali menjadi NKRI dengan Undang-Undang Dasar Sementar (UUDS-1950). gagasan awalnya adalah bahwa obyek utama “reform” itu adalah tanah-tanah perkebunan dengan hak 6 . Panitia Agraria Yogya (1948) kemudian dihidupkan kembali pada tahun 1951 dengan Ketua yang sama (alm. untuk menggantikan UU Agraria kolonial 1870. Namun dalam periode 1950 – 1960 itu. Desember 1948 – Agustus 1949) maka panitia dibubarkan. lahirlah Republik Indonesia Serikat (RIS). 1956. dan kepanitiaan agraria ini pun dua kali mengalami perubahan lagi (Panitia Suwahyo.5/1960 Tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (dikenal sebagai UUPA-1960). Bp. Tanggal 24 September 1960 RUU ini disahkan oleh DPR dan ditetapkan sebagai UU no. dengan terjadinya Dekrit 5 Juli 1959 (kembali ke UUD-1945) maka. Kemudian. Ada catatan kecil tapi penting untuk disebut. “legal drafting” nya pun secara teknis RUU Soenaryo itu pun mengalami perubahanperubahan. dan RI hanya menjadi “negara bagian”. Sistem parlementer membuat Kabinat jatuh bangun dalam waktu singkat. Demikianlah proses panjang kelahiran UUPA-’60. Dengan berbagai masukan dari panitia-panitia sebelumnya. sambil menunggu akan dilaksanakannya “reform” nanti. Namun karena adanya agresi Belanda (”Clash ke-II”. yaitu bahwa karena dari awal telah ada niat politik untuk melakukan “reform”. sedangkan sampai dengan 1950 itu situasi politik masih penuh gejolak dan landasan hukum untuk “reform” itu masih dalam proses pembentukan maka untuk sementara pemerintah RI melanjutkan kebijakan Jepang yaitu mentolerir rakyat menduduki tanah-tanah perkebunan terlantar. Di satu pihak. Sampai dengan 1958 itu tentu saja landasan hukum yang dipakai rujukan adalah UUDS-1950.Hasil kerjasama DPR – UGM itu kemudian diajukan ke DPR sebagai “Rancangan Sadjarwo”. Tetapi. sesungguhnyalah pemerintah menghadapi sebuah dilemma. Panitia Sunaryo akhirnya berhasil menyiapkan RUU yang siap untuk diajukan ke DPR. RIS ini tak berumur lama. Pada bulan Agustus 1950.) – dikenal sebagai Panitia Agraria Jakarta. Sarimin R.

Namun karena kondisi seperti tersebut di atas.56/1960 (yang semula dalam bentuk Peraturan Pemerintah Pengganti UU). Tetapi karena berbagai pergolakan. dan tanah terlantar. II. yaitu Dr. yaitu tentang “Penetapan Luas Tanah Pertanian”. tindak-lanjut nasionalisasi perkebunan. perjuangan untuk kembalinya Irian Barat. Dia tiga kali datang di 7 (2) (3) . Dia adalah bekas Atase Pertanian Amerika di Jepang. dan bukan lagi RIS sesuai KMB) tetap terikat oleh perjanjian KMB yang mengandung ketentuan bahwa rakyat harus dikeluarkan dari tanahtanah perkebunan milik modal swata Belanda itu. Wolf Ladejinsky. maka masih banyak pasal-pasal yang sedianya akan dijabarkan lebih lanjut ke dalam peraturan ataupun undang-undang yang lebih operasional. Berbagai masalah yang dihadapi waktu itu. Periode 1960 – 1965 (1) Semula periode ini direncanakan sebagai target masa pelaksanaan “reform” di bidang agraria. antara lain. Tahun 1957 Indonesia membatalkan perjanjian KMB. yang kemudian secara populer dikenal sebagai “UU Landreform”. dilemma inilah salah satu sebab yang turut mempengaruhi mengapa proses perumusan UUPA tersebut menjadi begitu panjang (12 tahun).Jabaran terpenting yang sudah dilakukan adalah ditetapkannya UU no.erfpacht. adalah: sisa-sisa masalah penyelesaian pemberontakan PRRI/Permesta. maka hal itu sebagian besar belum sempat tergarap. maka konsentrasi pikiran pemerintah menjadi terpecah. Karena kekurangan pakar agraria yang berpengalaman dalam hal “reform”. Mr. Tapi di lain pihak. EKSISTENSI UUPA SELAMA 46 TAHUN A. Barangkali. bekas tanah-tanah partikelir. maka Menteri Agraria (alm. serta melalui UU no. Sadjarwo) melakukan konsultasi dengan seorang pakar dari Amerika Serikat. yang membantu Jenderal Mac Arthur sewaktu melaksanakan landreform di Jepang. tanah-tanah absentee. pemerintah (sekalipun sudah kembali menjadi NKRI. dan tahun 1958 menasionalisir perkebunan-perkebunan besar milik asing. dan konfrontasi dengan Malaysia. Karena UUPA-1960 itu baru berisi “peraturan dasar”.1/1958 menghapuskan tanah-tanah partikelir.

Yang positif: menurut dia: (a) UUPA-1960 merupakan produk hukum terbaik selama sejarah RI. “moderen”. dan berapa yang diperkirakan akan menjadi penerima nyata (real beneficiaries) ? Tanah-tanah apa saja yang akan menjadi obyek reform ? (PP. inilah juga yang secara politis mendorong PKI melakukan aksi sepihak. yaitu pertama di tahun 1961 (hanya 10 hari untuk mempelajari berbagai dokumen). orang yang berhak menerima redistribusi tanah (potential beneficiaries). 8 . Tetapi umumnya. dan rumusannya. hal itu ditulis sesudah tahun 1965. siapa. sehingga pelaksanaan redistribusi menjadi sulit dan mengalami hambatan di lapangan.Misalnya. antara gagasan dan tindakan pelaksanaan tidak konsisten. Data tidak akurat. (c) Jauh hari para perumus sudah memiliki kepekaan “gender”. format. Saran Ladejinsky: membentuk Panitia Landreform yang kerangka dan komposisinya meniru model di Jepang. Beberapa konsepnya. khususnya yang menyangkut program landreform. pandangan dari Patrick Mc Auslan (1986). Kedua: model redistribusinya tidak sesuai dengan kondisi obyektif yang ada. Ada dua hal yang menurut saya merupakan kritik utama. Menurutnya.Indonesia. (Barangkali. Satu contoh saja. (b) Kerangka. dan terakhir di tahun 1963 selama tiga bulan meninjau pelaksanaan landreform di lapangan. ada sisi positif dan negatif tentang UUPA-1960. (4) Ladejinsky memberikan kritik dan saran. dan berapa jumlahnya. Pertama: menurut dia. Gagasannya revolusioner tapi pelembagaan pelaksanaannya rumit. tidak nyambung (disjointed). yang menimbulkan trauma dan melahirkan stigma bahwa “landreform sama dengan PKI”). Batas minimum 2 ha yang diberlakukan secara menyeluruh dianggap tidak realistis. definisinya tidak jelas. (5) Sebenarnya terdapat sejumlah pakar asing lainnya yang melakukan penilaian terhadap UUPA-1960 beserta program landreform Indonesia. Birokrasi di Indonesia berbelit-belit.224/1961 dianggap tidak konsisten dengan gagasan ideal awalnya).

ekonomi. berdikari di bidang ekonomi. Menurut Mac Auslan.(d) Mempunyai idealisme l’homme par l’homme” menghapuskan “l’exploitation de Yang negatif : (a) Dalam hal hukum. ini suatu ironi. Pertama: hambatan hukum. Akibatnya setiap kali membahas agraria. lingkungan. dilindas oleh slogan baru yang membahana: “Politik no. Baik di pusat maupun di daerah. Hal ini berkaitan erat dengan hambatan pokok yang kedua. Kedua: disebut sebagai hambatan ilmiah. aparat hukum belum menguasai benar persoalan agraria. kaitan dan penempatannya dalam UUPA-1960 belum terlalu jelas. maka antara 1965 – 1967 adalah masa peralhan kekuasan dari pemerintahan lama kepada pemerintahan Orde Baru. ekonomi yes !” Masyarkat terhanyut. menurutnya. dan politik. ada dua hambatan pokok dalam masalah agraria di Indonesia. Disamping adanya berbagai hambatan lainnya. (b) Program landreformnya juga dianggap belum terlalu jelas (mirip kritik Ladejinsky). jumlah ilmuwan agraria amat sangat terbatas. Padahal agraria itu mencakup hampir semua aspek kehidupan (sosial. Bahkan juga hankam). di Indonesia yang justru merupakan negara besar yang pada dasarnya agraris. (c) Belum diantisipasi kemungkinan akan terjadinya berbagai hambatan. Kebijakan umum Orde Baru sama sekali berbeda dari kebijakan lama. dan tak sadar bahwa slogan ini sendiri adalah politik ! 9 . budaya. adat. Berbeda dari negara berkembang lainnya. Periode 1965 – 1998 (Masa Orde Baru) (1) Sudah kita ketahui bersama bahwa sebagai akibat peristiwa berdarah 1965. dan berkepribadian dalam kebudayaan”. yang dibahas selalu “hukum agraria”. Slogan lama: “Berdaulat dalam politik. B.

UU Pokok Pertambangan). Artinya. (b) Di bidang sosial ekonomi. Indonesia mengirim delegasi besar. sebagai produk PKI. yaitu Revolusi Hijau tanpa Reforma Agraria. (Stigma ini masih melekat di benak sebagian masyarkat kita sampai sekarang). Dalam Konperensi Roma 1979 (tersebut di atas). Lahirlah di tahun 1967 tiga undang-undang yang mengabaikan ketentuan-ketentuan yang ada dalam UUPA-1960 (UU PMA. Dengan kebijakan demikian. UU Pokok Kehutanan. setelah adanya laporan hasil penelitian dari Panitia Soemitro Djojohadikoesoemo (alm. maka UUPA-1960 ibarat masuk “peties”. modal asing. pembangunan menggantungkan diri pada hutang luar negeri. dan betting on the strong. yaitu: (a) Stabilitas merupakan prioritas utama. Disepakati bahwa setiap dua tahun sekali tiap negara akan melaporkan pelaksanaan Reforma 10 (3) (4) (5) (6) . maka ketika UUPA-1960 dikukuhkan kembali. Dr. Soemitro saat itu adalah Menristek). Kembalinya perhatian atas keberadaan UUPA 1960 ini – barangkali – juga karena adanya undangan dari FAO untuk menghadiri Konperensi Sedunia tentang Reforma Agraria dan Pembangunan Pedesaan. melainkan justru ketumpang tindihan. Untuk sekitar 11 tahun lamanya UUPA-1960 dipersepsikan secara keliru. Sementara itu karena beberapa UU sektoral sudah terlanjur berlaku sekian lama. keberadaannya tidak dihiraukan. Hasil konperensi ini adalah sebuah dokumen yang di tahun 1981 diterbitkan oleh FAO dengan judul The Peasants’ Charter (Piagam Petani). yang terjadi bukannya penjernihan. (c) Di bidang agraria mengambil kebijakan jalan pintas (By-pass approach). di Roma 1979. Terdapat kesan kuat bahwa di sana-sini terjadi rekayasa hukum dan manipulasi agar seolah-olah suatu kebijakan itu merujuk kepada UUPA-1960 namun pada hakekatnya demi kepentingan sektoral untuk memfasilitasi investasi asing.(2) Kebijakan Umum Orde Baru ditandai oleh sejumlah ciri. Prof. Barulah di tahun 1978 keberadaan UUPA-1960 dikukuhkan kembali sebagai “produk nasional” (bukan produk PKI). sekalipun tidak dicabut.

Bahkan semakin terdapat kecenderungan untuk jauh menyimpang dari semangat UUD-1945 dan UUPA-1960. Jawa Barat berlangsung lokakarya internasional dengan tema yang sama. Bahkan kecenderungan penyimpangan dari semangat UUPA-1960 semakin nyata ketika di pertengahan dekade 1990-an terlontar pernyataan dari seorang pejabat yang berwenang 11 (8) (9) . Namun hal ini tetap tidak membuat Orde Baru menyadari apa yang sesunggunnya terjadi. meskipun semula dibantah sendiri oleh pimpinan Orde Baru). sebagai tindak lanjut Konperensi Roma. apakah Indonesia memenuhi kesepakatan ini. Di awal dekade 1990-an. yang hasilnya disertai sebuah rekomendasi kepada pemerintah Indonesia. slogan “globalisasi” mulai menggelora. kebanggaan yang berlebihan dari berhasilnya swasembada pangan di tahun 1984 telah membuat Orde Baru terlalu percaya diri bahwa tanpa Reforma Agraria (melalui “jalan pintas”) kita akan mampu memakmurkan rakyat. (7) Keberadaan Piagam Petani hasil pertemuan Roma. Pasar bebas didewakan. saat itu banyak orang masih “bengong”).Agraria dan Pembangunan Pedesaan. Di tahun 1981 itu pula di Selabintana. Sementara itu. Dimana-mana berlangsung seminar/lokakarya dengan spanduk besar-besar bertuliskan: “menyongsong globalisasi” (walaupun jika ditanya apa yang dimaksud dengan istilah “globalisasi”. Apalagi setelah runtuhnya negaranegara sosialis. Bahkan. meskipun di pertengahan dekade 1980-an itu Indonesia mencpai swasembaga pangan. maka pemikiran globalisasi ekonomi menjadi arus dominan. dan rekomendasi Selabintana ternyata tidak mampu untuk mendorong pemeirntah Orde Baru untuk melakukan “reorientasi kebijakan”. namun berbagai konflik sosial yang hakekatnya berlatar belakang masalah agraria telah merebak di mana-mana. Tidak ada berita.Namun agaknya kenyataan ini tidak cukup membuka mata-hati para pemimpin bahwa masalah agraria adalah masalah mendasar. Sukabumi. Penyimpangan ini dimulai dengan adanya berbagai paket deregulasi di akhir dekade 1980-an (Inilah indikasi pertama kecenderungan kebijakan liberal. Terbukti kemudian bahwa swasembada pangan tak berumur lama.

Karena itulah maka di tahun 1996. Habiebie sebenarnya ada niat meninjau kembali kebijakan landreform. Dr. (1) Setelah lengsernya Presiden Soeharto. termasuk munculnya puluhan partai politik). berbagai LSM. maka pada masa kepresidenan B. terlontar pernyataannya yang menggemparkan. Pernah dibentuk Panitia di bawah pimpinan Prof. Di jaman Presiden Abdurachman Wahid (Gus Dur). Periode 1998 – 2006 (Posta Orde Baru) Tidak banyak yang perlu diuraikan di sini karena saya yakin kita semua sama-sama telah menyaksikan berbagai kejadian yang berlangsung dalam periode ini.J. yang memberi “warning“ bahwa jika kebijakan itu diteruskan maka Indonesia akan mengalami krisis. yaitu tahun 1997. dan juga KOMNAS HAM sebagai salah satu pemrakarsanya. C. Euphoria kebebasan sebagai akibat lengsernya Orde Baru telah melahirkan berbagai organisasi rakyat (serikat tani dan nelayan. Indonesia benar-benar mengalami krisis. serikat buruh. SH.. Isyu agraria pun terangkat kembali ke permukaan oleh desakan berbagai organisasi tani/ nelayan serta berbagai LSM. Beberapa saja yang barangkali perlu dicatat. Tapi belum sempat panitia ini bekerja. Dalam masa kepresidenan Megawati. keburu terjadi pergantian Presiden. yaitu bahwa 40% dari tanahtanah perkebunan itu seharusnya diredistribusikan kepada rakyat. dll.maka dapat dicatat berlangsungnya beberapa kejadian sebagai berikut: (a) Bulan April 2001 berlangsung Konperensi nasional petani yang dihadiri oleh berbagai organisasi tani. hanya satu tahun setelah terbitnya tulisan tersebut. Muladi. Selain sejumlah dokumen yang intinya adalah mendesak kepada pemerintah (dan DPR/MPR) agar segera menangani masalah (2) (3) (4) 12 .bahwa “tanah sebagai komoditi strategis” (bertentangan dengan fatwa Bung Hatta tersebut di depan). ketika pemerintah belum juga menunjukkan kepastian sikap mengenai masalah agraria. Terbukti kemudian bahwa tanpa diduga oleh GWR sendiri. Gunawan Wiradi (GWR) menulis di suatu jurnal.

konperensi ini juga melahirkan “Deklarasi tentang HakHak Asasi Petani”. Hasilnya adalah lahirnya TAP-MPR no. (d) Sementara itu pada masa akhir jabatannya Presiden Megawati mengeluarkan Keppres no. (b) Menyadari kerasnya desakan rakyat saat itu.IX/2001 tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumberdaya Alam. (5) Dalam masa kepresiden SBY yang baru berumur satu setengah tahun ini. belum sempat konsep ini direalisir. agar mengambil langkah tindak lanjutnya. baik kepada Presiden maupun kepada DPR. Namun. Ketika sampai dengan tahun 2003 ternyata tak ada tanda-tanda tanggapan baik dari DPR maupun dari Presiden. maka Komnas Ham bersama sejumlah LSM dan organisasi tani mengambil prakarsa lain. Tetapi. harus diterima kenyataan bahwa itulah hasil maksimal yang bisa dicapai sebagai hasil kompromi dari pertarungan berbagai kepentingan. bagaimana pun juga. yaitu menyusun usulan kepada Presiden Megawati agar membentuk KNUPKA (Komite Nasional Untuk Penanggulangan Konflik Agraria). Dengan adanya pergantian Presiden. yang dilanjutkan dengan penyelenggaraan dua kali lokakarya besar di Bandung. isi TAP ini memang ambigu. maka sebagian anggota MPR (hasil Pemilu 1999) cukup tanggap. belum ada tanda-tanda bahwa masalah keagrariaan (yang memang sudah menjadi sangat kompleks) akan teratasi dalam waktu dekat.000 orang anggota Serikat Petani Pasundan. Bahkan TAP seperti yang ada sekarang itupun mungkin tak akan lahir seandainya saja tak ada dukungan pressure group berupa demo sekitar12.34/2004 yang isinya memberi mandat kepada Badan Pertanahan Nasional (BPN) untuk melakukan penyusunan RUU mengenai “penyempurnaan” UUPA-1960. (c) Isi TAP MRP No.agraria. 13 . Dilihat dari semangat UUPA-1960.Maka BP MPR bidang agraria kemudian melakukan berbagai dialog dengan berbagai organisasi tani dan LSM. masalah ini pun sampai sekarang belum selesai. sekali lagi. September/Oktober 2001. Tanggapan Presiden adalah postiif. keburu terjadi pergantian Presiden.IX/2001 itu pada dasarnya merupakan semacam “perintah“.

MENCOBA MELIHAT KE DEPAN A. Indonesia telah mengirim delegasi untuk menghadiri ICARRD (International Conference on Agrarian Reform and Rural Development) di Porto Alegre. 14 (2) .Meskipun sewaktu masih dalam masa kampanye Pemilu – Presiden memang tertera agenda Reform Agraria.36/2005 (tentang mengundang berbagai reaksi masyarakat. misi apa yang harus diemban oleh delegasi ini. Keluar Perpres no. infrastruktur) yang (b) (c) (d) Terakhir baru-baru ini keluar Perpres no. belum mengandung nuansa Reforma Agraria. yang sejak sekarang ini sudah menjadi wacana pembahasan di sejumlah kalangan. dan proses penyempurnaan itu masih tetap berlangsung. belum pernah SBY menyatakan sikap yang jelas mengenai hal ini. tanggal 7 – 10 Maret 2006. dll). Namun ternyata tidak ada arahan yang jelas dari pimpinan nasional. namun setelah terpilih sampai sekarang.10/2006 mengenai penataan ulang secara internal kelembagaan BPN. Sepanjang yang saya ketahui. namun menurut saya. soal pendidikan. soal buruh. Masalah kebijkan “Revitalisasi Pertanian” yang walaupun memang sudah mengandung pikiran-pikiran baru dalam masalah tanah. Disamping ketiga hal tersebut. (a) Mandat kepada BPN untuk melakukan “penyempurnaan” UUPA1960 masih tetap berlaku. Brazil. ada beberapa hal saja yang bisa dicatat. Untuk sekedar menyebut beberapa saja: (1) Isyu yang seolah menjadi reda (entah apa sebabnya) adalah masalah Perpres 36/2005 yang menyangkut pembebasan tanah dalam rangka program pembangunan infrastruktur. dalam waktu dekat ke depan ini ada sejumlah isyu aktual yang berkaitan dengan masalah agraria. perlu dicatat juga bahwa pada bulan Maret 2006 yang baru saja lalu. Isyu-isyu Aktual Disamping sejumlah banyak isyu-isyu lainnya (masalah korupsi. III.

memang produk-produk sesudahnya itu. dll. merujuk kepada UUD 2002 (hasil amandemen UUD 1945). pengairan. “Last but not least”. Contoh konkrit perilaku politik yang kontroversial itu adalah yang akhir-akhir ini rame-rame (termasuk reaksi masyarakat luas) mengenai hubungan Indonesia – Australia menyangkut masalah 42 orang Papua yang memperoleh suaka politik di Australia.(3) Masalah “penyempurnaan UUPA-1960” yang sampai sekarang masih dalam proses. UUD yang mana sebenarnya yang diterima untuk menjadi rujukan? Secara legalistik. Namun perilaku politik kita ternyata ada yang bertentangan dengan hasil amandemen. (4) Masalah agraria dalam kaitannya dengan pelaksanaan UU Otonomi Daerah(Otoda). dengan dalih “hak-hak asasi manusia”. jika dipaksakan DPR untuk mengagendakan menuntaskan masalah UUPA ini dalam tahun 2006 (sesuai rencana). karena memang. jika harus melakukan pembongkaran terhadap semua UU yang sudah terlanjur disahkan itu. (5) Demikianlah. maka perkiraan saya. menurut istilah pengamat tersebut di atas UUD 2002 itu “cacat hukum”. terdapat ayat yang menjamin larinya orang mencari suaka politik 15 . dan yang lebih mendasar lagi adanya ketentuan dalam amandemen UUD-1945 yang amat merisaukan). barangkali terlalu berat bagi DPR jika hanya diberi waktu tahun 2006 ini. Sebenarnya ini masalah berat. karena akan terbenturbentur kepada kondisi hukum yang ada (sudah terlanjur ada lebih dulu UU sektoral: perkebunan. sedikit banyak juga dilatar belakangi oleh pertentangan kepentingan dalam masalah agraria. semua itu kait mengkait satu sama lain. di masa depan akan terjadi kerumitan hukum yang lebih parah. Berbagai kasus konflik di bidang politik dalam pelaksanaan Otoda ini. Sebaliknya. kehutanan. dalam UUD hasil amandemen itu. Yang lebih memerlukan perhatian lagi adalah apa yang oleh seorang pengamat disebut sebagai “krisis konstitusi“ ! Artinya. Padahal. Inilah dilema yang dihadapi. artinya tak dapat dijalankan. Karena itu. karena memang mengandung sejumlah kejanggalan. isyu mengenai bagaimana pandangan dan sikap pemerintah di dalam menanggapi hasil-hasil ICARRD Porto Alegre Brazil tersebut di atas (yang sampai sekarang belum jelas). jika hal itu dilakukan tanpa meninjau ulang produk-produk hukum lainnya tersebut di atas. Dengan demikian hasil amandemen itu menjadi tidak efektif.

Dalam dua dekade terakhir ini situasi dunia mengalami apa yang oleh seorang pakar disebut sebagai “global paradox”. Antara lain: (1) (2) Mengapa kita mengalami krisis? Dahulu. ayat-2). yang paling mendasar lebih dulu. (3) (4) Mengapa kita seolah-olah kehilangan kepercayaan diri ? Mengapa kita seolah-olah justru bangga berperan sebagai “bangsa koelie”? Mengapa kita seolah-olah enggan untuk mengatasi masalah agraria secara mendasar ? 16 . di satu sisi terjadi perubahanperubahan cepat dalam percaturan politik dunia. kita mengambil sikap “Non-Blok”. di sisi lain terjadi penggabungan sejumlah negara (Uni Eropa). Pada aras makro. maka seolah-olah tinggal ada satusatunya batu karang yang harus menjadi pegangan. Mengapa kita begitu “malas” untuk berusaha mengidentifikasi kemungkinan adanya batu karang lain yang bisa menjadi pegangan ?]. pada awal kemerdekaan. malahan semakin rumit. usaha untuk melihat ke depan perlu dimulai dengan melemparkan sejumlah pertanyaan. Krisis multidimensi bukannya mereda. Apakah kita masih konsisten dengan sikap ini? [Memang. Artiya. terpecah-pecahnya Yugoslavia – Balkanisasi). Dalam kondisi demikian itu. B.di negeri lain (Pasal 28 G. Ada juga baiknya kita mencatat situasi yang lebih luas dan lebih makro. Sementara itu kondisi di dalam negeri masih tetap carut-marut. dengan selesainya perang dingin. sekedar menambah wawasan. Di satu sisi terjadi disintegrasi di sejumlah negara (runtuhnya Uni Soviet. maka menurut saya. sungguh tidak mudah untuk melihat apa yang akan terjadi di masa depan serta apa yang harus kita sikapi dan lakukan. dunia sedang diliputi suasana “Perang Dingin”. di sisi lain di dalam negeri terjadi dinamika politik yang masih berputar-putar. Para pendiri RI mengambil kebijakan “mendayung diantara dua karang” (istilah Bung Hatta). Ulasan Umum Sebagai Penutup Dalam kondisi seperti sekarang ini.

17 . Pihak eksekutif pun menjadi canggung untuk melangkah karena hal itu. krisis konstitusi. maka langkah apapun yang akan diambil di masa depan ini (apakah soal revitalisasi pertanian. cukup terkenal. Tanpa penyelesaian tuntas mengenai masalah ini. menurut pendapat saya. edisi 16). karena berbagai sebab makalah ini ditulis dengan “mengalir” begitu saja. apa soal penyempurnaan UUPA-1960. apakah masalah Reforma Agraria. Hasil amandemen itu menunjukkan bahwa para perumusnya kurang memahami sejarah dan mungkin tidak pernah membaca dan mendalami latar belakang serta landasan filosori UUPA-1960. Saya sependapat dengan pandangan seorang pengamat (orang Indonesia. masalah konstitusi ini harus segera diatasi lebih dulu. Lengkaplah sudah semua dimensi. (Tapi daftar bahan dilampirkan di belakang). dan tanpa rujukan langsung secara ketat seperti yang biasa saya lakukan. inilah muara dari seluruh dimensi krisis yang kita alami. atau bahkan berbagai soal lain di luar agraria). atau menjadi bahan diskusi kita sekarang ini. Demikianlah. ahli hukum. sebagai penutup. ternyata justru menambah luasnya dimensi krisis ? Mengapa kita sekarang ini terkesan berada di tepi jurang disintegrasi ? (6) Daftar pertanyaan tersebut memang bisa diperpanjang. Menurut dia. baik secara prosedural maupun substansial hasil amandemen tersebut “cacat hukum“ ! Nah. yaitu pertanyaan no. Karena itu semua maka di dalam melihat ke depan. termasuk berbagai pertanyaan ikutannya. dan menambah rumitnya keadaan. berupa hasil amandemen UUD-1945. semuanya akan menjadi kebenturbentur secara hukum. (Untuk uraian yang lebih lengkap. tapi tak perlu saya sebut namanya). dan menyatu menjadi “kristal“ (krisis total !). saya mohon maaf sebesar-besarnya. baca tulisan GWR dalam tabloid Cita-Cita. Di sini saya hanya akan menjawab satu pertanyaan saja. Tetapi untuk sementara.5 tersebut di atas. yang menyatakan bahwa sekarang ini kita sedang mengalami krisis konstitusional. enam pertanyaan itu rasanya cukup sebagai PR kita (karena mungkin jawabannya yang tepat masih harus dicari).(5) Mengapa gambaran “era reformasi” yang semula diharapkan sebagai solusi mengatasi krisis ekonomi.

Sengketa Agraria.340-352. Agrarian Reform and Conflict Worldwide. Rome: FAO. NSW-Australia. (Ed. Soetiknyo. King. W. L. W. Oxford University Press. Pelzer. 1987.297-299. 18 . dalam Walinsky. dalam Walinsky.Walaupun isinya mungkin kurang memenuhi harapan Panitia. Unwyn Pty. War. Tanah Perkotaan dan Perlindungan Rakyat Jelata.23-30. hlm. (Ed.) Agrarian Reform as Unfinished Business.. 1981.) Agrarian Reform as Unfinished Business. “Land Reform in Indonesia” (1964). Ladejinsky. The Unpromised Land. hlm. London dan New Jersey: Zed Books Ltd. Ladejinsky. Penguasa Perang Tertinggi. L. 1986. The Peasants’ Charter. Nationalism. Proses Terjadinya UUPA. Selo Soemardjan (1962). Sinar Harapan.(1961). Ltd.1990. Singgih. Sendi-Sendi Hukum Tanah di Indonesia (cetakan ketiga). Shigeru Sato (1994). Oxford University Press. 1961. Praptodihardjo. “Land Reform in Indonesia”. “Land Reform in Indonesia” (1961). Colorado: Westview Press. hlm. Mac Auslan. Jakarta: Yayasan Pembangunan (1953). 1977. Boulder. 1977. Java Under The Japanese Occupation 1942 – 1945. 1962. no. Soetojo. Land Reform. Jakarta: Gramedia.Karl. 1991. Jakarta.12.J. Undang-Undang Pokok Agraria dan Pelaksanaan Land Reform. FAO. M. Iman. 1977. and Peasants. mudahmudahan makalah ini ada gunanya. Jakarta. Ressell. D. A World Survey. Pengusaha Agraria Melawan Petani. I.J. D:\data\data\GWR\Latar Belakang Lahirnya UUPA-4-5-06 DAFTAR PUSTAKA Christodoulou. P. dalam Asian Survey. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Makalah Seminar Agraria Nasional FSPI. Yayasan Akatiga. Gunawan (2005): Reforma Agraria: Untuk Pemula. Wiradi. Gunawan (2000). Gunawan. Gunawan. Makalah dalam Seminar Nasional Pertanahan. Perjalanan Yang Belum Berakhir. Bandung. “Reforma Agraria Dalam Perspektif Transisi Agraris”. Dalam Rangka Lustrum Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional. “Kebijakan Agraria/Pertanahan yang Berorientasi Kerakyatan dan Berkeadilan. Septermber 1998. Bandar Lampung. Wiradi. Wiradi. Yogyakarta. “Reforma Agraria dan Pembangunan Pedesaan”. 1994. Jakarta: Sekretariat Bina Desa. Wiradi. Makalah. 25-26 Februari 1999. Wiradi. dan Pustaka Pelajar. KPA. Pemetaan Pola-Pola Sengketa Tanah di Jawa Barat. PAU-Studi Sosial. Gunawan. Reforma Agraria.Suhendar. UGM. Yogyakarta. Yogyakarta: Insist Press. 19 . Endang. 1990.

D:\data\data\GWR\Latar Belakang Lahirnya UUPA-4-5-06 20 .