GWR/4/5/2006

LATAR BELAKANG LAHIRNYA UUPA-1960 DAN EKSISTENSINYA SELAMA 46 TAHUN Antara Gagasan dan Tindakan*) Oleh : Gunawan Wiradi

PENGANTAR (1) Dengan sedikit diubah dan ditambah, isi makalah ini diambil dari naskah asli berjudul serupa yang pernah disampaikan dalam suatu sarasehan beberapa waktu yang lalu. Karena berbagai sebab, naskah ini ditulis secara mengalir begitu saja, tanpa menggunakan rujukanrujukan langsung secara ketat. (Jadi, tidak seperti yang biasa saya lakukan). Meninjau ulang suatu produk hukum yang keberadaannya sudah 46 tahun, tentu memerlukan uraian yang panjang lebar dan bukan hal yang mudah. Namun karena berbagai keterbatasan, maka tinjauan ini sifatnya umum, dan amat ringkas. Di sini tidak akan disajikan angkaangka, ataupun pembahasan mengenai pasal-pasal Undang-Undang (kecuali disinggung seperlunya), melainkan lebih menekankan pada visinya, spiritnya, misi yang diembannya, serta konteks jamannya. Mengapa lahir UUPA-1960 ? Mengapa isi UUPA-1960 seperti itu ? Mengapa sekarang ini kondisi keagrariaan kita carut-marut ? Mengapa selama + 30 tahun terakhir ini sekitar 8000 kasus konflik agraria merebak di mana-mana mencakup berbagai sektor di hampir semua wilayah ? Inilah antara lain, pertanyaan-pertanyaan pokok yang untuk menjawabnya diperlukan pemahaman terhadap latar belakang kelahiran UU tersebut serta proses-proses selanjutnya. Dengan kata lain, tinjauan ini menggunakan pendekatan historis. ___________________

(2)

1

*) Bahan masukan bagi Sekretariat Jenderal Wantannas. Dengan sedikit diubah dan ditambah, diambil dari naskah asli yang pernah disampaikan dalam seminar/kesempatan lain. (3) Selain tinjauan ulang itu, ada juga baiknya untuk walaupun sepintas melihat ke depan, terutama dalam waktu dekat ini. Dengan demikian isi makalah ini terdiri dari tiga bagian besar, yaitu: (1) Latar Belakang lahirnya UUPA-60; (2) Eksistensinya selama 46 tahun, yang terbagi menjadi tiga periode, (a) 1960-1965; (b) masa Orde Baru; dan (c) posta Orde Baru; dan (3) Bagaimana ke depan.

(4)

I. LATAR BELAKANG Lahirnya UUPA-1960 Bagian ini hanya menampilkan secara amat ringkas semacam snapshots saja, atau “potret-potret” kejadian penting yang dialami bangsa Indonesia sebelum merdeka, terutama sejak lahirnya UU Agraria kolonial Belanda tahun 1870. Walaupun masa-masa sebelumnya juga mengandung hal-hal yang penting, namun pengalaman sejak 1870 itulah yang kemudian menjadi landasan alur pemikiran para pendiri NKRI ini dalam mengambil kebijakan di b idang agraria. (1) Periode 1870 – 1942 (a) UU Agraria 1870 melahirkan masuknya modal besar swasta asing, khususnya Belanda, ke Indonesia, dan lahirlah sejumlah banyak perkebunan-perkebunan besar di Jawa dan Sumatera. Ternyata kemudian, sistem ekonomi perkebunan besar ini menyengsarakan rakyat. Hal itu dari awal sudah mendapat berbagai kritik tajam dari sejumlah intelektual Belanda sendiri, a.l. Mr. Bool, Prof. van Gelderen, dll, yang memuncak pada apa yang terkenal dengan “Gugatan van Kol”, pada tahun 1902. Kata-kata Prof van Gelderen sangat terkenal, yang sekarang ini juga banyak dikutip orang, yaitu: “Bangsa Indonesia akan menjadi bangsa koelie”, dan menjadi “koelie diantara bangsa-bangsa” !.

(b) (c)

(d)

2

Tujuannya mencari pasaran bagi produk industrinya. Kesengsaraan rakyat itu memang terbukti ! Maka pemerintah kolonial lalu mengambil langkah kebijakan yang dikenal sebagai “Ethical Policy” (Ethische Politiek) yang berisi enam program perbaikan. sudah ada Universitas (mis. Indonesia mengalami krisis ekonomi yang berat. namun ternyata “Politik Etis” itu tidak banyak mengubah keadaan. Di Argentina misalnya. kesehatan. yaitu: irigasi. India.(e) Karena banyak kritik maka pemerintah kolonial Belanda lalu melakukan penelitian mengenai “Menurunnya kesejahteraan rakyat” (Mindere Welvaarts Onderzoek – MWO). Sekalipun mungkin maksudnya baik. Spanyol membangun universitas-universitas. Karena itu. karena tujuannya memang untuk membangun wilayah baru bagi orangorang Spanyol sendiri. dan pada tahun 1929 – 1933. jauh sebelum merdeka. mengeduk sumber alam. kolonisasi (transmigrasi). Pendidikan baru dibangun pada awal abad-20. (f) (g) Lima diantara enam program Politik Etis tersebut di atas (kecuali kesehatan). Namun di sisi lain. Namun dua diantaranya perlu diberi catatan (karena itu diberi garis bawah). tahun 1622 sudah ada Universitas. dan bukannya tanpa hasil sama sekali. semua aspek kehidupan (bahasa. nyanyian. pendidikan. dan itupun bukan tingkat universitas. membabat habis kebudayaan pribumi. Karena itu lalu Inggris memberi pendidikan. Untuk itu perlu diciptakan terbentuknya kelas menengah. di hampir semua negara Amerika Latin misalnya. cara berpakaian. Di negara bekas jajahan Inggris. Pertama soal pendidikan. reboisasi. dll) ter-Spanyolkan. Saat Indonesia 3 . walaupun semula tujuannya memang diperuntukkan bagi orangorang Spanyol sendiri. dan perkreditan. Ciri kolonialisme Belanda berbeda dari ciri kolonialisme Inggris ataupun Spanyol. karena kolonialisme Belanda itu sifatnya ekstraktif. Pakistan. Semua itu berbeda dari apa yang terjadi di Indonesia. langsung atau tak langsung berkaitan dengan masalah agraria. Bahkan sengketa-sengketa agraria juga merebak di mana-mana. Malaysia). cara makan. Ciri Inggris adalah Commerce colonialism. Ciri Spanyol adalah kolonialisme total.

Sedangkan para Pamongpraja Belanda umumnya adalah penganut pemikiran neo-populis (murid-murid Prof.H. di sini belum ada universitas. Pada masa pendudukan Jepang. Di Keuangan. di Indonesia jumlah ”pakar agraria” menjadi sangat terbatas. Tetapi di Indonesia. Boeke). dan pemerintah Belanda lari ke Inggris. Gongrijp). Barulah tanggal 8 Maret 1942 Belanda di Indonesia menyerah kepada Jepang. pos-pos penting diduduki oleh pejabat-pejabat Belanda yang didominasi oleh pemikiran ekonomi neo-klasik (aliran Prof. Apa relevansi semua cerita ini bagi masalah agraria ? Berbeda dari berbagai negara bekas jajahan Inggris atau Spanyol. maka rakyat lalu menduduki tanah-tanah terlantar tersebut. Hukum). Negeri Belanda jatuh dan diduduki Jerman. Pemerintah pendudukan Jepang ternyata mentolerir bahkan mendorong tindakan rakyat tersebut. Yang ada hanya beberapa “Sekolah Tinggi” (Teknik. kenyataan ini telah 4 . barangkali dua saja soal penting yang perlu dicatat dalam hubungannya dengan soal agraria (walaupun tentu saja ada yang lain-lain). pemerintah kolonial Belanda masih ada karena Perang Pasifik belum pecah. Soal kedua adalah perkreditan.merdeka 1945. Dengan beban pajak yang tinggi tersebut di atas. akibat keterbelakangan pendidikan tersebut. Program perkreditan dalam Politik Etis tersebut dalam pelaksanaannya di pedesan mengalami hambatan karena terjadinya pertentangan paham antara Kementerian Keuangan dan Kementerian Tanah Jajahan. yaitu: (a) Petani dibebani pajak bumi sebesar 40% dari hasil produksinya. Sebelum Indonesia merdeka. hampir tidak ada pejuang (baik sipil maupun militer) yang mengangkat isyu agraria sebagai platform perjuangan (kecuali dua orang). (b) Perkebunan-perkebunan besar menjadi terlantar karena ditinggalkan oleh pemiliknya (Belanda maupun modal asing lainnya). J. Kedokteran. Secara sosiologis. (2) Masa Pendudukan Jepang (1942 – 1945) (Perang Dunia II) Tanggal 10 Mei 1940.

Panglima Tentara Sekutu di Asia. dan penggunaan tanah. melancarkan ”landreform” kecil-kecilan di daerah Banyumas. Jenderal Mac Arthur memerintahkan kepada Kaisar Jepang untuk segera melaksanakan “landreform” di Jepang. yaitu melalui UU no. yang dulu digusur oleh Belanda melalui UU Agraria kolonial 1870. Wakil Presiden Bung Hatta (sebagai seorang ekonom) telah menguraikan masalah ”ekonomi Indonesia dimasa depan”. hanya empat bulan setelah itu. 5 . Diantara berbagai petuah beliau yang penting di masa itu. dan berhasil. (3) Masa Awal Indonesia Merdeka (1945 – 1960) Belajar dari pengalaman sejarah tersebut di atas. perang dan damai silih berganti. dan (b) bagi bangsa Indonesia. yaitu bahwa (a) tanah-tanah perkebunan besar itu dahulunya adalah tanah rakyat. pada awal Agustus 1945 Perang Dunia II berakhir karena Jepang menyerah kepada tentara Sekutu. tanah jangan dijadikan komoditi komersial (istilahnya saat itu: barang dagangan yang semata-mata untuk mencari keuntungan).13/ 1946. penguasaan. melalui UU Darurat no. maka dapat ditarik pelajaran bahwa sistem ekonomi perkebunan besar ternyata menyengsarakan rayat. ada dua butir yang perlu disebut (yang dikemudian hari turut menjiwai isi dan semangat UUPA-1960). Baru sekitar setengah tahun Indonesia merdeka. belum ada satu tahun umur RI.menciptakan suatu collective perception diantara rakyat. Kemudian. di tahun 1948.13/1948. menghapus hak-hak istimewa dari sekitar 40 perkebunan tebu terutama di daerah istimewa Yogyakarta dan Surakarta. yaitu tanggal 9 Desember 1945. Lalu. Dua hal itulah yang merupakan landasan pemikiran para pendiri RI bahwa begitu merdeka. maka pusat perhatian utama di bidang sosial ekonomi haruslah diletakkan. Sementara itu. dalam suasana yang diliputi penuh ketegangan itu. Sementara itu pada tahun 1948 itu pula dibentuklah sebuah Panitia Negara yang bertugas mengembangkan pemikiran dalam rangka mempersiapkan Undang-Undang Agraria yang baru. Namun toh. terutama karena telah menggusur tanah-tanah luas yang semula menjadi garapan rakyat. pemerintah telah melakukan langkah percobaan. Kita semua tahu bahwa periode 1945 – 1950 dikenal sebagai masa revolusi fisik. bahwa seolah-olah mereka telah memperoleh kembali haknya atas tanah. pada perencanaan untuk ”menata-ulang” masalah pemilikan.

Namun atas saran Presiden Soekarno RUU ini digodog kembali oleh kerjasama DPR dengan Universitas Gajah Mada (UGM). dan Panitia Sunaryo. Namun karena adanya agresi Belanda (”Clash ke-II”. dan RI hanya menjadi “negara bagian”. Ada catatan kecil tapi penting untuk disebut. dan sistem pemerintahan parlementer. dan kepanitiaan agraria ini pun dua kali mengalami perubahan lagi (Panitia Suwahyo.Hasil kerjasama DPR – UGM itu kemudian diajukan ke DPR sebagai “Rancangan Sadjarwo”. Bp. sambil menunggu akan dilaksanakannya “reform” nanti. Namun dalam periode 1950 – 1960 itu. untuk menggantikan UU Agraria kolonial 1870. Sistem parlementer membuat Kabinat jatuh bangun dalam waktu singkat. sesungguhnyalah pemerintah menghadapi sebuah dilemma. Tanggal 24 September 1960 RUU ini disahkan oleh DPR dan ditetapkan sebagai UU no. Panitia Sunaryo akhirnya berhasil menyiapkan RUU yang siap untuk diajukan ke DPR. gagasan awalnya adalah bahwa obyek utama “reform” itu adalah tanah-tanah perkebunan dengan hak 6 . Indonesia kembali menjadi NKRI dengan Undang-Undang Dasar Sementar (UUDS-1950). Pada bulan Agustus 1950. Demikianlah proses panjang kelahiran UUPA-’60. Sarimin R. Desember 1948 – Agustus 1949) maka panitia dibubarkan. RIS ini tak berumur lama.) – dikenal sebagai Panitia Agraria Jakarta. 1956. Sampai dengan 1958 itu tentu saja landasan hukum yang dipakai rujukan adalah UUDS-1950.Undang-Undang nasional.5/1960 Tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (dikenal sebagai UUPA-1960). sedangkan sampai dengan 1950 itu situasi politik masih penuh gejolak dan landasan hukum untuk “reform” itu masih dalam proses pembentukan maka untuk sementara pemerintah RI melanjutkan kebijakan Jepang yaitu mentolerir rakyat menduduki tanah-tanah perkebunan terlantar. Di satu pihak. yaitu bahwa karena dari awal telah ada niat politik untuk melakukan “reform”. Kemudian. dengan terjadinya Dekrit 5 Juli 1959 (kembali ke UUD-1945) maka. Panitia Agraria Yogya (1948) kemudian dihidupkan kembali pada tahun 1951 dengan Ketua yang sama (alm. Dengan berbagai masukan dari panitia-panitia sebelumnya. Tapi kemudian. “legal drafting” nya pun secara teknis RUU Soenaryo itu pun mengalami perubahanperubahan. sebagai hasil perundingan Indonesia – Belanda melalui perjanjian KMB (Konperensi Meja Bundar). Tetapi. lahirlah Republik Indonesia Serikat (RIS). disamping substansinya. 1958).

yang membantu Jenderal Mac Arthur sewaktu melaksanakan landreform di Jepang. serta melalui UU no.Jabaran terpenting yang sudah dilakukan adalah ditetapkannya UU no. dan konfrontasi dengan Malaysia. maka konsentrasi pikiran pemerintah menjadi terpecah. dan tanah terlantar. Barangkali. Berbagai masalah yang dihadapi waktu itu. dan bukan lagi RIS sesuai KMB) tetap terikat oleh perjanjian KMB yang mengandung ketentuan bahwa rakyat harus dikeluarkan dari tanahtanah perkebunan milik modal swata Belanda itu. Karena UUPA-1960 itu baru berisi “peraturan dasar”. yang kemudian secara populer dikenal sebagai “UU Landreform”. Tetapi karena berbagai pergolakan. Tapi di lain pihak. Sadjarwo) melakukan konsultasi dengan seorang pakar dari Amerika Serikat. tindak-lanjut nasionalisasi perkebunan. adalah: sisa-sisa masalah penyelesaian pemberontakan PRRI/Permesta. Periode 1960 – 1965 (1) Semula periode ini direncanakan sebagai target masa pelaksanaan “reform” di bidang agraria. bekas tanah-tanah partikelir. perjuangan untuk kembalinya Irian Barat. antara lain. yaitu Dr. EKSISTENSI UUPA SELAMA 46 TAHUN A. maka hal itu sebagian besar belum sempat tergarap. Dia tiga kali datang di 7 (2) (3) . Tahun 1957 Indonesia membatalkan perjanjian KMB. Dia adalah bekas Atase Pertanian Amerika di Jepang. maka Menteri Agraria (alm. Karena kekurangan pakar agraria yang berpengalaman dalam hal “reform”. Namun karena kondisi seperti tersebut di atas. Wolf Ladejinsky. dilemma inilah salah satu sebab yang turut mempengaruhi mengapa proses perumusan UUPA tersebut menjadi begitu panjang (12 tahun).erfpacht. dan tahun 1958 menasionalisir perkebunan-perkebunan besar milik asing. Mr.56/1960 (yang semula dalam bentuk Peraturan Pemerintah Pengganti UU). pemerintah (sekalipun sudah kembali menjadi NKRI.1/1958 menghapuskan tanah-tanah partikelir. yaitu tentang “Penetapan Luas Tanah Pertanian”. maka masih banyak pasal-pasal yang sedianya akan dijabarkan lebih lanjut ke dalam peraturan ataupun undang-undang yang lebih operasional. II. tanah-tanah absentee.

224/1961 dianggap tidak konsisten dengan gagasan ideal awalnya). Satu contoh saja. (Barangkali. Beberapa konsepnya. Tetapi umumnya. (b) Kerangka. khususnya yang menyangkut program landreform. ada sisi positif dan negatif tentang UUPA-1960. Gagasannya revolusioner tapi pelembagaan pelaksanaannya rumit. inilah juga yang secara politis mendorong PKI melakukan aksi sepihak. sehingga pelaksanaan redistribusi menjadi sulit dan mengalami hambatan di lapangan. definisinya tidak jelas. dan rumusannya. dan terakhir di tahun 1963 selama tiga bulan meninjau pelaksanaan landreform di lapangan. Ada dua hal yang menurut saya merupakan kritik utama. format. yang menimbulkan trauma dan melahirkan stigma bahwa “landreform sama dengan PKI”). dan berapa jumlahnya.Indonesia. tidak nyambung (disjointed). “moderen”. Data tidak akurat. Yang positif: menurut dia: (a) UUPA-1960 merupakan produk hukum terbaik selama sejarah RI. orang yang berhak menerima redistribusi tanah (potential beneficiaries). siapa. (5) Sebenarnya terdapat sejumlah pakar asing lainnya yang melakukan penilaian terhadap UUPA-1960 beserta program landreform Indonesia. yaitu pertama di tahun 1961 (hanya 10 hari untuk mempelajari berbagai dokumen). Saran Ladejinsky: membentuk Panitia Landreform yang kerangka dan komposisinya meniru model di Jepang. antara gagasan dan tindakan pelaksanaan tidak konsisten. pandangan dari Patrick Mc Auslan (1986). Batas minimum 2 ha yang diberlakukan secara menyeluruh dianggap tidak realistis. Menurutnya. hal itu ditulis sesudah tahun 1965. Birokrasi di Indonesia berbelit-belit.Misalnya. (4) Ladejinsky memberikan kritik dan saran. dan berapa yang diperkirakan akan menjadi penerima nyata (real beneficiaries) ? Tanah-tanah apa saja yang akan menjadi obyek reform ? (PP. Kedua: model redistribusinya tidak sesuai dengan kondisi obyektif yang ada. (c) Jauh hari para perumus sudah memiliki kepekaan “gender”. 8 . Pertama: menurut dia.

adat. Kedua: disebut sebagai hambatan ilmiah. lingkungan. di Indonesia yang justru merupakan negara besar yang pada dasarnya agraris. Disamping adanya berbagai hambatan lainnya.(d) Mempunyai idealisme l’homme par l’homme” menghapuskan “l’exploitation de Yang negatif : (a) Dalam hal hukum. Hal ini berkaitan erat dengan hambatan pokok yang kedua. Pertama: hambatan hukum. menurutnya. ini suatu ironi. ekonomi. Berbeda dari negara berkembang lainnya. budaya. Slogan lama: “Berdaulat dalam politik. aparat hukum belum menguasai benar persoalan agraria. ekonomi yes !” Masyarkat terhanyut. yang dibahas selalu “hukum agraria”. (c) Belum diantisipasi kemungkinan akan terjadinya berbagai hambatan. maka antara 1965 – 1967 adalah masa peralhan kekuasan dari pemerintahan lama kepada pemerintahan Orde Baru. Bahkan juga hankam). Menurut Mac Auslan. dan politik. ada dua hambatan pokok dalam masalah agraria di Indonesia. Padahal agraria itu mencakup hampir semua aspek kehidupan (sosial. B. kaitan dan penempatannya dalam UUPA-1960 belum terlalu jelas. dilindas oleh slogan baru yang membahana: “Politik no. Baik di pusat maupun di daerah. dan berkepribadian dalam kebudayaan”. dan tak sadar bahwa slogan ini sendiri adalah politik ! 9 . (b) Program landreformnya juga dianggap belum terlalu jelas (mirip kritik Ladejinsky). berdikari di bidang ekonomi. Akibatnya setiap kali membahas agraria. Periode 1965 – 1998 (Masa Orde Baru) (1) Sudah kita ketahui bersama bahwa sebagai akibat peristiwa berdarah 1965. Kebijakan umum Orde Baru sama sekali berbeda dari kebijakan lama. jumlah ilmuwan agraria amat sangat terbatas.

melainkan justru ketumpang tindihan. yang terjadi bukannya penjernihan. (c) Di bidang agraria mengambil kebijakan jalan pintas (By-pass approach). Sementara itu karena beberapa UU sektoral sudah terlanjur berlaku sekian lama. pembangunan menggantungkan diri pada hutang luar negeri. Untuk sekitar 11 tahun lamanya UUPA-1960 dipersepsikan secara keliru. dan betting on the strong. Barulah di tahun 1978 keberadaan UUPA-1960 dikukuhkan kembali sebagai “produk nasional” (bukan produk PKI). UU Pokok Kehutanan. Disepakati bahwa setiap dua tahun sekali tiap negara akan melaporkan pelaksanaan Reforma 10 (3) (4) (5) (6) . Soemitro saat itu adalah Menristek). Hasil konperensi ini adalah sebuah dokumen yang di tahun 1981 diterbitkan oleh FAO dengan judul The Peasants’ Charter (Piagam Petani). Artinya. setelah adanya laporan hasil penelitian dari Panitia Soemitro Djojohadikoesoemo (alm.(2) Kebijakan Umum Orde Baru ditandai oleh sejumlah ciri. Terdapat kesan kuat bahwa di sana-sini terjadi rekayasa hukum dan manipulasi agar seolah-olah suatu kebijakan itu merujuk kepada UUPA-1960 namun pada hakekatnya demi kepentingan sektoral untuk memfasilitasi investasi asing. maka UUPA-1960 ibarat masuk “peties”. di Roma 1979. Dr. Prof. Dalam Konperensi Roma 1979 (tersebut di atas). (b) Di bidang sosial ekonomi. sebagai produk PKI. sekalipun tidak dicabut. Kembalinya perhatian atas keberadaan UUPA 1960 ini – barangkali – juga karena adanya undangan dari FAO untuk menghadiri Konperensi Sedunia tentang Reforma Agraria dan Pembangunan Pedesaan. UU Pokok Pertambangan). yaitu: (a) Stabilitas merupakan prioritas utama. modal asing. Dengan kebijakan demikian. (Stigma ini masih melekat di benak sebagian masyarkat kita sampai sekarang). maka ketika UUPA-1960 dikukuhkan kembali. Lahirlah di tahun 1967 tiga undang-undang yang mengabaikan ketentuan-ketentuan yang ada dalam UUPA-1960 (UU PMA. keberadaannya tidak dihiraukan. yaitu Revolusi Hijau tanpa Reforma Agraria. Indonesia mengirim delegasi besar.

Namun agaknya kenyataan ini tidak cukup membuka mata-hati para pemimpin bahwa masalah agraria adalah masalah mendasar. Di awal dekade 1990-an. Dimana-mana berlangsung seminar/lokakarya dengan spanduk besar-besar bertuliskan: “menyongsong globalisasi” (walaupun jika ditanya apa yang dimaksud dengan istilah “globalisasi”. sebagai tindak lanjut Konperensi Roma. yang hasilnya disertai sebuah rekomendasi kepada pemerintah Indonesia. meskipun semula dibantah sendiri oleh pimpinan Orde Baru). maka pemikiran globalisasi ekonomi menjadi arus dominan. Di tahun 1981 itu pula di Selabintana. saat itu banyak orang masih “bengong”). Bahkan. Apalagi setelah runtuhnya negaranegara sosialis. Penyimpangan ini dimulai dengan adanya berbagai paket deregulasi di akhir dekade 1980-an (Inilah indikasi pertama kecenderungan kebijakan liberal. Bahkan semakin terdapat kecenderungan untuk jauh menyimpang dari semangat UUD-1945 dan UUPA-1960. (7) Keberadaan Piagam Petani hasil pertemuan Roma. Tidak ada berita. Bahkan kecenderungan penyimpangan dari semangat UUPA-1960 semakin nyata ketika di pertengahan dekade 1990-an terlontar pernyataan dari seorang pejabat yang berwenang 11 (8) (9) . Sementara itu. meskipun di pertengahan dekade 1980-an itu Indonesia mencpai swasembaga pangan. kebanggaan yang berlebihan dari berhasilnya swasembada pangan di tahun 1984 telah membuat Orde Baru terlalu percaya diri bahwa tanpa Reforma Agraria (melalui “jalan pintas”) kita akan mampu memakmurkan rakyat. Sukabumi. apakah Indonesia memenuhi kesepakatan ini. dan rekomendasi Selabintana ternyata tidak mampu untuk mendorong pemeirntah Orde Baru untuk melakukan “reorientasi kebijakan”. Pasar bebas didewakan. Jawa Barat berlangsung lokakarya internasional dengan tema yang sama. Namun hal ini tetap tidak membuat Orde Baru menyadari apa yang sesunggunnya terjadi. Terbukti kemudian bahwa swasembada pangan tak berumur lama.Agraria dan Pembangunan Pedesaan. namun berbagai konflik sosial yang hakekatnya berlatar belakang masalah agraria telah merebak di mana-mana. slogan “globalisasi” mulai menggelora.

Tapi belum sempat panitia ini bekerja. dll. Selain sejumlah dokumen yang intinya adalah mendesak kepada pemerintah (dan DPR/MPR) agar segera menangani masalah (2) (3) (4) 12 .. Dalam masa kepresidenan Megawati. termasuk munculnya puluhan partai politik). keburu terjadi pergantian Presiden. Di jaman Presiden Abdurachman Wahid (Gus Dur). yaitu tahun 1997. SH. berbagai LSM. yaitu bahwa 40% dari tanahtanah perkebunan itu seharusnya diredistribusikan kepada rakyat. Habiebie sebenarnya ada niat meninjau kembali kebijakan landreform. Dr. Isyu agraria pun terangkat kembali ke permukaan oleh desakan berbagai organisasi tani/ nelayan serta berbagai LSM. ketika pemerintah belum juga menunjukkan kepastian sikap mengenai masalah agraria. Indonesia benar-benar mengalami krisis. Pernah dibentuk Panitia di bawah pimpinan Prof. Periode 1998 – 2006 (Posta Orde Baru) Tidak banyak yang perlu diuraikan di sini karena saya yakin kita semua sama-sama telah menyaksikan berbagai kejadian yang berlangsung dalam periode ini. Terbukti kemudian bahwa tanpa diduga oleh GWR sendiri. terlontar pernyataannya yang menggemparkan. serikat buruh. Karena itulah maka di tahun 1996. dan juga KOMNAS HAM sebagai salah satu pemrakarsanya. Euphoria kebebasan sebagai akibat lengsernya Orde Baru telah melahirkan berbagai organisasi rakyat (serikat tani dan nelayan. Gunawan Wiradi (GWR) menulis di suatu jurnal. yang memberi “warning“ bahwa jika kebijakan itu diteruskan maka Indonesia akan mengalami krisis.bahwa “tanah sebagai komoditi strategis” (bertentangan dengan fatwa Bung Hatta tersebut di depan). Beberapa saja yang barangkali perlu dicatat. hanya satu tahun setelah terbitnya tulisan tersebut. maka pada masa kepresidenan B. C. (1) Setelah lengsernya Presiden Soeharto. Muladi.J.maka dapat dicatat berlangsungnya beberapa kejadian sebagai berikut: (a) Bulan April 2001 berlangsung Konperensi nasional petani yang dihadiri oleh berbagai organisasi tani.

agar mengambil langkah tindak lanjutnya. (d) Sementara itu pada masa akhir jabatannya Presiden Megawati mengeluarkan Keppres no.000 orang anggota Serikat Petani Pasundan. baik kepada Presiden maupun kepada DPR. bagaimana pun juga.34/2004 yang isinya memberi mandat kepada Badan Pertanahan Nasional (BPN) untuk melakukan penyusunan RUU mengenai “penyempurnaan” UUPA-1960. Dengan adanya pergantian Presiden. (b) Menyadari kerasnya desakan rakyat saat itu.agraria. Ketika sampai dengan tahun 2003 ternyata tak ada tanda-tanda tanggapan baik dari DPR maupun dari Presiden. Tetapi.Maka BP MPR bidang agraria kemudian melakukan berbagai dialog dengan berbagai organisasi tani dan LSM. Bahkan TAP seperti yang ada sekarang itupun mungkin tak akan lahir seandainya saja tak ada dukungan pressure group berupa demo sekitar12. belum sempat konsep ini direalisir. September/Oktober 2001. Tanggapan Presiden adalah postiif. maka sebagian anggota MPR (hasil Pemilu 1999) cukup tanggap. (c) Isi TAP MRP No. sekali lagi. harus diterima kenyataan bahwa itulah hasil maksimal yang bisa dicapai sebagai hasil kompromi dari pertarungan berbagai kepentingan. masalah ini pun sampai sekarang belum selesai. Namun. 13 . maka Komnas Ham bersama sejumlah LSM dan organisasi tani mengambil prakarsa lain.IX/2001 itu pada dasarnya merupakan semacam “perintah“. isi TAP ini memang ambigu. belum ada tanda-tanda bahwa masalah keagrariaan (yang memang sudah menjadi sangat kompleks) akan teratasi dalam waktu dekat. (5) Dalam masa kepresiden SBY yang baru berumur satu setengah tahun ini. Hasilnya adalah lahirnya TAP-MPR no. Dilihat dari semangat UUPA-1960. konperensi ini juga melahirkan “Deklarasi tentang HakHak Asasi Petani”. yaitu menyusun usulan kepada Presiden Megawati agar membentuk KNUPKA (Komite Nasional Untuk Penanggulangan Konflik Agraria).IX/2001 tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumberdaya Alam. keburu terjadi pergantian Presiden. yang dilanjutkan dengan penyelenggaraan dua kali lokakarya besar di Bandung.

yang sejak sekarang ini sudah menjadi wacana pembahasan di sejumlah kalangan. dll). namun menurut saya. belum pernah SBY menyatakan sikap yang jelas mengenai hal ini. tanggal 7 – 10 Maret 2006. Isyu-isyu Aktual Disamping sejumlah banyak isyu-isyu lainnya (masalah korupsi. Indonesia telah mengirim delegasi untuk menghadiri ICARRD (International Conference on Agrarian Reform and Rural Development) di Porto Alegre. dalam waktu dekat ke depan ini ada sejumlah isyu aktual yang berkaitan dengan masalah agraria. III. namun setelah terpilih sampai sekarang. soal buruh. Sepanjang yang saya ketahui. 14 (2) . infrastruktur) yang (b) (c) (d) Terakhir baru-baru ini keluar Perpres no.10/2006 mengenai penataan ulang secara internal kelembagaan BPN. Keluar Perpres no. soal pendidikan. Namun ternyata tidak ada arahan yang jelas dari pimpinan nasional. ada beberapa hal saja yang bisa dicatat. Disamping ketiga hal tersebut. misi apa yang harus diemban oleh delegasi ini. Masalah kebijkan “Revitalisasi Pertanian” yang walaupun memang sudah mengandung pikiran-pikiran baru dalam masalah tanah. Brazil. MENCOBA MELIHAT KE DEPAN A. Untuk sekedar menyebut beberapa saja: (1) Isyu yang seolah menjadi reda (entah apa sebabnya) adalah masalah Perpres 36/2005 yang menyangkut pembebasan tanah dalam rangka program pembangunan infrastruktur. perlu dicatat juga bahwa pada bulan Maret 2006 yang baru saja lalu.Meskipun sewaktu masih dalam masa kampanye Pemilu – Presiden memang tertera agenda Reform Agraria. (a) Mandat kepada BPN untuk melakukan “penyempurnaan” UUPA1960 masih tetap berlaku.36/2005 (tentang mengundang berbagai reaksi masyarakat. belum mengandung nuansa Reforma Agraria. dan proses penyempurnaan itu masih tetap berlangsung.

barangkali terlalu berat bagi DPR jika hanya diberi waktu tahun 2006 ini. Dengan demikian hasil amandemen itu menjadi tidak efektif. Karena itu. menurut istilah pengamat tersebut di atas UUD 2002 itu “cacat hukum”. (5) Demikianlah. artinya tak dapat dijalankan. jika hal itu dilakukan tanpa meninjau ulang produk-produk hukum lainnya tersebut di atas. pengairan. memang produk-produk sesudahnya itu. “Last but not least”. sedikit banyak juga dilatar belakangi oleh pertentangan kepentingan dalam masalah agraria. Contoh konkrit perilaku politik yang kontroversial itu adalah yang akhir-akhir ini rame-rame (termasuk reaksi masyarakat luas) mengenai hubungan Indonesia – Australia menyangkut masalah 42 orang Papua yang memperoleh suaka politik di Australia. karena akan terbenturbentur kepada kondisi hukum yang ada (sudah terlanjur ada lebih dulu UU sektoral: perkebunan. Sebenarnya ini masalah berat. merujuk kepada UUD 2002 (hasil amandemen UUD 1945). Padahal.(3) Masalah “penyempurnaan UUPA-1960” yang sampai sekarang masih dalam proses. jika dipaksakan DPR untuk mengagendakan menuntaskan masalah UUPA ini dalam tahun 2006 (sesuai rencana). dengan dalih “hak-hak asasi manusia”. (4) Masalah agraria dalam kaitannya dengan pelaksanaan UU Otonomi Daerah(Otoda). karena memang. dll. maka perkiraan saya. Berbagai kasus konflik di bidang politik dalam pelaksanaan Otoda ini. dan yang lebih mendasar lagi adanya ketentuan dalam amandemen UUD-1945 yang amat merisaukan). di masa depan akan terjadi kerumitan hukum yang lebih parah. terdapat ayat yang menjamin larinya orang mencari suaka politik 15 . jika harus melakukan pembongkaran terhadap semua UU yang sudah terlanjur disahkan itu. semua itu kait mengkait satu sama lain. Inilah dilema yang dihadapi. Yang lebih memerlukan perhatian lagi adalah apa yang oleh seorang pengamat disebut sebagai “krisis konstitusi“ ! Artinya. dalam UUD hasil amandemen itu. karena memang mengandung sejumlah kejanggalan. isyu mengenai bagaimana pandangan dan sikap pemerintah di dalam menanggapi hasil-hasil ICARRD Porto Alegre Brazil tersebut di atas (yang sampai sekarang belum jelas). Sebaliknya. Namun perilaku politik kita ternyata ada yang bertentangan dengan hasil amandemen. kehutanan. UUD yang mana sebenarnya yang diterima untuk menjadi rujukan? Secara legalistik.

Artiya. Ulasan Umum Sebagai Penutup Dalam kondisi seperti sekarang ini. malahan semakin rumit. Antara lain: (1) (2) Mengapa kita mengalami krisis? Dahulu. maka menurut saya. (3) (4) Mengapa kita seolah-olah kehilangan kepercayaan diri ? Mengapa kita seolah-olah justru bangga berperan sebagai “bangsa koelie”? Mengapa kita seolah-olah enggan untuk mengatasi masalah agraria secara mendasar ? 16 . Ada juga baiknya kita mencatat situasi yang lebih luas dan lebih makro. Para pendiri RI mengambil kebijakan “mendayung diantara dua karang” (istilah Bung Hatta). Mengapa kita begitu “malas” untuk berusaha mengidentifikasi kemungkinan adanya batu karang lain yang bisa menjadi pegangan ?]. ayat-2). maka seolah-olah tinggal ada satusatunya batu karang yang harus menjadi pegangan. di satu sisi terjadi perubahanperubahan cepat dalam percaturan politik dunia. pada awal kemerdekaan. Dalam kondisi demikian itu.di negeri lain (Pasal 28 G. yang paling mendasar lebih dulu. dengan selesainya perang dingin. dunia sedang diliputi suasana “Perang Dingin”. di sisi lain di dalam negeri terjadi dinamika politik yang masih berputar-putar. kita mengambil sikap “Non-Blok”. usaha untuk melihat ke depan perlu dimulai dengan melemparkan sejumlah pertanyaan. Apakah kita masih konsisten dengan sikap ini? [Memang. Di satu sisi terjadi disintegrasi di sejumlah negara (runtuhnya Uni Soviet. terpecah-pecahnya Yugoslavia – Balkanisasi). di sisi lain terjadi penggabungan sejumlah negara (Uni Eropa). sekedar menambah wawasan. B. Dalam dua dekade terakhir ini situasi dunia mengalami apa yang oleh seorang pakar disebut sebagai “global paradox”. Sementara itu kondisi di dalam negeri masih tetap carut-marut. Krisis multidimensi bukannya mereda. sungguh tidak mudah untuk melihat apa yang akan terjadi di masa depan serta apa yang harus kita sikapi dan lakukan. Pada aras makro.

atau menjadi bahan diskusi kita sekarang ini. apa soal penyempurnaan UUPA-1960. edisi 16). maka langkah apapun yang akan diambil di masa depan ini (apakah soal revitalisasi pertanian. Hasil amandemen itu menunjukkan bahwa para perumusnya kurang memahami sejarah dan mungkin tidak pernah membaca dan mendalami latar belakang serta landasan filosori UUPA-1960. masalah konstitusi ini harus segera diatasi lebih dulu.5 tersebut di atas. dan menambah rumitnya keadaan. Lengkaplah sudah semua dimensi. Tetapi untuk sementara. dan menyatu menjadi “kristal“ (krisis total !). ternyata justru menambah luasnya dimensi krisis ? Mengapa kita sekarang ini terkesan berada di tepi jurang disintegrasi ? (6) Daftar pertanyaan tersebut memang bisa diperpanjang. (Tapi daftar bahan dilampirkan di belakang). baca tulisan GWR dalam tabloid Cita-Cita. (Untuk uraian yang lebih lengkap. ahli hukum. dan tanpa rujukan langsung secara ketat seperti yang biasa saya lakukan. Demikianlah. atau bahkan berbagai soal lain di luar agraria). cukup terkenal. termasuk berbagai pertanyaan ikutannya. sebagai penutup.(5) Mengapa gambaran “era reformasi” yang semula diharapkan sebagai solusi mengatasi krisis ekonomi. semuanya akan menjadi kebenturbentur secara hukum. Pihak eksekutif pun menjadi canggung untuk melangkah karena hal itu. Di sini saya hanya akan menjawab satu pertanyaan saja. Tanpa penyelesaian tuntas mengenai masalah ini. Menurut dia. krisis konstitusi. yang menyatakan bahwa sekarang ini kita sedang mengalami krisis konstitusional. tapi tak perlu saya sebut namanya). 17 . Saya sependapat dengan pandangan seorang pengamat (orang Indonesia. yaitu pertanyaan no. karena berbagai sebab makalah ini ditulis dengan “mengalir” begitu saja. inilah muara dari seluruh dimensi krisis yang kita alami. enam pertanyaan itu rasanya cukup sebagai PR kita (karena mungkin jawabannya yang tepat masih harus dicari). berupa hasil amandemen UUD-1945. saya mohon maaf sebesar-besarnya. Karena itu semua maka di dalam melihat ke depan. menurut pendapat saya. baik secara prosedural maupun substansial hasil amandemen tersebut “cacat hukum“ ! Nah. apakah masalah Reforma Agraria.

1986. London dan New Jersey: Zed Books Ltd. “Land Reform in Indonesia” (1964). Iman.) Agrarian Reform as Unfinished Business. Pengusaha Agraria Melawan Petani. Agrarian Reform and Conflict Worldwide. Ressell. 1977.(1961). Sengketa Agraria. Tanah Perkotaan dan Perlindungan Rakyat Jelata. D.. Jakarta: Yayasan Pembangunan (1953). Selo Soemardjan (1962). 18 . Soetojo. Boulder. W. 1962. Oxford University Press. “Land Reform in Indonesia” (1961). Colorado: Westview Press. Land Reform. Sinar Harapan. mudahmudahan makalah ini ada gunanya. Undang-Undang Pokok Agraria dan Pelaksanaan Land Reform. Pelzer. I. The Unpromised Land.J. Sendi-Sendi Hukum Tanah di Indonesia (cetakan ketiga). Proses Terjadinya UUPA. dalam Walinsky. Nationalism. M. The Peasants’ Charter. dalam Asian Survey. King.J. Jakarta. dalam Walinsky. hlm. 1977. Mac Auslan.340-352.Karl. Ladejinsky. 1991.) Agrarian Reform as Unfinished Business.12.Walaupun isinya mungkin kurang memenuhi harapan Panitia. Praptodihardjo. Shigeru Sato (1994). L. 1977. Ladejinsky. A World Survey. 1961. 1981.23-30. Singgih. Jakarta: Gramedia. Unwyn Pty. D:\data\data\GWR\Latar Belakang Lahirnya UUPA-4-5-06 DAFTAR PUSTAKA Christodoulou. Penguasa Perang Tertinggi. Soetiknyo. L. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.1990. (Ed. FAO. Rome: FAO. War. hlm. Ltd.297-299. and Peasants. W. NSW-Australia. Jakarta. hlm. Oxford University Press. (Ed. no. P. Java Under The Japanese Occupation 1942 – 1945. 1987. “Land Reform in Indonesia”.

dan Pustaka Pelajar. Gunawan. Gunawan (2005): Reforma Agraria: Untuk Pemula. Wiradi. Wiradi. Makalah dalam Seminar Nasional Pertanahan. 1994. PAU-Studi Sosial. Bandar Lampung. 19 . Wiradi. “Kebijakan Agraria/Pertanahan yang Berorientasi Kerakyatan dan Berkeadilan. 25-26 Februari 1999. Yogyakarta: Insist Press. Yayasan Akatiga. Wiradi. UGM. Wiradi. Bandung. Gunawan. Perjalanan Yang Belum Berakhir. Dalam Rangka Lustrum Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional. Yogyakarta. “Reforma Agraria dan Pembangunan Pedesaan”. Reforma Agraria. Yogyakarta. Endang. Septermber 1998. Makalah. 1990.Suhendar. Pemetaan Pola-Pola Sengketa Tanah di Jawa Barat. Makalah Seminar Agraria Nasional FSPI. KPA. Gunawan (2000). “Reforma Agraria Dalam Perspektif Transisi Agraris”. Jakarta: Sekretariat Bina Desa. Gunawan.

D:\data\data\GWR\Latar Belakang Lahirnya UUPA-4-5-06 20 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful