BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Pada hakikatnya pembangunan bertujuan untuk meningkatkan kemakmuran dan menciptakan keanekaragaman kegiatan di bidang

perindustrian, di bidang jasa-jasa dan pariwisata, serta sektor lainnya. Itulah sebabnya pemerintah berusaha mengadakan diversifikasi kegiatan

perekonomian di Indonesia, dan industri pariwisata adalah merupakan rangkaian dari berbagai macam bidang usaha yang secara bersama-sama menghasilkan produk-produk maupun jasa-jasa baik langsung maupun tidak langsung akan di butuhkan oleh wisatawan selama perjalanannya (R.S. Damadjati 1973 : 76) kutipan Bakaruddin (2008 : 146). Industri pariwisata di Indonesia sangat menjanjikan karena di dukung oleh potensi wisata yang boleh di bilang merata di semua bahagian kepulauan Indonesia. Hal ini dapat di lihat dari banyaknya daerah tujuan wisata yang tersebar di seluruh nusantara mulai dari Sabang sampai Merauke. Indonesia dengan kekayaan alam yang melimpah dengan

pemandangan alamnya yang indah, nyaman, lingkungan hidup yang segar, dan kebudayaan yang beraneka ragam merupakan sumber potensi bagi pengembangan pariwisata di Indonesia (Rahmadi, 1983).

2

Pengembangan pariwisata perlu sekali di lakukan guna mendukung keberhasilan pembangunan, tidak hanya pembangunan di bidang ekonomi, sosial politik, teknologi, tetapi juga terkait dengan industri pariwisata. Jika 1 industri pariwisata ini berkembang dengan maksimal, Indonesia bisa mengurangi ketergantungan terhadap industri migas. Tap MPR no 11/MPR/1998 menegaskan bahwa pembangunan pariwisata merupakan bagian dari pembangunan nasional dan terkait dalam sektor lain. Hal ini berarti keberhasilan pembangunan pariwisata turut mendukung pembangunan nasional. Pembangunan pariwisata merupakan bagian dari pembangunan nasional yang terkait dengan sektor-sektor lainnya. Pembangunan pariwisata adalah suatu hal yang sangat penting artinya bagi kemajuan. Daerah juga memperkenalkan kebudayaan daerah yang tentu memerlukan suatu

pengelolaan yang sungguh-sungguh agar tujuan yang diharapkan dapat tercapai dengan baik. Pembangunan pariwisata ini telah banyak membawa kemajuan bagi kehidupan manusia di daerah yang bersangkutan, terutama dalam hal penambahan pendapatan daerah dan meningkatkan kesejahteraan bagi rakyat daerah tujuan wisata tersebut. Bakaruddin (2008 : 17) mengemukakan bahwa pariwisata adalah suatu perjalanan yang di lakukan oleh seseorang maupun berkelompok untuk sementara waktu, dari suatu tempat ke tempat lain, dengan maksud bukan untuk berusaha dan mencari nafkah di tempat yang di kunjungi, akan tetapi

3

semata-mata untuk menikmati perjalanan tersebut guna pertamasyaan dan rekreasi atau untuk memenuhi keinginan yang beraneka ragam. Perkembangan pariwisata yang begitu pesat dapat memberikan masukan bagi masyarakat, daerah, dan negara, sehingga menjadi faktor penting dalam pembangunan. Untuk itu, kepariwisataan perlu dikembangkan pada masa sekarang dan masa yang akan datang sebagai pariwisata yang potensial. Pertumbuhan kepariwisataan nasional dan komitmen pemerintah dalam otonomi daerah telah disahkan melalui UU No. 22 Tahun 1999 tentang pemerintahan daerah dan UU No. 25 Tahun 1999 antara pemerintah pusat dan daerah untuk menyelenggarakan pengembangan kepariwisataan daerah. Pelaksanaan otonomi daerah telah menjadikan Dharmasraya menjadi kebupaten baru, yang berhak mengatur rumah tangganya sendiri secara terarah dan terpadu. Dharmasraya merupakan kabupaten yang mempunyai

kesempatan untuk mengembangkan sektor pariwisata yang potensial. Hal ini di sebabkan Dharmasraya mempunyai objek wisata yang sangat menarik dan memiliki nilai budaya serta sejarah tinggi yaitu objek wisata yang berbentuk candi sebagai peninggalan kerajaan Melayupura. Berdasarkan data sejarah baik dari naskah kuno maupun sumber prasasti menyebutkan bahwa Dharmasraya merupakan pusat kerajaan Melayupura pada abad 11 – 14 M. Objek wisata peninggalan kerajaan Melayupura terdiri dari candi Pulau Sawah, Candi Rambahan, candi Padang Roco, dan candi Maombiak. Objek wisata potensial ini terbentang di

Kegunaannya bagi wisatawan memudahkan untuk merekan datang ke objek wisata yang mereka hendak kunjungi. Bagi pemerintah yaitu untuk memudahkan dalam prospek perencanaan pengembangan objek wisata ke depannya. Peninggalan sejarah tersebut menunjukkan bahwa objek wisata mempunyai nilai sejarah tinggi. Penginventarisasian segala potensi yang ada di masing-masing objek wisata seperti aksesibilitas untuk sampai di daerah tujuan wisata (DTW). dan makam raja-raja Siguntur. Objek wisata budaya di Dharmasraya bila di kembangkan dengan perencanaan dan pengelolaan yang matang serta optimal. Di lokasi permukiman penduduk Siguntur (permukiman yang sekarang) bisa di temukan adaya rumah gadang yang pertama di Siguntur. akomodasi serta sarana dan prasarana perlu di inventarisasikan secara tertulis. . mesjid yang pertama. Peninggalan ini merupakan potensi bagi objek wisata Pulau Sawah sebagai daya tarik wisatawan untuk mengunjungi objek wisata Pulau Sawah (Marhasnida: 2007). namun mempunyai hubungan yang saling berkaitan satu sama lain yang berpusat di candi Pulau Sawah kenagarian Siguntur.4 sepanjang sungai Batang Hari dengan tempat terpisah. maka objek wisata tersebut akan mampu menjadi objek wisata potensial yang bisa mengundang banyak wisatawan bukan saja wisatawan domestik tetapi juga wisatawan asing. karena sarana dan prasarana yang tersedia sangat penting bagi pengunjung.

Fokus penelitian Sesuai dengan pentingnya masalah yang dikemukakan di atas. C. Tujuan Penelitian Berdasarkan fokus penelitian di atas.5 Bardasarkan latar belakang di atas penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian yang bejudul “Inventarisasi Objek Wisata Budaya di Kabupaten Dharmasraya” B. Tujuan Dan Manfaat Penelitian 1. . Pentingnya Masalah Berdasarkan uraian di atas. D. agar penelitian ini lebih terfokus maka batasan masalah penelitian ini adalah: Mengkaji tentang Inventarisasi objek wisata budaya di Kabupaten Dharmasraya. maka fokus penelitian yang di ajukan adalah : Bagaimana Inventarisasi objek wisata budaya di Kabupaten Dharmasraya ?. tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui inventarisasi objek wisata budaya yang ada di Kabupaten Dharmasraya.

Manfaat Penelitian a. pengetahuan tentang inventarisasi objek wisata budaya khususnya yang ada di Kabupaten Dharmasraya. Bagi penulis dapat menambah wawasan. c. Sebagai bahan pertimbangan bagi pemerintah dalam upaya pelestarian objek wisata budaya yang ada di Kabupaten Dharmasraya. Berguna bagi penulis sebagai syarat menyelesaikan program S1 pada jurusan Geografi FIS-UNP. .6 2. b.

Bakaruddin (2008 : 17) memberikan pengertian pariwisata adalah suatu perjalanan yang dilakukan oleh seseorang maupun kelompok sementara waktu.7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. 24 tahun 1979 kepariwisataan adalah keseluruhan kegiatan pemerintah. Menurut peraturan pemerintah No. 7 . Kajian Teoritis 1. Kurt Morgenroth kutipan Bakaruddin (2008 : 16). Kepariwisataan dalam artian sempit ialah lalu lintas orang-orang yang meninggalkan tempat kediaman untuk sementara waktu. Kepariwisataan Kata-kata pariwisata sudah sangat akrab di telinga masyarakat namun demikian tidak semua orang yang memahami betul arti penting pariwisata bagi kemajuan daerah dan juga kemajuan dibidang ekonomi. akan tetapi semata-mata untuk menikmati perjalanan tersebut guna pertamasyaan dan rekreasi atau untuk memenuhi keinginan yang beraneka ragam. dari suatu tempat ketempat lain dengan bukan untuk mencari nafkah ditempat yang dikunjungi. untuk berpesiar di tempat lain semata-mata sebagai konsumen dari sebuah hasil perekonomian dan kebudayaan. guna memenuhi kebutuhan hidup dan budaya atau keinginan yang beraneka ragam dari pribadinya. dunia usaha dan masyarakat yang ditujukan untuk kebutuhan perjalanan dan persinggahan wisatawan.

adanya pendiaman dan bergeraknya orang-orang asing keluar masuk suatu kota. Lubuk Nazif yang di kutip Bakaruddin (2008:106-107) memaparkan bahwa tujuan pembangunan pariwisata daerah adalah untuk mewujudkan propinsi sebagai daerah tujuan wisata yang kompetitif / memiliki daya saing. serta upaya pembangunan yang dilakukan dapat memperbesar pendapatan asli daerah (PAD). 9 tahun 1992 aspek kultural dan sosial UU kepariwisataan menyatakan antara lain bahwa penyelenggaraan kepariwisataan harus memperhatikan nilai-nilai dan norma agama. tetapi pengelolaannya harus tetap dan baik karena rentan terhadap segala perubahan sosial-politik yang terjadi di masyarakat dan dunia khususnya untuk pariwisata internasional. . adat istiadat. Menurut Hermann V. serta memperkenalkan kekayaan alam dan budaya baik kepada wisatawan manca negara. serta pandangan dan nilai hidup yang ada dalam masyarakat dan diarahkan untuk menjamin kelestarian dalam memperkuat jati diri bangsa. pendapatan masyarakat. daerah atau negara. Yoeti (1996:114) Kepariwisataan adalah sejumlah kegiatan terutama yang ada kaitannya dengan kegiatan perekonomian yang secara langsung berhubungan dengan masuknya. Schulalard yang di kutip A. wisatawan nusantara maupun penduduk lokal.8 Dalam UU kepariwisataan No. devisa nasional. Pariwisata merupakan lahan dan sumber pendapatan yang sangat potensial.

Objek Wisata Budaya Objek wisata adalah sesuatu yang dapat dilihat. 1989) kutipan Al Ansori (2004). 24 tahun 1979 tanggal 3 Agustus 1979. RI No. Dalam literatur kepariwisataan luar negeri objek wisata dikenal dengan istilah “Tourist Attraction” yaitu segala sesuatu yang menjadi daya tarik bagi orang untuk mengunjungi suatu daerah tertentu. dinikmati dan menimbulkan kesan tersendiri di dukung oleh sarana dan prasarana. Bakaruddin (2008: 30-31) menyatakan bahwa objek wisata merupakan segala sesuatu yang dapat dilihat dinikmati dan menimbulkan kesan tersendiri pada diri seseorang apabila didukung oleh sarana dan . Sehubungan dengan hal tersebut maka objek wisata harus mempunyai unsur-unsur sapta pesonanya (Sujana. adalah suatu tempat perwujudan dari ciptaan manusia. Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa wisatawan sangat mengharapkan objek wisata yang tujuannya bisa memuaskan wisatawan yang mengunjungi objek wisata tersebut. 1989) kutipan Al Ansori 2004. hasil budaya. Sedangkan yang di maksud dengan objek wisata budaya menurut PP. dan yang merupakan kegiatan (Wardaniyanta 2006:52). seni dan budaya serta sejarah bangsa dan tempat yang mempunyai daya tarik untuk di kunjungi wisatawan (Sujana.9 2. hal yang dimaksud dapat yang berasal dari alam. Objek wisata adalah sesuatu yang menjadi pusat daya tarik wisatawan dan dapat memberikan kepuasan pada wisatawan. tata hidup.

c. Revi (1998) menyatakan perlunya pengembangan pariwisata atau objek wisata sebagai berikut : . danau dan keindahan / keunikan alam lainnya. kesenian dan tata cara budaya rakyat tertentu. Objek wisata budaya ialah objek wisata yang mengandung unsurunsur budaya seperti peninggalan sejarah. 3. Alam budaya/artifisial ialah objek wisata alam yang telah dimodivikasi oleh kreativitas tangan manusia agar dapat lebih menarik lagi seperti Taman Safari. hasil dari perkembangan atau hasil perubahan yang terjadi atas suatu objek. cara atau hasil kerja. Objek wisata alam ialah objek wisata yang benar-benar belum di bentuk oleh kreativitas tangan manusia misalnya pemandangan alam. Revi (1998) adalah prihal perkembangan. Taman Raya Hutan Bung Hatta. air terjun. Menurut Bakaruddin objek wisata itu berdasarkan sifatnya digolongkan atas tiga bagian yaitu : a. A. Pengembangan Objek Wisata Perkembangan menurut kamus besar bahasa Indonesia (1997) kutipan Anwar.10 prasarana yang memadai. Secara umum pengembangan objek wisata diartikan sebagai usaha untuk mendorong perubahan atau pengembangan kepariwisataan dengan tujuan memperoleh keuntungan dan manfaat yang lebih baik. Menurut kamus bahasa Indonesia pengembangan diartikan sebagai hal. Yoeti (1997) kutipan Anwar. b.

memperkenalkan dan mendayagunakan keindahan alam dan kebudayaan Indonesia dan meningkatkan persaudaraan nasional maupun internasional. Pengembangan pariwisata pada suatu daerah tujuan wisata selalu diperhitungkan keuntungan dan manfaat bagi rakyat banyak. Memelihara kebudayaan-kebudayaan bangsa serta pengaturan tata lingkungan sekitar objek b. Instruksi Presiden No. Pengembangan wisata lebih banyak bersifat non ekonomis sebab motivasi utama wisatawan mengunjungi suatu kawasan objek wisata adalah untuk menyaksikan dan melihat keindahan alam daerah yang dikunjunginya. c. 9 tahun 1969 membentuk badan pengembangan pariwisata yang mana tujuannya untuk meningkatkan devisa dan kesempatan kerja mendorong kegiatan-kegiatan industri pariwisata. Mengadakan Upgrading / seminar-seminar dan rehabilitasi dengan mempertimbangkan skala prioritas dari objek-objek . Dalam Repelita I di susunlah beberapa kebijaksanaan pokok tentang pengembangan pariwisata yaitu : a. b. Untuk menghilangkan kepicikan berpikir. mengurangi salah pengertian dan dapat mengetahui tingkah laku wisatawan yang datang berkunjung terutama bagi masyarakat di daerah tujuan wisata bersangkutan.11 a.

Menyelenggarakan suatu pemasaran kepariwisataan yang terkoordinir dan sistematis serta terarah d. meningkatkan pendapatan masyarakat dan membuka kesempatan bagi wisatawan domestik mengenal tanah air sendiri. Pada Pelita II pengembangan pariwisata diarahkan pada : a. Langkah-langkah yang dikerjakan berupa menyusun pola induk pengembangan di daerah tujuan wisata (DTW) Dalam pengembangan objek wisata tersebut sangat ditentukan oleh kemampuan pihak-pihak pengelola wisata daerah yang bersangkutan. Melakukan penelitian-penelitian tentang permasalahan kepariwisataan dalam prospek pengembangan kepariwisataan kedepan f. Tujuan sebagai sasaran utama diupayakan untuk memperkenalkan kebudayaan bangsa. c. Pembinaan dan pengaturan kelembagaan-kelembagaan kepariwisataan. Tekanan yaitu diarahkan pada pembinaan kelembagaan dan organisasi kepariwisataan dan pengembangan sarana prasarana objek wisata. Dengan kata lain berhasil atau tidaknya suatu daerah dikembangkan . b. Meberikan bimbingan atau pembinaan dan juga pengawasan terhadap tenaga-tenaga di daerah pada setiap objek wisata e.12 c. menikmati keindahan alam dan mengenalkan kepribadian Indonesia.

Dalam hal ini peranan pengelola dan masyarakat sangatlah penting. Di samping itu. Pengertian masyarakat disini mencakup tiga komponen yaitu : a. Yoeti. Dari pendapat yang telah dikemukakan di atas dapat diketahui bahwa perlu adanya keterpaduan dan kerjasama yang baik antara unsur kepariwisataan dalam upaya pengembangan objek wisata. Komponen masyarakat. Berdasarkan uraian-uraian yang telah dikemukan di atas. sebagai pemilik wilayah dan pendukung serta pelaku budaya setempat berusaha mengupayakan melestarikan wilayah dan kehidupan di alam budayanya agar tidak tercemar. jika objek wisata ini tidak dikembangkan sebagaimana mestinya dikhawatirkan objek wisata ini akan kalah bersaing dengan daerah tujuan wisata lain dan pada akhirnya . Komponen pemerintah. c. Komponen penyelenggara yaitu dengan berusaha untuk dapat terselenggara dengan lancar dan dapat memberikan keuntungan sebesar mungkin dari kegiatan pariwisata. maka dalam upaya menarik minat wisatawan untuk mengunjungi kawasan objek wisata budaya di Dharmasraya diperlukan suatu pengembangan terhadap objek wisata tersebut.13 menjadi daerah tujuan wisata ditentukan oleh pihak pengelola dan sikap masyarakat (A. dimana adanya suatu usaha untuk mampu meningkatkan sumber dana dan menciptakan lapangan kerja yang seluas-luasnya bagi seluruh warga. 1996). b.

Beberapa faktor yang sangat menentukan bagi perkembangan pariwisata yaitu : a. Adanya daya tarik daerah tujuan wisata e. Adanya sarana akomodasi dan catering d. Terjaminnya keamanan daerah tujuan wisata g. 1984/1985. Sarana transportasi dan akomodasi c. Tersedianya unsur-unsur pelayanan yang memadai termasuk bahan dan sarana transpotasi Partisifasi masyarakat dalam pembangunan kepariwisataan perlu di tingkatkan melalui usaha penyuluhan dan pembinaan kelompok-kelompok seni budaya. padahal daerah ini mempunyai prospek yang bagus dalam kegiatan kepariwisataan. industri kerajinan dan usaha-usaha lainya guna memelihara. Adanya kebebasan untuk bergerak dalam artian melakukan perjalanan b. memperkenalkan dan mengembangkan kebudayaan bangsa dengan tetap menjaga citra kepribadian dan martabat bangsa. dalam meningkatkan citra tersebut. .14 terlupakan begitu saja. 1988/1989) kutipan Al Ansori (2004). Adanya dana yang melakukan perjalanan f. Perlu dicegah hal-hal yang dapat merusak citra kehidupan masyarakat dan negara (Repelita IV. Adanya faktor kemudahan yang lebih besar untuk mengunjungi daerah tujuan wisata h.

Fasilitas Untuk menarik perhatian atau minat wisatawan untuk berkunjung kesalah satu objek wisata haruslah tersedia berbagai fasilitas penunjang yang akan membuat wisatawan merasa betah dan senang . Dana dan Modal Dalam pengertian ekonomi. Dengan kata lain modal merupakan faktor utama dalam pengembangan kepariwisataan karena pariwisata juga merupakan suatu industri. adapun faktor-faktor tersebut antara lain : a. Keterbatasan dana dan modal merupakan hal utama yang menghalangi dunia pariwisata di kabupaten Dharmasraya disebabkan karena belum adanya alokasi dana khusus dari pemerintah setempat dan sentuhan dari pihak swasta untuk meramaikan pengembangan pengelolaan dan pelestarian objek wisata.15 Dalam upaya pembangunan dan pengembangan pariwisata terdapat beberapa faktor memiliki peranan penting. b. modal adalah barang atau uang yang bersama produksi lain dan tenaga kerja serta pengelola menghasilkan barang baru seperti produksi industri pariwisata. Dari beberapa pengertian di atas terlihat bahwa modal merupakan hal terpenting dalam produksi suatu industri. Dan Pringgodigyo (1973) dalam Al Ansori (2004) mengatakan modal yaitu sejumlah barang yang dihasilkan dan dipergunakan dalam produksi masa yang akan datang disebut barang produksi atau barang modal.

Sedangkan yang termasuk kedalam statistic sektor adalah semua perusahaan akomodasi perhotelan. Jannata dalam buku A. Fasilitas ini bisa berupa penginapan. warung makan. services. souvenir shop dan sebagainya. Yang dimaksud dengan dynamik sektor adalah kegiatan yang berhubungan dengan travel agent. saran telekomunikasi. transportation in general. entertement.16 berada dilokasi wisata. tour operator. catering. Pariwisata dari segi ekonomi seperti dari segi permintaan dan penawaran maka menurut G. Sedangkan prasarana kepariwisataan adalah semua fasilitas yang memungkinkan agar sarana kepariwisataan dapat hidup dan berkembang serta dapat memberikan pelayanan pada wisatawan untuk memenuhi kebutuhan mereka yang beraneka ragam (A. Yoeti 1996:196-197). angkutan wisata dan pelayanan angkutan lain yang berhubungan. transportasi dan fasilitas lainya baik yang berhubungan langsung maupun tidak langsung untuk menunjang pertumbuhan sektor pariwisata. Sarana kepariwisataan adalah perusahan-perusahan yang memberikan pelayanan kepada wisatawan baik secara langsung maupun tidak langsung dan hidup serta kehidupannya bergantung pada kedatangan wistawan. Yoeti (1996) pariwisata dapat dibagi menjadi dua sektor yaitu dynamic sektor dan statistic sektor. atraksi wisata. Fasilitas pariwisata yang tersedia pada daerah kunjungan wisata masih kurang dalam pengembangannya untuk dijadikan sebagai daerah .

Pendapat ini diperjelas oleh Rahmadi (1987) kutipan Al Ansori bahwa suatu perencanaan yang matang terhadap daerah pasaran wisata dan . Disamping itu pada setiap objek wisata belum terdapat atraksi khusus yang ditampilkan. transportasi. Pada hal ini mempunyai peranan yang penting dalam pengembangan objek pariwisata karena dapat mengobati rasa jenuh dan juga sebagai penahan wisatawan untuk bisa merasa betah dan tertarik untuk dapat tertarik untuk datang berkunjung terhadap objek wisata tersebut. Promosi Promosi wisata merupakan suatu kegiatan yang intensif dalam waktu yang relatif singkat dan merupakan usaha untuk memperbesar daya tarik produk terhadap calon konsumen. lebih lanjut akan menimbulkan minat keinginan yang mendorong para wisatawan untuk datang berkunjung kedaerah tujuan wisata yang dipromosikan. akomodasi dan hiburan dimana tiaptiap unsur tersebut dipersiapkan oleh masing-masing perusahaan dan ditawarkan secara tidak terpisah (A. (R. Yoeti.1996:164) c.G Soekadijo :241) menjelaskan promotion (promosi) adalah salah satu kegiatan dalam dunia marketing.17 kunjungan wisata yang baik dan juga memiliki fasilitas yang layak. Produk wisata adalah suatu susunan produk terpadu yang terdiri dari atraksi wisata. Usaha promosi dalam penyajian produk wisata yang menarik merupakan kunci penanaman kesan yang baik kepada setiap calon wisatawan yang datang berkunjung.

Secara garis besar promosi merupakan himbauan. Hal ini bukan disebabkan oleh daya tarik yang kurang untuk menjadi daerah kunjungan wisata akan tetapi . Kegiatan promosi adalah segala sesuatu yang dilakukan oleh perusahaan untuk memperkenalkan produk pada calon pembeli dan membujuk mereka agar mau membeli. 1986) Secara umum kawasan objek wisata di Dharmasraya belum terkenal dikalangan wisatawan baik dari daerah maupun manca negara. Sementara itu kabupaten Dharmasraya mengalami kesulitan dalam promosi dan publikasi. Ada beberapa faktor yang mengharuskan terjadinya suatu promosi dilakukan yaitu : 1) Semakin jauhnya jarak antara produsen dengan konsumen 2) Pelanggan potensial bertambah banyak 3) Semakin pentingnya komunikasi pasar (William J Stanton. Promosi adalah salah satu bagian dari pemasaran. Himbauan akan dimengerti bila di informasikan kemudian terjadilah komunikasi. dikarenakan objek wisata tersebut selain baru juga berada pada lokasi yang terletak di daerah pedalaman.18 strategi pemasaran yang diambil sangat menentukan berhasil atau tidaknya kegiatan promosi. informasi dan komunikasi. Promosi juga sesuatu kegiatan yang menyebar luaskan informasi tentang barang atau jasa yang dijual dengan maksud mengubah prilaku konsumen.

Peran Serta Masyarakat Meskipun sudah banyak masyarakat yang menyadari bahwa peranan pariwisata sangat besar pengaruhnya dalam pengembangan daerah tetapi masih terdapat kendala dimana masyarakat belum memahami betul cara menghadapi wisatawan mancanegara. seperti belum adanya program pengembangan sektor pariwisata yang . juga corak budaya yang berbeda menyebabkan kurang harmonisnya hubungan antara masyarakat dengan wisatawan. e. Adapun peran serta masyarakat dalam pengembangan pariwisata hanya sebatas gotong royong membersihkan lokasi wisata. Berbicara mengenai peran serta masyarakat dalam pengembangan pariwisata dikabupaten Dharmasraya sangatlah perlu diadakan suatu penyuluhan tentang arti pentingnya pariwisata terhadap pembangunan daerah setempat dan kemajuan daerah tempat kunjungan wisata. d.19 keterbatasan dana dan modal untuk pengelolaan objek wisata dan promosi. Dan kurangnya peran pemerintah untuk menggalakan sadar wisata terhadap masyarakat setempat. Peran Serta Pemerintah Peran serta pemerintah dalam pengembangan sektor pariwisata dikabupaten Dharmasraya Sumbar saat ini belum memberikan kontribusi yang nyata bagi pengembangan pariwisata daerah.

(KBBI. persurat kabaran. kebudayaan dsb. atraksi wisata. Penelitian yang Relevan Yasmi (1988) tentang faktor-faktor produksi wisata dan hubungannya dengan pengembangan objek wisata pantai Air Manis Kotamadya Padang menyatakan bahwa terdapat hubungan antara objek wisata. Selanjutnya Moekijat (1990) mengemukakan pengertian inventarisasi adalah sejumlah barang atau bahan yang tersedia dalam perusahaan. hasil yang di capai. Rumah Tangga dsb) yang di pakai dalam melakukan tugas. (Sekolah. pendapat umum. bahan-bahan yang di perlukan untuk membantu kelancaran pelaksanaan pengumpulan data pariwisata. B. Inventarisasi Inventarisasi adalah pencatatan atau pendaftaran barang-barang milik kantor. Jadi yang dimaksud dengan inventarisasi dalam penelitian ini adalah pencatatan barang –barang atau pengumpulan data pariwisata yang di perlukan untuk membantu kelancaran pelaksanaan di sektor pariwisata. . 4. 1999) Menurut Ramli (1985) inventarisasi adalah barang-barang yang harus ada sebelum barang tersebut digunakan.20 terealisasi dan juga belum adanya pemberian dana khusus untuk pengembangan daerah objek wisata budaya tersebut. Pencatatan atau pengumpulan data tentang kegiatan.

Agar tidak timbul rasa jenuh pada pengunjung untuk itu objek wisata memerlukan adanya upaya . sarana dan prasarana serta ketersediaan akomodasi hotel dan non hotel. pengadaan dan peningkatan sarana dan prasarana pengembangan. Kerangka Konseptual Objek wisata merupakan sesuatu yang dapat di lihat. Usaha penanggulanganya dapat dilakukan dengan memberi kesempatan kepada pihak swasta untuk ikut serta dalam pengembangan membina potensi pariwisata yang ada di daerah ini. promosi dan penanaman inventasi serta mensosialisasikan sapta pesona agar teciptanya objek wisata yang potensial. C.21 sarana dan prasarana serta dasar wisata masyarakat dengan pengembangan objek wisata Air Manis. Betty (2008) melakukan penelitian tentang Inventarisasi objek wisata di Kecamatan IV Jurai Kabupaten Pesisir Selatan.. M (2004) tentang faktor penghambat dalam pengembangan potensi pariwisata dan usaha penanggulangannya di Tilatang Kamang banyak mengalami masalah dan hambatan diantaranya terbatasnya promosi dan peran masyrakat dalam membangun DTW. Al Ansori. dinikmati dan menimbulkan kesan tersendiri pada diri seseorang. menyatakan bahwa potensi objek wisata di lihat dari penyebaran objek wisata. Tita Wesni (2007) pengembangan objek wisata candi Pulau Sawah kenagarian Siguntur kecamatan Situng kabupaten Dharmasraya menyatakan bahwa strategi pengembangan objek wisata ini yaitu dengan pengembangan sumber daya wisata.

22 pengembangan agar para wisatawan/pengunjung tersebut dapat betah dan berkeinginan untuk datang kembali. sehingga sesuai dengan tujuan penelitian penulis berusaha mengungkap bagaimana inventarisasi objek wisata budaya di Kabupaten Dharmasraya. Objek wisata candi Pulau Sawah dan candi Padang Roco merupakan objek wisata budaya yang kondisinya sekarang masih dalam tahap pengembangan untuk menciptakan objek wisata yang potensial. mengenai variabel-variabel dalam penelitian ini dan keterkaitannya dapat di lihat pada bagan kerangka konseptual sebagai berikut : Kondisi Geografi Sarana Prasarana Daya tarik objek wisata Inventarisasi objek wisata budaya Gambar. 1 Kerangka konseptual tentang inventarisasi objek wisata budaya di Kabupaten Dharmasraya . Untuk lebih jelasnya.

apa adanya dalam situasi normal yang tidak dimanipulasi keadaan dan kondisinya dan dituntut keterlibatan peneliti secara langsung dilapangan. karya ilmiah.23 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A.) Arikunto (2006:12) mengemukakan bahwa penelitian kualitatif menunjukan bahwa pelaksanaan penelitian ini terjadi secara alamiah. Data skunder adalah data yang di peroleh dari buku perpustakaan. Untuk menjawab masalah yang dirumuskan dapat digunakan data primer dan data skunder. . Data primer dapat dikumpulkan melalui daftar pertanyaan yang disusun peneliti berdasarkan kebutuhan dan melalui wawancara dengan instansi terkait dan masyarakat di lokasi objek penelitian. Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat kualitatif. 1991. surat kabar dan sebagainya. Penelitian kualitatif merupakan sejumlah prosedur kegiatan yang digunakan untuk memecahkan masalah sesuai dengan sudut pandang dan pendekatan yang digunakan oleh peneliti (Aminuddin.

sedangkan candi Padang Roco terletak di jorong Sungai Lansek kenagarian Siguntur berada sekitar 3 km dari jalan lintas Sumatera dengan menyebrangi sungai Batanghari. 2. Menurut Moleong pemilihan berakhir sudah terjadi pengulangan. Subjek Penelitian Subjek penelitian adalah orang yang dapat dimanfaatkan untuk informasi situasi dan kondisi latar penelitian (Moleong 1990:97). teknik purposive ini dilakukan dengan cara mengambil subjek didasarkan atas adanya tujuan tertentu. dan jika tidak ada lagi informasi yang dapat dijaring. maka penarikan subjek pun sudah dapat diakhiri. Penetapan subjek yaitu dengan teknik purposive sampling.24 B. wali nagari Siguntur. Setting Penelitian Penelitian ini dilakukan di kecamatan Sitiung tepatnya di kenagarian Siguntur yang terdapat dua buah candi yaitu candi Pulau Sawah yang terletak lebih kurang 4 km dari jalan raya Sumatera di ujung 23 kenagarian Siguntur. Jika sudah mulai terjadi pengulangan informasi maka penarikan subjek dihentikan. kepala . jumlah sampel ditentukan oleh pertimbangan-pertimbangan informasi yang diperlukan jika maksudnya memperluas informasi. Teknik penentuan informasi oleh peneliti adalah secara porposive yaitu Dinas Perhubungan dan Pariwisata. Setting dan Subjek Penelitian 1.

Tahap Pra Lapangan a. C. Memlilih lapangan penelitian c. Tahap analisis data 1) 2) 3) Konsep dasar analisis data Memberikan penafsiran terhadap data Menemukan pencatatan dan analisis data. Persoalan etika penelitian 2.25 Jorong Sungai Lansek. Tahap-tahap Penelitian yang akan dilakukan yaitu : 1. Memahami latar penelitian dan persiapan diri b. Berperan sambil mengumpulkan data d. Mengurus perizinan d. Turun kelapangan c. Tahap Pekerjaan Lapangan a. masyarakat di sekitar objek wisata dan pengunjung. . Menyiapkan perlengkapan penelitian f. keturunan raja Siguntur. Menysusun rencana penelitian b. Menjajaki dan memanfaatkan informan e.

peningkatan kualitas objek wisata pada khususnya. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan sebagai berikut: Observasi Teknik yang digunakan untuk melihat dan mengamati kegiatan kehidupan masyarakat sehari-hari pada umumnya dan dalam hal pengembangan. karya ilmiah dan data lainya yang langsung berhubungan dengan objek penelitian yang diambil dari dinas pariwisata . Dalam teknik ini digunakan dua metode yaitu : . E. Teknik Pengumpulan Data Data dijaring melalui berbagai cara yaitu memberikan wawancara kepada para informan kunci yang telah di tetapkan. Data sekunder adalah data yang diperoleh melalui buku-buku perpustakaan. surat kabar. Wawancara Wawancara kepada informan dimaksudkan untuk mengetahui peran pemerintah. Sumber Data Data primer adalah data yang diperoleh dari responden melalui observasi. masyarakat dan swasta terhadap pengembangan objek wisata budaya. kantor statistik. wawancara dengan informan yang telah ditetapkan atau melalui orang lain yang dapat memberikan data.26 D. kantor camat dan kantor wali nagari. Data juga di kumpulkan melalui teknik wawancara tehadap informan lain yang mendukung dan memperkuat data yang terekam pada kaset penelitian.

Hal ini bertujuan agar data yang diperoleh betulbetul dapat dipercaya karena berkali-kali. Teknik Menguji Keabsahan Data Data yang diperoleh dari sumber atau informasi diperiksa kebenarannya dengan menggunakan teknik trianggulasi sumber yaitu membandingkan dan mengecek suatu informasi yang diperoleh melalui wawancara pertanyaan serta sumber yang berbeda (Patton dalam Sugiyono 2005) kutipan Juliana (2002).27 Wawancara Bebas Yaitu bertujuan untuk memperoleh keterangan yang sifatnya informal atau tidak resmi yang biasanya terwujud dalam pembicaraanpembicaraan ringan. Wawancara Terstruktur Dengan memperoleh keterangan khusus yang berkaitan dengan masalah penelitian yang disusun dalam bentuk instrumen penelitian berupa daftar wawancara kemudian direkam dalam tape recorder. F. Perpanjangan Keikutsertaan Keikutsertaan peneliti di objek penelitian sangat menentukan dalam pengumpulan data. namun demikian keterangan-keterangan yang diberikan diarahkan pada yang diinginkan. Pemeriksaan keabsahan data yang telah diperoleh dilakukan dengan beberapa cara antara lain : 1. Dengan perpanjangan .

Dalam penelitian ini digunakan trianggulasi sumber yaitu peneliti mengecek kembali tingkat kebenaran suatu informasi berdasarkan waktu dan alat termasuk orang yang berbeda. 2. 3. Ketekunan dalam Pengamatan Bertujuan menentukan ciri-ciri dan unsur-unsur dalam situasi yang sangat relevan dengan persoalan atau isu yang sedang dicari dan kemudian mengamati hal-hal yang berhubungan dengan upaya pengembangan objek wisata budaya di kabupaten Dharmasraya. Pemeriksaan teman sejawat Bertujuan untuk melihat kekuatan dan kelemahan tentang hasil akhir sementara yang diperoleh dari penelitian. Hal ini dapat dilakukan dalam bentuk distorianalitik dengan rekan-rekan sejawat. Teknik Analisis Data Dalam penelitian ini data dianalisis dengan metode yang dikemukakan oleh Miles dan Hubermen yang dikutip oleh Sugiyono (2005) yaitu dengan langkah-langkah sebagai berikut : . trianggulasi metode penyidik dan trianggulasi teori. Teknik ini ada beberapa macam diantaranya ialah trianggulasi sumber. Trianggulasi Teknik trianggulasi suatu teknik untuk memeriksa keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu diluar data yang telah diperoleh.28 pengamatan maka distorsi yang mungkin akan mengotori data dapat di hindari sekecil mungkin. 4. G.

dan BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Luas dan Batas Kabupaten Dharmasraya merupakan salah satu wilayah otonomi yang baru di Indonesia. . Secara simbolis pemekaran kabupaten Dharmasraya dari kabupaten Sawahlunto/Sijunjung diresmikan oleh presiden pada tanggal 7 Januari 2004. Letak. kabupaten Solok Selatan. Dharmasraya berdiri berdasarkan UU No. Kabupaten Dharmasraya merupakan salah satu kabupaten yang cukup potensi di propinsi Sumatera Barat. memilih hal-hal pokok. Reduksi Data Reduksi data berarti merangkum.29 1.38 Tahun 2003 tentang pembentukan kabupeten Dharmasraya.13 km2 atau 296. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas. Temuan Umum Kondisi Fisik a. memfokuskan pada hal-hal yang penting.961. Posisi geografis Dharmasraya berada pada 00 45’ 0” LS – 10 45’ 0” LS dan 1010 0’ 0” BT – 1010 30’ 0” BT.113 Ha. kabupaten Pasaman Barat di Propinsi Sumatera barat dan berlaku efektif sejak tanggal 18 Desember 2003. dengan luas wilayah yang mencapai 2.

Riau) . Kerinci (Prop.30 Secara fisik batas kabupaten Dharmasraya adalah sebagai berikut Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 2 berikut ini: Sebelah Utara Sebelah Selatan Sebelah Barat Sebelah Timur : : : : 3 Kab. Solok dan Kab. Kuantan Singingi (Prop. Solok Selatan Kab. Sawahlunto/Sijunjung Kab. Bungo dan Kab. Jambi) Kab.

21 Nagari. walaupun secara definitif belum ada kota Pulau Punjung.38 Tahun 2003 ditetapkan di Pulau Punjung.Dharmasraya Menurut Kecamatan Tahun 2005 No Nama Kecamatan Ibu kota Kecamatan Sungai Rumbai Koto Baru Koto Agung Sungai Dareh Banyaknya Nagari 6 7 3 5 21 Desa 18 28 17 25 85 Jorong 26 38 20 25 109 1 Sungai Rumbai 2 Koto Baru 3 Sitiung 4 Pulau Punjung Jumlah/Total Sumber: BPS Kabupaten Dharmasraya b.9 Tahun 2000 tentang ketentuan pokok pemerintah nagari (yang selanjutnya disebut Perda Nagari). Topografi .31 Kabupaten Dharmasraya terdiri dari 4 kecamatan. 109 Jorong. yang ada saat ini adalah kecamatan Pulau Punjung dengan ibu kota kecamatannya Sungai Dareh. Nagari merupakan sistem pemerintahan yang berlaku di propinsi Sumatera Barat sesuai dengan peraturan daerah No. Ibu kota kabupaten Dharmasraya sesuai dengan UU No. (Lihat Tabel 1) Tabel 1 Wilayah Administratif Pemerintahan Kab.

Penduduk Jumlah penduduk kabupaten Dharmasraya berdasarkan sensus penduduk tahun 2007 adalah 175.08 mm/bulan di Sitiung.446 36.75 hari/bulan di Sungai Rumbai . 249.573 170.573 yang tersebar pada 4 wilayah kecamatan dan terus meningnkat pada tahun berikutnya (lihat Tabel 2). Mata Pencarian Mayoritas penduduk Dharmasraya bekerja pada sektor/lapangan usaha pertanian.087 175. Dari 99. Selama tahun 2007 rata-rata hari hujan mencapai 15.440 173. Sedangkan rata-rata curah hujan mencapai 272.32 Kondisi dan topografi Kabupaten Dharmasraya mayoritas merupakan lahan datar dengan ketinggian 100 meter sampai 500 meter dari permukaan laut.25 hari/bulan di Koto Baru dan 16.898 orang yang bekerja tercatat sebanyak Nagari 6 7 3 5 21 21 21 Penduduk 43651 59. 16.92 hari/bulan di Sitiung. Tabel 2 Jumlah penduduk kabupaten Dharmasraya Menurut persebaran wilayah kecamatan tahun 2005-2007 No Kecamatan 1 Sungai Rumbai 2 Koto Baru 3 Sitiung 4 Pulau Punjung 2007 2006 2005 Sumber: BPS kabupaten Dharmasraya b.389 36.75 mm/bulan di Sungai Rumbai.00 di Koto Baru dan 254.375 . Kondisi Sosial Ekonomi a.

selebihnya bekerja di bidang perikanan. Kerajaan ini berdiri setelah kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Palembang mengalami kemunduran. hotel dan restauran. peternakan dll. Perkembangan yang banyak disorot adalah perkembangan dan aktivitas dari penduduk yang beragama islam. Sejarah Kerajaan Dharmasraya Kerajaan Dharmasraya atau kerajaan Melayu Jambi adalah kerajaan yang terletak di Sumatera.74% dari seluruh penduduk yang bekerja di Kabupaten Dharmasraya. industri 5.518 orang. mengingat hampir 99. melepaskan diri dan membentuk suatu kerajaan baru. lebih jauh dari lapangan pertanian terdapat sebanyak 43.125 orang. sedangkan lapangan usaha jasajasa sebanyak 8.85%). c.300 orang yang bekerja pada sektor perdagangan.741 orang hanya sebesar 1.72% penduduk Kabupaten Dharmasraya beragama Islam.607 orang bekerja pada tanaman pangan (Padi dan Palawija) sedangkan pada lapangan usaha perkebunan tercatat sebanyak 20.33 70. Berdiri sekitar abad Ke 11 M. pada kesempatan ini wilayah Jambi yang tadinya merupakan daerah kekuasaan Sriwijaya. Agama Kehidupan beragama cukup baik.777 pada lapangan usaha pertanian (70. Pada tahun 2007 terdapat sebanyak 8. .107 orang dan yang bekerja pada bidang transportasi sekitar 1.

yang di keluarkan oleh Kartanegara dari Singasari dalam bahasa kuno yang dikirimkan sebagai hadiah untuk Sri Tri Buana Raya Mauliwarmadewa yang memerintah di Dharmasraya yang bertujuan untuk mempererat persahabatan. Anak raja ini bernama Dara Petak dan Dara Jingga. Sri Tri Buana Raya Mauliawarmadewa. mempunyai dua istri Mambang Talena atau disebut juga Dewi Kencana dan Indo Jelito yang masing-masing mempunyai seorang anak. banyak bangsawan Sriwijaya yang melarikan diri kepedalaman terutama kehulu sungai Batang Hari. Sebagai rasa terima kasih Raja Mauliwarmadewa mengirim kedua anaknya ke Jawa.34 Setelah kerajaan Sriwijaya musnah di tahun 1025 karena serangan kerajaan Cola dari India. kemudian Dara Petak menikah dengan raja Majapahit Kartarajasa sedangkan Dara Jingga pulang ke Suwarnabhumi Melayupura. Raja ini berkuasa di kerajaan Melayupura (Siguntur) tahun 12501325. b. kemudian bergabung dengan kerajaan Melayu Tua dan pada 1088 kerajaan Melayu Jambi (Dharmasraya) menaklukan kerajaan Sriwijaya. Pada tahun 1286 M Sri Kartanegara mengirim Prasasti “Amoghapasa” 1298 M. Sora . dan mulai pada saat itulah kerajaan Dharmasraya mulai berjaya dengan perjalanan kisah kerajaannya sebagai berikut : a.

tetapi sayang hasil bumi Dharmasraya tidak mencukupi maka Adityawarman berusaha memperluas wilayah kekuasaan ke Periangan dekat Batusangkar. Akan tetapi kesempatan Adityawarman untuk menjadi raja hilang dengan lahirnya Hayam Wuruk yang lebih berhak menjadi raja.35 Setelah Sri Tri Buana Mauliwarmadewa meninggal dunia gelar Mauliwarmadewa diserahkan kepada Sora berhubungan antara Singasari dan Melayupura makin membaik dengan menikahnya Dara Petak dengan Kartarajasa. ia juga panglima perang sahabat dari Gajah Mada selama lima tahun. dan banyak pedagang-pedagang yang datang untuk membeli rempah-rempah. Pada pemerintahan Adityawarman candi-candi di Melayupura dibangun. Adityawarman meminta sebilah pedang guna untuk membuat ladang. Sora pergi ke Singasari untuk membantu pertempuran di Singasari. Dengan hiba hati Adityawarman pulang kekampung ibunya yaitu Melayupura. Paramisona Dara Petak mempunyai seorang anak yang bernama Adityawarman yang mempunyai kesempatan menjadi raja. . c. dan meminta dibuatkan sebuah patung Adityawarman sendiri. Pada masa Adityawarman Dharmasraya mencapai puncak kejayaan dengan perdagangan yang sampai ke India dan Eropa. di Melayupura Adityawarman diangkat menjadi raja untuk sementara. ladang yang sangat luas hingga sampai ke Padang Laweh yang merupakan batas wilayah kerajaan Melayupura.

Setelah sampai di Batusangkar mulanya Dt. d. Raja Angek Garang Pada suatu masa Melayupura diperintah oleh raja Angek Garang yang masih beragama Hindu Budha.Parpaih dan Dt. Raja Angek Garang tinggal di Siguntur yaitu pemukiman penduduk yang sekarang.36 Sedangkan raja Pramisora dan anaknya sebagai calon raja dengan nama Adikerma masuk islam. Dalam Prasasti Kuburajo (1347) Adityawarman disebut sebagai “Kanakamedinindra” raja negeri emas (Suwarnadipa = Sumatera). 1349 Adityawarman sudah menjadi raja di Minangkabau. e. Raja Tiang Panjang Minangkabau memasuki Dharmasraya pada masa pemerintahan Tiang Panjang. daerah kekuasaannya adalah seluruh daerah Batanghari. dia sangat kejam dan suka semena-mena.Katumanggungan tidak menerima kedatangan Adityawarman namun akhirnya Adityawarman diterima di Pagaruyung. dia memerintahkan agar masyarakat Melayupura pindah ke sebrang Batanghari atau ke Siguntur sedangkan candi tempat bermukim penduduk dihancurkan oleh raja Angek Garang maka hancurlah Melayupura akibat pemberontakan pada abad ke 14 M. Menurut sejarah bahwa Tiang Panjang dan Tiang Bungkuk bersaudara. Tiang Panjang berkuasa di bagian hulu Batanghari sedangkan Tiang Bungkuk berkuasa di daerah muara Batanghari. .

Hasil Temuan Khusus 1. tumbuhan dan manusia. candi maombiak dan candi Rambahan. Lokasi objek wisata candi-candi terdapat di Kenagarian Siguntur dan Jorong Sungai Lansek dimana candi yang pertama yaitu candi Pulau . namun mempunyai hubungan yang saling berkaitan satu sama lain yang berpusat di candi Pulau Sawah kenagarian Siguntur. B. Objek potensial ini terbentang sepanjang sungai Batanghari dengan tempat terpisah. Prinsip deskripsi yaitu penjelasan lebih jauh mengenai gejalagejala yang diselidiki atau di pelajari dapat disajikan dengan tulisan atau kata-kata. Penjelasan atau deskripsi merupakan suatu prinsip pada geografi dan studi geografiuntuk memberikan gambaran lebih juh tentang gejala dan masalah yang dipelajari. Penyebaran Wisata Objek di Budaya Kabupaten Dharmasraya Prinsip penyebaran yaitu suatu gejala dan fakta yang tersebar tidak merata di permukaan bum yang meliputi bentang alam. candi Padang Roco. gambar dan peta. dapat juga di lengkapi dengan tabel.37 Banyak nilai sejarah dan budaya Hindu Budha yang dapat kita ketahui setelah melakukan perjalanan wisata peninggalan Melayupura yang terdiri dari candi Pulau Sawah.

. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada peta gambar 3.38 Sawah tepatnya berada diseberang sungai Batanghari setelah pemukiman penduduk Siguntur dan candi yang kedua yaitu candi Padang Roco yang juga terletak diseberang sungai Batanghari di Jorong Sungai Lansek tepatnya berada setelah pemukiman penduduk Siluluk.

. Untuk mencapainya dengan menggunakan perahu (biduk) memakan waktu kira-kira 5 menit dan berjalan kaki dari tepi sungai Batanghari menuju objek candi Pulau Sawah 1 sekitar 50 meter dari tepi sungai Batanghari kemudian berjalan lebih kurang 50 meter kearah utara dari candi pulau sawah I menuju candi Pulau Sawah II.39 a. terletak di sebrang sungai Batanghari dari penduduk Siguntur. Candi Pulau Sawah Candi Pulau Sawah merupakan peninggalan dari Kerajaan Hindu Budha yang menjadi pusat dari semua candi-candi yang ada di Kabupaten Dharmasraya.

40 Gambar 4. Candi Pulau Sawah I Dokumentasi Pribadi. 10 Feb 2009 b. 10 Feb 2009 Gambar 5. Candi Pulau Sawah II Dokumentasi Pribadi. Candi Padang Roco Candi Padang Roco juga merupakan peninggalan dari Kerajaan Hindu Budha yang terletak di Jorong Sungai Lansek yang terdiri dari .

Candi 2 Padang Roco Dokumentasi Pribadi. 17 Feb 2009 . Gambar 6. Candi 1 (induk) Padang Roco Dokumentasi Pribadi. 17 Feb 2009 Gambar 7.41 tiga buah candi yaitu canndi induk dan dua buah candi perwara dengan ukuran terbesar 20x20 meter dan yang paling kecil 8x8 meter.

mesjid pertama Siguntur dan Arca setengah badan yang dapat berfungsi sebagai objek wisata pendukung. sebagai berikut: a. rumah gadang pertama Siguntur. Candi 3 Padang Roco Dokumentasi Pribadi.42 Gambar 8. Wisatawan atau pengunjung sebelum sampai pada objek wisata candi tersebut dapat melihat keindahan wisata sungai Batanghari. makam raja-raja Siguntur. Rumah Gadang Potensi objek wisata pendukung dapat diuraikan . 17 Feb 2009 Untuk menggapai candi tersebut bisa melalui jalur Batanghari dari Siguntur menggunakan perahu boat (tempek) sejauh 3 km dengan perjalan selama 15 menit atau bisa juga melalui jalur koto tuo menggunakan perahu ponton dan berjalan kaki sejauh 1.5 km untuk sampai ke candi Padang Roco perjalanan ini melewati perkampungan masyarakat Siluluk dan Sungai Lansek yang ramah terhadap semua pengunjung.

43 Gambar 9. Rumah Gadang Pertama Siguntur Dokumentasi pribadi. 10 Feb 2009 Rumah gadang pertama Siguntur terletak dekat pemukiman Siguntur. Ada seorang raja dengan nama raja Angek Garang masih keturunan kerajaan yang bermukim di Siguntur. dia merupakan orang yang sangat kejam siapa yang melawan akan dia bunuh. namun karena penduduk makin bertambah penduduk mulai bermukim di Siguntur (permukiman penduduk yang sekarang). . Tidak hanya itu semua candi yang terdapat di Pulau Sawah dihancurkan sampai rata. Raja Angek Garang mengeluarkan ultimatum agar semua penduduk pindah ke Siguntur maka semua penduduk pindah ke Siguntur meninggalkan candi. Setelah Adityawarman pindah ke Pagaruyung terjadilah pemberontakan dalam kerajaan Melayupura. Pada masa kejayaan kerajaan Melayupura permukiman penduduk berada di kelompok candi Pulau Sawah. 5 meter dari rumah penduduk.

Makam raja-raja Siguntur merupakan makam dengan gaya purbakala yang unik. Makam raja-raja Siguntur Dokumentasi Pribadi. batu nisan yang aneh yaitu batu yang panjang ditancapkan kebagian kepala makam. Mesjid Pertama Siguntur . Makam Raja-raja Siguntur Gambar 10. c. sedangkan badan makam terbuat dari batu-batu sungai yang tersusun rapi sehinggga terlihat lebih indah dan rapi. 10 Feb 2009 Makam raja-raja Siguntur terletak sejajar dengan rumah gadang kira-kira 30 meter dari rumah gadang kearah utara dan 10 meter dari sungai Batanghari.44 b.

Mesjid ini berdekatan dengan rumah gadang dan makam raja-raja Siguntur. d. 1 km kearah barat dari makam raja-raja Siguntur yang sampai sekarang masih dijaga oleh keturunan kerajaan Melayupura. Pada abad ke 14 M islam masuk ke Dharmasraya dan kerajaan melayupura mengalami kehancuran. Mesjid Pertama Siguntur Dokumentasi Pribadi. mesjid ini di bangun dari batu bata atau puing-puing candi Pulau Sawah. 10 Feb 2009 Di lokasi ini juga terdapat mesjid pertama Siguntur. Arca Setengah Badan .45 Gambar 11. didirikanlah mesjid pertama di Siguntur dan pertama di Dharmasraya.

e. yang dapat di jumpai di depan rumah gadang Siguntur. 10 Feb 2009 Arca ini terbuat dari batu andesit. sehinggga sulit untuk menemukan atribut yang menyertainya. pengerukan pasir. Sungai Batanghari Sungai Batanghari merupakan objek wisata pendukung dari objek wisata budaya yang ada wisatawan dapat menikmati pemandangan bahari Batanghari dengan berbagai macam aktivitas ekonomi masyarakat mulai dari pencarian ikan. Arca Setengah Badan Dokumentasi Pribadi. . Arca ini berdiri di atas lapik dengan posisi kaki lurus hingga kini arca ini belum teridentifikasi karena yang tersisa bagian bawah. yang tersisa hanya bagian pinggang kebawa.46 Gambar 12. dan sebagai lintas transportasi.

transportasi. Sedangkan dari segi prasarana berupa jalan dan jembatan di lokasi objek wisata candi Pulau Sawah masih kurang memadai karena untuk mencapai situs candi Pulau Sawah tersebut harus dengan menyebrangi sungai batanghari. atraksi wisata. Sarana dan Prasarana Objek Wisata Berdasarkan hasil penelitian dari Wesni (2007) bahwa sarana yang mendukung untuk berkembangnya objek wisata candi Pulau Sawah masih tergolong minim atau belum maksimal karena dari sarana itu sendiri baik berupa akomodasi. Objek Wisata Sungai Batanghari Dokumentasi Pribadi. daya tarik wisata. sapta pesona dan promosi belum tersedia atau terlaksana sebagaimana mestinya. hal tersebut tidak jauh berbeda dengan kondisi pada objek wisata candi Padang Roco yang terdapat di Jorong Sungai Lansek kenagarian Siguntur. sebagai pendukung untuk berkembangnya suatu objek wisata. 5 Okt 2008 2. namun di sini pada kenyataanya belum adanya .47 Gambar 13. restauran.

Berbeda dengan kondisi pada situs Padang Roco menurut pemantauan peneliti dalam beberapa bulan ini sudah ada kebijakan dari pemerintah dalam memperbaiki infrastukturnya berupa jalan untuk memudahkan wisatawan menjangkau situs Padang Roco tersebut. sedangkan kalau untuk mendirikan hotel. restouran.48 jembatan penghubung dari pemukiman penduduk Siguntur ke situs candi Pulau Sawah masih menggunakan perahu (biduk). Dalam upaya pengembangan objek wisata candi Pulau Sawah dan candi Padang Roco ini memerlukan investasi yang cukup besar dan dalam jangka waktu yang cukup lama serta adanya kebijakan dan perencanaan serta pelaksanaan yang jelas dari pemerintah tentang pengembangan objek wisata tersebut. Kepala bidang promosi pariwisata Bapak akrial mengatakan : kalau untuk transportasi penyebrangan sekarang sudah ada ponton dan rencana kedepannya akan dibangun jembatan gantung. dan juga mushalah itu baru dalam perencanaan jangka panjang satu lagi cindera mata (buah tangan). wc. Dari pendapat di atas dijelaskan bahwa untuk pengembangan sarana dan prasarana objek wisata dibutuhkan adanya konsultan yang pertama yaitu adanya RIPDA (Rencana Induk Pengembangan Daerah) kemudian juga adanya RIPOW (Rencana Induk Pengembangan Objek Wisata) disini di gambarkan bagaimana pengembangan objek wisata tersebut akan di kembangkan misalnya dengan memberikan gambaran letak restauran dan . walaupun disini belum juga ada jembatan penyebrangan tetapi disini tersedia penyebarangan khusus berupa ponton yang menjadi penghubung antara masyarakat jorong Koto Tuo dengan Masyarakat Siluluk (Sungai Lansek).

49

penginapan tidak terlalu jauh dari tempat objek wisata agar mudah dijangkau. Untuk menjalankan itu harus ada RT, RW (payung hukum) dari sistem pemerintahan sendiri, namun sekarang RT, RW tersebut belum lahir karena RIPDA dan RIPOW baru dalam tahap perencanaan. 3. Pengembangan Sumber Daya Wisata Dalam rangka melakukan pengembangan suatu objek wisata yang berperan penting adalah pemerintah dan instansi terkait serta partisipasi dari masyarakat. Yang menjadi daya tarik wisata pada objek wisata budaya ini adalah berupa candi yang merupakan peninggalan kerajaan Melayupura yang mengandung nilai budaya dan sejarah tinggi, untuk itu harus dirancang dan dikelola secara profesional sehingga dapat menarik wisatawan untuk datang. Kepala bidang promosi pariwisata Bapak Akrial beliau mengatakan “sekarang telah ada perhatian dari pemerintah pusat terhadap candi tersebut. Melalui Balai cagar budaya (BCB) dengan tujuan pembugaran fisik candi agar keaslian dari candi tersebut tetap terjaga. Sedangkan dari pihak Pemda Dharmasraya sendiri yaitu dengan membuat pagar disekeliling candi dan membuat atap candi serta memperbaiki jalan kesana.

50

Gambar 14. Wawancara dengan Kepala Bidang Promosi Pariwisata Bapak Akrial Dokumentasi Pribadi, 17 Feb 2009 Wawancara dengan wali nagari Siguntur, kalau dana khusus dari Pemda Dharmasraya untuk pemugaran candi belum ada karena itu merupakan dana dari suaka budaya (pusat), namun dana yang di turunkan untuk merenovasi rumah gadang dan mendirikan balai informasi kerajaan Siguntur itu memang sudah ada. Dari hasil wawancara diatas dapat diambil kesimpulan bahwa telah ada pengembangan yang dilakukan baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Dari pemerintah pusat telah dijalankan yaitu pemugaran fisik candi, sedangkan dari pemda Dharmasraya yaitu dengan pembuatan pagar sekeliling candi, membuat atap candi serta memperbaiki jalannya. Dengan adanya perhatian baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah menjadi peluang bagi objek wisata budaya (candicandi) untuk menjadi objek wisata yang potensial pada masa akan datang, karena candi-candi tersebut mempunyai nilai sejarah yang tinggi. 4. Promosi, Modal Dana dan

51

a.

Promosi Promosi dan publikasi adalah hal yang sangat vital dalam

kepariwisataan, wisatawan tidak akan tahu kelebihan dari suatu objek wisata jika tidak memperoleh informasi tentang daerah objek wisata tersebut. (Kodyat, 1996). Wawancara dengan Kepala Bidang Promosi Pariwisata Bapak Akrial mengatakan “Kalau untuk promosi sekarang sudah dijalan dengan membawa brosur yang berisi seluruh kawasan objek wisata yang ada di Dharmasraya, namun yang menjadi daya tarik bagi wisatawan adalah candi-candi karena candi tersebut merupakan satu-satunya yang terdapat di Sumbar, kemaren ini brosur telah kami bawa ke Bali, Jakarta dan Yogyakarta. Kalau untuk promosi keluar negeri juga menggunakan brosur ini karena sudah ada transletnya ke dalam bahasa inggris. Untuk promosi di Dharmasraya juga kami lakukan melalui radio ” Berdasarkan wawancara di atas dapat di simpulkan bahwa Pemda dan Dinas terkait telah melakukan promosi baik dalam negeri maupun luar negeri, tinggal lagi bagaimana sambutan dari masyarakat terhadap pengunjung agar pengunjung dapat betah dan berkeinginan untuk datang kembali. Menurut wali nagari Siguntur untuk kedepannya agar pemerintah daerah dapat memelatih atau membimbing beberapa orang generasi muda untuk menjadi pemandu pariwisata di Dharmasraya, agar para wisatawan asing (manca negara) tidak merasa kesulitan. b. Dana dan Modal Modal merupakan hal terpenting dalam produksi suatu industri, dengan kata lain modal merupakan faktor utama dalam pengembangan kepariwisataan karena pariwisata juga merupakan suatu industri.

maka hasil tersebut di atas akan dibahas lebih lanjut dalam bentuk uraian. Pembahasan Berdasarkan hasil penelitian di lapangan. namun pihak penyelenggara sudah berusaha meminta kepada pemerintah pusat (balai cagar budaya) agar dapat memberikan dana dan modal secepatnya agar pengembangan objek wisata budaya candi-candi di kabupaten Dharmasraya ini dapat cepat berkembang menjadi objek wisata yang potensial. Strategi Pengembangan Sumber Daya Wisata Dalam rangka melakukan pengembangan suatu objek wisata yang berperan penting adalah pemerintah dan instansi terkait serta partisipasi dari masyarakat. C. Tetapi pada saat sekarang ini pemerintah belum menyanggupi karena RIPDA (rencana induk pengembangan daerah) dan RIPOW (rencana induk pengembangan objek wisata) baru dalam tahap perencanaan. pengembangan sumber daya wisata merupakan hal yang terpenting karena sumber daya wisata merupakan objek atau tujuan yang . 1.52 Keterbatasan dana dan modal merupakan hal utama yang menghalangi dunia pariwisata di kabupaten Dharmasraya disebabkan karena belum adanya alokasi dana khusus dari pemerintah setempat dan sentuhan dari pihak swasta untuk meramaikan pengembangan pengelolaan dan pelestarian objek wisata.

Seperti penuturan dari Bapak Akrial Kepala Bidang Promosi Pariwisata menyatakan bahwa saat ini pemerintah telah bekerja sama dengan pemerintah pusat untuk melakukan pemugaran fisik candi melalui balai cagar budaya (BCB). Pengembangan Sarana dan Prasarana Objek Wisata . untuk itu pemerintah dan pihak penyelenggara berusaha untuk bekerjasama agar pemugaran dari fisik candi tersebut dapat terselesaikan dengan cepat sehingga objek wisata ini dapat menjadi objek wisata yang potensial yang memiliki nilai budaya dan sejarah yang tinggi dan banyak dikunjungi oleh wisatawan baik dari dalam maupun dari luar negeri dan merupakan kebanggaan bagi kabupaten Dharmasraya. Namun dari pihak pemerintah daerah sendiri juga telah melakukan suatu kebijakan untuk melakukan perbaikan terhadap objek wisata pendukung seperti pemberian dana untuk perenovasian rumah gadang. memperbaiki jalan serta pembuatan pagar sekeliling candi dan mendirikan balai informasi kerajaan Siguntur yang tujuannya untuk memberikan informasi atau layanan terhadap pengunjung yang datang.53 akan di lihat oleh wisatawan. yang mana tujuannya agar keaslian dari candi tersebut tetap terjaga sehingga nilai budaya dan sejarah tetap dapat di pertahankan dan daya tarik dari candi tersebut tidak berkurang. Yang menjadi daya tarik bagi wisatawan pada objek wisata ini adalah berupa candi yang merupakan peninggalan dari kebudayaan hindu budha. untuk itu diperlukan pengembangannya seperti halnya pada objek wisata budaya di kabupaten Dharmasraya ini. 2.

a. Sarana Akomodasi . dan lain sebagainya. Prasarana wisata adalah sumber daya alam dan sumber daya manusia yang mutlak di butuhkan oleh wisatawan dalam perjalanan di daerah tujuan wisata seperti : jalan. membuat jalan pintas. air. terminal. listrik.54 Yoeti (1996) mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan sarana pariwisata adalah semua bentuk perusahaan yang dapat memberikan pelayanan kepada wisatawan baik secara langsung maupun tidak langsung kehidupannya ditentukan oleh kedatangan wisatawan. b. walaupun masih dalam pelaksanaan jangka pendek namun perhatian dari pemda sudah ada berupa jalan. atau jembatan penyebrangan sehingga mempermudah untuk menjangkaunya. telekomunikasi. Untuk itu diperlukan pengembangan terhadap prasarananya seperti perbaikan jalan. jembatan. Dan pemerintah sendiri juga sudah mengupayakan bagaimana agar prasarana tersebut cepat terealisasi. Prasarana Pariwisata Berdasarkan penuturan dari wali nagari Siguntur bahwa lokasi objek wisata candi Pulau Sawah dan candi Padang Roco saat ini agak sulit untuk di jangkau dikarenakan letaknya berada disebrang sungai Batanghari.

A Yoeti (1996) mengemukakan bahwa kenangan yang dapat di bawa pengunjung selama di kawasan objek wisata dapat menarik wisatawan untuk kembali mengunjungi objek wisata tersebut. Menurut Bapak Akrial untuk melakukan pengembangan sarana dan prasarana wisata di kabupaten Dharmasraya terlebih dahulu dibutuhkannya konsultan yang akan merancang bagaimana pengembangan itu di gambarkan sesuai dengan kondisi objek wisata yang ada. . restauran atau kedai hanya terdapat di pemukiman penduduk Siguntur yang letaknya tidak jauh dari objek wisata pendukung. c. Akomodasi dalam arti sempit adalah hotel dan penginapan jadi dapat disimpulkan akomodasi adalah penyediaan jasa dalam bentuk hotel dan penginapan serta menyajikan fasilitas lainya yang bertujuan komersil. Cindera Mata Di lokasi objek candi Pulau Sawah dan candi Padang Roco belum ada cindera mata sehingga pengunjung yang datang tidak bisa membawa oleh-oleh ketempat asal berupa cindera mata yang khas kerajinan Dharmasraya.55 Berdasarkan pengamatan peneliti kelapangan dapat di lihat bahwa sarana akomodasi baik itu berupa restauran belum di bangun di kawasan objek wisata candi Pulau Sawah maupun candi Padang Roco.

pada umumnya masyarakat Siguntur hidupnya adalah dengan bertani. Usaha promosi dalam penyajian produk wisata yang menarik merupakan kunci penanaman kesan yang baik kepada setiap calon wisatawan yang datang berkunjung. (R. sebuah objek wisata akan dikenal oleh wisatawan jika adanya promosi sehingga . 3. lebih lanjut akan menimbulkan minat keinginan yang mendorong para wisatawan untuk datang berkunjung kedaerah tujuan wisata yang dipromosikan.56 Menurut pemantauan penulis selama di lapangan bahwa masyarakat Siguntur tidak ada yang membuat kerajinan. oleh karena itu diperlukan keterlibatan berbagai pihak untuk dapat berpartisipasi dalam pengembangan objek terutama pihak pemerintah Promosi sangat penting dalam dunia pariwisata.G Soekadijo :241) menjelaskan promotion (promosi) adalah salah satu kegiatan dalam dunia marketing. Pendapat ini diperjelas oleh Rahmadi (1987) kutipan Al Ansori bahwa suatu perencanaan yang matang terhadap daerah pasaran wisata dan strategi pemasaran yang diambil sangat menentukan berhasil atau tidaknya kegiatan promosi. Dalam pengembangan objek wisata candi Pulau Sawah dan candi Padang Roco memerlukan investasi yang cukup besar dan dalam jangka waktu yang cukup lama. Pengembangan Promosi Dunia Pariwisata Promosi wisata merupakan suatu kegiatan yang intensif dalam waktu yang relatif singkat dan merupakan usaha untuk memperbesar daya tarik produk terhadap calon konsumen.

Masyarakat beranggapan tidak ada keuntungan bagi mereka walaupun banyak wisatawan yang datang untuk berkunjung kesana.VCD.57 wisatawan mengetahui kelebihan dari objek wisata candi Pulau Sawah dan candi Padang Roco dan berminat untuk melakukan perjalanan wisata. dengan adanya prilaku positif akan berdampak positif pada dunia pariwisata umumnya dan objek wisata budaya yang ada di kabupaten Dharmasraya khususnya. sapta pesona mengandung 7 unsur yang menentukan citra baik . nyaman. buku pariwisata dan seminar. dan diharapkan pemasaran ini di tingkatkan lagi secara terencana. Sapta pesona merupakan hal yang penting dalam perkembangan pariwisata. terarah. Pengembangan promosi sekarang telah di jalankan oleh pemerintah seperti pembuatan brosur. dan betah selama perjalanan di kawasan objek wisata. Jika pada daerah tujuan wisata (DTW) sapta pesona telah terlaksana dengan baik maka pengunjung akan merasa aman. Masyarakat juga kurang kesadaran akan sapta pesona yang merupakan hal yang sangat penting dalam kegiatan kepariwisataan. namun pada kenyataannya dapat terlihat bahwa minat dari masyarakat untuk mengembangkan objek wisata yang ada masih kurang di sebabkan kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap dunia pariwisata. tepadu dan efektif 4. Pengembangan Sosialisasi Masyarakat Sadar Wisata Dalam perkembangan sebuah kawasan wisata di tentukan oleh prilaku masyarakat.

Seperti yang di tuturkan oleh wali nagari Siguntur agar melatih dan membimbing genersi muda untuk menjadikan mereka orang yang memiliki jiwa sadar terhadap dunia wisata. (4) sejuk.58 pariwisata Indonesia yaitu : (1) aman. sudah seharusnya pemerintah melalui instansi terkait menyelenggarakan berbagai penyuluhan kepada masyarakat. (7) kenang-kenangan. anak-anak sakolah rami-rami pai jalan-jalan keceknyo. terutama anak sekolah yang katanya untuk penelitian). (5) indah. (6) ramah tamah. (3) bersih. Berdasarkan wawancara di atas maka terlihatlah bahwa partisipasi dan kesadaran masyarakat terhadap dunia pariwisata sudah ada namun masih kurang. . tu adolo yang bahonda muda-mudi keceknyo nyo pai ka candi tu bantuak apo bana candi tu” (yang berkunjung ke candi Padang Roco ini banyak apalagi anak sekolah katanya pergi jalan-jalan kemudian ada juga muda-mudi yang pakai motor untuk melihat candi tersebut). (2) tertib. salah satunya adalah dengan binaan masyarakat sadar wisata. anak-anak sakolah pai penelitian keceknyo” (sedikit-sedikit saya tahu tentang candi Pulau Sawah itu. saya lihat banyak orang yang datang berkunjung kesitu. Wawancara dengan masyarakat Siluluk “Yang pai bakunjuang ka candi Padang Roco ko banyak. Wawancara dengan masyarakat Siguntur “Saketek-saketek awak lai tau tantang candi Pulau Sawah ko nyo lai banyak nampak dek awak urang pai kasitu nyo.

Dharmasraya memiliki objek wisata budaya berupa candi yang merupakan peninggalan kerajaan Melayupura yang memiliki budaya dan sejarah. maka dapat disimpulkan sebagai berikut : 1.59 BAB V PENUTUP A. kisah kerajaan masih ada sekarang yang dijaga oleh keturunan kerajaan Melayupura. namun belum dikembangkan sebagaimana mestinya oleh pemerintah dan masyarakat setempat untuk itu perlu mendapat perhatian dari pemerintah daerah dan semua lapisan masyarakat. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan hasil penelitian sebagaimana yang telah di kemukakan pada bab sebelumnya. .

B. Membenahi setiap infrastruktur yang akan menunjang kemampuan objek wisata budaya (candi) sebagai objek wisata yang potensial. Pembugaran fisik candi dipercepat agar puing-puing candi yang masih ada tidak habis oleh pengaruh iklim dan jasad renik. Promosi daya tarik wisata objek wisata masih terbatas. 3. Penulis menyarankan kepada pemerintah dan Pariwisata untuk daerah terutama Dinas melaksanakan Perhubungan mempercepat pengembangan objek wisata budaya (candi) yang telah terencana. 3. .60 2. maka penulis memberikan saran serta masukan agar pengembangan objek wisata budaya (candi) berjalan dengan maksimal dan memberikan manfaat : 1. Sarana dan prasarana yang ada di masing-masing objek wisata belum lengkap dan sempurna sehingga menyulitkan wisatwan untuk melakukan wisata. 4. Saran 59 Dari hasil penelitian di atas. Akomodasi atau fasilitas penunjang masih kurang atau terbatas. 2.

Bandung : Angkasa Al Ansori. masyarakat dan investor. VCD. UNP Padang. Faktor penghambat Dalam Pengembangan Potensi Pariwisata dan Usaha Penanggulangannya di Kecamatan Tilantang Kamang Kabupaten Agam. Anwar. Pengantar Ilmu Pariwisata.61 4. Betty (2008). Prosedur Penelitian. DAFTAR PUSTAKA Arikunto. Oka (1996). Melakukan promosi dengan memperbanyak pembuatan brosur. majalah pariwisata dengan harapan kelebihan dari objek wisata budaya (candi) tersebut dikenal oleh wisatawan. Suharsini (2006). Inventarisasi Potensi Objek Wisata di Kecamatan IV Jurai Kabupaten Pesisir Selatan. BAPPEDA dan BPS Kabupaten Dharmasraya. Jakarta : PT Asdi Mahasatya. Pengembangan Pariwisata Berwawasan Lingkungan Pada Objek Wisata Pantai Cerocok Painan Pessel. Bakaruddin (2008). Revi (1998). Padang.M (2004). A. UNP Press. 2007 . UNP Padang Dharmasraya Dalam Angka 2007. UNP Padang. film. 5. Yoeti. Perkembangan dan Permasalahan Kepariwistaan. seminar. Lestiza. Mensosialisasikan seluas mungkin kepada masyarakat tentang dunia wisata sehingga lahirlah masyarakat sadar wisata.

Jakarta : Penerbit Gramedia Grasindo. Diperlukannya Pengolongan Pariwisata diseluruh Tanah Air.Com . Lexy (1997). Penerbit C. Kodhyat. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Lima Puluh Kota. Perkembangan Kepariwisataan Pada Objek Wisata Lembah Harau Kab. Jakarta : Harian Terbit Maisiswarti. Kosasih (1987). Kamus Manajemen. Soekadijo (1997).62 Gusrina. (2002). Padang Pariaman. Jakarta : Balai Pustaka WWW. UNP Padang. Bandung : Alfa Beta Wardiyanta (2006). UNP Padang. Metode Penelitian Kualitatif. Kerajaan Siguntur. Bandung : CV Mandar Maju Moeleong. Aceh Tenggara NAD. Wilda (2002). Juliana. Bandung : Remaja Rosda Karya. Upaya Pemulihan Hutan Wisata Lawe Gurah Kec. Metode Penelitian Pariwisata. Ketambe Kab. Anatomi Pariwisata. UNP Padang. Faktor-faktor yang Menyebabkan Tidak Berkembangnya Objek Wisata Lubuk Bonta Kec 2 X 11 Enam Lingkung Kab. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama. Sugiyono (2005). Blogspot. Poerwadarminta (1999). Yogyakarta. Sejarah Pariwisata dan Perkembangan di Indonesia. Memahami Penelitian Kualitatif.V Andi Offset. Moekijat (1990). Dewi (1998). Wjs. H (1996).

sehingga Bapak/Ibu/Sdr dapat bermurah hati memberikan informasi dengan suka rela dan penuh kejujuran serta keadilan. Pengantar Assalamu’alaikum Wr. Daftar pertanyaan ini saya susun semata-mata untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan untuk . Sebelumnya saya mendoakan semoga Bapak / Ibu berada dalam keadaan sehat walafi’at dan selalu dilindungi oleh Allah SWT.63 INSTRUMEN PENELITIAN JUDUL : UPAYA PENGEMBANGAN OBJEK WISATA BUDAYA DI KABUPATEN DHARMASRAYA.Wb.

Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan terhambatnya pengembangan objek wisata ini? .1.64 menyelesaikan skripsi atau tugas akhir dari pendidikan yang sedang saya ikuti di jurusan Geogarafi FIS UNP. Identitas Responden Nama Pekerjaan Alamat : : : 111. Adakah rencana dari pemerintah untuk melakukan pemugaran candi agar lebih menarik untuk di kunjungi? 3. PANDUAN WAWANCARA A. Pemerintah atau Dinas Perhubungan dan Pariwisata Dharmasraya 1. 11. Petunjuk Pengisian Wawancara . oleh sebab itu saya berharap sekalii kepada Bapak/Ibu/Sdr untuk dapat memberikan informasi melalui daftar pertanyaan ini dengan sejujurnya. Sehingga data yang Bapak/Ibu/Sdr berikan tidak akan menimbulkan masalah di kemudian hari. Bagaimana ketersediaan sarana dan prasarana saat ini di kawasan objek wisata ini? 4. Bagaimana pendapat Bapak tentang adanya objek wisata budaya di kabupaten Dharmasraya ini? 2. Berikanlah jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan ringkas.

Sudah sejauh mana bantuan pemerintah terhadap objek wisata ini? C. Bagaimana kondisi fisik dan sosial objek wisata ini? 4. Bagaimana upaya yang dilakukan pemerintah unntuk mengembangkan objek wisata ini kedepan? B. Apakah usaha yang dilakukan pemerintah untuk mempromosikan kawasan objek wisata ini pada masyarakat luar baik dalam negeri maupun luar negeri? 6. Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan terhambatnya pengembangan objek wisata ini? 2. Apa peranan dari Bapak sebagai pihak penyelenggara dalam pengembangan objek wisata ini? 7. Sejauh ini menurut pemantaun Bapak/ibu/saudara berapa banyak pengunjung yang datang ke objek wisata ini setiap bulanya? 6. Bagaimana ketersediaan sarana dan prasarana wisata di kawasan objek wisata ini? 3.65 5. Bagaimana seharusnya pengelolaan objek wisata ini agar dapat menarik wisatawan sebanyak mungkin? 6. Bagaimana sapta pesona di daerah objek wisata tersebut? 5. Apakah Bapak/ibu/saudara ikut memberikan bantuan untuk pengadaan sarana dan prasarana objek wisata di daerah ini? 2. Sejauh ini sudah adakah dana khusus dari pemerintah untuk mengembangkan objek wisata budaya ini? 7. Masyarakat Sekitar Objek Wisata 1. Pihak Penyelenggara atau Wali Nagari 1. Menurut Bapak/ibu/saudara faktor-faktor apa saja yang menyebabkan terhambatnya pengembangan objek wisata ini? 3. Apakah ada keuntungan bagi masyarakat dengan adanya objek wisata ini? . Apakah Bapak/ibu/saudara ikut berpartisipasi dalam kegiatan pengembangan objek wisata di daerah ini? 4. Bagaimana saran dari Bapak/ibu/saudara untuk pengembangan objek wisata ini di masa yang akan datang? 5.

Bagaimana pendapat Bapak/ibu/saudara tentang objek wisata ini? 2. Menurut Bapak/ibu/saudara bagaimana pemeliharaan objek wisata ini? 4. Sudah berapa lama objek wisata ini di temukan oleh masyarakat? 3. 1 Display Data Temuan Penelitian . Pengunjung / Wisatawan 1. Menurut Bapak/ibu sejauh ini apa kendala yang di temui sehingga objek wisata ini belum berkembang dengan baik? 4. Apakah datang 6. Bagaimana sapta pesona yang Bapak/ibu/saudara rasakan di tempat objek wisata ini? 5.66 D. Apakah ada upaya tertentu yang akan dilakukan oleh Bapak/ibu sebagai seorang keturunan raja untuk pengembangn objek wisata ini kedepannya? Lampiran. Bagaimana sejarah dari objek wisata budaya ini? saran Bapak/ibu/saudara pengembangan objek wisata ini dimasa yang akan 2. Apa ini? 3. Bapak/ibu/saudara lagi ke kawasan berkeinginan objek wisata untuk ini? untuk yang menjadi daya tarik bagi Bapak/ibu/saudara untuk mengunjungi objek wisata Ya/Tidak Jelaskan Apakah datang? E. Keturunan Raja 1.

M Bactiar Acik Suryana Sutan Fahmi Aziz Darwis Alhamra Alwi Mulianda Nur Azizah Rahma Yulita Suci Umur 53 th 25 th 45 th 51 th 70 th 29 th 25 th 27 th 40 th 24 th 24 th 22 th 34 th 17 th 15 th Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Laki-laki Laki-laki Perempuan Laki-laki Laki-laki Laki-laki Laki-laki Laki-laki Laki-laki Perempuan Perempuan Perempuan Perempuan Pekerjaan PNS Wiraswasta Wiraswasta Wiraswasta Ibu Rumah Tangga Wiraswasta Wiraswasta Wiraswasta Tani Mahasiswa Mahasiswa Mahasiswa PNS Siswa Siswa Keterangan Kepala Bidang Promosi Pariwisata Pegawai Wali Nagari Siguntur Kepala Jorong Sungai Lansek Keturunan Raja Siguntur Masyarakat Siguntur Masyarakat Siguntur Masyarakat Sungai Lansek Masyarakat Sungai Lansek Pengunjung Pengunjung Pengunjung Pengunjung Pengunjung Pengunjung Tabel 3. 11.Lampiran 1. 5.1 Identitas Subjek Penelitian No. Nama Drs. Akrial Desi Indra Gunawan Dt.B. DISPLAY DATA TEMUAN PENELITIAN Tabel 3. 7.2 Peranan Pemerintah. 2. Kepala Bidang 1. 6. 8. 10. 4. Faktor penyebab terhambatnya 1. 13. 1. Masyarakat dan Pihak Penyelenggara terhadap Pengembangan Objek Wisata Budaya Subjek Instrumen Tanggapan 1.1 Payung hukum dari sistem pemerintahan belum ada yang Promosi Pariwisata pengembangan objek wisata budaya menangani sepenuhnya tentang objek wisata budaya . 12. 3. 15. 9. 14.

68 secara keseluruhan. dan penginapan namun itu belum terlaksana sehingga pengembangan dari objek wisata Pulau Sawah dan Padang Roco ini masih dalam tahap perencanaan. 1. dan kenyamanan bagi wisatawan akan berkurang sehingga keinginan untuk berkunjung kembali 2.2 Keterbatasan sarana dan prasarana sebagai pendukung dari objek wisata masih kurang karena untuk mencapai lokasi objek wisata di butuhkan transportasi yang lancar. wc. Alhamra (Pengunjung)) .3 Kurangnya pengetahuan masyarakat akan dunia pariwisata. di tambah lagi belum adanya dana khusus dari pemda untuk pengembangan sumber daya wisata seperti pemugaran fisik candi. 1. sehingga menimbulkan sikap yang acuh tak acuh terhadap pengunjung. serta dilkasi objek wisata harus didukung adanya penyediaan fasilitas yang cukup seperti adanya restauran. tetapi itu baru dalam tahap perenanaan jangka panjang yang di rancang oleh konsultan untuk melahirkan RIPDA dan RIPOW.

.4 Kurangnya promosi yang dilakukan oleh pihak penyelenggara sehingga wisatawan tidak mengetahui kelebihan dari objek wisata candi Pulau Sawah dan candi Padang Roco 1. pentas seni di sekitar lokasi objek wisata agar wisatawa lebih menarik serta bekerja sama dengan biro-biro travel dan mempromosikan lewat kalender tahunan atau memasukan lokasi objek wisata kedalam kawasan objek wisata yang ada di Sumatera Barat. pengadaan dan peningkatan promosi sarana dan prasarana.2 Dengan mengenbangkkan objek wisata pendukung seperti menbuat pacu jalur.1 Pengembangan sumber daya wisata. Wali Siguntur Nagari 2. Kepala Promosi Pariwisata Bidang 2. 3. Alwi (Pengunjung) 1. 2.69 bagi wisatawan tidak ada. penngembangan sosialisasi serta melakukan pengembangan pengembangan objek wisata budaya masyarakat sadar wisata. Upaya yang dilakukan dalam 2.

Mulianda 3.2 Candi. membukukan sejarah kerajaan Melayupura. juga yang Bapak/Ibu Sdr untuk mengunjungi objek wisata ini menjadi daya tariknya dari segi struktur dimana candi tersebut bukan terbuat dari semen seperti yang sekarang ini tapi konon kabarnya pelekat dari candi tersebut adalah terbuat dari putih telur yang menjadikan candi tersebut berdiri kokoh dan tidak mudah roboh. 3. dimana candi tersebut dapat menimbulkan . Acik Suryana 2. Nur Azizah 3.70 3. dengan melihat candi tersebut kita dapat melihat bukti bahwa di Dharmasraya itu dulunya merupakan suatu kerajaan.1 Yaitu nilai sejarah yang ada pada candi tersebut. Arca dan pemandangan Alam yang berada di sepanjang perjalanan menuju candi tersebut.mengebangkan atraksi wisata.3 Dengan membudayakan kembali nilai-nilai sejarah yang masih tersimpan. Apa yang menjadi daya tarik bagi 3.3 Candi-candi. Suci 3. 2. 1. selain dari itu yang menjadi daya tarik bagi saya yaitu dengan melihat adanya Rumah Gadang.

selain dari candi tersebut yang menjadi daya tarik kalau bagi saya lebih tertarik lagi dengan keindahan sungai Batang Hari yang luas yang dapat menghilangkan rasa jenuh dengan melihat pemandangan dan berbagai aktivitas masyarakat setempat di sepanjang sungai selama menyebrangi sungai Batang Hari tersebut.71 keinginan kita untuk mengetahui sejarahnya. .4 Candi. 4. Alhamra 3.